i

i

DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Grafik Daftar Lampiran KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF PEMERIKSAAN KEUANGAN BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya PEMERIKSAAN KINERJA BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan BAB 8 Kinerja Pendidikan BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU BAB 11 Pengelolaan Pendapatan BAB 12 Pelaksanaan Belanja BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan, dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batu Bara BAB 16 Pelaksana Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah BAB 21 Operasional Bank Daerah BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH LAMPIRAN

Hal
i ii iii iv v ix 1 11 15 37 43 45 55 67 71 77 85 89 93 97 99 119 145 155 165 175 181 189 201 213 221 231 241 245 253

ii

DAFTAR TABEL
1. 2. 3. 4. 5. 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 11.1 11.2 12.1 12.2 13.1 14.1 15.1 16.1 17.1 18.1 19.1 20.1 21.1 22.1 23.1 24.1 24.2 24.3 24.4 Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Opini KKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan dan Bangunan Pengairan/Drainase Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD Cakupan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010

25.1 25.2 25.3 25.4

Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana

iii

DAFTAR GAMBAR
4.1 5.1 5.2 Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Water Pass dan Theodolite Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang

iv

DAFTAR GRAFIK
1.1 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 (dalam %) 1.2 Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 24.1 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi)

v

Daftar Lampiran
1.a 1.b 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.a 8.b 8.c 8.d 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005-2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok Temuan menurut Entitas Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 1. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 2. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 3. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Belanja Pemerintah Pusat

vi 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/ Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM

vii 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok Jenis Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Pusat Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Daerah Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada BUMN, BHMN, dan KKKS Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010

viii .

serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp42. dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. pemeriksaan kinerja. yaitu senilai Rp104. badan layanan umum. Akhir kata. Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester II Tahun 2010. Selanjutnya. tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat.23 miliar dan USD10. 147 objek pemeriksaan kinerja. yaitu 159 objek pemeriksaan keuangan. badan usaha milik negara. Selanjutnya. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus kerugian negara/daerah senilai Rp59. Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP). BPK berharap Buku IHPS II Tahun 2010 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah. Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester II Tahun 2010 dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan atas tiap-tiap entitas yang kami lampirkan dalam bentuk cakram padat/Digital Video Disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini.01 miliar dan USD10. Jakarta. badan usaha milik daerah. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada lembaga perwakilan. dengan menyetor ke kas negara/daerah atau penyerahan aset. BPK menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) yang merupakan informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu semester tertentu. lembaga negara lainnya. serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Penyusunan Buku IHPS II Tahun 2010 ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara kepada pemangku kepentingan (stakeholders). Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.50 juta. Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini membuktikan bahwa respon instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat positif dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dan peran BPK dalam penyelamatan uang negara. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). IHPS ini merupakan ikhtisar hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan BPK pada Semester II Tahun 2010 atas 734 objek pemeriksaan. dan kekurangan penerimaan. IHPS II Tahun 2010 ini dapat diselesaikan tepat waktu. dan 428 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Bank Indonesia. 31 Maret 2011 . kasus potensi kerugian negara/daerah senilai Rp2. presiden. dan gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan.57 miliar. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara.ix Kata Pengantar Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E. pemerintah daerah.50 juta selama proses pemeriksaan masih berlangsung. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas pemeriksaan keuangan.21 miliar. sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah telah menindaklanjuti kasus kerugian negara/daerah. potensi kerugian negara/daerah.

x .

Pemeriksaan dilaksanakan terhadap entitas di lingkungan pemerintah pusat. IHPS disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya. pemeriksaan BPK diprioritaskan pada pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. termasuk didalamnya pemantauan terhadap hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian negara/tindak pidana yang disampaikan kepada instansi yang berwenang (penegak hukum). Selain hasil pemeriksaan. badan usaha milik negara (BUMN). BUMN. BUMD. pemerintah daerah. pemeriksaan kinerja. dan badan hukum milik negara (BHMN)/ badan layanan umum (BLU) seluruhnya sejumlah 734 objek pemeriksaan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut. pemerintah daerah. Objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 terdiri atas entitas pemerintah pusat.1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RINGKASAN EKSEKUTIF IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN 2010 Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010 disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. dan kepada presiden serta gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. badan usaha milik daerah (BUMD). . IHPS II Tahun 2010 merupakan ikhtisar dari 734 laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. IHPS II Tahun 2010 juga memuat hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. Pada Semester II Tahun 2010. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan. Sedangkan untuk pemeriksaan keuangan dilakukan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 yang belum diperiksa pada Semester I Tahun 2010.

dan ketidakefektifan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut antara lain berupa perbaikan SPI atau tindakan administratif.18 triliun. potensi kerugian. Dalam Tabel 2 temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. serta ekuitas senilai Rp303. kewajiban senilai Rp40. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan sebanyak 3. dan laporan realisasi anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp130.760 kasus dengan nilai Rp3.43 juta.48 triliun. dan pembiayaan neto (laba/rugi) senilai Rp22. Di antara temuan tersebut.50 juta telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa dengan penyetoran ke kas negara/daerah selama proses pemeriksaan (Lampiran 53. ketidakhematan. terdapat temuan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut yang memiliki implikasi nilai rupiah.40 triliun. Rincian temuan tersebut disajikan dalam Tabel 2.21 triliun.43 juta.23 triliun. LK BUMN. Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp344. dan kekurangan penerimaan. senilai Rp104. dan LK Badan Lainnya dengan cakupan pemeriksaan meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Entitas Yang Diperiksa Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya Jumlah Pemeriksaan Keuangan 153* 1 1 4 159 Pemeriksaan Kinerja 46 89 3 9 147 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 117 250 16 44 1 428 Jumlah 163 492 20 54 5 734 *) termasuk dua LKPD Tahun 2008 Hasil Pemeriksaan Jumlah objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 sebanyak 734 objek pemeriksaan. .2 Tabel 1. dan Lampiran 55).01 miliar dan USD10. Di antara temuan-temuan tersebut. Jumlah temuan dari 734 objek pemeriksaan tersebut adalah sebanyak 6.81 triliun. belanja senilai Rp135.27 triliun.87 triliun dan USD156. Pemeriksaan kinerja sebanyak 147 objek pemeriksaan dengan cakupan tidak secara spesifik menunjuk nilai tertentu dan PDTT meliputi 428 objek pemeriksaan dengan cakupan pemeriksaan senilai Rp539.355 kasus senilai Rp6. ketidakefisienan. yaitu temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. Sedangkan selebihnya adalah temuan-temuan administrasi. Rincian objek pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keuangan sebanyak 159 objek yaitu LKPD. Lampiran 54.46 triliun dan USD156.

43 156.15 95.62 3.15 95.25 491. dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp112.81 159. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas.39 62 12 14 88 3 6 30 127 84. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi: neraca dengan rincian aset senilai Rp289.48 461.280 896 84 2 149 2.817 368.461.689.00 triliun.22 37.99 2.62 1.154.40 99.63 3.42 1.88 triliun.10 1.211 386 795 2.80 0.70 triliun.70 7.54 1.760 1.43 895. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.277.221 3.672.43 2.870.72 1.79 249. Dalam Semester II Tahun 2010.355 1.3 Tabel 2.28 6. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini TMP.695.91 7.43 156.73 156. belanja senilai Rp118.50 9. kewajiban senilai Rp3. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas dari 151 LKPD Tahun 2009 yang telah diperiksa BPK pada Semester II Tahun 2010.81 4.09 94.013 526 1.896. dan pembiayaan neto senilai Rp21.020.66 1. dan ekuitas senilai Rp286.54 53.498.04 247. .73 156.46 5.44 652.233. serta enam Laporan Keuangan BUMN/D dan badan lainnya.392 896 226 1 302 3. Rincian opini per entitas sebagaimana terlihat dalam Lampiran 1a.795 316 3 481 6.645.06 1.43 4 5 6 7 Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Total Hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2010 berdasarkan jenis pemeriksaan disajikan secara ringkas dalam uraian berikut.32 42.70 triliun.411 566.82 1.39 1. Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Pemeriksaan Keuangan No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Nilai (juta USD) Jumlah Kasus Total Nilai (juta USD) Nilai (miliar Rp) 1 2 3 Kerugian Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Sub Total 740 128 412 1.54 53.45 triliun. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas (Kota Langsa). Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.97 triliun. BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 dan dua LKPD Tahun 2008.

Sementara itu. Kabupaten Seram Bagian Barat. Dari 524 pemerintah daerah 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. jumlah yang memperoleh opini TW menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Tahun 2008 dan penurunan . Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP dan WDP dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. Opini LKPD Tahun 2009 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah WTP WDP TW TMP Jumlah 14 259 30 45 348 % 4% 74% 9% 13% 100% LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% Dengan demikian. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Pemeriksaan LKPD Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Tabel 4. Tabel 3. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian.4 Opini atas 151 LKPD yang dilaporkan dalam IHPS II Tahun 2010 ini dan 348 LKPD yang telah dilaporkan sebelumnya dalam IHPS I Tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 OPINI WTP 2007 2008 2009 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% 469 485 499 LKPD JUMLAH Dalam Tabel 4 disajikan perkembangan opini LKPD 2007 sampai dengan 2009. Sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan.

Kelemahan SPI yang sering terjadi terutama dalam pengendalian aset tetap seperti nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. Opini TMP dan TW diberikan oleh BPK sebagian besar disebabkan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) atas laporan keuangan pemerintah daerah. BPK juga memberikan opini TMP terhadap LK PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) serta LK Penyelenggaraan Ibadah Haji (LK PIH) Tahun 1430H/2009 M dan Tahun 1429 H/2008 M. temuan yang mengakibatkan kerugian. dan peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum dibuat.87 miliar (Lampiran 2. Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap saldo aset tetap sehingga mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Dari temuan ketidakpatuhan ini. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan daerah yang telah ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan penyetoran ke kas daerah selama proses pemeriksaan senilai Rp21.320 kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan senilai Rp1. Ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-undangan ini yang dapat mempengaruhi opini LKPD adalah ketidakpatuhan yang mempunyai dampak material terhadap penyajian kewajaran laporan keuangan. BPK memberikan opini WTP terhadap LK West Sumatera Earthquake Disaster Project Badan Nasional Penanggulangan Bencana (WSEDP BNPB) TA 2010. perbedaan pencatatan antara saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber dan penyajian aset tetap tidak didasarkan hasil inventarisasi dan penilaian. Kelemahan SPI lainnya yang juga berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan antara lain : pengelolaan kas belum tertib. Pemeriksaan BPK terhadap LKPD Tahun 2009 menemukan 1. Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Selain pemeriksaan atas LKPD. Kelemahan tersebut tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset. pencatatan penyertaan modal pemerintah dan dana bergulir tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. dan 2.460 kasus kelemahan SPI.5 dibandingkan Tahun 2007.43 triliun. pencatatan transaksi yang belum akurat dan tepat waktu serta masalah disiplin anggaran. realisasi belanja yang tidak sesuai dengan peruntukannya. dan Lampiran 4). kelemahan manajemen kas. Hal ini secara umum menggambarkan perbaikan kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh pemerintah daerah walaupun perbaikan tersebut belum signifikan. BPK juga memeriksa enam laporan keuangan badan lainnya dan BUMN/D. Selain pengendalian intern. Lampiran 3. opini WDP diberikan terhadap LK PDAM Kota Padang TB 2009 serta LK Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. opini atas LKPD juga dipengaruhi oleh ketidakpatuhan entitas terhadap ketentuan perundang-undangan dalam kerangka pelaksanaan APBD dan pelaporan keuangan. Selain itu. nilai persediaan yang dilaporkan tidak berdasarkan inventarisasi fisik. dan opini TMP menunjukkan penurunan dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. .

3 BUMN. pengurusan dokumen. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 18 pemeriksaan kinerja yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut di atas. perhubungan.6 Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tenaga kerja yang tidak terserap minimal sebanyak 216. Hasil pemeriksaan kinerja pada umumnya mengungkapkan belum efektifnya suatu kegiatan atau program diantaranya sebagai berikut. dan 9 PDAM. penganggaran.5% di tengah krisis keuangan dunia. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.69% dari realisasi anggaran yang diperiksa. dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal (SF) belanja infrastruktur Tahun 2009. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. sistem/prosedur perencanaan. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI.520 Orang Hari (OH) dan 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151. energi. yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah. Efektivitas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak tercapai secara optimal karena kompleksitasnya masalah. pertanian. pelatihan dan pengujian kesehatan. dan perusahaan daerah air minum (PDAM). Permasalahan tersebut yaitu penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. Dalam Semester II Tahun 2010. pengelolaan hutan mangrove. kinerja pendidikan. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4. Hal tersebut disebabkan oleh kelemahan kebijakan. sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan kinerja lainnya. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan atau 20% dari seluruh objek pemeriksaan Semester II Tahun 2010. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. . pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan.49 miliar atau 3. Hasil pemeriksaan BPK dapat dikelompokkan dalam beberapa tema pemeriksaan sebagai berikut: • • • • • • • penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. proses penempatan di negera tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009.

43 juta. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN.817 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/ daerah.7 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. dan ketidakefisienan senilai Rp4.50 juta selama proses pemeriksaan yang berasal dari kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. Salah satu akibat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah kerugian negara/daerah. pelaksanaan belanja. Kekurangan volume dalam suatu pengadaan barang/jasa menyebabkan kelebihan pembayaran oleh pemerintah kepada rekanan . dan kekurangan penerimaan negara/daerah (Lampiran 53. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. ketidakefektifan. Lampiran 54. dan operasional BUMD lainnya. pengelolaan pertambangan batubara. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. potensi kerugian. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. dan Lampiran 55). pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. Kerugian negara/daerah dapat terjadi karena adanya belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. potensi kerugian negara/daerah. dan 3. operasional bank daerah. Hasil PDTT menunjukkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan adalah kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. operasional RSUD. ketidakhematan. belanja bidang infrastruktur. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak dan sebagainya. operasional BUMN. pemahalan harga. Dalam Semester II Tahun 2010. belanja subsidi pemerintah. Di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah oleh entitas senilai Rp43. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan atau 58% dari 734 objek pemeriksaan. Hasil pemeriksaan tersebut dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. kekurangan penerimaan.67 triliun dan USD156.168 kasus kelemahan SPI.04 miliar dan USD10. pengelolaan/manajemen aset. kekurangan volume. Hasil PDTT mengungkapkan 1. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 31 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. operasional PDAM. terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.48 triliun.

Selain dari PDTT atas pendapatan. penghilangan dan penundaan penetapan hak penerimaan daerah. Kekurangan penerimaan umumnya terjadi karena kelemahan pencatatan dan administrasi penatausahaan pendapatan. dan/atau kepala daerah belum menetapkan tarif retribusi dan pajak daerah. pihak ketiga wanprestasi dalam pembayaran kontribusi atas pemanfaatan aset negara/daerah. Kasus kekurangan penerimaan di antaranya meliputi kekurangan penetapan dan pemungutan penerimaan pajak dan PNBP. Hal ini masih sering terjadi karena kelalaian atau ketidakcermatan panitia pengadaan barang/jasa dalam melakukan pemeriksaan fisik pada saat membuat berita acara serah terima (BAST) sehingga nilai pekerjaan dinyatakan telah selesai dikerjakan 100% dan rekanan berhak mendapatkan pembayaran penuh atas pekerjaannya tersebut.8 karena volume atau jumlah barang/jasa yang diterima kurang dari jumlah atau volume yang diperjanjikan dalam kontrak. BPK juga melakukan PDTT atas BA 999.73 juta (Lampiran 55). Dalam Semester II Tahun 2010 ditemukan 505 kasus kekurangan volume pekerjaan/barang/jasa senilai Rp123. Keadaan tersebut didukung pula dengan lemahnya pengawasan dari atasan langsung atas pelaksanaan kegiatan barang/jasa termasuk dalam proses pembuatan BAST. yaitu penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah. pembebasan pajak kepada wajib pajak (WP) tertentu oleh kepala daerah. serta pimpinan KL atau kepala daerah tidak intensif dan tegas dalam menagih penerimaan yang sebenarnya sudah menjadi hak negara/daerah.82 miliar dan USD7.99 miliar dan USD95.211 kasus kerugian negara/daerah hasil PDTT senilai Rp368. serta penerimaan pajak pemerintah pusat yang telah dipungut oleh pemerintah daerah tetapi tidak segera disetor ke kas negara.06 yang terdiri dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BSBL). kekurangan penerimaan juga ditemukan pada PDTT lainnya yang terjadi antara lain karena adanya pekerjaan yang tidak selesai sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kontrak tetapi belum dikenakan denda keterlambatan. karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.50 miliar dari 1.54 juta (Lampiran 53). Belanja Lain-Lain adalah . Belanja Subsidi merupakan pengeluaran atau alokasi anggaran yang diberikan pemerintah kepada perusahaan negara. mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat. Hasil PDTT atas pendapatan mengungkap adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah. lembaga pemerintah atau pihak ketiga lainnya yang memproduksi. Selain PDTT atas belanja dan penerimaan. menjual. Hasil PDTT secara menyeluruh mengungkap sebanyak 795 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp895. Masalah tersebut terjadi karena rekanan pengadaan barang/jasa dengan sengaja mengurangi volume atau ukuran pekerjaan yang tercantum dalam kontrak. perjanjian dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan aset negara/daerah tidak dibuat secara tegas.

Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan KKS Migas adalah para kontraktor belum sepenuhnya mematuhi klausul KKS dan pedoman tata kerja yang berlaku dengan memasukkan biaya-biaya yang seharusnya tidak boleh dibebankan pada cost recovery yang akan diklaim oleh kontraktor yang bersangkutan. dan Lampiran 52).47 juta.35 triliun dan sejumlah valas.39 triliun dan sejumlah valas ditindaklanjuti belum sesuai dengan rekomendasi (dalam proses ditindaklanjuti).546 (24. Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa antara lain dengan melakukan perbaikan sistem pengendalian intern (SPI).148 (39. pupuk. Sebanyak 18. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010. listrik.29%) rekomendasi senilai Rp41.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya.9 pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam. . Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK tersebut menunjukkan sebanyak 28. bencana sosial.06.722 rekomendasi senilai Rp103.53%) rekomendasi senilai Rp23. BPK juga melakukan PDTT atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (cost recovery). Khusus rekomendasi BPK dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terkait dengan penyetoran kas/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan yang telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa adalah berkisar Rp1. Hal ini terjadi terutama karena Direktorat Jenderal Anggaran belum menetapkan kriteria evaluasi atas kegiatan yang layak dibiayai dari BA 999. Hasil pemeriksaan atas Belanja Subsidi mengungkapkan antara lain bahwa BUMN operator belum sepenuhnya mematuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM.028 (36.42 triliun dan sejumlah valas belum ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa (Lampiran 50. Adapun hasil pemeriksaan Belanja Lain-Lain pada Tahun 2010 mengungkap adanya temuan belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak. BPK telah memberikan 76. tindakan administratif dan/atau penyetoran kas/ penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan. dan sebanyak 30.53 triliun dan sejumlah valas telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi.06 tahun sebelumnya. Permasalahan ini juga ditemukan pada hasil pemeriksaan atas LK BA 999. Hal ini mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1.93 triliun dengan rincian seperti Tabel 5 berikut. Lampiran 51. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 17 kasus biaya yang tidak layak dibebankan pada cost recovery senilai USD66. dan benih. Selanjutnya. dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat. termasuk diantaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran tersendiri.18%) rekomendasi senilai Rp38.

Dari sebanyak 105 kasus tersebut.80 Total (miliar Rp) Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa pada kurun waktu tahun 2009-2010 telah terjadi sebanyak 4.47 0.06 juta.03 0.53 USD 42. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus.951.362 kasus senilai Rp42. Maret 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA .53 miliar dan USD1.991.79 GBP 17. Total penyelesaian ganti kerugian negara/daerah (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/ Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010. dan/atau belum ditindaklanjuti. instansi yang berwenang (Kepolisian.991.003.13 0. Sisa kasus sebanyak 97 kasus merupakan kasus dalam proses penelaahan.45 2.00 8.03 ribu.79 13.552.10 Tabel 5. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan No. Jakarta.930.893.24 1.991.339 kasus senilai Rp108.69 USD 53. proses gelar perkara.13 0.48 EUR 11.37 0. proses banding/kasasi.24 807. proses pengumpulan bahan dan koordinasi.955.000.930.30 miliar dan USD1.48 8.955.37 0.780.82 0.45 13.28 11.21 juta.00 119. penyidikan sebanyak 2 kasus.05 0.793.28 GBP 17.00 0. Kejaksaan. Daerah BUMN Total 807.13 0.03 119.28 miliar dan USD228.80 8.158.893.77 miliar serta pelunasan sebanyak 977 kasus senilai Rp65. 3.05 USD 7. penuntutan sebanyak 1 kasus.24 Total (miliar Rp) 1. Entitas Pusat Nilai (miliar Rp) 1.302 kasus kerugian negara/daerah senilai Rp908.00 1.69 0. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1.00 EUR 11.552.780.24 0.07 0.47 0. dan putusan hakim sebanyak 2 kasus.00 11. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.003.03 ribu.82 USD 4.13 0.07 1.11 triliun dan USD11.82 0.991.931. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berupa angsuran terpantau sebanyak 1. 1.82 Nilai Valas Kurs Tengah 31 Des Nilai Ekuivalen 2010 (Rp) (miliar Rp) 8.

kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). opini tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. opini wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. sehingga informasi • • • . Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.11 PEMERIKSAAN KEUANGAN Salah satu tugas BPK adalah melaksanakan pemeriksaan keuangan. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures). selain memberikan opini atas laporan keuangan. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif lainnya. Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa. Penjelasan Pasal 16 ayat (1). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern (SPI). Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. opini wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan. Oleh karena itu. BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI dan laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. pernyataan menolak memberikan opini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan. pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. • Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material.

administrasi. ketidakekonomisan. dan barang. surat berharga.12 keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Kelemahan struktur pengendalian intern. yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran penerimaan negara/daerah serta pelaksanaan program/kegiatan pada entitas yang diperiksa. potensi kerugian daerah. dan ketidakefektifan sebagai berikut. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. Sistem Pengendalian Intern (SPI) Salah satu kriteria pemberian opini adalah evaluasi atas efektivitas SPI. ketidakefisienan. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan barang. SPI dinyatakan memadai apabila unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum. SPI pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). yaitu kelemahan sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan. surat berharga. SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. • Kerugian negara/daerah (termasuk kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah) adalah berkurangnya kekayaan negara/daerah berupa uang. • • Kepatuhan Pemberian opini juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. baik sengaja maupun lalai. • Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • . kekurangan penerimaan. yaitu kelemahan yang terkait dengan ada/tidak adanya struktur pengendalian intern atau efektivitas struktur pengendalian intern yang ada dalam entitas yang diperiksa. yang nyata dan pasti jumlahnya. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. Kelemahan tersebut mengakibatkan permasalahan dalam aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut. Potensi kerugian negara/daerah (termasuk potensi kerugian yang terjadi pada perusahaan negara/daerah) adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.13 • Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. tidak menghambat program entitas. Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. . tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan penerimaan). yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. laporan arus kas. Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. neraca. menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Temuan mengenai ketidakefisienan mengungkap permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk satu satuan output yang lebih besar dari seharusnya. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan catatan atas laporan keuangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah. dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambatlambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat/daerah. • • • • Laporan Keuangan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. laporan arus kas. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBN (LRA). Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBD (LRA). neraca. dan catatan atas laporan keuangan. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Demikian juga halnya dengan gubernur/bupati/walikota.

Dalam Semester II Tahun 2010. pada tingkat daerah. BPK baru menyelesaikan 348 hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 pada Semester I Tahun 2010 karena masih cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004. termasuk Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL). Pada tingkat pusat. pada Semester I Tahun 2010 BPK telah melakukan pemeriksaan keuangan atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP). Namun. dan Pasal 56 undang-undang tersebut menyatakan bahwa gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan keuangannya kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tingkat provinsi/kabupaten/kota. baik pemerintah maupun BPK telah dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu. dan BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2009 kepada DPR pada 31 Mei 2010.14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. BPK melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 LKPD Tahun 2009 dan 2 LKPD Tahun 2008 serta 6 laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. Memenuhi ketentuan tersebut. .

2 1. 1. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian. Selain itu. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan.88 triliun.45 triliun. Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset senilai Rp289. belanja senilai Rp118.1 Pada Semester II Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 pada 151 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota.3 1.15 BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 1. Sementara itu. dan pembiayaan neto senilai Rp21. yaitu opini. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.70 triliun. Pada LRA. sistem pengendalian intern (SPI). yaitu LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur (Provinsi Maluku) dan LKPD Kabupaten Dogiyai (Provinsi Papua). dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Dengan demikian. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).70 triliun. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). dan ekuitas senilai Rp286.5 Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam tiga kategori.4 Hasil Pemeriksaan 1. . Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat pemeriksaan atas LKPD ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Dari 524 pemerintah daerah. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan.97 triliun.00 triliun. (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. BPK juga melakukan pemeriksaan atas dua LKPD Tahun 2008. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. rincian pendapatan senilai Rp112. kewajiban senilai Rp3. Pemeriksaan atas LKPD dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada kriteria. Pemeriksaan baru dilakukan pada Semester II Tahun 2010 karena baik LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur maupun LKPD Kabupaten Dogiyai baru diserahkan oleh masing-masing pemda pada Tahun 2010. Kabupaten Seram Bagian Barat.

di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Rincian opini untuk masing-masing entitas dapat dilihat pada Lampiran 1a. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini tidak memberikan pendapat (TMP).11 Dari Tabel 1.1 berikut ini. Tabel 1.10 Perkembangan opini LKPD Tahun 2007.1 menyajikan perkembangan masing-masing jenis opini disajikan dalam persentase. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.2 berikut ini. Grafik 1. Tahun 2008 kepada 485 LKPD. . opini LKPD Tahun 2007 telah diberikan pada 469 LKPD.9 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah % 4% 74% 9% 13% 100% 14 259 30 45 348 LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% WTP WDP TW TMP Jumlah 1.2. Tabel 1.2 di atas terlihat adanya peningkatan jumlah LKPD yang diperiksa BPK dari tahun ke tahun.1.7 Terhadap 151 LKPD Tahun 2009. Opini LKPD Tahun 2009 1. Berdasarkan data di atas. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 LKPD 2007 2008 2009 OPINI WTP 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% JUMLAH 469 485 499 1. Rincian opini tiap-tiap entitas dapat dilihat pada Lampiran 1b. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas. Oleh karena itu. Opini 1.16 1. dan Tahun 2009 kepada 499 LKPD. Opini WTP diberikan BPK kepada LKPD Kota Langsa di Provinsi Aceh. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas. Opini LKPD Tahun 2009 atas 499 pemerintah daerah disajikan dalam Tabel 1. 2008. dan 2009 dapat dilihat dalam Tabel 1.8 1.

118 LKPD kabupaten. • kenaikan dalam opini TW dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 4% dan terdapat penurunan sekitar 3% dibandingkan opini LKPD Tahun 2007. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 (dalam %) 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% WTP 1% 3% 3% 67% 60% 66% 2007-469 LHP 26% 24% 13% 6% 10% 2008-485 LHP 21% 2009-499 LHP WDP TW TMP 1.17 Grafik 1. 1.12 Dari Grafik 1.3 berikut ini. dan • penurunan dalam opini TMP dibandingkan opini LKPD 2008 sekitar 3% dan dibandingkan opini LKPD 2007 sekitar 5%.14 . dan 27 LKPD kota.1. Opini LKPD Tahun 2009 untuk masing-masing tingkat pemerintahan dapat dilihat dalam Tabel 1. 1.13 Hal ini secara umum menggambarkan bahwa entitas pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan yang wajar telah meningkat (dalam hal jumlah entitas) walaupun peningkatan tersebut belum signifikan (dalam persentase). LKPD Tahun 2009 yang diperiksa pada Semester II Tahun 2010 terdiri dari 6 LKPD provinsi. Dilihat dari tingkat pemerintahan. dan terdapat kenaikan sekitar 6% dibanding opini LKPD Tahun 2007.1 diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 yang dalam persentase. menunjukkan • kenaikan dalam opini WTP dibandingkan opini LKPD Tahun 2007 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dari LKPD Tahun 2008. • penurunan dalam opini WDP dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 1%.

18 Tabel 1.15 Grafik 1. Sistem Pengendalian Intern 1. efisien. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 73% 64% 72% WTP WDP TW TMP 24% 3% 9% 15% 2% Kabupaten 10% 7% 9% 12% Provinsi Kota 1. gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah. Sistem pengendalian intern (SPI) pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).2. dibandingkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten yang memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 76% dan 66% dari keseluruhan entitas provinsi dan kabupaten. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan LKPD Tahun 2009 Pemerintahan Provinsi Kabupaten Kota Jumlah Yang dilaporkan pada IHPS I 2010 WTP 1 7 6 14 WDP 21 187 51 259 TW TMP 2 24 4 30 3 38 4 45 Jml 27 256 65 348 LKPD Tahun 2009 Yang dilaporkan pada IHPS II 2010 WTP 0 0 1 1 WDP TW TMP 3 53 15 71 1 13 4 18 2 52 7 61 Jml 6 118 27 151 Total LKPD Tahun 2009 WTP WDP 1 7 7 15 24 240 66 330 TW 3 37 8 48 TMP 5 90 11 106 Jml 33 374 92 499 1.16 Dari Grafik 1.3. .17 Untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang efektif. Pemerintah kota memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 79% dari keseluruhan entitas kota. dan akuntabel.2 menyajikan perbandingan opini LKPD Tahun 2009 berdasarkan tingkat pemerintahan yang disajikan dalam persentase.2 di atas terlihat bahwa rata-rata opini yang diperoleh pada pemerintahan tingkat kota lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan tingkat provinsi dan kabupaten. Grafik 1. transparan.

18 SPI memiliki fungsi untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara.25 1. keandalan pelaporan keuangan. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. 1.22 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa LKPD yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya memiliki pengendalian intern yang memadai. serta pemantauan. penjelasan Pasal 16 ayat (1) Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria. kegiatan pengendalian.19 1. penilaian risiko. 1. Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset.20 1. masih terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian terlihat dari kurang dipahaminya tugas pokok dan fungsi pada satuan kerja serta kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan. pengamanan aset negara. selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. Hasil evaluasi atas SPI LKPD dapat diuraikan sebagai berikut. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. Namun. Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari komitmen terhadap kompetensi yang belum memadai.24 1. pencatatan transaksi yang akurat dan tepat waktu. Untuk itu. informasi dan komunikasi. Masih banyaknya opini TMP dan TW yang diberikan oleh BPK menunjukkan efektivitas SPI pemerintah daerah belum optimal. Efektivitas SPI merupakan salah satu kriteria yang digunakan oleh BPK dalam meneliti kewajaran informasi keuangan.19 1. serta lemahnya pengendalian dan koordinasi tugas antara atasan dan bawahan. Kelemahan pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar disebabkan belum memadainya unsur lingkungan pengendalian dan kegiatan pengendalian. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. yaitu lingkungan pengendalian. SPI meliputi lima unsur pengendalian. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. Adapun LKPD yang memperoleh opini TMP dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.23 1.26 . tidak didukungnya kebijakan dengan pedoman pelaksanaan yang jelas. salah satunya yang terkait dengan SPI adalah efektivitas SPI.21 Hasil Evaluasi SPI 1.

Provinsi Riau. transaksi. • sebanyak 208 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.20 pengendalian atas pengelolaan sistem informasi. pencatatan tidak akurat yaitu pengelolaan aset daerah yang kurang optimal. Sebanyak 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.460 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. terdiri atas • sebanyak 455 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. dan • kelemahan struktur pengendalian intern.46 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Sulawesi Selatan.30 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan tersebut di antaranya sebagai berikut. rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. 1. 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan kejadian penting. 1.04 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. penatausahaan aset tetap belum dilaksanakan secara tertib pada beberapa SKPD sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp2.27 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • sebanyak 6 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. dan pendokumentasian yang baik atas SPI. 1. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2. 1. serta 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 10 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.28 Hasil evaluasi atas 151 LKPD terdapat 1. di antaranya nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp1. • sebanyak 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. • Di Kabupaten Maros.29 .

• sebanyak 69 kasus mekanisme pemungutan. • sebanyak 42 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.30 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya.32 Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Nabire.31 Sebanyak 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Kalimantan Tengah. • sebanyak 30 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. . • Di Kabupaten Timor Tengah Utara.21 • Di Kabupaten Seruyan. pembayaran kegiatan lanjutan atas kontrak-kontrak pekerjaan Tahun 2008 senilai Rp490. 1.d. • sebanyak 149 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. • Di Provinsi Aceh.41 miliar tidak dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2009 mengakibatkan tidak terciptanya disiplin anggaran. • sebanyak 26 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. 1. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. Provinsi Sumatera Utara. • Di Kabupaten Padang Lawas. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Papua. 2012 senilai Rp216.98 miliar tidak berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga saldo aset tetap per 31 Desember 2009 tidak dapat diyakini kewajarannya. penyajian aset tetap senilai Rp927. terdapat perbedaan pencatatan antara penyajian saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber pembukuan aset tetap sehingga saldo per 31 Desember 2009 senilai Rp1.00 miliar tidak didasarkan pada perencanaan yang matang dan berpotensi tidak selesai tepat waktu. Provinsi Nusa Tenggara Timur. inventarisasi dan penatausahaan barang milik daerah belum dilakukan secara optimal sehingga nilai aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp571. terdiri atas • sebanyak 210 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.25 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. pembangunan kawasan pusat pemerintahan TA 2009 s.

• sebanyak 64 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. Provinsi Jawa Barat. • Di Kabupaten Cianjur. distribusi. dan stabilisasi. dan 2007. Provinsi Sumatera Utara. • Di Kabupaten Simalungun. pengawasan.50 miliar dijadikan jaminan untuk pinjaman sehingga dana yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal. Hal ini mengakibatkan realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa tidak dapat diyakini kewajarannya dan APBD yang sudah ditetapkan dengan perda tidak dapat digunakan sebagai fungsi otorisasi. • Di Provinsi Aceh. alokasi. .878 lembar senilai Rp981.33 Sebanyak 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 2008. penerbitan SP2D sebanyak 3. • sebanyak 16 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. terdiri atas • sebanyak 90 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.20 miliar melewati batas waktu 31 Desember 2009 yang mengakibatkan tidak terciptanya tertib anggaran dan tertundanya penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh TA 2009.22 • Di Kabupaten Deli Serdang.50 miliar atas perjanjian pembiayaan dengan Bank Muamalat di antaranya senilai Rp23.83 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum digunakan untuk pekerjaan swakelola TA 2009. rekening kas umum daerah belum ditetapkan dan terdapat rekening kas daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp10. perencanaan. • sebanyak 4 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. Provinsi Sumatera Utara. realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa TA 2009 senilai Rp76.80 miliar dilakukan mendahului penetapan anggaran. Provinsi Maluku. terdapat aset pemerintah daerah berupa deposito TA 2009 dijadikan jaminan cash collateral senilai Rp33.34 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut sebagian besar atau sekitar 51% merupakan kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Buru Selatan. 1. pelaksanaan pekerjaan pada beberapa SKPD TA 2009 senilai Rp15.02 miliar yang tidak dilaporkan sehingga menyulitkan pengendalian atas transaksi penerimaan maupun pengeluaran pada buku kas umum kuasa BUD. 1. dan • sebanyak 2 kasus lain-lain kelemahan struktur pengendalian intern.

• Di Provinsi Maluku. • Di Kabupaten Manokwari. Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan. belum sepenuhnya memahami ketentuan.27 juta sehingga pengendalian kas daerah lemah dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah TA 2009. Provinsi Papua Barat.38 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. • pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Provinsi Sulawesi Barat. Upaya penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi temuan pemeriksaan belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-temuan berulang dan lambat ditindaklanjuti. peraturan bupati tentang sistem dan kebijakan akuntansi TA 2009 belum dibuat sehingga membuka peluang adanya persepsi ganda dalam hal pengakuan.35 Unsur pengawasan pada pemerintah daerah belum optimal. 178 rekening bendahara pengeluaran SKPD senilai Rp1.36 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/ pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas. 1. SOP yang ada pada entitas tidak ditaati yaitu terdapat dua rekening kas daerah senilai Rp1. 1. pencatatan. Rekomendasi 1. dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait. dan • memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.37 .23 • Di Kabupaten Majene. BPK telah merekomendasikan antara lain • kepala daerah agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. dan pelaporan.00 miliar belum mendapat izin kepala daerah dan lima SKPD menggunakan rekening pribadi untuk menampung pencairan dana SP2D pada akhir tahun senilai Rp921.00 miliar belum ditetapkan dengan SK kepala daerah. Penyebab 1. peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum ditetapkan sehingga pengelola keuangan dan kekayaan daerah (PKKD) dan SKPD kesulitan dalam penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan TA 2009.

39 Selain opini dan temuan-temuan SPI. dan lain-lain kasus kerugian daerah. Kerugian Daerah 1. 1.320 Nilai (juta Rp) 556. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 729 119 398 862 74 1 137 2. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.271. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.929. Tabel 1. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.41 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.753.252.430. hasil pemeriksaan atas 151 LKPD Tahun 2009 juga menemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan sebanyak 2. temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah.49 207.76 4. Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4.40 Berdasarkan Tabel 1. dan barang. ketidakhematan/pemborosan. pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan.48 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Jumlah 1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.42 . administrasi.4 di atas.4.761. kekurangan penerimaan. potensi kerugian daerah.4.42 370.415. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 No. pemahalan harga (mark up). ketidakefisienan.384. surat berharga. Masing-masing kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.60 195.84 1.24 Kepatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan 1. dan ketidakefektifan. kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.43 triliun sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.34 95.320 kasus senilai Rp1.

83 miliar. • sebanyak 155 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp59. • sebanyak 101 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp35. Provinsi Sulawesi Tenggara.05 miliar.79 miliar. • sebanyak 71 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp83. • sebanyak 3 kasus kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp2.07 miliar.75 miliar.74 miliar. rekanan. • sebanyak 6 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp8.44 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 26 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp24. • sebanyak 16 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7. terdapat pemberian panjar Tahun 2009 kepada SKPD.56 miliar.22 miliar.13 miliar. • sebanyak 90 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp27.d. dan • sebanyak 27 kasus lain-lain senilai Rp54. dana milik pemda digunakan dan dikeluarkan tanpa SP2D selama Tahun 2007 s.62 miliar merupakan pengeluaran selama Tahun 2007 s.41 miliar di antaranya adanya tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan.d. • Di Kabupaten Bombana.25 1. 1.37 miliar.43 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kerugian daerah sebanyak 729 kasus senilai Rp556. • Di Kabupaten Konawe. 2010 senilai Rp39. Provinsi Sulawesi Tenggara.75 miliar terdiri atas • sebanyak 76 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp144. • sebanyak 143 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp106. di antaranya senilai Rp39. 2009 yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum dikembalikan ke kas daerah sehingga berindikasi merugikan keuangan daerah.31 miliar. • sebanyak 15 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp3. atau atas nama pribadi .24 miliar.

44 miliar atas harga 36 jenis bahan dan barang untuk keperluan rehabilitasi dan pembangunan 73 sekolah dasar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2009. di antaranya penyetoran dari Kabupaten Banyuasin senilai Rp2. terjadi pemahalan harga beberapa paket pekerjaan hotmix Tahun 2009 pada Dinas Pekerjaan Umum yang berindikasi merugikan keuangan daerah minimal senilai Rp11.64 miliar yang tidak didukung SP2D dan belum dikembalikan ke kas daerah. Provinsi Sumatera Utara.26 minimal senilai Rp36. 1.49 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Provinsi Maluku.46 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. • Di Kota Padangsidimpuan. di antaranya senilai Rp5.48 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah.45 Dari 729 kasus kerugian daerah senilai Rp556. dan barang. Provinsi Sumatera Utara. BPK telah merekomendasikan antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas negara/daerah. Rekomendasi 1. Penyebab 1.80 miliar. kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. .40 miliar dan di antaranya senilai Rp1. yang nyata dan pasti jumlahnya. ketekoran kas pada bendahara pengeluaran senilai Rp7. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.06 miliar merupakan sisa uang persediaan (UP) Tahun 2008 di bendahara pegeluaran sekretariat daerah berupa panjar ke SKPD yang sampai dengan 31 Desember 2009 belum dikembalikan dan disetor ke kas daerah. tidak cermat.47 Potensi Kerugian Daerah 1. Selain itu. • Di Kota Pematangsiantar.75 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak 74 kasus senilai Rp14.30 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. surat berharga.95 miliar.41 miliar mengalami kesalahan perancangan atau tidak memenuhi syarat struktural. kerugian daerah atas pemahalan harga/mark up senilai Rp2. 1.

• sebanyak 14 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp43. • sebanyak 3 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan. dan • sebanyak 20 kasus lain-lain senilai Rp46.83 miliar. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.45 juta. 1. • sebanyak 2 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp8.51 1.57 miliar.14 miliar. • sebanyak 5 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp22.15 miliar. serta lainlain kasus potensi kerugian daerah. pembelian aset yang berstatus sengketa. • sebanyak 2 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp3. • sebanyak 24 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp80. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah sebanyak 119 kasus senilai Rp370.25 miliar yang terdiri atas • sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp9. • sebanyak 39 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp152. Selain itu. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.12 miliar.36 miliar.55 miliar.27 1. aset tidak diketahui keberadaannya.52 . kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp521.28 miliar.50 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp3.68 miliar di antaranya pertanggungjawaban belum lengkap dan sah serta entitas disarankan untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran dan apabila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.

tidak cermat. Selain itu. Provinsi Kalimantan Timur. pembayaran material yang tidak memperhitungkan jarak angkut aktual atas pekerjaan pembangunan kawasan perkantoran Lumban Pea dari Tahun 2008 s.55 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.96 miliar. Provinsi Aceh.36 miliar dan tidak diperuntukkan untuk operasional pemerintah sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aset tetap milik pemerintah. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. • Di Kabupaten Buton Utara. Penyebab 1. • Di Kabupaten Toba Samosir. dalam masa pemeliharaan yang mengakibatkan realisasi penggunaan dana TA 2009 senilai Rp21.28 1.53 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. terdapat aset tetap dari belanja modal TA 2009 yang dikuasai dan digunakan oleh pihak lain senilai Rp48.57 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. alat berat yang tidak digunakan. rekanan pengadaan tidak memperbaiki kerusakan jalan Ereke-Bau Bau. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.54 Dari 119 kasus potensi kerugian senilai Rp370.d.73 miliar. potensi kerugian daerah atas kelebihan pembayaran prestasi pekerjaan.d. 1. 1.00 juta pada Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti disajikan dalam Lampiran 4. • Di Kabupaten Bengkalis. Provinsi Riau. Provinsi Sumatera Utara.56 .49 miliar dan berpotensi merugikan daerah apabila tidak dapat tertagih. 2010 senilai Rp5. 2009 yang telah disalurkan senilai Rp9. potensi kerugian daerah atas aset tetap berupa kendaraan dinas yang dipinjamkan kepada mantan anggota DPRD periode Tahun 2004-2009 dan pihak di luar pemerintah daerah yang belum dikembalikan senilai Rp4. • Di Kabupaten Bener Meriah. • Kabupaten Kutai Kartanegara. potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.65 miliar menjadi tidak bermanfaat dan berpotensi merugikan daerah. Provinsi Sulawesi Tenggara. Rekomendasi 1.25 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak dua kasus senilai Rp426. kredit macet atas kredit PER (Pengembangan Ekonomi Rakyat) TA 2007 s.

• sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp8. dan kasus lain-lain kekurangan penerimaan.84 juta. penggunaan langsung penerimaan daerah. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. • Di Kabupaten Batu Bara. kekurangan penerimaan atas potongan PPN dan PPh Tahun 2009 minimal senilai Rp19. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah.14 juta.92 miliar. 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 398 kasus senilai Rp207. Provinsi Sumatera Utara. 1.60 1. Kekurangan Penerimaan 1.59 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.77 miliar. kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah.58 BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan mempertanggungjawabkan kasus potensi kerugian daerah dan bila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah atau melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. • sebanyak 65 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp30.61 1.62 . Selain itu. penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak.41 miliar terdiri atas • sebanyak 321 kasus penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp166.63 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 3 kasus /penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp94.29 1.87 miliar. • sebanyak 5 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp476.80 juta. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp276.66 miliar belum disetorkan ke kas negara mengakibatkan pemerintah pusat tidak dapat memanfaatkan penerimaan perhitungan fihak ketiga (PFK) dari potongan PPN dan PPh tersebut.

1. Penyebab 1. pajak hotel Tahun 2004 s. • Di Kabupaten Simalungun. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.77 miliar.41 miliar tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah sebanyak 34 kasus senilai Rp6.94 miliar. terdapat kekurangan penerimaan dana Community Development (CD) atas pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sampai dengan 31 Desember 2009 senilai Rp5. Provinsi Jawa Barat. tidak mengurangi hak daerah (kekurangan . penerimaan dana bagi hasil atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) TA 2009 dan 2010 tidak melalui rekening kas daerah Kabupaten Bombana di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara namun melalui dua rekening atas nama Pemda Bombana di Bank BRI sehingga tidak dilaporkan sebagai pendapatan daerah senilai Rp9.65 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.24 miliar.95 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan serta menyampaikan bukti setor ke BPK.66 Administrasi 1.64 Dari 398 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp207.98 miliar dan belum disetorkan ke kas daerah senilai Rp8. Provinsi Sumatera Utara.49 miliar di antaranya penyetoran dari Kabupaten Simalungun senilai Rp1.30 • Di Kabupaten Bombana. • Di Kota Bekasi. 1.68 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kabupaten Maros.83 miliar. Provinsi Sulawesi Tenggara. kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.d. tidak cermat.82 juta belum disetorkan ke rekening kas umum daerah. Rekomendasi 1.67 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah tersebut. adanya penggunaan langsung oleh SKPD untuk membiayai belanja rutin dan pinjaman sementara TA 2009 senilai Rp4. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.73 miliar dan pendapatan bunga bank senilai Rp12. Atas kasus ini sudah ditindaklanjuti dengan penyetoran senilai Rp1. Selain itu. 2009 senilai Rp2.

kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. Selain itu. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/belum disetor ke kas daerah. 1. Kasus lain penyimpangan administratif yaitu adanya proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. 1. penyimpangan yang bersifat administratif yaitu pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan lain-lain.72 . pelaksanaan lelang secara proforma.69 Pada umumnya kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu adanya pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid). • sebanyak 45 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 65 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. tidak menghambat program entitas. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.70 1. • sebanyak 7 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan pelelangan. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. dan pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. • sebanyak 28 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang bersifat administratif sebanyak 862 kasus yang terdiri atas • sebanyak 364 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 8 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. perpajakan. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. pertambangan. • sebanyak 9 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.71 1. dan lain-lain kasus administratif.31 penerimaan).

. • Di Kabupaten Kutai Timur. • Di Provinsi Aceh.00 miliar. • sebanyak 6 kasus pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah.47 miliar sampai dengan TA 2009 belum memiliki sertifikat sehingga berpotensi disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain. • Di Kabupaten Mappi.32 miliar. • sebanyak 54 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota TA 2009 senilai Rp86.75 miliar tidak lengkap dan senilai Rp221. Provinsi Kalimantan Timur. • sebanyak 71 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/ belum disetor ke kas daerah. 2009 pada 28 SKPD belum dipertanggungjawabkan senilai Rp209. sisa kas di bendahara pengeluaran TA 2007 s. yaitu bukti pertanggungjawaban senilai Rp381. 2009 dinilai lebih rendah senilai Rp238. Penyebab 1. • Di Kabupaten Cianjur.02 miliar belum dipertanggungjawabkan dan berpotensi disalahgunakan oleh penerima bantuan.13 miliar tidak diserahkan kepada tim BPK RI.73 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Aceh. aset tetap tanah senilai Rp626. 1.32 • sebanyak 93 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.d.74 Kasus-kasus administrasi pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.88 miliar tidak lengkap dan tidak dapat diyakini kewajarannya. Provinsi Papua. aset tetap hasil pengadaan TA 2006 s. Provinsi Jawa Barat. dan • sebanyak 25 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • sebanyak 28 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.d. • sebanyak 58 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Aceh Jaya. pertanggungjawaban atas belanja daerah TA 2009 senilai Rp602. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan pengelolaan perlengkapan/barang milik daerah.

Provinsi Kalimantan Timur.02 miliar.33 1. • sebanyak 4 kasus penetapan kualitas dan kuatitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp4. dan • sebanyak 69 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp91.81 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya sebagai berikut. adanya penetapan kualitas dan kuantitas barang/ jasa yang digunakan tidak sesuai standar. Pada umumnya kasus ketidakhematan yaitu adanya pengadaan barang/ jasa melebihi kebutuhan. segera melengkapi dokumen kepemilikan dan membuat peraturan daerah terkait penyertaan modal pemerintah.79 1. 1.76 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. 1. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. hasil pekerjaan pendamping Pelabuhan Terpadu Kota Bangun berupa pekerjaan penurapan TA 2009 senilai Rp8.03 juta.27 miliar terdiri atas • sebanyak 1 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp131. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakhematan sebanyak 74 kasus senilai Rp95.75 miliar telah rusak dan diketahui bangunan mengalami kemiringan dan cenderung untuk rebah ke arah tiang pancang pekerjaan pembangunan Pelabuhan Terpadu Kota Bangun sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibangun kembali. kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. 1.77 Ketidakhematan 1.11 miliar.78 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. BPK telah merekomendasikan antara lain agar entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan secara administratif atas bukti pertanggungjawaban yang belum valid.75 Selain itu. dan terjadi pemborosan atau kemahalan harga.80 . BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Rekomendasi 1.

83 Ketidakefektifan 1. kasus ketidakhematan terjadi karena pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Provinsi Sumatera Barat.84 Terhadap kasus-kasus ketidakhematan. Selain itu. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas. Provinsi Jawa Barat. Kasus ketidakefektifan yang lain yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan 1. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • Di Kabupaten Solok Selatan.44 miliar sehingga memboroskan keuangan daerah. • Di Kabupaten Kepulauan Mentawai. antara lain BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Penyebab 1.00 juta tidak berdasarkan survei harga setempat sehingga memboroskan keuangan daerah. • Di Kota Tual. tidak cermat. dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Provinsi Sumatera Barat. belanja tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD TA 2009 senilai Rp773. pengeluaran biaya perjalanan dinas pada Dinas Perpajakan Daerah TA 2009 senilai Rp1.30 juta. Kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. dan memedomani ketentuan yang berlaku dalam menetapkan kebijakan. 1.49 miliar tidak memperhatikan asas kehematan.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Provinsi Maluku. terdapat hasil pekerjaan perencanaan TA pada Dinas Pekerjaan Umum belum dimanfaatkan senilai Rp1.82 Kasus-kasus ketidakhematan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. Rekomendasi 1.87 .34 • Di Kabupaten Cianjur.86 1. pemborosan keuangan daerah atas pengadaan barang dan jasa Tahun 2008 yang dilakukan dengan utang kepada pihak ketiga dan tidak sesuai dengan standar harga satuan barang dan jasa kebutuhan pemerintah senilai Rp735.

pemberian tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja selama TA 2009 senilai Rp4. serta kantor Pelayanan Terpadu TA 2009 senilai Rp5. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp33. hasil pembangunan rumah jabatan dan pendukung lainnya untuk Pimpinan dan Anggota DPR Aceh beserta pendukung lainnya TA 2008 s. • Di Provinsi Aceh. 2009 sebanyak 69 unit senilai Rp43. Provinsi Sulawesi Tenggara. • Di Kabupaten Nias Selatan. • sebanyak 5 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp477. • Di Kabupaten Konawe Utara.03 juta.14 miliar terlambat diterima oleh sekolah sehingga sekolah tidak segera dapat memanfaatkan dana beasiswa tersebut.89 Kasus-kasus ketidakefektifan tersebut di antaranya sebagai berikut. 1.01 miliar.38 miliar. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp7. • Di Kabupaten Simalungun. Provinsi Sumatera Utara.d.88 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakefektifan sebanyak 137 kasus senilai Rp195. Bappeda.35 miliar.35 tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp445. .20 juta. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.91 miliar belum dimanfaatkan. pembangunan gedung kantor Dinas Perhubungan.30 miliar belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya dan berpotensi rusak. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. 1. Dinas Kimpraswil. dana beasiswa untuk siswa miskin pada Dinas Pendidikan TA 2009 senilai Rp3.93 miliar. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 73 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp61. Provinsi Sumatera Utara.32 miliar.08 miliar belum memenuhi tujuan peningkatan prestasi kerja. • sebanyak 3 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6. • sebanyak 32 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp86.

90 Kasus-kasus ketidakefektifan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.36 • Di Kabupaten Tanah Bumbu. pengadaan alatalat kesehatan pada RSUD Amanah Husada TA 2009 senilai Rp3. tidak memedomani ketentuan yang berlaku. kurang dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan. BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. 1.91 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.06 miliar belum dimanfaatkan mengakibatkan pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal. Provinsi Kalimantan Selatan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan Rekomendasi 1.92 . memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan kegiatan serta memperhatikan asas efektivitas dalam melaksanakan kegiatan. tidak cermat dalam merencanakan kegiatan dan melaksanakan tugas. Penyebab 1. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

38 7.65 75.83 882.1 Pada Semester II Tahun 2010.444.429.52 Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 164.273. Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya (dalam miliar rupiah) Neraca No.81 256.97 Biaya 806.70 16.1 berikut Tabel 2. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya.085. Cakupan pemeriksaan atas LK BUMN/D dan badan lainnya meliputi neraca.2 2.4 14.96 Laba (rugi) Surplus (defisit) 70. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.3 7.948.09 424.11 . Pemeriksaan keuangan atas BUMN/D dan badan lainnya bertujuan untuk memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.34 26.03 72.044. laporan perubahan ekuitas dan rasio modal.11 20.26 132. Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) TB 2009.72 2.09 17. Objek Pemeriksaan Aset 1 2 3 4 5 6 PTPN XII TB 2009 PDAM Kota Padang TB 2009 WSEDP pada BNPB TA 2010 BPIH 1430 H/2009 M BPIH 1429 H/2008 M 1.37 BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 2.19 7. Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010.370.84 Kewajiban 504. Laporan Keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M.38 -2. serta Laporan Keuangan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009.16 26.75 -19. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).78 Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus (Defisit)/Laporan Aktivitas/ Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 877.39 931. laporan laba rugi.487.692. Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009.9 26.01 112.43 -14.28 21. laporan realisasi anggaran atau laporan surplus (defisit) atau laporan aktivitas.1.03 451. Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BUMN/D dan badan lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 2.109. serta laporan arus kas.36 BP Kawasan Perdagangan Bebas dan 14.113.56 7.05 Ekuitas 580.

BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. dan akuntabel. Selain itu. Sjahrial & Rekan Tabel 2. BPK juga memberikan opini TMP terhadap PTPN XII (Persero) TA 2009 serta PIH Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M. transparan. efisien. Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini.5 Opini 2. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. No.7 Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. yaitu opini.4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BUMN/D dan badan lainnya disajikan dalam tiga kategori. 1 2 3 4 Entitas PDAM Kota Padang BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam PTPN XII (Persero) BPIH Opini 2008 TMP WDP WDP-DPP*) TMP 2009 WDP WDP TMP TMP Keterangan : *) diperiksa oleh KAP Sugeng. pemerintah wajib melakukan pengendalian intern atas penyelenggaraan kegiatannya.8 . di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. sistem pengendalian intern (SPI).2. opini WDP diberikan terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009 serta BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. Kecuali WSEDP BNPB yang merupakan initial audit bagi BPK. perkembangan opini keempat entitas tersebut untuk Tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 2. Hasil evaluasi atas SPI LK BUMN/D dan badan lainnya dapat diuraikan sebagai berikut. Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Sistem Pengendalian Intern 2. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.6 BPK memberikan opini WTP terhadap Laporan Keuangan WSEDP BNPB TA 2010.2 berikut. 2. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.38 Hasil Pemeriksaan 2. Oleh karena itu. 2.

2.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya menunjukkan adanya 71 kasus kelemahan SPI. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam. dan aktiva tanaman Rp37. alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54. saldo hutang kepada Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) senilai Rp16. • Di PDAM Kota Padang TB 2009.66 miliar. . serta terdapat denda keterlambatan piutang UWTO yang belum dibuatkan faktur penagihannya senilai Rp967. • sebanyak 19 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.39 Hasil Evaluasi SPI 2. pengelolaan piutang Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) TA 2009 belum tertib dan sampai dengan 31 Desember 2009 belum diterima pelunasannya senilai Rp264.29 miliar dan Rp2. sehingga saldo hutang DAU tidak dapat diyakini kewajarannya. Penyebab 2.62 miliar. implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk dilakukan tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masing-masing senilai Rp7.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN/D dan badan lainnya. dan • sebanyak 22 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.25 miliar dan PDAM menanggung biaya produksi air. sanksi pemutusan sambungan air belum dilakukan kepada pelanggan yang menunggak lebih dari tiga bulan mengakibatkan tunggakan rekening air senilai Rp13.17 miliar tidak didukung dokumen pendukung yang menjadi dasar perhitungan dan tidak ada proses rekonsiliasi antara BPIH dengan BP-DAU untuk memastikan jumlah piutang yang seharusnya disajikan. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009.68 juta. • Di PIH Tahun 1429 H/2008 M.63 miliar.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya.

BPK telah merekomendasikan agar pimpinan BUMN/D dan badan lainnya menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengawasan.15 .595. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 2.14 Berdasarkan Tabel 2. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 7.29 64. Tabel 2. kekurangan penerimaan negara/perusahaan milik negara/daerah. ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.3.43 miliar tidak diungkap pada laporan keuangan per 31 Desember 2009 dan kebijakan menghapusbukukan piutang tersebut melanggar anggaran dasar dan tanpa persetujuan dewan komisaris.67 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/ Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan 2. administrasi.3. dan ketidakefektifan meliputi 63 kasus senilai Rp239.203.72 89. BPK masih menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah. Di antara temuan signifikan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah sebagai berikut.123.99 49.12 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. hasil pemeriksaan mengungkapkan 63 kasus senilai Rp239. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009.13 Selain opini dan evaluasi atas sistem pengendalian intern. 2.3 di atas. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 4 7 10 23 9 1 9 Jumlah 63 Nilai (juta Rp) 28.48 35.16 239. yaitu piutang Ditjen Perkebunan dan penyisihannya senilai Rp11.03 282. potensi kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah. ketidakefisienan.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.897. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya No.40 Rekomendasi 2.116.12 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 2. ketidakhematan.

2. • Di PDAM Kota Padang TB 2009.00) dan Rp17.16 Dari sejumlah kasus kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah senilai Rp28.61 miliar.86 miliar. 2. yaitu terdapat penggunaan dana hibah ADB senilai Rp21.46 ribu (ekuivalen USD1 = Rp8. tidak cermat dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. yaitu tingkat kehilangan air dalam proses distribusi melebihi batas toleransi senilai Rp11. Rekomendasi 2.06 miliar dan pendapatan bunga deposito hasil optimalisasi setoran awal biaya PIH biasa pada tiga BPS masih terhutang pajak final yang belum disetorkan ke kas negara senilai Rp3. Selain itu.00) yang digunakan untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening sehingga menimbulkan risiko kegiatan terhambat.37 miliar (ekuivalen SAR1 = Rp2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. yaitu bunga deposito dana setoran awal dari empat bank penerima setoran (BPS) senilai Rp6. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah masing-masing senilai Rp539. Penyebab 2. BPK telah merekomendasikan agar para pejabat lebih menaati ketentuan serta lebih cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.991. yaitu penghapusan piutang kepada Anna for Development senilai Rp84. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.32 miliar.19 . ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian negara.68 miliar sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya. • Di PIH Tahun 1430 H/2009 M. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.41 • Di WSEDP BNPB Tahun 2010.59 miliar. terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan PIH. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.991.17 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam menaati ketentuan yang berlaku.18 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan tersebut.500. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. yaitu pemberian dana bantuan sosial masyarakat tidak mematuhi ketentuan yang berlaku senilai Rp3.72 juta dan kekurangan penerimaan negara/daerah/ perusahaan milik negara/daerah senilai Rp35.45 miliar (ekuivalen USD1 = Rp8.00) tidak sesuai ketentuan.

42 .

3 BUMN. pertanian. perhubungan. 5 pemda. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. dan 3 BUMN). dan 9 PDAM. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan efektivitas. . efisiensi.43 PEMERIKSAAN KINERJA Pemeriksaan kinerja bertujuan menilai aspek ekonomis. perusahaan daerah air minum (PDAM). dan kinerja lainnya (10 objek pemerintah pusat. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan. kinerja pendidikan. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas • • • • • • • • penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. pengelolaan hutan mangrove. energi. Dalam Semester II Tahun 2010. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.

44 .

Kawasan penempatan yang terbesar adalah kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). Jawa Timur. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Perwakilan RI di luar negeri. Jawa Tengah. Ditjen Imigrasi. martabat. Jeddah. Berbagai pihak terlibat baik lembaga pemerintah maupun swasta dalam proses penempatan TKI sejak dari pra penempatan sampai dengan masa penempatan.3 3. Dalam Semester II Tahun 2010.45 BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 3. Penempatan TKI di luar negeri telah memberikan tambahan sumber devisa negara yang besar dengan rata-rata setiap tahunnya mencapai USD 4. dan perlindungan hukum.1 Penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. Jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam lima tahun terakhir mencapai angka 3. serta Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). serta Atase Tenaga Kerja pada Perwakilan RI di Kuala Lumpur. sementara pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional belum mencukupi.3 triliun. BNP2TKI. dan dinas tenaga kerja provinsi/kabupaten/kota. Ketentuan perundang-undangan yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2004 merupakan landasan hukum untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak di luar negeri.2 3. dan Nusa Tenggara Barat. Hongkong. Riyadh. hak asasi manusia. Singapura. dan Kuwait. Pemeriksaan dilakukan pada Kemenakertrans.37 miliar atau sekitar Rp39. BNP2TKI. Setidaknya ada lima lembaga formal yang terkait dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans). yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. namun kebijakan operasional lebih lanjut telah diatur dengan Peraturan Presiden. Dinas Tenaga Kerja provinsi/kabupaten/ kota. 3. Walaupun enam peraturan pemerintah yang diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 belum ada yang diterbitkan.01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia.4 . yaitu DKI Jakarta.

Masa Penempatan • Keberangkatan dan kedatangan TKI di tempat tujuan dimonitor dan telah didukung sistem informasi yang andal. .6 Untuk memastikan penilaian kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah sesuai dengan kondisi yang memadai. pelaksanaan. dan pengendalian. • Pelatihan yang membekali kemampuan calon TKI sesuai dengan kebutuhan dan didukung prasarana yang memadai. • Pengurusan dokumen pemberangkatan calon TKI yang sah. • Monitoring TKI yang proaktif yang menjamin kepastian perlindungan TKI sesuai dengan hak dan kewajibannya. • Pengujian kesehatan yang menjamin derajat kesehatan calon TKI terpenuhi dan didukung proses yang transparan dan dapat diandalkan. • Pengujian yang memastikan kompetensi calon TKI sesuai yang dipersyaratkan dan didukung lembaga yang teruji. pengorganisasian sumber daya. Kriteria Pemeriksaan 3. transparan.5 Pemeriksaan kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri bertujuan untuk menilai apakah penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah efektif dalam aspek perencanaan. b. dan pasti. • Penanganan TKI bermasalah secara komprehensif yang memperhatikan aspek perlindungan dan kepastian hak dan kewajiban TKI. • Pembekalan akhir yang memastikan calon TKI memahami hak dan tanggung jawab serta diselenggarakan secara konsisten.46 Tujuan Pemeriksaan 3. a. Pra Penempatan • Rekrutmen yang prosedural dalam memenuhi job order untuk menghasilkan calon TKI yang telah dipersiapkan dan didukung fasilitas yang layak dan memadai pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. didasarkan pada kriteria sebagai berikut.

Masalah-masalah pokok yang mendorong tidak efektifnya penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dapat diuraikan sebagai berikut.7 Hasil pemeriksaan atas kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menyimpulkan bahwa penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. dan perlindungan TKI 3. • Pemulangan TKI yang memastikan keamanan dan kenyamanan TKI dan didukung prasarana yang memadai. keadilan.11 .8 3. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. Kompleksitas masalah tersebut mengakibatkan efektivitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tidak tercapai secara optimal.9 Rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. • Penanganan TKI bermasalah yang memberikan kepastian dan tindak lanjut perbaikan. Masih sering terjadi besarnya potongan gaji TKI lebih tinggi dari komponen biaya penempatan maksimal (cost 3. Hasil Pemeriksaan 3. pelatihan dan pengujian kesehatan. proses penempatan di negara tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilik kepentingan. Kondisi tersebut terbukti dari penyiapan perekrutan dan penempatan TKI yang ternyata sebagian dilakukan untuk negara tujuan penempatan yang tidak memiliki MoU dan perundang-undangan yang menjamin perlindungan tenaga kerja. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. Purna Penempatan • Pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. Hal ini juga tidak didukung dengan sistem yang terintegrasi dan alokasi sumber daya yang memadai guna meningkatkan kualitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. pengurusan dokumen. 3. sistem perekrutan calon TKI tidak menjamin bahwa biaya pengurusan dokumen dan syarat-syarat penempatan serta potongan gaji kepada TKI telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Selain itu. belum dilaksanakan sepenuhnya untuk menjamin aspek perlindungan dan rasa aman bagi TKI.47 c.10 Rekrutmen TKI yang seharusnya dimulai sejak pemetaan kondisi dan dasar hukum ketenagakerjaan negara tujuan penempatan TKI.

mampu. Banyaknya kondisi-kondisi yang tidak ideal tersebut belum secara optimal dijadikan bagian dari monitoring dan evaluasi pemerintah untuk perbaikan. dan BNP2TKI. Selain itu. dan perlindungan bagi TKI. tidak semua sarana kesehatan memiliki sistem biometrik yang terhubung dengan Sistem Pelayanan Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai alat untuk memvalidasi sertifikat kesehatan calon TKI yang diterbitkan sarana kesehatan. Standar pengujian kesehatan dan biaya pengujian kesehatan juga tidak baku dan seragam bagi semua sarana kesehatan.13 3. biaya paspor di kantor imigrasi. Hal-hal tersebut di atas menjadikan proses rekrutmen yang selama ini berjalan belum valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan potensi TKI bermasalah di kemudian hari. 3. Beberapa PPTKIS mengirim TKI ke luar negeri melebihi jumlah TKI yang disetujui untuk direkrut dan merekrut calon TKI yang tidak memenuhi syarat. mengalami pemotongan gaji lebih lama. biaya pembekalan akhir penempatan (PAP)/Iuran Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) di APJATI. tetapi melalui sponsor/petugas lapangan (calo).14 Penyiapan tenaga kerja yang sehat. Ini terbukti dengan masih adanya sarana kesehatan yang beroperasi tanpa izin operasional atau dengan izin operasional tetapi telah kedaluwarsa.12 Sistem rekrutmen calon TKI juga tidak menjamin bahwa mekanisme perekrutan berjalan sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Kebijakan dan prosedur pengawasan sarana kesehatan juga tidak terintegrasi dengan fungsi pengawasan pada Kemenakertrans. sistem pelatihan dan pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi.15 Peraturan tentang rekrutmen calon TKI belum tegas mengatur mekanisme pengendalian operasional sarana kesehatan dan infrastruktur penunjangnya secara efektif. Biaya pengurusan dokumentasi seperti biaya rekomendasi paspor dari disnaker kabupaten/kota. biaya surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di kantor kepolisian. masih ditemukan juga perekrutan TKI tanpa job order atau menggunakan job order yang telah kedaluwarsa. biaya/ premi asuransi dan biaya fee Petugas Lapangan (PL) dan agensi rata-rata menjadi beban yang wajib dikeluarkan oleh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang nantinya akan membebankan kepada TKI melalui potongan gaji. 3. dan teruji kurang didukung kebijakan yang tegas. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sejauh ini evaluasi dan monitoring yang dilakukan pemerintah tidak bisa menjamin kebijakan penyiapan dan pengelolaan perekrutan calon TKI menjadi lebih baik dan efektif. serta pengawasan yang periodik dan konsisten 3. Selain itu. Sebagian besar perekrutan TKI tidak melalui bursa tenaga kerja yang ada pada dinas tenaga kerja kabupaten/kota. . keadilan. Kondisi tersebut mengakibatkan TKI harus menanggung biaya penempatan yang lebih tinggi dari seharusnya. dan memperoleh gaji lebih sedikit.48 structure) TKI yang ditetapkan pemerintah.

18 3. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten 3.49 3. turut bersaing menerbitkan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal dengan BP3TKI Jakarta. Selain itu. kompetensi SDM.16 Akreditasi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja yang ditunjuk melalui keputusan Menakertrans juga dilakukan secara tidak terprogram.19 3. Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas. Sedangkan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Asia Pasifik dapat diproses pada kantor imigrasi manapun. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak melakukan pengawasan secara terprogram. menjadi mubazir. Fungsi dan kegunaan KTKLN. Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) pada Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (PPTK) yang harusnya berkewajiban membakukan prosedur penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal. sistem yang terintegrasi. rutin. Rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal yang seharusnya berfungsi juga untuk pengendalian keabsahan calon TKI menjadi sulit dilakukan karena sistem yang digunakan oleh Direktorat PTKLN bersifat manual. Kewenangan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Timur Tengah dimonopoli oleh Kantor Imigrasi Unit Khusus Tangerang. sesuai amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 51 wajib dimiliki setiap calon TKI untuk dapat ditempatkan di luar negeri. dan terencana dengan baik terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kegiatan uji kompetensi calon TKI setelah dilatih oleh BLKLN.20 . Sanksi atas BLKLN yang tidak memenuhi standar pelatihan tidak dilakukan. terencana. Kondisi pengurusan dokumen yang tidak equal treatment ini tidak dibenahi oleh pemerintah sampai saat ini. dan pasti. Efektivitas LSP sebagai filter tingkat kompetensi calon TKI meragukan dengan banyaknya TKI yang bekerja tanpa pelatihan. transparan. dan program diklat yang jelas dan baku serta jangka waktu pelatihan yang sesuai ketentuan. Banten. dan terukur untuk memastikan penilaian sarana/prasarana. Kapasitas BNSP dalam kecukupan SDM untuk memonitor dan mengevaluasi LSP tidak memadai. sehingga masih saja ditemukan kasus-kasus TKI gagal disebabkan tidak adanya pelatihan atau pelatihan yang tidak memenuhi standar oleh BLKLN.17 Dualisme kewenangan antara Kemenakertrans dengan BNP2TKI dan dinas tenaga kerja dengan BP3TKI dalam penerbitan dokumen keberangkatan TKI yang belum dituntaskan secara kelembagaan menambah kerumitan pengurusan dokumen keberangkatan TKI yang sah. Dualisme penggunaan KTKLN yang dikeluarkan oleh 3. yang sampai saat ini belum ada. Perbedaan perlakuan pembuatan paspor ini menyebabkan pengerahan sumber daya PPTKIS yang tidak efisien. Mekanisme penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal oleh instansi yang berbeda-beda antar daerah pengirim TKI (khususnya antara Provinsi DKI Jakarta dengan provinsi lainnya) semakin tidak terkendali.

3.50 BNP2TKI dan Asosiasi PPTKIS (atas rekomendasi Kemenakertrans) yang tidak kunjung selesai dan tidak tersedianya perangkat pendukung KTKLN (card reader) yang memadai mengurangi fungsi KTKLN sebagai kartu identitas TKI yang sah dan wajib dimiliki TKI sebelum berangkat ke luar negeri. Konsorsium asuransi tidak berlomba-lomba memperbaiki kinerja jaringan dan pelayanan. bahkan terdapat konsorsium asuransi yang dengan sengaja menyembunyikan data produksi dan klaimnya.24 . pasti. Data produksi dan progress klaim TKI sangat sulit diakses. Penunjukan sembilan konsorsium asuransi melalui keputusan Menakertrans pada Tahun 2006 sampai dengan 2009 yang melibatkan 48 perusahaan asuransi dan delapan broker asuransi. Program itu belum dikelola dengan baik oleh Kemenakertrans. menciptakan persaingan tidak sehat. sedangkan pelaksanaan PAP oleh Sub Direktorat PPTKLN/Asosiasi PPTKIS dibiayai TKI. Selain itu. tetapi mendapat rekomendasi bebas fiskal oleh Sub Direktorat PPTKLN maupun BP3TKI.23 Amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 68 mewajibkan PPTKIS mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi. Website konsorsium asuransi yang seharusnya dapat diakses secara terbuka seringkali terkendala secara teknis. Pelaksanaan PAP oleh BP3TKI yang dibiayai dari APBN. melainkan berlomba-lomba memberikan diskon premi dan tawar-menawar harga premi kepada PPTKIS. 3. walaupun biaya premi tersebut akhirnya ditagihkan secara penuh kepada TKI melalui mekanisme pemotongan gaji.21 Dualisme penyelenggaraan PAP oleh Kemenakertrans/Asosiasi PPTKIS dan BP3TKI menjadikan kegiatan PAP tidak terarah dan terprogram. Ketidaksinkronan jumlah penerimaan DP3TKI dengan jumlah TKI yang diberangkatkan sudah berlangsung lama. yang jenis dan biaya pertanggungannya sudah ditetapkan.22 Penyelenggaraan asuransi TKI belum memberikan perlindungan secara adil. Konsorsium asuransi tidak terbuka melaporkan produksi polis dan klaim baik kepada Kemenakertrans maupun terbuka untuk umum melalui website. Dilema asuransi juga diperparah dengan adanya unsur kesengajaan PPTKIS yang tidak mengikutkan TKI-nya dalam program asuransi. apakah tetap Kemenakertrans atau BNP2TKI. mencerminkan pengelolaan PAP tidak akuntabel dan transparan. khususnya asuransi pra penempatan. Bagi PPTKIS semakin sedikit biaya premi yang dibayarkan semakin baik. Kewajiban 3. Bahkan dengan munculnya isu mengenai siapa yang berhak mengelola DP3TKI. serta banyaknya TKI yang tidak diikutkan PAP oleh PPTKIS-nya. dan transparan 3. menyebabkan Kemenakertrans tidak tertarik untuk memperbaiki penatausahaan DP3TKI itu. KTKLN yang dibuat secara manual di samping menambah ongkos TKI juga bersifat formalitas karena fungsi dan kegunaannya tidak sesuai sebagai penyimpan data yang dapat difungsikan dengan alat pembaca KTKLN. Kemenakertrans tidak menyelenggarakan penatausahaan penerimaan dan penyetoran Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan TKI (DP3TKI) ke kas negara secara transparan.

51 konsorsium dalam menyelesaikan klaim sering terlambat dan tidak jelas statusnya. Banyaknya klaim asuransi TKI yang tidak cair sering menimbulkan pertanyaan apakah proses klaimnya disetujui tetapi lambat atau klaimnya ditolak. Tidak ada kejelasan mengenai proses klaim dari konsorsium baik kepada Kemenakertrans, TKI yang bersangkutan atau pihak-pihak yang mewakili TKI. 3.25 Demikian juga kewajiban konsorsium asuransi dalam menangani kasus-kasus TKI di luar negeri sering kali tidak jelas statusnya. Perwakilan konsorsium asuransi pada negara penempatan sering tidak ada atau ada tapi tidak diketahui Perwakilan RI. Jenis pertanggungan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, pelecehan seksual, kecelakaan kerja yang berakhir pada pemberhentian TKI oleh majikan sulit diklaim kepada asuransi TKI, sehingga sering menimbulkan dilema pembiayaan pemulangan bagi Perwakilan RI. Pendampingan TKI yang bermasalah hukum di negara penempatan diwakili oleh lawyer yang ditunjuk oleh Perwakilan RI. Namun saat tagihan biaya lawyer kepada konsorsium asuransi tiba, konsorsium asuransi sering tidak menyelesaikan segera. Konsorsium asuransi memberikan berbagai alasaan teknis maupun administrasi bila konsorsium asuransi dikonfirmasi terkait status tersebut.

Data penempatan TKI tidak akurat, sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri
3.26 Keberadaan sistem informasi TKI pada Perwakilan RI di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya perlindungan TKI. Sistem tersebut memerlukan data base TKI yang mutakhir setiap waktu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan data TKI tersebut melalui mekanisme lapor diri TKI atau melalui PPTKIS pengirim, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004. Namun ketaatan PPTKIS untuk melaporkan setiap pengiriman TKI kepada Perwakilan RI sangat rendah, sehingga data TKI pada Perwakilan RI tidak mutakhir. Perwakilan RI di luar negeri belum secara optimal melakukan setiap prosedur untuk memastikan kebijakan pendataan TKI melalui mekanisme lapor diri terpenuhi. Kegiatan welcoming program dan exit program oleh Perwakilan RI di Hongkong sepertinya hanya formalitas jauh dari tujuan yang diharapkan. Perwakilan RI di Singapura, Malaysia, dan Kuwait sia-sia melakukan pendekatan melalui data entry testworking permit pada website atau mengirim permintaan tertulis kepada ministry of manpower atau imigrasi, walaupun mengetahui data working permit tersebut hanya berbentuk kisaran jumlah TKI. Sedangkan Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak melakukan upaya pendekatan apapun selain mengandalkan data TKI berdasarkan data perjanjian kerja (PK), walaupun hanya berisi data majikan saja. Kondisi tersebut terjadi di tengah kewenangan yang begitu besar yang dimiliki Perwakilan RI di luar negeri untuk menyetujui boleh atau tidaknya penempatan TKI yang diminta majikan, agensi, dan PPTKIS.

3.27

52

Penanganan dan Penyelesaian TKI bermasalah di luar negeri bersifat parsial
3.28 Berbagai usaha untuk menyelesaikan kasus TKI bermasalah telah dilakukan Perwakilan RI di luar negeri. Namun penanganan kasus TKI oleh Perwakilan RI selama ini hanya fokus pada masalah yang dihadapi TKI secara parsial, bukan pada penyelesaian kasus secara komprehensif pada akar permasalahan. Evaluasi atas kondisi sebab akibat kasus TKI belum dilakukan Perwakilan RI untuk menemukan akar permasalahan secara jelas. Permasalahan gaji tidak dibayar, PHK sepihak, TKI overstayers, dan masalah ketenagakerjaan lainnya akan selalu timbul jika penanganan kasus dilakukan secara parsial. Perwakilan RI di Malaysia, Hongkong, Saudi Arabia, dan Kuwait akan selalu menghadapi kasus serupa berulang-ulang tanpa penyelesaian kasus secara komprehensif yang seharusnya melibatkan pihak-pihak terkait mulai PPTKIS, agensi, majikan, pemerintah Indonesia, dan pemerintah negara penempatan. Pemerintah seharusnya segera mengambil peranan koordinasi tersebut dengan lebih baik lagi.

Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif
3.29 Pemerintah dhi. Kemenakertrans dan BNP2TKI telah menetapkan regulasi yang mengatur proses pendataan kedatangan, pengaturan transportasi, dan penanganan TKI bermasalah. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjamin TKI dapat sampai daerah asalnya dengan cepat, mudah, murah, dan selamat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa koordinasi pendataan kedatangan TKI secara terpadu antara BNP2TKI dengan pengelola bandara dan imigrasi tidak optimal. Tidak ada mekanisme yang baku untuk memastikan bahwa penumpang pesawat yang mendarat di bandara internasional adalah TKI, sehingga ada kemungkinan penumpang yang bukan TKI didata sebagai TKI, demikian juga sebaliknya. Proses penetapan operator armada transportasi tidak melalui evaluasi teknis, kinerja dan kelayakan operator/armadanya secara baku dan transparan, sehingga banyak operator angkutan pemulangan TKI ke daerah asal tidak bisa memenuhi jumlah kuota armada yang telah ditentukan. Penempatan staf BP3TKI sebagai petugas kontrol Surat Perintah Jalan di rumah singgah tidak dilakukan. Pengecekan kelaikan armada dan pengemudi tidak dilakukan karena tidak ada pegawai BNP2TKI yang kompeten dalam bidang teknis mesin kendaraan angkutan TKI. Pengecekan hanya dilakukan sebatas Surat Perintah Jalan, administrasi kendaraan, dan pengemudi. Pemberian sanksi kepada operator yang melakukan pelanggaran tidak konsisten yang terlihat dari sanksi yang berbeda-beda tiap operator. Pengurusan pengajuan klaim asuransi TKI bermasalah yang dibantu oleh BNP2TKI melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memunculkan pertanyaan mengenai beban pembiayaan LBH yang berasal dari APBN untuk jasa pengurusan klaim asuransi TKI, selain juga mengenai mekanisme penunjukan

3.30

3.31

53 dan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH yang tidak jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH kepada BNP2TKI sebagai pemberi tugas. Mekanisme penyerahan klaim kepada TKI juga tidak jelas. Rekomendasi 3.32 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala BNP2TKI baik bersamasama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk segera : • melakukan evaluasi menyeluruh peraturan perundangan, kebijakan, sistem, dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri; • melaksanakan moratorium (penghentian pengiriman sementara) TKI informal ke negara yang belum memiliki peraturan yang melindungi TKI dan/atau perjanjian tertulis (MoU) dengan Pemerintah RI; • mengkaji dan menetapkan kembali biaya penempatan TKI yang proporsional dan riil; • menetapkan dan melaksanakan standar baku penyiapan, pengelolaan, dan monitoring/evaluasi perekrutan TKI; • menetapkan standardisasi perizinan lembaga pengujian kesehatan calon TKI untuk menjamin validitas sertifikasi kesehatan calon TKI; • menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi fungsi BLKLN secara jelas, terprogram, dan terarah; • memastikan kapasitas BNSP agar dapat melaksanakan fungsi pengawasan atas kegiatan LSP secara terprogram dan terarah; • menetapkan batas kewenangan Kemenakertrans, BNP2TKI, dan dinas tenaga kerja secara jelas dan terkoordinasi dengan baik dalam semua lini pengurusan dokumen keberangkatan TKI; • menetapkan dan menegakkan regulasi pengelolaan asuransi yang jelas dan berpihak pada TKI; • menyelenggarakan sistem informasi TKI terpadu yang andal dan dapat diakses Perwakilan RI di luar negeri; • menetapkan program pembinaan/monitoring pada Atase Tenaga Kerja yang terarah serta penyediaan prasarana, SDM, dan dana yang cukup dan cepat dalam upaya perlindungan dan pembinaan TKI; • memperbaiki regulasi penempatan TKI yang lebih menekankan pendekatan perlindungan TKI khususnya regulasi pra penempatan dan

54 menetapkan mekanisme penanganan kasus TKI pada Perwakilan RI di luar negeri yang terstruktur secara efektif; • mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pendataan, mekanisme pemulangan, dan mekanisme penanganan kasus dan pengajuan klaim asuransi TKI pada bandara-bandara internasional tempat kedatangan TKI; dan • mengenakan sanksi secara tegas dan konsisten kepada PPTKI, BLKLN, Lembaga Pengujian Kesehatan calon TKI, LSP, dan perusahaan/ konsorsium asuransi TKI serta pihak lain yang terkait, yang melanggar ketentuan dan/atau standar yang telah ditetapkan dalam pelayanan kepada TKI. 3.33 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

55

BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009
4.1 Krisis keuangan global yang menimpa sektor perbankan dan keuangan dunia dipicu oleh munculnya krisis atas subprime mortgage di Amerika Serikat dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada Tahun 2007. Krisis tersebut berdampak pada kelemahan dalam pengaturan industri keuangan dan sistem keuangan global, serta pada penurunan kinerja perekonomian dunia pada Tahun 2008, dan berlanjut pada Tahun 2009. Sesuai dengan UU Nomor 41 Tahun 2008 Pasal 23 tentang APBN TA 2009, Pemerintah menyampaikan usulan tentang upaya mengatasi dampak krisis global melalui program Stimulus Fiskal (SF) APBN TA 2009 kepada Panita Anggaran DPR RI. Rapat kerja Panitia Anggaran DPR RI dan Pemerintah tanggal 24 Februari 2009 memutuskan bahwa alokasi anggaran program/ kegiatan SF APBN TA 2009 senilai Rp73,30 triliun. Alokasi anggaran program/ kegiatan SF tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan senilai Rp56,30 triliun (76,81%) dan stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun (23,19%). Dari jumlah stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun tersebut, dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur senilai Rp12,20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi senilai Rp4,80 triliun. Program/kegiatan SF belanja infrastruktur mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran stimulus belanja untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya pada program/ kegiatan terkait dengan penanganan bencana, pembangunan jalan, jembatan dan irigasi, percepatan infrastruktur lanjutan, pengembangan bandara, jaringan kereta api, pelabuhan laut dan penyeberangan, pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani, dan pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus nelayan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur pada enam objek pemeriksaan di delapan kementerian dengan lokasi pemeriksaan di 18 provinsi dengan rincian sebagai berikut. • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. • Kementerian Keuangan di Jakarta. • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta.

4.2

4.3

4.4

56 • Kementerian Pekerjaan Umum di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. • Kementerian Perhubungan di sembilan provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. • Kementerian Pertanian di tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. • Kementerian Kelautan dan Perikanan di empat provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. 4.5 Selain itu, pemeriksaan untuk bidang pekerjaan umum (PU) juga dilakukan di 26 dinas provinsi/kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Bengkulu, Jambi, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Entitas yang diperiksa untuk bidang PU meliputi Dinas Bina Marga (BM) dan Pengairan Kabupaten Bogor, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten Demak, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Nganjuk, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Dinas PU BM dan Cipta Karya (CK) Kabupaten Tulungagung, Dinas PU Kota Palangkaraya, Dinas PU Kabupaten Barito Kuala, Dinas PU Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Dinas PU Kabupaten Takalar, Dinas PU Kabupaten Maros, Dinas PU Kabupaten Gowa, Dinas PU Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas PU Kabupaten Sorong, Dinas PU Kabupaten Sorong Selatan, Dinas PU Kabupaten Mukomuko, Dinas PU Kabupaten Kepahiang, Dinas PU Kabupaten Bungo, Dinas PU Kabupaten Merangin, Dinas Kimpraswil Provinsi NTT, Dinas PU Kabupaten Manggarai Timur, Dinas PU BM, dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Donggala, Dinas PU Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara, Dinas PU Kabupaten Halmahera Timur, Dinas PU BM, Tata Ruang, Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun, Dinas CK dan Perumahan Kabupaten Asahan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 pada delapan kementerian dan 26 dinas provinsi/kabupaten/kota adalah senilai Rp4,10 triliun dari realisasi belanja Rp6,13 triliun atau 66,84%.

4.6

4.7

57

Tujuan Pemeriksaan
4.8 Tujuan pemeriksaan atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 untuk menilai apakah • Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF Tahun 2009 pada belanja infrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK; dan • Pelaksanaan kegiatan SF bidang insfrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

Sasaran Pemeriksaan
4.9 Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. • Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan. • Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan.

Kriteria Pemeriksaan
4.10 Kriteria penilaian efektivitas pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF belanja infrastruktur beserta implementasinya secara nasional di tingkat pusat maupun daerah dalam pencapaian tujuan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur dalam pemeriksaan ini menggunakan kriteria pengelolaan yang baik (model of good management) yang dimuat di berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kriteria tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan area kunci pada pemeriksaan pendahuluan dan telah dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa.

Hasil Pemeriksaan
4.11 Hasil pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menyimpulkan bahwa, walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4,5% di tengah krisis keuangan dunia, pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan serta pelaksanaan SF belanja infrastruktur Tahun 2009, yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah, belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Hal tersebut dibuktikan adanya 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151,49 miliar atau

58 3,69% dari realisasi anggaran yang diperiksa dengan jumlah tenaga kerja tidak terserap minimal sebanyak 216.520 Orang Hari (OH), yang disebabkan oleh kelemahan kebijakan, sistem/prosedur perencanaan, penganggaran, dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketaatan pada asas kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan yang kurang dipenuhi.

Kelemahan Kebijakan
4.12 Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009, BPK menemukan kelemahan kebijakan yang telah mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Kelemahan kebijakan tersebut terjadi baik di tingkat pembuat kebijakan makro yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), maupun di tingkat kementerian pelaksana program/ kegiatan stimulus. Temuan-temuan signifikan terkait kelemahan kebijakan di antaranya adalah sebagai berikut. • Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian dana SF infrastruktur sebagai belanja barang ke daerah yang dilaksanakan dalam keadaan krisis ekonomi, tidak mempunyai landasan hukum yang dapat menjamin kepastian hukum sampai dengan terbitnya UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN TA 2009. Di samping itu, kriteria kondisi darurat atas krisis ekonomi hanya ditetapkan dalam UU APBN 2009 yang hanya berlaku untuk tahun tersebut. Dengan demikian, walaupun secara umum ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur mekanisme penanganan di saat krisis, hal tersebut belum komprehensif dan terintegrasi untuk menangani kondisi krisis secara cepat, tepat, dan akuntabel. • Di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan, perhitungan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja belum ada standar/pedomannya, sehingga laporan jumlah tenaga kerja yang terserap tidak dapat diyakini akurasinya serta belum dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen. Lebih jauh lagi, di tingkat satuan kerja (satker) pelaksana kegiatan SF belanja infrastruktur, penetapan target dan perhitungan realisasi tenaga kerja tidak didasarkan atas perhitungan yang baku dan berbeda antara satu satker dengan satker lainnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) yang bebas PPN masih memperhitungkan pengenaan PPN senilai Rp4,80 miliar berakibat hilangnya kesempatan membangun 96 unit RNRB senilai Rp4,80 miliar yang dapat menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 576 orang.

59 • Di Kementerian Pertanian, realokasi anggaran dan pemilihan program/ kegiatan SF melalui mekanisme APBN-P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran dalam mendukung pencapaian tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengatasi PHK. Penyebab 4.13 Pemerintah belum memiliki ketentuan perundang-undangan dan mekanisme yang komprehensif dan terintegrasi untuk dapat menjamin kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. Menteri PU dan Menteri Perhubungan belum menetapkan standar/pedoman mengenai perhitungan tenaga kerja, Menteri Kelautan dan Perikanan dhi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) belum memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan RNRB mengenai pembebasan PPN, dan Menteri Pertanian tidak konsisten dalam menjalankan program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Rekomendasi 4.15 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan di antaranya kepada pemerintah, dalam hal ini • Menteri Keuangan, agar berkoordinasi dengan menteri terkait dalam membuat protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam rangka menghadapi krisis ekonomi di masa yang akan datang, dan memastikan bahwa kebijakan anti krisis dilakukan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Protokol tersebut agar ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna memberikan jaminan kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. • para menteri dimaksud agar membuat pedoman/standar dan memberikan panduan serta konsisten dalam melaksanakan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur.

4.14

Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran, Pemilihan Program/Kegiatan, dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur
4.16 Dalam pemeriksaan kinerja program/kegiatan SF belanja infrakstruktur Tahun 2009, BPK menemukan permasalahan-permasalahan efektivitas pengalokasian anggaran, pemilihan program/kegiatan, dan pencapaian tujuan program stimulus fiskal belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan yang ditemukan di antaranya sebagai berikut. Pemerintah kurang mendukung tercapainya tujuan penyerapan tenaga kerja dalam memilih program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Paket-paket kegiatan yang dipilih sebagian besar bukan padat karya dan merupakan paket

4.17

Sampang. • Di Kementerian PU.25 miliar. • Di Kementerian Perhubungan. program yang dilaksanakan di daerah penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan dan kegiatan dapat diselesaikan dalam Tahun 2009. . Hal ini mendukung hasil evaluasi BPK bahwa program yang didanai oleh SF belanja infrastruktur Tahun 2009 belum sepenuhnya efektif dalam mendukung tujuan peningkatan daya serap tenaga kerja dan pengurangan PHK. berada di kawasan sempadan pantai dan sungai yang terjadi di Kabupaten Brebes. yang dilaksanakan secara tahun jamak sejak Tahun 2008. untuk kontrak tahun jamak yang di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi) senilai Rp5.00 miliar. yang sifat pekerjaannya padat modal dan padat teknologi sehingga tidak akan menyerap tenaga kerja yang optimal. dan Gardu Induk senilai Rp425. Hasil studi tenaga ahli BPK RI dari FE UI menunjukkan bahwa sebagian besar dari proyek yang dilaksanakan di daerah adalah proyekproyek yang dibutuhkan.00 miliar pada Ditjen Perhubungan Udara. namun belum ada sumber dananya. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen LPE untuk Pembangunan Transmisi.66 miliar. • Di Kementerian Pertanian. Selain itu para pihak tersebut belum sepenuhnya menggunakan penyerapan tenaga kerja sebagai kriteria utama pemilihan program. sebagai pihak yang memiliki kewenangan. sehingga penggunaan anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur senilai Rp1.00 miliar. pemilihan lokasi 38 unit RNRB tidak tepat. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Badan Karantina Pertanian senilai Rp51. di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi).19 Pemerintah. gubernur/walikota/bupati dan para kepala dinas terkait.42 miliar kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. Bila dikaitkan dengan kriteria program yang mendapatkan tambahan alokasi belanja dalam rangka SF 2009 dari Kementerian Keuangan. di antaranya digunakan untuk Pembangunan Gedung Teknik dan Metoda Karantina Pertanian Tahap IV senilai Rp35. • Di Kementerian ESDM.60 pekerjaan tahun jamak yang tidak menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan. Penyebab 4. 4. Jaringan. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. para menteri.18 Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Probolinggo. belum menetapkan kebijakan yang diperlukan terkait dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi PHK. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur sebagai tambahan dana dua kontrak tahun jamak senilai Rp100. dan Kota Pekalongan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen Bina Marga di Provinsi Kalimantan Selatan.

61 Rekomendasi 4. • Di Kementerian PU. sebanyak 17 kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum berindikasi merugikan negara senilai Rp41. Salah satu indikator keberhasilan program/kegiatan SF adalah tercapainya target yang telah ditetapkan. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan SF Belanja Infrastruktur 4. bidang bina marga. di antaranya hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target volume senilai Rp1. indikator yang dapat digunakan adalah tercapainya target volume fisik yang direncanakan dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan sesuai dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. hasil pemeriksaan pada 9 Kegiatan Stimulus Pusat (KSP) dan 26 Kegiatan Stimulus Daerah (KSD) atas pelaksanaan pekerjaan bidang SDA. Dasar pemilihan program tersebut hendaknya tercantum dalam suatu crisis management protocol yang perlu disusun untuk menjamin bahwa kebijakan anti krisis ekonomi bisa direncanakan dan dilaksanakan secara tepat waktu. Hasil pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target yang ditetapkan.22 . pemerintah hendaknya mempergunakan dasar yang jelas sesuai dengan tujuan SF. dan bidang cipta karya ditemukan kekurangan volume pekerjaan. Permasalahan signifikan di antaranya sebagai berikut.41 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 134. Permasalahan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang tidak mencapai target volume dan permasalahan yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara.20 Terhadap permasalahan tersebut.24 miliar.16 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH yang antara lain pada pekerjaan pembangunan tanggul banjir Sungai Kasi (tahap II) Kabupaten Manokwari.492 OH. 4. BPK telah merekomendasikan agar dalam memilih program-program/kegiatan-kegiatan SF. pertanian. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. Pengusulan program/kegiatan oleh kementerian lebih memperhatikan tujuan dan kebijakan yang melandasinya. energi. BPK menemukan sebanyak 60 kasus pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target volume fisik yang ditetapkan senilai Rp84.48 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 208. perhubungan. Di antara kasus-kasus tersebut. Dengan demikian hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang PU tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp30. tepat sasaran. Pada program/kegiatan SF belanja infrastruktur Tahun 2009.581 OH. dan akuntabel.21 Hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan permasalahan-permasalahan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur.

. • Di KSD Teluk Bintuni. Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Waterpass dan Theodolite • Di Kementerian Perhubungan. Ditjen Perhubungan Laut. Provinsi Papua Barat. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang pekerjaan umum tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp4. Dengan demikian. perhitungan RAB kontrak tidak sesuai dengan SNI tentang analisa biaya konstruksi (ABK) bangunan gedung dan perumahan pekerjaan pondasi sehingga berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp5. Ditjen Perkeretaapian. dan Ditjen Perhubungan Darat.105 OH. • Di bidang perhubungan Provinsi Maluku Utara. 4. pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi Saluran Induk I & II Tuaraisah tidak dikerjakan sesuai dengan kontrak. proses pengadaan pembangunan fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate tidak sesuai ketentuan.23 Kasus-kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara di antaranya sebagai berikut.74 miliar. kekurangan volume pekerjaan dalam 113 kontrak pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara. Dengan demikian.62 Gambar 4.1. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang perhubungan tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp12.53 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 2.616 OH.35 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 46.

dan Papua Barat tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat. sehingga berpotensi terjadinya hilang/rusak aset negara tersebut dan aset tersebut sampai berakhirnya pemeriksaan belum dimanfaatkan. tingginya biaya produksi dan biaya operasional serta efisiensi alat rendah. • Di Kementerian Perhubungan. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. Akibatnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. aset hasil pengadaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada tiga satker Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan. Papua. Aset hasil KSD di 22 provinsi/kabupaten/kota tidak dicatat dan dilaporkan sebagai mutasi tambah nilai aset dalam LBMD maupun neraca dinas pelaksana KSD dan pemerintah daerah.63 4. • Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2009 dan Peraturan Menteri PU Nomor 09/PRT/M/2009 tanggal 17 April 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran SF Bidang Pekerjaan Umum untuk kegiatan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah jelas menyatakan bahwa keluaran/aset yang diperoleh dari KSD menjadi barang milik daerah dan tidak masuk menjadi aset kementerian. 4. pengenaan PPh final jasa konstruksi pada 33 kabupaten/kota kurang senilai Rp544. Selain itu GPS yang diadakan memiliki fitur yang melebihi kebutuhan. Akibatnya hasil pengadaan kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan.25 Potensi kerugian negara/daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Kementerian ESDM. yang terbukti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan kembali menggunakan bahan bakar konvensional. di antaranya karena ketiadaan pasokan bahan baku. hasil pengembangan fasilitas pembangunan DME berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.79 miliar pada Setjen Kementerian Pertanian belum dimanfaatkan karena belum didistribusikan kepada dinas perkebunan provinsi/kabupaten sesuai dengan rencana. • Di Kementerian Pertanian.24 Selain permasalahan signifikan di atas.19 juta dan mengakibatkan lebih bayar senilai tersebut. hasil 21 paket pekerjaan Desa Mandiri Energi (DME) bahan bakar nabati di 26 lokasi senilai Rp19. surat . pemeriksaan BPK juga menemukan permasalahan lain yang spesifik di masing-masing kementerian. mengakibatkan aset hasil KSD tidak tersaji dalam neraca pemerintah daerah per 31 Desember 2009 dan berpotensi tidak terpelihara. hasil pengadaan 283 unit alat Global Positioning System (GPS) senilai Rp3.64 miliar belum sepenuhnya efektif dalam mencapai tujuan penganekaragaman sumber energi masyarakat.

14 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat 11 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi dan mengakibatkan potensi kerugian negara/daerah pada Kementerian Pekerjaan Umum di antaranya sebagai berikut. Provinsi Kalimantan Selatan. • Di KSP Provinsi Jawa Tengah. Penyebab 4. Kalimantan Tengah.05 miliar.17 juta serta pajak galian golongan C belum dipungut senilai Rp1. pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab kurang optimal dan lalai dalam pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program. dan Kalimantan Selatan. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp5. • Di KSD Kabupaten Barito Kuala. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan Tahun 2009 belum dikenakan denda. KSD pada Kabupaten Halmahera Timur. Papua Barat. tidak cermat dalam merancang dan menyusun volume pekerjaan serta evaluasi harga satuan kontrak.09 miliar diantaranya sebagai berikut.64 berharga.27 Dari kasus-kasus terkait dengan hasil pelaksanaan pekerjaan yang tidak mencapai target volume kontrak dan kekurangan penerimaan telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah senilai Rp21. perhubungan. 4. • Di Kementerian PU. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp2.23 miliar. dan barang. pertanian.28 Terkait dengan permasalahan hasil pelaksanaan yang tidak mencapai target dan potensi kerugian negara/daerah. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja bidang pekerjaan umum tahun 2009 belum dikenakan denda senilai Rp712.43 miliar. 4.26 Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. • Di Kementerian Perhubungan. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 14 kasus senilai Rp9. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. sedangkan pada permasalahan yang berindikasi merugikan negara karena diduga . energi.

BPK telah merekomendasikan para gubernur/bupati/walikota agar berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk segera memproses serah terima aset hasil kegiatan stimulus dan mencatatnya dalam LMBD dan neraca. Selain itu. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki pekerjaan dan menyampaikan bukti perbaikannya. Di Kementerian Perhubungan. pejabat terkait kurang melakukan sosialisasi dan pengawasan serta tidak cermat dalam memperhitungkan PPh final atas jasa konstruksi. selain itu pejabat pembuat komitmen (PPK) lalai dalam mengendalikan dan mengawasi serta memonitor pengadaan barang/jasa.36 .34 Terhadap permasalahan-permasalahan hasil pekerjaan yang tidak mencapai target tersebut. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di Kementerian Pertanian.33 4. Dirjen Listik dan Pemanfaatan Energi (LPE) kurang cermat dalam merencanakan kegiatan dan kurang mengawasi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan. selain yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum.35 4.30 Di Kementerian PU. kuasa pengguna anggaran (KPA) tidak optimal melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan.31 4. Terkait dengan permasalahan pencatatan aset di Kementerian PU. selain itu pengawas lapangan dan konsultan pengawas lalai dalam melakukan pengawasan pekerjaan.65 terdapat unsur perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. dan permasalahan kekurangan penerimaan.29 4. dan memberikan sanksi kepada pihak terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Rekomendasi 4. 4. Kepala Pusdatin tidak cermat dalam merencanakan dan menentukan kebutuhan serta mengalokasikan anggaran. kebijakan terkait barang milik daerah hasil KSD belum ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Di Kementerian ESDM. mengusulkan pekerjaan dengan lebih cermat.32 4. Sedangkan di Kementerian Perhubungan. KPA dhi. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Perhubungan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut 4. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar menyetorkan kelebihan pembayaran/kekurangan penerimaan atas pekerjaan yang tidak mencapai target dan memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terhadap permasalahan-permasalahan potensi kerugian negara/daerah. pejabat yang bertanggung jawab agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian pekerjaan fisik lapangan.

Kepala Pusdatin dan PPK serta untuk segera mendistribusikan 283 unit GPS sesuai peruntukannya disertai BAST secara lengkap. 4.37 Di Kementerian Pertanian. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan.66 supaya memerintahkan para kepala satker untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan serta mencatat sisa pengadaan sebagai aset persediaan. BPK telah merekomendasikan Menteri ESDM antara lain agar memerintahkan kepada Dirjen LPE untuk mengupayakan secara bersungguh-sungguh pemanfaatan atas seluruh peralatan DME berbasis BBN tersebut sesuai tujuan pembangunannya. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Pertanian agar memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada KPA dhi. Di Kementerian ESDM.40 . BPK telah merekomendasikan Menteri Kelautan dan Perikanan agar menginstruksikan Dirjen KP3K supaya melaporkan kekurangan pemungutan PPh final atas pembangunan RNRB pada 33 kabupaten/kota senilai Rp544. 4.19 juta kepada Dirjen Pajak untuk dilakukan penetapan dan penagihannya.39 4.38 4. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

dan Kepulauan Riau. Selat Malaka juga menampung berbagai cemaran dari sampah padat maupun cair yang berasal dari Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaka (Malaysia) yang mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove.38 juta ha (69.67 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove 5. mengurangi kecepatan air karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat dan mengurangi volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama kehidupan di wilayah pesisir karena selain sebagai habitat biota laut. di antaranya sekitar 5. Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di sepanjang garis pantai timur Sumatera (Selat Malaka). Hal tersebut sesuai dengan lingkup pemeriksaan kinerja yang mencakup pengelolaan hutan mangrove periode TA 2005 s.6 . yaitu Kementerian Kehutanan termasuk unit 5. baik pusat maupun daerah yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi tanpa adanya usaha untuk menjaga keseimbangan (kelestarian) alam.3 5.1 Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Pemilihan Selat Malaka dilakukan karena selat ini merupakan perairan yang padat dilalui oleh berbagai macam kapal sehingga berpotensi tinggi terhadap pencemaran.76 juta ha. khususnya hutan mangrove. Hutan mangrove di kawasan Selat Malaka sebagian besar berada di wilayah administratif kabupaten/kota pada Provinsi Sumatera Utara. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan akibat dari kebijakan pemerintah. serta di pantai barat daya Papua. Semester I TA 2010 pada 15 objek pemeriksaan.2 5. Riau.33%) dalam keadaan rusak. luas hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2006 diperkirakan 7. Menurut data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) Kementerian Kehutanan. pantai barat dan selatan Kalimantan.d.5 5.4 5. juga sebagai tempat pemijahan atau penyeleksian benih dan asupan (nursery) ikan. Terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah membangkitkan kesadaran dan pemahaman akan nilai pentingnya vegetasi atau hutan yang tumbuh di kawasan pesisir pantai. Hutan mangrove juga berfungsi mengurangi dampak tsunami melalui dua cara yaitu. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja yang diarahkan pada pengelolaan hutan mangrove yang berada di kawasan Selat Malaka. Dalam Semester II Tahun 2010.

dan Kab. perlindungan. dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai dengan rincian sebagai berikut. pemanfaatan. Karimun. Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 . dan konservasi hutan mangrove dalam memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai. Bengkalis. Natuna. Tujuan Pemeriksaan 5. Kota Batam. dinas kehutanan provinsi/kabupaten/kota. Serdang Bedagai). Langkat. Asahan. Kab. Bintan. Batubara. Kebijakan 5.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukan adanya kelemahan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku baik yang dilakukan oleh pihak Kementerian Kehutanan. pemanfaatan. sedimentasi. dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. Rokan Hilir. Hasil Pemeriksaan 5. dan Kota Tanjungpinang). serta Kepulauan Riau (Kab.10 abrasi abrasi Gambar 5. Kab. Deli Serdang. erosi. Kab. Kab. Indragiri Hilir. Kab. Provinsi Riau (Kab. Provinsi Sumatera Utara (Kab.1. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi. 5. perlindungan.68 pelaksana teknis (UPT). dan pihak-pihak lainnya. UPT. Bengkalis. dinas kehutanan provinsi dan kabupaten/kota serta instansi terkait lainnya di Jakarta (Pusat). Penanggulangan abrasi di Selat Malaka oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. dan konservasi hutan mangrove masih kurang efektif untuk memulihkan.9 Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurang mempertimbangkan fungsi dan luas kawasan hutan minimal 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) berpotensi mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. Rokan Hilir. Kab. Kab. dan Kota Dumai belum memadai mengakibatkan berkurangnya luasan daratan di kabupaten tersebut tidak tertangani dengan baik. dan Kota Dumai).7 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan rehabilitasi.

meningkatkan.10 juta tidak efektif mengakibatkan tujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tidak tercapai. Pembuatan model tanaman mangrove pada Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan seluas 50 ha senilai Rp289. Pemberian hak guna bangunan (HGB) pada kawasan hutan mangrove seluas 1.18 ha di Kota Tanjungpinang tidak sesuai dengan ketentuan berpotensi mengakibatkan hilangnya kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung.00 juta. 5.69 Kegiatan Rehabilitasi Hutan Mangrove 5. keunikan alam serta menimbulkan kerugian ekonomis senilai Rp779. satwa.d.12 5. kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Kabupaten Natuna seluas 200 ha senilai Rp1.309.82 juta. 5.15 Gambar 5. dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan.588 ha dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat dan mengakibatkan hilangnya fungsi SM KG/LTL sebagai kawasan pelestarian alam. .61 miliar.16 Hutan mangrove di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading/Langkat Timur Laut (KG/LTL) di Kabupaten Langkat minimal seluas 6. 2009. Selain itu. Selain itu terdapat kerugian ekonomis senilai Rp153.11 Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2005 s. Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Hutan Mangrove 5.14 Usaha pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove di sempadan sungai yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi.66 miliar tidak efektif dan terjadi kerugian negara senilai Rp180.13 Kegiatan Pemanfaatan Hutan Mangrove 5. sehingga tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai.2.

19 Terhadap permasalahan tersebut. Rekomendasi 5. Penyebab 5.70 5. 5. dan konservasi hutan mangrove.17 Hutan mangrove di areal eks Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Bakau PT SBB dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat mengakibatkan semakin rusaknya hutan mangrove. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.18 Hal tersebut disebabkan oleh pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam mentaati ketentuan dan peraturan yang berlaku. serta tidak cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. perlindungan. pemanfaatan.20 . BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut atas kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati Natuna untuk menagih kelebihan pembayaran dan menyetorkan ke kas negara. Atas temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara.

1 Penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama. Indikator 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan transportasi kepada jemaah haji.5 Berdasarkan hasil pemeriksaan. pelunasan dan pembatalan haji. dan • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman pelayanan katering dan akomodasi di Arafah. pelayanan. Hasil Pemeriksaan 6.4 Penilaian atas kinerja penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M didasarkan pada lima indikator utama. disimpulkan bahwa penyelenggara ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. 6. belum sepenuhnya efektif memberikan pelayanan kepada jemaah haji. 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan minimal (SPM) embarkasi/debarkasi kepada jemaah haji.71 BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 6.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M sudah memadai untuk mencapai efektivitas pelayanan ibadah haji.2 Tujuan Pemeriksaan 6. dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi calon/jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai ajaran agama Islam. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan. Dalam Semester II Tahun 2010. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman penyewaan pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. dan Mina (Armina).6 . Musdalifah. kemudahan calon jemaah haji (calhaj) dalam pengurusan haji dan memperoleh kepastian porsi dan pemberangkatan. Masalah-masalah pokok yang mendorong belum efektifnya penyelenggaraan ibadah haji dapat diuraikan sebagai berikut. yaitu: • penyelenggara ibadah haji telah memiliki prosedur baku yang memperhatikan kecepatan pelayanan pendaftaran. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.

7 Pada tahap pendaftaran. dan calhaj belum mendapatkan perhatian yang sama dalam pembagian sisa kuota haji karena penetapan sisa kuota haji belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • menetapkan dan mensosialisasikan SPM tentang Pendaftaran. Namun demikian. pelunasan dan pembatalan haji. Pelunasan. PMA tersebut belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan). pelunasan.8 . Rekomendasi 6. dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pendaftaran Haji dan PMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PMA Nomor 15 Tahun 2006 serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji. Pelunasan dan Pembatalan Haji. Pelayanan pendaftaran. • kurangnya jumlah sumber daya manusia dan pembagian tugas yang jelas dalam melayani proses pendaftaran. • Kankemenag tidak memberikan informasi secara tertulis tentang kewajiban untuk melakukan pelunasan haji kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat.9 Permasalahan tersebut disebabkan: • standar pelayanan minimal tentang pendaftaran. dan Pembatalan Haji 6. dan pembatalan haji. calhaj tidak diberikan informasi tertulis mengenai perkiraan tahun keberangkatan. pelunasan dan pembatalan haji belum ditetapkan dan disosialisasikan oleh Menteri Agama. dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi secara tertulis tentang 6. pelunasan. dan • kebijakan yang mengatur tentang penetapan sisa kuota haji provinsi belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi yang cukup signifikan. Kakanwil Provinsi. Penyebab 6. calhaj memerlukan waktu yang lama untuk menerima pengembalian dana atas pembatalan haji.72 Pelayanan Pendaftaran.10 Terhadap permasalahan tersebut. • memerintahkan secara berjenjang kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU).

dan a. sarana dan prasarana pada setiap embarkasi bervariasi.13 Permasalahan tersebut terjadi karena Menteri Agama belum selesai merumuskan SPM penyelenggaraan ibadah haji pada seluruh embarkasi. 6.16 .14 Terhadap permasalahan tersebut.11 Pada tahap pelayanan di embarkasi. Hal ini disebabkan oleh Tim Kesehatan tahap 1 dan 2 belum seluruhnya mengisi buku kesehatan jemaah haji secara lengkap dan sebagian calhaj tidak dapat membuktikan telah menerima vaksin. Penyebab 6. • memerintahkan kepada Dirjen PHU untuk a. jadwal.15 Pada tahap pelayanan transportasi di Arab Saudi. pelunasan dan pembatalan haji. memenuhi kekurangan sumber daya manusia dan membuat pembagian tugas yang jelas untuk tiap bagian pelayanan pendaftaran. Demikian pula informasi mengenai keterlambatan penerbangan.12 Pelayanan Transportasi Udara dan Darat di Arab Saudi 6. calhaj memerlukan waktu yang cukup lama dalam menerima pelayanan kesehatan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar menetapkan dan mensosialisasikan SPM yang berlaku di seluruh embarkasi serta meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan di embarkasi. Kondisi ini menimbulkan kekurangnyamanan atas beberapa pelayanan yang diterima oleh jemaah haji. Pelayanan kepada Jemaah Haji di seluruh Embarkasi 6. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dalam melayani Jemaah Haji Indonesia. Pelayanan penyelenggaraan haji yang meliputi prosedur. Rekomendasi 6. belum ditetapkan. waktu. dan jumlah bus yang beroperasi sehingga menimbulkan penumpukan jemaah terutama pada hari-hari awal operasional.73 perkiraan tahun keberangkatan calhaj pada saat melakukan pendaftaran dan memberikan informasi secara tertulis kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat sesuai daerahnya masing-masing. menetapkan sisa kuota haji provinsi harus dengan memperhatikan perbedaan daftar waiting list calhaj antar provinsi yang signifikan. Standar pelayanan transportasi. 6. calhaj tidak diberikan kepastian informasi perubahan titik penjemputan.

Selain itu. dan 6. b.18 . menginstruksikan PPIH Arab Saudi agar meningkatkan pengawasan pelayanan transportasi jemaah haji. Selain itu. • Meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan memperjelas rumusan tugas dan wewenang masing-masing kementerian khususnya terkait kebijakan penerbangan haji.19 Terhadap permasalahan tersebut.17 Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya konsep atau mekanisme pengelolaan transportasi shuttle bus yang jelas dari Muassasah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji sehingga menimbulkan permasalahan. Rekomendasi 6. mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi dengan pihak penerbangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada jemaah atas keterlambatan pesawat dan memberikan kepastian informasi apabila terjadi keterlambatan pesawat. ketidakjelasan tugas dan wewenang antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan dalam menetapkan kebijakan transportasi udara turut menghambat peningkatan pelayanan transportasi udara Jemaah Haji. antara lain penumpukan jemaah pada waktu menunggu bus. • Segera menetapkan SPM dan pedoman pelayanan khususnya transportasi shuttle bus di Arab Saudi serta menyusun perencanaan dan kontrak transportasi shuttle bus secara matang dengan melakukan koordinasi antar pihak-pihak terkait. • Memerintahkan Dirjen PHU untuk a. menginstruksikan kepada Direktur Pelayanan Haji agar 1. Permasalahan-permasalahan yang sifatnya yang tidak dapat dikendalikan tersebut diperlemah dengan kurang memadainya penanganan yang dilakukan oleh petugas/penyelenggara haji untuk mengatasi kelelahan jemaah dan memberikan informasi mengenai kepastian keberangkatan pesawat serta menjamin hak-hak jemaah mendapatkan kompensasi dari perusahaan penerbangan. pelayanan transportasi udara masih dihadapkan pada permasalahan keterlambatan pesawat yang penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti terbatasnya fasilitas bandara Arab Saudi. konsisten dalam melaksanakan perencanaan transportasi shuttle bus yang telah disusun dan membuat alternatif perencanaan pelayanan transportasi shuttle bus. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar.74 6. dan c.

serta belum dibuatnya standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter untuk setiap provinsi. Rekomendasi 6. Realisasi penyewaan perumahan di Mekkah tidak memenuhi target awal yang ditetapkan dan penempatan jemaah haji melebih kapasitas yang ditetapkan dalam tasyrih.20 Pada tahap pelayanan pemondokan di Arab Saudi. Penyebab 6.48%) yang menempati pemondokan di luar Markaziah di Madinah.21 . masih banyak jumlah pemondokan di Ring II atau di luar Markaziah yang berjarak lebih dari 2 km dari Masjidil Haram di Mekkah dan masih terdapat penempatan jemaah haji yang melebihi kapasitas rumah yaitu sebanyak 105 dari 424 rumah. beragamnya metode penetapan calhaj dalam suatu kloter pada setiap provinsi berakibat tidak diperolehnya transparansi dan persamaan hak bagi jemaah haji. Kondisi tersebut mengakibatkan jemaah haji yang menempati pemondokan di Ring II atau berjarak 2 km lebih dari Masjidil Haram di Mekkah masih cukup banyak (72.75%). 6. menambahkan klausul sanksi dalam kontrak perusahaan penerbangan terkait kewajiban penyampaian informasi penerbangan dan informasi pemberian kompensasi keterlambatan. kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji dalam beribadah menjadi berkurang. Pelayanan Pemondokan di Arab Saudi 6.23 Terhadap permasalahan tersebut. dan masih ada jemaah haji (16. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk membuat standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan memerintahkan Dirjen PHU untuk • mengoptimalkan penyewaan rumah di Mekkah yang berada di ring I dan mengurangi jumlah penyewaan rumah di ring II.22 Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya kerjasama/MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi perihal standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan ketidakpastian pemilik pemondokan dalam memperoleh tasyrih dari Pemerintah Arab Saudi yang akan digunakan Jemaah Haji Indonesia. realisasi penempatan jemaah haji belum 100% berada di Markaziah dan penetapan Majmu’ah 1430 H belum memperhatikan kinerja Tahun 1429 H dan 1428 H. dan • membuat standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter yang berlaku untuk seluruh provinsi. Sementara di Madinah. Selain permasalahan di atas.75 2.

Permasalahan tersebut mengakibatkan waktu antrian cukup lama sehingga menimbulkan kelelahan pada sebagian jemaah haji khususnya yang lanjut usia dan wanita. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji reguler dalam melaksanakan ibadah haji karena adanya penggunaan fasilitas oleh jemaah haji non kuota. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • mengkaji kembali pola pelayanan katering. dan meningkatkan risiko berjangkitnya penyakit. mengganggu konsentrasi dan kinerja petugas haji dalam memberikan pelayanan pada jemaah haji reguler. Penyebab 6. dan kebersihan lingkungan di Armina yang belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji. 6.25 .26 Permasalahan pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina terjadi karena kebijakan Direktur Pelayanan Haji tentang pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas kurang tepat. Permasalahan lain yang muncul di Armina yaitu terkait adanya jemaah haji non kuota yang tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler dengan jumlah yang cukup tinggi. • meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM serta KBSA untuk meminimalisir jumlah dan mencegah jemaah haji non kuota supaya tidak mengganggu kenyamaan ibadah jemaah haji reguler.24 Pada tahap pelayanan di Armina. Rekomendasi 6. calhaj memerlukan waktu antrian yang cukup lama untuk mendapatkan makanan yang disebabkan oleh pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas. dan potensi tambahan beban yang harus dibayarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji diluar dari anggaran pengeluaran biaya pengelenggara ibadah haji reguler yang telah ditentukan. dan kebijakan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang memberikan visa kepada jemaah haji non kuota.28 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan • memerintahkan Dirjen PHU supaya memberikan sanksi kepada PIHK yang melakukan pelanggaran.27 Terhadap permasalahan tersebut. yang mengakibatkan jemaah haji non kuota terlantar.76 Pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina 6. 6.

dan farmasi.4 Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa manajemen rumah sakit belum efektif dalam mengelola pelayanan rawat inap. 8c. monitoring dan evaluasi pengelolaan pelayanan rawat inap. dan 8d dengan uraian sebagai berikut: 7. rawat inap. 8b. Hasil Pemeriksaan 7. rawat jalan. • Manajemen rumah sakit memiliki perencanaan memadai dalam mengelola pelayanan. dapat dilihat pada Lampiran 8a. pelaksanaan. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada 42 rumah sakit daerah di 23 provinsi (Lampiran 53). dan farmasi sehingga belum optimal dalam menunjang pelayanan kesehatan yang prima. sarana dan prasarana.77 BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 7. dan farmasi pada umumnya didasarkan pada empat indikator utama. rawat inap. Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi dan tata laksana. Indikator Pemeriksaan 7.5 . yaitu: • Organisasi dan tata laksana serta sarana dan prasarana rumah sakit telah memadai dan efektif untuk mendukung kegiatan pelayanan.3 Penilaian kinerja atas efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan.1 Dalam Semester II Tahun 2010. dan • Manajemen rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai pada proses pelayanan. • Manajemen rumah sakit telah melaksanakan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dan peraturan lainnya. rawat jalan dan farmasi. perencanaan.2 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya untuk menilai efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. Tujuan Pemeriksaan 7.

Tata Laksana. Rawat Inap. • kurang memerhatikan perbaikan fasilitas pelayanan. tanggung jawab. Selain itu. dan farmasi pada 13 RSUD belum sepenuhnya didukung struktur organisasi yang memadai. kurang optimal. dan wewenang. rawat inap. • Instalasi rawat jalan. wewenang.6 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi. dan tidak memerhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana. • Jumlah tenaga medis dan keperawatan pada 14 RSUD belum memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat. Sarana dan Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. yaitu struktur organisasi dalam rumah sakit belum sepenuhnya memperhatikan pemisahan fungsi. sistem pengendalian intern atas pengelolaan pelayanan belum sepenuhnya dirancang secara memadai. Rumah sakit juga belum memiliki satuan pengawas intern (SPI) dan belum membentuk bagian khusus penanganan keluhan. Selain jumlah pegawai dan keberadaan dokter spesialis yang kurang. • Sarana dan prasarana pada 19 RSUD belum memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sehingga belum memadai dalam memberikan pelayanan. rawat inap. fungsi. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati agar memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab • menggunakan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. serta segera menetapkan struktur organisasi lengkap dengan uraian tugas. dan • lalai dalam perencanaan kebutuhan pegawai dan belum melakukan analisis beban kerja untuk menentukan jumlah pegawai yang betul-betul dibutuhkan. pelayanan belum didukung pegawai yang memiliki keahlian. dan farmasi sebagai berikut.78 Organisasi.7 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • lalai dan belum sepenuhnya menggunakan pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan belum adanya prosedur baku penanganan keluhan.8 Terhadap permasalahan tersebut. dan Farmasi 7. . serta keterbatasan anggaran. tata laksana. ketrampilan dan kompetensi yang memadai. Rekomendasi 7. dan tanggung jawab. sarana dan prasarana rawat jalan. Penyebab 7.

9 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan dalam hal perencanaan pelayanan rawat jalan. • Tidak terdapat perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi pada RSUD Dr.79 • segera merencanakan. dan memenuhi sarana dan prasarana rumah sakit untuk mendukung pelayanan sesuai standar dengan memperhatikan skala prioritas. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau. Belum memadainya perencanaan anggaran antara lain tidak adanya petunjuk pelaksanaan yang mengatur perencanaan anggaran dan adanya bagian yang belum mengusulkan rancangan kegiatan. dan farmasi serta perencanaan kebutuhan alat kesehatan pada 16 RSUD belum memadai. dan farmasi RSU Mayjen HA Thalib Kabupaten Kerinci. Penyebab 7. personil yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belum melaksanakan tugas dengan baik dan belum mempertimbangkan target ketersediaan SDM. Sumatera Selatan dan pengadaan.10 Kelemahan dalam hal perencanaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum membuat pedoman penyusunan perencanaan yang jelas dan mudah dipahami. Jambi dan RSU Dr. merealisasikan. dan prasarana. . Malang belum memadai. program kerja instalasi rawat inap. distribusi serta serta penggunaan blanko resep pada instalasi rawat jalan RSUD Kabupaten Jombang tidak berdasarkan perencanaan. rawat inap. dan farmasi sebagai berikut. Pejabat yang bertanggung jawab tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta lemahnya koordinasi dengan pihak terkait. • Program kerja pelayanan farmasi RSUD Kabupaten Nganjuk dan RSUD Dr. Selain itu. Saiful Anwar. dan • segera membuat analisis kebutuhan pegawai dan beban kerja. antara lain program kerja bidang pelayanan farmasi belum memiliki indikator pencapaian yang jelas dan program kerja dibuat oleh orang yang tidak kompeten. Ashari Kabupaten Pemalang belum disusun. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Selain itu. M. dan pelayanan pada tujuh RSUD belum memadai. rawat inap. rawat jalan. rawat jalan. • Perencanaan pelayanan rawat jalan. Rawat Inap. • Perencanaan anggaran instalasi rawat inap. memprioritaskan kebutuhan minimal pegawai. sarana. dan Farmasi 7. dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. yaitu antara lain belum didasari identifikasi kebutuhan dan tidak memperhatikan skala prioritas.

dan • tidak segera mengusulkan dan menetapkan protap. rawat inap.13 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • belum sepenuhnya memperhatikan dan mengoptimalkan kinerja pelayanan kesehatan. • Prosedur tetap (protap) pelayanan rawat jalan. Belum memadainya SPM antara lain karena belum sepenuhnya mengacu keputusan Menteri Kesehatan.80 Rekomendasi 7. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan. dan farmasi pada 18 RSUD belum memadai. Hal tersebut mengakibatkan manajemen tidak dapat mengukur kinerja pelayanan yang belum ditetapkan standarnya dan masyarakat belum memperoleh hak pelayanan sesuai SPM. • belum sepenuhnya memahami pentingnya SPM sebagai pedoman dalam penilaian kinerja pelayanan. rawat inap. serta meningkatkan koordinasi dengan unit terkait. Selain itu. pelaksanaan kalibarasi alat kesehatan belum dilakukan.12 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal pelaksanaan pelayanan adalah sebagai berikut. Rawat Inap. Belum memadainya protap antara lain protap yang ada sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu direvisi dan protap belum memenuhi seluruh kebutuhan instalasi sesuai pedoman penyelenggaraan rumah sakit. yaitu belum memenuhi standar pelayanan minimal dan prosedur tetap. • Pengelolaan administrasi pada instalasi rawat jalan. rawat inap dan farmasi pada 8 RSUD belum memadai serta prosedur tetap pada pelayanan rawat inap RSUD Mardi Waluyo di Kota Blitar belum pernah dilakukan revisi sejak Tahun 1999. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat belum dapat tercapai. dan Farmasi 7. • Pelaksanaan pelayanan instalasi rawat jalan. • Standar pelayanan minimal (SPM) pada 14 RSUD belum ditetapkan dan belum memadai. BPK telah merekomendasikan agar pihak yang bertanggung jawab menyusun pedoman penyusunan perencanaan dan program kerja. .11 Terhadap permasalahan tersebut. Penyebab 7. • tidak cermat dan tidak optimal dalam pengelolaan administrasi yang mendukung pelayanan. dan pelayanan serta perbekalan farmasi pada 7 RSUD belum dilaksanakan dengan baik.

BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Direktur RSUD untuk mengoptimalkan kinerja pelayanan sesuai SPM. rawat jalan dan farmasi adalah sebagai berikut. meningkatkan dan memperbaiki monev masing-masing instalasi. Monitoring dan Evaluasi 7. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi. • menyusun dan menetapkan SPM.15 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal mekanisme pelaporan dan evaluasi kegiatan pada instalasi rawat inap. Belum memadainya pelaksanaan monev antara lain monev tidak mencakup pengukuran dan penilaian kinerja serta penyelesaian tindak lanjut tidak dipantau dan didokumentasikan. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar segera menyusun dan menetapkan mekanisme/ prosedur monev.16 Permasalahan tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum menyusun dan menetapkan mekanisme/prosedur monev. rawat inap dan farmasi. Penyebab 7.81 Rekomendasi 7. menyempurnakan dan melengkapi prosedur tetap sesuai SPM. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 RSUD belum memadai dan tidak sesuai ketentuan. dan • melakukan revisi. serta Satuan Pengawas Intern belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. serta lebih cermat dalam mengambil kebijakan pengelolaan administrasi. Rekomendasi 7. • melaksanakan perbaikan penatausahaan administrasi pengelolaan pelayanan rawat jalan.14 Terhadap permasalahan tersebut.17 Terhadap permasalahan tersebut. Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 7.18 Dalam Semester II Tahun 2010. . serta meningkatkan pelaksanaan kegiatan SPI. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 9 RSUD belum dilakukan dan SPI belum mendukung kegiatan monev. Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat.

Hal ini terlihat masih banyaknya cakupan kegiatan yang mendukung pelayanan kesehatan dasar tersebut dalam pelaksanaannya tidak efektif dan efisien antara lain sebagai berikut. Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat adalah untuk menilai apakah pelayanan kesehatan telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai SPM serta untuk memberi saran bagi upaya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. 7.20 Hasil Pemeriksaan Provinsi Sumatera Utara 7. yang mengakibatkan pelayanan kunjungan bayi tidak lengkap dan bayi yang mengalami kelainan dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya tidak dapat segera diketahui dan diambil tindakan. ibu bersalin dan anak dan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belum sesuai dengan SPM bidang kesehatan. yang mengakibatkan penanganan komplikasi kebidanan tidak tertangani dengan baik yang membahayakan jiwa penderita. yang mengakibatkan pelayanan belum mencapai seluruh sasaran ibu hamil dan pelayanan yang diberikan belum sesuai SPM. Penyebab 7. . • Pelayanan terhadap komplikasi kebidanan yang ditangani tidak efektif dan efisien.22 Hal tersebut disebabkan pejabat yang bertanggung jawab tidak menyusun dan melaksanakan sosialisasi pentingnya kesehatan ibu hamil.82 Tujuan Pemeriksaan 7. • Kegiatan kunjungan bayi pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2009 tidak tercapai. dan efisiensi pelayanan kesehatan dasar. • Kegiatan kunjungan ibu hamil (K-4) tidak sesuai dengan SPM.19 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara adalah menilai efektivitas yaitu realisasi kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian target yang telah ditetapkan.21 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien. yaitu menilai penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Provinsi Sumatera Barat 7.28 .83 Rekomendasi 7. sarana penyimpanan obat publik dan perbekalan farmasi pada Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang tidak sesuai dengan Standar Sarana Penyimpanan Obat Publik.48 juta.23 Terhadap permasalahan tersebut. 7. serta • selalu memedomani SPM dalam melakukan perbaikan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. BPK telah merekomendasikan kepada walikota agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kinerja pelayanan kesehatan.25 7.26 Permasalahan tersebut antara lain terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. lalai serta belum optimal dalam melaksanakan tugas. ibu bersalin. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan anak. Selain itu. masih terdapat kelemahan antara lain indikator kinerja Bidang Kesehatan Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 belum optimal dan persediaan obat yang kedaluwarsa masih tersimpan di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang senilai Rp107. Rekomendasi 7.27 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil. Namun.24 Hasil pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang beserta UPTD-nya menunjukkan bahwa masing-masing puskesmas telah memenuhi capaian indikator SPM dan tidak ditemukan adanya kasus polio dan balita gizi buruk berdasarkan penyaringan (screening). Penyebab 7.

84 .

Kota Bukit Tinggi. APM. APS. 8. melaksanakan. • monitoring dan evaluasi (monev) yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. yaitu pada Dinas Pendidikan (Disdik) di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Samosir).3 Selain tujuan tersebut di atas. pemeriksaan kinerja pendidikan pada beberapa disdik juga bertujuan menilai mekanisme pengolahan data dalam perhitungan angka partisipasi kasar (APK). dan Provinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Morowali). Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur). dan AM.2 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan pada umumnya bertujuan untuk • menilai efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras). dan • menilai efektivitas pengelolaan tenaga kependidikan (PTK) dalam menunjang penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Tujuan Pemeriksaan 8. Indikator 8. Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Pasaman.4 Indikator kinerja atas pengelolaan sarpras dan PTK. dan Kota Solok). • pelaksanaan pemenuhan dan pemanfaatan sarpras dan PTK telah sesuai ketentuan. angka partisipasi murni (APM). . dan angka melanjutkan (AM). Provinsi Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Barat).5 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum efektif dalam merencanakan. dan melakukan monev atas pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik. yaitu • perencanaan yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. Hasil Pemeriksaan 8. Kabupaten Minahasa Utara). angka putus sekolah (APS). dan • akurasi perhitungan APK. Provinsi Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun). Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe.1 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan dilakukan pada 13 objek pemeriksaan di 8 provinsi.85 BAB 8 KINERJA PENDIDIKAN 8. Provinsi Riau (Kota Pekanbaru). Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini.

serta melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru lebih optimal. antara lain perencanaan dan indikator renstra tidak sinkron dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) serta belum disahkan secara formal oleh kepala disdik. dan lebih cermat dalam membuat perencanaan serta pemanfaatan sarpras.10 8. 8.9 Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan atas pengelolaan sarpras dan PTK di antaranya adalah sarpras sekolah dan kualifikasi akademik guru PTK belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). BPK telah merekomendasikan kepada kepala dinas untuk mempedomani Renstra Kemdiknas dalam menyusun renstra dan membuat SOP penyusunan renstra. Kabupaten Kepulauan Sangihe.8 Pelaksanaan atas Pengelolaan Sarpras dan PTK 8.6 Rencana Strategis (renstra) disdik belum disusun secara memadai. Kabupaten Kotawaringin Barat. Hal ini terjadi karena Kepala Disdik belum memiliki komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah dalam rangka pemenuhan SPM. Kabupaten Lombok Timur. 8. Sembilan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. serta belum melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru secara optimal.11 Monitoring dan evaluasi atas pengelolaan sarpras dan PTK 8. Kabupaten Pasaman. Kabupaten Karimun. dan Kabupaten Morowali. Belum memadainya antara lain Disdik belum . Kabupaten Bintan.86 Perencanaan dalam Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. Sebelas entitas mengalami permasalahan pengelolaan sarpras yang tidak sesuai SPM. Terhadap permasalahan tersebut. Terhadap permasalahan tersebut.12 Permasalahan yang terkait dengan kegiatan monitoring dan evaluasi diantaranya adalah Disdik belum melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara memadai. BPK telah merekomendasikan kepada • Bupati/Walikota agar Kepala Disdik meningkatkan komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah sesuai dengan SPM.7 8. dan • Kepala Disdik agar lebih optimal dalam melakukan seleksi atas pemberian bantuan sarpras sesuai kebutuhan sekolah. Hal ini terjadi karena kepala dinas dalam menyusun renstra tidak memedomani dan mengacu pada Renstra Kemdiknas serta belum adanya SOP penyusunan renstra. Kabupaten Samosir. sedangkan permasalahan kualifikasi akademik guru PTK terjadi pada seluruh entitas yang diperiksa.

sehingga pencapaian indikator tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya. Kabupaten Kepulauan Sangihe. dan AM tidak didukung dengan data yang akurat dan tidak divalidasi. Kota Bukit Tinggi. Selain itu. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar kepala disdik membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. dan AM 8. yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) terkait sumber data penduduk yang digunakan untuk menghitung APK.15 Perhitungan APK. keterbatasan jumlah SDM dan tidak adanya laporan hasil pengawasan.87 membentuk tim monev secara formal. Kabupaten Minahasa Utara. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. Tujuh entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Pasaman. Kota Solok. 8. 8.18 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar • kepala disdik melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang yaitu BPS. sehingga indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan dapat diyakini kebenarannya. APS. dan Kabupaten Minahasa Utara. dan Kabupaten Morowali. Perhitungan APK. Kabupaten Karimun.16 8.13 8. Kabupaten Karimun. Terhadap permasalahan tersebut. APM. dan AM. APS. Kabupaten Lombok Timur. Terhadap permasalahan tersebut. serta • kepala disdik melakukan koordinasi dengan unit terkait supaya data yang diperoleh terlebih dahulu divalidasi. Hal ini terjadi karena kepala disdik belum melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang. APM. mengenai kebenaran sumber data penduduk untuk menjamin akurasi perhitungan APK. APS. Kabupaten Kotawaringin Barat. Kabupaten Bintan. APM.14 Hal tersebut disebabkan kepala disdik belum membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. 8. kepala disdik belum memahami pentingnya indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan. APM. Kabupaten Kepulauan Sangihe.17 . dan AM. APS. Kabupaten Samosir. sehingga data yang diperoleh tidak divalidasi.

88 .

serta pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan PDAM secara umum menunjukkan hasil yang belum optimal sehingga masih harus ditingkatkan. Serang.4 Penilaian kinerja PDAM didasarkan pada indikator • apakah proses produksi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. Bengkulu. dan kontinuitas.89 BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum 9. Bandung. dan kontinuitas. 9. membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas PDAM yang dilakukan pada sembilan entitas daerah kabupaten/ kota yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Tirta Al Bantani Kab.1 Perusahaan daerah air minum (PDAM) merupakan perusahaan daerah yang didirikan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengutamakan pemerataan dan keseimbangan pelayanan. dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Dalam Semester II Tahun 2010. Hasil Pemeriksaan 9. Indikator 9.5 Hasil pemeriksaan atas efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Way Bumi di Kotabumi. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. • apakah proses distribusi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. kuantitas. . PDAM Tirta Ratu Samban Kab. dan • apakah penanganan keluhan pelanggan telah dikelola secara efektif sehingga meminimalkan penyimpangan dan memuaskan pelanggan. PDAM Tirta Raharja Kab. kuantitas.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai secara umum efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih.2 Tujuan Pemeriksaan 9. serta menilai pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan.

Bandung. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Way Bumi di Kotabumi. Bandung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. PDAM Tirta Al Bantani Kab.12 9. Terhadap permasalahan tersebut. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.7 9. PDAM Tirta Raharja Kab.90 Penilaian Proses Produksi 9. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. dan PDAM Kota Balikpapan.8 Penilaian Proses Distribusi 9. PDAM Tirta Raharja Kab. Serang. permasalahan lain yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah PDAM belum dapat menyediakan air bersih kepada pelanggan secara berkelanjutan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Hal ini terjadi antara lain karena tingginya kebocoran/kerusakan pipa-pipa. Terhadap permasalahan tersebut. Bandung. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.11 9. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Al Bantani Kab. Serang. 9. dan PDAM Kota Balikpapan. 9. Bengkulu. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP menyeluruh untuk pengujian air bersih. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. PDAM Way Bumi di Kotabumi. . PDAM Tirta Raharja Kab. Kurangnya komitmen manajemen antara lain terlihat dari belum adanya standar operasional dan prosedur (SOP) menyeluruh untuk pengujian air bersih kepada pelanggan.6 Permasalahan yang terkait dengan proses produksi air bersih di antaranya adalah kualitas air hasil produksi yang belum memenuhi standar. Selain permasalahan tersebut.9 Permasalahan yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah tingkat kebocoran air melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan. Serang. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Bengkulu. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan lebih optimal dalam mendeteksi dan menanggulangi kebocoran air. Hal ini terjadi antara lain karena belum adanya SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan kurang optimalnya PDAM dalam mendeteksi dan menanggulangi tingkat kebocoran air.10 9. Hal ini terjadi karena kurangnya komitmen dari manajemen PDAM untuk melaksanakan penjaminan mutu atas produksi air bersih kepada pelanggan.13 . dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung.

9. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP penanganan keluhan pelanggan dan meningkatkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan serta melakukan pelatihan. Terhadap permasalahan tersebut. Penilaian Penanganan Keluhan Pelanggan 9.17 9.91 9. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan PDAM Kota Balikpapan.14 Terhadap permasalahan tersebut. Bengkulu. Serang.16 9.15 Permasalahan yang terkait penanganan keluhan di antaranya adalah penanganan keluhan pelanggan belum dikelola secara memadai.18 . BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM agar melakukan peremajaan dan pemeliharaan pipa secara berkala. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Hal ini terjadi karena PDAM belum mempunyai SOP penanganan keluhan pelanggan dan bagian penanganan keluhan pelanggan belum didukung sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Lima entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Ratu Samban Kab.

92 .

dan BPKB (SSB) pada Polda Lampung. dalam Semester II Tahun 2010 BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada 18 objek pemeriksaan meliputi 10 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.2 Sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dengan rincian sebagai berikut. dan 3 objek pemeriksaan BUMN. • Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan (Pusdiklat Jemenhan) Kementerian Pertahanan di Jakarta. dan Polda DIY di Bandar Lampung.1 Selain tema-tema pemeriksaan kinerja seperti yang diuraikan pada babbab sebelumnya. • Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. Serang. • Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta. • Pelayanan SIM. • Pengelolaan Kehutanan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. • Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan Dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam. • Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Pemerintah Pusat 10. Bursa Pariwisata Internasional dan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata . • Pelayanan dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang.93 BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya 10. dan Yogyakarta. serta Perusahaan Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat. STNK. 5 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. Polda Banten. • Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang.

Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas. • Program Penanggulangan Gizi Buruk TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung.7 Lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dengan rincian sebagai berikut. • Akuntabilitas dan evaluasi kinerja kegiatan telah dikelola dengan baik. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan. • Program Bahteramas terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. antara lain sebagai berikut.3 Tujuan pemeriksaan atas sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan. Terhadap permasalahan tersebut. Jawa Timur. • Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait.5 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. kecuali untuk penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. • Pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan. 2009.6 Pemerintah Daerah 10. • Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta.d.4 10. • Perencanaan kegiatan telah dilakukan secara memadai. 10. Triwulan III). 10. • Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari.94 TA 2008. 10. . • Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. dan Kepulauan Riau.

Indikator yang digunakan antara lain sebagai berikut. selain tidak efektif juga dikategorikan tidak efisien karena kebijakan. • Kegiatan Pemeliharaan. prosedur. dan melakukan pemantauan serta evaluasi atas Program Pembebasan BOP. Akan tetapi. • Pelaporan. Sementara itu. • Pemerintah daerah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Kegiatan Pelayanan Perijinan Baru pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. melaksanakan. efektivitas. kegiatan supervisi dan evaluasi yang kurang memadai. . dan Balikpapan. antara lain pengelolaan keuangan. • Perencanaan yang memadai dalam mengelola program kegiatan. • Proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan.8 Tujuan pemeriksaan atas lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah pada umumnya adalah untuk menilai efisiensi. monitoring.12 BUMN 10.Medan. • Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta. dan evaluasi telah dilakukan dengan memadai. 10.13 Tiga objek pemeriksaan BUMN dengan rincian sebagai berikut.11 10. Khusus untuk simpulan hasil pemeriksaan Program Pembebasan BOP. dan keekonomisan pelaksanaan kegiatan. • Kinerja PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . Cilacap. dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Terhadap permasalahan tersebut.95 10. 10. serta hasil pengadaan yang belum dimanfaatkan. Pemakaian Refinery Fuel.9 10.10 Hasil pemeriksaan pada umumnya menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara cukup berhasil dalam merencanakan. masih terdapat beberapa kelemahan. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan tindak lanjut yang memadai. dan indikator kinerja pelaksanaan kegiatan yang tidak memadai.

Terhadap permasalahan tersebut.18 . menggunakan empat indikator utama yaitu (i) perancangan dan penetapan struktur organisasi. • PT Perkebunan Nusantara II untuk Tahun 2008 dan 2009 belum menetapkan KPI atas kegiatannya. • PT Garuda Indonesia (Persero). • PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V.14 Tujuan pemeriksaan atas tiga objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi tersebut adalah. menetapkan kebijakan strategis. sistem dan prosedur layanan reservasi tiket. menggunakan indikator yang disesuaikan dengan enam tujuan pemeriksaannya. 10. pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan.96 10. kebijakan.15 10. (ii) penetapan kebijakan strategis pengembangan sistem reservasi tiket. 10. namun pengelolaan layanan tersebut belum dilaksanakan secara optimal sehingga masih terdapat risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan. (iii) pengendalian atas pengelolaan layanan reservasi tiket. dan (iv) pengawasan serta evaluasi kinerja pengelolaan layanan reservasi tiket. sehingga BPK tidak dapat menilai pencapaian kinerjanya. dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang berwenang agar melakukan perencanaan dengan memadai.16 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya efektif kecuali pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Penumpang untuk Penerbangan Berjadwal pada PT Garuda Indonesia (Persero) secara umum sudah cukup efektif. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.17 10.

BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan. . PDTT tidak memberikan opini ataupun untuk memberikan penilaian kinerja dan memberikan rekomendasi. • • Sebagian besar pemeriksaan yang dilaksanakan BPK bersifat eksaminasi. pengelolaan pertambangan batubara.97 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. pemeriksa menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap pokok masalah. pengelolaan/manajemen aset pemerintah daerah. Dalam Semester II Tahun 2010. atau prosedur yang disepakati. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. • Eksaminasi ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria. pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan bangunan pengairan/drainase daerah. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.48 triliun. reviu. kebinamargaan. PDTT bisa bersifat eksaminasi (pengujian). operasional BUMN. Dalam prosedur yang disepakati (agreed upon procedures). Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. Reviu ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada informasi yang diperoleh pemeriksa bahwa pokok masalah tidak sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. pelaksanaan belanja. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. pelaksanaan subsidi pemerintah. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD.

operasional Bank Daerah. operasional BUMD lainnya.98 • • • • • operasional PDAM. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. . operasional RSUD.

sedangkan pendapatan pemerintah daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD). Hasil Pemeriksaan 11. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. penerimaan perpajakan dan kepabeanan serta cukai.64 triliun atau 99. Pemeriksaan dilakukan atas PNBP.99 BAB 11 Pengelolaan Pendapatan 11.4 Secara umum tujuan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) yang terkait pendapatan pemerintah pusat telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. dan penyetoran pendapatan pemerintah pusat telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku.42% dari cakupan pemeriksaan.45% dari realisasi pendapatan senilai Rp72.1 Pengelolaan pendapatan meliputi pendapatan pemerintah pusat dan pendapatan pemerintah daerah. Pendapatan pemerintah pusat meliputi pendapatan perpajakan termasuk bea dan cukai dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Mahkamah Agung. Kementerian Sekretariat Negara. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Kementerian Dalam Negeri. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. kepabeanan dan cukai dilakukan pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di Kementerian Keuangan. dan Kementerian Agama.28 miliar atau 0. Kementerian Perdagangan.2 Dalam Semester II Tahun 2010. 11. penatausahaan.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat TA 2008 2010 pada 11 kementerian/lembaga (KL) di lingkungan pemerintah pusat. Kementerian Luar Negeri. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.03 triliun. Oleh karena itu. . Kepolisian. Pemeriksaan PNBP dilakukan pada 10 KL yaitu Kejaksaan Agung. Total temuan senilai Rp299. Badan Pertanahan Nasional. Pendapatan Pemerintah Pusat 11. Cakupan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah senilai Rp71. dan • pemungutan. Adapun pemeriksaan pendapatan perpajakan.3 Tujuan Pemeriksaan 11.

serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Sebagai contoh. 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pembukuan dan pencatatan.32 miliar. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 9. 11.8 . pengeluaran biaya proses tidak menggunakan mekanisme surat permintaan pembayaran (SPP). biaya proses pada delapan tingkat banding di kepaniteraan yang di-sampling belum seluruhnya dikelola secara memadai.7 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan terdapat 74 kasus kelemahan SPI. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Hal ini mengakibatkan Neraca Wilayah dan Laporan Manual Pidsus Kejati per 31 Mei 2010 berbeda dengan hasil perhitungan BPK pada masing-masing kejari dan cabang kejaksaan negeri (cabjari) yaitu pada Neraca Wilayah senilai Rp7. • Di Mahkamah Agung.6 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.100 Sistem Pengendalian Intern 11. pengelolaan tagihan uang pengganti tidak tertib. • Di Kejaksaan Agung RI. Kejaksaan Tinggi Bandar Lampung. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. • sebanyak 3 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Sebanyak 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.42 miliar dan Laporan Kejati senilai Rp3. belum menyelenggarakan pembukuan secara lengkap.9 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 9 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan belum ada kebijakan 11. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. 11.

Polda Sulawesi Utara. 11.60 juta tidak melalui proses verifikasi. Ditjen Bea Cukai. Hal ini mengakibatkan potensi penerimaan negara sebanyak 329 pemberitahuan impor barang (PIB) belum dipungut senilai Rp33. • Di Kepolisian RI. • Di Kementerian Keuangan.101 jumlah kas tunai yang dikelola oleh bendahara biaya proses. dua unit usaha TMII yaitu Teater Imax Keong Emas dan Taman Air Tawar/ Dunia Air Tawar tidak memberikan kontribusi kepada TMII. Selain itu. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 5 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • sebanyak 21 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. dan • sebanyak 2 kasus lainnya. TMII juga tidak menyajikan kedua unit usaha tersebut ke dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009. beberapa pengadilan menggunakan dana APBN TA 2009 dan 2010 untuk membiayai proses perkara perdata.65 miliar. • Di Kementerian Sekretariat Negara. • Di Mahkamah Agung. pembayaran pengiriman salinan putusan yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia senilai Rp784. terdiri atas • sebanyak 4 kasus mekanisme pemungutan.10 Sebanyak 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Taman Mini Indonesia Indah (TMII). sebagian dari pengadilan tersebut juga membebankan biaya administrasi kepada pihak yang berperkara sehingga terjadi pembiayaan ganda sekurang–kurangnya senilai Rp332. . 11.43 miliar kepada Ditlantas Polda Sulut. penetapan klasifikasi atas barang-barang impor berbeda-beda meskipun uraian jenis barangnya sama. Dispenda Sulut belum menyetorkan upah pungut atas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) Tahun 2009-2010 senilai Rp10. Selain itu.16 juta.

terdiri atas • sebanyak 4 entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. .102 11.12 Sebanyak 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 1 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. baik beban pihak ketiga maupun beban TMII. kasus tersebut juga disebabkan kurangnya koordinasi pimpinan KL dan kurangnya ketentuan atau SOP yang mengatur secara tegas mengenai pendapatan pemerintah pusat.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Pada bulan berikutnya TMII menagih biaya listrik dari anjungan-anjungan dan unit usaha. Selain itu. • Di Kementerian Perdagangan.14 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. Selain itu. • Di Kementerian Sekretariat Negara. 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan dan meningkatkan upaya intensifikasi penagihan denda dan uang pengganti.12 miliar. Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. belum terdapat suatu keseragaman berkaitan pengadministrasian dan pemberitahuan sisa panjar biaya perkara perdata di pengadilan tingkat pertama mengakibatkan hak masyarakat berupa sisa panjar biaya perkara perdata tidak segera diterima oleh yang berhak minimal senilai Rp584. memperbaiki sistem pelaporan keuangan dan segera menyusun SOP administrasi pengelolaan keuangan. BPK merekomendasikan agar koordinasi pimpinan KL dengan kepala daerah lebih ditingkatkan. • Di Mahkamah Agung. TMII setiap bulan membayar terlebih dahulu seluruh beban listrik kepada PLN. • sebanyak 10 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain. Penyebab 11.75 juta. Berdasarkan umur piutang dan dokumen pembayaran listrik diketahui pihak ketiga belum membayar biaya listrik kepada TMII per 26 September 2010 senilai Rp1. pengelolaan PNBP jasa imigrasi dan jasa administrasi belum tertib. Rekomendasi 11.15 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.

103 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 11.288. ketidakhematan.09 juta dan uang tunai yang masih dibawa oleh mantan Panitera PN Bogor yang telah meninggal dunia senilai Rp15.17 Berdasarkan tabel di atas.06 296. hasil pemeriksaan mengungkapkan 88 kasus senilai Rp299. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak dua kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp422. dan ketidakefektifan dapat dilihat pada Tabel 11.89 juta. 11. Kerugian Negara 11. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 2 6 57 19 1 3 88 422.18 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang.99 juta yang terdiri dari penggelapan oleh Panitera/Sekretaris PN Bogor senilai Rp404.342. Kasus tersebut di antaranya di Mahkamah Agung.28 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan pada 11 kementerian/lembaga. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara.28 2. administrasi.28 juta.20 . yaitu selisih biaya perkara pada Laporan Keuangan Perkara per 30 Juni 2010 senilai Rp419.38 50. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat No. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. surat berharga.398. kekurangan penerimaan negara. potensi kerugian negara.80 11.19 11. dan barang.1.16 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.12 75.93 299. Kasus kerugian negara terjadi pada penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. Tabel 11.1.

30 Juni 2010 adalah senilai Rp3.26 Kasus tersebut terdapat di Kejaksaan Agung. Potensi Kerugian Negara 11. 11. 11. surat berharga.22 Terhadap kasus-kasus kerugian negara tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menyelesaikan kasus penyalahgunaan keuangan perkara baik dari aspek keuangan maupun aspek administratif. total uang pengganti yang harus dibayar terpidana dari perkara tindak pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada sepuluh kejari dan dua cabjari di lingkungan Kejati Kalbar selama periode TA 2009 s.21 Kasus kerugian negara tersebut pada umumnya disebabkan keraguan pimpinan KL untuk mengambil tindakan terhadap kasus yang menyangkut hilangnya uang titipan pihak ketiga. Rekomendasi 11.104 Penyebab 11.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan entitas belum optimal dalam mengeksekusi uang pengganti dan pengawasan atasan langsung terkait pengelolaan administrasi dan intensifikasi penagihan uang pengganti masih lemah.73% dari total uang pengganti.32 miliar. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya.25 . masih terdapat saldo uang pengganti senilai Rp2.d.23 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. aset tidak diketahui keberadaannya dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.95 juta.24 11. dan • sebanyak 2 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 6 kasus senilai Rp2.98 miliar.34 miliar yang terdiri atas • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp12. Penyebab 11. yang nyata dan pasti jumlahnya. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi aset dikuasai pihak lain. dan barang.30 miliar yang belum tertagih atau sebesar 57. Dari jumlah tersebut.

34 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa untuk mengintensifkan penagihan uang pengganti.11 miliar.105 Rekomendasi 11. penerimaan negara/daerah penerimaan negara diterima oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. • Di Kementerian Keuangan. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp120.64 miliar.44 miliar.30 11. Kejaksaan Negeri Sumatera Barat.31 . • sebanyak 8 kasus penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. • Di Kejaksaan Agung. dan • sebanyak 7 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp6. Ditjen Pajak. Kekurangan Penerimaan 11. 11.57 miliar tidak seharusnya dikurangkan dalam melakukan penghitungan Penghasilan Kena Pajak Tahun Pajak 2009. dan menegur pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugasnya. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara.29 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dari jumlah uang pengganti senilai Rp5.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp255. Hal ini mengakibatkan keharusan dilakukannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara senilai Rp193. biaya pada dua Bank BUMN dan delapan Bank BUMD senilai Rp760.32 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.31 juta. melaporkan perkembangan piutang uang pengganti yang menjadi tanggung jawabnya. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 57 kasus senilai Rp296. senilai Rp34. penggunaan langsung penerimaan negara/daerah.28 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut.18 miliar. masih terdapat saldo uang pengganti 11.

65 juta. kekurangan penerimaan negara. senilai Rp1. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. Penyebab 11. Di samping itu. 11. penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan perpajakan. 11.34 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara pada umumnya terjadi karena para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara serta meningkatkan koordinasi antar pimpinan KL.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan.37 .90 juta kepada TMII. lemahnya pengawasan dan pengendalian dan kurangnya koordinasi antara pimpinan KL.55 miliar.33 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. tidak mengurangi hak negara.08 juta. Rekomendasi 11.106 senilai Rp2. Administrasi 11. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kementerian Dalam Negeri senilai Rp708.84 miliar atau 56% yang belum tertagih per 31 Mei 2010 pada 15 kejari dan 6 cabjari. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. KBRI Seoul senilai Rp561. pertambangan. • Di Kementerian Sekretariat Negara.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.27 juta.53 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. AI juga belum mengganti beban rekening listrik selama empat bulan senilai Rp492. dan KBRI Budapest di Kementerian Luar Negeri senilai Rp223. pihak pengelola Snow Bay Waterpark (SW) yaitu Arum Investment (AI) belum melunasi kontribusi pendapatan sejak September 2009 hingga Juli 2010 kepada TMII senilai Rp5. TMII. tidak menghambat program entitas.

TMII. Bengkayang. • Di Kejaksaan Agung. Sintang. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. pengelolaan barang bukti berupa uang dan bilyet giro senilai Rp4. • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Pontianak. Sanggau. • Di Badan Pertanahan Nasional.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 8 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. perpajakan. dan Cabjari Entikong tidak tertib. kurang komitmen pimpinan entitas yang diperiksa untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan- 11. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 19 kasus yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. daftar aset beserta kode inventaris ruangan (KIR).39 . dan • sebanyak 1 kasus kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. pertanggungjawaban/ penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan dan kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah.20 miliar pada Kejari Mempawah. 11. • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.107 11. daftar inventaris ruangan (DIR) dan kode inventaris barang (KIB) menunjukkan bahwa nilai yang disajikan dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009 merupakan harga perolehan yang belum diinventarisasi dan dinilai kembali dengan harga wajar.50 miliar. pertambangan. PNBP hasil pelayanan bidang pertanahan Tahun 2009 dan 2010 di beberapa kantor wilayah BPN terlambat disetor ke kas negara senilai Rp6.38 Kasus penyimpangan administrasi juga meliputi penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang ditentukan. Penyebab 11. • Di Kementerian Sekretariat Negara.

Hasil Pemeriksaan 11.46 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. yang terdiri dari 39 objek pemeriksaan.47 Pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) pengelolaan pendapatan pemerintah daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. BPK telah memeriksa pengelolaan pendapatan pemerintah daerah TA 2009 dan 2010.45 Secara umum.44 Tujuan Pemeriksaan 11. Rekomendasi 11.66% dari cakupan pemeriksaan.69 triliun dari realisasi anggaran pendapatan senilai Rp52. serta pimpinan instansi lalai tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menilai kembali dan mengawasi pengelolaan aset. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan/atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan dan menginventarisasi serta menilai kembali aset-aset tetap negara. 11. tujuan pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan pendapatan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp268. Cakupan pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan adalah senilai Rp40. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Pendapatan Pemerintah Daerah 11.87 miliar atau 0.74 triliun. . Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.108 ketentuan pelaksanaan anggaran dan penatausahaan. Pemeriksaan dilakukan pada 21 entitas pemerintahan provinsi/kabupaten/kota.43 Dalam Semester II Tahun 2010. dan • pemungutan. penatausahaan dan penyetoran pendapatan daerah telah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu. Sistem Pengendalian Intern 11. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.

pencatatan atas potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan denda atas PKB yang tidak mendaftar ulang s. pembukuan dan pencatatan. serta 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 12. penatausahaan penerbitan surat ketetapan restribusi daerah (SKRD).48 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. Juli 2010 senilai Rp87.d. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.49 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 199 kasus kelemahan SPI. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. • Di Kota Bandung. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.51 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.09 miliar tidak tertib. izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin peruntukkan penggunaan tanah (IPPT) TA 2009 senilai Rp12. • Di Provinsi Sumatera Barat. Provinsi Jawa Barat.53 miliar pada 17 unit pelaksana teknis dinas (UPTD) tidak akurat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Sebanyak 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan terdiri atas • sebanyak 11 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. terdiri atas • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. 11.109 11. 11. 11.52 Sebanyak 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.50 . 11. yaitu 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.

penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. Provinsi Jawa Tengah.40 miliar.55 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 121 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. 11.90 miliar tidak maksimal sehingga tertundanya realisasi penerimaan pendapatan.53 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. intensifikasi dalam upaya meningkatkan pajak pengambilan bahan galian C tidak dilakukan sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah dalam TA 2009 dan 2010 senilai Rp14.91 juta. • Di Kabupaten Deli Serdang. terdiri atas • sebanyak 11 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. pembebasan pajak hiburan dan pajak restoran kepada satu wajib pajak tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah senilai Rp10.54 Sebanyak 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. pendataan.32 juta. penetapan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C lebih rendah dalam TA 2009 dan 2010 total senilai Rp466. Penyebab 11. retribusi dan penerimaan lain-lain pada beberapa SKPD s.00 miliar. terdapat penerimaan dari pungutan biaya diklat TA 2009 pada BPRS Dadi yang tidak memiliki dasar hukum senilai Rp698. • Di Kota Makassar.d. 11. September 2010 senilai Rp1. 11.110 • sebanyak 24 kasus mekanisme pemungutan. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. . • Di Kota Bandar Lampung. dan • Di Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Pekalongan. dan • sebanyak 16 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. penagihan atas tunggakan pajak. Provinsi Lampung. Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sumatera Utara.56 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya disebabkan karena para pejabat dan pelaksana terkait kurang optimal dalam melakukan survei.

potensi kerugian daerah. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi kepada para pejabat dan pelaksana terkait agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan terhadap pendataan. penetapan. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 11.111 penetapan dan pengawasan atas pendapatan pemerintah daerah serta kurang menaati ketentuan yang berlaku.48 6.870. administrasi. kekurangan penerimaan daerah. dan barang. surat berharga.11 253.333.38 268.923.2. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah meliputi penggunaan uang/ barang untuk kepentingan pribadi. Rekomendasi 11.59 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. 11.40 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 Kerugian Daerah Potensi Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakefektifan Jumlah Kerugian Daerah 11. dan penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan.880.2.60 . Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 13 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 14.58 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 322 kasus ketidakpatuhan senilai Rp268.57 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. ketidakhematan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11. dan penagihan pendapatan pemerintah daerah serta untuk lebih menaati ketentuan yang berlaku. pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.733. Tabel 11. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.87 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 8 6 230 65 13 322 Nilai (juta Rp) 2.41 5.

Kepala Dinas Kesehatan menggunakan penerimaan dari dana Jamkesmas TA 2010 senilai Rp150. 11. • Di Kabupaten Brebes. dan barang.16 juta. piutang modal ekonomi produktif dan perdagangan serta pengembangan wirausaha kecil serta usaha pertanian TA 2010 tidak tertagih dan merugikan daerah senilai Rp1.38 juta telah ditindaklanjuti pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara.64 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya.99 miliar. . dan • sebanyak 2 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1.62 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Sumatera Utara dengan penyetoran ke kas daerah. Potensi Kerugian Daerah 11.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 6 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp927.61 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp2.14 juta. surat berharga. Bendahara Penerima Dinas Cipta Karya dan Pertambangan melakukan penggelapan atas retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) TA 2009 dan 2010 senilai Rp417.65 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.63 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. • Di Kabupaten Deli Serdang. senilai Rp408.66 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pengelolaan pendapatan serta kurangnya pengawasan dan pengendalian. Provinsi Jawa Tengah.00 juta untuk kepentingan pribadi. Penyebab 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor sejumlah uang melalui kas daerah dan memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. yang nyata dan pasti jumlahnya. Provinsi Jawa Tengah.112 11. • Di Kabupaten Brebes.95 miliar. 11. Rekomendasi 11.

• Di Kabupaten Bogor. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp88.43 miliar dan di antaranya senilai Rp862. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mengintruksikan para pelaksana untuk lebih giat dalam melakukan penagihan dan lebih menaati peraturan yang berlaku.88 miliar yang terdiri atas • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp5.29 juta.d September 2010 belum terselesaikan senilai Rp1. 11. penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.72 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.70 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan para pelaksana kurang optimal dalam melakukan penagihan dan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam penghapusan piutang.39 juta belum tercatat dalam daftar tunggakan. piutang pajak dari Tahun 20082010 belum terpungut senilai Rp1. dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah. Provinsi Jawa Barat. pengelolaan tunggakan retribusi pasar tidak tertib dan terdapat tunggakan dari Tahun 2005 s.113 11. • Di Kota Semarang.68 Kekurangan Penerimaan 11.67 Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. Provinsi Jawa Tengah. 11. Penyebab 11.73 . Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas daerah. 11. penggunaan langsung penerimaan daerah. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat enam kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp5. Rekomendasi 11.27 miliar.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.71 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut.79 miliar.

Provinsi Lampung.06 juta. dan • sebanyak 26 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp11. • Di Kota Makassar.72 juta.90 juta.58 miliar. • Di Kabupaten Bogor.13 miliar dan denda keterlambatan belum dikenakan senilai Rp255. Kota Medan senilai Rp155.76 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah. Provinsi Jawa Barat. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp61. terdapat pembangunan titik reklame baru yang dilakukan tanpa ijin dan belum ditetapkan pajak dan retribusinya senilai Rp7. . tunggakan pajak per 31 Agustus 2010 senilai Rp7.114 11.74 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah sebanyak 230 kasus senilai Rp253. • Di Kota Bandar Lampung. • sebanyak 25 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp15. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1.73 miliar terdiri atas • sebanyak 177 kasus penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp226. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp5.39 miliar yaitu di antaranya Kota Bandar Lampung senilai Rp392. pendapatan dari sumbangan pihak ketiga Tahun 2006 – 2009 belum diterima dari Pemprov Lampung senilai Rp1. 11. 11.56 miliar belum terselesaikan.50 miliar. Provinsi Sulawesi Selatan.77 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan kurang mematuhi ketentuan perundangan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan pendapatan.52 miliar.42 miliar.78 juta dan Provinsi Lampung senilai Rp21. Penyebab 11.20 juta. Provinsi Sumatera Utara. kekurangan penyetoran pajak hotel dan restoran oleh delapan wajib pajak Tahun 2009 dan 2010 senilai Rp1.65 miliar.20 juta. • Di Kota Medan.75 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut.

dan • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. tidak mengurangi hak daerah.81 . • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik daerah. Administrasi 11. tidak menghambat program entitas. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.82 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 11.80 11. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Provinsi Banten. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. kekurangan penerimaan daerah.777 surat ketetapan pajak daerah (SKPD) mengakibatkan penerimaan senilai Rp8. keterlambatan penetapan pajak air sebanyak 9. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 65 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar membina para pelaksana untuk lebih cermat melaksanakan tanggung jawabnya. • sebanyak 38 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).42 miliar tidak tepat waktu.115 Rekomendasi 11. menaati ketentuan yang berlaku dan lebih tegas mengenakan sanksi terhadap wajib pajak serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 18 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. 11.78 Terhadap kasus-kasus tersebut. dan pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.79 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset.

restoran/rumah makan.79 miliar. Ketidakefektifan 11.87 . pendapatan pajak penerangan jalan TA 2010 terlambat disetor senilai Rp3. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta menginstruksikan untuk menaati peraturan yang berlaku. dan reklame yang tidak terealisasi TA 2009 dan 2010 senilai Rp584.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Penyebab 11. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Provinsi Kepulauan Riau.33 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • Di Kota Bukit Tinggi. penerimaan sumbangan pihak ketiga TA 2009 dan 2010 tidak sesuai peraturan perundang-undangan senilai Rp5.86 11. 11.27 miliar. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 13 kasus ketidakefektifan senilai Rp6.07 juta dan potensi pendapatan pajak daerah belum diperhitungkan minimal senilai Rp231.116 • Di Provinsi Sulawesi Tengah. dan • sebanyak 12 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp6. 11. Rekomendasi 11.88 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Sumatera Barat.33 miliar. • Di Kota Tanjung Pinang.84 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.89 juta sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai.83 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan dan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. terdapat pendapatan pajak hotel.

11. Penyebab 11.89 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan kurangnya pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur secara tertulis kepada pejabat yang terkait supaya meningkatkan pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. Rekomendasi 11. dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya. pendapatan retribusi parkir di tepi jalan umum melalui tenaga pengumpul retribusi parkir tidak optimal sehingga target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. Provinsi Jawa Tengah.91 . para pelaksana terkait belum optimal melakukan intensifikasi pendapatan daerah.117 • Di Kota Semarang.90 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.00 miliar. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

118 .

di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. belanja pemerintah pusat/daerah terdiri atas belanja pegawai. Belanja pemerintah pusat/daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintah pusat/daerah dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.119 BAB 12 Pelaksanaan Belanja 12. dan belanja lain-lain. belanja modal. tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan belanja telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. .5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.09 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp29. bantuan sosial. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. subsidi. Menurut jenisnya.4 Secara umum. dan • pelaksanaan belanja telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. belanja barang. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp824.2 Dalam Semester II Tahun 2010. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Pemeriksaan dilakukan pada 22 kementerian/lembaga yang meliputi 45 objek pemeriksaan. hibah.86 triliun. Sistem Pengendalian Intern 12. Belanja Pemerintah Pusat 12. bunga. Oleh karena itu. Hasil Pemeriksaan 12. dan efektif. 12.46% dari cakupan pemeriksaan.6 Salah satu tujuan pemeriksaan atas belanja adalah untuk menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) atas pelaksanaan anggaran belanja sudah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.1 Pelaksanaan belanja meliputi belanja pemerintah pusat dan belanja pemerintah daerah. efisien.81 miliar atau 5. Cakupan pemeriksaan belanja pemerintah pusat pada 22 K/L adalah senilai Rp15.3 Tujuan Pemeriksaan 12. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah pusat TA 2009 dan 2010.

terdiri atas • sebanyak 13 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. • Di Kementerian Luar Negeri.73 miliar. KBRI Budapest. 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.120 12.9 . • sebanyak 6 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 12. serta 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Selain itu. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.84 miliar tidak dilaporkan ke Bidang Keuangan Polda Sulut sehingga tidak diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polda Sulut. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Kementerian Perhubungan. • Di Kepolisian RI. pembukuan dan pencatatan. biaya perbaikan Wisma Duta Tahun 2009 senilai Rp375. 12.39 juta belum dikapitalisasi sehingga belum tercatat sebagai penambah nilai akun gedung dan bangunan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.56 juta dan TA 2009 senilai Rp2. aset hasil belanja modal TA 2008 belum tercatat senilai Rp226.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Satker Bandara Binaka Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara. dan • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. serta pencatatan BMN belum memisahkan aset sesuai klasifikasinya. Sebanyak 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 12.7 Hasil evaluasi atas SPI belanja menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.8 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan belanja pemerintah pusat menunjukkan terdapat 86 kasus kelemahan SPI. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 15. pencatatan barang milik negara (BMN) belum memperhitungkan PPN dan biaya lainnya terkait pengadaan BMN. terdapat bantuan dana pemerintah kabupaten setempat ke Polres dan Poltabes jajaran Polda Sulawesi Utara TA 2009 senilai Rp1.

• sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.14 miliar belum mendapatkan penggantian dari Biro Keuangan Setjen Kementerian Luar Negeri sehingga pengeluaran belum dapat diakui sebagai realisasi belanja definitif. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.q. terdapat perhitungan fihak ketiga (PFK) minus per 26 Juli 2010 senilai USD126. .121 12. KBRI Moskow. terdiri atas • sebanyak 19 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. yaitu SOP dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan pihak ketiga belum ditetapkan. Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) terdapat 521 jenis suku cadang/materiil/komponen alat utama sistem senjata (alutsista) menunggu proses perbaikan/pemeliharaan dan terdapat suku cadang/materiil/komponen alutsista dari pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi (A-4 dan OV-10) belum diperbaiki. Rp1.13 Sebanyak 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan • sebanyak 12 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • Di Kementerian Luar Negeri. 12. alutsista milik TNI AU berpotensi menjadi barang yang tidak mempunyai nilai teknis.09 ribu e. Akibatnya.11 Sebanyak 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di TNI AU.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kementerian Hukum dan HAM. terdiri atas • sebanyak 15 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. 12. 12.

administrasi.46 824.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI.166. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 163 15 43 120 48 43 432 31. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12.391. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 12. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. potensi kerugian negara.95 54.15 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena perencanaan tidak memadai. Tabel 12.440.918. hasil pemeriksaan mengungkapkan 432 kasus senilai Rp824.81 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan pada delapan kementerian lembaga (KL).97 12. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat No.818. ketidakhematan. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan.79 8.901.18 Berdasarkan tabel di atas.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. serta dukungan sarana dan prasarana yang kurang memadai.1. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.40 240. Rekomendasi 12. . kekurangan penerimaan negara.122 Penyebab 12. serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 16 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 17.1.35 489.

kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.123 Kerugian Negara 12. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.19 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. Kerugian negara. • sebanyak 9 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp914.69 juta. juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. yang terdiri atas • sebanyak 10 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp5. 12. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp110.88 miliar.76 juta.21 . • sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp215. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 163 kasus senilai Rp31. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. pemahalan harga (mark up). • sebanyak 46 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp2. • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp5. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian negara senilai Rp925.17 juta. • sebanyak 9 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp2.89 miliar. dan barang.70 miliar.47 juta. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.20 12. • sebanyak 46 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp10.64 miliar. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.44 miliar.97 miliar. Kasus-kasus kerugian negara yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.52 juta. • sebanyak 5 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp156.00 miliar. • sebanyak 28 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. surat berharga.

pengawasan. dan selisih nilai yang dipertanggungjawabkan dengan yang diterima oleh Hotel Grand Jaya Raya senilai Rp852.34 miliar.24 Kasus-kasus kerugian negara disebabkan rekanan lalai dalam melaksanakan tugas sesuai kontrak yang disepakati.98 juta. Selain itu.25 miliar. • Di Kementerian Pendidikan Nasional.40 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. . realisasi perjalanan dinas kegiatan joint audit TA 2009 tidak dilakukan (fiktif) sekurang-kurangnya senilai Rp2. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kerugian negara dengan menyetorkan uang ke kas negara atau melengkapi/menyerahkan aset melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.124 12. para pelaksana lalai dalam pelaksanaan tugas dan tidak cermat dalam perencanaan. • Di Kementerian Sosial. dan pengendalian.98 juta. yang nyata dan pasti jumlahnya.88 miliar belum disetor ke kas negara dan masih dikelola serta disalurkan kepada Kelompok UPPKS. Rekomendasi 12.17 miliar. senilai Rp5.25 kasus-kasus kerugian negara tersebut. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp1.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.77 miliar. 12.26 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kementerian Dalam Negeri senilai Rp1. dana bantuan modal usaha Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jawa Tengah posisi September 2010 senilai Rp5. Potensi Kerugian Negara 12. surat berharga.23 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian negara tersebut. dan barang.41 miliar. Penyebab 12. dan BKKBN senilai Rp911. pekerjaan pengambilan formulir Program Keluarga Harapan (PKH) TA 2009 tidak seluruhnya dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia sehingga terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp4. akomodasi hotel fiktif atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan senilai Rp1.

pembayaran honorarium senilai Rp404. terdapat selisih volume pekerjaan atas pekerjaan yang belum selesai minimal senilai Rp383.75 miliar. 12. di antaranya di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 15 kasus senilai Rp8.28 . bukan produk baru sehingga terjadi selisih senilai Rp167. • Di TNI AL.46 juta dan biaya transport pengiriman slipway ke lokasi senilai Rp220. • Di TNI AL Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). • Di Kementerian Dalam Negeri.31 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan oleh rekanan lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah disepakati. • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp25.66 juta. 12.30 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut telah ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp191.91 miliar yang terdiri atas • sebanyak 9 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp1.77 juta. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain potensi kerugian negara senilai Rp6. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. 12.35 juta berbeda dengan invoice dan perjalanan dinas senilai Rp228. Penyebab 12. TNI AL telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp168.03 juta. dan aset tidak diketahui keberadaannya.69 juta.20 juta oleh Perusahaan Jasa Konsultan menggunakan pertanggungjawaban yang tidak benar. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp382. pengadaan barang rantai jangkar KRI MLT-561 tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yaitu barang yang diberikan rekanan produk Tahun 1996. pelaksana lalai dalam menjalankan tugas.21 juta.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. aset dikuasai pihak lain.125 12.75 miliar.00 juta tidak sesuai ketentuan.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Ditjen Bina Pembangunan Daerah. yang berpotensi merugikan negara. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).

• Di Kepolisian RI. sanksi keterlambatan pengadaan dua unit senjata api kaliber 20 mm TA 2008 belum dikenakan sehingga denda senilai Rp935.35 juta. senilai Rp446.32 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut.35 . Direktorat Polisi Air (Ditpolair).98 juta belum diterima.16 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp46. 12.92 miliar. • Di Kementerian Hukum dan HAM.126 Rekomendasi 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.40 juta dan PT HI belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp963.24 miliar. meminta pertanggungjawaban rekanan pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah disepakati. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara.00 juta atas perjanjian penambangan batu kapur. Kekurangan Penerimaan Negara 12. terdapat bunga dan denda pinjaman dana Bapertarum PNS oleh Yayasan DPP KORPRI dan Perum Perumnas senilai Rp40.34 12.33 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • Di Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum). 12. terdapat kekurangan pembayaran PNBP dari ganti rugi pemanfaatan tanah oleh PT HI senilai Rp561.45 juta telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 43 kasus senilai Rp54.92 miliar tidak dibayar. dan mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian negara.36 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. di antaranya di Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp230. 12. dan penggunaan langsung penerimaan negara. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai Rp7.37 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.

memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan.41 12.42 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. dan penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara.39 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. Penyimpangan administrasi juga meliputi pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. 12. pelaksanaan lelang secara proforma. para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. • sebanyak 6 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Rekomendasi 12. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara.127 Penyebab 12. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. tidak menghambat program entitas. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.40 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.43 . tidak mengurangi hak negara. Administrasi 12. • sebanyak 35 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara terjadi karena rekanan tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 120 kasus yang terdiri atas • sebanyak 39 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). kekurangan penerimaan negara. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.

terdapat pengadaan barang TA 2009 senilai Rp699. • Di Kementerian Agama. • sebanyak 7 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. Rekomendasi 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian para atasan. . penggunaan sisa anggaran joint audit TA 2009 senilai Rp22. kurang cermat dalam melaksanakan ketentuan pelaksanaan anggaran. • sebanyak 3 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. memberikan teguran dan atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. • Di Kementerian Pendidikan Nasional.28 miliar dilakukan tanpa merevisi petunjuk operasional kegiatan (POK). • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. • Di TNI AL.46 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melengkapi bukti pertanggungjawaban. IAIN Sultan Thaha Jambi.21 juta dilakukan tanpa kontrak sehingga tidak ada kejelasan mengenai hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perikatan. penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS) TA 2009 tidak didasarkan pada data yang memadai dan spesifikasi teknis barang yang diadakan mengarah pada merek tertentu. 12.52 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain penyimpangan administrasi.128 • sebanyak 15 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 8 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dan dalam melaksanakan tugas. terdapat empat kegiatan operasi Mabes TNI TA 2007 – 2008 yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban minimal senilai Rp2. Penyebab 12. • Di Kementerian Perdagangan.

39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan senilai Rp165.51 juta. KBRI Kuala Lumpur. • Di Kementerian Perdagangan.35 miliar. Penyebab 12.73 juta. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. Rekomendasi 12. • Di Kementerian Keuangan. terdapat perbedaan harga kontrak dengan harga pasar dalam pengadaan barang dan jasa TA 2009 dan 2010 sehingga terjadi kemahalan harga senilai Rp204.52 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. tingkat pemanfaatan peralatan pemindai DJBC belum optimal jika dibandingkan dengan tingkat biaya pemeliharaannya senilai Rp178.49 . Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak 48 kasus senilai Rp240.51 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena adanya kecenderungan memanfaatkan anggaran tanpa memperhatikan prinsip ekonomis.50 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 12.47 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).48 12. dan • sebanyak 45 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga senilai Rp240. HiCo Scan. 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.81 juta. Kasus-kasus ketidakhematan meliputi pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. mengakibatkan pemborosan atas biaya pemeliharaan X-Ray.22 miliar. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. dan Gamma Ray.129 Ketidakhematan 12. • Di Kementerian Luar Negeri. dana beasiswa mahasiswa unggulan TA 2009 dan 2010 digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan persatuan mahasiswa Indonesia di Malaysia sehingga memboroskan keuangan negara senilai Rp152. entitas kurang cermat merencanakan kegiatan.

dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.54 12.90 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp1. • Di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan 43 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan senilai Rp489. • sebanyak 10 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp196. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).57 miliar pengadaan TA 2007 – 2009 rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan.56 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.54 miliar melewati batas waktu yang ditetapkan sehingga belum sepenuhnya dapat mendukung pencapaian tujuan kegiatan operasi.95 miliar. • sebanyak 7 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp31. • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp111. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.53 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).64 juta. Kapal Patroli Cepat FPB 38 senilai USD25.52 miliar. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.130 Ketidakefektifan 12.90 miliar.32 miliar. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Rp226. 12. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. • sebanyak 7 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi senilai Rp2. kegiatan pemeliharaan alutsista kapal di lingkungan Koarmabar TA 2008 dan 2009 senilai Rp2. • Di TNI AL. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. 12. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.55 .99 miliar.20 juta eq. • sebanyak 11 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp341.

BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 atas 176 objek pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan atas 14 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah provinsi dan 150 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah kabupaten/kota. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan.60 Tujuan Pemeriksaan 12. dan efektif. Rekomendasi 12. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. telah agar lebih hasil Belanja Pemerintah Daerah 12. dan • pelaksanaan pengadaan barang/jasa telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis.69 miliar atau 3. Selain itu. cermat dalam perencanaan.61 Tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan yang diperiksa telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.59 Dalam Semester II Tahun 2010. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp840.57 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. . dan segera memanfaatkan barang pengadaan. perencanaan yang kurang memadai. Cakupan pemeriksaan belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan adalah senilai Rp22. pemeriksaan atas belanja daerah juga meliputi 5 objek pemeriksaan atas belanja bantuan sosial TA 2009 dan 2010 pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 3 objek pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) TA 2010 pada pemerintah provinsi dan 4 objek pemeriksaan pada pemerintahan kabupaten/kota.86 triliun. Penyebab 12. pasar tradisional dan gudang untuk sistem resi gudang (gudang SRG) yang dibangun dengan dana stimulus fiskal TA 2009 belum didukung fasilitas penunjang dan pasokan listrik PLN sehingga belum dapat dimanfaatkan.81% dari cakupan pemeriksaan. efisien. 12.58 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.131 • Di Kementerian Perdagangan.06 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp52.

141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 2 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.62 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. serta 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan) pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 18.66 . hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. pembukuan dan pencatatan.63 Pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) entitas terhadap belanja daerah maupun terhadap pengamanan atas kekayaan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Sebanyak 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 15 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan belanja pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan.64 12.132 Hasil Pemeriksaan 12. yaitu 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.65 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 195 kasus kelemahan SPI. 12. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Sistem Pengendalian Intern 12. Oleh karena itu. 12. terdiri atas • sebanyak 15 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.

Pemkab Tapanuli Selatan memiliki utang senilai Rp37. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • sebanyak 10 kasus mekanisme pemungutan. 12. Sebanyak 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. yaitu pengguliran ternak pada dinas peternakan senilai Rp18. Akibatnya. • sebanyak 8 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.25 miliar pada TA 2009 dan senilai Rp203. 12. • sebanyak 22 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. terdiri atas • sebanyak 11 kasus berupa permasalahan entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Provinsi Nusa Tenggara Timur.71 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur berupa permasalahan tidak adanya pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Pekerjaan Umum.51 miliar. Provinsi Sumatera Utara.00 juta pada TA 2010 belum dicatat secara tertib mengakibatkan Laporan Pengguliran Ternak yang disajikan di Neraca TA 2010 berpotensi salah catat dan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. terdiri atas • sebanyak 54 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. yaitu pemerintah daerah mengalami defisit anggaran yang berdampak pada penundaan pembayaran paket-paket pekerjaan TA 2010 yang telah selesai dikerjakan. Sebanyak 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.70 . • sebanyak 46 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.68 12. dan • sebanyak 2 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. • sebanyak 4 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD.67 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Sumba Barat. 12.133 12.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan.

Tabel 12. dan kepala daerah lalai dalam membuat aturan pelaksanaan anggaran. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 857 206 314 366 119 132 1.11 45.72 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengelola anggaran kurang cermat dalam mengusulkan rencana kerja anggaran.639.692.656. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta segera membuat aturan pelaksanaan anggaran. administrasi. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 12. potensi kerugian daerah.2.22 522.73 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.134 Penyebab 12.267. ketidakhematan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah No.74 Hasil pemeriksaan atas belanja pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 1.994 kasus ketidakpatuhan senilai Rp840.2. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. kepala daerah memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam penganggaran.69 840. BPK telah merekomendasikan agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.03 97.38 30.69 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.377. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. Rekomendasi 12.994 144.752.46 . Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 19 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 20. kekurangan penerimaan daerah.

dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. pemahalan harga (mark up).78 . Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 857 kasus senilai Rp144.44 miliar.77 12.135 Kerugian Daerah 12. • sebanyak 419 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp72.49 miliar. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. • sebanyak 42 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp8.88 miliar. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. 12. • sebanyak 105 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp8.34 miliar. • sebanyak 19 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp12.76 12.26 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.75 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp1. surat berharga. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. dan barang. • sebanyak 41 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp3. Kerugian daerah juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. terdiri atas • sebanyak 23 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp9.09 miliar.96 miliar. • sebanyak 49 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp10. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.01 miliar.48 miliar. • sebanyak 130 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp14.52 miliar.00 miliar. • sebanyak 24 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp3.

Dinas Pendidikan.81 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya dan dengan sengaja membuat berita acara prestasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. • Di Kabupaten Purwakarta.136 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor uang ke kas daerah atau melengkapi pekerjaan melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.04 juta atas kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009. 12.59 miliar.35 miliar. surat berharga.82 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Penyebab 12. senilai Rp22. serta kurangnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab kegiatan. Provinsi Jawa Barat terdapat kekurangan volume pekerjaan jalan dan jembatan serta rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan di Dinas Bina Marga dan Pengairan TA 2009 dan 2010 senilai Rp2.54 miliar. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.22 miliar. dan barang. rekanan belum melaksanakan kewajiban 12.83 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.79 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp1. dan memberikan sanksi kepada pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Potensi Kerugian Daerah 12. yang nyata dan pasti jumlahnya. • Di Provinsi DKI Jakarta. terdapat kekurangan volume pekerjaan penyelesaian pembangunan fasilitas rekreasi dan olahraga Jakarta Timur TA 2009 senilai Rp3.59 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah.80 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp974. • Di Provinsi DKI Jakarta.84 . yaitu di antaranya di Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp5. Rekomendasi 12.65 miliar. dan di Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp1.

• sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1. aset dikuasai pihak lain. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.85 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 206 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp97. Pemkab Banggai Kepulauan berpotensi mengalami kesulitan dalam mencairkan jaminan pelaksanaan apabila rekanan wanprestasi. jaminan pelaksanaan atas pengadaan barang jasa oleh pihak ketiga TA 2009 dan 2010 senilai Rp5. Akibatnya.63 miliar tidak diterbitkan oleh bank tetapi oleh lembaga asuransi dan/atau masa berlakunya kurang dari ketentuan. .54 miliar. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp985. 12.24 miliar. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. 12. • sebanyak 10 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp8. • sebanyak 9 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. • sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. • sebanyak 19 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp2.00 juta. dan • sebanyak 11 kasus lain-lain senilai Rp12.65 miliar.137 pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp18.16 juta. aset tidak diketahui keberadaannya. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. • Di Kabupaten Banggai Kepulauan.62 miliar.32 miliar.22 miliar. terdiri atas • sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp53. Provinsi Sulawesi Tengah. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp524.17 miliar.86 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

terdiri atas • sebanyak 307 kasus penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp44. serta melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kerugian daerah.98 juta. Provinsi Jambi. yaitu Kecamatan Tebo Ilir. Rekomendasi 12. memberi sanksi kepada pelaksana dan mempertanggungjawabkan uang/barang yang berpotensi hilang. 12.92 .63 miliar. Kecamatan Tebo Ulu.21 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak.138 • Di Kabupaten Tebo.56 miliar yang terjadi sejak Tahun 2008. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. terdapat tunggakan Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada 5 kecamatan.12 miliar. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp1. Kecamatan Tebo Tengah. Kekurangan Penerimaan 12. Kecamatan VII Koto. penggunaan langsung penerimaan daerah. senilai Rp1.88 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak yang telah disepakati. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah menunjukkan terdapat 314 kasus kekurangan penerimaan daerah senilai Rp45. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/ dipungut/diterima/disetor ke kas daerah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek.90 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada kontraktor sesuai ketentuan. 12.01 miliar.87 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan potensi kerugian daerah tersebut. dan di Pemerintah Kabupaten Muara Enim senilai Rp387. Penyebab 12. dan Kecamatan Sumay dengan jumlah keseluruhan senilai Rp1. yaitu di antaranya di Provinsi Kepulauan Riau senilai Rp484. para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya.89 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut.99 juta.91 12.

96 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. 12. RSUD Dr R Koesma. Dinas Kesehatan. Pemuda. • sebanyak 3 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp375.139 • sebanyak 1 penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp108. • Di Kabupaten Tuban. pelaksana kegiatan dan bendaharawan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Penyebab 12. Sekretariat Daerah.70 juta. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp5. • Di Kabupaten Muna.67 miliar.93 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut.96 juta. Provinsi Jawa Timur. dan • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai Rp15. dan Olahraga TA 2010 yang belum diselesaikan hingga akhir masa kontrak dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp650.94 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/ daerah tersebut.00 juta.92 juta. 12. yaitu di antaranya di Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp755.69 juta. potongan PPN dan PPh Masa Tahun 2009 dan 2010 yang diterima oleh rekanan/bendahara pengeluaran berindikasi tidak disetor ke kas negara senilai Rp9.37 juta. Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp481. pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009 pada Dinas Pendidikan mengalami keterlambatan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp755. beberapa pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum.95 juta. • Di Provinsi DKI Jakarta. Rekomendasi 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pelaksana kegiatan dan pimpinan SKPD. Provinsi Sulawesi Tenggara. dan Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp478.95 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang direncanakan. serta Dinas Pendidikan. .12 juta. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera menagih kekurangan penerimaan dan segera menyetorkannya ke kas daerah.02 miliar.

• sebanyak 19 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. Penyimpangan administrasi juga meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. 12. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. pertambangan. • sebanyak 114 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. • sebanyak 24 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. tidak menghambat program entitas.140 Administrasi 12. • sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. dll. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. • sebanyak 4 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.98 12. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. proses pengadaan barang/ jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah.100 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 366 kasus penyimpangan administrasi. dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. Kasus-kasus penyimpangan administrasi meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. terdiri atas • sebanyak 139 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. tidak mengurangi hak daerah. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. perpajakan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. pelaksanaan lelang secara proforma. . kekurangan penerimaan daerah.99 12.97 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.

Penyebab 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di unit kerjanya masing-masing. • Di Kabupaten Bungo. • sebanyak 9 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. Provinsi Jambi.13 miliar dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang paling menguntungkan daerah.102 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pelaksana lalai dalam membuat pertanggungjawaban kegiatan. dan • sebanyak 6 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. Ketidakhematan 12. Provinsi Maluku Utara. • Di Kabupaten Lembata. Provinsi Nusa Tenggara Timur. realisasi belanja hibah TA 2010 belum dipertanggungjawabkan penerima hibah senilai Rp25. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Rekomendasi 12.104 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.103 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.60 juta. • Di Kabupaten Halmahera Selatan.85 miliar. terdapat kekurangan bukti pertanggungjawaban (bukti belum lengkap) yang harus diserahkan penerima hibah TA 2009 senilai Rp239. • sebanyak 4 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. • sebanyak 3 kasus dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah.101 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 12. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. .141 • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. pekerjaan penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) dengan nilai kontrak senilai Rp10. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.

pembayaran honorarium sekretariat panitia pemungutan suara pada empat kabupaten tidak sesuai ketentuan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.107 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Penyebab 12. • Di Kabupaten Cirebon.67 miliar. koefisien komponen alat dan upah pada analisa harga satuan pekerjaan lapis latasir. dan lapisan pondasi atas pada 120 paket pekerjaan melebihi standar HPS sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp2.106 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 119 kasus ketidakhematan senilai Rp30. dan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. • sebanyak 9 kasus penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp3. • Di Kabupaten Jembrana.71 miliar.37 miliar yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp34. . • Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Provinsi Jambi. 12. Provinsi Jawa Barat. 12. panitia lelang kurang cermat dalam mengevaluasi dan menganalisis penawaran harga dari rekanan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek. Provinsi Bali.66 miliar.88 miliar. Rekomendasi 12. dan • sebanyak 106 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp26.108 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas.109 Terhadap permasalahan-permasalahan ketidakhematan tersebut.105 Ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya meliputi pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan.142 12.82 miliar.42 juta.75 miliar. • Di Provinsi Bengkulu. lataston. pemberian bantuan sosial untuk beasiswa pendidikan TA 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1. HPS atas pekerjaan pembangunan sarana air bersih Tebing Tinggi – Kuala Tungkal tahap II tidak disusun secara keahlian sehingga terdapat kemahalan harga kontrak senilai Rp2. penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.

12. • sebanyak 4 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp3. hasil kegiatan pembangunan pengembangan Kawasan Objek Wisata Sumber Air Ingas Terpadu TA 2009 senilai Rp2.26 miliar.51 miliar termasuk kategori kritis sehingga berisiko tidak akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang direncanakan. • Di Kabupaten Belu. • sebanyak 43 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp466. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Provinsi NTT.71 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal.110 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). • sebanyak 8 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp3. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. sebelas paket pekerjaan TA 2010 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Pendidikan. • Di Kabupaten Klaten.143 Ketidakefektifan 12.113 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. . barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.37 miliar. • sebanyak 37 kasus barang yang dibeli tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp23.46 miliar.112 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 132 kasus ketidakefektifan senilai Rp522. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.111 Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.75 miliar yang terdiri atas • sebanyak 38 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp26. dan • sebanyak 1 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.10 miliar. 12. dan Olahraga senilai Rp15. Provinsi Jawa Tengah. 12.54 miliar. Pemuda.

Provinsi Bengkulu.06 miliar di RSUD Kepahiang dan Dinas Kesehatan dan peralatan serta perlengkapan sekolah senilai Rp432. dan Olahraga hasil pengadaan TA 2010 belum dimanfaatkan. Pemuda. . 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar kepala daerah menegur secara tertulis kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada rekanan.14 juta di Dinas Pendidikan. Penyebab 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. pelaksana proyek/kegiatan kurang tegas kepada rekanan.144 • Di Kabupaten Kepahiang. alat-alat kesehatan senilai Rp2. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan.114 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. Rekomendasi 12.115 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.116 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Dalam Semester II Tahun 2010. . Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan. dan • menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.1 Aset tetap daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. kelengkapan. Pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada pemerintah daerah mencakup aset pemerintah daerah yang dikuasai oleh pengelola barang (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Pemeriksaan dilakukan pada sembilan entitas pemerintah daerah. serta pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan aset pemerintah daerah. dan Kabupaten Parigi Moutong. • menguji keberadaan. Pada umumnya.4 Tujuan Pemeriksaan 13. Kota Banjarmasin. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset atau pengelolaan barang milik daerah (BMD). Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Hasil Pemeriksaan 13. Oleh karena itu.145 BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 13. Oleh karena itu. serta kewajaran dan kecukupan pengungkapan atas pelaporan aset tetap.5 Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset adalah untuk • menilai efektivitas sistem pengendalian intern terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. kepemilikan. 13. nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan. sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah. penilaian. Kabupaten Luwu Utara. Barang milik daerah adalah semua barang yang di beli atau diperoleh atau beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.3 13. Kabupaten Jembrana.2 13. Kabupaten Tana Toraja. Kota Surabaya. Kabupaten Buleleng. Kabupaten Sidoarjo. yaitu Kabupaten Bengkulu Utara.

pencatatan aset tetap dalam kartu inventaris barang (KIB) dan inventarisasi aset tetap seluruhnya senilai Rp62. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.42 miliar tidak dilaksanakan sehingga laporan aset tetap Tahun 2009 dan 2010 tidak dapat disusun. pengadaan aset berupa jalan pada TA 2009 senilai Rp59. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. • Di Kabupaten Parigi Moutong. • sebanyak 3 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. • Di Kota Surabaya.7 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan/manajemen aset menunjukkan adanya kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 13. 13. 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. yaitu 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 13. Sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 25).8 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. dan 13.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Jawa Timur.146 Sistem Pengendalian Intern 13. Provinsi Sulawesi Tengah.9 . terdiri atas • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.11 Sebanyak 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.20 miliar tidak dicatat dalam laporan barang milik daerah sehingga Laporan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. terdiri atas • sebanyak 26 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.

dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas para pengurus barang yang menjadi tanggung jawabnya.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.17 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 91 kasus ketidakpatuhan senilai Rp34. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 22 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 23. bupati belum menetapkan pedoman teknis pengelolaan aset tetap yang meliputi kebijakan penggunaan. Provinsi Sulawesi Tengah. pengendalian. Provinsi Bali yaitu pemanfaatan hak pengelolaan tanah Gilimanuk oleh pihak ketiga untuk pertokoan tidak sesuai ketentuan sehingga hasil pemanfaatan aset tanah tersebut tidak dapat diterima oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. ketidakhematan. administrasi.15 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengguna BMD lalai dalam melakukan pembinaan. 13. 13. dan kebijakan pengamanan BMD sebagaimana disyaratkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan BMD. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 13.12 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Jembrana.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong. dan • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.13 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13. Penyebab 13.147 • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. .1. kekurangan penerimaan daerah. pemanfaatan atau pemindahtanganan BMD. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi administratif kepada pejabat yang bertanggung jawab sebagai pengguna BMD dan segera menetapkan pedoman teknis terkait pengelolaan BMD. potensi kerugian daerah. Sebanyak 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 13.31 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. Rekomendasi 13. terdiri atas • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.

BMD yang hilang selama Tahun 2006 s. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 5 14 2 61 1 8 91 1.74 34. surat berharga. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah dan lain-lain kasus kerugian daerah berupa pengenaan ganti kerugian daerah belum/ tidak dilaksanakan sesuai ketentuan.38 juta belum dikenakan tuntutan ganti rugi.51 Kerugian Daerah 13. 13.33 1. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 5 kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp1.12 juta untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Usaha Pembibitan Sapi Bali dijual oleh penerima bantuan.014.528.77 22.d. • Di Kabupaten Luwu Utara.19 13.848.18 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. aset Pemerintah Kabupaten Jembrana berupa sapi hasil pengadaan Tahun 2006 sebanyak 287 ekor senilai Rp857.115. 2010 minimal senilai Rp86.810. dan barang.70 4.148 Tabel 13.20 .94 4. Provinsi Bali.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No. Provinsi Sulawesi Selatan.58 juta. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp258.11 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp857.12 juta. • Di Kabupaten Jembrana.1.318. 13.

13.05 juta berpotensi merugikan keuangan daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan upaya penagihan kepada penerima bantuan dan hasilnya disetorkan ke kas daerah. • Di Kota Banjarmasin. • Di Kabupaten Luwu Utara. Pensiunan PNS. Provinsi Bali.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam melakukan pengurusan BMD.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.01 miliar yang terdiri atas • sebanyak 8 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp856. aset tidak diketahui keberadaannya. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi aset dikuasai pihak lain. 13.08 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 14 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp4. Provinsi Kalimantan Selatan. dan • sebanyak 1 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp72.88 miliar tidak dapat ditelusuri keberadaan fisik barangnya. Provinsi Sulawesi Selatan. Potensi Kerugian Daerah 13.05 juta.149 Penyebab 13.29 juta. dan barang. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.29 juta dikuasai pihak lain (PNS.23 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Kabupaten Buleleng. serta memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. barang milik daerah senilai Rp856. dan pihak lain di luar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara). tunggakan cicilan penjualan kendaraan roda dua dan empat senilai Rp72. Rekomendasi 13. yang nyata dan pasti jumlahnya. aset tetap yang tercatat di SKPD per 30 Juni 2010 minimal senilai Rp2. surat berharga. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp3.26 .25 13.

Penyebab 13. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 2 kasus penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp4.34 Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya disebabkan mitra kerja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian.33 .28 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan pengguna dan pengurus lalai dalam dalam melaksanakan tugasnya untuk menelusuri keberadaan BMD.32 13. dan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam mengamankan dan memelihara BMD.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan pengguna BMD untuk melakukan pembinaan atas pengelolaan BMD sesuai ketentuan yang berlaku dan melakukan pengamanan fisik dan administratif atas BMD yang berada dalam penguasaannya. 13. beberapa mitra kerja tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk periode Tahun 2000 s. Rekomendasi 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera meminta mitra kerja untuk memenuhi kewajiban kontribusi dan kompensasi sesuai dengan syarat yang diperjanjikan serta segera menyetorkannya ke kas daerah.78 miliar. Provinsi Kalimantan Selatan.29 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. Rekomendasi 13.81 miliar.d. Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya di Kota Banjarmasin. Kekurangan Penerimaan 13.31 13.150 Penyebab 13. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/ disetor ke kas daerah. 2006 senilai Rp4.30 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.

151 Administrasi 13. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. aset jalan. tidak mengurangi hak daerah.29 miliar yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sampai dengan 30 Juni 2010 belum diurus kejelasan status kepemilikannya sehingga rawan terhadap penyalahgunaan oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab atau tuntutan hukum pihak lain. Provinsi Bali. dan kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. aset tetap minimal senilai Rp27. Provinsi Jawa Timur. kekurangan penerimaan daerah. dan • sebanyak 17 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. dan instalasi senilai Rp29. tidak menghambat program entitas. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 61 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 43 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. jaringan.64 miliar yang diserahterimakan kepada PDAM Kota Surabaya sampai dengan 12 Maret 2010 belum ditetapkan status penyertaan modalnya. • Di Kota Surabaya. 13. penggunaan aset tetap berupa gedung dan bangunan senilai Rp65.39 miliar yang digunakan oleh 17 SKPD belum ditetapkan dengan surat keputusan bupati sehingga pertanggungjawaban dan pemeliharaan aset tersebut menjadi tidak jelas.38 . • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Provinsi Bali.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. • Di Kabupaten Jembrana. • Di Kabupaten Buleleng.39 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.37 13. 13.

BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi administratif kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.47 .152 Penyebab 13. Penyebab 13.42 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. 13.52 miliar yaitu kegiatan rehabilitasi gedung/bangunan di Dinas Pendidikan (TA 2009) atas bangunan sekolah yang bukan milik Pemerintah Kota Banjarmasin. 13. Ketidakhematan 13.41 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. serta kurang optimal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.45 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.43 Ketidakefektifan 13.40 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pengguna dan pengurus BMD lalai dalam melakukan pengamanan fisik dan administratif terhadap aset daerah.46 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).44 Kasus ketidakhematan terjadi karena pengguna BMD kurang berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus pemborosan keuangan daerah senilai Rp1. dan barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan. Rekomendasi 13. Rekomendasi 13.

50 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. • Di Kota Surabaya. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menggunakan rencana kebutuhan BMD sebagai dasar penganggaran. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan pengadaan BMD. belt conveyor di Pelabuhan Pengambengan. aset tetap hasil pengadaan selama Tahun 2003 s.21 miliar belum dimanfaatkan dan masih tersimpan dalam kardus.84 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kabupaten Luwu Utara. • Di Kabupaten Jembrana. pembangunan gedung RSUD dr. Soewardhie belum selesai sehingga barang inventaris hasil pengadaan Tahun 2009 dan 2010 yang bersumber dari APBD dan APBN senilai Rp5. 2009 yang terdiri atas gedung beserta peralatan laboratorium lingkungan. Provinsi Bali. rumah dinas ASDP dan jaringan pipa air bersih Megumi. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. aset kapal penangkap ikan Jimbarwana dan Jimbarsegara.52 . barang hasil pengadaan TA 2009 senilai Rp1. serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jembrana seluruhnya senilai Rp15. memanfaatkan secara optimal barang hasil pengadaan.153 13.84 miliar.27 miliar belum dapat dimanfaatkan. docking fasilitas perbaikan kapal ikan dan alat-alat mesin sarana docking kapal. dan • sebanyak 7 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp22. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Penyebab 13. Rekomendasi 13.51 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.48 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakefektifan senilai Rp22. Provinsi Jawa Timur.d. 13. gedung pengolahan daging. 13.18 miliar belum dimanfaatkan. pelaksanaan pengadaan BMD tidak memperhatikan efektivitas pencapaian tujuan pengadaan.49 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. M.

154 .

Kebinamargaan. kebinamargaan. dan Gorontalo.3 14. Adapun total temuan senilai Rp88. bangunan. di atas permukaan tanah. Bangunan gedung penting bagi manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang tujuan pembangunan nasional.57% dari cakupan pemeriksaan. pembagian.32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. di bawah permukaan tanah dan/atau air. Kalimantan Timur. pemberian. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi/kabupaten/kota TA 2009 dan 2010. dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah 14. D. daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. Lebih lanjut sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.1 Pembangunan infrastruktur keciptakaryaan. penggunaan dan pembuangan air irigasi.35% dari realisasi belanja modal jalan dan jembatan senilai Rp2. Pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mobilitas distribusi berbagai produk barang dan jasa dalam perekonomian nasional.155 BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. kebinamargaan.75 miliar atau 6. BPK telah memeriksa pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.I Yogyakarta. dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan. serta di atas permukaan air. yang dimaksud dengan jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. Objek pemeriksaan dimaksud adalah Dinas PU Cipta Karya dan Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Barat dan Dinas PU Bina Marga pada 14 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Provinsi Lampung. 14. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase pada satu Dinas PU Cipta Karya Provinsi. dan bangunan pengairan/drainase merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.29 triliun. kecuali jalan kereta api.35 triliun atau 58. Dalam Semester II Tahun 2010. Kalimantan Barat. Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian.2 14. Jaringan irigasi adalah saluran. dan jalan kabel. jalan lori. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan 14 Dinas PU Bina Marga kabupaten/ kota adalah senilai Rp1. yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya.4 . termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. yang berada pada permukaan tanah.

9 . Oleh karena itu. 14. Hasil Pemeriksaan 14.6 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. pelaporan keuangan dan pengamanan atas aset daerah. Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja meliputi 5 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. 14. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan • sumber daya yang ada telah digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis dan efisien. kebinamargaan dan drainase. kebinamargaan dan bangunan air/drainase pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) pemerintah daerah atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.156 Tujuan Pemeriksaan 14.8 Hasil evaluasi atas SPI menunjukkan terdapat 7 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 2 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • kegiatan belanja infrastruktur keciptakaryaan. Sistem Pengendalian Intern 14.7 Hasil evaluasi SPI menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.5 Tujuan pemeriksaan atas belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. kebinamargaan dan drainase/pengairan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah telah sesuai dengan peraturan perundang -undangan yang berlaku. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.

10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.22 miliar dilakukan tanpa perencanaan yang memadai. • Di Provinsi Kalimantan Barat. Penyebab 14. • Di Kabupaten Sambas.12 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 14. Rincian per jenis temuan disajikan pada Lampiran 25 dan rincian menurut entitas disajikan pada Lampiran 26.11 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern meliputi 2 kasus standar operasional prosedur (SOP) yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. BPK telah merekomendasikan kepada gubernur/bupati agar menegur Kepala Dinas PU agar melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian daerah.15 Sesuai dengan tujuannya. perencanaan lapis permukaan pada paket pekerjaan peningkatan kawasan pemerintahan TA 2009 tidak memadai. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 14. Provinsi Kalimantan Barat.14 Terhadap kasus-kasus tersebut. • Di Kabupaten Kayong Utara. ketidakhematan. upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL).13 Kasus-kasus tersebut disebabkan oleh lemahnya kebijakan. potensi kerugian daerah. kekurangan penerimaan. 14. Provinsi Kalimantan Barat. administrasi. • Di Provinsi Kalimantan Barat. kurangnya pemahaman alur proses perencanaan sesuai ketentuan yang berlaku.1. hasil pemeriksaan menyajikan kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan kontraktor tidak mematuhi ketentuan yang terkait pengelolaan lingkungan hidup. pelaksana pekerjaan atas kegiatan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Jagoi Babang Lanjutan dan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Entikong Lanjutan pada Dinas PU Cipta Karya TA 2009 tidak menyusun dokumen UPL dan UKL. tujuh paket pekerjaan jalan TA 2009 tidak menyusun dokumen AMDAL. .157 14. Rekomendasi 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 14. kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan bidang sumber daya air TA 2009 minimal senilai Rp29.

158 Tabel 14.19 .298.55 miliar.43 miliar. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. • sebanyak 22 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp16. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan terdapat 48 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp36.619. dan barang. hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 124 kasus senilai Rp88. Kebinamargaan.752.96 34. dan kerugian daerah lainnya. kebinamargaan.14 14. dan bangunan pengairan/drainase.48 88. Kerugian Daerah 14. dan Bangunan Pengairan/Drainase No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 48 24 13 26 8 5 124 Nilai (juta Rp) 36.57 miliar.1.16 Berdasarkan tabel di atas. 14.17 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. surat berharga. kebinamargaan. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.401.62 3.432. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.18 14. Kerugian daerah juga meliputi spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. • sebanyak 19 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp11. dan kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 14.75 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.26 miliar. yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp6.

• Di Kabupaten Bantul. Provinsi D. Rekomendasi 14. dan • sebanyak 1 kasus lainnya senilai Rp37.d. 14. panitia pengadaan barang/jasa. Potensi Kerugian Daerah 14.75 juta. di antaranya Pemerintah Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp735. kekurangan volume atas pekerjaan pembangunan.23 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut.25 .21 Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut. dan pejabat pembuat komitmen (PPK) belum mematuhi ketentuan atau prosedur yang berlaku dalam pengadaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan.00 miliar. 2010 tidak sesuai dengan kontrak mengakibatkan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp8. beberapa pekerjaan selama Tahun 2005 s. yang nyata dan pasti jumlahnya.I. Yogyakarta.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.52 miliar. • Kabupaten Gorontalo Utara.35 juta yang berasal dari contoh kasus di atas dan penyetoran dari kasus kerugian daerah lainnya. surat berharga. • Di Kabupaten Nunukan.68 miliar. 14. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan 14.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. Provinsi Gorontalo. peningkatan dan/atau pemeliharaan jalan seluruhnya senilai Rp1.90 juta.159 • sebanyak 5 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. dan barang. ketebalan pekerjaan lapis pondasi bawah dan atas (LPB/LPA) pada tiga ruas jalan dan pekerjaan asphalt treated base (ATB) pada 15 ruas jalan TA 2009 dan 2010 tidak sesuai spesifikasi senilai Rp599.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengawas lapangan tidak cermat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan. Penyebab 14. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah dengan menyetorkan uang ke kas daerah atau melengkapi/menyerahkan aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Provinsi Kalimantan Timur.

• Di Kabupaten Nunukan. dan • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan. • Di Kabupaten Tulang Bawang.37 miliar.69 miliar. paket pekerjaan pembangunan jalan Dusun Besar–Pintau dan jembatan Sungai Gemuruh Tahap II TA 2010 berpotensi lebih bayar senilai Rp1. terdapat pembayaran atas pekerjaan jalan dan jembatan melebihi nilai kontrak/amandemen kontrak senilai Rp55. terdapat kekurangan volume pekerjaan pengaspalan overlay jalan dengan hot rolled sheet (HRS) pada empat paket kontrak kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruas jalan dengan menggunakan HRS-Base dan HRS. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp19. .67 miliar.d.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.76 miliar. • sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp154. pemanfaatan barang. 14. tetapi atas pekerjaan tersebut belum dibayar seluruhnya.24 juta.61 miliar yang terdiri atas • sebanyak 21 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp14. Provinsi Lampung. Provinsi Kalimantan Timur. serta pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. Dinas PU Kabupaten Gorontalo Utara telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp55. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian daerah sebanyak 24 kasus senilai Rp34. Provinsi Gorontalo. realisasi keuangan empat paket pekerjaan peningkatan jalan selama Tahun 2005 s.Wearing Course TA 2010 senilai Rp633.26 Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. • Di Kabupaten Gorontalo Utara. 14.28 Di antara kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.160 sebagian atau seluruhnya. pemanfaatan barang.04 juta.54 juta. • Di Kabupaten Kayong Utara. 2010 melebihi prestasi fisik senilai Rp5. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. 14. Provinsi Kalimantan Barat.24 juta (setelah dikurangi PPN dan PPh tetapi pekerjaan baru dibayar 93% dari nilai kontrak).

Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah. • Di Kabupaten Nunukan.15 juta. Kekurangan Penerimaan 14. dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebanyak 13 kasus senilai Rp3. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.39 miliar.30 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. Penyebab 14. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada para pejabat yang bertanggung jawab.161 Penyebab 14. Rekomendasi 14.35 Kasus-kasus kekurangan penerimaan terjadi karena kontraktor pelaksana tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam kontrak dan PPK lemah dalam melakukan pengawasan serta pengendalian paket pekerjaan. pajak pengambilan bahan galian golongan C TA 2009 dan 2010 belum diselesaikan rekanan minimal senilai Rp1. 14. Provinsi Kalimantan Timur.34 . serta meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan.32 14.29 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan Kepala Dinas PU dan PPK tidak cermat dalam menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan. penyelesaian tiga paket pekerjaan TA 2009 terlambat dan rekanan belum dikenakan sanksi denda minimal senilai Rp758. kebinamargaan.33 14. Provinsi Kalimantan Timur.31 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. memperhitungkan hak daerah dan segera menyetorkannya ke kas daerah.40 miliar. • Di Kabupaten Penajam Paser Utara.

dll. pertambangan. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur dan memerintahkan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. 14. perpajakan. dll.38 14. 14. pertanggungjawaban pembayaran biaya konsultansi TA 2009 belum memadai senilai Rp806. Administrasi 14. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 26 kasus yang terdiri atas • sebanyak 11 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).16 miliar dilakukan tanpa dasar acuan pekerjaan. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah. Provinsi Kalimantan Barat.36 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. tidak menghambat program entitas.39 . pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. tidak mengurangi hak daerah.162 Rekomendasi 14. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.37 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.15 juta. pertambangan. kekurangan penerimaan daerah. proses adendum tidak dilengkapi dengan gambar rencana dan data teknis justifikasi sehingga kegiatan pada Dinas PU Bidang Sumber Daya Air TA 2009 senilai Rp25. • Di Kabupaten Kayong Utara.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • Di Provinsi Kalimantan Barat. perpajakan.

44 14.86 juta.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian Kepala Dinas PU dan penanggung jawab kegiatan. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 14. pengawas lapangan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan atau sanksi kepada Kepala Dinas PU dan pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan.163 Penyebab 14. kelebihan perhitungan atas koefisien alat motor grader untuk analisis harga satuan pekerjaan timbunan biasa dari selain galian sumber bahan pada lima paket pekerjaan bidang Bina Marga TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp880.45 14. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Rekomendasi 14.47 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena panitia lelang tidak cermat dalam melakukan perencanaan. Penyebab 14.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). kelebihan perhitungan analisis harga satuan bahan pada pembangunan jalan lingkar luar pantai Sei Jepun-Mansapa TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp4. Ketidakhematan 14.29 miliar. dan perhitungan pekerjaan yang dikontrakkan. Provinsi Kalimantan Timur. evaluasi.18 miliar. • Di Kabupaten Nunukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak delapan kasus senilai Rp14. • Di Kabupaten Sanggau. dan konsultan pengawas lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya berupa pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga.43 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.46 . Provinsi Kalimantan Barat.

Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan yaitu sebanyak lima kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pekerjaan konstruksi jalan TA 2010 tidak sesuai jadwal pelaksanaan berpotensi pekerjaan tidak selesai tepat waktu.49 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).55 . yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Provinsi Kalimantan Barat.53 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena tidak adanya itikad baik dari kontraktor. PPTK.54 ketidakefektifan tersebut.50 14. dan pengawas lapangan proyek yang bersangkutan.75%). 14.48 kasus-kasus ketidakhematan tersebut.164 Rekomendasi 14. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.51 14. Ketidakefektifan 14. BPK telah Terhadap kasus-kasus merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk memberikan sanksi kepada kuasa pengguna anggaran (KPA). Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Rekomendasi 14. • Di Kabupaten Boalemo. Penyebab 14. progress fisik pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan abutment jembatan Sungai Mata-mata TA 2009 senilai Rp996. dan pengawas lapangan tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan pelaksana lalai dalam melaksanakan tugasnya. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada Kepala Dinas PU agar lebih cermat dalam perencanaan dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. PPTK.52 14. Provinsi Gorontalo.34 juta berpotensi tidak selesai dikerjakan (baru mencapai 80. • Di Kabupaten Kayong Utara.

yaitu kualitas rendah (low coal) dan kualitas tinggi (hard coal). sub-bituminus. Kuasa pertambangan (KP) adalah wewenang yang diberikan kepada badan usaha/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Batuan organik berwarna hitam tersebut umumnya terdiri atas senyawa Karbon.4 . batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara. intensifikasi penerimaan negara dari sektor tersebut akan secara langsung mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya.1 Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dalam jangka waktu yang lama.165 BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batubara 15. dan gambut. demi kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. Melalui ketentuan ini. dengan sejumlah kecil elemen lain yang umumnya berupa Sulfur. Akhir dari mata rantai pengelolaan sumber daya alam adalah pengelolaan lingkungan hidup. pada akhirnya akan menjadi penerimaan daerah dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) dan menjadi sumber dana bagi pembangunan daerah. rusaknya lingkungan hidup akan membebani keuangan negara/ daerah untuk pemulihannya dan apabila upaya pemulihan tidak berhasil akan mengancam kelestarian alam dan kehidupan manusia. Pemerintah mendudukan diri sebagai wakil dari Negara– sebagai pemilik sumber daya alam yang dapat memberikan kuasa pertambangan kepada pihak lain (termasuk swasta) untuk turut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). Oleh karena itu. berupa royalti dan iuran tetap. tetapi pada saat yang sama berpotensi sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kehidupan masyarakat. panas. 15. UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara membawa semangat reformasi dan otonomi daerah di dalamnya. Pemberian KP menurut undangundang tersebut di atas diberikan oleh Menteri Pertambangan.2 15. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dipengaruhi oleh tekanan.3 15. Pertambangan batubara merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di daerah. Secara umum kualitas deposit batubara bergantung pada lama waktu pembentukannya atau kematangan organiknya. Bentuk pengusahaan pertambangan bahan galian batubara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan adalah kuasa pertambangan dan perjanjian/kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor swasta. Jika tidak dikelola secara memadai. Hidrogen. Perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) adalah perjanjian karya antara Pemerintah RI dengan perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan bahan galian batubara. dan waktu. dan Oksigen. lignit. Batubara dibedakan berdasarkan kualitasnya. bituminus.

10 Salah satu tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). penerimaan asli daerah. dana bagi hasil (DBH). Sumatera Barat.78 triliun.991).d Semester I Tahun 2010 pada 14 pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan kontraktor PKP2B adalah senilai Rp2. dan pengelolaan lingkungan pertambangan batubara khususnya reklamasi telah sesuai dengan peraturan perundangundangan.6 Tujuan Pemeriksaan 15. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Cakupan pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (perijinan. • pemberian izin. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. bagi hasil. 15. Hasil Pemeriksaan 15. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. .81 triliun dari realisasi anggaran pendapatan Rp10. Riau. Kalimantan Selatan. Hasil pengujian yang dilakukan BPK menunjukkan bahwa rancangan dan implementasi sistem pengendalian intern terkait dengan pengelolaan batubara belum mampu secara efektif menjamin pencapaian tujuan optimalisasi PNBP dan kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan dalam hal perizinan. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara Tahun 2008 sampai dengan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan 13 pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi.5 Pada Semester II Tahun 2010. dan pengelolaan lingkungan pertambangan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.14 miliar (dengan nilai kurs 1 USD = Rp8. dan pengelolaan pertambangan) Tahun 2008 s. Oleh karena itu.26 juta atau senilai Rp444. Nilai temuan pemeriksaan adalah Rp181.7 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai.9 Sistem Pengendalian Intern 15. dan Kalimantan Timur.04 miliar dan USD29. 15. dana bagi hasil. PNBP.166 15.8 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.

11 Hasil evaluasi SPI atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.57 miliar. dan • kelemahan struktur pengendalian intern.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 8 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 8 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. terdiri atas • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.15 Sebanyak delapan kasus kelemahan struktur pengendalian intern.167 15. terdiri atas • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu dan ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. 15. dan 15. 15.12 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan terdapat 25 kasus kelemahan SPI. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal senilai Rp1. • Di Kabupaten Sarolangun. • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. 15.68 miliar.13 . Sebanyak 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pembukuan dan pencatatan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 27. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atas produksi batubara senilai Rp2. • Di Kabupaten Kuantan Singingi.

17 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena kebijakan bupati tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. pelaksana tidak memahami pentingnya penetapan peraturan tentang besaran jaminan reklamasi dan rencana reklamasi yang harus disampaikan oleh para pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi sebelum melakukan kegiatan penambangannya.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.1. dan 3) Kepala Dinas ESDM melakukan pengawasan secara memadai atas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan pertambangan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain: 1) merevisi keputusan bupati yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. • Di Kabupaten Kuantan Singingi.19 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang dapat mengakibatkan potensi kerugian negara. 15.168 • sebanyak 4 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal.18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. pemungutan. dan 4) Menteri ESDM agar berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk segera menyusun dan menerbitkan ketentuan tentang tata cara pengenaan. dan kurang optimal dalam melakukan pengawasan terhadap rencana dan penyetoran jaminan reklamasi. Penyebab 15. administrasi. pemungutan. serta Menteri ESDM dan Menteri Keuangan belum merumuskan tata cara pengenaan. dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun sehingga pengelolaan PNBP dari pertambangan batubara belum optimal. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 15. Rekomendasi 15. pemerintah kabupaten belum menetapkan prosedur pelaksanaan rencana reklamasi dan jaminan reklamasi. . kekurangan penerimaan negara. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 28 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 29. 2) kepala dinas teknis terkait untuk segera mengajukan konsep keputusan bupati tentang rencana dan jaminan reklamasi sebagai dasar pelaksanaan reklamasi. dan penyetoran PNBP di lingkungan Kementerian ESDM. tata cara pengenaan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 15. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. pemungutan dan penyetoran PNBP sesuai amanat UU dan PP.

serta PT DSAS. PT MIA dan PT NKC di Kabupaten Kuantan Singingi.71 29. pemerintah kabupaten tidak pernah mewajibkan KP untuk menyetorkan jaminan kesungguhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. surat berharga. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) (ribu USD) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakefektifan Jumlah 20 31 33 1 85 5. hasil pemeriksaan mengungkapkan 85 kasus senilai Rp181. CV CP.28 miliar.54 15. Potensi Kerugian Negara 15. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan. jaminan kesungguhan yang seharusnya disetorkan para pemegang IUP Tahun 2008 senilai Rp758. Kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai. PT LMH. Provinsi Jambi. 15.60 juta.44 miliar. dan PT NAL di Kota Sawahlunto • Di Kabupaten Sarolangun. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Kegiatan penambangan di kawasan hutan dilakukan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan.261.04 miliar dan USD29.26 juta.1. CV MI.21 Rp181.447.23 . CV PSPN.20 Berdasarkan tabel di atas. CV BMK.66 juta dan Tahun 2009 senilai Rp380. Kegiatan tersebut terjadi antara lain pada PT KBPC.049.22 15.602. PT KPU. CV AME. sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pertambangan batubara.169 Tabel 15.261. PT RMB di Kabupaten Indragiri Hulu. yang nyata dan pasti jumlahnya.54 Rp29. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.21 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa uang.49 175. Provinsi Riau. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 20 kasus senilai Rp5. PT MCB di Kabupaten Bungo. pemegang IUP operasi produksi batubara belum/kurang menyerahkan jaminan reklamasi senilai Rp1. dan barang.

BPK berpendapat bahwa temuan tersebut mengandung unsur pidana kehutanan yang dapat merugikan negara. tidak cermat dalam memverifikasi persyaratan terbitnya izin KP.54 miliar dan USD6. Kekurangan Penerimaan Negara 15.81 miliar. • Di Kementerian ESDM. Rekomendasi 15. serta kepala distamben kabupaten/ kota yang terkait lalai dalam melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin KP/IUP. Kasus-kasus kekurangan penerimaan. sebelas pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp3.74 juta.60 miliar dan USD29. penghamparan overburden.170 Penyebab 15. Provinsi Kalimantan Timur.28 . BPK juga telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menarik jaminan kesungguhan dari para pemegang KP sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan pemegang IUP operasi produksi memenuhi kewajiban penempatan jaminan reklamasi. sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar dana hasil produksi batubara (DHPB) senilai Rp22. 15 pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp59. Dirjen Mineral.26 juta. Energi. dan Batu bara kurang melakukan pengawasan atas kegiatan kontraktor PKP2B di lapangan. dan di antaranya sudah dalam tahap penyidikan oleh kepolisian. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Kalimantan Selatan.24 Kasus-kasus tersebut disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut di atas diduga sengaja telah melakukan kegiatan penambangan berupa pembangunan konstruksi.93 miliar dan USD14.49 juta.27 15.26 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 31 kasus senilai Rp175. yaitu adanya penerimaan negara/ dearah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah. dan eksploitasi di kawasan hutan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan. • Di Kabupaten Tanah Laut. 15.25 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. serta kurang cermat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan yang terkait reklamasi dan pembayaran jaminan reklamasi. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara.

• Persetujuan Prinsip untuk DU-322 milik PT AI tidak sesuai dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 1999. Penyebab 15.33 15. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan • sebanyak satu kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. perpajakan.29 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.32 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pertambangan. Administrasi 15. iuran tetap. tidak mengurangi hak negara. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menginstruksikan pimpinan IUP pertambangan batubara dan kontraktor PKP2B dimaksud untuk segera menyetorkan kewajiban royalti. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. perpajakan. Rekomendasi 15. tidak menghambat program entitas. kekurangan penerimaan negara. 15.58 juta. PT BJU dan PT BBE kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai USD6. dll dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dll. 15. dan DHPB ke kas negara dan menegur pelaksana yang tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku.171 • Di Kabupaten Berau. pertambangan.62 juta. 15.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.34 . telah ditindaklanjuti dengan penyetoran oleh PT JBU di Kabupaten Berau ke kas negara senilai USD3.31 Terhadap kasus-kasus tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 33 kasus yang terdiri atas • sebanyak 32 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. dan oleh PT Ad-I di Kalimantan Selatan senilai USD6.88 juta.30 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kontraktor PKP2B dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang bersangkutan tidak mematuhi peraturan yang berlaku dan kurangnya pengawasan dari instansi terkait. Provinsi Kalimantan Timur.

15. direksi dan pimpinan perusahaan PT AI tidak mematuhi Undang-Undang tentang Kehutanan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan supaya menegaskan status kawasan pit perintis. sehingga berpotensi terjadi konflik tumpang tindih konsesi IUP dan pelanggaran atas pemenuhan kewajiban administratif maupun keuangan.36 Kasus-kasus administrasi antara lain terjadi karena Menteri Kehutanan cq.172 • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Rekomendasi 15. Ketidakefektifan 15. penggunaan jalan tambang oleh PT AI dari tambang Satui ke dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan. dan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan kewajiban pengelolaan lingkungan dan kaidah teknik pertambangan yang baik oleh kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP.40 Kasus tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara tidak tertib dan cermat dalam pengelolaan IUP batubara. pengelolaan lingkungan pertambangan oleh Kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP belum optimal.39 . dan apabila kawasan tersebut adalah kawasan hutan agar memerintahkan PT AI untuk mengurus izin pinjam pakainya. dan pemerintah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kontraktor PKP2B dan pemegang IUP yang melaksanakan pengelolaan lingkungan dan penerapan kaidah teknik pertambangan tidak sesuai ketentuan. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Penyebab 15. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakefektifan yaitu penatausahaan perizinan dan pengawasan produksi dan penjualan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara lemah.38 Temuan mengenai ketidakefektifan adanya penyimpangan terhadap fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. Menteri ESDM agar menginstruksikan Dirjen Minerba untuk memerintahkan PT AI mengurus izin pinjam pakai atas penggunaan jalan (hauling road) di kawasan hutan produksi tetap. Penyebab 15.37 Terhadap permasalahan administrasi tersebut. Dirjen Minerba kurang melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin PKP2B di lapangan. Dirjen Planologi lalai dalam memberikan persetujuan prinsip kepada PT AI yang tidak sesuai dengan peta penunjukan kawasan hutan yang berlaku.

15. BPK telah merekomendasikan agar Bupati Kutai Kartanegara menginstruksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara untuk lebih tertib dan cermat dalam pengelolaan perizinan dan pengawasan atas produksi dan penjualan batubara.173 Rekomendasi 15.42 .41 Terhadap kasus tersebut. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

174 .

78 miliar dan USD1. . Sistem Pengendalian Intern 16. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. yaitu: WK Eks Pertamina Block pada KKKS PT Pertamina EP (PEP). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.175 BAB 16 Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi 16.2 Tujuan Pemeriksaan 16.5 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya enam kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada tiga KKKS. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. WK Kakap pada BPMigas dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd (SEKL). 16. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi (cost recovery) pada tiga entitas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lingkungan BUMN untuk beberapa wilayah kerja (WK).3 Pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan KKS Minyak dan Gas Bumi. WK Tuban pada KKKS Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB PPEJ). Oleh karena itu. bertujuan untuk memberi keyakinan yang memadai atas kewajaran perhitungan bagi hasil dari pelaksanaan KKS dan menilai kepatuhan KKKS terhadap ketentuan perundang-undangan serta sistem pengendalian intern yang ditetapkan. Nilai temuan pemeriksaan atas tiga KKKS adalah senilai Rp6.28 miliar.43% dari realisasi cost recoverable atau senilai USD1. cakupan pemeriksaan adalah senilai 68.1 Dalam Semester II Tahun 2010. dan • sebanyak 2 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.87 miliar. Hasil Pemeriksaan 16.31 miliar dan USD66.47 juta. Anggaran dan realisasi cost recoverable tiga KKKS yang diperiksa masingmasing senilai USD1. Sementara itu. • sebanyak 1 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.

dan administrasi. pembebanan biaya transaksi-transaksi yang tidak terklasifikasi dalam sistem MySAP ke dalam Financial Quarterly Report (FQR) Tahun 2009 senilai Rp40. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 16.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di KKKS PEP. • Di KKKS PEP.176 16.00 juta melalui mekanisme depresiasi dan melaksanakan program pengecekan fisik atas aset serta mereklasifikasi akun-akun pada biaya production installation sesuai dengan substansi biaya yang sebenarnya.10 . 16.09 miliar tidak didasarkan pertimbangan kelayakan pembebanan dan pengklasifikasian biaya cost recovery.7 Permasalahan tersebut di antaranya disebabkan ketidakcermatan dalam pembebanan harta benda bergerak yang seharusnya dikapitalisasi tetapi langsung dibebankan sebagai biaya (expense). • Di KKKS PEP. dan membebankan biaya pembelian selama Tahun 2009 atas peralatan dengan nilai per unit di atas Rp5. sistem pencatatan aset KKKS PT PEP Tahun 2009 pada mitra usaha belum dapat menjamin keakuratan nilai aset dan biaya depresiasi.00 juta atau USD600. kekurangan penerimaan. pengadaan harta benda bergerak yang memiliki harga per unit di atas Rp5. Rincian jenis temuan tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31. Penyebab 16. kapitalisasi.9 Hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan potensi kerugian negara/perusahaan. Rekomendasi 16. KKKS PEP agar melakukan inventarisasi.00 Tahun 2009 dibukukan tanpa melalui depresiasi. serta ketidakcermatan dalam penggolongan biaya sesuai substansi biaya sesungguhnya.1 berikut ini. monitoring PT PEP atas keabsahan dan keakurasian pencatatan aset tetap pada mitra usaha masih lemah.8 Terhadap kasus kelemahan SPI tersebut BPK telah merekomendasikan antara lain. Hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok temuan menurut entitas disajikan dalam Tabel 16.

848.78 USD2.55 Rp6. dan barang. Rekomendasi 16. surat berharga.11 Dari tabel di atas.78 Kekurangan Penerimaan Jml Kasus 7 6 4 17 Nilai USD61.65 USD2.78 16.31 miliar.71 Administrasi Jml Nilai Kasus 2 2 4 - Nilai USD61.316. 16.474.15 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan.309. dan empat kasus administrasi.474. 17 kasus kekurangan penerimaan senilai USD66.315.316.848.309.78 USD66.71 1 Rp6.55 USD66.47 juta.12 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.51 USD2. Penyebab 16. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/ perusahaan.51 6. Kasus tersebut terjadi di KKKS SEKL mengenai pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Tahun 2009 atas pembelian BBM solar senilai Rp6.31 miliar tidak disetorkan oleh rekanan SEKL ke kas daerah.14 KKKS SKEL tidak mewajibkan kepada pemasok untuk melampirkan bukti setor PBBKB pada saat pengajuan pembayaran.177 Tabel 16. BPK telah merekomendasikan kepada SEKL agar membantu mengamankan keuangan negara/daerah dengan memasukkan bukti penyetoran PBBKB oleh rekanan kepada pemerintah daerah sebagai salah satu syarat permohonan pembayaran nilai pengadaan BBM ke SEKL dan BPMIGAS. yang nyata dan pasti jumlahnya.13 .65 USD2. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 (nilai dalam juta Rp dan ribu valas) Nama Entitas Jml Kasus KKKS PEP KKKS SEKL KKKS JOB PPEJ Jumlah 7 9 6 22 Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan PerundangUndangan yang Mengakibatkan Potensi Kerugian negara/ perusahaan Jml Kasus 1 Nilai 6. hasil pemeriksaan atas pelaksanaan KKS pada tiga KKKS mengungkapkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp6.1. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 16.315.315.315.

terdapat biaya depresiasi aset tetap yang belum mendapatkan persetujuan place into service (PIS) dari BPMIGAS senilai 16.18 Administrasi 16. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya empat kasus administrasi.19 Koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil dilakukan karena adanya ketidakcermatan perhitungan klaim cost recovery oleh KKKS. Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan adanya pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.17 16.47 juta yaitu KKKS PEP senilai USD61. Kelompok temuan kekurangan penerimaan tersebut merupakan koreksi perhitungan bagi hasil dengan tiga KKKS yang berasal dari koreksi cost recovery yang tidak dapat di-cost recovery (non cost recovery). Kasus-kasus tersebut di antaranya.22 16. Pemeriksaan pada tiga KKKS mengungkapkan adanya 17 kasus yaitu koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil yang telah disetujui senilai USD66.30 juta dan KKKS JOB PPEJ senilai USD2.24 . adanya ketidakpatuhan terhadap klausul KKKS dan pedoman-pedoman tata kerja serta ketentuan yang berlaku.21 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset.178 Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan 16.20 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan agar BPMIGAS dan KKKS melakukan koreksi perhitungan bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku.16 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/perusahaan milik negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/perusahaan milik negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.31 juta. KKKS SEKL senilai USD2. • Di KKKS SEKL. 16. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian.23 16. yaitu mengenai penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. Penyebab 16. Rekomendasi 16. tidak menghambat operasional/program entitas dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan.84 juta.

BPMIGAS memantau pembentukan JA serta mendorong kepatuhan JOB PPEJ dalam menjalankan kontrak bagi hasil beserta kontrak-kontrak terkait. dan partner membentuk serta memformalkan JA sesuai waktu yang telah dijanjikan dan melaksanakan dengan konsisten termasuk menjalankan mekanisme cash call. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan partner dari JOB PPEJ belum mempunyai komitmen batas waktu penyelesaian pembentukan JA dan pemberlakuan atas pelaksanaan JA tersebut.25 Permasalahan tersebut disebabkan tidak dipatuhinya ketentuan tentang place into service (PIS) fasilitas produksi minyak dan gas bumi.179 USD3.27 .26 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan di antaranya agar KKKS SEKL mengajukan persetujuan PIS kepada BPMIGAS atas aset-aset tersebut. joint account (JA) belum diformalkan oleh para partner dan belum dioperasikan oleh Manajemen JOB PPEJ serta tidak semua partner menjalankan mekanisme cash call sehingga menimbulkan risiko ketidakwajaran pembebanan biaya dan potensi konflik antar partner. Penyebab 16. 16. Kemudian untuk KKKS JOB PPEJ. • Di KKKS JOB PPEJ. Rekomendasi 16. JOB PPEJ.47 juta mengakibatkan SEKL memperoleh penggantian cost recovery Tahun 2009 lebih cepat dari yang seharusnya.

180 .

yaitu subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu (subsidi JBT).7 . perhitungan PSO pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI).6 17. 2009 pada BI. Pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). KPU pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (PT Pelni). Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada lima BUMN dan BI adalah senilai Rp40. 2005.1 Dalam Semester II Tahun 2010. Pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM yang disalurkan PT Pusri (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan subsidi pupuk PT Pusri (Persero) TA 2009 atas bantuan pasokan pupuk urea produksi Tahun 2008 dari PT PIM.97 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp47.81 triliun atau 4.43% dari cakupan pemeriksaan. tambahan penggantian biaya subsidi BBM. bertujuan untuk menilai kewajaran volume penjualan jenis BBM tertentu yang didistribusikan kepada konsumen di seluruh wilayah Indonesia selama Tahun 2009. bertujuan untuk menilai kesesu aian tagihan tambahan penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.3 Pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).4 17.d.04 miliar dan koreksi subsidi senilai Rp1.181 BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 17.d.73 triliun. dan menilai jumlah pembayaran subsidi JBT TA 2009.2 Tujuan Pemeriksaan 17. 17. 17. menilai kewajaran besarnya nilai subsidi yang layak dibayar oleh pemerintah Tahun 2009. Selain itu BPK juga memeriksa prosedur yang disepakati bersama atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s. bertujuan menilai kesesuaian penghitungan pembiayaan dan pelaksanaan KPU bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri dengan perjanjian dan ketentuan/peraturan yang berlaku. dan subsidi pupuk produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) yang disalurkan PT Pupuk Sriwijaya (Persero) (PT Pusri).5 17. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp2. Pemeriksaan atas perhitungan kewajiban pelayanan umum (KPU) bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri TA 2009 pada PT Pelni (Persero). Pemeriksaan pada PT KAI (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan realisasi PSO TA 2009 telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan subsidi/kewajiban pelayanan umum/public service obligation (KPU/PSO) pada lima entitas di lingkungan BUMN.

12 miliar sehingga perhitungan nilai KPU menjadi senilai Rp714. sehingga penghitungan subsidi JBT menjadi senilai Rp34. Hasil pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).12 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp1.45 miliar. menunjukkan bahwa nilai penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.90 triliun.17 triliun. Pemerintah sudah membayar kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.28 triliun.02 miliar telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp130.64 miliar.00 miliar. sehingga nilai bersih penggantian biaya subsidi BBM menjadi senilai Rp5. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.60 triliun dari yang telah ditetapkan. Selain itu.90 miliar. secara rinci diuraikan di bawah ini.44 miliar.12 17. 2008. PSO yang ditanggung perusahaan (tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah) senilai Rp113.182 17. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pertamina (Persero) senilai Rp727.9 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. menunjukkan bahwa jumlah subsidi yang dihitung oleh PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.10 Hasil pemeriksaan atas subsidi menunjukkan bahwa pemerintah masih mempunyai kewajiban membayar subsidi kepada lima BUMN penerima subsidi senilai Rp6.83 triliun. Sedangkan untuk subsidi bunga.93 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp33. Koreksi Subsidi 17.13 .8 Pemeriksaan atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh BI kepada pemerintah bertujuan untuk menentukan besarnya subsidi bunga kredit program yang layak ditagihkan oleh BI dan dibayar oleh pemerintah untuk TA 2007. Oleh karena itu.19 juta.d. Hasil pemeriksaan atas subsidi pemerintah selain menyajikan perhitungan/koreksi atas subsidi yang ditanggung oleh pemerintah. 2005 adalah senilai Rp7.11 17. Hasil pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). Hasil Pemeriksaan 17. Hasil pemeriksaan atas perhitungan KPU pada PT Pelni (Persero) TA 2009 senilai Rp845. juga mengungkapkan kelemahan sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan pelaksanaan subsidi terhadap ketentuan perundangundangan. dan 2009 sesuai prosedur yang disepakati bersama antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). perhitungan subsidi dikoreksi tambah senilai Rp175.01 miliar. perhitungan tersebut dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp1.45 miliar tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah dan menjadi beban PT Pelni (Persero). 17. Sesuai kontrak. Pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi KPU dan membayar kepada PT Pelni (Persero) senilai Rp600. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan KPU yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran yang telah ditetapkan sehingga kelebihan pembayaran biaya KPU senilai Rp113. Selain itu.

menjadi senilai Rp543. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan PSO yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran subsidi PSO yang telah ditetapkan yaitu senilai Rp535. dikoreksi tambah senilai Rp175.15 17. terdiri atas tagihan skim kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). Sesuai kontrak.07 miliar oleh pemerintah.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 29 kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada lima entitas terdiri atas • sebanyak 9 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Hasil pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM Tahun 2009 yang disalurkan PT Pusri (Persero).46 miliar.14 Hasil pemeriksaan atas perhitungan PSO pada PT KAI (Persero) TA 2009 senilai Rp844.07 miliar.026018) sejak Tahun 1998 s.d. sedangkan jumlah tagihan BI kepada pemerintah pada periode yang sama senilai Rp3.d. 17.96 miliar.97 miliar.54 miliar.16 Sistem Pengendalian Intern 17.16 miliar.76 miliar. Dengan demikian masih terdapat dana pemerintah pada escrow account di BI senilai Rp623. telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp301.56 triliun. dan perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans) Konversi TA 2007 senilai Rp54. TA 2008 senilai Rp63. menunjukkan bahwa perhitungan subsidi pupuk yang ditetapkan PT Pusri (Persero) senilai Rp117. dan pemerintah telah membayar kepada PT KAI (Persero) senilai Rp504. dan TA 2009 senilai Rp25. sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran biaya PSO senilai Rp14. 2009 yang ditagihkan BI kepada pemerintah senilai Rp144.94 triliun. Pembayaran subsidi bunga tersebut telah dilakukan pemerintah melalui rekening penampungan (565. Pemerintah sudah menyelesaikan pembayaran kepada PT Pusri (Persero) senilai Rp26.42 miliar.49 miliar sehingga perhitungan nilai PSO.59 miliar. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.19 juta sehingga perhitungan subsidi bunga menjadi Rp144.64 miliar.00 miliar. kredit kepemilikan rumah sederhana (KPRS). dikoreksi kurang senilai Rp62. 2009 senilai Rp4. Selain perhitungan tersebut terhadap perhitungan PSO dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp16.21 miliar.28 miliar. Dengan demikian subsidi kurang diterima oleh PT KAI (Persero) senilai Rp14. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung sumber daya manusia (SDM) yang memadai. . • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. • sebanyak 2 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.36 miliar.82 miliar.183 17. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pusri (Persero) senilai Rp28.50 miliar. sehingga penghitungan subsidi pupuk menjadi senilai Rp55. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa subsidi bunga TA 2007 s.89 miliar.

penggunaan dan pencatatan dana dari pendapatan non operasional tidak sesuai ketentuan.20 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengoperasian KAI kepada PT KCJ yang tidak diatur dalam kontrak PSO antara PT KAI (Persero) dengan pemerintah dan dalam perjanjian kerja sama (PKS) tidak menyebutkan besaran dan formula penghitungan management fee. disebabkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional tidak valid dan mutakhir serta lalai menyelenggarakan pencatatan penerimaan dan penggunaan dana pendapatan non operasional. • Di PT Pelni (Persero). • Di PT KAI (Persero). 17. Penyebab 17. • Di PT KAI (Persero).63 miliar.72 miliar membebani PT KAI (Persero).18 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. mengakibatkan PT Pelni (Persero) tidak dapat menyusun pola pengoperasian kapal penumpang secara optimal sehingga PT Pelni (Persero) harus menanggung kerugian selisih lebih voyage dari kontrak senilai Rp47. pembayaran management fee kepada PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senilai Rp107. • sebanyak 4 kasus penetapan pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. yaitu Dirjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) lalai dalam menetapkan perjanjian KPU secara tepat waktu serta besaran volume pekerjaan belum memperhitungkan besaran pagu anggaran yang tersedia.184 • sebanyak 2 kasus perencanaan tidak memadai. • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Rekomendasi 17. dan • sebanyak 7 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. hal tersebut di antaranya mengakibatkan aktiva tetap dan inventaris yang dibeli tidak tercatat di perusahaan sehingga berpotensi hilang. penetapan perjanjian penyelenggaraan KPU TA 2009 terlambat dan penentuan volume pekerjaan tidak akurat. BPK telah merekomendasikan agar Ditjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) menandatangani perjanjian KPU sebelum penyelenggaraan KPU dan menyesuaikan volume .19 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan penerapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. Sedangkan atas kasus pada PT KAI (Persero).

hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan. administrasi. Sedangkan terhadap PT KAI (Persero).04 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 17. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 17. potensi kerugian negara/perusahaan. dan barang. administrasi. 17.25 . Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. mengakibatkan PT KAI menanggung kerugian sewa kereta rel listrik (KRL) milik PT KCJ. dan ketidakefektifan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai kerugian perusahaan senilai Rp1.1.97 312. Tabel 17. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi lima kasus senilai Rp2.50 2.1 Rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 34. bertanggungjawab atas pengesahan dan pembayaran management fee sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT KCJ kepada RUPS. BPK merekomendasikan di antaranya agar Direksi PT KAI (Persero) memutakhirkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional dan menertibkan penggunaannya. dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan.185 pekerjaan dengan pagu anggaran yang tersedia.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Kerugian Perusahaan Potensi Kerugian Perusahaan Administrasi Ketidakefisienan Jumlah 1 1 1 2 5 1.23 Berdasarkan tabel di atas. dan ketidakefektifan.73 miliar.21 Selain koreksi perhitungan subsidi dan kelemahan atas SPI.47 17. surat berharga.048.24 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang. Kerugian Negara/Perusahaan 17. Kasus tersebut terjadi di PT KAI (Persero) mengenai perjanjian kerjasama PT KAI dengan PT KCJ Tahun 2009 tidak memberikan nilai tambah bagi PT KAI. potensi kerugian negara/ perusahaan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) 17.735.

17.50 juta.32 Kasus tersebut disebabkan PT KAI (Persero) tidak melaksanakan ketentuan tentang kapitalisasi aset dan kebijakan Direksi PT KAI (Persero) meminjamkan kendaraan operasional kepada pihak lain tanpa dibuat bukti pendukung. PT KAI (Persero) telah menindaklanjuti dengan penyerahan aset berupa satu unit kendaraan Hyundai Trajet senilai Rp312. BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KAI (Persero) menagih kelebihan pembayaran sewa KRL milik PT KCJ. Rekomendasi 17.186 Penyebab 17.26 Kasus kerugian perusahaan di antaranya terjadi karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) menyetujui pengoperasian kereta PSO oleh PT KCJ yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. sebanyak satu kasus senilai Rp312.28 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.31 Administrasi 17.30 17. surat berharga. tetapi penyimpangan tersebut tidak . Atas kasus potensi kerugian negara/perusahaan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara.29 17. Kasus terjadi pada PT KAI (Persero) mengenai pembelian satu unit kendaraan Hyundai Trajet Tahun 2009 tidak dicatat sebagai aktiva dan kendaraan tidak digunakan sesuai tujuan pembelian.33 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. dan barang.50 juta. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) mencatat pembelian kendaraan tersebut sebagai aktiva perusahaan dan menarik kendaraan yang dipinjamkan untuk kepentingan operasional PT KAI (Persero). yang nyata dan pasti jumlahnya Kasus potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara di antaranya. Rekomendasi 17. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 17.27 Terhadap kasus kerugian perusahaan.34 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset. Penyebab 17.

stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Mataram Tahun 2009 melayani pengisian bahan bakar kepada kendaraan umum. Penyebab 17.88 juta. dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. serta fungsi instansi tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dua kasus ketidakefektifan yang terjadi. yaitu.36 Kasus penyimpangan administrasi di antaranya karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun tanpa mempertimbangkan kapabilitas/kemampuan PT KCJ. sehingga mengganggu penyaluran BBM bagi perahu motor atau kapal nelayan. tidak menghambat operasional/program entitas. Rekomendasi 17.40 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan lokasi wilayah SPBN tersebut jauh dari SPBU sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan masyarakat. • Di PT KAI (Persero).187 mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. yaitu pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun PT KAI (Persero) yang dilimpahkan kepada PT KCJ belum memberi keuntungan.38 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan.39 . Kasus-kasus tersebut terdapat pada PT Pertamina (Persero) dan PT KAI (Persero). • Di PT Pertamina (Persero). proses penugasan kewajiban pelayanan publik kepada PT KAI (Persero) Tahun 2009 tidak memenuhi tata kelola yang baik yang mengakibatkan PT KAI (Persero) harus mendanai terlebih dahulu biaya pengoperasian KAI PSO yang beroperasi sebelum kontrak ditandatangani. Ketidakefektifan 17. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) menagih pendapatan sewa ruangan dan iklan kepada PT KCJ serta mengelola sendiri aset tanah dan bangunan stasiun sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.35 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus administrasi. meskipun PT KCJ sudah mengakui pendapatan senilai Rp458. Penyebab 17.37 Terhadap kasus penyimpangan administrasi. 17. Sedangkan untuk PT KAI (Persero) yaitu 17.

188 Dirjen Perkeretaapian terlalu lama dalam memproses kontrak PSO serta PT KAI (Persero) tidak cermat dalam membuat klausul tentang sanksi dalam kontrak PSO. 17. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Rekomendasi 17. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar PT Pertamina (Persero) mendirikan SPBU atau lembaga penyalur lainnya sesuai kebutuhan daerah tersebut serta terhadap Dirjen Perkeretaapian dan Direksi PT KAI (Persero). BPK telah merekomendasikan agar menandatangani kontrak PSO sebelum pelaksanaan PSO serta memperbaiki klausul kontrak PSO terutama klausul mengenai sanksi dan formula penghitungannya.41 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.42 .

dan • sebanyak 3 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.69 juta. pengendalian biaya. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. • sebanyak 16 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. PT Adhi Karya (Persero) Tbk. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan kegiatan investasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp1. Oleh karena itu.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional BUMN pada enam entitas yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) (PT AP II). .5 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMN mengungkapkan adanya 47 kasus kelemahan SPI pada enam BUMN. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.67 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp58. 18. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.2 18.189 BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara 18. Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Cakupan pemeriksaan operasional atas enam BUMN adalah senilai Rp33. PT Nindya Karya (Persero) (PT NK).3 Hasil Pemeriksaan 18. • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Sistem Pengendalian Intern 18. (PT AK).61 triliun. terdiri atas • sebanyak 12 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Secara umum tujuan pemeriksaan pada enam BUMN tersebut untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan pengelolaan pendapatan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.08 triliun dan USD60. (PT KF). • sebanyak 9 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT). • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.

8 Atas kasus-kasus kelemahan SPI. Manajer Unit Produksi Semarang (UPS) dalam melakukan pengadaan bahan baku dan bahan kemas. tarif penjualan listrik dan steam PT PKT kepada perusahaan afiliasi Tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan harga belinya dari PT Kaltim Daya Mandiri (PT KDM) sehingga PT PKT mengalami kerugian usaha minimal senilai USD3. • Direksi PT PKT belum melakukan adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan yang mengatur tentang penyesuaian tarif listrik dan steam yang mempertimbangkan harga jual ekonomis (memberi keuntungan perusahaan). dan tidak tegas memberikan sanksi berupa denda dan tuntutan kerugian kepada PT Wiratman atas ketidakmampuan melakukan pekerjaannya. • Manajer marketing over the counter/customer health product (OTC/ CHP) PT KF memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi pasar.47 juta atau setara dengan Rp35. BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) melaksanakan lelang pekerjaan fisik bangunan terminal bandara yang belum dilaksanakan berdasarkan perencanaan desain yang telah final dan setiap perubahan desain harus didokumentasikan dengan baik dan menetapkan desain gambar final.190 18. dan Direksi PT KF belum menetapkan rencana pemanfaatan bahan baku. • Di PT AP II (Persero). PT KF gagal melaksanakan program penetrasi pasar produk Fitocare Tahun 2010 sehingga menanggung potensi kerugian minimal senilai Rp2. dan barang dagangan yang telah rusak/usang/kedaluwarsa dan yang belum digunakan atau belum terjual. tidak tegas dalam menetapkan desain terminal bandara.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT. dan produk Fitocare.7 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) melelangkan pekerjaan pondasi dan struktur bangunan terminal bandara sebelum pekerjaan perencanaan selesai.07 miliar. bahan kemas. kurang mempertimbangkan kebutuhan. .. bahan kemas. • Di PT KF (Persero) Tbk.07 miliar atas nilai persediaan bahan baku. Penyebab 18.13 miliar. Rekomendasi 18. ketidakakuratan perencanaan bangunan terminal Bandara Baru Kualanamu Tahun 2007 mengakibatkan biaya pembangunan bertambah minimal senilai Rp97.

191 • Direksi dan Komisaris PT PKT mempertanggungjawabkan hasil penjualan listrik dan steam yang lebih rendah kepada pemegang saham. Selain itu, direksi PT PKT membuat adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan dengan mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan; dan • Direksi PT KF (Persero) memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada para manajer marketing OTC/CHP dan Manajer UPS yang lalai dalam memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi dan segera mengambil tindakan konkrit atas pemanfaatan bahan baku, bahan kemasan, dan produk Fitocare.

Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
18.9 Selain kelemahan SPI hasil pemeriksaan operasional BUMN juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/perusahaan, kekurangan penerimaan negara/perusahaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 58 kasus senilai Rp1,08 triliun dan USD60.69 juta sebagaimana disajikan dalam Tabel 18.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 36 dan rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 37.
Tabel 18.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 92.936,95 USD7,543.01 973.661,50 USD53,155.43 3.201,35 1.243,90 11.990,65 Rp1.083.034,37 USD60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kerugian negara/perusahaan Potensi kerugian negara/perusahaan Kekurangan penerimaan negara/perusahaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 13 31 6 6 1 1 58

18.10

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/ perusahaan, kekurangan penerimaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

192

Kerugian Negara/Perusahaan
18.11 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian negara/perusahaan di antaranya meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak, pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet, serta lain-lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai kerugian negara/perusahaan senilai Rp92,93 miliar dan USD7.54 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7,45 miliar; • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp6,85 miliar; • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp104,08 juta; • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1,02 miliar; dan • sebanyak 7 kasus lain-lain mengenai kerugian negara/perusahaan milik negara senilai Rp77,49 miliar dan USD7.54 juta seperti pencairan jaminan pelaksanaan oleh pemberi kerja karena keterlambatan penyelesaian proyek, keterlambatan penyelesaian proyek dan proyek dihentikan oleh pemberi kerja atau tidak diakuinya variation order oleh pemberi kerja, perencanaan tidak akurat, kerugian usaha anak perusahaan, dan penurunan nilai kontrak dalam adendum karena tidak dipenuhinya komitmen pemberi kerja. 18.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AK (Persero) Tbk., proyek di Qatar Tahun 2006 s.d. 2009 merugikan PT AK senilai USD7.54 juta atas dicairkannya jaminan pelaksanaan (performance bond) oleh Al Habtoor. • Di PT AK (Persero) Tbk., ketidakcermatan perhitungan rencana anggaran biaya dan kelemahan kontrak Proyek The Capital Residence Tahun 2004 s.d. 2009 mengakibatkan PT AK mengalami kerugian senilai Rp39,70 miliar.

18.12

18.13

193 • Di PT NK (Persero), kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan sembilan proyek pada divisi wilayah I dan III mengakibatkan PT NK mengalami kerugian senilai Rp29,20 miliar. Penyebab 18.15 Kasus-kasus kerugian negara/perusahaan pada umumnya terjadi karena • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; • Kepala Proyek dan Manajemen PT AK lalai karena tidak mengelola proyek secara memadai dan tidak mentaati RKAP atau SK Direksi tentang kewenangan investasi; dan • Kepala Proyek, Biro Teknik dan Pemasaran PT NK dalam menyusun perencanaan tidak mempertimbangkan kecukupan data teknis, kondisi alam, serta lingkungan di lokasi proyek dan pengendalian pelaksanaan proyek pada tingkat wilayah dan pusat tidak berfungsi. Rekomendasi 18.16 Terhadap kasus kerugian negara/perusahaan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada • Menteri Negara BUMN selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi dan Direksi PT AK menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi dan komisaris atas kelalaian pengelolaan proyek; dan • Direksi PT NK untuk mempertanggungjawabkan kepada RUPS atas kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan proyek serta merevisi dan melengkapi prosedur perencanaan dan pengendalian proyek yang sudah ada.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan
18.17 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan yaitu adanya aset tidak diketahui keberadaannya, piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih, dan lain-lain.

18.18

194 18.19 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 31 kasus mengenai potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp973,66 miliar dan USD53.15 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp1,46 miliar; • sebanyak 22 kasus piutang/pinjaman atau dana yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp781,92 miliar dan USD20.70 juta; dan • sebanyak 8 kasus lain-lain potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp190,26 miliar dan USD32.45 juta seperti penerimaan pendapatan sewa lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya, penetapan harga jual lebih rendah, dan harga beli lebih tinggi dari yang seharusnya dalam kontrak, dan penyertaan modal tidak memberikan hasil. 18.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT, penerapan harga jual urea melt dan ammonia serta harga beli carbamate dan steam condensate Tahun 2008 dan 2009 tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak sehingga berpotensi merugikan PT PKT minimal senilai USD30.92 juta. • Di PT AK (Persero) Tbk., piutang PT AK Tahun 2009 atas pelaksanaan proyek di Qatar berpotensi tidak tertagih senilai USD20.25 juta. • Di PT AP II (Persero), pendapatan sewa dalam pelaksanaan kontrak build, operate & transfer (BOT) dengan PT Sanggraha Daksa Mitra (PT SDM) Tahun 1996 s.d. 2007 diterima lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya diterima sehingga berpotensi merugikan PT AP II minimal senilai Rp139,57 miliar. Penyebab 18.21 Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan pada umumnya disebabkan • Direksi PT PKT dalam melakukan kerja sama/jual beli dengan PT DSM Kaltim Melamin (PT DKM) tidak memperhatikan ketentuan penetapan harga yang telah ditentukan dalam kontrak; • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; dan • Direksi PT AP II tidak cermat dalam menyusun klausul akhir masa perjanjian dan memberikan tarif kompensasi pemanfaatan lahan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku.

195 Rekomendasi 18.22 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan, BPK telah merekomendasikan kepada • Direksi PT PKT untuk mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas tidak diperhatikannya kontrak jual beli dengan PT DKM; • Menteri Negara BUMN selaku RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi, dan Direksi PT AK untuk menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; dan • Direksi PT AP II untuk mengadendum kontrak BOT dengan PT SDM terutama mengenai tarif sewa tanah, mekanisme perhitungan konsesi, dan kewajiban PT AP II membeli 100% nilai pasar aset gedung yang tidak lazim pada kontrak BOT.

Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan
18.23 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara dhi. perusahaan tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/perusahaan meliputi penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/ perusahaan dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai kekurangan penerimaan negara/perusahaan senilai Rp3,20 miliar, terdiri atas • sebanyak 4 kasus penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/perusahaan senilai Rp2,91 miliar; dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp286,19 juta. 18.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), PT AP II tidak melakukan pemeriksaan/pengujian secara rutin atas laporan penjualan bruto PT SDM Tahun 2004 dan 2005 dalam pelaksanaan kontrak build, operate, and transfer (BOT) dengan PT SDM sehingga PT AP II berpotensi kehilangan pendapatan dari omzet penjualan yang tidak dilaporkan oleh PT SDM senilai Rp1,38 miliar.

18.24

18.25

196 • Di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system Tahun 2006 di Bandara Soekarno-Hatta terlambat selama 109 hari sehingga PT AP II kurang mengenakan denda keterlambatan kepada PT Angkasa Pura Schipol (PT APS) senilai Rp1,18 miliar. • Di PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2008 di Plant Jakarta tidak sesuai ketentuan sehingga PT KF tidak dapat mengenakan denda atas keterlambatan penyerahan pekerjaan senilai Rp235,36 juta dan penerimaan negara atas PPh 23 jasa konsultan dan jasa konstruksi senilai Rp194,34 juta. 18.27 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp91,84 juta. Penyebab 18.28 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) tidak tegas melakukan pengawasan atas operasional, serta memverifikasi kebenaran laporan penjualan kotor PT SDM; • Direksi PT AP II (Persero) tidak tepat dalam melakukan perhitungan denda keterlambatan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan • kebijakan Direksi PT KF (Persero) Tbk. memberikan persetujuan perpanjangan waktu bagi kontraktor dan Bagian Keuangan PT KF (Persero) Tbk. lalai tidak memungut dan menyetorkan PPh 23. Rekomendasi 18.29 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) mengintensifkan pengawasan operasional dan memeriksa kebenaran omzet bruto PT SDM sesuai kontrak serta menagih kekurangan konsesi yang menjadi hak perusahaan; • Direksi PT AP II (Persero) menghitung denda keterlambatan dan menagihkannya kepada PT APS; dan • Direksi PT KF (Persero) Tbk. segera menagih PPh 23 dan denda keterlambatan kepada rekanan.

Administrasi
18.30 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan

197 aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian, tidak mengurangi hak negara/perusahaan (kekurangan penerimaan), tidak menghambat operasional/program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. 18.31 Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid), proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll., dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid); • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara); • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.; dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 18.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), AP II tidak mematuhi ketentuan tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas jasa pelayanan meteorologi Tahun 2007 dan 2008 pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengakibatkan penerimaan negara terlambat disetor senilai Rp58,14 miliar. • Di PT AP II (Persero), AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara (HS) Bandung tidak mematuhi ketentuan pengadaan barang/jasa dan peraturan perpajakan dalam pengadaan rumah dinas Tahun 2008 senilai Rp1,40 miliar sehingga harga pembelian rumah dinas tersebut diragukan kewajarannya. • Di PT KF (Persero) Tbk., pembayaran biaya operasional senilai Rp152,56 juta dalam kerjasama outsourcing salesman antara PT Kimia Farma Trading & Distribution (PT KFTD) Cabang Surabaya dengan CV Visakom Tahun 2007 s.d. 2008 tidak didukung bukti-bukti yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.

18.32

198 Penyebab 18.34 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) belum sepenuhnya menjalankan ketentuan yang mewajibkan penyetoran PNBP ke kas negara tepat waktu; • Pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan rumah dinas tidak mematuhi ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa serta tata cara pembayaran; dan • Kepala PT KFTD Cabang Surabaya periode saat itu mengabaikan perjanjian dengan CV Visakom dan tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian intern yang memadai dalam membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Rekomendasi 18.35 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) menghitung kembali seluruh kewajiban PNBP dan menyetorkan PNBP tersebut ke kas negara; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS meminta pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris AP II atas proses pengadaan rumah dinas, Direksi AP II mengenakan sanksi kepada GM Cabang HS dan tim pengadaan rumah dinas tersebut; dan • Direksi PT KFTD memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala PT KFTD Cabang Surabaya dan mempertanggungjawabkan transaksi bisnis dengan CV Visakom kepada RUPS.

Ketidakhematan
18.36 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakhematan, di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system (FIS) Tahun 2004 s.d. 2007 di Bandara Soekarno-Hatta tidak sesuai ketentuan sehingga biaya pembangunan FIS lebih tinggi senilai Rp1,24 miliar. Penyebab 18.38 Kasus ketidakhematan tersebut disebabkan karena keputusan Direksi untuk melakukan penunjukkan langsung kepada APS sebagai system integrator pekerjaan pembangunan FIS kurang memperhatikan prinsip efisiensi.

18.37

199 Rekomendasi 18.39 Atas kasus ketidakhematan, BPK telah merekomendasikan agar Menteri Negara BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT AP II atas pengadaan FIS yang dilakukan secara penunjukkan langsung dan biaya pengadaan yang lebih tinggi minimal senilai Rp1,24 miliar.

Ketidakefektifan
18.40 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai, serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai ketidakefektifan yaitu PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2009 di Plant Jakarta senilai Rp11,99 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyebab 18.42 Kasus ketidakefektifan terjadi karena Direksi PT KF (Persero) Tbk. tidak melakukan perencanaan yang matang dalam melaksanakan investasi fasilitas produksi obat ARV. Rekomendasi 18.43 Terhadap kasus ketidakefektifan tersebut, BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KF (Persero) Tbk. memanfaatkan fasilitas produksi obat ARV yang telah ada secara optimal dan memberikan sanksi kepada panitia pelaksana pembangunan gedung ARV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

18.41

18.44

200 .

Hasil Pemeriksaan 19. aktiva. distribusi. piutang. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional (pelaksanaan kegiatan pendapatan.1 Dalam Semester II Tahun 2010. Denpasar. Lombok Barat. Sistem Pengendalian Intern 19. dan Muara Enim. Tujuan Pemeriksaan 19. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Kediri. investasi dan ekploitasi air bersih telah dilakukan secara efisien. Morowali. Tojo Unauna. Jayapura. Madiun. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. . Donggala. Poso.201 BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum 19. Oleh karena itu. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. yaitu PDAM Kota Pasuruan. Banggai. biaya. ekonomis. dan • sebanyak 49 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan efektif. dan • operasi perusahaan yang meliputi produksi. PDAM Kabupaten Banyuwangi. Buleleng.4 Hasil pemeriksaan atas operasional PDAM menunjukkan adanya 177 kasus kelemahan SPI. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Karangasem. dan investasi dilaksanakan sesuai dengan ketetentuan yang telah ditetapkan. belanja. terdiri atas • sebanyak 27 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Blitar.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Banjar. Bukittinggi. Makassar. Polewali Mandar. • sebanyak 101 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan utang) pada 23 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Mojokerto. Tolitoli. • pengelolaan pendapatan. Buol.

serta melakukan koreksi atas kesalahan pencatatan. aset tetap belum disajikan sesuai dengan standar sehingga terdapat lebih catat senilai Rp3. memberikan sanksi dan teguran kepada manajemen dan pelaksana kegiatan yang lalai dan tidak cermat. • Di PDAM Kabupaten Jayapura.202 19. tingkat kehilangan air pada Tahun 2008 dan 2009 melebihi batas toleransi senilai Rp8. Provinsi Jawa Timur.5 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.67 miliar belum diselesaikan. serta ketidakmampuan manajemen PDAM untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah pusat. ketidakhematan.8 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM. terdapat pokok dan bunga pinjaman kepada pemerintah pusat senilai Rp48. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa untuk menyusun langkah-langkah mengurangi kebocoran.1. administrasi.34 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 19. serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 40.60 miliar dan kurang catat senilai Rp74. • Di PDAM Kabupaten Mojokerto. meningkatkan pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. Penyebab 19.50 juta. Provinsi Sulawesi Tengah. • Di PDAM Kabupaten Donggala. kekurangan penerimaan. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 39. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 19.7 Terhadap temuan kelemahan SPI tersebut.6 Permasalahan tersebut di antaranya terjadi karena belum maksimalnya upaya manajemen untuk melakukan penggantian pipa jaringan transmisi dan distribusi yang sudah tua dan penggantian meter air pelanggan yang telah rusak. ketidakcermatan dan kelalaian pelaksana kegiatan. . Provinsi Papua. potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM. Rekomendasi 19.64 miliar karena umur jaringan pipa transmisi dan distribusi sudah sangat tua. belum maksimalnya pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. serta ketidakefektifan meliputi 227 kasus senilai Rp73.

97 juta.85 46. surat berharga.14 6. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.203 Tabel 19.1.823.548.79 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 43 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah senilai Rp3.10 Kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 43 22 26 66 28 42 227 3. • sebanyak 1 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp21. spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.96 13.26 miliar. 19.809. dan barang.97 73. Kelompok temuan kerugian daerah di PDAM di antaranya meliputi pengadaan barang/jasa fiktif. • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp865. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.33 19.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. Kerugian Daerah pada PDAM 19.269. terdiri atas • sebanyak 2 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp102.40 2.893.50 juta. • sebanyak 4 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp220. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Selain itu juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.345.11 19. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.50 juta.12 . pemahalan harga dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM No.

tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik.25 juta.74 juta.73 juta. 19. pegawai.62 miliar. dan instansi vertikal Kabupaten Karangasem yang tidak sesuai ketentuan senilai Rp393. dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan air bersih/air minum Tanjung Enim.13 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp7.90 juta.16 Terhadap kasus kerugian daerah yang terjadi di PDAM tersebut. direksi memberikan tunjangan hari raya Tahun 2009 dan 2010 kepada bupati. PNS. yaitu di antaranya dari PDAM Kabupaten Banyuwangi senilai Rp81.26 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp241. wakil bupati. Penyebab 19.62 juta dan PDAM Kabupaten Kediri senilai Rp58. Provinsi Jawa Timur. dana representasi tersebut masih disimpan di brankas.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena manajemen dan pelaksana kegiatan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.29 juta. Pencairan dana representasi direktur telah dibukukan dan diakui sebagai biaya dalam Laporan Keuangan PDAM Tahun Buku 2009. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menagih dan menyetorkan .25 juta. pertanggungjawaban dana representasi Direksi PDAM Kabupaten Banyuwangi tidak benar senilai Rp90. • sebanyak 5 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp145. Provinsi Bali. Rekomendasi 19. 19. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung.204 • sebanyak 8 kasus pengunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp280.61 juta. dan • sebanyak 21 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. Gunung Megang dan Kota Muara Enim Tahun 2009 terdapat kekurangan volume pekerjaan galian dan urugan kembali serta pemasangan pipa yang berindikasi merugikan keuangan PDAM Lematang Enim senilai Rp170. direksi. • Di PDAM Kabupaten Banyuwangi. dewan pengawas. Provinsi Sumatera Selatan. • Di PDAM Lematang Enim.14 Dari 43 kasus kerugian daerah/kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp3. • Di PDAM Kabupaten Karangasem.72 juta.

65 miliar. 19.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan barang. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp119.d.18 19. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM meliputi permasalahan rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan hasil pengadaan yang rusak selama masa pemeliharaan.d. dan • sebanyak 15 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp10. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.19 . • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. Potensi Kerugian Daerah pada PDAM 19. Provinsi Sulawesi Tengah. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp575. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.52 juta.89 miliar. aset dikuasai pihak lain secara tidak sah. • Di PDAM Kabupaten Poso. yang nyata dan pasti jumlahnya. terdapat tunggakan tagihan penjualan air Tahun 1993 s.52 miliar atas kegiatan pengadaan barang pada Tahun 2009 dan 2010 tidak dikenakan sehingga risiko yang mungkin terjadi pada pelaksanaan pengadaan barang tidak terjamin. • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.39 juta. terdiri atas • sebanyak 2 kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp17. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp2. jaminan pelaksanaan senilai Rp2. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 22 kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah di PDAM senilai Rp13.205 kerugian yang terjadi ke kas daerah/PDAM. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.17 miliar.85 miliar.87 juta. penagihan piutang ragu-ragu dan tak tertagih Tahun 2009 s. 30 Juni 2010 tidak dilaksanakan secara optimal senilai Rp1. surat berharga. 19. Provinsi Sumatera Selatan. 30 Juni 2010 kepada masyarakat yang belum tertagih senilai Rp1.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau PDAM berupa uang. • Di PDAM Lematang Enim. memberikan teguran dan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.52 miliar. Provinsi Sulawesi Tengah.

206 19.41 juta. PDAM tetapi tidak atau belum masuk ke kas PDAM karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.89 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp8. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. terdiri atas • sebanyak 22 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp2.25 19. Kekurangan Penerimaan 19. belum ada aturan yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi pelanggan yang lalai. serta kurangnya pengawasan oleh manajemen. membuat aturan tentang pemberian sanksi kepada pelanggan yang menunggak. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan. Penyebab 19. pelaksana kegiatan belum optimal dalam melakukan penagihan. lebih intensif dalam melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah berkenaan dengan pelunasan piutang.26 . meningkatkan pengawasan dan pengendalian.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana kegiatan tidak tegas dan cermat dalam melaksanakan ketentuan. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp643.07 miliar.21 Dari 22 kasus potensi kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp13.24 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. 19.60 juta oleh PDAM Kabupaten Banyuwangi. serta menegur pelaksana dan manajemen untuk lebih cermat dalam melaksanakan tugasnya. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian di PDAM tersebut. penggunaan langsung penerimaan daerah. Rekomendasi 19. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 26 kasus mengenai kekurangan penerimaan senilai Rp2.05 juta.82 miliar. dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp108.

19.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. tidak mengurangi hak negara/daerah/PDAM. Selain itu.32 . belum menyetorkan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp329. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. Provinsi Sulawesi Selatan.28 Dari 26 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp2. Penyimpangan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel.41 juta belum disetorkan ke kas daerah. pembentukan cadangan 19.82 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp17. Provinsi Papua. • Di PDAM Kabupaten Jayapura.207 19. • Di PDAM Kota Makassar.31 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. belum dipungut dan disetorkan ke kas daerah PPN atas pendapatan non air Tahun 2009 senilai Rp512. Provinsi Sulawesi Selatan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan.04 juta pada PDAM Kota Makassar. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah/PDAM. tidak menghambat program entitas.29 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena ketidakcermatan dan kelalaian manajemen dalam pelaksanaan tugas.d. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah atau PDAM. Rekomendasi 19. November 2010 senilai Rp639. potongan tunjangan perusahaan dan tunjangan transport sejak Juli 2003 s. Penyebab 19. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. Administrasi 19. kekurangan penerimaan. serta memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.59 juta. • Di PDAM Kota Makassar.02 miliar tidak dikembalikan ke kas PDAM serta sebagiannya dipinjamkan ke berbagai pihak dan digunakan untuk kegiatan tidak terkait operasional PDAM. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan.

208 piutang. • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).34 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PDAM Kabupaten Donggala. • sebanyak 15 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. transmisi. dan kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Provinsi Sulawesi Tengah. 19. • sebanyak 11 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/ perusahaan. 19. • sebanyak 2 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan • sebanyak 7 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. Provinsi Sulawesi Tengah. • Di PDAM Kabupaten Poso. • sebanyak 1 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.55 miliar tidak didukung dengan serah terima antara Pemerintah Kabupaten Donggala dan PDAM. perhitungan amortisasi tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 2 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.27 miliar berlarut-larut sehingga tunggakan biaya bunga dan denda yang . • sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang. penerimaan aset berupa pembangunan instalasi produksi. dan distribusi air bersih yang dibiayai dari Program Dana Stimulus TA 2009 pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kabupaten Donggala senilai Rp9. perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan. kewajiban pembayaran hutang PDAM Poso kepada pemerintah pusat senilai Rp7.33 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 66 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi.

manajemen dan pelaksana kegiatan tidak cermat dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.10 miliar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Selain itu.79 miliar. Kondisi cash flow PDAM Poso hanya cukup untuk menutup biaya operasional bulanan. serta manajemen melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi. serta manajemen tidak mampu mengelola perusahaan dan memenuhi kewajiban perusahaan kepada pemerintah pusat. penyertaan modal pemerintah pusat ke PDAM Kabupaten Kediri belum ditentukan statusnya senilai Rp8. Provinsi Sulawesi Selatan. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.80 miliar yaitu kasus pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya koordinasi antara manajemen dengan pemerintah pusat dan pemerintah derah. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Makassar. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.34 miliar. biaya pengadaan dan pemasangan pipa pengantar (transmisi) menuju pabrik gula PT Makassar Te’ne Tahun 2008 lebih mahal dari harga pasar dan sisa pipa tidak terpasang yang harus dibeli oleh PDAM Kota Makassar mengakibatkan pemborosan keuangan perusahaan senilai Rp2. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 28 kasus ketidakhematan senilai Rp46.36 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. Provinsi Jawa Timur.209 harus dibayar semakin besar. • Di PDAM Kota Makassar. bukti pertanggungjawaban biaya promosi Tahun 2009 dan 2010 menunjukkan biaya promosi digunakan untuk kerjasama sponsorship dengan Persatuan 19. penyertaan Pemerintah Kabupaten Kediri ke PDAM Kabupaten Kediri juga belum ditetapkan statusnya senilai Rp2. Kelompok temuan ketidakhematan pada pemeriksaan operasional PDAM terjadi karena adanya pemborosan uang perusahaan. Penyebab 19. • Di PDAM Kabupaten Kediri.37 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.39 . Rekomendasi 19.38 19. BPK telah merekomendasikan agar manajemen dan pelaksana kegiatan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Ketidakhematan 19.

54 miliar. • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. terdiri atas • sebanyak 7 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukkan senilai Rp3. pemberian tunjangan representasi kepada pegawai Tahun 2009 s. memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.78 miliar tumpang tindih dengan pemberian tunjangan pelaksana. Juni 2010 senilai Rp1.00 juta. Rekomendasi 19. • sebanyak 1 kasus pemanfaataan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp1. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pada Tahun 2010 PDAM juga membantu PSM senilai Rp42. 19. Ketidakefektifan 19.210 Sepakbola Makassar (PSM) senilai Rp2.44 .41 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. kegiatan penanggulangan kebocoran belum berjalan secara efektif serta pelaksana kegiatan lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.42 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Di samping membantu PSM dari anggaran biaya promosi.50 juta dari anggaran belanja bantuan.48 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 42 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp6. menghentikan pembayaran tunjangan representasi dan penganggaran biaya promosi.40 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena manajemen lalai dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. Provinsi Bali.d. Penyebab 19.90 miliar dan bantuan kepada PSM tanpa perjanjian kerjasama sponsorship senilai Rp334. BPK merekomendasikan agar entitas yang diperiksa dalam pelaksanaan tugas memperhatikan ketentuan yang berlaku. • Di PDAM Kota Denpasar. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.36 miliar. serta melakukan upaya penanggulangan kebocoran.43 19.

Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan agar memberi sanksi kepada manajemen dan pelaksana atas kelalaiannya.48 . Provinsi Sulawesi Tengah. Provinsi Sulawesi Tengah.211 • sebanyak 27 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp1. Juni 2010 digunakan tidak sesuai dengan tujuan penggunaannya senilai Rp1.47 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.45 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pemeriksaan kualitas air belum dilaksanakan secara rutin dan berkala. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. air yang didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat dijamin aman bagi kesehatan masyarakat atau konsumen. dan • sebanyak 6 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp68. Akibatnya. • Di PDAM Kabupaten Donggala.62 miliar. 19.82 juta. Penyebab 19. cadangan dana meter Tahun 2009 s. pengujian yang sudah dilaksanakan belum mencakup keseluruhan sumber air yang digunakan. serta melakukan negosiasi untuk meninjau kembali isi perjanjian sehingga menguntungkan kedua belah pihak.62 miliar.d. 19. Rekomendasi 19. Selain itu.46 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kelalaian manajemen dan pelaksana dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud.

212 .

Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. W.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk • menilai tingkat efektivitas sistem pengendalian intern (SPI) atas kegiatan operasional RSUD. Z. Abdul Moeloek Bandar Lampung.1 Pada Semester II Tahun 2010. 20. RSD Mayjen H. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan • menilai apakah pengelolaan operasional RSUD terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan belanja telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Johannes. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.74 miliar. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20. Z. Ryacudu Kotabumi. Hasil Pemeriksaan 20. Dr. Dr. 27 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.58 miliar dari realisasi anggaran senilai Rp989.5 Hasil pemeriksaan atas operasional RSUD menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Kupang. W.68 miliar atau 2. serta 5 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.213 BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah 20. RSUD Dr.33 miliar. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional rumah sakit umum daerah (RSUD) dengan jumlah objek pemeriksaan sebanyak lima RSUD. . Oleh karena itu.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Tujuan Pemeriksaan 20. M. Adnaan WD Payakumbuh. Johannes Kupang. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. • Di RSUD Prof. H.30% dari cakupan pemeriksaan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp19.3 Cakupan pemeriksaan atas operasional lima RSUD adalah senilai Rp854. Objek pemeriksaan tersebut adalah RSUD Pirngadi Medan. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim askes terlambat diklaim senilai Rp15. RSUD Dr. dan RSUD Prof.

Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 42 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 43.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. kekurangan penerimaan. Abdul Moeloek. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 20.10 19.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.34 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian yang terjadi pada RSUD Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada RSUD Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan 20. Kelompok Temuan Jml Kasus 10 1 17 19 1 13 Jumlah 61 Nilai (juta Rp) 3.977. sisa kas pengelolaan per 31 Agustus 2010 senilai Rp1. Bandar Lampung. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD No.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pimpinan dan dokter RSUD lalai dalam mematuhi ketentuan dan peraturan di lingkungan RSUD.680. dan ketidakefektifan meliputi 61 kasus senilai Rp19. administrasi.95 miliar tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010. Tabel 20. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan dan meningkatkan pengawasan. Sumatera Barat. ketidakhematan.1.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah (atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).1.60 70. H. .35 6.531. potensi kerugian daerah (atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD). Rekomendasi 20. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan RSUD.072.68 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 20.80 28. Adnaan WD Payakumbuh. Penyebab 20. • Di RSUD Dr.214 • Di RSUD Dr.47 9. satuan pengawas intern rumah sakit belum melaksanakan tugas secara optimal.

Pirngadi Medan. surat berharga.52 juta.69 juta.52 juta oleh rekanan pada RSUD Dr.87 juta. H. • Di RSD Mayjen H.10 Kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Penyebab 20. Ryacudu Kotabumi. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 10 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp23. 20. • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp676. • sebanyak 2 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp102. Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada RSUD di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. dan spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.53 miliar. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.11 20. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. dan • sebanyak 1 kasus kerugian lainnya yang merupakan kerugian yang belum di proses TGR senilai Rp13.14 Dari sejumlah kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3.61 miliar.63 miliar.215 Kerugian Daerah/Kerugian yang Terjadi pada RSUD 20.67 juta. kelebihan pembayaran pada pelaksanaan pengawasan pekerjaan lanjutan pembangunan gedung rawat inap kelas III TA 2009 senilai Rp412.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pemeriksa barang tidak cermat dalam menjalankan tugasnya dan direktur RSUD lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp101.24 juta.12 .13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.53 miliar. M. 20. • Di RSUD Dr. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. Abdul Moeloek Bandar Lampung. dan barang. barang hasil pengadaan alat kesehatan dan kedokteran TA 2009 tidak memiliki izin edar senilai Rp2. 20.

20. 20. Adnaan WD Payakumbuh. Adnaan WD Payakumbuh menunggak sampai dengan Juni 2010 senilai Rp28. Adnaan WD Payakumbuh untuk lebih proaktif dalam melakukan penagihan piutang. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas RSUD senilai Rp2.23 .38 juta oleh pasien RSUD Dr.35 juta tersebut. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis Direktur Utama RSUD Dr.18 20.216 Rekomendasi 20. yang nyata dan pasti jumlahnya. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah.22 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.16 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD tersebut. dan • pimpinan entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada RSUD 20.21 Terhadap kasus tersebut.19 Kekurangan Penerimaan 20.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.20 Kasus-kasus tersebut terjadi karena RSUD kurang optimal dalam melakukan penagihan. dan barang. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 20. Penyebab 20. Kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp28. surat berharga. RSUD tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD yaitu piutang pasien rawat inap pada RSUD Dr. BPK telah merekomendasikan agar • kerugian yang terjadi disetor ke kas RSUD melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai ketentuan yang berlaku.35 juta.

39 juta dan Rp364. Abdul Moeloek Bandar Lampung. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan entitas yang diperiksa segera menagih pokok dan bunga rekening bank atas dana jamkesmasda kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. tagihan Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) Pemerintah Kota Bandar Lampung TA 2009 dan 2010 senilai Rp3. .07 miliar. Ryacudu Kotabumi. penerimaan dari retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 dan penerimaan dari kegiatan tes kesehatan TA 2009 dan 2010 digunakan langsung masing-masing senilai Rp184.63 juta. H. 20. Pelaksana lalai dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas penggunaan langsung dari penerimaan RSUD. dan penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas penerimaan RSUD. M.217 20.28 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. • Di RSD Mayjen H.28 juta.44 miliar belum dibayar dan belum diperhitungkan denda minimal senilai Rp161. • Di RSUD Dr. Penyebab 20.02 juta. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). Rekomendasi 20. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. Administrasi 20. terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp5.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana tidak cermat dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas pengelolaan retribusi pelayanan rumah sakit.24 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 17 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp6.52 miliar. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. melaporkan penerimaan dan pengeluaran secara bruto. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp549.

218 20. • Di RSUD Prof.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana RSUD lalai dalam memedomani peraturan dan pimpinan RSUD lemah dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dll.29 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 19 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi. perpajakan. • Di RSUD Dr. dan • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. Rekomendasi 20. Johannes Kupang.32 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. pertambangan.61 miliar dilaksanakan mendahului kontrak.95 miliar. Penyebab 20.30 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pelaksana RSUD yang lalai dan lebih meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Ketidakhematan 20. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim Askes TA 2009 dan Semester I TA 2010 terlambat disetor ke kas daerah senilai Rp16. H.33 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. . Abdul Moeloek Bandar Lampung. W. • sebanyak 5 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pelayanan kesehatan TA 2009 senilai Rp3. 20. Z. Dr.

dan PPTK tidak mematuhi formularium dalam pengadaan obat. Ketidakefektifan 20. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Penyebab 20. dan PPTK untuk melakukan pengadaan obat sesuai dengan formularium RSUD.47 juta. serta direktur utama lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan RSUD.35 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kepala instalasi farmasi.219 20.38 20. Rekomendasi 20.00 juta. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.46 juta.34 Kelompok temuan ketidakhematan meliputi penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar.97 miliar. • sebanyak 2 kasus Pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp8. yaitu pengadaan obat TA 2009 di instalasi farmasi RSUD Dr. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. dan • sebanyak 2 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp159. terdiri atas • sebanyak 4 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp944. PPK.37 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.87 miliar.39 . Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan. Selain itu. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp9. PPK. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis direktur utama RSUD untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengadaan obat di lingkungan RSUD. BPK juga telah merekomendasikan agar direktur utama menegur kepala instalasi farmasi. 20. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.36 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Adnaan WD Payakumbuh tidak sesuai formularium senilai Rp70.

220 20. Johannes Kupang senilai Rp495.41 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Penyebab 20. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.66 juta belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan.43 . Z. Rekomendasi 20. W. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku.42 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah pengadaan software dan hardware sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) Tahap II pada RSUD Prof. 20. Dr.

Buol. Tujuan Pemeriksaan 21.4 Salah satu tujuan pemeriksaan atas operasional bank adalah untuk menilai SPI dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. penempatan dana dan/atau investasi lainnya. dan • entitas yang diperiksa telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. PT Bank Nusa Tenggara Barat.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. PT Bank Kalimantan Tengah. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Bantul. Oleh karena itu.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Tolitoli.1 Pada Semester II Tahun 2010. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 21. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional bank pada 10 bank daerah. yaitu Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat. dan Parigi Moutong. PT BPD Nusa Tenggara Timur. kegiatan kredit.221 Bab 21 Operasional Bank Daerah 21. PD BPR Kab. dan PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang di Palu. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Tanggo Rajo. • entitas yang diperiksa dalam melaksanakan pengelolaan pendapatan dan biaya. Sleman. investasi. PD BPR Kab. Hasil Pemeriksaan 21. Poso. PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov. Luwuk. . Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. serta penyelesaian kredit macet atau non performing loan (NPL). Sulawesi Utara. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan sumber dana. serta pengadaan barang dan jasa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan keuangan tertentu. BPD Jawa Tengah.

• Di PD BPR Kab.8 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. • Di Bank Sulawesi Utara. 21. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. memerintahkan bagian sistem informasi untuk menambahkan fitur dalam sistem OLIBS yang memungkinkan penginputan nilai taksasi jaminan dalam rangka perhitungan PPAP. pengelolaan jaminan kredit/agunan senilai Rp4. membuat SOP mengenai penatausahaan asuransi. selisih pencatatan per 30 September 2010 senilai Rp1. Rekomendasi 21. serta pengendalian oleh atasan langsung. Bantul. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 21. dan • sebanyak 44 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Penyebab 21. administrasi.5 Hasil pemeriksaan atas operasional bank menunjukkan adanya 91 kasus kelemahan SPI.9 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. kekurangan penerimaan. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. melakukan pengecekan fisik pada saat menerima agunan. pelaksana tidak melakukan pengamanan yang memadai atas jaminan yang diserahkan. tidak adanya SOP mengenai penatausahaan asuransi dan lemahnya pengawasan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.04 miliar dalam pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit karena tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang. • Di PT Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan asuransi. ketidakhematan. terdiri atas • sebanyak 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.7 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena tidak adanya fitur nilai taksasi dalam sistem online integrated banking systems (OLIBS) yang digunakan sehingga nilai taksasi jaminan tidak diperhitungkan di dalam perhitungan PPAP. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan peringatan kepada pihak yang lalai tidak memedomani ketentuan yang berlaku. • sebanyak 41 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.222 21.56 miliar tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian. serta ketidakefektifan meliputi 55 kasus senilai .

12 Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah di antaranya meliputi permasalahan kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.22 21. Tabel 21.416. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.49 miliar.10 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut diuraikan sebagai berikut.88 1. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.11 Kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tujuh kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian yang terjadi pada bank daerah senilai Rp1.13 .52 38.86 juta. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 45 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 46. • sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp90. 21.41 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 21.1.497.727.764. surat berharga. dan barang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.223 Rp58. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.1. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.633. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp775.792.98 juta. 21.39 2. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan.91 58. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Bank Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 7 15 8 18 1 6 55 1.50 13. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank No.

• Di PT Bank Sulawesi Tengah.70 juta. memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai dalam melaksanakan tugas.98 juta. . Penyebab 21. penyaluran pinjaman tanpa melalui prosedur perkreditan perbankan. 21. 21. • Di PT Bank Sulawesi Utara. • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp101.00 juta. Rekomendasi 21. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp178.34 juta.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena ketidakmampuan rekanan dalam menyelesaikan pembangunan gedung.224 • sebanyak 2 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp115.87 juta. pemberian tunjangan transport kepada pejabat/pegawai yang melaksanakan kegiatan perjalanan dinas pada Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan keputusan direksi mengakibatkan kerugian senilai Rp211.15 Terhadap kerugian yang telah terjadi pada bank daerah tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas PT Bank Kalimantan Tengah senilai Rp540 ribu yaitu oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas tidak sesuai ketentuan. dan • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang macet senilai Rp235. kelalaian dalam melaksanakan perhitungan dan pembayaran tunjangan transpor.17 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut yang diselesaikan pada Tahun 2009 tidak sesuai kontrak mengakibatkan kerugian atas kekurangan fisik pekerjaan senilai Rp775.62 juta. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. BPK telah merekomendasikan agar direksi mengembalikan kerugian yang terjadi di bank daerah.

• Di PT Bank Sulawesi Tengah.63 miliar. Selain itu.46 miliar mengakibatkan PT Bank Sulteng sampai dengan 22 November 2010 tidak memperoleh jaminan yang memadai atas pengembalian dana kredit yang telah disalurkan dan berpotensi mengalami kerugian.20 . yang nyata dan pasti jumlahnya.50 juta. 21. kredit hapus-buku tidak didukung dengan dokumen yang lengkap mengakibatkan potensi kredit tidak dapat tertagih sejak Tahun 1987 pada KCU dan Kantor Cabang Parigi minimal senilai Rp15.225 Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.11 miliar.23 miliar.18 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit senilai Rp3. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 15 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp38.03 miliar. surat berharga. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah meliputi permasalahan kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. 21. • sebanyak 11 kasus piutang/pinjaman yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp33.19 21. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp445. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp3. • sebanyak 2 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. dan barang. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp1.83 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/bank daerah. penyelesaian pembangunan gedung kantor Bank Jateng Cabang Slawi Tahun 2010 terlambat dari waktu yang telah ditetapkan dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp368. • Di PT Bank Sulut.79 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat delapan kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp2.226 Penyebab 21. pajak penghasilan atas premi asuransi purna jabatan kepada direksi dan dewan komisaris Tahun 2009 dan 2010 belum diperhitungkan dan disetorkan ke kas negara senilai Rp1.75 juta.64 miliar. memerintahkan para kepala cabang untuk melengkapi jaminan para debitur. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.24 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi tegas kepada pihak yang tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan.28 Atas kekurangan penerimaan tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas BPD Jawa Tengah dan kas daerah senilai Rp223. 21. Rekomendasi 21.25 21. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. • Di PT BPD Jateng. bank daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah atau BUMD karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.12 juta oleh rekanan BPD Jawa Tengah.26 21.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan baik dalam pemberian kredit maupun pelunasannya. Kekurangan Penerimaan 21. 21. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung.27 .

21.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung dan pemimpin kegiatan. pertambangan. • Di BPR Kabupaten Bantul. perpajakan. dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa melakukan pemungutan dan penyetoran atas kekurangan penerimaan pajak dan denda keterlambatan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. dan perpajakan. • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). Rekomendasi 21. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Administrasi 21. kemampuan rekanan pelaksana dalam melaksanakan kegiatan pembangunan gedung kantor tidak memadai. prosedur penghapusan piutang macet TB 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisis yang memadai.31 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).32 . proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 18 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perbankan. 21.227 Penyebab 21. penyelesaian pekerjaan dan melakukan pembinaan. dll. • Di PD BPR Bank Sleman.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa lalai tidak memperhatikan ketentuan perpajakan. pengadaan barang inventaris/pekerjaan Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa yang berlaku.

38 Kasus tersebut terjadi karena RUPS belum pernah menetapkan standar jenis dan jumlah kendaraan dinas bagi dewan komisaris dan direksi sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasar PT BPD Bank Jateng. Penyebab 21.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pengadaan tidak melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 21. BPK telah merekomendasikan agar RUPS menetapkan standar fasilitas kendaraan dinas untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPD Bank Jateng. fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.40 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan hasil pengadaan barang/jasa belum/tidak dapat dimanfaatkan.37 Ketidakefektifan 21.72 miliar yang merupakan pemborosan keuangan BPD Jawa Tengah atas pemberian fasilitas kendaraan dinas kepada dewan komisaris dan direksi PT Bank Jateng pada Tahun 2010 yang belum sesuai ketentuan.228 Penyebab 21. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Rekomendasi 21. 21. dan direktur utama dalam penghapusbukuan agar memperhatikan prosedur yang berlaku.36 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan.39 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. Kelompok temuan ketidakhematan meliputi permasalahan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. dan kelalaian direktur utama dalam melakukan hapus buku kredit macet tidak memedomani peraturan yang telah ditetapkan. 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan senilai Rp1.41 .35 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai mematuhi ketentuan yang berlaku. Ketidakhematan 21. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama.

Penyebab 21.42 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya enam ketidakefektifan senilai Rp13.229 21.45 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. kinerja kantor cabang di Surabaya tidak mencapai target dan Tahun Buku 2010 (s. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp10.50 juta belum dimanfaatkan. 21. terdiri atas kasus mengenai • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp484. Rekomendasi 21.52 miliar.76 miliar.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya Direksi PT BPD NTT dalam memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya terutama SDM pemasaran bidang pendanaan dan perkreditan serta sarana prasarana kantor dan pejabat yang berwenang tidak konsisten melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.d. 31 Agustus 2010) rugi senilai Rp2.43 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 21.50 juta. • Di PT BPD NTT di Surabaya.52 miliar. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2.75 miliar. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. • sebanyak 1 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pengadaan aset tetap tanah yang dilakukan pada Tahun 2007 untuk Kantor Cabang Pembantu Grabag BPD Jawa Tengah senilai Rp484.46 . • Di BPD Jawa Tengah. BPK telah merekomendasikan agar direksi PT BPD NTT segera memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya dan BPD Jawa Tengah melakukan analisis kebutuhan atas lahan yang dibeli dan menindaklanjuti hasil analisis tersebut.

230 .

dan kegiatan investasi. dan 33 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS). pengendalian biaya. 34 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Kepulauan Riau. PT Jatim Grha Utama.231 BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya 22. PD Pasar Surya Jawa Timur. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada sebelas entitas yaitu PT Perkebunan Sumatera Utara.2 Hasil Pemeriksaan 22. kegiatan investasi.5 . Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Kalimantan Timur. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 22. pengendalian biaya. Operasional BUMD mencakup pengelolaan pendapatan.93 miliar sehingga nilai akun dalam laporan keuangan lebih catat dan kurang catat. Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kalimantan Barat. • Di Perusda Natuna. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.4 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMD mengungkapkan adanya 87 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. sebagaimana disajikan dalam Lampiran 47. dan • mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap pengelolaan pendapatan. terdapat kesalahan pencatatan pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2009 (audited) senilai Rp4. • memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengelolaan BUMD.1 Pada Semester II Tahun 2010. dan pengamanan aset. 22. PD Natuna. Perusda Karimun Kepri. 22. kerjasama kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama. hasil pemeriksaan atas operasional BUMD dapat dikelompokkan pada temuan yang berkaitan dengan SPI dan temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.3 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. dan PD Praja Karya Maluku. PT Pengembangan Investasi Riau. Secara umum tujuan pemeriksaan pada sebelas BUMD tersebut untuk • menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengamanan kekayaan telah memadai.

6 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pelaksana tidak bekerja secara cermat dan teliti.47 8.52 44. kekurangan penerimaan. Kalimantan Barat. Perusda Aneka Usaha Tahun 2010 tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan operasional perusahaan dan kerugian akumulasi minimal mencapai senilai Rp5. terdapat investasi Tahun 2007 dan 2008 senilai Rp4.Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD No. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. serta lemahnya pengawasan dari pimpinan.53 1. ketidakhematan dan ketidakefektifan.24 miliar.232 • Di Perusda Aneka Usaha.379.402.73 15.32 16. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pelaksana lebih cermat dalam melaksanakan tugas.1. • Di PT Grha Utama.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. hasil pemeriksaan operasional BUMD juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 8 16 16 24 9 13 86 2. kurang cermat dalam membuat perjanjian dan melakukan pembayaran investasi.073.8 Selain kelemahan SPI. Penyebab 22.442. Tabel 22. Provinsi Jawa Timur.58 . Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 22. administrasi. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 86 kasus senilai Rp44. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 48 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 49.13 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 22.133.00 miliar dalam perjanjian kerjasama dengan PT WS pada pekerjaan pembangunan jalan akses Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum memberikan hasil. Rekomendasi 22.1.835. serta pimpinan meningkatkan pengawasannya. menyusun perjanjian kerjasama dan melakukan pembayaran investasi.

Provinsi Jawa Timur.14 Kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah terjadi karena pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp122. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Daerah 22.35 juta. Penyebab 22. dan barang. oleh rekanan kepada PT Jatim Grha Utama.07 miliar.16 miliar. serta tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam menentukan tunjangan yang dapat diberikan kepada direksi.07 miliar di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp1. • sebanyak 3 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp344. 22. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.16 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp2.16 miliar. • Di PT Jatim Grha Utama.11 . surat berharga. 22. • Di PD Pasar Surya.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.233 22.10 Kelompok temuan kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah) di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Provinsi Jawa Timur.9 Kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan berupa uang. dan • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp437. kelebihan pembayaran tunjangan direksi pada TB 2009 dan 2010 (per 30 Juni 2010) senilai Rp437. 22. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda.16 miliar.13 Dari total kasus kerugian yang terjadi pada perusda senilai Rp2. kekurangan volume fisik pekerjaan pada pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Modern Agribisnis (PIMA) Tahun 2010 senilai Rp1. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp1. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.35 juta.71 juta.

79 juta. dan barang.44 miliar. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa.17 22. yang nyata dan pasti jumlahnya.37 juta.30 miliar dan jaminan keagenan senilai Rp20. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp15. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.49 juta. serta rekanan mempertanggungjawabkan kerugian yang terjadi dengan cara menyetor ke kas perusahaan daerah. pembelian aset yang berstatus sengketa.00 juta pada PT B Airlines yang sudah ditutup tidak dapat dicairkan.19 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PD Melati Bhakti Satya. terdiri atas • sebanyak 6 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp6. 22. terdapat aset yang dikuasai pihak lain TB 2009 yaitu deposito senilai Rp5. Kasus-kasus potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) yaitu adanya aset dikuasai pihak lain.67 miliar.76 miliar. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya Rp417. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 22. surat berharga.234 Rekomendasi 22. Provinsi Kalimantan Timur. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp100. senilai 22. . BPK telah merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan lebih cermat melaksanakan tugasnya. aset tidak diketahui keberadaannya. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain.15 Terhadap kasus kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) tersebut. • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp485.16 Potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.18 • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp7.

Penyebab 22. Kekurangan Penerimaan 22. dan membuat SOP terkait dengan penatausahaan piutang/pinjaman serta segera menyelesaikan piutang/ pinjaman yang belum tertagih.235 • Di Perusda Natuna. • Di PT Perkebunan Sumatera Utara. kurang membayar dividen kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas hasil usaha TB 2005 s.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. PT Perkebunan Sumatera Utara kurang 22. 22.16 juta. 2009 senilai Rp4.00 miliar. Rekomendasi 22.24 . Provinsi Kepulauan Riau.d. belum membuat standar operating procedure (SOP) terkait penatausahaan piutang/pinjaman. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp16. kepada bupati agar memerintahkan direksi untuk lebih cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman. perusahaan daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah/perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan.83 miliar yang terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah senilai Rp16. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan daerah/perusahaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. Selain itu.20 Kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah disebabkan karena perusda kurang mengupayakan pengembalian bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. BPK telah merekomendasikan kepada perusda agar membuat langkah-langkah untuk mengembalikan bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. terdapat pengelolaan piutang usaha tidak tertib sehingga menimbulkan saldo piutang usaha per 20 Juni 2010 tidak tertagih senilai Rp4.22 Kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.61 miliar.23 22. serta lemah dalam melakukan pengawasan.21 Atas kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. pimpinan perusahaan tidak cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.63 miliar. dan • sebanyak 1 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp196.

70 juta kepada PD Pasar Surya.236 melakukan pemotongan pajak PPh Pasal 21 TB 2009 dan 2010 minimal senilai Rp1. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atas barang milik daerah. dll.07 miliar dan penetapan tarif pajak tidak sesuai dengan ketentuan. Administrasi 22. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. investor (CV CJL) pembangunan Pasar Kupang Gunung Tahun 2008 belum melaksanakan kewajiban berupa penerimaan kompensasi senilai Rp425. 22.29 22. Penyebab 22. • Di PD Pasar Surya. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 10 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan.28 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan segera menyetorkan sisa dividen hasil usaha kepada pemerintah daerah. tidak mengurangi hak negara/daerah/perusahaan daerah (kekurangan penerimaan) tidak menghambat operasional/program entitas dan dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. serta lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.00 juta dan denda keterlambatan senilai Rp418.30 .26 Kasus-kasus kekurangan penerimaan disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak mengacu pada keputusan RUPS dan dewan komisaris dalam melakukan pembayaran dividen. kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah dan lain-lain. memperhitungkan kekurangan pembayaran kompensasi dan denda keterlambatan kepada investor dan segera menyetorkan ke kas perusahaan. Provinsi Jawa Timur. belum mengenakan denda atas keterlambatan pembangunan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Rekomendasi 22.

Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat sembilan kasus ketidakhematan berupa kasus pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga senilai Rp1. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.75 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain administrasi. dll.33 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. • Di PD Praja Karya.32 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam pembagian laba (dana komitmen). Penyebab 22.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pembagian laba kepada pemerintah provinsi dan kabupaten TB 2007 dan 2008 tidak sah dan melanggar ketentuan senilai Rp1. • Di PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR).36 . dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.35 22. • sebanyak 2 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan.74 juta tidak memiliki dasar hukum yang kuat. yaitu pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan kepada direksi dan pegawai Perusda Kabupaten Karimun senilai Rp711.237 • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. 22. perpajakan.46 juta tidak didukung bukti yang lengkap.40 miliar.34 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan membatalkan pembagian laba yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan meminta pemegang saham untuk menyetorkan kembali dana (dividen) komitmen yang telah dibayarkan. pertambangan. Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Perusda Karimun. Provinsi Kepulauan Riau. serta menyusun sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. Provinsi Riau. dan belum menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. pengeluaran belanja TB 2008 senilai Rp129. Ketidakhematan 22. Provinsi Maluku. 22. Rekomendasi 22.

42 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.86 miliar tidak dapat diselesaikan oleh pihak investor sehingga tidak ada kepastian penyelesaian pembangunan dalam rangka revitalisasi Pasar Manukan Kulon dan potensi penerimaan PD Pasar Surya tidak optimal/terlambat. 22.38 kasus-kasus ketidakhematan tersebut. • sebanyak 5 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp1.62 miliar. kerjasama pembangunan gedung Pasar Manukan Kulon Tahun 2005 senilai Rp4.39 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.40 22. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • Di PD Pasar Surya.238 Penyebab 22. Ketidakefektifan 22.48 miliar.60 juta.37 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya disebabkan karena direksi belum memahami sepenuhnya ketentuan yang berlaku dalam pemberian tunjangan dan insentif. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.41 . Rekomendasi 22. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. BPK telah Terhadap merekomendasikan antara lain agar direksi menghentikan pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp8. Pada umumnya kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. 22. Provinsi Jawa Timur.37 miliar terdiri atas • sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp271.

44 Atas kasus-kasus ketidakefektifan. 22. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan memberikan sanksi dan peringatan kepada investor yang telah melakukan wanprestasi dan meninjau kembali kerjasama tersebut.86 juta. serta melakukan koordinasi terkait dengan hak dan kewajiban dalam pengelolaan aset. Penyebab 22. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.45 . pelaksanaan kerjasama antara Perusda Natuna dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bangunan gedung pengolahan kelapa dan pengolahan ikan tidak termanfaatkan senilai Rp970. dan pimpinan perusahaan tidak melaksanakan koordinasi dengan pihak ketiga berkaitan dengan hak dan kewajiban yang telah disepakati dalam pengelolaan aset.239 • Di Perusda Natuna.43 Kasus-kasus ketidakefektifan di antaranya disebabkan investor tidak serius dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disepakati. Rekomendasi 22. Provinsi Kepulauan Riau.

240 .

1 di bawah ini. delapan objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dan dua objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. • Di 18 kuasa pengguna anggaran (KPA). pengelolaan belanja subsidi dan belanja lain-lain (BSBL) TA 2009 dan Semester I TA 2010 yang disajikan dalam satu laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan BSBL pada 17 KPA lainnya yang masing-masing disajikan dalam LHP tersendiri.531. Cakupan pemeriksaan atas 31 objek pemeriksaan tersebut.751.3 23. Martadinata seluas 653. Tabel 23.62 4.94 15.33 7.E.1 Selain tema-tema pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya.241 BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya 23. .515. Direktorat Jenderal Bina Marga TA 2010.2 Pemerintah Pusat 23.14 % Temuan (4)= 3/2 x100% 0. rinciannya adalah sebagai berikut. • Di Bank Indonesia (BI). • Di Kementerian Keuangan.50 2.20 285.18 0. dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo).3 Dua puluh satu objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat. BI. disajikan pada Tabel 23.1. • Di Kementerian Pekerjaan Umum. Cakupan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu lainnya Entitas Yang DIperiksa (1) Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN Jumlah Cakupan Pemeriksaan (miliar Rp) (2) 275.19 0.42 m². amblasnya sisi utara Jalan R. dalam Semester II Tahun 2010 BPK juga melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada 31 objek pemeriksaan meliputi 21 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.264.62 848.58 303. prosedur yang disepakati bersama–penelitian atas tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 pola channeling dalam rangka risk sharing antara pemerintah. dana bagi hasil TA 2009 dan Semester I TA 2010.03 Total Temuan (miliar Rp) (3) 528.

telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp111. sehingga terdapat penerimaan negara bukan pajak sumber daya alam (PNBP SDA) senilai Rp1. • KPA tidak tertib melaksanakan belanja lain-lain di antaranya.242 23.06 juta oleh Ditjen Bina Marga Kementerian PU.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. di antaranya sebagai berikut. ketidakhematan.57 triliun dianggarkan pada BA BSBL termasuk di antaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran sendiri.94 miliar meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan.6 . b. terdapat tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling tanpa disertai sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo senilai Rp1. 23. • Di sepuluh KPA.48 triliun yang belum diperhitungkan dalam bagi hasil ke daerah Tahun 2009. Di 13 KPA.81 miliar.5 23. kekurangan penerimaan. • Di Kementerian Keuangan.37 miliar tidak didukung bukti yang lengkap dan valid. listrik. • Di BI.92 triliun. terdapat kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak mengakibatkan kelebihan pembayaran senilai Rp28. Di sembilan KPA. a. LPP TVRI. • BUMN operator belum sepenuhnya memenuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM. dan benih mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. Atas kasus-kasus kerugian negara dan kekurangan penerimaan tersebut. di antaranya senilai Rp6. potensi kerugian negara.99 miliar merupakan belanja fiktif atau kelebihan belanja yang tidak dikembalikan. pupuk. dan ketidakefektifan. administrasi. pengadaan barang dan jasa senilai Rp57. dan LPP RRI. penatausahaan dan pencatatan realisasi penerimaan belum memungkinkan dilakukannya identifikasi penyetor secara tepat waktu dan tepat jumlah.4 Hasil pemeriksaan atas 21 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat menunjukkan 88 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp528. belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak senilai Rp2.

07 miliar.9 23.10 . • Di Provinsi Kalimantan Barat. Provinsi Gorontalo.243 Pemerintah Daerah 23. pengelolaan perhitungan fihak ketiga (PFK) pemerintah TA 2007.65 miliar. Provinsi Riau.79 miliar oleh Sekretariat Kota Pekanbaru dan Pemda Bengkulu. dan ketidakefektifan. • Di Provinsi Aceh. mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah senilai minimal Rp3. dan 2009.58 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. 23. Atas temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp1. pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIII TA 2010. kekurangan kas tidak dapat dijelaskan secara akuntabel oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru. Provinsi Riau. ketidakhematan. Provinsi Jambi. • Di Kabupaten Muaro Jambi. • Di Provinsi Bengkulu.7 Delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah. administrasi.32 miliar. • Di Kabupaten Bone Bolango. program swasembada pangan dan pengelolaan saluran irigasi tersier TA 2008 dan 2009. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. pengelolaan bantuan keuangan pemerintah daerah se-Kalimantan Barat untuk pendirian dan pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2003 sampai Juli 2010. 2008. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan.8 Hasil pemeriksaan atas delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah menunjukkan adanya 53 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp15. 23. pengelolaan kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010. terdapat pembayaran belanja yang tidak tersedia anggarannya sehingga pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum dan berindikasi kerugian keuangan daerah senilai Rp2. di antaranya sebagai berikut. potensi kerugian daerah. Provinsi Riau. • Di Kota Pekanbaru. Provinsi Maluku Utara. Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut. dan Kabupaten Halmahera Tengah. rinciannya adalah sebagai berikut. • Di Kota Pekanbaru. • Di Kota Pekanbaru. kekurangan penerimaan. penggunaan dana STAR-SDP pada inspektorat daerah untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009.

Cakupan pemeriksaan pada PT Pertamina (Persero) meliputi kegiatan pengadaan paket tabung liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg yang terdiri dari pengadaan tabung LPG 3 kg. 2009. • Di PTPN XIV (Persero). • Di Provinsi Bengkulu.34 juta.14 .d. regulator.12 23. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran pengadaan paket tabung gas LPG 3 kg dan pengadaan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta menilai pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga.244 • Di Provinsi Kalimantan Barat. 2009. mekanisme pengelolaan penjualan stiker MTQN XXIII TA 2010 tidak memadai. di antaranya sebagai berikut. Semester I Tahun 2009. kompor. Sedangkan PTPN XIV (Persero) meliputi kerjasama pihak ketiga dan pengadaan barang dan jasa Tahun 2007 s.44 miliar.13 23.d. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 23.d. terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri Tahun 2008 s. kekurangan penerimaan pendapatan senilai Rp3. dan selang dalam rangka Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Tahun 2007 s.37 juta. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan.15 Laporan hasil pemeriksaan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. 23. • Di PT Pertamina (Persero). terdapat kemahalan harga minimal senilai Rp881. yaitu kegiatan pengadaan barang dan jasa pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero).11 Dua objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan BUMN. 2009 yang melebihi ketetapan preferensi harga Menteri Perindustrian.66 juta dan pajak belum disetor senilai Rp505.62 miliar. adanya adendum kontrak pengadaan tabung LPG 3 kg Tahun 2007 mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp37. dan apabila dibandingkan dengan harga pengadaan impor mengakibatkan ketidakekonomisan senilai Rp135.d. pengadaan alat-alat laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2005 s. 23. • Di PT Pertamina (Persero). sehingga realisasi penerimaan penjualan stiker tersebut tidak dapat ditelusuri kewajarannya dan terdapat indikasi kekurangan penerimaan senilai Rp712.17 miliar atas proyek kerjasama pengembangan kebun kelapa sawit pola kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA).

suatu temuan pemeriksaan memuat saran/ rekomendasi mengenai penagihan atas kelebihan bayar atau denda yang belum dipungut dan hasil penagihan/pemungutan harus disetor ke kas negara/daerah. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. apabila bukti tindak lanjut rekomendasi tidak diterima dan/atau baru diterima sebagian. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK. Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini. Adapun data hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut sebelum Tahun 2009 masih dalam proses rekonsiliasi. Temuan-temuan pemeriksaan yang oleh BPK dinyatakan ditindaklanjuti sesuai saran/ rekomendasi adalah temuan-temuan pemeriksaan yang saran/rekomendasinya telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pihak entitas yang diperiksa sesuai dengan saran/rekomendasi BPK. Misalnya. BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan semesteran. Dalam IHPS II Tahun 2010 disajikan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 yang disajikan menurut entitas kementerian/lembaga/provinsi/kapubaten/kota/BUMN/ BHMN/KKKS. BUMN. Dengan demikian. maka temuan pemeriksaan tersebut dinyatakan “telah ditindaklanjuti sesuai saran” jika entitas yang bersangkutan telah menyetor seluruh penagihan/pemungutannya ke kas negara/daerah dan BPK telah menerima dan memvalidasi bukti setor tersebut. pemerintah daerah. BPK menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan. dan badan lainnya. . Sebaliknya. diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah/perusahaan pada entitas yang bersangkutan.245 HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT Memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20. rekomendasi. maka dalam IHPS dimuat data pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat. maka temuan pemeriksaan yang bersangkutan dinyatakan sebagai “dalam proses ditindaklanjuti”. status tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah. Pimpinan entitas yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima. Selanjutnya BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK.

efisien dan ekonomis. kebakaran dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tindak lanjut tidak dapat dilaksanakan. Adapun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjuti dengan penyerahan aset dan penyetoran ke kas negara/daerah dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 adalah senilai Rp1. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas kementerian/lembaga disajikan pada Lampiran 50. melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern. dan GBP17. 2.78 ribu. 3. kemudian dari pemerintah daerah senilai Rp807. dan GBP17.82 miliar dan USD4. perubahan regulasi. 2. teguran dan/atau sanksi kepada para penanggungjawab dan/ atau pelaksana kegiatan. pejabat menjadi terpidana. status pemantauan tindak lanjut rekomendasi ditambahkan satu jenis lagi yaitu status “Tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah”. b. yaitu: 1. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Pusat mengungkapkan bahwa dalam periode Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 85 kementerian/lembaga terdapat 8.79 ribu.55 ribu. Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti secara efektif.34 triliun serta sejumlah valas. yaitu suatu keadaan peperangan.05 miliar dan USD7. c. pejabat menjadi tersangka dan ditahan. mengembalikan/menyerahkan sejumlah aset ke negara/daerah atau dengan cara melengkapi pekerjaan/barang. rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dan/atau tindakan administratif. objek yang direkomendasikan dalam sengketa di peradilan.246 Sesuai Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010. force majeur. subjek atau objek rekomendasi dalam proses peradilan: 1. Adapun kriteria alasan sah sehingga rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti adalah : a.00 ribu.15 ribu. Perincian setoran dari pemerintah pusat senilai Rp1. Secara umum.93 triliun dan USD53.94 ribu. EUR11. revolusi.55 ribu. EUR11. pemogokan.78 ribu.251 rekomendasi senilai Rp27.00 triliun dan USD42. bencana alam. Adapun tindakan administratif biasanya berupa pemberian peringatan. Penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dilakukan dengan cara menyetorkan sejumlah uang ke kas negara/ daerah. Status pemantauan hasil pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan negara/daerah. .1. dan dari BUMN senilai Rp119. kerusuhan. perubahan struktur organisasi.

56% 37.33 USD 326. Presentase rekomendasi yang telah ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (37.251 Nilai Rp27.082.19 GBP 17.95%) menunjukkan pemerintah pusat telah memperhatikan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.852.68 USD 313.354.014. Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 36. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/penyerahan aset ke negara senilai Rp1.187.131 Nilai Rp4.227. Dari 3.55 ribu dan GBP17.55 GBP 17.93 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.011 Nilai Rp12.23 USD 359.37 EUR 11.55 GBP 17.37 EUR 11.945.41 Dari tabel di atas.109 Rp9.821.00 triliun.011 rekomendasi atau 36.109 rekomendasi atau 25.95%. EUR11.102.1 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai USD 12.15 EUR 11.38 Jml 3.347. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.003.77 AUD 334.19 Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/ daerah Nilai Rp1.464.064.78 ribu.42 USD 42.082.247 Tabel 24.78 2.78 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 8.49% belum ditindaklanjuti.131 rekomendasi senilai Rp4. .55 JPY 266.95% Belum Sesuai Rekomendasi/Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 3.78 Jml 3. dan sebanyak 3.87 JPY 266.15 ribu. sedangkan sebanyak 2. Grafik 24.938.56% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.49% 25.1.131 atau 37.03 AUD 334. USD42.

075 rekomendasi atau 24.82 miliar dan USD4.827.64 USD 2.248 Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Daerah mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 508 pemerintah daerah terdapat 66.75 ribu.075 Nilai Rp27.280 rekomendasi atau 39.00 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 16.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 39. .75 Dari tabel di atas.26% 36.933 rekomendasi senilai Rp68.72 %.578 Nilai Rp17.933 - Nilai Rp68.009.79 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.583.72% Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti 24.957.83 Belum Ditindaklanjuti Jml 26.2 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Jml 24. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pada pemerintah daerah disajikan pada Lampiran 51.26% belum ditindaklanjuti.00 Jml 66.821.13 USD 4.635. Tabel 24.11 USD 4.00 triliun serta USD473.91 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atau perusahaan negara/ daerah Rp807. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.00 ribu. Dari 24. dan sebanyak 26. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp807.228. sedangkan sebanyak 16.11 USD 473.792.280 Nilai Rp22.578 atau 36.02% Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 24. Grafik 24.35 USD 466.02% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.2.578 rekomendasi senilai Rp17.633.

Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 145 BUMN mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 1.291. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.75 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan Rp119.249 Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (39.12 USD 604.884.60 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 297 Nilai Rp806.450 Nilai Rp7. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.93 Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 333 Nilai Rp1.408.657.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 297 atau 20.97% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.320. dan sebanyak 820 rekomendasi atau 56.056.523. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.48%.326.3.60 Belum Ditindaklanjuti Jml 820 Nilai Rp5.17 USD 835. Dari 297 rekomendasi .55% belum ditindaklanjuti.75 EUR 8. Tabel 24. sedangkan sebanyak 333 rekomendasi atau 22.897.79 - Dari tabel di atas.055.26%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada pemerintah daerah atau bahkan ada yang belum disampaikan. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas BUMN disajikan pada Lampiran 52.74 SGD 1.275.75 EUR 8.99 triliun serta sejumlah valas.994.11 USD 230.320.450 rekomendasi senilai Rp7.50 SGD 1. Grafik 24.31 USD 7.3 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Jml 1.

Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.53 USD 1.65%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada BUMN atau bahkan ada yang belum disampaikan.59 SGD 5. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (56. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas KKKS disajikan pada Lampiran 52.23 USD 150.748.581. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke perusahaan BUMN senilai Rp119. .30 Belum Ditindaklanjuti Jml 37 Nilai Rp580. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas satu BHMN yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) mengungkapkan bahwa bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 12 rekomendasi.27 miliar yang ditindaklanjuti sesuai saran. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.250 senilai Rp 806.30 Status Pemantauan Tindak Lanjut Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai 18 Rp2.67% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.90 SGD 5. Hal ini menunjukkan bahwa BP Migas masih kurang dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK.048.17 - (dalam juta rupiah dan ribu valas) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/perusahaan - Sesuai dengan Rekomendasi Jml 21 Nilai Rp676.35 USD 74.33% dan sebanyak 11 rekomendasi atau 91.00 miliar serta sejumlah valas.4 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 Rekomendasi Jml 76 Nilai Rp4. Dari pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dapat dijelaskan bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak satu rekomendasi atau 8.4 .780.005.51 - Dari tabel di atas. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Lampiran 52. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 67 KKKS mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 76 rekomendasi senilai Rp4. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. Tabel 24.05 miliar serta sejumlah valas.59 USD 73.

68%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada KKKS atau bahkan ada yang belum disampaikan. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (48.251 Grafik 24. belum ada yang telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke kas negara/perusahaan. sedangkan sebanyak 18 rekomendasi atau 23. .63%. Dari 21 rekomendasi senilai Rp676. dan sebanyak 37 rekomendasi senilai atau 48.68% belum ditindaklanjuti. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 21 rekomendasi atau 27.53 juta serta sejumlah valas yang ditindaklanjuti sesuai saran.68% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.

252 .

. dan −− pihak ketiga yang telah ditetapkan oleh pengadilan.30 miliar atau 11.339 kasus senilai Rp108.253 HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH Pendahuluan Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. pengelola BUMN/BUMD dan pengelola keuangan negara lainnya yang ditetapkan oleh BPK. Pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK dan pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. pegawai negeri bukan bendahara dan pihak ketiga.28 miliar dan sejumlah valuta asing (valas) dan tingkat penyelesaian (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. −− pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain oleh pemerintah. Pemantauan kerugian negara/daerah mencakup kerugian negara/daerah yang disebabkan kesalahan bendahara. • proses penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang belum dapat ditetapkan. Sasaran Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah meliputi: • • kepatuhan instansi untuk membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D). Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah disusun berdasarkan laporan pemantauan dalam kurun waktu bulan Juli 2010 sampai dengan Januari 2011.92% dan sejumlah valas.040 entitas. BPK diberikan kewenangan untuk memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh pemerintah. pelaksanaan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap: −− bendahara.76% dari keseluruhan sebanyak 2. Kerugian negara/daerah yang dipantau pada kurun waktu tahun 2009-2010 adalah sebanyak 4. Selain itu BPK juga memantau kerugian negara/daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK maupun hasil pemeriksaan Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). kinerja dan administrasi penatausahaan kerugian negara/daerah.302 kasus senilai Rp908. maupun yang berindikasi kerugian negara/daerah dari hasil pemeriksaan BPK dan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) yang harus segera diproses penyelesaiannya oleh instansi yang bersangkutan. Gambaran Umum Cakupan entitas yang telah dipantau pada Semester II Tahun 2010 adalah 648 entitas atau sebesar 31.

00 54.314.000.17 USD 212.44 134.05 USD 212.70.78 USD 1.197.845.89 USD 212.507.000.17 165.61 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 tidak terdapat kasus kerugian negara yang dilakukan oleh pengelola BUMN.21 juta dengan tingkat penyelesaian baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 315 kasus senilai Rp62.664.671.292.254.00 19.998.613.87 JML 26 3 29 1 27 25 53 PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 856.70 Rp54.481.104.53 USD 15.803.481.581.000.72 596.348.823.009.00 15.493.013.06 USD 1.54 USD 85.409.447.998.752.727. Tabel 25.613.00 53.334.58 USD 228.973.00 6.453.550.13 miliar dan USD228.689.61 USD 228.87 Rp516.58 691.92 JML 36 20 56 6 35 136 177 PELUNASAN NILAI 2.00 6 596.333.00 826.709.998.70 JML 1 171 72 244 2 111 156 269 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 9 353 384 746 764.353.823.335.459.86 Rp191.463.509.316.000. Kerugian Daerah Pada Instansi Pemerintah Daerah Dan BUMD Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah pada instansi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD) pada periode Tahun 2009 sampai Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.846.531.17 Rp457.43 94.998.207.700.155.892.723.459.298.015.73 Rp712.31 82 Rp4.927.893.062.424.43 3.710.00 3.683.707.128.214.013.035.281.966.45 USD 228.700.70 Rp57.526.43 3.388.72 Rp3.978.035.97 USD 85.997.00 3 282 228 513 SISA NILAI 30.787.877.78 USD 1.74 miliar atau 8.348.600.632.194.103.560.424.532.502.762.900.157.754.717.844.551.00 Rp951.81 448.44 734.111. Rincian Pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pemerintah pusat selama Tahun 2009 sampai Tahun 2010 adalah sebagai berikut.035.791.419.935.845.00 9.81% dan USD1.058.92 71 156 2.764.035.58 186.956.025.436.258.86 Rp195.367.72 USD 15.624.560.893.163.862.91 USD 228.394.899.131.640.156.1 Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat TAHUN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUGIAN JML 1 207 92 300 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 8 146 292 446 NILAI 30.673.74 USD 15.58 185.004.00 983.92 Rp4.213.129.219.756.026.913.55 USD 15.197.871.057.318.950.73 USD 85.202.254 Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Kerugian Negara Pada Instansi Pusat Dan BUMN Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada instansi pusat dan BUMN pada Semester II Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.431. .677.03 Rp649.00 10.2010 sebanyak 746 kasus senilai Rp712.70 1 3.303.287.846.000.640.114.223.58 633.00 9.127.446.81 505.35 233 53 28 1.16 USD 85.035.281.892.90 USD 212.057.367.206.352.00 468.06 USD 1.909. Instansi Pusat Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009 .251.057.116.872.000.

918.26 2.735.847.928 38.91 799 6 835 43 353 41 7 444 73 1.634.371.350.947.102.2 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah THN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUG NEGARA/ DAERAH JML 264 1.00 miliar dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2.199.760.852.000.954.00 27.945.00 36.595.625.431.00 16.005.034.879 9.202.86 28.00 16.46 83.019.553 NILAI 15.790.919.97 7.406 198 1. Tabel 25.37 87.05 3.00 107.482.61 20.512.357.440.768.332.749.418.905.00 JML PELUNASAN NILAI 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2009 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH .810 (dalam rupiah) SISA NILAI 13.00 154.237.00 54.488.515.113.610.92 7.51 24.735.400 39.381.16 631.42 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kasus kerugian daerah yang terjadi di BUMD dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 terdapat kerugian daerah sebanyak 3 kasus senilai Rp154.449.076.992.00 7.564.342 734 15 3.326.938.350.540.681.147 462 2.876.00 46.414.580.279 1.40 21.647 23.950.345.32 83.110.00 TOTAL KERUGIAN NILAI 1 1 2 2 1 2 3 46.50 122.734 116.350.354.23 27.166.90 7.175.660.987.60 23.693.3 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD TAHUN KEJADIAN SUBJEK KERUG.576.484.485.790.793.580.154 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 141 897 610 8 1.345.50 150.957.00 37.492.50 miliar atau sebesar 23.128.644.634 93.380 PEMBAYARAN ANGSURAN JML NILAI 30 1.855 107.837.656 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 362 1.595.302.00 54.733.237 697 15 2.739.061.089.00 36.010.516.878.446. NEG/DAE JML 2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2010 (dalam rupiah) SISA JML 1 1 1 1 1 1 2 NILAI 46.610.58 10.00 1 1 1 1 16.69 2.757.033.580.000.764.380.085 196.96 PELUNASAN JML NILAI 43 245.000.21 4.001.440.457.626.995.152 47 7 1.838.00 107.000.707.725. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada BUMD selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.42 1.790.874.089.02 35.046.407.00 207 2 252 57 340 87 7 491 100 547 89 7 743 532.202.34 1.128.560 25.860.91 5.022 kasus senilai Rp45.515.259.508.000.487.21 3.22 385.231.470.487.26 juta dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2 kasus senilai Rp53.706.340.938.740.450.872.735.00 46.000.572.281 14.915.00 107.578. Tabel 25.49 2.00 46.08 juta atau sebesar 34.450.440.00 101.456.126.573.516.085 156.55 7.56 6.00 54.367.853.795 645 8 2.220.105 37 1.80 515.820 40.268.862.239.68 2.580.596.790.234 93.796.344.521.255 Pemerintah Daerah Kasus kerugian daerah yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009-2010 yaitu sebanyak 3.502.440.756.320.595.731.38 JML 221 898 35 1.553 kasus senilai Rp196.00 JML PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 1 1 1 1 36.261.00 16.751.350.746.534.941.238.740.293.580.869.22%.610.681.228.580.414.257.166.220.00 46.62 6.681.45 80.735.326.909.775.740. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.095.740.00 6.783.00 36.610.644.892.992.267.41 %.683.

maupun dari BPKP (APIP). penanggung jawab tidak jelas identitasnya. • • • • • • • • • • • • • . Belum optimalnya pendokumentasian/administrasi berkaitan dengan data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya. Belum optimalnya dukungan pimpinan instansi atas keberadaan dan kinerja TPKN/D. Permasalahan Dalam Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah antara lain: • Belum terbitnya ketentuan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain sehingga menimbulkan ketidakseragaman dalam penyelesaian atau pengenaan kerugian negara/daerah. Belum aktifnya kinerja TPKN/D. Inspektorat Jenderal.256 Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya Pada Semester II Tahun 2010 belum terdapat data mengenai kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya pada badan pengelola keuangan lainnya seperti badan hukum milik negara (BHMN) dan badan layanan umum (BLU). meninggal. Belum optimalnya tindak lanjut oleh TPKN/D atas informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan BPK. Kesulitan tentang identitas pribadi pihak yang bertanggung jawab misal karena pihak terkait tidak diketahui keberadaannya. Kasus kerugian tidak ditindaklanjuti sehingga memasuki masa daluwarsa. Belum maksimalnya koordinasi antara inspektorat dengan TPKN/D dalam menindaklanjuti penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. hasil pengawasan/ pemeriksaan Bawasda. Jangka waktu penggantian tidak memperhatikan masa pensiun (taspen) sehingga tidak dapat tertagih setelah tidak aktif (pensiun). Pelaporan kerugian negara/daerah belum sesuai ketentuan. Proses penilaian dan/atau penetapan kerugian negara belum sesuai dengan ketentuan. Proses penyelesaian berlarut-larut karena penanggung jawab tidak ada. Belum tersusunnya database/daftar kerugian negara/daerah di masing-masing instansi. Penanggung jawab tidak beritikad baik menyelesaikan/mengembalikan.

Rincian pemantauan hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian/pidana dapat dilihat pada tabel berikut. bertanggung jawab tercapai.90%). proses pengumpulan bahan dan koordinasi. Koordinasi internal dan eksternal untuk mencapai pemulihan kerugian negara/ daerah yang optimal. Sejak tahun 2003 BPK telah melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu Kepolisian Negara RI. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus (2. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Kejaksaan.90%). Pimpinan instansi memberikan dukungan berkaitan dengan keberadaan dan kinerja TPKN/D. • • Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara. Kejaksaan. instansi yang berwenang (Kepolisian. BPK merekomendasikan: • • • Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain. Dari 105 kasus yang diserahkan tersebut.257 Rekomendasi Terhadap permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah.06 juta. profesional. pejabat dan pelaksana tugas penyelesaian kerugian negara/daerah. penyidikan sebanyak 2 kasus (1. akuntabel. putusan hakim sebanyak 2 kasus (1. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.11 triliun dan USD11.86%). mewajibkan BPK untuk melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi tindak pidana kepada instansi yang berwenang. dalam proses penelaahan. proses gelar perkara dan banding/kasasi.38%) merupakan kasus yang belum ditindaklanjuti. Pemberian pemahaman tentang pengenaan dan penyelesaian ganti kerugian negara kepada pimpinan. Pemahaman kepada pimpinan unit kerja tentang pentingnya pelaporan kerugian negara/daerah dalam rangka penyelesaian kerugian negara/daerah sehingga pemulihan kerugian negara/daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan negara/daerah yang transparan.95%). Tahun 2009 dan Tahun 2010. penuntutan sebanyak 1 kasus (0. dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sisa kasus sebanyak 97 kasus (92. .

40 8.136.41 797.834.136.98 1.04 1.19 216.463.556.56 394.19 16.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana (dalam juta rupiah dan ribu valas) Kasus No. Aparat Penegak Hukum Total Nilai (Rp) Total Nilai (USD) Dilimpahkan *) Penyelidikan Penyidikan Proses Hukum Penuntutan Lainlain Jumlah yang telah diserahkan 2 2 Tahun Total Temuan Vonis SP3 1 Polri Total Kepolisian 2009 2010 2 2 20 15 35 22 46 68 105 16. .153.150.68 315.258 Tabel 25.74 298.04 - 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 17 15 32 17 46 63 97 - 2 Kejaksaan Total Kejaksaan 2009 2010 20 15 35 22 46 68 105 3 KPK Total KPK TOTAL 2009 2010 *) Pelimpahan (Limpah) yaitu penyerahan penanganan kasus dari satu instansi yang berwenang ke instansi yang berwenang lainnya atau dari instansi yang berwenang pusat ke instansi vertikal dibawahnya sebelum proses penyelidikan.99 453.112.00 11.75 82.50 402.00 1.393.917.980.63 9.546.067.700.576.

Lampiran IHPS II Tahun 2010 .

Tapanuli Selatan Kab. Pakpak Bharat Kab. Bener Meriah Kab. Bireuen Kab. Asahan Kab. Deli Serdang Kab. Pidie Jaya Kab. Pidie Kab. Padang Lawas Kab. Langkat Kab. Aceh Jaya Kab. Nias Barat Kab. Nias Kab.Halaman 1 . Aceh Tenggara Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Kab. Karo Kab. Sumatera Utara Kab. Samosir Kab. Toba Samosir Kota Binjai 1 WDP 1 1 WDP TW 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP TW WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 1 1 TMP WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 TMP 13 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP TW 1 . Aceh Barat Daya Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Prov. Aceh Singkil Kab. Nias Selatan Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 WTP WTP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP TW 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 WTP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 10 14 1 WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP Entitas Pemerintah Daerah Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total Prov. Aceh Barat Kab. Aceh Tengah Kab.Lampiran 1a Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No 1 Prov. Aceh Timur Kab. Batubara Kab. Aceh Selatan Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Labuhanbatu Kab. Dairi Kab. Aceh Besar Kab. Tapanuli Utara Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Serdang Bedagai Kab. Humbang Hasundutan Kab. Nagan Raya Kab. Nias Utara Kab. Aceh Utara Kab. Aceh Tamiang Kab. Simalungun Kab. Mandailing Natal Kab. Padang Lawas Utara Kab. Tapanuli Tengah Kab.

Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Solok Kab. Pasaman Kab. Sarolangun 1 WDP 10 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 1 WDP 2 12 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP 2 . Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 4 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 8 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 5 Prov.Halaman 2 . Kerinci Kab. Bungo Kab. Solok Selatan Kab. Rokan Hulu Kab. Batanghari Kab. Padang Pariaman Kab. Jambi Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 4 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Kepulauan Meranti Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 92 93 94 95 96 97 98 Prov. Pesisir Selatan Kab. Rokan Hilir Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Bengkalis Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Prov. Pelalawan Kab. Indragiri Hilir Kab. Kep. Pasaman Barat Kab. Mentawai Kab. Sijunjung Kab. Kuantan Singingi Kab. Muaro Jambi Kab. Lima Puluh Kota Kab. Sumatera Barat Kab. Riau Kab. Agam Kab.Lampiran 1a No 28 29 30 31 32 33 34 3 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total * TMP WDP TMP WDP WDP WDP Prov. Dharmasraya Kab. Merangin Kab.

Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Banyuasin kab. Empat Lawang Kab. Lampung Selatan Kab. Ogan Komering Ulu Kab.Halaman 3 . Ogan Komering Ulu Timur Kota Lubuk Linggau Kota Pagar Alam Kota Palembang Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 WDP 12 1 WDP 1 1 TW TW 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Bengkulu Tengah Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Lampung Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 Prov. Tulang Bawang Barat Kab. Tulang Bawang Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP 1 WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 No 8 9 10 11 12 6 99 100 101 102 103 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Mesuji Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Prov. Sumatera Selatan Kab. Bengkulu Kab. Lampung Timur Kab. Pesawaran Kab. Lampung Tengah Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP 1 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP 0 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 3 . Muara Enim Kab. Lebong Kab. Lahat Kab. Kaur Kab. Tanggamus Kab. Lampung Barat Kab. Ogan Ilir Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Prov. Bengkulu Utara Kab. Muko-Muko Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Total WDP WDP WDP WDP WTP Prov. Musi Rawas Kab. Seluma Kota Bengkulu 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 0 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 8 Prov. Musi Banyuasin Kab. Lampung Utara Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Kepahiang Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Rejang Lebong Kab. Pringsewu Kab. Bengkulu Selatan Kab.

Majalengka Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 147 148 149 150 151 152 153 Prov. Cirebon Kab. Bangka Kab. Indramayu Kab. Bandung Barat Kab. Cianjur Kab. Ciamis Kab. Karimun Kab. Bintan Kab. Bangka Selatan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 9 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Belitung Timur Kota Pangkal Pinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 Prov. Kuningan Kab. Sukabumi Kab. Lingga Kab. Kepulauan Riau Kab. Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 WDP TMP 8 19 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 . Sumedang Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 155 156 157 158 159 160 161 Prov. Bangka Barat Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Prov. Belitung Kab.Halaman 4 . Kepulauan Anambas Kab. Natuna Kota Batam Kota Tanjungpinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 11 Prov. Bekasi Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Subang Kab. Bangka Tengah Kab. Jawa Barat Kab. Bandung Kab. Purwakarta Kab. Bangka Belitung Kab. Karawang Kab. DKI 1 1 WDP 0 1 1 WDP 12 Prov. Garut Kab. Bogor Kab.

Temanggung Kab. Banjarnegara Kab. Sragen Kab. Pemalang Kab. Sleman Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 0 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Karanganyar Kab. Semarang Kab. Klaten Kab.Halaman 5 .Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 13 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Boyolali Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 2 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 Prov. Blora Kab. Bojonegoro 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 0 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 5 . Demak Kab. Banyumas Kab. Yogyakarta Kab. Gunung Kidul Kab. Bangkalan Kab. Purworejo Kab. Kendal Kab. Magelang Kab. Pekalongan Kab. Wonogiri Kab. Brebes Kab. Sukoharjo Kab. Tegal Kab. Banyuwangi Kab. Jawa Timur Kab. Kulon Progo Kab. Blitar Kab.I. Jepara Kab. Bantul Kab. Purbalingga Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 227 228 229 230 231 Prov. D. Pati Kab. D. Kebumen Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 232 233 234 235 236 Prov. Cilacap Kab. Jawa Tengah Kab. Rembang Kab. Batang Kab. Grobogan Kab.I. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Prov. Kudus Kab.

Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 280 281 282 283 284 285 Prov. Banten Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 0 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 17 Prov. Malang Kab. Jember Kab. Tulungagung Kota Batu Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW Prov. Pamekasan Kab. Jembrana 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 0 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 6 . Probolinggo Kab. Pandeglang Kab. Buleleng Kab. Sampang Kab. Lumajang Kab. Sidoarjo Kab. Madiun Kab. Gianyar Kab. Lebak Kab. Sumenep Kab. Gresik Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Prov. Trenggalek Kab. Tuban Kab. Bondowoso Kab.Halaman 6 . Bali Kab. Jombang Kab. Bangli Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 16 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Pacitan Kab. Mojokerto Kab. Lamongan Kab. Nganjuk Kab. Badung Kab. Situbondo Kab. Kediri Kab. Serang Kab. Pasuruan Kab. Ponorogo Kab. Ngawi Kab. Magetan Kab.

Lombok Tengah Kab. Manggarai Kab. Manggarai Timur Kab. Nusa Tenggara Timur Kab. Manggarai Barat Kab. Klungkung Kab. Ende Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 Prov. Kapuas Hulu Kab Kayong Utara Kab. Sabu Raijua Kab. Dompu Kab. Nusa Tenggara Barat Kab. Melawi Kab. Karangasem Kab. Lombok Barat Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 Prov. Sumbawa Barat Kota Bima Kota Mataram 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 1 WDP 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Ketapang Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Lombok Timur Kab. Flores Timur Kab. Rote Ndao Kab. Nagekeo Kab. Kupang Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Prov. Sumbawa Kab. Sumba Timur Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 No 7 8 9 10 18 286 287 288 289 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Tabanan Kota Denpasar Total WDP WDP WDP WDP Prov. Pontianak Kab. Bengkayang Kab. Kalimantan Barat Kab.Halaman 7 . Bima Kab. Lombok Utara Kab. Landak Kab. Alor Kab. Sikka Kab. Sambas 1 1 1 TW WDP WDP 1 1 WDP TW 1 TW 7 8 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP 7 . Timor Tengah Utara Kota Kupang 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 TMP 17 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP 1 TMP 4 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 20 Prov. Ngada Kab. Belu Kab. Sumba Barat Daya Kab. Kubu Raya Kab. Sumba Tengah Kab. Lembata Kab. Sumba Barat Kab.

Murung Raya Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Kotawaringin Timur Kab. Barito Kuala Kab. Barito Selatan Kab. Kalimantan Selatan Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Prov. Lamandau Kab. Sanggau Kab. Kapuas Kab. Kutai Barat Kab. Sekadau Kab. Sukamara Kota Palangkaraya 1 1 TW TW 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW 1 TMP 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW TMP TW TW 22 Prov. Malinau Kab. Paser Kab. Penajam Paser Utara Kab. Kalimantan Timur Kab. Kotawaringin Barat Kab. Tanah Bumbu Kab. Tana Tidung Kota Balikpapan Kota Bontang 1 1 1 1 1 TW TW TW TMP WDP 1 WDP 9 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TW TMP TMP WDP 6 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP 8 . Seruyan Kab. Gunung Mas Kab. Pulang Pisau Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Tabalong Kab. Berau Kab. Kalimantan Tengah Kab.Halaman 8 . Kutai Timur Kab. Barito Timur Kab. Kotabaru Kab. Kutai Kartanegara Kab. Tapin Kota Banjarbaru Kota Banjarmasin 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 TW TW WDP WDP WDP 1 WDP 10 1 WDP 1 WDP 4 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 WDP 1 TW TMP WDP 1 1 1 1 1 No 11 12 13 14 15 21 333 334 335 336 337 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Total WDP TMP WDP WDP TW Prov. Tanah Laut Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Balangan Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 Prov. Katingan Kab. Bulungan Kab. Nunukan Kab. Barito Utara Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 Prov. Banjar Kab.

Banggai Kab. Jeneponto Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Bantaeng Kab. Banggai Kepulauan Kab. Pinrang Kab. Buol Kab. Sinjai 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 14 1 WDP 1 WDP 11 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 9 . Kepulauan Sangihe Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Donggala Kab. Poso Kab. Bolaang Mongondow Kab. Bulukumba Kab. Minahasa Tenggara Kab. Selayar Kab. Sigi Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 Prov. Luwu Timur Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 Prov. Minahasa Utara Kota Bitung Kota Kotamobagu Kota Manado Kota Tomohon 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 TW 1 1 1 1 1 WDP TW WDP TMP WDP 1 1 TW TMP 12 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW TMP WDP WDP WDP TW TW 25 Prov. Toli-Toli Kota Palu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 0 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov.Halaman 9 . Siau Tagulandang Biaro Kab. Sulawesi Utara Kab. Morowali Kab. Luwu Utara Kab. Bone Kab. Sulawesi Tengah Kab. Sidenreng Rappang Kab. Tojo Una-Una Kab. Minahasa Selatan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 WDP TW 1 1 No 14 15 24 380 381 Entitas Pemerintah Daerah Kota Samarinda Kota Tarakan Total TW WDP Prov. Minahasa Kab. Barru Kab. Sulawesi Selatan Kab. Parigi Moutong Kab. Luwu Kab. Enrekang Kab. Pangkajene dan Kepulauan Kab. Kepulauan Talaud Kab. Kep. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 Prov. Kep. Gowa Kab. Bolaang Mongondow Utara Kab. Maros Kab.

Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 Prov. Majene Kab. Muna Kab. Buru Kab. Seram Bagian Barat Kab. Maluku Tenggara Kab. Kepulauan Aru Kab. Pohuwato Kota Gorontalo 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 0 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Maluku Kab. Konawe Selatan Kab. Gorontalo Kab. Maluku Barat Daya Kab. Buru Selatan Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 449 450 451 452 453 454 Prov. Polewali Mandar 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 5 1 WDP 1 WDP 1 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Bombana Kab. Buton Utara Kab. Tana Toraja Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 Prov. Maluku Tenggara Barat Kab. Kolaka Utara Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 No 18 19 20 21 22 23 24 25 27 427 428 429 430 431 432 433 434 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Gorontalo Utara Kab. Konawe Utara Kab. Seram Bagian Timur Kota Ambon 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 0 9 1 1 1 TMP TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP 10 . Konawe Kab. Wakatobi Kota Bau-Bau Kota Kendari 1 1 1 1 TMP TW TMP WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 TMP 8 1 TMP 1 TMP 5 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Gorontalo Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 456 457 458 459 460 Prov. Mamasa Kab. Mamuju Kab. Kolaka Kab.Halaman 10 . Sulawesi Tenggara Kab. Boalemo Kab. Buton Kab. Toraja Utara Kab. Soppeng Kab. Mamuju Utara Kab. Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP Prov. Sulawesi Barat Kab. Maluku Tengah Kab. Takalar Kab. Bone Bolango Kab.

Papua Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 513 514 515 516 517 518 Prov. Mamberamo Raya Kab. Halmahera Selatan Kab. Yalimo Kota Jayapura 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 9 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 13 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Puncak Jaya Kab. Halmahera Tengah Kab. Tolikara Kab. Jayawijaya Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 TMP 1 No 12 31 472 Entitas Pemerintah Daerah Kota Tual Total TMP Prov. Pegunungan Bintang Kab. Biak Numfor Kab. Boven Digoel Kab. Yahukimo Kab. Manokwari Kab. Intan Jaya Kab. Halmahera Timur Kab. Maluku Utara Kab. Jayapura Kab. Pulau Morotai Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan 1 TW 1 WDP 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Mappi Kab. Papua Kab. Lanny Jaya Kab. Waropen Kab. Kepulauan Sula Kab. Fakfak Kab. Keerom Kab. Sarmi Kab. Puncak Kab. Mimika Kab. Halmahera Utara Kab. Papua Barat Kab. Paniai Kab. Nabire Kab.Halaman 11 . Maybrat Kab. Merauke Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 Prov. Nduga Kab. Supiori Kab. Asmat Kab. Halmahera Barat Kab. Kepulauan Yapen Kab. Kaimana Kab. Mamberamo Tengah Kab. Dogiyai Kab. Raja Ampat 1 TMP 1 1 TMP 1 WDP 2 7 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP * TMP 11 . Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 Prov. Deiyai Kab.

Sorong Selatan Kab.Halaman 12 . Teluk Bintuni Kab. Tambrauw Kab. Sorong Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 348 WDP 151 TMP TMP TMP 1 1 1 1 499 No 7 8 9 10 11 12 519 520 521 522 523 524 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Teluk Wondama Kota Sorong JUMLAH Total TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 12 .

Dairi Kab. Aceh Besar Kab. Simalungun 1 WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 1 WDP TW TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 26 1 1 TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP WDP WDP TMP TMP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP TMP 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP 13 . Asahan Kab.Halaman 1 . Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Prov. Humbang Hasundutan Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Samosir Kab. Batubara Kab. Nias Kab. Padang Lawas Utara Kab. Aceh Barat Kab. Pidie Kab. Sumatera Utara Kab. Aceh Tenggara Kab. Pakpak Bharat Kab. Aceh Tamiang Kab. Serdang Bedagai Kab. Aceh Jaya Kab. Aceh Kab. Aceh Tengah Kab. 1 Prov. Nias Barat Kab. Nias Utara Kab. Labuhanbatu Utara Kab.2009 No. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 18 22 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 22 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WTP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WTP WDP WTP WDP WTP WTP WTP WTP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Langkat Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Timur Kab.Lampiran 1b Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005 . Pidie Jaya Kab. Bener Meriah Kab. Bireuen Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Utara Kab. Mandailing Natal Kab. Gayo Lues Kab. Nagan Raya Kab. Nias Selatan Kab. Padang Lawas Kab. Karo Kab. Aceh Selatan Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Labuhanbatu Kab. Deli Serdang Kab.

Kampar Kab. Indragiri Hulu Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi LKPD 2005 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP TW * TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Prov. Dharmasraya Kab. Tapanuli Utara Kab. Pelalawan Kab. Pesisir Selatan Kab. Agam Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Pasaman Barat Kab. Lima Puluh Kota Kab. Riau Kab. Siak Kota Dumai 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 WDP 9 1 WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 . 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 3 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Sumatera Barat Kab. Kep. Pasaman Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Prov. Sijunjung Kab. Solok Kab. Rokan Hilir Kab. Kuantan Singingi Kab. Rokan Hulu Kab. Padang Pariaman Kab.Halaman 2 . Solok Selatan Kab. Bengkalis Kab. Kepulauan Meranti Kab. Indragiri Hilir Kab.Lampiran 1b No. Tapanuli Tengah Kab. Mentawai Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Tapanuli Selatan Kab.

Merangin Kab.Halaman 3 . Tebo 102 Kota Jambi 103 Kota Sungai Penuh 6 Prov. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 92 93 94 95 96 97 98 99 Prov. Lahat 108 Kab. Batanghari Kab. 13 5 91 Entitas Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru LKPD 2005 1 WDP LKPD 2006 1 WDP LKPD 2007 1 WDP LKPD 2008 1 WTP LKPD 2009 1 WDP Prov. Jambi Kab. Muara Enim 109 Kab. Banyuasin 106 kab. Bengkulu Tengah 123 Kab. Ogan Komering Ilir 113 Kab. Musi Banyuasin 110 Kab. Bungo Kab. Seluma 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 6 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 15 . Ogan Komering Ulu Timur 116 Kota Lubuk Linggau 117 Kota Pagar Alam 118 Kota Palembang 119 Kota Prabumulih 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 WDP TMP 15 1 1 WDP WDP 15 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Bengkulu Utara 124 Kab. Musi Rawas 111 Kab. Kaur 125 Kab. Empat Lawang 107 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan 115 Kab. Ogan Ilir 112 Kab. Kerinci Kab. Bengkulu 121 Kab. Tanjung Jabung Timur 101 Kab. Ogan Komering Ulu 114 Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 Prov. Lebong 127 Kab. Tanjung Jabung Barat 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 WDP WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP 100 Kab. Rejang Lebong 129 Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 Prov. Muko-Muko 128 Kab. Bengkulu Selatan 122 Kab. Kepahiang 126 Kab.Lampiran 1b No. Sumatera Selatan 105 Kab.

Way Kanan 144 Kota Bandar Lampung 145 Kota Metro 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 11 11 11 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 9 Prov. Lampung 132 Kab. Bangka Barat 149 Kab. Bangka Belitung 147 Kab. Lampung Timur 136 Kab.Lampiran 1b No. Tanggamus 141 Kab. Karimun 157 Kab. Belitung Timur 153 Kota Pangkal Pinang 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 6 8 8 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Prov. Bekasi 167 Kab. DKI 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 WDP 1 WDP 1 12 Prov. Bandung 165 Kab. Kepulauan Anambas 158 Kab. Bandung Barat 166 Kab. Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 8 Prov. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 163 Prov.Halaman 4 . Pesawaran 139 Kab. Bangka Selatan 150 Kab. Natuna 160 Kota Batam 161 Kota Tanjungpinang 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 5 7 7 WDP TMP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 1 11 Prov. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 Prov. Lampung Tengah 135 Kab. Belitung 152 Kab. Bogor 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 23 26 26 WDP WDP 1 1 WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 16 . Lampung Selatan 134 Kab. Tulang Bawang Barat 143 Kab. Lingga 159 Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 Prov. Bangka 148 Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 Prov. Mesuji 138 Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Pringsewu 140 Kab. Lampung Barat 133 Kab. Jawa Barat 164 Kab. Lampung Utara 137 Kab. Kepulauan Riau 155 Kab. Bangka Tengah 151 Kab. Bintan 156 Kab. Tulang Bawang 142 Kab.

Kudus 206 Kab. Kendal 204 Kab. Grobogan 200 Kab. Sukabumi 179 Kab. Pemalang 210 Kab. Purbalingga 211 Kab. Batang 194 Kab. Garut 172 Kab. Cianjur 170 Kab.Lampiran 1b No. Magelang 207 Kab. Klaten 205 Kab. Karawang 174 Kab. Sragen 215 Kab. Majalengka 176 Kab. Brebes 197 Kab. Tasikmalaya 181 Kota Bandung 182 Kota Banjar 183 Kota Bekasi 184 Kota Bogor 185 Kota Cimahi 186 Kota Cirebon 187 Kota Depok 188 Kota Sukabumi 189 Kota Tasikmalaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Blora 195 Kab. Ciamis 169 Kab. Kuningan 175 Kab. Kebumen 203 Kab. Cilacap 198 Kab. Cirebon 171 Kab. Sukoharjo 216 Kab. Banjarnegara 192 Kab. Jawa Tengah 191 Kab. Banyumas 193 Kab. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 13 Entitas Pemerintah Daerah 168 Kab. Jepara 201 Kab. Tegal 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WTPDPP 17 . Rembang 213 Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 190 Prov. Pati 208 Kab. Pekalongan 209 Kab. Purwakarta 177 Kab. Indramayu 173 Kab. Sumedang 180 Kab. Boyolali 196 Kab. Demak 199 Kab. Semarang 214 Kab.Halaman 5 . Subang 178 Kab. Purworejo 212 Kab. Karanganyar 202 Kab.

Kulon Progo 230 Kab. Gresik 239 Kab. D. Wonosobo 220 Kota Magelang 221 Kota Pekalongan 222 Kota Salatiga 223 Kota Semarang 224 Kota Surakarta 225 Kota Tegal LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP Prov. Nganjuk 249 Kab. Madiun 245 Kab. Yogyakarta 227 Kab. Bojonegoro 237 Kab. Jawa Timur 233 Kab. Temanggung 218 Kab. Blitar 236 Kab.I. Pamekasan 252 Kab. Bondowoso 238 Kab. Mojokerto 248 Kab. Bangkalan 234 Kab. Trenggalek 260 Kab. Probolinggo 255 Kab. Pasuruan 253 Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 Prov. Jember 240 Kab. Jombang 241 Kab. Sampang 256 Kab. Lumajang 244 Kab. 28 29 30 31 32 33 34 35 36 14 Entitas Pemerintah Daerah 217 Kab.Halaman 6 . Malang 247 Kab. Situbondo 258 Kab. Wonogiri 219 Kab.Lampiran 1b No. Banyuwangi 235 Kab. D. Sleman 231 Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Tuban 261 Kab. Kediri 242 Kab. Ponorogo 254 Kab. Tulungagung 262 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 26 1 WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TW WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP TW WDP TW WDP TMP WDP WDP TMP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 18 . Sumenep 259 Kab. Lamongan 243 Kab.I. Ngawi 250 Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 232 Prov. Pacitan 251 Kab. Sidoarjo 257 Kab. Magetan 246 Kab. Bantul 228 Kab. Gunung Kidul 229 Kab.

Tabanan 289 Kota Denpasar 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP 18 Prov. Badung 282 Kab. Nusa Tenggara Barat 291 Kab.Lampiran 1b No. Klungkung 288 Kab. Jembrana 286 Kab. 32 33 34 35 36 37 38 39 16 Entitas Pemerintah Daerah 263 Kota Blitar 264 Kota Kediri 265 Kota Madiun 266 Kota Malang 267 Kota Mojokerto 268 Kota Pasuruan 269 Kota Probolinggo 270 Kota Surabaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 WDP WDP 1 1 1 Prov. Bima 292 Kab. Buleleng 284 Kab. Lombok Barat 294 Kab. Tangerang 276 Kota Cilegon 277 Kota Serang 278 Kota Tangerang 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WTP 7 7 7 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WTP 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 17 Prov. Lebak 273 Kab. Bali 281 Kab. Gianyar 285 Kab. Sumbawa Barat 299 Kota Bima 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Sumbawa 298 Kab. Lombok Utara 297 Kab.Halaman 7 . Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 280 Prov. Lombok Timur 296 Kab. Serang 275 Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 Prov. Nusa Tenggara Timur 302 Kab. Karangasem 287 Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 301 Prov. Lombok Tengah 295 Kab. Dompu 293 Kab. Pandeglang 274 Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 Prov. Bangli 283 Kab. Alor 15 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 21 1 1 WDP TMP 19 . Banten 272 Kab.

Bengkayang 325 Kab. Manggarai Barat 310 Kab. Nagekeo 312 Kab. Flores Timur 306 Kab. Sumba Timur 320 Kab. Lembata 308 Kab. Sumba Barat 317 Kab. Manggarai Timur 311 Kab. Ketapang 328 Kab. Sintang 336 Kota Pontianak 337 Kota Singkawang 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WTP WDP WTP 1 TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WTP WTP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 11 1 1 1 TMP TMP WDP 13 1 1 1 TW TMP WDP 13 1 1 1 TMP TMP TW 14 1 1 1 1 1 TMP TW TW TMP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP WDP TMP WDP WDP TW 21 Prov. Sekadau 335 Kab. Kotawaringin Timur 347 Kab. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 20 Entitas Pemerintah Daerah 303 Kab.Lampiran 1b No. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 323 Prov. Kupang 307 Kab. Sambas 333 Kab. Sumba Barat Daya 318 Kab. Barito Timur 341 Kab. Ngada 313 Kab. Timor Tengah Selatan 321 Kab. Sikka 316 Kab. Manggarai 309 Kab. Gunung Mas 343 Kab. Ende 305 Kab. Kalimantan Tengah 339 Kab. Kapuas 344 Kab. Katingan 345 Kab. Rote Ndao 314 Kab. Sabu Raijua 315 Kab. Landak 330 Kab. Kapuas Hulu 326 Kab Kayong Utara 327 Kab. Kotawaringin Barat 346 Kab. Sumba Tengah 319 Kab. Sanggau 334 Kab.Halaman 8 . Barito Selatan 340 Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 338 Prov. Kalimantan Barat 324 Kab. Pontianak 332 Kab. Lamandau 348 Kab. Melawi 331 Kab. Murung Raya 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP TW WDP WDP TMP TW WDP TW WDP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TW WDP TW TW WDP TW TW TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TMP TW TW TW WDP WDP TW TW TW 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW 20 . Barito Utara 342 Kab. Timor Tengah Utara 322 Kota Kupang LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 TMP 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 Prov. Kubu Raya 329 Kab. Belu 304 Kab.

Kalimantan Selatan 354 Kab. Hulu Sungai Utara 360 Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 Prov. Balangan 355 Kab. Hulu Sungai Selatan 358 Kab. Bulungan 370 Kab. Tanah Bumbu 363 Kab. Bolaang Mongondow 384 Kab.Lampiran 1b No. Kutai Kartanegara 372 Kab. Tana Tidung 378 Kota Balikpapan 379 Kota Bontang 380 Kota Samarinda 381 Kota Tarakan 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TW TW TMP TMP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 WDP TW WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TMP TW TW TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TW WDP TW WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP TW WDP 24 Prov. Kutai Barat 371 Kab. Tabalong 362 Kab. Minahasa 391 Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 382 Prov. Bolaang Mongondow Utara 387 Kab. Bolaang Mongondow Timur 386 Kab. Tapin 365 Kota Banjarbaru 366 Kota Banjarmasin 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 13 1 WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TW TW WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TW WDP WDP WDP WDP TW TW WDP TW WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 367 Prov. Hulu Sungai Tengah 359 Kab.Halaman 9 . Berau 369 Kab. Siau Tagulandang Biaro 389 Kab. Bolaang Mongondow Selatan 385 Kab. Kep. Seruyan 351 Kab. Banjar 356 Kab. Kepulauan Talaud 390 Kab. Tanah Laut 364 Kab. Kepulauan Sangihe 388 Kab. Nunukan 375 Kab. Minahasa Selatan 1 1 WDP TMP 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 WDP 1 WDP 1 TMP **** TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP TW 8 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP WDP 14 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW 21 . Malinau 374 Kab. Kutai Timur 373 Kab. Penajam Paser Utara 377 Kab. Kotabaru 361 Kab. Paser 376 Kab. Kalimantan Timur 368 Kab. Barito Kuala 357 Kab. Sukamara 352 Kota Palangkaraya LKPD 2005 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 TW TMP TW TW Prov. Sulawesi Utara 383 Kab. 12 13 14 15 22 Entitas Pemerintah Daerah 349 Kab. Pulang Pisau 350 Kab.

Enrekang 416 Kab. Luwu Utara 422 Kab. Sinjai 427 Kab. Sigi 407 Kab. Sulawesi Tengah 399 Kab. Barru 413 Kab. Morowali 404 Kab. 11 12 13 14 15 16 25 Entitas Pemerintah Daerah 392 Kab.Lampiran 1b No. Pinrang 425 Kab. Parigi Moutong 405 Kab. Minahasa Utara 394 Kota Bitung 395 Kota Kotamobagu 396 Kota Manado 397 Kota Tomohon LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 1 TMP WDP WDP WDP WDP TW LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TW TW 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 TMP WDP TW TMP 1 1 1 1 TMP WDP **** TMP WDP 1 1 1 1 1 Prov. Banggai Kepulauan 401 Kab. Takalar 429 Kab. Bantaeng 412 Kab. Jeneponto 418 Kab. Donggala 403 Kab. Wajo 432 Kota Makassar 433 Kota Palopo 434 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 22 . Bulukumba 415 Kab. Minahasa Tenggara 393 Kab. Selayar 419 Kab. Toraja Utara 431 Kab. Bone 414 Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 Prov. Kep. Luwu Timur 421 Kab. Banggai 400 Kab. Luwu 420 Kab. Tana Toraja 430 Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 410 Prov. Sulawesi Selatan 411 Kab. Pangkajene dan Kepulauan 424 Kab. Tojo Una-Una 408 Kab. Maros 423 Kab. Buol 402 Kab. Toli-Toli 409 Kota Palu 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 WTP DPP 1 1 WTP WTP DPP 8 1 1 1 WDP WDP WTP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP TMP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Soppeng 428 Kab.Halaman 10 . Poso 406 Kab. Sidenreng Rappang 426 Kab. Gowa 417 Kab.

Maluku 462 Kab. Gorontalo Utara 453 Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 Prov. Kolaka 440 Kab. Buru 463 Kab. Gorontalo 452 Kab. Seram Bagian Barat 470 Kab. Seram Bagian Timur 471 Kota Ambon 472 Kota Tual 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 4 1 1 WDP WDP 9 1 1 TMP WDP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP TMP 23 . Mamuju Utara 460 Kab. Boalemo 450 Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 Prov. Polewali Mandar 1 1 WDP WDP 4 1 1 WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Maluku Tenggara Barat 469 Kab. Sulawesi Barat 456 Kab. Buru Selatan 464 Kab. Bombana 437 Kab. Mamuju 459 Kab. Wakatobi 446 Kota Bau-Bau 447 Kota Kendari 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TW 1 WTP 8 1 WTP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW TW TMP TMP TMP TMP TMP TW TW 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Bone Bolango 451 Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 461 Prov.Halaman 11 . Maluku Tenggara 468 Kab. Mamasa 458 Kab. Buton Utara 439 Kab. Konawe 442 Kab. Kolaka Utara 441 Kab.Lampiran 1b No. Buton 438 Kab. Muna 445 Kab. Maluku Barat Daya 466 Kab. Sulawesi Tenggara 436 Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 Prov. Majene 457 Kab. Gorontalo 449 Kab. Konawe Utara 444 Kab. Kepulauan Aru 465 Kab. Maluku Tengah 467 Kab. 27 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Pohuwato 454 Kota Gorontalo 1 1 WDP WDP 1 1 6 1 1 1 1 WTP WTP DPP WDP WDP 6 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP **** WDP WDP 7 1 1 1 1 1 1 1 WTP TMP WDP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Konawe Selatan 443 Kab.

Mimika 500 Kab. Puncak Jaya 506 Kab. Mamberamo Tengah 497 Kab. 31 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Jayapura 491 Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 Prov. Boven Digoel 487 Kab. Keerom 493 Kab. Maluku Utara 474 Kab. Halmahera Tengah 477 Kab. Pegunungan Bintang 504 Kab. Sarmi 507 Kab. Halmahera Timur 478 Kab. Yahukimo 511 Kab.Lampiran 1b No. Merauke 499 Kab. Lanny Jaya 495 Kab. Papua Barat 514 Kab. Supiori 508 Kab. Kaimana 516 Kab. Fakfak 515 Kab. Nduga 502 Kab.Halaman 12 . Pulau Morotai 481 Kota Ternate 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Yalimo 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 1 TMP 1 1 1 1 TMP TW TW TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 1 TMP TMP 1 1 TMP WDP 1 1 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 WDP 1 1 1 TW TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 1 WDP 6 1 TW 18 1 1 1 1 TW TMP TW TMP 21 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Mappi 498 Kab. Biak Numfor 486 Kab. Manokwari 2 1 WDP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP 24 . Halmahera Utara 479 Kab. Nabire 501 Kab. Dogiyai 489 Kab. Kepulauan Yapen 494 Kab. Papua 484 Kab. Tolikara 509 Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 513 Prov. Halmahera Barat 475 Kab. Intan Jaya 490 Kab. Kepulauan Sula 480 Kab. Jayawijaya 492 Kab. Mamberamo Raya 496 Kab. Waropen 510 Kab. Asmat 485 Kab. Deiyai 488 Kab. Puncak 505 Kab. Halmahera Selatan 476 Kab. Paniai 503 Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 Prov.

Raja Ampat 519 Kab. Teluk Wondama 524 Kota Sorong JUMLAH LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 * 1 1 1 1 1 362 WDP 1 463 TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 469 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 485 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 499 TMP TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 25 . Maybrat 518 Kab.Lampiran 1b No. Teluk Bintuni 523 Kab. Sorong Selatan 521 Kab. Tambrauw 522 Kab. 5 6 7 8 9 10 11 12 Entitas Pemerintah Daerah 517 Kab. Sorong 520 Kab.Halaman 13 .

460 100.Lampiran 2 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 754 455 208 10 74 6 1 530 210 69 149 26 42 30 4 176 90 64 16 4 2 Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 1.05 36.64 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 5 Lain-lain 26 .30 51.Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai 6 Lain-lain II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.00 12.

50 25.752.87 152.16 30.45 3.252.747.30 2.377.924.99 59.18 3.558.00 521.11 106.32 43.80 46.64 24.88 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian 12 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.24 8.132.12 94.771.95 80.82 27.317.835.11 3. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 10 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 31.419.80 476.49 9.Halaman 1 .47 7.155.32 370.Lampiran 3 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .284.125.34 166.29 54.77 35.872.20 22.572.52 207.72 83.053.13 % Nilai (juta Rp) 556.839.75 8.42 144.34 14.224.687.415.142.249.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 729 76 16 155 101 26 71 90 15 143 6 3 27 119 7 5 24 2 14 3 3 39 2 20 398 321 17.92 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 6 Lain-lain IV Administrasi 65 1 3 5 3 862 364 37.16 5.365.14 276.077.42 38.565.08 8.84 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 27 .753.

04 3.84 61.00 28 .42 4.03 4. 8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum 9 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 11 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 12 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 13 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 14 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 15 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1 93 54 71 28 58 6 25 74 1 4 69 1 1 0.352.30 91.320 5.60 4.60 0.03 86. perpajakan.70 sehingga 100.271.113.027.86 6.010.761.20 13.53 477. dll.00 1.63 33.430. pertambangan.326.Halaman 2 .33 7.19 95.Lampiran 3 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 9 45 7 8 65 28 % Nilai (juta Rp) - % 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.929.933.23 445.384.33 6.66 1 Penggunaan kuantitas input untuk satu satuan output lebih besar/ tinggi dari yang seharusnya VII Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 137 73 5 32 3 15 5 4 2.91 195.48 100.76 131.384.761.

00 1.15 20.741.56 10. Bireuen 5 3 10 10 Kab.00 3.279.74 1 1 9 527.61 17.93 2 2.724.26 350.73 1.80 3 651.93 3.09 7 14 175 130. Aceh Tamiang 5 1 6 6 Kab.06 108 49.01 3 625.52 6 1 19 7.069.144.75 2 395.312.65 162.61 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 90 38 1 1 Provinsi Aceh 15 5 2 2 Kab.56 1 16 4.30 8.00 10 1.73 4 432.192.87 4 517.45 28 9.094.615.214.11 39 6.00 125.416. Nias Selatan 7 4 5 19 Kab.24 295.50 11. Tapanuli Selatan 14 7 9 23 Kab.22 3.18 62.968.14 1.54 7.792.53 Nilai (22) 52.12 1 1 1 1 1 10 3.08 462.61 3.23 29. Aceh Barat Daya 5 2 3 3 Kab.21 429.40 584.23 4 3 20 5.41 1 498. Pidie 6 2 11 11 Kab.38 1.33 131.385.Lampiran 4 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 38 8 2 2 1 1 5 4 2 1 2 4 2 4 44 1 6 1 3 3 3 3 4 3 4 2 1 2 4 2 2 13 1 6 32 1 11 5 21 20 4.Halaman 1 .077.482.56 2.78 2.437.39 1 2 14 24.062.04 1 1.579.738.62 16.66 9 2 18 1. Aceh Tenggara 8 2 7 7 Kab.61 55.69 7 55. Aceh Timur 9 5 8 8 Kab.30 696.66 1.36 1 42.27 841.30 801.31 47.96 9 4.828.34 1 15 10.07 1 2 12 1.21 24.926.038.86 304.356.953.60 291.71 721.78 14 5.60 2.72 89 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 3.20 288.589.65 102.446.01 3.99 5.51 2.00 52.76 527.399.56 1.386.21 2 43.364.75 2.307.119.572.689.24 2 2 9 151.466.20 1.70 424.762 - Jml Kasus (20) 8 5 1 1 1 16 2 1 1 2 2 1 1 4 2 Nilai (21) 55.42 6 381. Tapanuli Tengah 10 6 10 24 Kab.744.929. Aceh Jaya 2 1 5 5 Kab.56 1 15 5.560.47 1 75.00 870.611.529.954.690.220. Nias 7 5 4 18 Kab.25 3 13 9. Simalungun 10 6 8 22 Kab.789.13 2 9.191.35 5.762 4.364.02 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 - Nilai (19) 4.33 6 9 3.119.621.57 - Nilai (23) - Nilai (24) 176.46 174.03 67.05 3 917.456.01 5.91 1 659.23 2.328.838.87 7 1.86 3 1 13 3.43 111.40 3.57 172.11 1 11 651.41 845.13 3 322.84 1 1.49 2.175.240.49 1 17.82 5 1 14 671.993.893.29 1 4 41 2 4 2 2 1 4 6 1 3 2 2 4 1 6 1 1 8 1.678.152.97 19. Aceh Besar 5 3 4 4 Kab. Bener Meriah 5 3 9 9 Kab.85 2 2.453.556.959.055.73 73.03 30. Toba Samosir 7 2 11 25 Kota Binjai 4 2 12 26 Kota Medan 6 0 13 27 Kota Padangsidimpuan 5 2 14 28 Kota Pematangsiantar 9 5 15 29 Kota Sibolga 7 4 16 30 Kota Tanjungbalai 4 2 29 .99 5 421.16 4.540.25 1.734.09 60.37 4 5 7 9 4 13 3 7 3 15 9.259.304.909.01 5 2.49 1.82 1.41 19.147.50 1.152.24 22.27 317. Padang Lawas 7 2 6 20 Kab.530.70 1. Simeulue 7 2 13 13 Kota Langsa 4 2 14 14 Kota Subulussalam 8 3 2 Provinsi Sumatera Utara 124 58 1 15 Kab.25 22 259 116.965.59 7 7 9 9 6 7 6 5 4 7 81 3 5 5 5 6 5 3 7 7 8 7 6 9 2 3 13 2.121.55 12 1.80 489.50 557. Pidie Jaya 6 4 12 12 Kab.14 88.75 5 844.107.737.95 208.10 77.61 573.60 3 546.25 75.615.26 21 1.80 1.28 3 76.283.557.56 4 2.215. Batubara 9 6 2 16 Kab.12 2 97.19 15.36 95.90 3. Padang Lawas Utara 8 2 7 21 Kab. Deli Serdang 10 3 3 17 Kab.59 1 11.80 3 14 754.06 6 1 1 2 7 1 1 1 1 1 1 1 2 19 102.19 6.41 279.

90 7 355.496.48 3 1.46 2 2.182.435.50 8.72 1 2 20 5.422.34 570.77 8 6 16 7 11 5 6 25 5 9 4 7 75 8 5 7 2 1 16 2 1 17 6.787.277.70 1.07 77.44 8 12.497.42 4 3.86 11 3 1.54 2.434.993.73 598.20 21.01 52.468.32 1 888.Kep.61 4 6.029.60 4.49 10 1 16 6.457.37 10.95 8 2.870.845.96 1 110. Kampar 7 5 5 39 Kab.398.29 15 8.162.346.158.54 2.76 1.301.00 426.75 7 19 250 132.06 86 10.395.241.62 490.303. Rokan Hilir 4 2 7 41 Kab.206.012.57 72 65.80 355. Cianjur 11 5 7 55 Kab.00 18.62 1.73 6 4.748.47 1. Indragiri Hilir 7 5 3 37 Kab.42 9 1 9 6.216.14 3.06 350.540.31 192.68 1.433.07 111.38 Nilai (22) 487.88 5 1.97 1.237.193.630.49 1.039.62 4 782.83 41 7 3.237. Bekasi 4 2 5 53 Kab.27 7 1.27 13.518.46 1.58 2 15 3.02 262.587.192.00 - Nilai (24) 42.44 9 8.749.159.90 1.94 24 6.256.813.19 6 1. Muaro Jambi 9 7 2 44 Kab.462.973.333.47 4 682.244.00 304.83 2 1.31 4 1.15 1.30 201.92 6 1.67 6. Bengkalis 11 4 2 36 Kab.65 5 2.50 1 35 14. Siak 7 4 8 42 Kota Dumai 15 7 5 Provinsi Jambi 19 13 1 43 Kab.423.722.19 2 19 4.008.75 3.90 201.543.18 1 31 7.33 94.98 245.857.67 2 496.80 1 22 40.284.65 18 6.68 6 2.081.33 4.159.07 1 5 2.27 1.44 7 4 42 73.149.32 1. Kuantan Singingi 5 3 6 40 Kab.593.988.16 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 7 3 1 3 7 1 2 3 1 3 1 2 6 3 1 2 14 5 3 1 Nilai (21) 4.26 3 107 35.65 1.25 2 500.88 5 2.60 1.28 587.733.281.505.42 11.89 19 8.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 25 3 8 5 9 23 5 1 4 1 1 3 8 3 1 2 13 5 1 3 4 54 7 4 4 2 1 6 3 1 8 3 3.069.187.117.663.999.167.505.31 2. Empat Lawang 8 5 3 47 Kota Pagar Alam 7 2 4 48 Kota Prabumulih 5 1 7 Provinsi Jawa Barat 149 76 1 49 Provinsi Jawa Barat 15 4 2 50 Kab. Ciamis 5 4 6 54 Kab.64 18.825. Indramayu 4 3 . Banyuasin 12 5 2 46 Kab.Solok Selatan 23 12 4 Provinsi Riau 65 34 1 35 Kab.84 18 14.69 2.06 331.71 5 7 3 3 1 40 8 1 2 2 5 1 1 1 12 7.59 86.186.64 854.241.245.282. Bandung Barat 13 9 4 52 Kab.493.31 3.76 4.00 356.92 5 806.002.266.18 7 1 8 168 94.21 4 1.07 1 630.62 4 3.68 1.77 8 30.720.303.936.99 373.40 6 5.310.00 370.Pasaman Barat 13 8 4 34 Kab.54 57.33 487.862.006.57 1.16 2 1.09 2 4.257.27 2. Tanjung Jabung Timur 10 6 6 Provinsi Sumatera Selatan 32 13 1 45 Kab.36 1.08 4 1. Indragiri Hulu 9 4 4 38 Kab.059.632.493.Lima Puluh Kota 11 3 3 33 Kab.14 455.50 13.080.72 1 27.96 13.067.Mentawai 5 1 2 32 Kab.282.30 Halaman 2 .00 2 3 31 12.59 16.236.79 119.88 13 1.43 1 364.971.60 29 17.909.79 1 252.84 3.295.99 1. Garut 6 3 8 56 Kab.98 42.209.071.71 7 16 2.61 4.60 175.98 2 7.03 2 18 3.88 Nilai (23) 426.686.597.172.53 24.94 1.314.768.502.00 13 3.82 16 4 20 4.14 - (1) (2) (3) (4) 3 Provinsi Sumatera Barat 52 24 1 31 Kab.95 8 1 26 4.49 13 5.45 41 6.96 2 6 12 1 4 20 1. Bandung 8 3 3 51 Kab.75 1 23 8 1 4 1 2 12 4.01 1.809.95 90.85 2.480.945.57 8 3.577.77 1 3.116.25 1.56 2 6 60 14.17 1 4.597.65 4 1 1 2 12 6 2 1 1 2 20 12.24 180.38 6 2.55 286.498.015.60 17.73 1.108.04 8 5.474.968.46 57 5 2 37 20.08 426.64 4.770.33 1 676.56 8.782.951.808.

07 193. Kapuas Hulu 13 6 4 78 Kab.225.90 4 410.86 1 344.102.02 5.844.23 1 1 18 6.919.78 2 219. Lombok Utara 8 2 10 Provinsi Nusa Tenggara Timur 65 37 1 71 Kab.01 3.42 210.21 2 706.721.654. Kayong Utara 11 7 5 79 Kab.201.23 2 15 1.57 280.13 13.73 1.31 3.25 4 28 61.11 1.91 1 9 3.92 107.346.281.25 620.09 5 351.283.098.827. Karawang 4 2 10 58 Kab.860. Sekadau 10 8 7 81 Kab.057. Tegal 6 2 2 69 Kota Pekalongan 10 4 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 8 2 1 70 Kab.09 6 1 2 3 3 3 16 270.67 4.249.29 1 8 6.40 Nilai (23) - Nilai (24) 191.03 511.49 3 198.16 819.206.27 3.77 5.44 1 264. Subang 5 3 13 61 Kab.52 555.57 3 10 6.896.326.053.09 8.701.22 45.56 516.535.75 655.50 99.90 4. Timor Tengah Utara 21 9 11 Provinsi Kalimantan Barat 95 45 1 75 Provinsi Kalimantan Barat 18 5 2 76 Kab.21 20.80 2 771.460. Manggarai Timur 12 8 3 73 Kab.223. Majalengka 13 7 12 60 Kab.846.87 5 120. Sintang 8 4 8 82 Kota Singkawang 14 4 31 .106.06 91.87 7.09 155.85 4 13 32.41 4 347.42 3 1 940.27 3 459.83 1 86.37 3.02 10 1.00 204.00 100.02 2 13 3. Landak 16 6 6 80 Kab.99 218.385.91 1 940.46 48.193.15 4 2 5 5 1 7 3 4 3 3 36 13 10 5 8 74 14 7 4 9 7 11 12 10 2 3 771.41 26.64 155.673.372.04 1 98.21 3.53 243.87 90.74 1 8.520.86 9 127 70.37 275.50 3 6.56 51.97 1 617.50 3 1.30 5 2.860.674.40 1 264.17 868.71 237.69 2 652.319.48 18.50 23.50 380.00 11.52 673.122.57 16 270.87 5 120.01 4 2 1 1 3 1 1 1 5 1 1 2 1 11 1.Halaman 3 .21 3 976. Kuningan 6 3 11 59 Kab.277.100.51 954.30 6 311. Tasikmalaya 4 2 14 62 Kota Bandung 13 7 15 63 Kota Bekasi 12 9 16 64 Kota Bogor 9 4 17 65 Kota Cimahi 7 2 18 66 Kota Depok 4 3 19 67 Kota Tasikmalaya 6 1 8 Provinsi Jawa Tengah 16 6 1 68 Kab.62 819.66 10.30 2 526.35 1.404.53 272.85 8.53 11 73 43.13 2.69 4 512.61 131.67 22 6 2 3 1 3 1 3 3 5 23 3.263.37 5.64 7.63 9 1.27 50.03 2 2.12 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 4 1 3 2 1 7 2 1 1 3 9 2 1 1 1 4 Nilai (21) 3.69 189.75 100.02 6.96 297.01 Nilai (22) 52.194.42 46.57 1 2 1 19 5.28 3 3.35 437.429.896.20 5 10 629.77 3 232.90 41.42 12.04 2 1 8 8 12 1 3 3 5 14 2 3 3 3 2 1 3 20 7.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 3 2 1 4 2 3 4 5 7 4 3 6 6 17 5 3 2 7 41 9 7 3 9 2 3 8 2 1 18 18 14 1 14 1 15 8 12 646.28 - (1) (2) (3) (4) 9 57 Kab.54 3 4 10 858.11 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 51.80 1 1 8 9.40 95.213.87 95.11 5 19 1.155.157.46 555.20 1 852.29 5.41 1 710. Sikka 11 9 4 74 Kab.53 3 119.70 150.008. Kupang 21 11 2 72 Kab.29 150.532.476.45 4 302.890.68 391.175.19 4. Bengkayang 5 5 3 77 Kab.21 110.70 1.04 1 34.

79 1 14 13.63 3 710.52 3.341.01 11 1 22 4. Sinjai 12 8 8 105 Kab.96 4 1 9 274.837.37 1.56 7.52 6 197.363. Kotabaru 10 4 3 86 Kab.628.69 1.75 793.181.95 178.29 2 4 4 6 3 2 22 15.588.82 2.20 410.30 11 1.28 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 9 5 4 3 1 2 1 1 8 1 2 2 3 Nilai (21) 8.83 2 118.877.50 - Nilai (23) - Nilai (24) 0.67 4 1 1 17 1.292.61 199.085.43 1 14 956.39 6 417.84 1 2.861.864.861. Kepulauan Selayar 14 5 3 101 Kab.21 1 3 9 2.032. Minahasa Tenggara 3 0 4 97 Kota Tomohon 2 0 16 Provinsi Sulawesi Selatan 111 60 1 98 Kab.20 2.180.42 24 7.26 5 4.84 1 2.46 7 3.38 1 1.05 7.66 43.47 706.38 5 4.92 822.70 1 158. Toraja Utara 8 1 11 108 Kota Palopo 10 4 .87 40 3 1 2 6 1 2 1 1 1 1 16 1.00 525.84 771.98 135.43 1 15 6.71 9 515.793.76 7.87 2 9 1.63 96. Jeneponto 10 8 6 100 Kab.424.08 270.84 0.00 1.34 450.424.404.29 383.06 22 3.05 3 4 12.878.09 3 37.93 1 55.62 2 49.97 7 761.18 4.31 1. Bolaang Mongondow Timur 2 0 2 95 Kab.88 5 3.758.245.57 567.013.93 16 1.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 4 4 19 4 5 7 3 41 7 4 9 7 3 11 10 2 3 3 2 43 4 1 9 1 1 4 3 2 8 6 4 2 15 1 15 1. Seruyan 12 4 13 Provinsi Kalimantan Selatan 37 14 1 84 Kab.02 49.69 8 5.36 457.14 1.69 - (1) (2) (3) (4) 12 Provinsi Kalimantan Tengah 12 4 1 83 Kab.00 1.055.88 3 116.974.670.057.25 4 65.233. Balangan 8 3 2 85 Kab.673. Takalar 14 12 9 106 Kab.04 23 18.86 416.422. Kutai Kartanegara 10 6 3 90 Kab.795.86 4 2.36 5 1 17 8.901.61 9 1 12 898.615.21 563.95 5 7 8 5 12 8 2 1 3 2 61 5 4 8 6 7 5 7 6 5 3 5 1 7 776.12 2 441.28 166. Luwu Timur 4 3 4 102 Kab.01 Nilai (22) 579.25 10.81 4 1.49 16 2.971.85 128.92 4 19 21.24 5 557.67 2.25 81.45 210.50 27.29 13.752. Kutai Timur 18 8 4 91 Kab.857.884.52 512.440.01 9.057.770.84 2.558.75 2 4 1 1 1 8 177 41.674.33 2 51.42 515.36 54.85 1 56.369.85 703.35 2.863.69 8 5.38 107.03 9 7 40.943.192.462.684.48 417.273.187.60 2 335.36 20.71 51 14.00 59.00 273.196.30 57.93 2 314.440.777.01 22 88.999.73 1 14 8.44 79.748.97 2 236.71 438.37 465.17 5 4 59 12.58 19 693.140.393.13 135.43 11 13. Minahasa Selatan 5 2 3 96 Kab.392.50 2 1 19 7.40 1.60 2 49.05 3 4 12.50 3 1.32 Halaman 4 .700.602.28 14. Bantaeng 9 5 2 99 Kab.00 7 11.46 2.90 1 2.68 8. Malinau 9 1 5 92 Kota Bontang 6 3 6 93 Kota Samarinda 22 10 15 Provinsi Sulawesi Utara 12 2 1 94 Kab.17 18 1 81.34 2 5 3 1 42 4 6 7 3 3 3 3 3 3 5 2 33 54. Maros 14 8 7 104 Kab.670. Tana Toraja 12 4 10 107 Kab. Kutai Barat 14 6 2 89 Kab.688.76 6 68.780.16 434.50 3 1.825.892.748.67 2.22 2.631.052. Tanah Bumbu 12 4 4 87 Kota Banjarbaru 7 3 14 Provinsi Kalimantan Timur 79 34 1 88 Kab.531.50 49.48 3 4 93 112.28 4 19 21.851.27 49.36 18 11.00 1 416.897.46 1.36 1.894. Luwu Utara 4 2 5 103 Kab.484.69 2.45 12 49.664.054.558.

06 7 2 17 23.459.38 5.38 291. Maluku Tenggara Barat 8 5 9 122 Kota Ambon 18 11 10 123 Kota Tual 21 9 20 Provinsi Maluku Utara 107 70 1 124 Provinsi Maluku Utara 16 10 2 125 Kab.33 378. Konawe Utara 24 12 18 Provinsi Sulawesi Barat 3 1 1 114 Kab.38 2.430.22 4 3.03 196.13 97.23 3.03 735.696.262.19 8 1.581.06 415.28 6 2 24 74.54 1 24 62. Halmahera Barat 18 11 3 126 Kab.902. Maluku Tengah 20 14 6 120 Kab.387.90 47.70 - (1) (2) (3) (4) 17 Provinsi Sulawesi Tenggara 72 34 1 109 Kab.54 9.61 295.475.62 3.488.13 1.72 3 25.806.846. Kepulauan Sula 16 9 8 131 Kota Tidore Kepulauan 9 4 33 .91 22.47 212.80 80.64 557.06 5 338.53 9.654.11 2.16 4 6 14 899.70 1 12 128 85.03 1 21.29 5 4 4 1 1 9 1 1 1 1 1 4 7 119 193.13 1 95.674.87 16 63.581.32 193.95 3 8.262.59 2. Maluku Barat Daya 19 13 5 119 Kab.70 35 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 196.196.47 4 1.648.87 2 491.030.12 4.320.902.500.14 2 13 1.31 2.932.18 3 17 12.03 142.73 5 20 4.48 5.62 7 7.743.60 20.00 43.211.13 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 2 2 2 2 6 2 1 2 1 10 1 4 1 4 Nilai (21) 4.350.944. Halmahera Timur 14 9 6 129 Kab.05 3 2 5 8 1 3 10 1.241.23 876.75 2 5 18 7.398.58 3 11.09 572.12 83.044.Halaman 5 .557.67 3 1 25 1.47 8.161.61 4.257.402.54 4.53 83.533.88 1 27 144 45.55 291.744.717.70 119. Buru 24 11 3 117 Kab.743.88 1.95 68.71 3.122. Konawe 16 7 5 113 Kab.37 4 155.82 11 10. Maluku Tenggara 19 11 7 121 Kab.106.58 59 141.95 294.54 37.44 621.00 - Nilai (23) - Nilai (24) 68.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 31 2 5 4 8 12 1 1 48 7 8 6 3 6 2 5 11 25 6 4 2 1 2 2 5 3 2 25 2 12 1 10 3 21 38.694.610.297.226.789.552.749.31 Nilai (22) 195.37 3.60 5 1.405.377. Kolaka Utara 9 3 4 112 Kab.304.71 1 8 1 4 2 1 2 24 6.66 23 1 14 6. Bombana 8 4 2 110 Kab.72 8 564.66 2.92 10.03 20 22.122.22 26.50 2.83 1 1.98 6.96 11.11 7.39 32 15.056. Halmahera Tengah 8 6 5 128 Kab.048.729.31 1 20 7.452.30 17 15. Majene 3 1 19 Provinsi Maluku 167 92 1 115 Provinsi Maluku 17 8 2 116 Kab.15 4 530. Halmahera Selatan 15 13 4 127 Kab.25 2 3.03 596.169.870.53 4 725.32 2.88 31 1 25 1.187.70 991. Buru Selatan 21 10 4 118 Kab.72 37 27. Buton Utara 15 8 3 111 Kab.00 28.773.733.30 735.69 1 786.94 148.056.72 8 564.00 2 3 15 2.890.298.95 275.91 25.605.78 4 1.51 6 11 8 8 63 4 6 9 8 8 8 8 7 5 51 6 8 6 10 5 2 5 9 2 17 5.657.30 39.67 3 212.63 5.30 4.00 7.808.659.03 3 350.44 7 5 1 2 5 4 3 3 27 2 3 4 2 5 6 5 2 9 10.744.954.90 3 1.341.227.031.41 13 8.74 14 59.944.597.00 1 17 5. Halmahera Utara 11 8 7 130 Kab.741.

86 6 4.23 778. Raja Ampat 10 7 5 149 Kab.78 1 1.798.08 170.92 1 56.289.486.871.84 Nilai (22) 1.86 1 12 4.972.66 1 457. Yahukimo 9 8 22 Provinsi Papua Barat 75 41 1 145 Provinsi Papua Barat 10 3 2 146 Kab.75 547.30 4 15.00 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 4.43 2 14 4.191.00 3 8 12.15 1 583.23 434.70 1 8 1. Mappi 5 3 4 135 Kab.76 15 13 13.61 61 72.758.649.761.60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 8 1 1 1 1 1 3 8 4 1 1 2 137 Nilai (21) 2.70 6 865.872.460 754 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .49 1 184.15 4 74 6 6.37 1 11.271.278.34 Halaman 6 .207.36 3 22 10.879.73 8 2.70 4 6 600.683.179. Puncak Jaya 5 5 9 140 Kab.83 1 153.917.946. Nabire 4 3 7 138 Kab.386.89 3 18.00 12.42 2.837.00 1.06 1 143. Dogiyai 3 3 2 133 Kab.181.207.30 5 95.936.736.79 4 3.708.44 6 10. Sorong 19 10 6 150 Kab.935.86 3 708.08 205.204.22 1 124.320 1.30 195.853.412.42 119 1 9 2.687.511.10 5 2.34 10 5.972.72 1 22 37.79 547. Jayawijaya 9 7 3 134 Kab.20 5 2 134 126.951.00 1.425.21 42 31.22 3 3 5 5 31 6 9 2 5 5 2 2 862 10 4.15 3 44.985.78 23.49 243.68 8.07 2 1.753.60 3 6 590. Supiori 6 5 11 142 Kab.150.86 3 1.430.48 729 556.621.42 5 46.87 4 3.97 858.38 4. Paniai 6 3 8 139 Kab.00 1.12 12 18.362.06 3 262.917.369. Fakfak 11 8 3 147 Kab.44 9 4.76 1 14 49.93 3 5.139.384.670.753.224. Tolikara 5 4 12 143 Kab.41 941.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 12 1 2 2 1 3 1 1 1 25 7 2 1 2 6 4 3 530 176 2.20 5 2.535.415.252.70 6. Teluk Bintuni 9 5 JUMLAH 1. Sorong Selatan 11 7 7 151 Kab.95 1 13 4.25 3 4.17 6 4.88 327.502.54 542.32 1.26 10 10.849.786.23 1 9 103 77.086.54 883.31 7 21. Sarmi 2 2 10 141 Kab.24 2 10 15.00 1 10 2.00 370.98 1 3 6 3 398 1 19 7. Merauke 4 2 5 136 Kab.66 Nilai (23) 426.314.49 207.137.04 6 2.06 1 935.929.04 45 2 1.32 7.00 Nilai (24) 434.485.06 16.82 118.659.565. Manokwari 5 1 4 148 Kab.00 61.18 5 12.37 2. Mimika 2 2 6 137 Kab.332.21 1 419.193.783.32 14.877.23 3 2 1.989.89 (1) (2) (3) (4) 21 Provinsi Papua 70 56 1 132 Kab.234.335.868.49 1 15 6.993.26 13 4.495.567. Waropen 10 9 13 144 Kab.01 4 3.73 2 153.63 1 434.80 1.

25 Jumlah Kasus % 22 11 11 71 30. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 30 11 13 5 1 19 1 3 7 5 3 26.Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.99 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 100.Lampiran 5 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 35 .76 42.

51 500.35 0.29 14.29 35.99 - 0.375.595.00 4.01 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 23 1 1 1 2 10 2 1 1 4 9 1 8 1 1 9 3 1 1 3 1 63 36.71 35.116. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 6.12 3.116. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 7 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 8 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 9 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 14.12 1 Lain-lain VII Ketidakefektifan 14.897. perpajakan.87 11.123.72 25.04 20.53 89.12 11.11 % Nilai (juta Rp) 28.16 37.81 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 2 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1.59 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.51 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah) 3 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.48 26.696.00 299.00 239.58 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.29 49. pertambangan.322.25 84.595.03 - 26.99 282.59 282.89 37.Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 2 10 10 15.06 0.03 64. dll.29 64.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 36 .203.69 100.881.Lampiran 6 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

203.69 4 28.79 1.21 31.00 89.070.88 49.116.826.03 Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) 282.53 Nilai (23) 17.450.372.16 21.53 0.00 32.53 8 1 10 7 24.51 1 8 10 267.Lampiran 7 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Potensi Kerugian Negara/ Negara/Daerah/ Daerah/Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Nama Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara/Daerah/ Ketidakefektifan Negara/Daerah/ Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Jml Kasus Jml Kasus (6) 2 3 1 6 1 6 19 22 63 239.18 1 7 4 8 36.998.99 Jml Kasus (20) 2 2 4 1 9 Nilai (21) 24.70 1 14.897.70 22.29 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai Nilai (5) (15) 8 2 2 3 3 5 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 3 3 23 9 Nilai (17) 267.107.00 35.595.11 3.99 282.123.50 3 85.72 10 4.46 500.682.65 2 0.16 Nilai (22) 0.57 2 28.50 3.11 64.952.579.53 (1) (2) (3) (4) 1 PT Perkebunan Nusantara XII TB 2009 15 5 2 PDAM Kota Padang TB 2009 7 4 3 West Earthquake Disaster Project pada BNPB TA 2010 2 - 4 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 20 5 5 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M 10 5 6 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 17 11 JUMLAH 71 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 37 .57 1 9 21 152.000.53 17.50 35.868.68 1 26.48 1 7 21.450.868.212.132.

Lampiran 8a Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan di Tarakan Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Sulawesi Tengah 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 14 38 . Rawat Inap dan Farmasi Temuan Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana Instalasi Rawat Jalan. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Belum Didukung Struktur Organisasi yang Memadai Sarana dan Prasarana Jumlah Belum Tenaga Memenuhi Medis dan Standar dan Keperawatan Persyaratan Belum Kesehatan Memadai Lingkungan Rumah Sakit 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo 14 RSUD Kabupaten Jombang di Jombang 15 RSUD Dr. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Pasuruan di Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 13 Ѵ 19 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ RSD dr. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. M. M. Soebandi Kabupaten Jember di Jember 11 RSD Mardi Waluyo di Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. R.A. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.

Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. M. R. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Tidak Terdapat Program Perencanaan Perencanaan Perencanaan Kerja Belum Anggaran Kebutuhan Tidak Disusun/ Tidak Perbekalan Memadai Belum memadai Farmasi memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 2 2 16 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RSU Mayjen H.Lampiran 8b Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 2. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. RSUD Undata di Palu RSUD Kota Sorong 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 17 18 19 Jumlah 39 .A. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. M. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr.

M.Lampiran 8c Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 3. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Pelaksanaan No Provinsi No RSUD Pengelolaan Pelayanan SPM Belum Prosedur Administrasi Tidak Sesuai Memadai / Tetap Belum Kurang Ketentuan Ditetapkan Memadai Memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 18 7 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 14 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang Magelang di 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Soebandi Kabupaten Jember 11 RSD Mardi Waluyo Kota Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr.A. Ponorogo Harjono Kabupaten 14 RSUD Kabupaten Jombang 15 RSUD Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 40 . Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan 10 RSD dr. R. M. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Ungaran Semarang di RSUD DR.

Rawat Inap dan Farmasi Belum Memadai/ Tidak Sesuai Ketentuan RSU Mayjen H. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan.Lampiran 8d Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 4. M. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. R. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR.A. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. RSUD Undata di Palu RSUD Kabupaten Manokwari Jumlah Ѵ 10 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Belum Dilakukan/ Belum Sepenuhnya Dilakukan No Provinsi No RSUD 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 14 15 16 17 41 . M.

penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 16 3 9 3 1 42 4 10 21 5 2 16 4 10 1 1 74 100.62 Jumlah Kasus % 42 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Mekanisme pemungutan.76 21.Lampiran 9 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 21.62 56.

dll.342.189.77 296.398.95 2.41 75.288.12 0.329.28 422.93 75.14 50.38 255.78 % 0.93 0.00 43 .442.01 120.00 299.646.Lampiran 10 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .02 3 1 2 88 3. pertambangan.03 100.27 Nilai (juta Rp) 422.82 % 2. perpajakan.14 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 57 41 64.28 2.60 - 8 1 1 1 1 1.45 99.12 50.03 8 1 7 19 1 2 6 21. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 6 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 2 2 6 2 2 2 6.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No I Kerugian Negara 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi II Potensi Kerugian Negara 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.59 34.06 12.31 6.11 0.80 100.

539.95 2 18 7.10 28 270.93 2.014.25 270.29 1 2.19 6 3 4.29 2.12 1 2 3 75.29 708.90 1.44 Lampiran 11 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Negara Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus 1 13 1 1 16 88 299.324.988.29 2.375.398.17 6 1 119.200.452.87 4.288.38 2 2.80 2 422.988.85 1 12.503.99 2 212.38 9.99 5 2.11 10 5 632.93 75.17 296.73 1 419.06 21 10 1 5 57 9 1.74 4.342.871.503.02 1.06 14 5.001.376.28 8 9.97 119.329.12 50.68 2 - Kejaksaan Republik Indonesia 16 3 3 Kementerian Dalam Negeri 4 1 4 Kementerian Luar Negeri 1 5 Kementerian Keuangan 36 7 6 Kementerian Agama - 7 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - 8 Badan Pertanahan Nasional - 9 Kepolisian Republik Indonesia 1 10 Kementerian Perdagangan 1 11 Taman Mini Indonesia Indah 4 2 JUMLAH 74 16 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .65 831.06 5.38 Nilai Nilai Nilai Nilai 7 13 3 1 16 1 1 42 Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Jml Kasus (18) Nilai (19) Nilai (21) Nilai (22) (1) (2) (3) (4) 1 Mahkamah Agung 11 3 2 3 2 5 3 1 3 19 1 1 50.

penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 11 1 1 1 158 3 24 10 79.00 45 .Lampiran 12 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.24 100.90 6.86 Jumlah Kasus % 121 27 11 16 199 13.

Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 8 6 2 6 5 1 230 177 25 1 1 26 65 4 4 18 38 1 20.426.38 2.40 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 46 .38 6.659.581.81 88.923.37 2.333. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 1. pertambangan.18 15.00 100.20 5.19 71.41 927.29 253. perpajakan.43 1.870.00 268.51 61.791.Lampiran 13 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .11 5.996.36 2.16 1.36 100.20 11.04 6.48 2.19 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 2 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 2 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.09 V Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13 1 12 322 4. dll.733.333.880.86 % Nilai (juta Rp) 2.25 5.38 94.48 226.

8 - (1) (2) (5) (6) 1 Sumatera Utara 1 1 Kab.35 460.676.Halaman 1 .88 3 8 6.122.09 - Nilai (20) 408.504.29 3.372.86 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 12 5 3 7 6 3 4 9 4 4 6 4 8 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 6.24 6.78 21.29 2.12 4 8 8.04 1.06 392.35 460. Bogor 6 47 .486.506.240. Kepulauan Riau 1 2 13 Kota Tanjungpinang 13 8 Jawa Barat 1 14 Kab.463.506.04 3 1 4 1.770.40 3.222.38 - Nilai (21) 155.18 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 1 1 1 1 2 2 6 Jml Kasus (18) 1 2 1 2 - Nilai (19) 71. Deli Serdang 3 2 2 Kota Medan 5 2 Sumatera Barat 1 3 Prov.07 798.65 4.52 16.94 2.22 6 1 6 7. Sumatera Barat 7 2 4 Kota Bukittinggi 7 3 Sumatera Selatan 1 5 Prov.372.67 1 417.240.04 1.770. Lahat 3 4 Bengkulu 1 7 Kota Bengkulu 1 5 Lampung 1 8 Prov.735. Lampung 4 2 9 Kota Bandar Lampung 7 6 Kepulauan Bangka Belitung 1 10 Kab.65 4.22 6.218.133. Belitung 4 2 11 Kota Pangkalpinang 12 7 Kepulauan Riau 1 12 Prov.046.798.735.88 1.01 1 3 937.330. Sumatera Selatan 4 2 6 Kab.59 8.19 4.14 88.825.006.29 2.01 3.69 1 2 6 7 869.92 1 212.9 60.486.59 14 16.Lampiran 14 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 5 1 1 1 5 11 1 0 1 6 7 10 10 2 11 4 6 7 9 3.85 3 7 6.12 937.

088.644.79 4 4 4 2.6 100.001.60 1.723. Nusa Tenggara Timur 5 2 27 Kota Kupang 5 14 Kalimantan Barat 1 28 Prov.06 6 14 1.11 3 6 2 1 8 8 4 1 10 949.64 86. Kalimantan Barat 5 15 Kalimantan Selatan 1 29 Prov.132.50 949.16 5.60 4 3 4 7.399.57 4.75 325.73 2 7 4. Brebes 2 3 18 Kab.08 2 3 2 3 28.105.83 - Nilai (20) - Nilai (21) 78.04 1.516.99 2.399.323.17 131.30 2.377.I Yogyakarta 1 22 Kota Yogyakarta 6 11 Jawa Timur 1 23 Prov.983.73 2 2. Jawa Timur 3 2 24 Kota Surabaya 5 12 Banten 1 25 Prov. Kudus 4 4 19 Kota Pekalongan 6 5 20 Kota Semarang 8 6 21 Kota Surakarta 7 10 Provinsi D.64 86.516.70 1 3 3 3 151.00 3.102.00 275.73 151.50 12 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 31. Banten 3 13 Nusa Tenggara Timur 1 26 Prov.43 - (1) (2) (5) (6) 2 15 Kota Bandung 8 9 Jawa Tengah 1 16 Prov.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 1 1 1 28.30 4 5 2 15 31.329.06 1 2 2 3 2 3 89.66 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (17) 1 4 2 3 1 1 3 5 Jml Kasus (18) 2 2 1 1 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 2. Kalimantan Selatan 2 .03 2 3 9 898. Jawa Tengah 5 2 17 Kab.57 1.79 104.49 1 1 6 1 11 325.45 160.62 898.48 Halaman 2 .04 1.89 29.03 3 5 3.79 5 6 2.93 85.06 591.746.17 131.270.15 2 1 2 9 4 4 3 5 3 1 3 2 1 7 89.

63 6 2 9 2. Sulawesi Selatan 10 2 33 Kab.41 6 16 8.109.38 1.196.38 Nilai (21) 31.598.Halaman 3 .95 5.11 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 9 2 11 11 11 6 8 7 11 10 230 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 976.050.38 Nilai (20) 408.42 4.21 93.504.733.196.85 2.47 3.65 1.09 6.598.317.203.67 268.395.203.504. Sulawesi Barat 2 21 Maluku Utara 1 38 Kab.36 22.63 8.47 6 8 4.40 2 7 6.437.60 8 4 1 7 3.880. Halmahera Timur 4 2 39 Kab.67 253.957. Sulawesi Tenggara 7 2 36 Kota Kendari 7 20 Sulawesi Barat 1 37 Prov. Sulawesi Tengah 2 18 Sulawesi Selatan 1 32 Prov.050. Maros 6 3 34 Kota Makassar 3 19 Sulawesi Tenggara 1 35 Prov.60 6.317.870.00 2.38 1.30 9 1 11 93.21 1 12 1.333.241.957.437. Halmahera Utara 5 JUMLAH 199 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 49 .66 4 191.54 (1) (2) (5) (6) 16 Sulawesi Utara 1 30 Kota Bitung 2 17 Sulawesi Tengah 1 31 Prov.42 3 11 22.00 3.923.050.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 2 1 14 158 27 322 3 2 11 1 3 12 3.48 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 7 Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 65 13 Nilai (19) 133.

Lampiran 15 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 36.05 40.26 Jumlah Kasus % 50 .70 23.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20 13 6 1 35 15 12 3 4 1 31 19 12 86 100.

08 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Lain-lain II Potensi Kerugian Negara 37.Ketidapatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 163 10 2 46 46 5 2 9 9 28 1 5 15 9 2 1 3 43 41 2 120 39 6 35 15 3 8 3 3 7 1 48 3 45 43 3 1 9.35 165.33 156.95 1. dll.76 1. 8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara 10 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 51 . perpajakan.73 3.12 215.85 914.91 5.46 1.Lampiran 16 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .03 25.973.47 2.225.922.61 111.Halaman 1 .95 11.36 240.78 9.03 7.751.79 5.440.709.91 925.244.918.69 6.00 10.57 1.40 46.11 27. pertambangan.93 54.95 3.166.32 59.886.759.28 382.894.526.995.648.901.17 8.47 % Nilai (juta Rp) 31.61 489.005.81 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara 2 Penggunaan langsung penerimaan negara IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.40 29.391.69 110.14 6.73 240.52 2.

64 - % 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.902.09 2.328.55 31.97 100.00 824.Halaman 2 .00) 52 .991.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.818.Lampiran 16 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 11 7 7 10 4 432 % Nilai (juta Rp) 341.952.22 196.

53 - Jml Kasus (18) 6 3 1 6 1 4 3 14 1 - Nilai (19) 34.26 6 5 10 22 3 19 1.90 151.39 77.74 1.13 53.Halaman 1 .124.98 382.75 230.944.10 279.94 4 867.70 - Nilai (20) 61.89 - Nilai (22) 38.86 100.72 1.235.13 1 8 735.96 1 1 1 1 3 48 415.57 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 3 13 18 2 3 5 15 5 5 8 6 2 2 5 14 2 8 2 1 1 9 1 1 3 4 2 3 6 2 - Nilai (17) 591.64 3 22 765.95 12 878.28 14.20 20.59 3 825.57 11 590.40 7 1 33 1.952.317.68 9 664.704.705.837.378.009.56 1 560.73 5.29 120.31 112.79 357.23 3.13 1 50.64 746.18 1.08 507.35 41.070.37 56.82 735.85 355.608.56 171.952.58 - (1) (2) (3) (4) 1 Kejaksaan Republik Indonesia 2 2 2 Kementerian Dalam Negeri 15 5 3 Kementerian Luar Negeri 18 4 4 Mabes TNI 1 - 5 TNI AL 3 - 6 TNI AU 3 - 7 Kementerian Hukum dan HAM 2 - 8 Kementerian Keuangan 10 3 9 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 2 1 10 Kementerian Perhubungan 1 1 11 Kementerian Pendidikan Nasional - - 12 Kementerian Agama 1 - 13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - - 14 Kementerian Sosial 4 - 15 Badan Pertanahan Nasional 11 - 16 Kementerian Komunikasi dan Informatika - - 17 Kepolisian Republik Indonesia 2 2 18 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 - 53 .32 12 478.74 4.97 5.96 4 1.19 7.46 2 15 128.32 230.13 4 20 956.11 58.45 1 1 7 1.14 217.189.37 14 314.03 2 18 25.74 25.39 123.69 32.453.39 4 55 82.928.52 52.487.60 44.137.89 362.137.10 8.97 689.02 251.71 19 1.50 132.173.045.58 189.98 Nilai (21) 168.81 6.18 5 905.06 1.51 182.74 1.03 13 13 12.96 112.47 4 83.44 9.63 66.47 44.10 3 238.67 988.10 5.995.59 238.949.95 15.53 967.04 489.562.46 1 4 1.48 24.343.408.95 1 4 2 4 5 2 3 5 1 2 3 2 2 31 779.135.311.579.421.92 1.14 19.Lampiran 17 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 6 12 1 1 2 1 4 2 2 1 3 41 25 9 24 24.59 19.847.582.14 911.77 22.37 83.73 36.48 1.11 473.67 14.614.369.087.95 7.

42 191.95 43 54.76 2 48.45 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.Lampiran 17 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 2 1 12 89.97 163 31.11 3 14 72.12 71.247.00 2 71.81 101.43 1 40.21 1 13.19 (1) (2) (3) (4) 19 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi - - 20 Kementerian Perdagangan 6 2 21 Bapertarum 3 - 22 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam 35 31 432 824.918.64 204.926.19 5 983.408.61 - Nilai (20) - Nilai (21) - Nilai (22) 13.05 5 8 7 386.54 Halaman 2 .513.818.35 43 489.391.00) .46 5.901.67 - Jml Kasus (18) 1 2 1 - Nilai (19) 244.22 1 219.70 1 280.991.79 15 8.99 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 1 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai (17) 22.19 1 4 41.40 1 - JUMLAH 86 20 120 48 240.41 3 76.166.044.66 446.440.

77 72. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/ daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/ belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 33 15 15 2 1 141 54 10 46 4 4 22 1 21 11 8 2 195 100.00 10.Lampiran 18 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .31 16.92 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 55 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.

12 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah/negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.03 9.62 17.96 3.43 11.639.67 72. pertambangan.247. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 42.481.968.018.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 857 23 19 419 130 42 24 41 105 49 5 206 147 19 1 1 5 9 3 10 11 314 307 15.097.29 108.885.75 10.37 15.35 8.57 12.015.Halaman 1 .38 44.47 97.56 1.00 985.625.16 18.174.Lampiran 19 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .525.323.267.549.346.22 3. 8 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara/ daerah 11 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 12 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 13 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 14 Lain-lain 56 .445.42 45.04 12.16 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah IV Administrasi 2 1 3 1 366 139 24 114 19 15 14 12 4 2 4 1 9 3 6 18.656. perpajakan.68 14.36 1.17 524.11 53.06 10.498.00 375. dll.47 8.12 8.49 1.33 % Nilai (juta Rp) % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.227.59 5.002.68 2.98 144.122.

22 34.40 466.265.994 % 5.46 62.00 840.375.679.Lampiran 19 No V Ketidakhematan Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 119 4 9 106 132 38 8 37 4 43 1 1 1.544.97 Nilai (juta Rp) 30.96 100.663.101.69 26.62 522.Halaman 2 .61 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 6.377.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 57 .18 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.464.60 23.42 3.82 3.50 26.30 % 3.752.89 3.692.

66 137.62 10.74 838.41 1 2 1 12 1.63 4.84 2 326. Solok 2 - 7 12 Kab.181. Jambi - - 2 16 Kab.035.67 10 681.34 684.631.40 1 5 4 3 4 8 1 7 7 2 2 3 1 1 1 1 16 413.168.62 5 278.07 1 1 19 2.00 3 72.84 3 791. Aceh Barat Daya - - 2 2 Kab.999.38 11 598.79 1 1 3 4 4 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 5 Nilai (19) 16.41 3 55.72 1 14 1.37 2 4 3 3 1 10 1.91 934.265.64 3 95.58 1.608.764.632. Indragiri Hulu - - 5 Provinsi Jambi 1 15 Prov.67 1 224.14 8 1.07 26.900.79 13 1. Pasaman 1 - 4 9 Kab.07 10 1.28 394.847.76 5 1.12 7.03 199.08 221.23 13.38 3 6.77 1.31 2 2 3 1 12 162.10 198.15 14.97 1 4 675. Sijunjung 2 - 6 11 Kab.97 345.80 3.084.876.11 715. Dharmasraya 2 - 2 7 Kab.035.370. Aceh Tengah 1 - 3 3 Kab.00 6.514.18 221.46 2.54 2.14 223. Lima Puluh Kota - - 3 8 Kab.755. Solok Selatan - - 8 13 Kota Padang - - 4 Provinsi Riau 1 14 Kab.260.63 75.332. Bungo - - 4 18 Kab.82 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 3.45 1 15.656.66 1 32.32 741.44 10 704.30 408.00 716.07 41.48 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 1 1 Kab.75 1.42 18 1.01 3 66. Tapanuli Selatan 1 - 2 5 Kab.781.72 8 1.58 Halaman 1 . Tapanuli Tengah 1 - 3 Provinsi Sumatera Barat 1 6 Kab. Aceh Utara - - 2 Provinsi Sumatera Utara 1 4 Kab.12 5 2.755.14 9.28 22.78 12.05 440.92 13 4. Pasaman Barat - - 5 10 Kab.95 11.42 - Nilai (22) 137. Batang Hari - - 3 17 Kab.96 1. Merangin - - .40 650.95 1.92 7 603.02 20.641.83 432.10 134.74 3 2.379.24 2.85 400.70 1.54 1 18 2.56 1 50.28 698.92 147.46 7 1.07 66.46 1.14 239.93 56.00 24.44 1 14 712.409.03 Nilai (21) 28.309.27 4 183.01 1 4.28 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 461. Kerinci - - 5 19 Kab.489.41 1 2 5 3 2 18 4.Lampiran 20 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 1 2 1 2 2 2 5 6 3.232.

007.52 827.35 79.99 1 7 3.05 10.43 - Nilai (22) 10.31 Nilai (20) 5.56 2 7 969.446.047.28 221.160.53 9 1. Tanjung Jabung Barat - - 10 24 Kab.878.21 1 453.82 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 Nilai (17) 2.85 1 43.04 3 3 3 6 5 11.05 834.95 3 543.703.51 2 129.85 127.23 8 2. Kepahiang 1 1 3 35 Kab.98 (1) (2) (3) (4) 6 20 Kab.60 336.37 3.342.75 7 2 5 2 1 3 6 3.20 137.61 1.86 3.48 904.79 2 179.910.428.00 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 2 1 1 Nilai (19) 89. Lampung - - 59 .85 430.98 2.631.703.10 137.19 4 6 897.685.36 27.73 1 6.43 301.57 142.14 1 3. Sarolangun - - 8 22 Kab.499.65 2 43.93 5 1.67 4.14 3.37 4 476.51 2 167. Ogan Komering Ulu - - 5 31 Kab.513. Ogan Ilir 1 - 3 29 Kab.89 86.79 661.53 40.50 770.12 1 462.67 3 997.03 2.14 174. Ogan Komering Ulu Timur - - 6 32 Kota Prabumulih - - 7 Provinsi Bengkulu 1 33 Kab.19 30.42 11.56 Nilai (21) 1. Lebong 1 - 4 36 Kab.64 4 751.43 3 911.37 1 6 1.27 425. Bengkulu Selatan - - 2 34 Kab. Ogan Komering Ilir 1 - 4 30 Kab.14 131.549.602.18 1.60 54.94 1 10 1.02 63.75 1 432. Muaro Jambi - - 7 21 Kab.63 787. Tanjung Jabung Timur - - 9 23 Kab. Tebo - - 11 25 Kota Jambi - - 12 26 Kota Sungai Penuh - - 6 Provinsi Sumatera Selatan 1 27 Kab.289.97 296.44 3 2 1 1 1 2 3 519.Halaman 2 .46 1 59.03 387. Rejang Lebong 1 - 8 Provinsi Lampung 1 38 Prov.98 1 47.85 1.71 20.59 6.43 6 606.70 1 5 3.71 723.859.827.14 1 1.37 1.06 3 457. Muara Enim - - 2 28 Kab. Mukomuko - - 5 37 Kab.43 1 12.28 603.97 4 4 1 2 1 1 1 2 5 477.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 1 1 1 6 15 1 4 8 9 1.215.

61 13. Kep.10 1 138.92 1 53.26 3 4 392.37 9 74.20 5 181.69 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 14.43 829.78 3 1.69 3 3 3 2 3 1 2 1 9 1.50 5 1.69 - (1) (2) (3) (4) 2 39 Kab.53 1 1 5 1 4 247.75 2 1.12 755.48 1 19 273. Bangka 2 - 3 47 Kab.88 84.14 - 1 11.60 Halaman 3 .84 3 352.34 1. Kepulauan Riau - - 2 50 Kota Batam 1 - 3 51 Kota Tanjungpinang 3 - 11 Provinsi DKI Jakarta 1 52 Dinas Pendidikan - - 2 53 Dinas Perindustrian dan Energi 2 - 3 54 Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah 22 6.13 1 402.58 1 1.44 3 2 1 6 596.10 3 268.92 1 202.47 2 119.57 1 12 243.64 2 4 2 9 488.33 384.888.765.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 2 1 1 3 2 10 13.59 2 398.02 5 153.99 - Nilai (22) 22.53 1 160.19 23.796.72 1 31.51 6.61 5.25 45.48 6 7 613. Belitung Timur - - 10 Provinsi Kepulauan Riau 1 49 Prov.21 1 9.796.39 68.37 9 191.10 1 137.99 394. Lampung Tengah - - 3 40 Kab.85 2 82.39 448.351.19 2 62. Pesawaran - - 4 41 Kab.656.50 Nilai (21) 484.37 10 5 448. Bangka Belitung - - 2 46 Kab.39 1 23.005.70 2 124.796. Bangka Tengah - - 4 48 Kab.61 6 68.533.96 23.32 13. Way Kanan - - 6 43 Kota Bandar Lampung 2 - 7 44 Kota Metro 1 - 9 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 1 45 Prov.11 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus (17) 5.77 1 - - - - - - 1 55 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat - - .92 - - 12 Provinsi Jawa Barat 20 6.10 1 123. Tanggamus - - 5 42 Kab.159.39 448.034.39 755.50 2 8 324.07 4 287.70 1 63.32 2 14 1.61 5 10 2.656.148.00 2 370.34 152.34 1 13.

56 148.60 2 6 1.08 11.51 24.873.711.94 15 585.92 633.12 1.31 10 454.43 113.22 2 81.223.81 23.63 16.14 164.78 604.97 62.84 13 495.05 1 29. Kendal 1 - 8 70 Kab Rembang 5 - 9 71 Kota Salatiga 6 - 14 Provinsi Jawa Timur 1 72 Kab.84 333.09 11.70 61.90 826.997. Bondowoso - - 4 75 Kab.43 186.435.90 107.83 274.01 135.49 180.41 258.94 2 1 1 3 2 4 5 2 1 1 1 1 1 14 6.54 3 1.49 2 2 8 4. Bangkalan - - 2 73 Kab.84 1 3.349.50 2.71 3 108.91 9 9 1.98 11.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 3 1 1 1 5 5 1 6 13 15 14 8 9 8.658.25 - Nilai (21) 17.10 594.62 37.00 335.92 258. Jember - - 6 77 Kab.17 2.61 1.67 1 2 11 2.51 2 15 898.86 8 3.668.43 40. Bandung - - 4 58 Kab.32 10.186.10 207.74 4 62.63 16. Ciamis - - 6 60 Kab.78 - Nilai (22) 89.38 1.01 - Nilai (20) 704.48 98.38 4 4 10 3 9 8 1 9 733.687.00 26.92 211.20 4 3 1 14 4.94 31.22 231. Banjarnegara - - 2 64 Kab.05 10.62 107.165.63 562.502.23 141.92 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 - Nilai (19) 739.06 3 775.938.65 980.12 214. Temanggung 1 - 7 69 Kab.95 2 3 1 5 2 13 226.25 29.55 2.44 386.96 667.87 218. Purworejo 1 - 6 68 Kab.Halaman 4 .633.37 58.09 4 2.35 559.07 369.13 131.39 4 194. Cirebon - - 7 61 Kab.75 147.18 13 482. Bekasi 2 - 5 59 Kab.73 105.13 1 4.62 32.43 (1) (2) (3) (4) 2 56 Setda Provinsi Jawa Barat 1 - 3 57 Kab.14 261.199.75 215.776.84 1 12 3. Purwakarta 4 - 13 Provinsi Jawa Tengah 1 63 Kab.37 41.00 198.58 11 215.97 8. Karanganyar 4 1 4 66 Kab.72 1 1.49 6 990.541. Bojonegoro - - 3 74 Kab.92 205.90 7 6.10 26.86 270.753.97 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 1 2 2 1 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 1 1 1 Nilai (17) 338.05 442.42 5 1.10 21. Klaten 2 1 5 67 Kab.53 1 2 1 3 2 2 3 4 5 5 2 3 3 3 6 9 1. Lumajang 1 - 61 . Blora - - 3 65 Kab.78 617.44 2 12 1.22 363.795. Garut - - 8 62 Kab.411.60 215.412.04 216.16 367.77 65. Gresik - - 5 76 Kab.668.18 53.42 103.08 2.

95 31.66 2 56. Malang - - 9 80 Kab.613.85 1.32 104.211.18 247.97 3 1.02 6 241.64 4 1.533.80 480.22 795.96 288.29 1 74.83 1.64 4 796.00 273. Sidoarjo - - 14 85 Kab.62 Halaman 5 .72 2 1 1 1 1 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 24.445.196.93 10 1.42 3.81 1 144.926.78 432.128.42 1 9 316.97 2.50 14.16 34.17 478.511.43 31.33 65.90 10 614.414.77 53.91 2 1 2 2 21 2.51 2 53.49 486.09 796.21 1.697.82 1 1 1 1 2 1 1 4 3 14 952.77 10 1.89 250.22 4 291.44 1.28 60.59 11.45 39.94 166.84 27.17 90.586.743.624.67 7 836.32 238.22 18 1.181.59 7 505.89 4 84. Tuban - - 18 89 Kab. Probolinggo 1 - 12 83 Kab.96 101. Buleleng 1 - 3 99 Kab.27 2 476.68 478.67 2.034.47 14.47 8 1.45 1 2 1 1 2 2 1 10 562.67 84.85 223.45 33 971.065.97 2 42.27 6 1.52 324.89 1.031.34 935.39 16.681. Pacitan - - 11 82 Kab.97 6.95 31.94 Nilai (21) 4.24 83.27 9 867. Situbondo 2 - 15 86 Kab.30 9 4 11 7 16 1.13 7 14 705. Sumenep - - 16 87 Kab.39 3.88 75. Sampang - - 13 84 Kab.42 42.50 310.05 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 942.42 35.06 13 1.189.46 61.540.97 5 1.91 31.46 1 10. Tulunggagung - - 19 90 Kota Batu 1 - 20 91 Kota Kediri - - 21 92 Kota Madiun - - 22 93 Kota Malang - - 23 94 Kota Mojokerto - - 24 95 Kota Probolinggo 1 - 25 96 Kota Surabaya 1 - 15 Provinsi Bali 1 97 Kab.66 252.424.86 1.52 86.970.39 10.64 6 691.31 - Nilai (22) 10.93 869.51 (1) (2) (3) (4) 7 78 Kab.27 6.00 1 34.38 4. Trenggalek 1 - 17 88 Kab.118. Gianyar 1 - 4 100 Kab.89 11 942.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 1 1 4 1 1 3 12 16 10 3.78 1 4.94 101.18 22.021.66 1.14 45. Jembrana 3 - .32 17 560. Magetan - - 8 79 Kab.37 4 9 2.672.06 1 18 1.97 200.54 238.26 9.22 80.81 12.50 218.37 5 869.314.45 1 1 1 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 1 1 Nilai (19) 111. Ngawi - - 10 81 Kab.09 7 1.96 34.94 32.89 1.689.938.18 10 1 12 321.04 2.697.00 481.03 95.445.77 2 15 1.42 0.70 25. Badung 4 - 2 98 Kab.54 7 1.16 3 36.70 34.35 11 451.15 1 2 4 12 1 2 3 4 1 2 5 93.39 2.

70 163.40 19. Karangasem - - 6 102 Kab.893. Belu 1 - 4 112 Kab.55 3 263. Sumba Barat 2 2 11 119 Kab.92 51.71 299.74 4.38 4.165.564.99 3 12 4 6 3 7 8 1 2 2 2 4 3 2 1 1 1 1 5 2 3 2 2 2 5 1 16 1. Nusa Tenggara Timur - - 2 110 Kab.51 45.54 260.01 51.13 1.691.23 58.08 8.61 3 10 1. Tabanan 3 - 16 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 104 Kab.585.124.96 24.36 8 1.35 41.02 1 29.519.65 1 3 3 1 2 3 1 14 4.868.92 753.17 96.31 139.474.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 3 1 7 12 5 1 1 1 1 2 1 1 12 12 11 13 11 8 15 591.856.15 143.084.536.75 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 3 9 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 4 Nilai (17) 353.108.049.82 148.54 260.89 8 645.849.14 1 4.99 172.65 1. Lombok Tengah 8 - 3 106 Kab.03 291.92 45.27 66.43 45. Lembata 1 - 7 115 Kab.83 6.345.16 1 2 1 1 1 4 2 3 1 2 4 3 3 6 132.317.73 2.74 674.92 265.62 1.48 25. Kupang 2 2 6 114 Kab.09 10. Timor Tengah Selatan 4 3 63 .00 2 1 2 2 1 2 2 1 3 5 3 2 2 6.317.732.730.271.50 3 11 3.31 0.27 1.05 2 1 13 871. Klungkung - - 7 103 Kab.02 6 2.388.30 7 233.601.500.47 5.25 76.64 3 4 3 2 2 1 3 2 1 13 2.145. Sumba Tengah 1 1 12 120 Kab.48 1.96 - (1) (2) (3) (4) 5 101 Kab. Sumba Timur 3 2 13 121 Kab.70 148.440.58 224.63 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 - Nilai (19) 1.54 27. Nagekeo 2 1 9 117 Kab.83 8 7.43 2 11 11.00 3. Alor 3 1 3 111 Kab.71 - Nilai (20) 158.64 12.73 584.65 1.51 1 181.19 367.75 4.18 1.39 1. Manggarai Barat - - 8 116 Kab.46 - Nilai (22) 181.743.18 1.55 386.63 - Nilai (21) 95.15 24. Lombok Barat 3 2 2 105 Kab.48 8.62 129.746.33 162.24 161.50 77. Rote Ndao 4 2 10 118 Kab.64 517.33 2.85 5 290.84 5.Halaman 6 .810.704.611.57 1 1 15 1.40 5.82 98.96 93.88 1 134.78 53.334.21 3 213.772.79 2. Flores Timur - - 5 113 Kab.90 319.07 12 609.12 6.150.29 582.80 1.94 1 10 780.60 43.26 89.61 20 7.967.598.08 438. Sumbawa Barat 12 - 4 107 Kota Mataram 5 - 5 108 Pembangunan Bandara Internasional Lombok - - 17 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 109 Prov.46 1 1 24 1.

158.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 2 1 1 1 2 10 16 2.84 6 478.32 3 488.24 1 70.06 16.027.53 Nilai (21) 118.75 147.37 182.54 3 1 21 2.77 1 80.32 11.20 1 7.91 7 77.81 34.70 8. Barito Timur 1 - 4 127 Kab.55 2 1 1 4 4 4 1 1 2 1 1 1 3 1 1 7 1.64 1 1 4 2 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 1 Nilai (19) 2.57 196.696.62 1.34 105. Timor Tengah Utara 1 - 15 123 Kota Kupang 5 2 18 Provinsi Kalimantan Tengah 1 124 Prov.04 1.323.01 2 522.00 86.41 23.42 429.63 2 73.85 3 5 2.80 0.173.439.35 1.300.76 8 496.35 2 3 1 2 3 1 4 2 24 700.26 26 1.96 800.41 418.862.69 39.65 2.16 37.95 122.276.77 1.74 13 14 1.65 6 15 654.79 15. Tanah Laut - - 5 139 Kota Banjarbaru - - 20 Provinsi Sulawesi Utara 1 140 Kab. Seruyan 1 - 11 134 Kota Palangkaraya - - 19 Provinsi Kalimantan Selatan 1 135 Prov.107.83 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 7.425.51 7.628. Barito Selatan - - 3 126 Kab.45 3 617.35 17. Kotawaringin Timur - - 8 131 Kab.06 2 7 306.96 362.48 22 17.845.280.85 3 2 7 8 4 15 968.484.11 28.56 1.00 38.22 44. Hulu Sungai Selatan - - 3 137 Kab.93 11.96 196.35 1 298.22 1 720.92 200.34 140.00 13.19 704.198. Katingan - - 7 130 Kab.01 11.15 254.07 393.41 16 876.51 126. Kalimantan Tengah - - 2 125 Kab.96 - (1) (2) (3) (4) 14 122 Kab.45 10 3 17 1.84 6 247.43 1.412.08 8 5. Lamandau 1 1 9 132 Kab.82 266.146.37 281.42 15.18 3 374.87 8.96 22.76 3 20.64 5 198.75 7 311.71 4 275.74 768.95 21.50 693.75 7 13 1.73 5 245. Kalimantan Selatan - - 2 136 Kab.521.64 Halaman 7 .174.55 3 45.09 165.329.32 8 15 377.45 4 1 1 1 2 1 7 222.691.21 656.95 - Nilai (22) 16.67 48. Gunung Mas 3 - 6 129 Kab.30 4.47 202.83 9 311.14 6 13 5.99 2 1 3 3 11 750. Barito Utara - - 5 128 Kab.23 21.24 9 12 1.20 4 757.75 1 27. Hulu Sungai Timur - - 4 138 Kab. Bolaang Mongondow 1 - 2 141 Kab.62 14 831.64 275.00 10 1.81 5.91 2 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 1. Kepulauan Talaud 2 - . Pulang Pisau 1 - 10 133 Kab.

41 3 482.16 1.43 14.610.06 581.00 1 1 8 806.383.41 2 267.950.59 1.56 4 149.155.861.20 6 504. Mamuju 2 1 25 Provinsi Maluku Utara 1 156 Prov.10 208.49 4.74 14.498.064.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 2 2 1 1 1 2 2 12 1 3 1 1 2 18 11 9 1 26 30 16 1.71 1 1 9 790.83 14 6 6 6 4 14 1.99 4 111.352.58 828.86 2 1 10 558.Halaman 8 .80 1.71 1. Minahasa Tenggara 2 - 5 144 Kota Tomohon 2 - 21 Provinsi Sulawesi Tengah 1 145 Kab.85 1. Halmahera Utara 2 - 65 .99 205.501. Halmahera Tengah - - 5 160 Kab.08 7 5 7 13 17.74 31.978. Banggai 1 - 2 146 Kab.36 3 434.61 56.85 1.97 91.14 5 3.43 1. Sulawesi Barat 1 1 2 154 Kab.63 86.678.63 855.968.41 12 6. Sidenreng Rappang 3 - 3 150 Kab.96 6 1.67 49.231.834.60 1.25 1 476.70 330.18 2.82 634.80 1.97 1 21.44 948.89 1.033.48 169.08 3.107.54 107.57 1 1 2 1 1 1 2 1 4 1 1 1 2 14 3. Sinjai - - 4 151 Kota Pare-pare 2 - 23 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 152 Kab. Minahasa 2 - 4 143 Kab.30 1.77 66.044. Banggai Kepulauan - - 3 147 Kab.120.580.43 2 286.45 59.52 238.027.06 4.09 5 766.40 108.97 15 7.02 441.608.72 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 3 1 1 3 1 2 - Nilai (19) 1. Luwu - - 2 149 Kab.27 590.00 1 91.48 42.89 5.00 - Nilai (22) - (1) (2) (3) (4) 3 142 Kab.51 2 204.77 4 365.14 2.20 19.630.64 263. Halmahera Selatan 7 2 4 159 Kab.28 32. Maluku Utara - - 2 157 Kab. Muna 12 - 24 Provinsi Sulawesi Barat 1 153 Prov. Sigi 1 - 22 Provinsi Sulawesi Selatan 1 148 Kab.73 1 25.15 87.92 78.10 7 15 6 1 3 4 3 15 4.90 - Nilai (20) 1. Halmahera Barat 1 - 3 158 Kab.63 2.06 4 184.11 624.952.15 4 3 1 1 1 3 1 3 2 8 1 4 2 3 4 1 2 3 6 4 1 7 1.584.43 1 5.514.221.09 517.931.45 79.263.28 - Nilai (21) 15.28 1 8 766.79 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 3 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 Nilai (17) 876.27 481.713.885. Majene - - 3 155 Kab.

761.898.43 2 1 3 42.78 2 2.42 1 38.04 2.27 3 1.63 18 3. Sulawesi Utara 2 - 7 171 Kota Manado - - Jumlah Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 11 6 Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 1 1 8 10 4 341.92 12 2.20 - 1 172 Kab.70 521.42 3 243.752.34 1 3 3 2 3 2 246. Bengkulu 3 1 3 167 Kab.03 1 1 12. Nduga - - Jumlah Belanja Daerah 180 26 Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 1 1 2 4 1 87 7.78 34. Sleman 4 3 5 169 Kab.72 1 0.72 1.666.53 119.04 3.75 168.12 210.44 1 18 968.35 1 2.29 1.16 585.23 203.402.65 498.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 134 20 1.84 9 1. Sarolangun 1 1 .91 14 75.44 1 37. Morotai - - 7 162 Kota Tidore Kepulauan 2 - 26 Provinsi Papua 1 163 Kab.020.95 349.97 2 2 3 3 3 1 4 18 2 3 3 1 2 1 12 1.040.66 Halaman 9 .01 60.87 8. Jambi - - 2 166 Prov. Gunung Kidul 2 2 6 170 Prov. Bungo 1 - 3 174 Kab.37 5 99.63 17 1.75 1 13 2.11 472.46 14 15.63 2 519.32 3.099.67 41 4.748.944.654.17 38.102.24 290.70 6 8.55 4 8.798.54 1 651.20 1 2.43 4.09 808 139.17 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 67.76 351.98 Nilai (22) 4.021.75 7 286.48 8 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 449.28 2.882.59 25.722.84 2 1 1 2 1 2 3 12 42. Bantul - - 4 168 Kab.47 299 44.80 6 26. Batang hari 1 - 2 173 Kab.13 1.51 246. Lanny Jaya - - 2 164 Kab.274.83 1.85 61.255.72 1 165 Prov.76 3 4 332 107 1 8 549.32 1.20 28.57 6.513.35 5 495.56 7 411.88 1 288.18 9 29.555.71 Nilai (21) 1.66 1 2 2 95.18 203 95.65 1 170.272.46 1 9 12.482.48 66.95 1.98 9 4.87 48.66 (1) (2) (3) (4) 6 161 Kab.217.869 829.064.484.31 8.79 1 2 120 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) Nilai (19) 316.14 22.65 48.151.93 47.

639.021.46 857 144.00 1 33. Tanjung Jabung Barat - - 5 176 Kab.10 22. Tebo 1 - Jumlah Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 4 1 TOTAL 195 33 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 67 .98 Nilai (22) 3.95 Nilai (21) 1.692.64 522.14 789.20 5.Halaman 10 .21 2 2.03 206 97.38 6 70.752.25 37.377.69 Nilai (20) 16.89 3 10 1.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 141 21 1.267.11 314 38 3.31 2 22.596.554.22 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 9 132 Nilai (19) 12.994 840.33 1 25.623.77 51.217.563.656.85 291.58 (1) (2) (3) (4) 4 175 Kab.08 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 3 6 16 366 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 119 Nilai (17) 30.31 1 1.214.94 45.69 8 258.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 30 26 3 1 5 1 4 13.16 78.Lampiran 21 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .89 100 68 .95 Jumlah Kasus % 3 2 1 38 7.

05 4.10 1.00 34.20 15.77 1.Lampiran 22 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .02 11.58 100.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 69 .74 100.79 22.528.33 4.014.25 61 43 1 17 1 1 8 1 7 91 67.59 72.38 % Nilai (juta Rp) 1.318.810.58 4.29 3.77 4.810.086.528.49 3.51 66.115.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 5 1 4 14 8 5 1 2 2 2.33 14.70 857.74 22.45 8.70 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah 2 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan Daerah 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 1 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 2 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 3 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 5.94 856.848.03 - - 1.848.12 258.

77 1.31 856.33 2 29.904.306.528.213.41 1 25 19.77 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 8 Nilai (19) 6.01 34.181.787.20 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 4 15 6 9 17 10 7 12 12 3 3 10 4 6 61 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 Nilai (17) Ketidakefektifan Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1.014.38 1.810.009.44 72.72 132.528.69 7 20 6.69 15.08 15.631.210.93 21.631.06 2 16 2.51 1 7 2.082.20 7 29.72 1 1 5 132.29 153.74 (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Bengkulu 8 8 1 1 Kabupaten Bengkulu Utara 8 8 2 Provinsi Jawa Timur 10 10 1 2 Kabupaten Sidoarjo 4 4 2 3 Kota Surabaya 6 6 3 Provinsi Bali 10 6 1 4 Kabupaten Buleleng 7 4 2 5 Kabupaten Jembrana 3 2 4 Provinsi Kalimantan Selatan 3 3 1 6 Kota Banjarmasin 3 3 5 Provinsi Sulawesi Tengah 4 2 1 7 Kabupaten Parigi Moutong 4 2 6 Provinsi Sulawesi Selatan 3 1 1 8 Kabupaten Luwu Utara 1 - 2 9 Kabupaten Tana Toraja 2 1 JUMLAH 38 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .115.01 4.210.93 4.57 1.005.05 72.48 857.80 1 11 16.60 39.69 6.882.787.80 1 18 6.38 2.922.20 4 3 1 1 1 5 3 91 1 9 153.94 2 1 1 1 1 2 1 3 22.58 1 14 2.07 1 1 5 132.213.70 2 2 1 1 3 1 2 14 1 2 3 2.848.72 1 18 6.12 132.08 243.528.40 4.00 2 13 6.38 1 5 86.05 1.77 1.72 86.70 Lampiran 23 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Jml Kasus (5) 896.40 4.38 1.38 22.181.93 22.69 7 29.20 2 29.153.318.213.57 243.213.

43 Jumlah Kasus % 71 .57 71.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 5 5 2 2 7 100.Lampiran 24 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 28.

432.752. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 38.35 % Nilai (juta Rp) 36.619.48 16.97 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.00 88.14 3.94 16.551.577.000.48 14.71 2.401.96 6.00 72 .48 3.29 154.14 37. pertambangan.45 14. perpajakan.22 100.14 3.01 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 8 8 6.Lampiran 25 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .71 41.768.41 11.697.04 19. dll.265.05 13 13 10.298.28 39.298.62 14.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 48 1 22 19 5 1 24 21 2 1 19.11 5 5 124 - - - 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.401.75 34.83 26 11 1 12 2 20.

77 5 30 72.901.608.156.55 18 2.981.62 5 745.432.10 3 1.231.96 9 603.24 1 4 Kabupaten Bantul - 2 5 Kabupaten Kulon Progo - 3 Provinsi Kalimantan Barat 7 1 6 Provinsi Kalimantan Barat 3 2 7 Kabupaten Sambas 1 3 8 Kabupaten Kayong Utara 1 4 9 Kabupaten Sanggau 1 5 10 Kabupaten Kubu Raya 1 4 Provinsi Kalimantan Timur - 1 11 Kabupaten Nunukan - 2 12 Kabupaten Penajam Paser Utara - 5 Provinsi Gorontalo - 1 13 Kabupaten Boalemo - 2 14 Kabupaten Gorontalo Utara - 3 15 Kabupaten Gorontalo - JUMLAH 7 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 73 .53 34.44 1.59 14.77 55.97 1.51 113.10 2 85.44 7 2.24 39.033.30 4 15 40.35 735.45 65.847.80 2 64.700.69 3 594.85 1.14 7 1.79 114.048.22 22 4.92 2.090.75 2.414.24 55.898.969.40 3.78 2 687.48 4.70 1 181.58 101.719.19 783.28 3 735.39 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 1 16 6 2 3 1 4 7 1 6 2 2 26 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) 1 1 4 2 2 3 2 1 8 Nilai (16) 36.63 1 66.98 9.27 1 15 863.01 36.290.298.83 1.34 7 753.179.21 19.68 1 19.69 109.28 797.54 88.616.72 3 359.695.83 11.08 9 28.670.01 4 1.401.49 15 5 4 6 48 15 31.695.84 9 2.13 202.28 1 49.35 1 3 2 1 4 2 2 2 1 1 13 9 1.35 55.92 36.73 19.517.56 1.807.950.74 4 964.383.75 2 48 7.90 2 1 1 6 4 2 2 1 1 24 7 1.86 137.98 4 916.656.84 18.853.86 3 114.722.09 2 457.63 1 10 2.43 4 772.24 55.619.29 1.09 94.70 3 490.48 Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (17) 3 2 1 1 1 1 1 5 Nilai (18) - Nilai (19) - Nilai (20) - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Lampung - 1 1 Kabupaten Lampung Selatan - 2 2 Kabupaten Tulang Bawang - 3 3 Kabupaten Lampung Timur - 2 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - 735.Lampiran 26 (nilai dalam juta rupiah) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidakhematan Entitas Total Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Struktur Pelaksanaan Pengendalian Anggaran Intern Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) 5 2 1 1 1 5 2 124 9 6 7 1.27 10.68 865.35 9.66 2 687.41 3 545.681.235.26 29.10 2.43 1 6 1.618.54 744.78 15 2.89 19.05 3 545.420.21 210.317.390.752.327.521.35 735.

00 74 .Lampiran 27 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 100.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 17 6 3 8 68.00 Jumlah Kasus % 8 3 1 4 25 32.

54 Rp175.21 USD 29.447.71 USD 29. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 2 Lain-lain 20 17 3 II Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 31 31 III Administrasi 33 32 1 1 1 85 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. 2 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan IV Ketidakefektifan 1 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 75 .21 USD 29.602. dll.602.447.49 Rp5.049.Lampiran 28 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . pertambangan.54 Rp181.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Jumlah Kasus Nilai (juta rupiah dan ribu USD) Rp5.49 Rp175.261. perpajakan.261.54 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara 1 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.261.

24 40.10 3 101.18 526.035.30 USD 14.50 1.36 3 1. Bungo - - 3 Kab Sarolangun 1 - 4 Kab.139.602.517.049.98 751.12 59.21 USD 29.391.46 USD 6. Batanghari - - - 1 4 3 3 1 4 1 3 2 3 2 2 4 33 1 1 - USD 3. Kutai Kartanegara 1 - - 9 Kab.63 1.22 USD 924.70 USD 41.96 USD 6.250.12 59.621.54 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Nilai (18) (1) (2) (3) (4) 1 1 1 1 4 1 2 2 5 17 Kab.75 141. Tanah laut 5 - 10 Kab. Sijunjung 1 - 7 Kab.44 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 31 2 1.97 1.357.749.782.49 2 107.843.62 2 9 8.10 3.30 USD 14.46 175.91 871.44 USD 41.45 2 Kab.925.37 USD 10.586.163.71 USD 29.887.563.65 3 1 1 1 1 1 2 1 8 85 8 7 7 5 5 6 6 6 3 4 8 8 3.72 USD 6.50 1.07 4.55 Rp181.41 2 4. Indragiri Hulu 1 - 13 Kab.08 USD 6.67 26.843.447.26 Rp5.46 USD 6.91 2.508.10 4.04 22.586.41 8.22 USD 924.38 22.720. Berau 1 - 8 Kab.54 1 1 1 2 2 2 20 1 796. Tebo - - 5 Kota Sawahlunto 1 - 6 Kab.98 892.493. Tanah Bumbu 2 - 11 Kab.76 Lampiran 29 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (nilai dalam juta rupiah dan ribu USD) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Negara/ Daerah Administrasi Potensi Kerugian Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Sistem Sistem Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus USD 466.749.24 40.143.202.921.71 5.493.13 2 3 4.925. Indragiri Hilir 2 - 12 Kab.55 Rp175.393.67 26.202. Kuantan Singingi 4 - - 14 PKB2B dan CTR 6 - JUMLAH 25 - Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .91 175.997.261.553.261.18 526.143.563.73 USD 466.451.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 3 3 3 1 2 6 100.00 Jumlah Kasus % 77 .00 50.00 50.Lampiran 30 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 78 .474.78 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Lain-lain II Kekurangan Penerimaan 1 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS III Administrasi 1 1 17 USD 66.78 6.315.315. dll.71 4 4 22 Rp6.71 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. perpajakan. pertambangan.474.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 6.315.474.71 17 USD 66.Lampiran 31 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .78 USD 66.

00 79 .03 100.Lampiran 32 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 9 1 1 2 1 6 2 4 20.28 Jumlah Kasus % 9 2 7 29 31.69 48.

97 1.00 80 .Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 1 1 % Nilai (juta Rp) 1.735.735.97 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang II Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset dikuasai pihak lain III Administrasi 20.00 312.74 1 1 1 1 2 1 1 5 20.00 2.50 312.00 84.50 15.Lampiran 33 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 - - 1 Lain-lain IV Ketidakefektifan 40.048.00 - - 1 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.26 20.47 100.

50 Jml Kasus (13) 1 1 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah Kerugian Negara/ Potensi Kerugian Administrasi Ketidakefektifan ditindak lanjuti Perusahaan Negara/Perusahaan dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (14) 1 1 2 Nilai (15) Potensi Kerugian Negara/Perusahaan (16) 312.97 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Nilai (12) 312. Entitas/Obrik Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Total Jml Kasus (5) 6 1 7 14 6 9 5 2.735.47 1 1 2 1 6 1 1.048.735.Lampiran 34 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No.50 312.47 3 3 4 2.50 Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Tambahan Penggantian Biaya Pokok BBM - 2 Subsidi Jenis BBM Tertentu 13 3 Kewajiban Pelayanan Umum PT PELNI (Persero) 3 4 Kewajiban Pelayanan Umum PT KAI (Persero) 13 5 Subsidi Pupuk yang disalurkan PT Pusri (Persero) - 6 Subsidi Bunga yang Ditagihkan Bank Indonesia - JUMLAH 29 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 81 .048.50 312.97 1.

77 47 100.00 82 .66 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 6 3 3 12.Lampiran 35 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 13 12 1 28 3 9 16 59.57 27.

Lampiran 36 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
No Kelompok dan Jenis Temuan Nilai Jumlah (juta rupiah dan Kasus ribu USD) 92.936,95 USD 7,543.01 7.453,44 6.856,42 104,08 1.023,50 77.499,49 USD 7,543.01 973.661,50 USD 53,155.43 1.466,71 781.925,38 USD 20,704.76 190.269,40 USD 32,450.67 3.201,35 2.915,16 286,19 1.243,90 1.243,90 11.990,65 11.990,65 Rp1.083.034,47 USD 60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 5 Lain-lain 13 1 3 1 1 7

II

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset tidak diketahui keberadaannya 2 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 3 Lain-lain

31 1 22 8

III

Kekurangan Penerimaan

6 4 2 6 1 3 1 1 1 1 1 1 58

1 Penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara atau perusahaan milik negara 2 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi

1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan

1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

83

84

Lampiran 37

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
(nilai dalam juta rupiah dan ribu USD)
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Kerugian Negara/ Perusahaan Potensi Kerugian Negara/ Perusahaan

Ketidakefektifan

Kekurangan Penerimaan

Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus
(6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Nilai

Jml Kasus
(17) (18)

Nilai

Nilai

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(19)

(20) 3 1 1.243,90 91,84

1 USD 38.60 410.591,37 USD 29,327.09 26.646,73 USD 412.07 19.968,06 127.812,60 USD 30,920.67 Rp1.083.034,37 USD 60,698.45 13 USD 7,543.01 31 Rp92.936,95 1 1 29.208,30 6 98.604,29 USD 30,920.67 Rp973.661,50 USD 53,155.43 2 2.421,35 2 5.126,33 1 2.641,12 USD 412.07 2 6 3 24.005,60 5 USD 7,543.01 USD 21,784.08 14 45.650,06 364.941,30 USD 38.60 2 4 9 1 6 28 6 58 1 2 7 2 9 1 4 1 19 429,71 Rp3.201,35

PT Angkasa Pura II (Persero)

9

2

6

1

17

498.015,60 4 13.016,11 5 4 2.771,64

480.983,95

2

PT Adhi Karya (Persero)

4

1

2 1 6

1

Rp1.243,90

1 -

11.990,65 1 Rp11.990,65

Rp91,84

3

Bali Tourism Development Corporation (BTDC)

5

-

4

PT Kimia Farma (Persero)

15

4

5

PT Nindya Karya (Persero)

7

6

6

PT Pupuk Kalimantan Timur

7

-

JUMLAH

47

13

Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 38

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 6 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 27 17 5 2 3 101 2 1 19 44 24 11 49 13 25 7 4 177 100,00 27,68 57,06 15,25 Jumlah Kasus %

85

Lampiran 39 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 43 2 4 1 1 8 5 1 21 22 2 2 2 1 15 26 22 2 2 66 13 2 12 1 11 15 1 2 2 7 28 28 42 7 1 1 27 6 227 100,00 18,50 12,33 29,07 11,45 9,69 % Nilai (juta Rp) 3.269,96 102,79 220,50 865,97 21,50 280,72 145,61 7,25 1.625,59 13.893,40 17,52 119,87 575,39 2.525,50 10.655,09 2.823,85 2.072,38 643,41 108,05 46.809,14 46.809,14 6.548,97 3.365,97 1.484,78 1.629,38 68,82 73.345,33 100,00 8,93 63,82 3,85 18,94 %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Pemahalan harga (Mark up) 5 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 6 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 7 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 8 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 5 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan 6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 7 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan 8 Penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 10 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

18,94

4,46

86

Halaman 1 - Lampiran 40

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 5 5 3 3 31 8 4 7 4 2 6 21 8 7 4 4 3 3 1 1 3 1 477,47 1.054,00 10 824,93 1 173,10 484,00 484,00 28,00 28,00 41,43 28,08 0,60 540,71 6 1 1 6 6 20 3 4 4 2 4 3 8 2 7 3 12 19 55 11.392,83 2.421,83 3 9 2.507,01 3 9 2.507,01 1 10 3.132,02 1 10 3.132,02 1 13 2.078,53 2 19 3.050,86 2 6 1.572,28 2 168,54 1 3 3 8 2 1 1 2 5 38 6.701,68 10 882,37 1 10 304,13 2 23,70 1 2 5 875,02 1 12,50 74,37 555,74 555,74 2.484,34 2.484,34 6.417,25 2.393,75 321,60 529,10 146,67 1 11 1.102,42 3 47,08 3 16 732,50 3 58,73 1 482,28 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 7 1 2 2 5 13 240,11 3 141,73 1 3 15 554,59 2 92,49 2 79,21 1 14 70 3.808,80 14 376,23 4 635,87 7 911,20 382,88 9,09 153,58 109,77 49,80 206,05 44,20 9,75 4,00 30,45 43,26 43,26 165,10 4,39 105,99 36,49 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 2 2 26 6 6 7 3 1 3 13 2 7 4 3 3 2 2 11 5 1 2 1 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 6 1 1 3 1 8 1 3 4 1 1 4 4 5 2 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (17) 431,11 431,11 1.816,66 20,46 37,90 945,57 812,72 3.589,96 1.393,98 321,00 1.874,97 163,68 163,68 2.435,75 2.435,75 1.403,07 175,67 Jml Kasus (18) 1 1 13 4 2 3 1 1 2 3 3 1 1 21 4 4 3 2

Ketidakefektifan

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (19) 68,82 68,82 1.629,38 1.629,38 3.365,97 151,47 418,90 465,49 Nilai (20) 163,55 81,62 58,73 6,75 16,44 77,69 8,58 69,11 Nilai (21) 8,60 8,60 Nilai (22) -

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

I

Prov. Sumatera Barat

7

1

1

1

PDAM Kota Bukittinggi

7

1

II

Prov. Sumatera Selatan

4

1

1

2

PDAM Lematang Enim

4

1

III

Prov. Jawa Timur

50

5

1

3

PDAM Kab. Banyuwangi

11

-

2

4

PDAM Kab. Blitar

10

1

3

5

PDAM Kab. Kediri

10

-

4

6

PDAM Kab. Madiun

6

1

5

7

PDAM Kab. Mojokerto

6

2

6

8

PDAM Kota Pasuruan

7

1

IV

Prov. Bali

28

2

1

9

PDAM Kab. Buleleng

11

1

2

10 PDAM Kab. Karangasem

9

-

3

11 PDAM Kota Denpasar

8

1

V

Prov. Nusa Tenggara Barat

2

-

1

12 PDAM Menang Mataram

2

-

VI

Prov. Kalimantan Selatan

9

-

1

13 PDAM Intan Banjar

9

-

VII Prov. Sulawesi Tengah

49

10

1

14 PDAM Kab. Banggai

7

1

2

15 PDAM Kab. Buol

6

-

3

16 PDAM Kab. Donggala

9

2

4

17 PDAM Kab. Morowali

8

2

87

88

Halaman 2 - Lampiran 40

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 3 3 1 10 10 3 3 1 1 101 49 227 73.345,33 43 3.269,96 22 13.893,40 26 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 2.823,85 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 3 3 66 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 3 3 28 5 6 678,21 2 18,21 1 1 6 3.531,12 1 12,75 1 1.171,30 1 1 1 6 2.405,24 1 1.854,79 1 1 158,40 726,06 342,92 36.968,90 36.968,90 46.809,14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) 3 2 3 1 1 2 2 42 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 392,03 1.620,99 317,07 1.484,78 1.484,78 6.548,97

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (20) 241,25 Nilai (21) 8,60 Nilai (22) 17,04 17,04 17,04

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

5

18 PDAM Kab. Poso

6

2

6

19 PDAM Kab. Tolitoli

5

1

7

20 PDAM Kab. Tojo Una-una

8

2

VIII Prov. Sulawesi Selatan

12

2

1

21 PDAM Kota Makassar

12

2

IX

Prov. Sulawesi Barat

12

5

1

22 PDAM Kab. Polewali Mandar

12

5

X

Prov. Papua

4

1

1

23 PDAM Kab. Jayapura

4

1

Total

177

27

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 41

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 6 5 1 27 2 9 13 1 2 5 4 1 38 100,00 13,16 71,05 15,79 Jumlah Kasus %

1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 2 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

89

Lampiran 42

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus % Nilai (juta Rp) %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

10 2 3 2 2 1 1 1 17 15 2 19 2 1 5 6 3 2

16,39

3.531,80 102,24 676,67 101,52 2.637,48 13,87

17,95

1,64

28,35 28,35

0,14

27,87

6.072,60 5.523,57 549,02

30,86

31,15

-

-

1 1

1,64

70,47 70,47 -

0,36

13 4 2 5 2 61

21,31

9.977,10 944,46 8.873,63 159,00

50,70

100,00

19.680,34

100,00

90

Lampiran 43

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kerugian Daerah/ RSUD Potensi Kerugian Daerah/RSUD Kekurangan Penerimaan

Entitas

Total

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja

Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Kerugian Daerah/RSUD

Potensi Kerugian Daerah/RSUD

Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 0 2 0 2 6 27 5 61 19.680,34 10 3.531,80 11 2 13 800,59 1 78,72 1 1 14 4.118,02 2 2.629,85 4 11 4.040,07 4 309,00 28,35 6 1 12 9.349,72 1 28,35 3 7 4 17 6 1 11 1.371,93 3 514,22 3 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 857,70 3.681,28 1.307,39 226,21 6.072,60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus (15) 3 4 2 4 6 19

Jml Kasus (16) 1 1

Nilai (17) 70,47 70,47

Jml Kasus (18) 2 6 2 1 2 13

Nilai (19) 9.250,89 49,78 180,77 495,66 9.977,10

Nilai (20) 23,52 23,52

Nilai (21) 2,38 2,38

(1)

(2)

(3)

(4)

1

RSUD Pirngadi Medan

9

2

RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh

7

3

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung

6

4

RSD Mayjen H. M. Ryacudu di Kotabumi

1

5

RSUD Prof. Dr W.Z. Johannes Kupang

15

JUMLAH

38

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

91

59 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 44 9 32 1 2 48.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 6 3 3 41 1 1 14 9 16 45.05 6.00 92 .Lampiran 44 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .35 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 91 100.

88 4.78 66.86 115. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah 12.792.50 - 2.56 18 2 3 12 1 32.00 58.73 2.117.727.13 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 6 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 7 1 1 2 1 1 1 15 1 2 11 1 8 8 14. dll.792.73 - - 1 1 6 1 1 1 3 55 1.55 27.497.235.31 33.00 93 .82 1.88 1.50 3.416.34 178.62 235.764.633.56 100.727.00 38.759. pertambangan.98 90.834.521.52 775.91 484.50 10. perpajakan.70 101.25 23.96 10. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 4 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.27 % Nilai (juta Rp) 1.Lampiran 45 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .22 100.50 1.68 2.88 2.39 445.91 13.16 2.

52 5 JUMLAH 91 15 38.142.258.56 2 9 11. Buol.09 1 5.77 2 14 3 4.86 2 1.12 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .82 2 1 5 2.071.50 6 13.633.24 2 211.727.70 1.759.598.727.94 Lampiran 46 (nilai dalam juta rupiah) Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Daerah Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 0 0 0 0 1 0 1 3 0 3 2 6 29.87 2 2 2 9 4.84 1 146.83 18.699.98 1 11 7 5.248.09 20 3 4 2.91 0. Sulawesi Utara 7 10 PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang Di Palu.16 Nilai (20) 0.98 1 6 18.676.34 9.12 - (1) (2) (3) 1 BPD Sumatera Barat 21 2 PD BPR Tanggo Rajo 1 3 BPD Jawa Tengah 2 4 PD BPR Kab.89 1 3 1 2 5 3.88 18 1 1.50 - Jml Kasus (18) 1 2 1 1 1 Nilai (19) 484.475.98 3 4.89 2.943.764.25 10.43 10 10 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (4) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 2 5 1 5 3 1 - Nilai (17) 1. Tolitoli dan Parigi Moutong 6 41 44 55 58.56 3 3. Bantul 2 5 PD BPR Bank Sleman 1 6 PT Bank NTB 17 7 PT BPD Nusa Tenggara Timur 23 8 PT Bank Kalimantan Tengah 12 9 PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.800.521. Poso. Luwuk.08 2 325.50 2.919.40 18.142.72 1 775.54 - Nilai (21) 223.792.54 223.494.497.66 4 8.800.39 8 2.37 369.22 7 1.96 1 178.416.

00 37.99 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern 4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 95 .93 39.Lampiran 47 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .08 22.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 20 12 1 7 34 4 7 14 8 1 33 17 11 1 2 2 87 100.

70 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 Kekurangan volume pekerjaan 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/ atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Pembelian aset yang berstatus sengketa 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.37 7.16 437.71 344.00 - 18.79 34.84 417.47 1.60 1.Lampiran 48 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .073.46 3.91 - - 10.402. dll.46 1. perpajakan.133.49 100.835.764.35 % 4.620.16 38.92 6.18 15.442.31 6.73 1. 4 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 5 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 6 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 18.15 27.58 100.673.639.51 122.80 485.379.00 96 . pertambangan.60 16.00 44.60 15.402.487.53 16.99 100.36 196.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jumlah Kasus 8 2 2 3 1 16 6 1 2 5 1 1 16 15 1 24 10 4 6 1 2 1 9 9 13 2 5 3 3 86 % 9.52 271.12 8.99 18.30 Nilai (juta Rp) 2.169.

73 - 3 - 1.73 1 4 3 1 16 0 7 Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama (Provinsi Jawa Timur) 3 2.51 668.10 - - 4 Pendapatan dan Biaya PD Natuna.696.42 1 3 4 - 1 2 2 - 66.37 5.073.07 2 5 3 179.65 3 3 10 11.312.90 1 100.169.00 499.52 1.169.53 4 1 2 5 4 24 1 2 9 71.Lampiran 49 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Ketidakhematan Ketidakefektifan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jml Kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus Nilai Nilai (1) 1 3 2 5 188.847.186.24 2.00 4.92 1 113.49 254.867.88 5 6.379. Kalimantan Barat 12 10 Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya.60 16. Maluku 15 JUMLAH 87 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 97 .849.570.109.93 619.43 3 2 1 6 3 PT.14 15.51 8 PD Pasar Surya.345.13 8.34 826.50 781.442.402.29 (20) - 1 PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan 5 2 PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS) Untuk Tahun Buku 2008 – Semester I Tahun 2010 di Pekanbaru (*) 4 1 3 782.288. Kepri 8 6 Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama 1 4 2 7 20 34 33 86 1 7 9 163.94 2 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 5. Pengembangan Investasi Riau (BUMD Provinsi Riau) 7 221.12 44.54 3 9 16 8.40 329.79 3 2 3 5.696.00 1.24 163.325. Jawa Timur 7 9 Perusahaan Daerah Aneka Usaha. Kepri 16 5 Perusahaan Daerah Karimun.54 8 5 3 7 2.38 1.68 143. Kalimantan Timur 8 11 PD Praja Karya.31 1 4 2 1 16 8.94 - (15) - (16) 1 (17) 39.51 1.19 1 1.620.00 14.52 2 122.835.169.40 5.37 5 1 9 6.398.133.730.46 2 1 1 1 1 13 1.50 1 1 4 3 10 1.849.58 5 1 11 6.82 (18) 1 3 (19) 48.

962.359.995.212.60 11.86 351.31 1.617.87 328.64 24.15 GBP 17.010.59 596.577.52 109.145.34 11.636.15 GBP 17.335.909.556.090.662.69 2.244.15 GBP 17.676.22 1 4 5 24.79 5 22 27 1 1 2 3 3 14 43 57 - 125.23 - 85 85 20 16 36 11 13 24 75 75 - 64.12 26.945.65 - - USD 9.47 EUR 11.616.34 1.64 18.834.88 13.82 13.145.526.152.29 1.757.536.951.34 2.62 2.13 581.26 11.410.88 1.78 368.389.26 557.78 828.771.265.78 96.15 GBP 17.830.556.08 24.090.244.244.24 EUR 0.430.Lampiran 50 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerntah Pusat (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 1 (2) Kementerian Pertahanan (3) 2009 2010 Jumlah 2 Mabes TNI 2009 2010 Jumlah 3 TNI AD 2009 2010 Jumlah 4 TNI AL 2009 2010 Jumlah 5 TNI AU 2009 2010 (4) 40 39 79 35 13 48 45 45 15 32 47 34 59 Jumlah 93 6 Kementerian Luar Negeri 2009 2010 Jumlah 151 Nilai (5) 2.847.22 10.20 557.729.60 11.78 97.80 USD 309.12 26.750.922.306.26 78.10 2.92 78.32 - 55 55 - 10.29 829.92 1.92 26.21 Jml (6) 2 2 35 9 44 39 39 11 11 34 58 Nilai (7) 138.47 EUR 11.57 USD 309.21 - 1.13 581.55 65.676.21 1.483.592.58 64.19 - 8 Wantanas 2009 2010 Jumlah 9 BIN 2009 2010 Jumlah 10 Lemsaneg 2009 2010 Jumlah 11 Lemhanas 2009 2010 Jumlah 12 Menko Polhukam 2009 2010 Jumlah 13 Kementerian Dalam Negeri 2009 2010 Jumlah 14 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi 2009 2010 Jumlah 6 17 23 2.64 1.47 EUR 11.291.15 GBP 17.899.40 7 2009 2010 Jumlah 19 111 130 15 10 25 23 16 39 11 13 24 11 11 22 17 7 24 141 191 332 - 161.55 Jml (8) 2 2 6 6 6 6 1 Nilai (9) 596.08 EUR 0.52 109.962.88 16.22 - EUR 0.78 1.89 5 4 9 2.305.20 22.090.72 17.47 EUR 11.987.65 Jml (10) 40 35 75 4 4 15 15 30 Nilai (11) 2.79 65.79 416.734.483.13 24.96 125.01 6.13 16.27 64.20 22.696.75 USD 9.04 16.47 EUR 11.995.750.23 9 9 9.335.79 848.89 98 .903.98 22.28 1 1.41 39 1.97 1.09 24.659.21 79.419.72 19.922.89 24.09 9.138.903.138.Halaman 1 .82 13.96 41.28 2.31 4.10 15.698.04 16.38 USD 309.739.994.906.984.906.79 382.255.74 USD 9.40 1 40 - 28.952.284.89 4.284.69 1.34 30.35 30.93 92 USD 9.26 22.15 GBP 17.79 14 4 18 14 9 23 3 3 11 11 22 14 7 21 127 73 200 - 161.080.98 41.407.62 868.00 68 219 Kementerian Komunikasi dan Informatika EUR 0.255.20 1.27 22.08 369.40 11.662.981.29 1.92 26.02 32.899.744.692.18 102.10 138.70 EUR 0.13 96.88 16.94 USD 309.40 1.40 12 124 - EUR 0.59 1.636.616.362.770.863.590.47 EUR 11.483.590.952.26 11.98 461.48 2.08 24.31 4.75 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.40 1.306.847.21 9.78 2.21 79.35 - - USD 9.37 53.88 15.744.89 24.377.28 2.530.244.76 112 USD 9.

535.31 1.48 521.16 326.17 1.39 1.98 71.091.71 4.49 973.626.988.85 1.379.83 24.610.071.60 12.325.239.00 150.584.77 313.47 22.91 26.00 126.385.53 77.71 950.24 526.09 23.869.722.796.66 124.923.788.317.317.44 USD 5.78 358.40 150.51 3.45 1.63 19.196.82 Jml (8) 33 11 44 3 3 1 37 38 13 2 15 1 8 9 1 6 7 14 11 25 12 23 35 4 35 39 1 1 3 1 4 22 57 79 2 2 Nilai (9) 23.60 449.87 34.Halaman 2 .95 230.48 1.378.126.714.78 1.85 106.00 16.50 326.301.56 USD 293.43 121.434.90 7.99 1.09 12.01 230.55 5.199.95 4.45 150.60 9.40 673.701.746.08 46.26 25.631.796.92 158.98 8.34 1.84 633.17 10.558.92 150.998.002.005.15 1.495.01 19.61 23.631.210.267.63 70.10 99 .301.910.00 284.92 352.01 230.104.40 19.00 5.57 1.642.60 228.241.75 536.08 121.09 23.01 1.17 9.244.87 284.73 1.283.75 55.37 4.325.82 26.44 USD 5.85 106.75 929.388.59 34.338.37 126.92 19.57 141.16 26.60 16.40 313.00 126.85 106.005.824.31 Jml (10) 13 13 21 21 4 4 377 377 104 104 30 44 74 53 89 142 11 11 22 12 12 Nilai (11) 9.568.558.585.00 7.826.57 2.92 6.584.592.75 55.43 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 4.43 141.61 230.37 26.534.038.66 1.45 1.77 2.45 1.193.85 1.910.24 220.196.923.33 630.63 54.01 96.761.75 536.60 4.283.66 USD 293.34 417.63 54.96 38.019.471.01 98.961.34 717.82 Jml (6) 5 14 19 18 18 2 3 5 21 4 25 1 4 5 3 3 6 21 11 32 94 17 111 2 2 2 107 109 5 13 18 1 5 6 25 12 37 4 5 9 6 22 28 3 8 11 Nilai (7) 126.84 141.19 124.253.37 5.92 5.85 950.263.98 628.37 34.82 26.460.32 26.97 170.631.00 1.283.165.038.988.880.92 464.95 230.00 5.01 96.75 927.35 1.83 1.241.73 51.283.077.631.94 362.43 141.85 165.22 USD 293.17 24.338.63 54.60 313.18 1.435.10 16.21 9.19 3.63 54.60 26.329.104.45 870.60 228.45 745.01 230.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 15 (2) Kementerian Sekretariat Negara (3) 2009 2010 Jumlah 16 TMII 2009 2010 Jumlah 17 BKN 2009 2010 Jumlah 18 BPN 2009 2010 Jumlah 19 LAN 2009 2010 Jumlah 20 Arsip Nasional 2009 2010 Jumlah 21 KPU 2009 2010 Jumlah 22 Kementerian Hukum dan HAM 2009 2010 Jumlah 23 Kejaksaan Agung 2009 2010 Jumlah (4) 38 25 63 21 13 34 3 40 43 34 27 61 2 16 18 4 9 13 412 22 434 106 144 250 32 44 76 24 POLRI 2009 2010 Jumlah 25 Komnas HAM 2009 2010 Jumlah 26 Mahkamah Konstitusi 2009 2010 Jumlah 27 MPR 2009 2010 Jumlah 28 DPR 2009 2010 Jumlah 29 DPD 2009 2010 Jumlah 30 Mahkamah Agung 2009 2010 Jumlah 31 Komisi Yudisial 2009 2010 Jumlah 59 231 290 11 11 22 5 13 18 2 5 7 28 13 41 4 5 9 40 79 119 3 10 13 Nilai (5) 23.006.10 220.00 USD 293.09 138.78 1.60 228.071.24 56.005.00 226.84 633.45 745.50 326.55 121.27 70.988.

573.308.22 41.22 56.Halaman 3 .12 2.32 252 3 255 91 34 125 1 7 8 19 5 24 17 19 36 12 22 34 24 9 33 7 19 26 45.895.50 45.65 18.97 1.69 885.67 68.786.16 1.363.73 379.280.62 1.594.07 1.834.153.799.175.10 879.065.26 4.94 5.984.36 10.273.85 1.895.07 4.131.81 429.73 31.20 2.24 USD 16.32 USD 32.53 113.22 63.405.308.63 139.50 AUD 334.30 37 2009 66 2.213.50 45.573.387.041.94 33.24 USD 16.22 4.85 427.552.850.36 17.21 72.720.88 38.29 340.28 825.99 1.23 - 11 11 - 38 Kementerian Pekerjaan Umum 2009 2010 Jumlah 364 29 393 202 151 353 3 15 18 7 7 25 22 47 20 39 59 12 23 35 32 47 79 38 32 70 65.37 3.06 19.799.591.68 624.70 20.245.07 433.832.728.34 2.30 25 Jml (10) 1 1 26 26 25 Nilai (11) 5.33 28.61 1.660.18 28.834.670.10 1.70 45.08 7.99 1.99 139.45 132.927.191.197.23 14.98 506.984.258.21 1.710.197.897.693.247.45 3.897.31 46.32 139.338.75 990.475.270.861.32 USD 32.810.272.387.10 1.46 139.73 USD 23.96 23.693.81 8.197.93 USD 23.68 552.419.43 39.55 132.60 1.710.17 4.56 194.13 41.98 50 24 74 20 38 58 2 4 6 4 10 14 3 13 16 1 1 7 13 20 18 10 28 12.337.474.849.65 70.405.68 8.30 12.22 2.50 78.266.91 139.352.336.337.60 20.171.31 551.37 20 41 2.720.39 7.30 7.667.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 32 KPK (2) (3) 2009 2010 Jumlah 33 PPATK 2009 2010 Jumlah 34 BNN 2009 2010 Jumlah 35 Kementerian Pertanian 2009 2010 Jumlah 36 Kementerian Kehutanan 2009 2010 Jumlah (4) 10 8 18 3 15 18 17 32 49 58 90 148 209 36 245 Nilai (5) 832.13 - - - 1.72 USD 12.70 USD 23.97 39 Kementerian Perhubungan 2009 2010 Jumlah 40 Menpera 2009 2010 Jumlah 41 Bapertarum 2009 2010 Jumlah 42 Kementerian PDT 2009 2010 Jumlah 43 BMKG 2009 2010 Jumlah 44 Kementerian Perindustrian 2009 2010 Jumlah 45 Kementerian Perdagangan 2009 2010 Jumlah 46 Kementerian Kop.69 34.545.087.247.73 2.31 54.987.96 3.30 824.230.21 54.13 113.230.111.85 1.40 899.027.220.027.545.65 47.210.992.39 113.50 AUD 334.50 AUD 334.24 1.37 62 2 64 91 79 170 4 4 7 7 2 7 9 7 7 1 25 26 13 3 16 7.99 1.421.45 USD 12.09 1.353.45 551.30 1. & UKM 2009 2010 Jumlah 100 .927.65 47.92 12.660.027.14 987.728.530.387.31 46.247.75 990.22 41.591.30 381.021.39 118.706.63 138.86 USD 23.27 1.440.16 1.97 18.60 1.99 1.635.336.657.337.16 277.12 70.021.643.90 USD 12.85 1.17 72.00 836.409.13 7.03 11.37 45 945.02 2.41 1.643.86 433.897.60 4.76 381.21 417.258.27 USD 12.337.258.36 19.62 15 179 Jml (8) 5 5 3 3 6 6 36 24 60 164 Nilai (9) 43.21 3.61 1.559.21 1.68 33.92 191.60 47.182.646.900.749.37 21 1.06 32.92 Kementerian Kelautan dan Perikanan 21 41 Jml (6) 10 3 13 15 15 17 25 42 22 40 62 20 Nilai (7) 832.96 3.338.171.513.81 440.850.37 24 69 391.273.50 AUD 334.407.10 43.27 1.489.513.396.31 8.98 2010 Jumlah 55 121 2.34 80.786.247.27 1.26 41.31 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.36 14.984.440.396.32 3.

75 65.12 83.83 5.27 USD 222.530.10 815.210.12 328.80 59.055.934.32 258.02 30.690.53 178.59 134.094.90 25.19 13.77 3.03 USD 222.48 57 Bakosurtanal 2009 2010 Jumlah 58 LAPAN 2009 2010 Jumlah 59 Kementerian Agama 2009 6 13 19 7 27 34 257 2010 Jumlah 534 791 60 Kementerian Sosial 2009 2010 Jumlah 45 49 94 4.557.87 JPY 266.00 29.21 2.451.620.757.45 62.205.176.402.19 44.43 59.19 154.19 39.00 1.197.09 252.111.450.753.082.37 42.51 251.536.03 30.02 2.24 2.09 176.51 1.77 162.10 296.042.60 8.968.588.49 546.23 160.018.46 USD 8.794.37 134.779.19 13.239.082.18 89.785.761.500.38 481.22 14 14 59 296 355 4 25 29 10 24 24 18 18 10 36 36 Jml (10) 2 2 22 22 Nilai (11) 176.32 4.14 USD 18.68 USD 18.12 83.89 296.696.753.87 JPY 266.98 129.46 5.655.97 1 1 5 10 15 95 114 209 18 18 36 2 69 6 75 8 8 2 5 7 12 12 5 12 17 1 1 1 1 42 20 Jml (8) 22 Nilai (9) 476.031.789.39 444.799.63 93.83 122.437.17 532.437.313.524.63 2.03 14.86 283.927.489.13 12.082.42 132.56 2.042.29 169.18 882.475.102.20 41.60 50 Kementerian LH 2009 2010 Jumlah 51 Kementerian BUMN 2009 2010 Jumlah 52 Kementerian Ristek 2009 2010 Jumlah 53 BPPT 2009 2010 Jumlah 54 LIPI 2009 2010 Jumlah 55 BATAN 2009 2010 Jumlah 56 BAPETEN 2009 2010 Jumlah 125 29 154 9 9 7 14 21 10 34 44 8 17 25 6 24 30 7 15 22 1.06 USD 262.75 23.48 23.38 575.93 USD 262.68 93.64 315.536.61 163.637.60 8.00 15.32 69.200.15 23.24 6.42 116.80 532.45 USD 262.298.90 2.299.896.813.54 USD 0.24 USD 0.62 184.824.310.49 546.557.04 6.732.270.12 328.59 17.68 USD 18.68 5.457.81 38.00 5.122.66 2.18 882.84 5.98 56.69 59.89 USD 0.69 52.082.60 559.732.45 USD 262.239.298.531.99 60.42 130.34 USD 8.00 1.98 23.410.485.515.477.716.87 JPY 266.17 4.25 USD 222.95 25.63 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 83.51 39.13 40.15 56.60 83.659.138.493.64 315.37 5.82 62.17 177.87 6.659.18 882.42 8.03 100.68 47.83 6 12 18 2 3 5 103 124 227 23 6 29 10 32 23 55 1 1 5 9 14 10 4 14 3 5 8 6 23 29 6 4 33 13 Jml (6) 5 8 13 2 2 4 20 Nilai (7) 300.45 130.578.51 75.523.19 3.79 2.78 14.00 42.30 211.485.67 162.213.206.32 USD 0.87 JPY 266.402.169.01 4.564.500.00 75.95 23.503.65 132.13 71.755.68 USD 18.98 978.888.24 1.132.477.608.710.080.58 95.08 101 .24 1.91 35.03 USD 222.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 47 BSN (2) (3) 2009 2010 Jumlah 48 BKPM 2009 2010 Jumlah 49 Kementerian ESDM 2009 2010 Jumlah (4) 5 10 15 2 24 26 42 69 111 Nilai (5) 300.70 815.07 144.38 55.52 56.23 116.77 52.795.828.42 8.33 109.753.Halaman 4 .18 133.676.629.65 818.98 21.34 USD 8.30 48.78 14.966.09 25.210.475.

22 14.352.097.72 5.40 1.648.531.020.60 2.08 628.25 14.781.12 63.190.287.54 65.502.81 259.01 23.42 2.241.32 2.97 648.34 584.16 365.71 364.54 980.155.09 80.281.66 USD 0.15 993.106.162.31 1.363.606.45 69.794.651.037.491.205.91 3.50 588.975.36 USD 9.221.43 15.56 309.990.258.06 USD 140.793.653.40 7.03 205.032.12 63.18 1.61 538.06 62 Menko Kesra 2009 2010 Jumlah 63 KPP dan PA 2009 2010 Jumlah 64 Kementerian Kesehatan 2009 2010 Jumlah 65 Kementerian Nakertrans 2009 2010 Jumlah 29 29 58 2 14 16 103 93 196 22 77 99 6.331.81 BN Penanggulangan 2009 Bencana 2010 68 2009 395 - 424.83 828.54 1.425.56 538.47 11.20 458.24 2.156.412.045.24 1.01 USD 140.708.871.84 336.75 8 12 20 17 11 28 7 Jml (6) 8 4 12 1 6 7 2 6 8 34 45 79 3 4 Nilai (7) 175.890.10 3.171.66 3.08 57.31 165.50 1.39 422.20 379.736.58 54.59 63.808.73 1.11 580.757.51 1.411.466.59 1.42 USD 9.060.81 3.72 246.593.502.28 54.68 4.484.330.944.79 1.13 1.46 225.156.054.06 Jumlah 422.09 623.18 345.60 1.06 1.06 175.087.74 205.00 2.68 1.58 54.435.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 61 (2) (3) (4) 11 35 46 Nilai (5) 422.741.04 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 422.156.025.91 48.20 47.89 47.82 4.097.463.71 209.158.09 623.794.43 7.189.89 1.247.54 15.610.936.79 5 6 11 4 6 10 31 Jml (8) 3 12 15 22 5 27 8 8 39 38 77 16 15 Nilai (9) 246.30 1.111.76 27.208.26 31.66 USD 0.237.516.56 1.19 USD 140.104.16 1.50 588.46 75.579.73 188.11 11.07 1.19 1.431.60 11.08 449.50 1.531.83 USD 9.91 4 4 1 1 61 Jml (10) 19 19 6 18 24 30 10 40 3 58 Nilai (11) 611.00 11.34 440.190.751.994.156.00 65.56 2.080.74 572.162.00 66 BKKBN 2009 2010 Jumlah 67 Badan POM 2009 2010 Jumlah Kementerian Pendidikan Nasional 13 22 35 21 18 39 253.351.555.24 218.43 11.04 1.81 2.22 4.18 921.80 12.17 131.389.66 1.351.320.633.453.38 64.45 69.12 USD 9.000.854.25 19.632.39 4.39 6.54 164.815.33 1.04 8.97 648.62 412.14 572.205.274.57 393.98 112 64 176 5 8 13 13 1 14 2 6 8 292 44 336 36.987.68 1.511.08 458.14 1.39 USD 0.608.975.97 364.572.020.99 1.72 5.31 2 8 10 3 15 18 262.640.89 1.99 30.08 1.11 299.68 589.95 94.229.59 63.797.79 29.02 1 2 3 7 7 175.23 962.20 449.41 2.281.640.208.57 102 52 154 11 12 23 6 4 10 2 8 10 159 63 222 139.72 284.886.494.28 1.04 262.043.96 477.778.50 1.10 3.756.556.718.22 388.33 2 15 17 9 6 15 35.408.82 2010 Jumlah 145 540 - 69 Kementerian Budpar 2009 2010 Jumlah 37 47 84 22 11 33 7 21 28 462 484 946 70 Menpora 2009 2010 Jumlah 71 Perpustakaan Nasional 2009 2010 Jumlah 72 Kementerian Keuangan 2009 2010 Jumlah 73 Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2009 2010 Jumlah 5 25 30 12 28 40 35.31 360.38 8.Halaman 5 .34 584.43 1.54 11.81 187.76 2.42 2.67 31.26 580.47 159.66 124.037.41 908.54 311.63 72.532.507.61 181 29 210 21 27 48 3 6 9 3 7 10 11 377 388 248.51 458.368.003.81 360.042.06 USD 140.00 - 35.31 74 BPKP 2009 2010 Jumlah 102 .646.144.68 159.00 175.020.39 USD 0.31 20.61 223.564.48 2.221.10 23.185.81 205.043.

24 76.77 103.29 128.354.77 610.68 USD 313.37 EUR 11.201.19 GBP 17.468.56 1.09 4.77 8.55 GBP 17.30 610.19 - Rp1.29 128.34 61.211.77 610.87 JPY 266.36 162.90 343.119.78 Keterangan 1.56 76.50 1.55 JPY 266.064.227.66 56.014.98 6.78 2.30 116.094.51 34.50 TOTAL 8.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 75 BPS (2) (3) 2009 2010 Jumlah 76 Menko Perekonomian 2009 2010 Jumlah 77 STAR SDP 2009 2010 Jumlah 78 BPK 2009 2010 Jumlah 79 Bank Indonesia 2009 2010 Jumlah 80 LPS 2009 2010 Jumlah 81 BNP2TKI 2009 2010 Jumlah 82 BPLS 2009 2010 Jumlah 83 LPP TVRI 2009 2010 Jumlah 84 LPP RRI 2009 2010 Jumlah 85 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Otorita Batam) 2009 2010 Jumlah (4) 11 25 36 3 1 4 12 5 17 25 28 53 6 6 1 4 5 31 17 48 19 9 28 12 20 32 32 32 18 73 91 Nilai (5) 236.15 274.251 Rp 27.56 72.25 41.49 129.59 129.49 129.102.73 Jml (8) 5 5 6 11 17 6 6 13 3 16 2 1 3 8 8 2 2 5 3 8 Nilai (9) 610.543. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 103 .Halaman 6 .960.77 AUD 334.08 239.131 Rp 4.543.42 USD 42.49 71.96 15.740.29 116.77 6.852.77 614.565.36 56.02 239.98 593.938.21 2.852.082.30 71.77 103.30 71.082.053.33 USD 326.59 510.25 129.72 7.21 Jml (10) 11 11 12 5 17 4 4 11 13 24 3 3 1 20 21 30 30 46 46 Nilai (11) 510.36 132.374.543.49 274.543.30 71.22 2.094.41 USD 12.147.38 - 3.03 AUD 334.18 28.793.324.84 2.09 12.78 3.945.25 41.70 15.109 Rp 9.246.25 41.324.29 128.003.47 340.43 343.15 EUR 11.63 257.97 76.464.25 71.69 1.76 3.17 Jml (6) 11 9 20 3 1 4 19 13 32 1 4 5 7 1 8 17 5 22 3 3 13 24 37 Nilai (7) 236.24 9.110.84 162.262.97 15.25 71.47 340.84 41.25 41.68 471.553. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.011 Rp12.97 4.68 471.647.418.69 2.22 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 236.30 1.324.23 USD 359.55 GBP 17.06 850.36 72.08 21.418.68 471.740.187.21 9.15 56.374.29 343.44 8.812.347.25 41.821.37 EUR 11.

03 9.02 20.91 3. Aceh Besar 2009 2010 Jumlah 5 Kab.14 31.59 196.687.155.736.766.29 50.979.15 12 2 14 33 33 17.83 248.10 5.91 21.362.849.343.65 6.399.73 74.16 11.222.243.06 5.40 348.325.60 11.67 154. Aceh Singkil 2009 2010 Jumlah 8 Kab. Aceh Barat Daya 6 164 118 282 35 30 65 Nilai 7 41. Aceh Jaya 2009 2010 Jumlah 6 Kab.389.064.51 21.07 6.63 477.719.408. Aceh Timur 2009 2010 Jumlah 12 Kab.721.044.69 2.329.89 2.933.40 13.58 7.067.52 239.460. Aceh Tengah 2009 2010 Jumlah 10 Kab.71 11.005.40 12.923.92 155.888.127.76 2.15 297.04 4.65 6. Aceh 3 2009 2010 Jumlah 2 Kab.92 12.971.06 104.532.238.042.85 16.721.10 239.95 2.85 113.98 836.52 140.408.47 3.967.61 8.82 197.27 10.467.208.285.771.598.85 16.50 24. Bener Meriah 2009 2010 Jumlah 104 .48 6.39 15.08 4.58 29.62 228.10 113.670.23 9.362.73 4.80 2.09 3.54 889.56 2. Aceh Selatan 2009 2010 Jumlah 7 Kab.467.215.03 8.811.893.687.10 2.254.11 81.02 243.20 145.45 114.67 7 2 9 22 22 4.26 1.41 10.05 54.544.42 13.734.10 252.60 900.065.32 493.684.684.00 106.790.20 2.96 56.825.734.07 74.52 74.97 1.20 11.389.23 - 3 2009 2010 Jumlah 41 69 110 45 56 101 48 27 75 26 72 98 34 63 97 73 55 128 34 50 84 5.883.82 99.69 1.78 31. Aceh Tamiang 2009 2010 Jumlah 9 Kab.06 11 Kab.75 4 Kab.36 8.20 11.07 18.70 3.053.361.63 5.65 180.584.451.54 152.53 370.078.83 115.79 21.889.41 182.999.379.676.527.056.91 1 1 2 10 12 20 20 7 23 30 5 25 30 14 14 28 6 14 20 11.361. Aceh Tenggara 2009 2010 Jumlah 32 33 65 72 59 131 35.52 Belum Ditindaklanjuti Jml 12 37 73 110 27 19 46 Nilai 13 1.584.90 443.656.30 889.985.039.983.29 8.74 24.417.684.728. Aceh Utara 2009 2010 Jumlah 51 112 163 54 36 90 225.611.903.611.67 13.317.174.110.265.02 40 69 109 2 31 33 5 27 32 8 8 10 26 36 3 7 10 22 22 5.939.17 7.637.20 348.23 6.99 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 10 46 21 67 4 11 15 Nilai 11 37. Aceh Barat 2009 2010 Jumlah Kab.31 2.37 15.244.80 Jml 8 81 24 105 4 4 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 9 2.53 852.67 303.374.07 213.83 12.07 74.799.07 11.07 1.12 29.311.14 31.17 320.47 2.28 29.85 23.242.443.74 711.83 448.Halaman 1 .06 972.633.47 13 29 42 17 59 76 13.67 81.45 39.165.242.87 26.620.27 104.89 - 13 Kab.66 3.313.17 3.422.54 41 15 56 23 23 19 41 60 19 12 31 56 34 90 28 14 42 18.765.10 3.33 429.150.15 2.31 8 67 75 7 36 43 233.96 11.385.40 18.41 248.33 2.48 34.32 18.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 14 694.053.56 900.33 174.45 8.27 2.Lampiran 51 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 1 2 Prov.48 239.364.608.92 9.31 174.305.73 5.42 7.08 6.22 24.20 30 23 53 27 27 - 13 22 35 20 20 225.

031.17 19. Simeulue 2009 2010 Jumlah 20 Kota Banda Aceh 2009 2010 Jumlah 21 Kota Langsa 2009 2010 Jumlah 22 Kota Lhokseumawe 2009 2010 Jumlah 23 Kota Sabang 2009 2010 Jumlah 24 Kota Subulussalam 2009 2010 Jumlah Prov.95 2.39 2.08 53.34 41.93 2.88 1.508.952.40 40.431. Bireuen 3 2009 2010 Jumlah 15 Kab.02 290.40 1.83 217.17 5.60 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 4 7 11 1 4 5 Nilai 9 18.634.99 18.95 2.457.41 45.494.792.15 15 15 37 37 21 10 31 48 16 64 12 12 20 6 26 18 18 36 10 15 25 0.994.01 22 31 53 47 74 121 16.031.11 11.20 187.37 187.18 39.001. Nagan Raya 2009 2010 Jumlah 4 53 36 89 48 46 94 25 34 59 Nilai 5 19.92 40.922.28 1.96 5.72 1.20 2.431.105.798.33 1.634.504.985.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 14 2 Kab.21 393.172.859.986.75 5.40 11 11 17 17 18 7 25 12 7 19 4 4 10 9 19 2 4 6 8 7 15 1.985.975.756.00 23.40 2.12 381.54 1.219.90 1.02 26 Kab.07 1.975.16 366.95 14.64 5.66 366.63 1.47 8.25 349.66 1.29 518.37 581.894.46 2.86 36.803.25 601.17 3.693.611.18 730.444.64 30.36 11.124.829.08 44.12 2.37 - 18 Kab.009.203.00 2.266.962.266.81 309.572.98 13.61 16.031.368.829.065.Halaman 2 .81 215.952.341.75 14.250.410.26 20.025.841.75 0.59 2.321.740.894.92 25.40 1.510.94 3.78 52.95 1.47 32.69 569.568.097.925.96 Jml 6 23 23 40 28 68 24 28 52 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 200.203.88 2.05 32.26 1.446.66 672.80 17 Kab.26 381.354.170.60 2.01 8.16 10.195.88 6.98 22.72 10.022.37 381.508.830.62 18.025.36 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 36 53 4 11 15 2 2 Nilai 11 75.20 13.821.80 40.238.75 187.56 21 8 29 42 42 52.444.128.66 0.83 132.67 13.66 41.29 5.33 110.75 18.829.07 217.013.87 8.32 282.53 18.099.079.394.66 0.88 1.045.604.99 5 30 35 5 44 49 24 24 4 4 3 33 36 23 14 37 1 20 21 3 81 84 1.28 18.80 6.26 381.94 2.21 672.28 290.368.434.47 196.37 2.771.25 3.96 19.888.80 1.28 2.331.46 198.62 69 32 101 8 8 73.76 24.00 5.099.45 682. Pidie 2009 2010 Jumlah 31 30 61 59 44 103 63 17 80 64 23 87 19 33 52 53 29 82 21 42 63 21 103 124 3.94 8.39 6.94 2.92 43.01 2.75 478.45 349.777.57 1.52 10.04 150.097.196.17 1.513. Sumatera Utara 25 2009 2010 Jumlah 112 71 183 97 74 171 143.17 5.50 20. Asahan 2009 2010 Jumlah 105 .510.410.402.092.434.354.33 14.46 2.142.34 658. Gayo Lues 2009 2010 Jumlah 16 Kab.331.64 11. Pidie Jaya 2009 2010 Jumlah 19 Kab.28 1.99 6.04 569.26 198.466.92 5.99 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 215.19 682.518.00 200.238.46 15.20 10.406.39 5.

Karo 2009 2010 Jumlah 32 Kab.452.16 478.77 24.49 142.273.00 16.370.53 4.78 46 90 136 66 34 100 49 45 94 1 53 54 2.50 135.64 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 206.692.76 1.00 584.177.227. Deli Serdang 2009 2010 Jumlah Kab.225.03 187.42 14.84 465.89 198.15 28.227.532.23 91.13 36.848.71 8.46 306.754.00 16.331.831.79 81.16 12.18 13.66 14.97 39 Kab.77 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 21 14 14 Nilai 9 41.16 12.19 1.623.82 1.78 1.06 42.809.16 107.40 153.982.28 13. Humbang Hasundutan 4 55 44 99 40 70 110 86 85 171 Nilai 5 42.809.259.04 899.48 100.68 3.15 105.178.069.29 171.66 20 1 21 171.04 899.32 24.347.92 42.48 10.04 24.295.84 1.03 1.77 30 2009 2010 Jumlah 43 33 76 33 29 62 68 19 87 70 83 153 34.12 7 7 3 4 7 32 32 16 7 23 117.00 35 Kab.96 1.68 10.259.452.714.53 78.183. Padang Lawas 2009 Utara 2010 Jumlah 38 19 52 71 26 47 73 24.27 463.32 141. Pakpak Bharat 2009 2010 Jumlah 106 .056.628.056.60 13.50 135.97 150.331.593.46 306.53 1.34 24.455.177.29 109.74 3.53 2.34 24.01 43 26 69 4 8 12 11 19 30 21 34 55 34.586.714.705.894.958.102.56 14.31 4 2 6 1 1 13 13 211.527.543.39 Jml 6 34 34 16 16 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 206.74 3.80 11.049.63 2.886. Batubara 3 2009 2010 Jumlah 28 Kab.586.97 150.20 537.04 17. Langkat 2009 2010 Jumlah 34 Kab. Nias Selatan 2009 2010 Jumlah 37 Kab.49 16. Mandailing Natal 2009 2010 Jumlah 54 93 147 66 34 100 49 46 95 20 53 73 3.56 89.44 90.05 1.83 5.16 621.20 0.Halaman 3 .151.34 270.14 899.58 14.609.831.56 109.47 26 17 43 25 25 33 42 75 855.00 0.18 13.364.016.325.28 66.30 844.84 314.364.331.922.40 19 52 71 3 42 45 24.97 3 4 7 153.208.15 1.886.47 1. Nias 2009 2010 Jumlah 36 Kab.71 8.76 624.673.20 537. Labuhanbatu 2009 2010 Jumlah 33 Kab.20 24.592.05 10.77 24.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 40 70 110 56 85 141 Nilai 11 24.809.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 27 2 Kab.640.64 117.14 117.352.00 4 1 5 6 6 363.00 31 Kab.475.165.38 232.107.49 16.04 1.55 81.97 41.049.32 141.49 142.14 899.34 206.13 36.03 320.129.425.75 254.73 12.273.78 254.178.76 2.692.14 117.78 1.96 17.45 107.623.089.28 24.32 142.52 936.42 14.30 672.831.286.29 28.17 3.59 142.286.63 2.01 584. Dairi 2009 2010 Jumlah 29 Kab.593.38 383. Padang Lawas 2009 2010 Jumlah Kab.837.307.34 206.

42 - - - - 41 55 96 9.90 142.334.27 4.423.10 2. Simalungun 2009 2010 Jumlah 43 Kab.93 566.978.69 33.477.66 14.59 162.088.437.61 4.25 13.843.178.27 3.27 772.01 110.81 16.919.975.27 107.59 44 Kab.96 340.71 13.92 8.098.94 2.205.14 7.02 906.92 2. Serdang Bedagai 4 35 71 106 Nilai 5 8.00 1 1 38 22 60 3. Toba Samosir 2009 2010 Jumlah 47 Kota Binjai 2009 2010 Jumlah 48 Kota Medan 2009 2010 Jumlah 49 Kota Padangsidimpuan 2009 2010 Jumlah 41 55 96 9.13 110.064.31 2.068.50 3.28 16.300.20 3.623.32 108.360.89 1.35 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 41 2009 2010 Jumlah 76 38 114 41 60 101 10.986.131.Halaman 4 . Tapanuli Utara 2009 2010 Jumlah 46 Kab.060.32 2.362.804.02 34 33 67 45.30 1.883.50 4.906.43 210.20 3.111.52 3.060.68 194.63 458.79 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 22 31 53 Nilai 9 6.84 254.760.84 15.760.81 18.335.93 5.744.052.90 4.42 - 50 Kota Pematangsiantar 2009 2010 Jumlah 61 94 155 45 29 74 8.599.57 7 49 56 15 15 107.61 3.46 558.910.50 8 43 51 3 3 5.334.23 45 Kab.17 5.79 42 Kab.79 18.587.67 8.56 7.15 1.20 2.023.321.87 3.53 744.345.919.401.273.995.954.37 1.324.226.622.63 4.14 3.99 2.67 3.81 16.172.79 45 19 64 2 28 30 9.09 40.12 1.90 24.65 18.77 2.284.00 467.05 30 19 49 1 10 11 603.891.79 18.94 5.27 107.14 7.21 3.38 3.27 182.46 558.50 3.99 13.975. Tapanuli Tengah 2009 2010 Jumlah 40 64 104 31 27 58 31 25 56 34 40 74 69 124 193 31.93 107.064.28 16.527.910.172.360.03 1.24 15.59 194.156.59 305.10 2.222.81 15.891.77 24.107.37 169.96 8 28 36 482.527.84 11.31 37.47 13.27 17.51 2.47 906.213.54 169.587.49 4.20 51 Kota Sibolga 2009 2010 Jumlah 107 . Samosir 3 2009 2010 Jumlah Kab.324.954.13 46 2 48 27 29 56 2.02 21.77 21.89 1.24 3.140.300.69 33.23 13 13 15 24 39 1 8 9 142.955.768.13 877.280.545.00 458.66 4 17 21 340.27 16.281.66 14.77 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 40 2 Kab.171.36 19 13 32 3 3 8.492.919.950.825.69 2.171.66 - 40 64 104 18 27 45 31 25 56 3 3 65 116 181 31.574. Tapanuli Selatan 2009 2010 Jumlah 46 78 124 868.379.43 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 13 40 53 Nilai 11 2.753.

887.60 537.58 67.395.78 6.52 167.50 414.53 2.75 16.02 1.24 7.126.727.680.28 44.03 4.811.085.61 349.68 13 46 59 1 1 2 49 7 56 2.665.178.61 163.57 23.739.835. Sumatera Barat 4 39 48 87 38 48 86 Nilai 5 27.781.86 58.92 2.44 49 2 51 - 19 57 76 5.504.725.371.25 1.523.32 60 Kab.727.529.43 100.59 7.79 12.92 1.080. Pasaman 2009 2010 Jumlah 61 Kab.11 6.333.852.96 61.405.87 18.48 3.05 20.30 116.80 55.12 1.00 1.77 295.64 4.14 148.36 3 64 67 12 10 22 45 101 146 387.76 77.58 26 32 58 3.950.80 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 13 31 Nilai 9 170.79 3.64 211.46 338.485.091.205.033.914.862.00 492. Padang Pariaman 2009 2010 Jumlah 56 57 113 86 127 213 4.01 295.201.460.276.91 226.014.496.41 3 36 39 9.387.986.82 1.36 50.43 8.454.52 5.619.047.Halaman 5 .35 122.68 55 55 44 27 71 2 55 57 4.715.091.510.20 2.77 35 34 69 17 50 67 72 6 78 45.95 56.93 1 4 5 1 35 36 352.347.37 15.95 55 Kab.68 11.04 449.69 117 116 233 41 41 12 3 15 8.072.99 4.300.55 1.64 4.14 62 Kab.081.722.00 1.917.947.48 538.868.02 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.428.80 54 2009 2010 Jumlah 155 214 369 70 60 130 129 110 239 54.01 105.80 5.548. Pesisir Selatan 2009 2010 Jumlah 63 Kab.93 7.11 131.116.25 36.759.376.00 211.93 7.377. Dharmasraya 2009 2010 Jumlah 57 Kab.422.21 1.13 16 64 80 2.396.24 7.80 1.930.93 1.983.447.846.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 39 48 87 11 18 29 Nilai 11 27.64 58 Kab.79 3.712.401.43 615.78 1.86 5.80 55.430.48 2.04 148.59 1.79 63.20 3.50 21 53 74 47 70 117 3.433.453.581.06 1.50 8.96 30.88 13.44 10 3 13 492.340. Lima Puluh Kota 2009 2010 Jumlah 45 132 177 2.17 12.13 90.90 4.54 2.780.95 387.235.95 736.033.47 6.65 9.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 52 2 Kota Tanjungbalai 3 2009 2010 Jumlah 53 Kota Tebing Tinggi 2009 2010 Jumlah Prov.54 173.344.54 274.79 3.04 34 34 38 22 60 8.32 1.58 2.20 1.78 216.94 2.82 3.38 1.809.742.76 77.65 10.02 1.58 6.74 15 69 84 8 44 52 1 26 27 3.405.37 5.63 Jml 6 9 17 26 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 55.23 100.664.950.047.580.482.986.95 5. Pasaman Barat 2009 2010 Jumlah 83 115 198 53 72 125 52 88 140 10.634.00 130.797.13 260.785.42 4.38 136.45 4.822.56 13.61 338.05 18.92 4.482. Kepulauan Mentawai 2009 2010 Jumlah 78 62 140 6.82 6.36 104.38 674.523. Sijunjung 2009 2010 Jumlah 108 .60 5.454.453.56 47. Agam 2009 2010 Jumlah 56 Kab.195.36 50.05 2.561.069.25 3.088.81 59 Kab.78 4.74 346.

183.629.27 126.50 546.371.20 4.024.70 128.900.980.15 13.94 23.034.983.617.379.43 27.78 827.470.10 4.81 837.78 2.00 100.863.78 6.91 135.738.50 12.52 9.438.309.17 198.75 13.241.16 42.90 25.99 73.469.00 940.93 70 Kota Pariaman 2009 2010 Jumlah 71 Kota Payakumbuh 2009 2010 Jumlah 72 Kota Sawahlunto 2009 2010 Jumlah 73 Kota Solok 2009 2010 Jumlah 74 Prov.27 506.11 56.78 11.646.831.311.100.85 66.633.77 42.76 20. Solok 3 2009 2010 Jumlah 65 Kab.21 282.68 1.99 38.84 40.89 6.33 296.41 23.11 85.991.03 11.47 15.419.31 222.031.29 6.17 837.564.402.973.52 293.815.857.131.839.831.53 167.28 12.45 465.203.34 14.01 27.50 19.56 505.05 483.87 1.572.249.204.47 1.283.61 447.62 8.940.824.573.339.343.03 38.422.758.93 1.82 15.838.962.52 1.49 3.74 9.026.21 243.71 970.80 9.19 11.84 17.85 6.81 6.965.03 682.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 2 136 138 1 39 40 4 50 54 8 44 52 Nilai 11 6.434.600.20 5.758.00 157.47 16.169.973.51 670.700.76 11.15 14.177.80 770.729.620.22 58.523.34 40.03 5.82 43.177.70 787.67 75.95 362.93 495.79 3.49 73.62 8.395.219.36 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.788.070.389.645.33 14.607.878.90 821.84 489.503. Indragiri Hilir 2009 2010 Jumlah 109 .63 36.463.78 90.54 Jml 6 27 61 88 42 42 57 50 107 31 47 78 136 76 212 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 5.74 447.81 805.99 8.553.13 1.278.84 66.428.98 13.289.93 6.591.922.36 967.34 14.78 125.99 1.24 65.61 16.090.83 671.55 47.20 737.17 4.46 1.691.165.365.52 3.772.84 12.78 1.698.386.01 5.43 210.34 1.339.600.56 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 36 48 31 64 95 4 12 16 29 58 87 32 7 39 Nilai 9 4.249.00 452.00 1.071.140. Bengkalis 2009 2010 Jumlah 76 Kab.812.063.31 43 49 92 44 40 84 77 39 116 49 30 79 81 4 85 162 55 217 67 29 96 55 29 84 287.16 821.21 489.118.50 39.83 574.161.965.61 20.Halaman 6 .41 126.92 671.935.096.48 14. Riau 2009 2010 Jumlah 75 Kab.061.797.863.00 12.63 18.73 280.52 494.74 9.00 670.77 8.05 33.53 362.91 1 10 11 31 6 37 18 12 30 25 40 65 13 30 43 159 41 200 141 32 173 40 23 63 1.54 1.430.01 69 2009 2010 Jumlah 44 109 153 78 52 130 95 89 184 103 78 181 97 64 161 323 116 439 214 66 280 97 75 172 1.03 165.15 5.12 355.20 4.92 1.47 4.43 1.796.18 50 50 3 6 9 38 38 29 8 37 3 30 33 2 20 22 6 5 11 2 23 25 47.01 6.55 182.83 42. Solok Selatan 2009 2010 Jumlah 66 Kab.49 38.16 6.16 2.419.82 590.64 14.55 6.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 64 2 Kab.33 1.087.136.38 1.620.33 11.98 27.16 506.142.858.37 10.02 17.85 126. Tanah Datar 2009 2010 Jumlah 67 Kota Bukittinggi 2009 2010 Jumlah 68 Kota Padang 2009 2010 Jumlah Kota Padang Panjang 4 39 99 138 75 200 275 62 101 163 64 155 219 176 127 303 Nilai 5 9.68 666.811.633.93 6.091.88 1.242.643.

69 2.573.29 15.559.67 Kab.007.333.533. Kampar 2009 2010 Jumlah Kab.184.253.82 54.61 18.655.17 434.76 1.45 8.29 285.237.530. Kuantan Singingi 4 116 82 198 140 57 197 Nilai 5 6.47 186.12 1.76 1.96 19.268.51 12.63 1.556.107.32 242.06 15.81 39.747.822.852.297.306.29 625.332.238.639.00 160.449.627.79 364.90 170.618.913.00 352.38 125.007.68 7.847.93 19.49 19 10 29 99 24 123 18 22 40 17 27 44 37 43 80 34 23 57 33 17 50 35 10 45 35 31 66 44 25 69 42 20 62 4.63 24.69 65.056.60 86.558.23 125.95 169.88 70 44 114 71 25 96 25 13 38 72 16 88 150 64 214 36 26 62 69 28 97 121 59 180 60 15 75 95 23 118 60 16 76 7.488.740.871.268. Kerinci 2009 2010 Jumlah 110 .101.460.33 59.35 47.632.355.70 380.04 32.05 816.19 4.57 314.76 46.90 3.238.335.447.956.76 770.175.43 12.03 5.02 19.66 356.61 2.585.015.13 770.224.149.39 9.948.61 3.675.135.17 9.18 50.009.595. Siak 2009 2010 Jumlah 84 Kota Dumai 2009 2010 Jumlah 85 Kota Pekanbaru 2009 2010 Jumlah 86 Prov.99 6.97 1 29 30 23 20 43 84 28 112 14 14 7 13 20 28 25 53 7 16 23 58 58 1 32 33 54 54 49 49 2.82 15.029.36 1.69 2.75 125.226.19 6.26 4.80 3.72 6.618.681.076.335. Bungo 2009 2010 Jumlah 89 Kab.50 271.355.47 18.19 5.721.670.13 3.94 34. Rokan Hulu 2009 2010 Jumlah 83 Kab.999.76 824.69 58.65 31.200.326.00 4.12 19.343.81 311.64 490.43 8.53 3.706.774.16 1. Pelalawan 2009 2010 Jumlah 81 Kab.57 1.033.01 23.36 31.19 28.871.90 33.70 616.105.79 16.206.69 4.998.241.928.332.332.10 111.069.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 9 82 91 14 55 69 Nilai 11 308.05 59.23 1.913.775.208.89 28.79 2.881.71 2.93 2.04 56.43 798.442.292.15 1.681.19 14.361.574. Batang Hari 2009 2010 Jumlah 88 Kab.66 115.190.51 6.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 18 34 2 36 Nilai 9 4.44 4.60 575.786.056.41 5.766.50 12.27 4.32 142.76 70.332.98 125.66 734.556.877.Halaman 7 .92 475.14 80 Kab.051.509.12 100.22 45.06 2.676.807.10 58.701.41 308.207.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 77 2 3 2010 Jumlah 78 Kab.190.24 8.151.64 14.06 87.24 5.58 7.686.55 900.875.71 2.399.714.72 20.79 7.02 9.718.41 824.10 842.68 39.74 1.011.374.78 3.129.416.46 Jml 6 89 89 92 92 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.18 7.48 3.20 62.37 44.675.90 10.231.54 44.39 24.628.056.331.12 3.429.12 66.63 27.909.377.71 64.15 4.93 50.133.23 44.777.40 10.30 71.46 7.01 101.23 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 6.23 79.22 3.60 11.86 62.289.33 47.781.107.581.17 3.27 31.466.76 3.57 308.716.33 6.48 5.73 131.374.175.866.731.574.70 740.76 12.23 770.02 19.336.79 100.525.867. Indragiri Hulu 2009 79 2009 2010 Jumlah 90 83 173 193 69 262 127 63 190 103 43 146 194 120 314 98 74 172 109 61 170 156 127 283 96 78 174 139 102 241 102 85 187 12.913.29 5.77 12.30 20. Rokan Hilir 2009 2010 Jumlah 82 Kab.45 3.76 12.70 1.376.71 2.85 28.05 3.94 2. Jambi 2009 2010 Jumlah 87 Kab.687.068.

90 98.642.047.93 15 15 4 47 51 45 26 71 5 5 3.890.10 3.40 25.66 80. Muaro Jambi 2009 2010 Jumlah 92 Kab.32 111.21 449.24 8.840.56 3.41 6. Tanjung Jabung Barat 2009 2010 Jumlah 85 104 189 108 82 190 197 59 256 27 27 3.348.80 2.91 10.154.361.74 901.343.22 1.794.97 16.67 16 16 23 23 3.51 59.929.86 111. Lahat 2009 2010 Jumlah 111 .375.978.67 517.99 687.38 4.28 2.71 94 Kab.065.862.304.78 93 2009 2010 Jumlah 112 48 160 57.567.01 6.443.457.61 9.50 4.46 1.76 1.840.78 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 49 21 70 54 1 55 35 23 Nilai 9 93.137.840. Sarolangun 2009 2010 Jumlah 4 98 44 142 169 60 229 100 65 165 Nilai 5 97.003.82 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 11 13 39 58 97 6 32 Nilai 11 16.081.19 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.62 999.32 1 69 70 4 90 94 2.05 316. Empat Lawang 2009 2010 Jumlah 76 69 145 93 90 183 4.25 59 59 66 66 449.45 USD 466.23 167.16 7.11 4.80 99 Kab.00 6.29 1.66 3.41 6.994.20 2.92 145.722.983.38 47 12 59 17.59 3.893.91 Kab.870.82 6.64 7.681.850.05 50.193.01 551.21 517.89 95 Kab.82 1.82 29 23 52 40 35 75 33 12 45 7 7 3.868.42 USD 466.556. Tebo 2009 2010 Jumlah 96 Kota Jambi 2009 2010 Jumlah 97 Kota Sungai Penuh 2009 2010 Jumlah Prov.193.25 4.820.75 3.67 101 Kab.59 1.087.79 1.907.24 1.907.62 52.91 7.13 3.20 1.79 13.91 15.119.44 9.75 4.577.28 6.38 4.22 441.Halaman 8 .160.851.140.21 449. Tanjung Jabung Timur 69 15.422.055.71 175.094.43 USD 466.58 207.115.62 52.042.67 517.939.04 181. Merangin 3 2009 2010 Jumlah 91 Kab.919.034.657.28 1.986.49 6.29 17.659.693.160.800.17 441.49 2.806.93 1. Sumatera Selatan 98 2009 2010 Jumlah 92 81 173 74 63 137 9.33 8.83 17.130.895.01 1.04 44.614.494.25 9.85 38 3 41 10 9 19 9.98 100.20 3.297.193.46 4.409.475.361.497.70 25.82 389. Banyuasin 2009 2010 Jumlah 100 Kab.338.37 143.142.49 7.29 46 46 64 54 118 55.259.022.693.00 991.980.297.63 2.949.20 1.200.738.182.500.99 7.361.174.27 212.43 167.57 36.223.571.58 108.99 3.80 62 31 93 3.21 4.43 8 78 86 - 9.19 67.83 77.30 4.42 5.083.357.07 17.76 17.36 93.21 517.289.850.887.38 10.06 3.89 98.83 38 Jml 6 47 12 59 76 1 77 59 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 4.001.200.065.20 310.27 758.951.93 - 450.399.25 259.916.443.37 18.510.17 3 5 8 36.03 USD 466.32 3.50 4.22 393.19 44.14 50.93 3.65 176.75 56 66 122 64 64 119 21 140 15 15 450.36 2.66 67.601.09 9.60 269.75 898.06 14.76 55.78 1.62 397.781.98 236.480.919.63 1.55 31.65 19.04 6.960.32 1.19 58 2.496.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 90 2 Kab.44 - 55.58 108.25 449.736.986.399.289.494.777.32 1.25 7.

44 11. Ogan Ilir 2009 2010 Jumlah 106 Kab.360.65 118.33 582.211.54 103.003.75 107 Kab. Musi Rawas 2009 2010 Jumlah 105 Kab.73 1.75 7 7 - 2 76 78 1.59 - 111 Kota Pagar Alam 2009 2010 Jumlah 112 Kota Palembang 2009 2010 Jumlah 113 Kota Prabumulih 2009 2010 112 .06 114.85 104 Kab.142.112.626.67 2.953.262.40 2 5 7 488.98 10.67 59.83 858.00 372.97 11.28 1.89 7.47 1.47 1.894.06 79.14 1 13 14 897.64 1.15 11.802.78 125.350.06 7.618.897.436.16 433.36 496.83 USD 2.31 108 Kab.30 58.09 456.389.78 640.443.65 118.22 285.534.576.97 48.22 285.766.989.258.187.14 1.039.83 45 47 744.298.781.251.078.621.17 4.457.45 35 27 62 1.83 109.90 1.97 37.62 5.695.937.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 102 2 Kab.47 11.25 6.762.46 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.06 119.15 14.64 1.44 10.95 496.59 10.22 2.674.695.730.328.09 456.75 1.45 11.46 36 54 Jml 6 38 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 367.67 109 Kab.018.22 414.83 Kab.373.285.58 - 18 6 24 20 20 10 10 57 4.04 624.19 395.262.81 59.97 11.621.12 11.309.09 103.003.50 2.66 78.66 56 56 159.48 4.75 159.90 159.82 USD 2.44 1.39 26.67 8 8 1.95 624.04 433.66 468.12 103 54 157 1.06 114.82 2.73 USD 2.90 11. Muara Enim 3 2009 2010 Jumlah 4 58 125 183 Nilai 5 9.62 2.54 103.477.06 119.621.51 1. Ogan Komering Ulu Selatan 2009 2010 Jumlah 72 53 125 3.42 4.62 744.85 447.70 21 21 78.67 2.37 USD 2.04 3.42 4.309.97 2.138.250.018.361.82 1.360.88 447.733.70 296.29 26.73 4. Ogan Komering Ilir 2009 2010 Jumlah 65 76 141 159.75 159.71 520.12 1.841.48 34 41 75 38 10 48 54 33 87 65 - 4.389.85 447.37 116.78 447.989.06 624.71 79.674.44 243. Ogan Komering Ulu 2009 2010 Jumlah 139 94 233 2.27 11.082.35 9.85 18 18 36 8 2 10 20 20 36.99 2.66 396.97 18 18 17 17 5 36 41 51.211.02 176.331.27 115. Musi Banyuasin 44 82 5.977.45 103 2009 2010 Jumlah 99 59 158 94 46 140 54 36 90 47.73 52 53 105 128.401.78 27 44 71 468. Ogan Komering Ulu Timur 2009 2010 Jumlah 29 70 99 468.05 9.018.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 Nilai 9 9.40 110 Kota Lubuklinggau 2009 2010 Jumlah 58 49 107 40 42 82 141 51 192 73 57 4.388.09 103.350.51 897.018.90 1.Halaman 9 .40 12 12 2.39 590.59 - 6 2 8 2 12 14 77 18 95 8 - 47.70 488.33 582.43 81 23 104 86 27 113 29 29 11.998.00 372.

61 172.609.94 5.87 1.12 13.340.65 8.725.909.68 17 36 53 2.13 2.20 336.35 2.317.393.23 16 20 36 15 15 4 4 2.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 8 63 22 85 Nilai 9 115.48 723.800.014.757.56 467.030.49 467.60 2.19 87.59 1.17 9.206.490.97 7.65 941.51 233.122.412.24 9.39 2.28 43 43 336.46 172.584. Bengkulu Tengah 2009 2010 Jumlah 23 23 5.584. Mukomuko 2009 2010 Jumlah 122 Kab.32 1.395.48 32 6 38 16 16 9 9 827.63 3.63 13.48 137.94 5.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 456.00 2.725.490.44 138.14 5.13 32.611.73 3.29 138.42 945.943.11 1. Bengkulu Selatan 4 130 140 87 227 Nilai 5 120.62 300.68 1.22 2.862.883.972.02 115 2009 2010 Jumlah 77 36 113 1.97 13.855. Kaur 2009 2010 Jumlah 119 Kab.63 9.39 733. Kepahiang 2009 2010 Jumlah 49 38 87 38 36 74 57 25 82 3.450.51 402.399.59 1.94 - 117 Kab.84 2.845.26 1.34 317.93 575.875.399.86 399.97 921.21 58.340.28 12.966.822.056.826.36 109.14 9.93 1.89 689.28 710.649.00 20.97 44.63 109.540.395.17 7.34 2.87 536.899.106.125.99 7.166.340.18 118.35 1.62 85.58 13.031.99 97.24 1.64 5.34 Jml 6 65 73 7 80 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 456.60 553.809.81 13.211.106.489.209.348.26 162.622.006.55 647.833.299.36 25 89 114 - 1.540.35 702.09 21 21 19 19 60 7 67 50 50 921. Lampung 2009 2010 Jumlah 113 .934.35 19.32 233.14 53.Halaman 10 . Bengkulu 3 Jumlah 2009 2010 Jumlah Kab.49 40.87 1.89 1 12 13 7 36 43 44 25 69 647.96 118 Kab.09 632.78 937.984.716.13 702.93 2.42 334.72 2.153.09 632.74 116 Kab.96 9 9 6 12 18 1.520.33 - 402.66 33.00 332.82 5.899.398.014.056.39 3.115.20 17 17 1. Rejang Lebong 2009 2010 Jumlah 71 32 103 35 23 58 186 31 217 103 113 216 1.93 16.611.443.35 2.057.23 20.74 733.33 15 15 19 6 25 1.97 2.78 123 Kab.00 20.108.94 - - - - 23 23 5.59 796. Seluma 2009 2010 Jumlah 124 Kota Bengkulu 2009 2010 Jumlah 125 Prov.63 12 30 42 23 23 102 7 109 10 113 123 869.08 7.89 2. Lebong 2009 2010 Jumlah 121 Kab.730.12 689.832.75 7. Bengkulu Utara 2009 2010 Jumlah 49 89 138 25 18 43 4.23 120 Kab.00 2.186.819.11 1.415.16 536.125.340.03 1.616.55 286.29 38 2 40 16 16 24 17 41 43 43 162.35 1.056.59 19.60 801.86 399.13 366.24 11.23 20.13 172.128.979.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 114 2 Prov.61 317.98 26.18 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 57 4 58 62 Nilai 11 4.63 1.716.15 702.708.

98 32.126.940.673.94 25 1 26 - 44.796.310.652.99 - 26.18 1.96 20.324.Halaman 11 .33 1. Tulang Bawang 2009 2010 Jumlah 56 95 151 68 57 125 939.18 19 19 31.077.391.854.24 1.908.77 17 1 18 2. Lampung Timur 2009 2010 Jumlah 53 60 113 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 Kab.169.796.82 1.351.38 327.446.17 - 11 67 78 68 57 125 861.50 21.717.06 70.89 - 2 2 - - 42 108 150 27 63 90 28.211.923.25 26.590.47 27.65 46.07 299.19 96.47 27.724.47 45 52 97 1.705.09 131 Kab.13 1.908.06 59.33 88.64 3.978.07 215.22 143.70 10.304.70 31.41 187.40 13.335.70 130 Kab.94 - 134 Kab.908.35 1.544.36 215.80 127.26 2.80 22.49 1.84 623.487.671.403.96 20.127.126.38 326.603.39 1.35 16 16 122.428. Pesawaran 2009 2010 Jumlah 132 Kab.65 44.935.590.505.914.118.57 147.36 136 Kota Metro 2009 2010 Jumlah 114 .923.395.316. Lampung Selatan 2009 2010 Jumlah 45 55 100 1.41 128 Kab.164.07 9 9 5 5 218.36 218.80 91.89 5.92 398.705.590.47 10.601.563.41 267.648.601.892.265.65 - 20 27 47 - 33.64 1.191.24 1.36 962.856.326.00 171.582.043.92 - 5.164.65 46.816.17 11. Tanggamus 2009 2010 Jumlah 133 Kab.74 1.80 398.07 10.426.190.69 122.908.24 - 147.582.01 215.427.694.117.64 - 129 Kab.118.906. Lampung Tengah 2009 2010 Jumlah 60 69 129 1.97 215.898.25 127 Kab.09 254.50 21.46 1.01 42 100 142 18 58 76 53 70 123 1.694.546.060.28 135.186.28 135.24 39.17 299.351. Lampung Utara 2009 2010 Jumlah 51 100 151 18 58 76 60 70 130 1.41 187.57 3 3 10.16 88.64 1.24 17 59 76 1.25 26.809.335.43 42.78 3.590.69 69 69 1.426.25 - - 35 38 73 29.05 1.07 39.754.501.17 11.036.487.70 44 44 1.36 91. Way Kanan 2009 2010 Jumlah 135 Kota Bandar Lampung 2009 2010 Jumlah 42 110 152 27 63 90 28.395.928.111.194.446.516.783.077.824.906.898.111.133.64 1.24 254.846.45 623.069. Lampung Barat 3 4 Nilai 5 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 126 2009 2010 Jumlah 35 38 73 29.831.856.324.74 26.923.831.898.794.76 173.74 1.070.365.56 2 2 1.92 874.846.940.38 1.101.19 127.51 173.73 9.16 10.22 143.

64 2.64 23.46 119.082.46 68 23 91 514.252.71 35 35 846.098.768.51 469.25 7.39 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 3.94 3.679.154.48 151.703.429.998.23 4.54 197.873.26 7.96 2.45 846.31 32 63 95 18 18 14 82 96 7.90 576.39 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 1 14 6 7 13 4 6 10 Nilai 9 29.374.61 16 15 31 23 12 35 13 9 22 8.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 137 2 Prov.07 15.10 346.07 44.41 1. Kepulauan Bangka Belitung 3 2009 2010 Jumlah 138 Kab.11 13.65 16.45 365.64 25.295.41 822.11 1.48 254.160.17 9.273.73 254.408.20 3.Halaman 12 . Belitung 2009 2010 Jumlah 143 Kab.289.47 2.95 729.080.92 9.832. Kepulauan Riau 2009 2010 Jumlah 90 103 193 45 60 105 91 130 221 16.85 34 17 51 179.778.99 718.399.13 3.42 855.72 7 7 1.90 32.454.74 45.11 16.658.98 195.375.01 25.02 7.41 488.06 1.279.695.00 896.01 1.55 3.208.847.335.008.71 3.85 8.376.40 331.15 32.553.93 2.14 140 2009 2010 Jumlah 87 70 157 2.17 74.06 1.31 4.821.187.85 596.41 2.650.44 1.84 643.593.68 460. Bangka Tengah 2009 2010 Jumlah 44 32 76 61 74 135 197.03 34.32 11.08 15.83 539.05 928.58 926.770.576.13 16.41 15.10 2.52 207.45 26 26 2.75 2.54 200.385.75 1.03 1.94 144 Kota Pangkal pinang 2009 2010 Jumlah 125 136 261 1.18 670.40 9.25 - - 846.881.75 21.58 3.05 222.706.719.730.45 115 .87 272.64 204.29 197.516.68 1.36 2.61 2.37 1 24 25 926.834.31 8.576.028.316.15 963.42 831.295.824.16 142 Kab.14 32 108 140 29.12 10 5 15 81.89 7. Bangka 2009 2010 Jumlah 139 Kab.098.25 2.11 177.61 146 Kab.58 2.44 145 Prov.154.252.01 6 19 25 7.85 125.991.94 2.142. Bangka Selatan 4 73 45 118 108 60 168 61 21 82 Nilai 5 55.34 1.29 460.345.40 20.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 9 12 16 16 2 2 Nilai 11 596.856.10 29.01 331.41 197. Kepulauan Anambas 2009 2010 Jumlah 61 61 3. Bangka Barat 2009 2010 Jumlah Kab.778.516.17 2 13 15 11 26 37 1.301.281.768.10 8 6 14 23 25 48 488.36 25 5 30 767.69 19.075.99 718.08 76 41 117 2.557.21 568.650.55 2.45 846.64 1.139.20 36.336.183.89 547.46 119.13 3.153.913. Belitung Timur 2009 2010 Jumlah 40 43 83 7.26 4.866.41 13.523.39 307.01 3.54 2.85 307.51 2.203.29 Jml 6 57 35 92 102 37 139 57 13 70 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 25.94 2.97 56.83 42 25 67 22 30 52 64 39 103 601.48 787.41 197.371.811.48 151. Bintan 2009 2010 Jumlah 147 Kab.551.41 1. Karimun 2009 2010 Jumlah 148 Kab.849.520.674.84 1.085.57 34 13 47 27 23 50 197.04 349.312.672.14 972.33 2.983.14 19.47 20.09 108.12 141 Kab.64 212.

29 200.820.667.902.69 4.928.175.31 638.11 1.58 392.39 23.51 59.284.96 119.611.447.21 48.576.97 3.12 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 7 2 9 1 53 54 10 58 68 Nilai 11 2.891.63 12.147.97 153 Prov.562.876.160.81 14 65 79 4.14 6.29 15.26 14 17 31 77.89 5.143.75 24.82 35.551.95 681.675.51 9.244.000.23 3.13 12.96 1.78 893.41 815.58 49.05 58.161.95 11. Lingga 3 2009 2010 Jumlah 150 Kab.05 202 109 311 38 13 51 9 23 32 129.130.072.88 27.70 60.87 7.71 59.72 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.91 299.187.050.85 14.576.55 2.87 627.687.56 589.32 8 17 25 16 2 18 14 19 33 3 5 8 11 33 44 5.84 19.094.97 4.26 55. Jawa Barat 2009 2010 Jumlah 155 Kab.92 3.114.500.59 2.70 2.574.080.80 2.56 62.18 59.234.29 2.979.986.83 2.979.97 4 4 19 39 58 7 38 45 1 1 57 18 75 2.21 19.31 11.90 21.94 22.482.32 8.11 21.20 24.025.457.965.96 60.833.273.735.54 1.67 24.62 920.546.890.785.68 11.32 3.00 9.05 87.193.058.33 885.84 136.376.70 1.943.414.397.346.47 24.99 Jml 6 43 28 71 40 19 59 73 24 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 10.20 1.47 388 185 573 115 75 190 77 26 103 80.44 8.24 24.175.91 27.17 12.819.14 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 17 31 21 16 37 15 17 32 Nilai 9 1. Natuna 2009 2010 Jumlah 151 Kota Batam 2009 2010 Jumlah Kota Tanjungpinang 4 64 47 111 62 88 150 98 99 197 Nilai 5 12.628.339.919.71 2.831.535.32 161.995.54 16.995.834.799.268.85 923.363.198.871.05 25. Bogor 2009 2010 Jumlah 159 Kab.97 57.543.29 152 2009 2010 Jumlah 61 105 166 306.123.385.53 24.64 22.621.83 33 23 56 229.14 384.78 8.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 149 2 Kab.359.80 55.37 252.704.67 681.40 3.56 13.71 133.86 60.71 129.74 4.291. Bandung 2009 2010 Jumlah 156 Kab.892.45 19.35 154 Prov.97 250.48 101.262.15 12.Halaman 13 . Ciamis 2009 2010 Jumlah 160 Kab.548.934.394.20 65 63 128 26 26 31 1 32 6 18 24 5 24 29 338.83 87.81 10.02 4.67 244.13 49.67 49.593.749.38 537.67 102.57 9.74 229.28 34.79 624.32 58.663.16 2.61 43.243.38 554.679.72 577.276.910.21 24.49 2.914.69 3.52 652.063.332.801.346.34 97.35 157 Kab.80 31. DKI Jakarta 2009 2010 Jumlah 701 445 1.67 21. Cianjur 2009 2010 Jumlah 116 .15 137.875.146 159 183 342 88 78 166 228.45 25.981.72 51.60 28.033.62 16.55 3.427.124.78 2.24 13.81 184.544.147.01 73.81 158.645.44 15.800.41 5.333.89 10. Bekasi 2009 2010 Jumlah 158 Kab.46 55.40 102.21 342.846.38 40.00 24.32 654.215.446.743.893.63 30. Bandung Barat 2009 2010 Jumlah 73 84 157 61 41 102 52 58 110 10 23 33 73 75 148 5.90 20.93 19.250.21 182.32 21.184.686.15 2.59 1.37 111 151 262 6 95 101 2 29 31 18.074.549.441.

24 717.50 4.37 42.71 277. Indramayu 2009 2010 Jumlah 164 Kab.50 42.59 345.61 11.88 1.67 524.210.31 15.25 36.92 38 11 49 40 16 56 11 10 21 34 8 42 20 10 30 4 4 10 10 60 93 153 16 27 8 76 Jml 6 34 6 40 25 10 35 31 11 42 68 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.360.69 1.700.71 1.91 8.487. Subang 2009 2010 Jumlah 169 Kab.00 171.09 976.450.94 53.92 2. Garut 2009 2010 Jumlah 163 Kab.02 37.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 17 8 25 4 10 14 3 11 14 19 Nilai 9 398.006.354.515.61 12.10 153.84 77.99 892. Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 172 Kota Bandung 2009 2010 Jumlah 173 Kota Banjar 2009 2010 39 29 68 49 38 87 23 51 74 44 23 67 48 19 67 57 18 75 13 17 30 149 188 337 33 38 196.015.99 203.70 2.61 60.61 51.550.67 17 36 34. Purwakarta 2009 2010 Jumlah 168 Kab.69 327. Karawang 2009 2010 Jumlah 4 53 14 67 89 21 110 36 22 58 109 30 139 Nilai 5 1.81 2.31 3.76 144.618.90 USD 4.608.354.97 5 27 310.465.680. Cirebon 3 2009 2010 Jumlah 162 Kab.62 341.469.41 7.07 3.29 43.281.10 USD 4.10 160.12 3.71 95.73 1 16 17 9 22 31 8 11 19 8 5 13 22 3 25 49 13 62 3 13 16 44 52 96 1 11 10.84 164.20 38.00 185.99 146.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 161 2 Kab.96 582.53 37.871.518.25 5.20 8.42 545.174.42 550.106.00 6.41 2.00 6.38 0.277.505.97 3.147.32 1.267.360.95 1.12 397.76 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 60 1 61 2 2 22 Nilai 11 38.71 976.67 338.425. Kuningan 2009 2010 Jumlah 166 Kab.10 183.835.834.47 137.Halaman 14 .00 9.75 341.32 39.082.99 384.981.15 212.95 514.74 37.95 8.66 8.30 251.10 839.62 119.277.176.103.11 4.04 144.00 34.974.125.32 12.29 164. Sukabumi 2009 2010 Jumlah 170 Kab.819.65 892.77 27.02 324.65 835.95 185.79 38.550.71 39.04 50.66 15.08 5.02 171.241.61 2.566.65 3.24 553.457.824.122.25 3.744.30 198.86 224.10 148.77 575.704.49 4. Majalengka 2009 2010 Jumlah 167 Kab.96 3.166.90 4.810.51 8.37 5.65 327.89 5.603.974.12 8.37 835.05 3.378.351.86 46.62 4.070.502.95 1.65 42.304.39 221.750.69 634.202.849.95 26.27 119.12 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.53 137.99 11.93 USD 4.19 2 2 4 30 34 2 10 12 6 6 12 4 5 9 4 4 45 43 88 16 2.451.85 37.60 3.006.505.81 384.35 397.351.205.70 119.849.09 1.015.41 38.407.805.86 165.00 185.83 USD 4.02 1.88 201.02 546.80 173.69 959.52 45.640.32 1.711.679.805.37 5. Sumedang 2009 2010 Jumlah 171 Kab.50 4.71 77.848.10 2.71 398.66 2.35 368.44 117 .10 183.06 USD 4.96 5.587.70 USD 4.00 165 Kab.350.282.77 4.177.

65 229.902.355.17 241. Boyolali 2009 2010 Jumlah 4 71 40 34 74 22 58 80 68 49 117 51 39 90 53 23 76 51 57 108 47 14 61 59 70 129 23 40 63 42 36 78 29 46 75 35 65 100 23 24 47 Nilai 5 798.82 4.75 829.436.870.02 1.25 1.781.493.841.78 76.47 9.099.06 3.87 81.12 842.82 821.45 426.257.507.10 836.536.84 950.453.232.07 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 339.745.65 1.97 81.273.57 15.92 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 16 10 10 20 25 25 51 6 57 1 6 7 1 3 4 11 14 25 1 50 51 17 17 2 21 23 23 23 Nilai 11 39.046.77 519.69 2.69 1.29 910.291.67 641.54 257.22 1.28 842.183.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 7 21 28 25 25 14 15 29 15 9 24 4 10 14 20 31 51 11 11 16 5 21 8 8 2 4 6 8 21 29 25 16 41 4 7 11 Nilai 9 385.521.02 403.240.818.48 10. Banjarnegara 2009 2010 Jumlah 183 Kab.57 451.64 629.87 821.502.56 2.75 Jml 6 43 23 3 26 22 8 30 3 28 31 36 30 66 48 7 55 30 23 53 25 25 42 15 57 23 15 38 40 32 72 19 4 23 10 26 36 19 17 36 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 373.44 39.50 1.17 931.69 1.50 23.27 650.18 55.52 13.640.134.46 57.30 641.99 9.89 220.39 12.877.63 821.57 1.22 473.971.50 2.78 19.20 931.42 2.38 1.19 896.28 950.81 122.650.69 245.89 896.01 251.24 262.Halaman 15 .523.779.046.73 257.10 191.13 220.314.70 16.18 60.04 262.74 6.57 29.62 5.507.65 908.92 7.25 13.10 4.72 257.56 403.507.60 4.84 5.257.124.495.79 77.21 3.64 277.44 910.37 13.52 57.353.44 245.09 730. Jawa Tengah 2009 2010 Jumlah 182 Kab.70 333.07 192.98 180.507.82 118 .54 7.190.99 872.38 19.91 275.964.204.902.25 145.57 269.13 582.086.54 169.72 20.134.807.09 872. Banyumas 2009 2010 Jumlah 184 Kab.05 138.60 2.80 132.124.68 1.249.82 821.426.42 2.95 52.29 55.521.70 815.314.501.81 306.26 20.23 8.50 331.24 9.67 4.92 2.12 829.293.06 158.93 15.21 101.12 1.027.13 451.71 156.48 65.02 155.67 815.93 761.25 3.30 2.31 202.41 1.41 2.78 306.21 145.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 3 Jumlah 174 Kota Bekasi 2009 2010 Jumlah 175 Kota Bogor 2009 2010 Jumlah 176 Kota Cimahi 2009 2010 Jumlah 177 Kota Cirebon 2009 2010 Jumlah 178 Kota Depok 2009 2010 Jumlah 179 Kota Sukabumi 2009 2010 Jumlah 180 Kota Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 181 Prov.78 284.12 178.988.436.03 940.42 10.257.07 122.71 6.78 178.91 4.65 829.65 449.31 2. Blora 2009 2010 Jumlah 186 Kab.42 806.604.317.31 16.355.93 7.92 984.670.184.91 1.05 89. Batang 2009 2010 Jumlah 185 Kab.78 940.82 2.

343.66 1.03 247.80 4.62 1. Kudus 2009 2010 Jumlah 4 52 33 85 91 35 126 42 37 79 53 44 97 22 25 47 18 65 83 14 43 57 70 42 112 23 64 87 51 39 90 Nilai 5 1.50 165.84 257. Jepara 2009 2010 Jumlah 192 Kab.13 8.54 45.59 3.75 895.31 1.24 895.420.643. Magelang 2009 2010 Jumlah 32 41 73 48 28 76 28 25 53 1.45 197 Kab.91 4.530.95 3.300.209.18 38.59 360.219.950.614.005. Demak 2009 2010 Jumlah 190 Kab.88 3.69 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 20 23 26 26 1 13 14 16 12 28 1 29 30 26 23 49 24 24 27 27 Nilai 11 150.81 3.100.631.343.16 78.72 334.52 1.62 97.58 72.635.950.641.008.530.05 536.31 3.56 777.94 473.58 12.56 367.48 24.31 1.38 12.708.85 4.67 3.040. Kebumen 2009 2010 Jumlah 194 Kab.129.44 137.17 69.907.20 566.190.800.379.614.239.89 2.79 66.00 37.95 79.256.43 5.568.28 831.967.732.970.403.344.07 334. Karanganyar 2009 2010 Jumlah 193 Kab.38 Jml 6 35 2 37 60 31 91 27 27 16 16 18 19 37 15 14 29 11 31 42 30 3 33 11 3 14 49 2 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.02 263.32 201.592.742.252.03 1.48 4.631.437.70 72.61 320.08 602.91 9.08 70.01 7.35 44.22 104.29 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 187 2 Kab.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.93 12.18 4.94 198 Kab.Halaman 16 .30 8.36 171. Brebes 3 2009 2010 Jumlah 188 Kab.62 432.31 52.40 4.588.73 1.64 1.94 1.426.31 6 6 12 12 27 39 7 13 20 1.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 11 25 5 4 9 14 24 38 21 32 53 4 6 10 2 22 24 3 12 15 14 16 30 12 37 49 2 10 12 Nilai 9 426. Pati 2009 2010 Jumlah 199 Kab.03 9.27 4.571.75 5.365.89 1.27 3.62 457.305.11 52. Pekalongan 2009 2010 Jumlah 119 .08 7.00 5.571.324.72 89.225.90 101.91 4.91 10.220.31 3.957.226.326.220. Grobogan 2009 2010 Jumlah 191 Kab.44 2.568.66 104.84 1.987.91 1.64 60.614.95 1.50 10.03 9.24 1.42 78. Klaten 2009 2010 Jumlah 196 Kab.89 1.00 137.185.47 44.64 276.24 37.31 78.43 2.00 6.721.11 309.031.614.07 499.22 26 13 39 36 1 37 21 12 33 139.28 4.034. Kendal 2009 2010 Jumlah 195 Kab.00 150.81 282.01 168.72 602.18 2.30 21.324.64 92.29 163.69 263.23 1.636.635.915.33 2.66 9.20 379.40 2.74 79.367.41 879.075.51 15.47 84.137.203.17 7.137.21 37.81 7.89 1.069. Cilacap 2009 2010 Jumlah 189 Kab.91 1.21 24.95 9.66 188.79 1.43 90.72 5.017.356.052.31 9.069.413.481.44 1.54 46.14 2.966.90 22 22 - - 149.46 21.168.61 566.94 1.38 90.759.

72 8.13 1. Pemalang 3 2009 2010 Jumlah 4 26 84 110 Nilai 5 87.66 80.062.617.42 39. Sukoharjo 2009 2010 Jumlah 207 Kab.041.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 200 2 Kab.555.55 1.647.79 1.824.52 859.385.978.01 7.76 30.78 1.42 11.18 2.01 3 50 53 24 24 27 27 1 47 48 1 1 29 29 58 17 17 10 10 79 79 47 47 185.41 5.25 26.34 39.399.79 14.749.046.664.166.97 94.60 80.624.59 14.154.749.732.44 3.67 29.Halaman 17 .761.25 8.67 1.413.90 1.375.79 26.25 851.60 9. Purworejo 2009 2010 Jumlah 203 Kab.986.643.59 7.70 45.38 8.16 334.01 8.00 1.42 9 13 22 20 9 29 12 4 16 16 13 29 18 18 36 18 7 25 15 15 21 1 22 27 12 39 1 27 28 5 6 11 15 15 1.95 9.913.93 18.11 1.541.41 185.179.761.27 8.65 11. Wonogiri 2009 2010 Jumlah 210 Kab.245.731.476.37 7.87 9.45 3.443.36 2.06 635.18 94.71 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 62 63 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.78 395.30 9.60 0.26 11.34 38.40 13.600.99 1.501.42 7.249.917.39 252.032.53 9.60 0.00 3.53 988.70 103.67 2.83 12.394.64 9.00 184.06 11.53 1.171.252.56 334. Temanggung 2009 2010 Jumlah 209 Kab.032.295.91 2.04 85.160.53 1.738. Wonosobo 2009 2010 Jumlah 211 Kota Magelang 2009 2010 Jumlah 212 Kota Pekalongan 2009 2010 Jumlah 120 .22 12.017. Purbalingga 2009 2010 Jumlah 16 75 91 20 41 61 31 58 89 24 69 93 19 38 57 31 12 43 78 31 109 34 43 77 37 22 59 31 71 102 11 101 112 20 47 67 4.48 12.88 201 Kab.197.517.65 39.07 510.582. Tegal 2009 2010 Jumlah 208 Kab.18 1.019.11 7.385.729.76 364.72 271.28 395.84 13.90 8.40 836.135.185.731.66 0.28 1.646.23 769.36 14.76 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 11 12 23 Nilai 9 87.34 1.46 - 202 Kab. Semarang 2009 2010 Jumlah 205 Kab.420.032.50 364.413.67 2.61 4.48 Jml 6 14 10 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 30.71 30.647.62 14.14 5.394.50 8.249.18 90.000.06 13.39 90.68 859.66 60.97 3.87 440.76 30.11 1. Sragen 2009 2010 Jumlah 206 Kab.46 661.60 80.02 14.15 84.14 274.664.02 1.39 295.65 80.395.86 81.61 4 12 16 8 8 19 27 46 7 9 16 1 19 20 13 5 18 34 2 36 13 25 38 10 10 20 30 34 64 6 16 22 5 5 3.582.46 244.017.429.104.66 85.354.23 274.582.71 87.613.429.65 9. Rembang 2009 2010 Jumlah 204 Kab.41 4.097.00 26.95 851.67 1.54 18.567.65 988.45 4.47 988.413.

70 32.68 1.39 329.601.41 6.605.07 49.54 12.17 626.92 1.79 280.43 268.852.00 2.82 650.89 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 104.19 37.013. Bangkalan 2009 2010 Jumlah 225 Kab.Halaman 18 .122.24 121 .45 1.26 19.14 21.07 56.500.76 6.50 112.181.731.291.45 12.502.54 21. D.300.907.43 18.26 24.18 712.520.22 16.564.22 60.27 739.30 14.80 83.565.79 18.39 3.70 142.81 11.21 3.42 41.457.604.17 5.54 329.68 1.I. Gunung Kidul 2009 2010 Jumlah 220 Kab.602.389.66 1.473.43 3.63 19.563.32 14.70 1.728.39 42.289.54 83.57 1.90 3.55 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 30 30 1 19 20 1 28 29 2 1 3 1 1 10 33 43 2 17 19 37 37 64 64 1 39 40 50 50 14 14 1 25 26 Nilai 11 733.72 449.181.00 16.28 467.05 30.14 14. Bantul 2009 2010 Jumlah 219 Kab.045.68 562.690.79 11.279.505.93 112.03 16.35 58.15 30.15 1.42 449. yakarta Yog2009 2010 Jumlah 218 Kab.14 146.57 23.147.80 196.43 1.25 34.80 3.03 1.91 4.50 112.852.58 24.037.834.198.72 7.50 17.231.255.016.40 243.177.59 18.500.377.00 2.80 11.14 1.981.60 81.396.604.768.13 792.65 1.06 8.60 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 213 2 Kota Salatiga 3 2009 2010 Jumlah 214 Kota Semarang 2009 2010 Jumlah 215 Kota Surakarta 2009 2010 Jumlah 216 Kota Tegal 2009 2010 Jumlah 217 Prov.021.22 1.941.74 738.496.00 49.41 170.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 26 31 27 8 35 1 6 7 28 10 38 16 22 38 4 9 13 5 19 24 5 3 8 4 2 6 13 8 21 23 10 33 4 4 23 19 42 Nilai 9 179.92 8.11 60.68 558.960.021.14 1.30 1.076.42 321.68 104.909.68 17.31 22.293.316.92 8.22 2. Banyuwangi 2009 2010 Jumlah 4 25 56 81 55 27 82 24 43 67 66 14 80 76 69 145 66 60 126 19 44 63 16 47 63 53 72 125 45 85 130 76 83 159 50 42 92 121 85 206 Nilai 5 354.30 36.48 712.35 1.58 1.30 19.00 2.13 49.18 733.037.85 165.167.00 1.41 13.289.398.00 23.78 193. Kulon Progo 2009 2010 Jumlah 221 Kab.50 83.78 1.250.17 5.250.13 712.57 100.57 19.57 22.769.540.016.809.45 139.00 175.27 1.077.22 8.013.14 8.99 1. Jawa Timur 2009 2010 Jumlah 224 Kab.265.61 526.529.714.00 1.91 Jml 6 20 20 27 27 22 9 31 36 3 39 60 46 106 52 18 70 12 8 20 11 7 18 49 6 55 31 38 69 53 23 76 50 24 74 97 41 138 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 175.43 21.95 13.205.927.85 22.61 5.941.42 1.107.18 7.96 268.76 6.93 112.14 8.049.54 32.00 8.03 27.646.758.39 8.23 4.547.523.460.27 19.27 739.632. Sleman 2009 2010 Jumlah 222 Kota Yogyakarta 2009 2010 Jumlah 223 Prov.03 27.586.97 321.351.427.10 3.78 8.92 2.13 100.90 112.50 140.42 18.80 526.049.83 19.29 70.564.788.813.104.

09 40.59 105. Bojonegoro 2009 2010 Jumlah 228 Kab.66 72.27 187.36 23.04 249.802.32 2.02 436.49 23.28 5.50 12.54 20. Jember 2009 2010 Jumlah 231 Kab. Magetan 2009 2010 Jumlah 237 Kab.91 351.829.00 18 87 29 13 42 68 96 164 46 21 67 37 10 47 82 26 108 91 27 118 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 346.141.73 8.59 28.065. Lamongan 2009 2010 Jumlah 234 Kab. Madiun 2009 2010 Jumlah 236 Kab.58 105.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 226 2 Kab.799.22 1.32 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 2 21 23 32 32 7 7 14 43 52 95 34 34 1 2 3 1 39 40 40 40 20 20 7 31 38 20 20 Nilai 11 150.11 489.578.30 721.50 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 346.49 2.479.252.56 122 .822.23 28.187.36 30.59 105. Mojokerto 2009 2010 Jumlah 4 52 87 139 99 72 171 52 61 113 38 42 80 150 106 256 65 35 100 69.295.316.56 149.17 155. Gresik 2009 2010 Jumlah 230 Kab.18 115.20 40.17 25.19 530.83 150.60 4.929.33 454.579.429.19 454.73 208.33 40.41 1.088.73 105.516.696.973.77 4.83 2.50 1.396.251.46 5.Halaman 19 .40 873.96 29.280.668.18 198.36 4.027.50 1.549.61 3.397.743.00 42.92 115.02 88.85 1.954.04 50.19 685.13 187.057.18 2.530.80 959.832.20 1.480.18 50.775.00 371.80 3.54 149.73 8.32 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 23 36 11 8 19 9 7 16 15 14 29 10 5 15 3 3 5 5 5 3 8 5 5 10 2 3 5 17 16 33 36 17 53 2 4 6 Nilai 9 1.291.24 155.08 290.108.46 285.15 959.80 873.35 2.54 305.52 542.33 316.29 1.701.65 694.71 1.52 542.52 12.648.37 2.582.11 479.87 13.70 24.010. Blitar 3 2009 2010 Jumlah 227 Kab. Bondowoso 2009 2010 Jumlah 229 Kab.941. Jombang 2009 2010 Jumlah 232 Kab.54 9. Lumajang 2009 2010 Jumlah 235 Kab.02 1.00 25.48 3.20 4.17 589.92 1.53 6.02 65.16 56.763.15 20.423.49 1.749.26 83.84 2.275.743.108.99 6.18 197.01 5.36 30.672.18 9.01 5. Malang 2009 2010 Jumlah 238 Kab.06 35.71 4.57 339.04 1.00 57 126 35 18 53 74 140 214 48 64 112 54 46 100 125 74 199 93 51 144 Nilai 5 2.125.215.142.51 299.06 288.849.19 19.17 155.67 7.15 Jml 6 39 20 59 86 43 129 43 22 65 16 21 37 97 49 146 62 35 97 69.55 1.065.941.66 155.19 479.65 571.67 155.493.00 1.85 10.18 198.23 60.19 530.91 506.87 8.802.23 1.71 292.81 198.08 371.14 539.02 88.40 1.72 434.12 9.251.29 539.74 4.80 1.60 5.19 11.263.37 1.027.59 198. Kediri 2009 2010 Jumlah 233 Kab.81 28.35 2.727.15 396.28 350.19 1.37 1.03 794.59 42.674.17 530.964.04 346.66 42.02 316.51 5.

52 47.41 267.01 122.040.22 463.09 14. Pacitan 2009 2010 Jumlah 242 Kab.08 715.48 7.91 1.36 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 239 2 Kab.151.633.14 1.083.17 150.569.01 1.443.50 282.60 1.13 776.08 5.86 164.37 68.85 73.74 168.39 52.75 1.40 728.33 616. Pasuruan 2009 2010 Jumlah 244 Kab.15 83. Sidoarjo 2009 2010 Jumlah 248 Kab.391.085.87 27.94 2.82 482. Ngawi 2009 2010 Jumlah 241 Kab.19 360.104. Probolinggo 2009 2010 Jumlah 246 Kab.00 44.031.43 2.222.14 112.12 140.57 494.27 225.40 25.504.96 8.89 163.37 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 16 29 4 9 13 1 1 18 4 22 6 3 9 2 3 5 15 8 23 5 12 17 21 29 50 18 5 23 4 11 15 9 11 20 4 3 7 Nilai 9 227.92 36.57 531.75 52.11 83.085.90 180.00 807.40 2.778.95 50.12 122.37 386.95 105.31 2.01 69.70 2.362.58 1.75 122.50 3.68 155.13 941.12 2. Trenggalek 2009 2010 Jumlah 251 Kab.017. Nganjuk 3 2009 2010 Jumlah 240 Kab.577.67 17.75 278.11 168.49 386.12 87.786.30 306.92 624.136.85 892.69 122.44 566.151.84 2.13 994.577.68 1.66 895.10 14. Situbondo 2009 2010 Jumlah 249 Kab.33 3.629.647.150.56 2.774. Sumenep 2009 2010 Jumlah 250 Kab.47 308.07 447.672.06 123 .44 2.93 3.12 102.26 487.75 361.64 44.44 53.75 2.862.013.27 27.626.98 7.110.37 536.59 308.21 917.00 96.47 761.52 112.43 7.58 25.19 917.60 48.174.42 536.862.125.27 1. Ponorogo 2009 2010 Jumlah 245 Kab.83 428.12 1.79 166.66 588.68 0.98 168.86 48.30 18.89 2.84 5. Tuban 2009 2010 Jumlah 4 71 50 121 30 34 64 23 44 67 66 32 98 63 62 125 56 91 147 80 47 127 41 49 90 52 89 141 74 90 164 25 45 70 51 64 115 59 63 122 Nilai 5 780.26 104.63 2.37 527.12 150.646.26 164.64 836.14 246.623.81 410.96 8.95 104.32 278.64 1.318.90 428.00 273.37 761.59 428.Halaman 20 .98 180.19 796.218.899.10 38.13 763.21 253.91 35.49 361.44 2.37 2.062.25 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 17 16 16 10 10 2 16 18 25 25 42 42 1 19 20 12 12 34 34 70 70 14 14 4 21 25 38 38 Nilai 11 836. Sampang 2009 2010 Jumlah 247 Kab.890.65 102.17 50.80 240.08 320.87 118.33 229.15 43.31 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 517.97 35.37 278.57 567.88 2.54 48.93 Jml 6 58 17 75 26 9 35 23 33 56 46 12 58 57 34 91 54 46 100 64 20 84 36 25 61 31 26 57 56 15 71 21 20 41 38 32 70 55 22 77 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 553.12 219.024.560.862.12 253.039.65 588.19 3. Pamekasan 2009 2010 Jumlah 243 Kab.79 18.10 18.569.

511.60 2.86 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 2.89 507.29 11.32 98.05 206.07 50.810.032.69 5.586.91 410.33 2.14 28.82 410.448.01 3.374.87 6.14 186.634.97 149.04 425.09 11.529.80 36.387.33 1.290.96 204.41 261.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 252 2 Kab.96 2.606.34 87.803.26 112.164.701.803.98 2.13 6.00 792.99 332.93 869.64 785.37 99.77 311.11 2.79 12.019.702.31 2.13 Jml 6 42 23 65 38 16 54 22 29 51 40 25 65 48 23 71 50 30 80 64 27 91 73 28 101 32 26 58 23 18 41 62 26 88 57 13 70 10 24 34 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.505.00 792.85 1.20 52.87 136.374.115.36 507.99 1.482.557.80 566.17 61.13 321.92 1.91 206.79 2.91 302.82 250.93 68.17 161.91 39.15 3.03 432.15 973.79 377.63 348.34 11.92 1.53 68.99 332.020.623.20 9.550.004.92 2.553.97 979.11 8.59 375.56 7.75 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 15 19 34 1 9 10 10 12 22 9 9 6 6 6 4 10 27 12 39 4 10 14 16 17 33 65 8 73 20 15 35 21 28 49 Nilai 9 375.17 13.97 1.31 599.33 705.59 493.83 4.15 6.790.064.389.61 13.94 7.387. Banten 2009 2010 Jumlah 263 Kab.48 1.927.448.65 211.93 785.93 493.820.31 3.66 972.922.91 239.017.05 321.50 8.47 188.85 47.704.020.077.004.08 0.607.34 87.42 2.843.33 0.69 16.87 6.820.98 2.23 3.70 126.115.09 6.52 6.739.95 2.99 764.12 783.97 309.48 660.98 998.894.234. Lebak 2009 2010 Jumlah 264 Kab.56 2.87 124 .03 493.047.48 136.93 1.61 878.91 30.56 7.880.634.065.819.004.09 39.00 1.702.268.907.22 11.115.790.33 55.91 705.95 375.790.233.15 6.050.576.79 398.48 239.387.501. Tulungagung 3 2009 2010 Jumlah 253 Kota Batu 2009 2010 Jumlah 254 Kota Blitar 2009 2010 Jumlah 255 Kota Kediri 2009 2010 Jumlah 256 Kota Madiun 2009 2010 Jumlah 257 Kota Malang 2009 2010 Jumlah 258 Kota Mojokerto 2009 2010 Jumlah 259 Kota Pasuruan 2009 2010 Jumlah 260 Kota Probolinggo 2009 2010 Jumlah 261 Kota Surabaya 2009 2010 Jumlah 262 Prov.94 6. Pandeglang 2009 2010 Jumlah 4 42 51 93 56 128 184 23 53 76 50 52 102 57 41 98 50 51 101 70 59 129 100 65 165 36 77 113 39 171 210 140 46 186 77 28 105 76 74 150 Nilai 5 2.97 979.92 2.Halaman 21 .14 6.81 972.11 8.63 56.59 1.634.51 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 24 24 3 93 96 15 15 15 15 18 18 15 15 28 28 25 25 41 41 136 136 13 12 25 45 22 67 Nilai 11 432.91 6.66 188.81 6.75 94.15 2.85 1.56 2.08 6.387.05 2.14 6.09 660.657.98 12.09 507.08 7.50 2.56 6.

87 46.99 19.54 981.194.017.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 265 2 Kab.28 1.29 66.563.41 Jml 6 6 31 37 82 24 106 34 34 51 31 82 33 18 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 473.469.31 24.705.956.08 71.01 501.06 33.414.492.67 4.61 98.403.747.950.93 234.68 164.08 83.750.30 234.06 117.78 1.72 10.09 275.66 45.365.421.02 106.86 18.81 19.48 588.34 179.97 245.085.562.21 1.42 3.544.45 486.70 543.70 18.123.09 769.42 313.64 72.983.485.49 22.42 509.915.801.33 133.194.065.97 23.10 2.168.85 156. Buleleng 2009 2010 Jumlah 275 Kab.79 35.036.152.60 3.900.05 49.20 330.734.366.372.23 119.42 455.04 5.292.762.319.16 12.36 258.544.16 18.38 3.59 53.89 2.52 4. Karangasem 2009 2010 Jumlah 125 .332. Tangerang 2009 2010 Jumlah 267 Kota Cilegon 2009 2010 Jumlah 268 Kota Serang 2009 2010 Jumlah 269 Kota Tangerang 2009 2010 Jumlah Kota Tangerang Selatan 4 68 94 162 111 28 139 41 38 79 55 47 102 89 25 114 Nilai 5 95. Serang 3 2009 2010 Jumlah 266 Kab.131. Badung 2009 2010 Jumlah 273 Kab.50 28.70 18.97 300.036.308.085.50 28.238.13 289.Halaman 22 .02 14 8 22 18 6 24 9 3 12 10 42 52 7 7 12 27 39 14 3 17 44.378.48 12.99 554.974.00 94.009.97 359.169.473.356.76 78.704.070.615.970.562.95 112.78 60.182.60 50.668.89 90.91 8.292.88 1.17 27.956.66 57.831.54 901.302.34 4.55 4.44 18.19 2.235.562.67 94.01 10.943.62 49.71 9.12 978.46 185.779.86 1.548.519.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 473.66 2.38 136.032.54 270.83 271 Prov. Gianyar 2009 2010 Jumlah 276 Kab.724.09 36.22 48. Bangli 2009 2010 Jumlah 274 Kab.46 116.79 77.54 15.42 194.84 156.868.069.238.075.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 46 39 85 8 8 1 1 2 28 1 29 Nilai 11 94.67 124.519.171.118.168.85 57.53 300.10 554.950.32 376.25 13.10 15.421.385.26 18.34 1.20 155.21 831.83 1.257.216.86 308.827.65 530.35 205.66 3.79 1.99 3.599.33 30.32 34.49 1.086.60 1.813.585.22 4.81 12.75 1.008.28 41.027.13 661.11 294.429.952.95 35 35 131 69 200 61 50 111 59 18 77 32 88 120 34 10 44 24 47 71 56 54 110 18.515.13 22.82 1.89 4.69 48.42 290.323.52 1.562.93 1 1 2 2 29 29 3 13 16 32 32 55 55 1 38 39 111 111 2.13 15.679.91 4.978.67 8.840.066.199.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 16 24 40 21 4 25 7 38 45 3 15 18 28 6 34 Nilai 9 1.53 290.512.65 206.80 3.12 632.581.87 198.46 57.93 0.46 748.22 270 2009 2010 Jumlah 36 36 145 79 224 79 85 164 71 34 105 42 162 204 34 72 106 37 112 149 70 168 238 18.94 45.73 111.52 8.833.32 302.081.129.01 501.692.57 131.992.24 41.187.278.94 60.55 496.432.390.12 539.100. Jembrana 2009 2010 Jumlah 277 Kab.076.26 3.97 1.28 622.339.194.71 12.70 438. Bali 2009 2010 Jumlah 272 Kab.85 96.903.42 294.784.093.348.299.

126.340.Halaman 23 .333.63 20.031. Sumbawa 2009 2010 Jumlah 288 Kab.92 226.29 2.09 69.32 26.32 4.41 547.652.63 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 7 12 3 5 8 19 12 31 Nilai 9 862.15 430.506.20 316. Klungkung 3 2009 2010 Jumlah 279 Kab.295.43 34.019.82 13.181.390. Sumbawa Barat 2009 2010 Jumlah 289 Kab.429.64 1.217. Lombok Barat 2009 2010 Jumlah 285 Kab.84 34.71 209.487.20 Jml 6 32 31 63 33 56 89 55 61 117 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 20.43 201.249.555.212.638.18 75.906.07 59.82 828.317.26 59.68 33.43 2.78 - 11 11 9 9 2 2 12 12 4 4 3 3 8 8 9 9 15 15 3.08 3.42 3.691.83 20.58 1.52 2.053.256.19 963.15 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 947.02 37.94 69.04 4.84 35.87 23.78 113.003.39 1.638.04 2.50 11.50 154.85 126.249.472.998.887.455.72 327.33 32.92 226. Lombok Timur 2009 2010 Jumlah 287 Kab.053.99 281 2009 2010 Jumlah 71 90 161 23 27 50 85 25 110 46 114 160 76 82 158 47 94 141 39 22 61 96 61 157 26 26 34 46 80 5.19 154.03 915.63 201.295.94 828. Bima 2009 2010 Jumlah 283 Kab. Lombok Tengah 2009 2010 Jumlah 286 Kab.29 1.68 199.33 537.52 70. Nusa gara Barat Teng4 37 57 94 36 108 144 113 81 194 Nilai 5 21.42 316.053.89 33.11 6.27 21.92 2.66 1.217.304.82 126.688.663.678.037.442.47 915.054.828.80 550.93 725.41 226.94 40.03 828.81 1.18 8.04 - 282 Kab.99 108.947.61 2.41 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 19 19 47 47 39 7 46 Nilai 11 7.49 129.47 151.33 1.85 710.421.33 209.54 6.68 8.10 226.73 83.61 50.04 2.01 16.760.31 57.348.72 23.221.191.16 478.698.43 44 90 134 1 27 28 83 25 108 27 114 141 68 82 150 41 94 135 22 22 61 61 122 26 26 46 46 2.131.101.032.104.66 782.783.43 2.43 1.378.811.38 116.80 17.46 11.55 33.175.19 20.47 16 16 13 13 7 7 4 4 3 3 31 31 26 26 19 19 11.29 209.661.07 60.30 397.678.676.638. Tabanan 2009 2010 Jumlah 280 Kota Denpasar 2009 2010 Jumlah Prov.47 376.80 113.39 1.18 11.10 1.52 673.52 710.191.52 28.661.906.112.86 12.806. Lombok Utara 2009 2010 Jumlah 290 Kota Bima 2009 2010 Jumlah 126 .27 550.46 430.83 21. Dompu 2009 2010 Jumlah 284 Kab.20 151.203.97 33.49 443.92 2.97 7.487.19 3.55 1.947.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 278 2 Kab.54 120.461.94 1.44 743.645.54 580.39 59.34 22.314.555.44 616.

182.45 145.03 8.27 6.83 24.23 27 27 5 21 26 5.69 2.09 1. Belu 2009 2010 Jumlah 295 Kab.30 845.91 492.30 450.83 402.62 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 9 6 15 15 11 26 34 28 62 1 9 10 8 25 33 19 14 33 5 59 64 21 16 37 Nilai 9 31.026.68 227.17 1.679.08 3.07 5.02 3.47 7.558.37 34.053.73 715.186.97 6.380.07 90.62 300 2009 2010 Jumlah 53 49 102 4.30 1.00 36.268.35 270.98 5.76 173.02 536.96 36.69 33.24 1.00 145. Manggarai 2009 2010 Jumlah Kab.11 940.301.287.93 3.98 5.37 0.489.918.24 56.340.18 31.40 66.25 37.96 0.026.139.96 1.013.210.502.05 3.69 7.558.18 33.046.37 34.26 1.413. Sabu Raijua 2009 2010 Jumlah 303 Kab.190.21 27.93 486.20 1.85 996.47 7.678.61 3 5 8 633. Alor 2009 2010 Jumlah 294 Kab.071.27 Jml 6 19 19 53 15 68 13 36 49 25 10 35 19 19 1 11 12 15 25 40 18 48 66 54 10 64 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 14.063.579.06 56. Manggarai Timur 2009 2010 Jumlah 93 93 30 47 77 6.581.94 2.17 55.31 4.24 1. Lembata 2009 2010 Jumlah 299 Kab.26 5.47 66.638.86 5.83 24.00 917.72 2.60 145.026.559.227.380.93 27.60 258.403.773.59 10.57 1.16 36.14 1.00 392.07 5.10 1.69 845.86 1.827.27 5.76 48.890.61 2.606.097.Halaman 24 .18 33.85 37 37 1 12 13 450.00 392.62 4.51 274.898. Kupang 2009 2010 Jumlah 298 Kab.09 6.70 92. Ende 2009 2010 Jumlah 296 Kab.24 63.66 16 3 19 399.83 8. Manggarai Barat 4 111 80 191 76 155 231 55 80 135 62 149 211 23 33 56 49 56 105 106 75 181 23 113 136 83 42 125 Nilai 5 299.817.340.82 1.859.19 129.16 8.59 10.384. Nagekeo 2009 2010 Jumlah 127 .16 7.271. Flores Timur 2009 2010 Jumlah 297 Kab.026.227.51 48.83 402.496.61 301 Kab.57 5.218.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 291 2 Kota Mataram 3 2009 2010 Jumlah 292 Prov.73 1.68 227.38 594.30 2.40 66.62 914.16 14. Nusa Tenggara Timur 2009 2010 Jumlah 293 Kab.68 1.41 10.18 31.96 1.676.127.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 88 80 168 14 134 148 27 33 60 3 111 114 22 5 27 40 20 60 72 36 108 6 6 8 16 24 Nilai 11 254.45 0.51 10.87 93.25 2.62 0.47 66.32 3.24 6.060.55 29.76 6.79 29 29 24 14 38 33.073.31 4.308.542.110.60 258.22 31.87 2.60 34 41 75 3.634.22 1.63 63.55 29.22 407.28 735.370.45 1.823.308.59 1.22 6.817.89 676.91 492.581.00 0.93 486.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 36.30 2.62 816.51 763.94 4.78 785.19 129.60 145.31 7.07 90.217.384.14 1.00 5.25 37.03 999.825.43 399.101.00 5.24 63.70 92.825.48 1.23 302 Kab.76 6.230.

37 84.29 94.08 120.01 3.93 1.40 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 21 23 4 7 11 5 13 18 16 13 29 Nilai 9 205.13 7. Sumba Barat 2009 2010 Jumlah Kab.966.70 3.169.013.667.11 185.08 120.61 5.536.536.515.32 82 24 106 9 8 17 188.Halaman 25 .680.86 2. Bengkayang 2009 2010 Jumlah 128 .15 485.757.11 5.92 1.67 679.08 5.49 2.56 1.32 315 Kab.029. Sumba Timur 2009 2010 Jumlah 311 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 304 2 Kab.54 282.254.81 1.509.681.73 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 18 11 32 43 2 18 20 6 24 30 Nilai 11 6.357. Sikka 2009 2010 Jumlah 307 Kab.66 7.728.41 1.70 0.03 2.90 73.166.31 33.59 4.18 710.10 27 95 122 12 71 83 179.00 116.22 155.28 1.47 10 29 39 23 3 26 73.00 5.60 1.89 4.493.49 0.46 1.08 1.44 390.81 3.870.175.70 185.141.70 185.24 111 81 192 30 19 49 91.99 19 19 12.60 1. Timor Tengah Selatan 2009 2010 Jumlah 54 78 132 367. Timor Tengah Utara 2009 2010 Jumlah 31 97 128 39 71 110 883.76 2.07 3.23 393.86 292.10 227.78 13 9 22 6 24 30 24 48 72 3.713.53 1.91 97.33 584.26 6.04 3.98 4.438.226.74 1.70 116.00 5.09 227.264.785.54 1.636.45 927.94 316.01 3.492.27 1.71 638.368.79 2.99 7.515.38 34.61 3 2 5 16 18 34 31 6 37 0.271.49 9.08 5.74 31.80 184.052.17 5.64 1.05 1.214.785.00 1.60 12.45 6.94 316.645.552.873.629.54 1.537.044.60 312 Kab.50 1.60 0.06 2.214.74 142.052.19 21. Sumba Tengah 2009 2010 Jumlah 310 Kab.64 451.04 3.847.18 529.755.22 155.079.66 2.629.19 1.00 0.87 11.61 309 Kab.22 1.46 2.54 313 Kota Kupang 2009 2010 Jumlah 314 Prov.54 282.242.80 184.70 2. Sumba Barat Daya 4 28 59 87 28 54 82 19 58 77 85 72 157 Nilai 5 322.680.78 756.95 3.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 116.11 0.009.715.844.08 73.153. Rote Ndao 2009 2010 Jumlah 306 Kab.21 317.60 3 13 16 10.45 2.87 150.49 51 46 97 343.645.892.24 4.89 7.45 190.10 73.51 252.654.48 Jml 6 26 20 46 13 15 28 12 27 39 63 35 98 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 116. Ngada 3 2009 2010 Jumlah 305 Kab.934.08 31. Kalimantan Barat 2009 2010 Jumlah 203 134 337 62 30 92 279.41 3.77 158.785.21 6.27 1.00 12.96 123.089.727.59 4.457.22 1.21 487.001.46 1.00 185.859.56 112.05 7.98 673.649.87 3.40 308 2009 2010 Jumlah 24 45 69 46 62 108 143 88 231 36.12 1.90 12.57 224.029.60 6.46 2.759.681.02 1.70 2.72 1.32 120.785.872.00 2.00 5.636.11 5.081.90 811.51 314.379.744.08 73.22 195.32 120.146.608.46 1.264.001.979.814.70 8 34 42 24 20 44 88 34 122 33.54 3 2 5 4 4 553.19 21.00 23 23 150.80 6.122.30 2.

50 403.07 989.115.114.50 228.27 11.474.75 25.201.54 84.00 231.79 27.35 1.630.98 848.739.734.98 5.110.50 1.099.407.91 923.11 143.004.457.38 83.12 6.11 541.617.50 228.06 114.762.96 927.939.84 172.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 316 2 Kab.11 541.63 114.95 126.22 46.07 400.017.931.75 25.87 4.62 3. Sintang 2009 2010 Jumlah 327 Kota Pontianak 2009 2010 Jumlah 328 Kota Singkawang 2009 2010 Jumlah 4 120 35 155 115 79 194 90 47 137 56 56 63 42 105 56 69 125 70 28 98 20 52 72 80 100 180 96 40 136 59 46 105 136 44 180 94 46 140 Nilai 5 41.60 20.06 18.94 12.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 68 23 91 71 24 95 30 28 58 15 15 14 14 7 7 24 1 25 13 13 1 14 15 30 30 23 18 41 56 3 59 13 13 Nilai 9 41.12 3.878.90 541.476.072.717.18 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 405.06 1.61 223.41 8.36 4.371.90 789.218.Halaman 26 .06 595.96 927.96 624.00 231.79 2.41 5.84 143.12 3.476.19 16.334.05 2.06 114.739.362.731. Sambas 2009 2010 Jumlah 324 Kab.11 4.33 3.06 974.04 24. Kayong Utara 2009 2010 Jumlah 318 Kab.193.07 25.19 3.46 3.62 1.074.52 102.74 989.07 21.295.521.33 67.334.946.362.02 5.63 114.22 6.61 79.676.19 2.63 3.58 26.90 541.07 400.286.63 545.28 75.72 3.27 12. Sekadau 2009 2010 Jumlah 326 Kab.038.53 16.84 143.49 5.74 923.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 5 28 33 49 49 18 18 10 42 52 48 69 117 30 26 56 19 19 78 72 150 12 40 52 31 31 16 39 55 21 46 67 Nilai 11 2.36 3.241.302.20 2.302.90 27.927.137.24 624.79 974.482.07 11.34 129 .45 545.004. Pontianak 2009 2010 Jumlah 323 Kab.950.603.771. Kapuas Hulu 3 2009 2010 Jumlah 317 Kab.96 3.576.32 4.80 2.197.328.613.187.676.193.91 11.90 27.19 6.23 5.12 88.26 3.33 3.66 1.295.66 1.595.34 228.038.79 974.13 45.84 172.415.75 405.286.06 974.19 4.187.305.04 223.143.322. Melawi 2009 2010 Jumlah 322 Kab.50 403.017.75 405.380.214.12 3.555.49 1.33 65.95 2.616.839.267.11 143.79 27.32 Jml 6 52 12 64 39 27 66 11 19 30 23 23 39 39 1 1 16 1 17 20 20 40 1 14 15 54 54 5 28 33 64 2 66 60 60 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 405.29 18.02 21.45 2.22 46.41 624.201.07 25.04 8.33 16.576. Kubu Raya 2009 2010 Jumlah 320 Kab.147. Landak 2009 2010 Jumlah 321 Kab.413.82 3.27 2.47 18.49 3.36 11.07 20. Sanggau 2009 2010 Jumlah 325 Kab.41 1.72 105.34 228.236.721.13 82.771.462. Ketapang 2009 2010 Jumlah 319 Kab.595.548.231.328.87 19.34 26.74 45.02 3.99 3.392.

085.29 173.935. Lamandau 2009 2010 Jumlah 339 Kab. Barito Selatan 2009 2010 Jumlah 331 Kab.216.91 72.114.46 3.269.768.71 163.66 1.20 57.84 751.474.49 39.43 1.54 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 9.42 1. Kotawaringin Timur 2009 2010 Jumlah 91 125 216 76 26 102 109 101 210 75 53 128 102 63 165 164.66 6.43 - 338 Kab.49 127 69 196 76.096.843.40 3.335.38 8.168.425.65 28.51 61.328.05 173.036.14 65.18 44.82 5.663.81 6.042.383.68 29.31 914.62 551.84 16.50 30.25 30.494.79 13.988.574.31 27.51 28.93 1.218.07 11.622.00 47.792.18 10.94 150.347.27 17.115.51 28.078.534.730.237.035.74 62 39 101 73 20 93 67 74 141 33 24 57 23 5 28 2.243. Kapuas 2009 2010 Jumlah 335 Kab.549.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 51 51 102 24 15 39 8 25 33 24 8 32 11 12 23 12 1 13 29 25 54 Nilai 9 252.262.655.10 46.106.049.549.05 108.509.44 289.689.47 4.95 28.445.36 3.40 23.90 170.33 2.01 17.657.708.124.795.145.921.18 2 12 14 23 5 28 5 2 7 8 53 61 65.046.84 23.521.56 43.78 1. Barito Utara 2009 2010 Jumlah 333 Kab.124.53 5.75 141.48 991.794.804.95 27.45 401.047.468.832.84 310.021.87 2.05 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 10 13 21 34 16 6 22 4 2 6 6 6 21 2 23 Nilai 11 4.724.818.602.681.70 37.792.99 18.213.38 27 74 101 3 6 9 19 22 41 37 27 64 71 5 76 97.831.981. Murung Raya 2009 2010 Jumlah 340 Kab.742.768.38 167.081.877.43 53.071.032. Barito Timur 2009 2010 Jumlah 332 Kab.346.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 329 2 Prov.815.185.16 898.535.23 - 337 Kab.79 6.01 16.41 10.293.836.71 28.34 340.96 5.19 - 336 2009 2010 Jumlah 140 77 217 115.34 246.690.21 7.14 22.352.612.004.83 177.418.97 83.390.126.59 496.310.24 7 5 12 13.58 8.51 9.52 3.980. Kalimantan Tengah 3 2009 2010 Jumlah 330 Kab.71 6.83 4.14 12.218.95 25.50 15.887.539.069.70 145.339.19 61.16 69.36 83.509.768.98 317.44 35.095.225.47 83.02 51.63 3.65 1.042.329.851.577.397. Gunung Mas 2009 2010 Jumlah 334 Kab.166.093.32 2.591.94 13.187.36 23.46 13.686.08 738.959.243.823.796.22 748.741.199.13 1.379.54 16.078.95 80.98 44.36 14.366.12 10.329.345.19 4.81 54.450.95 21.124.959.279.82 2.794.25 37.880.13 2.81 7.35 372.79 553.444.34 31.51 12.191. Katingan 2009 2010 Jumlah Kab.65 22.95 29.98 22.51 173.198.20 Jml 6 61 48 109 90 66 156 42 31 73 77 59 136 78 43 121 123 36 159 36 31 67 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 92.31 724.67 12.20 10.478.17 31. Kotawaringin Barat 4 112 109 221 114 81 195 63 77 140 117 73 190 93 57 150 141 37 178 86 58 144 Nilai 5 344.002.511.95 1.950.38 14.49 351.Halaman 27 . Pulang Pisau 2009 2010 Jumlah 341 Kab.197.01 6 3 9 25. Seruyan 2009 2010 Jumlah 130 .77 10.676.44 91.42 17.17 574.213.966.34 30.67 13.34 111.68 12.82 44.015.259.93 10.

95 331.697.246.778.31 72.31 3.719.92 205.58 104.97 349 Kab.93 Jml 6 33 1 34 23 18 41 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 74.Halaman 28 .59 997.742.93 173.02 989. Kalimantan Selatan 4 61 62 123 64 87 151 Nilai 5 77.00 16.849.55 1.58 146.70 4.67 2 4 6 8 30 38 5 2 7 7 12 19 500.53 19.71 25.13 2.787.42 740.91 28.36 1.82 344 2009 2010 Jumlah 69 118 187 77 35 112 32 68 100 21 61 82 615.89 422.38 22.00 1.831.69 96.79 373.82 1.745. Barito Kuala 2009 2010 Jumlah 348 Kab.94 438.97 8.342.99 358.520.85 365.26 5.52 103.12 350 Kab.12 2 5 7 276.13 2.05 15.65 28.39 5.63 74.30 161.30 1.57 17 2 19 105.95 2.059.246.10 730.45 254.981.04 426.103.727.53 41.80 4.36 1.63 43.46 4 1 5 2.38 20.24 256.377.384. Balangan 2009 2010 Jumlah 346 Kab.79 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 1 19 8 41 49 Nilai 9 3.308.56 132.17 19.96 73.99 2.62 74.15 96.38 114.74 325.91 91.781.46 105.40 2.51 18.59 2.672.806.83 13 13 60.823.050.79 373.318.34 36 36 1 12 13 4 4 189.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 387.691.604.891. Hulu Sungai Tengah 2009 2010 Jumlah 18 35 53 1.93 551.25 92.36 1.93 140.616.01 19.438.078.75 516.604.928.13 221.98 1.60 2.24 6 44 50 13 13 1 14 15 140.69 103.31 3.015.05 105.93 440.89 236.00 25.87 8.82 387.68 90.40 10.67 242.67 4.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 342 2 Kab.92 351 Kab.50 1 26 27 1.71 0.03 345 Kab.71 357.709.97 320.92 2.847.737.75 267.75 75. Tabalong 2009 2010 Jumlah 353 Kab.81 2.67 17.629.13 119.86 1. Hulu Sungai Utara 2009 2010 Jumlah 35 11 46 39 93 132 39 17 56 38 42 80 754.35 17.751.528.112.74 2.69 25 41 66 9 15 24 6 19 25 4 23 27 351.896.71 242.64 1.97 3. Tanah Bumbu 2009 2010 Jumlah 131 . Sukamara 3 2009 2010 Jumlah 343 Kota Palangkaraya 2009 2010 Jumlah Prov.41 28.793.41 6.61 992. Kotabaru 2009 2010 Jumlah 352 Kab.30 3.17 75.23 690.316.468.13 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 60 70 33 28 61 Nilai 11 28. Banjar 2009 2010 Jumlah 347 Kab.531.841.49 2.23 82.60 313.939.69 877.05 1.94 218.72 4.75 75.26 408.041.47 1.39 205.086.528.83 276.67 1.81 2.39 16 17 33 1.769.56 374.945.635.67 297.56 25.52 28.35 5.641. Hulu Sungai Selatan 2009 2010 Jumlah 22 29 51 3.37 33 7 40 25 19 44 34 2 36 30 16 46 254.031.43 1.930.08 17.726.270.377.90 1.97 560.56 1.735.97 2.96 2.85 2.041.976.465.92 1.102.08 44 41 85 68 20 88 25 37 62 17 34 51 74.98 1.13 119.985.67 297.24 256.424.69 104.26 25.503.00 304.309.147.315.842.13 277.958.865.096.13 41.992.17 51.39 8.941.478.38 200.

803.879.74 219.451.13 122.33 84. Kalimantan Timur 4 27 39 66 17 20 37 24 60 84 36 72 108 Nilai 5 2.086.95 579.31 377.30 17.062.56 1.074.211.504.185.82 45.40 377.185.25 151.038.195.90 622.19 19 62 81 6 2 8 39 7 46 1 6 7 235.74 849.42 3.65 23.408.84 37.235.43 17.953.64 1.582.084.337.13 122.49 20.08 362.43 91.Halaman 29 .25 340.59 377.61 29.38 39.25 99.866.90 - 241.092.94 29. Berau 2009 2010 Jumlah 360 Kab.19 359 Kab.00 67.97 537.64 16.76 24.76 127.219.39 - 363 Kab.504.27 67.55 3.59 29.037.76 24.92 556.96 5.76 1.43 190. Tanah Laut 3 2009 2010 Jumlah 355 Kab.216.784.710.21 3.12 159.58 857.91 32.36 34 56 90 74 61 135 30 53 83 7 12 19 24 24 92.05 31 31 3 14 17 - 135.96 5.00 950.80 905.30 1.794.64 46.62 71.047.34 37.98 169.28 219.87 2.47 450.34 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 36 36 1 1 28 28 40 40 Nilai 11 1.879.25 962.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 354 2 Kab.70 58.079.14 1.01 29.64 42.83 2.037.381.052.674.95 1.12 1. Kutai Timur 2009 2010 Jumlah 364 Kab.25 1.56 962. Kutai Barat 2009 2010 Jumlah 362 Kab.49 1.960.294.938.876.55 41.97 389.92 556.62 2.571.30 17.61 67.542.737.46 3.168. Nunukan 2009 2010 Jumlah 366 Kab.11 240.875.680.238.58 10 12 10 47 3 50 20 3 23 31 24 55 43 43 1.219.152.30 99.82 Jml 6 20 3 23 15 12 27 22 24 46 29 22 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.86 29.252.084.89 43.60 68.22 1.33 4.28 499.07 67.668.85 46.834.25 11.33 986.37 186.112.36 33.64 50.053.67 4.287.906.23 1.53 13.440.803.73 16.742.876.57 358 2009 2010 Jumlah 42 111 153 10 2 12 75 63 138 3 6 9 316.81 125.97 126.066.96 346. Bulungan 2009 2010 Jumlah 361 Kab.807.329.30 3.745.61 29.11 909.97 532.41 1.50 420.25 84. Paser 2009 2010 Jumlah 132 .340.43 995.72 346.83 2.75 86. Malinau 2009 2010 Jumlah 365 Kab.00 275.69 12.285.718.287.90 533.95 1.12 240.73 135.542.63 1.062.79 44.742.056.22 48.43 17.54 1.100.451.030.39 1.285.37 398.53 1.646.287.73 1 1 4 4 8 1 4 5 6 66 72 17 31 48 13.12 24.61 1.13 854.50 1.23 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 7 7 1 8 9 2 8 10 7 10 17 Nilai 9 1.62 2.25 23 18 41 4 4 33 42 75 2 2 81.00 84.340. Tapin 2009 2010 Jumlah 356 Kota Banjarbaru 2009 2010 Jumlah 357 Kota Banjarmasin 2009 2010 Jumlah Prov.807.195.36 39.46 1.860.87 2.73 622.834.30 1.05 32.25 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.267.12 32.27 586.27 33.41 1. Kutai tanegara Kar- 2009 2010 Jumlah 45 68 113 125 68 193 51 60 111 44 102 146 84 31 115 94.22 105.43 208.58 857.92 12.71 346.59 15.28 1.611.680.303.192.01 4.97 510.047.47 450.668.42 1.42 453.07 362.28 499.13 480.65 12.574.46 767.710.12 4.201.27 586.000.875.362.813.00 1.

25 548.45 411.53 2.34 344.569.088.13 6.918.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 367 2 Kab.752.32 236.92 2.54 2.79 179.724.072.014.49 6 9 15 7 23 30 71.85 200.549.60 261.62 1.339.32 654.24 404.531.47 52.92 778.09 - 377 23 28 51 21 61 82 4.106.10 3.56 21.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 19 11 30 20 20 25 57 82 39 50 89 33 118 151 3 3 8 8 16 Nilai 9 107.337.231.946.60 86.98 462.36 204.35 144.55 419.49 124.12 1.137.63 39.837.63 157.07 778.92 506.167.412.681.09 230.85 12 19 31 7 7 14 4.24 1.36 805.45 - 375 Kab.28 728.85 728.144. Tana Tidung 2009 2010 Jumlah 369 Kota Balikpapan 2009 2010 Jumlah 370 Kota Bontang 2009 2010 Jumlah 371 Kota Samarinda 2009 2010 Jumlah 372 Kota Tarakan 2009 2010 Jumlah 373 Prov.Halaman 30 .347.53 236.58 Jml 6 22 22 11 11 7 3 10 27 44 71 15 9 24 4 3 7 34 3 37 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 29.245.76 506.059.19 334.77 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 55 57 24 24 5 22 27 2 2 9 23 32 7 34 41 Nilai 11 3.01 220.208.82 227.37 2.32 378 Kab.674.14 234.828.03 13.253.45 3.582.74 664.330.58 8.711.35 157.837.970.38 4 7 11 - 8 30 38 265.970.14 2.591.210.13 - - - 376 9 9 400.09 400.014.660.74 5 5 261.16 998.110.16 374 2009 2010 Jumlah 30 46 76 625.76 506.54 3.30 55.83 440.588.671.580.53 248. Penajam Paser Utara 3 2009 2010 Jumlah 368 Kab.32 448.09 400.92 771.09 - - - - 9 9 400.28 419.60 2.016.45 506.13 8.895.403.251.00 100.174.163.13 403.569.59 36.62 236.939.60 16 16 403.053.92 29.12 240. Minahasa 2009 2010 Jumlah 133 .448.066.77 66.19 45.29 2.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 7.19 200.28 17.45 71. Bolaang Mon2009 gondow Utara 2010 Jumlah 21 21 664.936. Bolaang gondow Mon4 43 66 109 55 55 37 82 119 66 96 162 57 150 207 7 3 10 49 45 94 Nilai 5 140.394.909. Bolaang Mon2009 gondow Timur 2010 Jumlah Kab.79 86.96 1.26 7.94 37.96 2.85 2.76 2.772.241.37 2.935.658.45 321.06 6.62 6.54 4.14 45.662.967.398.39 100. Sulawesi Utara 2009 2010 Jumlah Kab.88 4.05 112.68 5.29 805.412.84 228.94 1.164.76 35.672.39 185.45 7.35 1.91 49.909.93 110.09 173.48 6.541. Bolaang Mon2009 gondow Selatan 2010 Jumlah Kab.06 4.00 21.261.01 5 5 7 31 38 18.222.60 13.057.67 41.010.83 18 9 27 359.01 652.981.88 15.03 283.602.45 212.

187.76 2 5 7 12.89 684.324. Kep.661.07 806.69 22.039.20 12 12 8 2 10 223.77 1.971.63 1.13 718.49 185.49 21.80 1.17 8.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 379 2 Kab.67 1.95 1.22 5.584.356.20 11.942.07 25 25 - 126.31 13.73 79.071.005.292.62 390 Kab.419.43 506.20 243.44 384 Kab.91 2.84 2.31 13.72 39.15 227.352.689.63 66.402.193. Sulawesi Tengah 2009 2010 Jumlah 98 160 258 33 136 169 156.23 1.624.41 3.810.52 1. Minahasa Tenggara 4 21 22 43 Nilai 5 28.76 126.76 126.575.41 77.68 13 92 105 67 67 127.06 9.Halaman 31 .981.802.32 2.06 3.835.80 5.327.610.187.770.94 243.53 279.928.40 7.813.29 897.174.121.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 13 31 Nilai 11 28.877.352.44 3.56 81.73 1.052.802.41 39.881.033.20 906.23 18 2 20 5 13 18 3 25 28 1 1 2 3 5 8 575.76 383 Kab.41 246.20 381 Kab.04 22.928.511.90 1.25 57.954.36 970.174.62 346.89 51.165.83 662.16 77.73 1.16 1.57 29.02 130. Kepulauan Talaud 2009 2010 Jumlah 44 60 104 52 51 103 21 46 67 31 56 87 7 41 48 112.814.62 77 41 118 16 30 46 28.197.04 36.352.48 1.91 75.57 1.00 505.23 711.67 1.95 627.41 79.588.10 5.55 21.20 11.19 680.87 15.612.248.34 10 9 19 2.36 1.135.470.37 13 8 21 22 19 41 4 14 18 1 16 17 2 4 6 34.39 118.105. Minahasa Selatan 3 2009 2010 Jumlah Kab.16 77. Kepulauan Sangihe 382 2009 2010 Jumlah 24 49 73 12.14 1.360.51 37.76 1.521.04 37.80 40.08 2.14 8 27 35 17 39 56 243.877.68 79.63 8.73 1.20 1.14 13 21 34 680.55 1.054.89 5.121.57 10 1 11 11.98 9.245.50 165.23 14.175.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 380 2009 2010 Jumlah 38 64 102 25 39 64 15.96 3.98 3.77 8.30 4.57 3.64 13 50 63 25 19 44 14 7 21 29 39 68 2 32 34 78.23 2.144.82 8.95 627.65 490.10 8.708.783.73 409.071. Siau Tagulandang Biaro 2009 2010 Jumlah 23 30 53 7.76 1.521.35 223.040. Banggai 2009 2010 Jumlah 134 .60 11.843.73 8.44 680.255.26 333.31 Jml 6 1 9 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 2 Nilai 9 51.83 5.343.277.200.771.443.77 26 64 90 7 36 43 14.12 64.500.653.60 - 4.80 77.96 2.16 - 385 Kota Bitung 2009 2010 Jumlah 386 Kota Kotamobagu 2009 2010 Jumlah 387 Kota Manado 2009 2010 Jumlah 388 Kota Tomohon 2009 2010 Jumlah 389 Prov.242.84 22 19 41 126.643.705. Minahasa Utara 2009 2010 Jumlah Kab.84 409.66 354.35 963.63 35.78 127.385.86 40.592.531.57 29.039.996.936.45 484.64 107.117.775.034.993.066.527.75 243.37 23.

50 829.90 2.83 80.482.795.79 4.195.286.625.305.89 149 72 221 25 55 80 1 31 32 47.00 469.Halaman 32 .14 326.411.11 6.847.502.623.14 1.244.627.82 5.051.26 181.22 153.92 23.79 4.237.11 2.444.11 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 44 38 82 4 5 9 42 44 86 54 29 83 Nilai 9 10.34 4.44 371.44 371. Bantaeng 2009 2010 Jumlah 403 Kab.85 7.50 469.254.898.17 34 40 74 35 33 68 68 68 46 30 76 23 23 94 80 174 5.52 971.16 8.44 577.75 4.22 445.034.07 371.65 3.15 12.372.931.630.158.84 1.603.53 5.11 395 2009 2010 Jumlah 86 126 212 75 83 158 121 121 87 85 172 159 65 224 116 90 206 9.43 402 Kab.92 9.62 415.85 3.523.51 371.29 849.90 759.795.251.95 4.033.34 1 4 5 16 16 19 19 445.49 335.216.484.111.127.238.77 978.869.838.838.49 2.987.381. Morowali 2009 2010 Jumlah Kab.530.830.76 1.65 76.49 172.030.35 5.115.28 525.95 7.37 83.49 6.86 247.847.532.48 229.64 153.33 13.44 5.501.23 42.78 11.40 2.82 63.36 81.374.52 1.393.051.675.00 63.717.907.29 7.76 4 5 9 18 3 21 7 7 8 10 18 18 5 23 2.35 2.47 129.074.57 971.65 922.885.300.17 13.60 80. Parigi tong Mou4 50 121 171 114 95 209 75 119 194 96 106 202 Nilai 5 12.034.23 5.16 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.000.41 67.83 710.89 2.232.68 527.78 138.300.115.80 11.965.43 722.575.763.847.70 4.65 247.44 228.56 Jml 6 4 41 45 73 68 141 2 9 11 2 3 5 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.00 167.12 2.414.64 722.90 759.65 1.62 415.07 577.055.61 4.09 2.095.85 4.863.88 872.357.366.75 296.75 4.28 131.969.55 73.063.23 42.15 21.00 3.27 8.40 7.747.07 3.685.44 335.607.393.980.110.659.420.03 88.17 396 Kab.75 1.01 2.00 6.60 4.009.54 19.833.43 722.793.30 2.33 3.45 292. Poso 2009 2010 Jumlah 397 Kab.39 710.675.35 31.78 138.16 4.26 181.50 1.87 19.00 4.43 18.103.74 107.49 48 81 129 22 47 69 46 46 33 45 78 136 65 201 4 5 9 1.50 169.633.983.011.66 5. Buol 2009 2010 Jumlah 393 Kab. Tolitoli 2009 2010 Jumlah 400 Kota Palu 2009 2010 Jumlah 401 Prov.55 9.885.080.14 722.29 849. Sigi 2009 2010 Jumlah 398 Kab.884.28 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 42 44 37 22 59 31 66 97 40 74 114 Nilai 11 2.26 664.119.623. Sulawesi Selatan 2009 2010 Jumlah 154 100 254 49 55 104 34 31 65 57.85 5.10 15. Barru 2009 2010 Jumlah 135 .732.139.75 24. Donggala 2009 2010 Jumlah 394 Kab.80 3.49 2.43 4 24 28 8 8 14 14 9.074.569.59 15.07 3.12 2.93 4.97 3.60 2.51 79.53 3.73 829.98 291.51 3.324.607.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 391 2 Kab.70 15.405.87 1. Tojo Una-Una 2009 2010 Jumlah 399 Kab.39 107.357.74 7.821.59 1.306.620.75 7.07 10.107.249.795.26 5.15 8.535. Banggai Kepulauan 3 2009 2010 Jumlah 392 Kab.83 172.324.11 96.75 43.92 9.88 872.525.68 2.182.50 326.70 5.33 978.31 2.109.

Luwu Timur 2009 2010 Jumlah 411 Kab.006.12 289.91 13.683.19 636.54 2.80 4.18 1.40 31.62 3.75 7.40 480.19 1.27 636.62 223.09 2.77 20.417.84 2.88 6.31 15.22 43.507.26 1. Jeneponto 2009 2010 Jumlah 409 Kab.49 420.792.74 470.25 35.13 16.623.607.15 383.792.72 870.185.546.569.64 2.269.14 1.36 1 56 57 595.10 97.458.75 420.73 50.88 413 28 38 66 46 40 86 84 76 160 827.486.75 2.03 695.708.121.92 289.73 3.62 1.24 2.88 152.02 15.51 1.59 9.88 152.27 383.003.82 188.19 19.22 43.77 3.26 416 2009 2010 Jumlah 38 56 94 2.269.45 565.09 1.36 170.80 274.686.80 187.31 399.59 398.686.006.86 2.751.77 36.29 291.51 187.348.40 1.40 808.32 549.11 1.64 2.556.003.308.440. Gowa 2009 2010 Jumlah 408 Kab.751. Bone 3 2009 2010 Jumlah 405 Kab.10 97.546.27 187.54 3.90 166.035.94 235.81 6. Bulukumba 2009 2010 Jumlah 406 Kab.73 83.828.892.659.91 13.62 4.00 1.27 187.26 398.77 51.36 1.915.31 3.12 188.75 50.597.417.29 291.64 2.006.30 163.18 3.57 303.19 23.31 790.94 235.63 1.744.440.31 3.77 942.01 37 11 48 45 45 36.415.52 565.50 558.00 4.331.58 10.09 Jml 6 10 24 34 11 3 14 1 1 41 16 57 52 52 3 5 8 35 7 42 3 3 32 32 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 260.175.59 1.348.45 10.24 4.440.85 1.24 235.050.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 404 2 Kab.131. Pangkajene dan 2009 Kepulauan 2010 Jumlah 414 Kab. Luwu 2009 2010 Jumlah 410 Kab.90 166.08 242.915. Sidenreng Rappang 4 23 122 145 43 26 69 29 38 67 59 42 101 79 60 139 31 77 108 52 39 91 32 66 98 92 110 202 Nilai 5 483.066.915. Luwu Utara 2009 2010 Jumlah 412 Kab.18 11 11 8 23 31 38 38 790.90 152.Halaman 33 .62 10.93 1.59 1.248.55 20 20 235.839.08 636.90 152.10 4.94 136 .792.379.92 281.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 260.73 1.90 166.28 1.16 252.11 2.57 303.562.976.248.94 17 17 1.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 34 47 2 2 1 1 17 21 38 25 25 20 50 70 16 17 33 19 19 29 29 Nilai 9 223.915.201.974.036. Enrekang 2009 2010 Jumlah 407 Kab.72 2.553.94 10.533. Maros 2009 2010 Jumlah Kab.14 1.303.131.77 36.40 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 64 64 32 21 53 27 38 65 1 5 6 2 60 62 8 22 30 1 15 16 10 66 76 31 110 141 Nilai 11 1.77 979.67 83.18 1.036.93 1.49 346.61 3.66 5.31 2.19 711.84 295.07 36.692.50 281. Selayar 2009 2010 Jumlah Kab.50 53.61 2.26 2. Pinrang 2009 2010 Jumlah 415 Kab.31 3.755.039.348.31 1.31 12.266.974.003.856.039.744.90 166.72 31.544.75 17 38 55 1 6 7 1 76 77 2.366.13 1.46 2.59 274.66 1.496.16 63.415.

324.81 8.17 771. Bombana 2009 2010 Jumlah 428 Kab.636.565. Wajo 2009 2010 Jumlah 33 128 161 81 162 243 30 87 117 24 109 133 4.546.07 200.38 30.51 - 422 Kab.99 73.713.27 595.605.069.29 129.86 1.739.612.708.513.792.20 220.571.613.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 22.929.96 620.986.80 502.43 17.80 502.78 5.279.11 274.069.63 71.441. Sinjai 3 2009 2010 Jumlah 418 Kab.475. Buton 2009 2010 Jumlah 429 Kab.92 1.29 1.80 22.53 9.81 7.31 1.273.572.425.099.624.408.886.45 7.81 8.774.02 129.58 30.15 1.52 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 31 31 22 27 49 2 3 5 16 16 Nilai 9 129.44 15 29 44 31 3 34 2 2 20 20 139.99 9.57 285.36 172.11 328.15 1.409. Buton Utara 2009 2010 Jumlah 137 .061.99 90.85 6.25 17.644.31 1.29 1.380.32 4.281.82 29.748.52 2.92 1.550. Takalar 2009 2010 Jumlah 420 Kab.812.625.469.421.56 1.85 22.31 12.85 81.197.43 241.84 1. Sulawesi Tenggara 2009 2010 Jumlah 243 200 443 183 80 263 47 50 97 72 92 164 79.02 2.88 3.60 5.027.91 45.83 916.394.586.99 12. Soppeng 2009 2010 Jumlah 419 Kab.81 6.975.47 3.79 1.39 3.Halaman 34 .183.734.52 6.953.91 22.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 417 2 Kab.68 620.43 5.25 8.68 620.462.57 189.29 200.25 213.21 151.147.788.81 155.03 4.53 9.93 103.57 6.27 423 Kota Makassar 2009 2010 Jumlah 424 Kota Palopo 2009 2010 Jumlah 425 Kota Parepare 2009 2010 Jumlah 426 Prov.32 916.116.328.108.975.16 1.61 5.513.75 2.626.56 581.69 1.43 7.191.07 1 61 62 6 129 135 6 87 93 109 109 581.80 22.449.843.96 595.96 9.134.33 1.69 7.81 502.98 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 15 72 87 2 2 27 52 79 19 77 96 31 31 Nilai 11 286.96 620.47 5.409.28 6.91 22.468.48 4.191.107.107.29 99.41 103.17 54.61 129.57 189.69 6.191.732.631.77 34 6 40 2 2 15 21 36 7 9 16 16.986.210.328.88 17 38 55 44 30 74 22 22 4 4 4.72 177 192 369 183 78 261 4 4 36 14 50 15.806.92 Jml 6 1 1 13 16 29 9 9 10 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.81 6.29 129.92 24.97 2.15 5.045.49 139.514.019.708.324.286.57 427 Kab.12 81.61 9.35 16.191.29 129.106.53 9.875.42 32 2 34 32 25 57 29 69 98 47.82 52.43 182.807.593.94 37.689.14 241.81 502.973.01 3.734.578.612.92 1.51 36.108.462.49 6.94 31.891.814.95 2.893.331.55 7.31 10.975.61 9.44 28.65 22.96 3.49 2.95 69.35 2.22 121.664.340.56 8.893.854.79 5.11 328. Tana Toraja 2009 2010 Jumlah 421 Kab Tana Toraja Utara 2009 2010 Jumlah 4 47 72 119 35 45 80 38 55 93 45 77 122 31 31 Nilai 5 438.64 1.

95 2. Muna 2009 2010 Jumlah 436 Kab.743.94 8.94 9. Kolaka 3 2009 2010 Jumlah 431 Kab.51 13.13 710.241.651.16 450.496.84 52.98 17.22 3.60 1.52 800.73 447.258.17 778.631.25 28.67 26. Bone Bolango 2009 2010 Jumlah 442 Kab. Konawe Utara 2009 2010 Jumlah 435 Kab.068.07 416.71 13.759.70 3.89 13.592.26 1.707.99 3.014.141. Konawe Selatan 2009 2010 Jumlah 434 Kab.76 219.62 775.53 171.036.79 57.061.289.22 1.79 3.819.893.13 670.032.301.789.25 3.721.08 1.07 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 51 72 41 25 66 21 81 102 25 18 43 26 50 76 34 2 36 11 17 28 12 21 33 1 7 8 7 7 20 20 35 35 Nilai 9 1.66 177.46 107.224.631.28 6.08 447.992.56 1.77 10.720.29 14.557.025.37 2.62 8.45 12.33 2.935. Wakatobi 2009 2010 Jumlah 437 Kota Bau-Bau 2009 2010 Jumlah 438 Kota Kendari 2009 2010 Jumlah 439 Prov.39 670.638.86 445.893.36 14.707.744.72 797.212.758.93 1.95 70.99 21.96 1.95 1.502.20 13.51 1.04 10.41 1.496.90 7.09 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 4 14 50 2 52 94 11 105 77 73 150 60 58 118 3 129 132 1 47 48 16 9 25 1 66 67 35 34 69 92 112 204 96 80 176 114 132 246 Nilai 11 483.67 25.934.79 3.119.06 460.56 3.00 43.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 430 2 Kab.735.67 4.00 3.89 1.83 14.416.465.551.20 24.46 5.10 8.99 3.09 12.87 3.249.79 416.32 3.73 842.62 4.51 3.07 416.502.050.756.07 138 .12 5.791.036.017.10 18.148.047.25 5.70 35.36 64.045.79 1.537.86 1.600.45 460.417.470.54 163.11 1.470.092.91 65.52 778.83 1.662.719.72 10.52 2.467.12 9.429.195.697.211.52 15.024.66 14.62 Jml 6 45 18 63 61 27 88 11 3 14 48 6 54 7 15 22 26 26 26 40 66 22 20 42 57 18 75 46 46 76 76 35 35 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 8.792. Boalemo 2009 2010 Jumlah 441 Kab.52 450.10 14.Halaman 35 .179.90 1.05 41.00 21.012.78 832.15 81.87 3.613.67 3.58 49. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 440 Kab.494.09 3.62 11.82 3.987.72 6.237.505.51 445.707.032.56 69.79 416.215.49 1.10 1.283.557.50 0.89 278.124.84 46.44 3.78 104.041.31 3.555.77 8.066.49 24.412.59 41.99 13.69 62.488.88 348.510.05 5.31 13.71 12.33 2.467. Kolaka Utara 2009 2010 Jumlah 432 Kab.99 97.48 2.53 171.734.809.00 6.711.13 445.758.71 1.19 57.82 3.179.77 4.661.57 10.343.497.52 7.99 97.415.96 34.19 2.860.758.432.12 3.666.15 762.29 5.54 24.438.69 10.322.468.171.14 8.329.707.28 56.731.37 8.26 1.73 842.17 57.13 97.26 800.62 15.007.698. Konawe 2009 2010 Jumlah 433 Kab.45 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 263.13 445.024.239.62 10.482.241.341.909.684.520.13 97.19 4.189.862.78 7.572.803.34 13. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 4 76 73 149 152 54 206 126 95 221 150 97 247 93 123 216 63 131 194 38 104 142 50 50 100 59 91 150 88 34 122 92 112 204 192 80 272 184 132 316 Nilai 5 9.893.94 42.17 219.25 4.569.672.37 5.414.643.520.19 11.13 8.43 4.87 189.

258.07 642.146.243.971.084.261.65 456.027.871.52 3. Mamuju Utara 2009 2010 Jumlah 451 Kab.310.76 76.42 2.633.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 24 24 21 21 55 54 109 40 40 19 19 52 71 123 59 59 53 23 76 83 15 98 22 22 20 20 Nilai 9 2.72 23.82 5.871.70 8.51 29.33 23.37 49.94 6.01 954.043.79 11.70 145.48 313.55 48.032.25 15.53 2.01 9.70 145.959.149.87 898.00 629.801.36 160.24 5.05 2. Sulawesi Barat 2009 2010 Jumlah 447 Kab.98 32.509.384.207.70 14.815.43 14.72 32.009.635.26 1.601. Buru Selatan 2009 2010 Jumlah 455 Kab.599.080.241.554.43 12.51 145.032.11 67.85 5.04 2.83 39.87 2.91 977.679.784.69 554.43 1.43 1.66 200.863.269.36 21.70 6.72 225.94 2.290.01 16.87 - Kab.676.506.206.833.51 145.85 6.414.871.027.99 161.25 26.32 7.59 48.952.446.983.635.40 621.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 443 2 3 2010 Jumlah 444 Kab.67 22.753.25 27.18 965.91 8.75 5.560.24 16. Majene 2009 2010 Jumlah 448 Kab.278.10 195.224.673.17 71.17 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 6 60 66 81 53 134 90 134 224 33 40 73 5 69 74 16 57 73 8 57 65 5 72 77 5 73 78 36 99 135 16 74 90 78 78 13 13 Nilai 11 592.64 12. Maluku 2009 2010 Jumlah 453 Kab.70 335.32 1.90 6.052.607.673.24 23.830.00 509.169.502.673.169.749.509.080.85 2.196.89 504.04 28.29 160.29 1. Mamasa 2009 2010 Jumlah 449 Kab.422. Pohuwato 2009 2010 Jumlah 445 Kota Gorontalo 2009 2010 Jumlah 446 Prov.26 255.269.53 5.56 14.614.20 7.37 59.80 76.49 49.61 580.15 11.860. Mamuju 2009 2010 Jumlah 450 Kab.07 18.36 450.174.258.834.65 243.394.57 22. Polewali Mandar 2009 2010 Jumlah 452 Prov. Buru 2009 2010 Jumlah 454 Kab.65 517.49 112.46 5.446.883.12 49.94 5.097.60 2.44 71.61 29.44 554.66 47.69 35.077. Gorontalo Utara 2009 139 .62 1.710.01 9.32 35.50 2.37 160.53 55.871.05 155.036.51 47.94 450.557.077.52 673.952.231.Halaman 36 .095.84 2.01 32.37 131.15 48.290.49 629.60 34.61 63.715.29 160.59 818.83 2.084. Kepulauan Aru 2009 2010 Jumlah 4 77 60 137 98 53 151 129 134 263 98 97 195 73 69 142 52 57 109 85 132 217 95 72 167 86 98 184 144 120 264 75 74 149 78 78 79 79 Nilai 5 3.30 30.085.24 5.131.009.738.85 2.02 3.02 5.311.62 Jml 6 47 47 17 17 18 18 10 3 13 28 28 17 17 25 4 29 31 31 28 2 30 25 6 31 37 37 46 46 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 580.881.20 55.801.53 621.621.879.499.756.15 49.89 243.36 51.182.29 670.830.44 48.61 29.91 6.818.87 2.92 253.29 1.863.601.53 954.543.61 580.58 21.036.51 29.59 2.572.013.29 360.519.084.506.83 818.51 26.12 54.966.808.496.43 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 580.679.321.024.321.

680.452.62 827.593.844.94 1.532.75 22 22 1.93 54.80 13.43 224.077.755.755.252.937.578.31 60.14 27.56 49.310.844.90 62.97 462 Kota Ambon 2009 2010 Jumlah 463 Kota Tual 2009 2010 Jumlah 464 Prov.49 58.731.29 196.75 467 Kab.76 4 25 29 9.14 27.14 27.310.87 615.470.567.22 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 35 8 43 45 45 Nilai 9 4.72 195.446.593.14 - 461 Kab.750.723.58 4 28 32 17.54 441.934.16 13.050.50 813.448. Halmahera Selatan 466 2009 2010 Jumlah 103 80 183 553.861.88 61.78 630.122.188.67 3.844.53 60.08 Jml 6 60 5 65 61 61 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 27.593.061.94 16 16 6.419.205.853.230.591.25 1.492.280.862.908.13 281. Maluku Tenggara 2009 2010 Jumlah Kab.84 1.26 607.47 4.500.419.500.449.65 2.10 5.14 27.398.72 250.45 601.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 456 2 Kab.593.47 - - - - 64 64 17.086.61 601.137.593.84 1.381.194.65 517.88 44.43 47. Maluku Tengah 3 2009 2010 Jumlah 457 Kab.14 817.251.194.22 3.094.14 - - - - 96 96 27.56 47.22 196.789.21 2.47 17.629.29 27.230.376.602.332.21 574.657.17 51.593.78 2.781.745.22 292.33 15.85 352.93 12.02 114 24 138 67.36 58. Halmahera Tengah 2009 2010 Jumlah 122 77 199 94.865.844.731.122.767.567.593.23 2. Seram Bagian Timur 2009 2010 Jumlah 96 96 66 65 131 59 59 113 151 264 80 120 200 27.037.29 55.22 574.43 246.14 107.908.00 630.52 16.621. Maluku gara Barat Teng4 165 59 224 111 79 190 Nilai 5 67.15 1.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 13.10 518.11 45. Halmahera Barat 2009 2010 Jumlah Kab.50 818.593.07 5.00 459 Kab.501.14 813.38 579.330.05 72.47 17.45 98.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 70 46 116 5 79 84 Nilai 11 35.75 51.36 660.41 31.80 - 458 2009 2010 Jumlah 74 37 111 806.750.848.487.16 607.Halaman 37 .46 12 12 7 7 30 3 33 4.452.865.21 42 37 79 801.22 3.18 19.11 13.25 140 .06 13 13 2.416.399.736.57 641.745.50 14.011. Maluku Utara 2009 2010 Jumlah 465 Kab.773.448.85 302.741.55 281.339.450.050.63 6.46 150.875.63 96 96 44 65 109 59 59 100 151 251 15 61 76 27.26 10 10 6 6 35 56 91 224.452.452. Seram Bagian Barat 2009 2010 Jumlah 96 96 27.861.22 242.63 65 80 145 545.937.47 2.76 3.56 250.16 1. Maluku Barat Daya 2009 2010 Jumlah 64 64 17.72 44.47 - 460 Kab.518.62 834.483.06 19 19 2.

906.863.66 2.23 128.18 12.03 1.64 281.665.163.49 24.05 Jml 6 10 4 14 15 15 12 12 74 23 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 107.191.95 55.560.35 9.53 178.081.55 864.00 66.894.434.724.322. Papua 2009 2010 Jumlah 475 Kab.470.74 10.64 48.073.35 758.090.85 10.02 65.735.50 9.Halaman 38 .061.45 496.397.20 225. Biak Numfor 2009 2010 Jumlah 477 Kab.744.898.52 430.053.55 5.229.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 15 3 18 23 23 17 17 44 26 70 Nilai 9 3.273.354.76 948.252.65 9.323.129.524.89 1.72 276.60 210.090.305.21 4.21 62.00 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 83 105 188 38 103 141 70 73 143 30 30 19 19 Nilai 11 1.880.141.013.90 259.20 10.38 313.468.119.55 1.570.875.14 929.15 17.195.863.57 474 Prov.50 374.386.42 114.51 54.45 754.304.97 41.35 9.30 2.129.447.817.090.43 24.440.469.44 1.878.863.274.487.02 150.130.34 27 27 46 56 102 12 12 20 11 31 9 18 27 7 9 16 14 34 48 18 29 47 309.02 8.76 13.204.42 303.00 188.821.56 10.59 11.74 1.532.949.190.31 - 862.31 42.61 1.471.557. Pulau Morotai 2009 2010 Jumlah 472 Kota Ternate 2009 2010 Jumlah Kota Tidore Kepulauan 4 108 112 220 76 103 179 99 73 172 30 30 137 49 186 Nilai 5 1.89 132.40 97.51 3.220.610.74 32.22 30.64 29.897.49 1.08 309.58 58.52 67.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 468 2 3 2010 Jumlah 469 Kab.86 744.09 182.09 196.93 6.22 7.300.43 727.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 960.167.338.18 13.38 14.12 402.187.470.05 24.010.327.90 72 13 85 34 46 80 34 34 22 10 32 23 16 39 16 9 25 16 67 83 24 21 45 56.43 9.15 4.61 21.42 71.545.908.84 28.17 151.75 60.16 9.79 21. Kepulauan Sula 2009 2010 Jumlah 471 Kab.07 422.91 5.79 850.78 131.91 7.76 9.769.748.70 2.053.59 15.523.622.29 193.32 133.347.954.85 16. Halmahera Timur 2009 473 2009 2010 Jumlah 104 114 218 80 105 185 46 15 61 42 24 66 33 37 70 23 26 49 30 102 132 42 50 92 367.538. Halmahera Utara 2009 2010 Jumlah 470 Kab.54 28.62 67.165.658.751.048.19 98.02 51.613.595.058. Jayawijaya 2009 2010 Jumlah 480 Kab.977.878.796.54 119.32 68.61 200.25 125.61 65.16 7.15 1.005.12 59.506.31 9.08 27.350.609.58 9.60 Kab.498.15 3.71 1.24 108.305.799.78 744.501.86 4.680.53 1.741.50 281.51 61.26 1.967.030.241.39 888.213.498.090.927.503.00 501.55 1.171.37 186. Jayapura 2009 2010 Jumlah 479 Kab.09 733.800.55 3.615.937.78 3.19 10.665.01 5.418.098.993.568.549.60 392.64 10.080. Boven Digoel 2009 2010 Jumlah 478 Kab.855.61 79.85 128.55 5 101 106 3 3 15 15 3 3 1 3 4 8 8 1 1 - 1.79 6.19 28.433.090.16 754.305.185.60 858.907.00 55.35 1.23 318.068.937.215.94 231.12 6.117.72 392.266.098.799.31 2.225.694.819.146.67 970. Keerom 2009 2010 Jumlah 141 . Asmat 2009 2010 Jumlah 476 Kab.949.182.22 6.23 1.27 52.71 1.274.63 11.31 2.751.

50 3.123.37 879.470.76 20.374. Mimika 2009 2010 Jumlah 484 Kab.747.714.271.930.266.28 385.007.127.51 225.35 114.57 106.16 26.87 83.636.18 76.55 316.48 331.61 2.43 13.043.61 504.158.59 3.782.00 11.577.87 862.956.395.84 740.890.89 489.36 1.986.142. Yahukimo 2009 2010 Jumlah 493 Kab.873.068.432.339.37 141.930.207.623. Kepulauan Yapen 2009 2010 Jumlah 142 .271.80 91.611.032. Merauke 2009 2010 Jumlah 483 Kab.23 163.155.17 47.800.95 88.669.32 1.66 42.272.05 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 27 31 42 13 55 15 16 31 20 22 42 17 19 36 Nilai 9 13.48 3.76 233.669.98 24.514.02 Jml 6 19 14 33 7 44 51 22 25 47 25 13 38 6 18 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 253.290.72 53.66 89.48 310.54 34.10 21.072. Tolikara 2009 2010 Jumlah 491 Kab.899.829.87 211.339.560.55 634.439.05 974.963. Puncak Jaya 2009 2010 Jumlah 488 Kab.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 1 34 34 1 17 18 4 4 Nilai 11 3.50 904.606.19 156.99 325.43 1.666.154.38 72.831.09 55.111.604.69 131.956.431.56 271.87 916.20 25.00 5 1 6 12 31 43 15 23 38 25 36 61 17 18 35 18 43 61 41 22 63 16 23 39 13.62 23.641.000.09 133.04 196.45 49.84 1.336. Nabire 2009 2010 Jumlah 485 Kab.445.05 974.55 634.200.82 529.37 41.429.459.930.45 125.16 620.67 632.23 754.00 25. Pegunungan Bintang 4 23 41 64 50 57 107 37 75 112 46 52 98 23 41 64 Nilai 5 266. Waropen 2009 2010 Jumlah 492 Kab.611.83 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.125.624.437.28 365.597.459.00 504.549.84 25.42 4.514.00 10.85 156.82 667.79 2.84 740.76 126.125.274.528.533.10 54.332.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 481 2 Kab.623.75 36.63 10.70 87.020.83 233.20 885.50 1.29 487 Kab.470.81 167.822.84 129.40 288.33 893.83 12.858.48 42.72 26.356.596.216. Mappi 3 2009 2010 Jumlah 482 Kab.99 25.36 415.546.51 50.096.63 11.067.44 317.00 486 2009 2010 Jumlah 15 43 58 44 68 112 32 24 56 53 55 108 32 22 54 53 53 106 78 61 139 32 53 85 13.04 1.10 290.83 411.27 116.870.07 73.66 29.86 5.764.011.870.576.950.163.605.712.532.79 2.404.505.32 768.18 106.23 12.624.956.712.00 225.23 27.80 135.072.26 258.891.255.00 237.23 33.55 3.76 34 34 3 3 1 1 1 19 20 25 25 26 26 5 2 7 2.83 217.032.47 15. Paniai 2009 2010 Jumlah Kab.83 5.Halaman 39 .95 218.00 290.60 10 8 18 29 37 66 17 17 27 27 15 4 19 10 10 20 37 13 50 11 28 39 27.35 941.09 28.18 5.00 21.942.84 624.738.138.14 30. Supiori 2009 2010 Jumlah 490 Kab.732.59 1.193.29 211.00 21.796.63 862.108.50 19.39 312.738.39 291.60 1.452.34 688.930.24 1.058.703.95 673.86 965.151.63 19.01 1.425.433.001.95 134.18 3.163.10 20.50 92. Sarmi 2009 2010 Jumlah 489 Kab.28 43.51 303.78 303.47 73.67 143.

99 123.499.44 22.41 11.65 623.24 409.00 145.487.74 17.Halaman 40 .79 78.200. Raja Ampat 2009 2010 Jumlah 504 Kab.06 11.447.30 39.021.952.423.552.95 46.67 23.81 145.36 2.11 3.99 2.11 3.40 128.215.81 143 .461.96 3.926.41 39.38 25.95 2.62 14.982.884.354.184.769.22 873.575.48 513.50 12.35 9.11 3.111.538.01 4.49 30.28 35.770.785.57 5.670.78 Jml 6 21 21 14 14 43 6 49 3 3 42 42 12 12 1 1 25 20 45 49 55 104 54 54 30 30 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.13 45.621.65 1.552.400.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 5.33 454.184.96 16.387.362.177. Dogiyai 2009 2010 Jumlah 498 Kota Jayapura 2009 2010 Jumlah 499 Prov.021.742.08 8.844.325.36 5.18 76. Fakfak 2009 2010 Jumlah 501 Kab.767.55 31.728.98 1.612.188.435.854.198.86 28.929.85 15.854.571.28 145.85 17.17 28.36 1.243.549.46 623.35 4.612.18 76.746.49 4.81 694.00 1.54 31.30 46.738.144.935.99 74.56 8.982.021.40 145.80 23.262.265.325.46 3.681.423.00 513.374.417.92 48.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 494 2 Kab.770.61 45.127.496.48 3.60 582.84 14.31 3.841.86 14.408.49 26.127.59 4.42 464.49 3.86 874.417. Teluk Bintuni 2009 2010 Jumlah 4 34 34 35 35 20 20 36 36 93 30 123 208 76 284 134 63 197 75 57 132 129 45 174 101 62 163 114 85 199 81 54 135 192 58 250 Nilai 5 46.09 231.49 8.43 350.95 17.85 16.67 6.823.743.40 23. Sorong 2009 2010 Jumlah 505 Kab.06 1.743.60 454.376.49 22.41 11.67 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 35 35 20 20 5 5 1 1 203 76 279 75 63 138 61 57 118 127 45 172 32 8 40 36 24 60 7 54 61 155 58 213 Nilai 11 39.69 231.81 873.82 145.447.911.00 145.00 350.021.47 104.262.43 12.512.50 58.512. Nduga 2009 2010 Jumlah 496 Kab.40 119.43 11.952.54 12.432. Manokwari 2009 2010 Jumlah 503 Kab.46 3.60 582.06 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 17 17 49 24 73 2 2 17 17 2 2 1 1 44 34 78 29 6 35 20 20 7 7 Nilai 9 23.68 1.70 4.24 1.67 1.46 90.417. Mamberamo Raya 3 2009 2010 Jumlah 495 Kab.761.48 623.68 3.06 8.841.976.09 45.53 12.11 3.58 55.200.43 11.59 2.391.847.09 48.06 89.46 623.95 8.40 14.512.60 694.476.92 195.28 60.571.497.447.476.80 8. Lany Jaya 2009 2010 Jumlah 497 Kab.33 30.236. Sorong Selatan 2009 2010 Jumlah 506 Kab.315.54 3.46 15. Papua Barat 2009 2010 Jumlah 500 Kab.48 3.440.538.109.884.22 123.315.670. Kaimana 2009 2010 Jumlah 502 Kab.17 128.29 2.552.282.447.785.205.98 3.41 39.911.198.417.75 4.70 149.116.913.144.023.

633.75 - Rp17.85 6.635.520.933 Nilai 5 79.35 USD 466.68 6.792.865.11 16.85 122.43 78.59 23.85 122.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 507 2 3 2010 Jumlah 508 Kota Sorong 2009 2010 Jumlah Total 4 179 179 66 96 162 66.009.90 15.827.228.280 USD 2.075 USD 4.68 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 176 176 43 96 139 Nilai 11 78.957.00 - Rp27. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.11 24.43 7.510.510.49 Jml 6 3 3 23 23 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.21 15.375.583. Teluk Wondama 2009 Rp68.110.28 14.91 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 122.821.28 79.987.385.00 Kab.80 Rp22.Halaman 41 .520.13 USD 4.110.578 USD 473.987. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 144 .85 Rp807.83 - Keterangan 1.64 26.59 29.896.

59 8 10.10 USD 37.50 USD 37.55 1 - 10.701.21 USD 32.82 4 - - - 72.22 - 2010 Jumlah 139 316 - 9 PT Garuda Indonesia (Persero) 2009 2010 Jumlah 19 19 - - - - - 19 19 - - 10 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 145 .79 8 PT Pertamina 2009 177 - 8.58 2010 Jumlah 22 - 64.50 USD 37.22 14.701.773.705.22 59 26 85 - - 10 10 - - 108 113 221 - 8.392.474.79 72.04 - 11 - 15.82 - 4 - - - - USD 7.82 - 18 - 64.477.857.Lampiran 52 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 BUMN.04 11 15.489.392. dan KKKS (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.07 - 10.662.Halaman 1 .392.76 - Jumlah 46 - 6 PT PGN 2009 2010 Jumlah - 7 PT Bukit Asam 2009 22 64.50 USD 37.22 14.58 USD 7.07 19.493.40 USD 32.493.771.155.82 18 64.81 23.705.392.489. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PT Aneka Tambang 3 4 Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 1 2009 2010 Jumlah 2 PT Sarana Karya 2009 2010 Jumlah 3 PT Timah 2009 2010 Jumlah 4 PT EMI 2009 2010 Jumlah 5 5 5 5 - 5 PT PLN 2009 20 26.489.21 USD 32.771. BHMN.477.76 2010 26 - 19.07 - 8 - 10.773.55 - 26 27 - 19.489.662.81 23.40 USD 32.474.07 45.701.

Halaman 2 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 11 2 PT Angkasa Pura I (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Angkasa Pura II (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

12

2009 2010 Jumlah

42 42

342.623,80 342.623,80

-

-

-

-

42 42

342.623,80 342.623,80

-

13

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

43 43 -

733.674,86 733.674,86 -

3 3 -

525.917,75 525.917,75 -

-

-

40 40 -

207.757,11 207.757,11 -

-

14

Perum Damri

2009 2010 Jumlah

15

Perum PPD

2009 2010 Jumlah

16

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

17

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

18

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)

2009 2010 Jumlah

6 6

17.610,31 17.610,31

-

-

-

-

6 6

17.610,31 17.610,31

-

19

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

20

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

21

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)

2009 2010

33 29 -

707.301,10 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 821.142,37 USD 152.95 SGD 1,320.75

4 4 -

141.353,84 141.353,84 -

-

-

29 29 58 -

565.947,26 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 679.788,53 USD 152.95 SGD 1,320.75

-

Jumlah

62 -

146

Halaman 3 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 22 2 PT Djakarta Lloyd (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

23

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

24

PT Pengerukan Indonesia (Persero)

2009

23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

-

-

-

23 23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

2010 Jumlah

23 -

25

PT Indra Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

26

PT Brantas Abipraya (Persero)

2009 2010 Jumlah

30 30

188.627,04 188.627,04

-

-

-

-

30 30

188.627,04 188.627,04

-

27

PT Amarta Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

28

PT Adhi Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

29

PT Wijaya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

26 26 -

129.073,04 USD 11,498.63 129.073,04 USD 11,498.63 605.439,69 605.439,69 -

9 9 3 3 -

1.932,18 1.932,18 -

13 13 14 14 -

119.992,86 USD 11,498.63 119.992,86 USD 11,498.63 -

4 4 4 4 -

7.148,00 7.148,00 605.439,69 605.439,69 -

2.299,88 2.299,88 -

30

PT Jasa Marga (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21 -

31

PT Virama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

32

PT Nindya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

22 22

138.875,33 138.875,33

-

-

-

-

22 22

138.875,33 138.875,33

-

33

PT Hutama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

147

Halaman 4 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 12.671,11 12.671,11 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 34 2 PT Indah Karya (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 35 PT Istaka Karya (Persero) 2009 2010 Jumlah 36 Perum Perumnas 2009 2010 Jumlah 4 30 30

Nilai 5 12.671,11 12.671,11

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 30 30

Nilai 11

37

PT Pembangunan Perumahan (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

37.692,71 37.692,71

7 7

28.955,84 28.955,84

14 14

8.736,87 8.736,87

3 3

-

27.665,96 27.665,96

38

PT Yodya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

39

PT Waskita Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

40

PT Bina Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

41

Perum Produksi Film Negara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

42

PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

43

PT Kawasan Industri Medan (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

44

PT Kawasan Industri Makassar (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

45

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

148

Halaman 5 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 46 2 PT Hotel Indonesia Natour (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

47

2009 2010 Jumlah

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

-

-

-

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

48

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)

-

-

-

-

-

-

-

-

-

49

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

50

PT Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

51

Perum LKBN Antara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

52

PT Dirgantara Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

-

-

-

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

53

PT Pindad (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

54

PT PAL Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

55

PT LEN Industri (Persero)

2009 2010 Jumlah

149

Halaman 6 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 56 2 PT Krakatau Steel (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Boma Bisma Indra (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

57

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

58

PT Dahana (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

59

PT Barata Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

60

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

61

PT Industri Kereta Api (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

62

PT Batan Teknologi (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

63

PT Bio Farma (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21

2.148,65 2.148,65

11 11

50,70 50,70

5 5

2.097,95 2.097,95

5 5

-

-

64

PT Kimia Farma (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

35 35

90.176,31 90.176,31

-

-

-

-

35 35

90.176,31 90.176,31

-

65

PT Indofarma (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

47.791,78 47.791,78

-

-

-

-

29 29

47.791,78 47.791,78

-

66

PT Semen Gresik (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

67

PT Semen Kupang (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

150

Halaman 7 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 68 2 PT Semen Baturaja (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) 4 19 19

Nilai 5 10.012,78 10.012,78

Jml 6 7 7

Nilai 7 -

Jml 8 6 6

Nilai 9 6.046,39 6.046,39

Jml 10 6 6

Nilai 11 3.966,39 3.966,39

69

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

70

PT Industri Kapal Indonesia (Persero)

2009

21 -

15.722,54 USD 212,229.82 15.722,54 USD 212,229.82

3 3 -

2.436,30 2.436,30 -

16 16 -

4.786,24 USD 212,229.82 4.786,24 USD 212,229.82

2 2 -

8.500,00 8.500,00 -

-

2010 Jumlah

21 -

71

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

2009

24 -

11.361,10 USD 788.28 11.361,10 USD 788.28

9 9 -

861,86 861,86 -

9 9 -

7.867,79 7.867,79 -

6 6 -

2.631,45 USD 788.28 2.631,45 USD 788.28

-

2010 Jumlah

24 -

72

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

73

PT Primissima (Persero)

2009 2010 Jumlah

74

PT Industri Gelas (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

6.282,19 6.282,19

-

-

-

-

29 29

6.282,19 6.282,19

-

75

PT Garam (Persero)

2009 2010 Jumlah

76

PT Perkebunan Nusantara I

2009 2010 Jumlah

77

PT Perkebunan Nusantara II

2009 2010 Jumlah

78

PT Perkebunan Nusantara III

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

151

Halaman 8 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 80.223,60 80.223,60 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 79 2 PT Perkebunan Nusantara IV 3 2009 2010 Jumlah 80 PT Perkebunan Nusantara V 2009 2010 Jumlah 81 PT Perkebunan Nusantara VI 2009 2010 Jumlah 82 PT Perkebunan Nusantara VII 2009 2010 Jumlah PT Perkebunan Nusantara VIII 4 9 9 -

Nilai 5 113.240,26 113.240,26 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 4 4 -

Nilai 9 33.016,65 33.016,65 -

Jml 10 5 5 -

Nilai 11

83

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

84

PT Perkebunan Nusantara IX

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

85

PT Perkebunan Nusantara X

2009 2010 Jumlah

86

PT Perkebunan Nusantara XI

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

87

PT Perkebunan Nusantara XII

2009 2010 Jumlah

40 40

65.759,10 65.759,10

-

-

-

-

40 40

65.759,10 65.759,10

-

88

PT Perkebunan Nusantara XIII

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

89

PT Perkebunan Nusantara XIV

2009 2010 Jumlah

31 31 37 -

139.991,06 139.991,06 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

4 4 3 3 -

-

9 9 34 34 -

47.839,48 47.839,48 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

18 18 -

92.151,57 92.151,57 -

-

90

Perum Perhutani

2009

2010 Jumlah

37 -

91

PT Inhutani I

2009 2010 Jumlah

-

152

Halaman 9 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 19.207,08 19.207,08 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 92 2 PT Inhutani II 3 2009 2010 Jumlah 93 PT Inhutani III 2009 2010 Jumlah 94 PT Inhutani IV 2009 2010 Jumlah 95 PT Inhutani V 2009 2010 Jumlah 96 PT Sang Hyang Seri 2009 2010 Jumlah 97 PT Pertani (Persero) 2009 2010 Jumlah PT Perikanan Nusantara (Persero) 4 24 24 8 8

Nilai 5 19.207,08 19.207,08 1.976,30 1.976,30

Jml 6 5 5

Nilai 7 1.976,30 1.976,30

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 24 24 3 3

Nilai 11

98

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

99

PT Rajawali Nusantara Indonesia

2009 2010

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

18 18 -

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60 458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

-

Jumlah

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

100

Perum Prasarana Perikanan Samudera

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

101

PT Pupuk Sriwijaya

2009 2010 Jumlah

1 1

-

-

-

-

-

1 1

-

-

102

PT Kertas Kraft Aceh

2009 2010 Jumlah

12 12 -

218.834,69 218.834,69 -

1 1 -

-

10 10 -

107.535,64 107.535,64 -

1 1 -

111.299,04 111.299,04 -

-

103

PT Kertas Leces

2009 2010 Jumlah

153

Halaman 10 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 104 2 Perum PNRI 3 2009 2010 Jumlah 105 Perum Peruri 2009 2010 Jumlah 106 PT Balai Pustaka 2009 2010 Jumlah PT Pradnya Paramitha 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

107

2009 2010 Jumlah

41 8 49 14 14 51 51

9.593,54 9.593,54

32 32

466,60 466,60

41 8 49 14 14 16 16

9.126,94 9.126,94

3 3

-

5.794,01 5.794,01

108

PT BNI

2009 2010 Jumlah

109

PT BRI

2009 2010 Jumlah

110

PT Bank Mandiri

2009 2010 Jumlah

111

PT BTN

2009 2010 Jumlah

112

PT Jamsostek

2009 2010 Jumlah

113

PT Taspen

2009 2010 Jumlah

114

PT Asuransi Kesehatan

2009 2010 Jumlah

20 20 -

223.169,20 223.169,20 -

8 8 -

881,48 881,48 -

11 11 -

221.507,13 221.507,13 -

1 1 -

780,58 780,58 -

-

115

PT Jasaraharja

2009 2010 Jumlah

116

PT Asuransi Jiwasraya

2009 2010 Jumlah

117

PT Jasindo

2009 2010 Jumlah

154

879.60 6 6 26.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.509.049.049.Halaman 11 .45 USD 570.46 160.50 9.45 USD 570.46 - 127 Perum Jaminan Kredit Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 128 PT Kliring Berjangka Indonesia 2009 2010 Jumlah 10 10 36.879. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 118 2 PT Asuransi Kredit Indonesia 3 2009 2010 Jumlah PT Asuransi Ekspor Indonesia 4 - Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 119 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 120 PT ASABRI 2009 2010 Jumlah 121 PT Reasuransi Umum Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 122 PT Bahana PUI 2009 2010 Jumlah 123 PT Danareksa 2009 2010 Jumlah 124 Perum Pegadaian 2009 2010 Jumlah 125 PT Permodalan Nasional Madani 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 126 PT PANN Multi Finance 2009 2010 Jumlah 20 20 - 160.348.10 4 4 9.50 - - - 129 PT Sarana Multi Infrastruktur 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 .509.45 USD 570.348.46 - - - - 20 20 - 160.049.049.60 36.348.388.45 USD 570.10 26.388.348.46 160.

91 - 40 40 - - 6 6 - - 15 15 - 4.91 4.08 37 37 203.571.91 4.08 132 Perum Bulog 2009 2010 Jumlah 133 PT Survey Udara Penas (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 134 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 2009 2010 Jumlah 46 46 15 15 - 4.289.531.Halaman 12 .10 203.52 31 31 48.710.08 48.91 - - 135 PT Pos Indonesia 2009 2010 Jumlah 136 PT Sarinah 2009 2010 Jumlah 137 PT Sucofindo 2009 2010 Jumlah 138 PT Berdikari 2009 2010 Jumlah 139 PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 140 PT Surveyor Indonesia 2009 2010 Jumlah 141 PT Varuna Tirta Prakasya 2009 2010 Jumlah 142 PT Bhanda Ghara Reksa 2009 2010 Jumlah 156 .531.10 9 9 1.32 1.710.08 48.32 48.52 205.571.571.289.571. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 130 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 4 131 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) 2009 2010 Jumlah 77 77 205.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.

320.055.17 USD 835.60 820 Rp5. WK Bee 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 157 .03 5 5 USD 436.21 402.523.79 - BHMN (Badan Hukum Milik Negara) 146 BPMIGAS : 2009 2010 Jumlah Total BHMN Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) 147 BOB PT BSP Pertamina Hulu 2009 2010 Jumlah Chevron Pacific Indonesia Wilayah Kerja (WK) MFK . WK South Natuna Sea B 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 152 ExxonMobile Oil Inc.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 150 Chevron Pacific Indonesia WK Pokan .75 EUR 8.93 - 333 Rp1.994.291.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 151 ConocoPhillips Indonesia Ltd.31 USD 7.056.21 402.884.03 USD 436.408.320.50 SGD 1.03 1 1 12 12 12 1 1 1 11 11 11 - 148 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 149 Chevron Pacific Indonesia WK Siak .60 297 Rp806.11 USD 230.75 EUR 8. Ltd. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 143 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Perum Jasa Tirta I 3 2009 2010 Jumlah 4 144 Perum Jasa Tirta II 2009 2010 Jumlah 19 19 402.21 - 145 PPA 2009 2010 Jumlah Total BUMN 1.74 SGD 1.326.275.450 Rp7.12 USD 604.657.03 USD 436.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.21 - - 14 14 - 5 5 402.Halaman 13 .897.75 - Rp119.PSC 6 6 USD 436.

53 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - 580. WK Pase 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 Kalila (Korinci Baru) WK Korinci 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 156 Kondur Petroleum WK Malacca Strait 2009 10 - 580.309.Job P Costa International WK Gebang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK NSO 3 2009 2010 Jumlah 4 154 ExxonMobile Oil Inc. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 153 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 ExxonMobile Oil Inc. Ltd.53 580.65 USD 2.309.53 - 2010 Jumlah 10 - 157 Medco E&P Malaca WK Area “A” North Sumatera 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 Pearl Oil WK Tungkal 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 159 Petrochina International Ltd.434.53 580. Ltd. WK Jabung 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 Petroselat Ltd.434. WK Kakap 2009 2010 Jumlah 163 Job (PSC) Costa Igl WK Gebang 2009 2010 Jumlah 164 PHE Costa .59 USD 1.65 - - 161 Premier Oil WK Natuna Sea A 2009 2010 Jumlah 162 Star Energy Ltd.434.65 USD 2.59 USD 1.65 - - - - - 11 11 - USD 2.Halaman 14 .59 USD 1.59 USD 1.434. WK Selat Panjang 2009 2010 Jumlah 11 11 - USD 2.309.309.

33 4 4 USD 910.17 USD 150. WK Corridor PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 172 Kangean Energy Indonesia WK Kangean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 173 HESS Pangkah Ltd.17 USD 150.Job P ConocoPhillips WK South Jambi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 167 PT SPR Langgak Langgak Riau 2009 2010 Jumlah 168 BP West Java Ltd.33 USD 910. WK South East Sumatera 2009 2010 Jumlah 5 5 USD 910. WK Brantas 2009 2010 Jumlah 175 Medco E&P Indonesia WK Lematang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 176 Medco E&P Indonesia WK Barisan Rimau 2009 2010 Jumlah 7 7 USD 150. WK ONWJ 2009 2010 Jumlah - 169 Camar Resource Canada WK Bawean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 170 CNOOC SES Ltd.17 2 2 - 5 5 USD 150. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 JOA (PSC) ConocoPhillips WK South Jambi Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 165 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 166 PHE South Jambi .33 USD 910.33 1 1 - - - - 171 ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd. WK Pangkah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 174 Lapindo Brantas Inc.Halaman 15 .17 - - - 159 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.

Ltd. WK Bangko 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 179 Santos PTY.455.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Ogan Komering WK Ogan Komering 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 .JOB P PEJ WK Tuban 2009 2010 Jumlah 10 10 USD 7.JOB P GSIL WK Raja Block 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 185 JOB (PSC) Petrochina East Java WK Tuban 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - 186 PHE Tuban East Java .Halaman 16 . WK Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 180 Santos PTY.JOB P HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 183 JOB (PSC) Golden Spike WK Raja Pendopo 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 184 PHE Raja Tempirai .455. WK Sampang 2009 2010 Jumlah 181 JOB (PSC) HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 182 PHE Jambi Merang . Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Medco E&P Indonesia WK South&Central Sumatera Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 177 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 178 Petrochina Ltd. Ltd.81 - 187 JOB (PSC) Talisman .455.455.81 - - - - 10 10 USD 7.81 USD 7.81 USD 7.

WK Cepu Block 2009 2010 Jumlah 192 Seleraya Merangin Dua 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 193 Chevron Ind.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PHE Ogan Komering . WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 194 Chevron Ind. WK Makassar Strait 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 195 Citic Seram Energy Ltd. WK Seram Non Bula 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 196 Energy Equity WK Sengkang 2009 2010 Jumlah 197 Inpex WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah 198 Kalrez Petroleum WK Bula Seram 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 199 Medco E&P Indonesia WK Tarakan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 161 .Halaman 17 .JOB P TOKL WK Ogan Komering Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 188 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 189 JOA (PSC) Kodeco WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 190 PHE W Kodeco JOA P W Madura WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 191 Mobil Cepu Ltd.

JOB P PS WK Kepala Burung.76 USD 235.424.848.53 SGD 5. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Petrochina International (Bermuda) Ltd.53 SGD 5.51 - 209 PT Pertamina EP 2009 2010 Jumlah 162 .848.Halaman 18 .53 SGD 5.748.848.51 - - - - 12 12 USD 61. Papua Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 200 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah Total E&P Indonesia WK Mahakam - - - - - - - - - 201 2009 10 - 3.53 USD 235.JOB P Medco WK Senoro Toili. Papua - - - - - - - - - 206 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 207 JOB (PSC) Total Tengah WK Tengah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 208 PHE Tengah K . Sulawesi 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah JOB (PSC) Petrochina Salawati WK Kepala Burung.30 - 8 8 - 676. Sulawesi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 204 PHE Medco Tomori .848.748.424. WK Salawati Basin.51 USD 61.51 USD 61.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.76 USD 235.30 3.53 USD 235.30 - 2 2 - 2. Papua - - - - - - - - - 205 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah PHE Salawati .30 676.53 SGD 5.23 2.23 - - - - 2010 Jumlah 10 - 202 VICO WK Sangasanga 2009 2010 Jumlah - 203 JOB (PSC) Medco E&P Tomori WK Senoro Toili.JOB P Tengah 2009 2010 Jumlah 12 12 USD 61.

53 USD 1.748.581.30 21 Rp676.Halaman 19 .51 - - Keterangan 1.35 USD 74.59 USD 73.23 USD 150.BP Berau 2009 2010 Jumlah 212 BP Muturi 2009 2010 Jumlah 213 BP Wiriagar 2009 2010 Jumlah Total KKKS 76 Rp4.17 - 37 Rp580.30 18 Rp2.780. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 163 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.048.59 SGD 5.90 SGD 5. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.005. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 210 Nilai 5 5 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 5 5 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Benuo Taka WK Wailawi Block 3 2009 2010 Jumlah 4 211 Tangguh .

377.543.29 Rp18.115.41 19 11.92 3 7 67 157 2 5 145.20 114 9.70 26 24.40 2.856.52 90.432.00 156 59.985.313.16 269.265.171.88 12.179.96 - USD 7.269.013 Rp1.35 723.735.77 101 35.12 1 3.03 248 Rp122.79 140.886.000.455.543.136.44 26.18 15 3.71 6.625.00 60 84.29 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (15) 72 72 8 26 8 2 1 2 8 55 127 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (27) 1 1 1 Nilai (28) Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Penjualan/pertuKelebihan penetapan karan/penghapuBelanja tidak sesuai Pengembalian pinja.29 2.18 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah - 736 566.06 155 59.132.112.97 1 1 0.249.01 - 13 Operasional PDAM - 43 3.345.652.62 437.132.501.899.65 211 47.11 147 107.132.637.077.93 42 23.51 1.12 857.98 22 16.25 23.800.50 1 865.64 258.788.405.349.10 Rp94.551.82 15.707.18 6 8.344.01 Rp151.64 26 24.51 235.25 5.54 1.480.132.497.077.59 101.169.01 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .73 - 17 PDTT Lainnya 46 47.62 6.33 8 645.543.48 178.66 0.57 Rp34.68 176 25.339.51 1 775.577.366.dan pembayaran san aset negara/ atau melebihi man/piutang atau restitusi pajak atau daerah tidak sesuai ketentuan dana bergulir macet penetapan kompenketentuan dan sasi kerugian merugikan negara/ daerah Jml Kasus (29) 857.54 314 Rp82.146.08 USD 7.827.31 32.236.531.69 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 5 1.82 1.341.89 102 35.65 6 8.74 33 15.88 - Total Pemeriksaan Kinerja 62 84.43 1 1.480.21 2 1 1 1 5 11 90 27.499.50 USD 7.483.37 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 4 28.365.94 7.053.249.87 339.42 11.18 16 3.93 2 102.14 21 1 1 1 101 50 5.24 3 676.01 14 Operasional RSUD 10 3.00 14.518.480.91 Rp59.50 3 6.06 Total PDTT - 1.199.91 1.79 241.79 7.907.72 1 25.005.115.568.97 1 21.799.71 - Total Pemeriksaan Laporan Keuangan - 740 566.21 2 922.88 140.72 (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai (7) 17 17 1 1 21 1 1 23 41 Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (30) 62.538.82 83.29 Rp2.073.338.47 1.00 1 180.01 Nilai (31) 14.98 - 12 Operasional BUMN 13 92.52 0.75 77.349.58 37.12 28 28 10 4 1 7 1 2 25 53 - Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus Nilai (8) 7.40 5 2.86 122.020 175.68 USD 7.543.61 115.32 505 123.787.11 1 1 2 1 2 126 142 104.12 Rp857.852.82 77 11.44 3.943.19 2 1.25 2.565.735.75 77 145.70 - 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 48 36.00 1 180.053.71 465 75.341.30 3 (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) 2.72 101.457.50 - 16 Operasional BUMD Lainnya 8 2.30 1.377.486.67 Rp17.864.020.602.40 USD 7.535.60 9 29.35 - 5 Pengelolaan Pendapatan 10 3.67 4 220.01 - TOTAL 2.543.190.34 344.224.00 9.023.141.91 60 84.231.249.053.18 410.46 76 Rp33.19 6.56 119 Rp168.43 280.951.164 Lampiran 53 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kerugian negara/daerah/perusahaan No Pemahalan harga (Mark up) Entitas/Obriks Total kerugian negara/daerah / perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang pembayaran honorarium dan/ spesifikasi barang/ penggunaan uang/ atau biaya perjalanan jasa yang diterima barang untuk kepentdinas ganda dan atau tidak sesuai dengan ingan pribadi melebihi standar yang kontrak ditetapkan Jml Kasus Nilai (16) 83.660.481.53 3 3 90 27.531.40 62.246.211 368.70 638.68 28.88 - 12.585.98 7 7.98 2 102.443.20 12.24 721 Rp267.76 50 9.78 - 15 Operasional Bank Daerah 7 1.952.82 735.936.69 - 6 Pelaksanaan Belanja - 1.33 88.08 7.976.54 - USD 7.136.37 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 60 84.169.93 Rp33.660.11 146 107.543.574.996.00 - 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 2 320.53 14.04 77 145.01 13.453.95 - 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara - - - 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi - - - 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 1.852.80 47 8.893.

29 1.315.447.284.466.92 8.192.81 USD 53.95 25 80.39 417.315.218.49 19.52 2 119.Lampiran 54 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan No Entitas/Obriks Total Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan Kelebihan pembayaran Rekanan belum melakdalam pengadaan sanakan kewajiban barang/jasa tetapi pemeliharaan barang Pembelian aset yang Aset dikuasai pihak lain pembayaran pekerjaan hasil pengadaan yang berstatus sengketa belum dilakukan seba.80 88.50 8.20 5 22.48 Total Pemeriksaan Kinerja 12 504.91 Rp49.936.21 Total PDTT 386 1.014.704.04 19.155.691.67 426.500.155.598.704.556.00 9.76 Rp1.385.33 USD 32.430.00 3 521.38 1.125.27 22 2.750.97 239.768.142.792.997.48 504.85 9 2 12.29 17 PDTT Lainnya 8 26.29 USD 32.52 8 1 3 1 4 7 8 1 9.67 Rp290.80 850.87 3.95 2 18.32 14 43.48 8.00 3.59 54.365.269.95 24 80.30 154.93 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 24 34.91 1 1 312.32 14 43.075.00 92.673.00 Rp3.813.764.897.43 TOTAL 526 Rp1.51 1 1 500.679.80 84.38 2 - Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 7 89.49 1.700.27 299.704.03 1 524.37 6.35 33.26 - 21 2 23 1 1 14 3 1 8 1 6 33 57 - 46.40 47 Rp88.695.49 2.142.010.447.11 2 3.661.87 2 575.633.40 USD 32.00 1.235.65 55.Piutang/pinjaman atau Aset tidak diketahui kerjaan.696.00 4 1.45 3 26.59 4 70.50 12 Operasional BUMN 31 973.895.450.17 3 382.697.839.619.284.31 49.155.24 312.48 5 Pengelolaan Pendapatan 12 8.233.78 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 312.76 2 1 3 1 1 1 3 6 - 8.893.839.37 16 Operasional BUMD Lainnya 16 15.174.49 - USD 53.45 22 8.264.264.155.37 14 Operasional RSUD 1 28.61 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 20 5.28 5.572.005.00 426.086.448.84 1 445.45 3 3.525.925.51 USD 20.telah rusak selama masa gian atau seluruhnya pemeliharaan Pemberian jaminan Pihak ketiga belum dalam pelaksanaan pemelaksanakan kewa.986.01 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 14 4.49 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 1 6.11 2 3.375.88 7.200.35 15 Operasional Bank Daerah 15 38.00 6 1.575.261.260.38 USD 20.50 3.07 Rp50.450.549.79 23.04 72.78 190.dana bergulir yang berpokeberadaannya barang dan pemberian tidak sesuai ketentuan erahkan aset kepada tensi tidak tertagih fasilitas tidak sesuai negara/daerah ketentuan Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Nilai (20) Jml Kasus Nilai (21) (22) Jml Kasus Nilai (23) (24) Nilai (25) Jml Kasus Nilai (6) 7 1 8 1 1 156 21 2 1 180 189 Rp79. pemanfaatan Penghapusan piutang jiban untuk meny.499.96 19 2.47 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 128 461.409.71 51.808.04 1 8 856.77 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 11 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 1 504.46 Rp94.98 35 Rp24.711.16 6 Pelaksanaan Belanja 221 106.50 2 18 32 17.117.788.816.33 4.99 15 1 11 5 72 114 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 40 1 41 1 1 7 10 1 22 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 121 371.450.67 100.71 17 1 2 30 35 14.834.71 5 22.214.56 USD 53.793.12 2.48 2 1 14.68 485.625.50 1.32 6 6.43 13 Operasional PDAM 22 13.24 524.52 504.120.442.76 10.021.12 Rp7.87 1.29 2 154.655.155.05 781.25 154.247.29 5 3.688.51 USD 20.499.38 Rp2.836.646.43 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 165 .60 2.09 28.222.727.35 6.365.

639.771.868.508.099.20 2.84 6.187.53 276.04 223.31 45 Rp19.38 2 643.25 Nilai Nilai (20) 276.42 2 Rp8.099.12 3 844.36 1 196.508.29 249.02 9.58 1 16.099.261.45 USD 10.261.02 2.545.71 1 1 15.62 4.054.805.23 5.51 33 18.495.067.12 15.37 286.84 17.75 108 Rp92.072.05 18.25 Rp1.71 66.636.29 209.474.792.602.71 35.76 2.108.35 2.771.96 43 61.63 90.201.54 1.072.595.52 1 61 2 125.92 USD 10.33 3.166 Lampiran 55 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kekurangan Penerimaan Total Kekurangan Penerimaan Penggunaan langsung Penerimaan Negara/ Daerah No Nama Entitas Penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke Kas Negara/Daerah atau perusahaan milik negara/ daerah Penerimaan Negara/ Dana Perimbangan yang daerah diterima Pengenaan tarif pa.08 1 8.039 USD 29.835.77 9.45 24.595.474.76 4.823.602.57 2 549.98 375.89 17.18 USD 95.14 175.12 3 94.832.099.468.154.14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (18) (5) 325 10 335 14 14 218 348 2 13 31 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (19) 3 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (4) 213.915.949.401.364.71 1 Rp15.84 Rp42.80 5 476.14 66.261.54 USD 66.77 9.810.913.19 108.935.523.76 9.099.04 (1) (2) (3) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 402 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 10 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 412 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 14 4 Pengelolaan Hutan Mangrove - Total Pemeriksaan Kinerja 14 5 Pengelolaan Pendapatan 287 6 Pelaksanaan Belanja 357 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 2 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 13 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 31 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 17 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah - 12 Operasional BUMN 6 13 Operasional PDAM 26 14 Operasional RSUD 17 15 Operasional Bank Daerah 8 16 Operasional BUMD Lainnya 16 17 PDTT Lainnya 15 Total PDTT 795 TOTAL 1.16 2.230.88 5.793.59 2.12 31.261.77 482.73 35.269.508.52 30.044.84 99.766.736.514.51 2 2 40 4 9.Koreksi perhitungan Kelebihan pemtelah ditetapkan belum atau digunakan oleh jak/PNBP lebih rendah bagi hasil dengan bayaran subsidi oleh masuk ke kas Daerah instansi yang tidak dari ketentuan KKKS pemerintah berhak Lain-lain Jml Kasus Nilai (6) 173.872.54 4 22 15 8 15 14 690 USD 29.77 550.12 3 94.12 3 65 30.54 Rp1.42 9.84 91.73 USD 10.872.84 Nilai (21) 6.810.14 175.327 1 1.00 9.992.262.00 3 33 49.21 USD 29.236.43 8.615.71 3.95 USD 95.099.063.33 3.458.792.21 USD 29.41 61.736.474.401.32 6 Rp328.88 16.221 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .305.16 3 233.59 17 17 65 30.73 17 Rp66.72 895.80 5 476.34 29.023.45 Rp276.65 1 108.08 1 8.474.131.

Lampiran 56 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010 Daftar LHP Jml Objek Pemeriksaan No PEMERIKSAAN KEUANGAN I Nama Entitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 15 Provinsi Sumatera Utara 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3 31 Provinsi Sumatera Barat 32 33 34 4 35 Provinsi Riau 36 37 38 39 40 41 42 Provinsi Aceh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LKPD Provinsi Aceh TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Besar TA 20009 LKPD Kabupaten Aceh Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tamiang TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Bireuen TA 2009 LKPD Kabupaten Simeulue TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Bener Meriah TA 2009 LKPD Kota Langsa TA 2009 LKPD Kota Subulussalam TA 2009 LKPD Kabupaten Batu Bara TA 2009 LKPD Kabupaten Deli Serdang TA 2009 LKPD Kabupaten Nias TA 2009 LKPD Kabupaten Nias Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Simalungun TA 2009 LKPD Kabupaten Toba Samosir TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Tengah TA 2009 LKPD Kota Binjai TA 2009 LKPD Kota Medan TA 2009 LKPD Kota Pematangsiantar TA 2009 LKPD Kota Padangsidimpuan TA 2009 LKPD Kota Sibolga TA 2009 LKPD Kota Tanjungbalai TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Mentawai TA 2009 LKPD Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 LKPD Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Solok Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkalis TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kampar TA 2009 LKPD Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 LKPD Kabupaten Rokan Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Siak TA 2009 LKPD Kota Dumai TA 2009 167 .Halaman 1 .

Lampiran 56 No 5 6 43 Provinsi Jambi 44 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Muaro Jambi TA 2009 LKPD Kabupaten Tanjung Jabung Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Banyuasin TA 2009 LKPD Kabupaten Empat Lawang TA 2009 LKPD Kota Pagar Alam TA 2009 LKPD Kota Prabumulih TA 2009 LKPD Provinsi Jawa Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bekasi TA 2009 LKPD Kabupaten Ciamis TA 2009 LKPD Kabupaten Cianjur TA 2009 LKPD Kabupaten Garut TA 2009 LKPD Kabupaten Indramayu TA 2009 LKPD Kabupaten Karawang TA 2009 LKPD Kabupaten Kuningan TA 2009 LKPD Kabupaten Majalengka TA 2009 LKPD Kabupaten Subang TA 2009 LKPD Kabupaten Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kota Bandung TA 2009 LKPD Kota Bekasi TA 2009 LKPD Kota Bogor TA 2009 LKPD Kota Cimahi TA 2009 LKPD Kota Depok TA 2009 LKPD Kota Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kabupaten Tegal TA 2009 LKPD Kota Pekalongan TA 2009 LKPD Kabupaten Lombok Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kupang TA 2009 LKPD Kabupaten Manggarai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Sikka TA 2009 LKPD Kabupaten Timor Tengah Utara TA 2009 LKPD Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkayang TA 2009 LKPD Kabupaten Kapuas Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kayong Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Landak TA 2009 LKPD Kabupaten Sekadau TA 2009 LKPD Kabupaten Sintang TA 2009 LKPD Kota Singkawang TA 2009 LKPD Kabupaten Seruyan TA 2009 LKPD Kabupaten Balangan TA 2009 LKPD Kabupaten Kotabaru TA 2009 45 Provinsi Sumatera Selatan 46 47 48 7 49 Provinsi Jawa Barat 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 8 9 10 68 Provinsi Jawa Tengah 69 70 Provinsi Nusa Tenggara Barat 71 Provinsi Nusa Tenggara Timur 72 73 74 11 75 Provinsi Kalimantan Barat 76 77 78 79 80 81 82 12 13 83 Provinsi Kalimantan Tengah 84 Provinsi Kalimantan Selatan 85 168 .Halaman 2 .

Halaman 3 .Lampiran 56 No 86 87 14 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Tanah Bumbu TA 2009 LKPD Kota Banjarbaru TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Kartanegara TA 2009 LKPD Kabupaten Malinau TA 2009 LKPD Kota Bontang TA 2009 LKPD Kota Samarinda TA 2009 LKPD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Tenggara TA 2009 LKPD Kota Tomohon TA 2009 LKPD Kabupaten Bantaeng TA 2009 LKPD Kabupaten Jeneponto TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Selayar TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Maros TA 2009 LKPD Kabupaten Sinjai TA 2009 LKPD Kabupaten Takalar TA 2009 LKPD Kabupaten Tana Toraja TA 2009 LKPD Kabupaten Toraja Utara TA 2009 LKPD Kota Palopo TA 2009 LKPD Kabupaten Bombana TA 2009 LKPD Kabupaten Buton Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kolaka Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Majene TA 2009 LKPD Provinsi Maluku TA 2009 LKPD Kabupaten Buru TA 2009 LKPD Kabupaten Buru Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara Barat TA 2009 LKPD Kota Ambon TA 2009 LKPD Kota Tual TA 2009 LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur TA 2008 LKPD Provinsi Maluku Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 88 Provinsi Kalimantan Timur 89 90 91 92 93 15 94 Provinsi Sulawesi Utara 95 96 97 16 98 Provinsi Sulawesi Selatan 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 17 109 Provinsi Sulawesi Tenggara 110 111 112 113 18 19 114 Provinsi Sulawesi Barat 115 Provinsi Maluku 116 117 118 119 120 121 122 123 124 20 125 Provinsi Maluku Utara 126 127 128 129 169 .

Lampiran 56 No 130 131 132 21 133 Provinsi Papua 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 22 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 153 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Halmahera Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Sula TA 2009 LKPD Kota Tidore Kepulauan TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2009 LKPD Kabupaten Jayawijaya TA 2009 LKPD Kabupaten Mappi TA 2009 LKPD Kabupaten Merauke TA 2009 LKPD Kabupaten Mimika TA 2009 LKPD Kabupaten Nabire TA 2009 LKPD Kabupaten Paniai TA 2009 LKPD Kabupaten Puncak Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Sarmi TA 2009 LKPD Kabupaten Supiori TA 2009 LKPD Kabupaten Tolikara TA 2009 LKPD Kabupaten Waropen TA 2009 LKPD Kabupaten Yahukimo TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2008 LKPD Provinsi Papua Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Fakfak TA 2009 LKPD Kabupaten Manokwari TA 2009 LKPD Kabupaten Raja Ampat TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Teluk Bintuni TA 2009 147 Provinsi Papua Barat 148 149 150 151 152 153 II Laporan Keuangan Badan Lainnya 1 154 Kementerian Agama 155 2 156 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 1 1 LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1429 H/ 2008 M LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430 H/ 2009 M LK West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010 di Jakarta LK PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) TB 2009 di Surabaya LK Konsolidasi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009 di Batam LK PDAM Kota Padang TB 2009 3 4 157 PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 158 Badan Pengusahaan Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 1 1 5 159 Provinsi Sumatera Barat Jumlah LHP Keuangan 1 6 159 PEMERIKSAAN KINERJA III Tenaga Kerja Indonesia 1 160 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Singapura. Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota di DKI Jakarta. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI. Riyadh. dan Nusa Tenggara Timur Serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Jeddah. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. dan Kuwait 1 170 . Jawa Tengah. Hongkonh.Halaman 4 .

Halaman 5 . Lampung. Kantor Pelabuhan Jampea. Provinsi Maluku Utara. Jawa Barat. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kantor Pelabuhan Sanana. Balai Embrio Ternak Cipelang Balai Inseminasi Buatan Lembang. Kantor Bandar Udara H. Sampang. Jawa Timur. Kantor Bandar Udara H. Perkebunan Provinsi DKI Jakarta. D. Probolinggo. Kantor Pelabuhan Biringkasi. Sikka dan Flores Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja di Lingkungan Sekretaris Jenderal. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota di Wilayah Provinsi Jawa Tengah. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas di Jakarta Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 pada Kementerian Pertanian. Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. Aroeppala Selayar. Energi. Provinsi Sumatera Utara. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang-Rembang di Provinsi Jawa Tengah Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah. Kantor Pelabuhan Gebe. dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Keuangan. Yogyakarta. Provinsi Papua. Banten. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2 162 Kementerian Pertanian 1 3 163 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1 4 164 Kementerian Perhubungan 1 165 1 166 1 167 1 168 1 5 169 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 1 6 170 Kementerian Pekerjaan Umum 1 171 . Provinsi Sulawesi Selatan. direktorat Jenderal Cipta Karya. Dinas Pertanian. Bandung dan Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Di Provinsi DKI Jakarta. Administrator Pelabuhan Makassar. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di Jakarta. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur di Jakarta. Rembang. Perhubungan. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sulawesi Barat. direktorat Jenderal Bina Marga. dan Provinsi Papua Barat Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta IV Program Stimulus Belanja Infrastruktur 1 161 Kementerian Keuangan. Pertanian. Provinsi Jawa Tengah. Kantor Pelabuhan Jeneponto. Pekalongan. Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Suawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Jawa Tengah. Kantor Pelabuhan Sinjai. Provinsi DKI Jakarta. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Brebes. Administrator Pelabuhan Makassar.Lampiran 56 No Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum. Pamekasan. Aroeppala Selayar. Kantor Pelabuhan Buli dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Peternakan. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. dan Nusa Tenggara Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat. Kantor Pelabuhan Selayar. I. dan Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Sulawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Nusa Tenggara Barat.

SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Semarang SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Jawa Tengah SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Jawa Tengah Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Jawa Tengah SKS Pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Semarang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V di Surabaya. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum.Lampiran 56 No 171 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Vii. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah Ii. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi 172 1 173 1 174 1 175 1 176 1 177 1 172 . Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Ii.Halaman 6 . SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air CimanukCisanggarung. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. Provinsi Jawa Timur. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur.

SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Program Stimulus Belanja Infratruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Kepahiang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Bina Marga Dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi Kabupaten Demak di Demak Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Kabupaten Nganjuk di Nganjuk Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di Tulungagung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek di Trenggalek 179 1 180 1 181 1 182 1 183 1 184 1 185 1 186 1 187 1 188 1 189 1 190 1 173 . Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. SNVT PJJ Sorong dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang.Halaman 7 . Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan.Lampiran 56 No 178 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. SNVT PJJ FakFak.

Lampiran 56 No 191 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Kinerja atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur bidang Pekerjaan Umum tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangkaraya di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala di Marabahan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Donggala Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Parigi Moutong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Maros Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas PU Kab Halmahera Timur di Maba Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Prov Maluku Utara di Sofifi Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni 192 1 193 1 194 1 195 1 196 1 197 1 198 1 199 1 200 1 201 1 202 1 203 1 204 1 205 1 45 V Pengelolaan Hutan Mangrove 1 206 Kementerian Kehutanan 1 Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.Halaman 8 .d.d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Deli Serdang 207 1 208 1 174 . 2010 ( Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Batu Bara serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Batu Bara Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Asahan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.

d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Natuna Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pemeliharaan Peralatan. 2010 (Semester I) pada Kementerian Kehutanan Beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Instansi Terkait Lainnya di Jakarta (Pusat) dan Provinsi Sumatera Utara.d. dan Rekam Medik dalam Menunjang Pelayanan Kesehatan Paripurna Terpadu yang bermutu pada RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan. dan Farmasi dala menunjang Kesehatan yang Prima dan Paripurna pada RSU Mayjen H. dan Kehutanan Kota Batam serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Batam Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Thalib Kabupaten Kerinci TA 2009 dan Semester I 2010 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 3 224 Provinsi Jambi 1 225 1 175 . Perikanan. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Karimun Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pertanian.Lampiran 56 No 209 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bengkalis Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjung Pinang serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Tanjung Pinang Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.A. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Langkat Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.d.d. Pelayanan Farmasi.Achmad Mochtar Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Inap.d.d. dan Kepulauan Riau 210 1 211 1 212 1 213 1 214 1 215 1 216 1 217 1 218 1 219 1 220 1 15 VI Penyelenggaraan Ibadah Haji 1 221 Kementerian Agama 1 1 VII Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1 2 222 Provinsi Sumatera Barat 223 Provinsi Riau 1 1 Pelayanan Kesehatan RSUD DR.d.d.Halaman 9 .d. Rawat Inap. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Serdang Bedagai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bintan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Pelayanan Non Medis pada RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektifivitas Pelayanan Farmasi. Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Dumai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Rokan Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Riau.

2009 dan Semester I 2010 di Ungaran Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang T.DKI Jakarta Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. 2009 dan Semester I 2010 di Pemalang Kinerja Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Farmasi pada Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Kabupaten Semarang T. M. Harjono Kabupaten Ponorogo TA 2009 dan 2010 di Ponorogo Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSUD Dr. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga T.d. M. R.Halaman 10 .Triwulan III 2010 pada RSUD Cengkareng Prov.C. dan Rawat Inap pada RSUD Kabupaten Nganjuk TA 2009 dan 2010 di Nganjuk Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan TA 2009 dan 2010 di Pasuruan Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Dr. Soebandi Kabupaten Jember TA 2009 dan 2010 di Jember Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan dan Instalasi Farmasi pada RSUD Kabupaten Jombang TA 2009 dan 2010 di Jombang Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSU Dr.A. Hillers Kabupaten Sikka 5 6 228 Provinsi Bengkulu 229 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 7 230 Provinsi DKI Jakarta 1 8 231 Provinsi Jawa Tengah 1 232 1 233 1 234 1 9 10 235 Provinsi DI Yogyakarta 236 Provinsi Jawa Timur 237 1 1 1 238 1 239 240 241 1 1 1 242 1 243 11 244 Provinsi Bali 1 1 245 1 12 246 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 247 1 176 . Soewandhie TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pelayanan Medis di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Singaraja Pengelolaan Penunjang Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Kabupaten Gianyar Tahun Aggaran 2009 dan 2010 di Gianyar Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah T. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bengkulu Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Kota Pangkalpinang TA 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Pangkalpinang Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi TA 2009-s. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Atambua Kabupaten Belu Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.Lampiran 56 No 4 Nama Entitas 226 Provinsi Sumatera Selatan 227 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Sekayu di Sekayu Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Dr. Ashari Kabupaten Pemalang T. Saiful Anwar TA 2009 dan 2010 di Malang Efektivitas Pelayanan Farmasi.A. dan Rawat Inap pada RSD Mardi Waluyo TA 2009 dan 2010 di Blitar Efektivitas Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap pada RSD dr. Sumber Daya Manusia.A. Juni) pada RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan Efektivitas Pelayanan Farmasi.A. 2009 dan Semester I 2010 di Purbalingga Pemeliharaan Sarana Medis dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR.d. 2009 dan Semester I 2010 di Magelang Pelayanan Farmasi dan Rawat Jalan TA 2009 dan 2010 (s. Sumber Daya Manusia.

d 30 September) pada RSUD Undata di Palu Kegiatan Pelayanan Pasien TA 2009 dan 2010 (s.H. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan di Padangsidimpuan Pelayanan Kesehatan Pemerintah Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 265 1 2 266 Provinsi Sumatera Barat 1 3 VIII Pendidikan 1 267 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah.Halaman 11 . Semester I 2010 pada Kabupaten Mandailing Natal di Panyabungan Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. Dr. Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Polewali Kinerja Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Soasio RSUD Dr. Sumber Daya Manusia. Pelayanan Rawat Inap dan Instalasi Farmasi TA 2009 dan 2010 (s. Juni) di Sampit Kinerja Pengelolaan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Kotabaru Tahun Anggaran 2009 dan 2010 ( Sememster I) Efektivitas Pengelolaan Pelayanan Rawat Inap dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada RSUD Tarakan di Tarakan. Murjani TA 2009-2010 (s. 2009 s.d. H.d Triwulan III) pada RSUD Kabupaten Wajo Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Tani Dan Nelayan Kabupaten Boalemo Di Tilamuta Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof.Lampiran 56 No 248 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.d. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi di Sidikalang Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. 2009 s. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. Aloei Saboe Kota Gorontalo Di Gorontalo Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi.d.Chasan Boesoreiree Provinsi Maluku Utara tahun 2009 dan Semester I tahun 2010 Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika TA 2009 di Timika Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Nabire TA 2009 di Nabire Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Manokwari di Manokwari Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong di Sorong 13 14 15 249 Provinsi Kalimantan Barat 250 Provinsi Kalimantan Tengah 251 Provinsi Kalimantan Selatan 1 1 1 16 17 18 19 252 Provinsi Kalimantan Timur 253 Provinsi Sulawesi Tengah 254 Provinsi Sulawesi Selatan 255 Provinsi Gorontalo 1 1 1 1 256 1 20 257 Provinsi Sulawesi Barat 1 21 258 Provinsi Maluku Utara 259 1 1 1 1 1 22 260 Provinsi Papua 261 23 262 Provinsi Papua Barat 263 1 42 Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 1 264 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Semester I 2010 pada Kabupaten Samosir di Pangururan 268 1 177 . dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Soe di Soe Pelayanan Kesehatan TA. 2009 dan 2010 pada RSUD Sanggau di Sanggau Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal RSUD Dr.

Kegiatan distribusi Air Bersih dan Kegiatan Penagihan dan Penanganan Tunggakan Serta Keluhan Pelanggan TA 2009 dan 2010 PDAM Kota Balikpapan di Balikpapan 9 178 .Lampiran 56 No 2 Nama Entitas 269 Provinsi Sumatera Barat 270 271 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kinerja Pendidikan Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Solok TA 2009 dan 2010 Pengelolaan Sarana. Triwulan III) Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar Dalam Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam Menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Minahasa Utara TA 2009 dan Semester I 2010 3 272 Provinsi Riau 4 273 Provinsi Kepulauan Riau 1 274 1 5 275 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 6 276 Provinsi Kalimantan Tengah 1 7 277 Provinsi Sulawesi Utara 1 278 1 Pengelolaan Sarana dan prasarana serta tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kepulauan Sangihe TA 2009 dan Semester I 2010 Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar untuk Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali TA 2009 dan Semester I 2010 di Bungku 8 279 Provinsi Sulawesi Tengah 1 13 IX Kinerja PDAM 1 2 3 280 Provinsi Jambi 281 Provinsi Bengkulu 282 Provinsi Lampung 283 4 284 Provinsi Jawa Barat 285 5 6 7 286 Provinsi Banten 287 Provinsi Kalimantan Barat 288 Provinsi Kalimantan Timur 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kinerja PDAM Tirta Mayang Kota Jambi Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) Kinerja PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2009 dan 2010 Semester I di Argamakmur Kinerja PDAM Way Bumi TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Way Rilau TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung TB 2009 dan Semester I 2010 di Cimahi Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor TA 2009 dan Semester I 2010 di Bogor Sistem Penyediaan Air Minum TB 2009 dan Semester I 2010 pada PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang di Serang Kinerja PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Tahun 2009 dan Semester I 2010 di Pontianak Efektivitas Pengelolaan Kegiatan Penyediaan Air Bersih.Halaman 12 .d. Prasarana dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dan Instansi Terkait TA 2009 Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Bintan di Kijang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik dalam Menunjang Pendidikan Dasar dan Menengah TA 2009 dan 2010 (Semester I) pada Pemerintah Kabupaten Karimun di Tanjung Balai Karimun Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Menunjang Program Pendidikan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.

Lampiran 56 No X Kinerja Lainnya 1 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang Pelayanan SIM. Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang Pengelolaan Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Di Jakarta Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. Pelayanan Perijinan pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan Semester I TA 2010 Efektivitas Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait TA 2009 dan 2010 Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Penanggulangan Gizi Buruk pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung Kegiatan Pemeliharaan.Halaman 13 . dan Kepulauan Riau. serta Perusahaan di Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Cilacap dan Balikpapan 289 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2 290 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1 3 4 291 Kementerian Pertahanan 292 Kementerian Keuangan 1 1 293 1 294 1 295 1 5 296 Kementerian Kehutanan 1 6 297 Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata 1 7 298 Kementerian Perumahan Rakyat 1 8 299 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 9 300 Provinsi DKI Jakarta 1 10 301 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 11 302 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 12 13 303 Provinsi Nusa Tenggara Barat 304 PT Pertamina (Persero) 1 1 179 . Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 Semester I pada PT Pertamina (Persero) Dit. Polda Banten. Jawa Timur. BPKB (SSB) pada Polda Lampung. Serang dan Yogyakarta Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan di Jakarta Efektivitas Penyelenggaraan. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Kegiatan Bursa Pariwisata Internasional dan Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata TA 2008. STNK. 2009. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. dan Polda DIY di Bandar Lampung.

Sumatera Utara. Jambi. Nusa Tenggara Barat. Bukittinggi dan Makasar Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan2010 pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.Halaman 14 .Yogyakarta. Bengkulu. Jambi. Medan. Sumatera Utara. D. Pekanbaru. Provinsi NAD. Sumedang. Bengkulu. Bandung dan Semarang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung di Bandar Lampung Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak Pengelolaan Pendapatan dan Belanja (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta.Lampiran 56 No 14 Nama Entitas 305 PT Garuda Indonesia (Persero) Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta Kinerja pada PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . Kalimantan Barat. Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Budapest di Hongaria Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Kuala Lumpur di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Moskow di Rusia 2 308 Kejaksaan Republik Indonesia 1 309 1 310 1 3 311 Kementerian Dalam Negeri 1 312 1 313 1 314 1 315 1 4 316 Kementerian Luar Negeri 317 318 1 1 1 180 .Medan 15 306 PT Perkebunan Nusantara II (Persero) 1 18 Jumlah LHP Kinerja PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU XI Pendapatan dan Pelaksanaan Belanja 1 307 Mahkamah Agung 147 1 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP serta Penerimaan Penanganan Perkara pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Wilayah DKI Jakarta. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Solok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (ditjen PMD) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan Serta Instansi Terkait Lainnya Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Parpol TA 2008 dan 2009 pada Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Sekretariat DPP Parpol di Jakarta dan Badan/ Kantor Kesbangpol di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jawa Barat dan Jawa Tengah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Jakarta. Kalimantan Selatan. Serta Sekretariat DPD dan DPC Parpol pada Provinsi Sumatera Utara. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung.I. Jawa Barat.

Cibitung. Bandung. Gresik. KPPBC Tipe A2 Bandar Lampung dan KPPBC Tipe A3 Amamapare Di Jakarta. Pematang Siantar. Malang. 2008. dan Medan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Pluit di Jakata Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing LIma di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batu di Malang Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Cibitung di Cibitung 6 324 TNI AL 1 325 1 7 326 TNI AU 1 8 327 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 1 9 328 Kementerian Keuangan 1 329 1 330 1 331 1 332 333 1 1 334 335 336 1 1 1 337 338 339 1 1 1 181 . Solo. Parepare. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Merak. Batam. dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) dan jajaran terkait Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Koharmatau dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung.Halaman 15 . Bandar Lampung dan Timika Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya pada 16 (Enam Belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 dan 2010 DI Jakarta. KPPBC Tipe A2 Banjarmasin.Lampiran 56 No 319 320 321 322 5 323 Mabes TNI Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Seoul di Korea Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Ho Chi Minh City di Vietnam Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Johor Bahru di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Penang di Malaysia Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Staf Intelijen (SINTEL) TNI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) di Jakarta dan Bogor Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) dan jajaran terkait di Surabaya Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2007. Merak. Banjarmasin. Malang dan Madiun Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2009 dan 2010 dan Kerja sama Pihak Ketiga pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dan Instansi Terkait di Jakarta dan Cilacap Penerimaan Kepabenan dan Cukai Serta Penerimaan Negara Lainnya pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Serta Kanwil DJP Jawa Tengah II TA 2008 dan 2009 di Jakarta. Kanwil DJP Jawa Barat I. Lampung. Kanwil DJBC Sulawesi. Bandung. dan Surakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 Di Jakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Barat dan Jambi dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Padang dan Jambi 344 345 346 347 348 1 1 1 1 1 349 350 351 1 1 1 352 1 353 354 355 1 1 1 356 1 357 1 358 1 359 360 1 1 182 . Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kanwil DJP Jawa Barat II. Makasar dan Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Kalimantan Bagian Barat. dan Kanwil DJBC Jawa Barat Serta Instansi Vertikal dibawahnya Kementerian Keuangan TA 2009 dan 2010 di Jakarta. Pontianak. Bekasi. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 dan 2008 pada Bank Pembangunan Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Tengah Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Pemangunan Daerah Kalimantan Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Pengadaan Barang dana Jasa Pemerintah pada Kamtor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Padang. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank DKI Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank BJB Tbk.Halaman 16 .Lampiran 56 No 340 341 342 343 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Bandung Tegallega di Bandung Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batam di Batam Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Gresik Utara di Gresik Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Pematang Siantar di Pematang Siantar Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Parepare di Parepare Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat di Medan Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Mandiri (persero) Tbk. Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi.

dan Satuan Kerja Bandar Udara FL Tobing Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin di Jambi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Walisongo di Semarang Pelaksanaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Tahun 2009 dan 2010 (s. Jawa Barat. Triwulan III/2010) pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (BBPLKDN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Bandung Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Sosial. Kalimantan Barat dan Lampung Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN TA 2009 dan 2010 pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta 362 1 363 1 364 1 10 11 365 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 366 Kementerian Perhubungan 1 1 12 367 Kementerian Pendidikan Nasional 1 13 368 Kementerian Agama 1 369 1 370 14 371 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 372 1 15 373 Kementerian Sosial 1 16 374 Badan Pertanahan Nasional 1 375 1 376 1 377 1 183 . dan Jawa Timur. Satuan Kerja Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli.d.Lampiran 56 No 361 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu Dan Lampung dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Lampung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bekasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Surakarta Belanja Barang dan Belanja Modal BPH Migas TA 2009 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru.Halaman 17 . Kalimantan Selatan. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kota Surabaya I dan Kota Surabaya II di Surabaya Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dinas Sosial Provinsi dan Instansi terkait di Jakarta. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor di Cibinong.

Modal TA 2008 dan 2009 pada Ditpolair Mabes Polri Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. DInas Cipta Karya dan Energi Sumber Daya Mineral. Dinas Pendidikan dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya di Blangpidie Belanja Daerah Dinas Pekerjaan Umum.Halaman 18 . Badan Litbang SDM dan MMTC Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta dan Yogyakarta Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku di Ambon Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku Utara di Ambon dan Ternate Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang.dan Belanja Modal Kementerian Perdagangan TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. Semarang. Dinas Kesehatan. Yogyakarta. Dinas Kesehatan. serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Polda Sulawesi Utara di Manado Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada Provinsi Jawa Tengah di Semarang Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta. Belanja Modal.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 378 Kementerian Komunikasi dan Informatika Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Sekretariat Jendral. Pontianak. Makasar dan Gowa Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan 2010 serta Aset Negara pada Taman Mini Indonesia Indah dan Instansi Terkait di Jakarta Pengelolaan dan pertanggungjawaban Dana Tabungan Perumahan PNS pada BAPERTARUM PNS TA 2009 dan Semester I 2010. Belanja Modal TA 2010 pada Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Pekerjaan Umum. dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Lhoksukon TA 2009 dan 2010 Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kota Medan di Medan Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang di Lubuk Pakam Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Tengah di Pandan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya TA 2009 dan 2010 18 379 Kepolisian Republik Indonesia 380 381 382 1 1 1 1 19 383 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 20 384 Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi 1 21 385 Kementerian Perdagangan 1 22 386 Taman Mini Indonesia Indah 1 23 387 Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS 1 24 25 388 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas 389 Provinsi Aceh 1 1 390 1 391 1 26 392 Provinsi Sumatera Utara 393 394 395 1 1 1 1 1 1 1 27 396 Provinsi Sumatera Barat 397 398 184 . dan Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kabupaten Aceh Tengah TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Dinas BIna Marga. dan Lampung Pemeriksaan Atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal T A 2009 dan 2010. Dinas Pengairan.

Halaman 19 . dan Instansi terkait lainnya Se-Provinsi Jambi Tahun 2010 pada Provinsi Jambi di Jambi 29 407 Provinsi Jambi 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 423 424 1 1 185 . Panitia Pengawas Pemilihan Umum.Lampiran 56 No 399 400 401 402 403 404 405 28 406 Provinsi Riau Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sijunjung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kota Padang TA 2009 dan 2010 Belanja Modal pada Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 dan Semester I 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Jambi di Jambi Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bungo di Muara Bungo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Merangin di Bangko Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di Sengeti Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Muara Sabak Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Belanja daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Sungai Penuh di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Jambi di Jambi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo di Muaro Bungo Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Biaya Pemilihan Umum Gubenur dan Wakil Gubenur Jambi pada Komisi Pemilihan Umum.

Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Kayuagung Belanja Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di Martapura Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kab Muara Enim di Muara Enim Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu di Baturaja Belanja Daerah Tahun 2010 pada Pemerintah Kota Pabumulih di Prabumulih Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Bengkulu TA 2009 dan Semester I TA 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kepahiang di Kepahiang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten Lebong dan Instansi Terkait Lainnya TA 2010 di Tubei Pengelolaan dan PertanggungJawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko TA 2010 di Mokomuko Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong TA 2010 di Curup Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Pilkada Provinsi Bengkulu TA 2010 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Bengkulu di Bengkulu Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Lampung di Bandar Lampung Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang (Pendidikan dan Kesehatan) Pemerintah Provinsi Lampung TA 2010 di Bandar Lampung Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Gunung Sugih Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pesawaran (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Gedong Tataan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tanggamus (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Kota Agung 31 433 Provinsi Bengkulu 434 435 436 437 438 439 1 1 1 32 440 Provinsi Lampung 441 442 443 444 445 1 1 1 1 1 1 446 447 448 33 449 Provinsi Bangka Belitung 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Way Kanan (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Blambangan Umpu Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Pemerintah Kota Metro di Metro Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 30 Nama Entitas 425 Provinsi Sumatera Selatan 426 427 428 429 430 431 432 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah TA 2009 – 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang Pendapatan Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Lahat di Lahat.Halaman 20 . Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjungpandan Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kota Pangkalpinang di Pangkalpinang 450 1 186 .d.

d. Dinas Pendidikan.Lampiran 56 No 451 452 453 454 34 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung TA 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka TA 2010 di Sungailiat Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah TA 2010 di Koba Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Belitung Timur TA 2010 di Manggar Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bekasi di Cikarang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Sumber Daya Mineral Kabupaten Ciamis Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Sekretariat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta di Purwakarta. Agustus 2010) pada Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bogor di Cibinong Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandung di Bandung Belanja Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun Aggaran 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat TA 2009 dan 2010 di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga. Dinas Kesehatan. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon di Sumber Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Kesehatan.d.Halaman 21 . Dinas Pendidikan. Dinas Kesehatan TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang Belanja Daerah Kabupaten Bekasi TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Dinas Kesehatan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset. Dinas Bina Marga.d. Pemuda dan Olah Raga. Sumber Daya Air. Semester 1 2010) pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 455 Provinsi Kepulauan Riau 456 1 457 458 459 35 460 Provinsi DKI Jakarta 461 1 1 1 1 1 462 36 463 Provinsi Jawa Barat 464 465 1 1 1 1 466 467 1 1 468 1 469 1 470 1 471 1 472 1 187 . Bappeda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut di Garut Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Energi. Dinas Bina Marga. Dinas Bina Marga. Semester 1 2010) pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Batam di Batam Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Dinas Kesehatan.

Lampiran 56 No 37 Nama Entitas 473 Provinsi Jawa Tengah 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Brebes di Brebes Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Kudus di Kudus Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Pekalongan Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Semarang TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 22 . November) pada Pemerintah Kabupaten Klaten di Klaten Belanja Daerah Kabupaten Purworejo TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kota Salatiga Pendapatan Asli Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) di Purworejo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Karanganyar Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Rembang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni 2010) di Yogyakarta Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 di Bantul Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010 di Wonosari Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2010 di Beran Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan TA 2010 di Bangkalan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bondowoso TA 2010 di Bondowoso Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro TA 2010 di Bojonegoro Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik TA 2010 di Gresik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Jember TA 2010 di Jember 38 488 Provinsi DI Yogyakarta 489 490 1 491 1 39 492 Provinsi Jawa Timur 493 494 495 496 497 498 1 1 1 1 1 1 1 188 .d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Blora di Blora Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Temanggung di Temanggung Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Kendal Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.

d. Belanja Hibah. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah 527 Provinsi Nusa Tenggara Barat 189 .Lampiran 56 No 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 40 41 519 Provinsi Banten 520 Provinsi Bali 521 522 523 524 525 526 42 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang TA 2010 di Lumajang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Magetan TA 2010 di Magetan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi TA 2010 di Ngawi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pacitan TA 2010 di Pacitan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sampang TA 2010 di Sampang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2010 di Sidoarjo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Situbondo TA 2010 di Situbondo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sumenep TA 2010 di Sumenep Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek TA 2010 di Trenggalek Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tuban TA 2010 di Tuban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung TA 2010 di Tulungagung Belanja Daerah Pemerintah Kota Batu TA 2010 di Batu Belanja Daerah Pemerintah Kota Kediri TA 2010 di Kediri Belanja Daerah Pemerintah Kota Madiun TA 2010 di Madiun Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kota Mojokerto TA 2010 di Mojokerto Belanja Daerah Pemerintah Kota Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah (PAD) TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Banten (s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.Halaman 23 . Juli 2010) di Serang Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Badung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Buleleng di Singaraja TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gianyar TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Jembrana di Negara Belanja Daerah Kabupaten Karangasem TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Kabupaten Klungkung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Tabanan TA 2009 dan 2010 Belanja Barang dan Jasa.d.

September 2010) di Muara Teweh Belanja Modal TA 2010 (s.d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Belanja Barang dan Jasa. Belanja Hibah. Belanja Hibah. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kota Mataram Pelaksanaan Pembangunan Bandara Internasional Lombok (Sumber Dana APBD Provinsi NTB TA 2007 s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Belanja Barang dan Jasa.d 31 Oktober 2010) pada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas di Kuala Kurun 529 1 530 1 531 1 43 532 Provinsi Nusa Tenggara Timur 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 45 547 Provinsi Kalimantan Barat 548 Provinsi Kalimantan Tengah 549 550 551 552 190 . 30 September 2010) di Buntok Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Utara TA 2010 (s.d.d 2010) Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Alor Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Belu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lembata Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Nagekeo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Pendapatan Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 di Pontianak Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah TA 2010 di Palangkaraya Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Timur TA 2010 di Barito Layang Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Selatan TA 2010 (s.Halaman 24 . dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d.Lampiran 56 No 528 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Belanja Barang dan Jasa.d.d 2010 dan Sumber Dana APBD Kabupaten Lombok Tengah TA 2008 s. Belanja Hibah.

30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai di Luwuk Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d. 30 Juni 2010) di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Barabai Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Pelaihari Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Banjarbaru di Banjarbaru Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I 2010 pada Kota Bitung Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow di Kotamobagu Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa di Tondano Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara di Rantahan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kab Kepulauan Talaud di Melonguane Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Tomohon di Tomohon Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Provinsi Sulawesi Utara Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Manado Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Kota Manado di Manado Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d 30 November 2010) di Kuala Pembuang Belanja Modal pada Pemerintah Kota Palangkaraya TA 2010 di Palangkaraya Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Agustus 2010) Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 25 .d.d. September 2010) 559 Provinsi Kalimantan Selatan 560 561 562 563 564 47 565 Provinsi Sulawesi Utara 566 1 1 1 1 1 1 1 567 568 569 570 571 1 1 1 1 1 572 1 48 573 Provinsi Sulawesi Tengah 574 575 576 1 1 1 1 1 1 49 577 Provinsi Sulawesi Selatan 578 191 . 30 September) pada Provinsi Sulawesi Tengah di Palu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan di Salakan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) di Nanga Bulik Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau TA 2010 (s.d.Lampiran 56 No 553 554 555 556 557 558 46 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Katingan TA 2010 di Kasongan Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur di Sampit Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Lamandau TA 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Sigi di Biromaru Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan TA 2009 dan 2010 (s.d. 31 Oktober 2010) di Pulang Pisau Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Seruyan TA 2010 (s.

d.d. September) di Kendari Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Muna TA 2009 dan 2010 di Raha Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Majene di Majene Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Mamuju di Mamuju Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Tobelo Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di Maba Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Weda Belanja Daerah Tahun 2009 (Semester II) dan Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Labuha Belanja Daerah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai di Daruba Belanja Daerah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan TA 2010 (s. September) di Kendari Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Kendari TA 2009 dan 2010 (s.d..d.Halaman 26 .d. Semester I) Belanja Daerah Kota Parepare TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Sinjai TA 2009 dan 2010 (s. Semester I) Belanja Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang TA 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 579 580 581 582 583 50 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Luwu TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d. Semester I) Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) di Soasio Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Lanny Jaya Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Nduga 584 Provinsi Sulawesi Tenggara 585 586 51 587 Provinsi Sulawesi Barat 588 589 590 52 591 Provinsi Maluku Utara 592 593 594 595 596 597 598 599 53 600 Provinsi Papua 601 XII Manajemen/Pengelolaan Aset 1 2 602 Provinsi Bengkulu 603 Provinsi Jawa Timur 1 1 1 1 295 1 1 Manajemen Aset Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2009 dan 2010 di Sidoarjo Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya 604 1 192 .

Halaman 27 .d. Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kayong Utara TA 2009 dan 2010 di Sukadana Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kubu Raya TA 2009 dan 2010 di Sungai Raya Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sambas TA 2009 dan 2010 di Sambas Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sanggau TA 2009 dan 2010 di Sanggau Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Binamarga Pemerintah Kabupaten Nunukan TA 2009 dan 2010 di Nunukan. Juli) pada PDAM Lematang Enim di Muara Enim.Lampiran 56 No 3 605 Provinsi Bali Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Buleleng TA 2009 dan 2010 (sampai dengan 30 Juni 2010) di Singaraja Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jembrana TA 2009 dan 2010 sampai dengan 30 Juni 2010) di Negara Pengelolaan Aset Pemerintah Kota Banjarmasin Tahun 2009 dan 2010 (s.d. September 2010) di Masamba 606 4 5 6 607 Provinsi Kalimantan Selatan 608 Provinsi Sulawesi Tengah 609 Provinsi Sulawesi Selatan 610 1 1 1 1 1 9 XIII Belanja Daerah Bidang Infrastruktur 1 611 Provinsi Lampung 612 613 2 614 Provinsi DI Yogyakarta 615 3 616 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Kalianda Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Sukadana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Menggala Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Bantul TA 2009 dan 2010 di Bantul Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo TA 2009 dan 2010 di Wates Pelaksanaan Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Non Jalan dan Jembatan Prov. Belanja Infrastruktur Kabupaten Boalemo TA 2009 dan 2010 Pemeriksaan Belanja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo TA 2009 dan 2010 Belanja Infrastruktur Kabupaten Gorontalo Utara TA 2009 dan 2010 617 618 619 620 4 621 Provinsi Kalimantan Timur 622 1 1 1 1 1 1 5 623 Provinsi Gorontalo 624 625 1 1 1 15 XIV Operasional PDAM 1 626 Provinsi Sumatera Barat 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan Daerah (Pendapatan dan Belanja Perusahaan) PDAM Kota Bukittinggi TB 2009 dan 2010 Kegiatan Operasional PDAM TB 2009 dan TB 2010 (s. Belanja Daerah Infrastruktur Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara TA 2009 dan 2010 di Penajam Paser Utara.d 30 Juni 2010) di Banjarmasin Pengelolaan Aset Tetap TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong di Parigi Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Tana Toraja TA 2009 dan 2010 (s.d. Juni 2010) di Makale Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Luwu Utara TA 2009 dan 2010 (s. 2 627 Provinsi Sumatera Selatan 1 193 .

d.d.d.d.d.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Tolitoli di Tolitoli Pendapatan dan Belanja PDAM Kota Makassar TB 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) pada PDAM Kabupaten Buleleng di Singaraja Realisasi Pendapatan. Semester I) pada PDAM Kota Denpasar di Denpasar Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh PDAM Menang Mataran TB 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 628 Provinsi Jawa Timur 629 630 631 632 633 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Banyuwangi TA 2009 dan Semester I 2010 di Banyuwangi Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Blitar TA 2009 dan Semester I 2010 di Blitar Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Kediri TA 2009 dan Semester I 2010 di Kediri Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Madiun TA 2009 dan Semester I 2010 di Madiun Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Mojokerto TA 2009 dan Semester I 2010 di Mojokerto Kegiatan Operasional PDAM Kota Pasuruan TA 2009 dan Semester I 2010 di Pasuruan Realisasi Pendapatan. Semester I) pada PDAM Kabupaten Karangasem di Amlapura Realisasi Pendapatan. 30 Juni) pada Kabupaten Donggala di Banawa Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Buol di Buol Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Poso di Poso Operasional PDAM UE Tanah Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Tojo Una-una di Ampara Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Juni) Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni 2010) di Polewali Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Jayapura TB 2008 dan 2009 di Sentani 4 634 Provinsi Bali 635 1 636 5 6 7 637 Provinsi Nusa Tenggara Barat 638 Provinsi Kalimantan Selatan 639 Provinsi Sulawesi Tengah 640 641 642 643 644 645 8 9 10 646 Provinsi Sulawesi Selatan 647 Provinsi Sulawesi Barat 648 Provinsi Papua 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23 XV Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi 1 649 BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP 1 Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Eks Pertamina Block pada BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP serta instansi terkait di Jakarta.d. Semester I) Operasional PDAM Kabupaten Polewali Mandar TB 2009 dan TB 2010 (s.d. 1 194 . 30 Juni) pada Kabupaten Morowali di Kolonodale Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Agustus) Operasional PDAM Intan Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan TB 2009 dan 2010 (s. Prabumulih dan Cirebon Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Kakap pada BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd.d. serta instansi lain yang terkait di Jakarta dan Natuna 2 650 BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd.Halaman 28 .d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Banggai di Luwuk Operasional PDAM Motanang Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.

2009 pada Bank Indonesia Tambahan Penggantian biaya Subsidi BBM TB 2003 s. Pengendalian Biaya dan Kegiatan Investasi Tahun 2007. Kerja Tuban Tahun 2009 pada BP Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor KKKS JOB Pertamina Petrochina East Java di Jakarta dan Surabaya 3 XVI Subsidi Pemerintah 1 652 Bank Indonesia 1 Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Untuk TA 2007 s. Balikpapan.d. Jakarta. Balikpapan. Jakarta. Dan 2009 (Semester I) pada PT Nindya Karya (Persero) Kegiatan Pengelolaan Pendapatan. Medan. (PT KF) dan Anak Perusahaan yaitu PT Kimia Farma Trading dan Distribution (PT KFTD) Pengelolaan Pendapatan. Medan dan Padang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu PT Adhi Karya (Persero) Tbk TB 2008 dan 2009 (s.Petrochina East Java Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Wil. Semarang. Jakarta. IV di Medan. 2009 dan Semester I 2010 pada PT Pengembangan Investasi Riau di Pekanbaru 195 . VII dan Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I s. Pengendalian Biaya dan Kerjasama Operasi TB 2007. Palembang. dan Surabaya Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkatan Laut Penumpang Kelas Ekonomi dalam Negeri TA 2009 pada PT Pelayaran Nasional Indonesia di Jakarta. Unit Pemasaran BBM Retail Region I s. dan Investasi TB 2008 dan 2009 (s.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 651 BPMIGAS dan KKKS JOB Pertamina . 2008. Triwulan III) di Jakarta. Surabaya. Produksi.d. Triwulan III) pada BTDC Kegiatan Pengadaan. 2009 dan 2010 (Triwulan I) pada PT Kimia Farma (Persero) Tbk. 2005 pada PT Pertamina (Persero) di Jakarta Subsidi Jenis BBM Tertentu tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat. Biaya dan Investasi TB 2008.d. Semester I) pada PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang 2 659 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1 3 660 Bali Tourism Development Corporation 1 4 661 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 1 5 662 PT Nindya Karya (Persero) 1 6 663 PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) 1 6 XVIII Operasional BUMD 1 2 664 Provinsi Sumatera Utara 665 Provinsi Riau 1 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan TB 2009 dan 2010 pada PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan Pengelolaan Pendapatan. Semarang. 2008 dan 2009 (s. dan Makasar Perhitungan Subsidi Pupuk Produksi PT Pupuk Iskandar Muda yang Disalurkan PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) TA 2009 pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Iskandar Muda di Jakarta dan Lhokseumawe Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum Angkutan Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi (PSO) TA 2009 pada PT Kereta Api Indonesia di Bandung. Yogyakarta.d. Pengendalian Biaya.d.d. Denpasar dan Makassar Pengelolaan Pendapatan.d.Halaman 29 . dan Kupang 2 653 PT Pertamina (Persero) 654 1 1 3 655 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) 1 4 656 PT Kereta Api (Persero) 1 5 657 PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) 1 6 XVII Operasional BUMN 1 658 PT (Persero) Angkasa Pura II 1 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu pada PT (Persero) Angkasa Pura II TA 2006 dan 2007 di Tangerang. Surabaya. Penjualan dan Investasi TB (TB) 2008.

Abdul Moeloek di Bandar Lampung Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD Mayjen. Operasional PD Praja Karya Kabupaten Maluku Tengah TB 2008.. Jambi. Bagi Hasil. Bungo dan 58 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Semester 1 TA 2010 pada Kementerian ESDM 13 Pemerintah Kab/ Kota di Prov. Kaltim. Biaya dan Investasi Tahun Buku 2008. Riau. serta Instansi Terkait Lainnya di Sarolangun Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. 2009 dan Semester I 2010 pada PD Sarana Pembangunan Siak di Siak Sri Indrapura Pelaksanaan Perjanjian Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta ManunggalPratama dalam Pembangunan dan Pengelolaan Jambi Tepian Ratu Reverview Hotel dan Resort Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Karimun TB 2009 dan 2010 (s. PNBP.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. H. Sarolangun dan 62 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.Lampiran 56 No 666 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pendapatan. Bagi Hasil. Tebo dan 27 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil.d. Dr W. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bungo Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Banjarmasin dan Samarinda Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perijinan. 2009 dan 2010 (Semester I) di Masohi 3 667 Provinsi Jambi 1 4 668 Provinsi Kepulauan Riau 1 669 5 670 Provinsi Jawa Timur 671 6 7 8 672 Provinsi Kalimantan Barat 673 Provinsi Kalimantan Timur 674 Provinsi Maluku 1 1 1 1 1 1 11 XIX Operasional RSUD 1 2 3 675 Provinsi Sumatera Utara 676 Provinsi Sumatera Barat 677 Provinsi Lampung 678 4 679 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 1 1 1 1 5 XX Pengelolaan Pertambangan Batu Bara 1 680 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pengelolaan Pertambangan Batubara TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Jambi.d. PNBP. Sumbar.d. Pekanbaru. Pirngadi Medan di Medan Kegiatan Operasional RSUD Dr.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Ryacudu Pendapatan dan Belanja RSUD Prof. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil. Padang. 11 Kontrak PKB2B dan 549 Pemegang Kuasa Pertambangan/ Izin Usaha Pertambangan di Jakarta. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.Z. Johannes di Kabupaten Kupang 681 1 682 1 683 1 684 1 196 .M. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Tebo Kegiatan Operasional RSUD TA 2009 dan 2010 pada RSUD Dr. Batanghari dan 45 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan Serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bulian Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kab. Semester 1 2010) di Tanjung Balai Karimun Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Natuna TB 2009 dan 2010 (s. Kalsel. H. PNBP.d.Halaman 30 .d. Adnaan WD TA 2009 dan 2010 di Payakumbuh Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD DR. Semester 1 2010) di Ranai Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama TB 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Kegiatan Operasional PD Pasar Surya TA 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Perusahaan Daerah Aneka Usaha Prov. Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Kegiatan Operasional Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Tahun 2009 dan 2010 di Provinsi Samarinda.

d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Tembilahan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. dan Instansi Terkait Lainnya di Pelaihari Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Kuantan Singingi dan 9 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.d. Bagi Hasil. PNBP. serta Instansi Terkait Lainnya di Batulicin Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. serta Instansi Terkait Lainnya di Tanjung Redeb Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. Indragiri Hilir dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan. PNBP. Bagi Hasil. Indragiri Hulu dan 20 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.d. Juni 2010) di Beran Pengelolaan Non Performing Loan (NPL) dan Pembagian Laba Untuk dana Peduli Sosial Kemasyarakatan PT. Kutai Kartanegara dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Teluk Kuantan 686 1 687 1 688 1 689 1 690 1 691 1 692 1 693 1 14 XXI Operasional Bank Daerah 1 2 3 694 Provinsi Sumatera Barat 695 Provinsi Jambi 696 Provinsi Jawa Tengah 697 Provinsi DI Yogyakarta 698 4 699 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 1 1 1 1 1 Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat TB 2009 dan 2010 Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Kuala Tungkal Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) TB 2009 dan 2010 di Semarang Operasional Bank pada PD. serta Instansi Terkait Lainnya di Sawah Lunto Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.Lampiran 56 No 685 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d.d. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. BPR Bank Sleman Tahun Buku 2009 dan 2010 (s. Bagi Hasil. Bagi Hasil. Bank NTB TB 2009 dan Semester I 2010 197 . dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Rengat Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Tanah Bumbu Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. serta Instansi Terkait Lainnya di Tenggarong Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. Tanah Laut Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. Juni 2010) di Bantul Operasional Bank pada PD. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. BPR Bank Bantul TB 2009 dan 2010 (s. Bagi Hasil. Sijunjung dan 21 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Berau dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Muaro Sjunjung Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Bagi Hasil. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. Sawah Lunto dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.Halaman 31 . dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil.

Lampiran 56 No 5 6 7 Nama Entitas 700 Provinsi Nusa Tenggara Timur 701 Provinsi Kalimantan Tengah 702 Provinsi Sulawesi Utara Daftar LHP Jml 1 1 1 Objek Pemeriksaan PT. Bank Kalimantan Tengah TB 2009-2010 (s. Bank Indonesia. dan Perum Jamkrindo Pengelolaan Belanja Subsidi Tahun 2009 dan Belanja LainLain Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta 4 706 Bank Indonesia 1 5 6 707 Kementerian Keuangan 708 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 7 709 Kementerian Sosial 1 8 710 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 9 711 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 1 10 712 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 1 11 713 Badan Pertanahan Nasional 1 12 714 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 13 715 Lembaga Administrasi Negara 1 14 716 Badan Kepegawaian Negara 1 15 717 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 16 718 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 1 198 . Poso.06) TA 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06) TA 2009 pada Kementerian Sosial di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 pada Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Martadinata Seluas 653.d 30 september 2010) pada PT Bank Sulut Serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo Operasional Bank Tahun 2009 dan 2010 (s.42 M2 pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta Penelitian Atas Tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling Dalam Rangka Risk Sharing Antara Pemerintah.d.E. Semester I) di Palangkaraya Kegiatan Operasional TB 2009 dan 2010 (s.06 TA 2009 pada Lembaga Administrasi Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Luwuk. Tolitoli dan Parigi Moutong 8 703 Provinsi Sulawesi Tengah 1 10 XXII PDTT Lainnya 1 2 704 Kementerian Keuangan 705 Kementerian Pekerjaan Umum 1 1 Dana Bagi Hasil Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) pada Kementerian Keuangan Amblasnya Sisi Utara Jalan R.d 30 September 2010 pada PT Bank Sulteng dan Kantor Cabang di Palu. Buol.06) TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.Halaman 32 . Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur TB 2009 dan 2010 (Operasional) Operasional PT.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06) TA 2009 pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.

Semarang.d.Halaman 33 . Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan PFK Kabupaten Bone Bolango Tahun 2007 s.06) TA 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. 2009 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Loan Agreement No. 2008 dan 2009 (Semester I) pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) di Makassar dan Jakarta Kegiatan Pengadaan Paket Tabung LPG 3Kg Tahun 2007 s.d.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP RRI Program Swasembada Pangan dan Pengelolaan Saluran Irigasi Tersier pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi TA 2008 dan 2009 di Sengeti Pengelolaan dan PertanggungJawaban Keuangan dalam Pelaksanaan MTQN XXIII TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Bengkulu Pengelolaan Kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010 di Pekanbaru Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah SeKalimantan Barat untuk Pendirian dan Pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Universitas Tanjungpura.06) TA 2009 pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM 1 31 Jumlah LHP DTT Total LHP 428 734 199 .06) TA 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Loan 2127 .SDP TA 2009 pada Inspektorat Provinsi Aceh di Banda Aceh Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Provinsi Maluku Utara Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Kab Halmahera Tengah Kerjasama dengan Pihak Ketiga dan Pengadaan Barang dan Jasa TB 2007. dan Bekasi 18 720 Kementerian Perumahan Rakyat 1 19 721 Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1 20 722 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 21 22 23 723 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia 724 Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia 725 Provinsi Jambi 1 1 1 24 726 Provinsi Bengkulu 1 25 26 727 Provinsi Riau 728 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 27 28 729 Provinsi Gorontalo 730 Provinsi Aceh 1 1 29 731 Provinsi Maluku Utara 1 732 1 30 733 PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) 1 31 734 PT Pertamina (Persero). 2009 pada PT Pertamina (Persero).06 TA 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Surabaya. Serang. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM di Jakarta.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 719 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP TVRI Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999.INO (SF) and Grant 0024-INO STAR .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful