i

i

DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Grafik Daftar Lampiran KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF PEMERIKSAAN KEUANGAN BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya PEMERIKSAAN KINERJA BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan BAB 8 Kinerja Pendidikan BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU BAB 11 Pengelolaan Pendapatan BAB 12 Pelaksanaan Belanja BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan, dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batu Bara BAB 16 Pelaksana Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah BAB 21 Operasional Bank Daerah BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH LAMPIRAN

Hal
i ii iii iv v ix 1 11 15 37 43 45 55 67 71 77 85 89 93 97 99 119 145 155 165 175 181 189 201 213 221 231 241 245 253

ii

DAFTAR TABEL
1. 2. 3. 4. 5. 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 11.1 11.2 12.1 12.2 13.1 14.1 15.1 16.1 17.1 18.1 19.1 20.1 21.1 22.1 23.1 24.1 24.2 24.3 24.4 Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Opini KKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan dan Bangunan Pengairan/Drainase Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD Cakupan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010

25.1 25.2 25.3 25.4

Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana

iii

DAFTAR GAMBAR
4.1 5.1 5.2 Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Water Pass dan Theodolite Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang

iv

DAFTAR GRAFIK
1.1 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 (dalam %) 1.2 Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 24.1 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi)

v

Daftar Lampiran
1.a 1.b 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.a 8.b 8.c 8.d 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005-2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok Temuan menurut Entitas Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 1. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 2. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 3. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Belanja Pemerintah Pusat

vi 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/ Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM

vii 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok Jenis Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Pusat Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Daerah Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada BUMN, BHMN, dan KKKS Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010

viii .

sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah telah menindaklanjuti kasus kerugian negara/daerah. badan layanan umum. dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas pemeriksaan keuangan. potensi kerugian negara/daerah.21 miliar. Akhir kata. Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP). tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Jakarta. serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp42.57 miliar. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester II Tahun 2010 dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan atas tiap-tiap entitas yang kami lampirkan dalam bentuk cakram padat/Digital Video Disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini.50 juta selama proses pemeriksaan masih berlangsung. yaitu 159 objek pemeriksaan keuangan. lembaga negara lainnya. 147 objek pemeriksaan kinerja. IHPS ini merupakan ikhtisar hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan BPK pada Semester II Tahun 2010 atas 734 objek pemeriksaan. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada lembaga perwakilan. dan kekurangan penerimaan. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus kerugian negara/daerah senilai Rp59. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. pemerintah daerah. pemeriksaan kinerja. kasus potensi kerugian negara/daerah senilai Rp2. Penyusunan Buku IHPS II Tahun 2010 ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara kepada pemangku kepentingan (stakeholders).23 miliar dan USD10. dengan menyetor ke kas negara/daerah atau penyerahan aset.ix Kata Pengantar Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E. 31 Maret 2011 . Hal ini membuktikan bahwa respon instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat positif dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dan peran BPK dalam penyelamatan uang negara.50 juta. Bank Indonesia. Tuhan Yang Maha Esa. dan 428 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu.01 miliar dan USD10. yaitu senilai Rp104. Selanjutnya. dan gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan. serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. presiden. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). badan usaha milik daerah. BPK berharap Buku IHPS II Tahun 2010 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah. IHPS II Tahun 2010 ini dapat diselesaikan tepat waktu. BPK menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) yang merupakan informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu semester tertentu. Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester II Tahun 2010. badan usaha milik negara. Selanjutnya.

x .

Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan. . Sedangkan untuk pemeriksaan keuangan dilakukan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 yang belum diperiksa pada Semester I Tahun 2010. IHPS II Tahun 2010 juga memuat hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. pemerintah daerah. Pada Semester II Tahun 2010. pemerintah daerah.1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RINGKASAN EKSEKUTIF IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN 2010 Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010 disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. badan usaha milik daerah (BUMD). pemeriksaan kinerja. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). dan kepada presiden serta gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pemeriksaan dilaksanakan terhadap entitas di lingkungan pemerintah pusat. termasuk didalamnya pemantauan terhadap hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian negara/tindak pidana yang disampaikan kepada instansi yang berwenang (penegak hukum). badan usaha milik negara (BUMN). dan badan hukum milik negara (BHMN)/ badan layanan umum (BLU) seluruhnya sejumlah 734 objek pemeriksaan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut. Selain hasil pemeriksaan. IHPS disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya. Objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 terdiri atas entitas pemerintah pusat. IHPS II Tahun 2010 merupakan ikhtisar dari 734 laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. BUMN. BUMD. pemeriksaan BPK diprioritaskan pada pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

50 juta telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa dengan penyetoran ke kas negara/daerah selama proses pemeriksaan (Lampiran 53.21 triliun. Pemeriksaan kinerja sebanyak 147 objek pemeriksaan dengan cakupan tidak secara spesifik menunjuk nilai tertentu dan PDTT meliputi 428 objek pemeriksaan dengan cakupan pemeriksaan senilai Rp539.01 miliar dan USD10. dan ketidakefektifan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut antara lain berupa perbaikan SPI atau tindakan administratif.40 triliun. dan Lampiran 55). senilai Rp104.43 juta. belanja senilai Rp135.2 Tabel 1.81 triliun. Rincian temuan tersebut disajikan dalam Tabel 2. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan sebanyak 3.87 triliun dan USD156. LK BUMN. Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Entitas Yang Diperiksa Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya Jumlah Pemeriksaan Keuangan 153* 1 1 4 159 Pemeriksaan Kinerja 46 89 3 9 147 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 117 250 16 44 1 428 Jumlah 163 492 20 54 5 734 *) termasuk dua LKPD Tahun 2008 Hasil Pemeriksaan Jumlah objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 sebanyak 734 objek pemeriksaan.760 kasus dengan nilai Rp3.18 triliun. . dan kekurangan penerimaan.23 triliun. terdapat temuan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut yang memiliki implikasi nilai rupiah. potensi kerugian. Lampiran 54.46 triliun dan USD156. kewajiban senilai Rp40. Di antara temuan tersebut. Jumlah temuan dari 734 objek pemeriksaan tersebut adalah sebanyak 6. Di antara temuan-temuan tersebut. yaitu temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. serta ekuitas senilai Rp303. ketidakefisienan. ketidakhematan.48 triliun.27 triliun. Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp344. Dalam Tabel 2 temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian.43 juta. dan laporan realisasi anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp130. dan LK Badan Lainnya dengan cakupan pemeriksaan meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). dan pembiayaan neto (laba/rugi) senilai Rp22.355 kasus senilai Rp6. Sedangkan selebihnya adalah temuan-temuan administrasi. Rincian objek pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keuangan sebanyak 159 objek yaitu LKPD.

04 247.54 1.211 386 795 2.15 95.817 368.88 triliun.91 7.25 491.54 53.45 triliun.06 1.695.221 3.73 156.795 316 3 481 6.43 895.62 1. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini TMP.39 62 12 14 88 3 6 30 127 84.461.79 249.760 1. dan pembiayaan neto senilai Rp21.70 7. Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.81 159. Dalam Semester II Tahun 2010. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.672.013 526 1.3 Tabel 2. .73 156.63 3.870.80 0.42 1.43 156.70 triliun. serta enam Laporan Keuangan BUMN/D dan badan lainnya.154. dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp112.277.50 9.00 triliun. kewajiban senilai Rp3.48 461.43 4 5 6 7 Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Total Hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2010 berdasarkan jenis pemeriksaan disajikan secara ringkas dalam uraian berikut. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi: neraca dengan rincian aset senilai Rp289.896.72 1.70 triliun.54 53.44 652.411 566.43 156.66 1.15 95.28 6. Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Pemeriksaan Keuangan No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Nilai (juta USD) Jumlah Kasus Total Nilai (juta USD) Nilai (miliar Rp) 1 2 3 Kerugian Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Sub Total 740 128 412 1.09 94. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas dari 151 LKPD Tahun 2009 yang telah diperiksa BPK pada Semester II Tahun 2010.22 37.82 1. dan ekuitas senilai Rp286.46 5. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas (Kota Langsa).689.81 4.43 2.498.645.233.39 1.10 1. Rincian opini per entitas sebagaimana terlihat dalam Lampiran 1a.62 3.40 99. BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 dan dua LKPD Tahun 2008.020.355 1.99 2. belanja senilai Rp118. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas.280 896 84 2 149 2.392 896 226 1 302 3.32 42.97 triliun.

jumlah yang memperoleh opini TW menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Tahun 2008 dan penurunan . dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Pemeriksaan LKPD Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Tabel 4. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP dan WDP dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. Sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan.4 Opini atas 151 LKPD yang dilaporkan dalam IHPS II Tahun 2010 ini dan 348 LKPD yang telah dilaporkan sebelumnya dalam IHPS I Tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. Sementara itu. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Tabel 3. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 OPINI WTP 2007 2008 2009 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% 469 485 499 LKPD JUMLAH Dalam Tabel 4 disajikan perkembangan opini LKPD 2007 sampai dengan 2009. Opini LKPD Tahun 2009 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah WTP WDP TW TMP Jumlah 14 259 30 45 348 % 4% 74% 9% 13% 100% LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% Dengan demikian. Dari 524 pemerintah daerah 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. Kabupaten Seram Bagian Barat. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian.

dan opini TMP menunjukkan penurunan dibandingkan Tahun 2008 dan 2007.43 triliun. temuan yang mengakibatkan kerugian. . Selain itu. Opini TMP dan TW diberikan oleh BPK sebagian besar disebabkan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) atas laporan keuangan pemerintah daerah. BPK juga memberikan opini TMP terhadap LK PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) serta LK Penyelenggaraan Ibadah Haji (LK PIH) Tahun 1430H/2009 M dan Tahun 1429 H/2008 M. Kelemahan SPI yang sering terjadi terutama dalam pengendalian aset tetap seperti nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. dan Lampiran 4). pencatatan penyertaan modal pemerintah dan dana bergulir tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Kelemahan SPI lainnya yang juga berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan antara lain : pengelolaan kas belum tertib. opini atas LKPD juga dipengaruhi oleh ketidakpatuhan entitas terhadap ketentuan perundang-undangan dalam kerangka pelaksanaan APBD dan pelaporan keuangan. Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap saldo aset tetap sehingga mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Pemeriksaan BPK terhadap LKPD Tahun 2009 menemukan 1. kelemahan manajemen kas. pencatatan transaksi yang belum akurat dan tepat waktu serta masalah disiplin anggaran. dan 2. Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Selain pemeriksaan atas LKPD. Dari temuan ketidakpatuhan ini. BPK memberikan opini WTP terhadap LK West Sumatera Earthquake Disaster Project Badan Nasional Penanggulangan Bencana (WSEDP BNPB) TA 2010. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan daerah yang telah ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan penyetoran ke kas daerah selama proses pemeriksaan senilai Rp21.87 miliar (Lampiran 2.320 kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan senilai Rp1. Hal ini secara umum menggambarkan perbaikan kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh pemerintah daerah walaupun perbaikan tersebut belum signifikan. BPK juga memeriksa enam laporan keuangan badan lainnya dan BUMN/D.460 kasus kelemahan SPI. Lampiran 3. nilai persediaan yang dilaporkan tidak berdasarkan inventarisasi fisik. Ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-undangan ini yang dapat mempengaruhi opini LKPD adalah ketidakpatuhan yang mempunyai dampak material terhadap penyajian kewajaran laporan keuangan.5 dibandingkan Tahun 2007. realisasi belanja yang tidak sesuai dengan peruntukannya. opini WDP diberikan terhadap LK PDAM Kota Padang TB 2009 serta LK Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. Selain pengendalian intern. dan peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum dibuat. perbedaan pencatatan antara saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber dan penyajian aset tetap tidak didasarkan hasil inventarisasi dan penilaian. Kelemahan tersebut tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset.

6 Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.49 miliar atau 3. Hal tersebut disebabkan oleh kelemahan kebijakan. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan atau 20% dari seluruh objek pemeriksaan Semester II Tahun 2010. pengelolaan hutan mangrove.520 Orang Hari (OH) dan 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151. penganggaran. belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal (SF) belanja infrastruktur Tahun 2009. 3 BUMN. dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. . pelatihan dan pengujian kesehatan. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan kinerja lainnya. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. perhubungan. pengurusan dokumen. energi. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 18 pemeriksaan kinerja yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut di atas.69% dari realisasi anggaran yang diperiksa. Efektivitas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak tercapai secara optimal karena kompleksitasnya masalah. dan perusahaan daerah air minum (PDAM). Permasalahan tersebut yaitu penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah. Dalam Semester II Tahun 2010. walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4. proses penempatan di negera tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. kinerja pendidikan. sistem/prosedur perencanaan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tenaga kerja yang tidak terserap minimal sebanyak 216. Hasil pemeriksaan kinerja pada umumnya mengungkapkan belum efektifnya suatu kegiatan atau program diantaranya sebagai berikut. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009.5% di tengah krisis keuangan dunia. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. Hasil pemeriksaan BPK dapat dikelompokkan dalam beberapa tema pemeriksaan sebagai berikut: • • • • • • • penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. dan 9 PDAM. pertanian.

Hasil PDTT menunjukkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan adalah kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. pelaksanaan belanja.168 kasus kelemahan SPI. dan 3. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan atau 58% dari 734 objek pemeriksaan. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD.50 juta selama proses pemeriksaan yang berasal dari kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. operasional BUMN. Lampiran 54. Hasil pemeriksaan tersebut dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. dan operasional BUMD lainnya. potensi kerugian. Kerugian negara/daerah dapat terjadi karena adanya belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.817 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/ daerah.48 triliun.43 juta. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 31 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. Salah satu akibat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah kerugian negara/daerah. Di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah oleh entitas senilai Rp43. operasional RSUD. ketidakhematan. pengelolaan/manajemen aset. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. potensi kerugian negara/daerah. belanja bidang infrastruktur. dan ketidakefisienan senilai Rp4. kekurangan penerimaan. Kekurangan volume dalam suatu pengadaan barang/jasa menyebabkan kelebihan pembayaran oleh pemerintah kepada rekanan .67 triliun dan USD156. ketidakefektifan. pemahalan harga. Dalam Semester II Tahun 2010.7 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. pengelolaan pertambangan batubara. terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. belanja subsidi pemerintah. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak dan sebagainya.04 miliar dan USD10. dan kekurangan penerimaan negara/daerah (Lampiran 53. Hasil PDTT mengungkapkan 1. operasional PDAM. dan Lampiran 55). kekurangan volume. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. operasional bank daerah.

211 kasus kerugian negara/daerah hasil PDTT senilai Rp368. yaitu penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah.8 karena volume atau jumlah barang/jasa yang diterima kurang dari jumlah atau volume yang diperjanjikan dalam kontrak.99 miliar dan USD95. menjual. Hasil PDTT secara menyeluruh mengungkap sebanyak 795 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp895. BPK juga melakukan PDTT atas BA 999. Belanja Lain-Lain adalah . penghilangan dan penundaan penetapan hak penerimaan daerah. pembebasan pajak kepada wajib pajak (WP) tertentu oleh kepala daerah. Selain dari PDTT atas pendapatan. Hasil PDTT atas pendapatan mengungkap adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah. Kekurangan penerimaan umumnya terjadi karena kelemahan pencatatan dan administrasi penatausahaan pendapatan. Kasus kekurangan penerimaan di antaranya meliputi kekurangan penetapan dan pemungutan penerimaan pajak dan PNBP.06 yang terdiri dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BSBL). Masalah tersebut terjadi karena rekanan pengadaan barang/jasa dengan sengaja mengurangi volume atau ukuran pekerjaan yang tercantum dalam kontrak. serta penerimaan pajak pemerintah pusat yang telah dipungut oleh pemerintah daerah tetapi tidak segera disetor ke kas negara.73 juta (Lampiran 55). karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.82 miliar dan USD7. dan/atau kepala daerah belum menetapkan tarif retribusi dan pajak daerah. Keadaan tersebut didukung pula dengan lemahnya pengawasan dari atasan langsung atas pelaksanaan kegiatan barang/jasa termasuk dalam proses pembuatan BAST.50 miliar dari 1. pihak ketiga wanprestasi dalam pembayaran kontribusi atas pemanfaatan aset negara/daerah. lembaga pemerintah atau pihak ketiga lainnya yang memproduksi.54 juta (Lampiran 53). Belanja Subsidi merupakan pengeluaran atau alokasi anggaran yang diberikan pemerintah kepada perusahaan negara. mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat. serta pimpinan KL atau kepala daerah tidak intensif dan tegas dalam menagih penerimaan yang sebenarnya sudah menjadi hak negara/daerah. kekurangan penerimaan juga ditemukan pada PDTT lainnya yang terjadi antara lain karena adanya pekerjaan yang tidak selesai sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kontrak tetapi belum dikenakan denda keterlambatan. perjanjian dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan aset negara/daerah tidak dibuat secara tegas. Hal ini masih sering terjadi karena kelalaian atau ketidakcermatan panitia pengadaan barang/jasa dalam melakukan pemeriksaan fisik pada saat membuat berita acara serah terima (BAST) sehingga nilai pekerjaan dinyatakan telah selesai dikerjakan 100% dan rekanan berhak mendapatkan pembayaran penuh atas pekerjaannya tersebut. Selain PDTT atas belanja dan penerimaan. Dalam Semester II Tahun 2010 ditemukan 505 kasus kekurangan volume pekerjaan/barang/jasa senilai Rp123.

Adapun hasil pemeriksaan Belanja Lain-Lain pada Tahun 2010 mengungkap adanya temuan belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak. Sebanyak 18.29%) rekomendasi senilai Rp41. dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat. Hasil pemeriksaan atas Belanja Subsidi mengungkapkan antara lain bahwa BUMN operator belum sepenuhnya mematuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM. Hal ini terjadi terutama karena Direktorat Jenderal Anggaran belum menetapkan kriteria evaluasi atas kegiatan yang layak dibiayai dari BA 999. .47 juta.42 triliun dan sejumlah valas belum ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa (Lampiran 50. Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan KKS Migas adalah para kontraktor belum sepenuhnya mematuhi klausul KKS dan pedoman tata kerja yang berlaku dengan memasukkan biaya-biaya yang seharusnya tidak boleh dibebankan pada cost recovery yang akan diklaim oleh kontraktor yang bersangkutan. tindakan administratif dan/atau penyetoran kas/ penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan. Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK tersebut menunjukkan sebanyak 28. Lampiran 51.546 (24.18%) rekomendasi senilai Rp38. listrik.53%) rekomendasi senilai Rp23. Khusus rekomendasi BPK dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terkait dengan penyetoran kas/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan yang telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa adalah berkisar Rp1. Hal ini mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa antara lain dengan melakukan perbaikan sistem pengendalian intern (SPI). BPK juga melakukan PDTT atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (cost recovery).06. pupuk.028 (36.148 (39. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010.39 triliun dan sejumlah valas ditindaklanjuti belum sesuai dengan rekomendasi (dalam proses ditindaklanjuti).35 triliun dan sejumlah valas.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. Permasalahan ini juga ditemukan pada hasil pemeriksaan atas LK BA 999. Selanjutnya.9 pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 17 kasus biaya yang tidak layak dibebankan pada cost recovery senilai USD66. termasuk diantaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran tersendiri. dan sebanyak 30.722 rekomendasi senilai Rp103.06 tahun sebelumnya. dan benih. bencana sosial. dan Lampiran 52).93 triliun dengan rincian seperti Tabel 5 berikut.53 triliun dan sejumlah valas telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi. BPK telah memberikan 76.

13 0.893.79 GBP 17.552.80 Total (miliar Rp) Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa pada kurun waktu tahun 2009-2010 telah terjadi sebanyak 4.24 807. proses pengumpulan bahan dan koordinasi.45 13.82 USD 4.82 0.00 EUR 11.30 miliar dan USD1.69 USD 53.03 ribu. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan No.00 1.955.06 juta.45 2.37 0.302 kasus kerugian negara/daerah senilai Rp908. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Entitas Pusat Nilai (miliar Rp) 1. penyidikan sebanyak 2 kasus.991.21 juta.991.07 1.05 USD 7.930.991.780. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berupa angsuran terpantau sebanyak 1. Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/ Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010. dan putusan hakim sebanyak 2 kasus.552.930. penuntutan sebanyak 1 kasus.13 0.00 119. 1.77 miliar serta pelunasan sebanyak 977 kasus senilai Rp65.13 0.37 0. 3.82 0.24 0. Dari sebanyak 105 kasus tersebut.00 8.07 0.24 1. proses gelar perkara. dan/atau belum ditindaklanjuti. Jakarta.47 0.362 kasus senilai Rp42.53 miliar dan USD1.48 EUR 11.158.991.780.893.13 0.03 119.53 USD 42.003.48 8.955.951. proses banding/kasasi.28 11.000.03 ribu.69 0.82 Nilai Valas Kurs Tengah 31 Des Nilai Ekuivalen 2010 (Rp) (miliar Rp) 8. instansi yang berwenang (Kepolisian.339 kasus senilai Rp108.24 Total (miliar Rp) 1.80 8. Total penyelesaian ganti kerugian negara/daerah (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2.11 triliun dan USD11. Sisa kasus sebanyak 97 kasus merupakan kasus dalam proses penelaahan.10 Tabel 5.28 GBP 17. Maret 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA .28 miliar dan USD228.003. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan. Kejaksaan.79 13. Daerah BUMN Total 807.931.00 11.793.00 0.03 0.47 0.05 0.

pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. opini wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI dan laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain. Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa. • Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures). sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. selain memberikan opini atas laporan keuangan.11 PEMERIKSAAN KEUANGAN Salah satu tugas BPK adalah melaksanakan pemeriksaan keuangan. opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern (SPI). Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). pernyataan menolak memberikan opini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan. sehingga informasi • • • . Oleh karena itu. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). opini tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. Penjelasan Pasal 16 ayat (1). Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif lainnya. opini wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan.

dan ketidakefektifan sebagai berikut. • Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. baik sengaja maupun lalai. ketidakekonomisan. surat berharga. dan barang. yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran penerimaan negara/daerah serta pelaksanaan program/kegiatan pada entitas yang diperiksa. Sistem Pengendalian Intern (SPI) Salah satu kriteria pemberian opini adalah evaluasi atas efektivitas SPI. • Kerugian negara/daerah (termasuk kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah) adalah berkurangnya kekayaan negara/daerah berupa uang. • . yaitu kelemahan yang terkait dengan ada/tidak adanya struktur pengendalian intern atau efektivitas struktur pengendalian intern yang ada dalam entitas yang diperiksa. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. SPI dinyatakan memadai apabila unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. surat berharga. Potensi kerugian negara/daerah (termasuk potensi kerugian yang terjadi pada perusahaan negara/daerah) adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. yaitu kelemahan sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan. Kelemahan struktur pengendalian intern. SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. administrasi.12 keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. potensi kerugian daerah. Kelemahan tersebut mengakibatkan permasalahan dalam aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. yang nyata dan pasti jumlahnya. ketidakefisienan. SPI pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). kekurangan penerimaan. • • Kepatuhan Pemberian opini juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. dan barang.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. .13 • Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Demikian juga halnya dengan gubernur/bupati/walikota. menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Temuan mengenai ketidakefisienan mengungkap permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk satu satuan output yang lebih besar dari seharusnya. Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBD (LRA). kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah. laporan arus kas. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional. • • • • Laporan Keuangan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. laporan arus kas. dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambatlambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat/daerah. dan catatan atas laporan keuangan. Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut. dan catatan atas laporan keuangan. tidak menghambat program entitas. Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan penerimaan). neraca. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBN (LRA). selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir.

dan BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2009 kepada DPR pada 31 Mei 2010. Memenuhi ketentuan tersebut. dan Pasal 56 undang-undang tersebut menyatakan bahwa gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan keuangannya kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. BPK melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 LKPD Tahun 2009 dan 2 LKPD Tahun 2008 serta 6 laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. BPK baru menyelesaikan 348 hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 pada Semester I Tahun 2010 karena masih cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004. Namun. Dalam Semester II Tahun 2010. dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tingkat provinsi/kabupaten/kota. . pada Semester I Tahun 2010 BPK telah melakukan pemeriksaan keuangan atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP). pada tingkat daerah.14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. termasuk Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL). Pada tingkat pusat. baik pemerintah maupun BPK telah dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu.

yaitu LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur (Provinsi Maluku) dan LKPD Kabupaten Dogiyai (Provinsi Papua). (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure). 1. Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset senilai Rp289. Pemeriksaan atas LKPD dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada kriteria. dan pembiayaan neto senilai Rp21. rincian pendapatan senilai Rp112. sistem pengendalian intern (SPI).2 1. BPK juga melakukan pemeriksaan atas dua LKPD Tahun 2008. yaitu opini.88 triliun. Dari 524 pemerintah daerah. Dengan demikian. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Pada LRA. Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat pemeriksaan atas LKPD ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). kewajiban senilai Rp3. dan ekuitas senilai Rp286. Kabupaten Seram Bagian Barat. Selain itu. . dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Pemeriksaan baru dilakukan pada Semester II Tahun 2010 karena baik LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur maupun LKPD Kabupaten Dogiyai baru diserahkan oleh masing-masing pemda pada Tahun 2010.15 BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 1.97 triliun.70 triliun. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku.00 triliun.70 triliun. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). Sementara itu.5 Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam tiga kategori.3 1.1 Pada Semester II Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 pada 151 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian.45 triliun. 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. belanja senilai Rp118.4 Hasil Pemeriksaan 1. sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.

16 1. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Tabel 1. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas.8 1.1. Oleh karena itu.1 berikut ini. Tabel 1.1 menyajikan perkembangan masing-masing jenis opini disajikan dalam persentase. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas. Opini 1. Rincian opini untuk masing-masing entitas dapat dilihat pada Lampiran 1a. opini LKPD Tahun 2007 telah diberikan pada 469 LKPD.2. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini tidak memberikan pendapat (TMP). dan 2009 dapat dilihat dalam Tabel 1. 2008.2 berikut ini. Opini LKPD Tahun 2009 1.2 di atas terlihat adanya peningkatan jumlah LKPD yang diperiksa BPK dari tahun ke tahun. Berdasarkan data di atas. Rincian opini tiap-tiap entitas dapat dilihat pada Lampiran 1b. Opini LKPD Tahun 2009 atas 499 pemerintah daerah disajikan dalam Tabel 1.10 Perkembangan opini LKPD Tahun 2007. . di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Opini WTP diberikan BPK kepada LKPD Kota Langsa di Provinsi Aceh. Tahun 2008 kepada 485 LKPD. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 LKPD 2007 2008 2009 OPINI WTP 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% JUMLAH 469 485 499 1. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.11 Dari Tabel 1. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas.7 Terhadap 151 LKPD Tahun 2009.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan Tahun 2009 kepada 499 LKPD. Grafik 1.9 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah % 4% 74% 9% 13% 100% 14 259 30 45 348 LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% WTP WDP TW TMP Jumlah 1.

Dilihat dari tingkat pemerintahan.17 Grafik 1. 1. 118 LKPD kabupaten. dan • penurunan dalam opini TMP dibandingkan opini LKPD 2008 sekitar 3% dan dibandingkan opini LKPD 2007 sekitar 5%. dan terdapat kenaikan sekitar 6% dibanding opini LKPD Tahun 2007. • kenaikan dalam opini TW dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 4% dan terdapat penurunan sekitar 3% dibandingkan opini LKPD Tahun 2007. • penurunan dalam opini WDP dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 1%. Opini LKPD Tahun 2009 untuk masing-masing tingkat pemerintahan dapat dilihat dalam Tabel 1. dan 27 LKPD kota. 1.1 diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 yang dalam persentase.13 Hal ini secara umum menggambarkan bahwa entitas pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan yang wajar telah meningkat (dalam hal jumlah entitas) walaupun peningkatan tersebut belum signifikan (dalam persentase).3 berikut ini. LKPD Tahun 2009 yang diperiksa pada Semester II Tahun 2010 terdiri dari 6 LKPD provinsi.12 Dari Grafik 1.1.14 . menunjukkan • kenaikan dalam opini WTP dibandingkan opini LKPD Tahun 2007 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dari LKPD Tahun 2008. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 (dalam %) 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% WTP 1% 3% 3% 67% 60% 66% 2007-469 LHP 26% 24% 13% 6% 10% 2008-485 LHP 21% 2009-499 LHP WDP TW TMP 1.

2 di atas terlihat bahwa rata-rata opini yang diperoleh pada pemerintahan tingkat kota lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan tingkat provinsi dan kabupaten.18 Tabel 1. dan akuntabel.2 menyajikan perbandingan opini LKPD Tahun 2009 berdasarkan tingkat pemerintahan yang disajikan dalam persentase. Grafik 1. transparan. dibandingkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten yang memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 76% dan 66% dari keseluruhan entitas provinsi dan kabupaten.17 Untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang efektif.2.16 Dari Grafik 1. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 73% 64% 72% WTP WDP TW TMP 24% 3% 9% 15% 2% Kabupaten 10% 7% 9% 12% Provinsi Kota 1. Sistem Pengendalian Intern 1. Sistem pengendalian intern (SPI) pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah. Pemerintah kota memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 79% dari keseluruhan entitas kota.3. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan LKPD Tahun 2009 Pemerintahan Provinsi Kabupaten Kota Jumlah Yang dilaporkan pada IHPS I 2010 WTP 1 7 6 14 WDP 21 187 51 259 TW TMP 2 24 4 30 3 38 4 45 Jml 27 256 65 348 LKPD Tahun 2009 Yang dilaporkan pada IHPS II 2010 WTP 0 0 1 1 WDP TW TMP 3 53 15 71 1 13 4 18 2 52 7 61 Jml 6 118 27 151 Total LKPD Tahun 2009 WTP WDP 1 7 7 15 24 240 66 330 TW 3 37 8 48 TMP 5 90 11 106 Jml 33 374 92 499 1. .15 Grafik 1. efisien.

Efektivitas SPI merupakan salah satu kriteria yang digunakan oleh BPK dalam meneliti kewajaran informasi keuangan. selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari komitmen terhadap kompetensi yang belum memadai. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. SPI meliputi lima unsur pengendalian.24 1. penjelasan Pasal 16 ayat (1) Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria. pengamanan aset negara. pencatatan transaksi yang akurat dan tepat waktu. informasi dan komunikasi. Hasil evaluasi atas SPI LKPD dapat diuraikan sebagai berikut. 1.22 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa LKPD yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya memiliki pengendalian intern yang memadai.23 1.20 1.19 1.21 Hasil Evaluasi SPI 1. Masih banyaknya opini TMP dan TW yang diberikan oleh BPK menunjukkan efektivitas SPI pemerintah daerah belum optimal.25 1. Namun. tidak didukungnya kebijakan dengan pedoman pelaksanaan yang jelas. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004.26 . Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. keandalan pelaporan keuangan.19 1. serta lemahnya pengendalian dan koordinasi tugas antara atasan dan bawahan. penilaian risiko. Untuk itu. serta pemantauan. Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset. Kelemahan pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar disebabkan belum memadainya unsur lingkungan pengendalian dan kegiatan pengendalian. 1. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.18 SPI memiliki fungsi untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. masih terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian terlihat dari kurang dipahaminya tugas pokok dan fungsi pada satuan kerja serta kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan. yaitu lingkungan pengendalian. kegiatan pengendalian. salah satunya yang terkait dengan SPI adalah efektivitas SPI. Adapun LKPD yang memperoleh opini TMP dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.

dan kejadian penting.20 pengendalian atas pengelolaan sistem informasi. 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 1. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. 1.27 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 1. rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. pencatatan tidak akurat yaitu pengelolaan aset daerah yang kurang optimal. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2. transaksi. serta 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 6 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. penatausahaan aset tetap belum dilaksanakan secara tertib pada beberapa SKPD sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp2. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan pendokumentasian yang baik atas SPI.04 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. terdiri atas • sebanyak 455 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. • Di Kabupaten Maros. • sebanyak 10 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. 1.46 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. • sebanyak 208 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.30 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan tersebut di antaranya sebagai berikut. Sebanyak 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.28 Hasil evaluasi atas 151 LKPD terdapat 1. di antaranya nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan.460 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp1.29 . • sebanyak 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Riau.

30 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. • sebanyak 26 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD.41 miliar tidak dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2009 mengakibatkan tidak terciptanya disiplin anggaran.98 miliar tidak berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga saldo aset tetap per 31 Desember 2009 tidak dapat diyakini kewajarannya.d. • Di Kabupaten Padang Lawas. • Di Provinsi Aceh. Provinsi Papua. • Di Kabupaten Nabire. • sebanyak 69 kasus mekanisme pemungutan. 1. penyajian aset tetap senilai Rp927. 2012 senilai Rp216. terdapat perbedaan pencatatan antara penyajian saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber pembukuan aset tetap sehingga saldo per 31 Desember 2009 senilai Rp1. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1. • sebanyak 30 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. .31 Sebanyak 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 42 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.21 • Di Kabupaten Seruyan. • sebanyak 149 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.00 miliar tidak didasarkan pada perencanaan yang matang dan berpotensi tidak selesai tepat waktu. Provinsi Kalimantan Tengah.32 Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja di antaranya sebagai berikut. pembangunan kawasan pusat pemerintahan TA 2009 s. inventarisasi dan penatausahaan barang milik daerah belum dilakukan secara optimal sehingga nilai aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp571.25 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pembayaran kegiatan lanjutan atas kontrak-kontrak pekerjaan Tahun 2008 senilai Rp490. • Di Kabupaten Timor Tengah Utara. Provinsi Sumatera Utara. terdiri atas • sebanyak 210 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.

perencanaan. pengawasan. • Di Provinsi Aceh. 1.02 miliar yang tidak dilaporkan sehingga menyulitkan pengendalian atas transaksi penerimaan maupun pengeluaran pada buku kas umum kuasa BUD.22 • Di Kabupaten Deli Serdang. penerbitan SP2D sebanyak 3. alokasi. 1. Provinsi Maluku.33 Sebanyak 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan • sebanyak 2 kasus lain-lain kelemahan struktur pengendalian intern. 2008. dan 2007. terdiri atas • sebanyak 90 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. terdapat aset pemerintah daerah berupa deposito TA 2009 dijadikan jaminan cash collateral senilai Rp33. • Di Kabupaten Simalungun. • Di Kabupaten Cianjur. Provinsi Jawa Barat. Provinsi Sumatera Utara. • sebanyak 16 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal.50 miliar atas perjanjian pembiayaan dengan Bank Muamalat di antaranya senilai Rp23.50 miliar dijadikan jaminan untuk pinjaman sehingga dana yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal.80 miliar dilakukan mendahului penetapan anggaran. • Di Kabupaten Buru Selatan.34 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut sebagian besar atau sekitar 51% merupakan kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur di antaranya sebagai berikut. dan stabilisasi. pelaksanaan pekerjaan pada beberapa SKPD TA 2009 senilai Rp15.83 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum digunakan untuk pekerjaan swakelola TA 2009.20 miliar melewati batas waktu 31 Desember 2009 yang mengakibatkan tidak terciptanya tertib anggaran dan tertundanya penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh TA 2009. Provinsi Sumatera Utara. Hal ini mengakibatkan realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa tidak dapat diyakini kewajarannya dan APBD yang sudah ditetapkan dengan perda tidak dapat digunakan sebagai fungsi otorisasi. . distribusi. realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa TA 2009 senilai Rp76.878 lembar senilai Rp981. • sebanyak 64 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. • sebanyak 4 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. rekening kas umum daerah belum ditetapkan dan terdapat rekening kas daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp10.

SOP yang ada pada entitas tidak ditaati yaitu terdapat dua rekening kas daerah senilai Rp1. 1. peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum ditetapkan sehingga pengelola keuangan dan kekayaan daerah (PKKD) dan SKPD kesulitan dalam penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan TA 2009. Provinsi Papua Barat. • Di Kabupaten Manokwari. Rekomendasi 1.23 • Di Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Barat. peraturan bupati tentang sistem dan kebijakan akuntansi TA 2009 belum dibuat sehingga membuka peluang adanya persepsi ganda dalam hal pengakuan. belum sepenuhnya memahami ketentuan. dan • memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.35 Unsur pengawasan pada pemerintah daerah belum optimal.38 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. Upaya penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi temuan pemeriksaan belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-temuan berulang dan lambat ditindaklanjuti.37 . Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan. BPK telah merekomendasikan antara lain • kepala daerah agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Penyebab 1.00 miliar belum mendapat izin kepala daerah dan lima SKPD menggunakan rekening pribadi untuk menampung pencairan dana SP2D pada akhir tahun senilai Rp921. • pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 1. 178 rekening bendahara pengeluaran SKPD senilai Rp1.36 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/ pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas. dan pelaporan. pencatatan.27 juta sehingga pengendalian kas daerah lemah dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah TA 2009.00 miliar belum ditetapkan dengan SK kepala daerah. • Di Provinsi Maluku.

Tabel 1. surat berharga.42 .4. dan lain-lain kasus kerugian daerah.761. dan ketidakefektifan.49 207. dan barang.24 Kepatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan 1. kekurangan penerimaan.39 Selain opini dan temuan-temuan SPI.60 195.40 Berdasarkan Tabel 1. Kerugian Daerah 1.34 95. pemahalan harga (mark up). Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. potensi kerugian daerah. Masing-masing kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.41 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.4. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 729 119 398 862 74 1 137 2. pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan.320 Nilai (juta Rp) 556.76 4. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah.430.84 1. administrasi. 1.384. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. hasil pemeriksaan atas 151 LKPD Tahun 2009 juga menemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan sebanyak 2.320 kasus senilai Rp1.4 di atas. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 No.753.929.42 370.43 triliun sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.48 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Jumlah 1.252. ketidakefisienan. ketidakhematan/pemborosan.271.415. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.

74 miliar.75 miliar. dan • sebanyak 27 kasus lain-lain senilai Rp54.05 miliar.24 miliar. • sebanyak 71 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp83. atau atas nama pribadi . Provinsi Sulawesi Tenggara. 2009 yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum dikembalikan ke kas daerah sehingga berindikasi merugikan keuangan daerah. • sebanyak 101 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp35.79 miliar.13 miliar. di antaranya senilai Rp39. • sebanyak 6 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp8.d. rekanan. • sebanyak 90 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp27. 1. • sebanyak 15 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp3. • sebanyak 155 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp59.41 miliar di antaranya adanya tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan.31 miliar. • sebanyak 3 kasus kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp2.22 miliar.d. • Di Kabupaten Bombana.83 miliar. terdapat pemberian panjar Tahun 2009 kepada SKPD.56 miliar. • sebanyak 143 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp106. • sebanyak 26 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp24. dana milik pemda digunakan dan dikeluarkan tanpa SP2D selama Tahun 2007 s. 2010 senilai Rp39.25 1.75 miliar terdiri atas • sebanyak 76 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp144.44 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Konawe. Provinsi Sulawesi Tenggara.62 miliar merupakan pengeluaran selama Tahun 2007 s.07 miliar.43 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kerugian daerah sebanyak 729 kasus senilai Rp556.37 miliar. • sebanyak 16 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7.

dan barang. • Di Kota Pematangsiantar. Provinsi Sumatera Utara.44 miliar atas harga 36 jenis bahan dan barang untuk keperluan rehabilitasi dan pembangunan 73 sekolah dasar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2009. . BPK telah merekomendasikan antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas negara/daerah. 1.64 miliar yang tidak didukung SP2D dan belum dikembalikan ke kas daerah.47 Potensi Kerugian Daerah 1. kerugian daerah atas pemahalan harga/mark up senilai Rp2.41 miliar mengalami kesalahan perancangan atau tidak memenuhi syarat struktural.48 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah.75 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak 74 kasus senilai Rp14.46 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. 1.95 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya. ketekoran kas pada bendahara pengeluaran senilai Rp7. Penyebab 1.40 miliar dan di antaranya senilai Rp1.26 minimal senilai Rp36. di antaranya penyetoran dari Kabupaten Banyuasin senilai Rp2. terjadi pemahalan harga beberapa paket pekerjaan hotmix Tahun 2009 pada Dinas Pekerjaan Umum yang berindikasi merugikan keuangan daerah minimal senilai Rp11. tidak cermat. di antaranya senilai Rp5.49 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. • Di Kota Padangsidimpuan.80 miliar.06 miliar merupakan sisa uang persediaan (UP) Tahun 2008 di bendahara pegeluaran sekretariat daerah berupa panjar ke SKPD yang sampai dengan 31 Desember 2009 belum dikembalikan dan disetor ke kas daerah. Selain itu. surat berharga.45 Dari 729 kasus kerugian daerah senilai Rp556. Rekomendasi 1. kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Provinsi Sumatera Utara.30 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. • Di Provinsi Maluku.

aset tidak diketahui keberadaannya.28 miliar. • sebanyak 14 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp43.12 miliar. • sebanyak 2 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp3. Selain itu.50 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 3 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan. pembelian aset yang berstatus sengketa. • sebanyak 5 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp22. pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan.55 miliar. • sebanyak 24 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp80.15 miliar.57 miliar. dan • sebanyak 20 kasus lain-lain senilai Rp46. • sebanyak 2 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp8. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. serta lainlain kasus potensi kerugian daerah.51 1. 1. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp3.83 miliar. • sebanyak 39 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp152.36 miliar.45 juta.68 miliar di antaranya pertanggungjawaban belum lengkap dan sah serta entitas disarankan untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran dan apabila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah. kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.52 .25 miliar yang terdiri atas • sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp9. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.27 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah sebanyak 119 kasus senilai Rp370. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.14 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp521.

2009 yang telah disalurkan senilai Rp9. terdapat aset tetap dari belanja modal TA 2009 yang dikuasai dan digunakan oleh pihak lain senilai Rp48. • Di Kabupaten Bener Meriah. potensi kerugian daerah atas aset tetap berupa kendaraan dinas yang dipinjamkan kepada mantan anggota DPRD periode Tahun 2004-2009 dan pihak di luar pemerintah daerah yang belum dikembalikan senilai Rp4.54 Dari 119 kasus potensi kerugian senilai Rp370.96 miliar. • Di Kabupaten Toba Samosir. Provinsi Riau. pembayaran material yang tidak memperhitungkan jarak angkut aktual atas pekerjaan pembangunan kawasan perkantoran Lumban Pea dari Tahun 2008 s.56 . Provinsi Aceh. rekanan pengadaan tidak memperbaiki kerusakan jalan Ereke-Bau Bau.49 miliar dan berpotensi merugikan daerah apabila tidak dapat tertagih.d. 1.28 1. Penyebab 1.00 juta pada Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti disajikan dalam Lampiran 4. Provinsi Sumatera Utara.d. kredit macet atas kredit PER (Pengembangan Ekonomi Rakyat) TA 2007 s. • Kabupaten Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur. • Di Kabupaten Buton Utara. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. tidak cermat. alat berat yang tidak digunakan. • Di Kabupaten Bengkalis. potensi kerugian daerah atas kelebihan pembayaran prestasi pekerjaan. Selain itu. 2010 senilai Rp5.57 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. 1.25 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak dua kasus senilai Rp426. Rekomendasi 1. dalam masa pemeliharaan yang mengakibatkan realisasi penggunaan dana TA 2009 senilai Rp21.73 miliar.55 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.53 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.65 miliar menjadi tidak bermanfaat dan berpotensi merugikan daerah.36 miliar dan tidak diperuntukkan untuk operasional pemerintah sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aset tetap milik pemerintah. Provinsi Sulawesi Tenggara.

dan kasus lain-lain kekurangan penerimaan. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp276.62 .29 1.63 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah. 1.14 juta. Selain itu. • sebanyak 3 kasus /penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp94.80 juta. penggunaan langsung penerimaan daerah.61 1.77 miliar. • sebanyak 65 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp30. 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 398 kasus senilai Rp207.84 juta. kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah. kekurangan penerimaan atas potongan PPN dan PPh Tahun 2009 minimal senilai Rp19. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak. Kekurangan Penerimaan 1.60 1.58 BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan mempertanggungjawabkan kasus potensi kerugian daerah dan bila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah atau melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian daerah.87 miliar.92 miliar. Provinsi Sumatera Utara. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp8. • sebanyak 5 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp476. • Di Kabupaten Batu Bara.66 miliar belum disetorkan ke kas negara mengakibatkan pemerintah pusat tidak dapat memanfaatkan penerimaan perhitungan fihak ketiga (PFK) dari potongan PPN dan PPh tersebut.41 miliar terdiri atas • sebanyak 321 kasus penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp166.59 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.

pajak hotel Tahun 2004 s. tidak cermat. • Di Kota Bekasi. Atas kasus ini sudah ditindaklanjuti dengan penyetoran senilai Rp1. penerimaan dana bagi hasil atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) TA 2009 dan 2010 tidak melalui rekening kas daerah Kabupaten Bombana di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara namun melalui dua rekening atas nama Pemda Bombana di Bank BRI sehingga tidak dilaporkan sebagai pendapatan daerah senilai Rp9.65 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.95 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.66 Administrasi 1.d. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.67 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah tersebut.68 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset.98 miliar dan belum disetorkan ke kas daerah senilai Rp8.94 miliar. 1.64 Dari 398 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp207. adanya penggunaan langsung oleh SKPD untuk membiayai belanja rutin dan pinjaman sementara TA 2009 senilai Rp4. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan serta menyampaikan bukti setor ke BPK. Provinsi Sumatera Utara.73 miliar dan pendapatan bunga bank senilai Rp12. 1.30 • Di Kabupaten Bombana. terdapat kekurangan penerimaan dana Community Development (CD) atas pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sampai dengan 31 Desember 2009 senilai Rp5. • Di Kabupaten Maros. tidak mengurangi hak daerah (kekurangan .82 juta belum disetorkan ke rekening kas umum daerah. 2009 senilai Rp2. Penyebab 1.41 miliar tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah sebanyak 34 kasus senilai Rp6. Provinsi Sulawesi Tenggara.83 miliar.49 miliar di antaranya penyetoran dari Kabupaten Simalungun senilai Rp1. Selain itu. Provinsi Jawa Barat.77 miliar. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kabupaten Simalungun. kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.24 miliar. Rekomendasi 1.

perpajakan. • sebanyak 45 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah).31 penerimaan). tidak menghambat program entitas. • sebanyak 65 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.70 1. • sebanyak 8 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. penyimpangan yang bersifat administratif yaitu pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.72 .69 Pada umumnya kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu adanya pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid). pertambangan. • sebanyak 9 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. dan lain-lain kasus administratif. • sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. 1. Selain itu. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang bersifat administratif sebanyak 862 kasus yang terdiri atas • sebanyak 364 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/belum disetor ke kas daerah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.71 1. pelaksanaan lelang secara proforma. • sebanyak 7 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan pelelangan. dan lain-lain. dan pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. Kasus lain penyimpangan administratif yaitu adanya proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). 1. • sebanyak 28 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.

13 miliar tidak diserahkan kepada tim BPK RI.d. • Di Kabupaten Mappi. Provinsi Aceh. • Di Kabupaten Cianjur.32 miliar.88 miliar tidak lengkap dan tidak dapat diyakini kewajarannya. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan pengelolaan perlengkapan/barang milik daerah.47 miliar sampai dengan TA 2009 belum memiliki sertifikat sehingga berpotensi disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain. 1. 2009 pada 28 SKPD belum dipertanggungjawabkan senilai Rp209. • Di Kabupaten Aceh Jaya. Penyebab 1. • sebanyak 58 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. Provinsi Jawa Barat.74 Kasus-kasus administrasi pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. • Di Kabupaten Kutai Timur.73 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 28 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota TA 2009 senilai Rp86.75 miliar tidak lengkap dan senilai Rp221. aset tetap hasil pengadaan TA 2006 s. • sebanyak 6 kasus pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. • sebanyak 71 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/ belum disetor ke kas daerah. sisa kas di bendahara pengeluaran TA 2007 s. Provinsi Papua. 2009 dinilai lebih rendah senilai Rp238. dan • sebanyak 25 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. yaitu bukti pertanggungjawaban senilai Rp381.32 • sebanyak 93 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. aset tetap tanah senilai Rp626. • Di Provinsi Aceh.00 miliar. . • sebanyak 54 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan.d. Provinsi Kalimantan Timur. pertanggungjawaban atas belanja daerah TA 2009 senilai Rp602.02 miliar belum dipertanggungjawabkan dan berpotensi disalahgunakan oleh penerima bantuan.

78 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. 1.03 juta.77 Ketidakhematan 1. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. • sebanyak 4 kasus penetapan kualitas dan kuatitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp4.80 .02 miliar.79 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakhematan sebanyak 74 kasus senilai Rp95. Pada umumnya kasus ketidakhematan yaitu adanya pengadaan barang/ jasa melebihi kebutuhan.75 Selain itu. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.76 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. dan • sebanyak 69 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp91.11 miliar.75 miliar telah rusak dan diketahui bangunan mengalami kemiringan dan cenderung untuk rebah ke arah tiang pancang pekerjaan pembangunan Pelabuhan Terpadu Kota Bangun sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibangun kembali. kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Provinsi Kalimantan Timur. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. hasil pekerjaan pendamping Pelabuhan Terpadu Kota Bangun berupa pekerjaan penurapan TA 2009 senilai Rp8. 1. BPK telah merekomendasikan antara lain agar entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan secara administratif atas bukti pertanggungjawaban yang belum valid.27 miliar terdiri atas • sebanyak 1 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp131. segera melengkapi dokumen kepemilikan dan membuat peraturan daerah terkait penyertaan modal pemerintah.33 1. dan terjadi pemborosan atau kemahalan harga.81 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 1. adanya penetapan kualitas dan kuantitas barang/ jasa yang digunakan tidak sesuai standar. 1.

• Di Kabupaten Solok Selatan. Rekomendasi 1.44 miliar sehingga memboroskan keuangan daerah. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas. Kasus ketidakefektifan yang lain yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan 1. dan memedomani ketentuan yang berlaku dalam menetapkan kebijakan. dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Selain itu. Kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. tidak cermat. pengeluaran biaya perjalanan dinas pada Dinas Perpajakan Daerah TA 2009 senilai Rp1. Provinsi Maluku. • Di Kota Tual.87 . kasus ketidakhematan terjadi karena pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. belanja tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD TA 2009 senilai Rp773.34 • Di Kabupaten Cianjur. Provinsi Jawa Barat. Provinsi Sumatera Barat.49 miliar tidak memperhatikan asas kehematan.84 Terhadap kasus-kasus ketidakhematan.83 Ketidakefektifan 1. antara lain BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Penyebab 1.00 juta tidak berdasarkan survei harga setempat sehingga memboroskan keuangan daerah. terdapat hasil pekerjaan perencanaan TA pada Dinas Pekerjaan Umum belum dimanfaatkan senilai Rp1.82 Kasus-kasus ketidakhematan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.30 juta. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. 1. • Di Kabupaten Kepulauan Mentawai. pemborosan keuangan daerah atas pengadaan barang dan jasa Tahun 2008 yang dilakukan dengan utang kepada pihak ketiga dan tidak sesuai dengan standar harga satuan barang dan jasa kebutuhan pemerintah senilai Rp735.86 1. Provinsi Sumatera Barat.

• sebanyak 15 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp33. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • Di Kabupaten Konawe Utara. dana beasiswa untuk siswa miskin pada Dinas Pendidikan TA 2009 senilai Rp3. Provinsi Sumatera Utara. hasil pembangunan rumah jabatan dan pendukung lainnya untuk Pimpinan dan Anggota DPR Aceh beserta pendukung lainnya TA 2008 s. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi.d. Dinas Kimpraswil. 2009 sebanyak 69 unit senilai Rp43.89 Kasus-kasus ketidakefektifan tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Provinsi Aceh. Provinsi Sumatera Utara. . • sebanyak 3 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6.01 miliar.88 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakefektifan sebanyak 137 kasus senilai Rp195.14 miliar terlambat diterima oleh sekolah sehingga sekolah tidak segera dapat memanfaatkan dana beasiswa tersebut. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 73 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp61.35 miliar. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp7. Provinsi Sulawesi Tenggara.93 miliar.91 miliar belum dimanfaatkan. • Di Kabupaten Nias Selatan. pemberian tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja selama TA 2009 senilai Rp4. Bappeda. 1. pembangunan gedung kantor Dinas Perhubungan. • Di Kabupaten Simalungun.30 miliar belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya dan berpotensi rusak.08 miliar belum memenuhi tujuan peningkatan prestasi kerja. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp445. • sebanyak 32 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp86.38 miliar.03 juta. serta kantor Pelayanan Terpadu TA 2009 senilai Rp5. 1. • sebanyak 5 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp477. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.35 tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.32 miliar.20 juta.

92 . BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.90 Kasus-kasus ketidakefektifan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan Rekomendasi 1.91 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Provinsi Kalimantan Selatan. memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan kegiatan serta memperhatikan asas efektivitas dalam melaksanakan kegiatan. Penyebab 1.06 miliar belum dimanfaatkan mengakibatkan pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal. tidak cermat dalam merencanakan kegiatan dan melaksanakan tugas. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. kurang dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan. pengadaan alatalat kesehatan pada RSUD Amanah Husada TA 2009 senilai Rp3. tidak memedomani ketentuan yang berlaku.36 • Di Kabupaten Tanah Bumbu. 1.

37 BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 2.11 20.65 75.28 21.948.444. Pemeriksaan keuangan atas BUMN/D dan badan lainnya bertujuan untuk memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Cakupan pemeriksaan atas LK BUMN/D dan badan lainnya meliputi neraca.52 Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 164.3 7. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.72 2.1 Pada Semester II Tahun 2010. Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009.19 7.370.96 Laba (rugi) Surplus (defisit) 70.273.83 882.38 7.044.429. Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010.01 112.70 16.43 -14. Laporan Keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M.38 -2.692. laporan perubahan ekuitas dan rasio modal.1.113.84 Kewajiban 504.16 26. Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) TB 2009.9 26.09 424.81 256.05 Ekuitas 580.03 72. serta laporan arus kas.36 BP Kawasan Perdagangan Bebas dan 14.03 451. laporan realisasi anggaran atau laporan surplus (defisit) atau laporan aktivitas.39 931.75 -19.34 26.085.4 14. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya (dalam miliar rupiah) Neraca No. serta Laporan Keuangan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009. Objek Pemeriksaan Aset 1 2 3 4 5 6 PTPN XII TB 2009 PDAM Kota Padang TB 2009 WSEDP pada BNPB TA 2010 BPIH 1430 H/2009 M BPIH 1429 H/2008 M 1.56 7.78 Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus (Defisit)/Laporan Aktivitas/ Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 877.09 17.109.2 2.1 berikut Tabel 2.97 Biaya 806. laporan laba rugi.11 . (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.487.26 132. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure). Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BUMN/D dan badan lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 2.

Hasil evaluasi atas SPI LK BUMN/D dan badan lainnya dapat diuraikan sebagai berikut. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. sistem pengendalian intern (SPI). Standar Pemeriksaan Keuangan Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. No. 2. BPK juga memberikan opini TMP terhadap PTPN XII (Persero) TA 2009 serta PIH Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M. Selain itu.38 Hasil Pemeriksaan 2. efisien. opini WDP diberikan terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009 serta BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Sistem Pengendalian Intern 2.8 .2. 1 2 3 4 Entitas PDAM Kota Padang BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam PTPN XII (Persero) BPIH Opini 2008 TMP WDP WDP-DPP*) TMP 2009 WDP WDP TMP TMP Keterangan : *) diperiksa oleh KAP Sugeng. dan akuntabel. Oleh karena itu. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. yaitu opini. Kecuali WSEDP BNPB yang merupakan initial audit bagi BPK.2 berikut.7 Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. perkembangan opini keempat entitas tersebut untuk Tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 2. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. transparan. pemerintah wajib melakukan pengendalian intern atas penyelenggaraan kegiatannya. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.6 BPK memberikan opini WTP terhadap Laporan Keuangan WSEDP BNPB TA 2010.5 Opini 2. Sjahrial & Rekan Tabel 2.4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BUMN/D dan badan lainnya disajikan dalam tiga kategori. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. 2.

. implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk dilakukan tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masing-masing senilai Rp7.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya menunjukkan adanya 71 kasus kelemahan SPI. dan • sebanyak 22 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN/D dan badan lainnya.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.62 miliar.63 miliar. • Di PIH Tahun 1429 H/2008 M. dan aktiva tanaman Rp37.17 miliar tidak didukung dokumen pendukung yang menjadi dasar perhitungan dan tidak ada proses rekonsiliasi antara BPIH dengan BP-DAU untuk memastikan jumlah piutang yang seharusnya disajikan. • sebanyak 19 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. sehingga saldo hutang DAU tidak dapat diyakini kewajarannya. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009. serta terdapat denda keterlambatan piutang UWTO yang belum dibuatkan faktur penagihannya senilai Rp967. • Di PDAM Kota Padang TB 2009. Penyebab 2. alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54.66 miliar.68 juta. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam. sanksi pemutusan sambungan air belum dilakukan kepada pelanggan yang menunggak lebih dari tiga bulan mengakibatkan tunggakan rekening air senilai Rp13.29 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya.39 Hasil Evaluasi SPI 2. pengelolaan piutang Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) TA 2009 belum tertib dan sampai dengan 31 Desember 2009 belum diterima pelunasannya senilai Rp264.25 miliar dan PDAM menanggung biaya produksi air. 2. terdiri atas • sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.29 miliar dan Rp2. saldo hutang kepada Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) senilai Rp16.

ketidakhematan.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. kekurangan penerimaan negara/perusahaan milik negara/daerah.67 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/ Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan 2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.43 miliar tidak diungkap pada laporan keuangan per 31 Desember 2009 dan kebijakan menghapusbukukan piutang tersebut melanggar anggaran dasar dan tanpa persetujuan dewan komisaris. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 2.123. yaitu piutang Ditjen Perkebunan dan penyisihannya senilai Rp11. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 7. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 4 7 10 23 9 1 9 Jumlah 63 Nilai (juta Rp) 28.595. BPK masih menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah. Tabel 2. Di antara temuan signifikan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah sebagai berikut.99 49. dan ketidakefektifan meliputi 63 kasus senilai Rp239.40 Rekomendasi 2.14 Berdasarkan Tabel 2. hasil pemeriksaan mengungkapkan 63 kasus senilai Rp239.116. administrasi. ketidakefisienan.15 . BPK telah merekomendasikan agar pimpinan BUMN/D dan badan lainnya menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengawasan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya No.12 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya.203. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009. potensi kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah.897.13 Selain opini dan evaluasi atas sistem pengendalian intern. 2.12 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 2.03 282.72 89.3 di atas.29 64.16 239.3.3.48 35.

00) dan Rp17.61 miliar.991. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009.41 • Di WSEDP BNPB Tahun 2010.500.72 juta dan kekurangan penerimaan negara/daerah/ perusahaan milik negara/daerah senilai Rp35. Penyebab 2.68 miliar sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya.00) tidak sesuai ketentuan. yaitu bunga deposito dana setoran awal dari empat bank penerima setoran (BPS) senilai Rp6. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian negara.19 . • Di PDAM Kota Padang TB 2009. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah masing-masing senilai Rp539. yaitu penghapusan piutang kepada Anna for Development senilai Rp84. terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan PIH. yaitu terdapat penggunaan dana hibah ADB senilai Rp21.46 ribu (ekuivalen USD1 = Rp8. Rekomendasi 2.00) yang digunakan untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening sehingga menimbulkan risiko kegiatan terhambat. tidak cermat dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.45 miliar (ekuivalen USD1 = Rp8. BPK telah merekomendasikan agar para pejabat lebih menaati ketentuan serta lebih cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.32 miliar. 2. yaitu tingkat kehilangan air dalam proses distribusi melebihi batas toleransi senilai Rp11.06 miliar dan pendapatan bunga deposito hasil optimalisasi setoran awal biaya PIH biasa pada tiga BPS masih terhutang pajak final yang belum disetorkan ke kas negara senilai Rp3. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.16 Dari sejumlah kasus kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah senilai Rp28. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. 2. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. yaitu pemberian dana bantuan sosial masyarakat tidak mematuhi ketentuan yang berlaku senilai Rp3.86 miliar.17 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam menaati ketentuan yang berlaku.37 miliar (ekuivalen SAR1 = Rp2.59 miliar.18 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan tersebut. • Di PIH Tahun 1430 H/2009 M. Selain itu.991.

42 .

efisiensi. perusahaan daerah air minum (PDAM). 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. . pengelolaan hutan mangrove. 5 pemda. kinerja pendidikan. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. energi. dan kinerja lainnya (10 objek pemerintah pusat. Dalam Semester II Tahun 2010. 3 BUMN.43 PEMERIKSAAN KINERJA Pemeriksaan kinerja bertujuan menilai aspek ekonomis. dan efektivitas. pertanian. Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas • • • • • • • • penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. dan 9 PDAM. dan 3 BUMN). perhubungan. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009.

44 .

Dalam Semester II Tahun 2010. hak asasi manusia. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Jawa Timur.2 3. yaitu DKI Jakarta. Ditjen Imigrasi. Hongkong. Pemeriksaan dilakukan pada Kemenakertrans. Walaupun enam peraturan pemerintah yang diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 belum ada yang diterbitkan. namun kebijakan operasional lebih lanjut telah diatur dengan Peraturan Presiden. Jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam lima tahun terakhir mencapai angka 3. Kawasan penempatan yang terbesar adalah kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. dan dinas tenaga kerja provinsi/kabupaten/kota. 3. Berbagai pihak terlibat baik lembaga pemerintah maupun swasta dalam proses penempatan TKI sejak dari pra penempatan sampai dengan masa penempatan.45 BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ketentuan perundang-undangan yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2004 merupakan landasan hukum untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak di luar negeri. Dinas Tenaga Kerja provinsi/kabupaten/ kota. yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. dan Kuwait. martabat. sementara pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional belum mencukupi. Jawa Tengah. dan perlindungan hukum.3 triliun. Setidaknya ada lima lembaga formal yang terkait dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).4 . serta Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Perwakilan RI di luar negeri.01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia. dan Nusa Tenggara Barat. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). BNP2TKI. Riyadh.1 Penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. Penempatan TKI di luar negeri telah memberikan tambahan sumber devisa negara yang besar dengan rata-rata setiap tahunnya mencapai USD 4. BNP2TKI. serta Atase Tenaga Kerja pada Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Singapura. Jeddah.37 miliar atau sekitar Rp39.3 3.

5 Pemeriksaan kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri bertujuan untuk menilai apakah penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah efektif dalam aspek perencanaan. pengorganisasian sumber daya.46 Tujuan Pemeriksaan 3. Pra Penempatan • Rekrutmen yang prosedural dalam memenuhi job order untuk menghasilkan calon TKI yang telah dipersiapkan dan didukung fasilitas yang layak dan memadai pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. Kriteria Pemeriksaan 3. • Monitoring TKI yang proaktif yang menjamin kepastian perlindungan TKI sesuai dengan hak dan kewajibannya. b. didasarkan pada kriteria sebagai berikut. • Penanganan TKI bermasalah secara komprehensif yang memperhatikan aspek perlindungan dan kepastian hak dan kewajiban TKI. • Pengujian kesehatan yang menjamin derajat kesehatan calon TKI terpenuhi dan didukung proses yang transparan dan dapat diandalkan. dan pengendalian. • Pembekalan akhir yang memastikan calon TKI memahami hak dan tanggung jawab serta diselenggarakan secara konsisten. • Pengujian yang memastikan kompetensi calon TKI sesuai yang dipersyaratkan dan didukung lembaga yang teruji. pelaksanaan. dan pasti.6 Untuk memastikan penilaian kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah sesuai dengan kondisi yang memadai. • Pelatihan yang membekali kemampuan calon TKI sesuai dengan kebutuhan dan didukung prasarana yang memadai. . a. • Pengurusan dokumen pemberangkatan calon TKI yang sah. transparan. Masa Penempatan • Keberangkatan dan kedatangan TKI di tempat tujuan dimonitor dan telah didukung sistem informasi yang andal.

47 c. Purna Penempatan • Pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. • Penanganan TKI bermasalah yang memberikan kepastian dan tindak lanjut perbaikan. 3. Masalah-masalah pokok yang mendorong tidak efektifnya penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dapat diuraikan sebagai berikut. keadilan. Kondisi tersebut terbukti dari penyiapan perekrutan dan penempatan TKI yang ternyata sebagian dilakukan untuk negara tujuan penempatan yang tidak memiliki MoU dan perundang-undangan yang menjamin perlindungan tenaga kerja. sistem perekrutan calon TKI tidak menjamin bahwa biaya pengurusan dokumen dan syarat-syarat penempatan serta potongan gaji kepada TKI telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. pelatihan dan pengujian kesehatan. Selain itu.8 3. pengurusan dokumen. proses penempatan di negara tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air.7 Hasil pemeriksaan atas kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menyimpulkan bahwa penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. • Pemulangan TKI yang memastikan keamanan dan kenyamanan TKI dan didukung prasarana yang memadai. Hal ini juga tidak didukung dengan sistem yang terintegrasi dan alokasi sumber daya yang memadai guna meningkatkan kualitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.10 Rekrutmen TKI yang seharusnya dimulai sejak pemetaan kondisi dan dasar hukum ketenagakerjaan negara tujuan penempatan TKI.9 Rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilik kepentingan. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. Masih sering terjadi besarnya potongan gaji TKI lebih tinggi dari komponen biaya penempatan maksimal (cost 3. dan perlindungan TKI 3.11 . Hasil Pemeriksaan 3. Kompleksitas masalah tersebut mengakibatkan efektivitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tidak tercapai secara optimal. belum dilaksanakan sepenuhnya untuk menjamin aspek perlindungan dan rasa aman bagi TKI.

3. tidak semua sarana kesehatan memiliki sistem biometrik yang terhubung dengan Sistem Pelayanan Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai alat untuk memvalidasi sertifikat kesehatan calon TKI yang diterbitkan sarana kesehatan. . biaya pembekalan akhir penempatan (PAP)/Iuran Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) di APJATI.14 Penyiapan tenaga kerja yang sehat. mampu. mengalami pemotongan gaji lebih lama. Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan potensi TKI bermasalah di kemudian hari. dan BNP2TKI. Sebagian besar perekrutan TKI tidak melalui bursa tenaga kerja yang ada pada dinas tenaga kerja kabupaten/kota.13 3. Ini terbukti dengan masih adanya sarana kesehatan yang beroperasi tanpa izin operasional atau dengan izin operasional tetapi telah kedaluwarsa. dan teruji kurang didukung kebijakan yang tegas.12 Sistem rekrutmen calon TKI juga tidak menjamin bahwa mekanisme perekrutan berjalan sesuai peraturan yang telah ditetapkan. keadilan. biaya paspor di kantor imigrasi. tetapi melalui sponsor/petugas lapangan (calo).48 structure) TKI yang ditetapkan pemerintah. Selain itu. 3. Kebijakan dan prosedur pengawasan sarana kesehatan juga tidak terintegrasi dengan fungsi pengawasan pada Kemenakertrans. Kondisi tersebut mengakibatkan TKI harus menanggung biaya penempatan yang lebih tinggi dari seharusnya. serta pengawasan yang periodik dan konsisten 3. Beberapa PPTKIS mengirim TKI ke luar negeri melebihi jumlah TKI yang disetujui untuk direkrut dan merekrut calon TKI yang tidak memenuhi syarat. Selain itu. biaya/ premi asuransi dan biaya fee Petugas Lapangan (PL) dan agensi rata-rata menjadi beban yang wajib dikeluarkan oleh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang nantinya akan membebankan kepada TKI melalui potongan gaji. masih ditemukan juga perekrutan TKI tanpa job order atau menggunakan job order yang telah kedaluwarsa. Sejauh ini evaluasi dan monitoring yang dilakukan pemerintah tidak bisa menjamin kebijakan penyiapan dan pengelolaan perekrutan calon TKI menjadi lebih baik dan efektif. sistem pelatihan dan pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi. Biaya pengurusan dokumentasi seperti biaya rekomendasi paspor dari disnaker kabupaten/kota. Hal-hal tersebut di atas menjadikan proses rekrutmen yang selama ini berjalan belum valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. dan perlindungan bagi TKI. Standar pengujian kesehatan dan biaya pengujian kesehatan juga tidak baku dan seragam bagi semua sarana kesehatan.15 Peraturan tentang rekrutmen calon TKI belum tegas mengatur mekanisme pengendalian operasional sarana kesehatan dan infrastruktur penunjangnya secara efektif. biaya surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di kantor kepolisian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Banyaknya kondisi-kondisi yang tidak ideal tersebut belum secara optimal dijadikan bagian dari monitoring dan evaluasi pemerintah untuk perbaikan. dan memperoleh gaji lebih sedikit.

Dualisme penggunaan KTKLN yang dikeluarkan oleh 3. turut bersaing menerbitkan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal dengan BP3TKI Jakarta. Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) pada Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (PPTK) yang harusnya berkewajiban membakukan prosedur penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal. Kewenangan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Timur Tengah dimonopoli oleh Kantor Imigrasi Unit Khusus Tangerang. Banten. Fungsi dan kegunaan KTKLN. dan terukur untuk memastikan penilaian sarana/prasarana. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak melakukan pengawasan secara terprogram.19 3. kompetensi SDM. Kondisi pengurusan dokumen yang tidak equal treatment ini tidak dibenahi oleh pemerintah sampai saat ini.16 Akreditasi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja yang ditunjuk melalui keputusan Menakertrans juga dilakukan secara tidak terprogram. Efektivitas LSP sebagai filter tingkat kompetensi calon TKI meragukan dengan banyaknya TKI yang bekerja tanpa pelatihan. dan terencana dengan baik terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kegiatan uji kompetensi calon TKI setelah dilatih oleh BLKLN. rutin. Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas. Mekanisme penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal oleh instansi yang berbeda-beda antar daerah pengirim TKI (khususnya antara Provinsi DKI Jakarta dengan provinsi lainnya) semakin tidak terkendali. dan program diklat yang jelas dan baku serta jangka waktu pelatihan yang sesuai ketentuan. sistem yang terintegrasi. Selain itu.49 3. sehingga masih saja ditemukan kasus-kasus TKI gagal disebabkan tidak adanya pelatihan atau pelatihan yang tidak memenuhi standar oleh BLKLN. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten 3. Sedangkan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Asia Pasifik dapat diproses pada kantor imigrasi manapun. Rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal yang seharusnya berfungsi juga untuk pengendalian keabsahan calon TKI menjadi sulit dilakukan karena sistem yang digunakan oleh Direktorat PTKLN bersifat manual.17 Dualisme kewenangan antara Kemenakertrans dengan BNP2TKI dan dinas tenaga kerja dengan BP3TKI dalam penerbitan dokumen keberangkatan TKI yang belum dituntaskan secara kelembagaan menambah kerumitan pengurusan dokumen keberangkatan TKI yang sah. yang sampai saat ini belum ada.18 3. Sanksi atas BLKLN yang tidak memenuhi standar pelatihan tidak dilakukan.20 . menjadi mubazir. Perbedaan perlakuan pembuatan paspor ini menyebabkan pengerahan sumber daya PPTKIS yang tidak efisien. transparan. dan pasti. sesuai amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 51 wajib dimiliki setiap calon TKI untuk dapat ditempatkan di luar negeri. terencana. Kapasitas BNSP dalam kecukupan SDM untuk memonitor dan mengevaluasi LSP tidak memadai.

23 Amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 68 mewajibkan PPTKIS mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi. sedangkan pelaksanaan PAP oleh Sub Direktorat PPTKLN/Asosiasi PPTKIS dibiayai TKI. dan transparan 3. tetapi mendapat rekomendasi bebas fiskal oleh Sub Direktorat PPTKLN maupun BP3TKI. KTKLN yang dibuat secara manual di samping menambah ongkos TKI juga bersifat formalitas karena fungsi dan kegunaannya tidak sesuai sebagai penyimpan data yang dapat difungsikan dengan alat pembaca KTKLN. Bagi PPTKIS semakin sedikit biaya premi yang dibayarkan semakin baik. Konsorsium asuransi tidak berlomba-lomba memperbaiki kinerja jaringan dan pelayanan. Program itu belum dikelola dengan baik oleh Kemenakertrans. serta banyaknya TKI yang tidak diikutkan PAP oleh PPTKIS-nya. yang jenis dan biaya pertanggungannya sudah ditetapkan.22 Penyelenggaraan asuransi TKI belum memberikan perlindungan secara adil. Pelaksanaan PAP oleh BP3TKI yang dibiayai dari APBN. Konsorsium asuransi tidak terbuka melaporkan produksi polis dan klaim baik kepada Kemenakertrans maupun terbuka untuk umum melalui website. menyebabkan Kemenakertrans tidak tertarik untuk memperbaiki penatausahaan DP3TKI itu. walaupun biaya premi tersebut akhirnya ditagihkan secara penuh kepada TKI melalui mekanisme pemotongan gaji. 3. menciptakan persaingan tidak sehat. Ketidaksinkronan jumlah penerimaan DP3TKI dengan jumlah TKI yang diberangkatkan sudah berlangsung lama. Data produksi dan progress klaim TKI sangat sulit diakses. apakah tetap Kemenakertrans atau BNP2TKI.24 . pasti. 3. Bahkan dengan munculnya isu mengenai siapa yang berhak mengelola DP3TKI. Kewajiban 3. khususnya asuransi pra penempatan. Selain itu.21 Dualisme penyelenggaraan PAP oleh Kemenakertrans/Asosiasi PPTKIS dan BP3TKI menjadikan kegiatan PAP tidak terarah dan terprogram. Website konsorsium asuransi yang seharusnya dapat diakses secara terbuka seringkali terkendala secara teknis. Kemenakertrans tidak menyelenggarakan penatausahaan penerimaan dan penyetoran Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan TKI (DP3TKI) ke kas negara secara transparan. bahkan terdapat konsorsium asuransi yang dengan sengaja menyembunyikan data produksi dan klaimnya. melainkan berlomba-lomba memberikan diskon premi dan tawar-menawar harga premi kepada PPTKIS. Dilema asuransi juga diperparah dengan adanya unsur kesengajaan PPTKIS yang tidak mengikutkan TKI-nya dalam program asuransi.50 BNP2TKI dan Asosiasi PPTKIS (atas rekomendasi Kemenakertrans) yang tidak kunjung selesai dan tidak tersedianya perangkat pendukung KTKLN (card reader) yang memadai mengurangi fungsi KTKLN sebagai kartu identitas TKI yang sah dan wajib dimiliki TKI sebelum berangkat ke luar negeri. Penunjukan sembilan konsorsium asuransi melalui keputusan Menakertrans pada Tahun 2006 sampai dengan 2009 yang melibatkan 48 perusahaan asuransi dan delapan broker asuransi. mencerminkan pengelolaan PAP tidak akuntabel dan transparan.

51 konsorsium dalam menyelesaikan klaim sering terlambat dan tidak jelas statusnya. Banyaknya klaim asuransi TKI yang tidak cair sering menimbulkan pertanyaan apakah proses klaimnya disetujui tetapi lambat atau klaimnya ditolak. Tidak ada kejelasan mengenai proses klaim dari konsorsium baik kepada Kemenakertrans, TKI yang bersangkutan atau pihak-pihak yang mewakili TKI. 3.25 Demikian juga kewajiban konsorsium asuransi dalam menangani kasus-kasus TKI di luar negeri sering kali tidak jelas statusnya. Perwakilan konsorsium asuransi pada negara penempatan sering tidak ada atau ada tapi tidak diketahui Perwakilan RI. Jenis pertanggungan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, pelecehan seksual, kecelakaan kerja yang berakhir pada pemberhentian TKI oleh majikan sulit diklaim kepada asuransi TKI, sehingga sering menimbulkan dilema pembiayaan pemulangan bagi Perwakilan RI. Pendampingan TKI yang bermasalah hukum di negara penempatan diwakili oleh lawyer yang ditunjuk oleh Perwakilan RI. Namun saat tagihan biaya lawyer kepada konsorsium asuransi tiba, konsorsium asuransi sering tidak menyelesaikan segera. Konsorsium asuransi memberikan berbagai alasaan teknis maupun administrasi bila konsorsium asuransi dikonfirmasi terkait status tersebut.

Data penempatan TKI tidak akurat, sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri
3.26 Keberadaan sistem informasi TKI pada Perwakilan RI di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya perlindungan TKI. Sistem tersebut memerlukan data base TKI yang mutakhir setiap waktu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan data TKI tersebut melalui mekanisme lapor diri TKI atau melalui PPTKIS pengirim, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004. Namun ketaatan PPTKIS untuk melaporkan setiap pengiriman TKI kepada Perwakilan RI sangat rendah, sehingga data TKI pada Perwakilan RI tidak mutakhir. Perwakilan RI di luar negeri belum secara optimal melakukan setiap prosedur untuk memastikan kebijakan pendataan TKI melalui mekanisme lapor diri terpenuhi. Kegiatan welcoming program dan exit program oleh Perwakilan RI di Hongkong sepertinya hanya formalitas jauh dari tujuan yang diharapkan. Perwakilan RI di Singapura, Malaysia, dan Kuwait sia-sia melakukan pendekatan melalui data entry testworking permit pada website atau mengirim permintaan tertulis kepada ministry of manpower atau imigrasi, walaupun mengetahui data working permit tersebut hanya berbentuk kisaran jumlah TKI. Sedangkan Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak melakukan upaya pendekatan apapun selain mengandalkan data TKI berdasarkan data perjanjian kerja (PK), walaupun hanya berisi data majikan saja. Kondisi tersebut terjadi di tengah kewenangan yang begitu besar yang dimiliki Perwakilan RI di luar negeri untuk menyetujui boleh atau tidaknya penempatan TKI yang diminta majikan, agensi, dan PPTKIS.

3.27

52

Penanganan dan Penyelesaian TKI bermasalah di luar negeri bersifat parsial
3.28 Berbagai usaha untuk menyelesaikan kasus TKI bermasalah telah dilakukan Perwakilan RI di luar negeri. Namun penanganan kasus TKI oleh Perwakilan RI selama ini hanya fokus pada masalah yang dihadapi TKI secara parsial, bukan pada penyelesaian kasus secara komprehensif pada akar permasalahan. Evaluasi atas kondisi sebab akibat kasus TKI belum dilakukan Perwakilan RI untuk menemukan akar permasalahan secara jelas. Permasalahan gaji tidak dibayar, PHK sepihak, TKI overstayers, dan masalah ketenagakerjaan lainnya akan selalu timbul jika penanganan kasus dilakukan secara parsial. Perwakilan RI di Malaysia, Hongkong, Saudi Arabia, dan Kuwait akan selalu menghadapi kasus serupa berulang-ulang tanpa penyelesaian kasus secara komprehensif yang seharusnya melibatkan pihak-pihak terkait mulai PPTKIS, agensi, majikan, pemerintah Indonesia, dan pemerintah negara penempatan. Pemerintah seharusnya segera mengambil peranan koordinasi tersebut dengan lebih baik lagi.

Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif
3.29 Pemerintah dhi. Kemenakertrans dan BNP2TKI telah menetapkan regulasi yang mengatur proses pendataan kedatangan, pengaturan transportasi, dan penanganan TKI bermasalah. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjamin TKI dapat sampai daerah asalnya dengan cepat, mudah, murah, dan selamat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa koordinasi pendataan kedatangan TKI secara terpadu antara BNP2TKI dengan pengelola bandara dan imigrasi tidak optimal. Tidak ada mekanisme yang baku untuk memastikan bahwa penumpang pesawat yang mendarat di bandara internasional adalah TKI, sehingga ada kemungkinan penumpang yang bukan TKI didata sebagai TKI, demikian juga sebaliknya. Proses penetapan operator armada transportasi tidak melalui evaluasi teknis, kinerja dan kelayakan operator/armadanya secara baku dan transparan, sehingga banyak operator angkutan pemulangan TKI ke daerah asal tidak bisa memenuhi jumlah kuota armada yang telah ditentukan. Penempatan staf BP3TKI sebagai petugas kontrol Surat Perintah Jalan di rumah singgah tidak dilakukan. Pengecekan kelaikan armada dan pengemudi tidak dilakukan karena tidak ada pegawai BNP2TKI yang kompeten dalam bidang teknis mesin kendaraan angkutan TKI. Pengecekan hanya dilakukan sebatas Surat Perintah Jalan, administrasi kendaraan, dan pengemudi. Pemberian sanksi kepada operator yang melakukan pelanggaran tidak konsisten yang terlihat dari sanksi yang berbeda-beda tiap operator. Pengurusan pengajuan klaim asuransi TKI bermasalah yang dibantu oleh BNP2TKI melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memunculkan pertanyaan mengenai beban pembiayaan LBH yang berasal dari APBN untuk jasa pengurusan klaim asuransi TKI, selain juga mengenai mekanisme penunjukan

3.30

3.31

53 dan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH yang tidak jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH kepada BNP2TKI sebagai pemberi tugas. Mekanisme penyerahan klaim kepada TKI juga tidak jelas. Rekomendasi 3.32 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala BNP2TKI baik bersamasama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk segera : • melakukan evaluasi menyeluruh peraturan perundangan, kebijakan, sistem, dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri; • melaksanakan moratorium (penghentian pengiriman sementara) TKI informal ke negara yang belum memiliki peraturan yang melindungi TKI dan/atau perjanjian tertulis (MoU) dengan Pemerintah RI; • mengkaji dan menetapkan kembali biaya penempatan TKI yang proporsional dan riil; • menetapkan dan melaksanakan standar baku penyiapan, pengelolaan, dan monitoring/evaluasi perekrutan TKI; • menetapkan standardisasi perizinan lembaga pengujian kesehatan calon TKI untuk menjamin validitas sertifikasi kesehatan calon TKI; • menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi fungsi BLKLN secara jelas, terprogram, dan terarah; • memastikan kapasitas BNSP agar dapat melaksanakan fungsi pengawasan atas kegiatan LSP secara terprogram dan terarah; • menetapkan batas kewenangan Kemenakertrans, BNP2TKI, dan dinas tenaga kerja secara jelas dan terkoordinasi dengan baik dalam semua lini pengurusan dokumen keberangkatan TKI; • menetapkan dan menegakkan regulasi pengelolaan asuransi yang jelas dan berpihak pada TKI; • menyelenggarakan sistem informasi TKI terpadu yang andal dan dapat diakses Perwakilan RI di luar negeri; • menetapkan program pembinaan/monitoring pada Atase Tenaga Kerja yang terarah serta penyediaan prasarana, SDM, dan dana yang cukup dan cepat dalam upaya perlindungan dan pembinaan TKI; • memperbaiki regulasi penempatan TKI yang lebih menekankan pendekatan perlindungan TKI khususnya regulasi pra penempatan dan

54 menetapkan mekanisme penanganan kasus TKI pada Perwakilan RI di luar negeri yang terstruktur secara efektif; • mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pendataan, mekanisme pemulangan, dan mekanisme penanganan kasus dan pengajuan klaim asuransi TKI pada bandara-bandara internasional tempat kedatangan TKI; dan • mengenakan sanksi secara tegas dan konsisten kepada PPTKI, BLKLN, Lembaga Pengujian Kesehatan calon TKI, LSP, dan perusahaan/ konsorsium asuransi TKI serta pihak lain yang terkait, yang melanggar ketentuan dan/atau standar yang telah ditetapkan dalam pelayanan kepada TKI. 3.33 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

55

BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009
4.1 Krisis keuangan global yang menimpa sektor perbankan dan keuangan dunia dipicu oleh munculnya krisis atas subprime mortgage di Amerika Serikat dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada Tahun 2007. Krisis tersebut berdampak pada kelemahan dalam pengaturan industri keuangan dan sistem keuangan global, serta pada penurunan kinerja perekonomian dunia pada Tahun 2008, dan berlanjut pada Tahun 2009. Sesuai dengan UU Nomor 41 Tahun 2008 Pasal 23 tentang APBN TA 2009, Pemerintah menyampaikan usulan tentang upaya mengatasi dampak krisis global melalui program Stimulus Fiskal (SF) APBN TA 2009 kepada Panita Anggaran DPR RI. Rapat kerja Panitia Anggaran DPR RI dan Pemerintah tanggal 24 Februari 2009 memutuskan bahwa alokasi anggaran program/ kegiatan SF APBN TA 2009 senilai Rp73,30 triliun. Alokasi anggaran program/ kegiatan SF tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan senilai Rp56,30 triliun (76,81%) dan stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun (23,19%). Dari jumlah stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun tersebut, dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur senilai Rp12,20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi senilai Rp4,80 triliun. Program/kegiatan SF belanja infrastruktur mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran stimulus belanja untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya pada program/ kegiatan terkait dengan penanganan bencana, pembangunan jalan, jembatan dan irigasi, percepatan infrastruktur lanjutan, pengembangan bandara, jaringan kereta api, pelabuhan laut dan penyeberangan, pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani, dan pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus nelayan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur pada enam objek pemeriksaan di delapan kementerian dengan lokasi pemeriksaan di 18 provinsi dengan rincian sebagai berikut. • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. • Kementerian Keuangan di Jakarta. • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta.

4.2

4.3

4.4

56 • Kementerian Pekerjaan Umum di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. • Kementerian Perhubungan di sembilan provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. • Kementerian Pertanian di tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. • Kementerian Kelautan dan Perikanan di empat provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. 4.5 Selain itu, pemeriksaan untuk bidang pekerjaan umum (PU) juga dilakukan di 26 dinas provinsi/kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Bengkulu, Jambi, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Entitas yang diperiksa untuk bidang PU meliputi Dinas Bina Marga (BM) dan Pengairan Kabupaten Bogor, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten Demak, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Nganjuk, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Dinas PU BM dan Cipta Karya (CK) Kabupaten Tulungagung, Dinas PU Kota Palangkaraya, Dinas PU Kabupaten Barito Kuala, Dinas PU Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Dinas PU Kabupaten Takalar, Dinas PU Kabupaten Maros, Dinas PU Kabupaten Gowa, Dinas PU Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas PU Kabupaten Sorong, Dinas PU Kabupaten Sorong Selatan, Dinas PU Kabupaten Mukomuko, Dinas PU Kabupaten Kepahiang, Dinas PU Kabupaten Bungo, Dinas PU Kabupaten Merangin, Dinas Kimpraswil Provinsi NTT, Dinas PU Kabupaten Manggarai Timur, Dinas PU BM, dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Donggala, Dinas PU Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara, Dinas PU Kabupaten Halmahera Timur, Dinas PU BM, Tata Ruang, Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun, Dinas CK dan Perumahan Kabupaten Asahan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 pada delapan kementerian dan 26 dinas provinsi/kabupaten/kota adalah senilai Rp4,10 triliun dari realisasi belanja Rp6,13 triliun atau 66,84%.

4.6

4.7

57

Tujuan Pemeriksaan
4.8 Tujuan pemeriksaan atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 untuk menilai apakah • Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF Tahun 2009 pada belanja infrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK; dan • Pelaksanaan kegiatan SF bidang insfrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

Sasaran Pemeriksaan
4.9 Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. • Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan. • Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan.

Kriteria Pemeriksaan
4.10 Kriteria penilaian efektivitas pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF belanja infrastruktur beserta implementasinya secara nasional di tingkat pusat maupun daerah dalam pencapaian tujuan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur dalam pemeriksaan ini menggunakan kriteria pengelolaan yang baik (model of good management) yang dimuat di berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kriteria tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan area kunci pada pemeriksaan pendahuluan dan telah dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa.

Hasil Pemeriksaan
4.11 Hasil pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menyimpulkan bahwa, walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4,5% di tengah krisis keuangan dunia, pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan serta pelaksanaan SF belanja infrastruktur Tahun 2009, yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah, belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Hal tersebut dibuktikan adanya 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151,49 miliar atau

58 3,69% dari realisasi anggaran yang diperiksa dengan jumlah tenaga kerja tidak terserap minimal sebanyak 216.520 Orang Hari (OH), yang disebabkan oleh kelemahan kebijakan, sistem/prosedur perencanaan, penganggaran, dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketaatan pada asas kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan yang kurang dipenuhi.

Kelemahan Kebijakan
4.12 Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009, BPK menemukan kelemahan kebijakan yang telah mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Kelemahan kebijakan tersebut terjadi baik di tingkat pembuat kebijakan makro yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), maupun di tingkat kementerian pelaksana program/ kegiatan stimulus. Temuan-temuan signifikan terkait kelemahan kebijakan di antaranya adalah sebagai berikut. • Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian dana SF infrastruktur sebagai belanja barang ke daerah yang dilaksanakan dalam keadaan krisis ekonomi, tidak mempunyai landasan hukum yang dapat menjamin kepastian hukum sampai dengan terbitnya UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN TA 2009. Di samping itu, kriteria kondisi darurat atas krisis ekonomi hanya ditetapkan dalam UU APBN 2009 yang hanya berlaku untuk tahun tersebut. Dengan demikian, walaupun secara umum ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur mekanisme penanganan di saat krisis, hal tersebut belum komprehensif dan terintegrasi untuk menangani kondisi krisis secara cepat, tepat, dan akuntabel. • Di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan, perhitungan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja belum ada standar/pedomannya, sehingga laporan jumlah tenaga kerja yang terserap tidak dapat diyakini akurasinya serta belum dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen. Lebih jauh lagi, di tingkat satuan kerja (satker) pelaksana kegiatan SF belanja infrastruktur, penetapan target dan perhitungan realisasi tenaga kerja tidak didasarkan atas perhitungan yang baku dan berbeda antara satu satker dengan satker lainnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) yang bebas PPN masih memperhitungkan pengenaan PPN senilai Rp4,80 miliar berakibat hilangnya kesempatan membangun 96 unit RNRB senilai Rp4,80 miliar yang dapat menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 576 orang.

59 • Di Kementerian Pertanian, realokasi anggaran dan pemilihan program/ kegiatan SF melalui mekanisme APBN-P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran dalam mendukung pencapaian tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengatasi PHK. Penyebab 4.13 Pemerintah belum memiliki ketentuan perundang-undangan dan mekanisme yang komprehensif dan terintegrasi untuk dapat menjamin kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. Menteri PU dan Menteri Perhubungan belum menetapkan standar/pedoman mengenai perhitungan tenaga kerja, Menteri Kelautan dan Perikanan dhi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) belum memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan RNRB mengenai pembebasan PPN, dan Menteri Pertanian tidak konsisten dalam menjalankan program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Rekomendasi 4.15 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan di antaranya kepada pemerintah, dalam hal ini • Menteri Keuangan, agar berkoordinasi dengan menteri terkait dalam membuat protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam rangka menghadapi krisis ekonomi di masa yang akan datang, dan memastikan bahwa kebijakan anti krisis dilakukan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Protokol tersebut agar ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna memberikan jaminan kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. • para menteri dimaksud agar membuat pedoman/standar dan memberikan panduan serta konsisten dalam melaksanakan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur.

4.14

Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran, Pemilihan Program/Kegiatan, dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur
4.16 Dalam pemeriksaan kinerja program/kegiatan SF belanja infrakstruktur Tahun 2009, BPK menemukan permasalahan-permasalahan efektivitas pengalokasian anggaran, pemilihan program/kegiatan, dan pencapaian tujuan program stimulus fiskal belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan yang ditemukan di antaranya sebagai berikut. Pemerintah kurang mendukung tercapainya tujuan penyerapan tenaga kerja dalam memilih program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Paket-paket kegiatan yang dipilih sebagian besar bukan padat karya dan merupakan paket

4.17

pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Badan Karantina Pertanian senilai Rp51. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen Bina Marga di Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu para pihak tersebut belum sepenuhnya menggunakan penyerapan tenaga kerja sebagai kriteria utama pemilihan program. di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi).25 miliar. • Di Kementerian Pertanian. . pemilihan lokasi 38 unit RNRB tidak tepat. namun belum ada sumber dananya. Sampang. Jaringan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur sebagai tambahan dana dua kontrak tahun jamak senilai Rp100. • Di Kementerian ESDM. Bila dikaitkan dengan kriteria program yang mendapatkan tambahan alokasi belanja dalam rangka SF 2009 dari Kementerian Keuangan. dan Gardu Induk senilai Rp425.00 miliar. Hasil studi tenaga ahli BPK RI dari FE UI menunjukkan bahwa sebagian besar dari proyek yang dilaksanakan di daerah adalah proyekproyek yang dibutuhkan. sehingga penggunaan anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur senilai Rp1. Hal ini mendukung hasil evaluasi BPK bahwa program yang didanai oleh SF belanja infrastruktur Tahun 2009 belum sepenuhnya efektif dalam mendukung tujuan peningkatan daya serap tenaga kerja dan pengurangan PHK. di antaranya digunakan untuk Pembangunan Gedung Teknik dan Metoda Karantina Pertanian Tahap IV senilai Rp35.19 Pemerintah. berada di kawasan sempadan pantai dan sungai yang terjadi di Kabupaten Brebes.66 miliar. para menteri. sebagai pihak yang memiliki kewenangan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen LPE untuk Pembangunan Transmisi. Probolinggo.60 pekerjaan tahun jamak yang tidak menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan.18 Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. • Di Kementerian Perhubungan. 4. gubernur/walikota/bupati dan para kepala dinas terkait. • Di Kementerian PU. program yang dilaksanakan di daerah penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan dan kegiatan dapat diselesaikan dalam Tahun 2009. dan Kota Pekalongan.00 miliar.42 miliar kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. belum menetapkan kebijakan yang diperlukan terkait dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi PHK.00 miliar pada Ditjen Perhubungan Udara. yang dilaksanakan secara tahun jamak sejak Tahun 2008. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. untuk kontrak tahun jamak yang di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi) senilai Rp5. Penyebab 4. yang sifat pekerjaannya padat modal dan padat teknologi sehingga tidak akan menyerap tenaga kerja yang optimal.

tepat sasaran. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. • Di Kementerian PU. Salah satu indikator keberhasilan program/kegiatan SF adalah tercapainya target yang telah ditetapkan. energi. hasil pemeriksaan pada 9 Kegiatan Stimulus Pusat (KSP) dan 26 Kegiatan Stimulus Daerah (KSD) atas pelaksanaan pekerjaan bidang SDA.41 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 134. Pada program/kegiatan SF belanja infrastruktur Tahun 2009. pemerintah hendaknya mempergunakan dasar yang jelas sesuai dengan tujuan SF. BPK menemukan sebanyak 60 kasus pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target volume fisik yang ditetapkan senilai Rp84.21 Hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan permasalahan-permasalahan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur.492 OH. Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan SF Belanja Infrastruktur 4. Permasalahan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang tidak mencapai target volume dan permasalahan yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara.48 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 208. Pengusulan program/kegiatan oleh kementerian lebih memperhatikan tujuan dan kebijakan yang melandasinya. bidang bina marga. BPK telah merekomendasikan agar dalam memilih program-program/kegiatan-kegiatan SF. Hasil pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target yang ditetapkan.61 Rekomendasi 4. Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. Permasalahan signifikan di antaranya sebagai berikut. pertanian. 4. Dengan demikian hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang PU tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp30. perhubungan.16 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH yang antara lain pada pekerjaan pembangunan tanggul banjir Sungai Kasi (tahap II) Kabupaten Manokwari. Dasar pemilihan program tersebut hendaknya tercantum dalam suatu crisis management protocol yang perlu disusun untuk menjamin bahwa kebijakan anti krisis ekonomi bisa direncanakan dan dilaksanakan secara tepat waktu. sebanyak 17 kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum berindikasi merugikan negara senilai Rp41. Di antara kasus-kasus tersebut. indikator yang dapat digunakan adalah tercapainya target volume fisik yang direncanakan dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan sesuai dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. dan akuntabel.581 OH.22 . dan bidang cipta karya ditemukan kekurangan volume pekerjaan. di antaranya hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target volume senilai Rp1.20 Terhadap permasalahan tersebut.24 miliar. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009.

105 OH.35 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 46. Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Waterpass dan Theodolite • Di Kementerian Perhubungan.23 Kasus-kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara di antaranya sebagai berikut. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang perhubungan tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp12. . hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang pekerjaan umum tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp4. • Di bidang perhubungan Provinsi Maluku Utara.62 Gambar 4. Dengan demikian.616 OH. perhitungan RAB kontrak tidak sesuai dengan SNI tentang analisa biaya konstruksi (ABK) bangunan gedung dan perumahan pekerjaan pondasi sehingga berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp5. Ditjen Perhubungan Laut. Provinsi Papua Barat. Ditjen Perkeretaapian.1. kekurangan volume pekerjaan dalam 113 kontrak pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara.53 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 2. • Di KSD Teluk Bintuni. pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi Saluran Induk I & II Tuaraisah tidak dikerjakan sesuai dengan kontrak. 4.74 miliar. Dengan demikian. proses pengadaan pembangunan fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate tidak sesuai ketentuan. dan Ditjen Perhubungan Darat.

• Di Kementerian Pertanian.63 4. • Di Kementerian ESDM.25 Potensi kerugian negara/daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. hasil pengadaan 283 unit alat Global Positioning System (GPS) senilai Rp3. hasil pengembangan fasilitas pembangunan DME berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. tingginya biaya produksi dan biaya operasional serta efisiensi alat rendah. pemeriksaan BPK juga menemukan permasalahan lain yang spesifik di masing-masing kementerian.19 juta dan mengakibatkan lebih bayar senilai tersebut. sehingga berpotensi terjadinya hilang/rusak aset negara tersebut dan aset tersebut sampai berakhirnya pemeriksaan belum dimanfaatkan.64 miliar belum sepenuhnya efektif dalam mencapai tujuan penganekaragaman sumber energi masyarakat. dan Papua Barat tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat. Papua. Akibatnya hasil pengadaan kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. di antaranya karena ketiadaan pasokan bahan baku. • Di Kementerian Perhubungan. Akibatnya. yang terbukti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan kembali menggunakan bahan bakar konvensional. hasil 21 paket pekerjaan Desa Mandiri Energi (DME) bahan bakar nabati di 26 lokasi senilai Rp19. • Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2009 dan Peraturan Menteri PU Nomor 09/PRT/M/2009 tanggal 17 April 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran SF Bidang Pekerjaan Umum untuk kegiatan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah jelas menyatakan bahwa keluaran/aset yang diperoleh dari KSD menjadi barang milik daerah dan tidak masuk menjadi aset kementerian.79 miliar pada Setjen Kementerian Pertanian belum dimanfaatkan karena belum didistribusikan kepada dinas perkebunan provinsi/kabupaten sesuai dengan rencana. 4. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. pengenaan PPh final jasa konstruksi pada 33 kabupaten/kota kurang senilai Rp544. surat . Aset hasil KSD di 22 provinsi/kabupaten/kota tidak dicatat dan dilaporkan sebagai mutasi tambah nilai aset dalam LBMD maupun neraca dinas pelaksana KSD dan pemerintah daerah. Selain itu GPS yang diadakan memiliki fitur yang melebihi kebutuhan. aset hasil pengadaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada tiga satker Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan. mengakibatkan aset hasil KSD tidak tersaji dalam neraca pemerintah daerah per 31 Desember 2009 dan berpotensi tidak terpelihara.24 Selain permasalahan signifikan di atas.

4.09 miliar diantaranya sebagai berikut. • Di Kementerian PU. Provinsi Kalimantan Selatan. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 14 kasus senilai Rp9.28 Terkait dengan permasalahan hasil pelaksanaan yang tidak mencapai target dan potensi kerugian negara/daerah. • Di KSP Provinsi Jawa Tengah. tidak cermat dalam merancang dan menyusun volume pekerjaan serta evaluasi harga satuan kontrak. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja bidang pekerjaan umum tahun 2009 belum dikenakan denda senilai Rp712. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. dan Kalimantan Selatan. 4. perhubungan. • Di KSD Kabupaten Barito Kuala. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan Tahun 2009 belum dikenakan denda. pertanian. sedangkan pada permasalahan yang berindikasi merugikan negara karena diduga .43 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.05 miliar. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum.23 miliar. Penyebab 4. dan barang. Kalimantan Tengah.27 Dari kasus-kasus terkait dengan hasil pelaksanaan pekerjaan yang tidak mencapai target volume kontrak dan kekurangan penerimaan telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah senilai Rp21.17 juta serta pajak galian golongan C belum dipungut senilai Rp1.14 miliar. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp5. energi.64 berharga. Papua Barat. KSD pada Kabupaten Halmahera Timur. pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab kurang optimal dan lalai dalam pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat 11 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi dan mengakibatkan potensi kerugian negara/daerah pada Kementerian Pekerjaan Umum di antaranya sebagai berikut.26 Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • Di Kementerian Perhubungan. yang nyata dan pasti jumlahnya. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp2.

pejabat yang bertanggung jawab agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian pekerjaan fisik lapangan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Perhubungan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut 4. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar menyetorkan kelebihan pembayaran/kekurangan penerimaan atas pekerjaan yang tidak mencapai target dan memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala Pusdatin tidak cermat dalam merencanakan dan menentukan kebutuhan serta mengalokasikan anggaran. kebijakan terkait barang milik daerah hasil KSD belum ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.31 4. kuasa pengguna anggaran (KPA) tidak optimal melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan di Kementerian Perhubungan. Di Kementerian ESDM.35 4. selain itu pejabat pembuat komitmen (PPK) lalai dalam mengendalikan dan mengawasi serta memonitor pengadaan barang/jasa. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki pekerjaan dan menyampaikan bukti perbaikannya.33 4.65 terdapat unsur perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. Di Kementerian Perhubungan. Di Kementerian Pertanian.34 Terhadap permasalahan-permasalahan hasil pekerjaan yang tidak mencapai target tersebut.30 Di Kementerian PU. 4. dan memberikan sanksi kepada pihak terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. selain itu pengawas lapangan dan konsultan pengawas lalai dalam melakukan pengawasan pekerjaan. KPA dhi. dan permasalahan kekurangan penerimaan.36 . mengusulkan pekerjaan dengan lebih cermat.29 4. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Terhadap permasalahan-permasalahan potensi kerugian negara/daerah. BPK telah merekomendasikan para gubernur/bupati/walikota agar berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk segera memproses serah terima aset hasil kegiatan stimulus dan mencatatnya dalam LMBD dan neraca. Rekomendasi 4. Terkait dengan permasalahan pencatatan aset di Kementerian PU.32 4. Dirjen Listik dan Pemanfaatan Energi (LPE) kurang cermat dalam merencanakan kegiatan dan kurang mengawasi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan. Selain itu. pejabat terkait kurang melakukan sosialisasi dan pengawasan serta tidak cermat dalam memperhitungkan PPh final atas jasa konstruksi. selain yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum.

37 Di Kementerian Pertanian. Kepala Pusdatin dan PPK serta untuk segera mendistribusikan 283 unit GPS sesuai peruntukannya disertai BAST secara lengkap. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Pertanian agar memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada KPA dhi. BPK telah merekomendasikan Menteri Kelautan dan Perikanan agar menginstruksikan Dirjen KP3K supaya melaporkan kekurangan pemungutan PPh final atas pembangunan RNRB pada 33 kabupaten/kota senilai Rp544. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan.39 4.19 juta kepada Dirjen Pajak untuk dilakukan penetapan dan penagihannya. Di Kementerian ESDM. BPK telah merekomendasikan Menteri ESDM antara lain agar memerintahkan kepada Dirjen LPE untuk mengupayakan secara bersungguh-sungguh pemanfaatan atas seluruh peralatan DME berbasis BBN tersebut sesuai tujuan pembangunannya.40 .66 supaya memerintahkan para kepala satker untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan serta mencatat sisa pengadaan sebagai aset persediaan. 4. 4.38 4. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

Semester I TA 2010 pada 15 objek pemeriksaan. di antaranya sekitar 5.76 juta ha.38 juta ha (69.5 5.6 . Menurut data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) Kementerian Kehutanan. khususnya hutan mangrove. Hal tersebut sesuai dengan lingkup pemeriksaan kinerja yang mencakup pengelolaan hutan mangrove periode TA 2005 s. yaitu Kementerian Kehutanan termasuk unit 5.4 5. luas hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2006 diperkirakan 7. Dalam Semester II Tahun 2010. Hutan mangrove juga berfungsi mengurangi dampak tsunami melalui dua cara yaitu.33%) dalam keadaan rusak. baik pusat maupun daerah yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi tanpa adanya usaha untuk menjaga keseimbangan (kelestarian) alam. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja yang diarahkan pada pengelolaan hutan mangrove yang berada di kawasan Selat Malaka.67 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove 5.2 5. dan Kepulauan Riau.1 Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.3 5. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan akibat dari kebijakan pemerintah. Selat Malaka juga menampung berbagai cemaran dari sampah padat maupun cair yang berasal dari Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaka (Malaysia) yang mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove. pantai barat dan selatan Kalimantan. serta di pantai barat daya Papua. mengurangi kecepatan air karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat dan mengurangi volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. juga sebagai tempat pemijahan atau penyeleksian benih dan asupan (nursery) ikan. Pemilihan Selat Malaka dilakukan karena selat ini merupakan perairan yang padat dilalui oleh berbagai macam kapal sehingga berpotensi tinggi terhadap pencemaran. Hutan mangrove di kawasan Selat Malaka sebagian besar berada di wilayah administratif kabupaten/kota pada Provinsi Sumatera Utara. Riau. Terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah membangkitkan kesadaran dan pemahaman akan nilai pentingnya vegetasi atau hutan yang tumbuh di kawasan pesisir pantai. Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama kehidupan di wilayah pesisir karena selain sebagai habitat biota laut. Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di sepanjang garis pantai timur Sumatera (Selat Malaka).d.

Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 . dan Kota Dumai). Provinsi Riau (Kab. erosi. sedimentasi. Kab. Kota Batam. Bengkalis. dan konservasi hutan mangrove masih kurang efektif untuk memulihkan. Rokan Hilir. perlindungan. dan konservasi hutan mangrove dalam memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai. Kab.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukan adanya kelemahan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku baik yang dilakukan oleh pihak Kementerian Kehutanan. perlindungan. dinas kehutanan provinsi dan kabupaten/kota serta instansi terkait lainnya di Jakarta (Pusat).10 abrasi abrasi Gambar 5. serta Kepulauan Riau (Kab. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi. dan Kota Dumai belum memadai mengakibatkan berkurangnya luasan daratan di kabupaten tersebut tidak tertangani dengan baik. Batubara. dinas kehutanan provinsi/kabupaten/kota. Kab.68 pelaksana teknis (UPT). pemanfaatan. Penanggulangan abrasi di Selat Malaka oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Kab. Kab.1.9 Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurang mempertimbangkan fungsi dan luas kawasan hutan minimal 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) berpotensi mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. Kebijakan 5. Natuna. dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai dengan rincian sebagai berikut. dan pihak-pihak lainnya. dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. Bintan. Bengkalis. Provinsi Sumatera Utara (Kab. Tujuan Pemeriksaan 5. Karimun. Asahan. Kab. dan Kota Tanjungpinang).7 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan rehabilitasi. 5. Langkat. Serdang Bedagai). UPT. Rokan Hilir. dan Kab. pemanfaatan. Indragiri Hilir. Kab. Hasil Pemeriksaan 5. Deli Serdang.

82 juta. dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan.69 Kegiatan Rehabilitasi Hutan Mangrove 5. meningkatkan.10 juta tidak efektif mengakibatkan tujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tidak tercapai. Pembuatan model tanaman mangrove pada Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan seluas 50 ha senilai Rp289. 5. 5. Selain itu terdapat kerugian ekonomis senilai Rp153.13 Kegiatan Pemanfaatan Hutan Mangrove 5.14 Usaha pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove di sempadan sungai yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi.66 miliar tidak efektif dan terjadi kerugian negara senilai Rp180. sehingga tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai. Selain itu. keunikan alam serta menimbulkan kerugian ekonomis senilai Rp779.2.61 miliar.588 ha dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat dan mengakibatkan hilangnya fungsi SM KG/LTL sebagai kawasan pelestarian alam. satwa. .12 5. 2009.11 Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2005 s.d.309.00 juta.15 Gambar 5. kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Kabupaten Natuna seluas 200 ha senilai Rp1. Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Hutan Mangrove 5.18 ha di Kota Tanjungpinang tidak sesuai dengan ketentuan berpotensi mengakibatkan hilangnya kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung. Pemberian hak guna bangunan (HGB) pada kawasan hutan mangrove seluas 1.16 Hutan mangrove di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading/Langkat Timur Laut (KG/LTL) di Kabupaten Langkat minimal seluas 6.

pemanfaatan. Penyebab 5.19 Terhadap permasalahan tersebut.17 Hutan mangrove di areal eks Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Bakau PT SBB dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat mengakibatkan semakin rusaknya hutan mangrove. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut atas kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.70 5. serta tidak cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Atas temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.18 Hal tersebut disebabkan oleh pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam mentaati ketentuan dan peraturan yang berlaku. perlindungan. 5. dan konservasi hutan mangrove.20 . Rekomendasi 5. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati Natuna untuk menagih kelebihan pembayaran dan menyetorkan ke kas negara.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman penyewaan pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. dan • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman pelayanan katering dan akomodasi di Arafah. Dalam Semester II Tahun 2010. 6.1 Penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama. Hasil Pemeriksaan 6.5 Berdasarkan hasil pemeriksaan. belum sepenuhnya efektif memberikan pelayanan kepada jemaah haji. 6.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M sudah memadai untuk mencapai efektivitas pelayanan ibadah haji. dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi calon/jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai ajaran agama Islam. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. Indikator 6. yaitu: • penyelenggara ibadah haji telah memiliki prosedur baku yang memperhatikan kecepatan pelayanan pendaftaran. Musdalifah.6 .71 BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 6.2 Tujuan Pemeriksaan 6. Masalah-masalah pokok yang mendorong belum efektifnya penyelenggaraan ibadah haji dapat diuraikan sebagai berikut. kemudahan calon jemaah haji (calhaj) dalam pengurusan haji dan memperoleh kepastian porsi dan pemberangkatan. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan minimal (SPM) embarkasi/debarkasi kepada jemaah haji. dan Mina (Armina). pelunasan dan pembatalan haji. pelayanan. disimpulkan bahwa penyelenggara ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.4 Penilaian atas kinerja penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M didasarkan pada lima indikator utama. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan transportasi kepada jemaah haji.

Kakanwil Provinsi. pelunasan. dan calhaj belum mendapatkan perhatian yang sama dalam pembagian sisa kuota haji karena penetapan sisa kuota haji belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi. pelunasan dan pembatalan haji. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • menetapkan dan mensosialisasikan SPM tentang Pendaftaran. pelunasan. pelunasan dan pembatalan haji belum ditetapkan dan disosialisasikan oleh Menteri Agama. calhaj memerlukan waktu yang lama untuk menerima pengembalian dana atas pembatalan haji. • kurangnya jumlah sumber daya manusia dan pembagian tugas yang jelas dalam melayani proses pendaftaran. dan pembatalan haji. dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi secara tertulis tentang 6. Pelayanan pendaftaran. Penyebab 6. calhaj tidak diberikan informasi tertulis mengenai perkiraan tahun keberangkatan. Rekomendasi 6. • memerintahkan secara berjenjang kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU).7 Pada tahap pendaftaran.9 Permasalahan tersebut disebabkan: • standar pelayanan minimal tentang pendaftaran. • Kankemenag tidak memberikan informasi secara tertulis tentang kewajiban untuk melakukan pelunasan haji kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat. dan • kebijakan yang mengatur tentang penetapan sisa kuota haji provinsi belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi yang cukup signifikan. Namun demikian. dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pendaftaran Haji dan PMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PMA Nomor 15 Tahun 2006 serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji.8 .72 Pelayanan Pendaftaran. dan Pembatalan Haji 6. PMA tersebut belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan). Pelunasan dan Pembatalan Haji. Pelunasan.10 Terhadap permasalahan tersebut.

Pelayanan kepada Jemaah Haji di seluruh Embarkasi 6.12 Pelayanan Transportasi Udara dan Darat di Arab Saudi 6. pelunasan dan pembatalan haji. calhaj memerlukan waktu yang cukup lama dalam menerima pelayanan kesehatan.73 perkiraan tahun keberangkatan calhaj pada saat melakukan pendaftaran dan memberikan informasi secara tertulis kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat sesuai daerahnya masing-masing. jadwal.11 Pada tahap pelayanan di embarkasi. Demikian pula informasi mengenai keterlambatan penerbangan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar menetapkan dan mensosialisasikan SPM yang berlaku di seluruh embarkasi serta meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan di embarkasi. sarana dan prasarana pada setiap embarkasi bervariasi.16 . memenuhi kekurangan sumber daya manusia dan membuat pembagian tugas yang jelas untuk tiap bagian pelayanan pendaftaran. menetapkan sisa kuota haji provinsi harus dengan memperhatikan perbedaan daftar waiting list calhaj antar provinsi yang signifikan. Penyebab 6. 6. calhaj tidak diberikan kepastian informasi perubahan titik penjemputan.13 Permasalahan tersebut terjadi karena Menteri Agama belum selesai merumuskan SPM penyelenggaraan ibadah haji pada seluruh embarkasi.14 Terhadap permasalahan tersebut. Pelayanan penyelenggaraan haji yang meliputi prosedur. waktu. belum ditetapkan. 6. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dalam melayani Jemaah Haji Indonesia.15 Pada tahap pelayanan transportasi di Arab Saudi. • memerintahkan kepada Dirjen PHU untuk a. dan jumlah bus yang beroperasi sehingga menimbulkan penumpukan jemaah terutama pada hari-hari awal operasional. Standar pelayanan transportasi. Hal ini disebabkan oleh Tim Kesehatan tahap 1 dan 2 belum seluruhnya mengisi buku kesehatan jemaah haji secara lengkap dan sebagian calhaj tidak dapat membuktikan telah menerima vaksin. dan a. Kondisi ini menimbulkan kekurangnyamanan atas beberapa pelayanan yang diterima oleh jemaah haji. Rekomendasi 6.

Selain itu.18 . • Meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan memperjelas rumusan tugas dan wewenang masing-masing kementerian khususnya terkait kebijakan penerbangan haji. b. menginstruksikan kepada Direktur Pelayanan Haji agar 1. Rekomendasi 6.19 Terhadap permasalahan tersebut. ketidakjelasan tugas dan wewenang antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan dalam menetapkan kebijakan transportasi udara turut menghambat peningkatan pelayanan transportasi udara Jemaah Haji. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar. mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi dengan pihak penerbangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada jemaah atas keterlambatan pesawat dan memberikan kepastian informasi apabila terjadi keterlambatan pesawat.17 Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya konsep atau mekanisme pengelolaan transportasi shuttle bus yang jelas dari Muassasah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji sehingga menimbulkan permasalahan. konsisten dalam melaksanakan perencanaan transportasi shuttle bus yang telah disusun dan membuat alternatif perencanaan pelayanan transportasi shuttle bus. dan c. Permasalahan-permasalahan yang sifatnya yang tidak dapat dikendalikan tersebut diperlemah dengan kurang memadainya penanganan yang dilakukan oleh petugas/penyelenggara haji untuk mengatasi kelelahan jemaah dan memberikan informasi mengenai kepastian keberangkatan pesawat serta menjamin hak-hak jemaah mendapatkan kompensasi dari perusahaan penerbangan. pelayanan transportasi udara masih dihadapkan pada permasalahan keterlambatan pesawat yang penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti terbatasnya fasilitas bandara Arab Saudi.74 6. menginstruksikan PPIH Arab Saudi agar meningkatkan pengawasan pelayanan transportasi jemaah haji. • Memerintahkan Dirjen PHU untuk a. antara lain penumpukan jemaah pada waktu menunggu bus. dan 6. • Segera menetapkan SPM dan pedoman pelayanan khususnya transportasi shuttle bus di Arab Saudi serta menyusun perencanaan dan kontrak transportasi shuttle bus secara matang dengan melakukan koordinasi antar pihak-pihak terkait. Selain itu.

masih banyak jumlah pemondokan di Ring II atau di luar Markaziah yang berjarak lebih dari 2 km dari Masjidil Haram di Mekkah dan masih terdapat penempatan jemaah haji yang melebihi kapasitas rumah yaitu sebanyak 105 dari 424 rumah. dan masih ada jemaah haji (16. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk membuat standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan memerintahkan Dirjen PHU untuk • mengoptimalkan penyewaan rumah di Mekkah yang berada di ring I dan mengurangi jumlah penyewaan rumah di ring II. realisasi penempatan jemaah haji belum 100% berada di Markaziah dan penetapan Majmu’ah 1430 H belum memperhatikan kinerja Tahun 1429 H dan 1428 H.75 2. beragamnya metode penetapan calhaj dalam suatu kloter pada setiap provinsi berakibat tidak diperolehnya transparansi dan persamaan hak bagi jemaah haji.23 Terhadap permasalahan tersebut. Selain permasalahan di atas. kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji dalam beribadah menjadi berkurang. Pelayanan Pemondokan di Arab Saudi 6. Realisasi penyewaan perumahan di Mekkah tidak memenuhi target awal yang ditetapkan dan penempatan jemaah haji melebih kapasitas yang ditetapkan dalam tasyrih. Rekomendasi 6. Sementara di Madinah. 6.21 .75%). menambahkan klausul sanksi dalam kontrak perusahaan penerbangan terkait kewajiban penyampaian informasi penerbangan dan informasi pemberian kompensasi keterlambatan. serta belum dibuatnya standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter untuk setiap provinsi.22 Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya kerjasama/MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi perihal standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan ketidakpastian pemilik pemondokan dalam memperoleh tasyrih dari Pemerintah Arab Saudi yang akan digunakan Jemaah Haji Indonesia. Penyebab 6.48%) yang menempati pemondokan di luar Markaziah di Madinah. Kondisi tersebut mengakibatkan jemaah haji yang menempati pemondokan di Ring II atau berjarak 2 km lebih dari Masjidil Haram di Mekkah masih cukup banyak (72.20 Pada tahap pelayanan pemondokan di Arab Saudi. dan • membuat standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter yang berlaku untuk seluruh provinsi.

26 Permasalahan pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina terjadi karena kebijakan Direktur Pelayanan Haji tentang pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas kurang tepat. yang mengakibatkan jemaah haji non kuota terlantar.24 Pada tahap pelayanan di Armina.25 . 6. dan meningkatkan risiko berjangkitnya penyakit. dan kebijakan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang memberikan visa kepada jemaah haji non kuota.27 Terhadap permasalahan tersebut. calhaj memerlukan waktu antrian yang cukup lama untuk mendapatkan makanan yang disebabkan oleh pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas. Rekomendasi 6. dan • memerintahkan Dirjen PHU supaya memberikan sanksi kepada PIHK yang melakukan pelanggaran. Penyebab 6. dan potensi tambahan beban yang harus dibayarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji diluar dari anggaran pengeluaran biaya pengelenggara ibadah haji reguler yang telah ditentukan. 6.28 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. mengganggu konsentrasi dan kinerja petugas haji dalam memberikan pelayanan pada jemaah haji reguler. Permasalahan lain yang muncul di Armina yaitu terkait adanya jemaah haji non kuota yang tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler dengan jumlah yang cukup tinggi. dan kebersihan lingkungan di Armina yang belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji.76 Pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina 6. Permasalahan tersebut mengakibatkan waktu antrian cukup lama sehingga menimbulkan kelelahan pada sebagian jemaah haji khususnya yang lanjut usia dan wanita. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji reguler dalam melaksanakan ibadah haji karena adanya penggunaan fasilitas oleh jemaah haji non kuota. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • mengkaji kembali pola pelayanan katering. • meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM serta KBSA untuk meminimalisir jumlah dan mencegah jemaah haji non kuota supaya tidak mengganggu kenyamaan ibadah jemaah haji reguler.

perencanaan. rawat inap. dan farmasi pada umumnya didasarkan pada empat indikator utama.77 BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 7. dan • Manajemen rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai pada proses pelayanan. pelaksanaan.4 Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa manajemen rumah sakit belum efektif dalam mengelola pelayanan rawat inap. dan farmasi. dapat dilihat pada Lampiran 8a. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada 42 rumah sakit daerah di 23 provinsi (Lampiran 53). monitoring dan evaluasi pengelolaan pelayanan rawat inap. Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi dan tata laksana. rawat jalan dan farmasi. • Manajemen rumah sakit telah melaksanakan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dan peraturan lainnya. • Manajemen rumah sakit memiliki perencanaan memadai dalam mengelola pelayanan. dan 8d dengan uraian sebagai berikut: 7. sarana dan prasarana.5 . Hasil Pemeriksaan 7.2 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya untuk menilai efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan.1 Dalam Semester II Tahun 2010. yaitu: • Organisasi dan tata laksana serta sarana dan prasarana rumah sakit telah memadai dan efektif untuk mendukung kegiatan pelayanan. dan farmasi sehingga belum optimal dalam menunjang pelayanan kesehatan yang prima. rawat inap. 8b. 8c. Indikator Pemeriksaan 7. Tujuan Pemeriksaan 7.3 Penilaian kinerja atas efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. rawat jalan.

rawat inap. dan farmasi pada 13 RSUD belum sepenuhnya didukung struktur organisasi yang memadai. serta segera menetapkan struktur organisasi lengkap dengan uraian tugas. Tata Laksana. sistem pengendalian intern atas pengelolaan pelayanan belum sepenuhnya dirancang secara memadai. • Jumlah tenaga medis dan keperawatan pada 14 RSUD belum memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat. Rawat Inap.8 Terhadap permasalahan tersebut.7 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • lalai dan belum sepenuhnya menggunakan pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan belum adanya prosedur baku penanganan keluhan. dan wewenang. • Instalasi rawat jalan. dan tanggung jawab. dan tidak memerhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana. . Selain jumlah pegawai dan keberadaan dokter spesialis yang kurang. wewenang. Rekomendasi 7. tata laksana. Penyebab 7. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati agar memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab • menggunakan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. yaitu struktur organisasi dalam rumah sakit belum sepenuhnya memperhatikan pemisahan fungsi. fungsi.78 Organisasi. • Sarana dan prasarana pada 19 RSUD belum memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sehingga belum memadai dalam memberikan pelayanan. kurang optimal. • kurang memerhatikan perbaikan fasilitas pelayanan. dan farmasi sebagai berikut. dan • lalai dalam perencanaan kebutuhan pegawai dan belum melakukan analisis beban kerja untuk menentukan jumlah pegawai yang betul-betul dibutuhkan. pelayanan belum didukung pegawai yang memiliki keahlian. Sarana dan Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan.6 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi. Rumah sakit juga belum memiliki satuan pengawas intern (SPI) dan belum membentuk bagian khusus penanganan keluhan. dan Farmasi 7. sarana dan prasarana rawat jalan. ketrampilan dan kompetensi yang memadai. rawat inap. Selain itu. tanggung jawab. serta keterbatasan anggaran.

dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. rawat inap. dan prasarana. dan farmasi RSU Mayjen HA Thalib Kabupaten Kerinci. Penyebab 7. • Perencanaan pelayanan rawat jalan.9 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan dalam hal perencanaan pelayanan rawat jalan. personil yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belum melaksanakan tugas dengan baik dan belum mempertimbangkan target ketersediaan SDM. sarana. • Tidak terdapat perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi pada RSUD Dr. dan • segera membuat analisis kebutuhan pegawai dan beban kerja. dan memenuhi sarana dan prasarana rumah sakit untuk mendukung pelayanan sesuai standar dengan memperhatikan skala prioritas. • Perencanaan anggaran instalasi rawat inap. rawat inap. Saiful Anwar. • Program kerja pelayanan farmasi RSUD Kabupaten Nganjuk dan RSUD Dr. Malang belum memadai. dan farmasi sebagai berikut. distribusi serta serta penggunaan blanko resep pada instalasi rawat jalan RSUD Kabupaten Jombang tidak berdasarkan perencanaan. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Selain itu. memprioritaskan kebutuhan minimal pegawai. Jambi dan RSU Dr.79 • segera merencanakan. Ashari Kabupaten Pemalang belum disusun. rawat jalan. dan Farmasi 7. antara lain program kerja bidang pelayanan farmasi belum memiliki indikator pencapaian yang jelas dan program kerja dibuat oleh orang yang tidak kompeten. Sumatera Selatan dan pengadaan. Rawat Inap. Selain itu. M. dan pelayanan pada tujuh RSUD belum memadai. Belum memadainya perencanaan anggaran antara lain tidak adanya petunjuk pelaksanaan yang mengatur perencanaan anggaran dan adanya bagian yang belum mengusulkan rancangan kegiatan. . dan farmasi serta perencanaan kebutuhan alat kesehatan pada 16 RSUD belum memadai. merealisasikan. rawat jalan.10 Kelemahan dalam hal perencanaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum membuat pedoman penyusunan perencanaan yang jelas dan mudah dipahami. yaitu antara lain belum didasari identifikasi kebutuhan dan tidak memperhatikan skala prioritas. program kerja instalasi rawat inap. Pejabat yang bertanggung jawab tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta lemahnya koordinasi dengan pihak terkait.

pelaksanaan kalibarasi alat kesehatan belum dilakukan. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat belum dapat tercapai. • Pengelolaan administrasi pada instalasi rawat jalan.13 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • belum sepenuhnya memperhatikan dan mengoptimalkan kinerja pelayanan kesehatan. BPK telah merekomendasikan agar pihak yang bertanggung jawab menyusun pedoman penyusunan perencanaan dan program kerja.12 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal pelaksanaan pelayanan adalah sebagai berikut. . rawat inap. • Standar pelayanan minimal (SPM) pada 14 RSUD belum ditetapkan dan belum memadai. dan • tidak segera mengusulkan dan menetapkan protap. • Prosedur tetap (protap) pelayanan rawat jalan. Penyebab 7. rawat inap. Selain itu.80 Rekomendasi 7. Belum memadainya SPM antara lain karena belum sepenuhnya mengacu keputusan Menteri Kesehatan. • Pelaksanaan pelayanan instalasi rawat jalan. dan pelayanan serta perbekalan farmasi pada 7 RSUD belum dilaksanakan dengan baik. • tidak cermat dan tidak optimal dalam pengelolaan administrasi yang mendukung pelayanan. Hal tersebut mengakibatkan manajemen tidak dapat mengukur kinerja pelayanan yang belum ditetapkan standarnya dan masyarakat belum memperoleh hak pelayanan sesuai SPM. dan farmasi pada 18 RSUD belum memadai. Belum memadainya protap antara lain protap yang ada sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu direvisi dan protap belum memenuhi seluruh kebutuhan instalasi sesuai pedoman penyelenggaraan rumah sakit. Rawat Inap.11 Terhadap permasalahan tersebut. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan. rawat inap dan farmasi pada 8 RSUD belum memadai serta prosedur tetap pada pelayanan rawat inap RSUD Mardi Waluyo di Kota Blitar belum pernah dilakukan revisi sejak Tahun 1999. yaitu belum memenuhi standar pelayanan minimal dan prosedur tetap. serta meningkatkan koordinasi dengan unit terkait. • belum sepenuhnya memahami pentingnya SPM sebagai pedoman dalam penilaian kinerja pelayanan. dan Farmasi 7.

15 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal mekanisme pelaporan dan evaluasi kegiatan pada instalasi rawat inap. . menyempurnakan dan melengkapi prosedur tetap sesuai SPM. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Direktur RSUD untuk mengoptimalkan kinerja pelayanan sesuai SPM. Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat. Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 7. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi. • menyusun dan menetapkan SPM. Penyebab 7. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar segera menyusun dan menetapkan mekanisme/ prosedur monev. dan • melakukan revisi.81 Rekomendasi 7. • melaksanakan perbaikan penatausahaan administrasi pengelolaan pelayanan rawat jalan.16 Permasalahan tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum menyusun dan menetapkan mekanisme/prosedur monev.17 Terhadap permasalahan tersebut. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 9 RSUD belum dilakukan dan SPI belum mendukung kegiatan monev. meningkatkan dan memperbaiki monev masing-masing instalasi. serta Satuan Pengawas Intern belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. rawat jalan dan farmasi adalah sebagai berikut.18 Dalam Semester II Tahun 2010.14 Terhadap permasalahan tersebut. serta meningkatkan pelaksanaan kegiatan SPI. Rekomendasi 7. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 RSUD belum memadai dan tidak sesuai ketentuan. serta lebih cermat dalam mengambil kebijakan pengelolaan administrasi. Monitoring dan Evaluasi 7. Belum memadainya pelaksanaan monev antara lain monev tidak mencakup pengukuran dan penilaian kinerja serta penyelesaian tindak lanjut tidak dipantau dan didokumentasikan. rawat inap dan farmasi.

82 Tujuan Pemeriksaan 7. • Kegiatan kunjungan bayi pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2009 tidak tercapai. ibu bersalin dan anak dan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belum sesuai dengan SPM bidang kesehatan.22 Hal tersebut disebabkan pejabat yang bertanggung jawab tidak menyusun dan melaksanakan sosialisasi pentingnya kesehatan ibu hamil.20 Hasil Pemeriksaan Provinsi Sumatera Utara 7. yang mengakibatkan penanganan komplikasi kebidanan tidak tertangani dengan baik yang membahayakan jiwa penderita.19 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara adalah menilai efektivitas yaitu realisasi kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian target yang telah ditetapkan. yang mengakibatkan pelayanan belum mencapai seluruh sasaran ibu hamil dan pelayanan yang diberikan belum sesuai SPM. • Kegiatan kunjungan ibu hamil (K-4) tidak sesuai dengan SPM.21 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien. dan efisiensi pelayanan kesehatan dasar. . Hal ini terlihat masih banyaknya cakupan kegiatan yang mendukung pelayanan kesehatan dasar tersebut dalam pelaksanaannya tidak efektif dan efisien antara lain sebagai berikut. yang mengakibatkan pelayanan kunjungan bayi tidak lengkap dan bayi yang mengalami kelainan dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya tidak dapat segera diketahui dan diambil tindakan. 7. Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat adalah untuk menilai apakah pelayanan kesehatan telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai SPM serta untuk memberi saran bagi upaya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. yaitu menilai penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Penyebab 7. • Pelayanan terhadap komplikasi kebidanan yang ditangani tidak efektif dan efisien.

28 . dan anak.48 juta.83 Rekomendasi 7. Penyebab 7.27 Terhadap permasalahan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. lalai serta belum optimal dalam melaksanakan tugas. serta • selalu memedomani SPM dalam melakukan perbaikan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.24 Hasil pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang beserta UPTD-nya menunjukkan bahwa masing-masing puskesmas telah memenuhi capaian indikator SPM dan tidak ditemukan adanya kasus polio dan balita gizi buruk berdasarkan penyaringan (screening). 7. Rekomendasi 7. masih terdapat kelemahan antara lain indikator kinerja Bidang Kesehatan Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 belum optimal dan persediaan obat yang kedaluwarsa masih tersimpan di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang senilai Rp107. Selain itu. ibu bersalin. Provinsi Sumatera Barat 7.26 Permasalahan tersebut antara lain terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.23 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada walikota agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kinerja pelayanan kesehatan. sarana penyimpanan obat publik dan perbekalan farmasi pada Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang tidak sesuai dengan Standar Sarana Penyimpanan Obat Publik. Namun. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil.25 7.

84 .

melaksanakan. yaitu pada Dinas Pendidikan (Disdik) di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Samosir).3 Selain tujuan tersebut di atas. . angka putus sekolah (APS). dan • akurasi perhitungan APK. Indikator 8. Provinsi Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Barat). dan Provinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Morowali).85 BAB 8 KINERJA PENDIDIKAN 8. dan AM. dan melakukan monev atas pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik. Kabupaten Minahasa Utara). dan • menilai efektivitas pengelolaan tenaga kependidikan (PTK) dalam menunjang penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun.4 Indikator kinerja atas pengelolaan sarpras dan PTK. APM. Hasil Pemeriksaan 8. 8. pemeriksaan kinerja pendidikan pada beberapa disdik juga bertujuan menilai mekanisme pengolahan data dalam perhitungan angka partisipasi kasar (APK). angka partisipasi murni (APM). dan angka melanjutkan (AM).2 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan pada umumnya bertujuan untuk • menilai efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras).5 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum efektif dalam merencanakan. Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe. Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur). Kota Bukit Tinggi. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. APS. • monitoring dan evaluasi (monev) yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. Tujuan Pemeriksaan 8. Provinsi Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun). Provinsi Riau (Kota Pekanbaru).1 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan dilakukan pada 13 objek pemeriksaan di 8 provinsi. • pelaksanaan pemenuhan dan pemanfaatan sarpras dan PTK telah sesuai ketentuan. Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Pasaman. yaitu • perencanaan yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. dan Kota Solok).

dan lebih cermat dalam membuat perencanaan serta pemanfaatan sarpras. sedangkan permasalahan kualifikasi akademik guru PTK terjadi pada seluruh entitas yang diperiksa.6 Rencana Strategis (renstra) disdik belum disusun secara memadai. Kabupaten Kotawaringin Barat. antara lain perencanaan dan indikator renstra tidak sinkron dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) serta belum disahkan secara formal oleh kepala disdik. Terhadap permasalahan tersebut. Sebelas entitas mengalami permasalahan pengelolaan sarpras yang tidak sesuai SPM. Kabupaten Karimun. Kabupaten Samosir. Belum memadainya antara lain Disdik belum .12 Permasalahan yang terkait dengan kegiatan monitoring dan evaluasi diantaranya adalah Disdik belum melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara memadai. dan • Kepala Disdik agar lebih optimal dalam melakukan seleksi atas pemberian bantuan sarpras sesuai kebutuhan sekolah.9 Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan atas pengelolaan sarpras dan PTK di antaranya adalah sarpras sekolah dan kualifikasi akademik guru PTK belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).8 Pelaksanaan atas Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. Hal ini terjadi karena kepala dinas dalam menyusun renstra tidak memedomani dan mengacu pada Renstra Kemdiknas serta belum adanya SOP penyusunan renstra. Terhadap permasalahan tersebut. 8.7 8.10 8. BPK telah merekomendasikan kepada kepala dinas untuk mempedomani Renstra Kemdiknas dalam menyusun renstra dan membuat SOP penyusunan renstra. Sembilan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten Kepulauan Sangihe. serta melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru lebih optimal. Kabupaten Bintan. Kabupaten Pasaman. BPK telah merekomendasikan kepada • Bupati/Walikota agar Kepala Disdik meningkatkan komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah sesuai dengan SPM. Kabupaten Lombok Timur. Hal ini terjadi karena Kepala Disdik belum memiliki komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah dalam rangka pemenuhan SPM. 8. dan Kabupaten Morowali.86 Perencanaan dalam Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. serta belum melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru secara optimal.11 Monitoring dan evaluasi atas pengelolaan sarpras dan PTK 8.

dan AM.18 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan Kabupaten Minahasa Utara. mengenai kebenaran sumber data penduduk untuk menjamin akurasi perhitungan APK. 8. kepala disdik belum memahami pentingnya indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan. Kota Solok.13 8. dan Kabupaten Morowali. Terhadap permasalahan tersebut. Kabupaten Lombok Timur. sehingga data yang diperoleh tidak divalidasi. sehingga indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan dapat diyakini kebenarannya. Hal ini terjadi karena kepala disdik belum melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang.87 membentuk tim monev secara formal. Kabupaten Kotawaringin Barat.14 Hal tersebut disebabkan kepala disdik belum membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. serta • kepala disdik melakukan koordinasi dengan unit terkait supaya data yang diperoleh terlebih dahulu divalidasi. APM. APM. APS. Kabupaten Minahasa Utara. Tujuh entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Pasaman. APM. Kabupaten Samosir. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar kepala disdik membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. dan AM 8. dan AM. yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) terkait sumber data penduduk yang digunakan untuk menghitung APK. Perhitungan APK.17 . dan AM tidak didukung dengan data yang akurat dan tidak divalidasi. APS. Kabupaten Karimun. APS. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar • kepala disdik melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang yaitu BPS. Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kabupaten Karimun. 8. Terhadap permasalahan tersebut.15 Perhitungan APK. keterbatasan jumlah SDM dan tidak adanya laporan hasil pengawasan. Kota Bukit Tinggi. 8.16 8. APS. Selain itu. Kabupaten Bintan. Kabupaten Kepulauan Sangihe. APM. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. sehingga pencapaian indikator tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya.

88 .

Hasil Pemeriksaan 9. PDAM Tirta Raharja Kab. 9.5 Hasil pemeriksaan atas efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. PDAM Tirta Al Bantani Kab. Serang. dan • apakah penanganan keluhan pelanggan telah dikelola secara efektif sehingga meminimalkan penyimpangan dan memuaskan pelanggan.89 BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum 9. . kuantitas. Dalam Semester II Tahun 2010. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. dan PDAM Kota Balikpapan.1 Perusahaan daerah air minum (PDAM) merupakan perusahaan daerah yang didirikan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengutamakan pemerataan dan keseimbangan pelayanan.2 Tujuan Pemeriksaan 9. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas PDAM yang dilakukan pada sembilan entitas daerah kabupaten/ kota yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. serta menilai pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.4 Penilaian kinerja PDAM didasarkan pada indikator • apakah proses produksi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. Indikator 9. dan kontinuitas. dan kontinuitas.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai secara umum efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. Bengkulu. PDAM Way Bumi di Kotabumi. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. • apakah proses distribusi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. serta pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan PDAM secara umum menunjukkan hasil yang belum optimal sehingga masih harus ditingkatkan. Bandung. kuantitas.

dan PDAM Kota Balikpapan. Bandung. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP menyeluruh untuk pengujian air bersih. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Terhadap permasalahan tersebut. PDAM Way Bumi di Kotabumi. dan PDAM Kota Balikpapan. . Serang. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Serang. 9. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. dan PDAM Kota Balikpapan. Hal ini terjadi karena kurangnya komitmen dari manajemen PDAM untuk melaksanakan penjaminan mutu atas produksi air bersih kepada pelanggan. Bandung. PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Tirta Raharja Kab. Bengkulu.11 9. Kurangnya komitmen manajemen antara lain terlihat dari belum adanya standar operasional dan prosedur (SOP) menyeluruh untuk pengujian air bersih kepada pelanggan. permasalahan lain yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah PDAM belum dapat menyediakan air bersih kepada pelanggan secara berkelanjutan. PDAM Tirta Al Bantani Kab.12 9. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. 9. Terhadap permasalahan tersebut. Bandung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.6 Permasalahan yang terkait dengan proses produksi air bersih di antaranya adalah kualitas air hasil produksi yang belum memenuhi standar. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Hal ini terjadi antara lain karena belum adanya SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan kurang optimalnya PDAM dalam mendeteksi dan menanggulangi tingkat kebocoran air.13 . Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. Serang. Selain permasalahan tersebut.90 Penilaian Proses Produksi 9. PDAM Tirta Raharja Kab.7 9. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Way Bumi di Kotabumi. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan lebih optimal dalam mendeteksi dan menanggulangi kebocoran air. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. Hal ini terjadi antara lain karena tingginya kebocoran/kerusakan pipa-pipa.8 Penilaian Proses Distribusi 9.9 Permasalahan yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah tingkat kebocoran air melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.10 9. Bengkulu. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Al Bantani Kab.

Penilaian Penanganan Keluhan Pelanggan 9. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Bengkulu. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Lima entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Ratu Samban Kab.91 9. Terhadap permasalahan tersebut.17 9. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP penanganan keluhan pelanggan dan meningkatkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan serta melakukan pelatihan. PDAM Tirta Al Bantani Kab.14 Terhadap permasalahan tersebut. Hal ini terjadi karena PDAM belum mempunyai SOP penanganan keluhan pelanggan dan bagian penanganan keluhan pelanggan belum didukung sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. dan PDAM Kota Balikpapan. 9.15 Permasalahan yang terkait penanganan keluhan di antaranya adalah penanganan keluhan pelanggan belum dikelola secara memadai. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM agar melakukan peremajaan dan pemeliharaan pipa secara berkala.16 9.18 . Serang.

92 .

dan Polda DIY di Bandar Lampung. STNK. • Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta. dan Yogyakarta.93 BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya 10. Pemerintah Pusat 10. dan 3 objek pemeriksaan BUMN. • Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta.2 Sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dengan rincian sebagai berikut. • Pengelolaan Kehutanan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. Bursa Pariwisata Internasional dan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata . Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. • Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan Dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam. serta Perusahaan Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat. Serang. dan BPKB (SSB) pada Polda Lampung. dalam Semester II Tahun 2010 BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada 18 objek pemeriksaan meliputi 10 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Polda Banten. • Pelayanan SIM. • Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan (Pusdiklat Jemenhan) Kementerian Pertahanan di Jakarta. • Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang. • Pelayanan dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang.1 Selain tema-tema pemeriksaan kinerja seperti yang diuraikan pada babbab sebelumnya. 5 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. • Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO).

• Program Bahteramas terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. • Program Penanggulangan Gizi Buruk TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung. • Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari.5 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. Terhadap permasalahan tersebut. 2009. 10. • Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait. • Akuntabilitas dan evaluasi kinerja kegiatan telah dikelola dengan baik. dan Kepulauan Riau. kecuali untuk penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta. . Triwulan III). antara lain sebagai berikut.d.3 Tujuan pemeriksaan atas sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan. 10.7 Lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dengan rincian sebagai berikut. • Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s. • Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta.4 10. 10.6 Pemerintah Daerah 10. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas. Jawa Timur.94 TA 2008. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan. • Pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan. • Perencanaan kegiatan telah dilakukan secara memadai.

• Kinerja PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . antara lain pengelolaan keuangan. • Proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan. dan evaluasi telah dilakukan dengan memadai.95 10. • Perencanaan yang memadai dalam mengelola program kegiatan.13 Tiga objek pemeriksaan BUMN dengan rincian sebagai berikut.Medan. Kegiatan Pelayanan Perijinan Baru pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. selain tidak efektif juga dikategorikan tidak efisien karena kebijakan. efektivitas. • Kegiatan Pemeliharaan. Sementara itu. . masih terdapat beberapa kelemahan.10 Hasil pemeriksaan pada umumnya menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. 10.8 Tujuan pemeriksaan atas lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah pada umumnya adalah untuk menilai efisiensi. Indikator yang digunakan antara lain sebagai berikut.11 10. monitoring. kegiatan supervisi dan evaluasi yang kurang memadai. dan keekonomisan pelaksanaan kegiatan. serta hasil pengadaan yang belum dimanfaatkan. • Pelaporan.12 BUMN 10. 10. Cilacap.9 10. Khusus untuk simpulan hasil pemeriksaan Program Pembebasan BOP. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan tindak lanjut yang memadai. dan Balikpapan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara cukup berhasil dalam merencanakan. melaksanakan. Terhadap permasalahan tersebut. prosedur. • Pemerintah daerah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Pemakaian Refinery Fuel. dan melakukan pemantauan serta evaluasi atas Program Pembebasan BOP. dan indikator kinerja pelaksanaan kegiatan yang tidak memadai. dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Akan tetapi. • Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta.

kebijakan. 10.18 . menggunakan empat indikator utama yaitu (i) perancangan dan penetapan struktur organisasi. sehingga BPK tidak dapat menilai pencapaian kinerjanya.17 10.15 10. sistem dan prosedur layanan reservasi tiket.96 10. pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan. menggunakan indikator yang disesuaikan dengan enam tujuan pemeriksaannya. 10.14 Tujuan pemeriksaan atas tiga objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. menetapkan kebijakan strategis. Terhadap permasalahan tersebut.16 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya efektif kecuali pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Penumpang untuk Penerbangan Berjadwal pada PT Garuda Indonesia (Persero) secara umum sudah cukup efektif. • PT Garuda Indonesia (Persero). Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang berwenang agar melakukan perencanaan dengan memadai. (ii) penetapan kebijakan strategis pengembangan sistem reservasi tiket. namun pengelolaan layanan tersebut belum dilaksanakan secara optimal sehingga masih terdapat risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan. dan (iv) pengawasan serta evaluasi kinerja pengelolaan layanan reservasi tiket. • PT Perkebunan Nusantara II untuk Tahun 2008 dan 2009 belum menetapkan KPI atas kegiatannya. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi tersebut adalah. • PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V. (iii) pengendalian atas pengelolaan layanan reservasi tiket. dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian.

• • Sebagian besar pemeriksaan yang dilaksanakan BPK bersifat eksaminasi. reviu. operasional BUMN. PDTT bisa bersifat eksaminasi (pengujian). pelaksanaan belanja. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. • Eksaminasi ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. pengelolaan pertambangan batubara. atau prosedur yang disepakati. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Reviu ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada informasi yang diperoleh pemeriksa bahwa pokok masalah tidak sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. Dalam prosedur yang disepakati (agreed upon procedures). pelaksanaan subsidi pemerintah. kebinamargaan. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. pengelolaan/manajemen aset pemerintah daerah.48 triliun. PDTT tidak memberikan opini ataupun untuk memberikan penilaian kinerja dan memberikan rekomendasi. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan bangunan pengairan/drainase daerah.97 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. . Dalam Semester II Tahun 2010. pemeriksa menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap pokok masalah. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya.

operasional RSUD.98 • • • • • operasional PDAM. . operasional Bank Daerah. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. operasional BUMD lainnya.

Kementerian Dalam Negeri. Adapun pemeriksaan pendapatan perpajakan.99 BAB 11 Pengelolaan Pendapatan 11. Kementerian Sekretariat Negara. Pendapatan pemerintah pusat meliputi pendapatan perpajakan termasuk bea dan cukai dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP).45% dari realisasi pendapatan senilai Rp72. Hasil Pemeriksaan 11.64 triliun atau 99.3 Tujuan Pemeriksaan 11. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat TA 2008 2010 pada 11 kementerian/lembaga (KL) di lingkungan pemerintah pusat.1 Pengelolaan pendapatan meliputi pendapatan pemerintah pusat dan pendapatan pemerintah daerah. penatausahaan.4 Secara umum tujuan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) yang terkait pendapatan pemerintah pusat telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Oleh karena itu. dan penyetoran pendapatan pemerintah pusat telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Badan Pertanahan Nasional. Pemeriksaan PNBP dilakukan pada 10 KL yaitu Kejaksaan Agung.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.42% dari cakupan pemeriksaan. sedangkan pendapatan pemerintah daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD).28 miliar atau 0. Kementerian Luar Negeri. Kepolisian. kepabeanan dan cukai dilakukan pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di Kementerian Keuangan. Pemeriksaan dilakukan atas PNBP. Cakupan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah senilai Rp71. Pendapatan Pemerintah Pusat 11. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. penerimaan perpajakan dan kepabeanan serta cukai. dan Kementerian Agama. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.03 triliun. Mahkamah Agung.2 Dalam Semester II Tahun 2010. Kementerian Perdagangan. Total temuan senilai Rp299. . dan • pemungutan. 11.

• Di Mahkamah Agung.8 . Kejaksaan Tinggi Bandar Lampung. Sebagai contoh. belum menyelenggarakan pembukuan secara lengkap. 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. serta 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pengelolaan tagihan uang pengganti tidak tertib.100 Sistem Pengendalian Intern 11.9 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.32 miliar. • sebanyak 3 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.42 miliar dan Laporan Kejati senilai Rp3. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. biaya proses pada delapan tingkat banding di kepaniteraan yang di-sampling belum seluruhnya dikelola secara memadai. • Di Kejaksaan Agung RI. • sebanyak 9 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Hal ini mengakibatkan Neraca Wilayah dan Laporan Manual Pidsus Kejati per 31 Mei 2010 berbeda dengan hasil perhitungan BPK pada masing-masing kejari dan cabang kejaksaan negeri (cabjari) yaitu pada Neraca Wilayah senilai Rp7. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 9. 11. Sebanyak 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pembukuan dan pencatatan. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. pengeluaran biaya proses tidak menggunakan mekanisme surat permintaan pembayaran (SPP). dan belum ada kebijakan 11. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.7 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan terdapat 74 kasus kelemahan SPI.6 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. 11.

penetapan klasifikasi atas barang-barang impor berbeda-beda meskipun uraian jenis barangnya sama. • Di Mahkamah Agung. Dispenda Sulut belum menyetorkan upah pungut atas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) Tahun 2009-2010 senilai Rp10. TMII juga tidak menyajikan kedua unit usaha tersebut ke dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009.10 Sebanyak 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Kepolisian RI. beberapa pengadilan menggunakan dana APBN TA 2009 dan 2010 untuk membiayai proses perkara perdata.101 jumlah kas tunai yang dikelola oleh bendahara biaya proses. 11. dan • sebanyak 2 kasus lainnya. terdiri atas • sebanyak 4 kasus mekanisme pemungutan.16 juta.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Selain itu. • sebanyak 5 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.43 miliar kepada Ditlantas Polda Sulut. Selain itu. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan. Polda Sulawesi Utara.65 miliar. 11. dua unit usaha TMII yaitu Teater Imax Keong Emas dan Taman Air Tawar/ Dunia Air Tawar tidak memberikan kontribusi kepada TMII. Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ditjen Bea Cukai.60 juta tidak melalui proses verifikasi. sebagian dari pengadilan tersebut juga membebankan biaya administrasi kepada pihak yang berperkara sehingga terjadi pembiayaan ganda sekurang–kurangnya senilai Rp332. Hal ini mengakibatkan potensi penerimaan negara sebanyak 329 pemberitahuan impor barang (PIB) belum dipungut senilai Rp33. . • Di Kementerian Keuangan. pembayaran pengiriman salinan putusan yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia senilai Rp784. • sebanyak 21 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.

• Di Kementerian Sekretariat Negara.14 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. • sebanyak 10 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. BPK merekomendasikan agar koordinasi pimpinan KL dengan kepala daerah lebih ditingkatkan. 11. • Di Mahkamah Agung. • sebanyak 1 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. Berdasarkan umur piutang dan dokumen pembayaran listrik diketahui pihak ketiga belum membayar biaya listrik kepada TMII per 26 September 2010 senilai Rp1.75 juta. Selain itu.102 11. Selain itu. baik beban pihak ketiga maupun beban TMII.12 miliar. pengelolaan PNBP jasa imigrasi dan jasa administrasi belum tertib. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan dan meningkatkan upaya intensifikasi penagihan denda dan uang pengganti. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain. . terdiri atas • sebanyak 4 entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.12 Sebanyak 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Pada bulan berikutnya TMII menagih biaya listrik dari anjungan-anjungan dan unit usaha.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Penyebab 11. memperbaiki sistem pelaporan keuangan dan segera menyusun SOP administrasi pengelolaan keuangan. • Di Kementerian Perdagangan. Rekomendasi 11.15 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. kasus tersebut juga disebabkan kurangnya koordinasi pimpinan KL dan kurangnya ketentuan atau SOP yang mengatur secara tegas mengenai pendapatan pemerintah pusat. belum terdapat suatu keseragaman berkaitan pengadministrasian dan pemberitahuan sisa panjar biaya perkara perdata di pengadilan tingkat pertama mengakibatkan hak masyarakat berupa sisa panjar biaya perkara perdata tidak segera diterima oleh yang berhak minimal senilai Rp584. TMII setiap bulan membayar terlebih dahulu seluruh beban listrik kepada PLN.

Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara.93 299. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kerugian Negara 11.288.16 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. potensi kerugian negara.103 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 11.99 juta yang terdiri dari penggelapan oleh Panitera/Sekretaris PN Bogor senilai Rp404.12 75.89 juta. Kasus kerugian negara terjadi pada penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak dua kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp422.28 2. administrasi.1.28 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan pada 11 kementerian/lembaga.20 .17 Berdasarkan tabel di atas. dan barang.1.09 juta dan uang tunai yang masih dibawa oleh mantan Panitera PN Bogor yang telah meninggal dunia senilai Rp15. surat berharga.18 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. kekurangan penerimaan negara.398.342. 11.19 11. yaitu selisih biaya perkara pada Laporan Keuangan Perkara per 30 Juni 2010 senilai Rp419. Tabel 11. dan ketidakefektifan dapat dilihat pada Tabel 11.06 296. hasil pemeriksaan mengungkapkan 88 kasus senilai Rp299.28 juta. ketidakhematan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 2 6 57 19 1 3 88 422.38 50.80 11. Kasus tersebut di antaranya di Mahkamah Agung. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat No.

dan barang. 11.104 Penyebab 11. Penyebab 11. yang nyata dan pasti jumlahnya.d. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 6 kasus senilai Rp2. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. surat berharga.95 juta.73% dari total uang pengganti.24 11. 30 Juni 2010 adalah senilai Rp3.34 miliar yang terdiri atas • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp12. aset tidak diketahui keberadaannya dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. masih terdapat saldo uang pengganti senilai Rp2.22 Terhadap kasus-kasus kerugian negara tersebut. 11. Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi aset dikuasai pihak lain.32 miliar.26 Kasus tersebut terdapat di Kejaksaan Agung. dan • sebanyak 2 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan entitas belum optimal dalam mengeksekusi uang pengganti dan pengawasan atasan langsung terkait pengelolaan administrasi dan intensifikasi penagihan uang pengganti masih lemah. Dari jumlah tersebut. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya. total uang pengganti yang harus dibayar terpidana dari perkara tindak pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada sepuluh kejari dan dua cabjari di lingkungan Kejati Kalbar selama periode TA 2009 s.23 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.21 Kasus kerugian negara tersebut pada umumnya disebabkan keraguan pimpinan KL untuk mengambil tindakan terhadap kasus yang menyangkut hilangnya uang titipan pihak ketiga.25 . Potensi Kerugian Negara 11.98 miliar. Rekomendasi 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menyelesaikan kasus penyalahgunaan keuangan perkara baik dari aspek keuangan maupun aspek administratif.30 miliar yang belum tertagih atau sebesar 57.

masih terdapat saldo uang pengganti 11.44 miliar.29 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. biaya pada dua Bank BUMN dan delapan Bank BUMD senilai Rp760.32 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. Ditjen Pajak. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara.31 .30 11. 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa untuk mengintensifkan penagihan uang pengganti. Kejaksaan Negeri Sumatera Barat. dari jumlah uang pengganti senilai Rp5. Hal ini mengakibatkan keharusan dilakukannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara senilai Rp193. • sebanyak 8 kasus penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp120.57 miliar tidak seharusnya dikurangkan dalam melakukan penghitungan Penghasilan Kena Pajak Tahun Pajak 2009. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 57 kasus senilai Rp296. penerimaan negara/daerah penerimaan negara diterima oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.64 miliar.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp255.11 miliar.28 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. dan • sebanyak 7 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp6.18 miliar. • Di Kementerian Keuangan. dan menegur pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugasnya. melaporkan perkembangan piutang uang pengganti yang menjadi tanggung jawabnya.34 miliar.105 Rekomendasi 11. senilai Rp34.31 juta. • Di Kejaksaan Agung. Kekurangan Penerimaan 11.

106 senilai Rp2. dan perpajakan. kekurangan penerimaan negara. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. Di samping itu. senilai Rp1.84 miliar atau 56% yang belum tertagih per 31 Mei 2010 pada 15 kejari dan 6 cabjari. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kementerian Dalam Negeri senilai Rp708. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. tidak mengurangi hak negara.55 miliar.27 juta. lemahnya pengawasan dan pengendalian dan kurangnya koordinasi antara pimpinan KL. 11. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).34 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara pada umumnya terjadi karena para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. 11.65 juta.53 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. AI juga belum mengganti beban rekening listrik selama empat bulan senilai Rp492. pertambangan.90 juta kepada TMII. tidak menghambat program entitas. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Administrasi 11.33 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. dan KBRI Budapest di Kementerian Luar Negeri senilai Rp223. pihak pengelola Snow Bay Waterpark (SW) yaitu Arum Investment (AI) belum melunasi kontribusi pendapatan sejak September 2009 hingga Juli 2010 kepada TMII senilai Rp5.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. TMII. KBRI Seoul senilai Rp561.37 . penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.08 juta. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. Penyebab 11.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. Rekomendasi 11. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara serta meningkatkan koordinasi antar pimpinan KL.

• Di Badan Pertanahan Nasional.107 11. Pontianak.50 miliar. dan Cabjari Entikong tidak tertib. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Penyebab 11. Sintang. • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 19 kasus yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). TMII. Bengkayang.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. perpajakan. daftar inventaris ruangan (DIR) dan kode inventaris barang (KIB) menunjukkan bahwa nilai yang disajikan dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009 merupakan harga perolehan yang belum diinventarisasi dan dinilai kembali dengan harga wajar. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. daftar aset beserta kode inventaris ruangan (KIR).39 . • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Sanggau. 11. • sebanyak 8 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.38 Kasus penyimpangan administrasi juga meliputi penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang ditentukan. pertambangan. PNBP hasil pelayanan bidang pertanahan Tahun 2009 dan 2010 di beberapa kantor wilayah BPN terlambat disetor ke kas negara senilai Rp6. kurang komitmen pimpinan entitas yang diperiksa untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan- 11.20 miliar pada Kejari Mempawah. pengelolaan barang bukti berupa uang dan bilyet giro senilai Rp4. • Di Kejaksaan Agung.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas. dan • sebanyak 1 kasus kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. pertanggungjawaban/ penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan dan kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah.

69 triliun dari realisasi anggaran pendapatan senilai Rp52.74 triliun. 11. yang terdiri dari 39 objek pemeriksaan.46 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Sistem Pengendalian Intern 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan/atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan dan menginventarisasi serta menilai kembali aset-aset tetap negara. Cakupan pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan adalah senilai Rp40. BPK telah memeriksa pengelolaan pendapatan pemerintah daerah TA 2009 dan 2010. Rekomendasi 11.43 Dalam Semester II Tahun 2010. Hasil Pemeriksaan 11.45 Secara umum. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.66% dari cakupan pemeriksaan.108 ketentuan pelaksanaan anggaran dan penatausahaan. serta pimpinan instansi lalai tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menilai kembali dan mengawasi pengelolaan aset.47 Pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) pengelolaan pendapatan pemerintah daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan • pemungutan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp268. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. tujuan pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan pendapatan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Pemeriksaan dilakukan pada 21 entitas pemerintahan provinsi/kabupaten/kota. penatausahaan dan penyetoran pendapatan daerah telah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. .44 Tujuan Pemeriksaan 11. Pendapatan Pemerintah Daerah 11.87 miliar atau 0. Oleh karena itu.

11.51 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. yaitu 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. serta 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.d. pencatatan atas potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan denda atas PKB yang tidak mendaftar ulang s. 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Provinsi Jawa Barat. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.109 11. penatausahaan penerbitan surat ketetapan restribusi daerah (SKRD). Sebanyak 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan terdiri atas • sebanyak 11 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. 11. 11.48 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan.09 miliar tidak tertib.53 miliar pada 17 unit pelaksana teknis dinas (UPTD) tidak akurat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.52 Sebanyak 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • Di Provinsi Sumatera Barat.50 . Juli 2010 senilai Rp87. • Di Kota Bandung. izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin peruntukkan penggunaan tanah (IPPT) TA 2009 senilai Rp12. pembukuan dan pencatatan.49 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 199 kasus kelemahan SPI. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 12. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. 11.

• Di Kota Bandar Lampung.90 miliar tidak maksimal sehingga tertundanya realisasi penerimaan pendapatan. pembebasan pajak hiburan dan pajak restoran kepada satu wajib pajak tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah senilai Rp10. • Di Kota Pekalongan.56 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya disebabkan karena para pejabat dan pelaksana terkait kurang optimal dalam melakukan survei. Penyebab 11. intensifikasi dalam upaya meningkatkan pajak pengambilan bahan galian C tidak dilakukan sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah dalam TA 2009 dan 2010 senilai Rp14. terdiri atas • sebanyak 11 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.53 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.54 Sebanyak 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • Di Kabupaten Deli Serdang. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. September 2010 senilai Rp1.d.40 miliar. Provinsi Lampung. Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Sulawesi Selatan. dan • Di Provinsi Sulawesi Selatan. pendataan. .110 • sebanyak 24 kasus mekanisme pemungutan. Provinsi Sumatera Utara. 11. • Di Kota Makassar.00 miliar.55 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.91 juta. penagihan atas tunggakan pajak. 11. terdapat penerimaan dari pungutan biaya diklat TA 2009 pada BPRS Dadi yang tidak memiliki dasar hukum senilai Rp698. dan • sebanyak 121 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. 11. dan • sebanyak 16 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. retribusi dan penerimaan lain-lain pada beberapa SKPD s. penetapan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C lebih rendah dalam TA 2009 dan 2010 total senilai Rp466.32 juta.

kekurangan penerimaan daerah. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah meliputi penggunaan uang/ barang untuk kepentingan pribadi. dan barang.58 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 322 kasus ketidakpatuhan senilai Rp268. penetapan.870. surat berharga. Rekomendasi 11. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 8 6 230 65 13 322 Nilai (juta Rp) 2.60 .57 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.48 6.733.111 penetapan dan pengawasan atas pendapatan pemerintah daerah serta kurang menaati ketentuan yang berlaku. ketidakhematan. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 11.923.41 5.880.59 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. administrasi.40 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 Kerugian Daerah Potensi Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakefektifan Jumlah Kerugian Daerah 11.11 253. dan penagihan pendapatan pemerintah daerah serta untuk lebih menaati ketentuan yang berlaku. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11. dan penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan.2.333. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi kepada para pejabat dan pelaksana terkait agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan terhadap pendataan.38 268. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 13 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 14. potensi kerugian daerah. Tabel 11.87 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. 11.2.

senilai Rp408.63 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Bendahara Penerima Dinas Cipta Karya dan Pertambangan melakukan penggelapan atas retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) TA 2009 dan 2010 senilai Rp417.99 miliar.65 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. piutang modal ekonomi produktif dan perdagangan serta pengembangan wirausaha kecil serta usaha pertanian TA 2010 tidak tertagih dan merugikan daerah senilai Rp1.38 juta telah ditindaklanjuti pemerintah Kabupaten Deli Serdang.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 6 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp927.61 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp2. Provinsi Sumatera Utara.64 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pengelolaan pendapatan serta kurangnya pengawasan dan pengendalian.00 juta untuk kepentingan pribadi. • Di Kabupaten Brebes. • Di Kabupaten Brebes.16 juta. yang nyata dan pasti jumlahnya. 11. Rekomendasi 11. dan • sebanyak 2 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1.66 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.112 11.14 juta. Provinsi Jawa Tengah. . Potensi Kerugian Daerah 11. Kepala Dinas Kesehatan menggunakan penerimaan dari dana Jamkesmas TA 2010 senilai Rp150. 11. Provinsi Jawa Tengah. Penyebab 11. Provinsi Sumatera Utara dengan penyetoran ke kas daerah.62 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Deli Serdang. dan barang. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor sejumlah uang melalui kas daerah dan memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.95 miliar. surat berharga.

68 Kekurangan Penerimaan 11. 11. dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah.72 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.70 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan para pelaksana kurang optimal dalam melakukan penagihan dan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam penghapusan piutang. Provinsi Jawa Barat. penggunaan langsung penerimaan daerah. piutang pajak dari Tahun 20082010 belum terpungut senilai Rp1. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat enam kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp5.113 11. 11.67 Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.27 miliar. 11.79 miliar.43 miliar dan di antaranya senilai Rp862. Penyebab 11.29 juta.88 miliar yang terdiri atas • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp5. • Di Kabupaten Bogor. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas daerah.71 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mengintruksikan para pelaksana untuk lebih giat dalam melakukan penagihan dan lebih menaati peraturan yang berlaku. Rekomendasi 11.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pengelolaan tunggakan retribusi pasar tidak tertib dan terdapat tunggakan dari Tahun 2005 s. penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. • Di Kota Semarang.d September 2010 belum terselesaikan senilai Rp1. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp88. Provinsi Jawa Tengah.39 juta belum tercatat dalam daftar tunggakan.73 .

13 miliar dan denda keterlambatan belum dikenakan senilai Rp255.20 juta. kekurangan penyetoran pajak hotel dan restoran oleh delapan wajib pajak Tahun 2009 dan 2010 senilai Rp1.73 miliar terdiri atas • sebanyak 177 kasus penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp226.90 juta.76 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah. 11. 11. pendapatan dari sumbangan pihak ketiga Tahun 2006 – 2009 belum diterima dari Pemprov Lampung senilai Rp1.06 juta. terdapat pembangunan titik reklame baru yang dilakukan tanpa ijin dan belum ditetapkan pajak dan retribusinya senilai Rp7.50 miliar. Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan senilai Rp155. . Provinsi Sulawesi Selatan.65 miliar.78 juta dan Provinsi Lampung senilai Rp21.20 juta.52 miliar. • Di Kota Makassar.114 11.42 miliar.77 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan kurang mematuhi ketentuan perundangan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan pendapatan. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1.39 miliar yaitu di antaranya Kota Bandar Lampung senilai Rp392. Provinsi Jawa Barat. Penyebab 11. • Di Kota Medan. • Di Kabupaten Bogor. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp5.58 miliar.75 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 25 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp15.56 miliar belum terselesaikan. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp61. • Di Kota Bandar Lampung.74 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah sebanyak 230 kasus senilai Rp253. tunggakan pajak per 31 Agustus 2010 senilai Rp7. dan • sebanyak 26 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp11.72 juta. Provinsi Lampung.

78 Terhadap kasus-kasus tersebut. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.80 11.81 .82 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. tidak menghambat program entitas. 11. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 18 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.79 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 65 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid).42 miliar tidak tepat waktu. • sebanyak 38 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Provinsi Banten. menaati ketentuan yang berlaku dan lebih tegas mengenakan sanksi terhadap wajib pajak serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. dan pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Administrasi 11. keterlambatan penetapan pajak air sebanyak 9. dan • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. tidak mengurangi hak daerah.115 Rekomendasi 11. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. kekurangan penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar membina para pelaksana untuk lebih cermat melaksanakan tanggung jawabnya. 11. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik daerah.777 surat ketetapan pajak daerah (SKPD) mengakibatkan penerimaan senilai Rp8.

Provinsi Kepulauan Riau. dan reklame yang tidak terealisasi TA 2009 dan 2010 senilai Rp584. Ketidakefektifan 11. dan • sebanyak 12 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp6.07 juta dan potensi pendapatan pajak daerah belum diperhitungkan minimal senilai Rp231.84 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.86 11. Penyebab 11. Rekomendasi 11.33 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. pendapatan pajak penerangan jalan TA 2010 terlambat disetor senilai Rp3. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.27 miliar.87 . • Di Kota Bukit Tinggi. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 13 kasus ketidakefektifan senilai Rp6.83 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan dan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. Provinsi Sumatera Barat.79 miliar. terdapat pendapatan pajak hotel. restoran/rumah makan.116 • Di Provinsi Sulawesi Tengah. 11. penerimaan sumbangan pihak ketiga TA 2009 dan 2010 tidak sesuai peraturan perundang-undangan senilai Rp5. • Di Kota Tanjung Pinang.89 juta sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta menginstruksikan untuk menaati peraturan yang berlaku.88 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.33 miliar.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). 11.

Provinsi Jawa Tengah. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.00 miliar. pendapatan retribusi parkir di tepi jalan umum melalui tenaga pengumpul retribusi parkir tidak optimal sehingga target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya. Penyebab 11.117 • Di Kota Semarang. Rekomendasi 11. para pelaksana terkait belum optimal melakukan intensifikasi pendapatan daerah.89 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan kurangnya pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur secara tertulis kepada pejabat yang terkait supaya meningkatkan pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. 11.90 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.91 .

118 .

hibah.119 BAB 12 Pelaksanaan Belanja 12.6 Salah satu tujuan pemeriksaan atas belanja adalah untuk menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) atas pelaksanaan anggaran belanja sudah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.3 Tujuan Pemeriksaan 12. dan efektif. tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan belanja telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.1 Pelaksanaan belanja meliputi belanja pemerintah pusat dan belanja pemerintah daerah. belanja modal.46% dari cakupan pemeriksaan. Oleh karena itu. bantuan sosial. dan • pelaksanaan belanja telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah pusat TA 2009 dan 2010. dan belanja lain-lain. Pemeriksaan dilakukan pada 22 kementerian/lembaga yang meliputi 45 objek pemeriksaan. Belanja Pemerintah Pusat 12. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. belanja pemerintah pusat/daerah terdiri atas belanja pegawai. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.86 triliun.2 Dalam Semester II Tahun 2010.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. efisien. subsidi. belanja barang. Menurut jenisnya. Belanja pemerintah pusat/daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintah pusat/daerah dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Cakupan pemeriksaan belanja pemerintah pusat pada 22 K/L adalah senilai Rp15. 12.09 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp29. Hasil Pemeriksaan 12.4 Secara umum. Sistem Pengendalian Intern 12. bunga. .81 miliar atau 5. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp824. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.

• kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pencatatan barang milik negara (BMN) belum memperhitungkan PPN dan biaya lainnya terkait pengadaan BMN. Selain itu. serta 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.7 Hasil evaluasi atas SPI belanja menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.120 12. pembukuan dan pencatatan. Satker Bandara Binaka Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara. terdapat bantuan dana pemerintah kabupaten setempat ke Polres dan Poltabes jajaran Polda Sulawesi Utara TA 2009 senilai Rp1. Sebanyak 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.8 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan belanja pemerintah pusat menunjukkan terdapat 86 kasus kelemahan SPI. • Di Kepolisian RI.56 juta dan TA 2009 senilai Rp2.39 juta belum dikapitalisasi sehingga belum tercatat sebagai penambah nilai akun gedung dan bangunan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kementerian Perhubungan.84 miliar tidak dilaporkan ke Bidang Keuangan Polda Sulut sehingga tidak diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polda Sulut. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 15. 12.9 . serta pencatatan BMN belum memisahkan aset sesuai klasifikasinya.73 miliar. 12. 12. • sebanyak 6 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. aset hasil belanja modal TA 2008 belum tercatat senilai Rp226. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. KBRI Budapest. dan • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. biaya perbaikan Wisma Duta Tahun 2009 senilai Rp375. 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Kementerian Luar Negeri.

dan • sebanyak 12 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.11 Sebanyak 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Rp1. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • Di Kementerian Luar Negeri. Akibatnya. alutsista milik TNI AU berpotensi menjadi barang yang tidak mempunyai nilai teknis.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.121 12.14 miliar belum mendapatkan penggantian dari Biro Keuangan Setjen Kementerian Luar Negeri sehingga pengeluaran belum dapat diakui sebagai realisasi belanja definitif. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.09 ribu e.13 Sebanyak 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. KBRI Moskow. terdiri atas • sebanyak 19 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. 12. terdapat perhitungan fihak ketiga (PFK) minus per 26 Juli 2010 senilai USD126. .q. 12.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kementerian Hukum dan HAM. yaitu SOP dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan pihak ketiga belum ditetapkan. • Di TNI AU. Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) terdapat 521 jenis suku cadang/materiil/komponen alat utama sistem senjata (alutsista) menunggu proses perbaikan/pemeliharaan dan terdapat suku cadang/materiil/komponen alutsista dari pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi (A-4 dan OV-10) belum diperbaiki. 12. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.

potensi kerugian negara.15 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena perencanaan tidak memadai.122 Penyebab 12.440.166.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. Tabel 12.97 12.918.818. ketidakhematan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 163 15 43 120 48 43 432 31. . Rekomendasi 12. serta dukungan sarana dan prasarana yang kurang memadai. administrasi.79 8.1. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 12. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 16 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 17.95 54. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.18 Berdasarkan tabel di atas.391. hasil pemeriksaan mengungkapkan 432 kasus senilai Rp824.35 489. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat No. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan.40 240.901.1. serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.81 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan pada delapan kementerian lembaga (KL). Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. kekurangan penerimaan negara. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan.46 824.

20 12. 12. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian negara senilai Rp925.52 juta. • sebanyak 28 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp5. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. pemahalan harga (mark up). dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.00 miliar.97 miliar. • sebanyak 9 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp914.19 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang.76 juta. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp110. Kasus-kasus kerugian negara yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. • sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp215.17 juta.44 miliar. • sebanyak 46 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp2. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.47 juta.21 . • sebanyak 9 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp2.89 miliar. Kerugian negara. yang terdiri atas • sebanyak 10 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp5.88 miliar. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.69 juta.70 miliar. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.64 miliar. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 163 kasus senilai Rp31. • sebanyak 5 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp156. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. dan barang.123 Kerugian Negara 12. • sebanyak 46 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp10. surat berharga.

pengawasan.25 miliar. dan selisih nilai yang dipertanggungjawabkan dengan yang diterima oleh Hotel Grand Jaya Raya senilai Rp852. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kerugian negara dengan menyetorkan uang ke kas negara atau melengkapi/menyerahkan aset melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. realisasi perjalanan dinas kegiatan joint audit TA 2009 tidak dilakukan (fiktif) sekurang-kurangnya senilai Rp2. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan barang.41 miliar. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp1.17 miliar.124 12.26 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.25 kasus-kasus kerugian negara tersebut.23 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian negara tersebut.40 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. akomodasi hotel fiktif atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan senilai Rp1. • Di Kementerian Pendidikan Nasional. para pelaksana lalai dalam pelaksanaan tugas dan tidak cermat dalam perencanaan. dana bantuan modal usaha Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jawa Tengah posisi September 2010 senilai Rp5. pekerjaan pengambilan formulir Program Keluarga Harapan (PKH) TA 2009 tidak seluruhnya dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia sehingga terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp4.88 miliar belum disetor ke kas negara dan masih dikelola serta disalurkan kepada Kelompok UPPKS.34 miliar. Penyebab 12. surat berharga. Selain itu. Rekomendasi 12. dan pengendalian. .77 miliar.98 juta. • Di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kementerian Dalam Negeri senilai Rp1. dan BKKBN senilai Rp911. Potensi Kerugian Negara 12. senilai Rp5. • Di Kementerian Sosial. 12.98 juta.24 Kasus-kasus kerugian negara disebabkan rekanan lalai dalam melaksanakan tugas sesuai kontrak yang disepakati.

91 miliar yang terdiri atas • sebanyak 9 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp1. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. 12. yang berpotensi merugikan negara. Ditjen Bina Pembangunan Daerah. terdapat selisih volume pekerjaan atas pekerjaan yang belum selesai minimal senilai Rp383.31 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan oleh rekanan lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah disepakati. aset dikuasai pihak lain.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain potensi kerugian negara senilai Rp6.77 juta. • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp25.28 . 12. pembayaran honorarium senilai Rp404.03 juta. pengadaan barang rantai jangkar KRI MLT-561 tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yaitu barang yang diberikan rekanan produk Tahun 1996.66 juta.20 juta oleh Perusahaan Jasa Konsultan menggunakan pertanggungjawaban yang tidak benar. • Di TNI AL Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp382.30 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut telah ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp191. bukan produk baru sehingga terjadi selisih senilai Rp167.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di TNI AL.46 juta dan biaya transport pengiriman slipway ke lokasi senilai Rp220.00 juta tidak sesuai ketentuan. • Di Kementerian Dalam Negeri. di antaranya di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).69 juta.35 juta berbeda dengan invoice dan perjalanan dinas senilai Rp228.21 juta. Penyebab 12. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). pelaksana lalai dalam menjalankan tugas. TNI AL telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp168. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 15 kasus senilai Rp8.125 12.75 miliar. 12.75 miliar. dan aset tidak diketahui keberadaannya.

33 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.00 juta atas perjanjian penambangan batu kapur.92 miliar tidak dibayar.24 miliar. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai Rp7. terdapat bunga dan denda pinjaman dana Bapertarum PNS oleh Yayasan DPP KORPRI dan Perum Perumnas senilai Rp40. meminta pertanggungjawaban rekanan pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah disepakati.92 miliar. Kekurangan Penerimaan Negara 12. di antaranya di Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp230.36 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdapat kekurangan pembayaran PNBP dari ganti rugi pemanfaatan tanah oleh PT HI senilai Rp561. dan mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian negara. 12.16 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp46.35 . • Di Kepolisian RI.32 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. Direktorat Polisi Air (Ditpolair). BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. sanksi keterlambatan pengadaan dua unit senjata api kaliber 20 mm TA 2008 belum dikenakan sehingga denda senilai Rp935.34 12. • Di Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum).126 Rekomendasi 12.45 juta telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. dan penggunaan langsung penerimaan negara.35 juta. 12.98 juta belum diterima. • Di Kementerian Hukum dan HAM. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 43 kasus senilai Rp54. 12. senilai Rp446.40 juta dan PT HI belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp963.37 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.

127 Penyebab 12. • sebanyak 6 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku.42 12.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara terjadi karena rekanan tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati.41 12. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. Penyimpangan administrasi juga meliputi pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. kekurangan penerimaan negara. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Rekomendasi 12. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. Administrasi 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. tidak menghambat program entitas.43 . menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara. tidak mengurangi hak negara. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 120 kasus yang terdiri atas • sebanyak 39 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). pelaksanaan lelang secara proforma.39 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. • sebanyak 35 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara.40 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. 12.

28 miliar dilakukan tanpa merevisi petunjuk operasional kegiatan (POK). terdapat pengadaan barang TA 2009 senilai Rp699. • sebanyak 7 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. Rekomendasi 12. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. Penyebab 12. penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS) TA 2009 tidak didasarkan pada data yang memadai dan spesifikasi teknis barang yang diadakan mengarah pada merek tertentu. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • Di Kementerian Pendidikan Nasional. terdapat empat kegiatan operasi Mabes TNI TA 2007 – 2008 yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban minimal senilai Rp2.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.46 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melengkapi bukti pertanggungjawaban. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian para atasan. kurang cermat dalam melaksanakan ketentuan pelaksanaan anggaran. penggunaan sisa anggaran joint audit TA 2009 senilai Rp22. • Di Kementerian Agama. IAIN Sultan Thaha Jambi. • sebanyak 3 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Kementerian Perdagangan. memberikan teguran dan atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan.52 miliar. • Di TNI AL. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dan dalam melaksanakan tugas. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. 12.21 juta dilakukan tanpa kontrak sehingga tidak ada kejelasan mengenai hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perikatan. . • sebanyak 8 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.128 • sebanyak 15 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.

dan • sebanyak 45 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga senilai Rp240.52 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut.49 . Penyebab 12. dan Gamma Ray. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.81 juta. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Kasus-kasus ketidakhematan meliputi pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. mengakibatkan pemborosan atas biaya pemeliharaan X-Ray.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan senilai Rp165.35 miliar. • Di Kementerian Luar Negeri. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. HiCo Scan. terdapat perbedaan harga kontrak dengan harga pasar dalam pengadaan barang dan jasa TA 2009 dan 2010 sehingga terjadi kemahalan harga senilai Rp204. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.51 juta.73 juta. 12.22 miliar. tingkat pemanfaatan peralatan pemindai DJBC belum optimal jika dibandingkan dengan tingkat biaya pemeliharaannya senilai Rp178. KBRI Kuala Lumpur. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. • Di Kementerian Perdagangan. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 12.129 Ketidakhematan 12.51 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena adanya kecenderungan memanfaatkan anggaran tanpa memperhatikan prinsip ekonomis. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak 48 kasus senilai Rp240.50 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kementerian Keuangan. 12. entitas kurang cermat merencanakan kegiatan. dana beasiswa mahasiswa unggulan TA 2009 dan 2010 digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan persatuan mahasiswa Indonesia di Malaysia sehingga memboroskan keuangan negara senilai Rp152.47 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.48 12.

54 12. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan 43 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan senilai Rp489. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi.20 juta eq.64 juta.53 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). • sebanyak 7 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp31. • Di TNI AL.90 miliar. Rp226.130 Ketidakefektifan 12.99 miliar.56 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.32 miliar. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.55 . Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).95 miliar.90 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp1.52 miliar. kegiatan pemeliharaan alutsista kapal di lingkungan Koarmabar TA 2008 dan 2009 senilai Rp2. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. • sebanyak 11 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp341. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. • sebanyak 7 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi senilai Rp2. 12. • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp111. • Di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).57 miliar pengadaan TA 2007 – 2009 rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Kapal Patroli Cepat FPB 38 senilai USD25. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. 12.54 miliar melewati batas waktu yang ditetapkan sehingga belum sepenuhnya dapat mendukung pencapaian tujuan kegiatan operasi. • sebanyak 10 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp196. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.

dan efektif.61 Tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan yang diperiksa telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.60 Tujuan Pemeriksaan 12.59 Dalam Semester II Tahun 2010. cermat dalam perencanaan. telah agar lebih hasil Belanja Pemerintah Daerah 12. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Pemeriksaan dilakukan atas 14 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah provinsi dan 150 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah kabupaten/kota. . Rekomendasi 12. 12.86 triliun. pasar tradisional dan gudang untuk sistem resi gudang (gudang SRG) yang dibangun dengan dana stimulus fiskal TA 2009 belum didukung fasilitas penunjang dan pasokan listrik PLN sehingga belum dapat dimanfaatkan. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 atas 176 objek pemeriksaan. Cakupan pemeriksaan belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan adalah senilai Rp22.58 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. efisien. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan. perencanaan yang kurang memadai.81% dari cakupan pemeriksaan.69 miliar atau 3.06 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp52. pemeriksaan atas belanja daerah juga meliputi 5 objek pemeriksaan atas belanja bantuan sosial TA 2009 dan 2010 pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 3 objek pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) TA 2010 pada pemerintah provinsi dan 4 objek pemeriksaan pada pemerintahan kabupaten/kota.131 • Di Kementerian Perdagangan. Penyebab 12. dan • pelaksanaan pengadaan barang/jasa telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. dan segera memanfaatkan barang pengadaan. Selain itu.57 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp840.

12. Sebanyak 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Oleh karena itu. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. serta 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan) pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 18. Sistem Pengendalian Intern 12. • sebanyak 15 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. yaitu 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.65 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 195 kasus kelemahan SPI. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.63 Pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) entitas terhadap belanja daerah maupun terhadap pengamanan atas kekayaan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. • sebanyak 2 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 12. pembukuan dan pencatatan.64 12. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.66 . dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan belanja pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.132 Hasil Pemeriksaan 12.62 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.

12.68 12. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. terdiri atas • sebanyak 11 kasus berupa permasalahan entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. 12. Pemkab Tapanuli Selatan memiliki utang senilai Rp37. dan • sebanyak 2 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai.67 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Sumba Barat.133 12. 12. • sebanyak 46 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Sebanyak 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan.70 . Sebanyak 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. yaitu pemerintah daerah mengalami defisit anggaran yang berdampak pada penundaan pembayaran paket-paket pekerjaan TA 2010 yang telah selesai dikerjakan.00 juta pada TA 2010 belum dicatat secara tertib mengakibatkan Laporan Pengguliran Ternak yang disajikan di Neraca TA 2010 berpotensi salah catat dan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. terdiri atas • sebanyak 54 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. Provinsi Nusa Tenggara Timur.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. • sebanyak 22 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. Akibatnya. • sebanyak 8 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.25 miliar pada TA 2009 dan senilai Rp203.71 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur berupa permasalahan tidak adanya pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Pekerjaan Umum. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 4 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. yaitu pengguliran ternak pada dinas peternakan senilai Rp18. • sebanyak 10 kasus mekanisme pemungutan. Provinsi Sumatera Utara.51 miliar.

Tabel 12.38 30.994 kasus ketidakpatuhan senilai Rp840.752. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 12.74 Hasil pemeriksaan atas belanja pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 1.267.22 522. ketidakhematan.69 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. kekurangan penerimaan daerah.73 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.72 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengelola anggaran kurang cermat dalam mengusulkan rencana kerja anggaran. BPK telah merekomendasikan agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta segera membuat aturan pelaksanaan anggaran.2.69 840. Rekomendasi 12.11 45.994 144.692. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 857 206 314 366 119 132 1.377. potensi kerugian daerah. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah No.656.639. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 19 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 20.2.134 Penyebab 12. administrasi. kepala daerah memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam penganggaran.03 97. dan kepala daerah lalai dalam membuat aturan pelaksanaan anggaran. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan.46 .

75 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.09 miliar. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. dan barang. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. • sebanyak 419 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp72.44 miliar. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. • sebanyak 42 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp8.77 12. • sebanyak 41 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp3. • sebanyak 24 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp3.49 miliar.26 miliar. • sebanyak 105 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp8.00 miliar.78 .01 miliar. terdiri atas • sebanyak 23 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp9.34 miliar.76 12.88 miliar.52 miliar.48 miliar. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. surat berharga. • sebanyak 49 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp10.96 miliar. Kerugian daerah juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.135 Kerugian Daerah 12. Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 857 kasus senilai Rp144. • sebanyak 19 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp12. 12. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. • sebanyak 130 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp14. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp1. pemahalan harga (mark up).

136 12.84 .59 miliar. dan barang.80 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. senilai Rp22. Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah. Dinas Pendidikan. serta kurangnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab kegiatan.04 juta atas kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009.65 miliar. Provinsi Jawa Barat terdapat kekurangan volume pekerjaan jalan dan jembatan serta rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan di Dinas Bina Marga dan Pengairan TA 2009 dan 2010 senilai Rp2. yang nyata dan pasti jumlahnya. • Di Provinsi DKI Jakarta. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor uang ke kas daerah atau melengkapi pekerjaan melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Potensi Kerugian Daerah 12. dan memberikan sanksi kepada pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. dan di Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp1. rekanan belum melaksanakan kewajiban 12. • Di Kabupaten Purwakarta. terdapat kekurangan volume pekerjaan penyelesaian pembangunan fasilitas rekreasi dan olahraga Jakarta Timur TA 2009 senilai Rp3. surat berharga.82 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp1.81 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya dan dengan sengaja membuat berita acara prestasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.59 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah.83 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 12.54 miliar. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.79 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.22 miliar. Rekomendasi 12. yaitu di antaranya di Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp5.35 miliar. terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp974. Penyebab 12. • Di Provinsi DKI Jakarta.

• sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp524.63 miliar tidak diterbitkan oleh bank tetapi oleh lembaga asuransi dan/atau masa berlakunya kurang dari ketentuan. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. terdiri atas • sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp53. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp18. aset tidak diketahui keberadaannya.17 miliar. • sebanyak 19 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp2. 12. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. dan • sebanyak 11 kasus lain-lain senilai Rp12.24 miliar. . Provinsi Sulawesi Tengah.62 miliar.22 miliar.65 miliar. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp985.137 pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. Akibatnya.00 juta.16 juta. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. Pemkab Banggai Kepulauan berpotensi mengalami kesulitan dalam mencairkan jaminan pelaksanaan apabila rekanan wanprestasi. jaminan pelaksanaan atas pengadaan barang jasa oleh pihak ketiga TA 2009 dan 2010 senilai Rp5. • sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain.85 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 206 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp97. aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 9 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.32 miliar. 12. • sebanyak 10 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp8. • Di Kabupaten Banggai Kepulauan. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.54 miliar.86 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

Penyebab 12. senilai Rp1.21 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek. terdapat tunggakan Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada 5 kecamatan. memberi sanksi kepada pelaksana dan mempertanggungjawabkan uang/barang yang berpotensi hilang.12 miliar. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah menunjukkan terdapat 314 kasus kekurangan penerimaan daerah senilai Rp45. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada kontraktor sesuai ketentuan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/ dipungut/diterima/disetor ke kas daerah.89 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut. Kekurangan Penerimaan 12.98 juta. penggunaan langsung penerimaan daerah. para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. dan Kecamatan Sumay dengan jumlah keseluruhan senilai Rp1. penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak. dan di Pemerintah Kabupaten Muara Enim senilai Rp387.138 • Di Kabupaten Tebo.91 12. 12.99 juta.01 miliar.88 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak yang telah disepakati. Kecamatan VII Koto. yaitu Kecamatan Tebo Ilir. Provinsi Jambi. 12. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. yaitu di antaranya di Provinsi Kepulauan Riau senilai Rp484.87 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan potensi kerugian daerah tersebut. terdiri atas • sebanyak 307 kasus penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp44.63 miliar. serta melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp1.92 . Kecamatan Tebo Tengah. Rekomendasi 12.90 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.56 miliar yang terjadi sejak Tahun 2008. Kecamatan Tebo Ulu.

Provinsi Sulawesi Tenggara. pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009 pada Dinas Pendidikan mengalami keterlambatan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp755. Rekomendasi 12.94 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/ daerah tersebut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pelaksana kegiatan dan pimpinan SKPD. dan Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp478.93 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. . 12. Dinas Kesehatan.95 juta.139 • sebanyak 1 penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp108. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera menagih kekurangan penerimaan dan segera menyetorkannya ke kas daerah. dan • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai Rp15.37 juta.70 juta. RSUD Dr R Koesma. Pemuda. • Di Kabupaten Tuban. serta Dinas Pendidikan.12 juta. dan Olahraga TA 2010 yang belum diselesaikan hingga akhir masa kontrak dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp650.95 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang direncanakan.96 juta. potongan PPN dan PPh Masa Tahun 2009 dan 2010 yang diterima oleh rekanan/bendahara pengeluaran berindikasi tidak disetor ke kas negara senilai Rp9.96 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. Penyebab 12.69 juta.67 miliar. 12. yaitu di antaranya di Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp755.92 juta.00 juta.02 miliar. pelaksana kegiatan dan bendaharawan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Sekretariat Daerah. • Di Provinsi DKI Jakarta. Provinsi Jawa Timur. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp5. • sebanyak 3 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp375. • Di Kabupaten Muna. Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp481. beberapa pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum.

. terdiri atas • sebanyak 139 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). tidak menghambat program entitas. • sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah.140 Administrasi 12. kekurangan penerimaan daerah.97 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. dll. dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. • sebanyak 4 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. • sebanyak 24 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. • sebanyak 19 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pelaksanaan lelang secara proforma. tidak mengurangi hak daerah. • sebanyak 114 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Penyimpangan administrasi juga meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. Kasus-kasus penyimpangan administrasi meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). pertambangan. perpajakan.98 12. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.99 12. proses pengadaan barang/ jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. 12. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.100 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 366 kasus penyimpangan administrasi. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.

• Di Kabupaten Halmahera Selatan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di unit kerjanya masing-masing. Provinsi Jambi. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. pekerjaan penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) dengan nilai kontrak senilai Rp10. Provinsi Maluku Utara. • Di Kabupaten Bungo. • Di Kabupaten Lembata. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Provinsi Nusa Tenggara Timur. .102 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pelaksana lalai dalam membuat pertanggungjawaban kegiatan.101 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.13 miliar dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang paling menguntungkan daerah. 12. Penyebab 12. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.60 juta. Rekomendasi 12. • sebanyak 3 kasus dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. realisasi belanja hibah TA 2010 belum dipertanggungjawabkan penerima hibah senilai Rp25. • sebanyak 4 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. Ketidakhematan 12.141 • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. terdapat kekurangan bukti pertanggungjawaban (bukti belum lengkap) yang harus diserahkan penerima hibah TA 2009 senilai Rp239.85 miliar.104 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.103 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. dan • sebanyak 6 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • sebanyak 9 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.

Provinsi Bali. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.109 Terhadap permasalahan-permasalahan ketidakhematan tersebut. 12. koefisien komponen alat dan upah pada analisa harga satuan pekerjaan lapis latasir. Provinsi Jawa Barat.106 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 119 kasus ketidakhematan senilai Rp30.42 juta. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek.82 miliar. penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. 12.107 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.105 Ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya meliputi pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan. Penyebab 12. • Di Kabupaten Jembrana.71 miliar. dan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. • Di Kabupaten Cirebon.37 miliar yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp34. pembayaran honorarium sekretariat panitia pemungutan suara pada empat kabupaten tidak sesuai ketentuan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.66 miliar.108 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas.67 miliar. panitia lelang kurang cermat dalam mengevaluasi dan menganalisis penawaran harga dari rekanan.142 12. • Di Provinsi Bengkulu.88 miliar. dan • sebanyak 106 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp26. lataston. Rekomendasi 12. • sebanyak 9 kasus penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp3. Provinsi Jambi.75 miliar. pemberian bantuan sosial untuk beasiswa pendidikan TA 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1. HPS atas pekerjaan pembangunan sarana air bersih Tebing Tinggi – Kuala Tungkal tahap II tidak disusun secara keahlian sehingga terdapat kemahalan harga kontrak senilai Rp2. . dan lapisan pondasi atas pada 120 paket pekerjaan melebihi standar HPS sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp2. • Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

26 miliar. Provinsi NTT. dan • sebanyak 1 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.112 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 132 kasus ketidakefektifan senilai Rp522. • sebanyak 43 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp466.54 miliar.46 miliar. 12. Provinsi Jawa Tengah. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. 12. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. hasil kegiatan pembangunan pengembangan Kawasan Objek Wisata Sumber Air Ingas Terpadu TA 2009 senilai Rp2. • Di Kabupaten Klaten.37 miliar.75 miliar yang terdiri atas • sebanyak 38 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp26.71 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. . pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. • Di Kabupaten Belu. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • sebanyak 8 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp3.51 miliar termasuk kategori kritis sehingga berisiko tidak akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang direncanakan.111 Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.110 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).113 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan Olahraga senilai Rp15. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Pemuda.143 Ketidakefektifan 12.10 miliar. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. • sebanyak 37 kasus barang yang dibeli tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp23. sebelas paket pekerjaan TA 2010 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Pendidikan. • sebanyak 4 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp3. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. 12.

. Penyebab 12.144 • Di Kabupaten Kepahiang.116 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Provinsi Bengkulu. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. pelaksana proyek/kegiatan kurang tegas kepada rekanan. Rekomendasi 12.114 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar kepala daerah menegur secara tertulis kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada rekanan. 12.115 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.06 miliar di RSUD Kepahiang dan Dinas Kesehatan dan peralatan serta perlengkapan sekolah senilai Rp432. Pemuda. dan Olahraga hasil pengadaan TA 2010 belum dimanfaatkan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. alat-alat kesehatan senilai Rp2.14 juta di Dinas Pendidikan.

3 13. Kota Surabaya. . serta kewajaran dan kecukupan pengungkapan atas pelaporan aset tetap. Pemeriksaan dilakukan pada sembilan entitas pemerintah daerah. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset atau pengelolaan barang milik daerah (BMD). sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah.145 BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 13. serta pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan aset pemerintah daerah.2 13. • menguji keberadaan. nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan. dan • menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. 13. penilaian.4 Tujuan Pemeriksaan 13.1 Aset tetap daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Kabupaten Buleleng. kepemilikan. Kabupaten Luwu Utara. Pada umumnya. Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan. dan Kabupaten Parigi Moutong. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada pemerintah daerah mencakup aset pemerintah daerah yang dikuasai oleh pengelola barang (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Kabupaten Sidoarjo. yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Kabupaten Jembrana. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.5 Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset adalah untuk • menilai efektivitas sistem pengendalian intern terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. Kabupaten Tana Toraja. Kota Banjarmasin. kelengkapan. Oleh karena itu. Dalam Semester II Tahun 2010. Hasil Pemeriksaan 13. Barang milik daerah adalah semua barang yang di beli atau diperoleh atau beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Oleh karena itu.

• Di Kabupaten Parigi Moutong. pengadaan aset berupa jalan pada TA 2009 senilai Rp59.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Sulawesi Tengah.8 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI. dan 13. Sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Provinsi Jawa Timur.42 miliar tidak dilaksanakan sehingga laporan aset tetap Tahun 2009 dan 2010 tidak dapat disusun. • Di Kota Surabaya. yaitu 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 13. terdiri atas • sebanyak 26 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. pencatatan aset tetap dalam kartu inventaris barang (KIB) dan inventarisasi aset tetap seluruhnya senilai Rp62. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.11 Sebanyak 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.20 miliar tidak dicatat dalam laporan barang milik daerah sehingga Laporan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.146 Sistem Pengendalian Intern 13. • sebanyak 3 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.7 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan/manajemen aset menunjukkan adanya kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 13. terdiri atas • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. serta 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 25). Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut.9 . 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 13.

potensi kerugian daerah. Rekomendasi 13.17 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 91 kasus ketidakpatuhan senilai Rp34. terdiri atas • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Penyebab 13.1.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong. ketidakhematan.15 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengguna BMD lalai dalam melakukan pembinaan. administrasi. kekurangan penerimaan daerah. pemanfaatan atau pemindahtanganan BMD. 13. 13. . pengendalian. bupati belum menetapkan pedoman teknis pengelolaan aset tetap yang meliputi kebijakan penggunaan. dan • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas para pengurus barang yang menjadi tanggung jawabnya. Provinsi Bali yaitu pemanfaatan hak pengelolaan tanah Gilimanuk oleh pihak ketiga untuk pertokoan tidak sesuai ketentuan sehingga hasil pemanfaatan aset tanah tersebut tidak dapat diterima oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. dan kebijakan pengamanan BMD sebagaimana disyaratkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan BMD.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi administratif kepada pejabat yang bertanggung jawab sebagai pengguna BMD dan segera menetapkan pedoman teknis terkait pengelolaan BMD. Sebanyak 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Provinsi Sulawesi Tengah. 13. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 13. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 22 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 23.147 • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.13 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13.12 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Jembrana.31 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.

58 juta. Provinsi Sulawesi Selatan.38 juta belum dikenakan tuntutan ganti rugi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.74 34. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No. Provinsi Bali. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 5 kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp1.33 1.528. • Di Kabupaten Luwu Utara. aset Pemerintah Kabupaten Jembrana berupa sapi hasil pengadaan Tahun 2006 sebanyak 287 ekor senilai Rp857.11 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp857.20 .12 juta untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Usaha Pembibitan Sapi Bali dijual oleh penerima bantuan. BMD yang hilang selama Tahun 2006 s.77 22. 2010 minimal senilai Rp86.318.12 juta.014. 13. dan barang.70 4. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah dan lain-lain kasus kerugian daerah berupa pengenaan ganti kerugian daerah belum/ tidak dilaksanakan sesuai ketentuan.1. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp258.51 Kerugian Daerah 13.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.148 Tabel 13. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 5 14 2 61 1 8 91 1. • Di Kabupaten Jembrana. 13.810.848.94 4.115.19 13.d. surat berharga.18 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.

88 miliar tidak dapat ditelusuri keberadaan fisik barangnya. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp3. 13. Provinsi Sulawesi Selatan.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan upaya penagihan kepada penerima bantuan dan hasilnya disetorkan ke kas daerah. Pensiunan PNS. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan • sebanyak 1 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp72. dan barang. surat berharga.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam melakukan pengurusan BMD. dan pihak lain di luar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara).26 . • Di Kabupaten Buleleng. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi aset dikuasai pihak lain.29 juta. Rekomendasi 13.08 miliar.05 juta berpotensi merugikan keuangan daerah. Potensi Kerugian Daerah 13. tunggakan cicilan penjualan kendaraan roda dua dan empat senilai Rp72. aset tidak diketahui keberadaannya. • Di Kota Banjarmasin.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Luwu Utara.05 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 14 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp4. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. barang milik daerah senilai Rp856. serta memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.149 Penyebab 13. Provinsi Kalimantan Selatan. Provinsi Bali.29 juta dikuasai pihak lain (PNS.01 miliar yang terdiri atas • sebanyak 8 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp856.23 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.25 13. aset tetap yang tercatat di SKPD per 30 Juni 2010 minimal senilai Rp2. 13.

2006 senilai Rp4. beberapa mitra kerja tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk periode Tahun 2000 s. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 2 kasus penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp4.d. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan pengguna BMD untuk melakukan pembinaan atas pengelolaan BMD sesuai ketentuan yang berlaku dan melakukan pengamanan fisik dan administratif atas BMD yang berada dalam penguasaannya. Rekomendasi 13. dan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam mengamankan dan memelihara BMD.30 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.81 miliar.78 miliar.28 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan pengguna dan pengurus lalai dalam dalam melaksanakan tugasnya untuk menelusuri keberadaan BMD.33 . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera meminta mitra kerja untuk memenuhi kewajiban kontribusi dan kompensasi sesuai dengan syarat yang diperjanjikan serta segera menyetorkannya ke kas daerah. Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya di Kota Banjarmasin. 13. Rekomendasi 13.150 Penyebab 13.31 13.32 13. Kekurangan Penerimaan 13. Penyebab 13. Provinsi Kalimantan Selatan. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/ disetor ke kas daerah.34 Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya disebabkan mitra kerja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut.29 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.

13. dan instalasi senilai Rp29. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan • sebanyak 17 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. tidak mengurangi hak daerah. Provinsi Bali. • Di Kota Surabaya.38 .151 Administrasi 13. tidak menghambat program entitas. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset.39 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 13.39 miliar yang digunakan oleh 17 SKPD belum ditetapkan dengan surat keputusan bupati sehingga pertanggungjawaban dan pemeliharaan aset tersebut menjadi tidak jelas. jaringan.64 miliar yang diserahterimakan kepada PDAM Kota Surabaya sampai dengan 12 Maret 2010 belum ditetapkan status penyertaan modalnya. • Di Kabupaten Jembrana. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 61 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 43 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. penggunaan aset tetap berupa gedung dan bangunan senilai Rp65. Provinsi Bali.29 miliar yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sampai dengan 30 Juni 2010 belum diurus kejelasan status kepemilikannya sehingga rawan terhadap penyalahgunaan oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab atau tuntutan hukum pihak lain. kekurangan penerimaan daerah. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • Di Kabupaten Buleleng. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. dan kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. aset tetap minimal senilai Rp27. Provinsi Jawa Timur. aset jalan.37 13.

13. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. 13.40 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pengguna dan pengurus BMD lalai dalam melakukan pengamanan fisik dan administratif terhadap aset daerah.44 Kasus ketidakhematan terjadi karena pengguna BMD kurang berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah.45 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Penyebab 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi administratif kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD.52 miliar yaitu kegiatan rehabilitasi gedung/bangunan di Dinas Pendidikan (TA 2009) atas bangunan sekolah yang bukan milik Pemerintah Kota Banjarmasin.42 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah.41 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. dan barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. serta kurang optimal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.46 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).47 . Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus pemborosan keuangan daerah senilai Rp1. Ketidakhematan 13. Rekomendasi 13.43 Ketidakefektifan 13. Rekomendasi 13.152 Penyebab 13. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.

Rekomendasi 13.50 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan pengadaan BMD. barang hasil pengadaan TA 2009 senilai Rp1.52 . aset tetap hasil pengadaan selama Tahun 2003 s.49 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 7 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp22. gedung pengolahan daging.84 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. memanfaatkan secara optimal barang hasil pengadaan. aset kapal penangkap ikan Jimbarwana dan Jimbarsegara.d. • Di Kabupaten Luwu Utara. Provinsi Bali. M. docking fasilitas perbaikan kapal ikan dan alat-alat mesin sarana docking kapal.27 miliar belum dapat dimanfaatkan. Penyebab 13.48 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakefektifan senilai Rp22. • Di Kota Surabaya. • Di Kabupaten Jembrana. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menggunakan rencana kebutuhan BMD sebagai dasar penganggaran. belt conveyor di Pelabuhan Pengambengan. pembangunan gedung RSUD dr.153 13. Soewardhie belum selesai sehingga barang inventaris hasil pengadaan Tahun 2009 dan 2010 yang bersumber dari APBD dan APBN senilai Rp5. pelaksanaan pengadaan BMD tidak memperhatikan efektivitas pencapaian tujuan pengadaan.21 miliar belum dimanfaatkan dan masih tersimpan dalam kardus. rumah dinas ASDP dan jaringan pipa air bersih Megumi. serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jembrana seluruhnya senilai Rp15. Provinsi Jawa Timur. 13.84 miliar. Provinsi Sulawesi Selatan.18 miliar belum dimanfaatkan.51 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. 13. 2009 yang terdiri atas gedung beserta peralatan laboratorium lingkungan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan.

154 .

155 BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. yang berada pada permukaan tanah.4 . Sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.2 14. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. bangunan. Kalimantan Barat. di atas permukaan tanah. BPK telah memeriksa pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. di bawah permukaan tanah dan/atau air.35% dari realisasi belanja modal jalan dan jembatan senilai Rp2.75 miliar atau 6. dan jalan kabel.57% dari cakupan pemeriksaan.I Yogyakarta. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. Dalam Semester II Tahun 2010. Lebih lanjut sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. 14. Pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mobilitas distribusi berbagai produk barang dan jasa dalam perekonomian nasional. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi/kabupaten/kota TA 2009 dan 2010.35 triliun atau 58. dan Gorontalo. Bangunan gedung penting bagi manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang tujuan pembangunan nasional. yang dimaksud dengan jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. Kebinamargaan. jalan lori. serta di atas permukaan air. dan bangunan pengairan/drainase merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Objek pemeriksaan dimaksud adalah Dinas PU Cipta Karya dan Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Barat dan Dinas PU Bina Marga pada 14 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Provinsi Lampung. penggunaan dan pembuangan air irigasi.1 Pembangunan infrastruktur keciptakaryaan. yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. pemberian. Adapun total temuan senilai Rp88. D. kecuali jalan kereta api. dan 14 Dinas PU Bina Marga kabupaten/ kota adalah senilai Rp1. kebinamargaan. pembagian. Jaringan irigasi adalah saluran. dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah 14. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase pada satu Dinas PU Cipta Karya Provinsi. Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian.29 triliun. Kalimantan Timur. kebinamargaan. dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan.3 14.32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.

di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Oleh karena itu.9 . Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Hasil Pemeriksaan 14. dan • sumber daya yang ada telah digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis dan efisien.7 Hasil evaluasi SPI menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja meliputi 5 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. 14.5 Tujuan pemeriksaan atas belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. kebinamargaan dan bangunan air/drainase pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) pemerintah daerah atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.8 Hasil evaluasi atas SPI menunjukkan terdapat 7 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 2 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.6 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. • kegiatan belanja infrastruktur keciptakaryaan. pelaporan keuangan dan pengamanan atas aset daerah. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. kebinamargaan dan drainase. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. kebinamargaan dan drainase/pengairan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah telah sesuai dengan peraturan perundang -undangan yang berlaku. Sistem Pengendalian Intern 14.156 Tujuan Pemeriksaan 14. 14.

potensi kerugian daerah. 14. kurangnya pemahaman alur proses perencanaan sesuai ketentuan yang berlaku.12 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 14. Provinsi Kalimantan Barat. ketidakhematan. upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). Provinsi Kalimantan Barat. 14. Penyebab 14. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian daerah. . • Di Provinsi Kalimantan Barat. BPK telah merekomendasikan kepada gubernur/bupati agar menegur Kepala Dinas PU agar melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. perencanaan lapis permukaan pada paket pekerjaan peningkatan kawasan pemerintahan TA 2009 tidak memadai. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 14. kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan bidang sumber daya air TA 2009 minimal senilai Rp29. kekurangan penerimaan. dan kontraktor tidak mematuhi ketentuan yang terkait pengelolaan lingkungan hidup. • Di Kabupaten Sambas. Rincian per jenis temuan disajikan pada Lampiran 25 dan rincian menurut entitas disajikan pada Lampiran 26. administrasi. • Di Kabupaten Kayong Utara.1.157 14. Rekomendasi 14.15 Sesuai dengan tujuannya. hasil pemeriksaan menyajikan kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. tujuh paket pekerjaan jalan TA 2009 tidak menyusun dokumen AMDAL.11 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern meliputi 2 kasus standar operasional prosedur (SOP) yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pelaksana pekerjaan atas kegiatan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Jagoi Babang Lanjutan dan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Entikong Lanjutan pada Dinas PU Cipta Karya TA 2009 tidak menyusun dokumen UPL dan UKL.22 miliar dilakukan tanpa perencanaan yang memadai. • Di Provinsi Kalimantan Barat.14 Terhadap kasus-kasus tersebut.13 Kasus-kasus tersebut disebabkan oleh lemahnya kebijakan.

dan kerugian daerah lainnya.1. dan kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. 14. dan barang. yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp6. surat berharga.19 . dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan terdapat 48 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp36.401. • sebanyak 22 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp16. dan bangunan pengairan/drainase.57 miliar. dan Bangunan Pengairan/Drainase No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 48 24 13 26 8 5 124 Nilai (juta Rp) 36. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.752.96 34.619. hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 124 kasus senilai Rp88.75 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.432. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.55 miliar.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 14. Kerugian daerah juga meliputi spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan.43 miliar. • sebanyak 19 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp11.158 Tabel 14. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. kebinamargaan. kebinamargaan.17 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.48 88.14 14.62 3.18 14.16 Berdasarkan tabel di atas.26 miliar. Kebinamargaan. Kerugian Daerah 14.298.

BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah dengan menyetorkan uang ke kas daerah atau melengkapi/menyerahkan aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Potensi Kerugian Daerah 14.d.90 juta. • Di Kabupaten Nunukan. dan • sebanyak 1 kasus lainnya senilai Rp37. Yogyakarta.159 • sebanyak 5 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. surat berharga.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.52 miliar. 14. dan pejabat pembuat komitmen (PPK) belum mematuhi ketentuan atau prosedur yang berlaku dalam pengadaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. dan barang.I.35 juta yang berasal dari contoh kasus di atas dan penyetoran dari kasus kerugian daerah lainnya. Penyebab 14.23 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut. Provinsi Gorontalo. kekurangan volume atas pekerjaan pembangunan. Provinsi D.68 miliar. • Di Kabupaten Bantul.25 . Provinsi Kalimantan Timur. Rekomendasi 14. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan 14.00 miliar.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengawas lapangan tidak cermat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan. yang nyata dan pasti jumlahnya.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 14. ketebalan pekerjaan lapis pondasi bawah dan atas (LPB/LPA) pada tiga ruas jalan dan pekerjaan asphalt treated base (ATB) pada 15 ruas jalan TA 2009 dan 2010 tidak sesuai spesifikasi senilai Rp599. beberapa pekerjaan selama Tahun 2005 s.75 juta. peningkatan dan/atau pemeliharaan jalan seluruhnya senilai Rp1. 2010 tidak sesuai dengan kontrak mengakibatkan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp8. • Kabupaten Gorontalo Utara. di antaranya Pemerintah Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp735.21 Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut. panitia pengadaan barang/jasa.

14. 14.37 miliar. paket pekerjaan pembangunan jalan Dusun Besar–Pintau dan jembatan Sungai Gemuruh Tahap II TA 2010 berpotensi lebih bayar senilai Rp1. terdapat kekurangan volume pekerjaan pengaspalan overlay jalan dengan hot rolled sheet (HRS) pada empat paket kontrak kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruas jalan dengan menggunakan HRS-Base dan HRS. Provinsi Kalimantan Barat.26 Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Provinsi Lampung. • Di Kabupaten Tulang Bawang.04 juta.Wearing Course TA 2010 senilai Rp633. serta pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.69 miliar.160 sebagian atau seluruhnya.d.24 juta (setelah dikurangi PPN dan PPh tetapi pekerjaan baru dibayar 93% dari nilai kontrak). • Di Kabupaten Nunukan. Provinsi Gorontalo. • Di Kabupaten Gorontalo Utara.67 miliar. . dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp19.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Dinas PU Kabupaten Gorontalo Utara telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp55.28 Di antara kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.76 miliar. 14. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. Provinsi Kalimantan Timur. tetapi atas pekerjaan tersebut belum dibayar seluruhnya. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. pemanfaatan barang.61 miliar yang terdiri atas • sebanyak 21 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp14. • sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp154.54 juta. realisasi keuangan empat paket pekerjaan peningkatan jalan selama Tahun 2005 s.24 juta. dan • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan. • Di Kabupaten Kayong Utara. 2010 melebihi prestasi fisik senilai Rp5. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian daerah sebanyak 24 kasus senilai Rp34. pemanfaatan barang. terdapat pembayaran atas pekerjaan jalan dan jembatan melebihi nilai kontrak/amandemen kontrak senilai Rp55.

memperhitungkan hak daerah dan segera menyetorkannya ke kas daerah. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah. dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebanyak 13 kasus senilai Rp3. • Di Kabupaten Penajam Paser Utara.35 Kasus-kasus kekurangan penerimaan terjadi karena kontraktor pelaksana tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam kontrak dan PPK lemah dalam melakukan pengawasan serta pengendalian paket pekerjaan. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.34 .161 Penyebab 14. Provinsi Kalimantan Timur.39 miliar. Provinsi Kalimantan Timur.30 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. Rekomendasi 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pajak pengambilan bahan galian golongan C TA 2009 dan 2010 belum diselesaikan rekanan minimal senilai Rp1. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada para pejabat yang bertanggung jawab. 14. Kekurangan Penerimaan 14. Penyebab 14. • Di Kabupaten Nunukan.32 14.33 14.15 juta. serta meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan. kebinamargaan.31 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.40 miliar.29 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan Kepala Dinas PU dan PPK tidak cermat dalam menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan. penyelesaian tiga paket pekerjaan TA 2009 terlambat dan rekanan belum dikenakan sanksi denda minimal senilai Rp758.

16 miliar dilakukan tanpa dasar acuan pekerjaan. dan • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.38 14. perpajakan. proses adendum tidak dilengkapi dengan gambar rencana dan data teknis justifikasi sehingga kegiatan pada Dinas PU Bidang Sumber Daya Air TA 2009 senilai Rp25. dll. • Di Kabupaten Kayong Utara.162 Rekomendasi 14. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).37 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. pertanggungjawaban pembayaran biaya konsultansi TA 2009 belum memadai senilai Rp806. • Di Provinsi Kalimantan Barat. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.39 . • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.36 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. pertambangan. kekurangan penerimaan daerah. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah. pertambangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah.15 juta. tidak mengurangi hak daerah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 26 kasus yang terdiri atas • sebanyak 11 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur dan memerintahkan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. Provinsi Kalimantan Barat. dll. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah. Administrasi 14. 14. perpajakan. tidak menghambat program entitas.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 14.

43 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. kelebihan perhitungan atas koefisien alat motor grader untuk analisis harga satuan pekerjaan timbunan biasa dari selain galian sumber bahan pada lima paket pekerjaan bidang Bina Marga TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp880. dan perhitungan pekerjaan yang dikontrakkan.163 Penyebab 14. • Di Kabupaten Sanggau.45 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. evaluasi. • Di Kabupaten Nunukan.18 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak delapan kasus senilai Rp14. Ketidakhematan 14.44 14. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. 14. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya berupa pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. Provinsi Kalimantan Timur.47 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena panitia lelang tidak cermat dalam melakukan perencanaan. Rekomendasi 14. dan konsultan pengawas lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.46 .86 juta. Penyebab 14.29 miliar. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. pengawas lapangan. Provinsi Kalimantan Barat.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). serta lemahnya pengawasan dan pengendalian Kepala Dinas PU dan penanggung jawab kegiatan.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan atau sanksi kepada Kepala Dinas PU dan pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. kelebihan perhitungan analisis harga satuan bahan pada pembangunan jalan lingkar luar pantai Sei Jepun-Mansapa TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp4.

51 14. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada Kepala Dinas PU agar lebih cermat dalam perencanaan dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. BPK telah Terhadap kasus-kasus merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk memberikan sanksi kepada kuasa pengguna anggaran (KPA). Ketidakefektifan 14. PPTK. • Di Kabupaten Kayong Utara.34 juta berpotensi tidak selesai dikerjakan (baru mencapai 80. Rekomendasi 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.49 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).75%). Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.48 kasus-kasus ketidakhematan tersebut.55 . dan pengawas lapangan tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan pelaksana lalai dalam melaksanakan tugasnya. memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Provinsi Kalimantan Barat.54 ketidakefektifan tersebut. pekerjaan konstruksi jalan TA 2010 tidak sesuai jadwal pelaksanaan berpotensi pekerjaan tidak selesai tepat waktu. progress fisik pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan abutment jembatan Sungai Mata-mata TA 2009 senilai Rp996. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan yaitu sebanyak lima kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.53 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena tidak adanya itikad baik dari kontraktor.50 14. • Di Kabupaten Boalemo. 14. PPTK. dan pengawas lapangan proyek yang bersangkutan.164 Rekomendasi 14.52 14. Penyebab 14. Provinsi Gorontalo.

intensifikasi penerimaan negara dari sektor tersebut akan secara langsung mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya. Batubara dibedakan berdasarkan kualitasnya. Melalui ketentuan ini. Bentuk pengusahaan pertambangan bahan galian batubara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan adalah kuasa pertambangan dan perjanjian/kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor swasta. dan gambut. Pemberian KP menurut undangundang tersebut di atas diberikan oleh Menteri Pertambangan. sub-bituminus. bituminus. Secara umum kualitas deposit batubara bergantung pada lama waktu pembentukannya atau kematangan organiknya. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara. batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit.165 BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batubara 15. Perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) adalah perjanjian karya antara Pemerintah RI dengan perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan bahan galian batubara.4 . dan waktu. Akhir dari mata rantai pengelolaan sumber daya alam adalah pengelolaan lingkungan hidup. pada akhirnya akan menjadi penerimaan daerah dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) dan menjadi sumber dana bagi pembangunan daerah.2 15. rusaknya lingkungan hidup akan membebani keuangan negara/ daerah untuk pemulihannya dan apabila upaya pemulihan tidak berhasil akan mengancam kelestarian alam dan kehidupan manusia. Hidrogen. yaitu kualitas rendah (low coal) dan kualitas tinggi (hard coal). dengan sejumlah kecil elemen lain yang umumnya berupa Sulfur. berupa royalti dan iuran tetap. Pertambangan batubara merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di daerah.1 Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dalam jangka waktu yang lama. 15.3 15. Kuasa pertambangan (KP) adalah wewenang yang diberikan kepada badan usaha/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara membawa semangat reformasi dan otonomi daerah di dalamnya. Oleh karena itu. Batuan organik berwarna hitam tersebut umumnya terdiri atas senyawa Karbon. demi kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. dan Oksigen. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dipengaruhi oleh tekanan. Jika tidak dikelola secara memadai. lignit. Pemerintah mendudukan diri sebagai wakil dari Negara– sebagai pemilik sumber daya alam yang dapat memberikan kuasa pertambangan kepada pihak lain (termasuk swasta) untuk turut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). panas. tetapi pada saat yang sama berpotensi sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kehidupan masyarakat.

15. Cakupan pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (perijinan. Oleh karena itu.9 Sistem Pengendalian Intern 15. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.166 15. dana bagi hasil.7 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai.26 juta atau senilai Rp444.6 Tujuan Pemeriksaan 15. bagi hasil. Kalimantan Selatan. • pemberian izin. Hasil pengujian yang dilakukan BPK menunjukkan bahwa rancangan dan implementasi sistem pengendalian intern terkait dengan pengelolaan batubara belum mampu secara efektif menjamin pencapaian tujuan optimalisasi PNBP dan kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan dalam hal perizinan.8 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.991). 15. Hasil Pemeriksaan 15.04 miliar dan USD29.10 Salah satu tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. Nilai temuan pemeriksaan adalah Rp181. dana bagi hasil (DBH). Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. . Sumatera Barat. penerimaan asli daerah. dan pengelolaan pertambangan) Tahun 2008 s.78 triliun.5 Pada Semester II Tahun 2010.14 miliar (dengan nilai kurs 1 USD = Rp8. dan Kalimantan Timur. dan pengelolaan lingkungan pertambangan. dan pengelolaan lingkungan pertambangan batubara khususnya reklamasi telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. PNBP. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara Tahun 2008 sampai dengan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan 13 pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.81 triliun dari realisasi anggaran pendapatan Rp10. Riau.d Semester I Tahun 2010 pada 14 pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan kontraktor PKP2B adalah senilai Rp2. pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.11 Hasil evaluasi SPI atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 8 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.15 Sebanyak delapan kasus kelemahan struktur pengendalian intern. terdiri atas • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. dan 15. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. Sebanyak 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 27. • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.167 15.57 miliar.12 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan terdapat 25 kasus kelemahan SPI. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal senilai Rp1. 15.68 miliar. 15. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atas produksi batubara senilai Rp2. • Di Kabupaten Sarolangun. pembukuan dan pencatatan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.13 . • Di Kabupaten Kuantan Singingi. 15. dan • sebanyak 8 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. terdiri atas • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu dan ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.

dan 4) Menteri ESDM agar berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk segera menyusun dan menerbitkan ketentuan tentang tata cara pengenaan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 15. serta Menteri ESDM dan Menteri Keuangan belum merumuskan tata cara pengenaan. administrasi. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain: 1) merevisi keputusan bupati yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 15. dan penyetoran PNBP di lingkungan Kementerian ESDM.18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. Penyebab 15. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 28 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 29. dan kurang optimal dalam melakukan pengawasan terhadap rencana dan penyetoran jaminan reklamasi. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. pemungutan dan penyetoran PNBP sesuai amanat UU dan PP. pemerintah kabupaten belum menetapkan prosedur pelaksanaan rencana reklamasi dan jaminan reklamasi.17 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena kebijakan bupati tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. pemungutan. pelaksana tidak memahami pentingnya penetapan peraturan tentang besaran jaminan reklamasi dan rencana reklamasi yang harus disampaikan oleh para pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi sebelum melakukan kegiatan penambangannya.19 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang dapat mengakibatkan potensi kerugian negara. tata cara pengenaan. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. 2) kepala dinas teknis terkait untuk segera mengajukan konsep keputusan bupati tentang rencana dan jaminan reklamasi sebagai dasar pelaksanaan reklamasi. Rekomendasi 15. . kekurangan penerimaan negara. 15.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.168 • sebanyak 4 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun sehingga pengelolaan PNBP dari pertambangan batubara belum optimal. dan 3) Kepala Dinas ESDM melakukan pengawasan secara memadai atas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan pertambangan. pemungutan.1.

jaminan kesungguhan yang seharusnya disetorkan para pemegang IUP Tahun 2008 senilai Rp758. CV AME.28 miliar.20 Berdasarkan tabel di atas.23 . dan PT NAL di Kota Sawahlunto • Di Kabupaten Sarolangun. 15. • Kegiatan penambangan di kawasan hutan dilakukan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan. CV PSPN. CV BMK.04 miliar dan USD29.261. CV CP.602.169 Tabel 15. dan barang. sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pertambangan batubara.54 15.60 juta. pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.26 juta. pemegang IUP operasi produksi batubara belum/kurang menyerahkan jaminan reklamasi senilai Rp1. PT LMH. hasil pemeriksaan mengungkapkan 85 kasus senilai Rp181. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. Kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai. PT RMB di Kabupaten Indragiri Hulu.49 175. CV MI.1.261. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 20 kasus senilai Rp5.049. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. surat berharga.71 29. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) (ribu USD) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakefektifan Jumlah 20 31 33 1 85 5.21 Rp181. Provinsi Riau.54 Rp29. PT MIA dan PT NKC di Kabupaten Kuantan Singingi.447.44 miliar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. yang nyata dan pasti jumlahnya. PT KPU. Potensi Kerugian Negara 15.21 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa uang. pemerintah kabupaten tidak pernah mewajibkan KP untuk menyetorkan jaminan kesungguhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PT MCB di Kabupaten Bungo.66 juta dan Tahun 2009 senilai Rp380. Provinsi Jambi. serta PT DSAS.22 15. Kegiatan tersebut terjadi antara lain pada PT KBPC.

Energi. tidak cermat dalam memverifikasi persyaratan terbitnya izin KP. • Di Kementerian ESDM. sebelas pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp3. BPK juga telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menarik jaminan kesungguhan dari para pemegang KP sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan pemegang IUP operasi produksi memenuhi kewajiban penempatan jaminan reklamasi. sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar dana hasil produksi batubara (DHPB) senilai Rp22.49 juta.26 juta.24 Kasus-kasus tersebut disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut di atas diduga sengaja telah melakukan kegiatan penambangan berupa pembangunan konstruksi.28 . Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 15 pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp59.74 juta.60 miliar dan USD29.81 miliar. Kasus-kasus kekurangan penerimaan. serta kurang cermat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan yang terkait reklamasi dan pembayaran jaminan reklamasi. yaitu adanya penerimaan negara/ dearah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah. • Di Kabupaten Tanah Laut. 15.27 15. Provinsi Kalimantan Selatan. Dirjen Mineral. serta kepala distamben kabupaten/ kota yang terkait lalai dalam melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin KP/IUP. dan Batu bara kurang melakukan pengawasan atas kegiatan kontraktor PKP2B di lapangan.54 miliar dan USD6.26 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan di antaranya sudah dalam tahap penyidikan oleh kepolisian.93 miliar dan USD14. Rekomendasi 15.170 Penyebab 15. dan eksploitasi di kawasan hutan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan. penghamparan overburden. Provinsi Kalimantan Timur.25 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. BPK berpendapat bahwa temuan tersebut mengandung unsur pidana kehutanan yang dapat merugikan negara. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 31 kasus senilai Rp175. Kekurangan Penerimaan Negara 15. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Rekomendasi 15.58 juta. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran oleh PT JBU di Kabupaten Berau ke kas negara senilai USD3. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 33 kasus yang terdiri atas • sebanyak 32 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. perpajakan. • Persetujuan Prinsip untuk DU-322 milik PT AI tidak sesuai dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 1999.171 • Di Kabupaten Berau. dll. pertambangan. perpajakan. 15. kekurangan penerimaan negara.29 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.62 juta.33 15. 15. 15. pertambangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. Provinsi Kalimantan Timur. dan • sebanyak satu kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. iuran tetap. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.32 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. dll dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.88 juta. Administrasi 15. dan DHPB ke kas negara dan menegur pelaksana yang tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menginstruksikan pimpinan IUP pertambangan batubara dan kontraktor PKP2B dimaksud untuk segera menyetorkan kewajiban royalti. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. PT BJU dan PT BBE kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai USD6.34 . dan oleh PT Ad-I di Kalimantan Selatan senilai USD6. Penyebab 15.30 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kontraktor PKP2B dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang bersangkutan tidak mematuhi peraturan yang berlaku dan kurangnya pengawasan dari instansi terkait.31 Terhadap kasus-kasus tersebut. tidak mengurangi hak negara. tidak menghambat program entitas.

• Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.37 Terhadap permasalahan administrasi tersebut. Rekomendasi 15. Dirjen Minerba kurang melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin PKP2B di lapangan. pengelolaan lingkungan pertambangan oleh Kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP belum optimal.40 Kasus tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara tidak tertib dan cermat dalam pengelolaan IUP batubara. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakefektifan yaitu penatausahaan perizinan dan pengawasan produksi dan penjualan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara lemah. dan apabila kawasan tersebut adalah kawasan hutan agar memerintahkan PT AI untuk mengurus izin pinjam pakainya. Ketidakefektifan 15. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan supaya menegaskan status kawasan pit perintis. direksi dan pimpinan perusahaan PT AI tidak mematuhi Undang-Undang tentang Kehutanan. dan pemerintah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kontraktor PKP2B dan pemegang IUP yang melaksanakan pengelolaan lingkungan dan penerapan kaidah teknik pertambangan tidak sesuai ketentuan.36 Kasus-kasus administrasi antara lain terjadi karena Menteri Kehutanan cq. Penyebab 15.38 Temuan mengenai ketidakefektifan adanya penyimpangan terhadap fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. dan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan kewajiban pengelolaan lingkungan dan kaidah teknik pertambangan yang baik oleh kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP. 15.39 . Menteri ESDM agar menginstruksikan Dirjen Minerba untuk memerintahkan PT AI mengurus izin pinjam pakai atas penggunaan jalan (hauling road) di kawasan hutan produksi tetap. Penyebab 15. sehingga berpotensi terjadi konflik tumpang tindih konsesi IUP dan pelanggaran atas pemenuhan kewajiban administratif maupun keuangan.172 • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dirjen Planologi lalai dalam memberikan persetujuan prinsip kepada PT AI yang tidak sesuai dengan peta penunjukan kawasan hutan yang berlaku. penggunaan jalan tambang oleh PT AI dari tambang Satui ke dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan.

41 Terhadap kasus tersebut.42 . Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.173 Rekomendasi 15. 15. BPK telah merekomendasikan agar Bupati Kutai Kartanegara menginstruksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara untuk lebih tertib dan cermat dalam pengelolaan perizinan dan pengawasan atas produksi dan penjualan batubara.

174 .

2 Tujuan Pemeriksaan 16. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.175 BAB 16 Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi 16. bertujuan untuk memberi keyakinan yang memadai atas kewajaran perhitungan bagi hasil dari pelaksanaan KKS dan menilai kepatuhan KKKS terhadap ketentuan perundang-undangan serta sistem pengendalian intern yang ditetapkan.47 juta. dan • sebanyak 2 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.5 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya enam kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada tiga KKKS. . hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. WK Kakap pada BPMigas dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd (SEKL). WK Tuban pada KKKS Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB PPEJ).87 miliar. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi (cost recovery) pada tiga entitas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lingkungan BUMN untuk beberapa wilayah kerja (WK). yaitu: WK Eks Pertamina Block pada KKKS PT Pertamina EP (PEP). Sementara itu.31 miliar dan USD66.3 Pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan KKS Minyak dan Gas Bumi. Nilai temuan pemeriksaan atas tiga KKKS adalah senilai Rp6.1 Dalam Semester II Tahun 2010. Oleh karena itu. • sebanyak 1 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. cakupan pemeriksaan adalah senilai 68. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.78 miliar dan USD1. Hasil Pemeriksaan 16. Anggaran dan realisasi cost recoverable tiga KKKS yang diperiksa masingmasing senilai USD1. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.28 miliar. 16. Sistem Pengendalian Intern 16.43% dari realisasi cost recoverable atau senilai USD1.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.

Hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok temuan menurut entitas disajikan dalam Tabel 16.8 Terhadap kasus kelemahan SPI tersebut BPK telah merekomendasikan antara lain.00 juta atau USD600. 16. pembebanan biaya transaksi-transaksi yang tidak terklasifikasi dalam sistem MySAP ke dalam Financial Quarterly Report (FQR) Tahun 2009 senilai Rp40. • Di KKKS PEP. dan membebankan biaya pembelian selama Tahun 2009 atas peralatan dengan nilai per unit di atas Rp5. • Di KKKS PEP. Rincian jenis temuan tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31. pengadaan harta benda bergerak yang memiliki harga per unit di atas Rp5. sistem pencatatan aset KKKS PT PEP Tahun 2009 pada mitra usaha belum dapat menjamin keakuratan nilai aset dan biaya depresiasi.00 juta melalui mekanisme depresiasi dan melaksanakan program pengecekan fisik atas aset serta mereklasifikasi akun-akun pada biaya production installation sesuai dengan substansi biaya yang sebenarnya.10 .7 Permasalahan tersebut di antaranya disebabkan ketidakcermatan dalam pembebanan harta benda bergerak yang seharusnya dikapitalisasi tetapi langsung dibebankan sebagai biaya (expense). monitoring PT PEP atas keabsahan dan keakurasian pencatatan aset tetap pada mitra usaha masih lemah. Penyebab 16.00 Tahun 2009 dibukukan tanpa melalui depresiasi. dan administrasi. KKKS PEP agar melakukan inventarisasi. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 16. • Di KKKS PEP.9 Hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan potensi kerugian negara/perusahaan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 16. kekurangan penerimaan.09 miliar tidak didasarkan pertimbangan kelayakan pembebanan dan pengklasifikasian biaya cost recovery. kapitalisasi.1 berikut ini.176 16. serta ketidakcermatan dalam penggolongan biaya sesuai substansi biaya sesungguhnya.

848.51 USD2. surat berharga.65 USD2. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/ perusahaan.55 Rp6.78 USD66.315.71 Administrasi Jml Nilai Kasus 2 2 4 - Nilai USD61.1. BPK telah merekomendasikan kepada SEKL agar membantu mengamankan keuangan negara/daerah dengan memasukkan bukti penyetoran PBBKB oleh rekanan kepada pemerintah daerah sebagai salah satu syarat permohonan pembayaran nilai pengadaan BBM ke SEKL dan BPMIGAS. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 16.316.848.474.11 Dari tabel di atas.78 Kekurangan Penerimaan Jml Kasus 7 6 4 17 Nilai USD61.71 1 Rp6.316.31 miliar tidak disetorkan oleh rekanan SEKL ke kas daerah.13 .51 6. hasil pemeriksaan atas pelaksanaan KKS pada tiga KKKS mengungkapkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp6. dan barang.309. Penyebab 16.31 miliar.14 KKKS SKEL tidak mewajibkan kepada pemasok untuk melampirkan bukti setor PBBKB pada saat pengajuan pembayaran.55 USD66.78 16. Kasus tersebut terjadi di KKKS SEKL mengenai pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Tahun 2009 atas pembelian BBM solar senilai Rp6. Rekomendasi 16. 16.47 juta.78 USD2.474.315.65 USD2.12 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.15 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. dan empat kasus administrasi.315. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 (nilai dalam juta Rp dan ribu valas) Nama Entitas Jml Kasus KKKS PEP KKKS SEKL KKKS JOB PPEJ Jumlah 7 9 6 22 Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan PerundangUndangan yang Mengakibatkan Potensi Kerugian negara/ perusahaan Jml Kasus 1 Nilai 6. 17 kasus kekurangan penerimaan senilai USD66.309.177 Tabel 16.315. yang nyata dan pasti jumlahnya.

18 Administrasi 16. KKKS SEKL senilai USD2. terdapat biaya depresiasi aset tetap yang belum mendapatkan persetujuan place into service (PIS) dari BPMIGAS senilai 16. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya empat kasus administrasi.31 juta.17 16. Penyebab 16. Pemeriksaan pada tiga KKKS mengungkapkan adanya 17 kasus yaitu koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil yang telah disetujui senilai USD66.84 juta. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. Kelompok temuan kekurangan penerimaan tersebut merupakan koreksi perhitungan bagi hasil dengan tiga KKKS yang berasal dari koreksi cost recovery yang tidak dapat di-cost recovery (non cost recovery).20 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan agar BPMIGAS dan KKKS melakukan koreksi perhitungan bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku.47 juta yaitu KKKS PEP senilai USD61. yaitu mengenai penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. tidak menghambat operasional/program entitas dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan.24 .22 16. • Di KKKS SEKL. Rekomendasi 16. 16. Kasus-kasus tersebut di antaranya.30 juta dan KKKS JOB PPEJ senilai USD2. Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan adanya pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.16 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/perusahaan milik negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/perusahaan milik negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.23 16. adanya ketidakpatuhan terhadap klausul KKKS dan pedoman-pedoman tata kerja serta ketentuan yang berlaku.178 Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan 16.19 Koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil dilakukan karena adanya ketidakcermatan perhitungan klaim cost recovery oleh KKKS.21 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset.

joint account (JA) belum diformalkan oleh para partner dan belum dioperasikan oleh Manajemen JOB PPEJ serta tidak semua partner menjalankan mekanisme cash call sehingga menimbulkan risiko ketidakwajaran pembebanan biaya dan potensi konflik antar partner. BPMIGAS memantau pembentukan JA serta mendorong kepatuhan JOB PPEJ dalam menjalankan kontrak bagi hasil beserta kontrak-kontrak terkait.179 USD3.47 juta mengakibatkan SEKL memperoleh penggantian cost recovery Tahun 2009 lebih cepat dari yang seharusnya.27 . • Di KKKS JOB PPEJ. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Kemudian untuk KKKS JOB PPEJ. JOB PPEJ. 16. dan partner membentuk serta memformalkan JA sesuai waktu yang telah dijanjikan dan melaksanakan dengan konsisten termasuk menjalankan mekanisme cash call. Penyebab 16. Rekomendasi 16.26 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan di antaranya agar KKKS SEKL mengajukan persetujuan PIS kepada BPMIGAS atas aset-aset tersebut. dan partner dari JOB PPEJ belum mempunyai komitmen batas waktu penyelesaian pembentukan JA dan pemberlakuan atas pelaksanaan JA tersebut.25 Permasalahan tersebut disebabkan tidak dipatuhinya ketentuan tentang place into service (PIS) fasilitas produksi minyak dan gas bumi.

180 .

2009 pada BI. Pemeriksaan atas perhitungan kewajiban pelayanan umum (KPU) bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri TA 2009 pada PT Pelni (Persero). BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan subsidi/kewajiban pelayanan umum/public service obligation (KPU/PSO) pada lima entitas di lingkungan BUMN. KPU pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (PT Pelni).d.5 17.81 triliun atau 4. bertujuan untuk menilai kesesu aian tagihan tambahan penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s. bertujuan menilai kesesuaian penghitungan pembiayaan dan pelaksanaan KPU bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri dengan perjanjian dan ketentuan/peraturan yang berlaku. bertujuan untuk menilai kewajaran volume penjualan jenis BBM tertentu yang didistribusikan kepada konsumen di seluruh wilayah Indonesia selama Tahun 2009. dan subsidi pupuk produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) yang disalurkan PT Pupuk Sriwijaya (Persero) (PT Pusri). 17. Pemeriksaan pada PT KAI (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan realisasi PSO TA 2009 telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.1 Dalam Semester II Tahun 2010.97 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp47. tambahan penggantian biaya subsidi BBM.4 17. 17. perhitungan PSO pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI). Pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero).3 Pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).6 17.2 Tujuan Pemeriksaan 17. Pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM yang disalurkan PT Pusri (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan subsidi pupuk PT Pusri (Persero) TA 2009 atas bantuan pasokan pupuk urea produksi Tahun 2008 dari PT PIM. yaitu subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu (subsidi JBT).181 BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 17.43% dari cakupan pemeriksaan. 2005.04 miliar dan koreksi subsidi senilai Rp1.d. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada lima BUMN dan BI adalah senilai Rp40. menilai kewajaran besarnya nilai subsidi yang layak dibayar oleh pemerintah Tahun 2009. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp2.73 triliun.7 . dan menilai jumlah pembayaran subsidi JBT TA 2009. Selain itu BPK juga memeriksa prosedur yang disepakati bersama atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s.

Pemerintah sudah membayar kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.02 miliar telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp130. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. 2005 adalah senilai Rp7. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan KPU yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran yang telah ditetapkan sehingga kelebihan pembayaran biaya KPU senilai Rp113.182 17.9 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.28 triliun.19 juta. Hasil Pemeriksaan 17. Sedangkan untuk subsidi bunga.00 miliar.12 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp1.17 triliun. 17. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pertamina (Persero) senilai Rp727.44 miliar.93 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp33. dan 2009 sesuai prosedur yang disepakati bersama antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).45 miliar. Sesuai kontrak.10 Hasil pemeriksaan atas subsidi menunjukkan bahwa pemerintah masih mempunyai kewajiban membayar subsidi kepada lima BUMN penerima subsidi senilai Rp6. sehingga penghitungan subsidi JBT menjadi senilai Rp34.64 miliar. Hasil pemeriksaan atas perhitungan KPU pada PT Pelni (Persero) TA 2009 senilai Rp845. PSO yang ditanggung perusahaan (tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah) senilai Rp113.01 miliar. Oleh karena itu. Selain itu. menunjukkan bahwa jumlah subsidi yang dihitung oleh PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.12 17. Selain itu. menunjukkan bahwa nilai penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s. perhitungan subsidi dikoreksi tambah senilai Rp175. sehingga nilai bersih penggantian biaya subsidi BBM menjadi senilai Rp5. Koreksi Subsidi 17.90 triliun.d.12 miliar sehingga perhitungan nilai KPU menjadi senilai Rp714. secara rinci diuraikan di bawah ini. Hasil pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).90 miliar. Pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi KPU dan membayar kepada PT Pelni (Persero) senilai Rp600. juga mengungkapkan kelemahan sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan pelaksanaan subsidi terhadap ketentuan perundangundangan.83 triliun. 2008. perhitungan tersebut dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp1.60 triliun dari yang telah ditetapkan. Hasil pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). Hasil pemeriksaan atas subsidi pemerintah selain menyajikan perhitungan/koreksi atas subsidi yang ditanggung oleh pemerintah.11 17.45 miliar tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah dan menjadi beban PT Pelni (Persero).13 .8 Pemeriksaan atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh BI kepada pemerintah bertujuan untuk menentukan besarnya subsidi bunga kredit program yang layak ditagihkan oleh BI dan dibayar oleh pemerintah untuk TA 2007.

28 miliar.16 miliar. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.026018) sejak Tahun 1998 s.97 miliar.36 miliar.56 triliun.14 Hasil pemeriksaan atas perhitungan PSO pada PT KAI (Persero) TA 2009 senilai Rp844.54 miliar. 2009 yang ditagihkan BI kepada pemerintah senilai Rp144.59 miliar. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pusri (Persero) senilai Rp28. 17. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa subsidi bunga TA 2007 s. Dengan demikian subsidi kurang diterima oleh PT KAI (Persero) senilai Rp14. Pembayaran subsidi bunga tersebut telah dilakukan pemerintah melalui rekening penampungan (565.00 miliar.42 miliar.50 miliar.46 miliar. Dengan demikian masih terdapat dana pemerintah pada escrow account di BI senilai Rp623.19 juta sehingga perhitungan subsidi bunga menjadi Rp144.94 triliun. dikoreksi tambah senilai Rp175.82 miliar. dan TA 2009 senilai Rp25. 2009 senilai Rp4. sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran biaya PSO senilai Rp14.49 miliar sehingga perhitungan nilai PSO. TA 2008 senilai Rp63. Pemerintah sudah menyelesaikan pembayaran kepada PT Pusri (Persero) senilai Rp26.89 miliar.15 17. terdiri atas tagihan skim kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA).16 Sistem Pengendalian Intern 17. sehingga penghitungan subsidi pupuk menjadi senilai Rp55. Selain perhitungan tersebut terhadap perhitungan PSO dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp16. . jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan PSO yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran subsidi PSO yang telah ditetapkan yaitu senilai Rp535. dan perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans) Konversi TA 2007 senilai Rp54. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp301. sedangkan jumlah tagihan BI kepada pemerintah pada periode yang sama senilai Rp3.183 17.76 miliar. kredit kepemilikan rumah sederhana (KPRS).96 miliar.64 miliar.21 miliar. dikoreksi kurang senilai Rp62.d.d. Sesuai kontrak. Hasil pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM Tahun 2009 yang disalurkan PT Pusri (Persero). dan pemerintah telah membayar kepada PT KAI (Persero) senilai Rp504.07 miliar oleh pemerintah. menjadi senilai Rp543. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung sumber daya manusia (SDM) yang memadai. • sebanyak 2 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. menunjukkan bahwa perhitungan subsidi pupuk yang ditetapkan PT Pusri (Persero) senilai Rp117.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 29 kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada lima entitas terdiri atas • sebanyak 9 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.07 miliar.

BPK telah merekomendasikan agar Ditjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) menandatangani perjanjian KPU sebelum penyelenggaraan KPU dan menyesuaikan volume .63 miliar. • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • Di PT KAI (Persero).19 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan penerapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. Penyebab 17.72 miliar membebani PT KAI (Persero). Sedangkan atas kasus pada PT KAI (Persero). Rekomendasi 17. dan • sebanyak 7 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengoperasian KAI kepada PT KCJ yang tidak diatur dalam kontrak PSO antara PT KAI (Persero) dengan pemerintah dan dalam perjanjian kerja sama (PKS) tidak menyebutkan besaran dan formula penghitungan management fee. • Di PT Pelni (Persero). yaitu Dirjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) lalai dalam menetapkan perjanjian KPU secara tepat waktu serta besaran volume pekerjaan belum memperhitungkan besaran pagu anggaran yang tersedia. mengakibatkan PT Pelni (Persero) tidak dapat menyusun pola pengoperasian kapal penumpang secara optimal sehingga PT Pelni (Persero) harus menanggung kerugian selisih lebih voyage dari kontrak senilai Rp47. penggunaan dan pencatatan dana dari pendapatan non operasional tidak sesuai ketentuan. disebabkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional tidak valid dan mutakhir serta lalai menyelenggarakan pencatatan penerimaan dan penggunaan dana pendapatan non operasional. • sebanyak 4 kasus penetapan pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • Di PT KAI (Persero).20 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI.184 • sebanyak 2 kasus perencanaan tidak memadai.18 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 17. penetapan perjanjian penyelenggaraan KPU TA 2009 terlambat dan penentuan volume pekerjaan tidak akurat. hal tersebut di antaranya mengakibatkan aktiva tetap dan inventaris yang dibeli tidak tercatat di perusahaan sehingga berpotensi hilang. pembayaran management fee kepada PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senilai Rp107.

25 .185 pekerjaan dengan pagu anggaran yang tersedia. potensi kerugian negara/ perusahaan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi lima kasus senilai Rp2.04 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 17. hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan.97 312. BPK merekomendasikan di antaranya agar Direksi PT KAI (Persero) memutakhirkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional dan menertibkan penggunaannya. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Tabel 17.1 Rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 34.735. dan ketidakefektifan. surat berharga.47 17. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) 17.73 miliar. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 17.50 2. Sedangkan terhadap PT KAI (Persero). Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No. potensi kerugian negara/perusahaan. administrasi.21 Selain koreksi perhitungan subsidi dan kelemahan atas SPI. dan ketidakefektifan. dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan.048. bertanggungjawab atas pengesahan dan pembayaran management fee sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT KCJ kepada RUPS. dan barang. Kasus tersebut terjadi di PT KAI (Persero) mengenai perjanjian kerjasama PT KAI dengan PT KCJ Tahun 2009 tidak memberikan nilai tambah bagi PT KAI. administrasi. Kerugian Negara/Perusahaan 17.1. mengakibatkan PT KAI menanggung kerugian sewa kereta rel listrik (KRL) milik PT KCJ. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai kerugian perusahaan senilai Rp1. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut. 17.23 Berdasarkan tabel di atas.24 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Kerugian Perusahaan Potensi Kerugian Perusahaan Administrasi Ketidakefisienan Jumlah 1 1 1 2 5 1.

28 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 17. Kasus terjadi pada PT KAI (Persero) mengenai pembelian satu unit kendaraan Hyundai Trajet Tahun 2009 tidak dicatat sebagai aktiva dan kendaraan tidak digunakan sesuai tujuan pembelian.32 Kasus tersebut disebabkan PT KAI (Persero) tidak melaksanakan ketentuan tentang kapitalisasi aset dan kebijakan Direksi PT KAI (Persero) meminjamkan kendaraan operasional kepada pihak lain tanpa dibuat bukti pendukung.29 17. Atas kasus potensi kerugian negara/perusahaan tersebut.50 juta. tetapi penyimpangan tersebut tidak . Rekomendasi 17.31 Administrasi 17. PT KAI (Persero) telah menindaklanjuti dengan penyerahan aset berupa satu unit kendaraan Hyundai Trajet senilai Rp312. Rekomendasi 17.50 juta.27 Terhadap kasus kerugian perusahaan. surat berharga. Penyebab 17. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara. dan barang. BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KAI (Persero) menagih kelebihan pembayaran sewa KRL milik PT KCJ.30 17. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) mencatat pembelian kendaraan tersebut sebagai aktiva perusahaan dan menarik kendaraan yang dipinjamkan untuk kepentingan operasional PT KAI (Persero).33 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. sebanyak satu kasus senilai Rp312.34 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset.26 Kasus kerugian perusahaan di antaranya terjadi karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) menyetujui pengoperasian kereta PSO oleh PT KCJ yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.186 Penyebab 17. yang nyata dan pasti jumlahnya Kasus potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara di antaranya. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 17.

yaitu. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dua kasus ketidakefektifan yang terjadi.88 juta. serta fungsi instansi tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.38 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. Penyebab 17. stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Mataram Tahun 2009 melayani pengisian bahan bakar kepada kendaraan umum. Penyebab 17. proses penugasan kewajiban pelayanan publik kepada PT KAI (Persero) Tahun 2009 tidak memenuhi tata kelola yang baik yang mengakibatkan PT KAI (Persero) harus mendanai terlebih dahulu biaya pengoperasian KAI PSO yang beroperasi sebelum kontrak ditandatangani.187 mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. yaitu pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun PT KAI (Persero) yang dilimpahkan kepada PT KCJ belum memberi keuntungan. Sedangkan untuk PT KAI (Persero) yaitu 17. meskipun PT KCJ sudah mengakui pendapatan senilai Rp458. Ketidakefektifan 17.37 Terhadap kasus penyimpangan administrasi. Kasus-kasus tersebut terdapat pada PT Pertamina (Persero) dan PT KAI (Persero). BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) menagih pendapatan sewa ruangan dan iklan kepada PT KCJ serta mengelola sendiri aset tanah dan bangunan stasiun sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. • Di PT Pertamina (Persero). • Di PT KAI (Persero). sehingga mengganggu penyaluran BBM bagi perahu motor atau kapal nelayan.35 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus administrasi. Rekomendasi 17.36 Kasus penyimpangan administrasi di antaranya karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun tanpa mempertimbangkan kapabilitas/kemampuan PT KCJ.40 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan lokasi wilayah SPBN tersebut jauh dari SPBU sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan masyarakat. 17. tidak menghambat operasional/program entitas. dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan.39 .

Rekomendasi 17. 17.41 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.42 . BPK telah merekomendasikan agar menandatangani kontrak PSO sebelum pelaksanaan PSO serta memperbaiki klausul kontrak PSO terutama klausul mengenai sanksi dan formula penghitungannya. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar PT Pertamina (Persero) mendirikan SPBU atau lembaga penyalur lainnya sesuai kebutuhan daerah tersebut serta terhadap Dirjen Perkeretaapian dan Direksi PT KAI (Persero).188 Dirjen Perkeretaapian terlalu lama dalam memproses kontrak PSO serta PT KAI (Persero) tidak cermat dalam membuat klausul tentang sanksi dalam kontrak PSO.

18. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.3 Hasil Pemeriksaan 18. • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.08 triliun dan USD60. terdiri atas • sebanyak 12 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.189 BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara 18. pengendalian biaya.69 juta. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp1. dan • sebanyak 3 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional BUMN pada enam entitas yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) (PT AP II). Sistem Pengendalian Intern 18. Secara umum tujuan pemeriksaan pada enam BUMN tersebut untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan pengelolaan pendapatan. . Cakupan pemeriksaan operasional atas enam BUMN adalah senilai Rp33. • sebanyak 9 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. dan kegiatan investasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. • sebanyak 16 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. PT Nindya Karya (Persero) (PT NK). hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. (PT KF). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.2 18.5 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMN mengungkapkan adanya 47 kasus kelemahan SPI pada enam BUMN. • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.61 triliun. Oleh karena itu.67 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp58. (PT AK). dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT). Bali Tourism Development Corporation (BTDC).

Rekomendasi 18. Manajer Unit Produksi Semarang (UPS) dalam melakukan pengadaan bahan baku dan bahan kemas. ketidakakuratan perencanaan bangunan terminal Bandara Baru Kualanamu Tahun 2007 mengakibatkan biaya pembangunan bertambah minimal senilai Rp97. dan produk Fitocare. dan barang dagangan yang telah rusak/usang/kedaluwarsa dan yang belum digunakan atau belum terjual. bahan kemas. dan Direksi PT KF belum menetapkan rencana pemanfaatan bahan baku.13 miliar. BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) melaksanakan lelang pekerjaan fisik bangunan terminal bandara yang belum dilaksanakan berdasarkan perencanaan desain yang telah final dan setiap perubahan desain harus didokumentasikan dengan baik dan menetapkan desain gambar final. • Di PT KF (Persero) Tbk. Penyebab 18. • Di PT PKT. • Direksi PT PKT belum melakukan adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan yang mengatur tentang penyesuaian tarif listrik dan steam yang mempertimbangkan harga jual ekonomis (memberi keuntungan perusahaan). • Di PT AP II (Persero).7 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) melelangkan pekerjaan pondasi dan struktur bangunan terminal bandara sebelum pekerjaan perencanaan selesai. PT KF gagal melaksanakan program penetrasi pasar produk Fitocare Tahun 2010 sehingga menanggung potensi kerugian minimal senilai Rp2..47 juta atau setara dengan Rp35. tarif penjualan listrik dan steam PT PKT kepada perusahaan afiliasi Tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan harga belinya dari PT Kaltim Daya Mandiri (PT KDM) sehingga PT PKT mengalami kerugian usaha minimal senilai USD3.190 18. • Manajer marketing over the counter/customer health product (OTC/ CHP) PT KF memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi pasar.8 Atas kasus-kasus kelemahan SPI. kurang mempertimbangkan kebutuhan.07 miliar. .6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.07 miliar atas nilai persediaan bahan baku. dan tidak tegas memberikan sanksi berupa denda dan tuntutan kerugian kepada PT Wiratman atas ketidakmampuan melakukan pekerjaannya. bahan kemas. tidak tegas dalam menetapkan desain terminal bandara.

191 • Direksi dan Komisaris PT PKT mempertanggungjawabkan hasil penjualan listrik dan steam yang lebih rendah kepada pemegang saham. Selain itu, direksi PT PKT membuat adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan dengan mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan; dan • Direksi PT KF (Persero) memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada para manajer marketing OTC/CHP dan Manajer UPS yang lalai dalam memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi dan segera mengambil tindakan konkrit atas pemanfaatan bahan baku, bahan kemasan, dan produk Fitocare.

Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
18.9 Selain kelemahan SPI hasil pemeriksaan operasional BUMN juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/perusahaan, kekurangan penerimaan negara/perusahaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 58 kasus senilai Rp1,08 triliun dan USD60.69 juta sebagaimana disajikan dalam Tabel 18.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 36 dan rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 37.
Tabel 18.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 92.936,95 USD7,543.01 973.661,50 USD53,155.43 3.201,35 1.243,90 11.990,65 Rp1.083.034,37 USD60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kerugian negara/perusahaan Potensi kerugian negara/perusahaan Kekurangan penerimaan negara/perusahaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 13 31 6 6 1 1 58

18.10

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/ perusahaan, kekurangan penerimaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

192

Kerugian Negara/Perusahaan
18.11 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian negara/perusahaan di antaranya meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak, pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet, serta lain-lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai kerugian negara/perusahaan senilai Rp92,93 miliar dan USD7.54 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7,45 miliar; • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp6,85 miliar; • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp104,08 juta; • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1,02 miliar; dan • sebanyak 7 kasus lain-lain mengenai kerugian negara/perusahaan milik negara senilai Rp77,49 miliar dan USD7.54 juta seperti pencairan jaminan pelaksanaan oleh pemberi kerja karena keterlambatan penyelesaian proyek, keterlambatan penyelesaian proyek dan proyek dihentikan oleh pemberi kerja atau tidak diakuinya variation order oleh pemberi kerja, perencanaan tidak akurat, kerugian usaha anak perusahaan, dan penurunan nilai kontrak dalam adendum karena tidak dipenuhinya komitmen pemberi kerja. 18.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AK (Persero) Tbk., proyek di Qatar Tahun 2006 s.d. 2009 merugikan PT AK senilai USD7.54 juta atas dicairkannya jaminan pelaksanaan (performance bond) oleh Al Habtoor. • Di PT AK (Persero) Tbk., ketidakcermatan perhitungan rencana anggaran biaya dan kelemahan kontrak Proyek The Capital Residence Tahun 2004 s.d. 2009 mengakibatkan PT AK mengalami kerugian senilai Rp39,70 miliar.

18.12

18.13

193 • Di PT NK (Persero), kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan sembilan proyek pada divisi wilayah I dan III mengakibatkan PT NK mengalami kerugian senilai Rp29,20 miliar. Penyebab 18.15 Kasus-kasus kerugian negara/perusahaan pada umumnya terjadi karena • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; • Kepala Proyek dan Manajemen PT AK lalai karena tidak mengelola proyek secara memadai dan tidak mentaati RKAP atau SK Direksi tentang kewenangan investasi; dan • Kepala Proyek, Biro Teknik dan Pemasaran PT NK dalam menyusun perencanaan tidak mempertimbangkan kecukupan data teknis, kondisi alam, serta lingkungan di lokasi proyek dan pengendalian pelaksanaan proyek pada tingkat wilayah dan pusat tidak berfungsi. Rekomendasi 18.16 Terhadap kasus kerugian negara/perusahaan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada • Menteri Negara BUMN selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi dan Direksi PT AK menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi dan komisaris atas kelalaian pengelolaan proyek; dan • Direksi PT NK untuk mempertanggungjawabkan kepada RUPS atas kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan proyek serta merevisi dan melengkapi prosedur perencanaan dan pengendalian proyek yang sudah ada.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan
18.17 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan yaitu adanya aset tidak diketahui keberadaannya, piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih, dan lain-lain.

18.18

194 18.19 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 31 kasus mengenai potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp973,66 miliar dan USD53.15 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp1,46 miliar; • sebanyak 22 kasus piutang/pinjaman atau dana yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp781,92 miliar dan USD20.70 juta; dan • sebanyak 8 kasus lain-lain potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp190,26 miliar dan USD32.45 juta seperti penerimaan pendapatan sewa lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya, penetapan harga jual lebih rendah, dan harga beli lebih tinggi dari yang seharusnya dalam kontrak, dan penyertaan modal tidak memberikan hasil. 18.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT, penerapan harga jual urea melt dan ammonia serta harga beli carbamate dan steam condensate Tahun 2008 dan 2009 tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak sehingga berpotensi merugikan PT PKT minimal senilai USD30.92 juta. • Di PT AK (Persero) Tbk., piutang PT AK Tahun 2009 atas pelaksanaan proyek di Qatar berpotensi tidak tertagih senilai USD20.25 juta. • Di PT AP II (Persero), pendapatan sewa dalam pelaksanaan kontrak build, operate & transfer (BOT) dengan PT Sanggraha Daksa Mitra (PT SDM) Tahun 1996 s.d. 2007 diterima lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya diterima sehingga berpotensi merugikan PT AP II minimal senilai Rp139,57 miliar. Penyebab 18.21 Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan pada umumnya disebabkan • Direksi PT PKT dalam melakukan kerja sama/jual beli dengan PT DSM Kaltim Melamin (PT DKM) tidak memperhatikan ketentuan penetapan harga yang telah ditentukan dalam kontrak; • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; dan • Direksi PT AP II tidak cermat dalam menyusun klausul akhir masa perjanjian dan memberikan tarif kompensasi pemanfaatan lahan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku.

195 Rekomendasi 18.22 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan, BPK telah merekomendasikan kepada • Direksi PT PKT untuk mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas tidak diperhatikannya kontrak jual beli dengan PT DKM; • Menteri Negara BUMN selaku RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi, dan Direksi PT AK untuk menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; dan • Direksi PT AP II untuk mengadendum kontrak BOT dengan PT SDM terutama mengenai tarif sewa tanah, mekanisme perhitungan konsesi, dan kewajiban PT AP II membeli 100% nilai pasar aset gedung yang tidak lazim pada kontrak BOT.

Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan
18.23 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara dhi. perusahaan tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/perusahaan meliputi penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/ perusahaan dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai kekurangan penerimaan negara/perusahaan senilai Rp3,20 miliar, terdiri atas • sebanyak 4 kasus penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/perusahaan senilai Rp2,91 miliar; dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp286,19 juta. 18.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), PT AP II tidak melakukan pemeriksaan/pengujian secara rutin atas laporan penjualan bruto PT SDM Tahun 2004 dan 2005 dalam pelaksanaan kontrak build, operate, and transfer (BOT) dengan PT SDM sehingga PT AP II berpotensi kehilangan pendapatan dari omzet penjualan yang tidak dilaporkan oleh PT SDM senilai Rp1,38 miliar.

18.24

18.25

196 • Di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system Tahun 2006 di Bandara Soekarno-Hatta terlambat selama 109 hari sehingga PT AP II kurang mengenakan denda keterlambatan kepada PT Angkasa Pura Schipol (PT APS) senilai Rp1,18 miliar. • Di PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2008 di Plant Jakarta tidak sesuai ketentuan sehingga PT KF tidak dapat mengenakan denda atas keterlambatan penyerahan pekerjaan senilai Rp235,36 juta dan penerimaan negara atas PPh 23 jasa konsultan dan jasa konstruksi senilai Rp194,34 juta. 18.27 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp91,84 juta. Penyebab 18.28 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) tidak tegas melakukan pengawasan atas operasional, serta memverifikasi kebenaran laporan penjualan kotor PT SDM; • Direksi PT AP II (Persero) tidak tepat dalam melakukan perhitungan denda keterlambatan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan • kebijakan Direksi PT KF (Persero) Tbk. memberikan persetujuan perpanjangan waktu bagi kontraktor dan Bagian Keuangan PT KF (Persero) Tbk. lalai tidak memungut dan menyetorkan PPh 23. Rekomendasi 18.29 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) mengintensifkan pengawasan operasional dan memeriksa kebenaran omzet bruto PT SDM sesuai kontrak serta menagih kekurangan konsesi yang menjadi hak perusahaan; • Direksi PT AP II (Persero) menghitung denda keterlambatan dan menagihkannya kepada PT APS; dan • Direksi PT KF (Persero) Tbk. segera menagih PPh 23 dan denda keterlambatan kepada rekanan.

Administrasi
18.30 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan

197 aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian, tidak mengurangi hak negara/perusahaan (kekurangan penerimaan), tidak menghambat operasional/program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. 18.31 Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid), proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll., dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid); • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara); • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.; dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 18.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), AP II tidak mematuhi ketentuan tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas jasa pelayanan meteorologi Tahun 2007 dan 2008 pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengakibatkan penerimaan negara terlambat disetor senilai Rp58,14 miliar. • Di PT AP II (Persero), AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara (HS) Bandung tidak mematuhi ketentuan pengadaan barang/jasa dan peraturan perpajakan dalam pengadaan rumah dinas Tahun 2008 senilai Rp1,40 miliar sehingga harga pembelian rumah dinas tersebut diragukan kewajarannya. • Di PT KF (Persero) Tbk., pembayaran biaya operasional senilai Rp152,56 juta dalam kerjasama outsourcing salesman antara PT Kimia Farma Trading & Distribution (PT KFTD) Cabang Surabaya dengan CV Visakom Tahun 2007 s.d. 2008 tidak didukung bukti-bukti yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.

18.32

198 Penyebab 18.34 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) belum sepenuhnya menjalankan ketentuan yang mewajibkan penyetoran PNBP ke kas negara tepat waktu; • Pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan rumah dinas tidak mematuhi ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa serta tata cara pembayaran; dan • Kepala PT KFTD Cabang Surabaya periode saat itu mengabaikan perjanjian dengan CV Visakom dan tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian intern yang memadai dalam membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Rekomendasi 18.35 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) menghitung kembali seluruh kewajiban PNBP dan menyetorkan PNBP tersebut ke kas negara; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS meminta pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris AP II atas proses pengadaan rumah dinas, Direksi AP II mengenakan sanksi kepada GM Cabang HS dan tim pengadaan rumah dinas tersebut; dan • Direksi PT KFTD memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala PT KFTD Cabang Surabaya dan mempertanggungjawabkan transaksi bisnis dengan CV Visakom kepada RUPS.

Ketidakhematan
18.36 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakhematan, di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system (FIS) Tahun 2004 s.d. 2007 di Bandara Soekarno-Hatta tidak sesuai ketentuan sehingga biaya pembangunan FIS lebih tinggi senilai Rp1,24 miliar. Penyebab 18.38 Kasus ketidakhematan tersebut disebabkan karena keputusan Direksi untuk melakukan penunjukkan langsung kepada APS sebagai system integrator pekerjaan pembangunan FIS kurang memperhatikan prinsip efisiensi.

18.37

199 Rekomendasi 18.39 Atas kasus ketidakhematan, BPK telah merekomendasikan agar Menteri Negara BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT AP II atas pengadaan FIS yang dilakukan secara penunjukkan langsung dan biaya pengadaan yang lebih tinggi minimal senilai Rp1,24 miliar.

Ketidakefektifan
18.40 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai, serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai ketidakefektifan yaitu PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2009 di Plant Jakarta senilai Rp11,99 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyebab 18.42 Kasus ketidakefektifan terjadi karena Direksi PT KF (Persero) Tbk. tidak melakukan perencanaan yang matang dalam melaksanakan investasi fasilitas produksi obat ARV. Rekomendasi 18.43 Terhadap kasus ketidakefektifan tersebut, BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KF (Persero) Tbk. memanfaatkan fasilitas produksi obat ARV yang telah ada secara optimal dan memberikan sanksi kepada panitia pelaksana pembangunan gedung ARV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

18.41

18.44

200 .

Jayapura. Hasil Pemeriksaan 19. Oleh karena itu. yaitu PDAM Kota Pasuruan.201 BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum 19. aktiva. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.1 Dalam Semester II Tahun 2010.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. belanja. piutang. Buol. Poso. Sistem Pengendalian Intern 19. dan utang) pada 23 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Banjar. Morowali. Mojokerto. PDAM Kabupaten Banyuwangi. Makassar. biaya. ekonomis. • sebanyak 101 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Tujuan Pemeriksaan 19. dan • operasi perusahaan yang meliputi produksi. Kediri. Tolitoli.4 Hasil pemeriksaan atas operasional PDAM menunjukkan adanya 177 kasus kelemahan SPI.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. . Buleleng. Karangasem. dan Muara Enim. dan • sebanyak 49 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Tojo Unauna. Donggala. distribusi. Banggai. Madiun. Polewali Mandar. investasi dan ekploitasi air bersih telah dilakukan secara efisien. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Blitar. dan investasi dilaksanakan sesuai dengan ketetentuan yang telah ditetapkan. terdiri atas • sebanyak 27 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Lombok Barat. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional (pelaksanaan kegiatan pendapatan. dan efektif. Bukittinggi. • pengelolaan pendapatan. Denpasar.

aset tetap belum disajikan sesuai dengan standar sehingga terdapat lebih catat senilai Rp3. Provinsi Papua. Provinsi Sulawesi Tengah. ketidakhematan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 19. serta ketidakefektifan meliputi 227 kasus senilai Rp73. • Di PDAM Kabupaten Mojokerto.5 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. administrasi.6 Permasalahan tersebut di antaranya terjadi karena belum maksimalnya upaya manajemen untuk melakukan penggantian pipa jaringan transmisi dan distribusi yang sudah tua dan penggantian meter air pelanggan yang telah rusak. meningkatkan pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. .1. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 39.60 miliar dan kurang catat senilai Rp74. ketidakcermatan dan kelalaian pelaksana kegiatan. memberikan sanksi dan teguran kepada manajemen dan pelaksana kegiatan yang lalai dan tidak cermat. Penyebab 19. potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM.34 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 19. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa untuk menyusun langkah-langkah mengurangi kebocoran. belum maksimalnya pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. kekurangan penerimaan. tingkat kehilangan air pada Tahun 2008 dan 2009 melebihi batas toleransi senilai Rp8.50 juta. Provinsi Jawa Timur.202 19. terdapat pokok dan bunga pinjaman kepada pemerintah pusat senilai Rp48.64 miliar karena umur jaringan pipa transmisi dan distribusi sudah sangat tua.7 Terhadap temuan kelemahan SPI tersebut. serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 40. • Di PDAM Kabupaten Donggala. serta ketidakmampuan manajemen PDAM untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah pusat. serta melakukan koreksi atas kesalahan pencatatan. Rekomendasi 19. • Di PDAM Kabupaten Jayapura.8 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM.67 miliar belum diselesaikan.

• sebanyak 4 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp220.40 2.548.269. Kerugian Daerah pada PDAM 19.893. • sebanyak 1 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp21.33 19. Kelompok temuan kerugian daerah di PDAM di antaranya meliputi pengadaan barang/jasa fiktif. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 43 22 26 66 28 42 227 3.85 46. spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM No.50 juta. terdiri atas • sebanyak 2 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp102.1.203 Tabel 19. Selain itu juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.12 .14 6.10 Kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp865. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.26 miliar.79 juta.11 19. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 43 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah senilai Rp3.97 73.96 13. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.823.97 juta. pemahalan harga dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.50 juta. surat berharga.345.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini.809. dan barang. 19.

Provinsi Bali. • Di PDAM Kabupaten Banyuwangi.72 juta.14 Dari 43 kasus kerugian daerah/kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp3. Provinsi Jawa Timur. dan instansi vertikal Kabupaten Karangasem yang tidak sesuai ketentuan senilai Rp393.16 Terhadap kasus kerugian daerah yang terjadi di PDAM tersebut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp7. dan • sebanyak 21 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. dewan pengawas. dana representasi tersebut masih disimpan di brankas.90 juta. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menagih dan menyetorkan . tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik.13 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 5 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp145.61 juta. PNS.73 juta. 19. Penyebab 19. • Di PDAM Kabupaten Karangasem. 19.204 • sebanyak 8 kasus pengunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp280.25 juta. Rekomendasi 19. pegawai.62 juta dan PDAM Kabupaten Kediri senilai Rp58.29 juta. direksi.26 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp241. pertanggungjawaban dana representasi Direksi PDAM Kabupaten Banyuwangi tidak benar senilai Rp90. yaitu di antaranya dari PDAM Kabupaten Banyuwangi senilai Rp81.74 juta. Pencairan dana representasi direktur telah dibukukan dan diakui sebagai biaya dalam Laporan Keuangan PDAM Tahun Buku 2009. direksi memberikan tunjangan hari raya Tahun 2009 dan 2010 kepada bupati. Provinsi Sumatera Selatan.62 miliar. wakil bupati. • Di PDAM Lematang Enim.25 juta. dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan air bersih/air minum Tanjung Enim. Gunung Megang dan Kota Muara Enim Tahun 2009 terdapat kekurangan volume pekerjaan galian dan urugan kembali serta pemasangan pipa yang berindikasi merugikan keuangan PDAM Lematang Enim senilai Rp170.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena manajemen dan pelaksana kegiatan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.

18 19. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 22 kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah di PDAM senilai Rp13. Provinsi Sumatera Selatan. terdiri atas • sebanyak 2 kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp17.85 miliar. 19.87 juta.89 miliar.19 .39 juta.65 miliar.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 30 Juni 2010 tidak dilaksanakan secara optimal senilai Rp1.52 miliar atas kegiatan pengadaan barang pada Tahun 2009 dan 2010 tidak dikenakan sehingga risiko yang mungkin terjadi pada pelaksanaan pengadaan barang tidak terjamin. jaminan pelaksanaan senilai Rp2.d. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.17 miliar. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. memberikan teguran dan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. • Di PDAM Lematang Enim.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau PDAM berupa uang. • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. Provinsi Sulawesi Tengah. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. terdapat tunggakan tagihan penjualan air Tahun 1993 s. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM meliputi permasalahan rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan hasil pengadaan yang rusak selama masa pemeliharaan. dan barang. • Di PDAM Kabupaten Poso. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp575. penagihan piutang ragu-ragu dan tak tertagih Tahun 2009 s. 30 Juni 2010 kepada masyarakat yang belum tertagih senilai Rp1. 19. yang nyata dan pasti jumlahnya. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.d.52 miliar. Potensi Kerugian Daerah pada PDAM 19. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp2. Provinsi Sulawesi Tengah. aset dikuasai pihak lain secara tidak sah. surat berharga. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp119.205 kerugian yang terjadi ke kas daerah/PDAM. dan • sebanyak 15 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp10.52 juta.

25 19. serta kurangnya pengawasan oleh manajemen. meningkatkan pengawasan dan pengendalian. dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp108.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian di PDAM tersebut. penggunaan langsung penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.89 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp8. PDAM tetapi tidak atau belum masuk ke kas PDAM karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.26 . membuat aturan tentang pemberian sanksi kepada pelanggan yang menunggak.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana kegiatan tidak tegas dan cermat dalam melaksanakan ketentuan. lebih intensif dalam melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah berkenaan dengan pelunasan piutang.82 miliar. belum ada aturan yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi pelanggan yang lalai. 19.206 19. serta menegur pelaksana dan manajemen untuk lebih cermat dalam melaksanakan tugasnya. pelaksana kegiatan belum optimal dalam melakukan penagihan. Kekurangan Penerimaan 19.24 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 26 kasus mengenai kekurangan penerimaan senilai Rp2.60 juta oleh PDAM Kabupaten Banyuwangi.07 miliar.05 juta. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan. Rekomendasi 19.21 Dari 22 kasus potensi kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp13. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.41 juta. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp643. Penyebab 19. terdiri atas • sebanyak 22 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp2.

d. Selain itu. Provinsi Sulawesi Selatan.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.04 juta pada PDAM Kota Makassar. Provinsi Papua. • Di PDAM Kabupaten Jayapura. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.59 juta. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah/PDAM. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah atau PDAM. serta memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. • Di PDAM Kota Makassar. kekurangan penerimaan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan.41 juta belum disetorkan ke kas daerah. Administrasi 19.28 Dari 26 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp2. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.31 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. Penyimpangan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. tidak mengurangi hak negara/daerah/PDAM.32 . Penyebab 19.82 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp17. Rekomendasi 19. belum menyetorkan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp329.02 miliar tidak dikembalikan ke kas PDAM serta sebagiannya dipinjamkan ke berbagai pihak dan digunakan untuk kegiatan tidak terkait operasional PDAM. pembentukan cadangan 19. Provinsi Sulawesi Selatan.29 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena ketidakcermatan dan kelalaian manajemen dalam pelaksanaan tugas. November 2010 senilai Rp639. tidak menghambat program entitas. belum dipungut dan disetorkan ke kas daerah PPN atas pendapatan non air Tahun 2009 senilai Rp512. • Di PDAM Kota Makassar. potongan tunjangan perusahaan dan tunjangan transport sejak Juli 2003 s.207 19. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan. 19.

• sebanyak 11 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/ perusahaan. perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan.33 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 66 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. dan kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. dan • sebanyak 7 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 15 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang.208 piutang. • sebanyak 1 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. kewajiban pembayaran hutang PDAM Poso kepada pemerintah pusat senilai Rp7. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.27 miliar berlarut-larut sehingga tunggakan biaya bunga dan denda yang . • sebanyak 2 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan distribusi air bersih yang dibiayai dari Program Dana Stimulus TA 2009 pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kabupaten Donggala senilai Rp9. 19. Provinsi Sulawesi Tengah. • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 2 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. transmisi. 19.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. perhitungan amortisasi tidak sesuai ketentuan. Provinsi Sulawesi Tengah. penerimaan aset berupa pembangunan instalasi produksi.55 miliar tidak didukung dengan serah terima antara Pemerintah Kabupaten Donggala dan PDAM. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • Di PDAM Kabupaten Poso. • Di PDAM Kabupaten Donggala.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.37 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Kelompok temuan ketidakhematan pada pemeriksaan operasional PDAM terjadi karena adanya pemborosan uang perusahaan. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.39 . • Di PDAM Kota Makassar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta manajemen tidak mampu mengelola perusahaan dan memenuhi kewajiban perusahaan kepada pemerintah pusat. Provinsi Sulawesi Selatan. penyertaan modal pemerintah pusat ke PDAM Kabupaten Kediri belum ditentukan statusnya senilai Rp8. Selain itu. manajemen dan pelaksana kegiatan tidak cermat dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 28 kasus ketidakhematan senilai Rp46. Provinsi Sulawesi Selatan.10 miliar.34 miliar.80 miliar yaitu kasus pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga. bukti pertanggungjawaban biaya promosi Tahun 2009 dan 2010 menunjukkan biaya promosi digunakan untuk kerjasama sponsorship dengan Persatuan 19. serta manajemen melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.38 19. biaya pengadaan dan pemasangan pipa pengantar (transmisi) menuju pabrik gula PT Makassar Te’ne Tahun 2008 lebih mahal dari harga pasar dan sisa pipa tidak terpasang yang harus dibeli oleh PDAM Kota Makassar mengakibatkan pemborosan keuangan perusahaan senilai Rp2. Rekomendasi 19. Provinsi Jawa Timur. Kondisi cash flow PDAM Poso hanya cukup untuk menutup biaya operasional bulanan.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya koordinasi antara manajemen dengan pemerintah pusat dan pemerintah derah. BPK telah merekomendasikan agar manajemen dan pelaksana kegiatan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. • Di Kota Makassar.79 miliar. Penyebab 19. Ketidakhematan 19. • Di PDAM Kabupaten Kediri.209 harus dibayar semakin besar. penyertaan Pemerintah Kabupaten Kediri ke PDAM Kabupaten Kediri juga belum ditetapkan statusnya senilai Rp2.36 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.

43 19.90 miliar dan bantuan kepada PSM tanpa perjanjian kerjasama sponsorship senilai Rp334.48 miliar.42 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Di samping membantu PSM dari anggaran biaya promosi.00 juta.50 juta dari anggaran belanja bantuan. memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.54 miliar. terdiri atas • sebanyak 7 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukkan senilai Rp3. Juni 2010 senilai Rp1. • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. Rekomendasi 19.d. Penyebab 19.40 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena manajemen lalai dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. BPK merekomendasikan agar entitas yang diperiksa dalam pelaksanaan tugas memperhatikan ketentuan yang berlaku.44 .210 Sepakbola Makassar (PSM) senilai Rp2.78 miliar tumpang tindih dengan pemberian tunjangan pelaksana. serta melakukan upaya penanggulangan kebocoran. pada Tahun 2010 PDAM juga membantu PSM senilai Rp42. kegiatan penanggulangan kebocoran belum berjalan secara efektif serta pelaksana kegiatan lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 42 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp6. menghentikan pembayaran tunjangan representasi dan penganggaran biaya promosi.36 miliar. • sebanyak 1 kasus pemanfaataan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp1. Ketidakefektifan 19. • Di PDAM Kota Denpasar. pemberian tunjangan representasi kepada pegawai Tahun 2009 s. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Provinsi Bali. 19.41 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut.

d. Provinsi Sulawesi Tengah. • Di PDAM Kabupaten Donggala.211 • sebanyak 27 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp1.62 miliar.82 juta. pengujian yang sudah dilaksanakan belum mencakup keseluruhan sumber air yang digunakan. Juni 2010 digunakan tidak sesuai dengan tujuan penggunaannya senilai Rp1.47 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Akibatnya. pemeriksaan kualitas air belum dilaksanakan secara rutin dan berkala. air yang didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat dijamin aman bagi kesehatan masyarakat atau konsumen. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. BPK telah merekomendasikan agar memberi sanksi kepada manajemen dan pelaksana atas kelalaiannya. dan • sebanyak 6 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp68.45 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 19. serta melakukan negosiasi untuk meninjau kembali isi perjanjian sehingga menguntungkan kedua belah pihak.48 . Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Provinsi Sulawesi Tengah. Rekomendasi 19. Selain itu. 19. cadangan dana meter Tahun 2009 s.46 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kelalaian manajemen dan pelaksana dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud.62 miliar. Penyebab 19.

212 .

M. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.3 Cakupan pemeriksaan atas operasional lima RSUD adalah senilai Rp854. Dr. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.1 Pada Semester II Tahun 2010. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim askes terlambat diklaim senilai Rp15. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp19. dan • menilai apakah pengelolaan operasional RSUD terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan belanja telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan RSUD Prof.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk • menilai tingkat efektivitas sistem pengendalian intern (SPI) atas kegiatan operasional RSUD. • Di RSUD Prof. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional rumah sakit umum daerah (RSUD) dengan jumlah objek pemeriksaan sebanyak lima RSUD. W.30% dari cakupan pemeriksaan.213 BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah 20. Johannes. . hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Dr. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20. Z. Abdul Moeloek Bandar Lampung.58 miliar dari realisasi anggaran senilai Rp989. 27 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Johannes Kupang. Oleh karena itu. H. serta 5 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.74 miliar.68 miliar atau 2. Ryacudu Kotabumi.5 Hasil pemeriksaan atas operasional RSUD menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Objek pemeriksaan tersebut adalah RSUD Pirngadi Medan. RSUD Dr. W. RSD Mayjen H. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.33 miliar. Hasil Pemeriksaan 20. 20. Tujuan Pemeriksaan 20. Z. Kupang. RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh.

Penyebab 20. sisa kas pengelolaan per 31 Agustus 2010 senilai Rp1. Abdul Moeloek. Tabel 20. Adnaan WD Payakumbuh. satuan pengawas intern rumah sakit belum melaksanakan tugas secara optimal.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. H. Sumatera Barat.1. • Di RSUD Dr.80 28. Kelompok Temuan Jml Kasus 10 1 17 19 1 13 Jumlah 61 Nilai (juta Rp) 3. Bandar Lampung. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD No. dan ketidakefektifan meliputi 61 kasus senilai Rp19.68 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 20.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah (atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).60 70.214 • Di RSUD Dr. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan dan meningkatkan pengawasan. administrasi.34 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian yang terjadi pada RSUD Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada RSUD Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan 20. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 42 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 43.10 19.95 miliar tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010. ketidakhematan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pimpinan dan dokter RSUD lalai dalam mematuhi ketentuan dan peraturan di lingkungan RSUD. kekurangan penerimaan.47 9.977.1.680. Rekomendasi 20. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 20.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. potensi kerugian daerah (atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).531. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan RSUD. .072.35 6.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 10 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3.14 Dari sejumlah kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pemeriksa barang tidak cermat dalam menjalankan tugasnya dan direktur RSUD lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan.52 juta oleh rekanan pada RSUD Dr. Penyebab 20.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.215 Kerugian Daerah/Kerugian yang Terjadi pada RSUD 20. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp102. Pirngadi Medan. 20. dan • sebanyak 1 kasus kerugian lainnya yang merupakan kerugian yang belum di proses TGR senilai Rp13. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. dan spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada RSUD di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. • sebanyak 2 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. • Di RSD Mayjen H.61 miliar. H. 20.12 .63 miliar. dan barang.11 20. M. Abdul Moeloek Bandar Lampung.87 juta.10 Kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.69 juta. • Di RSUD Dr. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp23.53 miliar. Ryacudu Kotabumi.53 miliar.52 juta. barang hasil pengadaan alat kesehatan dan kedokteran TA 2009 tidak memiliki izin edar senilai Rp2.67 juta. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp101. 20. • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp676.24 juta. kelebihan pembayaran pada pelaksanaan pengawasan pekerjaan lanjutan pembangunan gedung rawat inap kelas III TA 2009 senilai Rp412. surat berharga.

16 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD tersebut. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis Direktur Utama RSUD Dr. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada RSUD 20.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.21 Terhadap kasus tersebut. yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp28. Rekomendasi 20.35 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD yaitu piutang pasien rawat inap pada RSUD Dr. Penyebab 20. dan • pimpinan entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.22 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. dan barang. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.19 Kekurangan Penerimaan 20. 20. Adnaan WD Payakumbuh. BPK telah merekomendasikan agar • kerugian yang terjadi disetor ke kas RSUD melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai ketentuan yang berlaku.38 juta oleh pasien RSUD Dr.35 juta tersebut. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas RSUD senilai Rp2. Adnaan WD Payakumbuh untuk lebih proaktif dalam melakukan penagihan piutang.23 . Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. RSUD tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.18 20.216 Rekomendasi 20. Adnaan WD Payakumbuh menunggak sampai dengan Juni 2010 senilai Rp28. 20. surat berharga.20 Kasus-kasus tersebut terjadi karena RSUD kurang optimal dalam melakukan penagihan.

02 juta. penerimaan dari retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 dan penerimaan dari kegiatan tes kesehatan TA 2009 dan 2010 digunakan langsung masing-masing senilai Rp184. Administrasi 20.52 miliar. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Rekomendasi 20. Abdul Moeloek Bandar Lampung. .25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di RSUD Dr.07 miliar.217 20.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas penerimaan RSUD. H.63 juta.28 juta. Penyebab 20.39 juta dan Rp364. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp549. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). dan penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. melaporkan penerimaan dan pengeluaran secara bruto. terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp5. M.28 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. Ryacudu Kotabumi.44 miliar belum dibayar dan belum diperhitungkan denda minimal senilai Rp161. 20. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan entitas yang diperiksa segera menagih pokok dan bunga rekening bank atas dana jamkesmasda kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana tidak cermat dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas pengelolaan retribusi pelayanan rumah sakit. Pelaksana lalai dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas penggunaan langsung dari penerimaan RSUD. • Di RSD Mayjen H.24 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 17 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp6. tagihan Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) Pemerintah Kota Bandar Lampung TA 2009 dan 2010 senilai Rp3.

Rekomendasi 20. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. 20. Johannes Kupang. Dr. W.32 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. Abdul Moeloek Bandar Lampung. H. dan • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 5 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). • Di RSUD Dr.33 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. • Di RSUD Prof. pertambangan. . Ketidakhematan 20. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pelaksana RSUD yang lalai dan lebih meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Z. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.61 miliar dilaksanakan mendahului kontrak.30 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.218 20.29 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 19 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.95 miliar. dll. perpajakan. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim Askes TA 2009 dan Semester I TA 2010 terlambat disetor ke kas daerah senilai Rp16. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pelayanan kesehatan TA 2009 senilai Rp3. Penyebab 20.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana RSUD lalai dalam memedomani peraturan dan pimpinan RSUD lemah dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.47 juta. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.39 . Rekomendasi 20. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. PPK.37 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.35 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kepala instalasi farmasi. • sebanyak 2 kasus Pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp8.87 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp9. Ketidakefektifan 20.97 miliar. Selain itu. dan PPTK untuk melakukan pengadaan obat sesuai dengan formularium RSUD. PPK. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan. serta direktur utama lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan RSUD.38 20. dan • sebanyak 2 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp159.34 Kelompok temuan ketidakhematan meliputi penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. 20. yaitu pengadaan obat TA 2009 di instalasi farmasi RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh tidak sesuai formularium senilai Rp70.00 juta. terdiri atas • sebanyak 4 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp944.46 juta.219 20. Penyebab 20. dan PPTK tidak mematuhi formularium dalam pengadaan obat. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis direktur utama RSUD untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengadaan obat di lingkungan RSUD. BPK juga telah merekomendasikan agar direktur utama menegur kepala instalasi farmasi.36 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.

220 20. Z. Johannes Kupang senilai Rp495.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah pengadaan software dan hardware sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) Tahap II pada RSUD Prof. W. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 20.43 .66 juta belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan. Penyebab 20. Dr. 20.42 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.41 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

PT Bank Nusa Tenggara Barat. . yaitu Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat. PT BPD Nusa Tenggara Timur.1 Pada Semester II Tahun 2010. PD BPR Kab. kegiatan kredit. Bantul. PD BPR Kab. Tolitoli.4 Salah satu tujuan pemeriksaan atas operasional bank adalah untuk menilai SPI dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. PT Bank Kalimantan Tengah. Oleh karena itu. Buol. BPD Jawa Tengah. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Poso. dan sumber dana. Hasil Pemeriksaan 21.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. serta penyelesaian kredit macet atau non performing loan (NPL). serta pengadaan barang dan jasa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan keuangan tertentu. penempatan dana dan/atau investasi lainnya. • entitas yang diperiksa dalam melaksanakan pengelolaan pendapatan dan biaya. Luwuk. dan Parigi Moutong. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Tujuan Pemeriksaan 21. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional bank pada 10 bank daerah. PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov. Sleman. dan PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang di Palu. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 21.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Tanggo Rajo.221 Bab 21 Operasional Bank Daerah 21. dan • entitas yang diperiksa telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Sulawesi Utara. investasi.

tidak adanya SOP mengenai penatausahaan asuransi dan lemahnya pengawasan.9 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. membuat SOP mengenai penatausahaan asuransi. serta pengendalian oleh atasan langsung. Bantul. 21. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 21. memerintahkan bagian sistem informasi untuk menambahkan fitur dalam sistem OLIBS yang memungkinkan penginputan nilai taksasi jaminan dalam rangka perhitungan PPAP.04 miliar dalam pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit karena tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang.7 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena tidak adanya fitur nilai taksasi dalam sistem online integrated banking systems (OLIBS) yang digunakan sehingga nilai taksasi jaminan tidak diperhitungkan di dalam perhitungan PPAP.5 Hasil pemeriksaan atas operasional bank menunjukkan adanya 91 kasus kelemahan SPI. • Di PT Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan asuransi. • Di PD BPR Kab. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan peringatan kepada pihak yang lalai tidak memedomani ketentuan yang berlaku. pelaksana tidak melakukan pengamanan yang memadai atas jaminan yang diserahkan.56 miliar tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian. terdiri atas • sebanyak 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta ketidakefektifan meliputi 55 kasus senilai . dan • sebanyak 44 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.222 21. • Di Bank Sulawesi Utara. pengelolaan jaminan kredit/agunan senilai Rp4. Penyebab 21. melakukan pengecekan fisik pada saat menerima agunan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. kekurangan penerimaan. ketidakhematan. selisih pencatatan per 30 September 2010 senilai Rp1. • sebanyak 41 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Rekomendasi 21.8 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. administrasi.

41 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tujuh kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian yang terjadi pada bank daerah senilai Rp1. dan barang. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 45 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 46.39 2.416.91 58.727. 21.1.52 38. 21.13 . dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. • sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp90. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Bank Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 7 15 8 18 1 6 55 1.10 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut diuraikan sebagai berikut. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.497.88 1. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan.86 juta.1.223 Rp58. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.11 Kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.49 miliar. Tabel 21.12 Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah di antaranya meliputi permasalahan kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang.50 13. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.792. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp775. surat berharga.98 juta.633.22 21.764.

dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian.15 Terhadap kerugian yang telah terjadi pada bank daerah tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas PT Bank Kalimantan Tengah senilai Rp540 ribu yaitu oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas tidak sesuai ketentuan. • Di PT Bank Sulawesi Utara.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena ketidakmampuan rekanan dalam menyelesaikan pembangunan gedung.98 juta. 21.62 juta.224 • sebanyak 2 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp115. memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai dalam melaksanakan tugas.87 juta. dan • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang macet senilai Rp235. • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp101.00 juta. penyaluran pinjaman tanpa melalui prosedur perkreditan perbankan.17 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp178.70 juta. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. kelalaian dalam melaksanakan perhitungan dan pembayaran tunjangan transpor. 21. pemberian tunjangan transport kepada pejabat/pegawai yang melaksanakan kegiatan perjalanan dinas pada Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan keputusan direksi mengakibatkan kerugian senilai Rp211. Penyebab 21. Rekomendasi 21. BPK telah merekomendasikan agar direksi mengembalikan kerugian yang terjadi di bank daerah. . pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut yang diselesaikan pada Tahun 2009 tidak sesuai kontrak mengakibatkan kerugian atas kekurangan fisik pekerjaan senilai Rp775.34 juta. • Di PT Bank Sulawesi Tengah.

jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit senilai Rp3.11 miliar.225 Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21. yang nyata dan pasti jumlahnya. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.03 miliar.20 . kredit hapus-buku tidak didukung dengan dokumen yang lengkap mengakibatkan potensi kredit tidak dapat tertagih sejak Tahun 1987 pada KCU dan Kantor Cabang Parigi minimal senilai Rp15.18 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.63 miliar. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp445.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 15 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp38. 21.83 miliar.23 miliar. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. dan barang. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah meliputi permasalahan kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.50 juta. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp1.19 21. • sebanyak 11 kasus piutang/pinjaman yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp33. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp3. 21. surat berharga.46 miliar mengakibatkan PT Bank Sulteng sampai dengan 22 November 2010 tidak memperoleh jaminan yang memadai atas pengembalian dana kredit yang telah disalurkan dan berpotensi mengalami kerugian. Selain itu. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. • sebanyak 2 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.

22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan baik dalam pemberian kredit maupun pelunasannya.28 Atas kekurangan penerimaan tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas BPD Jawa Tengah dan kas daerah senilai Rp223. pajak penghasilan atas premi asuransi purna jabatan kepada direksi dan dewan komisaris Tahun 2009 dan 2010 belum diperhitungkan dan disetorkan ke kas negara senilai Rp1. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT BPD Jateng. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Kekurangan Penerimaan 21.75 juta.79 miliar. 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi tegas kepada pihak yang tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan. • Di PT Bank Sulut.12 juta oleh rekanan BPD Jawa Tengah.64 miliar.27 . bank daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah atau BUMD karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/bank daerah.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut. 21. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. memerintahkan para kepala cabang untuk melengkapi jaminan para debitur. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat delapan kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp2.226 Penyebab 21.26 21. Rekomendasi 21.25 21. penyelesaian pembangunan gedung kantor Bank Jateng Cabang Slawi Tahun 2010 terlambat dari waktu yang telah ditetapkan dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp368.24 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.

21. 21. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). prosedur penghapusan piutang macet TB 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisis yang memadai.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. pengadaan barang inventaris/pekerjaan Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa yang berlaku.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa lalai tidak memperhatikan ketentuan perpajakan. Administrasi 21. dan perpajakan. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa melakukan pemungutan dan penyetoran atas kekurangan penerimaan pajak dan denda keterlambatan. • Di BPR Kabupaten Bantul. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 18 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi.31 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). perpajakan. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung dan pemimpin kegiatan..32 . penyelesaian pekerjaan dan melakukan pembinaan. dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. kemampuan rekanan pelaksana dalam melaksanakan kegiatan pembangunan gedung kantor tidak memadai.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dll. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perbankan. Rekomendasi 21. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. pertambangan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.227 Penyebab 21. • Di PD BPR Bank Sleman.

serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. BPK telah merekomendasikan agar RUPS menetapkan standar fasilitas kendaraan dinas untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPD Bank Jateng.72 miliar yang merupakan pemborosan keuangan BPD Jawa Tengah atas pemberian fasilitas kendaraan dinas kepada dewan komisaris dan direksi PT Bank Jateng pada Tahun 2010 yang belum sesuai ketentuan. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai mematuhi ketentuan yang berlaku. 21.40 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.38 Kasus tersebut terjadi karena RUPS belum pernah menetapkan standar jenis dan jumlah kendaraan dinas bagi dewan komisaris dan direksi sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasar PT BPD Bank Jateng. fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. 21. dan direktur utama dalam penghapusbukuan agar memperhatikan prosedur yang berlaku. Rekomendasi 21. Rekomendasi 21.39 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.41 . Penyebab 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan senilai Rp1. dan kelalaian direktur utama dalam melakukan hapus buku kredit macet tidak memedomani peraturan yang telah ditetapkan. Kelompok temuan ketidakhematan meliputi permasalahan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama.36 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.37 Ketidakefektifan 21.228 Penyebab 21. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan hasil pengadaan barang/jasa belum/tidak dapat dimanfaatkan. Ketidakhematan 21.35 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pengadaan tidak melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.

• sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp10.42 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya enam ketidakefektifan senilai Rp13.50 juta. Rekomendasi 21.50 juta belum dimanfaatkan.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya Direksi PT BPD NTT dalam memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya terutama SDM pemasaran bidang pendanaan dan perkreditan serta sarana prasarana kantor dan pejabat yang berwenang tidak konsisten melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.46 . • sebanyak 1 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. BPK telah merekomendasikan agar direksi PT BPD NTT segera memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya dan BPD Jawa Tengah melakukan analisis kebutuhan atas lahan yang dibeli dan menindaklanjuti hasil analisis tersebut. 21.43 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdiri atas kasus mengenai • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp484. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. pengadaan aset tetap tanah yang dilakukan pada Tahun 2007 untuk Kantor Cabang Pembantu Grabag BPD Jawa Tengah senilai Rp484. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.52 miliar. • Di PT BPD NTT di Surabaya. 31 Agustus 2010) rugi senilai Rp2. kinerja kantor cabang di Surabaya tidak mencapai target dan Tahun Buku 2010 (s. • Di BPD Jawa Tengah.75 miliar. Penyebab 21. 21.229 21.52 miliar.45 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.76 miliar.d.

230 .

231 BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya 22. PD Pasar Surya Jawa Timur. Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Kalimantan Timur. terdapat kesalahan pencatatan pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2009 (audited) senilai Rp4. kegiatan investasi. dan • mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap pengelolaan pendapatan. Perusda Karimun Kepri. 34 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Provinsi Kepulauan Riau. dan pengamanan aset.2 Hasil Pemeriksaan 22.4 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMD mengungkapkan adanya 87 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. PT Pengembangan Investasi Riau. Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kalimantan Barat. hasil pemeriksaan atas operasional BUMD dapat dikelompokkan pada temuan yang berkaitan dengan SPI dan temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Operasional BUMD mencakup pengelolaan pendapatan. kerjasama kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama. PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS). 22. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada sebelas entitas yaitu PT Perkebunan Sumatera Utara. • memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengelolaan BUMD. PT Jatim Grha Utama. dan 33 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. sebagaimana disajikan dalam Lampiran 47. • Di Perusda Natuna.93 miliar sehingga nilai akun dalam laporan keuangan lebih catat dan kurang catat. dan kegiatan investasi. pengendalian biaya.1 Pada Semester II Tahun 2010.5 . dan PD Praja Karya Maluku. pengendalian biaya. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 22.3 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Secara umum tujuan pemeriksaan pada sebelas BUMD tersebut untuk • menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengamanan kekayaan telah memadai. 22. PD Natuna.

• Di PT Grha Utama.24 miliar.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. kekurangan penerimaan.1. Perusda Aneka Usaha Tahun 2010 tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan operasional perusahaan dan kerugian akumulasi minimal mencapai senilai Rp5.13 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 22. Kalimantan Barat. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 48 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 49. kurang cermat dalam membuat perjanjian dan melakukan pembayaran investasi. Tabel 22.32 16. administrasi.073.58 .402.379.73 15.8 Selain kelemahan SPI.00 miliar dalam perjanjian kerjasama dengan PT WS pada pekerjaan pembangunan jalan akses Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum memberikan hasil. hasil pemeriksaan operasional BUMD juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.47 8. serta pimpinan meningkatkan pengawasannya. ketidakhematan dan ketidakefektifan.442. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. Penyebab 22.232 • Di Perusda Aneka Usaha.Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD No. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pelaksana lebih cermat dalam melaksanakan tugas.1.133. menyusun perjanjian kerjasama dan melakukan pembayaran investasi. Rekomendasi 22. serta lemahnya pengawasan dari pimpinan.52 44.6 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pelaksana tidak bekerja secara cermat dan teliti.53 1. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 8 16 16 24 9 13 86 2. Provinsi Jawa Timur. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 86 kasus senilai Rp44. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 22. terdapat investasi Tahun 2007 dan 2008 senilai Rp4.835.

dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Daerah 22.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.16 miliar. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda.16 miliar.9 Kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan berupa uang. kekurangan volume fisik pekerjaan pada pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Modern Agribisnis (PIMA) Tahun 2010 senilai Rp1.233 22.10 Kelompok temuan kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah) di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan. dan barang. • Di PD Pasar Surya.16 juta. 22. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.35 juta.07 miliar di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp1. surat berharga.13 Dari total kasus kerugian yang terjadi pada perusda senilai Rp2. Provinsi Jawa Timur. Penyebab 22. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp1. 22. 22. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp122. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp2.14 Kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah terjadi karena pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. oleh rekanan kepada PT Jatim Grha Utama.16 miliar.11 . serta tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam menentukan tunjangan yang dapat diberikan kepada direksi. kelebihan pembayaran tunjangan direksi pada TB 2009 dan 2010 (per 30 Juni 2010) senilai Rp437.07 miliar.35 juta. • Di PT Jatim Grha Utama. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.71 juta. dan • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp437. • sebanyak 3 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp344. Provinsi Jawa Timur.

senilai 22.44 miliar. . piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.79 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp15. yang nyata dan pasti jumlahnya. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa.17 22. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp100. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya Rp417.67 miliar.00 juta pada PT B Airlines yang sudah ditutup tidak dapat dicairkan. dan barang. aset tidak diketahui keberadaannya.30 miliar dan jaminan keagenan senilai Rp20.18 • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp7. pembelian aset yang berstatus sengketa. 22.15 Terhadap kasus kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) tersebut. serta rekanan mempertanggungjawabkan kerugian yang terjadi dengan cara menyetor ke kas perusahaan daerah. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 22. surat berharga. terdiri atas • sebanyak 6 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp6. • Di PD Melati Bhakti Satya.37 juta.49 juta.76 miliar. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan lebih cermat melaksanakan tugasnya.16 Potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.234 Rekomendasi 22. Kasus-kasus potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. Provinsi Kalimantan Timur. • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp485. terdapat aset yang dikuasai pihak lain TB 2009 yaitu deposito senilai Rp5.19 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

pimpinan perusahaan tidak cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman. perusahaan daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah/perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. PT Perkebunan Sumatera Utara kurang 22.83 miliar yang terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah senilai Rp16. serta lemah dalam melakukan pengawasan.23 22.21 Atas kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.22 Kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. Penyebab 22. Selain itu. kepada bupati agar memerintahkan direksi untuk lebih cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.24 . Kekurangan Penerimaan 22.20 Kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah disebabkan karena perusda kurang mengupayakan pengembalian bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain.00 miliar.d.61 miliar. belum membuat standar operating procedure (SOP) terkait penatausahaan piutang/pinjaman. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp16.235 • Di Perusda Natuna. BPK telah merekomendasikan kepada perusda agar membuat langkah-langkah untuk mengembalikan bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. 2009 senilai Rp4. • Di PT Perkebunan Sumatera Utara. 22. terdapat pengelolaan piutang usaha tidak tertib sehingga menimbulkan saldo piutang usaha per 20 Juni 2010 tidak tertagih senilai Rp4.63 miliar. Rekomendasi 22. dan membuat SOP terkait dengan penatausahaan piutang/pinjaman serta segera menyelesaikan piutang/ pinjaman yang belum tertagih. Provinsi Kepulauan Riau. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan daerah/perusahaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. dan • sebanyak 1 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp196.16 juta.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. kurang membayar dividen kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas hasil usaha TB 2005 s.

29 22. serta lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian. memperhitungkan kekurangan pembayaran kompensasi dan denda keterlambatan kepada investor dan segera menyetorkan ke kas perusahaan.70 juta kepada PD Pasar Surya. Provinsi Jawa Timur. 22. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 10 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. investor (CV CJL) pembangunan Pasar Kupang Gunung Tahun 2008 belum melaksanakan kewajiban berupa penerimaan kompensasi senilai Rp425.30 . Rekomendasi 22.28 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah dan lain-lain. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dll.00 juta dan denda keterlambatan senilai Rp418. • Di PD Pasar Surya. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian.236 melakukan pemotongan pajak PPh Pasal 21 TB 2009 dan 2010 minimal senilai Rp1.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. Administrasi 22. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atas barang milik daerah. tidak mengurangi hak negara/daerah/perusahaan daerah (kekurangan penerimaan) tidak menghambat operasional/program entitas dan dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan segera menyetorkan sisa dividen hasil usaha kepada pemerintah daerah. belum mengenakan denda atas keterlambatan pembangunan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Penyebab 22.26 Kasus-kasus kekurangan penerimaan disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak mengacu pada keputusan RUPS dan dewan komisaris dalam melakukan pembayaran dividen.07 miliar dan penetapan tarif pajak tidak sesuai dengan ketentuan. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.

yaitu pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan kepada direksi dan pegawai Perusda Kabupaten Karimun senilai Rp711.33 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.75 miliar. pembagian laba kepada pemerintah provinsi dan kabupaten TB 2007 dan 2008 tidak sah dan melanggar ketentuan senilai Rp1.237 • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Penyebab 22. perpajakan. Provinsi Maluku. pertambangan.36 . Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat sembilan kasus ketidakhematan berupa kasus pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga senilai Rp1.34 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. • Di PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR). serta menyusun sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan.46 juta tidak didukung bukti yang lengkap. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.40 miliar. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Perusda Karimun.32 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam pembagian laba (dana komitmen). 22. kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan. Ketidakhematan 22. 22.74 juta tidak memiliki dasar hukum yang kuat. • Di PD Praja Karya. Rekomendasi 22. • sebanyak 2 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. dan belum menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.35 22. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain administrasi. pengeluaran belanja TB 2008 senilai Rp129. Provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan membatalkan pembagian laba yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan meminta pemegang saham untuk menyetorkan kembali dana (dividen) komitmen yang telah dibayarkan. dll.

Ketidakefektifan 22.48 miliar.38 kasus-kasus ketidakhematan tersebut.42 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Jawa Timur.238 Penyebab 22. 22. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.86 miliar tidak dapat diselesaikan oleh pihak investor sehingga tidak ada kepastian penyelesaian pembangunan dalam rangka revitalisasi Pasar Manukan Kulon dan potensi penerimaan PD Pasar Surya tidak optimal/terlambat. • sebanyak 5 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp1.37 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya disebabkan karena direksi belum memahami sepenuhnya ketentuan yang berlaku dalam pemberian tunjangan dan insentif. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.39 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. Pada umumnya kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.62 miliar. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6.60 juta. 22. BPK telah Terhadap merekomendasikan antara lain agar direksi menghentikan pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp8. • Di PD Pasar Surya. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.41 . kerjasama pembangunan gedung Pasar Manukan Kulon Tahun 2005 senilai Rp4.37 miliar terdiri atas • sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp271. Rekomendasi 22.40 22.

pelaksanaan kerjasama antara Perusda Natuna dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bangunan gedung pengolahan kelapa dan pengolahan ikan tidak termanfaatkan senilai Rp970. Penyebab 22. serta melakukan koordinasi terkait dengan hak dan kewajiban dalam pengelolaan aset. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan memberikan sanksi dan peringatan kepada investor yang telah melakukan wanprestasi dan meninjau kembali kerjasama tersebut.45 . Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan pimpinan perusahaan tidak melaksanakan koordinasi dengan pihak ketiga berkaitan dengan hak dan kewajiban yang telah disepakati dalam pengelolaan aset.239 • Di Perusda Natuna. Rekomendasi 22.86 juta.43 Kasus-kasus ketidakefektifan di antaranya disebabkan investor tidak serius dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disepakati. 22.44 Atas kasus-kasus ketidakefektifan. Provinsi Kepulauan Riau.

240 .

241 BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya 23.14 % Temuan (4)= 3/2 x100% 0. disajikan pada Tabel 23. Martadinata seluas 653.751. • Di Bank Indonesia (BI).03 Total Temuan (miliar Rp) (3) 528. Cakupan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu lainnya Entitas Yang DIperiksa (1) Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN Jumlah Cakupan Pemeriksaan (miliar Rp) (2) 275.33 7. dana bagi hasil TA 2009 dan Semester I TA 2010. • Di Kementerian Pekerjaan Umum.1 Selain tema-tema pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Direktorat Jenderal Bina Marga TA 2010.18 0. • Di Kementerian Keuangan. amblasnya sisi utara Jalan R.2 Pemerintah Pusat 23.515. .19 0. Cakupan pemeriksaan atas 31 objek pemeriksaan tersebut.20 285.3 Dua puluh satu objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat.94 15.3 23.58 303. dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo).1.531. BI.42 m². rinciannya adalah sebagai berikut. prosedur yang disepakati bersama–penelitian atas tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 pola channeling dalam rangka risk sharing antara pemerintah.E. Tabel 23.62 4.50 2. delapan objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dan dua objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. pengelolaan belanja subsidi dan belanja lain-lain (BSBL) TA 2009 dan Semester I TA 2010 yang disajikan dalam satu laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan BSBL pada 17 KPA lainnya yang masing-masing disajikan dalam LHP tersendiri.264. • Di 18 kuasa pengguna anggaran (KPA).62 848.1 di bawah ini. dalam Semester II Tahun 2010 BPK juga melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada 31 objek pemeriksaan meliputi 21 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.

242 23.37 miliar tidak didukung bukti yang lengkap dan valid. sehingga terdapat penerimaan negara bukan pajak sumber daya alam (PNBP SDA) senilai Rp1. pupuk. • KPA tidak tertib melaksanakan belanja lain-lain di antaranya. terdapat tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling tanpa disertai sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo senilai Rp1. administrasi. penatausahaan dan pencatatan realisasi penerimaan belum memungkinkan dilakukannya identifikasi penyetor secara tepat waktu dan tepat jumlah.94 miliar meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. ketidakhematan. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak senilai Rp2.5 23. dan ketidakefektifan. 23. b. potensi kerugian negara. dan benih mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. dan LPP RRI. pengadaan barang dan jasa senilai Rp57. a. • Di Kementerian Keuangan. • Di BI.06 juta oleh Ditjen Bina Marga Kementerian PU. listrik. LPP TVRI.81 miliar. di antaranya sebagai berikut.57 triliun dianggarkan pada BA BSBL termasuk di antaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran sendiri. kekurangan penerimaan. Di sembilan KPA. • BUMN operator belum sepenuhnya memenuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM.6 . Atas kasus-kasus kerugian negara dan kekurangan penerimaan tersebut.4 Hasil pemeriksaan atas 21 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat menunjukkan 88 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp528. di antaranya senilai Rp6. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp111.92 triliun. • Di sepuluh KPA.48 triliun yang belum diperhitungkan dalam bagi hasil ke daerah Tahun 2009. Di 13 KPA. terdapat kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak mengakibatkan kelebihan pembayaran senilai Rp28.99 miliar merupakan belanja fiktif atau kelebihan belanja yang tidak dikembalikan.

Provinsi Riau. • Di Provinsi Kalimantan Barat. • Di Provinsi Aceh. administrasi. Atas temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp1. • Di Kabupaten Muaro Jambi. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. Provinsi Maluku Utara. potensi kerugian daerah. dan 2009.10 . pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIII TA 2010. pengelolaan kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010. dan ketidakefektifan.7 Delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah. • Di Kota Pekanbaru.58 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. 2008. kekurangan penerimaan. di antaranya sebagai berikut.9 23. ketidakhematan. • Di Provinsi Bengkulu. Provinsi Riau.79 miliar oleh Sekretariat Kota Pekanbaru dan Pemda Bengkulu. program swasembada pangan dan pengelolaan saluran irigasi tersier TA 2008 dan 2009. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. dan Kabupaten Halmahera Tengah.8 Hasil pemeriksaan atas delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah menunjukkan adanya 53 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp15. rinciannya adalah sebagai berikut. Provinsi Gorontalo. kekurangan kas tidak dapat dijelaskan secara akuntabel oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru.07 miliar. Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut.32 miliar. terdapat pembayaran belanja yang tidak tersedia anggarannya sehingga pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum dan berindikasi kerugian keuangan daerah senilai Rp2. • Di Kota Pekanbaru. Provinsi Jambi. • Di Kota Pekanbaru.65 miliar. Provinsi Riau. mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah senilai minimal Rp3. • Di Kabupaten Bone Bolango.243 Pemerintah Daerah 23. 23. penggunaan dana STAR-SDP pada inspektorat daerah untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009. 23. pengelolaan perhitungan fihak ketiga (PFK) pemerintah TA 2007. pengelolaan bantuan keuangan pemerintah daerah se-Kalimantan Barat untuk pendirian dan pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2003 sampai Juli 2010.

mekanisme pengelolaan penjualan stiker MTQN XXIII TA 2010 tidak memadai. 2009. • Di PT Pertamina (Persero).37 juta.12 23. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran pengadaan paket tabung gas LPG 3 kg dan pengadaan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta menilai pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga.13 23.15 Laporan hasil pemeriksaan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. 2009 yang melebihi ketetapan preferensi harga Menteri Perindustrian. terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri Tahun 2008 s. sehingga realisasi penerimaan penjualan stiker tersebut tidak dapat ditelusuri kewajarannya dan terdapat indikasi kekurangan penerimaan senilai Rp712.244 • Di Provinsi Kalimantan Barat. Semester I Tahun 2009.d. regulator. adanya adendum kontrak pengadaan tabung LPG 3 kg Tahun 2007 mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp37.62 miliar. 2009.17 miliar atas proyek kerjasama pengembangan kebun kelapa sawit pola kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). 23. • Di PTPN XIV (Persero).44 miliar.34 juta. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 23.d. • Di PT Pertamina (Persero). terdapat kemahalan harga minimal senilai Rp881. Sedangkan PTPN XIV (Persero) meliputi kerjasama pihak ketiga dan pengadaan barang dan jasa Tahun 2007 s. Cakupan pemeriksaan pada PT Pertamina (Persero) meliputi kegiatan pengadaan paket tabung liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg yang terdiri dari pengadaan tabung LPG 3 kg. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. pengadaan alat-alat laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2005 s. yaitu kegiatan pengadaan barang dan jasa pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero). • Di Provinsi Bengkulu. dan apabila dibandingkan dengan harga pengadaan impor mengakibatkan ketidakekonomisan senilai Rp135. kompor.14 .66 juta dan pajak belum disetor senilai Rp505. dan selang dalam rangka Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Tahun 2007 s.d. 23.d.11 Dua objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan BUMN. di antaranya sebagai berikut. kekurangan penerimaan pendapatan senilai Rp3.

suatu temuan pemeriksaan memuat saran/ rekomendasi mengenai penagihan atas kelebihan bayar atau denda yang belum dipungut dan hasil penagihan/pemungutan harus disetor ke kas negara/daerah. rekomendasi. maka temuan pemeriksaan tersebut dinyatakan “telah ditindaklanjuti sesuai saran” jika entitas yang bersangkutan telah menyetor seluruh penagihan/pemungutannya ke kas negara/daerah dan BPK telah menerima dan memvalidasi bukti setor tersebut. maka temuan pemeriksaan yang bersangkutan dinyatakan sebagai “dalam proses ditindaklanjuti”. dan badan lainnya. status tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah. diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah/perusahaan pada entitas yang bersangkutan. Dengan demikian. Pimpinan entitas yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima. apabila bukti tindak lanjut rekomendasi tidak diterima dan/atau baru diterima sebagian. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK. pemerintah daerah. Selanjutnya BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK. BPK menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan. Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini. Sebaliknya. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. Adapun data hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut sebelum Tahun 2009 masih dalam proses rekonsiliasi. maka dalam IHPS dimuat data pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat. . BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan semesteran. Temuan-temuan pemeriksaan yang oleh BPK dinyatakan ditindaklanjuti sesuai saran/ rekomendasi adalah temuan-temuan pemeriksaan yang saran/rekomendasinya telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pihak entitas yang diperiksa sesuai dengan saran/rekomendasi BPK. BUMN. Dalam IHPS II Tahun 2010 disajikan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 yang disajikan menurut entitas kementerian/lembaga/provinsi/kapubaten/kota/BUMN/ BHMN/KKKS. Misalnya.245 HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT Memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20.

kemudian dari pemerintah daerah senilai Rp807. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas kementerian/lembaga disajikan pada Lampiran 50. b. perubahan struktur organisasi. pemogokan.93 triliun dan USD53. yaitu: 1.34 triliun serta sejumlah valas.55 ribu.05 miliar dan USD7. 2. force majeur. revolusi. yaitu suatu keadaan peperangan. Adapun tindakan administratif biasanya berupa pemberian peringatan. 3.251 rekomendasi senilai Rp27.94 ribu.78 ribu. mengembalikan/menyerahkan sejumlah aset ke negara/daerah atau dengan cara melengkapi pekerjaan/barang. Secara umum.00 ribu.82 miliar dan USD4. Adapun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjuti dengan penyerahan aset dan penyetoran ke kas negara/daerah dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 adalah senilai Rp1. Penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dilakukan dengan cara menyetorkan sejumlah uang ke kas negara/ daerah. kerusuhan.55 ribu. subjek atau objek rekomendasi dalam proses peradilan: 1.1.00 triliun dan USD42. Status pemantauan hasil pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.246 Sesuai Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010. kebakaran dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tindak lanjut tidak dapat dilaksanakan. dan GBP17. dan dari BUMN senilai Rp119. melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern. . pejabat menjadi tersangka dan ditahan. bencana alam. Adapun kriteria alasan sah sehingga rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti adalah : a. objek yang direkomendasikan dalam sengketa di peradilan.78 ribu. teguran dan/atau sanksi kepada para penanggungjawab dan/ atau pelaksana kegiatan. status pemantauan tindak lanjut rekomendasi ditambahkan satu jenis lagi yaitu status “Tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah”. dan GBP17.79 ribu. 2. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Pusat mengungkapkan bahwa dalam periode Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 85 kementerian/lembaga terdapat 8. efisien dan ekonomis. Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti secara efektif. pejabat menjadi terpidana. c. rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dan/atau tindakan administratif.15 ribu. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan negara/daerah. EUR11. perubahan regulasi. EUR11. Perincian setoran dari pemerintah pusat senilai Rp1.

78 Jml 3.55 GBP 17.55 ribu dan GBP17.77 AUD 334.00 triliun.56% 37. EUR11.15 ribu.227.014.082.37 EUR 11.78 ribu. Presentase rekomendasi yang telah ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (37. USD42.011 Nilai Rp12. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/penyerahan aset ke negara senilai Rp1.37 EUR 11.33 USD 326.95%. Grafik 24.95%) menunjukkan pemerintah pusat telah memperhatikan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.251 Nilai Rp27. Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 36.15 EUR 11.131 rekomendasi senilai Rp4.102.93 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.109 rekomendasi atau 25.082.821.19 GBP 17.95% Belum Sesuai Rekomendasi/Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 3. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.55 JPY 266.23 USD 359.064.87 JPY 266.38 Jml 3. .41 Dari tabel di atas.1.68 USD 313.19 Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/ daerah Nilai Rp1.56% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.49% belum ditindaklanjuti.247 Tabel 24.42 USD 42.945.55 GBP 17.464.003.131 atau 37.131 Nilai Rp4. sedangkan sebanyak 2.78 2.187.1 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai USD 12.938.011 rekomendasi atau 36.03 AUD 334.78 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 8. dan sebanyak 3.354.347. Dari 3.109 Rp9.852.49% 25.

Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pada pemerintah daerah disajikan pada Lampiran 51. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.11 USD 473.280 rekomendasi atau 39.79 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.009. .957.82 miliar dan USD4.02% Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 24.64 USD 2.075 rekomendasi atau 24.827.83 Belum Ditindaklanjuti Jml 26.11 USD 4.578 Nilai Rp17.72% Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti 24.228.75 ribu.635. sedangkan sebanyak 16.578 rekomendasi senilai Rp17.00 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 16. Grafik 24. Tabel 24.933 - Nilai Rp68.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 39.792.583. Dari 24.2.633.26% belum ditindaklanjuti.00 ribu. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp807.72 %.578 atau 36.00 triliun serta USD473.933 rekomendasi senilai Rp68.02% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.821. dan sebanyak 26.2 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Jml 24.280 Nilai Rp22.248 Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Daerah mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 508 pemerintah daerah terdapat 66.075 Nilai Rp27.75 Dari tabel di atas.26% 36.00 Jml 66.13 USD 4.91 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atau perusahaan negara/ daerah Rp807. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.35 USD 466.

249 Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (39.11 USD 230.93 Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 333 Nilai Rp1.408.055.056.523.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 297 atau 20.884.97% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 145 BUMN mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 1.75 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan Rp119.31 USD 7. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.50 SGD 1.99 triliun serta sejumlah valas.79 - Dari tabel di atas.275.291.897. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.26%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada pemerintah daerah atau bahkan ada yang belum disampaikan.320.326.450 Nilai Rp7.320. sedangkan sebanyak 333 rekomendasi atau 22.74 SGD 1.60 Belum Ditindaklanjuti Jml 820 Nilai Rp5.17 USD 835. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas BUMN disajikan pada Lampiran 52. Dari 297 rekomendasi .55% belum ditindaklanjuti.60 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 297 Nilai Rp806.48%.3. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.12 USD 604.657.75 EUR 8.994. Tabel 24.450 rekomendasi senilai Rp7. Grafik 24. dan sebanyak 820 rekomendasi atau 56.75 EUR 8.3 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Jml 1.

780.17 - (dalam juta rupiah dan ribu valas) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/perusahaan - Sesuai dengan Rekomendasi Jml 21 Nilai Rp676.581. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.65%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada BUMN atau bahkan ada yang belum disampaikan.67% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. .30 Status Pemantauan Tindak Lanjut Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai 18 Rp2.00 miliar serta sejumlah valas.59 SGD 5. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas satu BHMN yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) mengungkapkan bahwa bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 12 rekomendasi. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke perusahaan BUMN senilai Rp119.35 USD 74. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas KKKS disajikan pada Lampiran 52.4 .4 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 Rekomendasi Jml 76 Nilai Rp4.250 senilai Rp 806.005.33% dan sebanyak 11 rekomendasi atau 91.748. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.23 USD 150. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (56. Dari pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dapat dijelaskan bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak satu rekomendasi atau 8. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Lampiran 52.90 SGD 5. Hal ini menunjukkan bahwa BP Migas masih kurang dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK.05 miliar serta sejumlah valas.30 Belum Ditindaklanjuti Jml 37 Nilai Rp580.27 miliar yang ditindaklanjuti sesuai saran. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.51 - Dari tabel di atas.59 USD 73.53 USD 1.048. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 67 KKKS mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 76 rekomendasi senilai Rp4. Tabel 24.

. dan sebanyak 37 rekomendasi senilai atau 48.68% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan. Dari 21 rekomendasi senilai Rp676.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 21 rekomendasi atau 27.251 Grafik 24.68% belum ditindaklanjuti.68%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada KKKS atau bahkan ada yang belum disampaikan.53 juta serta sejumlah valas yang ditindaklanjuti sesuai saran. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (48. belum ada yang telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke kas negara/perusahaan.63%. sedangkan sebanyak 18 rekomendasi atau 23.

252 .

.30 miliar atau 11. kinerja dan administrasi penatausahaan kerugian negara/daerah. Gambaran Umum Cakupan entitas yang telah dipantau pada Semester II Tahun 2010 adalah 648 entitas atau sebesar 31. • proses penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang belum dapat ditetapkan. Sasaran Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah meliputi: • • kepatuhan instansi untuk membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D). Pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK dan pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. BPK diberikan kewenangan untuk memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh pemerintah.302 kasus senilai Rp908.76% dari keseluruhan sebanyak 2. Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah disusun berdasarkan laporan pemantauan dalam kurun waktu bulan Juli 2010 sampai dengan Januari 2011.253 HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH Pendahuluan Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. Selain itu BPK juga memantau kerugian negara/daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK maupun hasil pemeriksaan Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).92% dan sejumlah valas. −− pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain oleh pemerintah. Kerugian negara/daerah yang dipantau pada kurun waktu tahun 2009-2010 adalah sebanyak 4. maupun yang berindikasi kerugian negara/daerah dari hasil pemeriksaan BPK dan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) yang harus segera diproses penyelesaiannya oleh instansi yang bersangkutan. Pemantauan kerugian negara/daerah mencakup kerugian negara/daerah yang disebabkan kesalahan bendahara.339 kasus senilai Rp108.28 miliar dan sejumlah valuta asing (valas) dan tingkat penyelesaian (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. dan −− pihak ketiga yang telah ditetapkan oleh pengadilan. pengelola BUMN/BUMD dan pengelola keuangan negara lainnya yang ditetapkan oleh BPK.040 entitas. pelaksanaan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap: −− bendahara. pegawai negeri bukan bendahara dan pihak ketiga.

58 691.844.00 Rp951.058.935.624.00 983.754.723.70.334.314.447.73 USD 85.00 468.700.453.823.950.335.281.70 Rp57.92 Rp4.998.013.78 USD 1.998.223.00 6.72 Rp3.58 185.000.877.062.197.213.956.116.55 USD 15.87 Rp516.035.035.00 9.689.787.61 USD 228.709.717.000.111.72 596.015.463.560.54 USD 85.00 10.872.509.298.129. Instansi Pusat Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009 .17 USD 212.333.90 USD 212.035.206.013.58 186.2010 sebanyak 746 kasus senilai Rp712.394.640.194.97 USD 85.44 734.026.45 USD 228.664. .752.287.613.893.892.551.846.640.31 82 Rp4.43 3.131.000.756.61 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 tidak terdapat kasus kerugian negara yang dilakukan oleh pengelola BUMN.72 USD 15.81% dan USD1.035.00 3.43 94.1 Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat TAHUN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUGIAN JML 1 207 92 300 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 8 146 292 446 NILAI 30.727.000.348.202.388.281.526.78 USD 1.700.502.06 USD 1.74 miliar atau 8.913.973.000.997.16 USD 85.254.673.998.035.367.21 juta dengan tingkat penyelesaian baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 315 kasus senilai Rp62.219.163.507.35 233 53 28 1.44 134.009.86 Rp195.707.409.446.258.87 JML 26 3 29 1 27 25 53 PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 856.127.251.892.459.846.70 JML 1 171 72 244 2 111 156 269 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 9 353 384 746 764.419.531.91 USD 228.92 JML 36 20 56 6 35 136 177 PELUNASAN NILAI 2.103.00 15.459.06 USD 1.862.004.493.00 19. Rincian Pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pemerintah pusat selama Tahun 2009 sampai Tahun 2010 adalah sebagai berikut.207.909.89 USD 212.424.292.17 Rp457.157.791.70 Rp54.025. Kerugian Daerah Pada Instansi Pemerintah Daerah Dan BUMD Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah pada instansi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD) pada periode Tahun 2009 sampai Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.762.00 53.17 165.00 3 282 228 513 SISA NILAI 30.352.00 9.803.871.70 1 3.966.74 USD 15.303.978.481.104. Tabel 25.81 505.632.114.431.05 USD 212.764.057.900.823.128.600.318.00 6 596.845.316.532.436.00 54.845.683.92 71 156 2.367.53 USD 15.353.613.155.00 826.424.13 miliar dan USD228.156.677.214.481.710.057.86 Rp191.58 633.057.81 448.254 Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Kerugian Negara Pada Instansi Pusat Dan BUMN Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada instansi pusat dan BUMN pada Semester II Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.927.000.998.893.550.03 Rp649.671.43 3.899.560.581.58 USD 228.73 Rp712.197.348.

220.237 697 15 2.279 1.046.879 9.431.000.872.80 515.534.470.795 645 8 2.000. NEG/DAE JML 2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2010 (dalam rupiah) SISA JML 1 1 1 1 1 1 2 NILAI 46.00 46.3 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD TAHUN KEJADIAN SUBJEK KERUG.102.255 Pemerintah Daerah Kasus kerugian daerah yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009-2010 yaitu sebanyak 3.154 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 141 897 610 8 1.610.909.010.089.344.00 107.860.033.610.634 93.60 23.267.847.855 107.492.001.457.02 35.061.790.350.644.626.945.152 47 7 1.000.564.259.22%.735.40 21.91 5.446. Tabel 25.32 83.005.775.414.406 198 1.553 NILAI 15.00 46.837.681.853.656 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 362 1.113.332.681.905.580.610.746.00 101.354.756.892.00 54.128.915.019.487.96 PELUNASAN JML NILAI 43 245.268.367.740.660.852.810 (dalam rupiah) SISA NILAI 13.938.50 122.418.595.647 23.995.610.740.293.345.000.683.00 54.440.34 1.38 JML 221 898 35 1.45 80.00 JML PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 1 1 1 1 36.68 2.733.202.928 38. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.596.553 kasus senilai Rp196.128.231.625.00 7.450.00 1 1 1 1 16.502.400 39.357.00 27.739.23 27.00 107.508.515.21 4.26 juta dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2 kasus senilai Rp53.16 631.00 54.878.350.693.595.947.326.793.239.485.578.326.941.487.987.085 196.281 14.634.42 1.69 2.731.237.725.202.380 PEMBAYARAN ANGSURAN JML NILAI 30 1.449.992.41 %.580.085 156.740.92 7.342 734 15 3.089.790.440.707.42 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kasus kerugian daerah yang terjadi di BUMD dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 terdapat kerugian daerah sebanyak 3 kasus senilai Rp154.595.166.838.876.56 6.790.992.573.2 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah THN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUG NEGARA/ DAERAH JML 264 1.869. Tabel 25.000.820 40.350.46 83.21 3.783.576.760.91 799 6 835 43 353 41 7 444 73 1.126.00 37.751.076.00 16.00 TOTAL KERUGIAN NILAI 1 1 2 2 1 2 3 46.00 154.62 6.55 7.488.580.022 kasus senilai Rp45.540.768.199.874.00 46.580.05 3.00 46.735.681.734 116.22 385.456.00 JML PELUNASAN NILAI 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2009 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH .954.08 juta atau sebesar 34.440.095.166.950.521.381.757.560 25.340.380.00 miliar dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2.516.86 28.97 7.512.516.257.00 36.00 107.110.414.572.00 16.345.238.00 36.796.450.00 36.37 87.034.764.740.61 20.790.938.350.00 16.706.50 miliar atau sebesar 23.957.000.580.440.261.320.749.234 93.371.515.302.644.49 2.735.51 24.175.228.90 7.58 10.918.735.00 207 2 252 57 340 87 7 491 100 547 89 7 743 532.919.26 2.50 150.484. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada BUMD selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.105 37 1.407.862.580.147 462 2.220.482.00 6.

Belum tersusunnya database/daftar kerugian negara/daerah di masing-masing instansi. Kasus kerugian tidak ditindaklanjuti sehingga memasuki masa daluwarsa. meninggal. Permasalahan Dalam Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah antara lain: • Belum terbitnya ketentuan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain sehingga menimbulkan ketidakseragaman dalam penyelesaian atau pengenaan kerugian negara/daerah. Belum aktifnya kinerja TPKN/D. Belum optimalnya dukungan pimpinan instansi atas keberadaan dan kinerja TPKN/D. Proses penilaian dan/atau penetapan kerugian negara belum sesuai dengan ketentuan. hasil pengawasan/ pemeriksaan Bawasda. Penanggung jawab tidak beritikad baik menyelesaikan/mengembalikan. Pelaporan kerugian negara/daerah belum sesuai ketentuan. Kesulitan tentang identitas pribadi pihak yang bertanggung jawab misal karena pihak terkait tidak diketahui keberadaannya. Belum optimalnya tindak lanjut oleh TPKN/D atas informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan BPK. Inspektorat Jenderal.256 Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya Pada Semester II Tahun 2010 belum terdapat data mengenai kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya pada badan pengelola keuangan lainnya seperti badan hukum milik negara (BHMN) dan badan layanan umum (BLU). maupun dari BPKP (APIP). penanggung jawab tidak jelas identitasnya. Jangka waktu penggantian tidak memperhatikan masa pensiun (taspen) sehingga tidak dapat tertagih setelah tidak aktif (pensiun). Belum maksimalnya koordinasi antara inspektorat dengan TPKN/D dalam menindaklanjuti penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. Belum optimalnya pendokumentasian/administrasi berkaitan dengan data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya. Proses penyelesaian berlarut-larut karena penanggung jawab tidak ada. • • • • • • • • • • • • • .

Sisa kasus sebanyak 97 kasus (92. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus (2. akuntabel.95%).257 Rekomendasi Terhadap permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah. BPK merekomendasikan: • • • Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain. pejabat dan pelaksana tugas penyelesaian kerugian negara/daerah. proses pengumpulan bahan dan koordinasi. • • Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.90%).11 triliun dan USD11. Dari 105 kasus yang diserahkan tersebut.06 juta. instansi yang berwenang (Kepolisian. penyidikan sebanyak 2 kasus (1. Rincian pemantauan hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian/pidana dapat dilihat pada tabel berikut.86%).38%) merupakan kasus yang belum ditindaklanjuti. proses gelar perkara dan banding/kasasi. Koordinasi internal dan eksternal untuk mencapai pemulihan kerugian negara/ daerah yang optimal. . putusan hakim sebanyak 2 kasus (1. profesional. mewajibkan BPK untuk melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi tindak pidana kepada instansi yang berwenang. Tahun 2009 dan Tahun 2010. penuntutan sebanyak 1 kasus (0. Pemahaman kepada pimpinan unit kerja tentang pentingnya pelaporan kerugian negara/daerah dalam rangka penyelesaian kerugian negara/daerah sehingga pemulihan kerugian negara/daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan negara/daerah yang transparan. Pemberian pemahaman tentang pengenaan dan penyelesaian ganti kerugian negara kepada pimpinan. Kejaksaan. Sejak tahun 2003 BPK telah melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu Kepolisian Negara RI. Kejaksaan.90%). bertanggung jawab tercapai. Pimpinan instansi memberikan dukungan berkaitan dengan keberadaan dan kinerja TPKN/D. dalam proses penelaahan.

067.19 16.153.98 1.40 8.04 1.04 - 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 17 15 32 17 46 63 97 - 2 Kejaksaan Total Kejaksaan 2009 2010 20 15 35 22 46 68 105 3 KPK Total KPK TOTAL 2009 2010 *) Pelimpahan (Limpah) yaitu penyerahan penanganan kasus dari satu instansi yang berwenang ke instansi yang berwenang lainnya atau dari instansi yang berwenang pusat ke instansi vertikal dibawahnya sebelum proses penyelidikan.112.136.68 315.41 797.63 9.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana (dalam juta rupiah dan ribu valas) Kasus No.56 394.136. Aparat Penegak Hukum Total Nilai (Rp) Total Nilai (USD) Dilimpahkan *) Penyelidikan Penyidikan Proses Hukum Penuntutan Lainlain Jumlah yang telah diserahkan 2 2 Tahun Total Temuan Vonis SP3 1 Polri Total Kepolisian 2009 2010 2 2 20 15 35 22 46 68 105 16. .980.74 298.917.834.150.700.00 11.75 82.463.576.546.50 402.258 Tabel 25.556.19 216.00 1.99 453.393.

Lampiran IHPS II Tahun 2010 .

Aceh Kab. Aceh Tengah Kab. Nias Selatan Kab. Aceh Jaya Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Prov. Aceh Barat Daya Kab. Pidie Kab. Nias Kab. Mandailing Natal Kab. Toba Samosir Kota Binjai 1 WDP 1 1 WDP TW 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP TW WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 1 1 TMP WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 TMP 13 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP TW 1 . Padang Lawas Utara Kab. Padang Lawas Kab. Simalungun Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 WTP WTP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP TW 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 WTP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 10 14 1 WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP Entitas Pemerintah Daerah Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total Prov. Aceh Timur Kab. Deli Serdang Kab. Tapanuli Tengah Kab.Halaman 1 . Aceh Singkil Kab. Langkat Kab. Aceh Tamiang Kab. Nagan Raya Kab. Pakpak Bharat Kab.Lampiran 1a Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No 1 Prov. Nias Utara Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Utara Kab. Aceh Barat Kab. Serdang Bedagai Kab. Humbang Hasundutan Kab. Tapanuli Utara Kab. Tapanuli Selatan Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Karo Kab. Asahan Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Besar Kab. Nias Barat Kab. Batubara Kab. Dairi Kab. Bireuen Kab. Sumatera Utara Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Bener Meriah Kab. Labuhanbatu Kab. Pidie Jaya Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Samosir Kab. Gayo Lues Kab.

Bungo Kab. Kerinci Kab. Rokan Hilir Kab. Padang Pariaman Kab.Lampiran 1a No 28 29 30 31 32 33 34 3 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total * TMP WDP TMP WDP WDP WDP Prov. Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 4 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 8 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 5 Prov. Sarolangun 1 WDP 10 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 1 WDP 2 12 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP 2 . Rokan Hulu Kab. Lima Puluh Kota Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Prov. Merangin Kab. Kampar Kab. Kep. Pesisir Selatan Kab. Bengkalis Kab. Muaro Jambi Kab. Pasaman Kab. Solok Selatan Kab. Indragiri Hilir Kab. Pasaman Barat Kab. Indragiri Hulu Kab. Sijunjung Kab. Kepulauan Meranti Kab. Mentawai Kab. Agam Kab. Dharmasraya Kab. Batanghari Kab. Solok Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 92 93 94 95 96 97 98 Prov. Pelalawan Kab. Kuantan Singingi Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Riau Kab. Sumatera Barat Kab. Jambi Kab.Halaman 2 . Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 4 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov.

Lampung Kab. Tulang Bawang Barat Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Prov. Lampung Utara Kab. Sumatera Selatan Kab. Pesawaran Kab. Tanggamus Kab. Musi Rawas Kab. Musi Banyuasin Kab. Lahat Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Tulang Bawang Kab. Empat Lawang Kab. Lampung Tengah Kab. Bengkulu Utara Kab.Halaman 3 . Tanjung Jabung Timur Kab. Bengkulu Selatan Kab. Ogan Ilir Kab. Pringsewu Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Lampung Barat Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 Prov. Seluma Kota Bengkulu 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 0 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 8 Prov. Banyuasin kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP 1 WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 No 8 9 10 11 12 6 99 100 101 102 103 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Rejang Lebong Kab. Muko-Muko Kab. Lebong Kab. Lampung Timur Kab. Lampung Selatan Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Prov. Bengkulu Tengah Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Total WDP WDP WDP WDP WTP Prov. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP 1 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP 0 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 3 . Ogan Komering Ulu Timur Kota Lubuk Linggau Kota Pagar Alam Kota Palembang Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 WDP 12 1 WDP 1 1 TW TW 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Kepahiang Kab. Kaur Kab. Mesuji Kab. Bengkulu Kab.

Sumedang Kab. Karawang Kab. Bangka Selatan Kab.Halaman 4 . Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 147 148 149 150 151 152 153 Prov. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Prov. Bekasi Kab. Belitung Timur Kota Pangkal Pinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 Prov. Bogor Kab. Natuna Kota Batam Kota Tanjungpinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 11 Prov. Cirebon Kab. Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 WDP TMP 8 19 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 . Majalengka Kab. Sukabumi Kab. Belitung Kab. Subang Kab. Garut Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 155 156 157 158 159 160 161 Prov. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 9 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Cianjur Kab. Bangka Kab. Bintan Kab. Kuningan Kab. DKI 1 1 WDP 0 1 1 WDP 12 Prov. Kepulauan Anambas Kab. Indramayu Kab. Purwakarta Kab. Bandung Kab. Lingga Kab. Bangka Belitung Kab. Ciamis Kab. Bangka Tengah Kab. Karimun Kab. Jawa Barat Kab. Bangka Barat Kab. Bandung Barat Kab. Kepulauan Riau Kab.

D. Sukoharjo Kab. Boyolali Kab.I. Rembang Kab. Kudus Kab. Purbalingga Kab. Tegal Kab. Kulon Progo Kab. Bantul Kab. Blitar Kab. Bangkalan Kab. D. Gunung Kidul Kab. Jawa Tengah Kab. Cilacap Kab.Halaman 5 .Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 13 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Kendal Kab. Wonogiri Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 227 228 229 230 231 Prov. Banjarnegara Kab. Kebumen Kab. Batang Kab. Semarang Kab. Karanganyar Kab. Sragen Kab. Magelang Kab. Purworejo Kab. Yogyakarta Kab. Grobogan Kab.I. Banyuwangi Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Banyumas Kab. Demak Kab. Jawa Timur Kab. Temanggung Kab. Jepara Kab. Bojonegoro 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 0 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 5 . Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 2 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 Prov. Brebes Kab. Pati Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 232 233 234 235 236 Prov. Klaten Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Prov. Sleman Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 0 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Blora Kab.

Sampang Kab. Lebak Kab. Mojokerto Kab. Sumenep Kab. Buleleng Kab. Nganjuk Kab. Serang Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 0 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 17 Prov. Probolinggo Kab. Gresik Kab. Jembrana 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 0 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 6 . Bondowoso Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Prov. Badung Kab. Lumajang Kab. Sidoarjo Kab. Situbondo Kab. Jember Kab. Pacitan Kab. Malang Kab. Pandeglang Kab. Banten Kab. Bali Kab. Kediri Kab. Magetan Kab. Ponorogo Kab. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 280 281 282 283 284 285 Prov. Pasuruan Kab. Madiun Kab.Halaman 6 . Bangli Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 16 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Tuban Kab. Trenggalek Kab. Jombang Kab. Pamekasan Kab. Ngawi Kab. Gianyar Kab. Lamongan Kab. Tulungagung Kota Batu Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW Prov.

Manggarai Barat Kab.Halaman 7 . Belu Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Prov. Tabanan Kota Denpasar Total WDP WDP WDP WDP Prov. Kapuas Hulu Kab Kayong Utara Kab. Nagekeo Kab. Rote Ndao Kab. Alor Kab. Lombok Barat Kab. Manggarai Timur Kab. Lombok Utara Kab. Sumbawa Kab. Bengkayang Kab. Nusa Tenggara Timur Kab. Lombok Timur Kab. Sumbawa Barat Kota Bima Kota Mataram 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 1 WDP 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Sambas 1 1 1 TW WDP WDP 1 1 WDP TW 1 TW 7 8 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP 7 . Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 Prov. Lembata Kab. Landak Kab. Pontianak Kab. Sumba Tengah Kab. Karangasem Kab. Sumba Barat Kab. Kubu Raya Kab. Melawi Kab. Flores Timur Kab. Ketapang Kab. Timor Tengah Utara Kota Kupang 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 TMP 17 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP 1 TMP 4 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 20 Prov. Kupang Kab. Sumba Barat Daya Kab. Sikka Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 No 7 8 9 10 18 286 287 288 289 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Manggarai Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Sumba Timur Kab. Bima Kab. Kalimantan Barat Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 Prov. Sabu Raijua Kab. Ende Kab. Lombok Tengah Kab. Nusa Tenggara Barat Kab. Dompu Kab. Ngada Kab. Klungkung Kab.

Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Total WDP TMP WDP WDP TW Prov.Halaman 8 . Bulungan Kab. Tabalong Kab. Tapin Kota Banjarbaru Kota Banjarmasin 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 TW TW WDP WDP WDP 1 WDP 10 1 WDP 1 WDP 4 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Barito Kuala Kab. Kutai Timur Kab. Gunung Mas Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 WDP 1 TW TMP WDP 1 1 1 1 1 No 11 12 13 14 15 21 333 334 335 336 337 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Barito Selatan Kab. Penajam Paser Utara Kab. Banjar Kab. Tanah Bumbu Kab. Murung Raya Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 Prov. Kotawaringin Barat Kab. Paser Kab. Nunukan Kab. Lamandau Kab. Kalimantan Tengah Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 Prov. Kotabaru Kab. Sukamara Kota Palangkaraya 1 1 TW TW 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW 1 TMP 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW TMP TW TW 22 Prov. Barito Utara Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Kalimantan Timur Kab. Sanggau Kab. Kalimantan Selatan Kab. Tanah Laut Kab. Seruyan Kab. Kotawaringin Timur Kab. Kutai Barat Kab. Balangan Kab. Berau Kab. Tana Tidung Kota Balikpapan Kota Bontang 1 1 1 1 1 TW TW TW TMP WDP 1 WDP 9 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TW TMP TMP WDP 6 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP 8 . Sekadau Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Kutai Kartanegara Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Katingan Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Prov. Malinau Kab. Pulang Pisau Kab. Kapuas Kab. Barito Timur Kab.

Donggala Kab. Bone Kab. Kepulauan Talaud Kab. Poso Kab. Kepulauan Sangihe Kab. Enrekang Kab. Bolaang Mongondow Kab. Bantaeng Kab. Gowa Kab. Kep. Sulawesi Utara Kab. Sigi Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Pinrang Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 WDP TW 1 1 No 14 15 24 380 381 Entitas Pemerintah Daerah Kota Samarinda Kota Tarakan Total TW WDP Prov. Maros Kab. Bolaang Mongondow Utara Kab. Morowali Kab. Buol Kab. Selayar Kab. Tojo Una-Una Kab. Minahasa Kab. Parigi Moutong Kab. Minahasa Tenggara Kab. Sulawesi Tengah Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 Prov. Sinjai 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 14 1 WDP 1 WDP 11 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 9 . Sidenreng Rappang Kab. Siau Tagulandang Biaro Kab.Halaman 9 . Minahasa Selatan Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 Prov. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 Prov. Luwu Kab. Minahasa Utara Kota Bitung Kota Kotamobagu Kota Manado Kota Tomohon 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 TW 1 1 1 1 1 WDP TW WDP TMP WDP 1 1 TW TMP 12 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW TMP WDP WDP WDP TW TW 25 Prov. Barru Kab. Banggai Kab. Banggai Kepulauan Kab. Kep. Pangkajene dan Kepulauan Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Bulukumba Kab. Jeneponto Kab. Sulawesi Selatan Kab. Toli-Toli Kota Palu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 0 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov.

Maluku Barat Daya Kab. Bombana Kab. Mamuju Utara Kab.Halaman 10 . Buton Utara Kab. Tana Toraja Kab. Bone Bolango Kab. Konawe Selatan Kab. Gorontalo Kab. Kolaka Kab. Seram Bagian Timur Kota Ambon 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 0 9 1 1 1 TMP TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP 10 . Polewali Mandar 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 5 1 WDP 1 WDP 1 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Buru Selatan Kab. Toraja Utara Kab. Takalar Kab. Kepulauan Aru Kab. Majene Kab. Soppeng Kab. Kolaka Utara Kab. Konawe Utara Kab. Pohuwato Kota Gorontalo 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 0 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Gorontalo Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 Prov. Mamasa Kab. Wakatobi Kota Bau-Bau Kota Kendari 1 1 1 1 TMP TW TMP WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 TMP 8 1 TMP 1 TMP 5 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Maluku Tenggara Kab. Gorontalo Utara Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 Prov. Muna Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 449 450 451 452 453 454 Prov. Seram Bagian Barat Kab. Maluku Tenggara Barat Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 No 18 19 20 21 22 23 24 25 27 427 428 429 430 431 432 433 434 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Maluku Tengah Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 456 457 458 459 460 Prov. Sulawesi Tenggara Kab. Konawe Kab. Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP Prov. Buton Kab. Buru Kab. Sulawesi Barat Kab. Mamuju Kab. Maluku Kab. Boalemo Kab.

Supiori Kab. Yahukimo Kab. Maybrat Kab. Deiyai Kab.Halaman 11 . Maluku Utara Kab. Waropen Kab. Biak Numfor Kab. Nabire Kab. Kepulauan Yapen Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 Prov. Mimika Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 TMP 1 No 12 31 472 Entitas Pemerintah Daerah Kota Tual Total TMP Prov. Paniai Kab. Halmahera Utara Kab. Raja Ampat 1 TMP 1 1 TMP 1 WDP 2 7 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP * TMP 11 . Pegunungan Bintang Kab. Dogiyai Kab. Halmahera Barat Kab. Nduga Kab. Mamberamo Tengah Kab. Fakfak Kab. Papua Barat Kab. Manokwari Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 Prov. Halmahera Timur Kab. Keerom Kab. Lanny Jaya Kab. Kepulauan Sula Kab. Mamberamo Raya Kab. Yalimo Kota Jayapura 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 9 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 13 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Halmahera Tengah Kab. Asmat Kab. Pulau Morotai Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan 1 TW 1 WDP 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Sarmi Kab. Puncak Jaya Kab. Papua Kab. Kaimana Kab. Halmahera Selatan Kab. Boven Digoel Kab. Jayapura Kab. Merauke Kab. Jayawijaya Kab. Intan Jaya Kab. Puncak Kab. Mappi Kab. Tolikara Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 513 514 515 516 517 518 Prov.

Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 348 WDP 151 TMP TMP TMP 1 1 1 1 499 No 7 8 9 10 11 12 519 520 521 522 523 524 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Teluk Bintuni Kab.Halaman 12 . Teluk Wondama Kota Sorong JUMLAH Total TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 12 . Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Tambrauw Kab.

Mandailing Natal Kab. Dairi Kab. Aceh Besar Kab. Asahan Kab. Bireuen Kab. Nias Barat Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 18 22 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 22 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WTP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WTP WDP WTP WDP WTP WTP WTP WTP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. 1 Prov. Humbang Hasundutan Kab. Gayo Lues Kab. Pidie Jaya Kab. Karo Kab. Aceh Utara Kab. Labuhanbatu Kab. Aceh Kab. Aceh Tenggara Kab.2009 No. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Prov. Aceh Singkil Kab. Aceh Timur Kab. Padang Lawas Kab. Simalungun 1 WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 1 WDP TW TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 26 1 1 TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP WDP WDP TMP TMP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP TMP 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP 13 . Labuhanbatu Selatan Kab. Nias Selatan Kab. Batubara Kab. Bener Meriah Kab.Halaman 1 . Aceh Jaya Kab. Serdang Bedagai Kab. Pakpak Bharat Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Aceh Tamiang Kab. Padang Lawas Utara Kab.Lampiran 1b Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005 . Nagan Raya Kab. Aceh Barat Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Samosir Kab. Nias Utara Kab. Nias Kab. Aceh Tengah Kab. Deli Serdang Kab. Aceh Barat Daya Kab. Pidie Kab. Aceh Selatan Kab. Sumatera Utara Kab. Langkat Kab.

Indragiri Hilir Kab. Agam Kab. Sumatera Barat Kab.Lampiran 1b No. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Indragiri Hulu Kab. Dharmasraya Kab. Mentawai Kab. Kep. Padang Pariaman Kab. Solok Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Pelalawan Kab. Pesisir Selatan Kab. Solok Selatan Kab. Lima Puluh Kota Kab. Kuantan Singingi Kab. Bengkalis Kab. Kepulauan Meranti Kab. Riau Kab. Pasaman Kab. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 3 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Tapanuli Utara Kab. Sijunjung Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Prov. Pasaman Barat Kab. Tapanuli Tengah Kab.Halaman 2 . Kampar Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 WDP 9 1 WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 . Rokan Hilir Kab. Tapanuli Selatan Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi LKPD 2005 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP TW * TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Prov.

Lampiran 1b No. Merangin Kab. Sarolangun Kab. Kaur 125 Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 Prov. 13 5 91 Entitas Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru LKPD 2005 1 WDP LKPD 2006 1 WDP LKPD 2007 1 WDP LKPD 2008 1 WTP LKPD 2009 1 WDP Prov. Bengkulu 121 Kab. Jambi Kab. Lahat 108 Kab. Ogan Komering Ulu Timur 116 Kota Lubuk Linggau 117 Kota Pagar Alam 118 Kota Palembang 119 Kota Prabumulih 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 WDP TMP 15 1 1 WDP WDP 15 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Tebo 102 Kota Jambi 103 Kota Sungai Penuh 6 Prov.Halaman 3 . Kerinci Kab. Kepahiang 126 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan 115 Kab. Sumatera Selatan 105 Kab. Bengkulu Selatan 122 Kab. Rejang Lebong 129 Kab. Seluma 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 6 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 15 . Bengkulu Tengah 123 Kab. Bungo Kab. Ogan Komering Ilir 113 Kab. Muara Enim 109 Kab. Muaro Jambi Kab. Ogan Ilir 112 Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 Prov. Empat Lawang 107 Kab. Muko-Muko 128 Kab. Lebong 127 Kab. Ogan Komering Ulu 114 Kab. Tanjung Jabung Timur 101 Kab. Tanjung Jabung Barat 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 WDP WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP 100 Kab. Batanghari Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 92 93 94 95 96 97 98 99 Prov. Banyuasin 106 kab. Musi Banyuasin 110 Kab. Bengkulu Utara 124 Kab. Musi Rawas 111 Kab.

DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Way Kanan 144 Kota Bandar Lampung 145 Kota Metro 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 11 11 11 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 9 Prov. Mesuji 138 Kab. Natuna 160 Kota Batam 161 Kota Tanjungpinang 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 5 7 7 WDP TMP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 1 11 Prov. Lampung Timur 136 Kab. Tulang Bawang 142 Kab. Lampung Barat 133 Kab. Pesawaran 139 Kab. Karimun 157 Kab. Bandung Barat 166 Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 Prov.Halaman 4 . Bangka Selatan 150 Kab. Bintan 156 Kab. Tanggamus 141 Kab. Belitung Timur 153 Kota Pangkal Pinang 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 6 8 8 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Prov. Tulang Bawang Barat 143 Kab. Bangka 148 Kab. Bangka Belitung 147 Kab. Lampung Utara 137 Kab. Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 8 Prov. Lingga 159 Kab. Pringsewu 140 Kab. Belitung 152 Kab. Lampung 132 Kab. Bekasi 167 Kab. Bandung 165 Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 Prov. Lampung Selatan 134 Kab. DKI 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 WDP 1 WDP 1 12 Prov. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 Prov. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 163 Prov. Bangka Barat 149 Kab.Lampiran 1b No. Lampung Tengah 135 Kab. Bangka Tengah 151 Kab. Kepulauan Riau 155 Kab. Jawa Barat 164 Kab. Bogor 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 23 26 26 WDP WDP 1 1 WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 16 . Kepulauan Anambas 158 Kab.

Semarang 214 Kab. Majalengka 176 Kab. Purwakarta 177 Kab.Halaman 5 . Sragen 215 Kab. Grobogan 200 Kab. Demak 199 Kab. Pemalang 210 Kab. Kendal 204 Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 190 Prov. Kebumen 203 Kab. Karanganyar 202 Kab. Sukabumi 179 Kab. Kuningan 175 Kab. Purworejo 212 Kab. Subang 178 Kab. Blora 195 Kab.Lampiran 1b No. Sukoharjo 216 Kab. Kudus 206 Kab. Rembang 213 Kab. Karawang 174 Kab. Sumedang 180 Kab. Brebes 197 Kab. Garut 172 Kab. Magelang 207 Kab. Pekalongan 209 Kab. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 13 Entitas Pemerintah Daerah 168 Kab. Indramayu 173 Kab. Batang 194 Kab. Jawa Tengah 191 Kab. Jepara 201 Kab. Ciamis 169 Kab. Tasikmalaya 181 Kota Bandung 182 Kota Banjar 183 Kota Bekasi 184 Kota Bogor 185 Kota Cimahi 186 Kota Cirebon 187 Kota Depok 188 Kota Sukabumi 189 Kota Tasikmalaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Banjarnegara 192 Kab. Cirebon 171 Kab. Banyumas 193 Kab. Boyolali 196 Kab. Pati 208 Kab. Cianjur 170 Kab. Klaten 205 Kab. Tegal 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WTPDPP 17 . Cilacap 198 Kab. Purbalingga 211 Kab.

Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 232 Prov. Sidoarjo 257 Kab. Tulungagung 262 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 26 1 WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TW WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP TW WDP TW WDP TMP WDP WDP TMP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 18 . Kulon Progo 230 Kab. Malang 247 Kab. Bangkalan 234 Kab. Bondowoso 238 Kab. D. Pamekasan 252 Kab.Lampiran 1b No. Gresik 239 Kab. Sumenep 259 Kab. Madiun 245 Kab. Probolinggo 255 Kab. Jawa Timur 233 Kab. Ngawi 250 Kab. 28 29 30 31 32 33 34 35 36 14 Entitas Pemerintah Daerah 217 Kab. Bantul 228 Kab. Blitar 236 Kab.Halaman 6 . Sampang 256 Kab. Pasuruan 253 Kab. Banyuwangi 235 Kab. Mojokerto 248 Kab. Wonogiri 219 Kab. Lumajang 244 Kab. Jember 240 Kab. Pacitan 251 Kab. Temanggung 218 Kab. Wonosobo 220 Kota Magelang 221 Kota Pekalongan 222 Kota Salatiga 223 Kota Semarang 224 Kota Surakarta 225 Kota Tegal LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP Prov. Situbondo 258 Kab. Kediri 242 Kab. Magetan 246 Kab. D. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 Prov. Ponorogo 254 Kab. Bojonegoro 237 Kab. Nganjuk 249 Kab.I. Tuban 261 Kab.I. Lamongan 243 Kab. Yogyakarta 227 Kab. Sleman 231 Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Jombang 241 Kab. Gunung Kidul 229 Kab. Trenggalek 260 Kab.

Gianyar 285 Kab. Bima 292 Kab. Tangerang 276 Kota Cilegon 277 Kota Serang 278 Kota Tangerang 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WTP 7 7 7 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WTP 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 17 Prov. Lombok Timur 296 Kab. Lombok Tengah 295 Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 Prov. Jembrana 286 Kab. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 280 Prov. Bali 281 Kab. Tabanan 289 Kota Denpasar 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP 18 Prov. Karangasem 287 Kab. Lebak 273 Kab. Buleleng 284 Kab. Nusa Tenggara Timur 302 Kab. Pandeglang 274 Kab. 32 33 34 35 36 37 38 39 16 Entitas Pemerintah Daerah 263 Kota Blitar 264 Kota Kediri 265 Kota Madiun 266 Kota Malang 267 Kota Mojokerto 268 Kota Pasuruan 269 Kota Probolinggo 270 Kota Surabaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 WDP WDP 1 1 1 Prov. Klungkung 288 Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 Prov. Badung 282 Kab. Bangli 283 Kab. Serang 275 Kab. Lombok Barat 294 Kab. Sumbawa Barat 299 Kota Bima 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Alor 15 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 21 1 1 WDP TMP 19 . Sumbawa 298 Kab. Banten 272 Kab.Halaman 7 . Dompu 293 Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 301 Prov. Lombok Utara 297 Kab.Lampiran 1b No. Nusa Tenggara Barat 291 Kab.

Nagekeo 312 Kab. Belu 304 Kab. Ketapang 328 Kab. Kapuas 344 Kab. Kalimantan Tengah 339 Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 338 Prov. Timor Tengah Utara 322 Kota Kupang LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 TMP 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 Prov. Pontianak 332 Kab. Lembata 308 Kab. Sanggau 334 Kab. Barito Timur 341 Kab. Sintang 336 Kota Pontianak 337 Kota Singkawang 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WTP WDP WTP 1 TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WTP WTP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 11 1 1 1 TMP TMP WDP 13 1 1 1 TW TMP WDP 13 1 1 1 TMP TMP TW 14 1 1 1 1 1 TMP TW TW TMP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP WDP TMP WDP WDP TW 21 Prov. Sumba Barat 317 Kab. Katingan 345 Kab. Sumba Timur 320 Kab. Murung Raya 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP TW WDP WDP TMP TW WDP TW WDP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TW WDP TW TW WDP TW TW TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TMP TW TW TW WDP WDP TW TW TW 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW 20 . Rote Ndao 314 Kab. Bengkayang 325 Kab. Manggarai Barat 310 Kab. Ngada 313 Kab. Sumba Barat Daya 318 Kab. Timor Tengah Selatan 321 Kab.Lampiran 1b No. Sambas 333 Kab. Gunung Mas 343 Kab. Landak 330 Kab. Kubu Raya 329 Kab. Kapuas Hulu 326 Kab Kayong Utara 327 Kab. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 20 Entitas Pemerintah Daerah 303 Kab. Melawi 331 Kab. Sikka 316 Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 323 Prov. Barito Selatan 340 Kab. Ende 305 Kab. Sabu Raijua 315 Kab. Manggarai Timur 311 Kab. Kalimantan Barat 324 Kab. Kotawaringin Barat 346 Kab. Kupang 307 Kab. Kotawaringin Timur 347 Kab. Lamandau 348 Kab. Sumba Tengah 319 Kab. Flores Timur 306 Kab. Barito Utara 342 Kab.Halaman 8 . Manggarai 309 Kab. Sekadau 335 Kab.

Kep. Siau Tagulandang Biaro 389 Kab. Kalimantan Timur 368 Kab. Tabalong 362 Kab. Pulang Pisau 350 Kab. Minahasa 391 Kab. Kutai Timur 373 Kab. Bolaang Mongondow Timur 386 Kab. Kepulauan Talaud 390 Kab. Banjar 356 Kab. Kotabaru 361 Kab. Sulawesi Utara 383 Kab. Hulu Sungai Selatan 358 Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 382 Prov. Tanah Laut 364 Kab.Lampiran 1b No. Barito Kuala 357 Kab. Paser 376 Kab. Malinau 374 Kab. Tanah Bumbu 363 Kab. Kepulauan Sangihe 388 Kab.Halaman 9 . Berau 369 Kab. Minahasa Selatan 1 1 WDP TMP 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 WDP 1 WDP 1 TMP **** TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP TW 8 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP WDP 14 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW 21 . Bolaang Mongondow Utara 387 Kab. Nunukan 375 Kab. Seruyan 351 Kab. Tapin 365 Kota Banjarbaru 366 Kota Banjarmasin 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 13 1 WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TW TW WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TW WDP WDP WDP WDP TW TW WDP TW WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Sukamara 352 Kota Palangkaraya LKPD 2005 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 TW TMP TW TW Prov. Penajam Paser Utara 377 Kab. Bulungan 370 Kab. Balangan 355 Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 367 Prov. 12 13 14 15 22 Entitas Pemerintah Daerah 349 Kab. Kutai Kartanegara 372 Kab. Kalimantan Selatan 354 Kab. Kutai Barat 371 Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 Prov. Bolaang Mongondow Selatan 385 Kab. Bolaang Mongondow 384 Kab. Tana Tidung 378 Kota Balikpapan 379 Kota Bontang 380 Kota Samarinda 381 Kota Tarakan 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TW TW TMP TMP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 WDP TW WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TMP TW TW TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TW WDP TW WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP TW WDP 24 Prov. Hulu Sungai Utara 360 Kab. Hulu Sungai Tengah 359 Kab.

Tana Toraja 430 Kab. Bone 414 Kab. Jeneponto 418 Kab. Maros 423 Kab. Morowali 404 Kab. Kep. Bulukumba 415 Kab. Takalar 429 Kab. Wajo 432 Kota Makassar 433 Kota Palopo 434 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 22 . Sulawesi Selatan 411 Kab. Toraja Utara 431 Kab. Donggala 403 Kab.Halaman 10 .Lampiran 1b No. Soppeng 428 Kab. Parigi Moutong 405 Kab. Sigi 407 Kab. Banggai Kepulauan 401 Kab. Luwu Timur 421 Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 410 Prov. Poso 406 Kab. 11 12 13 14 15 16 25 Entitas Pemerintah Daerah 392 Kab. Pinrang 425 Kab. Enrekang 416 Kab. Barru 413 Kab. Selayar 419 Kab. Banggai 400 Kab. Tojo Una-Una 408 Kab. Sulawesi Tengah 399 Kab. Sidenreng Rappang 426 Kab. Sinjai 427 Kab. Buol 402 Kab. Pangkajene dan Kepulauan 424 Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 Prov. Luwu 420 Kab. Luwu Utara 422 Kab. Gowa 417 Kab. Minahasa Tenggara 393 Kab. Minahasa Utara 394 Kota Bitung 395 Kota Kotamobagu 396 Kota Manado 397 Kota Tomohon LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 1 TMP WDP WDP WDP WDP TW LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TW TW 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 TMP WDP TW TMP 1 1 1 1 TMP WDP **** TMP WDP 1 1 1 1 1 Prov. Toli-Toli 409 Kota Palu 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 WTP DPP 1 1 WTP WTP DPP 8 1 1 1 WDP WDP WTP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP TMP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Bantaeng 412 Kab.

Halaman 11 . Mamuju 459 Kab. Kepulauan Aru 465 Kab. Konawe Selatan 443 Kab. Buru Selatan 464 Kab. Polewali Mandar 1 1 WDP WDP 4 1 1 WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Boalemo 450 Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 Prov. Maluku Tenggara Barat 469 Kab. Gorontalo Utara 453 Kab. Majene 457 Kab. Mamasa 458 Kab. Maluku Barat Daya 466 Kab.Lampiran 1b No. Sulawesi Tenggara 436 Kab. Gorontalo 452 Kab. Sulawesi Barat 456 Kab. Bombana 437 Kab. Bone Bolango 451 Kab. Muna 445 Kab. Kolaka 440 Kab. Seram Bagian Timur 471 Kota Ambon 472 Kota Tual 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 4 1 1 WDP WDP 9 1 1 TMP WDP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP TMP 23 . Wakatobi 446 Kota Bau-Bau 447 Kota Kendari 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TW 1 WTP 8 1 WTP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW TW TMP TMP TMP TMP TMP TW TW 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Pohuwato 454 Kota Gorontalo 1 1 WDP WDP 1 1 6 1 1 1 1 WTP WTP DPP WDP WDP 6 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP **** WDP WDP 7 1 1 1 1 1 1 1 WTP TMP WDP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Konawe 442 Kab. Maluku Tengah 467 Kab. Maluku Tenggara 468 Kab. Gorontalo 449 Kab. Mamuju Utara 460 Kab. Konawe Utara 444 Kab. Buru 463 Kab. Maluku 462 Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 Prov. Seram Bagian Barat 470 Kab. Buton Utara 439 Kab. Kolaka Utara 441 Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 Prov. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 461 Prov. Buton 438 Kab. 27 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov.

Jayapura 491 Kab. Kaimana 516 Kab. Supiori 508 Kab. Halmahera Barat 475 Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 Prov. Keerom 493 Kab. Paniai 503 Kab. Halmahera Utara 479 Kab. Puncak 505 Kab. Mamberamo Raya 496 Kab. Mimika 500 Kab. Asmat 485 Kab. Papua 484 Kab. Kepulauan Yapen 494 Kab. Maluku Utara 474 Kab.Lampiran 1b No. Pulau Morotai 481 Kota Ternate 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Nduga 502 Kab. Waropen 510 Kab. Intan Jaya 490 Kab. Jayawijaya 492 Kab. Biak Numfor 486 Kab. Yalimo 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 1 TMP 1 1 1 1 TMP TW TW TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 1 TMP TMP 1 1 TMP WDP 1 1 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 WDP 1 1 1 TW TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 1 WDP 6 1 TW 18 1 1 1 1 TW TMP TW TMP 21 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Fakfak 515 Kab. Tolikara 509 Kab. Halmahera Tengah 477 Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 Prov. Nabire 501 Kab. Mappi 498 Kab. Halmahera Timur 478 Kab. 31 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Yahukimo 511 Kab. Kepulauan Sula 480 Kab. Pegunungan Bintang 504 Kab. Dogiyai 489 Kab. Puncak Jaya 506 Kab.Halaman 12 . Sarmi 507 Kab. Papua Barat 514 Kab. Deiyai 488 Kab. Manokwari 2 1 WDP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP 24 . Halmahera Selatan 476 Kab. Lanny Jaya 495 Kab. Merauke 499 Kab. Boven Digoel 487 Kab. Mamberamo Tengah 497 Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 513 Prov.

Teluk Wondama 524 Kota Sorong JUMLAH LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 * 1 1 1 1 1 362 WDP 1 463 TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 469 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 485 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 499 TMP TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 25 . Tambrauw 522 Kab. Sorong Selatan 521 Kab. Teluk Bintuni 523 Kab. Sorong 520 Kab.Halaman 13 . Maybrat 518 Kab. 5 6 7 8 9 10 11 12 Entitas Pemerintah Daerah 517 Kab. Raja Ampat 519 Kab.Lampiran 1b No.

30 51.460 100.Lampiran 2 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .05 36. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 754 455 208 10 74 6 1 530 210 69 149 26 42 30 4 176 90 64 16 4 2 Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 1.64 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 5 Lain-lain 26 .00 12.Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai 6 Lain-lain II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.

924.11 106.687.053.419.75 8.317.14 276.20 22.34 14.00 521.95 80.252.377.52 207.753.565.88 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian 12 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.16 30.32 43.12 94.284.249.92 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 6 Lain-lain IV Administrasi 65 1 3 5 3 862 364 37.16 5.13 % Nilai (juta Rp) 556.365.42 38.11 3.771.Lampiran 3 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .49 9.50 25.839.84 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 27 .24 8.87 152.47 7.80 476.32 370.835.077.415.872.224.45 3.77 35.142.125.64 24.29 54. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 10 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 31.82 27.18 3.08 8.558.72 83.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 729 76 16 155 101 26 71 90 15 143 6 3 27 119 7 5 24 2 14 3 3 39 2 20 398 321 17.747.30 2.132.155.42 144.572.80 46.99 59.34 166.752.Halaman 1 .

03 86.86 6.42 4.384.326.00 1. perpajakan.933.384.63 33.113.60 4.20 13.60 0.03 4.33 7.33 6.91 195.761.352.76 131.53 477.30 91. pertambangan.23 445.70 sehingga 100.271.929. 8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum 9 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 11 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 12 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 13 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 14 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 15 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1 93 54 71 28 58 6 25 74 1 4 69 1 1 0.19 95.761.010.84 61.00 28 .04 3.Lampiran 3 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 9 45 7 8 65 28 % Nilai (juta Rp) - % 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.027.430.48 100.66 1 Penggunaan kuantitas input untuk satu satuan output lebih besar/ tinggi dari yang seharusnya VII Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 137 73 5 32 3 15 5 4 2.320 5.Halaman 2 . dll.

75 5 844.094.482.214.99 5.00 125.11 1 11 651.56 4 2.75 2 395.39 1 2 14 24.19 15.Halaman 1 .33 131.09 7 14 175 130.220.529.51 2.611.215.01 3 625.80 489.05 3 917.26 21 1.06 108 49. Toba Samosir 7 2 11 25 Kota Binjai 4 2 12 26 Kota Medan 6 0 13 27 Kota Padangsidimpuan 5 2 14 28 Kota Pematangsiantar 9 5 15 29 Kota Sibolga 7 4 16 30 Kota Tanjungbalai 4 2 29 .60 291.689.993. Aceh Barat Daya 5 2 3 3 Kab.191.926.456.61 55.18 62.10 77.99 5 421.49 1.12 1 1 1 1 1 10 3.66 9 2 18 1. Aceh Timur 9 5 8 8 Kab.03 67.21 24.38 1.24 295.49 1 17.22 3.152.87 7 1.386.530.41 1 498.304.53 Nilai (22) 52.56 1 16 4.70 1.466.00 870.20 288.416.47 1 75.25 75. Pidie 6 2 11 11 Kab.744.36 1 42.062.828.678.49 2.41 279.446.00 52.36 95.61 3.61 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 90 38 1 1 Provinsi Aceh 15 5 2 2 Kab.66 1.23 29.147.789.31 47.56 1 15 5. Simeulue 7 2 13 13 Kota Langsa 4 2 14 14 Kota Subulussalam 8 3 2 Provinsi Sumatera Utara 124 58 1 15 Kab.65 102.615.738.621.60 2.50 11.80 3 14 754.73 4 432.119.724.60 3 546.00 1.52 6 1 19 7.25 1.20 1.96 9 4.077.312.437.356.560.55 12 1.27 841.192.038.82 1.95 208.04 1 1.74 1 1 9 527.556.61 573.13 2 9.29 1 4 41 2 4 2 2 1 4 6 1 3 2 2 4 1 6 1 1 8 1.06 6 1 1 2 7 1 1 1 1 1 1 1 2 19 102.364.453.03 30.87 4 517.954.01 5.93 3.14 88.42 6 381.579. Padang Lawas 7 2 6 20 Kab.54 7.762 4.43 111.385.33 6 9 3. Nias 7 5 4 18 Kab. Aceh Besar 5 3 4 4 Kab.26 350.30 801.00 10 1.41 19.70 424.86 3 1 13 3.909.75 2.965.399.21 2 43. Simalungun 10 6 8 22 Kab.30 8.40 584.00 3.73 73.929.19 6.80 1.61 17.62 16. Aceh Jaya 2 1 5 5 Kab.97 19.23 4 3 20 5.69 7 55. Pidie Jaya 6 4 12 12 Kab. Bireuen 5 3 10 10 Kab.59 7 7 9 9 6 7 6 5 4 7 81 3 5 5 5 6 5 3 7 7 8 7 6 9 2 3 13 2.737. Aceh Tenggara 8 2 7 7 Kab.46 174.690.25 22 259 116.589.40 3.84 1 1.56 1.09 60.34 1 15 10. Tapanuli Selatan 14 7 9 23 Kab. Nias Selatan 7 4 5 19 Kab.27 317.93 2 2.24 2 2 9 151.959.37 4 5 7 9 4 13 3 7 3 15 9.968.08 462.540.21 429. Padang Lawas Utara 8 2 7 21 Kab.25 3 13 9.76 527.838. Batubara 9 6 2 16 Kab.50 557.557.85 2 2.762 - Jml Kasus (20) 8 5 1 1 1 16 2 1 1 2 2 1 1 4 2 Nilai (21) 55.91 1 659.01 3.90 3.24 22.11 39 6.28 3 76.57 172.144.71 721.35 5.121.82 5 1 14 671.953.Lampiran 4 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 38 8 2 2 1 1 5 4 2 1 2 4 2 4 44 1 6 1 3 3 3 3 4 3 4 2 1 2 4 2 2 13 1 6 32 1 11 5 21 20 4.14 1.78 14 5.572.45 28 9.57 - Nilai (23) - Nilai (24) 176.16 4.152.73 1.893.78 2.119.283.175.07 1 2 12 1.15 20.792.50 1.734.055.741.80 3 651.279.307. Aceh Tamiang 5 1 6 6 Kab.01 5 2.72 89 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 3.30 696.56 10.23 2.59 1 11.13 3 322.12 2 97.240.364.56 2.328.65 162.069.02 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 - Nilai (19) 4.107.41 845. Tapanuli Tengah 10 6 10 24 Kab. Bener Meriah 5 3 9 9 Kab.615.86 304.259. Deli Serdang 10 3 3 17 Kab.

60 17.632. Indragiri Hulu 9 4 4 38 Kab.68 1.029.909.21 4 1.59 86.16 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 7 3 1 3 7 1 2 3 1 3 1 2 6 3 1 2 14 5 3 1 Nilai (21) 4.27 13.862.Lima Puluh Kota 11 3 3 33 Kab.973. Rokan Hilir 4 2 7 41 Kab.32 1 888.01 1.59 16.158.62 490.09 2 4.423.310.493.06 331.159.28 587.748.88 5 1.770.108.84 3.71 5 7 3 3 1 40 8 1 2 2 5 1 1 1 12 7.37 10. Indramayu 4 3 .56 2 6 60 14.281.502.Mentawai 5 1 2 32 Kab.80 1 22 40.597.067.505.999.945.94 24 6.080.008.303.193.98 42.56 8.03 2 18 3.48 3 1.62 1.457.04 8 5.33 487.06 86 10.857.216. Ciamis 5 4 6 54 Kab.38 Nilai (22) 487.64 4.071.167.149.30 201.782. Kuantan Singingi 5 3 6 40 Kab.Pasaman Barat 13 8 4 34 Kab.00 356.16 2 1.988.951. Siak 7 4 8 42 Kota Dumai 15 7 5 Provinsi Jambi 19 13 1 43 Kab.015.95 90.97 1.577.64 854. Kampar 7 5 5 39 Kab.46 2 2.31 3.00 - Nilai (24) 42.96 1 110.86 11 3 1.31 192.07 77.518.29 15 8.08 426.60 1.433.00 13 3.07 1 630.68 1.67 2 496.73 1.08 4 1.720.96 2 6 12 1 4 20 1.768. Bandung Barat 13 9 4 52 Kab.31 4 1.42 11.40 6 5.00 426.38 6 2.597.58 2 15 3.88 Nilai (23) 426.497.54 2.187.00 304.71 7 16 2.333.44 8 12.47 4 682.968.206.34 570.72 1 27.32 1.468.314.65 18 6.62 4 782.26 3 107 35.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 25 3 8 5 9 23 5 1 4 1 1 3 8 3 1 2 13 5 1 3 4 54 7 4 4 2 1 6 3 1 8 3 3.43 1 364.241.25 2 500.50 1 35 14.01 52.14 - (1) (2) (3) (4) 3 Provinsi Sumatera Barat 52 24 1 31 Kab.813.480.20 21.54 57. Empat Lawang 8 5 3 47 Kota Pagar Alam 7 2 4 48 Kota Prabumulih 5 1 7 Provinsi Jawa Barat 149 76 1 49 Provinsi Jawa Barat 15 4 2 50 Kab.301.282.64 18.77 8 30.116.47 1.77 8 6 16 7 11 5 6 25 5 9 4 7 75 8 5 7 2 1 16 2 1 17 6.00 18.80 355.99 1.54 2.92 5 806.88 5 2.18 1 31 7.186.61 4.36 1.24 180.90 7 355.19 2 19 4.73 6 4.002.Solok Selatan 23 12 4 Provinsi Riau 65 34 1 35 Kab.30 Halaman 2 .15 1.60 175.07 111.79 1 252.83 41 7 3.069.49 13 5.65 5 2.159.787.96 13.57 1.993.44 9 8.505.462.53 24.117.42 4 3.76 1. Muaro Jambi 9 7 2 44 Kab.02 262.98 2 7.27 1.90 1.809.61 4 6. Indragiri Hilir 7 5 3 37 Kab.493. Bandung 8 3 3 51 Kab.55 286.70 1.006.50 8.75 3.49 1.245.19 6 1. Banyuasin 12 5 2 46 Kab.257.46 57 5 2 37 20.76 4.17 1 4.971.33 4.192.88 13 1.496.45 41 6.039.90 201.303.65 4 1 1 2 12 6 2 1 1 2 20 12. Bekasi 4 2 5 53 Kab.07 1 5 2.95 8 2.587.68 6 2.50 13.98 245.49 10 1 16 6. Tanjung Jabung Timur 10 6 6 Provinsi Sumatera Selatan 32 13 1 45 Kab.162.182.72 1 2 20 5.295.936.543.284.79 119. Bengkalis 11 4 2 36 Kab.346.266.42 9 1 9 6.870.06 350.69 2.14 455.33 94. Cianjur 11 5 7 55 Kab.498.540.82 16 4 20 4.209.89 19 8.95 8 1 26 4.722.94 1.25 1.422.75 1 23 8 1 4 1 2 12 4.059.630.081.99 373.686.172.434.474.749.44 7 4 42 73.845.277.398.00 370.593.31 2.46 1.663.733.18 7 1 8 168 94.27 7 1.435.84 18 14.83 2 1.012.73 598.75 7 19 250 132.62 4 3. Garut 6 3 8 56 Kab.00 2 3 31 12.60 4.57 72 65.241.395.77 1 3.67 6.256.33 1 676.60 29 17.14 3.237.236.825.237.27 2.282.808.Kep.57 8 3.92 6 1.85 2.65 1.244.

Manggarai Timur 12 8 3 73 Kab.57 16 270.23 2 15 1.87 90.194.42 3 1 940.69 189.21 20.99 218.91 1 9 3. Sekadau 10 8 7 81 Kab.57 3 10 6.40 Nilai (23) - Nilai (24) 191.44 1 264. Kapuas Hulu 13 6 4 78 Kab.673.326.90 4. Tegal 6 2 2 69 Kota Pekalongan 10 4 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 8 2 1 70 Kab.67 4.896.04 1 34.846.25 4 28 61.674.61 131.193. Sikka 11 9 4 74 Kab.80 1 1 8 9.83 1 86.102. Landak 16 6 6 80 Kab.64 155.28 - (1) (2) (3) (4) 9 57 Kab.37 275.157.520. Majalengka 13 7 12 60 Kab.46 555. Subang 5 3 13 61 Kab.02 5.476.100.50 23.404.53 243.896.41 4 347.23 1 1 18 6.Halaman 3 .21 3 976.09 155.02 10 1.09 8.49 3 198.29 5.11 1.73 1.21 2 706.890.13 13. Tasikmalaya 4 2 14 62 Kota Bandung 13 7 15 63 Kota Bekasi 12 9 16 64 Kota Bogor 9 4 17 65 Kota Cimahi 7 2 18 66 Kota Depok 4 3 19 67 Kota Tasikmalaya 6 1 8 Provinsi Jawa Tengah 16 6 1 68 Kab.92 107.77 5.53 3 119.71 237.13 2.249.78 2 219.11 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 51.16 819.12 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 4 1 3 2 1 7 2 1 1 3 9 2 1 1 1 4 Nilai (21) 3. Bengkayang 5 5 3 77 Kab.535.701.04 1 98.01 3.87 5 120.206.053.40 1 264.42 46.860.80 2 771.09 6 1 2 3 3 3 16 270.70 150.03 2 2.20 5 10 629.01 4 2 1 1 3 1 1 1 5 1 1 2 1 11 1.213.27 50.41 1 710.30 2 526.11 5 19 1.223. Kupang 21 11 2 72 Kab.63 9 1.225.06 91.66 10.20 1 852.87 7.31 3.48 18.21 110.15 4 2 5 5 1 7 3 4 3 3 36 13 10 5 8 74 14 7 4 9 7 11 12 10 2 3 771.96 297.46 48.97 1 617.70 1.52 555.45 4 302.00 11.57 280.67 22 6 2 3 1 3 1 3 3 5 23 3.03 511.85 4 13 32.50 3 1.346.90 4 410.56 51.68 391.283.30 5 2.90 41.460.75 655.37 5.385.919.175.42 12.41 26.372.87 5 120.69 4 512. Kuningan 6 3 11 59 Kab.30 6 311.35 1.04 2 1 8 8 12 1 3 3 5 14 2 3 3 3 2 1 3 20 7.69 2 652.29 150.56 516.25 620.008.654.50 3 6.429.827.87 95.37 3.00 204.281.057.277.532.85 8.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 3 2 1 4 2 3 4 5 7 4 3 6 6 17 5 3 2 7 41 9 7 3 9 2 3 8 2 1 18 18 14 1 14 1 15 8 12 646.91 1 940.201.54 3 4 10 858.860.02 2 13 3.07 193.64 7.00 100. Kayong Utara 11 7 5 79 Kab.28 3 3.02 6.319.21 3.53 11 73 43.155.17 868.09 5 351.106.844. Timor Tengah Utara 21 9 11 Provinsi Kalimantan Barat 95 45 1 75 Provinsi Kalimantan Barat 18 5 2 76 Kab.50 99. Sintang 8 4 8 82 Kota Singkawang 14 4 31 .51 954.42 210.27 3 459.19 4.53 272.57 1 2 1 19 5.40 95.62 819.22 45.29 1 8 6.721.86 1 344. Karawang 4 2 10 58 Kab.50 380.122.263.098. Lombok Utara 8 2 10 Provinsi Nusa Tenggara Timur 65 37 1 71 Kab.86 9 127 70.52 673.01 Nilai (22) 52.35 437.75 100.77 3 232.27 3.74 1 8.

13 135.50 - Nilai (23) - Nilai (24) 0.14 1.76 6 68.84 1 2.56 7.47 706.752.84 2. Luwu Utara 4 2 5 103 Kab.602.999.84 771.700.69 8 5.688.28 166.192.748.674.17 5 4 59 12.631.90 1 2.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 4 4 19 4 5 7 3 41 7 4 9 7 3 11 10 2 3 3 2 43 4 1 9 1 1 4 3 2 8 6 4 2 15 1 15 1.531.28 4 19 21. Balangan 8 3 2 85 Kab.26 5 4.60 2 49.140. Jeneponto 10 8 6 100 Kab.73 1 14 8.52 3.233.08 270.67 2. Maros 14 8 7 104 Kab.87 2 9 1.25 10.777.25 81.52 512.76 7.187.52 6 197.34 2 5 3 1 42 4 6 7 3 3 3 3 3 3 5 2 33 54.79 1 14 13.793.62 2 49.36 1.88 5 3.68 8.95 178.440.877.36 20.71 438.00 1 416.02 49.50 3 1.21 1 3 9 2.24 5 557.96 4 1 9 274.04 23 18.00 7 11.17 18 1 81.97 2 236. Malinau 9 1 5 92 Kota Bontang 6 3 6 93 Kota Samarinda 22 10 15 Provinsi Sulawesi Utara 12 2 1 94 Kab.422.825.37 1.032.363.36 5 1 17 8.66 43.42 515.44 79. Sinjai 12 8 8 105 Kab.770.892.00 1.01 22 88.052.38 1 1.558.39 6 417.57 567.588.61 9 1 12 898.369.863.34 450.057.758.196.897.63 3 710.46 2.292.69 2.05 3 4 12.21 563.974.43 1 14 956.75 2 4 1 1 1 8 177 41.71 51 14.780.684.29 13.48 3 4 93 112. Kutai Timur 18 8 4 91 Kab.50 27.35 2. Kotabaru 10 4 3 86 Kab.30 11 1.93 2 314.63 96.38 5 4.92 822.393.50 49. Seruyan 12 4 13 Provinsi Kalimantan Selatan 37 14 1 84 Kab.01 Nilai (22) 579.60 2 335. Minahasa Selatan 5 2 3 96 Kab.36 18 11.795.29 383.86 416. Kutai Kartanegara 10 6 3 90 Kab. Toraja Utara 8 1 11 108 Kota Palopo 10 4 .861.054.95 5 7 8 5 12 8 2 1 3 2 61 5 4 8 6 7 5 7 6 5 3 5 1 7 776. Kutai Barat 14 6 2 89 Kab.48 417.37 465.670.18 4.75 793.273.81 4 1.013.055.05 7.901. Bolaang Mongondow Timur 2 0 2 95 Kab.33 2 51.462.245.06 22 3.85 128.86 4 2.884.16 434.057.20 2.25 4 65.180.83 2 118.61 199.851.84 1 2.12 2 441.50 2 1 19 7. Bantaeng 9 5 2 99 Kab. Minahasa Tenggara 3 0 4 97 Kota Tomohon 2 0 16 Provinsi Sulawesi Selatan 111 60 1 98 Kab.43 11 13.36 457.87 40 3 1 2 6 1 2 1 1 1 1 16 1.837.67 2.03 9 7 40.440.085.748.00 273.673.45 210.181.32 Halaman 4 .424.878.864.670.69 8 5.943.28 14.28 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 9 5 4 3 1 2 1 1 8 1 2 2 3 Nilai (21) 8.861.392.40 1.36 54.97 7 761. Takalar 14 12 9 106 Kab.92 4 19 21.05 3 4 12.88 3 116.98 135.49 16 2.22 2.01 11 1 22 4.00 1.85 703.31 1.01 9.484.664.894.93 1 55.50 3 1.58 19 693.85 1 56.857.00 59.46 1.628.27 49.558. Tanah Bumbu 12 4 4 87 Kota Banjarbaru 7 3 14 Provinsi Kalimantan Timur 79 34 1 88 Kab. Tana Toraja 12 4 10 107 Kab.70 1 158.00 525.45 12 49. Luwu Timur 4 3 4 102 Kab.404.971.93 16 1.615.341.424.42 24 7. Kepulauan Selayar 14 5 3 101 Kab.43 1 15 6.38 107.82 2.46 7 3.71 9 515.09 3 37.69 1.84 0.30 57.67 4 1 1 17 1.20 410.69 - (1) (2) (3) (4) 12 Provinsi Kalimantan Tengah 12 4 1 83 Kab.29 2 4 4 6 3 2 22 15.

38 2.298.533.262.88 1 27 144 45.95 68.72 8 564.581. Buru 24 11 3 117 Kab.648.95 3 8.91 25.72 8 564.06 7 2 17 23.95 294.33 378.03 20 22.488.66 23 1 14 6. Maluku Tengah 20 14 6 120 Kab.63 5.320.58 59 141.83 1 1.70 35 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 196.03 3 350. Halmahera Timur 14 9 6 129 Kab.350.674. Kolaka Utara 9 3 4 112 Kab. Halmahera Barat 18 11 3 126 Kab.70 1 12 128 85.22 26.90 3 1.23 876.932.47 212.257.92 10.452.53 4 725.91 22.23 3.62 3. Majene 3 1 19 Provinsi Maluku 167 92 1 115 Provinsi Maluku 17 8 2 116 Kab.557.944.00 1 17 5.03 596.12 83.341.30 17 15.67 3 212.387.743. Buton Utara 15 8 3 111 Kab.581.25 2 3.48 5.297.03 142.55 291.717.657. Kepulauan Sula 16 9 8 131 Kota Tidore Kepulauan 9 4 33 .31 Nilai (22) 195.39 32 15.31 1 20 7.030.06 415. Maluku Barat Daya 19 13 5 119 Kab.38 291.06 5 338.38 5.226.88 1.28 6 2 24 74.475.122.03 1 21.211.00 7.741. Buru Selatan 21 10 4 118 Kab.22 4 3.954.00 28.13 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 2 2 2 2 6 2 1 2 1 10 1 4 1 4 Nilai (21) 4.03 735.161.743.54 37.44 7 5 1 2 5 4 3 3 27 2 3 4 2 5 6 5 2 9 10.30 735. Halmahera Selatan 15 13 4 127 Kab.96 11.241.106.654.696.53 83.056.031.605.Halaman 5 .69 1 786.87 16 63.00 - Nilai (23) - Nilai (24) 68.846.32 2.82 11 10.048.789.58 3 11.402.12 4.773.398.122.87 2 491.13 97.262.54 4.744.80 80.78 4 1.377.890.44 621.47 8.044.29 5 4 4 1 1 9 1 1 1 1 1 4 7 119 193.62 7 7.59 2.61 295.72 37 27.60 20.72 3 25.11 2.00 2 3 15 2.71 3.806.196.11 7.187.808.37 3.902.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 31 2 5 4 8 12 1 1 48 7 8 6 3 6 2 5 11 25 6 4 2 1 2 2 5 3 2 25 2 12 1 10 3 21 38.870.944.54 9.056.00 43.19 8 1.32 193.05 3 2 5 8 1 3 10 1. Konawe 16 7 5 113 Kab.74 14 59.71 1 8 1 4 2 1 2 24 6.694.54 1 24 62.03 196.902.67 3 1 25 1.70 991. Maluku Tenggara 19 11 7 121 Kab.16 4 6 14 899.30 4.95 275.70 - (1) (2) (3) (4) 17 Provinsi Sulawesi Tenggara 72 34 1 109 Kab.88 31 1 25 1. Halmahera Tengah 8 6 5 128 Kab.430.733.13 1.61 4.597. Bombana 8 4 2 110 Kab.13 1 95.744.169.14 2 13 1.41 13 8.60 5 1.15 4 530.51 6 11 8 8 63 4 6 9 8 8 8 8 7 5 51 6 8 6 10 5 2 5 9 2 17 5.610.64 557.18 3 17 12.37 4 155.47 4 1.94 148. Maluku Tenggara Barat 8 5 9 122 Kota Ambon 18 11 10 123 Kota Tual 21 9 20 Provinsi Maluku Utara 107 70 1 124 Provinsi Maluku Utara 16 10 2 125 Kab.73 5 20 4.552.75 2 5 18 7.304.90 47.30 39.98 6.500.227.53 9.31 2. Halmahera Utara 11 8 7 130 Kab.459.749.729.405.66 2.50 2.659.09 572. Konawe Utara 24 12 18 Provinsi Sulawesi Barat 3 1 1 114 Kab.70 119.

44 9 4.49 207.179.917.086.00 1.21 1 419.00 370.567.04 45 2 1. Waropen 10 9 13 144 Kab.386.00 12.502.872.659.60 3 6 590.60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 8 1 1 1 1 1 3 8 4 1 1 2 137 Nilai (21) 2.495.868.08 205.44 6 10.25 3 4.23 1 9 103 77.362.32 7.70 1 8 1.15 3 44.993.289.37 1 11.00 1.43 2 14 4.193. Jayawijaya 9 7 3 134 Kab.26 10 10.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 12 1 2 2 1 3 1 1 1 25 7 2 1 2 6 4 3 530 176 2.00 1. Dogiyai 3 3 2 133 Kab.425.22 3 3 5 5 31 6 9 2 5 5 2 2 862 10 4.06 1 935.278.21 42 31.786.621.535.34 Halaman 6 .753.565.15 4 74 6 6.649. Tolikara 5 4 12 143 Kab.150.54 542.853.951.06 3 262.42 2.972.42 119 1 9 2.89 (1) (2) (3) (4) 21 Provinsi Papua 70 56 1 132 Kab.369.78 23.86 3 708. Sarmi 2 2 10 141 Kab.320 1.22 1 124.849.736.79 4 3.23 778.86 1 12 4.66 1 457.04 6 2.41 941.430.15 1 583.687.234.06 1 143.753.89 3 18.486.97 858.86 6 4.31 7 21.332. Manokwari 5 1 4 148 Kab.92 1 56.985.66 Nilai (23) 426.917.415.83 1 153.00 Nilai (24) 434.61 61 72. Puncak Jaya 5 5 9 140 Kab.877.86 3 1.929.84 Nilai (22) 1.871.181.00 1 10 2.335.42 5 46.224.670.30 4 15. Nabire 4 3 7 138 Kab.30 195.783.54 883.75 547.18 5 12.63 1 434.80 1.34 10 5. Merauke 4 2 5 136 Kab.30 5 95. Sorong Selatan 11 7 7 151 Kab.23 3 2 1.758.95 1 13 4.20 5 2.32 1.271.946.191.73 2 153.139.49 1 184.17 6 4. Sorong 19 10 6 150 Kab.798.936. Yahukimo 9 8 22 Provinsi Papua Barat 75 41 1 145 Provinsi Papua Barat 10 3 2 146 Kab.207.82 118.08 170. Mappi 5 3 4 135 Kab.88 327.12 12 18.72 1 22 37.76 1 14 49. Paniai 6 3 8 139 Kab. Fakfak 11 8 3 147 Kab.708.314.460 754 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .01 4 3. Teluk Bintuni 9 5 JUMLAH 1.07 2 1.761.511.879.06 16.38 4.78 1 1.70 6.207.00 61.935.93 3 5.98 1 3 6 3 398 1 19 7.70 6 865. Raja Ampat 10 7 5 149 Kab. Supiori 6 5 11 142 Kab.137.837.989. Mimika 2 2 6 137 Kab.204.26 13 4.00 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 4.683.76 15 13 13.36 3 22 10.37 2.972.485.10 5 2.49 243.20 5 2 134 126.00 3 8 12.79 547.412.384.252.87 4 3.70 4 6 600.49 1 15 6.24 2 10 15.48 729 556.73 8 2.32 14.23 434.68 8.

99 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 100.00 35 .25 Jumlah Kasus % 22 11 11 71 30.76 42.Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 30 11 13 5 1 19 1 3 7 5 3 26.Lampiran 5 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

04 20.322.48 26.81 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 2 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1.116.595.696.Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 2 10 10 15.Lampiran 6 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .03 - 26.89 37.12 3.72 25.00 239.29 49.00 299.29 64.29 35.00 4.71 35.53 89.29 14. perpajakan.69 100.595.897.881.51 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah) 3 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.59 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.12 1 Lain-lain VII Ketidakefektifan 14.16 37.12 11.01 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 23 1 1 1 2 10 2 1 1 4 9 1 8 1 1 9 3 1 1 3 1 63 36.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 36 .99 - 0.116.51 500.11 % Nilai (juta Rp) 28.03 64. pertambangan.35 0. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 6.99 282.25 84.375.59 282. dll.06 0.87 11. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 7 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 8 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 9 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 14.203.58 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.123.

11 64.123.50 35.000.16 Nilai (22) 0.11 3.48 1 7 21.116.57 1 9 21 152.79 1.50 3.99 Jml Kasus (20) 2 2 4 1 9 Nilai (21) 24.203.72 10 4.070.682.51 1 8 10 267.868.16 21.03 Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) 282.69 4 28.50 3 85.132.00 89.826.53 Nilai (23) 17.53 0.579.68 1 26.21 31.29 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai Nilai (5) (15) 8 2 2 3 3 5 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 3 3 23 9 Nilai (17) 267.998.450.00 32.00 35.450.70 22.70 1 14.952.53 17.107.897.Lampiran 7 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Potensi Kerugian Negara/ Negara/Daerah/ Daerah/Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Nama Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara/Daerah/ Ketidakefektifan Negara/Daerah/ Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Jml Kasus Jml Kasus (6) 2 3 1 6 1 6 19 22 63 239.595.65 2 0.88 49.46 500.53 8 1 10 7 24.57 2 28.99 282.868.372.212.53 (1) (2) (3) (4) 1 PT Perkebunan Nusantara XII TB 2009 15 5 2 PDAM Kota Padang TB 2009 7 4 3 West Earthquake Disaster Project pada BNPB TA 2010 2 - 4 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 20 5 5 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M 10 5 6 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 17 11 JUMLAH 71 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 37 .18 1 7 4 8 36.

Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Belum Didukung Struktur Organisasi yang Memadai Sarana dan Prasarana Jumlah Belum Tenaga Memenuhi Medis dan Standar dan Keperawatan Persyaratan Belum Kesehatan Memadai Lingkungan Rumah Sakit 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan di Tarakan Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Sulawesi Tengah 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 14 38 . Rawat Inap dan Farmasi Temuan Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana Instalasi Rawat Jalan. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Pasuruan di Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 13 Ѵ 19 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ RSD dr.A. R. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. M. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo 14 RSUD Kabupaten Jombang di Jombang 15 RSUD Dr. M. Soebandi Kabupaten Jember di Jember 11 RSD Mardi Waluyo di Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr.Lampiran 8a Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.

Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. M. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. RSUD Undata di Palu RSUD Kota Sorong 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 17 18 19 Jumlah 39 .A. M. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan.Lampiran 8b Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 2. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Tidak Terdapat Program Perencanaan Perencanaan Perencanaan Kerja Belum Anggaran Kebutuhan Tidak Disusun/ Tidak Perbekalan Memadai Belum memadai Farmasi memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 2 2 16 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RSU Mayjen H. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. R. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr.

A. M. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang Magelang di 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr.Lampiran 8c Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 3. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Ungaran Semarang di RSUD DR. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga RSUD DR. R. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 40 . Rawat Inap dan Farmasi Temuan Pelaksanaan No Provinsi No RSUD Pengelolaan Pelayanan SPM Belum Prosedur Administrasi Tidak Sesuai Memadai / Tetap Belum Kurang Ketentuan Ditetapkan Memadai Memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 18 7 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 14 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Soebandi Kabupaten Jember 11 RSD Mardi Waluyo Kota Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. M. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan 10 RSD dr. Ponorogo Harjono Kabupaten 14 RSUD Kabupaten Jombang 15 RSUD Dr. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.

A. M. RSUD Undata di Palu RSUD Kabupaten Manokwari Jumlah Ѵ 10 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Belum Dilakukan/ Belum Sepenuhnya Dilakukan No Provinsi No RSUD 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 14 15 16 17 41 . M.Lampiran 8d Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 4. Rawat Inap dan Farmasi Belum Memadai/ Tidak Sesuai Ketentuan RSU Mayjen H. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan. R. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan.

Lampiran 9 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .62 Jumlah Kasus % 42 . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 16 3 9 3 1 42 4 10 21 5 2 16 4 10 1 1 74 100.00 21.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Mekanisme pemungutan.76 21.62 56.

Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No I Kerugian Negara 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi II Potensi Kerugian Negara 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.03 100.82 % 2.02 3 1 2 88 3.14 50.59 34.77 296.00 43 .41 75.45 99.28 2.442.12 50.329.60 - 8 1 1 1 1 1. perpajakan.14 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 57 41 64.398.28 422.27 Nilai (juta Rp) 422.342. dll.12 0.38 255.78 % 0.06 12.93 75.31 6.11 0.Lampiran 10 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .01 120.00 299.189.03 8 1 7 19 1 2 6 21.95 2. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 6 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 2 2 6 2 2 2 6.288. pertambangan.80 100.93 0.646.

38 9.93 2.95 2 18 7.68 2 - Kejaksaan Republik Indonesia 16 3 3 Kementerian Dalam Negeri 4 1 4 Kementerian Luar Negeri 1 5 Kementerian Keuangan 36 7 6 Kementerian Agama - 7 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - 8 Badan Pertanahan Nasional - 9 Kepolisian Republik Indonesia 1 10 Kementerian Perdagangan 1 11 Taman Mini Indonesia Indah 4 2 JUMLAH 74 16 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .87 4.12 1 2 3 75.29 2.44 Lampiran 11 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Negara Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus 1 13 1 1 16 88 299.25 270.17 296.001.28 8 9.73 1 419.503.375.17 6 1 119.376.871.29 708.988.80 2 422.288.324.10 28 270.02 1.99 2 212.38 2 2.398.200.90 1.503.06 5.06 14 5.014.29 1 2.12 50.74 4.99 5 2.65 831.06 21 10 1 5 57 9 1.97 119.342.11 10 5 632.329.85 1 12.38 Nilai Nilai Nilai Nilai 7 13 3 1 16 1 1 42 Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Jml Kasus (18) Nilai (19) Nilai (21) Nilai (22) (1) (2) (3) (4) 1 Mahkamah Agung 11 3 2 3 2 5 3 1 3 19 1 1 50.988.539.19 6 3 4.29 2.93 75.452.

Lampiran 12 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .90 6.24 100.00 45 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.86 Jumlah Kasus % 121 27 11 16 199 13. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 11 1 1 1 158 3 24 10 79.

996.51 61.870.36 2.41 927.38 94.11 5.19 71.923.581.19 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 2 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 2 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.29 253.333. pertambangan.791.18 15.09 V Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13 1 12 322 4. perpajakan.00 268.20 11.40 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 46 .86 % Nilai (juta Rp) 2.880.659.25 5.43 1.16 1. dll.Lampiran 13 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .48 2.00 100.38 2.04 6.81 88. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 1.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 8 6 2 6 5 1 230 177 25 1 1 26 65 4 4 18 38 1 20.48 226.38 6.333.36 100.37 2.733.426.20 5.

85 3 7 6.006.86 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 12 5 3 7 6 3 4 9 4 4 6 4 8 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 6.06 392.59 14 16.486.770.35 460.04 1.29 2.09 - Nilai (20) 408.122. Sumatera Barat 7 2 4 Kota Bukittinggi 7 3 Sumatera Selatan 1 5 Prov. Bogor 6 47 .38 - Nilai (21) 155.18 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 1 1 1 1 2 2 6 Jml Kasus (18) 1 2 1 2 - Nilai (19) 71.35 460.133. Lahat 3 4 Bengkulu 1 7 Kota Bengkulu 1 5 Lampung 1 8 Prov.67 1 417.222.22 6 1 6 7.506.59 8.69 1 2 6 7 869. Belitung 4 2 11 Kota Pangkalpinang 12 7 Kepulauan Riau 1 12 Prov.14 88.330.046.218.24 6.19 4.506.372. Lampung 4 2 9 Kota Bandar Lampung 7 6 Kepulauan Bangka Belitung 1 10 Kab.01 1 3 937.01 3.12 4 8 8.676.88 3 8 6. Sumatera Selatan 4 2 6 Kab.Lampiran 14 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 5 1 1 1 5 11 1 0 1 6 7 10 10 2 11 4 6 7 9 3.9 60.240.94 2.372.735.504.29 2.29 3. Kepulauan Riau 1 2 13 Kota Tanjungpinang 13 8 Jawa Barat 1 14 Kab.52 16.12 937.463.486.825.22 6.04 3 1 4 1.770.240.735.78 21.40 3.65 4.92 1 212. Deli Serdang 3 2 2 Kota Medan 5 2 Sumatera Barat 1 3 Prov.04 1.798.Halaman 1 .88 1.07 798.8 - (1) (2) (5) (6) 1 Sumatera Utara 1 1 Kab.65 4.

399.16 5.04 1.89 29.79 104.30 2.45 160.57 4.49 1 1 6 1 11 325. Brebes 2 3 18 Kab.79 5 6 2.17 131.50 949. Kalimantan Selatan 2 .06 6 14 1.723.83 - Nilai (20) - Nilai (21) 78.I Yogyakarta 1 22 Kota Yogyakarta 6 11 Jawa Timur 1 23 Prov.323.66 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (17) 1 4 2 3 1 1 3 5 Jml Kasus (18) 2 2 1 1 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 2.00 275.001.73 2 2.132.30 4 5 2 15 31.50 12 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 31.62 898.088.377.04 1.102.746.6 100.105.00 3.983.93 85.48 Halaman 2 .79 4 4 4 2.15 2 1 2 9 4 4 3 5 3 1 3 2 1 7 89. Jawa Tengah 5 2 17 Kab.73 2 7 4.43 - (1) (2) (5) (6) 2 15 Kota Bandung 8 9 Jawa Tengah 1 16 Prov.03 2 3 9 898.399. Banten 3 13 Nusa Tenggara Timur 1 26 Prov. Kudus 4 4 19 Kota Pekalongan 6 5 20 Kota Semarang 8 6 21 Kota Surakarta 7 10 Provinsi D.75 325. Nusa Tenggara Timur 5 2 27 Kota Kupang 5 14 Kalimantan Barat 1 28 Prov.11 3 6 2 1 8 8 4 1 10 949.64 86.516. Jawa Timur 3 2 24 Kota Surabaya 5 12 Banten 1 25 Prov.516.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 1 1 1 28. Kalimantan Barat 5 15 Kalimantan Selatan 1 29 Prov.644.57 1.17 131.06 1 2 2 3 2 3 89.08 2 3 2 3 28.73 151.03 3 5 3.06 591.70 1 3 3 3 151.60 1.270.99 2.329.60 4 3 4 7.64 86.

21 93. Sulawesi Tengah 2 18 Sulawesi Selatan 1 32 Prov.67 268.241.109.36 22.67 253. Sulawesi Tenggara 7 2 36 Kota Kendari 7 20 Sulawesi Barat 1 37 Prov.30 9 1 11 93.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 2 1 14 158 27 322 3 2 11 1 3 12 3.504.38 Nilai (20) 408.203.38 Nilai (21) 31.65 1.437.598.504.196.395.598.38 1.66 4 191.47 3.870.050.00 2.957.63 6 2 9 2.47 6 8 4. Maros 6 3 34 Kota Makassar 3 19 Sulawesi Tenggara 1 35 Prov. Halmahera Timur 4 2 39 Kab.54 (1) (2) (5) (6) 16 Sulawesi Utara 1 30 Kota Bitung 2 17 Sulawesi Tengah 1 31 Prov.48 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 7 Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 65 13 Nilai (19) 133.923.00 3.317.42 3 11 22.Halaman 3 .317.333.437.42 4.733.880.21 1 12 1.196. Sulawesi Barat 2 21 Maluku Utara 1 38 Kab.38 1.41 6 16 8. Halmahera Utara 5 JUMLAH 199 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 49 .957.85 2.11 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 9 2 11 11 11 6 8 7 11 10 230 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 976.60 6.09 6.050.40 2 7 6.60 8 4 1 7 3. Sulawesi Selatan 10 2 33 Kab.203.050.95 5.63 8.

70 23.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20 13 6 1 35 15 12 3 4 1 31 19 12 86 100.Lampiran 15 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .05 40.26 Jumlah Kasus % 50 .00 36.

17 8.36 240.47 2.95 1. 8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara 10 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 51 .95 3.886.918.78 9.03 25.973.69 6. dll.894. perpajakan.Lampiran 16 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .08 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Lain-lain II Potensi Kerugian Negara 37.35 165.Halaman 1 .225.61 111.751.73 3.95 11.11 27.12 215.Ketidapatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 163 10 2 46 46 5 2 9 9 28 1 5 15 9 2 1 3 43 41 2 120 39 6 35 15 3 8 3 3 7 1 48 3 45 43 3 1 9.995.28 382.648.40 46.93 54.759.47 % Nilai (juta Rp) 31.14 6.57 1.391.244.166.52 2.922.81 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara 2 Penggunaan langsung penerimaan negara IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.69 110.73 240.76 1.91 925.32 59. pertambangan.901.00 10.440.005.03 7.46 1.40 29.79 5.61 489.91 5.526.33 156.709.85 914.

55 31.Lampiran 16 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 11 7 7 10 4 432 % Nilai (juta Rp) 341.64 - % 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.00 824.902.818.991.97 100.Halaman 2 .952.09 2.328.22 196.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.00) 52 .

95 15.95 12 878.71 19 1.94 4 867.40 7 1 33 1.74 4.Lampiran 17 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 6 12 1 1 2 1 4 2 2 1 3 41 25 9 24 24.608.89 - Nilai (22) 38.04 489.18 1.10 5.704.Halaman 1 .96 112.13 1 50.10 279.51 182.10 3 238.59 19.35 41.98 Nilai (21) 168.453.847.56 1 560.57 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 3 13 18 2 3 5 15 5 5 8 6 2 2 5 14 2 8 2 1 1 9 1 1 3 4 2 3 6 2 - Nilai (17) 591.85 355.03 2 18 25.009.73 5.37 83.39 4 55 82.13 1 8 735.72 1.68 9 664.64 746.135.10 8.13 4 20 956.73 36.189.79 357.52 52.614.47 44.562.343.58 - (1) (2) (3) (4) 1 Kejaksaan Republik Indonesia 2 2 2 Kementerian Dalam Negeri 15 5 3 Kementerian Luar Negeri 18 4 4 Mabes TNI 1 - 5 TNI AL 3 - 6 TNI AU 3 - 7 Kementerian Hukum dan HAM 2 - 8 Kementerian Keuangan 10 3 9 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 2 1 10 Kementerian Perhubungan 1 1 11 Kementerian Pendidikan Nasional - - 12 Kementerian Agama 1 - 13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - - 14 Kementerian Sosial 4 - 15 Badan Pertanahan Nasional 11 - 16 Kementerian Komunikasi dan Informatika - - 17 Kepolisian Republik Indonesia 2 2 18 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 - 53 .69 32.317.47 4 83.08 507.928.124.944.46 1 4 1.03 13 13 12.487.82 735.95 7.14 19.952.18 5 905.11 58.32 230.14 217.95 1 4 2 4 5 2 3 5 1 2 3 2 2 31 779.421.59 238.74 25.070.56 171.98 382.37 14 314.995.087.949.57 11 590.81 6.705.53 - Jml Kasus (18) 6 3 1 6 1 4 3 14 1 - Nilai (19) 34.89 362.97 689.44 9.48 1.26 6 5 10 22 3 19 1.75 230.06 1.74 1.67 14.39 77.67 988.173.86 100.39 123.32 12 478.45 1 1 7 1.50 132.97 5.60 44.53 967.23 3.14 911.11 473.045.369.46 2 15 128.19 7.37 56.952.90 151.31 112.74 1.235.48 24.96 1 1 1 1 3 48 415.63 66.58 189.20 20.77 22.837.29 120.96 4 1.378.311.137.70 - Nilai (20) 61.64 3 22 765.92 1.137.13 53.582.02 251.579.59 3 825.408.28 14.

Lampiran 17 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 2 1 12 89.35 43 489.45 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.166.044.901.12 71.42 191.54 Halaman 2 .41 3 76.11 3 14 72.61 - Nilai (20) - Nilai (21) - Nilai (22) 13.22 1 219.19 5 983.21 1 13.391.991.40 1 - JUMLAH 86 20 120 48 240.97 163 31.46 5.00 2 71.00) .440.19 (1) (2) (3) (4) 19 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi - - 20 Kementerian Perdagangan 6 2 21 Bapertarum 3 - 22 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam 35 31 432 824.70 1 280.408.918.66 446.76 2 48.67 - Jml Kasus (18) 1 2 1 - Nilai (19) 244.95 43 54.818.247.05 5 8 7 386.926.19 1 4 41.64 204.513.43 1 40.79 15 8.81 101.99 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 1 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai (17) 22.

Lampiran 18 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .77 72.31 16.00 10.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.92 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 55 . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/ daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/ belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 33 15 15 2 1 141 54 10 46 4 4 22 1 21 11 8 2 195 100.

549.42 45.68 14.16 18.67 72.62 17.96 3. pertambangan.625.656. perpajakan.Lampiran 19 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .639.75 10.59 5.323.015.47 8.22 3.33 % Nilai (juta Rp) % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.98 144.481. dll.247.29 108.04 12.445.47 97.17 524.018.346. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 42.38 44.968.56 1.00 985.35 8.097.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 857 23 19 419 130 42 24 41 105 49 5 206 147 19 1 1 5 9 3 10 11 314 307 15.49 1.36 1.525.12 8.37 15.885.Halaman 1 .002.03 9.498.06 10.227.122.267.00 375.43 11.12 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah/negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.57 12.11 53.16 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah IV Administrasi 2 1 3 1 366 139 24 114 19 15 14 12 4 2 4 1 9 3 6 18.174.68 2. 8 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara/ daerah 11 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 12 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 13 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 14 Lain-lain 56 .

69 26.Lampiran 19 No V Ketidakhematan Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 119 4 9 106 132 38 8 37 4 43 1 1 1.40 466.22 34.692.82 3.42 3.464.377.752.994 % 5.Halaman 2 .96 100.46 62.265.62 522.60 23.50 26.375.679.97 Nilai (juta Rp) 30.101.544.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 57 .00 840.18 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.663.61 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 6.89 3.30 % 3.

40 650.631. Tapanuli Selatan 1 - 2 5 Kab.07 10 1.23 13.75 1.035.14 8 1. Tapanuli Tengah 1 - 3 Provinsi Sumatera Barat 1 6 Kab.14 239.46 1.58 1.18 221. Batang Hari - - 3 17 Kab.01 1 4.45 1 15.34 684.999.24 2.84 2 326.15 14.07 41.56 1 50.02 20.28 698.54 1 18 2.00 716.656. Kerinci - - 5 19 Kab.84 3 791.41 1 2 5 3 2 18 4.95 11.48 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 1 1 Kab.97 345.97 1 4 675.46 2.44 1 14 712. Pasaman 1 - 4 9 Kab.37 2 4 3 3 1 10 1.82 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 3.93 56.79 1 1 3 4 4 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 5 Nilai (19) 16.54 2.12 5 2.77 1.03 199.01 3 66.83 432. Jambi - - 2 16 Kab.79 13 1.92 147.035.Lampiran 20 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 1 2 1 2 2 2 5 6 3.309.42 - Nilai (22) 137. Sijunjung 2 - 6 11 Kab.641.632. Aceh Tengah 1 - 3 3 Kab.70 1.10 198. Merangin - - .67 10 681.07 66. Aceh Utara - - 2 Provinsi Sumatera Utara 1 4 Kab.72 1 14 1.46 7 1. Lima Puluh Kota - - 3 8 Kab.265.07 26.755.11 715.92 7 603.41 3 55.63 4.409.10 134. Solok 2 - 7 12 Kab.08 221.78 12.76 5 1. Dharmasraya 2 - 2 7 Kab.92 13 4.14 9.66 1 32. Solok Selatan - - 8 13 Kota Padang - - 4 Provinsi Riau 1 14 Kab.07 1 1 19 2.489. Indragiri Hulu - - 5 Provinsi Jambi 1 15 Prov. Aceh Barat Daya - - 2 2 Kab.232.32 741.42 18 1.370.38 11 598. Bungo - - 4 18 Kab.80 3.67 1 224. Pasaman Barat - - 5 10 Kab.847.00 24.12 7.876.28 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 461.764.85 400.31 2 2 3 1 12 162.72 8 1.58 Halaman 1 .41 1 2 1 12 1.379.755.74 838.03 Nilai (21) 28.96 1.084.91 934.900.05 440.514.00 3 72.181.14 223.28 394.63 75.27 4 183.30 408.40 1 5 4 3 4 8 1 7 7 2 2 3 1 1 1 1 16 413.608.38 3 6.66 137.781.00 6.74 3 2.44 10 704.64 3 95.332.260.62 5 278.62 10.28 22.95 1.168.

67 4.79 2 179.63 787.56 2 7 969.37 4 476.43 6 606.31 Nilai (20) 5. Muaro Jambi - - 7 21 Kab.05 834.97 296.56 Nilai (21) 1. Ogan Komering Ulu Timur - - 6 32 Kota Prabumulih - - 7 Provinsi Bengkulu 1 33 Kab.513.215.21 1 453.93 5 1.04 3 3 3 6 5 11.27 425.02 63.98 1 47.79 661.14 3.57 142.703.95 3 543.75 1 432.99 1 7 3.67 3 997. Ogan Komering Ulu - - 5 31 Kab.71 723.703.64 4 751. Tanjung Jabung Barat - - 10 24 Kab.12 1 462. Sarolangun - - 8 22 Kab.97 4 4 1 2 1 1 1 2 5 477.19 30.827.43 - Nilai (22) 10. Tanjung Jabung Timur - - 9 23 Kab. Bengkulu Selatan - - 2 34 Kab. Ogan Ilir 1 - 3 29 Kab.20 137.98 (1) (2) (3) (4) 6 20 Kab.602. Ogan Komering Ilir 1 - 4 30 Kab.37 3.43 3 911.75 7 2 5 2 1 3 6 3.37 1 6 1.53 9 1.878.36 27.859.61 1.50 770.85 127.160.46 1 59.03 387.14 174.37 1. Rejang Lebong 1 - 8 Provinsi Lampung 1 38 Prov.007.28 603. Kepahiang 1 1 3 35 Kab.42 11.82 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 Nilai (17) 2.14 1 3.00 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 2 1 1 Nilai (19) 89.48 904.549.70 1 5 3.73 1 6.43 1 12.14 1 1.910.51 2 167.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 1 1 1 6 15 1 4 8 9 1.85 1.98 2.23 8 2.35 79.03 2.446.18 1. Mukomuko - - 5 37 Kab.Halaman 2 . Tebo - - 11 25 Kota Jambi - - 12 26 Kota Sungai Penuh - - 6 Provinsi Sumatera Selatan 1 27 Kab.428.28 221.685.14 131.71 20.342.10 137. Lebong 1 - 4 36 Kab.85 430.65 2 43.44 3 2 1 1 1 2 3 519.89 86.05 10.53 40.19 4 6 897.60 336.047.43 301. Lampung - - 59 .52 827.631.289.06 3 457.94 1 10 1.499.59 6.60 54. Muara Enim - - 2 28 Kab.85 1 43.86 3.51 2 129.

25 45. Bangka Belitung - - 2 46 Kab.51 6.10 3 268.96 23.39 1 23.034.61 5 10 2.14 - 1 11.533.58 1 1.12 755.57 1 12 243.60 Halaman 3 .19 23.796.26 3 4 392.39 755.50 5 1.69 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 14.37 9 191.44 3 2 1 6 596.61 5.53 1 160.11 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus (17) 5.159.13 1 402.10 1 123.50 2 8 324.07 4 287.39 68.50 Nilai (21) 484. Kep.99 - Nilai (22) 22.61 6 68.43 829.77 1 - - - - - - 1 55 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat - - .84 3 352.69 3 3 3 2 3 1 2 1 9 1.796. Lampung Tengah - - 3 40 Kab.10 1 137.48 1 19 273.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 2 1 1 3 2 10 13.92 1 53.37 10 5 448.656.64 2 4 2 9 488.88 84.70 2 124.02 5 153.99 394. Way Kanan - - 6 43 Kota Bandar Lampung 2 - 7 44 Kota Metro 1 - 9 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 1 45 Prov.33 384.72 1 31.70 1 63.34 1 13.78 3 1.20 5 181. Kepulauan Riau - - 2 50 Kota Batam 1 - 3 51 Kota Tanjungpinang 3 - 11 Provinsi DKI Jakarta 1 52 Dinas Pendidikan - - 2 53 Dinas Perindustrian dan Energi 2 - 3 54 Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah 22 6.39 448.656.34 1.85 2 82.19 2 62.32 2 14 1.796.00 2 370.888.005.37 9 74.351.39 448.47 2 119.21 1 9.48 6 7 613.92 - - 12 Provinsi Jawa Barat 20 6.765.75 2 1.69 - (1) (2) (3) (4) 2 39 Kab.34 152. Bangka Tengah - - 4 48 Kab.92 1 202. Belitung Timur - - 10 Provinsi Kepulauan Riau 1 49 Prov. Bangka 2 - 3 47 Kab. Tanggamus - - 5 42 Kab.10 1 138.32 13.53 1 1 5 1 4 247.148.59 2 398. Pesawaran - - 4 41 Kab.61 13.

97 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 1 2 2 1 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 1 1 1 Nilai (17) 338.13 131.84 333. Temanggung 1 - 7 69 Kab.94 2 1 1 3 2 4 5 2 1 1 1 1 1 14 6.92 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 - Nilai (19) 739.668.84 1 12 3.502.75 147.658. Karanganyar 4 1 4 66 Kab.411.09 11. Gresik - - 5 76 Kab.71 3 108.97 62.38 4 4 10 3 9 8 1 9 733.997.43 (1) (2) (3) (4) 2 56 Setda Provinsi Jawa Barat 1 - 3 57 Kab. Purwakarta 4 - 13 Provinsi Jawa Tengah 1 63 Kab.07 369.541.51 24.22 363.08 2.42 5 1.18 53.62 107.06 3 775.223.31 10 454.78 604.186. Bondowoso - - 4 75 Kab.01 - Nilai (20) 704.84 1 3.14 164.16 367. Klaten 2 1 5 67 Kab.22 2 81. Banjarnegara - - 2 64 Kab. Purworejo 1 - 6 68 Kab.90 826.633.20 4 3 1 14 4.38 1.22 231.44 386.97 8.35 559.56 148.58 11 215.39 4 194.60 2 6 1.73 105. Ciamis - - 6 60 Kab.51 2 15 898.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 3 1 1 1 5 5 1 6 13 15 14 8 9 8. Bojonegoro - - 3 74 Kab.49 180.54 3 1.90 7 6.62 32.42 103.08 11.795.78 - Nilai (22) 89.87 218.70 61.25 - Nilai (21) 17.37 41.938.83 274. Kendal 1 - 8 70 Kab Rembang 5 - 9 71 Kota Salatiga 6 - 14 Provinsi Jawa Timur 1 72 Kab.96 667.98 11.09 4 2. Cirebon - - 7 61 Kab.94 15 585.00 335.91 9 9 1.67 1 2 11 2.53 1 2 1 3 2 2 3 4 5 5 2 3 3 3 6 9 1.10 21.48 98.50 2.18 13 482.13 1 4.776.165.86 270.92 258.435.873.65 980.05 10.78 617.92 633.Halaman 4 .17 2. Bekasi 2 - 5 59 Kab.00 26.86 8 3.95 2 3 1 5 2 13 226.84 13 495.44 2 12 1.05 1 29.32 10.92 205. Lumajang 1 - 61 .92 211.60 215.04 216. Blora - - 3 65 Kab.90 107.753.25 29.01 135.81 23.43 113.412.63 16.75 215. Bangkalan - - 2 73 Kab.23 141.349.05 442.63 562.10 26.14 261.63 16.94 31.687.668.199.41 258.00 198.74 4 62.43 186.61 1.12 1. Bandung - - 4 58 Kab.77 65.10 594. Garut - - 8 62 Kab.711.43 40.37 58.12 214.49 2 2 8 4.62 37.10 207.49 6 990.72 1 1. Jember - - 6 77 Kab.55 2.

211.45 33 971. Malang - - 9 80 Kab.18 247.17 90.09 796.26 9.97 2 42.39 3.46 61.24 83.96 34. Tulunggagung - - 19 90 Kota Batu 1 - 20 91 Kota Kediri - - 21 92 Kota Madiun - - 22 93 Kota Malang - - 23 94 Kota Mojokerto - - 24 95 Kota Probolinggo 1 - 25 96 Kota Surabaya 1 - 15 Provinsi Bali 1 97 Kab.681.33 65.697.64 4 796. Trenggalek 1 - 17 88 Kab.97 6.70 34.43 31.91 31.22 80.94 Nilai (21) 4.32 238.35 11 451.21 1.613.82 1 1 1 1 2 1 1 4 3 14 952.91 2 1 2 2 21 2.94 101.49 486.14 45.00 273.03 95.84 27.89 1.031.67 7 836.68 478.586.93 869.72 2 1 1 1 1 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 24.42 1 9 316.50 218.46 1 10.66 2 56. Badung 4 - 2 98 Kab.47 14.89 4 84.18 10 1 12 321. Buleleng 1 - 3 99 Kab. Jembrana 3 - .77 53.42 0. Sampang - - 13 84 Kab.672.42 42.37 5 869. Situbondo 2 - 15 86 Kab.16 3 36.97 3 1.02 6 241.78 1 4.118.128. Probolinggo 1 - 12 83 Kab.34 935.97 2.42 35.62 Halaman 5 .27 6. Pacitan - - 11 82 Kab.16 34.50 14.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 1 1 4 1 1 3 12 16 10 3.970.45 1 1 1 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 1 1 Nilai (19) 111.18 22.05 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 942.51 2 53.59 7 505.39 10.64 6 691. Ngawi - - 10 81 Kab.85 223.00 481.06 1 18 1.44 1.45 1 2 1 1 2 2 1 10 562.83 1.77 2 15 1. Tuban - - 18 89 Kab.32 104.81 12.189.689.13 7 14 705.89 250.938.47 8 1.89 11 942.97 200.181.27 6 1.39 2.065.77 10 1.54 7 1.021.88 75. Sidoarjo - - 14 85 Kab.89 1.624.314.445.17 478.45 39.95 31.31 - Nilai (22) 10.67 2.96 288.81 1 144.445.09 7 1.511.85 1.196.414.42 3. Gianyar 1 - 4 100 Kab.50 310.94 166.52 324.38 4.424.06 13 1.94 32.22 18 1.743.15 1 2 4 12 1 2 3 4 1 2 5 93.04 2.51 (1) (2) (3) (4) 7 78 Kab.86 1.90 10 614.93 10 1.52 86. Magetan - - 8 79 Kab.540.59 11.034.22 795.95 31.27 2 476.54 238. Sumenep - - 16 87 Kab.533.30 9 4 11 7 16 1.28 60.66 1.37 4 9 2.32 17 560.39 16.697.80 480.96 101.64 4 1.926.78 432.29 1 74.27 9 867.22 4 291.00 1 34.67 84.97 5 1.70 25.66 252.

772. Timor Tengah Selatan 4 3 63 .084. Manggarai Barat - - 8 116 Kab.00 2 1 2 2 1 2 2 1 3 5 3 2 2 6.585.519.388.62 1.19 367.57 1 1 15 1.730.810.35 41.21 3 213.145. Sumba Timur 3 2 13 121 Kab.08 438.47 5.12 6.89 8 645.30 7 233.13 1.90 319.732.73 584.598.03 291.92 45.46 - Nilai (22) 181.856.893.743. Sumba Barat 2 2 11 119 Kab.71 299.02 1 29.39 1.92 265.61 3 10 1.65 1. Lembata 1 - 7 115 Kab.01 51.83 6.46 1 1 24 1.43 2 11 11.50 77.564.96 93.70 148.317. Lombok Tengah 8 - 3 106 Kab.99 172.75 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 3 9 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 4 Nilai (17) 353.73 2.96 24. Nagekeo 2 1 9 117 Kab.704.23 58.15 24.63 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 - Nilai (19) 1. Tabanan 3 - 16 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 104 Kab.94 1 10 780.868. Flores Timur - - 5 113 Kab.18 1.24 161.08 8.70 163.43 45.58 224.64 3 4 3 2 2 1 3 2 1 13 2. Sumba Tengah 1 1 12 120 Kab.15 143.18 1.165.536.500.09 10.29 582.96 - (1) (2) (3) (4) 5 101 Kab.601.92 753.99 3 12 4 6 3 7 8 1 2 2 2 4 3 2 1 1 1 1 5 2 3 2 2 2 5 1 16 1.74 674.40 19.25 76.92 51.65 1 3 3 1 2 3 1 14 4.36 8 1.05 2 1 13 871.26 89.60 43.54 260.51 1 181.02 6 2.334.83 8 7.33 2.07 12 609.48 8.150. Rote Ndao 4 2 10 118 Kab.50 3 11 3.88 1 134.31 139.31 0. Lombok Barat 3 2 2 105 Kab.271.049.51 45.48 1.61 20 7.317. Alor 3 1 3 111 Kab.54 260. Klungkung - - 7 103 Kab.55 386.82 148.80 1.78 53.27 1.Halaman 6 .16 1 2 1 1 1 4 2 3 1 2 4 3 3 6 132.79 2.746.345.691.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 3 1 7 12 5 1 1 1 1 2 1 1 12 12 11 13 11 8 15 591.00 3.38 4.40 5. Belu 1 - 4 112 Kab. Karangasem - - 6 102 Kab. Nusa Tenggara Timur - - 2 110 Kab.108.27 66.63 - Nilai (21) 95.74 4.75 4.55 3 263.14 1 4.84 5. Sumbawa Barat 12 - 4 107 Kota Mataram 5 - 5 108 Pembangunan Bandara Internasional Lombok - - 17 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 109 Prov.849.85 5 290.17 96.440.33 162.967.64 12.48 25.64 517.65 1.474.71 - Nilai (20) 158.62 129.54 27.82 98.611. Kupang 2 2 6 114 Kab.124.

45 3 617.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 2 1 1 1 2 10 16 2. Kalimantan Selatan - - 2 136 Kab. Gunung Mas 3 - 6 129 Kab.323.74 13 14 1.96 800.276.15 254.35 2 3 1 2 3 1 4 2 24 700.07 393.37 182.04 1.41 16 876.81 5.158.41 418.96 - (1) (2) (3) (4) 14 122 Kab. Hulu Sungai Selatan - - 3 137 Kab. Pulang Pisau 1 - 10 133 Kab.845.75 147.280. Seruyan 1 - 11 134 Kota Palangkaraya - - 19 Provinsi Kalimantan Selatan 1 135 Prov.26 26 1.50 693.45 10 3 17 1.34 140.69 39.57 196.16 37.23 21.62 1.06 16.95 21.06 2 7 306.51 7.24 1 70. Lamandau 1 1 9 132 Kab.80 0. Barito Utara - - 5 128 Kab.14 6 13 5.00 38.173.67 48.43 1.37 281.75 7 13 1.85 3 2 7 8 4 15 968.75 1 27.73 5 245.22 1 720.82 266.64 Halaman 7 .79 15.76 3 20.81 34.83 9 311.77 1.32 3 488.30 4.329.11 28.24 9 12 1.65 2.484.91 7 77.62 14 831.42 429.84 6 478.20 1 7.09 165.55 2 1 1 4 4 4 1 1 2 1 1 1 3 1 1 7 1.439.54 3 1 21 2.55 3 45.84 6 247. Katingan - - 7 130 Kab.65 6 15 654.21 656.107.95 122. Tanah Laut - - 5 139 Kota Banjarbaru - - 20 Provinsi Sulawesi Utara 1 140 Kab. Bolaang Mongondow 1 - 2 141 Kab.174.32 8 15 377.93 11.85 3 5 2.83 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 7.96 196.47 202.51 126. Kotawaringin Timur - - 8 131 Kab.64 1 1 4 2 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 1 Nilai (19) 2.01 11. Kalimantan Tengah - - 2 125 Kab.91 2 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 1.34 105.74 768.00 13.35 1.92 200.146. Barito Selatan - - 3 126 Kab.87 8.95 - Nilai (22) 16.862.628.70 8.35 1 298.77 1 80.22 44.99 2 1 3 3 11 750.48 22 17.96 362.00 86.691.45 4 1 1 1 2 1 7 222.696.64 5 198.19 704.18 3 374.198.01 2 522.76 8 496.00 10 1. Timor Tengah Utara 1 - 15 123 Kota Kupang 5 2 18 Provinsi Kalimantan Tengah 1 124 Prov.75 7 311. Hulu Sungai Timur - - 4 138 Kab.20 4 757.41 23.32 11.42 15. Kepulauan Talaud 2 - .64 275.412.425.96 22.71 4 275.53 Nilai (21) 118.300.08 8 5.027. Barito Timur 1 - 4 127 Kab.521.56 1.35 17.63 2 73.

97 15 7.27 481. Sigi 1 - 22 Provinsi Sulawesi Selatan 1 148 Kab.90 - Nilai (20) 1.97 1 21.48 42.20 19.82 634. Halmahera Utara 2 - 65 .28 - Nilai (21) 15.52 238.45 79.77 4 365. Mamuju 2 1 25 Provinsi Maluku Utara 1 156 Prov.834. Banggai 1 - 2 146 Kab.514.43 1 5.498.952.15 4 3 1 1 1 3 1 3 2 8 1 4 2 3 4 1 2 3 6 4 1 7 1.63 2.06 581.00 - Nilai (22) - (1) (2) (3) (4) 3 142 Kab.73 1 25.59 1.08 7 5 7 13 17.63 855.49 4.45 59.263.00 1 1 8 806.51 2 204.79 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 3 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 Nilai (17) 876.221.608.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 2 2 1 1 1 2 2 12 1 3 1 1 2 18 11 9 1 26 30 16 1.99 205.80 1. Muna 12 - 24 Provinsi Sulawesi Barat 1 153 Prov.64 263. Sinjai - - 4 151 Kota Pare-pare 2 - 23 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 152 Kab.027. Halmahera Selatan 7 2 4 159 Kab.99 4 111. Sidenreng Rappang 3 - 3 150 Kab.36 3 434.120.85 1.43 1.08 3.861.584.43 14. Sulawesi Barat 1 1 2 154 Kab.74 14.044.43 2 286.10 7 15 6 1 3 4 3 15 4.931.28 32.678.09 5 766.48 169.630.97 91. Minahasa Tenggara 2 - 5 144 Kota Tomohon 2 - 21 Provinsi Sulawesi Tengah 1 145 Kab.231.352.14 2.89 1.56 4 149.70 330. Banggai Kepulauan - - 3 147 Kab.16 1.968.60 1.25 1 476. Halmahera Tengah - - 5 160 Kab.40 108. Maluku Utara - - 2 157 Kab.86 2 1 10 558.033.72 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 3 1 1 3 1 2 - Nilai (19) 1.28 1 8 766.61 56.71 1.950.14 5 3.11 624.63 86.06 4 184.885.92 78.610.713.54 107.155.064.74 31. Halmahera Barat 1 - 3 158 Kab. Luwu - - 2 149 Kab.383.85 1.71 1 1 9 790.15 87.77 66.41 3 482.41 12 6.27 590.96 6 1.00 1 91.18 2.57 1 1 2 1 1 1 2 1 4 1 1 1 2 14 3.80 1.83 14 6 6 6 4 14 1.20 6 504.978.06 4.10 208.89 5. Majene - - 3 155 Kab.501.41 2 267.30 1.67 49.02 441.Halaman 8 .58 828.580.44 948. Minahasa 2 - 4 143 Kab.09 517.107.

Batang hari 1 - 2 173 Kab.70 6 8.484.04 2.35 5 495. Jambi - - 2 166 Prov.66 (1) (2) (3) (4) 6 161 Kab.272.944.16 585.18 203 95.32 1.57 6.040.42 3 243.48 8 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 449.18 9 29.71 Nilai (21) 1.20 - 1 172 Kab.75 168.798.72 1 0.35 1 2.04 3.28 2.102.55 4 8.76 3 4 332 107 1 8 549.882.70 521.29 1.48 66.54 1 651.255.20 28.79 1 2 120 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) Nilai (19) 316.44 1 37.23 203. Sleman 4 3 5 169 Kab.402.43 2 1 3 42.217.24 290.83 1.020.91 14 75.898.869 829. Bantul - - 4 168 Kab.666.65 498.47 299 44.17 38.761.32 3.12 210.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 134 20 1.66 Halaman 9 .01 60.65 1 170.13 1.064.03 1 1 12.80 6 26.46 14 15. Gunung Kidul 2 2 6 170 Prov.78 2 2.87 8.67 41 4.97 2 2 3 3 3 1 4 18 2 3 3 1 2 1 12 1.78 34.43 4.72 1 165 Prov. Morotai - - 7 162 Kota Tidore Kepulauan 2 - 26 Provinsi Papua 1 163 Kab. Sarolangun 1 1 .63 18 3.748.151.75 1 13 2.72 1.11 472.099.95 349.75 7 286.722.44 1 18 968.66 1 2 2 95.59 25.84 9 1.76 351. Lanny Jaya - - 2 164 Kab.85 61.555.84 2 1 1 2 1 2 3 12 42.63 2 519.20 1 2.63 17 1.88 1 288.752.482.09 808 139.65 48.95 1.37 5 99. Bungo 1 - 3 174 Kab.87 48. Nduga - - Jumlah Belanja Daerah 180 26 Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 1 1 2 4 1 87 7. Sulawesi Utara 2 - 7 171 Kota Manado - - Jumlah Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 11 6 Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 1 1 8 10 4 341.92 12 2.56 7 411.654.31 8.53 119. Bengkulu 3 1 3 167 Kab.98 9 4.274.513.14 22.34 1 3 3 2 3 2 246.98 Nilai (22) 4.46 1 9 12.021.93 47.17 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 67.42 1 38.27 3 1.51 246.

58 (1) (2) (3) (4) 4 175 Kab.563.217.31 1 1.656.21 2 2.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 141 21 1.021.03 206 97.20 5.377.69 Nilai (20) 16.00 1 33.267.14 789.214.11 314 38 3.46 857 144. Tebo 1 - Jumlah Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 4 1 TOTAL 195 33 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 67 .554.22 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 9 132 Nilai (19) 12.25 37.69 8 258.89 3 10 1.98 Nilai (22) 3.Halaman 10 .752. Tanjung Jabung Barat - - 5 176 Kab.38 6 70.33 1 25.994 840.77 51.623.596.639.31 2 22.95 Nilai (21) 1.94 45.10 22.08 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 3 6 16 366 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 119 Nilai (17) 30.85 291.64 522.692.

95 Jumlah Kasus % 3 2 1 38 7.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 30 26 3 1 5 1 4 13.Lampiran 21 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .16 78.89 100 68 .

33 4.810.70 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah 2 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan Daerah 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 1 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 2 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 3 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 5.74 22.05 4.02 11.086.38 % Nilai (juta Rp) 1.20 15.014.00 34.Lampiran 22 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .77 4.33 14.94 856.10 1.848.03 - - 1.59 72.528.45 8.70 857.74 100.51 66.58 4.25 61 43 1 17 1 1 8 1 7 91 67.12 258.79 22.318.77 1.29 3.49 3.528.115.58 100.848.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 5 1 4 14 8 5 1 2 2 2.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 69 .810.

01 4.210.787.69 7 29.72 1 18 6.69 6.306.810.12 132.528.848.70 Lampiran 23 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Jml Kasus (5) 896.787.213.014.528.07 1 1 5 132.93 21.44 72.38 2.181.40 4.20 4 3 1 1 1 5 3 91 1 9 153.57 243.72 1 1 5 132.213.60 39.00 2 13 6.38 1.38 1.33 2 29.48 857.69 15.08 243.20 7 29.93 22.72 132.213.05 72.528.009.57 1.153.904.38 22.922.20 2 29.01 34.80 1 11 16.115.631.20 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 4 15 6 9 17 10 7 12 12 3 3 10 4 6 61 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 Nilai (17) Ketidakefektifan Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1.41 1 25 19.318.94 2 1 1 1 1 2 1 3 22.77 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 8 Nilai (19) 6.05 1.06 2 16 2.181.77 1.69 7 20 6.082.213.70 2 2 1 1 3 1 2 14 1 2 3 2.93 4.51 1 7 2.40 4.631.005.08 15.882.72 86.77 1.210.74 (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Bengkulu 8 8 1 1 Kabupaten Bengkulu Utara 8 8 2 Provinsi Jawa Timur 10 10 1 2 Kabupaten Sidoarjo 4 4 2 3 Kota Surabaya 6 6 3 Provinsi Bali 10 6 1 4 Kabupaten Buleleng 7 4 2 5 Kabupaten Jembrana 3 2 4 Provinsi Kalimantan Selatan 3 3 1 6 Kota Banjarmasin 3 3 5 Provinsi Sulawesi Tengah 4 2 1 7 Kabupaten Parigi Moutong 4 2 6 Provinsi Sulawesi Selatan 3 1 1 8 Kabupaten Luwu Utara 1 - 2 9 Kabupaten Tana Toraja 2 1 JUMLAH 38 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .38 1 5 86.31 856.29 153.80 1 18 6.58 1 14 2.

00 28.57 71.Lampiran 24 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 5 5 2 2 7 100.43 Jumlah Kasus % 71 .

265.00 72 .000.48 14.48 16.28 39.94 16.298.00 88.29 154.619.551.401. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 38.62 14. pertambangan.298.96 6.71 2.22 100. V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 8 8 6.41 11.14 3.697.01 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. perpajakan.35 % Nilai (juta Rp) 36.432.401.75 34.71 41.14 3.14 37.48 3.11 5 5 124 - - - 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.05 13 13 10.577.97 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.Lampiran 25 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . dll.752.768.83 26 11 1 12 2 20.45 14.04 19.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 48 1 22 19 5 1 24 21 2 1 19.

10 3 1.19 783.390.62 5 745.84 18.35 735.383.179.22 22 4.13 202.98 9.70 3 490.414.28 3 735.75 2 48 7.59 14.981.35 735.70 1 181.317.55 18 2.72 3 359.033.24 39.41 3 545.695.43 4 772.34 7 753.56 1.28 1 49.327.35 1 3 2 1 4 2 2 2 1 1 13 9 1.420.847.807.853.83 1.66 2 687.290.401.616.27 1 15 863.35 55.39 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 1 16 6 2 3 1 4 7 1 6 2 2 26 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) 1 1 4 2 2 3 2 1 8 Nilai (16) 36.14 7 1.75 2.48 Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (17) 3 2 1 1 1 1 1 5 Nilai (18) - Nilai (19) - Nilai (20) - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Lampung - 1 1 Kabupaten Lampung Selatan - 2 2 Kabupaten Tulang Bawang - 3 3 Kabupaten Lampung Timur - 2 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - 735.719.722.85 1.58 101.97 1.68 1 19.26 29.86 3 114.80 2 64.24 55.950.44 1.77 5 30 72.54 744.27 10.63 1 66.670.69 109.77 55.28 797.86 137.43 1 6 1.156.78 15 2.24 1 4 Kabupaten Bantul - 2 5 Kabupaten Kulon Progo - 3 Provinsi Kalimantan Barat 7 1 6 Provinsi Kalimantan Barat 3 2 7 Kabupaten Sambas 1 3 8 Kabupaten Kayong Utara 1 4 9 Kabupaten Sanggau 1 5 10 Kabupaten Kubu Raya 1 4 Provinsi Kalimantan Timur - 1 11 Kabupaten Nunukan - 2 12 Kabupaten Penajam Paser Utara - 5 Provinsi Gorontalo - 1 13 Kabupaten Boalemo - 2 14 Kabupaten Gorontalo Utara - 3 15 Kabupaten Gorontalo - JUMLAH 7 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 73 .29 1.Lampiran 26 (nilai dalam juta rupiah) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidakhematan Entitas Total Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Struktur Pelaksanaan Pengendalian Anggaran Intern Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) 5 2 1 1 1 5 2 124 9 6 7 1.51 113.35 9.96 9 603.44 7 2.89 19.48 4.10 2.901.78 2 687.298.608.752.68 865.090.90 2 1 1 6 4 2 2 1 1 24 7 1.53 34.24 55.05 3 545.45 65.656.54 88.79 114.619.30 4 15 40.048.40 3.09 94.21 210.432.09 2 457.74 4 964.01 36.969.10 2 85.92 2.618.235.49 15 5 4 6 48 15 31.01 4 1.681.73 19.83 11.695.700.92 36.517.63 1 10 2.69 3 594.84 9 2.898.98 4 916.231.21 19.08 9 28.521.

00 100.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 17 6 3 8 68.Lampiran 27 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 Jumlah Kasus % 8 3 1 4 25 32.00 74 .

pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 2 Lain-lain 20 17 3 II Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 31 31 III Administrasi 33 32 1 1 1 85 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Jumlah Kasus Nilai (juta rupiah dan ribu USD) Rp5.602.261.602.261. perpajakan.261.21 USD 29.21 USD 29.54 Rp181.447.71 USD 29. pertambangan. 2 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan IV Ketidakefektifan 1 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 75 .049.447.54 Rp175. dll.49 Rp5.54 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara 1 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.49 Rp175.Lampiran 28 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

Berau 1 - 8 Kab.44 USD 41.12 59.621. Bungo - - 3 Kab Sarolangun 1 - 4 Kab. Tanah laut 5 - 10 Kab.26 Rp5.925. Tebo - - 5 Kota Sawahlunto 1 - 6 Kab.76 Lampiran 29 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (nilai dalam juta rupiah dan ribu USD) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Negara/ Daerah Administrasi Potensi Kerugian Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Sistem Sistem Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus USD 466.24 40.08 USD 6.997.22 USD 924.98 751.55 Rp181.493.035.22 USD 924.30 USD 14.96 USD 6.163.07 4. Tanah Bumbu 2 - 11 Kab.54 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Nilai (18) (1) (2) (3) (4) 1 1 1 1 4 1 2 2 5 17 Kab.143. Batanghari - - - 1 4 3 3 1 4 1 3 2 3 2 2 4 33 1 1 - USD 3.67 26.139.749.202.21 USD 29.10 4.45 2 Kab.250.843.70 USD 41. Indragiri Hilir 2 - 12 Kab.46 USD 6.24 40.91 871.13 2 3 4.508.049.75 141.18 526.451.97 1. Indragiri Hulu 1 - 13 Kab.393.73 USD 466.602.62 2 9 8.357.50 1.50 1.925.10 3 101.563. Kutai Kartanegara 1 - - 9 Kab.447.517.98 892.921.202.72 USD 6.563.782.41 2 4.143.720.04 22.71 5.38 22.18 526.91 2.91 175.63 1.749.46 175.49 2 107.261.493.37 USD 10.261.843.55 Rp175.586.586.54 1 1 1 2 2 2 20 1 796.12 59.36 3 1. Sijunjung 1 - 7 Kab. Kuantan Singingi 4 - - 14 PKB2B dan CTR 6 - JUMLAH 25 - Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .391.10 3.887.553.67 26.41 8.65 3 1 1 1 1 1 2 1 8 85 8 7 7 5 5 6 6 6 3 4 8 8 3.30 USD 14.46 USD 6.71 USD 29.44 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 31 2 1.

00 50.00 Jumlah Kasus % 77 .00 50.Lampiran 30 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 3 3 3 1 2 6 100.

474. dll. Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 78 .315.71 17 USD 66.315.315.78 USD 66.78 6. pertambangan.Lampiran 31 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .71 4 4 22 Rp6.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 6. perpajakan.71 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.474.474.78 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Lain-lain II Kekurangan Penerimaan 1 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS III Administrasi 1 1 17 USD 66.

28 Jumlah Kasus % 9 2 7 29 31.Lampiran 32 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .03 100.00 79 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 9 1 1 2 1 6 2 4 20.69 48.

97 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang II Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset dikuasai pihak lain III Administrasi 20.00 - - 1 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.00 312.00 2.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 1 1 % Nilai (juta Rp) 1.00 84.50 312.048.735.50 15.47 100.735.97 1.Lampiran 33 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .26 20.00 80 .00 - - 1 Lain-lain IV Ketidakefektifan 40.74 1 1 1 1 2 1 1 5 20.

048.735.50 312.735.50 312.048.47 1 1 2 1 6 1 1.50 Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Tambahan Penggantian Biaya Pokok BBM - 2 Subsidi Jenis BBM Tertentu 13 3 Kewajiban Pelayanan Umum PT PELNI (Persero) 3 4 Kewajiban Pelayanan Umum PT KAI (Persero) 13 5 Subsidi Pupuk yang disalurkan PT Pusri (Persero) - 6 Subsidi Bunga yang Ditagihkan Bank Indonesia - JUMLAH 29 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 81 .97 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Nilai (12) 312. Entitas/Obrik Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Total Jml Kasus (5) 6 1 7 14 6 9 5 2.50 Jml Kasus (13) 1 1 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah Kerugian Negara/ Potensi Kerugian Administrasi Ketidakefektifan ditindak lanjuti Perusahaan Negara/Perusahaan dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (14) 1 1 2 Nilai (15) Potensi Kerugian Negara/Perusahaan (16) 312.47 3 3 4 2.Lampiran 34 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No.97 1.

57 27.77 47 100.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 13 12 1 28 3 9 16 59.66 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 6 3 3 12.Lampiran 35 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 82 .

Lampiran 36 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
No Kelompok dan Jenis Temuan Nilai Jumlah (juta rupiah dan Kasus ribu USD) 92.936,95 USD 7,543.01 7.453,44 6.856,42 104,08 1.023,50 77.499,49 USD 7,543.01 973.661,50 USD 53,155.43 1.466,71 781.925,38 USD 20,704.76 190.269,40 USD 32,450.67 3.201,35 2.915,16 286,19 1.243,90 1.243,90 11.990,65 11.990,65 Rp1.083.034,47 USD 60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 5 Lain-lain 13 1 3 1 1 7

II

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset tidak diketahui keberadaannya 2 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 3 Lain-lain

31 1 22 8

III

Kekurangan Penerimaan

6 4 2 6 1 3 1 1 1 1 1 1 58

1 Penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara atau perusahaan milik negara 2 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi

1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan

1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

83

84

Lampiran 37

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
(nilai dalam juta rupiah dan ribu USD)
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Kerugian Negara/ Perusahaan Potensi Kerugian Negara/ Perusahaan

Ketidakefektifan

Kekurangan Penerimaan

Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus
(6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Nilai

Jml Kasus
(17) (18)

Nilai

Nilai

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(19)

(20) 3 1 1.243,90 91,84

1 USD 38.60 410.591,37 USD 29,327.09 26.646,73 USD 412.07 19.968,06 127.812,60 USD 30,920.67 Rp1.083.034,37 USD 60,698.45 13 USD 7,543.01 31 Rp92.936,95 1 1 29.208,30 6 98.604,29 USD 30,920.67 Rp973.661,50 USD 53,155.43 2 2.421,35 2 5.126,33 1 2.641,12 USD 412.07 2 6 3 24.005,60 5 USD 7,543.01 USD 21,784.08 14 45.650,06 364.941,30 USD 38.60 2 4 9 1 6 28 6 58 1 2 7 2 9 1 4 1 19 429,71 Rp3.201,35

PT Angkasa Pura II (Persero)

9

2

6

1

17

498.015,60 4 13.016,11 5 4 2.771,64

480.983,95

2

PT Adhi Karya (Persero)

4

1

2 1 6

1

Rp1.243,90

1 -

11.990,65 1 Rp11.990,65

Rp91,84

3

Bali Tourism Development Corporation (BTDC)

5

-

4

PT Kimia Farma (Persero)

15

4

5

PT Nindya Karya (Persero)

7

6

6

PT Pupuk Kalimantan Timur

7

-

JUMLAH

47

13

Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 38

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 6 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 27 17 5 2 3 101 2 1 19 44 24 11 49 13 25 7 4 177 100,00 27,68 57,06 15,25 Jumlah Kasus %

85

Lampiran 39 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 43 2 4 1 1 8 5 1 21 22 2 2 2 1 15 26 22 2 2 66 13 2 12 1 11 15 1 2 2 7 28 28 42 7 1 1 27 6 227 100,00 18,50 12,33 29,07 11,45 9,69 % Nilai (juta Rp) 3.269,96 102,79 220,50 865,97 21,50 280,72 145,61 7,25 1.625,59 13.893,40 17,52 119,87 575,39 2.525,50 10.655,09 2.823,85 2.072,38 643,41 108,05 46.809,14 46.809,14 6.548,97 3.365,97 1.484,78 1.629,38 68,82 73.345,33 100,00 8,93 63,82 3,85 18,94 %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Pemahalan harga (Mark up) 5 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 6 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 7 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 8 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 5 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan 6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 7 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan 8 Penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 10 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

18,94

4,46

86

Halaman 1 - Lampiran 40

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 5 5 3 3 31 8 4 7 4 2 6 21 8 7 4 4 3 3 1 1 3 1 477,47 1.054,00 10 824,93 1 173,10 484,00 484,00 28,00 28,00 41,43 28,08 0,60 540,71 6 1 1 6 6 20 3 4 4 2 4 3 8 2 7 3 12 19 55 11.392,83 2.421,83 3 9 2.507,01 3 9 2.507,01 1 10 3.132,02 1 10 3.132,02 1 13 2.078,53 2 19 3.050,86 2 6 1.572,28 2 168,54 1 3 3 8 2 1 1 2 5 38 6.701,68 10 882,37 1 10 304,13 2 23,70 1 2 5 875,02 1 12,50 74,37 555,74 555,74 2.484,34 2.484,34 6.417,25 2.393,75 321,60 529,10 146,67 1 11 1.102,42 3 47,08 3 16 732,50 3 58,73 1 482,28 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 7 1 2 2 5 13 240,11 3 141,73 1 3 15 554,59 2 92,49 2 79,21 1 14 70 3.808,80 14 376,23 4 635,87 7 911,20 382,88 9,09 153,58 109,77 49,80 206,05 44,20 9,75 4,00 30,45 43,26 43,26 165,10 4,39 105,99 36,49 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 2 2 26 6 6 7 3 1 3 13 2 7 4 3 3 2 2 11 5 1 2 1 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 6 1 1 3 1 8 1 3 4 1 1 4 4 5 2 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (17) 431,11 431,11 1.816,66 20,46 37,90 945,57 812,72 3.589,96 1.393,98 321,00 1.874,97 163,68 163,68 2.435,75 2.435,75 1.403,07 175,67 Jml Kasus (18) 1 1 13 4 2 3 1 1 2 3 3 1 1 21 4 4 3 2

Ketidakefektifan

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (19) 68,82 68,82 1.629,38 1.629,38 3.365,97 151,47 418,90 465,49 Nilai (20) 163,55 81,62 58,73 6,75 16,44 77,69 8,58 69,11 Nilai (21) 8,60 8,60 Nilai (22) -

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

I

Prov. Sumatera Barat

7

1

1

1

PDAM Kota Bukittinggi

7

1

II

Prov. Sumatera Selatan

4

1

1

2

PDAM Lematang Enim

4

1

III

Prov. Jawa Timur

50

5

1

3

PDAM Kab. Banyuwangi

11

-

2

4

PDAM Kab. Blitar

10

1

3

5

PDAM Kab. Kediri

10

-

4

6

PDAM Kab. Madiun

6

1

5

7

PDAM Kab. Mojokerto

6

2

6

8

PDAM Kota Pasuruan

7

1

IV

Prov. Bali

28

2

1

9

PDAM Kab. Buleleng

11

1

2

10 PDAM Kab. Karangasem

9

-

3

11 PDAM Kota Denpasar

8

1

V

Prov. Nusa Tenggara Barat

2

-

1

12 PDAM Menang Mataram

2

-

VI

Prov. Kalimantan Selatan

9

-

1

13 PDAM Intan Banjar

9

-

VII Prov. Sulawesi Tengah

49

10

1

14 PDAM Kab. Banggai

7

1

2

15 PDAM Kab. Buol

6

-

3

16 PDAM Kab. Donggala

9

2

4

17 PDAM Kab. Morowali

8

2

87

88

Halaman 2 - Lampiran 40

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 3 3 1 10 10 3 3 1 1 101 49 227 73.345,33 43 3.269,96 22 13.893,40 26 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 2.823,85 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 3 3 66 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 3 3 28 5 6 678,21 2 18,21 1 1 6 3.531,12 1 12,75 1 1.171,30 1 1 1 6 2.405,24 1 1.854,79 1 1 158,40 726,06 342,92 36.968,90 36.968,90 46.809,14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) 3 2 3 1 1 2 2 42 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 392,03 1.620,99 317,07 1.484,78 1.484,78 6.548,97

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (20) 241,25 Nilai (21) 8,60 Nilai (22) 17,04 17,04 17,04

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

5

18 PDAM Kab. Poso

6

2

6

19 PDAM Kab. Tolitoli

5

1

7

20 PDAM Kab. Tojo Una-una

8

2

VIII Prov. Sulawesi Selatan

12

2

1

21 PDAM Kota Makassar

12

2

IX

Prov. Sulawesi Barat

12

5

1

22 PDAM Kab. Polewali Mandar

12

5

X

Prov. Papua

4

1

1

23 PDAM Kab. Jayapura

4

1

Total

177

27

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 41

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 6 5 1 27 2 9 13 1 2 5 4 1 38 100,00 13,16 71,05 15,79 Jumlah Kasus %

1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 2 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

89

Lampiran 42

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus % Nilai (juta Rp) %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

10 2 3 2 2 1 1 1 17 15 2 19 2 1 5 6 3 2

16,39

3.531,80 102,24 676,67 101,52 2.637,48 13,87

17,95

1,64

28,35 28,35

0,14

27,87

6.072,60 5.523,57 549,02

30,86

31,15

-

-

1 1

1,64

70,47 70,47 -

0,36

13 4 2 5 2 61

21,31

9.977,10 944,46 8.873,63 159,00

50,70

100,00

19.680,34

100,00

90

Lampiran 43

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kerugian Daerah/ RSUD Potensi Kerugian Daerah/RSUD Kekurangan Penerimaan

Entitas

Total

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja

Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Kerugian Daerah/RSUD

Potensi Kerugian Daerah/RSUD

Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 0 2 0 2 6 27 5 61 19.680,34 10 3.531,80 11 2 13 800,59 1 78,72 1 1 14 4.118,02 2 2.629,85 4 11 4.040,07 4 309,00 28,35 6 1 12 9.349,72 1 28,35 3 7 4 17 6 1 11 1.371,93 3 514,22 3 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 857,70 3.681,28 1.307,39 226,21 6.072,60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus (15) 3 4 2 4 6 19

Jml Kasus (16) 1 1

Nilai (17) 70,47 70,47

Jml Kasus (18) 2 6 2 1 2 13

Nilai (19) 9.250,89 49,78 180,77 495,66 9.977,10

Nilai (20) 23,52 23,52

Nilai (21) 2,38 2,38

(1)

(2)

(3)

(4)

1

RSUD Pirngadi Medan

9

2

RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh

7

3

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung

6

4

RSD Mayjen H. M. Ryacudu di Kotabumi

1

5

RSUD Prof. Dr W.Z. Johannes Kupang

15

JUMLAH

38

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

91

35 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 91 100.Lampiran 44 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 92 .05 6.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 6 3 3 41 1 1 14 9 16 45. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 44 9 32 1 2 48.59 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.

27 % Nilai (juta Rp) 1. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 4 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.98 90.86 115.834. perpajakan.52 775.73 2.00 58.00 38. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah 12.78 66.70 101.39 445.50 - 2.82 1.235.497.727.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 7 1 1 2 1 1 1 15 1 2 11 1 8 8 14.Lampiran 45 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .73 - - 1 1 6 1 1 1 3 55 1.13 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 6 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.50 1.16 2.31 33.56 18 2 3 12 1 32.22 100.00 93 .34 178.117.88 4.416.759.56 100.792.91 13.50 3.521.88 2. pertambangan.62 235.55 27.68 2.88 1.50 10. dll.25 23.91 484.633.727.96 10.764.792.

Poso.88 18 1 1.96 1 178.72 1 775.142.34 9.800.09 20 3 4 2.08 2 325.98 1 6 18.16 Nilai (20) 0.83 18.87 2 2 2 9 4.39 8 2.12 - (1) (2) (3) 1 BPD Sumatera Barat 21 2 PD BPR Tanggo Rajo 1 3 BPD Jawa Tengah 2 4 PD BPR Kab.50 6 13.676.89 2.764.699.56 3 3.475.98 3 4.416. Luwuk.258.82 2 1 5 2.94 Lampiran 46 (nilai dalam juta rupiah) Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Daerah Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 0 0 0 0 1 0 1 3 0 3 2 6 29.91 0.494.24 2 211.50 2.43 10 10 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (4) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 2 5 1 5 3 1 - Nilai (17) 1. Bantul 2 5 PD BPR Bank Sleman 1 6 PT Bank NTB 17 7 PT BPD Nusa Tenggara Timur 23 8 PT Bank Kalimantan Tengah 12 9 PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.54 223.25 10.40 18.52 5 JUMLAH 91 15 38.943.12 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah . Sulawesi Utara 7 10 PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang Di Palu.633.727.86 2 1.071.759.84 1 146.521.919.54 - Nilai (21) 223.22 7 1.98 1 11 7 5.77 2 14 3 4.70 1.792. Buol.142.598. Tolitoli dan Parigi Moutong 6 41 44 55 58.248.09 1 5.66 4 8.37 369.727.50 - Jml Kasus (18) 1 2 1 1 1 Nilai (19) 484.89 1 3 1 2 5 3.497.56 2 9 11.800.

93 39.99 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern 4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 95 .08 22.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 20 12 1 7 34 4 7 14 8 1 33 17 11 1 2 2 87 100.Lampiran 47 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 37.

36 196.80 485. pertambangan.35 % 4.133.51 122.00 - 18. 4 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 5 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 6 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 18.835.92 6.169.52 271.30 Nilai (juta Rp) 2.00 44.073.402.60 16.79 34.16 38.70 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 Kekurangan volume pekerjaan 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/ atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Pembelian aset yang berstatus sengketa 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.91 - - 10.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jumlah Kasus 8 2 2 3 1 16 6 1 2 5 1 1 16 15 1 24 10 4 6 1 2 1 9 9 13 2 5 3 3 86 % 9.46 3.47 1.16 437.00 96 .84 417.442.639.487.73 1. dll. perpajakan.53 16.31 6.46 1.60 15.620.99 18.18 15.37 7.12 8.15 27.402.99 100.764.379.673.60 1.71 344.58 100.49 100.Lampiran 48 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

Kepri 8 6 Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama 1 4 2 7 20 34 33 86 1 7 9 163.54 8 5 3 7 2.92 1 113.169.68 143.379.398.58 5 1 11 6.53 4 1 2 5 4 24 1 2 9 71.51 1.00 499.73 1 4 3 1 16 0 7 Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama (Provinsi Jawa Timur) 3 2.31 1 4 2 1 16 8.90 1 100.46 2 1 1 1 1 13 1.109.52 1.312.14 15.29 (20) - 1 PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan 5 2 PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS) Untuk Tahun Buku 2008 – Semester I Tahun 2010 di Pekanbaru (*) 4 1 3 782.12 44.38 1.50 781.620.82 (18) 1 3 (19) 48.19 1 1.849.94 2 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 5.24 163.13 8.37 5.849.88 5 6.52 2 122. Kalimantan Barat 12 10 Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya.325. Kepri 16 5 Perusahaan Daerah Karimun.49 254.10 - - 4 Pendapatan dan Biaya PD Natuna.40 5. Maluku 15 JUMLAH 87 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 97 . Kalimantan Timur 8 11 PD Praja Karya.60 16.867.402.24 2.51 668.37 5 1 9 6.345.169.40 329.835. Jawa Timur 7 9 Perusahaan Daerah Aneka Usaha.73 - 3 - 1.00 4.073.79 3 2 3 5.570.696.34 826.43 3 2 1 6 3 PT.133.730.42 1 3 4 - 1 2 2 - 66.51 8 PD Pasar Surya.00 1.54 3 9 16 8.186.442.93 619.94 - (15) - (16) 1 (17) 39.288.00 14. Pengembangan Investasi Riau (BUMD Provinsi Riau) 7 221.07 2 5 3 179.Lampiran 49 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Ketidakhematan Ketidakefektifan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jml Kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus Nilai Nilai (1) 1 3 2 5 188.65 3 3 10 11.169.696.847.50 1 1 4 3 10 1.

02 32.284.659.729.72 19.96 41.590.15 GBP 17.88 13.21 9.899.57 USD 309.662.52 109.952.945.906.88 1.92 78.981.64 24.010.987.78 828.739.47 EUR 11.145.863.79 65.284.55 Jml (8) 2 2 6 6 6 6 1 Nilai (9) 596.696.96 125.78 2.31 1.698.676.86 351.15 GBP 17.78 1.834.75 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.903.31 4.60 11.01 6.00 68 219 Kementerian Komunikasi dan Informatika EUR 0.26 11.090.10 2.19 - 8 Wantanas 2009 2010 Jumlah 9 BIN 2009 2010 Jumlah 10 Lemsaneg 2009 2010 Jumlah 11 Lemhanas 2009 2010 Jumlah 12 Menko Polhukam 2009 2010 Jumlah 13 Kementerian Dalam Negeri 2009 2010 Jumlah 14 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi 2009 2010 Jumlah 6 17 23 2.13 581.34 11.590.636.21 1.98 22.79 848.255.556.47 EUR 11.291.55 65.662.27 22.52 109.92 26.26 557.75 USD 9.359.Lampiran 50 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerntah Pusat (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 1 (2) Kementerian Pertahanan (3) 2009 2010 Jumlah 2 Mabes TNI 2009 2010 Jumlah 3 TNI AD 2009 2010 Jumlah 4 TNI AL 2009 2010 Jumlah 5 TNI AU 2009 2010 (4) 40 39 79 35 13 48 45 45 15 32 47 34 59 Jumlah 93 6 Kementerian Luar Negeri 2009 2010 Jumlah 151 Nilai (5) 2.94 USD 309.556.080.58 64.89 5 4 9 2.770.69 2.951.15 GBP 17.13 96.362.70 EUR 0.88 16.65 - - USD 9.10 15.138.636.98 461.13 16.76 112 USD 9.08 EUR 0.26 22.38 USD 309.09 9.847.35 - - USD 9.65 Jml (10) 40 35 75 4 4 15 15 30 Nilai (11) 2.676.962.306.79 416.577.34 1.592.616.922.47 EUR 11.530.23 - 85 85 20 16 36 11 13 24 75 75 - 64.995.59 1.47 EUR 11.10 138.88 15.40 1.97 1.962.138.28 1 1.22 1 4 5 24.744.74 USD 9.40 11.244.87 328.Halaman 1 .757.483.59 596.79 14 4 18 14 9 23 3 3 11 11 22 14 7 21 127 73 200 - 161.15 GBP 17.13 581.306.04 16.22 10.922.12 26.20 22.92 26.62 2.389.79 5 22 27 1 1 2 3 3 14 43 57 - 125.20 1.692.64 18.24 EUR 0.419.750.12 26.08 369.430.34 2.21 Jml (6) 2 2 35 9 44 39 39 11 11 34 58 Nilai (7) 138.35 30.78 368.32 - 55 55 - 10.20 22.744.40 7 2009 2010 Jumlah 19 111 130 15 10 25 23 16 39 11 13 24 11 11 22 17 7 24 141 191 332 - 161.08 24.23 9 9 9.80 USD 309.244.995.377.89 24.830.526.909.26 11.771.60 11.41 39 1.64 1.89 98 .734.18 102.20 557.89 4.47 EUR 11.536.22 - EUR 0.93 92 USD 9.26 78.82 13.152.40 1 40 - 28.78 97.29 1.21 79.72 17.903.335.62 868.15 GBP 17.37 53.847.28 2.29 1.47 EUR 11.750.31 4.29 829.984.21 - 1.28 2.410.09 24.04 16.906.92 1.090.40 1.48 2.617.15 GBP 17.212.952.69 1.21 79.78 96.090.616.145.244.483.08 24.244.13 24.265.335.899.40 12 124 - EUR 0.88 16.994.305.98 41.79 382.34 30.27 64.82 13.483.255.407.89 24.

910.241.21 9.880.826.95 230.019.631.16 326.091.005.75 55.01 1.63 54.60 26.44 USD 5.263.83 1.60 16.16 26.338.78 1.535.714.73 1.27 70.43 141.592.24 220.00 5.60 9.568.61 23.584.988.104.85 165.91 26.077.00 16.283.00 5.60 313.701.75 55.43 121.558.40 19.37 4.92 5.82 Jml (6) 5 14 19 18 18 2 3 5 21 4 25 1 4 5 3 3 6 21 11 32 94 17 111 2 2 2 107 109 5 13 18 1 5 6 25 12 37 4 5 9 6 22 28 3 8 11 Nilai (7) 126.01 96.923.92 464.988.788.60 4.99 1.87 284.Halaman 2 .631.00 USD 293.61 230.34 417.45 870.60 449.50 326.63 19.92 352.988.746.37 126.95 230.40 313.301.19 3.44 USD 5.57 141.98 71.73 51.87 34.92 150.17 9.60 228.761.08 121.59 34.722.37 26.94 362.92 19.75 927.34 717.824.19 124.96 38.78 1.75 536.325.26 25.24 56.40 673.45 1.317.63 54.09 138.49 973.45 1.239.43 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 4.244.85 1.002.98 8.95 4.48 521.17 1.071.584.01 230.78 358.97 170.85 106.10 220.56 USD 293.626.60 228.038.90 7.005.85 950.75 929.84 141.60 228.66 124.961.00 7.241.18 1.45 1.08 46.01 230.84 633.48 1.434.51 3.196.253.31 Jml (10) 13 13 21 21 4 4 377 377 104 104 30 44 74 53 89 142 11 11 22 12 12 Nilai (11) 9.92 6.923.385.388.10 99 .325.50 326.610.57 1.45 745.71 4.77 2.534.126.43 141.267.379.165.31 1.005.869.66 1.338.00 226.00 126.301.71 950.09 12.193.57 2.55 5.329.45 745.006.98 628.17 10.09 23.00 150.558.00 284.85 106.85 106.63 54.77 313.82 26.00 1.378.283.34 1.104.17 24.37 5.63 70.60 12.460.471.283.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 15 (2) Kementerian Sekretariat Negara (3) 2009 2010 Jumlah 16 TMII 2009 2010 Jumlah 17 BKN 2009 2010 Jumlah 18 BPN 2009 2010 Jumlah 19 LAN 2009 2010 Jumlah 20 Arsip Nasional 2009 2010 Jumlah 21 KPU 2009 2010 Jumlah 22 Kementerian Hukum dan HAM 2009 2010 Jumlah 23 Kejaksaan Agung 2009 2010 Jumlah (4) 38 25 63 21 13 34 3 40 43 34 27 61 2 16 18 4 9 13 412 22 434 106 144 250 32 44 76 24 POLRI 2009 2010 Jumlah 25 Komnas HAM 2009 2010 Jumlah 26 Mahkamah Konstitusi 2009 2010 Jumlah 27 MPR 2009 2010 Jumlah 28 DPR 2009 2010 Jumlah 29 DPD 2009 2010 Jumlah 30 Mahkamah Agung 2009 2010 Jumlah 31 Komisi Yudisial 2009 2010 Jumlah 59 231 290 11 11 22 5 13 18 2 5 7 28 13 41 4 5 9 40 79 119 3 10 13 Nilai (5) 23.15 1.92 158.40 150.631.01 230.00 126.435.998.585.642.796.038.37 34.35 1.66 USD 293.32 26.83 24.495.283.33 630.09 23.317.910.210.82 Jml (8) 33 11 44 3 3 1 37 38 13 2 15 1 8 9 1 6 7 14 11 25 12 23 35 4 35 39 1 1 3 1 4 22 57 79 2 2 Nilai (9) 23.45 150.196.01 96.071.75 536.24 526.55 121.631.796.84 633.47 22.199.39 1.85 1.22 USD 293.10 16.63 54.82 26.53 77.01 98.01 19.

197.85 427.927.43 39.37 21 1.94 33.220.45 551.92 191.73 USD 23.363.92 Kementerian Kelautan dan Perikanan 21 41 Jml (6) 10 3 13 15 15 17 25 42 22 40 62 20 Nilai (7) 832.37 3.30 12.16 277.26 4.40 899.81 8.266.728.06 19.337.834.88 38.96 3.17 72.927.643.22 41.984.97 39 Kementerian Perhubungan 2009 2010 Jumlah 40 Menpera 2009 2010 Jumlah 41 Bapertarum 2009 2010 Jumlah 42 Kementerian PDT 2009 2010 Jumlah 43 BMKG 2009 2010 Jumlah 44 Kementerian Perindustrian 2009 2010 Jumlah 45 Kementerian Perdagangan 2009 2010 Jumlah 46 Kementerian Kop.834.153.573.50 45.81 440.210.861.353.900.419.22 41.897.065.720.61 1.65 70.897.30 824.21 3.489.832.14 987.247.86 USD 23.175.63 139.027.73 2.440.749.Halaman 3 .53 113.13 - - - 1.280.27 1.34 80.10 879.799.182.670.73 379.984.728. & UKM 2009 2010 Jumlah 100 .50 78.99 1.65 47.08 7.37 20 41 2.30 37 2009 66 2.90 USD 12.405.45 132.337.68 552.29 340.197.73 31.97 18.992.76 381.30 381.99 1.270.07 4.39 113.230.21 72.32 USD 32.272.213.987.421.06 32.387.16 1.32 139.247.37 24 69 391.337.36 17.513.60 47.440.36 14.247.21 1.69 34.63 138.591.34 2.94 5.387.07 1.62 1.409.00 836.396.60 1.13 113.660.46 139.92 12.41 1.32 252 3 255 91 34 125 1 7 8 19 5 24 17 19 36 12 22 34 24 9 33 7 19 26 45.67 68.23 14.897.10 1.786.197.230.31 46.13 41.26 41.65 18.710.30 25 Jml (10) 1 1 26 26 25 Nilai (11) 5.10 43.027.646.28 825.99 1.65 47.352.273.68 33.98 506.396.720.45 USD 12.30 1.308.17 4.407.041.37 45 945.22 2.61 1.24 USD 16.18 28.027.20 2.27 1.45 3.50 AUD 334.50 AUD 334.69 885.22 4.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 32 KPK (2) (3) 2009 2010 Jumlah 33 PPATK 2009 2010 Jumlah 34 BNN 2009 2010 Jumlah 35 Kementerian Pertanian 2009 2010 Jumlah 36 Kementerian Kehutanan 2009 2010 Jumlah (4) 10 8 18 3 15 18 17 32 49 58 90 148 209 36 245 Nilai (5) 832.50 AUD 334.13 7.475.308.68 8.895.75 990.02 2.667.91 139.850.27 USD 12.706.22 56.573.09 1.513.98 50 24 74 20 38 58 2 4 6 4 10 14 3 13 16 1 1 7 13 20 18 10 28 12.191.405.60 4.31 54.39 7.545.273.171.50 AUD 334.99 139.111.336.21 1.31 8.75 990.693.85 1.31 46.27 1.10 1.99 1.16 1.710.021.530.24 1.70 USD 23.258.03 11.85 1.21 54.33 28.021.849.338.60 1.635.60 20.30 7.810.559.62 15 179 Jml (8) 5 5 3 3 6 6 36 24 60 164 Nilai (9) 43.984.23 - 11 11 - 38 Kementerian Pekerjaan Umum 2009 2010 Jumlah 364 29 393 202 151 353 3 15 18 7 7 25 22 47 20 39 59 12 23 35 32 47 79 38 32 70 65.97 1.56 194.81 429.660.36 19.70 20.338.850.12 70.39 118.657.474.37 62 2 64 91 79 170 4 4 7 7 2 7 9 7 7 1 25 26 13 3 16 7.336.86 433.68 624.32 USD 32.07 433.258.643.70 45.552.245.337.93 USD 23.258.85 1.96 23.98 2010 Jumlah 55 121 2.545.693.50 45.799.087.594.24 USD 16.96 3.247.31 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.31 551.387.131.895.22 63.591.786.12 2.55 132.32 3.171.21 417.36 10.72 USD 12.

298.27 USD 222.09 252.30 211.99 60.489.25 USD 222.888.629.81 38.298.102.15 23.10 815.46 USD 8.80 59.07 144.51 75.637.52 56.536.299.03 USD 222.04 6.48 23.00 75.00 15.68 USD 18.75 23.716.659.65 132.437.313.59 17.39 444.98 23.828.21 2.477.018.53 178.75 65.02 2.082.38 481.14 USD 18.09 25.18 882.19 39.620.524.896.082.03 30.68 USD 18.503.32 258.557.87 JPY 266.68 USD 18.87 JPY 266.67 162.690.655.031.19 13.082.60 8.17 4.83 6 12 18 2 3 5 103 124 227 23 6 29 10 32 23 55 1 1 5 9 14 10 4 14 3 5 8 6 23 29 6 4 33 13 Jml (6) 5 8 13 2 2 4 20 Nilai (7) 300.12 328.37 134.63 2.210.270.795.98 21.493.00 1.60 8.66 2.98 978.89 296.64 315.753.00 5.98 56.13 12.51 39.732.410.676.51 1.43 59.12 83.00 29.37 42.49 546.86 283.80 532.19 44.24 6.206.68 47.93 USD 262.12 328.78 14.59 134.042.62 184.01 4.205.68 93.753.32 69.33 109.24 2.84 5.608.475.457.37 5.239.18 89.19 154.968.65 818.18 882.753.966.49 546.310.500.402.45 USD 262.95 25.578.54 USD 0.91 35.03 14.63 93.06 USD 262.90 2.12 83.17 177.34 USD 8.82 62.77 162.34 USD 8.530.799.934.813.29 169.70 815.18 133.132.779.927.45 USD 262.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 47 BSN (2) (3) 2009 2010 Jumlah 48 BKPM 2009 2010 Jumlah 49 Kementerian ESDM 2009 2010 Jumlah (4) 5 10 15 2 24 26 42 69 111 Nilai (5) 300.42 132.79 2.89 USD 0.77 3.24 1.659.24 USD 0.58 95.696.176.15 56.42 8.122.13 40.20 41.03 100.95 23.210.Halaman 4 .564.080.09 176.18 882.78 14.557.56 2.63 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 83.32 4.761.536.42 8.138.03 USD 222.38 575.60 559.13 71.794.732.00 42.197.475.61 163.22 14 14 59 296 355 4 25 29 10 24 24 18 18 10 36 36 Jml (10) 2 2 22 22 Nilai (11) 176.48 57 Bakosurtanal 2009 2010 Jumlah 58 LAPAN 2009 2010 Jumlah 59 Kementerian Agama 2009 6 13 19 7 27 34 257 2010 Jumlah 534 791 60 Kementerian Sosial 2009 2010 Jumlah 45 49 94 4.785.97 1 1 5 10 15 95 114 209 18 18 36 2 69 6 75 8 8 2 5 7 12 12 5 12 17 1 1 1 1 42 20 Jml (8) 22 Nilai (9) 476.90 25.710.789.213.111.87 6.38 55.46 5.515.10 296.24 1.082.437.08 101 .45 130.64 315.23 116.757.485.055.042.500.402.23 160.42 130.824.83 122.17 532.523.32 USD 0.87 JPY 266.588.200.98 129.02 30.477.169.69 59.19 13.45 62.531.485.239.77 52.83 5.755.68 5.450.60 83.42 116.30 48.69 52.451.00 1.60 50 Kementerian LH 2009 2010 Jumlah 51 Kementerian BUMN 2009 2010 Jumlah 52 Kementerian Ristek 2009 2010 Jumlah 53 BPPT 2009 2010 Jumlah 54 LIPI 2009 2010 Jumlah 55 BATAN 2009 2010 Jumlah 56 BAPETEN 2009 2010 Jumlah 125 29 154 9 9 7 14 21 10 34 44 8 17 25 6 24 30 7 15 22 1.19 3.51 251.87 JPY 266.094.

09 623.56 538.736.06 1.74 572.43 11.39 4.741.608.12 63.037.435.463.111.890.502.30 1.412.04 8.31 74 BPKP 2009 2010 Jumlah 102 .00 66 BKKBN 2009 2010 Jumlah 67 Badan POM 2009 2010 Jumlah Kementerian Pendidikan Nasional 13 22 35 21 18 39 253.89 1.320.24 218.042.43 15.751.037.66 124.104.408.60 1.08 449.185.606.66 USD 0.975.81 259.11 580.81 205.54 15.19 1.156.95 94.507.708.06 USD 140.72 284.51 458.648.331.62 412.04 1.57 102 52 154 11 12 23 6 4 10 2 8 10 159 63 222 139.944.453.00 65.08 458.54 11.80 12.516.994.61 223.330.511.640.28 54.10 23.09 80.51 1.975.281.221.23 962.57 393.74 205.000.71 364.18 345.531.42 USD 9.04 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 422.45 69.68 1.162.15 993.208.25 19.50 588.50 1.431.189.491.50 1.363.097.91 3.33 1.16 1.66 USD 0.33 2 15 17 9 6 15 35.50 1.46 75.190.633.06 Jumlah 422.17 131.03 205.237.01 23.646.34 440.59 63.82 4.28 1.640.22 388.43 1.14 572.31 1.46 225.19 USD 140.25 14.36 USD 9.72 246.11 11.871.936.96 477.564.97 648.258.287.22 4.651.56 2.247.00 2.54 311.54 65.425.00 11.54 1.043.20 458.76 27.00 - 35.38 8.68 589.61 181 29 210 21 27 48 3 6 9 3 7 10 11 377 388 248.16 365.31 20.59 1.793.43 7.12 63.610.155.572.032.08 1.24 2.34 584.351.087.794.83 USD 9.50 588.352.60 2.045.66 3.39 422.71 209.502.653.58 54.205.91 48.38 64.98 112 64 176 5 8 13 13 1 14 2 6 8 292 44 336 36.07 1.190.61 538.990.18 921.757.40 7.632.020.794.756.025.02 1 2 3 7 7 175.555.060.99 30.Halaman 5 .781.60 11.54 980.31 165.484.389.579.556.73 1.97 364.368.351.241.531.054.156.09 623.39 USD 0.83 828.281.79 1.81 2.89 47.47 159.26 31.73 188.42 2.68 1.84 336.39 USD 0.20 47.06 62 Menko Kesra 2009 2010 Jumlah 63 KPP dan PA 2009 2010 Jumlah 64 Kementerian Kesehatan 2009 2010 Jumlah 65 Kementerian Nakertrans 2009 2010 Jumlah 29 29 58 2 14 16 103 93 196 22 77 99 6.00 175.72 5.13 1.106.808.020.41 908.63 72.043.08 628.79 5 6 11 4 6 10 31 Jml (8) 3 12 15 22 5 27 8 8 39 38 77 16 15 Nilai (9) 246.91 4 4 1 1 61 Jml (10) 19 19 6 18 24 30 10 40 3 58 Nilai (11) 611.68 4.58 54.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 61 (2) (3) (4) 11 35 46 Nilai (5) 422.593.54 164.156.75 8 12 20 17 11 28 7 Jml (6) 8 4 12 1 6 7 2 6 8 34 45 79 3 4 Nilai (7) 175.532.718.162.208.11 299.01 USD 140.45 69.68 159.144.81 187.003.56 1.81 BN Penanggulangan 2009 Bencana 2010 68 2009 395 - 424.56 309.886.04 262.494.274.59 63.156.466.67 31.81 3.82 2010 Jumlah 145 540 - 69 Kementerian Budpar 2009 2010 Jumlah 37 47 84 22 11 33 7 21 28 462 484 946 70 Menpora 2009 2010 Jumlah 71 Perpustakaan Nasional 2009 2010 Jumlah 72 Kementerian Keuangan 2009 2010 Jumlah 73 Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2009 2010 Jumlah 5 25 30 12 28 40 35.41 2.06 USD 140.22 14.08 57.39 6.66 1.221.10 3.26 580.14 1.987.12 USD 9.31 360.171.080.815.020.229.48 2.32 2.854.99 1.205.97 648.797.24 1.76 2.40 1.778.06 175.31 2 8 10 3 15 18 262.81 360.158.18 1.097.79 29.411.47 11.20 379.89 1.10 3.72 5.42 2.34 584.20 449.

29 128.30 71.30 71.55 GBP 17.082.740.543.51 34.464.324.49 274.55 GBP 17.227.78 Keterangan 1.131 Rp 4.68 471.19 GBP 17.47 340.77 610.25 41.29 128.78 3.30 116.84 2.246.68 471.094.064.87 JPY 266.77 610.29 343.25 41.543.66 56.68 USD 313.08 239.109 Rp 9.90 343.98 593.324.25 129.30 610.36 56.793.374.08 21.09 4.945.77 6.50 1.25 71.43 343.96 15.59 129.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 75 BPS (2) (3) 2009 2010 Jumlah 76 Menko Perekonomian 2009 2010 Jumlah 77 STAR SDP 2009 2010 Jumlah 78 BPK 2009 2010 Jumlah 79 Bank Indonesia 2009 2010 Jumlah 80 LPS 2009 2010 Jumlah 81 BNP2TKI 2009 2010 Jumlah 82 BPLS 2009 2010 Jumlah 83 LPP TVRI 2009 2010 Jumlah 84 LPP RRI 2009 2010 Jumlah 85 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Otorita Batam) 2009 2010 Jumlah (4) 11 25 36 3 1 4 12 5 17 25 28 53 6 6 1 4 5 31 17 48 19 9 28 12 20 32 32 32 18 73 91 Nilai (5) 236.97 76.84 41.70 15.251 Rp 27.37 EUR 11.69 2.25 41.02 239.852.211.Halaman 6 .77 103.543.30 1.418.98 6.56 1.25 71.187.09 12.41 USD 12.36 132.053.418.262.77 614.25 41.36 72.44 8.30 71.73 Jml (8) 5 5 6 11 17 6 6 13 3 16 2 1 3 8 8 2 2 5 3 8 Nilai (9) 610.24 76.36 162.15 56.119.63 257.102.201.49 129.77 8.47 340.15 274.21 Jml (10) 11 11 12 5 17 4 4 11 13 24 3 3 1 20 21 30 30 46 46 Nilai (11) 510.68 471.082.25 41.740.42 USD 42.960.37 EUR 11.22 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 236.003. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.49 71.56 72.147.094.77 103.347.011 Rp12.72 7.50 TOTAL 8.014.15 EUR 11.812.38 - 3.03 AUD 334. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 103 .29 116.97 4.76 3.77 AUD 334.78 2.69 1.565.18 28.17 Jml (6) 11 9 20 3 1 4 19 13 32 1 4 5 7 1 8 17 5 22 3 3 13 24 37 Nilai (7) 236.324.59 510.821.33 USD 326.29 128.23 USD 359.22 2.110.55 JPY 266.21 2.21 9.84 162.543.24 9.06 850.647.354.56 76.97 15.374.938.19 - Rp1.553.852.468.49 129.34 61.

67 303.67 154.053.684.544.939.285.734. Aceh Jaya 2009 2010 Jumlah 6 Kab.07 1.91 1 1 2 10 12 20 20 7 23 30 5 25 30 14 14 28 6 14 20 11.06 11 Kab.460. Aceh 3 2009 2010 Jumlah 2 Kab.23 - 3 2009 2010 Jumlah 41 69 110 45 56 101 48 27 75 26 72 98 34 63 97 73 55 128 34 50 84 5.Lampiran 51 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 1 2 Prov.87 26.07 11.82 197. Bener Meriah 2009 2010 Jumlah 104 .078.83 248.313.06 972.620.16 11.92 9.67 13. Aceh Tengah 2009 2010 Jumlah 10 Kab.41 10.07 6.27 2.174.41 248.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 14 694.362.065.29 50.54 889.85 23.728.242.62 228.52 74.10 239.54 152.467.69 1.790.67 7 2 9 22 22 4.389.687.53 852.07 74.82 99.687.37 15.584.734.417.65 180.12 29.92 12.26 1.15 12 2 14 33 33 17.238.056.90 443.799.311.89 - 13 Kab.243.75 4 Kab.83 448.06 5.971.42 13.27 104.10 2.254.20 11.06 104.389.33 2.771.329.56 900.45 8.60 900.11 81.00 106.889.91 21.10 3.244.584.96 11.637.10 252.983.883.33 174. Aceh Tamiang 2009 2010 Jumlah 9 Kab.598.03 8.40 18.83 115.56 2.451.97 1.967.98 836.80 2.74 711.825.61 8.80 Jml 8 81 24 105 4 4 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 9 2.736.23 6.69 2.811.60 11.08 6.85 16.14 31.893.527. Aceh Barat Daya 6 164 118 282 35 30 65 Nilai 7 41.17 3.684.10 113.09 3.48 34.07 74.999.305.150.52 140. Aceh Singkil 2009 2010 Jumlah 8 Kab.903.45 114.27 10.29 8.374.361.721.985.408.23 9.30 889.721.53 370.127.31 8 67 75 7 36 43 233.265.684.63 477.31 174.47 3.74 24.325.385.20 30 23 53 27 27 - 13 22 35 20 20 225.32 493.85 16.719. Aceh Barat 2009 2010 Jumlah Kab.422.76 2.22 24.70 3.933.317.611.039.96 56.242.83 12.28 29.110.31 2.923.48 239.20 11.379.02 20.042.47 13 29 42 17 59 76 13.067.07 18.408.52 Belum Ditindaklanjuti Jml 12 37 73 110 27 19 46 Nilai 13 1.73 4.33 429.064.95 2.67 81.99 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 10 46 21 67 4 11 15 Nilai 11 37.443.02 243.670.66 3.215.343.04 4.20 2.50 24.59 196.52 239. Aceh Utara 2009 2010 Jumlah 51 112 163 54 36 90 225.364.399.14 31.17 7.044.766.888.91 3.07 213.40 13.08 4.65 6.89 2.71 11.849.32 18.656.15 2.51 21.40 12.10 5.58 29. Aceh Timur 2009 2010 Jumlah 12 Kab.155. Aceh Tenggara 2009 2010 Jumlah 32 33 65 72 59 131 35.73 5.45 39.362.676.532.85 113.053.63 5.15 297.03 9. Aceh Selatan 2009 2010 Jumlah 7 Kab.92 155.633.78 31.42 7.73 74.58 7. Aceh Besar 2009 2010 Jumlah 5 Kab.65 6.20 145.979.02 40 69 109 2 31 33 5 27 32 8 8 10 26 36 3 7 10 22 22 5.765.48 6.611.47 2.41 182.79 21.20 348.165.005.40 348.222.05 54.208.Halaman 1 .17 320.467.36 8.39 15.54 41 15 56 23 23 19 41 60 19 12 31 56 34 90 28 14 42 18.361.608.

985.994. Pidie 2009 2010 Jumlah 31 30 61 59 44 103 63 17 80 64 23 87 19 33 52 53 29 82 21 42 63 21 103 124 3. Sumatera Utara 25 2009 2010 Jumlah 112 71 183 97 74 171 143.013. Simeulue 2009 2010 Jumlah 20 Kota Banda Aceh 2009 2010 Jumlah 21 Kota Langsa 2009 2010 Jumlah 22 Kota Lhokseumawe 2009 2010 Jumlah 23 Kota Sabang 2009 2010 Jumlah 24 Kota Subulussalam 2009 2010 Jumlah Prov.81 309.66 672.508.64 5.410.28 290.45 349.354.510.431. Bireuen 3 2009 2010 Jumlah 15 Kab.172.21 672.62 69 32 101 8 8 73.513. Gayo Lues 2009 2010 Jumlah 16 Kab.803.15 15 15 37 37 21 10 31 48 16 64 12 12 20 6 26 18 18 36 10 15 25 0.29 518.022.00 5.34 658.02 26 Kab.60 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 4 7 11 1 4 5 Nilai 9 18.40 2.219.05 32.40 11 11 17 17 18 7 25 12 7 19 4 4 10 9 19 2 4 6 8 7 15 1.66 1.829.75 478.16 366.94 2.25 349.099.75 5.952.065.01 22 31 53 47 74 121 16.771.36 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 36 53 4 11 15 2 2 Nilai 11 75.88 1.64 30.94 2.93 2.47 8.250.86 36.66 0. Asahan 2009 2010 Jumlah 105 .66 366.434.01 8.28 2.76 24.94 8.37 2.368.20 2.61 16.52 10. Nagan Raya 2009 2010 Jumlah 4 53 36 89 48 46 94 25 34 59 Nilai 5 19.21 393.98 13.72 1.888.025.444.203.63 1.406.17 19.634.17 5.75 0.18 730.96 5.00 23.331.53 18.975.26 381.66 41.20 13.17 3.75 14.321.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 14 2 Kab.510.354.72 10.518.952.12 2.34 41.634.39 6.266.18 39.37 581.33 14.95 14.83 132.92 43.341.986.75 18.26 381.402.08 44.28 1.95 1.26 1.66 0.37 - 18 Kab.96 Jml 6 23 23 40 28 68 24 28 52 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 200.46 2.88 6.025.740.756.431.40 1.37 187.47 196.36 11.26 198.37 381.099.12 381.777.04 150.26 20.64 11.47 32.59 2.02 290.829.01 2.56 21 8 29 42 42 52.50 20.92 25.07 217.99 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 215.19 682.079.508.031.266.00 200.894.821.092.11 11.87 8.54 1.792.39 5.98 22.99 6.830.097.99 18.29 5.20 187.78 52.16 10.92 40.83 217.128.88 2.466.410.96 19.124.985.894.238.031.40 1.925.572.001.28 18.Halaman 2 .80 40.195.568.20 10.80 1.88 1.57 1.444.457.69 569.494.394.504.829.45 682.446.368.46 198.67 13.105.142.17 1.46 2.097.693.031.07 1.434.95 2.75 187.331.80 6.32 282.196.33 110.04 569.28 1.798.25 3.41 45.92 5.80 17 Kab.17 5.60 2.95 2.00 2.922.170.99 5 30 35 5 44 49 24 24 4 4 3 33 36 23 14 37 1 20 21 3 81 84 1.841.611.33 1.045.859. Pidie Jaya 2009 2010 Jumlah 19 Kab.962.40 40.94 3.604.62 18.46 15.39 2.81 215.90 1.975.009.25 601.08 53.203.238.

12 7 7 3 4 7 32 32 16 7 23 117.00 31 Kab.425.64 117.922.45 107.286.46 306.00 584.Halaman 3 .55 81.295.364.28 24.84 314.47 1.56 89.16 12.77 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 21 14 14 Nilai 9 41.42 14.78 1.15 105.47 26 17 43 25 25 33 42 75 855.77 30 2009 2010 Jumlah 43 33 76 33 29 62 68 19 87 70 83 153 34.754.259.27 463.107.527.640.34 206.63 2.64 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 206.452.38 383.73 12.56 109.04 1. Humbang Hasundutan 4 55 44 99 40 70 110 86 85 171 Nilai 5 42.77 24. Nias 2009 2010 Jumlah 36 Kab.49 142.623.837. Padang Lawas 2009 2010 Jumlah Kab.455.18 13.049.97 3 4 7 153.14 899.52 936.151.30 844.01 584.20 537.58 14.00 16.78 46 90 136 66 34 100 49 45 94 1 53 54 2.331.76 624.225.77 24.34 206.06 42.97 150.886.586.97 41.56 14.49 142.13 36.32 24.714.165.049.04 899.102.069.227.49 16.71 8.13 36.75 254.50 135.352.53 2.286.831.74 3.886.958.76 1.29 109.208.628.05 10.80 11.347.809.00 35 Kab.364.53 4.831.307.20 0.66 14.34 24.623.83 5.714.48 10.452.227.32 141.66 20 1 21 171. Mandailing Natal 2009 2010 Jumlah 54 93 147 66 34 100 49 46 95 20 53 73 3.97 150.38 232.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 40 70 110 56 85 141 Nilai 11 24.178. Padang Lawas 2009 Utara 2010 Jumlah 38 19 52 71 26 47 73 24.14 899.00 16.03 187.16 621.00 0.42 14.97 39 Kab.60 13.40 19 52 71 3 42 45 24.848.82 1. Dairi 2009 2010 Jumlah 29 Kab.16 478.273.20 24.01 43 26 69 4 8 12 11 19 30 21 34 55 34.00 4 1 5 6 6 363.05 1.17 3.39 Jml 6 34 34 16 16 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 206.592.68 3.475.28 13.46 306.28 66.40 153. Langkat 2009 2010 Jumlah 34 Kab. Karo 2009 2010 Jumlah 32 Kab.14 117.29 171.183.370.325.692.089.84 465.30 672.03 1.34 270.593.74 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 27 2 Kab.76 2.48 100.20 537.532.19 1.809.04 24.78 254.15 28.331.705.16 12.593.259.16 107.53 78.79 81.32 142.34 24.49 16.32 141.18 13.016.29 28. Labuhanbatu 2009 2010 Jumlah 33 Kab.68 10.44 90.982.03 320.96 17.586.273.96 1.831.23 91.04 17.673.14 117.543.78 1.84 1.71 8.63 2.89 198.92 42. Batubara 3 2009 2010 Jumlah 28 Kab.056.53 1.178.177.129.177.692. Pakpak Bharat 2009 2010 Jumlah 106 .331.50 135.31 4 2 6 1 1 13 13 211.609.04 899.59 142.894. Nias Selatan 2009 2010 Jumlah 37 Kab.056.809.15 1. Deli Serdang 2009 2010 Jumlah Kab.

955.910.50 3.753.25 13.94 5.35 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 41 2009 2010 Jumlah 76 38 114 41 60 101 10.90 4.401.23 45 Kab.81 16.825.098.27 17.527.66 14.437.61 3.37 169.67 8.335.360.46 558.300.492.14 7.81 15.906. Toba Samosir 2009 2010 Jumlah 47 Kota Binjai 2009 2010 Jumlah 48 Kota Medan 2009 2010 Jumlah 49 Kota Padangsidimpuan 2009 2010 Jumlah 41 55 96 9.87 3.140.42 - - - - 41 55 96 9.321.63 458.31 37.01 110.49 4.79 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 22 31 53 Nilai 9 6.360.93 5.10 2.63 4.67 3.50 4.00 467.84 254.77 24.362.804.42 - 50 Kota Pematangsiantar 2009 2010 Jumlah 61 94 155 45 29 74 8.79 18.20 2.222.27 16.587.59 44 Kab.38 3.68 194.54 169.66 4 17 21 340.59 162.94 2.65 18.27 3.53 744.96 340.43 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 13 40 53 Nilai 11 2.622.064. Samosir 3 2009 2010 Jumlah Kab.36 19 13 32 3 3 8.843.69 33.81 16.744.891.171. Tapanuli Utara 2009 2010 Jumlah 46 Kab.37 1.28 16.17 5.66 14.43 210.00 458.89 1.69 33.77 2.178.379.172.03 1.334.59 194.21 3.81 18.156.93 566.79 18.30 1.05 30 19 49 1 10 11 603.975.068.280.27 182.088.66 - 40 64 104 18 27 45 31 25 56 3 3 65 116 181 31.77 2.883.51 2.023.760.69 2.10 2. Tapanuli Tengah 2009 2010 Jumlah 40 64 104 31 27 58 31 25 56 34 40 74 69 124 193 31.345.14 7.205.57 7 49 56 15 15 107.28 16.273.Halaman 4 .90 24.171.84 11.47 906.324.599.995.910.284.281.324.32 108.77 21.23 13 13 15 24 39 1 8 9 142.978.527.27 107. Tapanuli Selatan 2009 2010 Jumlah 46 78 124 868.545.768.50 3.61 4.14 3.760.919. Serdang Bedagai 4 35 71 106 Nilai 5 8.79 45 19 64 2 28 30 9.623.93 107.477.32 2.052.47 13.13 877.423.060.975.99 2.24 3.15 1.89 1.92 2.46 558.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 40 2 Kab.986.574.99 13.02 21.20 3.891.20 3. Simalungun 2009 2010 Jumlah 43 Kab.92 8.172.00 1 1 38 22 60 3.24 15.13 46 2 48 27 29 56 2.954.20 51 Kota Sibolga 2009 2010 Jumlah 107 .27 772.213.107.954.84 15.131.27 4.90 142.300.52 3.71 13.12 1.31 2.50 8 43 51 3 3 5.226.96 8 28 36 482.111.27 107.56 7.334.09 40.79 42 Kab.587.13 110.064.060.59 305.950.02 34 33 67 45.919.02 906.919.

94 2. Kepulauan Mentawai 2009 2010 Jumlah 78 62 140 6.54 173.116.80 55.13 260.01 105.454.78 6.25 1.38 674.347.00 211.340.61 349.454.60 5.58 6.14 148.81 59 Kab.047.88 13.201.36 3 64 67 12 10 22 45 101 146 387.634.79 63.59 1.74 15 69 84 8 44 52 1 26 27 3.00 492.90 4.376.95 736.95 387.781.32 60 Kab.13 90.797.759.86 58.950.92 2.93 7.20 2.504.86 5.93 1. Pasaman Barat 2009 2010 Jumlah 83 115 198 53 72 125 52 88 140 10.401.809.92 4.37 5.65 9.25 36.47 6.081.21 1.072.53 2.50 21 53 74 47 70 117 3.300.64 211.64 4.43 8.715. Sijunjung 2009 2010 Jumlah 108 .460.50 8.93 1 4 5 1 35 36 352. Pasaman 2009 2010 Jumlah 61 Kab.60 537.14 62 Kab.91 226.92 1.235.917.371.03 4.Halaman 5 .664.54 274.00 1.58 67.50 414.548.581.344. Pesisir Selatan 2009 2010 Jumlah 63 Kab.59 7.868.430.74 346.24 7.95 55 Kab.047.52 167.00 130.69 117 116 233 41 41 12 3 15 8.61 163.485.82 3.68 11.862.05 18.405.852. Padang Pariaman 2009 2010 Jumlah 56 57 113 86 127 213 4. Sumatera Barat 4 39 48 87 38 48 86 Nilai 5 27.00 1.05 20.45 4.79 3.712.80 54 2009 2010 Jumlah 155 214 369 70 60 130 129 110 239 54.78 4.722.36 50.87 18.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 39 48 87 11 18 29 Nilai 11 27.28 44.57 23.36 50.811.20 1.835. Agam 2009 2010 Jumlah 56 Kab.54 2.482.080. Dharmasraya 2009 2010 Jumlah 57 Kab.11 131.13 16 64 80 2.205.06 1.80 55.99 4.091.396.02 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.95 5.82 1.033.95 56.48 538.64 4.529.82 6.126.58 26 32 58 3.55 1.77 35 34 69 17 50 67 72 6 78 45.43 100.482.580.11 6.12 1.46 338.333.387.77 295.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 52 2 Kota Tanjungbalai 3 2009 2010 Jumlah 53 Kota Tebing Tinggi 2009 2010 Jumlah Prov.56 47.80 5.04 34 34 38 22 60 8.38 1.04 449.24 7.68 13 46 59 1 1 2 49 7 56 2.96 61.76 77.43 615.422.30 116.37 15.48 3.453.619.014.033.76 77.02 1.069.785.986.65 10.80 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 13 31 Nilai 9 170.80 1.665.950.20 3.41 3 36 39 9.510.822.395.739.561.405.846.725.63 Jml 6 9 17 26 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 55.48 2.36 104.79 3.887.78 1.25 3.742.02 1.727.727.56 13.088.42 4.44 10 3 13 492.79 3.433.523. Lima Puluh Kota 2009 2010 Jumlah 45 132 177 2.178.17 12.195.44 49 2 51 - 19 57 76 5.428.01 295.79 12.35 122.930.75 16.64 58 Kab.23 100.091.680.93 7.276.68 55 55 44 27 71 2 55 57 4.983.04 148.78 216.61 338.453.085.58 2.52 5.96 30.496.38 136.447.947.780.32 1.986.523.05 2.377.914.

45 465.74 9. Indragiri Hilir 2009 2010 Jumlah 109 .607.591.78 6.278.617.68 666.01 69 2009 2010 Jumlah 44 109 153 78 52 130 95 89 184 103 78 181 97 64 161 323 116 439 214 66 280 97 75 172 1.572.37 10.973.76 11.91 135.831.983.18 50 50 3 6 9 38 38 29 8 37 3 30 33 2 20 22 6 5 11 2 23 25 47.80 9.386.93 70 Kota Pariaman 2009 2010 Jumlah 71 Kota Payakumbuh 2009 2010 Jumlah 72 Kota Sawahlunto 2009 2010 Jumlah 73 Kota Solok 2009 2010 Jumlah 74 Prov.03 165.428.096.93 495.503.700.82 590.85 126.78 11. Bengkalis 2009 2010 Jumlah 76 Kab.78 125.283.29 6.090.796.47 4.90 25.16 2.52 494.19 11.83 671.815.922.140.645.70 128.31 222.83 574.81 805.54 1.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 2 136 138 1 39 40 4 50 54 8 44 52 Nilai 11 6.965.47 15.15 13.78 827.50 19.991.203.01 5.965.93 1.47 1.309.78 2.55 6.71 970.50 12.41 23.738.94 23.10 4.788.633.165.20 4.43 1.430.55 47.242.553.78 1.82 15.83 42.573.434.52 9.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 64 2 Kab.935.070.28 12.061.21 282.33 1.55 182.339.463.46 1.99 38.11 85.90 821.00 100.15 14.13 1.564.183.177.53 362.84 17.389.78 90.219.371.620.20 737.21 243.27 506.395.131.249.89 6.50 546.20 4.142.633.797.091.85 6.75 13.422.95 362.Halaman 6 .858.00 452.03 682.00 940.339.118.21 489.00 670.84 489.63 18.01 27.620.43 210.169.365.024.64 14.54 Jml 6 27 61 88 42 42 57 50 107 31 47 78 136 76 212 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 5.758.629.99 1.49 38.85 66.878. Solok Selatan 2009 2010 Jumlah 66 Kab.419.31 43 49 92 44 40 84 77 39 116 49 30 79 81 4 85 162 55 217 67 29 96 55 29 84 287.12 355.16 821.470.00 12.47 16.70 787.600.03 11.16 6.24 65.758.34 40.16 42.469.00 157.071.16 506.698.15 5.438.74 447.839.93 6.33 14.100.136.646.27 126.84 12.311.81 837.831.03 5.729.49 3.177.56 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 36 48 31 64 95 4 12 16 29 58 87 32 7 39 Nilai 9 4.812.063.940.811.79 3.17 198.61 16.824. Riau 2009 2010 Jumlah 75 Kab.379.026.600.691.523.01 6.33 11.00 1.67 75.99 73.76 20.77 8.43 27.05 33.52 3.62 8.49 73.204.91 1 10 11 31 6 37 18 12 30 25 40 65 13 30 43 159 41 200 141 32 173 40 23 63 1.419.17 837.289.034.36 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.249.87 1.20 5.900.34 1.63 36.863.980.402.99 8.61 447.05 483.81 6.52 1.92 671.11 56.73 280.838.33 296.62 8.50 39.61 20.52 293.51 670.48 14.36 967.92 1.84 40.343.38 1.34 14.56 505.98 13.863.80 770.53 167.087.98 27.161.84 66.857.241.68 1.973.74 9.22 58.02 17.031.962. Solok 3 2009 2010 Jumlah 65 Kab.41 126.93 6.772.82 43.88 1.34 14.77 42.17 4. Tanah Datar 2009 2010 Jumlah 67 Kota Bukittinggi 2009 2010 Jumlah 68 Kota Padang 2009 2010 Jumlah Kota Padang Panjang 4 39 99 138 75 200 275 62 101 163 64 155 219 176 127 303 Nilai 5 9.643.03 38.

306.63 27.015.02 9.18 50.200.02 19.43 798.23 770.69 2.95 169.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 77 2 3 2010 Jumlah 78 Kab.66 115.292.190.76 824.721.238.913.151.774.58 7.45 3.69 2.777.23 79.23 44.00 4.03 5.46 7.89 28.90 33.29 285.226.533.69 65.72 6. Indragiri Hulu 2009 79 2009 2010 Jumlah 90 83 173 193 69 262 127 63 190 103 43 146 194 120 314 98 74 172 109 61 170 156 127 283 96 78 174 139 102 241 102 85 187 12.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 9 82 91 14 55 69 Nilai 11 308.41 308.39 24.12 19.46 Jml 6 89 89 92 92 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.948.559.24 8.297.429.068.999.69 4.75 125.72 20.449.509.376.63 24.30 71.02 19.71 2.53 3.98 125. Kerinci 2009 2010 Jumlah 110 . Batang Hari 2009 2010 Jumlah 88 Kab.71 2.442.65 31.14 80 Kab. Bungo 2009 2010 Jumlah 89 Kab.998.675.913.574.056.33 59.639.00 352.82 54.12 66.871.10 58.19 4.687.90 3.66 734.175.807.466.22 3.51 6.149.881. Kampar 2009 2010 Jumlah Kab.36 31.029.618.135.68 7.60 11.00 160.15 1.333.19 14.27 31.676.686.556.57 314.29 625.54 44.04 32.224.43 12.13 770.822.96 19.628.13 3.133.90 170.374.011.Halaman 7 .618.76 770.01 101.101.19 6.70 740.007.207.60 86.488.73 131.129.76 12.70 1.10 111.706.04 56.64 490.76 1.29 15.208.69 58.24 5.49 19 10 29 99 24 123 18 22 40 17 27 44 37 43 80 34 23 57 33 17 50 35 10 45 35 31 66 44 25 69 42 20 62 4.670.332.718.29 5.79 2.68 39.48 5.85 28.056.627.105.332.714.06 15.41 824.107.740. Siak 2009 2010 Jumlah 84 Kota Dumai 2009 2010 Jumlah 85 Kota Pekanbaru 2009 2010 Jumlah 86 Prov.81 311.525.70 380.66 356.336.175.90 10.332.585.237.33 6.056.268.99 6. Pelalawan 2009 2010 Jumlah 81 Kab.231.23 125.033.374.928. Rokan Hulu 2009 2010 Jumlah 83 Kab.93 19.574.17 3.97 1 29 30 23 20 43 84 28 112 14 14 7 13 20 28 25 53 7 16 23 58 58 1 32 33 54 54 49 49 2.93 2.71 64.51 12.45 8.332.76 3.44 4.64 14.81 39.10 842.26 4.184.43 8.41 5.63 1.238.190.009.416.05 3.48 3.107.39 9.766.06 2.61 3.781.38 125.241.595. Rokan Hilir 2009 2010 Jumlah 82 Kab.17 434.206.326.655.92 475.35 47.12 3.61 2.573.71 2.399.67 Kab.76 46.77 12.57 1.343.01 23.36 1.32 142.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 18 34 2 36 Nilai 9 4.361.051.94 2.786.289.74 1.37 44.335.82 15.76 70.70 616.775.716.60 575.253.632.16 1.57 308.94 34.22 45.30 20.007.530.79 16.12 100.558.447.47 18.675.15 4.27 4.355.79 100.23 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 6.681.50 271.19 5.05 59.866.681.867.355.731.40 10.20 62.32 242.17 9.069.377.18 7.701.79 7.33 47.76 12. Jambi 2009 2010 Jumlah 87 Kab.78 3.12 1.956.268.556.06 87.747.23 1.335.79 364.05 816.86 62.913.88 70 44 114 71 25 96 25 13 38 72 16 88 150 64 214 36 26 62 69 28 97 121 59 180 60 15 75 95 23 118 60 16 76 7.581.50 12.93 50.852.61 18.47 186.909.877.871.19 28.875.847.76 1.55 900.460.331. Kuantan Singingi 4 116 82 198 140 57 197 Nilai 5 6.80 3.076.

Tanjung Jabung Timur 69 15.19 44.10 3.357.78 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 49 21 70 54 1 55 35 23 Nilai 9 93.74 901.399.80 62 31 93 3.43 167.289.722.160.409.Halaman 8 .193.443.75 56 66 122 64 64 119 21 140 15 15 450.22 441. Tebo 2009 2010 Jumlah 96 Kota Jambi 2009 2010 Jumlah 97 Kota Sungai Penuh 2009 2010 Jumlah Prov.001.200.86 111.99 3.16 7. Lahat 2009 2010 Jumlah 111 .174.781.89 98.19 58 2.496.820.67 16 16 23 23 3.297.681.38 47 12 59 17.868.182.67 517.01 1.04 44.375.25 4.93 3.83 77.82 389.475.29 17.193.98 100.659.601.00 6.66 3.862.28 6.78 93 2009 2010 Jumlah 112 48 160 57.840.50 4. Sumatera Selatan 98 2009 2010 Jumlah 92 81 173 74 63 137 9.80 2.304.49 7.571.840.76 1.21 449.64 7.71 175.44 - 55.567.289.480.32 1 69 70 4 90 94 2.980.29 1.42 5. Muaro Jambi 2009 2010 Jumlah 92 Kab.17 3 5 8 36.70 25.25 59 59 66 66 449.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 90 2 Kab.04 6.19 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.79 1.422.022.361.76 17.24 1.03 USD 466.494.142.40 25.61 9.642.083.115.094.986.32 111.21 517.83 17.65 176.978.80 99 Kab.130.37 18.66 80.949.76 55.93 1.66 67.99 7.41 6.738.49 2.51 59.399.24 8. Sarolangun 2009 2010 Jumlah 4 98 44 142 169 60 229 100 65 165 Nilai 5 97.99 687.91 15.065.05 316.800.91 7.46 1.348.916.00 991.21 4.17 441.939.614.62 999.36 93.27 212.160.887.85 38 3 41 10 9 19 9.90 98.32 1.850.27 758.154.794.259.361.087.63 1.55 31.907.20 1.62 52.30 4.36 2.71 94 Kab.63 2.58 108.500.200.840.05 50.065.556.919.13 3.93 - 450.58 207.25 259.04 181.43 USD 466.50 4.657.929.907.91 10.59 1. Merangin 3 2009 2010 Jumlah 91 Kab.951.60 269.19 67.25 7.11 4.75 4.343.960.297.46 4.62 52.577.97 16.01 6.25 9.82 29 23 52 40 35 75 33 12 45 7 7 3.777. Banyuasin 2009 2010 Jumlah 100 Kab.82 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 11 13 39 58 97 6 32 Nilai 11 16.41 6.37 143.28 2.57 36.119.62 397.22 1.33 8. Tanjung Jabung Barat 2009 2010 Jumlah 85 104 189 108 82 190 197 59 256 27 27 3.223.494.042.193.75 898.59 3.20 2.361.49 6.79 13.338.047.850.23 167.98 236.28 1.58 108.29 46 46 64 54 118 55.91 Kab.806.457.21 449.693.38 10.510.890.83 38 Jml 6 47 12 59 76 1 77 59 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 4.92 145.65 19. Empat Lawang 2009 2010 Jumlah 76 69 145 93 90 183 4.21 517.67 517.497.870.56 3.82 6.43 8 78 86 - 9.93 15 15 4 47 51 45 26 71 5 5 3.09 9.78 1.01 551.06 14.32 3.67 101 Kab.45 USD 466.443.003.32 1.06 3.919.055.137.20 3.895.20 310.986.38 4.38 4.983.75 3.42 USD 466.89 95 Kab.14 50.25 449.081.994.07 17.82 1.851.140.034.736.22 393.693.893.44 9.20 1.

31 108 Kab.45 35 27 62 1.27 11.12 1.06 119.85 18 18 36 8 2 10 20 20 36.62 744.90 11.06 624.22 2.71 79.51 897.19 395.37 116.674.251.00 372.29 26.83 109.75 159.78 125.78 447.90 159.360.841. Ogan Komering Ilir 2009 2010 Jumlah 65 76 141 159.90 1.73 USD 2.331.018.99 2. Ogan Komering Ulu 2009 2010 Jumlah 139 94 233 2.44 1.97 37.389.67 2.09 103.12 103 54 157 1.618.695.989.51 1.95 496.285.42 4.30 58.09 456.733.40 110 Kota Lubuklinggau 2009 2010 Jumlah 58 49 107 40 42 82 141 51 192 73 57 4.59 10.54 103.977.67 59.82 USD 2.97 11.44 11.50 2.05 9.70 296.85 447.15 14.894.018.62 2.953.373.83 Kab.06 114.67 109 Kab.802.018.37 USD 2.66 78.211.04 624.018.17 4.781.82 1. Ogan Komering Ulu Selatan 2009 2010 Jumlah 72 53 125 3.81 59.621.47 11.22 285.328.06 114.90 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 102 2 Kab.15 11.83 USD 2.43 81 23 104 86 27 113 29 29 11.388.65 118.674.06 7.04 3.138.04 433.27 115.89 7.621.730.211.66 468.58 - 18 6 24 20 20 10 10 57 4.003.457.298.361.14 1 13 14 897.078.75 1.85 447.25 6.36 496.33 582.78 27 44 71 468.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 Nilai 9 9.67 2.97 2.309.83 858.309.70 488.40 2 5 7 488.88 447.75 159.534.75 107 Kab.00 372.40 12 12 2.70 21 21 78.47 1. Ogan Ilir 2009 2010 Jumlah 106 Kab. Muara Enim 3 2009 2010 Jumlah 4 58 125 183 Nilai 5 9.83 45 47 744.576.95 624.Halaman 9 .46 36 54 Jml 6 38 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 367.33 582.14 1.02 176.44 243. Ogan Komering Ulu Timur 2009 2010 Jumlah 29 70 99 468.64 1.443.47 1.06 79.695.998.48 34 41 75 38 10 48 54 33 87 65 - 4. Musi Banyuasin 44 82 5.66 56 56 159.262.897.003.46 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.65 118.22 414.09 456.621.262.12 11.436.54 103.97 48.66 396.42 4.73 1.082.09 103. Musi Rawas 2009 2010 Jumlah 105 Kab.350.75 7 7 - 2 76 78 1.389.762.45 103 2009 2010 Jumlah 99 59 158 94 46 140 54 36 90 47.59 - 6 2 8 2 12 14 77 18 95 8 - 47.73 4.82 2.477.62 5.16 433.039.28 1.78 640.64 1.45 11.937.97 11.39 26.250.98 10.39 590.97 18 18 17 17 5 36 41 51.35 9.73 52 53 105 128.187.350.71 520.360.142.626.401.59 - 111 Kota Pagar Alam 2009 2010 Jumlah 112 Kota Palembang 2009 2010 Jumlah 113 Kota Prabumulih 2009 2010 112 .766.989.22 285.258.85 104 Kab.44 10.67 8 8 1.48 4.06 119.112.

13 702.11 1.94 - 117 Kab.68 1.26 162.031.206.006.395.122.115.611.34 317.611. Bengkulu Selatan 4 130 140 87 227 Nilai 5 120.716.340.32 1.489.845.056.73 3.59 19.972.35 1. Lampung 2009 2010 Jumlah 113 .21 58.48 32 6 38 16 16 9 9 827.59 796.49 40.725.108.616.32 233.48 723.398.057.59 1.393.00 2.55 286.94 5.16 536.883.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 456.056.490.97 13.23 20.36 25 89 114 - 1.18 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 57 4 58 62 Nilai 11 4.63 109.20 17 17 1.800. Lebong 2009 2010 Jumlah 121 Kab.61 317.81 13.35 1.13 32.46 172.399.39 2.14 5. Kepahiang 2009 2010 Jumlah 49 38 87 38 36 74 57 25 82 3.822. Kaur 2009 2010 Jumlah 119 Kab.13 2.29 138.84 2.44 138.86 399.65 941.12 689.63 12 30 42 23 23 102 7 109 10 113 123 869.89 689.125.520.809.584. Bengkulu Tengah 2009 2010 Jumlah 23 23 5.984.106.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 8 63 22 85 Nilai 9 115.65 8.75 7.36 109.97 7.490.943.98 26.450.00 20.42 334.Halaman 10 .34 Jml 6 65 73 7 80 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 456.56 467.64 5.34 2.540.211.35 2.33 15 15 19 6 25 1.97 44.106.909.63 1.58 13.125.716.93 575.60 801.826.63 13.20 336.395.49 467.59 1.94 - - - - 23 23 5.55 647.87 1.97 2.415.35 702.86 399.74 116 Kab.96 118 Kab.26 1.89 2. Bengkulu Utara 2009 2010 Jumlah 49 89 138 25 18 43 4.757.13 172.340.014.340.60 553.899.39 733.19 87.62 85.128.72 2.42 945.24 11.78 123 Kab.35 19.443.29 38 2 40 16 16 24 17 41 43 43 162.166.030.855.862.833.966.17 9.62 300.09 632.99 7.09 21 21 19 19 60 7 67 50 50 921.153.78 937.63 3.00 20.33 - 402.28 12.875.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 114 2 Prov.24 9.93 2.09 632.12 13.02 115 2009 2010 Jumlah 77 36 113 1.03 1. Mukomuko 2009 2010 Jumlah 122 Kab.299.899.74 733.39 3.82 5.35 2.934.186.412.99 97.96 9 9 6 12 18 1.056.819.15 702. Bengkulu 3 Jumlah 2009 2010 Jumlah Kab.93 16.87 1.87 536.584.51 402.609.66 33.317.00 332.48 137.014.622.51 233.13 366. Rejang Lebong 2009 2010 Jumlah 71 32 103 35 23 58 186 31 217 103 113 216 1.399.979.23 120 Kab.17 7.08 7.89 1 12 13 7 36 43 44 25 69 647.93 1.11 1.348.00 2.209. Seluma 2009 2010 Jumlah 124 Kota Bengkulu 2009 2010 Jumlah 125 Prov.22 2.340.63 9.14 53.60 2.24 1.708.61 172.832.18 118.97 921.725.28 43 43 336.23 20.540.649.94 5.730.68 17 36 53 2.23 16 20 36 15 15 4 4 2.28 710.14 9.

24 - 147.65 - 20 27 47 - 33.36 218.846.36 962.324. Lampung Barat 3 4 Nilai 5 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 126 2009 2010 Jumlah 35 38 73 29.673.603.846.47 10.898.00 171.09 254.403.705.35 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 Kab.190.22 143. Way Kanan 2009 2010 Jumlah 135 Kota Bandar Lampung 2009 2010 Jumlah 42 110 152 27 63 90 28.428.940.111.169.310.94 - 134 Kab.077.25 - - 35 38 73 29. Tulang Bawang 2009 2010 Jumlah 56 95 151 68 57 125 939.47 45 52 97 1.831.51 173. Lampung Utara 2009 2010 Jumlah 51 100 151 18 58 76 60 70 130 1.47 27.92 398.97 215.Halaman 11 .043.316.546.940.38 1.077.809.923.45 623.694.50 21.446.211.26 2.265.898.854.43 42.427.36 136 Kota Metro 2009 2010 Jumlah 114 .06 59.76 173.335.351.935.57 3 3 10.856.70 44 44 1.17 11.40 13.505.694.38 326.590.38 327.544.17 11. Lampung Tengah 2009 2010 Jumlah 60 69 129 1.164.186.41 128 Kab. Pesawaran 2009 2010 Jumlah 132 Kab.563.908.24 1.101.194.19 96.64 1.64 - 129 Kab.906.831.923.601.501.118.56 2 2 1.80 398.17 299.74 1.391.304.35 16 16 122.446.96 20.126.582.36 91.94 25 1 26 - 44.705.33 1.92 874.50 21.928.69 69 69 1.70 10.07 39.487.060.28 135.724.117.914.25 127 Kab.25 26.892.796.908.65 46.796.69 122.18 1.01 42 100 142 18 58 76 53 70 123 1.898.19 127.754.78 3.069.33 88.77 17 1 18 2.47 27.65 46.648.906. Lampung Selatan 2009 2010 Jumlah 45 55 100 1.99 - 26.516.783.41 187.80 22.64 1.70 130 Kab.070.17 - 11 67 78 68 57 125 861.92 - 5.590.923.46 1.816.74 1.41 267.395.365.978.82 1.118.80 127.07 215.717.326. Lampung Timur 2009 2010 Jumlah 53 60 113 2.06 70.395.01 215.335.70 31.28 135.74 26.908.57 147.22 143.582.84 623.426.856.127.41 187.80 91.324.36 215.98 32.49 1.39 1.671.65 44.18 19 19 31.24 17 59 76 1.652. Tanggamus 2009 2010 Jumlah 133 Kab.487.89 5.25 26.590.351.126.05 1.824.73 9.16 10.07 299.64 1.036.96 20.111.426.09 131 Kab.794.191.133.07 10.164.89 - 2 2 - - 42 108 150 27 63 90 28.24 39.908.590.601.16 88.24 1.07 9 9 5 5 218.64 3.13 1.24 254.

29 460.65 16.873.89 547.154.71 35 35 846.719. Bangka Selatan 4 73 45 118 108 60 168 61 21 82 Nilai 5 55.68 460.75 1.47 2.75 21.408.187.376.68 1.375.72 7 7 1.11 13.36 2.23 4.00 896.64 23.45 115 .295.29 197.31 32 63 95 18 18 14 82 96 7.57 34 13 47 27 23 50 197.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 9 12 16 16 2 2 Nilai 11 596.84 643.44 1.95 729.64 25.41 2.142.082.40 9.64 204.52 207.01 3.48 151.46 119.523.39 307.658.01 25.64 212.58 926.54 197.31 8.08 76 41 117 2.97 56.92 9.04 349.028.20 3.47 20.25 2.454.252.41 1.40 20.674. Bangka Tengah 2009 2010 Jumlah 44 32 76 61 74 135 197.11 16.01 331.06 1.154.03 34.41 13.856. Kepulauan Bangka Belitung 3 2009 2010 Jumlah 138 Kab.74 45.45 846.06 1.17 74.32 11.10 8 6 14 23 25 48 488.14 19.07 15.557.58 2.13 3.295.61 146 Kab.593.385.520.281.335. Kepulauan Riau 2009 2010 Jumlah 90 103 193 45 60 105 91 130 221 16.849.098.21 568.12 141 Kab.516.312.05 928.998.279.821.576.153.139.75 2.46 119.55 2. Bintan 2009 2010 Jumlah 147 Kab.98 195.553.12 10 5 15 81.289.05 222.41 488.48 787. Belitung Timur 2009 2010 Jumlah 40 43 83 7.085.33 2.84 1.51 2.273.87 272.90 576.770.71 3.768.55 3.672.14 140 2009 2010 Jumlah 87 70 157 2.99 718.730.94 144 Kota Pangkal pinang 2009 2010 Jumlah 125 136 261 1.07 44.881.576.13 16.85 34 17 51 179.778.25 7.10 2.01 1.42 831.650.203.45 846.11 1.703.85 596.15 32.03 1.Halaman 12 .10 346.832.080.824.73 254.208.811.29 Jml 6 57 35 92 102 37 139 57 13 70 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 25.83 42 25 67 22 30 52 64 39 103 601.34 1.41 1.94 3. Bangka Barat 2009 2010 Jumlah Kab.345.768.41 197. Bangka 2009 2010 Jumlah 139 Kab.39 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 1 14 6 7 13 4 6 10 Nilai 9 29.17 2 13 15 11 26 37 1.93 2.650.18 670.706.48 151.31 4.13 3.374.26 7.16 142 Kab.51 469.252.26 4.516.54 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 137 2 Prov.098.14 972.85 125.399.15 963.02 7.316.09 108.94 2.58 3.075.37 1 24 25 926.61 2.40 331.983.183.85 8.99 718.90 32.85 307. Belitung 2009 2010 Jumlah 143 Kab.11 177. Kepulauan Anambas 2009 2010 Jumlah 61 61 3.41 822.44 145 Prov.429.36 25 5 30 767.94 2.371.54 200.991.41 15.847.10 29.551.866.14 32 108 140 29.96 2.336.01 6 19 25 7.61 16 15 31 23 12 35 13 9 22 8.45 26 26 2.301.008.89 7.46 68 23 91 514.08 15.64 1.695.45 365.48 254.64 2.83 539.913. Karimun 2009 2010 Jumlah 148 Kab.25 - - 846.160.834.679.778.41 197.17 9.20 36.69 19.42 855.39 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 3.

52 652.482.81 14 65 79 4.85 14.333.074.891.146 159 183 342 88 78 166 228.124.26 55.38 40.130.38 554.394.24 24. Jawa Barat 2009 2010 Jumlah 155 Kab.123.53 24.74 4.143.339.29 152 2009 2010 Jumlah 61 105 166 306. Ciamis 2009 2010 Jumlah 160 Kab.447.548.147.549.094.875.892.268.67 21.175.37 111 151 262 6 95 101 2 29 31 18.243.114.84 19.679.262.562.21 48.90 21.05 202 109 311 38 13 51 9 23 32 129.033.250.32 21.97 153 Prov.686.846.31 638.979.41 815.24 13.87 7.193.14 384.446.05 25.62 16.29 15.45 19.20 1.621.57 9.979.51 59.743.90 20.21 182.072.32 8 17 25 16 2 18 14 19 33 3 5 8 11 33 44 5.67 102.645.79 624.78 8.21 24.934.198.831.85 923.28 34.00 9.576.96 119. DKI Jakarta 2009 2010 Jumlah 701 445 1.49 2. Bandung Barat 2009 2010 Jumlah 73 84 157 61 41 102 52 58 110 10 23 33 73 75 148 5.919.69 4.67 244.37 252.96 60.96 1. Bogor 2009 2010 Jumlah 159 Kab.397.063.15 137.457.80 31.995.92 3.34 97.Halaman 13 .21 19.160.44 8.544.184.80 55.187.346.914.663.97 57.63 30.20 24.574.385.000.32 3.02 4.97 4 4 19 39 58 7 38 45 1 1 57 18 75 2.44 15.05 58.332.94 22.99 Jml 6 43 28 71 40 19 59 73 24 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 10.86 60.20 65 63 128 26 26 31 1 32 6 18 24 5 24 29 338.83 87.33 885.611.376.75 24.785.13 12.55 3.83 2.23 3.40 102.87 627.61 43.91 299.593.32 654.64 22.89 10.058.81 184.31 11.800.35 157 Kab.58 392.67 681.55 2.080.820.35 154 Prov.667.12 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 7 2 9 1 53 54 10 58 68 Nilai 11 2. Natuna 2009 2010 Jumlah 151 Kota Batam 2009 2010 Jumlah Kota Tanjungpinang 4 64 47 111 62 88 150 98 99 197 Nilai 5 12.628.68 11.244.39 23.363.97 3.551.54 1.15 2.97 4.84 136.71 129.67 24.890.15 12.32 58.11 21.427.67 49.80 2. Bekasi 2009 2010 Jumlah 158 Kab.71 59.18 59.72 51.876.51 9.834.70 1.546.500.81 158.910.38 537.276.576.54 16.833.46 55.21 342.535.29 2.71 2.41 5.72 577.749.273.62 920.441.175.56 62.47 388 185 573 115 75 190 77 26 103 80.56 589.81 10. Bandung 2009 2010 Jumlah 156 Kab.89 5.58 49.70 2.70 60. Cianjur 2009 2010 Jumlah 116 .59 1.32 161.284.965.902.291.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 149 2 Kab.63 12.88 27.025.14 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 17 31 21 16 37 15 17 32 Nilai 9 1.234.78 893.48 101.01 73.735.82 35.71 133.981.45 25.93 19.29 200.78 2.16 2.40 3.83 33 23 56 229.95 11.943.97 250.215.986.995.56 13.704.05 87.871.72 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.47 24.893.69 3. Lingga 3 2009 2010 Jumlah 150 Kab.95 681.161.675.819.687.59 2.359.26 14 17 31 77.799.17 12.928.147.13 49.60 28.00 24.32 8.14 6.543.74 229.11 1.050.91 27.414.801.346.

60 3.202.354.95 514.849.608. Subang 2009 2010 Jumlah 169 Kab.92 38 11 49 40 16 56 11 10 21 34 8 42 20 10 30 4 4 10 10 60 93 153 16 27 8 76 Jml 6 34 6 40 25 10 35 31 11 42 68 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.00 171.27 119.00 185.47 137.62 341.99 203.848.97 5 27 310.38 0.44 117 .37 835.73 1 16 17 9 22 31 8 11 19 8 5 13 22 3 25 49 13 62 3 13 16 44 52 96 1 11 10.871.53 37.106.19 2 2 4 30 34 2 10 12 6 6 12 4 5 9 4 4 45 43 88 16 2.351.07 3.10 USD 4.62 119.09 1.71 39.71 95.122.176.69 327. Sumedang 2009 2010 Jumlah 171 Kab.02 546.37 5.974.05 3.15 212.550.981.378.96 3.71 277.32 1.103.10 839.35 368.95 1.71 77.125.61 51.02 1.351.61 12.66 2.95 185.465.67 524.711.65 327.96 5.177.77 27.65 835.015.95 8.86 46.603.750.267.65 3.Halaman 14 .974.487.680.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 17 8 25 4 10 14 3 11 14 19 Nilai 9 398.00 6.00 185.04 50.12 8.37 5.61 2.66 15.99 892.30 251.849.704.96 582. Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 172 Kota Bandung 2009 2010 Jumlah 173 Kota Banjar 2009 2010 39 29 68 49 38 87 23 51 74 44 23 67 48 19 67 57 18 75 13 17 30 149 188 337 33 38 196.99 146.241.25 5.69 1.10 183.166.469.32 1.97 3. Purwakarta 2009 2010 Jumlah 168 Kab.205.824.50 4.082.425.25 3.80 173.69 634.71 1.81 384.450.88 1.505.834.006.360.10 183.805.354.71 976.02 324.88 201.65 892.94 53.835.679.12 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.407.174.92 2.015.277.53 137.32 12.79 38.86 165.90 4.91 8.30 198.10 160.08 5.61 11.618.52 45.84 164.281.587.61 60.550.42 550.93 USD 4.25 36.32 39.95 1.06 USD 4. Indramayu 2009 2010 Jumlah 164 Kab.006.50 42.51 8.360.02 171. Cirebon 3 2009 2010 Jumlah 162 Kab.11 4.50 4.451.304.70 2. Garut 2009 2010 Jumlah 163 Kab.29 43.65 42.70 119.69 959.86 224.277.566.457.12 3.99 11.24 717.29 164.515.41 7. Majalengka 2009 2010 Jumlah 167 Kab.90 USD 4.67 338.210.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 161 2 Kab.41 2.66 8. Karawang 2009 2010 Jumlah 4 53 14 67 89 21 110 36 22 58 109 30 139 Nilai 5 1.700.62 4.31 3.00 9.37 42.350.71 398.31 15.77 575.147.04 144.00 6.77 4.76 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 60 1 61 2 2 22 Nilai 11 38.805.070.282.505.99 384.640.76 144.67 17 36 34.74 37.518.42 545.00 165 Kab.84 77.20 8. Sukabumi 2009 2010 Jumlah 170 Kab.10 153.81 2.49 4.35 397.83 USD 4.12 397.70 USD 4.09 976.810.24 553.819.85 37.39 221.89 5.95 26.59 345.744.75 341.41 38.20 38.02 37.10 2.00 34.10 148.502. Kuningan 2009 2010 Jumlah 166 Kab.

21 145.82 2.902.89 220.25 13.28 950.28 842.10 836.78 306.65 449.84 950.124.650.57 451.523. Boyolali 2009 2010 Jumlah 4 71 40 34 74 22 58 80 68 49 117 51 39 90 53 23 76 51 57 108 47 14 61 59 70 129 23 40 63 42 36 78 29 46 75 35 65 100 23 24 47 Nilai 5 798.50 1.82 821.09 730.65 1.62 5.42 806.23 8.60 2.82 118 .10 4.54 257.52 13.56 403.436.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 3 Jumlah 174 Kota Bekasi 2009 2010 Jumlah 175 Kota Bogor 2009 2010 Jumlah 176 Kota Cimahi 2009 2010 Jumlah 177 Kota Cirebon 2009 2010 Jumlah 178 Kota Depok 2009 2010 Jumlah 179 Kota Sukabumi 2009 2010 Jumlah 180 Kota Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 181 Prov.257.779.67 641.507.72 257.54 169.78 178.07 192.291.73 257.69 1.183.502.24 262.17 241.46 57.31 16.68 1.29 55.91 4.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 7 21 28 25 25 14 15 29 15 9 24 4 10 14 20 31 51 11 11 16 5 21 8 8 2 4 6 8 21 29 25 16 41 4 7 11 Nilai 9 385.902.04 262.54 7.12 842.190.18 55.56 2.507.93 7.69 245. Blora 2009 2010 Jumlah 186 Kab.42 10.870.44 910.67 4.42 2.39 12.70 815.249.670.22 1.13 582.988.24 9.501.87 81.99 872.314.71 156.495.98 180. Jawa Tengah 2009 2010 Jumlah 182 Kab.81 122.93 15.21 3.89 896.74 6.27 650.72 20.44 39.71 6.124.92 7.184.31 202.134.48 10.67 815.80 132.78 19.03 940.92 2.17 931.521.92 984.63 821.293.47 9.26 20.70 16.818.25 1.453.971.65 829.92 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 16 10 10 20 25 25 51 6 57 1 6 7 1 3 4 11 14 25 1 50 51 17 17 2 21 23 23 23 Nilai 11 39.13 220.05 138.91 275.536.64 277.232.12 178.50 23.79 77.353.31 2.257.493.45 426.10 191.18 60. Banjarnegara 2009 2010 Jumlah 183 Kab.02 155.426.240.19 896.95 52.60 4.37 13.57 269.82 4.841.781.50 2.436.30 2.046.134.64 629.48 65.07 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 339.65 908.09 872.521.355.877.257.82 821.91 1.027.41 2.317.25 3.13 451.046.97 81.69 1.78 940.57 1.41 1.52 57.25 145.06 3.93 761.05 89.02 1.69 2.78 284.204.807.30 641. Banyumas 2009 2010 Jumlah 184 Kab.77 519.57 15.44 245.640.12 1.Halaman 15 .65 229.20 931.75 Jml 6 43 23 3 26 22 8 30 3 28 31 36 30 66 48 7 55 30 23 53 25 25 42 15 57 23 15 38 40 32 72 19 4 23 10 26 36 19 17 36 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 373. Batang 2009 2010 Jumlah 185 Kab.81 306.273.099.70 333.12 829.42 2.38 19.01 251.745.87 821.507.29 910.964.57 29.07 122.314.21 101.06 158.086.38 1.99 9.78 76.355.22 473.604.50 331.75 829.02 403.507.84 5.

27 3.300.759.966.11 52.79 1.75 5.94 473.957.614.00 5.64 92.708.91 10.02 263.89 1.88 3.209.005.48 24.95 79.30 21.08 70.59 360.367. Pekalongan 2009 2010 Jumlah 119 .530.31 3. Jepara 2009 2010 Jumlah 192 Kab.66 188.20 566.21 24.23 1.Halaman 16 .641.72 5.568.91 9.800.420.31 3.47 84.635.43 90.075.38 12.588.437.203.27 4.07 334.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.017.31 1.81 7.481.01 7.915.31 1.252.137.79 66.66 104.61 320.44 2.631.05 536. Kendal 2009 2010 Jumlah 195 Kab.58 72.24 1.16 78.31 9.631.614.239.66 9.29 163.48 4.13 8.00 6.00 150.73 1.040.17 7.592.987.41 879.08 7.324.95 1.35 44.42 78.721.100.56 367.21 37.571.00 37.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 11 25 5 4 9 14 24 38 21 32 53 4 6 10 2 22 24 3 12 15 14 16 30 12 37 49 2 10 12 Nilai 9 426.18 4.94 1.85 4.90 101.24 895.324.742.24 37.64 276.36 171.069.052.91 4.45 197 Kab.219. Cilacap 2009 2010 Jumlah 189 Kab.52 1.56 777. Brebes 3 2009 2010 Jumlah 188 Kab.08 602.44 137.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 187 2 Kab.20 379.81 282.95 9.305.62 97.64 60.69 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 20 23 26 26 1 13 14 16 12 28 1 29 30 26 23 49 24 24 27 27 Nilai 11 150.62 1.75 895.61 566. Pati 2009 2010 Jumlah 199 Kab.31 78.94 198 Kab.69 263.30 8.220.62 432.614.93 12.66 1.03 9.344.90 22 22 - - 149.81 3.18 38.190. Demak 2009 2010 Jumlah 190 Kab.571.31 52.74 79.72 89.59 3.568.185.33 2. Magelang 2009 2010 Jumlah 32 41 73 48 28 76 28 25 53 1.614.47 44.58 12.168.89 1.008.89 2.220.14 2.91 4.50 165. Kebumen 2009 2010 Jumlah 194 Kab.91 1.43 2.137.94 1.84 257.40 4.403.38 90.84 1.129.54 46.70 72.970.031.03 247.03 1.326. Grobogan 2009 2010 Jumlah 191 Kab.43 5.01 168.03 9.356. Karanganyar 2009 2010 Jumlah 193 Kab.72 334.643.732.29 3.38 Jml 6 35 2 37 60 31 91 27 27 16 16 18 19 37 15 14 29 11 31 42 30 3 33 11 3 14 49 2 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.89 1.950.28 4.530.343.256.07 499.365.28 831.32 201.95 3.54 45.17 69.225.413.62 457.44 1.40 2.64 1.636.31 6 6 12 12 27 39 7 13 20 1.22 26 13 39 36 1 37 21 12 33 139. Kudus 2009 2010 Jumlah 4 52 33 85 91 35 126 42 37 79 53 44 97 22 25 47 18 65 83 14 43 57 70 42 112 23 64 87 51 39 90 Nilai 5 1.034.72 602.426.069.343.226.18 2.67 3.950.91 1.46 21.379.907.80 4.635.967.00 137.22 104.50 10. Klaten 2009 2010 Jumlah 196 Kab.11 309.51 15.

60 80.041.37 7.79 26.413.14 274.28 1.097.394.04 85.824.375.731.59 7.87 440.60 0.731. Purworejo 2009 2010 Jumlah 203 Kab.95 9.032.95 851.36 2.99 1.399.66 85.34 39.166.28 395.02 14.78 1.59 14.97 94.22 12.160.42 39.79 14.01 3 50 53 24 24 27 27 1 47 48 1 1 29 29 58 17 17 10 10 79 79 47 47 185.917.65 9.25 8.39 90.476.84 13.443.39 295.00 184.83 12.79 1.00 26.913.18 1.385.643. Sukoharjo 2009 2010 Jumlah 207 Kab.41 5.252.062. Wonogiri 2009 2010 Jumlah 210 Kab.18 90.41 185.67 29. Rembang 2009 2010 Jumlah 204 Kab.70 103.38 8.40 13.420.032.646.13 1.42 9 13 22 20 9 29 12 4 16 16 13 29 18 18 36 18 7 25 15 15 21 1 22 27 12 39 1 27 28 5 6 11 15 15 1.25 26.354.295.582.16 334.42 7.00 1.76 30.567.41 4.555.65 988.53 1.87 9. Sragen 2009 2010 Jumlah 206 Kab.34 38.48 12.54 18.67 1.154.66 60.42 11.749.91 2.60 0.394.34 1.00 3.413.11 7.27 8.30 9.582.18 94.72 271.429.647.14 5.01 7.65 39.61 4.501.90 8.01 8.135.761.46 - 202 Kab.413.56 334.600.11 1.249.93 18.46 244.104.62 14.71 87.67 2.70 45.76 30.185. Pemalang 3 2009 2010 Jumlah 4 26 84 110 Nilai 5 87.55 1.245.67 1.68 859.385.52 859.986.39 252. Purbalingga 2009 2010 Jumlah 16 75 91 20 41 61 31 58 89 24 69 93 19 38 57 31 12 43 78 31 109 34 43 77 37 22 59 31 71 102 11 101 112 20 47 67 4.90 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 200 2 Kab.06 11.032.617.541.729.97 3.76 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 11 12 23 Nilai 9 87.046.179.48 Jml 6 14 10 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 30.978.23 769.07 510.45 4.53 9.60 80.732.46 661.50 8.66 0.66 80.45 3.71 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 62 63 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.65 80.02 1.64 9. Semarang 2009 2010 Jumlah 205 Kab.36 14.18 2.76 364.72 8. Wonosobo 2009 2010 Jumlah 211 Kota Magelang 2009 2010 Jumlah 212 Kota Pekalongan 2009 2010 Jumlah 120 . Tegal 2009 2010 Jumlah 208 Kab.197.017.624.67 2.88 201 Kab.61 4 12 16 8 8 19 27 46 7 9 16 1 19 20 13 5 18 34 2 36 13 25 38 10 10 20 30 34 64 6 16 22 5 5 3.395.78 395.65 11.71 30.738.517. Temanggung 2009 2010 Jumlah 209 Kab.171.613.60 9.23 274.47 988.749.15 84.06 635.429.44 3.06 13.000.86 81.Halaman 17 .25 851.582.664.26 11.11 1.017.40 836.647.761.019.249.53 1.50 364.664.53 988.

43 3.54 21.502.250.14 1.788.27 19.377.48 712.927.107.79 280.181.316.68 1.66 1. Gunung Kidul 2009 2010 Jumlah 220 Kab.23 4.79 18.92 8.049.93 112.586.68 1.604.80 11.27 739.74 738.57 22.907.45 139.19 37.00 1.500.22 1.731.03 1.41 170.14 14.35 58.500. Bangkalan 2009 2010 Jumlah 225 Kab.564.03 27.99 1.76 6.Halaman 18 .54 329.26 24.03 16.28 467.14 21.79 11.11 60.104.565.70 1.300.601.60 81. D.90 112.68 104.14 8.I.43 1.758.547.632.72 7.57 1.605.563.473.91 Jml 6 20 20 27 27 22 9 31 36 3 39 60 46 106 52 18 70 12 8 20 11 7 18 49 6 55 31 38 69 53 23 76 50 24 74 97 41 138 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 175.147.42 321.389.523.852.54 83.61 5.396.049.646. Bantul 2009 2010 Jumlah 219 Kab.43 268. Banyuwangi 2009 2010 Jumlah 4 25 56 81 55 27 82 24 43 67 66 14 80 76 69 145 66 60 126 19 44 63 16 47 63 53 72 125 45 85 130 76 83 159 50 42 92 121 85 206 Nilai 5 354.564.91 4.42 1.037.13 712.540.57 100.231. Sleman 2009 2010 Jumlah 222 Kota Yogyakarta 2009 2010 Jumlah 223 Prov.834.016.013.265.57 19.72 449.14 8.198.768.17 5.00 49.22 16.76 6.50 17.93 112.529.45 1.50 112.021.68 558.80 3.61 526.31 22.00 175.26 19.43 21.279.82 650.17 626.021.85 165.39 42.18 7.13 49.013.78 1.30 14.22 60.960.29 70.30 36.30 19.32 14.17 5.30 1.85 22.83 19.92 2.460.81 11.00 16.205.54 32.78 8.42 449.45 12.18 733.35 1.505.03 27.80 196.00 2.037.43 18.250.13 100.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 213 2 Kota Salatiga 3 2009 2010 Jumlah 214 Kota Semarang 2009 2010 Jumlah 215 Kota Surakarta 2009 2010 Jumlah 216 Kota Tegal 2009 2010 Jumlah 217 Prov.18 712.981.54 12.520.813.24 121 .39 8.40 243.14 1.00 2.39 3.398.293.90 3.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 26 31 27 8 35 1 6 7 28 10 38 16 22 38 4 9 13 5 19 24 5 3 8 4 2 6 13 8 21 23 10 33 4 4 23 19 42 Nilai 9 179.25 34.21 3.15 30.92 8.289.22 2.122.07 56.92 1.496.68 17.27 1.05 30.809.00 23.55 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 30 30 1 19 20 1 28 29 2 1 3 1 1 10 33 43 2 17 19 37 37 64 64 1 39 40 50 50 14 14 1 25 26 Nilai 11 733.177.60 2.50 83. Kulon Progo 2009 2010 Jumlah 221 Kab.39 329.63 19.65 1.602.167.80 526.50 112.41 13.289.769.076.10 3.95 13.077.42 18.941.852.016.70 142.96 268. yakarta Yog2009 2010 Jumlah 218 Kab.181.27 739.427.00 2.714.89 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 104.909.00 1.50 140.690.728.604.00 8.59 18.15 1.457.07 49.78 193.291.80 83.06 8.255.42 41.941.14 146.57 23.58 1.97 321.70 32.351.045.58 24.68 562.22 8.41 6. Jawa Timur 2009 2010 Jumlah 224 Kab.13 792.

81 28.99 6. Gresik 2009 2010 Jumlah 230 Kab.37 1.397.672.04 249.54 149.56 149.92 1.549.83 150.396.08 290.22 1.06 288.973.Halaman 19 .36 23.251.72 434.480.54 9.55 1.35 2.73 208.763.50 1.108.09 40.275.30 721.71 1.33 316.00 18 87 29 13 42 68 96 164 46 21 67 37 10 47 82 26 108 91 27 118 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 346.26 83.87 8.18 198.929.295.67 155.49 1.70 24.04 50.36 4.41 1.19 530.51 299.215.701.96 29.84 2.61 3.01 5.19 19.19 1.12 9.11 489.36 30.19 530.01 5.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 226 2 Kab.17 155.941.04 1.00 1.00 42.20 4.516. Bondowoso 2009 2010 Jumlah 229 Kab.065.18 9. Mojokerto 2009 2010 Jumlah 4 52 87 139 99 72 171 52 61 113 38 42 80 150 106 256 65 35 100 69.02 316.33 40.73 8.20 1.02 65.954. Madiun 2009 2010 Jumlah 236 Kab.027.802.50 1.80 1.58 105.849.54 305.802.03 794.81 198.280.15 959.71 4.674.65 694.40 873.065.48 3.52 542.23 60.668.648.17 589.941.125.18 198.51 5.19 11.578.40 1.15 Jml 6 39 20 59 86 43 129 43 22 65 16 21 37 97 49 146 62 35 97 69.251.17 530.67 7.46 285.27 187.027.59 42.088.52 12.37 2.28 5.56 122 . Lamongan 2009 2010 Jumlah 234 Kab.14 539.77 4.17 25.02 1.00 57 126 35 18 53 74 140 214 48 64 112 54 46 100 125 74 199 93 51 144 Nilai 5 2.73 105. Lumajang 2009 2010 Jumlah 235 Kab.50 12.04 346.696.37 1.23 1.91 351.02 88.66 72. Magetan 2009 2010 Jumlah 237 Kab.33 454.85 10.80 959.20 40.52 542.17 155.19 685.66 155.141.493.59 28.530.291.60 5.11 479.29 539. Jombang 2009 2010 Jumlah 232 Kab.429.59 105.964.87 13.71 292.02 88.423.06 35.28 350.13 187.66 42.65 571.08 371.16 56.15 20.80 3.799.49 23.49 2.29 1.829.00 371.60 4.92 115.18 197.743.727. Jember 2009 2010 Jumlah 231 Kab.32 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 23 36 11 8 19 9 7 16 15 14 29 10 5 15 3 3 5 5 5 3 8 5 5 10 2 3 5 17 16 33 36 17 53 2 4 6 Nilai 9 1.749.19 454.73 8.59 198.743.36 30.263.832.15 396.316.46 5. Kediri 2009 2010 Jumlah 233 Kab.35 2.18 50.85 1.18 2.83 2.18 115.50 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 346.057.00 25. Bojonegoro 2009 2010 Jumlah 228 Kab.579.91 506.57 339. Malang 2009 2010 Jumlah 238 Kab.582.24 155.32 2.010.02 436.775. Blitar 3 2009 2010 Jumlah 227 Kab.54 20.23 28.108.32 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 2 21 23 32 32 7 7 14 43 52 95 34 34 1 2 3 1 39 40 40 40 20 20 7 31 38 20 20 Nilai 11 150.59 105.252.822.187.142.80 873.479.19 479.53 6.74 4.

12 102.12 1.27 225.79 166. Pasuruan 2009 2010 Jumlah 244 Kab.33 616.26 487.19 3.22 463.12 150.39 52.60 48. Ponorogo 2009 2010 Jumlah 245 Kab.10 14.84 2.031.Halaman 20 .12 122.629.774.110.12 140.96 8.86 48.362.10 18.67 17.14 112.31 2.27 27.75 361.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 239 2 Kab.89 2.13 941.11 83.626.85 73.12 253.96 8.17 150.66 895.83 428.44 2.01 1.64 1.98 180.59 428.75 278.085.58 25.00 273.26 104.60 1.062.90 180.01 122.37 2.75 2.44 53.95 50.174.085.81 410.30 306.94 2.49 386.569. Probolinggo 2009 2010 Jumlah 246 Kab.37 761.07 447.024.08 320.37 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 16 29 4 9 13 1 1 18 4 22 6 3 9 2 3 5 15 8 23 5 12 17 21 29 50 18 5 23 4 11 15 9 11 20 4 3 7 Nilai 9 227.75 1.95 105.75 52.577.786.44 2.13 763.21 253. Pamekasan 2009 2010 Jumlah 243 Kab.19 917.91 1.84 5. Sumenep 2009 2010 Jumlah 250 Kab.039.13 994.57 567.633.17 50.40 728.12 2.54 48. Pacitan 2009 2010 Jumlah 242 Kab.65 588.85 892.37 68.66 588.37 527.80 240.26 164.15 83.21 917.125.98 7.37 536. Tuban 2009 2010 Jumlah 4 71 50 121 30 34 64 23 44 67 66 32 98 63 62 125 56 91 147 80 47 127 41 49 90 52 89 141 74 90 164 25 45 70 51 64 115 59 63 122 Nilai 5 780.37 386.69 122.218.86 164.92 36.14 246.70 2.48 7.43 7.104.09 14.391.899.57 531.65 102.64 44.30 18.92 624.40 25.42 536.32 278.623. Sampang 2009 2010 Jumlah 247 Kab. Trenggalek 2009 2010 Jumlah 251 Kab.68 1.890.75 122.150.19 796.647.56 2.58 1.47 308.90 428.89 163.98 168.443.87 27.646.41 267.10 38.49 361.151.040.52 112.25 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 17 16 16 10 10 2 16 18 25 25 42 42 1 19 20 12 12 34 34 70 70 14 14 4 21 25 38 38 Nilai 11 836.68 0.577.33 3.12 87.017.47 761.50 3.27 1.00 807.06 123 .52 47.95 104.68 155.93 3.88 2. Nganjuk 3 2009 2010 Jumlah 240 Kab.08 5.43 2.31 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 517.44 566.222.59 308.862.01 69.36 3.14 1.74 168.50 282.13 776.318.33 229.19 360.00 96.504.64 836. Situbondo 2009 2010 Jumlah 249 Kab.79 18.87 118.82 482.91 35.40 2. Ngawi 2009 2010 Jumlah 241 Kab.11 168.37 278.63 2.569.97 35.151.672.778.136.93 Jml 6 58 17 75 26 9 35 23 33 56 46 12 58 57 34 91 54 46 100 64 20 84 36 25 61 31 26 57 56 15 71 21 20 41 38 32 70 55 22 77 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 553.00 44.57 494.862.083.013.08 715. Sidoarjo 2009 2010 Jumlah 248 Kab.560.12 219.15 43.862.

15 973.51 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 24 24 3 93 96 15 15 15 15 18 18 15 15 28 28 25 25 41 41 136 136 13 12 25 45 22 67 Nilai 11 432.08 0.374.99 764.268.004.387.115.739.Halaman 21 .56 6.79 2.634.13 6.92 1.08 7.93 869.96 204.553.374.48 660.98 2.82 250.85 1.03 432.33 2.87 6.389.69 5.34 11.387.60 2.15 6.448.63 56.17 61.064.56 2.09 6.790. Tulungagung 3 2009 2010 Jumlah 253 Kota Batu 2009 2010 Jumlah 254 Kota Blitar 2009 2010 Jumlah 255 Kota Kediri 2009 2010 Jumlah 256 Kota Madiun 2009 2010 Jumlah 257 Kota Malang 2009 2010 Jumlah 258 Kota Mojokerto 2009 2010 Jumlah 259 Kota Pasuruan 2009 2010 Jumlah 260 Kota Probolinggo 2009 2010 Jumlah 261 Kota Surabaya 2009 2010 Jumlah 262 Prov.790.586.33 55.15 2.75 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 15 19 34 1 9 10 10 12 22 9 9 6 6 6 4 10 27 12 39 4 10 14 16 17 33 65 8 73 20 15 35 21 28 49 Nilai 9 375.14 6.657.93 785.894.11 8.09 11.05 206.017.41 261.26 112.14 186.004.59 493.05 321.97 1.70 126.86 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 2.81 6.85 47.42 2.50 2.702.48 1.81 972.33 705.803.97 309.92 2. Pandeglang 2009 2010 Jumlah 4 42 51 93 56 128 184 23 53 76 50 52 102 57 41 98 50 51 101 70 59 129 100 65 165 36 77 113 39 171 210 140 46 186 77 28 105 76 74 150 Nilai 5 2.37 99.66 972.80 36.701.99 332.69 16.927.94 7.97 979.819.00 1.33 0.17 161.93 493.077.61 13.32 98.34 87.59 375.482.61 878.511.15 3.448.550.63 348.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 252 2 Kab.020.13 321.29 11.96 2.634.50 8.99 332.09 660.47 188.56 7.13 Jml 6 42 23 65 38 16 54 22 29 51 40 25 65 48 23 71 50 30 80 64 27 91 73 28 101 32 26 58 23 18 41 62 26 88 57 13 70 10 24 34 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.05 2.91 302.80 566.12 783.22 11.576.387.91 705.234.01 3.505.91 239.290.98 12.65 211.17 13.79 12.34 87.77 311.03 493.922.99 1.89 507.64 785.52 6.93 1.15 6.91 30.387.00 792.82 410.606.31 3.607.98 2.820.97 149.702.94 6.843.11 2.56 7.48 136.810.019.08 6.704.75 94.004.529.14 6.803. Banten 2009 2010 Jumlah 263 Kab.20 52.20 9.48 239.04 425.95 375.020.91 206.91 39.820.07 50.623.233.23 3.11 8.31 2.92 1.907.56 2.87 136.36 507.032.97 979.09 507.880.634.93 68.95 2.164.115.83 4.79 377.98 998.33 1.00 792.79 398.115.557. Lebak 2009 2010 Jumlah 264 Kab.59 1.92 2.85 1.91 410.91 6.31 599.050.065.09 39.14 28.66 188.53 68.501.790.87 124 .047.87 6.

49 22.750.53 290.71 12.519.339.89 4.831.02 106.64 72.372.168.065.123.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 265 2 Kab.68 164.28 41.69 48.86 18.67 124.73 111.01 10.95 35 35 131 69 200 61 50 111 59 18 77 32 88 120 34 10 44 24 47 71 56 54 110 18.26 18.34 179.308.00 94. Bali 2009 2010 Jumlah 272 Kab.421.86 308.48 588.66 3.983.704.562. Bangli 2009 2010 Jumlah 274 Kab.519.70 18. Karangasem 2009 2010 Jumlah 125 .50 28.85 156.42 313.292.79 1.85 57.10 554.129.378.235.238.55 496.71 9.91 8.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 473.42 509.06 33.069.784.562. Badung 2009 2010 Jumlah 273 Kab.29 66.09 275.52 4.292.187.027.747.94 45.13 289.302.827.93 0.12 632.562.97 300.421.70 438.86 1.956.30 234.76 78.076.19 2.60 1.67 8.17 27.868.83 1.992.54 981.429.562.67 4.10 2.257.036.54 15.02 14 8 22 18 6 24 9 3 12 10 42 52 7 7 12 27 39 14 3 17 44.915.01 501.42 455.59 53.66 45.05 49.950.492.01 501.65 206.70 543.31 24.692.585.978.900.813.118.366.152.60 3.67 94.25 13.970.41 Jml 6 6 31 37 82 24 106 34 34 51 31 82 33 18 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 473.82 1.12 539.075.278.365.91 4.38 3.10 15.32 376.956.60 50.35 205.009.99 554.85 96.94 60.38 136.34 4.599.16 18.779.81 19.22 4.473.469.42 194.66 2.52 8.80 3.734.385.356.79 77.100.668.017. Gianyar 2009 2010 Jumlah 276 Kab.75 1.87 46.16 12.348.99 19.33 30. Buleleng 2009 2010 Jumlah 275 Kab.21 1.88 1.81 12.49 1.840.61 98.943.32 34.615.032. Jembrana 2009 2010 Jumlah 277 Kab.903.070.544.950.87 198.33 133.Halaman 22 . Serang 3 2009 2010 Jumlah 266 Kab.086.833.36 258.216.299.28 1.081.62 49.093.036.46 116.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 46 39 85 8 8 1 1 2 28 1 29 Nilai 11 94.83 271 Prov.414.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 16 24 40 21 4 25 7 38 45 3 15 18 28 6 34 Nilai 9 1.581.93 234.55 4.46 748.09 769.89 2.66 57.323.194.50 28.97 23.46 57.515.42 3.44 18.563.84 156.194.548.066.13 22.54 901.09 36.89 90.26 3.42 290.97 1.22 48.13 15.54 270.24 41.52 1.679.762.06 117.97 359.42 294.45 486.04 5.32 302.131.544.974.12 978. Tangerang 2009 2010 Jumlah 267 Kota Cilegon 2009 2010 Jumlah 268 Kota Serang 2009 2010 Jumlah 269 Kota Tangerang 2009 2010 Jumlah Kota Tangerang Selatan 4 68 94 162 111 28 139 41 38 79 55 47 102 89 25 114 Nilai 5 95.332.57 131.085.403.48 12.53 300.78 1.78 60.95 112.238.199.705.512.485.169.21 831.22 270 2009 2010 Jumlah 36 36 145 79 224 79 85 164 71 34 105 42 162 204 34 72 106 37 112 149 70 168 238 18.008.34 1.99 3.168.93 1 1 2 2 29 29 3 13 16 32 32 55 55 1 38 39 111 111 2.952.46 185.20 330.23 119.79 35.08 83.801.65 530.390.085.97 245.70 18.11 294.28 622.182.432.08 71.171.72 10.20 155.724.194.13 661.319.

390.92 2.73 83.295.20 Jml 6 32 31 63 33 56 89 55 61 117 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 20.652. Bima 2009 2010 Jumlah 283 Kab.30 397.053. Sumbawa Barat 2009 2010 Jumlah 289 Kab.487.348.81 1.01 16.691.27 550.92 2.906.16 478.104.39 59.72 327.03 828. Lombok Utara 2009 2010 Jumlah 290 Kota Bima 2009 2010 Jumlah 126 .442.429.47 16 16 13 13 7 7 4 4 3 3 31 31 26 26 19 19 11.053.31 57.38 116.71 209.221.09 69.63 20.44 616.49 443.43 1.43 2.698.037.054.83 21.10 226.18 11.46 11.506.64 1.41 547.212.41 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 19 19 47 47 39 7 46 Nilai 11 7.80 17.03 915.85 710.92 226.32 4.83 20.41 226. Dompu 2009 2010 Jumlah 284 Kab.Halaman 23 .112.54 6.472.80 550.887.52 673. Sumbawa 2009 2010 Jumlah 288 Kab.455.08 3.203.93 725.947.04 2.15 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 947.053.68 33.43 201.340.99 108.19 154.555.50 154.80 113.42 316.421.249.55 33. Klungkung 3 2009 2010 Jumlah 279 Kab.63 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 7 12 3 5 8 19 12 31 Nilai 9 862.32 26.555.82 126.72 23.97 33.645.304.031.126.249.760.82 13.678.20 316.18 8.317.58 1.19 963.019.29 209.78 113. Nusa gara Barat Teng4 37 57 94 36 108 144 113 81 194 Nilai 5 21.661.34 22.688.52 70.33 209.638.256.191.07 59.04 - 282 Kab.181.101.18 75. Lombok Barat 2009 2010 Jumlah 285 Kab.10 1.82 828.003.54 120.906.61 2. Tabanan 2009 2010 Jumlah 280 Kota Denpasar 2009 2010 Jumlah Prov.89 33.68 199.44 743.032.68 8.87 23.39 1.998.661.33 1.63 201.295.66 1.47 376.49 129. Lombok Timur 2009 2010 Jumlah 287 Kab.378.461.94 69.97 7.191.828.07 60.676.94 1.02 37.39 1.11 6.04 2.175.66 782.55 1.217.46 430.92 226.85 126.19 3.52 710.54 580.26 59.52 2.20 151.47 915.50 11.15 430.663.27 21.638.84 35.806.42 3.811.99 281 2009 2010 Jumlah 71 90 161 23 27 50 85 25 110 46 114 160 76 82 158 47 94 141 39 22 61 96 61 157 26 26 34 46 80 5.33 537.217.678.131.19 20. Lombok Tengah 2009 2010 Jumlah 286 Kab.638.333.43 44 90 134 1 27 28 83 25 108 27 114 141 68 82 150 41 94 135 22 22 61 61 122 26 26 46 46 2.783.29 1.94 828.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 278 2 Kab.78 - 11 11 9 9 2 2 12 12 4 4 3 3 8 8 9 9 15 15 3.61 50.04 4.314.52 28.947.43 34.43 2.487.47 151.33 32.94 40.84 34.86 12.29 2.

25 2.825.413.24 1.30 2.96 1.07 5.45 0.76 173.60 258.47 7.83 402.20 1.73 1.47 66.823.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 36.62 4.62 0.96 0.96 1.68 227.22 407.026.817.60 258.45 1.27 5. Manggarai Barat 4 111 80 191 76 155 231 55 80 135 62 149 211 23 33 56 49 56 105 106 75 181 23 113 136 83 42 125 Nilai 5 299.94 2.69 33.85 996.16 36.93 27.70 92.11 940.63 63.83 8.89 676.817.073.139.55 29.679.83 24.91 492.27 6.127.00 5.489.340.59 10.186.76 6.18 31.301.17 1.30 1.00 5.08 3.93 3.28 735. Lembata 2009 2010 Jumlah 299 Kab.071.676.62 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 9 6 15 15 11 26 34 28 62 1 9 10 8 25 33 19 14 33 5 59 64 21 16 37 Nilai 9 31.24 1.59 1.94 4.24 63.02 536.87 2.79 29 29 24 14 38 33.25 37.308.14 1.227.23 27 27 5 21 26 5.03 999.287.59 10.83 402.18 33.07 90.06 56.384.21 27.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 291 2 Kota Mataram 3 2009 2010 Jumlah 292 Prov.09 6.76 6.61 3 5 8 633.96 36.57 5.73 715.27 Jml 6 19 19 53 15 68 13 36 49 25 10 35 19 19 1 11 12 15 25 40 18 48 66 54 10 64 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 14.00 0.69 2.62 300 2009 2010 Jumlah 53 49 102 4.182. Kupang 2009 2010 Jumlah 298 Kab.76 48.45 145.859.70 92. Flores Timur 2009 2010 Jumlah 297 Kab.00 36.31 4.558.26 5.25 37.40 66.00 917.380.82 1.78 785.68 227.026.581.063.053.40 66. Nusa Tenggara Timur 2009 2010 Jumlah 293 Kab. Belu 2009 2010 Jumlah 295 Kab.62 816.579.66 16 3 19 399.16 7.18 31.558.30 845.890.07 5.190.85 37 37 1 12 13 450.110.51 274.86 1.24 56.38 594.61 2.22 6.827.05 3.51 10.825.31 4.30 2.60 145.09 1.68 1.57 1. Alor 2009 2010 Jumlah 294 Kab.380.60 34 41 75 3.98 5.097.14 1.638.00 392.26 1.581.060.013.18 33.51 763.43 399.86 5.23 302 Kab.32 3.16 8.30 450.542.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 88 80 168 14 134 148 27 33 60 3 111 114 22 5 27 40 20 60 72 36 108 6 6 8 16 24 Nilai 11 254.91 492.101.24 6.22 1.98 5. Nagekeo 2009 2010 Jumlah 127 .47 7.24 63.268.559. Sabu Raijua 2009 2010 Jumlah 303 Kab.00 392.31 7.496.97 6.69 7.83 24.606.19 129.Halaman 24 .026.62 914.502.87 93. Manggarai Timur 2009 2010 Jumlah 93 93 30 47 77 6.403. Manggarai 2009 2010 Jumlah Kab.35 270.17 55.678.046.37 0.07 90.271.47 66.10 1.37 34.00 145.384.227.69 845.370.773.02 3.60 145.41 10.93 486.19 129.03 8.51 48. Ende 2009 2010 Jumlah 296 Kab.898.218.61 301 Kab.72 2.634.22 31.37 34.340.16 14.230.93 486.026.918.210.55 29.308.48 1.217.

08 31.05 7.715.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 116.680.08 73.32 82 24 106 9 8 17 188.70 185.12 1.32 315 Kab.22 155.70 8 34 42 24 20 44 88 34 122 33.052.60 12.37 84.001.713.00 12.08 1.493.48 Jml 6 26 20 46 13 15 28 12 27 39 63 35 98 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 116.175.70 116.86 292.242.608.11 0.029.636.74 1.98 4.86 2.72 1.32 120.21 487.089.30 2.94 316.11 5.60 1.66 7.98 673.979.51 252.45 2.38 34.00 1.44 390.226. Sumba Barat Daya 4 28 59 87 28 54 82 19 58 77 85 72 157 Nilai 5 322.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 304 2 Kab.859.873.94 316.49 2.92 1.536.19 21.166.66 2.368.87 3.28 1.81 1.06 2.19 1.70 2.649. Timor Tengah Utara 2009 2010 Jumlah 31 97 128 39 71 110 883.32 120.60 3 13 16 10.052. Timor Tengah Selatan 2009 2010 Jumlah 54 78 132 367.844.18 529.19 21.645.47 10 29 39 23 3 26 73.214.50 1.21 317.80 184.654.45 927.759.54 313 Kota Kupang 2009 2010 Jumlah 314 Prov.54 282.03 2.60 6.00 5.89 7.254.009.18 710.90 12.49 9.744.73 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 18 11 32 43 2 18 20 6 24 30 Nilai 11 6.54 282.169.49 0.847.379.22 1.153.10 27 95 122 12 71 83 179.31 33.755.10 227.54 3 2 5 4 4 553.636.46 1.23 393.81 3.09 227.70 2.53 1.24 111 81 192 30 19 49 91.10 73.01 3.46 2.00 185.99 19 19 12.70 185. Rote Ndao 2009 2010 Jumlah 306 Kab.029.90 73.892.46 2.21 6.76 2.49 51 46 97 343.04 3.08 120.24 4.785.00 5.537.57 224.536.60 0.552.33 584.079.667.56 112.146.680.61 309 Kab.08 5.61 3 2 5 16 18 34 31 6 37 0.785.814.93 1.001.785.87 150.02 1.214.17 5.681.515.727.681.Halaman 25 .04 3.27 1.492.46 1.80 184.966.78 13 9 22 6 24 30 24 48 72 3.41 3.07 3.264.40 308 2009 2010 Jumlah 24 45 69 46 62 108 143 88 231 36.05 1.15 485.757.71 638.264.70 3.00 116.96 123.457. Sumba Barat 2009 2010 Jumlah Kab.11 185.60 312 Kab.41 1.59 4.26 6.70 0. Sumba Timur 2009 2010 Jumlah 311 Kab.95 3.00 2.27 1.00 0.08 73.785. Kalimantan Barat 2009 2010 Jumlah 203 134 337 62 30 92 279. Sikka 2009 2010 Jumlah 307 Kab.629.78 756.74 31.509.74 142.044.934.728.08 120.271.80 6.64 1.54 1.99 7.645.141.122.46 1.40 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 21 23 4 7 11 5 13 18 16 13 29 Nilai 9 205.91 97.89 4.45 6.61 5.59 4.629.54 1.11 5.438.01 3.08 5.22 195.22 1.77 158.870.013. Ngada 3 2009 2010 Jumlah 305 Kab.29 94.45 190.56 1.87 11.22 155.60 1.00 5.67 679.79 2.64 451.357. Bengkayang 2009 2010 Jumlah 128 .515.00 23 23 150. Sumba Tengah 2009 2010 Jumlah 310 Kab.13 7.081.51 314.872.90 811.

115.302.62 1.34 228.90 27.06 18. Kayong Utara 2009 2010 Jumlah 318 Kab.201.302.79 27.771.66 1.576.482.41 5.187.94 12.07 11.13 45.58 26.334.950.18 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 405.110.75 25.62 3.87 19.415.193.66 1.84 143.50 1.595. Landak 2009 2010 Jumlah 321 Kab.79 27.04 8.02 5.19 2.99 3.33 65.717. Kubu Raya 2009 2010 Jumlah 320 Kab.95 126.193.099.603.13 82.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 5 28 33 49 49 18 18 10 42 52 48 69 117 30 26 56 19 19 78 72 150 12 40 52 31 31 16 39 55 21 46 67 Nilai 11 2.295.11 143.22 6.49 5.548.29 18.231.24 624.20 2.53 16.362.12 6.214.407.630.96 927.41 8.23 5.90 541.95 2.616. Ketapang 2009 2010 Jumlah 319 Kab.22 46.36 4.878.34 228.595.91 11.07 400.06 974.762.739.11 541.137.11 143.241.476. Sintang 2009 2010 Jumlah 327 Kota Pontianak 2009 2010 Jumlah 328 Kota Singkawang 2009 2010 Jumlah 4 120 35 155 115 79 194 90 47 137 56 56 63 42 105 56 69 125 70 28 98 20 52 72 80 100 180 96 40 136 59 46 105 136 44 180 94 46 140 Nilai 5 41.96 624.75 405.36 11.12 3.46 3.739.12 3. Pontianak 2009 2010 Jumlah 323 Kab.462.79 974.80 2.413.28 75.06 974.75 25.38 83.61 223.038.07 400.41 1.84 172.50 403.004.11 541.45 2.555.017.19 4.734.33 3.26 3.731.305.00 231.06 1.27 12.267.47 18.295.75 405.63 545.07 989.96 927.521.90 541.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 68 23 91 71 24 95 30 28 58 15 15 14 14 7 7 24 1 25 13 13 1 14 15 30 30 23 18 41 56 3 59 13 13 Nilai 9 41.52 102.939.05 2.334.50 228.328.474.931.362.45 545.49 3.380.84 143.927.91 923.02 21.114.90 789.147.Halaman 26 .017.143. Kapuas Hulu 3 2009 2010 Jumlah 317 Kab.27 11. Sanggau 2009 2010 Jumlah 325 Kab.06 114.63 114.04 223.82 3.74 923.04 24.197.19 6.33 3.328.721.676. Sambas 2009 2010 Jumlah 324 Kab.87 4.34 129 .06 114.187.038.74 45.286.236.371.63 114.27 2.98 848.79 2.32 4.946.839.33 67.004.72 105.218.63 3. Melawi 2009 2010 Jumlah 322 Kab.00 231.49 1.617.12 88.98 5. Sekadau 2009 2010 Jumlah 326 Kab.072.19 16.50 403.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 316 2 Kab.74 989.32 Jml 6 52 12 64 39 27 66 11 19 30 23 23 39 39 1 1 16 1 17 20 20 40 1 14 15 54 54 5 28 33 64 2 66 60 60 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 405.72 3.476.02 3.60 20.41 624.613.50 228.322.07 21.61 79.07 20.35 1.286.392.06 595.33 16.07 25.771.36 3.201.457.90 27.07 25.79 974.84 172.074.676.12 3.96 3.54 84.19 3.34 26.11 4.22 46.576.

Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 329 2 Prov.84 16.66 1. Barito Selatan 2009 2010 Jumlah 331 Kab.62 551.002.14 65.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 51 51 102 24 15 39 8 25 33 24 8 32 11 12 23 12 1 13 29 25 54 Nilai 9 252.16 69.794.622.17 574.96 5.07 11.095.38 8. Kotawaringin Barat 4 112 109 221 114 81 195 63 77 140 117 73 190 93 57 150 141 37 178 86 58 144 Nilai 5 344.13 1.213.379.18 44.75 141.71 163.494.124.83 177.444.47 4.352.450.27 17.124.818.663. Pulang Pisau 2009 2010 Jumlah 341 Kab.70 37.035.53 5.655.877.79 553.20 Jml 6 61 48 109 90 66 156 42 31 73 77 59 136 78 43 121 123 36 159 36 31 67 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 92.015.35 372.831.935.096.65 1.79 6.22 748.84 751.988.78 1.51 61.106.51 9.71 6. Murung Raya 2009 2010 Jumlah 340 Kab.65 28.213.851.01 16.690.36 23.82 2.36 83.199.185.741.43 - 338 Kab.534.042.383.29 173.44 289.45 401.218.047.335.58 8.959.95 25.836.43 1.51 12.237.71 28.243.42 1.145.114.49 351.08 738.042.56 43.81 54.345.115.078.32 2.832.41 10.40 23.84 23.474.99 18.346.980.93 1.68 12.81 7.31 724.124.47 83.05 108.24 7 5 12 13.796.577.468.794.676.98 317.21 7.81 6.981.14 12.43 53.225.83 4.686.51 28.20 57.418.602.843.54 16.44 35.19 4.959.539.792.549.966.54 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 9.94 150.51 28.98 22.093.95 27. Barito Utara 2009 2010 Jumlah 333 Kab.95 28.198.049.25 30.05 173.347.51 173.950.478.31 914.90 170.23 - 337 Kab.574.795.95 80.166.004.187.70 145.97 83.63 3.823.84 310.339.887.078.036.081.34 340.168. Katingan 2009 2010 Jumlah Kab.708.046.98 44.18 10.445.19 - 336 2009 2010 Jumlah 140 77 217 115.38 27 74 101 3 6 9 19 22 41 37 27 64 71 5 76 97.742.612.36 14. Kapuas 2009 2010 Jumlah 335 Kab.511.293.68 29.390.792.52 3.815.279.95 21.804.591.34 246.243.689.724. Kotawaringin Timur 2009 2010 Jumlah 91 125 216 76 26 102 109 101 210 75 53 128 102 63 165 164.50 30.397.34 31.657.94 13.59 496. Kalimantan Tengah 3 2009 2010 Jumlah 330 Kab.768.40 3.329. Lamandau 2009 2010 Jumlah 339 Kab.36 3.38 14.95 29.19 61.31 27.46 13.085.328.218.880.021.01 6 3 9 25.310.17 31.Halaman 27 .67 13.032.259.549. Barito Timur 2009 2010 Jumlah 332 Kab.126.262.65 22.20 10.42 17.02 51.730.13 2.366.18 2 12 14 23 5 28 5 2 7 8 53 61 65.33 2.509.82 5.91 72.535.00 47.269.87 2.79 13.681.12 10.768.66 6.77 10.197.46 3.44 91.216.05 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 10 13 21 34 16 6 22 4 2 6 6 6 21 2 23 Nilai 11 4.95 1.93 10.521.191.069.48 991.01 17.10 46.82 44.071. Seruyan 2009 2010 Jumlah 130 .50 15.34 30.329.425. Gunung Mas 2009 2010 Jumlah 334 Kab.768.25 37.34 111.67 12.921.74 62 39 101 73 20 93 67 74 141 33 24 57 23 5 28 2.16 898.38 167.14 22.49 127 69 196 76.509.49 39.

02 989.981.24 256.60 2.23 82.40 10.82 1.00 25.465.24 6 44 50 13 13 1 14 15 140.43 1.930.37 33 7 40 25 19 44 34 2 36 30 16 46 254.865.79 373.641.13 119.831.23 690.01 19.69 25 41 66 9 15 24 6 19 25 4 23 27 351.46 105.945.61 992.05 1.91 91.97 349 Kab.727.50 1 26 27 1.71 242.58 104.41 28.13 41.059.86 1. Hulu Sungai Selatan 2009 2010 Jumlah 22 29 51 3.697.103. Kalimantan Selatan 4 61 62 123 64 87 151 Nilai 5 77.05 105.58 146.95 331.787.03 345 Kab.63 74.53 19.93 173.096.93 551.891.726.842. Hulu Sungai Utara 2009 2010 Jumlah 35 11 46 39 93 132 39 17 56 38 42 80 754.97 560.38 200.67 2 4 6 8 30 38 5 2 7 7 12 19 500.64 1.26 25.93 440.847.13 221.72 4.53 41.04 426.93 Jml 6 33 1 34 23 18 41 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 74.377.36 1.30 1.89 422.71 357.90 1.82 387.60 313.17 19.79 373.24 256.67 17.102.528.57 17 2 19 105.112. Barito Kuala 2009 2010 Jumlah 348 Kab.81 2.041.69 104.97 320.38 22.616.635.52 103.823.709.93 140.98 1.49 2.745.672.30 3.849.309.82 344 2009 2010 Jumlah 69 118 187 77 35 112 32 68 100 21 61 82 615.751.97 3.781.38 20.13 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 60 70 33 28 61 Nilai 11 28.92 205.841.468.531.050.62 74.604.87 8.46 4 1 5 2.17 75.79 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 1 19 8 41 49 Nilai 9 3. Tabalong 2009 2010 Jumlah 353 Kab.939.56 1.691.36 1.10 730.65 28.31 3.35 5.39 16 17 33 1.67 297.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 387.315. Sukamara 3 2009 2010 Jumlah 343 Kota Palangkaraya 2009 2010 Jumlah Prov.13 119.308.83 276.17 51.51 18.85 2.52 28.13 277.629.00 304.92 1.67 4.68 90.031.769.992.896.94 438.98 1.793.604.56 374.97 8.270.737.00 16.97 2.96 73.528.42 740.85 365.778.08 17.39 8.00 1. Tanah Bumbu 2009 2010 Jumlah 131 .246.246.Halaman 28 .015.92 2.13 2.69 877.94 218.74 325.67 1.478. Banjar 2009 2010 Jumlah 347 Kab.976.59 997.520.55 1.75 516.342.424. Kotabaru 2009 2010 Jumlah 352 Kab.99 2.75 75.12 2 5 7 276.25 92.39 5.928.35 17.958.36 1.69 96.59 2.941.13 2.438.503.318.75 267.40 2.041.384.985.96 2.69 103.74 2.719.12 350 Kab.70 4.39 205.15 96.08 44 41 85 68 20 88 25 37 62 17 34 51 74.147.91 28.05 15.80 4.92 351 Kab.67 242.47 1.30 161.086.31 72.83 13 13 60.38 114. Hulu Sungai Tengah 2009 2010 Jumlah 18 35 53 1.806.95 2.742.26 5.735.377.41 6. Balangan 2009 2010 Jumlah 346 Kab.56 25.45 254.81 2.31 3.71 0.56 132.89 236.078.34 36 36 1 12 13 4 4 189.71 25.26 408.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 342 2 Kab.99 358.75 75.63 43.316.67 297.

41 1.27 33.22 1.11 240.73 135.742.807.294.97 532.36 34 56 90 74 61 135 30 53 83 7 12 19 24 24 92.64 50.201.90 - 241.58 857.056.59 377.82 45.61 29.381.219.58 10 12 10 47 3 50 20 3 23 31 24 55 43 43 1.938.451.287.084.14 1.960.574.96 346.39 1.803.63 1.01 4.76 24.87 2.25 340.53 1.43 995.71 346.185.13 854.50 1.56 962.879.30 17.62 2.866.582.53 13.337.052.83 2.73 1 1 4 4 8 1 4 5 6 66 72 17 31 48 13.55 3.611.01 29.76 24.70 58.27 586.737.408.72 346.742.05 31 31 3 14 17 - 135.69 12.25 11.07 67.00 950.062.195.668. Kutai Barat 2009 2010 Jumlah 362 Kab.100.07 362.813.30 3.784.23 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 7 7 1 8 9 2 8 10 7 10 17 Nilai 9 1.95 1.000.67 4.38 39.94 29.195.807.084.25 99.64 16.00 84. Berau 2009 2010 Jumlah 360 Kab.61 67.25 1.76 1.718.152.62 2.27 586.37 186.25 23 18 41 4 4 33 42 75 2 2 81.12 4.42 1.81 125.80 905.25 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.64 1.211.43 17.54 1.451.42 3. Malinau 2009 2010 Jumlah 365 Kab.19 19 62 81 6 2 8 39 7 46 1 6 7 235.47 450.674.40 377.95 579.85 46.571.47 450.92 556.834.092.329.58 857.64 46.235.37 398.96 5.92 556.668.12 1.05 32.12 32.28 499.73 622.680.710.39 - 363 Kab.30 1.168.504.90 622.79 44.876.59 15.047.440.84 37.037.28 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 354 2 Kab.46 767.19 359 Kab.192.340.76 127.074.285.74 849.34 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 36 36 1 1 28 28 40 40 Nilai 11 1.46 3.97 537.13 122.49 20.36 33.64 42.97 510.33 986.83 2.34 37.038.92 12.303.646.30 17.74 219.65 23.287.12 240.33 4. Tapin 2009 2010 Jumlah 356 Kota Banjarbaru 2009 2010 Jumlah 357 Kota Banjarmasin 2009 2010 Jumlah Prov.252.25 962.41 1.50 420.61 29.59 29.62 71.00 1. Bulungan 2009 2010 Jumlah 361 Kab.43 17.13 480.030.906.96 5.28 499.879. Kutai Timur 2009 2010 Jumlah 364 Kab.28 219.49 1.98 169.287.834.860.876.542.875.30 99.086. Nunukan 2009 2010 Jumlah 366 Kab.43 208.56 1.13 122.079. Paser 2009 2010 Jumlah 132 .216.91 32.062.82 Jml 6 20 3 23 15 12 27 22 24 46 29 22 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.185.219.55 41.803.08 362.Halaman 29 .037.21 3.36 39.60 68.340.12 159.25 84.053.75 86.794.00 275.362.504.30 1.875.61 1.27 67.22 105.97 126.542.43 190.23 1.73 16.11 909.112. Kalimantan Timur 4 27 39 66 17 20 37 24 60 84 36 72 108 Nilai 5 2. Tanah Laut 3 2009 2010 Jumlah 355 Kab.87 2.90 533.285.745.25 151.97 389.22 48.12 24.95 1.86 29.89 43.46 1.00 67.238.43 91.57 358 2009 2010 Jumlah 42 111 153 10 2 12 75 63 138 3 6 9 316.680.42 453.953.066.047.33 84.267.65 12.710.31 377. Kutai tanegara Kar- 2009 2010 Jumlah 45 68 113 125 68 193 51 60 111 44 102 146 84 31 115 94.

13 - - - 376 9 9 400.231.164.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 367 2 Kab.96 1.072.77 66.772.85 728.74 664.12 240.13 6.68 5.53 236.12 1.00 100. Tana Tidung 2009 2010 Jumlah 369 Kota Balikpapan 2009 2010 Jumlah 370 Kota Bontang 2009 2010 Jumlah 371 Kota Samarinda 2009 2010 Jumlah 372 Kota Tarakan 2009 2010 Jumlah 373 Prov.531.85 2.448.672.398.98 462.337.74 5 5 261.32 654.582.06 6.35 144.137.939.76 35.88 4.053.76 506.92 506.45 411.01 5 5 7 31 38 18.981.30 55.549.662.01 220.67 41.261.37 2.58 Jml 6 22 22 11 11 7 3 10 27 44 71 15 9 24 4 3 7 34 3 37 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 29.674.251.724.53 2.45 321.92 778.09 230.144.94 1.62 6.208.47 52.10 3.09 - 377 23 28 51 21 61 82 4.39 100.28 419.752.059.03 283.569. Bolaang gondow Mon4 43 66 109 55 55 37 82 119 66 96 162 57 150 207 7 3 10 49 45 94 Nilai 5 140.39 185.658.580.03 13.24 404.066.36 204.94 37.63 39.88 15. Bolaang Mon2009 gondow Selatan 2010 Jumlah Kab.00 21.909.45 506.34 344.62 236.895.602.19 45.35 1.16 374 2009 2010 Jumlah 30 46 76 625.591.06 4.82 227.85 12 19 31 7 7 14 4.210.36 805.59 36.24 1.010.837.936.28 17.412.35 157. Penajam Paser Utara 3 2009 2010 Jumlah 368 Kab. Minahasa 2009 2010 Jumlah 133 .54 4.92 2.28 728.29 805.016.09 - - - - 9 9 400.32 378 Kab.660.84 228.Halaman 30 .569.29 2.918.163.60 86.970.19 200.14 234.77 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 55 57 24 24 5 22 27 2 2 9 23 32 7 34 41 Nilai 11 3.79 86.14 2.14 45.671. Bolaang Mon2009 gondow Utara 2010 Jumlah 21 21 664.45 3.222.057.79 179.49 6 9 15 7 23 30 71.394.60 13.241.63 157.45 71.76 506.967.253.25 548.49 124.13 403.07 778.48 6.909.19 334.32 448.58 8.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 7.85 200.60 2.16 998.946.62 1.110.174.828.088.56 21.13 8.32 236.837.01 652.83 18 9 27 359.60 261.167.38 4 7 11 - 8 30 38 265.09 173.347.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 19 11 30 20 20 25 57 82 39 50 89 33 118 151 3 3 8 8 16 Nilai 9 107.45 212.05 112.76 2.403.54 2.014.412.970.93 110. Sulawesi Utara 2009 2010 Jumlah Kab.96 2.55 419.339.014.935.106.541.681.60 16 16 403.588.53 248.26 7.245. Bolaang Mon2009 gondow Timur 2010 Jumlah Kab.54 3.45 - 375 Kab.91 49.92 29.92 771.330.09 400.711.37 2.09 400.45 7.83 440.

117.034. Minahasa Selatan 3 2009 2010 Jumlah Kab. Sulawesi Tengah 2009 2010 Jumlah 98 160 258 33 136 169 156.121.04 36.20 1.73 1.881.90 1.57 3.500.066.200.16 77.327.64 107.071. Kepulauan Talaud 2009 2010 Jumlah 44 60 104 52 51 103 21 46 67 31 56 87 7 41 48 112.877.661.55 1.352.63 1.689.30 4.94 243.73 1.41 246.771.77 8.20 12 12 8 2 10 223.531.360.877.95 627.41 39.64 13 50 63 25 19 44 14 7 21 29 39 68 2 32 34 78.41 79.66 354.14 13 21 34 680.86 40.23 1.83 5.12 64.13 718.277. Minahasa Tenggara 4 21 22 43 Nilai 5 28.57 29.37 23.55 21.60 11.73 79.41 3.32 2.193.63 35. Kepulauan Sangihe 382 2009 2010 Jumlah 24 49 73 12.80 5.80 40.41 77.73 409.292.23 18 2 20 5 13 18 3 25 28 1 1 2 3 5 8 575.343.45 484.643. Siau Tagulandang Biaro 2009 2010 Jumlah 23 30 53 7.67 1.402.34 10 9 19 2.10 5.770.77 26 64 90 7 36 43 14.23 711.071.69 22.87 15.96 2.981.527.135.62 346. Banggai 2009 2010 Jumlah 134 .20 243.07 25 25 - 126.23 14.49 21.705.248.197. Kep.25 57.06 3.443.19 680.356.73 8.708.65 490.31 13.39 118.521.936.005.76 126.35 223.928.00 505.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 13 31 Nilai 11 28.40 7.588.73 1.57 10 1 11 11.802.810.610.35 963.575.31 13.14 1.36 970.76 126.385.08 2.76 383 Kab.77 1.121.352.82 8.80 77.165.68 13 92 105 67 67 127.16 77.56 81.105.44 680.511.84 2.052.039.040.95 627.14 8 27 35 17 39 56 243.584.174.813.23 2.75 243.22 5.521.51 37.95 1.993.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 379 2 Kab.60 - 4.91 75.62 77 41 118 16 30 46 28.89 5.76 1.63 66.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 380 2009 2010 Jumlah 38 64 102 25 39 64 15.Halaman 31 .84 409.63 8.89 684.29 897.419.928.89 51.20 11.054.78 127.033.653.50 165.843.04 37.324.53 279. Minahasa Utara 2009 2010 Jumlah Kab.57 1.68 79.352.57 29.242.20 381 Kab.96 3.624.67 1.996.954.98 3.02 130.62 390 Kab.187.255.84 22 19 41 126.76 1.775.31 Jml 6 1 9 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 2 Nilai 9 51.174.76 2 5 7 12.783.814.44 384 Kab.49 185.175.26 333.91 2.835.612.04 22.592.98 9.37 13 8 21 22 19 41 4 14 18 1 16 17 2 4 6 34.942.16 - 385 Kota Bitung 2009 2010 Jumlah 386 Kota Kotamobagu 2009 2010 Jumlah 387 Kota Manado 2009 2010 Jumlah 388 Kota Tomohon 2009 2010 Jumlah 389 Prov.15 227.72 39.16 1.44 3.17 8.802.80 1.83 662.43 506.971.144.10 8.06 9.52 1.07 806.20 906.20 11.245.187.36 1.470.48 1.039.

52 971.393.07 371.85 3.22 153.16 8.75 296.35 5. Parigi tong Mou4 50 121 171 114 95 209 75 119 194 96 106 202 Nilai 5 12.732.80 11.00 6.87 1.70 5.62 415.26 181.623.78 138.795.00 63.35 31.80 3.685.07 3.31 2.27 8.884.366.93 4.28 525.44 577.76 4 5 9 18 3 21 7 7 8 10 18 18 5 23 2.86 247.847.675.59 15.030.90 2.97 3.414.11 96.28 131.620.195.14 1.00 4.23 42.Halaman 32 .830.60 2.675.39 107.254. Buol 2009 2010 Jumlah 393 Kab. Tolitoli 2009 2010 Jumlah 400 Kota Palu 2009 2010 Jumlah 401 Prov.405.607.07 577.51 371.92 23.77 978.115.10 15.484.763.305.90 759.78 138. Banggai Kepulauan 3 2009 2010 Jumlah 392 Kab.633.232.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 391 2 Kab.847.44 371.43 722.43 4 24 28 8 8 14 14 9.28 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 42 44 37 22 59 31 66 97 40 74 114 Nilai 11 2.23 42.15 8.95 4.00 469.98 291.063.630.034.885.965.898.74 107.931.55 9.39 710.44 228.75 4.838.009.623.68 2.530.89 149 72 221 25 55 80 1 31 32 47.051.43 18.84 1.49 6.66 5.07 3.50 469.034.381.659. Bantaeng 2009 2010 Jumlah 403 Kab.41 67.62 415.65 922.85 5.65 3.01 2.15 21.83 80.103.92 9.847.793.49 172.79 4.885.182.374.12 2.35 2.535.43 722.357.65 76.17 396 Kab.14 722.983.393.17 13.50 326.501.89 2.23 5.49 2.139.07 10.607.00 167.111.83 172.26 181.47 129.300.482.65 1.244. Tojo Una-Una 2009 2010 Jumlah 399 Kab.795.43 402 Kab.90 759.64 153.54 19.420.158.821.49 2.300.51 3.29 849. Poso 2009 2010 Jumlah 397 Kab.75 24.16 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1. Barru 2009 2010 Jumlah 135 .033.17 34 40 74 35 33 68 68 68 46 30 76 23 23 94 80 174 5.532.055.56 Jml 6 4 41 45 73 68 141 2 9 11 2 3 5 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.12 2.216.107.33 978.26 5.127.60 4.29 849.75 4.65 247.11 6.717.51 79.237.795.73 829.603. Morowali 2009 2010 Jumlah Kab.70 4.37 83.080.525.523.119.306.115.36 81.11 395 2009 2010 Jumlah 86 126 212 75 83 158 121 121 87 85 172 159 65 224 116 90 206 9.14 326.575.40 7.000.372.251.60 80.11 2.569.286.324.49 48 81 129 22 47 69 46 46 33 45 78 136 65 201 4 5 9 1. Sulawesi Selatan 2009 2010 Jumlah 154 100 254 49 55 104 34 31 65 57.64 722.833.68 527.11 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 44 38 82 4 5 9 42 44 86 54 29 83 Nilai 9 10.61 4.83 710.26 664.75 1.88 872.79 4.03 88.76 1.34 4.969.57 971.109.907.502.87 19.95 7.44 371.627.50 169.110.50 829.88 872.09 2.22 445.45 292.44 335.747.50 1.863.987.324.869.92 9.52 1.48 229.011.82 5.29 7.44 5.238.30 2.75 7.980.095.074.40 2.15 12.33 13.70 15.33 3.59 1.85 4.411.85 7.49 335.55 73. Sigi 2009 2010 Jumlah 398 Kab.838.34 1 4 5 16 16 19 19 445.625.249.53 3.78 11.444.074.051.357. Donggala 2009 2010 Jumlah 394 Kab.75 43.53 5.82 63.16 4.74 7.00 3.

29 291.94 235.751.18 1.417.88 413 28 38 66 46 40 86 84 76 160 827.61 3.77 36.07 36.64 2. Enrekang 2009 2010 Jumlah 407 Kab. Bulukumba 2009 2010 Jumlah 406 Kab.755.31 1.16 63.31 12.77 3.73 1.692.62 10.15 383.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 404 2 Kab.006.75 2.976.40 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 64 64 32 21 53 27 38 65 1 5 6 2 60 62 8 22 30 1 15 16 10 66 76 31 110 141 Nilai 11 1. Gowa 2009 2010 Jumlah 408 Kab.72 31.266.80 187.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 34 47 2 2 1 1 17 21 38 25 25 20 50 70 16 17 33 19 19 29 29 Nilai 9 223.744.121.13 16.27 636.915.415.81 6.546.08 636.496.75 50.66 5.792.90 166.553.36 1.26 398.85 1.29 291.974.90 152.08 242.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 260.88 6.59 398.36 1 56 57 595.94 136 .09 1.62 4.24 4.440. Luwu 2009 2010 Jumlah 410 Kab.00 1.175. Bone 3 2009 2010 Jumlah 405 Kab.40 1.623.77 51.546.64 2.19 636.27 383.13 1.19 711.59 1.66 1.02 15.458.09 2.856.40 31.31 15.27 187.93 1. Jeneponto 2009 2010 Jumlah 409 Kab.18 3. Luwu Utara 2009 2010 Jumlah 412 Kab.11 2.94 17 17 1.90 166.88 152.77 942.348.974.308.24 235. Pangkajene dan 2009 Kepulauan 2010 Jumlah 414 Kab.31 399.440.75 7.744.11 1.066.16 252.686. Pinrang 2009 2010 Jumlah 415 Kab.348.31 3.50 53.94 235.19 23.57 303.72 870. Maros 2009 2010 Jumlah Kab.185.18 11 11 8 23 31 38 38 790.40 808.248.45 10.417.12 188.45 565.25 35.36 170.533.14 1.607.77 979.31 790.22 43.73 50.86 2.708. Luwu Timur 2009 2010 Jumlah 411 Kab.52 565.64 2.24 2.54 3.62 3.88 152.039.80 274.828.131.72 2.26 416 2009 2010 Jumlah 38 56 94 2.31 3.269.035.01 37 11 48 45 45 36.26 2.75 420.003.331.49 420.90 152.58 10.51 1.57 303.92 289.49 346.74 470.10 97.40 480.54 2.73 83.201.59 9.84 295.22 43.915.77 36.14 1.77 20.28 1.90 166.80 4.440.91 13.556.792.90 166.303.415.00 4.131. Sidenreng Rappang 4 23 122 145 43 26 69 29 38 67 59 42 101 79 60 139 31 77 108 52 39 91 32 66 98 92 110 202 Nilai 5 483.67 83.09 Jml 6 10 24 34 11 3 14 1 1 41 16 57 52 52 3 5 8 35 7 42 3 3 32 32 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 260.006.006.003.51 187.569.039.751.50 281.82 188.91 13.10 4.12 289.915.32 549.248.544.379.892.59 274.30 163.94 10.659.62 1.03 695.62 223.269.31 2.507.84 2.73 3.562.10 97.63 1.003.75 17 38 55 1 6 7 1 76 77 2.915.19 1.686.Halaman 33 .92 281.27 187.55 20 20 235.31 3.050.93 1.486.683.61 2.597.036.59 1.46 2.348.792. Selayar 2009 2010 Jumlah Kab.19 19.26 1.366.839.036.18 1.50 558.

68 620.25 213.340.107.69 7.85 22.42 32 2 34 32 25 57 29 69 98 47.81 6.64 1.624.15 1.29 129.81 502.22 121.792.99 90.324.57 427 Kab.550.02 2.96 3.99 73.546.65 22.843.41 103.116.91 22.462.49 6.14 241.99 12.52 2.61 5.43 17.099.929.57 285.814.44 28. Soppeng 2009 2010 Jumlah 419 Kab.81 155.734.788.197.191.85 6.644.43 5.83 916.328.108.281.331.16 1.191.56 1.33 1.25 17.631.43 182.475.52 6.612. Tana Toraja 2009 2010 Jumlah 421 Kab Tana Toraja Utara 2009 2010 Jumlah 4 47 72 119 35 45 80 38 55 93 45 77 122 31 31 Nilai 5 438.806.986.02 129.636.27 423 Kota Makassar 2009 2010 Jumlah 424 Kota Palopo 2009 2010 Jumlah 425 Kota Parepare 2009 2010 Jumlah 426 Prov. Sulawesi Tenggara 2009 2010 Jumlah 243 200 443 183 80 263 47 50 97 72 92 164 79.77 34 6 40 2 2 15 21 36 7 9 16 16.11 328.953.78 5.612.72 177 192 369 183 78 261 4 4 36 14 50 15.80 502.380.79 1.28 6.106.47 3.15 1.893.605.713.409.43 241.734.79 5.80 22.748.56 8.891.91 22.Halaman 34 .96 9.279.69 6.408.17 54.95 2.92 1.98 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 15 72 87 2 2 27 52 79 19 77 96 31 31 Nilai 11 286.55 7.94 31.53 9.31 10.626.96 620.32 4.29 1.92 24.774.81 8.81 7.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 22.12 81.63 71.80 502. Buton 2009 2010 Jumlah 429 Kab.469.328.986.94 37.81 502.886.191.47 5.468.15 5.17 771.61 9.29 129.027.409.134.21 151.96 595.183.593.513.35 2. Wajo 2009 2010 Jumlah 33 128 161 81 162 243 30 87 117 24 109 133 4.578.29 200.61 9.39 3.53 9.29 99.108.210.45 7.732.107.01 3.31 1.273.51 - 422 Kab.88 3.92 1.708.973.43 7.86 1.11 328.52 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 31 31 22 27 49 2 3 5 16 16 Nilai 9 129. Bombana 2009 2010 Jumlah 428 Kab.441.286.807.57 189.82 52.60 5.92 1.49 139.11 274.854.88 17 38 55 44 30 74 22 22 4 4 4.191.664.49 2.708.045.069.93 103. Buton Utara 2009 2010 Jumlah 137 .53 9.514.69 1.35 16.421.25 8.51 36.80 22.56 581.571.069.99 9.92 Jml 6 1 1 13 16 29 9 9 10 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.82 29.85 81.324.513. Sinjai 3 2009 2010 Jumlah 418 Kab.019.29 129.75 2.425.739.462.81 6.31 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 417 2 Kab.61 129.449.48 4. Takalar 2009 2010 Jumlah 420 Kab.57 189.97 2.44 15 29 44 31 3 34 2 2 20 20 139.03 4.07 1 61 62 6 129 135 6 87 93 109 109 581.38 30.565.061.57 6.689.58 30.20 220.875.975.572.29 1.91 45.975.625.27 595.586.81 8.96 620.975.613.893.84 1.68 620.36 172.07 200.147.394.95 69.812.32 916.31 12.

76 219.862.684.643.893.789.31 13.28 56.13 445.86 445.33 2.71 12. Konawe 2009 2010 Jumlah 433 Kab.520.79 3.756.893.88 348.148.241.31 3.09 3.29 14.25 5.697.025.731.08 447.041.416.068.666.07 416.89 278.470.537.62 Jml 6 45 18 63 61 27 88 11 3 14 48 6 54 7 15 22 26 26 26 40 66 22 20 42 57 18 75 46 46 76 76 35 35 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 8.10 18.343.032.707.819.77 4.53 171.46 5.734.17 57. Konawe Selatan 2009 2010 Jumlah 434 Kab.17 219.720.211.52 15.470.52 450.036.53 171.67 3.94 9.239.09 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 4 14 50 2 52 94 11 105 77 73 150 60 58 118 3 129 132 1 47 48 16 9 25 1 66 67 35 34 69 92 112 204 96 80 176 114 132 246 Nilai 11 483.22 3.707.510.84 46.758.520.73 447.95 1.20 24.66 177.29 5.759.249.99 13.212.99 97.39 670.809.08 1.79 416.047.79 1.322.502.496.341.662.45 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 263.909.25 4.72 10.672.58 49.572.496.94 42.91 65.215.505.141.51 13.51 3.735.237.93 1.95 2.017.066.99 97.51 1.43 4.51 445.95 70.482.438.12 9.54 24.67 4.37 8. Konawe Utara 2009 2010 Jumlah 435 Kab.935.19 11.00 3.045.04 10.05 41.007.050.96 34.72 797.494.86 1.13 97.16 450.13 8.569.803.551.707.62 10.70 35.77 10.45 460. Kolaka Utara 2009 2010 Jumlah 432 Kab.62 15.28 6.26 1.092.73 842.78 7. Boalemo 2009 2010 Jumlah 441 Kab.555.432.33 2.82 3.195.78 104.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 430 2 Kab.992.62 8.15 81.56 3.50 0.661.13 710.711.10 1.631.25 28.62 775.721.19 4.07 416.78 832.22 1.52 7.19 57.69 10. Bone Bolango 2009 2010 Jumlah 442 Kab.99 3.48 2.57 10. Kolaka 3 2009 2010 Jumlah 431 Kab.758.15 762.70 3.934.49 1.52 2.061.00 21.124.502. Wakatobi 2009 2010 Jumlah 437 Kota Bau-Bau 2009 2010 Jumlah 438 Kota Kendari 2009 2010 Jumlah 439 Prov.87 3.301.56 69.11 1.83 14.12 5.412.36 64.60 1.032.10 8.743.19 2. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 4 76 73 149 152 54 206 126 95 221 150 97 247 93 123 216 63 131 194 38 104 142 50 50 100 59 91 150 88 34 122 92 112 204 192 80 272 184 132 316 Nilai 5 9.179.26 1.06 460.014.46 107.77 8.698.36 14.37 2.651.94 8.71 13.54 163.00 43.893.56 1.417.13 97.82 3.429.Halaman 35 .25 3.49 24.119.79 57.99 3.289.860.00 6.09 12.73 842.488.415.179.96 1.224.987.613.17 778.631.37 5.468.10 14.638.79 416.20 13.99 21.497.84 52.83 1.707.05 5.258.89 1.79 3.26 800.90 7.329.467.792.012.13 670. Muna 2009 2010 Jumlah 436 Kab.62 11.557.12 3.67 26.744.283.171.59 41.89 13.467.600.34 13.45 12.66 14.98 17.758.90 1.719.465.13 445.189.592.557.07 138 .62 4.69 62.414.67 25.72 6.44 3.241. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 440 Kab.32 3.52 800.52 778.036.024.14 8.791.87 189.41 1.07 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 51 72 41 25 66 21 81 102 25 18 43 26 50 76 34 2 36 11 17 28 12 21 33 1 7 8 7 7 20 20 35 35 Nilai 9 1.87 3.71 1.024.

599.51 145.00 629.833.560.971. Polewali Mandar 2009 2010 Jumlah 452 Prov.59 48.983.15 11.749.146.673.863.37 160.174.261.013. Mamuju 2009 2010 Jumlah 450 Kab.94 450.169.75 5.42 2.384.94 5.446.61 29.290.871.830.69 35.959.37 131.321.46 5.33 23.62 1. Buru Selatan 2009 2010 Jumlah 455 Kab.131.633.17 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 6 60 66 81 53 134 90 134 224 33 40 73 5 69 74 16 57 73 8 57 65 5 72 77 5 73 78 36 99 135 16 74 90 78 78 13 13 Nilai 11 592.422.258.29 670.72 225.871.70 8.52 3.815.036.446.607.224.02 5.310.499.29 1. Maluku 2009 2010 Jumlah 453 Kab.51 47. Mamasa 2009 2010 Jumlah 449 Kab.76 76.92 253.44 48.801.036. Majene 2009 2010 Jumlah 448 Kab.89 243.29 1.043.61 29.554.149.60 34.30 30.269.871.87 898. Gorontalo Utara 2009 139 .32 35.830.07 18.311.321.414.62 Jml 6 47 47 17 17 18 18 10 3 13 28 28 17 17 25 4 29 31 31 28 2 30 25 6 31 37 37 46 46 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 580.51 26.32 1.881.241.17 71.61 580.43 14.085.231.024.07 642.65 517.080.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 24 24 21 21 55 54 109 40 40 19 19 52 71 123 59 59 53 23 76 83 15 98 22 22 20 20 Nilai 9 2.44 71.808.258.94 2.077.53 621.55 48.673.51 145.15 48.738.87 2.12 49.506.98 32.01 954.084.243.10 195.679.83 818.53 2.15 49.49 112.61 580.506. Mamuju Utara 2009 2010 Jumlah 451 Kab.084.206.29 160.70 6.58 21.94 6.084.952.543.29 160.601.85 5.290.91 6.04 28.883.64 12.70 145.90 6.67 22.Halaman 36 .49 629.53 5. Kepulauan Aru 2009 2010 Jumlah 4 77 60 137 98 53 151 129 134 263 98 97 195 73 69 142 52 57 109 85 132 217 95 72 167 86 98 184 144 120 264 75 74 149 78 78 79 79 Nilai 5 3.65 243.509.85 2.69 554.44 554.18 965.56 14.614.009.05 155.863.25 26.36 450.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 443 2 3 2010 Jumlah 444 Kab. Sulawesi Barat 2009 2010 Jumlah 447 Kab.01 9.169.43 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 580. Pohuwato 2009 2010 Jumlah 445 Kota Gorontalo 2009 2010 Jumlah 446 Prov.394.24 16.673.04 2.077.269.50 2.48 313.40 621.834.679.879.20 55.756.43 12.84 2.57 22.24 23.572.83 2.37 49.70 145.196.65 456.966.52 673.60 2.052.676.027.72 23.59 2.635.01 32.72 32.557.095.080.635.784.91 8.53 954.51 29.753.509.027.710.00 509.601.87 2.801.85 6.91 977.032.99 161.83 39.11 67.89 504.70 14.82 5.621.49 49.85 2.37 59.097.20 7.53 55.36 160.01 9.502.70 335.29 360.66 200.66 47.25 15.12 54.24 5.952.26 255.519.80 76.182.51 29.818.207.24 5.032.36 21.009.25 27.61 63.26 1.36 51.496. Buru 2009 2010 Jumlah 454 Kab.02 3.05 2.715.860.87 - Kab.01 16.278.59 818.43 1.871.43 1.79 11.32 7.

31 60.16 607.Halaman 37 .230.78 630.755.593.17 51.16 1.78 2.55 281.43 224.593.75 22 22 1.011.06 13 13 2.629.050.87 615.36 660.47 2.446.14 27.76 4 25 29 9.487.861.54 441.037.908.789.36 58.419.723.65 517. Seram Bagian Barat 2009 2010 Jumlah 96 96 27.84 1.18 19. Maluku gara Barat Teng4 165 59 224 111 79 190 Nilai 5 67.593.38 579.53 60.330.23 2.29 27.41 31.62 827.72 250.14 - - - - 96 96 27.47 17.731.56 49.25 1.56 250.332.75 467 Kab.14 817.21 574.52 16.21 42 37 79 801.310.593.061.97 462 Kota Ambon 2009 2010 Jumlah 463 Kota Tual 2009 2010 Jumlah 464 Prov.14 27.22 242.745.29 55.908. Halmahera Selatan 466 2009 2010 Jumlah 103 80 183 553.25 140 .50 14.252.501.22 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 35 8 43 45 45 Nilai 9 4.750.58 4 28 32 17.621.399.02 114 24 138 67.452.449.593.88 61.657.500.937.47 - 460 Kab.14 - 461 Kab.29 196.63 96 96 44 65 109 59 59 100 151 251 15 61 76 27.381.94 1.731.376.22 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 456 2 Kab.75 51.567.26 607.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 13.93 54.861.63 65 80 145 545.593.85 352.00 630.865.844.14 27.280.22 292.122.16 13.755.310.419.84 1.050.077.85 302.450.47 4.137.483.63 6.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 70 46 116 5 79 84 Nilai 11 35.65 2. Halmahera Barat 2009 2010 Jumlah Kab.773.750.90 62.567.518.88 44.22 196.05 72. Maluku Tenggara 2009 2010 Jumlah Kab.56 47.532.45 601.61 601. Maluku Tengah 3 2009 2010 Jumlah 457 Kab.865.57 641.47 17.194.93 12.452.26 10 10 6 6 35 56 91 224.741.230.500.14 27.15 1.22 574.339.50 813.591.736.448.67 3.452.10 5.593.72 195.205.11 13.00 459 Kab.76 3.251. Maluku Utara 2009 2010 Jumlah 465 Kab.781.188. Seram Bagian Timur 2009 2010 Jumlah 96 96 66 65 131 59 59 113 151 264 80 120 200 27.862.937.11 45.416.602.578.22 3.934.844.086.94 16 16 6.07 5.06 19 19 2.14 813.50 818.398.21 2.470.49 58.13 281.492.875.094.122.844.46 12 12 7 7 30 3 33 4.680.194.14 107.46 150. Halmahera Tengah 2009 2010 Jumlah 122 77 199 94.767. Maluku Barat Daya 2009 2010 Jumlah 64 64 17.452.448.47 - - - - 64 64 17.08 Jml 6 60 5 65 61 61 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 27.72 44.62 834.853.848.745.43 47.45 98.80 13.593.43 246.10 518.80 - 458 2009 2010 Jumlah 74 37 111 806.33 15.844.

42 303.220.440.354.61 21.949.305.204.32 133.897.61 79.00 66.55 864.229.191.090.523.195.613.07 422.817.09 196.08 309.00 55.62 67.167.305. Pulau Morotai 2009 2010 Jumlah 472 Kota Ternate 2009 2010 Jumlah Kota Tidore Kepulauan 4 108 112 220 76 103 179 99 73 172 30 30 137 49 186 Nilai 5 1.35 1.570.030.85 10.182.949.878.89 132.38 14.32 68.305.64 48.90 259. Halmahera Timur 2009 473 2009 2010 Jumlah 104 114 218 80 105 185 46 15 61 42 24 66 33 37 70 23 26 49 30 102 132 42 50 92 367.568.241.954.65 9. Biak Numfor 2009 2010 Jumlah 477 Kab.595.17 151.117.91 5.141.27 52.20 225.02 150.907.937.165.977.37 186.658.64 10.119.130.266.967.327.31 2.397.12 59.545.665.56 10.34 27 27 46 56 102 12 12 20 11 31 9 18 27 7 9 16 14 34 48 18 29 47 309.15 4.75 60.470.549.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 960.503.819.63 11. Kepulauan Sula 2009 2010 Jumlah 471 Kab.769.64 29.50 281.89 1.52 67.799.01 5.875.76 948.468.23 128.05 24.090.76 9.906.22 7. Asmat 2009 2010 Jumlah 476 Kab.29 193.615. Boven Digoel 2009 2010 Jumlah 478 Kab.171.061.300.080.16 9.14 929.94 231.12 6.79 21.59 11.863.053.86 4.35 9.501.51 54.23 318.090.00 188.84 28.471.31 9.86 744.878.53 178.622.498.469.93 6.03 1.19 98.50 9.55 1.50 374.274.927.744. Papua 2009 2010 Jumlah 475 Kab.90 72 13 85 34 46 80 34 34 22 10 32 23 16 39 16 9 25 16 67 83 24 21 45 56.30 2.78 3.19 28.215.098.23 1.85 128.22 30.434.274.09 733.85 16.048.796.60 858.053.16 754.72 392.74 32.863.146.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 15 3 18 23 23 17 17 44 26 70 Nilai 9 3.26 1.58 9.937.43 9.252.433.54 28.42 114.068.39 888. Halmahera Utara 2009 2010 Jumlah 470 Kab.02 8.323.322.Halaman 38 . Keerom 2009 2010 Jumlah 141 .00 501.66 2.213.61 1.55 3.53 1.225.898.55 5 101 106 3 3 15 15 3 3 1 3 4 8 8 1 1 - 1.05 Jml 6 10 4 14 15 15 12 12 74 23 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 107.557.67 970.55 5.665.506.97 41.498.61 65.49 1.304.470.61 200.08 27.21 62.25 125.908.347.38 313.55 1.44 1.71 1.60 210.58 58.15 1.64 281.18 12.090.418.79 850.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 468 2 3 2010 Jumlah 469 Kab.15 3.12 402.51 3.78 744.19 10.70 2.31 - 862.163.31 42.60 Kab.31 2. Jayapura 2009 2010 Jumlah 479 Kab.735.49 24.18 13.45 496.15 17.855.20 10.748.40 97. Jayawijaya 2009 2010 Jumlah 480 Kab.386.52 430.993.013.00 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 83 105 188 38 103 141 70 73 143 30 30 19 19 Nilai 11 1.532.447.09 182.43 24.799.190.073.35 9.21 4.74 1.680.187.273.694.43 727.76 13.821.24 108.35 758.487.524.57 474 Prov.863.91 7.45 754.081.610.71 1.78 131.338.098.894.02 51.79 6.59 15.058.95 55.74 10.22 6.609.880.751.42 71.54 119.741.724.010.60 392.02 65.005.800.751.72 276.538.16 7.090.51 61.560.350.129.129.185.

271.86 5.87 211.14 30.158.00 21.433.666.956.956.33 893.37 879.39 291.870.873.339.40 288.560.142.624.533.605.76 34 34 3 3 1 1 1 19 20 25 25 26 26 5 2 7 2.216.425.47 73.63 862.76 20.79 2.67 632.714.10 54.18 106.00 10.18 3.611.072.57 106. Nabire 2009 2010 Jumlah 485 Kab.108.00 290.42 4.712.942.55 634.80 135.18 5.48 310. Waropen 2009 2010 Jumlah 492 Kab.870.782.10 20.470.891.623.80 91.111.623.83 233.05 974.86 965. Paniai 2009 2010 Jumlah Kab.429.058. Merauke 2009 2010 Jumlah 483 Kab.Halaman 39 .32 768.17 47.66 29.001.00 5 1 6 12 31 43 15 23 38 25 36 61 17 18 35 18 43 61 41 22 63 16 23 39 13.39 312.16 26.48 331.95 218.255.16 620.011.336.27 116.85 156.431.577.37 41.19 156. Mappi 3 2009 2010 Jumlah 482 Kab.00 504.274.930.072.514.84 25.02 Jml 6 19 14 33 7 44 51 22 25 47 25 13 38 6 18 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 253.193.70 87.732.54 34.28 365.796.87 83.50 3.125.514.63 10.09 133.764.01 1.963.123.32 1.83 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.38 72.747.624.200.356.505.636.55 316.800.63 19.83 217.445.00 225.00 25.78 303.669. Supiori 2009 2010 Jumlah 490 Kab.69 131.82 667.890.48 3.79 2.452.950.87 862.528.703.50 1.163.99 325.05 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 27 31 42 13 55 15 16 31 20 22 42 17 19 36 Nilai 9 13. Kepulauan Yapen 2009 2010 Jumlah 142 .35 114.138.84 740.669.10 290.549.76 126.007.99 25.84 740.62 23.23 27.83 411.66 42.151.55 634.738.439.45 49.43 1.36 1.43 13.23 163.470.26 258.36 415.23 754.432.831.04 1.604.822.59 1. Puncak Jaya 2009 2010 Jumlah 488 Kab.60 1.611.60 10 8 18 29 37 66 17 17 27 27 15 4 19 10 10 20 37 13 50 11 28 39 27.020.89 489.28 43.576.930.04 196.125.20 25.712.07 73.043.95 673.00 486 2009 2010 Jumlah 15 43 58 44 68 112 32 24 56 53 55 108 32 22 54 53 53 106 78 61 139 32 53 85 13.163.067.032.35 941.29 211.56 271.23 33.55 3.459.546.24 1.374.34 688.068.23 12.09 28.858.930.532.75 36.63 11.00 21.84 1.98 24.20 885.61 504.44 317.606.597.290.10 21.51 50.47 15.596.339. Pegunungan Bintang 4 23 41 64 50 57 107 37 75 112 46 52 98 23 41 64 Nilai 5 266.899. Sarmi 2009 2010 Jumlah 489 Kab.50 19.395.155.59 3.09 55.00 237.61 2.18 76.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 1 34 34 1 17 18 4 4 Nilai 11 3.207.72 53.37 141.000.45 125.84 129.437.67 143.83 12.66 89.404.82 529.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 481 2 Kab.50 904.51 303.51 225.829.641.05 974.81 167.459.29 487 Kab.76 233.28 385. Tolikara 2009 2010 Jumlah 491 Kab.95 134.956. Mimika 2009 2010 Jumlah 484 Kab.87 916.00 11.096. Yahukimo 2009 2010 Jumlah 493 Kab.272.032.266.72 26.48 42.84 624.271.83 5.50 92.738.127.930.95 88.986.332.154.

13 45.432.198.354.512.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 5.78 Jml 6 21 21 14 14 43 6 49 3 3 42 42 12 12 1 1 25 20 45 49 55 104 54 54 30 30 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.854.28 35.62 14.65 1.844.738.70 149.81 694.47 104.09 45.440.50 12. Fakfak 2009 2010 Jumlah 501 Kab.911.49 30.48 513.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 494 2 Kab.50 58.476.65 623.681. Nduga 2009 2010 Jumlah 496 Kab.60 582.24 409.00 350.08 8. Kaimana 2009 2010 Jumlah 502 Kab.769.68 1.929. Sorong 2009 2010 Jumlah 505 Kab.982.46 3.Halaman 40 .17 28.913.43 11.435.612.177.982.24 1.67 1.387.976.30 39.198.99 74.144.54 12.200.95 46.99 123.461.952.262.021.38 25.243.743.49 26.98 1.36 2.54 3.911.40 119.952.75 4.109.60 694.476.46 15.575. Papua Barat 2009 2010 Jumlah 500 Kab.49 8.49 22.408.92 195.46 3.785.84 14.621.265.33 30.53 12.43 12.28 145.538.236.785.95 8.61 45.86 874.00 145.06 8.60 582.841. Lany Jaya 2009 2010 Jumlah 497 Kab.215.01 4.68 3.499.43 350.06 89.512.55 31.023. Mamberamo Raya 3 2009 2010 Jumlah 495 Kab.127.99 2.06 1.374.552.67 6.22 123.59 4.325.188.315.74 17.670.60 454.127.423. Teluk Bintuni 2009 2010 Jumlah 4 34 34 35 35 20 20 36 36 93 30 123 208 76 284 134 63 197 75 57 132 129 45 174 101 62 163 114 85 199 81 54 135 192 58 250 Nilai 5 46.496.11 3.81 873.80 8.35 9. Raja Ampat 2009 2010 Jumlah 504 Kab.728.40 23. Sorong Selatan 2009 2010 Jumlah 506 Kab.11 3.48 3.49 4.22 873.95 17.935.538.00 513.262.447.98 3.92 48.86 14.552.31 3.06 11.926.48 3.33 454.742.40 128.746.69 231.376.362.487.41 11.81 143 .670.57 5.549.85 17.43 11.36 1.767.42 464.391.512.400.81 145.116.18 76.854.96 3.95 2.56 8.41 11.85 16.021.40 145.48 623.282.18 76.841.417.200.417.46 90.497.58 55. Manokwari 2009 2010 Jumlah 503 Kab.36 5.67 23.021.82 145.06 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 17 17 49 24 73 2 2 17 17 2 2 1 1 44 34 78 29 6 35 20 20 7 7 Nilai 9 23.79 78.54 31.86 28.884.30 46.447.770.447.70 4.00 1.41 39.884.021.46 623.144.205.41 39.761.612.423.571.80 23.571.09 48.00 145.46 623.184.28 60.11 3.09 231.11 3.447.184.40 14.29 2.96 16.49 3.417.743.823.770.417.17 128. Dogiyai 2009 2010 Jumlah 498 Kota Jayapura 2009 2010 Jumlah 499 Prov.85 15.325.315.35 4.44 22.552.59 2.67 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 35 35 20 20 5 5 1 1 203 76 279 75 63 138 61 57 118 127 45 172 32 8 40 36 24 60 7 54 61 155 58 213 Nilai 11 39.847.111.

85 6.792.520.075 USD 4.59 23.827.80 Rp22.43 7.83 - Keterangan 1.933 Nilai 5 79.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 507 2 3 2010 Jumlah 508 Kota Sorong 2009 2010 Jumlah Total 4 179 179 66 96 162 66.583.Halaman 41 .520.110.91 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 122.85 122.59 29.280 USD 2.865.510.821.85 Rp807.228.987.85 122.957.68 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 176 176 43 96 139 Nilai 11 78.13 USD 4.110.11 24.11 16.21 15.00 Kab.75 - Rp17.510.49 Jml 6 3 3 23 23 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.633.375.90 15.35 USD 466.578 USD 473.00 - Rp27.896.987.009.635. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.64 26. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 144 .68 6.28 79.43 78. Teluk Wondama 2009 Rp68.385.28 14.

392.81 23.489.392.50 USD 37.Lampiran 52 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 BUMN. dan KKKS (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.701.773.55 - 26 27 - 19.82 - 18 - 64.477.76 - Jumlah 46 - 6 PT PGN 2009 2010 Jumlah - 7 PT Bukit Asam 2009 22 64.Halaman 1 .477.22 14.22 - 2010 Jumlah 139 316 - 9 PT Garuda Indonesia (Persero) 2009 2010 Jumlah 19 19 - - - - - 19 19 - - 10 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 145 .79 8 PT Pertamina 2009 177 - 8.50 USD 37.82 - 4 - - - - USD 7.705. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PT Aneka Tambang 3 4 Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 1 2009 2010 Jumlah 2 PT Sarana Karya 2009 2010 Jumlah 3 PT Timah 2009 2010 Jumlah 4 PT EMI 2009 2010 Jumlah 5 5 5 5 - 5 PT PLN 2009 20 26.489.771.489.82 4 - - - 72.07 - 8 - 10.81 23.21 USD 32.79 72.701.22 59 26 85 - - 10 10 - - 108 113 221 - 8.07 19.392.40 USD 32.59 8 10.474.82 18 64.76 2010 26 - 19.07 45.662.857.771.662.21 USD 32.773.489.58 2010 Jumlah 22 - 64.40 USD 32.04 11 15.392.705.55 1 - 10.701.155.474.493.22 14.07 - 10. BHMN.10 USD 37.50 USD 37.493.58 USD 7.04 - 11 - 15.

Halaman 2 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 11 2 PT Angkasa Pura I (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Angkasa Pura II (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

12

2009 2010 Jumlah

42 42

342.623,80 342.623,80

-

-

-

-

42 42

342.623,80 342.623,80

-

13

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

43 43 -

733.674,86 733.674,86 -

3 3 -

525.917,75 525.917,75 -

-

-

40 40 -

207.757,11 207.757,11 -

-

14

Perum Damri

2009 2010 Jumlah

15

Perum PPD

2009 2010 Jumlah

16

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

17

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

18

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)

2009 2010 Jumlah

6 6

17.610,31 17.610,31

-

-

-

-

6 6

17.610,31 17.610,31

-

19

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

20

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

21

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)

2009 2010

33 29 -

707.301,10 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 821.142,37 USD 152.95 SGD 1,320.75

4 4 -

141.353,84 141.353,84 -

-

-

29 29 58 -

565.947,26 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 679.788,53 USD 152.95 SGD 1,320.75

-

Jumlah

62 -

146

Halaman 3 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 22 2 PT Djakarta Lloyd (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

23

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

24

PT Pengerukan Indonesia (Persero)

2009

23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

-

-

-

23 23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

2010 Jumlah

23 -

25

PT Indra Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

26

PT Brantas Abipraya (Persero)

2009 2010 Jumlah

30 30

188.627,04 188.627,04

-

-

-

-

30 30

188.627,04 188.627,04

-

27

PT Amarta Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

28

PT Adhi Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

29

PT Wijaya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

26 26 -

129.073,04 USD 11,498.63 129.073,04 USD 11,498.63 605.439,69 605.439,69 -

9 9 3 3 -

1.932,18 1.932,18 -

13 13 14 14 -

119.992,86 USD 11,498.63 119.992,86 USD 11,498.63 -

4 4 4 4 -

7.148,00 7.148,00 605.439,69 605.439,69 -

2.299,88 2.299,88 -

30

PT Jasa Marga (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21 -

31

PT Virama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

32

PT Nindya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

22 22

138.875,33 138.875,33

-

-

-

-

22 22

138.875,33 138.875,33

-

33

PT Hutama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

147

Halaman 4 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 12.671,11 12.671,11 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 34 2 PT Indah Karya (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 35 PT Istaka Karya (Persero) 2009 2010 Jumlah 36 Perum Perumnas 2009 2010 Jumlah 4 30 30

Nilai 5 12.671,11 12.671,11

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 30 30

Nilai 11

37

PT Pembangunan Perumahan (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

37.692,71 37.692,71

7 7

28.955,84 28.955,84

14 14

8.736,87 8.736,87

3 3

-

27.665,96 27.665,96

38

PT Yodya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

39

PT Waskita Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

40

PT Bina Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

41

Perum Produksi Film Negara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

42

PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

43

PT Kawasan Industri Medan (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

44

PT Kawasan Industri Makassar (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

45

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

148

Halaman 5 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 46 2 PT Hotel Indonesia Natour (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

47

2009 2010 Jumlah

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

-

-

-

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

48

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)

-

-

-

-

-

-

-

-

-

49

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

50

PT Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

51

Perum LKBN Antara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

52

PT Dirgantara Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

-

-

-

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

53

PT Pindad (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

54

PT PAL Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

55

PT LEN Industri (Persero)

2009 2010 Jumlah

149

Halaman 6 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 56 2 PT Krakatau Steel (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Boma Bisma Indra (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

57

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

58

PT Dahana (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

59

PT Barata Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

60

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

61

PT Industri Kereta Api (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

62

PT Batan Teknologi (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

63

PT Bio Farma (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21

2.148,65 2.148,65

11 11

50,70 50,70

5 5

2.097,95 2.097,95

5 5

-

-

64

PT Kimia Farma (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

35 35

90.176,31 90.176,31

-

-

-

-

35 35

90.176,31 90.176,31

-

65

PT Indofarma (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

47.791,78 47.791,78

-

-

-

-

29 29

47.791,78 47.791,78

-

66

PT Semen Gresik (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

67

PT Semen Kupang (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

150

Halaman 7 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 68 2 PT Semen Baturaja (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) 4 19 19

Nilai 5 10.012,78 10.012,78

Jml 6 7 7

Nilai 7 -

Jml 8 6 6

Nilai 9 6.046,39 6.046,39

Jml 10 6 6

Nilai 11 3.966,39 3.966,39

69

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

70

PT Industri Kapal Indonesia (Persero)

2009

21 -

15.722,54 USD 212,229.82 15.722,54 USD 212,229.82

3 3 -

2.436,30 2.436,30 -

16 16 -

4.786,24 USD 212,229.82 4.786,24 USD 212,229.82

2 2 -

8.500,00 8.500,00 -

-

2010 Jumlah

21 -

71

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

2009

24 -

11.361,10 USD 788.28 11.361,10 USD 788.28

9 9 -

861,86 861,86 -

9 9 -

7.867,79 7.867,79 -

6 6 -

2.631,45 USD 788.28 2.631,45 USD 788.28

-

2010 Jumlah

24 -

72

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

73

PT Primissima (Persero)

2009 2010 Jumlah

74

PT Industri Gelas (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

6.282,19 6.282,19

-

-

-

-

29 29

6.282,19 6.282,19

-

75

PT Garam (Persero)

2009 2010 Jumlah

76

PT Perkebunan Nusantara I

2009 2010 Jumlah

77

PT Perkebunan Nusantara II

2009 2010 Jumlah

78

PT Perkebunan Nusantara III

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

151

Halaman 8 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 80.223,60 80.223,60 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 79 2 PT Perkebunan Nusantara IV 3 2009 2010 Jumlah 80 PT Perkebunan Nusantara V 2009 2010 Jumlah 81 PT Perkebunan Nusantara VI 2009 2010 Jumlah 82 PT Perkebunan Nusantara VII 2009 2010 Jumlah PT Perkebunan Nusantara VIII 4 9 9 -

Nilai 5 113.240,26 113.240,26 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 4 4 -

Nilai 9 33.016,65 33.016,65 -

Jml 10 5 5 -

Nilai 11

83

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

84

PT Perkebunan Nusantara IX

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

85

PT Perkebunan Nusantara X

2009 2010 Jumlah

86

PT Perkebunan Nusantara XI

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

87

PT Perkebunan Nusantara XII

2009 2010 Jumlah

40 40

65.759,10 65.759,10

-

-

-

-

40 40

65.759,10 65.759,10

-

88

PT Perkebunan Nusantara XIII

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

89

PT Perkebunan Nusantara XIV

2009 2010 Jumlah

31 31 37 -

139.991,06 139.991,06 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

4 4 3 3 -

-

9 9 34 34 -

47.839,48 47.839,48 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

18 18 -

92.151,57 92.151,57 -

-

90

Perum Perhutani

2009

2010 Jumlah

37 -

91

PT Inhutani I

2009 2010 Jumlah

-

152

Halaman 9 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 19.207,08 19.207,08 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 92 2 PT Inhutani II 3 2009 2010 Jumlah 93 PT Inhutani III 2009 2010 Jumlah 94 PT Inhutani IV 2009 2010 Jumlah 95 PT Inhutani V 2009 2010 Jumlah 96 PT Sang Hyang Seri 2009 2010 Jumlah 97 PT Pertani (Persero) 2009 2010 Jumlah PT Perikanan Nusantara (Persero) 4 24 24 8 8

Nilai 5 19.207,08 19.207,08 1.976,30 1.976,30

Jml 6 5 5

Nilai 7 1.976,30 1.976,30

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 24 24 3 3

Nilai 11

98

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

99

PT Rajawali Nusantara Indonesia

2009 2010

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

18 18 -

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60 458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

-

Jumlah

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

100

Perum Prasarana Perikanan Samudera

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

101

PT Pupuk Sriwijaya

2009 2010 Jumlah

1 1

-

-

-

-

-

1 1

-

-

102

PT Kertas Kraft Aceh

2009 2010 Jumlah

12 12 -

218.834,69 218.834,69 -

1 1 -

-

10 10 -

107.535,64 107.535,64 -

1 1 -

111.299,04 111.299,04 -

-

103

PT Kertas Leces

2009 2010 Jumlah

153

Halaman 10 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 104 2 Perum PNRI 3 2009 2010 Jumlah 105 Perum Peruri 2009 2010 Jumlah 106 PT Balai Pustaka 2009 2010 Jumlah PT Pradnya Paramitha 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

107

2009 2010 Jumlah

41 8 49 14 14 51 51

9.593,54 9.593,54

32 32

466,60 466,60

41 8 49 14 14 16 16

9.126,94 9.126,94

3 3

-

5.794,01 5.794,01

108

PT BNI

2009 2010 Jumlah

109

PT BRI

2009 2010 Jumlah

110

PT Bank Mandiri

2009 2010 Jumlah

111

PT BTN

2009 2010 Jumlah

112

PT Jamsostek

2009 2010 Jumlah

113

PT Taspen

2009 2010 Jumlah

114

PT Asuransi Kesehatan

2009 2010 Jumlah

20 20 -

223.169,20 223.169,20 -

8 8 -

881,48 881,48 -

11 11 -

221.507,13 221.507,13 -

1 1 -

780,58 780,58 -

-

115

PT Jasaraharja

2009 2010 Jumlah

116

PT Asuransi Jiwasraya

2009 2010 Jumlah

117

PT Jasindo

2009 2010 Jumlah

154

348.46 160.509.388.60 6 6 26.45 USD 570.50 9.879.509.50 - - - 129 PT Sarana Multi Infrastruktur 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 .10 4 4 9.049.879.45 USD 570.049.348. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 118 2 PT Asuransi Kredit Indonesia 3 2009 2010 Jumlah PT Asuransi Ekspor Indonesia 4 - Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 119 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 120 PT ASABRI 2009 2010 Jumlah 121 PT Reasuransi Umum Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 122 PT Bahana PUI 2009 2010 Jumlah 123 PT Danareksa 2009 2010 Jumlah 124 Perum Pegadaian 2009 2010 Jumlah 125 PT Permodalan Nasional Madani 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 126 PT PANN Multi Finance 2009 2010 Jumlah 20 20 - 160.049.Halaman 11 .46 160.60 36.45 USD 570.10 26.348.049.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.348.46 - - - - 20 20 - 160.388.46 - 127 Perum Jaminan Kredit Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 128 PT Kliring Berjangka Indonesia 2009 2010 Jumlah 10 10 36.45 USD 570.

710.710.10 9 9 1.32 48.08 48.571.08 132 Perum Bulog 2009 2010 Jumlah 133 PT Survey Udara Penas (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 134 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 2009 2010 Jumlah 46 46 15 15 - 4.91 - - 135 PT Pos Indonesia 2009 2010 Jumlah 136 PT Sarinah 2009 2010 Jumlah 137 PT Sucofindo 2009 2010 Jumlah 138 PT Berdikari 2009 2010 Jumlah 139 PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 140 PT Surveyor Indonesia 2009 2010 Jumlah 141 PT Varuna Tirta Prakasya 2009 2010 Jumlah 142 PT Bhanda Ghara Reksa 2009 2010 Jumlah 156 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Halaman 12 .52 31 31 48.289.91 4.08 48.32 1.571.52 205. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 130 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 4 131 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) 2009 2010 Jumlah 77 77 205.289.531.531.91 4.91 - 40 40 - - 6 6 - - 15 15 - 4.571.08 37 37 203.10 203.571.

275.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 150 Chevron Pacific Indonesia WK Pokan .03 USD 436.Halaman 13 .21 - - 14 14 - 5 5 402.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.21 - 145 PPA 2009 2010 Jumlah Total BUMN 1.17 USD 835.055.523.11 USD 230.21 402.PSC 6 6 USD 436.75 EUR 8.60 820 Rp5.994.320.31 USD 7.884.326.75 - Rp119.03 1 1 12 12 12 1 1 1 11 11 11 - 148 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 149 Chevron Pacific Indonesia WK Siak .897.60 297 Rp806.74 SGD 1.50 SGD 1. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 143 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Perum Jasa Tirta I 3 2009 2010 Jumlah 4 144 Perum Jasa Tirta II 2009 2010 Jumlah 19 19 402. WK Bee 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 157 .291.79 - BHMN (Badan Hukum Milik Negara) 146 BPMIGAS : 2009 2010 Jumlah Total BHMN Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) 147 BOB PT BSP Pertamina Hulu 2009 2010 Jumlah Chevron Pacific Indonesia Wilayah Kerja (WK) MFK .03 5 5 USD 436.12 USD 604.75 EUR 8.320.21 402. Ltd.408.056.657. WK South Natuna Sea B 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 152 ExxonMobile Oil Inc.93 - 333 Rp1.450 Rp7.03 USD 436.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 151 ConocoPhillips Indonesia Ltd.

53 - 2010 Jumlah 10 - 157 Medco E&P Malaca WK Area “A” North Sumatera 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 Pearl Oil WK Tungkal 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 159 Petrochina International Ltd.434.309. WK Jabung 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 Petroselat Ltd. Ltd.53 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - 580.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.434. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 153 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 ExxonMobile Oil Inc.65 USD 2.65 USD 2.65 - - 161 Premier Oil WK Natuna Sea A 2009 2010 Jumlah 162 Star Energy Ltd.53 580. WK Pase 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 Kalila (Korinci Baru) WK Korinci 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 156 Kondur Petroleum WK Malacca Strait 2009 10 - 580.59 USD 1.309. WK Kakap 2009 2010 Jumlah 163 Job (PSC) Costa Igl WK Gebang 2009 2010 Jumlah 164 PHE Costa . WK Selat Panjang 2009 2010 Jumlah 11 11 - USD 2.65 - - - - - 11 11 - USD 2.309.434.434.53 580.59 USD 1.309. Ltd.Halaman 14 . WK NSO 3 2009 2010 Jumlah 4 154 ExxonMobile Oil Inc.Job P Costa International WK Gebang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 .59 USD 1.59 USD 1.

17 - - - 159 . Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 JOA (PSC) ConocoPhillips WK South Jambi Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 165 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 166 PHE South Jambi .33 4 4 USD 910.33 1 1 - - - - 171 ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd.33 USD 910.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK South East Sumatera 2009 2010 Jumlah 5 5 USD 910. WK Corridor PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 172 Kangean Energy Indonesia WK Kangean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 173 HESS Pangkah Ltd.Job P ConocoPhillips WK South Jambi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 167 PT SPR Langgak Langgak Riau 2009 2010 Jumlah 168 BP West Java Ltd.17 2 2 - 5 5 USD 150. WK Pangkah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 174 Lapindo Brantas Inc. WK Brantas 2009 2010 Jumlah 175 Medco E&P Indonesia WK Lematang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 176 Medco E&P Indonesia WK Barisan Rimau 2009 2010 Jumlah 7 7 USD 150.17 USD 150.33 USD 910.Halaman 15 .17 USD 150. WK ONWJ 2009 2010 Jumlah - 169 Camar Resource Canada WK Bawean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 170 CNOOC SES Ltd.

JOB P HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 183 JOB (PSC) Golden Spike WK Raja Pendopo 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 184 PHE Raja Tempirai .81 USD 7. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Medco E&P Indonesia WK South&Central Sumatera Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 177 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 178 Petrochina Ltd.JOB P PEJ WK Tuban 2009 2010 Jumlah 10 10 USD 7. Ltd.Halaman 16 . Ltd. WK Sampang 2009 2010 Jumlah 181 JOB (PSC) HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 182 PHE Jambi Merang .455.JOB P GSIL WK Raja Block 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 185 JOB (PSC) Petrochina East Java WK Tuban 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - 186 PHE Tuban East Java .81 - 187 JOB (PSC) Talisman . WK Bangko 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 179 Santos PTY.455.81 USD 7.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.455.81 - - - - 10 10 USD 7.455.Ogan Komering WK Ogan Komering 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 . WK Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 180 Santos PTY.

WK Makassar Strait 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 195 Citic Seram Energy Ltd.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 194 Chevron Ind. WK Cepu Block 2009 2010 Jumlah 192 Seleraya Merangin Dua 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 193 Chevron Ind.JOB P TOKL WK Ogan Komering Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 188 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 189 JOA (PSC) Kodeco WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 190 PHE W Kodeco JOA P W Madura WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 191 Mobil Cepu Ltd. WK Seram Non Bula 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 196 Energy Equity WK Sengkang 2009 2010 Jumlah 197 Inpex WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah 198 Kalrez Petroleum WK Bula Seram 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 199 Medco E&P Indonesia WK Tarakan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 161 .Halaman 17 . Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PHE Ogan Komering .

JOB P Tengah 2009 2010 Jumlah 12 12 USD 61.JOB P Medco WK Senoro Toili.30 - 8 8 - 676.51 - 209 PT Pertamina EP 2009 2010 Jumlah 162 .76 USD 235.53 SGD 5.848.53 USD 235. Sulawesi 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah JOB (PSC) Petrochina Salawati WK Kepala Burung.53 SGD 5.53 USD 235.23 - - - - 2010 Jumlah 10 - 202 VICO WK Sangasanga 2009 2010 Jumlah - 203 JOB (PSC) Medco E&P Tomori WK Senoro Toili.748.51 USD 61.30 3.748.JOB P PS WK Kepala Burung. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Petrochina International (Bermuda) Ltd. Papua - - - - - - - - - 206 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 207 JOB (PSC) Total Tengah WK Tengah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 208 PHE Tengah K .53 SGD 5.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Sulawesi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 204 PHE Medco Tomori .848.30 676.Halaman 18 .51 - - - - 12 12 USD 61.30 - 2 2 - 2.51 USD 61.424.53 SGD 5.76 USD 235. WK Salawati Basin. Papua Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 200 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah Total E&P Indonesia WK Mahakam - - - - - - - - - 201 2009 10 - 3.424.23 2.848.848. Papua - - - - - - - - - 205 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah PHE Salawati .

30 21 Rp676.BP Berau 2009 2010 Jumlah 212 BP Muturi 2009 2010 Jumlah 213 BP Wiriagar 2009 2010 Jumlah Total KKKS 76 Rp4.005.780.59 SGD 5.30 18 Rp2.35 USD 74.53 USD 1.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.59 USD 73.23 USD 150.51 - - Keterangan 1. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 163 .581.048.90 SGD 5.17 - 37 Rp580. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 210 Nilai 5 5 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 5 5 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Benuo Taka WK Wailawi Block 3 2009 2010 Jumlah 4 211 Tangguh . Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.748.Halaman 19 .

531.33 8 645.58 37.543.249.996.04 77 145.365.93 2 102.68 USD 7.30 3 (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) 2.660.543.481.141.136.62 6.602.71 465 75.29 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (15) 72 72 8 26 8 2 1 2 8 55 127 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (27) 1 1 1 Nilai (28) Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Penjualan/pertuKelebihan penetapan karan/penghapuBelanja tidak sesuai Pengembalian pinja.21 2 1 1 1 5 11 90 27.10 Rp94.211 368.265.70 - 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 48 36.01 Rp151.00 60 84.51 1.77 101 35.000.136.46 76 Rp33.82 15.053.377.707.827.52 90.31 32.455.249.00 14.18 410.499.06 Total PDTT - 1.936.34 344.344.71 - Total Pemeriksaan Laporan Keuangan - 740 566.52 0.01 - 13 Operasional PDAM - 43 3.98 7 7.852.132.11 1 1 2 1 2 126 142 104.18 6 8.25 5.338.79 7.12 28 28 10 4 1 7 1 2 25 53 - Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus Nilai (8) 7.67 Rp17.94 7.43 1 1.54 - USD 7.013 Rp1.480.313.47 1.269.538.91 60 84.69 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 5 1.82 1.339.68 176 25.800.70 638.531.852.20 114 9.73 - 17 PDTT Lainnya 46 47.88 - Total Pemeriksaan Kinerja 62 84.88 - 12.985.864.40 62.18 15 3.33 88.dan pembayaran san aset negara/ atau melebihi man/piutang atau restitusi pajak atau daerah tidak sesuai ketentuan dana bergulir macet penetapan kompenketentuan dan sasi kerugian merugikan negara/ daerah Jml Kasus (29) 857.453.97 1 1 0.077.00 9.249.568.24 721 Rp267.660.86 122.349.14 21 1 1 1 101 50 5.907.169.535.64 258.21 2 922.11 146 107.51 235.132.08 USD 7.70 26 24.66 0.377.787.893.01 13.625.246.61 115.54 1.899.543.60 9 29.79 241.30 1.190.976.11 147 107.405.179.543.43 280.788.231.19 6.82 77 11.03 248 Rp122.24 3 676.65 6 8.00 156 59.50 1 865.53 3 3 90 27.50 3 6.574.480.501.95 - 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara - - - 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi - - - 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 1.96 - USD 7.236.48 178.432.68 28.50 - 16 Operasional BUMD Lainnya 8 2.53 14.25 23.29 Rp2.952.18 16 3.88 140.69 - 6 Pelaksanaan Belanja - 1.42 11.72 101.01 14 Operasional RSUD 10 3.005.67 4 220.951.551.735.06 155 59.115.366.98 - 12 Operasional BUMN 13 92.29 Rp18.54 314 Rp82.40 5 2.12 Rp857.01 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .01 Nilai (31) 14.44 3.856.577.565.97 1 21.37 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 4 28.88 12.29 2.480.78 - 15 Operasional Bank Daerah 7 1.543.023.00 1 180.132.50 USD 7.345.56 119 Rp168.497.637.19 2 1.64 26 24.457.169.87 339.171.12 857.98 22 16.199.65 211 47.735.585.72 1 25.115.32 505 123.20 12.886.59 101.053.12 1 3.146.08 7.00 - 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 2 320.349.943.483.799.020.93 Rp33.40 USD 7.51 1 775.35 - 5 Pengelolaan Pendapatan 10 3.41 19 11.75 77.82 83.57 Rp34.443.98 2 102.16 269.053.020 175.073.71 6.077.01 - TOTAL 2.62 437.652.35 723.76 50 9.518.72 (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai (7) 17 17 1 1 21 1 1 23 41 Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (30) 62.80 47 8.82 735.543.25 2.486.91 Rp59.75 77 145.79 140.44 26.341.112.224.91 1.93 42 23.18 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah - 736 566.40 2.74 33 15.92 3 7 67 157 2 5 145.00 1 180.164 Lampiran 53 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kerugian negara/daerah/perusahaan No Pemahalan harga (Mark up) Entitas/Obriks Total kerugian negara/daerah / perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang pembayaran honorarium dan/ spesifikasi barang/ penggunaan uang/ atau biaya perjalanan jasa yang diterima barang untuk kepentdinas ganda dan atau tidak sesuai dengan ingan pribadi melebihi standar yang kontrak ditetapkan Jml Kasus Nilai (16) 83.132.89 102 35.37 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 60 84.341.

52 2 119.575.214.09 28.633.49 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 1 6.11 2 3.46 Rp94.32 14 43.47 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 128 461.52 504.750.260.27 22 2.27 299.31 49.365.65 55.697.409.247.68 485.37 16 Operasional BUMD Lainnya 16 15.014.691.04 1 8 856.04 19.91 1 1 312.26 - 21 2 23 1 1 14 3 1 8 1 6 33 57 - 46.893.59 54.793.430.768.43 13 Operasional PDAM 22 13.91 Rp49.71 5 22.673.704.32 6 6.88 7.235.788.79 23.71 51.87 3.43 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 165 .78 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 312.155.174.60 2.895.696.49 19.Lampiran 54 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan No Entitas/Obriks Total Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan Kelebihan pembayaran Rekanan belum melakdalam pengadaan sanakan kewajiban barang/jasa tetapi pemeliharaan barang Pembelian aset yang Aset dikuasai pihak lain pembayaran pekerjaan hasil pengadaan yang berstatus sengketa belum dilakukan seba.12 Rp7.80 88.00 3 521.61 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 20 5.646.155.50 1.30 154.679.49 - USD 53.50 12 Operasional BUMN 31 973.40 USD 32.499.84 1 445.35 15 Operasional Bank Daerah 15 38.51 1 1 500.00 6 1.95 2 18.35 33.32 14 43.81 USD 53.695.25 154.200.155.598.284.385.448.29 2 154.48 8.075.450.48 5 Pengelolaan Pendapatan 12 8.986.29 17 PDTT Lainnya 8 26.38 USD 20.086.38 1.92 8.97 239.700.00 426.04 72.284.264.48 504.01 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 14 4.365.556.839.20 5 22.24 312.00 9.77 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 11 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 1 504.67 426.00 4 1.005.499.192.48 2 1 14.264.78 190.71 17 1 2 30 35 14.35 6.117.00 3.816.80 850.764.87 2 575.466.315.98 35 Rp24.839.525.792.95 24 80.93 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 24 34.661.49 1.12 2.59 4 70.87 1.16 6 Pelaksanaan Belanja 221 106.727.925.11 2 3.625.233.29 1.33 4.218.52 8 1 3 1 4 7 8 1 9.572.269.836.315.834.40 47 Rp88.29 USD 32.67 100.99 15 1 11 5 72 114 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 40 1 41 1 1 7 10 1 22 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 121 371.49 2.43 TOTAL 526 Rp1.96 19 2.05 781.37 14 Operasional RSUD 1 28.711.261.51 USD 20.442.38 Rp2.155.619.85 9 2 12.37 6.125.76 2 1 3 1 1 1 3 6 - 8.03 1 524.010.120.813.76 10.549.897.450.telah rusak selama masa gian atau seluruhnya pemeliharaan Pemberian jaminan Pihak ketiga belum dalam pelaksanaan pemelaksanakan kewa.222.00 Rp3.80 84.155.28 5.936.447.00 92.39 417.808.688.00 1.021.450.51 USD 20. pemanfaatan Penghapusan piutang jiban untuk meny.24 524.50 8.67 Rp290.45 22 8.95 25 80.50 2 18 32 17.997.21 Total PDTT 386 1.447.76 Rp1.45 3 3.45 3 26.48 Total Pemeriksaan Kinerja 12 504.142.Piutang/pinjaman atau Aset tidak diketahui kerjaan.375.38 2 - Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 7 89.17 3 382.500.33 USD 32.142.704.56 USD 53.dana bergulir yang berpokeberadaannya barang dan pemberian tidak sesuai ketentuan erahkan aset kepada tensi tidak tertagih fasilitas tidak sesuai negara/daerah ketentuan Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Nilai (20) Jml Kasus Nilai (21) (22) Jml Kasus Nilai (23) (24) Nilai (25) Jml Kasus Nilai (6) 7 1 8 1 1 156 21 2 1 180 189 Rp79.655.50 3.29 5 3.704.07 Rp50.

545.77 9.51 33 18.23 5.835.12 3 65 30.305.00 9.45 USD 10.45 24.19 108.602.63 90.054.36 1 196.639.915.88 16.71 3.76 2.92 USD 10.52 30.20 2.636.53 276.71 66.18 USD 95.595.514.Koreksi perhitungan Kelebihan pemtelah ditetapkan belum atau digunakan oleh jak/PNBP lebih rendah bagi hasil dengan bayaran subsidi oleh masuk ke kas Daerah instansi yang tidak dari ketentuan KKKS pemerintah berhak Lain-lain Jml Kasus Nilai (6) 173.73 USD 10.523.02 9.508.33 3.04 (1) (2) (3) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 402 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 10 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 412 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 14 4 Pengelolaan Hutan Mangrove - Total Pemeriksaan Kinerja 14 5 Pengelolaan Pendapatan 287 6 Pelaksanaan Belanja 357 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 2 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 13 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 31 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 17 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah - 12 Operasional BUMN 6 13 Operasional PDAM 26 14 Operasional RSUD 17 15 Operasional Bank Daerah 8 16 Operasional BUMD Lainnya 16 17 PDTT Lainnya 15 Total PDTT 795 TOTAL 1.84 Nilai (21) 6.810.099.84 6.73 17 Rp66.12 3 844.05 18.84 91.32 6 Rp328.508.71 1 Rp15.80 5 476.771.201.166 Lampiran 55 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kekurangan Penerimaan Total Kekurangan Penerimaan Penggunaan langsung Penerimaan Negara/ Daerah No Nama Entitas Penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke Kas Negara/Daerah atau perusahaan milik negara/ daerah Penerimaan Negara/ Dana Perimbangan yang daerah diterima Pengenaan tarif pa.21 USD 29.77 482.77 550.063.51 2 2 40 4 9.76 9.57 2 549.805.29 249.615.474.823.327 1 1.771.84 99.736.89 17.602.12 3 94.067.401.468.75 108 Rp92.54 4 22 15 8 15 14 690 USD 29.793.872.38 2 643.269.72 895.34 29.88 5.08 1 8.71 1 1 15.14 175.792.099.59 2.76 4.072.039 USD 29.913.35 2.14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (18) (5) 325 10 335 14 14 218 348 2 13 31 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (19) 3 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (4) 213.474.364.33 3.73 35.14 175.187.43 8.52 1 61 2 125.099.992.71 35.12 3 94.84 Rp42.84 17.072.458.236.16 2.221 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .508.12 31.810.42 9.77 9.401.54 Rp1.00 3 33 49.832.08 1 8.868.935.595.154.04 223.42 2 Rp8.474.96 43 61.95 USD 95.16 3 233.21 USD 29.31 45 Rp19.736.108.37 286.949.872.25 Rp1.98 375.45 Rp276.80 5 476.65 1 108.131.261.099.62 4.54 USD 66.099.023.41 61.14 66.59 17 17 65 30.099.29 209.792.262.261.58 1 16.495.261.766.54 1.12 15.261.02 2.044.25 Nilai Nilai (20) 276.474.230.

Halaman 1 .Lampiran 56 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010 Daftar LHP Jml Objek Pemeriksaan No PEMERIKSAAN KEUANGAN I Nama Entitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 15 Provinsi Sumatera Utara 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3 31 Provinsi Sumatera Barat 32 33 34 4 35 Provinsi Riau 36 37 38 39 40 41 42 Provinsi Aceh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LKPD Provinsi Aceh TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Besar TA 20009 LKPD Kabupaten Aceh Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tamiang TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Bireuen TA 2009 LKPD Kabupaten Simeulue TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Bener Meriah TA 2009 LKPD Kota Langsa TA 2009 LKPD Kota Subulussalam TA 2009 LKPD Kabupaten Batu Bara TA 2009 LKPD Kabupaten Deli Serdang TA 2009 LKPD Kabupaten Nias TA 2009 LKPD Kabupaten Nias Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Simalungun TA 2009 LKPD Kabupaten Toba Samosir TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Tengah TA 2009 LKPD Kota Binjai TA 2009 LKPD Kota Medan TA 2009 LKPD Kota Pematangsiantar TA 2009 LKPD Kota Padangsidimpuan TA 2009 LKPD Kota Sibolga TA 2009 LKPD Kota Tanjungbalai TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Mentawai TA 2009 LKPD Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 LKPD Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Solok Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkalis TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kampar TA 2009 LKPD Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 LKPD Kabupaten Rokan Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Siak TA 2009 LKPD Kota Dumai TA 2009 167 .

Halaman 2 .Lampiran 56 No 5 6 43 Provinsi Jambi 44 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Muaro Jambi TA 2009 LKPD Kabupaten Tanjung Jabung Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Banyuasin TA 2009 LKPD Kabupaten Empat Lawang TA 2009 LKPD Kota Pagar Alam TA 2009 LKPD Kota Prabumulih TA 2009 LKPD Provinsi Jawa Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bekasi TA 2009 LKPD Kabupaten Ciamis TA 2009 LKPD Kabupaten Cianjur TA 2009 LKPD Kabupaten Garut TA 2009 LKPD Kabupaten Indramayu TA 2009 LKPD Kabupaten Karawang TA 2009 LKPD Kabupaten Kuningan TA 2009 LKPD Kabupaten Majalengka TA 2009 LKPD Kabupaten Subang TA 2009 LKPD Kabupaten Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kota Bandung TA 2009 LKPD Kota Bekasi TA 2009 LKPD Kota Bogor TA 2009 LKPD Kota Cimahi TA 2009 LKPD Kota Depok TA 2009 LKPD Kota Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kabupaten Tegal TA 2009 LKPD Kota Pekalongan TA 2009 LKPD Kabupaten Lombok Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kupang TA 2009 LKPD Kabupaten Manggarai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Sikka TA 2009 LKPD Kabupaten Timor Tengah Utara TA 2009 LKPD Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkayang TA 2009 LKPD Kabupaten Kapuas Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kayong Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Landak TA 2009 LKPD Kabupaten Sekadau TA 2009 LKPD Kabupaten Sintang TA 2009 LKPD Kota Singkawang TA 2009 LKPD Kabupaten Seruyan TA 2009 LKPD Kabupaten Balangan TA 2009 LKPD Kabupaten Kotabaru TA 2009 45 Provinsi Sumatera Selatan 46 47 48 7 49 Provinsi Jawa Barat 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 8 9 10 68 Provinsi Jawa Tengah 69 70 Provinsi Nusa Tenggara Barat 71 Provinsi Nusa Tenggara Timur 72 73 74 11 75 Provinsi Kalimantan Barat 76 77 78 79 80 81 82 12 13 83 Provinsi Kalimantan Tengah 84 Provinsi Kalimantan Selatan 85 168 .

Lampiran 56 No 86 87 14 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Tanah Bumbu TA 2009 LKPD Kota Banjarbaru TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Kartanegara TA 2009 LKPD Kabupaten Malinau TA 2009 LKPD Kota Bontang TA 2009 LKPD Kota Samarinda TA 2009 LKPD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Tenggara TA 2009 LKPD Kota Tomohon TA 2009 LKPD Kabupaten Bantaeng TA 2009 LKPD Kabupaten Jeneponto TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Selayar TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Maros TA 2009 LKPD Kabupaten Sinjai TA 2009 LKPD Kabupaten Takalar TA 2009 LKPD Kabupaten Tana Toraja TA 2009 LKPD Kabupaten Toraja Utara TA 2009 LKPD Kota Palopo TA 2009 LKPD Kabupaten Bombana TA 2009 LKPD Kabupaten Buton Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kolaka Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Majene TA 2009 LKPD Provinsi Maluku TA 2009 LKPD Kabupaten Buru TA 2009 LKPD Kabupaten Buru Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara Barat TA 2009 LKPD Kota Ambon TA 2009 LKPD Kota Tual TA 2009 LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur TA 2008 LKPD Provinsi Maluku Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 88 Provinsi Kalimantan Timur 89 90 91 92 93 15 94 Provinsi Sulawesi Utara 95 96 97 16 98 Provinsi Sulawesi Selatan 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 17 109 Provinsi Sulawesi Tenggara 110 111 112 113 18 19 114 Provinsi Sulawesi Barat 115 Provinsi Maluku 116 117 118 119 120 121 122 123 124 20 125 Provinsi Maluku Utara 126 127 128 129 169 .Halaman 3 .

Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota di DKI Jakarta. dan Kuwait 1 170 . Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI.Lampiran 56 No 130 131 132 21 133 Provinsi Papua 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 22 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 153 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Halmahera Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Sula TA 2009 LKPD Kota Tidore Kepulauan TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2009 LKPD Kabupaten Jayawijaya TA 2009 LKPD Kabupaten Mappi TA 2009 LKPD Kabupaten Merauke TA 2009 LKPD Kabupaten Mimika TA 2009 LKPD Kabupaten Nabire TA 2009 LKPD Kabupaten Paniai TA 2009 LKPD Kabupaten Puncak Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Sarmi TA 2009 LKPD Kabupaten Supiori TA 2009 LKPD Kabupaten Tolikara TA 2009 LKPD Kabupaten Waropen TA 2009 LKPD Kabupaten Yahukimo TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2008 LKPD Provinsi Papua Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Fakfak TA 2009 LKPD Kabupaten Manokwari TA 2009 LKPD Kabupaten Raja Ampat TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Teluk Bintuni TA 2009 147 Provinsi Papua Barat 148 149 150 151 152 153 II Laporan Keuangan Badan Lainnya 1 154 Kementerian Agama 155 2 156 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 1 1 LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1429 H/ 2008 M LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430 H/ 2009 M LK West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010 di Jakarta LK PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) TB 2009 di Surabaya LK Konsolidasi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009 di Batam LK PDAM Kota Padang TB 2009 3 4 157 PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 158 Badan Pengusahaan Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 1 1 5 159 Provinsi Sumatera Barat Jumlah LHP Keuangan 1 6 159 PEMERIKSAAN KINERJA III Tenaga Kerja Indonesia 1 160 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Jeddah. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI.Halaman 4 . Hongkonh. Singapura. Jawa Tengah. dan Nusa Tenggara Timur Serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Riyadh.

Jawa Barat. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kantor Pelabuhan Gebe. Kantor Pelabuhan Biringkasi. Balai Embrio Ternak Cipelang Balai Inseminasi Buatan Lembang. Provinsi Jawa Tengah. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. dan Nusa Tenggara Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat. dan Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Sulawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas di Jakarta Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 pada Kementerian Pertanian. Aroeppala Selayar. Jawa Timur. Dinas Pertanian. Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Suawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Yogyakarta. Probolinggo. Sikka dan Flores Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja di Lingkungan Sekretaris Jenderal. Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. Provinsi Maluku Utara. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sampang. Rembang. direktorat Jenderal Bina Marga. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota di Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Sulawesi Selatan. Kantor Pelabuhan Buli dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Kantor Bandar Udara H. Brebes. Sulawesi Barat. direktorat Jenderal Cipta Karya. Provinsi Papua. Jawa Tengah. dan Provinsi Papua Barat Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta IV Program Stimulus Belanja Infrastruktur 1 161 Kementerian Keuangan. D. Kantor Pelabuhan Sanana. I.Lampiran 56 No Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di Jakarta. Lampung.Halaman 5 . Kantor Pelabuhan Jampea. Provinsi DKI Jakarta. Pertanian. Peternakan. Kantor Bandar Udara H. Nusa Tenggara Barat. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang-Rembang di Provinsi Jawa Tengah Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah. Kantor Pelabuhan Selayar. Provinsi Sumatera Utara. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur di Jakarta. Perhubungan. Pekalongan. Banten. Energi. Aroeppala Selayar. Bandung dan Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Di Provinsi DKI Jakarta. Kantor Pelabuhan Jeneponto. Perkebunan Provinsi DKI Jakarta. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2 162 Kementerian Pertanian 1 3 163 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1 4 164 Kementerian Perhubungan 1 165 1 166 1 167 1 168 1 5 169 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 1 6 170 Kementerian Pekerjaan Umum 1 171 . Administrator Pelabuhan Makassar. Administrator Pelabuhan Makassar. Pamekasan. dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Keuangan. Kantor Pelabuhan Sinjai.

Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan.Halaman 6 .Lampiran 56 No 171 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Semarang SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Jawa Tengah SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Jawa Tengah Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Jawa Tengah SKS Pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Semarang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air CimanukCisanggarung. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum. Provinsi Jawa Timur. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Ii. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah Ii. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V di Surabaya. dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Vii. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi 172 1 173 1 174 1 175 1 176 1 177 1 172 . SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur.

SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. SNVT PJJ FakFak. SNVT PJJ Sorong dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI.Halaman 7 . SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Program Stimulus Belanja Infratruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Kepahiang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Bina Marga Dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi Kabupaten Demak di Demak Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Kabupaten Nganjuk di Nganjuk Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di Tulungagung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek di Trenggalek 179 1 180 1 181 1 182 1 183 1 184 1 185 1 186 1 187 1 188 1 189 1 190 1 173 .Lampiran 56 No 178 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X.

Halaman 8 . 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Deli Serdang 207 1 208 1 174 .d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Asahan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.Lampiran 56 No 191 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Kinerja atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur bidang Pekerjaan Umum tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangkaraya di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala di Marabahan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Donggala Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Parigi Moutong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Maros Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas PU Kab Halmahera Timur di Maba Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Prov Maluku Utara di Sofifi Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni 192 1 193 1 194 1 195 1 196 1 197 1 198 1 199 1 200 1 201 1 202 1 203 1 204 1 205 1 45 V Pengelolaan Hutan Mangrove 1 206 Kementerian Kehutanan 1 Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 ( Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Batu Bara serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Batu Bara Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.

Lampiran 56 No 209 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pelayanan Farmasi. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Serdang Bedagai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.A. dan Kehutanan Kota Batam serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Batam Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Pelayanan Non Medis pada RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektifivitas Pelayanan Farmasi.d. Thalib Kabupaten Kerinci TA 2009 dan Semester I 2010 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 3 224 Provinsi Jambi 1 225 1 175 .d. Riau.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan. dan Rekam Medik dalam Menunjang Pelayanan Kesehatan Paripurna Terpadu yang bermutu pada RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan.d. Pertanian.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Karimun Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Rokan Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjung Pinang serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Tanjung Pinang Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Perikanan. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Natuna Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. Rawat Inap. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bintan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Dumai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.Halaman 9 .d.d.Achmad Mochtar Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Inap.d. Pemeliharaan Peralatan. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Langkat Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Kementerian Kehutanan Beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Instansi Terkait Lainnya di Jakarta (Pusat) dan Provinsi Sumatera Utara. dan Farmasi dala menunjang Kesehatan yang Prima dan Paripurna pada RSU Mayjen H.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian. 2010 (Semester I) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bengkalis Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Kepulauan Riau 210 1 211 1 212 1 213 1 214 1 215 1 216 1 217 1 218 1 219 1 220 1 15 VI Penyelenggaraan Ibadah Haji 1 221 Kementerian Agama 1 1 VII Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1 2 222 Provinsi Sumatera Barat 223 Provinsi Riau 1 1 Pelayanan Kesehatan RSUD DR.

A. dan Rawat Inap pada RSD Mardi Waluyo TA 2009 dan 2010 di Blitar Efektivitas Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap pada RSD dr.DKI Jakarta Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR.d.Lampiran 56 No 4 Nama Entitas 226 Provinsi Sumatera Selatan 227 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Sekayu di Sekayu Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Dr. Sumber Daya Manusia.A. R.A. M.C. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga T. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah T.Halaman 10 . dan Rawat Inap pada RSUD Kabupaten Nganjuk TA 2009 dan 2010 di Nganjuk Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan TA 2009 dan 2010 di Pasuruan Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Dr. 2009 dan Semester I 2010 di Pemalang Kinerja Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Farmasi pada Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Kabupaten Semarang T. Sumber Daya Manusia.d. Hillers Kabupaten Sikka 5 6 228 Provinsi Bengkulu 229 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 7 230 Provinsi DKI Jakarta 1 8 231 Provinsi Jawa Tengah 1 232 1 233 1 234 1 9 10 235 Provinsi DI Yogyakarta 236 Provinsi Jawa Timur 237 1 1 1 238 1 239 240 241 1 1 1 242 1 243 11 244 Provinsi Bali 1 1 245 1 12 246 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 247 1 176 .A. 2009 dan Semester I 2010 di Ungaran Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang T. Ashari Kabupaten Pemalang T. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bengkulu Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Kota Pangkalpinang TA 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Pangkalpinang Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi TA 2009-s. 2009 dan Semester I 2010 di Purbalingga Pemeliharaan Sarana Medis dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. Soebandi Kabupaten Jember TA 2009 dan 2010 di Jember Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan dan Instalasi Farmasi pada RSUD Kabupaten Jombang TA 2009 dan 2010 di Jombang Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSU Dr. M. Juni) pada RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan Efektivitas Pelayanan Farmasi. 2009 dan Semester I 2010 di Magelang Pelayanan Farmasi dan Rawat Jalan TA 2009 dan 2010 (s.Triwulan III 2010 pada RSUD Cengkareng Prov. Soewandhie TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pelayanan Medis di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Singaraja Pengelolaan Penunjang Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Kabupaten Gianyar Tahun Aggaran 2009 dan 2010 di Gianyar Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Atambua Kabupaten Belu Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Harjono Kabupaten Ponorogo TA 2009 dan 2010 di Ponorogo Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSUD Dr. Saiful Anwar TA 2009 dan 2010 di Malang Efektivitas Pelayanan Farmasi.

2009 s.Chasan Boesoreiree Provinsi Maluku Utara tahun 2009 dan Semester I tahun 2010 Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika TA 2009 di Timika Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Nabire TA 2009 di Nabire Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Manokwari di Manokwari Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong di Sorong 13 14 15 249 Provinsi Kalimantan Barat 250 Provinsi Kalimantan Tengah 251 Provinsi Kalimantan Selatan 1 1 1 16 17 18 19 252 Provinsi Kalimantan Timur 253 Provinsi Sulawesi Tengah 254 Provinsi Sulawesi Selatan 255 Provinsi Gorontalo 1 1 1 1 256 1 20 257 Provinsi Sulawesi Barat 1 21 258 Provinsi Maluku Utara 259 1 1 1 1 1 22 260 Provinsi Papua 261 23 262 Provinsi Papua Barat 263 1 42 Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 1 264 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Soe di Soe Pelayanan Kesehatan TA.d 30 September) pada RSUD Undata di Palu Kegiatan Pelayanan Pasien TA 2009 dan 2010 (s.d Triwulan III) pada RSUD Kabupaten Wajo Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Tani Dan Nelayan Kabupaten Boalemo Di Tilamuta Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof. H. Sumber Daya Manusia. 2009 s.d. Pelayanan Rawat Inap dan Instalasi Farmasi TA 2009 dan 2010 (s. Murjani TA 2009-2010 (s.H.Lampiran 56 No 248 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Aloei Saboe Kota Gorontalo Di Gorontalo Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi.Halaman 11 . 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi di Sidikalang Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. Juni) di Sampit Kinerja Pengelolaan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Kotabaru Tahun Anggaran 2009 dan 2010 ( Sememster I) Efektivitas Pengelolaan Pelayanan Rawat Inap dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada RSUD Tarakan di Tarakan.d.d. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. Semester I 2010 pada Kabupaten Mandailing Natal di Panyabungan Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. Semester I 2010 pada Kabupaten Samosir di Pangururan 268 1 177 . 2009 dan 2010 pada RSUD Sanggau di Sanggau Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal RSUD Dr. Dr. Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Polewali Kinerja Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Soasio RSUD Dr. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan di Padangsidimpuan Pelayanan Kesehatan Pemerintah Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 265 1 2 266 Provinsi Sumatera Barat 1 3 VIII Pendidikan 1 267 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah.

Triwulan III) Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar Dalam Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam Menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Minahasa Utara TA 2009 dan Semester I 2010 3 272 Provinsi Riau 4 273 Provinsi Kepulauan Riau 1 274 1 5 275 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 6 276 Provinsi Kalimantan Tengah 1 7 277 Provinsi Sulawesi Utara 1 278 1 Pengelolaan Sarana dan prasarana serta tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kepulauan Sangihe TA 2009 dan Semester I 2010 Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar untuk Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali TA 2009 dan Semester I 2010 di Bungku 8 279 Provinsi Sulawesi Tengah 1 13 IX Kinerja PDAM 1 2 3 280 Provinsi Jambi 281 Provinsi Bengkulu 282 Provinsi Lampung 283 4 284 Provinsi Jawa Barat 285 5 6 7 286 Provinsi Banten 287 Provinsi Kalimantan Barat 288 Provinsi Kalimantan Timur 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kinerja PDAM Tirta Mayang Kota Jambi Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) Kinerja PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2009 dan 2010 Semester I di Argamakmur Kinerja PDAM Way Bumi TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Way Rilau TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung TB 2009 dan Semester I 2010 di Cimahi Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor TA 2009 dan Semester I 2010 di Bogor Sistem Penyediaan Air Minum TB 2009 dan Semester I 2010 pada PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang di Serang Kinerja PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Tahun 2009 dan Semester I 2010 di Pontianak Efektivitas Pengelolaan Kegiatan Penyediaan Air Bersih.Halaman 12 . Kegiatan distribusi Air Bersih dan Kegiatan Penagihan dan Penanganan Tunggakan Serta Keluhan Pelanggan TA 2009 dan 2010 PDAM Kota Balikpapan di Balikpapan 9 178 .d.Lampiran 56 No 2 Nama Entitas 269 Provinsi Sumatera Barat 270 271 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kinerja Pendidikan Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Solok TA 2009 dan 2010 Pengelolaan Sarana. Prasarana dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dan Instansi Terkait TA 2009 Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Bintan di Kijang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik dalam Menunjang Pendidikan Dasar dan Menengah TA 2009 dan 2010 (Semester I) pada Pemerintah Kabupaten Karimun di Tanjung Balai Karimun Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Menunjang Program Pendidikan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.

Jawa Timur. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Pelayanan Perijinan pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan Semester I TA 2010 Efektivitas Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait TA 2009 dan 2010 Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Penanggulangan Gizi Buruk pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung Kegiatan Pemeliharaan. serta Perusahaan di Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Cilacap dan Balikpapan 289 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2 290 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1 3 4 291 Kementerian Pertahanan 292 Kementerian Keuangan 1 1 293 1 294 1 295 1 5 296 Kementerian Kehutanan 1 6 297 Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata 1 7 298 Kementerian Perumahan Rakyat 1 8 299 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 9 300 Provinsi DKI Jakarta 1 10 301 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 11 302 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 12 13 303 Provinsi Nusa Tenggara Barat 304 PT Pertamina (Persero) 1 1 179 . Kegiatan Bursa Pariwisata Internasional dan Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata TA 2008. Polda Banten. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. dan Kepulauan Riau. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta.Lampiran 56 No X Kinerja Lainnya 1 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang Pelayanan SIM. STNK. 2009. Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 Semester I pada PT Pertamina (Persero) Dit. Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang Pengelolaan Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Di Jakarta Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. BPKB (SSB) pada Polda Lampung. dan Polda DIY di Bandar Lampung. Serang dan Yogyakarta Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan di Jakarta Efektivitas Penyelenggaraan.Halaman 13 .

Bandung dan Semarang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung di Bandar Lampung Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak Pengelolaan Pendapatan dan Belanja (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta. Sumatera Utara. Provinsi NAD. D. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan Serta Instansi Terkait Lainnya Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Parpol TA 2008 dan 2009 pada Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Sekretariat DPP Parpol di Jakarta dan Badan/ Kantor Kesbangpol di Provinsi dan Kabupaten/Kota.Yogyakarta. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. Sumedang. Bengkulu.I. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Bukittinggi dan Makasar Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan2010 pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.Medan 15 306 PT Perkebunan Nusantara II (Persero) 1 18 Jumlah LHP Kinerja PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU XI Pendapatan dan Pelaksanaan Belanja 1 307 Mahkamah Agung 147 1 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP serta Penerimaan Penanganan Perkara pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Wilayah DKI Jakarta.Halaman 14 . Jambi. Jawa Barat. Kalimantan Barat. Jambi. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Pekanbaru. Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Budapest di Hongaria Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Kuala Lumpur di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Moskow di Rusia 2 308 Kejaksaan Republik Indonesia 1 309 1 310 1 3 311 Kementerian Dalam Negeri 1 312 1 313 1 314 1 315 1 4 316 Kementerian Luar Negeri 317 318 1 1 1 180 . Kalimantan Selatan. Jawa Barat dan Jawa Tengah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Jakarta. Bangka Belitung. Medan.Lampiran 56 No 14 Nama Entitas 305 PT Garuda Indonesia (Persero) Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta Kinerja pada PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . Bengkulu. Sumatera Utara. Serta Sekretariat DPD dan DPC Parpol pada Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Solok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (ditjen PMD) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.

Lampiran 56 No 319 320 321 322 5 323 Mabes TNI Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Seoul di Korea Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Ho Chi Minh City di Vietnam Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Johor Bahru di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Penang di Malaysia Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Staf Intelijen (SINTEL) TNI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) di Jakarta dan Bogor Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) dan jajaran terkait di Surabaya Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2007. dan Medan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Pluit di Jakata Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing LIma di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batu di Malang Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Cibitung di Cibitung 6 324 TNI AL 1 325 1 7 326 TNI AU 1 8 327 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 1 9 328 Kementerian Keuangan 1 329 1 330 1 331 1 332 333 1 1 334 335 336 1 1 1 337 338 339 1 1 1 181 . Cibitung. Malang. 2008. Parepare. dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) dan jajaran terkait Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Koharmatau dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung. KPPBC Tipe A2 Bandar Lampung dan KPPBC Tipe A3 Amamapare Di Jakarta. Bandung. Banjarmasin. Merak.Halaman 15 . KPPBC Tipe A2 Banjarmasin. Batam. Gresik. Pematang Siantar. Bandar Lampung dan Timika Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya pada 16 (Enam Belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 dan 2010 DI Jakarta. Malang dan Madiun Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2009 dan 2010 dan Kerja sama Pihak Ketiga pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dan Instansi Terkait di Jakarta dan Cilacap Penerimaan Kepabenan dan Cukai Serta Penerimaan Negara Lainnya pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Merak. Solo.

Kanwil DJP Jawa Barat I. Bandung. dan Surakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 Di Jakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Barat dan Jambi dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Padang dan Jambi 344 345 346 347 348 1 1 1 1 1 349 350 351 1 1 1 352 1 353 354 355 1 1 1 356 1 357 1 358 1 359 360 1 1 182 . dan Kanwil DJBC Jawa Barat Serta Instansi Vertikal dibawahnya Kementerian Keuangan TA 2009 dan 2010 di Jakarta. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 dan 2008 pada Bank Pembangunan Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Tengah Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Pemangunan Daerah Kalimantan Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Pengadaan Barang dana Jasa Pemerintah pada Kamtor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Kanwil DJP Jawa Barat II. Padang. Serta Kanwil DJP Jawa Tengah II TA 2008 dan 2009 di Jakarta. Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank DKI Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank BJB Tbk. Makasar dan Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP).Halaman 16 . Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Lampung. Kanwil DJBC Sulawesi.Lampiran 56 No 340 341 342 343 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Bandung Tegallega di Bandung Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batam di Batam Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Gresik Utara di Gresik Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Pematang Siantar di Pematang Siantar Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Parepare di Parepare Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat di Medan Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Mandiri (persero) Tbk. Bekasi. Pontianak. Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Kalimantan Bagian Barat.

Halaman 17 .Lampiran 56 No 361 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu Dan Lampung dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Lampung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bekasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Surakarta Belanja Barang dan Belanja Modal BPH Migas TA 2009 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru. Satuan Kerja Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli. Kalimantan Barat dan Lampung Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN TA 2009 dan 2010 pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta 362 1 363 1 364 1 10 11 365 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 366 Kementerian Perhubungan 1 1 12 367 Kementerian Pendidikan Nasional 1 13 368 Kementerian Agama 1 369 1 370 14 371 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 372 1 15 373 Kementerian Sosial 1 16 374 Badan Pertanahan Nasional 1 375 1 376 1 377 1 183 . Jawa Barat. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Triwulan III/2010) pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (BBPLKDN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Bandung Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Sosial. Dinas Sosial Provinsi dan Instansi terkait di Jakarta. dan Satuan Kerja Bandar Udara FL Tobing Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin di Jambi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Walisongo di Semarang Pelaksanaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Tahun 2009 dan 2010 (s. Kalimantan Selatan. dan Jawa Timur.d. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kota Surabaya I dan Kota Surabaya II di Surabaya Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara.

dan Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kabupaten Aceh Tengah TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Dinas BIna Marga.Halaman 18 . Belanja Modal TA 2010 pada Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Pekerjaan Umum. Modal TA 2008 dan 2009 pada Ditpolair Mabes Polri Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Lhoksukon TA 2009 dan 2010 Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kota Medan di Medan Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang di Lubuk Pakam Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Tengah di Pandan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya TA 2009 dan 2010 18 379 Kepolisian Republik Indonesia 380 381 382 1 1 1 1 19 383 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 20 384 Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi 1 21 385 Kementerian Perdagangan 1 22 386 Taman Mini Indonesia Indah 1 23 387 Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS 1 24 25 388 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas 389 Provinsi Aceh 1 1 390 1 391 1 26 392 Provinsi Sumatera Utara 393 394 395 1 1 1 1 1 1 1 27 396 Provinsi Sumatera Barat 397 398 184 . Pontianak. Semarang. Badan Litbang SDM dan MMTC Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta dan Yogyakarta Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku di Ambon Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku Utara di Ambon dan Ternate Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. Yogyakarta. Makasar dan Gowa Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan 2010 serta Aset Negara pada Taman Mini Indonesia Indah dan Instansi Terkait di Jakarta Pengelolaan dan pertanggungjawaban Dana Tabungan Perumahan PNS pada BAPERTARUM PNS TA 2009 dan Semester I 2010. dan Lampung Pemeriksaan Atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal T A 2009 dan 2010.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 378 Kementerian Komunikasi dan Informatika Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Sekretariat Jendral. Dinas Pengairan. Dinas Pendidikan dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya di Blangpidie Belanja Daerah Dinas Pekerjaan Umum. Belanja Modal. serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Polda Sulawesi Utara di Manado Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada Provinsi Jawa Tengah di Semarang Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta. Dinas Kesehatan. DInas Cipta Karya dan Energi Sumber Daya Mineral. Dinas Kesehatan.dan Belanja Modal Kementerian Perdagangan TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta.

Lampiran 56 No 399 400 401 402 403 404 405 28 406 Provinsi Riau Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sijunjung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kota Padang TA 2009 dan 2010 Belanja Modal pada Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 dan Semester I 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Jambi di Jambi Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bungo di Muara Bungo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Merangin di Bangko Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di Sengeti Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Muara Sabak Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Belanja daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Sungai Penuh di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Jambi di Jambi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo di Muaro Bungo Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Biaya Pemilihan Umum Gubenur dan Wakil Gubenur Jambi pada Komisi Pemilihan Umum. Panitia Pengawas Pemilihan Umum.Halaman 19 . dan Instansi terkait lainnya Se-Provinsi Jambi Tahun 2010 pada Provinsi Jambi di Jambi 29 407 Provinsi Jambi 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 423 424 1 1 185 .

Lampiran 56 No 30 Nama Entitas 425 Provinsi Sumatera Selatan 426 427 428 429 430 431 432 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah TA 2009 – 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang Pendapatan Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Lahat di Lahat. Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Kayuagung Belanja Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di Martapura Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kab Muara Enim di Muara Enim Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu di Baturaja Belanja Daerah Tahun 2010 pada Pemerintah Kota Pabumulih di Prabumulih Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Bengkulu TA 2009 dan Semester I TA 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kepahiang di Kepahiang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten Lebong dan Instansi Terkait Lainnya TA 2010 di Tubei Pengelolaan dan PertanggungJawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko TA 2010 di Mokomuko Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong TA 2010 di Curup Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Pilkada Provinsi Bengkulu TA 2010 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Bengkulu di Bengkulu Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Lampung di Bandar Lampung Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang (Pendidikan dan Kesehatan) Pemerintah Provinsi Lampung TA 2010 di Bandar Lampung Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Gunung Sugih Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pesawaran (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Gedong Tataan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tanggamus (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Kota Agung 31 433 Provinsi Bengkulu 434 435 436 437 438 439 1 1 1 32 440 Provinsi Lampung 441 442 443 444 445 1 1 1 1 1 1 446 447 448 33 449 Provinsi Bangka Belitung 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Way Kanan (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Blambangan Umpu Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Pemerintah Kota Metro di Metro Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjungpandan Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 20 . Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kota Pangkalpinang di Pangkalpinang 450 1 186 .

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset. 455 Provinsi Kepulauan Riau 456 1 457 458 459 35 460 Provinsi DKI Jakarta 461 1 1 1 1 1 462 36 463 Provinsi Jawa Barat 464 465 1 1 1 1 466 467 1 1 468 1 469 1 470 1 471 1 472 1 187 . Dinas Kesehatan. Semester 1 2010) pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Batam di Batam Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Energi.d. Dinas Kesehatan TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang Belanja Daerah Kabupaten Bekasi TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Dinas Kesehatan. Dinas Pendidikan.Halaman 21 . Agustus 2010) pada Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bogor di Cibinong Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandung di Bandung Belanja Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun Aggaran 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat TA 2009 dan 2010 di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon di Sumber Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Sumber Daya Mineral Kabupaten Ciamis Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bekasi di Cikarang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Sekretariat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta di Purwakarta. Dinas Bina Marga. Dinas Bina Marga. Bappeda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dinas Kesehatan.d. Dinas Pendidikan. Semester 1 2010) pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Pemuda dan Olah Raga. Dinas Bina Marga. Dinas Kesehatan. dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut di Garut Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Sumber Daya Air.Lampiran 56 No 451 452 453 454 34 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung TA 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka TA 2010 di Sungailiat Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah TA 2010 di Koba Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Belitung Timur TA 2010 di Manggar Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.

d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 Juni 2010) di Yogyakarta Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 di Bantul Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010 di Wonosari Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2010 di Beran Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan TA 2010 di Bangkalan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bondowoso TA 2010 di Bondowoso Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro TA 2010 di Bojonegoro Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik TA 2010 di Gresik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Jember TA 2010 di Jember 38 488 Provinsi DI Yogyakarta 489 490 1 491 1 39 492 Provinsi Jawa Timur 493 494 495 496 497 498 1 1 1 1 1 1 1 188 . Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Temanggung di Temanggung Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d. Oktober) di Purworejo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.Halaman 22 .d.Lampiran 56 No 37 Nama Entitas 473 Provinsi Jawa Tengah 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Brebes di Brebes Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Kudus di Kudus Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Pekalongan Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Semarang TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Kendal Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Blora di Blora Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Rembang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Karanganyar Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kota Salatiga Pendapatan Asli Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta TA 2009 dan 2010 (s. November) pada Pemerintah Kabupaten Klaten di Klaten Belanja Daerah Kabupaten Purworejo TA 2009 dan 2010 (s.

d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah 527 Provinsi Nusa Tenggara Barat 189 .d. Juli 2010) di Serang Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Badung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Buleleng di Singaraja TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gianyar TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Jembrana di Negara Belanja Daerah Kabupaten Karangasem TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Kabupaten Klungkung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Tabanan TA 2009 dan 2010 Belanja Barang dan Jasa. Belanja Hibah.Lampiran 56 No 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 40 41 519 Provinsi Banten 520 Provinsi Bali 521 522 523 524 525 526 42 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang TA 2010 di Lumajang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Magetan TA 2010 di Magetan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi TA 2010 di Ngawi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pacitan TA 2010 di Pacitan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sampang TA 2010 di Sampang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2010 di Sidoarjo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Situbondo TA 2010 di Situbondo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sumenep TA 2010 di Sumenep Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek TA 2010 di Trenggalek Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tuban TA 2010 di Tuban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung TA 2010 di Tulungagung Belanja Daerah Pemerintah Kota Batu TA 2010 di Batu Belanja Daerah Pemerintah Kota Kediri TA 2010 di Kediri Belanja Daerah Pemerintah Kota Madiun TA 2010 di Madiun Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kota Mojokerto TA 2010 di Mojokerto Belanja Daerah Pemerintah Kota Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah (PAD) TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Banten (s.Halaman 23 .

Belanja Hibah. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.Halaman 24 . 30 September 2010) di Buntok Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Utara TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Belanja Barang dan Jasa. 31 Oktober) pada Pemerintah Kota Mataram Pelaksanaan Pembangunan Bandara Internasional Lombok (Sumber Dana APBD Provinsi NTB TA 2007 s.d 31 Oktober 2010) pada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas di Kuala Kurun 529 1 530 1 531 1 43 532 Provinsi Nusa Tenggara Timur 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 45 547 Provinsi Kalimantan Barat 548 Provinsi Kalimantan Tengah 549 550 551 552 190 .d.d. Belanja Hibah.d. September 2010) di Muara Teweh Belanja Modal TA 2010 (s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d.d 2010) Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Alor Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Belu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lembata Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Nagekeo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Pendapatan Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 di Pontianak Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah TA 2010 di Palangkaraya Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Timur TA 2010 di Barito Layang Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Selatan TA 2010 (s.Lampiran 56 No 528 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Belanja Barang dan Jasa. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Belanja Barang dan Jasa.d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d 2010 dan Sumber Dana APBD Kabupaten Lombok Tengah TA 2008 s. Belanja Hibah.

Agustus 2010) Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros TA 2009 dan 2010 (s.d. 31 Oktober 2010) di Pulang Pisau Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Seruyan TA 2010 (s.d.d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai di Luwuk Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 25 .d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Sigi di Biromaru Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan di Salakan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) di Nanga Bulik Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau TA 2010 (s. 30 September) pada Provinsi Sulawesi Tengah di Palu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d 30 November 2010) di Kuala Pembuang Belanja Modal pada Pemerintah Kota Palangkaraya TA 2010 di Palangkaraya Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009 dan 2010 (s.d.d. 30 Juni 2010) di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Barabai Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Pelaihari Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Banjarbaru di Banjarbaru Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I 2010 pada Kota Bitung Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow di Kotamobagu Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa di Tondano Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara di Rantahan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kab Kepulauan Talaud di Melonguane Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Tomohon di Tomohon Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Provinsi Sulawesi Utara Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Manado Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Kota Manado di Manado Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 553 554 555 556 557 558 46 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Katingan TA 2010 di Kasongan Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur di Sampit Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Lamandau TA 2010 (s. September 2010) 559 Provinsi Kalimantan Selatan 560 561 562 563 564 47 565 Provinsi Sulawesi Utara 566 1 1 1 1 1 1 1 567 568 569 570 571 1 1 1 1 1 572 1 48 573 Provinsi Sulawesi Tengah 574 575 576 1 1 1 1 1 1 49 577 Provinsi Sulawesi Selatan 578 191 .d.d.

September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Luwu TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d. Oktober) di Soasio Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Lanny Jaya Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Nduga 584 Provinsi Sulawesi Tenggara 585 586 51 587 Provinsi Sulawesi Barat 588 589 590 52 591 Provinsi Maluku Utara 592 593 594 595 596 597 598 599 53 600 Provinsi Papua 601 XII Manajemen/Pengelolaan Aset 1 2 602 Provinsi Bengkulu 603 Provinsi Jawa Timur 1 1 1 1 295 1 1 Manajemen Aset Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2009 dan 2010 di Sidoarjo Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya 604 1 192 . September) di Kendari Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Muna TA 2009 dan 2010 di Raha Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Majene di Majene Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Mamuju di Mamuju Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Tobelo Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di Maba Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Weda Belanja Daerah Tahun 2009 (Semester II) dan Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Labuha Belanja Daerah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai di Daruba Belanja Daerah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan TA 2010 (s. Semester I) Belanja Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang TA 2009 dan 2010 (s.d.d. September) di Kendari Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Kendari TA 2009 dan 2010 (s..Lampiran 56 No 579 580 581 582 583 50 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar TA 2009 dan 2010 (s. Semester I) Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Sinjai TA 2009 dan 2010 (s.d.Halaman 26 .d.d. Semester I) Belanja Daerah Kota Parepare TA 2009 dan 2010 (s.

d.d.d 30 Juni 2010) di Banjarmasin Pengelolaan Aset Tetap TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong di Parigi Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Tana Toraja TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 27 . Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kayong Utara TA 2009 dan 2010 di Sukadana Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kubu Raya TA 2009 dan 2010 di Sungai Raya Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sambas TA 2009 dan 2010 di Sambas Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sanggau TA 2009 dan 2010 di Sanggau Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Binamarga Pemerintah Kabupaten Nunukan TA 2009 dan 2010 di Nunukan.Lampiran 56 No 3 605 Provinsi Bali Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Buleleng TA 2009 dan 2010 (sampai dengan 30 Juni 2010) di Singaraja Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jembrana TA 2009 dan 2010 sampai dengan 30 Juni 2010) di Negara Pengelolaan Aset Pemerintah Kota Banjarmasin Tahun 2009 dan 2010 (s. September 2010) di Masamba 606 4 5 6 607 Provinsi Kalimantan Selatan 608 Provinsi Sulawesi Tengah 609 Provinsi Sulawesi Selatan 610 1 1 1 1 1 9 XIII Belanja Daerah Bidang Infrastruktur 1 611 Provinsi Lampung 612 613 2 614 Provinsi DI Yogyakarta 615 3 616 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Kalianda Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Sukadana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Menggala Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Bantul TA 2009 dan 2010 di Bantul Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo TA 2009 dan 2010 di Wates Pelaksanaan Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Non Jalan dan Jembatan Prov. 2 627 Provinsi Sumatera Selatan 1 193 . Belanja Infrastruktur Kabupaten Boalemo TA 2009 dan 2010 Pemeriksaan Belanja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo TA 2009 dan 2010 Belanja Infrastruktur Kabupaten Gorontalo Utara TA 2009 dan 2010 617 618 619 620 4 621 Provinsi Kalimantan Timur 622 1 1 1 1 1 1 5 623 Provinsi Gorontalo 624 625 1 1 1 15 XIV Operasional PDAM 1 626 Provinsi Sumatera Barat 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan Daerah (Pendapatan dan Belanja Perusahaan) PDAM Kota Bukittinggi TB 2009 dan 2010 Kegiatan Operasional PDAM TB 2009 dan TB 2010 (s. Juli) pada PDAM Lematang Enim di Muara Enim. Belanja Daerah Infrastruktur Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara TA 2009 dan 2010 di Penajam Paser Utara.d. Juni 2010) di Makale Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Luwu Utara TA 2009 dan 2010 (s.

Semester I) Operasional PDAM Kabupaten Polewali Mandar TB 2009 dan TB 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Tolitoli di Tolitoli Pendapatan dan Belanja PDAM Kota Makassar TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Tojo Una-una di Ampara Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d.d. 30 Juni 2010) di Polewali Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Jayapura TB 2008 dan 2009 di Sentani 4 634 Provinsi Bali 635 1 636 5 6 7 637 Provinsi Nusa Tenggara Barat 638 Provinsi Kalimantan Selatan 639 Provinsi Sulawesi Tengah 640 641 642 643 644 645 8 9 10 646 Provinsi Sulawesi Selatan 647 Provinsi Sulawesi Barat 648 Provinsi Papua 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23 XV Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi 1 649 BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP 1 Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Eks Pertamina Block pada BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP serta instansi terkait di Jakarta. Semester I) pada PDAM Kabupaten Buleleng di Singaraja Realisasi Pendapatan.d. Prabumulih dan Cirebon Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Kakap pada BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd.d.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 628 Provinsi Jawa Timur 629 630 631 632 633 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Banyuwangi TA 2009 dan Semester I 2010 di Banyuwangi Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Blitar TA 2009 dan Semester I 2010 di Blitar Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Kediri TA 2009 dan Semester I 2010 di Kediri Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Madiun TA 2009 dan Semester I 2010 di Madiun Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Mojokerto TA 2009 dan Semester I 2010 di Mojokerto Kegiatan Operasional PDAM Kota Pasuruan TA 2009 dan Semester I 2010 di Pasuruan Realisasi Pendapatan.d.d.d.d. Agustus) Operasional PDAM Intan Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan TB 2009 dan 2010 (s.d.d. Juni) Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Donggala di Banawa Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. serta instansi lain yang terkait di Jakarta dan Natuna 2 650 BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.d. 1 194 . 30 Juni) pada Kabupaten Morowali di Kolonodale Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Semester I) pada PDAM Kota Denpasar di Denpasar Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh PDAM Menang Mataran TB 2009 dan 2010 (s.d.Halaman 28 . 30 Juni) pada Kabupaten Banggai di Luwuk Operasional PDAM Motanang Tahun 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Poso di Poso Operasional PDAM UE Tanah Tahun 2009 dan 2010 (s. Semester I) pada PDAM Kabupaten Karangasem di Amlapura Realisasi Pendapatan.d.d. 30 Juni) pada Kabupaten Buol di Buol Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.

Pengendalian Biaya dan Kegiatan Investasi Tahun 2007. Penjualan dan Investasi TB (TB) 2008.d. dan Kupang 2 653 PT Pertamina (Persero) 654 1 1 3 655 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) 1 4 656 PT Kereta Api (Persero) 1 5 657 PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) 1 6 XVII Operasional BUMN 1 658 PT (Persero) Angkasa Pura II 1 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu pada PT (Persero) Angkasa Pura II TA 2006 dan 2007 di Tangerang. Medan dan Padang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu PT Adhi Karya (Persero) Tbk TB 2008 dan 2009 (s. IV di Medan. Pengendalian Biaya. 2005 pada PT Pertamina (Persero) di Jakarta Subsidi Jenis BBM Tertentu tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat. Denpasar dan Makassar Pengelolaan Pendapatan.d.d.d. Semarang.d. dan Surabaya Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkatan Laut Penumpang Kelas Ekonomi dalam Negeri TA 2009 pada PT Pelayaran Nasional Indonesia di Jakarta.Halaman 29 . Palembang.d. Triwulan III) di Jakarta. Unit Pemasaran BBM Retail Region I s. VII dan Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I s. 2009 pada Bank Indonesia Tambahan Penggantian biaya Subsidi BBM TB 2003 s. Produksi. Biaya dan Investasi TB 2008. Jakarta. 2009 dan 2010 (Triwulan I) pada PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Jakarta.d. (PT KF) dan Anak Perusahaan yaitu PT Kimia Farma Trading dan Distribution (PT KFTD) Pengelolaan Pendapatan. Dan 2009 (Semester I) pada PT Nindya Karya (Persero) Kegiatan Pengelolaan Pendapatan. Semester I) pada PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang 2 659 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1 3 660 Bali Tourism Development Corporation 1 4 661 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 1 5 662 PT Nindya Karya (Persero) 1 6 663 PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) 1 6 XVIII Operasional BUMD 1 2 664 Provinsi Sumatera Utara 665 Provinsi Riau 1 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan TB 2009 dan 2010 pada PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan Pengelolaan Pendapatan. Balikpapan. Semarang.Petrochina East Java Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Wil. dan Makasar Perhitungan Subsidi Pupuk Produksi PT Pupuk Iskandar Muda yang Disalurkan PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) TA 2009 pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Iskandar Muda di Jakarta dan Lhokseumawe Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum Angkutan Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi (PSO) TA 2009 pada PT Kereta Api Indonesia di Bandung. Triwulan III) pada BTDC Kegiatan Pengadaan. Kerja Tuban Tahun 2009 pada BP Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor KKKS JOB Pertamina Petrochina East Java di Jakarta dan Surabaya 3 XVI Subsidi Pemerintah 1 652 Bank Indonesia 1 Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Untuk TA 2007 s. Surabaya. Pengendalian Biaya dan Kerjasama Operasi TB 2007. Surabaya. dan Investasi TB 2008 dan 2009 (s. 2008. 2009 dan Semester I 2010 pada PT Pengembangan Investasi Riau di Pekanbaru 195 .Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 651 BPMIGAS dan KKKS JOB Pertamina . Balikpapan. Yogyakarta. Medan. Jakarta. 2008 dan 2009 (s.

d.d. Semester 1 2010) di Tanjung Balai Karimun Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Natuna TB 2009 dan 2010 (s.M. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. Kalsel. Bagi Hasil. 2009 dan Semester I 2010 pada PD Sarana Pembangunan Siak di Siak Sri Indrapura Pelaksanaan Perjanjian Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta ManunggalPratama dalam Pembangunan dan Pengelolaan Jambi Tepian Ratu Reverview Hotel dan Resort Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Karimun TB 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi Tahun Buku 2008. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. 11 Kontrak PKB2B dan 549 Pemegang Kuasa Pertambangan/ Izin Usaha Pertambangan di Jakarta. Adnaan WD TA 2009 dan 2010 di Payakumbuh Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD DR. Kaltim. Johannes di Kabupaten Kupang 681 1 682 1 683 1 684 1 196 . Batanghari dan 45 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan Serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bulian Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. Dr W. Abdul Moeloek di Bandar Lampung Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD Mayjen. PNBP.d.Lampiran 56 No 666 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pendapatan. Semester 1 TA 2010 pada Kementerian ESDM 13 Pemerintah Kab/ Kota di Prov. Banjarmasin dan Samarinda Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perijinan. H. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Padang. PNBP. Pirngadi Medan di Medan Kegiatan Operasional RSUD Dr. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Tebo Kegiatan Operasional RSUD TA 2009 dan 2010 pada RSUD Dr. serta Instansi Terkait Lainnya di Sarolangun Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. H. Riau. Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kab.d. Ryacudu Pendapatan dan Belanja RSUD Prof. Semester 1 2010) di Ranai Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama TB 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Kegiatan Operasional PD Pasar Surya TA 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Perusahaan Daerah Aneka Usaha Prov.Halaman 30 . Sumbar. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bungo Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. 2009 dan 2010 (Semester I) di Masohi 3 667 Provinsi Jambi 1 4 668 Provinsi Kepulauan Riau 1 669 5 670 Provinsi Jawa Timur 671 6 7 8 672 Provinsi Kalimantan Barat 673 Provinsi Kalimantan Timur 674 Provinsi Maluku 1 1 1 1 1 1 11 XIX Operasional RSUD 1 2 3 675 Provinsi Sumatera Utara 676 Provinsi Sumatera Barat 677 Provinsi Lampung 678 4 679 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 1 1 1 1 5 XX Pengelolaan Pertambangan Batu Bara 1 680 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pengelolaan Pertambangan Batubara TA 2008 s. Jambi. Operasional PD Praja Karya Kabupaten Maluku Tengah TB 2008.. PNBP. Jambi. Sarolangun dan 62 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Kegiatan Operasional Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Tahun 2009 dan 2010 di Provinsi Samarinda. Tebo dan 27 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil.d. Pekanbaru.Z. Bagi Hasil. Bungo dan 58 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.

Juni 2010) di Bantul Operasional Bank pada PD. serta Instansi Terkait Lainnya di Teluk Kuantan 686 1 687 1 688 1 689 1 690 1 691 1 692 1 693 1 14 XXI Operasional Bank Daerah 1 2 3 694 Provinsi Sumatera Barat 695 Provinsi Jambi 696 Provinsi Jawa Tengah 697 Provinsi DI Yogyakarta 698 4 699 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 1 1 1 1 1 Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat TB 2009 dan 2010 Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Kuala Tungkal Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) TB 2009 dan 2010 di Semarang Operasional Bank pada PD. serta Instansi Terkait Lainnya di Batulicin Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Tanah Bumbu Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. serta Instansi Terkait Lainnya di Tembilahan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Bagi Hasil. PNBP.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil. PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. BPR Bank Bantul TB 2009 dan 2010 (s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. Bank NTB TB 2009 dan Semester I 2010 197 .Halaman 31 .d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Rengat Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Kuantan Singingi dan 9 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP.d. PNBP.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Muaro Sjunjung Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Tenggarong Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Sawah Lunto Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Sawah Lunto dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Bagi Hasil. PNBP. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil. BPR Bank Sleman Tahun Buku 2009 dan 2010 (s. PNBP. Bagi Hasil.d. Tanah Laut Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Indragiri Hulu dan 20 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Bagi Hasil. Berau dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Indragiri Hilir dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. Bagi Hasil.d. dan Instansi Terkait Lainnya di Pelaihari Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Kutai Kartanegara dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Sijunjung dan 21 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.Lampiran 56 No 685 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Tanjung Redeb Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. Juni 2010) di Beran Pengelolaan Non Performing Loan (NPL) dan Pembagian Laba Untuk dana Peduli Sosial Kemasyarakatan PT.

06) TA 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.Halaman 32 .06) TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Bank Indonesia. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur TB 2009 dan 2010 (Operasional) Operasional PT.06 TA 2009 pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta 4 706 Bank Indonesia 1 5 6 707 Kementerian Keuangan 708 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 7 709 Kementerian Sosial 1 8 710 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 9 711 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 1 10 712 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 1 11 713 Badan Pertanahan Nasional 1 12 714 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 13 715 Lembaga Administrasi Negara 1 14 716 Badan Kepegawaian Negara 1 15 717 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 16 718 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 1 198 .06 TA 2009 pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.d 30 September 2010 pada PT Bank Sulteng dan Kantor Cabang di Palu.Lampiran 56 No 5 6 7 Nama Entitas 700 Provinsi Nusa Tenggara Timur 701 Provinsi Kalimantan Tengah 702 Provinsi Sulawesi Utara Daftar LHP Jml 1 1 1 Objek Pemeriksaan PT. Luwuk.d 30 september 2010) pada PT Bank Sulut Serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo Operasional Bank Tahun 2009 dan 2010 (s.06) TA 2009 pada Kementerian Sosial di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. dan Perum Jamkrindo Pengelolaan Belanja Subsidi Tahun 2009 dan Belanja LainLain Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.E.42 M2 pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta Penelitian Atas Tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling Dalam Rangka Risk Sharing Antara Pemerintah.06 TA 2009 pada Lembaga Administrasi Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Tolitoli dan Parigi Moutong 8 703 Provinsi Sulawesi Tengah 1 10 XXII PDTT Lainnya 1 2 704 Kementerian Keuangan 705 Kementerian Pekerjaan Umum 1 1 Dana Bagi Hasil Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) pada Kementerian Keuangan Amblasnya Sisi Utara Jalan R.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Buol.06 TA 2009 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.d.06) TA 2009 pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06 TA 2009 pada Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Bank Kalimantan Tengah TB 2009-2010 (s. Semester I) di Palangkaraya Kegiatan Operasional TB 2009 dan 2010 (s. Poso. Martadinata Seluas 653.

d. dan Bekasi 18 720 Kementerian Perumahan Rakyat 1 19 721 Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1 20 722 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 21 22 23 723 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia 724 Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia 725 Provinsi Jambi 1 1 1 24 726 Provinsi Bengkulu 1 25 26 727 Provinsi Riau 728 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 27 28 729 Provinsi Gorontalo 730 Provinsi Aceh 1 1 29 731 Provinsi Maluku Utara 1 732 1 30 733 PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) 1 31 734 PT Pertamina (Persero).INO (SF) and Grant 0024-INO STAR . Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM 1 31 Jumlah LHP DTT Total LHP 428 734 199 .06) TA 2009 pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 719 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Semarang. 2009 pada PT Pertamina (Persero). Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM di Jakarta.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP RRI Program Swasembada Pangan dan Pengelolaan Saluran Irigasi Tersier pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi TA 2008 dan 2009 di Sengeti Pengelolaan dan PertanggungJawaban Keuangan dalam Pelaksanaan MTQN XXIII TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Bengkulu Pengelolaan Kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010 di Pekanbaru Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah SeKalimantan Barat untuk Pendirian dan Pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Universitas Tanjungpura.06 TA 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06) TA 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Surabaya.SDP TA 2009 pada Inspektorat Provinsi Aceh di Banda Aceh Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Provinsi Maluku Utara Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Kab Halmahera Tengah Kerjasama dengan Pihak Ketiga dan Pengadaan Barang dan Jasa TB 2007. 2008 dan 2009 (Semester I) pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) di Makassar dan Jakarta Kegiatan Pengadaan Paket Tabung LPG 3Kg Tahun 2007 s.d. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan PFK Kabupaten Bone Bolango Tahun 2007 s.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP TVRI Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999. Loan 2127 .Halaman 33 . 2009 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Loan Agreement No.06) TA 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Serang.