i

i

DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Grafik Daftar Lampiran KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF PEMERIKSAAN KEUANGAN BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya PEMERIKSAAN KINERJA BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan BAB 8 Kinerja Pendidikan BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU BAB 11 Pengelolaan Pendapatan BAB 12 Pelaksanaan Belanja BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan, dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batu Bara BAB 16 Pelaksana Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah BAB 21 Operasional Bank Daerah BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH LAMPIRAN

Hal
i ii iii iv v ix 1 11 15 37 43 45 55 67 71 77 85 89 93 97 99 119 145 155 165 175 181 189 201 213 221 231 241 245 253

ii

DAFTAR TABEL
1. 2. 3. 4. 5. 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 11.1 11.2 12.1 12.2 13.1 14.1 15.1 16.1 17.1 18.1 19.1 20.1 21.1 22.1 23.1 24.1 24.2 24.3 24.4 Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Opini KKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan dan Bangunan Pengairan/Drainase Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD Cakupan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010

25.1 25.2 25.3 25.4

Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana

iii

DAFTAR GAMBAR
4.1 5.1 5.2 Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Water Pass dan Theodolite Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang

iv

DAFTAR GRAFIK
1.1 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 (dalam %) 1.2 Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 24.1 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi)

v

Daftar Lampiran
1.a 1.b 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.a 8.b 8.c 8.d 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005-2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok Temuan menurut Entitas Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 1. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 2. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 3. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Belanja Pemerintah Pusat

vi 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/ Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM

vii 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok Jenis Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Pusat Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Daerah Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada BUMN, BHMN, dan KKKS Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010

viii .

IHPS ini merupakan ikhtisar hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan BPK pada Semester II Tahun 2010 atas 734 objek pemeriksaan. Penyusunan Buku IHPS II Tahun 2010 ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara kepada pemangku kepentingan (stakeholders). badan layanan umum.50 juta selama proses pemeriksaan masih berlangsung. serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp42. sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah telah menindaklanjuti kasus kerugian negara/daerah. Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester II Tahun 2010. 147 objek pemeriksaan kinerja. potensi kerugian negara/daerah. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada lembaga perwakilan. dan kekurangan penerimaan.ix Kata Pengantar Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E. dan 428 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu. lembaga negara lainnya. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. yaitu 159 objek pemeriksaan keuangan. Tuhan Yang Maha Esa. dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas pemeriksaan keuangan. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP). BPK menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) yang merupakan informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu semester tertentu. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus kerugian negara/daerah senilai Rp59. yaitu senilai Rp104.23 miliar dan USD10. Hal ini membuktikan bahwa respon instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat positif dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dan peran BPK dalam penyelamatan uang negara. dengan menyetor ke kas negara/daerah atau penyerahan aset. Bank Indonesia. IHPS II Tahun 2010 ini dapat diselesaikan tepat waktu. Akhir kata.50 juta. badan usaha milik daerah. Selanjutnya. kasus potensi kerugian negara/daerah senilai Rp2. 31 Maret 2011 . dan gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan. BPK berharap Buku IHPS II Tahun 2010 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah. Selanjutnya. pemeriksaan kinerja. Jakarta. presiden. pemerintah daerah. Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester II Tahun 2010 dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan atas tiap-tiap entitas yang kami lampirkan dalam bentuk cakram padat/Digital Video Disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini.21 miliar.57 miliar. tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat. badan usaha milik negara.01 miliar dan USD10. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

x .

pemerintah daerah. BUMD. Sedangkan untuk pemeriksaan keuangan dilakukan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 yang belum diperiksa pada Semester I Tahun 2010. IHPS II Tahun 2010 juga memuat hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). pemeriksaan kinerja. dan badan hukum milik negara (BHMN)/ badan layanan umum (BLU) seluruhnya sejumlah 734 objek pemeriksaan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut. BUMN. . Pemeriksaan dilaksanakan terhadap entitas di lingkungan pemerintah pusat. pemerintah daerah. IHPS II Tahun 2010 merupakan ikhtisar dari 734 laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Selain hasil pemeriksaan. badan usaha milik negara (BUMN). dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. Pada Semester II Tahun 2010. dan kepada presiden serta gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). pemeriksaan BPK diprioritaskan pada pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan. IHPS disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya. badan usaha milik daerah (BUMD). Objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 terdiri atas entitas pemerintah pusat. termasuk didalamnya pemantauan terhadap hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian negara/tindak pidana yang disampaikan kepada instansi yang berwenang (penegak hukum).1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RINGKASAN EKSEKUTIF IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN 2010 Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010 disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

yaitu temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. dan pembiayaan neto (laba/rugi) senilai Rp22. Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Entitas Yang Diperiksa Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya Jumlah Pemeriksaan Keuangan 153* 1 1 4 159 Pemeriksaan Kinerja 46 89 3 9 147 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 117 250 16 44 1 428 Jumlah 163 492 20 54 5 734 *) termasuk dua LKPD Tahun 2008 Hasil Pemeriksaan Jumlah objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 sebanyak 734 objek pemeriksaan.50 juta telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa dengan penyetoran ke kas negara/daerah selama proses pemeriksaan (Lampiran 53. dan ketidakefektifan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut antara lain berupa perbaikan SPI atau tindakan administratif.48 triliun.21 triliun. Rincian temuan tersebut disajikan dalam Tabel 2. Lampiran 54.43 juta.2 Tabel 1.23 triliun. dan Lampiran 55).81 triliun.40 triliun.46 triliun dan USD156. Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp344.355 kasus senilai Rp6.43 juta. Jumlah temuan dari 734 objek pemeriksaan tersebut adalah sebanyak 6. LK BUMN.27 triliun. Dalam Tabel 2 temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian.18 triliun. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan sebanyak 3. Di antara temuan tersebut. dan LK Badan Lainnya dengan cakupan pemeriksaan meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). Pemeriksaan kinerja sebanyak 147 objek pemeriksaan dengan cakupan tidak secara spesifik menunjuk nilai tertentu dan PDTT meliputi 428 objek pemeriksaan dengan cakupan pemeriksaan senilai Rp539. dan laporan realisasi anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp130. terdapat temuan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut yang memiliki implikasi nilai rupiah.01 miliar dan USD10. senilai Rp104.760 kasus dengan nilai Rp3. ketidakhematan. serta ekuitas senilai Rp303. Sedangkan selebihnya adalah temuan-temuan administrasi. kewajiban senilai Rp40. Rincian objek pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keuangan sebanyak 159 objek yaitu LKPD.87 triliun dan USD156. Di antara temuan-temuan tersebut. . potensi kerugian. ketidakefisienan. belanja senilai Rp135. dan kekurangan penerimaan.

221 3. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi: neraca dengan rincian aset senilai Rp289. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas dari 151 LKPD Tahun 2009 yang telah diperiksa BPK pada Semester II Tahun 2010.43 895.10 1.54 53.99 2.392 896 226 1 302 3.00 triliun.695.39 1. Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Pemeriksaan Keuangan No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Nilai (juta USD) Jumlah Kasus Total Nilai (juta USD) Nilai (miliar Rp) 1 2 3 Kerugian Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Sub Total 740 128 412 1. Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.280 896 84 2 149 2.48 461.25 491.54 1.43 156.411 566.355 1.45 triliun.06 1. . opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.46 5.70 7.211 386 795 2.22 37. Rincian opini per entitas sebagaimana terlihat dalam Lampiran 1a.73 156.15 95. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas.277.40 99. serta enam Laporan Keuangan BUMN/D dan badan lainnya.62 3.689.66 1.233.013 526 1.72 1.81 159.54 53. dan pembiayaan neto senilai Rp21.43 2.154. dan ekuitas senilai Rp286.91 7.79 249.43 4 5 6 7 Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Total Hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2010 berdasarkan jenis pemeriksaan disajikan secara ringkas dalam uraian berikut.04 247. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas (Kota Langsa).88 triliun.28 6.62 1.73 156.97 triliun. belanja senilai Rp118.461.3 Tabel 2.645.50 9.70 triliun.795 316 3 481 6.43 156.870. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini TMP.817 368.896.81 4.498.70 triliun.760 1. kewajiban senilai Rp3.32 42.44 652.672. dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp112.63 3.82 1.39 62 12 14 88 3 6 30 127 84.09 94.42 1.15 95. Dalam Semester II Tahun 2010. BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 dan dua LKPD Tahun 2008.80 0.020.

dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. jumlah yang memperoleh opini TW menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Tahun 2008 dan penurunan . Sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Dari 524 pemerintah daerah 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Tabel 3. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 OPINI WTP 2007 2008 2009 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% 469 485 499 LKPD JUMLAH Dalam Tabel 4 disajikan perkembangan opini LKPD 2007 sampai dengan 2009. Kabupaten Seram Bagian Barat. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Pemeriksaan LKPD Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat ditunda disebabkan force major (banjir Wasior).4 Opini atas 151 LKPD yang dilaporkan dalam IHPS II Tahun 2010 ini dan 348 LKPD yang telah dilaporkan sebelumnya dalam IHPS I Tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP dan WDP dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. Tabel 4. Opini LKPD Tahun 2009 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah WTP WDP TW TMP Jumlah 14 259 30 45 348 % 4% 74% 9% 13% 100% LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% Dengan demikian. Sementara itu.

5 dibandingkan Tahun 2007. Hal ini secara umum menggambarkan perbaikan kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh pemerintah daerah walaupun perbaikan tersebut belum signifikan. Dari temuan ketidakpatuhan ini. pencatatan transaksi yang belum akurat dan tepat waktu serta masalah disiplin anggaran. BPK memberikan opini WTP terhadap LK West Sumatera Earthquake Disaster Project Badan Nasional Penanggulangan Bencana (WSEDP BNPB) TA 2010. Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap saldo aset tetap sehingga mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. pencatatan penyertaan modal pemerintah dan dana bergulir tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Lampiran 3. Pemeriksaan BPK terhadap LKPD Tahun 2009 menemukan 1.460 kasus kelemahan SPI. dan 2. kelemahan manajemen kas. dan Lampiran 4). Kelemahan SPI yang sering terjadi terutama dalam pengendalian aset tetap seperti nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. Selain itu. BPK juga memberikan opini TMP terhadap LK PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) serta LK Penyelenggaraan Ibadah Haji (LK PIH) Tahun 1430H/2009 M dan Tahun 1429 H/2008 M. temuan yang mengakibatkan kerugian. realisasi belanja yang tidak sesuai dengan peruntukannya. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan daerah yang telah ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan penyetoran ke kas daerah selama proses pemeriksaan senilai Rp21.43 triliun. dan opini TMP menunjukkan penurunan dibandingkan Tahun 2008 dan 2007.320 kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan senilai Rp1. opini WDP diberikan terhadap LK PDAM Kota Padang TB 2009 serta LK Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. Selain pengendalian intern. Opini TMP dan TW diberikan oleh BPK sebagian besar disebabkan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) atas laporan keuangan pemerintah daerah. Kelemahan SPI lainnya yang juga berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan antara lain : pengelolaan kas belum tertib. BPK juga memeriksa enam laporan keuangan badan lainnya dan BUMN/D. Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Selain pemeriksaan atas LKPD. opini atas LKPD juga dipengaruhi oleh ketidakpatuhan entitas terhadap ketentuan perundang-undangan dalam kerangka pelaksanaan APBD dan pelaporan keuangan. perbedaan pencatatan antara saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber dan penyajian aset tetap tidak didasarkan hasil inventarisasi dan penilaian. . dan peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum dibuat. Ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-undangan ini yang dapat mempengaruhi opini LKPD adalah ketidakpatuhan yang mempunyai dampak material terhadap penyajian kewajaran laporan keuangan. nilai persediaan yang dilaporkan tidak berdasarkan inventarisasi fisik. Kelemahan tersebut tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset.87 miliar (Lampiran 2.

49 miliar atau 3. Hasil pemeriksaan kinerja pada umumnya mengungkapkan belum efektifnya suatu kegiatan atau program diantaranya sebagai berikut. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tenaga kerja yang tidak terserap minimal sebanyak 216. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. kinerja pendidikan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan atau 20% dari seluruh objek pemeriksaan Semester II Tahun 2010.6 Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. proses penempatan di negera tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. penganggaran. pertanian. 3 BUMN.520 Orang Hari (OH) dan 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151. Hasil pemeriksaan BPK dapat dikelompokkan dalam beberapa tema pemeriksaan sebagai berikut: • • • • • • • penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Efektivitas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak tercapai secara optimal karena kompleksitasnya masalah. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. Permasalahan tersebut yaitu penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. .5% di tengah krisis keuangan dunia. sistem/prosedur perencanaan. Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal (SF) belanja infrastruktur Tahun 2009. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. perhubungan. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 18 pemeriksaan kinerja yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut di atas. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. pengelolaan hutan mangrove. dan 9 PDAM. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan.69% dari realisasi anggaran yang diperiksa. pengurusan dokumen. Dalam Semester II Tahun 2010. energi. dan perusahaan daerah air minum (PDAM). walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4. sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan kinerja lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh kelemahan kebijakan. pelatihan dan pengujian kesehatan. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

dan ketidakefisienan senilai Rp4. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. Kerugian negara/daerah dapat terjadi karena adanya belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. Kekurangan volume dalam suatu pengadaan barang/jasa menyebabkan kelebihan pembayaran oleh pemerintah kepada rekanan . 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan atau 58% dari 734 objek pemeriksaan. kekurangan volume. Hasil PDTT mengungkapkan 1.817 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/ daerah. terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Lampiran 54.48 triliun. operasional bank daerah. dan operasional BUMD lainnya. kekurangan penerimaan.04 miliar dan USD10. Di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah oleh entitas senilai Rp43. Hasil PDTT menunjukkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan adalah kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Hasil pemeriksaan tersebut dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. ketidakefektifan. pemahalan harga. pengelolaan/manajemen aset. belanja subsidi pemerintah. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539.168 kasus kelemahan SPI. Salah satu akibat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah kerugian negara/daerah.67 triliun dan USD156. pengelolaan pertambangan batubara.7 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 31 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. dan Lampiran 55). operasional PDAM. ketidakhematan.43 juta. belanja bidang infrastruktur. potensi kerugian negara/daerah. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak dan sebagainya. pelaksanaan belanja. operasional RSUD. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN.50 juta selama proses pemeriksaan yang berasal dari kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. potensi kerugian. operasional BUMN. dan 3. dan kekurangan penerimaan negara/daerah (Lampiran 53. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. Dalam Semester II Tahun 2010.

kekurangan penerimaan juga ditemukan pada PDTT lainnya yang terjadi antara lain karena adanya pekerjaan yang tidak selesai sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kontrak tetapi belum dikenakan denda keterlambatan.54 juta (Lampiran 53). penghilangan dan penundaan penetapan hak penerimaan daerah. yaitu penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah. Hasil PDTT secara menyeluruh mengungkap sebanyak 795 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp895. serta pimpinan KL atau kepala daerah tidak intensif dan tegas dalam menagih penerimaan yang sebenarnya sudah menjadi hak negara/daerah.211 kasus kerugian negara/daerah hasil PDTT senilai Rp368. dan/atau kepala daerah belum menetapkan tarif retribusi dan pajak daerah. karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Keadaan tersebut didukung pula dengan lemahnya pengawasan dari atasan langsung atas pelaksanaan kegiatan barang/jasa termasuk dalam proses pembuatan BAST. Selain dari PDTT atas pendapatan.99 miliar dan USD95. BPK juga melakukan PDTT atas BA 999. Belanja Lain-Lain adalah .50 miliar dari 1. pembebasan pajak kepada wajib pajak (WP) tertentu oleh kepala daerah. Hasil PDTT atas pendapatan mengungkap adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah. serta penerimaan pajak pemerintah pusat yang telah dipungut oleh pemerintah daerah tetapi tidak segera disetor ke kas negara. Kasus kekurangan penerimaan di antaranya meliputi kekurangan penetapan dan pemungutan penerimaan pajak dan PNBP. pihak ketiga wanprestasi dalam pembayaran kontribusi atas pemanfaatan aset negara/daerah. mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat. Belanja Subsidi merupakan pengeluaran atau alokasi anggaran yang diberikan pemerintah kepada perusahaan negara. menjual. Hal ini masih sering terjadi karena kelalaian atau ketidakcermatan panitia pengadaan barang/jasa dalam melakukan pemeriksaan fisik pada saat membuat berita acara serah terima (BAST) sehingga nilai pekerjaan dinyatakan telah selesai dikerjakan 100% dan rekanan berhak mendapatkan pembayaran penuh atas pekerjaannya tersebut.06 yang terdiri dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BSBL).73 juta (Lampiran 55). Masalah tersebut terjadi karena rekanan pengadaan barang/jasa dengan sengaja mengurangi volume atau ukuran pekerjaan yang tercantum dalam kontrak. Kekurangan penerimaan umumnya terjadi karena kelemahan pencatatan dan administrasi penatausahaan pendapatan. perjanjian dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan aset negara/daerah tidak dibuat secara tegas. Selain PDTT atas belanja dan penerimaan.82 miliar dan USD7. lembaga pemerintah atau pihak ketiga lainnya yang memproduksi. Dalam Semester II Tahun 2010 ditemukan 505 kasus kekurangan volume pekerjaan/barang/jasa senilai Rp123.8 karena volume atau jumlah barang/jasa yang diterima kurang dari jumlah atau volume yang diperjanjikan dalam kontrak.

Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa antara lain dengan melakukan perbaikan sistem pengendalian intern (SPI). Selanjutnya. Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK tersebut menunjukkan sebanyak 28.29%) rekomendasi senilai Rp41. Hal ini mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. Hasil pemeriksaan atas Belanja Subsidi mengungkapkan antara lain bahwa BUMN operator belum sepenuhnya mematuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM. BPK telah memberikan 76. tindakan administratif dan/atau penyetoran kas/ penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 17 kasus biaya yang tidak layak dibebankan pada cost recovery senilai USD66.53%) rekomendasi senilai Rp23.39 triliun dan sejumlah valas ditindaklanjuti belum sesuai dengan rekomendasi (dalam proses ditindaklanjuti). dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat. .9 pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam.148 (39.42 triliun dan sejumlah valas belum ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa (Lampiran 50. BPK juga melakukan PDTT atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (cost recovery).06.028 (36.93 triliun dengan rincian seperti Tabel 5 berikut.47 juta. dan benih.722 rekomendasi senilai Rp103.546 (24. dan sebanyak 30. Sebanyak 18. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010. Lampiran 51. Khusus rekomendasi BPK dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terkait dengan penyetoran kas/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan yang telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa adalah berkisar Rp1. Permasalahan ini juga ditemukan pada hasil pemeriksaan atas LK BA 999. dan Lampiran 52). Adapun hasil pemeriksaan Belanja Lain-Lain pada Tahun 2010 mengungkap adanya temuan belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak. Hal ini terjadi terutama karena Direktorat Jenderal Anggaran belum menetapkan kriteria evaluasi atas kegiatan yang layak dibiayai dari BA 999.06 tahun sebelumnya. pupuk. bencana sosial. listrik. termasuk diantaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran tersendiri.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan KKS Migas adalah para kontraktor belum sepenuhnya mematuhi klausul KKS dan pedoman tata kerja yang berlaku dengan memasukkan biaya-biaya yang seharusnya tidak boleh dibebankan pada cost recovery yang akan diklaim oleh kontraktor yang bersangkutan.35 triliun dan sejumlah valas.18%) rekomendasi senilai Rp38.53 triliun dan sejumlah valas telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi.

Kejaksaan.893.82 USD 4.48 8.24 0.951.03 ribu.10 Tabel 5.69 0. proses pengumpulan bahan dan koordinasi.00 11.28 11.21 juta. Sisa kasus sebanyak 97 kasus merupakan kasus dalam proses penelaahan.03 119.552.03 ribu.24 1.991.955.03 0. instansi yang berwenang (Kepolisian.11 triliun dan USD11.82 0.893.003.00 119.24 807.00 0.930.13 0.28 GBP 17.991.48 EUR 11. Total penyelesaian ganti kerugian negara/daerah (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2.47 0.80 8. Dari sebanyak 105 kasus tersebut.53 USD 42. dan putusan hakim sebanyak 2 kasus.00 1.45 2.69 USD 53. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus.47 0.30 miliar dan USD1.13 0.552. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.28 miliar dan USD228. proses gelar perkara.955. 3.13 0.158.003.991.37 0.339 kasus senilai Rp108.82 Nilai Valas Kurs Tengah 31 Des Nilai Ekuivalen 2010 (Rp) (miliar Rp) 8.45 13.991. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan No. Jakarta.06 juta.00 8.37 0.13 0.000.77 miliar serta pelunasan sebanyak 977 kasus senilai Rp65.793.780. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Maret 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA . penyidikan sebanyak 2 kasus.80 Total (miliar Rp) Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa pada kurun waktu tahun 2009-2010 telah terjadi sebanyak 4.07 1.931.79 GBP 17.362 kasus senilai Rp42.24 Total (miliar Rp) 1.780.00 EUR 11. 1. penuntutan sebanyak 1 kasus.53 miliar dan USD1.82 0.05 0.79 13. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berupa angsuran terpantau sebanyak 1. dan/atau belum ditindaklanjuti.930.07 0. Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/ Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010.302 kasus kerugian negara/daerah senilai Rp908. Daerah BUMN Total 807.05 USD 7. Entitas Pusat Nilai (miliar Rp) 1. proses banding/kasasi.

Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. opini tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. opini wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan.11 PEMERIKSAAN KEUANGAN Salah satu tugas BPK adalah melaksanakan pemeriksaan keuangan. opini wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. selain memberikan opini atas laporan keuangan. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures). Dengan kata lain. kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. pernyataan menolak memberikan opini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan. Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa. BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI dan laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Penjelasan Pasal 16 ayat (1). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern (SPI). sehingga informasi • • • . • Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif lainnya. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.

SPI pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). ketidakefisienan. Kelemahan tersebut mengakibatkan permasalahan dalam aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut. SPI dinyatakan memadai apabila unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. dan barang. yaitu kelemahan sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan. • • Kepatuhan Pemberian opini juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Potensi kerugian negara/daerah (termasuk potensi kerugian yang terjadi pada perusahaan negara/daerah) adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum. potensi kerugian daerah. • . ketidakekonomisan. Sistem Pengendalian Intern (SPI) Salah satu kriteria pemberian opini adalah evaluasi atas efektivitas SPI.12 keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. surat berharga. • Kerugian negara/daerah (termasuk kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah) adalah berkurangnya kekayaan negara/daerah berupa uang. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. baik sengaja maupun lalai. administrasi. yaitu kelemahan yang terkait dengan ada/tidak adanya struktur pengendalian intern atau efektivitas struktur pengendalian intern yang ada dalam entitas yang diperiksa. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. kekurangan penerimaan. surat berharga. dan ketidakefektifan sebagai berikut. yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran penerimaan negara/daerah serta pelaksanaan program/kegiatan pada entitas yang diperiksa. yang nyata dan pasti jumlahnya. SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. Kelemahan struktur pengendalian intern. dan barang.

laporan arus kas. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan catatan atas laporan keuangan. neraca. Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional. Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBN (LRA). neraca. Temuan mengenai ketidakefisienan mengungkap permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk satu satuan output yang lebih besar dari seharusnya. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. dan catatan atas laporan keuangan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah. laporan arus kas. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan penerimaan). Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. • • • • Laporan Keuangan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Demikian juga halnya dengan gubernur/bupati/walikota. tidak menghambat program entitas. . dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambatlambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat/daerah. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBD (LRA).13 • Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK.

.14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. termasuk Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL). BPK baru menyelesaikan 348 hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 pada Semester I Tahun 2010 karena masih cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004. Dalam Semester II Tahun 2010. dan BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2009 kepada DPR pada 31 Mei 2010. pada tingkat daerah. dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tingkat provinsi/kabupaten/kota. Namun. BPK melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 LKPD Tahun 2009 dan 2 LKPD Tahun 2008 serta 6 laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. pada Semester I Tahun 2010 BPK telah melakukan pemeriksaan keuangan atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP). Memenuhi ketentuan tersebut. baik pemerintah maupun BPK telah dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu. Pada tingkat pusat. dan Pasal 56 undang-undang tersebut menyatakan bahwa gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan keuangannya kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir.

70 triliun.4 Hasil Pemeriksaan 1. yaitu LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur (Provinsi Maluku) dan LKPD Kabupaten Dogiyai (Provinsi Papua).2 1. sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. dan ekuitas senilai Rp286. Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat pemeriksaan atas LKPD ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Pada LRA.5 Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam tiga kategori. belanja senilai Rp118. . Kabupaten Seram Bagian Barat. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. Pemeriksaan atas LKPD dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada kriteria. Dari 524 pemerintah daerah. 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. yaitu opini. BPK juga melakukan pemeriksaan atas dua LKPD Tahun 2008. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA).00 triliun. Dengan demikian. kewajiban senilai Rp3.3 1. Sementara itu. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure). dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Pemeriksaan baru dilakukan pada Semester II Tahun 2010 karena baik LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur maupun LKPD Kabupaten Dogiyai baru diserahkan oleh masing-masing pemda pada Tahun 2010. Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset senilai Rp289. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru.15 BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 1. sistem pengendalian intern (SPI). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.45 triliun.1 Pada Semester II Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 pada 151 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota.88 triliun.70 triliun. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. rincian pendapatan senilai Rp112. Selain itu.97 triliun. 1. dan pembiayaan neto senilai Rp21.

Tahun 2008 kepada 485 LKPD. . di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Oleh karena itu. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 LKPD 2007 2008 2009 OPINI WTP 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% JUMLAH 469 485 499 1.2 di atas terlihat adanya peningkatan jumlah LKPD yang diperiksa BPK dari tahun ke tahun. Tabel 1.16 1.9 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah % 4% 74% 9% 13% 100% 14 259 30 45 348 LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% WTP WDP TW TMP Jumlah 1. Opini 1. 2008.1 menyajikan perkembangan masing-masing jenis opini disajikan dalam persentase. Opini WTP diberikan BPK kepada LKPD Kota Langsa di Provinsi Aceh.1 berikut ini.1. dan Tahun 2009 kepada 499 LKPD. Rincian opini untuk masing-masing entitas dapat dilihat pada Lampiran 1a. Berdasarkan data di atas. Opini LKPD Tahun 2009 atas 499 pemerintah daerah disajikan dalam Tabel 1. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.8 1. Rincian opini tiap-tiap entitas dapat dilihat pada Lampiran 1b. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas. Opini LKPD Tahun 2009 1. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas.2.11 Dari Tabel 1. dan 2009 dapat dilihat dalam Tabel 1.7 Terhadap 151 LKPD Tahun 2009. Tabel 1.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.10 Perkembangan opini LKPD Tahun 2007.2 berikut ini. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas. Grafik 1. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini tidak memberikan pendapat (TMP). opini LKPD Tahun 2007 telah diberikan pada 469 LKPD.

Opini LKPD Tahun 2009 untuk masing-masing tingkat pemerintahan dapat dilihat dalam Tabel 1.1 diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 yang dalam persentase. • kenaikan dalam opini TW dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 4% dan terdapat penurunan sekitar 3% dibandingkan opini LKPD Tahun 2007. 1.1. • penurunan dalam opini WDP dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 1%. dan terdapat kenaikan sekitar 6% dibanding opini LKPD Tahun 2007. dan • penurunan dalam opini TMP dibandingkan opini LKPD 2008 sekitar 3% dan dibandingkan opini LKPD 2007 sekitar 5%. 118 LKPD kabupaten. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 (dalam %) 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% WTP 1% 3% 3% 67% 60% 66% 2007-469 LHP 26% 24% 13% 6% 10% 2008-485 LHP 21% 2009-499 LHP WDP TW TMP 1. 1. dan 27 LKPD kota. menunjukkan • kenaikan dalam opini WTP dibandingkan opini LKPD Tahun 2007 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dari LKPD Tahun 2008. LKPD Tahun 2009 yang diperiksa pada Semester II Tahun 2010 terdiri dari 6 LKPD provinsi.3 berikut ini.17 Grafik 1. Dilihat dari tingkat pemerintahan.12 Dari Grafik 1.14 .13 Hal ini secara umum menggambarkan bahwa entitas pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan yang wajar telah meningkat (dalam hal jumlah entitas) walaupun peningkatan tersebut belum signifikan (dalam persentase).

2 menyajikan perbandingan opini LKPD Tahun 2009 berdasarkan tingkat pemerintahan yang disajikan dalam persentase. gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah. dibandingkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten yang memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 76% dan 66% dari keseluruhan entitas provinsi dan kabupaten. Sistem Pengendalian Intern 1. . transparan.2 di atas terlihat bahwa rata-rata opini yang diperoleh pada pemerintahan tingkat kota lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan tingkat provinsi dan kabupaten. Sistem pengendalian intern (SPI) pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).17 Untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang efektif. dan akuntabel.18 Tabel 1.15 Grafik 1. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 73% 64% 72% WTP WDP TW TMP 24% 3% 9% 15% 2% Kabupaten 10% 7% 9% 12% Provinsi Kota 1.2. efisien. Grafik 1. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan LKPD Tahun 2009 Pemerintahan Provinsi Kabupaten Kota Jumlah Yang dilaporkan pada IHPS I 2010 WTP 1 7 6 14 WDP 21 187 51 259 TW TMP 2 24 4 30 3 38 4 45 Jml 27 256 65 348 LKPD Tahun 2009 Yang dilaporkan pada IHPS II 2010 WTP 0 0 1 1 WDP TW TMP 3 53 15 71 1 13 4 18 2 52 7 61 Jml 6 118 27 151 Total LKPD Tahun 2009 WTP WDP 1 7 7 15 24 240 66 330 TW 3 37 8 48 TMP 5 90 11 106 Jml 33 374 92 499 1.3. Pemerintah kota memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 79% dari keseluruhan entitas kota.16 Dari Grafik 1.

penilaian risiko.22 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa LKPD yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya memiliki pengendalian intern yang memadai. Hasil evaluasi atas SPI LKPD dapat diuraikan sebagai berikut. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Untuk itu. serta pemantauan. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. serta lemahnya pengendalian dan koordinasi tugas antara atasan dan bawahan.20 1.19 1.25 1. tidak didukungnya kebijakan dengan pedoman pelaksanaan yang jelas. Efektivitas SPI merupakan salah satu kriteria yang digunakan oleh BPK dalam meneliti kewajaran informasi keuangan. salah satunya yang terkait dengan SPI adalah efektivitas SPI. Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari komitmen terhadap kompetensi yang belum memadai. pengamanan aset negara. pencatatan transaksi yang akurat dan tepat waktu. SPI meliputi lima unsur pengendalian. 1.23 1.21 Hasil Evaluasi SPI 1. Kelemahan pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar disebabkan belum memadainya unsur lingkungan pengendalian dan kegiatan pengendalian. penjelasan Pasal 16 ayat (1) Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria. Masih banyaknya opini TMP dan TW yang diberikan oleh BPK menunjukkan efektivitas SPI pemerintah daerah belum optimal. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. informasi dan komunikasi. Adapun LKPD yang memperoleh opini TMP dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. kegiatan pengendalian.18 SPI memiliki fungsi untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara. 1. masih terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian terlihat dari kurang dipahaminya tugas pokok dan fungsi pada satuan kerja serta kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan. keandalan pelaporan keuangan.24 1. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset.19 1. Namun. yaitu lingkungan pengendalian.26 . Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI.

rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4.20 pengendalian atas pengelolaan sistem informasi. • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.04 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. 1. Provinsi Sulawesi Selatan. pencatatan tidak akurat yaitu pengelolaan aset daerah yang kurang optimal. 1. dan kejadian penting. 1. • sebanyak 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. • sebanyak 6 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. dan pendokumentasian yang baik atas SPI. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp1. Provinsi Riau. terdiri atas • sebanyak 455 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. • sebanyak 10 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Sebanyak 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • sebanyak 208 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. transaksi. di antaranya nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan.460 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • Di Kabupaten Maros.28 Hasil evaluasi atas 151 LKPD terdapat 1.30 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan tersebut di antaranya sebagai berikut.29 . 1. 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. penatausahaan aset tetap belum dilaksanakan secara tertib pada beberapa SKPD sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp2.46 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya.27 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.

Provinsi Nusa Tenggara Timur. • Di Provinsi Aceh. inventarisasi dan penatausahaan barang milik daerah belum dilakukan secara optimal sehingga nilai aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp571. Provinsi Kalimantan Tengah. • Di Kabupaten Timor Tengah Utara. • sebanyak 26 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD.32 Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja di antaranya sebagai berikut.00 miliar tidak didasarkan pada perencanaan yang matang dan berpotensi tidak selesai tepat waktu. • sebanyak 42 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • Di Kabupaten Nabire.25 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. • Di Kabupaten Padang Lawas. Provinsi Papua. • sebanyak 149 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. .d. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. terdapat perbedaan pencatatan antara penyajian saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber pembukuan aset tetap sehingga saldo per 31 Desember 2009 senilai Rp1.30 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. 1. terdiri atas • sebanyak 210 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.98 miliar tidak berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga saldo aset tetap per 31 Desember 2009 tidak dapat diyakini kewajarannya. • sebanyak 30 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • sebanyak 69 kasus mekanisme pemungutan. 1.21 • Di Kabupaten Seruyan. pembangunan kawasan pusat pemerintahan TA 2009 s. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan.31 Sebanyak 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. penyajian aset tetap senilai Rp927. pembayaran kegiatan lanjutan atas kontrak-kontrak pekerjaan Tahun 2008 senilai Rp490. 2012 senilai Rp216. Provinsi Sumatera Utara.41 miliar tidak dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2009 mengakibatkan tidak terciptanya disiplin anggaran.

. • sebanyak 4 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. • Di Kabupaten Simalungun. dan stabilisasi. 2008. terdiri atas • sebanyak 90 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • Di Provinsi Aceh.50 miliar dijadikan jaminan untuk pinjaman sehingga dana yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal. 1.02 miliar yang tidak dilaporkan sehingga menyulitkan pengendalian atas transaksi penerimaan maupun pengeluaran pada buku kas umum kuasa BUD. terdapat aset pemerintah daerah berupa deposito TA 2009 dijadikan jaminan cash collateral senilai Rp33. distribusi. • Di Kabupaten Buru Selatan. Provinsi Sumatera Utara. dan • sebanyak 2 kasus lain-lain kelemahan struktur pengendalian intern.83 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum digunakan untuk pekerjaan swakelola TA 2009. realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa TA 2009 senilai Rp76. 1. Provinsi Jawa Barat. perencanaan. • sebanyak 64 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.20 miliar melewati batas waktu 31 Desember 2009 yang mengakibatkan tidak terciptanya tertib anggaran dan tertundanya penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh TA 2009.878 lembar senilai Rp981.80 miliar dilakukan mendahului penetapan anggaran. • Di Kabupaten Cianjur.50 miliar atas perjanjian pembiayaan dengan Bank Muamalat di antaranya senilai Rp23. rekening kas umum daerah belum ditetapkan dan terdapat rekening kas daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp10.22 • Di Kabupaten Deli Serdang. • sebanyak 16 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. pelaksanaan pekerjaan pada beberapa SKPD TA 2009 senilai Rp15. Provinsi Maluku. alokasi. penerbitan SP2D sebanyak 3.33 Sebanyak 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan 2007. Provinsi Sumatera Utara.34 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut sebagian besar atau sekitar 51% merupakan kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur di antaranya sebagai berikut. pengawasan. Hal ini mengakibatkan realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa tidak dapat diyakini kewajarannya dan APBD yang sudah ditetapkan dengan perda tidak dapat digunakan sebagai fungsi otorisasi.

BPK telah merekomendasikan antara lain • kepala daerah agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait.27 juta sehingga pengendalian kas daerah lemah dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah TA 2009.38 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. peraturan bupati tentang sistem dan kebijakan akuntansi TA 2009 belum dibuat sehingga membuka peluang adanya persepsi ganda dalam hal pengakuan. 178 rekening bendahara pengeluaran SKPD senilai Rp1. 1.36 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/ pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas. 1. pencatatan. dan pelaporan. • Di Kabupaten Manokwari. • Di Provinsi Maluku. dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Provinsi Papua Barat. peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum ditetapkan sehingga pengelola keuangan dan kekayaan daerah (PKKD) dan SKPD kesulitan dalam penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan TA 2009.00 miliar belum ditetapkan dengan SK kepala daerah. Rekomendasi 1.23 • Di Kabupaten Majene. SOP yang ada pada entitas tidak ditaati yaitu terdapat dua rekening kas daerah senilai Rp1.37 . Penyebab 1. • pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan.35 Unsur pengawasan pada pemerintah daerah belum optimal. dan • memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Upaya penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi temuan pemeriksaan belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-temuan berulang dan lambat ditindaklanjuti. belum sepenuhnya memahami ketentuan.00 miliar belum mendapat izin kepala daerah dan lima SKPD menggunakan rekening pribadi untuk menampung pencairan dana SP2D pada akhir tahun senilai Rp921. Provinsi Sulawesi Barat.

42 . ketidakhematan/pemborosan. Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.43 triliun sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. surat berharga.320 Nilai (juta Rp) 556.48 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Jumlah 1.24 Kepatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan 1. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.4.415. kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. hasil pemeriksaan atas 151 LKPD Tahun 2009 juga menemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan sebanyak 2.753. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.49 207. Kerugian Daerah 1.84 1.271. pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan. administrasi. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 729 119 398 862 74 1 137 2.40 Berdasarkan Tabel 1.320 kasus senilai Rp1. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 No.252. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.42 370. 1. dan ketidakefektifan. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.76 4.34 95. dan lain-lain kasus kerugian daerah.384.761.39 Selain opini dan temuan-temuan SPI.41 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.929.4. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.4 di atas. temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. pemahalan harga (mark up).430. dan barang. potensi kerugian daerah. ketidakefisienan.60 195. kekurangan penerimaan. Masing-masing kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

dana milik pemda digunakan dan dikeluarkan tanpa SP2D selama Tahun 2007 s.07 miliar. • sebanyak 6 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp8. • sebanyak 155 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp59.62 miliar merupakan pengeluaran selama Tahun 2007 s. • sebanyak 26 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp24.37 miliar.24 miliar. atau atas nama pribadi . • sebanyak 101 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp35. di antaranya senilai Rp39.44 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 16 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7.d. • sebanyak 143 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp106.22 miliar.43 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kerugian daerah sebanyak 729 kasus senilai Rp556. 2009 yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum dikembalikan ke kas daerah sehingga berindikasi merugikan keuangan daerah. dan • sebanyak 27 kasus lain-lain senilai Rp54. 1. 2010 senilai Rp39. Provinsi Sulawesi Tenggara.56 miliar. • Di Kabupaten Konawe. • sebanyak 3 kasus kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp2.75 miliar terdiri atas • sebanyak 76 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp144.75 miliar.25 1.13 miliar. rekanan. terdapat pemberian panjar Tahun 2009 kepada SKPD.79 miliar. • sebanyak 71 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp83.41 miliar di antaranya adanya tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan.d. • sebanyak 15 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp3.74 miliar.05 miliar.83 miliar.31 miliar. • sebanyak 90 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp27. • Di Kabupaten Bombana. Provinsi Sulawesi Tenggara.

Selain itu. Penyebab 1. 1. terjadi pemahalan harga beberapa paket pekerjaan hotmix Tahun 2009 pada Dinas Pekerjaan Umum yang berindikasi merugikan keuangan daerah minimal senilai Rp11.30 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4.46 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. • Di Provinsi Maluku.26 minimal senilai Rp36. ketekoran kas pada bendahara pengeluaran senilai Rp7.47 Potensi Kerugian Daerah 1. Provinsi Sumatera Utara. 1. • Di Kota Pematangsiantar.80 miliar.75 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak 74 kasus senilai Rp14.64 miliar yang tidak didukung SP2D dan belum dikembalikan ke kas daerah.45 Dari 729 kasus kerugian daerah senilai Rp556. Rekomendasi 1. BPK telah merekomendasikan antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas negara/daerah. tidak cermat. kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. yang nyata dan pasti jumlahnya. Provinsi Sumatera Utara. • Di Kota Padangsidimpuan.40 miliar dan di antaranya senilai Rp1. dan barang.48 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah.44 miliar atas harga 36 jenis bahan dan barang untuk keperluan rehabilitasi dan pembangunan 73 sekolah dasar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2009.06 miliar merupakan sisa uang persediaan (UP) Tahun 2008 di bendahara pegeluaran sekretariat daerah berupa panjar ke SKPD yang sampai dengan 31 Desember 2009 belum dikembalikan dan disetor ke kas daerah. surat berharga.95 miliar.49 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. kerugian daerah atas pemahalan harga/mark up senilai Rp2. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.41 miliar mengalami kesalahan perancangan atau tidak memenuhi syarat struktural. di antaranya senilai Rp5. di antaranya penyetoran dari Kabupaten Banyuasin senilai Rp2. .

83 miliar.25 miliar yang terdiri atas • sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp9. dan • sebanyak 20 kasus lain-lain senilai Rp46. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah sebanyak 119 kasus senilai Rp370.57 miliar. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. • sebanyak 2 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp8.51 1. • sebanyak 3 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan.52 .15 miliar. kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.27 1. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp521. • sebanyak 14 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp43. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.68 miliar di antaranya pertanggungjawaban belum lengkap dan sah serta entitas disarankan untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran dan apabila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah. Selain itu. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp3.36 miliar.50 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. serta lainlain kasus potensi kerugian daerah. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.55 miliar.28 miliar. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. • sebanyak 2 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp3.12 miliar. • sebanyak 24 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp80. • sebanyak 39 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp152. pembelian aset yang berstatus sengketa. • sebanyak 5 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp22.14 miliar. 1.45 juta. aset tidak diketahui keberadaannya. pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan.

d. potensi kerugian daerah atas aset tetap berupa kendaraan dinas yang dipinjamkan kepada mantan anggota DPRD periode Tahun 2004-2009 dan pihak di luar pemerintah daerah yang belum dikembalikan senilai Rp4. terdapat aset tetap dari belanja modal TA 2009 yang dikuasai dan digunakan oleh pihak lain senilai Rp48.d. Rekomendasi 1. 2010 senilai Rp5.36 miliar dan tidak diperuntukkan untuk operasional pemerintah sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aset tetap milik pemerintah. 1. tidak cermat. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. • Di Kabupaten Bener Meriah.49 miliar dan berpotensi merugikan daerah apabila tidak dapat tertagih.57 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. Penyebab 1.54 Dari 119 kasus potensi kerugian senilai Rp370. rekanan pengadaan tidak memperbaiki kerusakan jalan Ereke-Bau Bau. Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Kalimantan Timur. Selain itu. alat berat yang tidak digunakan. kredit macet atas kredit PER (Pengembangan Ekonomi Rakyat) TA 2007 s.00 juta pada Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti disajikan dalam Lampiran 4.28 1.55 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. potensi kerugian daerah atas kelebihan pembayaran prestasi pekerjaan. Provinsi Riau. Provinsi Aceh. dalam masa pemeliharaan yang mengakibatkan realisasi penggunaan dana TA 2009 senilai Rp21.73 miliar.65 miliar menjadi tidak bermanfaat dan berpotensi merugikan daerah. • Kabupaten Kutai Kartanegara.25 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak dua kasus senilai Rp426.56 . 1. • Di Kabupaten Bengkalis. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.53 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.96 miliar. Provinsi Sulawesi Tenggara. • Di Kabupaten Toba Samosir. • Di Kabupaten Buton Utara. potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 2009 yang telah disalurkan senilai Rp9. pembayaran material yang tidak memperhitungkan jarak angkut aktual atas pekerjaan pembangunan kawasan perkantoran Lumban Pea dari Tahun 2008 s.

Provinsi Sumatera Utara. Selain itu.29 1.14 juta. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 398 kasus senilai Rp207. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak. 1. dan kasus lain-lain kekurangan penerimaan.84 juta. 1. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp8. penggunaan langsung penerimaan daerah.41 miliar terdiri atas • sebanyak 321 kasus penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp166.62 . Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah. Kekurangan Penerimaan 1. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp276.61 1.63 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.92 miliar.77 miliar. • sebanyak 65 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp30.80 juta.66 miliar belum disetorkan ke kas negara mengakibatkan pemerintah pusat tidak dapat memanfaatkan penerimaan perhitungan fihak ketiga (PFK) dari potongan PPN dan PPh tersebut. • Di Kabupaten Batu Bara.60 1.59 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.87 miliar. kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah.58 BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan mempertanggungjawabkan kasus potensi kerugian daerah dan bila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah atau melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. • sebanyak 5 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp476. kekurangan penerimaan atas potongan PPN dan PPh Tahun 2009 minimal senilai Rp19. • sebanyak 3 kasus /penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp94.

1.82 juta belum disetorkan ke rekening kas umum daerah. Rekomendasi 1. Provinsi Sumatera Utara.65 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. • Di Kabupaten Maros. 2009 senilai Rp2. Provinsi Sulawesi Selatan. kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.95 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4.83 miliar.66 Administrasi 1. penerimaan dana bagi hasil atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) TA 2009 dan 2010 tidak melalui rekening kas daerah Kabupaten Bombana di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara namun melalui dua rekening atas nama Pemda Bombana di Bank BRI sehingga tidak dilaporkan sebagai pendapatan daerah senilai Rp9. • Di Kabupaten Simalungun.67 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah tersebut. tidak mengurangi hak daerah (kekurangan .d. Atas kasus ini sudah ditindaklanjuti dengan penyetoran senilai Rp1. Selain itu. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan serta menyampaikan bukti setor ke BPK. adanya penggunaan langsung oleh SKPD untuk membiayai belanja rutin dan pinjaman sementara TA 2009 senilai Rp4. Provinsi Jawa Barat. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. terdapat kekurangan penerimaan dana Community Development (CD) atas pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sampai dengan 31 Desember 2009 senilai Rp5. pajak hotel Tahun 2004 s. Penyebab 1.49 miliar di antaranya penyetoran dari Kabupaten Simalungun senilai Rp1. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.98 miliar dan belum disetorkan ke kas daerah senilai Rp8.94 miliar.77 miliar. • Di Kota Bekasi.24 miliar. tidak cermat.68 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset.64 Dari 398 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp207.73 miliar dan pendapatan bunga bank senilai Rp12.30 • Di Kabupaten Bombana.41 miliar tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah sebanyak 34 kasus senilai Rp6. Provinsi Sulawesi Tenggara. 1.

• sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. dan lain-lain kasus administratif. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 28 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 9 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pertambangan. perpajakan. 1. penyimpangan yang bersifat administratif yaitu pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/belum disetor ke kas daerah.69 Pada umumnya kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu adanya pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid).70 1. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Kasus lain penyimpangan administratif yaitu adanya proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. • sebanyak 65 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang bersifat administratif sebanyak 862 kasus yang terdiri atas • sebanyak 364 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).31 penerimaan). tidak menghambat program entitas. Selain itu. • sebanyak 7 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan pelelangan. • sebanyak 8 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • sebanyak 45 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).71 1. dan pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. 1. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. pelaksanaan lelang secara proforma.72 . dan lain-lain.

02 miliar belum dipertanggungjawabkan dan berpotensi disalahgunakan oleh penerima bantuan.13 miliar tidak diserahkan kepada tim BPK RI. • sebanyak 28 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan pengelolaan perlengkapan/barang milik daerah. Provinsi Aceh. aset tetap hasil pengadaan TA 2006 s. sisa kas di bendahara pengeluaran TA 2007 s.32 • sebanyak 93 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Kabupaten Aceh Jaya. 2009 dinilai lebih rendah senilai Rp238. pertanggungjawaban atas belanja daerah TA 2009 senilai Rp602. Penyebab 1. 2009 pada 28 SKPD belum dipertanggungjawabkan senilai Rp209. .75 miliar tidak lengkap dan senilai Rp221. Provinsi Papua. • sebanyak 58 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.47 miliar sampai dengan TA 2009 belum memiliki sertifikat sehingga berpotensi disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain.d. dan • sebanyak 25 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • Di Kabupaten Kutai Timur. • sebanyak 6 kasus pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. • Di Provinsi Aceh.d. Provinsi Kalimantan Timur. • sebanyak 54 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. 1. • Di Kabupaten Mappi.73 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut.32 miliar. aset tetap tanah senilai Rp626.74 Kasus-kasus administrasi pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.00 miliar. yaitu bukti pertanggungjawaban senilai Rp381. belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota TA 2009 senilai Rp86. • Di Kabupaten Cianjur.88 miliar tidak lengkap dan tidak dapat diyakini kewajarannya. Provinsi Jawa Barat. • sebanyak 71 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/ belum disetor ke kas daerah.

75 miliar telah rusak dan diketahui bangunan mengalami kemiringan dan cenderung untuk rebah ke arah tiang pancang pekerjaan pembangunan Pelabuhan Terpadu Kota Bangun sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibangun kembali. 1.11 miliar.79 1.77 Ketidakhematan 1.03 juta. 1. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. • sebanyak 4 kasus penetapan kualitas dan kuatitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp4. Rekomendasi 1. dan • sebanyak 69 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp91.02 miliar.80 . • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. dan terjadi pemborosan atau kemahalan harga. segera melengkapi dokumen kepemilikan dan membuat peraturan daerah terkait penyertaan modal pemerintah. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakhematan sebanyak 74 kasus senilai Rp95. 1.78 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Pada umumnya kasus ketidakhematan yaitu adanya pengadaan barang/ jasa melebihi kebutuhan.75 Selain itu.81 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya sebagai berikut. adanya penetapan kualitas dan kuantitas barang/ jasa yang digunakan tidak sesuai standar.33 1. Provinsi Kalimantan Timur. hasil pekerjaan pendamping Pelabuhan Terpadu Kota Bangun berupa pekerjaan penurapan TA 2009 senilai Rp8. BPK telah merekomendasikan antara lain agar entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan secara administratif atas bukti pertanggungjawaban yang belum valid.27 miliar terdiri atas • sebanyak 1 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp131. kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.76 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.

Kasus ketidakefektifan yang lain yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan 1. dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pengeluaran biaya perjalanan dinas pada Dinas Perpajakan Daerah TA 2009 senilai Rp1. terdapat hasil pekerjaan perencanaan TA pada Dinas Pekerjaan Umum belum dimanfaatkan senilai Rp1. tidak cermat. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. Selain itu. • Di Kabupaten Solok Selatan. belanja tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD TA 2009 senilai Rp773. Rekomendasi 1.49 miliar tidak memperhatikan asas kehematan. Provinsi Maluku. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas. kasus ketidakhematan terjadi karena pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 1. • Di Kota Tual. Kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.34 • Di Kabupaten Cianjur. dan memedomani ketentuan yang berlaku dalam menetapkan kebijakan.87 . Penyebab 1. Provinsi Jawa Barat. Provinsi Sumatera Barat.44 miliar sehingga memboroskan keuangan daerah. • Di Kabupaten Kepulauan Mentawai.82 Kasus-kasus ketidakhematan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. antara lain BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.83 Ketidakefektifan 1. pemborosan keuangan daerah atas pengadaan barang dan jasa Tahun 2008 yang dilakukan dengan utang kepada pihak ketiga dan tidak sesuai dengan standar harga satuan barang dan jasa kebutuhan pemerintah senilai Rp735.30 juta.84 Terhadap kasus-kasus ketidakhematan. Provinsi Sumatera Barat.86 1.00 juta tidak berdasarkan survei harga setempat sehingga memboroskan keuangan daerah.

38 miliar. Bappeda.91 miliar belum dimanfaatkan. 2009 sebanyak 69 unit senilai Rp43. Provinsi Sulawesi Tenggara. • Di Kabupaten Simalungun. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.03 juta. Provinsi Sumatera Utara. pemberian tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja selama TA 2009 senilai Rp4.08 miliar belum memenuhi tujuan peningkatan prestasi kerja.32 miliar.20 juta.01 miliar. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp33. serta kantor Pelayanan Terpadu TA 2009 senilai Rp5.14 miliar terlambat diterima oleh sekolah sehingga sekolah tidak segera dapat memanfaatkan dana beasiswa tersebut. dana beasiswa untuk siswa miskin pada Dinas Pendidikan TA 2009 senilai Rp3.35 tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.89 Kasus-kasus ketidakefektifan tersebut di antaranya sebagai berikut.35 miliar.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 73 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp61. • Di Provinsi Aceh. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. Provinsi Sumatera Utara. 1. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp445. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp7.30 miliar belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya dan berpotensi rusak. • sebanyak 32 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp86.d. • sebanyak 3 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6. Dinas Kimpraswil. • sebanyak 5 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp477. • Di Kabupaten Konawe Utara. pembangunan gedung kantor Dinas Perhubungan. hasil pembangunan rumah jabatan dan pendukung lainnya untuk Pimpinan dan Anggota DPR Aceh beserta pendukung lainnya TA 2008 s. 1. • Di Kabupaten Nias Selatan.93 miliar. .88 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakefektifan sebanyak 137 kasus senilai Rp195.

36 • Di Kabupaten Tanah Bumbu. Provinsi Kalimantan Selatan. BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. pengadaan alatalat kesehatan pada RSUD Amanah Husada TA 2009 senilai Rp3. kurang dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan. Penyebab 1. 1. memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan kegiatan serta memperhatikan asas efektivitas dalam melaksanakan kegiatan. tidak cermat dalam merencanakan kegiatan dan melaksanakan tugas. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. tidak memedomani ketentuan yang berlaku. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan Rekomendasi 1.91 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.90 Kasus-kasus ketidakefektifan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.06 miliar belum dimanfaatkan mengakibatkan pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal.92 .

52 Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 164.56 7.444. laporan perubahan ekuitas dan rasio modal.03 451.72 2. Objek Pemeriksaan Aset 1 2 3 4 5 6 PTPN XII TB 2009 PDAM Kota Padang TB 2009 WSEDP pada BNPB TA 2010 BPIH 1430 H/2009 M BPIH 1429 H/2008 M 1.692. Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya (dalam miliar rupiah) Neraca No. Laporan Keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010.83 882. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.78 Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus (Defisit)/Laporan Aktivitas/ Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 877.1.36 BP Kawasan Perdagangan Bebas dan 14.044.96 Laba (rugi) Surplus (defisit) 70.09 17.03 72.37 BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 2.16 26.113.085. Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009.75 -19. Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) TB 2009.38 -2.01 112.1 berikut Tabel 2.429. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).05 Ekuitas 580.38 7.26 132. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Cakupan pemeriksaan atas LK BUMN/D dan badan lainnya meliputi neraca.28 21.34 26.70 16.65 75.84 Kewajiban 504. laporan realisasi anggaran atau laporan surplus (defisit) atau laporan aktivitas.19 7.109.39 931. serta Laporan Keuangan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009. serta laporan arus kas. Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BUMN/D dan badan lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 2.43 -14. Pemeriksaan keuangan atas BUMN/D dan badan lainnya bertujuan untuk memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.487.370.948.1 Pada Semester II Tahun 2010.11 .9 26.273.09 424.81 256. laporan laba rugi.11 20.97 Biaya 806.2 2.4 14.3 7.

38 Hasil Pemeriksaan 2. Oleh karena itu. yaitu opini. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.7 Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. Sjahrial & Rekan Tabel 2.6 BPK memberikan opini WTP terhadap Laporan Keuangan WSEDP BNPB TA 2010. transparan. No. Kecuali WSEDP BNPB yang merupakan initial audit bagi BPK. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. 2. dan akuntabel. 2. Hasil evaluasi atas SPI LK BUMN/D dan badan lainnya dapat diuraikan sebagai berikut.2 berikut. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Selain itu.4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BUMN/D dan badan lainnya disajikan dalam tiga kategori. sistem pengendalian intern (SPI).2. opini WDP diberikan terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009 serta BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. perkembangan opini keempat entitas tersebut untuk Tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 2. 1 2 3 4 Entitas PDAM Kota Padang BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam PTPN XII (Persero) BPIH Opini 2008 TMP WDP WDP-DPP*) TMP 2009 WDP WDP TMP TMP Keterangan : *) diperiksa oleh KAP Sugeng.8 . efisien.5 Opini 2. BPK juga memberikan opini TMP terhadap PTPN XII (Persero) TA 2009 serta PIH Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M. pemerintah wajib melakukan pengendalian intern atas penyelenggaraan kegiatannya. Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Sistem Pengendalian Intern 2.

63 miliar. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009. terdiri atas • sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.29 miliar dan Rp2. . sanksi pemutusan sambungan air belum dilakukan kepada pelanggan yang menunggak lebih dari tiga bulan mengakibatkan tunggakan rekening air senilai Rp13. Penyebab 2. sehingga saldo hutang DAU tidak dapat diyakini kewajarannya. saldo hutang kepada Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) senilai Rp16. • sebanyak 19 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.25 miliar dan PDAM menanggung biaya produksi air. alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta terdapat denda keterlambatan piutang UWTO yang belum dibuatkan faktur penagihannya senilai Rp967. pengelolaan piutang Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) TA 2009 belum tertib dan sampai dengan 31 Desember 2009 belum diterima pelunasannya senilai Rp264.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya menunjukkan adanya 71 kasus kelemahan SPI.29 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. dan aktiva tanaman Rp37. • Di PDAM Kota Padang TB 2009.39 Hasil Evaluasi SPI 2.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN/D dan badan lainnya.68 juta. • Di PIH Tahun 1429 H/2008 M. implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk dilakukan tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masing-masing senilai Rp7. 2.17 miliar tidak didukung dokumen pendukung yang menjadi dasar perhitungan dan tidak ada proses rekonsiliasi antara BPIH dengan BP-DAU untuk memastikan jumlah piutang yang seharusnya disajikan.62 miliar. dan • sebanyak 22 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.66 miliar.

29 64. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 7.3 di atas.12 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. 2. ketidakhematan. kekurangan penerimaan negara/perusahaan milik negara/daerah. BPK masih menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah. administrasi. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009.67 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/ Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan 2.116. potensi kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah.13 Selain opini dan evaluasi atas sistem pengendalian intern. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 4 7 10 23 9 1 9 Jumlah 63 Nilai (juta Rp) 28.72 89.16 239.595. hasil pemeriksaan mengungkapkan 63 kasus senilai Rp239. ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi. yaitu piutang Ditjen Perkebunan dan penyisihannya senilai Rp11.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.14 Berdasarkan Tabel 2. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan BUMN/D dan badan lainnya menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengawasan.3. dan ketidakefektifan meliputi 63 kasus senilai Rp239.12 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 2. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 2.897.203. ketidakefisienan. Di antara temuan signifikan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah sebagai berikut.3.99 49.03 282. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya No.43 miliar tidak diungkap pada laporan keuangan per 31 Desember 2009 dan kebijakan menghapusbukukan piutang tersebut melanggar anggaran dasar dan tanpa persetujuan dewan komisaris.123.15 .48 35.40 Rekomendasi 2. Tabel 2.

• Di PDAM Kota Padang TB 2009. terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan PIH.991. yaitu terdapat penggunaan dana hibah ADB senilai Rp21. • Di PIH Tahun 1430 H/2009 M. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Rekomendasi 2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. Penyebab 2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.32 miliar.991.86 miliar.68 miliar sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.37 miliar (ekuivalen SAR1 = Rp2.06 miliar dan pendapatan bunga deposito hasil optimalisasi setoran awal biaya PIH biasa pada tiga BPS masih terhutang pajak final yang belum disetorkan ke kas negara senilai Rp3.18 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan tersebut.17 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam menaati ketentuan yang berlaku.46 ribu (ekuivalen USD1 = Rp8.00) tidak sesuai ketentuan. Selain itu.16 Dari sejumlah kasus kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah senilai Rp28.45 miliar (ekuivalen USD1 = Rp8.59 miliar.00) yang digunakan untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening sehingga menimbulkan risiko kegiatan terhambat.00) dan Rp17.61 miliar.72 juta dan kekurangan penerimaan negara/daerah/ perusahaan milik negara/daerah senilai Rp35. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. 2.500. ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian negara. tidak cermat dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. BPK telah merekomendasikan agar para pejabat lebih menaati ketentuan serta lebih cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. yaitu bunga deposito dana setoran awal dari empat bank penerima setoran (BPS) senilai Rp6. yaitu penghapusan piutang kepada Anna for Development senilai Rp84. yaitu tingkat kehilangan air dalam proses distribusi melebihi batas toleransi senilai Rp11. yaitu pemberian dana bantuan sosial masyarakat tidak mematuhi ketentuan yang berlaku senilai Rp3. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah masing-masing senilai Rp539.19 . 2.41 • Di WSEDP BNPB Tahun 2010.

42 .

BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan. 5 pemda. .43 PEMERIKSAAN KINERJA Pemeriksaan kinerja bertujuan menilai aspek ekonomis. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. energi. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. efisiensi. perhubungan. kinerja pendidikan. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. 3 BUMN. pengelolaan hutan mangrove. dan efektivitas. Dalam Semester II Tahun 2010. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. perusahaan daerah air minum (PDAM). 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan 3 BUMN). Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas • • • • • • • • penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. dan 9 PDAM. pertanian. dan kinerja lainnya (10 objek pemerintah pusat.

44 .

Jeddah. yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Hongkong. Pemeriksaan dilakukan pada Kemenakertrans. namun kebijakan operasional lebih lanjut telah diatur dengan Peraturan Presiden.3 3. Kawasan penempatan yang terbesar adalah kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. sementara pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional belum mencukupi. Dinas Tenaga Kerja provinsi/kabupaten/ kota. dan Kuwait. Singapura. dan Nusa Tenggara Barat. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). martabat.37 miliar atau sekitar Rp39. Berbagai pihak terlibat baik lembaga pemerintah maupun swasta dalam proses penempatan TKI sejak dari pra penempatan sampai dengan masa penempatan.01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia. 3. hak asasi manusia.2 3.1 Penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. BNP2TKI. Ketentuan perundang-undangan yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2004 merupakan landasan hukum untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak di luar negeri. Perwakilan RI di luar negeri. Jawa Timur.45 BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 3.3 triliun. Riyadh. BNP2TKI. serta Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Walaupun enam peraturan pemerintah yang diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 belum ada yang diterbitkan. dan dinas tenaga kerja provinsi/kabupaten/kota. Ditjen Imigrasi. yaitu DKI Jakarta. Dalam Semester II Tahun 2010. dan perlindungan hukum. Jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam lima tahun terakhir mencapai angka 3. Penempatan TKI di luar negeri telah memberikan tambahan sumber devisa negara yang besar dengan rata-rata setiap tahunnya mencapai USD 4.4 . Jawa Tengah. serta Atase Tenaga Kerja pada Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Setidaknya ada lima lembaga formal yang terkait dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).

. • Pengurusan dokumen pemberangkatan calon TKI yang sah. Kriteria Pemeriksaan 3. Masa Penempatan • Keberangkatan dan kedatangan TKI di tempat tujuan dimonitor dan telah didukung sistem informasi yang andal. • Pengujian kesehatan yang menjamin derajat kesehatan calon TKI terpenuhi dan didukung proses yang transparan dan dapat diandalkan. • Monitoring TKI yang proaktif yang menjamin kepastian perlindungan TKI sesuai dengan hak dan kewajibannya.5 Pemeriksaan kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri bertujuan untuk menilai apakah penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah efektif dalam aspek perencanaan. pengorganisasian sumber daya.6 Untuk memastikan penilaian kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah sesuai dengan kondisi yang memadai. pelaksanaan.46 Tujuan Pemeriksaan 3. • Pembekalan akhir yang memastikan calon TKI memahami hak dan tanggung jawab serta diselenggarakan secara konsisten. Pra Penempatan • Rekrutmen yang prosedural dalam memenuhi job order untuk menghasilkan calon TKI yang telah dipersiapkan dan didukung fasilitas yang layak dan memadai pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. b. • Penanganan TKI bermasalah secara komprehensif yang memperhatikan aspek perlindungan dan kepastian hak dan kewajiban TKI. a. didasarkan pada kriteria sebagai berikut. dan pasti. • Pelatihan yang membekali kemampuan calon TKI sesuai dengan kebutuhan dan didukung prasarana yang memadai. transparan. dan pengendalian. • Pengujian yang memastikan kompetensi calon TKI sesuai yang dipersyaratkan dan didukung lembaga yang teruji.

komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. 3. • Pemulangan TKI yang memastikan keamanan dan kenyamanan TKI dan didukung prasarana yang memadai. Kompleksitas masalah tersebut mengakibatkan efektivitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tidak tercapai secara optimal. pelatihan dan pengujian kesehatan. sistem perekrutan calon TKI tidak menjamin bahwa biaya pengurusan dokumen dan syarat-syarat penempatan serta potongan gaji kepada TKI telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.47 c. proses penempatan di negara tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. Selain itu. • Penanganan TKI bermasalah yang memberikan kepastian dan tindak lanjut perbaikan.11 .9 Rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. dan perlindungan TKI 3. Purna Penempatan • Pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. pengurusan dokumen. Hasil Pemeriksaan 3. keadilan.8 3. Hal ini juga tidak didukung dengan sistem yang terintegrasi dan alokasi sumber daya yang memadai guna meningkatkan kualitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Masih sering terjadi besarnya potongan gaji TKI lebih tinggi dari komponen biaya penempatan maksimal (cost 3. belum dilaksanakan sepenuhnya untuk menjamin aspek perlindungan dan rasa aman bagi TKI. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilik kepentingan.10 Rekrutmen TKI yang seharusnya dimulai sejak pemetaan kondisi dan dasar hukum ketenagakerjaan negara tujuan penempatan TKI. Masalah-masalah pokok yang mendorong tidak efektifnya penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dapat diuraikan sebagai berikut. Kondisi tersebut terbukti dari penyiapan perekrutan dan penempatan TKI yang ternyata sebagian dilakukan untuk negara tujuan penempatan yang tidak memiliki MoU dan perundang-undangan yang menjamin perlindungan tenaga kerja.7 Hasil pemeriksaan atas kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menyimpulkan bahwa penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh.

12 Sistem rekrutmen calon TKI juga tidak menjamin bahwa mekanisme perekrutan berjalan sesuai peraturan yang telah ditetapkan. dan BNP2TKI. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). dan teruji kurang didukung kebijakan yang tegas. . Standar pengujian kesehatan dan biaya pengujian kesehatan juga tidak baku dan seragam bagi semua sarana kesehatan. Sejauh ini evaluasi dan monitoring yang dilakukan pemerintah tidak bisa menjamin kebijakan penyiapan dan pengelolaan perekrutan calon TKI menjadi lebih baik dan efektif. Hal-hal tersebut di atas menjadikan proses rekrutmen yang selama ini berjalan belum valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan potensi TKI bermasalah di kemudian hari. Banyaknya kondisi-kondisi yang tidak ideal tersebut belum secara optimal dijadikan bagian dari monitoring dan evaluasi pemerintah untuk perbaikan. serta pengawasan yang periodik dan konsisten 3. keadilan. mengalami pemotongan gaji lebih lama. Biaya pengurusan dokumentasi seperti biaya rekomendasi paspor dari disnaker kabupaten/kota. 3. Sebagian besar perekrutan TKI tidak melalui bursa tenaga kerja yang ada pada dinas tenaga kerja kabupaten/kota. Selain itu. Selain itu. biaya surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di kantor kepolisian. tetapi melalui sponsor/petugas lapangan (calo). biaya paspor di kantor imigrasi. 3. Beberapa PPTKIS mengirim TKI ke luar negeri melebihi jumlah TKI yang disetujui untuk direkrut dan merekrut calon TKI yang tidak memenuhi syarat. dan perlindungan bagi TKI.48 structure) TKI yang ditetapkan pemerintah.14 Penyiapan tenaga kerja yang sehat. masih ditemukan juga perekrutan TKI tanpa job order atau menggunakan job order yang telah kedaluwarsa. sistem pelatihan dan pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi. Ini terbukti dengan masih adanya sarana kesehatan yang beroperasi tanpa izin operasional atau dengan izin operasional tetapi telah kedaluwarsa.13 3. Kondisi tersebut mengakibatkan TKI harus menanggung biaya penempatan yang lebih tinggi dari seharusnya.15 Peraturan tentang rekrutmen calon TKI belum tegas mengatur mekanisme pengendalian operasional sarana kesehatan dan infrastruktur penunjangnya secara efektif. tidak semua sarana kesehatan memiliki sistem biometrik yang terhubung dengan Sistem Pelayanan Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai alat untuk memvalidasi sertifikat kesehatan calon TKI yang diterbitkan sarana kesehatan. Kebijakan dan prosedur pengawasan sarana kesehatan juga tidak terintegrasi dengan fungsi pengawasan pada Kemenakertrans. dan memperoleh gaji lebih sedikit. mampu. biaya pembekalan akhir penempatan (PAP)/Iuran Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) di APJATI. biaya/ premi asuransi dan biaya fee Petugas Lapangan (PL) dan agensi rata-rata menjadi beban yang wajib dikeluarkan oleh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang nantinya akan membebankan kepada TKI melalui potongan gaji.

Kapasitas BNSP dalam kecukupan SDM untuk memonitor dan mengevaluasi LSP tidak memadai. sistem yang terintegrasi. Fungsi dan kegunaan KTKLN. kompetensi SDM. dan terukur untuk memastikan penilaian sarana/prasarana. Banten. Dualisme penggunaan KTKLN yang dikeluarkan oleh 3. Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas.49 3. Kondisi pengurusan dokumen yang tidak equal treatment ini tidak dibenahi oleh pemerintah sampai saat ini. Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) pada Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (PPTK) yang harusnya berkewajiban membakukan prosedur penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal.20 . rutin. sehingga masih saja ditemukan kasus-kasus TKI gagal disebabkan tidak adanya pelatihan atau pelatihan yang tidak memenuhi standar oleh BLKLN. menjadi mubazir. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak melakukan pengawasan secara terprogram. Mekanisme penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal oleh instansi yang berbeda-beda antar daerah pengirim TKI (khususnya antara Provinsi DKI Jakarta dengan provinsi lainnya) semakin tidak terkendali. dan pasti. Efektivitas LSP sebagai filter tingkat kompetensi calon TKI meragukan dengan banyaknya TKI yang bekerja tanpa pelatihan. Rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal yang seharusnya berfungsi juga untuk pengendalian keabsahan calon TKI menjadi sulit dilakukan karena sistem yang digunakan oleh Direktorat PTKLN bersifat manual. Sedangkan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Asia Pasifik dapat diproses pada kantor imigrasi manapun. dan program diklat yang jelas dan baku serta jangka waktu pelatihan yang sesuai ketentuan. yang sampai saat ini belum ada. transparan. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten 3.19 3. turut bersaing menerbitkan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal dengan BP3TKI Jakarta. Selain itu.17 Dualisme kewenangan antara Kemenakertrans dengan BNP2TKI dan dinas tenaga kerja dengan BP3TKI dalam penerbitan dokumen keberangkatan TKI yang belum dituntaskan secara kelembagaan menambah kerumitan pengurusan dokumen keberangkatan TKI yang sah. terencana.18 3. dan terencana dengan baik terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kegiatan uji kompetensi calon TKI setelah dilatih oleh BLKLN. Kewenangan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Timur Tengah dimonopoli oleh Kantor Imigrasi Unit Khusus Tangerang. sesuai amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 51 wajib dimiliki setiap calon TKI untuk dapat ditempatkan di luar negeri. Perbedaan perlakuan pembuatan paspor ini menyebabkan pengerahan sumber daya PPTKIS yang tidak efisien.16 Akreditasi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja yang ditunjuk melalui keputusan Menakertrans juga dilakukan secara tidak terprogram. Sanksi atas BLKLN yang tidak memenuhi standar pelatihan tidak dilakukan.

tetapi mendapat rekomendasi bebas fiskal oleh Sub Direktorat PPTKLN maupun BP3TKI. dan transparan 3. Ketidaksinkronan jumlah penerimaan DP3TKI dengan jumlah TKI yang diberangkatkan sudah berlangsung lama.22 Penyelenggaraan asuransi TKI belum memberikan perlindungan secara adil. menyebabkan Kemenakertrans tidak tertarik untuk memperbaiki penatausahaan DP3TKI itu.21 Dualisme penyelenggaraan PAP oleh Kemenakertrans/Asosiasi PPTKIS dan BP3TKI menjadikan kegiatan PAP tidak terarah dan terprogram. Kewajiban 3. menciptakan persaingan tidak sehat. apakah tetap Kemenakertrans atau BNP2TKI. Selain itu. Pelaksanaan PAP oleh BP3TKI yang dibiayai dari APBN. bahkan terdapat konsorsium asuransi yang dengan sengaja menyembunyikan data produksi dan klaimnya. 3. Website konsorsium asuransi yang seharusnya dapat diakses secara terbuka seringkali terkendala secara teknis. pasti. KTKLN yang dibuat secara manual di samping menambah ongkos TKI juga bersifat formalitas karena fungsi dan kegunaannya tidak sesuai sebagai penyimpan data yang dapat difungsikan dengan alat pembaca KTKLN.23 Amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 68 mewajibkan PPTKIS mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi.50 BNP2TKI dan Asosiasi PPTKIS (atas rekomendasi Kemenakertrans) yang tidak kunjung selesai dan tidak tersedianya perangkat pendukung KTKLN (card reader) yang memadai mengurangi fungsi KTKLN sebagai kartu identitas TKI yang sah dan wajib dimiliki TKI sebelum berangkat ke luar negeri. Konsorsium asuransi tidak berlomba-lomba memperbaiki kinerja jaringan dan pelayanan. 3. Penunjukan sembilan konsorsium asuransi melalui keputusan Menakertrans pada Tahun 2006 sampai dengan 2009 yang melibatkan 48 perusahaan asuransi dan delapan broker asuransi. yang jenis dan biaya pertanggungannya sudah ditetapkan. walaupun biaya premi tersebut akhirnya ditagihkan secara penuh kepada TKI melalui mekanisme pemotongan gaji. serta banyaknya TKI yang tidak diikutkan PAP oleh PPTKIS-nya. Konsorsium asuransi tidak terbuka melaporkan produksi polis dan klaim baik kepada Kemenakertrans maupun terbuka untuk umum melalui website. Bahkan dengan munculnya isu mengenai siapa yang berhak mengelola DP3TKI. sedangkan pelaksanaan PAP oleh Sub Direktorat PPTKLN/Asosiasi PPTKIS dibiayai TKI. khususnya asuransi pra penempatan. Data produksi dan progress klaim TKI sangat sulit diakses. melainkan berlomba-lomba memberikan diskon premi dan tawar-menawar harga premi kepada PPTKIS. mencerminkan pengelolaan PAP tidak akuntabel dan transparan. Program itu belum dikelola dengan baik oleh Kemenakertrans. Bagi PPTKIS semakin sedikit biaya premi yang dibayarkan semakin baik. Dilema asuransi juga diperparah dengan adanya unsur kesengajaan PPTKIS yang tidak mengikutkan TKI-nya dalam program asuransi. Kemenakertrans tidak menyelenggarakan penatausahaan penerimaan dan penyetoran Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan TKI (DP3TKI) ke kas negara secara transparan.24 .

51 konsorsium dalam menyelesaikan klaim sering terlambat dan tidak jelas statusnya. Banyaknya klaim asuransi TKI yang tidak cair sering menimbulkan pertanyaan apakah proses klaimnya disetujui tetapi lambat atau klaimnya ditolak. Tidak ada kejelasan mengenai proses klaim dari konsorsium baik kepada Kemenakertrans, TKI yang bersangkutan atau pihak-pihak yang mewakili TKI. 3.25 Demikian juga kewajiban konsorsium asuransi dalam menangani kasus-kasus TKI di luar negeri sering kali tidak jelas statusnya. Perwakilan konsorsium asuransi pada negara penempatan sering tidak ada atau ada tapi tidak diketahui Perwakilan RI. Jenis pertanggungan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, pelecehan seksual, kecelakaan kerja yang berakhir pada pemberhentian TKI oleh majikan sulit diklaim kepada asuransi TKI, sehingga sering menimbulkan dilema pembiayaan pemulangan bagi Perwakilan RI. Pendampingan TKI yang bermasalah hukum di negara penempatan diwakili oleh lawyer yang ditunjuk oleh Perwakilan RI. Namun saat tagihan biaya lawyer kepada konsorsium asuransi tiba, konsorsium asuransi sering tidak menyelesaikan segera. Konsorsium asuransi memberikan berbagai alasaan teknis maupun administrasi bila konsorsium asuransi dikonfirmasi terkait status tersebut.

Data penempatan TKI tidak akurat, sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri
3.26 Keberadaan sistem informasi TKI pada Perwakilan RI di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya perlindungan TKI. Sistem tersebut memerlukan data base TKI yang mutakhir setiap waktu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan data TKI tersebut melalui mekanisme lapor diri TKI atau melalui PPTKIS pengirim, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004. Namun ketaatan PPTKIS untuk melaporkan setiap pengiriman TKI kepada Perwakilan RI sangat rendah, sehingga data TKI pada Perwakilan RI tidak mutakhir. Perwakilan RI di luar negeri belum secara optimal melakukan setiap prosedur untuk memastikan kebijakan pendataan TKI melalui mekanisme lapor diri terpenuhi. Kegiatan welcoming program dan exit program oleh Perwakilan RI di Hongkong sepertinya hanya formalitas jauh dari tujuan yang diharapkan. Perwakilan RI di Singapura, Malaysia, dan Kuwait sia-sia melakukan pendekatan melalui data entry testworking permit pada website atau mengirim permintaan tertulis kepada ministry of manpower atau imigrasi, walaupun mengetahui data working permit tersebut hanya berbentuk kisaran jumlah TKI. Sedangkan Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak melakukan upaya pendekatan apapun selain mengandalkan data TKI berdasarkan data perjanjian kerja (PK), walaupun hanya berisi data majikan saja. Kondisi tersebut terjadi di tengah kewenangan yang begitu besar yang dimiliki Perwakilan RI di luar negeri untuk menyetujui boleh atau tidaknya penempatan TKI yang diminta majikan, agensi, dan PPTKIS.

3.27

52

Penanganan dan Penyelesaian TKI bermasalah di luar negeri bersifat parsial
3.28 Berbagai usaha untuk menyelesaikan kasus TKI bermasalah telah dilakukan Perwakilan RI di luar negeri. Namun penanganan kasus TKI oleh Perwakilan RI selama ini hanya fokus pada masalah yang dihadapi TKI secara parsial, bukan pada penyelesaian kasus secara komprehensif pada akar permasalahan. Evaluasi atas kondisi sebab akibat kasus TKI belum dilakukan Perwakilan RI untuk menemukan akar permasalahan secara jelas. Permasalahan gaji tidak dibayar, PHK sepihak, TKI overstayers, dan masalah ketenagakerjaan lainnya akan selalu timbul jika penanganan kasus dilakukan secara parsial. Perwakilan RI di Malaysia, Hongkong, Saudi Arabia, dan Kuwait akan selalu menghadapi kasus serupa berulang-ulang tanpa penyelesaian kasus secara komprehensif yang seharusnya melibatkan pihak-pihak terkait mulai PPTKIS, agensi, majikan, pemerintah Indonesia, dan pemerintah negara penempatan. Pemerintah seharusnya segera mengambil peranan koordinasi tersebut dengan lebih baik lagi.

Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif
3.29 Pemerintah dhi. Kemenakertrans dan BNP2TKI telah menetapkan regulasi yang mengatur proses pendataan kedatangan, pengaturan transportasi, dan penanganan TKI bermasalah. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjamin TKI dapat sampai daerah asalnya dengan cepat, mudah, murah, dan selamat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa koordinasi pendataan kedatangan TKI secara terpadu antara BNP2TKI dengan pengelola bandara dan imigrasi tidak optimal. Tidak ada mekanisme yang baku untuk memastikan bahwa penumpang pesawat yang mendarat di bandara internasional adalah TKI, sehingga ada kemungkinan penumpang yang bukan TKI didata sebagai TKI, demikian juga sebaliknya. Proses penetapan operator armada transportasi tidak melalui evaluasi teknis, kinerja dan kelayakan operator/armadanya secara baku dan transparan, sehingga banyak operator angkutan pemulangan TKI ke daerah asal tidak bisa memenuhi jumlah kuota armada yang telah ditentukan. Penempatan staf BP3TKI sebagai petugas kontrol Surat Perintah Jalan di rumah singgah tidak dilakukan. Pengecekan kelaikan armada dan pengemudi tidak dilakukan karena tidak ada pegawai BNP2TKI yang kompeten dalam bidang teknis mesin kendaraan angkutan TKI. Pengecekan hanya dilakukan sebatas Surat Perintah Jalan, administrasi kendaraan, dan pengemudi. Pemberian sanksi kepada operator yang melakukan pelanggaran tidak konsisten yang terlihat dari sanksi yang berbeda-beda tiap operator. Pengurusan pengajuan klaim asuransi TKI bermasalah yang dibantu oleh BNP2TKI melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memunculkan pertanyaan mengenai beban pembiayaan LBH yang berasal dari APBN untuk jasa pengurusan klaim asuransi TKI, selain juga mengenai mekanisme penunjukan

3.30

3.31

53 dan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH yang tidak jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH kepada BNP2TKI sebagai pemberi tugas. Mekanisme penyerahan klaim kepada TKI juga tidak jelas. Rekomendasi 3.32 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala BNP2TKI baik bersamasama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk segera : • melakukan evaluasi menyeluruh peraturan perundangan, kebijakan, sistem, dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri; • melaksanakan moratorium (penghentian pengiriman sementara) TKI informal ke negara yang belum memiliki peraturan yang melindungi TKI dan/atau perjanjian tertulis (MoU) dengan Pemerintah RI; • mengkaji dan menetapkan kembali biaya penempatan TKI yang proporsional dan riil; • menetapkan dan melaksanakan standar baku penyiapan, pengelolaan, dan monitoring/evaluasi perekrutan TKI; • menetapkan standardisasi perizinan lembaga pengujian kesehatan calon TKI untuk menjamin validitas sertifikasi kesehatan calon TKI; • menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi fungsi BLKLN secara jelas, terprogram, dan terarah; • memastikan kapasitas BNSP agar dapat melaksanakan fungsi pengawasan atas kegiatan LSP secara terprogram dan terarah; • menetapkan batas kewenangan Kemenakertrans, BNP2TKI, dan dinas tenaga kerja secara jelas dan terkoordinasi dengan baik dalam semua lini pengurusan dokumen keberangkatan TKI; • menetapkan dan menegakkan regulasi pengelolaan asuransi yang jelas dan berpihak pada TKI; • menyelenggarakan sistem informasi TKI terpadu yang andal dan dapat diakses Perwakilan RI di luar negeri; • menetapkan program pembinaan/monitoring pada Atase Tenaga Kerja yang terarah serta penyediaan prasarana, SDM, dan dana yang cukup dan cepat dalam upaya perlindungan dan pembinaan TKI; • memperbaiki regulasi penempatan TKI yang lebih menekankan pendekatan perlindungan TKI khususnya regulasi pra penempatan dan

54 menetapkan mekanisme penanganan kasus TKI pada Perwakilan RI di luar negeri yang terstruktur secara efektif; • mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pendataan, mekanisme pemulangan, dan mekanisme penanganan kasus dan pengajuan klaim asuransi TKI pada bandara-bandara internasional tempat kedatangan TKI; dan • mengenakan sanksi secara tegas dan konsisten kepada PPTKI, BLKLN, Lembaga Pengujian Kesehatan calon TKI, LSP, dan perusahaan/ konsorsium asuransi TKI serta pihak lain yang terkait, yang melanggar ketentuan dan/atau standar yang telah ditetapkan dalam pelayanan kepada TKI. 3.33 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

55

BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009
4.1 Krisis keuangan global yang menimpa sektor perbankan dan keuangan dunia dipicu oleh munculnya krisis atas subprime mortgage di Amerika Serikat dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada Tahun 2007. Krisis tersebut berdampak pada kelemahan dalam pengaturan industri keuangan dan sistem keuangan global, serta pada penurunan kinerja perekonomian dunia pada Tahun 2008, dan berlanjut pada Tahun 2009. Sesuai dengan UU Nomor 41 Tahun 2008 Pasal 23 tentang APBN TA 2009, Pemerintah menyampaikan usulan tentang upaya mengatasi dampak krisis global melalui program Stimulus Fiskal (SF) APBN TA 2009 kepada Panita Anggaran DPR RI. Rapat kerja Panitia Anggaran DPR RI dan Pemerintah tanggal 24 Februari 2009 memutuskan bahwa alokasi anggaran program/ kegiatan SF APBN TA 2009 senilai Rp73,30 triliun. Alokasi anggaran program/ kegiatan SF tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan senilai Rp56,30 triliun (76,81%) dan stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun (23,19%). Dari jumlah stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun tersebut, dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur senilai Rp12,20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi senilai Rp4,80 triliun. Program/kegiatan SF belanja infrastruktur mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran stimulus belanja untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya pada program/ kegiatan terkait dengan penanganan bencana, pembangunan jalan, jembatan dan irigasi, percepatan infrastruktur lanjutan, pengembangan bandara, jaringan kereta api, pelabuhan laut dan penyeberangan, pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani, dan pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus nelayan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur pada enam objek pemeriksaan di delapan kementerian dengan lokasi pemeriksaan di 18 provinsi dengan rincian sebagai berikut. • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. • Kementerian Keuangan di Jakarta. • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta.

4.2

4.3

4.4

56 • Kementerian Pekerjaan Umum di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. • Kementerian Perhubungan di sembilan provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. • Kementerian Pertanian di tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. • Kementerian Kelautan dan Perikanan di empat provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. 4.5 Selain itu, pemeriksaan untuk bidang pekerjaan umum (PU) juga dilakukan di 26 dinas provinsi/kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Bengkulu, Jambi, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Entitas yang diperiksa untuk bidang PU meliputi Dinas Bina Marga (BM) dan Pengairan Kabupaten Bogor, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten Demak, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Nganjuk, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Dinas PU BM dan Cipta Karya (CK) Kabupaten Tulungagung, Dinas PU Kota Palangkaraya, Dinas PU Kabupaten Barito Kuala, Dinas PU Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Dinas PU Kabupaten Takalar, Dinas PU Kabupaten Maros, Dinas PU Kabupaten Gowa, Dinas PU Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas PU Kabupaten Sorong, Dinas PU Kabupaten Sorong Selatan, Dinas PU Kabupaten Mukomuko, Dinas PU Kabupaten Kepahiang, Dinas PU Kabupaten Bungo, Dinas PU Kabupaten Merangin, Dinas Kimpraswil Provinsi NTT, Dinas PU Kabupaten Manggarai Timur, Dinas PU BM, dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Donggala, Dinas PU Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara, Dinas PU Kabupaten Halmahera Timur, Dinas PU BM, Tata Ruang, Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun, Dinas CK dan Perumahan Kabupaten Asahan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 pada delapan kementerian dan 26 dinas provinsi/kabupaten/kota adalah senilai Rp4,10 triliun dari realisasi belanja Rp6,13 triliun atau 66,84%.

4.6

4.7

57

Tujuan Pemeriksaan
4.8 Tujuan pemeriksaan atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 untuk menilai apakah • Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF Tahun 2009 pada belanja infrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK; dan • Pelaksanaan kegiatan SF bidang insfrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

Sasaran Pemeriksaan
4.9 Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. • Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan. • Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan.

Kriteria Pemeriksaan
4.10 Kriteria penilaian efektivitas pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF belanja infrastruktur beserta implementasinya secara nasional di tingkat pusat maupun daerah dalam pencapaian tujuan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur dalam pemeriksaan ini menggunakan kriteria pengelolaan yang baik (model of good management) yang dimuat di berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kriteria tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan area kunci pada pemeriksaan pendahuluan dan telah dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa.

Hasil Pemeriksaan
4.11 Hasil pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menyimpulkan bahwa, walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4,5% di tengah krisis keuangan dunia, pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan serta pelaksanaan SF belanja infrastruktur Tahun 2009, yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah, belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Hal tersebut dibuktikan adanya 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151,49 miliar atau

58 3,69% dari realisasi anggaran yang diperiksa dengan jumlah tenaga kerja tidak terserap minimal sebanyak 216.520 Orang Hari (OH), yang disebabkan oleh kelemahan kebijakan, sistem/prosedur perencanaan, penganggaran, dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketaatan pada asas kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan yang kurang dipenuhi.

Kelemahan Kebijakan
4.12 Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009, BPK menemukan kelemahan kebijakan yang telah mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Kelemahan kebijakan tersebut terjadi baik di tingkat pembuat kebijakan makro yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), maupun di tingkat kementerian pelaksana program/ kegiatan stimulus. Temuan-temuan signifikan terkait kelemahan kebijakan di antaranya adalah sebagai berikut. • Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian dana SF infrastruktur sebagai belanja barang ke daerah yang dilaksanakan dalam keadaan krisis ekonomi, tidak mempunyai landasan hukum yang dapat menjamin kepastian hukum sampai dengan terbitnya UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN TA 2009. Di samping itu, kriteria kondisi darurat atas krisis ekonomi hanya ditetapkan dalam UU APBN 2009 yang hanya berlaku untuk tahun tersebut. Dengan demikian, walaupun secara umum ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur mekanisme penanganan di saat krisis, hal tersebut belum komprehensif dan terintegrasi untuk menangani kondisi krisis secara cepat, tepat, dan akuntabel. • Di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan, perhitungan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja belum ada standar/pedomannya, sehingga laporan jumlah tenaga kerja yang terserap tidak dapat diyakini akurasinya serta belum dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen. Lebih jauh lagi, di tingkat satuan kerja (satker) pelaksana kegiatan SF belanja infrastruktur, penetapan target dan perhitungan realisasi tenaga kerja tidak didasarkan atas perhitungan yang baku dan berbeda antara satu satker dengan satker lainnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) yang bebas PPN masih memperhitungkan pengenaan PPN senilai Rp4,80 miliar berakibat hilangnya kesempatan membangun 96 unit RNRB senilai Rp4,80 miliar yang dapat menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 576 orang.

59 • Di Kementerian Pertanian, realokasi anggaran dan pemilihan program/ kegiatan SF melalui mekanisme APBN-P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran dalam mendukung pencapaian tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengatasi PHK. Penyebab 4.13 Pemerintah belum memiliki ketentuan perundang-undangan dan mekanisme yang komprehensif dan terintegrasi untuk dapat menjamin kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. Menteri PU dan Menteri Perhubungan belum menetapkan standar/pedoman mengenai perhitungan tenaga kerja, Menteri Kelautan dan Perikanan dhi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) belum memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan RNRB mengenai pembebasan PPN, dan Menteri Pertanian tidak konsisten dalam menjalankan program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Rekomendasi 4.15 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan di antaranya kepada pemerintah, dalam hal ini • Menteri Keuangan, agar berkoordinasi dengan menteri terkait dalam membuat protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam rangka menghadapi krisis ekonomi di masa yang akan datang, dan memastikan bahwa kebijakan anti krisis dilakukan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Protokol tersebut agar ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna memberikan jaminan kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. • para menteri dimaksud agar membuat pedoman/standar dan memberikan panduan serta konsisten dalam melaksanakan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur.

4.14

Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran, Pemilihan Program/Kegiatan, dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur
4.16 Dalam pemeriksaan kinerja program/kegiatan SF belanja infrakstruktur Tahun 2009, BPK menemukan permasalahan-permasalahan efektivitas pengalokasian anggaran, pemilihan program/kegiatan, dan pencapaian tujuan program stimulus fiskal belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan yang ditemukan di antaranya sebagai berikut. Pemerintah kurang mendukung tercapainya tujuan penyerapan tenaga kerja dalam memilih program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Paket-paket kegiatan yang dipilih sebagian besar bukan padat karya dan merupakan paket

4.17

• Di Kementerian ESDM. Bila dikaitkan dengan kriteria program yang mendapatkan tambahan alokasi belanja dalam rangka SF 2009 dari Kementerian Keuangan. • Di Kementerian Perhubungan.00 miliar. namun belum ada sumber dananya. pemilihan lokasi 38 unit RNRB tidak tepat. sehingga penggunaan anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur senilai Rp1. gubernur/walikota/bupati dan para kepala dinas terkait. . di antaranya digunakan untuk Pembangunan Gedung Teknik dan Metoda Karantina Pertanian Tahap IV senilai Rp35. berada di kawasan sempadan pantai dan sungai yang terjadi di Kabupaten Brebes.18 Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur sebagai tambahan dana dua kontrak tahun jamak senilai Rp100. di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi). dan Kota Pekalongan. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. 4. Hal ini mendukung hasil evaluasi BPK bahwa program yang didanai oleh SF belanja infrastruktur Tahun 2009 belum sepenuhnya efektif dalam mendukung tujuan peningkatan daya serap tenaga kerja dan pengurangan PHK. dan Gardu Induk senilai Rp425. belum menetapkan kebijakan yang diperlukan terkait dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi PHK. para menteri. • Di Kementerian PU. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen Bina Marga di Provinsi Kalimantan Selatan. Sampang.42 miliar kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. Hasil studi tenaga ahli BPK RI dari FE UI menunjukkan bahwa sebagian besar dari proyek yang dilaksanakan di daerah adalah proyekproyek yang dibutuhkan. Penyebab 4. sebagai pihak yang memiliki kewenangan.25 miliar. Jaringan. program yang dilaksanakan di daerah penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan dan kegiatan dapat diselesaikan dalam Tahun 2009.19 Pemerintah. untuk kontrak tahun jamak yang di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi) senilai Rp5.00 miliar. Probolinggo. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen LPE untuk Pembangunan Transmisi. yang sifat pekerjaannya padat modal dan padat teknologi sehingga tidak akan menyerap tenaga kerja yang optimal. • Di Kementerian Pertanian.00 miliar pada Ditjen Perhubungan Udara.66 miliar.60 pekerjaan tahun jamak yang tidak menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan. yang dilaksanakan secara tahun jamak sejak Tahun 2008. Selain itu para pihak tersebut belum sepenuhnya menggunakan penyerapan tenaga kerja sebagai kriteria utama pemilihan program. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Badan Karantina Pertanian senilai Rp51.

16 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH yang antara lain pada pekerjaan pembangunan tanggul banjir Sungai Kasi (tahap II) Kabupaten Manokwari. dan akuntabel.24 miliar. Pengusulan program/kegiatan oleh kementerian lebih memperhatikan tujuan dan kebijakan yang melandasinya. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009.61 Rekomendasi 4. BPK telah merekomendasikan agar dalam memilih program-program/kegiatan-kegiatan SF. Dengan demikian hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang PU tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp30.20 Terhadap permasalahan tersebut. Pada program/kegiatan SF belanja infrastruktur Tahun 2009.21 Hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan permasalahan-permasalahan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan di antaranya sebagai berikut. energi.22 . Permasalahan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang tidak mencapai target volume dan permasalahan yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara. pemerintah hendaknya mempergunakan dasar yang jelas sesuai dengan tujuan SF. Dasar pemilihan program tersebut hendaknya tercantum dalam suatu crisis management protocol yang perlu disusun untuk menjamin bahwa kebijakan anti krisis ekonomi bisa direncanakan dan dilaksanakan secara tepat waktu. pertanian. sebanyak 17 kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum berindikasi merugikan negara senilai Rp41. Di antara kasus-kasus tersebut. bidang bina marga. 4. Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan SF Belanja Infrastruktur 4. Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. indikator yang dapat digunakan adalah tercapainya target volume fisik yang direncanakan dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan sesuai dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur.41 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 134. dan bidang cipta karya ditemukan kekurangan volume pekerjaan.581 OH. di antaranya hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target volume senilai Rp1. perhubungan.48 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 208. BPK menemukan sebanyak 60 kasus pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target volume fisik yang ditetapkan senilai Rp84. • Di Kementerian PU. tepat sasaran. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. Salah satu indikator keberhasilan program/kegiatan SF adalah tercapainya target yang telah ditetapkan. Hasil pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target yang ditetapkan. hasil pemeriksaan pada 9 Kegiatan Stimulus Pusat (KSP) dan 26 Kegiatan Stimulus Daerah (KSD) atas pelaksanaan pekerjaan bidang SDA.492 OH.

4. Ditjen Perhubungan Laut. Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Waterpass dan Theodolite • Di Kementerian Perhubungan. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang perhubungan tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp12. • Di KSD Teluk Bintuni. Ditjen Perkeretaapian.53 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 2.105 OH. Dengan demikian.62 Gambar 4.23 Kasus-kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara di antaranya sebagai berikut.616 OH. perhitungan RAB kontrak tidak sesuai dengan SNI tentang analisa biaya konstruksi (ABK) bangunan gedung dan perumahan pekerjaan pondasi sehingga berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp5.74 miliar.35 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 46. Provinsi Papua Barat. kekurangan volume pekerjaan dalam 113 kontrak pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara. • Di bidang perhubungan Provinsi Maluku Utara. Dengan demikian.1. dan Ditjen Perhubungan Darat. pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi Saluran Induk I & II Tuaraisah tidak dikerjakan sesuai dengan kontrak. proses pengadaan pembangunan fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate tidak sesuai ketentuan. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang pekerjaan umum tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp4. .

24 Selain permasalahan signifikan di atas. hasil pengadaan 283 unit alat Global Positioning System (GPS) senilai Rp3.79 miliar pada Setjen Kementerian Pertanian belum dimanfaatkan karena belum didistribusikan kepada dinas perkebunan provinsi/kabupaten sesuai dengan rencana. hasil pengembangan fasilitas pembangunan DME berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.25 Potensi kerugian negara/daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. Aset hasil KSD di 22 provinsi/kabupaten/kota tidak dicatat dan dilaporkan sebagai mutasi tambah nilai aset dalam LBMD maupun neraca dinas pelaksana KSD dan pemerintah daerah. • Di Kementerian Perhubungan. surat . • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. aset hasil pengadaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada tiga satker Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan. tingginya biaya produksi dan biaya operasional serta efisiensi alat rendah. sehingga berpotensi terjadinya hilang/rusak aset negara tersebut dan aset tersebut sampai berakhirnya pemeriksaan belum dimanfaatkan. • Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2009 dan Peraturan Menteri PU Nomor 09/PRT/M/2009 tanggal 17 April 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran SF Bidang Pekerjaan Umum untuk kegiatan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah jelas menyatakan bahwa keluaran/aset yang diperoleh dari KSD menjadi barang milik daerah dan tidak masuk menjadi aset kementerian. Selain itu GPS yang diadakan memiliki fitur yang melebihi kebutuhan. mengakibatkan aset hasil KSD tidak tersaji dalam neraca pemerintah daerah per 31 Desember 2009 dan berpotensi tidak terpelihara. Akibatnya hasil pengadaan kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. 4.63 4. Akibatnya. di antaranya karena ketiadaan pasokan bahan baku. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. • Di Kementerian Pertanian.64 miliar belum sepenuhnya efektif dalam mencapai tujuan penganekaragaman sumber energi masyarakat. pengenaan PPh final jasa konstruksi pada 33 kabupaten/kota kurang senilai Rp544. Papua. dan Papua Barat tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat. hasil 21 paket pekerjaan Desa Mandiri Energi (DME) bahan bakar nabati di 26 lokasi senilai Rp19. yang terbukti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan kembali menggunakan bahan bakar konvensional. pemeriksaan BPK juga menemukan permasalahan lain yang spesifik di masing-masing kementerian.19 juta dan mengakibatkan lebih bayar senilai tersebut. • Di Kementerian ESDM.

pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp2. Provinsi Kalimantan Selatan. KSD pada Kabupaten Halmahera Timur. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan Tahun 2009 belum dikenakan denda. 4.05 miliar.27 Dari kasus-kasus terkait dengan hasil pelaksanaan pekerjaan yang tidak mencapai target volume kontrak dan kekurangan penerimaan telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah senilai Rp21.14 miliar. Kalimantan Tengah. dan barang. dan Kalimantan Selatan. sedangkan pada permasalahan yang berindikasi merugikan negara karena diduga . yang nyata dan pasti jumlahnya. pertanian.09 miliar diantaranya sebagai berikut. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 14 kasus senilai Rp9.28 Terkait dengan permasalahan hasil pelaksanaan yang tidak mencapai target dan potensi kerugian negara/daerah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat 11 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi dan mengakibatkan potensi kerugian negara/daerah pada Kementerian Pekerjaan Umum di antaranya sebagai berikut. • Di KSP Provinsi Jawa Tengah. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. energi. • Di Kementerian Perhubungan. • Di KSD Kabupaten Barito Kuala. perhubungan. Papua Barat. tidak cermat dalam merancang dan menyusun volume pekerjaan serta evaluasi harga satuan kontrak. pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab kurang optimal dan lalai dalam pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp5.23 miliar. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. 4.43 miliar. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja bidang pekerjaan umum tahun 2009 belum dikenakan denda senilai Rp712. Penyebab 4.26 Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.64 berharga.17 juta serta pajak galian golongan C belum dipungut senilai Rp1. • Di Kementerian PU.

BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar menyetorkan kelebihan pembayaran/kekurangan penerimaan atas pekerjaan yang tidak mencapai target dan memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di Kementerian Pertanian. Dirjen Listik dan Pemanfaatan Energi (LPE) kurang cermat dalam merencanakan kegiatan dan kurang mengawasi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan. Di Kementerian ESDM. dan memberikan sanksi kepada pihak terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4.35 4. kebijakan terkait barang milik daerah hasil KSD belum ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BPK telah merekomendasikan para gubernur/bupati/walikota agar berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk segera memproses serah terima aset hasil kegiatan stimulus dan mencatatnya dalam LMBD dan neraca. selain itu pejabat pembuat komitmen (PPK) lalai dalam mengendalikan dan mengawasi serta memonitor pengadaan barang/jasa. Terhadap permasalahan-permasalahan potensi kerugian negara/daerah.29 4. Di Kementerian Perhubungan. selain yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum. KPA dhi. dan permasalahan kekurangan penerimaan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Perhubungan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut 4. selain itu pengawas lapangan dan konsultan pengawas lalai dalam melakukan pengawasan pekerjaan. mengusulkan pekerjaan dengan lebih cermat. Rekomendasi 4. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan.34 Terhadap permasalahan-permasalahan hasil pekerjaan yang tidak mencapai target tersebut. pejabat yang bertanggung jawab agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian pekerjaan fisik lapangan. Terkait dengan permasalahan pencatatan aset di Kementerian PU.33 4. Kepala Pusdatin tidak cermat dalam merencanakan dan menentukan kebutuhan serta mengalokasikan anggaran. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki pekerjaan dan menyampaikan bukti perbaikannya. pejabat terkait kurang melakukan sosialisasi dan pengawasan serta tidak cermat dalam memperhitungkan PPh final atas jasa konstruksi.31 4.65 terdapat unsur perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. Sedangkan di Kementerian Perhubungan.30 Di Kementerian PU. kuasa pengguna anggaran (KPA) tidak optimal melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan. Selain itu.32 4.36 .

Kepala Pusdatin dan PPK serta untuk segera mendistribusikan 283 unit GPS sesuai peruntukannya disertai BAST secara lengkap. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Pertanian agar memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada KPA dhi. 4.66 supaya memerintahkan para kepala satker untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan serta mencatat sisa pengadaan sebagai aset persediaan. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. BPK telah merekomendasikan Menteri ESDM antara lain agar memerintahkan kepada Dirjen LPE untuk mengupayakan secara bersungguh-sungguh pemanfaatan atas seluruh peralatan DME berbasis BBN tersebut sesuai tujuan pembangunannya. 4.37 Di Kementerian Pertanian.38 4. BPK telah merekomendasikan Menteri Kelautan dan Perikanan agar menginstruksikan Dirjen KP3K supaya melaporkan kekurangan pemungutan PPh final atas pembangunan RNRB pada 33 kabupaten/kota senilai Rp544.19 juta kepada Dirjen Pajak untuk dilakukan penetapan dan penagihannya.39 4. Di Kementerian ESDM.40 .

Terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah membangkitkan kesadaran dan pemahaman akan nilai pentingnya vegetasi atau hutan yang tumbuh di kawasan pesisir pantai. mengurangi kecepatan air karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat dan mengurangi volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja yang diarahkan pada pengelolaan hutan mangrove yang berada di kawasan Selat Malaka. Riau. baik pusat maupun daerah yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi tanpa adanya usaha untuk menjaga keseimbangan (kelestarian) alam. yaitu Kementerian Kehutanan termasuk unit 5.d. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan akibat dari kebijakan pemerintah.38 juta ha (69. Hutan mangrove di kawasan Selat Malaka sebagian besar berada di wilayah administratif kabupaten/kota pada Provinsi Sumatera Utara.4 5. pantai barat dan selatan Kalimantan. Selat Malaka juga menampung berbagai cemaran dari sampah padat maupun cair yang berasal dari Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaka (Malaysia) yang mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove.5 5. Pemilihan Selat Malaka dilakukan karena selat ini merupakan perairan yang padat dilalui oleh berbagai macam kapal sehingga berpotensi tinggi terhadap pencemaran. Menurut data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) Kementerian Kehutanan. Hal tersebut sesuai dengan lingkup pemeriksaan kinerja yang mencakup pengelolaan hutan mangrove periode TA 2005 s.1 Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. dan Kepulauan Riau.33%) dalam keadaan rusak.67 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove 5. serta di pantai barat daya Papua. Hutan mangrove juga berfungsi mengurangi dampak tsunami melalui dua cara yaitu. Semester I TA 2010 pada 15 objek pemeriksaan.76 juta ha. luas hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2006 diperkirakan 7.6 . khususnya hutan mangrove. Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di sepanjang garis pantai timur Sumatera (Selat Malaka). juga sebagai tempat pemijahan atau penyeleksian benih dan asupan (nursery) ikan. Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama kehidupan di wilayah pesisir karena selain sebagai habitat biota laut.3 5.2 5. Dalam Semester II Tahun 2010. di antaranya sekitar 5.

dan konservasi hutan mangrove masih kurang efektif untuk memulihkan. Rokan Hilir. dan konservasi hutan mangrove dalam memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai. dan Kota Tanjungpinang). dan pihak-pihak lainnya. Kab. perlindungan.7 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan rehabilitasi.68 pelaksana teknis (UPT). serta Kepulauan Riau (Kab.1. Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 . Karimun. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi. dinas kehutanan provinsi/kabupaten/kota. pemanfaatan.10 abrasi abrasi Gambar 5. Bintan. Batubara. Kab. pemanfaatan. Hasil Pemeriksaan 5. dan Kota Dumai belum memadai mengakibatkan berkurangnya luasan daratan di kabupaten tersebut tidak tertangani dengan baik. dan Kab. Kab. dan Kota Dumai). Kab. Langkat. Kab. sedimentasi. dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai dengan rincian sebagai berikut.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukan adanya kelemahan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku baik yang dilakukan oleh pihak Kementerian Kehutanan. Natuna. Asahan. Kebijakan 5. Deli Serdang. UPT. Penanggulangan abrasi di Selat Malaka oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Provinsi Riau (Kab. Bengkalis. Provinsi Sumatera Utara (Kab. erosi. Serdang Bedagai). 5. perlindungan. dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. Tujuan Pemeriksaan 5. dinas kehutanan provinsi dan kabupaten/kota serta instansi terkait lainnya di Jakarta (Pusat). Bengkalis.9 Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurang mempertimbangkan fungsi dan luas kawasan hutan minimal 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) berpotensi mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. Kota Batam. Indragiri Hilir. Kab. Rokan Hilir. Kab.

meningkatkan. Pembuatan model tanaman mangrove pada Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan seluas 50 ha senilai Rp289. sehingga tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai. satwa. .d.18 ha di Kota Tanjungpinang tidak sesuai dengan ketentuan berpotensi mengakibatkan hilangnya kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung.14 Usaha pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove di sempadan sungai yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi.10 juta tidak efektif mengakibatkan tujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tidak tercapai.309.2.13 Kegiatan Pemanfaatan Hutan Mangrove 5.69 Kegiatan Rehabilitasi Hutan Mangrove 5.12 5.82 juta.11 Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2005 s.00 juta.15 Gambar 5.16 Hutan mangrove di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading/Langkat Timur Laut (KG/LTL) di Kabupaten Langkat minimal seluas 6. keunikan alam serta menimbulkan kerugian ekonomis senilai Rp779.588 ha dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat dan mengakibatkan hilangnya fungsi SM KG/LTL sebagai kawasan pelestarian alam. Selain itu terdapat kerugian ekonomis senilai Rp153.66 miliar tidak efektif dan terjadi kerugian negara senilai Rp180. kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Kabupaten Natuna seluas 200 ha senilai Rp1. Pemberian hak guna bangunan (HGB) pada kawasan hutan mangrove seluas 1. Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Hutan Mangrove 5. dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan. 5. 5. 2009.61 miliar. Selain itu.

5. Penyebab 5.20 . perlindungan.19 Terhadap permasalahan tersebut.18 Hal tersebut disebabkan oleh pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam mentaati ketentuan dan peraturan yang berlaku.70 5. dan konservasi hutan mangrove. Atas temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. pemanfaatan. serta tidak cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.17 Hutan mangrove di areal eks Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Bakau PT SBB dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat mengakibatkan semakin rusaknya hutan mangrove. Rekomendasi 5. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati Natuna untuk menagih kelebihan pembayaran dan menyetorkan ke kas negara. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut atas kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.

3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M sudah memadai untuk mencapai efektivitas pelayanan ibadah haji. Hasil Pemeriksaan 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman penyewaan pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Dalam Semester II Tahun 2010.4 Penilaian atas kinerja penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M didasarkan pada lima indikator utama. kemudahan calon jemaah haji (calhaj) dalam pengurusan haji dan memperoleh kepastian porsi dan pemberangkatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan. Musdalifah. pelunasan dan pembatalan haji. yaitu: • penyelenggara ibadah haji telah memiliki prosedur baku yang memperhatikan kecepatan pelayanan pendaftaran. 6. pelayanan.5 Berdasarkan hasil pemeriksaan. disimpulkan bahwa penyelenggara ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.71 BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 6. Masalah-masalah pokok yang mendorong belum efektifnya penyelenggaraan ibadah haji dapat diuraikan sebagai berikut. 6. dan • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman pelayanan katering dan akomodasi di Arafah.1 Penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. belum sepenuhnya efektif memberikan pelayanan kepada jemaah haji.6 . dan Mina (Armina). • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan transportasi kepada jemaah haji. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan minimal (SPM) embarkasi/debarkasi kepada jemaah haji.2 Tujuan Pemeriksaan 6. dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi calon/jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai ajaran agama Islam. Indikator 6.

pelunasan dan pembatalan haji belum ditetapkan dan disosialisasikan oleh Menteri Agama. pelunasan. dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pendaftaran Haji dan PMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PMA Nomor 15 Tahun 2006 serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji. PMA tersebut belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan).10 Terhadap permasalahan tersebut. Namun demikian. dan • kebijakan yang mengatur tentang penetapan sisa kuota haji provinsi belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi yang cukup signifikan. Pelayanan pendaftaran. • kurangnya jumlah sumber daya manusia dan pembagian tugas yang jelas dalam melayani proses pendaftaran.8 . • memerintahkan secara berjenjang kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU). Penyebab 6. pelunasan dan pembatalan haji. pelunasan. dan pembatalan haji. dan Pembatalan Haji 6.9 Permasalahan tersebut disebabkan: • standar pelayanan minimal tentang pendaftaran. Rekomendasi 6. Pelunasan dan Pembatalan Haji. Kakanwil Provinsi. dan calhaj belum mendapatkan perhatian yang sama dalam pembagian sisa kuota haji karena penetapan sisa kuota haji belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi.72 Pelayanan Pendaftaran. calhaj tidak diberikan informasi tertulis mengenai perkiraan tahun keberangkatan.7 Pada tahap pendaftaran. Pelunasan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • menetapkan dan mensosialisasikan SPM tentang Pendaftaran. calhaj memerlukan waktu yang lama untuk menerima pengembalian dana atas pembatalan haji. • Kankemenag tidak memberikan informasi secara tertulis tentang kewajiban untuk melakukan pelunasan haji kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat. dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi secara tertulis tentang 6.

Kondisi ini menimbulkan kekurangnyamanan atas beberapa pelayanan yang diterima oleh jemaah haji. Demikian pula informasi mengenai keterlambatan penerbangan. sarana dan prasarana pada setiap embarkasi bervariasi. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dalam melayani Jemaah Haji Indonesia. calhaj memerlukan waktu yang cukup lama dalam menerima pelayanan kesehatan. 6. Penyebab 6. 6. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar menetapkan dan mensosialisasikan SPM yang berlaku di seluruh embarkasi serta meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan di embarkasi.12 Pelayanan Transportasi Udara dan Darat di Arab Saudi 6. menetapkan sisa kuota haji provinsi harus dengan memperhatikan perbedaan daftar waiting list calhaj antar provinsi yang signifikan. calhaj tidak diberikan kepastian informasi perubahan titik penjemputan. dan a. Standar pelayanan transportasi. pelunasan dan pembatalan haji.73 perkiraan tahun keberangkatan calhaj pada saat melakukan pendaftaran dan memberikan informasi secara tertulis kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat sesuai daerahnya masing-masing.11 Pada tahap pelayanan di embarkasi. Pelayanan penyelenggaraan haji yang meliputi prosedur. Pelayanan kepada Jemaah Haji di seluruh Embarkasi 6.14 Terhadap permasalahan tersebut. • memerintahkan kepada Dirjen PHU untuk a. dan jumlah bus yang beroperasi sehingga menimbulkan penumpukan jemaah terutama pada hari-hari awal operasional.15 Pada tahap pelayanan transportasi di Arab Saudi.13 Permasalahan tersebut terjadi karena Menteri Agama belum selesai merumuskan SPM penyelenggaraan ibadah haji pada seluruh embarkasi. waktu. jadwal.16 . belum ditetapkan. Rekomendasi 6. Hal ini disebabkan oleh Tim Kesehatan tahap 1 dan 2 belum seluruhnya mengisi buku kesehatan jemaah haji secara lengkap dan sebagian calhaj tidak dapat membuktikan telah menerima vaksin. memenuhi kekurangan sumber daya manusia dan membuat pembagian tugas yang jelas untuk tiap bagian pelayanan pendaftaran.

74 6. Selain itu. konsisten dalam melaksanakan perencanaan transportasi shuttle bus yang telah disusun dan membuat alternatif perencanaan pelayanan transportasi shuttle bus. ketidakjelasan tugas dan wewenang antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan dalam menetapkan kebijakan transportasi udara turut menghambat peningkatan pelayanan transportasi udara Jemaah Haji. • Segera menetapkan SPM dan pedoman pelayanan khususnya transportasi shuttle bus di Arab Saudi serta menyusun perencanaan dan kontrak transportasi shuttle bus secara matang dengan melakukan koordinasi antar pihak-pihak terkait. • Memerintahkan Dirjen PHU untuk a. mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi dengan pihak penerbangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada jemaah atas keterlambatan pesawat dan memberikan kepastian informasi apabila terjadi keterlambatan pesawat. menginstruksikan kepada Direktur Pelayanan Haji agar 1. • Meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan memperjelas rumusan tugas dan wewenang masing-masing kementerian khususnya terkait kebijakan penerbangan haji. menginstruksikan PPIH Arab Saudi agar meningkatkan pengawasan pelayanan transportasi jemaah haji.18 . Rekomendasi 6.19 Terhadap permasalahan tersebut. Selain itu. dan 6. antara lain penumpukan jemaah pada waktu menunggu bus. pelayanan transportasi udara masih dihadapkan pada permasalahan keterlambatan pesawat yang penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti terbatasnya fasilitas bandara Arab Saudi. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar. b.17 Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya konsep atau mekanisme pengelolaan transportasi shuttle bus yang jelas dari Muassasah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji sehingga menimbulkan permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang sifatnya yang tidak dapat dikendalikan tersebut diperlemah dengan kurang memadainya penanganan yang dilakukan oleh petugas/penyelenggara haji untuk mengatasi kelelahan jemaah dan memberikan informasi mengenai kepastian keberangkatan pesawat serta menjamin hak-hak jemaah mendapatkan kompensasi dari perusahaan penerbangan. dan c.

23 Terhadap permasalahan tersebut. dan masih ada jemaah haji (16. realisasi penempatan jemaah haji belum 100% berada di Markaziah dan penetapan Majmu’ah 1430 H belum memperhatikan kinerja Tahun 1429 H dan 1428 H. 6. dan • membuat standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter yang berlaku untuk seluruh provinsi. Selain permasalahan di atas.75 2.20 Pada tahap pelayanan pemondokan di Arab Saudi. Realisasi penyewaan perumahan di Mekkah tidak memenuhi target awal yang ditetapkan dan penempatan jemaah haji melebih kapasitas yang ditetapkan dalam tasyrih. Rekomendasi 6. beragamnya metode penetapan calhaj dalam suatu kloter pada setiap provinsi berakibat tidak diperolehnya transparansi dan persamaan hak bagi jemaah haji. Pelayanan Pemondokan di Arab Saudi 6. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk membuat standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan memerintahkan Dirjen PHU untuk • mengoptimalkan penyewaan rumah di Mekkah yang berada di ring I dan mengurangi jumlah penyewaan rumah di ring II. Sementara di Madinah. Penyebab 6. menambahkan klausul sanksi dalam kontrak perusahaan penerbangan terkait kewajiban penyampaian informasi penerbangan dan informasi pemberian kompensasi keterlambatan.75%).22 Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya kerjasama/MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi perihal standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan ketidakpastian pemilik pemondokan dalam memperoleh tasyrih dari Pemerintah Arab Saudi yang akan digunakan Jemaah Haji Indonesia. masih banyak jumlah pemondokan di Ring II atau di luar Markaziah yang berjarak lebih dari 2 km dari Masjidil Haram di Mekkah dan masih terdapat penempatan jemaah haji yang melebihi kapasitas rumah yaitu sebanyak 105 dari 424 rumah. kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji dalam beribadah menjadi berkurang. serta belum dibuatnya standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter untuk setiap provinsi.48%) yang menempati pemondokan di luar Markaziah di Madinah. Kondisi tersebut mengakibatkan jemaah haji yang menempati pemondokan di Ring II atau berjarak 2 km lebih dari Masjidil Haram di Mekkah masih cukup banyak (72.21 .

26 Permasalahan pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina terjadi karena kebijakan Direktur Pelayanan Haji tentang pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas kurang tepat.28 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji reguler dalam melaksanakan ibadah haji karena adanya penggunaan fasilitas oleh jemaah haji non kuota. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • mengkaji kembali pola pelayanan katering. 6.24 Pada tahap pelayanan di Armina. dan kebijakan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang memberikan visa kepada jemaah haji non kuota. mengganggu konsentrasi dan kinerja petugas haji dalam memberikan pelayanan pada jemaah haji reguler. Permasalahan tersebut mengakibatkan waktu antrian cukup lama sehingga menimbulkan kelelahan pada sebagian jemaah haji khususnya yang lanjut usia dan wanita. dan • memerintahkan Dirjen PHU supaya memberikan sanksi kepada PIHK yang melakukan pelanggaran. calhaj memerlukan waktu antrian yang cukup lama untuk mendapatkan makanan yang disebabkan oleh pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas.27 Terhadap permasalahan tersebut. 6.25 . dan kebersihan lingkungan di Armina yang belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji. • meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM serta KBSA untuk meminimalisir jumlah dan mencegah jemaah haji non kuota supaya tidak mengganggu kenyamaan ibadah jemaah haji reguler. dan meningkatkan risiko berjangkitnya penyakit. Rekomendasi 6.76 Pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina 6. dan potensi tambahan beban yang harus dibayarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji diluar dari anggaran pengeluaran biaya pengelenggara ibadah haji reguler yang telah ditentukan. Penyebab 6. Permasalahan lain yang muncul di Armina yaitu terkait adanya jemaah haji non kuota yang tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler dengan jumlah yang cukup tinggi. yang mengakibatkan jemaah haji non kuota terlantar.

dan farmasi pada umumnya didasarkan pada empat indikator utama. Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi dan tata laksana. dan farmasi sehingga belum optimal dalam menunjang pelayanan kesehatan yang prima.5 .3 Penilaian kinerja atas efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan.2 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya untuk menilai efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. rawat jalan dan farmasi. • Manajemen rumah sakit telah melaksanakan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dan peraturan lainnya. dan farmasi. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada 42 rumah sakit daerah di 23 provinsi (Lampiran 53). Indikator Pemeriksaan 7.77 BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 7.1 Dalam Semester II Tahun 2010. 8b. perencanaan. Tujuan Pemeriksaan 7. dapat dilihat pada Lampiran 8a. rawat inap. dan • Manajemen rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai pada proses pelayanan. rawat inap. • Manajemen rumah sakit memiliki perencanaan memadai dalam mengelola pelayanan. pelaksanaan. dan 8d dengan uraian sebagai berikut: 7. Hasil Pemeriksaan 7.4 Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa manajemen rumah sakit belum efektif dalam mengelola pelayanan rawat inap. 8c. yaitu: • Organisasi dan tata laksana serta sarana dan prasarana rumah sakit telah memadai dan efektif untuk mendukung kegiatan pelayanan. monitoring dan evaluasi pengelolaan pelayanan rawat inap. rawat jalan. sarana dan prasarana.

serta keterbatasan anggaran. sistem pengendalian intern atas pengelolaan pelayanan belum sepenuhnya dirancang secara memadai. • Sarana dan prasarana pada 19 RSUD belum memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sehingga belum memadai dalam memberikan pelayanan. pelayanan belum didukung pegawai yang memiliki keahlian. Selain jumlah pegawai dan keberadaan dokter spesialis yang kurang. yaitu struktur organisasi dalam rumah sakit belum sepenuhnya memperhatikan pemisahan fungsi. dan tanggung jawab. Rumah sakit juga belum memiliki satuan pengawas intern (SPI) dan belum membentuk bagian khusus penanganan keluhan. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati agar memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab • menggunakan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. Tata Laksana. ketrampilan dan kompetensi yang memadai. dan Farmasi 7. dan • lalai dalam perencanaan kebutuhan pegawai dan belum melakukan analisis beban kerja untuk menentukan jumlah pegawai yang betul-betul dibutuhkan. rawat inap. • Instalasi rawat jalan. . Rekomendasi 7. dan wewenang.7 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • lalai dan belum sepenuhnya menggunakan pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan belum adanya prosedur baku penanganan keluhan.78 Organisasi. Sarana dan Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. Penyebab 7. kurang optimal. tanggung jawab.6 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi. sarana dan prasarana rawat jalan. Rawat Inap. Selain itu. fungsi. dan tidak memerhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana. dan farmasi sebagai berikut. • Jumlah tenaga medis dan keperawatan pada 14 RSUD belum memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat. wewenang. tata laksana. serta segera menetapkan struktur organisasi lengkap dengan uraian tugas. rawat inap. • kurang memerhatikan perbaikan fasilitas pelayanan. dan farmasi pada 13 RSUD belum sepenuhnya didukung struktur organisasi yang memadai.8 Terhadap permasalahan tersebut.

rawat inap. dan farmasi RSU Mayjen HA Thalib Kabupaten Kerinci. dan farmasi sebagai berikut. Belum memadainya perencanaan anggaran antara lain tidak adanya petunjuk pelaksanaan yang mengatur perencanaan anggaran dan adanya bagian yang belum mengusulkan rancangan kegiatan. • Perencanaan pelayanan rawat jalan. dan pelayanan pada tujuh RSUD belum memadai. sarana. dan • segera membuat analisis kebutuhan pegawai dan beban kerja. Jambi dan RSU Dr. program kerja instalasi rawat inap. dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. rawat inap. Saiful Anwar. rawat jalan. dan memenuhi sarana dan prasarana rumah sakit untuk mendukung pelayanan sesuai standar dengan memperhatikan skala prioritas. • Perencanaan anggaran instalasi rawat inap. Ashari Kabupaten Pemalang belum disusun. dan farmasi serta perencanaan kebutuhan alat kesehatan pada 16 RSUD belum memadai. Pejabat yang bertanggung jawab tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta lemahnya koordinasi dengan pihak terkait. dan prasarana. Malang belum memadai. Sumatera Selatan dan pengadaan.9 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan dalam hal perencanaan pelayanan rawat jalan. . personil yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belum melaksanakan tugas dengan baik dan belum mempertimbangkan target ketersediaan SDM. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Selain itu. M. Rawat Inap.79 • segera merencanakan. • Tidak terdapat perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi pada RSUD Dr. Selain itu. dan Farmasi 7. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau. antara lain program kerja bidang pelayanan farmasi belum memiliki indikator pencapaian yang jelas dan program kerja dibuat oleh orang yang tidak kompeten. Penyebab 7. rawat jalan. • Program kerja pelayanan farmasi RSUD Kabupaten Nganjuk dan RSUD Dr.10 Kelemahan dalam hal perencanaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum membuat pedoman penyusunan perencanaan yang jelas dan mudah dipahami. memprioritaskan kebutuhan minimal pegawai. merealisasikan. distribusi serta serta penggunaan blanko resep pada instalasi rawat jalan RSUD Kabupaten Jombang tidak berdasarkan perencanaan. yaitu antara lain belum didasari identifikasi kebutuhan dan tidak memperhatikan skala prioritas.

dan farmasi pada 18 RSUD belum memadai.80 Rekomendasi 7. • Standar pelayanan minimal (SPM) pada 14 RSUD belum ditetapkan dan belum memadai. Selain itu.11 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan agar pihak yang bertanggung jawab menyusun pedoman penyusunan perencanaan dan program kerja. Rawat Inap. . • belum sepenuhnya memahami pentingnya SPM sebagai pedoman dalam penilaian kinerja pelayanan. • Pelaksanaan pelayanan instalasi rawat jalan. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat belum dapat tercapai. Belum memadainya SPM antara lain karena belum sepenuhnya mengacu keputusan Menteri Kesehatan. dan pelayanan serta perbekalan farmasi pada 7 RSUD belum dilaksanakan dengan baik. Belum memadainya protap antara lain protap yang ada sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu direvisi dan protap belum memenuhi seluruh kebutuhan instalasi sesuai pedoman penyelenggaraan rumah sakit. rawat inap. pelaksanaan kalibarasi alat kesehatan belum dilakukan. Hal tersebut mengakibatkan manajemen tidak dapat mengukur kinerja pelayanan yang belum ditetapkan standarnya dan masyarakat belum memperoleh hak pelayanan sesuai SPM. Penyebab 7. rawat inap dan farmasi pada 8 RSUD belum memadai serta prosedur tetap pada pelayanan rawat inap RSUD Mardi Waluyo di Kota Blitar belum pernah dilakukan revisi sejak Tahun 1999. dan • tidak segera mengusulkan dan menetapkan protap. • tidak cermat dan tidak optimal dalam pengelolaan administrasi yang mendukung pelayanan.13 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • belum sepenuhnya memperhatikan dan mengoptimalkan kinerja pelayanan kesehatan. dan Farmasi 7.12 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal pelaksanaan pelayanan adalah sebagai berikut. • Pengelolaan administrasi pada instalasi rawat jalan. rawat inap. serta meningkatkan koordinasi dengan unit terkait. yaitu belum memenuhi standar pelayanan minimal dan prosedur tetap. • Prosedur tetap (protap) pelayanan rawat jalan. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.

15 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal mekanisme pelaporan dan evaluasi kegiatan pada instalasi rawat inap. Monitoring dan Evaluasi 7. • melaksanakan perbaikan penatausahaan administrasi pengelolaan pelayanan rawat jalan. Belum memadainya pelaksanaan monev antara lain monev tidak mencakup pengukuran dan penilaian kinerja serta penyelesaian tindak lanjut tidak dipantau dan didokumentasikan. Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 7.81 Rekomendasi 7. serta meningkatkan pelaksanaan kegiatan SPI. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Direktur RSUD untuk mengoptimalkan kinerja pelayanan sesuai SPM. Penyebab 7. dan • melakukan revisi. . serta lebih cermat dalam mengambil kebijakan pengelolaan administrasi. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar segera menyusun dan menetapkan mekanisme/ prosedur monev. • menyusun dan menetapkan SPM. Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat. serta Satuan Pengawas Intern belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. meningkatkan dan memperbaiki monev masing-masing instalasi.18 Dalam Semester II Tahun 2010. rawat inap dan farmasi. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi. menyempurnakan dan melengkapi prosedur tetap sesuai SPM.16 Permasalahan tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum menyusun dan menetapkan mekanisme/prosedur monev. rawat jalan dan farmasi adalah sebagai berikut. Rekomendasi 7. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 9 RSUD belum dilakukan dan SPI belum mendukung kegiatan monev. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 RSUD belum memadai dan tidak sesuai ketentuan.14 Terhadap permasalahan tersebut.17 Terhadap permasalahan tersebut.

Hal ini terlihat masih banyaknya cakupan kegiatan yang mendukung pelayanan kesehatan dasar tersebut dalam pelaksanaannya tidak efektif dan efisien antara lain sebagai berikut.82 Tujuan Pemeriksaan 7.19 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara adalah menilai efektivitas yaitu realisasi kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian target yang telah ditetapkan. ibu bersalin dan anak dan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belum sesuai dengan SPM bidang kesehatan. dan efisiensi pelayanan kesehatan dasar.20 Hasil Pemeriksaan Provinsi Sumatera Utara 7. 7.21 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penyebab 7. • Pelayanan terhadap komplikasi kebidanan yang ditangani tidak efektif dan efisien. . yang mengakibatkan pelayanan kunjungan bayi tidak lengkap dan bayi yang mengalami kelainan dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya tidak dapat segera diketahui dan diambil tindakan. Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat adalah untuk menilai apakah pelayanan kesehatan telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai SPM serta untuk memberi saran bagi upaya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. yang mengakibatkan pelayanan belum mencapai seluruh sasaran ibu hamil dan pelayanan yang diberikan belum sesuai SPM. • Kegiatan kunjungan bayi pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2009 tidak tercapai. yang mengakibatkan penanganan komplikasi kebidanan tidak tertangani dengan baik yang membahayakan jiwa penderita.22 Hal tersebut disebabkan pejabat yang bertanggung jawab tidak menyusun dan melaksanakan sosialisasi pentingnya kesehatan ibu hamil. • Kegiatan kunjungan ibu hamil (K-4) tidak sesuai dengan SPM. yaitu menilai penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Penyebab 7. sarana penyimpanan obat publik dan perbekalan farmasi pada Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang tidak sesuai dengan Standar Sarana Penyimpanan Obat Publik.27 Terhadap permasalahan tersebut.28 .23 Terhadap permasalahan tersebut. Selain itu. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil. serta • selalu memedomani SPM dalam melakukan perbaikan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.25 7. 7. Namun. ibu bersalin. BPK telah merekomendasikan kepada walikota agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kinerja pelayanan kesehatan. Rekomendasi 7. lalai serta belum optimal dalam melaksanakan tugas.83 Rekomendasi 7. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan anak. masih terdapat kelemahan antara lain indikator kinerja Bidang Kesehatan Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 belum optimal dan persediaan obat yang kedaluwarsa masih tersimpan di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang senilai Rp107.26 Permasalahan tersebut antara lain terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.24 Hasil pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang beserta UPTD-nya menunjukkan bahwa masing-masing puskesmas telah memenuhi capaian indikator SPM dan tidak ditemukan adanya kasus polio dan balita gizi buruk berdasarkan penyaringan (screening).48 juta. Provinsi Sumatera Barat 7.

84 .

pemeriksaan kinerja pendidikan pada beberapa disdik juga bertujuan menilai mekanisme pengolahan data dalam perhitungan angka partisipasi kasar (APK).5 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum efektif dalam merencanakan. yaitu pada Dinas Pendidikan (Disdik) di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Samosir).4 Indikator kinerja atas pengelolaan sarpras dan PTK. Tujuan Pemeriksaan 8. Provinsi Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun). dan angka melanjutkan (AM). dan Kota Solok).2 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan pada umumnya bertujuan untuk • menilai efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras). Indikator 8. Provinsi Riau (Kota Pekanbaru). Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. dan • akurasi perhitungan APK. dan • menilai efektivitas pengelolaan tenaga kependidikan (PTK) dalam menunjang penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Provinsi Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Barat).3 Selain tujuan tersebut di atas. 8. angka partisipasi murni (APM). melaksanakan. Kota Bukit Tinggi. APM. Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe. APS.1 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan dilakukan pada 13 objek pemeriksaan di 8 provinsi.85 BAB 8 KINERJA PENDIDIKAN 8. • monitoring dan evaluasi (monev) yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. yaitu • perencanaan yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. dan melakukan monev atas pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik. angka putus sekolah (APS). dan AM. . Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Pasaman. Kabupaten Minahasa Utara). dan Provinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Morowali). Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur). Hasil Pemeriksaan 8. • pelaksanaan pemenuhan dan pemanfaatan sarpras dan PTK telah sesuai ketentuan.

Kabupaten Bintan.86 Perencanaan dalam Pengelolaan Sarpras dan PTK 8.9 Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan atas pengelolaan sarpras dan PTK di antaranya adalah sarpras sekolah dan kualifikasi akademik guru PTK belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). Kabupaten Lombok Timur. Terhadap permasalahan tersebut. Sembilan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal.12 Permasalahan yang terkait dengan kegiatan monitoring dan evaluasi diantaranya adalah Disdik belum melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara memadai. Sebelas entitas mengalami permasalahan pengelolaan sarpras yang tidak sesuai SPM. Belum memadainya antara lain Disdik belum . 8.8 Pelaksanaan atas Pengelolaan Sarpras dan PTK 8.10 8. Kabupaten Kotawaringin Barat. dan Kabupaten Morowali. serta melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru lebih optimal. serta belum melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru secara optimal. BPK telah merekomendasikan kepada • Bupati/Walikota agar Kepala Disdik meningkatkan komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah sesuai dengan SPM. Kabupaten Karimun. Hal ini terjadi karena kepala dinas dalam menyusun renstra tidak memedomani dan mengacu pada Renstra Kemdiknas serta belum adanya SOP penyusunan renstra. antara lain perencanaan dan indikator renstra tidak sinkron dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) serta belum disahkan secara formal oleh kepala disdik. BPK telah merekomendasikan kepada kepala dinas untuk mempedomani Renstra Kemdiknas dalam menyusun renstra dan membuat SOP penyusunan renstra.7 8. Terhadap permasalahan tersebut. dan lebih cermat dalam membuat perencanaan serta pemanfaatan sarpras.6 Rencana Strategis (renstra) disdik belum disusun secara memadai. 8. Hal ini terjadi karena Kepala Disdik belum memiliki komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah dalam rangka pemenuhan SPM. dan • Kepala Disdik agar lebih optimal dalam melakukan seleksi atas pemberian bantuan sarpras sesuai kebutuhan sekolah.11 Monitoring dan evaluasi atas pengelolaan sarpras dan PTK 8. sedangkan permasalahan kualifikasi akademik guru PTK terjadi pada seluruh entitas yang diperiksa. Kabupaten Samosir. Kabupaten Pasaman. Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Terhadap permasalahan tersebut. APS. keterbatasan jumlah SDM dan tidak adanya laporan hasil pengawasan. APM. dan Kabupaten Minahasa Utara. sehingga data yang diperoleh tidak divalidasi. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. Selain itu. Kabupaten Kotawaringin Barat. Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar kepala disdik membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. Kabupaten Lombok Timur. APS.17 .13 8. APM. yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) terkait sumber data penduduk yang digunakan untuk menghitung APK. Kota Bukit Tinggi. Kabupaten Minahasa Utara. mengenai kebenaran sumber data penduduk untuk menjamin akurasi perhitungan APK. 8. Perhitungan APK. dan AM tidak didukung dengan data yang akurat dan tidak divalidasi. Kabupaten Karimun. APM.87 membentuk tim monev secara formal.15 Perhitungan APK. Kabupaten Kepulauan Sangihe.16 8. Kabupaten Kepulauan Sangihe. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar • kepala disdik melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang yaitu BPS. sehingga indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan dapat diyakini kebenarannya. dan AM 8. serta • kepala disdik melakukan koordinasi dengan unit terkait supaya data yang diperoleh terlebih dahulu divalidasi.14 Hal tersebut disebabkan kepala disdik belum membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. 8. Kota Solok. 8. dan AM. APS. Kabupaten Bintan. dan AM. Kabupaten Samosir. APM. Kabupaten Karimun. kepala disdik belum memahami pentingnya indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan. Hal ini terjadi karena kepala disdik belum melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang. APS.18 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. sehingga pencapaian indikator tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya. dan Kabupaten Morowali. Tujuh entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Pasaman.

88 .

89 BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum 9. Serang. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. dan kontinuitas. 9. Hasil Pemeriksaan 9.1 Perusahaan daerah air minum (PDAM) merupakan perusahaan daerah yang didirikan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengutamakan pemerataan dan keseimbangan pelayanan. Bandung. PDAM Tirta Al Bantani Kab. dan • apakah penanganan keluhan pelanggan telah dikelola secara efektif sehingga meminimalkan penyimpangan dan memuaskan pelanggan. . serta menilai pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan. • apakah proses distribusi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Dalam Semester II Tahun 2010. dan kontinuitas. Bengkulu.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai secara umum efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. kuantitas. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas PDAM yang dilakukan pada sembilan entitas daerah kabupaten/ kota yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.2 Tujuan Pemeriksaan 9. Indikator 9. PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Way Bumi di Kotabumi. dan PDAM Kota Balikpapan. kuantitas.4 Penilaian kinerja PDAM didasarkan pada indikator • apakah proses produksi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas.5 Hasil pemeriksaan atas efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. serta pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan PDAM secara umum menunjukkan hasil yang belum optimal sehingga masih harus ditingkatkan.

Selain permasalahan tersebut.9 Permasalahan yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah tingkat kebocoran air melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Tirta Raharja Kab. . Bandung. PDAM Way Bumi di Kotabumi. Hal ini terjadi karena kurangnya komitmen dari manajemen PDAM untuk melaksanakan penjaminan mutu atas produksi air bersih kepada pelanggan. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.12 9. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP menyeluruh untuk pengujian air bersih. Bandung. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Serang. Serang. permasalahan lain yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah PDAM belum dapat menyediakan air bersih kepada pelanggan secara berkelanjutan. dan PDAM Kota Balikpapan. dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Hal ini terjadi antara lain karena belum adanya SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan kurang optimalnya PDAM dalam mendeteksi dan menanggulangi tingkat kebocoran air. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.8 Penilaian Proses Distribusi 9. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Serang. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan lebih optimal dalam mendeteksi dan menanggulangi kebocoran air.6 Permasalahan yang terkait dengan proses produksi air bersih di antaranya adalah kualitas air hasil produksi yang belum memenuhi standar. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. PDAM Way Bumi di Kotabumi. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung.13 . dan PDAM Kota Balikpapan. 9. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. Terhadap permasalahan tersebut.7 9.90 Penilaian Proses Produksi 9. Hal ini terjadi antara lain karena tingginya kebocoran/kerusakan pipa-pipa. Bengkulu. PDAM Tirta Al Bantani Kab.10 9. Bandung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. 9.11 9. Bengkulu. Kurangnya komitmen manajemen antara lain terlihat dari belum adanya standar operasional dan prosedur (SOP) menyeluruh untuk pengujian air bersih kepada pelanggan. Terhadap permasalahan tersebut.

91 9.18 . Hal ini terjadi karena PDAM belum mempunyai SOP penanganan keluhan pelanggan dan bagian penanganan keluhan pelanggan belum didukung sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Bengkulu. dan PDAM Kota Balikpapan. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP penanganan keluhan pelanggan dan meningkatkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan serta melakukan pelatihan. 9. Terhadap permasalahan tersebut.16 9. Lima entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Penilaian Penanganan Keluhan Pelanggan 9.17 9. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. PDAM Tirta Al Bantani Kab.14 Terhadap permasalahan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM agar melakukan peremajaan dan pemeliharaan pipa secara berkala. Serang. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.15 Permasalahan yang terkait penanganan keluhan di antaranya adalah penanganan keluhan pelanggan belum dikelola secara memadai.

92 .

Bursa Pariwisata Internasional dan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata .93 BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya 10. dan Yogyakarta. • Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan Dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam. • Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Serang. • Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan (Pusdiklat Jemenhan) Kementerian Pertahanan di Jakarta. dalam Semester II Tahun 2010 BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada 18 objek pemeriksaan meliputi 10 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. dan 3 objek pemeriksaan BUMN. dan Polda DIY di Bandar Lampung.1 Selain tema-tema pemeriksaan kinerja seperti yang diuraikan pada babbab sebelumnya. Polda Banten. • Pelayanan SIM. • Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta. STNK. Pemerintah Pusat 10. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. serta Perusahaan Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat.2 Sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dengan rincian sebagai berikut. • Pelayanan dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang. dan BPKB (SSB) pada Polda Lampung. • Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang. • Pengelolaan Kehutanan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. • Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. 5 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah.

3 Tujuan pemeriksaan atas sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan.94 TA 2008. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas.5 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. 2009. • Program Penanggulangan Gizi Buruk TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung. • Perencanaan kegiatan telah dilakukan secara memadai. • Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait. • Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. Jawa Timur. • Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. 10.6 Pemerintah Daerah 10. Triwulan III). kecuali untuk penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. 10.4 10. . • Pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan. dan Kepulauan Riau. antara lain sebagai berikut. • Akuntabilitas dan evaluasi kinerja kegiatan telah dikelola dengan baik. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan. • Program Bahteramas terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. Terhadap permasalahan tersebut.d. • Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.7 Lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dengan rincian sebagai berikut. 10. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta.

dan melakukan pemantauan serta evaluasi atas Program Pembebasan BOP. Indikator yang digunakan antara lain sebagai berikut. dan indikator kinerja pelaksanaan kegiatan yang tidak memadai.Medan.13 Tiga objek pemeriksaan BUMN dengan rincian sebagai berikut.10 Hasil pemeriksaan pada umumnya menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. • Kinerja PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . monitoring. dan Balikpapan. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan tindak lanjut yang memadai. Cilacap. Pemakaian Refinery Fuel. dan keekonomisan pelaksanaan kegiatan. • Proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan.12 BUMN 10.9 10. efektivitas. melaksanakan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara cukup berhasil dalam merencanakan. • Kegiatan Pemeliharaan. kegiatan supervisi dan evaluasi yang kurang memadai. • Perencanaan yang memadai dalam mengelola program kegiatan. Kegiatan Pelayanan Perijinan Baru pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. . Akan tetapi. selain tidak efektif juga dikategorikan tidak efisien karena kebijakan.11 10. dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. dan evaluasi telah dilakukan dengan memadai. Terhadap permasalahan tersebut. Sementara itu. antara lain pengelolaan keuangan. Khusus untuk simpulan hasil pemeriksaan Program Pembebasan BOP. 10. • Pemerintah daerah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. • Pelaporan. masih terdapat beberapa kelemahan. prosedur.8 Tujuan pemeriksaan atas lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah pada umumnya adalah untuk menilai efisiensi. • Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta. serta hasil pengadaan yang belum dimanfaatkan. 10.95 10.

10. (iii) pengendalian atas pengelolaan layanan reservasi tiket. kebijakan. sistem dan prosedur layanan reservasi tiket. menggunakan indikator yang disesuaikan dengan enam tujuan pemeriksaannya. pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan. menggunakan empat indikator utama yaitu (i) perancangan dan penetapan struktur organisasi. namun pengelolaan layanan tersebut belum dilaksanakan secara optimal sehingga masih terdapat risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang berwenang agar melakukan perencanaan dengan memadai. • PT Perkebunan Nusantara II untuk Tahun 2008 dan 2009 belum menetapkan KPI atas kegiatannya. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi tersebut adalah. • PT Garuda Indonesia (Persero). sehingga BPK tidak dapat menilai pencapaian kinerjanya.18 .96 10. 10. • PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V. menetapkan kebijakan strategis. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.14 Tujuan pemeriksaan atas tiga objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian.15 10. Terhadap permasalahan tersebut.16 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya efektif kecuali pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Penumpang untuk Penerbangan Berjadwal pada PT Garuda Indonesia (Persero) secara umum sudah cukup efektif. dan (iv) pengawasan serta evaluasi kinerja pengelolaan layanan reservasi tiket.17 10. (ii) penetapan kebijakan strategis pengembangan sistem reservasi tiket.

pengelolaan pertambangan batubara. • Eksaminasi ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. pelaksanaan subsidi pemerintah. operasional BUMN. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. Reviu ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada informasi yang diperoleh pemeriksa bahwa pokok masalah tidak sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan.97 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. reviu.48 triliun. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. PDTT bisa bersifat eksaminasi (pengujian). Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. dan bangunan pengairan/drainase daerah. atau prosedur yang disepakati. . Dalam Semester II Tahun 2010. • • Sebagian besar pemeriksaan yang dilaksanakan BPK bersifat eksaminasi. PDTT tidak memberikan opini ataupun untuk memberikan penilaian kinerja dan memberikan rekomendasi. pelaksanaan belanja. pengelolaan/manajemen aset pemerintah daerah. Dalam prosedur yang disepakati (agreed upon procedures). kebinamargaan. pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. pemeriksa menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap pokok masalah.

operasional RSUD. operasional BUMD lainnya. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. . operasional Bank Daerah.98 • • • • • operasional PDAM.

Pendapatan pemerintah pusat meliputi pendapatan perpajakan termasuk bea dan cukai dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP).64 triliun atau 99. 11. dan • pemungutan.03 triliun. Cakupan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah senilai Rp71. dan penyetoran pendapatan pemerintah pusat telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku.28 miliar atau 0. kepabeanan dan cukai dilakukan pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di Kementerian Keuangan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Mahkamah Agung. Total temuan senilai Rp299. penerimaan perpajakan dan kepabeanan serta cukai. Kementerian Luar Negeri. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat TA 2008 2010 pada 11 kementerian/lembaga (KL) di lingkungan pemerintah pusat. Badan Pertanahan Nasional. penatausahaan.3 Tujuan Pemeriksaan 11. sedangkan pendapatan pemerintah daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD). Kepolisian.42% dari cakupan pemeriksaan. Adapun pemeriksaan pendapatan perpajakan.2 Dalam Semester II Tahun 2010. Kementerian Perdagangan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Kementerian Sekretariat Negara. Oleh karena itu. dan Kementerian Agama.45% dari realisasi pendapatan senilai Rp72. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.1 Pengelolaan pendapatan meliputi pendapatan pemerintah pusat dan pendapatan pemerintah daerah. Hasil Pemeriksaan 11.4 Secara umum tujuan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) yang terkait pendapatan pemerintah pusat telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Pemeriksaan PNBP dilakukan pada 10 KL yaitu Kejaksaan Agung. Kementerian Dalam Negeri.99 BAB 11 Pengelolaan Pendapatan 11. Pendapatan Pemerintah Pusat 11. Pemeriksaan dilakukan atas PNBP. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. .

7 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan terdapat 74 kasus kelemahan SPI. dan belum ada kebijakan 11. biaya proses pada delapan tingkat banding di kepaniteraan yang di-sampling belum seluruhnya dikelola secara memadai. • Di Kejaksaan Agung RI. Sebagai contoh. • sebanyak 9 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. 11. 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Kejaksaan Tinggi Bandar Lampung. belum menyelenggarakan pembukuan secara lengkap. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. pembukuan dan pencatatan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.42 miliar dan Laporan Kejati senilai Rp3. 11. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Hal ini mengakibatkan Neraca Wilayah dan Laporan Manual Pidsus Kejati per 31 Mei 2010 berbeda dengan hasil perhitungan BPK pada masing-masing kejari dan cabang kejaksaan negeri (cabjari) yaitu pada Neraca Wilayah senilai Rp7. pengeluaran biaya proses tidak menggunakan mekanisme surat permintaan pembayaran (SPP). dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.8 .100 Sistem Pengendalian Intern 11. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. • Di Mahkamah Agung. pengelolaan tagihan uang pengganti tidak tertib. • sebanyak 3 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.6 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Sebanyak 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.9 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 9.32 miliar.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII). beberapa pengadilan menggunakan dana APBN TA 2009 dan 2010 untuk membiayai proses perkara perdata. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Dispenda Sulut belum menyetorkan upah pungut atas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) Tahun 2009-2010 senilai Rp10. Selain itu. 11. dan • sebanyak 2 kasus lainnya. 11. terdiri atas • sebanyak 4 kasus mekanisme pemungutan. Selain itu.43 miliar kepada Ditlantas Polda Sulut. • Di Kepolisian RI.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Ditjen Bea Cukai. • Di Kementerian Keuangan. • sebanyak 5 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan. . TMII juga tidak menyajikan kedua unit usaha tersebut ke dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009. pembayaran pengiriman salinan putusan yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia senilai Rp784.65 miliar.10 Sebanyak 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.60 juta tidak melalui proses verifikasi. Polda Sulawesi Utara. dua unit usaha TMII yaitu Teater Imax Keong Emas dan Taman Air Tawar/ Dunia Air Tawar tidak memberikan kontribusi kepada TMII. penetapan klasifikasi atas barang-barang impor berbeda-beda meskipun uraian jenis barangnya sama.101 jumlah kas tunai yang dikelola oleh bendahara biaya proses. • Di Mahkamah Agung. • sebanyak 21 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.16 juta. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Hal ini mengakibatkan potensi penerimaan negara sebanyak 329 pemberitahuan impor barang (PIB) belum dipungut senilai Rp33. sebagian dari pengadilan tersebut juga membebankan biaya administrasi kepada pihak yang berperkara sehingga terjadi pembiayaan ganda sekurang–kurangnya senilai Rp332.

BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan dan meningkatkan upaya intensifikasi penagihan denda dan uang pengganti. Berdasarkan umur piutang dan dokumen pembayaran listrik diketahui pihak ketiga belum membayar biaya listrik kepada TMII per 26 September 2010 senilai Rp1. Selain itu.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Pada bulan berikutnya TMII menagih biaya listrik dari anjungan-anjungan dan unit usaha.12 Sebanyak 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. baik beban pihak ketiga maupun beban TMII. Rekomendasi 11. • sebanyak 10 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. memperbaiki sistem pelaporan keuangan dan segera menyusun SOP administrasi pengelolaan keuangan. Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. TMII setiap bulan membayar terlebih dahulu seluruh beban listrik kepada PLN. kasus tersebut juga disebabkan kurangnya koordinasi pimpinan KL dan kurangnya ketentuan atau SOP yang mengatur secara tegas mengenai pendapatan pemerintah pusat.12 miliar. pengelolaan PNBP jasa imigrasi dan jasa administrasi belum tertib.75 juta. . Selain itu. 11. • sebanyak 1 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai.15 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.102 11. • Di Kementerian Sekretariat Negara. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain. Penyebab 11. • Di Mahkamah Agung. terdiri atas • sebanyak 4 entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. belum terdapat suatu keseragaman berkaitan pengadministrasian dan pemberitahuan sisa panjar biaya perkara perdata di pengadilan tingkat pertama mengakibatkan hak masyarakat berupa sisa panjar biaya perkara perdata tidak segera diterima oleh yang berhak minimal senilai Rp584.14 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. BPK merekomendasikan agar koordinasi pimpinan KL dengan kepala daerah lebih ditingkatkan. • Di Kementerian Perdagangan.

surat berharga. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 2 6 57 19 1 3 88 422.99 juta yang terdiri dari penggelapan oleh Panitera/Sekretaris PN Bogor senilai Rp404. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. administrasi. Kasus kerugian negara terjadi pada penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.342. kekurangan penerimaan negara.06 296.17 Berdasarkan tabel di atas.89 juta.38 50. Tabel 11.16 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Kasus tersebut di antaranya di Mahkamah Agung.93 299.12 75.18 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang.20 . 11.1.28 juta. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat No.1.288.103 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11.80 11.09 juta dan uang tunai yang masih dibawa oleh mantan Panitera PN Bogor yang telah meninggal dunia senilai Rp15. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 11. potensi kerugian negara.398. ketidakhematan. yaitu selisih biaya perkara pada Laporan Keuangan Perkara per 30 Juni 2010 senilai Rp419.28 2. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak dua kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp422. hasil pemeriksaan mengungkapkan 88 kasus senilai Rp299. Kerugian Negara 11. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara.19 11. dan ketidakefektifan dapat dilihat pada Tabel 11. dan barang.28 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan pada 11 kementerian/lembaga.

Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 6 kasus senilai Rp2. 11.25 . Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi aset dikuasai pihak lain. masih terdapat saldo uang pengganti senilai Rp2. dan barang.d. aset tidak diketahui keberadaannya dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.73% dari total uang pengganti. surat berharga.95 juta. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menyelesaikan kasus penyalahgunaan keuangan perkara baik dari aspek keuangan maupun aspek administratif.104 Penyebab 11. Rekomendasi 11.32 miliar. Dari jumlah tersebut. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya. yang nyata dan pasti jumlahnya. Potensi Kerugian Negara 11.24 11.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan entitas belum optimal dalam mengeksekusi uang pengganti dan pengawasan atasan langsung terkait pengelolaan administrasi dan intensifikasi penagihan uang pengganti masih lemah.21 Kasus kerugian negara tersebut pada umumnya disebabkan keraguan pimpinan KL untuk mengambil tindakan terhadap kasus yang menyangkut hilangnya uang titipan pihak ketiga. total uang pengganti yang harus dibayar terpidana dari perkara tindak pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada sepuluh kejari dan dua cabjari di lingkungan Kejati Kalbar selama periode TA 2009 s.22 Terhadap kasus-kasus kerugian negara tersebut. dan • sebanyak 2 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2. 11. Penyebab 11. 30 Juni 2010 adalah senilai Rp3.23 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.34 miliar yang terdiri atas • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp12.30 miliar yang belum tertagih atau sebesar 57.26 Kasus tersebut terdapat di Kejaksaan Agung.98 miliar.

28 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. • Di Kejaksaan Agung. penggunaan langsung penerimaan negara/daerah.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp255. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa untuk mengintensifkan penagihan uang pengganti.34 miliar. Kekurangan Penerimaan 11. biaya pada dua Bank BUMN dan delapan Bank BUMD senilai Rp760. melaporkan perkembangan piutang uang pengganti yang menjadi tanggung jawabnya. dan menegur pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugasnya. penerimaan negara/daerah penerimaan negara diterima oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. dan • sebanyak 7 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp6. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 57 kasus senilai Rp296.18 miliar.105 Rekomendasi 11. • Di Kementerian Keuangan. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara. Kejaksaan Negeri Sumatera Barat. senilai Rp34.64 miliar. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp120.11 miliar.29 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.31 juta.57 miliar tidak seharusnya dikurangkan dalam melakukan penghitungan Penghasilan Kena Pajak Tahun Pajak 2009.31 . Ditjen Pajak.32 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.30 11. dari jumlah uang pengganti senilai Rp5. • sebanyak 8 kasus penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. masih terdapat saldo uang pengganti 11. Hal ini mengakibatkan keharusan dilakukannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara senilai Rp193.44 miliar. 11.

55 miliar. Penyebab 11. dan KBRI Budapest di Kementerian Luar Negeri senilai Rp223.27 juta.84 miliar atau 56% yang belum tertagih per 31 Mei 2010 pada 15 kejari dan 6 cabjari. tidak menghambat program entitas. Administrasi 11. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara serta meningkatkan koordinasi antar pimpinan KL. AI juga belum mengganti beban rekening listrik selama empat bulan senilai Rp492. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. tidak mengurangi hak negara.106 senilai Rp2. dan perpajakan. Rekomendasi 11.33 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. pertambangan.08 juta. KBRI Seoul senilai Rp561. TMII. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). kekurangan penerimaan negara. pihak pengelola Snow Bay Waterpark (SW) yaitu Arum Investment (AI) belum melunasi kontribusi pendapatan sejak September 2009 hingga Juli 2010 kepada TMII senilai Rp5.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. 11.37 . Di samping itu.65 juta. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. 11. lemahnya pengawasan dan pengendalian dan kurangnya koordinasi antara pimpinan KL. senilai Rp1.34 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara pada umumnya terjadi karena para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kementerian Dalam Negeri senilai Rp708.53 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.90 juta kepada TMII. • Di Kementerian Sekretariat Negara. penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.

• sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara. kurang komitmen pimpinan entitas yang diperiksa untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan- 11.50 miliar. 11. • sebanyak 8 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. PNBP hasil pelayanan bidang pertanahan Tahun 2009 dan 2010 di beberapa kantor wilayah BPN terlambat disetor ke kas negara senilai Rp6. daftar inventaris ruangan (DIR) dan kode inventaris barang (KIB) menunjukkan bahwa nilai yang disajikan dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009 merupakan harga perolehan yang belum diinventarisasi dan dinilai kembali dengan harga wajar. dan Cabjari Entikong tidak tertib.39 . Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Sanggau. • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Penyebab 11. Sintang. pertanggungjawaban/ penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan dan kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. • Di Badan Pertanahan Nasional.20 miliar pada Kejari Mempawah.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas. perpajakan.107 11.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pengelolaan barang bukti berupa uang dan bilyet giro senilai Rp4. Bengkayang. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 19 kasus yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). TMII. dan • sebanyak 1 kasus kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. Pontianak. pertambangan. • Di Kejaksaan Agung.38 Kasus penyimpangan administrasi juga meliputi penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang ditentukan. daftar aset beserta kode inventaris ruangan (KIR).

45 Secara umum. Pemeriksaan dilakukan pada 21 entitas pemerintahan provinsi/kabupaten/kota. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. BPK telah memeriksa pengelolaan pendapatan pemerintah daerah TA 2009 dan 2010.74 triliun. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan • pemungutan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.47 Pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) pengelolaan pendapatan pemerintah daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.43 Dalam Semester II Tahun 2010. Pendapatan Pemerintah Daerah 11.69 triliun dari realisasi anggaran pendapatan senilai Rp52. tujuan pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan pendapatan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. penatausahaan dan penyetoran pendapatan daerah telah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan/atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan dan menginventarisasi serta menilai kembali aset-aset tetap negara. yang terdiri dari 39 objek pemeriksaan.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Sistem Pengendalian Intern 11. Oleh karena itu.108 ketentuan pelaksanaan anggaran dan penatausahaan.87 miliar atau 0. 11. . Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp268. serta pimpinan instansi lalai tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menilai kembali dan mengawasi pengelolaan aset. Hasil Pemeriksaan 11. Cakupan pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan adalah senilai Rp40.66% dari cakupan pemeriksaan. Rekomendasi 11.44 Tujuan Pemeriksaan 11.46 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.

terdiri atas • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin peruntukkan penggunaan tanah (IPPT) TA 2009 senilai Rp12.52 Sebanyak 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. serta 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Juli 2010 senilai Rp87. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 12. yaitu 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. penatausahaan penerbitan surat ketetapan restribusi daerah (SKRD). • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pembukuan dan pencatatan. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.51 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 11. 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.53 miliar pada 17 unit pelaksana teknis dinas (UPTD) tidak akurat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. 11. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Provinsi Jawa Barat.48 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan.50 . dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. pencatatan atas potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan denda atas PKB yang tidak mendaftar ulang s. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. • Di Provinsi Sumatera Barat. • Di Kota Bandung. Sebanyak 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan terdiri atas • sebanyak 11 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.d.09 miliar tidak tertib. 11. 11.109 11.49 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 199 kasus kelemahan SPI.

00 miliar. dan • sebanyak 121 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.53 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 11. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. • Di Kabupaten Deli Serdang.d. pendataan. penetapan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C lebih rendah dalam TA 2009 dan 2010 total senilai Rp466. • Di Kota Bandar Lampung. dan • sebanyak 16 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. terdapat penerimaan dari pungutan biaya diklat TA 2009 pada BPRS Dadi yang tidak memiliki dasar hukum senilai Rp698. Provinsi Sumatera Utara.40 miliar. intensifikasi dalam upaya meningkatkan pajak pengambilan bahan galian C tidak dilakukan sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah dalam TA 2009 dan 2010 senilai Rp14. • Di Kota Pekalongan. Provinsi Lampung. penagihan atas tunggakan pajak. terdiri atas • sebanyak 11 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.91 juta. dan • Di Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Makassar. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. September 2010 senilai Rp1.54 Sebanyak 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 11.90 miliar tidak maksimal sehingga tertundanya realisasi penerimaan pendapatan. pembebasan pajak hiburan dan pajak restoran kepada satu wajib pajak tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah senilai Rp10. . Penyebab 11.110 • sebanyak 24 kasus mekanisme pemungutan.56 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya disebabkan karena para pejabat dan pelaksana terkait kurang optimal dalam melakukan survei.32 juta. retribusi dan penerimaan lain-lain pada beberapa SKPD s. 11. Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Jawa Tengah.55 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

60 . surat berharga.870. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah meliputi penggunaan uang/ barang untuk kepentingan pribadi. ketidakhematan.59 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.333.41 5. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11.38 268. dan penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan.48 6.2.923. Tabel 11. potensi kerugian daerah. kekurangan penerimaan daerah. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 13 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 14.880.40 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 Kerugian Daerah Potensi Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakefektifan Jumlah Kerugian Daerah 11.58 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 322 kasus ketidakpatuhan senilai Rp268. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi kepada para pejabat dan pelaksana terkait agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan terhadap pendataan. administrasi.11 253. 11.111 penetapan dan pengawasan atas pendapatan pemerintah daerah serta kurang menaati ketentuan yang berlaku. dan penagihan pendapatan pemerintah daerah serta untuk lebih menaati ketentuan yang berlaku. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 8 6 230 65 13 322 Nilai (juta Rp) 2. Rekomendasi 11. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 11.733.57 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.87 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. penetapan. dan barang.2.

Provinsi Sumatera Utara.99 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor sejumlah uang melalui kas daerah dan memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Rekomendasi 11. Provinsi Jawa Tengah. .38 juta telah ditindaklanjuti pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara dengan penyetoran ke kas daerah. Potensi Kerugian Daerah 11. piutang modal ekonomi produktif dan perdagangan serta pengembangan wirausaha kecil serta usaha pertanian TA 2010 tidak tertagih dan merugikan daerah senilai Rp1.16 juta.63 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.95 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya.112 11. • Di Kabupaten Brebes. Provinsi Jawa Tengah. dan barang.64 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. • Di Kabupaten Deli Serdang. surat berharga.66 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 11.14 juta. tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pengelolaan pendapatan serta kurangnya pengawasan dan pengendalian.65 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 6 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp927. Kepala Dinas Kesehatan menggunakan penerimaan dari dana Jamkesmas TA 2010 senilai Rp150. Penyebab 11. dan • sebanyak 2 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1. 11. Bendahara Penerima Dinas Cipta Karya dan Pertambangan melakukan penggelapan atas retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) TA 2009 dan 2010 senilai Rp417.62 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Brebes.61 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp2. senilai Rp408.00 juta untuk kepentingan pribadi.

11.d September 2010 belum terselesaikan senilai Rp1. Provinsi Jawa Barat.72 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.70 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan para pelaksana kurang optimal dalam melakukan penagihan dan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam penghapusan piutang. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas daerah.27 miliar.67 Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. Provinsi Jawa Tengah.68 Kekurangan Penerimaan 11.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 11.113 11.43 miliar dan di antaranya senilai Rp862. 11. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp88. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat enam kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp5. • Di Kabupaten Bogor. Rekomendasi 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mengintruksikan para pelaksana untuk lebih giat dalam melakukan penagihan dan lebih menaati peraturan yang berlaku. • Di Kota Semarang.71 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut.79 miliar.29 juta.39 juta belum tercatat dalam daftar tunggakan. penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.73 . penggunaan langsung penerimaan daerah. pengelolaan tunggakan retribusi pasar tidak tertib dan terdapat tunggakan dari Tahun 2005 s.88 miliar yang terdiri atas • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp5. dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah. piutang pajak dari Tahun 20082010 belum terpungut senilai Rp1. Penyebab 11.

11.77 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan kurang mematuhi ketentuan perundangan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan pendapatan. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. tunggakan pajak per 31 Agustus 2010 senilai Rp7. kekurangan penyetoran pajak hotel dan restoran oleh delapan wajib pajak Tahun 2009 dan 2010 senilai Rp1. Provinsi Lampung. • Di Kabupaten Bogor. Provinsi Sumatera Utara.20 juta. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp5. dan • sebanyak 26 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp11. Provinsi Jawa Barat. • Di Kota Bandar Lampung. Penyebab 11.65 miliar.72 juta.58 miliar.78 juta dan Provinsi Lampung senilai Rp21. pendapatan dari sumbangan pihak ketiga Tahun 2006 – 2009 belum diterima dari Pemprov Lampung senilai Rp1.76 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah.75 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. .06 juta.52 miliar.39 miliar yaitu di antaranya Kota Bandar Lampung senilai Rp392.74 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah sebanyak 230 kasus senilai Rp253.20 juta. • Di Kota Makassar.50 miliar. • Di Kota Medan. terdapat pembangunan titik reklame baru yang dilakukan tanpa ijin dan belum ditetapkan pajak dan retribusinya senilai Rp7. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp61. 11. Provinsi Sulawesi Selatan.56 miliar belum terselesaikan.114 11.13 miliar dan denda keterlambatan belum dikenakan senilai Rp255.90 juta. Kota Medan senilai Rp155. • sebanyak 25 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp15.73 miliar terdiri atas • sebanyak 177 kasus penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp226.42 miliar.

dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.115 Rekomendasi 11.777 surat ketetapan pajak daerah (SKPD) mengakibatkan penerimaan senilai Rp8. keterlambatan penetapan pajak air sebanyak 9.78 Terhadap kasus-kasus tersebut. • sebanyak 18 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. 11. kekurangan penerimaan daerah.42 miliar tidak tepat waktu. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 38 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 65 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar membina para pelaksana untuk lebih cermat melaksanakan tanggung jawabnya. Administrasi 11. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.79 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. tidak mengurangi hak daerah. • Di Provinsi Banten. 11. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik daerah. tidak menghambat program entitas.81 . penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. dan pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.82 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. menaati ketentuan yang berlaku dan lebih tegas mengenakan sanksi terhadap wajib pajak serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.80 11.

pendapatan pajak penerangan jalan TA 2010 terlambat disetor senilai Rp3. 11. dan • sebanyak 12 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp6.79 miliar. • Di Kota Bukit Tinggi.83 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan dan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta menginstruksikan untuk menaati peraturan yang berlaku.116 • Di Provinsi Sulawesi Tengah.27 miliar.84 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Provinsi Kepulauan Riau. Rekomendasi 11. Ketidakefektifan 11.33 miliar. penerimaan sumbangan pihak ketiga TA 2009 dan 2010 tidak sesuai peraturan perundang-undangan senilai Rp5.88 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.87 .85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. restoran/rumah makan. 11. Provinsi Sumatera Barat. Penyebab 11. terdapat pendapatan pajak hotel.86 11.89 juta sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai.33 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. dan reklame yang tidak terealisasi TA 2009 dan 2010 senilai Rp584. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 13 kasus ketidakefektifan senilai Rp6. • Di Kota Tanjung Pinang.07 juta dan potensi pendapatan pajak daerah belum diperhitungkan minimal senilai Rp231.

para pelaksana terkait belum optimal melakukan intensifikasi pendapatan daerah. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur secara tertulis kepada pejabat yang terkait supaya meningkatkan pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. 11. Penyebab 11.90 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Provinsi Jawa Tengah.91 . dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya.00 miliar.117 • Di Kota Semarang. pendapatan retribusi parkir di tepi jalan umum melalui tenaga pengumpul retribusi parkir tidak optimal sehingga target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2.89 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan kurangnya pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. Rekomendasi 11.

118 .

1 Pelaksanaan belanja meliputi belanja pemerintah pusat dan belanja pemerintah daerah. Pemeriksaan dilakukan pada 22 kementerian/lembaga yang meliputi 45 objek pemeriksaan. Hasil Pemeriksaan 12. Sistem Pengendalian Intern 12. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. . Belanja Pemerintah Pusat 12. Oleh karena itu. Belanja pemerintah pusat/daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintah pusat/daerah dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. belanja modal.3 Tujuan Pemeriksaan 12. Cakupan pemeriksaan belanja pemerintah pusat pada 22 K/L adalah senilai Rp15. efisien.2 Dalam Semester II Tahun 2010. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah pusat TA 2009 dan 2010. bantuan sosial. subsidi. belanja pemerintah pusat/daerah terdiri atas belanja pegawai.46% dari cakupan pemeriksaan.81 miliar atau 5. dan efektif.119 BAB 12 Pelaksanaan Belanja 12.4 Secara umum. Menurut jenisnya. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.86 triliun.09 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp29. bunga. hibah.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. 12. dan belanja lain-lain.6 Salah satu tujuan pemeriksaan atas belanja adalah untuk menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) atas pelaksanaan anggaran belanja sudah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan • pelaksanaan belanja telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan belanja telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. belanja barang. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp824.

• Di Kepolisian RI. • sebanyak 6 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Sebanyak 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.73 miliar. pencatatan barang milik negara (BMN) belum memperhitungkan PPN dan biaya lainnya terkait pengadaan BMN. serta 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.120 12. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.56 juta dan TA 2009 senilai Rp2. Satker Bandara Binaka Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara. • Di Kementerian Perhubungan. biaya perbaikan Wisma Duta Tahun 2009 senilai Rp375. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Selain itu.8 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan belanja pemerintah pusat menunjukkan terdapat 86 kasus kelemahan SPI. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 15. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.39 juta belum dikapitalisasi sehingga belum tercatat sebagai penambah nilai akun gedung dan bangunan.84 miliar tidak dilaporkan ke Bidang Keuangan Polda Sulut sehingga tidak diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polda Sulut. dan • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pembukuan dan pencatatan.9 . terdapat bantuan dana pemerintah kabupaten setempat ke Polres dan Poltabes jajaran Polda Sulawesi Utara TA 2009 senilai Rp1. aset hasil belanja modal TA 2008 belum tercatat senilai Rp226. 12. • Di Kementerian Luar Negeri.7 Hasil evaluasi atas SPI belanja menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. 12. KBRI Budapest. 12. serta pencatatan BMN belum memisahkan aset sesuai klasifikasinya.

14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kementerian Hukum dan HAM. 12. 12. yaitu SOP dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan pihak ketiga belum ditetapkan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.121 12. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. . alutsista milik TNI AU berpotensi menjadi barang yang tidak mempunyai nilai teknis. • Di Kementerian Luar Negeri. Rp1. • Di TNI AU. Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) terdapat 521 jenis suku cadang/materiil/komponen alat utama sistem senjata (alutsista) menunggu proses perbaikan/pemeliharaan dan terdapat suku cadang/materiil/komponen alutsista dari pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi (A-4 dan OV-10) belum diperbaiki.13 Sebanyak 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.11 Sebanyak 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. terdapat perhitungan fihak ketiga (PFK) minus per 26 Juli 2010 senilai USD126. terdiri atas • sebanyak 19 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Akibatnya. KBRI Moskow. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. 12.14 miliar belum mendapatkan penggantian dari Biro Keuangan Setjen Kementerian Luar Negeri sehingga pengeluaran belum dapat diakui sebagai realisasi belanja definitif.09 ribu e. dan • sebanyak 12 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.q.

16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI.79 8.440.81 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan pada delapan kementerian lembaga (KL). serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan.95 54.46 824.918.1.15 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena perencanaan tidak memadai.818. administrasi. serta dukungan sarana dan prasarana yang kurang memadai. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 16 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 17.1.122 Penyebab 12.40 240. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat No. Rekomendasi 12. Tabel 12.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 12. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan.391. hasil pemeriksaan mengungkapkan 432 kasus senilai Rp824. . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.166. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 163 15 43 120 48 43 432 31. ketidakhematan.18 Berdasarkan tabel di atas.35 489. potensi kerugian negara.97 12. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. kekurangan penerimaan negara.901.

yang terdiri atas • sebanyak 10 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp5.89 miliar.21 . belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.69 juta. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.123 Kerugian Negara 12. surat berharga. • sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp215. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp110. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. Kasus-kasus kerugian negara yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.70 miliar.97 miliar. • sebanyak 9 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp914. • sebanyak 9 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp2.76 juta. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.52 juta. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. 12.64 miliar. pemahalan harga (mark up).00 miliar. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. • sebanyak 5 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp156.47 juta.17 juta.44 miliar. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian negara senilai Rp925. • sebanyak 46 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp2.19 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. • sebanyak 28 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.88 miliar. • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp5. dan barang. • sebanyak 46 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp10. Kerugian negara.20 12. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 163 kasus senilai Rp31.

25 kasus-kasus kerugian negara tersebut. dan barang. surat berharga.77 miliar.34 miliar. • Di Kementerian Sosial. dan BKKBN senilai Rp911.17 miliar. dana bantuan modal usaha Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jawa Tengah posisi September 2010 senilai Rp5.26 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.23 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian negara tersebut. pengawasan.98 juta. • Di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).24 Kasus-kasus kerugian negara disebabkan rekanan lalai dalam melaksanakan tugas sesuai kontrak yang disepakati. dan pengendalian.98 juta. senilai Rp5.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Potensi Kerugian Negara 12. • Di Kementerian Pendidikan Nasional. dan selisih nilai yang dipertanggungjawabkan dengan yang diterima oleh Hotel Grand Jaya Raya senilai Rp852.88 miliar belum disetor ke kas negara dan masih dikelola serta disalurkan kepada Kelompok UPPKS. Penyebab 12. Rekomendasi 12. yang nyata dan pasti jumlahnya.41 miliar. 12.25 miliar. pekerjaan pengambilan formulir Program Keluarga Harapan (PKH) TA 2009 tidak seluruhnya dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia sehingga terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp4. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp1.124 12. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kerugian negara dengan menyetorkan uang ke kas negara atau melengkapi/menyerahkan aset melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. akomodasi hotel fiktif atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan senilai Rp1. para pelaksana lalai dalam pelaksanaan tugas dan tidak cermat dalam perencanaan. . realisasi perjalanan dinas kegiatan joint audit TA 2009 tidak dilakukan (fiktif) sekurang-kurangnya senilai Rp2.40 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. Selain itu. Kementerian Dalam Negeri senilai Rp1.

12.77 juta. 12.28 .91 miliar yang terdiri atas • sebanyak 9 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp1. dan aset tidak diketahui keberadaannya.75 miliar.03 juta. pelaksana lalai dalam menjalankan tugas. Penyebab 12.30 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut telah ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp191.69 juta.35 juta berbeda dengan invoice dan perjalanan dinas senilai Rp228.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. • Di TNI AL Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.46 juta dan biaya transport pengiriman slipway ke lokasi senilai Rp220.75 miliar. 12. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp382.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kementerian Dalam Negeri. • Di TNI AL.21 juta. terdapat selisih volume pekerjaan atas pekerjaan yang belum selesai minimal senilai Rp383.20 juta oleh Perusahaan Jasa Konsultan menggunakan pertanggungjawaban yang tidak benar. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 15 kasus senilai Rp8. aset dikuasai pihak lain.31 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan oleh rekanan lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah disepakati. yang berpotensi merugikan negara. pembayaran honorarium senilai Rp404. Ditjen Bina Pembangunan Daerah. pengadaan barang rantai jangkar KRI MLT-561 tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yaitu barang yang diberikan rekanan produk Tahun 1996.66 juta.125 12.00 juta tidak sesuai ketentuan. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain potensi kerugian negara senilai Rp6. di antaranya di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp25. TNI AL telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp168. bukan produk baru sehingga terjadi selisih senilai Rp167.

126 Rekomendasi 12. meminta pertanggungjawaban rekanan pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah disepakati. 12. dan penggunaan langsung penerimaan negara.36 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.40 juta dan PT HI belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp963.37 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai Rp7. Direktorat Polisi Air (Ditpolair).16 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp46. Kekurangan Penerimaan Negara 12. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 43 kasus senilai Rp54. 12.32 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut.92 miliar.33 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. 12.00 juta atas perjanjian penambangan batu kapur. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara. di antaranya di Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp230.45 juta telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. • Di Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum).98 juta belum diterima. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. sanksi keterlambatan pengadaan dua unit senjata api kaliber 20 mm TA 2008 belum dikenakan sehingga denda senilai Rp935.24 miliar. senilai Rp446.35 .92 miliar tidak dibayar.35 juta. dan mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian negara. terdapat kekurangan pembayaran PNBP dari ganti rugi pemanfaatan tanah oleh PT HI senilai Rp561. terdapat bunga dan denda pinjaman dana Bapertarum PNS oleh Yayasan DPP KORPRI dan Perum Perumnas senilai Rp40. • Di Kepolisian RI. • Di Kementerian Hukum dan HAM.34 12.

• sebanyak 35 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. 12. dan penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara terjadi karena rekanan tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara. Administrasi 12.43 . proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. Penyimpangan administrasi juga meliputi pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. kekurangan penerimaan negara. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Rekomendasi 12. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. pelaksanaan lelang secara proforma.41 12. para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 120 kasus yang terdiri atas • sebanyak 39 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).40 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. tidak menghambat program entitas.39 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut.42 12. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara.127 Penyebab 12. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. tidak mengurangi hak negara. • sebanyak 6 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.

• Di Kementerian Pendidikan Nasional. .28 miliar dilakukan tanpa merevisi petunjuk operasional kegiatan (POK). Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). dan • sebanyak 1 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. kurang cermat dalam melaksanakan ketentuan pelaksanaan anggaran. terdapat pengadaan barang TA 2009 senilai Rp699. • sebanyak 8 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara. • Di Kementerian Perdagangan. penggunaan sisa anggaran joint audit TA 2009 senilai Rp22. • sebanyak 7 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS) TA 2009 tidak didasarkan pada data yang memadai dan spesifikasi teknis barang yang diadakan mengarah pada merek tertentu. • sebanyak 3 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian para atasan. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. IAIN Sultan Thaha Jambi. Penyebab 12.128 • sebanyak 15 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. Rekomendasi 12.21 juta dilakukan tanpa kontrak sehingga tidak ada kejelasan mengenai hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perikatan.45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dan dalam melaksanakan tugas. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melengkapi bukti pertanggungjawaban. • Di Kementerian Agama. 12. terdapat empat kegiatan operasi Mabes TNI TA 2007 – 2008 yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban minimal senilai Rp2.52 miliar.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. memberikan teguran dan atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.46 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. • Di TNI AL.

47 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.35 miliar.49 . BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. • Di Kementerian Keuangan. KBRI Kuala Lumpur. terdapat perbedaan harga kontrak dengan harga pasar dalam pengadaan barang dan jasa TA 2009 dan 2010 sehingga terjadi kemahalan harga senilai Rp204. Rekomendasi 12.22 miliar.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan senilai Rp165.52 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. tingkat pemanfaatan peralatan pemindai DJBC belum optimal jika dibandingkan dengan tingkat biaya pemeliharaannya senilai Rp178.51 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena adanya kecenderungan memanfaatkan anggaran tanpa memperhatikan prinsip ekonomis.51 juta.81 juta.129 Ketidakhematan 12. dan Gamma Ray. Penyebab 12.48 12. 12. dan • sebanyak 45 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga senilai Rp240. HiCo Scan. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). entitas kurang cermat merencanakan kegiatan. mengakibatkan pemborosan atas biaya pemeliharaan X-Ray. dana beasiswa mahasiswa unggulan TA 2009 dan 2010 digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan persatuan mahasiswa Indonesia di Malaysia sehingga memboroskan keuangan negara senilai Rp152. 12.73 juta. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak 48 kasus senilai Rp240. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. • Di Kementerian Perdagangan.50 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kementerian Luar Negeri. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. Kasus-kasus ketidakhematan meliputi pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga.

• sebanyak 10 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp196.130 Ketidakefektifan 12. • Di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).64 juta.90 miliar. • sebanyak 7 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp31.99 miliar. 12. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.53 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).32 miliar. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).55 . dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • Di TNI AL. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan 43 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan senilai Rp489.52 miliar. kegiatan pemeliharaan alutsista kapal di lingkungan Koarmabar TA 2008 dan 2009 senilai Rp2. 12. Kapal Patroli Cepat FPB 38 senilai USD25.54 miliar melewati batas waktu yang ditetapkan sehingga belum sepenuhnya dapat mendukung pencapaian tujuan kegiatan operasi.90 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp1. Rp226.95 miliar. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp111.56 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.54 12. • sebanyak 11 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp341.57 miliar pengadaan TA 2007 – 2009 rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.20 juta eq. • sebanyak 7 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi senilai Rp2.

Penyebab 12.131 • Di Kementerian Perdagangan. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 atas 176 objek pemeriksaan. telah agar lebih hasil Belanja Pemerintah Daerah 12.61 Tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan yang diperiksa telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. dan • pelaksanaan pengadaan barang/jasa telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. dan segera memanfaatkan barang pengadaan.86 triliun. Pemeriksaan dilakukan atas 14 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah provinsi dan 150 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah kabupaten/kota. cermat dalam perencanaan.60 Tujuan Pemeriksaan 12.57 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. pemeriksaan atas belanja daerah juga meliputi 5 objek pemeriksaan atas belanja bantuan sosial TA 2009 dan 2010 pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 3 objek pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) TA 2010 pada pemerintah provinsi dan 4 objek pemeriksaan pada pemerintahan kabupaten/kota.59 Dalam Semester II Tahun 2010. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan.69 miliar atau 3. Rekomendasi 12.81% dari cakupan pemeriksaan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp840.06 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp52. Selain itu. efisien. 12.58 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. . pasar tradisional dan gudang untuk sistem resi gudang (gudang SRG) yang dibangun dengan dana stimulus fiskal TA 2009 belum didukung fasilitas penunjang dan pasokan listrik PLN sehingga belum dapat dimanfaatkan. Cakupan pemeriksaan belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan adalah senilai Rp22. perencanaan yang kurang memadai. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. dan efektif.

Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. • sebanyak 15 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan.63 Pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) entitas terhadap belanja daerah maupun terhadap pengamanan atas kekayaan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. serta 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan) pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 18. pembukuan dan pencatatan. Sebanyak 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.62 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.66 . • sebanyak 2 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.64 12.65 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 195 kasus kelemahan SPI. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. 12. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan belanja pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. Sistem Pengendalian Intern 12. yaitu 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Oleh karena itu. 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.132 Hasil Pemeriksaan 12. 12. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.

133 12. terdiri atas • sebanyak 54 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. 12. Sebanyak 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.71 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur berupa permasalahan tidak adanya pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Pekerjaan Umum. • sebanyak 8 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. Sebanyak 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 4 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 46 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Provinsi Sumatera Utara. yaitu pengguliran ternak pada dinas peternakan senilai Rp18. 12. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.51 miliar. Akibatnya. yaitu pemerintah daerah mengalami defisit anggaran yang berdampak pada penundaan pembayaran paket-paket pekerjaan TA 2010 yang telah selesai dikerjakan.67 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Sumba Barat.00 juta pada TA 2010 belum dicatat secara tertib mengakibatkan Laporan Pengguliran Ternak yang disajikan di Neraca TA 2010 berpotensi salah catat dan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.68 12.70 . • sebanyak 22 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. terdiri atas • sebanyak 11 kasus berupa permasalahan entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • sebanyak 10 kasus mekanisme pemungutan. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. Pemkab Tapanuli Selatan memiliki utang senilai Rp37. 12.25 miliar pada TA 2009 dan senilai Rp203. dan • sebanyak 2 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tabel 12. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah No.656. kekurangan penerimaan daerah. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 12. dan kepala daerah lalai dalam membuat aturan pelaksanaan anggaran. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. Rekomendasi 12.11 45.639. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. administrasi.692.69 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.73 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. ketidakhematan.752.22 522.994 kasus ketidakpatuhan senilai Rp840. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta segera membuat aturan pelaksanaan anggaran. kepala daerah memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam penganggaran.134 Penyebab 12.03 97. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 19 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 20.377. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 857 206 314 366 119 132 1.2.72 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengelola anggaran kurang cermat dalam mengusulkan rencana kerja anggaran.994 144.69 840.38 30.2. BPK telah merekomendasikan agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.267.46 .74 Hasil pemeriksaan atas belanja pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 1. potensi kerugian daerah.

spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.78 . surat berharga. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp1. • sebanyak 24 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp3. Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 857 kasus senilai Rp144. • sebanyak 19 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp12.96 miliar. Kerugian daerah juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.34 miliar.26 miliar. • sebanyak 42 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp8. • sebanyak 49 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp10. terdiri atas • sebanyak 23 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp9.48 miliar. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.52 miliar.00 miliar. dan barang.77 12.135 Kerugian Daerah 12. pemahalan harga (mark up).49 miliar. • sebanyak 130 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp14. • sebanyak 105 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp8. • sebanyak 41 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp3.09 miliar.44 miliar.76 12.75 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. 12.01 miliar.88 miliar. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. • sebanyak 419 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp72.

rekanan belum melaksanakan kewajiban 12. • Di Provinsi DKI Jakarta.65 miliar.82 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. dan memberikan sanksi kepada pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. • Di Kabupaten Purwakarta. terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp974. yang nyata dan pasti jumlahnya. yaitu di antaranya di Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp5.80 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp1. senilai Rp22. Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.35 miliar. Dinas Pendidikan.81 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya dan dengan sengaja membuat berita acara prestasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. terdapat kekurangan volume pekerjaan penyelesaian pembangunan fasilitas rekreasi dan olahraga Jakarta Timur TA 2009 senilai Rp3. Provinsi Jawa Barat terdapat kekurangan volume pekerjaan jalan dan jembatan serta rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan di Dinas Bina Marga dan Pengairan TA 2009 dan 2010 senilai Rp2.59 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor uang ke kas daerah atau melengkapi pekerjaan melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 12.04 juta atas kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009.22 miliar. surat berharga.83 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan barang.136 12.59 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. dan di Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp1.54 miliar.84 . serta kurangnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab kegiatan. 12. Potensi Kerugian Daerah 12. Penyebab 12. • Di Provinsi DKI Jakarta.79 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

Akibatnya. • Di Kabupaten Banggai Kepulauan. aset tidak diketahui keberadaannya. 12. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.17 miliar. • sebanyak 10 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp8.54 miliar.85 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 206 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp97. jaminan pelaksanaan atas pengadaan barang jasa oleh pihak ketiga TA 2009 dan 2010 senilai Rp5.86 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp524.24 miliar.16 juta.22 miliar.32 miliar. dan • sebanyak 11 kasus lain-lain senilai Rp12. . 12.65 miliar. • sebanyak 19 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp2. Pemkab Banggai Kepulauan berpotensi mengalami kesulitan dalam mencairkan jaminan pelaksanaan apabila rekanan wanprestasi. terdiri atas • sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp53. Provinsi Sulawesi Tengah.62 miliar.137 pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. • sebanyak 9 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.00 juta.63 miliar tidak diterbitkan oleh bank tetapi oleh lembaga asuransi dan/atau masa berlakunya kurang dari ketentuan. • sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain. aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp985. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp18. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.

89 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah menunjukkan terdapat 314 kasus kekurangan penerimaan daerah senilai Rp45. Penyebab 12.92 .87 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan potensi kerugian daerah tersebut. Kecamatan VII Koto. Kecamatan Tebo Ulu. penggunaan langsung penerimaan daerah.138 • Di Kabupaten Tebo.88 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak yang telah disepakati. Rekomendasi 12.98 juta. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek.01 miliar. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/ dipungut/diterima/disetor ke kas daerah. Kecamatan Tebo Tengah.21 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. senilai Rp1.90 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan di Pemerintah Kabupaten Muara Enim senilai Rp387.99 juta. Kekurangan Penerimaan 12.63 miliar.56 miliar yang terjadi sejak Tahun 2008. yaitu Kecamatan Tebo Ilir. terdiri atas • sebanyak 307 kasus penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp44. dan Kecamatan Sumay dengan jumlah keseluruhan senilai Rp1. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. Provinsi Jambi. memberi sanksi kepada pelaksana dan mempertanggungjawabkan uang/barang yang berpotensi hilang. penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak. terdapat tunggakan Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada 5 kecamatan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada kontraktor sesuai ketentuan. yaitu di antaranya di Provinsi Kepulauan Riau senilai Rp484. serta melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. 12. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp1.91 12.12 miliar. 12.

69 juta.92 juta.12 juta. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp5. dan Olahraga TA 2010 yang belum diselesaikan hingga akhir masa kontrak dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp650. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera menagih kekurangan penerimaan dan segera menyetorkannya ke kas daerah. RSUD Dr R Koesma. • Di Kabupaten Muna. pelaksana kegiatan dan bendaharawan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.37 juta.95 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang direncanakan.139 • sebanyak 1 penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp108. 12. dan • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai Rp15. yaitu di antaranya di Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp755.00 juta. potongan PPN dan PPh Masa Tahun 2009 dan 2010 yang diterima oleh rekanan/bendahara pengeluaran berindikasi tidak disetor ke kas negara senilai Rp9. Pemuda.96 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. Sekretariat Daerah. Provinsi Sulawesi Tenggara. Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp481. • Di Provinsi DKI Jakarta. serta Dinas Pendidikan.96 juta.67 miliar. • Di Kabupaten Tuban.93 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut.02 miliar. Penyebab 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pelaksana kegiatan dan pimpinan SKPD.70 juta. 12. Provinsi Jawa Timur. Dinas Kesehatan. pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009 pada Dinas Pendidikan mengalami keterlambatan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp755. dan Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp478. Rekomendasi 12.95 juta.94 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/ daerah tersebut. • sebanyak 3 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp375. . beberapa pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum.

pelaksanaan lelang secara proforma. terdiri atas • sebanyak 139 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). . Penyimpangan administrasi juga meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. perpajakan.97 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. • sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.140 Administrasi 12. sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. proses pengadaan barang/ jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. Kasus-kasus penyimpangan administrasi meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 4 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 19 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. dll. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. pertambangan. • sebanyak 114 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah.98 12. 12. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. kekurangan penerimaan daerah.99 12. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.100 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 366 kasus penyimpangan administrasi. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. tidak menghambat program entitas. tidak mengurangi hak daerah. • sebanyak 24 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.

terdapat kekurangan bukti pertanggungjawaban (bukti belum lengkap) yang harus diserahkan penerima hibah TA 2009 senilai Rp239. Provinsi Jambi. • sebanyak 9 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Bungo. Provinsi Nusa Tenggara Timur. dan • sebanyak 6 kasus lain-lain penyimpangan administrasi.101 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.60 juta. • Di Kabupaten Lembata.85 miliar. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. Provinsi Maluku Utara. • sebanyak 3 kasus dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. . Rekomendasi 12. Ketidakhematan 12.104 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. realisasi belanja hibah TA 2010 belum dipertanggungjawabkan penerima hibah senilai Rp25.102 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pelaksana lalai dalam membuat pertanggungjawaban kegiatan.103 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di unit kerjanya masing-masing. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. 12.13 miliar dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang paling menguntungkan daerah. • Di Kabupaten Halmahera Selatan. pekerjaan penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) dengan nilai kontrak senilai Rp10. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. • sebanyak 4 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah.141 • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Penyebab 12.

dan • sebanyak 106 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp26.67 miliar.88 miliar.82 miliar. • Di Kabupaten Jembrana. dan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek.106 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 119 kasus ketidakhematan senilai Rp30. koefisien komponen alat dan upah pada analisa harga satuan pekerjaan lapis latasir. dan lapisan pondasi atas pada 120 paket pekerjaan melebihi standar HPS sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp2. • Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Penyebab 12. . Provinsi Bali.105 Ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya meliputi pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan.109 Terhadap permasalahan-permasalahan ketidakhematan tersebut. HPS atas pekerjaan pembangunan sarana air bersih Tebing Tinggi – Kuala Tungkal tahap II tidak disusun secara keahlian sehingga terdapat kemahalan harga kontrak senilai Rp2. penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. 12. Provinsi Jawa Barat. lataston. • Di Kabupaten Cirebon.108 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas.75 miliar. Rekomendasi 12.66 miliar.42 juta. • Di Provinsi Bengkulu. • sebanyak 9 kasus penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp3. pembayaran honorarium sekretariat panitia pemungutan suara pada empat kabupaten tidak sesuai ketentuan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1. pemberian bantuan sosial untuk beasiswa pendidikan TA 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.71 miliar. panitia lelang kurang cermat dalam mengevaluasi dan menganalisis penawaran harga dari rekanan. Provinsi Jambi. 12.37 miliar yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp34. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.107 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.142 12.

Provinsi NTT. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. • Di Kabupaten Belu. • sebanyak 43 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp466. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.26 miliar.143 Ketidakefektifan 12. • sebanyak 37 kasus barang yang dibeli tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp23.111 Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. 12.112 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 132 kasus ketidakefektifan senilai Rp522. • sebanyak 4 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp3. dan Olahraga senilai Rp15. dan • sebanyak 1 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. sebelas paket pekerjaan TA 2010 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Pendidikan. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • Di Kabupaten Klaten. • sebanyak 8 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp3. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.54 miliar. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.71 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal.51 miliar termasuk kategori kritis sehingga berisiko tidak akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang direncanakan. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.46 miliar. . Provinsi Jawa Tengah.75 miliar yang terdiri atas • sebanyak 38 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp26.113 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.10 miliar.37 miliar. Pemuda. 12. 12. hasil kegiatan pembangunan pengembangan Kawasan Objek Wisata Sumber Air Ingas Terpadu TA 2009 senilai Rp2.110 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).

12.114 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan.14 juta di Dinas Pendidikan.116 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar kepala daerah menegur secara tertulis kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada rekanan. Penyebab 12.144 • Di Kabupaten Kepahiang. Pemuda. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. Provinsi Bengkulu. pelaksana proyek/kegiatan kurang tegas kepada rekanan.06 miliar di RSUD Kepahiang dan Dinas Kesehatan dan peralatan serta perlengkapan sekolah senilai Rp432. . serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. alat-alat kesehatan senilai Rp2.115 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. dan Olahraga hasil pengadaan TA 2010 belum dimanfaatkan. Rekomendasi 12.

hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Pemeriksaan dilakukan pada sembilan entitas pemerintah daerah. kepemilikan. Kabupaten Luwu Utara. sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah. Barang milik daerah adalah semua barang yang di beli atau diperoleh atau beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. . Kabupaten Buleleng. Hasil Pemeriksaan 13. Kabupaten Sidoarjo. Kota Banjarmasin. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. kelengkapan.2 13. dan Kabupaten Parigi Moutong. dan • menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. Pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada pemerintah daerah mencakup aset pemerintah daerah yang dikuasai oleh pengelola barang (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Dalam Semester II Tahun 2010. serta kewajaran dan kecukupan pengungkapan atas pelaporan aset tetap.1 Aset tetap daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. Kabupaten Tana Toraja.3 13.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset atau pengelolaan barang milik daerah (BMD).4 Tujuan Pemeriksaan 13. serta pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan aset pemerintah daerah. nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan. yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Pada umumnya. 13.5 Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset adalah untuk • menilai efektivitas sistem pengendalian intern terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan.145 BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 13. Kabupaten Jembrana. Oleh karena itu. Oleh karena itu. • menguji keberadaan. penilaian. Kota Surabaya.

serta 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 25). • Di Kabupaten Parigi Moutong. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pencatatan aset tetap dalam kartu inventaris barang (KIB) dan inventarisasi aset tetap seluruhnya senilai Rp62.8 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI. terdiri atas • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 26 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.7 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan/manajemen aset menunjukkan adanya kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 13. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. • sebanyak 3 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan.146 Sistem Pengendalian Intern 13. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. yaitu 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.42 miliar tidak dilaksanakan sehingga laporan aset tetap Tahun 2009 dan 2010 tidak dapat disusun.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.9 .20 miliar tidak dicatat dalam laporan barang milik daerah sehingga Laporan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Provinsi Sulawesi Tengah.11 Sebanyak 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 13. 13. Provinsi Jawa Timur. pengadaan aset berupa jalan pada TA 2009 senilai Rp59. dan 13. • Di Kota Surabaya.

administrasi.31 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.13 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13.17 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 91 kasus ketidakpatuhan senilai Rp34. Penyebab 13. Rekomendasi 13.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. terdiri atas • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. 13. . potensi kerugian daerah.1. pengendalian. Provinsi Sulawesi Tengah. pemanfaatan atau pemindahtanganan BMD. bupati belum menetapkan pedoman teknis pengelolaan aset tetap yang meliputi kebijakan penggunaan. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 22 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 23.12 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Jembrana. 13. kekurangan penerimaan daerah.15 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengguna BMD lalai dalam melakukan pembinaan. 13. Sebanyak 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 13. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi administratif kepada pejabat yang bertanggung jawab sebagai pengguna BMD dan segera menetapkan pedoman teknis terkait pengelolaan BMD. Provinsi Bali yaitu pemanfaatan hak pengelolaan tanah Gilimanuk oleh pihak ketiga untuk pertokoan tidak sesuai ketentuan sehingga hasil pemanfaatan aset tanah tersebut tidak dapat diterima oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. dan • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. dan kebijakan pengamanan BMD sebagaimana disyaratkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan BMD.147 • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas para pengurus barang yang menjadi tanggung jawabnya.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong. ketidakhematan.

115.12 juta. Provinsi Sulawesi Selatan.318.70 4.014. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah dan lain-lain kasus kerugian daerah berupa pengenaan ganti kerugian daerah belum/ tidak dilaksanakan sesuai ketentuan. • Di Kabupaten Jembrana.528. surat berharga.77 22.810.18 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. • Di Kabupaten Luwu Utara. Provinsi Bali. aset Pemerintah Kabupaten Jembrana berupa sapi hasil pengadaan Tahun 2006 sebanyak 287 ekor senilai Rp857.11 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp857. 13. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 5 kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp1.38 juta belum dikenakan tuntutan ganti rugi.20 . yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.148 Tabel 13.12 juta untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Usaha Pembibitan Sapi Bali dijual oleh penerima bantuan.94 4. 13. BMD yang hilang selama Tahun 2006 s. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp258. 2010 minimal senilai Rp86.58 juta.1.19 13.848. dan barang.74 34.33 1.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 5 14 2 61 1 8 91 1.51 Kerugian Daerah 13.d.

barang milik daerah senilai Rp856. dan barang. Provinsi Bali.88 miliar tidak dapat ditelusuri keberadaan fisik barangnya. • Di Kabupaten Buleleng. Potensi Kerugian Daerah 13.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam melakukan pengurusan BMD.23 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. aset tidak diketahui keberadaannya.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. aset tetap yang tercatat di SKPD per 30 Juni 2010 minimal senilai Rp2.29 juta. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan upaya penagihan kepada penerima bantuan dan hasilnya disetorkan ke kas daerah. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi aset dikuasai pihak lain.29 juta dikuasai pihak lain (PNS.05 juta.08 miliar. 13. dan • sebanyak 1 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp72. Rekomendasi 13. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp3. • Di Kabupaten Luwu Utara.05 juta berpotensi merugikan keuangan daerah. dan pihak lain di luar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara).26 .25 13. surat berharga. Pensiunan PNS.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.149 Penyebab 13. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Provinsi Kalimantan Selatan.01 miliar yang terdiri atas • sebanyak 8 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp856. serta memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 14 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp4. tunggakan cicilan penjualan kendaraan roda dua dan empat senilai Rp72. 13. yang nyata dan pasti jumlahnya. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Banjarmasin.

dan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam mengamankan dan memelihara BMD. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera meminta mitra kerja untuk memenuhi kewajiban kontribusi dan kompensasi sesuai dengan syarat yang diperjanjikan serta segera menyetorkannya ke kas daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan pengguna BMD untuk melakukan pembinaan atas pengelolaan BMD sesuai ketentuan yang berlaku dan melakukan pengamanan fisik dan administratif atas BMD yang berada dalam penguasaannya.d. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/ disetor ke kas daerah.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut.78 miliar. Provinsi Kalimantan Selatan.34 Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya disebabkan mitra kerja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian.150 Penyebab 13. Rekomendasi 13.81 miliar.31 13. beberapa mitra kerja tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk periode Tahun 2000 s. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 2 kasus penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp4. 2006 senilai Rp4. Rekomendasi 13.30 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.33 .32 13.29 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.28 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan pengguna dan pengurus lalai dalam dalam melaksanakan tugasnya untuk menelusuri keberadaan BMD. Kekurangan Penerimaan 13. Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya di Kota Banjarmasin. Penyebab 13. 13.

dan • sebanyak 17 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. tidak menghambat program entitas. • Di Kota Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 61 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 43 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. 13.37 13. aset tetap minimal senilai Rp27. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. kekurangan penerimaan daerah. 13. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.64 miliar yang diserahterimakan kepada PDAM Kota Surabaya sampai dengan 12 Maret 2010 belum ditetapkan status penyertaan modalnya. • Di Kabupaten Buleleng. Provinsi Bali.39 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. jaringan. Provinsi Jawa Timur.151 Administrasi 13. penggunaan aset tetap berupa gedung dan bangunan senilai Rp65. dan instalasi senilai Rp29.29 miliar yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sampai dengan 30 Juni 2010 belum diurus kejelasan status kepemilikannya sehingga rawan terhadap penyalahgunaan oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab atau tuntutan hukum pihak lain.39 miliar yang digunakan oleh 17 SKPD belum ditetapkan dengan surat keputusan bupati sehingga pertanggungjawaban dan pemeliharaan aset tersebut menjadi tidak jelas. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Jembrana. aset jalan. tidak mengurangi hak daerah.38 . dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Provinsi Bali. dan kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah.

kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.43 Ketidakefektifan 13.47 . Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.42 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi administratif kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. dan barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan. Ketidakhematan 13.152 Penyebab 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah.46 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Penyebab 13. serta kurang optimal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Rekomendasi 13.41 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.40 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pengguna dan pengurus BMD lalai dalam melakukan pengamanan fisik dan administratif terhadap aset daerah. 13. 13.45 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.44 Kasus ketidakhematan terjadi karena pengguna BMD kurang berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus pemborosan keuangan daerah senilai Rp1.52 miliar yaitu kegiatan rehabilitasi gedung/bangunan di Dinas Pendidikan (TA 2009) atas bangunan sekolah yang bukan milik Pemerintah Kota Banjarmasin. Rekomendasi 13.

48 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakefektifan senilai Rp22. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan pengadaan BMD.50 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. • Di Kota Surabaya. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kabupaten Jembrana.18 miliar belum dimanfaatkan.153 13. Soewardhie belum selesai sehingga barang inventaris hasil pengadaan Tahun 2009 dan 2010 yang bersumber dari APBD dan APBN senilai Rp5.52 . belt conveyor di Pelabuhan Pengambengan. M. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menggunakan rencana kebutuhan BMD sebagai dasar penganggaran.27 miliar belum dapat dimanfaatkan.d. gedung pengolahan daging.21 miliar belum dimanfaatkan dan masih tersimpan dalam kardus. 13. docking fasilitas perbaikan kapal ikan dan alat-alat mesin sarana docking kapal. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Provinsi Bali. • Di Kabupaten Luwu Utara. rumah dinas ASDP dan jaringan pipa air bersih Megumi. aset kapal penangkap ikan Jimbarwana dan Jimbarsegara.84 miliar. pembangunan gedung RSUD dr.84 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. memanfaatkan secara optimal barang hasil pengadaan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. Penyebab 13.51 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Provinsi Jawa Timur. barang hasil pengadaan TA 2009 senilai Rp1. 13. aset tetap hasil pengadaan selama Tahun 2003 s. pelaksanaan pengadaan BMD tidak memperhatikan efektivitas pencapaian tujuan pengadaan. serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jembrana seluruhnya senilai Rp15. Rekomendasi 13. 2009 yang terdiri atas gedung beserta peralatan laboratorium lingkungan.49 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 7 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp22.

154 .

kebinamargaan. Kalimantan Barat. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. pembagian.4 .35% dari realisasi belanja modal jalan dan jembatan senilai Rp2. penggunaan dan pembuangan air irigasi. Kalimantan Timur. 14. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase pada satu Dinas PU Cipta Karya Provinsi. jalan lori. Dalam Semester II Tahun 2010. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi/kabupaten/kota TA 2009 dan 2010. yang berada pada permukaan tanah. di atas permukaan tanah.2 14. Sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. dan 14 Dinas PU Bina Marga kabupaten/ kota adalah senilai Rp1. Kebinamargaan. di bawah permukaan tanah dan/atau air.I Yogyakarta. Bangunan gedung penting bagi manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang tujuan pembangunan nasional.155 BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. BPK telah memeriksa pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Lebih lanjut sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.3 14.35 triliun atau 58. Adapun total temuan senilai Rp88. serta di atas permukaan air. Jaringan irigasi adalah saluran. Objek pemeriksaan dimaksud adalah Dinas PU Cipta Karya dan Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Barat dan Dinas PU Bina Marga pada 14 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Provinsi Lampung.57% dari cakupan pemeriksaan. dan jalan kabel.1 Pembangunan infrastruktur keciptakaryaan. daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.29 triliun.32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah 14. kecuali jalan kereta api. dan bangunan pengairan/drainase merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. yang dimaksud dengan jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. bangunan. kebinamargaan. Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. pemberian. D. dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan Gorontalo. Pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mobilitas distribusi berbagai produk barang dan jasa dalam perekonomian nasional. yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya.75 miliar atau 6.

• kegiatan belanja infrastruktur keciptakaryaan. kebinamargaan dan drainase/pengairan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah telah sesuai dengan peraturan perundang -undangan yang berlaku. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.8 Hasil evaluasi atas SPI menunjukkan terdapat 7 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 2 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.5 Tujuan pemeriksaan atas belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. 14. kebinamargaan dan bangunan air/drainase pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) pemerintah daerah atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Sistem Pengendalian Intern 14. Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja meliputi 5 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.156 Tujuan Pemeriksaan 14. dan • sumber daya yang ada telah digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis dan efisien. Hasil Pemeriksaan 14.6 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.9 . 14. Oleh karena itu.7 Hasil evaluasi SPI menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pelaporan keuangan dan pengamanan atas aset daerah. kebinamargaan dan drainase.

kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan bidang sumber daya air TA 2009 minimal senilai Rp29.13 Kasus-kasus tersebut disebabkan oleh lemahnya kebijakan. Provinsi Kalimantan Barat.12 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 14. potensi kerugian daerah.22 miliar dilakukan tanpa perencanaan yang memadai. BPK telah merekomendasikan kepada gubernur/bupati agar menegur Kepala Dinas PU agar melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). administrasi. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian daerah.157 14. dan kontraktor tidak mematuhi ketentuan yang terkait pengelolaan lingkungan hidup. kekurangan penerimaan. Rincian per jenis temuan disajikan pada Lampiran 25 dan rincian menurut entitas disajikan pada Lampiran 26. hasil pemeriksaan menyajikan kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Rekomendasi 14. • Di Provinsi Kalimantan Barat. Penyebab 14.15 Sesuai dengan tujuannya. kurangnya pemahaman alur proses perencanaan sesuai ketentuan yang berlaku. 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.14 Terhadap kasus-kasus tersebut. • Di Kabupaten Kayong Utara. . Provinsi Kalimantan Barat. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 14. perencanaan lapis permukaan pada paket pekerjaan peningkatan kawasan pemerintahan TA 2009 tidak memadai. 14. tujuh paket pekerjaan jalan TA 2009 tidak menyusun dokumen AMDAL. pelaksana pekerjaan atas kegiatan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Jagoi Babang Lanjutan dan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Entikong Lanjutan pada Dinas PU Cipta Karya TA 2009 tidak menyusun dokumen UPL dan UKL.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.1. • Di Kabupaten Sambas.11 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern meliputi 2 kasus standar operasional prosedur (SOP) yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. ketidakhematan. • Di Provinsi Kalimantan Barat.

22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 14.19 . dan kerugian daerah lainnya.75 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.619. kebinamargaan.62 3. Kebinamargaan.158 Tabel 14. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan terdapat 48 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp36. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.57 miliar.16 Berdasarkan tabel di atas.55 miliar. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan.298.18 14.26 miliar. • sebanyak 22 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp16.14 14.17 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.48 88. Kerugian Daerah 14. kebinamargaan. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.432. Kerugian daerah juga meliputi spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. dan bangunan pengairan/drainase. surat berharga. dan Bangunan Pengairan/Drainase No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 48 24 13 26 8 5 124 Nilai (juta Rp) 36. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp6. • sebanyak 19 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp11.752. 14. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan barang. hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 124 kasus senilai Rp88.96 34.401.1.43 miliar. dan kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.

ketebalan pekerjaan lapis pondasi bawah dan atas (LPB/LPA) pada tiga ruas jalan dan pekerjaan asphalt treated base (ATB) pada 15 ruas jalan TA 2009 dan 2010 tidak sesuai spesifikasi senilai Rp599. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan 14. Provinsi Gorontalo.21 Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut. yang nyata dan pasti jumlahnya.52 miliar. Rekomendasi 14. 14.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Potensi Kerugian Daerah 14.d. • Kabupaten Gorontalo Utara. di antaranya Pemerintah Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp735.23 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut. dan pejabat pembuat komitmen (PPK) belum mematuhi ketentuan atau prosedur yang berlaku dalam pengadaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. beberapa pekerjaan selama Tahun 2005 s. • Di Kabupaten Bantul. Yogyakarta.159 • sebanyak 5 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengawas lapangan tidak cermat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan.90 juta. 14.75 juta.00 miliar. 2010 tidak sesuai dengan kontrak mengakibatkan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp8. Provinsi D. • Di Kabupaten Nunukan. dan barang. dan • sebanyak 1 kasus lainnya senilai Rp37.25 .I.35 juta yang berasal dari contoh kasus di atas dan penyetoran dari kasus kerugian daerah lainnya. Provinsi Kalimantan Timur. panitia pengadaan barang/jasa. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah dengan menyetorkan uang ke kas daerah atau melengkapi/menyerahkan aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku. kekurangan volume atas pekerjaan pembangunan.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. surat berharga.68 miliar. peningkatan dan/atau pemeliharaan jalan seluruhnya senilai Rp1. Penyebab 14.

d. 14. 2010 melebihi prestasi fisik senilai Rp5. Provinsi Lampung.160 sebagian atau seluruhnya. Dinas PU Kabupaten Gorontalo Utara telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp55. tetapi atas pekerjaan tersebut belum dibayar seluruhnya. pemanfaatan barang.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. Provinsi Gorontalo.54 juta. Provinsi Kalimantan Timur.69 miliar. • Di Kabupaten Kayong Utara. • Di Kabupaten Tulang Bawang. • Di Kabupaten Gorontalo Utara. dan • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.24 juta. 14.Wearing Course TA 2010 senilai Rp633.24 juta (setelah dikurangi PPN dan PPh tetapi pekerjaan baru dibayar 93% dari nilai kontrak). • Di Kabupaten Nunukan.04 juta. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. Provinsi Kalimantan Barat. terdapat kekurangan volume pekerjaan pengaspalan overlay jalan dengan hot rolled sheet (HRS) pada empat paket kontrak kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruas jalan dengan menggunakan HRS-Base dan HRS. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp19. 14.61 miliar yang terdiri atas • sebanyak 21 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp14. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian daerah sebanyak 24 kasus senilai Rp34. .76 miliar. pemanfaatan barang.26 Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.28 Di antara kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.37 miliar. paket pekerjaan pembangunan jalan Dusun Besar–Pintau dan jembatan Sungai Gemuruh Tahap II TA 2010 berpotensi lebih bayar senilai Rp1. terdapat pembayaran atas pekerjaan jalan dan jembatan melebihi nilai kontrak/amandemen kontrak senilai Rp55. realisasi keuangan empat paket pekerjaan peningkatan jalan selama Tahun 2005 s.67 miliar. • sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp154. serta pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.

34 .35 Kasus-kasus kekurangan penerimaan terjadi karena kontraktor pelaksana tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam kontrak dan PPK lemah dalam melakukan pengawasan serta pengendalian paket pekerjaan. serta meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan. kebinamargaan. Rekomendasi 14.32 14. Penyebab 14. dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebanyak 13 kasus senilai Rp3.39 miliar.33 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. memperhitungkan hak daerah dan segera menyetorkannya ke kas daerah.30 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.29 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan Kepala Dinas PU dan PPK tidak cermat dalam menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan.161 Penyebab 14. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Provinsi Kalimantan Timur. Provinsi Kalimantan Timur.40 miliar. • Di Kabupaten Nunukan.31 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. 14. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada para pejabat yang bertanggung jawab. pajak pengambilan bahan galian golongan C TA 2009 dan 2010 belum diselesaikan rekanan minimal senilai Rp1. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah. • Di Kabupaten Penajam Paser Utara. penyelesaian tiga paket pekerjaan TA 2009 terlambat dan rekanan belum dikenakan sanksi denda minimal senilai Rp758.15 juta. Kekurangan Penerimaan 14.

pertambangan.15 juta. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah. • Di Provinsi Kalimantan Barat. pertambangan. 14. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.38 14. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 26 kasus yang terdiri atas • sebanyak 11 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • Di Kabupaten Kayong Utara. dll. perpajakan. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah. 14.36 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur dan memerintahkan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.16 miliar dilakukan tanpa dasar acuan pekerjaan.162 Rekomendasi 14.39 . dll. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah. Administrasi 14. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).37 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. tidak menghambat program entitas. pertanggungjawaban pembayaran biaya konsultansi TA 2009 belum memadai senilai Rp806. perpajakan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Provinsi Kalimantan Barat. proses adendum tidak dilengkapi dengan gambar rencana dan data teknis justifikasi sehingga kegiatan pada Dinas PU Bidang Sumber Daya Air TA 2009 senilai Rp25. tidak mengurangi hak daerah. kekurangan penerimaan daerah.

Provinsi Kalimantan Barat. • Di Kabupaten Sanggau.163 Penyebab 14. Ketidakhematan 14. • Di Kabupaten Nunukan. Penyebab 14.44 14. dan perhitungan pekerjaan yang dikontrakkan. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya berupa pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian Kepala Dinas PU dan penanggung jawab kegiatan. kelebihan perhitungan atas koefisien alat motor grader untuk analisis harga satuan pekerjaan timbunan biasa dari selain galian sumber bahan pada lima paket pekerjaan bidang Bina Marga TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp880. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan atau sanksi kepada Kepala Dinas PU dan pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. kelebihan perhitungan analisis harga satuan bahan pada pembangunan jalan lingkar luar pantai Sei Jepun-Mansapa TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp4.86 juta.46 . dan konsultan pengawas lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 14. evaluasi. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Kalimantan Timur.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.18 miliar.43 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. pengawas lapangan.29 miliar. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.47 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena panitia lelang tidak cermat dalam melakukan perencanaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak delapan kasus senilai Rp14.45 14. Rekomendasi 14.

164 Rekomendasi 14. dan pengawas lapangan proyek yang bersangkutan.50 14. dan pengawas lapangan tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan pelaksana lalai dalam melaksanakan tugasnya.51 14.52 14.48 kasus-kasus ketidakhematan tersebut. 14.34 juta berpotensi tidak selesai dikerjakan (baru mencapai 80. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan yaitu sebanyak lima kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pekerjaan konstruksi jalan TA 2010 tidak sesuai jadwal pelaksanaan berpotensi pekerjaan tidak selesai tepat waktu. • Di Kabupaten Boalemo. • Di Kabupaten Kayong Utara. memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.49 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada Kepala Dinas PU agar lebih cermat dalam perencanaan dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. PPTK. progress fisik pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan abutment jembatan Sungai Mata-mata TA 2009 senilai Rp996. Provinsi Kalimantan Barat. Ketidakefektifan 14. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Penyebab 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Gorontalo.53 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena tidak adanya itikad baik dari kontraktor. BPK telah Terhadap kasus-kasus merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk memberikan sanksi kepada kuasa pengguna anggaran (KPA). Rekomendasi 14. PPTK.75%).55 .54 ketidakefektifan tersebut.

UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara membawa semangat reformasi dan otonomi daerah di dalamnya. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara. pada akhirnya akan menjadi penerimaan daerah dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) dan menjadi sumber dana bagi pembangunan daerah. Oleh karena itu.165 BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batubara 15. Pemberian KP menurut undangundang tersebut di atas diberikan oleh Menteri Pertambangan.1 Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dalam jangka waktu yang lama.3 15. Secara umum kualitas deposit batubara bergantung pada lama waktu pembentukannya atau kematangan organiknya. dengan sejumlah kecil elemen lain yang umumnya berupa Sulfur.4 . intensifikasi penerimaan negara dari sektor tersebut akan secara langsung mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya. panas. batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit. Melalui ketentuan ini. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dipengaruhi oleh tekanan. bituminus. Kuasa pertambangan (KP) adalah wewenang yang diberikan kepada badan usaha/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Bentuk pengusahaan pertambangan bahan galian batubara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan adalah kuasa pertambangan dan perjanjian/kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor swasta. Perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) adalah perjanjian karya antara Pemerintah RI dengan perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan bahan galian batubara. dan Oksigen. Batubara dibedakan berdasarkan kualitasnya. Pertambangan batubara merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di daerah. tetapi pada saat yang sama berpotensi sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kehidupan masyarakat. dan waktu. Pemerintah mendudukan diri sebagai wakil dari Negara– sebagai pemilik sumber daya alam yang dapat memberikan kuasa pertambangan kepada pihak lain (termasuk swasta) untuk turut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). Jika tidak dikelola secara memadai. Batuan organik berwarna hitam tersebut umumnya terdiri atas senyawa Karbon. sub-bituminus. lignit. Akhir dari mata rantai pengelolaan sumber daya alam adalah pengelolaan lingkungan hidup. demi kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. Hidrogen. berupa royalti dan iuran tetap. rusaknya lingkungan hidup akan membebani keuangan negara/ daerah untuk pemulihannya dan apabila upaya pemulihan tidak berhasil akan mengancam kelestarian alam dan kehidupan manusia. dan gambut.2 15. yaitu kualitas rendah (low coal) dan kualitas tinggi (hard coal). 15.

pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).04 miliar dan USD29.8 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Hasil Pemeriksaan 15. 15. bagi hasil. . Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Sumatera Barat. dana bagi hasil (DBH). Kalimantan Selatan. dan pengelolaan lingkungan pertambangan. Nilai temuan pemeriksaan adalah Rp181. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara Tahun 2008 sampai dengan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan 13 pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi.6 Tujuan Pemeriksaan 15. dana bagi hasil. • pemberian izin. PNBP. dan Kalimantan Timur.78 triliun. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.26 juta atau senilai Rp444. penerimaan asli daerah.9 Sistem Pengendalian Intern 15. dan pengelolaan pertambangan) Tahun 2008 s.d Semester I Tahun 2010 pada 14 pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan kontraktor PKP2B adalah senilai Rp2. Oleh karena itu. Riau.10 Salah satu tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai.5 Pada Semester II Tahun 2010. Cakupan pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (perijinan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.14 miliar (dengan nilai kurs 1 USD = Rp8.7 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. Hasil pengujian yang dilakukan BPK menunjukkan bahwa rancangan dan implementasi sistem pengendalian intern terkait dengan pengelolaan batubara belum mampu secara efektif menjamin pencapaian tujuan optimalisasi PNBP dan kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan dalam hal perizinan. dan pengelolaan lingkungan pertambangan batubara khususnya reklamasi telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. 15.166 15.991).81 triliun dari realisasi anggaran pendapatan Rp10.

15.11 Hasil evaluasi SPI atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.167 15. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.15 Sebanyak delapan kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 8 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan • kelemahan struktur pengendalian intern.57 miliar. • Di Kabupaten Sarolangun.13 . dan • sebanyak 8 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. terdiri atas • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Sebanyak 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 15. 15. dan 15. pembukuan dan pencatatan. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 27. • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atas produksi batubara senilai Rp2.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.12 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan terdapat 25 kasus kelemahan SPI. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal senilai Rp1. terdiri atas • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu dan ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.68 miliar.

2) kepala dinas teknis terkait untuk segera mengajukan konsep keputusan bupati tentang rencana dan jaminan reklamasi sebagai dasar pelaksanaan reklamasi. dan kurang optimal dalam melakukan pengawasan terhadap rencana dan penyetoran jaminan reklamasi. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. Rekomendasi 15.19 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang dapat mengakibatkan potensi kerugian negara. tata cara pengenaan. dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun sehingga pengelolaan PNBP dari pertambangan batubara belum optimal.168 • sebanyak 4 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. dan 3) Kepala Dinas ESDM melakukan pengawasan secara memadai atas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan pertambangan. dan 4) Menteri ESDM agar berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk segera menyusun dan menerbitkan ketentuan tentang tata cara pengenaan. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. administrasi.1. 15.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. . pemungutan dan penyetoran PNBP sesuai amanat UU dan PP. Penyebab 15. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain: 1) merevisi keputusan bupati yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.17 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena kebijakan bupati tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kekurangan penerimaan negara. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 15. pemungutan. pemungutan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. pemerintah kabupaten belum menetapkan prosedur pelaksanaan rencana reklamasi dan jaminan reklamasi. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 28 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 29. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 15. pelaksana tidak memahami pentingnya penetapan peraturan tentang besaran jaminan reklamasi dan rencana reklamasi yang harus disampaikan oleh para pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi sebelum melakukan kegiatan penambangannya. dan penyetoran PNBP di lingkungan Kementerian ESDM. serta Menteri ESDM dan Menteri Keuangan belum merumuskan tata cara pengenaan.

28 miliar. jaminan kesungguhan yang seharusnya disetorkan para pemegang IUP Tahun 2008 senilai Rp758. PT RMB di Kabupaten Indragiri Hulu. dan PT NAL di Kota Sawahlunto • Di Kabupaten Sarolangun.261.71 29. serta PT DSAS.04 miliar dan USD29. CV BMK. CV MI. pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.169 Tabel 15. PT MIA dan PT NKC di Kabupaten Kuantan Singingi. surat berharga. PT MCB di Kabupaten Bungo. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 20 kasus senilai Rp5. 15. PT LMH. pemerintah kabupaten tidak pernah mewajibkan KP untuk menyetorkan jaminan kesungguhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. CV PSPN.66 juta dan Tahun 2009 senilai Rp380. hasil pemeriksaan mengungkapkan 85 kasus senilai Rp181.26 juta.22 15. Potensi Kerugian Negara 15.447.20 Berdasarkan tabel di atas.21 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa uang.44 miliar. Kegiatan tersebut terjadi antara lain pada PT KBPC. sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pertambangan batubara.602. pemegang IUP operasi produksi batubara belum/kurang menyerahkan jaminan reklamasi senilai Rp1. dan barang. CV AME.049.23 . Kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai. Provinsi Riau. • Kegiatan penambangan di kawasan hutan dilakukan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) (ribu USD) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakefektifan Jumlah 20 31 33 1 85 5. CV CP.261.54 Rp29. yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.54 15.60 juta. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.49 175. • Di Kabupaten Kuantan Singingi.21 Rp181. PT KPU.1. Provinsi Jambi.

93 miliar dan USD14.54 miliar dan USD6.24 Kasus-kasus tersebut disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut di atas diduga sengaja telah melakukan kegiatan penambangan berupa pembangunan konstruksi. penghamparan overburden.27 15. 15.26 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. 15 pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp59. Energi. BPK berpendapat bahwa temuan tersebut mengandung unsur pidana kehutanan yang dapat merugikan negara.60 miliar dan USD29. serta kepala distamben kabupaten/ kota yang terkait lalai dalam melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin KP/IUP. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. BPK juga telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menarik jaminan kesungguhan dari para pemegang KP sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan pemegang IUP operasi produksi memenuhi kewajiban penempatan jaminan reklamasi. serta kurang cermat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan yang terkait reklamasi dan pembayaran jaminan reklamasi. Dirjen Mineral. Rekomendasi 15. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.74 juta. • Di Kementerian ESDM. tidak cermat dalam memverifikasi persyaratan terbitnya izin KP. dan Batu bara kurang melakukan pengawasan atas kegiatan kontraktor PKP2B di lapangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 31 kasus senilai Rp175. dan di antaranya sudah dalam tahap penyidikan oleh kepolisian.170 Penyebab 15. Provinsi Kalimantan Selatan. dan eksploitasi di kawasan hutan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan. • Di Kabupaten Tanah Laut.28 . Provinsi Kalimantan Timur.25 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. yaitu adanya penerimaan negara/ dearah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah. sebelas pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp3.26 juta.81 miliar. Kasus-kasus kekurangan penerimaan. sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar dana hasil produksi batubara (DHPB) senilai Rp22.49 juta. Kekurangan Penerimaan Negara 15.

29 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • Persetujuan Prinsip untuk DU-322 milik PT AI tidak sesuai dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 1999. PT BJU dan PT BBE kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai USD6. dll dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. kekurangan penerimaan negara.30 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kontraktor PKP2B dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang bersangkutan tidak mematuhi peraturan yang berlaku dan kurangnya pengawasan dari instansi terkait. perpajakan.62 juta.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 15. Penyebab 15. dan oleh PT Ad-I di Kalimantan Selatan senilai USD6. Administrasi 15. iuran tetap.171 • Di Kabupaten Berau.31 Terhadap kasus-kasus tersebut.32 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 33 kasus yang terdiri atas • sebanyak 32 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menginstruksikan pimpinan IUP pertambangan batubara dan kontraktor PKP2B dimaksud untuk segera menyetorkan kewajiban royalti. Rekomendasi 15. tidak menghambat program entitas. 15. pertambangan. dan • sebanyak satu kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.33 15.88 juta. pertambangan. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran oleh PT JBU di Kabupaten Berau ke kas negara senilai USD3. 15. perpajakan. dll. dan DHPB ke kas negara dan menegur pelaksana yang tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.58 juta. Provinsi Kalimantan Timur.34 . tidak mengurangi hak negara.

Dirjen Minerba kurang melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin PKP2B di lapangan. Rekomendasi 15. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan supaya menegaskan status kawasan pit perintis.37 Terhadap permasalahan administrasi tersebut. Menteri ESDM agar menginstruksikan Dirjen Minerba untuk memerintahkan PT AI mengurus izin pinjam pakai atas penggunaan jalan (hauling road) di kawasan hutan produksi tetap. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.40 Kasus tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara tidak tertib dan cermat dalam pengelolaan IUP batubara.38 Temuan mengenai ketidakefektifan adanya penyimpangan terhadap fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. dan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan kewajiban pengelolaan lingkungan dan kaidah teknik pertambangan yang baik oleh kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP. Penyebab 15. penggunaan jalan tambang oleh PT AI dari tambang Satui ke dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan. sehingga berpotensi terjadi konflik tumpang tindih konsesi IUP dan pelanggaran atas pemenuhan kewajiban administratif maupun keuangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakefektifan yaitu penatausahaan perizinan dan pengawasan produksi dan penjualan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara lemah. dan apabila kawasan tersebut adalah kawasan hutan agar memerintahkan PT AI untuk mengurus izin pinjam pakainya. direksi dan pimpinan perusahaan PT AI tidak mematuhi Undang-Undang tentang Kehutanan. Dirjen Planologi lalai dalam memberikan persetujuan prinsip kepada PT AI yang tidak sesuai dengan peta penunjukan kawasan hutan yang berlaku. dan pemerintah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kontraktor PKP2B dan pemegang IUP yang melaksanakan pengelolaan lingkungan dan penerapan kaidah teknik pertambangan tidak sesuai ketentuan.36 Kasus-kasus administrasi antara lain terjadi karena Menteri Kehutanan cq.172 • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.39 . 15. pengelolaan lingkungan pertambangan oleh Kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP belum optimal. Ketidakefektifan 15. Penyebab 15.

173 Rekomendasi 15. BPK telah merekomendasikan agar Bupati Kutai Kartanegara menginstruksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara untuk lebih tertib dan cermat dalam pengelolaan perizinan dan pengawasan atas produksi dan penjualan batubara. 15.41 Terhadap kasus tersebut. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.42 .

174 .

di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. . bertujuan untuk memberi keyakinan yang memadai atas kewajaran perhitungan bagi hasil dari pelaksanaan KKS dan menilai kepatuhan KKKS terhadap ketentuan perundang-undangan serta sistem pengendalian intern yang ditetapkan. cakupan pemeriksaan adalah senilai 68. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Sistem Pengendalian Intern 16. WK Tuban pada KKKS Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB PPEJ).31 miliar dan USD66.78 miliar dan USD1. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi (cost recovery) pada tiga entitas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lingkungan BUMN untuk beberapa wilayah kerja (WK).2 Tujuan Pemeriksaan 16. 16. Sementara itu. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.1 Dalam Semester II Tahun 2010.87 miliar. Oleh karena itu. • sebanyak 1 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.3 Pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan KKS Minyak dan Gas Bumi. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. yaitu: WK Eks Pertamina Block pada KKKS PT Pertamina EP (PEP). Nilai temuan pemeriksaan atas tiga KKKS adalah senilai Rp6.28 miliar.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.47 juta. WK Kakap pada BPMigas dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd (SEKL).175 BAB 16 Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi 16. Anggaran dan realisasi cost recoverable tiga KKKS yang diperiksa masingmasing senilai USD1.5 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya enam kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada tiga KKKS. Hasil Pemeriksaan 16.43% dari realisasi cost recoverable atau senilai USD1. dan • sebanyak 2 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.

pembebanan biaya transaksi-transaksi yang tidak terklasifikasi dalam sistem MySAP ke dalam Financial Quarterly Report (FQR) Tahun 2009 senilai Rp40. Hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok temuan menurut entitas disajikan dalam Tabel 16.176 16.00 juta melalui mekanisme depresiasi dan melaksanakan program pengecekan fisik atas aset serta mereklasifikasi akun-akun pada biaya production installation sesuai dengan substansi biaya yang sebenarnya. dan administrasi. Rekomendasi 16. • Di KKKS PEP. • Di KKKS PEP. serta ketidakcermatan dalam penggolongan biaya sesuai substansi biaya sesungguhnya.1 berikut ini. kekurangan penerimaan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 16.09 miliar tidak didasarkan pertimbangan kelayakan pembebanan dan pengklasifikasian biaya cost recovery. pengadaan harta benda bergerak yang memiliki harga per unit di atas Rp5.00 juta atau USD600.00 Tahun 2009 dibukukan tanpa melalui depresiasi. • Di KKKS PEP. kapitalisasi. sistem pencatatan aset KKKS PT PEP Tahun 2009 pada mitra usaha belum dapat menjamin keakuratan nilai aset dan biaya depresiasi. KKKS PEP agar melakukan inventarisasi.10 . Penyebab 16.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rincian jenis temuan tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31. dan membebankan biaya pembelian selama Tahun 2009 atas peralatan dengan nilai per unit di atas Rp5.8 Terhadap kasus kelemahan SPI tersebut BPK telah merekomendasikan antara lain.9 Hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan potensi kerugian negara/perusahaan.7 Permasalahan tersebut di antaranya disebabkan ketidakcermatan dalam pembebanan harta benda bergerak yang seharusnya dikapitalisasi tetapi langsung dibebankan sebagai biaya (expense). monitoring PT PEP atas keabsahan dan keakurasian pencatatan aset tetap pada mitra usaha masih lemah. 16.

474.316.55 USD66.848. Kasus tersebut terjadi di KKKS SEKL mengenai pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Tahun 2009 atas pembelian BBM solar senilai Rp6.12 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 17 kasus kekurangan penerimaan senilai USD66.177 Tabel 16.315.474. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 16. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 (nilai dalam juta Rp dan ribu valas) Nama Entitas Jml Kasus KKKS PEP KKKS SEKL KKKS JOB PPEJ Jumlah 7 9 6 22 Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan PerundangUndangan yang Mengakibatkan Potensi Kerugian negara/ perusahaan Jml Kasus 1 Nilai 6. 16. Penyebab 16.55 Rp6.78 Kekurangan Penerimaan Jml Kasus 7 6 4 17 Nilai USD61.51 6.78 USD66. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/ perusahaan.13 . surat berharga.71 Administrasi Jml Nilai Kasus 2 2 4 - Nilai USD61.14 KKKS SKEL tidak mewajibkan kepada pemasok untuk melampirkan bukti setor PBBKB pada saat pengajuan pembayaran.31 miliar. hasil pemeriksaan atas pelaksanaan KKS pada tiga KKKS mengungkapkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp6.15 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan.315. Rekomendasi 16.78 16.65 USD2.315.51 USD2. yang nyata dan pasti jumlahnya.316.309.309.71 1 Rp6.65 USD2.31 miliar tidak disetorkan oleh rekanan SEKL ke kas daerah.1.47 juta. BPK telah merekomendasikan kepada SEKL agar membantu mengamankan keuangan negara/daerah dengan memasukkan bukti penyetoran PBBKB oleh rekanan kepada pemerintah daerah sebagai salah satu syarat permohonan pembayaran nilai pengadaan BBM ke SEKL dan BPMIGAS.78 USD2.315. dan empat kasus administrasi.11 Dari tabel di atas.848. dan barang.

tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian.31 juta.16 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/perusahaan milik negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/perusahaan milik negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Penyebab 16.20 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan agar BPMIGAS dan KKKS melakukan koreksi perhitungan bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku.178 Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan 16. tidak menghambat operasional/program entitas dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. adanya ketidakpatuhan terhadap klausul KKKS dan pedoman-pedoman tata kerja serta ketentuan yang berlaku.24 .19 Koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil dilakukan karena adanya ketidakcermatan perhitungan klaim cost recovery oleh KKKS.23 16. KKKS SEKL senilai USD2. Kelompok temuan kekurangan penerimaan tersebut merupakan koreksi perhitungan bagi hasil dengan tiga KKKS yang berasal dari koreksi cost recovery yang tidak dapat di-cost recovery (non cost recovery). yaitu mengenai penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya.18 Administrasi 16. Rekomendasi 16. terdapat biaya depresiasi aset tetap yang belum mendapatkan persetujuan place into service (PIS) dari BPMIGAS senilai 16.22 16.17 16. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya empat kasus administrasi.21 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset. • Di KKKS SEKL. Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan adanya pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.30 juta dan KKKS JOB PPEJ senilai USD2.47 juta yaitu KKKS PEP senilai USD61.84 juta. Pemeriksaan pada tiga KKKS mengungkapkan adanya 17 kasus yaitu koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil yang telah disetujui senilai USD66. Kasus-kasus tersebut di antaranya. 16.

179 USD3.26 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan di antaranya agar KKKS SEKL mengajukan persetujuan PIS kepada BPMIGAS atas aset-aset tersebut. Kemudian untuk KKKS JOB PPEJ. 16.27 . dan partner dari JOB PPEJ belum mempunyai komitmen batas waktu penyelesaian pembentukan JA dan pemberlakuan atas pelaksanaan JA tersebut. JOB PPEJ. Penyebab 16. • Di KKKS JOB PPEJ. BPMIGAS memantau pembentukan JA serta mendorong kepatuhan JOB PPEJ dalam menjalankan kontrak bagi hasil beserta kontrak-kontrak terkait. Rekomendasi 16. joint account (JA) belum diformalkan oleh para partner dan belum dioperasikan oleh Manajemen JOB PPEJ serta tidak semua partner menjalankan mekanisme cash call sehingga menimbulkan risiko ketidakwajaran pembebanan biaya dan potensi konflik antar partner.47 juta mengakibatkan SEKL memperoleh penggantian cost recovery Tahun 2009 lebih cepat dari yang seharusnya.25 Permasalahan tersebut disebabkan tidak dipatuhinya ketentuan tentang place into service (PIS) fasilitas produksi minyak dan gas bumi. dan partner membentuk serta memformalkan JA sesuai waktu yang telah dijanjikan dan melaksanakan dengan konsisten termasuk menjalankan mekanisme cash call. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

180 .

Pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero).6 17.43% dari cakupan pemeriksaan. Selain itu BPK juga memeriksa prosedur yang disepakati bersama atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s. dan menilai jumlah pembayaran subsidi JBT TA 2009. 17.3 Pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero). yaitu subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu (subsidi JBT).73 triliun. 17. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp2.04 miliar dan koreksi subsidi senilai Rp1. Pemeriksaan atas perhitungan kewajiban pelayanan umum (KPU) bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri TA 2009 pada PT Pelni (Persero). 2009 pada BI.1 Dalam Semester II Tahun 2010.2 Tujuan Pemeriksaan 17. dan subsidi pupuk produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) yang disalurkan PT Pupuk Sriwijaya (Persero) (PT Pusri). menilai kewajaran besarnya nilai subsidi yang layak dibayar oleh pemerintah Tahun 2009. Pemeriksaan pada PT KAI (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan realisasi PSO TA 2009 telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.181 BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 17.d. bertujuan untuk menilai kewajaran volume penjualan jenis BBM tertentu yang didistribusikan kepada konsumen di seluruh wilayah Indonesia selama Tahun 2009. KPU pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (PT Pelni). bertujuan menilai kesesuaian penghitungan pembiayaan dan pelaksanaan KPU bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri dengan perjanjian dan ketentuan/peraturan yang berlaku. Pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM yang disalurkan PT Pusri (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan subsidi pupuk PT Pusri (Persero) TA 2009 atas bantuan pasokan pupuk urea produksi Tahun 2008 dari PT PIM.7 . 2005.d. bertujuan untuk menilai kesesu aian tagihan tambahan penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada lima BUMN dan BI adalah senilai Rp40.97 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp47. tambahan penggantian biaya subsidi BBM.81 triliun atau 4. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan subsidi/kewajiban pelayanan umum/public service obligation (KPU/PSO) pada lima entitas di lingkungan BUMN.4 17.5 17. perhitungan PSO pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI).

12 miliar sehingga perhitungan nilai KPU menjadi senilai Rp714.d.83 triliun.44 miliar. Sesuai kontrak.13 . secara rinci diuraikan di bawah ini. juga mengungkapkan kelemahan sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan pelaksanaan subsidi terhadap ketentuan perundangundangan. Pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi KPU dan membayar kepada PT Pelni (Persero) senilai Rp600.10 Hasil pemeriksaan atas subsidi menunjukkan bahwa pemerintah masih mempunyai kewajiban membayar subsidi kepada lima BUMN penerima subsidi senilai Rp6. perhitungan tersebut dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp1.45 miliar tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah dan menjadi beban PT Pelni (Persero). perhitungan subsidi dikoreksi tambah senilai Rp175. sehingga penghitungan subsidi JBT menjadi senilai Rp34. Selain itu.11 17. Hasil pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).60 triliun dari yang telah ditetapkan.93 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp33.01 miliar. menunjukkan bahwa nilai penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.90 triliun. sehingga nilai bersih penggantian biaya subsidi BBM menjadi senilai Rp5. Hasil Pemeriksaan 17. Sedangkan untuk subsidi bunga.00 miliar. 2005 adalah senilai Rp7. Selain itu.90 miliar.9 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Hasil pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pertamina (Persero) senilai Rp727.17 triliun.12 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp1. Koreksi Subsidi 17.8 Pemeriksaan atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh BI kepada pemerintah bertujuan untuk menentukan besarnya subsidi bunga kredit program yang layak ditagihkan oleh BI dan dibayar oleh pemerintah untuk TA 2007. 2008. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.182 17.64 miliar.45 miliar. 17. Hasil pemeriksaan atas perhitungan KPU pada PT Pelni (Persero) TA 2009 senilai Rp845. Hasil pemeriksaan atas subsidi pemerintah selain menyajikan perhitungan/koreksi atas subsidi yang ditanggung oleh pemerintah.12 17. Pemerintah sudah membayar kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.02 miliar telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp130. dan 2009 sesuai prosedur yang disepakati bersama antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). PSO yang ditanggung perusahaan (tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah) senilai Rp113.28 triliun.19 juta. menunjukkan bahwa jumlah subsidi yang dihitung oleh PT Pertamina (Persero) senilai Rp34. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan KPU yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran yang telah ditetapkan sehingga kelebihan pembayaran biaya KPU senilai Rp113. Oleh karena itu.

59 miliar. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan PSO yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran subsidi PSO yang telah ditetapkan yaitu senilai Rp535. dikoreksi kurang senilai Rp62.19 juta sehingga perhitungan subsidi bunga menjadi Rp144. Pemerintah sudah menyelesaikan pembayaran kepada PT Pusri (Persero) senilai Rp26. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.21 miliar. 17.00 miliar. . 2009 senilai Rp4. Selain perhitungan tersebut terhadap perhitungan PSO dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp16.46 miliar.96 miliar.16 Sistem Pengendalian Intern 17.76 miliar. dikoreksi tambah senilai Rp175.82 miliar. Dengan demikian subsidi kurang diterima oleh PT KAI (Persero) senilai Rp14. TA 2008 senilai Rp63.94 triliun. 2009 yang ditagihkan BI kepada pemerintah senilai Rp144.07 miliar. menunjukkan bahwa perhitungan subsidi pupuk yang ditetapkan PT Pusri (Persero) senilai Rp117. dan pemerintah telah membayar kepada PT KAI (Persero) senilai Rp504.50 miliar.64 miliar.16 miliar. terdiri atas tagihan skim kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). sedangkan jumlah tagihan BI kepada pemerintah pada periode yang sama senilai Rp3.36 miliar.183 17. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pusri (Persero) senilai Rp28. dan TA 2009 senilai Rp25. kredit kepemilikan rumah sederhana (KPRS).89 miliar.56 triliun. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa subsidi bunga TA 2007 s. • sebanyak 2 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.14 Hasil pemeriksaan atas perhitungan PSO pada PT KAI (Persero) TA 2009 senilai Rp844.15 17.54 miliar.49 miliar sehingga perhitungan nilai PSO. menjadi senilai Rp543.97 miliar. Pembayaran subsidi bunga tersebut telah dilakukan pemerintah melalui rekening penampungan (565. Hasil pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM Tahun 2009 yang disalurkan PT Pusri (Persero).07 miliar oleh pemerintah. sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran biaya PSO senilai Rp14.d.026018) sejak Tahun 1998 s. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Dengan demikian masih terdapat dana pemerintah pada escrow account di BI senilai Rp623. Sesuai kontrak.28 miliar.42 miliar. dan perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans) Konversi TA 2007 senilai Rp54. telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp301.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 29 kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada lima entitas terdiri atas • sebanyak 9 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.d. sehingga penghitungan subsidi pupuk menjadi senilai Rp55.

• Di PT KAI (Persero). • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Rekomendasi 17. • Di PT Pelni (Persero). Penyebab 17. penggunaan dan pencatatan dana dari pendapatan non operasional tidak sesuai ketentuan.18 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.63 miliar. dan • sebanyak 7 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengoperasian KAI kepada PT KCJ yang tidak diatur dalam kontrak PSO antara PT KAI (Persero) dengan pemerintah dan dalam perjanjian kerja sama (PKS) tidak menyebutkan besaran dan formula penghitungan management fee. disebabkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional tidak valid dan mutakhir serta lalai menyelenggarakan pencatatan penerimaan dan penggunaan dana pendapatan non operasional.72 miliar membebani PT KAI (Persero). hal tersebut di antaranya mengakibatkan aktiva tetap dan inventaris yang dibeli tidak tercatat di perusahaan sehingga berpotensi hilang. pembayaran management fee kepada PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senilai Rp107. mengakibatkan PT Pelni (Persero) tidak dapat menyusun pola pengoperasian kapal penumpang secara optimal sehingga PT Pelni (Persero) harus menanggung kerugian selisih lebih voyage dari kontrak senilai Rp47. • Di PT KAI (Persero). 17. Sedangkan atas kasus pada PT KAI (Persero). penetapan perjanjian penyelenggaraan KPU TA 2009 terlambat dan penentuan volume pekerjaan tidak akurat.19 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan penerapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. BPK telah merekomendasikan agar Ditjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) menandatangani perjanjian KPU sebelum penyelenggaraan KPU dan menyesuaikan volume .20 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. yaitu Dirjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) lalai dalam menetapkan perjanjian KPU secara tepat waktu serta besaran volume pekerjaan belum memperhitungkan besaran pagu anggaran yang tersedia.184 • sebanyak 2 kasus perencanaan tidak memadai. • sebanyak 4 kasus penetapan pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.

47 17.73 miliar.735.1 Rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 34. Sedangkan terhadap PT KAI (Persero). Kerugian Negara/Perusahaan 17. surat berharga. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 17.25 .22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Kerugian Perusahaan Potensi Kerugian Perusahaan Administrasi Ketidakefisienan Jumlah 1 1 1 2 5 1.04 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 17. Tabel 17. dan barang. administrasi.185 pekerjaan dengan pagu anggaran yang tersedia.24 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang.50 2. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut. potensi kerugian negara/ perusahaan.97 312. Kasus tersebut terjadi di PT KAI (Persero) mengenai perjanjian kerjasama PT KAI dengan PT KCJ Tahun 2009 tidak memberikan nilai tambah bagi PT KAI. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan. 17.21 Selain koreksi perhitungan subsidi dan kelemahan atas SPI. BPK merekomendasikan di antaranya agar Direksi PT KAI (Persero) memutakhirkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional dan menertibkan penggunaannya.048. administrasi. mengakibatkan PT KAI menanggung kerugian sewa kereta rel listrik (KRL) milik PT KCJ. dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai kerugian perusahaan senilai Rp1. dan ketidakefektifan. dan ketidakefektifan. potensi kerugian negara/perusahaan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi lima kasus senilai Rp2. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No.23 Berdasarkan tabel di atas. bertanggungjawab atas pengesahan dan pembayaran management fee sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT KCJ kepada RUPS. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) 17.1.

dan barang. Atas kasus potensi kerugian negara/perusahaan tersebut.27 Terhadap kasus kerugian perusahaan. sebanyak satu kasus senilai Rp312.50 juta.29 17. Penyebab 17. Rekomendasi 17.28 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 17.33 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara. yang nyata dan pasti jumlahnya Kasus potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara di antaranya.50 juta.31 Administrasi 17.32 Kasus tersebut disebabkan PT KAI (Persero) tidak melaksanakan ketentuan tentang kapitalisasi aset dan kebijakan Direksi PT KAI (Persero) meminjamkan kendaraan operasional kepada pihak lain tanpa dibuat bukti pendukung.26 Kasus kerugian perusahaan di antaranya terjadi karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) menyetujui pengoperasian kereta PSO oleh PT KCJ yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. tetapi penyimpangan tersebut tidak . Kasus terjadi pada PT KAI (Persero) mengenai pembelian satu unit kendaraan Hyundai Trajet Tahun 2009 tidak dicatat sebagai aktiva dan kendaraan tidak digunakan sesuai tujuan pembelian. surat berharga.30 17. PT KAI (Persero) telah menindaklanjuti dengan penyerahan aset berupa satu unit kendaraan Hyundai Trajet senilai Rp312. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 17.34 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) mencatat pembelian kendaraan tersebut sebagai aktiva perusahaan dan menarik kendaraan yang dipinjamkan untuk kepentingan operasional PT KAI (Persero). BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KAI (Persero) menagih kelebihan pembayaran sewa KRL milik PT KCJ.186 Penyebab 17. Rekomendasi 17.

yaitu pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun PT KAI (Persero) yang dilimpahkan kepada PT KCJ belum memberi keuntungan. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) menagih pendapatan sewa ruangan dan iklan kepada PT KCJ serta mengelola sendiri aset tanah dan bangunan stasiun sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.37 Terhadap kasus penyimpangan administrasi. Sedangkan untuk PT KAI (Persero) yaitu 17.35 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus administrasi. • Di PT Pertamina (Persero). Penyebab 17.39 .187 mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. yaitu. tidak menghambat operasional/program entitas. Penyebab 17. • Di PT KAI (Persero).36 Kasus penyimpangan administrasi di antaranya karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun tanpa mempertimbangkan kapabilitas/kemampuan PT KCJ. stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Mataram Tahun 2009 melayani pengisian bahan bakar kepada kendaraan umum. Kasus-kasus tersebut terdapat pada PT Pertamina (Persero) dan PT KAI (Persero). Rekomendasi 17. serta fungsi instansi tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. 17. meskipun PT KCJ sudah mengakui pendapatan senilai Rp458.38 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan.40 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan lokasi wilayah SPBN tersebut jauh dari SPBU sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan masyarakat. dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dua kasus ketidakefektifan yang terjadi. sehingga mengganggu penyaluran BBM bagi perahu motor atau kapal nelayan.88 juta. proses penugasan kewajiban pelayanan publik kepada PT KAI (Persero) Tahun 2009 tidak memenuhi tata kelola yang baik yang mengakibatkan PT KAI (Persero) harus mendanai terlebih dahulu biaya pengoperasian KAI PSO yang beroperasi sebelum kontrak ditandatangani. Ketidakefektifan 17.

188 Dirjen Perkeretaapian terlalu lama dalam memproses kontrak PSO serta PT KAI (Persero) tidak cermat dalam membuat klausul tentang sanksi dalam kontrak PSO.42 . BPK telah merekomendasikan agar menandatangani kontrak PSO sebelum pelaksanaan PSO serta memperbaiki klausul kontrak PSO terutama klausul mengenai sanksi dan formula penghitungannya. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar PT Pertamina (Persero) mendirikan SPBU atau lembaga penyalur lainnya sesuai kebutuhan daerah tersebut serta terhadap Dirjen Perkeretaapian dan Direksi PT KAI (Persero). Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Rekomendasi 17.41 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. 17.

di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.5 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMN mengungkapkan adanya 47 kasus kelemahan SPI pada enam BUMN. dan • sebanyak 3 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. (PT KF). Oleh karena itu. • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. dan kegiatan investasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Cakupan pemeriksaan operasional atas enam BUMN adalah senilai Rp33.3 Hasil Pemeriksaan 18. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp1. (PT AK). PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Bali Tourism Development Corporation (BTDC).189 BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara 18.08 triliun dan USD60. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT). Secara umum tujuan pemeriksaan pada enam BUMN tersebut untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan pengelolaan pendapatan. • sebanyak 9 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional BUMN pada enam entitas yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) (PT AP II). PT Nindya Karya (Persero) (PT NK). pengendalian biaya.67 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp58. Sistem Pengendalian Intern 18. . Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. • sebanyak 16 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. terdiri atas • sebanyak 12 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.2 18. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.69 juta.61 triliun. 18.

Manajer Unit Produksi Semarang (UPS) dalam melakukan pengadaan bahan baku dan bahan kemas. • Manajer marketing over the counter/customer health product (OTC/ CHP) PT KF memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi pasar. tidak tegas dalam menetapkan desain terminal bandara. ketidakakuratan perencanaan bangunan terminal Bandara Baru Kualanamu Tahun 2007 mengakibatkan biaya pembangunan bertambah minimal senilai Rp97. BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) melaksanakan lelang pekerjaan fisik bangunan terminal bandara yang belum dilaksanakan berdasarkan perencanaan desain yang telah final dan setiap perubahan desain harus didokumentasikan dengan baik dan menetapkan desain gambar final.190 18. PT KF gagal melaksanakan program penetrasi pasar produk Fitocare Tahun 2010 sehingga menanggung potensi kerugian minimal senilai Rp2.07 miliar atas nilai persediaan bahan baku. .6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan Direksi PT KF belum menetapkan rencana pemanfaatan bahan baku. dan tidak tegas memberikan sanksi berupa denda dan tuntutan kerugian kepada PT Wiratman atas ketidakmampuan melakukan pekerjaannya. dan produk Fitocare.8 Atas kasus-kasus kelemahan SPI.13 miliar.07 miliar. tarif penjualan listrik dan steam PT PKT kepada perusahaan afiliasi Tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan harga belinya dari PT Kaltim Daya Mandiri (PT KDM) sehingga PT PKT mengalami kerugian usaha minimal senilai USD3.7 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) melelangkan pekerjaan pondasi dan struktur bangunan terminal bandara sebelum pekerjaan perencanaan selesai. • Di PT KF (Persero) Tbk.47 juta atau setara dengan Rp35. bahan kemas. Penyebab 18. Rekomendasi 18. kurang mempertimbangkan kebutuhan. • Direksi PT PKT belum melakukan adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan yang mengatur tentang penyesuaian tarif listrik dan steam yang mempertimbangkan harga jual ekonomis (memberi keuntungan perusahaan). bahan kemas.. dan barang dagangan yang telah rusak/usang/kedaluwarsa dan yang belum digunakan atau belum terjual. • Di PT PKT. • Di PT AP II (Persero).

191 • Direksi dan Komisaris PT PKT mempertanggungjawabkan hasil penjualan listrik dan steam yang lebih rendah kepada pemegang saham. Selain itu, direksi PT PKT membuat adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan dengan mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan; dan • Direksi PT KF (Persero) memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada para manajer marketing OTC/CHP dan Manajer UPS yang lalai dalam memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi dan segera mengambil tindakan konkrit atas pemanfaatan bahan baku, bahan kemasan, dan produk Fitocare.

Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
18.9 Selain kelemahan SPI hasil pemeriksaan operasional BUMN juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/perusahaan, kekurangan penerimaan negara/perusahaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 58 kasus senilai Rp1,08 triliun dan USD60.69 juta sebagaimana disajikan dalam Tabel 18.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 36 dan rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 37.
Tabel 18.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 92.936,95 USD7,543.01 973.661,50 USD53,155.43 3.201,35 1.243,90 11.990,65 Rp1.083.034,37 USD60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kerugian negara/perusahaan Potensi kerugian negara/perusahaan Kekurangan penerimaan negara/perusahaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 13 31 6 6 1 1 58

18.10

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/ perusahaan, kekurangan penerimaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

192

Kerugian Negara/Perusahaan
18.11 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian negara/perusahaan di antaranya meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak, pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet, serta lain-lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai kerugian negara/perusahaan senilai Rp92,93 miliar dan USD7.54 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7,45 miliar; • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp6,85 miliar; • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp104,08 juta; • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1,02 miliar; dan • sebanyak 7 kasus lain-lain mengenai kerugian negara/perusahaan milik negara senilai Rp77,49 miliar dan USD7.54 juta seperti pencairan jaminan pelaksanaan oleh pemberi kerja karena keterlambatan penyelesaian proyek, keterlambatan penyelesaian proyek dan proyek dihentikan oleh pemberi kerja atau tidak diakuinya variation order oleh pemberi kerja, perencanaan tidak akurat, kerugian usaha anak perusahaan, dan penurunan nilai kontrak dalam adendum karena tidak dipenuhinya komitmen pemberi kerja. 18.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AK (Persero) Tbk., proyek di Qatar Tahun 2006 s.d. 2009 merugikan PT AK senilai USD7.54 juta atas dicairkannya jaminan pelaksanaan (performance bond) oleh Al Habtoor. • Di PT AK (Persero) Tbk., ketidakcermatan perhitungan rencana anggaran biaya dan kelemahan kontrak Proyek The Capital Residence Tahun 2004 s.d. 2009 mengakibatkan PT AK mengalami kerugian senilai Rp39,70 miliar.

18.12

18.13

193 • Di PT NK (Persero), kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan sembilan proyek pada divisi wilayah I dan III mengakibatkan PT NK mengalami kerugian senilai Rp29,20 miliar. Penyebab 18.15 Kasus-kasus kerugian negara/perusahaan pada umumnya terjadi karena • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; • Kepala Proyek dan Manajemen PT AK lalai karena tidak mengelola proyek secara memadai dan tidak mentaati RKAP atau SK Direksi tentang kewenangan investasi; dan • Kepala Proyek, Biro Teknik dan Pemasaran PT NK dalam menyusun perencanaan tidak mempertimbangkan kecukupan data teknis, kondisi alam, serta lingkungan di lokasi proyek dan pengendalian pelaksanaan proyek pada tingkat wilayah dan pusat tidak berfungsi. Rekomendasi 18.16 Terhadap kasus kerugian negara/perusahaan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada • Menteri Negara BUMN selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi dan Direksi PT AK menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi dan komisaris atas kelalaian pengelolaan proyek; dan • Direksi PT NK untuk mempertanggungjawabkan kepada RUPS atas kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan proyek serta merevisi dan melengkapi prosedur perencanaan dan pengendalian proyek yang sudah ada.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan
18.17 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan yaitu adanya aset tidak diketahui keberadaannya, piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih, dan lain-lain.

18.18

194 18.19 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 31 kasus mengenai potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp973,66 miliar dan USD53.15 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp1,46 miliar; • sebanyak 22 kasus piutang/pinjaman atau dana yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp781,92 miliar dan USD20.70 juta; dan • sebanyak 8 kasus lain-lain potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp190,26 miliar dan USD32.45 juta seperti penerimaan pendapatan sewa lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya, penetapan harga jual lebih rendah, dan harga beli lebih tinggi dari yang seharusnya dalam kontrak, dan penyertaan modal tidak memberikan hasil. 18.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT, penerapan harga jual urea melt dan ammonia serta harga beli carbamate dan steam condensate Tahun 2008 dan 2009 tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak sehingga berpotensi merugikan PT PKT minimal senilai USD30.92 juta. • Di PT AK (Persero) Tbk., piutang PT AK Tahun 2009 atas pelaksanaan proyek di Qatar berpotensi tidak tertagih senilai USD20.25 juta. • Di PT AP II (Persero), pendapatan sewa dalam pelaksanaan kontrak build, operate & transfer (BOT) dengan PT Sanggraha Daksa Mitra (PT SDM) Tahun 1996 s.d. 2007 diterima lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya diterima sehingga berpotensi merugikan PT AP II minimal senilai Rp139,57 miliar. Penyebab 18.21 Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan pada umumnya disebabkan • Direksi PT PKT dalam melakukan kerja sama/jual beli dengan PT DSM Kaltim Melamin (PT DKM) tidak memperhatikan ketentuan penetapan harga yang telah ditentukan dalam kontrak; • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; dan • Direksi PT AP II tidak cermat dalam menyusun klausul akhir masa perjanjian dan memberikan tarif kompensasi pemanfaatan lahan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku.

195 Rekomendasi 18.22 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan, BPK telah merekomendasikan kepada • Direksi PT PKT untuk mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas tidak diperhatikannya kontrak jual beli dengan PT DKM; • Menteri Negara BUMN selaku RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi, dan Direksi PT AK untuk menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; dan • Direksi PT AP II untuk mengadendum kontrak BOT dengan PT SDM terutama mengenai tarif sewa tanah, mekanisme perhitungan konsesi, dan kewajiban PT AP II membeli 100% nilai pasar aset gedung yang tidak lazim pada kontrak BOT.

Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan
18.23 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara dhi. perusahaan tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/perusahaan meliputi penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/ perusahaan dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai kekurangan penerimaan negara/perusahaan senilai Rp3,20 miliar, terdiri atas • sebanyak 4 kasus penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/perusahaan senilai Rp2,91 miliar; dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp286,19 juta. 18.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), PT AP II tidak melakukan pemeriksaan/pengujian secara rutin atas laporan penjualan bruto PT SDM Tahun 2004 dan 2005 dalam pelaksanaan kontrak build, operate, and transfer (BOT) dengan PT SDM sehingga PT AP II berpotensi kehilangan pendapatan dari omzet penjualan yang tidak dilaporkan oleh PT SDM senilai Rp1,38 miliar.

18.24

18.25

196 • Di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system Tahun 2006 di Bandara Soekarno-Hatta terlambat selama 109 hari sehingga PT AP II kurang mengenakan denda keterlambatan kepada PT Angkasa Pura Schipol (PT APS) senilai Rp1,18 miliar. • Di PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2008 di Plant Jakarta tidak sesuai ketentuan sehingga PT KF tidak dapat mengenakan denda atas keterlambatan penyerahan pekerjaan senilai Rp235,36 juta dan penerimaan negara atas PPh 23 jasa konsultan dan jasa konstruksi senilai Rp194,34 juta. 18.27 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp91,84 juta. Penyebab 18.28 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) tidak tegas melakukan pengawasan atas operasional, serta memverifikasi kebenaran laporan penjualan kotor PT SDM; • Direksi PT AP II (Persero) tidak tepat dalam melakukan perhitungan denda keterlambatan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan • kebijakan Direksi PT KF (Persero) Tbk. memberikan persetujuan perpanjangan waktu bagi kontraktor dan Bagian Keuangan PT KF (Persero) Tbk. lalai tidak memungut dan menyetorkan PPh 23. Rekomendasi 18.29 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) mengintensifkan pengawasan operasional dan memeriksa kebenaran omzet bruto PT SDM sesuai kontrak serta menagih kekurangan konsesi yang menjadi hak perusahaan; • Direksi PT AP II (Persero) menghitung denda keterlambatan dan menagihkannya kepada PT APS; dan • Direksi PT KF (Persero) Tbk. segera menagih PPh 23 dan denda keterlambatan kepada rekanan.

Administrasi
18.30 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan

197 aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian, tidak mengurangi hak negara/perusahaan (kekurangan penerimaan), tidak menghambat operasional/program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. 18.31 Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid), proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll., dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid); • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara); • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.; dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 18.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), AP II tidak mematuhi ketentuan tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas jasa pelayanan meteorologi Tahun 2007 dan 2008 pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengakibatkan penerimaan negara terlambat disetor senilai Rp58,14 miliar. • Di PT AP II (Persero), AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara (HS) Bandung tidak mematuhi ketentuan pengadaan barang/jasa dan peraturan perpajakan dalam pengadaan rumah dinas Tahun 2008 senilai Rp1,40 miliar sehingga harga pembelian rumah dinas tersebut diragukan kewajarannya. • Di PT KF (Persero) Tbk., pembayaran biaya operasional senilai Rp152,56 juta dalam kerjasama outsourcing salesman antara PT Kimia Farma Trading & Distribution (PT KFTD) Cabang Surabaya dengan CV Visakom Tahun 2007 s.d. 2008 tidak didukung bukti-bukti yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.

18.32

198 Penyebab 18.34 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) belum sepenuhnya menjalankan ketentuan yang mewajibkan penyetoran PNBP ke kas negara tepat waktu; • Pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan rumah dinas tidak mematuhi ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa serta tata cara pembayaran; dan • Kepala PT KFTD Cabang Surabaya periode saat itu mengabaikan perjanjian dengan CV Visakom dan tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian intern yang memadai dalam membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Rekomendasi 18.35 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) menghitung kembali seluruh kewajiban PNBP dan menyetorkan PNBP tersebut ke kas negara; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS meminta pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris AP II atas proses pengadaan rumah dinas, Direksi AP II mengenakan sanksi kepada GM Cabang HS dan tim pengadaan rumah dinas tersebut; dan • Direksi PT KFTD memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala PT KFTD Cabang Surabaya dan mempertanggungjawabkan transaksi bisnis dengan CV Visakom kepada RUPS.

Ketidakhematan
18.36 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakhematan, di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system (FIS) Tahun 2004 s.d. 2007 di Bandara Soekarno-Hatta tidak sesuai ketentuan sehingga biaya pembangunan FIS lebih tinggi senilai Rp1,24 miliar. Penyebab 18.38 Kasus ketidakhematan tersebut disebabkan karena keputusan Direksi untuk melakukan penunjukkan langsung kepada APS sebagai system integrator pekerjaan pembangunan FIS kurang memperhatikan prinsip efisiensi.

18.37

199 Rekomendasi 18.39 Atas kasus ketidakhematan, BPK telah merekomendasikan agar Menteri Negara BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT AP II atas pengadaan FIS yang dilakukan secara penunjukkan langsung dan biaya pengadaan yang lebih tinggi minimal senilai Rp1,24 miliar.

Ketidakefektifan
18.40 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai, serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai ketidakefektifan yaitu PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2009 di Plant Jakarta senilai Rp11,99 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyebab 18.42 Kasus ketidakefektifan terjadi karena Direksi PT KF (Persero) Tbk. tidak melakukan perencanaan yang matang dalam melaksanakan investasi fasilitas produksi obat ARV. Rekomendasi 18.43 Terhadap kasus ketidakefektifan tersebut, BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KF (Persero) Tbk. memanfaatkan fasilitas produksi obat ARV yang telah ada secara optimal dan memberikan sanksi kepada panitia pelaksana pembangunan gedung ARV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

18.41

18.44

200 .

Jayapura. piutang. Kediri. Banjar. ekonomis. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. belanja. Oleh karena itu. Karangasem. Tojo Unauna. • pengelolaan pendapatan. Bukittinggi. Donggala. Banggai.4 Hasil pemeriksaan atas operasional PDAM menunjukkan adanya 177 kasus kelemahan SPI. dan Muara Enim. investasi dan ekploitasi air bersih telah dilakukan secara efisien. . BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional (pelaksanaan kegiatan pendapatan. dan efektif. Buleleng. terdiri atas • sebanyak 27 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Sistem Pengendalian Intern 19. Blitar. Madiun. distribusi. Makassar. Buol. Lombok Barat. yaitu PDAM Kota Pasuruan. Morowali. Tolitoli. dan utang) pada 23 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). aktiva.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Tujuan Pemeriksaan 19. Poso. dan • sebanyak 49 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Mojokerto. dan • operasi perusahaan yang meliputi produksi. Denpasar. Hasil Pemeriksaan 19. • sebanyak 101 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. biaya. Polewali Mandar. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.201 BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum 19. PDAM Kabupaten Banyuwangi. dan investasi dilaksanakan sesuai dengan ketetentuan yang telah ditetapkan.1 Dalam Semester II Tahun 2010.

5 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.8 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM. serta melakukan koreksi atas kesalahan pencatatan. memberikan sanksi dan teguran kepada manajemen dan pelaksana kegiatan yang lalai dan tidak cermat. tingkat kehilangan air pada Tahun 2008 dan 2009 melebihi batas toleransi senilai Rp8. • Di PDAM Kabupaten Mojokerto. Provinsi Sulawesi Tengah. potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM. • Di PDAM Kabupaten Jayapura. terdapat pokok dan bunga pinjaman kepada pemerintah pusat senilai Rp48. administrasi.6 Permasalahan tersebut di antaranya terjadi karena belum maksimalnya upaya manajemen untuk melakukan penggantian pipa jaringan transmisi dan distribusi yang sudah tua dan penggantian meter air pelanggan yang telah rusak. serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 40. Provinsi Jawa Timur.202 19.67 miliar belum diselesaikan.1. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 39. belum maksimalnya pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM.34 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 19.64 miliar karena umur jaringan pipa transmisi dan distribusi sudah sangat tua. serta ketidakmampuan manajemen PDAM untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah pusat. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa untuk menyusun langkah-langkah mengurangi kebocoran.50 juta. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 19.7 Terhadap temuan kelemahan SPI tersebut. meningkatkan pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. .60 miliar dan kurang catat senilai Rp74. Penyebab 19. serta ketidakefektifan meliputi 227 kasus senilai Rp73. ketidakhematan. • Di PDAM Kabupaten Donggala. Rekomendasi 19. Provinsi Papua. kekurangan penerimaan. ketidakcermatan dan kelalaian pelaksana kegiatan. aset tetap belum disajikan sesuai dengan standar sehingga terdapat lebih catat senilai Rp3.

1.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini.97 73.50 juta.12 .79 juta. 19.269.823. • sebanyak 4 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp220. surat berharga. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 43 22 26 66 28 42 227 3.548.345. Kerugian Daerah pada PDAM 19. • sebanyak 1 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp21.14 6. Selain itu juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM No.33 19.97 juta. pemahalan harga dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.11 19. terdiri atas • sebanyak 2 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp102.50 juta.26 miliar. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 43 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah senilai Rp3.85 46. spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.203 Tabel 19. • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp865.809.10 Kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. dan barang. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.96 13.893.40 2. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian daerah di PDAM di antaranya meliputi pengadaan barang/jasa fiktif.

16 Terhadap kasus kerugian daerah yang terjadi di PDAM tersebut.26 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp241.61 juta. direksi memberikan tunjangan hari raya Tahun 2009 dan 2010 kepada bupati. • Di PDAM Lematang Enim. dan instansi vertikal Kabupaten Karangasem yang tidak sesuai ketentuan senilai Rp393. pegawai. Pencairan dana representasi direktur telah dibukukan dan diakui sebagai biaya dalam Laporan Keuangan PDAM Tahun Buku 2009.72 juta. dana representasi tersebut masih disimpan di brankas. Provinsi Sumatera Selatan. direksi. Gunung Megang dan Kota Muara Enim Tahun 2009 terdapat kekurangan volume pekerjaan galian dan urugan kembali serta pemasangan pipa yang berindikasi merugikan keuangan PDAM Lematang Enim senilai Rp170.29 juta. 19.62 miliar.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena manajemen dan pelaksana kegiatan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. dan • sebanyak 21 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. pertanggungjawaban dana representasi Direksi PDAM Kabupaten Banyuwangi tidak benar senilai Rp90.25 juta. • Di PDAM Kabupaten Karangasem.25 juta. yaitu di antaranya dari PDAM Kabupaten Banyuwangi senilai Rp81. • sebanyak 5 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp145.204 • sebanyak 8 kasus pengunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp280. Rekomendasi 19. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp7. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menagih dan menyetorkan .90 juta.14 Dari 43 kasus kerugian daerah/kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp3.62 juta dan PDAM Kabupaten Kediri senilai Rp58. wakil bupati. Provinsi Jawa Timur. Penyebab 19. dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan air bersih/air minum Tanjung Enim.73 juta. 19.74 juta. tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. Provinsi Bali. dewan pengawas. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. PNS.13 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PDAM Kabupaten Banyuwangi.

19.65 miliar. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp575. • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. 19. terdiri atas • sebanyak 2 kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp17.17 miliar.18 19. 30 Juni 2010 kepada masyarakat yang belum tertagih senilai Rp1. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp2.205 kerugian yang terjadi ke kas daerah/PDAM.52 miliar.52 juta.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau PDAM berupa uang. Provinsi Sulawesi Tengah.52 miliar atas kegiatan pengadaan barang pada Tahun 2009 dan 2010 tidak dikenakan sehingga risiko yang mungkin terjadi pada pelaksanaan pengadaan barang tidak terjamin. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM meliputi permasalahan rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan hasil pengadaan yang rusak selama masa pemeliharaan. terdapat tunggakan tagihan penjualan air Tahun 1993 s. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli.85 miliar. Provinsi Sulawesi Tengah. penagihan piutang ragu-ragu dan tak tertagih Tahun 2009 s. dan • sebanyak 15 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp10. jaminan pelaksanaan senilai Rp2. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 22 kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah di PDAM senilai Rp13. memberikan teguran dan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. • Di PDAM Lematang Enim. Provinsi Sumatera Selatan. aset dikuasai pihak lain secara tidak sah. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp119.39 juta.d.19 . dan barang. • Di PDAM Kabupaten Poso.87 juta.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.89 miliar. Potensi Kerugian Daerah pada PDAM 19.d. 30 Juni 2010 tidak dilaksanakan secara optimal senilai Rp1. surat berharga.

lebih intensif dalam melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah berkenaan dengan pelunasan piutang. PDAM tetapi tidak atau belum masuk ke kas PDAM karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp108.25 19. penggunaan langsung penerimaan daerah. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp643. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 26 kasus mengenai kekurangan penerimaan senilai Rp2.89 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp8.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana kegiatan tidak tegas dan cermat dalam melaksanakan ketentuan. serta kurangnya pengawasan oleh manajemen. pelaksana kegiatan belum optimal dalam melakukan penagihan.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian di PDAM tersebut. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.05 juta. belum ada aturan yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi pelanggan yang lalai.82 miliar. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.24 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.41 juta. Rekomendasi 19.21 Dari 22 kasus potensi kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp13.60 juta oleh PDAM Kabupaten Banyuwangi.07 miliar. meningkatkan pengawasan dan pengendalian. terdiri atas • sebanyak 22 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp2. 19.26 . serta menegur pelaksana dan manajemen untuk lebih cermat dalam melaksanakan tugasnya. Kekurangan Penerimaan 19. membuat aturan tentang pemberian sanksi kepada pelanggan yang menunggak.206 19. Penyebab 19.

207 19. belum menyetorkan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp329. Penyebab 19.29 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena ketidakcermatan dan kelalaian manajemen dalam pelaksanaan tugas. • Di PDAM Kota Makassar.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut.31 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. Provinsi Sulawesi Selatan. kekurangan penerimaan.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.59 juta. Selain itu. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah/PDAM.32 . Rekomendasi 19. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.41 juta belum disetorkan ke kas daerah.d. serta memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. • Di PDAM Kabupaten Jayapura. Provinsi Papua. • Di PDAM Kota Makassar. 19. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. potongan tunjangan perusahaan dan tunjangan transport sejak Juli 2003 s. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan.02 miliar tidak dikembalikan ke kas PDAM serta sebagiannya dipinjamkan ke berbagai pihak dan digunakan untuk kegiatan tidak terkait operasional PDAM. pembentukan cadangan 19. Penyimpangan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah atau PDAM.04 juta pada PDAM Kota Makassar. November 2010 senilai Rp639. tidak menghambat program entitas.28 Dari 26 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp2.82 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp17. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan. Provinsi Sulawesi Selatan. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. Administrasi 19. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. tidak mengurangi hak negara/daerah/PDAM. belum dipungut dan disetorkan ke kas daerah PPN atas pendapatan non air Tahun 2009 senilai Rp512.

• sebanyak 2 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 2 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. • sebanyak 11 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/ perusahaan. transmisi.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 15 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. 19. Provinsi Sulawesi Tengah.33 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 66 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. • Di PDAM Kabupaten Donggala.55 miliar tidak didukung dengan serah terima antara Pemerintah Kabupaten Donggala dan PDAM. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan • sebanyak 7 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). 19. • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang. dan distribusi air bersih yang dibiayai dari Program Dana Stimulus TA 2009 pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kabupaten Donggala senilai Rp9. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).27 miliar berlarut-larut sehingga tunggakan biaya bunga dan denda yang . perhitungan amortisasi tidak sesuai ketentuan. • Di PDAM Kabupaten Poso. Provinsi Sulawesi Tengah.208 piutang. dan kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. kewajiban pembayaran hutang PDAM Poso kepada pemerintah pusat senilai Rp7. • sebanyak 1 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. penerimaan aset berupa pembangunan instalasi produksi.

39 . dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Provinsi Sulawesi Selatan.80 miliar yaitu kasus pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga.36 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. Selain itu. Provinsi Jawa Timur. manajemen dan pelaksana kegiatan tidak cermat dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Sulawesi Selatan.209 harus dibayar semakin besar. Kondisi cash flow PDAM Poso hanya cukup untuk menutup biaya operasional bulanan. biaya pengadaan dan pemasangan pipa pengantar (transmisi) menuju pabrik gula PT Makassar Te’ne Tahun 2008 lebih mahal dari harga pasar dan sisa pipa tidak terpasang yang harus dibeli oleh PDAM Kota Makassar mengakibatkan pemborosan keuangan perusahaan senilai Rp2. • Di Kota Makassar. serta manajemen melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.37 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. serta manajemen tidak mampu mengelola perusahaan dan memenuhi kewajiban perusahaan kepada pemerintah pusat. BPK telah merekomendasikan agar manajemen dan pelaksana kegiatan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 28 kasus ketidakhematan senilai Rp46. Penyebab 19.34 miliar.38 19. • Di PDAM Kabupaten Kediri.10 miliar. bukti pertanggungjawaban biaya promosi Tahun 2009 dan 2010 menunjukkan biaya promosi digunakan untuk kerjasama sponsorship dengan Persatuan 19.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya koordinasi antara manajemen dengan pemerintah pusat dan pemerintah derah. Kelompok temuan ketidakhematan pada pemeriksaan operasional PDAM terjadi karena adanya pemborosan uang perusahaan. • Di PDAM Kota Makassar. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Ketidakhematan 19. penyertaan Pemerintah Kabupaten Kediri ke PDAM Kabupaten Kediri juga belum ditetapkan statusnya senilai Rp2. Rekomendasi 19. penyertaan modal pemerintah pusat ke PDAM Kabupaten Kediri belum ditentukan statusnya senilai Rp8.79 miliar.

• Di PDAM Kota Denpasar. • sebanyak 1 kasus pemanfaataan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp1. • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.d. Rekomendasi 19. Penyebab 19. BPK merekomendasikan agar entitas yang diperiksa dalam pelaksanaan tugas memperhatikan ketentuan yang berlaku. menghentikan pembayaran tunjangan representasi dan penganggaran biaya promosi. Juni 2010 senilai Rp1.41 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. terdiri atas • sebanyak 7 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukkan senilai Rp3.43 19. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.210 Sepakbola Makassar (PSM) senilai Rp2.00 juta. kegiatan penanggulangan kebocoran belum berjalan secara efektif serta pelaksana kegiatan lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.44 . yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. Di samping membantu PSM dari anggaran biaya promosi. memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.54 miliar. Provinsi Bali. 19. pemberian tunjangan representasi kepada pegawai Tahun 2009 s. Ketidakefektifan 19.78 miliar tumpang tindih dengan pemberian tunjangan pelaksana.40 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena manajemen lalai dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.42 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 42 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp6. pada Tahun 2010 PDAM juga membantu PSM senilai Rp42.48 miliar.50 juta dari anggaran belanja bantuan.90 miliar dan bantuan kepada PSM tanpa perjanjian kerjasama sponsorship senilai Rp334.36 miliar. serta melakukan upaya penanggulangan kebocoran.

Penyebab 19. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli.62 miliar.211 • sebanyak 27 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp1. 19. • Di PDAM Kabupaten Donggala. cadangan dana meter Tahun 2009 s. Provinsi Sulawesi Tengah.48 .82 juta. Rekomendasi 19.62 miliar. air yang didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat dijamin aman bagi kesehatan masyarakat atau konsumen. Provinsi Sulawesi Tengah. dan • sebanyak 6 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp68. pemeriksaan kualitas air belum dilaksanakan secara rutin dan berkala. pengujian yang sudah dilaksanakan belum mencakup keseluruhan sumber air yang digunakan. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.47 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.46 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kelalaian manajemen dan pelaksana dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud. 19. BPK telah merekomendasikan agar memberi sanksi kepada manajemen dan pelaksana atas kelalaiannya. serta melakukan negosiasi untuk meninjau kembali isi perjanjian sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Akibatnya. Selain itu. Juni 2010 digunakan tidak sesuai dengan tujuan penggunaannya senilai Rp1.45 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.d.

212 .

Z. 27 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. 20. Dr. RSUD Dr.74 miliar.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. RSUD Dr. Johannes. Dr. H. W. Z.30% dari cakupan pemeriksaan. Objek pemeriksaan tersebut adalah RSUD Pirngadi Medan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp19.5 Hasil pemeriksaan atas operasional RSUD menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim askes terlambat diklaim senilai Rp15. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk • menilai tingkat efektivitas sistem pengendalian intern (SPI) atas kegiatan operasional RSUD.33 miliar. M. Tujuan Pemeriksaan 20. Oleh karena itu.1 Pada Semester II Tahun 2010. dan RSUD Prof. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Hasil Pemeriksaan 20. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20. . BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional rumah sakit umum daerah (RSUD) dengan jumlah objek pemeriksaan sebanyak lima RSUD.3 Cakupan pemeriksaan atas operasional lima RSUD adalah senilai Rp854. RSD Mayjen H.213 BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah 20. Kupang. W. Johannes Kupang. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • menilai apakah pengelolaan operasional RSUD terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan belanja telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.58 miliar dari realisasi anggaran senilai Rp989. Ryacudu Kotabumi. Adnaan WD Payakumbuh.68 miliar atau 2. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • Di RSUD Prof. serta 5 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.

Kelompok Temuan Jml Kasus 10 1 17 19 1 13 Jumlah 61 Nilai (juta Rp) 3. H. potensi kerugian daerah (atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD). • Di RSUD Dr.80 28.95 miliar tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010. administrasi. Sumatera Barat. Adnaan WD Payakumbuh.680.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah (atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD). . Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD No. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 42 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 43.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.35 6. sisa kas pengelolaan per 31 Agustus 2010 senilai Rp1. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan RSUD. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan dan meningkatkan pengawasan. Tabel 20.531. satuan pengawas intern rumah sakit belum melaksanakan tugas secara optimal.1.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini.072.34 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian yang terjadi pada RSUD Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada RSUD Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan 20.60 70.47 9. Abdul Moeloek.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pimpinan dan dokter RSUD lalai dalam mematuhi ketentuan dan peraturan di lingkungan RSUD.68 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 20. dan ketidakefektifan meliputi 61 kasus senilai Rp19.10 19.1. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 20.214 • Di RSUD Dr. Bandar Lampung. ketidakhematan. Rekomendasi 20. kekurangan penerimaan.977. Penyebab 20.

215 Kerugian Daerah/Kerugian yang Terjadi pada RSUD 20. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp23.53 miliar.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pemeriksa barang tidak cermat dalam menjalankan tugasnya dan direktur RSUD lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. • Di RSD Mayjen H.67 juta.52 juta. Pirngadi Medan. surat berharga.61 miliar. 20.24 juta.14 Dari sejumlah kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. • sebanyak 2 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp676.87 juta.53 miliar.63 miliar. Ryacudu Kotabumi. M. • Di RSUD Dr. kelebihan pembayaran pada pelaksanaan pengawasan pekerjaan lanjutan pembangunan gedung rawat inap kelas III TA 2009 senilai Rp412. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. 20. 20. Penyebab 20. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp101.11 20. barang hasil pengadaan alat kesehatan dan kedokteran TA 2009 tidak memiliki izin edar senilai Rp2.52 juta oleh rekanan pada RSUD Dr. Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada RSUD di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. dan barang.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Abdul Moeloek Bandar Lampung.69 juta. dan • sebanyak 1 kasus kerugian lainnya yang merupakan kerugian yang belum di proses TGR senilai Rp13.12 .10 Kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp102. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 10 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. dan spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. H.

Adnaan WD Payakumbuh. Penyebab 20.35 juta. Rekomendasi 20. Kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp28.18 20.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Adnaan WD Payakumbuh untuk lebih proaktif dalam melakukan penagihan piutang.20 Kasus-kasus tersebut terjadi karena RSUD kurang optimal dalam melakukan penagihan. dan barang. Adnaan WD Payakumbuh menunggak sampai dengan Juni 2010 senilai Rp28. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada RSUD 20. RSUD tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. dan • pimpinan entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku. BPK telah merekomendasikan agar • kerugian yang terjadi disetor ke kas RSUD melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai ketentuan yang berlaku. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. 20.35 juta tersebut. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas RSUD senilai Rp2. 20.22 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. yang nyata dan pasti jumlahnya. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis Direktur Utama RSUD Dr.23 . Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah.16 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD tersebut.216 Rekomendasi 20. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD yaitu piutang pasien rawat inap pada RSUD Dr.38 juta oleh pasien RSUD Dr.21 Terhadap kasus tersebut. surat berharga.19 Kekurangan Penerimaan 20.

dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp549. • Di RSUD Dr.07 miliar. melaporkan penerimaan dan pengeluaran secara bruto. M.39 juta dan Rp364. terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp5. penerimaan dari retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 dan penerimaan dari kegiatan tes kesehatan TA 2009 dan 2010 digunakan langsung masing-masing senilai Rp184. Abdul Moeloek Bandar Lampung. tagihan Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) Pemerintah Kota Bandar Lampung TA 2009 dan 2010 senilai Rp3.44 miliar belum dibayar dan belum diperhitungkan denda minimal senilai Rp161. 20. Rekomendasi 20. Pelaksana lalai dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas penggunaan langsung dari penerimaan RSUD.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana tidak cermat dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas pengelolaan retribusi pelayanan rumah sakit.28 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. Administrasi 20.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. Penyebab 20.63 juta. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. Ryacudu Kotabumi. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas penerimaan RSUD. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan entitas yang diperiksa segera menagih pokok dan bunga rekening bank atas dana jamkesmasda kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung. H. . pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.24 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 17 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp6. dan penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.52 miliar.28 juta.217 20.02 juta. • Di RSD Mayjen H.

dll. Rekomendasi 20. W.32 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pelayanan kesehatan TA 2009 senilai Rp3. pertambangan.33 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. Abdul Moeloek Bandar Lampung. 20.61 miliar dilaksanakan mendahului kontrak. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Penyebab 20. • sebanyak 5 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara).218 20. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana RSUD lalai dalam memedomani peraturan dan pimpinan RSUD lemah dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.95 miliar. dan • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pelaksana RSUD yang lalai dan lebih meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.30 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. H. • Di RSUD Dr. . pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim Askes TA 2009 dan Semester I TA 2010 terlambat disetor ke kas daerah senilai Rp16. perpajakan. Ketidakhematan 20. • Di RSUD Prof. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. Z. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.29 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 19 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi. Johannes Kupang. Dr.

pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.35 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kepala instalasi farmasi.34 Kelompok temuan ketidakhematan meliputi penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar.87 miliar.37 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.39 .36 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. Ketidakefektifan 20. dan • sebanyak 2 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp159. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.38 20. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis direktur utama RSUD untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengadaan obat di lingkungan RSUD. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. BPK juga telah merekomendasikan agar direktur utama menegur kepala instalasi farmasi. serta direktur utama lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan RSUD.46 juta. Adnaan WD Payakumbuh tidak sesuai formularium senilai Rp70.00 juta. yaitu pengadaan obat TA 2009 di instalasi farmasi RSUD Dr. Rekomendasi 20. 20. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan. • sebanyak 2 kasus Pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp8.97 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp9.47 juta. Selain itu. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. dan PPTK tidak mematuhi formularium dalam pengadaan obat.219 20. dan PPTK untuk melakukan pengadaan obat sesuai dengan formularium RSUD. Penyebab 20. terdiri atas • sebanyak 4 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp944. PPK. PPK. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.

Dr. 20.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah pengadaan software dan hardware sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) Tahap II pada RSUD Prof.220 20. Penyebab 20. Rekomendasi 20. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Johannes Kupang senilai Rp495. W. Z.43 .41 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.42 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.66 juta belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan.

4 Salah satu tujuan pemeriksaan atas operasional bank adalah untuk menilai SPI dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Oleh karena itu. dan • entitas yang diperiksa telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Tanggo Rajo. Sulawesi Utara. BPD Jawa Tengah. Buol. Luwuk. dan sumber dana. dan Parigi Moutong. . Poso. Bantul. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 21. PD BPR Kab. PD BPR Kab. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. yaitu Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. dan PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang di Palu. serta penyelesaian kredit macet atau non performing loan (NPL). penempatan dana dan/atau investasi lainnya. Tolitoli. serta pengadaan barang dan jasa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan keuangan tertentu. PT Bank Kalimantan Tengah. Sleman. investasi.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. PT Bank Nusa Tenggara Barat. Tujuan Pemeriksaan 21.221 Bab 21 Operasional Bank Daerah 21. • entitas yang diperiksa dalam melaksanakan pengelolaan pendapatan dan biaya. PT BPD Nusa Tenggara Timur.1 Pada Semester II Tahun 2010. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional bank pada 10 bank daerah. kegiatan kredit. Hasil Pemeriksaan 21. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.

serta ketidakefektifan meliputi 55 kasus senilai . • sebanyak 41 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. tidak adanya SOP mengenai penatausahaan asuransi dan lemahnya pengawasan.7 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena tidak adanya fitur nilai taksasi dalam sistem online integrated banking systems (OLIBS) yang digunakan sehingga nilai taksasi jaminan tidak diperhitungkan di dalam perhitungan PPAP. selisih pencatatan per 30 September 2010 senilai Rp1.04 miliar dalam pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit karena tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang. terdiri atas • sebanyak 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 21. administrasi. • Di PT Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan asuransi. serta pengendalian oleh atasan langsung. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 21. • Di Bank Sulawesi Utara. kekurangan penerimaan. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. pengelolaan jaminan kredit/agunan senilai Rp4. melakukan pengecekan fisik pada saat menerima agunan. dan • sebanyak 44 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. ketidakhematan. Bantul.9 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. pelaksana tidak melakukan pengamanan yang memadai atas jaminan yang diserahkan.5 Hasil pemeriksaan atas operasional bank menunjukkan adanya 91 kasus kelemahan SPI.56 miliar tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Rekomendasi 21. memerintahkan bagian sistem informasi untuk menambahkan fitur dalam sistem OLIBS yang memungkinkan penginputan nilai taksasi jaminan dalam rangka perhitungan PPAP.8 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. Penyebab 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan peringatan kepada pihak yang lalai tidak memedomani ketentuan yang berlaku.222 21. membuat SOP mengenai penatausahaan asuransi. • Di PD BPR Kab.

Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Bank Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 7 15 8 18 1 6 55 1. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan. surat berharga. • sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp90.86 juta.13 . 21. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.727.12 Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah di antaranya meliputi permasalahan kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang.792.91 58.223 Rp58.1.10 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut diuraikan sebagai berikut. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 45 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 46.633. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. 21. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank No. Tabel 21. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.416.22 21. dan barang.41 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 21. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp775. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tujuh kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian yang terjadi pada bank daerah senilai Rp1.11 Kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.49 miliar.98 juta.50 13.1.52 38.764.497.39 2.88 1.

14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.62 juta. penyaluran pinjaman tanpa melalui prosedur perkreditan perbankan. .98 juta. pemberian tunjangan transport kepada pejabat/pegawai yang melaksanakan kegiatan perjalanan dinas pada Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan keputusan direksi mengakibatkan kerugian senilai Rp211.17 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.34 juta. • Di PT Bank Sulawesi Utara. Penyebab 21. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp178.70 juta.87 juta. BPK telah merekomendasikan agar direksi mengembalikan kerugian yang terjadi di bank daerah. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. 21. kelalaian dalam melaksanakan perhitungan dan pembayaran tunjangan transpor. memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai dalam melaksanakan tugas.224 • sebanyak 2 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp115.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena ketidakmampuan rekanan dalam menyelesaikan pembangunan gedung.00 juta. 21. pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut yang diselesaikan pada Tahun 2009 tidak sesuai kontrak mengakibatkan kerugian atas kekurangan fisik pekerjaan senilai Rp775. dan • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang macet senilai Rp235. Rekomendasi 21. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. • Di PT Bank Sulawesi Tengah.15 Terhadap kerugian yang telah terjadi pada bank daerah tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas PT Bank Kalimantan Tengah senilai Rp540 ribu yaitu oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp101.

03 miliar. surat berharga.23 miliar.63 miliar. • Di PT Bank Sulawesi Tengah.19 21. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp1. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 15 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp38.50 juta. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah meliputi permasalahan kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. Selain itu.20 . 21. 21. kredit hapus-buku tidak didukung dengan dokumen yang lengkap mengakibatkan potensi kredit tidak dapat tertagih sejak Tahun 1987 pada KCU dan Kantor Cabang Parigi minimal senilai Rp15.18 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. yang nyata dan pasti jumlahnya. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 11 kasus piutang/pinjaman yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp33. jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit senilai Rp3. dan barang.11 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp3.46 miliar mengakibatkan PT Bank Sulteng sampai dengan 22 November 2010 tidak memperoleh jaminan yang memadai atas pengembalian dana kredit yang telah disalurkan dan berpotensi mengalami kerugian. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp445.225 Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.83 miliar. • sebanyak 2 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.

memerintahkan para kepala cabang untuk melengkapi jaminan para debitur.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan baik dalam pemberian kredit maupun pelunasannya. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut. • Di PT BPD Jateng. • Di PT Bank Sulut. Kekurangan Penerimaan 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi tegas kepada pihak yang tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan. 21. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. penyelesaian pembangunan gedung kantor Bank Jateng Cabang Slawi Tahun 2010 terlambat dari waktu yang telah ditetapkan dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp368.24 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. 21. pajak penghasilan atas premi asuransi purna jabatan kepada direksi dan dewan komisaris Tahun 2009 dan 2010 belum diperhitungkan dan disetorkan ke kas negara senilai Rp1.28 Atas kekurangan penerimaan tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas BPD Jawa Tengah dan kas daerah senilai Rp223. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/bank daerah.26 21.79 miliar. bank daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah atau BUMD karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.64 miliar.75 juta.25 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat delapan kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp2. Rekomendasi 21.12 juta oleh rekanan BPD Jawa Tengah.226 Penyebab 21.27 .

29 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa lalai tidak memperhatikan ketentuan perpajakan.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. pertambangan. • Di BPR Kabupaten Bantul. pengadaan barang inventaris/pekerjaan Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa yang berlaku.31 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). Rekomendasi 21. penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Administrasi 21.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. kemampuan rekanan pelaksana dalam melaksanakan kegiatan pembangunan gedung kantor tidak memadai. penyelesaian pekerjaan dan melakukan pembinaan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perbankan. dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. prosedur penghapusan piutang macet TB 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisis yang memadai. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).32 . terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung dan pemimpin kegiatan. perpajakan. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa melakukan pemungutan dan penyetoran atas kekurangan penerimaan pajak dan denda keterlambatan. dan perpajakan. 21. 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 18 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi.227 Penyebab 21.. • Di PD BPR Bank Sleman. dll.

Rekomendasi 21. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. Penyebab 21. BPK telah merekomendasikan agar RUPS menetapkan standar fasilitas kendaraan dinas untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPD Bank Jateng.37 Ketidakefektifan 21.228 Penyebab 21. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.39 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. 21.41 .34 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pengadaan tidak melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku. dan direktur utama dalam penghapusbukuan agar memperhatikan prosedur yang berlaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan senilai Rp1.72 miliar yang merupakan pemborosan keuangan BPD Jawa Tengah atas pemberian fasilitas kendaraan dinas kepada dewan komisaris dan direksi PT Bank Jateng pada Tahun 2010 yang belum sesuai ketentuan.40 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai mematuhi ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 21. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. Ketidakhematan 21. dan kelalaian direktur utama dalam melakukan hapus buku kredit macet tidak memedomani peraturan yang telah ditetapkan.38 Kasus tersebut terjadi karena RUPS belum pernah menetapkan standar jenis dan jumlah kendaraan dinas bagi dewan komisaris dan direksi sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasar PT BPD Bank Jateng.36 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan.35 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan hasil pengadaan barang/jasa belum/tidak dapat dimanfaatkan. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Kelompok temuan ketidakhematan meliputi permasalahan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga.

52 miliar. Penyebab 21. 21. • Di PT BPD NTT di Surabaya. 21.52 miliar. kinerja kantor cabang di Surabaya tidak mencapai target dan Tahun Buku 2010 (s. terdiri atas kasus mengenai • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp484. • Di BPD Jawa Tengah.46 . dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. 31 Agustus 2010) rugi senilai Rp2.50 juta. • sebanyak 1 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.50 juta belum dimanfaatkan. Rekomendasi 21.229 21. BPK telah merekomendasikan agar direksi PT BPD NTT segera memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya dan BPD Jawa Tengah melakukan analisis kebutuhan atas lahan yang dibeli dan menindaklanjuti hasil analisis tersebut.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya Direksi PT BPD NTT dalam memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya terutama SDM pemasaran bidang pendanaan dan perkreditan serta sarana prasarana kantor dan pejabat yang berwenang tidak konsisten melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.42 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya enam ketidakefektifan senilai Rp13. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.45 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp10.d. pengadaan aset tetap tanah yang dilakukan pada Tahun 2007 untuk Kantor Cabang Pembantu Grabag BPD Jawa Tengah senilai Rp484.43 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.76 miliar.75 miliar.

230 .

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 22. PD Pasar Surya Jawa Timur.2 Hasil Pemeriksaan 22. Operasional BUMD mencakup pengelolaan pendapatan. Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Kalimantan Timur. 34 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.231 BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya 22.1 Pada Semester II Tahun 2010. dan pengamanan aset. hasil pemeriksaan atas operasional BUMD dapat dikelompokkan pada temuan yang berkaitan dengan SPI dan temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • Di Perusda Natuna. Perusda Karimun Kepri. kegiatan investasi. PT Jatim Grha Utama. 22. PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS).3 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. pengendalian biaya. terdapat kesalahan pencatatan pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2009 (audited) senilai Rp4. pengendalian biaya. dan PD Praja Karya Maluku.4 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMD mengungkapkan adanya 87 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.5 . dan kegiatan investasi.93 miliar sehingga nilai akun dalam laporan keuangan lebih catat dan kurang catat. Provinsi Kepulauan Riau. sebagaimana disajikan dalam Lampiran 47. 22. Secara umum tujuan pemeriksaan pada sebelas BUMD tersebut untuk • menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengamanan kekayaan telah memadai. dan • mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap pengelolaan pendapatan. dan 33 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. PT Pengembangan Investasi Riau. Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kalimantan Barat. kerjasama kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama. PD Natuna. • memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengelolaan BUMD. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada sebelas entitas yaitu PT Perkebunan Sumatera Utara.

Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 86 kasus senilai Rp44.442.402. Tabel 22.6 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pelaksana tidak bekerja secara cermat dan teliti. kekurangan penerimaan. Perusda Aneka Usaha Tahun 2010 tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan operasional perusahaan dan kerugian akumulasi minimal mencapai senilai Rp5.379.1. terdapat investasi Tahun 2007 dan 2008 senilai Rp4. hasil pemeriksaan operasional BUMD juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pelaksana lebih cermat dalam melaksanakan tugas. Kalimantan Barat.73 15.53 1.00 miliar dalam perjanjian kerjasama dengan PT WS pada pekerjaan pembangunan jalan akses Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum memberikan hasil. kurang cermat dalam membuat perjanjian dan melakukan pembayaran investasi.Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD No.13 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 22. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 22. Provinsi Jawa Timur. • Di PT Grha Utama. administrasi. serta pimpinan meningkatkan pengawasannya.32 16.8 Selain kelemahan SPI.232 • Di Perusda Aneka Usaha. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 48 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 49. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.133.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. Penyebab 22.073. serta lemahnya pengawasan dari pimpinan. Rekomendasi 22.24 miliar. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 8 16 16 24 9 13 86 2.52 44.58 . menyusun perjanjian kerjasama dan melakukan pembayaran investasi.1. ketidakhematan dan ketidakefektifan.835.47 8.

• Di PT Jatim Grha Utama.11 .14 Kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah terjadi karena pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. surat berharga.07 miliar di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp1. kekurangan volume fisik pekerjaan pada pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Modern Agribisnis (PIMA) Tahun 2010 senilai Rp1. 22. • sebanyak 3 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp344. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp1.10 Kelompok temuan kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah) di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan.35 juta. serta tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam menentukan tunjangan yang dapat diberikan kepada direksi. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda. Provinsi Jawa Timur. dan barang. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.13 Dari total kasus kerugian yang terjadi pada perusda senilai Rp2.35 juta. Provinsi Jawa Timur.16 miliar. Penyebab 22.16 juta. • Di PD Pasar Surya. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp122.9 Kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan berupa uang. 22.07 miliar.233 22.71 juta. oleh rekanan kepada PT Jatim Grha Utama. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 22. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp2. dan • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp437. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Daerah 22.16 miliar. kelebihan pembayaran tunjangan direksi pada TB 2009 dan 2010 (per 30 Juni 2010) senilai Rp437.16 miliar.

16 Potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan lebih cermat melaksanakan tugasnya. aset tidak diketahui keberadaannya. • Di PD Melati Bhakti Satya. surat berharga.18 • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp7.17 22.67 miliar. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya Rp417.44 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp100. . 22. dan barang. Provinsi Kalimantan Timur.19 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdapat aset yang dikuasai pihak lain TB 2009 yaitu deposito senilai Rp5. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp15.30 miliar dan jaminan keagenan senilai Rp20. • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp485.00 juta pada PT B Airlines yang sudah ditutup tidak dapat dicairkan.76 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya.49 juta. terdiri atas • sebanyak 6 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp6.37 juta. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa. senilai 22. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.234 Rekomendasi 22. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 22. pembelian aset yang berstatus sengketa. serta rekanan mempertanggungjawabkan kerugian yang terjadi dengan cara menyetor ke kas perusahaan daerah. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain. Kasus-kasus potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) yaitu adanya aset dikuasai pihak lain.79 juta.15 Terhadap kasus kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) tersebut.

belum membuat standar operating procedure (SOP) terkait penatausahaan piutang/pinjaman.21 Atas kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.22 Kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.23 22. 22.83 miliar yang terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah senilai Rp16.d. pimpinan perusahaan tidak cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.20 Kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah disebabkan karena perusda kurang mengupayakan pengembalian bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. 2009 senilai Rp4.16 juta. perusahaan daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah/perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Penyebab 22. kepada bupati agar memerintahkan direksi untuk lebih cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.235 • Di Perusda Natuna. • Di PT Perkebunan Sumatera Utara. Kekurangan Penerimaan 22. Provinsi Kepulauan Riau.61 miliar.24 . serta lemah dalam melakukan pengawasan.63 miliar. Selain itu.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan daerah/perusahaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. Rekomendasi 22. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp16. terdapat pengelolaan piutang usaha tidak tertib sehingga menimbulkan saldo piutang usaha per 20 Juni 2010 tidak tertagih senilai Rp4. kurang membayar dividen kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas hasil usaha TB 2005 s.00 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada perusda agar membuat langkah-langkah untuk mengembalikan bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. dan membuat SOP terkait dengan penatausahaan piutang/pinjaman serta segera menyelesaikan piutang/ pinjaman yang belum tertagih. PT Perkebunan Sumatera Utara kurang 22. dan • sebanyak 1 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp196.

dll. tidak mengurangi hak negara/daerah/perusahaan daerah (kekurangan penerimaan) tidak menghambat operasional/program entitas dan dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.236 melakukan pemotongan pajak PPh Pasal 21 TB 2009 dan 2010 minimal senilai Rp1. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. serta lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian.30 . Rekomendasi 22.26 Kasus-kasus kekurangan penerimaan disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak mengacu pada keputusan RUPS dan dewan komisaris dalam melakukan pembayaran dividen. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan segera menyetorkan sisa dividen hasil usaha kepada pemerintah daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • Di PD Pasar Surya. belum mengenakan denda atas keterlambatan pembangunan. investor (CV CJL) pembangunan Pasar Kupang Gunung Tahun 2008 belum melaksanakan kewajiban berupa penerimaan kompensasi senilai Rp425.29 22. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atas barang milik daerah.70 juta kepada PD Pasar Surya. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. memperhitungkan kekurangan pembayaran kompensasi dan denda keterlambatan kepada investor dan segera menyetorkan ke kas perusahaan. Administrasi 22.00 juta dan denda keterlambatan senilai Rp418. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian. Provinsi Jawa Timur.28 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 10 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).07 miliar dan penetapan tarif pajak tidak sesuai dengan ketentuan. 22. Penyebab 22. kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah dan lain-lain.

74 juta tidak memiliki dasar hukum yang kuat.33 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Penyebab 22. pembagian laba kepada pemerintah provinsi dan kabupaten TB 2007 dan 2008 tidak sah dan melanggar ketentuan senilai Rp1.40 miliar.237 • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. dan belum menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat sembilan kasus ketidakhematan berupa kasus pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga senilai Rp1.34 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.35 22. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain administrasi.75 miliar. pengeluaran belanja TB 2008 senilai Rp129. serta menyusun sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. dll.32 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam pembagian laba (dana komitmen). Provinsi Riau. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan membatalkan pembagian laba yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan meminta pemegang saham untuk menyetorkan kembali dana (dividen) komitmen yang telah dibayarkan. Provinsi Kepulauan Riau. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Perusda Karimun.36 .31 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 22. • sebanyak 2 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. Provinsi Maluku. perpajakan.46 juta tidak didukung bukti yang lengkap. kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan. 22. • Di PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR). pertambangan. yaitu pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan kepada direksi dan pegawai Perusda Kabupaten Karimun senilai Rp711. Ketidakhematan 22. 22. • Di PD Praja Karya.

• sebanyak 3 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6. 22. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp8. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.39 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. Pada umumnya kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. Ketidakefektifan 22. Provinsi Jawa Timur.37 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya disebabkan karena direksi belum memahami sepenuhnya ketentuan yang berlaku dalam pemberian tunjangan dan insentif. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.62 miliar.48 miliar.41 .37 miliar terdiri atas • sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp271.40 22.60 juta.38 kasus-kasus ketidakhematan tersebut. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.86 miliar tidak dapat diselesaikan oleh pihak investor sehingga tidak ada kepastian penyelesaian pembangunan dalam rangka revitalisasi Pasar Manukan Kulon dan potensi penerimaan PD Pasar Surya tidak optimal/terlambat. BPK telah Terhadap merekomendasikan antara lain agar direksi menghentikan pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan.238 Penyebab 22. • Di PD Pasar Surya. • sebanyak 5 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp1.42 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. kerjasama pembangunan gedung Pasar Manukan Kulon Tahun 2005 senilai Rp4. Rekomendasi 22. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. 22.

serta melakukan koordinasi terkait dengan hak dan kewajiban dalam pengelolaan aset.239 • Di Perusda Natuna.43 Kasus-kasus ketidakefektifan di antaranya disebabkan investor tidak serius dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disepakati. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.44 Atas kasus-kasus ketidakefektifan. dan pimpinan perusahaan tidak melaksanakan koordinasi dengan pihak ketiga berkaitan dengan hak dan kewajiban yang telah disepakati dalam pengelolaan aset. Provinsi Kepulauan Riau. Penyebab 22. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan memberikan sanksi dan peringatan kepada investor yang telah melakukan wanprestasi dan meninjau kembali kerjasama tersebut. pelaksanaan kerjasama antara Perusda Natuna dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bangunan gedung pengolahan kelapa dan pengolahan ikan tidak termanfaatkan senilai Rp970. Rekomendasi 22. 22.45 .86 juta.

240 .

2 Pemerintah Pusat 23.751.3 23. Direktorat Jenderal Bina Marga TA 2010. amblasnya sisi utara Jalan R. pengelolaan belanja subsidi dan belanja lain-lain (BSBL) TA 2009 dan Semester I TA 2010 yang disajikan dalam satu laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan BSBL pada 17 KPA lainnya yang masing-masing disajikan dalam LHP tersendiri.19 0. Cakupan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu lainnya Entitas Yang DIperiksa (1) Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN Jumlah Cakupan Pemeriksaan (miliar Rp) (2) 275.62 4. Cakupan pemeriksaan atas 31 objek pemeriksaan tersebut.14 % Temuan (4)= 3/2 x100% 0. Tabel 23.264.42 m². dalam Semester II Tahun 2010 BPK juga melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada 31 objek pemeriksaan meliputi 21 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.33 7.50 2.94 15. • Di Kementerian Keuangan.E. rinciannya adalah sebagai berikut. BI.62 848. • Di 18 kuasa pengguna anggaran (KPA).531. dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo).3 Dua puluh satu objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat. prosedur yang disepakati bersama–penelitian atas tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 pola channeling dalam rangka risk sharing antara pemerintah.515.18 0. dana bagi hasil TA 2009 dan Semester I TA 2010.58 303.1.20 285. • Di Kementerian Pekerjaan Umum. disajikan pada Tabel 23.1 Selain tema-tema pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya.1 di bawah ini.03 Total Temuan (miliar Rp) (3) 528. delapan objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dan dua objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. . Martadinata seluas 653. • Di Bank Indonesia (BI).241 BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya 23.

Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan.48 triliun yang belum diperhitungkan dalam bagi hasil ke daerah Tahun 2009. dan benih mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. di antaranya senilai Rp6. sehingga terdapat penerimaan negara bukan pajak sumber daya alam (PNBP SDA) senilai Rp1.37 miliar tidak didukung bukti yang lengkap dan valid. ketidakhematan.242 23.4 Hasil pemeriksaan atas 21 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat menunjukkan 88 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp528. listrik. • Di sepuluh KPA. 23. • Di Kementerian Keuangan. terdapat tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling tanpa disertai sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo senilai Rp1. dan ketidakefektifan. dan LPP RRI. • KPA tidak tertib melaksanakan belanja lain-lain di antaranya.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya.06 juta oleh Ditjen Bina Marga Kementerian PU. Atas kasus-kasus kerugian negara dan kekurangan penerimaan tersebut. LPP TVRI.92 triliun.57 triliun dianggarkan pada BA BSBL termasuk di antaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran sendiri. di antaranya sebagai berikut. • Di BI.6 . telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp111. Di 13 KPA. b.99 miliar merupakan belanja fiktif atau kelebihan belanja yang tidak dikembalikan. • BUMN operator belum sepenuhnya memenuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM.94 miliar meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. penatausahaan dan pencatatan realisasi penerimaan belum memungkinkan dilakukannya identifikasi penyetor secara tepat waktu dan tepat jumlah. kekurangan penerimaan. pupuk. administrasi.5 23. terdapat kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak mengakibatkan kelebihan pembayaran senilai Rp28. pengadaan barang dan jasa senilai Rp57.81 miliar. belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak senilai Rp2. potensi kerugian negara. Di sembilan KPA. a.

rinciannya adalah sebagai berikut.07 miliar. Provinsi Riau. dan Kabupaten Halmahera Tengah. dan ketidakefektifan. terdapat pembayaran belanja yang tidak tersedia anggarannya sehingga pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum dan berindikasi kerugian keuangan daerah senilai Rp2.58 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. • Di Provinsi Aceh.79 miliar oleh Sekretariat Kota Pekanbaru dan Pemda Bengkulu. kekurangan penerimaan. di antaranya sebagai berikut. Atas temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp1. 23. dan 2009. • Di Kabupaten Muaro Jambi. potensi kerugian daerah. Provinsi Maluku Utara.243 Pemerintah Daerah 23. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. • Di Kota Pekanbaru.65 miliar. • Di Kota Pekanbaru. mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah senilai minimal Rp3. • Di Kabupaten Bone Bolango. Provinsi Riau.7 Delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah. Provinsi Riau. pengelolaan kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010. administrasi. • Di Kota Pekanbaru. ketidakhematan. penggunaan dana STAR-SDP pada inspektorat daerah untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009. pengelolaan bantuan keuangan pemerintah daerah se-Kalimantan Barat untuk pendirian dan pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2003 sampai Juli 2010. 2008.8 Hasil pemeriksaan atas delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah menunjukkan adanya 53 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp15. pengelolaan perhitungan fihak ketiga (PFK) pemerintah TA 2007. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1.9 23.10 .32 miliar. Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut. 23. • Di Provinsi Bengkulu. kekurangan kas tidak dapat dijelaskan secara akuntabel oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru. pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIII TA 2010. • Di Provinsi Kalimantan Barat. program swasembada pangan dan pengelolaan saluran irigasi tersier TA 2008 dan 2009. Provinsi Gorontalo. Provinsi Jambi.

terdapat kemahalan harga minimal senilai Rp881. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. Semester I Tahun 2009.244 • Di Provinsi Kalimantan Barat.44 miliar.d. di antaranya sebagai berikut. 2009 yang melebihi ketetapan preferensi harga Menteri Perindustrian. • Di PTPN XIV (Persero).d.17 miliar atas proyek kerjasama pengembangan kebun kelapa sawit pola kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). kekurangan penerimaan pendapatan senilai Rp3.d. • Di Provinsi Bengkulu. adanya adendum kontrak pengadaan tabung LPG 3 kg Tahun 2007 mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp37. dan apabila dibandingkan dengan harga pengadaan impor mengakibatkan ketidakekonomisan senilai Rp135.37 juta. yaitu kegiatan pengadaan barang dan jasa pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero).13 23. 23.34 juta. 2009. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 23.62 miliar. Cakupan pemeriksaan pada PT Pertamina (Persero) meliputi kegiatan pengadaan paket tabung liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg yang terdiri dari pengadaan tabung LPG 3 kg. dan selang dalam rangka Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Tahun 2007 s. • Di PT Pertamina (Persero). Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran pengadaan paket tabung gas LPG 3 kg dan pengadaan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta menilai pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga. mekanisme pengelolaan penjualan stiker MTQN XXIII TA 2010 tidak memadai. terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri Tahun 2008 s. pengadaan alat-alat laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2005 s. Sedangkan PTPN XIV (Persero) meliputi kerjasama pihak ketiga dan pengadaan barang dan jasa Tahun 2007 s. regulator. • Di PT Pertamina (Persero). sehingga realisasi penerimaan penjualan stiker tersebut tidak dapat ditelusuri kewajarannya dan terdapat indikasi kekurangan penerimaan senilai Rp712. kompor.11 Dua objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan BUMN.d.15 Laporan hasil pemeriksaan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.66 juta dan pajak belum disetor senilai Rp505. 23. 2009.12 23.14 .

suatu temuan pemeriksaan memuat saran/ rekomendasi mengenai penagihan atas kelebihan bayar atau denda yang belum dipungut dan hasil penagihan/pemungutan harus disetor ke kas negara/daerah. Temuan-temuan pemeriksaan yang oleh BPK dinyatakan ditindaklanjuti sesuai saran/ rekomendasi adalah temuan-temuan pemeriksaan yang saran/rekomendasinya telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pihak entitas yang diperiksa sesuai dengan saran/rekomendasi BPK. Dalam IHPS II Tahun 2010 disajikan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 yang disajikan menurut entitas kementerian/lembaga/provinsi/kapubaten/kota/BUMN/ BHMN/KKKS. diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah/perusahaan pada entitas yang bersangkutan. BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan semesteran. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. dan badan lainnya. BUMN.245 HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT Memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20. Pimpinan entitas yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima. BPK menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan. maka temuan pemeriksaan yang bersangkutan dinyatakan sebagai “dalam proses ditindaklanjuti”. Sebaliknya. pemerintah daerah. maka dalam IHPS dimuat data pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat. . status tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah. rekomendasi. apabila bukti tindak lanjut rekomendasi tidak diterima dan/atau baru diterima sebagian. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK. maka temuan pemeriksaan tersebut dinyatakan “telah ditindaklanjuti sesuai saran” jika entitas yang bersangkutan telah menyetor seluruh penagihan/pemungutannya ke kas negara/daerah dan BPK telah menerima dan memvalidasi bukti setor tersebut. Misalnya. Dengan demikian. Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini. Adapun data hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut sebelum Tahun 2009 masih dalam proses rekonsiliasi. Selanjutnya BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK.

EUR11.00 triliun dan USD42. dan GBP17. pejabat menjadi terpidana. yaitu suatu keadaan peperangan. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Pusat mengungkapkan bahwa dalam periode Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 85 kementerian/lembaga terdapat 8. perubahan struktur organisasi.1. dan GBP17.246 Sesuai Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010. kerusuhan. Secara umum. pejabat menjadi tersangka dan ditahan. objek yang direkomendasikan dalam sengketa di peradilan. force majeur. Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti secara efektif. subjek atau objek rekomendasi dalam proses peradilan: 1. b. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas kementerian/lembaga disajikan pada Lampiran 50. pemogokan. perubahan regulasi.34 triliun serta sejumlah valas. Adapun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjuti dengan penyerahan aset dan penyetoran ke kas negara/daerah dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 adalah senilai Rp1.55 ribu. .55 ribu. Adapun kriteria alasan sah sehingga rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti adalah : a. teguran dan/atau sanksi kepada para penanggungjawab dan/ atau pelaksana kegiatan. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan negara/daerah. status pemantauan tindak lanjut rekomendasi ditambahkan satu jenis lagi yaitu status “Tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah”.05 miliar dan USD7. EUR11. yaitu: 1. Status pemantauan hasil pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. bencana alam. kebakaran dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tindak lanjut tidak dapat dilaksanakan.00 ribu. rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dan/atau tindakan administratif.79 ribu. Perincian setoran dari pemerintah pusat senilai Rp1.78 ribu. 2. melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern. Penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dilakukan dengan cara menyetorkan sejumlah uang ke kas negara/ daerah.15 ribu. Adapun tindakan administratif biasanya berupa pemberian peringatan. 3.251 rekomendasi senilai Rp27. 2.78 ribu. c.82 miliar dan USD4. efisien dan ekonomis. kemudian dari pemerintah daerah senilai Rp807.93 triliun dan USD53. revolusi.94 ribu. mengembalikan/menyerahkan sejumlah aset ke negara/daerah atau dengan cara melengkapi pekerjaan/barang. dan dari BUMN senilai Rp119.

di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/penyerahan aset ke negara senilai Rp1. USD42.93 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.56% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.55 ribu dan GBP17.102.251 Nilai Rp27.227.41 Dari tabel di atas.38 Jml 3.109 Rp9. Presentase rekomendasi yang telah ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (37.78 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 8.131 Nilai Rp4.131 atau 37.95%.347.42 USD 42.1 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai USD 12.354.109 rekomendasi atau 25.49% 25.78 ribu. dan sebanyak 3.011 rekomendasi atau 36.19 GBP 17.77 AUD 334. .78 Jml 3.87 JPY 266. Grafik 24. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.55 JPY 266.37 EUR 11.49% belum ditindaklanjuti.68 USD 313. sedangkan sebanyak 2.03 AUD 334.1.187.003. Dari 3.23 USD 359.37 EUR 11.55 GBP 17.78 2.95%) menunjukkan pemerintah pusat telah memperhatikan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.852.95% Belum Sesuai Rekomendasi/Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 3.15 ribu.131 rekomendasi senilai Rp4.19 Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/ daerah Nilai Rp1. EUR11.938.56% 37.082.15 EUR 11.55 GBP 17.064.821.247 Tabel 24. Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 36.082.011 Nilai Rp12.945.00 triliun.014.33 USD 326.464.

821.248 Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Daerah mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 508 pemerintah daerah terdapat 66.11 USD 473.009.72 %.280 Nilai Rp22.633. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.578 Nilai Rp17.26% 36.00 Jml 66.933 - Nilai Rp68.11 USD 4.91 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atau perusahaan negara/ daerah Rp807. sedangkan sebanyak 16.26% belum ditindaklanjuti. .2. Grafik 24.79 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.00 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 16.00 ribu.583.827.280 rekomendasi atau 39.13 USD 4.075 Nilai Rp27.2 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Jml 24.228.72% Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti 24.64 USD 2.75 Dari tabel di atas.635.35 USD 466.83 Belum Ditindaklanjuti Jml 26.957.075 rekomendasi atau 24.82 miliar dan USD4.02% Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 24.00 triliun serta USD473. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pada pemerintah daerah disajikan pada Lampiran 51. Dari 24.933 rekomendasi senilai Rp68.792.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 39.578 atau 36.578 rekomendasi senilai Rp17. Tabel 24.75 ribu.02% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. dan sebanyak 26. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp807.

31 USD 7.450 Nilai Rp7.657. Tabel 24. Dari 297 rekomendasi .93 Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 333 Nilai Rp1.884. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.97% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.12 USD 604.60 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 297 Nilai Rp806.897.056.523.450 rekomendasi senilai Rp7.291.275.99 triliun serta sejumlah valas.50 SGD 1.320.26%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada pemerintah daerah atau bahkan ada yang belum disampaikan.326. Grafik 24.249 Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (39.320. dan sebanyak 820 rekomendasi atau 56.11 USD 230.60 Belum Ditindaklanjuti Jml 820 Nilai Rp5.74 SGD 1. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 145 BUMN mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 1.75 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan Rp119. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.79 - Dari tabel di atas.17 USD 835.75 EUR 8.3.994.3 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Jml 1.408.55% belum ditindaklanjuti.75 EUR 8.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 297 atau 20.48%. sedangkan sebanyak 333 rekomendasi atau 22.055. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas BUMN disajikan pada Lampiran 52.

Dari pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dapat dijelaskan bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak satu rekomendasi atau 8.748.17 - (dalam juta rupiah dan ribu valas) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/perusahaan - Sesuai dengan Rekomendasi Jml 21 Nilai Rp676. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan. Hal ini menunjukkan bahwa BP Migas masih kurang dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas satu BHMN yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) mengungkapkan bahwa bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 12 rekomendasi. Tabel 24.59 USD 73.30 Belum Ditindaklanjuti Jml 37 Nilai Rp580.00 miliar serta sejumlah valas.780.33% dan sebanyak 11 rekomendasi atau 91.4 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 Rekomendasi Jml 76 Nilai Rp4. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke perusahaan BUMN senilai Rp119.005.65%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada BUMN atau bahkan ada yang belum disampaikan.67% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.048.90 SGD 5.4 .30 Status Pemantauan Tindak Lanjut Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai 18 Rp2. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas KKKS disajikan pada Lampiran 52.23 USD 150. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (56.53 USD 1.59 SGD 5. . Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 67 KKKS mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 76 rekomendasi senilai Rp4. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Lampiran 52.27 miliar yang ditindaklanjuti sesuai saran.250 senilai Rp 806.581.05 miliar serta sejumlah valas.51 - Dari tabel di atas.35 USD 74. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.

Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (48. Dari 21 rekomendasi senilai Rp676.63%. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.53 juta serta sejumlah valas yang ditindaklanjuti sesuai saran.251 Grafik 24. dan sebanyak 37 rekomendasi senilai atau 48.68% belum ditindaklanjuti.68%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada KKKS atau bahkan ada yang belum disampaikan. sedangkan sebanyak 18 rekomendasi atau 23.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 21 rekomendasi atau 27.68% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. belum ada yang telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke kas negara/perusahaan. .

252 .

−− pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain oleh pemerintah. Gambaran Umum Cakupan entitas yang telah dipantau pada Semester II Tahun 2010 adalah 648 entitas atau sebesar 31.040 entitas.30 miliar atau 11. pengelola BUMN/BUMD dan pengelola keuangan negara lainnya yang ditetapkan oleh BPK. Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah disusun berdasarkan laporan pemantauan dalam kurun waktu bulan Juli 2010 sampai dengan Januari 2011. Kerugian negara/daerah yang dipantau pada kurun waktu tahun 2009-2010 adalah sebanyak 4.76% dari keseluruhan sebanyak 2. BPK diberikan kewenangan untuk memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh pemerintah.253 HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH Pendahuluan Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. kinerja dan administrasi penatausahaan kerugian negara/daerah.302 kasus senilai Rp908. . Pemantauan kerugian negara/daerah mencakup kerugian negara/daerah yang disebabkan kesalahan bendahara.28 miliar dan sejumlah valuta asing (valas) dan tingkat penyelesaian (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. • proses penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang belum dapat ditetapkan. dan −− pihak ketiga yang telah ditetapkan oleh pengadilan. Sasaran Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah meliputi: • • kepatuhan instansi untuk membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D).339 kasus senilai Rp108. pelaksanaan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap: −− bendahara.92% dan sejumlah valas. Pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK dan pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. pegawai negeri bukan bendahara dan pihak ketiga. maupun yang berindikasi kerugian negara/daerah dari hasil pemeriksaan BPK dan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) yang harus segera diproses penyelesaiannya oleh instansi yang bersangkutan. Selain itu BPK juga memantau kerugian negara/daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK maupun hasil pemeriksaan Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).

13 miliar dan USD228.367.70 Rp54.409.000.000.92 71 156 2.013.846.103.157.74 miliar atau 8.700.281.00 826.600.2010 sebanyak 746 kasus senilai Rp712.156.44 734.00 9. .526.872.419.00 10.90 USD 212.752.31 82 Rp4.197.892.116.314.91 USD 228.292.43 3.057.287.335.845.00 983.727.791.197.531.54 USD 85.70 JML 1 171 72 244 2 111 156 269 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 9 353 384 746 764.481.913.673.764.507.754.388.254 Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Kerugian Negara Pada Instansi Pusat Dan BUMN Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada instansi pusat dan BUMN pada Semester II Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.935. Kerugian Daerah Pada Instansi Pemerintah Daerah Dan BUMD Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah pada instansi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD) pada periode Tahun 2009 sampai Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.70 1 3.353.723.035.00 6 596.16 USD 85.446.632.73 Rp712.846.03 Rp649.551.909.21 juta dengan tingkat penyelesaian baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 315 kasus senilai Rp62.00 Rp951.86 Rp195.973.155.015.43 3.844.998.348.453.803.00 6.104.45 USD 228.61 USD 228.61 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 tidak terdapat kasus kerugian negara yang dilakukan oleh pengelola BUMN.502.436.194.560.219.72 Rp3.756.35 233 53 28 1.640.214.394.862.613.00 3 282 228 513 SISA NILAI 30.17 165.893.163.677.035.44 134.978.89 USD 212.00 3.000.447.72 USD 15.532.613.303.86 Rp191.710.70.81% dan USD1. Rincian Pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pemerintah pusat selama Tahun 2009 sampai Tahun 2010 adalah sebagai berikut.114.318.81 505.624.258.700.062.72 596.683.956.78 USD 1.893.87 Rp516.871.334.707.900.013.00 19.709.424.73 USD 85.560.845.58 186.58 185.43 94.671.00 468.463.05 USD 212.431.950.129.481.333.035.509.823.87 JML 26 3 29 1 27 25 53 PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 856.664.762.127.004.92 JML 36 20 56 6 35 136 177 PELUNASAN NILAI 2.00 53.927.128.057.298.823.206.640.998.877.202.78 USD 1.111.281.58 USD 228.58 691.55 USD 15.81 448.213.92 Rp4.689.899.998.787.009.207.131.06 USD 1.97 USD 85.223.997.581.58 633.035.550.348.00 54.057.17 Rp457.251.035.000.966.70 Rp57.459. Instansi Pusat Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009 .717.000.17 USD 212.000.53 USD 15. Tabel 25.025.892.493.424.74 USD 15.00 15.998.058.316.026.254.00 9.459.367.06 USD 1.352.1 Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat TAHUN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUGIAN JML 1 207 92 300 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 8 146 292 446 NILAI 30.

96 PELUNASAN JML NILAI 43 245.42 1.23 27.22%.16 631.553 kasus senilai Rp196.580.484.450.626. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada BUMD selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.00 1 1 1 1 16.681.740.407.793.90 7.00 36.573.596.41 %.693.202.892.757.516.564.580.456.010.634.69 2.00 36.521.414. Tabel 25.019.992.876.46 83.810 (dalam rupiah) SISA NILAI 13.239.237 697 15 2.796.68 2.279 1.595.735.768.367.21 4.610.905.790.457.580.580.995.340.62 6.00 16.775.102.000.089.91 5.516.005.00 54.954.660.795 645 8 2.485.357.302.756.431.580.261.56 6.202.326.350.947.166.061.2 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah THN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUG NEGARA/ DAERAH JML 264 1.147 462 2.749.440.610.350.234 93.610.034.00 16.00 TOTAL KERUGIAN NILAI 1 1 2 2 1 2 3 46.257.255 Pemerintah Daerah Kasus kerugian daerah yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009-2010 yaitu sebanyak 3.482.957.80 515.647 23.735.354.220.450.681.446.37 87.105 37 1.440.00 16.332.862.91 799 6 835 43 353 41 7 444 73 1.371.45 80.110.175.21 3.872.595.32 83.610.046.293.874.40 21.61 20.790.281 14.60 23.837.3 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD TAHUN KEJADIAN SUBJEK KERUG.502.00 154.26 2. Tabel 25.220.406 198 1.740.731.076.919.00 46.350.166.50 miliar atau sebesar 23.022 kasus senilai Rp45.02 35.326.918.644.00 107.540.860.268.656 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 362 1.992.580.746.00 7.512.869.00 207 2 252 57 340 87 7 491 100 547 89 7 743 532.735.34 1.595.740.400 39.945.237.760.852.08 juta atau sebesar 34.735.86 28.440.879 9.00 46.113.488.05 3.00 107.00 JML PELUNASAN NILAI 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2009 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH . NEG/DAE JML 2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2010 (dalam rupiah) SISA JML 1 1 1 1 1 1 2 NILAI 46.928 38.345.838.58 10.515.634 93.126. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.847.001.033.644.00 JML PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 1 1 1 1 36.790.154 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 141 897 610 8 1.344.706.820 40.00 miliar dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2.00 27.487.320.380.725.267.00 36.487.22 385.440.534.734 116.560 25.089.000.51 24.259.49 2.733.790.238.00 46.515.085 196.578.449.350.000.00 6.92 7.00 54.878.342 734 15 3.683.00 54.508.418.00 101.380 PEMBAYARAN ANGSURAN JML NILAI 30 1.128.26 juta dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2 kasus senilai Rp53.381.231.915.492.950.55 7.152 47 7 1.909.97 7.739.228.853.553 NILAI 15.625.38 JML 221 898 35 1.00 37.095.00 46.740.000.751.681.085 156.470.345.855 107.987.938.764.783.00 107.576.50 122.199.128.938.572.414.000.941.50 150.42 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kasus kerugian daerah yang terjadi di BUMD dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 terdapat kerugian daerah sebanyak 3 kasus senilai Rp154.707.000.

maupun dari BPKP (APIP).256 Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya Pada Semester II Tahun 2010 belum terdapat data mengenai kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya pada badan pengelola keuangan lainnya seperti badan hukum milik negara (BHMN) dan badan layanan umum (BLU). Belum tersusunnya database/daftar kerugian negara/daerah di masing-masing instansi. Jangka waktu penggantian tidak memperhatikan masa pensiun (taspen) sehingga tidak dapat tertagih setelah tidak aktif (pensiun). Kesulitan tentang identitas pribadi pihak yang bertanggung jawab misal karena pihak terkait tidak diketahui keberadaannya. meninggal. Belum optimalnya tindak lanjut oleh TPKN/D atas informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan BPK. • • • • • • • • • • • • • . Inspektorat Jenderal. Penanggung jawab tidak beritikad baik menyelesaikan/mengembalikan. Proses penyelesaian berlarut-larut karena penanggung jawab tidak ada. Pelaporan kerugian negara/daerah belum sesuai ketentuan. Permasalahan Dalam Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah antara lain: • Belum terbitnya ketentuan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain sehingga menimbulkan ketidakseragaman dalam penyelesaian atau pengenaan kerugian negara/daerah. Belum optimalnya dukungan pimpinan instansi atas keberadaan dan kinerja TPKN/D. hasil pengawasan/ pemeriksaan Bawasda. Belum maksimalnya koordinasi antara inspektorat dengan TPKN/D dalam menindaklanjuti penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. Belum aktifnya kinerja TPKN/D. Proses penilaian dan/atau penetapan kerugian negara belum sesuai dengan ketentuan. Kasus kerugian tidak ditindaklanjuti sehingga memasuki masa daluwarsa. penanggung jawab tidak jelas identitasnya. Belum optimalnya pendokumentasian/administrasi berkaitan dengan data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya.

Kejaksaan. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1.90%). dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemberian pemahaman tentang pengenaan dan penyelesaian ganti kerugian negara kepada pimpinan. Rincian pemantauan hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian/pidana dapat dilihat pada tabel berikut. proses gelar perkara dan banding/kasasi. penyidikan sebanyak 2 kasus (1. Koordinasi internal dan eksternal untuk mencapai pemulihan kerugian negara/ daerah yang optimal. bertanggung jawab tercapai. Sisa kasus sebanyak 97 kasus (92. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan. Pemahaman kepada pimpinan unit kerja tentang pentingnya pelaporan kerugian negara/daerah dalam rangka penyelesaian kerugian negara/daerah sehingga pemulihan kerugian negara/daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan negara/daerah yang transparan. akuntabel. putusan hakim sebanyak 2 kasus (1. mewajibkan BPK untuk melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi tindak pidana kepada instansi yang berwenang. BPK merekomendasikan: • • • Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain.11 triliun dan USD11. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus (2. Sejak tahun 2003 BPK telah melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu Kepolisian Negara RI.90%). instansi yang berwenang (Kepolisian. .06 juta.38%) merupakan kasus yang belum ditindaklanjuti. proses pengumpulan bahan dan koordinasi.95%). pejabat dan pelaksana tugas penyelesaian kerugian negara/daerah. • • Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara. Pimpinan instansi memberikan dukungan berkaitan dengan keberadaan dan kinerja TPKN/D.257 Rekomendasi Terhadap permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah. dalam proses penelaahan. Kejaksaan. Dari 105 kasus yang diserahkan tersebut. profesional.86%). penuntutan sebanyak 1 kasus (0. Tahun 2009 dan Tahun 2010.

393.41 797.136.99 453.917.556.834.112.067.463. Aparat Penegak Hukum Total Nilai (Rp) Total Nilai (USD) Dilimpahkan *) Penyelidikan Penyidikan Proses Hukum Penuntutan Lainlain Jumlah yang telah diserahkan 2 2 Tahun Total Temuan Vonis SP3 1 Polri Total Kepolisian 2009 2010 2 2 20 15 35 22 46 68 105 16.19 216.00 11.75 82.63 9.00 1.576.68 315.19 16.40 8.980.258 Tabel 25.700.56 394.98 1.04 - 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 17 15 32 17 46 63 97 - 2 Kejaksaan Total Kejaksaan 2009 2010 20 15 35 22 46 68 105 3 KPK Total KPK TOTAL 2009 2010 *) Pelimpahan (Limpah) yaitu penyerahan penanganan kasus dari satu instansi yang berwenang ke instansi yang berwenang lainnya atau dari instansi yang berwenang pusat ke instansi vertikal dibawahnya sebelum proses penyelidikan.50 402.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana (dalam juta rupiah dan ribu valas) Kasus No. .153.74 298.150.04 1.136.546.

Lampiran IHPS II Tahun 2010 .

Padang Lawas Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Tengah Kab. Sumatera Utara Kab. Pidie Jaya Kab. Bener Meriah Kab.Halaman 1 . Tapanuli Selatan Kab. Toba Samosir Kota Binjai 1 WDP 1 1 WDP TW 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP TW WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 1 1 TMP WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 TMP 13 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP TW 1 . Tapanuli Utara Kab. Aceh Jaya Kab. Humbang Hasundutan Kab. Pidie Kab. Aceh Utara Kab. Nagan Raya Kab. Serdang Bedagai Kab. Asahan Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Samosir Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Prov. Tapanuli Tengah Kab. Nias Utara Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Simalungun Kab. Pakpak Bharat Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Timur Kab. Labuhanbatu Kab. Gayo Lues Kab. Dairi Kab. Aceh Singkil Kab. Bireuen Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Aceh Tamiang Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Aceh Kab. Nias Barat Kab. Padang Lawas Utara Kab. Nias Selatan Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 WTP WTP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP TW 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 WTP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 10 14 1 WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP Entitas Pemerintah Daerah Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total Prov. Karo Kab. Batubara Kab. Nias Kab. Aceh Tenggara Kab. Deli Serdang Kab.Lampiran 1a Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No 1 Prov. Aceh Barat Kab. Aceh Barat Daya Kab.

Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Pasaman Kab. Kepulauan Meranti Kab. Sumatera Barat Kab. Mentawai Kab. Kep. Batanghari Kab. Jambi Kab. Sarolangun 1 WDP 10 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 1 WDP 2 12 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP 2 . Bungo Kab. Bengkalis Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Prov. Solok Kab. Indragiri Hulu Kab. Agam Kab. Muaro Jambi Kab. Dharmasraya Kab. Kuantan Singingi Kab. Pesisir Selatan Kab. Kampar Kab. Riau Kab. Sijunjung Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 92 93 94 95 96 97 98 Prov. Kerinci Kab. Pelalawan Kab.Lampiran 1a No 28 29 30 31 32 33 34 3 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total * TMP WDP TMP WDP WDP WDP Prov. Rokan Hilir Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 4 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Merangin Kab. Lima Puluh Kota Kab. Indragiri Hilir Kab. Solok Selatan Kab. Rokan Hulu Kab. Pasaman Barat Kab.Halaman 2 . Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 4 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 8 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 5 Prov. Padang Pariaman Kab.

Lampung Timur Kab. Rejang Lebong Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Prov. Ogan Ilir Kab.Halaman 3 . Bengkulu Selatan Kab. Bengkulu Tengah Kab. Tanggamus Kab. Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Banyuasin kab. Lampung Selatan Kab. Kepahiang Kab. Kaur Kab. Mesuji Kab. Bengkulu Utara Kab. Seluma Kota Bengkulu 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 0 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 8 Prov. Pringsewu Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 Prov. Tanjung Jabung Barat Kab. Bengkulu Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Prov. Tulang Bawang Barat Kab. Tulang Bawang Kab. Lampung Tengah Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Lampung Barat Kab. Musi Rawas Kab. Lampung Utara Kab. Pesawaran Kab. Musi Banyuasin Kab. Muko-Muko Kab. Lampung Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP 1 WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 No 8 9 10 11 12 6 99 100 101 102 103 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Total WDP WDP WDP WDP WTP Prov. Sumatera Selatan Kab. Empat Lawang Kab. Ogan Komering Ulu Timur Kota Lubuk Linggau Kota Pagar Alam Kota Palembang Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 WDP 12 1 WDP 1 1 TW TW 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Lahat Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP 1 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP 0 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 3 . Lebong Kab. Tanjung Jabung Timur Kab.

Kepulauan Anambas Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Prov. Sukabumi Kab. Karawang Kab. Belitung Timur Kota Pangkal Pinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 Prov. Indramayu Kab. Bekasi Kab. Bangka Belitung Kab. Cirebon Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 147 148 149 150 151 152 153 Prov. Bogor Kab. Belitung Kab. Garut Kab. Kuningan Kab. Bintan Kab. Bangka Tengah Kab. Ciamis Kab. Natuna Kota Batam Kota Tanjungpinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 11 Prov. DKI 1 1 WDP 0 1 1 WDP 12 Prov. Jawa Barat Kab. Majalengka Kab. Karimun Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 9 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Bandung Barat Kab. Bangka Kab. Bandung Kab. Lingga Kab. Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 WDP TMP 8 19 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 . Subang Kab. Bangka Selatan Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 155 156 157 158 159 160 161 Prov. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov.Halaman 4 . Cianjur Kab. Bangka Barat Kab. Purwakarta Kab. Sumedang Kab. Kepulauan Riau Kab.

Kulon Progo Kab. Klaten Kab. D.Halaman 5 . Sukoharjo Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 227 228 229 230 231 Prov. Kudus Kab.I. Bojonegoro 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 0 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 5 . Jawa Tengah Kab. Kebumen Kab. Blora Kab. Magelang Kab. Purworejo Kab. Bantul Kab. Wonogiri Kab. Jawa Timur Kab. Kendal Kab. Grobogan Kab. Tegal Kab. Boyolali Kab. Sragen Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 232 233 234 235 236 Prov. Semarang Kab. Bangkalan Kab. Pekalongan Kab. Sleman Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 0 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Banjarnegara Kab. Banyumas Kab. Blitar Kab. Batang Kab.I. Pemalang Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 2 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 Prov. Jepara Kab. Gunung Kidul Kab. Purbalingga Kab. Demak Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 13 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Cilacap Kab. Temanggung Kab. Karanganyar Kab. Yogyakarta Kab. Banyuwangi Kab. Brebes Kab. Rembang Kab. D. Pati Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Prov.

Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 0 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 17 Prov.Halaman 6 . Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Prov. Pandeglang Kab. Pacitan Kab. Ponorogo Kab. Mojokerto Kab. Nganjuk Kab. Madiun Kab. Malang Kab. Buleleng Kab. Banten Kab. Situbondo Kab. Jombang Kab. Bali Kab. Trenggalek Kab. Serang Kab. Jembrana 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 0 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 6 . Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 280 281 282 283 284 285 Prov. Sampang Kab. Ngawi Kab. Probolinggo Kab. Pamekasan Kab. Gresik Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 16 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Sidoarjo Kab. Gianyar Kab. Kediri Kab. Sumenep Kab. Tulungagung Kota Batu Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW Prov. Magetan Kab. Badung Kab. Lebak Kab. Lamongan Kab. Bangli Kab. Jember Kab. Tuban Kab. Lumajang Kab. Pasuruan Kab. Bondowoso Kab.

Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 Prov. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Prov. Kapuas Hulu Kab Kayong Utara Kab. Ngada Kab. Sumbawa Kab. Pontianak Kab. Landak Kab. Kupang Kab. Manggarai Barat Kab. Bima Kab. Timor Tengah Utara Kota Kupang 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 TMP 17 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP 1 TMP 4 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 20 Prov. Lombok Barat Kab. Nagekeo Kab. Lombok Tengah Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Lembata Kab. Flores Timur Kab. Sumba Timur Kab. Melawi Kab. Sambas 1 1 1 TW WDP WDP 1 1 WDP TW 1 TW 7 8 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP 7 . Sumba Barat Daya Kab. Ende Kab. Klungkung Kab. Sikka Kab. Sumba Tengah Kab. Lombok Utara Kab. Alor Kab. Dompu Kab. Sumba Barat Kab. Bengkayang Kab. Nusa Tenggara Barat Kab. Manggarai Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 No 7 8 9 10 18 286 287 288 289 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Sabu Raijua Kab. Tabanan Kota Denpasar Total WDP WDP WDP WDP Prov. Kubu Raya Kab. Sumbawa Barat Kota Bima Kota Mataram 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 1 WDP 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Lombok Timur Kab. Belu Kab. Nusa Tenggara Timur Kab. Kalimantan Barat Kab.Halaman 7 . Rote Ndao Kab. Manggarai Timur Kab. Ketapang Kab. Karangasem Kab.

Hulu Sungai Selatan Kab. Nunukan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 WDP 1 TW TMP WDP 1 1 1 1 1 No 11 12 13 14 15 21 333 334 335 336 337 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Barito Selatan Kab. Tana Tidung Kota Balikpapan Kota Bontang 1 1 1 1 1 TW TW TW TMP WDP 1 WDP 9 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TW TMP TMP WDP 6 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP 8 . Tanah Bumbu Kab. Tabalong Kab. Berau Kab. Pulang Pisau Kab. Sukamara Kota Palangkaraya 1 1 TW TW 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW 1 TMP 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW TMP TW TW 22 Prov. Sanggau Kab. Barito Utara Kab. Katingan Kab. Balangan Kab. Banjar Kab. Kutai Kartanegara Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Bulungan Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Total WDP TMP WDP WDP TW Prov. Tapin Kota Banjarbaru Kota Banjarmasin 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 TW TW WDP WDP WDP 1 WDP 10 1 WDP 1 WDP 4 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Kotabaru Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 Prov. Seruyan Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 Prov.Halaman 8 . Kotawaringin Timur Kab. Sekadau Kab. Kutai Barat Kab. Malinau Kab. Kutai Timur Kab. Barito Kuala Kab. Lamandau Kab. Kapuas Kab. Kalimantan Selatan Kab. Barito Timur Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Prov. Tanah Laut Kab. Kalimantan Tengah Kab. Paser Kab. Kalimantan Timur Kab. Murung Raya Kab. Gunung Mas Kab. Kotawaringin Barat Kab. Penajam Paser Utara Kab.

Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 Prov. Banggai Kepulauan Kab. Sulawesi Tengah Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 Prov. Kepulauan Talaud Kab. Bolaang Mongondow Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 WDP TW 1 1 No 14 15 24 380 381 Entitas Pemerintah Daerah Kota Samarinda Kota Tarakan Total TW WDP Prov. Sulawesi Selatan Kab. Donggala Kab. Minahasa Selatan Kab. Luwu Timur Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Kep. Kepulauan Sangihe Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Siau Tagulandang Biaro Kab. Minahasa Kab. Sinjai 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 14 1 WDP 1 WDP 11 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 9 . Minahasa Tenggara Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 Prov. Bantaeng Kab. Enrekang Kab. Bone Kab. Luwu Kab. Gowa Kab. Sigi Kab. Sulawesi Utara Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Pangkajene dan Kepulauan Kab. Jeneponto Kab. Pinrang Kab. Maros Kab. Poso Kab. Luwu Utara Kab. Toli-Toli Kota Palu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 0 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Minahasa Utara Kota Bitung Kota Kotamobagu Kota Manado Kota Tomohon 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 TW 1 1 1 1 1 WDP TW WDP TMP WDP 1 1 TW TMP 12 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW TMP WDP WDP WDP TW TW 25 Prov. Kep. Morowali Kab. Barru Kab. Buol Kab. Parigi Moutong Kab. Sidenreng Rappang Kab.Halaman 9 . Tojo Una-Una Kab. Banggai Kab. Bolaang Mongondow Utara Kab.

Tana Toraja Kab.Halaman 10 . Maluku Kab. Kolaka Kab. Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP Prov. Gorontalo Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 Prov. Kolaka Utara Kab. Mamasa Kab. Bombana Kab. Seram Bagian Barat Kab. Bone Bolango Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Kepulauan Aru Kab. Polewali Mandar 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 5 1 WDP 1 WDP 1 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Mamuju Kab. Maluku Tengah Kab. Gorontalo Utara Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 449 450 451 452 453 454 Prov. Soppeng Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 No 18 19 20 21 22 23 24 25 27 427 428 429 430 431 432 433 434 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Takalar Kab. Konawe Selatan Kab. Toraja Utara Kab. Gorontalo Kab. Buton Kab. Buton Utara Kab. Muna Kab. Buru Kab. Maluku Tenggara Kab. Maluku Barat Daya Kab. Mamuju Utara Kab. Konawe Kab. Majene Kab. Wakatobi Kota Bau-Bau Kota Kendari 1 1 1 1 TMP TW TMP WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 TMP 8 1 TMP 1 TMP 5 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Maluku Tenggara Barat Kab. Pohuwato Kota Gorontalo 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 0 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 Prov. Boalemo Kab. Konawe Utara Kab. Sulawesi Barat Kab. Seram Bagian Timur Kota Ambon 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 0 9 1 1 1 TMP TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP 10 . Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 456 457 458 459 460 Prov. Buru Selatan Kab.

Papua Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 513 514 515 516 517 518 Prov. Halmahera Utara Kab. Mappi Kab. Papua Kab. Paniai Kab. Merauke Kab. Kepulauan Sula Kab. Nduga Kab. Halmahera Tengah Kab. Dogiyai Kab. Halmahera Barat Kab. Jayawijaya Kab. Raja Ampat 1 TMP 1 1 TMP 1 WDP 2 7 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP * TMP 11 . Papua Barat Kab. Tolikara Kab. Fakfak Kab.Halaman 11 . Puncak Kab. Waropen Kab. Intan Jaya Kab. Maluku Utara Kab. Keerom Kab. Mamberamo Raya Kab. Yalimo Kota Jayapura 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 9 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 13 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Kepulauan Yapen Kab. Pulau Morotai Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan 1 TW 1 WDP 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Yahukimo Kab. Maybrat Kab. Nabire Kab. Biak Numfor Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 Prov. Halmahera Selatan Kab. Supiori Kab. Mimika Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 TMP 1 No 12 31 472 Entitas Pemerintah Daerah Kota Tual Total TMP Prov. Pegunungan Bintang Kab. Jayapura Kab. Deiyai Kab. Mamberamo Tengah Kab. Manokwari Kab. Puncak Jaya Kab. Kaimana Kab. Halmahera Timur Kab. Asmat Kab. Lanny Jaya Kab. Boven Digoel Kab. Sarmi Kab.

Tambrauw Kab. Teluk Wondama Kota Sorong JUMLAH Total TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 12 .Halaman 12 .Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 348 WDP 151 TMP TMP TMP 1 1 1 1 499 No 7 8 9 10 11 12 519 520 521 522 523 524 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Teluk Bintuni Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab.

Bireuen Kab. Serdang Bedagai Kab. Aceh Barat Kab. Pidie Jaya Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 18 22 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 22 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WTP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WTP WDP WTP WDP WTP WTP WTP WTP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Deli Serdang Kab. Aceh Jaya Kab. Asahan Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Prov. Humbang Hasundutan Kab. Gayo Lues Kab.Halaman 1 . Simalungun 1 WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 1 WDP TW TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 26 1 1 TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP WDP WDP TMP TMP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP TMP 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP 13 . Aceh Tengah Kab. Karo Kab. Labuhanbatu Kab. Padang Lawas Kab. Batubara Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tamiang Kab. Nias Kab. Nagan Raya Kab.Lampiran 1b Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005 . Mandailing Natal Kab. Sumatera Utara Kab.2009 No. Nias Barat Kab. Langkat Kab. Nias Utara Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Dairi Kab. Aceh Besar Kab. 1 Prov. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Pidie Kab. Bener Meriah Kab. Aceh Kab. Pakpak Bharat Kab. Nias Selatan Kab. Aceh Selatan Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Padang Lawas Utara Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Aceh Tenggara Kab. Samosir Kab.

Kuantan Singingi Kab. Mentawai Kab. Pasaman Barat Kab. Bengkalis Kab. Pesisir Selatan Kab. Rokan Hilir Kab. Indragiri Hilir Kab. Sijunjung Kab. Agam Kab. Riau Kab. Solok Kab. Dharmasraya Kab. Rokan Hulu Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Toba Samosir Kota Binjai Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi LKPD 2005 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP TW * TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Prov.Halaman 2 . Indragiri Hulu Kab.Lampiran 1b No. Pasaman Kab. Solok Selatan Kab. Tapanuli Utara Kab. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 3 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Kampar Kab. Lima Puluh Kota Kab. Tapanuli Tengah Kab. Kepulauan Meranti Kab. Tapanuli Selatan Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Prov. Padang Pariaman Kab. Kep. Siak Kota Dumai 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 WDP 9 1 WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 . Sumatera Barat Kab. Pelalawan Kab.

Bengkulu Utara 124 Kab. Muaro Jambi Kab. Merangin Kab. Bengkulu Selatan 122 Kab. Bengkulu 121 Kab. Tanjung Jabung Barat 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 WDP WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP 100 Kab. Muko-Muko 128 Kab. Lahat 108 Kab. Jambi Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 Prov. Tebo 102 Kota Jambi 103 Kota Sungai Penuh 6 Prov.Halaman 3 . Musi Rawas 111 Kab. Batanghari Kab. Rejang Lebong 129 Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 Prov. Tanjung Jabung Timur 101 Kab. Kaur 125 Kab. Musi Banyuasin 110 Kab. Bengkulu Tengah 123 Kab. Kepahiang 126 Kab. Lebong 127 Kab.Lampiran 1b No. Ogan Ilir 112 Kab. Seluma 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 6 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 15 . Kerinci Kab. Ogan Komering Ilir 113 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan 115 Kab. Bungo Kab. Sumatera Selatan 105 Kab. Empat Lawang 107 Kab. 13 5 91 Entitas Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru LKPD 2005 1 WDP LKPD 2006 1 WDP LKPD 2007 1 WDP LKPD 2008 1 WTP LKPD 2009 1 WDP Prov. Ogan Komering Ulu Timur 116 Kota Lubuk Linggau 117 Kota Pagar Alam 118 Kota Palembang 119 Kota Prabumulih 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 WDP TMP 15 1 1 WDP WDP 15 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Sarolangun Kab. Muara Enim 109 Kab. Banyuasin 106 kab. Ogan Komering Ulu 114 Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 92 93 94 95 96 97 98 99 Prov.

Lampung Barat 133 Kab. Lingga 159 Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 Prov. Bintan 156 Kab. Bangka Belitung 147 Kab. Lampung 132 Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Belitung Timur 153 Kota Pangkal Pinang 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 6 8 8 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Prov. Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 8 Prov. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 163 Prov. Bekasi 167 Kab. Bandung 165 Kab. Tulang Bawang 142 Kab. Pringsewu 140 Kab. Karimun 157 Kab. Bangka 148 Kab. Jawa Barat 164 Kab. Lampung Selatan 134 Kab. Bangka Tengah 151 Kab. DKI 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 WDP 1 WDP 1 12 Prov. Tanggamus 141 Kab. Kepulauan Anambas 158 Kab. Natuna 160 Kota Batam 161 Kota Tanjungpinang 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 5 7 7 WDP TMP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 1 11 Prov.Lampiran 1b No. Kepulauan Riau 155 Kab. Bangka Barat 149 Kab. Tulang Bawang Barat 143 Kab. Bangka Selatan 150 Kab.Halaman 4 . Bogor 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 23 26 26 WDP WDP 1 1 WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 16 . Way Kanan 144 Kota Bandar Lampung 145 Kota Metro 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 11 11 11 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 9 Prov. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 Prov. Lampung Utara 137 Kab. Bandung Barat 166 Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 Prov. Pesawaran 139 Kab. Belitung 152 Kab. Lampung Tengah 135 Kab. Mesuji 138 Kab. Lampung Timur 136 Kab.

Karawang 174 Kab. Banyumas 193 Kab.Lampiran 1b No. Batang 194 Kab. Klaten 205 Kab. Majalengka 176 Kab. Sukoharjo 216 Kab. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 13 Entitas Pemerintah Daerah 168 Kab. Garut 172 Kab. Ciamis 169 Kab. Rembang 213 Kab. Sumedang 180 Kab. Tasikmalaya 181 Kota Bandung 182 Kota Banjar 183 Kota Bekasi 184 Kota Bogor 185 Kota Cimahi 186 Kota Cirebon 187 Kota Depok 188 Kota Sukabumi 189 Kota Tasikmalaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Kendal 204 Kab. Sragen 215 Kab. Blora 195 Kab. Brebes 197 Kab. Purworejo 212 Kab. Cilacap 198 Kab. Banjarnegara 192 Kab. Kuningan 175 Kab.Halaman 5 . Jepara 201 Kab. Pemalang 210 Kab. Kebumen 203 Kab. Magelang 207 Kab. Pati 208 Kab. Subang 178 Kab. Kudus 206 Kab. Semarang 214 Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 190 Prov. Jawa Tengah 191 Kab. Pekalongan 209 Kab. Tegal 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WTPDPP 17 . Sukabumi 179 Kab. Cirebon 171 Kab. Grobogan 200 Kab. Boyolali 196 Kab. Demak 199 Kab. Cianjur 170 Kab. Karanganyar 202 Kab. Purbalingga 211 Kab. Indramayu 173 Kab. Purwakarta 177 Kab.

Sampang 256 Kab. Madiun 245 Kab. 28 29 30 31 32 33 34 35 36 14 Entitas Pemerintah Daerah 217 Kab. Ponorogo 254 Kab.Lampiran 1b No.I. Kediri 242 Kab. D. Tulungagung 262 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 26 1 WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TW WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP TW WDP TW WDP TMP WDP WDP TMP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 18 . Pamekasan 252 Kab. Blitar 236 Kab. Kulon Progo 230 Kab. Wonosobo 220 Kota Magelang 221 Kota Pekalongan 222 Kota Salatiga 223 Kota Semarang 224 Kota Surakarta 225 Kota Tegal LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP Prov. D. Sumenep 259 Kab. Jombang 241 Kab. Nganjuk 249 Kab. Yogyakarta 227 Kab. Sidoarjo 257 Kab. Sleman 231 Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Temanggung 218 Kab. Malang 247 Kab. Gunung Kidul 229 Kab.I. Pacitan 251 Kab.Halaman 6 . Ngawi 250 Kab. Bondowoso 238 Kab. Bangkalan 234 Kab. Gresik 239 Kab. Bojonegoro 237 Kab. Banyuwangi 235 Kab. Wonogiri 219 Kab. Trenggalek 260 Kab. Mojokerto 248 Kab. Jawa Timur 233 Kab. Magetan 246 Kab. Bantul 228 Kab. Pasuruan 253 Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 232 Prov. Tuban 261 Kab. Jember 240 Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 Prov. Lamongan 243 Kab. Situbondo 258 Kab. Probolinggo 255 Kab. Lumajang 244 Kab.

Tabanan 289 Kota Denpasar 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP 18 Prov. Jembrana 286 Kab. Bangli 283 Kab. Sumbawa Barat 299 Kota Bima 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Sumbawa 298 Kab. Karangasem 287 Kab. Lombok Barat 294 Kab. Lombok Timur 296 Kab. Tangerang 276 Kota Cilegon 277 Kota Serang 278 Kota Tangerang 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WTP 7 7 7 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WTP 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 17 Prov.Lampiran 1b No. Badung 282 Kab. Lombok Utara 297 Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 Prov. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 280 Prov. Bima 292 Kab. Gianyar 285 Kab. Banten 272 Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 301 Prov. Pandeglang 274 Kab. Lombok Tengah 295 Kab. Lebak 273 Kab. Alor 15 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 21 1 1 WDP TMP 19 . Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 Prov. Serang 275 Kab. Buleleng 284 Kab. Nusa Tenggara Barat 291 Kab. Nusa Tenggara Timur 302 Kab. 32 33 34 35 36 37 38 39 16 Entitas Pemerintah Daerah 263 Kota Blitar 264 Kota Kediri 265 Kota Madiun 266 Kota Malang 267 Kota Mojokerto 268 Kota Pasuruan 269 Kota Probolinggo 270 Kota Surabaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 WDP WDP 1 1 1 Prov. Bali 281 Kab. Klungkung 288 Kab. Dompu 293 Kab.Halaman 7 .

Nagekeo 312 Kab. Murung Raya 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP TW WDP WDP TMP TW WDP TW WDP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TW WDP TW TW WDP TW TW TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TMP TW TW TW WDP WDP TW TW TW 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW 20 . Sintang 336 Kota Pontianak 337 Kota Singkawang 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WTP WDP WTP 1 TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WTP WTP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 11 1 1 1 TMP TMP WDP 13 1 1 1 TW TMP WDP 13 1 1 1 TMP TMP TW 14 1 1 1 1 1 TMP TW TW TMP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP WDP TMP WDP WDP TW 21 Prov. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 338 Prov. Sumba Timur 320 Kab. Rote Ndao 314 Kab. Timor Tengah Utara 322 Kota Kupang LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 TMP 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 Prov. Sekadau 335 Kab. Katingan 345 Kab. Timor Tengah Selatan 321 Kab. Sumba Barat 317 Kab. Sumba Barat Daya 318 Kab. Manggarai 309 Kab. Barito Utara 342 Kab. Kapuas Hulu 326 Kab Kayong Utara 327 Kab. Landak 330 Kab. Ketapang 328 Kab. Sumba Tengah 319 Kab. Kotawaringin Timur 347 Kab. Manggarai Timur 311 Kab. Flores Timur 306 Kab. Gunung Mas 343 Kab. Manggarai Barat 310 Kab. Lamandau 348 Kab. Barito Timur 341 Kab. Sabu Raijua 315 Kab. Sambas 333 Kab. Kalimantan Tengah 339 Kab. Ende 305 Kab. Pontianak 332 Kab.Halaman 8 . Kalimantan Barat 324 Kab. Sikka 316 Kab. Kupang 307 Kab. Kapuas 344 Kab. Sanggau 334 Kab. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 20 Entitas Pemerintah Daerah 303 Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 323 Prov. Kubu Raya 329 Kab. Lembata 308 Kab. Belu 304 Kab. Barito Selatan 340 Kab. Ngada 313 Kab. Kotawaringin Barat 346 Kab.Lampiran 1b No. Bengkayang 325 Kab. Melawi 331 Kab.

Hulu Sungai Tengah 359 Kab. Balangan 355 Kab. Barito Kuala 357 Kab. Bulungan 370 Kab. Bolaang Mongondow Utara 387 Kab. Sukamara 352 Kota Palangkaraya LKPD 2005 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 TW TMP TW TW Prov.Lampiran 1b No. Nunukan 375 Kab. Bolaang Mongondow Timur 386 Kab. 12 13 14 15 22 Entitas Pemerintah Daerah 349 Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 367 Prov. Tabalong 362 Kab. Hulu Sungai Utara 360 Kab. Tanah Laut 364 Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 Prov. Kalimantan Selatan 354 Kab. Paser 376 Kab. Siau Tagulandang Biaro 389 Kab. Bolaang Mongondow 384 Kab. Tapin 365 Kota Banjarbaru 366 Kota Banjarmasin 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 13 1 WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TW TW WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TW WDP WDP WDP WDP TW TW WDP TW WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Penajam Paser Utara 377 Kab. Tanah Bumbu 363 Kab. Kutai Barat 371 Kab. Tana Tidung 378 Kota Balikpapan 379 Kota Bontang 380 Kota Samarinda 381 Kota Tarakan 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TW TW TMP TMP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 WDP TW WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TMP TW TW TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TW WDP TW WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP TW WDP 24 Prov.Halaman 9 . Pulang Pisau 350 Kab. Banjar 356 Kab. Kalimantan Timur 368 Kab. Hulu Sungai Selatan 358 Kab. Kutai Timur 373 Kab. Seruyan 351 Kab. Berau 369 Kab. Kutai Kartanegara 372 Kab. Kep. Kepulauan Sangihe 388 Kab. Minahasa 391 Kab. Kotabaru 361 Kab. Bolaang Mongondow Selatan 385 Kab. Kepulauan Talaud 390 Kab. Minahasa Selatan 1 1 WDP TMP 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 WDP 1 WDP 1 TMP **** TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP TW 8 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP WDP 14 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW 21 . Sulawesi Utara 383 Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 382 Prov. Malinau 374 Kab.

Enrekang 416 Kab. Maros 423 Kab. Tojo Una-Una 408 Kab.Halaman 10 . Sulawesi Tengah 399 Kab. 11 12 13 14 15 16 25 Entitas Pemerintah Daerah 392 Kab. Poso 406 Kab. Donggala 403 Kab.Lampiran 1b No. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 410 Prov. Minahasa Utara 394 Kota Bitung 395 Kota Kotamobagu 396 Kota Manado 397 Kota Tomohon LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 1 TMP WDP WDP WDP WDP TW LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TW TW 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 TMP WDP TW TMP 1 1 1 1 TMP WDP **** TMP WDP 1 1 1 1 1 Prov. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 Prov. Buol 402 Kab. Barru 413 Kab. Tana Toraja 430 Kab. Bulukumba 415 Kab. Banggai Kepulauan 401 Kab. Sidenreng Rappang 426 Kab. Bone 414 Kab. Selayar 419 Kab. Banggai 400 Kab. Jeneponto 418 Kab. Toraja Utara 431 Kab. Pinrang 425 Kab. Toli-Toli 409 Kota Palu 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 WTP DPP 1 1 WTP WTP DPP 8 1 1 1 WDP WDP WTP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP TMP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Luwu Timur 421 Kab. Kep. Bantaeng 412 Kab. Luwu 420 Kab. Wajo 432 Kota Makassar 433 Kota Palopo 434 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 22 . Gowa 417 Kab. Sigi 407 Kab. Takalar 429 Kab. Morowali 404 Kab. Pangkajene dan Kepulauan 424 Kab. Luwu Utara 422 Kab. Sulawesi Selatan 411 Kab. Soppeng 428 Kab. Minahasa Tenggara 393 Kab. Sinjai 427 Kab. Parigi Moutong 405 Kab.

Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 Prov. Maluku 462 Kab. Sulawesi Tenggara 436 Kab. Kolaka Utara 441 Kab. Muna 445 Kab. Konawe Selatan 443 Kab. Maluku Tengah 467 Kab. Buru Selatan 464 Kab. Mamasa 458 Kab.Lampiran 1b No. Bone Bolango 451 Kab. Kolaka 440 Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 461 Prov. Majene 457 Kab. Maluku Barat Daya 466 Kab. Konawe Utara 444 Kab. Wakatobi 446 Kota Bau-Bau 447 Kota Kendari 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TW 1 WTP 8 1 WTP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW TW TMP TMP TMP TMP TMP TW TW 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Gorontalo Utara 453 Kab. Buton Utara 439 Kab.Halaman 11 . Gorontalo 449 Kab. Buru 463 Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 Prov. Mamuju Utara 460 Kab. 27 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Polewali Mandar 1 1 WDP WDP 4 1 1 WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Mamuju 459 Kab. Buton 438 Kab. Maluku Tenggara Barat 469 Kab. Maluku Tenggara 468 Kab. Sulawesi Barat 456 Kab. Seram Bagian Barat 470 Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 Prov. Seram Bagian Timur 471 Kota Ambon 472 Kota Tual 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 4 1 1 WDP WDP 9 1 1 TMP WDP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP TMP 23 . Kepulauan Aru 465 Kab. Boalemo 450 Kab. Gorontalo 452 Kab. Konawe 442 Kab. Bombana 437 Kab. Pohuwato 454 Kota Gorontalo 1 1 WDP WDP 1 1 6 1 1 1 1 WTP WTP DPP WDP WDP 6 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP **** WDP WDP 7 1 1 1 1 1 1 1 WTP TMP WDP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov.

Deiyai 488 Kab. 31 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Halmahera Selatan 476 Kab. Waropen 510 Kab. Kepulauan Yapen 494 Kab. Pegunungan Bintang 504 Kab. Intan Jaya 490 Kab. Merauke 499 Kab.Lampiran 1b No. Puncak Jaya 506 Kab. Papua Barat 514 Kab. Kaimana 516 Kab. Supiori 508 Kab. Sarmi 507 Kab. Jayawijaya 492 Kab. Boven Digoel 487 Kab. Halmahera Barat 475 Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 Prov. Mamberamo Tengah 497 Kab. Halmahera Utara 479 Kab. Maluku Utara 474 Kab. Kepulauan Sula 480 Kab. Yalimo 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 1 TMP 1 1 1 1 TMP TW TW TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 1 TMP TMP 1 1 TMP WDP 1 1 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 WDP 1 1 1 TW TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 1 WDP 6 1 TW 18 1 1 1 1 TW TMP TW TMP 21 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Halmahera Tengah 477 Kab. Jayapura 491 Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 Prov. Nabire 501 Kab. Halmahera Timur 478 Kab. Keerom 493 Kab. Lanny Jaya 495 Kab. Pulau Morotai 481 Kota Ternate 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Paniai 503 Kab. Yahukimo 511 Kab. Mimika 500 Kab. Biak Numfor 486 Kab. Asmat 485 Kab. Nduga 502 Kab. Tolikara 509 Kab. Mamberamo Raya 496 Kab.Halaman 12 . Mappi 498 Kab. Manokwari 2 1 WDP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP 24 . Papua Barat LKPD 1 2 3 4 513 Prov. Dogiyai 489 Kab. Papua 484 Kab. Puncak 505 Kab. Fakfak 515 Kab.

Tambrauw 522 Kab. Sorong Selatan 521 Kab. Teluk Bintuni 523 Kab. Sorong 520 Kab. Maybrat 518 Kab. 5 6 7 8 9 10 11 12 Entitas Pemerintah Daerah 517 Kab.Halaman 13 . Raja Ampat 519 Kab. Teluk Wondama 524 Kota Sorong JUMLAH LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 * 1 1 1 1 1 362 WDP 1 463 TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 469 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 485 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 499 TMP TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 25 .Lampiran 1b No.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai 6 Lain-lain II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 754 455 208 10 74 6 1 530 210 69 149 26 42 30 4 176 90 64 16 4 2 Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 1.460 100.Lampiran 2 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 12.05 36.64 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 5 Lain-lain 26 .30 51.

284.20 22.Lampiran 3 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .565.42 144.82 27.88 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian 12 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.50 25.753.419.30 2.249.77 35.835.95 80.872.747.771.11 106.34 166.415.00 521.75 8.47 7.687.224.45 3.365.84 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 27 .14 276.87 152. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 10 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 31.08 8.155.99 59.558.252.572.752.80 476.377.24 8.29 54.16 5.64 24.16 30.52 207.32 43.32 370.12 94.18 3.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 729 76 16 155 101 26 71 90 15 143 6 3 27 119 7 5 24 2 14 3 3 39 2 20 398 321 17.839.142.72 83.317.125.80 46.92 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 6 Lain-lain IV Administrasi 65 1 3 5 3 862 364 37.132.077.Halaman 1 .42 38.924.13 % Nilai (juta Rp) 556.11 3.34 14.053.49 9.

66 1 Penggunaan kuantitas input untuk satu satuan output lebih besar/ tinggi dari yang seharusnya VII Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 137 73 5 32 3 15 5 4 2.384.00 1.60 4.20 13.53 477. 8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum 9 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 11 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 12 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 13 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 14 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 15 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1 93 54 71 28 58 6 25 74 1 4 69 1 1 0.430.320 5.60 0.30 91.352.19 95.42 4.933.33 6.33 7.03 4.929.84 61. perpajakan.86 6.91 195.113. pertambangan.00 28 .010.23 445.03 86.271.Lampiran 3 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 9 45 7 8 65 28 % Nilai (juta Rp) - % 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.04 3.761.326.027.76 131.63 33.48 100.Halaman 2 . dll.384.70 sehingga 100.761.

690.50 1.93 3.792.21 24. Aceh Tamiang 5 1 6 6 Kab.90 3. Bener Meriah 5 3 9 9 Kab.73 1.762 - Jml Kasus (20) 8 5 1 1 1 16 2 1 1 2 2 1 1 4 2 Nilai (21) 55. Pidie 6 2 11 11 Kab.75 5 844.75 2 395. Toba Samosir 7 2 11 25 Kota Binjai 4 2 12 26 Kota Medan 6 0 13 27 Kota Padangsidimpuan 5 2 14 28 Kota Pematangsiantar 9 5 15 29 Kota Sibolga 7 4 16 30 Kota Tanjungbalai 4 2 29 .482.386.191.80 3 651.399.99 5.53 Nilai (22) 52.06 6 1 1 2 7 1 1 1 1 1 1 1 2 19 102.22 3. Aceh Besar 5 3 4 4 Kab.36 1 42.364.57 - Nilai (23) - Nilai (24) 176.24 22.12 2 97.87 7 1.41 1 498.689.61 55.29 1 4 41 2 4 2 2 1 4 6 1 3 2 2 4 1 6 1 1 8 1. Aceh Barat Daya 5 2 3 3 Kab.560.80 1.152.06 108 49.56 2. Nias 7 5 4 18 Kab.456.62 16.453.93 2 2.14 88.589.50 557.28 3 76.119.968.14 1.789.99 5 421.437.446.077.00 52.364.220.70 1.82 1.26 21 1.30 801.929.40 3.738.13 3 322. Simalungun 10 6 8 22 Kab.312.72 89 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 3.13 2 9.47 1 75.192.20 1.734.09 7 14 175 130.25 75.42 6 381.328.80 3 14 754.87 4 517.24 2 2 9 151.Lampiran 4 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 38 8 2 2 1 1 5 4 2 1 2 4 2 4 44 1 6 1 3 3 3 3 4 3 4 2 1 2 4 2 2 13 1 6 32 1 11 5 21 20 4.737.50 11.60 291.27 317. Aceh Jaya 2 1 5 5 Kab.147.307.55 12 1.73 73.385.15 20.61 3.094.54 7.41 19.621.31 47.121.23 29. Nias Selatan 7 4 5 19 Kab.60 3 546.56 1.838.61 17.78 14 5.283.611.416.70 424.43 111.45 28 9.69 7 55.19 15.19 6.10 77.572.01 5 2.18 62.678.76 527.Halaman 1 .762 4.062.30 696.965.953.59 7 7 9 9 6 7 6 5 4 7 81 3 5 5 5 6 5 3 7 7 8 7 6 9 2 3 13 2.97 19.466.46 174.40 584.37 4 5 7 9 4 13 3 7 3 15 9.959.26 350.33 131.51 2.828.65 162.00 10 1.993.529.954.557.73 4 432.23 2.304.60 2.11 1 11 651.07 1 2 12 1.56 1 15 5.49 1 17.04 1 1.615.21 2 43.215.41 845.152.615.530.744.556.71 721.909.03 67.20 288.069.00 125.86 304.24 295. Tapanuli Tengah 10 6 10 24 Kab.66 1.01 5.144.540.52 6 1 19 7. Padang Lawas 7 2 6 20 Kab. Pidie Jaya 6 4 12 12 Kab.12 1 1 1 1 1 10 3. Aceh Tenggara 8 2 7 7 Kab.741.259.356.214.78 2.39 1 2 14 24.893.35 5. Padang Lawas Utara 8 2 7 21 Kab.75 2.175.240.579.08 462.91 1 659.21 429.61 573.25 22 259 116.107.49 2.34 1 15 10.85 2 2.11 39 6. Aceh Timur 9 5 8 8 Kab. Deli Serdang 10 3 3 17 Kab.36 95.01 3 625.724.055.05 3 917.038.25 1.25 3 13 9.38 1.03 30.61 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 90 38 1 1 Provinsi Aceh 15 5 2 2 Kab.27 841.84 1 1. Bireuen 5 3 10 10 Kab.86 3 1 13 3.02 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 - Nilai (19) 4.57 172.30 8.279.00 3.49 1.80 489.41 279.95 208.56 10.56 1 16 4.23 4 3 20 5.65 102.00 870.926.66 9 2 18 1.96 9 4.09 60.33 6 9 3. Tapanuli Selatan 14 7 9 23 Kab.01 3.82 5 1 14 671.59 1 11. Simeulue 7 2 13 13 Kota Langsa 4 2 14 14 Kota Subulussalam 8 3 2 Provinsi Sumatera Utara 124 58 1 15 Kab.56 4 2.00 1.16 4.119. Batubara 9 6 2 16 Kab.74 1 1 9 527.

398. Ciamis 5 4 6 54 Kab.33 4.49 13 5.60 4.67 2 496.241. Bandung Barat 13 9 4 52 Kab.60 29 17.88 5 1.37 10.303.162.059. Siak 7 4 8 42 Kota Dumai 15 7 5 Provinsi Jambi 19 13 1 43 Kab.27 1.01 1.282.686.64 4.422.54 57.30 201.006.314.00 - Nilai (24) 42.47 4 682.06 350.182.27 13.081.32 1.333.44 9 8.32 1 888.284.748.73 6 4.60 1.07 111.825.14 455.540.159.84 3.60 17.497.33 1 676.733.96 13.67 6.62 490.971.54 2. Cianjur 11 5 7 55 Kab.31 2.98 2 7.56 8.49 1.73 598.21 4 1.53 24.505. Indragiri Hilir 7 5 3 37 Kab.54 2.18 1 31 7.62 1.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 25 3 8 5 9 23 5 1 4 1 1 3 8 3 1 2 13 5 1 3 4 54 7 4 4 2 1 6 3 1 8 3 3.24 180.56 2 6 60 14.82 16 4 20 4.Mentawai 5 1 2 32 Kab.90 7 355.00 2 3 31 12.00 370.502.31 3.88 13 1.067.295.46 57 5 2 37 20.94 24 6.46 1.57 8 3.00 426.42 4 3.88 Nilai (23) 426.75 1 23 8 1 4 1 2 12 4.193.00 13 3.71 5 7 3 3 1 40 8 1 2 2 5 1 1 1 12 7.25 2 500.720.281.02 262.00 304.236.99 373.14 3. Tanjung Jabung Timur 10 6 6 Provinsi Sumatera Selatan 32 13 1 45 Kab.19 2 19 4.34 570.45 41 6.72 1 27.518.845.029.00 356.68 1.768.237.870.632.244.002.70 1.770.857.95 90.206.999.117.936.27 2.65 5 2.071.149.993.108.209.172.83 41 7 3.787.301.310.17 1 4.73 1.28 587.593.65 1.09 2 4.69 2.159.Solok Selatan 23 12 4 Provinsi Riau 65 34 1 35 Kab.83 2 1.663.44 8 12.346.06 331.012.76 1.42 11.968.909.19 6 1.84 18 14.25 1.29 15 8.50 1 35 14.26 3 107 35.080.462.62 4 782.38 6 2.Kep.98 245.630.40 6 5.282.Lima Puluh Kota 11 3 3 33 Kab.76 4.46 2 2.98 42.16 2 1.158.77 8 30.77 8 6 16 7 11 5 6 25 5 9 4 7 75 8 5 7 2 1 16 2 1 17 6.55 286.75 3.277.237.951.069. Garut 6 3 8 56 Kab.61 4 6.36 1.33 487.493.266.30 Halaman 2 .07 77.245.64 854.61 4.96 1 110.577.433.480.597.435.64 18.90 201.50 13.20 21.65 4 1 1 2 12 6 2 1 1 2 20 12.71 7 16 2.31 192.77 1 3.50 8.809.16 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 7 3 1 3 7 1 2 3 1 3 1 2 6 3 1 2 14 5 3 1 Nilai (21) 4.434.01 52.167.96 2 6 12 1 4 20 1.Pasaman Barat 13 8 4 34 Kab. Empat Lawang 8 5 3 47 Kota Pagar Alam 7 2 4 48 Kota Prabumulih 5 1 7 Provinsi Jawa Barat 149 76 1 49 Provinsi Jawa Barat 15 4 2 50 Kab.505.42 9 1 9 6.92 5 806.86 11 3 1.597.38 Nilai (22) 487.60 175.08 426.07 1 5 2.65 18 6.59 16.62 4 3.395.48 3 1.89 19 8.68 6 2.988.97 1.03 2 18 3.468.543.08 4 1.474.79 1 252.27 7 1.14 - (1) (2) (3) (4) 3 Provinsi Sumatera Barat 52 24 1 31 Kab. Bengkalis 11 4 2 36 Kab.15 1.47 1.00 18.33 94.241.44 7 4 42 73. Bandung 8 3 3 51 Kab.008.80 355.015.039.216.749. Muaro Jambi 9 7 2 44 Kab.92 6 1.99 1.68 1.973.57 72 65.256.07 1 630.782.587.49 10 1 16 6.808.75 7 19 250 132. Indragiri Hulu 9 4 4 38 Kab.95 8 2.192. Indramayu 4 3 .79 119.423. Rokan Hilir 4 2 7 41 Kab.257.813. Bekasi 4 2 5 53 Kab. Banyuasin 12 5 2 46 Kab.496.58 2 15 3.116.945.303. Kuantan Singingi 5 3 6 40 Kab.18 7 1 8 168 94.186.187.72 1 2 20 5.862.493.43 1 364.04 8 5.95 8 1 26 4.06 86 10.90 1.88 5 2.94 1. Kampar 7 5 5 39 Kab.498.85 2.57 1.80 1 22 40.722.457.31 4 1.59 86.

263.213.100.00 11.49 3 198.56 516.27 3.20 5 10 629.28 - (1) (2) (3) (4) 9 57 Kab.96 297.09 155.40 95.91 1 9 3.77 3 232.40 Nilai (23) - Nilai (24) 191.223.42 210.61 131. Bengkayang 5 5 3 77 Kab.106.53 11 73 43.21 110.73 1.27 3 459.09 5 351.97 1 617.281.12 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 4 1 3 2 1 7 2 1 1 3 9 2 1 1 1 4 Nilai (21) 3.62 819.69 189.27 50. Manggarai Timur 12 8 3 73 Kab. Landak 16 6 6 80 Kab.50 99.40 1 264.54 3 4 10 858.175.69 4 512.249.41 4 347.30 5 2.02 2 13 3.64 155.07 193.11 1. Subang 5 3 13 61 Kab.17 868. Sintang 8 4 8 82 Kota Singkawang 14 4 31 .008.29 150.64 7.83 1 86.63 9 1.23 2 15 1.57 3 10 6.460.11 5 19 1.404.35 1.04 1 98.860.532.09 8.45 4 302. Karawang 4 2 10 58 Kab.91 1 940.53 3 119.053.90 41.827.00 100.21 2 706.75 100.28 3 3.Halaman 3 .11 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 51.102.22 45.476.52 673.70 150.25 620.85 4 13 32.48 18.77 5.16 819.13 2.13 13.50 23.92 107.41 1 710.701.57 1 2 1 19 5.67 22 6 2 3 1 3 1 3 3 5 23 3.06 91.23 1 1 18 6.385.21 3 976.844.919.75 655.157.057.15 4 2 5 5 1 7 3 4 3 3 36 13 10 5 8 74 14 7 4 9 7 11 12 10 2 3 771.90 4 410.50 3 6.35 437.31 3. Lombok Utara 8 2 10 Provinsi Nusa Tenggara Timur 65 37 1 71 Kab.01 Nilai (22) 52.21 3.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 3 2 1 4 2 3 4 5 7 4 3 6 6 17 5 3 2 7 41 9 7 3 9 2 3 8 2 1 18 18 14 1 14 1 15 8 12 646.74 1 8.57 16 270. Kayong Utara 11 7 5 79 Kab.69 2 652.52 555.87 95.70 1.71 237.78 2 219.42 46.85 8.86 1 344.87 7.122.326.04 1 34.890.42 3 1 940.02 6.30 6 311. Sikka 11 9 4 74 Kab.90 4.99 218.346.03 511.50 3 1.87 5 120.860.896.01 4 2 1 1 3 1 1 1 5 1 1 2 1 11 1.46 48.25 4 28 61.372. Tasikmalaya 4 2 14 62 Kota Bandung 13 7 15 63 Kota Bekasi 12 9 16 64 Kota Bogor 9 4 17 65 Kota Cimahi 7 2 18 66 Kota Depok 4 3 19 67 Kota Tasikmalaya 6 1 8 Provinsi Jawa Tengah 16 6 1 68 Kab.37 3.20 1 852.66 10.098.02 10 1.04 2 1 8 8 12 1 3 3 5 14 2 3 3 3 2 1 3 20 7.37 275.155.80 2 771.09 6 1 2 3 3 3 16 270. Kapuas Hulu 13 6 4 78 Kab.44 1 264.53 243.673.654.03 2 2. Kupang 21 11 2 72 Kab.21 20.201.86 9 127 70. Timor Tengah Utara 21 9 11 Provinsi Kalimantan Barat 95 45 1 75 Provinsi Kalimantan Barat 18 5 2 76 Kab.520.194.429.80 1 1 8 9.319.00 204.02 5.846.01 3. Sekadau 10 8 7 81 Kab.206.225.29 5.57 280.30 2 526.896.37 5.29 1 8 6.193.53 272.277. Tegal 6 2 2 69 Kota Pekalongan 10 4 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 8 2 1 70 Kab.674.87 5 120.50 380. Kuningan 6 3 11 59 Kab.721.19 4.46 555. Majalengka 13 7 12 60 Kab.42 12.67 4.51 954.87 90.283.68 391.56 51.41 26.535.

Kutai Barat 14 6 2 89 Kab.87 40 3 1 2 6 1 2 1 1 1 1 16 1.700.97 2 236.40 1.75 2 4 1 1 1 8 177 41.424. Luwu Utara 4 2 5 103 Kab.69 2.851.192.16 434.837.877.180.50 - Nilai (23) - Nilai (24) 0.00 59.48 417.233.48 3 4 93 112.50 27.897.73 1 14 8.684.58 19 693. Minahasa Tenggara 3 0 4 97 Kota Tomohon 2 0 16 Provinsi Sulawesi Selatan 111 60 1 98 Kab.602.857. Balangan 8 3 2 85 Kab. Jeneponto 10 8 6 100 Kab.422.14 1.28 166.90 1 2.63 96.01 9.22 2.33 2 51.36 1.76 6 68.43 1 14 956.20 410.055.76 7.187.00 273.36 18 11.60 2 335.88 5 3.49 16 2.45 12 49.24 5 557.93 2 314.36 20.61 9 1 12 898.29 383.52 3.245.18 4.04 23 18.440.25 10.47 706. Malinau 9 1 5 92 Kota Bontang 6 3 6 93 Kota Samarinda 22 10 15 Provinsi Sulawesi Utara 12 2 1 94 Kab.28 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 9 5 4 3 1 2 1 1 8 1 2 2 3 Nilai (21) 8.404.93 1 55.758.670.67 2.558.770. Kutai Timur 18 8 4 91 Kab.00 525.05 3 4 12.052.45 210.34 2 5 3 1 42 4 6 7 3 3 3 3 3 3 5 2 33 54.66 43.341. Tana Toraja 12 4 10 107 Kab.901.21 1 3 9 2.50 3 1.85 1 56.05 7.87 2 9 1.36 457.181.558.88 3 116.971.20 2.292.09 3 37. Kotabaru 10 4 3 86 Kab.748. Bantaeng 9 5 2 99 Kab.25 81.00 1 416.30 57.37 465.13 135.86 416.28 14.46 7 3. Seruyan 12 4 13 Provinsi Kalimantan Selatan 37 14 1 84 Kab.42 515.999.43 1 15 6.393.795.43 11 13.98 135.93 16 1.69 1. Tanah Bumbu 12 4 4 87 Kota Banjarbaru 7 3 14 Provinsi Kalimantan Timur 79 34 1 88 Kab.12 2 441. Kepulauan Selayar 14 5 3 101 Kab.52 512.42 24 7.664.39 6 417.531.84 1 2.032.054.00 1.52 6 197.752.32 Halaman 4 .67 2.84 771.38 107.92 4 19 21.61 199.63 3 710.688.95 5 7 8 5 12 8 2 1 3 2 61 5 4 8 6 7 5 7 6 5 3 5 1 7 776.35 2.70 1 158.943.29 2 4 4 6 3 2 22 15.95 178.825.26 5 4.631.46 1.31 1.69 8 5. Kutai Kartanegara 10 6 3 90 Kab.84 1 2.03 9 7 40.00 7 11.08 270.884.013.363.97 7 761.29 13.57 567.588.56 7.62 2 49.01 Nilai (22) 579.85 703.68 8.861.30 11 1.21 563.674.974.79 1 14 13.424.71 438.892. Sinjai 12 8 8 105 Kab.82 2.392.196.17 18 1 81.38 5 4. Toraja Utara 8 1 11 108 Kota Palopo 10 4 .81 4 1.75 793.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 4 4 19 4 5 7 3 41 7 4 9 7 3 11 10 2 3 3 2 43 4 1 9 1 1 4 3 2 8 6 4 2 15 1 15 1.84 0.28 4 19 21.06 22 3.84 2.748.36 5 1 17 8.369.60 2 49. Maros 14 8 7 104 Kab.96 4 1 9 274.37 1.17 5 4 59 12.34 450.46 2.67 4 1 1 17 1.85 128.50 3 1.057.273.140.878.615.00 1.780.69 - (1) (2) (3) (4) 12 Provinsi Kalimantan Tengah 12 4 1 83 Kab.05 3 4 12.440.36 54.86 4 2.628.673.71 9 515.863. Luwu Timur 4 3 4 102 Kab.085.864. Bolaang Mongondow Timur 2 0 2 95 Kab.777.44 79.83 2 118.92 822.057.894.38 1 1.484.670.27 49. Minahasa Selatan 5 2 3 96 Kab.25 4 65.71 51 14.02 49.01 22 88.793. Takalar 14 12 9 106 Kab.861.50 2 1 19 7.01 11 1 22 4.462.69 8 5.50 49.

890. Konawe 16 7 5 113 Kab.98 6.030.61 4.944.70 35 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 196.23 876.13 1 95.03 735.694.95 68.44 621.227.341.196. Halmahera Barat 18 11 3 126 Kab.60 5 1.83 1 1.03 20 22. Maluku Tengah 20 14 6 120 Kab.743. Halmahera Selatan 15 13 4 127 Kab.257.67 3 1 25 1.12 83.88 1.73 5 20 4.717.95 275.056.91 22.31 2.03 1 21.377.48 5.902.387.169.533.71 1 8 1 4 2 1 2 24 6. Maluku Barat Daya 19 13 5 119 Kab.610.304.122.78 4 1.30 735.405.25 2 3.54 37.94 148.88 31 1 25 1.47 212.39 32 15.44 7 5 1 2 5 4 3 3 27 2 3 4 2 5 6 5 2 9 10. Buton Utara 15 8 3 111 Kab.11 7.54 9.187.70 1 12 128 85. Maluku Tenggara Barat 8 5 9 122 Kota Ambon 18 11 10 123 Kota Tual 21 9 20 Provinsi Maluku Utara 107 70 1 124 Provinsi Maluku Utara 16 10 2 125 Kab.350.06 415.33 378.500.773.31 1 20 7.605.241.597.92 10.70 991.741.53 9.06 5 338.91 25.41 13 8.048.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 31 2 5 4 8 12 1 1 48 7 8 6 3 6 2 5 11 25 6 4 2 1 2 2 5 3 2 25 2 12 1 10 3 21 38.67 3 212.12 4.51 6 11 8 8 63 4 6 9 8 8 8 8 7 5 51 6 8 6 10 5 2 5 9 2 17 5.398.459. Kolaka Utara 9 3 4 112 Kab.262.581.60 20.61 295.262.90 47.37 3.00 - Nilai (23) - Nilai (24) 68.75 2 5 18 7. Bombana 8 4 2 110 Kab.789.30 39.62 7 7.031.696.80 80.932.05 3 2 5 8 1 3 10 1.488.161.654.581.32 2. Majene 3 1 19 Provinsi Maluku 167 92 1 115 Provinsi Maluku 17 8 2 116 Kab.659.03 196.38 5. Halmahera Timur 14 9 6 129 Kab.806.11 2.430.82 11 10.63 5.320.954.902.72 8 564.674.30 17 15.72 3 25.03 596. Halmahera Tengah 8 6 5 128 Kab.95 294.657.50 2.870.744.297.58 59 141.03 142.29 5 4 4 1 1 9 1 1 1 1 1 4 7 119 193.402.38 291.95 3 8. Buru 24 11 3 117 Kab.00 1 17 5.96 11.70 119.14 2 13 1.54 1 24 62. Konawe Utara 24 12 18 Provinsi Sulawesi Barat 3 1 1 114 Kab.106.226.53 83.944.00 7.72 8 564.64 557.47 8.18 3 17 12.846.87 2 491.28 6 2 24 74.557.59 2.30 4.13 97.71 3.22 4 3.90 3 1.66 2.743.749.00 43.74 14 59.23 3.38 2.Halaman 5 .87 16 63.00 2 3 15 2.53 4 725.475.06 7 2 17 23.733. Buru Selatan 21 10 4 118 Kab.452.22 26.62 3. Kepulauan Sula 16 9 8 131 Kota Tidore Kepulauan 9 4 33 .13 1.09 572.648.744.211.47 4 1.54 4. Maluku Tenggara 19 11 7 121 Kab.69 1 786.66 23 1 14 6.122.298.808.13 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 2 2 2 2 6 2 1 2 1 10 1 4 1 4 Nilai (21) 4.31 Nilai (22) 195.044.55 291.70 - (1) (2) (3) (4) 17 Provinsi Sulawesi Tenggara 72 34 1 109 Kab.88 1 27 144 45.552.00 28.37 4 155.056. Halmahera Utara 11 8 7 130 Kab.16 4 6 14 899.32 193.15 4 530.19 8 1.58 3 11.03 3 350.729.72 37 27.

98 1 3 6 3 398 1 19 7.271.10 5 2.06 3 262. Teluk Bintuni 9 5 JUMLAH 1.07 2 1.485.80 1.362.22 1 124.00 1.179.868.786.00 370.86 1 12 4.78 1 1.97 858.234.92 1 56.985.87 4 3.88 327.687.36 3 22 10.44 6 10. Supiori 6 5 11 142 Kab.31 7 21.26 10 10.929.30 5 95. Sorong 19 10 6 150 Kab.21 42 31.224.798.18 5 12.753. Puncak Jaya 5 5 9 140 Kab.708.00 12. Waropen 10 9 13 144 Kab. Fakfak 11 8 3 147 Kab.683.384.495.837.972.00 61.49 243.139.42 5 46.369.12 12 18.78 23.43 2 14 4.332.76 15 13 13.70 4 6 600.535.37 2.70 6.70 1 8 1.181. Mimika 2 2 6 137 Kab.430.25 3 4. Jayawijaya 9 7 3 134 Kab.871.951.00 Nilai (24) 434.191.49 207.758.511.23 3 2 1.38 4.935. Dogiyai 3 3 2 133 Kab.49 1 184.17 6 4.00 1.42 2.565.412.849.08 170.41 941.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 12 1 2 2 1 3 1 1 1 25 7 2 1 2 6 4 3 530 176 2. Sarmi 2 2 10 141 Kab.70 6 865.26 13 4.917.72 1 22 37.486.314.320 1.68 8.08 205.49 1 15 6.00 1 10 2.73 8 2.207.54 542.761.24 2 10 15.04 6 2.34 Halaman 6 .993.989. Tolikara 5 4 12 143 Kab. Mappi 5 3 4 135 Kab.917.936. Nabire 4 3 7 138 Kab.289.89 3 18.23 1 9 103 77.86 3 708.204.425. Sorong Selatan 11 7 7 151 Kab.207.06 16.877.278.75 547.54 883.00 3 8 12.193.137.06 1 935.30 4 15.659.567.22 3 3 5 5 31 6 9 2 5 5 2 2 862 10 4.89 (1) (2) (3) (4) 21 Provinsi Papua 70 56 1 132 Kab.60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 8 1 1 1 1 1 3 8 4 1 1 2 137 Nilai (21) 2.621.37 1 11.415.04 45 2 1.79 547.670.20 5 2.32 7.83 1 153.48 729 556.00 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 4.86 3 1.30 195.61 61 72. Yahukimo 9 8 22 Provinsi Papua Barat 75 41 1 145 Provinsi Papua Barat 10 3 2 146 Kab.63 1 434.95 1 13 4.06 1 143.335.84 Nilai (22) 1.79 4 3.753.252.34 10 5.76 1 14 49.86 6 4.15 3 44.15 4 74 6 6.42 119 1 9 2. Merauke 4 2 5 136 Kab.21 1 419.086.93 3 5.01 4 3.502.736.386.150.23 778.44 9 4.853.879.60 3 6 590.460 754 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .783.946.32 1.32 14.20 5 2 134 126.23 434.972.82 118.66 1 457.15 1 583. Raja Ampat 10 7 5 149 Kab.66 Nilai (23) 426.872. Manokwari 5 1 4 148 Kab.00 1.649. Paniai 6 3 8 139 Kab.73 2 153.

76 42.Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.Lampiran 5 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 35 . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 30 11 13 5 1 19 1 3 7 5 3 26.25 Jumlah Kasus % 22 11 11 71 30.99 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 100.

123.35 0.72 25.116.04 20.12 11.322.Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 2 10 10 15.48 26.11 % Nilai (juta Rp) 28.69 100.12 1 Lain-lain VII Ketidakefektifan 14.71 35.203.99 282.25 84.29 49.58 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100. pertambangan.81 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 2 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1.16 37.595.59 282.99 - 0.00 239.881.116.06 0.29 64.59 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.53 89.03 - 26. perpajakan.897. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 6.03 64.12 3.89 37.00 299.51 500.696.29 14.51 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah) 3 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.01 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 23 1 1 1 2 10 2 1 1 4 9 1 8 1 1 9 3 1 1 3 1 63 36.595.29 35.375.00 4.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 36 .87 11.Lampiran 6 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 7 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 8 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 9 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 14.

99 Jml Kasus (20) 2 2 4 1 9 Nilai (21) 24.11 64.03 Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) 282.57 1 9 21 152.868.212.50 3 85.372.53 8 1 10 7 24.16 Nilai (22) 0.70 22.897.826.69 4 28.450.450.79 1.57 2 28.50 3.070.70 1 14.682.53 (1) (2) (3) (4) 1 PT Perkebunan Nusantara XII TB 2009 15 5 2 PDAM Kota Padang TB 2009 7 4 3 West Earthquake Disaster Project pada BNPB TA 2010 2 - 4 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 20 5 5 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M 10 5 6 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 17 11 JUMLAH 71 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 37 .00 32.46 500.998.00 35.65 2 0.50 35.72 10 4.99 282.952.88 49.116.68 1 26.000.21 31.107.203.11 3.123.18 1 7 4 8 36.53 17.16 21.51 1 8 10 267.53 Nilai (23) 17.868.00 89.595.579.48 1 7 21.Lampiran 7 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Potensi Kerugian Negara/ Negara/Daerah/ Daerah/Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Nama Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara/Daerah/ Ketidakefektifan Negara/Daerah/ Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Jml Kasus Jml Kasus (6) 2 3 1 6 1 6 19 22 63 239.29 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai Nilai (5) (15) 8 2 2 3 3 5 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 3 3 23 9 Nilai (17) 267.53 0.132.

Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Pasuruan di Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 13 Ѵ 19 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ RSD dr. M. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo 14 RSUD Kabupaten Jombang di Jombang 15 RSUD Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR.A. M. R. Soebandi Kabupaten Jember di Jember 11 RSD Mardi Waluyo di Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan di Tarakan Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Sulawesi Tengah 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 14 38 . Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr.Lampiran 8a Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Belum Didukung Struktur Organisasi yang Memadai Sarana dan Prasarana Jumlah Belum Tenaga Memenuhi Medis dan Standar dan Keperawatan Persyaratan Belum Kesehatan Memadai Lingkungan Rumah Sakit 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana Instalasi Rawat Jalan. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan.

Lampiran 8b Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 2. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. R.A. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Tidak Terdapat Program Perencanaan Perencanaan Perencanaan Kerja Belum Anggaran Kebutuhan Tidak Disusun/ Tidak Perbekalan Memadai Belum memadai Farmasi memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 2 2 16 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RSU Mayjen H. M. RSUD Undata di Palu RSUD Kota Sorong 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 17 18 19 Jumlah 39 . Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. M. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.

M. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR.Lampiran 8c Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 3. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang Magelang di 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 40 . Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Ungaran Semarang di RSUD DR. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Pelaksanaan No Provinsi No RSUD Pengelolaan Pelayanan SPM Belum Prosedur Administrasi Tidak Sesuai Memadai / Tetap Belum Kurang Ketentuan Ditetapkan Memadai Memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 18 7 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 14 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan 10 RSD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga RSUD DR. Soebandi Kabupaten Jember 11 RSD Mardi Waluyo Kota Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.A. Ponorogo Harjono Kabupaten 14 RSUD Kabupaten Jombang 15 RSUD Dr. M.

Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan.Lampiran 8d Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 4. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Rawat Inap dan Farmasi Belum Memadai/ Tidak Sesuai Ketentuan RSU Mayjen H. M. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan. R. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.A. RSUD Undata di Palu RSUD Kabupaten Manokwari Jumlah Ѵ 10 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Belum Dilakukan/ Belum Sepenuhnya Dilakukan No Provinsi No RSUD 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 14 15 16 17 41 . Rawat Inap dan Farmasi Temuan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan. M.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Mekanisme pemungutan.62 Jumlah Kasus % 42 .62 56.Lampiran 9 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 16 3 9 3 1 42 4 10 21 5 2 16 4 10 1 1 74 100.76 21.00 21.

189.00 299.398.28 2.93 75.95 2. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 6 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 2 2 6 2 2 2 6.288.Lampiran 10 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .28 422.03 8 1 7 19 1 2 6 21.00 43 .27 Nilai (juta Rp) 422.41 75.11 0. pertambangan.03 100.82 % 2.45 99.12 0.02 3 1 2 88 3.14 50.12 50.329.80 100.31 6. dll.01 120.342.77 296.14 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 57 41 64.93 0. perpajakan.38 255.60 - 8 1 1 1 1 1.06 12.78 % 0.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No I Kerugian Negara 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi II Potensi Kerugian Negara 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.646.59 34.442.

29 2.06 14 5.44 Lampiran 11 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Negara Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus 1 13 1 1 16 88 299.19 6 3 4.10 28 270.014.988.375.87 4.99 5 2.73 1 419.503.29 2.12 1 2 3 75.25 270.200.376.06 5.85 1 12.28 8 9.29 1 2.38 9.38 Nilai Nilai Nilai Nilai 7 13 3 1 16 1 1 42 Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Jml Kasus (18) Nilai (19) Nilai (21) Nilai (22) (1) (2) (3) (4) 1 Mahkamah Agung 11 3 2 3 2 5 3 1 3 19 1 1 50.93 75.95 2 18 7.988.17 6 1 119.324.001.12 50.06 21 10 1 5 57 9 1.68 2 - Kejaksaan Republik Indonesia 16 3 3 Kementerian Dalam Negeri 4 1 4 Kementerian Luar Negeri 1 5 Kementerian Keuangan 36 7 6 Kementerian Agama - 7 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - 8 Badan Pertanahan Nasional - 9 Kepolisian Republik Indonesia 1 10 Kementerian Perdagangan 1 11 Taman Mini Indonesia Indah 4 2 JUMLAH 74 16 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .65 831.503.539.90 1.74 4.398.288.17 296.452.02 1.29 708.93 2.97 119.11 10 5 632.342.329.871.80 2 422.38 2 2.99 2 212.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.24 100.90 6.86 Jumlah Kasus % 121 27 11 16 199 13. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 11 1 1 1 158 3 24 10 79.00 45 .Lampiran 12 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

333. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 1.38 6.581.43 1.733. pertambangan.51 61.48 2.870. dll.791.20 5.659.48 226.16 1. perpajakan.25 5.36 100.29 253.38 94.18 15.00 268.40 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 46 .11 5.36 2.04 6.38 2.81 88.996.00 100.09 V Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13 1 12 322 4.20 11.19 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 2 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 2 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.41 927.333.86 % Nilai (juta Rp) 2.923.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 8 6 2 6 5 1 230 177 25 1 1 26 65 4 4 18 38 1 20.426.880.Lampiran 13 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .19 71.37 2.

19 4.78 21.38 - Nilai (21) 155.770.798.006.65 4.06 392.94 2.65 4.04 1. Sumatera Selatan 4 2 6 Kab.240.85 3 7 6.Halaman 1 .504.22 6 1 6 7. Lahat 3 4 Bengkulu 1 7 Kota Bengkulu 1 5 Lampung 1 8 Prov.69 1 2 6 7 869. Belitung 4 2 11 Kota Pangkalpinang 12 7 Kepulauan Riau 1 12 Prov.24 6.40 3.01 3.735.86 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 12 5 3 7 6 3 4 9 4 4 6 4 8 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 6.770.046.8 - (1) (2) (5) (6) 1 Sumatera Utara 1 1 Kab.372.12 937.463.67 1 417. Kepulauan Riau 1 2 13 Kota Tanjungpinang 13 8 Jawa Barat 1 14 Kab.29 3.92 1 212. Sumatera Barat 7 2 4 Kota Bukittinggi 7 3 Sumatera Selatan 1 5 Prov.07 798.486.676.330.29 2.240.18 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 1 1 1 1 2 2 6 Jml Kasus (18) 1 2 1 2 - Nilai (19) 71.35 460.59 8.88 1.372. Lampung 4 2 9 Kota Bandar Lampung 7 6 Kepulauan Bangka Belitung 1 10 Kab.506.Lampiran 14 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 5 1 1 1 5 11 1 0 1 6 7 10 10 2 11 4 6 7 9 3.01 1 3 937.59 14 16.486.52 16. Bogor 6 47 .04 3 1 4 1.04 1.88 3 8 6.29 2.122.735.825.222.35 460. Deli Serdang 3 2 2 Kota Medan 5 2 Sumatera Barat 1 3 Prov.22 6.218.133.506.09 - Nilai (20) 408.12 4 8 8.14 88.9 60.

64 86.746. Banten 3 13 Nusa Tenggara Timur 1 26 Prov.73 2 7 4.30 4 5 2 15 31.105.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 1 1 1 28.270.99 2.66 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (17) 1 4 2 3 1 1 3 5 Jml Kasus (18) 2 2 1 1 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 2.70 1 3 3 3 151.60 1.399.48 Halaman 2 .60 4 3 4 7.08 2 3 2 3 28.93 85.102.03 3 5 3.516.75 325.50 949.516.329.088.30 2.43 - (1) (2) (5) (6) 2 15 Kota Bandung 8 9 Jawa Tengah 1 16 Prov. Kalimantan Barat 5 15 Kalimantan Selatan 1 29 Prov.04 1.644.377.57 4.73 2 2.79 5 6 2.79 104. Nusa Tenggara Timur 5 2 27 Kota Kupang 5 14 Kalimantan Barat 1 28 Prov.17 131.17 131.45 160.64 86.15 2 1 2 9 4 4 3 5 3 1 3 2 1 7 89.00 3. Kalimantan Selatan 2 . Jawa Tengah 5 2 17 Kab.06 6 14 1.50 12 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 31.6 100.06 591. Jawa Timur 3 2 24 Kota Surabaya 5 12 Banten 1 25 Prov.62 898.399.03 2 3 9 898.001.11 3 6 2 1 8 8 4 1 10 949.16 5.89 29.04 1.79 4 4 4 2.57 1.00 275.49 1 1 6 1 11 325.983. Kudus 4 4 19 Kota Pekalongan 6 5 20 Kota Semarang 8 6 21 Kota Surakarta 7 10 Provinsi D.06 1 2 2 3 2 3 89.73 151.I Yogyakarta 1 22 Kota Yogyakarta 6 11 Jawa Timur 1 23 Prov.83 - Nilai (20) - Nilai (21) 78.323. Brebes 2 3 18 Kab.132.723.

21 1 12 1.050.00 3.050.54 (1) (2) (5) (6) 16 Sulawesi Utara 1 30 Kota Bitung 2 17 Sulawesi Tengah 1 31 Prov.40 2 7 6.957.870. Sulawesi Tenggara 7 2 36 Kota Kendari 7 20 Sulawesi Barat 1 37 Prov.09 6.47 3.504.196.48 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 7 Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 65 13 Nilai (19) 133.733.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 2 1 14 158 27 322 3 2 11 1 3 12 3.38 1.050.317.63 8. Maros 6 3 34 Kota Makassar 3 19 Sulawesi Tenggara 1 35 Prov.203.437.38 Nilai (21) 31.95 5.437.38 1.203. Halmahera Utara 5 JUMLAH 199 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 49 .63 6 2 9 2.67 253.923.85 2.11 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 9 2 11 11 11 6 8 7 11 10 230 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 976.880. Sulawesi Tengah 2 18 Sulawesi Selatan 1 32 Prov.196. Halmahera Timur 4 2 39 Kab.60 6.109.21 93.67 268.395.30 9 1 11 93.317.66 4 191.47 6 8 4.60 8 4 1 7 3.957.41 6 16 8.00 2.42 3 11 22.598.504.38 Nilai (20) 408.Halaman 3 .42 4.36 22. Sulawesi Barat 2 21 Maluku Utara 1 38 Kab. Sulawesi Selatan 10 2 33 Kab.333.241.65 1.598.

26 Jumlah Kasus % 50 .00 36.05 40.Lampiran 15 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .70 23.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20 13 6 1 35 15 12 3 4 1 31 19 12 86 100.

40 46.95 11.Ketidapatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 163 10 2 46 46 5 2 9 9 28 1 5 15 9 2 1 3 43 41 2 120 39 6 35 15 3 8 3 3 7 1 48 3 45 43 3 1 9.81 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara 2 Penggunaan langsung penerimaan negara IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.Halaman 1 .918.85 914.61 489. pertambangan.391.28 382.526.225.46 1.78 9.894.32 59. perpajakan.14 6.03 7.886.95 1.73 240.76 1.35 165.244.00 10.166.901.91 5.12 215.73 3.93 54.922.440.91 925.79 5.648.995.709.11 27.47 % Nilai (juta Rp) 31.Lampiran 16 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .47 2. dll.69 6.33 156.973.005.08 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Lain-lain II Potensi Kerugian Negara 37.17 8.40 29.69 110.52 2. 8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara 10 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 51 .36 240.95 3.61 111.759.03 25.751.57 1.

902.00 824.97 100.22 196.00) 52 .818.64 - % 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.09 2.328.Halaman 2 .Lampiran 16 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 11 7 7 10 4 432 % Nilai (juta Rp) 341.991.952.55 31.

952.82 735.173.32 12 478.189.97 689.009.32 230.704.59 3 825.47 44.10 8.235.137.02 251.63 66.81 6.29 120.837.949.45 1 1 7 1.Halaman 1 .045.087.10 3 238.57 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 3 13 18 2 3 5 15 5 5 8 6 2 2 5 14 2 8 2 1 1 9 1 1 3 4 2 3 6 2 - Nilai (17) 591.60 44.562.74 1.72 1.10 279.453.95 1 4 2 4 5 2 3 5 1 2 3 2 2 31 779.77 22.56 171.48 1.35 41.67 988.53 - Jml Kasus (18) 6 3 1 6 1 4 3 14 1 - Nilai (19) 34.58 - (1) (2) (3) (4) 1 Kejaksaan Republik Indonesia 2 2 2 Kementerian Dalam Negeri 15 5 3 Kementerian Luar Negeri 18 4 4 Mabes TNI 1 - 5 TNI AL 3 - 6 TNI AU 3 - 7 Kementerian Hukum dan HAM 2 - 8 Kementerian Keuangan 10 3 9 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 2 1 10 Kementerian Perhubungan 1 1 11 Kementerian Pendidikan Nasional - - 12 Kementerian Agama 1 - 13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - - 14 Kementerian Sosial 4 - 15 Badan Pertanahan Nasional 11 - 16 Kementerian Komunikasi dan Informatika - - 17 Kepolisian Republik Indonesia 2 2 18 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 - 53 .57 11 590.44 9.50 132.70 - Nilai (20) 61.86 100.137.95 12 878.85 355.69 32.74 1.95 7.98 382.28 14.19 7.96 4 1.37 83.944.37 14 314.135.124.421.14 911.46 1 4 1.73 5.11 58.20 20.97 5.18 5 905.47 4 83.96 112.59 238.10 5.952.13 4 20 956.13 1 50.14 217.79 357.06 1.11 473.311.995.95 15.96 1 1 1 1 3 48 415.37 56.847.39 4 55 82.23 3.343.13 1 8 735.98 Nilai (21) 168.08 507.56 1 560.39 77.51 182.608.53 967.408.928.03 2 18 25.317.74 4.64 3 22 765.58 189.39 123.31 112.26 6 5 10 22 3 19 1.13 53.73 36.64 746.48 24.89 - Nilai (22) 38.52 52.75 230.90 151.582.40 7 1 33 1.18 1.369.03 13 13 12.74 25.67 14.487.89 362.Lampiran 17 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 6 12 1 1 2 1 4 2 2 1 3 41 25 9 24 24.070.68 9 664.71 19 1.705.46 2 15 128.04 489.378.14 19.59 19.614.92 1.579.94 4 867.

901.408.99 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 1 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai (17) 22.54 Halaman 2 .19 5 983.42 191.926.Lampiran 17 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 2 1 12 89.41 3 76.00 2 71.67 - Jml Kasus (18) 1 2 1 - Nilai (19) 244.66 446.19 1 4 41.05 5 8 7 386.991.21 1 13.247.35 43 489.11 3 14 72.19 (1) (2) (3) (4) 19 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi - - 20 Kementerian Perdagangan 6 2 21 Bapertarum 3 - 22 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam 35 31 432 824.43 1 40.166.818.918.76 2 48.22 1 219.12 71.95 43 54.044.00) .64 204.45 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.46 5.97 163 31.79 15 8.70 1 280.61 - Nilai (20) - Nilai (21) - Nilai (22) 13.40 1 - JUMLAH 86 20 120 48 240.513.440.81 101.391.

penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/ daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/ belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 33 15 15 2 1 141 54 10 46 4 4 22 1 21 11 8 2 195 100.00 10.Lampiran 18 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.77 72.92 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 55 .31 16.

445.481.002.227.525.639.75 10. 8 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara/ daerah 11 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 12 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 13 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 14 Lain-lain 56 .43 11.33 % Nilai (juta Rp) % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.885.57 12. pertambangan.22 3.549.11 53.04 12.59 5.29 108.17 524.12 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah/negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.36 1.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 857 23 19 419 130 42 24 41 105 49 5 206 147 19 1 1 5 9 3 10 11 314 307 15.37 15.968.67 72.018.47 97.06 10.49 1.097.122.Lampiran 19 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . dll.00 985. perpajakan.247.174. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 42.015.16 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah IV Administrasi 2 1 3 1 366 139 24 114 19 15 14 12 4 2 4 1 9 3 6 18.12 8.68 2.42 45.00 375.323.38 44.346.96 3.Halaman 1 .625.56 1.16 18.498.656.68 14.267.62 17.35 8.03 9.98 144.47 8.

00 840.89 3.377.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 57 .464.42 3.Halaman 2 .30 % 3.265.18 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.96 100.40 466.97 Nilai (juta Rp) 30.82 3.101.62 522.375.60 23.22 34.544.50 26.69 26.663.46 62.Lampiran 19 No V Ketidakhematan Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 119 4 9 106 132 38 8 37 4 43 1 1 1.692.679.61 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 6.994 % 5.752.

Kerinci - - 5 19 Kab.00 24.92 7 603.38 3 6.876.72 1 14 1.77 1.70 1.34 684.84 3 791.632.85 400.32 741.37 2 4 3 3 1 10 1. Pasaman Barat - - 5 10 Kab.62 5 278.18 221.27 4 183.23 13.035.30 408.38 11 598.76 5 1.084.01 3 66.379.28 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 461.72 8 1.56 1 50.79 1 1 3 4 4 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 5 Nilai (19) 16.847.54 1 18 2.66 137.07 10 1.Lampiran 20 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 1 2 1 2 2 2 5 6 3.232.168.14 223.54 2.08 221.12 5 2.265.74 3 2. Batang Hari - - 3 17 Kab.10 134.181.05 440.93 56.07 41.035.11 715.40 1 5 4 3 4 8 1 7 7 2 2 3 1 1 1 1 16 413.63 4.03 Nilai (21) 28.96 1. Jambi - - 2 16 Kab.641.656.15 14.97 1 4 675. Aceh Tengah 1 - 3 3 Kab.31 2 2 3 1 12 162.45 1 15.74 838.764.28 394.02 20.62 10.781. Bungo - - 4 18 Kab.00 716.07 26.409. Tapanuli Selatan 1 - 2 5 Kab.44 1 14 712.370.41 1 2 5 3 2 18 4.48 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 1 1 Kab.999.67 1 224.03 199.28 698.95 11.40 650.608.64 3 95.12 7.63 75. Lima Puluh Kota - - 3 8 Kab. Aceh Utara - - 2 Provinsi Sumatera Utara 1 4 Kab.755.07 66.95 1.97 345.84 2 326.83 432.28 22.00 6.00 3 72.01 1 4. Solok Selatan - - 8 13 Kota Padang - - 4 Provinsi Riau 1 14 Kab.91 934.755.07 1 1 19 2. Dharmasraya 2 - 2 7 Kab.41 1 2 1 12 1.92 147.46 7 1. Sijunjung 2 - 6 11 Kab.82 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 3.309. Pasaman 1 - 4 9 Kab.514.58 Halaman 1 .66 1 32.631.44 10 704.92 13 4.10 198.75 1.41 3 55. Solok 2 - 7 12 Kab.332.58 1.80 3.42 18 1.79 13 1.14 9.67 10 681.900. Tapanuli Tengah 1 - 3 Provinsi Sumatera Barat 1 6 Kab. Merangin - - . Indragiri Hulu - - 5 Provinsi Jambi 1 15 Prov.14 8 1.489.78 12.260.46 1.46 2.24 2.14 239.42 - Nilai (22) 137. Aceh Barat Daya - - 2 2 Kab.

10 137.44 3 2 1 1 1 2 3 519. Rejang Lebong 1 - 8 Provinsi Lampung 1 38 Prov. Muaro Jambi - - 7 21 Kab.86 3.910.03 387.827.428.14 174. Ogan Komering Ulu Timur - - 6 32 Kota Prabumulih - - 7 Provinsi Bengkulu 1 33 Kab.61 1.94 1 10 1.18 1.98 2. Ogan Komering Ulu - - 5 31 Kab.37 3. Kepahiang 1 1 3 35 Kab. Tanjung Jabung Timur - - 9 23 Kab.79 661.31 Nilai (20) 5.859.85 430.37 1 6 1.64 4 751.03 2.05 10.499.14 1 3.67 4.05 834.82 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 Nilai (17) 2. Sarolangun - - 8 22 Kab.007.14 3.446.28 603.21 1 453.97 296.14 1 1.43 6 606. Tanjung Jabung Barat - - 10 24 Kab.703.95 3 543.28 221.12 1 462.513.65 2 43.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 1 1 1 6 15 1 4 8 9 1.42 11.67 3 997.215.79 2 179.878.43 - Nilai (22) 10.35 79.57 142.97 4 4 1 2 1 1 1 2 5 477.89 86.71 723.71 20.685.00 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 2 1 1 Nilai (19) 89.23 8 2.602.99 1 7 3.631.56 2 7 969.63 787.98 1 47. Ogan Komering Ilir 1 - 4 30 Kab.20 137.06 3 457.047. Bengkulu Selatan - - 2 34 Kab.56 Nilai (21) 1.75 1 432.52 827.46 1 59.27 425.53 9 1.160.43 3 911. Mukomuko - - 5 37 Kab.Halaman 2 .48 904.75 7 2 5 2 1 3 6 3.53 40.289.342.549. Muara Enim - - 2 28 Kab.70 1 5 3.36 27. Ogan Ilir 1 - 3 29 Kab.50 770.59 6.60 336.43 301.37 1.51 2 129.98 (1) (2) (3) (4) 6 20 Kab.02 63.37 4 476. Tebo - - 11 25 Kota Jambi - - 12 26 Kota Sungai Penuh - - 6 Provinsi Sumatera Selatan 1 27 Kab.43 1 12.85 1.703.93 5 1.73 1 6.85 127. Lampung - - 59 .19 4 6 897.51 2 167.14 131.19 30. Lebong 1 - 4 36 Kab.60 54.85 1 43.04 3 3 3 6 5 11.

69 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 14.39 448. Pesawaran - - 4 41 Kab.19 23.77 1 - - - - - - 1 55 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat - - .47 2 119.796. Kepulauan Riau - - 2 50 Kota Batam 1 - 3 51 Kota Tanjungpinang 3 - 11 Provinsi DKI Jakarta 1 52 Dinas Pendidikan - - 2 53 Dinas Perindustrian dan Energi 2 - 3 54 Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah 22 6.796.148. Bangka 2 - 3 47 Kab.10 1 123.656.02 5 153.99 - Nilai (22) 22.50 Nilai (21) 484. Way Kanan - - 6 43 Kota Bandar Lampung 2 - 7 44 Kota Metro 1 - 9 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 1 45 Prov.88 84.12 755.64 2 4 2 9 488.85 2 82.33 384.796. Lampung Tengah - - 3 40 Kab.39 1 23.37 9 74.10 1 138.50 5 1.70 1 63.58 1 1.20 5 181.37 9 191.61 5 10 2.32 13. Kep.10 1 137.39 755.14 - 1 11. Belitung Timur - - 10 Provinsi Kepulauan Riau 1 49 Prov.888.34 1.92 - - 12 Provinsi Jawa Barat 20 6.96 23.92 1 53.72 1 31.656.26 3 4 392.69 - (1) (2) (3) (4) 2 39 Kab.37 10 5 448.533.21 1 9.92 1 202.034.78 3 1.32 2 14 1.48 1 19 273. Bangka Tengah - - 4 48 Kab. Bangka Belitung - - 2 46 Kab.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 2 1 1 3 2 10 13.39 68.84 3 352.61 5.48 6 7 613.75 2 1.13 1 402.00 2 370.51 6.50 2 8 324.34 152.59 2 398.25 45.61 13.10 3 268.43 829.351.60 Halaman 3 .159.99 394.11 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus (17) 5.34 1 13.57 1 12 243.005.53 1 160.70 2 124. Tanggamus - - 5 42 Kab.44 3 2 1 6 596.61 6 68.69 3 3 3 2 3 1 2 1 9 1.19 2 62.53 1 1 5 1 4 247.765.39 448.07 4 287.

09 4 2.412.01 135.87 218.83 274.63 562.31 10 454.35 559.86 270.25 29.13 131.75 215. Lumajang 1 - 61 .84 1 12 3.54 3 1.51 2 15 898.37 41.63 16.84 1 3.78 617.Halaman 4 .06 3 775.10 26.97 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 1 2 2 1 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 1 1 1 Nilai (17) 338.22 363.62 32. Bekasi 2 - 5 59 Kab. Bandung - - 4 58 Kab.12 1.37 58.753.711.49 180.97 8.14 164.541.04 216.38 1.48 98.78 - Nilai (22) 89.86 8 3.411.01 - Nilai (20) 704. Banjarnegara - - 2 64 Kab.94 2 1 1 3 2 4 5 2 1 1 1 1 1 14 6.795.186.20 4 3 1 14 4. Kendal 1 - 8 70 Kab Rembang 5 - 9 71 Kota Salatiga 6 - 14 Provinsi Jawa Timur 1 72 Kab. Klaten 2 1 5 67 Kab.22 231.94 31.38 4 4 10 3 9 8 1 9 733.78 604. Blora - - 3 65 Kab.92 211.63 16.62 37.08 2.776.67 1 2 11 2.633.668.53 1 2 1 3 2 2 3 4 5 5 2 3 3 3 6 9 1.56 148.00 335.43 186.71 3 108.96 667.55 2.62 107.98 11.07 369.22 2 81.13 1 4.10 594.84 333.14 261.09 11.05 1 29.43 113.435.18 53.938.25 - Nilai (21) 17.165.58 11 215.43 (1) (2) (3) (4) 2 56 Setda Provinsi Jawa Barat 1 - 3 57 Kab.65 980.668.92 633.90 7 6.32 10.18 13 482.658. Purworejo 1 - 6 68 Kab. Purwakarta 4 - 13 Provinsi Jawa Tengah 1 63 Kab. Karanganyar 4 1 4 66 Kab.60 215.49 2 2 8 4.74 4 62.873.94 15 585. Gresik - - 5 76 Kab.60 2 6 1.10 21.44 2 12 1.81 23. Cirebon - - 7 61 Kab.00 198.49 6 990.92 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 - Nilai (19) 739.77 65.72 1 1.12 214.502.97 62.95 2 3 1 5 2 13 226.43 40.61 1. Bangkalan - - 2 73 Kab.90 826.17 2.39 4 194.51 24. Bojonegoro - - 3 74 Kab.16 367.42 5 1. Jember - - 6 77 Kab. Bondowoso - - 4 75 Kab.41 258.50 2.42 103.00 26.05 442.73 105.05 10. Ciamis - - 6 60 Kab. Garut - - 8 62 Kab.70 61.997.84 13 495. Temanggung 1 - 7 69 Kab.223.75 147.08 11.199.92 205.687.91 9 9 1.92 258.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 3 1 1 1 5 5 1 6 13 15 14 8 9 8.90 107.44 386.349.10 207.23 141.

Badung 4 - 2 98 Kab.13 7 14 705.27 6.85 223.05 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 942. Malang - - 9 80 Kab. Gianyar 1 - 4 100 Kab.22 795.50 310.46 1 10.78 432.15 1 2 4 12 1 2 3 4 1 2 5 93.39 3.97 2 42.93 869.77 10 1.938.32 104.33 65.64 4 796.743. Sidoarjo - - 14 85 Kab.52 86.09 796.78 1 4.27 6 1.51 (1) (2) (3) (4) 7 78 Kab.94 32.91 2 1 2 2 21 2.37 4 9 2.27 2 476.21 1.00 481.22 80.18 10 1 12 321. Situbondo 2 - 15 86 Kab.77 2 15 1.00 1 34.031.44 1.52 324.91 31. Trenggalek 1 - 17 88 Kab. Magetan - - 8 79 Kab.90 10 614.59 11.50 14. Buleleng 1 - 3 99 Kab.67 7 836.118.84 27. Probolinggo 1 - 12 83 Kab.97 200.17 90.42 42.03 95.926.93 10 1.681.49 486.445.02 6 241.42 0.46 61.22 4 291.17 478.82 1 1 1 1 2 1 1 4 3 14 952.38 4.697.533.70 34.94 166.67 2.66 2 56. Pacitan - - 11 82 Kab.72 2 1 1 1 1 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 24.689.50 218.06 13 1.540.88 75.18 22.196.189.30 9 4 11 7 16 1.64 4 1.211.065.32 17 560.00 273.67 84.96 288.04 2.47 8 1.445.128.35 11 451.97 3 1.586.68 478.26 9. Sumenep - - 16 87 Kab.424.47 14.94 Nilai (21) 4.414. Ngawi - - 10 81 Kab.39 16.43 31.624. Tulunggagung - - 19 90 Kota Batu 1 - 20 91 Kota Kediri - - 21 92 Kota Madiun - - 22 93 Kota Malang - - 23 94 Kota Mojokerto - - 24 95 Kota Probolinggo 1 - 25 96 Kota Surabaya 1 - 15 Provinsi Bali 1 97 Kab.95 31.29 1 74.95 31.970.34 935.42 1 9 316.31 - Nilai (22) 10.22 18 1.89 1.37 5 869.24 83.14 45.54 238.89 250.89 4 84.97 2. Sampang - - 13 84 Kab.034.021.62 Halaman 5 .81 1 144.09 7 1.45 33 971.70 25.89 11 942.66 252.86 1.18 247.66 1.97 5 1.89 1.06 1 18 1.39 2.45 39.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 1 1 4 1 1 3 12 16 10 3.42 3.39 10.85 1.16 34.97 6.51 2 53.45 1 1 1 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 1 1 Nilai (19) 111.697.27 9 867. Tuban - - 18 89 Kab.64 6 691.54 7 1.314.83 1.59 7 505.77 53.16 3 36.80 480.613.45 1 2 1 1 2 2 1 10 562.28 60.511.94 101.81 12.181.42 35.672.32 238.96 34.96 101. Jembrana 3 - .

18 1.08 8.743.856.317. Karangasem - - 6 102 Kab.271.48 8.519.99 172.54 260.15 24.83 6.63 - Nilai (21) 95.02 6 2.849.61 20 7.601.33 2.89 8 645.74 4.35 41.64 12.65 1.62 1.704. Lombok Tengah 8 - 3 106 Kab.500.83 8 7.51 45. Rote Ndao 4 2 10 118 Kab.02 1 29.96 24.64 517.88 1 134.08 438.62 129.43 2 11 11.13 1.48 1.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 3 1 7 12 5 1 1 1 1 2 1 1 12 12 11 13 11 8 15 591.01 51.39 1.84 5.474.25 76. Sumba Tengah 1 1 12 120 Kab.96 - (1) (2) (3) (4) 5 101 Kab.73 584.38 4.868.26 89.15 143.64 3 4 3 2 2 1 3 2 1 13 2.165.71 - Nilai (20) 158.893.732.Halaman 6 .16 1 2 1 1 1 4 2 3 1 2 4 3 3 6 132.27 66.63 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 - Nilai (19) 1.03 291.55 386.05 2 1 13 871. Kupang 2 2 6 114 Kab. Flores Timur - - 5 113 Kab.00 3.124.536.585.80 1.21 3 213.810.47 5.70 163.23 58.46 1 1 24 1.09 10.75 4.43 45.50 3 11 3.92 265.12 6. Klungkung - - 7 103 Kab.730.54 260.96 93. Belu 1 - 4 112 Kab.317.51 1 181.65 1 3 3 1 2 3 1 14 4.55 3 263.65 1.50 77.049.33 162. Alor 3 1 3 111 Kab.82 148.772. Sumba Barat 2 2 11 119 Kab. Manggarai Barat - - 8 116 Kab.92 51.74 674.27 1.598.564.18 1.36 8 1.19 367.60 43.440.24 161.150.58 224. Lembata 1 - 7 115 Kab.61 3 10 1.70 148.57 1 1 15 1.345.14 1 4.78 53.99 3 12 4 6 3 7 8 1 2 2 2 4 3 2 1 1 1 1 5 2 3 2 2 2 5 1 16 1.40 19.967. Tabanan 3 - 16 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 104 Kab.79 2. Sumba Timur 3 2 13 121 Kab. Nagekeo 2 1 9 117 Kab.31 139.73 2.691.75 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 3 9 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 4 Nilai (17) 353.71 299. Sumbawa Barat 12 - 4 107 Kota Mataram 5 - 5 108 Pembangunan Bandara Internasional Lombok - - 17 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 109 Prov.54 27.746.94 1 10 780.108. Nusa Tenggara Timur - - 2 110 Kab.90 319.31 0.92 45.40 5.611.388. Timor Tengah Selatan 4 3 63 .82 98.00 2 1 2 2 1 2 2 1 3 5 3 2 2 6.084.145.85 5 290.334. Lombok Barat 3 2 2 105 Kab.17 96.92 753.30 7 233.07 12 609.46 - Nilai (22) 181.48 25.29 582.

24 9 12 1.63 2 73.77 1 80.862.32 3 488.09 165.628.24 1 70.37 182. Bolaang Mongondow 1 - 2 141 Kab.35 1.027.04 1.26 26 1.280.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 2 1 1 1 2 10 16 2.64 275. Gunung Mas 3 - 6 129 Kab.35 1 298.198.79 15.439.96 196.62 1.21 656.84 6 247.91 2 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 1.01 2 522.06 16. Barito Selatan - - 3 126 Kab.95 122.48 22 17. Pulang Pisau 1 - 10 133 Kab.77 1.00 38.43 1.74 768.32 8 15 377.87 8.20 4 757. Tanah Laut - - 5 139 Kota Banjarbaru - - 20 Provinsi Sulawesi Utara 1 140 Kab.00 86.83 9 311.329.81 5.81 34. Hulu Sungai Timur - - 4 138 Kab.93 11.35 17.75 1 27.67 48.37 281.300.845.51 7.76 3 20.41 418.56 1.64 5 198.55 3 45.64 1 1 4 2 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 1 Nilai (19) 2.22 44.47 202.34 140.276.107.53 Nilai (21) 118.99 2 1 3 3 11 750.34 105.95 - Nilai (22) 16.11 28.32 11.75 7 311.484.00 10 1.08 8 5.22 1 720.55 2 1 1 4 4 4 1 1 2 1 1 1 3 1 1 7 1.51 126.16 37.85 3 2 7 8 4 15 968.41 16 876.96 362.691.42 15.41 23.146.23 21.82 266.42 429.45 10 3 17 1.71 4 275.521.173. Kepulauan Talaud 2 - .75 7 13 1.35 2 3 1 2 3 1 4 2 24 700.57 196.45 3 617.70 8.20 1 7. Kalimantan Selatan - - 2 136 Kab.83 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 7.30 4.158.15 254. Katingan - - 7 130 Kab.45 4 1 1 1 2 1 7 222. Hulu Sungai Selatan - - 3 137 Kab.80 0.62 14 831.65 6 15 654.19 704.07 393.95 21.323.96 800.174.18 3 374.96 - (1) (2) (3) (4) 14 122 Kab.75 147.01 11.65 2. Barito Utara - - 5 128 Kab.54 3 1 21 2.425.84 6 478.76 8 496.69 39.92 200.73 5 245. Timor Tengah Utara 1 - 15 123 Kota Kupang 5 2 18 Provinsi Kalimantan Tengah 1 124 Prov.00 13.14 6 13 5. Seruyan 1 - 11 134 Kota Palangkaraya - - 19 Provinsi Kalimantan Selatan 1 135 Prov.412.85 3 5 2. Barito Timur 1 - 4 127 Kab. Kalimantan Tengah - - 2 125 Kab.96 22.74 13 14 1.64 Halaman 7 . Kotawaringin Timur - - 8 131 Kab.50 693. Lamandau 1 1 9 132 Kab.91 7 77.696.06 2 7 306.

498.59 1.107.952. Halmahera Tengah - - 5 160 Kab.64 263.60 1.06 4.40 108. Sigi 1 - 22 Provinsi Sulawesi Selatan 1 148 Kab.16 1.27 481.08 7 5 7 13 17.20 6 504.630.77 4 365.74 31.15 87.931.Halaman 8 .89 5.064.77 66. Minahasa Tenggara 2 - 5 144 Kota Tomohon 2 - 21 Provinsi Sulawesi Tengah 1 145 Kab.033.80 1.834.85 1.06 4 184.83 14 6 6 6 4 14 1.678.44 948.52 238. Majene - - 3 155 Kab.027.09 517.99 4 111.45 79.70 330.02 441.36 3 434. Muna 12 - 24 Provinsi Sulawesi Barat 1 153 Prov.43 2 286. Sinjai - - 4 151 Kota Pare-pare 2 - 23 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 152 Kab. Halmahera Utara 2 - 65 .18 2.56 4 149.231.80 1.713.71 1 1 9 790.96 6 1.73 1 25.11 624.00 1 91.120.97 15 7.155.28 - Nilai (21) 15. Banggai Kepulauan - - 3 147 Kab.89 1.978.584.90 - Nilai (20) 1.82 634.09 5 766.97 91.45 59.610.30 1.41 12 6.15 4 3 1 1 1 3 1 3 2 8 1 4 2 3 4 1 2 3 6 4 1 7 1.61 56.48 42.48 169.71 1. Luwu - - 2 149 Kab.63 86.00 1 1 8 806.72 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 3 1 1 3 1 2 - Nilai (19) 1.885. Mamuju 2 1 25 Provinsi Maluku Utara 1 156 Prov.43 1.221.25 1 476. Minahasa 2 - 4 143 Kab.43 1 5.28 32.06 581.63 2.10 7 15 6 1 3 4 3 15 4.20 19.00 - Nilai (22) - (1) (2) (3) (4) 3 142 Kab.63 855.861.51 2 204. Halmahera Selatan 7 2 4 159 Kab.968.85 1.08 3.99 205. Sidenreng Rappang 3 - 3 150 Kab.97 1 21.57 1 1 2 1 1 1 2 1 4 1 1 1 2 14 3. Sulawesi Barat 1 1 2 154 Kab.352. Halmahera Barat 1 - 3 158 Kab.14 5 3.79 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 3 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 Nilai (17) 876.43 14.86 2 1 10 558.41 2 267.263.74 14.92 78.58 828.514.383. Banggai 1 - 2 146 Kab.28 1 8 766.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 2 2 1 1 1 2 2 12 1 3 1 1 2 18 11 9 1 26 30 16 1.501.580.044.950.14 2.27 590.608.41 3 482.49 4.67 49.10 208. Maluku Utara - - 2 157 Kab.54 107.

752.75 168.484.66 (1) (2) (3) (4) 6 161 Kab.72 1 0.654.46 1 9 12.151.46 14 15.04 3.898.70 6 8. Bungo 1 - 3 174 Kab.869 829.20 28. Nduga - - Jumlah Belanja Daerah 180 26 Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 1 1 2 4 1 87 7.722. Bengkulu 3 1 3 167 Kab. Gunung Kidul 2 2 6 170 Prov.88 1 288.021. Bantul - - 4 168 Kab.513.76 3 4 332 107 1 8 549.44 1 18 968.555.064.78 2 2.85 61.48 66.217.17 38.20 - 1 172 Kab.87 48.35 1 2.63 17 1.87 8.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 134 20 1.13 1.20 1 2.57 6.95 349.98 9 4.42 1 38.03 1 1 12.34 1 3 3 2 3 2 246.47 299 44.402.020.28 2.75 1 13 2. Sarolangun 1 1 .944.32 1.43 2 1 3 42.12 210.17 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 67.75 7 286.35 5 495.72 1 165 Prov.65 498.63 2 519. Sleman 4 3 5 169 Kab. Lanny Jaya - - 2 164 Kab.18 203 95.54 1 651.56 7 411.93 47.76 351.79 1 2 120 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) Nilai (19) 316.42 3 243.01 60.32 3.761. Sulawesi Utara 2 - 7 171 Kota Manado - - Jumlah Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 11 6 Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 1 1 8 10 4 341.272.666.099.37 5 99.31 8.040. Batang hari 1 - 2 173 Kab.798. Jambi - - 2 166 Prov.84 9 1.92 12 2.51 246.67 41 4.84 2 1 1 2 1 2 3 12 42.97 2 2 3 3 3 1 4 18 2 3 3 1 2 1 12 1.102.14 22.63 18 3.80 6 26.16 585.11 472.482.78 34.27 3 1.83 1.09 808 139.43 4.18 9 29.70 521.72 1.66 1 2 2 95.65 48.255.04 2.65 1 170.748.71 Nilai (21) 1.274.48 8 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 449.53 119. Morotai - - 7 162 Kota Tidore Kepulauan 2 - 26 Provinsi Papua 1 163 Kab.44 1 37.66 Halaman 9 .98 Nilai (22) 4.59 25.29 1.882.91 14 75.95 1.24 290.23 203.55 4 8.

Tanjung Jabung Barat - - 5 176 Kab.214.692.22 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 9 132 Nilai (19) 12.10 22.377.77 51.656.752.623.Halaman 10 .21 2 2.69 8 258.554.31 1 1.46 857 144.38 6 70.69 Nilai (20) 16.58 (1) (2) (3) (4) 4 175 Kab.20 5.00 1 33.25 37.89 3 10 1. Tebo 1 - Jumlah Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 4 1 TOTAL 195 33 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 67 .021.14 789.64 522.33 1 25.994 840.03 206 97.217.85 291.95 Nilai (21) 1.596.08 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 3 6 16 366 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 119 Nilai (17) 30.639.31 2 22.94 45.11 314 38 3.267.98 Nilai (22) 3.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 141 21 1.563.

89 100 68 .95 Jumlah Kasus % 3 2 1 38 7.Lampiran 21 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 30 26 3 1 5 1 4 13.16 78.

848.59 72.51 66.810.115.03 - - 1.58 4.02 11.10 1.45 8.014.318.12 258.74 100.74 22.05 4.94 856.848.00 34.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 69 .38 % Nilai (juta Rp) 1.77 1.79 22.20 15.086.Lampiran 22 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .70 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah 2 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan Daerah 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 1 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 2 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 3 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 5.528.70 857.528.49 3.58 100.810.29 3.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 5 1 4 14 8 5 1 2 2 2.77 4.25 61 43 1 17 1 1 8 1 7 91 67.33 4.33 14.

213.40 4.38 1.80 1 11 16.77 1.210.210.05 72.082.20 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 4 15 6 9 17 10 7 12 12 3 3 10 4 6 61 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 Nilai (17) Ketidakefektifan Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1.38 2.70 Lampiran 23 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Jml Kasus (5) 896.213.787.58 1 14 2.38 1.06 2 16 2.181.93 21.528.72 86.38 22.77 1.08 15.20 2 29.51 1 7 2.787.882.528.72 1 18 6.01 4.014.69 6.08 243.631.74 (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Bengkulu 8 8 1 1 Kabupaten Bengkulu Utara 8 8 2 Provinsi Jawa Timur 10 10 1 2 Kabupaten Sidoarjo 4 4 2 3 Kota Surabaya 6 6 3 Provinsi Bali 10 6 1 4 Kabupaten Buleleng 7 4 2 5 Kabupaten Jembrana 3 2 4 Provinsi Kalimantan Selatan 3 3 1 6 Kota Banjarmasin 3 3 5 Provinsi Sulawesi Tengah 4 2 1 7 Kabupaten Parigi Moutong 4 2 6 Provinsi Sulawesi Selatan 3 1 1 8 Kabupaten Luwu Utara 1 - 2 9 Kabupaten Tana Toraja 2 1 JUMLAH 38 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .94 2 1 1 1 1 2 1 3 22.20 4 3 1 1 1 5 3 91 1 9 153.528.153.93 22.05 1.115.80 1 18 6.41 1 25 19.69 15.904.005.01 34.93 4.69 7 29.40 4.69 7 20 6.57 1.33 2 29.77 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 8 Nilai (19) 6.12 132.306.631.44 72.29 153.20 7 29.38 1 5 86.318.07 1 1 5 132.70 2 2 1 1 3 1 2 14 1 2 3 2.00 2 13 6.213.72 132.922.848.810.213.72 1 1 5 132.009.31 856.181.48 857.57 243.60 39.

00 28.43 Jumlah Kasus % 71 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 5 5 2 2 7 100.57 71.Lampiran 24 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

96 6.14 3.71 41.619.97 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.432.94 16.577.05 13 13 10.551.41 11. V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 8 8 6.768.401.298.01 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 38.401.48 16.22 100.28 39.62 14.00 88.48 14.14 3.48 3.752.04 19.45 14.Lampiran 25 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . perpajakan.000.75 34.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 48 1 22 19 5 1 24 21 2 1 19. dll.14 37.11 5 5 124 - - - 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.298.83 26 11 1 12 2 20. pertambangan.71 2.00 72 .697.265.35 % Nilai (juta Rp) 36.29 154.

43 4 772.45 65.69 3 594.08 9 28.517.901.317.84 18.70 1 181.981.41 3 545.616.75 2.26 29.48 Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (17) 3 2 1 1 1 1 1 5 Nilai (18) - Nilai (19) - Nilai (20) - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Lampung - 1 1 Kabupaten Lampung Selatan - 2 2 Kabupaten Tulang Bawang - 3 3 Kabupaten Lampung Timur - 2 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - 735.70 3 490.59 14.383.807.420.19 783.01 4 1.432.78 15 2.35 735.44 1.950.53 34.28 3 735.54 744.68 865.51 113.033.05 3 545.98 9.68 1 19.89 19.13 202.74 4 964.77 55.40 3.97 1.608.656.752.73 19.853.43 1 6 1.24 39.85 1.521.44 7 2.21 210.231.39 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 1 16 6 2 3 1 4 7 1 6 2 2 26 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) 1 1 4 2 2 3 2 1 8 Nilai (16) 36.84 9 2.09 2 457.090.327.722.619.62 5 745.66 2 687.Lampiran 26 (nilai dalam juta rupiah) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidakhematan Entitas Total Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Struktur Pelaksanaan Pengendalian Anggaran Intern Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) 5 2 1 1 1 5 2 124 9 6 7 1.21 19.414.24 55.290.09 94.34 7 753.969.98 4 916.28 797.49 15 5 4 6 48 15 31.35 9.30 4 15 40.01 36.86 3 114.390.35 1 3 2 1 4 2 2 2 1 1 13 9 1.401.898.156.80 2 64.700.10 2 85.10 3 1.10 2.27 10.83 1.54 88.69 109.58 101.86 137.29 1.48 4.179.670.96 9 603.298.77 5 30 72.72 3 359.35 735.55 18 2.235.695.618.14 7 1.719.847.78 2 687.695.56 1.83 11.79 114.27 1 15 863.681.22 22 4.92 36.24 1 4 Kabupaten Bantul - 2 5 Kabupaten Kulon Progo - 3 Provinsi Kalimantan Barat 7 1 6 Provinsi Kalimantan Barat 3 2 7 Kabupaten Sambas 1 3 8 Kabupaten Kayong Utara 1 4 9 Kabupaten Sanggau 1 5 10 Kabupaten Kubu Raya 1 4 Provinsi Kalimantan Timur - 1 11 Kabupaten Nunukan - 2 12 Kabupaten Penajam Paser Utara - 5 Provinsi Gorontalo - 1 13 Kabupaten Boalemo - 2 14 Kabupaten Gorontalo Utara - 3 15 Kabupaten Gorontalo - JUMLAH 7 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 73 .75 2 48 7.28 1 49.63 1 66.24 55.63 1 10 2.92 2.048.90 2 1 1 6 4 2 2 1 1 24 7 1.35 55.

00 74 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 17 6 3 8 68.00 Jumlah Kasus % 8 3 1 4 25 32.00 100.Lampiran 27 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

pertambangan.54 Rp181.54 Rp175.447.21 USD 29. perpajakan.71 USD 29.Lampiran 28 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . 2 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan IV Ketidakefektifan 1 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 75 .Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Jumlah Kasus Nilai (juta rupiah dan ribu USD) Rp5.447. dll.602.049.49 Rp175.261.602.54 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara 1 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.21 USD 29. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 2 Lain-lain 20 17 3 II Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 31 31 III Administrasi 33 32 1 1 1 85 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.261.49 Rp5.261.

75 141.18 526.24 40.508.41 2 4.261.13 2 3 4. Berau 1 - 8 Kab.451.563.163.12 59.67 26.73 USD 466.22 USD 924. Kutai Kartanegara 1 - - 9 Kab.65 3 1 1 1 1 1 2 1 8 85 8 7 7 5 5 6 6 6 3 4 8 8 3.98 751.143.782.38 22.26 Rp5.44 USD 41.202.98 892.586. Sijunjung 1 - 7 Kab.843.91 175.70 USD 41.21 USD 29.139.55 Rp175.10 3.54 1 1 1 2 2 2 20 1 796. Batanghari - - - 1 4 3 3 1 4 1 3 2 3 2 2 4 33 1 1 - USD 3.55 Rp181.07 4.71 5.62 2 9 8.261.45 2 Kab.393.46 USD 6.50 1.36 3 1.517.50 1.563.202.049.37 USD 10. Indragiri Hilir 2 - 12 Kab.602.67 26.250.54 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Nilai (18) (1) (2) (3) (4) 1 1 1 1 4 1 2 2 5 17 Kab.08 USD 6.72 USD 6.04 22.10 3 101.925.925.49 2 107.30 USD 14.357.10 4.96 USD 6.749.621.493. Tanah laut 5 - 10 Kab.921. Bungo - - 3 Kab Sarolangun 1 - 4 Kab.586.035.46 175.46 USD 6.720.97 1.843.24 40.41 8. Kuantan Singingi 4 - - 14 PKB2B dan CTR 6 - JUMLAH 25 - Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .997.143. Indragiri Hulu 1 - 13 Kab.91 871. Tanah Bumbu 2 - 11 Kab. Tebo - - 5 Kota Sawahlunto 1 - 6 Kab.22 USD 924.91 2.63 1.553.12 59.493.391.887.447.71 USD 29.18 526.76 Lampiran 29 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (nilai dalam juta rupiah dan ribu USD) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Negara/ Daerah Administrasi Potensi Kerugian Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Sistem Sistem Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus USD 466.44 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 31 2 1.749.30 USD 14.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 3 3 3 1 2 6 100.00 Jumlah Kasus % 77 .Lampiran 30 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 50.00 50.

Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 78 .78 6.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 6.474.71 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.315. pertambangan. dll.Lampiran 31 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . perpajakan.474.71 17 USD 66.78 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Lain-lain II Kekurangan Penerimaan 1 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS III Administrasi 1 1 17 USD 66.78 USD 66.71 4 4 22 Rp6.315.315.474.

00 79 .28 Jumlah Kasus % 9 2 7 29 31.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 9 1 1 2 1 6 2 4 20.Lampiran 32 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .69 48.03 100.

00 80 .00 312.735.00 - - 1 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.Lampiran 33 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .50 312.735.97 1.26 20.47 100.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 1 1 % Nilai (juta Rp) 1.97 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang II Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset dikuasai pihak lain III Administrasi 20.048.00 2.50 15.00 - - 1 Lain-lain IV Ketidakefektifan 40.00 84.74 1 1 1 1 2 1 1 5 20.

50 312. Entitas/Obrik Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Total Jml Kasus (5) 6 1 7 14 6 9 5 2.47 3 3 4 2.735.Lampiran 34 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No.50 Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Tambahan Penggantian Biaya Pokok BBM - 2 Subsidi Jenis BBM Tertentu 13 3 Kewajiban Pelayanan Umum PT PELNI (Persero) 3 4 Kewajiban Pelayanan Umum PT KAI (Persero) 13 5 Subsidi Pupuk yang disalurkan PT Pusri (Persero) - 6 Subsidi Bunga yang Ditagihkan Bank Indonesia - JUMLAH 29 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 81 .735.50 Jml Kasus (13) 1 1 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah Kerugian Negara/ Potensi Kerugian Administrasi Ketidakefektifan ditindak lanjuti Perusahaan Negara/Perusahaan dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (14) 1 1 2 Nilai (15) Potensi Kerugian Negara/Perusahaan (16) 312.47 1 1 2 1 6 1 1.048.97 1.97 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Nilai (12) 312.50 312.048.

57 27.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 13 12 1 28 3 9 16 59.Lampiran 35 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .77 47 100.66 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 6 3 3 12.00 82 .

Lampiran 36 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
No Kelompok dan Jenis Temuan Nilai Jumlah (juta rupiah dan Kasus ribu USD) 92.936,95 USD 7,543.01 7.453,44 6.856,42 104,08 1.023,50 77.499,49 USD 7,543.01 973.661,50 USD 53,155.43 1.466,71 781.925,38 USD 20,704.76 190.269,40 USD 32,450.67 3.201,35 2.915,16 286,19 1.243,90 1.243,90 11.990,65 11.990,65 Rp1.083.034,47 USD 60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 5 Lain-lain 13 1 3 1 1 7

II

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset tidak diketahui keberadaannya 2 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 3 Lain-lain

31 1 22 8

III

Kekurangan Penerimaan

6 4 2 6 1 3 1 1 1 1 1 1 58

1 Penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara atau perusahaan milik negara 2 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi

1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan

1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

83

84

Lampiran 37

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
(nilai dalam juta rupiah dan ribu USD)
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Kerugian Negara/ Perusahaan Potensi Kerugian Negara/ Perusahaan

Ketidakefektifan

Kekurangan Penerimaan

Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus
(6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Nilai

Jml Kasus
(17) (18)

Nilai

Nilai

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(19)

(20) 3 1 1.243,90 91,84

1 USD 38.60 410.591,37 USD 29,327.09 26.646,73 USD 412.07 19.968,06 127.812,60 USD 30,920.67 Rp1.083.034,37 USD 60,698.45 13 USD 7,543.01 31 Rp92.936,95 1 1 29.208,30 6 98.604,29 USD 30,920.67 Rp973.661,50 USD 53,155.43 2 2.421,35 2 5.126,33 1 2.641,12 USD 412.07 2 6 3 24.005,60 5 USD 7,543.01 USD 21,784.08 14 45.650,06 364.941,30 USD 38.60 2 4 9 1 6 28 6 58 1 2 7 2 9 1 4 1 19 429,71 Rp3.201,35

PT Angkasa Pura II (Persero)

9

2

6

1

17

498.015,60 4 13.016,11 5 4 2.771,64

480.983,95

2

PT Adhi Karya (Persero)

4

1

2 1 6

1

Rp1.243,90

1 -

11.990,65 1 Rp11.990,65

Rp91,84

3

Bali Tourism Development Corporation (BTDC)

5

-

4

PT Kimia Farma (Persero)

15

4

5

PT Nindya Karya (Persero)

7

6

6

PT Pupuk Kalimantan Timur

7

-

JUMLAH

47

13

Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 38

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 6 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 27 17 5 2 3 101 2 1 19 44 24 11 49 13 25 7 4 177 100,00 27,68 57,06 15,25 Jumlah Kasus %

85

Lampiran 39 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 43 2 4 1 1 8 5 1 21 22 2 2 2 1 15 26 22 2 2 66 13 2 12 1 11 15 1 2 2 7 28 28 42 7 1 1 27 6 227 100,00 18,50 12,33 29,07 11,45 9,69 % Nilai (juta Rp) 3.269,96 102,79 220,50 865,97 21,50 280,72 145,61 7,25 1.625,59 13.893,40 17,52 119,87 575,39 2.525,50 10.655,09 2.823,85 2.072,38 643,41 108,05 46.809,14 46.809,14 6.548,97 3.365,97 1.484,78 1.629,38 68,82 73.345,33 100,00 8,93 63,82 3,85 18,94 %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Pemahalan harga (Mark up) 5 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 6 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 7 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 8 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 5 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan 6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 7 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan 8 Penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 10 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

18,94

4,46

86

Halaman 1 - Lampiran 40

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 5 5 3 3 31 8 4 7 4 2 6 21 8 7 4 4 3 3 1 1 3 1 477,47 1.054,00 10 824,93 1 173,10 484,00 484,00 28,00 28,00 41,43 28,08 0,60 540,71 6 1 1 6 6 20 3 4 4 2 4 3 8 2 7 3 12 19 55 11.392,83 2.421,83 3 9 2.507,01 3 9 2.507,01 1 10 3.132,02 1 10 3.132,02 1 13 2.078,53 2 19 3.050,86 2 6 1.572,28 2 168,54 1 3 3 8 2 1 1 2 5 38 6.701,68 10 882,37 1 10 304,13 2 23,70 1 2 5 875,02 1 12,50 74,37 555,74 555,74 2.484,34 2.484,34 6.417,25 2.393,75 321,60 529,10 146,67 1 11 1.102,42 3 47,08 3 16 732,50 3 58,73 1 482,28 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 7 1 2 2 5 13 240,11 3 141,73 1 3 15 554,59 2 92,49 2 79,21 1 14 70 3.808,80 14 376,23 4 635,87 7 911,20 382,88 9,09 153,58 109,77 49,80 206,05 44,20 9,75 4,00 30,45 43,26 43,26 165,10 4,39 105,99 36,49 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 2 2 26 6 6 7 3 1 3 13 2 7 4 3 3 2 2 11 5 1 2 1 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 6 1 1 3 1 8 1 3 4 1 1 4 4 5 2 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (17) 431,11 431,11 1.816,66 20,46 37,90 945,57 812,72 3.589,96 1.393,98 321,00 1.874,97 163,68 163,68 2.435,75 2.435,75 1.403,07 175,67 Jml Kasus (18) 1 1 13 4 2 3 1 1 2 3 3 1 1 21 4 4 3 2

Ketidakefektifan

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (19) 68,82 68,82 1.629,38 1.629,38 3.365,97 151,47 418,90 465,49 Nilai (20) 163,55 81,62 58,73 6,75 16,44 77,69 8,58 69,11 Nilai (21) 8,60 8,60 Nilai (22) -

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

I

Prov. Sumatera Barat

7

1

1

1

PDAM Kota Bukittinggi

7

1

II

Prov. Sumatera Selatan

4

1

1

2

PDAM Lematang Enim

4

1

III

Prov. Jawa Timur

50

5

1

3

PDAM Kab. Banyuwangi

11

-

2

4

PDAM Kab. Blitar

10

1

3

5

PDAM Kab. Kediri

10

-

4

6

PDAM Kab. Madiun

6

1

5

7

PDAM Kab. Mojokerto

6

2

6

8

PDAM Kota Pasuruan

7

1

IV

Prov. Bali

28

2

1

9

PDAM Kab. Buleleng

11

1

2

10 PDAM Kab. Karangasem

9

-

3

11 PDAM Kota Denpasar

8

1

V

Prov. Nusa Tenggara Barat

2

-

1

12 PDAM Menang Mataram

2

-

VI

Prov. Kalimantan Selatan

9

-

1

13 PDAM Intan Banjar

9

-

VII Prov. Sulawesi Tengah

49

10

1

14 PDAM Kab. Banggai

7

1

2

15 PDAM Kab. Buol

6

-

3

16 PDAM Kab. Donggala

9

2

4

17 PDAM Kab. Morowali

8

2

87

88

Halaman 2 - Lampiran 40

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 3 3 1 10 10 3 3 1 1 101 49 227 73.345,33 43 3.269,96 22 13.893,40 26 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 2.823,85 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 3 3 66 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 3 3 28 5 6 678,21 2 18,21 1 1 6 3.531,12 1 12,75 1 1.171,30 1 1 1 6 2.405,24 1 1.854,79 1 1 158,40 726,06 342,92 36.968,90 36.968,90 46.809,14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) 3 2 3 1 1 2 2 42 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 392,03 1.620,99 317,07 1.484,78 1.484,78 6.548,97

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (20) 241,25 Nilai (21) 8,60 Nilai (22) 17,04 17,04 17,04

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

5

18 PDAM Kab. Poso

6

2

6

19 PDAM Kab. Tolitoli

5

1

7

20 PDAM Kab. Tojo Una-una

8

2

VIII Prov. Sulawesi Selatan

12

2

1

21 PDAM Kota Makassar

12

2

IX

Prov. Sulawesi Barat

12

5

1

22 PDAM Kab. Polewali Mandar

12

5

X

Prov. Papua

4

1

1

23 PDAM Kab. Jayapura

4

1

Total

177

27

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 41

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 6 5 1 27 2 9 13 1 2 5 4 1 38 100,00 13,16 71,05 15,79 Jumlah Kasus %

1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 2 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

89

Lampiran 42

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus % Nilai (juta Rp) %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

10 2 3 2 2 1 1 1 17 15 2 19 2 1 5 6 3 2

16,39

3.531,80 102,24 676,67 101,52 2.637,48 13,87

17,95

1,64

28,35 28,35

0,14

27,87

6.072,60 5.523,57 549,02

30,86

31,15

-

-

1 1

1,64

70,47 70,47 -

0,36

13 4 2 5 2 61

21,31

9.977,10 944,46 8.873,63 159,00

50,70

100,00

19.680,34

100,00

90

Lampiran 43

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kerugian Daerah/ RSUD Potensi Kerugian Daerah/RSUD Kekurangan Penerimaan

Entitas

Total

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja

Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Kerugian Daerah/RSUD

Potensi Kerugian Daerah/RSUD

Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 0 2 0 2 6 27 5 61 19.680,34 10 3.531,80 11 2 13 800,59 1 78,72 1 1 14 4.118,02 2 2.629,85 4 11 4.040,07 4 309,00 28,35 6 1 12 9.349,72 1 28,35 3 7 4 17 6 1 11 1.371,93 3 514,22 3 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 857,70 3.681,28 1.307,39 226,21 6.072,60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus (15) 3 4 2 4 6 19

Jml Kasus (16) 1 1

Nilai (17) 70,47 70,47

Jml Kasus (18) 2 6 2 1 2 13

Nilai (19) 9.250,89 49,78 180,77 495,66 9.977,10

Nilai (20) 23,52 23,52

Nilai (21) 2,38 2,38

(1)

(2)

(3)

(4)

1

RSUD Pirngadi Medan

9

2

RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh

7

3

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung

6

4

RSD Mayjen H. M. Ryacudu di Kotabumi

1

5

RSUD Prof. Dr W.Z. Johannes Kupang

15

JUMLAH

38

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

91

05 6.59 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.00 92 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 6 3 3 41 1 1 14 9 16 45.Lampiran 44 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .35 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 91 100. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 44 9 32 1 2 48.

31 33.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 7 1 1 2 1 1 1 15 1 2 11 1 8 8 14.73 2.34 178.88 2.50 3.62 235.91 13.16 2.96 10.764.68 2.235.727. perpajakan.00 58.50 10. pertambangan.00 38.50 - 2.39 445.91 484.13 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 6 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.78 66.00 93 .633.73 - - 1 1 6 1 1 1 3 55 1. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah 12.792.521.88 1.56 100. dll.55 27.497.82 1. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 4 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.86 115.52 775.759.56 18 2 3 12 1 32.27 % Nilai (juta Rp) 1.117.88 4.416.834.50 1.22 100.Lampiran 45 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .98 90.727.70 101.25 23.792.

071.24 2 211.800.800.521.25 10.89 1 3 1 2 5 3.54 223.497.09 20 3 4 2.50 - Jml Kasus (18) 1 2 1 1 1 Nilai (19) 484.77 2 14 3 4.87 2 2 2 9 4.43 10 10 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (4) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 2 5 1 5 3 1 - Nilai (17) 1.258.56 3 3.86 2 1.12 - (1) (2) (3) 1 BPD Sumatera Barat 21 2 PD BPR Tanggo Rajo 1 3 BPD Jawa Tengah 2 4 PD BPR Kab.54 - Nilai (21) 223.142.598.82 2 1 5 2.759.56 2 9 11.792.633.475.943.919.50 6 13.83 18.248.727.727.66 4 8.98 1 6 18.34 9.40 18.416.98 3 4.52 5 JUMLAH 91 15 38.494.96 1 178.676.12 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .37 369.142.70 1.94 Lampiran 46 (nilai dalam juta rupiah) Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Daerah Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 0 0 0 0 1 0 1 3 0 3 2 6 29. Sulawesi Utara 7 10 PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang Di Palu.98 1 11 7 5.22 7 1.84 1 146.09 1 5. Poso.699. Buol. Tolitoli dan Parigi Moutong 6 41 44 55 58.08 2 325.88 18 1 1. Luwuk.50 2.39 8 2.764.89 2.91 0.72 1 775.16 Nilai (20) 0. Bantul 2 5 PD BPR Bank Sleman 1 6 PT Bank NTB 17 7 PT BPD Nusa Tenggara Timur 23 8 PT Bank Kalimantan Tengah 12 9 PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.

Lampiran 47 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .99 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern 4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 95 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 20 12 1 7 34 4 7 14 8 1 33 17 11 1 2 2 87 100.00 37.93 39.08 22.

91 - - 10.70 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 Kekurangan volume pekerjaan 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/ atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Pembelian aset yang berstatus sengketa 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.36 196.169.12 8.764. dll.79 34.Lampiran 48 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .16 437.402.620.52 271.31 6.60 15.99 18.46 3.442.00 - 18.16 38.71 344.673.60 16. pertambangan.92 6.639.402.35 % 4.00 96 .18 15. perpajakan. 4 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 5 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 6 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 18.15 27.379.80 485.487.51 122.46 1.073.37 7.133.835.84 417.47 1.58 100.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jumlah Kasus 8 2 2 3 1 16 6 1 2 5 1 1 16 15 1 24 10 4 6 1 2 1 9 9 13 2 5 3 3 86 % 9.60 1.53 16.00 44.49 100.99 100.30 Nilai (juta Rp) 2.73 1.

93 619. Kalimantan Barat 12 10 Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya.24 2.00 1.835.88 5 6.849.49 254.65 3 3 10 11.00 14.847.43 3 2 1 6 3 PT.730.58 5 1 11 6.73 - 3 - 1.40 329.00 4. Maluku 15 JUMLAH 87 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 97 .51 668.68 143.79 3 2 3 5.94 2 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 5.29 (20) - 1 PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan 5 2 PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS) Untuk Tahun Buku 2008 – Semester I Tahun 2010 di Pekanbaru (*) 4 1 3 782.442.38 1.10 - - 4 Pendapatan dan Biaya PD Natuna.19 1 1.92 1 113.169.40 5.07 2 5 3 179.50 781. Kepri 16 5 Perusahaan Daerah Karimun.51 8 PD Pasar Surya.849.398. Pengembangan Investasi Riau (BUMD Provinsi Riau) 7 221.51 1.54 3 9 16 8.73 1 4 3 1 16 0 7 Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama (Provinsi Jawa Timur) 3 2.42 1 3 4 - 1 2 2 - 66.94 - (15) - (16) 1 (17) 39.169.325.52 1.46 2 1 1 1 1 13 1.24 163.Lampiran 49 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Ketidakhematan Ketidakefektifan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jml Kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus Nilai Nilai (1) 1 3 2 5 188.169.696.60 16.37 5 1 9 6.90 1 100.53 4 1 2 5 4 24 1 2 9 71.696. Jawa Timur 7 9 Perusahaan Daerah Aneka Usaha.133.13 8.52 2 122.31 1 4 2 1 16 8.379.12 44.14 15.620.402.312.54 8 5 3 7 2.570.00 499.867.073. Kepri 8 6 Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama 1 4 2 7 20 34 33 86 1 7 9 163.288.345.34 826.109. Kalimantan Timur 8 11 PD Praja Karya.50 1 1 4 3 10 1.186.37 5.82 (18) 1 3 (19) 48.

590.65 Jml (10) 40 35 75 4 4 15 15 30 Nilai (11) 2.20 557.659.98 41.590.987.88 1.04 16.55 Jml (8) 2 2 6 6 6 6 1 Nilai (9) 596.08 369.97 1.28 2.729.951.945.70 EUR 0.78 368.09 24.13 96.536.59 1.31 4.090.305.483.98 22.952.69 1.377.12 26.010.37 53.750.734.35 - - USD 9.40 7 2009 2010 Jumlah 19 111 130 15 10 25 23 16 39 11 13 24 11 11 22 17 7 24 141 191 332 - 161.23 9 9 9.98 461.20 1.830.906.32 - 55 55 - 10.12 26.19 - 8 Wantanas 2009 2010 Jumlah 9 BIN 2009 2010 Jumlah 10 Lemsaneg 2009 2010 Jumlah 11 Lemhanas 2009 2010 Jumlah 12 Menko Polhukam 2009 2010 Jumlah 13 Kementerian Dalam Negeri 2009 2010 Jumlah 14 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi 2009 2010 Jumlah 6 17 23 2.47 EUR 11.419.757.20 22.82 13.847.909.01 6.76 112 USD 9.04 16.407.244.335.676.40 12 124 - EUR 0.34 1.27 22.96 125.22 1 4 5 24.80 USD 309.23 - 85 85 20 16 36 11 13 24 75 75 - 64.15 GBP 17.662.52 109.88 16.676.906.78 2.255.79 14 4 18 14 9 23 3 3 11 11 22 14 7 21 127 73 200 - 161.526.090.55 65.922.556.93 92 USD 9.69 2.88 13.21 9.692.750.410.78 828.359.65 - - USD 9.984.592.255.291.92 78.64 18.21 79.995.834.47 EUR 11.38 USD 309.34 30.15 GBP 17.92 26.698.863.47 EUR 11.306.530.40 11.995.78 97.152.15 GBP 17.899.59 596.09 9.244.244.13 581.145.090.92 26.41 39 1.922.962.636.62 2.40 1.72 17.21 Jml (6) 2 2 35 9 44 39 39 11 11 34 58 Nilai (7) 138.48 2.483.40 1.29 1.13 24.556.88 15.62 868.40 1 40 - 28.26 22.244.771.94 USD 309.34 2.962.10 2.89 5 4 9 2.335.60 11.79 848.29 829.15 GBP 17.57 USD 309.08 24.47 EUR 11.26 11.636.60 11.284.86 351.28 1 1.899.362.89 4.744.92 1.82 13.616.13 581.00 68 219 Kementerian Komunikasi dan Informatika EUR 0.88 16.08 EUR 0.31 4.696.13 16.87 328.47 EUR 11.74 USD 9.306.89 98 .79 5 22 27 1 1 2 3 3 14 43 57 - 125.02 32.78 1.981.34 11.96 41.64 1.35 30.47 EUR 11.Lampiran 50 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerntah Pusat (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 1 (2) Kementerian Pertahanan (3) 2009 2010 Jumlah 2 Mabes TNI 2009 2010 Jumlah 3 TNI AD 2009 2010 Jumlah 4 TNI AL 2009 2010 Jumlah 5 TNI AU 2009 2010 (4) 40 39 79 35 13 48 45 45 15 32 47 34 59 Jumlah 93 6 Kementerian Luar Negeri 2009 2010 Jumlah 151 Nilai (5) 2.389.483.903.29 1.10 15.79 382.79 65.26 557.080.138.20 22.847.770.26 78.739.21 1.577.26 11.52 109.78 96.22 - EUR 0.265.79 416.617.21 - 1.31 1.Halaman 1 .145.15 GBP 17.10 138.616.72 19.18 102.21 79.64 24.08 24.284.952.22 10.24 EUR 0.138.744.75 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.75 USD 9.903.89 24.430.89 24.662.27 64.58 64.15 GBP 17.212.28 2.994.

005.826.01 98.75 536.01 230.15 1.34 717.196.73 51.534.45 745.71 4.45 1.08 46.923.31 1.16 326.17 24.17 9.24 526.45 150.45 870.796.33 630.00 5.00 USD 293.239.199.77 313.83 24.61 23.87 34.10 16.92 464.27 70.005.00 150.00 16.50 326.37 4.53 77.244.18 1.714.923.84 141.92 5.988.43 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 4.796.019.95 230.071.09 138.19 3.63 54.60 228.880.26 25.761.584.43 141.94 362.824.92 6.10 220.08 121.388.961.01 230.85 1.038.63 54.82 26.471.78 358.63 54.40 673.253.19 124.92 19.631.66 1.071.00 5.32 26.57 1.241.84 633.988.165.60 12.631.39 1.47 22.48 521.60 449.01 96.Halaman 2 .01 19.610.40 150.85 950.55 121.584.60 9.75 929.701.642.75 55.869.495.49 973.746.57 2.83 1.01 96.87 284.61 230.40 313.09 23.55 5.45 1.722.60 228.17 10.98 628.038.60 26.21 9.34 417.43 121.788.558.59 34.97 170.60 16.558.45 745.263.85 165.00 126.379.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 15 (2) Kementerian Sekretariat Negara (3) 2009 2010 Jumlah 16 TMII 2009 2010 Jumlah 17 BKN 2009 2010 Jumlah 18 BPN 2009 2010 Jumlah 19 LAN 2009 2010 Jumlah 20 Arsip Nasional 2009 2010 Jumlah 21 KPU 2009 2010 Jumlah 22 Kementerian Hukum dan HAM 2009 2010 Jumlah 23 Kejaksaan Agung 2009 2010 Jumlah (4) 38 25 63 21 13 34 3 40 43 34 27 61 2 16 18 4 9 13 412 22 434 106 144 250 32 44 76 24 POLRI 2009 2010 Jumlah 25 Komnas HAM 2009 2010 Jumlah 26 Mahkamah Konstitusi 2009 2010 Jumlah 27 MPR 2009 2010 Jumlah 28 DPR 2009 2010 Jumlah 29 DPD 2009 2010 Jumlah 30 Mahkamah Agung 2009 2010 Jumlah 31 Komisi Yudisial 2009 2010 Jumlah 59 231 290 11 11 22 5 13 18 2 5 7 28 13 41 4 5 9 40 79 119 3 10 13 Nilai (5) 23.301.329.460.626.910.85 106.82 Jml (6) 5 14 19 18 18 2 3 5 21 4 25 1 4 5 3 3 6 21 11 32 94 17 111 2 2 2 107 109 5 13 18 1 5 6 25 12 37 4 5 9 6 22 28 3 8 11 Nilai (7) 126.00 126.301.85 106.34 1.283.50 326.283.568.98 8.104.267.96 38.535.435.22 USD 293.51 3.63 70.338.66 USD 293.325.37 5.910.00 226.78 1.585.37 34.325.85 1.99 1.44 USD 5.92 150.57 141.006.09 12.40 19.16 26.63 19.241.126.75 55.385.00 7.24 56.631.01 1.00 284.005.92 352.60 4.631.37 26.85 106.338.84 633.104.24 220.82 Jml (8) 33 11 44 3 3 1 37 38 13 2 15 1 8 9 1 6 7 14 11 25 12 23 35 4 35 39 1 1 3 1 4 22 57 79 2 2 Nilai (9) 23.01 230.75 927.95 4.00 1.193.31 Jml (10) 13 13 21 21 4 4 377 377 104 104 30 44 74 53 89 142 11 11 22 12 12 Nilai (11) 9.10 99 .77 2.60 228.98 71.56 USD 293.998.73 1.988.378.283.43 141.210.09 23.82 26.17 1.077.35 1.90 7.48 1.196.434.002.91 26.60 313.63 54.78 1.92 158.75 536.283.95 230.66 124.592.45 1.37 126.317.44 USD 5.71 950.317.091.

68 8.728.247.92 Kementerian Kelautan dan Perikanan 21 41 Jml (6) 10 3 13 15 15 17 25 42 22 40 62 20 Nilai (7) 832.027.247.91 139.13 - - - 1.660.834.387.021.08 7.92 191.22 41.667.07 1.897.30 25 Jml (10) 1 1 26 26 25 Nilai (11) 5.646.34 2.984.363.30 381.31 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.24 USD 16.99 1.131.36 19.984.32 USD 32.29 340.387.81 8.657.73 USD 23.33 28.85 1.643.32 USD 32.26 41.94 33.50 AUD 334.81 440.834.73 31.247.635.36 10.31 54.419.60 4.67 68.76 381.45 551.75 990.63 139.88 38.559.60 47.50 45.849.21 3.247.45 3.21 1.850.027.50 AUD 334.440.31 46.37 20 41 2.897.03 11.992.861.86 433.16 1.087.53 113.693.75 990.191.897.22 41.927.10 1.90 USD 12.30 37 2009 66 2.338.06 32.573.337.65 18.46 139.273.338.36 17.573.99 1.591.73 379.93 USD 23.337.24 USD 16.09 1.72 USD 12.32 3.710.37 21 1.027.34 80.786.545.07 433.32 252 3 255 91 34 125 1 7 8 19 5 24 17 19 36 12 22 34 24 9 33 7 19 26 45.62 1.266.197.230.99 1.98 2010 Jumlah 55 121 2.86 USD 23.987.16 1.13 113.22 63.440.68 624.97 18.45 132.594.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 32 KPK (2) (3) 2009 2010 Jumlah 33 PPATK 2009 2010 Jumlah 34 BNN 2009 2010 Jumlah 35 Kementerian Pertanian 2009 2010 Jumlah 36 Kementerian Kehutanan 2009 2010 Jumlah (4) 10 8 18 3 15 18 17 32 49 58 90 148 209 36 245 Nilai (5) 832.56 194.13 7.17 72.99 1.210.69 885.591.474.20 2.643.22 2.98 50 24 74 20 38 58 2 4 6 4 10 14 3 13 16 1 1 7 13 20 18 10 28 12.85 427.21 54.421.50 AUD 334.396.850. & UKM 2009 2010 Jumlah 100 .96 3.65 47.258.37 62 2 64 91 79 170 4 4 7 7 2 7 9 7 7 1 25 26 13 3 16 7.06 19.62 15 179 Jml (8) 5 5 3 3 6 6 36 24 60 164 Nilai (9) 43.22 4.61 1.21 417.832.32 139.17 4.26 4.31 46.27 1.336.02 2.336.40 899.24 1.22 56.337.280.65 47.799.984.23 - 11 11 - 38 Kementerian Pekerjaan Umum 2009 2010 Jumlah 364 29 393 202 151 353 3 15 18 7 7 25 22 47 20 39 59 12 23 35 32 47 79 38 32 70 65.245.489.70 20.258.352.31 8.31 551.50 AUD 334.270.39 7.545.97 39 Kementerian Perhubungan 2009 2010 Jumlah 40 Menpera 2009 2010 Jumlah 41 Bapertarum 2009 2010 Jumlah 42 Kementerian PDT 2009 2010 Jumlah 43 BMKG 2009 2010 Jumlah 44 Kementerian Perindustrian 2009 2010 Jumlah 45 Kementerian Perdagangan 2009 2010 Jumlah 46 Kementerian Kop.710.111.30 7.97 1.10 879.308.41 1.50 78.12 70.55 132.197.99 139.39 118.27 1.94 5.60 1.68 33.28 825.36 14.60 1.900.27 USD 12.706.07 4.728.213.39 113.81 429.720.30 824.50 45.45 USD 12.68 552.37 3.895.513.065.405.14 987.16 277.786.73 2.407.21 72.30 12.273.85 1.27 1.530.61 1.272.69 34.409.98 506.041.18 28.749.21 1.70 45.670.23 14.171.30 1.96 3.65 70.85 1.513.230.37 24 69 391.693.220.92 12.70 USD 23.13 41.10 1.396.660.387.96 23.405.810.43 39.337.308.353.12 2.10 43.021.60 20.799.197.00 836.37 45 945.182.927.175.475.895.63 138.720.552.258.Halaman 3 .153.171.

18 882.24 1.082.19 13.824.489.122.59 134.629.17 4.12 83.696.77 162.69 59.03 USD 222.531.451.09 252.966.313.78 14.38 55.524.79 2.12 83.813.477.659.270.176.45 USD 262.13 12.93 USD 262.52 56.77 3.60 8.90 2.98 978.206.410.239.04 6.68 93.98 23.68 USD 18.00 75.53 178.09 176.927.64 315.38 575.12 328.03 100.03 30.785.42 116.01 4.753.60 8.63 93.46 5.608.20 41.80 59.799.402.68 5.98 56.98 21.042.02 2.515.17 532.761.51 39.42 8.98 129.536.83 122.042.896.90 25.99 60.15 23.828.65 818.082.63 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 83.24 2.197.61 163.755.485.676.12 328.75 65.48 23.659.794.37 134.89 USD 0.299.102.42 132.08 101 .132.557.23 160.87 JPY 266.10 296.46 USD 8.86 283.457.02 30.82 62.34 USD 8.49 546.080.213.210.43 59.716.45 62.70 815.082.530.757.54 USD 0.588.298.239.19 154.51 1.00 29.07 144.503.17 177.91 35.58 95.437.055.18 882.97 1 1 5 10 15 95 114 209 18 18 36 2 69 6 75 8 8 2 5 7 12 12 5 12 17 1 1 1 1 42 20 Jml (8) 22 Nilai (9) 476.888.03 USD 222.87 JPY 266.62 184.89 296.81 38.59 17.25 USD 222.32 69.18 89.00 42.63 2.77 52.018.493.753.29 169.655.56 2.32 USD 0.138.578.Halaman 4 .13 40.42 130.475.310.19 44.710.60 83.18 882.437.83 5.38 481.49 546.95 23.66 2.475.210.19 39.18 133.968.67 162.42 8.557.10 815.477.934.51 75.23 116.68 47.32 258.84 5.30 48.09 25.795.402.03 14.83 6 12 18 2 3 5 103 124 227 23 6 29 10 32 23 55 1 1 5 9 14 10 4 14 3 5 8 6 23 29 6 4 33 13 Jml (6) 5 8 13 2 2 4 20 Nilai (7) 300.00 15.111.68 USD 18.60 50 Kementerian LH 2009 2010 Jumlah 51 Kementerian BUMN 2009 2010 Jumlah 52 Kementerian Ristek 2009 2010 Jumlah 53 BPPT 2009 2010 Jumlah 54 LIPI 2009 2010 Jumlah 55 BATAN 2009 2010 Jumlah 56 BAPETEN 2009 2010 Jumlah 125 29 154 9 9 7 14 21 10 34 44 8 17 25 6 24 30 7 15 22 1.22 14 14 59 296 355 4 25 29 10 24 24 18 18 10 36 36 Jml (10) 2 2 22 22 Nilai (11) 176.48 57 Bakosurtanal 2009 2010 Jumlah 58 LAPAN 2009 2010 Jumlah 59 Kementerian Agama 2009 6 13 19 7 27 34 257 2010 Jumlah 534 791 60 Kementerian Sosial 2009 2010 Jumlah 45 49 94 4.34 USD 8.32 4.78 14.21 2.75 23.68 USD 18.690.732.69 52.200.95 25.753.87 6.45 USD 262.64 315.082.500.60 559.00 1.80 532.39 444.094.789.15 56.031.14 USD 18.19 3.37 5.732.27 USD 222.298.485.450.30 211.87 JPY 266.13 71.24 6.536.500.87 JPY 266.45 130.637.37 42.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 47 BSN (2) (3) 2009 2010 Jumlah 48 BKPM 2009 2010 Jumlah 49 Kementerian ESDM 2009 2010 Jumlah (4) 5 10 15 2 24 26 42 69 111 Nilai (5) 300.24 1.564.523.205.00 1.51 251.620.19 13.00 5.33 109.24 USD 0.779.169.65 132.06 USD 262.

15 993.11 580.808.81 259.59 63.990.208.68 4.39 USD 0.60 2.56 1.45 69.31 165.14 1.185.572.651.08 449.54 1.502.751.91 48.045.Halaman 5 .156.815.80 12.56 2.653.79 29.632.97 648.12 USD 9.42 2.158.156.19 1.95 94.63 72.162.494.10 23.66 3.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 61 (2) (3) (4) 11 35 46 Nilai (5) 422.043.89 1.41 2.368.84 336.12 63.351.097.58 54.56 309.72 246.79 1.435.507.555.31 1.59 63.83 828.26 31.58 54.281.54 311.96 477.975.18 345.81 2.47 11.71 209.363.99 1.060.144.57 102 52 154 11 12 23 6 4 10 2 8 10 159 63 222 139.06 Jumlah 422.412.606.34 440.411.50 1.640.00 66 BKKBN 2009 2010 Jumlah 67 Badan POM 2009 2010 Jumlah Kementerian Pendidikan Nasional 13 22 35 21 18 39 253.76 2.71 364.91 3.59 1.67 31.57 393.258.43 15.00 11.11 299.40 7.331.104.032.45 69.190.111.10 3.04 8.54 980.50 1.25 14.39 6.31 74 BPKP 2009 2010 Jumlah 102 .98 112 64 176 5 8 13 13 1 14 2 6 8 292 44 336 36.08 57.18 1.22 4.54 164.40 1.00 65.43 7.156.511.17 131.171.221.82 4.564.593.76 27.18 921.531.00 175.000.02 1 2 3 7 7 175.06 175.07 1.81 205.01 USD 140.31 2 8 10 3 15 18 262.81 3.06 USD 140.757.72 5.320.640.66 1.89 1.68 1.22 388.72 284.79 5 6 11 4 6 10 31 Jml (8) 3 12 15 22 5 27 8 8 39 38 77 16 15 Nilai (9) 246.10 3.43 1.718.025.794.351.99 30.32 2.50 588.54 65.854.087.73 188.51 1.50 1.431.66 124.38 64.229.08 628.189.646.00 - 35.13 1.08 1.83 USD 9.34 584.68 159.06 USD 140.484.81 BN Penanggulangan 2009 Bencana 2010 68 2009 395 - 424.39 422.20 449.020.43 11.47 159.205.944.38 8.463.51 458.778.97 364.190.61 181 29 210 21 27 48 3 6 9 3 7 10 11 377 388 248.66 USD 0.579.736.04 262.74 572.08 458.16 365.247.708.516.81 360.81 187.20 47.886.097.453.274.31 360.352.46 225.42 2.162.221.491.01 23.48 2.19 USD 140.46 75.39 USD 0.61 538.75 8 12 20 17 11 28 7 Jml (6) 8 4 12 1 6 7 2 6 8 34 45 79 3 4 Nilai (7) 175.502.994.16 1.04 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 422.756.50 588.532.60 11.425.608.82 2010 Jumlah 145 540 - 69 Kementerian Budpar 2009 2010 Jumlah 37 47 84 22 11 33 7 21 28 462 484 946 70 Menpora 2009 2010 Jumlah 71 Perpustakaan Nasional 2009 2010 Jumlah 72 Kementerian Keuangan 2009 2010 Jumlah 73 Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2009 2010 Jumlah 5 25 30 12 28 40 35.556.11 11.037.68 589.54 15.09 623.043.24 2.531.03 205.33 1.28 1.30 1.794.871.408.97 648.020.34 584.793.24 1.36 USD 9.73 1.781.205.975.241.68 1.080.04 1.56 538.09 623.466.25 19.09 80.24 218.66 USD 0.26 580.003.155.633.389.281.987.12 63.330.208.41 908.54 11.06 1.020.610.797.20 379.31 20.23 962.06 62 Menko Kesra 2009 2010 Jumlah 63 KPP dan PA 2009 2010 Jumlah 64 Kementerian Kesehatan 2009 2010 Jumlah 65 Kementerian Nakertrans 2009 2010 Jumlah 29 29 58 2 14 16 103 93 196 22 77 99 6.14 572.156.037.61 223.936.741.33 2 15 17 9 6 15 35.22 14.62 412.89 47.20 458.39 4.042.00 2.28 54.60 1.106.237.648.74 205.054.42 USD 9.91 4 4 1 1 61 Jml (10) 19 19 6 18 24 30 10 40 3 58 Nilai (11) 611.890.287.72 5.

36 162.49 129.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 75 BPS (2) (3) 2009 2010 Jumlah 76 Menko Perekonomian 2009 2010 Jumlah 77 STAR SDP 2009 2010 Jumlah 78 BPK 2009 2010 Jumlah 79 Bank Indonesia 2009 2010 Jumlah 80 LPS 2009 2010 Jumlah 81 BNP2TKI 2009 2010 Jumlah 82 BPLS 2009 2010 Jumlah 83 LPP TVRI 2009 2010 Jumlah 84 LPP RRI 2009 2010 Jumlah 85 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Otorita Batam) 2009 2010 Jumlah (4) 11 25 36 3 1 4 12 5 17 25 28 53 6 6 1 4 5 31 17 48 19 9 28 12 20 32 32 32 18 73 91 Nilai (5) 236.30 610.29 128.59 510.543.43 343.543.464.68 471.96 15.187.812.77 103.09 12.15 56.30 71.053.082.374.374.647.77 103.945.094.821.68 USD 313.78 3.19 GBP 17.47 340.251 Rp 27.19 - Rp1.29 116.49 71.25 41.55 JPY 266.33 USD 326.082.77 AUD 334.543.211.30 71.42 USD 42.47 340.69 1.97 76.23 USD 359.87 JPY 266.24 9.793.66 56.98 593.22 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 236.30 71.77 610.97 4.227.17 Jml (6) 11 9 20 3 1 4 19 13 32 1 4 5 7 1 8 17 5 22 3 3 13 24 37 Nilai (7) 236.25 41.06 850.109 Rp 9.29 128.852.78 2.014.324.77 6.201.938. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 103 .77 610.90 343.41 USD 12.960.98 6.347.324.02 239.21 Jml (10) 11 11 12 5 17 4 4 11 13 24 3 3 1 20 21 30 30 46 46 Nilai (11) 510. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.15 EUR 11.262.84 2.29 128.49 129.84 41.84 162.56 72.59 129.73 Jml (8) 5 5 6 11 17 6 6 13 3 16 2 1 3 8 8 2 2 5 3 8 Nilai (9) 610.094.72 7.21 9.25 71.69 2.543.38 - 3.003.55 GBP 17.36 56.36 132.37 EUR 11.354.56 1.24 76.131 Rp 4.147.064.55 GBP 17.011 Rp12.08 21.56 76.70 15.08 239.21 2.25 41.852.30 116.25 71.324.29 343.76 3.97 15.119.25 41.418.25 41.22 2.418.44 8.18 28.03 AUD 334.565.740.740.553.68 471.102.63 257.468.50 TOTAL 8.34 61.49 274.77 8.15 274.36 72.09 4.30 1.110.25 129.78 Keterangan 1.68 471.246.Halaman 6 .37 EUR 11.50 1.77 614.51 34.

620.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 14 694.242. Bener Meriah 2009 2010 Jumlah 104 .313.399.29 8.07 6.92 155.52 239.765.66 3.238.63 5.408.451.215. Aceh Tamiang 2009 2010 Jumlah 9 Kab.61 8.82 197.532.053.17 7.734.39 15.40 348.155.45 8.75 4 Kab.07 11.00 106.74 711.67 154.16 11.53 852.20 11.611.89 2.40 12.58 7. Aceh Jaya 2009 2010 Jumlah 6 Kab.70 3.91 1 1 2 10 12 20 20 7 23 30 5 25 30 14 14 28 6 14 20 11.02 40 69 109 2 31 33 5 27 32 8 8 10 26 36 3 7 10 22 22 5.971.31 174.23 6.27 10.311.20 11.41 248.31 8 67 75 7 36 43 233.633.99 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 10 46 21 67 4 11 15 Nilai 11 37.Halaman 1 .684.67 7 2 9 22 22 4.08 4.71 11.15 12 2 14 33 33 17.41 182.62 228. Aceh Selatan 2009 2010 Jumlah 7 Kab.67 81.69 1. Aceh Utara 2009 2010 Jumlah 51 112 163 54 36 90 225.10 3.80 2.361.82 99.389.766.65 180.07 1. Aceh Tenggara 2009 2010 Jumlah 32 33 65 72 59 131 35.31 2.02 20.53 370.51 21.044.527.065.26 1.27 104.656.33 429.85 23.305.243.422.064.067.460.736.06 972.771.73 4.29 50.22 24.385.83 248. Aceh Barat Daya 6 164 118 282 35 30 65 Nilai 7 41.11 81.54 889.98 836.544.923.52 Belum Ditindaklanjuti Jml 12 37 73 110 27 19 46 Nilai 13 1.67 303.584.06 104.208.364.979.408.47 2.58 29.379.96 11. Aceh Tengah 2009 2010 Jumlah 10 Kab.15 2.65 6.889.329. Aceh Barat 2009 2010 Jumlah Kab.670.56 2.053.150.17 3.83 115.042.598.362.42 13.32 493.244.325.92 9.91 21.80 Jml 8 81 24 105 4 4 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 9 2.04 4.967.90 443.07 213.443.85 16.47 3.48 239.317.687.14 31.005.07 74.54 41 15 56 23 23 19 41 60 19 12 31 56 34 90 28 14 42 18.10 113.078.03 9.06 5.87 26.Lampiran 51 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 1 2 Prov.888.89 - 13 Kab.10 2.374.10 252.285.85 113.10 239.362.33 2.719.12 29.676.65 6.05 54.50 24.222.30 889.67 13.265.584.48 6.40 13.254.039.893.883.95 2.687.37 15.73 74.07 18.799.85 16.20 30 23 53 27 27 - 13 22 35 20 20 225.983.728.79 21.45 114.54 152.20 145.174.23 9.74 24.08 6.40 18.96 56.59 196.78 31. Aceh 3 2009 2010 Jumlah 2 Kab.127.76 2.28 29.849.637.110.608.790.467.165.14 31. Aceh Besar 2009 2010 Jumlah 5 Kab.361.825.933.69 2.73 5.17 320.684.939.611.721.467.48 34.92 12.242.60 11.811.07 74.903.03 8.47 13 29 42 17 59 76 13.06 11 Kab.20 2.056.10 5.343.721.684.23 - 3 2009 2010 Jumlah 41 69 110 45 56 101 48 27 75 26 72 98 34 63 97 73 55 128 34 50 84 5.52 140.52 74.02 243.56 900.33 174.97 1.27 2.83 12.91 3.60 900.41 10.42 7.417.09 3.20 348.45 39.32 18. Aceh Timur 2009 2010 Jumlah 12 Kab.36 8. Aceh Singkil 2009 2010 Jumlah 8 Kab.734.985.63 477.15 297.999.83 448.389.

07 1.17 19.66 0.219.75 478.34 41.46 15.803.95 1.15 15 15 37 37 21 10 31 48 16 64 12 12 20 6 26 18 18 36 10 15 25 0.00 23.08 44.05 32.952.17 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 14 2 Kab.031.92 43.62 18.94 2.93 2.53 18.099.75 14.34 658.29 5.975.64 5.80 40. Sumatera Utara 25 2009 2010 Jumlah 112 71 183 97 74 171 143.28 2.95 14.406.40 1.99 6.39 6.72 10.170.518.009.19 682.925.66 366.097.28 1.508.829.994.693.86 36.792.41 45.798.75 187.17 5.92 40.63 1.66 41.01 22 31 53 47 74 121 16.96 5.47 196.045.20 10.402.59 2.40 1.431.33 14. Nagan Raya 2009 2010 Jumlah 4 53 36 89 48 46 94 25 34 59 Nilai 5 19. Bireuen 3 2009 2010 Jumlah 15 Kab.26 1.99 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 215.985.025.022.07 217.434.821.17 3.87 8.354.092.203.331.98 22.78 52.894.88 6.124.39 5.105.99 5 30 35 5 44 49 24 24 4 4 3 33 36 23 14 37 1 20 21 3 81 84 1.266.099.368.510.829.266.50 20.40 11 11 17 17 18 7 25 12 7 19 4 4 10 9 19 2 4 6 8 7 15 1.32 282.513.37 581.80 6.02 290.611.195.88 2.46 2. Gayo Lues 2009 2010 Jumlah 16 Kab.634.510. Asahan 2009 2010 Jumlah 105 .98 13.60 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 4 7 11 1 4 5 Nilai 9 18.90 1.001.36 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 36 53 4 11 15 2 2 Nilai 11 75.83 217.46 2.54 1.95 2.410.16 366.504.508.17 5.572.81 215.894.444.94 8.740.494.72 1.Halaman 2 .444.40 2.83 132.21 393.466.18 39.756.394. Simeulue 2009 2010 Jumlah 20 Kota Banda Aceh 2009 2010 Jumlah 21 Kota Langsa 2009 2010 Jumlah 22 Kota Lhokseumawe 2009 2010 Jumlah 23 Kota Sabang 2009 2010 Jumlah 24 Kota Subulussalam 2009 2010 Jumlah Prov.12 381.00 5.28 18.26 381.47 32.25 349.25 3.64 30.56 21 8 29 42 42 52.196.92 25.37 187. Pidie 2009 2010 Jumlah 31 30 61 59 44 103 63 17 80 64 23 87 19 33 52 53 29 82 21 42 63 21 103 124 3.434.888.75 0.92 5.079.21 672.66 1.94 2.031.67 13.031.33 1.45 682.96 Jml 6 23 23 40 28 68 24 28 52 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 200.025.321.410.841.354.37 381.446.830.128.64 11.922.777.96 19.66 672.94 3.26 198.12 2.60 2.952.28 290.11 11.88 1.065.634. Pidie Jaya 2009 2010 Jumlah 19 Kab.99 18.25 601.457.01 8.52 10.829.986.00 2.097.39 2.33 110.80 1.985.20 187.20 2.81 309.142.80 17 Kab.04 150.568.013.76 24.250.238.431.604.40 40.859.172.45 349.47 8.331.16 10.01 2.62 69 32 101 8 8 73.28 1.36 11.66 0.57 1.75 5.95 2.26 20.771.02 26 Kab.69 569.203.975.04 569.00 200.18 730.61 16.20 13.238.75 18.08 53.37 2.46 198.37 - 18 Kab.368.341.962.29 518.88 1.26 381.

78 1.527.129.28 13.03 320.27 463. Padang Lawas 2009 2010 Jumlah Kab.76 624.455.452. Labuhanbatu 2009 2010 Jumlah 33 Kab.77 24.19 1.39 Jml 6 34 34 16 16 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 206.78 254.28 66.089.23 91.00 584.34 206.31 4 2 6 1 1 13 13 211.227.05 10.452.29 28.307.76 1.49 142.74 3.178.623.71 8.922.673.286.04 899.75 254.53 1.016.45 107. Dairi 2009 2010 Jumlah 29 Kab.20 0.714.177.58 14.60 13.30 844.00 16.259.183.63 2.49 16. Deli Serdang 2009 2010 Jumlah Kab.Halaman 3 .325.78 1.12 7 7 3 4 7 32 32 16 7 23 117.74 3.50 135.586.52 936.64 117.273.92 42.84 1.29 171.331.97 41.18 13.20 537.30 672.97 39 Kab.831.96 1.958.331.178.01 43 26 69 4 8 12 11 19 30 21 34 55 34. Batubara 3 2009 2010 Jumlah 28 Kab.151.623.00 4 1 5 6 6 363.370.593.97 150.107.04 1.48 100.16 12.00 16.46 306. Nias Selatan 2009 2010 Jumlah 37 Kab.66 20 1 21 171.53 78.04 17.49 16.16 621.15 28. Humbang Hasundutan 4 55 44 99 40 70 110 86 85 171 Nilai 5 42.68 3.84 314.165.16 12.00 35 Kab.34 270.831.352. Nias 2009 2010 Jumlah 36 Kab.049.208.20 537.49 142.80 11.77 24.754.809.18 13.05 1.77 30 2009 2010 Jumlah 43 33 76 33 29 62 68 19 87 70 83 153 34.79 81.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 27 2 Kab.76 2.68 10.227.38 232.331.16 478.03 1.837.628.705.84 465.286.53 4.96 17.425.609.56 14. Pakpak Bharat 2009 2010 Jumlah 106 .714.42 14.32 24.04 899.89 198.28 24.32 141.347.42 14.34 206.40 153.102.543.29 109.049.273.77 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 21 14 14 Nilai 9 41.44 90.14 117.53 2.886.66 14.056.692.34 24.46 306.97 3 4 7 153.17 3. Langkat 2009 2010 Jumlah 34 Kab.177.32 142.56 89.14 899.16 107.03 187.00 31 Kab.14 899.886. Karo 2009 2010 Jumlah 32 Kab.73 12.64 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 206.225.00 0.38 383.40 19 52 71 3 42 45 24.364.894.982.831.71 8.50 135.259.48 10.809.475.848.13 36.47 1.069.59 142. Mandailing Natal 2009 2010 Jumlah 54 93 147 66 34 100 49 46 95 20 53 73 3.592.15 105.83 5.55 81. Padang Lawas 2009 Utara 2010 Jumlah 38 19 52 71 26 47 73 24.06 42.640.809.056.63 2.532.97 150.82 1.78 46 90 136 66 34 100 49 45 94 1 53 54 2.295.15 1.14 117.56 109.47 26 17 43 25 25 33 42 75 855.13 36.364.34 24.593.01 584.20 24.04 24.586.692.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 40 70 110 56 85 141 Nilai 11 24.32 141.

527.99 2.20 51 Kota Sibolga 2009 2010 Jumlah 107 .27 3.63 4.14 3.68 194.599.140.111.28 16.088.098.13 110.90 142.064.69 2.24 3.66 14.950.12 1.919.84 11.89 1.79 18.79 42 Kab.401.93 566.81 18.84 15.52 3.321.768.69 33.975.068.51 2.15 1.02 21.47 906.891.66 4 17 21 340.59 305.360.906.25 13.84 254. Tapanuli Utara 2009 2010 Jumlah 46 Kab.171.825.300. Tapanuli Tengah 2009 2010 Jumlah 40 64 104 31 27 58 31 25 56 34 40 74 69 124 193 31.01 110.10 2.273.527.919.37 169.35 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 41 2009 2010 Jumlah 76 38 114 41 60 101 10.42 - 50 Kota Pematangsiantar 2009 2010 Jumlah 61 94 155 45 29 74 8.324.69 33.27 107.437.53 744.023.587.954.477.975.02 34 33 67 45.891. Toba Samosir 2009 2010 Jumlah 47 Kota Binjai 2009 2010 Jumlah 48 Kota Medan 2009 2010 Jumlah 49 Kota Padangsidimpuan 2009 2010 Jumlah 41 55 96 9.05 30 19 49 1 10 11 603.910.66 14.36 19 13 32 3 3 8.300.27 772.03 1.77 2.131.744.77 24.060.27 107.89 1.71 13.545.50 3.02 906.49 4.61 4.20 3.92 8.93 5.57 7 49 56 15 15 107.50 3.622.226.21 3.060.27 182.23 45 Kab.31 37.38 3.66 - 40 64 104 18 27 45 31 25 56 3 3 65 116 181 31.843.09 40. Tapanuli Selatan 2009 2010 Jumlah 46 78 124 868.213.32 108.59 162.222.986.79 45 19 64 2 28 30 9.14 7.379.47 13.46 558.77 21.955.883.81 16.20 2.Halaman 4 .50 4.30 1.978.24 15.334.96 340. Samosir 3 2009 2010 Jumlah Kab.65 18.99 13.10 2.81 15.156.37 1.67 3.753.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 40 2 Kab.205.107.14 7.13 46 2 48 27 29 56 2.360.90 24.79 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 22 31 53 Nilai 9 6.87 3. Serdang Bedagai 4 35 71 106 Nilai 5 8.50 8 43 51 3 3 5.27 16.280.94 5.59 194.574.334.90 4.43 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 13 40 53 Nilai 11 2.43 210.172.064. Simalungun 2009 2010 Jumlah 43 Kab.172.46 558.92 2.20 3.56 7.59 44 Kab.324.910.27 17.362.335.96 8 28 36 482.27 4.492.178.281.00 1 1 38 22 60 3.587.94 2.61 3.760.17 5.171.623.00 458.79 18.345.284.81 16.63 458.00 467.760.423.67 8.919.804.42 - - - - 41 55 96 9.54 169.32 2.052.13 877.77 2.23 13 13 15 24 39 1 8 9 142.28 16.954.31 2.995.93 107.

21 1.05 2.00 211.088.014.17 12.371.96 30. Sumatera Barat 4 39 48 87 38 48 86 Nilai 5 27.03 4.20 2.78 216.86 58.947.53 2.405.868.20 1.76 77.77 35 34 69 17 50 67 72 6 78 45.32 60 Kab.44 10 3 13 492.78 6.811.852.126.12 1.44 49 2 51 - 19 57 76 5.460.68 13 46 59 1 1 2 49 7 56 2.78 1.548.79 3.36 3 64 67 12 10 22 45 101 146 387.496.61 163.797.41 3 36 39 9.96 61.14 148.86 5.32 1.90 4.340.92 2.482.376.80 54 2009 2010 Jumlah 155 214 369 70 60 130 129 110 239 54.38 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 52 2 Kota Tanjungbalai 3 2009 2010 Jumlah 53 Kota Tebing Tinggi 2009 2010 Jumlah Prov.52 5.24 7.781.79 3.37 5.986.377.80 5.722.333.047.276.396.43 100.60 537.727.95 56.61 349.665.79 12.00 130.581.65 10.950.46 338.580.454.178.36 104.68 11.453. Padang Pariaman 2009 2010 Jumlah 56 57 113 86 127 213 4.983.428.63 Jml 6 9 17 26 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 55.205.43 8.58 67.48 3.201.529.82 3.93 1. Pasaman 2009 2010 Jumlah 61 Kab.77 295.759.79 3.986.25 1.93 7.395. Sijunjung 2009 2010 Jumlah 108 .91 226.25 3.742.99 4.65 9.072.50 414.45 4.523.82 1.78 4.01 295.887.93 7.14 62 Kab. Agam 2009 2010 Jumlah 56 Kab.54 2. Kepulauan Mentawai 2009 2010 Jumlah 78 62 140 6.04 449.680.47 6.13 16 64 80 2.401.02 1.510.739.822.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 39 48 87 11 18 29 Nilai 11 27.862.300.68 55 55 44 27 71 2 55 57 4.485.20 3.59 7.48 538.033.405.60 5.61 338.25 36.74 346.235.95 387.75 16.55 1.58 6.36 50.74 15 69 84 8 44 52 1 26 27 3.80 1.085.00 1.523.05 20.57 23.11 131.79 63.80 55.95 736.56 13.24 7.43 615.725.81 59 Kab.387.13 90.080.664.38 136.54 173.504.00 1.091. Lima Puluh Kota 2009 2010 Jumlah 45 132 177 2.482.634. Pesisir Selatan 2009 2010 Jumlah 63 Kab.047.42 4.35 122.917.50 21 53 74 47 70 117 3.11 6.619.13 260.01 105.52 167.033.04 34 34 38 22 60 8.58 26 32 58 3.48 2.712.37 15.93 1 4 5 1 35 36 352.50 8.454.64 58 Kab.433.069.785.780.05 18.64 211.081.727.04 148.835.94 2.28 44.88 13.76 77.846.80 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 13 31 Nilai 9 170.914.87 18.422.54 274.02 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.56 47.64 4.195.02 1.36 50.116.430.06 1.950.930.82 6.Halaman 5 .58 2.95 55 Kab.92 4.95 5.561.69 117 116 233 41 41 12 3 15 8.00 492.30 116.453.38 674.091.344. Pasaman Barat 2009 2010 Jumlah 83 115 198 53 72 125 52 88 140 10.64 4. Dharmasraya 2009 2010 Jumlah 57 Kab.809.92 1.347.80 55.59 1.715.447.23 100.

12 355.17 4.633.92 671.76 11.620.249.700.49 38.00 1.61 447.61 20. Indragiri Hilir 2009 2010 Jumlah 109 .034.16 506.48 14.27 506.22 58.50 546.935.80 770.99 73.63 18.77 42.71 970.386.89 6.92 1.99 8.91 135.62 8.831.772. Solok Selatan 2009 2010 Jumlah 66 Kab.50 12.620.46 1.49 3.93 6.84 17.063.16 2.419.54 1.729.75 13.758.47 16.11 56.45 465.43 27.940.962.20 4.572.311.85 6.88 1.98 27.90 821.67 75.51 670.815.812.27 126.84 12.24 65.47 1.646.863.131.10 4.00 670.438.03 682.87 1.402.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 2 136 138 1 39 40 4 50 54 8 44 52 Nilai 11 6.00 157.82 43.93 70 Kota Pariaman 2009 2010 Jumlah 71 Kota Payakumbuh 2009 2010 Jumlah 72 Kota Sawahlunto 2009 2010 Jumlah 73 Kota Solok 2009 2010 Jumlah 74 Prov.16 821.70 787.82 590.183.339.983.031.36 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.90 25.50 39.204.56 505.523.78 125.68 1.11 85.070.165.395.309.796.922.80 9.15 5.63 36.43 1.241.77 8.283.564.061.21 282.81 837.738.026.430.633.071.02 17.94 23.142.371.52 3.824.52 494.61 16.00 452.79 3.419.56 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 36 48 31 64 95 4 12 16 29 58 87 32 7 39 Nilai 9 4.16 6.21 489.62 8.13 1.024.Halaman 6 .73 280. Tanah Datar 2009 2010 Jumlah 67 Kota Bukittinggi 2009 2010 Jumlah 68 Kota Padang 2009 2010 Jumlah Kota Padang Panjang 4 39 99 138 75 200 275 62 101 163 64 155 219 176 127 303 Nilai 5 9. Solok 3 2009 2010 Jumlah 65 Kab.03 38.797.469.091.177.84 40.100. Bengkalis 2009 2010 Jumlah 76 Kab.573.33 11.05 33.34 14.278.600.03 11.05 483.47 15.973.219.20 5.169.78 90.84 66.857.811.34 40.82 15.93 6.33 14.503.096.379.53 167.343.78 6.758.365.788.01 69 2009 2010 Jumlah 44 109 153 78 52 130 95 89 184 103 78 181 97 64 161 323 116 439 214 66 280 97 75 172 1.00 940.00 100.74 447.16 42.53 362.973.991.980.21 243.33 1.177.20 737.965.838.17 837.54 Jml 6 27 61 88 42 42 57 50 107 31 47 78 136 76 212 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 5.83 671.78 1.140.37 10.31 43 49 92 44 40 84 77 39 116 49 30 79 81 4 85 162 55 217 67 29 96 55 29 84 287.428.01 6.85 126.15 14.629.691.161.422.389.93 495.136.84 489.47 4.591.600.55 182.434.01 27.43 210.839.78 827.76 20.878. Riau 2009 2010 Jumlah 75 Kab.81 805.553.858.74 9.03 165.15 13.99 1.698.00 12.38 1.17 198.33 296.645.01 5.49 73.18 50 50 3 6 9 38 38 29 8 37 3 30 33 2 20 22 6 5 11 2 23 25 47.090.607.19 11.41 126.03 5.36 967.64 14.249.52 9.34 1.50 19.28 12.95 362.643.20 4.98 13.242.81 6.78 11.339.463.55 47.289.83 574.41 23.52 293.118.863.203.31 222.29 6.85 66.087.900.93 1.55 6.99 38.617.74 9.831.965.470.34 14.83 42.78 2.52 1.70 128.68 666.91 1 10 11 31 6 37 18 12 30 25 40 65 13 30 43 159 41 200 141 32 173 40 23 63 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 64 2 Kab.

30 71.374.61 18.011.632.238.867.207.029.687.57 314.488.94 2.056.627.69 4.574.69 58.72 20.376.774.628.847.43 12.766.877.19 4.253.999.10 842.23 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 6.88 70 44 114 71 25 96 25 13 38 72 16 88 150 64 214 36 26 62 69 28 97 121 59 180 60 15 75 95 23 118 60 16 76 7.875.355.721.866.17 3.332.06 87.374.175.58 7.70 380.639.332.51 12.13 3.928.595.675.241.105.69 2.06 2.559.74 1.449.94 34.190.97 1 29 30 23 20 43 84 28 112 14 14 7 13 20 28 25 53 7 16 23 58 58 1 32 33 54 54 49 49 2.81 39.107.913.12 19.056.53 3.807. Rokan Hilir 2009 2010 Jumlah 82 Kab.775.39 9.63 1.93 2.655.76 770.66 356.29 5.22 45.64 490.19 5.45 8.558.871.268.12 66.574.00 352.714.82 15.69 2.66 115.852.05 816.206.681.76 824.716.670.77 12.226.268.015.326.297.90 10.149.292.19 14.41 824.289.75 125.29 625.43 8.89 28.76 70.442.38 125.57 1.22 3.45 3.781.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 9 82 91 14 55 69 Nilai 11 308.82 54.747.533.068.00 4.129.956.64 14.10 111.90 33.051.76 46.007.05 59.99 6.332.66 734.056.675.85 28.01 101.65 31.909.175.76 12.71 2.60 11. Jambi 2009 2010 Jumlah 87 Kab.681.43 798. Kuantan Singingi 4 116 82 198 140 57 197 Nilai 5 6.92 475.17 434.306.90 3.36 31.224.46 7.Halaman 7 .19 6.78 3.70 740.04 56.26 4.19 28.23 125.76 1.447.24 8. Rokan Hulu 2009 2010 Jumlah 83 Kab.509.17 9.133.13 770.79 16.530.200.355.701.60 575.881.12 1.686.67 Kab.20 62.12 100.41 5.71 2.79 2.80 3.29 285.71 64.009.63 27.76 1.50 12.618.01 23.335.57 308.48 5.37 44.585.27 31.86 62.81 311.15 4.51 6.23 79.18 7.12 3.33 47.007.107.208.44 4.069.573.05 3.101.96 19.47 18.731.04 32.135.71 2.237.466.335.70 616.822.581.49 19 10 29 99 24 123 18 22 40 17 27 44 37 43 80 34 23 57 33 17 50 35 10 45 35 31 66 44 25 69 42 20 62 4.948.343.35 47.16 1.95 169.706.41 308.676.32 142.377.90 170.02 9.033.399.32 242.23 1.72 6.36 1.68 7.10 58.50 271.238.02 19.98 125.23 44.03 5.184.06 15.871.718.93 50.55 900.24 5.61 2. Batang Hari 2009 2010 Jumlah 88 Kab.93 19.525.231.40 10.60 86.79 364.27 4. Bungo 2009 2010 Jumlah 89 Kab.336.429.913.331.70 1.14 80 Kab.33 6.416.913.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 18 34 2 36 Nilai 9 4.63 24.68 39.00 160.29 15.47 186.740. Pelalawan 2009 2010 Jumlah 81 Kab. Indragiri Hulu 2009 79 2009 2010 Jumlah 90 83 173 193 69 262 127 63 190 103 43 146 194 120 314 98 74 172 109 61 170 156 127 283 96 78 174 139 102 241 102 85 187 12.332.18 50.30 20.076.73 131.190.556. Siak 2009 2010 Jumlah 84 Kota Dumai 2009 2010 Jumlah 85 Kota Pekanbaru 2009 2010 Jumlah 86 Prov.79 7.460.998.79 100.361.15 1.786.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 77 2 3 2010 Jumlah 78 Kab. Kerinci 2009 2010 Jumlah 110 .23 770.76 3.618.46 Jml 6 89 89 92 92 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.48 3.556.151.61 3.777.333.02 19. Kampar 2009 2010 Jumlah Kab.69 65.39 24.33 59.76 12.54 44.

870.510.42 USD 466.43 USD 466.304.022.003.80 2.45 USD 466.09 9.83 77.130. Tebo 2009 2010 Jumlah 96 Kota Jambi 2009 2010 Jumlah 97 Kota Sungai Penuh 2009 2010 Jumlah Prov.297.79 13.70 25.78 1.44 9.04 44.71 94 Kab.56 3.494.86 111. Empat Lawang 2009 2010 Jumlah 76 69 145 93 90 183 4. Merangin 3 2009 2010 Jumlah 91 Kab.693.36 93.361.22 1.30 4.919.887.20 2.27 758.37 143.32 1.40 25.24 1.44 - 55.90 98.38 47 12 59 17.916.33 8.49 2.91 Kab.98 236.21 449.99 3.10 3.14 50.75 3.80 99 Kab.361.38 4.890.556.74 901.087.07 17.348.375.60 269.46 1.29 46 46 64 54 118 55.79 1.51 59.19 44.38 4.38 10.76 17.001.642.59 1.82 1.571.939.58 207.66 67.62 52.399.01 6.82 29 23 52 40 35 75 33 12 45 7 7 3.05 316.41 6.59 3.681.46 4.67 16 16 23 23 3.949.76 1.89 98.04 181.27 212.960.893.85 38 3 41 10 9 19 9.200.32 1 69 70 4 90 94 2.66 80.409.62 52.497.055.21 517.58 108.67 101 Kab.78 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 49 21 70 54 1 55 35 23 Nilai 9 93.065.047.806.25 7.65 176.64 7. Tanjung Jabung Barat 2009 2010 Jumlah 85 104 189 108 82 190 197 59 256 27 27 3.49 7.042.343. Banyuasin 2009 2010 Jumlah 100 Kab.58 108. Tanjung Jabung Timur 69 15.89 95 Kab.614.475.094.422.91 7.17 441.693.868.61 9.289.49 6.24 8.840.36 2.919.907.Halaman 8 .160.28 2. Muaro Jambi 2009 2010 Jumlah 92 Kab.17 3 5 8 36.83 38 Jml 6 47 12 59 76 1 77 59 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 4.840.97 16.777.722.25 259.80 62 31 93 3.00 6.41 6.457.06 14.19 58 2.193.25 59 59 66 66 449.20 1.91 15.20 3.92 145.297.01 1.57 36.04 6.980.978.63 2.98 100. Sumatera Selatan 98 2009 2010 Jumlah 92 81 173 74 63 137 9.601.065.23 167.119.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 90 2 Kab.82 6.154.794.76 55.62 397.494.43 8 78 86 - 9.115.93 15 15 4 47 51 45 26 71 5 5 3.21 4.19 67. Sarolangun 2009 2010 Jumlah 4 98 44 142 169 60 229 100 65 165 Nilai 5 97.71 175.193.357.820.67 517.01 551.65 19.929.03 USD 466.67 517.21 449.657.895.50 4.28 6.223.50 4.32 1.500.13 3.66 3.25 449.259.840.142.29 17.781.11 4.034.140.78 93 2009 2010 Jumlah 112 48 160 57.986.00 991.55 31.736.983.25 9.200.338.577.93 3.994.20 1.75 56 66 122 64 64 119 21 140 15 15 450.851.42 5.182.567.99 7.850.137.986.28 1.081.05 50.37 18.93 - 450.083.63 1.800.82 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 11 13 39 58 97 6 32 Nilai 11 16.06 3.16 7.32 3.480.43 167.93 1.29 1.443.862.496.19 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.83 17.75 898.20 310.21 517.91 10.193.951.443.32 111.25 4.850.399.160.82 389.75 4.22 441.99 687.22 393.174.289.62 999.907.659.361.738. Lahat 2009 2010 Jumlah 111 .

989.06 7.85 447.389.06 119.285.47 1.59 - 6 2 8 2 12 14 77 18 95 8 - 47.75 7 7 - 2 76 78 1.59 - 111 Kota Pagar Alam 2009 2010 Jumlah 112 Kota Palembang 2009 2010 Jumlah 113 Kota Prabumulih 2009 2010 112 .67 109 Kab.211.003.937.67 8 8 1.15 11.09 103.44 243.40 110 Kota Lubuklinggau 2009 2010 Jumlah 58 49 107 40 42 82 141 51 192 73 57 4.22 414.389.039.82 2.98 10.43 81 23 104 86 27 113 29 29 11.83 45 47 744.44 11.018.781.64 1.626.618.262.78 27 44 71 468.66 56 56 159.67 2.37 116.75 159.73 1.95 624.477.04 433.22 285.733.83 109. Ogan Komering Ulu Timur 2009 2010 Jumlah 29 70 99 468.04 3.989.48 34 41 75 38 10 48 54 33 87 65 - 4.75 1.19 395.75 159.39 590.00 372.99 2.762.90 1.82 USD 2. Ogan Komering Ulu 2009 2010 Jumlah 139 94 233 2.70 296.83 USD 2.37 USD 2.621.85 18 18 36 8 2 10 20 20 36.187. Ogan Komering Ilir 2009 2010 Jumlah 65 76 141 159.54 103.97 2.16 433.250.31 108 Kab.894.142.88 447.45 11.67 2.258. Muara Enim 3 2009 2010 Jumlah 4 58 125 183 Nilai 5 9.018.90 159.534.29 26.138.373.40 2 5 7 488.67 59.621.78 447.22 285.27 11.58 - 18 6 24 20 20 10 10 57 4.65 118.09 456.62 2.674.802.576.71 79.298.09 103.48 4.50 2.85 104 Kab.44 1.388. Ogan Ilir 2009 2010 Jumlah 106 Kab.42 4.457.082.06 624.45 103 2009 2010 Jumlah 99 59 158 94 46 140 54 36 90 47.331.73 USD 2.350.78 125.211.003. Ogan Komering Ulu Selatan 2009 2010 Jumlah 72 53 125 3.71 520.78 640.39 26.97 11.Halaman 9 .44 10.42 4. Musi Banyuasin 44 82 5.695.06 119.841.65 118.95 496.328.621.40 12 12 2.83 Kab.82 1.674.04 624.70 488.977.97 18 18 17 17 5 36 41 51.36 496.66 396.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 102 2 Kab.51 897.66 468.90 11.361.85 447.27 115.06 114.443.97 11.97 48.15 14.02 176.62 744.33 582.309.47 11.360. Musi Rawas 2009 2010 Jumlah 105 Kab.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 Nilai 9 9.262.81 59.35 9.112.73 4.998.54 103.897.70 21 21 78.25 6.83 858.06 114.018.22 2.17 4.360.018.45 35 27 62 1.09 456.730.078.12 1.46 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.436.30 58.90 1.350.309.66 78.14 1 13 14 897.46 36 54 Jml 6 38 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 367.14 1.33 582.51 1.47 1.401.64 1.06 79.75 107 Kab.89 7.62 5.766.05 9.73 52 53 105 128.28 1.12 11.00 372.953.251.59 10.12 103 54 157 1.97 37.695.

68 17 36 53 2.979.108.93 1.35 2. Bengkulu 3 Jumlah 2009 2010 Jumlah Kab.87 1.59 1.35 702.415.584. Kaur 2009 2010 Jumlah 119 Kab.909. Bengkulu Tengah 2009 2010 Jumlah 23 23 5.62 300.35 2.622.725.153.12 689.348.51 233.056.89 1 12 13 7 36 43 44 25 69 647.32 233.96 118 Kab.006.584.87 536.611.057.61 317.540.934.55 286.883.65 8.98 26.24 9.63 109.26 162.13 32. Bengkulu Selatan 4 130 140 87 227 Nilai 5 120.34 Jml 6 65 73 7 80 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 456.875.23 20.97 13.75 7.14 9.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 114 2 Prov.19 87.73 3.00 332.35 1.78 937.832.49 467.32 1.845.21 58.450.48 137.23 16 20 36 15 15 4 4 2.340.056.030.39 3.412.36 25 89 114 - 1.29 138.93 575. Bengkulu Utara 2009 2010 Jumlah 49 89 138 25 18 43 4.39 2.12 13.399.35 19.08 7.94 5.24 11.02 115 2009 2010 Jumlah 77 36 113 1.056.819.20 17 17 1.94 - - - - 23 23 5.13 702.299.63 9.34 2.616.822.398.395.122.649.55 647.99 7.031.809. Mukomuko 2009 2010 Jumlah 122 Kab.89 689.42 945.340.28 710.540.209.13 172.395.09 21 21 19 19 60 7 67 50 50 921.63 13.00 20.15 702.97 7.48 32 6 38 16 16 9 9 827.34 317.211.33 - 402.725.17 9.20 336.09 632.128.97 2. Lampung 2009 2010 Jumlah 113 .74 733.014.730.81 13.716.84 2.94 5.65 941.11 1.708.972.014.87 1.443.72 2.86 399.74 116 Kab.18 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 57 4 58 62 Nilai 11 4.393.61 172.16 536.520.62 85.68 1.13 2.862.36 109.33 15 15 19 6 25 1.94 - 117 Kab.13 366.63 1.64 5.186.48 723.489.59 19.44 138. Rejang Lebong 2009 2010 Jumlah 71 32 103 35 23 58 186 31 217 103 113 216 1.00 2.58 13.206.716.399.35 1.106.899.24 1.00 2.78 123 Kab.14 53.125.60 801.59 796.93 16.82 5.984.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 8 63 22 85 Nilai 9 115.757.106.490.51 402.340.89 2.166.18 118.03 1.46 172.63 3.99 97.00 20.96 9 9 6 12 18 1.60 2.66 33.56 467.23 120 Kab.59 1.826.86 399.Halaman 10 . Lebong 2009 2010 Jumlah 121 Kab.97 921.125.22 2.23 20.28 43 43 336.49 40.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 456.609.42 334.800.611.943.93 2.317.855.39 733.11 1. Kepahiang 2009 2010 Jumlah 49 38 87 38 36 74 57 25 82 3.60 553.28 12.29 38 2 40 16 16 24 17 41 43 43 162.490.833.63 12 30 42 23 23 102 7 109 10 113 123 869.09 632.17 7.26 1.966.115.14 5.340.97 44.899. Seluma 2009 2010 Jumlah 124 Kota Bengkulu 2009 2010 Jumlah 125 Prov.

39 1.077.64 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 Kab. Pesawaran 2009 2010 Jumlah 132 Kab.06 59.036.126.50 21.590.33 1.796.74 1.133.118.07 215.940.47 27.403.25 127 Kab.648.908.24 39.06 70.16 10.70 31.94 25 1 26 - 44.265.794.940.13 1.324.01 42 100 142 18 58 76 53 70 123 1.898.395.25 - - 35 38 73 29.47 45 52 97 1.36 218.36 215.17 - 11 67 78 68 57 125 861.65 46.99 - 26.64 1.19 127.117.49 1.77 17 1 18 2.603.501. Lampung Tengah 2009 2010 Jumlah 60 69 129 1.426.923.07 39.544.80 91.324.07 9 9 5 5 218.190.516.069.69 69 69 1.694.70 10.426.164.82 1.70 130 Kab.Halaman 11 .57 147.73 9.487.908.26 2.24 1.78 3.41 187.335.101.111.351.211.186.41 187.50 21.89 5.96 20.928.831.070.582.80 22.07 299.816.391.01 215.70 44 44 1.908.111.582.898.25 26.36 962.97 215.80 127.74 1.24 - 147.427. Lampung Timur 2009 2010 Jumlah 53 60 113 2.76 173.38 1.590.74 26.395. Way Kanan 2009 2010 Jumlah 135 Kota Bandar Lampung 2009 2010 Jumlah 42 110 152 27 63 90 28. Lampung Selatan 2009 2010 Jumlah 45 55 100 1.43 42.304.38 326.652.546.64 1.45 623.118.35 16 16 122.09 131 Kab.92 398.316.09 254.906. Lampung Utara 2009 2010 Jumlah 51 100 151 18 58 76 60 70 130 1.705.40 13.809.17 299.824.846.65 44.64 - 129 Kab.164.601.92 874.892.505.38 327.16 88.831.65 46.351.590.310.935.17 11.51 173.17 11.856.694.846.724.043.077.754. Tulang Bawang 2009 2010 Jumlah 56 95 151 68 57 125 939.46 1.671.24 254.590.19 96.00 171.47 10.22 143.18 19 19 31.28 135.126.35 1.783.25 26.487.563.908.194.07 10.41 267.05 1.22 143.335.92 - 5.28 135.856.94 - 134 Kab.36 91.18 1.796.47 27.978.923.24 17 59 76 1. Lampung Barat 3 4 Nilai 5 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 126 2009 2010 Jumlah 35 38 73 29.89 - 2 2 - - 42 108 150 27 63 90 28.96 20.84 623.65 - 20 27 47 - 33.64 1.446.601.191.854.673.33 88.36 136 Kota Metro 2009 2010 Jumlah 114 .705.898.57 3 3 10.127.446.914.98 32.906.365.428.41 128 Kab.69 122.717.80 398.169.060.24 1. Tanggamus 2009 2010 Jumlah 133 Kab.326.56 2 2 1.923.

40 331.85 307.856.06 1.703.65 16.75 1.31 32 63 95 18 18 14 82 96 7. Bintan 2009 2010 Jumlah 147 Kab.54 2.08 76 41 117 2.64 1.12 10 5 15 81.160.13 16.273.98 195.316.41 15.672.20 3.94 3.15 32.42 855.36 2.520.082.46 119.295.39 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 1 14 6 7 13 4 6 10 Nilai 9 29.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 9 12 16 16 2 2 Nilai 11 596.61 2.576.44 145 Prov.Halaman 12 .64 204.557.770.21 568.85 34 17 51 179.14 19. Karimun 2009 2010 Jumlah 148 Kab.93 2.14 140 2009 2010 Jumlah 87 70 157 2.832.11 177.41 1.847.83 42 25 67 22 30 52 64 39 103 601.301.71 35 35 846.84 1.289.866.208.187.51 469.13 3.54 200.375.706.408.47 2.68 1.312.73 254.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 137 2 Prov.03 1.57 34 13 47 27 23 50 197.31 8.02 7.154.90 32.881.25 - - 846.52 207.385.03 34.48 151.05 222.01 1.18 670.85 125.335.85 8.516.345.11 1.523.58 926.778.75 21.650.34 1.31 4.42 831.46 68 23 91 514.47 20.01 6 19 25 7.89 547.69 19.87 272.74 45.593. Bangka Tengah 2009 2010 Jumlah 44 32 76 61 74 135 197.11 16.11 13. Bangka Barat 2009 2010 Jumlah Kab.61 146 Kab.96 2.94 2.29 Jml 6 57 35 92 102 37 139 57 13 70 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 25.26 4.06 1.153.26 7.873.25 2.48 254.58 3.516.20 36.10 8 6 14 23 25 48 488.16 142 Kab.849.658.55 2.17 2 13 15 11 26 37 1.183.72 7 7 1.650. Belitung 2009 2010 Jumlah 143 Kab.94 144 Kota Pangkal pinang 2009 2010 Jumlah 125 136 261 1.33 2.730. Kepulauan Anambas 2009 2010 Jumlah 61 61 3.085.29 197.098.01 331.12 141 Kab.45 115 .01 3.32 11.07 44.40 9.92 9.64 23.10 29.23 4.075.399.01 25.40 20.41 197.99 718.768.553.008.811.41 822.142.45 26 26 2.10 346.39 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 3.14 972.098.48 151.75 2.64 25. Bangka Selatan 4 73 45 118 108 60 168 61 21 82 Nilai 5 55.17 74.454.991.41 197.41 488.374.252.778.44 1.05 928.68 460.376.719.281.336. Bangka 2009 2010 Jumlah 139 Kab.14 32 108 140 29.983.028.36 25 5 30 767.37 1 24 25 926.83 539.768.679.371.17 9.61 16 15 31 23 12 35 13 9 22 8.824.09 108.45 365.15 963.45 846.29 460.58 2.279.674.51 2.252.913.576.89 7.41 2.139.48 787.998.07 15.54 197.203.13 3.41 13.46 119. Kepulauan Riau 2009 2010 Jumlah 90 103 193 45 60 105 91 130 221 16.97 56.39 307.55 3.85 596.84 643.41 1.25 7.99 718. Belitung Timur 2009 2010 Jumlah 40 43 83 7.154.71 3.295.95 729.834.04 349.080.64 212.64 2.10 2.429.45 846.08 15. Kepulauan Bangka Belitung 3 2009 2010 Jumlah 138 Kab.551.90 576.00 896.821.695.94 2.

35 157 Kab.44 8.735.91 299.62 16.55 2.160.21 24. DKI Jakarta 2009 2010 Jumlah 701 445 1.62 920. Jawa Barat 2009 2010 Jumlah 155 Kab.32 58.93 19.83 2.446.89 5.80 2.68 11.86 60.663.51 9.41 5.91 27.26 14 17 31 77.97 57.87 7.846.56 589.32 21.79 624.928.025.124.13 12.576.979.686.147.29 15.21 342.78 8.81 184.359.675.743.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 149 2 Kab.12 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 7 2 9 1 53 54 10 58 68 Nilai 11 2.621.17 12.52 652.32 8 17 25 16 2 18 14 19 33 3 5 8 11 33 44 5.29 200.26 55.24 13.16 2.291.63 30.38 537.063.500.427.82 35.831.667.71 133.71 2.14 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 17 31 21 16 37 15 17 32 Nilai 9 1.834. Cianjur 2009 2010 Jumlah 116 .67 681.34 97.114.15 2.31 638.57 9.97 3.60 28.35 154 Prov.40 3.175.457.871.96 1.75 24.05 25.094.893.346.58 49.92 3.943.63 12.70 60.914.70 2.59 1.548.37 111 151 262 6 95 101 2 29 31 18.414.273.97 4 4 19 39 58 7 38 45 1 1 57 18 75 2.749.15 137. Bekasi 2009 2010 Jumlah 158 Kab. Bandung Barat 2009 2010 Jumlah 73 84 157 61 41 102 52 58 110 10 23 33 73 75 148 5.215.276.05 202 109 311 38 13 51 9 23 32 129.284.074.339.447.59 2.32 8.00 9.919.875.54 1.67 102.268.995.20 1.38 554.02 4.833.535.99 Jml 6 43 28 71 40 19 59 73 24 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 10.820.544.981.37 252.033.67 49.890.385.801.05 87.20 24.38 40.54 16.95 681.892.376.482.244.45 19.18 59.799.01 73.986.56 13.72 51.363.628.910.85 923.96 119.072.785.58 392.13 49.85 14.21 19.262.47 24.333.81 14 65 79 4.61 43.332.198.90 21.28 34.44 15.11 21.88 27.20 65 63 128 26 26 31 1 32 6 18 24 5 24 29 338.394.175. Lingga 3 2009 2010 Jumlah 150 Kab.058.187.71 129.819.78 893.21 182.64 22.45 25.645. Bogor 2009 2010 Jumlah 159 Kab.90 20.94 22.31 11.687.48 101.611.55 3.67 24.41 815.543.40 102.346.29 152 2009 2010 Jumlah 61 105 166 306.32 161.96 60.243.546.84 19.902.33 885.934.51 59.32 3.11 1. Bandung 2009 2010 Jumlah 156 Kab.84 136.250.23 3.97 4.080.72 577.143.14 6.49 2.74 229.53 24.704.05 58.69 4.876.29 2.979.562.995.Halaman 13 .147.679. Ciamis 2009 2010 Jumlah 160 Kab.161.574.965.891.549.87 627.81 158.89 10. Natuna 2009 2010 Jumlah 151 Kota Batam 2009 2010 Jumlah Kota Tanjungpinang 4 64 47 111 62 88 150 98 99 197 Nilai 5 12.78 2.80 55.74 4.97 250.95 11.83 33 23 56 229.15 12.69 3.14 384.234.130.000.32 654.67 21.21 48.83 87.47 388 185 573 115 75 190 77 26 103 80.24 24.80 31.576.146 159 183 342 88 78 166 228.184.123.397.72 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.56 62.81 10.050.46 55.551.67 244.00 24.39 23.800.593.71 59.441.97 153 Prov.193.70 1.

174.86 224.550.210.354.469.95 26.550.61 12.10 2.47 137.09 1.99 384.24 553.10 153.350.103.277.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 17 8 25 4 10 14 3 11 14 19 Nilai 9 398.00 34.711.97 5 27 310.99 892.00 165 Kab.00 6.09 976.00 185.91 8.81 2.981.515.77 575.378.95 1.88 1.65 327.819.65 892.37 5.10 160.38 0.81 384.44 117 .80 173.00 6.90 USD 4.73 1 16 17 9 22 31 8 11 19 8 5 13 22 3 25 49 13 62 3 13 16 44 52 96 1 11 10.176.65 3.86 165.241. Purwakarta 2009 2010 Jumlah 168 Kab.95 1.84 164.50 4.20 38.680.457.04 144.71 277.69 327.02 37.71 95.79 38.49 4.015.810.27 119.37 835. Kuningan 2009 2010 Jumlah 166 Kab.59 345.66 15.99 11.71 39.02 171.29 43.93 USD 4.006.679. Cirebon 3 2009 2010 Jumlah 162 Kab.451. Sumedang 2009 2010 Jumlah 171 Kab. Garut 2009 2010 Jumlah 163 Kab.61 60.50 4.608.61 2.76 144.125.74 37.360.267.12 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.62 341.02 1.35 397.407.122.67 524.12 397.77 4.10 USD 4.12 8.41 38.25 36.587.71 77. Indramayu 2009 2010 Jumlah 164 Kab.32 39. Subang 2009 2010 Jumlah 169 Kab.42 545.50 42.37 42.77 27.618.95 514.834.32 12.69 959.202.71 1.106.487.70 2.70 119.351.62 119.89 5.39 221.10 183.304. Majalengka 2009 2010 Jumlah 167 Kab.04 50.32 1.61 11.95 185.90 4.281.744.30 251.871.147.96 582.00 185.848.849.02 546.805.824.974.66 8.704.10 839.83 USD 4.84 77.52 45.15 212.205.974.99 146.24 717. Sukabumi 2009 2010 Jumlah 170 Kab.85 37.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 161 2 Kab.277.25 5.Halaman 14 .92 2.351.69 634.71 398.00 9.566.640.360.505.75 341.082.02 324.71 976.35 368.67 17 36 34.518.70 USD 4.94 53.51 8.465.19 2 2 4 30 34 2 10 12 6 6 12 4 5 9 4 4 45 43 88 16 2.10 183.505.86 46.10 148.31 15.177.12 3.070.29 164.06 USD 4.61 51.166.41 7.66 2.20 8.805.62 4.53 137.60 3.76 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 60 1 61 2 2 22 Nilai 11 38.95 8.37 5.31 3.08 5.849.750.25 3.99 203.97 3.05 3.835.41 2.00 171.32 1.96 5.67 338.11 4. Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 172 Kota Bandung 2009 2010 Jumlah 173 Kota Banjar 2009 2010 39 29 68 49 38 87 23 51 74 44 23 67 48 19 67 57 18 75 13 17 30 149 188 337 33 38 196.006.69 1.42 550.700.53 37.30 198. Karawang 2009 2010 Jumlah 4 53 14 67 89 21 110 36 22 58 109 30 139 Nilai 5 1.015.96 3.07 3.88 201.65 42.502.65 835.450.92 38 11 49 40 16 56 11 10 21 34 8 42 20 10 30 4 4 10 10 60 93 153 16 27 8 76 Jml 6 34 6 40 25 10 35 31 11 42 68 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.282.603.425.354.

41 1.42 2.25 145.24 262.64 629.841.436.10 4.97 81.70 16.72 20.78 178.232.91 275.69 245.52 57.507.98 180.12 1.257.507.26 20.507.81 306.70 333.124.46 57.60 2.89 220.78 19.44 910.29 910.124.086.07 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 339.426.41 2.60 4.249.604.69 1.495.57 15.25 1.09 730.257.436.902.12 178.31 16.99 872.779.18 55.52 13.31 202.13 220.046.099.640.13 451.20 931. Banjarnegara 2009 2010 Jumlah 183 Kab.92 984.82 4.12 829.13 582.45 426.027.536.47 9.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 3 Jumlah 174 Kota Bekasi 2009 2010 Jumlah 175 Kota Bogor 2009 2010 Jumlah 176 Kota Cimahi 2009 2010 Jumlah 177 Kota Cirebon 2009 2010 Jumlah 178 Kota Depok 2009 2010 Jumlah 179 Kota Sukabumi 2009 2010 Jumlah 180 Kota Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 181 Prov.89 896.745.134.39 12.75 829.046.818.09 872.92 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 16 10 10 20 25 25 51 6 57 1 6 7 1 3 4 11 14 25 1 50 51 17 17 2 21 23 23 23 Nilai 11 39.523.48 10.78 76.44 245.355.50 2.134.293.964.62 5.71 6.05 138.22 473.17 931.877.87 821.78 284.91 4.44 39.54 257.02 1.57 1.25 3.27 650.74 6.19 896.521.21 101. Banyumas 2009 2010 Jumlah 184 Kab.23 8.57 269.82 118 .82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 7 21 28 25 25 14 15 29 15 9 24 4 10 14 20 31 51 11 11 16 5 21 8 8 2 4 6 8 21 29 25 16 41 4 7 11 Nilai 9 385.06 158.670.82 821.42 2.50 331.183.73 257.91 1.92 7.17 241.77 519.78 306.521.64 277.63 821.02 403.80 132.78 940.902.72 257.38 1.273.12 842.05 89.82 2. Batang 2009 2010 Jumlah 185 Kab.54 169.314.38 19.04 262.42 806.82 821.65 449.453.54 7.02 155.30 641.69 1.28 950.507.257.67 815.06 3.99 9.314.30 2.65 1.781.291.10 191.807.93 761.353.56 2.93 15.48 65.37 13.28 842.68 1.65 829.317.501.79 77.29 55.01 251.24 9.69 2. Jawa Tengah 2009 2010 Jumlah 182 Kab.03 940.84 950.84 5.07 122.502.493.18 60. Boyolali 2009 2010 Jumlah 4 71 40 34 74 22 58 80 68 49 117 51 39 90 53 23 76 51 57 108 47 14 61 59 70 129 23 40 63 42 36 78 29 46 75 35 65 100 23 24 47 Nilai 5 798.50 1.190.650.57 29.31 2.42 10.57 451.67 641.71 156.184.870.95 52.21 3.988.65 908.204.93 7.21 145.10 836. Blora 2009 2010 Jumlah 186 Kab.971.65 229.92 2.240.22 1.87 81.07 192.50 23.70 815.75 Jml 6 43 23 3 26 22 8 30 3 28 31 36 30 66 48 7 55 30 23 53 25 25 42 15 57 23 15 38 40 32 72 19 4 23 10 26 36 19 17 36 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 373.67 4.355.81 122.Halaman 15 .25 13.56 403.

48 4.721.81 282.915.42 78.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 11 25 5 4 9 14 24 38 21 32 53 4 6 10 2 22 24 3 12 15 14 16 30 12 37 49 2 10 12 Nilai 9 426.21 37.51 15.30 21.80 4.75 5.35 44.07 499.190.17 69.59 3.72 5.21 24.631.72 602.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.95 3.54 45. Magelang 2009 2010 Jumlah 32 41 73 48 28 76 28 25 53 1.23 1.64 60. Brebes 3 2009 2010 Jumlah 188 Kab.02 263.568.635.22 26 13 39 36 1 37 21 12 33 139.403.44 1.47 44.90 22 22 - - 149.08 7. Cilacap 2009 2010 Jumlah 189 Kab.89 1. Jepara 2009 2010 Jumlah 192 Kab. Kebumen 2009 2010 Jumlah 194 Kab.38 Jml 6 35 2 37 60 31 91 27 27 16 16 18 19 37 15 14 29 11 31 42 30 3 33 11 3 14 49 2 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.203.95 1.31 3.62 432.635.44 2.84 257.62 1.732.571.168.326.256.95 79.31 78.73 1.239.45 197 Kab.07 334.03 1.225.70 72.01 7.28 4.137.69 263.052.008.31 1.252.129.56 777.31 6 6 12 12 27 39 7 13 20 1.94 473.52 1.11 309.29 3.54 46.94 1.91 9.13 8.379.426.631. Karanganyar 2009 2010 Jumlah 193 Kab.41 879.24 1.50 10.24 37.18 2.966.800.017.530.324.420.93 12.950.43 2.36 171.987.343.075.38 12.614.40 2.85 4.708.636.94 198 Kab.300.79 1.324.72 89.00 6.365. Pati 2009 2010 Jumlah 199 Kab.481.16 78.27 4. Pekalongan 2009 2010 Jumlah 119 .305.069.61 566.44 137.43 90.592.84 1.69 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 20 23 26 26 1 13 14 16 12 28 1 29 30 26 23 49 24 24 27 27 Nilai 11 150.94 1.29 163.137.040.005.069.614.344.01 168.18 4. Klaten 2009 2010 Jumlah 196 Kab.91 4.50 165.20 379.034.61 320.89 1.91 1.31 9.343.81 7.209.759.08 602.79 66.031.66 9.356.58 72.00 150.62 97.413.89 2.643.28 831. Grobogan 2009 2010 Jumlah 191 Kab.742.17 7.00 137.33 2.32 201.220.64 92.72 334.219.03 9.27 3.47 84.62 457.00 37.38 90.571.43 5.03 247.185.226.100.66 188.18 38.950.59 360.367.66 104.24 895.31 3.91 10. Kendal 2009 2010 Jumlah 195 Kab. Demak 2009 2010 Jumlah 190 Kab.11 52.31 52.67 3.907.957.91 1.588.75 895.970.03 9.614.58 12.641.614.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 187 2 Kab.14 2.05 536.48 24.22 104.64 1.74 79.56 367.220.91 4.90 101.89 1.66 1.64 276.95 9.Halaman 16 .31 1.967.20 566.88 3.08 70.530.568.00 5.46 21.40 4.30 8. Kudus 2009 2010 Jumlah 4 52 33 85 91 35 126 42 37 79 53 44 97 22 25 47 18 65 83 14 43 57 70 42 112 23 64 87 51 39 90 Nilai 5 1.81 3.437.

66 0.30 9.60 0.394.99 1.45 4.582.71 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 62 63 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.25 26.11 1.34 1.66 85.97 3.18 94.171.385.71 87.65 9.50 364.42 7.749.019.76 30.582. Semarang 2009 2010 Jumlah 205 Kab.47 988.732.14 5.600.36 14.413.53 988.00 26.34 39.41 5.13 1.65 11.70 45.729.91 2.541.429.295.429.761. Sukoharjo 2009 2010 Jumlah 207 Kab.38 8.67 1.15 84.18 90.79 14.252.06 13.Halaman 17 . Wonosobo 2009 2010 Jumlah 211 Kota Magelang 2009 2010 Jumlah 212 Kota Pekalongan 2009 2010 Jumlah 120 .87 440.647.443.16 334.06 635.01 7.42 11.79 1.56 334.978. Wonogiri 2009 2010 Jumlah 210 Kab.245.18 1.90 1.53 1. Sragen 2009 2010 Jumlah 206 Kab. Purworejo 2009 2010 Jumlah 203 Kab.395.42 39.93 18.02 14.65 39.84 13.913.66 80.67 2.76 364.413.23 274.59 7.11 7.04 85.41 185.617.00 1.01 3 50 53 24 24 27 27 1 47 48 1 1 29 29 58 17 17 10 10 79 79 47 47 185.28 395.032.07 510.046.476.60 0.643.53 1.154.60 80.02 1.46 244.104.664.90 8.55 1.032.185.76 30.00 3.61 4 12 16 8 8 19 27 46 7 9 16 1 19 20 13 5 18 34 2 36 13 25 38 10 10 20 30 34 64 6 16 22 5 5 3.67 2.28 1.567.64 9.555.738.95 9.399.42 9 13 22 20 9 29 12 4 16 16 13 29 18 18 36 18 7 25 15 15 21 1 22 27 12 39 1 27 28 5 6 11 15 15 1.166.27 8.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 200 2 Kab.986.68 859.613.39 252.45 3.01 8.824.72 8.25 8.664.249.66 60.18 2.646.017.53 9.87 9. Tegal 2009 2010 Jumlah 208 Kab.79 26.160.65 80. Purbalingga 2009 2010 Jumlah 16 75 91 20 41 61 31 58 89 24 69 93 19 38 57 31 12 43 78 31 109 34 43 77 37 22 59 31 71 102 11 101 112 20 47 67 4.78 1.017.54 18.71 30.413.26 11.582.44 3.83 12.86 81.25 851.72 271.41 4.00 184. Rembang 2009 2010 Jumlah 204 Kab.48 12.34 38.95 851.97 94.70 103.50 8.761.394.749.88 201 Kab.22 12.097.46 661.179.67 29.420.40 836.000.60 9. Temanggung 2009 2010 Jumlah 209 Kab.731.48 Jml 6 14 10 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 30.39 90.375.52 859.731.46 - 202 Kab.197.11 1.062.76 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 11 12 23 Nilai 9 87.354.65 988.041.06 11. Pemalang 3 2009 2010 Jumlah 4 26 84 110 Nilai 5 87.67 1.23 769.37 7.39 295.61 4.917.647.624.60 80.249.59 14.40 13.14 274.62 14.135.385.032.517.78 395.501.36 2.

03 1.79 18.78 1.43 268.049.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 213 2 Kota Salatiga 3 2009 2010 Jumlah 214 Kota Semarang 2009 2010 Jumlah 215 Kota Surakarta 2009 2010 Jumlah 216 Kota Tegal 2009 2010 Jumlah 217 Prov.563.22 16.941.398.14 1.61 526.I.41 13.39 42.289.289. yakarta Yog2009 2010 Jumlah 218 Kab.43 21.14 14.18 712.27 739.68 1.11 60.06 8.00 2.809.377.03 27.255.728.60 81.85 165.07 56.50 83.55 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 30 30 1 19 20 1 28 29 2 1 3 1 1 10 33 43 2 17 19 37 37 64 64 1 39 40 50 50 14 14 1 25 26 Nilai 11 733.80 11.68 562.35 1.68 558.58 24.92 2.291.43 18.016.03 27.505.22 60.045.19 37. Bantul 2009 2010 Jumlah 219 Kab.92 8.427.586.690.909.63 19.147.91 4.14 8.037.00 2.18 7.58 1.021.602.981.65 1.181.95 13.66 1.70 32.021.74 738.00 175.50 112.41 6.13 100.30 1.61 5.177.79 280.604.30 19.29 70.768.45 1.30 14.57 23.013.646.60 2.500.13 712.714.79 11.07 49.293.769.76 6.21 3.50 17.104.907.605.96 268. D.500.927.852.43 1.231. Jawa Timur 2009 2010 Jumlah 224 Kab.351. Kulon Progo 2009 2010 Jumlah 221 Kab.22 8.32 14.14 8.279.42 1.852.42 321.54 12.45 139.316.43 3.30 36.564. Gunung Kidul 2009 2010 Jumlah 220 Kab.17 5.22 1.250.59 18.941.48 712.13 49.013.42 18.54 32.14 146. Sleman 2009 2010 Jumlah 222 Kota Yogyakarta 2009 2010 Jumlah 223 Prov.960.564.68 1.91 Jml 6 20 20 27 27 22 9 31 36 3 39 60 46 106 52 18 70 12 8 20 11 7 18 49 6 55 31 38 69 53 23 76 50 24 74 97 41 138 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 175.40 243.167.27 19.99 1.181.57 22.28 467.00 23.00 16.93 112.076.78 193.68 17.26 24.68 104.42 41.10 3.72 449.39 329.27 739.457.24 121 .107.00 1.35 58.473.18 733.601.460.529.13 792.25 34.00 49. Bangkalan 2009 2010 Jumlah 225 Kab.05 30.93 112.26 19.205.396.15 1.78 8.82 650.31 22.265.17 5.049.70 1.520.54 21.27 1.604.80 196.198.250.57 1.80 526. Banyuwangi 2009 2010 Jumlah 4 25 56 81 55 27 82 24 43 67 66 14 80 76 69 145 66 60 126 19 44 63 16 47 63 53 72 125 45 85 130 76 83 159 50 42 92 121 85 206 Nilai 5 354.389.72 7.Halaman 18 .523.81 11.97 321.92 1.788.76 6.00 2.077.57 100.300.813.037.92 8.54 329.00 1.83 19.57 19.834.758.85 22.14 21.016.80 83.22 2.547.540.565.50 112.42 449.70 142.90 112.39 8.03 16.502.50 140.41 170.14 1.45 12.89 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 104.496.23 4.00 8.39 3.632.80 3.15 30.731.122.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 26 31 27 8 35 1 6 7 28 10 38 16 22 38 4 9 13 5 19 24 5 3 8 4 2 6 13 8 21 23 10 33 4 4 23 19 42 Nilai 9 179.17 626.90 3.54 83.

802.24 155.09 40.23 1.19 685.99 6.941.291. Magetan 2009 2010 Jumlah 237 Kab.41 1.01 5.50 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 346.582.00 42.80 873.973.37 1.50 12.49 1.027.40 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 226 2 Kab.66 155.37 1.50 1.02 88.27 187.59 105.18 197.19 1.84 2.929.549.19 479. Lamongan 2009 2010 Jumlah 234 Kab.18 198.67 155.80 959.87 8.142.32 2.36 30.57 339.91 351.80 3.00 57 126 35 18 53 74 140 214 48 64 112 54 46 100 125 74 199 93 51 144 Nilai 5 2.19 454.15 959.17 155.00 371.429.59 198.480.73 8. Jombang 2009 2010 Jumlah 232 Kab.91 506.06 35.187.85 1.251.964.54 20.52 542.04 50.49 23.295.141.58 105.668.578.55 1.66 72.941.71 1.727.59 42.73 105.33 316.53 6.02 65.20 1.027.263.37 2.23 60.87 13.80 1.108.17 25.00 18 87 29 13 42 68 96 164 46 21 67 37 10 47 82 26 108 91 27 118 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 346.19 19.54 149.802.35 2.46 5.59 28.83 150. Jember 2009 2010 Jumlah 231 Kab.32 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 2 21 23 32 32 7 7 14 43 52 95 34 34 1 2 3 1 39 40 40 40 20 20 7 31 38 20 20 Nilai 11 150.20 4.316.72 434.648.18 198.73 208.065.832.125.16 56.799.065.13 187. Gresik 2009 2010 Jumlah 230 Kab.849. Blitar 3 2009 2010 Jumlah 227 Kab.30 721.77 4.32 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 23 36 11 8 19 9 7 16 15 14 29 10 5 15 3 3 5 5 5 3 8 5 5 10 2 3 5 17 16 33 36 17 53 2 4 6 Nilai 9 1. Kediri 2009 2010 Jumlah 233 Kab.22 1.50 1.19 530. Lumajang 2009 2010 Jumlah 235 Kab.743.04 249.08 290.71 292.70 24.56 149.280. Malang 2009 2010 Jumlah 238 Kab.92 115.28 350.18 50.701.493.74 4.33 454.11 489.26 83.61 3.36 23.60 4.12 9.396.06 288. Mojokerto 2009 2010 Jumlah 4 52 87 139 99 72 171 52 61 113 38 42 80 150 106 256 65 35 100 69.71 4.775.02 1.67 7.52 542.51 5.33 40.530.01 5.03 794. Bojonegoro 2009 2010 Jumlah 228 Kab.088.18 115.46 285.28 5.19 530.73 8.749.17 155.822.66 42.423.251.672.29 539.56 122 .397.829.18 9.15 20.65 694.54 305.19 11.40 873.85 10.11 479. Madiun 2009 2010 Jumlah 236 Kab.60 5.48 3.02 436.17 589.20 40.215.08 371.479.04 346.81 28.010.763.35 2.954.674.96 29.579.252.49 2. Bondowoso 2009 2010 Jumlah 229 Kab.696.108.04 1.23 28.81 198.51 299.02 88.83 2.29 1.36 30.057.00 25.Halaman 19 .516.17 530.02 316.275.52 12.92 1.59 105.14 539.743.18 2.54 9.15 Jml 6 39 20 59 86 43 129 43 22 65 16 21 37 97 49 146 62 35 97 69.36 4.65 571.15 396.00 1.

44 2.15 83.89 2.64 44.65 102. Ngawi 2009 2010 Jumlah 241 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 239 2 Kab.862.57 531.14 246.95 50.017.672.66 895.21 253.75 361.37 386.00 807.085.75 52.151.60 1.36 3.10 14.19 796.94 2.786.67 17.14 1.07 447.01 122.70 2.83 428.37 2.136.19 360.81 410.151.40 25. Tuban 2009 2010 Jumlah 4 71 50 121 30 34 64 23 44 67 66 32 98 63 62 125 56 91 147 80 47 127 41 49 90 52 89 141 74 90 164 25 45 70 51 64 115 59 63 122 Nilai 5 780.69 122.64 1.13 941.33 3. Sampang 2009 2010 Jumlah 247 Kab.92 624. Pasuruan 2009 2010 Jumlah 244 Kab.86 48.87 27.14 112.125.318.82 482.85 73.17 50.083.577.58 25.98 180.47 308.040.59 428.66 588.26 487.63 2.110.09 14.013.31 2.91 35.26 104.50 282.062.11 168.Halaman 20 .33 616.89 163.647.174.899.90 428. Sidoarjo 2009 2010 Jumlah 248 Kab.79 166. Pacitan 2009 2010 Jumlah 242 Kab.10 18. Pamekasan 2009 2010 Jumlah 243 Kab.74 168.08 715.32 278.68 1.56 2.12 219.11 83.42 536.52 47.96 8.01 1.08 320.47 761.43 2.13 776.41 267.085.49 361.17 150.52 112.12 2.58 1.84 5.93 3.60 48.30 18.59 308.862.646.75 2.48 7.31 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 517.44 566.024.93 Jml 6 58 17 75 26 9 35 23 33 56 46 12 58 57 34 91 54 46 100 64 20 84 36 25 61 31 26 57 56 15 71 21 20 41 38 32 70 55 22 77 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 553.44 2.443.12 1.08 5.88 2.633.79 18.10 38.12 140.00 96.43 7.626.12 102.569.13 994.27 27.40 2. Probolinggo 2009 2010 Jumlah 246 Kab.57 567.37 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 16 29 4 9 13 1 1 18 4 22 6 3 9 2 3 5 15 8 23 5 12 17 21 29 50 18 5 23 4 11 15 9 11 20 4 3 7 Nilai 9 227.12 253.84 2.13 763.218.104.37 68.21 917.75 1.92 36.039.778.54 48.27 225.15 43.44 53. Nganjuk 3 2009 2010 Jumlah 240 Kab.39 52.150.57 494.22 463.504.19 917.629.362.06 123 .27 1.64 836.00 44.85 892.68 155. Ponorogo 2009 2010 Jumlah 245 Kab.774.623.569.25 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 17 16 16 10 10 2 16 18 25 25 42 42 1 19 20 12 12 34 34 70 70 14 14 4 21 25 38 38 Nilai 11 836.12 87.95 105.40 728.19 3.75 278.33 229.222.96 8.26 164.12 150.00 273.75 122.890.87 118.391.97 35.90 180.01 69.98 7.37 761.49 386. Sumenep 2009 2010 Jumlah 250 Kab.560.37 527.95 104.37 278.50 3.65 588. Situbondo 2009 2010 Jumlah 249 Kab.577.98 168. Trenggalek 2009 2010 Jumlah 251 Kab.031.862.80 240.30 306.91 1.86 164.37 536.12 122.68 0.

98 998.15 6. Pandeglang 2009 2010 Jumlah 4 42 51 93 56 128 184 23 53 76 50 52 102 57 41 98 50 51 101 70 59 129 100 65 165 36 77 113 39 171 210 140 46 186 77 28 105 76 74 150 Nilai 5 2.550.93 68.606.48 239.85 1.31 3.657.85 47.31 2.623.907.922.56 7.020.14 6.64 785.032.69 5.98 2.387.93 1.36 507.95 375.880.63 56.09 660.91 6.61 13.29 11.505.14 6.050.91 39.79 12.08 7.75 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 15 19 34 1 9 10 10 12 22 9 9 6 6 6 4 10 27 12 39 4 10 14 16 17 33 65 8 73 20 15 35 21 28 49 Nilai 9 375.56 6.11 2.20 9.98 2.96 204.374.87 6.91 239.15 6.63 348.820.42 2.482.790.576.99 332.019.87 136.702.501.92 2.00 1.04 425.820.91 30.87 124 .93 869.34 11.017.634. Tulungagung 3 2009 2010 Jumlah 253 Kota Batu 2009 2010 Jumlah 254 Kota Blitar 2009 2010 Jumlah 255 Kota Kediri 2009 2010 Jumlah 256 Kota Madiun 2009 2010 Jumlah 257 Kota Malang 2009 2010 Jumlah 258 Kota Mojokerto 2009 2010 Jumlah 259 Kota Pasuruan 2009 2010 Jumlah 260 Kota Probolinggo 2009 2010 Jumlah 261 Kota Surabaya 2009 2010 Jumlah 262 Prov.17 61.389.66 972.14 186.48 1.11 8.99 1.37 99.56 2.77 311.529.843.17 13.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 252 2 Kab.56 2.553.59 375.22 11.09 39.92 1.93 493.047.803.97 979.15 3.20 52.80 566.97 149.607.61 878.53 68.13 321.065.12 783.83 4.81 972.268.60 2.004.634.92 1.92 2.91 206.09 6.56 7.233.557. Banten 2009 2010 Jumlah 263 Kab.95 2.98 12.07 50.99 764.115.13 Jml 6 42 23 65 38 16 54 22 29 51 40 25 65 48 23 71 50 30 80 64 27 91 73 28 101 32 26 58 23 18 41 62 26 88 57 13 70 10 24 34 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.97 1.82 250.11 8.41 261.85 1.00 792.86 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 2.33 705.81 6.511.01 3.50 2.03 432.91 302.13 6.33 2.26 112.004.894.59 493.48 136.115.387.05 2.634.115.79 2.15 2.31 599.32 98.65 211.96 2.05 206.33 0.97 979.70 126.290.87 6.59 1. Lebak 2009 2010 Jumlah 264 Kab.75 94.91 410.704.52 6.064.34 87.164.819.701.234.89 507.50 8.94 6.077.23 3.810.66 188.020.790.08 0.387.17 161.51 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 24 24 3 93 96 15 15 15 15 18 18 15 15 28 28 25 25 41 41 136 136 13 12 25 45 22 67 Nilai 11 432.448.94 7.702.739.08 6.03 493.387.448.69 16.05 321.80 36.47 188.00 792.33 55.790.82 410.91 705.927.48 660.79 377.09 507.586.99 332.79 398.93 785.15 973.14 28.Halaman 21 .09 11.803.34 87.004.374.33 1.97 309.

80 3.01 10.009.67 94.45 486.22 48.61 98.30 234.724.54 270.784.97 300.036.60 1.46 116.085.779.302.813.81 19.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 473.473.414.44 18.71 12.75 1.187.348.299.09 275.679.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 16 24 40 21 4 25 7 38 45 3 15 18 28 6 34 Nilai 9 1.668.54 981.85 156. Jembrana 2009 2010 Jumlah 277 Kab.978.71 9.562.831.903.99 19.53 290.585.38 136.339.95 112.66 45.70 543.54 15.97 1.378.52 8.60 50.73 111.79 35.52 4.59 53.93 1 1 2 2 29 29 3 13 16 32 32 55 55 1 38 39 111 111 2.076.515. Karangasem 2009 2010 Jumlah 125 .42 294.38 3.840.833.84 156.33 30. Tangerang 2009 2010 Jumlah 267 Kota Cilegon 2009 2010 Jumlah 268 Kota Serang 2009 2010 Jumlah 269 Kota Tangerang 2009 2010 Jumlah Kota Tangerang Selatan 4 68 94 162 111 28 139 41 38 79 55 47 102 89 25 114 Nilai 5 95.10 2.89 4.86 1.238.49 22.027.308.182.70 438.171. Badung 2009 2010 Jumlah 273 Kab.747.46 57.57 131.403.086.97 245.194.129.99 554.22 270 2009 2010 Jumlah 36 36 145 79 224 79 85 164 71 34 105 42 162 204 34 72 106 37 112 149 70 168 238 18.85 57.87 46.943.55 496.070.60 3.12 539.82 1.26 18.563.72 10.08 83.93 0.55 4.28 41.79 1.100.066.02 14 8 22 18 6 24 9 3 12 10 42 52 7 7 12 27 39 14 3 17 44.86 308.32 376.974.900.28 1.54 901.65 206.62 49.956.562.599.42 313.13 15.Halaman 22 .42 3.235.35 205.950.97 23.131.41 Jml 6 6 31 37 82 24 106 34 34 51 31 82 33 18 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 473.956.194.01 501.26 3.42 509.32 34.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 46 39 85 8 8 1 1 2 28 1 29 Nilai 11 94.76 78.09 36.385.257.70 18.544.519.65 530.00 94.21 1.68 164.492.13 22.075.581.762.750.89 90.485.827.88 1.21 831.292.421.20 330.152.199.66 3.78 60.032.79 77.704.89 2.16 18.91 8.87 198.05 49.94 60.13 661.390.13 289.169.065.25 13.366.83 1.562.66 57.970.562.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 265 2 Kab.692.319.19 2.915.365.32 302.42 194.194.46 748.292.983.093.64 72.12 632.67 124.615.29 66.95 35 35 131 69 200 61 50 111 59 18 77 32 88 120 34 10 44 24 47 71 56 54 110 18.28 622.97 359.992.429.67 4.168.952.17 27.78 1.93 234.52 1.16 12.86 18. Bali 2009 2010 Jumlah 272 Kab.34 1.46 185.53 300.469.323.332.734.372.04 5.06 117.49 1.085.42 455.069.70 18.24 41.168.66 2.12 978.34 179.356.950.50 28.705.519. Bangli 2009 2010 Jumlah 274 Kab.10 554. Gianyar 2009 2010 Jumlah 276 Kab.22 4.118.01 501.868.85 96.432.48 588.08 71. Buleleng 2009 2010 Jumlah 275 Kab.83 271 Prov.94 45.09 769.11 294.36 258.06 33.34 4.69 48.512.017.216.008.123.23 119.67 8.33 133.238.421.99 3.278.50 28.548.81 12.544.91 4.02 106.31 24.10 15.20 155.801.081. Serang 3 2009 2010 Jumlah 266 Kab.42 290.036.48 12.

Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 278 2 Kab.104.52 70.691.01 16.29 1.82 126.44 616.249.68 199.41 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 19 19 47 47 39 7 46 Nilai 11 7.43 2.31 57.04 4.652.58 1.348.828.43 2.80 113.85 710.39 59.94 40.07 59.487.80 550.101.20 316.19 963.84 34.487.429.68 8.32 4.39 1.18 75.506.18 8.42 316.27 550.52 28.92 226.33 1.175.19 3.317.20 Jml 6 32 31 63 33 56 89 55 61 117 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 20.112.71 209.378.43 44 90 134 1 27 28 83 25 108 27 114 141 68 82 150 41 94 135 22 22 61 61 122 26 26 46 46 2.314.638. Nusa gara Barat Teng4 37 57 94 36 108 144 113 81 194 Nilai 5 21.304.92 2. Klungkung 3 2009 2010 Jumlah 279 Kab.78 113.82 13.19 20.126.18 11.43 1.54 580.249.43 201.191.688.66 1.217.07 60.46 430.191. Sumbawa Barat 2009 2010 Jumlah 289 Kab.698.94 69.555.256.26 59.442.52 710.Halaman 23 .019.50 154.638.217.32 26.72 23.47 151.661.55 33.34 22. Lombok Timur 2009 2010 Jumlah 287 Kab. Lombok Tengah 2009 2010 Jumlah 286 Kab.47 16 16 13 13 7 7 4 4 3 3 31 31 26 26 19 19 11.947.806.10 1.678.04 2.33 537.20 151.638.906.89 33.906.73 83.30 397.053.47 915. Tabanan 2009 2010 Jumlah 280 Kota Denpasar 2009 2010 Jumlah Prov.61 2.83 20.94 828.053.811.054.64 1.181.02 37.82 828.72 327.84 35.27 21.333.663.39 1.66 782.03 828.38 116.50 11.031.340.78 - 11 11 9 9 2 2 12 12 4 4 3 3 8 8 9 9 15 15 3. Sumbawa 2009 2010 Jumlah 288 Kab.676.003.86 12.16 478.10 226.54 120.85 126.97 33.472.81 1.46 11.49 129.33 32.29 2.390. Lombok Utara 2009 2010 Jumlah 290 Kota Bima 2009 2010 Jumlah 126 .97 7.54 6.87 23.221.455.04 - 282 Kab.63 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 7 12 3 5 8 19 12 31 Nilai 9 862.55 1.760.63 20.661.131.92 226.11 6.63 201.08 3.68 33.83 21. Bima 2009 2010 Jumlah 283 Kab. Lombok Barat 2009 2010 Jumlah 285 Kab.52 673.295.99 108.032.99 281 2009 2010 Jumlah 71 90 161 23 27 50 85 25 110 46 114 160 76 82 158 47 94 141 39 22 61 96 61 157 26 26 34 46 80 5.42 3.783.41 226.295.998.93 725.80 17.678.03 915.15 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 947.29 209.461.61 50.887.47 376.15 430.44 743.92 2.94 1.947.52 2.037.203.49 443.555.33 209. Dompu 2009 2010 Jumlah 284 Kab.09 69.41 547.19 154.421.43 34.212.645.04 2.053.

69 7.03 999.679.69 33.98 5.384.182.110.83 402.00 392. Nagekeo 2009 2010 Jumlah 127 . Flores Timur 2009 2010 Jumlah 297 Kab.59 10.11 940.61 301 Kab.24 1.10 1.48 1.16 36.86 5.301.93 3.60 145.17 55.07 90.38 594.026.63 63. Manggarai 2009 2010 Jumlah Kab.62 816.502.61 2.24 6.31 4.76 6.218.83 24.217.127.634.37 34.227.026.06 56.73 1.24 63.03 8.676. Lembata 2009 2010 Jumlah 299 Kab.59 10.57 5.30 2.23 302 Kab.51 763.27 5.380.91 492. Nusa Tenggara Timur 2009 2010 Jumlah 293 Kab.18 33.94 4.85 37 37 1 12 13 450.097.00 917.02 3.19 129.827.210.62 4.78 785.678.489.16 7.05 3.93 486.403.823.230.20 1.07 90.62 0.340.380.66 16 3 19 399.00 0.68 227.581.00 145.40 66.817.37 0.69 845.16 8.18 33.93 486. Kupang 2009 2010 Jumlah 298 Kab.51 10.053.26 5.30 450.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 88 80 168 14 134 148 27 33 60 3 111 114 22 5 27 40 20 60 72 36 108 6 6 8 16 24 Nilai 11 254.62 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 9 6 15 15 11 26 34 28 62 1 9 10 8 25 33 19 14 33 5 59 64 21 16 37 Nilai 9 31.45 145.17 1.32 3. Sabu Raijua 2009 2010 Jumlah 303 Kab.00 392.22 1.94 2.62 914.026.581.43 399.09 1.51 48.98 5.45 0.859.00 5.73 715.190.00 5.Halaman 24 .85 996.35 270.55 29.638.559.24 63.30 1.69 2.76 6.96 0.558.31 4.37 34.18 31.073.27 6. Manggarai Timur 2009 2010 Jumlah 93 93 30 47 77 6.413. Alor 2009 2010 Jumlah 294 Kab.96 1.47 66.22 6.60 145.063.61 3 5 8 633.07 5.340.47 7.060.76 48.890.227.24 1.72 2.606.68 1.26 1.25 37.31 7.86 1.47 66.08 3.83 8.825.013.898.87 93.19 129.96 36.55 29.22 407.30 845.308.93 27.70 92.76 173.287.30 2. Ende 2009 2010 Jumlah 296 Kab.07 5.68 227.60 258.268.384.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 36.25 2.83 24.542.918.62 300 2009 2010 Jumlah 53 49 102 4.41 10.101.70 92.14 1.271.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 291 2 Kota Mataram 3 2009 2010 Jumlah 292 Prov.97 6. Belu 2009 2010 Jumlah 295 Kab.370.57 1.16 14.558.91 492.87 2.817.02 536.22 31.47 7.23 27 27 5 21 26 5.28 735. Manggarai Barat 4 111 80 191 76 155 231 55 80 135 62 149 211 23 33 56 49 56 105 106 75 181 23 113 136 83 42 125 Nilai 5 299.071.96 1.046.139.825.59 1.496.14 1.79 29 29 24 14 38 33.89 676.186.40 66.773.82 1.579.27 Jml 6 19 19 53 15 68 13 36 49 25 10 35 19 19 1 11 12 15 25 40 18 48 66 54 10 64 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 14.308.60 258.09 6.026.83 402.24 56.51 274.60 34 41 75 3.25 37.18 31.00 36.21 27.45 1.

00 5.744.629. Timor Tengah Utara 2009 2010 Jumlah 31 97 128 39 71 110 883.715.515.681.636.08 73.357.536.86 292.60 0.18 529.54 282.00 0.17 5.89 4.60 12.78 756.680.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 116.81 3.60 312 Kab.001.379.04 3.19 21.00 5.009. Sumba Tengah 2009 2010 Jumlah 310 Kab.80 6.785.89 7.645. Sikka 2009 2010 Jumlah 307 Kab.56 112.552.59 4.044.54 313 Kota Kupang 2009 2010 Jumlah 314 Prov.492.23 393.46 2.24 4.49 0.80 184.90 73.50 1.80 184.509.608.87 150.32 82 24 106 9 8 17 188.70 8 34 42 24 20 44 88 34 122 33.19 1.31 33.785.72 1.438.001.81 1.00 23 23 150.59 4.70 185.013.70 0.70 185.32 120.00 12.66 7.22 155.21 6.61 3 2 5 16 18 34 31 6 37 0.892.44 390.680.755.081. Sumba Barat Daya 4 28 59 87 28 54 82 19 58 77 85 72 157 Nilai 5 322.175.12 1. Bengkayang 2009 2010 Jumlah 128 .92 1.41 3.46 2.45 190.87 3.18 710.60 1.537.45 927.21 317.51 252.934.87 11.96 123.08 73.22 1.02 1.22 155.21 487.79 2.08 5. Rote Ndao 2009 2010 Jumlah 306 Kab. Kalimantan Barat 2009 2010 Jumlah 203 134 337 62 30 92 279.08 31.09 227.45 6.48 Jml 6 26 20 46 13 15 28 12 27 39 63 35 98 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 116.54 1.11 0.22 195.38 34.46 1.67 679.713.00 5.654.49 51 46 97 343.19 21.979.10 227.94 316.166.01 3.00 185. Timor Tengah Selatan 2009 2010 Jumlah 54 78 132 367.271.71 638.99 19 19 12.536.457.629.00 116.99 7.05 1.56 1.08 5. Sumba Timur 2009 2010 Jumlah 311 Kab.873.214.13 7.57 224.966.27 1.052.07 3.06 2.40 308 2009 2010 Jumlah 24 45 69 46 62 108 143 88 231 36.872.029.54 1.32 120.49 2.785. Ngada 3 2009 2010 Jumlah 305 Kab.28 1.03 2.15 485.649.30 2.08 1.46 1.264.859.052.95 3.98 673.74 142.254.54 282.98 4.122.681.26 6.73 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 18 11 32 43 2 18 20 6 24 30 Nilai 11 6.10 73.00 2.242.49 9.41 1.08 120.45 2.70 116.10 27 95 122 12 71 83 179.32 315 Kab.493.757.61 309 Kab.37 84.029.226.089.04 3.759.515.153.64 451.46 1.51 314.77 158.264.645.40 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 21 23 4 7 11 5 13 18 16 13 29 Nilai 9 205.76 2.90 12.93 1.Halaman 25 .70 3.368.01 3.70 2.78 13 9 22 6 24 30 24 48 72 3.11 185.146.54 3 2 5 4 4 553.844.27 1.728.169.214.22 1.870.814.60 3 13 16 10.53 1.86 2.29 94.74 31.08 120.66 2.05 7.11 5.847.61 5.90 811.24 111 81 192 30 19 49 91.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 304 2 Kab.33 584.64 1.47 10 29 39 23 3 26 73.079.667.785.11 5.94 316.70 2.141.00 1.74 1. Sumba Barat 2009 2010 Jumlah Kab.60 6.636.91 97.60 1.727.

739.617.197.05 2.72 105.74 989.63 545.19 16.11 541.328.90 541.49 5.187.02 21.017.595.187.79 27. Sekadau 2009 2010 Jumlah 326 Kab.07 400.717.07 20.63 114.482.49 3.79 974. Landak 2009 2010 Jumlah 321 Kab.950.201.00 231.07 21.12 3.286.63 114.06 114.35 1. Kubu Raya 2009 2010 Jumlah 320 Kab.54 84.038.41 5.91 11.334.38 83.004.114.52 102.47 18.32 Jml 6 52 12 64 39 27 66 11 19 30 23 23 39 39 1 1 16 1 17 20 20 40 1 14 15 54 54 5 28 33 64 2 66 60 60 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 405.06 974.12 3.34 228.50 1.07 400.241.12 3.07 11.66 1.231.28 75.236.00 231.75 405.878.739.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 316 2 Kab.24 624.762.11 4.07 989.555.27 12.04 223.96 624.74 923.676.61 223.96 927.82 3.193.407.94 12.322.22 46.115.50 403.26 3.302.02 5.927.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 68 23 91 71 24 95 30 28 58 15 15 14 14 7 7 24 1 25 13 13 1 14 15 30 30 23 18 41 56 3 59 13 13 Nilai 9 41.07 25.072.90 27.98 5.22 46.380.19 4.34 129 .53 16. Sambas 2009 2010 Jumlah 324 Kab.771.603.731.49 1.87 4.476.074.60 20.017.613.362.295.286.27 11.36 11.90 789.06 595.13 45.576.72 3.62 1.75 25.939. Pontianak 2009 2010 Jumlah 323 Kab.630.457.302.548.91 923.45 2.96 3.193.038.19 3.11 143. Ketapang 2009 2010 Jumlah 319 Kab.267.12 6.79 2.771.147.62 3.74 45.04 8.521.84 143.218.328.80 2.50 228.931.61 79. Kayong Utara 2009 2010 Jumlah 318 Kab.19 2.23 5.099.295.305.99 3.12 88.06 114.721.50 228.33 65.214.50 403.06 974.33 16.201.946.462.474.734.04 24.Halaman 26 .06 18.41 8.11 541.87 19.392.415.11 143.58 26.06 1.34 228.46 3.02 3.616.33 67.334.66 1.33 3.32 4.362.75 25.371.19 6.07 25.84 172.84 143.839.34 26.137.36 4.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 5 28 33 49 49 18 18 10 42 52 48 69 117 30 26 56 19 19 78 72 150 12 40 52 31 31 16 39 55 21 46 67 Nilai 11 2.413.33 3.476.75 405. Melawi 2009 2010 Jumlah 322 Kab. Sintang 2009 2010 Jumlah 327 Kota Pontianak 2009 2010 Jumlah 328 Kota Singkawang 2009 2010 Jumlah 4 120 35 155 115 79 194 90 47 137 56 56 63 42 105 56 69 125 70 28 98 20 52 72 80 100 180 96 40 136 59 46 105 136 44 180 94 46 140 Nilai 5 41.576.79 974.98 848.96 927.45 545. Kapuas Hulu 3 2009 2010 Jumlah 317 Kab.110.95 2.90 541.004.13 82.90 27.63 3.595.41 624.27 2.84 172.41 1.18 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 405.143.22 6.79 27.95 126. Sanggau 2009 2010 Jumlah 325 Kab.676.20 2.29 18.36 3.

51 61.509.004.43 1.53 5.602.035.213.48 991.880.38 8.10 46.612.84 23.768.51 12.445.18 44.67 12.187.390.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 329 2 Prov.78 1.05 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 10 13 21 34 16 6 22 4 2 6 6 6 21 2 23 Nilai 11 4.94 150.185.34 340. Lamandau 2009 2010 Jumlah 339 Kab.966.36 14.71 28.93 10.31 914.14 12.823.078.31 27.56 43.12 10.216.329.95 25.99 18.19 - 336 2009 2010 Jumlah 140 77 217 115.50 15.84 16.75 141.24 7 5 12 13.42 1.91 72.478.40 3.166.191.08 738.82 5. Kotawaringin Barat 4 112 109 221 114 81 195 63 77 140 117 73 190 93 57 150 141 37 178 86 58 144 Nilai 5 344.19 61.27 17.574.19 4.539.792.20 57.081.988. Seruyan 2009 2010 Jumlah 130 .959.01 17.796.63 3.71 163.46 13.794.521.425.198.95 28.23 - 337 Kab. Katingan 2009 2010 Jumlah Kab.328.002.95 1.43 - 338 Kab.96 5.346.279.68 12.29 173.106.62 551.450.02 51.93 1.90 170. Kalimantan Tengah 3 2009 2010 Jumlah 330 Kab.84 751.21 7.05 173.730.20 10.47 83.32 2.51 28.383.168.259.20 Jml 6 61 48 109 90 66 156 42 31 73 77 59 136 78 43 121 123 36 159 36 31 67 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 92.74 62 39 101 73 20 93 67 74 141 33 24 57 23 5 28 2.46 3.047.115.18 2 12 14 23 5 28 5 2 7 8 53 61 65.14 65.015.042.836.577.096. Barito Timur 2009 2010 Jumlah 332 Kab.243.535.25 37.366. Pulang Pisau 2009 2010 Jumlah 341 Kab.44 35.51 28.51 173.663.59 496.851.310.44 91.07 11.199.Halaman 27 .046.197.98 317.16 69.815.085.218.44 289.31 724.67 13.84 310.40 23.87 2.622.980.83 177.79 13.218.43 53.01 6 3 9 25.213.83 4.655.768.65 28.49 127 69 196 76.34 111.81 7.935.095.38 27 74 101 3 6 9 19 22 41 37 27 64 71 5 76 97.82 44.021.243.41 10.792.329.078.345.347.98 22.887.70 37.494.742.591.95 80. Gunung Mas 2009 2010 Jumlah 334 Kab.690.804.071.97 83.52 3.65 22.397. Kotawaringin Timur 2009 2010 Jumlah 91 125 216 76 26 102 109 101 210 75 53 128 102 63 165 164.50 30.676.49 351.13 1.069.58 8.444.509.269.352.831.81 54.549.65 1.38 167.921.42 17.17 31.145.34 246.95 29.51 9.34 30.124.79 553.38 14.35 372.657.818.54 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 9.724.34 31.795.94 13.05 108.237.13 2.681.339. Kapuas 2009 2010 Jumlah 335 Kab.17 574.36 23.124.114.66 1.01 16.042. Barito Utara 2009 2010 Jumlah 333 Kab.293.68 29.468.66 6.549.686.16 898.843.81 6.98 44.049.95 27.877.379.768.82 2.95 21.689.534.832.036.981.70 145.14 22. Barito Selatan 2009 2010 Jumlah 331 Kab.474.47 4.79 6.33 2.18 10. Murung Raya 2009 2010 Jumlah 340 Kab.950.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 51 51 102 24 15 39 8 25 33 24 8 32 11 12 23 12 1 13 29 25 54 Nilai 9 252.093.45 401.36 83.335.262.00 47.032.959.225.54 16.708.49 39.22 748.77 10.71 6.741.36 3.25 30.794.126.418.511.124.

82 344 2009 2010 Jumlah 69 118 187 77 35 112 32 68 100 21 61 82 615.95 331.71 25.096.13 119.30 161.74 325.727.865.503.36 1.92 205.69 104.60 2.93 140.23 82.377.86 1.08 17.697.13 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 60 70 33 28 61 Nilai 11 28.377.270.62 74.672.97 349 Kab.528.95 2.745.735.604.246.51 18.67 1.781.823.97 8.93 Jml 6 33 1 34 23 18 41 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 74.635.031.316.02 989.52 28.71 242.47 1.24 256.13 41. Kalimantan Selatan 4 61 62 123 64 87 151 Nilai 5 77.928.841.53 19. Sukamara 3 2009 2010 Jumlah 343 Kota Palangkaraya 2009 2010 Jumlah Prov.41 6.342.616.97 3.30 3.52 103.79 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 1 19 8 41 49 Nilai 9 3.00 1.42 740.38 22.31 3.468.79 373. Barito Kuala 2009 2010 Jumlah 348 Kab.67 297.842.719.050.97 320.69 96.424.45 254.981.26 25.08 44 41 85 68 20 88 25 37 62 17 34 51 74.75 75.67 17.72 4.930.69 25 41 66 9 15 24 6 19 25 4 23 27 351.75 75.36 1.39 8.806.629.12 2 5 7 276.55 1.246.93 173.90 1.69 877.99 358.67 4.92 351 Kab.23 690.64 1.891.945.39 16 17 33 1.12 350 Kab.112.831.147.63 43.793.102.94 438.528.35 5.67 242.41 28. Hulu Sungai Tengah 2009 2010 Jumlah 18 35 53 1.75 267.56 1.13 277.59 997. Balangan 2009 2010 Jumlah 346 Kab.38 20.318.103.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 387.85 365. Tabalong 2009 2010 Jumlah 353 Kab.24 256.56 374.059.769.63 74.46 4 1 5 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 342 2 Kab.59 2.531.50 1 26 27 1. Banjar 2009 2010 Jumlah 347 Kab.308.79 373.041.15 96.70 4.89 236.61 992.26 408.96 73.92 2.941.36 1.81 2.309.81 2.46 105.75 516.82 387. Kotabaru 2009 2010 Jumlah 352 Kab.17 51.078.05 105.25 92.086.91 28. Tanah Bumbu 2009 2010 Jumlah 131 .939.24 6 44 50 13 13 1 14 15 140.520.438.742.04 426.67 297.37 33 7 40 25 19 44 34 2 36 30 16 46 254.13 221.709.82 1.39 205.847.99 2.00 16.896.49 2.26 5.39 5.691.478.641.56 25.787.83 13 13 60.17 75.97 560.13 119.31 72.465.00 25.05 15.17 19.97 2.976.13 2.57 17 2 19 105.13 2.85 2.71 0.34 36 36 1 12 13 4 4 189.604.43 1.74 2.31 3.96 2.38 114.71 357.10 730.041.00 304.93 551.40 2.58 104.93 440.726.87 8.315.384.58 146. Hulu Sungai Selatan 2009 2010 Jumlah 22 29 51 3.98 1.98 1.67 2 4 6 8 30 38 5 2 7 7 12 19 500.40 10.849.737.56 132.05 1.89 422.68 90.03 345 Kab.69 103.65 28.778.91 91.35 17.958.94 218. Hulu Sungai Utara 2009 2010 Jumlah 35 11 46 39 93 132 39 17 56 38 42 80 754.985.01 19.38 200.92 1.Halaman 28 .80 4.30 1.60 313.751.83 276.015.53 41.992.

28 1.49 1.28 499.12 24.36 33.08 362.56 962.27 586.64 42.61 29.58 10 12 10 47 3 50 20 3 23 31 24 55 43 43 1.33 84.59 15.01 4.745.12 159.25 84.73 16.25 11.12 4.30 99.89 43.668.39 1.646.98 169.63 1.53 1.287.742.25 151.25 962.41 1.56 1.61 67.571.047.97 532.329.11 240.219.43 17.57 358 2009 2010 Jumlah 42 111 153 10 2 12 75 63 138 3 6 9 316.62 2.11 909.46 767. Tapin 2009 2010 Jumlah 356 Kota Banjarbaru 2009 2010 Jumlah 357 Kota Banjarmasin 2009 2010 Jumlah Prov.58 857.451.938.87 2.42 1.33 4.84 37.25 99.64 1.49 20.36 39.01 29.30 1.875.73 1 1 4 4 8 1 4 5 6 66 72 17 31 48 13.82 45.807.062.94 29.879.803.201.742.80 905.866.052.710.47 450.294.13 122.25 340.25 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.252.28 499.710.21 3.803.46 1.79 44.91 32.75 86.668.860.90 533.73 622.30 1.61 1.19 19 62 81 6 2 8 39 7 46 1 6 7 235.875.086.76 127.53 13.13 854.30 17.574.33 986.340.47 450.12 32.813.047.340.86 29.30 17.13 122.381.43 91.582.05 32.43 17.95 579.90 - 241.195.25 23 18 41 4 4 33 42 75 2 2 81.37 398.13 480.337.238.030.83 2.00 84.00 67.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 354 2 Kab.195.64 50.42 3.65 12.876.408.43 995.303.23 1.062.192.69 12. Kutai tanegara Kar- 2009 2010 Jumlah 45 68 113 125 68 193 51 60 111 44 102 146 84 31 115 94.718.34 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 36 36 1 1 28 28 40 40 Nilai 11 1.185.43 190.27 33.876.000.60 68.053.96 346.168.12 240.037.95 1.807.219.362.152.25 1.74 219.76 1.056.85 46.00 275.12 1.784.Halaman 29 .287.07 362.542.37 186.38 39.50 1.794.97 126.39 - 363 Kab.50 420.92 556.084.084.23 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 7 7 1 8 9 2 8 10 7 10 17 Nilai 9 1. Bulungan 2009 2010 Jumlah 361 Kab.95 1.36 34 56 90 74 61 135 30 53 83 7 12 19 24 24 92.285.67 4.680. Kalimantan Timur 4 27 39 66 17 20 37 24 60 84 36 72 108 Nilai 5 2.235.038.680.31 377.112.092.90 622.70 58. Paser 2009 2010 Jumlah 132 .285.611.83 2.960.64 46.96 5.92 556. Nunukan 2009 2010 Jumlah 366 Kab.97 537.72 346.451.185.71 346. Berau 2009 2010 Jumlah 360 Kab.504.267.440.22 1.65 23.46 3.28 219.82 Jml 6 20 3 23 15 12 27 22 24 46 29 22 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.55 3.834.906.100.42 453.62 71.00 1.066.43 208.92 12.674.27 67.834. Kutai Barat 2009 2010 Jumlah 362 Kab.079.05 31 31 3 14 17 - 135.879.074.216.74 849.19 359 Kab.41 1.14 1.96 5.76 24.037.59 377.54 1.737.81 125.61 29.97 389.07 67.55 41.64 16.953.00 950. Tanah Laut 3 2009 2010 Jumlah 355 Kab.27 586.73 135.34 37.87 2.62 2.40 377.58 857.287.22 48.97 510.211. Kutai Timur 2009 2010 Jumlah 364 Kab. Malinau 2009 2010 Jumlah 365 Kab.59 29.22 105.504.542.30 3.76 24.

549.32 236.62 6.569.241.48 6.74 5 5 261.072.895.28 17.10 3.06 6.92 29.918.24 1.77 66. Bolaang Mon2009 gondow Timur 2010 Jumlah Kab.066.14 234.057.83 18 9 27 359.49 6 9 15 7 23 30 71. Tana Tidung 2009 2010 Jumlah 369 Kota Balikpapan 2009 2010 Jumlah 370 Kota Bontang 2009 2010 Jumlah 371 Kota Samarinda 2009 2010 Jumlah 372 Kota Tarakan 2009 2010 Jumlah 373 Prov.29 805.448.92 771.662.909.45 506.45 212.85 2.163.01 652.85 12 19 31 7 7 14 4.60 2.79 179.35 157.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 19 11 30 20 20 25 57 82 39 50 89 33 118 151 3 3 8 8 16 Nilai 9 107.681.37 2.14 45.828.970.45 - 375 Kab.339.91 49.36 805.837.909.76 506.059.09 - 377 23 28 51 21 61 82 4.62 236.210.053.660.261.Halaman 30 .251.19 200.98 462.010.09 173.347.82 227.967.77 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 55 57 24 24 5 22 27 2 2 9 23 32 7 34 41 Nilai 11 3.13 403.35 144.76 35.59 36.13 8.28 419.60 16 16 403.49 124.25 548.29 2.24 404.674.45 3.19 45.54 2.76 506. Bolaang Mon2009 gondow Selatan 2010 Jumlah Kab. Bolaang Mon2009 gondow Utara 2010 Jumlah 21 21 664.672.398.05 112.96 2.26 7.39 185.137. Sulawesi Utara 2009 2010 Jumlah Kab.591.84 228.19 334.63 39.76 2.14 2.752.658.63 157.337.58 8.60 86.588.96 1.54 4.55 419.110.92 778.60 261.83 440.09 400.106.671.936.68 5.37 2.32 654.16 374 2009 2010 Jumlah 30 46 76 625.00 21.330.088.253.79 86.939.724.394.30 55.12 1.94 1.28 728.06 4.582.13 6.208.34 344.164.935. Penajam Paser Utara 3 2009 2010 Jumlah 368 Kab.07 778.38 4 7 11 - 8 30 38 265.531.62 1.222.01 5 5 7 31 38 18.93 110.56 21.711.36 204.85 200.60 13.54 3.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 7.580.45 71. Bolaang gondow Mon4 43 66 109 55 55 37 82 119 66 96 162 57 150 207 7 3 10 49 45 94 Nilai 5 140.231.94 37.837.53 248.403.03 13.569.174.13 - - - 376 9 9 400.09 230.167.58 Jml 6 22 22 11 11 7 3 10 27 44 71 15 9 24 4 3 7 34 3 37 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 29.970.09 400.981.772.144.09 - - - - 9 9 400. Minahasa 2009 2010 Jumlah 133 .88 4.32 378 Kab.01 220.88 15.32 448.541.03 283.53 236.016.014.00 100.946.45 321.602.45 411.412.92 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 367 2 Kab.014.412.35 1.53 2.47 52.92 506.39 100.16 998.245.85 728.67 41.74 664.12 240.45 7.

34 10 9 19 2.13 718.80 5.356.68 79.040.521.62 390 Kab.77 8.57 10 1 11 11.20 1.881.16 1.84 22 19 41 126.57 29.56 81.500.60 - 4.292.16 - 385 Kota Bitung 2009 2010 Jumlah 386 Kota Kotamobagu 2009 2010 Jumlah 387 Kota Manado 2009 2010 Jumlah 388 Kota Tomohon 2009 2010 Jumlah 389 Prov.936.20 12 12 8 2 10 223.55 21.10 8.98 9.10 5.653.802.588.877.928.90 1.810. Kepulauan Sangihe 382 2009 2010 Jumlah 24 49 73 12.04 36.76 1.95 627.66 354.610.643.592.23 711.771.73 79.624.20 243.20 906.117.37 13 8 21 22 19 41 4 14 18 1 16 17 2 4 6 34.62 77 41 118 16 30 46 28.20 11.996.402.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 380 2009 2010 Jumlah 38 64 102 25 39 64 15.175.95 1.76 1.783.96 3. Minahasa Tenggara 4 21 22 43 Nilai 5 28. Sulawesi Tengah 2009 2010 Jumlah 98 160 258 33 136 169 156.62 346.80 40. Kepulauan Talaud 2009 2010 Jumlah 44 60 104 52 51 103 21 46 67 31 56 87 7 41 48 112.02 130.52 1.95 627.89 5.45 484.53 279.066.034.49 21.48 1.80 1.64 13 50 63 25 19 44 14 7 21 29 39 68 2 32 34 78.248.69 22.877.Halaman 31 .105.04 37.06 9.83 5.443.73 1. Minahasa Selatan 3 2009 2010 Jumlah Kab.245.41 246.071.14 8 27 35 17 39 56 243.72 39.87 15.23 14.16 77.813.928.63 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 379 2 Kab.67 1.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 13 31 Nilai 11 28.00 505.174.39 118.73 409.14 1.64 107.16 77.30 4.187.04 22.17 8.470.419.993.67 1.78 127.84 409.65 490.327.43 506.73 1.89 684.77 1.44 384 Kab.942.51 37.73 8.35 223.31 13.343.775.07 806.20 381 Kab.187.814.612.41 39.07 25 25 - 126.41 77.23 1.41 3.039.277.82 8.954.76 126.60 11.23 2.63 35.144.35 963.193. Minahasa Utara 2009 2010 Jumlah Kab.76 383 Kab.36 970.06 3.96 2.511.360.174.971.31 Jml 6 1 9 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 2 Nilai 9 51.44 680.197.76 2 5 7 12.08 2.80 77.44 3.802.29 897.19 680.039.981.57 1.033.77 26 64 90 7 36 43 14.661.575. Siau Tagulandang Biaro 2009 2010 Jumlah 23 30 53 7.352.584.12 64.835. Kep.22 5.689.41 79.121. Banggai 2009 2010 Jumlah 134 .14 13 21 34 680.26 333.76 126.91 2.121.385.352.25 57.57 3.55 1.770.052.324.63 66.165.37 23.242.83 662.521.98 3.23 18 2 20 5 13 18 3 25 28 1 1 2 3 5 8 575.352.50 165.57 29.843.68 13 92 105 67 67 127.20 11.135.705.31 13.071.36 1.49 185.89 51.255.527.708.75 243.200.32 2.63 8.86 40.005.15 227.73 1.91 75.94 243.054.40 7.531.84 2.

623.78 138. Parigi tong Mou4 50 121 171 114 95 209 75 119 194 96 106 202 Nilai 5 12.158.182.55 73.107.07 10.33 3.747.43 722.00 4.763.244.44 371.55 9.685.907.85 4.70 4.92 23.53 5.68 2.39 107.110.833.98 291.65 247.795.16 4.482.11 395 2009 2010 Jumlah 86 126 212 75 83 158 121 121 87 85 172 159 65 224 116 90 206 9.34 1 4 5 16 16 19 19 445.821.530.26 181.90 2.051.374.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 391 2 Kab. Banggai Kepulauan 3 2009 2010 Jumlah 392 Kab.980.659.14 722.983.83 172.00 6.70 5.717.17 34 40 74 35 33 68 68 68 46 30 76 23 23 94 80 174 5.11 96.216.030.52 1.620.12 2.87 19.11 6.36 81.49 6.43 722.00 63.034.30 2.60 4.372.34 4.68 527.575.82 5. Donggala 2009 2010 Jumlah 394 Kab.78 138.01 2.35 31.50 169.795.793.16 8.74 7.92 9.603.75 4.41 67.525.51 3.37 83.12 2.17 396 Kab.232.83 710.75 4.251.78 11.501.139.75 296.063.607.33 978.111.39 710. Tolitoli 2009 2010 Jumlah 400 Kota Palu 2009 2010 Jumlah 401 Prov.249.23 42.61 4.44 335.85 5.393.29 849.00 469.48 229.54 19.965.64 722.66 5.97 3.103.884.532.10 15.16 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.732.53 3. Bantaeng 2009 2010 Jumlah 403 Kab.62 415.59 1.095.84 1.77 978.987.07 3.305.87 1.28 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 42 44 37 22 59 31 66 97 40 74 114 Nilai 11 2.051.109.885.074.49 2.75 1.74 107.885.40 7.75 24.79 4.969.49 2.405. Tojo Una-Una 2009 2010 Jumlah 399 Kab.43 18.45 292. Buol 2009 2010 Jumlah 393 Kab.76 1.300.65 1.80 11.80 3.381. Poso 2009 2010 Jumlah 397 Kab.847.23 42.82 63.47 129.931.50 829.88 872.357.26 181.115.033.50 1.44 577.85 7.863.080.90 759.847.Halaman 32 .11 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 44 38 82 4 5 9 42 44 86 54 29 83 Nilai 9 10.627.357.366. Sulawesi Selatan 2009 2010 Jumlah 154 100 254 49 55 104 34 31 65 57.838.011.15 21.75 43.127.44 228.51 79.119.115.623.414.00 167.22 153.03 88.43 4 24 28 8 8 14 14 9.44 371.286.93 4.000.07 3. Morowali 2009 2010 Jumlah Kab.15 8.393.65 3.52 971.33 13.85 3.074.64 153.95 4.838.35 2.237.847.633.83 80.79 4.14 1.26 664.75 7.29 849.89 2.09 2.195.535.07 577.26 5.29 7.306.43 402 Kab.49 335.88 872.795.90 759.523.300.11 2.238.009.00 3.869.73 829.44 5.62 415.444.17 13.89 149 72 221 25 55 80 1 31 32 47.70 15.57 971.28 525.034.86 247.49 48 81 129 22 47 69 46 46 33 45 78 136 65 201 4 5 9 1.324.324.502.50 469.569.40 2.56 Jml 6 4 41 45 73 68 141 2 9 11 2 3 5 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.22 445.65 922.07 371. Barru 2009 2010 Jumlah 135 .411.49 172.675.35 5.92 9.23 5.630.055.484.607.50 326.625. Sigi 2009 2010 Jumlah 398 Kab.254.15 12.14 326.675.76 4 5 9 18 3 21 7 7 8 10 18 18 5 23 2.27 8.59 15.830.898.51 371.95 7.65 76.60 2.420.31 2.28 131.60 80.

16 63.62 223.546.52 565.27 636.36 170.036.80 274.10 97.22 43.59 398.86 2.31 15.440.94 10.415.31 3. Pangkajene dan 2009 Kepulauan 2010 Jumlah 414 Kab.248.417.09 2.915.659.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 260. Sidenreng Rappang 4 23 122 145 43 26 69 29 38 67 59 42 101 79 60 139 31 77 108 52 39 91 32 66 98 92 110 202 Nilai 5 483.59 1.64 2.915.82 188.533.12 188.003.94 235.73 1.66 5.003.006.84 2.19 1.66 1.486.09 Jml 6 10 24 34 11 3 14 1 1 41 16 57 52 52 3 5 8 35 7 42 3 3 32 32 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 260.597.61 2.544.51 187.75 50.01 37 11 48 45 45 36.40 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 64 64 32 21 53 27 38 65 1 5 6 2 60 62 8 22 30 1 15 16 10 66 76 31 110 141 Nilai 11 1.623.440.121.10 4.00 1.73 50.19 19.40 31.507.32 549.90 166.67 83.88 413 28 38 66 46 40 86 84 76 160 827.77 3.94 17 17 1.692.00 4.12 289.72 2.93 1.58 10.792.458.36 1.07 36.74 470.92 281.562.556.25 35.683.94 235.269.59 274.266.22 43.496. Maros 2009 2010 Jumlah Kab.686.039.73 83.45 565. Selayar 2009 2010 Jumlah Kab.553.18 1.039. Bone 3 2009 2010 Jumlah 405 Kab.92 289. Bulukumba 2009 2010 Jumlah 406 Kab.035.792.09 1.686.57 303.90 166.81 6.72 870.51 1.80 187.006.13 16.14 1.77 942.915.27 383.31 12.27 187.84 295.29 291.24 2.201.77 979.828.006.02 15.708.003.792.40 808.45 10.13 1.55 20 20 235.73 3.066.31 3.27 187.72 31.036.88 152. Enrekang 2009 2010 Jumlah 407 Kab.77 20.331.915.248.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 34 47 2 2 1 1 17 21 38 25 25 20 50 70 16 17 33 19 19 29 29 Nilai 9 223.10 97.62 3. Jeneponto 2009 2010 Jumlah 409 Kab.31 1. Pinrang 2009 2010 Jumlah 415 Kab.08 242.77 36.59 1.175.62 4.546.415.Halaman 33 .26 2.90 152.11 2.85 1.90 166.75 7.31 399.26 416 2009 2010 Jumlah 38 56 94 2.185.80 4.976.15 383.18 11 11 8 23 31 38 38 790.856.54 2.64 2.755.54 3.751.59 9.308.75 2.16 252. Luwu Timur 2009 2010 Jumlah 411 Kab.379. Luwu Utara 2009 2010 Jumlah 412 Kab.75 17 38 55 1 6 7 1 76 77 2.49 420.24 4.303.892.050.57 303.607.91 13.744.569.62 1.46 2.31 3.269.131.03 695.62 10.08 636.77 36.90 166. Luwu 2009 2010 Jumlah 410 Kab.49 346.348.88 152.90 152.19 23. Gowa 2009 2010 Jumlah 408 Kab.91 13.18 3.64 2.974.77 51.63 1.30 163.440.11 1.348.417.348.751.974.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 404 2 Kab.31 790.366.131.744.19 636.19 711.839.50 558.14 1.26 398.24 235.93 1.28 1.50 53.75 420.26 1.29 291.36 1 56 57 595.18 1.88 6.61 3.40 480.40 1.94 136 .31 2.50 281.

88 17 38 55 44 30 74 22 22 4 4 4.84 1.708.31 1.626.35 16.593.75 2.425.31 1.11 328.02 2.514.Halaman 34 .41 103.25 17.788.12 81.324.565.95 69.191.51 36.99 73.68 620.843.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 22.03 4.045.91 45.57 189.739.92 1.43 182.92 1.29 1.61 129.81 502.94 37.57 189.21 151.210.17 54.81 6.854.11 274.92 24.38 30.77 34 6 40 2 2 15 21 36 7 9 16 16.52 6.069.328.734.63 71.85 6.807.134.39 3. Soppeng 2009 2010 Jumlah 419 Kab.58 30.44 28.25 213.52 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 31 31 22 27 49 2 3 5 16 16 Nilai 9 129.96 620. Sinjai 3 2009 2010 Jumlah 418 Kab.69 7.96 620.29 129.986.875.286.099.07 200.191.328.953.81 7.107.95 2.61 5.96 9.81 6.49 139.586.99 9.631. Bombana 2009 2010 Jumlah 428 Kab.929.43 7.01 3.86 1.421.409.92 1.15 5.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 417 2 Kab.468.29 99.32 4.15 1.98 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 15 72 87 2 2 27 52 79 19 77 96 31 31 Nilai 11 286.53 9.578.891.07 1 61 62 6 129 135 6 87 93 109 109 581.22 121.108.51 - 422 Kab.81 8.96 595.550.53 9.408.81 155.409.612.732.85 22.806.469.81 8.56 581.605.57 6.93 103.069.191.49 6.546.83 916.45 7.48 4.72 177 192 369 183 78 261 4 4 36 14 50 15.43 17.613.64 1.99 12.80 502.56 1.14 241.97 2.29 129.55 7.53 9.394.644.42 32 2 34 32 25 57 29 69 98 47.29 200.279.44 15 29 44 31 3 34 2 2 20 20 139.47 3.36 172.29 1.25 8.81 502.61 9.975.32 916.106.986.572.713.79 5.31 10.975.80 22.11 328.191.027.20 220.27 423 Kota Makassar 2009 2010 Jumlah 424 Kota Palopo 2009 2010 Jumlah 425 Kota Parepare 2009 2010 Jumlah 426 Prov.664.273.85 81.52 2.612.02 129.475.625.147.624.56 8.79 1.441.513.107.792.96 3.108.748.80 22.183.814. Takalar 2009 2010 Jumlah 420 Kab.449.78 5. Buton Utara 2009 2010 Jumlah 137 .57 285.462.80 502.571.94 31.893.975.69 1.28 6.340.33 1.29 129.197.82 29.88 3.812.57 427 Kab.27 595.116. Sulawesi Tenggara 2009 2010 Jumlah 243 200 443 183 80 263 47 50 97 72 92 164 79.324.35 2.973.61 9. Tana Toraja 2009 2010 Jumlah 421 Kab Tana Toraja Utara 2009 2010 Jumlah 4 47 72 119 35 45 80 38 55 93 45 77 122 31 31 Nilai 5 438.49 2.43 5.43 241.061. Wajo 2009 2010 Jumlah 33 128 161 81 162 243 30 87 117 24 109 133 4.281.774.893. Buton 2009 2010 Jumlah 429 Kab.91 22.99 90.708.69 6.92 Jml 6 1 1 13 16 29 9 9 10 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.91 22.462.331.15 1.513.636.16 1.17 771.60 5.734.68 620.019.47 5.886.65 22.31 12.380.689.82 52.

37 8.62 775.735.179.37 5.96 34.638.666.43 4.322.470.684.661.25 28.438.10 8.289.90 7.719.52 2.862.71 13.171.06 460.57 10.04 10.758.07 416. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 4 76 73 149 152 54 206 126 95 221 150 97 247 93 123 216 63 131 194 38 104 142 50 50 100 59 91 150 88 34 122 92 112 204 192 80 272 184 132 316 Nilai 5 9.10 14.045.237.497.62 8.13 445. Kolaka 3 2009 2010 Jumlah 431 Kab.62 11.032.33 2.49 1.66 177.52 800.29 5.89 1.51 13.258.78 7.62 Jml 6 45 18 63 61 27 88 11 3 14 48 6 54 7 15 22 26 26 26 40 66 22 20 42 57 18 75 46 46 76 76 35 35 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 8.12 9.20 13.45 460.00 21.46 5.99 13.84 52.731.631.36 14.819.047.72 6.707.99 97.707.803.13 670.651.283.77 10.329.62 15.99 3.744.31 13.48 2.470.756.759.343.54 163. Wakatobi 2009 2010 Jumlah 437 Kota Bau-Bau 2009 2010 Jumlah 438 Kota Kendari 2009 2010 Jumlah 439 Prov.83 14.53 171.99 97.179.417.024. Bone Bolango 2009 2010 Jumlah 442 Kab.743.613.036.510.67 26.505.301.90 1.17 57.29 14.67 4.249.13 97.41 1.465.05 41.98 17.76 219.07 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 51 72 41 25 66 21 81 102 25 18 43 26 50 76 34 2 36 11 17 28 12 21 33 1 7 8 7 7 20 20 35 35 Nilai 9 1.08 1. Konawe Selatan 2009 2010 Jumlah 434 Kab.758.09 12.014.721.86 1.62 4.00 3.13 445.Halaman 35 .537.25 5.59 41.94 42.19 4.061.496.78 104.791.012.50 0.662.25 3.79 57.86 445.44 3.036.28 6.467.71 1.482.56 3.96 1.496.555.36 64.22 3.87 3.99 3.14 8.26 800.94 8.58 49.79 1.429.53 171. Konawe 2009 2010 Jumlah 433 Kab.935.502.569.52 15.71 12.89 278.024.39 670.592.007.49 24.31 3.70 35.050.73 842.87 3.22 1.13 97.092.19 2.758.17 778.79 3.20 24.13 8.56 1.52 450.643.84 46.711.631.414.239.468.066.28 56.00 43.07 416.88 348.79 3.66 14.67 3.99 21.45 12.987.00 6.212.70 3.502.94 9.224.119.34 13.467.893.141.79 416.26 1.95 70.09 3.95 2.707.707.809.792.415.87 189.241.215.211.52 778. Muna 2009 2010 Jumlah 436 Kab.494.79 416.05 5.412.54 24.72 10.12 3.041.672.82 3.551.124.69 62.69 10.488.10 1.91 65.557.33 2.241.557.432.19 57.77 8.52 7.60 1.189.11 1.893.025.77 4.600.734.78 832.67 25.25 4.51 1.520.51 445. Kolaka Utara 2009 2010 Jumlah 432 Kab.62 10.51 3.83 1.95 1.698.93 1.07 138 .56 69.934.45 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 263.15 762.032.09 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 4 14 50 2 52 94 11 105 77 73 150 60 58 118 3 129 132 1 47 48 16 9 25 1 66 67 35 34 69 92 112 204 96 80 176 114 132 246 Nilai 11 483.148.17 219.16 450.08 447.068.46 107.860.73 447.12 5.72 797.697.720.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 430 2 Kab.89 13.341. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 440 Kab.789.195.10 18.992.416.19 11.572.520.82 3.37 2.909.32 3.017. Boalemo 2009 2010 Jumlah 441 Kab. Konawe Utara 2009 2010 Jumlah 435 Kab.13 710.15 81.73 842.893.26 1.

499.633. Majene 2009 2010 Jumlah 448 Kab.024.49 49. Buru Selatan 2009 2010 Jumlah 455 Kab.11 67.87 898.Halaman 36 .89 243.69 554.49 112.51 145.394.169.738.00 509.60 2.952.261.673.808.983.92 253.871.24 5.095.37 131.715.009.269.673.85 6. Mamuju Utara 2009 2010 Jumlah 451 Kab.37 160.801.863.12 54.46 5.966.82 5.61 580.37 49.62 Jml 6 47 47 17 17 18 18 10 3 13 28 28 17 17 25 4 29 31 31 28 2 30 25 6 31 37 37 46 46 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 580.61 580.99 161.543.321.33 23.91 6.87 2.66 200.53 954.278.815.29 160.25 27. Mamasa 2009 2010 Jumlah 449 Kab.422.679.29 670.72 225.94 450.69 35.36 51.753.959.94 6.65 456.24 23.834.75 5.027.84 2.94 2.57 22.414.883.85 2.17 71.36 160.05 155.53 5.70 14.084.44 48.87 2.44 71.052.15 48.50 2.15 49.601.146.243. Kepulauan Aru 2009 2010 Jumlah 4 77 60 137 98 53 151 129 134 263 98 97 195 73 69 142 52 57 109 85 132 217 95 72 167 86 98 184 144 120 264 75 74 149 78 78 79 79 Nilai 5 3.61 63.02 5.44 554.080.17 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 6 60 66 81 53 134 90 134 224 33 40 73 5 69 74 16 57 73 8 57 65 5 72 77 5 73 78 36 99 135 16 74 90 78 78 13 13 Nilai 11 592.43 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 580.79 11.311.26 1.673.51 29.614.29 1.65 243.258.70 145.70 8.53 621.013.51 47.83 39.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 443 2 3 2010 Jumlah 444 Kab.40 621.506.599. Buru 2009 2010 Jumlah 454 Kab.621.30 30.506.756.182.384.077.710.635.871.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 24 24 21 21 55 54 109 40 40 19 19 52 71 123 59 59 53 23 76 83 15 98 22 22 20 20 Nilai 9 2.241.58 21.032.496.818.009.509.49 629. Pohuwato 2009 2010 Jumlah 445 Kota Gorontalo 2009 2010 Jumlah 446 Prov.00 629.56 14.01 954.85 5.53 55.65 517.881. Mamuju 2009 2010 Jumlah 450 Kab.70 145.269.207.66 47.20 7.76 76.01 9.91 977.48 313.59 48.084.24 5.749.64 12.07 642.01 32.036.085.863.12 49.91 8.59 818.174.24 16.29 1.25 26.502.290.29 160.290.90 6.42 2.07 18.36 21.51 145. Polewali Mandar 2009 2010 Jumlah 452 Prov.01 16.321.097.04 2.952.32 1.676.43 12.32 7.04 28.43 14.557.560. Sulawesi Barat 2009 2010 Jumlah 447 Kab.18 965.032.52 673.833.801.784.37 59.871.231.572.70 335.01 9.85 2.59 2.98 32.60 34.519.871.61 29.72 32.258.70 6.55 48.67 22.72 23.15 11.607.53 2.224.87 - Kab.080.43 1.446.83 2.62 1.084.169.879.027.077.131.10 195. Maluku 2009 2010 Jumlah 453 Kab.29 360.26 255.80 76.36 450.830.89 504.446.83 818.20 55.25 15.509.043.860.05 2.52 3.51 29.635.196.94 5.51 26.61 29.601.310.149.02 3.554.679. Gorontalo Utara 2009 139 .206.830.036.32 35.971.43 1.

46 150.448.865.011.55 281.50 813.23 2.844.767.750.65 2.72 195.97 462 Kota Ambon 2009 2010 Jumlah 463 Kota Tual 2009 2010 Jumlah 464 Prov.07 5.723.593.58 4 28 32 17.36 660.593.332.21 2.452.85 302.731.14 27.22 3.14 813.56 49.62 827.90 62.76 3.29 55.22 3.086.36 58.41 31.398.937. Maluku Tenggara 2009 2010 Jumlah Kab.13 281.26 10 10 6 6 35 56 91 224.49 58.15 1.85 352.194.10 518.54 441.194.452.78 630.781.419.448.094.934.47 17.16 13.46 12 12 7 7 30 3 33 4.230.861.56 250.937.31 60.47 4.593.330.84 1.17 51.487.52 16.38 579.88 44.844.22 292.72 44.844.06 19 19 2.93 12. Maluku Barat Daya 2009 2010 Jumlah 64 64 17.452.47 2.26 607.050.94 1.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 13.00 459 Kab.47 - - - - 64 64 17.22 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 35 8 43 45 45 Nilai 9 4.310. Halmahera Barat 2009 2010 Jumlah Kab. Halmahera Tengah 2009 2010 Jumlah 122 77 199 94.75 467 Kab.43 47.76 4 25 29 9.29 196.050.78 2.381.63 6.80 - 458 2009 2010 Jumlah 74 37 111 806.137.62 834.14 27.63 96 96 44 65 109 59 59 100 151 251 15 61 76 27.50 14.47 17.861.47 - 460 Kab.25 140 .591.908. Halmahera Selatan 466 2009 2010 Jumlah 103 80 183 553.862.446.122.745.25 1.22 242.593.061.11 45.629.18 19.188.755.205.16 607.578.875.14 27.14 - - - - 96 96 27.500.037.532.492.452.72 250.399.844.94 16 16 6.449.252.416.88 61.61 601.67 3.680.483.06 13 13 2.450.500.731.16 1.14 27.567.750.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 70 46 116 5 79 84 Nilai 11 35.14 107.376.736.077.745.11 13.05 72.75 22 22 1.45 98.310.741.470.501.567.14 - 461 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 456 2 Kab. Seram Bagian Timur 2009 2010 Jumlah 96 96 66 65 131 59 59 113 151 264 80 120 200 27.33 15.22 574.593.43 224.518. Maluku Utara 2009 2010 Jumlah 465 Kab.21 42 37 79 801.280.00 630.789.43 246.50 818.Halaman 37 .22 196.56 47.93 54. Maluku Tengah 3 2009 2010 Jumlah 457 Kab.122.230.419.29 27.57 641.21 574.75 51.339.14 817.755.63 65 80 145 545.02 114 24 138 67.10 5.593.53 60.657. Seram Bagian Barat 2009 2010 Jumlah 96 96 27.773.853.593.908.80 13.08 Jml 6 60 5 65 61 61 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 27.848.593.65 517.251.865.621.602.84 1.87 615. Maluku gara Barat Teng4 165 59 224 111 79 190 Nilai 5 67.45 601.

51 3.927.557.21 4.061.907.538.22 7.15 4.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 15 3 18 23 23 17 17 44 26 70 Nilai 9 3.93 6.56 10.468.72 392.40 97.119.42 71.09 182.20 225.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 960.76 9.57 474 Prov.568. Papua 2009 2010 Jumlah 475 Kab.74 1.78 744.53 178.906.90 259.27 52.01 5.751.469.55 864.523.61 200.30 2.894.129.76 13.863.090.171.45 754.52 430.195.305.55 5.59 15.506.898.080.52 67.19 10.418.977.31 2.08 309.215.19 98.613.447.23 128.97 41.89 132.22 30.51 61.60 Kab.79 850.532.94 231.00 66.141.64 10.187.354.090.498.549. Jayapura 2009 2010 Jumlah 479 Kab.61 65.18 12. Halmahera Timur 2009 473 2009 2010 Jumlah 104 114 218 80 105 185 46 15 61 42 24 66 33 37 70 23 26 49 30 102 132 42 50 92 367.665.053.252.665.42 114.45 496.817.735.62 67.908.397.799.34 27 27 46 56 102 12 12 20 11 31 9 18 27 7 9 16 14 34 48 18 29 47 309.79 21.305.16 9.54 28.17 151.75 60.85 128.42 303.25 125.610.55 5 101 106 3 3 15 15 3 3 1 3 4 8 8 1 1 - 1.487.751.741.949.43 9.23 1.744. Jayawijaya 2009 2010 Jumlah 480 Kab.595.61 79.347.274.185.31 - 862.266.79 6.327.51 54.86 744.00 188.61 1.386.38 14.053.85 10.31 9.182.55 1.71 1.58 58. Biak Numfor 2009 2010 Jumlah 477 Kab.937.12 59.12 402.64 48.31 2.54 119.498.15 3.129.70 2. Keerom 2009 2010 Jumlah 141 .954.05 Jml 6 10 4 14 15 15 12 12 74 23 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 107.322.680.61 21.64 29.71 1.058.86 4.35 9.60 210.35 1.55 3.63 11.875.78 131.163.59 11.31 42.24 108. Boven Digoel 2009 2010 Jumlah 478 Kab.338.50 281.35 9.07 422.14 929.00 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 83 105 188 38 103 141 70 73 143 30 30 19 19 Nilai 11 1.130.229.66 2.08 27.609.65 9.030.068.304. Halmahera Utara 2009 2010 Jumlah 470 Kab.819.524.15 17.117.470.090.300.098.76 948.95 55.32 133.91 5.937.21 62.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 468 2 3 2010 Jumlah 469 Kab.23 318.72 276.44 1.440.26 1.05 24.37 186.769.09 733.694.471.090.74 10.38 313.50 9.800.35 758.949.16 7.225.748.897.12 6.470.91 7.43 24.60 858.00 501.796.880.20 10.74 32.32 68.22 6.073.84 28.434.863.090.799.005.658.02 65.220.00 55.85 16.190.58 9.Halaman 38 .39 888.570.02 51.878.855. Kepulauan Sula 2009 2010 Jumlah 471 Kab.67 970.49 24.098.43 727.241.89 1.545.53 1.273.78 3. Pulau Morotai 2009 2010 Jumlah 472 Kota Ternate 2009 2010 Jumlah Kota Tidore Kepulauan 4 108 112 220 76 103 179 99 73 172 30 30 137 49 186 Nilai 5 1.433.503.18 13.02 8.55 1.60 392.615.967.50 374.274.863.048.64 281.03 1.305.167.993.878.010.204.15 1.323.081.501.90 72 13 85 34 46 80 34 34 22 10 32 23 16 39 16 9 25 16 67 83 24 21 45 56. Asmat 2009 2010 Jumlah 476 Kab.49 1.19 28.350.013.16 754.02 150.724.29 193.165.213.146.622.560.191.09 196.821.

87 862.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 481 2 Kab.72 26.87 211.43 13. Pegunungan Bintang 4 23 41 64 50 57 107 37 75 112 46 52 98 23 41 64 Nilai 5 266.431.822.59 1.82 529.459.48 42.66 29.000.99 325.452.011.76 34 34 3 3 1 1 1 19 20 25 25 26 26 5 2 7 2.95 88.125.48 310.69 131.747.404.82 667. Tolikara 2009 2010 Jumlah 491 Kab.84 1.43 1.56 271.76 20.38 72.40 288.80 91.870.290.738. Paniai 2009 2010 Jumlah Kab.50 904.891.50 92.459.09 55.98 24.764.63 11.36 1. Mimika 2009 2010 Jumlah 484 Kab.127.37 41.00 504.829.26 258.61 2.356.274.433.732.125.20 25.35 941.611.666.05 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 27 31 42 13 55 15 16 31 20 22 42 17 19 36 Nilai 9 13.66 89.70 87.18 76.163.76 233.00 21.23 27.963.55 316.10 290.890.57 106.44 317.158.374.10 54.712.873.05 974.84 740. Nabire 2009 2010 Jumlah 485 Kab.04 196.01 1.18 106.155.950.28 365.95 134.80 135.63 862.068.83 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.395.83 233.096.546.870.123.33 893.83 12.216.604.39 312. Puncak Jaya 2009 2010 Jumlah 488 Kab.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 1 34 34 1 17 18 4 4 Nilai 11 3.47 73.24 1.336.560.623.83 5.623.10 21.35 114.23 754.505.272.16 620.39 291.339.858.85 156.611.142.001.796.528.00 290.17 47.032.200.00 486 2009 2010 Jumlah 15 43 58 44 68 112 32 24 56 53 55 108 32 22 54 53 53 106 78 61 139 32 53 85 13.Halaman 39 .207.072.23 33.032.84 25.111.800.78 303.930.34 688.20 885.55 634.83 411.641.986.549.007.07 73.62 23.332. Yahukimo 2009 2010 Jumlah 493 Kab.60 10 8 18 29 37 66 17 17 27 27 15 4 19 10 10 20 37 13 50 11 28 39 27.37 141.95 673.87 916.32 1. Waropen 2009 2010 Jumlah 492 Kab.636.79 2.72 53.429.45 125.470.29 211.930.51 225.89 489.50 1.84 624.67 143.00 21.51 50.425.266.55 634.05 974.445.576.067.45 49.67 632.51 303.072. Sarmi 2009 2010 Jumlah 489 Kab.59 3.28 385.00 25.956.66 42.669.899.18 5.00 11.339.86 5.00 10.058.55 3.09 28.79 2.00 237.605.514.48 331.271.163.831.596.28 43.703.50 19. Mappi 3 2009 2010 Jumlah 482 Kab.138.61 504.36 415.193.27 116.10 20.533.75 36.47 15.714.930.60 1.956.76 126.577.32 768.86 965.942.84 129.439.87 83.956.54 34.738.00 225.37 879.63 10.020.19 156. Merauke 2009 2010 Jumlah 483 Kab.14 30.16 26.95 218.514.04 1.99 25.50 3.108.02 Jml 6 19 14 33 7 44 51 22 25 47 25 13 38 6 18 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 253.48 3.782.42 4.606. Kepulauan Yapen 2009 2010 Jumlah 142 .23 12.255.712. Supiori 2009 2010 Jumlah 490 Kab.624.043.470.432.624.63 19.151.00 5 1 6 12 31 43 15 23 38 25 36 61 17 18 35 18 43 61 41 22 63 16 23 39 13.532.83 217.18 3.597.669.23 163.154.437.29 487 Kab.09 133.84 740.81 167.930.271.

95 17.11 3.374.423.621.376.49 4.021.021. Teluk Bintuni 2009 2010 Jumlah 4 34 34 35 35 20 20 36 36 93 30 123 208 76 284 134 63 197 75 57 132 129 45 174 101 62 163 114 85 199 81 54 135 192 58 250 Nilai 5 46.99 74.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 494 2 Kab.65 623. Papua Barat 2009 2010 Jumlah 500 Kab.85 17.36 5.06 11.785.911.82 145.54 12.49 3.18 76.417.743.59 2.99 123.282.841.43 350.43 11.13 45.746.31 3.926. Manokwari 2009 2010 Jumlah 503 Kab.09 45.023.17 128.50 58.75 4.40 145.30 39.92 195.60 582.761.109.41 11.00 350.325.35 4.854.30 46.538.33 30.476.54 31.69 231.49 26.57 5.86 874.60 454.95 46.884.67 1.17 28.770. Sorong Selatan 2009 2010 Jumlah 506 Kab.127.41 39.552.81 143 .325.24 409.243.33 454.70 4.06 1.391.670.362.354.47 104.36 2.496.111.728.40 23.423.50 12.54 3.48 513.38 25.461.35 9.01 4.65 1.184.743.78 Jml 6 21 21 14 14 43 6 49 3 3 42 42 12 12 1 1 25 20 45 49 55 104 54 54 30 30 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.552.215.22 873.512.976.00 145.742.59 4.98 1.80 23.67 6.769.60 694.85 16.28 60.60 582.841.417.198.612.48 623.913.68 1.46 3.09 231.79 78.49 22.435.68 3.06 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 17 17 49 24 73 2 2 17 17 2 2 1 1 44 34 78 29 6 35 20 20 7 7 Nilai 9 23.46 3.29 2.512.06 8.08 8.98 3.205. Dogiyai 2009 2010 Jumlah 498 Kota Jayapura 2009 2010 Jumlah 499 Prov.144.265.96 16.847.41 39.440.48 3.67 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 35 35 20 20 5 5 1 1 203 76 279 75 63 138 61 57 118 127 45 172 32 8 40 36 24 60 7 54 61 155 58 213 Nilai 11 39.552.770.11 3.42 464.499.56 8.408.447.767.198.177.81 145. Lany Jaya 2009 2010 Jumlah 497 Kab.538.53 12.43 11.184.81 873.571.315.952.447.40 14.81 694.92 48.497. Fakfak 2009 2010 Jumlah 501 Kab.935.738.95 2.40 119.00 145.85 15.823.262.44 22.95 8.021.49 8.476.06 89.28 145.127.46 90.512.22 123.58 55.09 48.447.62 14.432.487.96 3. Sorong 2009 2010 Jumlah 505 Kab.417.447.612.982.549.670.18 76.929.200.61 45. Mamberamo Raya 3 2009 2010 Jumlah 495 Kab.46 623.24 1.70 149.55 31.84 14.41 11.11 3.387.36 1.575.48 3.43 12.262.99 2.28 35.982. Nduga 2009 2010 Jumlah 496 Kab.188.681.86 14.116.200.417.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 5.021.236.00 513.00 1.952. Kaimana 2009 2010 Jumlah 502 Kab.844.884.11 3.80 8.571.74 17.46 623.40 128.400.46 15.315.49 30.86 28. Raja Ampat 2009 2010 Jumlah 504 Kab.785.67 23.Halaman 40 .144.854.911.

21 15.510.85 122.280 USD 2.957.633.520. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.896.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 507 2 3 2010 Jumlah 508 Kota Sorong 2009 2010 Jumlah Total 4 179 179 66 96 162 66.987.83 - Keterangan 1.80 Rp22.583.11 24.11 16.68 6.64 26.865.00 Kab.59 23.85 6.385.827.009.13 USD 4.00 - Rp27.49 Jml 6 3 3 23 23 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.59 29.35 USD 466.Halaman 41 .85 122.28 14.91 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 122.520.110.43 78.510.110.375.578 USD 473.075 USD 4.90 15. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 144 .635.987.85 Rp807.933 Nilai 5 79.75 - Rp17. Teluk Wondama 2009 Rp68.228.821.68 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 176 176 43 96 139 Nilai 11 78.43 7.28 79.792.

662.82 4 - - - 72.07 - 8 - 10.59 8 10.21 USD 32.82 18 64.07 45. dan KKKS (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.07 19.705.857.50 USD 37.Lampiran 52 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 BUMN.40 USD 32.81 23.81 23.701.392.22 14.392.705.477.662.10 USD 37.55 - 26 27 - 19.771.76 2010 26 - 19.58 2010 Jumlah 22 - 64.58 USD 7.76 - Jumlah 46 - 6 PT PGN 2009 2010 Jumlah - 7 PT Bukit Asam 2009 22 64.21 USD 32.701.22 - 2010 Jumlah 139 316 - 9 PT Garuda Indonesia (Persero) 2009 2010 Jumlah 19 19 - - - - - 19 19 - - 10 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 145 .50 USD 37.40 USD 32.489.489. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PT Aneka Tambang 3 4 Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 1 2009 2010 Jumlah 2 PT Sarana Karya 2009 2010 Jumlah 3 PT Timah 2009 2010 Jumlah 4 PT EMI 2009 2010 Jumlah 5 5 5 5 - 5 PT PLN 2009 20 26.Halaman 1 .55 1 - 10.773.773.07 - 10.79 72.477. BHMN.82 - 18 - 64.04 11 15.22 14.493.79 8 PT Pertamina 2009 177 - 8.493.392.701.489.22 59 26 85 - - 10 10 - - 108 113 221 - 8.50 USD 37.392.474.155.489.82 - 4 - - - - USD 7.771.474.04 - 11 - 15.

Halaman 2 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 11 2 PT Angkasa Pura I (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Angkasa Pura II (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

12

2009 2010 Jumlah

42 42

342.623,80 342.623,80

-

-

-

-

42 42

342.623,80 342.623,80

-

13

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

43 43 -

733.674,86 733.674,86 -

3 3 -

525.917,75 525.917,75 -

-

-

40 40 -

207.757,11 207.757,11 -

-

14

Perum Damri

2009 2010 Jumlah

15

Perum PPD

2009 2010 Jumlah

16

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

17

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

18

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)

2009 2010 Jumlah

6 6

17.610,31 17.610,31

-

-

-

-

6 6

17.610,31 17.610,31

-

19

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

20

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

21

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)

2009 2010

33 29 -

707.301,10 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 821.142,37 USD 152.95 SGD 1,320.75

4 4 -

141.353,84 141.353,84 -

-

-

29 29 58 -

565.947,26 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 679.788,53 USD 152.95 SGD 1,320.75

-

Jumlah

62 -

146

Halaman 3 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 22 2 PT Djakarta Lloyd (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

23

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

24

PT Pengerukan Indonesia (Persero)

2009

23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

-

-

-

23 23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

2010 Jumlah

23 -

25

PT Indra Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

26

PT Brantas Abipraya (Persero)

2009 2010 Jumlah

30 30

188.627,04 188.627,04

-

-

-

-

30 30

188.627,04 188.627,04

-

27

PT Amarta Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

28

PT Adhi Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

29

PT Wijaya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

26 26 -

129.073,04 USD 11,498.63 129.073,04 USD 11,498.63 605.439,69 605.439,69 -

9 9 3 3 -

1.932,18 1.932,18 -

13 13 14 14 -

119.992,86 USD 11,498.63 119.992,86 USD 11,498.63 -

4 4 4 4 -

7.148,00 7.148,00 605.439,69 605.439,69 -

2.299,88 2.299,88 -

30

PT Jasa Marga (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21 -

31

PT Virama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

32

PT Nindya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

22 22

138.875,33 138.875,33

-

-

-

-

22 22

138.875,33 138.875,33

-

33

PT Hutama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

147

Halaman 4 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 12.671,11 12.671,11 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 34 2 PT Indah Karya (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 35 PT Istaka Karya (Persero) 2009 2010 Jumlah 36 Perum Perumnas 2009 2010 Jumlah 4 30 30

Nilai 5 12.671,11 12.671,11

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 30 30

Nilai 11

37

PT Pembangunan Perumahan (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

37.692,71 37.692,71

7 7

28.955,84 28.955,84

14 14

8.736,87 8.736,87

3 3

-

27.665,96 27.665,96

38

PT Yodya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

39

PT Waskita Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

40

PT Bina Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

41

Perum Produksi Film Negara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

42

PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

43

PT Kawasan Industri Medan (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

44

PT Kawasan Industri Makassar (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

45

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

148

Halaman 5 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 46 2 PT Hotel Indonesia Natour (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

47

2009 2010 Jumlah

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

-

-

-

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

48

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)

-

-

-

-

-

-

-

-

-

49

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

50

PT Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

51

Perum LKBN Antara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

52

PT Dirgantara Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

-

-

-

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

53

PT Pindad (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

54

PT PAL Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

55

PT LEN Industri (Persero)

2009 2010 Jumlah

149

Halaman 6 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 56 2 PT Krakatau Steel (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Boma Bisma Indra (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

57

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

58

PT Dahana (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

59

PT Barata Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

60

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

61

PT Industri Kereta Api (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

62

PT Batan Teknologi (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

63

PT Bio Farma (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21

2.148,65 2.148,65

11 11

50,70 50,70

5 5

2.097,95 2.097,95

5 5

-

-

64

PT Kimia Farma (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

35 35

90.176,31 90.176,31

-

-

-

-

35 35

90.176,31 90.176,31

-

65

PT Indofarma (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

47.791,78 47.791,78

-

-

-

-

29 29

47.791,78 47.791,78

-

66

PT Semen Gresik (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

67

PT Semen Kupang (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

150

Halaman 7 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 68 2 PT Semen Baturaja (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) 4 19 19

Nilai 5 10.012,78 10.012,78

Jml 6 7 7

Nilai 7 -

Jml 8 6 6

Nilai 9 6.046,39 6.046,39

Jml 10 6 6

Nilai 11 3.966,39 3.966,39

69

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

70

PT Industri Kapal Indonesia (Persero)

2009

21 -

15.722,54 USD 212,229.82 15.722,54 USD 212,229.82

3 3 -

2.436,30 2.436,30 -

16 16 -

4.786,24 USD 212,229.82 4.786,24 USD 212,229.82

2 2 -

8.500,00 8.500,00 -

-

2010 Jumlah

21 -

71

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

2009

24 -

11.361,10 USD 788.28 11.361,10 USD 788.28

9 9 -

861,86 861,86 -

9 9 -

7.867,79 7.867,79 -

6 6 -

2.631,45 USD 788.28 2.631,45 USD 788.28

-

2010 Jumlah

24 -

72

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

73

PT Primissima (Persero)

2009 2010 Jumlah

74

PT Industri Gelas (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

6.282,19 6.282,19

-

-

-

-

29 29

6.282,19 6.282,19

-

75

PT Garam (Persero)

2009 2010 Jumlah

76

PT Perkebunan Nusantara I

2009 2010 Jumlah

77

PT Perkebunan Nusantara II

2009 2010 Jumlah

78

PT Perkebunan Nusantara III

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

151

Halaman 8 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 80.223,60 80.223,60 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 79 2 PT Perkebunan Nusantara IV 3 2009 2010 Jumlah 80 PT Perkebunan Nusantara V 2009 2010 Jumlah 81 PT Perkebunan Nusantara VI 2009 2010 Jumlah 82 PT Perkebunan Nusantara VII 2009 2010 Jumlah PT Perkebunan Nusantara VIII 4 9 9 -

Nilai 5 113.240,26 113.240,26 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 4 4 -

Nilai 9 33.016,65 33.016,65 -

Jml 10 5 5 -

Nilai 11

83

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

84

PT Perkebunan Nusantara IX

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

85

PT Perkebunan Nusantara X

2009 2010 Jumlah

86

PT Perkebunan Nusantara XI

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

87

PT Perkebunan Nusantara XII

2009 2010 Jumlah

40 40

65.759,10 65.759,10

-

-

-

-

40 40

65.759,10 65.759,10

-

88

PT Perkebunan Nusantara XIII

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

89

PT Perkebunan Nusantara XIV

2009 2010 Jumlah

31 31 37 -

139.991,06 139.991,06 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

4 4 3 3 -

-

9 9 34 34 -

47.839,48 47.839,48 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

18 18 -

92.151,57 92.151,57 -

-

90

Perum Perhutani

2009

2010 Jumlah

37 -

91

PT Inhutani I

2009 2010 Jumlah

-

152

Halaman 9 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 19.207,08 19.207,08 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 92 2 PT Inhutani II 3 2009 2010 Jumlah 93 PT Inhutani III 2009 2010 Jumlah 94 PT Inhutani IV 2009 2010 Jumlah 95 PT Inhutani V 2009 2010 Jumlah 96 PT Sang Hyang Seri 2009 2010 Jumlah 97 PT Pertani (Persero) 2009 2010 Jumlah PT Perikanan Nusantara (Persero) 4 24 24 8 8

Nilai 5 19.207,08 19.207,08 1.976,30 1.976,30

Jml 6 5 5

Nilai 7 1.976,30 1.976,30

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 24 24 3 3

Nilai 11

98

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

99

PT Rajawali Nusantara Indonesia

2009 2010

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

18 18 -

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60 458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

-

Jumlah

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

100

Perum Prasarana Perikanan Samudera

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

101

PT Pupuk Sriwijaya

2009 2010 Jumlah

1 1

-

-

-

-

-

1 1

-

-

102

PT Kertas Kraft Aceh

2009 2010 Jumlah

12 12 -

218.834,69 218.834,69 -

1 1 -

-

10 10 -

107.535,64 107.535,64 -

1 1 -

111.299,04 111.299,04 -

-

103

PT Kertas Leces

2009 2010 Jumlah

153

Halaman 10 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 104 2 Perum PNRI 3 2009 2010 Jumlah 105 Perum Peruri 2009 2010 Jumlah 106 PT Balai Pustaka 2009 2010 Jumlah PT Pradnya Paramitha 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

107

2009 2010 Jumlah

41 8 49 14 14 51 51

9.593,54 9.593,54

32 32

466,60 466,60

41 8 49 14 14 16 16

9.126,94 9.126,94

3 3

-

5.794,01 5.794,01

108

PT BNI

2009 2010 Jumlah

109

PT BRI

2009 2010 Jumlah

110

PT Bank Mandiri

2009 2010 Jumlah

111

PT BTN

2009 2010 Jumlah

112

PT Jamsostek

2009 2010 Jumlah

113

PT Taspen

2009 2010 Jumlah

114

PT Asuransi Kesehatan

2009 2010 Jumlah

20 20 -

223.169,20 223.169,20 -

8 8 -

881,48 881,48 -

11 11 -

221.507,13 221.507,13 -

1 1 -

780,58 780,58 -

-

115

PT Jasaraharja

2009 2010 Jumlah

116

PT Asuransi Jiwasraya

2009 2010 Jumlah

117

PT Jasindo

2009 2010 Jumlah

154

46 - - - - 20 20 - 160.348.509.45 USD 570.50 - - - 129 PT Sarana Multi Infrastruktur 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 .348.45 USD 570.049. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 118 2 PT Asuransi Kredit Indonesia 3 2009 2010 Jumlah PT Asuransi Ekspor Indonesia 4 - Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 119 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 120 PT ASABRI 2009 2010 Jumlah 121 PT Reasuransi Umum Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 122 PT Bahana PUI 2009 2010 Jumlah 123 PT Danareksa 2009 2010 Jumlah 124 Perum Pegadaian 2009 2010 Jumlah 125 PT Permodalan Nasional Madani 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 126 PT PANN Multi Finance 2009 2010 Jumlah 20 20 - 160.049.45 USD 570.Halaman 11 .348.049.60 36.348.049.60 6 6 26.879.46 160.879.46 - 127 Perum Jaminan Kredit Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 128 PT Kliring Berjangka Indonesia 2009 2010 Jumlah 10 10 36.10 4 4 9.50 9.509.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.10 26.388.46 160.388.45 USD 570.

289.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.52 205.571.10 203.571.Halaman 12 .52 31 31 48.710.91 4.08 132 Perum Bulog 2009 2010 Jumlah 133 PT Survey Udara Penas (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 134 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 2009 2010 Jumlah 46 46 15 15 - 4.710.289.571.91 - 40 40 - - 6 6 - - 15 15 - 4.08 48.32 48.91 4.08 37 37 203.08 48. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 130 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 4 131 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) 2009 2010 Jumlah 77 77 205.571.91 - - 135 PT Pos Indonesia 2009 2010 Jumlah 136 PT Sarinah 2009 2010 Jumlah 137 PT Sucofindo 2009 2010 Jumlah 138 PT Berdikari 2009 2010 Jumlah 139 PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 140 PT Surveyor Indonesia 2009 2010 Jumlah 141 PT Varuna Tirta Prakasya 2009 2010 Jumlah 142 PT Bhanda Ghara Reksa 2009 2010 Jumlah 156 .10 9 9 1.531.531.32 1.

884.320.31 USD 7.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 150 Chevron Pacific Indonesia WK Pokan .21 - 145 PPA 2009 2010 Jumlah Total BUMN 1.60 820 Rp5.450 Rp7.055.50 SGD 1.657.75 - Rp119.03 1 1 12 12 12 1 1 1 11 11 11 - 148 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 149 Chevron Pacific Indonesia WK Siak .056.74 SGD 1.93 - 333 Rp1.11 USD 230. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 143 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Perum Jasa Tirta I 3 2009 2010 Jumlah 4 144 Perum Jasa Tirta II 2009 2010 Jumlah 19 19 402.60 297 Rp806.275.75 EUR 8. WK South Natuna Sea B 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 152 ExxonMobile Oil Inc. WK Bee 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 157 .291.17 USD 835.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Ltd.897.75 EUR 8.408.Halaman 13 .21 - - 14 14 - 5 5 402.21 402.03 5 5 USD 436.523.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 151 ConocoPhillips Indonesia Ltd.79 - BHMN (Badan Hukum Milik Negara) 146 BPMIGAS : 2009 2010 Jumlah Total BHMN Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) 147 BOB PT BSP Pertamina Hulu 2009 2010 Jumlah Chevron Pacific Indonesia Wilayah Kerja (WK) MFK .994.PSC 6 6 USD 436.326.03 USD 436.03 USD 436.12 USD 604.21 402.320.

53 580.Halaman 14 .434.59 USD 1. WK Pase 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 Kalila (Korinci Baru) WK Korinci 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 156 Kondur Petroleum WK Malacca Strait 2009 10 - 580. Ltd.65 USD 2.59 USD 1.65 - - - - - 11 11 - USD 2.434.434.Job P Costa International WK Gebang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 .65 - - 161 Premier Oil WK Natuna Sea A 2009 2010 Jumlah 162 Star Energy Ltd. WK Selat Panjang 2009 2010 Jumlah 11 11 - USD 2.59 USD 1. Ltd.65 USD 2. WK NSO 3 2009 2010 Jumlah 4 154 ExxonMobile Oil Inc.309.59 USD 1.53 580.53 - 2010 Jumlah 10 - 157 Medco E&P Malaca WK Area “A” North Sumatera 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 Pearl Oil WK Tungkal 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 159 Petrochina International Ltd. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 153 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 ExxonMobile Oil Inc.309.309. WK Kakap 2009 2010 Jumlah 163 Job (PSC) Costa Igl WK Gebang 2009 2010 Jumlah 164 PHE Costa . WK Jabung 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 Petroselat Ltd.434.309.53 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - 580.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.

WK Brantas 2009 2010 Jumlah 175 Medco E&P Indonesia WK Lematang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 176 Medco E&P Indonesia WK Barisan Rimau 2009 2010 Jumlah 7 7 USD 150.Job P ConocoPhillips WK South Jambi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 167 PT SPR Langgak Langgak Riau 2009 2010 Jumlah 168 BP West Java Ltd.Halaman 15 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.33 USD 910.17 USD 150. WK Pangkah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 174 Lapindo Brantas Inc. WK South East Sumatera 2009 2010 Jumlah 5 5 USD 910.33 USD 910. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 JOA (PSC) ConocoPhillips WK South Jambi Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 165 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 166 PHE South Jambi . WK Corridor PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 172 Kangean Energy Indonesia WK Kangean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 173 HESS Pangkah Ltd. WK ONWJ 2009 2010 Jumlah - 169 Camar Resource Canada WK Bawean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 170 CNOOC SES Ltd.33 1 1 - - - - 171 ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd.17 - - - 159 .17 USD 150.17 2 2 - 5 5 USD 150.33 4 4 USD 910.

Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Halaman 16 .455.81 - - - - 10 10 USD 7. WK Bangko 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 179 Santos PTY.455.455.JOB P GSIL WK Raja Block 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 185 JOB (PSC) Petrochina East Java WK Tuban 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - 186 PHE Tuban East Java .81 USD 7.81 USD 7.81 - 187 JOB (PSC) Talisman .455. Ltd. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Medco E&P Indonesia WK South&Central Sumatera Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 177 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 178 Petrochina Ltd. WK Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 180 Santos PTY.JOB P HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 183 JOB (PSC) Golden Spike WK Raja Pendopo 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 184 PHE Raja Tempirai .JOB P PEJ WK Tuban 2009 2010 Jumlah 10 10 USD 7. Ltd.Ogan Komering WK Ogan Komering 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 . WK Sampang 2009 2010 Jumlah 181 JOB (PSC) HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 182 PHE Jambi Merang .

WK Makassar Strait 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 195 Citic Seram Energy Ltd.JOB P TOKL WK Ogan Komering Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 188 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 189 JOA (PSC) Kodeco WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 190 PHE W Kodeco JOA P W Madura WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 191 Mobil Cepu Ltd.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK Cepu Block 2009 2010 Jumlah 192 Seleraya Merangin Dua 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 193 Chevron Ind.Halaman 17 . WK Seram Non Bula 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 196 Energy Equity WK Sengkang 2009 2010 Jumlah 197 Inpex WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah 198 Kalrez Petroleum WK Bula Seram 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 199 Medco E&P Indonesia WK Tarakan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 161 . WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 194 Chevron Ind. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PHE Ogan Komering .

424.424. Papua - - - - - - - - - 205 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah PHE Salawati . Sulawesi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 204 PHE Medco Tomori .JOB P Tengah 2009 2010 Jumlah 12 12 USD 61.51 USD 61.53 SGD 5.30 - 8 8 - 676.51 - 209 PT Pertamina EP 2009 2010 Jumlah 162 .51 - - - - 12 12 USD 61.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Sulawesi 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah JOB (PSC) Petrochina Salawati WK Kepala Burung.848.76 USD 235.53 USD 235.848.23 2.30 676. Papua Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 200 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah Total E&P Indonesia WK Mahakam - - - - - - - - - 201 2009 10 - 3.748.848.51 USD 61.23 - - - - 2010 Jumlah 10 - 202 VICO WK Sangasanga 2009 2010 Jumlah - 203 JOB (PSC) Medco E&P Tomori WK Senoro Toili.53 SGD 5. Papua - - - - - - - - - 206 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 207 JOB (PSC) Total Tengah WK Tengah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 208 PHE Tengah K .JOB P PS WK Kepala Burung. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Petrochina International (Bermuda) Ltd.53 SGD 5.76 USD 235.53 SGD 5. WK Salawati Basin.30 3.848.Halaman 18 .748.JOB P Medco WK Senoro Toili.30 - 2 2 - 2.53 USD 235.

Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Halaman 19 .BP Berau 2009 2010 Jumlah 212 BP Muturi 2009 2010 Jumlah 213 BP Wiriagar 2009 2010 Jumlah Total KKKS 76 Rp4.30 18 Rp2. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.780.59 SGD 5.048.59 USD 73.90 SGD 5.23 USD 150.17 - 37 Rp580.51 - - Keterangan 1.581.53 USD 1.30 21 Rp676.35 USD 74. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 210 Nilai 5 5 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 5 5 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Benuo Taka WK Wailawi Block 3 2009 2010 Jumlah 4 211 Tangguh . Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 163 .748.005.

71 - Total Pemeriksaan Laporan Keuangan - 740 566.481.50 1 865.82 15.053.053.24 721 Rp267.51 235.013 Rp1.707.88 - Total Pemeriksaan Kinerja 62 84.660.12 28 28 10 4 1 7 1 2 25 53 - Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus Nilai (8) 7.077.70 638.246.79 140.345.75 77.93 42 23.64 26 24.08 7.91 1.501.136.44 26.531.073.936.16 269.98 2 102.51 1 775.52 90.12 1 3.29 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (15) 72 72 8 26 8 2 1 2 8 55 127 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (27) 1 1 1 Nilai (28) Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Penjualan/pertuKelebihan penetapan karan/penghapuBelanja tidak sesuai Pengembalian pinja.50 USD 7.543.72 101.97 1 1 0.112.57 Rp34.344.652.577.88 - 12.65 211 47.480.976.568.985.115.518.68 28.265.71 6.480.37 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 60 84.87 339.211 368.886.164 Lampiran 53 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kerugian negara/daerah/perusahaan No Pemahalan harga (Mark up) Entitas/Obriks Total kerugian negara/daerah / perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang pembayaran honorarium dan/ spesifikasi barang/ penggunaan uang/ atau biaya perjalanan jasa yang diterima barang untuk kepentdinas ganda dan atau tidak sesuai dengan ingan pribadi melebihi standar yang kontrak ditetapkan Jml Kasus Nilai (16) 83.005.95 - 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara - - - 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi - - - 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 1.190.25 5.01 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .68 USD 7.249.32 505 123.21 2 1 1 1 5 11 90 27.77 101 35.61 115.91 60 84.58 37.443.249.93 2 102.349.864.366.82 735.457.625.12 Rp857.04 77 145.25 2.136.00 1 180.18 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah - 736 566.11 1 1 2 1 2 126 142 104.735.01 - TOTAL 2.35 723.800.480.94 7.82 83.852.01 13.787.37 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 4 28.141.67 4 220.25 23.236.69 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 5 1.497.10 Rp94.06 155 59.053.827.01 - 13 Operasional PDAM - 43 3.75 77 145.29 Rp18.313.73 - 17 PDTT Lainnya 46 47.543.59 101.62 437.943.66 0.69 - 6 Pelaksanaan Belanja - 1.54 - USD 7.483.171.00 9.68 176 25.41 19 11.338.169.76 50 9.565.231.339.852.146.46 76 Rp33.79 241.40 2.574.18 410.97 1 21.00 1 180.169.00 156 59.52 0.33 88.54 314 Rp82.18 6 8.00 60 84.00 14.132.01 Nilai (31) 14.179.42 11.455.543.29 Rp2.40 USD 7.00 - 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 2 320.53 3 3 90 27.30 3 (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) 2.50 - 16 Operasional BUMD Lainnya 8 2.60 9 29.98 22 16.33 8 645.dan pembayaran san aset negara/ atau melebihi man/piutang atau restitusi pajak atau daerah tidak sesuai ketentuan dana bergulir macet penetapan kompenketentuan dan sasi kerugian merugikan negara/ daerah Jml Kasus (29) 857.19 6.98 - 12 Operasional BUMN 13 92.31 32.14 21 1 1 1 101 50 5.48 178.269.03 248 Rp122.92 3 7 67 157 2 5 145.35 - 5 Pengelolaan Pendapatan 10 3.899.432.50 3 6.405.538.543.43 1 1.18 16 3.78 - 15 Operasional Bank Daerah 7 1.96 - USD 7.132.21 2 922.951.660.64 258.020.132.020 175.12 857.91 Rp59.224.377.952.11 146 107.023.365.54 1.551.20 12.06 Total PDTT - 1.88 12.34 344.499.47 1.132.377.79 7.535.24 3 676.86 122.56 119 Rp168.40 62.88 140.19 2 1.53 14.077.486.82 1.637.93 Rp33.543.89 102 35.996.543.29 2.01 14 Operasional RSUD 10 3.907.453.30 1.70 - 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 48 36.51 1.82 77 11.18 15 3.115.11 147 107.72 1 25.249.01 Rp151.72 (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai (7) 17 17 1 1 21 1 1 23 41 Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (30) 62.98 7 7.70 26 24.71 465 75.20 114 9.000.80 47 8.67 Rp17.341.856.788.44 3.585.08 USD 7.349.893.62 6.341.74 33 15.735.43 280.199.602.40 5 2.799.65 6 8.531.

76 Rp1.284.59 54.260.52 2 119.48 Total Pemeriksaan Kinerja 12 504.76 2 1 3 1 1 1 3 6 - 8.315.05 781.32 6 6.155.11 2 3.45 22 8.85 9 2 12.619.12 2.49 - USD 53.711.38 USD 20.661.625.telah rusak selama masa gian atau seluruhnya pemeliharaan Pemberian jaminan Pihak ketiga belum dalam pelaksanaan pemelaksanakan kewa.45 3 26.91 1 1 312.40 47 Rp88.50 3.936.49 2.155.442.27 22 2.655.79 23.40 USD 32.56 USD 53.47 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 128 461.51 USD 20.39 417.52 504.00 6 1.247.80 84.450.269.697.556.09 28.673.218.00 Rp3.646.214.93 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 24 34.792.67 Rp290. pemanfaatan Penghapusan piutang jiban untuk meny.32 14 43.450.50 2 18 32 17.365.61 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 20 5.808.598.688.499.235.51 1 1 500.Piutang/pinjaman atau Aset tidak diketahui kerjaan.87 2 575.00 4 1.78 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 312.78 190.727.87 1.71 5 22.71 51.52 8 1 3 1 4 7 8 1 9.768.233.38 2 - Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 7 89.25 154.897.29 USD 32.59 4 70.836.50 12 Operasional BUMN 31 973.816.925.839.95 2 18.986.075.43 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 165 .839.695.696.80 88.264.04 19.750.365.24 524.222.80 850.700.97 239.142.575.895.448.49 19.99 15 1 11 5 72 114 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 40 1 41 1 1 7 10 1 22 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 121 371.04 1 8 856.155.17 3 382.98 35 Rp24.92 8.95 24 80.525.155.04 72.32 14 43.29 2 154.21 Total PDTT 386 1.dana bergulir yang berpokeberadaannya barang dan pemberian tidak sesuai ketentuan erahkan aset kepada tensi tidak tertagih fasilitas tidak sesuai negara/daerah ketentuan Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Nilai (20) Jml Kasus Nilai (21) (22) Jml Kasus Nilai (23) (24) Nilai (25) Jml Kasus Nilai (6) 7 1 8 1 1 156 21 2 1 180 189 Rp79.49 1.95 25 80.997.155.43 13 Operasional PDAM 22 13.88 7.120.447.125.91 Rp49.45 3 3.264.30 154.84 1 445.33 USD 32.37 16 Operasional BUMD Lainnya 16 15.315.76 10.48 2 1 14.26 - 21 2 23 1 1 14 3 1 8 1 6 33 57 - 46.00 3 521.38 Rp2.12 Rp7.Lampiran 54 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan No Entitas/Obriks Total Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan Kelebihan pembayaran Rekanan belum melakdalam pengadaan sanakan kewajiban barang/jasa tetapi pemeliharaan barang Pembelian aset yang Aset dikuasai pihak lain pembayaran pekerjaan hasil pengadaan yang berstatus sengketa belum dilakukan seba.35 6.893.549.572.679.87 3.68 485.48 504.27 299.29 1.633.500.24 312.704.466.67 426.35 33.00 9.16 6 Pelaksanaan Belanja 221 106.43 TOTAL 526 Rp1.005.77 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 11 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 1 504.021.200.499.117.174.67 100.450.50 8.086.192.48 5 Pengelolaan Pendapatan 12 8.50 1.71 17 1 2 30 35 14.813.691.00 3.11 2 3.37 14 Operasional RSUD 1 28.01 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 14 4.31 49.51 USD 20.96 19 2.65 55.00 92.35 15 Operasional Bank Daerah 15 38.014.07 Rp50.29 5 3.00 1.20 5 22.49 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 1 6.142.834.375.764.81 USD 53.261.430.03 1 524.793.46 Rp94.010.385.48 8.788.704.38 1.704.33 4.447.60 2.409.00 426.37 6.284.29 17 PDTT Lainnya 8 26.28 5.

33 3.595.16 2.458.14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (18) (5) 325 10 335 14 14 218 348 2 13 31 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (19) 3 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (4) 213.508.37 286.099.98 375.792.615.474.099.23 5.76 9.21 USD 29.42 9.75 108 Rp92.62 4.71 1 Rp15.474.771.54 1.25 Nilai Nilai (20) 276.793.31 45 Rp19.Koreksi perhitungan Kelebihan pemtelah ditetapkan belum atau digunakan oleh jak/PNBP lebih rendah bagi hasil dengan bayaran subsidi oleh masuk ke kas Daerah instansi yang tidak dari ketentuan KKKS pemerintah berhak Lain-lain Jml Kasus Nilai (6) 173.766.872.992.33 3.65 1 108.08 1 8.063.072.20 2.51 2 2 40 4 9.84 17.89 17.92 USD 10.04 223.261.915.072.067.53 276.221 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .187.099.76 4.12 15.52 30.514.80 5 476.63 90.14 175.51 33 18.872.108.21 USD 29.262.16 3 233.468.523.35 2.868.29 249.45 USD 10.12 3 844.36 1 196.327 1 1.639.02 2.595.364.805.84 Rp42.935.602.835.099.77 9.230.18 USD 95.84 6.602.96 43 61.52 1 61 2 125.810.73 17 Rp66.14 66.810.474.949.00 9.84 Nilai (21) 6.269.054.545.42 2 Rp8.12 3 94.401.32 6 Rp328.84 99.57 2 549.261.88 16.823.72 895.43 8.95 USD 95.58 1 16.474.736.29 209.14 175.508.88 5.71 66.044.71 1 1 15.305.77 9.77 550.261.04 (1) (2) (3) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 402 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 10 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 412 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 14 4 Pengelolaan Hutan Mangrove - Total Pemeriksaan Kinerja 14 5 Pengelolaan Pendapatan 287 6 Pelaksanaan Belanja 357 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 2 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 13 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 31 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 17 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah - 12 Operasional BUMN 6 13 Operasional PDAM 26 14 Operasional RSUD 17 15 Operasional Bank Daerah 8 16 Operasional BUMD Lainnya 16 17 PDTT Lainnya 15 Total PDTT 795 TOTAL 1.41 61.45 24.508.45 Rp276.19 108.00 3 33 49.261.12 3 65 30.792.099.201.25 Rp1.913.154.236.80 5 476.166 Lampiran 55 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kekurangan Penerimaan Total Kekurangan Penerimaan Penggunaan langsung Penerimaan Negara/ Daerah No Nama Entitas Penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke Kas Negara/Daerah atau perusahaan milik negara/ daerah Penerimaan Negara/ Dana Perimbangan yang daerah diterima Pengenaan tarif pa.54 USD 66.59 2.495.71 3.771.73 35.54 Rp1.54 4 22 15 8 15 14 690 USD 29.12 31.84 91.023.636.73 USD 10.02 9.76 2.736.401.05 18.099.71 35.38 2 643.039 USD 29.832.131.34 29.77 482.12 3 94.59 17 17 65 30.08 1 8.

Lampiran 56 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010 Daftar LHP Jml Objek Pemeriksaan No PEMERIKSAAN KEUANGAN I Nama Entitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 15 Provinsi Sumatera Utara 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3 31 Provinsi Sumatera Barat 32 33 34 4 35 Provinsi Riau 36 37 38 39 40 41 42 Provinsi Aceh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LKPD Provinsi Aceh TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Besar TA 20009 LKPD Kabupaten Aceh Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tamiang TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Bireuen TA 2009 LKPD Kabupaten Simeulue TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Bener Meriah TA 2009 LKPD Kota Langsa TA 2009 LKPD Kota Subulussalam TA 2009 LKPD Kabupaten Batu Bara TA 2009 LKPD Kabupaten Deli Serdang TA 2009 LKPD Kabupaten Nias TA 2009 LKPD Kabupaten Nias Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Simalungun TA 2009 LKPD Kabupaten Toba Samosir TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Tengah TA 2009 LKPD Kota Binjai TA 2009 LKPD Kota Medan TA 2009 LKPD Kota Pematangsiantar TA 2009 LKPD Kota Padangsidimpuan TA 2009 LKPD Kota Sibolga TA 2009 LKPD Kota Tanjungbalai TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Mentawai TA 2009 LKPD Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 LKPD Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Solok Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkalis TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kampar TA 2009 LKPD Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 LKPD Kabupaten Rokan Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Siak TA 2009 LKPD Kota Dumai TA 2009 167 .Halaman 1 .

Halaman 2 .Lampiran 56 No 5 6 43 Provinsi Jambi 44 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Muaro Jambi TA 2009 LKPD Kabupaten Tanjung Jabung Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Banyuasin TA 2009 LKPD Kabupaten Empat Lawang TA 2009 LKPD Kota Pagar Alam TA 2009 LKPD Kota Prabumulih TA 2009 LKPD Provinsi Jawa Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bekasi TA 2009 LKPD Kabupaten Ciamis TA 2009 LKPD Kabupaten Cianjur TA 2009 LKPD Kabupaten Garut TA 2009 LKPD Kabupaten Indramayu TA 2009 LKPD Kabupaten Karawang TA 2009 LKPD Kabupaten Kuningan TA 2009 LKPD Kabupaten Majalengka TA 2009 LKPD Kabupaten Subang TA 2009 LKPD Kabupaten Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kota Bandung TA 2009 LKPD Kota Bekasi TA 2009 LKPD Kota Bogor TA 2009 LKPD Kota Cimahi TA 2009 LKPD Kota Depok TA 2009 LKPD Kota Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kabupaten Tegal TA 2009 LKPD Kota Pekalongan TA 2009 LKPD Kabupaten Lombok Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kupang TA 2009 LKPD Kabupaten Manggarai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Sikka TA 2009 LKPD Kabupaten Timor Tengah Utara TA 2009 LKPD Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkayang TA 2009 LKPD Kabupaten Kapuas Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kayong Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Landak TA 2009 LKPD Kabupaten Sekadau TA 2009 LKPD Kabupaten Sintang TA 2009 LKPD Kota Singkawang TA 2009 LKPD Kabupaten Seruyan TA 2009 LKPD Kabupaten Balangan TA 2009 LKPD Kabupaten Kotabaru TA 2009 45 Provinsi Sumatera Selatan 46 47 48 7 49 Provinsi Jawa Barat 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 8 9 10 68 Provinsi Jawa Tengah 69 70 Provinsi Nusa Tenggara Barat 71 Provinsi Nusa Tenggara Timur 72 73 74 11 75 Provinsi Kalimantan Barat 76 77 78 79 80 81 82 12 13 83 Provinsi Kalimantan Tengah 84 Provinsi Kalimantan Selatan 85 168 .

Halaman 3 .Lampiran 56 No 86 87 14 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Tanah Bumbu TA 2009 LKPD Kota Banjarbaru TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Kartanegara TA 2009 LKPD Kabupaten Malinau TA 2009 LKPD Kota Bontang TA 2009 LKPD Kota Samarinda TA 2009 LKPD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Tenggara TA 2009 LKPD Kota Tomohon TA 2009 LKPD Kabupaten Bantaeng TA 2009 LKPD Kabupaten Jeneponto TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Selayar TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Maros TA 2009 LKPD Kabupaten Sinjai TA 2009 LKPD Kabupaten Takalar TA 2009 LKPD Kabupaten Tana Toraja TA 2009 LKPD Kabupaten Toraja Utara TA 2009 LKPD Kota Palopo TA 2009 LKPD Kabupaten Bombana TA 2009 LKPD Kabupaten Buton Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kolaka Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Majene TA 2009 LKPD Provinsi Maluku TA 2009 LKPD Kabupaten Buru TA 2009 LKPD Kabupaten Buru Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara Barat TA 2009 LKPD Kota Ambon TA 2009 LKPD Kota Tual TA 2009 LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur TA 2008 LKPD Provinsi Maluku Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 88 Provinsi Kalimantan Timur 89 90 91 92 93 15 94 Provinsi Sulawesi Utara 95 96 97 16 98 Provinsi Sulawesi Selatan 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 17 109 Provinsi Sulawesi Tenggara 110 111 112 113 18 19 114 Provinsi Sulawesi Barat 115 Provinsi Maluku 116 117 118 119 120 121 122 123 124 20 125 Provinsi Maluku Utara 126 127 128 129 169 .

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. Jawa Tengah. Hongkonh. Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota di DKI Jakarta. dan Kuwait 1 170 . Riyadh. Singapura. dan Nusa Tenggara Timur Serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI.Lampiran 56 No 130 131 132 21 133 Provinsi Papua 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 22 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 153 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Halmahera Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Sula TA 2009 LKPD Kota Tidore Kepulauan TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2009 LKPD Kabupaten Jayawijaya TA 2009 LKPD Kabupaten Mappi TA 2009 LKPD Kabupaten Merauke TA 2009 LKPD Kabupaten Mimika TA 2009 LKPD Kabupaten Nabire TA 2009 LKPD Kabupaten Paniai TA 2009 LKPD Kabupaten Puncak Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Sarmi TA 2009 LKPD Kabupaten Supiori TA 2009 LKPD Kabupaten Tolikara TA 2009 LKPD Kabupaten Waropen TA 2009 LKPD Kabupaten Yahukimo TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2008 LKPD Provinsi Papua Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Fakfak TA 2009 LKPD Kabupaten Manokwari TA 2009 LKPD Kabupaten Raja Ampat TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Teluk Bintuni TA 2009 147 Provinsi Papua Barat 148 149 150 151 152 153 II Laporan Keuangan Badan Lainnya 1 154 Kementerian Agama 155 2 156 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 1 1 LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1429 H/ 2008 M LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430 H/ 2009 M LK West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010 di Jakarta LK PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) TB 2009 di Surabaya LK Konsolidasi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009 di Batam LK PDAM Kota Padang TB 2009 3 4 157 PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 158 Badan Pengusahaan Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 1 1 5 159 Provinsi Sumatera Barat Jumlah LHP Keuangan 1 6 159 PEMERIKSAAN KINERJA III Tenaga Kerja Indonesia 1 160 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.Halaman 4 . Jeddah.

Balai Embrio Ternak Cipelang Balai Inseminasi Buatan Lembang. Kantor Pelabuhan Biringkasi. dan Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Sulawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Brebes. Kantor Bandar Udara H. dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Keuangan. dan Provinsi Papua Barat Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. Administrator Pelabuhan Makassar. Pertanian. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Administrator Pelabuhan Makassar. Rembang. Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Suawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang-Rembang di Provinsi Jawa Tengah Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah. direktorat Jenderal Bina Marga. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas di Jakarta Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 pada Kementerian Pertanian. Kantor Pelabuhan Sanana. Dinas Pertanian.Halaman 5 . Pamekasan. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur di Jakarta. I. Jawa Timur. Energi. Kantor Pelabuhan Sinjai. direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta IV Program Stimulus Belanja Infrastruktur 1 161 Kementerian Keuangan. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota di Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Maluku Utara. Sulawesi Barat. Provinsi DKI Jakarta. Kantor Pelabuhan Selayar. direktorat Jenderal Cipta Karya. Jawa Tengah. Kantor Pelabuhan Buli dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Provinsi Sumatera Utara. Perhubungan. Provinsi Jawa Tengah. Probolinggo. Banten. Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. dan Nusa Tenggara Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat. Sampang. Peternakan. Nusa Tenggara Barat. Aroeppala Selayar. Kantor Pelabuhan Jampea. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2 162 Kementerian Pertanian 1 3 163 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1 4 164 Kementerian Perhubungan 1 165 1 166 1 167 1 168 1 5 169 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 1 6 170 Kementerian Pekerjaan Umum 1 171 . Kantor Bandar Udara H. Perkebunan Provinsi DKI Jakarta.Lampiran 56 No Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum. Yogyakarta. Lampung. D. Sikka dan Flores Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja di Lingkungan Sekretaris Jenderal. Kantor Pelabuhan Gebe. Jawa Barat. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di Jakarta. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Bandung dan Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Di Provinsi DKI Jakarta. Pekalongan. Kantor Pelabuhan Jeneponto. Aroeppala Selayar. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Papua.

Lampiran 56 No 171 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan. dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. Provinsi Jawa Timur. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Semarang SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Jawa Tengah SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Jawa Tengah Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Jawa Tengah SKS Pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Semarang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Ii. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah Ii. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air CimanukCisanggarung. Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi 172 1 173 1 174 1 175 1 176 1 177 1 172 . SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur.Halaman 6 . Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Vii. dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V di Surabaya. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan.

Lampiran 56 No 178 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat.Halaman 7 . SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X. SNVT PJJ FakFak. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. SNVT PJJ Sorong dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Program Stimulus Belanja Infratruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Kepahiang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Bina Marga Dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi Kabupaten Demak di Demak Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Kabupaten Nganjuk di Nganjuk Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di Tulungagung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek di Trenggalek 179 1 180 1 181 1 182 1 183 1 184 1 185 1 186 1 187 1 188 1 189 1 190 1 173 .

Halaman 8 . 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Deli Serdang 207 1 208 1 174 .d.Lampiran 56 No 191 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Kinerja atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur bidang Pekerjaan Umum tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangkaraya di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala di Marabahan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Donggala Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Parigi Moutong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Maros Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas PU Kab Halmahera Timur di Maba Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Prov Maluku Utara di Sofifi Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni 192 1 193 1 194 1 195 1 196 1 197 1 198 1 199 1 200 1 201 1 202 1 203 1 204 1 205 1 45 V Pengelolaan Hutan Mangrove 1 206 Kementerian Kehutanan 1 Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 ( Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Batu Bara serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Batu Bara Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Asahan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.

Halaman 9 . 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan. dan Kehutanan Kota Batam serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Batam Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pemeliharaan Peralatan. dan Farmasi dala menunjang Kesehatan yang Prima dan Paripurna pada RSU Mayjen H. dan Rekam Medik dalam Menunjang Pelayanan Kesehatan Paripurna Terpadu yang bermutu pada RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bintan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Perikanan. Rawat Inap. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Serdang Bedagai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.d. Pertanian. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian. 2010 (Semester I) pada Kementerian Kehutanan Beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Instansi Terkait Lainnya di Jakarta (Pusat) dan Provinsi Sumatera Utara.d.Lampiran 56 No 209 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.Achmad Mochtar Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Inap.d. Riau.d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjung Pinang serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Tanjung Pinang Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pelayanan Farmasi.d.A.d.d. Thalib Kabupaten Kerinci TA 2009 dan Semester I 2010 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 3 224 Provinsi Jambi 1 225 1 175 . 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Rokan Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Dumai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Natuna Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Pelayanan Non Medis pada RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektifivitas Pelayanan Farmasi. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Langkat Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bengkalis Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Karimun Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. dan Kepulauan Riau 210 1 211 1 212 1 213 1 214 1 215 1 216 1 217 1 218 1 219 1 220 1 15 VI Penyelenggaraan Ibadah Haji 1 221 Kementerian Agama 1 1 VII Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1 2 222 Provinsi Sumatera Barat 223 Provinsi Riau 1 1 Pelayanan Kesehatan RSUD DR.

Saiful Anwar TA 2009 dan 2010 di Malang Efektivitas Pelayanan Farmasi. dan Rawat Inap pada RSUD Kabupaten Nganjuk TA 2009 dan 2010 di Nganjuk Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan TA 2009 dan 2010 di Pasuruan Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Dr.A.Triwulan III 2010 pada RSUD Cengkareng Prov.DKI Jakarta Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. Ashari Kabupaten Pemalang T. R. Juni) pada RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan Efektivitas Pelayanan Farmasi. Sumber Daya Manusia. dan Rawat Inap pada RSD Mardi Waluyo TA 2009 dan 2010 di Blitar Efektivitas Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap pada RSD dr.Lampiran 56 No 4 Nama Entitas 226 Provinsi Sumatera Selatan 227 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Sekayu di Sekayu Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Dr. M.A. Sumber Daya Manusia. 2009 dan Semester I 2010 di Pemalang Kinerja Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Farmasi pada Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Kabupaten Semarang T. Soebandi Kabupaten Jember TA 2009 dan 2010 di Jember Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan dan Instalasi Farmasi pada RSUD Kabupaten Jombang TA 2009 dan 2010 di Jombang Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSU Dr.A. M.A. 2009 dan Semester I 2010 di Ungaran Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang T.Halaman 10 .d. 2009 dan Semester I 2010 di Purbalingga Pemeliharaan Sarana Medis dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Atambua Kabupaten Belu Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.C. Harjono Kabupaten Ponorogo TA 2009 dan 2010 di Ponorogo Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSUD Dr. Hillers Kabupaten Sikka 5 6 228 Provinsi Bengkulu 229 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 7 230 Provinsi DKI Jakarta 1 8 231 Provinsi Jawa Tengah 1 232 1 233 1 234 1 9 10 235 Provinsi DI Yogyakarta 236 Provinsi Jawa Timur 237 1 1 1 238 1 239 240 241 1 1 1 242 1 243 11 244 Provinsi Bali 1 1 245 1 12 246 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 247 1 176 . Soewandhie TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pelayanan Medis di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Singaraja Pengelolaan Penunjang Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Kabupaten Gianyar Tahun Aggaran 2009 dan 2010 di Gianyar Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bengkulu Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Kota Pangkalpinang TA 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Pangkalpinang Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi TA 2009-s. 2009 dan Semester I 2010 di Magelang Pelayanan Farmasi dan Rawat Jalan TA 2009 dan 2010 (s. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah T.d. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga T.

Dr. 2009 dan 2010 pada RSUD Sanggau di Sanggau Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal RSUD Dr. Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Polewali Kinerja Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Soasio RSUD Dr. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008.d. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi di Sidikalang Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Aloei Saboe Kota Gorontalo Di Gorontalo Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi. Murjani TA 2009-2010 (s.H.d 30 September) pada RSUD Undata di Palu Kegiatan Pelayanan Pasien TA 2009 dan 2010 (s. Semester I 2010 pada Kabupaten Samosir di Pangururan 268 1 177 . 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan di Padangsidimpuan Pelayanan Kesehatan Pemerintah Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 265 1 2 266 Provinsi Sumatera Barat 1 3 VIII Pendidikan 1 267 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. Semester I 2010 pada Kabupaten Mandailing Natal di Panyabungan Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. Pelayanan Rawat Inap dan Instalasi Farmasi TA 2009 dan 2010 (s.d. Juni) di Sampit Kinerja Pengelolaan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Kotabaru Tahun Anggaran 2009 dan 2010 ( Sememster I) Efektivitas Pengelolaan Pelayanan Rawat Inap dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada RSUD Tarakan di Tarakan.d Triwulan III) pada RSUD Kabupaten Wajo Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Tani Dan Nelayan Kabupaten Boalemo Di Tilamuta Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof.Halaman 11 . dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Soe di Soe Pelayanan Kesehatan TA. Sumber Daya Manusia. 2009 s.Chasan Boesoreiree Provinsi Maluku Utara tahun 2009 dan Semester I tahun 2010 Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika TA 2009 di Timika Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Nabire TA 2009 di Nabire Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Manokwari di Manokwari Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong di Sorong 13 14 15 249 Provinsi Kalimantan Barat 250 Provinsi Kalimantan Tengah 251 Provinsi Kalimantan Selatan 1 1 1 16 17 18 19 252 Provinsi Kalimantan Timur 253 Provinsi Sulawesi Tengah 254 Provinsi Sulawesi Selatan 255 Provinsi Gorontalo 1 1 1 1 256 1 20 257 Provinsi Sulawesi Barat 1 21 258 Provinsi Maluku Utara 259 1 1 1 1 1 22 260 Provinsi Papua 261 23 262 Provinsi Papua Barat 263 1 42 Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 1 264 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. H.Lampiran 56 No 248 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. 2009 s.d.

Prasarana dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dan Instansi Terkait TA 2009 Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Bintan di Kijang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik dalam Menunjang Pendidikan Dasar dan Menengah TA 2009 dan 2010 (Semester I) pada Pemerintah Kabupaten Karimun di Tanjung Balai Karimun Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Menunjang Program Pendidikan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 2 Nama Entitas 269 Provinsi Sumatera Barat 270 271 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kinerja Pendidikan Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Solok TA 2009 dan 2010 Pengelolaan Sarana. Kegiatan distribusi Air Bersih dan Kegiatan Penagihan dan Penanganan Tunggakan Serta Keluhan Pelanggan TA 2009 dan 2010 PDAM Kota Balikpapan di Balikpapan 9 178 . Triwulan III) Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar Dalam Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam Menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Minahasa Utara TA 2009 dan Semester I 2010 3 272 Provinsi Riau 4 273 Provinsi Kepulauan Riau 1 274 1 5 275 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 6 276 Provinsi Kalimantan Tengah 1 7 277 Provinsi Sulawesi Utara 1 278 1 Pengelolaan Sarana dan prasarana serta tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kepulauan Sangihe TA 2009 dan Semester I 2010 Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar untuk Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali TA 2009 dan Semester I 2010 di Bungku 8 279 Provinsi Sulawesi Tengah 1 13 IX Kinerja PDAM 1 2 3 280 Provinsi Jambi 281 Provinsi Bengkulu 282 Provinsi Lampung 283 4 284 Provinsi Jawa Barat 285 5 6 7 286 Provinsi Banten 287 Provinsi Kalimantan Barat 288 Provinsi Kalimantan Timur 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kinerja PDAM Tirta Mayang Kota Jambi Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) Kinerja PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2009 dan 2010 Semester I di Argamakmur Kinerja PDAM Way Bumi TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Way Rilau TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung TB 2009 dan Semester I 2010 di Cimahi Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor TA 2009 dan Semester I 2010 di Bogor Sistem Penyediaan Air Minum TB 2009 dan Semester I 2010 pada PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang di Serang Kinerja PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Tahun 2009 dan Semester I 2010 di Pontianak Efektivitas Pengelolaan Kegiatan Penyediaan Air Bersih.Halaman 12 .

STNK. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. BPKB (SSB) pada Polda Lampung. 2009. Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang Pengelolaan Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Di Jakarta Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. dan Polda DIY di Bandar Lampung. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. Kegiatan Bursa Pariwisata Internasional dan Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata TA 2008. Pelayanan Perijinan pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan Semester I TA 2010 Efektivitas Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait TA 2009 dan 2010 Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Penanggulangan Gizi Buruk pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung Kegiatan Pemeliharaan. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Cilacap dan Balikpapan 289 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2 290 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1 3 4 291 Kementerian Pertahanan 292 Kementerian Keuangan 1 1 293 1 294 1 295 1 5 296 Kementerian Kehutanan 1 6 297 Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata 1 7 298 Kementerian Perumahan Rakyat 1 8 299 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 9 300 Provinsi DKI Jakarta 1 10 301 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 11 302 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 12 13 303 Provinsi Nusa Tenggara Barat 304 PT Pertamina (Persero) 1 1 179 . serta Perusahaan di Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Jawa Timur. Serang dan Yogyakarta Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan di Jakarta Efektivitas Penyelenggaraan. Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 Semester I pada PT Pertamina (Persero) Dit.Lampiran 56 No X Kinerja Lainnya 1 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang Pelayanan SIM. Polda Banten.Halaman 13 . dan Kepulauan Riau.

Yogyakarta. Jawa Barat dan Jawa Tengah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Jakarta. Medan. Kalimantan Selatan.I. Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Bengkulu. Kalimantan Barat.Medan 15 306 PT Perkebunan Nusantara II (Persero) 1 18 Jumlah LHP Kinerja PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU XI Pendapatan dan Pelaksanaan Belanja 1 307 Mahkamah Agung 147 1 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP serta Penerimaan Penanganan Perkara pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Wilayah DKI Jakarta. Provinsi NAD. Bukittinggi dan Makasar Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan2010 pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Budapest di Hongaria Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Kuala Lumpur di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Moskow di Rusia 2 308 Kejaksaan Republik Indonesia 1 309 1 310 1 3 311 Kementerian Dalam Negeri 1 312 1 313 1 314 1 315 1 4 316 Kementerian Luar Negeri 317 318 1 1 1 180 . Bandung dan Semarang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung di Bandar Lampung Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak Pengelolaan Pendapatan dan Belanja (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta. Jambi. D. Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Solok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (ditjen PMD) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Bangka Belitung. Sumatera Utara. Jawa Barat. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Sumedang. Kalimantan Selatan.Lampiran 56 No 14 Nama Entitas 305 PT Garuda Indonesia (Persero) Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta Kinerja pada PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . Jambi. Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan Serta Instansi Terkait Lainnya Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Parpol TA 2008 dan 2009 pada Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Sekretariat DPP Parpol di Jakarta dan Badan/ Kantor Kesbangpol di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Bangka Belitung.Halaman 14 . Sumatera Utara. Pekanbaru. Serta Sekretariat DPD dan DPC Parpol pada Provinsi Sumatera Utara.

Halaman 15 . 2008. Banjarmasin. Parepare. Pematang Siantar. Malang dan Madiun Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2009 dan 2010 dan Kerja sama Pihak Ketiga pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dan Instansi Terkait di Jakarta dan Cilacap Penerimaan Kepabenan dan Cukai Serta Penerimaan Negara Lainnya pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. KPPBC Tipe A2 Banjarmasin. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Merak. KPPBC Tipe A2 Bandar Lampung dan KPPBC Tipe A3 Amamapare Di Jakarta.Lampiran 56 No 319 320 321 322 5 323 Mabes TNI Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Seoul di Korea Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Ho Chi Minh City di Vietnam Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Johor Bahru di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Penang di Malaysia Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Staf Intelijen (SINTEL) TNI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) di Jakarta dan Bogor Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) dan jajaran terkait di Surabaya Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2007. Bandar Lampung dan Timika Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya pada 16 (Enam Belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 dan 2010 DI Jakarta. Cibitung. Malang. Solo. Gresik. Batam. dan Medan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Pluit di Jakata Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing LIma di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batu di Malang Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Cibitung di Cibitung 6 324 TNI AL 1 325 1 7 326 TNI AU 1 8 327 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 1 9 328 Kementerian Keuangan 1 329 1 330 1 331 1 332 333 1 1 334 335 336 1 1 1 337 338 339 1 1 1 181 . Merak. dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) dan jajaran terkait Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Koharmatau dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung. Bandung.

Bekasi. dan Kanwil DJBC Jawa Barat Serta Instansi Vertikal dibawahnya Kementerian Keuangan TA 2009 dan 2010 di Jakarta. dan Surakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 Di Jakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Barat dan Jambi dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Padang dan Jambi 344 345 346 347 348 1 1 1 1 1 349 350 351 1 1 1 352 1 353 354 355 1 1 1 356 1 357 1 358 1 359 360 1 1 182 . Makasar dan Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pontianak. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 dan 2008 pada Bank Pembangunan Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Tengah Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Pemangunan Daerah Kalimantan Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Pengadaan Barang dana Jasa Pemerintah pada Kamtor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Kanwil DJBC Sulawesi. Padang.Halaman 16 . Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Kalimantan Bagian Barat. Bandung. Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. Kanwil DJP Jawa Barat II. Serta Kanwil DJP Jawa Tengah II TA 2008 dan 2009 di Jakarta.Lampiran 56 No 340 341 342 343 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Bandung Tegallega di Bandung Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batam di Batam Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Gresik Utara di Gresik Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Pematang Siantar di Pematang Siantar Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Parepare di Parepare Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat di Medan Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Mandiri (persero) Tbk. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank DKI Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank BJB Tbk. Lampung. Kanwil DJP Jawa Barat I. Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Lampiran 56 No 361 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu Dan Lampung dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Lampung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bekasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Surakarta Belanja Barang dan Belanja Modal BPH Migas TA 2009 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru. Jawa Barat.Halaman 17 . Dinas Sosial Provinsi dan Instansi terkait di Jakarta.d. dan Satuan Kerja Bandar Udara FL Tobing Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin di Jambi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Walisongo di Semarang Pelaksanaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Tahun 2009 dan 2010 (s. Kalimantan Selatan. Triwulan III/2010) pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (BBPLKDN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Bandung Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Sosial. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kota Surabaya I dan Kota Surabaya II di Surabaya Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Kalimantan Barat dan Lampung Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN TA 2009 dan 2010 pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta 362 1 363 1 364 1 10 11 365 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 366 Kementerian Perhubungan 1 1 12 367 Kementerian Pendidikan Nasional 1 13 368 Kementerian Agama 1 369 1 370 14 371 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 372 1 15 373 Kementerian Sosial 1 16 374 Badan Pertanahan Nasional 1 375 1 376 1 377 1 183 . Satuan Kerja Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli. dan Jawa Timur.

Modal TA 2008 dan 2009 pada Ditpolair Mabes Polri Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. dan Lampung Pemeriksaan Atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal T A 2009 dan 2010. Dinas Kesehatan. dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Lhoksukon TA 2009 dan 2010 Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kota Medan di Medan Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang di Lubuk Pakam Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Tengah di Pandan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya TA 2009 dan 2010 18 379 Kepolisian Republik Indonesia 380 381 382 1 1 1 1 19 383 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 20 384 Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi 1 21 385 Kementerian Perdagangan 1 22 386 Taman Mini Indonesia Indah 1 23 387 Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS 1 24 25 388 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas 389 Provinsi Aceh 1 1 390 1 391 1 26 392 Provinsi Sumatera Utara 393 394 395 1 1 1 1 1 1 1 27 396 Provinsi Sumatera Barat 397 398 184 . Yogyakarta. serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Polda Sulawesi Utara di Manado Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada Provinsi Jawa Tengah di Semarang Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta. Makasar dan Gowa Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan 2010 serta Aset Negara pada Taman Mini Indonesia Indah dan Instansi Terkait di Jakarta Pengelolaan dan pertanggungjawaban Dana Tabungan Perumahan PNS pada BAPERTARUM PNS TA 2009 dan Semester I 2010. dan Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kabupaten Aceh Tengah TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Dinas BIna Marga.dan Belanja Modal Kementerian Perdagangan TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. Semarang. Badan Litbang SDM dan MMTC Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta dan Yogyakarta Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku di Ambon Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku Utara di Ambon dan Ternate Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. Pontianak.Halaman 18 . Belanja Modal. Dinas Kesehatan. Dinas Pengairan. Belanja Modal TA 2010 pada Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Pekerjaan Umum.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 378 Kementerian Komunikasi dan Informatika Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Sekretariat Jendral. Dinas Pendidikan dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya di Blangpidie Belanja Daerah Dinas Pekerjaan Umum. DInas Cipta Karya dan Energi Sumber Daya Mineral.

Halaman 19 .Lampiran 56 No 399 400 401 402 403 404 405 28 406 Provinsi Riau Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sijunjung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kota Padang TA 2009 dan 2010 Belanja Modal pada Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 dan Semester I 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Jambi di Jambi Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bungo di Muara Bungo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Merangin di Bangko Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di Sengeti Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Muara Sabak Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Belanja daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Sungai Penuh di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Jambi di Jambi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo di Muaro Bungo Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Biaya Pemilihan Umum Gubenur dan Wakil Gubenur Jambi pada Komisi Pemilihan Umum. dan Instansi terkait lainnya Se-Provinsi Jambi Tahun 2010 pada Provinsi Jambi di Jambi 29 407 Provinsi Jambi 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 423 424 1 1 185 . Panitia Pengawas Pemilihan Umum.

d. Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Kayuagung Belanja Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di Martapura Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kab Muara Enim di Muara Enim Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu di Baturaja Belanja Daerah Tahun 2010 pada Pemerintah Kota Pabumulih di Prabumulih Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Bengkulu TA 2009 dan Semester I TA 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kepahiang di Kepahiang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten Lebong dan Instansi Terkait Lainnya TA 2010 di Tubei Pengelolaan dan PertanggungJawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko TA 2010 di Mokomuko Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong TA 2010 di Curup Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Pilkada Provinsi Bengkulu TA 2010 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Bengkulu di Bengkulu Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Lampung di Bandar Lampung Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang (Pendidikan dan Kesehatan) Pemerintah Provinsi Lampung TA 2010 di Bandar Lampung Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Gunung Sugih Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pesawaran (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Gedong Tataan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tanggamus (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Kota Agung 31 433 Provinsi Bengkulu 434 435 436 437 438 439 1 1 1 32 440 Provinsi Lampung 441 442 443 444 445 1 1 1 1 1 1 446 447 448 33 449 Provinsi Bangka Belitung 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Way Kanan (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Blambangan Umpu Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Pemerintah Kota Metro di Metro Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kota Pangkalpinang di Pangkalpinang 450 1 186 .d.Lampiran 56 No 30 Nama Entitas 425 Provinsi Sumatera Selatan 426 427 428 429 430 431 432 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah TA 2009 – 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang Pendapatan Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Lahat di Lahat. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjungpandan Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 20 .

Pemuda dan Olah Raga. Bappeda. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon di Sumber Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bekasi di Cikarang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut di Garut Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Agustus 2010) pada Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bogor di Cibinong Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandung di Bandung Belanja Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun Aggaran 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat TA 2009 dan 2010 di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Sekretariat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta di Purwakarta. Dinas Bina Marga.Halaman 21 . 455 Provinsi Kepulauan Riau 456 1 457 458 459 35 460 Provinsi DKI Jakarta 461 1 1 1 1 1 462 36 463 Provinsi Jawa Barat 464 465 1 1 1 1 466 467 1 1 468 1 469 1 470 1 471 1 472 1 187 . Dinas Pendidikan. Semester 1 2010) pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dinas Kesehatan. Dinas Bina Marga. Sumber Daya Mineral Kabupaten Ciamis Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah.d. Dinas Kesehatan. Energi. Semester 1 2010) pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Batam di Batam Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset. Dinas Bina Marga. Dinas Kesehatan.Lampiran 56 No 451 452 453 454 34 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung TA 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka TA 2010 di Sungailiat Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah TA 2010 di Koba Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Belitung Timur TA 2010 di Manggar Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Dinas Kesehatan. Dinas Pendidikan. Dinas Kesehatan TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang Belanja Daerah Kabupaten Bekasi TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Sumber Daya Air.

d.Halaman 22 .Lampiran 56 No 37 Nama Entitas 473 Provinsi Jawa Tengah 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Brebes di Brebes Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Kudus di Kudus Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Pekalongan Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Semarang TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Temanggung di Temanggung Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kota Salatiga Pendapatan Asli Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) di Purworejo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. November) pada Pemerintah Kabupaten Klaten di Klaten Belanja Daerah Kabupaten Purworejo TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni 2010) di Yogyakarta Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 di Bantul Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010 di Wonosari Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2010 di Beran Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan TA 2010 di Bangkalan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bondowoso TA 2010 di Bondowoso Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro TA 2010 di Bojonegoro Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik TA 2010 di Gresik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Jember TA 2010 di Jember 38 488 Provinsi DI Yogyakarta 489 490 1 491 1 39 492 Provinsi Jawa Timur 493 494 495 496 497 498 1 1 1 1 1 1 1 188 .d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Karanganyar Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Kendal Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Rembang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Blora di Blora Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.

Lampiran 56 No 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 40 41 519 Provinsi Banten 520 Provinsi Bali 521 522 523 524 525 526 42 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang TA 2010 di Lumajang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Magetan TA 2010 di Magetan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi TA 2010 di Ngawi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pacitan TA 2010 di Pacitan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sampang TA 2010 di Sampang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2010 di Sidoarjo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Situbondo TA 2010 di Situbondo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sumenep TA 2010 di Sumenep Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek TA 2010 di Trenggalek Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tuban TA 2010 di Tuban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung TA 2010 di Tulungagung Belanja Daerah Pemerintah Kota Batu TA 2010 di Batu Belanja Daerah Pemerintah Kota Kediri TA 2010 di Kediri Belanja Daerah Pemerintah Kota Madiun TA 2010 di Madiun Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kota Mojokerto TA 2010 di Mojokerto Belanja Daerah Pemerintah Kota Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah (PAD) TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Banten (s. Juli 2010) di Serang Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Badung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Buleleng di Singaraja TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gianyar TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Jembrana di Negara Belanja Daerah Kabupaten Karangasem TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Kabupaten Klungkung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Tabanan TA 2009 dan 2010 Belanja Barang dan Jasa.Halaman 23 .d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah 527 Provinsi Nusa Tenggara Barat 189 . Belanja Hibah.d.

dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kota Mataram Pelaksanaan Pembangunan Bandara Internasional Lombok (Sumber Dana APBD Provinsi NTB TA 2007 s. Belanja Hibah. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d.d. Belanja Hibah. September 2010) di Muara Teweh Belanja Modal TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Belanja Barang dan Jasa. 30 September 2010) di Buntok Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Utara TA 2010 (s.d.Halaman 24 . 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Belanja Barang dan Jasa.d 2010 dan Sumber Dana APBD Kabupaten Lombok Tengah TA 2008 s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d.d.d 2010) Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Alor Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Belu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lembata Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Nagekeo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Pendapatan Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 di Pontianak Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah TA 2010 di Palangkaraya Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Timur TA 2010 di Barito Layang Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Selatan TA 2010 (s.Lampiran 56 No 528 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Belanja Barang dan Jasa. Belanja Hibah.d 31 Oktober 2010) pada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas di Kuala Kurun 529 1 530 1 531 1 43 532 Provinsi Nusa Tenggara Timur 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 45 547 Provinsi Kalimantan Barat 548 Provinsi Kalimantan Tengah 549 550 551 552 190 .

d.d. 30 September 2010) di Nanga Bulik Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau TA 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan di Salakan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai di Luwuk Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d 30 November 2010) di Kuala Pembuang Belanja Modal pada Pemerintah Kota Palangkaraya TA 2010 di Palangkaraya Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni 2010) di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Barabai Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Pelaihari Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Banjarbaru di Banjarbaru Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I 2010 pada Kota Bitung Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow di Kotamobagu Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa di Tondano Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara di Rantahan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kab Kepulauan Talaud di Melonguane Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Tomohon di Tomohon Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Provinsi Sulawesi Utara Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Manado Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Kota Manado di Manado Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 553 554 555 556 557 558 46 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Katingan TA 2010 di Kasongan Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur di Sampit Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Lamandau TA 2010 (s. September 2010) 559 Provinsi Kalimantan Selatan 560 561 562 563 564 47 565 Provinsi Sulawesi Utara 566 1 1 1 1 1 1 1 567 568 569 570 571 1 1 1 1 1 572 1 48 573 Provinsi Sulawesi Tengah 574 575 576 1 1 1 1 1 1 49 577 Provinsi Sulawesi Selatan 578 191 .d. 31 Oktober 2010) di Pulang Pisau Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Seruyan TA 2010 (s.d. 30 September) pada Provinsi Sulawesi Tengah di Palu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 25 .d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Sigi di Biromaru Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan TA 2009 dan 2010 (s.d. Agustus 2010) Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros TA 2009 dan 2010 (s.

Semester I) Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Luwu TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 579 580 581 582 583 50 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar TA 2009 dan 2010 (s. September) di Kendari Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Muna TA 2009 dan 2010 di Raha Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Majene di Majene Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Mamuju di Mamuju Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Tobelo Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di Maba Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Weda Belanja Daerah Tahun 2009 (Semester II) dan Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Labuha Belanja Daerah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai di Daruba Belanja Daerah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan TA 2010 (s. Semester I) Belanja Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang TA 2009 dan 2010 (s. September) di Kendari Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Kendari TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) di Soasio Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Lanny Jaya Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Nduga 584 Provinsi Sulawesi Tenggara 585 586 51 587 Provinsi Sulawesi Barat 588 589 590 52 591 Provinsi Maluku Utara 592 593 594 595 596 597 598 599 53 600 Provinsi Papua 601 XII Manajemen/Pengelolaan Aset 1 2 602 Provinsi Bengkulu 603 Provinsi Jawa Timur 1 1 1 1 295 1 1 Manajemen Aset Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2009 dan 2010 di Sidoarjo Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya 604 1 192 . September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Sinjai TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Semester I) Belanja Daerah Kota Parepare TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d..Halaman 26 .d.

Juli) pada PDAM Lematang Enim di Muara Enim.d 30 Juni 2010) di Banjarmasin Pengelolaan Aset Tetap TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong di Parigi Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Tana Toraja TA 2009 dan 2010 (s.d. 2 627 Provinsi Sumatera Selatan 1 193 .Lampiran 56 No 3 605 Provinsi Bali Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Buleleng TA 2009 dan 2010 (sampai dengan 30 Juni 2010) di Singaraja Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jembrana TA 2009 dan 2010 sampai dengan 30 Juni 2010) di Negara Pengelolaan Aset Pemerintah Kota Banjarmasin Tahun 2009 dan 2010 (s. September 2010) di Masamba 606 4 5 6 607 Provinsi Kalimantan Selatan 608 Provinsi Sulawesi Tengah 609 Provinsi Sulawesi Selatan 610 1 1 1 1 1 9 XIII Belanja Daerah Bidang Infrastruktur 1 611 Provinsi Lampung 612 613 2 614 Provinsi DI Yogyakarta 615 3 616 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Kalianda Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Sukadana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Menggala Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Bantul TA 2009 dan 2010 di Bantul Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo TA 2009 dan 2010 di Wates Pelaksanaan Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Non Jalan dan Jembatan Prov. Juni 2010) di Makale Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Luwu Utara TA 2009 dan 2010 (s. Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kayong Utara TA 2009 dan 2010 di Sukadana Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kubu Raya TA 2009 dan 2010 di Sungai Raya Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sambas TA 2009 dan 2010 di Sambas Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sanggau TA 2009 dan 2010 di Sanggau Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Binamarga Pemerintah Kabupaten Nunukan TA 2009 dan 2010 di Nunukan.d. Belanja Infrastruktur Kabupaten Boalemo TA 2009 dan 2010 Pemeriksaan Belanja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo TA 2009 dan 2010 Belanja Infrastruktur Kabupaten Gorontalo Utara TA 2009 dan 2010 617 618 619 620 4 621 Provinsi Kalimantan Timur 622 1 1 1 1 1 1 5 623 Provinsi Gorontalo 624 625 1 1 1 15 XIV Operasional PDAM 1 626 Provinsi Sumatera Barat 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan Daerah (Pendapatan dan Belanja Perusahaan) PDAM Kota Bukittinggi TB 2009 dan 2010 Kegiatan Operasional PDAM TB 2009 dan TB 2010 (s. Belanja Daerah Infrastruktur Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara TA 2009 dan 2010 di Penajam Paser Utara.d.Halaman 27 .

Halaman 28 .d. serta instansi lain yang terkait di Jakarta dan Natuna 2 650 BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. 1 194 . 30 Juni) pada Kabupaten Tojo Una-una di Ampara Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Donggala di Banawa Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Buol di Buol Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) pada PDAM Kabupaten Buleleng di Singaraja Realisasi Pendapatan.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. Prabumulih dan Cirebon Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Kakap pada BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. 30 Juni) pada Kabupaten Poso di Poso Operasional PDAM UE Tanah Tahun 2009 dan 2010 (s. Agustus) Operasional PDAM Intan Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan TB 2009 dan 2010 (s. Juni) Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) pada PDAM Kota Denpasar di Denpasar Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh PDAM Menang Mataran TB 2009 dan 2010 (s. Semester I) pada PDAM Kabupaten Karangasem di Amlapura Realisasi Pendapatan. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d. 30 Juni 2010) di Polewali Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Jayapura TB 2008 dan 2009 di Sentani 4 634 Provinsi Bali 635 1 636 5 6 7 637 Provinsi Nusa Tenggara Barat 638 Provinsi Kalimantan Selatan 639 Provinsi Sulawesi Tengah 640 641 642 643 644 645 8 9 10 646 Provinsi Sulawesi Selatan 647 Provinsi Sulawesi Barat 648 Provinsi Papua 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23 XV Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi 1 649 BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP 1 Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Eks Pertamina Block pada BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP serta instansi terkait di Jakarta.d. 30 Juni) pada Kabupaten Morowali di Kolonodale Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 628 Provinsi Jawa Timur 629 630 631 632 633 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Banyuwangi TA 2009 dan Semester I 2010 di Banyuwangi Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Blitar TA 2009 dan Semester I 2010 di Blitar Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Kediri TA 2009 dan Semester I 2010 di Kediri Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Madiun TA 2009 dan Semester I 2010 di Madiun Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Mojokerto TA 2009 dan Semester I 2010 di Mojokerto Kegiatan Operasional PDAM Kota Pasuruan TA 2009 dan Semester I 2010 di Pasuruan Realisasi Pendapatan.d. Semester I) Operasional PDAM Kabupaten Polewali Mandar TB 2009 dan TB 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Tolitoli di Tolitoli Pendapatan dan Belanja PDAM Kota Makassar TB 2009 dan 2010 (s.d.d.d. 30 Juni) pada Kabupaten Banggai di Luwuk Operasional PDAM Motanang Tahun 2009 dan 2010 (s.d.

2009 dan Semester I 2010 pada PT Pengembangan Investasi Riau di Pekanbaru 195 . Jakarta. Denpasar dan Makassar Pengelolaan Pendapatan. Produksi. dan Kupang 2 653 PT Pertamina (Persero) 654 1 1 3 655 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) 1 4 656 PT Kereta Api (Persero) 1 5 657 PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) 1 6 XVII Operasional BUMN 1 658 PT (Persero) Angkasa Pura II 1 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu pada PT (Persero) Angkasa Pura II TA 2006 dan 2007 di Tangerang.Halaman 29 .Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 651 BPMIGAS dan KKKS JOB Pertamina .d.d. 2005 pada PT Pertamina (Persero) di Jakarta Subsidi Jenis BBM Tertentu tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat. VII dan Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I s. Biaya dan Investasi TB 2008. dan Makasar Perhitungan Subsidi Pupuk Produksi PT Pupuk Iskandar Muda yang Disalurkan PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) TA 2009 pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Iskandar Muda di Jakarta dan Lhokseumawe Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum Angkutan Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi (PSO) TA 2009 pada PT Kereta Api Indonesia di Bandung.d. Pengendalian Biaya dan Kegiatan Investasi Tahun 2007. Surabaya. Medan dan Padang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu PT Adhi Karya (Persero) Tbk TB 2008 dan 2009 (s. Penjualan dan Investasi TB (TB) 2008. dan Surabaya Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkatan Laut Penumpang Kelas Ekonomi dalam Negeri TA 2009 pada PT Pelayaran Nasional Indonesia di Jakarta. 2009 dan 2010 (Triwulan I) pada PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Semarang. Semarang. Triwulan III) di Jakarta. Balikpapan.d. Pengendalian Biaya. Triwulan III) pada BTDC Kegiatan Pengadaan.d. 2008. Yogyakarta. Jakarta. Surabaya. Jakarta. Palembang.d. Balikpapan. 2009 pada Bank Indonesia Tambahan Penggantian biaya Subsidi BBM TB 2003 s. 2008 dan 2009 (s. (PT KF) dan Anak Perusahaan yaitu PT Kimia Farma Trading dan Distribution (PT KFTD) Pengelolaan Pendapatan. Dan 2009 (Semester I) pada PT Nindya Karya (Persero) Kegiatan Pengelolaan Pendapatan. dan Investasi TB 2008 dan 2009 (s.Petrochina East Java Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Wil. Pengendalian Biaya dan Kerjasama Operasi TB 2007. Semester I) pada PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang 2 659 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1 3 660 Bali Tourism Development Corporation 1 4 661 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 1 5 662 PT Nindya Karya (Persero) 1 6 663 PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) 1 6 XVIII Operasional BUMD 1 2 664 Provinsi Sumatera Utara 665 Provinsi Riau 1 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan TB 2009 dan 2010 pada PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan Pengelolaan Pendapatan. Kerja Tuban Tahun 2009 pada BP Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor KKKS JOB Pertamina Petrochina East Java di Jakarta dan Surabaya 3 XVI Subsidi Pemerintah 1 652 Bank Indonesia 1 Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Untuk TA 2007 s. Medan. IV di Medan.d. Unit Pemasaran BBM Retail Region I s.

Jambi.Z.Halaman 30 . Riau. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Tebo dan 27 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Tebo Kegiatan Operasional RSUD TA 2009 dan 2010 pada RSUD Dr. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Jambi. Dr W. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. 2009 dan Semester I 2010 pada PD Sarana Pembangunan Siak di Siak Sri Indrapura Pelaksanaan Perjanjian Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta ManunggalPratama dalam Pembangunan dan Pengelolaan Jambi Tepian Ratu Reverview Hotel dan Resort Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Karimun TB 2009 dan 2010 (s. Banjarmasin dan Samarinda Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perijinan. Padang..d. Bagi Hasil.d. Sarolangun dan 62 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Pirngadi Medan di Medan Kegiatan Operasional RSUD Dr. Kalsel. Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Kegiatan Operasional Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Tahun 2009 dan 2010 di Provinsi Samarinda. 11 Kontrak PKB2B dan 549 Pemegang Kuasa Pertambangan/ Izin Usaha Pertambangan di Jakarta. Semester 1 2010) di Ranai Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama TB 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Kegiatan Operasional PD Pasar Surya TA 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Perusahaan Daerah Aneka Usaha Prov.d. 2009 dan 2010 (Semester I) di Masohi 3 667 Provinsi Jambi 1 4 668 Provinsi Kepulauan Riau 1 669 5 670 Provinsi Jawa Timur 671 6 7 8 672 Provinsi Kalimantan Barat 673 Provinsi Kalimantan Timur 674 Provinsi Maluku 1 1 1 1 1 1 11 XIX Operasional RSUD 1 2 3 675 Provinsi Sumatera Utara 676 Provinsi Sumatera Barat 677 Provinsi Lampung 678 4 679 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 1 1 1 1 5 XX Pengelolaan Pertambangan Batu Bara 1 680 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pengelolaan Pertambangan Batubara TA 2008 s. Ryacudu Pendapatan dan Belanja RSUD Prof. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Abdul Moeloek di Bandar Lampung Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD Mayjen. Bungo dan 58 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Sarolangun Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Adnaan WD TA 2009 dan 2010 di Payakumbuh Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD DR. Batanghari dan 45 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan Serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bulian Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. Bagi Hasil. Semester 1 TA 2010 pada Kementerian ESDM 13 Pemerintah Kab/ Kota di Prov. PNBP. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil. H. Operasional PD Praja Karya Kabupaten Maluku Tengah TB 2008. PNBP. H.d. Sumbar.Lampiran 56 No 666 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pendapatan. Biaya dan Investasi Tahun Buku 2008. Johannes di Kabupaten Kupang 681 1 682 1 683 1 684 1 196 .d. Kaltim. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. PNBP. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bungo Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.M. Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kab. Pekanbaru.d. Semester 1 2010) di Tanjung Balai Karimun Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Natuna TB 2009 dan 2010 (s.

serta Instansi Terkait Lainnya di Tembilahan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Bagi Hasil.Lampiran 56 No 685 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Indragiri Hulu dan 20 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. PNBP. PNBP. Kuantan Singingi dan 9 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. Tanah Laut Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Muaro Sjunjung Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Batulicin Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. BPR Bank Bantul TB 2009 dan 2010 (s. serta Instansi Terkait Lainnya di Rengat Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. dan Instansi Terkait Lainnya di Pelaihari Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. Bagi Hasil. Berau dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Teluk Kuantan 686 1 687 1 688 1 689 1 690 1 691 1 692 1 693 1 14 XXI Operasional Bank Daerah 1 2 3 694 Provinsi Sumatera Barat 695 Provinsi Jambi 696 Provinsi Jawa Tengah 697 Provinsi DI Yogyakarta 698 4 699 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 1 1 1 1 1 Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat TB 2009 dan 2010 Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Kuala Tungkal Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) TB 2009 dan 2010 di Semarang Operasional Bank pada PD. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Tanjung Redeb Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Sijunjung dan 21 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Bagi Hasil. Sawah Lunto dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. BPR Bank Sleman Tahun Buku 2009 dan 2010 (s.d. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Sawah Lunto Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Bagi Hasil. Bagi Hasil. Juni 2010) di Bantul Operasional Bank pada PD.d.d.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Bank NTB TB 2009 dan Semester I 2010 197 .Halaman 31 . dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. serta Instansi Terkait Lainnya di Tenggarong Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Juni 2010) di Beran Pengelolaan Non Performing Loan (NPL) dan Pembagian Laba Untuk dana Peduli Sosial Kemasyarakatan PT. PNBP. Tanah Bumbu Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Bagi Hasil. PNBP. Indragiri Hilir dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Kutai Kartanegara dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d.

Poso. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur TB 2009 dan 2010 (Operasional) Operasional PT.d.d 30 september 2010) pada PT Bank Sulut Serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo Operasional Bank Tahun 2009 dan 2010 (s.06 TA 2009 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Bank Kalimantan Tengah TB 2009-2010 (s. Buol. Martadinata Seluas 653.06) TA 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.42 M2 pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta Penelitian Atas Tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling Dalam Rangka Risk Sharing Antara Pemerintah.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Luwuk.06) TA 2009 pada Kementerian Sosial di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Bank Indonesia.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.d 30 September 2010 pada PT Bank Sulteng dan Kantor Cabang di Palu. Tolitoli dan Parigi Moutong 8 703 Provinsi Sulawesi Tengah 1 10 XXII PDTT Lainnya 1 2 704 Kementerian Keuangan 705 Kementerian Pekerjaan Umum 1 1 Dana Bagi Hasil Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) pada Kementerian Keuangan Amblasnya Sisi Utara Jalan R.06 TA 2009 pada Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.Halaman 32 . Semester I) di Palangkaraya Kegiatan Operasional TB 2009 dan 2010 (s. dan Perum Jamkrindo Pengelolaan Belanja Subsidi Tahun 2009 dan Belanja LainLain Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.Lampiran 56 No 5 6 7 Nama Entitas 700 Provinsi Nusa Tenggara Timur 701 Provinsi Kalimantan Tengah 702 Provinsi Sulawesi Utara Daftar LHP Jml 1 1 1 Objek Pemeriksaan PT.06) TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta 4 706 Bank Indonesia 1 5 6 707 Kementerian Keuangan 708 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 7 709 Kementerian Sosial 1 8 710 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 9 711 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 1 10 712 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 1 11 713 Badan Pertanahan Nasional 1 12 714 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 13 715 Lembaga Administrasi Negara 1 14 716 Badan Kepegawaian Negara 1 15 717 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 16 718 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 1 198 .06 TA 2009 pada Lembaga Administrasi Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.E.06) TA 2009 pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.

06) TA 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP RRI Program Swasembada Pangan dan Pengelolaan Saluran Irigasi Tersier pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi TA 2008 dan 2009 di Sengeti Pengelolaan dan PertanggungJawaban Keuangan dalam Pelaksanaan MTQN XXIII TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Bengkulu Pengelolaan Kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010 di Pekanbaru Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah SeKalimantan Barat untuk Pendirian dan Pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Universitas Tanjungpura.d. 2009 pada PT Pertamina (Persero). 2009 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Loan Agreement No.d.SDP TA 2009 pada Inspektorat Provinsi Aceh di Banda Aceh Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Provinsi Maluku Utara Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Kab Halmahera Tengah Kerjasama dengan Pihak Ketiga dan Pengadaan Barang dan Jasa TB 2007.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 719 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Semarang. Surabaya. Loan 2127 . Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan PFK Kabupaten Bone Bolango Tahun 2007 s.Halaman 33 .06) TA 2009 pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP TVRI Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999. Serang. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM di Jakarta.06) TA 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.INO (SF) and Grant 0024-INO STAR . 2008 dan 2009 (Semester I) pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) di Makassar dan Jakarta Kegiatan Pengadaan Paket Tabung LPG 3Kg Tahun 2007 s. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM 1 31 Jumlah LHP DTT Total LHP 428 734 199 .06 TA 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. dan Bekasi 18 720 Kementerian Perumahan Rakyat 1 19 721 Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1 20 722 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 21 22 23 723 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia 724 Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia 725 Provinsi Jambi 1 1 1 24 726 Provinsi Bengkulu 1 25 26 727 Provinsi Riau 728 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 27 28 729 Provinsi Gorontalo 730 Provinsi Aceh 1 1 29 731 Provinsi Maluku Utara 1 732 1 30 733 PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) 1 31 734 PT Pertamina (Persero).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful