P. 1
IHPS2010-sem2

IHPS2010-sem2

|Views: 325|Likes:
Published by Randu Mulia

More info:

Published by: Randu Mulia on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2014

pdf

text

original

i

i

DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Grafik Daftar Lampiran KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF PEMERIKSAAN KEUANGAN BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya PEMERIKSAAN KINERJA BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan BAB 8 Kinerja Pendidikan BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU BAB 11 Pengelolaan Pendapatan BAB 12 Pelaksanaan Belanja BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan, dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batu Bara BAB 16 Pelaksana Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah BAB 21 Operasional Bank Daerah BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH LAMPIRAN

Hal
i ii iii iv v ix 1 11 15 37 43 45 55 67 71 77 85 89 93 97 99 119 145 155 165 175 181 189 201 213 221 231 241 245 253

ii

DAFTAR TABEL
1. 2. 3. 4. 5. 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 11.1 11.2 12.1 12.2 13.1 14.1 15.1 16.1 17.1 18.1 19.1 20.1 21.1 22.1 23.1 24.1 24.2 24.3 24.4 Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Opini KKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan dan Bangunan Pengairan/Drainase Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD Cakupan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010

25.1 25.2 25.3 25.4

Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana

iii

DAFTAR GAMBAR
4.1 5.1 5.2 Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Water Pass dan Theodolite Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang

iv

DAFTAR GRAFIK
1.1 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 (dalam %) 1.2 Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 24.1 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi)

v

Daftar Lampiran
1.a 1.b 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.a 8.b 8.c 8.d 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005-2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok Temuan menurut Entitas Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 1. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 2. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 3. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Belanja Pemerintah Pusat

vi 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/ Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM

vii 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok Jenis Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Pusat Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Daerah Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada BUMN, BHMN, dan KKKS Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010

viii .

21 miliar. badan usaha milik negara. tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat. kasus potensi kerugian negara/daerah senilai Rp2. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada lembaga perwakilan. yaitu senilai Rp104.50 juta selama proses pemeriksaan masih berlangsung.50 juta. dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. badan usaha milik daerah. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus kerugian negara/daerah senilai Rp59. dengan menyetor ke kas negara/daerah atau penyerahan aset. Selanjutnya. lembaga negara lainnya. Jakarta. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP). BPK menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) yang merupakan informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu semester tertentu. dan kekurangan penerimaan. serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Tuhan Yang Maha Esa. BPK berharap Buku IHPS II Tahun 2010 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah. IHPS II Tahun 2010 ini dapat diselesaikan tepat waktu. dan 428 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Selanjutnya.ix Kata Pengantar Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E. Bank Indonesia. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas pemeriksaan keuangan. IHPS ini merupakan ikhtisar hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan BPK pada Semester II Tahun 2010 atas 734 objek pemeriksaan. dan gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan. 31 Maret 2011 . sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah telah menindaklanjuti kasus kerugian negara/daerah. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. pemerintah daerah. 147 objek pemeriksaan kinerja.57 miliar. Akhir kata.23 miliar dan USD10. Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester II Tahun 2010 dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan atas tiap-tiap entitas yang kami lampirkan dalam bentuk cakram padat/Digital Video Disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini. yaitu 159 objek pemeriksaan keuangan. potensi kerugian negara/daerah. Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester II Tahun 2010.01 miliar dan USD10. Penyusunan Buku IHPS II Tahun 2010 ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara kepada pemangku kepentingan (stakeholders). Hal ini membuktikan bahwa respon instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat positif dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dan peran BPK dalam penyelamatan uang negara. presiden. pemeriksaan kinerja. badan layanan umum. serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp42.

x .

BUMD. Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). dan badan hukum milik negara (BHMN)/ badan layanan umum (BLU) seluruhnya sejumlah 734 objek pemeriksaan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut. . IHPS disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya. BUMN. Sedangkan untuk pemeriksaan keuangan dilakukan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 yang belum diperiksa pada Semester I Tahun 2010. Pada Semester II Tahun 2010. badan usaha milik negara (BUMN). IHPS II Tahun 2010 merupakan ikhtisar dari 734 laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Selain hasil pemeriksaan. IHPS II Tahun 2010 juga memuat hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. pemeriksaan kinerja. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara.1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RINGKASAN EKSEKUTIF IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN 2010 Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010 disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. termasuk didalamnya pemantauan terhadap hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian negara/tindak pidana yang disampaikan kepada instansi yang berwenang (penegak hukum). pemeriksaan BPK diprioritaskan pada pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. dan kepada presiden serta gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). badan usaha milik daerah (BUMD). pemerintah daerah. pemerintah daerah. Objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 terdiri atas entitas pemerintah pusat. Pemeriksaan dilaksanakan terhadap entitas di lingkungan pemerintah pusat.

Rincian temuan tersebut disajikan dalam Tabel 2.23 triliun.01 miliar dan USD10.18 triliun. kewajiban senilai Rp40. Pemeriksaan kinerja sebanyak 147 objek pemeriksaan dengan cakupan tidak secara spesifik menunjuk nilai tertentu dan PDTT meliputi 428 objek pemeriksaan dengan cakupan pemeriksaan senilai Rp539. Dalam Tabel 2 temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian.21 triliun. dan ketidakefektifan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut antara lain berupa perbaikan SPI atau tindakan administratif.48 triliun.760 kasus dengan nilai Rp3. serta ekuitas senilai Rp303.46 triliun dan USD156. senilai Rp104. ketidakhematan.43 juta. dan laporan realisasi anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp130. belanja senilai Rp135. Jumlah temuan dari 734 objek pemeriksaan tersebut adalah sebanyak 6. Lampiran 54. Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp344.27 triliun. Di antara temuan-temuan tersebut. dan kekurangan penerimaan. Di antara temuan tersebut. dan Lampiran 55). potensi kerugian dan kekurangan penerimaan sebanyak 3.81 triliun.87 triliun dan USD156.355 kasus senilai Rp6. Rincian objek pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keuangan sebanyak 159 objek yaitu LKPD. Sedangkan selebihnya adalah temuan-temuan administrasi. . dan pembiayaan neto (laba/rugi) senilai Rp22.43 juta. ketidakefisienan.50 juta telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa dengan penyetoran ke kas negara/daerah selama proses pemeriksaan (Lampiran 53. yaitu temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. terdapat temuan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut yang memiliki implikasi nilai rupiah. Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Entitas Yang Diperiksa Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya Jumlah Pemeriksaan Keuangan 153* 1 1 4 159 Pemeriksaan Kinerja 46 89 3 9 147 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 117 250 16 44 1 428 Jumlah 163 492 20 54 5 734 *) termasuk dua LKPD Tahun 2008 Hasil Pemeriksaan Jumlah objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 sebanyak 734 objek pemeriksaan.2 Tabel 1. LK BUMN. dan LK Badan Lainnya dengan cakupan pemeriksaan meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). potensi kerugian.40 triliun.

63 3.43 4 5 6 7 Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Total Hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2010 berdasarkan jenis pemeriksaan disajikan secara ringkas dalam uraian berikut.54 1.15 95.43 895.70 triliun.154.45 triliun.277.54 53.211 386 795 2.39 1.221 3.42 1.40 99.06 1.66 1. BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 dan dua LKPD Tahun 2008.22 37. dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp112.498.81 4.48 461. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas. Rincian opini per entitas sebagaimana terlihat dalam Lampiran 1a.43 156.80 0.392 896 226 1 302 3.689.817 368.73 156.50 9.73 156.44 652. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi: neraca dengan rincian aset senilai Rp289.3 Tabel 2.70 7. serta enam Laporan Keuangan BUMN/D dan badan lainnya.645.46 5.760 1.54 53. Dalam Semester II Tahun 2010.10 1.81 159.870.25 491.62 3. belanja senilai Rp118.88 triliun.91 7.795 316 3 481 6. Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.99 2.32 42. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.00 triliun.411 566.233. dan ekuitas senilai Rp286.020.672.70 triliun. Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Pemeriksaan Keuangan No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Nilai (juta USD) Jumlah Kasus Total Nilai (juta USD) Nilai (miliar Rp) 1 2 3 Kerugian Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Sub Total 740 128 412 1. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas dari 151 LKPD Tahun 2009 yang telah diperiksa BPK pada Semester II Tahun 2010. dan pembiayaan neto senilai Rp21.695.28 6.013 526 1.355 1.39 62 12 14 88 3 6 30 127 84.09 94.04 247.82 1.15 95.43 156.280 896 84 2 149 2.79 249.896. kewajiban senilai Rp3.72 1.43 2. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas (Kota Langsa).62 1.461.97 triliun. . Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini TMP.

Sementara itu. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten Seram Bagian Barat. Sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. jumlah yang memperoleh opini TW menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Tahun 2008 dan penurunan . Pemeriksaan LKPD Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP dan WDP dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. Opini LKPD Tahun 2009 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah WTP WDP TW TMP Jumlah 14 259 30 45 348 % 4% 74% 9% 13% 100% LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% Dengan demikian. Tabel 4. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009.4 Opini atas 151 LKPD yang dilaporkan dalam IHPS II Tahun 2010 ini dan 348 LKPD yang telah dilaporkan sebelumnya dalam IHPS I Tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini. Tabel 3. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 OPINI WTP 2007 2008 2009 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% 469 485 499 LKPD JUMLAH Dalam Tabel 4 disajikan perkembangan opini LKPD 2007 sampai dengan 2009. Dari 524 pemerintah daerah 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian.

.87 miliar (Lampiran 2. Ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-undangan ini yang dapat mempengaruhi opini LKPD adalah ketidakpatuhan yang mempunyai dampak material terhadap penyajian kewajaran laporan keuangan. BPK juga memeriksa enam laporan keuangan badan lainnya dan BUMN/D. Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap saldo aset tetap sehingga mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. dan peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum dibuat. opini WDP diberikan terhadap LK PDAM Kota Padang TB 2009 serta LK Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. dan opini TMP menunjukkan penurunan dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. Opini TMP dan TW diberikan oleh BPK sebagian besar disebabkan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) atas laporan keuangan pemerintah daerah. Kelemahan tersebut tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset. dan Lampiran 4). Selain itu. Hal ini secara umum menggambarkan perbaikan kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh pemerintah daerah walaupun perbaikan tersebut belum signifikan.43 triliun.320 kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan senilai Rp1. temuan yang mengakibatkan kerugian.460 kasus kelemahan SPI. Kelemahan SPI yang sering terjadi terutama dalam pengendalian aset tetap seperti nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. BPK juga memberikan opini TMP terhadap LK PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) serta LK Penyelenggaraan Ibadah Haji (LK PIH) Tahun 1430H/2009 M dan Tahun 1429 H/2008 M. Dari temuan ketidakpatuhan ini. Kelemahan SPI lainnya yang juga berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan antara lain : pengelolaan kas belum tertib.5 dibandingkan Tahun 2007. realisasi belanja yang tidak sesuai dengan peruntukannya. dan 2. Selain pengendalian intern. kelemahan manajemen kas. Pemeriksaan BPK terhadap LKPD Tahun 2009 menemukan 1. Lampiran 3. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan daerah yang telah ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan penyetoran ke kas daerah selama proses pemeriksaan senilai Rp21. BPK memberikan opini WTP terhadap LK West Sumatera Earthquake Disaster Project Badan Nasional Penanggulangan Bencana (WSEDP BNPB) TA 2010. pencatatan penyertaan modal pemerintah dan dana bergulir tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. nilai persediaan yang dilaporkan tidak berdasarkan inventarisasi fisik. pencatatan transaksi yang belum akurat dan tepat waktu serta masalah disiplin anggaran. opini atas LKPD juga dipengaruhi oleh ketidakpatuhan entitas terhadap ketentuan perundang-undangan dalam kerangka pelaksanaan APBD dan pelaporan keuangan. Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Selain pemeriksaan atas LKPD. perbedaan pencatatan antara saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber dan penyajian aset tetap tidak didasarkan hasil inventarisasi dan penilaian.

5% di tengah krisis keuangan dunia. Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal (SF) belanja infrastruktur Tahun 2009. pertanian. dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. 3 BUMN. penganggaran. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. energi.520 Orang Hari (OH) dan 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151. proses penempatan di negera tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Efektivitas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak tercapai secara optimal karena kompleksitasnya masalah. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. pelatihan dan pengujian kesehatan. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. Hasil pemeriksaan kinerja pada umumnya mengungkapkan belum efektifnya suatu kegiatan atau program diantaranya sebagai berikut. Hal tersebut disebabkan oleh kelemahan kebijakan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan atau 20% dari seluruh objek pemeriksaan Semester II Tahun 2010. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. sistem/prosedur perencanaan. Hasil pemeriksaan BPK dapat dikelompokkan dalam beberapa tema pemeriksaan sebagai berikut: • • • • • • • penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4. perhubungan. yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah. Dalam Semester II Tahun 2010. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tenaga kerja yang tidak terserap minimal sebanyak 216. pengelolaan hutan mangrove. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 18 pemeriksaan kinerja yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut di atas. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. .49 miliar atau 3. Permasalahan tersebut yaitu penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan kinerja lainnya. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. dan 9 PDAM.6 Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. kinerja pendidikan.69% dari realisasi anggaran yang diperiksa. dan perusahaan daerah air minum (PDAM). pengurusan dokumen.

dan ketidakefisienan senilai Rp4. operasional BUMN. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. ketidakhematan. operasional PDAM. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan atau 58% dari 734 objek pemeriksaan. Di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah oleh entitas senilai Rp43. Hasil pemeriksaan tersebut dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. ketidakefektifan. dan Lampiran 55). kekurangan volume. dan 3.04 miliar dan USD10.67 triliun dan USD156. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak dan sebagainya. dan kekurangan penerimaan negara/daerah (Lampiran 53. belanja subsidi pemerintah. kekurangan penerimaan. Dalam Semester II Tahun 2010.48 triliun.7 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. Kekurangan volume dalam suatu pengadaan barang/jasa menyebabkan kelebihan pembayaran oleh pemerintah kepada rekanan . Kerugian negara/daerah dapat terjadi karena adanya belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.50 juta selama proses pemeriksaan yang berasal dari kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 31 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. potensi kerugian negara/daerah. pelaksanaan belanja. Salah satu akibat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah kerugian negara/daerah. pengelolaan/manajemen aset. pengelolaan pertambangan batubara. belanja bidang infrastruktur. dan operasional BUMD lainnya. potensi kerugian.817 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/ daerah. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. pemahalan harga. operasional RSUD. Lampiran 54. terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.43 juta. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya.168 kasus kelemahan SPI. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. operasional bank daerah. Hasil PDTT mengungkapkan 1. Hasil PDTT menunjukkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan adalah kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.

54 juta (Lampiran 53).211 kasus kerugian negara/daerah hasil PDTT senilai Rp368. karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. serta penerimaan pajak pemerintah pusat yang telah dipungut oleh pemerintah daerah tetapi tidak segera disetor ke kas negara. dan/atau kepala daerah belum menetapkan tarif retribusi dan pajak daerah. serta pimpinan KL atau kepala daerah tidak intensif dan tegas dalam menagih penerimaan yang sebenarnya sudah menjadi hak negara/daerah. Kekurangan penerimaan umumnya terjadi karena kelemahan pencatatan dan administrasi penatausahaan pendapatan. Keadaan tersebut didukung pula dengan lemahnya pengawasan dari atasan langsung atas pelaksanaan kegiatan barang/jasa termasuk dalam proses pembuatan BAST. Selain dari PDTT atas pendapatan.99 miliar dan USD95. Kasus kekurangan penerimaan di antaranya meliputi kekurangan penetapan dan pemungutan penerimaan pajak dan PNBP. penghilangan dan penundaan penetapan hak penerimaan daerah. Dalam Semester II Tahun 2010 ditemukan 505 kasus kekurangan volume pekerjaan/barang/jasa senilai Rp123.82 miliar dan USD7. pihak ketiga wanprestasi dalam pembayaran kontribusi atas pemanfaatan aset negara/daerah. Selain PDTT atas belanja dan penerimaan. Hasil PDTT atas pendapatan mengungkap adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah. Belanja Lain-Lain adalah . menjual. pembebasan pajak kepada wajib pajak (WP) tertentu oleh kepala daerah. mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.73 juta (Lampiran 55). Hasil PDTT secara menyeluruh mengungkap sebanyak 795 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp895. Masalah tersebut terjadi karena rekanan pengadaan barang/jasa dengan sengaja mengurangi volume atau ukuran pekerjaan yang tercantum dalam kontrak. perjanjian dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan aset negara/daerah tidak dibuat secara tegas. BPK juga melakukan PDTT atas BA 999. Belanja Subsidi merupakan pengeluaran atau alokasi anggaran yang diberikan pemerintah kepada perusahaan negara. Hal ini masih sering terjadi karena kelalaian atau ketidakcermatan panitia pengadaan barang/jasa dalam melakukan pemeriksaan fisik pada saat membuat berita acara serah terima (BAST) sehingga nilai pekerjaan dinyatakan telah selesai dikerjakan 100% dan rekanan berhak mendapatkan pembayaran penuh atas pekerjaannya tersebut.8 karena volume atau jumlah barang/jasa yang diterima kurang dari jumlah atau volume yang diperjanjikan dalam kontrak.06 yang terdiri dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BSBL).50 miliar dari 1. lembaga pemerintah atau pihak ketiga lainnya yang memproduksi. yaitu penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah. kekurangan penerimaan juga ditemukan pada PDTT lainnya yang terjadi antara lain karena adanya pekerjaan yang tidak selesai sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kontrak tetapi belum dikenakan denda keterlambatan.

dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat. listrik.06 tahun sebelumnya. Khusus rekomendasi BPK dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terkait dengan penyetoran kas/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan yang telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa adalah berkisar Rp1. Sebanyak 18. Hal ini terjadi terutama karena Direktorat Jenderal Anggaran belum menetapkan kriteria evaluasi atas kegiatan yang layak dibiayai dari BA 999. pupuk.47 juta. termasuk diantaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran tersendiri. Hasil pemeriksaan atas Belanja Subsidi mengungkapkan antara lain bahwa BUMN operator belum sepenuhnya mematuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM.9 pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 17 kasus biaya yang tidak layak dibebankan pada cost recovery senilai USD66.028 (36. BPK juga melakukan PDTT atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (cost recovery). . Lampiran 51. bencana sosial. Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK tersebut menunjukkan sebanyak 28. Permasalahan ini juga ditemukan pada hasil pemeriksaan atas LK BA 999. dan sebanyak 30.93 triliun dengan rincian seperti Tabel 5 berikut. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010.35 triliun dan sejumlah valas.29%) rekomendasi senilai Rp41.06.53 triliun dan sejumlah valas telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi. dan Lampiran 52).18%) rekomendasi senilai Rp38. dan benih. Adapun hasil pemeriksaan Belanja Lain-Lain pada Tahun 2010 mengungkap adanya temuan belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak. BPK telah memberikan 76.148 (39. Hal ini mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1.53%) rekomendasi senilai Rp23. tindakan administratif dan/atau penyetoran kas/ penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan.546 (24.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya.39 triliun dan sejumlah valas ditindaklanjuti belum sesuai dengan rekomendasi (dalam proses ditindaklanjuti). Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan KKS Migas adalah para kontraktor belum sepenuhnya mematuhi klausul KKS dan pedoman tata kerja yang berlaku dengan memasukkan biaya-biaya yang seharusnya tidak boleh dibebankan pada cost recovery yang akan diklaim oleh kontraktor yang bersangkutan.42 triliun dan sejumlah valas belum ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa (Lampiran 50. Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa antara lain dengan melakukan perbaikan sistem pengendalian intern (SPI). Selanjutnya.722 rekomendasi senilai Rp103.

24 807.03 ribu.69 0.28 GBP 17.13 0.82 0.30 miliar dan USD1.53 USD 42. Sisa kasus sebanyak 97 kasus merupakan kasus dalam proses penelaahan.69 USD 53. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.302 kasus kerugian negara/daerah senilai Rp908.780. penuntutan sebanyak 1 kasus. dan putusan hakim sebanyak 2 kasus. Total penyelesaian ganti kerugian negara/daerah (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2.24 1.793.06 juta.28 miliar dan USD228.77 miliar serta pelunasan sebanyak 977 kasus senilai Rp65.03 119.931.47 0.03 ribu. Daerah BUMN Total 807.82 0. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan No.930.11 triliun dan USD11.955. 1.07 1. Kejaksaan.82 USD 4.47 0.37 0. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berupa angsuran terpantau sebanyak 1.00 1.45 2.00 8.552.24 Total (miliar Rp) 1.991.158.955.552.003.00 EUR 11.80 8.13 0. proses pengumpulan bahan dan koordinasi. Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/ Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010.362 kasus senilai Rp42.893.930. instansi yang berwenang (Kepolisian.991.28 11.03 0.21 juta. Dari sebanyak 105 kasus tersebut.780. 3.10 Tabel 5.24 0. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Entitas Pusat Nilai (miliar Rp) 1.79 GBP 17. proses gelar perkara.48 EUR 11.00 0. dan/atau belum ditindaklanjuti.53 miliar dan USD1. penyidikan sebanyak 2 kasus.991.07 0.79 13.05 0.80 Total (miliar Rp) Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa pada kurun waktu tahun 2009-2010 telah terjadi sebanyak 4.13 0.00 119.00 11.000.339 kasus senilai Rp108.45 13.13 0.48 8.003. Maret 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA .951.893. Jakarta. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus.82 Nilai Valas Kurs Tengah 31 Des Nilai Ekuivalen 2010 (Rp) (miliar Rp) 8.991. proses banding/kasasi.37 0.05 USD 7.

dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan. Oleh karena itu. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). opini tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. Dengan kata lain. Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. selain memberikan opini atas laporan keuangan. kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern (SPI).11 PEMERIKSAAN KEUANGAN Salah satu tugas BPK adalah melaksanakan pemeriksaan keuangan. • Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures). sehingga informasi • • • . Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI dan laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif lainnya. opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. pernyataan menolak memberikan opini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Penjelasan Pasal 16 ayat (1). opini wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. opini wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa.

SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. • • Kepatuhan Pemberian opini juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.12 keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. potensi kerugian daerah. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. SPI pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). dan barang. Potensi kerugian negara/daerah (termasuk potensi kerugian yang terjadi pada perusahaan negara/daerah) adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yang nyata dan pasti jumlahnya. SPI dinyatakan memadai apabila unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. surat berharga. kekurangan penerimaan. yaitu kelemahan yang terkait dengan ada/tidak adanya struktur pengendalian intern atau efektivitas struktur pengendalian intern yang ada dalam entitas yang diperiksa. ketidakekonomisan. Sistem Pengendalian Intern (SPI) Salah satu kriteria pemberian opini adalah evaluasi atas efektivitas SPI. administrasi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum. yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran penerimaan negara/daerah serta pelaksanaan program/kegiatan pada entitas yang diperiksa. • . baik sengaja maupun lalai. dan ketidakefektifan sebagai berikut. dan barang. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. Kelemahan tersebut mengakibatkan permasalahan dalam aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut. yaitu kelemahan sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan. ketidakefisienan. Kelemahan struktur pengendalian intern. • Kerugian negara/daerah (termasuk kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah) adalah berkurangnya kekayaan negara/daerah berupa uang. surat berharga.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. neraca.13 • Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBD (LRA). selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. laporan arus kas. Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. • • • • Laporan Keuangan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. laporan arus kas. . tidak menghambat program entitas. menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut. dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambatlambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat/daerah. Demikian juga halnya dengan gubernur/bupati/walikota. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBN (LRA). dan catatan atas laporan keuangan. Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional. tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan penerimaan). dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Temuan mengenai ketidakefisienan mengungkap permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk satu satuan output yang lebih besar dari seharusnya.

dan Pasal 56 undang-undang tersebut menyatakan bahwa gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan keuangannya kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. pada tingkat daerah. dan BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2009 kepada DPR pada 31 Mei 2010. termasuk Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL). dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tingkat provinsi/kabupaten/kota. .14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. pada Semester I Tahun 2010 BPK telah melakukan pemeriksaan keuangan atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP). BPK melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 LKPD Tahun 2009 dan 2 LKPD Tahun 2008 serta 6 laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. Pada tingkat pusat. Dalam Semester II Tahun 2010. baik pemerintah maupun BPK telah dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu. Memenuhi ketentuan tersebut. Namun. BPK baru menyelesaikan 348 hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 pada Semester I Tahun 2010 karena masih cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004.

yaitu opini. Selain itu.3 1. 1. Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset senilai Rp289. (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. yaitu LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur (Provinsi Maluku) dan LKPD Kabupaten Dogiyai (Provinsi Papua). kewajiban senilai Rp3. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009.1 Pada Semester II Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 pada 151 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. belanja senilai Rp118. dan pembiayaan neto senilai Rp21. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan.70 triliun. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA).97 triliun. sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. BPK juga melakukan pemeriksaan atas dua LKPD Tahun 2008. 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. rincian pendapatan senilai Rp112.88 triliun. Pemeriksaan atas LKPD dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada kriteria. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.70 triliun. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Dengan demikian.2 1. Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat pemeriksaan atas LKPD ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Sementara itu.15 BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 1. serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian. dan ekuitas senilai Rp286. Pada LRA. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. sistem pengendalian intern (SPI).00 triliun.5 Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam tiga kategori. Dari 524 pemerintah daerah.45 triliun. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. Pemeriksaan baru dilakukan pada Semester II Tahun 2010 karena baik LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur maupun LKPD Kabupaten Dogiyai baru diserahkan oleh masing-masing pemda pada Tahun 2010. Kabupaten Seram Bagian Barat. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).4 Hasil Pemeriksaan 1. .

8 1.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan 2009 dapat dilihat dalam Tabel 1. 2008.9 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah % 4% 74% 9% 13% 100% 14 259 30 45 348 LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% WTP WDP TW TMP Jumlah 1. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas. Opini WTP diberikan BPK kepada LKPD Kota Langsa di Provinsi Aceh.16 1. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.1 berikut ini. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 LKPD 2007 2008 2009 OPINI WTP 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% JUMLAH 469 485 499 1.10 Perkembangan opini LKPD Tahun 2007. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini tidak memberikan pendapat (TMP). BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas.2 berikut ini. Rincian opini untuk masing-masing entitas dapat dilihat pada Lampiran 1a. . Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.1. Tabel 1. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas. Opini 1. opini LKPD Tahun 2007 telah diberikan pada 469 LKPD. dan Tahun 2009 kepada 499 LKPD.11 Dari Tabel 1.2 di atas terlihat adanya peningkatan jumlah LKPD yang diperiksa BPK dari tahun ke tahun.1 menyajikan perkembangan masing-masing jenis opini disajikan dalam persentase. Rincian opini tiap-tiap entitas dapat dilihat pada Lampiran 1b. Grafik 1. Opini LKPD Tahun 2009 atas 499 pemerintah daerah disajikan dalam Tabel 1.7 Terhadap 151 LKPD Tahun 2009. Opini LKPD Tahun 2009 1. Tabel 1. Oleh karena itu. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.2. Berdasarkan data di atas. Tahun 2008 kepada 485 LKPD.

14 . • penurunan dalam opini WDP dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 1%. LKPD Tahun 2009 yang diperiksa pada Semester II Tahun 2010 terdiri dari 6 LKPD provinsi.17 Grafik 1. dan terdapat kenaikan sekitar 6% dibanding opini LKPD Tahun 2007.12 Dari Grafik 1.1. 118 LKPD kabupaten.1 diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 yang dalam persentase. 1. Dilihat dari tingkat pemerintahan.13 Hal ini secara umum menggambarkan bahwa entitas pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan yang wajar telah meningkat (dalam hal jumlah entitas) walaupun peningkatan tersebut belum signifikan (dalam persentase). Opini LKPD Tahun 2009 untuk masing-masing tingkat pemerintahan dapat dilihat dalam Tabel 1. • kenaikan dalam opini TW dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 4% dan terdapat penurunan sekitar 3% dibandingkan opini LKPD Tahun 2007. 1. dan 27 LKPD kota. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 (dalam %) 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% WTP 1% 3% 3% 67% 60% 66% 2007-469 LHP 26% 24% 13% 6% 10% 2008-485 LHP 21% 2009-499 LHP WDP TW TMP 1. dan • penurunan dalam opini TMP dibandingkan opini LKPD 2008 sekitar 3% dan dibandingkan opini LKPD 2007 sekitar 5%.3 berikut ini. menunjukkan • kenaikan dalam opini WTP dibandingkan opini LKPD Tahun 2007 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dari LKPD Tahun 2008.

efisien. gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah. transparan.17 Untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang efektif.15 Grafik 1. Sistem pengendalian intern (SPI) pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). dibandingkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten yang memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 76% dan 66% dari keseluruhan entitas provinsi dan kabupaten. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan LKPD Tahun 2009 Pemerintahan Provinsi Kabupaten Kota Jumlah Yang dilaporkan pada IHPS I 2010 WTP 1 7 6 14 WDP 21 187 51 259 TW TMP 2 24 4 30 3 38 4 45 Jml 27 256 65 348 LKPD Tahun 2009 Yang dilaporkan pada IHPS II 2010 WTP 0 0 1 1 WDP TW TMP 3 53 15 71 1 13 4 18 2 52 7 61 Jml 6 118 27 151 Total LKPD Tahun 2009 WTP WDP 1 7 7 15 24 240 66 330 TW 3 37 8 48 TMP 5 90 11 106 Jml 33 374 92 499 1.2 menyajikan perbandingan opini LKPD Tahun 2009 berdasarkan tingkat pemerintahan yang disajikan dalam persentase. . dan akuntabel.2 di atas terlihat bahwa rata-rata opini yang diperoleh pada pemerintahan tingkat kota lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan tingkat provinsi dan kabupaten.18 Tabel 1. Pemerintah kota memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 79% dari keseluruhan entitas kota.2. Sistem Pengendalian Intern 1. Grafik 1. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 73% 64% 72% WTP WDP TW TMP 24% 3% 9% 15% 2% Kabupaten 10% 7% 9% 12% Provinsi Kota 1.16 Dari Grafik 1.3.

25 1.22 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa LKPD yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya memiliki pengendalian intern yang memadai. salah satunya yang terkait dengan SPI adalah efektivitas SPI. Efektivitas SPI merupakan salah satu kriteria yang digunakan oleh BPK dalam meneliti kewajaran informasi keuangan. Kelemahan pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar disebabkan belum memadainya unsur lingkungan pengendalian dan kegiatan pengendalian. pengamanan aset negara.26 . 1. 1. penjelasan Pasal 16 ayat (1) Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria. masih terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian terlihat dari kurang dipahaminya tugas pokok dan fungsi pada satuan kerja serta kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan. Namun. Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset. Untuk itu.20 1. Adapun LKPD yang memperoleh opini TMP dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. kegiatan pengendalian. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.19 1.18 SPI memiliki fungsi untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP. pencatatan transaksi yang akurat dan tepat waktu.24 1. informasi dan komunikasi. penilaian risiko. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. Masih banyaknya opini TMP dan TW yang diberikan oleh BPK menunjukkan efektivitas SPI pemerintah daerah belum optimal. Hasil evaluasi atas SPI LKPD dapat diuraikan sebagai berikut. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI.23 1. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini.21 Hasil Evaluasi SPI 1. tidak didukungnya kebijakan dengan pedoman pelaksanaan yang jelas. SPI meliputi lima unsur pengendalian. serta lemahnya pengendalian dan koordinasi tugas antara atasan dan bawahan. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. yaitu lingkungan pengendalian. Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari komitmen terhadap kompetensi yang belum memadai. serta pemantauan. keandalan pelaporan keuangan.19 1.

• sebanyak 208 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. • Di Kabupaten Kuantan Singingi.27 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 1. Sebanyak 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.20 pengendalian atas pengelolaan sistem informasi.28 Hasil evaluasi atas 151 LKPD terdapat 1.460 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. • sebanyak 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. di antaranya nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan.04 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya.46 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. Provinsi Riau.30 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp1. dan pendokumentasian yang baik atas SPI. Provinsi Sulawesi Selatan. serta 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan kejadian penting. • Di Kabupaten Maros. pencatatan tidak akurat yaitu pengelolaan aset daerah yang kurang optimal. • sebanyak 6 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. penatausahaan aset tetap belum dilaksanakan secara tertib pada beberapa SKPD sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp2. terdiri atas • sebanyak 455 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. transaksi. 1. 1.29 . • sebanyak 10 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2. 1. 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.

Provinsi Kalimantan Tengah. pembayaran kegiatan lanjutan atas kontrak-kontrak pekerjaan Tahun 2008 senilai Rp490.32 Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja di antaranya sebagai berikut.41 miliar tidak dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2009 mengakibatkan tidak terciptanya disiplin anggaran. • Di Kabupaten Nabire.31 Sebanyak 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 69 kasus mekanisme pemungutan. penyajian aset tetap senilai Rp927.00 miliar tidak didasarkan pada perencanaan yang matang dan berpotensi tidak selesai tepat waktu. • sebanyak 30 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • sebanyak 42 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.98 miliar tidak berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga saldo aset tetap per 31 Desember 2009 tidak dapat diyakini kewajarannya. terdapat perbedaan pencatatan antara penyajian saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber pembukuan aset tetap sehingga saldo per 31 Desember 2009 senilai Rp1. • sebanyak 149 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 210 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. • Di Provinsi Aceh. 1. 1. Provinsi Nusa Tenggara Timur. . Provinsi Sumatera Utara. • sebanyak 26 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. pembangunan kawasan pusat pemerintahan TA 2009 s. inventarisasi dan penatausahaan barang milik daerah belum dilakukan secara optimal sehingga nilai aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp571. • Di Kabupaten Timor Tengah Utara.25 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya.d. 2012 senilai Rp216. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.21 • Di Kabupaten Seruyan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. Provinsi Papua. • Di Kabupaten Padang Lawas.30 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya.

1.878 lembar senilai Rp981. • Di Provinsi Aceh. dan 2007. • Di Kabupaten Buru Selatan. • sebanyak 64 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.80 miliar dilakukan mendahului penetapan anggaran.22 • Di Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Jawa Barat.50 miliar dijadikan jaminan untuk pinjaman sehingga dana yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal. terdapat aset pemerintah daerah berupa deposito TA 2009 dijadikan jaminan cash collateral senilai Rp33. dan • sebanyak 2 kasus lain-lain kelemahan struktur pengendalian intern. distribusi. Hal ini mengakibatkan realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa tidak dapat diyakini kewajarannya dan APBD yang sudah ditetapkan dengan perda tidak dapat digunakan sebagai fungsi otorisasi.02 miliar yang tidak dilaporkan sehingga menyulitkan pengendalian atas transaksi penerimaan maupun pengeluaran pada buku kas umum kuasa BUD. penerbitan SP2D sebanyak 3. • Di Kabupaten Simalungun. • Di Kabupaten Cianjur.50 miliar atas perjanjian pembiayaan dengan Bank Muamalat di antaranya senilai Rp23. rekening kas umum daerah belum ditetapkan dan terdapat rekening kas daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp10. realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa TA 2009 senilai Rp76. Provinsi Sumatera Utara.33 Sebanyak 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. pelaksanaan pekerjaan pada beberapa SKPD TA 2009 senilai Rp15. • sebanyak 4 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai.34 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut sebagian besar atau sekitar 51% merupakan kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur di antaranya sebagai berikut. . 1. pengawasan. 2008. • sebanyak 16 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal.20 miliar melewati batas waktu 31 Desember 2009 yang mengakibatkan tidak terciptanya tertib anggaran dan tertundanya penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh TA 2009. Provinsi Maluku. dan stabilisasi.83 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum digunakan untuk pekerjaan swakelola TA 2009. perencanaan. Provinsi Sumatera Utara. alokasi. terdiri atas • sebanyak 90 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.

peraturan bupati tentang sistem dan kebijakan akuntansi TA 2009 belum dibuat sehingga membuka peluang adanya persepsi ganda dalam hal pengakuan. belum sepenuhnya memahami ketentuan.35 Unsur pengawasan pada pemerintah daerah belum optimal. BPK telah merekomendasikan antara lain • kepala daerah agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. Penyebab 1. • pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. SOP yang ada pada entitas tidak ditaati yaitu terdapat dua rekening kas daerah senilai Rp1. Provinsi Papua Barat. dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait. 178 rekening bendahara pengeluaran SKPD senilai Rp1. 1. Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan. Rekomendasi 1.38 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.00 miliar belum mendapat izin kepala daerah dan lima SKPD menggunakan rekening pribadi untuk menampung pencairan dana SP2D pada akhir tahun senilai Rp921. pencatatan.27 juta sehingga pengendalian kas daerah lemah dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah TA 2009.00 miliar belum ditetapkan dengan SK kepala daerah. Upaya penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi temuan pemeriksaan belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-temuan berulang dan lambat ditindaklanjuti.36 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/ pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas. peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum ditetapkan sehingga pengelola keuangan dan kekayaan daerah (PKKD) dan SKPD kesulitan dalam penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan TA 2009. Provinsi Sulawesi Barat. • Di Kabupaten Manokwari.23 • Di Kabupaten Majene. dan pelaporan.37 . • Di Provinsi Maluku. 1. dan • memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.

1.34 95.761. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. dan lain-lain kasus kerugian daerah. pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 729 119 398 862 74 1 137 2. pemahalan harga (mark up).320 Nilai (juta Rp) 556.39 Selain opini dan temuan-temuan SPI.24 Kepatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan 1.49 207.76 4.84 1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. potensi kerugian daerah. administrasi.42 . kekurangan penerimaan.430.384.320 kasus senilai Rp1. dan ketidakefektifan.43 triliun sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.4.415. dan barang. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 No.929. ketidakefisienan. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.40 Berdasarkan Tabel 1.41 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.271. ketidakhematan/pemborosan. surat berharga.753. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.4.60 195.42 370. Tabel 1.48 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Jumlah 1. hasil pemeriksaan atas 151 LKPD Tahun 2009 juga menemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan sebanyak 2. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. Masing-masing kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut. kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. Kerugian Daerah 1.4 di atas.252.

07 miliar. rekanan. terdapat pemberian panjar Tahun 2009 kepada SKPD.56 miliar.37 miliar.24 miliar.41 miliar di antaranya adanya tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan. • sebanyak 90 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp27. 1.79 miliar.75 miliar.d.13 miliar. dan • sebanyak 27 kasus lain-lain senilai Rp54.74 miliar. • sebanyak 155 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp59. • Di Kabupaten Bombana. • Di Kabupaten Konawe.22 miliar.05 miliar.31 miliar. di antaranya senilai Rp39.75 miliar terdiri atas • sebanyak 76 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp144.d. • sebanyak 101 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp35.43 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kerugian daerah sebanyak 729 kasus senilai Rp556. atau atas nama pribadi . • sebanyak 71 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp83.62 miliar merupakan pengeluaran selama Tahun 2007 s. • sebanyak 15 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp3. • sebanyak 26 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp24.25 1. Provinsi Sulawesi Tenggara. 2010 senilai Rp39. • sebanyak 3 kasus kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp2. 2009 yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum dikembalikan ke kas daerah sehingga berindikasi merugikan keuangan daerah. • sebanyak 6 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp8. • sebanyak 16 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7.83 miliar. dana milik pemda digunakan dan dikeluarkan tanpa SP2D selama Tahun 2007 s.44 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 143 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp106. Provinsi Sulawesi Tenggara.

tidak cermat.48 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah. • Di Kota Pematangsiantar. Penyebab 1.06 miliar merupakan sisa uang persediaan (UP) Tahun 2008 di bendahara pegeluaran sekretariat daerah berupa panjar ke SKPD yang sampai dengan 31 Desember 2009 belum dikembalikan dan disetor ke kas daerah.26 minimal senilai Rp36.30 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4.95 miliar. Selain itu. kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.44 miliar atas harga 36 jenis bahan dan barang untuk keperluan rehabilitasi dan pembangunan 73 sekolah dasar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2009. Provinsi Sumatera Utara. • Di Provinsi Maluku. yang nyata dan pasti jumlahnya. . dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.80 miliar.40 miliar dan di antaranya senilai Rp1.64 miliar yang tidak didukung SP2D dan belum dikembalikan ke kas daerah.49 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. surat berharga. kerugian daerah atas pemahalan harga/mark up senilai Rp2.41 miliar mengalami kesalahan perancangan atau tidak memenuhi syarat struktural.47 Potensi Kerugian Daerah 1. 1. di antaranya senilai Rp5.46 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. dan barang. terjadi pemahalan harga beberapa paket pekerjaan hotmix Tahun 2009 pada Dinas Pekerjaan Umum yang berindikasi merugikan keuangan daerah minimal senilai Rp11. ketekoran kas pada bendahara pengeluaran senilai Rp7.45 Dari 729 kasus kerugian daerah senilai Rp556. Rekomendasi 1. 1. • Di Kota Padangsidimpuan. Provinsi Sumatera Utara. BPK telah merekomendasikan antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas negara/daerah. di antaranya penyetoran dari Kabupaten Banyuasin senilai Rp2.75 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak 74 kasus senilai Rp14.

pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp521. 1.51 1.25 miliar yang terdiri atas • sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp9.50 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya aset dikuasai pihak lain.12 miliar. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. • sebanyak 3 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan.14 miliar.15 miliar. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. • sebanyak 24 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp80.83 miliar. pembelian aset yang berstatus sengketa. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp3. serta lainlain kasus potensi kerugian daerah.68 miliar di antaranya pertanggungjawaban belum lengkap dan sah serta entitas disarankan untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran dan apabila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah.45 juta.28 miliar.55 miliar.27 1. • sebanyak 2 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp8. • sebanyak 39 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp152. pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan. • sebanyak 2 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp3. • sebanyak 14 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp43.57 miliar. • sebanyak 5 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp22.52 . dan • sebanyak 20 kasus lain-lain senilai Rp46. Selain itu.36 miliar. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah sebanyak 119 kasus senilai Rp370. aset tidak diketahui keberadaannya.

Rekomendasi 1. kredit macet atas kredit PER (Pengembangan Ekonomi Rakyat) TA 2007 s. Penyebab 1. Provinsi Aceh. alat berat yang tidak digunakan. • Di Kabupaten Bengkalis.36 miliar dan tidak diperuntukkan untuk operasional pemerintah sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aset tetap milik pemerintah. Provinsi Riau. potensi kerugian daerah atas kelebihan pembayaran prestasi pekerjaan. Selain itu. 1. Provinsi Sumatera Utara. 2010 senilai Rp5. Provinsi Kalimantan Timur.56 . Provinsi Sulawesi Tenggara.49 miliar dan berpotensi merugikan daerah apabila tidak dapat tertagih.54 Dari 119 kasus potensi kerugian senilai Rp370.57 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. rekanan pengadaan tidak memperbaiki kerusakan jalan Ereke-Bau Bau.53 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. potensi kerugian daerah atas aset tetap berupa kendaraan dinas yang dipinjamkan kepada mantan anggota DPRD periode Tahun 2004-2009 dan pihak di luar pemerintah daerah yang belum dikembalikan senilai Rp4. tidak cermat.d.d. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.55 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.96 miliar. • Di Kabupaten Buton Utara. 2009 yang telah disalurkan senilai Rp9. • Kabupaten Kutai Kartanegara. dalam masa pemeliharaan yang mengakibatkan realisasi penggunaan dana TA 2009 senilai Rp21. pembayaran material yang tidak memperhitungkan jarak angkut aktual atas pekerjaan pembangunan kawasan perkantoran Lumban Pea dari Tahun 2008 s.00 juta pada Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti disajikan dalam Lampiran 4.25 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak dua kasus senilai Rp426.65 miliar menjadi tidak bermanfaat dan berpotensi merugikan daerah. potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.28 1. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. 1. • Di Kabupaten Bener Meriah. • Di Kabupaten Toba Samosir. terdapat aset tetap dari belanja modal TA 2009 yang dikuasai dan digunakan oleh pihak lain senilai Rp48.73 miliar.

41 miliar terdiri atas • sebanyak 321 kasus penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp166.92 miliar. penggunaan langsung penerimaan daerah. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.14 juta.77 miliar. • sebanyak 3 kasus /penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp94. • sebanyak 5 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp476.80 juta. Provinsi Sumatera Utara. • Di Kabupaten Batu Bara. 1. Selain itu. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp276.60 1.61 1. kekurangan penerimaan atas potongan PPN dan PPh Tahun 2009 minimal senilai Rp19. kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah.29 1.66 miliar belum disetorkan ke kas negara mengakibatkan pemerintah pusat tidak dapat memanfaatkan penerimaan perhitungan fihak ketiga (PFK) dari potongan PPN dan PPh tersebut. dan kasus lain-lain kekurangan penerimaan. penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp8. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 398 kasus senilai Rp207. Kekurangan Penerimaan 1.87 miliar.58 BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan mempertanggungjawabkan kasus potensi kerugian daerah dan bila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah atau melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. 1.63 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.62 . • sebanyak 65 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp30.59 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.84 juta.

Selain itu.65 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. Provinsi Sulawesi Selatan. Penyebab 1. tidak cermat. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.68 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. penerimaan dana bagi hasil atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) TA 2009 dan 2010 tidak melalui rekening kas daerah Kabupaten Bombana di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara namun melalui dua rekening atas nama Pemda Bombana di Bank BRI sehingga tidak dilaporkan sebagai pendapatan daerah senilai Rp9. 1. Rekomendasi 1. adanya penggunaan langsung oleh SKPD untuk membiayai belanja rutin dan pinjaman sementara TA 2009 senilai Rp4. terdapat kekurangan penerimaan dana Community Development (CD) atas pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sampai dengan 31 Desember 2009 senilai Rp5. 1. pajak hotel Tahun 2004 s. • Di Kota Bekasi.67 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah tersebut. Provinsi Sumatera Utara. tidak mengurangi hak daerah (kekurangan . kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. • Di Kabupaten Simalungun.41 miliar tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah sebanyak 34 kasus senilai Rp6. • Di Kabupaten Maros.49 miliar di antaranya penyetoran dari Kabupaten Simalungun senilai Rp1.94 miliar.77 miliar.82 juta belum disetorkan ke rekening kas umum daerah.83 miliar. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan serta menyampaikan bukti setor ke BPK.64 Dari 398 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp207.95 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4.30 • Di Kabupaten Bombana.66 Administrasi 1. Atas kasus ini sudah ditindaklanjuti dengan penyetoran senilai Rp1. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.24 miliar.73 miliar dan pendapatan bunga bank senilai Rp12.98 miliar dan belum disetorkan ke kas daerah senilai Rp8.d. Provinsi Jawa Barat. 2009 senilai Rp2. Provinsi Sulawesi Tenggara.

72 . 1. perpajakan. • sebanyak 7 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan pelelangan. • sebanyak 8 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. pelaksanaan lelang secara proforma. • sebanyak 45 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/belum disetor ke kas daerah. Selain itu.31 penerimaan). Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang bersifat administratif sebanyak 862 kasus yang terdiri atas • sebanyak 364 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dan pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah.70 1. • sebanyak 65 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan lain-lain kasus administratif. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Kasus lain penyimpangan administratif yaitu adanya proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 1. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. pertambangan.71 1. tidak menghambat program entitas.69 Pada umumnya kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu adanya pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid). • sebanyak 28 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. penyimpangan yang bersifat administratif yaitu pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. • sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. • sebanyak 9 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. dan lain-lain. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.

• sebanyak 58 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Aceh Jaya.75 miliar tidak lengkap dan senilai Rp221.00 miliar.88 miliar tidak lengkap dan tidak dapat diyakini kewajarannya. • Di Kabupaten Kutai Timur. Provinsi Kalimantan Timur.d.13 miliar tidak diserahkan kepada tim BPK RI.73 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Papua. . • Di Kabupaten Mappi.74 Kasus-kasus administrasi pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Penyebab 1. sisa kas di bendahara pengeluaran TA 2007 s. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan pengelolaan perlengkapan/barang milik daerah. yaitu bukti pertanggungjawaban senilai Rp381.32 • sebanyak 93 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Provinsi Aceh. dan • sebanyak 25 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • Di Kabupaten Cianjur.02 miliar belum dipertanggungjawabkan dan berpotensi disalahgunakan oleh penerima bantuan. • sebanyak 6 kasus pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. 2009 dinilai lebih rendah senilai Rp238. Provinsi Aceh. 2009 pada 28 SKPD belum dipertanggungjawabkan senilai Rp209.47 miliar sampai dengan TA 2009 belum memiliki sertifikat sehingga berpotensi disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain. • sebanyak 28 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. 1. pertanggungjawaban atas belanja daerah TA 2009 senilai Rp602. • sebanyak 54 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Provinsi Jawa Barat.32 miliar.d. • sebanyak 71 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/ belum disetor ke kas daerah. belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota TA 2009 senilai Rp86. aset tetap hasil pengadaan TA 2006 s. aset tetap tanah senilai Rp626.

79 1.81 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya sebagai berikut.80 . Pada umumnya kasus ketidakhematan yaitu adanya pengadaan barang/ jasa melebihi kebutuhan. 1. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara.02 miliar. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakhematan sebanyak 74 kasus senilai Rp95. adanya penetapan kualitas dan kuantitas barang/ jasa yang digunakan tidak sesuai standar.77 Ketidakhematan 1.33 1. Rekomendasi 1. Provinsi Kalimantan Timur.75 Selain itu. • sebanyak 4 kasus penetapan kualitas dan kuatitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp4.27 miliar terdiri atas • sebanyak 1 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp131. kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 1. dan • sebanyak 69 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp91.76 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.78 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.03 juta.75 miliar telah rusak dan diketahui bangunan mengalami kemiringan dan cenderung untuk rebah ke arah tiang pancang pekerjaan pembangunan Pelabuhan Terpadu Kota Bangun sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibangun kembali. hasil pekerjaan pendamping Pelabuhan Terpadu Kota Bangun berupa pekerjaan penurapan TA 2009 senilai Rp8.11 miliar. BPK telah merekomendasikan antara lain agar entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan secara administratif atas bukti pertanggungjawaban yang belum valid. dan terjadi pemborosan atau kemahalan harga. segera melengkapi dokumen kepemilikan dan membuat peraturan daerah terkait penyertaan modal pemerintah. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. 1. BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.

terdapat hasil pekerjaan perencanaan TA pada Dinas Pekerjaan Umum belum dimanfaatkan senilai Rp1.82 Kasus-kasus ketidakhematan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. Penyebab 1.44 miliar sehingga memboroskan keuangan daerah. • Di Kabupaten Solok Selatan. Selain itu.86 1. pengeluaran biaya perjalanan dinas pada Dinas Perpajakan Daerah TA 2009 senilai Rp1. kasus ketidakhematan terjadi karena pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Provinsi Maluku. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas. pemborosan keuangan daerah atas pengadaan barang dan jasa Tahun 2008 yang dilakukan dengan utang kepada pihak ketiga dan tidak sesuai dengan standar harga satuan barang dan jasa kebutuhan pemerintah senilai Rp735.49 miliar tidak memperhatikan asas kehematan.30 juta. Provinsi Sumatera Barat. Rekomendasi 1. Provinsi Jawa Barat.00 juta tidak berdasarkan survei harga setempat sehingga memboroskan keuangan daerah.84 Terhadap kasus-kasus ketidakhematan. Kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. Kasus ketidakefektifan yang lain yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan 1.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.83 Ketidakefektifan 1. • Di Kota Tual. belanja tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD TA 2009 senilai Rp773. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • Di Kabupaten Kepulauan Mentawai. 1. dan memedomani ketentuan yang berlaku dalam menetapkan kebijakan. dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. antara lain BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.34 • Di Kabupaten Cianjur. tidak cermat. Provinsi Sumatera Barat.87 .

Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sulawesi Tenggara.91 miliar belum dimanfaatkan.30 miliar belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya dan berpotensi rusak. . dana beasiswa untuk siswa miskin pada Dinas Pendidikan TA 2009 senilai Rp3.88 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakefektifan sebanyak 137 kasus senilai Rp195. • sebanyak 5 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp477. • sebanyak 3 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6. serta kantor Pelayanan Terpadu TA 2009 senilai Rp5. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp7. 2009 sebanyak 69 unit senilai Rp43. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.03 juta.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 73 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp61. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp445.14 miliar terlambat diterima oleh sekolah sehingga sekolah tidak segera dapat memanfaatkan dana beasiswa tersebut. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp33.01 miliar. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. • Di Kabupaten Konawe Utara. Dinas Kimpraswil. • Di Provinsi Aceh. • Di Kabupaten Simalungun. pemberian tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja selama TA 2009 senilai Rp4.32 miliar. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. 1.20 juta. hasil pembangunan rumah jabatan dan pendukung lainnya untuk Pimpinan dan Anggota DPR Aceh beserta pendukung lainnya TA 2008 s.08 miliar belum memenuhi tujuan peningkatan prestasi kerja.35 miliar. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.93 miliar. • sebanyak 32 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp86.89 Kasus-kasus ketidakefektifan tersebut di antaranya sebagai berikut.35 tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.d. pembangunan gedung kantor Dinas Perhubungan.38 miliar. • Di Kabupaten Nias Selatan. Provinsi Sumatera Utara. 1. Bappeda.

36 • Di Kabupaten Tanah Bumbu. Penyebab 1.91 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. tidak cermat dalam merencanakan kegiatan dan melaksanakan tugas. tidak memedomani ketentuan yang berlaku. 1.92 . pengadaan alatalat kesehatan pada RSUD Amanah Husada TA 2009 senilai Rp3. memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan kegiatan serta memperhatikan asas efektivitas dalam melaksanakan kegiatan.06 miliar belum dimanfaatkan mengakibatkan pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan Rekomendasi 1. Provinsi Kalimantan Selatan. BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. kurang dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan.90 Kasus-kasus ketidakefektifan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.

serta Laporan Keuangan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009.03 72.044.96 Laba (rugi) Surplus (defisit) 70.70 16.09 17.72 2.84 Kewajiban 504.1 Pada Semester II Tahun 2010.34 26.11 .03 451.113.38 7. laporan laba rugi.43 -14.11 20.16 26. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.05 Ekuitas 580.28 21.1.273. Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya (dalam miliar rupiah) Neraca No.1 berikut Tabel 2.81 256. Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009.692.2 2.36 BP Kawasan Perdagangan Bebas dan 14. Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) TB 2009. serta laporan arus kas.3 7. Laporan Keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M.38 -2.09 424.56 7. Objek Pemeriksaan Aset 1 2 3 4 5 6 PTPN XII TB 2009 PDAM Kota Padang TB 2009 WSEDP pada BNPB TA 2010 BPIH 1430 H/2009 M BPIH 1429 H/2008 M 1.97 Biaya 806. laporan realisasi anggaran atau laporan surplus (defisit) atau laporan aktivitas. Cakupan pemeriksaan atas LK BUMN/D dan badan lainnya meliputi neraca. Pemeriksaan keuangan atas BUMN/D dan badan lainnya bertujuan untuk memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.19 7.948. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).370.39 931.444.37 BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 2.085.75 -19.01 112. laporan perubahan ekuitas dan rasio modal. Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010.78 Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus (Defisit)/Laporan Aktivitas/ Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 877.429.9 26. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.109.4 14. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya.83 882. Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BUMN/D dan badan lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 2.487.52 Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 164.26 132.65 75.

transparan. 2. sistem pengendalian intern (SPI).4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BUMN/D dan badan lainnya disajikan dalam tiga kategori. 1 2 3 4 Entitas PDAM Kota Padang BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam PTPN XII (Persero) BPIH Opini 2008 TMP WDP WDP-DPP*) TMP 2009 WDP WDP TMP TMP Keterangan : *) diperiksa oleh KAP Sugeng. Kecuali WSEDP BNPB yang merupakan initial audit bagi BPK. Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini.2.5 Opini 2.2 berikut. opini WDP diberikan terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009 serta BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009.38 Hasil Pemeriksaan 2. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Sjahrial & Rekan Tabel 2. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. yaitu opini.7 Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. perkembangan opini keempat entitas tersebut untuk Tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 2. dan akuntabel. Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Sistem Pengendalian Intern 2. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. Hasil evaluasi atas SPI LK BUMN/D dan badan lainnya dapat diuraikan sebagai berikut. No. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa.6 BPK memberikan opini WTP terhadap Laporan Keuangan WSEDP BNPB TA 2010. pemerintah wajib melakukan pengendalian intern atas penyelenggaraan kegiatannya. Oleh karena itu. Selain itu. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. 2. BPK juga memberikan opini TMP terhadap PTPN XII (Persero) TA 2009 serta PIH Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M.8 . dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. efisien.

11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN/D dan badan lainnya. 2. sehingga saldo hutang DAU tidak dapat diyakini kewajarannya. dan • sebanyak 22 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan aktiva tanaman Rp37. Penyebab 2. implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk dilakukan tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masing-masing senilai Rp7. alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54.68 juta. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009. • Di PIH Tahun 1429 H/2008 M. serta terdapat denda keterlambatan piutang UWTO yang belum dibuatkan faktur penagihannya senilai Rp967.62 miliar.17 miliar tidak didukung dokumen pendukung yang menjadi dasar perhitungan dan tidak ada proses rekonsiliasi antara BPIH dengan BP-DAU untuk memastikan jumlah piutang yang seharusnya disajikan. pengelolaan piutang Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) TA 2009 belum tertib dan sampai dengan 31 Desember 2009 belum diterima pelunasannya senilai Rp264. terdiri atas • sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.29 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya.63 miliar.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.66 miliar. • sebanyak 19 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. sanksi pemutusan sambungan air belum dilakukan kepada pelanggan yang menunggak lebih dari tiga bulan mengakibatkan tunggakan rekening air senilai Rp13. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.25 miliar dan PDAM menanggung biaya produksi air. .29 miliar dan Rp2.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya menunjukkan adanya 71 kasus kelemahan SPI.39 Hasil Evaluasi SPI 2. • Di PDAM Kota Padang TB 2009. saldo hutang kepada Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) senilai Rp16.

administrasi.29 64. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 4 7 10 23 9 1 9 Jumlah 63 Nilai (juta Rp) 28. Tabel 2. BPK masih menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah.3 di atas. ketidakefisienan.43 miliar tidak diungkap pada laporan keuangan per 31 Desember 2009 dan kebijakan menghapusbukukan piutang tersebut melanggar anggaran dasar dan tanpa persetujuan dewan komisaris.116.3.15 .595. kekurangan penerimaan negara/perusahaan milik negara/daerah.40 Rekomendasi 2.16 239.12 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 2.897.203. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya No.03 282.12 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. 2.123. Di antara temuan signifikan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan BUMN/D dan badan lainnya menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengawasan. hasil pemeriksaan mengungkapkan 63 kasus senilai Rp239. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 2.67 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/ Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan 2.48 35. ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.13 Selain opini dan evaluasi atas sistem pengendalian intern.14 Berdasarkan Tabel 2. yaitu piutang Ditjen Perkebunan dan penyisihannya senilai Rp11.3. potensi kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.99 49. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 7. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009. dan ketidakefektifan meliputi 63 kasus senilai Rp239. ketidakhematan.72 89.

45 miliar (ekuivalen USD1 = Rp8.06 miliar dan pendapatan bunga deposito hasil optimalisasi setoran awal biaya PIH biasa pada tiga BPS masih terhutang pajak final yang belum disetorkan ke kas negara senilai Rp3. Rekomendasi 2.46 ribu (ekuivalen USD1 = Rp8. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.61 miliar. yaitu penghapusan piutang kepada Anna for Development senilai Rp84. BPK telah merekomendasikan agar para pejabat lebih menaati ketentuan serta lebih cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.00) tidak sesuai ketentuan.41 • Di WSEDP BNPB Tahun 2010. 2. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009.59 miliar.18 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan tersebut.32 miliar. yaitu pemberian dana bantuan sosial masyarakat tidak mematuhi ketentuan yang berlaku senilai Rp3.17 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam menaati ketentuan yang berlaku.68 miliar sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya. Penyebab 2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian negara. yaitu terdapat penggunaan dana hibah ADB senilai Rp21.00) yang digunakan untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening sehingga menimbulkan risiko kegiatan terhambat. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. Selain itu.500.991.19 . tidak cermat dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan PIH.72 juta dan kekurangan penerimaan negara/daerah/ perusahaan milik negara/daerah senilai Rp35. • Di PIH Tahun 1430 H/2009 M. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.37 miliar (ekuivalen SAR1 = Rp2. • Di PDAM Kota Padang TB 2009. yaitu bunga deposito dana setoran awal dari empat bank penerima setoran (BPS) senilai Rp6. yaitu tingkat kehilangan air dalam proses distribusi melebihi batas toleransi senilai Rp11. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah masing-masing senilai Rp539.16 Dari sejumlah kasus kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah senilai Rp28. 2.991.86 miliar.00) dan Rp17.

42 .

BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas • • • • • • • • penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. dan 3 BUMN). terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. kinerja pendidikan. dan kinerja lainnya (10 objek pemerintah pusat. Dalam Semester II Tahun 2010. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. perhubungan. energi. .43 PEMERIKSAAN KINERJA Pemeriksaan kinerja bertujuan menilai aspek ekonomis. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. perusahaan daerah air minum (PDAM). 5 pemda. dan 9 PDAM. pertanian. 3 BUMN. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. efisiensi. pengelolaan hutan mangrove. dan efektivitas.

44 .

Jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam lima tahun terakhir mencapai angka 3. Jawa Timur. hak asasi manusia.3 3. BNP2TKI. Penempatan TKI di luar negeri telah memberikan tambahan sumber devisa negara yang besar dengan rata-rata setiap tahunnya mencapai USD 4. sementara pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional belum mencukupi.37 miliar atau sekitar Rp39.4 . BNP2TKI. serta Atase Tenaga Kerja pada Perwakilan RI di Kuala Lumpur. martabat. Perwakilan RI di luar negeri. Dalam Semester II Tahun 2010. Berbagai pihak terlibat baik lembaga pemerintah maupun swasta dalam proses penempatan TKI sejak dari pra penempatan sampai dengan masa penempatan.2 3. Walaupun enam peraturan pemerintah yang diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 belum ada yang diterbitkan. yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. yaitu DKI Jakarta.01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia. Ketentuan perundang-undangan yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2004 merupakan landasan hukum untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak di luar negeri. Pemeriksaan dilakukan pada Kemenakertrans. dan Kuwait. namun kebijakan operasional lebih lanjut telah diatur dengan Peraturan Presiden.1 Penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dinas Tenaga Kerja provinsi/kabupaten/ kota.3 triliun. Ditjen Imigrasi. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). 3.45 BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 3. dan dinas tenaga kerja provinsi/kabupaten/kota. Singapura. Jeddah. Hongkong. dan perlindungan hukum. Jawa Tengah. Kawasan penempatan yang terbesar adalah kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. serta Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Setidaknya ada lima lembaga formal yang terkait dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans). dan Nusa Tenggara Barat. Riyadh.

• Monitoring TKI yang proaktif yang menjamin kepastian perlindungan TKI sesuai dengan hak dan kewajibannya. transparan. • Pelatihan yang membekali kemampuan calon TKI sesuai dengan kebutuhan dan didukung prasarana yang memadai.46 Tujuan Pemeriksaan 3.6 Untuk memastikan penilaian kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah sesuai dengan kondisi yang memadai. dan pasti. • Pembekalan akhir yang memastikan calon TKI memahami hak dan tanggung jawab serta diselenggarakan secara konsisten. pengorganisasian sumber daya. • Pengurusan dokumen pemberangkatan calon TKI yang sah.5 Pemeriksaan kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri bertujuan untuk menilai apakah penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah efektif dalam aspek perencanaan. Pra Penempatan • Rekrutmen yang prosedural dalam memenuhi job order untuk menghasilkan calon TKI yang telah dipersiapkan dan didukung fasilitas yang layak dan memadai pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. pelaksanaan. Masa Penempatan • Keberangkatan dan kedatangan TKI di tempat tujuan dimonitor dan telah didukung sistem informasi yang andal. . • Pengujian kesehatan yang menjamin derajat kesehatan calon TKI terpenuhi dan didukung proses yang transparan dan dapat diandalkan. a. • Penanganan TKI bermasalah secara komprehensif yang memperhatikan aspek perlindungan dan kepastian hak dan kewajiban TKI. Kriteria Pemeriksaan 3. dan pengendalian. didasarkan pada kriteria sebagai berikut. • Pengujian yang memastikan kompetensi calon TKI sesuai yang dipersyaratkan dan didukung lembaga yang teruji. b.

Hasil Pemeriksaan 3. • Pemulangan TKI yang memastikan keamanan dan kenyamanan TKI dan didukung prasarana yang memadai. Masih sering terjadi besarnya potongan gaji TKI lebih tinggi dari komponen biaya penempatan maksimal (cost 3. Kondisi tersebut terbukti dari penyiapan perekrutan dan penempatan TKI yang ternyata sebagian dilakukan untuk negara tujuan penempatan yang tidak memiliki MoU dan perundang-undangan yang menjamin perlindungan tenaga kerja.8 3. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. belum dilaksanakan sepenuhnya untuk menjamin aspek perlindungan dan rasa aman bagi TKI. dan perlindungan TKI 3. 3. proses penempatan di negara tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air.11 . pelatihan dan pengujian kesehatan. keadilan. pengurusan dokumen. sistem perekrutan calon TKI tidak menjamin bahwa biaya pengurusan dokumen dan syarat-syarat penempatan serta potongan gaji kepada TKI telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Selain itu. dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilik kepentingan. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen.7 Hasil pemeriksaan atas kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menyimpulkan bahwa penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. • Penanganan TKI bermasalah yang memberikan kepastian dan tindak lanjut perbaikan. Purna Penempatan • Pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. Masalah-masalah pokok yang mendorong tidak efektifnya penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dapat diuraikan sebagai berikut. Hal ini juga tidak didukung dengan sistem yang terintegrasi dan alokasi sumber daya yang memadai guna meningkatkan kualitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.47 c.9 Rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian.10 Rekrutmen TKI yang seharusnya dimulai sejak pemetaan kondisi dan dasar hukum ketenagakerjaan negara tujuan penempatan TKI. Kompleksitas masalah tersebut mengakibatkan efektivitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tidak tercapai secara optimal.

Ini terbukti dengan masih adanya sarana kesehatan yang beroperasi tanpa izin operasional atau dengan izin operasional tetapi telah kedaluwarsa.12 Sistem rekrutmen calon TKI juga tidak menjamin bahwa mekanisme perekrutan berjalan sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Biaya pengurusan dokumentasi seperti biaya rekomendasi paspor dari disnaker kabupaten/kota. Selain itu. biaya paspor di kantor imigrasi. mampu. Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan potensi TKI bermasalah di kemudian hari.13 3. Selain itu.48 structure) TKI yang ditetapkan pemerintah. serta pengawasan yang periodik dan konsisten 3.14 Penyiapan tenaga kerja yang sehat. tidak semua sarana kesehatan memiliki sistem biometrik yang terhubung dengan Sistem Pelayanan Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai alat untuk memvalidasi sertifikat kesehatan calon TKI yang diterbitkan sarana kesehatan. dan teruji kurang didukung kebijakan yang tegas. Hal-hal tersebut di atas menjadikan proses rekrutmen yang selama ini berjalan belum valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. 3. 3. biaya surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di kantor kepolisian. tetapi melalui sponsor/petugas lapangan (calo). Kementerian Kesehatan (Kemenkes). masih ditemukan juga perekrutan TKI tanpa job order atau menggunakan job order yang telah kedaluwarsa. Banyaknya kondisi-kondisi yang tidak ideal tersebut belum secara optimal dijadikan bagian dari monitoring dan evaluasi pemerintah untuk perbaikan. biaya/ premi asuransi dan biaya fee Petugas Lapangan (PL) dan agensi rata-rata menjadi beban yang wajib dikeluarkan oleh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang nantinya akan membebankan kepada TKI melalui potongan gaji. Kebijakan dan prosedur pengawasan sarana kesehatan juga tidak terintegrasi dengan fungsi pengawasan pada Kemenakertrans. sistem pelatihan dan pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi. Beberapa PPTKIS mengirim TKI ke luar negeri melebihi jumlah TKI yang disetujui untuk direkrut dan merekrut calon TKI yang tidak memenuhi syarat. Sejauh ini evaluasi dan monitoring yang dilakukan pemerintah tidak bisa menjamin kebijakan penyiapan dan pengelolaan perekrutan calon TKI menjadi lebih baik dan efektif. Standar pengujian kesehatan dan biaya pengujian kesehatan juga tidak baku dan seragam bagi semua sarana kesehatan. Sebagian besar perekrutan TKI tidak melalui bursa tenaga kerja yang ada pada dinas tenaga kerja kabupaten/kota. dan BNP2TKI. dan perlindungan bagi TKI. Kondisi tersebut mengakibatkan TKI harus menanggung biaya penempatan yang lebih tinggi dari seharusnya.15 Peraturan tentang rekrutmen calon TKI belum tegas mengatur mekanisme pengendalian operasional sarana kesehatan dan infrastruktur penunjangnya secara efektif. . keadilan. biaya pembekalan akhir penempatan (PAP)/Iuran Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) di APJATI. dan memperoleh gaji lebih sedikit. mengalami pemotongan gaji lebih lama.

sehingga masih saja ditemukan kasus-kasus TKI gagal disebabkan tidak adanya pelatihan atau pelatihan yang tidak memenuhi standar oleh BLKLN. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten 3. Banten. dan pasti. dan program diklat yang jelas dan baku serta jangka waktu pelatihan yang sesuai ketentuan. kompetensi SDM. Selain itu. Kewenangan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Timur Tengah dimonopoli oleh Kantor Imigrasi Unit Khusus Tangerang. sistem yang terintegrasi. turut bersaing menerbitkan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal dengan BP3TKI Jakarta. rutin. dan terencana dengan baik terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kegiatan uji kompetensi calon TKI setelah dilatih oleh BLKLN. Sanksi atas BLKLN yang tidak memenuhi standar pelatihan tidak dilakukan. terencana. Mekanisme penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal oleh instansi yang berbeda-beda antar daerah pengirim TKI (khususnya antara Provinsi DKI Jakarta dengan provinsi lainnya) semakin tidak terkendali. yang sampai saat ini belum ada. Kondisi pengurusan dokumen yang tidak equal treatment ini tidak dibenahi oleh pemerintah sampai saat ini.18 3. menjadi mubazir. Dualisme penggunaan KTKLN yang dikeluarkan oleh 3. Perbedaan perlakuan pembuatan paspor ini menyebabkan pengerahan sumber daya PPTKIS yang tidak efisien.20 . Rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal yang seharusnya berfungsi juga untuk pengendalian keabsahan calon TKI menjadi sulit dilakukan karena sistem yang digunakan oleh Direktorat PTKLN bersifat manual. Efektivitas LSP sebagai filter tingkat kompetensi calon TKI meragukan dengan banyaknya TKI yang bekerja tanpa pelatihan. Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas. sesuai amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 51 wajib dimiliki setiap calon TKI untuk dapat ditempatkan di luar negeri. Kapasitas BNSP dalam kecukupan SDM untuk memonitor dan mengevaluasi LSP tidak memadai. Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) pada Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (PPTK) yang harusnya berkewajiban membakukan prosedur penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak melakukan pengawasan secara terprogram. dan terukur untuk memastikan penilaian sarana/prasarana.16 Akreditasi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja yang ditunjuk melalui keputusan Menakertrans juga dilakukan secara tidak terprogram.19 3. Fungsi dan kegunaan KTKLN. Sedangkan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Asia Pasifik dapat diproses pada kantor imigrasi manapun.49 3. transparan.17 Dualisme kewenangan antara Kemenakertrans dengan BNP2TKI dan dinas tenaga kerja dengan BP3TKI dalam penerbitan dokumen keberangkatan TKI yang belum dituntaskan secara kelembagaan menambah kerumitan pengurusan dokumen keberangkatan TKI yang sah.

Kemenakertrans tidak menyelenggarakan penatausahaan penerimaan dan penyetoran Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan TKI (DP3TKI) ke kas negara secara transparan. pasti. dan transparan 3. mencerminkan pengelolaan PAP tidak akuntabel dan transparan. Bagi PPTKIS semakin sedikit biaya premi yang dibayarkan semakin baik. walaupun biaya premi tersebut akhirnya ditagihkan secara penuh kepada TKI melalui mekanisme pemotongan gaji.50 BNP2TKI dan Asosiasi PPTKIS (atas rekomendasi Kemenakertrans) yang tidak kunjung selesai dan tidak tersedianya perangkat pendukung KTKLN (card reader) yang memadai mengurangi fungsi KTKLN sebagai kartu identitas TKI yang sah dan wajib dimiliki TKI sebelum berangkat ke luar negeri. Data produksi dan progress klaim TKI sangat sulit diakses.21 Dualisme penyelenggaraan PAP oleh Kemenakertrans/Asosiasi PPTKIS dan BP3TKI menjadikan kegiatan PAP tidak terarah dan terprogram. Bahkan dengan munculnya isu mengenai siapa yang berhak mengelola DP3TKI. apakah tetap Kemenakertrans atau BNP2TKI. melainkan berlomba-lomba memberikan diskon premi dan tawar-menawar harga premi kepada PPTKIS. Ketidaksinkronan jumlah penerimaan DP3TKI dengan jumlah TKI yang diberangkatkan sudah berlangsung lama. menyebabkan Kemenakertrans tidak tertarik untuk memperbaiki penatausahaan DP3TKI itu. bahkan terdapat konsorsium asuransi yang dengan sengaja menyembunyikan data produksi dan klaimnya.24 . Konsorsium asuransi tidak terbuka melaporkan produksi polis dan klaim baik kepada Kemenakertrans maupun terbuka untuk umum melalui website. Selain itu. sedangkan pelaksanaan PAP oleh Sub Direktorat PPTKLN/Asosiasi PPTKIS dibiayai TKI. menciptakan persaingan tidak sehat. Konsorsium asuransi tidak berlomba-lomba memperbaiki kinerja jaringan dan pelayanan. yang jenis dan biaya pertanggungannya sudah ditetapkan. Pelaksanaan PAP oleh BP3TKI yang dibiayai dari APBN. Dilema asuransi juga diperparah dengan adanya unsur kesengajaan PPTKIS yang tidak mengikutkan TKI-nya dalam program asuransi. serta banyaknya TKI yang tidak diikutkan PAP oleh PPTKIS-nya. KTKLN yang dibuat secara manual di samping menambah ongkos TKI juga bersifat formalitas karena fungsi dan kegunaannya tidak sesuai sebagai penyimpan data yang dapat difungsikan dengan alat pembaca KTKLN. tetapi mendapat rekomendasi bebas fiskal oleh Sub Direktorat PPTKLN maupun BP3TKI.23 Amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 68 mewajibkan PPTKIS mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi. Kewajiban 3. Website konsorsium asuransi yang seharusnya dapat diakses secara terbuka seringkali terkendala secara teknis. Penunjukan sembilan konsorsium asuransi melalui keputusan Menakertrans pada Tahun 2006 sampai dengan 2009 yang melibatkan 48 perusahaan asuransi dan delapan broker asuransi.22 Penyelenggaraan asuransi TKI belum memberikan perlindungan secara adil. 3. Program itu belum dikelola dengan baik oleh Kemenakertrans. 3. khususnya asuransi pra penempatan.

51 konsorsium dalam menyelesaikan klaim sering terlambat dan tidak jelas statusnya. Banyaknya klaim asuransi TKI yang tidak cair sering menimbulkan pertanyaan apakah proses klaimnya disetujui tetapi lambat atau klaimnya ditolak. Tidak ada kejelasan mengenai proses klaim dari konsorsium baik kepada Kemenakertrans, TKI yang bersangkutan atau pihak-pihak yang mewakili TKI. 3.25 Demikian juga kewajiban konsorsium asuransi dalam menangani kasus-kasus TKI di luar negeri sering kali tidak jelas statusnya. Perwakilan konsorsium asuransi pada negara penempatan sering tidak ada atau ada tapi tidak diketahui Perwakilan RI. Jenis pertanggungan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, pelecehan seksual, kecelakaan kerja yang berakhir pada pemberhentian TKI oleh majikan sulit diklaim kepada asuransi TKI, sehingga sering menimbulkan dilema pembiayaan pemulangan bagi Perwakilan RI. Pendampingan TKI yang bermasalah hukum di negara penempatan diwakili oleh lawyer yang ditunjuk oleh Perwakilan RI. Namun saat tagihan biaya lawyer kepada konsorsium asuransi tiba, konsorsium asuransi sering tidak menyelesaikan segera. Konsorsium asuransi memberikan berbagai alasaan teknis maupun administrasi bila konsorsium asuransi dikonfirmasi terkait status tersebut.

Data penempatan TKI tidak akurat, sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri
3.26 Keberadaan sistem informasi TKI pada Perwakilan RI di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya perlindungan TKI. Sistem tersebut memerlukan data base TKI yang mutakhir setiap waktu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan data TKI tersebut melalui mekanisme lapor diri TKI atau melalui PPTKIS pengirim, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004. Namun ketaatan PPTKIS untuk melaporkan setiap pengiriman TKI kepada Perwakilan RI sangat rendah, sehingga data TKI pada Perwakilan RI tidak mutakhir. Perwakilan RI di luar negeri belum secara optimal melakukan setiap prosedur untuk memastikan kebijakan pendataan TKI melalui mekanisme lapor diri terpenuhi. Kegiatan welcoming program dan exit program oleh Perwakilan RI di Hongkong sepertinya hanya formalitas jauh dari tujuan yang diharapkan. Perwakilan RI di Singapura, Malaysia, dan Kuwait sia-sia melakukan pendekatan melalui data entry testworking permit pada website atau mengirim permintaan tertulis kepada ministry of manpower atau imigrasi, walaupun mengetahui data working permit tersebut hanya berbentuk kisaran jumlah TKI. Sedangkan Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak melakukan upaya pendekatan apapun selain mengandalkan data TKI berdasarkan data perjanjian kerja (PK), walaupun hanya berisi data majikan saja. Kondisi tersebut terjadi di tengah kewenangan yang begitu besar yang dimiliki Perwakilan RI di luar negeri untuk menyetujui boleh atau tidaknya penempatan TKI yang diminta majikan, agensi, dan PPTKIS.

3.27

52

Penanganan dan Penyelesaian TKI bermasalah di luar negeri bersifat parsial
3.28 Berbagai usaha untuk menyelesaikan kasus TKI bermasalah telah dilakukan Perwakilan RI di luar negeri. Namun penanganan kasus TKI oleh Perwakilan RI selama ini hanya fokus pada masalah yang dihadapi TKI secara parsial, bukan pada penyelesaian kasus secara komprehensif pada akar permasalahan. Evaluasi atas kondisi sebab akibat kasus TKI belum dilakukan Perwakilan RI untuk menemukan akar permasalahan secara jelas. Permasalahan gaji tidak dibayar, PHK sepihak, TKI overstayers, dan masalah ketenagakerjaan lainnya akan selalu timbul jika penanganan kasus dilakukan secara parsial. Perwakilan RI di Malaysia, Hongkong, Saudi Arabia, dan Kuwait akan selalu menghadapi kasus serupa berulang-ulang tanpa penyelesaian kasus secara komprehensif yang seharusnya melibatkan pihak-pihak terkait mulai PPTKIS, agensi, majikan, pemerintah Indonesia, dan pemerintah negara penempatan. Pemerintah seharusnya segera mengambil peranan koordinasi tersebut dengan lebih baik lagi.

Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif
3.29 Pemerintah dhi. Kemenakertrans dan BNP2TKI telah menetapkan regulasi yang mengatur proses pendataan kedatangan, pengaturan transportasi, dan penanganan TKI bermasalah. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjamin TKI dapat sampai daerah asalnya dengan cepat, mudah, murah, dan selamat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa koordinasi pendataan kedatangan TKI secara terpadu antara BNP2TKI dengan pengelola bandara dan imigrasi tidak optimal. Tidak ada mekanisme yang baku untuk memastikan bahwa penumpang pesawat yang mendarat di bandara internasional adalah TKI, sehingga ada kemungkinan penumpang yang bukan TKI didata sebagai TKI, demikian juga sebaliknya. Proses penetapan operator armada transportasi tidak melalui evaluasi teknis, kinerja dan kelayakan operator/armadanya secara baku dan transparan, sehingga banyak operator angkutan pemulangan TKI ke daerah asal tidak bisa memenuhi jumlah kuota armada yang telah ditentukan. Penempatan staf BP3TKI sebagai petugas kontrol Surat Perintah Jalan di rumah singgah tidak dilakukan. Pengecekan kelaikan armada dan pengemudi tidak dilakukan karena tidak ada pegawai BNP2TKI yang kompeten dalam bidang teknis mesin kendaraan angkutan TKI. Pengecekan hanya dilakukan sebatas Surat Perintah Jalan, administrasi kendaraan, dan pengemudi. Pemberian sanksi kepada operator yang melakukan pelanggaran tidak konsisten yang terlihat dari sanksi yang berbeda-beda tiap operator. Pengurusan pengajuan klaim asuransi TKI bermasalah yang dibantu oleh BNP2TKI melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memunculkan pertanyaan mengenai beban pembiayaan LBH yang berasal dari APBN untuk jasa pengurusan klaim asuransi TKI, selain juga mengenai mekanisme penunjukan

3.30

3.31

53 dan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH yang tidak jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH kepada BNP2TKI sebagai pemberi tugas. Mekanisme penyerahan klaim kepada TKI juga tidak jelas. Rekomendasi 3.32 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala BNP2TKI baik bersamasama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk segera : • melakukan evaluasi menyeluruh peraturan perundangan, kebijakan, sistem, dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri; • melaksanakan moratorium (penghentian pengiriman sementara) TKI informal ke negara yang belum memiliki peraturan yang melindungi TKI dan/atau perjanjian tertulis (MoU) dengan Pemerintah RI; • mengkaji dan menetapkan kembali biaya penempatan TKI yang proporsional dan riil; • menetapkan dan melaksanakan standar baku penyiapan, pengelolaan, dan monitoring/evaluasi perekrutan TKI; • menetapkan standardisasi perizinan lembaga pengujian kesehatan calon TKI untuk menjamin validitas sertifikasi kesehatan calon TKI; • menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi fungsi BLKLN secara jelas, terprogram, dan terarah; • memastikan kapasitas BNSP agar dapat melaksanakan fungsi pengawasan atas kegiatan LSP secara terprogram dan terarah; • menetapkan batas kewenangan Kemenakertrans, BNP2TKI, dan dinas tenaga kerja secara jelas dan terkoordinasi dengan baik dalam semua lini pengurusan dokumen keberangkatan TKI; • menetapkan dan menegakkan regulasi pengelolaan asuransi yang jelas dan berpihak pada TKI; • menyelenggarakan sistem informasi TKI terpadu yang andal dan dapat diakses Perwakilan RI di luar negeri; • menetapkan program pembinaan/monitoring pada Atase Tenaga Kerja yang terarah serta penyediaan prasarana, SDM, dan dana yang cukup dan cepat dalam upaya perlindungan dan pembinaan TKI; • memperbaiki regulasi penempatan TKI yang lebih menekankan pendekatan perlindungan TKI khususnya regulasi pra penempatan dan

54 menetapkan mekanisme penanganan kasus TKI pada Perwakilan RI di luar negeri yang terstruktur secara efektif; • mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pendataan, mekanisme pemulangan, dan mekanisme penanganan kasus dan pengajuan klaim asuransi TKI pada bandara-bandara internasional tempat kedatangan TKI; dan • mengenakan sanksi secara tegas dan konsisten kepada PPTKI, BLKLN, Lembaga Pengujian Kesehatan calon TKI, LSP, dan perusahaan/ konsorsium asuransi TKI serta pihak lain yang terkait, yang melanggar ketentuan dan/atau standar yang telah ditetapkan dalam pelayanan kepada TKI. 3.33 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

55

BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009
4.1 Krisis keuangan global yang menimpa sektor perbankan dan keuangan dunia dipicu oleh munculnya krisis atas subprime mortgage di Amerika Serikat dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada Tahun 2007. Krisis tersebut berdampak pada kelemahan dalam pengaturan industri keuangan dan sistem keuangan global, serta pada penurunan kinerja perekonomian dunia pada Tahun 2008, dan berlanjut pada Tahun 2009. Sesuai dengan UU Nomor 41 Tahun 2008 Pasal 23 tentang APBN TA 2009, Pemerintah menyampaikan usulan tentang upaya mengatasi dampak krisis global melalui program Stimulus Fiskal (SF) APBN TA 2009 kepada Panita Anggaran DPR RI. Rapat kerja Panitia Anggaran DPR RI dan Pemerintah tanggal 24 Februari 2009 memutuskan bahwa alokasi anggaran program/ kegiatan SF APBN TA 2009 senilai Rp73,30 triliun. Alokasi anggaran program/ kegiatan SF tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan senilai Rp56,30 triliun (76,81%) dan stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun (23,19%). Dari jumlah stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun tersebut, dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur senilai Rp12,20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi senilai Rp4,80 triliun. Program/kegiatan SF belanja infrastruktur mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran stimulus belanja untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya pada program/ kegiatan terkait dengan penanganan bencana, pembangunan jalan, jembatan dan irigasi, percepatan infrastruktur lanjutan, pengembangan bandara, jaringan kereta api, pelabuhan laut dan penyeberangan, pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani, dan pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus nelayan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur pada enam objek pemeriksaan di delapan kementerian dengan lokasi pemeriksaan di 18 provinsi dengan rincian sebagai berikut. • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. • Kementerian Keuangan di Jakarta. • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta.

4.2

4.3

4.4

56 • Kementerian Pekerjaan Umum di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. • Kementerian Perhubungan di sembilan provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. • Kementerian Pertanian di tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. • Kementerian Kelautan dan Perikanan di empat provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. 4.5 Selain itu, pemeriksaan untuk bidang pekerjaan umum (PU) juga dilakukan di 26 dinas provinsi/kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Bengkulu, Jambi, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Entitas yang diperiksa untuk bidang PU meliputi Dinas Bina Marga (BM) dan Pengairan Kabupaten Bogor, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten Demak, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Nganjuk, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Dinas PU BM dan Cipta Karya (CK) Kabupaten Tulungagung, Dinas PU Kota Palangkaraya, Dinas PU Kabupaten Barito Kuala, Dinas PU Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Dinas PU Kabupaten Takalar, Dinas PU Kabupaten Maros, Dinas PU Kabupaten Gowa, Dinas PU Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas PU Kabupaten Sorong, Dinas PU Kabupaten Sorong Selatan, Dinas PU Kabupaten Mukomuko, Dinas PU Kabupaten Kepahiang, Dinas PU Kabupaten Bungo, Dinas PU Kabupaten Merangin, Dinas Kimpraswil Provinsi NTT, Dinas PU Kabupaten Manggarai Timur, Dinas PU BM, dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Donggala, Dinas PU Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara, Dinas PU Kabupaten Halmahera Timur, Dinas PU BM, Tata Ruang, Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun, Dinas CK dan Perumahan Kabupaten Asahan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 pada delapan kementerian dan 26 dinas provinsi/kabupaten/kota adalah senilai Rp4,10 triliun dari realisasi belanja Rp6,13 triliun atau 66,84%.

4.6

4.7

57

Tujuan Pemeriksaan
4.8 Tujuan pemeriksaan atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 untuk menilai apakah • Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF Tahun 2009 pada belanja infrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK; dan • Pelaksanaan kegiatan SF bidang insfrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

Sasaran Pemeriksaan
4.9 Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. • Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan. • Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan.

Kriteria Pemeriksaan
4.10 Kriteria penilaian efektivitas pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF belanja infrastruktur beserta implementasinya secara nasional di tingkat pusat maupun daerah dalam pencapaian tujuan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur dalam pemeriksaan ini menggunakan kriteria pengelolaan yang baik (model of good management) yang dimuat di berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kriteria tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan area kunci pada pemeriksaan pendahuluan dan telah dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa.

Hasil Pemeriksaan
4.11 Hasil pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menyimpulkan bahwa, walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4,5% di tengah krisis keuangan dunia, pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan serta pelaksanaan SF belanja infrastruktur Tahun 2009, yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah, belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Hal tersebut dibuktikan adanya 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151,49 miliar atau

58 3,69% dari realisasi anggaran yang diperiksa dengan jumlah tenaga kerja tidak terserap minimal sebanyak 216.520 Orang Hari (OH), yang disebabkan oleh kelemahan kebijakan, sistem/prosedur perencanaan, penganggaran, dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketaatan pada asas kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan yang kurang dipenuhi.

Kelemahan Kebijakan
4.12 Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009, BPK menemukan kelemahan kebijakan yang telah mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Kelemahan kebijakan tersebut terjadi baik di tingkat pembuat kebijakan makro yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), maupun di tingkat kementerian pelaksana program/ kegiatan stimulus. Temuan-temuan signifikan terkait kelemahan kebijakan di antaranya adalah sebagai berikut. • Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian dana SF infrastruktur sebagai belanja barang ke daerah yang dilaksanakan dalam keadaan krisis ekonomi, tidak mempunyai landasan hukum yang dapat menjamin kepastian hukum sampai dengan terbitnya UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN TA 2009. Di samping itu, kriteria kondisi darurat atas krisis ekonomi hanya ditetapkan dalam UU APBN 2009 yang hanya berlaku untuk tahun tersebut. Dengan demikian, walaupun secara umum ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur mekanisme penanganan di saat krisis, hal tersebut belum komprehensif dan terintegrasi untuk menangani kondisi krisis secara cepat, tepat, dan akuntabel. • Di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan, perhitungan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja belum ada standar/pedomannya, sehingga laporan jumlah tenaga kerja yang terserap tidak dapat diyakini akurasinya serta belum dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen. Lebih jauh lagi, di tingkat satuan kerja (satker) pelaksana kegiatan SF belanja infrastruktur, penetapan target dan perhitungan realisasi tenaga kerja tidak didasarkan atas perhitungan yang baku dan berbeda antara satu satker dengan satker lainnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) yang bebas PPN masih memperhitungkan pengenaan PPN senilai Rp4,80 miliar berakibat hilangnya kesempatan membangun 96 unit RNRB senilai Rp4,80 miliar yang dapat menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 576 orang.

59 • Di Kementerian Pertanian, realokasi anggaran dan pemilihan program/ kegiatan SF melalui mekanisme APBN-P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran dalam mendukung pencapaian tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengatasi PHK. Penyebab 4.13 Pemerintah belum memiliki ketentuan perundang-undangan dan mekanisme yang komprehensif dan terintegrasi untuk dapat menjamin kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. Menteri PU dan Menteri Perhubungan belum menetapkan standar/pedoman mengenai perhitungan tenaga kerja, Menteri Kelautan dan Perikanan dhi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) belum memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan RNRB mengenai pembebasan PPN, dan Menteri Pertanian tidak konsisten dalam menjalankan program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Rekomendasi 4.15 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan di antaranya kepada pemerintah, dalam hal ini • Menteri Keuangan, agar berkoordinasi dengan menteri terkait dalam membuat protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam rangka menghadapi krisis ekonomi di masa yang akan datang, dan memastikan bahwa kebijakan anti krisis dilakukan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Protokol tersebut agar ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna memberikan jaminan kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. • para menteri dimaksud agar membuat pedoman/standar dan memberikan panduan serta konsisten dalam melaksanakan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur.

4.14

Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran, Pemilihan Program/Kegiatan, dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur
4.16 Dalam pemeriksaan kinerja program/kegiatan SF belanja infrakstruktur Tahun 2009, BPK menemukan permasalahan-permasalahan efektivitas pengalokasian anggaran, pemilihan program/kegiatan, dan pencapaian tujuan program stimulus fiskal belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan yang ditemukan di antaranya sebagai berikut. Pemerintah kurang mendukung tercapainya tujuan penyerapan tenaga kerja dalam memilih program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Paket-paket kegiatan yang dipilih sebagian besar bukan padat karya dan merupakan paket

4.17

pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur sebagai tambahan dana dua kontrak tahun jamak senilai Rp100. di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi). pemilihan lokasi 38 unit RNRB tidak tepat. Hasil studi tenaga ahli BPK RI dari FE UI menunjukkan bahwa sebagian besar dari proyek yang dilaksanakan di daerah adalah proyekproyek yang dibutuhkan.60 pekerjaan tahun jamak yang tidak menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan. • Di Kementerian ESDM. berada di kawasan sempadan pantai dan sungai yang terjadi di Kabupaten Brebes.42 miliar kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan.25 miliar. namun belum ada sumber dananya. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen Bina Marga di Provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini mendukung hasil evaluasi BPK bahwa program yang didanai oleh SF belanja infrastruktur Tahun 2009 belum sepenuhnya efektif dalam mendukung tujuan peningkatan daya serap tenaga kerja dan pengurangan PHK. Bila dikaitkan dengan kriteria program yang mendapatkan tambahan alokasi belanja dalam rangka SF 2009 dari Kementerian Keuangan. Sampang. Probolinggo. • Di Kementerian Pertanian. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. gubernur/walikota/bupati dan para kepala dinas terkait. Penyebab 4. • Di Kementerian PU. sebagai pihak yang memiliki kewenangan. sehingga penggunaan anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur senilai Rp1. 4.66 miliar.00 miliar. . program yang dilaksanakan di daerah penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan dan kegiatan dapat diselesaikan dalam Tahun 2009.18 Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. para menteri. untuk kontrak tahun jamak yang di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi) senilai Rp5. dan Gardu Induk senilai Rp425.00 miliar.19 Pemerintah. • Di Kementerian Perhubungan. di antaranya digunakan untuk Pembangunan Gedung Teknik dan Metoda Karantina Pertanian Tahap IV senilai Rp35. Selain itu para pihak tersebut belum sepenuhnya menggunakan penyerapan tenaga kerja sebagai kriteria utama pemilihan program. dan Kota Pekalongan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Badan Karantina Pertanian senilai Rp51.00 miliar pada Ditjen Perhubungan Udara. Jaringan. belum menetapkan kebijakan yang diperlukan terkait dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi PHK. yang dilaksanakan secara tahun jamak sejak Tahun 2008. yang sifat pekerjaannya padat modal dan padat teknologi sehingga tidak akan menyerap tenaga kerja yang optimal. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen LPE untuk Pembangunan Transmisi.

perhubungan.20 Terhadap permasalahan tersebut. indikator yang dapat digunakan adalah tercapainya target volume fisik yang direncanakan dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan sesuai dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. 4. pertanian. hasil pemeriksaan pada 9 Kegiatan Stimulus Pusat (KSP) dan 26 Kegiatan Stimulus Daerah (KSD) atas pelaksanaan pekerjaan bidang SDA.24 miliar.581 OH. Dasar pemilihan program tersebut hendaknya tercantum dalam suatu crisis management protocol yang perlu disusun untuk menjamin bahwa kebijakan anti krisis ekonomi bisa direncanakan dan dilaksanakan secara tepat waktu. di antaranya hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target volume senilai Rp1. Pada program/kegiatan SF belanja infrastruktur Tahun 2009. Salah satu indikator keberhasilan program/kegiatan SF adalah tercapainya target yang telah ditetapkan. Di antara kasus-kasus tersebut. Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan SF Belanja Infrastruktur 4. sebanyak 17 kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum berindikasi merugikan negara senilai Rp41.41 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 134. Dengan demikian hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang PU tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp30.21 Hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan permasalahan-permasalahan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Pengusulan program/kegiatan oleh kementerian lebih memperhatikan tujuan dan kebijakan yang melandasinya. tepat sasaran. dan akuntabel. BPK menemukan sebanyak 60 kasus pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target volume fisik yang ditetapkan senilai Rp84. BPK telah merekomendasikan agar dalam memilih program-program/kegiatan-kegiatan SF. Permasalahan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang tidak mencapai target volume dan permasalahan yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. Permasalahan signifikan di antaranya sebagai berikut. Hasil pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target yang ditetapkan.61 Rekomendasi 4. energi. pemerintah hendaknya mempergunakan dasar yang jelas sesuai dengan tujuan SF.16 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH yang antara lain pada pekerjaan pembangunan tanggul banjir Sungai Kasi (tahap II) Kabupaten Manokwari.492 OH. Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum.48 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 208.22 . dan bidang cipta karya ditemukan kekurangan volume pekerjaan. • Di Kementerian PU. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. bidang bina marga.

Ditjen Perkeretaapian. Ditjen Perhubungan Laut. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang pekerjaan umum tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp4. pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi Saluran Induk I & II Tuaraisah tidak dikerjakan sesuai dengan kontrak. proses pengadaan pembangunan fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate tidak sesuai ketentuan.35 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 46.1. dan Ditjen Perhubungan Darat. • Di KSD Teluk Bintuni.105 OH. • Di bidang perhubungan Provinsi Maluku Utara.62 Gambar 4.616 OH. kekurangan volume pekerjaan dalam 113 kontrak pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara. Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Waterpass dan Theodolite • Di Kementerian Perhubungan. . perhitungan RAB kontrak tidak sesuai dengan SNI tentang analisa biaya konstruksi (ABK) bangunan gedung dan perumahan pekerjaan pondasi sehingga berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp5. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang perhubungan tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp12. Dengan demikian.74 miliar. Provinsi Papua Barat.23 Kasus-kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara di antaranya sebagai berikut. Dengan demikian.53 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 2. 4.

79 miliar pada Setjen Kementerian Pertanian belum dimanfaatkan karena belum didistribusikan kepada dinas perkebunan provinsi/kabupaten sesuai dengan rencana. mengakibatkan aset hasil KSD tidak tersaji dalam neraca pemerintah daerah per 31 Desember 2009 dan berpotensi tidak terpelihara. yang terbukti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan kembali menggunakan bahan bakar konvensional. 4. surat . sehingga berpotensi terjadinya hilang/rusak aset negara tersebut dan aset tersebut sampai berakhirnya pemeriksaan belum dimanfaatkan. hasil 21 paket pekerjaan Desa Mandiri Energi (DME) bahan bakar nabati di 26 lokasi senilai Rp19. Aset hasil KSD di 22 provinsi/kabupaten/kota tidak dicatat dan dilaporkan sebagai mutasi tambah nilai aset dalam LBMD maupun neraca dinas pelaksana KSD dan pemerintah daerah. • Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2009 dan Peraturan Menteri PU Nomor 09/PRT/M/2009 tanggal 17 April 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran SF Bidang Pekerjaan Umum untuk kegiatan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah jelas menyatakan bahwa keluaran/aset yang diperoleh dari KSD menjadi barang milik daerah dan tidak masuk menjadi aset kementerian.19 juta dan mengakibatkan lebih bayar senilai tersebut. • Di Kementerian Pertanian. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. hasil pengadaan 283 unit alat Global Positioning System (GPS) senilai Rp3. hasil pengembangan fasilitas pembangunan DME berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Akibatnya hasil pengadaan kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. • Di Kementerian ESDM. aset hasil pengadaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada tiga satker Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan. di antaranya karena ketiadaan pasokan bahan baku. Papua.24 Selain permasalahan signifikan di atas. • Di Kementerian Perhubungan. Akibatnya. dan Papua Barat tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat. pengenaan PPh final jasa konstruksi pada 33 kabupaten/kota kurang senilai Rp544. tingginya biaya produksi dan biaya operasional serta efisiensi alat rendah.64 miliar belum sepenuhnya efektif dalam mencapai tujuan penganekaragaman sumber energi masyarakat.25 Potensi kerugian negara/daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. Selain itu GPS yang diadakan memiliki fitur yang melebihi kebutuhan. pemeriksaan BPK juga menemukan permasalahan lain yang spesifik di masing-masing kementerian.63 4.

pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. Penyebab 4. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan Tahun 2009 belum dikenakan denda. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp5. • Di Kementerian PU.26 Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.64 berharga. 4.17 juta serta pajak galian golongan C belum dipungut senilai Rp1. pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab kurang optimal dan lalai dalam pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat 11 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi dan mengakibatkan potensi kerugian negara/daerah pada Kementerian Pekerjaan Umum di antaranya sebagai berikut. • Di KSP Provinsi Jawa Tengah.05 miliar. Papua Barat. Provinsi Kalimantan Selatan. dan barang. tidak cermat dalam merancang dan menyusun volume pekerjaan serta evaluasi harga satuan kontrak. • Di KSD Kabupaten Barito Kuala. energi. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. sedangkan pada permasalahan yang berindikasi merugikan negara karena diduga . pertanian.09 miliar diantaranya sebagai berikut. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 14 kasus senilai Rp9.14 miliar.23 miliar. dan Kalimantan Selatan.28 Terkait dengan permasalahan hasil pelaksanaan yang tidak mencapai target dan potensi kerugian negara/daerah. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. 4. Kalimantan Tengah.27 Dari kasus-kasus terkait dengan hasil pelaksanaan pekerjaan yang tidak mencapai target volume kontrak dan kekurangan penerimaan telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah senilai Rp21. KSD pada Kabupaten Halmahera Timur. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. • Di Kementerian Perhubungan. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja bidang pekerjaan umum tahun 2009 belum dikenakan denda senilai Rp712. yang nyata dan pasti jumlahnya. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp2.43 miliar. perhubungan.

BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki pekerjaan dan menyampaikan bukti perbaikannya. Terhadap permasalahan-permasalahan potensi kerugian negara/daerah. Rekomendasi 4. Terkait dengan permasalahan pencatatan aset di Kementerian PU.31 4.29 4. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Perhubungan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut 4. Di Kementerian ESDM.36 . kuasa pengguna anggaran (KPA) tidak optimal melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan. kebijakan terkait barang milik daerah hasil KSD belum ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan memberikan sanksi kepada pihak terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.35 4. selain yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum. dan permasalahan kekurangan penerimaan. KPA dhi. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. BPK telah merekomendasikan para gubernur/bupati/walikota agar berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk segera memproses serah terima aset hasil kegiatan stimulus dan mencatatnya dalam LMBD dan neraca. Kepala Pusdatin tidak cermat dalam merencanakan dan menentukan kebutuhan serta mengalokasikan anggaran.34 Terhadap permasalahan-permasalahan hasil pekerjaan yang tidak mencapai target tersebut. Sedangkan di Kementerian Perhubungan. Di Kementerian Perhubungan. pejabat terkait kurang melakukan sosialisasi dan pengawasan serta tidak cermat dalam memperhitungkan PPh final atas jasa konstruksi. 4. Dirjen Listik dan Pemanfaatan Energi (LPE) kurang cermat dalam merencanakan kegiatan dan kurang mengawasi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan.65 terdapat unsur perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.33 4. Selain itu. mengusulkan pekerjaan dengan lebih cermat. Di Kementerian Pertanian.30 Di Kementerian PU. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar menyetorkan kelebihan pembayaran/kekurangan penerimaan atas pekerjaan yang tidak mencapai target dan memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. selain itu pengawas lapangan dan konsultan pengawas lalai dalam melakukan pengawasan pekerjaan.32 4. pejabat yang bertanggung jawab agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian pekerjaan fisik lapangan. selain itu pejabat pembuat komitmen (PPK) lalai dalam mengendalikan dan mengawasi serta memonitor pengadaan barang/jasa.

Di Kementerian ESDM.66 supaya memerintahkan para kepala satker untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan serta mencatat sisa pengadaan sebagai aset persediaan.39 4. 4. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.37 Di Kementerian Pertanian.40 . BPK telah merekomendasikan Menteri Kelautan dan Perikanan agar menginstruksikan Dirjen KP3K supaya melaporkan kekurangan pemungutan PPh final atas pembangunan RNRB pada 33 kabupaten/kota senilai Rp544. BPK telah merekomendasikan Menteri ESDM antara lain agar memerintahkan kepada Dirjen LPE untuk mengupayakan secara bersungguh-sungguh pemanfaatan atas seluruh peralatan DME berbasis BBN tersebut sesuai tujuan pembangunannya.19 juta kepada Dirjen Pajak untuk dilakukan penetapan dan penagihannya. 4. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Pertanian agar memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada KPA dhi.38 4. Kepala Pusdatin dan PPK serta untuk segera mendistribusikan 283 unit GPS sesuai peruntukannya disertai BAST secara lengkap.

di antaranya sekitar 5.1 Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. luas hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2006 diperkirakan 7.5 5. khususnya hutan mangrove. Menurut data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) Kementerian Kehutanan.4 5.76 juta ha. dan Kepulauan Riau. Semester I TA 2010 pada 15 objek pemeriksaan.33%) dalam keadaan rusak. Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di sepanjang garis pantai timur Sumatera (Selat Malaka). Terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah membangkitkan kesadaran dan pemahaman akan nilai pentingnya vegetasi atau hutan yang tumbuh di kawasan pesisir pantai.2 5. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan akibat dari kebijakan pemerintah.3 5. Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama kehidupan di wilayah pesisir karena selain sebagai habitat biota laut. Hutan mangrove juga berfungsi mengurangi dampak tsunami melalui dua cara yaitu. Riau. Pemilihan Selat Malaka dilakukan karena selat ini merupakan perairan yang padat dilalui oleh berbagai macam kapal sehingga berpotensi tinggi terhadap pencemaran. juga sebagai tempat pemijahan atau penyeleksian benih dan asupan (nursery) ikan. pantai barat dan selatan Kalimantan.67 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove 5. Hutan mangrove di kawasan Selat Malaka sebagian besar berada di wilayah administratif kabupaten/kota pada Provinsi Sumatera Utara. yaitu Kementerian Kehutanan termasuk unit 5. mengurangi kecepatan air karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat dan mengurangi volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. Selat Malaka juga menampung berbagai cemaran dari sampah padat maupun cair yang berasal dari Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaka (Malaysia) yang mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove.6 . baik pusat maupun daerah yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi tanpa adanya usaha untuk menjaga keseimbangan (kelestarian) alam. Dalam Semester II Tahun 2010.38 juta ha (69. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja yang diarahkan pada pengelolaan hutan mangrove yang berada di kawasan Selat Malaka. serta di pantai barat daya Papua.d. Hal tersebut sesuai dengan lingkup pemeriksaan kinerja yang mencakup pengelolaan hutan mangrove periode TA 2005 s.

dinas kehutanan provinsi/kabupaten/kota.10 abrasi abrasi Gambar 5. Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 . perlindungan. Kab. dan Kota Dumai). dan Kota Tanjungpinang). dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai dengan rincian sebagai berikut. UPT. Serdang Bedagai). Hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi. 5.9 Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurang mempertimbangkan fungsi dan luas kawasan hutan minimal 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) berpotensi mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. Natuna. perlindungan. Kab. Batubara. dinas kehutanan provinsi dan kabupaten/kota serta instansi terkait lainnya di Jakarta (Pusat). Provinsi Sumatera Utara (Kab. dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. Hasil Pemeriksaan 5. Bintan. Kab. Karimun. sedimentasi. dan konservasi hutan mangrove dalam memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai. dan Kota Dumai belum memadai mengakibatkan berkurangnya luasan daratan di kabupaten tersebut tidak tertangani dengan baik. Asahan. Rokan Hilir. Rokan Hilir. Kab. serta Kepulauan Riau (Kab.7 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan rehabilitasi. Kota Batam.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukan adanya kelemahan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku baik yang dilakukan oleh pihak Kementerian Kehutanan. Penanggulangan abrasi di Selat Malaka oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Langkat. dan Kab. Tujuan Pemeriksaan 5. Kebijakan 5.68 pelaksana teknis (UPT). dan pihak-pihak lainnya. Kab.1. Kab. Provinsi Riau (Kab. Deli Serdang. Kab. Bengkalis. Bengkalis. pemanfaatan. pemanfaatan. Indragiri Hilir. erosi. dan konservasi hutan mangrove masih kurang efektif untuk memulihkan.

keunikan alam serta menimbulkan kerugian ekonomis senilai Rp779.12 5. kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Kabupaten Natuna seluas 200 ha senilai Rp1.15 Gambar 5. Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Hutan Mangrove 5.14 Usaha pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove di sempadan sungai yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi.588 ha dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat dan mengakibatkan hilangnya fungsi SM KG/LTL sebagai kawasan pelestarian alam. meningkatkan. Pembuatan model tanaman mangrove pada Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan seluas 50 ha senilai Rp289.309. 5. 5. satwa.00 juta.82 juta.18 ha di Kota Tanjungpinang tidak sesuai dengan ketentuan berpotensi mengakibatkan hilangnya kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung. 2009. dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan.d. Selain itu terdapat kerugian ekonomis senilai Rp153.66 miliar tidak efektif dan terjadi kerugian negara senilai Rp180.61 miliar.69 Kegiatan Rehabilitasi Hutan Mangrove 5.13 Kegiatan Pemanfaatan Hutan Mangrove 5. Selain itu.10 juta tidak efektif mengakibatkan tujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tidak tercapai. Pemberian hak guna bangunan (HGB) pada kawasan hutan mangrove seluas 1. .16 Hutan mangrove di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading/Langkat Timur Laut (KG/LTL) di Kabupaten Langkat minimal seluas 6.11 Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2005 s.2. sehingga tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai.

70 5. serta tidak cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati Natuna untuk menagih kelebihan pembayaran dan menyetorkan ke kas negara. perlindungan. pemanfaatan. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.19 Terhadap permasalahan tersebut.17 Hutan mangrove di areal eks Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Bakau PT SBB dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat mengakibatkan semakin rusaknya hutan mangrove. Penyebab 5. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut atas kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi. Rekomendasi 5. Atas temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. dan konservasi hutan mangrove.20 . 5.18 Hal tersebut disebabkan oleh pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam mentaati ketentuan dan peraturan yang berlaku.

6. Dalam Semester II Tahun 2010. Indikator 6.4 Penilaian atas kinerja penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M didasarkan pada lima indikator utama. Masalah-masalah pokok yang mendorong belum efektifnya penyelenggaraan ibadah haji dapat diuraikan sebagai berikut. dan Mina (Armina).1 Penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama.71 BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 6.5 Berdasarkan hasil pemeriksaan. belum sepenuhnya efektif memberikan pelayanan kepada jemaah haji. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M sudah memadai untuk mencapai efektivitas pelayanan ibadah haji. yaitu: • penyelenggara ibadah haji telah memiliki prosedur baku yang memperhatikan kecepatan pelayanan pendaftaran.2 Tujuan Pemeriksaan 6. Musdalifah. Hasil Pemeriksaan 6. kemudahan calon jemaah haji (calhaj) dalam pengurusan haji dan memperoleh kepastian porsi dan pemberangkatan. dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi calon/jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai ajaran agama Islam. disimpulkan bahwa penyelenggara ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.6 . 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman penyewaan pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. pelayanan. dan • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman pelayanan katering dan akomodasi di Arafah. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan minimal (SPM) embarkasi/debarkasi kepada jemaah haji. pelunasan dan pembatalan haji. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan transportasi kepada jemaah haji.

pelunasan dan pembatalan haji belum ditetapkan dan disosialisasikan oleh Menteri Agama. pelunasan. dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi secara tertulis tentang 6. calhaj tidak diberikan informasi tertulis mengenai perkiraan tahun keberangkatan. dan calhaj belum mendapatkan perhatian yang sama dalam pembagian sisa kuota haji karena penetapan sisa kuota haji belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi. Kakanwil Provinsi. dan • kebijakan yang mengatur tentang penetapan sisa kuota haji provinsi belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi yang cukup signifikan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • menetapkan dan mensosialisasikan SPM tentang Pendaftaran. Pelunasan. Namun demikian. pelunasan dan pembatalan haji. • Kankemenag tidak memberikan informasi secara tertulis tentang kewajiban untuk melakukan pelunasan haji kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat. dan pembatalan haji. dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pendaftaran Haji dan PMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PMA Nomor 15 Tahun 2006 serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji. calhaj memerlukan waktu yang lama untuk menerima pengembalian dana atas pembatalan haji.72 Pelayanan Pendaftaran.8 . • kurangnya jumlah sumber daya manusia dan pembagian tugas yang jelas dalam melayani proses pendaftaran. PMA tersebut belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan). pelunasan. • memerintahkan secara berjenjang kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU). Penyebab 6.7 Pada tahap pendaftaran.9 Permasalahan tersebut disebabkan: • standar pelayanan minimal tentang pendaftaran.10 Terhadap permasalahan tersebut. Pelunasan dan Pembatalan Haji. Rekomendasi 6. Pelayanan pendaftaran. dan Pembatalan Haji 6.

14 Terhadap permasalahan tersebut.13 Permasalahan tersebut terjadi karena Menteri Agama belum selesai merumuskan SPM penyelenggaraan ibadah haji pada seluruh embarkasi. calhaj tidak diberikan kepastian informasi perubahan titik penjemputan. Pelayanan kepada Jemaah Haji di seluruh Embarkasi 6. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar menetapkan dan mensosialisasikan SPM yang berlaku di seluruh embarkasi serta meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan di embarkasi. Kondisi ini menimbulkan kekurangnyamanan atas beberapa pelayanan yang diterima oleh jemaah haji. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dalam melayani Jemaah Haji Indonesia. Penyebab 6. 6. pelunasan dan pembatalan haji.12 Pelayanan Transportasi Udara dan Darat di Arab Saudi 6. dan jumlah bus yang beroperasi sehingga menimbulkan penumpukan jemaah terutama pada hari-hari awal operasional. calhaj memerlukan waktu yang cukup lama dalam menerima pelayanan kesehatan. menetapkan sisa kuota haji provinsi harus dengan memperhatikan perbedaan daftar waiting list calhaj antar provinsi yang signifikan. Standar pelayanan transportasi. sarana dan prasarana pada setiap embarkasi bervariasi.11 Pada tahap pelayanan di embarkasi. 6. Demikian pula informasi mengenai keterlambatan penerbangan.73 perkiraan tahun keberangkatan calhaj pada saat melakukan pendaftaran dan memberikan informasi secara tertulis kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat sesuai daerahnya masing-masing.16 . memenuhi kekurangan sumber daya manusia dan membuat pembagian tugas yang jelas untuk tiap bagian pelayanan pendaftaran. Hal ini disebabkan oleh Tim Kesehatan tahap 1 dan 2 belum seluruhnya mengisi buku kesehatan jemaah haji secara lengkap dan sebagian calhaj tidak dapat membuktikan telah menerima vaksin. belum ditetapkan. dan a. jadwal. Pelayanan penyelenggaraan haji yang meliputi prosedur. • memerintahkan kepada Dirjen PHU untuk a. waktu. Rekomendasi 6.15 Pada tahap pelayanan transportasi di Arab Saudi.

menginstruksikan PPIH Arab Saudi agar meningkatkan pengawasan pelayanan transportasi jemaah haji. konsisten dalam melaksanakan perencanaan transportasi shuttle bus yang telah disusun dan membuat alternatif perencanaan pelayanan transportasi shuttle bus.17 Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya konsep atau mekanisme pengelolaan transportasi shuttle bus yang jelas dari Muassasah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji sehingga menimbulkan permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang sifatnya yang tidak dapat dikendalikan tersebut diperlemah dengan kurang memadainya penanganan yang dilakukan oleh petugas/penyelenggara haji untuk mengatasi kelelahan jemaah dan memberikan informasi mengenai kepastian keberangkatan pesawat serta menjamin hak-hak jemaah mendapatkan kompensasi dari perusahaan penerbangan. antara lain penumpukan jemaah pada waktu menunggu bus.19 Terhadap permasalahan tersebut. b. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar. menginstruksikan kepada Direktur Pelayanan Haji agar 1. Selain itu. dan 6. • Meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan memperjelas rumusan tugas dan wewenang masing-masing kementerian khususnya terkait kebijakan penerbangan haji. • Segera menetapkan SPM dan pedoman pelayanan khususnya transportasi shuttle bus di Arab Saudi serta menyusun perencanaan dan kontrak transportasi shuttle bus secara matang dengan melakukan koordinasi antar pihak-pihak terkait.74 6. ketidakjelasan tugas dan wewenang antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan dalam menetapkan kebijakan transportasi udara turut menghambat peningkatan pelayanan transportasi udara Jemaah Haji. dan c.18 . Rekomendasi 6. mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi dengan pihak penerbangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada jemaah atas keterlambatan pesawat dan memberikan kepastian informasi apabila terjadi keterlambatan pesawat. Selain itu. • Memerintahkan Dirjen PHU untuk a. pelayanan transportasi udara masih dihadapkan pada permasalahan keterlambatan pesawat yang penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti terbatasnya fasilitas bandara Arab Saudi.

Pelayanan Pemondokan di Arab Saudi 6.22 Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya kerjasama/MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi perihal standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan ketidakpastian pemilik pemondokan dalam memperoleh tasyrih dari Pemerintah Arab Saudi yang akan digunakan Jemaah Haji Indonesia.21 . dan masih ada jemaah haji (16. Sementara di Madinah. masih banyak jumlah pemondokan di Ring II atau di luar Markaziah yang berjarak lebih dari 2 km dari Masjidil Haram di Mekkah dan masih terdapat penempatan jemaah haji yang melebihi kapasitas rumah yaitu sebanyak 105 dari 424 rumah. Penyebab 6. kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji dalam beribadah menjadi berkurang.75%). menambahkan klausul sanksi dalam kontrak perusahaan penerbangan terkait kewajiban penyampaian informasi penerbangan dan informasi pemberian kompensasi keterlambatan. Rekomendasi 6. beragamnya metode penetapan calhaj dalam suatu kloter pada setiap provinsi berakibat tidak diperolehnya transparansi dan persamaan hak bagi jemaah haji. Kondisi tersebut mengakibatkan jemaah haji yang menempati pemondokan di Ring II atau berjarak 2 km lebih dari Masjidil Haram di Mekkah masih cukup banyak (72. dan • membuat standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter yang berlaku untuk seluruh provinsi.23 Terhadap permasalahan tersebut. 6. serta belum dibuatnya standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter untuk setiap provinsi. Realisasi penyewaan perumahan di Mekkah tidak memenuhi target awal yang ditetapkan dan penempatan jemaah haji melebih kapasitas yang ditetapkan dalam tasyrih. realisasi penempatan jemaah haji belum 100% berada di Markaziah dan penetapan Majmu’ah 1430 H belum memperhatikan kinerja Tahun 1429 H dan 1428 H. Selain permasalahan di atas.75 2. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk membuat standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan memerintahkan Dirjen PHU untuk • mengoptimalkan penyewaan rumah di Mekkah yang berada di ring I dan mengurangi jumlah penyewaan rumah di ring II.48%) yang menempati pemondokan di luar Markaziah di Madinah.20 Pada tahap pelayanan pemondokan di Arab Saudi.

Rekomendasi 6.28 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. • meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM serta KBSA untuk meminimalisir jumlah dan mencegah jemaah haji non kuota supaya tidak mengganggu kenyamaan ibadah jemaah haji reguler. Permasalahan tersebut mengakibatkan waktu antrian cukup lama sehingga menimbulkan kelelahan pada sebagian jemaah haji khususnya yang lanjut usia dan wanita. dan kebijakan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang memberikan visa kepada jemaah haji non kuota. 6.25 . BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • mengkaji kembali pola pelayanan katering. Penyebab 6.27 Terhadap permasalahan tersebut. 6. mengganggu konsentrasi dan kinerja petugas haji dalam memberikan pelayanan pada jemaah haji reguler. Permasalahan lain yang muncul di Armina yaitu terkait adanya jemaah haji non kuota yang tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler dengan jumlah yang cukup tinggi.24 Pada tahap pelayanan di Armina. yang mengakibatkan jemaah haji non kuota terlantar. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji reguler dalam melaksanakan ibadah haji karena adanya penggunaan fasilitas oleh jemaah haji non kuota. calhaj memerlukan waktu antrian yang cukup lama untuk mendapatkan makanan yang disebabkan oleh pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas.26 Permasalahan pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina terjadi karena kebijakan Direktur Pelayanan Haji tentang pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas kurang tepat. dan meningkatkan risiko berjangkitnya penyakit. dan • memerintahkan Dirjen PHU supaya memberikan sanksi kepada PIHK yang melakukan pelanggaran. dan kebersihan lingkungan di Armina yang belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji. dan potensi tambahan beban yang harus dibayarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji diluar dari anggaran pengeluaran biaya pengelenggara ibadah haji reguler yang telah ditentukan.76 Pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina 6.

yaitu: • Organisasi dan tata laksana serta sarana dan prasarana rumah sakit telah memadai dan efektif untuk mendukung kegiatan pelayanan. dan • Manajemen rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai pada proses pelayanan. rawat jalan dan farmasi. • Manajemen rumah sakit memiliki perencanaan memadai dalam mengelola pelayanan. Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi dan tata laksana. dan 8d dengan uraian sebagai berikut: 7. pelaksanaan. Indikator Pemeriksaan 7. Hasil Pemeriksaan 7.4 Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa manajemen rumah sakit belum efektif dalam mengelola pelayanan rawat inap. dan farmasi pada umumnya didasarkan pada empat indikator utama. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada 42 rumah sakit daerah di 23 provinsi (Lampiran 53).2 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya untuk menilai efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. monitoring dan evaluasi pengelolaan pelayanan rawat inap. • Manajemen rumah sakit telah melaksanakan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dan peraturan lainnya. rawat inap. rawat jalan.77 BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 7.3 Penilaian kinerja atas efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. Tujuan Pemeriksaan 7. 8c. perencanaan. sarana dan prasarana. dan farmasi sehingga belum optimal dalam menunjang pelayanan kesehatan yang prima. dapat dilihat pada Lampiran 8a. dan farmasi.1 Dalam Semester II Tahun 2010. 8b. rawat inap.5 .

Tata Laksana. • Jumlah tenaga medis dan keperawatan pada 14 RSUD belum memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat. Rekomendasi 7.78 Organisasi. serta keterbatasan anggaran. . • Instalasi rawat jalan. dan tanggung jawab. yaitu struktur organisasi dalam rumah sakit belum sepenuhnya memperhatikan pemisahan fungsi. tata laksana. sistem pengendalian intern atas pengelolaan pelayanan belum sepenuhnya dirancang secara memadai. sarana dan prasarana rawat jalan. pelayanan belum didukung pegawai yang memiliki keahlian. dan wewenang.6 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi.7 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • lalai dan belum sepenuhnya menggunakan pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan belum adanya prosedur baku penanganan keluhan. wewenang. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati agar memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab • menggunakan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. • Sarana dan prasarana pada 19 RSUD belum memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sehingga belum memadai dalam memberikan pelayanan. Rumah sakit juga belum memiliki satuan pengawas intern (SPI) dan belum membentuk bagian khusus penanganan keluhan. ketrampilan dan kompetensi yang memadai. dan Farmasi 7. serta segera menetapkan struktur organisasi lengkap dengan uraian tugas. rawat inap. rawat inap. Rawat Inap. Selain jumlah pegawai dan keberadaan dokter spesialis yang kurang. Selain itu. dan • lalai dalam perencanaan kebutuhan pegawai dan belum melakukan analisis beban kerja untuk menentukan jumlah pegawai yang betul-betul dibutuhkan. • kurang memerhatikan perbaikan fasilitas pelayanan.8 Terhadap permasalahan tersebut. dan farmasi pada 13 RSUD belum sepenuhnya didukung struktur organisasi yang memadai. fungsi. dan tidak memerhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana. tanggung jawab. Penyebab 7. dan farmasi sebagai berikut. Sarana dan Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. kurang optimal.

Penyebab 7. dan farmasi RSU Mayjen HA Thalib Kabupaten Kerinci. Selain itu. rawat jalan. Rawat Inap.10 Kelemahan dalam hal perencanaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum membuat pedoman penyusunan perencanaan yang jelas dan mudah dipahami. dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. dan • segera membuat analisis kebutuhan pegawai dan beban kerja. rawat inap. • Perencanaan pelayanan rawat jalan. Sumatera Selatan dan pengadaan.79 • segera merencanakan. dan memenuhi sarana dan prasarana rumah sakit untuk mendukung pelayanan sesuai standar dengan memperhatikan skala prioritas. • Program kerja pelayanan farmasi RSUD Kabupaten Nganjuk dan RSUD Dr. rawat jalan. dan farmasi sebagai berikut. personil yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belum melaksanakan tugas dengan baik dan belum mempertimbangkan target ketersediaan SDM. Ashari Kabupaten Pemalang belum disusun. Selain itu. distribusi serta serta penggunaan blanko resep pada instalasi rawat jalan RSUD Kabupaten Jombang tidak berdasarkan perencanaan. program kerja instalasi rawat inap. rawat inap. dan Farmasi 7. Jambi dan RSU Dr. Saiful Anwar. Malang belum memadai. • Perencanaan anggaran instalasi rawat inap. . Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau. merealisasikan. Pejabat yang bertanggung jawab tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta lemahnya koordinasi dengan pihak terkait. Belum memadainya perencanaan anggaran antara lain tidak adanya petunjuk pelaksanaan yang mengatur perencanaan anggaran dan adanya bagian yang belum mengusulkan rancangan kegiatan. antara lain program kerja bidang pelayanan farmasi belum memiliki indikator pencapaian yang jelas dan program kerja dibuat oleh orang yang tidak kompeten. yaitu antara lain belum didasari identifikasi kebutuhan dan tidak memperhatikan skala prioritas. • Tidak terdapat perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi pada RSUD Dr. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. dan pelayanan pada tujuh RSUD belum memadai. memprioritaskan kebutuhan minimal pegawai. dan prasarana.9 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan dalam hal perencanaan pelayanan rawat jalan. dan farmasi serta perencanaan kebutuhan alat kesehatan pada 16 RSUD belum memadai. M. sarana.

dan • tidak segera mengusulkan dan menetapkan protap.11 Terhadap permasalahan tersebut. Penyebab 7. • Pengelolaan administrasi pada instalasi rawat jalan. • Prosedur tetap (protap) pelayanan rawat jalan. • tidak cermat dan tidak optimal dalam pengelolaan administrasi yang mendukung pelayanan. • Standar pelayanan minimal (SPM) pada 14 RSUD belum ditetapkan dan belum memadai. rawat inap. rawat inap dan farmasi pada 8 RSUD belum memadai serta prosedur tetap pada pelayanan rawat inap RSUD Mardi Waluyo di Kota Blitar belum pernah dilakukan revisi sejak Tahun 1999. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.80 Rekomendasi 7.12 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal pelaksanaan pelayanan adalah sebagai berikut. . BPK telah merekomendasikan agar pihak yang bertanggung jawab menyusun pedoman penyusunan perencanaan dan program kerja. yaitu belum memenuhi standar pelayanan minimal dan prosedur tetap. pelaksanaan kalibarasi alat kesehatan belum dilakukan. Belum memadainya SPM antara lain karena belum sepenuhnya mengacu keputusan Menteri Kesehatan.13 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • belum sepenuhnya memperhatikan dan mengoptimalkan kinerja pelayanan kesehatan. Selain itu. • Pelaksanaan pelayanan instalasi rawat jalan. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat belum dapat tercapai. rawat inap. • belum sepenuhnya memahami pentingnya SPM sebagai pedoman dalam penilaian kinerja pelayanan. dan pelayanan serta perbekalan farmasi pada 7 RSUD belum dilaksanakan dengan baik. Belum memadainya protap antara lain protap yang ada sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu direvisi dan protap belum memenuhi seluruh kebutuhan instalasi sesuai pedoman penyelenggaraan rumah sakit. dan Farmasi 7. Hal tersebut mengakibatkan manajemen tidak dapat mengukur kinerja pelayanan yang belum ditetapkan standarnya dan masyarakat belum memperoleh hak pelayanan sesuai SPM. Rawat Inap. dan farmasi pada 18 RSUD belum memadai. serta meningkatkan koordinasi dengan unit terkait.

17 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar segera menyusun dan menetapkan mekanisme/ prosedur monev. rawat jalan dan farmasi adalah sebagai berikut.15 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal mekanisme pelaporan dan evaluasi kegiatan pada instalasi rawat inap. .81 Rekomendasi 7. rawat inap dan farmasi. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 9 RSUD belum dilakukan dan SPI belum mendukung kegiatan monev. dan • melakukan revisi. serta lebih cermat dalam mengambil kebijakan pengelolaan administrasi. • melaksanakan perbaikan penatausahaan administrasi pengelolaan pelayanan rawat jalan. Monitoring dan Evaluasi 7. serta Satuan Pengawas Intern belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Penyebab 7. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi. Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 7.16 Permasalahan tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum menyusun dan menetapkan mekanisme/prosedur monev. • menyusun dan menetapkan SPM. menyempurnakan dan melengkapi prosedur tetap sesuai SPM. Rekomendasi 7. meningkatkan dan memperbaiki monev masing-masing instalasi. Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 RSUD belum memadai dan tidak sesuai ketentuan. Belum memadainya pelaksanaan monev antara lain monev tidak mencakup pengukuran dan penilaian kinerja serta penyelesaian tindak lanjut tidak dipantau dan didokumentasikan.18 Dalam Semester II Tahun 2010. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Direktur RSUD untuk mengoptimalkan kinerja pelayanan sesuai SPM.14 Terhadap permasalahan tersebut. serta meningkatkan pelaksanaan kegiatan SPI.

Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat adalah untuk menilai apakah pelayanan kesehatan telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai SPM serta untuk memberi saran bagi upaya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. dan efisiensi pelayanan kesehatan dasar. Hal ini terlihat masih banyaknya cakupan kegiatan yang mendukung pelayanan kesehatan dasar tersebut dalam pelaksanaannya tidak efektif dan efisien antara lain sebagai berikut.82 Tujuan Pemeriksaan 7. . ibu bersalin dan anak dan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belum sesuai dengan SPM bidang kesehatan.21 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penyebab 7. • Pelayanan terhadap komplikasi kebidanan yang ditangani tidak efektif dan efisien. yang mengakibatkan penanganan komplikasi kebidanan tidak tertangani dengan baik yang membahayakan jiwa penderita.22 Hal tersebut disebabkan pejabat yang bertanggung jawab tidak menyusun dan melaksanakan sosialisasi pentingnya kesehatan ibu hamil. 7. yang mengakibatkan pelayanan belum mencapai seluruh sasaran ibu hamil dan pelayanan yang diberikan belum sesuai SPM.19 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara adalah menilai efektivitas yaitu realisasi kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian target yang telah ditetapkan. yaitu menilai penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan. • Kegiatan kunjungan bayi pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2009 tidak tercapai.20 Hasil Pemeriksaan Provinsi Sumatera Utara 7. yang mengakibatkan pelayanan kunjungan bayi tidak lengkap dan bayi yang mengalami kelainan dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya tidak dapat segera diketahui dan diambil tindakan. • Kegiatan kunjungan ibu hamil (K-4) tidak sesuai dengan SPM.

serta • selalu memedomani SPM dalam melakukan perbaikan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. BPK telah merekomendasikan kepada walikota agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kinerja pelayanan kesehatan. lalai serta belum optimal dalam melaksanakan tugas.83 Rekomendasi 7. ibu bersalin.23 Terhadap permasalahan tersebut. Provinsi Sumatera Barat 7. Penyebab 7. 7. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil.28 . dan anak. masih terdapat kelemahan antara lain indikator kinerja Bidang Kesehatan Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 belum optimal dan persediaan obat yang kedaluwarsa masih tersimpan di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang senilai Rp107. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Selain itu. Namun. Rekomendasi 7.26 Permasalahan tersebut antara lain terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.27 Terhadap permasalahan tersebut.24 Hasil pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang beserta UPTD-nya menunjukkan bahwa masing-masing puskesmas telah memenuhi capaian indikator SPM dan tidak ditemukan adanya kasus polio dan balita gizi buruk berdasarkan penyaringan (screening). sarana penyimpanan obat publik dan perbekalan farmasi pada Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang tidak sesuai dengan Standar Sarana Penyimpanan Obat Publik.48 juta.25 7.

84 .

melaksanakan. Provinsi Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun).1 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan dilakukan pada 13 objek pemeriksaan di 8 provinsi. • pelaksanaan pemenuhan dan pemanfaatan sarpras dan PTK telah sesuai ketentuan. Kabupaten Minahasa Utara).3 Selain tujuan tersebut di atas.5 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum efektif dalam merencanakan. pemeriksaan kinerja pendidikan pada beberapa disdik juga bertujuan menilai mekanisme pengolahan data dalam perhitungan angka partisipasi kasar (APK). dan Provinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Morowali). dan melakukan monev atas pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik. . Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. Tujuan Pemeriksaan 8. dan • akurasi perhitungan APK.85 BAB 8 KINERJA PENDIDIKAN 8. angka putus sekolah (APS). Provinsi Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Barat). Provinsi Riau (Kota Pekanbaru). dan • menilai efektivitas pengelolaan tenaga kependidikan (PTK) dalam menunjang penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Pasaman. APM. Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur). angka partisipasi murni (APM). yaitu pada Dinas Pendidikan (Disdik) di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Samosir). Indikator 8. dan angka melanjutkan (AM). dan AM.4 Indikator kinerja atas pengelolaan sarpras dan PTK. APS. • monitoring dan evaluasi (monev) yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. dan Kota Solok). Hasil Pemeriksaan 8. 8. Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kota Bukit Tinggi. yaitu • perencanaan yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK.2 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan pada umumnya bertujuan untuk • menilai efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras).

Kabupaten Lombok Timur. dan Kabupaten Morowali.11 Monitoring dan evaluasi atas pengelolaan sarpras dan PTK 8. BPK telah merekomendasikan kepada • Bupati/Walikota agar Kepala Disdik meningkatkan komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah sesuai dengan SPM. Kabupaten Pasaman. dan • Kepala Disdik agar lebih optimal dalam melakukan seleksi atas pemberian bantuan sarpras sesuai kebutuhan sekolah.10 8. Kabupaten Kotawaringin Barat. sedangkan permasalahan kualifikasi akademik guru PTK terjadi pada seluruh entitas yang diperiksa. 8. antara lain perencanaan dan indikator renstra tidak sinkron dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) serta belum disahkan secara formal oleh kepala disdik.8 Pelaksanaan atas Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. BPK telah merekomendasikan kepada kepala dinas untuk mempedomani Renstra Kemdiknas dalam menyusun renstra dan membuat SOP penyusunan renstra.7 8.6 Rencana Strategis (renstra) disdik belum disusun secara memadai. Kabupaten Karimun. Terhadap permasalahan tersebut. Sebelas entitas mengalami permasalahan pengelolaan sarpras yang tidak sesuai SPM. 8.9 Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan atas pengelolaan sarpras dan PTK di antaranya adalah sarpras sekolah dan kualifikasi akademik guru PTK belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). serta belum melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru secara optimal. serta melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru lebih optimal. Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sembilan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. Belum memadainya antara lain Disdik belum .12 Permasalahan yang terkait dengan kegiatan monitoring dan evaluasi diantaranya adalah Disdik belum melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara memadai. Kabupaten Samosir.86 Perencanaan dalam Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. Terhadap permasalahan tersebut. Kabupaten Bintan. dan lebih cermat dalam membuat perencanaan serta pemanfaatan sarpras. Hal ini terjadi karena Kepala Disdik belum memiliki komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah dalam rangka pemenuhan SPM. Hal ini terjadi karena kepala dinas dalam menyusun renstra tidak memedomani dan mengacu pada Renstra Kemdiknas serta belum adanya SOP penyusunan renstra.

yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) terkait sumber data penduduk yang digunakan untuk menghitung APK. APS. sehingga indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan dapat diyakini kebenarannya. Kabupaten Karimun.14 Hal tersebut disebabkan kepala disdik belum membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. dan AM. Kabupaten Karimun. Perhitungan APK. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar kepala disdik membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. Kabupaten Kepulauan Sangihe. dan AM 8. Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten Bintan. Terhadap permasalahan tersebut. serta • kepala disdik melakukan koordinasi dengan unit terkait supaya data yang diperoleh terlebih dahulu divalidasi. Hal ini terjadi karena kepala disdik belum melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar • kepala disdik melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang yaitu BPS. 8.13 8. Kota Bukit Tinggi. dan Kabupaten Morowali. dan AM tidak didukung dengan data yang akurat dan tidak divalidasi. dan Kabupaten Minahasa Utara. Tujuh entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Pasaman. Kabupaten Minahasa Utara. sehingga data yang diperoleh tidak divalidasi. keterbatasan jumlah SDM dan tidak adanya laporan hasil pengawasan.18 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. kepala disdik belum memahami pentingnya indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan.87 membentuk tim monev secara formal. APM. APM. Selain itu. APS. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal.16 8. APM. 8. Kota Solok. Kabupaten Samosir. Terhadap permasalahan tersebut.15 Perhitungan APK. Kabupaten Kepulauan Sangihe. APS. Kabupaten Kotawaringin Barat. APM. dan AM. sehingga pencapaian indikator tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya.17 . APS. 8. mengenai kebenaran sumber data penduduk untuk menjamin akurasi perhitungan APK.

88 .

PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Way Bumi di Kotabumi.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai secara umum efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.4 Penilaian kinerja PDAM didasarkan pada indikator • apakah proses produksi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. PDAM Tirta Raharja Kab. Bandung. PDAM Tirta Al Bantani Kab. dan kontinuitas. Indikator 9. • apakah proses distribusi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. serta menilai pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan. membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Hasil Pemeriksaan 9. Bengkulu.2 Tujuan Pemeriksaan 9. dan PDAM Kota Balikpapan. dan • apakah penanganan keluhan pelanggan telah dikelola secara efektif sehingga meminimalkan penyimpangan dan memuaskan pelanggan. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. dan kontinuitas. serta pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan PDAM secara umum menunjukkan hasil yang belum optimal sehingga masih harus ditingkatkan. kuantitas. kuantitas. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung.1 Perusahaan daerah air minum (PDAM) merupakan perusahaan daerah yang didirikan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengutamakan pemerataan dan keseimbangan pelayanan. .89 BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum 9. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas PDAM yang dilakukan pada sembilan entitas daerah kabupaten/ kota yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. Dalam Semester II Tahun 2010. 9. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.5 Hasil pemeriksaan atas efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. Serang.

PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Selain permasalahan tersebut. PDAM Tirta Al Bantani Kab. Bandung. Bandung. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP menyeluruh untuk pengujian air bersih.10 9. Hal ini terjadi antara lain karena tingginya kebocoran/kerusakan pipa-pipa. Serang. 9. Terhadap permasalahan tersebut.13 . PDAM Way Bumi di Kotabumi.9 Permasalahan yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah tingkat kebocoran air melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Hal ini terjadi karena kurangnya komitmen dari manajemen PDAM untuk melaksanakan penjaminan mutu atas produksi air bersih kepada pelanggan. dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. dan PDAM Kota Balikpapan. Hal ini terjadi antara lain karena belum adanya SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan kurang optimalnya PDAM dalam mendeteksi dan menanggulangi tingkat kebocoran air. Bengkulu. Serang. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan lebih optimal dalam mendeteksi dan menanggulangi kebocoran air. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Tirta Al Bantani Kab. Serang.7 9. Bandung. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.90 Penilaian Proses Produksi 9.12 9. . Kurangnya komitmen manajemen antara lain terlihat dari belum adanya standar operasional dan prosedur (SOP) menyeluruh untuk pengujian air bersih kepada pelanggan.11 9. 9. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Bengkulu. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.6 Permasalahan yang terkait dengan proses produksi air bersih di antaranya adalah kualitas air hasil produksi yang belum memenuhi standar. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. permasalahan lain yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah PDAM belum dapat menyediakan air bersih kepada pelanggan secara berkelanjutan. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Terhadap permasalahan tersebut. PDAM Tirta Raharja Kab. PDAM Way Bumi di Kotabumi.8 Penilaian Proses Distribusi 9. PDAM Tirta Raharja Kab. dan PDAM Kota Balikpapan.

PDAM Tirta Al Bantani Kab.14 Terhadap permasalahan tersebut. Penilaian Penanganan Keluhan Pelanggan 9.16 9.91 9. Lima entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Serang.17 9.15 Permasalahan yang terkait penanganan keluhan di antaranya adalah penanganan keluhan pelanggan belum dikelola secara memadai. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. dan PDAM Kota Balikpapan. 9. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM agar melakukan peremajaan dan pemeliharaan pipa secara berkala. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP penanganan keluhan pelanggan dan meningkatkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan serta melakukan pelatihan. Hal ini terjadi karena PDAM belum mempunyai SOP penanganan keluhan pelanggan dan bagian penanganan keluhan pelanggan belum didukung sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Bengkulu.18 . Terhadap permasalahan tersebut.

92 .

• Pelayanan dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang. • Pelayanan SIM. • Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. • Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang. 5 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. serta Perusahaan Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat.1 Selain tema-tema pemeriksaan kinerja seperti yang diuraikan pada babbab sebelumnya. Polda Banten. dan 3 objek pemeriksaan BUMN. dan Yogyakarta. Serang.93 BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya 10. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. • Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan (Pusdiklat Jemenhan) Kementerian Pertahanan di Jakarta. dalam Semester II Tahun 2010 BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada 18 objek pemeriksaan meliputi 10 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Bursa Pariwisata Internasional dan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata .2 Sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dengan rincian sebagai berikut. • Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta. STNK. • Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). dan Polda DIY di Bandar Lampung. Pemerintah Pusat 10. • Pengelolaan Kehutanan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. • Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan Dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam. dan BPKB (SSB) pada Polda Lampung.

d.94 TA 2008. • Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. Triwulan III). kecuali untuk penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. • Perencanaan kegiatan telah dilakukan secara memadai. 10. • Pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan. • Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. antara lain sebagai berikut. • Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.4 10. dan Kepulauan Riau. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas. • Program Bahteramas terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. 10. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta. • Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait. • Akuntabilitas dan evaluasi kinerja kegiatan telah dikelola dengan baik.3 Tujuan pemeriksaan atas sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan.7 Lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dengan rincian sebagai berikut. Terhadap permasalahan tersebut. 2009. Jawa Timur. • Program Penanggulangan Gizi Buruk TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung.5 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif.6 Pemerintah Daerah 10. . 10.

• Kegiatan Pemeliharaan. melaksanakan. kegiatan supervisi dan evaluasi yang kurang memadai. 10. efektivitas. Terhadap permasalahan tersebut. 10. Indikator yang digunakan antara lain sebagai berikut. serta hasil pengadaan yang belum dimanfaatkan.Medan. Kegiatan Pelayanan Perijinan Baru pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Sementara itu. dan evaluasi telah dilakukan dengan memadai. masih terdapat beberapa kelemahan. monitoring.11 10. selain tidak efektif juga dikategorikan tidak efisien karena kebijakan. Pemakaian Refinery Fuel. prosedur. Cilacap. • Proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan. • Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta. dan melakukan pemantauan serta evaluasi atas Program Pembebasan BOP.13 Tiga objek pemeriksaan BUMN dengan rincian sebagai berikut. dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara cukup berhasil dalam merencanakan.10 Hasil pemeriksaan pada umumnya menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. antara lain pengelolaan keuangan. • Pemerintah daerah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. .9 10.12 BUMN 10. • Pelaporan. • Perencanaan yang memadai dalam mengelola program kegiatan. Khusus untuk simpulan hasil pemeriksaan Program Pembebasan BOP.95 10. dan keekonomisan pelaksanaan kegiatan. Akan tetapi. • Kinerja PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . dan Balikpapan. dan indikator kinerja pelaksanaan kegiatan yang tidak memadai.8 Tujuan pemeriksaan atas lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah pada umumnya adalah untuk menilai efisiensi. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan tindak lanjut yang memadai.

• PT Perkebunan Nusantara II untuk Tahun 2008 dan 2009 belum menetapkan KPI atas kegiatannya. (ii) penetapan kebijakan strategis pengembangan sistem reservasi tiket. menetapkan kebijakan strategis. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang berwenang agar melakukan perencanaan dengan memadai.15 10. 10. dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian.14 Tujuan pemeriksaan atas tiga objek pemeriksaan di lingkungan BUMN.96 10. sehingga BPK tidak dapat menilai pencapaian kinerjanya. menggunakan empat indikator utama yaitu (i) perancangan dan penetapan struktur organisasi. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. (iii) pengendalian atas pengelolaan layanan reservasi tiket. pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi tersebut adalah. namun pengelolaan layanan tersebut belum dilaksanakan secara optimal sehingga masih terdapat risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan. • PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V. dan (iv) pengawasan serta evaluasi kinerja pengelolaan layanan reservasi tiket. • PT Garuda Indonesia (Persero). kebijakan. 10. Terhadap permasalahan tersebut. sistem dan prosedur layanan reservasi tiket. menggunakan indikator yang disesuaikan dengan enam tujuan pemeriksaannya.17 10.18 .16 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya efektif kecuali pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Penumpang untuk Penerbangan Berjadwal pada PT Garuda Indonesia (Persero) secara umum sudah cukup efektif.

Reviu ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada informasi yang diperoleh pemeriksa bahwa pokok masalah tidak sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. pelaksanaan belanja. pelaksanaan subsidi pemerintah. dan bangunan pengairan/drainase daerah. pemeriksa menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap pokok masalah. • Eksaminasi ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. reviu. kebinamargaan. • • Sebagian besar pemeriksaan yang dilaksanakan BPK bersifat eksaminasi. PDTT bisa bersifat eksaminasi (pengujian). pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. . BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Dalam prosedur yang disepakati (agreed upon procedures). pengelolaan/manajemen aset pemerintah daerah. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. PDTT tidak memberikan opini ataupun untuk memberikan penilaian kinerja dan memberikan rekomendasi. Dalam Semester II Tahun 2010.97 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. operasional BUMN.48 triliun. pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. pengelolaan pertambangan batubara. atau prosedur yang disepakati.

. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. operasional BUMD lainnya. operasional Bank Daerah. operasional RSUD.98 • • • • • operasional PDAM.

45% dari realisasi pendapatan senilai Rp72. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.28 miliar atau 0.3 Tujuan Pemeriksaan 11.42% dari cakupan pemeriksaan. Kementerian Dalam Negeri. Oleh karena itu. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kementerian Perdagangan.03 triliun. dan penyetoran pendapatan pemerintah pusat telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 11. Adapun pemeriksaan pendapatan perpajakan.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Hasil Pemeriksaan 11. Pemeriksaan PNBP dilakukan pada 10 KL yaitu Kejaksaan Agung. penatausahaan.4 Secara umum tujuan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) yang terkait pendapatan pemerintah pusat telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.64 triliun atau 99. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Kepolisian.1 Pengelolaan pendapatan meliputi pendapatan pemerintah pusat dan pendapatan pemerintah daerah. Pemeriksaan dilakukan atas PNBP. Badan Pertanahan Nasional. dan • pemungutan.2 Dalam Semester II Tahun 2010. Kementerian Sekretariat Negara. kepabeanan dan cukai dilakukan pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di Kementerian Keuangan. penerimaan perpajakan dan kepabeanan serta cukai. Pendapatan Pemerintah Pusat 11.99 BAB 11 Pengelolaan Pendapatan 11. Total temuan senilai Rp299. . BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat TA 2008 2010 pada 11 kementerian/lembaga (KL) di lingkungan pemerintah pusat. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Pendapatan pemerintah pusat meliputi pendapatan perpajakan termasuk bea dan cukai dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Cakupan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah senilai Rp71. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan Kementerian Agama. sedangkan pendapatan pemerintah daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD). Kementerian Luar Negeri. Mahkamah Agung.

serta 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Sebagai contoh. • sebanyak 3 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.100 Sistem Pengendalian Intern 11. 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. belum menyelenggarakan pembukuan secara lengkap. Kejaksaan Tinggi Bandar Lampung.9 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 9 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. • Di Mahkamah Agung. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.32 miliar. biaya proses pada delapan tingkat banding di kepaniteraan yang di-sampling belum seluruhnya dikelola secara memadai.6 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 9. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pembukuan dan pencatatan.42 miliar dan Laporan Kejati senilai Rp3. • Di Kejaksaan Agung RI. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 11. dan belum ada kebijakan 11. 11.7 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan terdapat 74 kasus kelemahan SPI. Sebanyak 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. Hal ini mengakibatkan Neraca Wilayah dan Laporan Manual Pidsus Kejati per 31 Mei 2010 berbeda dengan hasil perhitungan BPK pada masing-masing kejari dan cabang kejaksaan negeri (cabjari) yaitu pada Neraca Wilayah senilai Rp7. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. pengelolaan tagihan uang pengganti tidak tertib.8 . pengeluaran biaya proses tidak menggunakan mekanisme surat permintaan pembayaran (SPP).

pembayaran pengiriman salinan putusan yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia senilai Rp784. sebagian dari pengadilan tersebut juga membebankan biaya administrasi kepada pihak yang berperkara sehingga terjadi pembiayaan ganda sekurang–kurangnya senilai Rp332. • Di Kementerian Keuangan. TMII juga tidak menyajikan kedua unit usaha tersebut ke dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009.101 jumlah kas tunai yang dikelola oleh bendahara biaya proses.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.65 miliar. • Di Mahkamah Agung. Taman Mini Indonesia Indah (TMII). • sebanyak 5 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. Selain itu. Ditjen Bea Cukai.16 juta. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan.43 miliar kepada Ditlantas Polda Sulut.60 juta tidak melalui proses verifikasi.10 Sebanyak 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. beberapa pengadilan menggunakan dana APBN TA 2009 dan 2010 untuk membiayai proses perkara perdata. dan • sebanyak 2 kasus lainnya. Polda Sulawesi Utara. Dispenda Sulut belum menyetorkan upah pungut atas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) Tahun 2009-2010 senilai Rp10. • Di Kementerian Sekretariat Negara. . terdiri atas • sebanyak 4 kasus mekanisme pemungutan. Hal ini mengakibatkan potensi penerimaan negara sebanyak 329 pemberitahuan impor barang (PIB) belum dipungut senilai Rp33. dua unit usaha TMII yaitu Teater Imax Keong Emas dan Taman Air Tawar/ Dunia Air Tawar tidak memberikan kontribusi kepada TMII. penetapan klasifikasi atas barang-barang impor berbeda-beda meskipun uraian jenis barangnya sama. Selain itu. • Di Kepolisian RI. • sebanyak 21 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. 11. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. 11.

memperbaiki sistem pelaporan keuangan dan segera menyusun SOP administrasi pengelolaan keuangan.75 juta. kasus tersebut juga disebabkan kurangnya koordinasi pimpinan KL dan kurangnya ketentuan atau SOP yang mengatur secara tegas mengenai pendapatan pemerintah pusat.12 miliar. Selain itu.102 11. • Di Mahkamah Agung. • Di Kementerian Sekretariat Negara.14 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. pengelolaan PNBP jasa imigrasi dan jasa administrasi belum tertib. belum terdapat suatu keseragaman berkaitan pengadministrasian dan pemberitahuan sisa panjar biaya perkara perdata di pengadilan tingkat pertama mengakibatkan hak masyarakat berupa sisa panjar biaya perkara perdata tidak segera diterima oleh yang berhak minimal senilai Rp584. . • sebanyak 1 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. baik beban pihak ketiga maupun beban TMII. Berdasarkan umur piutang dan dokumen pembayaran listrik diketahui pihak ketiga belum membayar biaya listrik kepada TMII per 26 September 2010 senilai Rp1.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 11. • sebanyak 10 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. terdiri atas • sebanyak 4 entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Selain itu. TMII setiap bulan membayar terlebih dahulu seluruh beban listrik kepada PLN. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan dan meningkatkan upaya intensifikasi penagihan denda dan uang pengganti. Penyebab 11.12 Sebanyak 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Rekomendasi 11. Pada bulan berikutnya TMII menagih biaya listrik dari anjungan-anjungan dan unit usaha. • Di Kementerian Perdagangan.15 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. BPK merekomendasikan agar koordinasi pimpinan KL dengan kepala daerah lebih ditingkatkan. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain.

93 299.103 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11.99 juta yang terdiri dari penggelapan oleh Panitera/Sekretaris PN Bogor senilai Rp404. Kasus kerugian negara terjadi pada penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. 11.1.28 juta.398. hasil pemeriksaan mengungkapkan 88 kasus senilai Rp299.16 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan barang. kekurangan penerimaan negara.28 2. dan ketidakefektifan dapat dilihat pada Tabel 11. Kasus tersebut di antaranya di Mahkamah Agung. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat No.38 50. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 11.342.28 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan pada 11 kementerian/lembaga.288. Kerugian Negara 11. yaitu selisih biaya perkara pada Laporan Keuangan Perkara per 30 Juni 2010 senilai Rp419. potensi kerugian negara. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.89 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak dua kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp422.19 11.20 . administrasi. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara. ketidakhematan. Tabel 11. surat berharga.18 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang.06 296.80 11.1.09 juta dan uang tunai yang masih dibawa oleh mantan Panitera PN Bogor yang telah meninggal dunia senilai Rp15.17 Berdasarkan tabel di atas. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 2 6 57 19 1 3 88 422.12 75.

Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Penyebab 11. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 6 kasus senilai Rp2.d.98 miliar.23 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. masih terdapat saldo uang pengganti senilai Rp2. 11. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya.104 Penyebab 11.32 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menyelesaikan kasus penyalahgunaan keuangan perkara baik dari aspek keuangan maupun aspek administratif. dan barang.21 Kasus kerugian negara tersebut pada umumnya disebabkan keraguan pimpinan KL untuk mengambil tindakan terhadap kasus yang menyangkut hilangnya uang titipan pihak ketiga.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan entitas belum optimal dalam mengeksekusi uang pengganti dan pengawasan atasan langsung terkait pengelolaan administrasi dan intensifikasi penagihan uang pengganti masih lemah.25 .24 11.95 juta. total uang pengganti yang harus dibayar terpidana dari perkara tindak pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada sepuluh kejari dan dua cabjari di lingkungan Kejati Kalbar selama periode TA 2009 s.30 miliar yang belum tertagih atau sebesar 57. 30 Juni 2010 adalah senilai Rp3. aset tidak diketahui keberadaannya dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Rekomendasi 11. Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi aset dikuasai pihak lain.34 miliar yang terdiri atas • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp12. yang nyata dan pasti jumlahnya.22 Terhadap kasus-kasus kerugian negara tersebut. Potensi Kerugian Negara 11. Dari jumlah tersebut. surat berharga.73% dari total uang pengganti.26 Kasus tersebut terdapat di Kejaksaan Agung. dan • sebanyak 2 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2. 11.

• Di Kementerian Keuangan.28 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 57 kasus senilai Rp296.57 miliar tidak seharusnya dikurangkan dalam melakukan penghitungan Penghasilan Kena Pajak Tahun Pajak 2009.30 11. melaporkan perkembangan piutang uang pengganti yang menjadi tanggung jawabnya. Kekurangan Penerimaan 11.44 miliar. 11.32 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa untuk mengintensifkan penagihan uang pengganti. penerimaan negara/daerah penerimaan negara diterima oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. senilai Rp34. dari jumlah uang pengganti senilai Rp5. Hal ini mengakibatkan keharusan dilakukannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara senilai Rp193.29 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan menegur pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugasnya.105 Rekomendasi 11.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp255.11 miliar. masih terdapat saldo uang pengganti 11. dan • sebanyak 7 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp6. Kejaksaan Negeri Sumatera Barat. • Di Kejaksaan Agung.18 miliar. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp120. biaya pada dua Bank BUMN dan delapan Bank BUMD senilai Rp760.31 . • sebanyak 8 kasus penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. penggunaan langsung penerimaan negara/daerah.31 juta. Ditjen Pajak.64 miliar. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara.34 miliar.

tidak menghambat program entitas.33 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. dan KBRI Budapest di Kementerian Luar Negeri senilai Rp223. AI juga belum mengganti beban rekening listrik selama empat bulan senilai Rp492. • Di Kementerian Sekretariat Negara.34 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara pada umumnya terjadi karena para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. Penyebab 11.55 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. tidak mengurangi hak negara. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Administrasi 11. kekurangan penerimaan negara. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara serta meningkatkan koordinasi antar pimpinan KL. pihak pengelola Snow Bay Waterpark (SW) yaitu Arum Investment (AI) belum melunasi kontribusi pendapatan sejak September 2009 hingga Juli 2010 kepada TMII senilai Rp5. KBRI Seoul senilai Rp561.90 juta kepada TMII.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. dan perpajakan. Rekomendasi 11.27 juta.106 senilai Rp2. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kementerian Dalam Negeri senilai Rp708.53 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.65 juta. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. senilai Rp1. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.08 juta. pertambangan.37 . 11.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. TMII. 11. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.84 miliar atau 56% yang belum tertagih per 31 Mei 2010 pada 15 kejari dan 6 cabjari. lemahnya pengawasan dan pengendalian dan kurangnya koordinasi antara pimpinan KL. Di samping itu.

Bengkayang. dan • sebanyak 1 kasus kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. PNBP hasil pelayanan bidang pertanahan Tahun 2009 dan 2010 di beberapa kantor wilayah BPN terlambat disetor ke kas negara senilai Rp6. • sebanyak 8 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. TMII. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat.39 .41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas. • Di Kejaksaan Agung. pengelolaan barang bukti berupa uang dan bilyet giro senilai Rp4. Sanggau.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Penyebab 11. daftar inventaris ruangan (DIR) dan kode inventaris barang (KIB) menunjukkan bahwa nilai yang disajikan dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009 merupakan harga perolehan yang belum diinventarisasi dan dinilai kembali dengan harga wajar. Sintang. • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan.20 miliar pada Kejari Mempawah. pertambangan. perpajakan. pertanggungjawaban/ penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan dan kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah.50 miliar. daftar aset beserta kode inventaris ruangan (KIR). • Di Badan Pertanahan Nasional. 11. kurang komitmen pimpinan entitas yang diperiksa untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan- 11. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 19 kasus yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).38 Kasus penyimpangan administrasi juga meliputi penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang ditentukan.107 11. dan Cabjari Entikong tidak tertib. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Pontianak. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.

87 miliar atau 0. penatausahaan dan penyetoran pendapatan daerah telah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. BPK telah memeriksa pengelolaan pendapatan pemerintah daerah TA 2009 dan 2010.74 triliun. Rekomendasi 11. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp268. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan/atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan dan menginventarisasi serta menilai kembali aset-aset tetap negara.46 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.66% dari cakupan pemeriksaan.43 Dalam Semester II Tahun 2010. dan • pemungutan. serta pimpinan instansi lalai tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menilai kembali dan mengawasi pengelolaan aset. Hasil Pemeriksaan 11.47 Pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) pengelolaan pendapatan pemerintah daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. tujuan pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan pendapatan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.44 Tujuan Pemeriksaan 11.108 ketentuan pelaksanaan anggaran dan penatausahaan. 11. Pemeriksaan dilakukan pada 21 entitas pemerintahan provinsi/kabupaten/kota. Oleh karena itu. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.45 Secara umum. Cakupan pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan adalah senilai Rp40. yang terdiri dari 39 objek pemeriksaan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.69 triliun dari realisasi anggaran pendapatan senilai Rp52. Sistem Pengendalian Intern 11. . Pendapatan Pemerintah Daerah 11.

d. terdiri atas • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Provinsi Jawa Barat. Juli 2010 senilai Rp87.109 11. penatausahaan penerbitan surat ketetapan restribusi daerah (SKRD). yaitu 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pembukuan dan pencatatan. 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.51 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.50 . • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 11. Sebanyak 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan terdiri atas • sebanyak 11 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. 11. • Di Kota Bandung.49 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 199 kasus kelemahan SPI. • Di Provinsi Sumatera Barat.53 miliar pada 17 unit pelaksana teknis dinas (UPTD) tidak akurat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. 11. pencatatan atas potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan denda atas PKB yang tidak mendaftar ulang s. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 12.52 Sebanyak 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin peruntukkan penggunaan tanah (IPPT) TA 2009 senilai Rp12. 11.09 miliar tidak tertib.48 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. serta 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.

• Di Kota Bandar Lampung.32 juta. terdapat penerimaan dari pungutan biaya diklat TA 2009 pada BPRS Dadi yang tidak memiliki dasar hukum senilai Rp698. penagihan atas tunggakan pajak. Penyebab 11.91 juta.56 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya disebabkan karena para pejabat dan pelaksana terkait kurang optimal dalam melakukan survei.00 miliar. Provinsi Sulawesi Selatan.55 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 16 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. pembebasan pajak hiburan dan pajak restoran kepada satu wajib pajak tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah senilai Rp10. penetapan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C lebih rendah dalam TA 2009 dan 2010 total senilai Rp466. • Di Kota Pekalongan. September 2010 senilai Rp1. intensifikasi dalam upaya meningkatkan pajak pengambilan bahan galian C tidak dilakukan sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah dalam TA 2009 dan 2010 senilai Rp14.54 Sebanyak 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 11. terdiri atas • sebanyak 11 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.d.90 miliar tidak maksimal sehingga tertundanya realisasi penerimaan pendapatan. Provinsi Lampung.53 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kota Makassar. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.110 • sebanyak 24 kasus mekanisme pemungutan. 11. dan • sebanyak 121 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • Di Kabupaten Deli Serdang.40 miliar. 11. dan • Di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sumatera Utara. retribusi dan penerimaan lain-lain pada beberapa SKPD s. . pendataan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan. Provinsi Jawa Tengah.

333.59 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.733. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.58 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 322 kasus ketidakpatuhan senilai Rp268.40 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 Kerugian Daerah Potensi Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakefektifan Jumlah Kerugian Daerah 11.2. kekurangan penerimaan daerah. administrasi. dan penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan. dan barang. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 11. Rekomendasi 11. 11.11 253.41 5. dan penagihan pendapatan pemerintah daerah serta untuk lebih menaati ketentuan yang berlaku.57 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.38 268.870. surat berharga. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 8 6 230 65 13 322 Nilai (juta Rp) 2.880. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 13 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 14. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah meliputi penggunaan uang/ barang untuk kepentingan pribadi.111 penetapan dan pengawasan atas pendapatan pemerintah daerah serta kurang menaati ketentuan yang berlaku. pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.923.60 . BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi kepada para pejabat dan pelaksana terkait agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan terhadap pendataan.48 6.87 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.2. Tabel 11. penetapan. ketidakhematan. potensi kerugian daerah. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11.

63 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. .99 miliar. Potensi Kerugian Daerah 11. Kepala Dinas Kesehatan menggunakan penerimaan dari dana Jamkesmas TA 2010 senilai Rp150.64 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. 11. surat berharga. senilai Rp408. Provinsi Sumatera Utara. yang nyata dan pasti jumlahnya. • Di Kabupaten Brebes. Bendahara Penerima Dinas Cipta Karya dan Pertambangan melakukan penggelapan atas retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) TA 2009 dan 2010 senilai Rp417. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor sejumlah uang melalui kas daerah dan memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.16 juta. dan • sebanyak 2 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1.65 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Rekomendasi 11.95 miliar.62 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Brebes.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 6 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp927.38 juta telah ditindaklanjuti pemerintah Kabupaten Deli Serdang. • Di Kabupaten Deli Serdang.61 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp2.66 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.14 juta. Penyebab 11. dan barang. Provinsi Jawa Tengah.00 juta untuk kepentingan pribadi. tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pengelolaan pendapatan serta kurangnya pengawasan dan pengendalian. Provinsi Sumatera Utara dengan penyetoran ke kas daerah. 11. Provinsi Jawa Tengah.112 11. piutang modal ekonomi produktif dan perdagangan serta pengembangan wirausaha kecil serta usaha pertanian TA 2010 tidak tertagih dan merugikan daerah senilai Rp1.

Rekomendasi 11.d September 2010 belum terselesaikan senilai Rp1.68 Kekurangan Penerimaan 11. penggunaan langsung penerimaan daerah.39 juta belum tercatat dalam daftar tunggakan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mengintruksikan para pelaksana untuk lebih giat dalam melakukan penagihan dan lebih menaati peraturan yang berlaku. • Di Kota Semarang. 11. Provinsi Jawa Tengah.29 juta. penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas daerah. pengelolaan tunggakan retribusi pasar tidak tertib dan terdapat tunggakan dari Tahun 2005 s.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.72 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Provinsi Jawa Barat.67 Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.79 miliar.113 11.71 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut.43 miliar dan di antaranya senilai Rp862. piutang pajak dari Tahun 20082010 belum terpungut senilai Rp1. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat enam kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp5. dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah.73 . 11. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp88. 11.27 miliar.88 miliar yang terdiri atas • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp5. • Di Kabupaten Bogor.70 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan para pelaksana kurang optimal dalam melakukan penagihan dan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam penghapusan piutang. Penyebab 11.

72 juta.56 miliar belum terselesaikan.75 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. Penyebab 11.114 11. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. terdapat pembangunan titik reklame baru yang dilakukan tanpa ijin dan belum ditetapkan pajak dan retribusinya senilai Rp7. 11.77 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan kurang mematuhi ketentuan perundangan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan pendapatan.78 juta dan Provinsi Lampung senilai Rp21. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp5. Provinsi Jawa Barat. • Di Kota Bandar Lampung.13 miliar dan denda keterlambatan belum dikenakan senilai Rp255. Provinsi Sulawesi Selatan. .58 miliar.90 juta. • sebanyak 25 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp15.73 miliar terdiri atas • sebanyak 177 kasus penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp226.42 miliar. • Di Kabupaten Bogor. tunggakan pajak per 31 Agustus 2010 senilai Rp7. Provinsi Sumatera Utara. pendapatan dari sumbangan pihak ketiga Tahun 2006 – 2009 belum diterima dari Pemprov Lampung senilai Rp1. Provinsi Lampung.39 miliar yaitu di antaranya Kota Bandar Lampung senilai Rp392. kekurangan penyetoran pajak hotel dan restoran oleh delapan wajib pajak Tahun 2009 dan 2010 senilai Rp1.20 juta.76 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah.65 miliar.06 juta.74 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah sebanyak 230 kasus senilai Rp253.20 juta. dan • sebanyak 26 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp11.50 miliar. 11. • Di Kota Makassar.52 miliar. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp61. Kota Medan senilai Rp155. • Di Kota Medan.

kekurangan penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar membina para pelaksana untuk lebih cermat melaksanakan tanggung jawabnya. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).82 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 38 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Provinsi Banten.78 Terhadap kasus-kasus tersebut. keterlambatan penetapan pajak air sebanyak 9. • sebanyak 18 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.42 miliar tidak tepat waktu. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik daerah.80 11. dan pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 11. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 65 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid).115 Rekomendasi 11. tidak menghambat program entitas. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.79 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. tidak mengurangi hak daerah.81 . dan • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. menaati ketentuan yang berlaku dan lebih tegas mengenakan sanksi terhadap wajib pajak serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Administrasi 11.777 surat ketetapan pajak daerah (SKPD) mengakibatkan penerimaan senilai Rp8. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. 11.

Provinsi Kepulauan Riau. Provinsi Sumatera Barat. Penyebab 11. 11.33 miliar. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 13 kasus ketidakefektifan senilai Rp6. penerimaan sumbangan pihak ketiga TA 2009 dan 2010 tidak sesuai peraturan perundang-undangan senilai Rp5. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). dan reklame yang tidak terealisasi TA 2009 dan 2010 senilai Rp584. • Di Kota Bukit Tinggi.116 • Di Provinsi Sulawesi Tengah. • Di Kota Tanjung Pinang.84 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. dan • sebanyak 12 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp6. pendapatan pajak penerangan jalan TA 2010 terlambat disetor senilai Rp3.27 miliar. Ketidakefektifan 11.89 juta sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai. 11.88 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 11.79 miliar.83 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan dan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. terdapat pendapatan pajak hotel. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta menginstruksikan untuk menaati peraturan yang berlaku.86 11.07 juta dan potensi pendapatan pajak daerah belum diperhitungkan minimal senilai Rp231.87 .33 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. restoran/rumah makan.

dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur secara tertulis kepada pejabat yang terkait supaya meningkatkan pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah.89 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan kurangnya pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah.90 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.117 • Di Kota Semarang. Penyebab 11. 11.00 miliar. pendapatan retribusi parkir di tepi jalan umum melalui tenaga pengumpul retribusi parkir tidak optimal sehingga target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.91 . Provinsi Jawa Tengah. para pelaksana terkait belum optimal melakukan intensifikasi pendapatan daerah. Rekomendasi 11.

118 .

Cakupan pemeriksaan belanja pemerintah pusat pada 22 K/L adalah senilai Rp15.4 Secara umum. dan efektif. Belanja pemerintah pusat/daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintah pusat/daerah dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Hasil Pemeriksaan 12.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Pemeriksaan dilakukan pada 22 kementerian/lembaga yang meliputi 45 objek pemeriksaan. subsidi.09 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp29. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. hibah.6 Salah satu tujuan pemeriksaan atas belanja adalah untuk menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) atas pelaksanaan anggaran belanja sudah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. bunga. Oleh karena itu. Sistem Pengendalian Intern 12. . efisien. Belanja Pemerintah Pusat 12.81 miliar atau 5. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp824. belanja modal. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah pusat TA 2009 dan 2010. dan • pelaksanaan belanja telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis.1 Pelaksanaan belanja meliputi belanja pemerintah pusat dan belanja pemerintah daerah.2 Dalam Semester II Tahun 2010. belanja barang.86 triliun. bantuan sosial. 12. Menurut jenisnya. tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan belanja telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.119 BAB 12 Pelaksanaan Belanja 12.3 Tujuan Pemeriksaan 12. belanja pemerintah pusat/daerah terdiri atas belanja pegawai. dan belanja lain-lain.46% dari cakupan pemeriksaan.

9 . KBRI Budapest.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Satker Bandara Binaka Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara.56 juta dan TA 2009 senilai Rp2. • Di Kepolisian RI.84 miliar tidak dilaporkan ke Bidang Keuangan Polda Sulut sehingga tidak diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polda Sulut. pembukuan dan pencatatan. 12. terdapat bantuan dana pemerintah kabupaten setempat ke Polres dan Poltabes jajaran Polda Sulawesi Utara TA 2009 senilai Rp1.73 miliar.120 12. aset hasil belanja modal TA 2008 belum tercatat senilai Rp226.8 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan belanja pemerintah pusat menunjukkan terdapat 86 kasus kelemahan SPI. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • Di Kementerian Luar Negeri. • sebanyak 6 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. serta pencatatan BMN belum memisahkan aset sesuai klasifikasinya. 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 15.7 Hasil evaluasi atas SPI belanja menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. biaya perbaikan Wisma Duta Tahun 2009 senilai Rp375. 12. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. dan • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Selain itu. Sebanyak 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pencatatan barang milik negara (BMN) belum memperhitungkan PPN dan biaya lainnya terkait pengadaan BMN. serta 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 12.39 juta belum dikapitalisasi sehingga belum tercatat sebagai penambah nilai akun gedung dan bangunan. • Di Kementerian Perhubungan.

Rp1. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. terdapat perhitungan fihak ketiga (PFK) minus per 26 Juli 2010 senilai USD126. terdiri atas • sebanyak 15 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kementerian Hukum dan HAM. 12. yaitu SOP dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan pihak ketiga belum ditetapkan. alutsista milik TNI AU berpotensi menjadi barang yang tidak mempunyai nilai teknis. Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) terdapat 521 jenis suku cadang/materiil/komponen alat utama sistem senjata (alutsista) menunggu proses perbaikan/pemeliharaan dan terdapat suku cadang/materiil/komponen alutsista dari pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi (A-4 dan OV-10) belum diperbaiki.11 Sebanyak 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • Di TNI AU. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.14 miliar belum mendapatkan penggantian dari Biro Keuangan Setjen Kementerian Luar Negeri sehingga pengeluaran belum dapat diakui sebagai realisasi belanja definitif. KBRI Moskow. .121 12. terdiri atas • sebanyak 19 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. 12. dan • sebanyak 12 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. 12. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • Di Kementerian Luar Negeri.09 ribu e. Akibatnya.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.13 Sebanyak 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.q.

Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat No. serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. serta dukungan sarana dan prasarana yang kurang memadai. administrasi. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 12.1.40 240. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. ketidakhematan.18 Berdasarkan tabel di atas.391. . Tabel 12.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 16 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 17.440. potensi kerugian negara.79 8.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.818. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara.166.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.35 489.81 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan pada delapan kementerian lembaga (KL). Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 163 15 43 120 48 43 432 31. hasil pemeriksaan mengungkapkan 432 kasus senilai Rp824. kekurangan penerimaan negara.918.122 Penyebab 12. Rekomendasi 12.46 824. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan.97 12.95 54.901.15 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena perencanaan tidak memadai. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.76 juta. • sebanyak 5 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp156.20 12. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. • sebanyak 46 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp2. 12. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp110. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. • sebanyak 46 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp10.44 miliar. • sebanyak 9 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp2.97 miliar. Kerugian negara. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian negara senilai Rp925. pemahalan harga (mark up). belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.70 miliar.47 juta.89 miliar.21 . • sebanyak 9 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp914. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.19 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 163 kasus senilai Rp31. • sebanyak 28 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp5.17 juta.88 miliar. yang terdiri atas • sebanyak 10 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp5. dan barang. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.00 miliar. Kasus-kasus kerugian negara yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.64 miliar.123 Kerugian Negara 12. surat berharga. • sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp215.52 juta.69 juta. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.

dan BKKBN senilai Rp911.41 miliar. pengawasan.40 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara. dan selisih nilai yang dipertanggungjawabkan dengan yang diterima oleh Hotel Grand Jaya Raya senilai Rp852. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kerugian negara dengan menyetorkan uang ke kas negara atau melengkapi/menyerahkan aset melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. akomodasi hotel fiktif atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan senilai Rp1. • Di Kementerian Pendidikan Nasional. Selain itu.25 kasus-kasus kerugian negara tersebut. dan barang. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp1. Penyebab 12.124 12. realisasi perjalanan dinas kegiatan joint audit TA 2009 tidak dilakukan (fiktif) sekurang-kurangnya senilai Rp2.24 Kasus-kasus kerugian negara disebabkan rekanan lalai dalam melaksanakan tugas sesuai kontrak yang disepakati.98 juta.34 miliar. Kementerian Dalam Negeri senilai Rp1. pekerjaan pengambilan formulir Program Keluarga Harapan (PKH) TA 2009 tidak seluruhnya dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia sehingga terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp4. • Di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).25 miliar.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. .77 miliar. Rekomendasi 12.26 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 12. dan pengendalian.98 juta.88 miliar belum disetor ke kas negara dan masih dikelola serta disalurkan kepada Kelompok UPPKS.17 miliar. dana bantuan modal usaha Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jawa Tengah posisi September 2010 senilai Rp5. yang nyata dan pasti jumlahnya.23 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian negara tersebut. senilai Rp5. • Di Kementerian Sosial. Potensi Kerugian Negara 12. para pelaksana lalai dalam pelaksanaan tugas dan tidak cermat dalam perencanaan. surat berharga.

terdapat selisih volume pekerjaan atas pekerjaan yang belum selesai minimal senilai Rp383.28 . • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp25.03 juta. di antaranya di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). • Di TNI AL. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).75 miliar. pembayaran honorarium senilai Rp404. aset dikuasai pihak lain. TNI AL telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp168.46 juta dan biaya transport pengiriman slipway ke lokasi senilai Rp220. • Di Kementerian Dalam Negeri. Penyebab 12. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp382.30 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut telah ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp191.69 juta. pelaksana lalai dalam menjalankan tugas. 12. • Di TNI AL Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).75 miliar.20 juta oleh Perusahaan Jasa Konsultan menggunakan pertanggungjawaban yang tidak benar.21 juta.66 juta.31 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan oleh rekanan lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah disepakati. yang berpotensi merugikan negara. 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. bukan produk baru sehingga terjadi selisih senilai Rp167.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pengadaan barang rantai jangkar KRI MLT-561 tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yaitu barang yang diberikan rekanan produk Tahun 1996.35 juta berbeda dengan invoice dan perjalanan dinas senilai Rp228. Ditjen Bina Pembangunan Daerah.77 juta. 12.91 miliar yang terdiri atas • sebanyak 9 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp1.00 juta tidak sesuai ketentuan.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain potensi kerugian negara senilai Rp6.125 12. dan aset tidak diketahui keberadaannya. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 15 kasus senilai Rp8.

92 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. 12.37 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.92 miliar tidak dibayar. terdapat kekurangan pembayaran PNBP dari ganti rugi pemanfaatan tanah oleh PT HI senilai Rp561. terdapat bunga dan denda pinjaman dana Bapertarum PNS oleh Yayasan DPP KORPRI dan Perum Perumnas senilai Rp40. 12. di antaranya di Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp230. Direktorat Polisi Air (Ditpolair). Kekurangan Penerimaan Negara 12. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai Rp7.34 12.00 juta atas perjanjian penambangan batu kapur. • Di Kementerian Hukum dan HAM.35 juta. • Di Kepolisian RI.126 Rekomendasi 12.36 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.40 juta dan PT HI belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp963.33 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.98 juta belum diterima. senilai Rp446. • Di Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum). dan penggunaan langsung penerimaan negara. meminta pertanggungjawaban rekanan pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah disepakati.35 . sanksi keterlambatan pengadaan dua unit senjata api kaliber 20 mm TA 2008 belum dikenakan sehingga denda senilai Rp935. dan mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian negara.32 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 43 kasus senilai Rp54. 12.24 miliar.45 juta telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.16 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp46.

42 12. tidak mengurangi hak negara. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. Penyimpangan administrasi juga meliputi pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. kekurangan penerimaan negara. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. tidak menghambat program entitas. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 12.127 Penyebab 12. Administrasi 12. para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. • sebanyak 6 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.43 . menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara.39 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara terjadi karena rekanan tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. pelaksanaan lelang secara proforma. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara.41 12. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 35 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 120 kasus yang terdiri atas • sebanyak 39 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).40 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. dan penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara. 12.

terdapat pengadaan barang TA 2009 senilai Rp699. penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS) TA 2009 tidak didasarkan pada data yang memadai dan spesifikasi teknis barang yang diadakan mengarah pada merek tertentu. Rekomendasi 12. • Di Kementerian Perdagangan. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 3 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). penggunaan sisa anggaran joint audit TA 2009 senilai Rp22. 12. terdapat empat kegiatan operasi Mabes TNI TA 2007 – 2008 yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban minimal senilai Rp2.21 juta dilakukan tanpa kontrak sehingga tidak ada kejelasan mengenai hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perikatan. . IAIN Sultan Thaha Jambi. • Di TNI AL. Penyebab 12. kurang cermat dalam melaksanakan ketentuan pelaksanaan anggaran.45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dan dalam melaksanakan tugas. • sebanyak 8 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.28 miliar dilakukan tanpa merevisi petunjuk operasional kegiatan (POK).44 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melengkapi bukti pertanggungjawaban.52 miliar. • Di Kementerian Pendidikan Nasional. • Di Kementerian Agama.128 • sebanyak 15 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. memberikan teguran dan atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian para atasan. • sebanyak 7 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara.46 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). 12. • Di Kementerian Keuangan. entitas kurang cermat merencanakan kegiatan.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan senilai Rp165. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. dan Gamma Ray. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. tingkat pemanfaatan peralatan pemindai DJBC belum optimal jika dibandingkan dengan tingkat biaya pemeliharaannya senilai Rp178.81 juta.73 juta.48 12. mengakibatkan pemborosan atas biaya pemeliharaan X-Ray.49 . dana beasiswa mahasiswa unggulan TA 2009 dan 2010 digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan persatuan mahasiswa Indonesia di Malaysia sehingga memboroskan keuangan negara senilai Rp152.47 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.129 Ketidakhematan 12.50 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.22 miliar. KBRI Kuala Lumpur.51 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena adanya kecenderungan memanfaatkan anggaran tanpa memperhatikan prinsip ekonomis.51 juta. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Penyebab 12. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak 48 kasus senilai Rp240. dan • sebanyak 45 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga senilai Rp240.35 miliar. Rekomendasi 12. • Di Kementerian Luar Negeri. Kasus-kasus ketidakhematan meliputi pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. 12. terdapat perbedaan harga kontrak dengan harga pasar dalam pengadaan barang dan jasa TA 2009 dan 2010 sehingga terjadi kemahalan harga senilai Rp204. • Di Kementerian Perdagangan.52 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. HiCo Scan.

yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. 12. Rp226.64 juta.90 miliar.95 miliar. Kapal Patroli Cepat FPB 38 senilai USD25. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.20 juta eq. • Di TNI AL.52 miliar. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).55 .99 miliar. kegiatan pemeliharaan alutsista kapal di lingkungan Koarmabar TA 2008 dan 2009 senilai Rp2.32 miliar. • sebanyak 10 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp196.54 12. • sebanyak 7 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi senilai Rp2. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. • sebanyak 7 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp31.90 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp1. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan 43 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan senilai Rp489. • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp111. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. • sebanyak 11 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp341. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.54 miliar melewati batas waktu yang ditetapkan sehingga belum sepenuhnya dapat mendukung pencapaian tujuan kegiatan operasi.56 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • Di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).57 miliar pengadaan TA 2007 – 2009 rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan.53 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).130 Ketidakefektifan 12. 12.

86 triliun. 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan. Cakupan pemeriksaan belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan adalah senilai Rp22.57 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp840. . BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 atas 176 objek pemeriksaan. telah agar lebih hasil Belanja Pemerintah Daerah 12.60 Tujuan Pemeriksaan 12. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Rekomendasi 12. Penyebab 12. efisien.58 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.69 miliar atau 3. dan segera memanfaatkan barang pengadaan.61 Tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan yang diperiksa telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.06 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp52.81% dari cakupan pemeriksaan.131 • Di Kementerian Perdagangan. Selain itu. pasar tradisional dan gudang untuk sistem resi gudang (gudang SRG) yang dibangun dengan dana stimulus fiskal TA 2009 belum didukung fasilitas penunjang dan pasokan listrik PLN sehingga belum dapat dimanfaatkan. perencanaan yang kurang memadai.59 Dalam Semester II Tahun 2010. dan efektif. cermat dalam perencanaan. pemeriksaan atas belanja daerah juga meliputi 5 objek pemeriksaan atas belanja bantuan sosial TA 2009 dan 2010 pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 3 objek pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) TA 2010 pada pemerintah provinsi dan 4 objek pemeriksaan pada pemerintahan kabupaten/kota. dan • pelaksanaan pengadaan barang/jasa telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. Pemeriksaan dilakukan atas 14 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah provinsi dan 150 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah kabupaten/kota.

12. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. • sebanyak 2 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.66 .64 12.132 Hasil Pemeriksaan 12. • sebanyak 15 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. pembukuan dan pencatatan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. serta 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan) pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 18. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan belanja pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Oleh karena itu. Sebanyak 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.62 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.65 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 195 kasus kelemahan SPI.63 Pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) entitas terhadap belanja daerah maupun terhadap pengamanan atas kekayaan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. yaitu 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. 12. Sistem Pengendalian Intern 12.

Provinsi Nusa Tenggara Timur.25 miliar pada TA 2009 dan senilai Rp203. Akibatnya. Sebanyak 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.70 . Sebanyak 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.71 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur berupa permasalahan tidak adanya pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Pekerjaan Umum. yaitu pemerintah daerah mengalami defisit anggaran yang berdampak pada penundaan pembayaran paket-paket pekerjaan TA 2010 yang telah selesai dikerjakan. 12. • sebanyak 4 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. • sebanyak 46 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 11 kasus berupa permasalahan entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 22 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. Pemkab Tapanuli Selatan memiliki utang senilai Rp37.51 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. yaitu pengguliran ternak pada dinas peternakan senilai Rp18. • sebanyak 10 kasus mekanisme pemungutan.68 12. terdiri atas • sebanyak 54 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.133 12. 12. dan • sebanyak 2 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. 12. • sebanyak 8 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan.67 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Sumba Barat. Provinsi Sumatera Utara.00 juta pada TA 2010 belum dicatat secara tertib mengakibatkan Laporan Pengguliran Ternak yang disajikan di Neraca TA 2010 berpotensi salah catat dan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.

267.994 144.72 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengelola anggaran kurang cermat dalam mengusulkan rencana kerja anggaran. dan kepala daerah lalai dalam membuat aturan pelaksanaan anggaran. ketidakhematan. Rekomendasi 12. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta segera membuat aturan pelaksanaan anggaran. BPK telah merekomendasikan agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.73 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.656.639. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 19 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 20.46 .03 97. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. administrasi. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 12.11 45.22 522.692. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah No.134 Penyebab 12.69 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 857 206 314 366 119 132 1.74 Hasil pemeriksaan atas belanja pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 1. kepala daerah memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam penganggaran.994 kasus ketidakpatuhan senilai Rp840. Tabel 12.752.2. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. potensi kerugian daerah.38 30.69 840. kekurangan penerimaan daerah.377.2.

76 12. 12. • sebanyak 105 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp8.01 miliar. Kerugian daerah juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.44 miliar. Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 857 kasus senilai Rp144.52 miliar.77 12. • sebanyak 24 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp3.75 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp1. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.88 miliar. terdiri atas • sebanyak 23 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp9. • sebanyak 19 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp12. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. • sebanyak 49 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp10. • sebanyak 419 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp72. • sebanyak 130 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp14. dan barang.49 miliar.48 miliar.78 .34 miliar. pemahalan harga (mark up).135 Kerugian Daerah 12.96 miliar. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. • sebanyak 42 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp8.00 miliar. • sebanyak 41 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp3.09 miliar. surat berharga.26 miliar.

dan memberikan sanksi kepada pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah. Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp1. Rekomendasi 12. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. serta kurangnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab kegiatan.54 miliar. senilai Rp22. • Di Provinsi DKI Jakarta.82 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.136 12.04 juta atas kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009. yaitu di antaranya di Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp5. • Di Kabupaten Purwakarta. surat berharga.80 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. Potensi Kerugian Daerah 12. 12. Penyebab 12.22 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya.35 miliar. Provinsi Jawa Barat terdapat kekurangan volume pekerjaan jalan dan jembatan serta rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan di Dinas Bina Marga dan Pengairan TA 2009 dan 2010 senilai Rp2. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor uang ke kas daerah atau melengkapi pekerjaan melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.65 miliar. • Di Provinsi DKI Jakarta.79 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp974.83 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan di Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp1. Dinas Pendidikan. dan barang.81 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya dan dengan sengaja membuat berita acara prestasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.59 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah.84 .59 miliar. rekanan belum melaksanakan kewajiban 12. terdapat kekurangan volume pekerjaan penyelesaian pembangunan fasilitas rekreasi dan olahraga Jakarta Timur TA 2009 senilai Rp3.

• sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1. Pemkab Banggai Kepulauan berpotensi mengalami kesulitan dalam mencairkan jaminan pelaksanaan apabila rekanan wanprestasi. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.65 miliar.16 juta. jaminan pelaksanaan atas pengadaan barang jasa oleh pihak ketiga TA 2009 dan 2010 senilai Rp5. dan • sebanyak 11 kasus lain-lain senilai Rp12. Akibatnya. 12. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah.62 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.86 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. aset tidak diketahui keberadaannya.00 juta. aset dikuasai pihak lain. • Di Kabupaten Banggai Kepulauan. 12.137 pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp985. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.22 miliar. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp524. • sebanyak 10 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp8. . • sebanyak 19 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp2.85 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 206 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp97.63 miliar tidak diterbitkan oleh bank tetapi oleh lembaga asuransi dan/atau masa berlakunya kurang dari ketentuan. terdiri atas • sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp53.24 miliar. • sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 9 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.32 miliar.54 miliar.17 miliar. Provinsi Sulawesi Tengah. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp18.

Kekurangan Penerimaan 12. dan Kecamatan Sumay dengan jumlah keseluruhan senilai Rp1.87 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan potensi kerugian daerah tersebut. memberi sanksi kepada pelaksana dan mempertanggungjawabkan uang/barang yang berpotensi hilang.12 miliar. senilai Rp1. penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek. dan di Pemerintah Kabupaten Muara Enim senilai Rp387. 12. penggunaan langsung penerimaan daerah. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/ dipungut/diterima/disetor ke kas daerah. serta melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. yaitu Kecamatan Tebo Ilir. Kecamatan Tebo Tengah.99 juta.89 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp1.21 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. Provinsi Jambi.91 12.56 miliar yang terjadi sejak Tahun 2008. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada kontraktor sesuai ketentuan. Kecamatan Tebo Ulu. Kecamatan VII Koto.90 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.138 • Di Kabupaten Tebo.98 juta. terdiri atas • sebanyak 307 kasus penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp44. Penyebab 12.92 . yaitu di antaranya di Provinsi Kepulauan Riau senilai Rp484.88 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak yang telah disepakati.63 miliar. 12. para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. Rekomendasi 12. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah menunjukkan terdapat 314 kasus kekurangan penerimaan daerah senilai Rp45. terdapat tunggakan Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada 5 kecamatan.01 miliar.

serta Dinas Pendidikan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pelaksana kegiatan dan pimpinan SKPD. Penyebab 12.94 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/ daerah tersebut. dan Olahraga TA 2010 yang belum diselesaikan hingga akhir masa kontrak dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp650. Pemuda. . telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp5.95 juta. • Di Provinsi DKI Jakarta.92 juta. 12. pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009 pada Dinas Pendidikan mengalami keterlambatan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp755. dan • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai Rp15. dan Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp478.69 juta. Sekretariat Daerah. • Di Kabupaten Muna.67 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera menagih kekurangan penerimaan dan segera menyetorkannya ke kas daerah. yaitu di antaranya di Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp755.96 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. Rekomendasi 12.12 juta. • Di Kabupaten Tuban. Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp481. • sebanyak 3 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp375. RSUD Dr R Koesma.93 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. potongan PPN dan PPh Masa Tahun 2009 dan 2010 yang diterima oleh rekanan/bendahara pengeluaran berindikasi tidak disetor ke kas negara senilai Rp9.00 juta.02 miliar. Provinsi Sulawesi Tenggara.95 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang direncanakan.139 • sebanyak 1 penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp108.70 juta.96 juta. beberapa pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum. Dinas Kesehatan. pelaksana kegiatan dan bendaharawan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. 12.37 juta.

97 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset.140 Administrasi 12. kekurangan penerimaan daerah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. pelaksanaan lelang secara proforma. terdiri atas • sebanyak 139 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. proses pengadaan barang/ jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. pertambangan. • sebanyak 24 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dll. . perpajakan.98 12. sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. Penyimpangan administrasi juga meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 4 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.100 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 366 kasus penyimpangan administrasi.99 12. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. 12. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. Kasus-kasus penyimpangan administrasi meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 19 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 114 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. tidak menghambat program entitas. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. tidak mengurangi hak daerah. • sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.

141 • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di Kabupaten Halmahera Selatan.102 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pelaksana lalai dalam membuat pertanggungjawaban kegiatan. Provinsi Nusa Tenggara Timur. . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di unit kerjanya masing-masing. • Di Kabupaten Lembata. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.101 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdapat kekurangan bukti pertanggungjawaban (bukti belum lengkap) yang harus diserahkan penerima hibah TA 2009 senilai Rp239. dan • sebanyak 6 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.104 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.60 juta. • Di Kabupaten Bungo.13 miliar dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang paling menguntungkan daerah. • sebanyak 4 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian.103 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Provinsi Jambi. 12. Provinsi Maluku Utara. Penyebab 12. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. • sebanyak 9 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. pekerjaan penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) dengan nilai kontrak senilai Rp10. • sebanyak 3 kasus dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. realisasi belanja hibah TA 2010 belum dipertanggungjawabkan penerima hibah senilai Rp25. Rekomendasi 12. Ketidakhematan 12.85 miliar.

HPS atas pekerjaan pembangunan sarana air bersih Tebing Tinggi – Kuala Tungkal tahap II tidak disusun secara keahlian sehingga terdapat kemahalan harga kontrak senilai Rp2. Provinsi Jambi. dan lapisan pondasi atas pada 120 paket pekerjaan melebihi standar HPS sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp2. 12. pemberian bantuan sosial untuk beasiswa pendidikan TA 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.105 Ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya meliputi pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan. • Di Kabupaten Jembrana. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. dan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga.108 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas.142 12.66 miliar.71 miliar. Provinsi Bali.42 juta.82 miliar. Provinsi Jawa Barat.75 miliar. • sebanyak 9 kasus penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp3. lataston. . • Di Kabupaten Cirebon. • Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.67 miliar. koefisien komponen alat dan upah pada analisa harga satuan pekerjaan lapis latasir.37 miliar yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp34. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek. dan • sebanyak 106 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp26.109 Terhadap permasalahan-permasalahan ketidakhematan tersebut. Penyebab 12. penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. Rekomendasi 12.106 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 119 kasus ketidakhematan senilai Rp30. panitia lelang kurang cermat dalam mengevaluasi dan menganalisis penawaran harga dari rekanan. 12.88 miliar. • Di Provinsi Bengkulu. pembayaran honorarium sekretariat panitia pemungutan suara pada empat kabupaten tidak sesuai ketentuan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.107 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

• sebanyak 8 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp3. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Provinsi Jawa Tengah.54 miliar. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. 12. Pemuda.113 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.46 miliar. 12.111 Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. • sebanyak 43 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp466.26 miliar.37 miliar.143 Ketidakefektifan 12. Provinsi NTT. • sebanyak 4 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp3. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.71 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. dan Olahraga senilai Rp15.75 miliar yang terdiri atas • sebanyak 38 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp26. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.110 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).10 miliar. • Di Kabupaten Belu. sebelas paket pekerjaan TA 2010 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Pendidikan. dan • sebanyak 1 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. . 12. • Di Kabupaten Klaten. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. hasil kegiatan pembangunan pengembangan Kawasan Objek Wisata Sumber Air Ingas Terpadu TA 2009 senilai Rp2.112 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 132 kasus ketidakefektifan senilai Rp522. • sebanyak 37 kasus barang yang dibeli tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp23. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.51 miliar termasuk kategori kritis sehingga berisiko tidak akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang direncanakan.

alat-alat kesehatan senilai Rp2.144 • Di Kabupaten Kepahiang.116 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.115 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar kepala daerah menegur secara tertulis kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada rekanan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan.14 juta di Dinas Pendidikan. Penyebab 12. .06 miliar di RSUD Kepahiang dan Dinas Kesehatan dan peralatan serta perlengkapan sekolah senilai Rp432. 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. Rekomendasi 12. pelaksana proyek/kegiatan kurang tegas kepada rekanan. dan Olahraga hasil pengadaan TA 2010 belum dimanfaatkan.114 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. Provinsi Bengkulu. Pemuda.

Oleh karena itu. Hasil Pemeriksaan 13. Kota Banjarmasin. . serta kewajaran dan kecukupan pengungkapan atas pelaporan aset tetap. Kota Surabaya.145 BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 13. dan • menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan Kabupaten Parigi Moutong. serta pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan aset pemerintah daerah. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Pemeriksaan dilakukan pada sembilan entitas pemerintah daerah.1 Aset tetap daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. Pada umumnya.3 13.4 Tujuan Pemeriksaan 13. sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah. Kabupaten Jembrana. yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada pemerintah daerah mencakup aset pemerintah daerah yang dikuasai oleh pengelola barang (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah). BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset atau pengelolaan barang milik daerah (BMD). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Dalam Semester II Tahun 2010. Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan. Kabupaten Sidoarjo. 13.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. kepemilikan. • menguji keberadaan. Kabupaten Buleleng. Barang milik daerah adalah semua barang yang di beli atau diperoleh atau beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Kabupaten Luwu Utara. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. kelengkapan. penilaian. Kabupaten Tana Toraja.5 Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset adalah untuk • menilai efektivitas sistem pengendalian intern terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan.2 13. Oleh karena itu.

9 . Sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yaitu 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • sebanyak 3 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. • Di Kota Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut.11 Sebanyak 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.146 Sistem Pengendalian Intern 13. 13.20 miliar tidak dicatat dalam laporan barang milik daerah sehingga Laporan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdiri atas • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. serta 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 25). dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. Provinsi Sulawesi Tengah. dan 13.8 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI. pengadaan aset berupa jalan pada TA 2009 senilai Rp59. terdiri atas • sebanyak 26 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. 13.42 miliar tidak dilaksanakan sehingga laporan aset tetap Tahun 2009 dan 2010 tidak dapat disusun.7 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan/manajemen aset menunjukkan adanya kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • Di Kabupaten Parigi Moutong. pencatatan aset tetap dalam kartu inventaris barang (KIB) dan inventarisasi aset tetap seluruhnya senilai Rp62. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. Provinsi Jawa Timur. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 13. 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.

12 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Jembrana.31 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. 13.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 22 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 23. Rekomendasi 13. pemanfaatan atau pemindahtanganan BMD. Provinsi Bali yaitu pemanfaatan hak pengelolaan tanah Gilimanuk oleh pihak ketiga untuk pertokoan tidak sesuai ketentuan sehingga hasil pemanfaatan aset tanah tersebut tidak dapat diterima oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana. potensi kerugian daerah. dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas para pengurus barang yang menjadi tanggung jawabnya. bupati belum menetapkan pedoman teknis pengelolaan aset tetap yang meliputi kebijakan penggunaan. Sebanyak 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. administrasi.17 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 91 kasus ketidakpatuhan senilai Rp34. dan • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. terdiri atas • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Provinsi Sulawesi Tengah. 13. Penyebab 13.15 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengguna BMD lalai dalam melakukan pembinaan. kekurangan penerimaan daerah.13 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13. 13. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 13. pengendalian.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.1. dan kebijakan pengamanan BMD sebagaimana disyaratkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan BMD. ketidakhematan.147 • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi administratif kepada pejabat yang bertanggung jawab sebagai pengguna BMD dan segera menetapkan pedoman teknis terkait pengelolaan BMD. .

810. 13. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 5 14 2 61 1 8 91 1.528.58 juta.014. 13. BMD yang hilang selama Tahun 2006 s.19 13. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 5 kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp1.33 1. • Di Kabupaten Jembrana.11 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp857. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp258.38 juta belum dikenakan tuntutan ganti rugi.115.18 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. • Di Kabupaten Luwu Utara.12 juta untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Usaha Pembibitan Sapi Bali dijual oleh penerima bantuan.318.848.51 Kerugian Daerah 13.77 22.74 34. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah dan lain-lain kasus kerugian daerah berupa pengenaan ganti kerugian daerah belum/ tidak dilaksanakan sesuai ketentuan.d.20 .21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 2010 minimal senilai Rp86.94 4. aset Pemerintah Kabupaten Jembrana berupa sapi hasil pengadaan Tahun 2006 sebanyak 287 ekor senilai Rp857. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.70 4.12 juta. Provinsi Bali.148 Tabel 13. Provinsi Sulawesi Selatan. dan barang. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No. surat berharga.1.

• Di Kabupaten Luwu Utara.23 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. • Di Kabupaten Buleleng. 13. Potensi Kerugian Daerah 13. Provinsi Sulawesi Selatan.25 13. surat berharga. dan • sebanyak 1 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp72. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 14 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp4. Provinsi Bali.29 juta dikuasai pihak lain (PNS.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi aset dikuasai pihak lain. yang nyata dan pasti jumlahnya. Rekomendasi 13. dan barang. dan pihak lain di luar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara). • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp3.29 juta.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.26 .149 Penyebab 13. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Pensiunan PNS. aset tidak diketahui keberadaannya. serta memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.88 miliar tidak dapat ditelusuri keberadaan fisik barangnya. Provinsi Kalimantan Selatan. • Di Kota Banjarmasin. barang milik daerah senilai Rp856.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam melakukan pengurusan BMD.08 miliar. 13.05 juta.01 miliar yang terdiri atas • sebanyak 8 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp856. tunggakan cicilan penjualan kendaraan roda dua dan empat senilai Rp72. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan upaya penagihan kepada penerima bantuan dan hasilnya disetorkan ke kas daerah.05 juta berpotensi merugikan keuangan daerah. aset tetap yang tercatat di SKPD per 30 Juni 2010 minimal senilai Rp2.

Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/ disetor ke kas daerah. Kekurangan Penerimaan 13.34 Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya disebabkan mitra kerja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian. Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya di Kota Banjarmasin.78 miliar.81 miliar. Rekomendasi 13. Provinsi Kalimantan Selatan.33 . Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 2 kasus penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp4.32 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera meminta mitra kerja untuk memenuhi kewajiban kontribusi dan kompensasi sesuai dengan syarat yang diperjanjikan serta segera menyetorkannya ke kas daerah.d. Rekomendasi 13.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut.150 Penyebab 13.30 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam mengamankan dan memelihara BMD. 2006 senilai Rp4. 13. Penyebab 13.29 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.31 13.28 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan pengguna dan pengurus lalai dalam dalam melaksanakan tugasnya untuk menelusuri keberadaan BMD. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan pengguna BMD untuk melakukan pembinaan atas pengelolaan BMD sesuai ketentuan yang berlaku dan melakukan pengamanan fisik dan administratif atas BMD yang berada dalam penguasaannya. beberapa mitra kerja tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk periode Tahun 2000 s.

jaringan. • Di Kota Surabaya. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.64 miliar yang diserahterimakan kepada PDAM Kota Surabaya sampai dengan 12 Maret 2010 belum ditetapkan status penyertaan modalnya. dan instalasi senilai Rp29. dan kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah.39 miliar yang digunakan oleh 17 SKPD belum ditetapkan dengan surat keputusan bupati sehingga pertanggungjawaban dan pemeliharaan aset tersebut menjadi tidak jelas. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. • Di Kabupaten Jembrana. tidak mengurangi hak daerah.151 Administrasi 13.39 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 miliar yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sampai dengan 30 Juni 2010 belum diurus kejelasan status kepemilikannya sehingga rawan terhadap penyalahgunaan oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab atau tuntutan hukum pihak lain. dan • sebanyak 17 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. kekurangan penerimaan daerah. aset tetap minimal senilai Rp27. aset jalan. penggunaan aset tetap berupa gedung dan bangunan senilai Rp65.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Provinsi Bali. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.38 . Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 61 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 43 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. tidak menghambat program entitas. 13. Provinsi Bali. Provinsi Jawa Timur. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. 13. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Buleleng.37 13.

43 Ketidakefektifan 13. Rekomendasi 13.40 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pengguna dan pengurus BMD lalai dalam melakukan pengamanan fisik dan administratif terhadap aset daerah.44 Kasus ketidakhematan terjadi karena pengguna BMD kurang berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus pemborosan keuangan daerah senilai Rp1.47 . dan barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan.52 miliar yaitu kegiatan rehabilitasi gedung/bangunan di Dinas Pendidikan (TA 2009) atas bangunan sekolah yang bukan milik Pemerintah Kota Banjarmasin. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Ketidakhematan 13. Penyebab 13.45 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. Rekomendasi 13. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.41 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.42 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. 13.152 Penyebab 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi administratif kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.46 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). 13. serta kurang optimal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.

docking fasilitas perbaikan kapal ikan dan alat-alat mesin sarana docking kapal. Soewardhie belum selesai sehingga barang inventaris hasil pengadaan Tahun 2009 dan 2010 yang bersumber dari APBD dan APBN senilai Rp5.27 miliar belum dapat dimanfaatkan.21 miliar belum dimanfaatkan dan masih tersimpan dalam kardus.51 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. • Di Kabupaten Luwu Utara.84 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. memanfaatkan secara optimal barang hasil pengadaan. M. 2009 yang terdiri atas gedung beserta peralatan laboratorium lingkungan.84 miliar. rumah dinas ASDP dan jaringan pipa air bersih Megumi.18 miliar belum dimanfaatkan. Rekomendasi 13. barang hasil pengadaan TA 2009 senilai Rp1. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan pengadaan BMD. Provinsi Bali. gedung pengolahan daging. serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jembrana seluruhnya senilai Rp15.49 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. • Di Kota Surabaya.52 . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menggunakan rencana kebutuhan BMD sebagai dasar penganggaran. dan • sebanyak 7 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp22.153 13. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan.d. aset tetap hasil pengadaan selama Tahun 2003 s. Penyebab 13. pelaksanaan pengadaan BMD tidak memperhatikan efektivitas pencapaian tujuan pengadaan. • Di Kabupaten Jembrana. pembangunan gedung RSUD dr. belt conveyor di Pelabuhan Pengambengan.48 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakefektifan senilai Rp22. aset kapal penangkap ikan Jimbarwana dan Jimbarsegara. Provinsi Sulawesi Selatan. 13. Provinsi Jawa Timur. 13.50 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan.

154 .

32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. jalan lori. bangunan. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi/kabupaten/kota TA 2009 dan 2010. kebinamargaan. kecuali jalan kereta api. Jaringan irigasi adalah saluran.155 BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. serta di atas permukaan air. BPK telah memeriksa pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Kalimantan Timur. pembagian. yang berada pada permukaan tanah.4 . dan 14 Dinas PU Bina Marga kabupaten/ kota adalah senilai Rp1. Adapun total temuan senilai Rp88.3 14. Bangunan gedung penting bagi manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang tujuan pembangunan nasional. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah 14. Pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mobilitas distribusi berbagai produk barang dan jasa dalam perekonomian nasional. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. 14. yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. Kebinamargaan.2 14. Lebih lanjut sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. Kalimantan Barat. D. kebinamargaan.57% dari cakupan pemeriksaan. pemberian. di atas permukaan tanah.29 triliun.35 triliun atau 58.I Yogyakarta. Objek pemeriksaan dimaksud adalah Dinas PU Cipta Karya dan Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Barat dan Dinas PU Bina Marga pada 14 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Provinsi Lampung. yang dimaksud dengan jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan.75 miliar atau 6. penggunaan dan pembuangan air irigasi. dan bangunan pengairan/drainase merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.1 Pembangunan infrastruktur keciptakaryaan. Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian. Sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan.35% dari realisasi belanja modal jalan dan jembatan senilai Rp2. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. dan jalan kabel. dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan. di bawah permukaan tanah dan/atau air. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase pada satu Dinas PU Cipta Karya Provinsi. Dalam Semester II Tahun 2010. dan Gorontalo.

hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan • sumber daya yang ada telah digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis dan efisien. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. kebinamargaan dan bangunan air/drainase pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) pemerintah daerah atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.5 Tujuan pemeriksaan atas belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. kebinamargaan dan drainase. pelaporan keuangan dan pengamanan atas aset daerah.9 . kebinamargaan dan drainase/pengairan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah telah sesuai dengan peraturan perundang -undangan yang berlaku.7 Hasil evaluasi SPI menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.8 Hasil evaluasi atas SPI menunjukkan terdapat 7 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 2 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.156 Tujuan Pemeriksaan 14. 14. Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja meliputi 5 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. Oleh karena itu. • kegiatan belanja infrastruktur keciptakaryaan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.6 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Sistem Pengendalian Intern 14. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. 14. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Hasil Pemeriksaan 14.

157 14. dan kontraktor tidak mematuhi ketentuan yang terkait pengelolaan lingkungan hidup.1. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian daerah. upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL).22 miliar dilakukan tanpa perencanaan yang memadai. administrasi. kurangnya pemahaman alur proses perencanaan sesuai ketentuan yang berlaku. ketidakhematan. kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan bidang sumber daya air TA 2009 minimal senilai Rp29.12 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 14. hasil pemeriksaan menyajikan kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.14 Terhadap kasus-kasus tersebut. tujuh paket pekerjaan jalan TA 2009 tidak menyusun dokumen AMDAL. pelaksana pekerjaan atas kegiatan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Jagoi Babang Lanjutan dan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Entikong Lanjutan pada Dinas PU Cipta Karya TA 2009 tidak menyusun dokumen UPL dan UKL. BPK telah merekomendasikan kepada gubernur/bupati agar menegur Kepala Dinas PU agar melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Provinsi Kalimantan Barat. • Di Kabupaten Sambas. Provinsi Kalimantan Barat.11 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern meliputi 2 kasus standar operasional prosedur (SOP) yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. 14. kekurangan penerimaan.13 Kasus-kasus tersebut disebabkan oleh lemahnya kebijakan. • Di Kabupaten Kayong Utara. Rincian per jenis temuan disajikan pada Lampiran 25 dan rincian menurut entitas disajikan pada Lampiran 26. • Di Provinsi Kalimantan Barat. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 14. Penyebab 14. Provinsi Kalimantan Barat.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 14. 14. perencanaan lapis permukaan pada paket pekerjaan peningkatan kawasan pemerintahan TA 2009 tidak memadai.15 Sesuai dengan tujuannya. . potensi kerugian daerah.

16 Berdasarkan tabel di atas. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan terdapat 48 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp36. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.619. Kerugian daerah juga meliputi spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. 14. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 124 kasus senilai Rp88.752.26 miliar.96 34.14 14.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 14.57 miliar.401. dan bangunan pengairan/drainase. dan Bangunan Pengairan/Drainase No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 48 24 13 26 8 5 124 Nilai (juta Rp) 36. dan barang.62 3. surat berharga.48 88. kebinamargaan. Kerugian Daerah 14. Kebinamargaan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.43 miliar. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.55 miliar. kebinamargaan.19 . yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp6. • sebanyak 19 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp11.75 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.432.298.18 14. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan.1. • sebanyak 22 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp16. dan kerugian daerah lainnya.158 Tabel 14.17 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.

21 Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. 14. di antaranya Pemerintah Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp735. 14. Provinsi Gorontalo. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan 14.I. dan barang. dan • sebanyak 1 kasus lainnya senilai Rp37. peningkatan dan/atau pemeliharaan jalan seluruhnya senilai Rp1. panitia pengadaan barang/jasa. Provinsi D. Potensi Kerugian Daerah 14. • Kabupaten Gorontalo Utara.25 . surat berharga.75 juta. Penyebab 14. kekurangan volume atas pekerjaan pembangunan.159 • sebanyak 5 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. ketebalan pekerjaan lapis pondasi bawah dan atas (LPB/LPA) pada tiga ruas jalan dan pekerjaan asphalt treated base (ATB) pada 15 ruas jalan TA 2009 dan 2010 tidak sesuai spesifikasi senilai Rp599. 2010 tidak sesuai dengan kontrak mengakibatkan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp8. • Di Kabupaten Bantul.23 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut.35 juta yang berasal dari contoh kasus di atas dan penyetoran dari kasus kerugian daerah lainnya. • Di Kabupaten Nunukan.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengawas lapangan tidak cermat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan. beberapa pekerjaan selama Tahun 2005 s. Yogyakarta. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan pejabat pembuat komitmen (PPK) belum mematuhi ketentuan atau prosedur yang berlaku dalam pengadaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Kalimantan Timur.d.90 juta.00 miliar.68 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah dengan menyetorkan uang ke kas daerah atau melengkapi/menyerahkan aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 14.52 miliar.

• Di Kabupaten Tulang Bawang.28 Di antara kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.69 miliar. . 14. Provinsi Gorontalo. Dinas PU Kabupaten Gorontalo Utara telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp55. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp19.04 juta.37 miliar. • Di Kabupaten Gorontalo Utara. Provinsi Kalimantan Barat. pemanfaatan barang. • sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp154. • Di Kabupaten Nunukan.d.160 sebagian atau seluruhnya.24 juta. pemanfaatan barang. 14.61 miliar yang terdiri atas • sebanyak 21 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp14. serta pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. paket pekerjaan pembangunan jalan Dusun Besar–Pintau dan jembatan Sungai Gemuruh Tahap II TA 2010 berpotensi lebih bayar senilai Rp1.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Kayong Utara. terdapat pembayaran atas pekerjaan jalan dan jembatan melebihi nilai kontrak/amandemen kontrak senilai Rp55. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.76 miliar. terdapat kekurangan volume pekerjaan pengaspalan overlay jalan dengan hot rolled sheet (HRS) pada empat paket kontrak kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruas jalan dengan menggunakan HRS-Base dan HRS. 2010 melebihi prestasi fisik senilai Rp5.67 miliar. tetapi atas pekerjaan tersebut belum dibayar seluruhnya. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.Wearing Course TA 2010 senilai Rp633. Provinsi Kalimantan Timur.26 Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. 14.54 juta. dan • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan. Provinsi Lampung. realisasi keuangan empat paket pekerjaan peningkatan jalan selama Tahun 2005 s.24 juta (setelah dikurangi PPN dan PPh tetapi pekerjaan baru dibayar 93% dari nilai kontrak). kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian daerah sebanyak 24 kasus senilai Rp34.

• Di Kabupaten Nunukan. pajak pengambilan bahan galian golongan C TA 2009 dan 2010 belum diselesaikan rekanan minimal senilai Rp1.33 14. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.161 Penyebab 14.34 . Penyebab 14. penyelesaian tiga paket pekerjaan TA 2009 terlambat dan rekanan belum dikenakan sanksi denda minimal senilai Rp758.31 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.39 miliar. 14.32 14. Rekomendasi 14.30 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada para pejabat yang bertanggung jawab. serta meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kekurangan Penerimaan 14. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah. kebinamargaan. memperhitungkan hak daerah dan segera menyetorkannya ke kas daerah.35 Kasus-kasus kekurangan penerimaan terjadi karena kontraktor pelaksana tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam kontrak dan PPK lemah dalam melakukan pengawasan serta pengendalian paket pekerjaan. • Di Kabupaten Penajam Paser Utara.40 miliar. Provinsi Kalimantan Timur. dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebanyak 13 kasus senilai Rp3. Provinsi Kalimantan Timur.29 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan Kepala Dinas PU dan PPK tidak cermat dalam menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan.15 juta.

37 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. pertanggungjawaban pembayaran biaya konsultansi TA 2009 belum memadai senilai Rp806. proses adendum tidak dilengkapi dengan gambar rencana dan data teknis justifikasi sehingga kegiatan pada Dinas PU Bidang Sumber Daya Air TA 2009 senilai Rp25. dll. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.36 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. Administrasi 14.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Provinsi Kalimantan Barat. pertambangan. 14. dan • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah. tidak mengurangi hak daerah. • Di Kabupaten Kayong Utara.39 . tidak menghambat program entitas. Provinsi Kalimantan Barat. dll.16 miliar dilakukan tanpa dasar acuan pekerjaan. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur dan memerintahkan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. perpajakan.15 juta. perpajakan. 14.38 14. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah. kekurangan penerimaan daerah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 26 kasus yang terdiri atas • sebanyak 11 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).162 Rekomendasi 14. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pertambangan.

dan konsultan pengawas lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).44 14. Provinsi Kalimantan Timur. • Di Kabupaten Sanggau.45 14.18 miliar. Ketidakhematan 14. pengawas lapangan.163 Penyebab 14. Rekomendasi 14.43 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. evaluasi. dan perhitungan pekerjaan yang dikontrakkan. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. kelebihan perhitungan atas koefisien alat motor grader untuk analisis harga satuan pekerjaan timbunan biasa dari selain galian sumber bahan pada lima paket pekerjaan bidang Bina Marga TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp880. kelebihan perhitungan analisis harga satuan bahan pada pembangunan jalan lingkar luar pantai Sei Jepun-Mansapa TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp4. 14. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya berupa pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. Penyebab 14.29 miliar.86 juta. Provinsi Kalimantan Barat. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan atau sanksi kepada Kepala Dinas PU dan pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan.47 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena panitia lelang tidak cermat dalam melakukan perencanaan.46 .42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak delapan kasus senilai Rp14. • Di Kabupaten Nunukan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian Kepala Dinas PU dan penanggung jawab kegiatan.

pekerjaan konstruksi jalan TA 2010 tidak sesuai jadwal pelaksanaan berpotensi pekerjaan tidak selesai tepat waktu. Ketidakefektifan 14. dan pengawas lapangan tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan pelaksana lalai dalam melaksanakan tugasnya.51 14.49 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).48 kasus-kasus ketidakhematan tersebut. dan pengawas lapangan proyek yang bersangkutan. Provinsi Kalimantan Barat.55 .52 14. • Di Kabupaten Boalemo. Penyebab 14. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. PPTK. progress fisik pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan abutment jembatan Sungai Mata-mata TA 2009 senilai Rp996. PPTK. • Di Kabupaten Kayong Utara.34 juta berpotensi tidak selesai dikerjakan (baru mencapai 80.75%). Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan yaitu sebanyak lima kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.54 ketidakefektifan tersebut. 14. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.53 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena tidak adanya itikad baik dari kontraktor. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada Kepala Dinas PU agar lebih cermat dalam perencanaan dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.164 Rekomendasi 14. Provinsi Gorontalo. BPK telah Terhadap kasus-kasus merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk memberikan sanksi kepada kuasa pengguna anggaran (KPA). memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Rekomendasi 14.50 14.

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dipengaruhi oleh tekanan.3 15. Hidrogen. dan gambut. Akhir dari mata rantai pengelolaan sumber daya alam adalah pengelolaan lingkungan hidup. intensifikasi penerimaan negara dari sektor tersebut akan secara langsung mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya. Pemberian KP menurut undangundang tersebut di atas diberikan oleh Menteri Pertambangan. tetapi pada saat yang sama berpotensi sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kehidupan masyarakat. Perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) adalah perjanjian karya antara Pemerintah RI dengan perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan bahan galian batubara. Batubara dibedakan berdasarkan kualitasnya. Secara umum kualitas deposit batubara bergantung pada lama waktu pembentukannya atau kematangan organiknya. Pemerintah mendudukan diri sebagai wakil dari Negara– sebagai pemilik sumber daya alam yang dapat memberikan kuasa pertambangan kepada pihak lain (termasuk swasta) untuk turut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). dan Oksigen.4 . UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara membawa semangat reformasi dan otonomi daerah di dalamnya. pada akhirnya akan menjadi penerimaan daerah dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) dan menjadi sumber dana bagi pembangunan daerah. Bentuk pengusahaan pertambangan bahan galian batubara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan adalah kuasa pertambangan dan perjanjian/kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor swasta. dengan sejumlah kecil elemen lain yang umumnya berupa Sulfur. demi kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. Melalui ketentuan ini.1 Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dalam jangka waktu yang lama. bituminus.2 15. rusaknya lingkungan hidup akan membebani keuangan negara/ daerah untuk pemulihannya dan apabila upaya pemulihan tidak berhasil akan mengancam kelestarian alam dan kehidupan manusia. Jika tidak dikelola secara memadai. yaitu kualitas rendah (low coal) dan kualitas tinggi (hard coal). Oleh karena itu.165 BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batubara 15. dan waktu. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara. sub-bituminus. batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit. lignit. Kuasa pertambangan (KP) adalah wewenang yang diberikan kepada badan usaha/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. 15. Batuan organik berwarna hitam tersebut umumnya terdiri atas senyawa Karbon. berupa royalti dan iuran tetap. panas. Pertambangan batubara merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di daerah.

Hasil Pemeriksaan 15. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara Tahun 2008 sampai dengan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan 13 pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi. dan Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan.81 triliun dari realisasi anggaran pendapatan Rp10. Hasil pengujian yang dilakukan BPK menunjukkan bahwa rancangan dan implementasi sistem pengendalian intern terkait dengan pengelolaan batubara belum mampu secara efektif menjamin pencapaian tujuan optimalisasi PNBP dan kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan dalam hal perizinan.d Semester I Tahun 2010 pada 14 pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan kontraktor PKP2B adalah senilai Rp2. .9 Sistem Pengendalian Intern 15. 15. Sumatera Barat. Cakupan pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (perijinan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.166 15.14 miliar (dengan nilai kurs 1 USD = Rp8.78 triliun. Oleh karena itu.26 juta atau senilai Rp444. dana bagi hasil.6 Tujuan Pemeriksaan 15. Riau.04 miliar dan USD29. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. bagi hasil. dana bagi hasil (DBH). dan pengelolaan pertambangan) Tahun 2008 s.5 Pada Semester II Tahun 2010.991). Nilai temuan pemeriksaan adalah Rp181. • pemberian izin.7 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan pengelolaan lingkungan pertambangan.10 Salah satu tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. dan pengelolaan lingkungan pertambangan batubara khususnya reklamasi telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. 15.8 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. penerimaan asli daerah. PNBP.

• Di Kabupaten Sarolangun. dan • sebanyak 8 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.167 15. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.12 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan terdapat 25 kasus kelemahan SPI. Sebanyak 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.15 Sebanyak delapan kasus kelemahan struktur pengendalian intern. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal senilai Rp1.68 miliar. 15. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. 15.11 Hasil evaluasi SPI atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 8 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.57 miliar. • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. 15. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. terdiri atas • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu dan ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 27. pembukuan dan pencatatan. terdiri atas • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atas produksi batubara senilai Rp2. dan 15.13 .

17 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena kebijakan bupati tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan 3) Kepala Dinas ESDM melakukan pengawasan secara memadai atas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan pertambangan. dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun sehingga pengelolaan PNBP dari pertambangan batubara belum optimal. serta Menteri ESDM dan Menteri Keuangan belum merumuskan tata cara pengenaan. tata cara pengenaan. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 28 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 29. Rekomendasi 15. dan 4) Menteri ESDM agar berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk segera menyusun dan menerbitkan ketentuan tentang tata cara pengenaan.19 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang dapat mengakibatkan potensi kerugian negara. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 15. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. administrasi. dan penyetoran PNBP di lingkungan Kementerian ESDM. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain: 1) merevisi keputusan bupati yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelaksana tidak memahami pentingnya penetapan peraturan tentang besaran jaminan reklamasi dan rencana reklamasi yang harus disampaikan oleh para pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi sebelum melakukan kegiatan penambangannya. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. pemungutan. .18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. kekurangan penerimaan negara.1.168 • sebanyak 4 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. dan kurang optimal dalam melakukan pengawasan terhadap rencana dan penyetoran jaminan reklamasi. Penyebab 15. pemerintah kabupaten belum menetapkan prosedur pelaksanaan rencana reklamasi dan jaminan reklamasi. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 15. pemungutan dan penyetoran PNBP sesuai amanat UU dan PP. 15. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. pemungutan.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 2) kepala dinas teknis terkait untuk segera mengajukan konsep keputusan bupati tentang rencana dan jaminan reklamasi sebagai dasar pelaksanaan reklamasi.

CV PSPN. PT RMB di Kabupaten Indragiri Hulu.28 miliar. Kegiatan tersebut terjadi antara lain pada PT KBPC.21 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa uang.169 Tabel 15.49 175.1. PT KPU. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 20 kasus senilai Rp5.04 miliar dan USD29.60 juta. CV MI. • Kegiatan penambangan di kawasan hutan dilakukan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan.22 15. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) (ribu USD) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakefektifan Jumlah 20 31 33 1 85 5. CV CP. PT LMH.44 miliar.447. Provinsi Jambi.602.54 15. hasil pemeriksaan mengungkapkan 85 kasus senilai Rp181. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.66 juta dan Tahun 2009 senilai Rp380. pemerintah kabupaten tidak pernah mewajibkan KP untuk menyetorkan jaminan kesungguhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PT MIA dan PT NKC di Kabupaten Kuantan Singingi. Kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai. Provinsi Riau. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. PT MCB di Kabupaten Bungo. 15. CV AME.71 29.049. pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.21 Rp181. yang nyata dan pasti jumlahnya. CV BMK. sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pertambangan batubara.20 Berdasarkan tabel di atas. dan barang. serta PT DSAS.26 juta. jaminan kesungguhan yang seharusnya disetorkan para pemegang IUP Tahun 2008 senilai Rp758. pemegang IUP operasi produksi batubara belum/kurang menyerahkan jaminan reklamasi senilai Rp1.54 Rp29.261. dan PT NAL di Kota Sawahlunto • Di Kabupaten Sarolangun.261. surat berharga. Potensi Kerugian Negara 15.23 .

26 juta. Rekomendasi 15. 15 pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp59.24 Kasus-kasus tersebut disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut di atas diduga sengaja telah melakukan kegiatan penambangan berupa pembangunan konstruksi.170 Penyebab 15. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 31 kasus senilai Rp175. Dirjen Mineral. sebelas pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp3. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan Batu bara kurang melakukan pengawasan atas kegiatan kontraktor PKP2B di lapangan. BPK juga telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menarik jaminan kesungguhan dari para pemegang KP sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan pemegang IUP operasi produksi memenuhi kewajiban penempatan jaminan reklamasi. • Di Kementerian ESDM. 15.74 juta.60 miliar dan USD29.26 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.25 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. dan eksploitasi di kawasan hutan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan. Energi. Provinsi Kalimantan Timur. • Di Kabupaten Tanah Laut. Kekurangan Penerimaan Negara 15. yaitu adanya penerimaan negara/ dearah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah. Provinsi Kalimantan Selatan.54 miliar dan USD6.27 15. sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar dana hasil produksi batubara (DHPB) senilai Rp22. serta kepala distamben kabupaten/ kota yang terkait lalai dalam melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin KP/IUP.93 miliar dan USD14.28 . penghamparan overburden. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kasus-kasus kekurangan penerimaan. BPK berpendapat bahwa temuan tersebut mengandung unsur pidana kehutanan yang dapat merugikan negara.81 miliar. tidak cermat dalam memverifikasi persyaratan terbitnya izin KP. serta kurang cermat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan yang terkait reklamasi dan pembayaran jaminan reklamasi.49 juta. dan di antaranya sudah dalam tahap penyidikan oleh kepolisian.

15. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 33 kasus yang terdiri atas • sebanyak 32 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. PT BJU dan PT BBE kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai USD6.88 juta. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran oleh PT JBU di Kabupaten Berau ke kas negara senilai USD3. pertambangan. perpajakan.171 • Di Kabupaten Berau.31 Terhadap kasus-kasus tersebut. dll dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan oleh PT Ad-I di Kalimantan Selatan senilai USD6.32 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. iuran tetap.29 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan DHPB ke kas negara dan menegur pelaksana yang tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku. tidak menghambat program entitas.62 juta.58 juta. dan • sebanyak satu kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Persetujuan Prinsip untuk DU-322 milik PT AI tidak sesuai dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 1999. tidak mengurangi hak negara. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menginstruksikan pimpinan IUP pertambangan batubara dan kontraktor PKP2B dimaksud untuk segera menyetorkan kewajiban royalti.30 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kontraktor PKP2B dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang bersangkutan tidak mematuhi peraturan yang berlaku dan kurangnya pengawasan dari instansi terkait.33 15. 15. Rekomendasi 15. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. kekurangan penerimaan negara. pertambangan. Provinsi Kalimantan Timur. perpajakan. 15. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. dll.34 . Administrasi 15. Penyebab 15.

dan apabila kawasan tersebut adalah kawasan hutan agar memerintahkan PT AI untuk mengurus izin pinjam pakainya. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Rekomendasi 15. Menteri ESDM agar menginstruksikan Dirjen Minerba untuk memerintahkan PT AI mengurus izin pinjam pakai atas penggunaan jalan (hauling road) di kawasan hutan produksi tetap. dan pemerintah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kontraktor PKP2B dan pemegang IUP yang melaksanakan pengelolaan lingkungan dan penerapan kaidah teknik pertambangan tidak sesuai ketentuan. penggunaan jalan tambang oleh PT AI dari tambang Satui ke dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan. Penyebab 15. 15. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakefektifan yaitu penatausahaan perizinan dan pengawasan produksi dan penjualan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara lemah. Dirjen Minerba kurang melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin PKP2B di lapangan.39 .37 Terhadap permasalahan administrasi tersebut. Ketidakefektifan 15. Dirjen Planologi lalai dalam memberikan persetujuan prinsip kepada PT AI yang tidak sesuai dengan peta penunjukan kawasan hutan yang berlaku.40 Kasus tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara tidak tertib dan cermat dalam pengelolaan IUP batubara. dan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan kewajiban pengelolaan lingkungan dan kaidah teknik pertambangan yang baik oleh kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP.172 • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. sehingga berpotensi terjadi konflik tumpang tindih konsesi IUP dan pelanggaran atas pemenuhan kewajiban administratif maupun keuangan. direksi dan pimpinan perusahaan PT AI tidak mematuhi Undang-Undang tentang Kehutanan.36 Kasus-kasus administrasi antara lain terjadi karena Menteri Kehutanan cq. pengelolaan lingkungan pertambangan oleh Kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP belum optimal. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan supaya menegaskan status kawasan pit perintis.38 Temuan mengenai ketidakefektifan adanya penyimpangan terhadap fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. Penyebab 15.

41 Terhadap kasus tersebut.42 . Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan agar Bupati Kutai Kartanegara menginstruksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara untuk lebih tertib dan cermat dalam pengelolaan perizinan dan pengawasan atas produksi dan penjualan batubara. 15.173 Rekomendasi 15.

174 .

• sebanyak 1 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. Oleh karena itu. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.31 miliar dan USD66.1 Dalam Semester II Tahun 2010. Nilai temuan pemeriksaan atas tiga KKKS adalah senilai Rp6.87 miliar. WK Kakap pada BPMigas dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd (SEKL). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.28 miliar. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. cakupan pemeriksaan adalah senilai 68. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.3 Pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan KKS Minyak dan Gas Bumi. Hasil Pemeriksaan 16. . BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi (cost recovery) pada tiga entitas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lingkungan BUMN untuk beberapa wilayah kerja (WK). 16. WK Tuban pada KKKS Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB PPEJ).47 juta. yaitu: WK Eks Pertamina Block pada KKKS PT Pertamina EP (PEP). Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Sistem Pengendalian Intern 16.5 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya enam kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada tiga KKKS. Anggaran dan realisasi cost recoverable tiga KKKS yang diperiksa masingmasing senilai USD1. dan • sebanyak 2 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.43% dari realisasi cost recoverable atau senilai USD1. Sementara itu.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. bertujuan untuk memberi keyakinan yang memadai atas kewajaran perhitungan bagi hasil dari pelaksanaan KKS dan menilai kepatuhan KKKS terhadap ketentuan perundang-undangan serta sistem pengendalian intern yang ditetapkan.2 Tujuan Pemeriksaan 16.175 BAB 16 Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi 16.78 miliar dan USD1.

Rincian jenis temuan tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31.8 Terhadap kasus kelemahan SPI tersebut BPK telah merekomendasikan antara lain.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pembebanan biaya transaksi-transaksi yang tidak terklasifikasi dalam sistem MySAP ke dalam Financial Quarterly Report (FQR) Tahun 2009 senilai Rp40. serta ketidakcermatan dalam penggolongan biaya sesuai substansi biaya sesungguhnya.10 .00 Tahun 2009 dibukukan tanpa melalui depresiasi. monitoring PT PEP atas keabsahan dan keakurasian pencatatan aset tetap pada mitra usaha masih lemah.9 Hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan potensi kerugian negara/perusahaan. sistem pencatatan aset KKKS PT PEP Tahun 2009 pada mitra usaha belum dapat menjamin keakuratan nilai aset dan biaya depresiasi. • Di KKKS PEP.00 juta atau USD600. KKKS PEP agar melakukan inventarisasi. Hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok temuan menurut entitas disajikan dalam Tabel 16. • Di KKKS PEP. Rekomendasi 16. kapitalisasi.1 berikut ini. dan administrasi.09 miliar tidak didasarkan pertimbangan kelayakan pembebanan dan pengklasifikasian biaya cost recovery. 16. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 16. dan membebankan biaya pembelian selama Tahun 2009 atas peralatan dengan nilai per unit di atas Rp5.176 16. Penyebab 16.7 Permasalahan tersebut di antaranya disebabkan ketidakcermatan dalam pembebanan harta benda bergerak yang seharusnya dikapitalisasi tetapi langsung dibebankan sebagai biaya (expense).00 juta melalui mekanisme depresiasi dan melaksanakan program pengecekan fisik atas aset serta mereklasifikasi akun-akun pada biaya production installation sesuai dengan substansi biaya yang sebenarnya. pengadaan harta benda bergerak yang memiliki harga per unit di atas Rp5. • Di KKKS PEP. kekurangan penerimaan.

309.65 USD2.14 KKKS SKEL tidak mewajibkan kepada pemasok untuk melampirkan bukti setor PBBKB pada saat pengajuan pembayaran.51 6. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/ perusahaan.31 miliar. dan barang.315. surat berharga.315.316.315.15 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. yang nyata dan pasti jumlahnya.11 Dari tabel di atas.31 miliar tidak disetorkan oleh rekanan SEKL ke kas daerah.65 USD2. BPK telah merekomendasikan kepada SEKL agar membantu mengamankan keuangan negara/daerah dengan memasukkan bukti penyetoran PBBKB oleh rekanan kepada pemerintah daerah sebagai salah satu syarat permohonan pembayaran nilai pengadaan BBM ke SEKL dan BPMIGAS.55 USD66. hasil pemeriksaan atas pelaksanaan KKS pada tiga KKKS mengungkapkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp6.1. 17 kasus kekurangan penerimaan senilai USD66.51 USD2.78 USD66.55 Rp6.71 1 Rp6.177 Tabel 16.309.78 16. 16.474. Kasus tersebut terjadi di KKKS SEKL mengenai pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Tahun 2009 atas pembelian BBM solar senilai Rp6.47 juta.12 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.848. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 (nilai dalam juta Rp dan ribu valas) Nama Entitas Jml Kasus KKKS PEP KKKS SEKL KKKS JOB PPEJ Jumlah 7 9 6 22 Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan PerundangUndangan yang Mengakibatkan Potensi Kerugian negara/ perusahaan Jml Kasus 1 Nilai 6. Penyebab 16.78 USD2.78 Kekurangan Penerimaan Jml Kasus 7 6 4 17 Nilai USD61.848.71 Administrasi Jml Nilai Kasus 2 2 4 - Nilai USD61.315. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 16. dan empat kasus administrasi.316.474. Rekomendasi 16.13 .

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya empat kasus administrasi.30 juta dan KKKS JOB PPEJ senilai USD2.24 . tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. Pemeriksaan pada tiga KKKS mengungkapkan adanya 17 kasus yaitu koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil yang telah disetujui senilai USD66.19 Koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil dilakukan karena adanya ketidakcermatan perhitungan klaim cost recovery oleh KKKS.47 juta yaitu KKKS PEP senilai USD61.20 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan agar BPMIGAS dan KKKS melakukan koreksi perhitungan bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku. 16. Kasus-kasus tersebut di antaranya. Penyebab 16.17 16.23 16. Kelompok temuan kekurangan penerimaan tersebut merupakan koreksi perhitungan bagi hasil dengan tiga KKKS yang berasal dari koreksi cost recovery yang tidak dapat di-cost recovery (non cost recovery). adanya ketidakpatuhan terhadap klausul KKKS dan pedoman-pedoman tata kerja serta ketentuan yang berlaku.178 Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan 16.21 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset.84 juta. Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan adanya pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.18 Administrasi 16. tidak menghambat operasional/program entitas dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. terdapat biaya depresiasi aset tetap yang belum mendapatkan persetujuan place into service (PIS) dari BPMIGAS senilai 16.31 juta. • Di KKKS SEKL.22 16. KKKS SEKL senilai USD2. Rekomendasi 16.16 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/perusahaan milik negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/perusahaan milik negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. yaitu mengenai penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya.

• Di KKKS JOB PPEJ. dan partner membentuk serta memformalkan JA sesuai waktu yang telah dijanjikan dan melaksanakan dengan konsisten termasuk menjalankan mekanisme cash call. Penyebab 16. JOB PPEJ. 16. Rekomendasi 16.26 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan di antaranya agar KKKS SEKL mengajukan persetujuan PIS kepada BPMIGAS atas aset-aset tersebut. joint account (JA) belum diformalkan oleh para partner dan belum dioperasikan oleh Manajemen JOB PPEJ serta tidak semua partner menjalankan mekanisme cash call sehingga menimbulkan risiko ketidakwajaran pembebanan biaya dan potensi konflik antar partner. Kemudian untuk KKKS JOB PPEJ. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan partner dari JOB PPEJ belum mempunyai komitmen batas waktu penyelesaian pembentukan JA dan pemberlakuan atas pelaksanaan JA tersebut.47 juta mengakibatkan SEKL memperoleh penggantian cost recovery Tahun 2009 lebih cepat dari yang seharusnya. BPMIGAS memantau pembentukan JA serta mendorong kepatuhan JOB PPEJ dalam menjalankan kontrak bagi hasil beserta kontrak-kontrak terkait.27 .179 USD3.25 Permasalahan tersebut disebabkan tidak dipatuhinya ketentuan tentang place into service (PIS) fasilitas produksi minyak dan gas bumi.

180 .

d.3 Pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero). Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp2.4 17. bertujuan untuk menilai kewajaran volume penjualan jenis BBM tertentu yang didistribusikan kepada konsumen di seluruh wilayah Indonesia selama Tahun 2009.d. Pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM yang disalurkan PT Pusri (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan subsidi pupuk PT Pusri (Persero) TA 2009 atas bantuan pasokan pupuk urea produksi Tahun 2008 dari PT PIM. Pemeriksaan atas perhitungan kewajiban pelayanan umum (KPU) bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri TA 2009 pada PT Pelni (Persero).5 17.2 Tujuan Pemeriksaan 17.81 triliun atau 4. KPU pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (PT Pelni). 17. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan subsidi/kewajiban pelayanan umum/public service obligation (KPU/PSO) pada lima entitas di lingkungan BUMN. yaitu subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu (subsidi JBT). dan subsidi pupuk produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) yang disalurkan PT Pupuk Sriwijaya (Persero) (PT Pusri).04 miliar dan koreksi subsidi senilai Rp1.43% dari cakupan pemeriksaan. Selain itu BPK juga memeriksa prosedur yang disepakati bersama atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s. 2009 pada BI.97 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp47. dan menilai jumlah pembayaran subsidi JBT TA 2009.73 triliun. bertujuan menilai kesesuaian penghitungan pembiayaan dan pelaksanaan KPU bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri dengan perjanjian dan ketentuan/peraturan yang berlaku.7 . tambahan penggantian biaya subsidi BBM. menilai kewajaran besarnya nilai subsidi yang layak dibayar oleh pemerintah Tahun 2009. perhitungan PSO pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI). 2005.181 BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 17. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada lima BUMN dan BI adalah senilai Rp40.6 17. Pemeriksaan pada PT KAI (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan realisasi PSO TA 2009 telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. bertujuan untuk menilai kesesu aian tagihan tambahan penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.1 Dalam Semester II Tahun 2010. 17. Pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero).

Pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi KPU dan membayar kepada PT Pelni (Persero) senilai Rp600.28 triliun.13 . Sedangkan untuk subsidi bunga. Hasil pemeriksaan atas subsidi pemerintah selain menyajikan perhitungan/koreksi atas subsidi yang ditanggung oleh pemerintah.12 miliar sehingga perhitungan nilai KPU menjadi senilai Rp714.45 miliar.01 miliar. Hasil pemeriksaan atas perhitungan KPU pada PT Pelni (Persero) TA 2009 senilai Rp845.182 17.83 triliun.8 Pemeriksaan atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh BI kepada pemerintah bertujuan untuk menentukan besarnya subsidi bunga kredit program yang layak ditagihkan oleh BI dan dibayar oleh pemerintah untuk TA 2007. Oleh karena itu. Selain itu.64 miliar.10 Hasil pemeriksaan atas subsidi menunjukkan bahwa pemerintah masih mempunyai kewajiban membayar subsidi kepada lima BUMN penerima subsidi senilai Rp6. Hasil pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).00 miliar.19 juta. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.9 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.93 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp33. 17.02 miliar telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp130.12 17. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pertamina (Persero) senilai Rp727. perhitungan subsidi dikoreksi tambah senilai Rp175. menunjukkan bahwa jumlah subsidi yang dihitung oleh PT Pertamina (Persero) senilai Rp34. dan 2009 sesuai prosedur yang disepakati bersama antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). sehingga penghitungan subsidi JBT menjadi senilai Rp34. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan KPU yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran yang telah ditetapkan sehingga kelebihan pembayaran biaya KPU senilai Rp113. perhitungan tersebut dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp1. Pemerintah sudah membayar kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.44 miliar. secara rinci diuraikan di bawah ini. Selain itu. menunjukkan bahwa nilai penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.17 triliun.12 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp1.90 miliar.d. Hasil pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). PSO yang ditanggung perusahaan (tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah) senilai Rp113. sehingga nilai bersih penggantian biaya subsidi BBM menjadi senilai Rp5. 2008. 2005 adalah senilai Rp7. Koreksi Subsidi 17. juga mengungkapkan kelemahan sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan pelaksanaan subsidi terhadap ketentuan perundangundangan.11 17.45 miliar tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah dan menjadi beban PT Pelni (Persero). Sesuai kontrak. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.90 triliun. Hasil Pemeriksaan 17.60 triliun dari yang telah ditetapkan.

15 17. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pusri (Persero) senilai Rp28.d.07 miliar. dan TA 2009 senilai Rp25.82 miliar.14 Hasil pemeriksaan atas perhitungan PSO pada PT KAI (Persero) TA 2009 senilai Rp844.00 miliar. kredit kepemilikan rumah sederhana (KPRS). dan pemerintah telah membayar kepada PT KAI (Persero) senilai Rp504.50 miliar.96 miliar.28 miliar. Pemerintah sudah menyelesaikan pembayaran kepada PT Pusri (Persero) senilai Rp26.64 miliar. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung sumber daya manusia (SDM) yang memadai. TA 2008 senilai Rp63. . Hasil pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM Tahun 2009 yang disalurkan PT Pusri (Persero). terdiri atas tagihan skim kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). Selain perhitungan tersebut terhadap perhitungan PSO dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp16. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Dengan demikian subsidi kurang diterima oleh PT KAI (Persero) senilai Rp14.d. sedangkan jumlah tagihan BI kepada pemerintah pada periode yang sama senilai Rp3. telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp301. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa subsidi bunga TA 2007 s. dikoreksi kurang senilai Rp62.59 miliar.07 miliar oleh pemerintah. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Sesuai kontrak. sehingga penghitungan subsidi pupuk menjadi senilai Rp55.54 miliar. 2009 senilai Rp4. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan PSO yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran subsidi PSO yang telah ditetapkan yaitu senilai Rp535.42 miliar. menunjukkan bahwa perhitungan subsidi pupuk yang ditetapkan PT Pusri (Persero) senilai Rp117.183 17.94 triliun.89 miliar. dan perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans) Konversi TA 2007 senilai Rp54.36 miliar. • sebanyak 2 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. 17.49 miliar sehingga perhitungan nilai PSO.19 juta sehingga perhitungan subsidi bunga menjadi Rp144. Pembayaran subsidi bunga tersebut telah dilakukan pemerintah melalui rekening penampungan (565.97 miliar.56 triliun. Dengan demikian masih terdapat dana pemerintah pada escrow account di BI senilai Rp623. menjadi senilai Rp543.46 miliar.026018) sejak Tahun 1998 s.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 29 kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada lima entitas terdiri atas • sebanyak 9 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran biaya PSO senilai Rp14. dikoreksi tambah senilai Rp175.16 Sistem Pengendalian Intern 17.16 miliar. 2009 yang ditagihkan BI kepada pemerintah senilai Rp144.76 miliar.21 miliar.

18 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Sedangkan atas kasus pada PT KAI (Persero). hal tersebut di antaranya mengakibatkan aktiva tetap dan inventaris yang dibeli tidak tercatat di perusahaan sehingga berpotensi hilang. kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengoperasian KAI kepada PT KCJ yang tidak diatur dalam kontrak PSO antara PT KAI (Persero) dengan pemerintah dan dalam perjanjian kerja sama (PKS) tidak menyebutkan besaran dan formula penghitungan management fee. • sebanyak 4 kasus penetapan pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. • Di PT KAI (Persero).19 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan penerapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya.72 miliar membebani PT KAI (Persero). • Di PT Pelni (Persero).20 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. penggunaan dan pencatatan dana dari pendapatan non operasional tidak sesuai ketentuan. disebabkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional tidak valid dan mutakhir serta lalai menyelenggarakan pencatatan penerimaan dan penggunaan dana pendapatan non operasional. Rekomendasi 17. yaitu Dirjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) lalai dalam menetapkan perjanjian KPU secara tepat waktu serta besaran volume pekerjaan belum memperhitungkan besaran pagu anggaran yang tersedia. • Di PT KAI (Persero). pembayaran management fee kepada PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senilai Rp107. penetapan perjanjian penyelenggaraan KPU TA 2009 terlambat dan penentuan volume pekerjaan tidak akurat. BPK telah merekomendasikan agar Ditjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) menandatangani perjanjian KPU sebelum penyelenggaraan KPU dan menyesuaikan volume .63 miliar.184 • sebanyak 2 kasus perencanaan tidak memadai. dan • sebanyak 7 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. mengakibatkan PT Pelni (Persero) tidak dapat menyusun pola pengoperasian kapal penumpang secara optimal sehingga PT Pelni (Persero) harus menanggung kerugian selisih lebih voyage dari kontrak senilai Rp47. 17. Penyebab 17. • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.

administrasi. Kerugian Negara/Perusahaan 17. Kasus tersebut terjadi di PT KAI (Persero) mengenai perjanjian kerjasama PT KAI dengan PT KCJ Tahun 2009 tidak memberikan nilai tambah bagi PT KAI. dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan. potensi kerugian negara/ perusahaan. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.47 17. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No.24 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang. dan ketidakefektifan.1.04 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 17.185 pekerjaan dengan pagu anggaran yang tersedia. bertanggungjawab atas pengesahan dan pembayaran management fee sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT KCJ kepada RUPS. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai kerugian perusahaan senilai Rp1. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 17.25 . dan ketidakefektifan. BPK merekomendasikan di antaranya agar Direksi PT KAI (Persero) memutakhirkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional dan menertibkan penggunaannya.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Kerugian Perusahaan Potensi Kerugian Perusahaan Administrasi Ketidakefisienan Jumlah 1 1 1 2 5 1.50 2. 17. potensi kerugian negara/perusahaan.21 Selain koreksi perhitungan subsidi dan kelemahan atas SPI. administrasi. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi lima kasus senilai Rp2.97 312. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.73 miliar.048. mengakibatkan PT KAI menanggung kerugian sewa kereta rel listrik (KRL) milik PT KCJ.735. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) 17. Tabel 17. Sedangkan terhadap PT KAI (Persero). dan barang. surat berharga. hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan.23 Berdasarkan tabel di atas.1 Rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 34.

Kasus terjadi pada PT KAI (Persero) mengenai pembelian satu unit kendaraan Hyundai Trajet Tahun 2009 tidak dicatat sebagai aktiva dan kendaraan tidak digunakan sesuai tujuan pembelian.28 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. Rekomendasi 17. surat berharga. sebanyak satu kasus senilai Rp312.30 17.31 Administrasi 17. Atas kasus potensi kerugian negara/perusahaan tersebut. dan barang.32 Kasus tersebut disebabkan PT KAI (Persero) tidak melaksanakan ketentuan tentang kapitalisasi aset dan kebijakan Direksi PT KAI (Persero) meminjamkan kendaraan operasional kepada pihak lain tanpa dibuat bukti pendukung. yang nyata dan pasti jumlahnya Kasus potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara di antaranya. 17.33 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan.186 Penyebab 17.50 juta.29 17. Rekomendasi 17. tetapi penyimpangan tersebut tidak . PT KAI (Persero) telah menindaklanjuti dengan penyerahan aset berupa satu unit kendaraan Hyundai Trajet senilai Rp312.26 Kasus kerugian perusahaan di antaranya terjadi karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) menyetujui pengoperasian kereta PSO oleh PT KCJ yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.34 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara.27 Terhadap kasus kerugian perusahaan. BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KAI (Persero) menagih kelebihan pembayaran sewa KRL milik PT KCJ. Penyebab 17.50 juta. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 17. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) mencatat pembelian kendaraan tersebut sebagai aktiva perusahaan dan menarik kendaraan yang dipinjamkan untuk kepentingan operasional PT KAI (Persero).

serta fungsi instansi tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.39 . sehingga mengganggu penyaluran BBM bagi perahu motor atau kapal nelayan.40 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan lokasi wilayah SPBN tersebut jauh dari SPBU sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan masyarakat. Rekomendasi 17.187 mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. meskipun PT KCJ sudah mengakui pendapatan senilai Rp458.88 juta. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) menagih pendapatan sewa ruangan dan iklan kepada PT KCJ serta mengelola sendiri aset tanah dan bangunan stasiun sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.35 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus administrasi. Sedangkan untuk PT KAI (Persero) yaitu 17. proses penugasan kewajiban pelayanan publik kepada PT KAI (Persero) Tahun 2009 tidak memenuhi tata kelola yang baik yang mengakibatkan PT KAI (Persero) harus mendanai terlebih dahulu biaya pengoperasian KAI PSO yang beroperasi sebelum kontrak ditandatangani. yaitu pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun PT KAI (Persero) yang dilimpahkan kepada PT KCJ belum memberi keuntungan.38 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. Penyebab 17. • Di PT KAI (Persero). Kasus-kasus tersebut terdapat pada PT Pertamina (Persero) dan PT KAI (Persero). • Di PT Pertamina (Persero).36 Kasus penyimpangan administrasi di antaranya karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun tanpa mempertimbangkan kapabilitas/kemampuan PT KCJ. tidak menghambat operasional/program entitas. Penyebab 17. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dua kasus ketidakefektifan yang terjadi. yaitu. dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. Ketidakefektifan 17. stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Mataram Tahun 2009 melayani pengisian bahan bakar kepada kendaraan umum.37 Terhadap kasus penyimpangan administrasi. 17.

Rekomendasi 17. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.188 Dirjen Perkeretaapian terlalu lama dalam memproses kontrak PSO serta PT KAI (Persero) tidak cermat dalam membuat klausul tentang sanksi dalam kontrak PSO.42 .41 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar PT Pertamina (Persero) mendirikan SPBU atau lembaga penyalur lainnya sesuai kebutuhan daerah tersebut serta terhadap Dirjen Perkeretaapian dan Direksi PT KAI (Persero). 17. BPK telah merekomendasikan agar menandatangani kontrak PSO sebelum pelaksanaan PSO serta memperbaiki klausul kontrak PSO terutama klausul mengenai sanksi dan formula penghitungannya.

. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.67 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp58. • sebanyak 9 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.61 triliun. 18. Sistem Pengendalian Intern 18.3 Hasil Pemeriksaan 18. dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT). • sebanyak 16 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional BUMN pada enam entitas yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) (PT AP II). (PT AK).4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. pengendalian biaya.08 triliun dan USD60. dan • sebanyak 3 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. (PT KF). di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. dan kegiatan investasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Cakupan pemeriksaan operasional atas enam BUMN adalah senilai Rp33.5 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMN mengungkapkan adanya 47 kasus kelemahan SPI pada enam BUMN.189 BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara 18. Secara umum tujuan pemeriksaan pada enam BUMN tersebut untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan pengelolaan pendapatan. Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Oleh karena itu.2 18. PT Kimia Farma (Persero) Tbk. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp1. terdiri atas • sebanyak 12 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.69 juta. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. PT Nindya Karya (Persero) (PT NK). • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai.

dan barang dagangan yang telah rusak/usang/kedaluwarsa dan yang belum digunakan atau belum terjual..13 miliar.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. tarif penjualan listrik dan steam PT PKT kepada perusahaan afiliasi Tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan harga belinya dari PT Kaltim Daya Mandiri (PT KDM) sehingga PT PKT mengalami kerugian usaha minimal senilai USD3. • Di PT PKT. Manajer Unit Produksi Semarang (UPS) dalam melakukan pengadaan bahan baku dan bahan kemas.47 juta atau setara dengan Rp35. tidak tegas dalam menetapkan desain terminal bandara. • Manajer marketing over the counter/customer health product (OTC/ CHP) PT KF memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi pasar. • Direksi PT PKT belum melakukan adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan yang mengatur tentang penyesuaian tarif listrik dan steam yang mempertimbangkan harga jual ekonomis (memberi keuntungan perusahaan). dan Direksi PT KF belum menetapkan rencana pemanfaatan bahan baku. PT KF gagal melaksanakan program penetrasi pasar produk Fitocare Tahun 2010 sehingga menanggung potensi kerugian minimal senilai Rp2.07 miliar atas nilai persediaan bahan baku. • Di PT KF (Persero) Tbk. ketidakakuratan perencanaan bangunan terminal Bandara Baru Kualanamu Tahun 2007 mengakibatkan biaya pembangunan bertambah minimal senilai Rp97. • Di PT AP II (Persero).8 Atas kasus-kasus kelemahan SPI. bahan kemas.190 18. Rekomendasi 18. BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) melaksanakan lelang pekerjaan fisik bangunan terminal bandara yang belum dilaksanakan berdasarkan perencanaan desain yang telah final dan setiap perubahan desain harus didokumentasikan dengan baik dan menetapkan desain gambar final. dan produk Fitocare. Penyebab 18. dan tidak tegas memberikan sanksi berupa denda dan tuntutan kerugian kepada PT Wiratman atas ketidakmampuan melakukan pekerjaannya.7 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) melelangkan pekerjaan pondasi dan struktur bangunan terminal bandara sebelum pekerjaan perencanaan selesai.07 miliar. kurang mempertimbangkan kebutuhan. . bahan kemas.

191 • Direksi dan Komisaris PT PKT mempertanggungjawabkan hasil penjualan listrik dan steam yang lebih rendah kepada pemegang saham. Selain itu, direksi PT PKT membuat adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan dengan mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan; dan • Direksi PT KF (Persero) memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada para manajer marketing OTC/CHP dan Manajer UPS yang lalai dalam memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi dan segera mengambil tindakan konkrit atas pemanfaatan bahan baku, bahan kemasan, dan produk Fitocare.

Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
18.9 Selain kelemahan SPI hasil pemeriksaan operasional BUMN juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/perusahaan, kekurangan penerimaan negara/perusahaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 58 kasus senilai Rp1,08 triliun dan USD60.69 juta sebagaimana disajikan dalam Tabel 18.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 36 dan rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 37.
Tabel 18.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 92.936,95 USD7,543.01 973.661,50 USD53,155.43 3.201,35 1.243,90 11.990,65 Rp1.083.034,37 USD60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kerugian negara/perusahaan Potensi kerugian negara/perusahaan Kekurangan penerimaan negara/perusahaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 13 31 6 6 1 1 58

18.10

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/ perusahaan, kekurangan penerimaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

192

Kerugian Negara/Perusahaan
18.11 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian negara/perusahaan di antaranya meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak, pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet, serta lain-lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai kerugian negara/perusahaan senilai Rp92,93 miliar dan USD7.54 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7,45 miliar; • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp6,85 miliar; • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp104,08 juta; • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1,02 miliar; dan • sebanyak 7 kasus lain-lain mengenai kerugian negara/perusahaan milik negara senilai Rp77,49 miliar dan USD7.54 juta seperti pencairan jaminan pelaksanaan oleh pemberi kerja karena keterlambatan penyelesaian proyek, keterlambatan penyelesaian proyek dan proyek dihentikan oleh pemberi kerja atau tidak diakuinya variation order oleh pemberi kerja, perencanaan tidak akurat, kerugian usaha anak perusahaan, dan penurunan nilai kontrak dalam adendum karena tidak dipenuhinya komitmen pemberi kerja. 18.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AK (Persero) Tbk., proyek di Qatar Tahun 2006 s.d. 2009 merugikan PT AK senilai USD7.54 juta atas dicairkannya jaminan pelaksanaan (performance bond) oleh Al Habtoor. • Di PT AK (Persero) Tbk., ketidakcermatan perhitungan rencana anggaran biaya dan kelemahan kontrak Proyek The Capital Residence Tahun 2004 s.d. 2009 mengakibatkan PT AK mengalami kerugian senilai Rp39,70 miliar.

18.12

18.13

193 • Di PT NK (Persero), kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan sembilan proyek pada divisi wilayah I dan III mengakibatkan PT NK mengalami kerugian senilai Rp29,20 miliar. Penyebab 18.15 Kasus-kasus kerugian negara/perusahaan pada umumnya terjadi karena • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; • Kepala Proyek dan Manajemen PT AK lalai karena tidak mengelola proyek secara memadai dan tidak mentaati RKAP atau SK Direksi tentang kewenangan investasi; dan • Kepala Proyek, Biro Teknik dan Pemasaran PT NK dalam menyusun perencanaan tidak mempertimbangkan kecukupan data teknis, kondisi alam, serta lingkungan di lokasi proyek dan pengendalian pelaksanaan proyek pada tingkat wilayah dan pusat tidak berfungsi. Rekomendasi 18.16 Terhadap kasus kerugian negara/perusahaan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada • Menteri Negara BUMN selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi dan Direksi PT AK menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi dan komisaris atas kelalaian pengelolaan proyek; dan • Direksi PT NK untuk mempertanggungjawabkan kepada RUPS atas kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan proyek serta merevisi dan melengkapi prosedur perencanaan dan pengendalian proyek yang sudah ada.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan
18.17 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan yaitu adanya aset tidak diketahui keberadaannya, piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih, dan lain-lain.

18.18

194 18.19 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 31 kasus mengenai potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp973,66 miliar dan USD53.15 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp1,46 miliar; • sebanyak 22 kasus piutang/pinjaman atau dana yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp781,92 miliar dan USD20.70 juta; dan • sebanyak 8 kasus lain-lain potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp190,26 miliar dan USD32.45 juta seperti penerimaan pendapatan sewa lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya, penetapan harga jual lebih rendah, dan harga beli lebih tinggi dari yang seharusnya dalam kontrak, dan penyertaan modal tidak memberikan hasil. 18.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT, penerapan harga jual urea melt dan ammonia serta harga beli carbamate dan steam condensate Tahun 2008 dan 2009 tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak sehingga berpotensi merugikan PT PKT minimal senilai USD30.92 juta. • Di PT AK (Persero) Tbk., piutang PT AK Tahun 2009 atas pelaksanaan proyek di Qatar berpotensi tidak tertagih senilai USD20.25 juta. • Di PT AP II (Persero), pendapatan sewa dalam pelaksanaan kontrak build, operate & transfer (BOT) dengan PT Sanggraha Daksa Mitra (PT SDM) Tahun 1996 s.d. 2007 diterima lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya diterima sehingga berpotensi merugikan PT AP II minimal senilai Rp139,57 miliar. Penyebab 18.21 Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan pada umumnya disebabkan • Direksi PT PKT dalam melakukan kerja sama/jual beli dengan PT DSM Kaltim Melamin (PT DKM) tidak memperhatikan ketentuan penetapan harga yang telah ditentukan dalam kontrak; • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; dan • Direksi PT AP II tidak cermat dalam menyusun klausul akhir masa perjanjian dan memberikan tarif kompensasi pemanfaatan lahan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku.

195 Rekomendasi 18.22 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan, BPK telah merekomendasikan kepada • Direksi PT PKT untuk mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas tidak diperhatikannya kontrak jual beli dengan PT DKM; • Menteri Negara BUMN selaku RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi, dan Direksi PT AK untuk menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; dan • Direksi PT AP II untuk mengadendum kontrak BOT dengan PT SDM terutama mengenai tarif sewa tanah, mekanisme perhitungan konsesi, dan kewajiban PT AP II membeli 100% nilai pasar aset gedung yang tidak lazim pada kontrak BOT.

Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan
18.23 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara dhi. perusahaan tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/perusahaan meliputi penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/ perusahaan dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai kekurangan penerimaan negara/perusahaan senilai Rp3,20 miliar, terdiri atas • sebanyak 4 kasus penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/perusahaan senilai Rp2,91 miliar; dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp286,19 juta. 18.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), PT AP II tidak melakukan pemeriksaan/pengujian secara rutin atas laporan penjualan bruto PT SDM Tahun 2004 dan 2005 dalam pelaksanaan kontrak build, operate, and transfer (BOT) dengan PT SDM sehingga PT AP II berpotensi kehilangan pendapatan dari omzet penjualan yang tidak dilaporkan oleh PT SDM senilai Rp1,38 miliar.

18.24

18.25

196 • Di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system Tahun 2006 di Bandara Soekarno-Hatta terlambat selama 109 hari sehingga PT AP II kurang mengenakan denda keterlambatan kepada PT Angkasa Pura Schipol (PT APS) senilai Rp1,18 miliar. • Di PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2008 di Plant Jakarta tidak sesuai ketentuan sehingga PT KF tidak dapat mengenakan denda atas keterlambatan penyerahan pekerjaan senilai Rp235,36 juta dan penerimaan negara atas PPh 23 jasa konsultan dan jasa konstruksi senilai Rp194,34 juta. 18.27 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp91,84 juta. Penyebab 18.28 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) tidak tegas melakukan pengawasan atas operasional, serta memverifikasi kebenaran laporan penjualan kotor PT SDM; • Direksi PT AP II (Persero) tidak tepat dalam melakukan perhitungan denda keterlambatan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan • kebijakan Direksi PT KF (Persero) Tbk. memberikan persetujuan perpanjangan waktu bagi kontraktor dan Bagian Keuangan PT KF (Persero) Tbk. lalai tidak memungut dan menyetorkan PPh 23. Rekomendasi 18.29 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) mengintensifkan pengawasan operasional dan memeriksa kebenaran omzet bruto PT SDM sesuai kontrak serta menagih kekurangan konsesi yang menjadi hak perusahaan; • Direksi PT AP II (Persero) menghitung denda keterlambatan dan menagihkannya kepada PT APS; dan • Direksi PT KF (Persero) Tbk. segera menagih PPh 23 dan denda keterlambatan kepada rekanan.

Administrasi
18.30 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan

197 aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian, tidak mengurangi hak negara/perusahaan (kekurangan penerimaan), tidak menghambat operasional/program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. 18.31 Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid), proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll., dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid); • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara); • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.; dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 18.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), AP II tidak mematuhi ketentuan tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas jasa pelayanan meteorologi Tahun 2007 dan 2008 pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengakibatkan penerimaan negara terlambat disetor senilai Rp58,14 miliar. • Di PT AP II (Persero), AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara (HS) Bandung tidak mematuhi ketentuan pengadaan barang/jasa dan peraturan perpajakan dalam pengadaan rumah dinas Tahun 2008 senilai Rp1,40 miliar sehingga harga pembelian rumah dinas tersebut diragukan kewajarannya. • Di PT KF (Persero) Tbk., pembayaran biaya operasional senilai Rp152,56 juta dalam kerjasama outsourcing salesman antara PT Kimia Farma Trading & Distribution (PT KFTD) Cabang Surabaya dengan CV Visakom Tahun 2007 s.d. 2008 tidak didukung bukti-bukti yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.

18.32

198 Penyebab 18.34 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) belum sepenuhnya menjalankan ketentuan yang mewajibkan penyetoran PNBP ke kas negara tepat waktu; • Pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan rumah dinas tidak mematuhi ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa serta tata cara pembayaran; dan • Kepala PT KFTD Cabang Surabaya periode saat itu mengabaikan perjanjian dengan CV Visakom dan tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian intern yang memadai dalam membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Rekomendasi 18.35 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) menghitung kembali seluruh kewajiban PNBP dan menyetorkan PNBP tersebut ke kas negara; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS meminta pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris AP II atas proses pengadaan rumah dinas, Direksi AP II mengenakan sanksi kepada GM Cabang HS dan tim pengadaan rumah dinas tersebut; dan • Direksi PT KFTD memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala PT KFTD Cabang Surabaya dan mempertanggungjawabkan transaksi bisnis dengan CV Visakom kepada RUPS.

Ketidakhematan
18.36 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakhematan, di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system (FIS) Tahun 2004 s.d. 2007 di Bandara Soekarno-Hatta tidak sesuai ketentuan sehingga biaya pembangunan FIS lebih tinggi senilai Rp1,24 miliar. Penyebab 18.38 Kasus ketidakhematan tersebut disebabkan karena keputusan Direksi untuk melakukan penunjukkan langsung kepada APS sebagai system integrator pekerjaan pembangunan FIS kurang memperhatikan prinsip efisiensi.

18.37

199 Rekomendasi 18.39 Atas kasus ketidakhematan, BPK telah merekomendasikan agar Menteri Negara BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT AP II atas pengadaan FIS yang dilakukan secara penunjukkan langsung dan biaya pengadaan yang lebih tinggi minimal senilai Rp1,24 miliar.

Ketidakefektifan
18.40 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai, serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai ketidakefektifan yaitu PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2009 di Plant Jakarta senilai Rp11,99 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyebab 18.42 Kasus ketidakefektifan terjadi karena Direksi PT KF (Persero) Tbk. tidak melakukan perencanaan yang matang dalam melaksanakan investasi fasilitas produksi obat ARV. Rekomendasi 18.43 Terhadap kasus ketidakefektifan tersebut, BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KF (Persero) Tbk. memanfaatkan fasilitas produksi obat ARV yang telah ada secara optimal dan memberikan sanksi kepada panitia pelaksana pembangunan gedung ARV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

18.41

18.44

200 .

Banggai. Mojokerto. Morowali. aktiva. Lombok Barat.201 BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum 19. Karangasem. Hasil Pemeriksaan 19. • pengelolaan pendapatan. terdiri atas • sebanyak 27 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Poso. Tolitoli. biaya. Bukittinggi. dan Muara Enim.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.1 Dalam Semester II Tahun 2010. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional (pelaksanaan kegiatan pendapatan. Buleleng. • sebanyak 101 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Kediri. Oleh karena itu.4 Hasil pemeriksaan atas operasional PDAM menunjukkan adanya 177 kasus kelemahan SPI. Buol. Jayapura. Sistem Pengendalian Intern 19. dan efektif. Polewali Mandar. belanja. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Tujuan Pemeriksaan 19. Madiun. piutang. dan • operasi perusahaan yang meliputi produksi. Denpasar. yaitu PDAM Kota Pasuruan. ekonomis. dan investasi dilaksanakan sesuai dengan ketetentuan yang telah ditetapkan. dan utang) pada 23 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Blitar. dan • sebanyak 49 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. PDAM Kabupaten Banyuwangi. Tojo Unauna. Banjar. distribusi. Makassar.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. . Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. investasi dan ekploitasi air bersih telah dilakukan secara efisien. Donggala.

Provinsi Papua.34 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 19.5 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. . • Di PDAM Kabupaten Jayapura. Provinsi Sulawesi Tengah. aset tetap belum disajikan sesuai dengan standar sehingga terdapat lebih catat senilai Rp3. serta melakukan koreksi atas kesalahan pencatatan.64 miliar karena umur jaringan pipa transmisi dan distribusi sudah sangat tua. serta ketidakefektifan meliputi 227 kasus senilai Rp73. serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 40. potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM. Penyebab 19.50 juta. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 39.1. kekurangan penerimaan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 19. memberikan sanksi dan teguran kepada manajemen dan pelaksana kegiatan yang lalai dan tidak cermat.202 19.8 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM. serta ketidakmampuan manajemen PDAM untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah pusat. ketidakhematan. Provinsi Jawa Timur. administrasi.67 miliar belum diselesaikan.60 miliar dan kurang catat senilai Rp74. meningkatkan pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. • Di PDAM Kabupaten Donggala. belum maksimalnya pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. Rekomendasi 19.7 Terhadap temuan kelemahan SPI tersebut.6 Permasalahan tersebut di antaranya terjadi karena belum maksimalnya upaya manajemen untuk melakukan penggantian pipa jaringan transmisi dan distribusi yang sudah tua dan penggantian meter air pelanggan yang telah rusak. terdapat pokok dan bunga pinjaman kepada pemerintah pusat senilai Rp48. tingkat kehilangan air pada Tahun 2008 dan 2009 melebihi batas toleransi senilai Rp8. • Di PDAM Kabupaten Mojokerto. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa untuk menyusun langkah-langkah mengurangi kebocoran. ketidakcermatan dan kelalaian pelaksana kegiatan.

11 19. dan barang. pemahalan harga dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. 19.97 73. Kelompok temuan kerugian daerah di PDAM di antaranya meliputi pengadaan barang/jasa fiktif.10 Kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.269. • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp865. Selain itu juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.823.203 Tabel 19.14 6.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM No.97 juta. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Kerugian Daerah pada PDAM 19.96 13.50 juta. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.79 juta. spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.548. • sebanyak 4 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp220. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.85 46. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 43 22 26 66 28 42 227 3.1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.893. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 43 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah senilai Rp3.26 miliar.50 juta.12 . terdiri atas • sebanyak 2 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp102.809.33 19. surat berharga.345. • sebanyak 1 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp21.40 2.

serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. • Di PDAM Kabupaten Karangasem. Penyebab 19. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menagih dan menyetorkan .25 juta. PNS. dana representasi tersebut masih disimpan di brankas. wakil bupati. Rekomendasi 19. direksi memberikan tunjangan hari raya Tahun 2009 dan 2010 kepada bupati. direksi.26 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp241. 19. dan • sebanyak 21 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1.16 Terhadap kasus kerugian daerah yang terjadi di PDAM tersebut. • sebanyak 5 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp145. dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan air bersih/air minum Tanjung Enim.72 juta.13 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.74 juta.61 juta. Provinsi Bali.29 juta. yaitu di antaranya dari PDAM Kabupaten Banyuwangi senilai Rp81. tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. Pencairan dana representasi direktur telah dibukukan dan diakui sebagai biaya dalam Laporan Keuangan PDAM Tahun Buku 2009. dan instansi vertikal Kabupaten Karangasem yang tidak sesuai ketentuan senilai Rp393. Gunung Megang dan Kota Muara Enim Tahun 2009 terdapat kekurangan volume pekerjaan galian dan urugan kembali serta pemasangan pipa yang berindikasi merugikan keuangan PDAM Lematang Enim senilai Rp170. Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Jawa Timur. pegawai. • Di PDAM Lematang Enim.73 juta. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp7. dewan pengawas.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena manajemen dan pelaksana kegiatan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.62 miliar. pertanggungjawaban dana representasi Direksi PDAM Kabupaten Banyuwangi tidak benar senilai Rp90. • Di PDAM Kabupaten Banyuwangi. 19.25 juta.90 juta.204 • sebanyak 8 kasus pengunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp280.14 Dari 43 kasus kerugian daerah/kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp3.62 juta dan PDAM Kabupaten Kediri senilai Rp58.

52 miliar atas kegiatan pengadaan barang pada Tahun 2009 dan 2010 tidak dikenakan sehingga risiko yang mungkin terjadi pada pelaksanaan pengadaan barang tidak terjamin. memberikan teguran dan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.65 miliar.205 kerugian yang terjadi ke kas daerah/PDAM. Provinsi Sulawesi Tengah. 30 Juni 2010 tidak dilaksanakan secara optimal senilai Rp1.19 . jaminan pelaksanaan senilai Rp2. yang nyata dan pasti jumlahnya. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp575.87 juta. terdapat tunggakan tagihan penjualan air Tahun 1993 s.52 juta. 19. terdiri atas • sebanyak 2 kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp17. dan • sebanyak 15 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp10.39 juta.d. • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp2.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau PDAM berupa uang. Potensi Kerugian Daerah pada PDAM 19.d. • Di PDAM Lematang Enim.85 miliar.18 19. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM meliputi permasalahan rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan hasil pengadaan yang rusak selama masa pemeliharaan. Provinsi Sumatera Selatan. • Di PDAM Kabupaten Poso. surat berharga.52 miliar. 19.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 22 kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah di PDAM senilai Rp13.89 miliar. penagihan piutang ragu-ragu dan tak tertagih Tahun 2009 s. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp119. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. 30 Juni 2010 kepada masyarakat yang belum tertagih senilai Rp1. dan barang. Provinsi Sulawesi Tengah. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. aset dikuasai pihak lain secara tidak sah.17 miliar. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.

22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana kegiatan tidak tegas dan cermat dalam melaksanakan ketentuan. Kekurangan Penerimaan 19. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. lebih intensif dalam melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah berkenaan dengan pelunasan piutang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 26 kasus mengenai kekurangan penerimaan senilai Rp2.07 miliar.24 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.25 19.41 juta.89 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp8. 19. belum ada aturan yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi pelanggan yang lalai. serta menegur pelaksana dan manajemen untuk lebih cermat dalam melaksanakan tugasnya.60 juta oleh PDAM Kabupaten Banyuwangi. PDAM tetapi tidak atau belum masuk ke kas PDAM karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.26 . Penyebab 19. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan. pelaksana kegiatan belum optimal dalam melakukan penagihan. terdiri atas • sebanyak 22 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp2.05 juta. meningkatkan pengawasan dan pengendalian. dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp108. membuat aturan tentang pemberian sanksi kepada pelanggan yang menunggak. Rekomendasi 19. penggunaan langsung penerimaan daerah. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian di PDAM tersebut.21 Dari 22 kasus potensi kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp13.82 miliar.206 19. serta kurangnya pengawasan oleh manajemen. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp643.

tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah atau PDAM. • Di PDAM Kota Makassar. belum menyetorkan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp329. Penyebab 19. Rekomendasi 19. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.31 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.59 juta. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. pembentukan cadangan 19. potongan tunjangan perusahaan dan tunjangan transport sejak Juli 2003 s. Administrasi 19. Selain itu. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.02 miliar tidak dikembalikan ke kas PDAM serta sebagiannya dipinjamkan ke berbagai pihak dan digunakan untuk kegiatan tidak terkait operasional PDAM.28 Dari 26 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp2. belum dipungut dan disetorkan ke kas daerah PPN atas pendapatan non air Tahun 2009 senilai Rp512. kekurangan penerimaan. tidak mengurangi hak negara/daerah/PDAM. Provinsi Sulawesi Selatan. November 2010 senilai Rp639. tidak menghambat program entitas. Provinsi Papua.04 juta pada PDAM Kota Makassar. • Di PDAM Kabupaten Jayapura. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah/PDAM. 19. Provinsi Sulawesi Selatan. Penyimpangan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.82 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp17.d. serta memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.41 juta belum disetorkan ke kas daerah.207 19. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan. • Di PDAM Kota Makassar.32 .29 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena ketidakcermatan dan kelalaian manajemen dalam pelaksanaan tugas.

Provinsi Sulawesi Tengah. • sebanyak 15 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 2 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. kewajiban pembayaran hutang PDAM Poso kepada pemerintah pusat senilai Rp7. dan distribusi air bersih yang dibiayai dari Program Dana Stimulus TA 2009 pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kabupaten Donggala senilai Rp9. perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 2 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dan • sebanyak 7 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.55 miliar tidak didukung dengan serah terima antara Pemerintah Kabupaten Donggala dan PDAM. penerimaan aset berupa pembangunan instalasi produksi. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).208 piutang.33 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 66 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. • Di PDAM Kabupaten Poso. 19. transmisi. • Di PDAM Kabupaten Donggala. Provinsi Sulawesi Tengah. 19.27 miliar berlarut-larut sehingga tunggakan biaya bunga dan denda yang . • sebanyak 1 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. • sebanyak 11 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/ perusahaan.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang. perhitungan amortisasi tidak sesuai ketentuan. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.

Rekomendasi 19. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Provinsi Sulawesi Selatan. bukti pertanggungjawaban biaya promosi Tahun 2009 dan 2010 menunjukkan biaya promosi digunakan untuk kerjasama sponsorship dengan Persatuan 19.39 . • Di Kota Makassar. Provinsi Sulawesi Selatan. Kelompok temuan ketidakhematan pada pemeriksaan operasional PDAM terjadi karena adanya pemborosan uang perusahaan. • Di PDAM Kabupaten Kediri. • Di PDAM Kota Makassar.209 harus dibayar semakin besar. Penyebab 19.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya koordinasi antara manajemen dengan pemerintah pusat dan pemerintah derah. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 28 kasus ketidakhematan senilai Rp46.36 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.10 miliar.79 miliar. BPK telah merekomendasikan agar manajemen dan pelaksana kegiatan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.37 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. biaya pengadaan dan pemasangan pipa pengantar (transmisi) menuju pabrik gula PT Makassar Te’ne Tahun 2008 lebih mahal dari harga pasar dan sisa pipa tidak terpasang yang harus dibeli oleh PDAM Kota Makassar mengakibatkan pemborosan keuangan perusahaan senilai Rp2.38 19. Kondisi cash flow PDAM Poso hanya cukup untuk menutup biaya operasional bulanan. manajemen dan pelaksana kegiatan tidak cermat dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku. serta manajemen melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.34 miliar. Selain itu. Ketidakhematan 19. Provinsi Jawa Timur. penyertaan Pemerintah Kabupaten Kediri ke PDAM Kabupaten Kediri juga belum ditetapkan statusnya senilai Rp2. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.80 miliar yaitu kasus pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga. penyertaan modal pemerintah pusat ke PDAM Kabupaten Kediri belum ditentukan statusnya senilai Rp8. serta manajemen tidak mampu mengelola perusahaan dan memenuhi kewajiban perusahaan kepada pemerintah pusat. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

terdiri atas • sebanyak 7 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukkan senilai Rp3.36 miliar.78 miliar tumpang tindih dengan pemberian tunjangan pelaksana. Rekomendasi 19. kegiatan penanggulangan kebocoran belum berjalan secara efektif serta pelaksana kegiatan lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.40 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena manajemen lalai dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.41 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. Ketidakefektifan 19. pemberian tunjangan representasi kepada pegawai Tahun 2009 s. Penyebab 19. 19.54 miliar.90 miliar dan bantuan kepada PSM tanpa perjanjian kerjasama sponsorship senilai Rp334. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.42 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Di samping membantu PSM dari anggaran biaya promosi. Provinsi Bali.44 . menghentikan pembayaran tunjangan representasi dan penganggaran biaya promosi. pada Tahun 2010 PDAM juga membantu PSM senilai Rp42.48 miliar.d. • sebanyak 1 kasus pemanfaataan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp1.43 19.210 Sepakbola Makassar (PSM) senilai Rp2. BPK merekomendasikan agar entitas yang diperiksa dalam pelaksanaan tugas memperhatikan ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 42 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp6. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan. memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. • Di PDAM Kota Denpasar. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. serta melakukan upaya penanggulangan kebocoran. Juni 2010 senilai Rp1.50 juta dari anggaran belanja bantuan.00 juta.

• Di PDAM Kabupaten Tolitoli.47 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.82 juta. pengujian yang sudah dilaksanakan belum mencakup keseluruhan sumber air yang digunakan. Juni 2010 digunakan tidak sesuai dengan tujuan penggunaannya senilai Rp1. Akibatnya. pemeriksaan kualitas air belum dilaksanakan secara rutin dan berkala.48 . 19. • Di PDAM Kabupaten Donggala. Provinsi Sulawesi Tengah.62 miliar.211 • sebanyak 27 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp1. air yang didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat dijamin aman bagi kesehatan masyarakat atau konsumen. BPK telah merekomendasikan agar memberi sanksi kepada manajemen dan pelaksana atas kelalaiannya. serta melakukan negosiasi untuk meninjau kembali isi perjanjian sehingga menguntungkan kedua belah pihak.62 miliar. dan • sebanyak 6 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp68.45 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 19. Provinsi Sulawesi Tengah. Rekomendasi 19.d. Selain itu. cadangan dana meter Tahun 2009 s.46 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kelalaian manajemen dan pelaksana dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud. Penyebab 19.

212 .

3 Cakupan pemeriksaan atas operasional lima RSUD adalah senilai Rp854. Objek pemeriksaan tersebut adalah RSUD Pirngadi Medan.30% dari cakupan pemeriksaan. dan RSUD Prof. Tujuan Pemeriksaan 20. Hasil Pemeriksaan 20. Oleh karena itu. W. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp19. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional rumah sakit umum daerah (RSUD) dengan jumlah objek pemeriksaan sebanyak lima RSUD. RSUD Dr. RSD Mayjen H.5 Hasil pemeriksaan atas operasional RSUD menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan • menilai apakah pengelolaan operasional RSUD terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan belanja telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.74 miliar.1 Pada Semester II Tahun 2010. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Adnaan WD Payakumbuh. 20. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk • menilai tingkat efektivitas sistem pengendalian intern (SPI) atas kegiatan operasional RSUD. H. W. serta 5 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Z.58 miliar dari realisasi anggaran senilai Rp989. Dr. . pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim askes terlambat diklaim senilai Rp15. RSUD Dr. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.213 BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah 20. Dr. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Ryacudu Kotabumi. M. Z. Kupang. Johannes Kupang. Johannes. 27 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.68 miliar atau 2.33 miliar. • Di RSUD Prof.

6 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pimpinan dan dokter RSUD lalai dalam mematuhi ketentuan dan peraturan di lingkungan RSUD. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan RSUD. Tabel 20. Abdul Moeloek. dan ketidakefektifan meliputi 61 kasus senilai Rp19.95 miliar tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010.80 28.531.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini.1. ketidakhematan. satuan pengawas intern rumah sakit belum melaksanakan tugas secara optimal.60 70.35 6. administrasi.214 • Di RSUD Dr.977. Sumatera Barat. kekurangan penerimaan. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 42 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 43. . sisa kas pengelolaan per 31 Agustus 2010 senilai Rp1. Adnaan WD Payakumbuh.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah (atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD). Rekomendasi 20. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD No.072. Kelompok Temuan Jml Kasus 10 1 17 19 1 13 Jumlah 61 Nilai (juta Rp) 3.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.47 9. Bandar Lampung. potensi kerugian daerah (atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).680. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan dan meningkatkan pengawasan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 20. Penyebab 20.68 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 20.34 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian yang terjadi pada RSUD Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada RSUD Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan 20.10 19.1. • Di RSUD Dr. H.

53 miliar. surat berharga. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp102. Pirngadi Medan. Ryacudu Kotabumi.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.69 juta. M. 20. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp101. H. dan • sebanyak 1 kasus kerugian lainnya yang merupakan kerugian yang belum di proses TGR senilai Rp13.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pemeriksa barang tidak cermat dalam menjalankan tugasnya dan direktur RSUD lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. dan barang.11 20.63 miliar.67 juta. • Di RSUD Dr.53 miliar.52 juta oleh rekanan pada RSUD Dr. kelebihan pembayaran pada pelaksanaan pengawasan pekerjaan lanjutan pembangunan gedung rawat inap kelas III TA 2009 senilai Rp412. Abdul Moeloek Bandar Lampung. 20. • sebanyak 2 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.52 juta.10 Kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.215 Kerugian Daerah/Kerugian yang Terjadi pada RSUD 20.24 juta. • Di RSD Mayjen H.61 miliar.14 Dari sejumlah kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada RSUD di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 10 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. Penyebab 20. • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp676. dan spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.87 juta.12 . yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp23. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. barang hasil pengadaan alat kesehatan dan kedokteran TA 2009 tidak memiliki izin edar senilai Rp2. 20.

dan • pimpinan entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas RSUD senilai Rp2.16 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD tersebut. dan barang. Penyebab 20.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.216 Rekomendasi 20.35 juta. RSUD tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan.35 juta tersebut. BPK telah merekomendasikan agar • kerugian yang terjadi disetor ke kas RSUD melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai ketentuan yang berlaku. Adnaan WD Payakumbuh untuk lebih proaktif dalam melakukan penagihan piutang. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada RSUD 20.22 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. Adnaan WD Payakumbuh. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. surat berharga. Kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp28.18 20.20 Kasus-kasus tersebut terjadi karena RSUD kurang optimal dalam melakukan penagihan.23 .38 juta oleh pasien RSUD Dr. yang nyata dan pasti jumlahnya. Rekomendasi 20. 20.21 Terhadap kasus tersebut. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis Direktur Utama RSUD Dr. 20.19 Kekurangan Penerimaan 20. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Adnaan WD Payakumbuh menunggak sampai dengan Juni 2010 senilai Rp28. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD yaitu piutang pasien rawat inap pada RSUD Dr.

M.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana tidak cermat dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas pengelolaan retribusi pelayanan rumah sakit. Administrasi 20. H.52 miliar. 20. terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp5.28 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel.44 miliar belum dibayar dan belum diperhitungkan denda minimal senilai Rp161. • Di RSUD Dr. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. tagihan Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) Pemerintah Kota Bandar Lampung TA 2009 dan 2010 senilai Rp3. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas penerimaan RSUD. dan penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Pelaksana lalai dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas penggunaan langsung dari penerimaan RSUD. • Di RSD Mayjen H. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). melaporkan penerimaan dan pengeluaran secara bruto.28 juta.07 miliar. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp549.24 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 17 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp6.217 20. penerimaan dari retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 dan penerimaan dari kegiatan tes kesehatan TA 2009 dan 2010 digunakan langsung masing-masing senilai Rp184. Ryacudu Kotabumi.63 juta.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.39 juta dan Rp364. Abdul Moeloek Bandar Lampung.02 juta. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. . Rekomendasi 20. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan entitas yang diperiksa segera menagih pokok dan bunga rekening bank atas dana jamkesmasda kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung. Penyebab 20.

• sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Ketidakhematan 20.30 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana RSUD lalai dalam memedomani peraturan dan pimpinan RSUD lemah dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. dan • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di RSUD Dr. • Di RSUD Prof. Abdul Moeloek Bandar Lampung.29 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 19 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi. pertambangan. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pelaksana RSUD yang lalai dan lebih meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. H. Johannes Kupang. Penyebab 20. W. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. . • sebanyak 5 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pelayanan kesehatan TA 2009 senilai Rp3. 20. Dr. dll. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel. perpajakan.32 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama.95 miliar. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.218 20.61 miliar dilaksanakan mendahului kontrak. Rekomendasi 20.33 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. Z. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim Askes TA 2009 dan Semester I TA 2010 terlambat disetor ke kas daerah senilai Rp16.

• sebanyak 2 kasus Pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp8. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.46 juta. dan • sebanyak 2 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp159. yaitu pengadaan obat TA 2009 di instalasi farmasi RSUD Dr. terdiri atas • sebanyak 4 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp944. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.47 juta. Rekomendasi 20. Penyebab 20. dan PPTK untuk melakukan pengadaan obat sesuai dengan formularium RSUD.35 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kepala instalasi farmasi.219 20.00 juta. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis direktur utama RSUD untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengadaan obat di lingkungan RSUD. dan PPTK tidak mematuhi formularium dalam pengadaan obat. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.39 . pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Adnaan WD Payakumbuh tidak sesuai formularium senilai Rp70. serta direktur utama lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan RSUD. BPK juga telah merekomendasikan agar direktur utama menegur kepala instalasi farmasi. Selain itu. PPK. PPK. Ketidakefektifan 20.34 Kelompok temuan ketidakhematan meliputi penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar.38 20. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp9.97 miliar.37 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. 20.87 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan.36 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.

Johannes Kupang senilai Rp495. Rekomendasi 20. 20.43 . BPK telah Terhadap merekomendasikan agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku.41 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.220 20. W.42 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Z. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Dr.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah pengadaan software dan hardware sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) Tahap II pada RSUD Prof. Penyebab 20.66 juta belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan.

penempatan dana dan/atau investasi lainnya. Luwuk. . investasi. PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov. Tujuan Pemeriksaan 21. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional bank pada 10 bank daerah. kegiatan kredit. dan Parigi Moutong. dan PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang di Palu. yaitu Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat. serta pengadaan barang dan jasa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan keuangan tertentu. Bantul. PT BPD Nusa Tenggara Timur. Sleman. Tolitoli. • entitas yang diperiksa dalam melaksanakan pengelolaan pendapatan dan biaya. Sulawesi Utara. PT Bank Nusa Tenggara Barat. Poso.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Oleh karena itu.221 Bab 21 Operasional Bank Daerah 21. BPD Jawa Tengah. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 21. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.4 Salah satu tujuan pemeriksaan atas operasional bank adalah untuk menilai SPI dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. PD BPR Kab. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. serta penyelesaian kredit macet atau non performing loan (NPL). Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan • entitas yang diperiksa telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.1 Pada Semester II Tahun 2010.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan sumber dana. PD BPR Kab. Buol. Hasil Pemeriksaan 21. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Tanggo Rajo. PT Bank Kalimantan Tengah.

Bantul. dan • sebanyak 44 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. pengelolaan jaminan kredit/agunan senilai Rp4. tidak adanya SOP mengenai penatausahaan asuransi dan lemahnya pengawasan. • Di PT Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan asuransi. membuat SOP mengenai penatausahaan asuransi.7 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena tidak adanya fitur nilai taksasi dalam sistem online integrated banking systems (OLIBS) yang digunakan sehingga nilai taksasi jaminan tidak diperhitungkan di dalam perhitungan PPAP. Rekomendasi 21.5 Hasil pemeriksaan atas operasional bank menunjukkan adanya 91 kasus kelemahan SPI.8 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. serta ketidakefektifan meliputi 55 kasus senilai . pelaksana tidak melakukan pengamanan yang memadai atas jaminan yang diserahkan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.56 miliar tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian. selisih pencatatan per 30 September 2010 senilai Rp1. administrasi. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan peringatan kepada pihak yang lalai tidak memedomani ketentuan yang berlaku. Penyebab 21. ketidakhematan. kekurangan penerimaan. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. melakukan pengecekan fisik pada saat menerima agunan. terdiri atas • sebanyak 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • Di Bank Sulawesi Utara. • Di PD BPR Kab. • sebanyak 41 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.9 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. serta pengendalian oleh atasan langsung. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 21. memerintahkan bagian sistem informasi untuk menambahkan fitur dalam sistem OLIBS yang memungkinkan penginputan nilai taksasi jaminan dalam rangka perhitungan PPAP. 21.222 21.04 miliar dalam pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit karena tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang.

Tabel 21. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.497. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.39 2. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tujuh kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian yang terjadi pada bank daerah senilai Rp1.1.86 juta.49 miliar.416.11 Kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 45 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 46.1.223 Rp58.13 .98 juta.10 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut diuraikan sebagai berikut.764. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank No. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.22 21. 21.633.50 13.41 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 21.52 38.727.91 58. • sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp90.12 Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah di antaranya meliputi permasalahan kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp775. surat berharga. 21. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.88 1. dan barang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Bank Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 7 15 8 18 1 6 55 1.792.

62 juta. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp178. . pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut yang diselesaikan pada Tahun 2009 tidak sesuai kontrak mengakibatkan kerugian atas kekurangan fisik pekerjaan senilai Rp775. dan • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang macet senilai Rp235. Penyebab 21. 21. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung.15 Terhadap kerugian yang telah terjadi pada bank daerah tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas PT Bank Kalimantan Tengah senilai Rp540 ribu yaitu oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas tidak sesuai ketentuan.87 juta. 21.224 • sebanyak 2 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp115.98 juta. penyaluran pinjaman tanpa melalui prosedur perkreditan perbankan.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena ketidakmampuan rekanan dalam menyelesaikan pembangunan gedung.17 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut. memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai dalam melaksanakan tugas. Rekomendasi 21. BPK telah merekomendasikan agar direksi mengembalikan kerugian yang terjadi di bank daerah. pemberian tunjangan transport kepada pejabat/pegawai yang melaksanakan kegiatan perjalanan dinas pada Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan keputusan direksi mengakibatkan kerugian senilai Rp211. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. • Di PT Bank Sulawesi Utara. kelalaian dalam melaksanakan perhitungan dan pembayaran tunjangan transpor.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.00 juta. • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp101.70 juta.34 juta.

03 miliar. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. • Di PT Bank Sulawesi Tengah.83 miliar.50 juta. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah meliputi permasalahan kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.225 Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.18 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Selain itu. 21. surat berharga. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 15 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp38.23 miliar. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. dan barang.46 miliar mengakibatkan PT Bank Sulteng sampai dengan 22 November 2010 tidak memperoleh jaminan yang memadai atas pengembalian dana kredit yang telah disalurkan dan berpotensi mengalami kerugian. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp445. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp1. 21.20 . pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.19 21. • sebanyak 2 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.11 miliar.63 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya. jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit senilai Rp3. • sebanyak 11 kasus piutang/pinjaman yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp33. kredit hapus-buku tidak didukung dengan dokumen yang lengkap mengakibatkan potensi kredit tidak dapat tertagih sejak Tahun 1987 pada KCU dan Kantor Cabang Parigi minimal senilai Rp15. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp3.

226 Penyebab 21.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.27 . Rekomendasi 21.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan baik dalam pemberian kredit maupun pelunasannya.25 21. pajak penghasilan atas premi asuransi purna jabatan kepada direksi dan dewan komisaris Tahun 2009 dan 2010 belum diperhitungkan dan disetorkan ke kas negara senilai Rp1. 21.12 juta oleh rekanan BPD Jawa Tengah.75 juta. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi tegas kepada pihak yang tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan.79 miliar. 21. penyelesaian pembangunan gedung kantor Bank Jateng Cabang Slawi Tahun 2010 terlambat dari waktu yang telah ditetapkan dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp368. • Di PT Bank Sulut. bank daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah atau BUMD karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung.28 Atas kekurangan penerimaan tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas BPD Jawa Tengah dan kas daerah senilai Rp223.64 miliar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT BPD Jateng. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat delapan kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp2.26 21. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/bank daerah.24 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Kekurangan Penerimaan 21. memerintahkan para kepala cabang untuk melengkapi jaminan para debitur.

perpajakan. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung dan pemimpin kegiatan. dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). pengadaan barang inventaris/pekerjaan Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa yang berlaku. 21. • Di PD BPR Bank Sleman. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perbankan. Rekomendasi 21. prosedur penghapusan piutang macet TB 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisis yang memadai.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 21. Administrasi 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 18 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. • Di BPR Kabupaten Bantul.. dan perpajakan.31 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dll.227 Penyebab 21. • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. kemampuan rekanan pelaksana dalam melaksanakan kegiatan pembangunan gedung kantor tidak memadai. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa melakukan pemungutan dan penyetoran atas kekurangan penerimaan pajak dan denda keterlambatan. penyelesaian pekerjaan dan melakukan pembinaan. pertambangan.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut.32 . serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa lalai tidak memperhatikan ketentuan perpajakan.

fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. BPK telah merekomendasikan agar RUPS menetapkan standar fasilitas kendaraan dinas untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPD Bank Jateng. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Ketidakhematan 21.41 .72 miliar yang merupakan pemborosan keuangan BPD Jawa Tengah atas pemberian fasilitas kendaraan dinas kepada dewan komisaris dan direksi PT Bank Jateng pada Tahun 2010 yang belum sesuai ketentuan. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.228 Penyebab 21. dan kelalaian direktur utama dalam melakukan hapus buku kredit macet tidak memedomani peraturan yang telah ditetapkan.36 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan hasil pengadaan barang/jasa belum/tidak dapat dimanfaatkan. Kelompok temuan ketidakhematan meliputi permasalahan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga. dan direktur utama dalam penghapusbukuan agar memperhatikan prosedur yang berlaku. 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan senilai Rp1.39 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. 21.37 Ketidakefektifan 21. Rekomendasi 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai mematuhi ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 21.38 Kasus tersebut terjadi karena RUPS belum pernah menetapkan standar jenis dan jumlah kendaraan dinas bagi dewan komisaris dan direksi sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasar PT BPD Bank Jateng.40 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.35 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. Penyebab 21.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pengadaan tidak melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.

kinerja kantor cabang di Surabaya tidak mencapai target dan Tahun Buku 2010 (s. pengadaan aset tetap tanah yang dilakukan pada Tahun 2007 untuk Kantor Cabang Pembantu Grabag BPD Jawa Tengah senilai Rp484. Penyebab 21. • sebanyak 1 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.45 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.43 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 21. 31 Agustus 2010) rugi senilai Rp2. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. Rekomendasi 21. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp10. • Di PT BPD NTT di Surabaya.76 miliar. terdiri atas kasus mengenai • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp484. 21. BPK telah merekomendasikan agar direksi PT BPD NTT segera memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya dan BPD Jawa Tengah melakukan analisis kebutuhan atas lahan yang dibeli dan menindaklanjuti hasil analisis tersebut.42 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya enam ketidakefektifan senilai Rp13. • Di BPD Jawa Tengah.229 21.75 miliar.50 juta belum dimanfaatkan.52 miliar.52 miliar.d.50 juta.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya Direksi PT BPD NTT dalam memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya terutama SDM pemasaran bidang pendanaan dan perkreditan serta sarana prasarana kantor dan pejabat yang berwenang tidak konsisten melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.46 .

230 .

Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kalimantan Barat. terdapat kesalahan pencatatan pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2009 (audited) senilai Rp4. kegiatan investasi. pengendalian biaya. dan 33 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. PT Jatim Grha Utama. dan pengamanan aset. Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Kalimantan Timur. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada sebelas entitas yaitu PT Perkebunan Sumatera Utara. PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS).3 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. kerjasama kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama. dan kegiatan investasi. hasil pemeriksaan atas operasional BUMD dapat dikelompokkan pada temuan yang berkaitan dengan SPI dan temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.1 Pada Semester II Tahun 2010. dan PD Praja Karya Maluku. • memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengelolaan BUMD. PD Pasar Surya Jawa Timur.93 miliar sehingga nilai akun dalam laporan keuangan lebih catat dan kurang catat. Secara umum tujuan pemeriksaan pada sebelas BUMD tersebut untuk • menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengamanan kekayaan telah memadai. dan • mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap pengelolaan pendapatan.231 BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya 22. Provinsi Kepulauan Riau.5 . PD Natuna. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 22. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. sebagaimana disajikan dalam Lampiran 47. PT Pengembangan Investasi Riau. 22.4 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMD mengungkapkan adanya 87 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.2 Hasil Pemeriksaan 22. Perusda Karimun Kepri. 22. pengendalian biaya. 34 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Operasional BUMD mencakup pengelolaan pendapatan. • Di Perusda Natuna.

073.00 miliar dalam perjanjian kerjasama dengan PT WS pada pekerjaan pembangunan jalan akses Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum memberikan hasil. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 8 16 16 24 9 13 86 2. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pelaksana lebih cermat dalam melaksanakan tugas.13 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 22. terdapat investasi Tahun 2007 dan 2008 senilai Rp4.835.8 Selain kelemahan SPI.6 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pelaksana tidak bekerja secara cermat dan teliti.232 • Di Perusda Aneka Usaha. hasil pemeriksaan operasional BUMD juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. kurang cermat dalam membuat perjanjian dan melakukan pembayaran investasi.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. • Di PT Grha Utama.442. Kalimantan Barat.379. menyusun perjanjian kerjasama dan melakukan pembayaran investasi. serta lemahnya pengawasan dari pimpinan.133.402.Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD No. Penyebab 22.24 miliar. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 22. kekurangan penerimaan. Rekomendasi 22. Tabel 22.52 44.1. ketidakhematan dan ketidakefektifan. Perusda Aneka Usaha Tahun 2010 tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan operasional perusahaan dan kerugian akumulasi minimal mencapai senilai Rp5.1.73 15. serta pimpinan meningkatkan pengawasannya. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 86 kasus senilai Rp44.58 . Provinsi Jawa Timur.32 16.53 1.47 8. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 48 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 49. administrasi.

terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp1.9 Kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan berupa uang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. surat berharga.10 Kelompok temuan kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah) di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan. oleh rekanan kepada PT Jatim Grha Utama. • sebanyak 3 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp344.233 22. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp2.13 Dari total kasus kerugian yang terjadi pada perusda senilai Rp2. kekurangan volume fisik pekerjaan pada pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Modern Agribisnis (PIMA) Tahun 2010 senilai Rp1. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp122.35 juta.35 juta.07 miliar di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp1. dan • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp437. Penyebab 22. • Di PT Jatim Grha Utama. serta tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam menentukan tunjangan yang dapat diberikan kepada direksi. 22.11 .12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Jawa Timur. 22.16 miliar.16 miliar.07 miliar. 22. • Di PD Pasar Surya.71 juta.16 miliar.16 juta. Provinsi Jawa Timur. dan barang. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Daerah 22. kelebihan pembayaran tunjangan direksi pada TB 2009 dan 2010 (per 30 Juni 2010) senilai Rp437.14 Kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah terjadi karena pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.

BPK telah merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan lebih cermat melaksanakan tugasnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp15. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 22.17 22.79 juta. Kasus-kasus potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp485.76 miliar.00 juta pada PT B Airlines yang sudah ditutup tidak dapat dicairkan.16 Potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. terdapat aset yang dikuasai pihak lain TB 2009 yaitu deposito senilai Rp5. 22. surat berharga. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp100.234 Rekomendasi 22. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain.15 Terhadap kasus kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) tersebut.19 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.67 miliar. aset tidak diketahui keberadaannya.37 juta. dan barang. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya Rp417.44 miliar. terdiri atas • sebanyak 6 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp6. yang nyata dan pasti jumlahnya.49 juta. • Di PD Melati Bhakti Satya. Provinsi Kalimantan Timur.18 • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp7. pembelian aset yang berstatus sengketa. .30 miliar dan jaminan keagenan senilai Rp20. serta rekanan mempertanggungjawabkan kerugian yang terjadi dengan cara menyetor ke kas perusahaan daerah. senilai 22.

Rekomendasi 22. dan membuat SOP terkait dengan penatausahaan piutang/pinjaman serta segera menyelesaikan piutang/ pinjaman yang belum tertagih. • Di PT Perkebunan Sumatera Utara.83 miliar yang terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah senilai Rp16. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp16.23 22. terdapat pengelolaan piutang usaha tidak tertib sehingga menimbulkan saldo piutang usaha per 20 Juni 2010 tidak tertagih senilai Rp4.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.61 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada perusda agar membuat langkah-langkah untuk mengembalikan bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain.235 • Di Perusda Natuna. PT Perkebunan Sumatera Utara kurang 22. 22. Penyebab 22. pimpinan perusahaan tidak cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman. belum membuat standar operating procedure (SOP) terkait penatausahaan piutang/pinjaman. serta lemah dalam melakukan pengawasan.21 Atas kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. dan • sebanyak 1 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp196. kurang membayar dividen kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas hasil usaha TB 2005 s. perusahaan daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah/perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan.d. Selain itu.24 . kepada bupati agar memerintahkan direksi untuk lebih cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan daerah/perusahaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. Kekurangan Penerimaan 22.00 miliar.63 miliar. 2009 senilai Rp4.22 Kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.16 juta. Provinsi Kepulauan Riau.20 Kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah disebabkan karena perusda kurang mengupayakan pengembalian bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain.

dll.30 .00 juta dan denda keterlambatan senilai Rp418. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Rekomendasi 22. Provinsi Jawa Timur. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan segera menyetorkan sisa dividen hasil usaha kepada pemerintah daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.70 juta kepada PD Pasar Surya. Penyebab 22. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atas barang milik daerah. 22. kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah dan lain-lain. serta lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian. tidak mengurangi hak negara/daerah/perusahaan daerah (kekurangan penerimaan) tidak menghambat operasional/program entitas dan dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.28 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 10 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).07 miliar dan penetapan tarif pajak tidak sesuai dengan ketentuan.236 melakukan pemotongan pajak PPh Pasal 21 TB 2009 dan 2010 minimal senilai Rp1. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian.29 22. • Di PD Pasar Surya. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. Administrasi 22. belum mengenakan denda atas keterlambatan pembangunan. memperhitungkan kekurangan pembayaran kompensasi dan denda keterlambatan kepada investor dan segera menyetorkan ke kas perusahaan.26 Kasus-kasus kekurangan penerimaan disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak mengacu pada keputusan RUPS dan dewan komisaris dalam melakukan pembayaran dividen. investor (CV CJL) pembangunan Pasar Kupang Gunung Tahun 2008 belum melaksanakan kewajiban berupa penerimaan kompensasi senilai Rp425.

33 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. yaitu pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan kepada direksi dan pegawai Perusda Kabupaten Karimun senilai Rp711. 22. • Di PD Praja Karya.75 miliar. serta menyusun sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. pengeluaran belanja TB 2008 senilai Rp129.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Riau. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain administrasi. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan membatalkan pembagian laba yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan meminta pemegang saham untuk menyetorkan kembali dana (dividen) komitmen yang telah dibayarkan.46 juta tidak didukung bukti yang lengkap. • sebanyak 2 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR).40 miliar. pertambangan. dan belum menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. Rekomendasi 22.35 22. Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Perusda Karimun.32 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam pembagian laba (dana komitmen).36 . Provinsi Maluku. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat sembilan kasus ketidakhematan berupa kasus pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga senilai Rp1. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.34 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.74 juta tidak memiliki dasar hukum yang kuat. pembagian laba kepada pemerintah provinsi dan kabupaten TB 2007 dan 2008 tidak sah dan melanggar ketentuan senilai Rp1. 22. Ketidakhematan 22. Penyebab 22. Provinsi Kepulauan Riau. dll.237 • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. perpajakan.

48 miliar. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.238 Penyebab 22.39 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai.62 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp8. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.86 miliar tidak dapat diselesaikan oleh pihak investor sehingga tidak ada kepastian penyelesaian pembangunan dalam rangka revitalisasi Pasar Manukan Kulon dan potensi penerimaan PD Pasar Surya tidak optimal/terlambat.42 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 22.41 .60 juta. 22.37 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya disebabkan karena direksi belum memahami sepenuhnya ketentuan yang berlaku dalam pemberian tunjangan dan insentif. Pada umumnya kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. BPK telah Terhadap merekomendasikan antara lain agar direksi menghentikan pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. kerjasama pembangunan gedung Pasar Manukan Kulon Tahun 2005 senilai Rp4. • Di PD Pasar Surya. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6.40 22.38 kasus-kasus ketidakhematan tersebut. Provinsi Jawa Timur. • sebanyak 5 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp1.37 miliar terdiri atas • sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp271. 22. Ketidakefektifan 22.

Provinsi Kepulauan Riau. Penyebab 22. 22. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.86 juta. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan memberikan sanksi dan peringatan kepada investor yang telah melakukan wanprestasi dan meninjau kembali kerjasama tersebut.43 Kasus-kasus ketidakefektifan di antaranya disebabkan investor tidak serius dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disepakati. Rekomendasi 22. pelaksanaan kerjasama antara Perusda Natuna dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bangunan gedung pengolahan kelapa dan pengolahan ikan tidak termanfaatkan senilai Rp970. serta melakukan koordinasi terkait dengan hak dan kewajiban dalam pengelolaan aset.239 • Di Perusda Natuna. dan pimpinan perusahaan tidak melaksanakan koordinasi dengan pihak ketiga berkaitan dengan hak dan kewajiban yang telah disepakati dalam pengelolaan aset.45 .44 Atas kasus-kasus ketidakefektifan.

240 .

1 di bawah ini.33 7.E.264. Tabel 23.3 23.14 % Temuan (4)= 3/2 x100% 0.18 0.3 Dua puluh satu objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat. . Direktorat Jenderal Bina Marga TA 2010. • Di Bank Indonesia (BI). dana bagi hasil TA 2009 dan Semester I TA 2010.1 Selain tema-tema pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya. disajikan pada Tabel 23.515.20 285. pengelolaan belanja subsidi dan belanja lain-lain (BSBL) TA 2009 dan Semester I TA 2010 yang disajikan dalam satu laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan BSBL pada 17 KPA lainnya yang masing-masing disajikan dalam LHP tersendiri. Cakupan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu lainnya Entitas Yang DIperiksa (1) Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN Jumlah Cakupan Pemeriksaan (miliar Rp) (2) 275.03 Total Temuan (miliar Rp) (3) 528.62 848.94 15. • Di Kementerian Pekerjaan Umum.751. BI.62 4.50 2. rinciannya adalah sebagai berikut. Cakupan pemeriksaan atas 31 objek pemeriksaan tersebut.241 BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya 23.42 m². amblasnya sisi utara Jalan R. dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo). prosedur yang disepakati bersama–penelitian atas tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 pola channeling dalam rangka risk sharing antara pemerintah.1. dalam Semester II Tahun 2010 BPK juga melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada 31 objek pemeriksaan meliputi 21 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. • Di 18 kuasa pengguna anggaran (KPA).531. delapan objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dan dua objek pemeriksaan di lingkungan BUMN.2 Pemerintah Pusat 23.19 0. • Di Kementerian Keuangan. Martadinata seluas 653.58 303.

dan benih mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. di antaranya senilai Rp6. Di sembilan KPA. a. • Di BI.37 miliar tidak didukung bukti yang lengkap dan valid. • Di sepuluh KPA. kekurangan penerimaan. • KPA tidak tertib melaksanakan belanja lain-lain di antaranya. LPP TVRI. administrasi.5 23.92 triliun. b.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. terdapat tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling tanpa disertai sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo senilai Rp1. dan LPP RRI. pupuk. Atas kasus-kasus kerugian negara dan kekurangan penerimaan tersebut. • Di Kementerian Keuangan. 23. listrik.94 miliar meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp111.4 Hasil pemeriksaan atas 21 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat menunjukkan 88 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp528. dan ketidakefektifan. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. pengadaan barang dan jasa senilai Rp57.57 triliun dianggarkan pada BA BSBL termasuk di antaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran sendiri. di antaranya sebagai berikut.81 miliar. terdapat kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak mengakibatkan kelebihan pembayaran senilai Rp28.99 miliar merupakan belanja fiktif atau kelebihan belanja yang tidak dikembalikan.242 23.6 . belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak senilai Rp2.48 triliun yang belum diperhitungkan dalam bagi hasil ke daerah Tahun 2009. potensi kerugian negara.06 juta oleh Ditjen Bina Marga Kementerian PU. penatausahaan dan pencatatan realisasi penerimaan belum memungkinkan dilakukannya identifikasi penyetor secara tepat waktu dan tepat jumlah. ketidakhematan. sehingga terdapat penerimaan negara bukan pajak sumber daya alam (PNBP SDA) senilai Rp1. • BUMN operator belum sepenuhnya memenuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM. Di 13 KPA.

rinciannya adalah sebagai berikut. • Di Provinsi Kalimantan Barat. • Di Kota Pekanbaru. Provinsi Jambi. Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut.7 Delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah. • Di Provinsi Bengkulu. di antaranya sebagai berikut. Provinsi Maluku Utara. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. Provinsi Riau. administrasi. dan 2009. Provinsi Riau. Provinsi Riau.79 miliar oleh Sekretariat Kota Pekanbaru dan Pemda Bengkulu.58 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. program swasembada pangan dan pengelolaan saluran irigasi tersier TA 2008 dan 2009. kekurangan kas tidak dapat dijelaskan secara akuntabel oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru. mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah senilai minimal Rp3. terdapat pembayaran belanja yang tidak tersedia anggarannya sehingga pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum dan berindikasi kerugian keuangan daerah senilai Rp2. pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIII TA 2010. • Di Kota Pekanbaru. • Di Kota Pekanbaru. pengelolaan perhitungan fihak ketiga (PFK) pemerintah TA 2007.243 Pemerintah Daerah 23. kekurangan penerimaan. 23. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. Provinsi Gorontalo.65 miliar. • Di Kabupaten Bone Bolango.8 Hasil pemeriksaan atas delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah menunjukkan adanya 53 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp15. dan Kabupaten Halmahera Tengah. ketidakhematan. 23. potensi kerugian daerah. penggunaan dana STAR-SDP pada inspektorat daerah untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009. pengelolaan kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010. Atas temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp1. • Di Provinsi Aceh.07 miliar.10 . dan ketidakefektifan. 2008. pengelolaan bantuan keuangan pemerintah daerah se-Kalimantan Barat untuk pendirian dan pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2003 sampai Juli 2010.32 miliar.9 23. • Di Kabupaten Muaro Jambi.

d. kekurangan penerimaan pendapatan senilai Rp3.66 juta dan pajak belum disetor senilai Rp505. terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri Tahun 2008 s.d. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. pengadaan alat-alat laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2005 s.11 Dua objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan BUMN. • Di PT Pertamina (Persero). dan apabila dibandingkan dengan harga pengadaan impor mengakibatkan ketidakekonomisan senilai Rp135. 2009 yang melebihi ketetapan preferensi harga Menteri Perindustrian. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 23. • Di Provinsi Bengkulu. dan selang dalam rangka Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Tahun 2007 s. kompor. Sedangkan PTPN XIV (Persero) meliputi kerjasama pihak ketiga dan pengadaan barang dan jasa Tahun 2007 s.d. Cakupan pemeriksaan pada PT Pertamina (Persero) meliputi kegiatan pengadaan paket tabung liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg yang terdiri dari pengadaan tabung LPG 3 kg. di antaranya sebagai berikut.13 23.12 23.15 Laporan hasil pemeriksaan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.62 miliar.44 miliar. mekanisme pengelolaan penjualan stiker MTQN XXIII TA 2010 tidak memadai. adanya adendum kontrak pengadaan tabung LPG 3 kg Tahun 2007 mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp37.17 miliar atas proyek kerjasama pengembangan kebun kelapa sawit pola kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). terdapat kemahalan harga minimal senilai Rp881.34 juta. • Di PT Pertamina (Persero). 2009.d.37 juta. 23. 2009. 23.14 . • Di PTPN XIV (Persero). Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran pengadaan paket tabung gas LPG 3 kg dan pengadaan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta menilai pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga. sehingga realisasi penerimaan penjualan stiker tersebut tidak dapat ditelusuri kewajarannya dan terdapat indikasi kekurangan penerimaan senilai Rp712. yaitu kegiatan pengadaan barang dan jasa pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero). Semester I Tahun 2009. regulator.244 • Di Provinsi Kalimantan Barat.

BPK menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan. status tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah. BUMN. Pimpinan entitas yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima. Temuan-temuan pemeriksaan yang oleh BPK dinyatakan ditindaklanjuti sesuai saran/ rekomendasi adalah temuan-temuan pemeriksaan yang saran/rekomendasinya telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pihak entitas yang diperiksa sesuai dengan saran/rekomendasi BPK. rekomendasi. . suatu temuan pemeriksaan memuat saran/ rekomendasi mengenai penagihan atas kelebihan bayar atau denda yang belum dipungut dan hasil penagihan/pemungutan harus disetor ke kas negara/daerah. maka temuan pemeriksaan yang bersangkutan dinyatakan sebagai “dalam proses ditindaklanjuti”. apabila bukti tindak lanjut rekomendasi tidak diterima dan/atau baru diterima sebagian. dan badan lainnya. Dengan demikian. Misalnya. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK. Sebaliknya.245 HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT Memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20. Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini. pemerintah daerah. Adapun data hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut sebelum Tahun 2009 masih dalam proses rekonsiliasi. Selanjutnya BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK. BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan semesteran. maka temuan pemeriksaan tersebut dinyatakan “telah ditindaklanjuti sesuai saran” jika entitas yang bersangkutan telah menyetor seluruh penagihan/pemungutannya ke kas negara/daerah dan BPK telah menerima dan memvalidasi bukti setor tersebut. maka dalam IHPS dimuat data pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat. Dalam IHPS II Tahun 2010 disajikan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 yang disajikan menurut entitas kementerian/lembaga/provinsi/kapubaten/kota/BUMN/ BHMN/KKKS. diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah/perusahaan pada entitas yang bersangkutan.

Perincian setoran dari pemerintah pusat senilai Rp1. EUR11.00 ribu. mengembalikan/menyerahkan sejumlah aset ke negara/daerah atau dengan cara melengkapi pekerjaan/barang. . perubahan struktur organisasi. Adapun tindakan administratif biasanya berupa pemberian peringatan. dan GBP17. kemudian dari pemerintah daerah senilai Rp807. kerusuhan.55 ribu. force majeur.78 ribu. revolusi. yaitu: 1. rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dan/atau tindakan administratif. pemogokan. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan negara/daerah. Adapun kriteria alasan sah sehingga rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti adalah : a. teguran dan/atau sanksi kepada para penanggungjawab dan/ atau pelaksana kegiatan. Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti secara efektif.34 triliun serta sejumlah valas.82 miliar dan USD4. Status pemantauan hasil pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. yaitu suatu keadaan peperangan. 2. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Pusat mengungkapkan bahwa dalam periode Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 85 kementerian/lembaga terdapat 8. c. status pemantauan tindak lanjut rekomendasi ditambahkan satu jenis lagi yaitu status “Tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah”. objek yang direkomendasikan dalam sengketa di peradilan.93 triliun dan USD53. b.78 ribu. 3.00 triliun dan USD42. melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern.251 rekomendasi senilai Rp27.246 Sesuai Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010. dan dari BUMN senilai Rp119. Secara umum. bencana alam. pejabat menjadi tersangka dan ditahan.15 ribu. Penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dilakukan dengan cara menyetorkan sejumlah uang ke kas negara/ daerah. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas kementerian/lembaga disajikan pada Lampiran 50. dan GBP17. pejabat menjadi terpidana. perubahan regulasi. subjek atau objek rekomendasi dalam proses peradilan: 1.05 miliar dan USD7. 2.55 ribu.94 ribu.1.79 ribu. efisien dan ekonomis. EUR11. Adapun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjuti dengan penyerahan aset dan penyetoran ke kas negara/daerah dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 adalah senilai Rp1. kebakaran dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tindak lanjut tidak dapat dilaksanakan.

38 Jml 3.15 EUR 11.247 Tabel 24.1.15 ribu.354.33 USD 326.131 Nilai Rp4.78 ribu.68 USD 313.56% 37.082.78 Jml 3. dan sebanyak 3.95%. Dari 3. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/penyerahan aset ke negara senilai Rp1.187. EUR11.19 GBP 17.95% Belum Sesuai Rekomendasi/Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 3.55 GBP 17. Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 36.003.49% 25.011 rekomendasi atau 36.95%) menunjukkan pemerintah pusat telah memperhatikan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.56% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.082.78 2.852.37 EUR 11.938.109 rekomendasi atau 25.93 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.464.55 ribu dan GBP17.77 AUD 334.109 Rp9.227. Presentase rekomendasi yang telah ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (37.19 Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/ daerah Nilai Rp1.03 AUD 334. USD42.131 rekomendasi senilai Rp4.251 Nilai Rp27.49% belum ditindaklanjuti.37 EUR 11.014.131 atau 37.102.945.821.42 USD 42.23 USD 359.064.1 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai USD 12.87 JPY 266.55 JPY 266.41 Dari tabel di atas. . sedangkan sebanyak 2.00 triliun.78 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 8.55 GBP 17.011 Nilai Rp12.347. Grafik 24.

02% Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 24.009. sedangkan sebanyak 16. dan sebanyak 26.13 USD 4.933 - Nilai Rp68.83 Belum Ditindaklanjuti Jml 26.578 rekomendasi senilai Rp17.633.72 %. .578 atau 36.2.228.00 ribu.075 Nilai Rp27.35 USD 466.11 USD 473.02% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp807. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut. Grafik 24.00 Jml 66.280 rekomendasi atau 39.64 USD 2. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.00 triliun serta USD473.82 miliar dan USD4. Dari 24.933 rekomendasi senilai Rp68. Tabel 24.26% belum ditindaklanjuti.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 39.26% 36.821.075 rekomendasi atau 24.75 ribu.635.75 Dari tabel di atas.91 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atau perusahaan negara/ daerah Rp807.792.280 Nilai Rp22.827.72% Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti 24.957.2 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Jml 24.248 Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Daerah mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 508 pemerintah daerah terdapat 66. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pada pemerintah daerah disajikan pada Lampiran 51.583.578 Nilai Rp17.00 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 16.79 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.11 USD 4.

897.74 SGD 1.994.3.79 - Dari tabel di atas.60 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 297 Nilai Rp806.75 EUR 8. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.450 rekomendasi senilai Rp7.275.523. Grafik 24. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.11 USD 230. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 145 BUMN mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 1.326.056.884. Dari 297 rekomendasi .408.3 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Jml 1.657.291.48%.249 Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (39.75 EUR 8.93 Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 333 Nilai Rp1.31 USD 7.12 USD 604.75 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan Rp119. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas BUMN disajikan pada Lampiran 52.450 Nilai Rp7.97% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.50 SGD 1.320.055.99 triliun serta sejumlah valas. Tabel 24. dan sebanyak 820 rekomendasi atau 56.320. sedangkan sebanyak 333 rekomendasi atau 22.26%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada pemerintah daerah atau bahkan ada yang belum disampaikan.17 USD 835.55% belum ditindaklanjuti.60 Belum Ditindaklanjuti Jml 820 Nilai Rp5.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 297 atau 20.

90 SGD 5.35 USD 74.51 - Dari tabel di atas. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.780. Dari pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dapat dijelaskan bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak satu rekomendasi atau 8. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (56.05 miliar serta sejumlah valas.4 . . Hal ini menunjukkan bahwa BP Migas masih kurang dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK.748. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.17 - (dalam juta rupiah dan ribu valas) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/perusahaan - Sesuai dengan Rekomendasi Jml 21 Nilai Rp676.30 Status Pemantauan Tindak Lanjut Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai 18 Rp2.59 SGD 5. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 67 KKKS mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 76 rekomendasi senilai Rp4. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke perusahaan BUMN senilai Rp119.4 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 Rekomendasi Jml 76 Nilai Rp4.33% dan sebanyak 11 rekomendasi atau 91.59 USD 73.250 senilai Rp 806.048.53 USD 1.581.23 USD 150.30 Belum Ditindaklanjuti Jml 37 Nilai Rp580.67% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.27 miliar yang ditindaklanjuti sesuai saran.005.00 miliar serta sejumlah valas. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Lampiran 52. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas satu BHMN yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) mengungkapkan bahwa bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 12 rekomendasi.65%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada BUMN atau bahkan ada yang belum disampaikan. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas KKKS disajikan pada Lampiran 52. Tabel 24.

68%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada KKKS atau bahkan ada yang belum disampaikan. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (48. sedangkan sebanyak 18 rekomendasi atau 23.68% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.53 juta serta sejumlah valas yang ditindaklanjuti sesuai saran.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 21 rekomendasi atau 27. dan sebanyak 37 rekomendasi senilai atau 48. . Dari 21 rekomendasi senilai Rp676. belum ada yang telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke kas negara/perusahaan.63%.251 Grafik 24.68% belum ditindaklanjuti.

252 .

253 HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH Pendahuluan Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006.28 miliar dan sejumlah valuta asing (valas) dan tingkat penyelesaian (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah disusun berdasarkan laporan pemantauan dalam kurun waktu bulan Juli 2010 sampai dengan Januari 2011. • proses penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang belum dapat ditetapkan. dan −− pihak ketiga yang telah ditetapkan oleh pengadilan. BPK diberikan kewenangan untuk memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh pemerintah. −− pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain oleh pemerintah. Sasaran Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah meliputi: • • kepatuhan instansi untuk membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D). . kinerja dan administrasi penatausahaan kerugian negara/daerah. maupun yang berindikasi kerugian negara/daerah dari hasil pemeriksaan BPK dan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) yang harus segera diproses penyelesaiannya oleh instansi yang bersangkutan.339 kasus senilai Rp108. Gambaran Umum Cakupan entitas yang telah dipantau pada Semester II Tahun 2010 adalah 648 entitas atau sebesar 31.040 entitas.76% dari keseluruhan sebanyak 2. Pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK dan pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kerugian negara/daerah yang dipantau pada kurun waktu tahun 2009-2010 adalah sebanyak 4.302 kasus senilai Rp908. pelaksanaan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap: −− bendahara. Pemantauan kerugian negara/daerah mencakup kerugian negara/daerah yang disebabkan kesalahan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara dan pihak ketiga. Selain itu BPK juga memantau kerugian negara/daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK maupun hasil pemeriksaan Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). pengelola BUMN/BUMD dan pengelola keuangan negara lainnya yang ditetapkan oleh BPK.92% dan sejumlah valas.30 miliar atau 11.

057.909.70 Rp57.632.550.026.723.127.000.16 USD 85.551.43 3.348.111. Kerugian Daerah Pada Instansi Pemerintah Daerah Dan BUMD Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah pada instansi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD) pada periode Tahun 2009 sampai Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.207.206.87 Rp516.156.72 596.86 Rp191.752.17 USD 212.013.89 USD 212.00 826.92 71 156 2.287.303.43 94.846.507.424.823.58 691.493.447.707.00 54.00 983.531.613.314.000.998.72 Rp3.640.45 USD 228.81 505.803.348.624.004.700.292.70 JML 1 171 72 244 2 111 156 269 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 9 353 384 746 764.254 Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Kerugian Negara Pada Instansi Pusat Dan BUMN Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada instansi pusat dan BUMN pada Semester II Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.74 USD 15.78 USD 1.00 3 282 228 513 SISA NILAI 30.316.062.97 USD 85.913.367.950.671.009.677.966.06 USD 1.754.157.035.17 Rp457.00 3.58 USD 228.87 JML 26 3 29 1 27 25 53 PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 856.367.388.892.13 miliar dan USD228.00 15.844.91 USD 228.103.717.727.000.1 Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat TAHUN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUGIAN JML 1 207 92 300 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 8 146 292 446 NILAI 30.845.481.92 JML 36 20 56 6 35 136 177 PELUNASAN NILAI 2. Rincian Pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pemerintah pusat selama Tahun 2009 sampai Tahun 2010 adalah sebagai berikut.70 Rp54.640.846.55 USD 15.78 USD 1.00 9.163.81 448.877.764.44 134.352.845.683.54 USD 85.258.900.129.254.700.00 19.893.00 6 596.131. .459.998.862.600.43 3. Tabel 25.318.409.251.73 Rp712.61 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 tidak terdapat kasus kerugian negara yang dilakukan oleh pengelola BUMN.015.673.025.997.459.935.998.791.581.927.613.035.978.893.31 82 Rp4.90 USD 212.560.664.560.155.436.202.281. Instansi Pusat Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009 .035.298.00 468.58 186.70 1 3.998.58 185.424.17 165.104.53 USD 15.035.000.223.70.532.823.000.213.899.21 juta dengan tingkat penyelesaian baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 315 kasus senilai Rp62.06 USD 1.787.197.72 USD 15.502.74 miliar atau 8.481.00 10.453.419.509.00 9.710.000.2010 sebanyak 746 kasus senilai Rp712.335.353.197.92 Rp4.61 USD 228.526.956.871.709.689.057.463.00 53.00 Rp951.446.00 6.114.334.394.35 233 53 28 1.892.03 Rp649.214.81% dan USD1.281.058.013.431.973.116.872.194.219.73 USD 85.035.128.05 USD 212.58 633.333.057.86 Rp195.756.44 734.762.

790.00 107.50 150.790.00 37.909.095.220.202.86 28.610. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada BUMD selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.102.992.55 7.32 83.326.734 116.00 107.354.764.000.756.456.950.51 24.46 83.380.751.255 Pemerintah Daerah Kasus kerugian daerah yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009-2010 yaitu sebanyak 3.302.553 kasus senilai Rp196.62 6.647 23.350.572.147 462 2.853.941.610.516.739.488.00 16.576.625.760.113.838.406 198 1.954.089.50 122.508.345.010.239.482.414.00 101.033.199.995.261.00 1 1 1 1 16.740.693.49 2.00 16.234 93.938.350.00 46.320.947.00 154.775.128.046.42 1.855 107.945.440.837.852.34 1.521.21 3. NEG/DAE JML 2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2010 (dalam rupiah) SISA JML 1 1 1 1 1 1 2 NILAI 46.000.237 697 15 2.847.60 23.00 54.878. Tabel 25.110.560 25.00 36.418.487.061.749.449.580.68 2.795 645 8 2.872.485.238.367.820 40.578.740.371.380 PEMBAYARAN ANGSURAN JML NILAI 30 1.450.580.407.019.610.580.450.105 37 1.596.00 7.357.293.440.000.00 107.00 36.918.660.706.540.987.656 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 362 1.42 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kasus kerugian daerah yang terjadi di BUMD dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 terdapat kerugian daerah sebanyak 3 kasus senilai Rp154.919.220.034.344.281 14.580.40 21.790.237.3 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD TAHUN KEJADIAN SUBJEK KERUG.564.00 JML PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 1 1 1 1 36.085 156.874.644.790.154 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 141 897 610 8 1. Tabel 25.553 NILAI 15.22 385. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.860.91 799 6 835 43 353 41 7 444 73 1.23 27.00 46.00 16.00 54.580.634 93.126.257.446.733.05 3.512.793.381.431.905.634.862.000.580.61 20.166.400 39.26 2.96 PELUNASAN JML NILAI 43 245.915.2 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah THN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUG NEGARA/ DAERAH JML 264 1.740.326.00 54.91 5.228.735.502.00 27.928 38.80 515.268.26 juta dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2 kasus senilai Rp53.00 36.725.610.332.516.938.487.735.38 JML 221 898 35 1.45 80.683.457.342 734 15 3.740.41 %.515.175.626.340.37 87.69 2.492.001.746.00 JML PELUNASAN NILAI 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2009 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH .202.00 6.00 46.768.731.00 46.757.085 196.345.440.92 7.876.515.50 miliar atau sebesar 23.152 47 7 1.879 9.00 207 2 252 57 340 87 7 491 100 547 89 7 743 532.000.350.231.259.000.595.707.534.90 7.005.470.128.02 35.076.957.279 1.16 631.166.796.573.414.810 (dalam rupiah) SISA NILAI 13.267.350.97 7.00 miliar dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2.022 kasus senilai Rp45.08 juta atau sebesar 34.56 6.089.440.735.681.22%.644.735.681.892.484.58 10.869.681.595.595.21 4.992.00 TOTAL KERUGIAN NILAI 1 1 2 2 1 2 3 46.783.

Belum optimalnya pendokumentasian/administrasi berkaitan dengan data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya. Kasus kerugian tidak ditindaklanjuti sehingga memasuki masa daluwarsa. Belum optimalnya tindak lanjut oleh TPKN/D atas informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan BPK. • • • • • • • • • • • • • . Belum tersusunnya database/daftar kerugian negara/daerah di masing-masing instansi. Belum maksimalnya koordinasi antara inspektorat dengan TPKN/D dalam menindaklanjuti penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. Jangka waktu penggantian tidak memperhatikan masa pensiun (taspen) sehingga tidak dapat tertagih setelah tidak aktif (pensiun).256 Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya Pada Semester II Tahun 2010 belum terdapat data mengenai kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya pada badan pengelola keuangan lainnya seperti badan hukum milik negara (BHMN) dan badan layanan umum (BLU). Permasalahan Dalam Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah antara lain: • Belum terbitnya ketentuan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain sehingga menimbulkan ketidakseragaman dalam penyelesaian atau pengenaan kerugian negara/daerah. Proses penilaian dan/atau penetapan kerugian negara belum sesuai dengan ketentuan. hasil pengawasan/ pemeriksaan Bawasda. Proses penyelesaian berlarut-larut karena penanggung jawab tidak ada. Belum aktifnya kinerja TPKN/D. maupun dari BPKP (APIP). Pelaporan kerugian negara/daerah belum sesuai ketentuan. Penanggung jawab tidak beritikad baik menyelesaikan/mengembalikan. meninggal. Belum optimalnya dukungan pimpinan instansi atas keberadaan dan kinerja TPKN/D. Kesulitan tentang identitas pribadi pihak yang bertanggung jawab misal karena pihak terkait tidak diketahui keberadaannya. Inspektorat Jenderal. penanggung jawab tidak jelas identitasnya.

proses pengumpulan bahan dan koordinasi. mewajibkan BPK untuk melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi tindak pidana kepada instansi yang berwenang. pejabat dan pelaksana tugas penyelesaian kerugian negara/daerah. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan. Sisa kasus sebanyak 97 kasus (92. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Dari 105 kasus yang diserahkan tersebut. akuntabel. Kejaksaan. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus (2. BPK merekomendasikan: • • • Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain. Kejaksaan. Pimpinan instansi memberikan dukungan berkaitan dengan keberadaan dan kinerja TPKN/D. Rincian pemantauan hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian/pidana dapat dilihat pada tabel berikut. Sejak tahun 2003 BPK telah melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu Kepolisian Negara RI. Pemberian pemahaman tentang pengenaan dan penyelesaian ganti kerugian negara kepada pimpinan.90%). .06 juta. dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). bertanggung jawab tercapai. Koordinasi internal dan eksternal untuk mencapai pemulihan kerugian negara/ daerah yang optimal. instansi yang berwenang (Kepolisian. penyidikan sebanyak 2 kasus (1. penuntutan sebanyak 1 kasus (0. profesional. putusan hakim sebanyak 2 kasus (1.90%).86%). Pemahaman kepada pimpinan unit kerja tentang pentingnya pelaporan kerugian negara/daerah dalam rangka penyelesaian kerugian negara/daerah sehingga pemulihan kerugian negara/daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan negara/daerah yang transparan.257 Rekomendasi Terhadap permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah.38%) merupakan kasus yang belum ditindaklanjuti. Tahun 2009 dan Tahun 2010. • • Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara.95%).11 triliun dan USD11. proses gelar perkara dan banding/kasasi. dalam proses penelaahan.

067.41 797.917.546.63 9.74 298.556.980. Aparat Penegak Hukum Total Nilai (Rp) Total Nilai (USD) Dilimpahkan *) Penyelidikan Penyidikan Proses Hukum Penuntutan Lainlain Jumlah yang telah diserahkan 2 2 Tahun Total Temuan Vonis SP3 1 Polri Total Kepolisian 2009 2010 2 2 20 15 35 22 46 68 105 16.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana (dalam juta rupiah dan ribu valas) Kasus No.19 16.40 8.112.19 216. .99 453.258 Tabel 25.68 315.00 1.04 - 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 17 15 32 17 46 63 97 - 2 Kejaksaan Total Kejaksaan 2009 2010 20 15 35 22 46 68 105 3 KPK Total KPK TOTAL 2009 2010 *) Pelimpahan (Limpah) yaitu penyerahan penanganan kasus dari satu instansi yang berwenang ke instansi yang berwenang lainnya atau dari instansi yang berwenang pusat ke instansi vertikal dibawahnya sebelum proses penyelidikan.04 1.150.136.00 11.98 1.75 82.834.700.463.56 394.136.393.576.153.50 402.

Lampiran IHPS II Tahun 2010 .

Aceh Selatan Kab. Mandailing Natal Kab. Asahan Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Prov. Aceh Tamiang Kab. Aceh Utara Kab. Langkat Kab. Padang Lawas Kab. Padang Lawas Utara Kab. Tapanuli Utara Kab. Nias Utara Kab. Pidie Jaya Kab. Simalungun Kab. Bireuen Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Aceh Kab. Deli Serdang Kab. Pakpak Bharat Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Jaya Kab. Nias Kab. Aceh Besar Kab.Halaman 1 . Samosir Kab. Bener Meriah Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 WTP WTP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP TW 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 WTP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 10 14 1 WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP Entitas Pemerintah Daerah Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total Prov. Aceh Barat Kab. Gayo Lues Kab.Lampiran 1a Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No 1 Prov. Aceh Tengah Kab. Aceh Singkil Kab. Batubara Kab. Sumatera Utara Kab. Nias Selatan Kab. Aceh Timur Kab. Nias Barat Kab. Tapanuli Tengah Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Dairi Kab. Serdang Bedagai Kab. Humbang Hasundutan Kab. Karo Kab. Aceh Tenggara Kab. Labuhanbatu Kab. Aceh Barat Daya Kab. Tapanuli Selatan Kab. Pidie Kab. Toba Samosir Kota Binjai 1 WDP 1 1 WDP TW 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP TW WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 1 1 TMP WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 TMP 13 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP TW 1 .

Solok Selatan Kab. Pasaman Kab. Bungo Kab. Rokan Hulu Kab. Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 4 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 8 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 5 Prov. Bengkalis Kab. Sijunjung Kab. Muaro Jambi Kab. Kep. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 92 93 94 95 96 97 98 Prov. Kuantan Singingi Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 4 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov.Halaman 2 . Lima Puluh Kota Kab. Jambi Kab. Kepulauan Meranti Kab. Merangin Kab. Agam Kab. Pelalawan Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Prov. Kampar Kab. Dharmasraya Kab. Indragiri Hulu Kab. Rokan Hilir Kab. Riau Kab. Indragiri Hilir Kab. Kerinci Kab. Solok Kab. Padang Pariaman Kab. Batanghari Kab. Mentawai Kab.Lampiran 1a No 28 29 30 31 32 33 34 3 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total * TMP WDP TMP WDP WDP WDP Prov. Sarolangun 1 WDP 10 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 1 WDP 2 12 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP 2 . Pesisir Selatan Kab. Sumatera Barat Kab. Pasaman Barat Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov.

Seluma Kota Bengkulu 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 0 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 8 Prov. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 Prov. Musi Rawas Kab. Bengkulu Selatan Kab. Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Musi Banyuasin Kab. Pringsewu Kab. Banyuasin kab. Lampung Kab. Empat Lawang Kab. Kepahiang Kab. Lampung Utara Kab. Mesuji Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Bengkulu Tengah Kab. Sumatera Selatan Kab. Tanggamus Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Prov. Ogan Komering Ilir Kab. Lampung Tengah Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Total WDP WDP WDP WDP WTP Prov. Lampung Selatan Kab. Lampung Timur Kab. Ogan Ilir Kab. Tulang Bawang Kab. Pesawaran Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Lampung Barat Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP 1 WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 No 8 9 10 11 12 6 99 100 101 102 103 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Lebong Kab. Muko-Muko Kab. Muara Enim Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Prov. Ogan Komering Ulu Kab. Bengkulu Utara Kab. Rejang Lebong Kab. Tulang Bawang Barat Kab. Ogan Komering Ulu Timur Kota Lubuk Linggau Kota Pagar Alam Kota Palembang Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 WDP 12 1 WDP 1 1 TW TW 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Kaur Kab. Bengkulu Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP 1 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP 0 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 3 . Lahat Kab.Halaman 3 .

Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 WDP TMP 8 19 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 . Ciamis Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Kepulauan Anambas Kab. Natuna Kota Batam Kota Tanjungpinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 11 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 9 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Subang Kab. Bangka Selatan Kab. Indramayu Kab. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 155 156 157 158 159 160 161 Prov.Halaman 4 . Sumedang Kab. Bekasi Kab. Kuningan Kab. Garut Kab. Purwakarta Kab. Bandung Kab. Bintan Kab. Bangka Belitung Kab. Kepulauan Riau Kab. Bangka Tengah Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 147 148 149 150 151 152 153 Prov. Karimun Kab. Cirebon Kab. Belitung Kab. Bangka Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Prov. Bangka Barat Kab. Karawang Kab. Sukabumi Kab. Lingga Kab. Cianjur Kab. Bandung Barat Kab. Bogor Kab. DKI 1 1 WDP 0 1 1 WDP 12 Prov. Jawa Barat Kab. Belitung Timur Kota Pangkal Pinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 Prov. Majalengka Kab.

Bangkalan Kab. Cilacap Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 2 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 Prov.Halaman 5 . Blitar Kab. Kebumen Kab. Rembang Kab. Kendal Kab. Sukoharjo Kab. Yogyakarta Kab. Batang Kab. Bantul Kab. Boyolali Kab. Magelang Kab. Banjarnegara Kab. Karanganyar Kab. Klaten Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Prov. Pati Kab. Banyumas Kab. Purworejo Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 232 233 234 235 236 Prov. Pekalongan Kab. Sleman Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 0 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Sragen Kab. Jawa Timur Kab. Blora Kab. Purbalingga Kab. D. Gunung Kidul Kab. Jawa Tengah Kab. Kulon Progo Kab. Banyuwangi Kab. Temanggung Kab.I. Wonogiri Kab. Pemalang Kab. Tegal Kab. Jepara Kab. Bojonegoro 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 0 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 5 . Grobogan Kab. Demak Kab. Semarang Kab.I. D. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 227 228 229 230 231 Prov. Brebes Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 13 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Kudus Kab.

Lebak Kab. Sumenep Kab. Mojokerto Kab. Sampang Kab. Pandeglang Kab. Magetan Kab. Banten Kab. Situbondo Kab. Lumajang Kab. Tulungagung Kota Batu Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW Prov. Sidoarjo Kab. Pamekasan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 16 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Trenggalek Kab. Jombang Kab. Nganjuk Kab. Kediri Kab. Lamongan Kab.Halaman 6 . Bangli Kab. Buleleng Kab. Ngawi Kab. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 280 281 282 283 284 285 Prov. Bali Kab. Gianyar Kab. Ponorogo Kab. Madiun Kab. Jembrana 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 0 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 6 . Tuban Kab. Malang Kab. Badung Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 0 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 17 Prov. Probolinggo Kab. Gresik Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Prov. Pasuruan Kab. Bondowoso Kab. Jember Kab. Serang Kab. Pacitan Kab.

Sumbawa Barat Kota Bima Kota Mataram 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 1 WDP 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Lombok Tengah Kab.Halaman 7 . Lombok Barat Kab. Flores Timur Kab. Ketapang Kab. Nusa Tenggara Timur Kab. Tabanan Kota Denpasar Total WDP WDP WDP WDP Prov. Kupang Kab. Belu Kab. Manggarai Barat Kab. Sambas 1 1 1 TW WDP WDP 1 1 WDP TW 1 TW 7 8 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP 7 . Melawi Kab. Sumba Tengah Kab. Lombok Timur Kab. Ende Kab. Sumba Barat Daya Kab. Pontianak Kab. Klungkung Kab. Manggarai Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Prov. Sabu Raijua Kab. Nusa Tenggara Barat Kab. Sikka Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 No 7 8 9 10 18 286 287 288 289 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Nagekeo Kab. Alor Kab. Landak Kab. Manggarai Timur Kab. Sumba Barat Kab. Kalimantan Barat Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Ngada Kab. Kapuas Hulu Kab Kayong Utara Kab. Dompu Kab. Rote Ndao Kab. Lombok Utara Kab. Timor Tengah Utara Kota Kupang 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 TMP 17 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP 1 TMP 4 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 20 Prov. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 Prov. Bima Kab. Bengkayang Kab. Lembata Kab. Kubu Raya Kab. Sumba Timur Kab. Sumbawa Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 Prov. Karangasem Kab.

Kotawaringin Barat Kab. Kutai Barat Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 WDP 1 TW TMP WDP 1 1 1 1 1 No 11 12 13 14 15 21 333 334 335 336 337 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Seruyan Kab. Barito Kuala Kab. Kotawaringin Timur Kab. Banjar Kab. Paser Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Murung Raya Kab. Balangan Kab. Kutai Timur Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 Prov. Kalimantan Selatan Kab. Kalimantan Tengah Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Prov. Lamandau Kab. Barito Timur Kab. Tabalong Kab. Penajam Paser Utara Kab. Kapuas Kab. Gunung Mas Kab. Barito Selatan Kab. Katingan Kab. Tapin Kota Banjarbaru Kota Banjarmasin 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 TW TW WDP WDP WDP 1 WDP 10 1 WDP 1 WDP 4 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Bulungan Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Total WDP TMP WDP WDP TW Prov.Halaman 8 . Tanah Laut Kab. Kalimantan Timur Kab. Barito Utara Kab. Kutai Kartanegara Kab. Tanah Bumbu Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 Prov. Kotabaru Kab. Sanggau Kab. Nunukan Kab. Tana Tidung Kota Balikpapan Kota Bontang 1 1 1 1 1 TW TW TW TMP WDP 1 WDP 9 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TW TMP TMP WDP 6 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP 8 . Pulang Pisau Kab. Sekadau Kab. Berau Kab. Malinau Kab. Sukamara Kota Palangkaraya 1 1 TW TW 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW 1 TMP 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW TMP TW TW 22 Prov. Hulu Sungai Utara Kab. Hulu Sungai Selatan Kab.

Poso Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 Prov. Tojo Una-Una Kab. Luwu Utara Kab. Bulukumba Kab. Banggai Kepulauan Kab. Selayar Kab. Kep. Sulawesi Tengah Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 WDP TW 1 1 No 14 15 24 380 381 Entitas Pemerintah Daerah Kota Samarinda Kota Tarakan Total TW WDP Prov. Bolaang Mongondow Utara Kab. Donggala Kab. Enrekang Kab. Minahasa Tenggara Kab. Siau Tagulandang Biaro Kab. Pinrang Kab. Parigi Moutong Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Kepulauan Talaud Kab. Luwu Kab.Halaman 9 . Kepulauan Sangihe Kab. Jeneponto Kab. Barru Kab. Toli-Toli Kota Palu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 0 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Sinjai 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 14 1 WDP 1 WDP 11 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 9 . Minahasa Kab. Banggai Kab. Pangkajene dan Kepulauan Kab. Maros Kab. Sidenreng Rappang Kab. Kep. Sulawesi Utara Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 Prov. Minahasa Utara Kota Bitung Kota Kotamobagu Kota Manado Kota Tomohon 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 TW 1 1 1 1 1 WDP TW WDP TMP WDP 1 1 TW TMP 12 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW TMP WDP WDP WDP TW TW 25 Prov. Sulawesi Selatan Kab. Bone Kab. Minahasa Selatan Kab. Sigi Kab. Luwu Timur Kab. Bantaeng Kab. Morowali Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Buol Kab. Bolaang Mongondow Kab. Gowa Kab.

Boalemo Kab. Mamuju Utara Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 No 18 19 20 21 22 23 24 25 27 427 428 429 430 431 432 433 434 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Maluku Tenggara Barat Kab. Toraja Utara Kab. Gorontalo Utara Kab. Soppeng Kab. Wakatobi Kota Bau-Bau Kota Kendari 1 1 1 1 TMP TW TMP WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 TMP 8 1 TMP 1 TMP 5 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP Prov. Buton Utara Kab. Seram Bagian Timur Kota Ambon 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 0 9 1 1 1 TMP TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP 10 . Maluku Tengah Kab. Kolaka Utara Kab. Pohuwato Kota Gorontalo 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 0 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Kepulauan Aru Kab. Takalar Kab.Halaman 10 . Maluku Kab. Gorontalo Kab. Buru Selatan Kab. Bone Bolango Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 Prov. Tana Toraja Kab. Gorontalo Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 449 450 451 452 453 454 Prov. Seram Bagian Barat Kab. Sulawesi Barat Kab. Mamasa Kab. Kolaka Kab. Buru Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 Prov. Bombana Kab. Konawe Utara Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 456 457 458 459 460 Prov. Polewali Mandar 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 5 1 WDP 1 WDP 1 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Konawe Selatan Kab. Muna Kab. Buton Kab. Konawe Kab. Majene Kab. Maluku Tenggara Kab. Maluku Barat Daya Kab. Mamuju Kab.

Halmahera Tengah Kab. Raja Ampat 1 TMP 1 1 TMP 1 WDP 2 7 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP * TMP 11 . Mappi Kab. Nduga Kab. Jayawijaya Kab. Keerom Kab. Mamberamo Tengah Kab. Asmat Kab. Pegunungan Bintang Kab. Papua Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 513 514 515 516 517 518 Prov. Puncak Jaya Kab. Merauke Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 Prov. Jayapura Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 Prov. Halmahera Timur Kab. Deiyai Kab. Maluku Utara Kab. Dogiyai Kab. Papua Barat Kab. Kepulauan Yapen Kab. Pulau Morotai Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan 1 TW 1 WDP 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Fakfak Kab. Halmahera Selatan Kab. Sarmi Kab. Mimika Kab. Mamberamo Raya Kab. Tolikara Kab. Halmahera Utara Kab.Halaman 11 . Lanny Jaya Kab. Nabire Kab. Paniai Kab. Waropen Kab. Halmahera Barat Kab. Supiori Kab. Yahukimo Kab. Boven Digoel Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 TMP 1 No 12 31 472 Entitas Pemerintah Daerah Kota Tual Total TMP Prov. Puncak Kab. Intan Jaya Kab. Manokwari Kab. Maybrat Kab. Kepulauan Sula Kab. Yalimo Kota Jayapura 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 9 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 13 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Biak Numfor Kab. Kaimana Kab.

Sorong Selatan Kab. Sorong Kab.Halaman 12 .Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 348 WDP 151 TMP TMP TMP 1 1 1 1 499 No 7 8 9 10 11 12 519 520 521 522 523 524 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Teluk Wondama Kota Sorong JUMLAH Total TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 12 . Teluk Bintuni Kab. Tambrauw Kab.

Bireuen Kab. Nias Selatan Kab. Aceh Barat Daya Kab.Lampiran 1b Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005 . Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Aceh Jaya Kab. Gayo Lues Kab. Batubara Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Samosir Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 18 22 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 22 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WTP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WTP WDP WTP WDP WTP WTP WTP WTP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Pidie Kab. Deli Serdang Kab. Padang Lawas Kab. Bener Meriah Kab. Aceh Tenggara Kab. Dairi Kab. Aceh Besar Kab. Asahan Kab. 1 Prov.2009 No. Aceh Singkil Kab. Langkat Kab. Pidie Jaya Kab. Pakpak Bharat Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tamiang Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Utara Kab. Simalungun 1 WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 1 WDP TW TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 26 1 1 TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP WDP WDP TMP TMP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP TMP 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP 13 . Aceh Selatan Kab. Nias Barat Kab. Padang Lawas Utara Kab. Aceh Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Mandailing Natal Kab. Nias Utara Kab. Labuhanbatu Kab. Nagan Raya Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Sumatera Utara Kab. Nias Kab.Halaman 1 . Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Prov. Aceh Timur Kab. Karo Kab.

Tapanuli Selatan Kab. Pelalawan Kab. Solok Kab. Lima Puluh Kota Kab. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Prov. Kepulauan Meranti Kab. Kuantan Singingi Kab. Mentawai Kab. Solok Selatan Kab. Siak Kota Dumai 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 WDP 9 1 WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 . Pasaman Barat Kab. Agam Kab.Halaman 2 . Rokan Hilir Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Dharmasraya Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi LKPD 2005 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP TW * TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Prov. Pesisir Selatan Kab. Bengkalis Kab. Tapanuli Utara Kab. Sumatera Barat Kab. Indragiri Hilir Kab. Sijunjung Kab. Rokan Hulu Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Indragiri Hulu Kab. Kampar Kab. Kep. Pasaman Kab.Lampiran 1b No. Riau Kab. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 3 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Tapanuli Tengah Kab. Padang Pariaman Kab.

Bengkulu 121 Kab. Tebo 102 Kota Jambi 103 Kota Sungai Penuh 6 Prov. Ogan Komering Ulu Timur 116 Kota Lubuk Linggau 117 Kota Pagar Alam 118 Kota Palembang 119 Kota Prabumulih 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 WDP TMP 15 1 1 WDP WDP 15 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Kepahiang 126 Kab. Bengkulu Tengah 123 Kab. Lahat 108 Kab. Muara Enim 109 Kab. Muko-Muko 128 Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 Prov.Halaman 3 . Batanghari Kab. Jambi Kab. Kerinci Kab. Ogan Komering Ulu 114 Kab. Ogan Komering Ulu Selatan 115 Kab. Seluma 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 6 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 15 . Tanjung Jabung Timur 101 Kab. Kaur 125 Kab. Sumatera Selatan 105 Kab. Sarolangun Kab. Musi Banyuasin 110 Kab. Banyuasin 106 kab. Ogan Komering Ilir 113 Kab. Merangin Kab. Ogan Ilir 112 Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 92 93 94 95 96 97 98 99 Prov. Musi Rawas 111 Kab.Lampiran 1b No. Lebong 127 Kab. 13 5 91 Entitas Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru LKPD 2005 1 WDP LKPD 2006 1 WDP LKPD 2007 1 WDP LKPD 2008 1 WTP LKPD 2009 1 WDP Prov. Bengkulu Selatan 122 Kab. Rejang Lebong 129 Kab. Empat Lawang 107 Kab. Tanjung Jabung Barat 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 WDP WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP 100 Kab. Bengkulu Utara 124 Kab. Muaro Jambi Kab. Bungo Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 Prov.

Tulang Bawang Barat 143 Kab. Bangka Selatan 150 Kab. Bogor 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 23 26 26 WDP WDP 1 1 WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 16 . Bintan 156 Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Way Kanan 144 Kota Bandar Lampung 145 Kota Metro 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 11 11 11 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 9 Prov. Bekasi 167 Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 163 Prov. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 Prov. Lampung 132 Kab. Karimun 157 Kab. Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 8 Prov. Bandung 165 Kab. Tanggamus 141 Kab. Kepulauan Riau 155 Kab. Lingga 159 Kab. Lampung Barat 133 Kab. Bangka Tengah 151 Kab. Bandung Barat 166 Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 Prov. Kepulauan Anambas 158 Kab. Pesawaran 139 Kab. Bangka Belitung 147 Kab. DKI 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 WDP 1 WDP 1 12 Prov. Lampung Selatan 134 Kab. Jawa Barat 164 Kab. Lampung Tengah 135 Kab.Halaman 4 . Tulang Bawang 142 Kab.Lampiran 1b No. Natuna 160 Kota Batam 161 Kota Tanjungpinang 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 5 7 7 WDP TMP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 1 11 Prov. Belitung 152 Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 Prov. Belitung Timur 153 Kota Pangkal Pinang 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 6 8 8 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Prov. Bangka 148 Kab. Lampung Utara 137 Kab. Pringsewu 140 Kab. Mesuji 138 Kab. Bangka Barat 149 Kab. Lampung Timur 136 Kab.

Karawang 174 Kab. Indramayu 173 Kab. Brebes 197 Kab. Kuningan 175 Kab. Jepara 201 Kab.Lampiran 1b No. Purbalingga 211 Kab. Tasikmalaya 181 Kota Bandung 182 Kota Banjar 183 Kota Bekasi 184 Kota Bogor 185 Kota Cimahi 186 Kota Cirebon 187 Kota Depok 188 Kota Sukabumi 189 Kota Tasikmalaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov. Tegal 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WTPDPP 17 . Magelang 207 Kab. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 13 Entitas Pemerintah Daerah 168 Kab. Kendal 204 Kab. Ciamis 169 Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 190 Prov. Banyumas 193 Kab. Grobogan 200 Kab. Sumedang 180 Kab. Blora 195 Kab. Banjarnegara 192 Kab. Cilacap 198 Kab. Pati 208 Kab. Demak 199 Kab. Batang 194 Kab. Kudus 206 Kab. Purworejo 212 Kab. Cirebon 171 Kab. Majalengka 176 Kab. Jawa Tengah 191 Kab. Subang 178 Kab.Halaman 5 . Boyolali 196 Kab. Cianjur 170 Kab. Sukoharjo 216 Kab. Klaten 205 Kab. Sukabumi 179 Kab. Purwakarta 177 Kab. Kebumen 203 Kab. Garut 172 Kab. Pemalang 210 Kab. Karanganyar 202 Kab. Pekalongan 209 Kab. Sragen 215 Kab. Semarang 214 Kab. Rembang 213 Kab.

Wonosobo 220 Kota Magelang 221 Kota Pekalongan 222 Kota Salatiga 223 Kota Semarang 224 Kota Surakarta 225 Kota Tegal LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP Prov. Temanggung 218 Kab. Jombang 241 Kab. Wonogiri 219 Kab. Sleman 231 Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Lumajang 244 Kab. Bangkalan 234 Kab. Jember 240 Kab.Halaman 6 .I. Pacitan 251 Kab. Gunung Kidul 229 Kab. Ponorogo 254 Kab. Magetan 246 Kab. Madiun 245 Kab. Ngawi 250 Kab. Bantul 228 Kab. Lamongan 243 Kab.I. Sumenep 259 Kab. Situbondo 258 Kab. Nganjuk 249 Kab.Lampiran 1b No. Bojonegoro 237 Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 Prov. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 232 Prov. Probolinggo 255 Kab. Yogyakarta 227 Kab. Pasuruan 253 Kab. Bondowoso 238 Kab. Pamekasan 252 Kab. Banyuwangi 235 Kab. Malang 247 Kab. Tulungagung 262 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 26 1 WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TW WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP TW WDP TW WDP TMP WDP WDP TMP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 18 . Blitar 236 Kab. Tuban 261 Kab. D. Kulon Progo 230 Kab. D. Sidoarjo 257 Kab. Mojokerto 248 Kab. 28 29 30 31 32 33 34 35 36 14 Entitas Pemerintah Daerah 217 Kab. Kediri 242 Kab. Gresik 239 Kab. Trenggalek 260 Kab. Jawa Timur 233 Kab. Sampang 256 Kab.

Lombok Barat 294 Kab. Lombok Utara 297 Kab. Nusa Tenggara Timur 302 Kab. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 280 Prov. Alor 15 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 21 1 1 WDP TMP 19 . Tangerang 276 Kota Cilegon 277 Kota Serang 278 Kota Tangerang 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WTP 7 7 7 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WTP 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 17 Prov. Klungkung 288 Kab.Lampiran 1b No. Buleleng 284 Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 Prov. Lombok Timur 296 Kab. Bali 281 Kab. Lebak 273 Kab. Nusa Tenggara Barat 291 Kab. Pandeglang 274 Kab. Serang 275 Kab. Bima 292 Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 301 Prov. Sumbawa 298 Kab. Banten 272 Kab. Bangli 283 Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 Prov. 32 33 34 35 36 37 38 39 16 Entitas Pemerintah Daerah 263 Kota Blitar 264 Kota Kediri 265 Kota Madiun 266 Kota Malang 267 Kota Mojokerto 268 Kota Pasuruan 269 Kota Probolinggo 270 Kota Surabaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 WDP WDP 1 1 1 Prov.Halaman 7 . Sumbawa Barat 299 Kota Bima 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Gianyar 285 Kab. Lombok Tengah 295 Kab. Dompu 293 Kab. Tabanan 289 Kota Denpasar 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP 18 Prov. Badung 282 Kab. Jembrana 286 Kab. Karangasem 287 Kab.

Halaman 8 . Kupang 307 Kab. Sekadau 335 Kab. Manggarai Timur 311 Kab. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 20 Entitas Pemerintah Daerah 303 Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 338 Prov. Kalimantan Tengah 339 Kab. Sumba Barat Daya 318 Kab. Kotawaringin Timur 347 Kab. Pontianak 332 Kab. Kapuas 344 Kab. Lembata 308 Kab. Gunung Mas 343 Kab. Sanggau 334 Kab. Kalimantan Barat 324 Kab. Barito Selatan 340 Kab. Barito Utara 342 Kab. Ketapang 328 Kab. Rote Ndao 314 Kab. Kotawaringin Barat 346 Kab. Sambas 333 Kab. Nagekeo 312 Kab. Landak 330 Kab. Sumba Barat 317 Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 323 Prov. Sumba Timur 320 Kab. Sikka 316 Kab. Kapuas Hulu 326 Kab Kayong Utara 327 Kab. Katingan 345 Kab. Timor Tengah Utara 322 Kota Kupang LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 TMP 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 Prov. Manggarai Barat 310 Kab. Lamandau 348 Kab.Lampiran 1b No. Kubu Raya 329 Kab. Sabu Raijua 315 Kab. Melawi 331 Kab. Barito Timur 341 Kab. Timor Tengah Selatan 321 Kab. Belu 304 Kab. Bengkayang 325 Kab. Murung Raya 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP TW WDP WDP TMP TW WDP TW WDP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TW WDP TW TW WDP TW TW TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TMP TW TW TW WDP WDP TW TW TW 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW 20 . Manggarai 309 Kab. Ngada 313 Kab. Ende 305 Kab. Flores Timur 306 Kab. Sumba Tengah 319 Kab. Sintang 336 Kota Pontianak 337 Kota Singkawang 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WTP WDP WTP 1 TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WTP WTP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 11 1 1 1 TMP TMP WDP 13 1 1 1 TW TMP WDP 13 1 1 1 TMP TMP TW 14 1 1 1 1 1 TMP TW TW TMP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP WDP TMP WDP WDP TW 21 Prov.

Bulungan 370 Kab.Halaman 9 . Hulu Sungai Utara 360 Kab. Kutai Kartanegara 372 Kab. Kalimantan Selatan 354 Kab. Tana Tidung 378 Kota Balikpapan 379 Kota Bontang 380 Kota Samarinda 381 Kota Tarakan 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TW TW TMP TMP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 WDP TW WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TMP TW TW TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TW WDP TW WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP TW WDP 24 Prov. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 382 Prov. Minahasa Selatan 1 1 WDP TMP 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 WDP 1 WDP 1 TMP **** TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP TW 8 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP WDP 14 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW 21 . Kepulauan Talaud 390 Kab. Siau Tagulandang Biaro 389 Kab. Malinau 374 Kab. Bolaang Mongondow Selatan 385 Kab. Tapin 365 Kota Banjarbaru 366 Kota Banjarmasin 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 13 1 WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TW TW WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TW WDP WDP WDP WDP TW TW WDP TW WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Kep.Lampiran 1b No. Tanah Laut 364 Kab. Balangan 355 Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 367 Prov. Kalimantan Timur 368 Kab. Kepulauan Sangihe 388 Kab. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 Prov. Banjar 356 Kab. Tabalong 362 Kab. Penajam Paser Utara 377 Kab. Paser 376 Kab. Barito Kuala 357 Kab. Pulang Pisau 350 Kab. Bolaang Mongondow 384 Kab. Hulu Sungai Tengah 359 Kab. Bolaang Mongondow Utara 387 Kab. Bolaang Mongondow Timur 386 Kab. Sukamara 352 Kota Palangkaraya LKPD 2005 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 TW TMP TW TW Prov. Nunukan 375 Kab. Tanah Bumbu 363 Kab. Kutai Barat 371 Kab. Seruyan 351 Kab. Berau 369 Kab. Sulawesi Utara 383 Kab. Kotabaru 361 Kab. Hulu Sungai Selatan 358 Kab. 12 13 14 15 22 Entitas Pemerintah Daerah 349 Kab. Minahasa 391 Kab. Kutai Timur 373 Kab.

Toraja Utara 431 Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 Prov. Poso 406 Kab. Luwu Timur 421 Kab. Minahasa Tenggara 393 Kab. Parigi Moutong 405 Kab.Halaman 10 . Banggai Kepulauan 401 Kab. Banggai 400 Kab. Tojo Una-Una 408 Kab. Bone 414 Kab. Selayar 419 Kab. Takalar 429 Kab. Gowa 417 Kab. Pinrang 425 Kab. Minahasa Utara 394 Kota Bitung 395 Kota Kotamobagu 396 Kota Manado 397 Kota Tomohon LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 1 TMP WDP WDP WDP WDP TW LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TW TW 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 TMP WDP TW TMP 1 1 1 1 TMP WDP **** TMP WDP 1 1 1 1 1 Prov. Donggala 403 Kab. Sigi 407 Kab. Sulawesi Tengah 399 Kab. Morowali 404 Kab. Jeneponto 418 Kab. Luwu 420 Kab. 11 12 13 14 15 16 25 Entitas Pemerintah Daerah 392 Kab. Enrekang 416 Kab. Maros 423 Kab. Kep.Lampiran 1b No. Luwu Utara 422 Kab. Tana Toraja 430 Kab. Bulukumba 415 Kab. Buol 402 Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 410 Prov. Sinjai 427 Kab. Bantaeng 412 Kab. Toli-Toli 409 Kota Palu 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 WTP DPP 1 1 WTP WTP DPP 8 1 1 1 WDP WDP WTP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP TMP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Wajo 432 Kota Makassar 433 Kota Palopo 434 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 22 . Pangkajene dan Kepulauan 424 Kab. Sidenreng Rappang 426 Kab. Soppeng 428 Kab. Barru 413 Kab. Sulawesi Selatan 411 Kab.

Maluku Tengah 467 Kab. Mamuju Utara 460 Kab. Gorontalo Utara 453 Kab. Maluku 462 Kab. Buru 463 Kab. Kolaka Utara 441 Kab. Konawe 442 Kab. Kepulauan Aru 465 Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 Prov. Sulawesi Tenggara 436 Kab. Maluku Tenggara 468 Kab. Bone Bolango 451 Kab. Pohuwato 454 Kota Gorontalo 1 1 WDP WDP 1 1 6 1 1 1 1 WTP WTP DPP WDP WDP 6 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP **** WDP WDP 7 1 1 1 1 1 1 1 WTP TMP WDP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Konawe Utara 444 Kab. Seram Bagian Timur 471 Kota Ambon 472 Kota Tual 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 4 1 1 WDP WDP 9 1 1 TMP WDP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP TMP 23 . Kolaka 440 Kab. Boalemo 450 Kab. Majene 457 Kab. Buton 438 Kab. Gorontalo 449 Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 461 Prov. Sulawesi Barat 456 Kab.Lampiran 1b No. Buton Utara 439 Kab. Muna 445 Kab. Buru Selatan 464 Kab. 27 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Konawe Selatan 443 Kab. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 Prov. Bombana 437 Kab. Maluku Barat Daya 466 Kab. Mamuju 459 Kab. Maluku Tenggara Barat 469 Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 Prov.Halaman 11 . Gorontalo 452 Kab. Polewali Mandar 1 1 WDP WDP 4 1 1 WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Wakatobi 446 Kota Bau-Bau 447 Kota Kendari 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TW 1 WTP 8 1 WTP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW TW TMP TMP TMP TMP TMP TW TW 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Mamasa 458 Kab. Seram Bagian Barat 470 Kab.

Mamberamo Tengah 497 Kab. Deiyai 488 Kab. Boven Digoel 487 Kab.Halaman 12 . Papua Barat LKPD 1 2 3 4 513 Prov. Papua Barat 514 Kab. Yalimo 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 1 TMP 1 1 1 1 TMP TW TW TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 1 TMP TMP 1 1 TMP WDP 1 1 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 WDP 1 1 1 TW TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 1 WDP 6 1 TW 18 1 1 1 1 TW TMP TW TMP 21 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Mimika 500 Kab. 31 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Kepulauan Sula 480 Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 Prov. Mappi 498 Kab. Keerom 493 Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 Prov. Dogiyai 489 Kab. Manokwari 2 1 WDP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP 24 . Nduga 502 Kab. Halmahera Timur 478 Kab. Merauke 499 Kab. Papua 484 Kab.Lampiran 1b No. Yahukimo 511 Kab. Halmahera Selatan 476 Kab. Fakfak 515 Kab. Intan Jaya 490 Kab. Puncak 505 Kab. Supiori 508 Kab. Kaimana 516 Kab. Sarmi 507 Kab. Jayapura 491 Kab. Halmahera Utara 479 Kab. Jayawijaya 492 Kab. Halmahera Barat 475 Kab. Lanny Jaya 495 Kab. Waropen 510 Kab. Kepulauan Yapen 494 Kab. Pegunungan Bintang 504 Kab. Paniai 503 Kab. Pulau Morotai 481 Kota Ternate 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Puncak Jaya 506 Kab. Halmahera Tengah 477 Kab. Tolikara 509 Kab. Nabire 501 Kab. Asmat 485 Kab. Mamberamo Raya 496 Kab. Maluku Utara 474 Kab. Biak Numfor 486 Kab.

Maybrat 518 Kab. Sorong 520 Kab.Halaman 13 . Teluk Bintuni 523 Kab. Tambrauw 522 Kab. Teluk Wondama 524 Kota Sorong JUMLAH LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 * 1 1 1 1 1 362 WDP 1 463 TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 469 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 485 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 499 TMP TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 25 .Lampiran 1b No. Raja Ampat 519 Kab. 5 6 7 8 9 10 11 12 Entitas Pemerintah Daerah 517 Kab. Sorong Selatan 521 Kab.

Lampiran 2 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .460 100. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 754 455 208 10 74 6 1 530 210 69 149 26 42 30 4 176 90 64 16 4 2 Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 1.05 36.Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai 6 Lain-lain II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.64 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 5 Lain-lain 26 .30 51.00 12.

50 25.34 14.558.77 35.88 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian 12 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.42 144.08 8.565.125.419.572.11 106.45 3.077.053.771.142.132.753.249.87 152.32 43.365.72 83.99 59.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 729 76 16 155 101 26 71 90 15 143 6 3 27 119 7 5 24 2 14 3 3 39 2 20 398 321 17.34 166.29 54.317.95 80.75 8.252.24 8.155.415.64 24.752.92 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 6 Lain-lain IV Administrasi 65 1 3 5 3 862 364 37.32 370.80 476.82 27.16 5.00 521.80 46.16 30.687.872.747.Halaman 1 .377.13 % Nilai (juta Rp) 556.284.47 7.924.84 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 27 .52 207.835.Lampiran 3 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .20 22.42 38.12 94.839. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 10 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 31.49 9.14 276.11 3.224.18 3.30 2.

271.326.Lampiran 3 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 9 45 7 8 65 28 % Nilai (juta Rp) - % 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.320 5.929.60 0.42 4. 8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum 9 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 11 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 12 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 13 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 14 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 15 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1 93 54 71 28 58 6 25 74 1 4 69 1 1 0.03 86.03 4.30 91.60 4.352.70 sehingga 100.91 195.33 6.00 1.761.19 95.384. dll.00 28 .04 3.113.23 445.84 61.761.933.430.384.027.33 7.010.66 1 Penggunaan kuantitas input untuk satu satuan output lebih besar/ tinggi dari yang seharusnya VII Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 137 73 5 32 3 15 5 4 2.48 100. pertambangan.63 33.53 477.Halaman 2 . perpajakan.20 13.76 131.86 6.

37 4 5 7 9 4 13 3 7 3 15 9. Batubara 9 6 2 16 Kab.20 1.00 52.689.73 73.95 208.70 1.283.09 7 14 175 130.12 2 97.23 4 3 20 5.364.36 95.21 2 43.41 1 498.53 Nilai (22) 52.540.456.33 131.07 1 2 12 1.01 5. Nias Selatan 7 4 5 19 Kab.062.192.14 1.56 10.27 317. Padang Lawas 7 2 6 20 Kab. Nias 7 5 4 18 Kab.05 3 917.328.23 2.90 3.24 295.453.43 111.364.61 573.01 3.12 1 1 1 1 1 10 3.02 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 - Nilai (19) 4.909.724.175.10 77.50 557.15 20.744.556.220.893.80 489.838.094.74 1 1 9 527. Aceh Tenggara 8 2 7 7 Kab.00 3.60 2.87 4 517.11 39 6.19 6.33 6 9 3.678.18 62.069.741.121.56 1 15 5.75 2 395.78 2.279.25 22 259 116.191. Pidie Jaya 6 4 12 12 Kab.30 8.21 24.47 1 75.49 1 17.99 5.41 845.80 3 651.08 462.59 1 11.27 841.00 10 1.55 12 1.615. Simeulue 7 2 13 13 Kota Langsa 4 2 14 14 Kota Subulussalam 8 3 2 Provinsi Sumatera Utara 124 58 1 15 Kab.615.26 350.69 7 55.49 2.93 2 2.29 1 4 41 2 4 2 2 1 4 6 1 3 2 2 4 1 6 1 1 8 1.09 60.Halaman 1 .11 1 11 651.34 1 15 10.40 584.926.20 288.84 1 1.621. Aceh Besar 5 3 4 4 Kab.690.16 4.25 75.40 3.56 1.466.66 9 2 18 1.49 1.119.86 3 1 13 3.54 7.50 11. Simalungun 10 6 8 22 Kab.87 7 1.26 21 1.953.30 801.965.482.828.70 424.59 7 7 9 9 6 7 6 5 4 7 81 3 5 5 5 6 5 3 7 7 8 7 6 9 2 3 13 2.57 - Nilai (23) - Nilai (24) 176.97 19.31 47.240.36 1 42.71 721.560.789.993.28 3 76.03 67.65 162.61 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 90 38 1 1 Provinsi Aceh 15 5 2 2 Kab.214.03 30.42 6 381. Aceh Barat Daya 5 2 3 3 Kab.734.01 5 2.57 172.75 5 844.737.077.82 1.437.312.307.215.73 1.792.144.055.00 125.65 102.30 696.80 3 14 754. Tapanuli Tengah 10 6 10 24 Kab.45 28 9.86 304.38 1.80 1. Padang Lawas Utara 8 2 7 21 Kab.572.78 14 5. Pidie 6 2 11 11 Kab.147.13 2 9.61 17.75 2.93 3.Lampiran 4 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 38 8 2 2 1 1 5 4 2 1 2 4 2 4 44 1 6 1 3 3 3 3 4 3 4 2 1 2 4 2 2 13 1 6 32 1 11 5 21 20 4.557.386.119.72 89 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 3.51 2.56 2.96 9 4. Aceh Jaya 2 1 5 5 Kab.762 - Jml Kasus (20) 8 5 1 1 1 16 2 1 1 2 2 1 1 4 2 Nilai (21) 55.23 29.19 15.579. Bener Meriah 5 3 9 9 Kab. Aceh Timur 9 5 8 8 Kab.62 16.416.589.04 1 1.56 1 16 4.41 279.107.929.446.530.73 4 432. Bireuen 5 3 10 10 Kab.06 108 49.21 429.00 870.50 1.13 3 322.762 4.529.611.152.038.25 3 13 9.60 291.399.06 6 1 1 2 7 1 1 1 1 1 1 1 2 19 102.356.35 5.85 2 2.66 1.152.60 3 546.304.39 1 2 14 24.91 1 659.82 5 1 14 671. Toba Samosir 7 2 11 25 Kota Binjai 4 2 12 26 Kota Medan 6 0 13 27 Kota Padangsidimpuan 5 2 14 28 Kota Pematangsiantar 9 5 15 29 Kota Sibolga 7 4 16 30 Kota Tanjungbalai 4 2 29 .954.01 3 625.22 3.99 5 421.56 4 2. Tapanuli Selatan 14 7 9 23 Kab.738.00 1.61 55.24 22.52 6 1 19 7.25 1.24 2 2 9 151.46 174.76 527.259.968. Deli Serdang 10 3 3 17 Kab.14 88.61 3.959.41 19. Aceh Tamiang 5 1 6 6 Kab.385.

70 1.071.46 57 5 2 37 20.257.029.159.14 3.49 1.42 4 3.663. Bandung Barat 13 9 4 52 Kab.27 13.936.83 41 7 3.159.081. Rokan Hilir 4 2 7 41 Kab.67 2 496.069.295. Banyuasin 12 5 2 46 Kab.31 4 1.17 1 4.256. Kampar 7 5 5 39 Kab.167.54 57.158.92 5 806.94 24 6.20 21.65 4 1 1 2 12 6 2 1 1 2 20 12.808.01 1.94 1.770.07 77.346.86 11 3 1.498.748.57 8 3.909.61 4 6.845.284.14 455.16 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 7 3 1 3 7 1 2 3 1 3 1 2 6 3 1 2 14 5 3 1 Nilai (21) 4.192.505.50 1 35 14.38 6 2.02 262.75 3.973.30 Halaman 2 .423.31 192.809.54 2.03 2 18 3.303.971.433.73 598.44 8 12.07 111.16 2 1.186.008.33 487.825.117.282.00 2 3 31 12.68 6 2.07 1 5 2.244.88 13 1.149.04 8 5.462.206.518.61 4.395.84 3.65 18 6.42 11.72 1 2 20 5.162.282.782.00 370.733.77 8 30.Lima Puluh Kota 11 3 3 33 Kab.06 331.89 19 8. Empat Lawang 8 5 3 47 Kota Pagar Alam 7 2 4 48 Kota Prabumulih 5 1 7 Provinsi Jawa Barat 149 76 1 49 Provinsi Jawa Barat 15 4 2 50 Kab. Ciamis 5 4 6 54 Kab.630.14 - (1) (2) (3) (4) 3 Provinsi Sumatera Barat 52 24 1 31 Kab.862.40 6 5.85 2.59 86.36 1.Solok Selatan 23 12 4 Provinsi Riau 65 34 1 35 Kab.080.77 1 3.76 4.493. Bekasi 4 2 5 53 Kab.48 3 1.44 9 8.90 1.999.98 245.59 16.75 7 19 250 132.68 1.303.47 4 682.08 4 1.73 1.79 119.236.99 1.172.96 1 110.237.30 201.505.722.60 1.002.62 4 3.18 7 1 8 168 94.422.281.245.49 10 1 16 6.187.006.Mentawai 5 1 2 32 Kab.99 373.38 Nilai (22) 487.435.64 18.00 18.768.749.01 52.059.80 355.27 2.67 6.64 4.88 Nilai (23) 426.496.039.95 90.266.00 - Nilai (24) 42.98 2 7.Pasaman Barat 13 8 4 34 Kab.277.28 587.00 304.83 2 1.96 13.577.47 1.07 1 630. Muaro Jambi 9 7 2 44 Kab.97 1.29 15 8.301.00 356.55 286.60 175.31 2.98 42.480.012.57 1.08 426.067.34 570.33 1 676.21 4 1.24 180.57 72 65.27 7 1.84 18 14.Kep.15 1.31 3.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 25 3 8 5 9 23 5 1 4 1 1 3 8 3 1 2 13 5 1 3 4 54 7 4 4 2 1 6 3 1 8 3 3.25 1.09 2 4.60 17.76 1.237.116.62 490.54 2. Tanjung Jabung Timur 10 6 6 Provinsi Sumatera Selatan 32 13 1 45 Kab.92 6 1.216.182.310. Siak 7 4 8 42 Kota Dumai 15 7 5 Provinsi Jambi 19 13 1 43 Kab.00 426.787.95 8 1 26 4.44 7 4 42 73.00 13 3.945.71 5 7 3 3 1 40 8 1 2 2 5 1 1 1 12 7.50 8.597.968.543.71 7 16 2.193. Indragiri Hulu 9 4 4 38 Kab.62 4 782.502.19 2 19 4.79 1 252. Indramayu 4 3 .43 1 364.241.434.56 8.457.333.587.209.32 1.27 1.686.593. Cianjur 11 5 7 55 Kab.65 1.88 5 1.857.90 201.597.73 6 4. Indragiri Hilir 7 5 3 37 Kab.49 13 5.50 13.32 1 888.108.68 1.88 5 2.19 6 1.988.06 350.96 2 6 12 1 4 20 1.80 1 22 40.18 1 31 7.60 29 17.33 4.241.33 94.37 10.493.474.46 1.870.46 2 2.25 2 500.95 8 2.65 5 2.720.497.26 3 107 35.813.314.60 4.993.72 1 27.62 1.468.53 24. Bandung 8 3 3 51 Kab. Kuantan Singingi 5 3 6 40 Kab.69 2.632.77 8 6 16 7 11 5 6 25 5 9 4 7 75 8 5 7 2 1 16 2 1 17 6.015.75 1 23 8 1 4 1 2 12 4.951.398.42 9 1 9 6.90 7 355.45 41 6. Garut 6 3 8 56 Kab.64 854. Bengkalis 11 4 2 36 Kab.06 86 10.56 2 6 60 14.58 2 15 3.82 16 4 20 4.540.

106.860.21 3 976.29 150.87 5 120.21 110.68 391. Kuningan 6 3 11 59 Kab.100.919. Sintang 8 4 8 82 Kota Singkawang 14 4 31 .213.46 48.460.51 954.06 91.09 5 351.64 7.77 5.21 20.85 8.721.535. Subang 5 3 13 61 Kab.27 3 459. Kupang 21 11 2 72 Kab.00 204.40 Nilai (23) - Nilai (24) 191.02 5.09 6 1 2 3 3 3 16 270.057.50 380.54 3 4 10 858.157.20 5 10 629.283.25 4 28 61.23 2 15 1.11 1. Sikka 11 9 4 74 Kab.21 3.372.57 1 2 1 19 5.53 272.04 1 34.532.52 673.64 155.57 3 10 6.57 280.15 4 2 5 5 1 7 3 4 3 3 36 13 10 5 8 74 14 7 4 9 7 11 12 10 2 3 771.326.008.02 2 13 3.86 1 344.90 4.04 1 98.890.42 46.17 868.63 9 1.674.02 6.73 1.385. Karawang 4 2 10 58 Kab.23 1 1 18 6.35 437.48 18.13 13.194.92 107.319.56 51.49 3 198.122.42 3 1 940.66 10.28 - (1) (2) (3) (4) 9 57 Kab.844.520.53 11 73 43.654.41 4 347.Halaman 3 .46 555.50 23.74 1 8.86 9 127 70.16 819.75 100.85 4 13 32.846.193.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 3 2 1 4 2 3 4 5 7 4 3 6 6 17 5 3 2 7 41 9 7 3 9 2 3 8 2 1 18 18 14 1 14 1 15 8 12 646.67 4.20 1 852.701.30 5 2.77 3 232.50 99.52 555.277.37 275.80 1 1 8 9.29 5.42 210.249.90 4 410.87 7.03 511.263.04 2 1 8 8 12 1 3 3 5 14 2 3 3 3 2 1 3 20 7.346.37 5.225.19 4.50 3 6.91 1 940.53 243.75 655.99 218.201.429.098. Kapuas Hulu 13 6 4 78 Kab. Majalengka 13 7 12 60 Kab.02 10 1.03 2 2.40 1 264.11 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 51.91 1 9 3.404.37 3.61 131.09 8. Tegal 6 2 2 69 Kota Pekalongan 10 4 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 8 2 1 70 Kab.57 16 270. Bengkayang 5 5 3 77 Kab.71 237.21 2 706.31 3.673.78 2 219.25 620.827.223.96 297.87 90.69 4 512.01 3.896.281.44 1 264.53 3 119.28 3 3.860.62 819. Manggarai Timur 12 8 3 73 Kab. Timor Tengah Utara 21 9 11 Provinsi Kalimantan Barat 95 45 1 75 Provinsi Kalimantan Barat 18 5 2 76 Kab.56 516.35 1.27 50.30 6 311.50 3 1.45 4 302. Sekadau 10 8 7 81 Kab.01 Nilai (22) 52.87 5 120.70 1.41 1 710.69 189.27 3.206.09 155.41 26.30 2 526.80 2 771.00 11.97 1 617.896.102.87 95.07 193. Landak 16 6 6 80 Kab.70 150.22 45.476.175.053.01 4 2 1 1 3 1 1 1 5 1 1 2 1 11 1. Kayong Utara 11 7 5 79 Kab.67 22 6 2 3 1 3 1 3 3 5 23 3.42 12.11 5 19 1. Lombok Utara 8 2 10 Provinsi Nusa Tenggara Timur 65 37 1 71 Kab.90 41.69 2 652.12 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 4 1 3 2 1 7 2 1 1 3 9 2 1 1 1 4 Nilai (21) 3.00 100.29 1 8 6.83 1 86.40 95. Tasikmalaya 4 2 14 62 Kota Bandung 13 7 15 63 Kota Bekasi 12 9 16 64 Kota Bogor 9 4 17 65 Kota Cimahi 7 2 18 66 Kota Depok 4 3 19 67 Kota Tasikmalaya 6 1 8 Provinsi Jawa Tengah 16 6 1 68 Kab.13 2.155.

00 59.273.795.14 1. Seruyan 12 4 13 Provinsi Kalimantan Selatan 37 14 1 84 Kab.81 4 1.57 567.71 51 14.181.01 11 1 22 4.43 11 13.892.85 703.864.60 2 49.36 20.69 8 5.30 11 1.39 6 417.42 515.87 40 3 1 2 6 1 2 1 1 1 1 16 1.46 7 3.055.29 13.98 135.76 6 68.38 1 1.00 525.192.974.187.22 2.30 57.08 270.71 438.03 9 7 40.05 3 4 12. Minahasa Tenggara 3 0 4 97 Kota Tomohon 2 0 16 Provinsi Sulawesi Selatan 111 60 1 98 Kab.48 417. Sinjai 12 8 8 105 Kab.35 2.392.71 9 515.84 771.670.36 5 1 17 8. Luwu Utara 4 2 5 103 Kab.825.01 9.292.684.50 3 1.44 79.664.00 7 11.40 1.16 434.484.90 1 2.84 1 2.05 7.93 2 314.180.47 706.25 4 65.48 3 4 93 112.93 16 1. Balangan 8 3 2 85 Kab.50 3 1.34 450.25 81.602.631.00 1.894.66 43.84 1 2.12 2 441.424.688.26 5 4.13 135.50 2 1 19 7.057. Bantaeng 9 5 2 99 Kab. Luwu Timur 4 3 4 102 Kab.86 4 2.83 2 118.88 5 3.20 2.52 3.674.032.673.43 1 15 6.780. Toraja Utara 8 1 11 108 Kota Palopo 10 4 .34 2 5 3 1 42 4 6 7 3 3 3 3 3 3 5 2 33 54.97 7 761.37 465.79 1 14 13.92 822.33 2 51.46 2.63 3 710.68 8.82 2.31 1.67 4 1 1 17 1.793.69 1.615.01 22 88.901.013.62 2 49.440.440.60 2 335. Malinau 9 1 5 92 Kota Bontang 6 3 6 93 Kota Samarinda 22 10 15 Provinsi Sulawesi Utara 12 2 1 94 Kab.50 49.43 1 14 956.69 - (1) (2) (3) (4) 12 Provinsi Kalimantan Tengah 12 4 1 83 Kab.75 793.777.851.87 2 9 1.36 18 11.404. Minahasa Selatan 5 2 3 96 Kab.27 49.73 1 14 8.897.28 4 19 21.884.75 2 4 1 1 1 8 177 41.196.05 3 4 12.369. Tana Toraja 12 4 10 107 Kab.00 1.95 5 7 8 5 12 8 2 1 3 2 61 5 4 8 6 7 5 7 6 5 3 5 1 7 776.52 6 197.32 Halaman 4 .50 - Nilai (23) - Nilai (24) 0.09 3 37.531.628.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 4 4 19 4 5 7 3 41 7 4 9 7 3 11 10 2 3 3 2 43 4 1 9 1 1 4 3 2 8 6 4 2 15 1 15 1.393.36 1.97 2 236.49 16 2.70 1 158.42 24 7.28 14.233.21 563.92 4 19 21.861.93 1 55. Takalar 14 12 9 106 Kab.863.04 23 18.56 7.24 5 557.878.36 457.46 1.25 10.67 2.45 12 49.877.670.054.999.943.69 8 5.36 54.28 166. Tanah Bumbu 12 4 4 87 Kota Banjarbaru 7 3 14 Provinsi Kalimantan Timur 79 34 1 88 Kab.86 416.085. Kutai Timur 18 8 4 91 Kab.84 2.462.02 49.21 1 3 9 2.748.58 19 693. Kepulauan Selayar 14 5 3 101 Kab. Jeneponto 10 8 6 100 Kab.28 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 9 5 4 3 1 2 1 1 8 1 2 2 3 Nilai (21) 8.63 96.341.37 1.857.20 410.45 210.61 199.06 22 3.052.17 5 4 59 12.50 27.95 178.422.38 5 4.38 107.01 Nilai (22) 579.84 0.971.837. Kotabaru 10 4 3 86 Kab.18 4.85 1 56.29 2 4 4 6 3 2 22 15.00 273.69 2.758.61 9 1 12 898.29 383. Maros 14 8 7 104 Kab.588.67 2.88 3 116. Bolaang Mongondow Timur 2 0 2 95 Kab.558.85 128.700.424.00 1 416.96 4 1 9 274.52 512.17 18 1 81.363.140.558.76 7. Kutai Barat 14 6 2 89 Kab.752.057. Kutai Kartanegara 10 6 3 90 Kab.861.245.770.748.

31 2.674. Maluku Tenggara Barat 8 5 9 122 Kota Ambon 18 11 10 123 Kota Tual 21 9 20 Provinsi Maluku Utara 107 70 1 124 Provinsi Maluku Utara 16 10 2 125 Kab.95 294.659.91 22.03 3 350.744.430.82 11 10.169.32 193.71 1 8 1 4 2 1 2 24 6.954.597.75 2 5 18 7.196.15 4 530.37 4 155. Buru 24 11 3 117 Kab. Konawe Utara 24 12 18 Provinsi Sulawesi Barat 3 1 1 114 Kab.88 1.09 572.808. Halmahera Selatan 15 13 4 127 Kab.53 4 725.056.67 3 212.581.74 14 59.11 2.610. Kepulauan Sula 16 9 8 131 Kota Tidore Kepulauan 9 4 33 .743.54 37.405.48 5. Maluku Tenggara 19 11 7 121 Kab.402.932.55 291.729.37 3.00 28.557.12 83.70 35 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 196.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 31 2 5 4 8 12 1 1 48 7 8 6 3 6 2 5 11 25 6 4 2 1 2 2 5 3 2 25 2 12 1 10 3 21 38.846.741.488.00 43.475.23 876.00 2 3 15 2.13 1 95.72 8 564.743.38 5.696.11 7.29 5 4 4 1 1 9 1 1 1 1 1 4 7 119 193.39 32 15.387.044.95 68.41 13 8.161.95 275.54 9.341.58 59 141. Halmahera Tengah 8 6 5 128 Kab.28 6 2 24 74.67 3 1 25 1.72 37 27.03 735.Halaman 5 .870.552.30 39.533.70 - (1) (2) (3) (4) 17 Provinsi Sulawesi Tenggara 72 34 1 109 Kab.944. Buton Utara 15 8 3 111 Kab.459.18 3 17 12.717.54 1 24 62.944.902.056.60 5 1.70 991.122.87 2 491.377. Bombana 8 4 2 110 Kab.25 2 3.47 8.53 9.53 83. Maluku Tengah 20 14 6 120 Kab.59 2.31 1 20 7.211.90 47.048.19 8 1.60 20.500.00 - Nilai (23) - Nilai (24) 68.226.83 1 1.16 4 6 14 899.13 97.262.33 378.298.44 7 5 1 2 5 4 3 3 27 2 3 4 2 5 6 5 2 9 10.22 4 3.80 80.00 7.88 31 1 25 1.581.32 2. Maluku Barat Daya 19 13 5 119 Kab. Halmahera Utara 11 8 7 130 Kab.51 6 11 8 8 63 4 6 9 8 8 8 8 7 5 51 6 8 6 10 5 2 5 9 2 17 5.902.61 295.31 Nilai (22) 195.69 1 786.38 291.12 4.62 7 7.03 1 21.63 5.66 23 1 14 6.106.94 148. Halmahera Barat 18 11 3 126 Kab.806.70 1 12 128 85.06 5 338.773.90 3 1.98 6.398.78 4 1.22 26.031. Konawe 16 7 5 113 Kab.03 596.61 4.06 415.88 1 27 144 45.30 735.257.14 2 13 1.452.227.320.92 10.05 3 2 5 8 1 3 10 1.50 2.03 142.749. Buru Selatan 21 10 4 118 Kab.262.62 3.03 20 22.00 1 17 5.03 196.122.54 4.13 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 2 2 2 2 6 2 1 2 1 10 1 4 1 4 Nilai (21) 4.47 212.23 3.733.73 5 20 4.87 16 63.350.605.44 621.47 4 1.654.71 3.297.64 557.91 25. Majene 3 1 19 Provinsi Maluku 167 92 1 115 Provinsi Maluku 17 8 2 116 Kab.13 1.72 3 25.187.70 119.58 3 11. Kolaka Utara 9 3 4 112 Kab.38 2.06 7 2 17 23.96 11.30 17 15.304.694.890.72 8 564.66 2.648. Halmahera Timur 14 9 6 129 Kab.95 3 8.30 4.657.241.789.030.744.

36 3 22 10.97 858.362.384.87 4 3.34 Halaman 6 .271.00 3 8 12.369.82 118.798.00 12.68 8.66 1 457.37 2.38 4.44 9 4.150.278.31 7 21. Tolikara 5 4 12 143 Kab.649.43 2 14 4.335.54 883.32 7.936.49 243.49 1 15 6.32 1.37 1 11.951.837.60 3 6 590.48 729 556.972.70 6 865.89 3 18.00 1.95 1 13 4.332.73 8 2.495.17 6 4. Jayawijaya 9 7 3 134 Kab.204.89 (1) (2) (3) (4) 21 Provinsi Papua 70 56 1 132 Kab. Fakfak 11 8 3 147 Kab.567.207.946.386.486.75 547.683.25 3 4.84 Nilai (22) 1.412.23 778.73 2 153.00 1.21 1 419.24 2 10 15.49 1 184.753.70 4 6 600.917.879.758.70 1 8 1.985. Nabire 4 3 7 138 Kab.42 2.783.86 1 12 4.83 1 153.761.993.687. Supiori 6 5 11 142 Kab.670.853.20 5 2 134 126. Sorong Selatan 11 7 7 151 Kab.917.22 1 124.08 170.181.12 12 18.15 1 583.15 4 74 6 6. Manokwari 5 1 4 148 Kab.320 1. Yahukimo 9 8 22 Provinsi Papua Barat 75 41 1 145 Provinsi Papua Barat 10 3 2 146 Kab. Merauke 4 2 5 136 Kab.18 5 12.30 5 95.289.00 1 10 2.871.54 542.42 119 1 9 2.252.15 3 44.76 15 13 13.93 3 5. Teluk Bintuni 9 5 JUMLAH 1.63 1 434.877.415. Sarmi 2 2 10 141 Kab.22 3 3 5 5 31 6 9 2 5 5 2 2 862 10 4.06 16.10 5 2.00 370.935.07 2 1.79 4 3.66 Nilai (23) 426.191. Paniai 6 3 8 139 Kab.70 6.234.23 434.485.23 3 2 1.41 941.76 1 14 49.314.78 1 1.00 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 4.00 1.21 42 31.92 1 56.736.79 547.30 4 15.26 10 10. Dogiyai 3 3 2 133 Kab.34 10 5.00 Nilai (24) 434.430.26 13 4. Puncak Jaya 5 5 9 140 Kab.08 205.460 754 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .88 327.708.929.23 1 9 103 77.207.425.535.04 45 2 1.86 3 708.868.00 61.32 14.193.86 6 4. Mappi 5 3 4 135 Kab.80 1. Mimika 2 2 6 137 Kab.78 23.49 207.137.972.06 1 935.224.659.42 5 46.849.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 12 1 2 2 1 3 1 1 1 25 7 2 1 2 6 4 3 530 176 2.872.04 6 2.565.502.61 61 72.44 6 10.98 1 3 6 3 398 1 19 7.511.06 3 262.86 3 1.179.30 195.20 5 2. Waropen 10 9 13 144 Kab.06 1 143.01 4 3.60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 8 1 1 1 1 1 3 8 4 1 1 2 137 Nilai (21) 2.989.753.786.086. Raja Ampat 10 7 5 149 Kab. Sorong 19 10 6 150 Kab.621.139.72 1 22 37.

99 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 100.76 42.Lampiran 5 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .25 Jumlah Kasus % 22 11 11 71 30.Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 30 11 13 5 1 19 1 3 7 5 3 26.00 35 .

perpajakan.595.Lampiran 6 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .116.53 89.897.00 4.12 1 Lain-lain VII Ketidakefektifan 14.03 64.59 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. dll.35 0.99 - 0.71 35.72 25.11 % Nilai (juta Rp) 28.322.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 36 .51 500.51 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah) 3 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.58 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.203.03 - 26.59 282.29 49.29 14.81 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 2 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1.06 0.16 37. pertambangan.29 35.87 11.881.375. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 7 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 8 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 9 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 14.12 11.00 239.69 100.696.48 26.04 20.01 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 23 1 1 1 2 10 2 1 1 4 9 1 8 1 1 9 3 1 1 3 1 63 36.00 299. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 6.89 37.25 84.123.595.Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 2 10 10 15.99 282.29 64.116.12 3.

372.53 8 1 10 7 24.21 31.51 1 8 10 267.00 35.72 10 4.123.450.99 Jml Kasus (20) 2 2 4 1 9 Nilai (21) 24.88 49.212.70 22.595.70 1 14.53 17.53 Nilai (23) 17.16 Nilai (22) 0.50 3 85.11 64.116.868.57 2 28.897.53 (1) (2) (3) (4) 1 PT Perkebunan Nusantara XII TB 2009 15 5 2 PDAM Kota Padang TB 2009 7 4 3 West Earthquake Disaster Project pada BNPB TA 2010 2 - 4 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 20 5 5 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M 10 5 6 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 17 11 JUMLAH 71 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 37 .46 500.99 282.107.65 2 0.48 1 7 21.Lampiran 7 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Potensi Kerugian Negara/ Negara/Daerah/ Daerah/Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Nama Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara/Daerah/ Ketidakefektifan Negara/Daerah/ Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Jml Kasus Jml Kasus (6) 2 3 1 6 1 6 19 22 63 239.00 32.69 4 28.00 89.450.50 35.57 1 9 21 152.16 21.952.68 1 26.682.203.18 1 7 4 8 36.53 0.11 3.000.579.868.50 3.998.79 1.03 Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) 282.826.132.070.29 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai Nilai (5) (15) 8 2 2 3 3 5 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 3 3 23 9 Nilai (17) 267.

Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana Instalasi Rawat Jalan. Soebandi Kabupaten Jember di Jember 11 RSD Mardi Waluyo di Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Belum Didukung Struktur Organisasi yang Memadai Sarana dan Prasarana Jumlah Belum Tenaga Memenuhi Medis dan Standar dan Keperawatan Persyaratan Belum Kesehatan Memadai Lingkungan Rumah Sakit 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan di Tarakan Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Sulawesi Tengah 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 14 38 . Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR.Lampiran 8a Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo 14 RSUD Kabupaten Jombang di Jombang 15 RSUD Dr.A. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. M. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Pasuruan di Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 13 Ѵ 19 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ RSD dr. M. R.

Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Tidak Terdapat Program Perencanaan Perencanaan Perencanaan Kerja Belum Anggaran Kebutuhan Tidak Disusun/ Tidak Perbekalan Memadai Belum memadai Farmasi memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 2 2 16 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RSU Mayjen H. RSUD Undata di Palu RSUD Kota Sorong 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 17 18 19 Jumlah 39 . Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR.Lampiran 8b Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 2. R.A. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. M. M. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan.

Rawat Inap dan Farmasi Temuan Pelaksanaan No Provinsi No RSUD Pengelolaan Pelayanan SPM Belum Prosedur Administrasi Tidak Sesuai Memadai / Tetap Belum Kurang Ketentuan Ditetapkan Memadai Memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 18 7 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 14 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. M. M.A. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga RSUD DR. Ponorogo Harjono Kabupaten 14 RSUD Kabupaten Jombang 15 RSUD Dr. Soebandi Kabupaten Jember 11 RSD Mardi Waluyo Kota Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.Lampiran 8c Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 3. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 40 . Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. R. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang Magelang di 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan 10 RSD dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Ungaran Semarang di RSUD DR.

Lampiran 8d Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 4.A. RSUD Undata di Palu RSUD Kabupaten Manokwari Jumlah Ѵ 10 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Belum Dilakukan/ Belum Sepenuhnya Dilakukan No Provinsi No RSUD 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 14 15 16 17 41 . Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan. M. R. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. M. Rawat Inap dan Farmasi Belum Memadai/ Tidak Sesuai Ketentuan RSU Mayjen H. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.

62 Jumlah Kasus % 42 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Mekanisme pemungutan.00 21. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 16 3 9 3 1 42 4 10 21 5 2 16 4 10 1 1 74 100.62 56.76 21.Lampiran 9 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

288.60 - 8 1 1 1 1 1.93 75.38 255.03 100.45 99.77 296.41 75.93 0.14 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 57 41 64.12 50.398.80 100.02 3 1 2 88 3. perpajakan.82 % 2.00 43 .329.28 422.646.27 Nilai (juta Rp) 422.06 12.59 34.14 50.12 0.28 2.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No I Kerugian Negara 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi II Potensi Kerugian Negara 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. dll.01 120.342.95 2.442.78 % 0.03 8 1 7 19 1 2 6 21.189.Lampiran 10 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . pertambangan. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 6 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 2 2 6 2 2 2 6.31 6.00 299.11 0.

988.29 2.25 270.80 2 422.06 21 10 1 5 57 9 1.99 2 212.38 2 2.503.06 5.398.871.12 1 2 3 75.28 8 9.17 6 1 119.87 4.97 119.85 1 12.452.68 2 - Kejaksaan Republik Indonesia 16 3 3 Kementerian Dalam Negeri 4 1 4 Kementerian Luar Negeri 1 5 Kementerian Keuangan 36 7 6 Kementerian Agama - 7 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - 8 Badan Pertanahan Nasional - 9 Kepolisian Republik Indonesia 1 10 Kementerian Perdagangan 1 11 Taman Mini Indonesia Indah 4 2 JUMLAH 74 16 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .10 28 270.329.503.06 14 5.93 2.001.93 75.29 1 2.539.988.90 1.288.19 6 3 4.44 Lampiran 11 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Negara Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus 1 13 1 1 16 88 299.375.342.17 296.38 Nilai Nilai Nilai Nilai 7 13 3 1 16 1 1 42 Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Jml Kasus (18) Nilai (19) Nilai (21) Nilai (22) (1) (2) (3) (4) 1 Mahkamah Agung 11 3 2 3 2 5 3 1 3 19 1 1 50.11 10 5 632.73 1 419.29 2.02 1.95 2 18 7.324.376.12 50.38 9.65 831.200.74 4.014.29 708.99 5 2.

00 45 .86 Jumlah Kasus % 121 27 11 16 199 13.Lampiran 12 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .90 6. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 11 1 1 1 158 3 24 10 79.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.24 100.

04 6.733.43 1.333.333.11 5.38 2.38 6.426.Lampiran 13 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .48 2.581.29 253.51 61.38 94.41 927.48 226.20 11.19 71.09 V Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13 1 12 322 4.659.880.923.86 % Nilai (juta Rp) 2.16 1.00 100.36 100.18 15.20 5.870. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 1. pertambangan. dll.40 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 46 .Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 8 6 2 6 5 1 230 177 25 1 1 26 65 4 4 18 38 1 20.36 2.19 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 2 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 2 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.25 5.81 88.791.37 2. perpajakan.00 268.996.

798.506.Lampiran 14 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 5 1 1 1 5 11 1 0 1 6 7 10 10 2 11 4 6 7 9 3.12 4 8 8.506.504. Belitung 4 2 11 Kota Pangkalpinang 12 7 Kepulauan Riau 1 12 Prov.22 6 1 6 7.06 392.24 6. Bogor 6 47 .372.19 4. Kepulauan Riau 1 2 13 Kota Tanjungpinang 13 8 Jawa Barat 1 14 Kab.122.38 - Nilai (21) 155.770.463.240.14 88. Lahat 3 4 Bengkulu 1 7 Kota Bengkulu 1 5 Lampung 1 8 Prov.Halaman 1 . Deli Serdang 3 2 2 Kota Medan 5 2 Sumatera Barat 1 3 Prov.04 1.825.240.59 14 16.735.770.94 2.486.01 3.8 - (1) (2) (5) (6) 1 Sumatera Utara 1 1 Kab.07 798.18 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 1 1 1 1 2 2 6 Jml Kasus (18) 1 2 1 2 - Nilai (19) 71. Sumatera Selatan 4 2 6 Kab.486.006.88 3 8 6.65 4.735.40 3.330.29 2.65 4.86 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 12 5 3 7 6 3 4 9 4 4 6 4 8 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 6.372.133.35 460.29 3.046.04 3 1 4 1.59 8. Sumatera Barat 7 2 4 Kota Bukittinggi 7 3 Sumatera Selatan 1 5 Prov.85 3 7 6.29 2.218.222.01 1 3 937.69 1 2 6 7 869.35 460.09 - Nilai (20) 408.676.52 16.9 60.88 1.78 21.67 1 417. Lampung 4 2 9 Kota Bandar Lampung 7 6 Kepulauan Bangka Belitung 1 10 Kab.92 1 212.22 6.04 1.12 937.

001.088.60 4 3 4 7.03 2 3 9 898.983.377.644.I Yogyakarta 1 22 Kota Yogyakarta 6 11 Jawa Timur 1 23 Prov. Banten 3 13 Nusa Tenggara Timur 1 26 Prov.516.17 131.323.79 4 4 4 2.43 - (1) (2) (5) (6) 2 15 Kota Bandung 8 9 Jawa Tengah 1 16 Prov.73 151.30 4 5 2 15 31.48 Halaman 2 .04 1.06 6 14 1. Kalimantan Barat 5 15 Kalimantan Selatan 1 29 Prov.17 131.57 4.93 85. Nusa Tenggara Timur 5 2 27 Kota Kupang 5 14 Kalimantan Barat 1 28 Prov.132.746. Kudus 4 4 19 Kota Pekalongan 6 5 20 Kota Semarang 8 6 21 Kota Surakarta 7 10 Provinsi D.60 1.49 1 1 6 1 11 325.270.30 2.75 325.723.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 1 1 1 28.102.6 100.66 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (17) 1 4 2 3 1 1 3 5 Jml Kasus (18) 2 2 1 1 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 2.73 2 2.99 2. Brebes 2 3 18 Kab.64 86.62 898.83 - Nilai (20) - Nilai (21) 78.00 275.79 5 6 2.70 1 3 3 3 151.399.89 29.08 2 3 2 3 28.57 1. Kalimantan Selatan 2 .00 3.105.516.11 3 6 2 1 8 8 4 1 10 949.04 1. Jawa Timur 3 2 24 Kota Surabaya 5 12 Banten 1 25 Prov.16 5.03 3 5 3.06 591.73 2 7 4.79 104.15 2 1 2 9 4 4 3 5 3 1 3 2 1 7 89.50 949.45 160.50 12 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 31. Jawa Tengah 5 2 17 Kab.399.64 86.06 1 2 2 3 2 3 89.329.

050.241.196.48 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 7 Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 65 13 Nilai (19) 133.050.47 6 8 4.395.95 5. Sulawesi Barat 2 21 Maluku Utara 1 38 Kab.36 22. Sulawesi Tenggara 7 2 36 Kota Kendari 7 20 Sulawesi Barat 1 37 Prov.957.203.40 2 7 6.00 2. Sulawesi Selatan 10 2 33 Kab.42 3 11 22.Halaman 3 .Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 2 1 14 158 27 322 3 2 11 1 3 12 3.317.050.38 1.437. Halmahera Timur 4 2 39 Kab.870.67 253.54 (1) (2) (5) (6) 16 Sulawesi Utara 1 30 Kota Bitung 2 17 Sulawesi Tengah 1 31 Prov.733.437.38 1. Sulawesi Tengah 2 18 Sulawesi Selatan 1 32 Prov.85 2.42 4.598.333.21 1 12 1.65 1.09 6.196.30 9 1 11 93.598.47 3.21 93.923.109.504.60 8 4 1 7 3.38 Nilai (21) 31.60 6. Maros 6 3 34 Kota Makassar 3 19 Sulawesi Tenggara 1 35 Prov.63 6 2 9 2.00 3.66 4 191.67 268. Halmahera Utara 5 JUMLAH 199 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 49 .957.203.41 6 16 8.504.63 8.317.11 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 9 2 11 11 11 6 8 7 11 10 230 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 976.880.38 Nilai (20) 408.

Lampiran 15 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20 13 6 1 35 15 12 3 4 1 31 19 12 86 100.26 Jumlah Kasus % 50 .70 23.00 36.05 40.

894.648.79 5.95 1.08 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Lain-lain II Potensi Kerugian Negara 37.526.61 111.81 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara 2 Penggunaan langsung penerimaan negara IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. pertambangan.35 165.Halaman 1 .52 2. 8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara 10 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 51 .73 240. perpajakan.91 5.759.901.03 7. dll.40 46.46 1.03 25.33 156.709.95 11.69 6.391.61 489.85 914.00 10.166.11 27.751.17 8.995.32 59.973.12 215.73 3.886.57 1.922.14 6.225.36 240.95 3.76 1.440.244.28 382.47 2.005.69 110.918.78 9.Ketidapatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 163 10 2 46 46 5 2 9 9 28 1 5 15 9 2 1 3 43 41 2 120 39 6 35 15 3 8 3 3 7 1 48 3 45 43 3 1 9.47 % Nilai (juta Rp) 31.93 54.Lampiran 16 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .40 29.91 925.

Halaman 2 .55 31.818.22 196.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.Lampiran 16 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 11 7 7 10 4 432 % Nilai (juta Rp) 341.00) 52 .00 824.991.952.97 100.328.64 - % 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.09 2.902.

75 230.79 357.02 251.56 1 560.705.81 6.70 - Nilai (20) 61.69 32.63 66.582.124.14 911.137.90 151.96 4 1.08 507.39 77.13 53.98 382.74 25.51 182.11 473.009.95 12 878.137.56 171.11 58.928.26 6 5 10 22 3 19 1.37 14 314.311.04 489.86 100.13 4 20 956.421.74 1.378.20 20.317.614.92 1.837.32 230.608.087.98 Nilai (21) 168.32 12 478.847.10 8.97 5.37 56.68 9 664.03 13 13 12.52 52.19 7.57 11 590.952.71 19 1.14 217.343.13 1 8 735.74 1.46 1 4 1.48 24.44 9.97 689.408.10 279.35 41.73 5.64 3 22 765.18 1.82 735.58 - (1) (2) (3) (4) 1 Kejaksaan Republik Indonesia 2 2 2 Kementerian Dalam Negeri 15 5 3 Kementerian Luar Negeri 18 4 4 Mabes TNI 1 - 5 TNI AL 3 - 6 TNI AU 3 - 7 Kementerian Hukum dan HAM 2 - 8 Kementerian Keuangan 10 3 9 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 2 1 10 Kementerian Perhubungan 1 1 11 Kementerian Pendidikan Nasional - - 12 Kementerian Agama 1 - 13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - - 14 Kementerian Sosial 4 - 15 Badan Pertanahan Nasional 11 - 16 Kementerian Komunikasi dan Informatika - - 17 Kepolisian Republik Indonesia 2 2 18 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 - 53 .949.73 36.14 19.235.704.23 3.579.67 14.57 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 3 13 18 2 3 5 15 5 5 8 6 2 2 5 14 2 8 2 1 1 9 1 1 3 4 2 3 6 2 - Nilai (17) 591.045.952.28 14.67 988.77 22.13 1 50.06 1.189.46 2 15 128.96 112.58 189.47 4 83.29 120.48 1.45 1 1 7 1.562.31 112.53 967.85 355.37 83.96 1 1 1 1 3 48 415.Lampiran 17 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 6 12 1 1 2 1 4 2 2 1 3 41 25 9 24 24.995.18 5 905.369.944.10 3 238.487.59 238.95 7.47 44.95 15.59 19.03 2 18 25.94 4 867.40 7 1 33 1.89 - Nilai (22) 38.89 362.39 4 55 82.135.59 3 825.39 123.453.74 4.72 1.173.070.10 5.Halaman 1 .95 1 4 2 4 5 2 3 5 1 2 3 2 2 31 779.60 44.50 132.53 - Jml Kasus (18) 6 3 1 6 1 4 3 14 1 - Nilai (19) 34.64 746.

05 5 8 7 386.440.40 1 - JUMLAH 86 20 120 48 240.12 71.46 5.19 5 983.408.818.64 204.044.19 1 4 41.00 2 71.45 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.901.95 43 54.00) .391.247.513.97 163 31.991.76 2 48.11 3 14 72.70 1 280.926.61 - Nilai (20) - Nilai (21) - Nilai (22) 13.99 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 1 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai (17) 22.41 3 76.918.81 101.79 15 8.19 (1) (2) (3) (4) 19 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi - - 20 Kementerian Perdagangan 6 2 21 Bapertarum 3 - 22 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam 35 31 432 824.43 1 40.54 Halaman 2 .66 446.22 1 219.166.42 191.Lampiran 17 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 2 1 12 89.21 1 13.35 43 489.67 - Jml Kasus (18) 1 2 1 - Nilai (19) 244.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/ daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/ belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 33 15 15 2 1 141 54 10 46 4 4 22 1 21 11 8 2 195 100.77 72.00 10.Lampiran 18 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .31 16.92 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 55 .

267.43 11.445.75 10.00 375.Lampiran 19 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Halaman 1 .36 1.12 8.16 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah IV Administrasi 2 1 3 1 366 139 24 114 19 15 14 12 4 2 4 1 9 3 6 18.29 108.17 524.98 144.018.549.38 44.097.625.96 3.04 12.323.59 5.33 % Nilai (juta Rp) % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.968.42 45.227.68 14. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 42.247.03 9.346.885.68 2.67 72.481.49 1.62 17.22 3.35 8. pertambangan.06 10. perpajakan.122.57 12.639.37 15.47 8.00 985.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 857 23 19 419 130 42 24 41 105 49 5 206 147 19 1 1 5 9 3 10 11 314 307 15.015.656.16 18.11 53.002. dll.47 97. 8 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara/ daerah 11 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 12 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 13 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 14 Lain-lain 56 .56 1.525.12 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah/negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.174.498.

101.265.752.Halaman 2 .994 % 5.00 840.375.60 23.62 522.22 34.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 57 .89 3.50 26.Lampiran 19 No V Ketidakhematan Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 119 4 9 106 132 38 8 37 4 43 1 1 1.69 26.30 % 3.97 Nilai (juta Rp) 30.40 466.692.544.46 62.18 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.61 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 6.377.464.42 3.663.96 100.82 3.679.

84 3 791.01 1 4.46 2.92 147. Tapanuli Selatan 1 - 2 5 Kab.755.44 1 14 712.10 134.37 2 4 3 3 1 10 1.489. Jambi - - 2 16 Kab.74 838.92 7 603.30 408. Aceh Utara - - 2 Provinsi Sumatera Utara 1 4 Kab.900.14 223.84 2 326.14 8 1.46 7 1.01 3 66.31 2 2 3 1 12 162.56 1 50.67 10 681.72 8 1.62 5 278.12 7.95 1. Dharmasraya 2 - 2 7 Kab.93 56.656.70 1.Lampiran 20 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 1 2 1 2 2 2 5 6 3.00 716.10 198.32 741.28 698.409.035. Solok 2 - 7 12 Kab.181.54 1 18 2.631.41 1 2 1 12 1. Lima Puluh Kota - - 3 8 Kab.77 1.40 1 5 4 3 4 8 1 7 7 2 2 3 1 1 1 1 16 413.07 66.28 394. Aceh Tengah 1 - 3 3 Kab.64 3 95.82 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 3.847.999.92 13 4.41 3 55.035.370.91 934.24 2.80 3.07 10 1.265.03 Nilai (21) 28.67 1 224.07 1 1 19 2.00 24.14 239.79 13 1. Tapanuli Tengah 1 - 3 Provinsi Sumatera Barat 1 6 Kab.45 1 15.08 221.74 3 2.12 5 2. Sijunjung 2 - 6 11 Kab.96 1.46 1.23 13.27 4 183.379.66 1 32.58 1.72 1 14 1.38 3 6. Indragiri Hulu - - 5 Provinsi Jambi 1 15 Prov. Merangin - - .00 3 72.168.44 10 704.63 75.34 684.62 10.18 221.02 20.260.05 440.15 14.58 Halaman 1 .608.85 400.03 199. Kerinci - - 5 19 Kab.40 650.332.309.232. Pasaman Barat - - 5 10 Kab.641.084. Aceh Barat Daya - - 2 2 Kab.11 715.54 2. Bungo - - 4 18 Kab.63 4.781.00 6.28 22.07 26.764.83 432.48 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 1 1 Kab.876.514.78 12.76 5 1.41 1 2 5 3 2 18 4. Pasaman 1 - 4 9 Kab.97 1 4 675.42 18 1.42 - Nilai (22) 137. Batang Hari - - 3 17 Kab.28 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 461.14 9.38 11 598.75 1.95 11.97 345.66 137.79 1 1 3 4 4 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 5 Nilai (19) 16.07 41.755.632. Solok Selatan - - 8 13 Kota Padang - - 4 Provinsi Riau 1 14 Kab.

71 20.65 2 43.602.27 425.93 5 1.51 2 129.549.31 Nilai (20) 5.43 - Nilai (22) 10.97 296.047.75 7 2 5 2 1 3 6 3.57 142.04 3 3 3 6 5 11.37 4 476.82 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 Nilai (17) 2.631.56 2 7 969.42 11. Lampung - - 59 . Mukomuko - - 5 37 Kab. Ogan Komering Ilir 1 - 4 30 Kab.53 40.428.79 2 179.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 1 1 1 6 15 1 4 8 9 1.215.43 1 12.79 661.50 770.37 3.43 6 606.14 131. Rejang Lebong 1 - 8 Provinsi Lampung 1 38 Prov.513.71 723.827.98 (1) (2) (3) (4) 6 20 Kab.44 3 2 1 1 1 2 3 519.85 1. Tanjung Jabung Timur - - 9 23 Kab.499.05 834.14 1 3.703.85 127.00 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 2 1 1 Nilai (19) 89.35 79.53 9 1. Lebong 1 - 4 36 Kab.97 4 4 1 2 1 1 1 2 5 477.37 1.446.28 221. Ogan Komering Ulu Timur - - 6 32 Kota Prabumulih - - 7 Provinsi Bengkulu 1 33 Kab.289.Halaman 2 .28 603. Tebo - - 11 25 Kota Jambi - - 12 26 Kota Sungai Penuh - - 6 Provinsi Sumatera Selatan 1 27 Kab.98 1 47.14 1 1. Ogan Ilir 1 - 3 29 Kab.703.03 2.59 6.61 1.10 137.73 1 6.12 1 462.89 86.46 1 59.60 54. Sarolangun - - 8 22 Kab.60 336.85 430.878.18 1.685.14 3.67 3 997.19 30.75 1 432.37 1 6 1. Tanjung Jabung Barat - - 10 24 Kab.85 1 43.52 827.859.43 301.21 1 453.98 2.23 8 2. Muara Enim - - 2 28 Kab.67 4.19 4 6 897. Muaro Jambi - - 7 21 Kab.36 27.14 174.51 2 167.342.43 3 911. Bengkulu Selatan - - 2 34 Kab.160.03 387. Kepahiang 1 1 3 35 Kab.95 3 543.007.910.02 63. Ogan Komering Ulu - - 5 31 Kab.06 3 457.05 10.99 1 7 3.48 904.94 1 10 1.64 4 751.63 787.86 3.56 Nilai (21) 1.20 137.70 1 5 3.

64 2 4 2 9 488.37 9 74.92 1 53.61 13.159.53 1 160.50 Nilai (21) 484.533.13 1 402.48 6 7 613.32 13.10 1 123.00 2 370.005.19 23.69 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 14. Kep.58 1 1. Bangka 2 - 3 47 Kab. Tanggamus - - 5 42 Kab.44 3 2 1 6 596.10 1 137.70 1 63.53 1 1 5 1 4 247.61 5 10 2.72 1 31.99 394.796.34 1 13.59 2 398.656.39 1 23.69 3 3 3 2 3 1 2 1 9 1.20 5 181.61 6 68.51 6.034. Way Kanan - - 6 43 Kota Bandar Lampung 2 - 7 44 Kota Metro 1 - 9 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 1 45 Prov.69 - (1) (2) (3) (4) 2 39 Kab.50 5 1.33 384.10 3 268.26 3 4 392. Belitung Timur - - 10 Provinsi Kepulauan Riau 1 49 Prov.99 - Nilai (22) 22. Bangka Belitung - - 2 46 Kab.60 Halaman 3 .57 1 12 243.85 2 82.77 1 - - - - - - 1 55 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat - - .34 152.39 68.48 1 19 273. Bangka Tengah - - 4 48 Kab.796.32 2 14 1.50 2 8 324.37 9 191.07 4 287.888.25 45.34 1.796.96 23.78 3 1.12 755.765.70 2 124.656.02 5 153.39 448.84 3 352.19 2 62.92 1 202.148.75 2 1.47 2 119. Kepulauan Riau - - 2 50 Kota Batam 1 - 3 51 Kota Tanjungpinang 3 - 11 Provinsi DKI Jakarta 1 52 Dinas Pendidikan - - 2 53 Dinas Perindustrian dan Energi 2 - 3 54 Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah 22 6.92 - - 12 Provinsi Jawa Barat 20 6.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 2 1 1 3 2 10 13.11 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus (17) 5.14 - 1 11. Lampung Tengah - - 3 40 Kab.39 448.351.39 755.88 84.61 5.10 1 138.37 10 5 448.43 829.21 1 9. Pesawaran - - 4 41 Kab.

349.54 3 1.18 13 482.78 617.92 258.90 107.71 3 108.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 3 1 1 1 5 5 1 6 13 15 14 8 9 8.04 216.48 98.43 (1) (2) (3) (4) 2 56 Setda Provinsi Jawa Barat 1 - 3 57 Kab.17 2. Klaten 2 1 5 67 Kab. Bojonegoro - - 3 74 Kab.412.01 135.10 21.42 103.938.08 2.92 211.49 6 990.55 2.668.05 442.776.62 37.42 5 1.223.09 11. Blora - - 3 65 Kab.633.92 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 - Nilai (19) 739.74 4 62.01 - Nilai (20) 704.08 11.06 3 775.75 147.78 - Nilai (22) 89.22 231.39 4 194.05 1 29.12 214.94 31.90 826.53 1 2 1 3 2 2 3 4 5 5 2 3 3 3 6 9 1.199. Bekasi 2 - 5 59 Kab.84 333.60 2 6 1.38 1.13 1 4.84 1 12 3.14 261.91 9 9 1.873.67 1 2 11 2.49 2 2 8 4. Gresik - - 5 76 Kab. Jember - - 6 77 Kab. Kendal 1 - 8 70 Kab Rembang 5 - 9 71 Kota Salatiga 6 - 14 Provinsi Jawa Timur 1 72 Kab.435.50 2.61 1.10 26.60 215.95 2 3 1 5 2 13 226.98 11.05 10.97 62.14 164.795.687.10 594.997.658.43 186.12 1.84 1 3.77 65.38 4 4 10 3 9 8 1 9 733.51 24.22 2 81.411.22 363.44 2 12 1.92 205.37 41. Temanggung 1 - 7 69 Kab.13 131.31 10 454.58 11 215.541.78 604.84 13 495. Bangkalan - - 2 73 Kab. Garut - - 8 62 Kab.70 61.668.09 4 2. Purworejo 1 - 6 68 Kab. Cirebon - - 7 61 Kab.81 23.18 53.43 113.65 980.87 218. Bandung - - 4 58 Kab.75 215.711.07 369.73 105.16 367.63 16.56 148.90 7 6.96 667. Bondowoso - - 4 75 Kab.94 2 1 1 3 2 4 5 2 1 1 1 1 1 14 6.00 335.49 180.37 58.62 107.502.32 10.43 40.86 8 3.20 4 3 1 14 4.72 1 1.63 562. Karanganyar 4 1 4 66 Kab. Banjarnegara - - 2 64 Kab.10 207.97 8.94 15 585.186.51 2 15 898.97 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 1 2 2 1 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 1 1 1 Nilai (17) 338.41 258.23 141.25 29.Halaman 4 .00 198.44 386.00 26.35 559.165.92 633.86 270.62 32.83 274.63 16.25 - Nilai (21) 17. Lumajang 1 - 61 . Purwakarta 4 - 13 Provinsi Jawa Tengah 1 63 Kab. Ciamis - - 6 60 Kab.753.

81 1 144.80 480.89 250.97 3 1.50 218.42 3. Sumenep - - 16 87 Kab.45 1 2 1 1 2 2 1 10 562.970.16 34.27 6.62 Halaman 5 .67 84. Pacitan - - 11 82 Kab.96 288.46 1 10.47 8 1.04 2. Malang - - 9 80 Kab.42 35.37 4 9 2.85 1.59 11.03 95.27 9 867.66 2 56.91 2 1 2 2 21 2.81 12.424.94 166.32 238.97 5 1.031.189.66 252.68 478.128.51 (1) (2) (3) (4) 7 78 Kab.18 247.46 61.17 478.97 6.314. Gianyar 1 - 4 100 Kab.624.45 33 971.42 1 9 316.90 10 614.64 4 796.17 90.77 53.42 0.59 7 505.689.95 31.16 3 36. Trenggalek 1 - 17 88 Kab.118.49 486.97 2 42.85 223.697.743.93 869. Badung 4 - 2 98 Kab. Buleleng 1 - 3 99 Kab. Tulunggagung - - 19 90 Kota Batu 1 - 20 91 Kota Kediri - - 21 92 Kota Madiun - - 22 93 Kota Malang - - 23 94 Kota Mojokerto - - 24 95 Kota Probolinggo 1 - 25 96 Kota Surabaya 1 - 15 Provinsi Bali 1 97 Kab.77 2 15 1.13 7 14 705.14 45.78 1 4. Situbondo 2 - 15 86 Kab.938.50 14.38 4.70 25.52 324.021.83 1.697.33 65.30 9 4 11 7 16 1.414.42 42.95 31.52 86.22 4 291.15 1 2 4 12 1 2 3 4 1 2 5 93.211.78 432.681.28 60.94 32.21 1.91 31.54 7 1.18 10 1 12 321.66 1.89 4 84. Tuban - - 18 89 Kab.27 2 476. Magetan - - 8 79 Kab.64 6 691.445.72 2 1 1 1 1 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 24.00 273.26 9.22 795.94 101.06 1 18 1.96 101.540.31 - Nilai (22) 10.445.05 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 942.88 75.86 1.00 481.45 39.06 13 1.93 10 1.89 11 942.94 Nilai (21) 4.64 4 1.97 2.70 34.00 1 34.39 3.84 27.37 5 869.926.96 34.97 200.89 1.613.34 935.89 1. Sidoarjo - - 14 85 Kab.82 1 1 1 1 2 1 1 4 3 14 952. Ngawi - - 10 81 Kab.51 2 53.511.672.09 796.67 2.32 104.50 310.27 6 1.18 22.533.39 10.196.22 80.24 83.09 7 1.77 10 1.29 1 74.065.02 6 241.35 11 451. Jembrana 3 - .32 17 560.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 1 1 4 1 1 3 12 16 10 3.39 2.034.586.67 7 836. Sampang - - 13 84 Kab.45 1 1 1 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 1 1 Nilai (19) 111.22 18 1.47 14. Probolinggo 1 - 12 83 Kab.181.54 238.44 1.39 16.43 31.

500.108.54 27.63 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 - Nilai (19) 1.89 8 645. Lombok Tengah 8 - 3 106 Kab.474. Belu 1 - 4 112 Kab.55 3 263.62 129.05 2 1 13 871.02 1 29.165.35 41.63 - Nilai (21) 95.704.049.598. Flores Timur - - 5 113 Kab.50 77.730. Sumba Tengah 1 1 12 120 Kab.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 3 1 7 12 5 1 1 1 1 2 1 1 12 12 11 13 11 8 15 591.810.65 1.38 4.23 58.07 12 609.02 6 2.08 438.601.317.43 2 11 11.71 - Nilai (20) 158.85 5 290.856.96 - (1) (2) (3) (4) 5 101 Kab.967.65 1 3 3 1 2 3 1 14 4.13 1.64 12.43 45.46 1 1 24 1.92 51.893.03 291.732.84 5. Rote Ndao 4 2 10 118 Kab.74 674.01 51.39 1.18 1. Tabanan 3 - 16 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 104 Kab.150. Kupang 2 2 6 114 Kab.51 1 181.084.64 517.17 96.92 45.25 76. Nagekeo 2 1 9 117 Kab.82 98.46 - Nilai (22) 181.271.88 1 134.99 3 12 4 6 3 7 8 1 2 2 2 4 3 2 1 1 1 1 5 2 3 2 2 2 5 1 16 1.48 8.54 260.388.62 1.70 148.27 1.691. Sumba Timur 3 2 13 121 Kab.78 53.75 4.61 20 7.09 10.75 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 3 9 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 4 Nilai (17) 353.90 319. Klungkung - - 7 103 Kab.14 1 4.585.31 0.564. Karangasem - - 6 102 Kab.33 162.57 1 1 15 1. Timor Tengah Selatan 4 3 63 .80 1.47 5.519.83 6.33 2.19 367.15 24.746.48 25.868.82 148.36 8 1.70 163.145.54 260.71 299.51 45.849. Alor 3 1 3 111 Kab.124.79 2.440. Sumbawa Barat 12 - 4 107 Kota Mataram 5 - 5 108 Pembangunan Bandara Internasional Lombok - - 17 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 109 Prov.743.50 3 11 3.40 5. Lembata 1 - 7 115 Kab.12 6.15 143.Halaman 6 .60 43.21 3 213.18 1.55 386.26 89. Nusa Tenggara Timur - - 2 110 Kab.96 24.31 139.29 582.317.58 224.65 1.334.92 265.48 1.345.08 8.611.99 172.73 584.30 7 233. Sumba Barat 2 2 11 119 Kab.536.27 66.40 19. Manggarai Barat - - 8 116 Kab.92 753.24 161.16 1 2 1 1 1 4 2 3 1 2 4 3 3 6 132.73 2.96 93.83 8 7.74 4.00 3.94 1 10 780. Lombok Barat 3 2 2 105 Kab.772.64 3 4 3 2 2 1 3 2 1 13 2.00 2 1 2 2 1 2 2 1 3 5 3 2 2 6.61 3 10 1.

32 11.96 362.64 Halaman 7 .81 5.73 5 245.691.21 656.43 1.35 2 3 1 2 3 1 4 2 24 700.198.425.37 182.50 693.51 126.20 4 757. Kalimantan Selatan - - 2 136 Kab.75 7 13 1.30 4.76 3 20.34 140.26 26 1.45 3 617.96 - (1) (2) (3) (4) 14 122 Kab.85 3 5 2.96 800.84 6 247.439.22 1 720.69 39.57 196.75 147.027. Hulu Sungai Timur - - 4 138 Kab.18 3 374.862.323.34 105.329.35 1. Barito Selatan - - 3 126 Kab.41 16 876.107.62 14 831.92 200.521.24 9 12 1.173.85 3 2 7 8 4 15 968.74 13 14 1.300.63 2 73.70 8.00 38.628. Lamandau 1 1 9 132 Kab.20 1 7.75 1 27.54 3 1 21 2. Timor Tengah Utara 1 - 15 123 Kota Kupang 5 2 18 Provinsi Kalimantan Tengah 1 124 Prov. Kalimantan Tengah - - 2 125 Kab.71 4 275.96 22.45 10 3 17 1.35 1 298.96 196. Barito Timur 1 - 4 127 Kab.696.16 37.65 2.95 122.32 3 488.00 13.14 6 13 5.42 429.06 2 7 306.56 1.42 15. Gunung Mas 3 - 6 129 Kab.93 11.95 21.91 7 77.00 86.15 254.01 11.06 16.22 44.99 2 1 3 3 11 750.80 0.41 418.276.55 3 45.83 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 7.79 15.24 1 70.00 10 1.91 2 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 1. Kepulauan Talaud 2 - .95 - Nilai (22) 16.174. Kotawaringin Timur - - 8 131 Kab.01 2 522. Bolaang Mongondow 1 - 2 141 Kab.45 4 1 1 1 2 1 7 222.11 28.65 6 15 654. Tanah Laut - - 5 139 Kota Banjarbaru - - 20 Provinsi Sulawesi Utara 1 140 Kab.146. Barito Utara - - 5 128 Kab.23 21.845.77 1.87 8.76 8 496.04 1.81 34.47 202.53 Nilai (21) 118.35 17. Pulang Pisau 1 - 10 133 Kab.412.64 275.484.62 1.75 7 311.19 704.64 1 1 4 2 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 1 Nilai (19) 2.74 768.48 22 17.64 5 198. Seruyan 1 - 11 134 Kota Palangkaraya - - 19 Provinsi Kalimantan Selatan 1 135 Prov.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 2 1 1 1 2 10 16 2.09 165.280.51 7.07 393.158.41 23. Hulu Sungai Selatan - - 3 137 Kab.83 9 311.08 8 5.77 1 80.37 281.32 8 15 377. Katingan - - 7 130 Kab.84 6 478.55 2 1 1 4 4 4 1 1 2 1 1 1 3 1 1 7 1.67 48.82 266.

221. Halmahera Barat 1 - 3 158 Kab.861.027.70 330.952.Halaman 8 .14 2.00 - Nilai (22) - (1) (2) (3) (4) 3 142 Kab.48 42.263.80 1.08 3.678.107.97 1 21.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 2 2 1 1 1 2 2 12 1 3 1 1 2 18 11 9 1 26 30 16 1.885.72 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 3 1 1 3 1 2 - Nilai (19) 1.14 5 3.74 31. Minahasa 2 - 4 143 Kab. Mamuju 2 1 25 Provinsi Maluku Utara 1 156 Prov.82 634.43 14.40 108.25 1 476.83 14 6 6 6 4 14 1.16 1.06 581.90 - Nilai (20) 1.49 4.97 15 7.27 590.968.09 5 766.064. Banggai 1 - 2 146 Kab.06 4. Muna 12 - 24 Provinsi Sulawesi Barat 1 153 Prov.80 1.352.54 107.044.99 4 111. Halmahera Tengah - - 5 160 Kab. Sidenreng Rappang 3 - 3 150 Kab.89 1.96 6 1.85 1. Banggai Kepulauan - - 3 147 Kab.383.89 5. Maluku Utara - - 2 157 Kab.713. Majene - - 3 155 Kab.155.931.71 1 1 9 790.30 1.514.120.64 263.45 79.41 3 482.51 2 204.73 1 25.28 1 8 766.610.86 2 1 10 558.85 1. Halmahera Utara 2 - 65 .60 1.77 66. Sigi 1 - 22 Provinsi Sulawesi Selatan 1 148 Kab.79 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 3 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 Nilai (17) 876.74 14.20 6 504.63 2.43 2 286. Minahasa Tenggara 2 - 5 144 Kota Tomohon 2 - 21 Provinsi Sulawesi Tengah 1 145 Kab.27 481.43 1.44 948.41 2 267.48 169.10 7 15 6 1 3 4 3 15 4.52 238.978.99 205.18 2.92 78.97 91.00 1 1 8 806.36 3 434.58 828.28 32.630.71 1.15 4 3 1 1 1 3 1 3 2 8 1 4 2 3 4 1 2 3 6 4 1 7 1.00 1 91.56 4 149. Halmahera Selatan 7 2 4 159 Kab.834. Sinjai - - 4 151 Kota Pare-pare 2 - 23 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 152 Kab.28 - Nilai (21) 15.608.11 624.09 517.584.231.77 4 365.06 4 184.63 86.63 855.033.45 59.67 49.580. Luwu - - 2 149 Kab.43 1 5.501.950.41 12 6.61 56.20 19.15 87.02 441.498.57 1 1 2 1 1 1 2 1 4 1 1 1 2 14 3.08 7 5 7 13 17. Sulawesi Barat 1 1 2 154 Kab.59 1.10 208.

55 4 8.20 - 1 172 Kab. Batang hari 1 - 2 173 Kab. Sleman 4 3 5 169 Kab.20 1 2.78 2 2.748.65 498.37 5 99.402.72 1 165 Prov.72 1 0.91 14 75.17 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 67.54 1 651.75 1 13 2. Sarolangun 1 1 . Jambi - - 2 166 Prov. Nduga - - Jumlah Belanja Daerah 180 26 Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 1 1 2 4 1 87 7.255. Morotai - - 7 162 Kota Tidore Kepulauan 2 - 26 Provinsi Papua 1 163 Kab.98 Nilai (22) 4.92 12 2.95 1.898.16 585.98 9 4.654.34 1 3 3 2 3 2 246.13 1.064.27 3 1.46 1 9 12.20 28.48 8 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 449. Bantul - - 4 168 Kab.798.75 7 286.65 48.03 1 1 12.95 349.099.944.151.020.97 2 2 3 3 3 1 4 18 2 3 3 1 2 1 12 1.83 1.56 7 411.09 808 139.44 1 18 968.51 246.35 5 495.482.18 203 95.752.42 3 243.274.42 1 38.021.31 8.84 2 1 1 2 1 2 3 12 42.11 472.59 25.80 6 26.66 (1) (2) (3) (4) 6 161 Kab. Bengkulu 3 1 3 167 Kab.66 Halaman 9 .722.040.04 2.76 3 4 332 107 1 8 549.84 9 1.484.44 1 37. Bungo 1 - 3 174 Kab.88 1 288.01 60.869 829.63 18 3.79 1 2 120 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) Nilai (19) 316.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 134 20 1. Gunung Kidul 2 2 6 170 Prov. Sulawesi Utara 2 - 7 171 Kota Manado - - Jumlah Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 11 6 Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 1 1 8 10 4 341.43 2 1 3 42.63 2 519.87 48.29 1.85 61.48 66.28 2.666.35 1 2.71 Nilai (21) 1.14 22.63 17 1.93 47.70 6 8.57 6.12 210.102.72 1. Lanny Jaya - - 2 164 Kab.761.78 34.24 290.32 1.65 1 170.46 14 15.53 119.18 9 29.87 8.882.272.66 1 2 2 95.76 351.513.217.04 3.32 3.47 299 44.555.17 38.70 521.75 168.43 4.67 41 4.23 203.

994 840.03 206 97.31 2 22.77 51.639.021.98 Nilai (22) 3.377.563.217.21 2 2. Tanjung Jabung Barat - - 5 176 Kab.623.Halaman 10 .64 522.95 Nilai (21) 1.31 1 1.752.25 37.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 141 21 1.656. Tebo 1 - Jumlah Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 4 1 TOTAL 195 33 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 67 .46 857 144.267.89 3 10 1.22 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 9 132 Nilai (19) 12.00 1 33.94 45.10 22.554.596.214.33 1 25.58 (1) (2) (3) (4) 4 175 Kab.692.69 Nilai (20) 16.38 6 70.85 291.20 5.11 314 38 3.69 8 258.08 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 3 6 16 366 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 119 Nilai (17) 30.14 789.

89 100 68 .Lampiran 21 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 30 26 3 1 5 1 4 13.95 Jumlah Kasus % 3 2 1 38 7.16 78.

Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 5 1 4 14 8 5 1 2 2 2.528.086.10 1.77 1.528.20 15.77 4.810.318.45 8.58 4.51 66.70 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah 2 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan Daerah 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 1 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 2 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 3 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 5.848.49 3.25 61 43 1 17 1 1 8 1 7 91 67.12 258.74 22.74 100.94 856.79 22.03 - - 1.810.33 4.Lampiran 22 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .58 100.33 14.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 69 .02 11.05 4.115.00 34.014.59 72.29 3.848.38 % Nilai (juta Rp) 1.70 857.

005.882.306.69 7 29.810.00 2 13 6.20 4 3 1 1 1 5 3 91 1 9 153.08 243.93 4.72 1 1 5 132.787.08 15.93 21.38 2.40 4.57 243.20 2 29.213.51 1 7 2.848.07 1 1 5 132.05 72.80 1 18 6.904.082.57 1.69 15.12 132.014.74 (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Bengkulu 8 8 1 1 Kabupaten Bengkulu Utara 8 8 2 Provinsi Jawa Timur 10 10 1 2 Kabupaten Sidoarjo 4 4 2 3 Kota Surabaya 6 6 3 Provinsi Bali 10 6 1 4 Kabupaten Buleleng 7 4 2 5 Kabupaten Jembrana 3 2 4 Provinsi Kalimantan Selatan 3 3 1 6 Kota Banjarmasin 3 3 5 Provinsi Sulawesi Tengah 4 2 1 7 Kabupaten Parigi Moutong 4 2 6 Provinsi Sulawesi Selatan 3 1 1 8 Kabupaten Luwu Utara 1 - 2 9 Kabupaten Tana Toraja 2 1 JUMLAH 38 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .06 2 16 2.48 857.922.40 4.210.213.93 22.77 1.72 86.009.70 Lampiran 23 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Jml Kasus (5) 896.29 153.69 6.181.77 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 8 Nilai (19) 6.631.44 72.94 2 1 1 1 1 2 1 3 22.72 132.787.528.31 856.38 1.01 4.528.80 1 11 16.20 7 29.38 1.77 1.213.58 1 14 2.153.115.33 2 29.01 34.70 2 2 1 1 3 1 2 14 1 2 3 2.213.38 22.210.72 1 18 6.69 7 20 6.38 1 5 86.05 1.41 1 25 19.528.20 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 4 15 6 9 17 10 7 12 12 3 3 10 4 6 61 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 Nilai (17) Ketidakefektifan Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1.60 39.181.631.318.

57 71.Lampiran 24 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 28.43 Jumlah Kasus % 71 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 5 5 2 2 7 100.

83 26 11 1 12 2 20.41 11.298.62 14. dll.Lampiran 25 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .22 100.298.000.11 5 5 124 - - - 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.619.94 16.697.14 3.71 2.752.45 14.28 39.01 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.577.14 37.401.48 14.432.00 72 .35 % Nilai (juta Rp) 36.05 13 13 10.97 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.265.48 16. V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 8 8 6.00 88.551. pertambangan.71 41.96 6.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 48 1 22 19 5 1 24 21 2 1 19.04 19.48 3.14 3. perpajakan.768.29 154.401.75 34. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 38.

77 55.327.35 55.75 2 48 7.807.898.383.722.34 7 753.80 2 64.54 744.033.86 137.66 2 687.656.79 114.98 4 916.09 94.950.390.29 1.44 1.48 Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (17) 3 2 1 1 1 1 1 5 Nilai (18) - Nilai (19) - Nilai (20) - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Lampung - 1 1 Kabupaten Lampung Selatan - 2 2 Kabupaten Tulang Bawang - 3 3 Kabupaten Lampung Timur - 2 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - 735.24 55.98 9.14 7 1.05 3 545.719.51 113.41 3 545.68 865.28 1 49.231.89 19.77 5 30 72.156.69 3 594.53 34.54 88.618.90 2 1 1 6 4 2 2 1 1 24 7 1.401.695.695.317.55 18 2.35 735.090.13 202.847.27 10.84 9 2.27 1 15 863.26 29.43 1 6 1.19 783.63 1 66.96 9 603.83 11.432.73 19.619.01 4 1.78 15 2.616.63 1 10 2.24 55.85 1.670.901.43 4 772.74 4 964.290.10 2 85.56 1.30 4 15 40.420.28 3 735.83 1.08 9 28.86 3 114.681.28 797.45 65.58 101.48 4.24 39.752.700.Lampiran 26 (nilai dalam juta rupiah) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidakhematan Entitas Total Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Struktur Pelaksanaan Pengendalian Anggaran Intern Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) 5 2 1 1 1 5 2 124 9 6 7 1.69 109.49 15 5 4 6 48 15 31.39 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 1 16 6 2 3 1 4 7 1 6 2 2 26 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) 1 1 4 2 2 3 2 1 8 Nilai (16) 36.235.22 22 4.62 5 745.048.35 1 3 2 1 4 2 2 2 1 1 13 9 1.84 18.521.21 210.608.981.72 3 359.298.92 2.10 2.59 14.517.01 36.97 1.35 735.179.70 1 181.68 1 19.75 2.09 2 457.10 3 1.969.414.35 9.40 3.21 19.853.92 36.70 3 490.44 7 2.78 2 687.24 1 4 Kabupaten Bantul - 2 5 Kabupaten Kulon Progo - 3 Provinsi Kalimantan Barat 7 1 6 Provinsi Kalimantan Barat 3 2 7 Kabupaten Sambas 1 3 8 Kabupaten Kayong Utara 1 4 9 Kabupaten Sanggau 1 5 10 Kabupaten Kubu Raya 1 4 Provinsi Kalimantan Timur - 1 11 Kabupaten Nunukan - 2 12 Kabupaten Penajam Paser Utara - 5 Provinsi Gorontalo - 1 13 Kabupaten Boalemo - 2 14 Kabupaten Gorontalo Utara - 3 15 Kabupaten Gorontalo - JUMLAH 7 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 73 .

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 17 6 3 8 68.Lampiran 27 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 Jumlah Kasus % 8 3 1 4 25 32.00 100.00 74 .

21 USD 29.602.21 USD 29.261. perpajakan.54 Rp175.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Jumlah Kasus Nilai (juta rupiah dan ribu USD) Rp5.54 Rp181.261.49 Rp5.602.261. pertambangan. 2 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan IV Ketidakefektifan 1 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 75 .049.447. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 2 Lain-lain 20 17 3 II Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 31 31 III Administrasi 33 32 1 1 1 85 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.49 Rp175.447.54 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara 1 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. dll.Lampiran 28 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .71 USD 29.

Indragiri Hilir 2 - 12 Kab.46 175.37 USD 10.22 USD 924.493.41 2 4.08 USD 6.391.782.67 26.563.035.04 22.70 USD 41.749. Sijunjung 1 - 7 Kab. Indragiri Hulu 1 - 13 Kab.447.55 Rp181.30 USD 14.91 2. Bungo - - 3 Kab Sarolangun 1 - 4 Kab.50 1.12 59.73 USD 466.50 1.71 5.98 751.451.843.44 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 31 2 1.13 2 3 4.261. Tebo - - 5 Kota Sawahlunto 1 - 6 Kab.75 141.98 892.887.843.24 40.63 1.563.91 175.18 526.997. Kutai Kartanegara 1 - - 9 Kab.925. Batanghari - - - 1 4 3 3 1 4 1 3 2 3 2 2 4 33 1 1 - USD 3.139. Berau 1 - 8 Kab.925.143.49 2 107.54 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Nilai (18) (1) (2) (3) (4) 1 1 1 1 4 1 2 2 5 17 Kab.38 22.91 871.921.163.049.65 3 1 1 1 1 1 2 1 8 85 8 7 7 5 5 6 6 6 3 4 8 8 3.55 Rp175. Kuantan Singingi 4 - - 14 PKB2B dan CTR 6 - JUMLAH 25 - Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .07 4.749.46 USD 6.46 USD 6. Tanah Bumbu 2 - 11 Kab.21 USD 29.202.62 2 9 8.97 1.10 4.357.12 59.45 2 Kab.54 1 1 1 2 2 2 20 1 796.24 40.26 Rp5.586.493.71 USD 29.44 USD 41.36 3 1.508.261.10 3.553.30 USD 14.202.67 26.517.41 8.586.18 526.143.10 3 101.602.250.96 USD 6.22 USD 924.621. Tanah laut 5 - 10 Kab.393.72 USD 6.76 Lampiran 29 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (nilai dalam juta rupiah dan ribu USD) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Negara/ Daerah Administrasi Potensi Kerugian Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Sistem Sistem Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus USD 466.720.

00 50.00 50.Lampiran 30 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 3 3 3 1 2 6 100.00 Jumlah Kasus % 77 .

71 4 4 22 Rp6.315.315.71 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.474.71 17 USD 66.78 6.78 USD 66.474. dll. pertambangan. perpajakan.Lampiran 31 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .474.315. Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 78 .78 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Lain-lain II Kekurangan Penerimaan 1 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS III Administrasi 1 1 17 USD 66.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 6.

69 48.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 9 1 1 2 1 6 2 4 20.03 100.00 79 .28 Jumlah Kasus % 9 2 7 29 31.Lampiran 32 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

74 1 1 1 1 2 1 1 5 20.00 - - 1 Lain-lain IV Ketidakefektifan 40.048.00 84.00 - - 1 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.50 312.00 80 .735.26 20.735.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 1 1 % Nilai (juta Rp) 1.50 15.Lampiran 33 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .97 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang II Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset dikuasai pihak lain III Administrasi 20.00 312.00 2.47 100.97 1.

048.47 3 3 4 2.50 312.50 312.97 1.97 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Nilai (12) 312.47 1 1 2 1 6 1 1.048. Entitas/Obrik Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Total Jml Kasus (5) 6 1 7 14 6 9 5 2.Lampiran 34 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No.50 Jml Kasus (13) 1 1 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah Kerugian Negara/ Potensi Kerugian Administrasi Ketidakefektifan ditindak lanjuti Perusahaan Negara/Perusahaan dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (14) 1 1 2 Nilai (15) Potensi Kerugian Negara/Perusahaan (16) 312.735.50 Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Tambahan Penggantian Biaya Pokok BBM - 2 Subsidi Jenis BBM Tertentu 13 3 Kewajiban Pelayanan Umum PT PELNI (Persero) 3 4 Kewajiban Pelayanan Umum PT KAI (Persero) 13 5 Subsidi Pupuk yang disalurkan PT Pusri (Persero) - 6 Subsidi Bunga yang Ditagihkan Bank Indonesia - JUMLAH 29 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 81 .735.

57 27.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 13 12 1 28 3 9 16 59.77 47 100.00 82 .Lampiran 35 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .66 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 6 3 3 12.

Lampiran 36 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
No Kelompok dan Jenis Temuan Nilai Jumlah (juta rupiah dan Kasus ribu USD) 92.936,95 USD 7,543.01 7.453,44 6.856,42 104,08 1.023,50 77.499,49 USD 7,543.01 973.661,50 USD 53,155.43 1.466,71 781.925,38 USD 20,704.76 190.269,40 USD 32,450.67 3.201,35 2.915,16 286,19 1.243,90 1.243,90 11.990,65 11.990,65 Rp1.083.034,47 USD 60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 5 Lain-lain 13 1 3 1 1 7

II

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset tidak diketahui keberadaannya 2 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 3 Lain-lain

31 1 22 8

III

Kekurangan Penerimaan

6 4 2 6 1 3 1 1 1 1 1 1 58

1 Penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara atau perusahaan milik negara 2 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi

1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan

1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

83

84

Lampiran 37

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
(nilai dalam juta rupiah dan ribu USD)
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Kerugian Negara/ Perusahaan Potensi Kerugian Negara/ Perusahaan

Ketidakefektifan

Kekurangan Penerimaan

Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus
(6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Nilai

Jml Kasus
(17) (18)

Nilai

Nilai

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(19)

(20) 3 1 1.243,90 91,84

1 USD 38.60 410.591,37 USD 29,327.09 26.646,73 USD 412.07 19.968,06 127.812,60 USD 30,920.67 Rp1.083.034,37 USD 60,698.45 13 USD 7,543.01 31 Rp92.936,95 1 1 29.208,30 6 98.604,29 USD 30,920.67 Rp973.661,50 USD 53,155.43 2 2.421,35 2 5.126,33 1 2.641,12 USD 412.07 2 6 3 24.005,60 5 USD 7,543.01 USD 21,784.08 14 45.650,06 364.941,30 USD 38.60 2 4 9 1 6 28 6 58 1 2 7 2 9 1 4 1 19 429,71 Rp3.201,35

PT Angkasa Pura II (Persero)

9

2

6

1

17

498.015,60 4 13.016,11 5 4 2.771,64

480.983,95

2

PT Adhi Karya (Persero)

4

1

2 1 6

1

Rp1.243,90

1 -

11.990,65 1 Rp11.990,65

Rp91,84

3

Bali Tourism Development Corporation (BTDC)

5

-

4

PT Kimia Farma (Persero)

15

4

5

PT Nindya Karya (Persero)

7

6

6

PT Pupuk Kalimantan Timur

7

-

JUMLAH

47

13

Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 38

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 6 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 27 17 5 2 3 101 2 1 19 44 24 11 49 13 25 7 4 177 100,00 27,68 57,06 15,25 Jumlah Kasus %

85

Lampiran 39 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 43 2 4 1 1 8 5 1 21 22 2 2 2 1 15 26 22 2 2 66 13 2 12 1 11 15 1 2 2 7 28 28 42 7 1 1 27 6 227 100,00 18,50 12,33 29,07 11,45 9,69 % Nilai (juta Rp) 3.269,96 102,79 220,50 865,97 21,50 280,72 145,61 7,25 1.625,59 13.893,40 17,52 119,87 575,39 2.525,50 10.655,09 2.823,85 2.072,38 643,41 108,05 46.809,14 46.809,14 6.548,97 3.365,97 1.484,78 1.629,38 68,82 73.345,33 100,00 8,93 63,82 3,85 18,94 %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Pemahalan harga (Mark up) 5 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 6 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 7 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 8 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 5 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan 6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 7 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan 8 Penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 10 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

18,94

4,46

86

Halaman 1 - Lampiran 40

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 5 5 3 3 31 8 4 7 4 2 6 21 8 7 4 4 3 3 1 1 3 1 477,47 1.054,00 10 824,93 1 173,10 484,00 484,00 28,00 28,00 41,43 28,08 0,60 540,71 6 1 1 6 6 20 3 4 4 2 4 3 8 2 7 3 12 19 55 11.392,83 2.421,83 3 9 2.507,01 3 9 2.507,01 1 10 3.132,02 1 10 3.132,02 1 13 2.078,53 2 19 3.050,86 2 6 1.572,28 2 168,54 1 3 3 8 2 1 1 2 5 38 6.701,68 10 882,37 1 10 304,13 2 23,70 1 2 5 875,02 1 12,50 74,37 555,74 555,74 2.484,34 2.484,34 6.417,25 2.393,75 321,60 529,10 146,67 1 11 1.102,42 3 47,08 3 16 732,50 3 58,73 1 482,28 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 7 1 2 2 5 13 240,11 3 141,73 1 3 15 554,59 2 92,49 2 79,21 1 14 70 3.808,80 14 376,23 4 635,87 7 911,20 382,88 9,09 153,58 109,77 49,80 206,05 44,20 9,75 4,00 30,45 43,26 43,26 165,10 4,39 105,99 36,49 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 2 2 26 6 6 7 3 1 3 13 2 7 4 3 3 2 2 11 5 1 2 1 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 6 1 1 3 1 8 1 3 4 1 1 4 4 5 2 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (17) 431,11 431,11 1.816,66 20,46 37,90 945,57 812,72 3.589,96 1.393,98 321,00 1.874,97 163,68 163,68 2.435,75 2.435,75 1.403,07 175,67 Jml Kasus (18) 1 1 13 4 2 3 1 1 2 3 3 1 1 21 4 4 3 2

Ketidakefektifan

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (19) 68,82 68,82 1.629,38 1.629,38 3.365,97 151,47 418,90 465,49 Nilai (20) 163,55 81,62 58,73 6,75 16,44 77,69 8,58 69,11 Nilai (21) 8,60 8,60 Nilai (22) -

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

I

Prov. Sumatera Barat

7

1

1

1

PDAM Kota Bukittinggi

7

1

II

Prov. Sumatera Selatan

4

1

1

2

PDAM Lematang Enim

4

1

III

Prov. Jawa Timur

50

5

1

3

PDAM Kab. Banyuwangi

11

-

2

4

PDAM Kab. Blitar

10

1

3

5

PDAM Kab. Kediri

10

-

4

6

PDAM Kab. Madiun

6

1

5

7

PDAM Kab. Mojokerto

6

2

6

8

PDAM Kota Pasuruan

7

1

IV

Prov. Bali

28

2

1

9

PDAM Kab. Buleleng

11

1

2

10 PDAM Kab. Karangasem

9

-

3

11 PDAM Kota Denpasar

8

1

V

Prov. Nusa Tenggara Barat

2

-

1

12 PDAM Menang Mataram

2

-

VI

Prov. Kalimantan Selatan

9

-

1

13 PDAM Intan Banjar

9

-

VII Prov. Sulawesi Tengah

49

10

1

14 PDAM Kab. Banggai

7

1

2

15 PDAM Kab. Buol

6

-

3

16 PDAM Kab. Donggala

9

2

4

17 PDAM Kab. Morowali

8

2

87

88

Halaman 2 - Lampiran 40

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 3 3 1 10 10 3 3 1 1 101 49 227 73.345,33 43 3.269,96 22 13.893,40 26 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 2.823,85 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 3 3 66 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 3 3 28 5 6 678,21 2 18,21 1 1 6 3.531,12 1 12,75 1 1.171,30 1 1 1 6 2.405,24 1 1.854,79 1 1 158,40 726,06 342,92 36.968,90 36.968,90 46.809,14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) 3 2 3 1 1 2 2 42 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 392,03 1.620,99 317,07 1.484,78 1.484,78 6.548,97

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (20) 241,25 Nilai (21) 8,60 Nilai (22) 17,04 17,04 17,04

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

5

18 PDAM Kab. Poso

6

2

6

19 PDAM Kab. Tolitoli

5

1

7

20 PDAM Kab. Tojo Una-una

8

2

VIII Prov. Sulawesi Selatan

12

2

1

21 PDAM Kota Makassar

12

2

IX

Prov. Sulawesi Barat

12

5

1

22 PDAM Kab. Polewali Mandar

12

5

X

Prov. Papua

4

1

1

23 PDAM Kab. Jayapura

4

1

Total

177

27

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 41

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 6 5 1 27 2 9 13 1 2 5 4 1 38 100,00 13,16 71,05 15,79 Jumlah Kasus %

1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 2 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

89

Lampiran 42

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus % Nilai (juta Rp) %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

10 2 3 2 2 1 1 1 17 15 2 19 2 1 5 6 3 2

16,39

3.531,80 102,24 676,67 101,52 2.637,48 13,87

17,95

1,64

28,35 28,35

0,14

27,87

6.072,60 5.523,57 549,02

30,86

31,15

-

-

1 1

1,64

70,47 70,47 -

0,36

13 4 2 5 2 61

21,31

9.977,10 944,46 8.873,63 159,00

50,70

100,00

19.680,34

100,00

90

Lampiran 43

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kerugian Daerah/ RSUD Potensi Kerugian Daerah/RSUD Kekurangan Penerimaan

Entitas

Total

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja

Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Kerugian Daerah/RSUD

Potensi Kerugian Daerah/RSUD

Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 0 2 0 2 6 27 5 61 19.680,34 10 3.531,80 11 2 13 800,59 1 78,72 1 1 14 4.118,02 2 2.629,85 4 11 4.040,07 4 309,00 28,35 6 1 12 9.349,72 1 28,35 3 7 4 17 6 1 11 1.371,93 3 514,22 3 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 857,70 3.681,28 1.307,39 226,21 6.072,60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus (15) 3 4 2 4 6 19

Jml Kasus (16) 1 1

Nilai (17) 70,47 70,47

Jml Kasus (18) 2 6 2 1 2 13

Nilai (19) 9.250,89 49,78 180,77 495,66 9.977,10

Nilai (20) 23,52 23,52

Nilai (21) 2,38 2,38

(1)

(2)

(3)

(4)

1

RSUD Pirngadi Medan

9

2

RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh

7

3

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung

6

4

RSD Mayjen H. M. Ryacudu di Kotabumi

1

5

RSUD Prof. Dr W.Z. Johannes Kupang

15

JUMLAH

38

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

91

penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 44 9 32 1 2 48.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 6 3 3 41 1 1 14 9 16 45.35 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 91 100.05 6.59 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.Lampiran 44 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 92 .

78 66. dll.521.235.88 1.16 2.73 2.55 27.50 - 2.727.497.50 10.792.56 18 2 3 12 1 32.88 2.50 1.13 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 6 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.416.633.25 23.98 90.86 115.00 93 .68 2.56 100.96 10.50 3.91 484.82 1.31 33.792.70 101.62 235.52 775. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah 12.88 4. perpajakan.27 % Nilai (juta Rp) 1.00 38.73 - - 1 1 6 1 1 1 3 55 1.Lampiran 45 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .117.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 7 1 1 2 1 1 1 15 1 2 11 1 8 8 14.22 100. pertambangan.759. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 4 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.39 445.34 178.834.00 58.727.91 13.764.

792.494.727. Luwuk. Tolitoli dan Parigi Moutong 6 41 44 55 58. Bantul 2 5 PD BPR Bank Sleman 1 6 PT Bank NTB 17 7 PT BPD Nusa Tenggara Timur 23 8 PT Bank Kalimantan Tengah 12 9 PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.764.54 - Nilai (21) 223.98 1 11 7 5.12 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .699.497.98 1 6 18. Poso.83 18.94 Lampiran 46 (nilai dalam juta rupiah) Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Daerah Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 0 0 0 0 1 0 1 3 0 3 2 6 29.43 10 10 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (4) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 2 5 1 5 3 1 - Nilai (17) 1.24 2 211.475.56 2 9 11.77 2 14 3 4.70 1.800.521.52 5 JUMLAH 91 15 38. Buol.54 223.82 2 1 5 2.633.50 6 13.919.87 2 2 2 9 4.142.25 10.34 9. Sulawesi Utara 7 10 PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang Di Palu.258.09 1 5.89 2.98 3 4.598.22 7 1.86 2 1.96 1 178.727.89 1 3 1 2 5 3.66 4 8.91 0.50 - Jml Kasus (18) 1 2 1 1 1 Nilai (19) 484.37 369.39 8 2.071.40 18.12 - (1) (2) (3) 1 BPD Sumatera Barat 21 2 PD BPR Tanggo Rajo 1 3 BPD Jawa Tengah 2 4 PD BPR Kab.88 18 1 1.416.16 Nilai (20) 0.50 2.943.09 20 3 4 2.800.72 1 775.676.56 3 3.08 2 325.142.84 1 146.759.248.

99 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern 4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 95 .93 39.Lampiran 47 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 37.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 20 12 1 7 34 4 7 14 8 1 33 17 11 1 2 2 87 100.08 22.

91 - - 10.49 100.Lampiran 48 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .764.169. perpajakan.835.58 100.442.80 485.60 16. 4 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 5 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 6 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 18.60 15.379.30 Nilai (juta Rp) 2.073.00 - 18.99 100.92 6.60 1.620.52 271.73 1.70 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 Kekurangan volume pekerjaan 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/ atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Pembelian aset yang berstatus sengketa 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.84 417.487.79 34.71 344.639.402.673.36 196.00 44. pertambangan.53 16.18 15.133.00 96 .35 % 4.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jumlah Kasus 8 2 2 3 1 16 6 1 2 5 1 1 16 15 1 24 10 4 6 1 2 1 9 9 13 2 5 3 3 86 % 9.12 8. dll.46 1.37 7.51 122.402.31 6.99 18.46 3.16 38.16 437.15 27.47 1.

54 3 9 16 8. Kepri 8 6 Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama 1 4 2 7 20 34 33 86 1 7 9 163.19 1 1.109.52 1.073.92 1 113. Kalimantan Timur 8 11 PD Praja Karya.133.34 826.312.53 4 1 2 5 4 24 1 2 9 71.37 5 1 9 6.94 2 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 5.82 (18) 1 3 (19) 48.10 - - 4 Pendapatan dan Biaya PD Natuna.696.50 781.93 619.169.60 16.46 2 1 1 1 1 13 1.51 1.90 1 100.620.00 4.07 2 5 3 179.14 15.186.49 254.43 3 2 1 6 3 PT.37 5.835.40 329.442.40 5.24 163.88 5 6. Maluku 15 JUMLAH 87 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 97 .38 1.849.50 1 1 4 3 10 1.13 8.31 1 4 2 1 16 8.345.29 (20) - 1 PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan 5 2 PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS) Untuk Tahun Buku 2008 – Semester I Tahun 2010 di Pekanbaru (*) 4 1 3 782.68 143.94 - (15) - (16) 1 (17) 39.288.402.570.Lampiran 49 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Ketidakhematan Ketidakefektifan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jml Kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus Nilai Nilai (1) 1 3 2 5 188.73 - 3 - 1.51 8 PD Pasar Surya.398.325.24 2.65 3 3 10 11. Jawa Timur 7 9 Perusahaan Daerah Aneka Usaha. Kalimantan Barat 12 10 Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya. Pengembangan Investasi Riau (BUMD Provinsi Riau) 7 221. Kepri 16 5 Perusahaan Daerah Karimun.169.58 5 1 11 6.54 8 5 3 7 2.867.847.00 14.696.169.379.849.12 44.00 1.00 499.52 2 122.42 1 3 4 - 1 2 2 - 66.79 3 2 3 5.730.73 1 4 3 1 16 0 7 Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama (Provinsi Jawa Timur) 3 2.51 668.

27 64.284.145.00 68 219 Kementerian Komunikasi dan Informatika EUR 0.87 328.244.577.090.92 26.19 - 8 Wantanas 2009 2010 Jumlah 9 BIN 2009 2010 Jumlah 10 Lemsaneg 2009 2010 Jumlah 11 Lemhanas 2009 2010 Jumlah 12 Menko Polhukam 2009 2010 Jumlah 13 Kementerian Dalam Negeri 2009 2010 Jumlah 14 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi 2009 2010 Jumlah 6 17 23 2.60 11.526.22 1 4 5 24.23 - 85 85 20 16 36 11 13 24 75 75 - 64.78 2.08 EUR 0.35 - - USD 9.483.78 828.847.757.696.47 EUR 11.10 2.47 EUR 11.26 11.244.903.70 EUR 0.13 24.75 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.922.89 24.26 557.47 EUR 11.65 - - USD 9.93 92 USD 9.21 Jml (6) 2 2 35 9 44 39 39 11 11 34 58 Nilai (7) 138.34 11.335.987.23 9 9 9.13 96.89 98 .59 1.18 102.28 2.31 4.698.26 78.34 1.952.28 1 1.40 7 2009 2010 Jumlah 19 111 130 15 10 25 23 16 39 11 13 24 11 11 22 17 7 24 141 191 332 - 161.692.10 138.407.556.89 4.13 16.834.145.62 868.08 24.12 26.590.72 17.35 30.29 829.78 97.922.770.090.60 11.906.40 11.55 Jml (8) 2 2 6 6 6 6 1 Nilai (9) 596.98 41.995.96 41.410.78 368.48 2.616.52 109.138.662.24 EUR 0.88 13.483.244.847.244.15 GBP 17.04 16.771.676.945.82 13.88 1.903.636.010.74 USD 9.09 9.212.830.40 1.22 10.899.080.98 461.21 9.284.96 125.483.88 15.88 16.899.15 GBP 17.59 596.79 14 4 18 14 9 23 3 3 11 11 22 14 7 21 127 73 200 - 161.15 GBP 17.09 24.58 64.72 19.94 USD 309.13 581.15 GBP 17.57 USD 309.79 416.Halaman 1 .65 Jml (10) 40 35 75 4 4 15 15 30 Nilai (11) 2.52 109.22 - EUR 0.15 GBP 17.82 13.55 65.40 1.79 65.92 26.291.995.89 24.090.906.255.863.335.92 1.305.80 USD 309.536.02 32.13 581.962.419.359.20 557.21 79.20 22.78 1.69 1.306.530.138.41 39 1.659.75 USD 9.79 5 22 27 1 1 2 3 3 14 43 57 - 125.89 5 4 9 2.662.34 2.62 2.31 1.31 4.47 EUR 11.962.951.08 369.984.98 22.952.76 112 USD 9.79 848.29 1.92 78.255.32 - 55 55 - 10.729.750.362.04 16.37 53.306.47 EUR 11.430.21 - 1.265.994.592.28 2.47 EUR 11.636.744.739.152.12 26.64 24.21 1.64 1.590.01 6.26 11.616.40 12 124 - EUR 0.Lampiran 50 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerntah Pusat (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 1 (2) Kementerian Pertahanan (3) 2009 2010 Jumlah 2 Mabes TNI 2009 2010 Jumlah 3 TNI AD 2009 2010 Jumlah 4 TNI AL 2009 2010 Jumlah 5 TNI AU 2009 2010 (4) 40 39 79 35 13 48 45 45 15 32 47 34 59 Jumlah 93 6 Kementerian Luar Negeri 2009 2010 Jumlah 151 Nilai (5) 2.617.15 GBP 17.10 15.981.29 1.64 18.676.389.34 30.750.21 79.08 24.69 2.38 USD 309.377.744.556.78 96.88 16.27 22.20 1.40 1 40 - 28.97 1.86 351.734.26 22.20 22.79 382.909.

45 745.26 25.460.85 165.40 150.75 55.99 1.60 228.592.92 5.37 4.199.60 9.642.08 46.48 521.94 362.48 1.01 230.283.584.923.92 158.988.98 8.00 150.01 230.50 326.31 Jml (10) 13 13 21 21 4 4 377 377 104 104 30 44 74 53 89 142 11 11 22 12 12 Nilai (11) 9.49 973.880.038.869.071.263.82 26.379.568.325.83 24.961.87 34.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 15 (2) Kementerian Sekretariat Negara (3) 2009 2010 Jumlah 16 TMII 2009 2010 Jumlah 17 BKN 2009 2010 Jumlah 18 BPN 2009 2010 Jumlah 19 LAN 2009 2010 Jumlah 20 Arsip Nasional 2009 2010 Jumlah 21 KPU 2009 2010 Jumlah 22 Kementerian Hukum dan HAM 2009 2010 Jumlah 23 Kejaksaan Agung 2009 2010 Jumlah (4) 38 25 63 21 13 34 3 40 43 34 27 61 2 16 18 4 9 13 412 22 434 106 144 250 32 44 76 24 POLRI 2009 2010 Jumlah 25 Komnas HAM 2009 2010 Jumlah 26 Mahkamah Konstitusi 2009 2010 Jumlah 27 MPR 2009 2010 Jumlah 28 DPR 2009 2010 Jumlah 29 DPD 2009 2010 Jumlah 30 Mahkamah Agung 2009 2010 Jumlah 31 Komisi Yudisial 2009 2010 Jumlah 59 231 290 11 11 22 5 13 18 2 5 7 28 13 41 4 5 9 40 79 119 3 10 13 Nilai (5) 23.34 717.104.104.283.01 96.09 23.77 313.77 2.796.44 USD 5.92 464.826.51 3.24 56.00 16.788.98 628.37 34.47 22.495.631.17 24.18 1.87 284.09 23.385.97 170.31 1.60 12.84 633.45 1.796.267.535.63 54.317.82 26.626.83 1.10 99 .66 124.283.338.00 7.00 126.92 19.43 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 4.10 220.95 4.10 16.63 54.746.82 Jml (6) 5 14 19 18 18 2 3 5 21 4 25 1 4 5 3 3 6 21 11 32 94 17 111 2 2 2 107 109 5 13 18 1 5 6 25 12 37 4 5 9 6 22 28 3 8 11 Nilai (7) 126.60 16.32 26.75 929.45 745.01 96.82 Jml (8) 33 11 44 3 3 1 37 38 13 2 15 1 8 9 1 6 7 14 11 25 12 23 35 4 35 39 1 1 3 1 4 22 57 79 2 2 Nilai (9) 23.038.56 USD 293.63 19.283.631.24 220.01 1.253.34 1.005.73 1.241.301.43 141.910.45 1.006.39 1.558.378.60 228.55 121.63 70.84 633.85 1.71 4.077.Halaman 2 .998.57 1.471.22 USD 293.92 352.66 USD 293.45 870.75 536.37 26.40 19.43 121.19 3.95 230.63 54.09 138.75 55.558.196.40 673.16 326.00 284.95 230.988.66 1.923.24 526.761.325.00 1.85 950.244.33 630.60 449.59 34.005.00 126.91 26.910.44 USD 5.091.239.722.019.388.96 38.61 23.317.43 141.01 98.75 927.002.78 358.824.21 9.00 226.35 1.005.71 950.57 141.16 26.92 150.196.57 2.61 230.60 313.241.434.610.60 4.34 417.584.50 326.63 54.15 1.165.85 1.73 51.85 106.08 121.27 70.75 536.193.435.631.00 5.60 228.714.37 126.988.85 106.92 6.701.17 9.90 7.98 71.85 106.55 5.17 1.210.338.01 230.00 USD 293.329.45 1.37 5.84 141.534.00 5.17 10.01 19.60 26.631.40 313.126.071.78 1.45 150.19 124.53 77.301.585.78 1.09 12.

93 USD 23.96 3.273.667.60 20.489.30 25 Jml (10) 1 1 26 26 25 Nilai (11) 5.23 - 11 11 - 38 Kementerian Pekerjaan Umum 2009 2010 Jumlah 364 29 393 202 151 353 3 15 18 7 7 25 22 47 20 39 59 12 23 35 32 47 79 38 32 70 65.30 381.43 39.94 5.270.27 1.895.65 70.50 78.70 45.213.56 194.37 20 41 2.Halaman 3 .50 45.197.832.786.99 139.258.720.24 USD 16.07 4.67 68.247.65 47.16 1.984.22 63.153.363.693.32 USD 32.69 34.552.36 17.31 46.85 427.69 885.670.171.50 AUD 334.14 987.29 340.897.09 1.75 990.98 506.88 38.46 139.34 2.22 2.45 3.405.474.39 118.720.30 37 2009 66 2.272.16 277.32 252 3 255 91 34 125 1 7 8 19 5 24 17 19 36 12 22 34 24 9 33 7 19 26 45.00 836.41 1.61 1.230.513.62 15 179 Jml (8) 5 5 3 3 6 6 36 24 60 164 Nilai (9) 43.36 10.39 113.591.21 54.40 899.50 AUD 334.68 624.03 11.60 47.81 8.81 440.32 3.530.99 1.97 18.387.440.90 USD 12.897.191.96 23.31 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.28 825.50 AUD 334.63 138.63 139.73 379.258.73 2.75 990.337.475.76 381.336.22 4.37 3.984.247.10 879.984.834.85 1.45 132.182.987.06 19.175.85 1.513.245.34 80.387.027.171.30 1.37 45 945.33 28.545.92 Kementerian Kelautan dan Perikanan 21 41 Jml (6) 10 3 13 15 15 17 25 42 22 40 62 20 Nilai (7) 832.197.927.21 3.710.409.786.86 USD 23.27 1.30 824.94 33.68 33.97 1.30 12.37 62 2 64 91 79 170 4 4 7 7 2 7 9 7 7 1 25 26 13 3 16 7.421.86 433.992.32 USD 32.07 433.111.850.573.308.210.13 7.13 41.258.21 417.21 1.027.73 USD 23.657.396.02 2.24 1.247.810.230.900.693.352.81 429.336.85 1.96 3.92 12.353.545.97 39 Kementerian Perhubungan 2009 2010 Jumlah 40 Menpera 2009 2010 Jumlah 41 Bapertarum 2009 2010 Jumlah 42 Kementerian PDT 2009 2010 Jumlah 43 BMKG 2009 2010 Jumlah 44 Kementerian Perindustrian 2009 2010 Jumlah 45 Kementerian Perdagangan 2009 2010 Jumlah 46 Kementerian Kop.065.31 46.99 1.850.53 113.710.635.021.92 191.60 1.22 56.98 2010 Jumlah 55 121 2.646.419.39 7.131.08 7.16 1.407.396.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 32 KPK (2) (3) 2009 2010 Jumlah 33 PPATK 2009 2010 Jumlah 34 BNN 2009 2010 Jumlah 35 Kementerian Pertanian 2009 2010 Jumlah 36 Kementerian Kehutanan 2009 2010 Jumlah (4) 10 8 18 3 15 18 17 32 49 58 90 148 209 36 245 Nilai (5) 832.50 AUD 334.660.07 1.10 43.99 1.799.70 USD 23.23 14.62 1.220.72 USD 12. & UKM 2009 2010 Jumlah 100 .594.68 552.895.897.24 USD 16.13 113.861.643.405.266.10 1.17 4.27 1.36 14.440.91 139.273.849.22 41.728.706.22 41.36 19.280.021.37 24 69 391.338.559.31 551.338.087.30 7.308.60 1.799.573.99 1.12 70.70 20.643.13 - - - 1.21 1.387.337.98 50 24 74 20 38 58 2 4 6 4 10 14 3 13 16 1 1 7 13 20 18 10 28 12.45 USD 12.247.31 54.61 1.50 45.041.65 18.68 8.660.10 1.591.337.32 139.06 32.337.12 2.749.197.21 72.55 132.027.18 28.60 4.927.73 31.37 21 1.31 8.728.20 2.17 72.45 551.26 41.834.65 47.26 4.27 USD 12.

21 2.00 29.77 52.95 23.03 USD 222.132.450.457.270.78 14.32 4.84 5.795.95 25.503.98 978.60 83.38 575.60 8.87 JPY 266.58 95.042.055.536.51 1.48 57 Bakosurtanal 2009 2010 Jumlah 58 LAPAN 2009 2010 Jumlah 59 Kementerian Agama 2009 6 13 19 7 27 34 257 2010 Jumlah 534 791 60 Kementerian Sosial 2009 2010 Jumlah 45 49 94 4.75 23.22 14 14 59 296 355 4 25 29 10 24 24 18 18 10 36 36 Jml (10) 2 2 22 22 Nilai (11) 176.83 5.524.33 109.30 211.310.564.530.42 130.32 69.197.54 USD 0.794.927.402.00 5.299.77 162.042.17 177.888.785.13 40.716.500.60 50 Kementerian LH 2009 2010 Jumlah 51 Kementerian BUMN 2009 2010 Jumlah 52 Kementerian Ristek 2009 2010 Jumlah 53 BPPT 2009 2010 Jumlah 54 LIPI 2009 2010 Jumlah 55 BATAN 2009 2010 Jumlah 56 BAPETEN 2009 2010 Jumlah 125 29 154 9 9 7 14 21 10 34 44 8 17 25 6 24 30 7 15 22 1.779.934.45 62.27 USD 222.531.02 2.87 JPY 266.500.12 83.78 14.489.83 6 12 18 2 3 5 103 124 227 23 6 29 10 32 23 55 1 1 5 9 14 10 4 14 3 5 8 6 23 29 6 4 33 13 Jml (6) 5 8 13 2 2 4 20 Nilai (7) 300.475.46 5.111.18 882.51 251.210.86 283.89 296.659.59 17.12 328.32 USD 0.18 882.523.59 134.49 546.17 532.659.65 132.37 134.25 USD 222.08 101 .210.63 2.200.557.761.45 130.09 25.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 47 BSN (2) (3) 2009 2010 Jumlah 48 BKPM 2009 2010 Jumlah 49 Kementerian ESDM 2009 2010 Jumlah (4) 5 10 15 2 24 26 42 69 111 Nilai (5) 300.676.19 13.757.69 52.68 USD 18.79 2.10 815.485.578.753.51 39.213.24 1.637.608.75 65.031.46 USD 8.29 169.655.732.082.43 59.30 48.19 39.48 23.98 129.63 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 83.42 8.81 38.90 2.64 315.66 2.690.03 100.60 559.00 75.24 1.485.23 160.169.094.77 3.18 882.828.00 42.93 USD 262.02 30.00 1.42 8.19 44.61 163.68 USD 18.896.966.082.753.15 56.239.18 89.477.588.87 JPY 266.437.53 178.15 23.13 12.696.03 USD 222.789.07 144.09 252.91 35.03 14.97 1 1 5 10 15 95 114 209 18 18 36 2 69 6 75 8 8 2 5 7 12 12 5 12 17 1 1 1 1 42 20 Jml (8) 22 Nilai (9) 476.34 USD 8.80 532.52 56.37 42.968.536.87 6.437.493.24 2.60 8.410.70 815.23 116.799.45 USD 262.32 258.19 3.629.82 62.68 USD 18.082.68 47.00 1.64 315.51 75.45 USD 262.710.19 154.313.239.17 4.00 15.34 USD 8.04 6.68 5.298.176.080.89 USD 0.732.206.402.01 4.67 162.20 41.12 83.14 USD 18.56 2.98 23.37 5.018.475.09 176.102.824.83 122.557.19 13.06 USD 262.62 184.24 USD 0.98 56.18 133.42 116.38 481.10 296.205.39 444.68 93.42 132.082.451.87 JPY 266.Halaman 4 .80 59.298.13 71.03 30.138.515.69 59.12 328.38 55.90 25.24 6.49 546.99 60.63 93.477.753.620.122.755.98 21.813.65 818.

104.794.494.66 USD 0.71 209.81 360.363.04 8.936.31 2 8 10 3 15 18 262.190.81 BN Penanggulangan 2009 Bencana 2010 68 2009 395 - 424.15 993.54 65.793.Halaman 5 .54 980.221.18 345.43 7.281.648.531.156.237.975.491.83 USD 9.46 75.020.54 1.80 12.20 458.89 47.751.06 USD 140.74 572.12 63.73 1.97 648.57 393.258.26 31.890.91 48.435.185.71 364.608.28 54.610.01 23.09 623.72 5.66 1.36 USD 9.76 2.736.61 223.42 USD 9.81 2.07 1.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 61 (2) (3) (4) 11 35 46 Nilai (5) 422.987.854.72 246.39 USD 0.11 580.59 63.25 19.320.04 1.39 USD 0.61 181 29 210 21 27 48 3 6 9 3 7 10 11 377 388 248.043.23 962.229.106.08 628.04 262.351.162.281.14 1.032.99 1.532.22 4.190.579.080.331.389.97 648.08 449.043.221.33 2 15 17 9 6 15 35.51 1.025.156.68 1.59 63.208.14 572.58 54.50 588.82 2010 Jumlah 145 540 - 69 Kementerian Budpar 2009 2010 Jumlah 37 47 84 22 11 33 7 21 28 462 484 946 70 Menpora 2009 2010 Jumlah 71 Perpustakaan Nasional 2009 2010 Jumlah 72 Kementerian Keuangan 2009 2010 Jumlah 73 Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2009 2010 Jumlah 5 25 30 12 28 40 35.61 538.99 30.158.797.020.097.352.89 1.41 2.205.54 11.56 309.564.351.22 388.507.48 2.84 336.511.79 1.045.10 23.042.06 USD 140.95 94.26 580.81 187.31 74 BPKP 2009 2010 Jumlah 102 .555.46 225.003.12 63.50 1.087.11 299.741.020.81 205.606.975.81 3.39 422.368.00 175.30 1.633.31 360.03 205.241.09 80.68 159.39 4.463.40 1.39 6.31 20.47 159.66 USD 0.45 69.632.32 2.274.96 477.09 623.794.06 1.189.79 5 6 11 4 6 10 31 Jml (8) 3 12 15 22 5 27 8 8 39 38 77 16 15 Nilai (9) 246.425.75 8 12 20 17 11 28 7 Jml (6) 8 4 12 1 6 7 2 6 8 34 45 79 3 4 Nilai (7) 175.162.67 31.20 379.01 USD 140.037.60 2.037.18 1.054.000.34 584.76 27.45 69.83 828.00 - 35.208.205.50 1.484.72 5.00 66 BKKBN 2009 2010 Jumlah 67 Badan POM 2009 2010 Jumlah Kementerian Pendidikan Nasional 13 22 35 21 18 39 253.51 458.98 112 64 176 5 8 13 13 1 14 2 6 8 292 44 336 36.06 62 Menko Kesra 2009 2010 Jumlah 63 KPP dan PA 2009 2010 Jumlah 64 Kementerian Kesehatan 2009 2010 Jumlah 65 Kementerian Nakertrans 2009 2010 Jumlah 29 29 58 2 14 16 103 93 196 22 77 99 6.16 1.68 4.886.20 449.287.653.68 1.19 USD 140.24 2.82 4.08 1.411.990.43 15.34 584.06 Jumlah 422.431.54 311.20 47.28 1.00 2.502.330.155.718.56 1.640.97 364.34 440.11 11.781.38 64.19 1.171.156.516.13 1.43 1.651.43 11.56 538.47 11.17 131.756.640.944.42 2.31 165.08 458.50 1.33 1.31 1.91 3.646.57 102 52 154 11 12 23 6 4 10 2 8 10 159 63 222 139.12 USD 9.74 205.18 921.16 365.466.79 29.24 1.247.40 7.815.38 8.572.08 57.593.871.24 218.66 124.42 2.156.531.73 188.68 589.54 164.72 284.00 65.808.00 11.060.502.89 1.453.408.994.41 908.097.60 11.56 2.62 412.778.58 54.81 259.06 175.757.66 3.22 14.111.54 15.708.412.02 1 2 3 7 7 175.144.63 72.60 1.50 588.10 3.91 4 4 1 1 61 Jml (10) 19 19 6 18 24 30 10 40 3 58 Nilai (11) 611.556.25 14.04 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 422.10 3.59 1.

09 4.96 15.29 128.110.852.49 274.246.69 1.55 JPY 266.43 343.55 GBP 17.15 274.418.014.262.47 340.87 JPY 266.90 343.37 EUR 11.30 610.77 103.84 2.565.34 61.22 2.68 USD 313.49 129.77 6.03 AUD 334.418.647.76 3.227.374.147.25 41.011 Rp12.064.22 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 236.36 72.72 7.324.98 593.082.02 239.68 471.347.24 9.51 34.19 GBP 17.102.821.187.003.36 56.201.24 76.21 Jml (10) 11 11 12 5 17 4 4 11 13 24 3 3 1 20 21 30 30 46 46 Nilai (11) 510.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 75 BPS (2) (3) 2009 2010 Jumlah 76 Menko Perekonomian 2009 2010 Jumlah 77 STAR SDP 2009 2010 Jumlah 78 BPK 2009 2010 Jumlah 79 Bank Indonesia 2009 2010 Jumlah 80 LPS 2009 2010 Jumlah 81 BNP2TKI 2009 2010 Jumlah 82 BPLS 2009 2010 Jumlah 83 LPP TVRI 2009 2010 Jumlah 84 LPP RRI 2009 2010 Jumlah 85 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Otorita Batam) 2009 2010 Jumlah (4) 11 25 36 3 1 4 12 5 17 25 28 53 6 6 1 4 5 31 17 48 19 9 28 12 20 32 32 32 18 73 91 Nilai (5) 236.468.06 850.29 343.25 41.50 TOTAL 8. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 103 .553.25 71.29 116.740.29 128.543.73 Jml (8) 5 5 6 11 17 6 6 13 3 16 2 1 3 8 8 2 2 5 3 8 Nilai (9) 610.49 129.41 USD 12.812.84 162.77 610.17 Jml (6) 11 9 20 3 1 4 19 13 32 1 4 5 7 1 8 17 5 22 3 3 13 24 37 Nilai (7) 236.053.374.38 - 3.59 129.50 1.47 340.44 8.98 6.66 56.78 2.36 162.68 471.69 2.63 257.56 1.29 128.56 76.30 71.77 8.Halaman 6 .324.77 610.131 Rp 4.21 9.25 71.938.852.251 Rp 27.18 28.55 GBP 17.70 15.68 471.324.30 71.211.945.08 239.25 41.84 41.56 72.15 EUR 11.97 76.77 103.543.25 129.59 510.25 41.97 4.37 EUR 11.36 132. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.543.960.119.30 71.78 3.793.354.30 1.109 Rp 9.09 12.78 Keterangan 1.464.49 71.25 41.23 USD 359.97 15.08 21.740.094.15 56.33 USD 326.21 2.19 - Rp1.30 116.77 AUD 334.42 USD 42.77 614.543.082.094.

765.67 81.58 7.17 320.766.317.60 11.039.999.939.17 7.362. Aceh Selatan 2009 2010 Jumlah 7 Kab.96 11.45 39.067.598.374.30 889.10 2.620.27 2.443.532.361.313.54 152.82 99.584.42 7.73 5.73 74.Lampiran 51 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 1 2 Prov.80 Jml 8 81 24 105 4 4 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 9 2.41 182.736.06 5.728.85 16.155.80 2.389.45 114.91 1 1 2 10 12 20 20 7 23 30 5 25 30 14 14 28 6 14 20 11.31 8 67 75 7 36 43 233.389.238.983.40 348.67 303.92 9.40 18.09 3.08 6.243.02 40 69 109 2 31 33 5 27 32 8 8 10 26 36 3 7 10 22 22 5.65 6.95 2.244.684.39 15.32 18.27 104.544.362.71 11.242.110.174.15 12 2 14 33 33 17.90 443.10 113.399.06 11 Kab.933.69 2.687.04 4.69 1.17 3.29 8.07 74.52 Belum Ditindaklanjuti Jml 12 37 73 110 27 19 46 Nilai 13 1.078.361.971.790.985.527.584.07 18.36 8. Aceh Singkil 2009 2010 Jumlah 8 Kab.670. Aceh Tamiang 2009 2010 Jumlah 9 Kab.042.92 155.96 56.065.15 2.00 106.064.07 74.311.637.56 2.460.70 3.85 113.893.16 11. Aceh Jaya 2009 2010 Jumlah 6 Kab.06 104.50 24.97 1.923.14 31.42 13.825.65 180.684.78 31.60 900.31 2.14 31. Aceh Timur 2009 2010 Jumlah 12 Kab. Aceh 3 2009 2010 Jumlah 2 Kab.92 12.Halaman 1 .20 145.044.451.33 429.31 174.11 81. Aceh Besar 2009 2010 Jumlah 5 Kab.74 24.61 8.611.27 10.20 2.329.10 252.07 11.15 297.03 8.73 4.23 - 3 2009 2010 Jumlah 41 69 110 45 56 101 48 27 75 26 72 98 34 63 97 73 55 128 34 50 84 5.48 34.99 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 10 46 21 67 4 11 15 Nilai 11 37.87 26.771.20 30 23 53 27 27 - 13 22 35 20 20 225.849.06 972.408.656.83 448.74 711.12 29.889.76 2.62 228.721.056. Aceh Barat 2009 2010 Jumlah Kab.53 370.54 41 15 56 23 23 19 41 60 19 12 31 56 34 90 28 14 42 18.20 11.05 54.734.63 477.89 - 13 Kab.75 4 Kab.52 140.58 29.265.608.23 9.883.54 889.422.20 348.385.85 16.08 4.633.979.254.07 1.40 13.343.467.215.811.47 2.676.98 836.67 7 2 9 22 22 4.127.325.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 14 694.28 29.33 174.10 239.408. Bener Meriah 2009 2010 Jumlah 104 .611.91 21.83 115.45 8.59 196.26 1.734.07 6.150.33 2.48 6.379.52 74.165.285.66 3.51 21.967.03 9.10 5.29 50.417.91 3.40 12.82 197.79 21.07 213.56 900.888. Aceh Utara 2009 2010 Jumlah 51 112 163 54 36 90 225.242.005.222. Aceh Tenggara 2009 2010 Jumlah 32 33 65 72 59 131 35. Aceh Barat Daya 6 164 118 282 35 30 65 Nilai 7 41.63 5.467.48 239.22 24.41 10.52 239.719.32 493.053.47 13 29 42 17 59 76 13.02 243.85 23.20 11.83 248.65 6.364.89 2.903.721.684.10 3.37 15.23 6.83 12.687.47 3.02 20. Aceh Tengah 2009 2010 Jumlah 10 Kab.41 248.67 13.053.799.67 154.208.305.53 852.

66 366.88 6.25 349. Pidie 2009 2010 Jumlah 31 30 61 59 44 103 63 17 80 64 23 87 19 33 52 53 29 82 21 42 63 21 103 124 3.922.80 40.604.02 290.829.402.518.410.510.66 0.47 196.21 672.46 2.33 1.368.40 1.16 366.20 10.079.354.466.494.29 5.431.099.83 132.00 2.00 5.065.354.170.59 2.250.92 40.894.94 2.66 1.031.508.00 23.219. Gayo Lues 2009 2010 Jumlah 16 Kab.80 1.888.771.18 39.238.097.001.88 2.32 282.19 682.99 6.33 14.12 381.72 10.62 69 32 101 8 8 73.04 150.841.925.40 2.975.20 2.331.75 0.572.78 52.142.097.98 22.331.08 53.28 1.50 20.20 187.61 16.Halaman 2 .16 10.031.829.47 32.34 41.444.266.17 5.28 2.93 2.172.803.21 393.45 349.46 2.17 3.504.009.092.66 672.94 3. Nagan Raya 2009 2010 Jumlah 4 53 36 89 48 46 94 25 34 59 Nilai 5 19.01 22 31 53 47 74 121 16.99 5 30 35 5 44 49 24 24 4 4 3 33 36 23 14 37 1 20 21 3 81 84 1.60 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 4 7 11 1 4 5 Nilai 9 18.75 14.985. Bireuen 3 2009 2010 Jumlah 15 Kab.28 1.124.45 682.98 13.75 5.46 198.40 40.62 18.53 18.26 198.962.444.740.952.894.446.02 26 Kab.25 601.15 15 15 37 37 21 10 31 48 16 64 12 12 20 6 26 18 18 36 10 15 25 0.40 11 11 17 17 18 7 25 12 7 19 4 4 10 9 19 2 4 6 8 7 15 1.69 569.37 381.87 8.92 5.76 24.26 381.99 18.96 19.792.94 2.96 Jml 6 23 23 40 28 68 24 28 52 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 200.39 6.81 309.994.434.368.821.05 32.64 30.777.88 1.86 36.95 1.04 569.40 1.17 19.568.92 25.634.105.434.099.08 44.00 200.26 20.128.90 1.01 2.66 41.41 45.75 187.18 730.92 43.75 478.64 11.859.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 14 2 Kab.63 1.025.203.798.013.28 18.203.513.83 217.508.195.72 1.96 5.95 2.266.12 2.975.88 1.81 215. Asahan 2009 2010 Jumlah 105 .33 110.196.39 2.01 8.952.52 10.394.11 11.36 11.95 14.510.60 2.37 - 18 Kab.693.99 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 215.045.54 1.031.80 6.75 18. Pidie Jaya 2009 2010 Jumlah 19 Kab.410.756.94 8.56 21 8 29 42 42 52.46 15.57 1.26 1.67 13.37 2.39 5.022. Simeulue 2009 2010 Jumlah 20 Kota Banda Aceh 2009 2010 Jumlah 21 Kota Langsa 2009 2010 Jumlah 22 Kota Lhokseumawe 2009 2010 Jumlah 23 Kota Sabang 2009 2010 Jumlah 24 Kota Subulussalam 2009 2010 Jumlah Prov.406.66 0.20 13.95 2.64 5.985.829.36 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 36 53 4 11 15 2 2 Nilai 11 75.341.986.80 17 Kab.025.321.634. Sumatera Utara 25 2009 2010 Jumlah 112 71 183 97 74 171 143.47 8.37 187.17 5.07 1.611.431.34 658.37 581.26 381.25 3.28 290.830.238.17 1.07 217.29 518.457.

129.18 13.78 46 90 136 66 34 100 49 45 94 1 53 54 2.14 117.227.00 584.848.73 12.48 10.46 306.84 314.623.347.97 39 Kab.894.40 19 52 71 3 42 45 24.48 100.543.586.18 13.53 4. Padang Lawas 2009 Utara 2010 Jumlah 38 19 52 71 26 47 73 24.259.14 899.532.15 105.58 14.63 2.592.28 66.04 899.66 14.05 10.069.14 117.259.78 254.049.68 10.809.63 2.74 3.227.05 1.96 17.56 14.15 1.14 899.29 28.31 4 2 6 1 1 13 13 211.754.71 8.50 135.628.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 40 70 110 56 85 141 Nilai 11 24.44 90.00 35 Kab.705.30 844.29 171.714. Nias Selatan 2009 2010 Jumlah 37 Kab.Halaman 3 .49 16.831.60 13.04 1.20 0.56 109.46 306.16 621.13 36.79 81.714.34 206.97 150.886.593.76 624.089.273.47 1.42 14.53 1.97 150.78 1.64 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 206.04 899.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 27 2 Kab.331.82 1.71 8.00 4 1 5 6 6 363.452.331. Deli Serdang 2009 2010 Jumlah Kab.273.475.00 31 Kab.78 1.77 24.32 24.01 584.39 Jml 6 34 34 16 16 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 206.364.178.352.34 24.208.364.53 78.16 478.455.640.34 270.049.34 24.831.76 2.28 13.177.80 11.28 24.74 3.837.178.958.96 1.325.59 142.84 465.673.295.609.452.50 135.15 28.16 12.593.01 43 26 69 4 8 12 11 19 30 21 34 55 34.00 0.89 198.38 232.165.286.77 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 21 14 14 Nilai 9 41. Langkat 2009 2010 Jumlah 34 Kab.04 17.107.623.425.370.32 142.56 89. Batubara 3 2009 2010 Jumlah 28 Kab.52 936.00 16.38 383.42 14.03 320.527.20 537.40 153.19 1.29 109.49 142.692.23 91.03 1.586.183.16 107.77 24.76 1.30 672. Padang Lawas 2009 2010 Jumlah Kab. Dairi 2009 2010 Jumlah 29 Kab.177. Nias 2009 2010 Jumlah 36 Kab.27 463.016.922. Pakpak Bharat 2009 2010 Jumlah 106 .64 117.056.92 42.13 36.53 2. Mandailing Natal 2009 2010 Jumlah 54 93 147 66 34 100 49 46 95 20 53 73 3.20 537.17 3.809.06 42.49 142.75 254.331.151.307.056.32 141.45 107.03 187.886.04 24.68 3.809.66 20 1 21 171.831.97 3 4 7 153.32 141.55 81.16 12. Karo 2009 2010 Jumlah 32 Kab. Labuhanbatu 2009 2010 Jumlah 33 Kab.12 7 7 3 4 7 32 32 16 7 23 117.225.20 24.34 206.97 41.83 5.102.49 16.982. Humbang Hasundutan 4 55 44 99 40 70 110 86 85 171 Nilai 5 42.00 16.692.47 26 17 43 25 25 33 42 75 855.77 30 2009 2010 Jumlah 43 33 76 33 29 62 68 19 87 70 83 153 34.286.84 1.

00 467.47 13.01 110. Tapanuli Tengah 2009 2010 Jumlah 40 64 104 31 27 58 31 25 56 34 40 74 69 124 193 31.42 - - - - 41 55 96 9.284.50 4.27 16.49 4.623.226.53 744.23 45 Kab.61 4.05 30 19 49 1 10 11 603.77 21.46 558.273.098.59 194.37 169.574.00 458.222.67 8.13 110.064.300.205.79 42 Kab.975.883.545.955.28 16.12 1.587.89 1.35 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 41 2009 2010 Jumlah 76 38 114 41 60 101 10.59 44 Kab.84 254.79 18.27 182.910.107.32 108.63 458.90 24.27 772.50 3.975.61 3.401. Serdang Bedagai 4 35 71 106 Nilai 5 8.79 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 22 31 53 Nilai 9 6.300.362.94 2.27 17.20 3.13 46 2 48 27 29 56 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 40 2 Kab.94 5.69 33.171.77 2.96 8 28 36 482.919.30 1.96 340.25 13.52 3.Halaman 4 .27 107.334.324.69 2.156.825.995.90 4.79 18.335.59 162.37 1.28 16.43 210.63 4.954.064.281.477.31 2.81 18.24 15.77 2.13 877.843.99 13.321.334.068.14 7.90 142.768.906.87 3.81 16.379.66 - 40 64 104 18 27 45 31 25 56 3 3 65 116 181 31.088. Toba Samosir 2009 2010 Jumlah 47 Kota Binjai 2009 2010 Jumlah 48 Kota Medan 2009 2010 Jumlah 49 Kota Padangsidimpuan 2009 2010 Jumlah 41 55 96 9.03 1.38 3. Tapanuli Utara 2009 2010 Jumlah 46 Kab.27 3.43 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 13 40 53 Nilai 11 2.140.587.57 7 49 56 15 15 107.052.93 107.178.804.69 33.131.986.744.50 8 43 51 3 3 5.00 1 1 38 22 60 3.360.27 4.20 51 Kota Sibolga 2009 2010 Jumlah 107 .50 3.060. Tapanuli Selatan 2009 2010 Jumlah 46 78 124 868.060.437.622.02 906.111.32 2.51 2.92 8.84 11.09 40.56 7.93 566.753.59 305.14 7. Simalungun 2009 2010 Jumlah 43 Kab. Samosir 3 2009 2010 Jumlah Kab.760.23 13 13 15 24 39 1 8 9 142.27 107.20 2.978.46 558.950.919.423.24 3.99 2.492.527.172.54 169.760.954.14 3.71 13.65 18.171.84 15.527.280.15 1.81 15.10 2.36 19 13 32 3 3 8.599.02 21.77 24.92 2.891.81 16.324.66 4 17 21 340.47 906.10 2.213.023.360.172.79 45 19 64 2 28 30 9.89 1.919.02 34 33 67 45.67 3.17 5.21 3.910.20 3.66 14.66 14.891.93 5.31 37.42 - 50 Kota Pematangsiantar 2009 2010 Jumlah 61 94 155 45 29 74 8.345.68 194.

92 4.75 16.13 90.13 16 64 80 2.02 1.727.081.797.52 5.02 1. Pasaman Barat 2009 2010 Jumlah 83 115 198 53 72 125 52 88 140 10.387.60 537.14 148.852.95 56.87 18.13 260.77 295.347.95 387.68 13 46 59 1 1 2 49 7 56 2.091.835.80 55.20 1.05 2.88 13.80 54 2009 2010 Jumlah 155 214 369 70 60 130 129 110 239 54.930.23 100.36 50.44 10 3 13 492.727.447.77 35 34 69 17 50 67 72 6 78 45.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 39 48 87 11 18 29 Nilai 11 27.986.780.822.37 15.24 7.69 117 116 233 41 41 12 3 15 8.523.64 4.11 6.235.482.61 338.41 3 36 39 9.377.58 6.52 167.00 492.36 104.178.20 3.92 2.04 148.725. Pesisir Selatan 2009 2010 Jumlah 63 Kab.01 295.37 5.116.38 674.680.86 58.80 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 13 31 Nilai 9 170.396.43 100.433.68 11.96 30.68 55 55 44 27 71 2 55 57 4.20 2.58 2.86 5.453.809.79 3. Pasaman 2009 2010 Jumlah 61 Kab.619.38 1.25 1.60 5.53 2.46 338.033.61 349.57 23.047. Kepulauan Mentawai 2009 2010 Jumlah 78 62 140 6.561.548.983.739.79 12.95 736.48 3.376.300.715.78 1.785.201.665.947.99 4.25 36.04 449.917.64 58 Kab.82 6. Dharmasraya 2009 2010 Jumlah 57 Kab. Padang Pariaman 2009 2010 Jumlah 56 57 113 86 127 213 4.811.78 6.50 21 53 74 47 70 117 3.74 346.091.80 1.96 61.069.65 10.32 60 Kab.44 49 2 51 - 19 57 76 5.93 1.072.64 211.950.496.50 414.78 216.54 173.395.82 1.664.862.454.55 1.453.05 18.510.65 9.25 3.43 8.80 55.58 26 32 58 3.580.05 20.59 1.80 5.950.460.00 1.846.58 67.02 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.344.887.276.61 163.93 7.45 4.90 4.54 2.76 77.428.422.047.080.12 1.32 1.56 47.93 7.088.529.00 1.79 63.48 2.01 105.91 226. Sumatera Barat 4 39 48 87 38 48 86 Nilai 5 27.868.205.56 13.17 12.523. Sijunjung 2009 2010 Jumlah 108 .93 1 4 5 1 35 36 352.79 3.38 136.36 50.94 2.74 15 69 84 8 44 52 1 26 27 3.482.95 5.454.04 34 34 38 22 60 8. Lima Puluh Kota 2009 2010 Jumlah 45 132 177 2.405.00 211.00 130.47 6.14 62 Kab.06 1.43 615.36 3 64 67 12 10 22 45 101 146 387.405.033.48 538.50 8.24 7.28 44.21 1.401.781.195. Agam 2009 2010 Jumlah 56 Kab.95 55 Kab.82 3.79 3.78 4.742.712.371.634.92 1.54 274.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 52 2 Kota Tanjungbalai 3 2009 2010 Jumlah 53 Kota Tebing Tinggi 2009 2010 Jumlah Prov.03 4.085.42 4.35 122.722.63 Jml 6 9 17 26 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 55.759.504.64 4.986.30 116.340.81 59 Kab.014.11 131.333.581.914.430.76 77.59 7.485.Halaman 5 .126.

67 75.620. Solok 3 2009 2010 Jumlah 65 Kab.572.80 9.55 47.82 15.47 4.646.03 11.339.50 19.84 40.973.973.16 6.36 967.33 14.38 1.61 20.16 506.00 452.28 12.698.21 243.629.034.430.52 1.857.758.95 362.283.75 13.45 465.20 5.17 837.643.85 6.177.02 17.758.91 135.61 16.812.52 494.34 14.553.50 546.62 8.935.591.142.99 38.91 1 10 11 31 6 37 18 12 30 25 40 65 13 30 43 159 41 200 141 32 173 40 23 63 1.84 489.503.061.700.47 16.20 4.16 821.620.788.49 73.43 210.19 11.900.78 2.824.365.34 1.93 6.386.05 33.419.83 671.249.940.219.78 90.77 8.90 25.922.16 42.51 670.93 70 Kota Pariaman 2009 2010 Jumlah 71 Kota Payakumbuh 2009 2010 Jumlah 72 Kota Sawahlunto 2009 2010 Jumlah 73 Kota Solok 2009 2010 Jumlah 74 Prov.47 1.17 198.564.93 495.633.438.56 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 36 48 31 64 95 4 12 16 29 58 87 32 7 39 Nilai 9 4.607.13 1.48 14.99 73.15 5. Riau 2009 2010 Jumlah 75 Kab.85 126.93 6.50 39. Indragiri Hilir 2009 2010 Jumlah 109 .41 23.026.063.633.165.070.52 3.183.05 483.83 42.241.395.29 6.831.70 787.78 827.52 9.729.169.087.87 1.36 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.811.81 805.47 15.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 64 2 Kab.203.10 4.371.096. Solok Selatan 2009 2010 Jumlah 66 Kab.402.98 27.81 837.797.18 50 50 3 6 9 38 38 29 8 37 3 30 33 2 20 22 6 5 11 2 23 25 47.85 66.091.33 296.43 27.772.00 670.56 505.20 4.82 43.82 590.53 362.99 8.68 1.88 1.73 280.53 167.422.90 821.94 23.76 11.43 1.81 6.343.33 1.98 13.11 85.815.090.41 126.77 42.863.617.37 10.74 447.79 3.24 65.78 11.600.64 14.278.600.54 Jml 6 27 61 88 42 42 57 50 107 31 47 78 136 76 212 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 5.463.27 506.21 489.93 1.61 447.20 737.78 1.309.428.74 9.965.691.204.311.49 38.63 36.136.00 12.419.839.00 157.34 14.31 43 49 92 44 40 84 77 39 116 49 30 79 81 4 85 162 55 217 67 29 96 55 29 84 287.01 69 2009 2010 Jumlah 44 109 153 78 52 130 95 89 184 103 78 181 97 64 161 323 116 439 214 66 280 97 75 172 1.242.339.03 682.01 5.00 100.78 125.469.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 2 136 138 1 39 40 4 50 54 8 44 52 Nilai 11 6.965.434.84 17.991.140.796.071.21 282.379.34 40.645.177.16 2.49 3. Bengkalis 2009 2010 Jumlah 76 Kab.31 222.01 27.00 940.470.22 58.878.389.70 128.831.92 671.83 574. Tanah Datar 2009 2010 Jumlah 67 Kota Bukittinggi 2009 2010 Jumlah 68 Kota Padang 2009 2010 Jumlah Kota Padang Panjang 4 39 99 138 75 200 275 62 101 163 64 155 219 176 127 303 Nilai 5 9.63 18.983.46 1.03 5.15 13.78 6.62 8.92 1.99 1.962.858.00 1.84 12.523.Halaman 6 .161.100.738.031.54 1.55 6.27 126.01 6.17 4.68 666.71 970.289.131.15 14.76 20.12 355.573.74 9.89 6.024.52 293.03 38.838.249.11 56.80 770.118.55 182.03 165.33 11.84 66.50 12.863.980.

175.10 111.956.105.30 20.056.224.206.19 28.875.97 1 29 30 23 20 43 84 28 112 14 14 7 13 20 28 25 53 7 16 23 58 58 1 32 33 54 54 49 49 2. Indragiri Hulu 2009 79 2009 2010 Jumlah 90 83 173 193 69 262 127 63 190 103 43 146 194 120 314 98 74 172 109 61 170 156 127 283 96 78 174 139 102 241 102 85 187 12.574.15 1.333.377.70 380.60 11.877.94 2.135.76 46.632.95 169.15 4.90 33.76 12.595.74 1.867.17 9.376.39 9.41 5.79 16.460.628.913.96 19.32 242.881.98 125.26 4.02 9.056.49 19 10 29 99 24 123 18 22 40 17 27 44 37 43 80 34 23 57 33 17 50 35 10 45 35 31 66 44 25 69 42 20 62 4.442.29 625.61 18.18 7.82 15.33 59.85 28.781.12 1.40 10.67 Kab.19 14.50 271.701.55 900.361.71 2.466.13 3.71 2.007.429.777.374.913.23 1.676.43 12.556.913.488.86 62.70 1.51 6.05 3.72 20.449.675.533.681.71 64.24 8.30 71. Batang Hari 2009 2010 Jumlah 88 Kab.289.69 2.241.909.23 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 6.447.63 1.13 770.14 80 Kab.76 770.556.184.574.27 4.57 314.60 575.00 4.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 77 2 3 2010 Jumlah 78 Kab. Bungo 2009 2010 Jumlah 89 Kab.011.35 47.332.306.558.79 2.238.687.76 1.297.99 6.43 798.89 28.88 70 44 114 71 25 96 25 13 38 72 16 88 150 64 214 36 26 62 69 28 97 121 59 180 60 15 75 95 23 118 60 16 76 7.23 79.12 3.618.866.774.01 23.24 5.332.58 7. Rokan Hilir 2009 2010 Jumlah 82 Kab.41 308.06 87.585.63 24.36 31.355.76 824.06 15.007.852.71 2.19 4.92 475.29 285.64 490.37 44.331.76 3.051.65 31.72 6.03 5.655.75 125.207.63 27.190.12 19.226.107.056.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 9 82 91 14 55 69 Nilai 11 308.23 125.416.16 1.129.79 100.50 12.10 842.70 616.53 3.948.29 5.47 18.253.775.268.928.05 816.19 6.675.237.90 10.69 4.530.46 7.009.107.38 125.068.17 3.355.00 160.718. Pelalawan 2009 2010 Jumlah 81 Kab.23 44.76 1.12 66.79 364. Rokan Hulu 2009 2010 Jumlah 83 Kab.69 58. Kerinci 2009 2010 Jumlah 110 .76 70.559.22 3.786.57 1.151.73 131.90 3.33 47.033.66 734.33 6.19 5.190.70 740.015.54 44. Jambi 2009 2010 Jumlah 87 Kab.999.238.714.573.79 7.706.82 54.64 14.335.268.326.17 434.57 308.45 3.336.374.47 186.681.766.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 18 34 2 36 Nilai 9 4.43 8.Halaman 7 .332.069.101.60 86.200.27 31.44 4.93 50.149.69 65.231.12 100.06 2.81 311.740.61 2.871. Kuantan Singingi 4 116 82 198 140 57 197 Nilai 5 6.29 15.46 Jml 6 89 89 92 92 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.48 3.68 39.292.10 58.747.66 356.716. Kampar 2009 2010 Jumlah Kab.18 50.68 7.822.731.627.686.77 12.00 352.45 8.332.93 2.93 19.029.639.133.525.998.36 1.81 39.076.670.22 45.23 770.581.51 12.41 824.343.871.94 34.32 142.69 2.80 3.175.78 3.90 170.02 19.807.20 62.509. Siak 2009 2010 Jumlah 84 Kota Dumai 2009 2010 Jumlah 85 Kota Pekanbaru 2009 2010 Jumlah 86 Prov.66 115.76 12.618.01 101.04 56.02 19.39 24.05 59.48 5.847.61 3.721.04 32.335.208.399.

806.399.80 99 Kab.939.25 7.42 USD 466.343. Sarolangun 2009 2010 Jumlah 4 98 44 142 169 60 229 100 65 165 Nilai 5 97.642.07 17.259.361.174.297.32 111.919.443.20 310.21 4.76 17.919.794.16 7.19 67.003.49 6.193.357.44 9.601.907.63 1.36 2.850.19 58 2.43 USD 466.160.62 397.496.41 6.422.98 236.480.05 316. Lahat 2009 2010 Jumlah 111 .03 USD 466.14 50.20 3.32 1.37 143.614.840.99 7.11 4.67 101 Kab.081.32 1.62 52.24 8.58 108.50 4.994.862.78 1.25 259.21 517.907.38 10.338.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 90 2 Kab.087.50 4.409.82 389.70 25.20 1.27 758.160.577.64 7.59 3.60 269.28 6.916.79 13.870.83 77.895.21 449. Muaro Jambi 2009 2010 Jumlah 92 Kab.90 98.80 2.10 3.28 1.66 67.32 3.29 17.840.13 3.55 31.986.93 3.71 94 Kab.Halaman 8 .83 17.76 1.851.04 6.00 6.57 36.21 449.01 6.17 3 5 8 36.06 3.497.800.193.28 2.25 9.66 3.58 207.38 4.22 393.17 441.51 59.494.91 15.91 Kab.36 93. Merangin 3 2009 2010 Jumlah 91 Kab.736.047. Banyuasin 2009 2010 Jumlah 100 Kab.86 111.20 2.19 44.475.657. Tanjung Jabung Timur 69 15.82 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 11 13 39 58 97 6 32 Nilai 11 16.297.46 1.61 9.042.27 212.681.93 1.04 181.56 3.130.571.893. Empat Lawang 2009 2010 Jumlah 76 69 145 93 90 183 4.022.93 - 450.38 4.79 1.29 46 46 64 54 118 55.494.693.82 1.00 991.25 449.200.289.375.49 2.348.22 441.850.840.33 8.20 1.06 14.443.92 145.45 USD 466.24 1. Tanjung Jabung Barat 2009 2010 Jumlah 85 104 189 108 82 190 197 59 256 27 27 3.289.001.19 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.556.868.80 62 31 93 3.960.980.91 10.361.65 19.65 176.75 3.119.154.76 55.29 1.89 95 Kab.137. Sumatera Selatan 98 2009 2010 Jumlah 92 81 173 74 63 137 9.62 52.23 167.890.75 56 66 122 64 64 119 21 140 15 15 450.63 2.25 4.142.065.41 6.78 93 2009 2010 Jumlah 112 48 160 57.98 100.82 29 23 52 40 35 75 33 12 45 7 7 3.951.67 517.055.99 687.065.457.21 517.37 18.659.193.82 6.59 1.781.78 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 49 21 70 54 1 55 35 23 Nilai 9 93.22 1.722.62 999.40 25.500.25 59 59 66 66 449.399.223.42 5.46 4.58 108.97 16.30 4.04 44.182.43 167.83 38 Jml 6 47 12 59 76 1 77 59 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 4.75 4.38 47 12 59 17.75 898.738.32 1 69 70 4 90 94 2.49 7.034.44 - 55.93 15 15 4 47 51 45 26 71 5 5 3.91 7.99 3.887. Tebo 2009 2010 Jumlah 96 Kota Jambi 2009 2010 Jumlah 97 Kota Sungai Penuh 2009 2010 Jumlah Prov.083.200.777.567.986.09 9.140.05 50.361.85 38 3 41 10 9 19 9.094.89 98.71 175.01 551.820.693.949.304.978.929.115.510.66 80.43 8 78 86 - 9.983.01 1.74 901.67 16 16 23 23 3.67 517.

331.37 USD 2.73 4.09 456.142.897.373.17 4.674.83 45 47 744.62 5.328.285.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 Nilai 9 9.15 14.35 9.71 520.078.018.04 433.02 176.309.65 118.477.36 496.82 2.78 447.75 7 7 - 2 76 78 1.350.50 2.75 1.12 103 54 157 1.06 79.58 - 18 6 24 20 20 10 10 57 4.06 119.05 9.47 11.97 11.989.360.44 11.97 2.97 11.22 414.73 52 53 105 128.73 USD 2.27 11.83 109.389.85 104 Kab.44 10.28 1.082.733.45 103 2009 2010 Jumlah 99 59 158 94 46 140 54 36 90 47.75 159.65 118.018.618.262.97 48.695.75 159.04 3.00 372.40 12 12 2.90 159.88 447.37 116.06 624.67 2.626.46 36 54 Jml 6 38 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 367.83 858.09 103.22 285.14 1.83 Kab.388.67 59.576.211.250.75 107 Kab.360.85 447.97 18 18 17 17 5 36 41 51.251.51 1.258.70 296.802.45 11.70 488.674.443.64 1.67 109 Kab.51 897.12 1.841.15 11.003.29 26. Ogan Komering Ulu Timur 2009 2010 Jumlah 29 70 99 468.766.59 - 6 2 8 2 12 14 77 18 95 8 - 47.762.42 4.187. Ogan Komering Ilir 2009 2010 Jumlah 65 76 141 159.71 79.06 114.22 2.40 110 Kota Lubuklinggau 2009 2010 Jumlah 58 49 107 40 42 82 141 51 192 73 57 4.90 1.66 78. Musi Banyuasin 44 82 5.89 7.298.90 11.95 496.81 59.82 USD 2.40 2 5 7 488.953.436.66 396.33 582.621.22 285.47 1.43 81 23 104 86 27 113 29 29 11.31 108 Kab.06 7.39 590. Ogan Komering Ulu 2009 2010 Jumlah 139 94 233 2.09 103.018.309.06 119.401.621.621.48 34 41 75 38 10 48 54 33 87 65 - 4.211.389.83 USD 2.42 4. Musi Rawas 2009 2010 Jumlah 105 Kab.78 125.99 2. Ogan Ilir 2009 2010 Jumlah 106 Kab.62 2.00 372.06 114.47 1.14 1 13 14 897.30 58.62 744.70 21 21 78.59 10.54 103.85 447. Muara Enim 3 2009 2010 Jumlah 4 58 125 183 Nilai 5 9.695.66 468.48 4.66 56 56 159.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 102 2 Kab.67 8 8 1.44 1.12 11.90 1.457.78 640.361.09 456.937.78 27 44 71 468.85 18 18 36 8 2 10 20 20 36.46 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.977.59 - 111 Kota Pagar Alam 2009 2010 Jumlah 112 Kota Palembang 2009 2010 Jumlah 113 Kota Prabumulih 2009 2010 112 .95 624.54 103.781. Ogan Komering Ulu Selatan 2009 2010 Jumlah 72 53 125 3.45 35 27 62 1.82 1.19 395.04 624.534.730.350.138.98 10.25 6.Halaman 9 .039.33 582.16 433.27 115.67 2.003.262.112.64 1.73 1.018.97 37.894.989.39 26.44 243.998.

32 233.24 1.108.399.82 5.609.14 9.206.12 689.186.17 9.89 1 12 13 7 36 43 44 25 69 647.22 2.716.166.209.65 941.99 7.26 162.09 632.340.13 702.81 13.348. Lampung 2009 2010 Jumlah 113 .55 286.56 467.08 7.28 710.33 15 15 19 6 25 1. Kaur 2009 2010 Jumlah 119 Kab.584.86 399.443.94 5.34 2.51 402.125.49 467.61 317.883.93 16.55 647.809.63 109.031.60 2.056. Bengkulu Selatan 4 130 140 87 227 Nilai 5 120.490.725.708.96 9 9 6 12 18 1.395.Halaman 10 .Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 114 2 Prov.34 Jml 6 65 73 7 80 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 456.42 945.826.34 317. Mukomuko 2009 2010 Jumlah 122 Kab.36 109.014.757.60 553.39 3.966.299.340.13 32.29 38 2 40 16 16 24 17 41 43 43 162.87 1.23 16 20 36 15 15 4 4 2. Seluma 2009 2010 Jumlah 124 Kota Bengkulu 2009 2010 Jumlah 125 Prov.520.211.13 366.99 97.03 1.00 20.611.415.106.96 118 Kab.832.61 172.899.63 12 30 42 23 23 102 7 109 10 113 123 869.006.94 - 117 Kab.845.115.59 1.23 120 Kab.94 - - - - 23 23 5.49 40.20 336.62 85.23 20.93 1.622.93 575.934.24 9.35 702.00 20.74 116 Kab. Bengkulu Tengah 2009 2010 Jumlah 23 23 5.13 2.35 19.979. Bengkulu Utara 2009 2010 Jumlah 49 89 138 25 18 43 4.12 13.18 118. Bengkulu 3 Jumlah 2009 2010 Jumlah Kab.399.68 17 36 53 2.68 1.909.78 937.98 26.17 7.74 733.97 921.87 1.125.66 33.00 2.89 689.09 632.63 3.833.23 20.584.44 138.128.59 19.13 172.78 123 Kab.317.48 137.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 8 63 22 85 Nilai 9 115.94 5.33 - 402.540.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 456.340.15 702.63 13.489.393.60 801.64 5.412.42 334.89 2.63 1.36 25 89 114 - 1.48 32 6 38 16 16 9 9 827.899.26 1.14 5.28 43 43 336.84 2.398.35 1.340.716.057.611.11 1.75 7.46 172.51 233.18 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 57 4 58 62 Nilai 11 4.35 1.490.00 332.649.822.862.97 2.800.16 536.056.28 12.819.97 13.875.21 58.24 11.93 2.014.63 9.00 2.35 2.395.030.86 399.14 53. Kepahiang 2009 2010 Jumlah 49 38 87 38 36 74 57 25 82 3.943.450.59 1.972.62 300.725.19 87.122.730.855.106.616.11 1. Rejang Lebong 2009 2010 Jumlah 71 32 103 35 23 58 186 31 217 103 113 216 1.65 8.02 115 2009 2010 Jumlah 77 36 113 1.59 796.29 138.87 536.97 7.09 21 21 19 19 60 7 67 50 50 921.20 17 17 1.97 44.056.72 2. Lebong 2009 2010 Jumlah 121 Kab.984.153.73 3.39 733.58 13.35 2.39 2.32 1.540.48 723.

335.65 - 20 27 47 - 33.582.190. Tanggamus 2009 2010 Jumlah 133 Kab. Pesawaran 2009 2010 Jumlah 132 Kab.69 69 69 1.928.831.487.96 20.101.923.908.05 1. Lampung Barat 3 4 Nilai 5 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 126 2009 2010 Jumlah 35 38 73 29.335.446.794.80 22.09 254.164.816.80 91.060.49 1.07 10.796. Lampung Selatan 2009 2010 Jumlah 45 55 100 1.65 46.07 9 9 5 5 218.33 88.077.077.50 21.25 26.501.590.16 88.24 1.601.28 135.403.35 1.07 299.96 20.38 1.923.126.111.487.74 26.92 398.17 299.898.07 215.38 326.601.316.09 131 Kab.64 - 129 Kab.17 11.64 1.24 - 147.00 171.33 1.324.70 44 44 1.133.98 32.01 215.35 16 16 122.796.590.211.99 - 26.70 130 Kab. Lampung Timur 2009 2010 Jumlah 53 60 113 2.76 173.169.40 13.428.50 21.94 - 134 Kab.935.126.47 27.57 147.74 1.89 5.426.824.94 25 1 26 - 44.809.80 127.856.36 215.17 - 11 67 78 68 57 125 861.82 1.908.97 215.24 17 59 76 1.516.324.326.164.908.892.069.41 267.51 173.365.590.74 1.395.111.73 9.856.351.906.46 1.41 128 Kab.16 10.28 135.563.978.84 623.89 - 2 2 - - 42 108 150 27 63 90 28.940.19 96.265.914.186.06 70.694.705.69 122.544.117.036.310.671.64 1.304.070.603.47 27.898.652.25 26.07 39.47 10.118.01 42 100 142 18 58 76 53 70 123 1.80 398.426.36 962.648.38 327.24 254.70 10.427.43 42.908.70 31.505.831.395.92 874.47 45 52 97 1.940.673.25 - - 35 38 73 29.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 Kab.64 3.06 59.64 1.590.24 1.77 17 1 18 2.754.19 127.36 91. Lampung Utara 2009 2010 Jumlah 51 100 151 18 58 76 60 70 130 1.18 1.56 2 2 1.78 3.846.724. Tulang Bawang 2009 2010 Jumlah 56 95 151 68 57 125 939.191.446.Halaman 11 .65 46.92 - 5.351.194.26 2. Way Kanan 2009 2010 Jumlah 135 Kota Bandar Lampung 2009 2010 Jumlah 42 110 152 27 63 90 28.546.36 218.694.13 1.25 127 Kab.36 136 Kota Metro 2009 2010 Jumlah 114 . Lampung Tengah 2009 2010 Jumlah 60 69 129 1.391.898.41 187.923.45 623.043.705.717.582.22 143.118.18 19 19 31.57 3 3 10.906.854.24 39.22 143.41 187.783.17 11.127.65 44.39 1.846.

098.45 846.523.45 26 26 2.32 11.41 13.873.557.34 1.706.74 45. Karimun 2009 2010 Jumlah 148 Kab.273.51 469.84 1.41 197.51 2.335.44 1.41 488.06 1.85 8.154.824.13 3.520.18 670.14 19.576.52 207.55 2.64 1.10 29.09 108.281.295.94 3.778.01 1.31 8.85 125.58 2.312.12 141 Kab.14 972.64 212.385.429.45 115 .95 729.998.14 32 108 140 29.08 76 41 117 2.73 254.03 34.983.31 32 63 95 18 18 14 82 96 7.375.17 2 13 15 11 26 37 1.94 144 Kota Pangkal pinang 2009 2010 Jumlah 125 136 261 1.153.54 200.374.672.345.87 272.69 19.01 3.154.203. Bangka Barat 2009 2010 Jumlah Kab.64 204. Bintan 2009 2010 Jumlah 147 Kab.61 2.36 2.15 963.85 34 17 51 179.082.Halaman 12 .08 15.10 2.04 349.658.75 2.41 1. Kepulauan Riau 2009 2010 Jumlah 90 103 193 45 60 105 91 130 221 16.080.45 846.11 13.768.39 307.15 32.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 9 12 16 16 2 2 Nilai 11 596.01 6 19 25 7.42 855.06 1.16 142 Kab.64 23.39 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 1 14 6 7 13 4 6 10 Nilai 9 29.40 331.17 74.11 1.551.41 2.01 25.58 926.14 140 2009 2010 Jumlah 87 70 157 2.098.46 68 23 91 514.93 2.07 44. Kepulauan Anambas 2009 2010 Jumlah 61 61 3.183.90 32.26 4.650.57 34 13 47 27 23 50 197.593.72 7 7 1.139.46 119.48 151.31 4.01 331.42 831.279.17 9.25 7.770.48 151.674. Belitung 2009 2010 Jumlah 143 Kab.96 2.40 20.94 2.03 1.778.71 3.13 3. Bangka 2009 2010 Jumlah 139 Kab.768.695.10 346. Bangka Selatan 4 73 45 118 108 60 168 61 21 82 Nilai 5 55.832.29 460.208.29 197.336.75 21. Bangka Tengah 2009 2010 Jumlah 44 32 76 61 74 135 197.07 15.36 25 5 30 767.719.48 787.856.55 3.25 2.399.41 1.11 16.849.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 137 2 Prov.866.84 643.05 928.75 1.92 9.61 16 15 31 23 12 35 13 9 22 8.44 145 Prov.10 8 6 14 23 25 48 488.46 119.85 596.47 2.23 4.576.289.252.21 568.811. Kepulauan Bangka Belitung 3 2009 2010 Jumlah 138 Kab.028.94 2.58 3.730.65 16.89 547.679.00 896. Belitung Timur 2009 2010 Jumlah 40 43 83 7.98 195.37 1 24 25 926.54 197.26 7.295.97 56.301.05 222.142.41 15.650.008.20 3.913.13 16.64 2.12 10 5 15 81.54 2.33 2.02 7.516.11 177.881.075.703.371.48 254.160.316.61 146 Kab.516.821.41 197.991.89 7.553.68 460.68 1.71 35 35 846.834.83 539.85 307.99 718.39 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 3.376.25 - - 846.40 9.45 365.187.90 576.83 42 25 67 22 30 52 64 39 103 601.252.20 36.408.454.47 20.99 718.085.847.41 822.29 Jml 6 57 35 92 102 37 139 57 13 70 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 25.64 25.

64 22.17 12.244.667.143.96 60.394.05 58.97 3.743.934.063.56 589.41 5.72 577.67 49. DKI Jakarta 2009 2010 Jumlah 701 445 1.32 21.83 2.562.875.71 59.23 3.79 624.979.124. Natuna 2009 2010 Jumlah 151 Kota Batam 2009 2010 Jumlah Kota Tanjungpinang 4 64 47 111 62 88 150 98 99 197 Nilai 5 12.29 2.833.15 2.35 154 Prov.339.94 22.81 158. Bandung 2009 2010 Jumlah 156 Kab.00 9.67 102.14 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 17 31 21 16 37 15 17 32 Nilai 9 1.91 27. Bandung Barat 2009 2010 Jumlah 73 84 157 61 41 102 52 58 110 10 23 33 73 75 148 5.072.130.834.53 24.97 4 4 19 39 58 7 38 45 1 1 57 18 75 2.96 1.21 48.38 554.363.21 24.58 392.686.86 60.15 12.215.92 3.34 97.63 30.37 252.14 6.376.61 43.80 31.05 87.45 19.70 60.482.58 49.943.51 9.16 2.38 537.628.441.24 24.97 250.687.535.543.114.986.704. Cianjur 2009 2010 Jumlah 116 .78 8.891.447.91 299.914.876.198.544.385.11 1.820.32 8.31 11.95 681.87 627.26 55.33 885.799.35 157 Kab.033.427.97 153 Prov.93 19.41 815.21 182.32 58.56 13.800.160.48 101.20 65 63 128 26 26 31 1 32 6 18 24 5 24 29 338.785.84 136.549.02 4.291.99 Jml 6 43 28 71 40 19 59 73 24 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 10.40 102.75 24.910.81 10.20 24.414.890.675.49 2.193.85 14.831.11 21.928.54 1.56 62.05 25.89 10.000.57 9.28 34.55 2.094.819.995.84 19.70 2.32 8 17 25 16 2 18 14 19 33 3 5 8 11 33 44 5.90 21.67 681.346.52 652. Bekasi 2009 2010 Jumlah 158 Kab.276.18 59.39 23.55 3.47 24.96 119.32 161.74 229.397.81 14 65 79 4.346.846.893.71 129.59 2. Bogor 2009 2010 Jumlah 159 Kab.359.050.29 200.89 5.80 2.95 11.574. Lingga 3 2009 2010 Jumlah 150 Kab.80 55.24 13.83 33 23 56 229.576.82 35.663.13 49.871.26 14 17 31 77.995.Halaman 13 .31 638.59 1.51 59.892.60 28.576.71 133.679.78 893.902.46 55.71 2.38 40.54 16.332. Jawa Barat 2009 2010 Jumlah 155 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 149 2 Kab.13 12.32 654.78 2.801.250.546.268.611.88 27.919.123.621.00 24.29 152 2009 2010 Jumlah 61 105 166 306.69 3.67 24.284.234.68 11.21 342.37 111 151 262 6 95 101 2 29 31 18.551.72 51.67 244.20 1.025.979.243.81 184. Ciamis 2009 2010 Jumlah 160 Kab.32 3.981.333.21 19.500.146 159 183 342 88 78 166 228.70 1.40 3.47 388 185 573 115 75 190 77 26 103 80.97 57.184.147.457.44 15.058.45 25.15 137.161.74 4.175.62 920.97 4.90 20.72 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.12 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 7 2 9 1 53 54 10 58 68 Nilai 11 2.175.593.147.187.67 21.446.262.735.080.62 16.83 87.01 73.29 15.074.87 7.69 4.645.63 12.05 202 109 311 38 13 51 9 23 32 129.85 923.44 8.965.548.14 384.273.749.

59 345.92 2.99 11.97 3.29 43.12 397.81 2.981.09 1.44 117 .82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 17 8 25 4 10 14 3 11 14 19 Nilai 9 398.67 524.92 38 11 49 40 16 56 11 10 21 34 8 42 20 10 30 4 4 10 10 60 93 153 16 27 8 76 Jml 6 34 6 40 25 10 35 31 11 42 68 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.62 4.502.61 51.65 3.95 1.834.70 2.69 959.95 8.35 397.425.04 144.73 1 16 17 9 22 31 8 11 19 8 5 13 22 3 25 49 13 62 3 13 16 44 52 96 1 11 10.65 42.006.587.25 3.42 545.99 203.86 165.47 137.42 550.91 8.378. Sumedang 2009 2010 Jumlah 171 Kab.24 717.77 27.02 171.29 164.824. Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 172 Kota Bandung 2009 2010 Jumlah 173 Kota Banjar 2009 2010 39 29 68 49 38 87 23 51 74 44 23 67 48 19 67 57 18 75 13 17 30 149 188 337 33 38 196. Kuningan 2009 2010 Jumlah 166 Kab.93 USD 4.848.69 634.177. Purwakarta 2009 2010 Jumlah 168 Kab.02 546.00 171.Halaman 14 .70 119.20 8.487.06 USD 4. Karawang 2009 2010 Jumlah 4 53 14 67 89 21 110 36 22 58 109 30 139 Nilai 5 1.12 8.71 77.31 3.10 183.52 45.277.407.38 0.12 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.95 514.30 198.10 839.006.00 165 Kab.618.61 2.750.84 77.122.700. Sukabumi 2009 2010 Jumlah 170 Kab.90 4.71 976.00 9.282.082.505.83 USD 4.32 1.10 183.61 12.354.210.89 5.66 2.86 46.24 553.90 USD 4.849.241.25 5.05 3.25 36.37 5.71 277.02 1.76 144.41 38.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 161 2 Kab.65 327. Cirebon 3 2009 2010 Jumlah 162 Kab.66 8.79 38.53 37.351.450.67 338.640.281.10 USD 4.31 15.744. Garut 2009 2010 Jumlah 163 Kab.205.603.81 384.00 6. Indramayu 2009 2010 Jumlah 164 Kab.62 119.96 5.10 148.974.451.819.00 185.15 212.77 575.09 976.566.53 137.10 2.27 119.08 5.77 4.95 1.680.61 60.62 341.70 USD 4.69 1.267.015.304.350.106.174.30 251.849.84 164.60 3.805.00 34.80 173.95 26.74 37.10 160.99 146.679.49 4.51 8.515.469.10 153.07 3.015.32 1.95 185.608.550.00 6.37 835.50 42.39 221.871.11 4.00 185.76 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 60 1 61 2 2 22 Nilai 11 38.69 327.65 892.50 4.32 12.457.71 39.103.147.810.505.85 37.86 224.277.71 95.50 4.805.75 341.94 53.37 42.20 38.71 398.88 201.354.125.166.070.71 1.67 17 36 34.176.04 50.351.974.704.97 5 27 310.550.02 324.835.35 368. Subang 2009 2010 Jumlah 169 Kab.32 39.41 2.465.360.202.41 7.99 892.88 1.99 384.65 835.37 5.12 3.02 37.66 15.360.518.96 3.96 582.711.61 11.19 2 2 4 30 34 2 10 12 6 6 12 4 5 9 4 4 45 43 88 16 2. Majalengka 2009 2010 Jumlah 167 Kab.

78 76.046.507.46 57.190.426.56 403.06 158. Blora 2009 2010 Jumlah 186 Kab.44 245.54 7.877.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 3 Jumlah 174 Kota Bekasi 2009 2010 Jumlah 175 Kota Bogor 2009 2010 Jumlah 176 Kota Cimahi 2009 2010 Jumlah 177 Kota Cirebon 2009 2010 Jumlah 178 Kota Depok 2009 2010 Jumlah 179 Kota Sukabumi 2009 2010 Jumlah 180 Kota Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 181 Prov.79 77.05 89.507.71 156.65 1.12 1.870.12 829.19 896.57 29.30 641.63 821.29 910.30 2.453.70 16.293.87 81.314.988.77 519.70 815.046.48 10.17 931.841.781.21 145.27 650.93 15.72 20.23 8.183.41 2.89 220.54 169.507.902.521.745.42 806.57 15.25 3.44 910.902.502.670.31 202.82 2.25 13.640.232.38 19. Banjarnegara 2009 2010 Jumlah 183 Kab.41 1.20 931. Banyumas 2009 2010 Jumlah 184 Kab.42 2.25 145.13 582.54 257.353.22 473.62 5.02 1.124.92 7.355.523.02 155.56 2.521.87 821.355.07 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 339.18 55.31 16.21 3.807.12 178.436.204.92 2.93 761.71 6.60 4.027.501.78 19.493.89 896.65 829.91 275.99 872.18 60.818.45 426.650.92 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 16 10 10 20 25 25 51 6 57 1 6 7 1 3 4 11 14 25 1 50 51 17 17 2 21 23 23 23 Nilai 11 39.28 842.78 284.06 3.82 821.04 262. Jawa Tengah 2009 2010 Jumlah 182 Kab.39 12.69 2.086.67 641.78 178.134.82 821.99 9.80 132.69 1.273.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 7 21 28 25 25 14 15 29 15 9 24 4 10 14 20 31 51 11 11 16 5 21 8 8 2 4 6 8 21 29 25 16 41 4 7 11 Nilai 9 385.64 277.099.52 13. Boyolali 2009 2010 Jumlah 4 71 40 34 74 22 58 80 68 49 117 51 39 90 53 23 76 51 57 108 47 14 61 59 70 129 23 40 63 42 36 78 29 46 75 35 65 100 23 24 47 Nilai 5 798.971.93 7.07 192.69 245.779.47 9.31 2.57 451.Halaman 15 .24 262.24 9.75 829.257.25 1.134.52 57.257.60 2.184.50 1.95 52.21 101.70 333.82 4.82 118 .22 1.64 629.10 4.10 836.65 449.536.436.72 257.13 451.964.12 842.05 138.69 1.37 13.28 950.78 940.01 251.84 5.91 1.317.50 2.26 20.75 Jml 6 43 23 3 26 22 8 30 3 28 31 36 30 66 48 7 55 30 23 53 25 25 42 15 57 23 15 38 40 32 72 19 4 23 10 26 36 19 17 36 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 373.67 4.124.17 241.29 55.09 730.84 950.07 122.495.74 6.249.02 403.57 269.42 2. Batang 2009 2010 Jumlah 185 Kab.81 122.81 306.91 4.03 940.78 306.42 10.314.10 191.257.13 220.48 65.50 23.67 815.09 872.65 908.44 39.240.73 257.291.65 229.92 984.68 1.50 331.98 180.507.604.57 1.97 81.38 1.

64 92.62 1.592.35 44.641.27 3.367.742.40 4.168.18 2.08 602.81 3.27 4.43 90.44 2.89 2.16 78.437.81 282.24 37.48 4.403.069.51 15.59 3.72 89.614.100.00 5.11 309.571.305.01 7.73 1.38 90.66 1.24 1.74 79.88 3.44 137.220.017.344.62 432.052.94 473.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.00 137.31 78.20 566. Kendal 2009 2010 Jumlah 195 Kab.38 Jml 6 35 2 37 60 31 91 27 27 16 16 18 19 37 15 14 29 11 31 42 30 3 33 11 3 14 49 2 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.93 12.22 104.413.356.635. Demak 2009 2010 Jumlah 190 Kab.48 24.08 7.034.137.957.64 60.987.69 263.24 895. Brebes 3 2009 2010 Jumlah 188 Kab.420.05 536. Pekalongan 2009 2010 Jumlah 119 .95 1.90 101.56 777.36 171.31 3. Kudus 2009 2010 Jumlah 4 52 33 85 91 35 126 42 37 79 53 44 97 22 25 47 18 65 83 14 43 57 70 42 112 23 64 87 51 39 90 Nilai 5 1.54 46. Cilacap 2009 2010 Jumlah 189 Kab.800.005.220.47 44.11 52.91 1.07 499.84 257.28 4.426.970.43 2.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 11 25 5 4 9 14 24 38 21 32 53 4 6 10 2 22 24 3 12 15 14 16 30 12 37 49 2 10 12 Nilai 9 426.966.365.91 1.44 1.85 4.52 1.614.03 9.568.61 320.17 69.643.07 334.23 1.81 7.967.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 187 2 Kab.31 9.635.02 263.28 831.42 78.907.636.91 4. Magelang 2009 2010 Jumlah 32 41 73 48 28 76 28 25 53 1.94 1.46 21.708.22 26 13 39 36 1 37 21 12 33 139.95 9.62 97.00 6.915.58 12.91 10.30 8.72 5.95 79.17 7.40 2.239.568.031.31 1.614.31 6 6 12 12 27 39 7 13 20 1.59 360.21 37.56 367.72 602.64 1.45 197 Kab.95 3.075.040.252.185.89 1.62 457.219.14 2.43 5.225.66 188.54 45. Klaten 2009 2010 Jumlah 196 Kab.18 4.190.300.50 10.70 72.Halaman 16 .03 9.209.03 247.91 9.32 201.29 163.721.226.343.01 168.89 1.00 150.08 70.20 379.89 1.75 5.91 4.64 276. Karanganyar 2009 2010 Jumlah 193 Kab.94 198 Kab.66 9.67 3.30 21.950.18 38.481.90 22 22 - - 149.94 1. Jepara 2009 2010 Jumlah 192 Kab.00 37.324.69 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 20 23 26 26 1 13 14 16 12 28 1 29 30 26 23 49 24 24 27 27 Nilai 11 150.571.326.008. Kebumen 2009 2010 Jumlah 194 Kab.588.614.38 12.29 3. Grobogan 2009 2010 Jumlah 191 Kab.759.03 1.256.530.530.631.324.137.31 3.72 334.33 2.50 165. Pati 2009 2010 Jumlah 199 Kab.61 566.069.80 4.13 8.75 895.79 1.343.950.631.31 52.58 72.41 879.379.21 24.31 1.732.203.79 66.47 84.129.84 1.66 104.

62 14.249.56 334.70 45.40 13.14 274.78 395.032.11 1.79 26.41 185.18 94.541.34 1.245.66 85. Wonosobo 2009 2010 Jumlah 211 Kota Magelang 2009 2010 Jumlah 212 Kota Pekalongan 2009 2010 Jumlah 120 .76 30.104.732.36 2.171.71 30.60 0. Wonogiri 2009 2010 Jumlah 210 Kab.582.978.019.90 8.65 80.429.50 8.16 334.37 7.44 3.413.11 7.41 5.50 364.47 988.42 39. Sukoharjo 2009 2010 Jumlah 207 Kab.87 440.160.65 39.917.617.61 4 12 16 8 8 19 27 46 7 9 16 1 19 20 13 5 18 34 2 36 13 25 38 10 10 20 30 34 64 6 16 22 5 5 3.48 12.01 3 50 53 24 24 27 27 1 47 48 1 1 29 29 58 17 17 10 10 79 79 47 47 185.36 14.53 1.42 11.23 274.66 60.60 0.555.28 395.72 271.14 5.01 7.97 3.032.249.26 11.017. Semarang 2009 2010 Jumlah 205 Kab.99 1.062.02 1.76 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 11 12 23 Nilai 9 87.413.624.64 9.185.67 2.78 1.71 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 62 63 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.25 851.42 7.60 80.06 13.84 13.00 26.385.38 8.135.000.354.39 295.179.613.394.61 4.67 1.45 3.87 9.67 1.731.517.646.53 1.385.59 7.25 8.00 1.30 9.54 18.67 2.40 836.71 87.41 4.647.06 635.429.Halaman 17 .252.25 26.664.48 Jml 6 14 10 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 30.70 103.166.53 9.83 12.761.11 1.22 12.394.66 0.42 9 13 22 20 9 29 12 4 16 16 13 29 18 18 36 18 7 25 15 15 21 1 22 27 12 39 1 27 28 5 6 11 15 15 1.95 851.197.501.90 1.55 1.34 38.72 8.375.95 9.52 859.913.91 2.60 80.65 9.68 859.65 11.154.46 244.07 510.647.041. Sragen 2009 2010 Jumlah 206 Kab.664.45 4.06 11.01 8. Temanggung 2009 2010 Jumlah 209 Kab.60 9.65 988.23 769.97 94.18 90.749. Tegal 2009 2010 Jumlah 208 Kab.18 1.13 1.18 2.567.600.476.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 200 2 Kab.67 29.46 661.76 30. Purbalingga 2009 2010 Jumlah 16 75 91 20 41 61 31 58 89 24 69 93 19 38 57 31 12 43 78 31 109 34 43 77 37 22 59 31 71 102 11 101 112 20 47 67 4.02 14.420.046.643. Pemalang 3 2009 2010 Jumlah 4 26 84 110 Nilai 5 87.39 252.399.986.39 90.097.27 8.88 201 Kab.729.79 14.34 39.761.15 84.59 14.032.00 184. Purworejo 2009 2010 Jumlah 203 Kab.28 1.46 - 202 Kab.413.295.582.731.66 80.79 1.749.86 81.76 364.04 85.017.582.738.395.824.93 18.443.00 3.53 988. Rembang 2009 2010 Jumlah 204 Kab.

68 562.563.61 5.398.18 712.39 8.97 321.107.30 14.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 213 2 Kota Salatiga 3 2009 2010 Jumlah 214 Kota Semarang 2009 2010 Jumlah 215 Kota Surakarta 2009 2010 Jumlah 216 Kota Tegal 2009 2010 Jumlah 217 Prov.960.30 36.021.99 1.76 6.41 13.045.205.57 100.14 1.03 1.70 142.15 1.39 329.14 8.293.66 1. Bantul 2009 2010 Jumlah 219 Kab.758.037.91 Jml 6 20 20 27 27 22 9 31 36 3 39 60 46 106 52 18 70 12 8 20 11 7 18 49 6 55 31 38 69 53 23 76 50 24 74 97 41 138 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 175.564.72 7.78 8.85 22.42 41.016.077.91 4. yakarta Yog2009 2010 Jumlah 218 Kab.63 19.565. Kulon Progo 2009 2010 Jumlah 221 Kab.92 2.68 17.731.27 19.42 321.74 738.602.42 18.35 1.17 626.00 2.27 739.23 4.07 56.396.96 268.54 21.39 3.68 1.11 60.13 49.279. Sleman 2009 2010 Jumlah 222 Kota Yogyakarta 2009 2010 Jumlah 223 Prov.13 100.496.909.30 19.18 7.78 1.50 17.907.30 1.523.43 21.42 1.68 558.85 165.941.43 18.00 175.22 2.00 49.I.167. Bangkalan 2009 2010 Jumlah 225 Kab.70 32.646.500.769.520.61 526.00 2.17 5.79 18.57 1.29 70.14 1.05 30.13 792.72 449.22 1.300.32 14.529.250.00 16.80 11.604.049.03 27.14 8.50 112.50 112.013.31 22.14 146.Halaman 18 .291.714.15 30.54 12.50 140.57 19.788.79 280.604.21 3. D.24 121 .39 42.80 3.54 329.13 712.90 112.104.728.852.768.037.981.92 1. Gunung Kidul 2009 2010 Jumlah 220 Kab.80 196.457.021.81 11.690.049.076.17 5.00 8.68 1.78 193.265.00 2.941.26 24.927.45 12.22 60.41 6.06 8.80 526.834.79 11.35 58.255.00 23.48 712.122.852.59 18.60 2. Banyuwangi 2009 2010 Jumlah 4 25 56 81 55 27 82 24 43 67 66 14 80 76 69 145 66 60 126 19 44 63 16 47 63 53 72 125 45 85 130 76 83 159 50 42 92 121 85 206 Nilai 5 354.289.813.14 14.43 3.147.809.389.250.18 733.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 26 31 27 8 35 1 6 7 28 10 38 16 22 38 4 9 13 5 19 24 5 3 8 4 2 6 13 8 21 23 10 33 4 4 23 19 42 Nilai 9 179.54 83.03 27.50 83.016.92 8.377.460.40 243.605.316.55 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 30 30 1 19 20 1 28 29 2 1 3 1 1 10 33 43 2 17 19 37 37 64 64 1 39 40 50 50 14 14 1 25 26 Nilai 11 733.42 449.82 650.502.19 37.83 19.586.65 1.14 21.41 170.181.177.27 1.93 112.45 1.43 1.564.58 1.00 1.43 268.27 739.68 104.60 81.473.90 3.95 13.57 23.70 1.45 139.26 19.181.76 6.547.505.289.03 16.22 16.601.632.00 1.07 49.231.427.22 8.28 467.54 32.57 22.80 83.93 112.540. Jawa Timur 2009 2010 Jumlah 224 Kab.10 3.89 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 104.013.500.92 8.58 24.198.351.25 34.

13 187.36 4.65 694.263.71 1.59 105.61 3.18 198. Magetan 2009 2010 Jumlah 237 Kab.19 1.23 60.010.832.251.108.17 589. Lamongan 2009 2010 Jumlah 234 Kab. Madiun 2009 2010 Jumlah 236 Kab.01 5.50 1.763.929.32 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 23 36 11 8 19 9 7 16 15 14 29 10 5 15 3 3 5 5 5 3 8 5 5 10 2 3 5 17 16 33 36 17 53 2 4 6 Nilai 9 1. Bondowoso 2009 2010 Jumlah 229 Kab.02 88.28 5.00 371.00 57 126 35 18 53 74 140 214 48 64 112 54 46 100 125 74 199 93 51 144 Nilai 5 2.822.67 155.91 351.92 1. Gresik 2009 2010 Jumlah 230 Kab.15 Jml 6 39 20 59 86 43 129 43 22 65 16 21 37 97 49 146 62 35 97 69.26 83.52 542.672.423.80 3.027.251.187.03 794.11 479.77 4.19 11.530.20 1.22 1.87 13.08 371.91 506.17 155.06 35. Bojonegoro 2009 2010 Jumlah 228 Kab.30 721.59 28.12 9.50 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 346.280.23 28.49 2.52 12.71 4.00 42.17 530.60 4.057.125.09 40.66 42.799.17 155.54 149.67 7.49 23.19 454.70 24.14 539.397.51 299.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 226 2 Kab.37 1.73 208.18 50.973.15 396.964.85 10.941.99 6.02 88.252.74 4.027.141.85 1.18 197.04 1.23 1.29 1.65 571.088.32 2.73 8.53 6.40 1.579.648.24 155.15 959.51 5.02 1.19 19.802.71 292.19 479.96 29.19 530.33 40.60 5.55 1.06 288.92 115.04 50.11 489.83 2.396.065.215.35 2.02 436.36 30.29 539.80 873.316.46 5.668.16 56.18 2.429.56 122 .80 959.17 25.02 65.493.84 2.15 20.674.802.00 18 87 29 13 42 68 96 164 46 21 67 37 10 47 82 26 108 91 27 118 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 346.50 1.829.479.73 105.66 155.19 530.849.32 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 2 21 23 32 32 7 7 14 43 52 95 34 34 1 2 3 1 39 40 40 40 20 20 7 31 38 20 20 Nilai 11 150.66 72.37 1.775.59 198.727.00 25.941.81 28.58 105.578.59 42.749.549.18 115.065.56 149.40 873.295.18 198.743.87 8.36 30.73 8.80 1. Malang 2009 2010 Jumlah 238 Kab.57 339. Jombang 2009 2010 Jumlah 232 Kab.41 1.20 4.35 2.27 187.52 542. Blitar 3 2009 2010 Jumlah 227 Kab.Halaman 19 .20 40.516.54 9.480.83 150.54 305.04 249.49 1.108.18 9. Mojokerto 2009 2010 Jumlah 4 52 87 139 99 72 171 52 61 113 38 42 80 150 106 256 65 35 100 69.696.01 5.33 454.743.46 285.08 290.275.00 1.02 316.59 105.142.36 23.28 350.72 434.48 3.04 346.291.37 2. Jember 2009 2010 Jumlah 231 Kab.33 316.954. Lumajang 2009 2010 Jumlah 235 Kab.81 198. Kediri 2009 2010 Jumlah 233 Kab.54 20.582.19 685.701.50 12.

40 2.08 320.64 44.151.26 164.01 1.21 917.00 273.33 616.44 2.12 1.66 588.14 1.91 35.93 Jml 6 58 17 75 26 9 35 23 33 56 46 12 58 57 34 91 54 46 100 64 20 84 36 25 61 31 26 57 56 15 71 21 20 41 38 32 70 55 22 77 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 553.97 35.75 1.67 17.58 25.68 1.40 25.12 219.75 52.39 52.81 410.44 2.30 18.43 7.68 155.27 1.37 761.36 3.10 38.33 3.37 386.68 0.19 360.12 122.27 27. Probolinggo 2009 2010 Jumlah 246 Kab.07 447.79 18.06 123 .75 2.47 761.00 96.42 536.890.41 267.90 180.59 428.136.49 386.37 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 16 29 4 9 13 1 1 18 4 22 6 3 9 2 3 5 15 8 23 5 12 17 21 29 50 18 5 23 4 11 15 9 11 20 4 3 7 Nilai 9 227. Trenggalek 2009 2010 Jumlah 251 Kab.32 278.151.12 253.577. Nganjuk 3 2009 2010 Jumlah 240 Kab.94 2.19 917.174.19 3.13 941.633.49 361.93 3.37 2.64 836.31 2.062.15 83.86 48.26 487.65 102. Pasuruan 2009 2010 Jumlah 244 Kab.391.25 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 17 16 16 10 10 2 16 18 25 25 42 42 1 19 20 12 12 34 34 70 70 14 14 4 21 25 38 38 Nilai 11 836.43 2.48 7.19 796.01 122.13 763.10 18.10 14.12 150.75 122.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 239 2 Kab.00 44. Pacitan 2009 2010 Jumlah 242 Kab.899.14 246.17 150.60 1.Halaman 20 .12 102.96 8.21 253.626.89 2.88 2.14 112.024.66 895.70 2.50 3.672.623.125.27 225.79 166.37 68.104.862.08 715.362.085. Tuban 2009 2010 Jumlah 4 71 50 121 30 34 64 23 44 67 66 32 98 63 62 125 56 91 147 80 47 127 41 49 90 52 89 141 74 90 164 25 45 70 51 64 115 59 63 122 Nilai 5 780.222.30 306.569.57 567.85 892.58 1.039.65 588.80 240.778.085.52 47. Ngawi 2009 2010 Jumlah 241 Kab.91 1.44 566.95 105.15 43.017.560.87 27.57 531.86 164.59 308.11 168.92 36.22 463.443.37 536.56 2.083.75 278.90 428.12 87.54 48. Ponorogo 2009 2010 Jumlah 245 Kab.13 994.862.17 50.87 118.504.47 308.218.774.52 112.09 14.96 8.13 776. Pamekasan 2009 2010 Jumlah 243 Kab.013.040.92 624.98 168.31 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 517.64 1.12 2. Sumenep 2009 2010 Jumlah 250 Kab.75 361. Sampang 2009 2010 Jumlah 247 Kab.00 807.89 163.862.69 122.031.110.01 69.95 50.37 278.629. Sidoarjo 2009 2010 Jumlah 248 Kab.26 104.63 2.40 728.83 428.577.98 7.82 482.12 140. Situbondo 2009 2010 Jumlah 249 Kab.647.84 5.318.98 180.84 2.11 83.57 494.150.50 282.37 527.85 73.95 104.08 5.569.33 229.786.44 53.646.60 48.74 168.

Pandeglang 2009 2010 Jumlah 4 42 51 93 56 128 184 23 53 76 50 52 102 57 41 98 50 51 101 70 59 129 100 65 165 36 77 113 39 171 210 140 46 186 77 28 105 76 74 150 Nilai 5 2.99 332.98 2.115.66 972.14 6.92 2.15 2.387.66 188.82 250.87 136.843.374.33 1.803.77 311.05 206.23 3.08 6.065.810.20 52.33 2.98 12.586.922.75 94.13 6.501.448.14 28.448.233.47 188.11 2.704.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 252 2 Kab.86 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 2.004.91 30.80 566.09 6.91 302.08 7.89 507.047.85 47.94 6.56 7.15 6.34 87.29 11.606.79 398.93 493.15 3.95 375.87 6.59 493.15 6.Halaman 21 .26 112.91 206.482.12 783.96 204.97 149.60 2.97 1.96 2.33 705.389.09 39.064.48 660.790.87 124 .93 68.03 493.019.98 998.97 979.17 13.374.09 507.91 239.290.91 705.115.80 36.557.17 161.50 2.65 211.41 261.56 2.894.05 321.69 5.93 869.803.17 61.00 792.702.33 0.09 11.79 12. Banten 2009 2010 Jumlah 263 Kab.623.701.529.91 410.739.99 332.14 6.09 660.13 Jml 6 42 23 65 38 16 54 22 29 51 40 25 65 48 23 71 50 30 80 64 27 91 73 28 101 32 26 58 23 18 41 62 26 88 57 13 70 10 24 34 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.31 3.634.81 972.553.268.97 979.907.017.52 6.64 785.75 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 15 19 34 1 9 10 10 12 22 9 9 6 6 6 4 10 27 12 39 4 10 14 16 17 33 65 8 73 20 15 35 21 28 49 Nilai 9 375.07 50.59 375.63 56.33 55.607.31 599.79 377.11 8.702.05 2.820.01 3.82 410.819.93 785.85 1.48 239.004. Lebak 2009 2010 Jumlah 264 Kab.505.37 99.92 1.81 6.92 1.36 507.51 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 24 24 3 93 96 15 15 15 15 18 18 15 15 28 28 25 25 41 41 136 136 13 12 25 45 22 67 Nilai 11 432.56 7.387.85 1.22 11. Tulungagung 3 2009 2010 Jumlah 253 Kota Batu 2009 2010 Jumlah 254 Kota Blitar 2009 2010 Jumlah 255 Kota Kediri 2009 2010 Jumlah 256 Kota Madiun 2009 2010 Jumlah 257 Kota Malang 2009 2010 Jumlah 258 Kota Mojokerto 2009 2010 Jumlah 259 Kota Pasuruan 2009 2010 Jumlah 260 Kota Probolinggo 2009 2010 Jumlah 261 Kota Surabaya 2009 2010 Jumlah 262 Prov.387.15 973.20 9.32 98.48 136.634.56 2.00 792.42 2.83 4.70 126.550.99 764.48 1.234.657.820.34 11.387.050.880.790.53 68.14 186.020.56 6.077.63 348.34 87.61 878.59 1.634.020.164.50 8.13 321.91 6.11 8.08 0.94 7.87 6.03 432.927.576.98 2.31 2.95 2.97 309.91 39.511.115.99 1.92 2.04 425.69 16.93 1.004.79 2.00 1.61 13.032.790.

319.94 45.238.16 18.302.66 45.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 473.46 748.87 198.12 539.036.88 1.009.46 185.97 245.118.97 300.257.94 60.20 155.414.385.61 98.036.97 1.915.53 290.70 543.762.679.99 554.79 77.903.519.42 3.80 3.72 10.33 30.473.13 289.52 4.41 Jml 6 6 31 37 82 24 106 34 34 51 31 82 33 18 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 473.85 57.378.29 66.562.421.182.52 8.09 275.45 486.085.950.831.70 18. Bali 2009 2010 Jumlah 272 Kab.512.194.32 302.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 16 24 40 21 4 25 7 38 45 3 15 18 28 6 34 Nilai 9 1.152.194.50 28.66 2.750.68 164.30 234.48 588.956.85 96.32 34.86 308.900.956.62 49.99 3.10 554.82 1.97 23.123.71 12.19 2.085.05 49.09 769.83 271 Prov.67 94.585.372.492.23 119.168.100.779.17 27.67 124.86 1.027.563.38 136.32 376.544.081.00 94.978. Jembrana 2009 2010 Jumlah 277 Kab.54 981.42 290.76 78. Serang 3 2009 2010 Jumlah 266 Kab.544.22 270 2009 2010 Jumlah 36 36 145 79 224 79 85 164 71 34 105 42 162 204 34 72 106 37 112 149 70 168 238 18.26 3.73 111.075.42 313.22 4.171.54 270.46 116.49 22.93 234.485.129. Tangerang 2009 2010 Jumlah 267 Kota Cilegon 2009 2010 Jumlah 268 Kota Serang 2009 2010 Jumlah 269 Kota Tangerang 2009 2010 Jumlah Kota Tangerang Selatan 4 68 94 162 111 28 139 41 38 79 55 47 102 89 25 114 Nilai 5 95.04 5.35 205.52 1.169.50 28.390.60 3.086.31 24.066.01 501. Badung 2009 2010 Jumlah 273 Kab.60 1.008.85 156.22 48.515.16 12.13 661.65 206.33 133.64 72.131.79 1.65 530.06 117.992.017.91 4.34 1.339.93 1 1 2 2 29 29 3 13 16 32 32 55 55 1 38 39 111 111 2.42 509.83 1.562.784.60 50.67 4.093.66 57.34 4.21 1.24 41.950.403.53 300.12 632.076.66 3.032.20 330.70 438.194. Buleleng 2009 2010 Jumlah 275 Kab.08 71.28 41. Bangli 2009 2010 Jumlah 274 Kab.81 12.93 0.469.06 33.08 83.12 978.89 90.840.323.952.89 2.97 359.21 831.71 9.299.48 12.332.02 14 8 22 18 6 24 9 3 12 10 42 52 7 7 12 27 39 14 3 17 44.278.366.692.562.548.599.46 57.57 131.99 19.79 35.070.216.55 496.89 4.827.84 156. Karangasem 2009 2010 Jumlah 125 .38 3.49 1.09 36.983.42 194.199.69 48.970.28 1.10 2.705.36 258.668.86 18.943.747.292.581.238.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 46 39 85 8 8 1 1 2 28 1 29 Nilai 11 94.308.562.348.11 294.75 1.868.44 18.78 60. Gianyar 2009 2010 Jumlah 276 Kab.42 294.01 10.615.974.813.168.25 13.421.54 901.704.02 106.292.13 15.13 22.235.429.801.54 15.01 501.28 622.10 15.95 35 35 131 69 200 61 50 111 59 18 77 32 88 120 34 10 44 24 47 71 56 54 110 18.187.724.91 8.734.59 53.833.065.26 18.365.78 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 265 2 Kab.67 8.069.34 179.95 112.Halaman 22 .70 18.87 46.519.356.81 19.55 4.42 455.432.

555.84 34. Lombok Tengah 2009 2010 Jumlah 286 Kab.68 8.44 743.461.07 59.82 13.33 32.52 710.66 782.94 1.663.212.906.18 75.053.340.61 50.348.19 154.906.217.80 113.82 828.82 126.55 33.47 151.47 376.80 17.03 915.676.08 3.811.85 126. Dompu 2009 2010 Jumlah 284 Kab.97 7.191. Sumbawa Barat 2009 2010 Jumlah 289 Kab.421.94 828.032.10 226.92 2.94 69.378.053.52 2.73 83.638.64 1.18 11.295.42 3.652.87 23.806.998. Tabanan 2009 2010 Jumlah 280 Kota Denpasar 2009 2010 Jumlah Prov.645.Halaman 23 .003.053.20 Jml 6 32 31 63 33 56 89 55 61 117 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 20.89 33.947.43 201.93 725.49 129.783.19 3.887.27 550.828.249.126.97 33.54 580. Nusa gara Barat Teng4 37 57 94 36 108 144 113 81 194 Nilai 5 21.555.83 21.33 537.63 20.09 69.92 226.63 201.661.175.688.691.39 59.92 2.52 28.42 316.11 6.947.661. Lombok Barat 2009 2010 Jumlah 285 Kab.191.20 316.678.31 57.47 16 16 13 13 7 7 4 4 3 3 31 31 26 26 19 19 11.019.333.03 828.61 2.390.15 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 947.46 430.472.99 108.68 199.101.429.33 209.104.41 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 19 19 47 47 39 7 46 Nilai 11 7.68 33.16 478.46 11.41 547.32 26.99 281 2009 2010 Jumlah 71 90 161 23 27 50 85 25 110 46 114 160 76 82 158 47 94 141 39 22 61 96 61 157 26 26 34 46 80 5.217.031.83 20.43 2.07 60.04 - 282 Kab.01 16.84 35.304.92 226.43 44 90 134 1 27 28 83 25 108 27 114 141 68 82 150 41 94 135 22 22 61 61 122 26 26 46 46 2.78 113.43 34.317.81 1.30 397.44 616.487.43 1.94 40.27 21.29 209.02 37.39 1.66 1.34 22. Lombok Utara 2009 2010 Jumlah 290 Kota Bima 2009 2010 Jumlah 126 .72 327.54 6.43 2.037.39 1.314.04 2.52 673.19 963.256.50 11.221.78 - 11 11 9 9 2 2 12 12 4 4 3 3 8 8 9 9 15 15 3.112.203.760.295.054.58 1.71 209.72 23.80 550. Klungkung 3 2009 2010 Jumlah 279 Kab. Lombok Timur 2009 2010 Jumlah 287 Kab.15 430.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 278 2 Kab.04 4.49 443. Bima 2009 2010 Jumlah 283 Kab.698.29 1.19 20.638.442.10 1.29 2.63 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 7 12 3 5 8 19 12 31 Nilai 9 862.55 1.41 226.52 70.32 4.50 154.455.181.638.678.18 8.86 12.54 120.04 2. Sumbawa 2009 2010 Jumlah 288 Kab.47 915.38 116.487.249.506.131.33 1.20 151.85 710.26 59.

26 1.14 1.579.380.217.93 486.676.11 940.18 31.013.25 37.60 145.35 270.340.68 227.073.634.66 16 3 19 399.22 407.06 56.859.70 92.96 1.27 5.825.19 129.30 2.08 3.02 536.96 0.47 66.827.02 3.61 3 5 8 633.046.26 5.026.96 36.271.09 1.24 63.230.94 2.60 145.86 5.097.98 5.23 302 Kab.41 10. Alor 2009 2010 Jumlah 294 Kab.559.03 8.69 2.47 7.679.45 145.05 3.87 2.07 90.85 37 37 1 12 13 450.59 1.101.18 33.51 274.40 66.773.87 93.340.384.30 2.16 8.31 4. Manggarai 2009 2010 Jumlah Kab.817.37 34.026.59 10.00 5.606.96 1.97 6.18 33.678.287.190.558.73 1.00 145.581.17 1.22 31.489.301.Halaman 24 .19 129.823.31 7. Nusa Tenggara Timur 2009 2010 Jumlah 293 Kab.110.22 1.07 5.28 735.16 36.83 402.61 2.308.30 450.55 29.380.93 486.24 56.23 27 27 5 21 26 5.62 914.91 492.51 763.060.210.00 392.063. Nagekeo 2009 2010 Jumlah 127 .20 1.68 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 291 2 Kota Mataram 3 2009 2010 Jumlah 292 Prov.218.30 1.76 6.47 66.73 715.127.62 4.03 999.62 816. Manggarai Timur 2009 2010 Jumlah 93 93 30 47 77 6. Ende 2009 2010 Jumlah 296 Kab.502.89 676.60 258.00 0.43 399.00 5. Belu 2009 2010 Jumlah 295 Kab.918.85 996.72 2.69 33.62 300 2009 2010 Jumlah 53 49 102 4.24 6.139.09 6.86 1.308.026.25 37.60 258.76 48.62 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 9 6 15 15 11 26 34 28 62 1 9 10 8 25 33 19 14 33 5 59 64 21 16 37 Nilai 9 31.83 8.24 63. Lembata 2009 2010 Jumlah 299 Kab.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 36.384.16 7.186.93 27.053.370.21 27.17 55.62 0.24 1.25 2.31 4.026.10 1.82 1.51 48.69 845.581. Kupang 2009 2010 Jumlah 298 Kab.27 Jml 6 19 19 53 15 68 13 36 49 25 10 35 19 19 1 11 12 15 25 40 18 48 66 54 10 64 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 14.496.37 34.00 36.27 6.558.68 227.55 29.76 173.93 3.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 88 80 168 14 134 148 27 33 60 3 111 114 22 5 27 40 20 60 72 36 108 6 6 8 16 24 Nilai 11 254.76 6.00 917.227.63 63.57 5.94 4.898.78 785.825.91 492.83 402.413.70 92.00 392.30 845.24 1.542.22 6. Sabu Raijua 2009 2010 Jumlah 303 Kab.18 31.07 5.83 24.45 1.79 29 29 24 14 38 33.638.47 7.69 7.32 3.60 34 41 75 3.59 10.48 1. Manggarai Barat 4 111 80 191 76 155 231 55 80 135 62 149 211 23 33 56 49 56 105 106 75 181 23 113 136 83 42 125 Nilai 5 299.890.071.45 0.403.268.83 24.61 301 Kab. Flores Timur 2009 2010 Jumlah 297 Kab.57 1.817.38 594.37 0.07 90.40 66.51 10.14 1.98 5.227.16 14.182.

70 185.001.51 314.61 3 2 5 16 18 34 31 6 37 0.08 73. Rote Ndao 2009 2010 Jumlah 306 Kab.08 120.49 2.629.80 6.54 282. Timor Tengah Selatan 2009 2010 Jumlah 54 78 132 367.61 5.60 6.41 3.81 1.242.169. Sumba Timur 2009 2010 Jumlah 311 Kab.636.175.78 756.870.92 1.32 120.45 6.49 51 46 97 343.64 1.70 2.368.17 5.72 1.07 3.153.45 2.41 1.60 312 Kab.26 6.052.214.08 73.87 11.47 10 29 39 23 3 26 73.73 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 18 11 32 43 2 18 20 6 24 30 Nilai 11 6.99 19 19 12.680.59 4.74 142.46 1.681.04 3.649.46 2. Timor Tengah Utara 2009 2010 Jumlah 31 97 128 39 71 110 883.40 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 21 23 4 7 11 5 13 18 16 13 29 Nilai 9 205.45 927.80 184.30 2.00 12.029.608. Kalimantan Barat 2009 2010 Jumlah 203 134 337 62 30 92 279.98 4.50 1.32 82 24 106 9 8 17 188.515.70 8 34 42 24 20 44 88 34 122 33.54 1.81 3.61 309 Kab.90 12.629.29 94.254. Bengkayang 2009 2010 Jumlah 128 .146.08 5.67 679.93 1.979.Halaman 25 .966.45 190.654. Sumba Barat Daya 4 28 59 87 28 54 82 19 58 77 85 72 157 Nilai 5 322.08 5.54 313 Kota Kupang 2009 2010 Jumlah 314 Prov.645.00 116.21 487.757.19 21.80 184.029.27 1.785.46 1.94 316.01 3.271.492.66 7.537.166.28 1.54 282.74 31.27 1.24 4.785.859.51 252.05 1.11 0.71 638.91 97.18 529.044.379.536.509.40 308 2009 2010 Jumlah 24 45 69 46 62 108 143 88 231 36.10 27 95 122 12 71 83 179.08 1.60 1.214.00 23 23 150.77 158.00 185. Sumba Barat 2009 2010 Jumlah Kab.00 2.934.90 811.22 1.06 2.70 3.438.54 1.74 1.99 7.457.22 1.87 3.44 390.759.226.19 21.11 185.122.785.873.713.60 0.081.21 6.22 155.48 Jml 6 26 20 46 13 15 28 12 27 39 63 35 98 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 116.844.00 5.755.264.09 227. Sikka 2009 2010 Jumlah 307 Kab.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 116.785.46 1.357.11 5.70 116.23 393.872.264.15 485.00 0.46 2.89 7. Sumba Tengah 2009 2010 Jumlah 310 Kab.87 150.76 2.32 315 Kab.57 224.013.70 185.680.847.009.24 111 81 192 30 19 49 91.00 5. Ngada 3 2009 2010 Jumlah 305 Kab.94 316.08 31.636.08 120.32 120.90 73.05 7.744.98 673.12 1.892.536.38 34.001.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 304 2 Kab.667.814.60 3 13 16 10.78 13 9 22 6 24 30 24 48 72 3.33 584.70 0.04 3.21 317.18 710.49 0.22 195.10 227.02 1.01 3.515.00 1.552.53 1.54 3 2 5 4 4 553.96 123.60 12.56 112.681.49 9.13 7.59 4.645.66 2.079.37 84.11 5.31 33.727.715.64 451.89 4.86 2.86 292.141.03 2.052.95 3.00 5.70 2.19 1.089.56 1.22 155.10 73.493.60 1.728.79 2.

98 5.63 114.07 25.576.12 6.143.13 45.47 18.98 848.392. Sintang 2009 2010 Jumlah 327 Kota Pontianak 2009 2010 Jumlah 328 Kota Singkawang 2009 2010 Jumlah 4 120 35 155 115 79 194 90 47 137 56 56 63 42 105 56 69 125 70 28 98 20 52 72 80 100 180 96 40 136 59 46 105 136 44 180 94 46 140 Nilai 5 41.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 5 28 33 49 49 18 18 10 42 52 48 69 117 30 26 56 19 19 78 72 150 12 40 52 31 31 16 39 55 21 46 67 Nilai 11 2.06 1.90 27.79 2.555.474.295.362.84 172.074.415.004.61 79.595.115.017.603.950.07 25.22 6.295.214.201.02 3.33 67.45 545.63 545. Melawi 2009 2010 Jumlah 322 Kab.66 1. Ketapang 2009 2010 Jumlah 319 Kab. Kayong Utara 2009 2010 Jumlah 318 Kab.11 4.24 624.771.34 228.26 3.46 3.18 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 405. Sekadau 2009 2010 Jumlah 326 Kab.12 3.231.28 75.79 974.07 400.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 68 23 91 71 24 95 30 28 58 15 15 14 14 7 7 24 1 25 13 13 1 14 15 30 30 23 18 41 56 3 59 13 13 Nilai 9 41.61 223.34 26.75 405.286.23 5.72 3.94 12. Kapuas Hulu 3 2009 2010 Jumlah 317 Kab.362.193.82 3. Landak 2009 2010 Jumlah 321 Kab.60 20.00 231.34 228.84 143.613.236.50 403.90 789.80 2.147.038.11 541.36 11.19 2.12 88.187.84 143.676.099.27 2.20 2.072.004.22 46.476.45 2.04 223.413.13 82.11 143.33 3.05 2.00 231.02 5.07 21.04 24.72 105.36 3.32 Jml 6 52 12 64 39 27 66 11 19 30 23 23 39 39 1 1 16 1 17 20 20 40 1 14 15 54 54 5 28 33 64 2 66 60 60 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 405. Kubu Raya 2009 2010 Jumlah 320 Kab.06 114.721.946. Sanggau 2009 2010 Jumlah 325 Kab.334.96 927.41 5.878.771.457.91 923.06 974.630.75 25.038.839.462.19 6.Halaman 26 .06 114.90 541.734.27 11.19 16.286.84 172.34 129 .32 4.87 4.731.62 1.380.548.717.96 624.04 8.06 595.302.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 316 2 Kab.939.49 1.110.12 3.305.90 541.29 18.66 1.267.63 114.07 20.616.12 3.407.334.95 126.79 27.50 1.187.96 3.476.35 1.36 4.114.676.762.41 624.50 228.06 974. Pontianak 2009 2010 Jumlah 323 Kab.79 27.371.75 405.19 4.07 400.79 974.41 8.328.482.54 84.50 228.62 3.241.33 3.52 102.521.74 45.90 27.91 11.99 3.07 989.201.197.302.07 11.74 989.931.33 65.739.617.38 83.41 1.11 143.27 12.22 46.63 3.193.58 26.33 16.49 5.95 2.75 25.137.927.96 927.218.328.87 19.49 3.53 16. Sambas 2009 2010 Jumlah 324 Kab.017.576.19 3.02 21.74 923.50 403.739.595.11 541.06 18.322.

81 7. Katingan 2009 2010 Jumlah Kab.069. Barito Utara 2009 2010 Jumlah 333 Kab.792. Gunung Mas 2009 2010 Jumlah 334 Kab.804.197.51 28.218.843.98 317.50 15.38 8.90 170.366.51 28.18 10.63 3.347.08 738.44 91. Barito Timur 2009 2010 Jumlah 332 Kab. Seruyan 2009 2010 Jumlah 130 .981.768.51 12.38 14. Kotawaringin Barat 4 112 109 221 114 81 195 63 77 140 117 73 190 93 57 150 141 37 178 86 58 144 Nilai 5 344.035.032.17 574.126.84 23.17 31.45 401.851.988.966.18 44.379.329.509.46 3.093.815.114.81 54.31 724.539.021.66 1.663.96 5.83 177.43 1.94 150.34 340.657.52 3.79 13.468. Kotawaringin Timur 2009 2010 Jumlah 91 125 216 76 26 102 109 101 210 75 53 128 102 63 165 164. Barito Selatan 2009 2010 Jumlah 331 Kab.71 6.51 173.38 27 74 101 3 6 9 19 22 41 37 27 64 71 5 76 97.84 16.818.078.19 4.27 17.82 2.310.13 1.95 21.94 13.56 43.935.742.67 13.622.36 14.096.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 329 2 Prov.67 12.795.40 3.59 496.31 27.20 57.44 289.225.65 1.577.959. Pulang Pisau 2009 2010 Jumlah 341 Kab.887.794.40 23.980.690.95 1.41 10.35 372.418.345.095.216.823.65 28.00 47.549.81 6.796.397.42 1.22 748.34 111.049.602.34 246.836.081.07 11.23 - 337 Kab.38 167.70 37.83 4.05 108.213.792.549.655.25 37.534.16 898.950.199.70 145.Halaman 27 .34 30.768.445.071.831.01 6 3 9 25.05 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 10 13 21 34 16 6 22 4 2 6 6 6 21 2 23 Nilai 11 4.46 13.329.535.58 8.794.36 3.36 23.390.511.124.243.730.015.87 2.68 29.29 173.01 17.49 127 69 196 76.65 22.046.49 39. Lamandau 2009 2010 Jumlah 339 Kab.262.71 163.16 69.34 31.339.19 - 336 2009 2010 Jumlah 140 77 217 115.832. Murung Raya 2009 2010 Jumlah 340 Kab.335.53 5.10 46.185.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 51 51 102 24 15 39 8 25 33 24 8 32 11 12 23 12 1 13 29 25 54 Nilai 9 252.21 7.036.676.959.425.521.612.51 61.509.93 10.48 991.708.686.95 25. Kalimantan Tengah 3 2009 2010 Jumlah 330 Kab.681.13 2.478.31 914.14 12.95 27.145.54 16.05 173.243.02 51.085.79 6.198.82 44.93 1.50 30.115.004.47 83.98 44.12 10.218.77 10.168.54 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 9.75 141.20 Jml 6 61 48 109 90 66 156 42 31 73 77 59 136 78 43 121 123 36 159 36 31 67 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 92.74 62 39 101 73 20 93 67 74 141 33 24 57 23 5 28 2.444.43 53.79 553.002.42 17.047.166.124.494.213.24 7 5 12 13.99 18.352.724.042.346.591.78 1.62 551.921.768.98 22.18 2 12 14 23 5 28 5 2 7 8 53 61 65.01 16.741.237.43 - 338 Kab.95 80.25 30.95 28.82 5.328.259.14 65.51 9.84 310.124.078.95 29.44 35.042.293.20 10.68 12.97 83. Kapuas 2009 2010 Jumlah 335 Kab.33 2.877.279.269.187.106.91 72.383.71 28.474.66 6.880.19 61.574.32 2.49 351.47 4.36 83.689.191.14 22.450.84 751.

503.30 1.424.08 44 41 85 68 20 88 25 37 62 17 34 51 74.36 1.00 1.96 73.13 2.67 2 4 6 8 30 38 5 2 7 7 12 19 500.79 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 1 19 8 41 49 Nilai 9 3.71 0.976.059.316. Hulu Sungai Selatan 2009 2010 Jumlah 22 29 51 3.92 351 Kab.823.93 440.13 119.26 5.53 19.94 218.309.02 989.05 105.97 320.30 3.99 2.015.697.377.69 25 41 66 9 15 24 6 19 25 4 23 27 351.82 344 2009 2010 Jumlah 69 118 187 77 35 112 32 68 100 21 61 82 615.691.63 74.65 28.47 1.438.64 1.23 82.92 1.61 992.83 13 13 60.031.97 349 Kab.930.67 17.83 276.41 6.69 104.270.865.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 342 2 Kab.58 146.00 16.82 387.46 4 1 5 2.74 2.745.842.891.12 2 5 7 276.41 28.39 8.13 119. Hulu Sungai Tengah 2009 2010 Jumlah 18 35 53 1.75 516.13 221.60 313.90 1.75 75.69 877.58 104.42 740. Kotabaru 2009 2010 Jumlah 352 Kab.75 75.050.63 43. Tanah Bumbu 2009 2010 Jumlah 131 .928.831.726.05 15.041.05 1.36 1.751.93 551.59 2.13 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 60 70 33 28 61 Nilai 11 28.709.53 41.91 91.23 690.981.24 256.841.98 1.24 6 44 50 13 13 1 14 15 140.13 277.958.46 105. Hulu Sungai Utara 2009 2010 Jumlah 35 11 46 39 93 132 39 17 56 38 42 80 754.34 36 36 1 12 13 4 4 189.00 304.35 5.36 1.635.39 205.17 51.85 2.91 28.719.17 19. Sukamara 3 2009 2010 Jumlah 343 Kota Palangkaraya 2009 2010 Jumlah Prov.74 325.55 1.43 1.51 18.318.737.03 345 Kab.93 140.59 997.806.56 1.69 96.528.246.39 16 17 33 1.75 267.71 25.308.92 2.246.08 17.769.67 297.00 25.56 374.92 205.99 358.31 3.67 297.102. Balangan 2009 2010 Jumlah 346 Kab.82 1.57 17 2 19 105.40 10.17 75.49 2.478.85 365. Banjar 2009 2010 Jumlah 347 Kab.97 8.778.672.078. Barito Kuala 2009 2010 Jumlah 348 Kab.15 96.67 4. Kalimantan Selatan 4 61 62 123 64 87 151 Nilai 5 77.24 256.52 103.56 25.56 132. Tabalong 2009 2010 Jumlah 353 Kab.468.89 236.Halaman 28 .742.641.31 3.94 438.72 4.87 8.342.945.531.69 103.25 92.604.781.50 1 26 27 1.95 331.30 161.13 41.377.40 2.93 173.62 74.849.939.96 2.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 387.60 2.95 2.315.793.520.01 19.26 408.147.629.041.13 2.112.97 2.992.04 426.086.38 22.896.39 5.67 242.98 1.103.31 72.38 200.735.384.616.52 28.38 20.93 Jml 6 33 1 34 23 18 41 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 74.604.81 2.81 2.97 3.71 242.35 17.79 373.985.97 560.71 357.528.26 25.67 1.787.941.096.68 90.465.847.727.38 114.45 254.12 350 Kab.79 373.89 422.86 1.80 4.70 4.10 730.37 33 7 40 25 19 44 34 2 36 30 16 46 254.

12 1.047.27 67.55 41.92 556.875.668.97 537.680.960.252.030.12 159.41 1.340.037.82 45.40 377.64 50.30 3.876.65 23.53 1.73 1 1 4 4 8 1 4 5 6 66 72 17 31 48 13.807.49 1.13 854.25 1.294.97 389.219.00 84.34 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 36 36 1 1 28 28 40 40 Nilai 11 1.192.674.25 151.052.084.58 10 12 10 47 3 50 20 3 23 31 24 55 43 43 1.285.267.43 17.81 125.55 3.079.33 4.07 67.56 1.92 556.195.12 32.216.19 19 62 81 6 2 8 39 7 46 1 6 7 235.87 2.11 240.01 29.42 1. Nunukan 2009 2010 Jumlah 366 Kab.053.95 1.74 849.047.43 91.76 1.807.680.58 857.12 240.59 29.80 905.195.25 11.86 29.96 5.62 2.542.00 950.451.92 12.61 67.31 377.61 1.76 24.152.42 3.58 857.64 1.737.83 2.13 122.745.440.73 135.84 37.27 586.97 510.75 86.49 20.56 962.67 4.784.65 12.64 42.62 71.303.39 1.813.803.36 33.219.27 33.59 377.50 420.794.00 1.12 4.60 68.97 126.90 - 241. Tanah Laut 3 2009 2010 Jumlah 355 Kab.037.938.875.542.76 24.906.451.860.70 58. Kutai tanegara Kar- 2009 2010 Jumlah 45 68 113 125 68 193 51 60 111 44 102 146 84 31 115 94.337.61 29.57 358 2009 2010 Jumlah 42 111 153 10 2 12 75 63 138 3 6 9 316.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 354 2 Kab.72 346.000.46 1.43 17.12 24.11 909.668. Malinau 2009 2010 Jumlah 365 Kab.611.36 39.362.408.00 67.646.25 340.25 99.211.95 1.50 1.34 37.07 362.71 346.571.43 995.95 579.092.37 398.876. Paser 2009 2010 Jumlah 132 .96 346.953.05 32.23 1.53 13.381.866.39 - 363 Kab.285.574.879.73 622.287.287.19 359 Kab.27 586.185.37 186.38 39.64 16.504.94 29.82 Jml 6 20 3 23 15 12 27 22 24 46 29 22 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.62 2.59 15.742.062.33 84.00 275.710.066.834.63 1.168.13 122.13 480.30 99.086.582.87 2.14 1.83 2.69 12.074.201.112.36 34 56 90 74 61 135 30 53 83 7 12 19 24 24 92.056.61 29.28 219.340.21 3.718.879.25 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.47 450.91 32.28 499. Tapin 2009 2010 Jumlah 356 Kota Banjarbaru 2009 2010 Jumlah 357 Kota Banjarmasin 2009 2010 Jumlah Prov.46 3.803.504.084.329.25 23 18 41 4 4 33 42 75 2 2 81.Halaman 29 .96 5.185.235.97 532.28 499.89 43. Kalimantan Timur 4 27 39 66 17 20 37 24 60 84 36 72 108 Nilai 5 2.54 1.41 1.238.42 453.90 622.64 46.47 450.100.038.76 127.23 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 7 7 1 8 9 2 8 10 7 10 17 Nilai 9 1. Kutai Timur 2009 2010 Jumlah 364 Kab.01 4.742.46 767.85 46.74 219.30 1.43 190.05 31 31 3 14 17 - 135.90 533.22 48.062.73 16.98 169.79 44.25 84. Berau 2009 2010 Jumlah 360 Kab.43 208.710.25 962. Kutai Barat 2009 2010 Jumlah 362 Kab.287.22 1.28 1.22 105.33 986.30 17.08 362.30 1.30 17.834. Bulungan 2009 2010 Jumlah 361 Kab.

49 124.724.16 374 2009 2010 Jumlah 30 46 76 625.85 2.34 344.347.12 240.39 100.16 998.837.45 212.30 55.98 462.658.412.13 403.231.582.58 8.144.19 45.60 2.12 1.76 35.09 400.053.01 652.681.672.29 2.261.174.93 110.167.10 3.06 6.58 Jml 6 22 22 11 11 7 3 10 27 44 71 15 9 24 4 3 7 34 3 37 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 29.62 1.60 261.32 448.970.918.39 185. Bolaang Mon2009 gondow Utara 2010 Jumlah 21 21 664.010.62 236.106.14 234.32 378 Kab.14 2.47 52.00 21.909.01 220.251.26 7.83 440.591.74 5 5 261.94 37.09 - 377 23 28 51 21 61 82 4.588.752.79 86.60 13.03 283.35 157.19 200.24 1.28 728.36 805. Minahasa 2009 2010 Jumlah 133 .60 16 16 403.59 36.541.54 4.662.54 2.936. Bolaang gondow Mon4 43 66 109 55 55 37 82 119 66 96 162 57 150 207 7 3 10 49 45 94 Nilai 5 140.76 506.014.939. Tana Tidung 2009 2010 Jumlah 369 Kota Balikpapan 2009 2010 Jumlah 370 Kota Bontang 2009 2010 Jumlah 371 Kota Samarinda 2009 2010 Jumlah 372 Kota Tarakan 2009 2010 Jumlah 373 Prov.77 66.016.569.837.37 2.09 400.76 2.55 419.549.602.164.394.88 15.Halaman 30 .448.35 1.05 112.94 1.569.09 - - - - 9 9 400.82 227.967.772.32 236.92 2.828.85 12 19 31 7 7 14 4.92 771.660.970.13 8.45 - 375 Kab.74 664.92 506.63 157.45 3.07 778.45 7.072.49 6 9 15 7 23 30 71. Penajam Paser Utara 3 2009 2010 Jumlah 368 Kab.09 230.674.32 654.63 39.895.88 4. Bolaang Mon2009 gondow Selatan 2010 Jumlah Kab.62 6.60 86.412. Bolaang Mon2009 gondow Timur 2010 Jumlah Kab.580.29 805.337.38 4 7 11 - 8 30 38 265.77 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 55 57 24 24 5 22 27 2 2 9 23 32 7 34 41 Nilai 11 3.03 13.45 411.96 2.711.24 404.909.56 21.84 228.25 548.01 5 5 7 31 38 18.946.35 144.67 41.066.935.85 200.76 506.96 1.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 19 11 30 20 20 25 57 82 39 50 89 33 118 151 3 3 8 8 16 Nilai 9 107.245.19 334.403.48 6.36 204.210.253.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 7.53 236.92 29.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 367 2 Kab.45 506.981.088.68 5.531.137.398.79 179.28 17.37 2.83 18 9 27 359.09 173. Sulawesi Utara 2009 2010 Jumlah Kab.45 71.91 49.28 419.45 321.92 778.222.671.014.241.339.54 3.06 4.00 100.85 728.330.13 6.53 248.53 2.208.13 - - - 376 9 9 400.110.14 45.059.057.163.

843.16 1. Kepulauan Sangihe 382 2009 2010 Jumlah 24 49 73 12.51 37.174.187.14 13 21 34 680.071.814.77 26 64 90 7 36 43 14.31 13.277.98 9.292.35 963.83 662.771.255.066.04 37.14 1.77 8. Siau Tagulandang Biaro 2009 2010 Jumlah 23 30 53 7.981.23 18 2 20 5 13 18 3 25 28 1 1 2 3 5 8 575. Kep.324.86 40.121. Kepulauan Talaud 2009 2010 Jumlah 44 60 104 52 51 103 21 46 67 31 56 87 7 41 48 112.592.16 77.39 118.73 1.996.971.69 22.80 1.248.08 2.84 2.36 1. Banggai 2009 2010 Jumlah 134 .Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 379 2 Kab.75 243.802.07 25 25 - 126.17 8.708.95 627.23 1.385.835.584.96 3.41 3.73 1.37 23.48 1.62 346.954.689.84 409.00 505.20 243.76 1.936.770.63 1.052.60 - 4.68 79.89 684. Sulawesi Tengah 2009 2010 Jumlah 98 160 258 33 136 169 156.Halaman 31 .63 66.90 1.02 130.62 390 Kab.352.661.76 126.20 11.20 906.25 57.033.500.881.55 1.121.200.039.91 75.10 8.877.62 77 41 118 16 30 46 28.343.04 36.20 381 Kab.942.245.04 22.57 10 1 11 11.15 227.87 15.419.612. Minahasa Tenggara 4 21 22 43 Nilai 5 28.76 126.653.94 243.928.23 711.80 77.993.034.32 2.73 409.30 4.802.810.76 1.41 79.327.23 2. Minahasa Selatan 3 2009 2010 Jumlah Kab.054.60 11.165.31 Jml 6 1 9 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 2 Nilai 9 51.57 1.95 627.443.29 897.040.521.68 13 92 105 67 67 127.80 5.44 384 Kab.36 970.31 13.96 2.91 2.10 5.527.783.63 35.14 8 27 35 17 39 56 243.55 21.105.20 1.521.174.187.64 107.352.45 484.356.41 39.511.80 40.26 333.67 1.98 3.588.63 8.56 81.775.039.928.135.43 506.624.40 7.12 64.531.813.52 1.705.16 77.242.57 3.16 - 385 Kota Bitung 2009 2010 Jumlah 386 Kota Kotamobagu 2009 2010 Jumlah 387 Kota Manado 2009 2010 Jumlah 388 Kota Tomohon 2009 2010 Jumlah 389 Prov.144.77 1.65 490.575.66 354.44 3. Minahasa Utara 2009 2010 Jumlah Kab.360.610.34 10 9 19 2.44 680.06 9.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 380 2009 2010 Jumlah 38 64 102 25 39 64 15.73 8.76 383 Kab.193.41 246.005.071.07 806.402.197.20 11.23 14.89 5.06 3.37 13 8 21 22 19 41 4 14 18 1 16 17 2 4 6 34.64 13 50 63 25 19 44 14 7 21 29 39 68 2 32 34 78.877.83 5.89 51.22 5.84 22 19 41 126.352.175.19 680.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 13 31 Nilai 11 28.57 29.78 127.57 29.13 718.53 279.72 39.35 223.643.95 1.49 185.49 21.117.50 165.73 1.470.82 8.41 77.73 79.67 1.20 12 12 8 2 10 223.76 2 5 7 12.

286.70 4.35 5. Tojo Una-Una 2009 2010 Jumlah 399 Kab.34 1 4 5 16 16 19 19 445.75 4.97 3.15 21.29 7.863.525.33 3. Bantaeng 2009 2010 Jumlah 403 Kab.659.07 3.502.52 1.44 371.074.43 4 24 28 8 8 14 14 9.244.249.47 129.57 971.16 8.795.36 81.501. Parigi tong Mou4 50 121 171 114 95 209 75 119 194 96 106 202 Nilai 5 12.411.44 5.80 3.92 23.535.885.22 445.35 31.374.41 67.074.74 107.60 4.52 971.633.07 577.31 2.65 1.051.54 19.623.11 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 44 38 82 4 5 9 42 44 86 54 29 83 Nilai 9 10.324.49 2.44 371.011.35 2.88 872.795.49 2.28 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 42 44 37 22 59 31 66 97 40 74 114 Nilai 11 2.251.675.109.127.75 43.49 48 81 129 22 47 69 46 46 33 45 78 136 65 201 4 5 9 1.40 2.68 2.49 335.393.763.95 7.11 395 2009 2010 Jumlah 86 126 212 75 83 158 121 121 87 85 172 159 65 224 116 90 206 9.29 849.39 107.238.44 577.885.00 3.74 7.84 1.717.931.357.305.43 402 Kab.000.095.623.195.11 96.732.232.607. Tolitoli 2009 2010 Jumlah 400 Kota Palu 2009 2010 Jumlah 401 Prov.43 722.64 722.33 978.523.00 6.75 4.92 9.14 1.372.182.115.630.43 18.26 181.92 9.009.44 335.65 3.70 5.300.11 2.11 6.07 371.16 4.85 7.847.Halaman 32 .09 2.675.14 326.70 15.033.77 978.420.110.306.87 1.78 11.414.03 88.83 80.93 4.23 42.055.237.139.607.28 525.080.76 4 5 9 18 3 21 7 7 8 10 18 18 5 23 2.17 13.393.10 15.50 469.884.795.987.00 469.847.62 415.49 6. Morowali 2009 2010 Jumlah Kab.61 4.869.965. Barru 2009 2010 Jumlah 135 .85 4.51 3.530.821.75 1.30 2.23 42.68 527.603.444.88 872.907.838.39 710.65 76.75 24.07 10. Buol 2009 2010 Jumlah 393 Kab.60 80.405.26 5.62 415.26 181.158.983.111.53 3.53 5. Banggai Kepulauan 3 2009 2010 Jumlah 392 Kab.115.063.12 2.79 4.82 63.89 2.15 8.80 11.051.01 2.78 138.98 291.793.83 710.034.90 2.76 1.79 4.65 922.40 7.300.119.833.15 12.969. Donggala 2009 2010 Jumlah 394 Kab.532.37 83.55 9.620.66 5.95 4.90 759.17 396 Kab.107.838.87 19.49 172.73 829.56 Jml 6 4 41 45 73 68 141 2 9 11 2 3 5 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.89 149 72 221 25 55 80 1 31 32 47.254.685.65 247. Poso 2009 2010 Jumlah 397 Kab.034.45 292.00 4.29 849.00 167.747.575.83 172.482. Sulawesi Selatan 2009 2010 Jumlah 154 100 254 49 55 104 34 31 65 57.82 5.43 722.51 79.14 722.980.23 5.50 169.484.44 228.59 15. Sigi 2009 2010 Jumlah 398 Kab.17 34 40 74 35 33 68 68 68 46 30 76 23 23 94 80 174 5.50 326.357.51 371.847.55 73.78 138.324.34 4.22 153.216.898.75 7.12 2.48 229.75 296.85 3.16 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.625.60 2.26 664.830.90 759.27 8.030.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 391 2 Kab.366.00 63.50 829.86 247.33 13.50 1.28 131.64 153.627.381.07 3.103.59 1.569.85 5.

54 2.93 1.303.45 10.25 35.553.544.63 1.440.348.91 13.915.90 166.458.57 303.19 711.006.93 1.67 83.19 1.175.88 152.86 2.64 2.24 2.62 10.22 43.77 942.569.45 565.40 1. Maros 2009 2010 Jumlah Kab.915.94 136 .54 3.686.59 398.792.00 4.18 3.546.61 2.792.185.039.91 13.27 383.331.26 416 2009 2010 Jumlah 38 56 94 2.73 83.07 36.50 53.27 187.915.006.26 2.64 2.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 260.006.32 549.417.31 399.440.19 23.751.31 3.36 1 56 57 595.30 163.77 3.121.85 1.035.308.75 7.51 187.08 242.976.02 15.366.066.50 281.12 188.73 50.75 420.82 188.77 36.01 37 11 48 45 45 36.40 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 64 64 32 21 53 27 38 65 1 5 6 2 60 62 8 22 30 1 15 16 10 66 76 31 110 141 Nilai 11 1.36 170.10 97.003.10 4.751.74 470.09 1.84 2.507.248.562.49 346.94 235.59 274.415.77 20.03 695.62 4.036.75 2.26 398.09 Jml 6 10 24 34 11 3 14 1 1 41 16 57 52 52 3 5 8 35 7 42 3 3 32 32 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 260.88 413 28 38 66 46 40 86 84 76 160 827.036.131.348.683.22 43. Luwu Timur 2009 2010 Jumlah 411 Kab.29 291. Sidenreng Rappang 4 23 122 145 43 26 69 29 38 67 59 42 101 79 60 139 31 77 108 52 39 91 32 66 98 92 110 202 Nilai 5 483.269.19 636.708. Luwu 2009 2010 Jumlah 410 Kab.14 1.546.31 790.66 5.974.16 63.19 19.12 289.64 2.94 17 17 1.77 51.73 3.597.90 166.14 1.915.18 11 11 8 23 31 38 38 790.24 235.00 1.61 3.80 274.90 152.974.18 1.039.94 235.09 2.417.08 636.31 3.40 480.40 808.659.58 10.050.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 404 2 Kab.59 1.88 152.26 1. Luwu Utara 2009 2010 Jumlah 412 Kab.10 97.36 1.892.31 15.80 4.88 6.59 9.415.62 1. Gowa 2009 2010 Jumlah 408 Kab.75 50.72 2.80 187.90 166.18 1.379.92 289.266.40 31.84 295.31 12.31 1.744.59 1.81 6.11 1.73 1.269.792.607.11 2.755. Pangkajene dan 2009 Kepulauan 2010 Jumlah 414 Kab.686.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 34 47 2 2 1 1 17 21 38 25 25 20 50 70 16 17 33 19 19 29 29 Nilai 9 223.623.248.13 16.828.55 20 20 235.744.52 565.201.13 1.533. Pinrang 2009 2010 Jumlah 415 Kab.72 31.556.57 303.856.31 3.90 166.31 2.15 383.51 1.62 3.72 870.348.003.24 4.77 979.131.496.49 420.77 36. Enrekang 2009 2010 Jumlah 407 Kab.46 2.94 10.839.92 281.486.66 1.90 152. Jeneponto 2009 2010 Jumlah 409 Kab.50 558. Selayar 2009 2010 Jumlah Kab.27 636.75 17 38 55 1 6 7 1 76 77 2.Halaman 33 .692.16 252.62 223.28 1.003. Bulukumba 2009 2010 Jumlah 406 Kab.27 187.440.29 291. Bone 3 2009 2010 Jumlah 405 Kab.

60 5.099.64 1.565.39 3.605.94 31.96 3.43 182.92 1.82 29.52 6.514.75 2.875.52 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 31 31 22 27 49 2 3 5 16 16 Nilai 9 129.027. Buton Utara 2009 2010 Jumlah 137 .788.108.15 5.734.33 1.02 2.72 177 192 369 183 78 261 4 4 36 14 50 15.708.409.108.17 771.43 5.32 916.61 5.612.96 620.91 45.107.975.191.78 5.134.27 595.81 8.11 274.35 16.613.63 71.281.792.85 6.854.107.57 6.57 285.593.43 17.15 1.22 121.81 7.734.069.586.96 595.29 129.893.81 6.56 581.513.81 502.550.571.324.29 129.732.513.116.81 502.891. Soppeng 2009 2010 Jumlah 419 Kab.48 4.31 12.812.625.843.929.328.96 9.85 22.81 6.279.713.468.11 328.01 3.340.92 Jml 6 1 1 13 16 29 9 9 10 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.99 73.95 69.88 3.55 7.49 139.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 22.52 2.29 1.61 9.07 200.14 241.806.47 3.80 22.58 30.53 9.51 - 422 Kab.29 200.99 9.91 22.86 1.17 54.97 2.27 423 Kota Makassar 2009 2010 Jumlah 424 Kota Palopo 2009 2010 Jumlah 425 Kota Parepare 2009 2010 Jumlah 426 Prov.43 7.15 1.79 5.53 9.664.286.16 1.80 502.44 28.11 328.02 129. Takalar 2009 2010 Jumlah 420 Kab.68 620.98 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 15 72 87 2 2 27 52 79 19 77 96 31 31 Nilai 11 286.814.975.469.25 17.546.57 427 Kab.191.53 9.29 99.191.636.44 15 29 44 31 3 34 2 2 20 20 139.93 103.82 52.328.626. Bombana 2009 2010 Jumlah 428 Kab.57 189.061.Halaman 34 .197.92 1.56 8.986.35 2.893.03 4.45 7.85 81.65 22.81 155.61 129.462.019.624.578.80 502.975.210.69 6.91 22.07 1 61 62 6 129 135 6 87 93 109 109 581.57 189.88 17 38 55 44 30 74 22 22 4 4 4.331.83 916.425.94 37.986.95 2.92 24.69 1.739.20 220.84 1.36 172.31 1.99 12.183.191.68 620.31 10.441.77 34 6 40 2 2 15 21 36 7 9 16 16.462.32 4.973.045.069.81 8. Sulawesi Tenggara 2009 2010 Jumlah 243 200 443 183 80 263 47 50 97 72 92 164 79.147.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 417 2 Kab.43 241.748.953.96 620.49 6. Buton 2009 2010 Jumlah 429 Kab.99 90.92 1.394.12 81.408.56 1.324.644. Sinjai 3 2009 2010 Jumlah 418 Kab. Tana Toraja 2009 2010 Jumlah 421 Kab Tana Toraja Utara 2009 2010 Jumlah 4 47 72 119 35 45 80 38 55 93 45 77 122 31 31 Nilai 5 438.449.29 1.31 1.47 5. Wajo 2009 2010 Jumlah 33 128 161 81 162 243 30 87 117 24 109 133 4.42 32 2 34 32 25 57 29 69 98 47.475.886.708.49 2.79 1.409.80 22.21 151.273.421.25 213.689.29 129.41 103.106.25 8.61 9.807.38 30.631.612.774.69 7.572.28 6.380.51 36.

496.67 4.322.12 5.045.707.09 12.12 3.33 2.215.08 1.79 3.758.241.569.684.37 8.036.44 3.10 18.28 56.06 460.37 2.70 3.59 41.893.04 10.09 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 4 14 50 2 52 94 11 105 77 73 150 60 58 118 3 129 132 1 47 48 16 9 25 1 66 67 35 34 69 92 112 204 96 80 176 114 132 246 Nilai 11 483.90 1.31 13.36 14.72 10.79 416.258.631.07 416.15 762.743.90 7.51 445.224.78 7.11 1.505.79 3.638.438.28 6.600.76 219.13 97.819.734.93 1.066.94 8.51 13. Kolaka 3 2009 2010 Jumlah 431 Kab.67 25.068. Boalemo 2009 2010 Jumlah 441 Kab.12 9.119.77 10.465.416.721.67 26.666.95 1.73 447.29 14.25 5.87 3.032.99 21.72 797.429.78 832.032.94 42.13 445.572.33 2.179.94 9.987.73 842.661.141.341.557.551.992.893.57 10.83 1.537.87 189.189.497.00 43.092.79 416.77 8.82 3.88 348.047.803.98 17.25 28.26 1.496.809.555.631.697.211.56 1.061.84 52.792.494.05 41.62 Jml 6 45 18 63 61 27 88 11 3 14 48 6 54 7 15 22 26 26 26 40 66 22 20 42 57 18 75 46 46 76 76 35 35 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 8.643.012.017.025.935.502.22 1.46 5.662.014.16 450.179.56 69.25 3.31 3.488.212.20 24.91 65.51 3.52 450.17 219.69 10.860.20 13.52 778.520.71 12.467.45 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 263.13 710.520.735.707.34 13.00 6.15 81.789.432.470.29 5.05 5.53 171.00 21.96 34.14 8.84 46.07 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 51 72 41 25 66 21 81 102 25 18 43 26 50 76 34 2 36 11 17 28 12 21 33 1 7 8 7 7 20 20 35 35 Nilai 9 1.71 13.07 416.78 104.46 107.72 6.45 460.707.53 171.77 4.26 800.241.050.62 775.672. Konawe Selatan 2009 2010 Jumlah 434 Kab.66 177.67 3.007.62 10.758.50 0. Bone Bolango 2009 2010 Jumlah 442 Kab.289.32 3. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 440 Kab.470.412.Halaman 35 .79 57.86 445.99 13.862.62 11.731.329. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 4 76 73 149 152 54 206 126 95 221 150 97 247 93 123 216 63 131 194 38 104 142 50 50 100 59 91 150 88 34 122 92 112 204 192 80 272 184 132 316 Nilai 5 9.13 8.10 1.56 3.86 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 430 2 Kab.468.73 842.49 24.89 278.52 7.17 778.83 14.510.041.720.89 13.171.52 15.13 670.893.45 12.719.415.49 1.249.62 4.52 2. Konawe Utara 2009 2010 Jumlah 435 Kab.124.36 64.19 2.759.744.756.301.43 4.17 57.024.52 800.95 2.19 57.62 15. Kolaka Utara 2009 2010 Jumlah 432 Kab.148.62 8.07 138 .239.791.557.19 4.613.502.343.036.54 163.13 97.54 24.79 1.60 1.82 3. Konawe 2009 2010 Jumlah 433 Kab.71 1.22 3. Wakatobi 2009 2010 Jumlah 437 Kota Bau-Bau 2009 2010 Jumlah 438 Kota Kendari 2009 2010 Jumlah 439 Prov.69 62.283.26 1.19 11.89 1.651.48 2.13 445.467.024.195. Muna 2009 2010 Jumlah 436 Kab.87 3.711.95 70.58 49.51 1.99 97.41 1.00 3.10 14.237.758.414.96 1.37 5.66 14.698.39 670.482.25 4.99 97.707.909.09 3.417.99 3.934.10 8.70 35.08 447.99 3.592.

12 54.519.966.146.543.72 32.00 509.94 450.808.43 14.241.17 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 6 60 66 81 53 134 90 134 224 33 40 73 5 69 74 16 57 73 8 57 65 5 72 77 5 73 78 36 99 135 16 74 90 78 78 13 13 Nilai 11 592.676.24 16.83 39.278. Pohuwato 2009 2010 Jumlah 445 Kota Gorontalo 2009 2010 Jumlah 446 Prov.169.50 2.07 642.98 32.506.833.174.11 67.29 360.15 48.422.321.70 6.30 30.25 26.496.753.49 629.036. Kepulauan Aru 2009 2010 Jumlah 4 77 60 137 98 53 151 129 134 263 98 97 195 73 69 142 52 57 109 85 132 217 95 72 167 86 98 184 144 120 264 75 74 149 78 78 79 79 Nilai 5 3.83 2.51 26.25 27. Mamuju Utara 2009 2010 Jumlah 451 Kab.084.24 5.59 818.036.70 145.51 29.72 23.207.169. Sulawesi Barat 2009 2010 Jumlah 447 Kab.15 49.881.91 8.446.080.614.830.182.51 145.59 48.44 48.863.085.01 9.62 1. Polewali Mandar 2009 2010 Jumlah 452 Prov.077.05 2.097.66 200.53 954.01 16.196. Mamuju 2009 2010 Jumlah 450 Kab.749.738.53 55.258.673.43 12.095.05 155.Halaman 36 .971.04 2.53 2.49 49.509.290.509.834.32 35.206.43 1.57 22.710.91 977.673.70 145.01 32.36 51.51 29.00 629. Maluku 2009 2010 Jumlah 453 Kab.311.084.18 965.62 Jml 6 47 47 17 17 18 18 10 3 13 28 28 17 17 25 4 29 31 31 28 2 30 25 6 31 37 37 46 46 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 580.46 5.084.24 5.269.26 1.94 6.12 49.53 5.261.85 5.52 673.69 35.37 59.52 3.89 243.024.20 55.58 21.92 253.40 621.70 8.983.07 18.29 1.321.48 313.94 2.446.25 15.607.75 5. Buru Selatan 2009 2010 Jumlah 455 Kab.55 48.952.91 6.414.67 22.679.601.009.01 9.506.44 71.69 554.601.952.94 5.87 2.79 11.44 554. Majene 2009 2010 Jumlah 448 Kab.310.84 2.29 160.871. Mamasa 2009 2010 Jumlah 449 Kab.65 243.052.009.599.26 255.17 71.243.231.85 2.15 11.131.679.87 2.89 504.32 7.043.394.269.077.20 7.818.621.959.56 14.633.43 1.860.43 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 580.635.83 818.33 23.70 335.37 131.90 6.64 12.76 76.29 160.871.51 47.85 6.560.36 160.61 29.49 112.863.42 2.65 517.53 621.60 34.59 2.04 28.32 1.85 2.36 450.784.673.572.02 5.65 456.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 24 24 21 21 55 54 109 40 40 19 19 52 71 123 59 59 53 23 76 83 15 98 22 22 20 20 Nilai 9 2.032.635.29 1. Buru 2009 2010 Jumlah 454 Kab.499.87 898.29 670.027.70 14.61 580.871.258.080.883.01 954.72 225.502.82 5.224.80 76.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 443 2 3 2010 Jumlah 444 Kab.290.032.756.37 160.02 3. Gorontalo Utara 2009 139 .801.815.557.384.24 23.801.879.715.61 29.37 49.61 63.013.51 145.87 - Kab.871.66 47.60 2.830.36 21.61 580.99 161.027.10 195.554.149.

43 246.755.23 2.11 13.16 13.908.36 660.037.518.14 813.22 3.58 4 28 32 17.57 641.10 518. Seram Bagian Timur 2009 2010 Jumlah 96 96 66 65 131 59 59 113 151 264 80 120 200 27.848.93 12.593.88 61.593.567.567.54 441.194.398.532.251.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 13.84 1.75 22 22 1.750.22 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 35 8 43 45 45 Nilai 9 4.18 19.937.205.781.680.137.416.29 27.470.06 13 13 2.76 3. Maluku gara Barat Teng4 165 59 224 111 79 190 Nilai 5 67.47 - 460 Kab.47 2.62 834.47 - - - - 64 64 17.593.452.194.844.629.332.750. Maluku Tengah 3 2009 2010 Jumlah 457 Kab.63 65 80 145 545.14 27.050.85 352.908.591.50 818.33 15.14 27.16 607.500.16 1.80 - 458 2009 2010 Jumlah 74 37 111 806.65 2.050.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 456 2 Kab.419.56 250.086.789.14 - - - - 96 96 27.280.736.84 1.14 817.55 281.94 16 16 6.00 459 Kab. Halmahera Selatan 466 2009 2010 Jumlah 103 80 183 553.52 16.88 44.75 467 Kab.621.865.75 51.094.593.593.450.21 42 37 79 801.419.00 630.80 13.230.22 292.593.339.773.593.63 6.844.87 615.22 242.14 27.122.21 2.446.45 601.381.17 51.13 281.41 31. Maluku Barat Daya 2009 2010 Jumlah 64 64 17.723.310.25 1.731.61 601.50 813.11 45.448.376.Halaman 37 . Maluku Tenggara 2009 2010 Jumlah Kab.657.755.452.38 579.22 196.861.745.578.62 827.90 62.230.122.449.077.50 14.310.06 19 19 2. Maluku Utara 2009 2010 Jumlah 465 Kab.252.47 17.26 10 10 6 6 35 56 91 224.10 5.602.330.875.861.26 607.08 Jml 6 60 5 65 61 61 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 27.937.061.22 3.452.29 55.67 3.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 70 46 116 5 79 84 Nilai 11 35.844.399.14 27.93 54.72 195.56 47.22 574.501.448.31 60.853.02 114 24 138 67.45 98.14 - 461 Kab.43 224.862. Halmahera Barat 2009 2010 Jumlah Kab.593.731.76 4 25 29 9.25 140 .15 1.500.78 630.47 4.43 47.49 58.483.745.78 2.53 60.05 72. Halmahera Tengah 2009 2010 Jumlah 122 77 199 94.85 302.492.844.934.14 107.21 574.741.188.94 1. Seram Bagian Barat 2009 2010 Jumlah 96 96 27.36 58.487.46 12 12 7 7 30 3 33 4.452.65 517.767.29 196.72 44.56 49.865.47 17.63 96 96 44 65 109 59 59 100 151 251 15 61 76 27.97 462 Kota Ambon 2009 2010 Jumlah 463 Kota Tual 2009 2010 Jumlah 464 Prov.46 150.72 250.011.07 5.

171.977.74 10.741.229.18 12.338.37 186.31 42.322.468.130.00 55.15 17.090.64 281.498.433.59 15.31 2.00 66.993.030.45 496.570.60 392.545.061.49 1.613.52 430.549.61 200. Halmahera Utara 2009 2010 Jumlah 470 Kab. Papua 2009 2010 Jumlah 475 Kab.61 79.305.21 4.252.117.471.560.53 178.937.927.86 4.954.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 960.72 276.51 54.190.119.241.053.185.89 1. Pulau Morotai 2009 2010 Jumlah 472 Kota Ternate 2009 2010 Jumlah Kota Tidore Kepulauan 4 108 112 220 76 103 179 99 73 172 30 30 137 49 186 Nilai 5 1.434.71 1.386.182.005.195.080.55 3.680.163.35 1.61 65.751.62 67.75 60.615.863.146.16 754.02 8.78 131.79 21.45 754.347.79 6.524.79 850.56 10.39 888.090.64 29.748.43 9.068.50 281. Boven Digoel 2009 2010 Jumlah 478 Kab.35 758.21 62.220.19 98.090.01 5.658.94 231.129.59 11.532.305.274.090.66 2.55 1.65 9.60 858.Halaman 38 .487.906.27 52.63 11.949.273.84 28.354.60 210.19 28.26 1.25 125.967.098.42 303.470.769.09 182.350.18 13.799.191.35 9.908. Jayawijaya 2009 2010 Jumlah 480 Kab.523.00 501. Biak Numfor 2009 2010 Jumlah 477 Kab.54 119. Kepulauan Sula 2009 2010 Jumlah 471 Kab.90 72 13 85 34 46 80 34 34 22 10 32 23 16 39 16 9 25 16 67 83 24 21 45 56.557.498.880.67 970.42 71.15 1.64 10.91 5.55 864.31 - 862.735.897.85 10.187.22 30.215.38 313.55 5.93 6.751.78 744.418.440.35 9.12 59.090.16 9.694.50 9.91 7.30 2.503.665.323.053.305.23 128.073.03 1.15 4.74 32.90 259.501.875.744.817.622.95 55.855.61 21.97 41.878.02 65.14 929.05 Jml 6 10 4 14 15 15 12 12 74 23 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 107.05 24.863.38 14.23 1.42 114.09 196.894.53 1.213.22 6.58 9.19 10.55 5 101 106 3 3 15 15 3 3 1 3 4 8 8 1 1 - 1.43 727.32 133.07 422.86 744.821.141. Jayapura 2009 2010 Jumlah 479 Kab.799.327.50 374.949.85 128.129.02 51.55 1.08 309.43 24.16 7.76 9.24 108.22 7.31 9. Asmat 2009 2010 Jumlah 476 Kab.800.470.61 1.165.796.09 733.49 24.76 948.058.12 6.17 151.595.52 67.048.167.70 2.20 225.469.51 61.538.098.51 3.76 13. Halmahera Timur 2009 473 2009 2010 Jumlah 104 114 218 80 105 185 46 15 61 42 24 66 33 37 70 23 26 49 30 102 132 42 50 92 367.29 193.300.57 474 Prov.15 3.71 1.907.665.013.34 27 27 46 56 102 12 12 20 11 31 9 18 27 7 9 16 14 34 48 18 29 47 309.00 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 83 105 188 38 103 141 70 73 143 30 30 19 19 Nilai 11 1.72 392.32 68.44 1.274.447.819.266. Keerom 2009 2010 Jumlah 141 .85 16.54 28.60 Kab.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 15 3 18 23 23 17 17 44 26 70 Nilai 9 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 468 2 3 2010 Jumlah 469 Kab.20 10.40 97.010.204.304.724.02 150.609.863.225.878.898.58 58.397.64 48.12 402.23 318.31 2.74 1.08 27.610.78 3.568.506.937.081.00 188.89 132.

870. Merauke 2009 2010 Jumlah 483 Kab.00 21.163.83 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.37 141.747.158.47 73.425.61 504.930.636.55 3.78 303.274.56 271.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 1 34 34 1 17 18 4 4 Nilai 11 3.36 415.831.10 20.829.395.07 73.37 879.87 916.84 1.154.00 225.068.18 5.271.32 1.28 43.891.142.05 974.822.374.50 19.28 365.84 624.28 385.058.000.00 486 2009 2010 Jumlah 15 43 58 44 68 112 32 24 56 53 55 108 32 22 54 53 53 106 78 61 139 32 53 85 13.611.38 72.95 218.34 688.17 47.950.29 211.20 885.84 129.44 317.641.533.55 634.76 126.452.85 156.36 1.18 76.290.560.963.332.432.35 114.16 26. Pegunungan Bintang 4 23 41 64 50 57 107 37 75 112 46 52 98 23 41 64 Nilai 5 266.738.59 1.00 290.738.207.43 1.32 768.76 20.76 233. Supiori 2009 2010 Jumlah 490 Kab.50 904.00 21.623.782.86 5.48 331.86 965.577.45 125. Puncak Jaya 2009 2010 Jumlah 488 Kab.20 25.84 25.125.84 740.02 Jml 6 19 14 33 7 44 51 22 25 47 25 13 38 6 18 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 253.79 2.899.108.72 26.23 12.00 237.60 1.54 34.48 310.528.193.48 42.796.39 291.597.42 4.00 11.336.514.95 134.24 1.611.45 49. Yahukimo 2009 2010 Jumlah 493 Kab.10 290.216.576.712.39 312.930.Halaman 39 .356.75 36.151. Mappi 3 2009 2010 Jumlah 482 Kab.16 620.63 11.669.271.255.83 12.04 1.40 288.82 667.67 632.51 225.032.596.011.63 19.81 167.111.01 1.99 25. Sarmi 2009 2010 Jumlah 489 Kab.05 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 27 31 42 13 55 15 16 31 20 22 42 17 19 36 Nilai 9 13.98 24.666.624.714.546.020.445.72 53.29 487 Kab.623.61 2.10 54.27 116.163.127.470.10 21.43 13.072.433.604.23 33.429.459.605.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 481 2 Kab.732.83 233.83 5.66 42.50 1.00 5 1 6 12 31 43 15 23 38 25 36 61 17 18 35 18 43 61 41 22 63 16 23 39 13.63 10.272.99 325.63 862.48 3.51 50.125.00 25.37 41.339.51 303.66 29.04 196. Paniai 2009 2010 Jumlah Kab. Mimika 2009 2010 Jumlah 484 Kab.800.80 91.23 27.14 30.33 893.80 135.606. Waropen 2009 2010 Jumlah 492 Kab.858.87 862. Nabire 2009 2010 Jumlah 485 Kab.404.532.712.57 106.62 23.703.18 3.339.505.84 740.05 974.956.459.55 634.043.23 163.032.87 83.930.89 489.067.072.09 55.870.95 88.437.266.59 3.70 87.007.26 258.69 131.67 143.50 3. Tolikara 2009 2010 Jumlah 491 Kab.956.873.514.55 316.930.00 10.00 504.200.19 156.47 15.123.82 529.624.549.79 2.23 754.001. Kepulauan Yapen 2009 2010 Jumlah 142 .470.09 133.890.50 92.76 34 34 3 3 1 1 1 19 20 25 25 26 26 5 2 7 2.155.09 28.83 217.83 411.66 89.942.986.18 106.096.439.95 673.956.35 941.138.669.87 211.431.764.60 10 8 18 29 37 66 17 17 27 27 15 4 19 10 10 20 37 13 50 11 28 39 27.

40 119.99 2.24 1.22 123.13 45.29 2. Raja Ampat 2009 2010 Jumlah 504 Kab.85 17.144.265.01 4.06 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 17 17 49 24 73 2 2 17 17 2 2 1 1 44 34 78 29 6 35 20 20 7 7 Nilai 9 23.354.80 23.282.41 39.177.198.65 623.743.67 23.50 58.262.18 76.60 582. Sorong 2009 2010 Jumlah 505 Kab.11 3.28 60.81 694.82 145.40 145.236.11 3.11 3.Halaman 40 .144.06 8.60 582.770.499.28 35.59 2.109.743.823.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 494 2 Kab.69 231.70 149.770.021.43 12.99 74.884.54 31.205.92 48.65 1.976.549.742.926.68 3.43 350.54 3.74 17.06 89.53 12.00 513.215. Nduga 2009 2010 Jumlah 496 Kab.127.22 873.761.17 28.46 623.42 464.854.911.315.952.80 8.49 8.41 11.575.785.56 8.769.40 14.841.11 3.09 231.021.111.84 14.67 1.98 3.512.435.911.68 1.417.621.54 12.538.30 39.127.571.021.67 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 35 35 20 20 5 5 1 1 203 76 279 75 63 138 61 57 118 127 45 172 32 8 40 36 24 60 7 54 61 155 58 213 Nilai 11 39.476.670.38 25.40 23.81 145.48 513.021.95 8.447.417.36 5.49 22.982.200. Sorong Selatan 2009 2010 Jumlah 506 Kab.362.116.854.46 15.35 4.47 104.417.09 45.461.00 145.78 Jml 6 21 21 14 14 43 6 49 3 3 42 42 12 12 1 1 25 20 45 49 55 104 54 54 30 30 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.70 4.86 874.929.447.512. Papua Barat 2009 2010 Jumlah 500 Kab.670.552.58 55.48 3.746. Dogiyai 2009 2010 Jumlah 498 Kota Jayapura 2009 2010 Jumlah 499 Prov.982.08 8.48 3.41 11.44 22.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 5. Lany Jaya 2009 2010 Jumlah 497 Kab.847. Teluk Bintuni 2009 2010 Jumlah 4 34 34 35 35 20 20 36 36 93 30 123 208 76 284 134 63 197 75 57 132 129 45 174 101 62 163 114 85 199 81 54 135 192 58 250 Nilai 5 46.17 128.79 78.48 623.96 3.391.33 454.423.408.476.06 1.43 11.49 4.85 15.440.681.935.09 48.423.023.374.81 873.96 16.612.86 14.06 11.315.60 694.200.99 123.46 3.552.952.24 409.00 1.75 4.738.728.767.60 454.184.376.552.95 2.41 39.387.841.884.18 76.46 90.913.36 1.98 1.59 4.95 46.86 28.184.00 145.571.49 3.57 5. Fakfak 2009 2010 Jumlah 501 Kab.487.62 14.35 9.00 350.417.92 195.512. Manokwari 2009 2010 Jumlah 503 Kab.61 45.40 128.432.243.400.198.95 17.46 3.497.50 12.43 11.31 3.30 46.36 2.844.67 6.188.46 623.55 31.81 143 .28 145. Mamberamo Raya 3 2009 2010 Jumlah 495 Kab.262.785.325.447.538.325.612.49 30. Kaimana 2009 2010 Jumlah 502 Kab.49 26.85 16.447.33 30.496.

00 - Rp27.110.49 Jml 6 3 3 23 23 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.987.59 23.933 Nilai 5 79.583. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.Halaman 41 .635.075 USD 4.59 29.43 7.83 - Keterangan 1.110.827.28 14.520.43 78. Teluk Wondama 2009 Rp68.865.520.957.90 15.35 USD 466.633.987.85 122.792.280 USD 2.68 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 176 176 43 96 139 Nilai 11 78.11 24.13 USD 4.578 USD 473.510.21 15.75 - Rp17.009.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 507 2 3 2010 Jumlah 508 Kota Sorong 2009 2010 Jumlah Total 4 179 179 66 96 162 66.00 Kab.85 6.91 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 122.28 79. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 144 .80 Rp22.385.228.64 26.821.375.11 16.85 122.68 6.85 Rp807.510.896.

474.50 USD 37.07 45.82 18 64.662.82 - 18 - 64.773.21 USD 32.10 USD 37.493.705.76 - Jumlah 46 - 6 PT PGN 2009 2010 Jumlah - 7 PT Bukit Asam 2009 22 64.07 - 10.82 4 - - - 72.857.474. BHMN.22 59 26 85 - - 10 10 - - 108 113 221 - 8.04 - 11 - 15.07 19.59 8 10.81 23.79 8 PT Pertamina 2009 177 - 8.392.81 23.493.40 USD 32.477.55 1 - 10.489.155.55 - 26 27 - 19.58 USD 7.Lampiran 52 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 BUMN.773.07 - 8 - 10.58 2010 Jumlah 22 - 64.489.76 2010 26 - 19.771.04 11 15.662.701.50 USD 37.392.489.82 - 4 - - - - USD 7.489.79 72.701.40 USD 32.477. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PT Aneka Tambang 3 4 Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 1 2009 2010 Jumlah 2 PT Sarana Karya 2009 2010 Jumlah 3 PT Timah 2009 2010 Jumlah 4 PT EMI 2009 2010 Jumlah 5 5 5 5 - 5 PT PLN 2009 20 26.22 - 2010 Jumlah 139 316 - 9 PT Garuda Indonesia (Persero) 2009 2010 Jumlah 19 19 - - - - - 19 19 - - 10 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 145 .705.50 USD 37.22 14.392.22 14.21 USD 32.392.Halaman 1 .701. dan KKKS (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.771.

Halaman 2 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 11 2 PT Angkasa Pura I (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Angkasa Pura II (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

12

2009 2010 Jumlah

42 42

342.623,80 342.623,80

-

-

-

-

42 42

342.623,80 342.623,80

-

13

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

43 43 -

733.674,86 733.674,86 -

3 3 -

525.917,75 525.917,75 -

-

-

40 40 -

207.757,11 207.757,11 -

-

14

Perum Damri

2009 2010 Jumlah

15

Perum PPD

2009 2010 Jumlah

16

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

17

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

18

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)

2009 2010 Jumlah

6 6

17.610,31 17.610,31

-

-

-

-

6 6

17.610,31 17.610,31

-

19

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

20

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

21

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)

2009 2010

33 29 -

707.301,10 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 821.142,37 USD 152.95 SGD 1,320.75

4 4 -

141.353,84 141.353,84 -

-

-

29 29 58 -

565.947,26 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 679.788,53 USD 152.95 SGD 1,320.75

-

Jumlah

62 -

146

Halaman 3 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 22 2 PT Djakarta Lloyd (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

23

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

24

PT Pengerukan Indonesia (Persero)

2009

23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

-

-

-

23 23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

2010 Jumlah

23 -

25

PT Indra Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

26

PT Brantas Abipraya (Persero)

2009 2010 Jumlah

30 30

188.627,04 188.627,04

-

-

-

-

30 30

188.627,04 188.627,04

-

27

PT Amarta Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

28

PT Adhi Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

29

PT Wijaya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

26 26 -

129.073,04 USD 11,498.63 129.073,04 USD 11,498.63 605.439,69 605.439,69 -

9 9 3 3 -

1.932,18 1.932,18 -

13 13 14 14 -

119.992,86 USD 11,498.63 119.992,86 USD 11,498.63 -

4 4 4 4 -

7.148,00 7.148,00 605.439,69 605.439,69 -

2.299,88 2.299,88 -

30

PT Jasa Marga (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21 -

31

PT Virama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

32

PT Nindya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

22 22

138.875,33 138.875,33

-

-

-

-

22 22

138.875,33 138.875,33

-

33

PT Hutama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

147

Halaman 4 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 12.671,11 12.671,11 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 34 2 PT Indah Karya (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 35 PT Istaka Karya (Persero) 2009 2010 Jumlah 36 Perum Perumnas 2009 2010 Jumlah 4 30 30

Nilai 5 12.671,11 12.671,11

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 30 30

Nilai 11

37

PT Pembangunan Perumahan (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

37.692,71 37.692,71

7 7

28.955,84 28.955,84

14 14

8.736,87 8.736,87

3 3

-

27.665,96 27.665,96

38

PT Yodya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

39

PT Waskita Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

40

PT Bina Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

41

Perum Produksi Film Negara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

42

PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

43

PT Kawasan Industri Medan (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

44

PT Kawasan Industri Makassar (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

45

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

148

Halaman 5 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 46 2 PT Hotel Indonesia Natour (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

47

2009 2010 Jumlah

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

-

-

-

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

48

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)

-

-

-

-

-

-

-

-

-

49

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

50

PT Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

51

Perum LKBN Antara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

52

PT Dirgantara Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

-

-

-

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

53

PT Pindad (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

54

PT PAL Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

55

PT LEN Industri (Persero)

2009 2010 Jumlah

149

Halaman 6 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 56 2 PT Krakatau Steel (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Boma Bisma Indra (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

57

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

58

PT Dahana (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

59

PT Barata Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

60

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

61

PT Industri Kereta Api (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

62

PT Batan Teknologi (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

63

PT Bio Farma (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21

2.148,65 2.148,65

11 11

50,70 50,70

5 5

2.097,95 2.097,95

5 5

-

-

64

PT Kimia Farma (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

35 35

90.176,31 90.176,31

-

-

-

-

35 35

90.176,31 90.176,31

-

65

PT Indofarma (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

47.791,78 47.791,78

-

-

-

-

29 29

47.791,78 47.791,78

-

66

PT Semen Gresik (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

67

PT Semen Kupang (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

150

Halaman 7 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 68 2 PT Semen Baturaja (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) 4 19 19

Nilai 5 10.012,78 10.012,78

Jml 6 7 7

Nilai 7 -

Jml 8 6 6

Nilai 9 6.046,39 6.046,39

Jml 10 6 6

Nilai 11 3.966,39 3.966,39

69

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

70

PT Industri Kapal Indonesia (Persero)

2009

21 -

15.722,54 USD 212,229.82 15.722,54 USD 212,229.82

3 3 -

2.436,30 2.436,30 -

16 16 -

4.786,24 USD 212,229.82 4.786,24 USD 212,229.82

2 2 -

8.500,00 8.500,00 -

-

2010 Jumlah

21 -

71

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

2009

24 -

11.361,10 USD 788.28 11.361,10 USD 788.28

9 9 -

861,86 861,86 -

9 9 -

7.867,79 7.867,79 -

6 6 -

2.631,45 USD 788.28 2.631,45 USD 788.28

-

2010 Jumlah

24 -

72

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

73

PT Primissima (Persero)

2009 2010 Jumlah

74

PT Industri Gelas (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

6.282,19 6.282,19

-

-

-

-

29 29

6.282,19 6.282,19

-

75

PT Garam (Persero)

2009 2010 Jumlah

76

PT Perkebunan Nusantara I

2009 2010 Jumlah

77

PT Perkebunan Nusantara II

2009 2010 Jumlah

78

PT Perkebunan Nusantara III

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

151

Halaman 8 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 80.223,60 80.223,60 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 79 2 PT Perkebunan Nusantara IV 3 2009 2010 Jumlah 80 PT Perkebunan Nusantara V 2009 2010 Jumlah 81 PT Perkebunan Nusantara VI 2009 2010 Jumlah 82 PT Perkebunan Nusantara VII 2009 2010 Jumlah PT Perkebunan Nusantara VIII 4 9 9 -

Nilai 5 113.240,26 113.240,26 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 4 4 -

Nilai 9 33.016,65 33.016,65 -

Jml 10 5 5 -

Nilai 11

83

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

84

PT Perkebunan Nusantara IX

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

85

PT Perkebunan Nusantara X

2009 2010 Jumlah

86

PT Perkebunan Nusantara XI

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

87

PT Perkebunan Nusantara XII

2009 2010 Jumlah

40 40

65.759,10 65.759,10

-

-

-

-

40 40

65.759,10 65.759,10

-

88

PT Perkebunan Nusantara XIII

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

89

PT Perkebunan Nusantara XIV

2009 2010 Jumlah

31 31 37 -

139.991,06 139.991,06 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

4 4 3 3 -

-

9 9 34 34 -

47.839,48 47.839,48 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

18 18 -

92.151,57 92.151,57 -

-

90

Perum Perhutani

2009

2010 Jumlah

37 -

91

PT Inhutani I

2009 2010 Jumlah

-

152

Halaman 9 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 19.207,08 19.207,08 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 92 2 PT Inhutani II 3 2009 2010 Jumlah 93 PT Inhutani III 2009 2010 Jumlah 94 PT Inhutani IV 2009 2010 Jumlah 95 PT Inhutani V 2009 2010 Jumlah 96 PT Sang Hyang Seri 2009 2010 Jumlah 97 PT Pertani (Persero) 2009 2010 Jumlah PT Perikanan Nusantara (Persero) 4 24 24 8 8

Nilai 5 19.207,08 19.207,08 1.976,30 1.976,30

Jml 6 5 5

Nilai 7 1.976,30 1.976,30

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 24 24 3 3

Nilai 11

98

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

99

PT Rajawali Nusantara Indonesia

2009 2010

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

18 18 -

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60 458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

-

Jumlah

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

100

Perum Prasarana Perikanan Samudera

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

101

PT Pupuk Sriwijaya

2009 2010 Jumlah

1 1

-

-

-

-

-

1 1

-

-

102

PT Kertas Kraft Aceh

2009 2010 Jumlah

12 12 -

218.834,69 218.834,69 -

1 1 -

-

10 10 -

107.535,64 107.535,64 -

1 1 -

111.299,04 111.299,04 -

-

103

PT Kertas Leces

2009 2010 Jumlah

153

Halaman 10 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 104 2 Perum PNRI 3 2009 2010 Jumlah 105 Perum Peruri 2009 2010 Jumlah 106 PT Balai Pustaka 2009 2010 Jumlah PT Pradnya Paramitha 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

107

2009 2010 Jumlah

41 8 49 14 14 51 51

9.593,54 9.593,54

32 32

466,60 466,60

41 8 49 14 14 16 16

9.126,94 9.126,94

3 3

-

5.794,01 5.794,01

108

PT BNI

2009 2010 Jumlah

109

PT BRI

2009 2010 Jumlah

110

PT Bank Mandiri

2009 2010 Jumlah

111

PT BTN

2009 2010 Jumlah

112

PT Jamsostek

2009 2010 Jumlah

113

PT Taspen

2009 2010 Jumlah

114

PT Asuransi Kesehatan

2009 2010 Jumlah

20 20 -

223.169,20 223.169,20 -

8 8 -

881,48 881,48 -

11 11 -

221.507,13 221.507,13 -

1 1 -

780,58 780,58 -

-

115

PT Jasaraharja

2009 2010 Jumlah

116

PT Asuransi Jiwasraya

2009 2010 Jumlah

117

PT Jasindo

2009 2010 Jumlah

154

10 4 4 9.879.388.049.348.60 36.049.348.45 USD 570.388.46 - 127 Perum Jaminan Kredit Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 128 PT Kliring Berjangka Indonesia 2009 2010 Jumlah 10 10 36.46 160.509.50 9. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 118 2 PT Asuransi Kredit Indonesia 3 2009 2010 Jumlah PT Asuransi Ekspor Indonesia 4 - Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 119 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 120 PT ASABRI 2009 2010 Jumlah 121 PT Reasuransi Umum Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 122 PT Bahana PUI 2009 2010 Jumlah 123 PT Danareksa 2009 2010 Jumlah 124 Perum Pegadaian 2009 2010 Jumlah 125 PT Permodalan Nasional Madani 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 126 PT PANN Multi Finance 2009 2010 Jumlah 20 20 - 160.45 USD 570.60 6 6 26.10 26.049.509.049.46 - - - - 20 20 - 160.45 USD 570.46 160.348.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.348.879.50 - - - 129 PT Sarana Multi Infrastruktur 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 .Halaman 11 .45 USD 570.

91 - - 135 PT Pos Indonesia 2009 2010 Jumlah 136 PT Sarinah 2009 2010 Jumlah 137 PT Sucofindo 2009 2010 Jumlah 138 PT Berdikari 2009 2010 Jumlah 139 PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 140 PT Surveyor Indonesia 2009 2010 Jumlah 141 PT Varuna Tirta Prakasya 2009 2010 Jumlah 142 PT Bhanda Ghara Reksa 2009 2010 Jumlah 156 .710. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 130 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 4 131 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) 2009 2010 Jumlah 77 77 205.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.08 48.571.10 203.08 132 Perum Bulog 2009 2010 Jumlah 133 PT Survey Udara Penas (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 134 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 2009 2010 Jumlah 46 46 15 15 - 4.571.571.10 9 9 1.91 - 40 40 - - 6 6 - - 15 15 - 4.32 1.52 31 31 48.571.08 48.710.91 4.531.289.32 48.Halaman 12 .531.91 4.08 37 37 203.52 205.289.

21 402.994.Halaman 13 .21 402.897.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 150 Chevron Pacific Indonesia WK Pokan .21 - - 14 14 - 5 5 402.408.275.31 USD 7.450 Rp7.60 820 Rp5.884.320.03 USD 436.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 151 ConocoPhillips Indonesia Ltd.21 - 145 PPA 2009 2010 Jumlah Total BUMN 1.93 - 333 Rp1.50 SGD 1.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.03 USD 436.03 5 5 USD 436.523.657.75 EUR 8.75 EUR 8.75 - Rp119.056.291.12 USD 604.PSC 6 6 USD 436. WK South Natuna Sea B 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 152 ExxonMobile Oil Inc.17 USD 835.320.79 - BHMN (Badan Hukum Milik Negara) 146 BPMIGAS : 2009 2010 Jumlah Total BHMN Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) 147 BOB PT BSP Pertamina Hulu 2009 2010 Jumlah Chevron Pacific Indonesia Wilayah Kerja (WK) MFK . WK Bee 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 157 . Ltd.03 1 1 12 12 12 1 1 1 11 11 11 - 148 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 149 Chevron Pacific Indonesia WK Siak .11 USD 230.60 297 Rp806. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 143 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Perum Jasa Tirta I 3 2009 2010 Jumlah 4 144 Perum Jasa Tirta II 2009 2010 Jumlah 19 19 402.055.326.74 SGD 1.

Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 153 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 ExxonMobile Oil Inc.434.53 580.65 - - 161 Premier Oil WK Natuna Sea A 2009 2010 Jumlah 162 Star Energy Ltd.309. WK Kakap 2009 2010 Jumlah 163 Job (PSC) Costa Igl WK Gebang 2009 2010 Jumlah 164 PHE Costa . WK NSO 3 2009 2010 Jumlah 4 154 ExxonMobile Oil Inc.59 USD 1. WK Selat Panjang 2009 2010 Jumlah 11 11 - USD 2.53 - 2010 Jumlah 10 - 157 Medco E&P Malaca WK Area “A” North Sumatera 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 Pearl Oil WK Tungkal 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 159 Petrochina International Ltd.309.309. Ltd.65 USD 2. WK Pase 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 Kalila (Korinci Baru) WK Korinci 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 156 Kondur Petroleum WK Malacca Strait 2009 10 - 580.309.53 580. WK Jabung 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 Petroselat Ltd.53 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - 580.434.65 USD 2.59 USD 1.434. Ltd.59 USD 1.Halaman 14 .65 - - - - - 11 11 - USD 2.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Job P Costa International WK Gebang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 .59 USD 1.434.

33 1 1 - - - - 171 ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd. WK South East Sumatera 2009 2010 Jumlah 5 5 USD 910.17 2 2 - 5 5 USD 150.33 USD 910.17 USD 150. WK Brantas 2009 2010 Jumlah 175 Medco E&P Indonesia WK Lematang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 176 Medco E&P Indonesia WK Barisan Rimau 2009 2010 Jumlah 7 7 USD 150. WK Pangkah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 174 Lapindo Brantas Inc.33 USD 910. WK Corridor PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 172 Kangean Energy Indonesia WK Kangean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 173 HESS Pangkah Ltd.Halaman 15 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.17 - - - 159 .33 4 4 USD 910. WK ONWJ 2009 2010 Jumlah - 169 Camar Resource Canada WK Bawean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 170 CNOOC SES Ltd.17 USD 150. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 JOA (PSC) ConocoPhillips WK South Jambi Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 165 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 166 PHE South Jambi .Job P ConocoPhillips WK South Jambi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 167 PT SPR Langgak Langgak Riau 2009 2010 Jumlah 168 BP West Java Ltd.

Ltd.455. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Medco E&P Indonesia WK South&Central Sumatera Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 177 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 178 Petrochina Ltd.81 USD 7. Ltd.455.455.81 - - - - 10 10 USD 7.JOB P PEJ WK Tuban 2009 2010 Jumlah 10 10 USD 7. WK Bangko 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 179 Santos PTY.455.Halaman 16 .81 - 187 JOB (PSC) Talisman .JOB P GSIL WK Raja Block 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 185 JOB (PSC) Petrochina East Java WK Tuban 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - 186 PHE Tuban East Java .JOB P HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 183 JOB (PSC) Golden Spike WK Raja Pendopo 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 184 PHE Raja Tempirai . WK Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 180 Santos PTY.81 USD 7. WK Sampang 2009 2010 Jumlah 181 JOB (PSC) HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 182 PHE Jambi Merang .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.Ogan Komering WK Ogan Komering 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 .

WK Cepu Block 2009 2010 Jumlah 192 Seleraya Merangin Dua 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 193 Chevron Ind. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PHE Ogan Komering .Halaman 17 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 194 Chevron Ind. WK Seram Non Bula 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 196 Energy Equity WK Sengkang 2009 2010 Jumlah 197 Inpex WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah 198 Kalrez Petroleum WK Bula Seram 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 199 Medco E&P Indonesia WK Tarakan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 161 . WK Makassar Strait 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 195 Citic Seram Energy Ltd.JOB P TOKL WK Ogan Komering Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 188 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 189 JOA (PSC) Kodeco WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 190 PHE W Kodeco JOA P W Madura WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 191 Mobil Cepu Ltd.

53 SGD 5.53 SGD 5.76 USD 235.51 - - - - 12 12 USD 61.748. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Petrochina International (Bermuda) Ltd.JOB P PS WK Kepala Burung. Sulawesi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 204 PHE Medco Tomori .51 USD 61.53 SGD 5.53 SGD 5. Papua Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 200 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah Total E&P Indonesia WK Mahakam - - - - - - - - - 201 2009 10 - 3.30 3.424. Sulawesi 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah JOB (PSC) Petrochina Salawati WK Kepala Burung. Papua - - - - - - - - - 206 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 207 JOB (PSC) Total Tengah WK Tengah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 208 PHE Tengah K .51 USD 61.23 - - - - 2010 Jumlah 10 - 202 VICO WK Sangasanga 2009 2010 Jumlah - 203 JOB (PSC) Medco E&P Tomori WK Senoro Toili.848.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.848. Papua - - - - - - - - - 205 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah PHE Salawati .53 USD 235.76 USD 235.848.23 2.JOB P Tengah 2009 2010 Jumlah 12 12 USD 61.JOB P Medco WK Senoro Toili.30 - 2 2 - 2. WK Salawati Basin.51 - 209 PT Pertamina EP 2009 2010 Jumlah 162 .30 - 8 8 - 676.53 USD 235.30 676.748.424.Halaman 18 .848.

23 USD 150.35 USD 74.90 SGD 5. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.048.30 18 Rp2.51 - - Keterangan 1.59 USD 73.Halaman 19 .005.581.17 - 37 Rp580.780.BP Berau 2009 2010 Jumlah 212 BP Muturi 2009 2010 Jumlah 213 BP Wiriagar 2009 2010 Jumlah Total KKKS 76 Rp4.53 USD 1.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.748. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 210 Nilai 5 5 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 5 5 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Benuo Taka WK Wailawi Block 3 2009 2010 Jumlah 4 211 Tangguh .59 SGD 5. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 163 .30 21 Rp676.

68 28.907.08 USD 7.24 3 676.11 1 1 2 1 2 126 142 104.00 156 59.08 7.543.800.985.480.78 - 15 Operasional Bank Daerah 7 1.053.00 9.249.64 26 24.21 2 922.50 1 865.29 Rp2.652.82 735.40 5 2.538.43 280.79 7.231.01 14 Operasional RSUD 10 3.59 101.00 1 180.66 0.50 - 16 Operasional BUMD Lainnya 8 2.00 - 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 2 320.483.14 21 1 1 1 101 50 5.341.80 47 8.543.82 83.71 - Total Pemeriksaan Laporan Keuangan - 740 566.98 2 102.79 241.339.35 - 5 Pengelolaan Pendapatan 10 3.65 6 8.19 2 1.35 723.00 14.377.199.013 Rp1.54 - USD 7.179.077.72 101.338.625.72 1 25.246.96 - USD 7.32 505 123.33 88.943.249.71 6.799.11 146 107.864.89 102 35.480.00 60 84.71 465 75.18 15 3.77 101 35.457.660.40 2.136.58 37.707.852.899.60 9 29.98 22 16.06 Total PDTT - 1.51 235.169.345.574.936.190.349.61 115.97 1 1 0.69 - 6 Pelaksanaan Belanja - 1.236.023.54 1.46 76 Rp33.344.132.077.577.455.443.62 6.171.25 5.735.30 3 (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) 2.211 368.88 - Total Pemeriksaan Kinerja 62 84.531.53 14.88 - 12.31 32.535.11 147 107.74 33 15.497.73 - 17 PDTT Lainnya 46 47.249.12 857.602.06 155 59.10 Rp94.01 - TOTAL 2.543.70 - 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 48 36.224.132.33 8 645.020.377.01 13.000.453.54 314 Rp82.21 2 1 1 1 5 11 90 27.132.852.637.005.04 77 145.75 77 145.01 - 13 Operasional PDAM - 43 3.405.164 Lampiran 53 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kerugian negara/daerah/perusahaan No Pemahalan harga (Mark up) Entitas/Obriks Total kerugian negara/daerah / perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang pembayaran honorarium dan/ spesifikasi barang/ penggunaan uang/ atau biaya perjalanan jasa yang diterima barang untuk kepentdinas ganda dan atau tidak sesuai dengan ingan pribadi melebihi standar yang kontrak ditetapkan Jml Kasus Nilai (16) 83.432.37 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 4 28.341.788.47 1.543.141.660.856.82 15.499.82 77 11.19 6.98 7 7.44 3.52 0.37 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 60 84.29 2.76 50 9.486.03 248 Rp122.93 Rp33.44 26.18 410.020 175.51 1.64 258.69 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 5 1.313.115.88 140.531.91 60 84.551.79 140.91 1.480.787.42 11.265.94 7.01 Nilai (31) 14.50 USD 7.053.91 Rp59.518.dan pembayaran san aset negara/ atau melebihi man/piutang atau restitusi pajak atau daerah tidak sesuai ketentuan dana bergulir macet penetapan kompenketentuan dan sasi kerugian merugikan negara/ daerah Jml Kasus (29) 857.565.132.50 3 6.886.01 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .893.481.82 1.568.68 176 25.88 12.75 77.70 26 24.67 4 220.30 1.366.25 2.18 6 8.951.40 62.12 1 3.01 Rp151.976.65 211 47.93 42 23.501.57 Rp34.68 USD 7.12 28 28 10 4 1 7 1 2 25 53 - Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus Nilai (8) 7.20 114 9.169.95 - 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara - - - 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi - - - 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 1.92 3 7 67 157 2 5 145.43 1 1.40 USD 7.543.97 1 21.25 23.56 119 Rp168.053.52 90.136.269.24 721 Rp267.18 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah - 736 566.735.827.70 638.00 1 180.20 12.51 1 775.34 344.48 178.12 Rp857.349.62 437.996.146.86 122.29 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (15) 72 72 8 26 8 2 1 2 8 55 127 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (27) 1 1 1 Nilai (28) Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Penjualan/pertuKelebihan penetapan karan/penghapuBelanja tidak sesuai Pengembalian pinja.29 Rp18.72 (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai (7) 17 17 1 1 21 1 1 23 41 Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (30) 62.18 16 3.073.67 Rp17.115.93 2 102.543.87 339.952.16 269.585.98 - 12 Operasional BUMN 13 92.365.53 3 3 90 27.41 19 11.112.

50 12 Operasional BUMN 31 973.35 6.808.49 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 1 6.39 417.936.56 USD 53.24 524.49 19.27 299.673.28 5.38 1.155. pemanfaatan Penghapusan piutang jiban untuk meny.155.78 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 312.222.142.448.27 22 2.29 5 3.68 485.80 88.29 17 PDTT Lainnya 8 26.91 1 1 312.125.48 8.07 Rp50.87 3.00 9.00 3.30 154.05 781.04 72.572.52 2 119.768.233.35 15 Operasional Bank Daerah 15 38.48 5 Pengelolaan Pendapatan 12 8.40 USD 32.33 USD 32.09 28.264.00 1.447.01 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 14 4.727.43 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 165 .71 5 22.247.499.20 5 22.76 Rp1.32 14 43.45 22 8.499.29 2 154.549.24 312.21 Total PDTT 386 1.38 USD 20.78 190.764.704.646.695.005.29 1.075.409.76 10.92 8.284.117.43 13 Operasional PDAM 22 13.29 USD 32.59 54.67 426.897.697.556.79 23.174.704.80 84.00 426.021.Piutang/pinjaman atau Aset tidak diketahui kerjaan.260.619.214.35 33.997.836.47 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 128 461.60 2.04 19.010.120.655.46 Rp94.839.Lampiran 54 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan No Entitas/Obriks Total Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan Kelebihan pembayaran Rekanan belum melakdalam pengadaan sanakan kewajiban barang/jasa tetapi pemeliharaan barang Pembelian aset yang Aset dikuasai pihak lain pembayaran pekerjaan hasil pengadaan yang berstatus sengketa belum dilakukan seba.telah rusak selama masa gian atau seluruhnya pemeliharaan Pemberian jaminan Pihak ketiga belum dalam pelaksanaan pemelaksanakan kewa.192.49 2.43 TOTAL 526 Rp1.16 6 Pelaksanaan Belanja 221 106.792.00 Rp3.365.142.00 6 1.87 1.26 - 21 2 23 1 1 14 3 1 8 1 6 33 57 - 46.84 1 445.95 25 80.50 3.450.31 49.793.925.71 51.dana bergulir yang berpokeberadaannya barang dan pemberian tidak sesuai ketentuan erahkan aset kepada tensi tidak tertagih fasilitas tidak sesuai negara/daerah ketentuan Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Nilai (20) Jml Kasus Nilai (21) (22) Jml Kasus Nilai (23) (24) Nilai (25) Jml Kasus Nilai (6) 7 1 8 1 1 156 21 2 1 180 189 Rp79.51 1 1 500.52 504.49 1.38 Rp2.48 Total Pemeriksaan Kinerja 12 504.80 850.155.598.65 55.49 - USD 53.466.264.85 9 2 12.200.96 19 2.77 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 11 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 1 504.93 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 24 34.430.48 2 1 14.87 2 575.25 154.98 35 Rp24.17 3 382.893.525.750.59 4 70.014.269.00 92.91 Rp49.45 3 26.155.447.32 14 43.442.086.51 USD 20.12 Rp7.633.986.04 1 8 856.37 16 Operasional BUMD Lainnya 16 15.284.51 USD 20.38 2 - Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 7 89.00 3 521.661.03 1 524.95 24 80.50 2 18 32 17.895.37 6.155.696.45 3 3.97 239.711.788.12 2.48 504.315.834.365.00 4 1.88 7.95 2 18.816.32 6 6.218.450.11 2 3.50 8.691.52 8 1 3 1 4 7 8 1 9.40 47 Rp88.679.839.50 1.315.11 2 3.813.37 14 Operasional RSUD 1 28.385.71 17 1 2 30 35 14.61 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 20 5.81 USD 53.76 2 1 3 1 1 1 3 6 - 8.261.235.99 15 1 11 5 72 114 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 40 1 41 1 1 7 10 1 22 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 121 371.688.375.625.450.704.67 Rp290.700.67 100.33 4.575.500.

45 24.12 3 844.58 1 16.Koreksi perhitungan Kelebihan pemtelah ditetapkan belum atau digunakan oleh jak/PNBP lebih rendah bagi hasil dengan bayaran subsidi oleh masuk ke kas Daerah instansi yang tidak dari ketentuan KKKS pemerintah berhak Lain-lain Jml Kasus Nilai (6) 173.88 5.736.77 9.08 1 8.771.25 Rp1.76 2.099.12 3 94.25 Nilai Nilai (20) 276.12 15.230.039 USD 29.31 45 Rp19.45 USD 10.458.792.636.54 Rp1.41 61.32 6 Rp328.805.71 35.08 1 8.35 2.305.474.89 17.42 2 Rp8.495.51 2 2 40 4 9.71 66.261.832.20 2.166 Lampiran 55 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kekurangan Penerimaan Total Kekurangan Penerimaan Penggunaan langsung Penerimaan Negara/ Daerah No Nama Entitas Penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke Kas Negara/Daerah atau perusahaan milik negara/ daerah Penerimaan Negara/ Dana Perimbangan yang daerah diterima Pengenaan tarif pa.52 1 61 2 125.236.474.45 Rp276.915.05 18.84 99.067.872.71 1 1 15.401.154.80 5 476.54 USD 66.84 6.18 USD 95.508.823.736.43 8.84 17.108.14 175.73 17 Rp66.595.201.474.054.099.21 USD 29.14 175.602.88 16.792.76 9.59 2.835.221 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .072.52 30.16 3 233.099.29 209.73 35.65 1 108.771.38 2 643.84 91.545.810.508.364.12 31.00 3 33 49.401.12 3 94.261.29 249.33 3.71 3.949.77 550.62 4.63 90.474.913.54 1.044.77 482.02 9.639.514.023.76 4.072.72 895.23 5.793.766.615.98 375.36 1 196.33 3.71 1 Rp15.75 108 Rp92.84 Rp42.14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (18) (5) 325 10 335 14 14 218 348 2 13 31 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (19) 3 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (4) 213.14 66.84 Nilai (21) 6.59 17 17 65 30.21 USD 29.12 3 65 30.77 9.02 2.37 286.96 43 61.187.935.327 1 1.872.602.54 4 22 15 8 15 14 690 USD 29.261.42 9.51 33 18.508.73 USD 10.523.468.95 USD 95.262.92 USD 10.063.80 5 476.099.269.00 9.810.131.04 (1) (2) (3) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 402 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 10 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 412 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 14 4 Pengelolaan Hutan Mangrove - Total Pemeriksaan Kinerja 14 5 Pengelolaan Pendapatan 287 6 Pelaksanaan Belanja 357 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 2 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 13 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 31 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 17 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah - 12 Operasional BUMN 6 13 Operasional PDAM 26 14 Operasional RSUD 17 15 Operasional Bank Daerah 8 16 Operasional BUMD Lainnya 16 17 PDTT Lainnya 15 Total PDTT 795 TOTAL 1.868.595.04 223.099.261.992.16 2.34 29.099.57 2 549.53 276.19 108.

Halaman 1 .Lampiran 56 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010 Daftar LHP Jml Objek Pemeriksaan No PEMERIKSAAN KEUANGAN I Nama Entitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 15 Provinsi Sumatera Utara 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3 31 Provinsi Sumatera Barat 32 33 34 4 35 Provinsi Riau 36 37 38 39 40 41 42 Provinsi Aceh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LKPD Provinsi Aceh TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Besar TA 20009 LKPD Kabupaten Aceh Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tamiang TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Bireuen TA 2009 LKPD Kabupaten Simeulue TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Bener Meriah TA 2009 LKPD Kota Langsa TA 2009 LKPD Kota Subulussalam TA 2009 LKPD Kabupaten Batu Bara TA 2009 LKPD Kabupaten Deli Serdang TA 2009 LKPD Kabupaten Nias TA 2009 LKPD Kabupaten Nias Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Simalungun TA 2009 LKPD Kabupaten Toba Samosir TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Tengah TA 2009 LKPD Kota Binjai TA 2009 LKPD Kota Medan TA 2009 LKPD Kota Pematangsiantar TA 2009 LKPD Kota Padangsidimpuan TA 2009 LKPD Kota Sibolga TA 2009 LKPD Kota Tanjungbalai TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Mentawai TA 2009 LKPD Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 LKPD Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Solok Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkalis TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kampar TA 2009 LKPD Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 LKPD Kabupaten Rokan Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Siak TA 2009 LKPD Kota Dumai TA 2009 167 .

Lampiran 56 No 5 6 43 Provinsi Jambi 44 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Muaro Jambi TA 2009 LKPD Kabupaten Tanjung Jabung Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Banyuasin TA 2009 LKPD Kabupaten Empat Lawang TA 2009 LKPD Kota Pagar Alam TA 2009 LKPD Kota Prabumulih TA 2009 LKPD Provinsi Jawa Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bekasi TA 2009 LKPD Kabupaten Ciamis TA 2009 LKPD Kabupaten Cianjur TA 2009 LKPD Kabupaten Garut TA 2009 LKPD Kabupaten Indramayu TA 2009 LKPD Kabupaten Karawang TA 2009 LKPD Kabupaten Kuningan TA 2009 LKPD Kabupaten Majalengka TA 2009 LKPD Kabupaten Subang TA 2009 LKPD Kabupaten Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kota Bandung TA 2009 LKPD Kota Bekasi TA 2009 LKPD Kota Bogor TA 2009 LKPD Kota Cimahi TA 2009 LKPD Kota Depok TA 2009 LKPD Kota Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kabupaten Tegal TA 2009 LKPD Kota Pekalongan TA 2009 LKPD Kabupaten Lombok Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kupang TA 2009 LKPD Kabupaten Manggarai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Sikka TA 2009 LKPD Kabupaten Timor Tengah Utara TA 2009 LKPD Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkayang TA 2009 LKPD Kabupaten Kapuas Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kayong Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Landak TA 2009 LKPD Kabupaten Sekadau TA 2009 LKPD Kabupaten Sintang TA 2009 LKPD Kota Singkawang TA 2009 LKPD Kabupaten Seruyan TA 2009 LKPD Kabupaten Balangan TA 2009 LKPD Kabupaten Kotabaru TA 2009 45 Provinsi Sumatera Selatan 46 47 48 7 49 Provinsi Jawa Barat 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 8 9 10 68 Provinsi Jawa Tengah 69 70 Provinsi Nusa Tenggara Barat 71 Provinsi Nusa Tenggara Timur 72 73 74 11 75 Provinsi Kalimantan Barat 76 77 78 79 80 81 82 12 13 83 Provinsi Kalimantan Tengah 84 Provinsi Kalimantan Selatan 85 168 .Halaman 2 .

Halaman 3 .Lampiran 56 No 86 87 14 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Tanah Bumbu TA 2009 LKPD Kota Banjarbaru TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Kartanegara TA 2009 LKPD Kabupaten Malinau TA 2009 LKPD Kota Bontang TA 2009 LKPD Kota Samarinda TA 2009 LKPD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Tenggara TA 2009 LKPD Kota Tomohon TA 2009 LKPD Kabupaten Bantaeng TA 2009 LKPD Kabupaten Jeneponto TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Selayar TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Maros TA 2009 LKPD Kabupaten Sinjai TA 2009 LKPD Kabupaten Takalar TA 2009 LKPD Kabupaten Tana Toraja TA 2009 LKPD Kabupaten Toraja Utara TA 2009 LKPD Kota Palopo TA 2009 LKPD Kabupaten Bombana TA 2009 LKPD Kabupaten Buton Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kolaka Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Majene TA 2009 LKPD Provinsi Maluku TA 2009 LKPD Kabupaten Buru TA 2009 LKPD Kabupaten Buru Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara Barat TA 2009 LKPD Kota Ambon TA 2009 LKPD Kota Tual TA 2009 LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur TA 2008 LKPD Provinsi Maluku Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 88 Provinsi Kalimantan Timur 89 90 91 92 93 15 94 Provinsi Sulawesi Utara 95 96 97 16 98 Provinsi Sulawesi Selatan 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 17 109 Provinsi Sulawesi Tenggara 110 111 112 113 18 19 114 Provinsi Sulawesi Barat 115 Provinsi Maluku 116 117 118 119 120 121 122 123 124 20 125 Provinsi Maluku Utara 126 127 128 129 169 .

Jeddah. Jawa Tengah.Lampiran 56 No 130 131 132 21 133 Provinsi Papua 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 22 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 153 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Halmahera Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Sula TA 2009 LKPD Kota Tidore Kepulauan TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2009 LKPD Kabupaten Jayawijaya TA 2009 LKPD Kabupaten Mappi TA 2009 LKPD Kabupaten Merauke TA 2009 LKPD Kabupaten Mimika TA 2009 LKPD Kabupaten Nabire TA 2009 LKPD Kabupaten Paniai TA 2009 LKPD Kabupaten Puncak Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Sarmi TA 2009 LKPD Kabupaten Supiori TA 2009 LKPD Kabupaten Tolikara TA 2009 LKPD Kabupaten Waropen TA 2009 LKPD Kabupaten Yahukimo TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2008 LKPD Provinsi Papua Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Fakfak TA 2009 LKPD Kabupaten Manokwari TA 2009 LKPD Kabupaten Raja Ampat TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Teluk Bintuni TA 2009 147 Provinsi Papua Barat 148 149 150 151 152 153 II Laporan Keuangan Badan Lainnya 1 154 Kementerian Agama 155 2 156 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 1 1 LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1429 H/ 2008 M LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430 H/ 2009 M LK West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010 di Jakarta LK PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) TB 2009 di Surabaya LK Konsolidasi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009 di Batam LK PDAM Kota Padang TB 2009 3 4 157 PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 158 Badan Pengusahaan Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 1 1 5 159 Provinsi Sumatera Barat Jumlah LHP Keuangan 1 6 159 PEMERIKSAAN KINERJA III Tenaga Kerja Indonesia 1 160 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.Halaman 4 . Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI. Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota di DKI Jakarta. Singapura. dan Nusa Tenggara Timur Serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Riyadh. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. dan Kuwait 1 170 . Hongkonh.

Kantor Pelabuhan Jeneponto. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Dinas Pertanian. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di Jakarta. Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Sulawesi Selatan. Kantor Pelabuhan Sanana. Kantor Pelabuhan Sinjai. Pamekasan. Perkebunan Provinsi DKI Jakarta. dan Nusa Tenggara Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat. Kantor Pelabuhan Buli dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Administrator Pelabuhan Makassar. D. Jawa Barat. Aroeppala Selayar. Sikka dan Flores Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja di Lingkungan Sekretaris Jenderal. Pekalongan. Bandung dan Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Di Provinsi DKI Jakarta. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2 162 Kementerian Pertanian 1 3 163 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1 4 164 Kementerian Perhubungan 1 165 1 166 1 167 1 168 1 5 169 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 1 6 170 Kementerian Pekerjaan Umum 1 171 . Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. Kantor Pelabuhan Selayar. Kantor Bandar Udara H. I. dan Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Sulawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Peternakan.Halaman 5 . direktorat Jenderal Bina Marga. Kantor Pelabuhan Jampea.Lampiran 56 No Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum. Lampung. Administrator Pelabuhan Makassar. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur di Jakarta. Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Suawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Kantor Pelabuhan Biringkasi. Nusa Tenggara Barat. Pertanian. dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Keuangan. Energi. Rembang. Banten. Brebes. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas di Jakarta Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 pada Kementerian Pertanian. Provinsi Maluku Utara. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota di Wilayah Provinsi Jawa Tengah. direktorat Jenderal Cipta Karya. Provinsi DKI Jakarta. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang-Rembang di Provinsi Jawa Tengah Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah. Balai Embrio Ternak Cipelang Balai Inseminasi Buatan Lembang. Aroeppala Selayar. Probolinggo. Sulawesi Barat. Perhubungan. Provinsi Sumatera Utara. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Provinsi Papua. Kantor Bandar Udara H. Jawa Timur. Yogyakarta. Jawa Tengah. direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta IV Program Stimulus Belanja Infrastruktur 1 161 Kementerian Keuangan. dan Provinsi Papua Barat Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. Kantor Pelabuhan Gebe. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sampang.

SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah Ii. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan.Halaman 6 . Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi 172 1 173 1 174 1 175 1 176 1 177 1 172 . Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V di Surabaya.Lampiran 56 No 171 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Ii. dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air CimanukCisanggarung. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Semarang SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Jawa Tengah SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Jawa Tengah Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Jawa Tengah SKS Pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Semarang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Vii. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. Provinsi Jawa Timur. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy.

SNVT PJJ FakFak. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Program Stimulus Belanja Infratruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Kepahiang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Bina Marga Dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi Kabupaten Demak di Demak Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Kabupaten Nganjuk di Nganjuk Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di Tulungagung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek di Trenggalek 179 1 180 1 181 1 182 1 183 1 184 1 185 1 186 1 187 1 188 1 189 1 190 1 173 . SNVT PJJ Sorong dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI.Halaman 7 .Lampiran 56 No 178 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat.

Halaman 8 .d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Asahan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.d.Lampiran 56 No 191 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Kinerja atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur bidang Pekerjaan Umum tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangkaraya di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala di Marabahan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Donggala Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Parigi Moutong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Maros Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas PU Kab Halmahera Timur di Maba Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Prov Maluku Utara di Sofifi Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni 192 1 193 1 194 1 195 1 196 1 197 1 198 1 199 1 200 1 201 1 202 1 203 1 204 1 205 1 45 V Pengelolaan Hutan Mangrove 1 206 Kementerian Kehutanan 1 Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Deli Serdang 207 1 208 1 174 . 2010 ( Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Batu Bara serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Batu Bara Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.

2010 (Semester I) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bengkalis Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pertanian. Pelayanan Farmasi.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjung Pinang serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Tanjung Pinang Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian.d. dan Kehutanan Kota Batam serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Batam Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Karimun Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Riau.d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan.Lampiran 56 No 209 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Rokan Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Thalib Kabupaten Kerinci TA 2009 dan Semester I 2010 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 3 224 Provinsi Jambi 1 225 1 175 . dan Kepulauan Riau 210 1 211 1 212 1 213 1 214 1 215 1 216 1 217 1 218 1 219 1 220 1 15 VI Penyelenggaraan Ibadah Haji 1 221 Kementerian Agama 1 1 VII Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1 2 222 Provinsi Sumatera Barat 223 Provinsi Riau 1 1 Pelayanan Kesehatan RSUD DR.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bintan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Rekam Medik dalam Menunjang Pelayanan Kesehatan Paripurna Terpadu yang bermutu pada RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan.d.Achmad Mochtar Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Inap. 2010 (Semester I) pada Kementerian Kehutanan Beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Instansi Terkait Lainnya di Jakarta (Pusat) dan Provinsi Sumatera Utara. Rawat Inap. Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Dumai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.Halaman 9 . dan Pelayanan Non Medis pada RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektifivitas Pelayanan Farmasi. dan Farmasi dala menunjang Kesehatan yang Prima dan Paripurna pada RSU Mayjen H. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Langkat Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Serdang Bedagai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Pemeliharaan Peralatan. Perikanan. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Natuna Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.A.d.d.d.

2009 dan Semester I 2010 di Purbalingga Pemeliharaan Sarana Medis dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Atambua Kabupaten Belu Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Soebandi Kabupaten Jember TA 2009 dan 2010 di Jember Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan dan Instalasi Farmasi pada RSUD Kabupaten Jombang TA 2009 dan 2010 di Jombang Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSU Dr.d. Soewandhie TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pelayanan Medis di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Singaraja Pengelolaan Penunjang Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Kabupaten Gianyar Tahun Aggaran 2009 dan 2010 di Gianyar Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.Triwulan III 2010 pada RSUD Cengkareng Prov.C. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bengkulu Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Kota Pangkalpinang TA 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Pangkalpinang Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi TA 2009-s. Juni) pada RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan Efektivitas Pelayanan Farmasi.A. M. Sumber Daya Manusia. 2009 dan Semester I 2010 di Magelang Pelayanan Farmasi dan Rawat Jalan TA 2009 dan 2010 (s. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga T. dan Rawat Inap pada RSD Mardi Waluyo TA 2009 dan 2010 di Blitar Efektivitas Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap pada RSD dr.A. R. Saiful Anwar TA 2009 dan 2010 di Malang Efektivitas Pelayanan Farmasi. Harjono Kabupaten Ponorogo TA 2009 dan 2010 di Ponorogo Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSUD Dr. 2009 dan Semester I 2010 di Pemalang Kinerja Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Farmasi pada Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Kabupaten Semarang T. M. Hillers Kabupaten Sikka 5 6 228 Provinsi Bengkulu 229 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 7 230 Provinsi DKI Jakarta 1 8 231 Provinsi Jawa Tengah 1 232 1 233 1 234 1 9 10 235 Provinsi DI Yogyakarta 236 Provinsi Jawa Timur 237 1 1 1 238 1 239 240 241 1 1 1 242 1 243 11 244 Provinsi Bali 1 1 245 1 12 246 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 247 1 176 . dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah T.d.A. Sumber Daya Manusia. 2009 dan Semester I 2010 di Ungaran Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang T.Halaman 10 .DKI Jakarta Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR.Lampiran 56 No 4 Nama Entitas 226 Provinsi Sumatera Selatan 227 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Sekayu di Sekayu Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Dr.A. dan Rawat Inap pada RSUD Kabupaten Nganjuk TA 2009 dan 2010 di Nganjuk Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan TA 2009 dan 2010 di Pasuruan Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Dr. Ashari Kabupaten Pemalang T.

H.d. Sumber Daya Manusia. Semester I 2010 pada Kabupaten Mandailing Natal di Panyabungan Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan di Padangsidimpuan Pelayanan Kesehatan Pemerintah Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 265 1 2 266 Provinsi Sumatera Barat 1 3 VIII Pendidikan 1 267 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. 2009 dan 2010 pada RSUD Sanggau di Sanggau Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal RSUD Dr. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Soe di Soe Pelayanan Kesehatan TA.d 30 September) pada RSUD Undata di Palu Kegiatan Pelayanan Pasien TA 2009 dan 2010 (s. 2009 s. Aloei Saboe Kota Gorontalo Di Gorontalo Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008.Lampiran 56 No 248 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.d Triwulan III) pada RSUD Kabupaten Wajo Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Tani Dan Nelayan Kabupaten Boalemo Di Tilamuta Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof.Chasan Boesoreiree Provinsi Maluku Utara tahun 2009 dan Semester I tahun 2010 Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika TA 2009 di Timika Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Nabire TA 2009 di Nabire Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Manokwari di Manokwari Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong di Sorong 13 14 15 249 Provinsi Kalimantan Barat 250 Provinsi Kalimantan Tengah 251 Provinsi Kalimantan Selatan 1 1 1 16 17 18 19 252 Provinsi Kalimantan Timur 253 Provinsi Sulawesi Tengah 254 Provinsi Sulawesi Selatan 255 Provinsi Gorontalo 1 1 1 1 256 1 20 257 Provinsi Sulawesi Barat 1 21 258 Provinsi Maluku Utara 259 1 1 1 1 1 22 260 Provinsi Papua 261 23 262 Provinsi Papua Barat 263 1 42 Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 1 264 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Juni) di Sampit Kinerja Pengelolaan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Kotabaru Tahun Anggaran 2009 dan 2010 ( Sememster I) Efektivitas Pengelolaan Pelayanan Rawat Inap dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada RSUD Tarakan di Tarakan. 2009 s. Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Polewali Kinerja Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Soasio RSUD Dr. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi di Sidikalang Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Pelayanan Rawat Inap dan Instalasi Farmasi TA 2009 dan 2010 (s. H.d. Semester I 2010 pada Kabupaten Samosir di Pangururan 268 1 177 . Murjani TA 2009-2010 (s. Dr.d.Halaman 11 .

Kegiatan distribusi Air Bersih dan Kegiatan Penagihan dan Penanganan Tunggakan Serta Keluhan Pelanggan TA 2009 dan 2010 PDAM Kota Balikpapan di Balikpapan 9 178 .d.Lampiran 56 No 2 Nama Entitas 269 Provinsi Sumatera Barat 270 271 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kinerja Pendidikan Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Solok TA 2009 dan 2010 Pengelolaan Sarana.Halaman 12 . Triwulan III) Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar Dalam Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam Menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Minahasa Utara TA 2009 dan Semester I 2010 3 272 Provinsi Riau 4 273 Provinsi Kepulauan Riau 1 274 1 5 275 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 6 276 Provinsi Kalimantan Tengah 1 7 277 Provinsi Sulawesi Utara 1 278 1 Pengelolaan Sarana dan prasarana serta tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kepulauan Sangihe TA 2009 dan Semester I 2010 Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar untuk Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali TA 2009 dan Semester I 2010 di Bungku 8 279 Provinsi Sulawesi Tengah 1 13 IX Kinerja PDAM 1 2 3 280 Provinsi Jambi 281 Provinsi Bengkulu 282 Provinsi Lampung 283 4 284 Provinsi Jawa Barat 285 5 6 7 286 Provinsi Banten 287 Provinsi Kalimantan Barat 288 Provinsi Kalimantan Timur 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kinerja PDAM Tirta Mayang Kota Jambi Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) Kinerja PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2009 dan 2010 Semester I di Argamakmur Kinerja PDAM Way Bumi TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Way Rilau TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung TB 2009 dan Semester I 2010 di Cimahi Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor TA 2009 dan Semester I 2010 di Bogor Sistem Penyediaan Air Minum TB 2009 dan Semester I 2010 pada PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang di Serang Kinerja PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Tahun 2009 dan Semester I 2010 di Pontianak Efektivitas Pengelolaan Kegiatan Penyediaan Air Bersih. Prasarana dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dan Instansi Terkait TA 2009 Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Bintan di Kijang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik dalam Menunjang Pendidikan Dasar dan Menengah TA 2009 dan 2010 (Semester I) pada Pemerintah Kabupaten Karimun di Tanjung Balai Karimun Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Menunjang Program Pendidikan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.

Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang Pengelolaan Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Di Jakarta Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. dan Kepulauan Riau. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Kegiatan Bursa Pariwisata Internasional dan Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata TA 2008. 2009. Pelayanan Perijinan pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan Semester I TA 2010 Efektivitas Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait TA 2009 dan 2010 Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Penanggulangan Gizi Buruk pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung Kegiatan Pemeliharaan.Halaman 13 . dan Polda DIY di Bandar Lampung. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 Semester I pada PT Pertamina (Persero) Dit. Cilacap dan Balikpapan 289 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2 290 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1 3 4 291 Kementerian Pertahanan 292 Kementerian Keuangan 1 1 293 1 294 1 295 1 5 296 Kementerian Kehutanan 1 6 297 Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata 1 7 298 Kementerian Perumahan Rakyat 1 8 299 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 9 300 Provinsi DKI Jakarta 1 10 301 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 11 302 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 12 13 303 Provinsi Nusa Tenggara Barat 304 PT Pertamina (Persero) 1 1 179 . serta Perusahaan di Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. STNK. Polda Banten. Jawa Timur.Lampiran 56 No X Kinerja Lainnya 1 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang Pelayanan SIM. Serang dan Yogyakarta Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan di Jakarta Efektivitas Penyelenggaraan. BPKB (SSB) pada Polda Lampung.

Bengkulu. Jambi. D. DKI Jakarta. Provinsi NAD. Jambi. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Solok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (ditjen PMD) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Sumatera Utara. Jawa Barat dan Jawa Tengah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Jakarta. Bangka Belitung. Bengkulu. Sumatera Utara. Sumatera Utara. Sulawesi Selatan dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Kalimantan Selatan. Pekanbaru. Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan Serta Instansi Terkait Lainnya Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Parpol TA 2008 dan 2009 pada Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Sekretariat DPP Parpol di Jakarta dan Badan/ Kantor Kesbangpol di Provinsi dan Kabupaten/Kota.Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Medan. Bukittinggi dan Makasar Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan2010 pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Kalimantan Barat. Serta Sekretariat DPD dan DPC Parpol pada Provinsi Sumatera Utara. Kalimantan Barat.Medan 15 306 PT Perkebunan Nusantara II (Persero) 1 18 Jumlah LHP Kinerja PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU XI Pendapatan dan Pelaksanaan Belanja 1 307 Mahkamah Agung 147 1 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP serta Penerimaan Penanganan Perkara pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Wilayah DKI Jakarta. Bandung dan Semarang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung di Bandar Lampung Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak Pengelolaan Pendapatan dan Belanja (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta.Halaman 14 . Jawa Barat. Kalimantan Selatan.I.Lampiran 56 No 14 Nama Entitas 305 PT Garuda Indonesia (Persero) Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta Kinerja pada PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . Sumedang. Bangka Belitung. Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Budapest di Hongaria Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Kuala Lumpur di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Moskow di Rusia 2 308 Kejaksaan Republik Indonesia 1 309 1 310 1 3 311 Kementerian Dalam Negeri 1 312 1 313 1 314 1 315 1 4 316 Kementerian Luar Negeri 317 318 1 1 1 180 .

KPPBC Tipe A2 Banjarmasin. dan Medan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Pluit di Jakata Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing LIma di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batu di Malang Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Cibitung di Cibitung 6 324 TNI AL 1 325 1 7 326 TNI AU 1 8 327 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 1 9 328 Kementerian Keuangan 1 329 1 330 1 331 1 332 333 1 1 334 335 336 1 1 1 337 338 339 1 1 1 181 .Lampiran 56 No 319 320 321 322 5 323 Mabes TNI Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Seoul di Korea Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Ho Chi Minh City di Vietnam Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Johor Bahru di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Penang di Malaysia Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Staf Intelijen (SINTEL) TNI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) di Jakarta dan Bogor Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) dan jajaran terkait di Surabaya Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2007. Malang dan Madiun Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2009 dan 2010 dan Kerja sama Pihak Ketiga pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dan Instansi Terkait di Jakarta dan Cilacap Penerimaan Kepabenan dan Cukai Serta Penerimaan Negara Lainnya pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Batam. Gresik. Pematang Siantar. Bandung. Solo. Merak. Cibitung. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Merak. dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) dan jajaran terkait Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Koharmatau dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung. Parepare. Malang. KPPBC Tipe A2 Bandar Lampung dan KPPBC Tipe A3 Amamapare Di Jakarta. Banjarmasin.Halaman 15 . 2008. Bandar Lampung dan Timika Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya pada 16 (Enam Belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 dan 2010 DI Jakarta.

Padang. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kanwil DJP Jawa Barat II. Kanwil DJP Jawa Barat I. Lampung. Kanwil DJBC Sulawesi. dan Kanwil DJBC Jawa Barat Serta Instansi Vertikal dibawahnya Kementerian Keuangan TA 2009 dan 2010 di Jakarta. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank DKI Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank BJB Tbk.Lampiran 56 No 340 341 342 343 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Bandung Tegallega di Bandung Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batam di Batam Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Gresik Utara di Gresik Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Pematang Siantar di Pematang Siantar Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Parepare di Parepare Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat di Medan Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Mandiri (persero) Tbk. dan Surakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 Di Jakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Barat dan Jambi dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Padang dan Jambi 344 345 346 347 348 1 1 1 1 1 349 350 351 1 1 1 352 1 353 354 355 1 1 1 356 1 357 1 358 1 359 360 1 1 182 . Bandung. Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Kalimantan Bagian Barat. Bekasi. Makasar dan Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Serta Kanwil DJP Jawa Tengah II TA 2008 dan 2009 di Jakarta.Halaman 16 . Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 dan 2008 pada Bank Pembangunan Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Tengah Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Pemangunan Daerah Kalimantan Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Pengadaan Barang dana Jasa Pemerintah pada Kamtor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Pontianak.

Satuan Kerja Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli.d. dan Jawa Timur. Kalimantan Barat dan Lampung Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN TA 2009 dan 2010 pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta 362 1 363 1 364 1 10 11 365 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 366 Kementerian Perhubungan 1 1 12 367 Kementerian Pendidikan Nasional 1 13 368 Kementerian Agama 1 369 1 370 14 371 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 372 1 15 373 Kementerian Sosial 1 16 374 Badan Pertanahan Nasional 1 375 1 376 1 377 1 183 . Dinas Sosial Provinsi dan Instansi terkait di Jakarta. Triwulan III/2010) pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (BBPLKDN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Bandung Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Sosial.Halaman 17 .Lampiran 56 No 361 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu Dan Lampung dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Lampung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bekasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Surakarta Belanja Barang dan Belanja Modal BPH Migas TA 2009 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru. Kalimantan Selatan. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor di Cibinong. Jawa Barat. dan Satuan Kerja Bandar Udara FL Tobing Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin di Jambi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Walisongo di Semarang Pelaksanaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Tahun 2009 dan 2010 (s. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kota Surabaya I dan Kota Surabaya II di Surabaya Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Belanja Modal.Halaman 18 . DInas Cipta Karya dan Energi Sumber Daya Mineral.dan Belanja Modal Kementerian Perdagangan TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. Makasar dan Gowa Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan 2010 serta Aset Negara pada Taman Mini Indonesia Indah dan Instansi Terkait di Jakarta Pengelolaan dan pertanggungjawaban Dana Tabungan Perumahan PNS pada BAPERTARUM PNS TA 2009 dan Semester I 2010. Yogyakarta. Modal TA 2008 dan 2009 pada Ditpolair Mabes Polri Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. Belanja Modal TA 2010 pada Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Pekerjaan Umum. Dinas Pengairan. dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Lhoksukon TA 2009 dan 2010 Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kota Medan di Medan Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang di Lubuk Pakam Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Tengah di Pandan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya TA 2009 dan 2010 18 379 Kepolisian Republik Indonesia 380 381 382 1 1 1 1 19 383 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 20 384 Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi 1 21 385 Kementerian Perdagangan 1 22 386 Taman Mini Indonesia Indah 1 23 387 Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS 1 24 25 388 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas 389 Provinsi Aceh 1 1 390 1 391 1 26 392 Provinsi Sumatera Utara 393 394 395 1 1 1 1 1 1 1 27 396 Provinsi Sumatera Barat 397 398 184 . Dinas Kesehatan. Pontianak. Dinas Pendidikan dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya di Blangpidie Belanja Daerah Dinas Pekerjaan Umum. Semarang. dan Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kabupaten Aceh Tengah TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Dinas BIna Marga. dan Lampung Pemeriksaan Atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal T A 2009 dan 2010. Badan Litbang SDM dan MMTC Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta dan Yogyakarta Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku di Ambon Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku Utara di Ambon dan Ternate Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. Dinas Kesehatan. serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Polda Sulawesi Utara di Manado Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada Provinsi Jawa Tengah di Semarang Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 378 Kementerian Komunikasi dan Informatika Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Sekretariat Jendral.

Lampiran 56 No 399 400 401 402 403 404 405 28 406 Provinsi Riau Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sijunjung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kota Padang TA 2009 dan 2010 Belanja Modal pada Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 dan Semester I 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Jambi di Jambi Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bungo di Muara Bungo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Merangin di Bangko Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di Sengeti Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Muara Sabak Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Belanja daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Sungai Penuh di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Jambi di Jambi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo di Muaro Bungo Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Biaya Pemilihan Umum Gubenur dan Wakil Gubenur Jambi pada Komisi Pemilihan Umum. dan Instansi terkait lainnya Se-Provinsi Jambi Tahun 2010 pada Provinsi Jambi di Jambi 29 407 Provinsi Jambi 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 423 424 1 1 185 . Panitia Pengawas Pemilihan Umum.Halaman 19 .

d.Halaman 20 . Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Kayuagung Belanja Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di Martapura Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kab Muara Enim di Muara Enim Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu di Baturaja Belanja Daerah Tahun 2010 pada Pemerintah Kota Pabumulih di Prabumulih Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Bengkulu TA 2009 dan Semester I TA 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kepahiang di Kepahiang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten Lebong dan Instansi Terkait Lainnya TA 2010 di Tubei Pengelolaan dan PertanggungJawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko TA 2010 di Mokomuko Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong TA 2010 di Curup Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Pilkada Provinsi Bengkulu TA 2010 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Bengkulu di Bengkulu Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Lampung di Bandar Lampung Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang (Pendidikan dan Kesehatan) Pemerintah Provinsi Lampung TA 2010 di Bandar Lampung Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Gunung Sugih Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pesawaran (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Gedong Tataan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tanggamus (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Kota Agung 31 433 Provinsi Bengkulu 434 435 436 437 438 439 1 1 1 32 440 Provinsi Lampung 441 442 443 444 445 1 1 1 1 1 1 446 447 448 33 449 Provinsi Bangka Belitung 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Way Kanan (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Blambangan Umpu Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Pemerintah Kota Metro di Metro Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kota Pangkalpinang di Pangkalpinang 450 1 186 .d. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjungpandan Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 30 Nama Entitas 425 Provinsi Sumatera Selatan 426 427 428 429 430 431 432 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah TA 2009 – 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang Pendapatan Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Lahat di Lahat.

Dinas Kesehatan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset.Halaman 21 . Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon di Sumber Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pendidikan.d. Dinas Bina Marga. Semester 1 2010) pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Batam di Batam Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Sumber Daya Air. Dinas Kesehatan.d. Semester 1 2010) pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Agustus 2010) pada Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bogor di Cibinong Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandung di Bandung Belanja Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun Aggaran 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat TA 2009 dan 2010 di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga. Pemuda dan Olah Raga. Dinas Pendidikan. Dinas Kesehatan TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang Belanja Daerah Kabupaten Bekasi TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan.d. Sumber Daya Mineral Kabupaten Ciamis Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Kesehatan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dinas Bina Marga. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bekasi di Cikarang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Bina Marga.Lampiran 56 No 451 452 453 454 34 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung TA 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka TA 2010 di Sungailiat Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah TA 2010 di Koba Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Belitung Timur TA 2010 di Manggar Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Bappeda. Dinas Kesehatan. dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut di Garut Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Sekretariat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta di Purwakarta. 455 Provinsi Kepulauan Riau 456 1 457 458 459 35 460 Provinsi DKI Jakarta 461 1 1 1 1 1 462 36 463 Provinsi Jawa Barat 464 465 1 1 1 1 466 467 1 1 468 1 469 1 470 1 471 1 472 1 187 . Energi.

Oktober) di Purworejo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 22 . Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Temanggung di Temanggung Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Kendal Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Blora di Blora Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Rembang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. November) pada Pemerintah Kabupaten Klaten di Klaten Belanja Daerah Kabupaten Purworejo TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kota Salatiga Pendapatan Asli Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta TA 2009 dan 2010 (s.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Karanganyar Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni 2010) di Yogyakarta Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 di Bantul Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010 di Wonosari Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2010 di Beran Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan TA 2010 di Bangkalan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bondowoso TA 2010 di Bondowoso Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro TA 2010 di Bojonegoro Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik TA 2010 di Gresik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Jember TA 2010 di Jember 38 488 Provinsi DI Yogyakarta 489 490 1 491 1 39 492 Provinsi Jawa Timur 493 494 495 496 497 498 1 1 1 1 1 1 1 188 .Lampiran 56 No 37 Nama Entitas 473 Provinsi Jawa Tengah 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Brebes di Brebes Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Kudus di Kudus Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Pekalongan Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Semarang TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.

d.Halaman 23 . Juli 2010) di Serang Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Badung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Buleleng di Singaraja TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gianyar TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Jembrana di Negara Belanja Daerah Kabupaten Karangasem TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Kabupaten Klungkung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Tabanan TA 2009 dan 2010 Belanja Barang dan Jasa.d.Lampiran 56 No 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 40 41 519 Provinsi Banten 520 Provinsi Bali 521 522 523 524 525 526 42 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang TA 2010 di Lumajang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Magetan TA 2010 di Magetan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi TA 2010 di Ngawi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pacitan TA 2010 di Pacitan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sampang TA 2010 di Sampang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2010 di Sidoarjo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Situbondo TA 2010 di Situbondo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sumenep TA 2010 di Sumenep Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek TA 2010 di Trenggalek Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tuban TA 2010 di Tuban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung TA 2010 di Tulungagung Belanja Daerah Pemerintah Kota Batu TA 2010 di Batu Belanja Daerah Pemerintah Kota Kediri TA 2010 di Kediri Belanja Daerah Pemerintah Kota Madiun TA 2010 di Madiun Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kota Mojokerto TA 2010 di Mojokerto Belanja Daerah Pemerintah Kota Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah (PAD) TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Banten (s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah 527 Provinsi Nusa Tenggara Barat 189 . Belanja Hibah.

dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Belanja Barang dan Jasa. Belanja Hibah. Belanja Hibah.d 2010 dan Sumber Dana APBD Kabupaten Lombok Tengah TA 2008 s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. September 2010) di Muara Teweh Belanja Modal TA 2010 (s.Halaman 24 .d 31 Oktober 2010) pada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas di Kuala Kurun 529 1 530 1 531 1 43 532 Provinsi Nusa Tenggara Timur 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 45 547 Provinsi Kalimantan Barat 548 Provinsi Kalimantan Tengah 549 550 551 552 190 .d. Belanja Hibah.d.d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Belanja Barang dan Jasa.d 2010) Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Alor Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Belu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lembata Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Nagekeo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Pendapatan Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 di Pontianak Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah TA 2010 di Palangkaraya Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Timur TA 2010 di Barito Layang Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Selatan TA 2010 (s.d. 30 September 2010) di Buntok Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Utara TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kota Mataram Pelaksanaan Pembangunan Bandara Internasional Lombok (Sumber Dana APBD Provinsi NTB TA 2007 s.Lampiran 56 No 528 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Belanja Barang dan Jasa.

30 Juni 2010) di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Barabai Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Pelaihari Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Banjarbaru di Banjarbaru Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I 2010 pada Kota Bitung Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow di Kotamobagu Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa di Tondano Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara di Rantahan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kab Kepulauan Talaud di Melonguane Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Tomohon di Tomohon Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Provinsi Sulawesi Utara Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Manado Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Kota Manado di Manado Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 553 554 555 556 557 558 46 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Katingan TA 2010 di Kasongan Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur di Sampit Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Lamandau TA 2010 (s.d.Halaman 25 . 30 September) pada Provinsi Sulawesi Tengah di Palu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai di Luwuk Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d 30 November 2010) di Kuala Pembuang Belanja Modal pada Pemerintah Kota Palangkaraya TA 2010 di Palangkaraya Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009 dan 2010 (s.d. September 2010) 559 Provinsi Kalimantan Selatan 560 561 562 563 564 47 565 Provinsi Sulawesi Utara 566 1 1 1 1 1 1 1 567 568 569 570 571 1 1 1 1 1 572 1 48 573 Provinsi Sulawesi Tengah 574 575 576 1 1 1 1 1 1 49 577 Provinsi Sulawesi Selatan 578 191 .d. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan di Salakan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Sigi di Biromaru Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan TA 2009 dan 2010 (s.d. 30 September 2010) di Nanga Bulik Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau TA 2010 (s. Agustus 2010) Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros TA 2009 dan 2010 (s. 31 Oktober 2010) di Pulang Pisau Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Seruyan TA 2010 (s.d.

Halaman 26 ..d. September) di Kendari Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Muna TA 2009 dan 2010 di Raha Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Majene di Majene Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Mamuju di Mamuju Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Tobelo Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di Maba Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Weda Belanja Daerah Tahun 2009 (Semester II) dan Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Labuha Belanja Daerah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai di Daruba Belanja Daerah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan TA 2010 (s.d.d. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Luwu TA 2009 dan 2010 (s.d.d. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Sinjai TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 579 580 581 582 583 50 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar TA 2009 dan 2010 (s. Semester I) Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara TA 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) Belanja Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang TA 2009 dan 2010 (s. September) di Kendari Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Kendari TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) di Soasio Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Lanny Jaya Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Nduga 584 Provinsi Sulawesi Tenggara 585 586 51 587 Provinsi Sulawesi Barat 588 589 590 52 591 Provinsi Maluku Utara 592 593 594 595 596 597 598 599 53 600 Provinsi Papua 601 XII Manajemen/Pengelolaan Aset 1 2 602 Provinsi Bengkulu 603 Provinsi Jawa Timur 1 1 1 1 295 1 1 Manajemen Aset Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2009 dan 2010 di Sidoarjo Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya 604 1 192 . Semester I) Belanja Daerah Kota Parepare TA 2009 dan 2010 (s.d.

Juli) pada PDAM Lematang Enim di Muara Enim. 2 627 Provinsi Sumatera Selatan 1 193 .Halaman 27 . September 2010) di Masamba 606 4 5 6 607 Provinsi Kalimantan Selatan 608 Provinsi Sulawesi Tengah 609 Provinsi Sulawesi Selatan 610 1 1 1 1 1 9 XIII Belanja Daerah Bidang Infrastruktur 1 611 Provinsi Lampung 612 613 2 614 Provinsi DI Yogyakarta 615 3 616 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Kalianda Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Sukadana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Menggala Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Bantul TA 2009 dan 2010 di Bantul Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo TA 2009 dan 2010 di Wates Pelaksanaan Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Non Jalan dan Jembatan Prov.d. Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kayong Utara TA 2009 dan 2010 di Sukadana Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kubu Raya TA 2009 dan 2010 di Sungai Raya Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sambas TA 2009 dan 2010 di Sambas Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sanggau TA 2009 dan 2010 di Sanggau Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Binamarga Pemerintah Kabupaten Nunukan TA 2009 dan 2010 di Nunukan. Juni 2010) di Makale Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Luwu Utara TA 2009 dan 2010 (s.d. Belanja Daerah Infrastruktur Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara TA 2009 dan 2010 di Penajam Paser Utara.d.Lampiran 56 No 3 605 Provinsi Bali Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Buleleng TA 2009 dan 2010 (sampai dengan 30 Juni 2010) di Singaraja Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jembrana TA 2009 dan 2010 sampai dengan 30 Juni 2010) di Negara Pengelolaan Aset Pemerintah Kota Banjarmasin Tahun 2009 dan 2010 (s.d 30 Juni 2010) di Banjarmasin Pengelolaan Aset Tetap TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong di Parigi Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Tana Toraja TA 2009 dan 2010 (s. Belanja Infrastruktur Kabupaten Boalemo TA 2009 dan 2010 Pemeriksaan Belanja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo TA 2009 dan 2010 Belanja Infrastruktur Kabupaten Gorontalo Utara TA 2009 dan 2010 617 618 619 620 4 621 Provinsi Kalimantan Timur 622 1 1 1 1 1 1 5 623 Provinsi Gorontalo 624 625 1 1 1 15 XIV Operasional PDAM 1 626 Provinsi Sumatera Barat 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan Daerah (Pendapatan dan Belanja Perusahaan) PDAM Kota Bukittinggi TB 2009 dan 2010 Kegiatan Operasional PDAM TB 2009 dan TB 2010 (s.

30 Juni) pada Kabupaten Tolitoli di Tolitoli Pendapatan dan Belanja PDAM Kota Makassar TB 2009 dan 2010 (s.d. 1 194 . 30 Juni) pada Kabupaten Banggai di Luwuk Operasional PDAM Motanang Tahun 2009 dan 2010 (s.d.d. 30 Juni) pada Kabupaten Buol di Buol Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 628 Provinsi Jawa Timur 629 630 631 632 633 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Banyuwangi TA 2009 dan Semester I 2010 di Banyuwangi Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Blitar TA 2009 dan Semester I 2010 di Blitar Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Kediri TA 2009 dan Semester I 2010 di Kediri Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Madiun TA 2009 dan Semester I 2010 di Madiun Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Mojokerto TA 2009 dan Semester I 2010 di Mojokerto Kegiatan Operasional PDAM Kota Pasuruan TA 2009 dan Semester I 2010 di Pasuruan Realisasi Pendapatan. 30 Juni) pada Kabupaten Morowali di Kolonodale Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Donggala di Banawa Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d.d. Semester I) pada PDAM Kota Denpasar di Denpasar Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh PDAM Menang Mataran TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni 2010) di Polewali Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Jayapura TB 2008 dan 2009 di Sentani 4 634 Provinsi Bali 635 1 636 5 6 7 637 Provinsi Nusa Tenggara Barat 638 Provinsi Kalimantan Selatan 639 Provinsi Sulawesi Tengah 640 641 642 643 644 645 8 9 10 646 Provinsi Sulawesi Selatan 647 Provinsi Sulawesi Barat 648 Provinsi Papua 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23 XV Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi 1 649 BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP 1 Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Eks Pertamina Block pada BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP serta instansi terkait di Jakarta. 30 Juni) pada Kabupaten Tojo Una-una di Ampara Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni) pada Kabupaten Poso di Poso Operasional PDAM UE Tanah Tahun 2009 dan 2010 (s.d.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.Halaman 28 . Semester I) pada PDAM Kabupaten Karangasem di Amlapura Realisasi Pendapatan. serta instansi lain yang terkait di Jakarta dan Natuna 2 650 BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd.d.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. Prabumulih dan Cirebon Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Kakap pada BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. Juni) Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) pada PDAM Kabupaten Buleleng di Singaraja Realisasi Pendapatan. Agustus) Operasional PDAM Intan Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan TB 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.d. Semester I) Operasional PDAM Kabupaten Polewali Mandar TB 2009 dan TB 2010 (s.d.d.

2009 pada Bank Indonesia Tambahan Penggantian biaya Subsidi BBM TB 2003 s. Semarang. Jakarta. 2009 dan Semester I 2010 pada PT Pengembangan Investasi Riau di Pekanbaru 195 . Unit Pemasaran BBM Retail Region I s. (PT KF) dan Anak Perusahaan yaitu PT Kimia Farma Trading dan Distribution (PT KFTD) Pengelolaan Pendapatan. Pengendalian Biaya dan Kegiatan Investasi Tahun 2007. Semarang. Balikpapan. Yogyakarta. dan Surabaya Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkatan Laut Penumpang Kelas Ekonomi dalam Negeri TA 2009 pada PT Pelayaran Nasional Indonesia di Jakarta. 2009 dan 2010 (Triwulan I) pada PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Palembang. Triwulan III) pada BTDC Kegiatan Pengadaan. Denpasar dan Makassar Pengelolaan Pendapatan. Surabaya. Jakarta. IV di Medan. VII dan Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I s. 2008 dan 2009 (s. Dan 2009 (Semester I) pada PT Nindya Karya (Persero) Kegiatan Pengelolaan Pendapatan. dan Investasi TB 2008 dan 2009 (s.Halaman 29 . Medan dan Padang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu PT Adhi Karya (Persero) Tbk TB 2008 dan 2009 (s.d. Triwulan III) di Jakarta. Kerja Tuban Tahun 2009 pada BP Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor KKKS JOB Pertamina Petrochina East Java di Jakarta dan Surabaya 3 XVI Subsidi Pemerintah 1 652 Bank Indonesia 1 Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Untuk TA 2007 s.d. 2008. Surabaya. Semester I) pada PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang 2 659 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1 3 660 Bali Tourism Development Corporation 1 4 661 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 1 5 662 PT Nindya Karya (Persero) 1 6 663 PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) 1 6 XVIII Operasional BUMD 1 2 664 Provinsi Sumatera Utara 665 Provinsi Riau 1 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan TB 2009 dan 2010 pada PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan Pengelolaan Pendapatan. Pengendalian Biaya dan Kerjasama Operasi TB 2007.d. dan Kupang 2 653 PT Pertamina (Persero) 654 1 1 3 655 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) 1 4 656 PT Kereta Api (Persero) 1 5 657 PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) 1 6 XVII Operasional BUMN 1 658 PT (Persero) Angkasa Pura II 1 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu pada PT (Persero) Angkasa Pura II TA 2006 dan 2007 di Tangerang. dan Makasar Perhitungan Subsidi Pupuk Produksi PT Pupuk Iskandar Muda yang Disalurkan PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) TA 2009 pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Iskandar Muda di Jakarta dan Lhokseumawe Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum Angkutan Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi (PSO) TA 2009 pada PT Kereta Api Indonesia di Bandung.d. Medan. Biaya dan Investasi TB 2008.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 651 BPMIGAS dan KKKS JOB Pertamina .d. Balikpapan. Produksi. 2005 pada PT Pertamina (Persero) di Jakarta Subsidi Jenis BBM Tertentu tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat.d. Pengendalian Biaya.d.Petrochina East Java Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Wil. Penjualan dan Investasi TB (TB) 2008. Jakarta.

2009 dan Semester I 2010 pada PD Sarana Pembangunan Siak di Siak Sri Indrapura Pelaksanaan Perjanjian Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta ManunggalPratama dalam Pembangunan dan Pengelolaan Jambi Tepian Ratu Reverview Hotel dan Resort Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Karimun TB 2009 dan 2010 (s. PNBP. Bagi Hasil. Sumbar. Padang. Johannes di Kabupaten Kupang 681 1 682 1 683 1 684 1 196 . 2009 dan 2010 (Semester I) di Masohi 3 667 Provinsi Jambi 1 4 668 Provinsi Kepulauan Riau 1 669 5 670 Provinsi Jawa Timur 671 6 7 8 672 Provinsi Kalimantan Barat 673 Provinsi Kalimantan Timur 674 Provinsi Maluku 1 1 1 1 1 1 11 XIX Operasional RSUD 1 2 3 675 Provinsi Sumatera Utara 676 Provinsi Sumatera Barat 677 Provinsi Lampung 678 4 679 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 1 1 1 1 5 XX Pengelolaan Pertambangan Batu Bara 1 680 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pengelolaan Pertambangan Batubara TA 2008 s. H.d. Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kab.M. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. PNBP. Operasional PD Praja Karya Kabupaten Maluku Tengah TB 2008. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Jambi. Sarolangun dan 62 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.d. Riau.d. Kalsel. Biaya dan Investasi Tahun Buku 2008. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Tebo Kegiatan Operasional RSUD TA 2009 dan 2010 pada RSUD Dr. Bagi Hasil.d. Bagi Hasil. Dr W. Pirngadi Medan di Medan Kegiatan Operasional RSUD Dr. Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Kegiatan Operasional Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Tahun 2009 dan 2010 di Provinsi Samarinda.Lampiran 56 No 666 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pendapatan. PNBP. Semester 1 2010) di Ranai Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama TB 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Kegiatan Operasional PD Pasar Surya TA 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Perusahaan Daerah Aneka Usaha Prov. Pekanbaru. Abdul Moeloek di Bandar Lampung Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD Mayjen. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.Halaman 30 . H. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester 1 TA 2010 pada Kementerian ESDM 13 Pemerintah Kab/ Kota di Prov.. serta Instansi Terkait Lainnya di Sarolangun Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. Bungo dan 58 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Adnaan WD TA 2009 dan 2010 di Payakumbuh Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD DR. Kaltim. Ryacudu Pendapatan dan Belanja RSUD Prof. Banjarmasin dan Samarinda Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perijinan.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bungo Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. 11 Kontrak PKB2B dan 549 Pemegang Kuasa Pertambangan/ Izin Usaha Pertambangan di Jakarta.Z. Semester 1 2010) di Tanjung Balai Karimun Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Natuna TB 2009 dan 2010 (s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.d. Bagi Hasil. Tebo dan 27 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Jambi. Batanghari dan 45 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan Serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bulian Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.

PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Indragiri Hulu dan 20 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. BPR Bank Bantul TB 2009 dan 2010 (s. Bagi Hasil.Lampiran 56 No 685 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. serta Instansi Terkait Lainnya di Muaro Sjunjung Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. serta Instansi Terkait Lainnya di Tanjung Redeb Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Batulicin Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d.d. Kutai Kartanegara dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.Halaman 31 . Bagi Hasil. serta Instansi Terkait Lainnya di Tembilahan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Rengat Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Kuantan Singingi dan 9 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. BPR Bank Sleman Tahun Buku 2009 dan 2010 (s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. Bagi Hasil. Bank NTB TB 2009 dan Semester I 2010 197 . PNBP. Juni 2010) di Bantul Operasional Bank pada PD. Bagi Hasil.d.d. Tanah Bumbu Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Tanah Laut Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Juni 2010) di Beran Pengelolaan Non Performing Loan (NPL) dan Pembagian Laba Untuk dana Peduli Sosial Kemasyarakatan PT. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Sawah Lunto Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Bagi Hasil. Sawah Lunto dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Sijunjung dan 21 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Indragiri Hilir dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil.d.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. dan Instansi Terkait Lainnya di Pelaihari Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Teluk Kuantan 686 1 687 1 688 1 689 1 690 1 691 1 692 1 693 1 14 XXI Operasional Bank Daerah 1 2 3 694 Provinsi Sumatera Barat 695 Provinsi Jambi 696 Provinsi Jawa Tengah 697 Provinsi DI Yogyakarta 698 4 699 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 1 1 1 1 1 Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat TB 2009 dan 2010 Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Kuala Tungkal Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) TB 2009 dan 2010 di Semarang Operasional Bank pada PD. serta Instansi Terkait Lainnya di Tenggarong Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Berau dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.

06) TA 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Poso.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Bank Indonesia. dan Perum Jamkrindo Pengelolaan Belanja Subsidi Tahun 2009 dan Belanja LainLain Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Tolitoli dan Parigi Moutong 8 703 Provinsi Sulawesi Tengah 1 10 XXII PDTT Lainnya 1 2 704 Kementerian Keuangan 705 Kementerian Pekerjaan Umum 1 1 Dana Bagi Hasil Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) pada Kementerian Keuangan Amblasnya Sisi Utara Jalan R.06) TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06) TA 2009 pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.06) TA 2009 pada Kementerian Sosial di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Martadinata Seluas 653. Buol.d 30 september 2010) pada PT Bank Sulut Serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo Operasional Bank Tahun 2009 dan 2010 (s. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur TB 2009 dan 2010 (Operasional) Operasional PT.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.E.d 30 September 2010 pada PT Bank Sulteng dan Kantor Cabang di Palu.06 TA 2009 pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.Lampiran 56 No 5 6 7 Nama Entitas 700 Provinsi Nusa Tenggara Timur 701 Provinsi Kalimantan Tengah 702 Provinsi Sulawesi Utara Daftar LHP Jml 1 1 1 Objek Pemeriksaan PT.06 TA 2009 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.d.06 TA 2009 pada Lembaga Administrasi Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. Semester I) di Palangkaraya Kegiatan Operasional TB 2009 dan 2010 (s.Halaman 32 .42 M2 pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta Penelitian Atas Tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling Dalam Rangka Risk Sharing Antara Pemerintah.06 TA 2009 pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta 4 706 Bank Indonesia 1 5 6 707 Kementerian Keuangan 708 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 7 709 Kementerian Sosial 1 8 710 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 9 711 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 1 10 712 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 1 11 713 Badan Pertanahan Nasional 1 12 714 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 13 715 Lembaga Administrasi Negara 1 14 716 Badan Kepegawaian Negara 1 15 717 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 16 718 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 1 198 . Luwuk. Bank Kalimantan Tengah TB 2009-2010 (s.

Loan 2127 . Surabaya.Halaman 33 . Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM di Jakarta. 2008 dan 2009 (Semester I) pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) di Makassar dan Jakarta Kegiatan Pengadaan Paket Tabung LPG 3Kg Tahun 2007 s. Serang.SDP TA 2009 pada Inspektorat Provinsi Aceh di Banda Aceh Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Provinsi Maluku Utara Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Kab Halmahera Tengah Kerjasama dengan Pihak Ketiga dan Pengadaan Barang dan Jasa TB 2007.06) TA 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. 2009 pada PT Pertamina (Persero).06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP TVRI Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999. 2009 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Loan Agreement No.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP RRI Program Swasembada Pangan dan Pengelolaan Saluran Irigasi Tersier pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi TA 2008 dan 2009 di Sengeti Pengelolaan dan PertanggungJawaban Keuangan dalam Pelaksanaan MTQN XXIII TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Bengkulu Pengelolaan Kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010 di Pekanbaru Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah SeKalimantan Barat untuk Pendirian dan Pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Universitas Tanjungpura. dan Bekasi 18 720 Kementerian Perumahan Rakyat 1 19 721 Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1 20 722 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 21 22 23 723 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia 724 Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia 725 Provinsi Jambi 1 1 1 24 726 Provinsi Bengkulu 1 25 26 727 Provinsi Riau 728 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 27 28 729 Provinsi Gorontalo 730 Provinsi Aceh 1 1 29 731 Provinsi Maluku Utara 1 732 1 30 733 PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) 1 31 734 PT Pertamina (Persero).06) TA 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 719 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Semarang.d. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM 1 31 Jumlah LHP DTT Total LHP 428 734 199 .06) TA 2009 pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999.INO (SF) and Grant 0024-INO STAR .d. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan PFK Kabupaten Bone Bolango Tahun 2007 s.