i

i

DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Grafik Daftar Lampiran KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF PEMERIKSAAN KEUANGAN BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya PEMERIKSAAN KINERJA BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan BAB 8 Kinerja Pendidikan BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU BAB 11 Pengelolaan Pendapatan BAB 12 Pelaksanaan Belanja BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan, dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batu Bara BAB 16 Pelaksana Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah BAB 21 Operasional Bank Daerah BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH LAMPIRAN

Hal
i ii iii iv v ix 1 11 15 37 43 45 55 67 71 77 85 89 93 97 99 119 145 155 165 175 181 189 201 213 221 231 241 245 253

ii

DAFTAR TABEL
1. 2. 3. 4. 5. 1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 11.1 11.2 12.1 12.2 13.1 14.1 15.1 16.1 17.1 18.1 19.1 20.1 21.1 22.1 23.1 24.1 24.2 24.3 24.4 Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Tindak Lanjut Rekomendasi BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan Opini LKPD Tahun 2009 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 Opini KKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan, Kebinamargaan dan Bangunan Pengairan/Drainase Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD Cakupan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010

25.1 25.2 25.3 25.4

Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana

iii

DAFTAR GAMBAR
4.1 5.1 5.2 Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Water Pass dan Theodolite Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang

iv

DAFTAR GRAFIK
1.1 Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 (dalam %) 1.2 Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 24.1 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi) 24.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % jumlah rekomendasi)

v

Daftar Lampiran
1.a 1.b 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.a 8.b 8.c 8.d 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005-2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok Temuan menurut Entitas Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 1. Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 2. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 3. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit – 4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan, Rawat Inap, dan Farmasi Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pendapatan Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Belanja Pemerintah Pusat

vi 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/ Manajemen Aset Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM

vii 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok Jenis Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok dan Jenis Temuan – Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Pusat Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada Pemerintah Daerah Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 pada BUMN, BHMN, dan KKKS Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010

viii .

31 Maret 2011 . lembaga negara lainnya. IHPS II Tahun 2010 ini dapat diselesaikan tepat waktu. Hasil pemeriksaan tersebut dituangkan dalam bentuk laporan hasil pemeriksaan (LHP). dan kekurangan penerimaan. pemerintah daerah. badan usaha milik daerah.50 juta. kasus potensi kerugian negara/daerah senilai Rp2. dengan menyetor ke kas negara/daerah atau penyerahan aset.21 miliar. serta Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Selanjutnya. Atas hasil pemeriksaan BPK selama Semester II Tahun 2010. potensi kerugian negara/daerah. pemeriksaan kinerja. dan 428 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu. badan usaha milik negara.01 miliar dan USD10. Selanjutnya. Penyetoran tersebut terdiri atas kasus kerugian negara/daerah senilai Rp59. serta kasus kekurangan penerimaan senilai Rp42. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT. Jakarta. sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah telah menindaklanjuti kasus kerugian negara/daerah. Penyusunan Buku IHPS II Tahun 2010 ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara kepada pemangku kepentingan (stakeholders). Tuhan Yang Maha Esa. IHPS ini merupakan ikhtisar hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan BPK pada Semester II Tahun 2010 atas 734 objek pemeriksaan. yaitu 159 objek pemeriksaan keuangan.57 miliar. Bank Indonesia. tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Informasi rinci dan lengkap hasil pemeriksaan BPK pada Semester II Tahun 2010 dimuat dalam laporan hasil pemeriksaan atas tiap-tiap entitas yang kami lampirkan dalam bentuk cakram padat/Digital Video Disc (DVD) bersama penyampaian IHPS ini. BPK berharap Buku IHPS II Tahun 2010 ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi stakeholders dalam rangka perbaikan pengelolaan keuangan negara/daerah. dan gubernur/bupati/walikota selambat-lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. yaitu senilai Rp104.50 juta selama proses pemeriksaan masih berlangsung. IHPS tersebut disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 18 yang mengharuskan BPK menyampaikan IHPS kepada lembaga perwakilan.ix Kata Pengantar Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23E. Hal ini membuktikan bahwa respon instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat positif dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dan peran BPK dalam penyelamatan uang negara. BPK menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan semester (IHPS) yang merupakan informasi secara menyeluruh dari seluruh LHP yang diterbitkan oleh BPK dalam satu semester tertentu. Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terdiri atas pemeriksaan keuangan. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). Akhir kata. 147 objek pemeriksaan kinerja. badan layanan umum.23 miliar dan USD10. presiden.

x .

pemerintah daerah. Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan. badan usaha milik negara (BUMN). . dan kepada presiden serta gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pada Semester II Tahun 2010. IHPS II Tahun 2010 juga memuat hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. dan badan hukum milik negara (BHMN)/ badan layanan umum (BLU) seluruhnya sejumlah 734 objek pemeriksaan seperti disajikan pada Tabel 1 berikut. dan lembaga atau badan lainnya yang mengelola keuangan negara. dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). BUMN. Objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 terdiri atas entitas pemerintah pusat. IHPS disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya. termasuk didalamnya pemantauan terhadap hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian negara/tindak pidana yang disampaikan kepada instansi yang berwenang (penegak hukum). IHPS II Tahun 2010 merupakan ikhtisar dari 734 laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. pemerintah daerah. pemeriksaan BPK diprioritaskan pada pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. badan usaha milik daerah (BUMD).1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RINGKASAN EKSEKUTIF IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER II TAHUN 2010 Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010 disusun untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. pemeriksaan kinerja. Selain hasil pemeriksaan. Pemeriksaan dilaksanakan terhadap entitas di lingkungan pemerintah pusat. Sedangkan untuk pemeriksaan keuangan dilakukan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 yang belum diperiksa pada Semester I Tahun 2010. BUMD.

Jumlah temuan dari 734 objek pemeriksaan tersebut adalah sebanyak 6.48 triliun. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan sebanyak 3.43 juta. Dalam Tabel 2 temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian.23 triliun.40 triliun.27 triliun. yaitu temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. Lampiran 54. dan LK Badan Lainnya dengan cakupan pemeriksaan meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). Di antara temuan tersebut. potensi kerugian.2 Tabel 1. Rincian temuan tersebut disajikan dalam Tabel 2. dan ketidakefektifan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut antara lain berupa perbaikan SPI atau tindakan administratif.81 triliun.18 triliun. LK BUMN.50 juta telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa dengan penyetoran ke kas negara/daerah selama proses pemeriksaan (Lampiran 53. Rincian objek pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan keuangan sebanyak 159 objek yaitu LKPD.46 triliun dan USD156. Rincian nilai neraca adalah aset senilai Rp344. ketidakefisienan. kewajiban senilai Rp40. dan pembiayaan neto (laba/rugi) senilai Rp22.355 kasus senilai Rp6. senilai Rp104.87 triliun dan USD156. belanja senilai Rp135. serta ekuitas senilai Rp303. dan Lampiran 55).760 kasus dengan nilai Rp3.43 juta.01 miliar dan USD10. dan kekurangan penerimaan. . dan laporan realisasi anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp130. terdapat temuan yang direkomendasikan BPK dengan tindak lanjut yang memiliki implikasi nilai rupiah. Sedangkan selebihnya adalah temuan-temuan administrasi. Pemeriksaan kinerja sebanyak 147 objek pemeriksaan dengan cakupan tidak secara spesifik menunjuk nilai tertentu dan PDTT meliputi 428 objek pemeriksaan dengan cakupan pemeriksaan senilai Rp539.21 triliun. Objek Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Entitas Yang Diperiksa Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN BUMD BHMN/BLU/Badan Lainnya Jumlah Pemeriksaan Keuangan 153* 1 1 4 159 Pemeriksaan Kinerja 46 89 3 9 147 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu 117 250 16 44 1 428 Jumlah 163 492 20 54 5 734 *) termasuk dua LKPD Tahun 2008 Hasil Pemeriksaan Jumlah objek pemeriksaan BPK dalam Semester II Tahun 2010 sebanyak 734 objek pemeriksaan. ketidakhematan. Di antara temuan-temuan tersebut.

82 1.50 9.39 1.66 1.00 triliun.25 491. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas dari 151 LKPD Tahun 2009 yang telah diperiksa BPK pada Semester II Tahun 2010.40 99.46 5.06 1.39 62 12 14 88 3 6 30 127 84.54 53.896.355 1.392 896 226 1 302 3.43 156.09 94.70 7.411 566.013 526 1.221 3.760 1.81 4.72 1.43 895.689.70 triliun.45 triliun.54 53.020. serta enam Laporan Keuangan BUMN/D dan badan lainnya.80 0.22 37. dan pembiayaan neto senilai Rp21. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini TMP. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas.10 1. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.43 2.99 2.42 1.73 156.04 247.672.645.70 triliun.795 316 3 481 6.3 Tabel 2.695.54 1.15 95.32 42.62 1.280 896 84 2 149 2.277.154.81 159.73 156. dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan rincian pendapatan senilai Rp112.461.79 249. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas (Kota Langsa).817 368. dan ekuitas senilai Rp286.43 156.48 461.233.498.28 6. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi: neraca dengan rincian aset senilai Rp289.88 triliun. Rincian opini per entitas sebagaimana terlihat dalam Lampiran 1a. . BPK telah melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 dan dua LKPD Tahun 2008.97 triliun.63 3. belanja senilai Rp118.43 4 5 6 7 Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Total Hasil pemeriksaan Semester II Tahun 2010 berdasarkan jenis pemeriksaan disajikan secara ringkas dalam uraian berikut. Pemeriksaan Keuangan Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan.870.91 7.15 95. Temuan Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 Pemeriksaan Keuangan No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Jumlah Kasus Nilai (miliar Rp) Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Nilai (juta USD) Jumlah Kasus Total Nilai (juta USD) Nilai (miliar Rp) 1 2 3 Kerugian Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Sub Total 740 128 412 1.62 3.211 386 795 2.44 652. Dalam Semester II Tahun 2010. kewajiban senilai Rp3.

serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru. Opini LKPD Tahun 2009 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah WTP WDP TW TMP Jumlah 14 259 30 45 348 % 4% 74% 9% 13% 100% LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% Dengan demikian. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007-2009 OPINI WTP 2007 2008 2009 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% 469 485 499 LKPD JUMLAH Dalam Tabel 4 disajikan perkembangan opini LKPD 2007 sampai dengan 2009. Dari 524 pemerintah daerah 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. Tabel 3. Pemeriksaan LKPD Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Sementara itu. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pemerintah daerah yang memperoleh opini WTP dan WDP dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. jumlah yang memperoleh opini TW menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan Tahun 2008 dan penurunan . Kabupaten Seram Bagian Barat. Sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Tabel 4.4 Opini atas 151 LKPD yang dilaporkan dalam IHPS II Tahun 2010 ini dan 348 LKPD yang telah dilaporkan sebelumnya dalam IHPS I Tahun 2010 dapat dilihat dalam Tabel 3 berikut ini.

nilai persediaan yang dilaporkan tidak berdasarkan inventarisasi fisik. Pemeriksaan BPK terhadap LKPD Tahun 2009 menemukan 1. Kelemahan SPI yang sering terjadi terutama dalam pengendalian aset tetap seperti nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan.460 kasus kelemahan SPI. pencatatan transaksi yang belum akurat dan tepat waktu serta masalah disiplin anggaran. Selain pengendalian intern. kelemahan manajemen kas. . Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Selain pemeriksaan atas LKPD. realisasi belanja yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap saldo aset tetap sehingga mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. BPK juga memeriksa enam laporan keuangan badan lainnya dan BUMN/D. temuan yang mengakibatkan kerugian. Kelemahan tersebut tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset.43 triliun.87 miliar (Lampiran 2.5 dibandingkan Tahun 2007. BPK memberikan opini WTP terhadap LK West Sumatera Earthquake Disaster Project Badan Nasional Penanggulangan Bencana (WSEDP BNPB) TA 2010. pencatatan penyertaan modal pemerintah dan dana bergulir tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. opini atas LKPD juga dipengaruhi oleh ketidakpatuhan entitas terhadap ketentuan perundang-undangan dalam kerangka pelaksanaan APBD dan pelaporan keuangan. Dari temuan ketidakpatuhan ini. Hal ini secara umum menggambarkan perbaikan kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh pemerintah daerah walaupun perbaikan tersebut belum signifikan. dan 2. Lampiran 3. perbedaan pencatatan antara saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber dan penyajian aset tetap tidak didasarkan hasil inventarisasi dan penilaian. Selain itu. potensi kerugian dan kekurangan penerimaan daerah yang telah ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan penyetoran ke kas daerah selama proses pemeriksaan senilai Rp21. Opini TMP dan TW diberikan oleh BPK sebagian besar disebabkan kelemahan sistem pengendalian intern (SPI) atas laporan keuangan pemerintah daerah. opini WDP diberikan terhadap LK PDAM Kota Padang TB 2009 serta LK Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. dan Lampiran 4). Kelemahan SPI lainnya yang juga berpengaruh terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan antara lain : pengelolaan kas belum tertib. dan opini TMP menunjukkan penurunan dibandingkan Tahun 2008 dan 2007. dan peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum dibuat. Ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-undangan ini yang dapat mempengaruhi opini LKPD adalah ketidakpatuhan yang mempunyai dampak material terhadap penyajian kewajaran laporan keuangan.320 kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan senilai Rp1. BPK juga memberikan opini TMP terhadap LK PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) serta LK Penyelenggaraan Ibadah Haji (LK PIH) Tahun 1430H/2009 M dan Tahun 1429 H/2008 M.

Hasil pemeriksaan kinerja pada umumnya mengungkapkan belum efektifnya suatu kegiatan atau program diantaranya sebagai berikut. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. kinerja pendidikan. pertanian. perhubungan. Efektivitas penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak tercapai secara optimal karena kompleksitasnya masalah. pengurusan dokumen. Dalam Semester II Tahun 2010. Hal tersebut disebabkan oleh kelemahan kebijakan. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI.520 Orang Hari (OH) dan 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151. . Permasalahan tersebut yaitu penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. dan perusahaan daerah air minum (PDAM). belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. pengelolaan hutan mangrove. sistem/prosedur perencanaan. yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah.49 miliar atau 3. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. pelatihan dan pengujian kesehatan. penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. energi. 3 BUMN. proses penempatan di negera tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tenaga kerja yang tidak terserap minimal sebanyak 216. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan atau 20% dari seluruh objek pemeriksaan Semester II Tahun 2010. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen. dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan BPK dapat dikelompokkan dalam beberapa tema pemeriksaan sebagai berikut: • • • • • • • penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.69% dari realisasi anggaran yang diperiksa. penganggaran. Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan Stimulus Fiskal (SF) belanja infrastruktur Tahun 2009. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 18 pemeriksaan kinerja yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut di atas.6 Pemeriksaan Kinerja Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.5% di tengah krisis keuangan dunia. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. dan 9 PDAM. sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan kinerja lainnya.

04 miliar dan USD10. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. operasional BUMN. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak dan sebagainya. Dalam Semester II Tahun 2010.168 kasus kelemahan SPI. dan Lampiran 55).50 juta selama proses pemeriksaan yang berasal dari kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian. pemahalan harga. Kerugian negara/daerah dapat terjadi karena adanya belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif. operasional PDAM. kekurangan volume. Selain tema pemeriksaan di atas terdapat 31 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang tidak dapat dikelompokkan dalam tema-tema tersebut sehingga dikelompokkan dalam bab pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. belanja bidang infrastruktur. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. dan 3. Hasil PDTT menunjukkan bahwa permasalahan yang sering ditemukan adalah kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. dan ketidakefisienan senilai Rp4.48 triliun. Lampiran 54. terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. ketidakhematan. potensi kerugian. Hasil pemeriksaan tersebut dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. dan kekurangan penerimaan negara/daerah (Lampiran 53. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. kekurangan penerimaan. Di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah oleh entitas senilai Rp43.67 triliun dan USD156. ketidakefektifan. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan atau 58% dari 734 objek pemeriksaan.817 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/ daerah. dan operasional BUMD lainnya. belanja subsidi pemerintah. Hasil PDTT mengungkapkan 1. Salah satu akibat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah kerugian negara/daerah. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. pengelolaan pertambangan batubara. Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539.7 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan untuk memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. pelaksanaan belanja. operasional RSUD. pengelolaan/manajemen aset. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. potensi kerugian negara/daerah. Kekurangan volume dalam suatu pengadaan barang/jasa menyebabkan kelebihan pembayaran oleh pemerintah kepada rekanan . operasional bank daerah.43 juta.

Selain dari PDTT atas pendapatan. mengekspor atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak agar harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.211 kasus kerugian negara/daerah hasil PDTT senilai Rp368.50 miliar dari 1.06 yang terdiri dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BSBL). serta pimpinan KL atau kepala daerah tidak intensif dan tegas dalam menagih penerimaan yang sebenarnya sudah menjadi hak negara/daerah. BPK juga melakukan PDTT atas BA 999. Hasil PDTT atas pendapatan mengungkap adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah. Belanja Lain-Lain adalah . Hasil PDTT secara menyeluruh mengungkap sebanyak 795 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp895. lembaga pemerintah atau pihak ketiga lainnya yang memproduksi.82 miliar dan USD7. Keadaan tersebut didukung pula dengan lemahnya pengawasan dari atasan langsung atas pelaksanaan kegiatan barang/jasa termasuk dalam proses pembuatan BAST.73 juta (Lampiran 55). Belanja Subsidi merupakan pengeluaran atau alokasi anggaran yang diberikan pemerintah kepada perusahaan negara. Kasus kekurangan penerimaan di antaranya meliputi kekurangan penetapan dan pemungutan penerimaan pajak dan PNBP. pembebasan pajak kepada wajib pajak (WP) tertentu oleh kepala daerah. menjual. Dalam Semester II Tahun 2010 ditemukan 505 kasus kekurangan volume pekerjaan/barang/jasa senilai Rp123. perjanjian dengan pihak ketiga dalam pemanfaatan aset negara/daerah tidak dibuat secara tegas. Masalah tersebut terjadi karena rekanan pengadaan barang/jasa dengan sengaja mengurangi volume atau ukuran pekerjaan yang tercantum dalam kontrak. pihak ketiga wanprestasi dalam pembayaran kontribusi atas pemanfaatan aset negara/daerah.54 juta (Lampiran 53). penghilangan dan penundaan penetapan hak penerimaan daerah. dan/atau kepala daerah belum menetapkan tarif retribusi dan pajak daerah. yaitu penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah.8 karena volume atau jumlah barang/jasa yang diterima kurang dari jumlah atau volume yang diperjanjikan dalam kontrak. karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. kekurangan penerimaan juga ditemukan pada PDTT lainnya yang terjadi antara lain karena adanya pekerjaan yang tidak selesai sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kontrak tetapi belum dikenakan denda keterlambatan.99 miliar dan USD95. Hal ini masih sering terjadi karena kelalaian atau ketidakcermatan panitia pengadaan barang/jasa dalam melakukan pemeriksaan fisik pada saat membuat berita acara serah terima (BAST) sehingga nilai pekerjaan dinyatakan telah selesai dikerjakan 100% dan rekanan berhak mendapatkan pembayaran penuh atas pekerjaannya tersebut. Selain PDTT atas belanja dan penerimaan. serta penerimaan pajak pemerintah pusat yang telah dipungut oleh pemerintah daerah tetapi tidak segera disetor ke kas negara. Kekurangan penerimaan umumnya terjadi karena kelemahan pencatatan dan administrasi penatausahaan pendapatan.

39 triliun dan sejumlah valas ditindaklanjuti belum sesuai dengan rekomendasi (dalam proses ditindaklanjuti).90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. pupuk.18%) rekomendasi senilai Rp38. Lampiran 51.93 triliun dengan rincian seperti Tabel 5 berikut. bencana sosial. Sebanyak 18.29%) rekomendasi senilai Rp41. Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK tersebut menunjukkan sebanyak 28.722 rekomendasi senilai Rp103. Rekomendasi ini harus ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa antara lain dengan melakukan perbaikan sistem pengendalian intern (SPI).028 (36. Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan KKS Migas adalah para kontraktor belum sepenuhnya mematuhi klausul KKS dan pedoman tata kerja yang berlaku dengan memasukkan biaya-biaya yang seharusnya tidak boleh dibebankan pada cost recovery yang akan diklaim oleh kontraktor yang bersangkutan. Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Berdasarkan hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010. dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat. Adapun hasil pemeriksaan Belanja Lain-Lain pada Tahun 2010 mengungkap adanya temuan belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak. dan Lampiran 52). . listrik.148 (39. Hal ini mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 17 kasus biaya yang tidak layak dibebankan pada cost recovery senilai USD66. Hasil pemeriksaan atas Belanja Subsidi mengungkapkan antara lain bahwa BUMN operator belum sepenuhnya mematuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM.546 (24.9 pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam.53%) rekomendasi senilai Rp23.42 triliun dan sejumlah valas belum ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa (Lampiran 50. Selanjutnya.35 triliun dan sejumlah valas.47 juta. Permasalahan ini juga ditemukan pada hasil pemeriksaan atas LK BA 999. dan benih. dan sebanyak 30. BPK juga melakukan PDTT atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan kontrak kerja sama (KKS) minyak dan gas bumi (cost recovery). Hal ini terjadi terutama karena Direktorat Jenderal Anggaran belum menetapkan kriteria evaluasi atas kegiatan yang layak dibiayai dari BA 999. termasuk diantaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran tersendiri.06. tindakan administratif dan/atau penyetoran kas/ penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan.06 tahun sebelumnya. BPK telah memberikan 76. Khusus rekomendasi BPK dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terkait dengan penyetoran kas/penyerahan aset ke negara/daerah/perusahaan yang telah ditindaklanjuti oleh entitas yang diperiksa adalah berkisar Rp1.53 triliun dan sejumlah valas telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi.

03 ribu.03 ribu.339 kasus senilai Rp108.03 0.24 Total (miliar Rp) 1.00 11.00 8. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah berupa angsuran terpantau sebanyak 1.362 kasus senilai Rp42. proses gelar perkara.28 11. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BPK dengan Penyetoran Kas/Penyerahan Aset ke Negara/Daerah/Perusahaan No.893. Daerah BUMN Total 807.24 807.003.07 0.77 miliar serta pelunasan sebanyak 977 kasus senilai Rp65. Total penyelesaian ganti kerugian negara/daerah (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2.53 miliar dan USD1. penuntutan sebanyak 1 kasus.302 kasus kerugian negara/daerah senilai Rp908.21 juta.10 Tabel 5.80 Total (miliar Rp) Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah pada Tahun 2010 menunjukkan bahwa pada kurun waktu tahun 2009-2010 telah terjadi sebanyak 4.82 Nilai Valas Kurs Tengah 31 Des Nilai Ekuivalen 2010 (Rp) (miliar Rp) 8.80 8. Maret 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA .28 miliar dan USD228. 3. instansi yang berwenang (Kepolisian.24 0.00 1.47 0.930. 1.991.991.000.955.37 0.06 juta.780.893. Dari sebanyak 105 kasus tersebut.930.79 GBP 17.69 0.955.13 0.07 1.48 EUR 11.991.931.30 miliar dan USD1.158.991. dan putusan hakim sebanyak 2 kasus. proses pengumpulan bahan dan koordinasi.47 0.53 USD 42. Kejaksaan.00 0.45 13. Entitas Pusat Nilai (miliar Rp) 1. Jakarta.05 USD 7.45 2.793. Sisa kasus sebanyak 97 kasus merupakan kasus dalam proses penelaahan.11 triliun dan USD11.13 0.37 0. Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/ Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010. dan/atau belum ditindaklanjuti. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan.03 119.48 8.05 0.00 119.951.82 0. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus.552.82 USD 4. proses banding/kasasi.552. penyidikan sebanyak 2 kasus.69 USD 53.24 1.28 GBP 17.780.79 13.13 0.13 0.82 0.003.00 EUR 11.

opini wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material dan informasi keuangan dalam laporan keuangan dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. BPK juga melaporkan hasil pemeriksaan atas SPI dan laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.11 PEMERIKSAAN KEUANGAN Salah satu tugas BPK adalah melaksanakan pemeriksaan keuangan. Opini Tidak Wajar – TW (adverse opinion). selain memberikan opini atas laporan keuangan. • Opini Wajar Tanpa Pengecualian – WTP (unqualified opinion). opini tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. pemeriksa tidak dapat memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Dengan kata lain. Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pemeriksa. Opini Wajar Dengan Pengecualian – WDP (qualified opinion). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern (SPI). sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif lainnya. kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. opini wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan dan diungkapkan secara wajar dalam semua hal yang material. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/ opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. Penjelasan Pasal 16 ayat (1). dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan. opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan. pernyataan menolak memberikan opini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak dapat diperiksa sesuai dengan standar pemeriksaan. Adapun kriteria pemberian opini menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. sehingga informasi • • • . (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures). Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat – TMP (disclaimer of opinion). sehingga informasi keuangan dalam laporan keuangan yang tidak dikecualikan dalam opini pemeriksa dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan.

yang nyata dan pasti jumlahnya. kekurangan penerimaan. yaitu kelemahan sistem pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan. dan ketidakefektifan sebagai berikut. dan barang. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • • Kepatuhan Pemberian opini juga didasarkan pada penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. • Kerugian negara/daerah (termasuk kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah) adalah berkurangnya kekayaan negara/daerah berupa uang. ketidakefisienan. Kelemahan tersebut mengakibatkan permasalahan dalam aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI sebagai berikut. Potensi kerugian negara/daerah (termasuk potensi kerugian yang terjadi pada perusahaan negara/daerah) adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan barang.12 keuangan dalam laporan keuangan tidak dapat digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. surat berharga. administrasi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum. Kelemahan struktur pengendalian intern. • Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yaitu kelemahan yang terkait dengan ada/tidak adanya struktur pengendalian intern atau efektivitas struktur pengendalian intern yang ada dalam entitas yang diperiksa. SPI didesain untuk dapat mengenali apakah SPI telah memadai dan mampu mendeteksi adanya kelemahan. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan mengungkapkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. SPI pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Sistem Pengendalian Intern (SPI) Salah satu kriteria pemberian opini adalah evaluasi atas efektivitas SPI. potensi kerugian daerah. surat berharga. yaitu kelemahan pengendalian yang terkait dengan pemungutan dan penyetoran penerimaan negara/daerah serta pelaksanaan program/kegiatan pada entitas yang diperiksa. SPI dinyatakan memadai apabila unsur-unsur dalam SPI menyajikan suatu pengendalian yang saling terkait dan dapat meyakinkan pengguna bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. ketidakekonomisan. baik sengaja maupun lalai. • .

neraca. Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan penerimaan). menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. Demikian juga halnya dengan gubernur/bupati/walikota. Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. neraca. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBN (LRA). tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi APBD (LRA). dan catatan atas laporan keuangan. • • • • Laporan Keuangan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan daerah dan badan lainnya. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. laporan arus kas. dinyatakan bahwa pemeriksaan laporan keuangan oleh BPK diselesaikan selambatlambatnya dua bulan setelah BPK menerima laporan keuangan dari pemerintah pusat/daerah. tidak menghambat program entitas. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. laporan arus kas. dan catatan atas laporan keuangan. Dalam Penjelasan Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat (1) undang-undang tersebut.13 • Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Temuan mengenai ketidakefisienan mengungkap permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk satu satuan output yang lebih besar dari seharusnya. . Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir.

Dalam Semester II Tahun 2010. pada Semester I Tahun 2010 BPK telah melakukan pemeriksaan keuangan atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP).14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 menyatakan bahwa presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan BPK telah menyampaikan hasil pemeriksaan atas LKPP Tahun 2009 kepada DPR pada 31 Mei 2010. dan Pasal 56 undang-undang tersebut menyatakan bahwa gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan keuangannya kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. pada tingkat daerah. BPK baru menyelesaikan 348 hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 pada Semester I Tahun 2010 karena masih cukup banyak daerah yang belum dapat memenuhi jadwal waktu penyerahan LKPD sebagaimana diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004. dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tingkat provinsi/kabupaten/kota. Pada tingkat pusat. baik pemerintah maupun BPK telah dapat memenuhi amanat undang-undang tersebut dengan tepat waktu. Namun. termasuk Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL). . BPK melaksanakan pemeriksaan keuangan atas 151 LKPD Tahun 2009 dan 2 LKPD Tahun 2008 serta 6 laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. Memenuhi ketentuan tersebut.

yaitu LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur (Provinsi Maluku) dan LKPD Kabupaten Dogiyai (Provinsi Papua). 1. Laporan hasil pemeriksaan atas empat LKPD yaitu Kabupaten Kepulauan Aru.88 triliun.5 Hasil pemeriksaan keuangan atas LKPD disajikan dalam tiga kategori.4 Hasil Pemeriksaan 1.70 triliun. dalam Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas 499 LKPD Tahun 2009.97 triliun. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.15 BAB 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 1. sistem pengendalian intern (SPI).2 1. Dari 524 pemerintah daerah. 504 pemerintah daerah telah menyusun dan menyerahkan laporan keuangan Tahun 2009. Pada LRA. yaitu opini.00 triliun. rincian pendapatan senilai Rp112. dan pembiayaan neto senilai Rp21. Selain itu. dan Kabupaten Seram Bagian Timur pada Provinsi Maluku. sedangkan 20 pemerintah daerah merupakan daerah pemekaran baru yang belum wajib menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Kabupaten Teluk Wondana pada Provinsi Papua Barat pemeriksaan atas LKPD ditunda disebabkan force major (banjir Wasior). Rekapitulasi nilai neraca LKPD dengan rincian aset senilai Rp289.1 Pada Semester II Tahun 2010 BPK telah menyelesaikan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2009 pada 151 pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. kewajiban senilai Rp3. . dan ekuitas senilai Rp286. Pemeriksaan baru dilakukan pada Semester II Tahun 2010 karena baik LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur maupun LKPD Kabupaten Dogiyai baru diserahkan oleh masing-masing pemda pada Tahun 2010. belanja senilai Rp118. Kabupaten Seram Bagian Barat. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure). serta Kabupaten Mamberamo Raya pada Provinsi Papua masih dalam proses penyelesaian.45 triliun.70 triliun. Dengan demikian. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan. Pemeriksaan atas LKPD dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada kriteria. Cakupan pemeriksaan atas 151 LKPD tersebut meliputi neraca dan laporan realisasi anggaran (LRA). dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern. BPK juga melakukan pemeriksaan atas dua LKPD Tahun 2008.3 1. Sementara itu.

7 Terhadap 151 LKPD Tahun 2009. Berdasarkan data di atas. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.2 berikut ini.2. .6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. opini wajar dengan pengecualian (WDP) atas 71 entitas. opini tidak wajar (TW) atas 18 entitas.9 Opini LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS I 2010 Jumlah % 4% 74% 9% 13% 100% 14 259 30 45 348 LHP LKPD Tahun 2009 yang dilaporkan pada IHPS II 2010 Jumlah 1 71 18 61 151 % 1% 47% 12% 40% 100% Total LHP LKPD Tahun 2009 Jumlah 15 330 48 106 499 % 3% 66% 10% 21% 100% WTP WDP TW TMP Jumlah 1. dan 2009 dapat dilihat dalam Tabel 1. 2008. Tabel 1. Tahun 2008 kepada 485 LKPD. Opini LKPD Tahun 2009 atas 499 pemerintah daerah disajikan dalam Tabel 1. Grafik 1. Tabel 1. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 LKPD 2007 2008 2009 OPINI WTP 4 13 15 % 1% 3% 3% WDP 283 323 330 % 60% 67% 66% TW 59 31 48 % 13% 6% 10% TMP 123 118 106 % 26% 24% 21% JUMLAH 469 485 499 1.1 menyajikan perkembangan masing-masing jenis opini disajikan dalam persentase.11 Dari Tabel 1. dan opini tidak memberikan pendapat (TMP) atas 61 entitas. Opini LKPD Tahun 2009 1. Sedangkan terhadap dua LKPD Tahun 2008 BPK memberikan opini tidak memberikan pendapat (TMP). Oleh karena itu.2 di atas terlihat adanya peningkatan jumlah LKPD yang diperiksa BPK dari tahun ke tahun. Rincian opini untuk masing-masing entitas dapat dilihat pada Lampiran 1a. Opini 1.1 berikut ini.10 Perkembangan opini LKPD Tahun 2007.1.16 1. Rincian opini tiap-tiap entitas dapat dilihat pada Lampiran 1b. opini LKPD Tahun 2007 telah diberikan pada 469 LKPD. Opini WTP diberikan BPK kepada LKPD Kota Langsa di Provinsi Aceh.8 1. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. dan Tahun 2009 kepada 499 LKPD. BPK memberikan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas 1 entitas.

1. LKPD Tahun 2009 yang diperiksa pada Semester II Tahun 2010 terdiri dari 6 LKPD provinsi.3 berikut ini. Opini LKPD Tahun 2009 untuk masing-masing tingkat pemerintahan dapat dilihat dalam Tabel 1. • penurunan dalam opini WDP dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 1%.1 diketahui bahwa opini LKPD Tahun 2009 yang dalam persentase. 1. Perkembangan Opini LKPD Tahun 2007–2009 (dalam %) 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% WTP 1% 3% 3% 67% 60% 66% 2007-469 LHP 26% 24% 13% 6% 10% 2008-485 LHP 21% 2009-499 LHP WDP TW TMP 1. dan 27 LKPD kota. dan • penurunan dalam opini TMP dibandingkan opini LKPD 2008 sekitar 3% dan dibandingkan opini LKPD 2007 sekitar 5%. 118 LKPD kabupaten. • kenaikan dalam opini TW dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 4% dan terdapat penurunan sekitar 3% dibandingkan opini LKPD Tahun 2007.1.13 Hal ini secara umum menggambarkan bahwa entitas pemerintahan daerah dalam menyajikan suatu laporan keuangan yang wajar telah meningkat (dalam hal jumlah entitas) walaupun peningkatan tersebut belum signifikan (dalam persentase).14 .17 Grafik 1. Dilihat dari tingkat pemerintahan. dan terdapat kenaikan sekitar 6% dibanding opini LKPD Tahun 2007.12 Dari Grafik 1. menunjukkan • kenaikan dalam opini WTP dibandingkan opini LKPD Tahun 2007 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dari LKPD Tahun 2008.

gubernur dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintah. Grafik 1.17 Untuk mencapai pengelolaan keuangan daerah yang efektif. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan (dalam %) 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 73% 64% 72% WTP WDP TW TMP 24% 3% 9% 15% 2% Kabupaten 10% 7% 9% 12% Provinsi Kota 1. Pemerintah kota memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 79% dari keseluruhan entitas kota.16 Dari Grafik 1.2 menyajikan perbandingan opini LKPD Tahun 2009 berdasarkan tingkat pemerintahan yang disajikan dalam persentase.18 Tabel 1. Sistem Pengendalian Intern 1. efisien. transparan. . dibandingkan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten yang memperoleh opini WTP dan WDP sekitar 76% dan 66% dari keseluruhan entitas provinsi dan kabupaten. dan akuntabel. Sistem pengendalian intern (SPI) pada pemerintah daerah dirancang dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).2 di atas terlihat bahwa rata-rata opini yang diperoleh pada pemerintahan tingkat kota lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan tingkat provinsi dan kabupaten.2. Opini LKPD Tahun 2009 Berdasarkan Tingkat Pemerintahan LKPD Tahun 2009 Pemerintahan Provinsi Kabupaten Kota Jumlah Yang dilaporkan pada IHPS I 2010 WTP 1 7 6 14 WDP 21 187 51 259 TW TMP 2 24 4 30 3 38 4 45 Jml 27 256 65 348 LKPD Tahun 2009 Yang dilaporkan pada IHPS II 2010 WTP 0 0 1 1 WDP TW TMP 3 53 15 71 1 13 4 18 2 52 7 61 Jml 6 118 27 151 Total LKPD Tahun 2009 WTP WDP 1 7 7 15 24 240 66 330 TW 3 37 8 48 TMP 5 90 11 106 Jml 33 374 92 499 1.15 Grafik 1.3.

keandalan pelaporan keuangan. Adapun LKPD yang memperoleh opini TMP dan TW memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. penilaian risiko. Untuk itu.19 1. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004.26 .25 1. Hasil evaluasi atas SPI LKPD dapat diuraikan sebagai berikut.20 1.24 1. salah satunya yang terkait dengan SPI adalah efektivitas SPI. selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini.18 SPI memiliki fungsi untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara. serta lemahnya pengendalian dan koordinasi tugas antara atasan dan bawahan. Kelemahan pengendalian intern atas pemerintah daerah sebagian besar disebabkan belum memadainya unsur lingkungan pengendalian dan kegiatan pengendalian. tidak didukungnya kebijakan dengan pedoman pelaksanaan yang jelas. serta pemantauan. Kelemahan lingkungan pengendalian terlihat pula dari komitmen terhadap kompetensi yang belum memadai.19 1.23 1. Masih banyaknya opini TMP dan TW yang diberikan oleh BPK menunjukkan efektivitas SPI pemerintah daerah belum optimal.22 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa LKPD yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya memiliki pengendalian intern yang memadai. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. penjelasan Pasal 16 ayat (1) Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria. informasi dan komunikasi. Namun. pencatatan transaksi yang akurat dan tepat waktu. SPI meliputi lima unsur pengendalian. Lingkungan pengendalian yang diciptakan seharusnya menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk menerapkan SPI. Efektivitas SPI merupakan salah satu kriteria yang digunakan oleh BPK dalam meneliti kewajaran informasi keuangan. yaitu lingkungan pengendalian. masih terdapat kelemahan dalam lingkungan pengendalian terlihat dari kurang dipahaminya tugas pokok dan fungsi pada satuan kerja serta kurang tertibnya penyusunan dan penerapan kebijakan. 1. pengamanan aset negara. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP.21 Hasil Evaluasi SPI 1. Kelemahan atas kegiatan pengendalian tercermin dari belum memadainya pengendalian fisik atas aset. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas. 1. kegiatan pengendalian. dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

• Di Kabupaten Maros.29 . transaksi. • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 208 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Sebanyak 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.28 Hasil evaluasi atas 151 LKPD terdapat 1. 1. 1. terdiri atas • sebanyak 455 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.20 pengendalian atas pengelolaan sistem informasi.460 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 754 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pencatatan tidak akurat yaitu pengelolaan aset daerah yang kurang optimal. 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 1. dan kejadian penting. • sebanyak 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.27 Hasil evaluasi SPI menunjukkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.46 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. Provinsi Sulawesi Selatan.30 Kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. • sebanyak 6 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai. penatausahaan aset tetap belum dilaksanakan secara tertib pada beberapa SKPD sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp2. di antaranya nilai aset tetap tidak dikapitalisasi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan. dan • kelemahan struktur pengendalian intern. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. serta 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan pendokumentasian yang baik atas SPI. sehingga saldo aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp1. • sebanyak 10 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Rincian jenis temuan pada Lampiran 2. 1. Provinsi Riau.04 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya.

Provinsi Sumatera Utara. • Di Provinsi Aceh. inventarisasi dan penatausahaan barang milik daerah belum dilakukan secara optimal sehingga nilai aset tetap pada neraca per 31 Desember 2009 senilai Rp571. • sebanyak 26 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. pembayaran kegiatan lanjutan atas kontrak-kontrak pekerjaan Tahun 2008 senilai Rp490. penyajian aset tetap senilai Rp927. pembangunan kawasan pusat pemerintahan TA 2009 s. terdapat perbedaan pencatatan antara penyajian saldo aset tetap pada neraca dengan dokumen sumber pembukuan aset tetap sehingga saldo per 31 Desember 2009 senilai Rp1. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 2012 senilai Rp216.21 • Di Kabupaten Seruyan. terdiri atas • sebanyak 210 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. Provinsi Papua. Provinsi Nusa Tenggara Timur.00 miliar tidak didasarkan pada perencanaan yang matang dan berpotensi tidak selesai tepat waktu. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan.30 triliun tidak dapat diyakini kewajarannya. 1. • sebanyak 69 kasus mekanisme pemungutan. .32 Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 149 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja.d. Provinsi Kalimantan Tengah.31 Sebanyak 530 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Kabupaten Nabire.25 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. • Di Kabupaten Timor Tengah Utara. • Di Kabupaten Padang Lawas.98 miliar tidak berdasarkan hasil inventarisasi dan rekonsiliasi sehingga saldo aset tetap per 31 Desember 2009 tidak dapat diyakini kewajarannya.41 miliar tidak dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2009 mengakibatkan tidak terciptanya disiplin anggaran. • sebanyak 42 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 30 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. 1.

• Di Kabupaten Buru Selatan.22 • Di Kabupaten Deli Serdang. alokasi. • sebanyak 4 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai.878 lembar senilai Rp981.33 Sebanyak 176 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.80 miliar dilakukan mendahului penetapan anggaran. Provinsi Sumatera Utara.50 miliar atas perjanjian pembiayaan dengan Bank Muamalat di antaranya senilai Rp23. penerbitan SP2D sebanyak 3. . Hal ini mengakibatkan realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa tidak dapat diyakini kewajarannya dan APBD yang sudah ditetapkan dengan perda tidak dapat digunakan sebagai fungsi otorisasi. dan • sebanyak 2 kasus lain-lain kelemahan struktur pengendalian intern. 2008. perencanaan. 1. rekening kas umum daerah belum ditetapkan dan terdapat rekening kas daerah per 31 Desember 2009 senilai Rp10. • Di Kabupaten Cianjur. terdapat aset pemerintah daerah berupa deposito TA 2009 dijadikan jaminan cash collateral senilai Rp33. dan 2007. Provinsi Maluku.83 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum digunakan untuk pekerjaan swakelola TA 2009. pelaksanaan pekerjaan pada beberapa SKPD TA 2009 senilai Rp15.20 miliar melewati batas waktu 31 Desember 2009 yang mengakibatkan tidak terciptanya tertib anggaran dan tertundanya penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh TA 2009. • sebanyak 64 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. pengawasan. • Di Provinsi Aceh.02 miliar yang tidak dilaporkan sehingga menyulitkan pengendalian atas transaksi penerimaan maupun pengeluaran pada buku kas umum kuasa BUD. realisasi belanja modal dan belanja barang dan jasa TA 2009 senilai Rp76. • sebanyak 16 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. Provinsi Sumatera Utara.50 miliar dijadikan jaminan untuk pinjaman sehingga dana yang dimiliki tidak dapat digunakan secara optimal. • Di Kabupaten Simalungun. terdiri atas • sebanyak 90 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.34 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern tersebut sebagian besar atau sekitar 51% merupakan kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur di antaranya sebagai berikut. dan stabilisasi. distribusi. Provinsi Jawa Barat. 1.

• pejabat yang bertanggung jawab agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah belum ditetapkan sehingga pengelola keuangan dan kekayaan daerah (PKKD) dan SKPD kesulitan dalam penatausahaan dan penyusunan laporan keuangan TA 2009. Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan. SOP yang ada pada entitas tidak ditaati yaitu terdapat dua rekening kas daerah senilai Rp1. Penyebab 1. 1. dan • memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.36 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena para pejabat/ pelaksana yang bertanggung jawab kurang cermat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan tugas.00 miliar belum mendapat izin kepala daerah dan lima SKPD menggunakan rekening pribadi untuk menampung pencairan dana SP2D pada akhir tahun senilai Rp921. 178 rekening bendahara pengeluaran SKPD senilai Rp1. Upaya penyelesaian tindak lanjut atas rekomendasi temuan pemeriksaan belum memadai sehingga masih ditemukan temuan-temuan berulang dan lambat ditindaklanjuti.35 Unsur pengawasan pada pemerintah daerah belum optimal. peraturan bupati tentang sistem dan kebijakan akuntansi TA 2009 belum dibuat sehingga membuka peluang adanya persepsi ganda dalam hal pengakuan. Provinsi Papua Barat. Provinsi Sulawesi Barat. dan pelaporan. • Di Kabupaten Manokwari.00 miliar belum ditetapkan dengan SK kepala daerah. pencatatan. BPK telah merekomendasikan antara lain • kepala daerah agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak terkait. belum sepenuhnya memahami ketentuan.38 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.27 juta sehingga pengendalian kas daerah lemah dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah TA 2009. 1. • Di Provinsi Maluku.37 .23 • Di Kabupaten Majene. Rekomendasi 1.

4.42 . temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah.384. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. kekurangan penerimaan. Kelompok Temuan Pemeriksaan LKPD Tahun 2009 No.34 95.43 triliun sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. hasil pemeriksaan atas 151 LKPD Tahun 2009 juga menemukan ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan sebanyak 2. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.4 di atas. pembayaran honorarium dan/atau perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan. Kerugian Daerah 1. dan lain-lain kasus kerugian daerah. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. ketidakhematan/pemborosan. dan ketidakefektifan.320 kasus senilai Rp1.753.39 Selain opini dan temuan-temuan SPI.41 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.929.49 207. Masing-masing kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut. administrasi.415.252. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. pemahalan harga (mark up). 1.48 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan/Pemborosan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Jumlah 1. ketidakefisienan. surat berharga.84 1.40 Berdasarkan Tabel 1. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 729 119 398 862 74 1 137 2. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.320 Nilai (juta Rp) 556. Rincian jenis temuan pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3 dan rincian temuan berdasarkan pemerintah daerah disajikan dalam Lampiran 4. potensi kerugian daerah.271.4.761.76 4.24 Kepatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan 1.430.42 370. Tabel 1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. dan barang.60 195.

07 miliar.75 miliar.25 1.13 miliar. Provinsi Sulawesi Tenggara.24 miliar. dana milik pemda digunakan dan dikeluarkan tanpa SP2D selama Tahun 2007 s.37 miliar. • sebanyak 155 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp59.75 miliar terdiri atas • sebanyak 76 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp144. rekanan.74 miliar. • Di Kabupaten Konawe.d. 2010 senilai Rp39. • sebanyak 6 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp8. • sebanyak 26 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp24.62 miliar merupakan pengeluaran selama Tahun 2007 s. • sebanyak 101 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp35. Provinsi Sulawesi Tenggara. • sebanyak 71 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp83. atau atas nama pribadi .31 miliar.79 miliar. 1. di antaranya senilai Rp39. • Di Kabupaten Bombana.d.44 Kasus-kasus kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut.22 miliar. dan • sebanyak 27 kasus lain-lain senilai Rp54. • sebanyak 3 kasus kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian senilai Rp2. • sebanyak 15 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp3.41 miliar di antaranya adanya tuntutan ganti rugi dan tuntutan perbendaharaan.05 miliar. • sebanyak 16 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7. 2009 yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum dikembalikan ke kas daerah sehingga berindikasi merugikan keuangan daerah.43 Hasil pemeriksaan atas LKPD Tahun 2009 menunjukkan adanya kerugian daerah sebanyak 729 kasus senilai Rp556. • sebanyak 143 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp106.83 miliar. terdapat pemberian panjar Tahun 2009 kepada SKPD.56 miliar. • sebanyak 90 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp27.

44 miliar atas harga 36 jenis bahan dan barang untuk keperluan rehabilitasi dan pembangunan 73 sekolah dasar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2009. yang nyata dan pasti jumlahnya. • Di Kota Pematangsiantar. .75 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak 74 kasus senilai Rp14. dan barang. di antaranya penyetoran dari Kabupaten Banyuasin senilai Rp2.45 Dari 729 kasus kerugian daerah senilai Rp556. BPK telah merekomendasikan antara lain kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian serta entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan kasus kerugian daerah dengan menyetor ke kas negara/daerah.40 miliar dan di antaranya senilai Rp1.48 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah. surat berharga.64 miliar yang tidak didukung SP2D dan belum dikembalikan ke kas daerah.95 miliar. kerugian daerah tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.49 Potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. tidak cermat. Selain itu. 1. • Di Kota Padangsidimpuan. • Di Provinsi Maluku.47 Potensi Kerugian Daerah 1. Rekomendasi 1.06 miliar merupakan sisa uang persediaan (UP) Tahun 2008 di bendahara pegeluaran sekretariat daerah berupa panjar ke SKPD yang sampai dengan 31 Desember 2009 belum dikembalikan dan disetor ke kas daerah. kerugian daerah atas pemahalan harga/mark up senilai Rp2.30 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. Provinsi Sumatera Utara. 1.46 Kasus-kasus kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.26 minimal senilai Rp36. terjadi pemahalan harga beberapa paket pekerjaan hotmix Tahun 2009 pada Dinas Pekerjaan Umum yang berindikasi merugikan keuangan daerah minimal senilai Rp11.41 miliar mengalami kesalahan perancangan atau tidak memenuhi syarat struktural. ketekoran kas pada bendahara pengeluaran senilai Rp7. Provinsi Sumatera Utara. Penyebab 1. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.80 miliar. di antaranya senilai Rp5.

1. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 5 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp22.15 miliar. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah.27 1.52 . pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp521.25 miliar yang terdiri atas • sebanyak 7 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp9. kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. Selain itu.68 miliar di antaranya pertanggungjawaban belum lengkap dan sah serta entitas disarankan untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran dan apabila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah.51 1. pembelian aset yang berstatus sengketa. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadan yang telah rusak selama masa pemeliharaan. aset tidak diketahui keberadaannya. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp3.50 Pada umumnya kasus potensi kerugian daerah yaitu adanya aset dikuasai pihak lain. • sebanyak 2 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp3. dan • sebanyak 20 kasus lain-lain senilai Rp46.55 miliar. • sebanyak 39 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp152.36 miliar. • sebanyak 3 kasus pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan. serta lainlain kasus potensi kerugian daerah.57 miliar. • sebanyak 2 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp8. pemberian jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan.14 miliar. • sebanyak 24 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp80. • sebanyak 14 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp43.12 miliar. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.28 miliar.83 miliar. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya potensi kerugian daerah sebanyak 119 kasus senilai Rp370.45 juta.

57 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. tidak cermat.36 miliar dan tidak diperuntukkan untuk operasional pemerintah sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai aset tetap milik pemerintah. Provinsi Riau.96 miliar. dalam masa pemeliharaan yang mengakibatkan realisasi penggunaan dana TA 2009 senilai Rp21. Provinsi Sumatera Utara. potensi kerugian daerah atas kelebihan pembayaran prestasi pekerjaan. Penyebab 1. Provinsi Sulawesi Tenggara. 1.d.28 1. 2010 senilai Rp5. alat berat yang tidak digunakan. pembayaran material yang tidak memperhitungkan jarak angkut aktual atas pekerjaan pembangunan kawasan perkantoran Lumban Pea dari Tahun 2008 s. • Di Kabupaten Toba Samosir. 2009 yang telah disalurkan senilai Rp9. Selain itu. • Di Kabupaten Buton Utara. Provinsi Kalimantan Timur. • Di Kabupaten Bener Meriah.00 juta pada Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan seperti disajikan dalam Lampiran 4.55 Kasus-kasus potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.73 miliar.53 Kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut di antaranya sebagai berikut. potensi kerugian daerah pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. kredit macet atas kredit PER (Pengembangan Ekonomi Rakyat) TA 2007 s. 1. • Di Kabupaten Bengkalis.56 . BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.65 miliar menjadi tidak bermanfaat dan berpotensi merugikan daerah.49 miliar dan berpotensi merugikan daerah apabila tidak dapat tertagih. rekanan pengadaan tidak memperbaiki kerusakan jalan Ereke-Bau Bau. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Provinsi Aceh. Rekomendasi 1.25 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset sebanyak dua kasus senilai Rp426.d. terdapat aset tetap dari belanja modal TA 2009 yang dikuasai dan digunakan oleh pihak lain senilai Rp48. • Kabupaten Kutai Kartanegara. potensi kerugian daerah atas aset tetap berupa kendaraan dinas yang dipinjamkan kepada mantan anggota DPRD periode Tahun 2004-2009 dan pihak di luar pemerintah daerah yang belum dikembalikan senilai Rp4.54 Dari 119 kasus potensi kerugian senilai Rp370.

• Di Kabupaten Batu Bara. Kekurangan Penerimaan 1.80 juta. dan kasus lain-lain kekurangan penerimaan.59 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.63 Kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut di antaranya sebagai berikut.60 1. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah yaitu adanya penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah.58 BPK juga telah merekomendasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab agar mengupayakan penagihan dan mempertanggungjawabkan kasus potensi kerugian daerah dan bila tidak dapat mempertanggungjawabkan agar menyetor ke kas daerah atau melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian daerah.87 miliar. • sebanyak 3 kasus /penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp94.14 juta. penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak. kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah. • sebanyak 65 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp30. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.29 1.61 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 398 kasus senilai Rp207. 1.62 .41 miliar terdiri atas • sebanyak 321 kasus penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp166.84 juta.77 miliar. • sebanyak 5 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp476. Provinsi Sumatera Utara. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain kekurangan penerimaan senilai Rp276.92 miliar.66 miliar belum disetorkan ke kas negara mengakibatkan pemerintah pusat tidak dapat memanfaatkan penerimaan perhitungan fihak ketiga (PFK) dari potongan PPN dan PPh tersebut. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp8. penggunaan langsung penerimaan daerah. kekurangan penerimaan atas potongan PPN dan PPh Tahun 2009 minimal senilai Rp19. Selain itu. 1.

Rekomendasi 1.67 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/daerah tersebut.49 miliar di antaranya penyetoran dari Kabupaten Simalungun senilai Rp1. 2009 senilai Rp2. tidak cermat.24 miliar. 1. Provinsi Sulawesi Tenggara.95 miliar seperti disajikan dalam Lampiran 4. • Di Kabupaten Maros. adanya penggunaan langsung oleh SKPD untuk membiayai belanja rutin dan pinjaman sementara TA 2009 senilai Rp4. Penyebab 1. • Di Kabupaten Simalungun.30 • Di Kabupaten Bombana.41 miliar tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah sebanyak 34 kasus senilai Rp6.66 Administrasi 1.94 miliar. kasus kekurangan penerimaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku dan lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 1.65 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai.d. pajak hotel Tahun 2004 s. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah.64 Dari 398 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp207.82 juta belum disetorkan ke rekening kas umum daerah. • Di Kota Bekasi.68 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Selain itu.83 miliar. Atas kasus ini sudah ditindaklanjuti dengan penyetoran senilai Rp1. Provinsi Sulawesi Selatan.98 miliar dan belum disetorkan ke kas daerah senilai Rp8. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Provinsi Jawa Barat. Provinsi Sumatera Utara. tidak mengurangi hak daerah (kekurangan . terdapat kekurangan penerimaan dana Community Development (CD) atas pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sampai dengan 31 Desember 2009 senilai Rp5. penerimaan dana bagi hasil atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) TA 2009 dan 2010 tidak melalui rekening kas daerah Kabupaten Bombana di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara namun melalui dua rekening atas nama Pemda Bombana di Bank BRI sehingga tidak dilaporkan sebagai pendapatan daerah senilai Rp9. BPK antara lain telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab dan menyetorkan kekurangan penerimaan serta menyampaikan bukti setor ke BPK.73 miliar dan pendapatan bunga bank senilai Rp12.77 miliar.

31 penerimaan).71 1. koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • sebanyak 1 kasus koreksi perhitungan subsidi/kewajiban pelayanan umum. • sebanyak 28 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. 1.72 . Selain itu. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. dan lain-lain. 1. tidak menghambat program entitas. • sebanyak 7 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari ketentuan pelelangan.70 1. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.69 Pada umumnya kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu adanya pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid). • sebanyak 65 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 9 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pertambangan. penyimpangan yang bersifat administratif yaitu pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. perpajakan. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. dan pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. pelaksanaan lelang secara proforma. dan lain-lain kasus administratif. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya penyimpangan yang bersifat administratif sebanyak 862 kasus yang terdiri atas • sebanyak 364 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). Kasus lain penyimpangan administratif yaitu adanya proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 45 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). • sebanyak 8 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/belum disetor ke kas daerah.

32 • sebanyak 93 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. .74 Kasus-kasus administrasi pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Penyebab 1. yaitu bukti pertanggungjawaban senilai Rp381. • Di Provinsi Aceh.88 miliar tidak lengkap dan tidak dapat diyakini kewajarannya.00 miliar.02 miliar belum dipertanggungjawabkan dan berpotensi disalahgunakan oleh penerima bantuan. Provinsi Papua. • sebanyak 6 kasus pengalihan anggaran antar mata anggaran kegiatan (MAK) tidak sah. Provinsi Kalimantan Timur. • Di Kabupaten Mappi.75 miliar tidak lengkap dan senilai Rp221.13 miliar tidak diserahkan kepada tim BPK RI.47 miliar sampai dengan TA 2009 belum memiliki sertifikat sehingga berpotensi disalahgunakan dan diklaim oleh pihak lain. belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota TA 2009 senilai Rp86.73 Kasus-kasus administrasi tersebut di antaranya sebagai berikut. 1.32 miliar. Provinsi Jawa Barat. aset tetap hasil pengadaan TA 2006 s. • Di Kabupaten Aceh Jaya. pertanggungjawaban atas belanja daerah TA 2009 senilai Rp602. dan • sebanyak 25 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • sebanyak 71 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir TA terlambat/ belum disetor ke kas daerah. • sebanyak 54 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. • sebanyak 28 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. 2009 dinilai lebih rendah senilai Rp238. • Di Kabupaten Kutai Timur. Provinsi Aceh.d. 2009 pada 28 SKPD belum dipertanggungjawabkan senilai Rp209. • sebanyak 58 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.d. sisa kas di bendahara pengeluaran TA 2007 s. aset tetap tanah senilai Rp626. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan pengelolaan perlengkapan/barang milik daerah. • Di Kabupaten Cianjur.

03 juta. Provinsi Kalimantan Timur. hasil pekerjaan pendamping Pelabuhan Terpadu Kota Bangun berupa pekerjaan penurapan TA 2009 senilai Rp8. 1. segera melengkapi dokumen kepemilikan dan membuat peraturan daerah terkait penyertaan modal pemerintah. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. • sebanyak 4 kasus penetapan kualitas dan kuatitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp4.80 . Rekomendasi 1.75 miliar telah rusak dan diketahui bangunan mengalami kemiringan dan cenderung untuk rebah ke arah tiang pancang pekerjaan pembangunan Pelabuhan Terpadu Kota Bangun sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan harus dibangun kembali. BPK telah merekomendasikan antara lain agar entitas yang diperiksa mempertanggungjawabkan secara administratif atas bukti pertanggungjawaban yang belum valid.79 1. dan terjadi pemborosan atau kemahalan harga.81 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. adanya penetapan kualitas dan kuantitas barang/ jasa yang digunakan tidak sesuai standar.78 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar.76 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. BPK juga telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas aset serta memberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. 1. Pada umumnya kasus ketidakhematan yaitu adanya pengadaan barang/ jasa melebihi kebutuhan.02 miliar. dan • sebanyak 69 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp91.75 Selain itu.77 Ketidakhematan 1. 1. Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakhematan sebanyak 74 kasus senilai Rp95.27 miliar terdiri atas • sebanyak 1 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp131. kasus administrasi terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak menaati dan memahami ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.11 miliar.33 1.

49 miliar tidak memperhatikan asas kehematan. dan memedomani ketentuan yang berlaku dalam menetapkan kebijakan. • Di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Rekomendasi 1.44 miliar sehingga memboroskan keuangan daerah. dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pengeluaran biaya perjalanan dinas pada Dinas Perpajakan Daerah TA 2009 senilai Rp1.30 juta.82 Kasus-kasus ketidakhematan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. • Di Kota Tual.86 1. Kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. terdapat hasil pekerjaan perencanaan TA pada Dinas Pekerjaan Umum belum dimanfaatkan senilai Rp1.00 juta tidak berdasarkan survei harga setempat sehingga memboroskan keuangan daerah. • Di Kabupaten Solok Selatan. Provinsi Maluku.34 • Di Kabupaten Cianjur. dan belum optimal dalam melaksanakan tugas. Penyebab 1. pemborosan keuangan daerah atas pengadaan barang dan jasa Tahun 2008 yang dilakukan dengan utang kepada pihak ketiga dan tidak sesuai dengan standar harga satuan barang dan jasa kebutuhan pemerintah senilai Rp735.87 .85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.83 Ketidakefektifan 1. kasus ketidakhematan terjadi karena pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak memedomani ketentuan yang berlaku serta lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. antara lain BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Provinsi Sumatera Barat.84 Terhadap kasus-kasus ketidakhematan. Provinsi Sumatera Barat. 1. Selain itu. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. Kasus ketidakefektifan yang lain yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan 1. Provinsi Jawa Barat. belanja tunjangan perumahan pimpinan dan anggota DPRD TA 2009 senilai Rp773. tidak cermat.

35 miliar. • sebanyak 3 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6.01 miliar.89 Kasus-kasus ketidakefektifan tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp445.38 miliar. Provinsi Sulawesi Tenggara.32 miliar.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 73 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp61. Bappeda. • Di Kabupaten Nias Selatan.d. • sebanyak 32 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp86. hasil pembangunan rumah jabatan dan pendukung lainnya untuk Pimpinan dan Anggota DPR Aceh beserta pendukung lainnya TA 2008 s. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. • Di Kabupaten Konawe Utara.03 juta. 1.30 miliar belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya dan berpotensi rusak. • Di Provinsi Aceh. pembangunan gedung kantor Dinas Perhubungan. serta kantor Pelayanan Terpadu TA 2009 senilai Rp5.08 miliar belum memenuhi tujuan peningkatan prestasi kerja. 2009 sebanyak 69 unit senilai Rp43. Provinsi Sumatera Utara. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp33. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp7. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.93 miliar.35 tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. • Di Kabupaten Simalungun.91 miliar belum dimanfaatkan.20 juta. dana beasiswa untuk siswa miskin pada Dinas Pendidikan TA 2009 senilai Rp3. Provinsi Sumatera Utara.88 Hasil pemeriksaan atas LKPD menunjukkan adanya ketidakefektifan sebanyak 137 kasus senilai Rp195.14 miliar terlambat diterima oleh sekolah sehingga sekolah tidak segera dapat memanfaatkan dana beasiswa tersebut. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. Dinas Kimpraswil. • sebanyak 5 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp477. 1. pemberian tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja selama TA 2009 senilai Rp4. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. .

tidak cermat dalam merencanakan kegiatan dan melaksanakan tugas. BPK telah merekomendasikan kepada kepala daerah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab.06 miliar belum dimanfaatkan mengakibatkan pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal. pengadaan alatalat kesehatan pada RSUD Amanah Husada TA 2009 senilai Rp3.91 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan Rekomendasi 1. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. 1.92 . tidak memedomani ketentuan yang berlaku. kurang dalam pengawasan dan pengendalian kegiatan. Penyebab 1. Provinsi Kalimantan Selatan.90 Kasus-kasus ketidakefektifan pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai. memedomani ketentuan yang berlaku dan lebih cermat dalam perencanaan kegiatan serta memperhatikan asas efektivitas dalam melaksanakan kegiatan.36 • Di Kabupaten Tanah Bumbu.

81 256. Laporan Keuangan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M.36 BP Kawasan Perdagangan Bebas dan 14.692. Pemeriksaan keuangan atas BUMN/D dan badan lainnya bertujuan untuk memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan berdasarkan pada (a) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan dan atau prisip-prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.11 20. (b) kecukupan pengungkapan (adequate disclosure).96 Laba (rugi) Surplus (defisit) 70.05 Ekuitas 580.34 26. Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya (dalam miliar rupiah) Neraca No.75 -19.70 16. laporan laba rugi.19 7.044. (c) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. serta Laporan Keuangan Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009.39 931.11 .948. laporan perubahan ekuitas dan rasio modal.109.28 21. Laporan Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII (Persero) TB 2009.26 132.1 Pada Semester II Tahun 2010.9 26.085.273.09 424. dan (d) efektivitas sistem pengendalian intern.429. Cakupan pemeriksaan atas LK BUMN/D dan badan lainnya meliputi neraca.444. Laporan Keuangan West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010. Objek Pemeriksaan Aset 1 2 3 4 5 6 PTPN XII TB 2009 PDAM Kota Padang TB 2009 WSEDP pada BNPB TA 2010 BPIH 1430 H/2009 M BPIH 1429 H/2008 M 1.78 Laporan Laba Rugi/Laporan Surplus (Defisit)/Laporan Aktivitas/ Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 877.113.370.01 112. Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009.43 -14.09 17.72 2. Rincian cakupan pemeriksaan untuk LK BUMN/D dan badan lainnya tersebut disajikan dalam Tabel 2.56 7.52 Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 164.16 26.03 72.37 BAB 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 2.84 Kewajiban 504.97 Biaya 806.1.38 7.4 14. laporan realisasi anggaran atau laporan surplus (defisit) atau laporan aktivitas.65 75. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya. serta laporan arus kas.1 berikut Tabel 2.3 7.487.38 -2.83 882.03 451.2 2.

dan akuntabel. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.2 berikut. 2. Opini atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya Sistem Pengendalian Intern 2. Selain menerbitkan laporan hasil pemeriksaan keuangan yang berupa opini. 1 2 3 4 Entitas PDAM Kota Padang BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam PTPN XII (Persero) BPIH Opini 2008 TMP WDP WDP-DPP*) TMP 2009 WDP WDP TMP TMP Keterangan : *) diperiksa oleh KAP Sugeng. sistem pengendalian intern (SPI). Sjahrial & Rekan Tabel 2. efisien. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara mengharuskan pemeriksa untuk mengungkapkan kelemahan atas pengendalian intern entitas.7 Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif. Oleh karena itu.38 Hasil Pemeriksaan 2.6 BPK memberikan opini WTP terhadap Laporan Keuangan WSEDP BNPB TA 2010. Selain itu.2. perkembangan opini keempat entitas tersebut untuk Tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 2. BPK juga memberikan opini TMP terhadap PTPN XII (Persero) TA 2009 serta PIH Tahun 1430H/2009M dan Tahun 1429H/2008M. dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. transparan. 2.8 . No. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.4 Hasil pemeriksaan keuangan atas LK BUMN/D dan badan lainnya disajikan dalam tiga kategori. Kecuali WSEDP BNPB yang merupakan initial audit bagi BPK. BPK juga menerbitkan laporan hasil pemeriksaan atas SPI pada setiap entitas yang diperiksa. Hasil evaluasi atas SPI LK BUMN/D dan badan lainnya dapat diuraikan sebagai berikut. pemerintah wajib melakukan pengendalian intern atas penyelenggaraan kegiatannya.5 Opini 2. opini WDP diberikan terhadap Laporan Keuangan PDAM Kota Padang TB 2009 serta BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009. yaitu opini.

68 juta. sehingga saldo hutang DAU tidak dapat diyakini kewajarannya.66 miliar. dan • sebanyak 22 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. implementasi pengukuran dan pencatatan persediaan pupuk dilakukan tidak sesuai dengan kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan mengakibatkan saldo persediaan pupuk per 31 Desember 2008 dan 2009 masing-masing senilai Rp7. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.9 Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya menunjukkan adanya 71 kasus kelemahan SPI.63 miliar. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab tidak mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan BUMN/D dan badan lainnya. dan aktiva tanaman Rp37. • Di PDAM Kota Padang TB 2009.17 miliar tidak didukung dokumen pendukung yang menjadi dasar perhitungan dan tidak ada proses rekonsiliasi antara BPIH dengan BP-DAU untuk memastikan jumlah piutang yang seharusnya disajikan. . saldo hutang kepada Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) senilai Rp16.39 Hasil Evaluasi SPI 2. terdiri atas • sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. pengelolaan piutang Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) TA 2009 belum tertib dan sampai dengan 31 Desember 2009 belum diterima pelunasannya senilai Rp264.29 miliar dan Rp2.62 miliar. 2. Penyebab 2. • Di PIH Tahun 1429 H/2008 M.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 19 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. serta terdapat denda keterlambatan piutang UWTO yang belum dibuatkan faktur penagihannya senilai Rp967.29 miliar tidak dapat diyakini kewajarannya. alokasi biaya persediaan pupuk ke beban pokok penjualan Rp54.25 miliar dan PDAM menanggung biaya produksi air. sanksi pemutusan sambungan air belum dilakukan kepada pelanggan yang menunggak lebih dari tiga bulan mengakibatkan tunggakan rekening air senilai Rp13.

Di antara temuan signifikan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan adalah sebagai berikut.29 64. ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.3. BPK masih menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah. ketidakhematan.12 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. kekurangan penerimaan negara/perusahaan milik negara/daerah. dan ketidakefektifan meliputi 63 kasus senilai Rp239. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 2.897. 2.3 di atas. potensi kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah.15 .12 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 2.16 239.72 89. administrasi.14 Berdasarkan Tabel 2. • Di PTPN XII (Persero) TB 2009.595.12 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan atas enam laporan keuangan BUMN/D dan badan lainnya.203. ketidakefisienan.67 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 7 Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/ Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan 2.40 Rekomendasi 2. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan BUMN/D dan badan lainnya menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengawasan.48 35. yaitu piutang Ditjen Perkebunan dan penyisihannya senilai Rp11.13 Selain opini dan evaluasi atas sistem pengendalian intern. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 6 dan rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 7. Tabel 2.43 miliar tidak diungkap pada laporan keuangan per 31 Desember 2009 dan kebijakan menghapusbukukan piutang tersebut melanggar anggaran dasar dan tanpa persetujuan dewan komisaris.03 282.3. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus 4 7 10 23 9 1 9 Jumlah 63 Nilai (juta Rp) 28.123.116. hasil pemeriksaan mengungkapkan 63 kasus senilai Rp239.99 49.

46 ribu (ekuivalen USD1 = Rp8.16 Dari sejumlah kasus kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/ daerah senilai Rp28.19 .86 miliar.500.06 miliar dan pendapatan bunga deposito hasil optimalisasi setoran awal biaya PIH biasa pada tiga BPS masih terhutang pajak final yang belum disetorkan ke kas negara senilai Rp3. terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan PIH.18 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan tersebut. yaitu penghapusan piutang kepada Anna for Development senilai Rp84. 2.61 miliar. Penyebab 2.41 • Di WSEDP BNPB Tahun 2010. ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian negara.00) tidak sesuai ketentuan. yaitu bunga deposito dana setoran awal dari empat bank penerima setoran (BPS) senilai Rp6. yaitu tingkat kehilangan air dalam proses distribusi melebihi batas toleransi senilai Rp11. • Di PDAM Kota Padang TB 2009.37 miliar (ekuivalen SAR1 = Rp2. • Di BP Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009.991. 2. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.00) yang digunakan untuk kepentingan di luar tujuan pembukaan rekening sehingga menimbulkan risiko kegiatan terhambat. yaitu pemberian dana bantuan sosial masyarakat tidak mematuhi ketentuan yang berlaku senilai Rp3. tidak cermat dan belum optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. yaitu terdapat penggunaan dana hibah ADB senilai Rp21.17 Kasus-kasus tersebut pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam menaati ketentuan yang berlaku.68 miliar sehingga tidak sesuai dengan peruntukannya. Rekomendasi 2.72 juta dan kekurangan penerimaan negara/daerah/ perusahaan milik negara/daerah senilai Rp35. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas negara/daerah masing-masing senilai Rp539.991.59 miliar.00) dan Rp17. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan. Selain itu.45 miliar (ekuivalen USD1 = Rp8. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan agar para pejabat lebih menaati ketentuan serta lebih cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. • Di PIH Tahun 1430 H/2009 M. ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan.32 miliar.

42 .

penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M. terdiri dari 46 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. 5 pemda. dan efektivitas. pelayanan kesehatan rumah sakit dan dinas kesehatan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas 147 objek pemeriksaan. 89 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan kinerja lainnya (10 objek pemerintah pusat. pengelolaan hutan mangrove. perusahaan daerah air minum (PDAM). dan 9 PDAM.43 PEMERIKSAAN KINERJA Pemeriksaan kinerja bertujuan menilai aspek ekonomis. dan 3 BUMN). dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. energi. . kinerja pendidikan. Pemeriksaan kinerja tersebut dilakukan atas • • • • • • • • penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. 3 BUMN. efisiensi. perhubungan. Dalam Semester II Tahun 2010. program stimulus fiskal belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. pertanian.

44 .

Singapura.3 triliun. Dinas Tenaga Kerja provinsi/kabupaten/ kota. Setidaknya ada lima lembaga formal yang terkait dalam penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans).2 3. dan perlindungan hukum.45 BAB 3 Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri 3. Jawa Timur. martabat. Ketentuan perundang-undangan yang mengatur penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2004 merupakan landasan hukum untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak di luar negeri.01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia. serta Peraturan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).3 3. dan Nusa Tenggara Barat. Penempatan TKI di luar negeri telah memberikan tambahan sumber devisa negara yang besar dengan rata-rata setiap tahunnya mencapai USD 4. namun kebijakan operasional lebih lanjut telah diatur dengan Peraturan Presiden. Jawa Tengah. Dalam Semester II Tahun 2010. Jeddah. sementara pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional belum mencukupi. BNP2TKI. dan Kuwait. BNP2TKI. Riyadh. yang pelaksanaannya dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat. serta Atase Tenaga Kerja pada Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam lima tahun terakhir mencapai angka 3.37 miliar atau sekitar Rp39. hak asasi manusia. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI). yaitu DKI Jakarta. Ditjen Imigrasi. Hongkong. 3. Kawasan penempatan yang terbesar adalah kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. dan dinas tenaga kerja provinsi/kabupaten/kota. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Pemeriksaan dilakukan pada Kemenakertrans. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.1 Penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri merupakan suatu upaya untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak. Perwakilan RI di luar negeri.4 . Walaupun enam peraturan pemerintah yang diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 belum ada yang diterbitkan. Berbagai pihak terlibat baik lembaga pemerintah maupun swasta dalam proses penempatan TKI sejak dari pra penempatan sampai dengan masa penempatan.

Pra Penempatan • Rekrutmen yang prosedural dalam memenuhi job order untuk menghasilkan calon TKI yang telah dipersiapkan dan didukung fasilitas yang layak dan memadai pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. pelaksanaan. Kriteria Pemeriksaan 3. • Monitoring TKI yang proaktif yang menjamin kepastian perlindungan TKI sesuai dengan hak dan kewajibannya. pengorganisasian sumber daya. Masa Penempatan • Keberangkatan dan kedatangan TKI di tempat tujuan dimonitor dan telah didukung sistem informasi yang andal. • Pengujian kesehatan yang menjamin derajat kesehatan calon TKI terpenuhi dan didukung proses yang transparan dan dapat diandalkan. • Penanganan TKI bermasalah secara komprehensif yang memperhatikan aspek perlindungan dan kepastian hak dan kewajiban TKI. a. b. dan pasti. • Pengujian yang memastikan kompetensi calon TKI sesuai yang dipersyaratkan dan didukung lembaga yang teruji.5 Pemeriksaan kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri bertujuan untuk menilai apakah penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah efektif dalam aspek perencanaan. • Pengurusan dokumen pemberangkatan calon TKI yang sah.46 Tujuan Pemeriksaan 3. . • Pembekalan akhir yang memastikan calon TKI memahami hak dan tanggung jawab serta diselenggarakan secara konsisten.6 Untuk memastikan penilaian kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri telah sesuai dengan kondisi yang memadai. didasarkan pada kriteria sebagai berikut. dan pengendalian. transparan. • Pelatihan yang membekali kemampuan calon TKI sesuai dengan kebutuhan dan didukung prasarana yang memadai.

Purna Penempatan • Pendataan TKI yang menjamin keandalan informasi dan didukung prasarana yang memadai. komprehensif dan transparan untuk melindungi hak-hak dasar TKI. Hal ini juga tidak didukung dengan sistem yang terintegrasi dan alokasi sumber daya yang memadai guna meningkatkan kualitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. 3. Hasil Pemeriksaan 3. sistem perekrutan calon TKI tidak menjamin bahwa biaya pengurusan dokumen dan syarat-syarat penempatan serta potongan gaji kepada TKI telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. pelatihan dan pengujian kesehatan. Kondisi tersebut terbukti dari penyiapan perekrutan dan penempatan TKI yang ternyata sebagian dilakukan untuk negara tujuan penempatan yang tidak memiliki MoU dan perundang-undangan yang menjamin perlindungan tenaga kerja.47 c.11 . Kompleksitas masalah tersebut mengakibatkan efektivitas penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri tidak tercapai secara optimal. Masih sering terjadi besarnya potongan gaji TKI lebih tinggi dari komponen biaya penempatan maksimal (cost 3.9 Rekrutmen TKI belum didukung proses yang valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian.8 3. • Pemulangan TKI yang memastikan keamanan dan kenyamanan TKI dan didukung prasarana yang memadai. proses penempatan di negara tujuan sampai dengan pemulangan TKI ke tanah air.7 Hasil pemeriksaan atas kinerja penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menyimpulkan bahwa penempatan TKI di luar negeri tidak didukung secara penuh dengan kebijakan yang utuh. keadilan. Masalah-masalah pokok yang mendorong tidak efektifnya penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dapat diuraikan sebagai berikut. Ketidakjelasan kebijakan dan lemahnya sistem penempatan dan perlindungan TKI memberikan peluang terjadinya penyimpangan sejak proses rekrutmen.10 Rekrutmen TKI yang seharusnya dimulai sejak pemetaan kondisi dan dasar hukum ketenagakerjaan negara tujuan penempatan TKI. dan perlindungan TKI 3. dan kesempatan yang sama bagi setiap pemilik kepentingan. belum dilaksanakan sepenuhnya untuk menjamin aspek perlindungan dan rasa aman bagi TKI. pengurusan dokumen. Selain itu. • Penanganan TKI bermasalah yang memberikan kepastian dan tindak lanjut perbaikan.

biaya surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) di kantor kepolisian. dan BNP2TKI. Selain itu. 3. 3. Hal-hal tersebut di atas menjadikan proses rekrutmen yang selama ini berjalan belum valid dan transparan sehingga tidak ada jaminan kepastian. Selain itu. dan perlindungan bagi TKI. Kementerian Kesehatan (Kemenkes). masih ditemukan juga perekrutan TKI tanpa job order atau menggunakan job order yang telah kedaluwarsa. biaya pembekalan akhir penempatan (PAP)/Iuran Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) di APJATI. . Beberapa PPTKIS mengirim TKI ke luar negeri melebihi jumlah TKI yang disetujui untuk direkrut dan merekrut calon TKI yang tidak memenuhi syarat. Sejauh ini evaluasi dan monitoring yang dilakukan pemerintah tidak bisa menjamin kebijakan penyiapan dan pengelolaan perekrutan calon TKI menjadi lebih baik dan efektif. sistem pelatihan dan pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi. biaya/ premi asuransi dan biaya fee Petugas Lapangan (PL) dan agensi rata-rata menjadi beban yang wajib dikeluarkan oleh Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) yang nantinya akan membebankan kepada TKI melalui potongan gaji. biaya paspor di kantor imigrasi. dan teruji kurang didukung kebijakan yang tegas. mengalami pemotongan gaji lebih lama. tidak semua sarana kesehatan memiliki sistem biometrik yang terhubung dengan Sistem Pelayanan Penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sebagai alat untuk memvalidasi sertifikat kesehatan calon TKI yang diterbitkan sarana kesehatan. mampu. dan memperoleh gaji lebih sedikit. keadilan.13 3. Standar pengujian kesehatan dan biaya pengujian kesehatan juga tidak baku dan seragam bagi semua sarana kesehatan.15 Peraturan tentang rekrutmen calon TKI belum tegas mengatur mekanisme pengendalian operasional sarana kesehatan dan infrastruktur penunjangnya secara efektif. Biaya pengurusan dokumentasi seperti biaya rekomendasi paspor dari disnaker kabupaten/kota. Kondisi tersebut mengakibatkan TKI harus menanggung biaya penempatan yang lebih tinggi dari seharusnya.12 Sistem rekrutmen calon TKI juga tidak menjamin bahwa mekanisme perekrutan berjalan sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Banyaknya kondisi-kondisi yang tidak ideal tersebut belum secara optimal dijadikan bagian dari monitoring dan evaluasi pemerintah untuk perbaikan. Kebijakan dan prosedur pengawasan sarana kesehatan juga tidak terintegrasi dengan fungsi pengawasan pada Kemenakertrans. Sebagian besar perekrutan TKI tidak melalui bursa tenaga kerja yang ada pada dinas tenaga kerja kabupaten/kota.48 structure) TKI yang ditetapkan pemerintah.14 Penyiapan tenaga kerja yang sehat. tetapi melalui sponsor/petugas lapangan (calo). Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan potensi TKI bermasalah di kemudian hari. Ini terbukti dengan masih adanya sarana kesehatan yang beroperasi tanpa izin operasional atau dengan izin operasional tetapi telah kedaluwarsa. serta pengawasan yang periodik dan konsisten 3.

Selain itu.16 Akreditasi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja yang ditunjuk melalui keputusan Menakertrans juga dilakukan secara tidak terprogram. Mekanisme penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal oleh instansi yang berbeda-beda antar daerah pengirim TKI (khususnya antara Provinsi DKI Jakarta dengan provinsi lainnya) semakin tidak terkendali. Kewenangan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Timur Tengah dimonopoli oleh Kantor Imigrasi Unit Khusus Tangerang.17 Dualisme kewenangan antara Kemenakertrans dengan BNP2TKI dan dinas tenaga kerja dengan BP3TKI dalam penerbitan dokumen keberangkatan TKI yang belum dituntaskan secara kelembagaan menambah kerumitan pengurusan dokumen keberangkatan TKI yang sah. Kapasitas BNSP dalam kecukupan SDM untuk memonitor dan mengevaluasi LSP tidak memadai. terencana. kompetensi SDM. Kondisi pengurusan dokumen yang tidak equal treatment ini tidak dibenahi oleh pemerintah sampai saat ini. Perbedaan perlakuan pembuatan paspor ini menyebabkan pengerahan sumber daya PPTKIS yang tidak efisien.18 3. Sanksi atas BLKLN yang tidak memenuhi standar pelatihan tidak dilakukan. Efektivitas LSP sebagai filter tingkat kompetensi calon TKI meragukan dengan banyaknya TKI yang bekerja tanpa pelatihan.49 3. dan pasti. yang sampai saat ini belum ada. sesuai amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 51 wajib dimiliki setiap calon TKI untuk dapat ditempatkan di luar negeri. Sedangkan pembuatan paspor TKI untuk penempatan TKI Asia Pasifik dapat diproses pada kantor imigrasi manapun. dan terukur untuk memastikan penilaian sarana/prasarana.19 3. serta penegakan aturan yang tegas dan konsisten 3. transparan. Fungsi dan kegunaan KTKLN. menjadi mubazir. turut bersaing menerbitkan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal dengan BP3TKI Jakarta. dan terencana dengan baik terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kegiatan uji kompetensi calon TKI setelah dilatih oleh BLKLN. Penyiapan tenaga kerja yang legal dan prosedural kurang didukung kebijakan yang tegas. sehingga masih saja ditemukan kasus-kasus TKI gagal disebabkan tidak adanya pelatihan atau pelatihan yang tidak memenuhi standar oleh BLKLN. Banten. rutin. sistem yang terintegrasi.20 . Rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal yang seharusnya berfungsi juga untuk pengendalian keabsahan calon TKI menjadi sulit dilakukan karena sistem yang digunakan oleh Direktorat PTKLN bersifat manual. Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PTKLN) pada Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (PPTK) yang harusnya berkewajiban membakukan prosedur penerbitan rekomendasi paspor dan rekomendasi bebas fiskal. dan program diklat yang jelas dan baku serta jangka waktu pelatihan yang sesuai ketentuan. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak melakukan pengawasan secara terprogram. Dualisme penggunaan KTKLN yang dikeluarkan oleh 3.

pasti. Selain itu. Pelaksanaan PAP oleh BP3TKI yang dibiayai dari APBN. Ketidaksinkronan jumlah penerimaan DP3TKI dengan jumlah TKI yang diberangkatkan sudah berlangsung lama. Bahkan dengan munculnya isu mengenai siapa yang berhak mengelola DP3TKI. apakah tetap Kemenakertrans atau BNP2TKI.24 . bahkan terdapat konsorsium asuransi yang dengan sengaja menyembunyikan data produksi dan klaimnya. menciptakan persaingan tidak sehat. menyebabkan Kemenakertrans tidak tertarik untuk memperbaiki penatausahaan DP3TKI itu. mencerminkan pengelolaan PAP tidak akuntabel dan transparan. melainkan berlomba-lomba memberikan diskon premi dan tawar-menawar harga premi kepada PPTKIS. Penunjukan sembilan konsorsium asuransi melalui keputusan Menakertrans pada Tahun 2006 sampai dengan 2009 yang melibatkan 48 perusahaan asuransi dan delapan broker asuransi. tetapi mendapat rekomendasi bebas fiskal oleh Sub Direktorat PPTKLN maupun BP3TKI. Website konsorsium asuransi yang seharusnya dapat diakses secara terbuka seringkali terkendala secara teknis. 3. walaupun biaya premi tersebut akhirnya ditagihkan secara penuh kepada TKI melalui mekanisme pemotongan gaji. Data produksi dan progress klaim TKI sangat sulit diakses. Konsorsium asuransi tidak berlomba-lomba memperbaiki kinerja jaringan dan pelayanan.50 BNP2TKI dan Asosiasi PPTKIS (atas rekomendasi Kemenakertrans) yang tidak kunjung selesai dan tidak tersedianya perangkat pendukung KTKLN (card reader) yang memadai mengurangi fungsi KTKLN sebagai kartu identitas TKI yang sah dan wajib dimiliki TKI sebelum berangkat ke luar negeri. dan transparan 3. KTKLN yang dibuat secara manual di samping menambah ongkos TKI juga bersifat formalitas karena fungsi dan kegunaannya tidak sesuai sebagai penyimpan data yang dapat difungsikan dengan alat pembaca KTKLN. khususnya asuransi pra penempatan. Kewajiban 3. 3.21 Dualisme penyelenggaraan PAP oleh Kemenakertrans/Asosiasi PPTKIS dan BP3TKI menjadikan kegiatan PAP tidak terarah dan terprogram. Konsorsium asuransi tidak terbuka melaporkan produksi polis dan klaim baik kepada Kemenakertrans maupun terbuka untuk umum melalui website. Kemenakertrans tidak menyelenggarakan penatausahaan penerimaan dan penyetoran Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan TKI (DP3TKI) ke kas negara secara transparan. serta banyaknya TKI yang tidak diikutkan PAP oleh PPTKIS-nya. Dilema asuransi juga diperparah dengan adanya unsur kesengajaan PPTKIS yang tidak mengikutkan TKI-nya dalam program asuransi.22 Penyelenggaraan asuransi TKI belum memberikan perlindungan secara adil. Program itu belum dikelola dengan baik oleh Kemenakertrans. Bagi PPTKIS semakin sedikit biaya premi yang dibayarkan semakin baik. sedangkan pelaksanaan PAP oleh Sub Direktorat PPTKLN/Asosiasi PPTKIS dibiayai TKI.23 Amanat UU Nomor 39 Tahun 2004 Pasal 68 mewajibkan PPTKIS mengikutsertakan TKI yang akan diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi. yang jenis dan biaya pertanggungannya sudah ditetapkan.

51 konsorsium dalam menyelesaikan klaim sering terlambat dan tidak jelas statusnya. Banyaknya klaim asuransi TKI yang tidak cair sering menimbulkan pertanyaan apakah proses klaimnya disetujui tetapi lambat atau klaimnya ditolak. Tidak ada kejelasan mengenai proses klaim dari konsorsium baik kepada Kemenakertrans, TKI yang bersangkutan atau pihak-pihak yang mewakili TKI. 3.25 Demikian juga kewajiban konsorsium asuransi dalam menangani kasus-kasus TKI di luar negeri sering kali tidak jelas statusnya. Perwakilan konsorsium asuransi pada negara penempatan sering tidak ada atau ada tapi tidak diketahui Perwakilan RI. Jenis pertanggungan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, pelecehan seksual, kecelakaan kerja yang berakhir pada pemberhentian TKI oleh majikan sulit diklaim kepada asuransi TKI, sehingga sering menimbulkan dilema pembiayaan pemulangan bagi Perwakilan RI. Pendampingan TKI yang bermasalah hukum di negara penempatan diwakili oleh lawyer yang ditunjuk oleh Perwakilan RI. Namun saat tagihan biaya lawyer kepada konsorsium asuransi tiba, konsorsium asuransi sering tidak menyelesaikan segera. Konsorsium asuransi memberikan berbagai alasaan teknis maupun administrasi bila konsorsium asuransi dikonfirmasi terkait status tersebut.

Data penempatan TKI tidak akurat, sehingga tidak membantu upaya perlindungan TKI di luar negeri
3.26 Keberadaan sistem informasi TKI pada Perwakilan RI di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya perlindungan TKI. Sistem tersebut memerlukan data base TKI yang mutakhir setiap waktu. Pemerintah telah menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan data TKI tersebut melalui mekanisme lapor diri TKI atau melalui PPTKIS pengirim, seperti diamanatkan dalam UU Nomor 39 Tahun 2004. Namun ketaatan PPTKIS untuk melaporkan setiap pengiriman TKI kepada Perwakilan RI sangat rendah, sehingga data TKI pada Perwakilan RI tidak mutakhir. Perwakilan RI di luar negeri belum secara optimal melakukan setiap prosedur untuk memastikan kebijakan pendataan TKI melalui mekanisme lapor diri terpenuhi. Kegiatan welcoming program dan exit program oleh Perwakilan RI di Hongkong sepertinya hanya formalitas jauh dari tujuan yang diharapkan. Perwakilan RI di Singapura, Malaysia, dan Kuwait sia-sia melakukan pendekatan melalui data entry testworking permit pada website atau mengirim permintaan tertulis kepada ministry of manpower atau imigrasi, walaupun mengetahui data working permit tersebut hanya berbentuk kisaran jumlah TKI. Sedangkan Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak melakukan upaya pendekatan apapun selain mengandalkan data TKI berdasarkan data perjanjian kerja (PK), walaupun hanya berisi data majikan saja. Kondisi tersebut terjadi di tengah kewenangan yang begitu besar yang dimiliki Perwakilan RI di luar negeri untuk menyetujui boleh atau tidaknya penempatan TKI yang diminta majikan, agensi, dan PPTKIS.

3.27

52

Penanganan dan Penyelesaian TKI bermasalah di luar negeri bersifat parsial
3.28 Berbagai usaha untuk menyelesaikan kasus TKI bermasalah telah dilakukan Perwakilan RI di luar negeri. Namun penanganan kasus TKI oleh Perwakilan RI selama ini hanya fokus pada masalah yang dihadapi TKI secara parsial, bukan pada penyelesaian kasus secara komprehensif pada akar permasalahan. Evaluasi atas kondisi sebab akibat kasus TKI belum dilakukan Perwakilan RI untuk menemukan akar permasalahan secara jelas. Permasalahan gaji tidak dibayar, PHK sepihak, TKI overstayers, dan masalah ketenagakerjaan lainnya akan selalu timbul jika penanganan kasus dilakukan secara parsial. Perwakilan RI di Malaysia, Hongkong, Saudi Arabia, dan Kuwait akan selalu menghadapi kasus serupa berulang-ulang tanpa penyelesaian kasus secara komprehensif yang seharusnya melibatkan pihak-pihak terkait mulai PPTKIS, agensi, majikan, pemerintah Indonesia, dan pemerintah negara penempatan. Pemerintah seharusnya segera mengambil peranan koordinasi tersebut dengan lebih baik lagi.

Evaluasi yang berkelanjutan terhadap data dan informasi masalah TKI tidak ditangani secara tuntas dan komprehensif
3.29 Pemerintah dhi. Kemenakertrans dan BNP2TKI telah menetapkan regulasi yang mengatur proses pendataan kedatangan, pengaturan transportasi, dan penanganan TKI bermasalah. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjamin TKI dapat sampai daerah asalnya dengan cepat, mudah, murah, dan selamat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa koordinasi pendataan kedatangan TKI secara terpadu antara BNP2TKI dengan pengelola bandara dan imigrasi tidak optimal. Tidak ada mekanisme yang baku untuk memastikan bahwa penumpang pesawat yang mendarat di bandara internasional adalah TKI, sehingga ada kemungkinan penumpang yang bukan TKI didata sebagai TKI, demikian juga sebaliknya. Proses penetapan operator armada transportasi tidak melalui evaluasi teknis, kinerja dan kelayakan operator/armadanya secara baku dan transparan, sehingga banyak operator angkutan pemulangan TKI ke daerah asal tidak bisa memenuhi jumlah kuota armada yang telah ditentukan. Penempatan staf BP3TKI sebagai petugas kontrol Surat Perintah Jalan di rumah singgah tidak dilakukan. Pengecekan kelaikan armada dan pengemudi tidak dilakukan karena tidak ada pegawai BNP2TKI yang kompeten dalam bidang teknis mesin kendaraan angkutan TKI. Pengecekan hanya dilakukan sebatas Surat Perintah Jalan, administrasi kendaraan, dan pengemudi. Pemberian sanksi kepada operator yang melakukan pelanggaran tidak konsisten yang terlihat dari sanksi yang berbeda-beda tiap operator. Pengurusan pengajuan klaim asuransi TKI bermasalah yang dibantu oleh BNP2TKI melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memunculkan pertanyaan mengenai beban pembiayaan LBH yang berasal dari APBN untuk jasa pengurusan klaim asuransi TKI, selain juga mengenai mekanisme penunjukan

3.30

3.31

53 dan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH yang tidak jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban penanganan klaim oleh LBH kepada BNP2TKI sebagai pemberi tugas. Mekanisme penyerahan klaim kepada TKI juga tidak jelas. Rekomendasi 3.32 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala BNP2TKI baik bersamasama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan kewenangan masing-masing untuk segera : • melakukan evaluasi menyeluruh peraturan perundangan, kebijakan, sistem, dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri; • melaksanakan moratorium (penghentian pengiriman sementara) TKI informal ke negara yang belum memiliki peraturan yang melindungi TKI dan/atau perjanjian tertulis (MoU) dengan Pemerintah RI; • mengkaji dan menetapkan kembali biaya penempatan TKI yang proporsional dan riil; • menetapkan dan melaksanakan standar baku penyiapan, pengelolaan, dan monitoring/evaluasi perekrutan TKI; • menetapkan standardisasi perizinan lembaga pengujian kesehatan calon TKI untuk menjamin validitas sertifikasi kesehatan calon TKI; • menetapkan mekanisme monitoring dan evaluasi fungsi BLKLN secara jelas, terprogram, dan terarah; • memastikan kapasitas BNSP agar dapat melaksanakan fungsi pengawasan atas kegiatan LSP secara terprogram dan terarah; • menetapkan batas kewenangan Kemenakertrans, BNP2TKI, dan dinas tenaga kerja secara jelas dan terkoordinasi dengan baik dalam semua lini pengurusan dokumen keberangkatan TKI; • menetapkan dan menegakkan regulasi pengelolaan asuransi yang jelas dan berpihak pada TKI; • menyelenggarakan sistem informasi TKI terpadu yang andal dan dapat diakses Perwakilan RI di luar negeri; • menetapkan program pembinaan/monitoring pada Atase Tenaga Kerja yang terarah serta penyediaan prasarana, SDM, dan dana yang cukup dan cepat dalam upaya perlindungan dan pembinaan TKI; • memperbaiki regulasi penempatan TKI yang lebih menekankan pendekatan perlindungan TKI khususnya regulasi pra penempatan dan

54 menetapkan mekanisme penanganan kasus TKI pada Perwakilan RI di luar negeri yang terstruktur secara efektif; • mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pendataan, mekanisme pemulangan, dan mekanisme penanganan kasus dan pengajuan klaim asuransi TKI pada bandara-bandara internasional tempat kedatangan TKI; dan • mengenakan sanksi secara tegas dan konsisten kepada PPTKI, BLKLN, Lembaga Pengujian Kesehatan calon TKI, LSP, dan perusahaan/ konsorsium asuransi TKI serta pihak lain yang terkait, yang melanggar ketentuan dan/atau standar yang telah ditetapkan dalam pelayanan kepada TKI. 3.33 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

55

BAB 4 Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Energi, dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009
4.1 Krisis keuangan global yang menimpa sektor perbankan dan keuangan dunia dipicu oleh munculnya krisis atas subprime mortgage di Amerika Serikat dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada Tahun 2007. Krisis tersebut berdampak pada kelemahan dalam pengaturan industri keuangan dan sistem keuangan global, serta pada penurunan kinerja perekonomian dunia pada Tahun 2008, dan berlanjut pada Tahun 2009. Sesuai dengan UU Nomor 41 Tahun 2008 Pasal 23 tentang APBN TA 2009, Pemerintah menyampaikan usulan tentang upaya mengatasi dampak krisis global melalui program Stimulus Fiskal (SF) APBN TA 2009 kepada Panita Anggaran DPR RI. Rapat kerja Panitia Anggaran DPR RI dan Pemerintah tanggal 24 Februari 2009 memutuskan bahwa alokasi anggaran program/ kegiatan SF APBN TA 2009 senilai Rp73,30 triliun. Alokasi anggaran program/ kegiatan SF tersebut terdiri dari stimulus perpajakan dan kepabeanan senilai Rp56,30 triliun (76,81%) dan stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun (23,19%). Dari jumlah stimulus belanja negara senilai Rp17,00 triliun tersebut, dialokasikan sebagai stimulus belanja infrastruktur senilai Rp12,20 triliun serta subsidi langsung dan subsidi energi senilai Rp4,80 triliun. Program/kegiatan SF belanja infrastruktur mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi pemutusan hubungan kerja (PHK). Pemerintah telah mengalokasikan anggaran stimulus belanja untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya pada program/ kegiatan terkait dengan penanganan bencana, pembangunan jalan, jembatan dan irigasi, percepatan infrastruktur lanjutan, pengembangan bandara, jaringan kereta api, pelabuhan laut dan penyeberangan, pembangunan transmisi, jaringan dan gardu induk, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), pembangunan dan rehabilitasi jalan usaha tani, dan pembangunan infrastruktur dan perumahan khusus nelayan. BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur pada enam objek pemeriksaan di delapan kementerian dengan lokasi pemeriksaan di 18 provinsi dengan rincian sebagai berikut. • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta. • Kementerian Keuangan di Jakarta. • Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta.

4.2

4.3

4.4

56 • Kementerian Pekerjaan Umum di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. • Kementerian Perhubungan di sembilan provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. • Kementerian Pertanian di tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di sepuluh provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. • Kementerian Kelautan dan Perikanan di empat provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. 4.5 Selain itu, pemeriksaan untuk bidang pekerjaan umum (PU) juga dilakukan di 26 dinas provinsi/kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Barat, Bengkulu, Jambi, NTT, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara. Entitas yang diperiksa untuk bidang PU meliputi Dinas Bina Marga (BM) dan Pengairan Kabupaten Bogor, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten Demak, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Nganjuk, Dinas PU BM dan Pengairan Kabupaten Trenggalek, Dinas PU BM dan Cipta Karya (CK) Kabupaten Tulungagung, Dinas PU Kota Palangkaraya, Dinas PU Kabupaten Barito Kuala, Dinas PU Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Dinas PU Kabupaten Takalar, Dinas PU Kabupaten Maros, Dinas PU Kabupaten Gowa, Dinas PU Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas PU Kabupaten Sorong, Dinas PU Kabupaten Sorong Selatan, Dinas PU Kabupaten Mukomuko, Dinas PU Kabupaten Kepahiang, Dinas PU Kabupaten Bungo, Dinas PU Kabupaten Merangin, Dinas Kimpraswil Provinsi NTT, Dinas PU Kabupaten Manggarai Timur, Dinas PU BM, dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Donggala, Dinas PU Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kimpraswil Provinsi Maluku Utara, Dinas PU Kabupaten Halmahera Timur, Dinas PU BM, Tata Ruang, Permukiman Pertambangan dan Energi Kabupaten Simalungun, Dinas CK dan Perumahan Kabupaten Asahan. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 pada delapan kementerian dan 26 dinas provinsi/kabupaten/kota adalah senilai Rp4,10 triliun dari realisasi belanja Rp6,13 triliun atau 66,84%.

4.6

4.7

57

Tujuan Pemeriksaan
4.8 Tujuan pemeriksaan atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 untuk menilai apakah • Pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF Tahun 2009 pada belanja infrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK; dan • Pelaksanaan kegiatan SF bidang insfrastruktur telah dilakukan dengan efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK.

Sasaran Pemeriksaan
4.9 Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan ini adalah sebagai berikut. • Perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan. • Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas program/kegiatan stimulus belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan.

Kriteria Pemeriksaan
4.10 Kriteria penilaian efektivitas pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan SF belanja infrastruktur beserta implementasinya secara nasional di tingkat pusat maupun daerah dalam pencapaian tujuan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur dalam pemeriksaan ini menggunakan kriteria pengelolaan yang baik (model of good management) yang dimuat di berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan. Kriteria tersebut disusun dan dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi masalah dan area kunci pada pemeriksaan pendahuluan dan telah dikomunikasikan dengan entitas yang diperiksa.

Hasil Pemeriksaan
4.11 Hasil pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menyimpulkan bahwa, walaupun secara umum perekonomian Indonesia pada Tahun 2009 tetap tumbuh sebesar 4,5% di tengah krisis keuangan dunia, pengalokasian anggaran dan pemilihan program/kegiatan serta pelaksanaan SF belanja infrastruktur Tahun 2009, yang merupakan satu bagian dari kebijakan SF pemerintah, belum sepenuhnya efektif untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengatasi PHK. Hal tersebut dibuktikan adanya 333 temuan pemeriksaan senilai Rp151,49 miliar atau

58 3,69% dari realisasi anggaran yang diperiksa dengan jumlah tenaga kerja tidak terserap minimal sebanyak 216.520 Orang Hari (OH), yang disebabkan oleh kelemahan kebijakan, sistem/prosedur perencanaan, penganggaran, dan pemilihan program yang tidak mempertimbangkan tujuan program stimulus belanja infrastruktur serta ketaatan pada asas kepatuhan dalam pelaksanaan kegiatan yang kurang dipenuhi.

Kelemahan Kebijakan
4.12 Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang PU, perhubungan, pertanian, energi, dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009, BPK menemukan kelemahan kebijakan yang telah mempengaruhi pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. Kelemahan kebijakan tersebut terjadi baik di tingkat pembuat kebijakan makro yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Negara Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), maupun di tingkat kementerian pelaksana program/ kegiatan stimulus. Temuan-temuan signifikan terkait kelemahan kebijakan di antaranya adalah sebagai berikut. • Kebijakan pemerintah dalam pengalokasian dana SF infrastruktur sebagai belanja barang ke daerah yang dilaksanakan dalam keadaan krisis ekonomi, tidak mempunyai landasan hukum yang dapat menjamin kepastian hukum sampai dengan terbitnya UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN TA 2009. Di samping itu, kriteria kondisi darurat atas krisis ekonomi hanya ditetapkan dalam UU APBN 2009 yang hanya berlaku untuk tahun tersebut. Dengan demikian, walaupun secara umum ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada telah mengatur mekanisme penanganan di saat krisis, hal tersebut belum komprehensif dan terintegrasi untuk menangani kondisi krisis secara cepat, tepat, dan akuntabel. • Di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan, perhitungan target dan realisasi penyerapan tenaga kerja belum ada standar/pedomannya, sehingga laporan jumlah tenaga kerja yang terserap tidak dapat diyakini akurasinya serta belum dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh manajemen. Lebih jauh lagi, di tingkat satuan kerja (satker) pelaksana kegiatan SF belanja infrastruktur, penetapan target dan perhitungan realisasi tenaga kerja tidak didasarkan atas perhitungan yang baku dan berbeda antara satu satker dengan satker lainnya. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan, penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana (RNRB) yang bebas PPN masih memperhitungkan pengenaan PPN senilai Rp4,80 miliar berakibat hilangnya kesempatan membangun 96 unit RNRB senilai Rp4,80 miliar yang dapat menyerap tenaga kerja minimal sebanyak 576 orang.

59 • Di Kementerian Pertanian, realokasi anggaran dan pemilihan program/ kegiatan SF melalui mekanisme APBN-P TA 2009 untuk belanja padat modal tidak tepat sasaran dalam mendukung pencapaian tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengatasi PHK. Penyebab 4.13 Pemerintah belum memiliki ketentuan perundang-undangan dan mekanisme yang komprehensif dan terintegrasi untuk dapat menjamin kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. Menteri PU dan Menteri Perhubungan belum menetapkan standar/pedoman mengenai perhitungan tenaga kerja, Menteri Kelautan dan Perikanan dhi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) belum memberikan panduan dalam penyusunan rencana anggaran biaya pembangunan RNRB mengenai pembebasan PPN, dan Menteri Pertanian tidak konsisten dalam menjalankan program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Rekomendasi 4.15 Terhadap permasalahan tersebut, BPK telah merekomendasikan di antaranya kepada pemerintah, dalam hal ini • Menteri Keuangan, agar berkoordinasi dengan menteri terkait dalam membuat protokol manajemen krisis (crisis management protocol) yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam rangka menghadapi krisis ekonomi di masa yang akan datang, dan memastikan bahwa kebijakan anti krisis dilakukan secara cepat, tepat, dan akuntabel. Protokol tersebut agar ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan guna memberikan jaminan kepastian hukum dalam penanganan krisis ekonomi. • para menteri dimaksud agar membuat pedoman/standar dan memberikan panduan serta konsisten dalam melaksanakan program/ kegiatan SF belanja infrastruktur.

4.14

Temuan Terkait Efektivitas Pengalokasian Anggaran, Pemilihan Program/Kegiatan, dan Pencapaian Tujuan Program Stimulus Fiskal Belanja Infrastruktur
4.16 Dalam pemeriksaan kinerja program/kegiatan SF belanja infrakstruktur Tahun 2009, BPK menemukan permasalahan-permasalahan efektivitas pengalokasian anggaran, pemilihan program/kegiatan, dan pencapaian tujuan program stimulus fiskal belanja infrastruktur. Permasalahan signifikan yang ditemukan di antaranya sebagai berikut. Pemerintah kurang mendukung tercapainya tujuan penyerapan tenaga kerja dalam memilih program/kegiatan SF belanja infrastuktur. Paket-paket kegiatan yang dipilih sebagian besar bukan padat karya dan merupakan paket

4.17

berada di kawasan sempadan pantai dan sungai yang terjadi di Kabupaten Brebes. • Di Kementerian ESDM.42 miliar kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi. Hal ini mendukung hasil evaluasi BPK bahwa program yang didanai oleh SF belanja infrastruktur Tahun 2009 belum sepenuhnya efektif dalam mendukung tujuan peningkatan daya serap tenaga kerja dan pengurangan PHK.00 miliar. Bila dikaitkan dengan kriteria program yang mendapatkan tambahan alokasi belanja dalam rangka SF 2009 dari Kementerian Keuangan. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen LPE untuk Pembangunan Transmisi. belum menetapkan kebijakan yang diperlukan terkait dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur untuk meningkatkan daya serap tenaga kerja dan mengurangi PHK. Penyebab 4. yang dilaksanakan secara tahun jamak sejak Tahun 2008.00 miliar.00 miliar pada Ditjen Perhubungan Udara.19 Pemerintah. Selain itu para pihak tersebut belum sepenuhnya menggunakan penyerapan tenaga kerja sebagai kriteria utama pemilihan program. untuk kontrak tahun jamak yang di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi) senilai Rp5. di antaranya digunakan untuk Pembangunan Gedung Teknik dan Metoda Karantina Pertanian Tahap IV senilai Rp35.60 pekerjaan tahun jamak yang tidak menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan. namun belum ada sumber dananya. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur sebagai tambahan dana dua kontrak tahun jamak senilai Rp100. • Di Kementerian Pertanian. . yang sifat pekerjaannya padat modal dan padat teknologi sehingga tidak akan menyerap tenaga kerja yang optimal. Jaringan. Probolinggo. dan Kota Pekalongan. dan Gardu Induk senilai Rp425. • Di Kementerian PU. • Di Kementerian Perhubungan. sebagai pihak yang memiliki kewenangan. 4.25 miliar. para menteri. program yang dilaksanakan di daerah penelitian belum sepenuhnya memenuhi kriteria untuk menciptakan lapangan kerja yang signifikan dan kegiatan dapat diselesaikan dalam Tahun 2009.18 Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. pemilihan lokasi 38 unit RNRB tidak tepat. Hasil studi tenaga ahli BPK RI dari FE UI menunjukkan bahwa sebagian besar dari proyek yang dilaksanakan di daerah adalah proyekproyek yang dibutuhkan. sehingga penggunaan anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur senilai Rp1. gubernur/walikota/bupati dan para kepala dinas terkait.66 miliar. pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Ditjen Bina Marga di Provinsi Kalimantan Selatan. Sampang. di antaranya digunakan untuk membayar jaminan pemeliharaan (retensi). pengalokasian anggaran stimulus fiskal belanja infrastruktur pada Badan Karantina Pertanian senilai Rp51.

Temuan Terkait Efektivitas Pelaksanaan Program/Kegiatan SF Belanja Infrastruktur 4.41 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 134. di antaranya hasil pelaksanaan kegiatan stimulus belanja insfrastruktur bidang pekerjaan umum pada satuan kerja Kementerian PU di wilayah Provinsi Papua Barat tidak mencapai target volume senilai Rp1. dan akuntabel. energi. Di antara kasus-kasus tersebut. BPK telah merekomendasikan agar dalam memilih program-program/kegiatan-kegiatan SF. Pengusulan program/kegiatan oleh kementerian lebih memperhatikan tujuan dan kebijakan yang melandasinya.48 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 208. indikator yang dapat digunakan adalah tercapainya target volume fisik yang direncanakan dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan sesuai dengan tujuan program/kegiatan SF belanja infrastruktur.492 OH. hasil pemeriksaan pada 9 Kegiatan Stimulus Pusat (KSP) dan 26 Kegiatan Stimulus Daerah (KSD) atas pelaksanaan pekerjaan bidang SDA. Pada program/kegiatan SF belanja infrastruktur Tahun 2009. Hasil pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target yang ditetapkan.21 Hasil pemeriksaan BPK mengungkapkan permasalahan-permasalahan terkait efektivitas pelaksanaan program/kegiatan SF belanja infrastruktur. pemerintah hendaknya mempergunakan dasar yang jelas sesuai dengan tujuan SF.581 OH. sebanyak 17 kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum berindikasi merugikan negara senilai Rp41. Salah satu indikator keberhasilan program/kegiatan SF adalah tercapainya target yang telah ditetapkan. perhubungan.22 . Dalam pemeriksaan kinerja atas program/kegiatan SF belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. Dasar pemilihan program tersebut hendaknya tercantum dalam suatu crisis management protocol yang perlu disusun untuk menjamin bahwa kebijakan anti krisis ekonomi bisa direncanakan dan dilaksanakan secara tepat waktu. bidang bina marga.24 miliar. • Di Kementerian PU. pertanian. Dengan demikian hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang PU tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp30.61 Rekomendasi 4. Permasalahan tersebut di antaranya terjadi.20 Terhadap permasalahan tersebut. dan bidang cipta karya ditemukan kekurangan volume pekerjaan. 4. tepat sasaran. BPK menemukan sebanyak 60 kasus pelaksanaan kegiatan SF tidak mencapai target volume fisik yang ditetapkan senilai Rp84. Permasalahan signifikan yang perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan hasil pelaksanaan kegiatan yang tidak mencapai target volume dan permasalahan yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009. Permasalahan signifikan di antaranya sebagai berikut.16 miliar dengan jumlah tenaga kerja yang tidak terserap sebanyak 340 OH yang antara lain pada pekerjaan pembangunan tanggul banjir Sungai Kasi (tahap II) Kabupaten Manokwari.

53 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 2. dan Ditjen Perhubungan Darat. • Di KSD Teluk Bintuni. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang pekerjaan umum tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp4.1. 4. proses pengadaan pembangunan fasilitas Bandar Udara Sultan Babullah Ternate tidak sesuai ketentuan.74 miliar. hasil pekerjaan stimulus belanja infrastuktur bidang perhubungan tidak mencapai target volume yang ditetapkan senilai Rp12.62 Gambar 4.23 Kasus-kasus yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum yang berindikasi merugikan negara di antaranya sebagai berikut.105 OH.616 OH. Ditjen Perhubungan Laut. Dengan demikian. pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi Saluran Induk I & II Tuaraisah tidak dikerjakan sesuai dengan kontrak. Dengan demikian. • Di bidang perhubungan Provinsi Maluku Utara. Pengujian Volume Pekerjaan Pembangunan Tanggul Banjir Sungai Kasi (Tahap II) Kabupaten Manokwari Menggunakan Waterpass dan Theodolite • Di Kementerian Perhubungan. Ditjen Perkeretaapian. kekurangan volume pekerjaan dalam 113 kontrak pelaksanaan pekerjaan fisik infrastruktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara.35 miliar dengan tenaga kerja tidak terserap minimal 46. . Provinsi Papua Barat. perhitungan RAB kontrak tidak sesuai dengan SNI tentang analisa biaya konstruksi (ABK) bangunan gedung dan perumahan pekerjaan pondasi sehingga berindikasi merugikan keuangan negara senilai Rp5.

64 miliar belum sepenuhnya efektif dalam mencapai tujuan penganekaragaman sumber energi masyarakat. aset hasil pengadaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada tiga satker Ditjen Perhubungan Laut di Provinsi Sulawesi Selatan. 4. hasil pengembangan fasilitas pembangunan DME berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN) belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. pengenaan PPh final jasa konstruksi pada 33 kabupaten/kota kurang senilai Rp544. Akibatnya hasil pengadaan kurang efektif mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan. tingginya biaya produksi dan biaya operasional serta efisiensi alat rendah. Selain itu GPS yang diadakan memiliki fitur yang melebihi kebutuhan.19 juta dan mengakibatkan lebih bayar senilai tersebut. • Di Kementerian ESDM. pemeriksaan BPK juga menemukan permasalahan lain yang spesifik di masing-masing kementerian. sehingga berpotensi terjadinya hilang/rusak aset negara tersebut dan aset tersebut sampai berakhirnya pemeriksaan belum dimanfaatkan. hasil 21 paket pekerjaan Desa Mandiri Energi (DME) bahan bakar nabati di 26 lokasi senilai Rp19. Akibatnya. Permasalahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut. dan Papua Barat tidak dikelola sesuai ketentuan dan belum dicatat.79 miliar pada Setjen Kementerian Pertanian belum dimanfaatkan karena belum didistribusikan kepada dinas perkebunan provinsi/kabupaten sesuai dengan rencana.25 Potensi kerugian negara/daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. Aset hasil KSD di 22 provinsi/kabupaten/kota tidak dicatat dan dilaporkan sebagai mutasi tambah nilai aset dalam LBMD maupun neraca dinas pelaksana KSD dan pemerintah daerah. mengakibatkan aset hasil KSD tidak tersaji dalam neraca pemerintah daerah per 31 Desember 2009 dan berpotensi tidak terpelihara. • Di Kementerian Pertanian. Papua. • Di Kementerian Perhubungan. hasil pengadaan 283 unit alat Global Positioning System (GPS) senilai Rp3. surat .24 Selain permasalahan signifikan di atas. yang terbukti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan kembali menggunakan bahan bakar konvensional. • Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. • Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2009 dan Peraturan Menteri PU Nomor 09/PRT/M/2009 tanggal 17 April 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran SF Bidang Pekerjaan Umum untuk kegiatan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah telah jelas menyatakan bahwa keluaran/aset yang diperoleh dari KSD menjadi barang milik daerah dan tidak masuk menjadi aset kementerian. di antaranya karena ketiadaan pasokan bahan baku.63 4.

pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab kurang optimal dan lalai dalam pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program. • Di Kementerian Perhubungan. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp5. 4. • Di Kementerian PU. Provinsi Kalimantan Selatan. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.17 juta serta pajak galian golongan C belum dipungut senilai Rp1. yang nyata dan pasti jumlahnya. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja infrastruktur bidang perhubungan Tahun 2009 belum dikenakan denda. perhubungan. dan barang.27 Dari kasus-kasus terkait dengan hasil pelaksanaan pekerjaan yang tidak mencapai target volume kontrak dan kekurangan penerimaan telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/daerah senilai Rp21. Kalimantan Tengah. energi. dan perumahan khusus nelayan Tahun 2009 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/daerah sebanyak 14 kasus senilai Rp9. tidak cermat dalam merancang dan menyusun volume pekerjaan serta evaluasi harga satuan kontrak. Penyebab 4. • Di KSD Kabupaten Barito Kuala. dan Kalimantan Selatan. 4. keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan untuk program stimulus belanja bidang pekerjaan umum tahun 2009 belum dikenakan denda senilai Rp712. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat 11 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi dan mengakibatkan potensi kerugian negara/daerah pada Kementerian Pekerjaan Umum di antaranya sebagai berikut.64 berharga. • Di KSP Provinsi Jawa Tengah.14 miliar. mengakibatkan kekurangan penerimaan negara senilai Rp2.28 Terkait dengan permasalahan hasil pelaksanaan yang tidak mencapai target dan potensi kerugian negara/daerah. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan program stimulus belanja infrastruktur bidang pekerjaan umum. sedangkan pada permasalahan yang berindikasi merugikan negara karena diduga .05 miliar. pertanian.23 miliar. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.43 miliar. KSD pada Kabupaten Halmahera Timur. Papua Barat.26 Kekurangan penerimaan negara/daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.09 miliar diantaranya sebagai berikut.

selain itu pengawas lapangan dan konsultan pengawas lalai dalam melakukan pengawasan pekerjaan. Sedangkan di Kementerian Perhubungan.30 Di Kementerian PU. KPA dhi. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki pekerjaan dan menyampaikan bukti perbaikannya. Terkait dengan permasalahan pencatatan aset di Kementerian PU. Terhadap permasalahan-permasalahan potensi kerugian negara/daerah. selain itu pejabat pembuat komitmen (PPK) lalai dalam mengendalikan dan mengawasi serta memonitor pengadaan barang/jasa.34 Terhadap permasalahan-permasalahan hasil pekerjaan yang tidak mencapai target tersebut. Di Kementerian Pertanian.65 terdapat unsur perbuatan melawan hukum dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. Rekomendasi 4. pejabat terkait kurang melakukan sosialisasi dan pengawasan serta tidak cermat dalam memperhitungkan PPh final atas jasa konstruksi.36 . pejabat yang bertanggung jawab agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian pekerjaan fisik lapangan. dan permasalahan kekurangan penerimaan. BPK telah merekomendasikan para gubernur/bupati/walikota agar berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk segera memproses serah terima aset hasil kegiatan stimulus dan mencatatnya dalam LMBD dan neraca. Kepala Pusdatin tidak cermat dalam merencanakan dan menentukan kebutuhan serta mengalokasikan anggaran.35 4. Selain itu.33 4. Di Kementerian ESDM. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Perhubungan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Perhubungan Laut 4. selain yang diduga mengandung unsur perbuatan melawan hukum. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. 4.31 4. Di Kementerian Perhubungan. Dirjen Listik dan Pemanfaatan Energi (LPE) kurang cermat dalam merencanakan kegiatan dan kurang mengawasi serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan. dan memberikan sanksi kepada pihak terkait sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kuasa pengguna anggaran (KPA) tidak optimal melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan. kebijakan terkait barang milik daerah hasil KSD belum ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar menyetorkan kelebihan pembayaran/kekurangan penerimaan atas pekerjaan yang tidak mencapai target dan memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.29 4. mengusulkan pekerjaan dengan lebih cermat.32 4.

19 juta kepada Dirjen Pajak untuk dilakukan penetapan dan penagihannya. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Pertanian agar memberikan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada KPA dhi.66 supaya memerintahkan para kepala satker untuk melakukan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan serta mencatat sisa pengadaan sebagai aset persediaan. BPK telah merekomendasikan Menteri ESDM antara lain agar memerintahkan kepada Dirjen LPE untuk mengupayakan secara bersungguh-sungguh pemanfaatan atas seluruh peralatan DME berbasis BBN tersebut sesuai tujuan pembangunannya.38 4. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan. 4.37 Di Kementerian Pertanian. BPK telah merekomendasikan Menteri Kelautan dan Perikanan agar menginstruksikan Dirjen KP3K supaya melaporkan kekurangan pemungutan PPh final atas pembangunan RNRB pada 33 kabupaten/kota senilai Rp544. 4. Kepala Pusdatin dan PPK serta untuk segera mendistribusikan 283 unit GPS sesuai peruntukannya disertai BAST secara lengkap.39 4.40 . Di Kementerian ESDM. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

5 5.2 5.d. dan Kepulauan Riau.4 5. pantai barat dan selatan Kalimantan. Pemilihan Selat Malaka dilakukan karena selat ini merupakan perairan yang padat dilalui oleh berbagai macam kapal sehingga berpotensi tinggi terhadap pencemaran. Terjadinya bencana tsunami di Provinsi Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu telah membangkitkan kesadaran dan pemahaman akan nilai pentingnya vegetasi atau hutan yang tumbuh di kawasan pesisir pantai. yaitu Kementerian Kehutanan termasuk unit 5. luas hutan mangrove di Indonesia pada Tahun 2006 diperkirakan 7. Hutan mangrove di kawasan Selat Malaka sebagian besar berada di wilayah administratif kabupaten/kota pada Provinsi Sumatera Utara.67 BAB 5 Pengelolaan Hutan Mangrove 5. Hutan mangrove juga berfungsi mengurangi dampak tsunami melalui dua cara yaitu. mengurangi kecepatan air karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat dan mengurangi volume air dari gelombang tsunami yang sampai ke daratan karena air tersebar ke banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove. Hal tersebut sesuai dengan lingkup pemeriksaan kinerja yang mencakup pengelolaan hutan mangrove periode TA 2005 s. Menurut data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDAS-PS) Kementerian Kehutanan.38 juta ha (69.1 Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Riau. Dalam Semester II Tahun 2010. Semester I TA 2010 pada 15 objek pemeriksaan. juga sebagai tempat pemijahan atau penyeleksian benih dan asupan (nursery) ikan. serta di pantai barat daya Papua. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja yang diarahkan pada pengelolaan hutan mangrove yang berada di kawasan Selat Malaka. khususnya hutan mangrove.76 juta ha. baik pusat maupun daerah yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi tanpa adanya usaha untuk menjaga keseimbangan (kelestarian) alam. Hutan mangrove di Indonesia sebagian besar terdapat di sepanjang garis pantai timur Sumatera (Selat Malaka).3 5.6 . Kerusakan hutan mangrove di Indonesia merupakan akibat dari kebijakan pemerintah.33%) dalam keadaan rusak. Hutan mangrove merupakan ekosistem pendukung utama kehidupan di wilayah pesisir karena selain sebagai habitat biota laut. Selat Malaka juga menampung berbagai cemaran dari sampah padat maupun cair yang berasal dari Pulau Sumatera (Indonesia) dan Semenanjung Malaka (Malaysia) yang mengakibatkan kerusakan ekosistem mangrove. di antaranya sekitar 5.

Natuna. serta Kepulauan Riau (Kab. Bengkalis. perlindungan. Asahan. Kota Batam. Kab. Kab. dan kekurangan air serta rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai. Indragiri Hilir. dan konservasi hutan mangrove masih kurang efektif untuk memulihkan. dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai dengan rincian sebagai berikut. 5. Provinsi Riau (Kab. Rokan Hilir. Bengkalis. dan Kota Dumai). Langkat. Kebijakan 5. Rokan Hilir.7 Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan rehabilitasi. dan konservasi hutan mangrove dalam memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai. UPT. Kab. perlindungan. Kab. Kab. Serdang Bedagai). dan pihak-pihak lainnya. pemanfaatan. dan Kota Tanjungpinang).1.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukan adanya kelemahan kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku baik yang dilakukan oleh pihak Kementerian Kehutanan. dan Kota Dumai belum memadai mengakibatkan berkurangnya luasan daratan di kabupaten tersebut tidak tertangani dengan baik. Hasil Pemeriksaan 5. dan Kab. Karimun. Hasil plotting titik koordinat GPS ke Citra Satelit Landsat Tahun 1989 dan 2009 .9 Kebijakan pengelolaan tata ruang wilayah oleh Pemerintah Kota Batam kurang mempertimbangkan fungsi dan luas kawasan hutan minimal 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) berpotensi mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air seperti banjir. Batubara. dinas kehutanan provinsi dan kabupaten/kota serta instansi terkait lainnya di Jakarta (Pusat). erosi. Bintan. Kab. Deli Serdang. Hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi. Penanggulangan abrasi di Selat Malaka oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. dinas kehutanan provinsi/kabupaten/kota.68 pelaksana teknis (UPT). Provinsi Sumatera Utara (Kab. Kab. sedimentasi. Tujuan Pemeriksaan 5.10 abrasi abrasi Gambar 5. pemanfaatan.

13 Kegiatan Pemanfaatan Hutan Mangrove 5. Selain itu terdapat kerugian ekonomis senilai Rp153.18 ha di Kota Tanjungpinang tidak sesuai dengan ketentuan berpotensi mengakibatkan hilangnya kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung. Pembuatan model tanaman mangrove pada Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan seluas 50 ha senilai Rp289.15 Gambar 5.69 Kegiatan Rehabilitasi Hutan Mangrove 5. 5. Lokasi HGB Berdasarkan TGHK dan RTRW Kota Tanjungpinang Kegiatan Perlindungan dan Konservasi Hutan Mangrove 5.588 ha dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat dan mengakibatkan hilangnya fungsi SM KG/LTL sebagai kawasan pelestarian alam. Pemberian hak guna bangunan (HGB) pada kawasan hutan mangrove seluas 1. dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan. kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Kabupaten Natuna seluas 200 ha senilai Rp1.d.82 juta. .16 Hutan mangrove di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading/Langkat Timur Laut (KG/LTL) di Kabupaten Langkat minimal seluas 6. keunikan alam serta menimbulkan kerugian ekonomis senilai Rp779.309.66 miliar tidak efektif dan terjadi kerugian negara senilai Rp180. 2009. 5.14 Usaha pertambangan bauksit di Kabupaten Bintan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove di sempadan sungai yang mempunyai fungsi utama untuk melindungi.12 5. satwa.61 miliar. Selain itu.00 juta.11 Realisasi rehabilitasi hutan mangrove belum memenuhi target dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2005 s.10 juta tidak efektif mengakibatkan tujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tidak tercapai. meningkatkan. sehingga tujuan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai menjadi tidak tercapai.2.

18 Hal tersebut disebabkan oleh pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam mentaati ketentuan dan peraturan yang berlaku. Atas temuan ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara.70 5. Penyebab 5. 5.19 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati Natuna untuk menagih kelebihan pembayaran dan menyetorkan ke kas negara. Rekomendasi 5. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. pemanfaatan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut atas kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.17 Hutan mangrove di areal eks Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Bakau PT SBB dirambah menjadi kebun kelapa sawit oleh masyarakat mengakibatkan semakin rusaknya hutan mangrove. perlindungan. dan konservasi hutan mangrove. serta tidak cermat dan optimal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.20 .

Masalah-masalah pokok yang mendorong belum efektifnya penyelenggaraan ibadah haji dapat diuraikan sebagai berikut. belum sepenuhnya efektif memberikan pelayanan kepada jemaah haji.6 . dan • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman pelayanan katering dan akomodasi di Arafah. yaitu: • penyelenggara ibadah haji telah memiliki prosedur baku yang memperhatikan kecepatan pelayanan pendaftaran. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M sudah memadai untuk mencapai efektivitas pelayanan ibadah haji. pelayanan. Dalam Semester II Tahun 2010. Hasil Pemeriksaan 6. kemudahan calon jemaah haji (calhaj) dalam pengurusan haji dan memperoleh kepastian porsi dan pemberangkatan. disimpulkan bahwa penyelenggara ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M.1 Penyelenggaraan ibadah haji merupakan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah kepada calon/jemaah haji melalui Kementerian Agama. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki pedoman penyewaan pemondokan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. dan Mina (Armina). pelunasan dan pembatalan haji. dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi calon/jemaah haji sehingga jemaah haji dapat menunaikan ibadahnya sesuai ajaran agama Islam. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembinaan.71 BAB 6 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan transportasi kepada jemaah haji.4 Penilaian atas kinerja penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1430 H/2009 M didasarkan pada lima indikator utama. Musdalifah.5 Berdasarkan hasil pemeriksaan. 6. Indikator 6. • penyelenggara ibadah haji telah memiliki standar pelayanan minimal (SPM) embarkasi/debarkasi kepada jemaah haji.2 Tujuan Pemeriksaan 6. 6.

pelunasan. Penyebab 6. • kurangnya jumlah sumber daya manusia dan pembagian tugas yang jelas dalam melayani proses pendaftaran.10 Terhadap permasalahan tersebut. pelunasan dan pembatalan haji. • Kankemenag tidak memberikan informasi secara tertulis tentang kewajiban untuk melakukan pelunasan haji kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat.9 Permasalahan tersebut disebabkan: • standar pelayanan minimal tentang pendaftaran. dan Kakankemenag Kabupaten/Kota untuk memberikan informasi secara tertulis tentang 6. • memerintahkan secara berjenjang kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU). Pelayanan pendaftaran.72 Pelayanan Pendaftaran. Pelunasan. Namun demikian. pelunasan dan pembatalan haji belum ditetapkan dan disosialisasikan oleh Menteri Agama. calhaj memerlukan waktu yang lama untuk menerima pengembalian dana atas pembatalan haji. dan pembatalan haji. dan pembatalan haji berpedoman pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pendaftaran Haji dan PMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PMA Nomor 15 Tahun 2006 serta Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji. calhaj tidak diberikan informasi tertulis mengenai perkiraan tahun keberangkatan. Pelunasan dan Pembatalan Haji. dan Pembatalan Haji 6.7 Pada tahap pendaftaran. Rekomendasi 6. Kakanwil Provinsi. dan • kebijakan yang mengatur tentang penetapan sisa kuota haji provinsi belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi yang cukup signifikan. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • menetapkan dan mensosialisasikan SPM tentang Pendaftaran. PMA tersebut belum sesuai dengan standar pelayanan publik untuk pelayanan prima yang ditetapkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan). dan calhaj belum mendapatkan perhatian yang sama dalam pembagian sisa kuota haji karena penetapan sisa kuota haji belum memperhatikan perbedaan waktu waiting list calhaj antar provinsi. pelunasan.8 .

belum ditetapkan. calhaj tidak diberikan kepastian informasi perubahan titik penjemputan. yang memuat indikator-indikator pelayanan dan menjadi pedoman bagi penyedia jasa transportasi dan petugas haji dalam melayani Jemaah Haji Indonesia. Kondisi ini menimbulkan kekurangnyamanan atas beberapa pelayanan yang diterima oleh jemaah haji. Pelayanan kepada Jemaah Haji di seluruh Embarkasi 6. Demikian pula informasi mengenai keterlambatan penerbangan. memenuhi kekurangan sumber daya manusia dan membuat pembagian tugas yang jelas untuk tiap bagian pelayanan pendaftaran. • memerintahkan kepada Dirjen PHU untuk a.12 Pelayanan Transportasi Udara dan Darat di Arab Saudi 6. Hal ini disebabkan oleh Tim Kesehatan tahap 1 dan 2 belum seluruhnya mengisi buku kesehatan jemaah haji secara lengkap dan sebagian calhaj tidak dapat membuktikan telah menerima vaksin. dan jumlah bus yang beroperasi sehingga menimbulkan penumpukan jemaah terutama pada hari-hari awal operasional. 6. calhaj memerlukan waktu yang cukup lama dalam menerima pelayanan kesehatan.13 Permasalahan tersebut terjadi karena Menteri Agama belum selesai merumuskan SPM penyelenggaraan ibadah haji pada seluruh embarkasi. sarana dan prasarana pada setiap embarkasi bervariasi. dan a. menetapkan sisa kuota haji provinsi harus dengan memperhatikan perbedaan daftar waiting list calhaj antar provinsi yang signifikan.15 Pada tahap pelayanan transportasi di Arab Saudi. jadwal. 6.73 perkiraan tahun keberangkatan calhaj pada saat melakukan pendaftaran dan memberikan informasi secara tertulis kepada calhaj yang sudah dipastikan berangkat sesuai daerahnya masing-masing.16 . Rekomendasi 6. pelunasan dan pembatalan haji.11 Pada tahap pelayanan di embarkasi. Penyebab 6. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar menetapkan dan mensosialisasikan SPM yang berlaku di seluruh embarkasi serta meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan khususnya terkait kebijakan pelayanan kesehatan di embarkasi. Pelayanan penyelenggaraan haji yang meliputi prosedur.14 Terhadap permasalahan tersebut. Standar pelayanan transportasi. waktu.

74 6. • Memerintahkan Dirjen PHU untuk a. ketidakjelasan tugas dan wewenang antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan dalam menetapkan kebijakan transportasi udara turut menghambat peningkatan pelayanan transportasi udara Jemaah Haji. • Segera menetapkan SPM dan pedoman pelayanan khususnya transportasi shuttle bus di Arab Saudi serta menyusun perencanaan dan kontrak transportasi shuttle bus secara matang dengan melakukan koordinasi antar pihak-pihak terkait. menginstruksikan PPIH Arab Saudi agar meningkatkan pengawasan pelayanan transportasi jemaah haji. antara lain penumpukan jemaah pada waktu menunggu bus. pelayanan transportasi udara masih dihadapkan pada permasalahan keterlambatan pesawat yang penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti terbatasnya fasilitas bandara Arab Saudi.18 . BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar. b.19 Terhadap permasalahan tersebut. menginstruksikan kepada Direktur Pelayanan Haji agar 1. Permasalahan-permasalahan yang sifatnya yang tidak dapat dikendalikan tersebut diperlemah dengan kurang memadainya penanganan yang dilakukan oleh petugas/penyelenggara haji untuk mengatasi kelelahan jemaah dan memberikan informasi mengenai kepastian keberangkatan pesawat serta menjamin hak-hak jemaah mendapatkan kompensasi dari perusahaan penerbangan. • Meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan memperjelas rumusan tugas dan wewenang masing-masing kementerian khususnya terkait kebijakan penerbangan haji. dan c. Rekomendasi 6. Selain itu. konsisten dalam melaksanakan perencanaan transportasi shuttle bus yang telah disusun dan membuat alternatif perencanaan pelayanan transportasi shuttle bus.17 Kondisi ini diperburuk dengan tidak adanya konsep atau mekanisme pengelolaan transportasi shuttle bus yang jelas dari Muassasah dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji sehingga menimbulkan permasalahan. mengoptimalkan pengawasan dan koordinasi dengan pihak penerbangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada jemaah atas keterlambatan pesawat dan memberikan kepastian informasi apabila terjadi keterlambatan pesawat. Selain itu. dan 6.

6. Realisasi penyewaan perumahan di Mekkah tidak memenuhi target awal yang ditetapkan dan penempatan jemaah haji melebih kapasitas yang ditetapkan dalam tasyrih. kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji dalam beribadah menjadi berkurang.20 Pada tahap pelayanan pemondokan di Arab Saudi.75%). dan • membuat standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter yang berlaku untuk seluruh provinsi.22 Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya kerjasama/MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Arab Saudi perihal standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan ketidakpastian pemilik pemondokan dalam memperoleh tasyrih dari Pemerintah Arab Saudi yang akan digunakan Jemaah Haji Indonesia. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar mendorong Pemerintah Arab Saudi untuk membuat standarisasi pemondokan haji di Mekkah dan memerintahkan Dirjen PHU untuk • mengoptimalkan penyewaan rumah di Mekkah yang berada di ring I dan mengurangi jumlah penyewaan rumah di ring II. Pelayanan Pemondokan di Arab Saudi 6. serta belum dibuatnya standar baku penentuan calhaj dalam suatu kloter untuk setiap provinsi.21 . dan masih ada jemaah haji (16. Penyebab 6. Rekomendasi 6. Sementara di Madinah. realisasi penempatan jemaah haji belum 100% berada di Markaziah dan penetapan Majmu’ah 1430 H belum memperhatikan kinerja Tahun 1429 H dan 1428 H.48%) yang menempati pemondokan di luar Markaziah di Madinah. Selain permasalahan di atas. menambahkan klausul sanksi dalam kontrak perusahaan penerbangan terkait kewajiban penyampaian informasi penerbangan dan informasi pemberian kompensasi keterlambatan. beragamnya metode penetapan calhaj dalam suatu kloter pada setiap provinsi berakibat tidak diperolehnya transparansi dan persamaan hak bagi jemaah haji. Kondisi tersebut mengakibatkan jemaah haji yang menempati pemondokan di Ring II atau berjarak 2 km lebih dari Masjidil Haram di Mekkah masih cukup banyak (72.23 Terhadap permasalahan tersebut.75 2. masih banyak jumlah pemondokan di Ring II atau di luar Markaziah yang berjarak lebih dari 2 km dari Masjidil Haram di Mekkah dan masih terdapat penempatan jemaah haji yang melebihi kapasitas rumah yaitu sebanyak 105 dari 424 rumah.

6. • meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan Menteri Hukum dan HAM serta KBSA untuk meminimalisir jumlah dan mencegah jemaah haji non kuota supaya tidak mengganggu kenyamaan ibadah jemaah haji reguler.27 Terhadap permasalahan tersebut.28 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. dan kebijakan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA) yang memberikan visa kepada jemaah haji non kuota.26 Permasalahan pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina terjadi karena kebijakan Direktur Pelayanan Haji tentang pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas kurang tepat. Permasalahan lain yang muncul di Armina yaitu terkait adanya jemaah haji non kuota yang tidak terdaftar sebagai jemaah haji reguler dengan jumlah yang cukup tinggi. Permasalahan tersebut mengakibatkan waktu antrian cukup lama sehingga menimbulkan kelelahan pada sebagian jemaah haji khususnya yang lanjut usia dan wanita. mengurangi kenyamanan dan kekhusu’an jemaah haji reguler dalam melaksanakan ibadah haji karena adanya penggunaan fasilitas oleh jemaah haji non kuota. yang mengakibatkan jemaah haji non kuota terlantar. mengganggu konsentrasi dan kinerja petugas haji dalam memberikan pelayanan pada jemaah haji reguler.24 Pada tahap pelayanan di Armina. Penyebab 6. dan meningkatkan risiko berjangkitnya penyakit. calhaj memerlukan waktu antrian yang cukup lama untuk mendapatkan makanan yang disebabkan oleh pola penyajian makanan secara prasmanan terbatas. dan • memerintahkan Dirjen PHU supaya memberikan sanksi kepada PIHK yang melakukan pelanggaran. dan kebersihan lingkungan di Armina yang belum sepenuhnya memberikan kenyamanan bagi jemaah haji.25 . BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Agama selaku Koordinator Penyelenggaraan Ibadah Haji agar • mengkaji kembali pola pelayanan katering. Rekomendasi 6.76 Pelayanan kepada Jemaah Haji selama di Armina 6. dan potensi tambahan beban yang harus dibayarkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji diluar dari anggaran pengeluaran biaya pengelenggara ibadah haji reguler yang telah ditentukan. 6.

yaitu: • Organisasi dan tata laksana serta sarana dan prasarana rumah sakit telah memadai dan efektif untuk mendukung kegiatan pelayanan. dan farmasi pada umumnya didasarkan pada empat indikator utama. • Manajemen rumah sakit memiliki perencanaan memadai dalam mengelola pelayanan.77 BAB 7 Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 7. sarana dan prasarana. dan farmasi sehingga belum optimal dalam menunjang pelayanan kesehatan yang prima. perencanaan.4 Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa manajemen rumah sakit belum efektif dalam mengelola pelayanan rawat inap. rawat jalan. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada 42 rumah sakit daerah di 23 provinsi (Lampiran 53). Hasil Pemeriksaan 7.1 Dalam Semester II Tahun 2010. rawat inap. rawat inap. • Manajemen rumah sakit telah melaksanakan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dan peraturan lainnya. dapat dilihat pada Lampiran 8a.3 Penilaian kinerja atas efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. 8c. monitoring dan evaluasi pengelolaan pelayanan rawat inap. Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi dan tata laksana. pelaksanaan. dan 8d dengan uraian sebagai berikut: 7. dan farmasi. dan • Manajemen rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi secara memadai pada proses pelayanan.5 .2 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada umumnya untuk menilai efektivitas pengelolaan pelayanan rawat jalan. 8b. Tujuan Pemeriksaan 7. Indikator Pemeriksaan 7. rawat jalan dan farmasi.

dan tanggung jawab. • kurang memerhatikan perbaikan fasilitas pelayanan.78 Organisasi. wewenang. serta keterbatasan anggaran. tanggung jawab. dan Farmasi 7. yaitu struktur organisasi dalam rumah sakit belum sepenuhnya memperhatikan pemisahan fungsi. serta segera menetapkan struktur organisasi lengkap dengan uraian tugas. • Jumlah tenaga medis dan keperawatan pada 14 RSUD belum memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat. kurang optimal. tata laksana. Rekomendasi 7. • Sarana dan prasarana pada 19 RSUD belum memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit sehingga belum memadai dalam memberikan pelayanan.6 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal organisasi. dan tidak memerhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana. rawat inap. fungsi. rawat inap. BPK telah merekomendasikan kepada Bupati agar memerintahkan pejabat yang bertanggung jawab • menggunakan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan. dan farmasi pada 13 RSUD belum sepenuhnya didukung struktur organisasi yang memadai. dan farmasi sebagai berikut. Sarana dan Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. Selain jumlah pegawai dan keberadaan dokter spesialis yang kurang. dan • lalai dalam perencanaan kebutuhan pegawai dan belum melakukan analisis beban kerja untuk menentukan jumlah pegawai yang betul-betul dibutuhkan. ketrampilan dan kompetensi yang memadai. sistem pengendalian intern atas pengelolaan pelayanan belum sepenuhnya dirancang secara memadai. pelayanan belum didukung pegawai yang memiliki keahlian. Rawat Inap. Selain itu. Penyebab 7. Tata Laksana. . Rumah sakit juga belum memiliki satuan pengawas intern (SPI) dan belum membentuk bagian khusus penanganan keluhan.7 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • lalai dan belum sepenuhnya menggunakan pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dan belum adanya prosedur baku penanganan keluhan. sarana dan prasarana rawat jalan.8 Terhadap permasalahan tersebut. dan wewenang. • Instalasi rawat jalan.

Saiful Anwar. dan Farmasi 7. dan farmasi sebagai berikut. Pejabat yang bertanggung jawab tidak melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta lemahnya koordinasi dengan pihak terkait. Ashari Kabupaten Pemalang belum disusun. memprioritaskan kebutuhan minimal pegawai. Rawat Inap. M. • Perencanaan pelayanan rawat jalan. • Perencanaan anggaran instalasi rawat inap. rawat jalan. . Jambi dan RSU Dr. merealisasikan. dan prasarana. Sumatera Selatan dan pengadaan. antara lain program kerja bidang pelayanan farmasi belum memiliki indikator pencapaian yang jelas dan program kerja dibuat oleh orang yang tidak kompeten. dan farmasi RSU Mayjen HA Thalib Kabupaten Kerinci. • Program kerja pelayanan farmasi RSUD Kabupaten Nganjuk dan RSUD Dr.10 Kelemahan dalam hal perencanaan terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum membuat pedoman penyusunan perencanaan yang jelas dan mudah dipahami. dan farmasi serta perencanaan kebutuhan alat kesehatan pada 16 RSUD belum memadai. Selain itu. • Tidak terdapat perencanaan kebutuhan perbekalan farmasi pada RSUD Dr. distribusi serta serta penggunaan blanko resep pada instalasi rawat jalan RSUD Kabupaten Jombang tidak berdasarkan perencanaan. rawat inap. Penyebab 7. Malang belum memadai. yaitu antara lain belum didasari identifikasi kebutuhan dan tidak memperhatikan skala prioritas.9 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas pelayanan dalam hal perencanaan pelayanan rawat jalan. dan • segera membuat analisis kebutuhan pegawai dan beban kerja. Selain itu. dan memenuhi sarana dan prasarana rumah sakit untuk mendukung pelayanan sesuai standar dengan memperhatikan skala prioritas. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. sarana. program kerja instalasi rawat inap. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau. personil yang bertanggung jawab terhadap perencanaan belum melaksanakan tugas dengan baik dan belum mempertimbangkan target ketersediaan SDM. dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Belum memadainya perencanaan anggaran antara lain tidak adanya petunjuk pelaksanaan yang mengatur perencanaan anggaran dan adanya bagian yang belum mengusulkan rancangan kegiatan. rawat inap. dan pelayanan pada tujuh RSUD belum memadai.79 • segera merencanakan. rawat jalan.

• Pengelolaan administrasi pada instalasi rawat jalan. • Standar pelayanan minimal (SPM) pada 14 RSUD belum ditetapkan dan belum memadai. rawat inap. • Prosedur tetap (protap) pelayanan rawat jalan. rawat inap dan farmasi pada 8 RSUD belum memadai serta prosedur tetap pada pelayanan rawat inap RSUD Mardi Waluyo di Kota Blitar belum pernah dilakukan revisi sejak Tahun 1999. • belum sepenuhnya memahami pentingnya SPM sebagai pedoman dalam penilaian kinerja pelayanan. Belum memadainya protap antara lain protap yang ada sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga perlu direvisi dan protap belum memenuhi seluruh kebutuhan instalasi sesuai pedoman penyelenggaraan rumah sakit. dan pelayanan serta perbekalan farmasi pada 7 RSUD belum dilaksanakan dengan baik. Selain itu. yaitu belum memenuhi standar pelayanan minimal dan prosedur tetap. dan Farmasi 7.12 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal pelaksanaan pelayanan adalah sebagai berikut.80 Rekomendasi 7. Belum memadainya SPM antara lain karena belum sepenuhnya mengacu keputusan Menteri Kesehatan. Penyebab 7. rawat inap. • Pelaksanaan pelayanan instalasi rawat jalan. dan • tidak segera mengusulkan dan menetapkan protap. BPK telah merekomendasikan agar pihak yang bertanggung jawab menyusun pedoman penyusunan perencanaan dan program kerja. pelaksanaan kalibarasi alat kesehatan belum dilakukan. • tidak cermat dan tidak optimal dalam pengelolaan administrasi yang mendukung pelayanan. . Hal tersebut mengakibatkan manajemen tidak dapat mengukur kinerja pelayanan yang belum ditetapkan standarnya dan masyarakat belum memperoleh hak pelayanan sesuai SPM. Hal tersebut mengakibatkan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat belum dapat tercapai.13 Hal tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab • belum sepenuhnya memperhatikan dan mengoptimalkan kinerja pelayanan kesehatan. Rawat Inap. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan.11 Terhadap permasalahan tersebut. dan farmasi pada 18 RSUD belum memadai. serta meningkatkan koordinasi dengan unit terkait.

Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada 10 RSUD belum memadai dan tidak sesuai ketentuan. Penyebab 7. rawat inap dan farmasi. • menyusun dan menetapkan SPM. • Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 9 RSUD belum dilakukan dan SPI belum mendukung kegiatan monev. Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 7.81 Rekomendasi 7. menyempurnakan dan melengkapi prosedur tetap sesuai SPM. dan • melakukan revisi. serta lebih cermat dalam mengambil kebijakan pengelolaan administrasi. Rekomendasi 7. Belum memadainya pelaksanaan monev antara lain monev tidak mencakup pengukuran dan penilaian kinerja serta penyelesaian tindak lanjut tidak dipantau dan didokumentasikan.18 Dalam Semester II Tahun 2010. meningkatkan dan memperbaiki monev masing-masing instalasi. Monitoring dan Evaluasi 7.15 Temuan pemeriksaan yang mempengaruhi efektivitas dalam hal mekanisme pelaporan dan evaluasi kegiatan pada instalasi rawat inap.17 Terhadap permasalahan tersebut. serta meningkatkan pelaksanaan kegiatan SPI. • melaksanakan perbaikan penatausahaan administrasi pengelolaan pelayanan rawat jalan.14 Terhadap permasalahan tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Direktur RSUD untuk mengoptimalkan kinerja pelayanan sesuai SPM. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar segera menyusun dan menetapkan mekanisme/ prosedur monev. serta Satuan Pengawas Intern belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. .16 Permasalahan tersebut terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab belum menyusun dan menetapkan mekanisme/prosedur monev. BPK telah melakukan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi. rawat jalan dan farmasi adalah sebagai berikut.

19 Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara adalah menilai efektivitas yaitu realisasi kegiatan yang dikaitkan dengan pencapaian target yang telah ditetapkan. .20 Hasil Pemeriksaan Provinsi Sumatera Utara 7.21 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dasar pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dan Kota Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien. yang mengakibatkan pelayanan kunjungan bayi tidak lengkap dan bayi yang mengalami kelainan dan keterlambatan dalam tumbuh kembangnya tidak dapat segera diketahui dan diambil tindakan. • Kegiatan kunjungan bayi pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2009 tidak tercapai. Penyebab 7. dan efisiensi pelayanan kesehatan dasar. • Pelayanan terhadap komplikasi kebidanan yang ditangani tidak efektif dan efisien.82 Tujuan Pemeriksaan 7. Hal ini terlihat masih banyaknya cakupan kegiatan yang mendukung pelayanan kesehatan dasar tersebut dalam pelaksanaannya tidak efektif dan efisien antara lain sebagai berikut. 7.22 Hal tersebut disebabkan pejabat yang bertanggung jawab tidak menyusun dan melaksanakan sosialisasi pentingnya kesehatan ibu hamil. ibu bersalin dan anak dan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belum sesuai dengan SPM bidang kesehatan. yaitu menilai penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai target yang telah ditetapkan. • Kegiatan kunjungan ibu hamil (K-4) tidak sesuai dengan SPM. Tujuan pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan pada Dinas Kesehatan dan unit terkait di Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat adalah untuk menilai apakah pelayanan kesehatan telah dilaksanakan secara efektif dan sesuai SPM serta untuk memberi saran bagi upaya peningkatan kinerja pelayanan kesehatan. yang mengakibatkan penanganan komplikasi kebidanan tidak tertangani dengan baik yang membahayakan jiwa penderita. yang mengakibatkan pelayanan belum mencapai seluruh sasaran ibu hamil dan pelayanan yang diberikan belum sesuai SPM.

dan anak. masih terdapat kelemahan antara lain indikator kinerja Bidang Kesehatan Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 belum optimal dan persediaan obat yang kedaluwarsa masih tersimpan di gudang farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang senilai Rp107. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada walikota agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kinerja pelayanan kesehatan. BPK telah merekomendasikan pejabat yang bertanggung jawab agar • memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil.27 Terhadap permasalahan tersebut.48 juta. Rekomendasi 7. 7. ibu bersalin.24 Hasil pemeriksaan kinerja pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang beserta UPTD-nya menunjukkan bahwa masing-masing puskesmas telah memenuhi capaian indikator SPM dan tidak ditemukan adanya kasus polio dan balita gizi buruk berdasarkan penyaringan (screening). Namun.25 7. Provinsi Sumatera Barat 7.23 Terhadap permasalahan tersebut. Selain itu. serta • selalu memedomani SPM dalam melakukan perbaikan atas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.26 Permasalahan tersebut antara lain terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Penyebab 7. lalai serta belum optimal dalam melaksanakan tugas.28 .83 Rekomendasi 7. sarana penyimpanan obat publik dan perbekalan farmasi pada Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang tidak sesuai dengan Standar Sarana Penyimpanan Obat Publik.

84 .

melaksanakan. dan Kota Solok). Kota Bukit Tinggi. dan Provinsi Sulawesi Tengah (Kabupaten Morowali). Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. Provinsi Kepulauan Riau (Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun). dan • menilai efektivitas pengelolaan tenaga kependidikan (PTK) dalam menunjang penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Provinsi Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Barat). yaitu • perencanaan yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. Indikator 8. APM.1 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan dilakukan pada 13 objek pemeriksaan di 8 provinsi. pemeriksaan kinerja pendidikan pada beberapa disdik juga bertujuan menilai mekanisme pengolahan data dalam perhitungan angka partisipasi kasar (APK). yaitu pada Dinas Pendidikan (Disdik) di Provinsi Sumatera Utara (Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Samosir). Provinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe. Provinsi Riau (Kota Pekanbaru). APS. • monitoring dan evaluasi (monev) yang memadai dalam pengelolaan sarpras dan PTK. dan AM. • pelaksanaan pemenuhan dan pemanfaatan sarpras dan PTK telah sesuai ketentuan. Tujuan Pemeriksaan 8. Hasil Pemeriksaan 8.5 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum efektif dalam merencanakan. dan melakukan monev atas pengelolaan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik. dan • akurasi perhitungan APK. dan angka melanjutkan (AM).4 Indikator kinerja atas pengelolaan sarpras dan PTK. Provinsi Sumatera Barat (Kabupaten Pasaman. . angka putus sekolah (APS). 8. Kabupaten Minahasa Utara).85 BAB 8 KINERJA PENDIDIKAN 8. Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Timur).3 Selain tujuan tersebut di atas. angka partisipasi murni (APM).2 Pemeriksaan atas kinerja pendidikan pada umumnya bertujuan untuk • menilai efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana (sarpras).

Kabupaten Bintan.8 Pelaksanaan atas Pengelolaan Sarpras dan PTK 8. Hal ini terjadi karena Kepala Disdik belum memiliki komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah dalam rangka pemenuhan SPM.11 Monitoring dan evaluasi atas pengelolaan sarpras dan PTK 8. sedangkan permasalahan kualifikasi akademik guru PTK terjadi pada seluruh entitas yang diperiksa.10 8. dan • Kepala Disdik agar lebih optimal dalam melakukan seleksi atas pemberian bantuan sarpras sesuai kebutuhan sekolah. Terhadap permasalahan tersebut. Kabupaten Pasaman. BPK telah merekomendasikan kepada kepala dinas untuk mempedomani Renstra Kemdiknas dalam menyusun renstra dan membuat SOP penyusunan renstra. Belum memadainya antara lain Disdik belum .6 Rencana Strategis (renstra) disdik belum disusun secara memadai.86 Perencanaan dalam Pengelolaan Sarpras dan PTK 8.9 Permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan atas pengelolaan sarpras dan PTK di antaranya adalah sarpras sekolah dan kualifikasi akademik guru PTK belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). Terhadap permasalahan tersebut. Kabupaten Karimun. antara lain perencanaan dan indikator renstra tidak sinkron dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) serta belum disahkan secara formal oleh kepala disdik.12 Permasalahan yang terkait dengan kegiatan monitoring dan evaluasi diantaranya adalah Disdik belum melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) secara memadai. dan Kabupaten Morowali. serta belum melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru secara optimal. BPK telah merekomendasikan kepada • Bupati/Walikota agar Kepala Disdik meningkatkan komitmen untuk memperbaiki dan meningkatkan sarpras sekolah sesuai dengan SPM. Kabupaten Kotawaringin Barat. Sembilan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten Kepulauan Sangihe. 8. 8. Kabupaten Samosir.7 8. serta melaksanakan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru lebih optimal. Sebelas entitas mengalami permasalahan pengelolaan sarpras yang tidak sesuai SPM. dan lebih cermat dalam membuat perencanaan serta pemanfaatan sarpras. Hal ini terjadi karena kepala dinas dalam menyusun renstra tidak memedomani dan mengacu pada Renstra Kemdiknas serta belum adanya SOP penyusunan renstra. Kabupaten Lombok Timur.

dan Kabupaten Minahasa Utara. sehingga data yang diperoleh tidak divalidasi.18 Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. serta • kepala disdik melakukan koordinasi dengan unit terkait supaya data yang diperoleh terlebih dahulu divalidasi.87 membentuk tim monev secara formal.15 Perhitungan APK. sehingga indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan dapat diyakini kebenarannya. dan AM. dan Kabupaten Morowali. Kabupaten Karimun. Terhadap permasalahan tersebut. Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kabupaten Lombok Timur. Hal ini terjadi karena kepala disdik belum melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang. 8.14 Hal tersebut disebabkan kepala disdik belum membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK. Kabupaten Bintan. APS. Kabupaten Minahasa Utara. Kabupaten Kotawaringin Barat. Kota Bukit Tinggi. Kabupaten Kepulauan Sangihe. dan AM. APS. keterbatasan jumlah SDM dan tidak adanya laporan hasil pengawasan. Terhadap permasalahan tersebut. APM. Kabupaten Karimun.16 8. Selain itu.13 8. APS. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar kepala disdik membuat pedoman monev atas pengelolaan sarpras serta PTK.17 . sehingga pencapaian indikator tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya. dan AM tidak didukung dengan data yang akurat dan tidak divalidasi. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Mandailing Natal. 8. Tujuh entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu Disdik Kabupaten Pasaman. Perhitungan APK. yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) terkait sumber data penduduk yang digunakan untuk menghitung APK. Kota Solok. BPK telah merekomendasikan kepada bupati/walikota agar • kepala disdik melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang yaitu BPS. Kabupaten Samosir. mengenai kebenaran sumber data penduduk untuk menjamin akurasi perhitungan APK. APM. APM. kepala disdik belum memahami pentingnya indikator keberhasilan pencapaian kinerja pendidikan. APS. dan AM 8. APM. 8.

88 .

membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. • apakah proses distribusi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas.89 BAB 9 Perusahaan Daerah Air Minum 9. Bandung. Bengkulu. 9. Serang. kuantitas. PDAM Way Bumi di Kotabumi.2 Tujuan Pemeriksaan 9. Indikator 9. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. serta menilai pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan. kuantitas. Hal ini terlihat dari temuan-temuan hasil pemeriksaan dibawah ini. dan kontinuitas. PDAM Tirta Al Bantani Kab.5 Hasil pemeriksaan atas efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. dan kontinuitas. dan • apakah penanganan keluhan pelanggan telah dikelola secara efektif sehingga meminimalkan penyimpangan dan memuaskan pelanggan. BPK telah menyelesaikan pemeriksaan kinerja atas PDAM yang dilakukan pada sembilan entitas daerah kabupaten/ kota yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.3 Pemeriksaan bertujuan untuk menilai secara umum efektivitas proses produksi dan distribusi air bersih. serta pengelolaan kegiatan penanganan keluhan pelanggan PDAM secara umum menunjukkan hasil yang belum optimal sehingga masih harus ditingkatkan. Dalam Semester II Tahun 2010.1 Perusahaan daerah air minum (PDAM) merupakan perusahaan daerah yang didirikan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat dengan mengutamakan pemerataan dan keseimbangan pelayanan. . dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. PDAM Tirta Raharja Kab. Hasil Pemeriksaan 9.4 Penilaian kinerja PDAM didasarkan pada indikator • apakah proses produksi air telah efektif dan efisien sehingga dapat menyediakan air bersih yang memenuhi standar kualitas. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.

Hal ini terjadi antara lain karena tingginya kebocoran/kerusakan pipa-pipa. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Tirta Ratu Samban Kab.9 Permasalahan yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah tingkat kebocoran air melebihi batas toleransi yang telah ditetapkan.90 Penilaian Proses Produksi 9. . PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. Bengkulu. dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan lebih optimal dalam mendeteksi dan menanggulangi kebocoran air. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi.12 9. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP menyeluruh untuk pengujian air bersih. Hal ini terjadi karena kurangnya komitmen dari manajemen PDAM untuk melaksanakan penjaminan mutu atas produksi air bersih kepada pelanggan. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Terhadap permasalahan tersebut.6 Permasalahan yang terkait dengan proses produksi air bersih di antaranya adalah kualitas air hasil produksi yang belum memenuhi standar. Selain permasalahan tersebut.10 9. Serang. PDAM Tirta Raharja Kab.8 Penilaian Proses Distribusi 9. PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Hal ini terjadi antara lain karena belum adanya SOP mengenai pengendalian kebocoran air dan kurang optimalnya PDAM dalam mendeteksi dan menanggulangi tingkat kebocoran air. dan PDAM Kota Balikpapan. Bandung. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Tirta Al Bantani Kab. dan PDAM Kota Balikpapan. 9. PDAM Way Bumi di Kotabumi. permasalahan lain yang terkait dengan proses distribusi di antaranya adalah PDAM belum dapat menyediakan air bersih kepada pelanggan secara berkelanjutan. Serang. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. 9. PDAM Way Bumi di Kotabumi. Bandung.7 9. PDAM Way Rilau di Bandar Lampung. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Bengkulu. Bandung.11 9. PDAM Tirta Al Bantani Kab. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.13 . Terhadap permasalahan tersebut. Delapan entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Mayang di Kota Jambi. PDAM Tirta Raharja Kab. Serang. Kurangnya komitmen manajemen antara lain terlihat dari belum adanya standar operasional dan prosedur (SOP) menyeluruh untuk pengujian air bersih kepada pelanggan. PDAM Tirta Raharja Kab.

Hal ini terjadi karena PDAM belum mempunyai SOP penanganan keluhan pelanggan dan bagian penanganan keluhan pelanggan belum didukung sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM agar melakukan peremajaan dan pemeliharaan pipa secara berkala. Penilaian Penanganan Keluhan Pelanggan 9.17 9.18 . Terhadap permasalahan tersebut.16 9. PDAM Tirta Al Bantani Kab. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.14 Terhadap permasalahan tersebut. dan PDAM Kota Balikpapan. PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Lima entitas yang mengalami permasalahan tersebut yaitu PDAM Tirta Ratu Samban Kab. Bengkulu. BPK telah merekomendasikan kepada direksi PDAM untuk membuat SOP penanganan keluhan pelanggan dan meningkatkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan serta melakukan pelatihan. 9.91 9.15 Permasalahan yang terkait penanganan keluhan di antaranya adalah penanganan keluhan pelanggan belum dikelola secara memadai. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Serang.

92 .

1 Selain tema-tema pemeriksaan kinerja seperti yang diuraikan pada babbab sebelumnya. dan BPKB (SSB) pada Polda Lampung. • Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral (Dirjen) Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang. serta Perusahaan Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat. dan Yogyakarta. • Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan Dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 Pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam. Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota.93 BAB 10 Pemeriksaan Kinerja Lainnya 10. dalam Semester II Tahun 2010 BPK telah melaksanakan pemeriksaan kinerja pada 18 objek pemeriksaan meliputi 10 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. Pemerintah Pusat 10.2 Sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat dengan rincian sebagai berikut. • Pelayanan SIM. • Pengelolaan Kehutanan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. Polda Banten. • Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Bursa Pariwisata Internasional dan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata . STNK. • Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta. dan Polda DIY di Bandar Lampung. Serang. • Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan (Pusdiklat Jemenhan) Kementerian Pertahanan di Jakarta. 5 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan 3 objek pemeriksaan BUMN. • Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta. • Pelayanan dan Penatausahaan atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang.

• Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait. 2009. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas. • Perencanaan kegiatan telah dilakukan secara memadai.6 Pemerintah Daerah 10. antara lain sebagai berikut. • Akuntabilitas dan evaluasi kinerja kegiatan telah dikelola dengan baik. kecuali untuk penyelenggaraan diklat pada Pusdiklat Jemenhan Badiklat Kementerian Pertahanan telah dilaksanakan cukup efektif pada aspek pelaksanaan. • Pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan. Terhadap permasalahan tersebut.5 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab agar melakukan perbaikan kebijakan dan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan. • Program Bahteramas terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari.94 TA 2008.4 10. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta. • Program Penanggulangan Gizi Buruk TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung. • Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. . • Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. 10. 10. Jawa Timur.3 Tujuan pemeriksaan atas sepuluh objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan. • Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s. dan Kepulauan Riau. Triwulan III).7 Lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dengan rincian sebagai berikut. 10.d.

antara lain pengelolaan keuangan. Akan tetapi. Indikator yang digunakan antara lain sebagai berikut. Sementara itu. dan indikator kinerja pelaksanaan kegiatan yang tidak memadai. dan evaluasi telah dilakukan dengan memadai.12 BUMN 10. kegiatan supervisi dan evaluasi yang kurang memadai. prosedur. serta hasil pengadaan yang belum dimanfaatkan. • Pemerintah daerah memiliki struktur organisasi yang memadai untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.8 Tujuan pemeriksaan atas lima objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah pada umumnya adalah untuk menilai efisiensi. efektivitas. selain tidak efektif juga dikategorikan tidak efisien karena kebijakan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara cukup berhasil dalam merencanakan.95 10.11 10. masih terdapat beberapa kelemahan. • Perencanaan yang memadai dalam mengelola program kegiatan. melaksanakan. Khusus untuk simpulan hasil pemeriksaan Program Pembebasan BOP. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang bertanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan tindak lanjut yang memadai. .13 Tiga objek pemeriksaan BUMN dengan rincian sebagai berikut. monitoring. • Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta. • Kegiatan Pemeliharaan. 10. Pemakaian Refinery Fuel. dan keekonomisan pelaksanaan kegiatan.9 10. • Pelaporan. dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan Semester I Tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta.10 Hasil pemeriksaan pada umumnya menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum efektif. dan melakukan pemantauan serta evaluasi atas Program Pembebasan BOP.Medan. Terhadap permasalahan tersebut. Kegiatan Pelayanan Perijinan Baru pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. • Proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan. • Kinerja PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . 10. Cilacap. dan Balikpapan.

10. namun pengelolaan layanan tersebut belum dilaksanakan secara optimal sehingga masih terdapat risiko-risiko yang dapat merugikan perusahaan.15 10. Terhadap permasalahan tersebut. • PT Pertamina (Persero) Direktorat Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V. sehingga BPK tidak dapat menilai pencapaian kinerjanya. (iii) pengendalian atas pengelolaan layanan reservasi tiket. 10. BPK telah merekomendasikan kepada pejabat yang berwenang agar melakukan perencanaan dengan memadai. dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian.16 Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya efektif kecuali pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Penumpang untuk Penerbangan Berjadwal pada PT Garuda Indonesia (Persero) secara umum sudah cukup efektif. (ii) penetapan kebijakan strategis pengembangan sistem reservasi tiket.96 10.18 . • PT Garuda Indonesia (Persero). • PT Perkebunan Nusantara II untuk Tahun 2008 dan 2009 belum menetapkan KPI atas kegiatannya. pada umumnya adalah untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. kebijakan.17 10. dan (iv) pengawasan serta evaluasi kinerja pengelolaan layanan reservasi tiket. menetapkan kebijakan strategis. menggunakan empat indikator utama yaitu (i) perancangan dan penetapan struktur organisasi.14 Tujuan pemeriksaan atas tiga objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. sistem dan prosedur layanan reservasi tiket. Indikator yang digunakan dalam menilai efektivitas dan efisiensi tersebut adalah. menggunakan indikator yang disesuaikan dengan enam tujuan pemeriksaannya.

• Eksaminasi ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan kriteria. pelaksanaan kontrak kerja sama minyak dan gas bumi. . pelaksanaan subsidi pemerintah. kebinamargaan. • • Sebagian besar pemeriksaan yang dilaksanakan BPK bersifat eksaminasi.48 triliun. reviu. 44 objek pemeriksaan di lingkungan BUMD. operasional BUMN. 16 objek pemeriksaan di lingkungan BUMN. 250 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah. dan 1 objek pemeriksaan di lingkungan BHMN/BLU/badan lainnya. Reviu ialah pemeriksa menyatakan simpulan dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada informasi yang diperoleh pemeriksa bahwa pokok masalah tidak sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. pengelolaan/manajemen aset pemerintah daerah. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa tema sebagai berikut: • • • • • • • • pengelolaan pendapatan. Objek pemeriksaan tersebut terdiri dari 117 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat. dan bangunan pengairan/drainase daerah. atau prosedur yang disepakati. pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. PDTT bisa bersifat eksaminasi (pengujian). Cakupan pemeriksaan atas 428 objek pemeriksaan tersebut adalah senilai Rp539. PDTT tidak memberikan opini ataupun untuk memberikan penilaian kinerja dan memberikan rekomendasi. pengelolaan pertambangan batubara. Dalam prosedur yang disepakati (agreed upon procedures). Dalam Semester II Tahun 2010. pemeriksa menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap pokok masalah. BPK telah melakukan PDTT atas 428 objek pemeriksaan.97 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) bertujuan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa. pelaksanaan belanja.

dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya. operasional RSUD. .98 • • • • • operasional PDAM. operasional Bank Daerah. operasional BUMD lainnya.

Adapun pemeriksaan pendapatan perpajakan. dan Kementerian Agama. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.2 Dalam Semester II Tahun 2010. Pendapatan Pemerintah Pusat 11. Kepolisian. Mahkamah Agung. . Pendapatan pemerintah pusat meliputi pendapatan perpajakan termasuk bea dan cukai dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). dan penyetoran pendapatan pemerintah pusat telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kementerian Dalam Negeri.64 triliun atau 99. Pemeriksaan dilakukan atas PNBP. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Kementerian Sekretariat Negara. Kementerian Luar Negeri. Cakupan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah senilai Rp71. Oleh karena itu. penatausahaan. Pemeriksaan PNBP dilakukan pada 10 KL yaitu Kejaksaan Agung.28 miliar atau 0. Badan Pertanahan Nasional.45% dari realisasi pendapatan senilai Rp72. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. 11. dan • pemungutan.42% dari cakupan pemeriksaan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. penerimaan perpajakan dan kepabeanan serta cukai. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. kepabeanan dan cukai dilakukan pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai di Kementerian Keuangan.4 Secara umum tujuan pemeriksaan atas pendapatan pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) yang terkait pendapatan pemerintah pusat telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.3 Tujuan Pemeriksaan 11. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat TA 2008 2010 pada 11 kementerian/lembaga (KL) di lingkungan pemerintah pusat. Total temuan senilai Rp299. Kementerian Perdagangan. sedangkan pendapatan pemerintah daerah meliputi pendapatan asli daerah (PAD).99 BAB 11 Pengelolaan Pendapatan 11.03 triliun. Hasil Pemeriksaan 11.1 Pengelolaan pendapatan meliputi pendapatan pemerintah pusat dan pendapatan pemerintah daerah.

6 Hasil evaluasi atas SPI pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.42 miliar dan Laporan Kejati senilai Rp3. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • Di Mahkamah Agung. pembukuan dan pencatatan. Hal ini mengakibatkan Neraca Wilayah dan Laporan Manual Pidsus Kejati per 31 Mei 2010 berbeda dengan hasil perhitungan BPK pada masing-masing kejari dan cabang kejaksaan negeri (cabjari) yaitu pada Neraca Wilayah senilai Rp7.8 . belum menyelenggarakan pembukuan secara lengkap. pengelolaan tagihan uang pengganti tidak tertib. pengeluaran biaya proses tidak menggunakan mekanisme surat permintaan pembayaran (SPP). serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.7 Hasil evaluasi SPI terhadap pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan terdapat 74 kasus kelemahan SPI. dan belum ada kebijakan 11. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. • sebanyak 3 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 9 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 9.32 miliar. biaya proses pada delapan tingkat banding di kepaniteraan yang di-sampling belum seluruhnya dikelola secara memadai. 11. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai.9 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.100 Sistem Pengendalian Intern 11. Sebagai contoh. Kejaksaan Tinggi Bandar Lampung. 11. • Di Kejaksaan Agung RI. serta 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Sebanyak 16 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.

Hal ini mengakibatkan potensi penerimaan negara sebanyak 329 pemberitahuan impor barang (PIB) belum dipungut senilai Rp33. TMII juga tidak menyajikan kedua unit usaha tersebut ke dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009. penetapan klasifikasi atas barang-barang impor berbeda-beda meskipun uraian jenis barangnya sama.65 miliar. • Di Mahkamah Agung. • sebanyak 5 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.10 Sebanyak 42 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.43 miliar kepada Ditlantas Polda Sulut. Selain itu. Selain itu. • Di Kepolisian RI. Dispenda Sulut belum menyetorkan upah pungut atas pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) Tahun 2009-2010 senilai Rp10. dan • sebanyak 2 kasus lainnya. beberapa pengadilan menggunakan dana APBN TA 2009 dan 2010 untuk membiayai proses perkara perdata. Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 11.11 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.101 jumlah kas tunai yang dikelola oleh bendahara biaya proses. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. sebagian dari pengadilan tersebut juga membebankan biaya administrasi kepada pihak yang berperkara sehingga terjadi pembiayaan ganda sekurang–kurangnya senilai Rp332. . • Di Kementerian Keuangan. dua unit usaha TMII yaitu Teater Imax Keong Emas dan Taman Air Tawar/ Dunia Air Tawar tidak memberikan kontribusi kepada TMII. terdiri atas • sebanyak 4 kasus mekanisme pemungutan. 11.60 juta tidak melalui proses verifikasi. • sebanyak 21 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.16 juta. • Di Kementerian Sekretariat Negara. Polda Sulawesi Utara. Ditjen Bea Cukai. pembayaran pengiriman salinan putusan yang menggunakan jasa PT Pos Indonesia senilai Rp784.

• Di Kementerian Perdagangan. Berdasarkan umur piutang dan dokumen pembayaran listrik diketahui pihak ketiga belum membayar biaya listrik kepada TMII per 26 September 2010 senilai Rp1. • Di Mahkamah Agung.102 11. . • Di Kementerian Sekretariat Negara. Selain itu. Pada bulan berikutnya TMII menagih biaya listrik dari anjungan-anjungan dan unit usaha.75 juta.14 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya terjadi karena pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dan pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. 11. TMII setiap bulan membayar terlebih dahulu seluruh beban listrik kepada PLN. baik beban pihak ketiga maupun beban TMII. Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan dan meningkatkan upaya intensifikasi penagihan denda dan uang pengganti.15 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain. Penyebab 11.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdiri atas • sebanyak 4 entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. pengelolaan PNBP jasa imigrasi dan jasa administrasi belum tertib. • sebanyak 1 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. • sebanyak 10 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. Selain itu. kasus tersebut juga disebabkan kurangnya koordinasi pimpinan KL dan kurangnya ketentuan atau SOP yang mengatur secara tegas mengenai pendapatan pemerintah pusat.12 miliar. BPK merekomendasikan agar koordinasi pimpinan KL dengan kepala daerah lebih ditingkatkan.12 Sebanyak 16 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. belum terdapat suatu keseragaman berkaitan pengadministrasian dan pemberitahuan sisa panjar biaya perkara perdata di pengadilan tingkat pertama mengakibatkan hak masyarakat berupa sisa panjar biaya perkara perdata tidak segera diterima oleh yang berhak minimal senilai Rp584. memperbaiki sistem pelaporan keuangan dan segera menyusun SOP administrasi pengelolaan keuangan. Rekomendasi 11.

Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Pusat No. yaitu selisih biaya perkara pada Laporan Keuangan Perkara per 30 Juni 2010 senilai Rp419. ketidakhematan.93 299. administrasi.80 11.28 2.288. potensi kerugian negara. Kerugian Negara 11.99 juta yang terdiri dari penggelapan oleh Panitera/Sekretaris PN Bogor senilai Rp404.28 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pendapatan pada 11 kementerian/lembaga. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 10 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 11.342. kekurangan penerimaan negara.18 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. dan ketidakefektifan dapat dilihat pada Tabel 11.1.398. 11. dan barang.38 50. Kasus tersebut di antaranya di Mahkamah Agung. Tabel 11.89 juta.16 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.19 11. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 2 6 57 19 1 3 88 422.28 juta. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara. Kasus kerugian negara terjadi pada penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.17 Berdasarkan tabel di atas.09 juta dan uang tunai yang masih dibawa oleh mantan Panitera PN Bogor yang telah meninggal dunia senilai Rp15.20 .12 75.103 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak dua kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp422. hasil pemeriksaan mengungkapkan 88 kasus senilai Rp299. surat berharga.1.06 296.

34 miliar yang terdiri atas • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp12.104 Penyebab 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menyelesaikan kasus penyalahgunaan keuangan perkara baik dari aspek keuangan maupun aspek administratif.98 miliar. Potensi Kerugian Negara 11. surat berharga.95 juta.24 11. masih terdapat saldo uang pengganti senilai Rp2. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 6 kasus senilai Rp2.23 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.d. yang nyata dan pasti jumlahnya. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya. 30 Juni 2010 adalah senilai Rp3. Dari jumlah tersebut. Pada umumnya kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi aset dikuasai pihak lain.32 miliar.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan entitas belum optimal dalam mengeksekusi uang pengganti dan pengawasan atasan langsung terkait pengelolaan administrasi dan intensifikasi penagihan uang pengganti masih lemah. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat.73% dari total uang pengganti.25 . Penyebab 11. 11. dan barang.30 miliar yang belum tertagih atau sebesar 57. aset tidak diketahui keberadaannya dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. dan • sebanyak 2 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2.21 Kasus kerugian negara tersebut pada umumnya disebabkan keraguan pimpinan KL untuk mengambil tindakan terhadap kasus yang menyangkut hilangnya uang titipan pihak ketiga. 11. Rekomendasi 11.26 Kasus tersebut terdapat di Kejaksaan Agung.22 Terhadap kasus-kasus kerugian negara tersebut. total uang pengganti yang harus dibayar terpidana dari perkara tindak pidana korupsi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada sepuluh kejari dan dua cabjari di lingkungan Kejati Kalbar selama periode TA 2009 s.

28 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. • Di Kementerian Keuangan. dan menegur pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugasnya. penggunaan langsung penerimaan negara/daerah.64 miliar. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp120.18 miliar. • sebanyak 8 kasus penggunaan langsung penerimaan negara/daerah. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara. Ditjen Pajak.31 juta.31 .32 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.44 miliar. biaya pada dua Bank BUMN dan delapan Bank BUMD senilai Rp760.29 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • Di Kejaksaan Agung. penerimaan negara/daerah penerimaan negara diterima oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.57 miliar tidak seharusnya dikurangkan dalam melakukan penghitungan Penghasilan Kena Pajak Tahun Pajak 2009. Kejaksaan Negeri Sumatera Barat. senilai Rp34. 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa untuk mengintensifkan penagihan uang pengganti.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp255. melaporkan perkembangan piutang uang pengganti yang menjadi tanggung jawabnya. masih terdapat saldo uang pengganti 11.11 miliar.30 11. Kekurangan Penerimaan 11. Hal ini mengakibatkan keharusan dilakukannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara senilai Rp193. dan • sebanyak 7 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp6.34 miliar.105 Rekomendasi 11. dari jumlah uang pengganti senilai Rp5. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 57 kasus senilai Rp296.

34 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara pada umumnya terjadi karena para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara serta meningkatkan koordinasi antar pimpinan KL.90 juta kepada TMII.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. lemahnya pengawasan dan pengendalian dan kurangnya koordinasi antara pimpinan KL. dan perpajakan. KBRI Seoul senilai Rp561. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.37 . 11.27 juta. pertambangan. Penyebab 11. tidak mengurangi hak negara.08 juta. Administrasi 11.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.65 juta. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. kekurangan penerimaan negara. Rekomendasi 11. Di samping itu. 11. pihak pengelola Snow Bay Waterpark (SW) yaitu Arum Investment (AI) belum melunasi kontribusi pendapatan sejak September 2009 hingga Juli 2010 kepada TMII senilai Rp5. dan KBRI Budapest di Kementerian Luar Negeri senilai Rp223.53 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.84 miliar atau 56% yang belum tertagih per 31 Mei 2010 pada 15 kejari dan 6 cabjari. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). senilai Rp1.106 senilai Rp2. • Di Kementerian Sekretariat Negara.55 miliar. TMII. penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. tidak menghambat program entitas. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Kementerian Dalam Negeri senilai Rp708. AI juga belum mengganti beban rekening listrik selama empat bulan senilai Rp492. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.33 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.

perpajakan. TMII. Sanggau. dan • sebanyak 1 kasus kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. daftar aset beserta kode inventaris ruangan (KIR). • sebanyak 8 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 19 kasus yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). pertambangan.107 11. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.38 Kasus penyimpangan administrasi juga meliputi penyetoran penerimaan negara melebihi batas waktu yang ditentukan. Sintang. • Di Badan Pertanahan Nasional.20 miliar pada Kejari Mempawah. pertanggungjawaban/ penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan dan kepemilikan aset tidak /belum didukung bukti yang sah. Penyebab 11. Bengkayang. pengelolaan barang bukti berupa uang dan bilyet giro senilai Rp4.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi pada umumnya terjadi karena para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas. Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. 11. Pontianak. dan Cabjari Entikong tidak tertib. daftar inventaris ruangan (DIR) dan kode inventaris barang (KIB) menunjukkan bahwa nilai yang disajikan dalam Laporan Keuangan TMII Tahun 2009 merupakan harga perolehan yang belum diinventarisasi dan dinilai kembali dengan harga wajar. PNBP hasil pelayanan bidang pertanahan Tahun 2009 dan 2010 di beberapa kantor wilayah BPN terlambat disetor ke kas negara senilai Rp6.50 miliar. • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara.39 . • Di Kementerian Sekretariat Negara. • Di Kejaksaan Agung. kurang komitmen pimpinan entitas yang diperiksa untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan- 11.

44 Tujuan Pemeriksaan 11. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp268. Pemeriksaan dilakukan pada 21 entitas pemerintahan provinsi/kabupaten/kota.66% dari cakupan pemeriksaan.46 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.45 Secara umum.108 ketentuan pelaksanaan anggaran dan penatausahaan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. 11.74 triliun. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. . Sistem Pengendalian Intern 11. Cakupan pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan adalah senilai Rp40. Rekomendasi 11. yang terdiri dari 39 objek pemeriksaan. dan • pemungutan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.43 Dalam Semester II Tahun 2010. tujuan pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan pendapatan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.87 miliar atau 0. serta pimpinan instansi lalai tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam menilai kembali dan mengawasi pengelolaan aset.69 triliun dari realisasi anggaran pendapatan senilai Rp52. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Oleh karena itu. BPK telah memeriksa pengelolaan pendapatan pemerintah daerah TA 2009 dan 2010. penatausahaan dan penyetoran pendapatan daerah telah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. Hasil Pemeriksaan 11. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan/atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan dan menginventarisasi serta menilai kembali aset-aset tetap negara.47 Pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) pengelolaan pendapatan pemerintah daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Pendapatan Pemerintah Daerah 11.

dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. serta 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • Di Kota Bandung. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.51 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Provinsi Sumatera Barat. 11. 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.52 Sebanyak 158 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. pencatatan atas potensi pajak kendaraan bermotor (PKB) dan denda atas PKB yang tidak mendaftar ulang s. Provinsi Jawa Barat.49 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 199 kasus kelemahan SPI. yaitu 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. terdiri atas • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. Juli 2010 senilai Rp87. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.48 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan pendapatan pemerintah pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan.109 11. penatausahaan penerbitan surat ketetapan restribusi daerah (SKRD). pembukuan dan pencatatan.d. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 12. Sebanyak 14 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan terdiri atas • sebanyak 11 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.50 . izin mendirikan bangunan (IMB) dan izin peruntukkan penggunaan tanah (IPPT) TA 2009 senilai Rp12. 11.09 miliar tidak tertib. 11.53 miliar pada 17 unit pelaksana teknis dinas (UPTD) tidak akurat dan dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. 11.

• Di Kota Makassar. Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sumatera Utara. penagihan atas tunggakan pajak. Penyebab 11. terdiri atas • sebanyak 11 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. • Di Kota Pekalongan.110 • sebanyak 24 kasus mekanisme pemungutan. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai dengan ketentuan.55 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.d.90 miliar tidak maksimal sehingga tertundanya realisasi penerimaan pendapatan.00 miliar. 11.32 juta.40 miliar. dan • sebanyak 16 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. penetapan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C lebih rendah dalam TA 2009 dan 2010 total senilai Rp466. terdapat penerimaan dari pungutan biaya diklat TA 2009 pada BPRS Dadi yang tidak memiliki dasar hukum senilai Rp698.54 Sebanyak 27 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. dan • sebanyak 121 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.56 Kasus-kasus kelemahan SPI pada umumnya disebabkan karena para pejabat dan pelaksana terkait kurang optimal dalam melakukan survei. • sebanyak 10 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu/atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. • Di Kota Bandar Lampung. Provinsi Jawa Tengah. 11. retribusi dan penerimaan lain-lain pada beberapa SKPD s. • Di Kabupaten Deli Serdang. . pembebasan pajak hiburan dan pajak restoran kepada satu wajib pajak tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah senilai Rp10. 11. dan • Di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Lampung.91 juta. pendataan.53 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. September 2010 senilai Rp1. intensifikasi dalam upaya meningkatkan pajak pengambilan bahan galian C tidak dilakukan sehingga kehilangan potensi penerimaan daerah dalam TA 2009 dan 2010 senilai Rp14.

923.111 penetapan dan pengawasan atas pendapatan pemerintah daerah serta kurang menaati ketentuan yang berlaku. ketidakhematan. dan barang.58 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah pada 39 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 322 kasus ketidakpatuhan senilai Rp268. dan penagihan pendapatan pemerintah daerah serta untuk lebih menaati ketentuan yang berlaku. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 11.60 . Rekomendasi 11.87 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. 11.40 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 Kerugian Daerah Potensi Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakefektifan Jumlah Kerugian Daerah 11. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 11. administrasi. penetapan.870.2. kekurangan penerimaan daerah.48 6. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 8 6 230 65 13 322 Nilai (juta Rp) 2.333. Tabel 11. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 13 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 14. potensi kerugian daerah.2.59 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.57 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. surat berharga. dan penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan. BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi kepada para pejabat dan pelaksana terkait agar meningkatkan pengendalian dan pengawasan terhadap pendataan. pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.880.41 5.733.11 253. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah meliputi penggunaan uang/ barang untuk kepentingan pribadi.38 268.

64 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya.66 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.92 miliar yang terdiri atas • sebanyak 6 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp927. Potensi Kerugian Daerah 11. .14 juta.112 11.95 miliar. • Di Kabupaten Brebes.99 miliar. Bendahara Penerima Dinas Cipta Karya dan Pertambangan melakukan penggelapan atas retribusi izin mendirikan bangunan (IMB) TA 2009 dan 2010 senilai Rp417. Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Jawa Tengah.61 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp2. 11. surat berharga.16 juta. • Di Kabupaten Deli Serdang.63 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut. 11. piutang modal ekonomi produktif dan perdagangan serta pengembangan wirausaha kecil serta usaha pertanian TA 2010 tidak tertagih dan merugikan daerah senilai Rp1.38 juta telah ditindaklanjuti pemerintah Kabupaten Deli Serdang. dan • sebanyak 2 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1. • Di Kabupaten Brebes. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor sejumlah uang melalui kas daerah dan memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya. Provinsi Sumatera Utara dengan penyetoran ke kas daerah. Penyebab 11. senilai Rp408. yang nyata dan pasti jumlahnya.62 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kepala Dinas Kesehatan menggunakan penerimaan dari dana Jamkesmas TA 2010 senilai Rp150.65 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.00 juta untuk kepentingan pribadi. tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku tentang pengelolaan pendapatan serta kurangnya pengawasan dan pengendalian. Provinsi Jawa Tengah. dan barang. Rekomendasi 11.

67 Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. 11.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 juta.68 Kekurangan Penerimaan 11. penggunaan langsung penerimaan daerah. 11. Provinsi Jawa Tengah.43 miliar dan di antaranya senilai Rp862. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mengintruksikan para pelaksana untuk lebih giat dalam melakukan penagihan dan lebih menaati peraturan yang berlaku. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas daerah. piutang pajak dari Tahun 20082010 belum terpungut senilai Rp1. penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.113 11.72 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp88.79 miliar.70 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan para pelaksana kurang optimal dalam melakukan penagihan dan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam penghapusan piutang. Rekomendasi 11. Provinsi Jawa Barat. • Di Kota Semarang.71 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat enam kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp5.39 juta belum tercatat dalam daftar tunggakan. pengelolaan tunggakan retribusi pasar tidak tertib dan terdapat tunggakan dari Tahun 2005 s. dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah.73 .27 miliar. • Di Kabupaten Bogor. 11.d September 2010 belum terselesaikan senilai Rp1.88 miliar yang terdiri atas • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp5. Penyebab 11.

20 juta.20 juta. kekurangan penyetoran pajak hotel dan restoran oleh delapan wajib pajak Tahun 2009 dan 2010 senilai Rp1. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Makassar. terdapat pembangunan titik reklame baru yang dilakukan tanpa ijin dan belum ditetapkan pajak dan retribusinya senilai Rp7. • sebanyak 25 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp15.73 miliar terdiri atas • sebanyak 177 kasus penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah senilai Rp226. pendapatan dari sumbangan pihak ketiga Tahun 2006 – 2009 belum diterima dari Pemprov Lampung senilai Rp1.72 juta. dan • sebanyak 26 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp11.42 miliar. 11. • sebanyak 1 kasus dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah senilai Rp61. tunggakan pajak per 31 Agustus 2010 senilai Rp7. Provinsi Lampung. .65 miliar.06 juta.78 juta dan Provinsi Lampung senilai Rp21.13 miliar dan denda keterlambatan belum dikenakan senilai Rp255.74 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara/ daerah sebanyak 230 kasus senilai Rp253.76 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan daerah.75 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut. 11.56 miliar belum terselesaikan. Provinsi Jawa Barat.39 miliar yaitu di antaranya Kota Bandar Lampung senilai Rp392. • Di Kabupaten Bogor.77 Kasus-kasus tersebut disebabkan para pelaksana tidak optimal dalam melaksanakan tugasnya dan kurang mematuhi ketentuan perundangan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan pendapatan. Kota Medan senilai Rp155. • Di Kota Bandar Lampung.90 juta.114 11. • Di Kota Medan. Provinsi Sumatera Utara.50 miliar. • sebanyak 1 kasus penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp5. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1.52 miliar. Penyebab 11.58 miliar.

keterlambatan penetapan pajak air sebanyak 9.80 11. tidak menghambat program entitas.78 Terhadap kasus-kasus tersebut. • sebanyak 18 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya.81 . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar membina para pelaksana untuk lebih cermat melaksanakan tanggung jawabnya. kekurangan penerimaan daerah. Administrasi 11. • sebanyak 38 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.777 surat ketetapan pajak daerah (SKPD) mengakibatkan penerimaan senilai Rp8. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya. menaati ketentuan yang berlaku dan lebih tegas mengenakan sanksi terhadap wajib pajak serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.42 miliar tidak tepat waktu. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. 11. dan pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. 11. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).115 Rekomendasi 11. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik daerah. tidak mengurangi hak daerah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.82 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • Di Provinsi Banten.79 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 65 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid).

88 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kota Tanjung Pinang. Ketidakefektifan 11. Rekomendasi 11.83 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan para pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan dan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. penerimaan sumbangan pihak ketiga TA 2009 dan 2010 tidak sesuai peraturan perundang-undangan senilai Rp5. dan • sebanyak 12 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp6.84 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta menginstruksikan untuk menaati peraturan yang berlaku. Provinsi Sumatera Barat. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. restoran/rumah makan. terdapat pendapatan pajak hotel. dan reklame yang tidak terealisasi TA 2009 dan 2010 senilai Rp584.33 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi.79 miliar.85 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). 11. pendapatan pajak penerangan jalan TA 2010 terlambat disetor senilai Rp3. Provinsi Kepulauan Riau. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan terdapat 13 kasus ketidakefektifan senilai Rp6.33 miliar. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. • Di Kota Bukit Tinggi. Penyebab 11. 11.116 • Di Provinsi Sulawesi Tengah.07 juta dan potensi pendapatan pajak daerah belum diperhitungkan minimal senilai Rp231.89 juta sehingga target yang ditetapkan tidak tercapai.87 .86 11.27 miliar.

dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya. pendapatan retribusi parkir di tepi jalan umum melalui tenaga pengumpul retribusi parkir tidak optimal sehingga target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur secara tertulis kepada pejabat yang terkait supaya meningkatkan pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. Rekomendasi 11.89 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan kurangnya pengawasan dalam memaksimalkan penerimaan daerah. para pelaksana terkait belum optimal melakukan intensifikasi pendapatan daerah.00 miliar.90 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.117 • Di Kota Semarang.91 . 11. Penyebab 11. Provinsi Jawa Tengah.

118 .

4 Secara umum. Belanja pemerintah pusat/daerah dipergunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintah pusat/daerah dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Pemeriksaan dilakukan pada 22 kementerian/lembaga yang meliputi 45 objek pemeriksaan. Hasil Pemeriksaan 12.86 triliun.81 miliar atau 5. Oleh karena itu. bantuan sosial. belanja modal. dan belanja lain-lain. 12. Sistem Pengendalian Intern 12. Menurut jenisnya. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp824.3 Tujuan Pemeriksaan 12. tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan belanja telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai. Cakupan pemeriksaan belanja pemerintah pusat pada 22 K/L adalah senilai Rp15. Belanja Pemerintah Pusat 12. hibah. efisien.09 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp29.46% dari cakupan pemeriksaan. belanja barang. .1 Pelaksanaan belanja meliputi belanja pemerintah pusat dan belanja pemerintah daerah. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. belanja pemerintah pusat/daerah terdiri atas belanja pegawai. subsidi.119 BAB 12 Pelaksanaan Belanja 12.6 Salah satu tujuan pemeriksaan atas belanja adalah untuk menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) atas pelaksanaan anggaran belanja sudah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. dan • pelaksanaan belanja telah mematuhi ketentuan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.2 Dalam Semester II Tahun 2010. bunga. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah pusat TA 2009 dan 2010.5 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. dan efektif.

serta 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.9 . serta pencatatan BMN belum memisahkan aset sesuai klasifikasinya. 12. biaya perbaikan Wisma Duta Tahun 2009 senilai Rp375. 12. 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.39 juta belum dikapitalisasi sehingga belum tercatat sebagai penambah nilai akun gedung dan bangunan. KBRI Budapest. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Sebanyak 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.56 juta dan TA 2009 senilai Rp2. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. terdapat bantuan dana pemerintah kabupaten setempat ke Polres dan Poltabes jajaran Polda Sulawesi Utara TA 2009 senilai Rp1. pembukuan dan pencatatan.73 miliar. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. aset hasil belanja modal TA 2008 belum tercatat senilai Rp226. • Di Kementerian Luar Negeri. pencatatan barang milik negara (BMN) belum memperhitungkan PPN dan biaya lainnya terkait pengadaan BMN. • Di Kepolisian RI. 12.8 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan belanja pemerintah pusat menunjukkan terdapat 86 kasus kelemahan SPI.84 miliar tidak dilaporkan ke Bidang Keuangan Polda Sulut sehingga tidak diungkap dalam Catatan atas Laporan Keuangan Polda Sulut. Satker Bandara Binaka Gunungsitoli Provinsi Sumatera Utara. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 15. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. • Di Kementerian Perhubungan.120 12. • sebanyak 6 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern.7 Hasil evaluasi atas SPI belanja menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Selain itu.

Akibatnya. . • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.11 Sebanyak 35 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.121 12. 12.09 ribu e. • Di Kementerian Luar Negeri. alutsista milik TNI AU berpotensi menjadi barang yang tidak mempunyai nilai teknis. terdiri atas • sebanyak 19 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kementerian Hukum dan HAM. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. terdiri atas • sebanyak 15 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. KBRI Moskow.q.13 Sebanyak 31 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. yaitu SOP dalam pelaksanaan perjanjian kerjasama antara Direktur Jenderal Pemasyarakatan dengan pihak ketiga belum ditetapkan. terdapat perhitungan fihak ketiga (PFK) minus per 26 Juli 2010 senilai USD126. Rp1. Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) terdapat 521 jenis suku cadang/materiil/komponen alat utama sistem senjata (alutsista) menunggu proses perbaikan/pemeliharaan dan terdapat suku cadang/materiil/komponen alutsista dari pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi (A-4 dan OV-10) belum diperbaiki. 12. • Di TNI AU. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.14 miliar belum mendapatkan penggantian dari Biro Keuangan Setjen Kementerian Luar Negeri sehingga pengeluaran belum dapat diakui sebagai realisasi belanja definitif. 12. dan • sebanyak 12 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.

79 8.166. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Pusat No.901. potensi kerugian negara.35 489. Tabel 12. ketidakhematan.40 240.440.818.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI.1.1.15 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena perencanaan tidak memadai. serta dukungan sarana dan prasarana yang kurang memadai. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian negara.97 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat. administrasi.918.122 Penyebab 12.18 Berdasarkan tabel di atas.95 54. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 16 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 17. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. . dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 12. serta memberi sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada pejabat yang bertanggung jawab. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 163 15 43 120 48 43 432 31.46 824. hasil pemeriksaan mengungkapkan 432 kasus senilai Rp824.391.81 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan pada delapan kementerian lembaga (KL). Rekomendasi 12. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. kekurangan penerimaan negara.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.

surat berharga. yang terdiri atas • sebanyak 10 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp5. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.44 miliar.69 juta. pemahalan harga (mark up). belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. • sebanyak 46 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp2. • sebanyak 9 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp2. • sebanyak 2 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp215.123 Kerugian Negara 12. 12.47 juta. • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp5. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 163 kasus senilai Rp31. • sebanyak 5 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp156. • sebanyak 46 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp10. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan.17 juta. Kerugian negara.97 miliar.88 miliar. dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian negara senilai Rp925.76 juta.64 miliar. • sebanyak 9 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp914. Kasus-kasus kerugian negara yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.70 miliar. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp110. dan barang.20 12.00 miliar. dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet.19 Kerugian negara adalah berkurangnya kekayaan negara berupa uang. juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan.89 miliar.52 juta. • sebanyak 28 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1.21 .

dan selisih nilai yang dipertanggungjawabkan dengan yang diterima oleh Hotel Grand Jaya Raya senilai Rp852.25 kasus-kasus kerugian negara tersebut. di antaranya tiga terbesar dalam penyetoran ke kas negara adalah penyetoran oleh Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp1.17 miliar. Kementerian Dalam Negeri senilai Rp1.124 12. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kerugian negara dengan menyetorkan uang ke kas negara atau melengkapi/menyerahkan aset melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 12. akomodasi hotel fiktif atas kegiatan penyusunan SOP pengawasan dan pemeriksaan senilai Rp1. surat berharga.24 Kasus-kasus kerugian negara disebabkan rekanan lalai dalam melaksanakan tugas sesuai kontrak yang disepakati. • Di Kementerian Pendidikan Nasional.25 miliar. realisasi perjalanan dinas kegiatan joint audit TA 2009 tidak dilakukan (fiktif) sekurang-kurangnya senilai Rp2. dan BKKBN senilai Rp911.40 miliar telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.26 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. yang nyata dan pasti jumlahnya.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Potensi Kerugian Negara 12. dan barang.34 miliar.98 juta. . para pelaksana lalai dalam pelaksanaan tugas dan tidak cermat dalam perencanaan. senilai Rp5. Penyebab 12. pengawasan.88 miliar belum disetor ke kas negara dan masih dikelola serta disalurkan kepada Kelompok UPPKS. dan pengendalian.23 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian negara tersebut. Selain itu.41 miliar. • Di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Rekomendasi 12.98 juta. pekerjaan pengambilan formulir Program Keluarga Harapan (PKH) TA 2009 tidak seluruhnya dilaksanakan oleh PT Pos Indonesia sehingga terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp4. • Di Kementerian Sosial. dana bantuan modal usaha Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) pada BKKBN Provinsi Jawa Tengah posisi September 2010 senilai Rp5.77 miliar.

• sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp382.125 12. dan aset tidak diketahui keberadaannya.20 juta oleh Perusahaan Jasa Konsultan menggunakan pertanggungjawaban yang tidak benar. • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp25.31 Kasus-kasus potensi kerugian negara disebabkan oleh rekanan lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang telah disepakati.27 Kasus-kasus potensi kerugian negara meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya. • Di Kementerian Dalam Negeri. pembayaran honorarium senilai Rp404.28 .77 juta. dan • sebanyak 3 kasus lain-lain potensi kerugian negara senilai Rp6. • Di TNI AL Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).75 miliar. 12. pelaksana lalai dalam menjalankan tugas.91 miliar yang terdiri atas • sebanyak 9 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp1. aset dikuasai pihak lain. Ditjen Bina Pembangunan Daerah.75 miliar.66 juta. di antaranya di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). yang berpotensi merugikan negara.21 juta.35 juta berbeda dengan invoice dan perjalanan dinas senilai Rp228. pengadaan barang rantai jangkar KRI MLT-561 tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yaitu barang yang diberikan rekanan produk Tahun 1996.00 juta tidak sesuai ketentuan. 12. terdapat selisih volume pekerjaan atas pekerjaan yang belum selesai minimal senilai Rp383.69 juta.46 juta dan biaya transport pengiriman slipway ke lokasi senilai Rp220.30 Atas kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut telah ditindaklanjuti oleh kementerian/lembaga dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp191. Penyebab 12.03 juta. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 15 kasus senilai Rp8.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. TNI AL telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp168. bukan produk baru sehingga terjadi selisih senilai Rp167. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). 12. • Di TNI AL.

12.126 Rekomendasi 12.32 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut.33 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.92 miliar tidak dibayar. 12.16 miliar yang terdiri atas • sebanyak 41 kasus kekurangan penerimaan negara termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/ diterima/disetor ke kas negara senilai Rp46. Direktorat Polisi Air (Ditpolair). 12. di antaranya di Kementerian Pendidikan Nasional senilai Rp230.37 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut.92 miliar. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara meliputi penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan negara senilai Rp7. terdapat kekurangan pembayaran PNBP dari ganti rugi pemanfaatan tanah oleh PT HI senilai Rp561. dan mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian negara.35 juta. senilai Rp446. • Di Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (Bapertarum). Kekurangan Penerimaan Negara 12.34 12. meminta pertanggungjawaban rekanan pelaksana pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah disepakati. • Di Kepolisian RI. dan penggunaan langsung penerimaan negara.00 juta atas perjanjian penambangan batu kapur. terdapat bunga dan denda pinjaman dana Bapertarum PNS oleh Yayasan DPP KORPRI dan Perum Perumnas senilai Rp40.24 miliar.35 . • Di Kementerian Hukum dan HAM. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.36 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. sanksi keterlambatan pengadaan dua unit senjata api kaliber 20 mm TA 2008 belum dikenakan sehingga denda senilai Rp935.40 juta dan PT HI belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp963.98 juta belum diterima. Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 43 kasus senilai Rp54.45 juta telah ditindaklanjuti oleh KL dengan penyetoran ke kas negara.

Rekomendasi 12.40 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. kekurangan penerimaan negara. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 120 kasus yang terdiri atas • sebanyak 39 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dan sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara. memerintahkan para pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid).43 .42 12.127 Penyebab 12. • sebanyak 35 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara.41 12.39 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan negara tersebut. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab.38 Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara terjadi karena rekanan tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian yang telah disepakati. dan penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik negara. tidak mengurangi hak negara. pelaksanaan lelang secara proforma. tidak menghambat program entitas. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. Penyimpangan administrasi juga meliputi pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. para pelaksana tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku. Administrasi 12. • sebanyak 6 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara. 12.

• Di Kementerian Agama. • Di TNI AL. terdapat pengadaan barang TA 2009 senilai Rp699. • sebanyak 3 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan.52 miliar. penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS) TA 2009 tidak didasarkan pada data yang memadai dan spesifikasi teknis barang yang diadakan mengarah pada merek tertentu. terdapat empat kegiatan operasi Mabes TNI TA 2007 – 2008 yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban minimal senilai Rp2. kurang cermat dalam melaksanakan ketentuan pelaksanaan anggaran. 12. • sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • Di Kementerian Pendidikan Nasional.45 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dan dalam melaksanakan tugas. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. .21 juta dilakukan tanpa kontrak sehingga tidak ada kejelasan mengenai hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang terlibat dalam perikatan.46 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.128 • sebanyak 15 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. • sebanyak 7 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran terlambat/belum disetor ke kas negara.28 miliar dilakukan tanpa merevisi petunjuk operasional kegiatan (POK). Penyebab 12. IAIN Sultan Thaha Jambi. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melengkapi bukti pertanggungjawaban. • Di Kementerian Perdagangan. penggunaan sisa anggaran joint audit TA 2009 senilai Rp22. Rekomendasi 12.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • sebanyak 8 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang pengelolaan barang milik negara. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian para atasan. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar). memberikan teguran dan atau sanksi kepada pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan.

dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. • Di Kementerian Keuangan.47 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. tingkat pemanfaatan peralatan pemindai DJBC belum optimal jika dibandingkan dengan tingkat biaya pemeliharaannya senilai Rp178. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. terdapat perbedaan harga kontrak dengan harga pasar dalam pengadaan barang dan jasa TA 2009 dan 2010 sehingga terjadi kemahalan harga senilai Rp204.22 miliar. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Hasil pemeriksaan atas belanja negara menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak 48 kasus senilai Rp240. dana beasiswa mahasiswa unggulan TA 2009 dan 2010 digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan persatuan mahasiswa Indonesia di Malaysia sehingga memboroskan keuangan negara senilai Rp152. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab. 12.51 juta. Kasus-kasus ketidakhematan meliputi pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan dan pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. dan Gamma Ray.129 Ketidakhematan 12.51 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena adanya kecenderungan memanfaatkan anggaran tanpa memperhatikan prinsip ekonomis.52 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. dan • sebanyak 45 kasus pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga senilai Rp240.35 miliar. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 12. mengakibatkan pemborosan atas biaya pemeliharaan X-Ray. entitas kurang cermat merencanakan kegiatan. 12. • Di Kementerian Perdagangan. • Di Kementerian Luar Negeri.48 12.49 .50 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.39 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus pengadaan barang dan jasa melebihi kebutuhan senilai Rp165.73 juta. HiCo Scan. KBRI Kuala Lumpur.81 juta. Penyebab 12.

12.55 . kegiatan pemeliharaan alutsista kapal di lingkungan Koarmabar TA 2008 dan 2009 senilai Rp2.20 juta eq. • Di TNI AL. Rp226.64 juta.99 miliar. dan • sebanyak 4 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan.52 miliar. • Di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). 12. Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).53 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome).95 miliar. • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp111.90 miliar yang terdiri atas • sebanyak 3 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp1. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah pusat menunjukkan 43 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan senilai Rp489.130 Ketidakefektifan 12.54 12. • sebanyak 7 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp31. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.56 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.57 miliar pengadaan TA 2007 – 2009 rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.90 miliar.54 miliar melewati batas waktu yang ditetapkan sehingga belum sepenuhnya dapat mendukung pencapaian tujuan kegiatan operasi. • sebanyak 10 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp196. • sebanyak 11 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp341. • sebanyak 7 kasus pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi senilai Rp2.32 miliar. Kapal Patroli Cepat FPB 38 senilai USD25. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.

cermat dalam perencanaan. Penyebab 12. dan • pelaksanaan pengadaan barang/jasa telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait termasuk penerapan prinsip ekonomis. . dan segera memanfaatkan barang pengadaan.61 Tujuan pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern yang terkait dengan program/kegiatan yang diperiksa telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai.59 Dalam Semester II Tahun 2010.58 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.86 triliun.57 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Cakupan pemeriksaan belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan adalah senilai Rp22.131 • Di Kementerian Perdagangan.60 Tujuan Pemeriksaan 12. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan. telah agar lebih hasil Belanja Pemerintah Daerah 12. pasar tradisional dan gudang untuk sistem resi gudang (gudang SRG) yang dibangun dengan dana stimulus fiskal TA 2009 belum didukung fasilitas penunjang dan pasokan listrik PLN sehingga belum dapat dimanfaatkan.69 miliar atau 3. pemeriksaan atas belanja daerah juga meliputi 5 objek pemeriksaan atas belanja bantuan sosial TA 2009 dan 2010 pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan 3 objek pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) TA 2010 pada pemerintah provinsi dan 4 objek pemeriksaan pada pemerintahan kabupaten/kota. Selain itu. Rekomendasi 12.06 triliun dari realisasi anggaran belanja senilai Rp52.81% dari cakupan pemeriksaan. BPK telah memeriksa belanja atau pengadaan barang/jasa pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 atas 176 objek pemeriksaan. perencanaan yang kurang memadai. dan efektif. 12. BPK merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. efisien. Pemeriksaan dilakukan atas 14 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah provinsi dan 150 objek pemeriksaan belanja daerah pada pemerintah kabupaten/kota. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp840.

serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan belanja pemerintah daerah menunjukkan adanya kelemahan atas aspek perencanaan. terdiri atas • sebanyak 15 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. serta 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan) pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 18. 12. pembukuan dan pencatatan. Oleh karena itu.63 Pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah bertujuan antara lain menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) entitas terhadap belanja daerah maupun terhadap pengamanan atas kekayaan daerah telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. • sebanyak 2 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut.132 Hasil Pemeriksaan 12. 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.64 12. • sebanyak 15 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. Sistem Pengendalian Intern 12. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. 12.65 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 195 kasus kelemahan SPI. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.62 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai.66 . Sebanyak 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. yaitu 33 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.

Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 21 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. terdiri atas • sebanyak 54 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. 12.70 .00 juta pada TA 2010 belum dicatat secara tertib mengakibatkan Laporan Pengguliran Ternak yang disajikan di Neraca TA 2010 berpotensi salah catat dan tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • sebanyak 8 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.71 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur berupa permasalahan tidak adanya pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam proses pengadaan barang dan jasa di Dinas Pekerjaan Umum.67 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Sumba Barat.51 miliar. • sebanyak 10 kasus mekanisme pemungutan. terdiri atas • sebanyak 11 kasus berupa permasalahan entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. 12. • sebanyak 4 kasus pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan.69 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan.68 12. 12. Akibatnya. Pemkab Tapanuli Selatan memiliki utang senilai Rp37. dan • sebanyak 2 kasus tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai. • sebanyak 22 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.133 12. yaitu pengguliran ternak pada dinas peternakan senilai Rp18.25 miliar pada TA 2009 dan senilai Rp203. yaitu pemerintah daerah mengalami defisit anggaran yang berdampak pada penundaan pembayaran paket-paket pekerjaan TA 2010 yang telah selesai dikerjakan. • sebanyak 46 kasus penyimpangan terhadap ketentuan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. Sebanyak 141 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran.

994 kasus ketidakpatuhan senilai Rp840. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Belanja Pemerintah Daerah No.46 .22 522.2. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 857 206 314 366 119 132 1.752. potensi kerugian daerah.267. ketidakhematan.377.994 144. kepala daerah memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam penganggaran. kekurangan penerimaan daerah. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 19 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 20.639.692.2. Tabel 12.73 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. pejabat yang bertanggung jawab belum optimal dalam pengawasan maupun pengendalian kegiatan. BPK telah merekomendasikan agar melakukan perencanaan dengan lebih cermat.69 840. pengelola keuangan lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. administrasi. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 12. meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan kegiatan serta segera membuat aturan pelaksanaan anggaran.69 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.74 Hasil pemeriksaan atas belanja pada 176 objek pemeriksaan menunjukkan adanya 1.11 45.03 97. dan kepala daerah lalai dalam membuat aturan pelaksanaan anggaran.38 30.72 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengelola anggaran kurang cermat dalam mengusulkan rencana kerja anggaran. Rekomendasi 12.134 Penyebab 12. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 12.656.

Kerugian daerah juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan adanya kerugian negara sebanyak 857 kasus senilai Rp144.75 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.01 miliar.52 miliar.44 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. • sebanyak 105 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp8.09 miliar. • sebanyak 419 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp72. • sebanyak 24 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp3. • sebanyak 41 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp3. dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.00 miliar. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan atau barang.135 Kerugian Daerah 12.76 12.49 miliar. • sebanyak 42 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp8.88 miliar. dan barang. pemahalan harga (mark up). dan • sebanyak 5 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp1.48 miliar. • sebanyak 19 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp12.26 miliar. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. surat berharga. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.78 .34 miliar. • sebanyak 49 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp10. rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. • sebanyak 130 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp14. 12.96 miliar. terdiri atas • sebanyak 23 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp9. Pada umumnya kasus-kasus kerugian daerah yaitu belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif.77 12.

136 12.59 miliar. yaitu di antaranya di Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp5. dan di Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp1.79 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah yang terjadi dengan cara menyetor uang ke kas daerah atau melengkapi pekerjaan melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.22 miliar. Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp1. • Di Provinsi DKI Jakarta.35 miliar. Dinas Pendidikan.81 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya dan dengan sengaja membuat berita acara prestasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. surat berharga. Penyebab 12. rekanan belum melaksanakan kewajiban 12.59 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. Provinsi Jawa Barat terdapat kekurangan volume pekerjaan jalan dan jembatan serta rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan di Dinas Bina Marga dan Pengairan TA 2009 dan 2010 senilai Rp2. • Di Provinsi DKI Jakarta.65 miliar.80 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.54 miliar. senilai Rp22. 12. dan memberikan sanksi kepada pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.82 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.04 juta atas kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009. serta kurangnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab kegiatan. Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah.84 . dan barang. terdapat kekurangan volume pekerjaan penyelesaian pembangunan fasilitas rekreasi dan olahraga Jakarta Timur TA 2009 senilai Rp3.83 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Kabupaten Purwakarta. yang nyata dan pasti jumlahnya. Potensi Kerugian Daerah 12. Rekomendasi 12. terdapat kelebihan pembayaran senilai Rp974. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.

dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. • sebanyak 10 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp8.17 miliar.00 juta. Pemkab Banggai Kepulauan berpotensi mengalami kesulitan dalam mencairkan jaminan pelaksanaan apabila rekanan wanprestasi. aset tidak diketahui keberadaannya.63 miliar tidak diterbitkan oleh bank tetapi oleh lembaga asuransi dan/atau masa berlakunya kurang dari ketentuan. aset dikuasai pihak lain.54 miliar. . 12. • sebanyak 3 kasus pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah senilai Rp1. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp985. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa senilai Rp524. dan • sebanyak 11 kasus lain-lain senilai Rp12. • sebanyak 19 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp2.137 pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.24 miliar.62 miliar.32 miliar.65 miliar. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp18. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. • sebanyak 1 kasus aset dikuasai pihak lain.85 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 206 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp97. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan.86 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdiri atas • sebanyak 147 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp53. Akibatnya. • Di Kabupaten Banggai Kepulauan. jaminan pelaksanaan atas pengadaan barang jasa oleh pihak ketiga TA 2009 dan 2010 senilai Rp5.16 juta.22 miliar. Provinsi Sulawesi Tengah. pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah. • sebanyak 9 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. 12.

terdapat tunggakan Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) pada 5 kecamatan. serta melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kerugian daerah. Hasil pemeriksaan atas belanja pemerintah daerah menunjukkan terdapat 314 kasus kekurangan penerimaan daerah senilai Rp45. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp1. senilai Rp1. Kecamatan VII Koto. terdiri atas • sebanyak 307 kasus penerimaan daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp44.21 miliar telah ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah. memberi sanksi kepada pelaksana dan mempertanggungjawabkan uang/barang yang berpotensi hilang.89 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian tersebut.63 miliar. 12.99 juta. Rekomendasi 12.91 12. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.01 miliar.90 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. para pelaksana lalai dalam menjalankan tugasnya. Provinsi Jambi. penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak. penggunaan langsung penerimaan daerah. 12. dan Kecamatan Sumay dengan jumlah keseluruhan senilai Rp1. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada kontraktor sesuai ketentuan. yaitu Kecamatan Tebo Ilir.98 juta. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah termasuk denda keterlambatan pekerjaan yang belum/tidak ditetapkan/ dipungut/diterima/disetor ke kas daerah.87 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan potensi kerugian daerah tersebut. yaitu di antaranya di Provinsi Kepulauan Riau senilai Rp484.92 .12 miliar.56 miliar yang terjadi sejak Tahun 2008.88 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak yang telah disepakati.138 • Di Kabupaten Tebo. Penyebab 12. Kecamatan Tebo Ulu. Kecamatan Tebo Tengah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek. Kekurangan Penerimaan 12. dan di Pemerintah Kabupaten Muara Enim senilai Rp387.

pelaksana kegiatan dan bendaharawan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Rekomendasi 12.12 juta.00 juta.139 • sebanyak 1 penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak senilai Rp108. 12. • Di Kabupaten Tuban. beberapa pekerjaan pada Dinas Pekerjaan Umum.96 juta. Pemerintah Kabupaten Tuban senilai Rp481.95 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah disebabkan kontraktor tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang direncanakan. dan Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp478. 12.02 miliar. potongan PPN dan PPh Masa Tahun 2009 dan 2010 yang diterima oleh rekanan/bendahara pengeluaran berindikasi tidak disetor ke kas negara senilai Rp9. yaitu di antaranya di Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta senilai Rp755. Provinsi Sulawesi Tenggara.95 juta. • Di Kabupaten Muna.94 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara/ daerah tersebut.67 miliar. dan Olahraga TA 2010 yang belum diselesaikan hingga akhir masa kontrak dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp650. Provinsi Jawa Timur. RSUD Dr R Koesma.37 juta.70 juta. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pelaksana kegiatan dan pimpinan SKPD. • Di Provinsi DKI Jakarta.69 juta. pelaksanaan kegiatan pengadaan barang dan pengadaan konstruksi TA 2009 pada Dinas Pendidikan mengalami keterlambatan dan rekanan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp755. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera menagih kekurangan penerimaan dan segera menyetorkannya ke kas daerah. Sekretariat Daerah. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp5. serta Dinas Pendidikan.92 juta. • sebanyak 3 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp375.96 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut. . Penyebab 12. Dinas Kesehatan. Pemuda. dan • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah senilai Rp15.93 Kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya sebagai berikut.

98 12. 12. dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. perpajakan. pelaksanaan lelang secara proforma. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. Penyimpangan administrasi juga meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.99 12.100 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 366 kasus penyimpangan administrasi. sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah.97 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. • sebanyak 114 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. • sebanyak 15 kasus pelaksanaan lelang secara proforma. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya.140 Administrasi 12. • sebanyak 14 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. terdiri atas • sebanyak 139 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap atau tidak valid). tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. proses pengadaan barang/ jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian daerah. kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. dll. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 19 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. tidak mengurangi hak daerah. Kasus-kasus penyimpangan administrasi meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • sebanyak 24 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. pertambangan. . tidak menghambat program entitas. kekurangan penerimaan daerah. • sebanyak 4 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.

dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Rekomendasi 12. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.13 miliar dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang paling menguntungkan daerah. • sebanyak 9 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Lembata. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan.60 juta.103 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. terdapat kekurangan bukti pertanggungjawaban (bukti belum lengkap) yang harus diserahkan penerima hibah TA 2009 senilai Rp239. Penyebab 12. Ketidakhematan 12.102 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pelaksana lalai dalam membuat pertanggungjawaban kegiatan.141 • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan. Provinsi Maluku Utara.85 miliar. • sebanyak 3 kasus dan pengalihan anggaran antar MAK tidak sah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian. pekerjaan penyulingan air laut menjadi air tawar (desalinasi) dengan nilai kontrak senilai Rp10.101 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Halmahera Selatan. realisasi belanja hibah TA 2010 belum dipertanggungjawabkan penerima hibah senilai Rp25. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Jambi.104 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. dan • sebanyak 6 kasus lain-lain penyimpangan administrasi. • Di Kabupaten Bungo. • sebanyak 4 kasus sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah. . BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di unit kerjanya masing-masing. 12.

105 Ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya meliputi pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan. • sebanyak 9 kasus penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar senilai Rp3. • Di Kabupaten Jembrana.71 miliar. pembayaran honorarium sekretariat panitia pemungutan suara pada empat kabupaten tidak sesuai ketentuan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1.67 miliar.109 Terhadap permasalahan-permasalahan ketidakhematan tersebut.142 12.107 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Provinsi Jawa Barat. . HPS atas pekerjaan pembangunan sarana air bersih Tebing Tinggi – Kuala Tungkal tahap II tidak disusun secara keahlian sehingga terdapat kemahalan harga kontrak senilai Rp2. 12. pemberian bantuan sosial untuk beasiswa pendidikan TA 2009 dan 2010 tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp1. dan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga.108 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas.75 miliar. Penyebab 12. panitia lelang kurang cermat dalam mengevaluasi dan menganalisis penawaran harga dari rekanan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian penanggung jawab proyek.106 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 119 kasus ketidakhematan senilai Rp30. • Di Provinsi Bengkulu.82 miliar.37 miliar yang terdiri atas • sebanyak 4 kasus pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan senilai Rp34. koefisien komponen alat dan upah pada analisa harga satuan pekerjaan lapis latasir. Provinsi Bali. penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar.42 juta.88 miliar. dan lapisan pondasi atas pada 120 paket pekerjaan melebihi standar HPS sehingga memboroskan keuangan daerah senilai Rp2. lataston. dan • sebanyak 106 kasus pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga senilai Rp26.66 miliar. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. 12. • Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. • Di Kabupaten Cirebon. Rekomendasi 12. Provinsi Jambi.

26 miliar.71 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. • Di Kabupaten Klaten.37 miliar. Provinsi Jawa Tengah. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. dan • sebanyak 1 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • sebanyak 8 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp3. 12.54 miliar. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.75 miliar yang terdiri atas • sebanyak 38 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp26. 12. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.110 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). 12. sebelas paket pekerjaan TA 2010 di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Pendidikan. dan Olahraga senilai Rp15. • sebanyak 4 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi senilai Rp3. hasil kegiatan pembangunan pengembangan Kawasan Objek Wisata Sumber Air Ingas Terpadu TA 2009 senilai Rp2.112 Hasil pemeriksaan atas belanja daerah menunjukkan terdapat 132 kasus ketidakefektifan senilai Rp522. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.46 miliar. • Di Kabupaten Belu. pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi.51 miliar termasuk kategori kritis sehingga berisiko tidak akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang direncanakan.10 miliar. . Provinsi NTT. • sebanyak 37 kasus barang yang dibeli tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp23. • sebanyak 43 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp466.143 Ketidakefektifan 12. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.111 Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan.113 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Pemuda.

116 Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.115 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. 12. Penyebab 12. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar kepala daerah menegur secara tertulis kepada pejabat yang bertanggung jawab dan memberikan sanksi kepada rekanan.14 juta di Dinas Pendidikan. Provinsi Bengkulu. alat-alat kesehatan senilai Rp2. Rekomendasi 12. . serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan.144 • Di Kabupaten Kepahiang.06 miliar di RSUD Kepahiang dan Dinas Kesehatan dan peralatan serta perlengkapan sekolah senilai Rp432. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. pelaksana proyek/kegiatan kurang tegas kepada rekanan. dan Olahraga hasil pengadaan TA 2010 belum dimanfaatkan. Pemuda.114 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan.

Barang milik daerah adalah semua barang yang di beli atau diperoleh atau beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Oleh karena itu. 13. Hasil Pemeriksaan 13. sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan. Kabupaten Jembrana. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset atau pengelolaan barang milik daerah (BMD). Kota Banjarmasin.5 Tujuan pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset adalah untuk • menilai efektivitas sistem pengendalian intern terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. Pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada pemerintah daerah mencakup aset pemerintah daerah yang dikuasai oleh pengelola barang (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dan pengguna barang (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Kabupaten Luwu Utara. serta kewajaran dan kecukupan pengungkapan atas pelaporan aset tetap.6 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.4 Tujuan Pemeriksaan 13. penilaian. Pada umumnya.3 13. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.1 Aset tetap daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. dan • menilai kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan terkait dengan manajemen dan penyajian informasi aset tetap. kepemilikan. . serta pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan aset pemerintah daerah. Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan. Kabupaten Sidoarjo. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. • menguji keberadaan. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan Kabupaten Parigi Moutong. Kabupaten Buleleng. Kota Surabaya.2 13.145 BAB 13 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 13. kelengkapan. Oleh karena itu. Pemeriksaan dilakukan pada sembilan entitas pemerintah daerah. Dalam Semester II Tahun 2010. yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Kabupaten Tana Toraja.

146 Sistem Pengendalian Intern 13. Hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut. dan 13.7 Hasil evaluasi SPI atas pemeriksaan pengelolaan/manajemen aset menunjukkan adanya kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja.11 Sebanyak 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran. • Di Kabupaten Parigi Moutong. 13.9 . terdiri atas • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. • sebanyak 3 kasus proses penyusunan laporan keuangan tidak sesuai ketentuan. 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. serta 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern (rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 25). pengadaan aset berupa jalan pada TA 2009 senilai Rp59. 13. Sebanyak 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.8 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI. dan • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. terdiri atas • sebanyak 26 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. Provinsi Sulawesi Tengah.42 miliar tidak dilaksanakan sehingga laporan aset tetap Tahun 2009 dan 2010 tidak dapat disusun. • Di Kota Surabaya. Provinsi Jawa Timur. pencatatan aset tetap dalam kartu inventaris barang (KIB) dan inventarisasi aset tetap seluruhnya senilai Rp62.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 13. yaitu 30 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.20 miliar tidak dicatat dalam laporan barang milik daerah sehingga Laporan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

BPK telah merekomendasikan agar kepala daerah memberikan sanksi administratif kepada pejabat yang bertanggung jawab sebagai pengguna BMD dan segera menetapkan pedoman teknis terkait pengelolaan BMD.147 • sebanyak 4 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. Penyebab 13. pengendalian. 13. Provinsi Bali yaitu pemanfaatan hak pengelolaan tanah Gilimanuk oleh pihak ketiga untuk pertokoan tidak sesuai ketentuan sehingga hasil pemanfaatan aset tanah tersebut tidak dapat diterima oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana.12 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Jembrana. Rekomendasi 13.15 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pengguna BMD lalai dalam melakukan pembinaan. potensi kerugian daerah. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 22 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 23.17 Hasil pemeriksaan atas pengelolaan/manajemen aset pada sembilan objek pemeriksaan menunjukkan adanya 91 kasus ketidakpatuhan senilai Rp34. terdiri atas • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. dan kebijakan pengamanan BMD sebagaimana disyaratkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pengelolaan BMD. dan ketidakefektifan seperti disajikan pada Tabel 13. 13. administrasi. dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas para pengurus barang yang menjadi tanggung jawabnya. kekurangan penerimaan daerah. bupati belum menetapkan pedoman teknis pengelolaan aset tetap yang meliputi kebijakan penggunaan.1. dan • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. .31 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah. Sebanyak 3 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Provinsi Sulawesi Tengah.13 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13. 13. ketidakhematan. pemanfaatan atau pemindahtanganan BMD.16 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.14 Kasus tersebut di antaranya terjadi di Kabupaten Parigi Moutong.

74 34.810.318. aset Pemerintah Kabupaten Jembrana berupa sapi hasil pengadaan Tahun 2006 sebanyak 287 ekor senilai Rp857.1. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 5 kasus ketidakpatuhan yang merugikan daerah senilai Rp1. dan barang.58 juta. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. BMD yang hilang selama Tahun 2006 s.51 Kerugian Daerah 13.18 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.014. 13.94 4.848.d.148 Tabel 13.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan • sebanyak 4 kasus lain-lain kerugian daerah senilai Rp258.12 juta untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Usaha Pembibitan Sapi Bali dijual oleh penerima bantuan. 2010 minimal senilai Rp86.115. Provinsi Sulawesi Selatan.38 juta belum dikenakan tuntutan ganti rugi. 13. • Di Kabupaten Jembrana.11 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah senilai Rp857.33 1.19 13. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 5 14 2 61 1 8 91 1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No. Provinsi Bali. • Di Kabupaten Luwu Utara. surat berharga.70 4.20 . Kasus-kasus kerugian daerah meliputi penjualan/pertukaran/penghapusan aset daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan daerah dan lain-lain kasus kerugian daerah berupa pengenaan ganti kerugian daerah belum/ tidak dilaksanakan sesuai ketentuan.12 juta.77 22.528.

Provinsi Kalimantan Selatan. • Di Kabupaten Luwu Utara. aset tidak diketahui keberadaannya. dan piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih. 13. 13. Provinsi Sulawesi Selatan. dan • sebanyak 1 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp72. serta memberikan sanksi kepada para pelaksana yang lalai dalam menjalankan tugasnya.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan barang. • sebanyak 5 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp3. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar melakukan upaya penagihan kepada penerima bantuan dan hasilnya disetorkan ke kas daerah.05 juta. Potensi Kerugian Daerah 13. tunggakan cicilan penjualan kendaraan roda dua dan empat senilai Rp72.23 Terhadap kasus-kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah tersebut.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam melakukan pengurusan BMD. yang nyata dan pasti jumlahnya.01 miliar yang terdiri atas • sebanyak 8 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp856. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 14 kasus yang berpotensi merugikan daerah senilai Rp4.29 juta. Provinsi Bali. surat berharga. Pensiunan PNS.26 . dan pihak lain di luar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara).149 Penyebab 13. • Di Kota Banjarmasin.05 juta berpotensi merugikan keuangan daerah.88 miliar tidak dapat ditelusuri keberadaan fisik barangnya. barang milik daerah senilai Rp856. aset tetap yang tercatat di SKPD per 30 Juni 2010 minimal senilai Rp2.29 juta dikuasai pihak lain (PNS. Rekomendasi 13.08 miliar. • Di Kabupaten Buleleng.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi aset dikuasai pihak lain.25 13.

BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar segera meminta mitra kerja untuk memenuhi kewajiban kontribusi dan kompensasi sesuai dengan syarat yang diperjanjikan serta segera menyetorkannya ke kas daerah. Kekurangan Penerimaan 13. Rekomendasi 13.28 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan pengguna dan pengurus lalai dalam dalam melaksanakan tugasnya untuk menelusuri keberadaan BMD.81 miliar.32 13. dan pengguna BMD tidak optimal dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam pengelolaan BMD dan pengurus barang kurang cermat dalam mengamankan dan memelihara BMD.33 .78 miliar. 2006 senilai Rp4. Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya di Kota Banjarmasin. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan pengguna BMD untuk melakukan pembinaan atas pengelolaan BMD sesuai ketentuan yang berlaku dan melakukan pengamanan fisik dan administratif atas BMD yang berada dalam penguasaannya.29 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut.31 13.35 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan daerah tersebut.d.34 Kasus kekurangan penerimaan daerah di antaranya disebabkan mitra kerja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian.30 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. beberapa mitra kerja tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk periode Tahun 2000 s. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 2 kasus penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp4.150 Penyebab 13. Penyebab 13. Rekomendasi 13. 13. Kasus kekurangan penerimaan daerah meliputi penerimaan daerah yang belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/ disetor ke kas daerah. Provinsi Kalimantan Selatan.

39 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di Kabupaten Buleleng. Provinsi Jawa Timur. tidak mengurangi hak daerah.151 Administrasi 13.37 13.38 .39 miliar yang digunakan oleh 17 SKPD belum ditetapkan dengan surat keputusan bupati sehingga pertanggungjawaban dan pemeliharaan aset tersebut menjadi tidak jelas. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.36 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Provinsi Bali. aset jalan. • Di Kota Surabaya. dan • sebanyak 17 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. • Di Kabupaten Jembrana.29 miliar yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sampai dengan 30 Juni 2010 belum diurus kejelasan status kepemilikannya sehingga rawan terhadap penyalahgunaan oleh pihakpihak yang tidak bertanggung jawab atau tuntutan hukum pihak lain. kekurangan penerimaan daerah. tidak menghambat program entitas.64 miliar yang diserahterimakan kepada PDAM Kota Surabaya sampai dengan 12 Maret 2010 belum ditetapkan status penyertaan modalnya. penggunaan aset tetap berupa gedung dan bangunan senilai Rp65. jaringan. dan instalasi senilai Rp29. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Provinsi Bali. 13. dan kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah. 13. aset tetap minimal senilai Rp27. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 61 kasus penyimpangan administrasi yang terdiri atas • sebanyak 43 kasus penyimpangan terhadap perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.

47 . Rekomendasi 13. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah.52 miliar yaitu kegiatan rehabilitasi gedung/bangunan di Dinas Pendidikan (TA 2009) atas bangunan sekolah yang bukan milik Pemerintah Kota Banjarmasin. serta kurang optimal dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. 13. Ketidakhematan 13.46 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Penyebab 13. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus pemborosan keuangan daerah senilai Rp1.44 Kasus ketidakhematan terjadi karena pengguna BMD kurang berkoordinasi dengan Badan Keuangan Daerah dalam penatausahaan realisasi dana yang dialokasikan kepada sekolah-sekolah.152 Penyebab 13. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. Rekomendasi 13.45 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut. 13.42 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. dan barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama.40 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan pengguna dan pengurus BMD lalai dalam melakukan pengamanan fisik dan administratif terhadap aset daerah. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberi teguran/sanksi administratif kepada pelaksana yang lalai serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD.41 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.43 Ketidakefektifan 13.

27 miliar belum dapat dimanfaatkan.49 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.50 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan entitas yang diperiksa kurang cermat dalam perencanaan dan penetapan skala prioritas pembangunan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menggunakan rencana kebutuhan BMD sebagai dasar penganggaran. • Di Kabupaten Jembrana. belt conveyor di Pelabuhan Pengambengan.21 miliar belum dimanfaatkan dan masih tersimpan dalam kardus. Provinsi Sulawesi Selatan. gedung pengolahan daging. pembangunan gedung RSUD dr. memanfaatkan secara optimal barang hasil pengadaan.18 miliar belum dimanfaatkan.51 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jembrana seluruhnya senilai Rp15.84 miliar.52 . rumah dinas ASDP dan jaringan pipa air bersih Megumi. • Di Kota Surabaya. barang hasil pengadaan TA 2009 senilai Rp1.48 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus ketidakefektifan senilai Rp22. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan. 2009 yang terdiri atas gedung beserta peralatan laboratorium lingkungan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan pengadaan BMD. pelaksanaan pengadaan BMD tidak memperhatikan efektivitas pencapaian tujuan pengadaan. Provinsi Bali. 13. M. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. aset kapal penangkap ikan Jimbarwana dan Jimbarsegara. • Di Kabupaten Luwu Utara. Provinsi Jawa Timur. Penyebab 13.84 miliar yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan. docking fasilitas perbaikan kapal ikan dan alat-alat mesin sarana docking kapal. Rekomendasi 13. 13.d. dan • sebanyak 7 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp22. Soewardhie belum selesai sehingga barang inventaris hasil pengadaan Tahun 2009 dan 2010 yang bersumber dari APBD dan APBN senilai Rp5. aset tetap hasil pengadaan selama Tahun 2003 s.153 13.

154 .

di atas permukaan tanah. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi/kabupaten/kota TA 2009 dan 2010. dan Gorontalo. kecuali jalan kereta api. Pembangunan jalan dan jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mobilitas distribusi berbagai produk barang dan jasa dalam perekonomian nasional.4 .35% dari realisasi belanja modal jalan dan jembatan senilai Rp2. Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. kebinamargaan. Jaringan irigasi adalah saluran. dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan. Sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. dan Bangunan Pengairan/Drainase Daerah 14.155 BAB 14 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan.3 14. Adapun total temuan senilai Rp88. Dalam Semester II Tahun 2010.32/PRT/M/2007 tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. D. dan 14 Dinas PU Bina Marga kabupaten/ kota adalah senilai Rp1. di bawah permukaan tanah dan/atau air. penggunaan dan pembuangan air irigasi.35 triliun atau 58.57% dari cakupan pemeriksaan. 14.1 Pembangunan infrastruktur keciptakaryaan. dan jalan kabel. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung. Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian. yang dimaksud dengan bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya. jalan lori. Objek pemeriksaan dimaksud adalah Dinas PU Cipta Karya dan Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Barat dan Dinas PU Bina Marga pada 14 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Provinsi Lampung. serta di atas permukaan air. kebinamargaan. pemberian. dan bangunan pengairan/drainase merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan roda penggerak pertumbuhan ekonomi.29 triliun. bangunan.75 miliar atau 6. yang dimaksud dengan jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan. Kalimantan Barat. yang berada pada permukaan tanah. pembagian. BPK telah memeriksa pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. Lebih lanjut sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.I Yogyakarta. kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase pada satu Dinas PU Cipta Karya Provinsi. Kalimantan Timur. Bangunan gedung penting bagi manusia melakukan kegiatannya untuk mencapai berbagai sasaran yang menunjang tujuan pembangunan nasional.2 14. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. Kebinamargaan.

Kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja meliputi 5 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. kebinamargaan dan bangunan air/drainase pemerintah daerah TA 2009 dan 2010 adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) pemerintah daerah atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. pelaporan keuangan dan pengamanan atas aset daerah.8 Hasil evaluasi atas SPI menunjukkan terdapat 7 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 5 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 2 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.156 Tujuan Pemeriksaan 14.7 Hasil evaluasi SPI menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan atas sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Sistem Pengendalian Intern 14.5 Tujuan pemeriksaan atas belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.6 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. dan • kelemahan atas struktur pengendalian intern. Oleh karena itu. kebinamargaan dan drainase. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. kebinamargaan dan drainase/pengairan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah telah sesuai dengan peraturan perundang -undangan yang berlaku. 14.9 . • kegiatan belanja infrastruktur keciptakaryaan. Hasil Pemeriksaan 14. dan • sumber daya yang ada telah digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis dan efisien. 14.

Rincian per jenis temuan disajikan pada Lampiran 25 dan rincian menurut entitas disajikan pada Lampiran 26. hasil pemeriksaan menyajikan kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.157 14. Penyebab 14.11 Kasus kelemahan struktur pengendalian intern meliputi 2 kasus standar operasional prosedur (SOP) yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. dan kontraktor tidak mematuhi ketentuan yang terkait pengelolaan lingkungan hidup. . Provinsi Kalimantan Barat. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. 14.12 Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 14. ketidakhematan.13 Kasus-kasus tersebut disebabkan oleh lemahnya kebijakan.10 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.14 Terhadap kasus-kasus tersebut. • Di Provinsi Kalimantan Barat. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 14. • Di Provinsi Kalimantan Barat.1. 14. potensi kerugian daerah. perencanaan lapis permukaan pada paket pekerjaan peningkatan kawasan pemerintahan TA 2009 tidak memadai. • Di Kabupaten Kayong Utara.15 Sesuai dengan tujuannya. administrasi. kekurangan penerimaan. kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan bidang sumber daya air TA 2009 minimal senilai Rp29. Rekomendasi 14. upaya pemantauan lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL). pelaksana pekerjaan atas kegiatan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Jagoi Babang Lanjutan dan peningkatan infrastruktur kawasan PPLB Entikong Lanjutan pada Dinas PU Cipta Karya TA 2009 tidak menyusun dokumen UPL dan UKL. BPK telah merekomendasikan kepada gubernur/bupati agar menegur Kepala Dinas PU agar melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.22 miliar dilakukan tanpa perencanaan yang memadai. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat mengakibatkan kerugian daerah. kurangnya pemahaman alur proses perencanaan sesuai ketentuan yang berlaku. tujuh paket pekerjaan jalan TA 2009 tidak menyusun dokumen AMDAL. • Di Kabupaten Sambas. Provinsi Kalimantan Barat.

Kerugian daerah juga meliputi spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak.62 3.48 88. Kasus-kasus kerugian daerah meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur Keciptakaryaan. 14.17 Kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah Potensi Kerugian Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 14.298.158 Tabel 14. Kebinamargaan.55 miliar.57 miliar.19 .96 34.18 14. hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 124 kasus senilai Rp88.75 miliar sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan.26 miliar. Kerugian Daerah 14.752. dan Bangunan Pengairan/Drainase No Kelompok Temuan Jumlah Kasus 48 24 13 26 8 5 124 Nilai (juta Rp) 36. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.619. kebinamargaan.16 Berdasarkan tabel di atas. • sebanyak 22 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp16. dan bangunan pengairan/drainase. dan kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. dan barang. dan kerugian daerah lainnya.1. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. yang terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp6. dan bangunan pengairan/drainase pemerintah provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan terdapat 48 kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah senilai Rp36.401. • sebanyak 19 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp11. kebinamargaan.432. surat berharga.14 14. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.43 miliar.

dan barang.52 miliar. Provinsi D. 2010 tidak sesuai dengan kontrak mengakibatkan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp8. peningkatan dan/atau pemeliharaan jalan seluruhnya senilai Rp1.22 Kasus-kasus kerugian daerah disebabkan pengawas lapangan tidak cermat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan. beberapa pekerjaan selama Tahun 2005 s.d.23 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah tersebut. Kasus-kasus potensi kerugian daerah meliputi kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan 14.90 juta. panitia pengadaan barang/jasa. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar mempertanggungjawabkan kerugian daerah dengan menyetorkan uang ke kas daerah atau melengkapi/menyerahkan aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rekomendasi 14. • Kabupaten Gorontalo Utara.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. ketebalan pekerjaan lapis pondasi bawah dan atas (LPB/LPA) pada tiga ruas jalan dan pekerjaan asphalt treated base (ATB) pada 15 ruas jalan TA 2009 dan 2010 tidak sesuai spesifikasi senilai Rp599. kekurangan volume atas pekerjaan pembangunan. Yogyakarta. • Di Kabupaten Nunukan.25 .35 juta yang berasal dari contoh kasus di atas dan penyetoran dari kasus kerugian daerah lainnya.75 juta. Provinsi Kalimantan Timur.00 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lainnya senilai Rp37.I.68 miliar. Potensi Kerugian Daerah 14. Provinsi Gorontalo.159 • sebanyak 5 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2. 14. Penyebab 14. yang nyata dan pasti jumlahnya. 14. surat berharga.24 Potensi kerugian daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. • Di Kabupaten Bantul. di antaranya Pemerintah Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp735. dan pejabat pembuat komitmen (PPK) belum mematuhi ketentuan atau prosedur yang berlaku dalam pengadaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian atasan.21 Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut.

• Di Kabupaten Gorontalo Utara. . kebinamargaan dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan potensi kerugian daerah sebanyak 24 kasus senilai Rp34. 2010 melebihi prestasi fisik senilai Rp5.26 Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. 14. pemanfaatan barang.76 miliar. 14.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.61 miliar yang terdiri atas • sebanyak 21 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp14.Wearing Course TA 2010 senilai Rp633. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. terdapat kekurangan volume pekerjaan pengaspalan overlay jalan dengan hot rolled sheet (HRS) pada empat paket kontrak kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruas jalan dengan menggunakan HRS-Base dan HRS. rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan.69 miliar. paket pekerjaan pembangunan jalan Dusun Besar–Pintau dan jembatan Sungai Gemuruh Tahap II TA 2010 berpotensi lebih bayar senilai Rp1. • Di Kabupaten Kayong Utara. terdapat pembayaran atas pekerjaan jalan dan jembatan melebihi nilai kontrak/amandemen kontrak senilai Rp55.67 miliar. 14. • sebanyak 2 kasus rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan senilai Rp154.160 sebagian atau seluruhnya. • Di Kabupaten Tulang Bawang. realisasi keuangan empat paket pekerjaan peningkatan jalan selama Tahun 2005 s. dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp19. Provinsi Kalimantan Timur.28 Di antara kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. pemanfaatan barang.24 juta (setelah dikurangi PPN dan PPh tetapi pekerjaan baru dibayar 93% dari nilai kontrak). Dinas PU Kabupaten Gorontalo Utara telah menindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp55. Provinsi Lampung. tetapi atas pekerjaan tersebut belum dibayar seluruhnya. dan • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.37 miliar. serta pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.24 juta.d.04 juta.54 juta. Provinsi Kalimantan Barat. Provinsi Gorontalo. • Di Kabupaten Nunukan.

pajak pengambilan bahan galian golongan C TA 2009 dan 2010 belum diselesaikan rekanan minimal senilai Rp1. 14. penyelesaian tiga paket pekerjaan TA 2009 terlambat dan rekanan belum dikenakan sanksi denda minimal senilai Rp758.31 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Hasil pemeriksaan atas pelaksanaan belanja bidang infrastruktur keciptakaryaan. dan bangunan pengairan/drainase provinsi dan kabupaten/kota TA 2009 dan 2010 menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan kekurangan penerimaan sebanyak 13 kasus senilai Rp3. Kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/daerah.39 miliar.161 Penyebab 14.30 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah tersebut. Rekomendasi 14. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada para pejabat yang bertanggung jawab. • Di Kabupaten Penajam Paser Utara. Provinsi Kalimantan Timur. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.15 juta. Provinsi Kalimantan Timur. memperhitungkan hak daerah dan segera menyetorkannya ke kas daerah. Penyebab 14.35 Kasus-kasus kekurangan penerimaan terjadi karena kontraktor pelaksana tidak sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya sesuai kesepakatan yang tertuang dalam kontrak dan PPK lemah dalam melakukan pengawasan serta pengendalian paket pekerjaan. • Di Kabupaten Nunukan.33 14. Kekurangan Penerimaan 14. kebinamargaan.32 14. serta meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kegiatan.29 Kasus-kasus potensi kerugian daerah disebabkan Kepala Dinas PU dan PPK tidak cermat dalam menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan serta lemahnya pengawasan dan pengendalian kegiatan.40 miliar.34 .

dll. Administrasi 14. pertanggungjawaban pembayaran biaya konsultansi TA 2009 belum memadai senilai Rp806. • Di Kabupaten Kayong Utara.15 juta. tidak menghambat program entitas.36 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. perpajakan. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan namun tidak menimbulkan kerugian daerah dan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. 14.37 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. 14. pertambangan. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 26 kasus yang terdiri atas • sebanyak 11 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). • Di Provinsi Kalimantan Barat. Provinsi Kalimantan Barat. dll. perpajakan. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menegur dan memerintahkan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.162 Rekomendasi 14. tidak mengurangi hak daerah.16 miliar dilakukan tanpa dasar acuan pekerjaan. proses adendum tidak dilengkapi dengan gambar rencana dan data teknis justifikasi sehingga kegiatan pada Dinas PU Bidang Sumber Daya Air TA 2009 senilai Rp25. pertambangan. kekurangan penerimaan daerah. menarik dan menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah.39 .38 14. dan • sebanyak 2 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.

42 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut.43 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. kelebihan perhitungan analisis harga satuan bahan pada pembangunan jalan lingkar luar pantai Sei Jepun-Mansapa TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp4.46 . kelebihan perhitungan atas koefisien alat motor grader untuk analisis harga satuan pekerjaan timbunan biasa dari selain galian sumber bahan pada lima paket pekerjaan bidang Bina Marga TA 2009 dan 2010 mengakibatkan pemborosan senilai Rp880. Ketidakhematan 14.41 Kasus-kasus penyimpangan administrasi terjadi karena pelaksana lalai dalam melaksanakan tugas serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).47 Kasus-kasus ketidakhematan terjadi karena panitia lelang tidak cermat dalam melakukan perencanaan.29 miliar.44 14.86 juta. • Di Kabupaten Nunukan. evaluasi. • Di Kabupaten Sanggau. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. dan konsultan pengawas lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan ketidakhematan pada umumnya berupa pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Provinsi Kalimantan Barat.18 miliar. Penyebab 14. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain untuk memberikan teguran dan atau sanksi kepada Kepala Dinas PU dan pejabat pelaksana yang tidak menaati ketentuan perundang-undangan. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian Kepala Dinas PU dan penanggung jawab kegiatan. pengawas lapangan. Provinsi Kalimantan Timur. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.45 14. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakhematan sebanyak delapan kasus senilai Rp14. Rekomendasi 14.163 Penyebab 14. dan perhitungan pekerjaan yang dikontrakkan. 14.

Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakefektifan yaitu sebanyak lima kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Rekomendasi 14. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.34 juta berpotensi tidak selesai dikerjakan (baru mencapai 80.48 kasus-kasus ketidakhematan tersebut.53 Kasus-kasus ketidakefektifan terjadi karena tidak adanya itikad baik dari kontraktor. Provinsi Gorontalo. dan pengawas lapangan proyek yang bersangkutan. Provinsi Kalimantan Barat. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.54 ketidakefektifan tersebut. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.75%). PPTK. dan pengawas lapangan tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan pelaksana lalai dalam melaksanakan tugasnya.49 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). progress fisik pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan abutment jembatan Sungai Mata-mata TA 2009 senilai Rp996.164 Rekomendasi 14. PPTK.52 14.50 14. Kasus-kasus ketidakefektifan meliputi pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.55 . • Di Kabupaten Kayong Utara. 14. BPK telah Terhadap kasus-kasus merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar menginstruksikan Kepala Dinas PU untuk memberikan sanksi kepada kuasa pengguna anggaran (KPA). memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.51 14. • Di Kabupaten Boalemo. pekerjaan konstruksi jalan TA 2010 tidak sesuai jadwal pelaksanaan berpotensi pekerjaan tidak selesai tepat waktu. BPK telah Terhadap merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain agar memberikan sanksi kepada Kepala Dinas PU agar lebih cermat dalam perencanaan dan meningkatkan pengawasan serta pengendalian atas pelaksanaan kegiatan. Ketidakefektifan 14. Penyebab 14.

4 . dengan sejumlah kecil elemen lain yang umumnya berupa Sulfur. sub-bituminus. rusaknya lingkungan hidup akan membebani keuangan negara/ daerah untuk pemulihannya dan apabila upaya pemulihan tidak berhasil akan mengancam kelestarian alam dan kehidupan manusia. Hidrogen. Batuan organik berwarna hitam tersebut umumnya terdiri atas senyawa Karbon. berupa royalti dan iuran tetap. Akhir dari mata rantai pengelolaan sumber daya alam adalah pengelolaan lingkungan hidup. Perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) adalah perjanjian karya antara Pemerintah RI dengan perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan bahan galian batubara. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dipengaruhi oleh tekanan. Bentuk pengusahaan pertambangan bahan galian batubara berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan adalah kuasa pertambangan dan perjanjian/kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor swasta.165 BAB 15 Pengelolaan Pertambangan Batubara 15. demi kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit. Kuasa pertambangan (KP) adalah wewenang yang diberikan kepada badan usaha/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan Mineral dan Batubara membawa semangat reformasi dan otonomi daerah di dalamnya.1 Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan dalam jangka waktu yang lama. lignit. 15. dan Oksigen. Oleh karena itu. bituminus.2 15. tetapi pada saat yang sama berpotensi sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kehidupan masyarakat.3 15. Jika tidak dikelola secara memadai. Pertambangan batubara merupakan salah satu motor penggerak perekonomian di daerah. Melalui ketentuan ini. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara. yaitu kualitas rendah (low coal) dan kualitas tinggi (hard coal). dan gambut. intensifikasi penerimaan negara dari sektor tersebut akan secara langsung mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola keuangannya. Pemerintah mendudukan diri sebagai wakil dari Negara– sebagai pemilik sumber daya alam yang dapat memberikan kuasa pertambangan kepada pihak lain (termasuk swasta) untuk turut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA). dan waktu. panas. Batubara dibedakan berdasarkan kualitasnya. pada akhirnya akan menjadi penerimaan daerah dalam bentuk dana bagi hasil (DBH) dan menjadi sumber dana bagi pembangunan daerah. Pemberian KP menurut undangundang tersebut di atas diberikan oleh Menteri Pertambangan. Secara umum kualitas deposit batubara bergantung pada lama waktu pembentukannya atau kematangan organiknya.

Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus.14 miliar (dengan nilai kurs 1 USD = Rp8. dan pengelolaan lingkungan pertambangan batubara khususnya reklamasi telah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Riau.10 Salah satu tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. 15. Oleh karena itu.81 triliun dari realisasi anggaran pendapatan Rp10. dan Kalimantan Timur. Hasil Pemeriksaan 15. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.d Semester I Tahun 2010 pada 14 pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan kontraktor PKP2B adalah senilai Rp2. Kalimantan Selatan. dana bagi hasil. Nilai temuan pemeriksaan adalah Rp181.7 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan pertambangan batubara ini dilakukan untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern pengelolaan pertambangan batubara telah memadai. • pemberian izin. penerimaan asli daerah.6 Tujuan Pemeriksaan 15. PNBP. 15.991). dan pengelolaan pertambangan) Tahun 2008 s.78 triliun.04 miliar dan USD29.26 juta atau senilai Rp444. Cakupan pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (perijinan. bagi hasil. Sumatera Barat. dana bagi hasil (DBH).8 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. BPK telah melakukan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara Tahun 2008 sampai dengan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan 13 pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi.166 15. pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).5 Pada Semester II Tahun 2010. Hasil pengujian yang dilakukan BPK menunjukkan bahwa rancangan dan implementasi sistem pengendalian intern terkait dengan pengelolaan batubara belum mampu secara efektif menjamin pencapaian tujuan optimalisasi PNBP dan kepatuhan atas ketentuan perundang-undangan dalam hal perizinan. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. dan pengelolaan lingkungan pertambangan. .9 Sistem Pengendalian Intern 15.

terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang kuasa pertambangan atas produksi batubara senilai Rp2. Rincian per kelompok dan jenis temuan kelemahan SPI disajikan pada Lampiran 27. terdiri atas • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. serta pelaporan dan pertanggungjawaban yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dikelompokkan sebagai berikut: • kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. dan 15.15 Sebanyak delapan kasus kelemahan struktur pengendalian intern.57 miliar. Sebanyak 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. 15.13 . dan • kelemahan struktur pengendalian intern. pembukuan dan pencatatan. terdapat duplikasi pungutan yang dibebankan kepada pemegang izin usaha pertambangan atas produksi/penjualan batubara minimal senilai Rp1.11 Hasil evaluasi SPI atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya kelemahan pada aspek perencanaan. 15. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. • Di Kabupaten Sarolangun.68 miliar. terdiri atas • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu dan ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja. dan • sebanyak 8 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja.167 15. • sebanyak 1 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.12 Hasil evaluasi SPI terhadap pelaksanaan pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan terdapat 25 kasus kelemahan SPI.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • sebanyak 3 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan. 15. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. Rincian kelemahan SPI tersebut meliputi 17 kasus sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja dan 8 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.

Penyebab 15. dan penyetoran PNBP di lingkungan Kementerian ESDM. kekurangan penerimaan negara. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 28 dan rincian temuan menurut entitas disajikan pada Lampiran 29.17 Kasus-kasus kelemahan SPI terjadi karena kebijakan bupati tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. tata cara pengenaan.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan penyetoran PNBP pada Kementerian ESDM yang seharusnya diatur oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri ESDM belum disusun sehingga pengelolaan PNBP dari pertambangan batubara belum optimal. pemungutan dan penyetoran PNBP sesuai amanat UU dan PP. administrasi. pemungutan. dan kurang optimal dalam melakukan pengawasan terhadap rencana dan penyetoran jaminan reklamasi. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. dan 3) Kepala Dinas ESDM melakukan pengawasan secara memadai atas kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan pertambangan. pelaksana tidak memahami pentingnya penetapan peraturan tentang besaran jaminan reklamasi dan rencana reklamasi yang harus disampaikan oleh para pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi sebelum melakukan kegiatan penambangannya.1. . pemerintah kabupaten belum menetapkan prosedur pelaksanaan rencana reklamasi dan jaminan reklamasi. 2) kepala dinas teknis terkait untuk segera mengajukan konsep keputusan bupati tentang rencana dan jaminan reklamasi sebagai dasar pelaksanaan reklamasi. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 15. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. serta Menteri ESDM dan Menteri Keuangan belum merumuskan tata cara pengenaan.19 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang dapat mengakibatkan potensi kerugian negara. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa antara lain: 1) merevisi keputusan bupati yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Rekomendasi 15. 15. pemungutan.168 • sebanyak 4 kasus satuan pengawas intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal. dan 4) Menteri ESDM agar berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk segera menyusun dan menerbitkan ketentuan tentang tata cara pengenaan. dan ketidakefektifan yang dapat dilihat pada Tabel 15.18 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.

PT MCB di Kabupaten Bungo. Kegiatan tersebut terjadi antara lain pada PT KBPC. Provinsi Jambi.21 Rp181.49 175.21 Potensi kerugian negara adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa uang.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) (ribu USD) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Negara Administrasi Ketidakefektifan Jumlah 20 31 33 1 85 5.602. pemerintah kabupaten tidak pernah mewajibkan KP untuk menyetorkan jaminan kesungguhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta PT DSAS. dan barang. PT KPU. 15.169 Tabel 15. Hasil pemeriksaan atas pengelolaan pertambangan batubara menunjukkan adanya potensi kerugian negara sebanyak 20 kasus senilai Rp5. CV CP. • Di Kabupaten Kuantan Singingi. PT MIA dan PT NKC di Kabupaten Kuantan Singingi. pemegang IUP operasi produksi batubara belum/kurang menyerahkan jaminan reklamasi senilai Rp1. Potensi Kerugian Negara 15.71 29. • Kegiatan penambangan di kawasan hutan dilakukan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan.44 miliar. PT LMH.54 15.22 15.26 juta.261.261.447.04 miliar dan USD29. jaminan kesungguhan yang seharusnya disetorkan para pemegang IUP Tahun 2008 senilai Rp758. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. CV PSPN.23 .54 Rp29. CV MI. CV AME. surat berharga. PT RMB di Kabupaten Indragiri Hulu. CV BMK. sebagai akibat adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang ditemukan dari hasil pemeriksaan pengelolaan pertambangan batubara. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan PT NAL di Kota Sawahlunto • Di Kabupaten Sarolangun.60 juta. yang nyata dan pasti jumlahnya.66 juta dan Tahun 2009 senilai Rp380.20 Berdasarkan tabel di atas. pemberian jaminan pelaksanaan pekerjaan.28 miliar.049. Provinsi Riau. hasil pemeriksaan mengungkapkan 85 kasus senilai Rp181. Kasus-kasus potensi kerugian negara yaitu kegiatan penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai.

74 juta.28 . Kekurangan Penerimaan Negara 15. Provinsi Kalimantan Timur.26 juta. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta kepala distamben kabupaten/ kota yang terkait lalai dalam melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin KP/IUP. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan penerimaan negara sebanyak 31 kasus senilai Rp175.60 miliar dan USD29. Dirjen Mineral. Energi. serta kurang cermat dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan yang terkait reklamasi dan pembayaran jaminan reklamasi.81 miliar. • Di Kabupaten Kutai Kartanegara. yaitu adanya penerimaan negara/ dearah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah. 15 pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp59.49 juta. BPK berpendapat bahwa temuan tersebut mengandung unsur pidana kehutanan yang dapat merugikan negara. Kasus-kasus kekurangan penerimaan. • Di Kementerian ESDM.26 Kekurangan penerimaan negara adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan di antaranya sudah dalam tahap penyidikan oleh kepolisian.170 Penyebab 15.24 Kasus-kasus tersebut disebabkan perusahaan-perusahaan tersebut di atas diduga sengaja telah melakukan kegiatan penambangan berupa pembangunan konstruksi.25 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara tersebut. Rekomendasi 15. dan eksploitasi di kawasan hutan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan. 15. tidak cermat dalam memverifikasi persyaratan terbitnya izin KP.93 miliar dan USD14. sepuluh kontraktor PKP2B kurang membayar dana hasil produksi batubara (DHPB) senilai Rp22. BPK juga telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menarik jaminan kesungguhan dari para pemegang KP sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan pemegang IUP operasi produksi memenuhi kewajiban penempatan jaminan reklamasi. dan Batu bara kurang melakukan pengawasan atas kegiatan kontraktor PKP2B di lapangan. • Di Kabupaten Tanah Laut.27 15. sebelas pemegang izin usaha pertambangan kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp3.54 miliar dan USD6. Provinsi Kalimantan Selatan. penghamparan overburden.

15.88 juta. dan oleh PT Ad-I di Kalimantan Selatan senilai USD6. dll. tidak mengurangi hak negara.33 15.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.30 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kontraktor PKP2B dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) batubara yang bersangkutan tidak mematuhi peraturan yang berlaku dan kurangnya pengawasan dari instansi terkait.29 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut. BPK telah merekomendasikan kepada entitas yang diperiksa agar menginstruksikan pimpinan IUP pertambangan batubara dan kontraktor PKP2B dimaksud untuk segera menyetorkan kewajiban royalti. perpajakan. dll dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara. dan DHPB ke kas negara dan menegur pelaksana yang tidak berpedoman dengan ketentuan yang berlaku. kekurangan penerimaan negara. Administrasi 15. iuran tetap.58 juta. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran oleh PT JBU di Kabupaten Berau ke kas negara senilai USD3. pertambangan. Provinsi Kalimantan Timur. PT BJU dan PT BBE kurang membayar royalti Tahun 2008 dan 2009 senilai USD6.31 Terhadap kasus-kasus tersebut. tidak menghambat program entitas.34 . dan • sebanyak satu kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Rekomendasi 15. pertambangan. 15.32 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan.62 juta. Penyebab 15. 15.171 • Di Kabupaten Berau. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif yaitu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. perpajakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi sebanyak 33 kasus yang terdiri atas • sebanyak 32 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. • Persetujuan Prinsip untuk DU-322 milik PT AI tidak sesuai dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 1999.

sehingga berpotensi terjadi konflik tumpang tindih konsesi IUP dan pelanggaran atas pemenuhan kewajiban administratif maupun keuangan. direksi dan pimpinan perusahaan PT AI tidak mematuhi Undang-Undang tentang Kehutanan.39 . dan lemahnya pembinaan dan pengawasan pemerintah terhadap pemenuhan kewajiban pengelolaan lingkungan dan kaidah teknik pertambangan yang baik oleh kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP. dan apabila kawasan tersebut adalah kawasan hutan agar memerintahkan PT AI untuk mengurus izin pinjam pakainya. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakefektifan yaitu penatausahaan perizinan dan pengawasan produksi dan penjualan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara lemah.36 Kasus-kasus administrasi antara lain terjadi karena Menteri Kehutanan cq. BPK telah merekomendasikan kepada Menteri Kehutanan supaya menegaskan status kawasan pit perintis. Penyebab 15. Menteri ESDM agar menginstruksikan Dirjen Minerba untuk memerintahkan PT AI mengurus izin pinjam pakai atas penggunaan jalan (hauling road) di kawasan hutan produksi tetap. • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.40 Kasus tersebut terjadi karena Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara tidak tertib dan cermat dalam pengelolaan IUP batubara. Rekomendasi 15. 15. dan pemerintah agar memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kontraktor PKP2B dan pemegang IUP yang melaksanakan pengelolaan lingkungan dan penerapan kaidah teknik pertambangan tidak sesuai ketentuan. Dirjen Planologi lalai dalam memberikan persetujuan prinsip kepada PT AI yang tidak sesuai dengan peta penunjukan kawasan hutan yang berlaku.38 Temuan mengenai ketidakefektifan adanya penyimpangan terhadap fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.172 • Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.37 Terhadap permasalahan administrasi tersebut. Dirjen Minerba kurang melakukan pengawasan atas kegiatan pemegang izin PKP2B di lapangan. Penyebab 15. penggunaan jalan tambang oleh PT AI dari tambang Satui ke dermaga Muara Satui tidak sesuai ketentuan. pengelolaan lingkungan pertambangan oleh Kontraktor PKP2B dan pemegang KP/IUP belum optimal. Ketidakefektifan 15.

BPK telah merekomendasikan agar Bupati Kutai Kartanegara menginstruksikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Kutai Kartanegara untuk lebih tertib dan cermat dalam pengelolaan perizinan dan pengawasan atas produksi dan penjualan batubara.41 Terhadap kasus tersebut.173 Rekomendasi 15. Hasil pemeriksaan lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.42 . 15.

174 .

bertujuan untuk memberi keyakinan yang memadai atas kewajaran perhitungan bagi hasil dari pelaksanaan KKS dan menilai kepatuhan KKKS terhadap ketentuan perundang-undangan serta sistem pengendalian intern yang ditetapkan.2 Tujuan Pemeriksaan 16. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. 16. dan • sebanyak 2 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.87 miliar. Anggaran dan realisasi cost recoverable tiga KKKS yang diperiksa masingmasing senilai USD1. WK Tuban pada KKKS Joint Operating Body Pertamina-PetroChina East Java (JOB PPEJ). Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Sementara itu. yaitu: WK Eks Pertamina Block pada KKKS PT Pertamina EP (PEP).28 miliar. WK Kakap pada BPMigas dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd (SEKL). BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi (cost recovery) pada tiga entitas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di lingkungan BUMN untuk beberapa wilayah kerja (WK). .175 BAB 16 Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi 16. • sebanyak 1 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.78 miliar dan USD1. cakupan pemeriksaan adalah senilai 68. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.43% dari realisasi cost recoverable atau senilai USD1. Hasil Pemeriksaan 16.47 juta.3 Pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak bagi hasil dan KKS Minyak dan Gas Bumi.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.5 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya enam kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada tiga KKKS. Nilai temuan pemeriksaan atas tiga KKKS adalah senilai Rp6.1 Dalam Semester II Tahun 2010.31 miliar dan USD66. Oleh karena itu. Sistem Pengendalian Intern 16. terdiri atas • sebanyak 3 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.

Rekomendasi 16.176 16.1 berikut ini. kekurangan penerimaan. 16.09 miliar tidak didasarkan pertimbangan kelayakan pembebanan dan pengklasifikasian biaya cost recovery. • Di KKKS PEP. monitoring PT PEP atas keabsahan dan keakurasian pencatatan aset tetap pada mitra usaha masih lemah. pembebanan biaya transaksi-transaksi yang tidak terklasifikasi dalam sistem MySAP ke dalam Financial Quarterly Report (FQR) Tahun 2009 senilai Rp40. sistem pencatatan aset KKKS PT PEP Tahun 2009 pada mitra usaha belum dapat menjamin keakuratan nilai aset dan biaya depresiasi.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rincian jenis temuan tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31.8 Terhadap kasus kelemahan SPI tersebut BPK telah merekomendasikan antara lain. Penyebab 16.00 juta atau USD600. dan membebankan biaya pembelian selama Tahun 2009 atas peralatan dengan nilai per unit di atas Rp5.10 . serta ketidakcermatan dalam penggolongan biaya sesuai substansi biaya sesungguhnya. Hasil pemeriksaan berdasarkan kelompok temuan menurut entitas disajikan dalam Tabel 16. kapitalisasi. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 16. • Di KKKS PEP.7 Permasalahan tersebut di antaranya disebabkan ketidakcermatan dalam pembebanan harta benda bergerak yang seharusnya dikapitalisasi tetapi langsung dibebankan sebagai biaya (expense). KKKS PEP agar melakukan inventarisasi. • Di KKKS PEP.00 Tahun 2009 dibukukan tanpa melalui depresiasi. pengadaan harta benda bergerak yang memiliki harga per unit di atas Rp5.9 Hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan potensi kerugian negara/perusahaan. dan administrasi.00 juta melalui mekanisme depresiasi dan melaksanakan program pengecekan fisik atas aset serta mereklasifikasi akun-akun pada biaya production installation sesuai dengan substansi biaya yang sebenarnya.

31 miliar.65 USD2. yang nyata dan pasti jumlahnya. surat berharga. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan KKKS Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 (nilai dalam juta Rp dan ribu valas) Nama Entitas Jml Kasus KKKS PEP KKKS SEKL KKKS JOB PPEJ Jumlah 7 9 6 22 Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan PerundangUndangan yang Mengakibatkan Potensi Kerugian negara/ perusahaan Jml Kasus 1 Nilai 6.316.309.78 Kekurangan Penerimaan Jml Kasus 7 6 4 17 Nilai USD61. 17 kasus kekurangan penerimaan senilai USD66.12 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang. dan empat kasus administrasi. Kasus tersebut terjadi di KKKS SEKL mengenai pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Tahun 2009 atas pembelian BBM solar senilai Rp6.51 6.71 Administrasi Jml Nilai Kasus 2 2 4 - Nilai USD61.47 juta.848.51 USD2. hasil pemeriksaan atas pelaksanaan KKS pada tiga KKKS mengungkapkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp6.315.65 USD2. dan barang.315.309. 16.71 1 Rp6.848. Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 16. Rekomendasi 16. BPK telah merekomendasikan kepada SEKL agar membantu mengamankan keuangan negara/daerah dengan memasukkan bukti penyetoran PBBKB oleh rekanan kepada pemerintah daerah sebagai salah satu syarat permohonan pembayaran nilai pengadaan BBM ke SEKL dan BPMIGAS. Penyebab 16.55 Rp6.14 KKKS SKEL tidak mewajibkan kepada pemasok untuk melampirkan bukti setor PBBKB pada saat pengajuan pembayaran.55 USD66.31 miliar tidak disetorkan oleh rekanan SEKL ke kas daerah.315.177 Tabel 16.78 USD2.474.474.1.316.15 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan.13 .315.11 Dari tabel di atas. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian negara/ perusahaan.78 16.78 USD66.

24 .84 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya empat kasus administrasi.18 Administrasi 16.178 Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan 16. yaitu mengenai penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya.17 16.22 16. Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan adanya pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran.16 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara/perusahaan milik negara tetapi tidak atau belum masuk ke kas negara/perusahaan milik negara karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Rekomendasi 16.19 Koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil dilakukan karena adanya ketidakcermatan perhitungan klaim cost recovery oleh KKKS. tidak menghambat operasional/program entitas dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. 16. Pemeriksaan pada tiga KKKS mengungkapkan adanya 17 kasus yaitu koreksi cost recovery dalam perhitungan bagi hasil yang telah disetujui senilai USD66.20 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan agar BPMIGAS dan KKKS melakukan koreksi perhitungan bagi hasil sesuai ketentuan yang berlaku.23 16. Penyebab 16. Kelompok temuan kekurangan penerimaan tersebut merupakan koreksi perhitungan bagi hasil dengan tiga KKKS yang berasal dari koreksi cost recovery yang tidak dapat di-cost recovery (non cost recovery).31 juta.21 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset. Kasus-kasus tersebut di antaranya. KKKS SEKL senilai USD2. adanya ketidakpatuhan terhadap klausul KKKS dan pedoman-pedoman tata kerja serta ketentuan yang berlaku.47 juta yaitu KKKS PEP senilai USD61.30 juta dan KKKS JOB PPEJ senilai USD2. • Di KKKS SEKL. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian. terdapat biaya depresiasi aset tetap yang belum mendapatkan persetujuan place into service (PIS) dari BPMIGAS senilai 16.

179 USD3. JOB PPEJ.47 juta mengakibatkan SEKL memperoleh penggantian cost recovery Tahun 2009 lebih cepat dari yang seharusnya.26 Terhadap permasalahan tersebut BPK telah merekomendasikan di antaranya agar KKKS SEKL mengajukan persetujuan PIS kepada BPMIGAS atas aset-aset tersebut. Penyebab 16. • Di KKKS JOB PPEJ. dan partner membentuk serta memformalkan JA sesuai waktu yang telah dijanjikan dan melaksanakan dengan konsisten termasuk menjalankan mekanisme cash call.27 . BPMIGAS memantau pembentukan JA serta mendorong kepatuhan JOB PPEJ dalam menjalankan kontrak bagi hasil beserta kontrak-kontrak terkait. Rekomendasi 16. dan partner dari JOB PPEJ belum mempunyai komitmen batas waktu penyelesaian pembentukan JA dan pemberlakuan atas pelaksanaan JA tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. 16.25 Permasalahan tersebut disebabkan tidak dipatuhinya ketentuan tentang place into service (PIS) fasilitas produksi minyak dan gas bumi. Kemudian untuk KKKS JOB PPEJ. joint account (JA) belum diformalkan oleh para partner dan belum dioperasikan oleh Manajemen JOB PPEJ serta tidak semua partner menjalankan mekanisme cash call sehingga menimbulkan risiko ketidakwajaran pembebanan biaya dan potensi konflik antar partner.

180 .

2009 pada BI.d. 17. menilai kewajaran besarnya nilai subsidi yang layak dibayar oleh pemerintah Tahun 2009. Pemeriksaan atas perhitungan kewajiban pelayanan umum (KPU) bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri TA 2009 pada PT Pelni (Persero).d. bertujuan untuk menilai kesesu aian tagihan tambahan penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s.97 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp47. Pemeriksaan pada PT KAI (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan realisasi PSO TA 2009 telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. bertujuan menilai kesesuaian penghitungan pembiayaan dan pelaksanaan KPU bidang angkutan laut penumpang kelas ekonomi dalam negeri dengan perjanjian dan ketentuan/peraturan yang berlaku. yaitu subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu (subsidi JBT). Cakupan pemeriksaan atas pelaksanaan subsidi pemerintah pada lima BUMN dan BI adalah senilai Rp40. 17. dan menilai jumlah pembayaran subsidi JBT TA 2009.3 Pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).81 triliun atau 4. KPU pada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (PT Pelni).1 Dalam Semester II Tahun 2010. BPK telah menyelesaikan laporan hasil pemeriksaan subsidi/kewajiban pelayanan umum/public service obligation (KPU/PSO) pada lima entitas di lingkungan BUMN.73 triliun.6 17. dan subsidi pupuk produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) yang disalurkan PT Pupuk Sriwijaya (Persero) (PT Pusri). tambahan penggantian biaya subsidi BBM. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp2. Selain itu BPK juga memeriksa prosedur yang disepakati bersama atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh Bank Indonesia (BI) kepada Pemerintah Tahun Anggaran (TA) 2007 s. Pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero).181 BAB 17 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 17.4 17.7 . bertujuan untuk menilai kewajaran volume penjualan jenis BBM tertentu yang didistribusikan kepada konsumen di seluruh wilayah Indonesia selama Tahun 2009. Pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM yang disalurkan PT Pusri (Persero) bertujuan menilai kewajaran perhitungan subsidi pupuk PT Pusri (Persero) TA 2009 atas bantuan pasokan pupuk urea produksi Tahun 2008 dari PT PIM. 2005. perhitungan PSO pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI).2 Tujuan Pemeriksaan 17.43% dari cakupan pemeriksaan.04 miliar dan koreksi subsidi senilai Rp1.5 17.

00 miliar. Pemerintah sudah membayar kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp34.d.8 Pemeriksaan atas subsidi bunga kredit program yang ditagihkan oleh BI kepada pemerintah bertujuan untuk menentukan besarnya subsidi bunga kredit program yang layak ditagihkan oleh BI dan dibayar oleh pemerintah untuk TA 2007. Koreksi Subsidi 17. 2008. 17.17 triliun. Sesuai kontrak.12 17. Hasil Pemeriksaan 17. Sedangkan untuk subsidi bunga. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.93 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp33.19 juta.13 .10 Hasil pemeriksaan atas subsidi menunjukkan bahwa pemerintah masih mempunyai kewajiban membayar subsidi kepada lima BUMN penerima subsidi senilai Rp6. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pertamina (Persero) senilai Rp727.44 miliar.90 miliar. perhitungan subsidi dikoreksi tambah senilai Rp175. Hasil pemeriksaan atas perhitungan KPU pada PT Pelni (Persero) TA 2009 senilai Rp845. menunjukkan bahwa jumlah subsidi yang dihitung oleh PT Pertamina (Persero) senilai Rp34. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan KPU yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran yang telah ditetapkan sehingga kelebihan pembayaran biaya KPU senilai Rp113. secara rinci diuraikan di bawah ini. Pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi KPU dan membayar kepada PT Pelni (Persero) senilai Rp600. Hasil pemeriksaan atas tambahan penggantian biaya subsidi BBM pada PT Pertamina (Persero). Hasil pemeriksaan atas subsidi pemerintah selain menyajikan perhitungan/koreksi atas subsidi yang ditanggung oleh pemerintah. sehingga nilai bersih penggantian biaya subsidi BBM menjadi senilai Rp5.12 triliun dan dikoreksi kurang senilai Rp1. dan 2009 sesuai prosedur yang disepakati bersama antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).01 miliar.83 triliun. juga mengungkapkan kelemahan sistem pengendalian intern dan ketidakpatuhan pelaksanaan subsidi terhadap ketentuan perundangundangan. Oleh karena itu. Hasil pemeriksaan atas subsidi jenis BBM tertentu (subsidi JBT) pada PT Pertamina (Persero).02 miliar telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp130. sehingga penghitungan subsidi JBT menjadi senilai Rp34. Selain itu.60 triliun dari yang telah ditetapkan.11 17. PSO yang ditanggung perusahaan (tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah) senilai Rp113.45 miliar. menunjukkan bahwa nilai penggantian biaya subsidi BBM PT Pertamina (Persero) Tahun 2003 s. Selain itu.12 miliar sehingga perhitungan nilai KPU menjadi senilai Rp714.90 triliun.182 17.45 miliar tidak dapat ditagihkan kepada pemerintah dan menjadi beban PT Pelni (Persero). perhitungan tersebut dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp1.28 triliun. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus. 2005 adalah senilai Rp7.64 miliar.9 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan.

49 miliar sehingga perhitungan nilai PSO. jumlah dana penyelenggaraan pelaksanaan PSO yang ditanggung oleh pemerintah maksimum senilai anggaran subsidi PSO yang telah ditetapkan yaitu senilai Rp535.00 miliar. sehingga penghitungan subsidi pupuk menjadi senilai Rp55.28 miliar. Dengan demikian masih terdapat dana pemerintah pada escrow account di BI senilai Rp623.94 triliun. telah dilakukan koreksi kurang senilai Rp301. dikoreksi kurang senilai Rp62.026018) sejak Tahun 1998 s.36 miliar. 17. sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran biaya PSO senilai Rp14.d.42 miliar. Dengan demikian subsidi kurang diterima oleh PT KAI (Persero) senilai Rp14. Sesuai kontrak. Pemerintah sudah menyelesaikan pembayaran kepada PT Pusri (Persero) senilai Rp26. dan pemerintah telah membayar kepada PT KAI (Persero) senilai Rp504.21 miliar. Pembayaran subsidi bunga tersebut telah dilakukan pemerintah melalui rekening penampungan (565. dan perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans) Konversi TA 2007 senilai Rp54. TA 2008 senilai Rp63. • sebanyak 1 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Dengan demikian subsidi kurang diterima PT Pusri (Persero) senilai Rp28.64 miliar.76 miliar. menunjukkan bahwa perhitungan subsidi pupuk yang ditetapkan PT Pusri (Persero) senilai Rp117.59 miliar.15 17. • sebanyak 2 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai. dikoreksi tambah senilai Rp175.07 miliar oleh pemerintah. menjadi senilai Rp543.50 miliar.96 miliar.82 miliar.89 miliar.183 17.97 miliar.14 Hasil pemeriksaan atas perhitungan PSO pada PT KAI (Persero) TA 2009 senilai Rp844.16 miliar.16 Sistem Pengendalian Intern 17. terdiri atas tagihan skim kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). Hasil pemeriksaan atas subsidi pupuk produksi PT PIM Tahun 2009 yang disalurkan PT Pusri (Persero).46 miliar. 2009 yang ditagihkan BI kepada pemerintah senilai Rp144. sedangkan jumlah tagihan BI kepada pemerintah pada periode yang sama senilai Rp3. 2009 senilai Rp4.17 Hasil pemeriksaan mengungkapkan adanya 29 kasus kelemahan sistem pengendalian intern pada lima entitas terdiri atas • sebanyak 9 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat. . kredit kepemilikan rumah sederhana (KPRS). • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.19 juta sehingga perhitungan subsidi bunga menjadi Rp144. Selain perhitungan tersebut terhadap perhitungan PSO dilakukan koreksi kurang karena denda senilai Rp16.56 triliun. dan TA 2009 senilai Rp25.54 miliar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa subsidi bunga TA 2007 s.d. • sebanyak 1 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan.07 miliar.

63 miliar. • sebanyak 4 kasus penetapan pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja. BPK telah merekomendasikan agar Ditjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) menandatangani perjanjian KPU sebelum penyelenggaraan KPU dan menyesuaikan volume . yaitu Dirjen Perhubungan Laut dan PT Pelni (Persero) lalai dalam menetapkan perjanjian KPU secara tepat waktu serta besaran volume pekerjaan belum memperhitungkan besaran pagu anggaran yang tersedia. Sedangkan atas kasus pada PT KAI (Persero). • sebanyak 2 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur. pembayaran management fee kepada PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) senilai Rp107. hal tersebut di antaranya mengakibatkan aktiva tetap dan inventaris yang dibeli tidak tercatat di perusahaan sehingga berpotensi hilang. disebabkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional tidak valid dan mutakhir serta lalai menyelenggarakan pencatatan penerimaan dan penggunaan dana pendapatan non operasional.72 miliar membebani PT KAI (Persero).184 • sebanyak 2 kasus perencanaan tidak memadai. kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengoperasian KAI kepada PT KCJ yang tidak diatur dalam kontrak PSO antara PT KAI (Persero) dengan pemerintah dan dalam perjanjian kerja sama (PKS) tidak menyebutkan besaran dan formula penghitungan management fee. 17. • Di PT KAI (Persero). Rekomendasi 17. • Di PT KAI (Persero). dan • sebanyak 7 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati.19 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan penerapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya.20 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI. penetapan perjanjian penyelenggaraan KPU TA 2009 terlambat dan penentuan volume pekerjaan tidak akurat. penggunaan dan pencatatan dana dari pendapatan non operasional tidak sesuai ketentuan. mengakibatkan PT Pelni (Persero) tidak dapat menyusun pola pengoperasian kapal penumpang secara optimal sehingga PT Pelni (Persero) harus menanggung kerugian selisih lebih voyage dari kontrak senilai Rp47.18 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT Pelni (Persero). Penyebab 17.

potensi kerugian negara/ perusahaan.25 . mengakibatkan PT KAI menanggung kerugian sewa kereta rel listrik (KRL) milik PT KCJ. Sedangkan terhadap PT KAI (Persero).73 miliar. Tabel 17. dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) 17. BPK merekomendasikan di antaranya agar Direksi PT KAI (Persero) memutakhirkan kebijakan tentang pengelolaan dana pendapatan non operasional dan menertibkan penggunaannya. bertanggungjawab atas pengesahan dan pembayaran management fee sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT KCJ kepada RUPS. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi lima kasus senilai Rp2.97 312. dan ketidakefektifan. 17.735.1 Rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 34.24 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. administrasi.21 Selain koreksi perhitungan subsidi dan kelemahan atas SPI.50 2. administrasi. Kerugian Negara/Perusahaan 17. surat berharga.23 Berdasarkan tabel di atas. Kasus tersebut terjadi di PT KAI (Persero) mengenai perjanjian kerjasama PT KAI dengan PT KCJ Tahun 2009 tidak memberikan nilai tambah bagi PT KAI.04 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 17. potensi kerugian negara/perusahaan. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No.22 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 Kerugian Perusahaan Potensi Kerugian Perusahaan Administrasi Ketidakefisienan Jumlah 1 1 1 2 5 1. hasil pemeriksaan juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai kerugian perusahaan senilai Rp1.185 pekerjaan dengan pagu anggaran yang tersedia. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 17.048.47 17. dan barang. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.1. dan ketidakefektifan.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 17.32 Kasus tersebut disebabkan PT KAI (Persero) tidak melaksanakan ketentuan tentang kapitalisasi aset dan kebijakan Direksi PT KAI (Persero) meminjamkan kendaraan operasional kepada pihak lain tanpa dibuat bukti pendukung. Rekomendasi 17. yang nyata dan pasti jumlahnya Kasus potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara di antaranya.50 juta. PT KAI (Persero) telah menindaklanjuti dengan penyerahan aset berupa satu unit kendaraan Hyundai Trajet senilai Rp312. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya potensi kerugian negara/perusahaan yang terjadi pada perusahaan milik negara. surat berharga.50 juta.27 Terhadap kasus kerugian perusahaan. Penyebab 17.28 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.30 17.26 Kasus kerugian perusahaan di antaranya terjadi karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) menyetujui pengoperasian kereta PSO oleh PT KCJ yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.33 Terhadap kasus potensi kerugian negara/perusahaan. 17. Kasus terjadi pada PT KAI (Persero) mengenai pembelian satu unit kendaraan Hyundai Trajet Tahun 2009 tidak dicatat sebagai aktiva dan kendaraan tidak digunakan sesuai tujuan pembelian.31 Administrasi 17. Atas kasus potensi kerugian negara/perusahaan tersebut. tetapi penyimpangan tersebut tidak .29 17. sebanyak satu kasus senilai Rp312. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) mencatat pembelian kendaraan tersebut sebagai aktiva perusahaan dan menarik kendaraan yang dipinjamkan untuk kepentingan operasional PT KAI (Persero). Rekomendasi 17.186 Penyebab 17. dan barang. BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KAI (Persero) menagih kelebihan pembayaran sewa KRL milik PT KCJ.34 Penyimpangan administratif adalah suatu temuan yang terjadi karena adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan anggaran/pengelolaan aset.

39 . meskipun PT KCJ sudah mengakui pendapatan senilai Rp458. 17.88 juta. • Di PT Pertamina (Persero).38 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan.35 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus administrasi.40 Kasus-kasus ketidakefektifan disebabkan lokasi wilayah SPBN tersebut jauh dari SPBU sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan masyarakat. Sedangkan untuk PT KAI (Persero) yaitu 17. dan tidak berpengaruh terhadap keuangan negara/perusahaan. Kasus-kasus tersebut terdapat pada PT Pertamina (Persero) dan PT KAI (Persero). proses penugasan kewajiban pelayanan publik kepada PT KAI (Persero) Tahun 2009 tidak memenuhi tata kelola yang baik yang mengakibatkan PT KAI (Persero) harus mendanai terlebih dahulu biaya pengoperasian KAI PSO yang beroperasi sebelum kontrak ditandatangani. yaitu pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun PT KAI (Persero) yang dilimpahkan kepada PT KCJ belum memberi keuntungan.37 Terhadap kasus penyimpangan administrasi. Penyebab 17. sehingga mengganggu penyaluran BBM bagi perahu motor atau kapal nelayan. tidak menghambat operasional/program entitas. Penyebab 17.187 mengakibatkan adanya suatu kerugian/potensi kerugian.36 Kasus penyimpangan administrasi di antaranya karena kebijakan Direksi PT KAI (Persero) melimpahkan pengelolaan aset tanah dan bangunan stasiun tanpa mempertimbangkan kapabilitas/kemampuan PT KCJ. serta fungsi instansi tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai. BPK telah merekomendasikan antara lain agar Direksi PT KAI (Persero) menagih pendapatan sewa ruangan dan iklan kepada PT KCJ serta mengelola sendiri aset tanah dan bangunan stasiun sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. yaitu. • Di PT KAI (Persero). Ketidakefektifan 17. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dua kasus ketidakefektifan yang terjadi. Rekomendasi 17. stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) di Mataram Tahun 2009 melayani pengisian bahan bakar kepada kendaraan umum.

Rekomendasi 17. BPK telah merekomendasikan agar menandatangani kontrak PSO sebelum pelaksanaan PSO serta memperbaiki klausul kontrak PSO terutama klausul mengenai sanksi dan formula penghitungannya. 17. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.41 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar PT Pertamina (Persero) mendirikan SPBU atau lembaga penyalur lainnya sesuai kebutuhan daerah tersebut serta terhadap Dirjen Perkeretaapian dan Direksi PT KAI (Persero).188 Dirjen Perkeretaapian terlalu lama dalam memproses kontrak PSO serta PT KAI (Persero) tidak cermat dalam membuat klausul tentang sanksi dalam kontrak PSO.42 .

2 18. • sebanyak 9 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan.3 Hasil Pemeriksaan 18. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp1. Cakupan pemeriksaan operasional atas enam BUMN adalah senilai Rp33. pengendalian biaya. Bali Tourism Development Corporation (BTDC). dan • sebanyak 3 kasus SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati. PT Adhi Karya (Persero) Tbk. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. Setiap temuan dapat terdiri dari satu atau lebih kasus.4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.1 BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional BUMN pada enam entitas yaitu PT Angkasa Pura II (Persero) (PT AP II). PT Nindya Karya (Persero) (PT NK). PT Kimia Farma (Persero) Tbk. 18. Sistem Pengendalian Intern 18.189 BAB 18 Operasional Badan Usaha Milik Negara 18.08 triliun dan USD60.67 triliun dari realisasi anggaran senilai Rp58. Secara umum tujuan pemeriksaan pada enam BUMN tersebut untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan pengelolaan pendapatan. • sebanyak 1 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan.69 juta. • sebanyak 3 kasus perencanaan kegiatan tidak memadai. dan kegiatan investasi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. • sebanyak 16 kasus penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PT PKT). (PT KF). Oleh karena itu. . • sebanyak 3 kasus entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur.5 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMN mengungkapkan adanya 47 kasus kelemahan SPI pada enam BUMN. (PT AK).61 triliun. terdiri atas • sebanyak 12 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat.

• Di PT KF (Persero) Tbk.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.. . bahan kemas. ketidakakuratan perencanaan bangunan terminal Bandara Baru Kualanamu Tahun 2007 mengakibatkan biaya pembangunan bertambah minimal senilai Rp97.190 18. BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) melaksanakan lelang pekerjaan fisik bangunan terminal bandara yang belum dilaksanakan berdasarkan perencanaan desain yang telah final dan setiap perubahan desain harus didokumentasikan dengan baik dan menetapkan desain gambar final.07 miliar. • Manajer marketing over the counter/customer health product (OTC/ CHP) PT KF memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi pasar. PT KF gagal melaksanakan program penetrasi pasar produk Fitocare Tahun 2010 sehingga menanggung potensi kerugian minimal senilai Rp2. tidak tegas dalam menetapkan desain terminal bandara. dan produk Fitocare. • Di PT PKT. Manajer Unit Produksi Semarang (UPS) dalam melakukan pengadaan bahan baku dan bahan kemas. Rekomendasi 18.7 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) melelangkan pekerjaan pondasi dan struktur bangunan terminal bandara sebelum pekerjaan perencanaan selesai. bahan kemas. • Direksi PT PKT belum melakukan adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan yang mengatur tentang penyesuaian tarif listrik dan steam yang mempertimbangkan harga jual ekonomis (memberi keuntungan perusahaan).07 miliar atas nilai persediaan bahan baku. Penyebab 18. tarif penjualan listrik dan steam PT PKT kepada perusahaan afiliasi Tahun 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan harga belinya dari PT Kaltim Daya Mandiri (PT KDM) sehingga PT PKT mengalami kerugian usaha minimal senilai USD3.13 miliar.47 juta atau setara dengan Rp35. dan Direksi PT KF belum menetapkan rencana pemanfaatan bahan baku. kurang mempertimbangkan kebutuhan. • Di PT AP II (Persero). dan tidak tegas memberikan sanksi berupa denda dan tuntutan kerugian kepada PT Wiratman atas ketidakmampuan melakukan pekerjaannya. dan barang dagangan yang telah rusak/usang/kedaluwarsa dan yang belum digunakan atau belum terjual.8 Atas kasus-kasus kelemahan SPI.

191 • Direksi dan Komisaris PT PKT mempertanggungjawabkan hasil penjualan listrik dan steam yang lebih rendah kepada pemegang saham. Selain itu, direksi PT PKT membuat adendum kontrak perjanjian jual beli listrik dan steam dengan JVC dan anak perusahaan dengan mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan; dan • Direksi PT KF (Persero) memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada para manajer marketing OTC/CHP dan Manajer UPS yang lalai dalam memesan produk tanpa mempertimbangkan kondisi dan segera mengambil tindakan konkrit atas pemanfaatan bahan baku, bahan kemasan, dan produk Fitocare.

Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
18.9 Selain kelemahan SPI hasil pemeriksaan operasional BUMN juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/perusahaan, kekurangan penerimaan negara/perusahaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 58 kasus senilai Rp1,08 triliun dan USD60.69 juta sebagaimana disajikan dalam Tabel 18.1. Rincian jenis temuan pada tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada Lampiran 36 dan rincian temuan menurut entitas disajikan dalam Lampiran 37.
Tabel 18.1. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMN No. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 92.936,95 USD7,543.01 973.661,50 USD53,155.43 3.201,35 1.243,90 11.990,65 Rp1.083.034,37 USD60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kerugian negara/perusahaan Potensi kerugian negara/perusahaan Kekurangan penerimaan negara/perusahaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan Jumlah 13 31 6 6 1 1 58

18.10

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa temuan atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dapat dikelompokkan dalam kelompok temuan kerugian negara/perusahaan, potensi kerugian negara/ perusahaan, kekurangan penerimaan, administrasi, ketidakhematan, dan ketidakefektifan. Tiap-tiap kelompok temuan beserta contohnya diuraikan sebagai berikut.

192

Kerugian Negara/Perusahaan
18.11 Kerugian negara/perusahaan adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan negara atau perusahaan berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Kelompok temuan kerugian negara/perusahaan di antaranya meliputi rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan, kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang, spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak, pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet, serta lain-lain. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai kerugian negara/perusahaan senilai Rp92,93 miliar dan USD7.54 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan senilai Rp7,45 miliar; • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp6,85 miliar; • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp104,08 juta; • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet senilai Rp1,02 miliar; dan • sebanyak 7 kasus lain-lain mengenai kerugian negara/perusahaan milik negara senilai Rp77,49 miliar dan USD7.54 juta seperti pencairan jaminan pelaksanaan oleh pemberi kerja karena keterlambatan penyelesaian proyek, keterlambatan penyelesaian proyek dan proyek dihentikan oleh pemberi kerja atau tidak diakuinya variation order oleh pemberi kerja, perencanaan tidak akurat, kerugian usaha anak perusahaan, dan penurunan nilai kontrak dalam adendum karena tidak dipenuhinya komitmen pemberi kerja. 18.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AK (Persero) Tbk., proyek di Qatar Tahun 2006 s.d. 2009 merugikan PT AK senilai USD7.54 juta atas dicairkannya jaminan pelaksanaan (performance bond) oleh Al Habtoor. • Di PT AK (Persero) Tbk., ketidakcermatan perhitungan rencana anggaran biaya dan kelemahan kontrak Proyek The Capital Residence Tahun 2004 s.d. 2009 mengakibatkan PT AK mengalami kerugian senilai Rp39,70 miliar.

18.12

18.13

193 • Di PT NK (Persero), kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan sembilan proyek pada divisi wilayah I dan III mengakibatkan PT NK mengalami kerugian senilai Rp29,20 miliar. Penyebab 18.15 Kasus-kasus kerugian negara/perusahaan pada umumnya terjadi karena • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; • Kepala Proyek dan Manajemen PT AK lalai karena tidak mengelola proyek secara memadai dan tidak mentaati RKAP atau SK Direksi tentang kewenangan investasi; dan • Kepala Proyek, Biro Teknik dan Pemasaran PT NK dalam menyusun perencanaan tidak mempertimbangkan kecukupan data teknis, kondisi alam, serta lingkungan di lokasi proyek dan pengendalian pelaksanaan proyek pada tingkat wilayah dan pusat tidak berfungsi. Rekomendasi 18.16 Terhadap kasus kerugian negara/perusahaan tersebut, BPK telah merekomendasikan kepada • Menteri Negara BUMN selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi dan Direksi PT AK menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi dan komisaris atas kelalaian pengelolaan proyek; dan • Direksi PT NK untuk mempertanggungjawabkan kepada RUPS atas kesalahan perencanaan dan kelemahan pengendalian pelaksanaan proyek serta merevisi dan melengkapi prosedur perencanaan dan pengendalian proyek yang sudah ada.

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan
18.17 Potensi kerugian negara/perusahaan adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya. Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan yaitu adanya aset tidak diketahui keberadaannya, piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih, dan lain-lain.

18.18

194 18.19 Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 31 kasus mengenai potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp973,66 miliar dan USD53.15 juta, terdiri atas • sebanyak 1 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp1,46 miliar; • sebanyak 22 kasus piutang/pinjaman atau dana yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp781,92 miliar dan USD20.70 juta; dan • sebanyak 8 kasus lain-lain potensi kerugian negara/perusahaan senilai Rp190,26 miliar dan USD32.45 juta seperti penerimaan pendapatan sewa lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya, penetapan harga jual lebih rendah, dan harga beli lebih tinggi dari yang seharusnya dalam kontrak, dan penyertaan modal tidak memberikan hasil. 18.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT PKT, penerapan harga jual urea melt dan ammonia serta harga beli carbamate dan steam condensate Tahun 2008 dan 2009 tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak sehingga berpotensi merugikan PT PKT minimal senilai USD30.92 juta. • Di PT AK (Persero) Tbk., piutang PT AK Tahun 2009 atas pelaksanaan proyek di Qatar berpotensi tidak tertagih senilai USD20.25 juta. • Di PT AP II (Persero), pendapatan sewa dalam pelaksanaan kontrak build, operate & transfer (BOT) dengan PT Sanggraha Daksa Mitra (PT SDM) Tahun 1996 s.d. 2007 diterima lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya diterima sehingga berpotensi merugikan PT AP II minimal senilai Rp139,57 miliar. Penyebab 18.21 Kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan pada umumnya disebabkan • Direksi PT PKT dalam melakukan kerja sama/jual beli dengan PT DSM Kaltim Melamin (PT DKM) tidak memperhatikan ketentuan penetapan harga yang telah ditentukan dalam kontrak; • Manajemen PT AK lalai dalam penetapan persyaratan jaminan pelaksanaan dan tidak mengatur klausul tentang kepastian nilai dan pembayaran variation order, serta belum adanya SOP yang mengatur proyek-proyek yang diperoleh di negara lain; dan • Direksi PT AP II tidak cermat dalam menyusun klausul akhir masa perjanjian dan memberikan tarif kompensasi pemanfaatan lahan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku.

195 Rekomendasi 18.22 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian negara/perusahaan, BPK telah merekomendasikan kepada • Direksi PT PKT untuk mempertanggungjawabkan kepada pemegang saham atas tidak diperhatikannya kontrak jual beli dengan PT DKM; • Menteri Negara BUMN selaku RUPS untuk meminta pertanggungjawaban direksi/komisaris atas kerugian yang terjadi, dan Direksi PT AK untuk menyusun SOP untuk proyek di luar negeri dengan menyusun kajian risiko sebelum proyek dimulai; dan • Direksi PT AP II untuk mengadendum kontrak BOT dengan PT SDM terutama mengenai tarif sewa tanah, mekanisme perhitungan konsesi, dan kewajiban PT AP II membeli 100% nilai pasar aset gedung yang tidak lazim pada kontrak BOT.

Kekurangan Penerimaan Negara/Perusahaan
18.23 Kekurangan penerimaan negara/perusahaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak negara dhi. perusahaan tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan. Kasus-kasus kekurangan penerimaan negara/perusahaan meliputi penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/ perusahaan dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai kekurangan penerimaan negara/perusahaan senilai Rp3,20 miliar, terdiri atas • sebanyak 4 kasus penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/ diterima/disetor ke kas negara/perusahaan senilai Rp2,91 miliar; dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp286,19 juta. 18.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), PT AP II tidak melakukan pemeriksaan/pengujian secara rutin atas laporan penjualan bruto PT SDM Tahun 2004 dan 2005 dalam pelaksanaan kontrak build, operate, and transfer (BOT) dengan PT SDM sehingga PT AP II berpotensi kehilangan pendapatan dari omzet penjualan yang tidak dilaporkan oleh PT SDM senilai Rp1,38 miliar.

18.24

18.25

196 • Di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system Tahun 2006 di Bandara Soekarno-Hatta terlambat selama 109 hari sehingga PT AP II kurang mengenakan denda keterlambatan kepada PT Angkasa Pura Schipol (PT APS) senilai Rp1,18 miliar. • Di PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2008 di Plant Jakarta tidak sesuai ketentuan sehingga PT KF tidak dapat mengenakan denda atas keterlambatan penyerahan pekerjaan senilai Rp235,36 juta dan penerimaan negara atas PPh 23 jasa konsultan dan jasa konstruksi senilai Rp194,34 juta. 18.27 Atas kasus-kasus yang mengakibatkan kekurangan penerimaan negara tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp91,84 juta. Penyebab 18.28 Kasus-kasus kekurangan penerimaan pada umumnya disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) tidak tegas melakukan pengawasan atas operasional, serta memverifikasi kebenaran laporan penjualan kotor PT SDM; • Direksi PT AP II (Persero) tidak tepat dalam melakukan perhitungan denda keterlambatan tanpa mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan • kebijakan Direksi PT KF (Persero) Tbk. memberikan persetujuan perpanjangan waktu bagi kontraktor dan Bagian Keuangan PT KF (Persero) Tbk. lalai tidak memungut dan menyetorkan PPh 23. Rekomendasi 18.29 Atas kasus-kasus kekurangan penerimaan, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) mengintensifkan pengawasan operasional dan memeriksa kebenaran omzet bruto PT SDM sesuai kontrak serta menagih kekurangan konsesi yang menjadi hak perusahaan; • Direksi PT AP II (Persero) menghitung denda keterlambatan dan menagihkannya kepada PT APS; dan • Direksi PT KF (Persero) Tbk. segera menagih PPh 23 dan denda keterlambatan kepada rekanan.

Administrasi
18.30 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan

197 aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian, tidak mengurangi hak negara/perusahaan (kekurangan penerimaan), tidak menghambat operasional/program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. 18.31 Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid), proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara), penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll., dan penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat enam kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 1 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid); • sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara); • sebanyak 1 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll.; dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. 18.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PT AP II (Persero), AP II tidak mematuhi ketentuan tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas jasa pelayanan meteorologi Tahun 2007 dan 2008 pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengakibatkan penerimaan negara terlambat disetor senilai Rp58,14 miliar. • Di PT AP II (Persero), AP II Cabang Bandara Husein Sastranegara (HS) Bandung tidak mematuhi ketentuan pengadaan barang/jasa dan peraturan perpajakan dalam pengadaan rumah dinas Tahun 2008 senilai Rp1,40 miliar sehingga harga pembelian rumah dinas tersebut diragukan kewajarannya. • Di PT KF (Persero) Tbk., pembayaran biaya operasional senilai Rp152,56 juta dalam kerjasama outsourcing salesman antara PT Kimia Farma Trading & Distribution (PT KFTD) Cabang Surabaya dengan CV Visakom Tahun 2007 s.d. 2008 tidak didukung bukti-bukti yang memadai sehingga tidak dapat diyakini kewajarannya.

18.32

198 Penyebab 18.34 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena • Direksi PT AP II (Persero) belum sepenuhnya menjalankan ketentuan yang mewajibkan penyetoran PNBP ke kas negara tepat waktu; • Pihak-pihak yang terlibat dalam pengadaan rumah dinas tidak mematuhi ketentuan tentang pengadaan barang dan jasa serta tata cara pembayaran; dan • Kepala PT KFTD Cabang Surabaya periode saat itu mengabaikan perjanjian dengan CV Visakom dan tidak memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian intern yang memadai dalam membuat perjanjian dengan pihak ketiga. Rekomendasi 18.35 Atas kasus-kasus penyimpangan administrasi, BPK telah merekomendasikan antara lain agar • Direksi PT AP II (Persero) menghitung kembali seluruh kewajiban PNBP dan menyetorkan PNBP tersebut ke kas negara; • Menteri Negara BUMN sebagai RUPS meminta pertanggungjawaban Direksi dan Komisaris AP II atas proses pengadaan rumah dinas, Direksi AP II mengenakan sanksi kepada GM Cabang HS dan tim pengadaan rumah dinas tersebut; dan • Direksi PT KFTD memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala PT KFTD Cabang Surabaya dan mempertanggungjawabkan transaksi bisnis dengan CV Visakom kepada RUPS.

Ketidakhematan
18.36 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus ketidakhematan, di PT AP II (Persero), pengadaan flight information system (FIS) Tahun 2004 s.d. 2007 di Bandara Soekarno-Hatta tidak sesuai ketentuan sehingga biaya pembangunan FIS lebih tinggi senilai Rp1,24 miliar. Penyebab 18.38 Kasus ketidakhematan tersebut disebabkan karena keputusan Direksi untuk melakukan penunjukkan langsung kepada APS sebagai system integrator pekerjaan pembangunan FIS kurang memperhatikan prinsip efisiensi.

18.37

199 Rekomendasi 18.39 Atas kasus ketidakhematan, BPK telah merekomendasikan agar Menteri Negara BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT AP II atas pengadaan FIS yang dilakukan secara penunjukkan langsung dan biaya pengadaan yang lebih tinggi minimal senilai Rp1,24 miliar.

Ketidakefektifan
18.40 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai, serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat satu kasus mengenai ketidakefektifan yaitu PT KF (Persero) Tbk., pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas produksi obat anti retro viral (ARV) Tahun 2005 s.d. 2009 di Plant Jakarta senilai Rp11,99 miliar belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Penyebab 18.42 Kasus ketidakefektifan terjadi karena Direksi PT KF (Persero) Tbk. tidak melakukan perencanaan yang matang dalam melaksanakan investasi fasilitas produksi obat ARV. Rekomendasi 18.43 Terhadap kasus ketidakefektifan tersebut, BPK telah merekomendasikan agar Direksi PT KF (Persero) Tbk. memanfaatkan fasilitas produksi obat ARV yang telah ada secara optimal dan memberikan sanksi kepada panitia pelaksana pembangunan gedung ARV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir.

18.41

18.44

200 .

Morowali. belanja. Makassar. biaya.1 Dalam Semester II Tahun 2010. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. piutang. Kediri. PDAM Kabupaten Banyuwangi. Bukittinggi. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. distribusi. dan investasi dilaksanakan sesuai dengan ketetentuan yang telah ditetapkan.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. .4 Hasil pemeriksaan atas operasional PDAM menunjukkan adanya 177 kasus kelemahan SPI. aktiva. ekonomis. dan efektif. Denpasar. Jayapura. • sebanyak 101 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. yaitu PDAM Kota Pasuruan. Madiun. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional (pelaksanaan kegiatan pendapatan. dan utang) pada 23 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Buol. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Banjar. investasi dan ekploitasi air bersih telah dilakukan secara efisien. Poso. Tujuan Pemeriksaan 19. Tolitoli. dan • sebanyak 49 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Hasil Pemeriksaan 19.201 BAB 19 Operasional Perusahaan Daerah Air Minum 19. Karangasem. Buleleng. terdiri atas • sebanyak 27 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Polewali Mandar. Mojokerto. dan Muara Enim. Banggai. Blitar. Lombok Barat. dan • operasi perusahaan yang meliputi produksi. Oleh karena itu. Sistem Pengendalian Intern 19. Donggala. Tojo Unauna. • pengelolaan pendapatan.

1. aset tetap belum disajikan sesuai dengan standar sehingga terdapat lebih catat senilai Rp3. • Di PDAM Kabupaten Donggala. Provinsi Papua. memberikan sanksi dan teguran kepada manajemen dan pelaksana kegiatan yang lalai dan tidak cermat. administrasi.34 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 19. Provinsi Sulawesi Tengah. ketidakcermatan dan kelalaian pelaksana kegiatan.202 19.7 Terhadap temuan kelemahan SPI tersebut. Penyebab 19.64 miliar karena umur jaringan pipa transmisi dan distribusi sudah sangat tua. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 39. terdapat pokok dan bunga pinjaman kepada pemerintah pusat senilai Rp48.5 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta ketidakmampuan manajemen PDAM untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah pusat.50 juta.6 Permasalahan tersebut di antaranya terjadi karena belum maksimalnya upaya manajemen untuk melakukan penggantian pipa jaringan transmisi dan distribusi yang sudah tua dan penggantian meter air pelanggan yang telah rusak. potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM. Rekomendasi 19. tingkat kehilangan air pada Tahun 2008 dan 2009 melebihi batas toleransi senilai Rp8. serta melakukan koreksi atas kesalahan pencatatan. belum maksimalnya pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM. Provinsi Jawa Timur.60 miliar dan kurang catat senilai Rp74. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 19.8 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM. .67 miliar belum diselesaikan. serta ketidakefektifan meliputi 227 kasus senilai Rp73. • Di PDAM Kabupaten Jayapura. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa untuk menyusun langkah-langkah mengurangi kebocoran. kekurangan penerimaan. serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 40. • Di PDAM Kabupaten Mojokerto. ketidakhematan. meningkatkan pengawasan atas penyambungan liar pipa PDAM.

10 Kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.97 juta. • sebanyak 4 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp220.50 juta.893. 19.50 juta. surat berharga.809.96 13. terdiri atas • sebanyak 2 kasus belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif senilai Rp102.269.79 juta. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional PDAM No. dan barang. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.97 73. • sebanyak 1 kasus pemahalan harga (mark up) senilai Rp21. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 43 22 26 66 28 42 227 3. pemahalan harga dan penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.345. • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp865. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Selain itu juga meliputi pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan. spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 43 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah senilai Rp3. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini.33 19. Kelompok temuan kerugian daerah di PDAM di antaranya meliputi pengadaan barang/jasa fiktif.11 19. Kerugian Daerah pada PDAM 19.203 Tabel 19.40 2.26 miliar.1.14 6.823.12 .548.85 46.

15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena manajemen dan pelaksana kegiatan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.74 juta.29 juta. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp7. tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan fisik.14 Dari 43 kasus kerugian daerah/kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp3.16 Terhadap kasus kerugian daerah yang terjadi di PDAM tersebut. PNS.72 juta. dana representasi tersebut masih disimpan di brankas. dan instansi vertikal Kabupaten Karangasem yang tidak sesuai ketentuan senilai Rp393. Pencairan dana representasi direktur telah dibukukan dan diakui sebagai biaya dalam Laporan Keuangan PDAM Tahun Buku 2009. • sebanyak 5 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp145. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan air bersih/air minum Tanjung Enim. Rekomendasi 19. Gunung Megang dan Kota Muara Enim Tahun 2009 terdapat kekurangan volume pekerjaan galian dan urugan kembali serta pemasangan pipa yang berindikasi merugikan keuangan PDAM Lematang Enim senilai Rp170.204 • sebanyak 8 kasus pengunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp280. dewan pengawas.61 juta.62 miliar. wakil bupati. 19.13 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pegawai. pertanggungjawaban dana representasi Direksi PDAM Kabupaten Banyuwangi tidak benar senilai Rp90.90 juta.62 juta dan PDAM Kabupaten Kediri senilai Rp58. dan • sebanyak 21 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp1. Provinsi Jawa Timur. direksi. Provinsi Sumatera Selatan.25 juta. direksi memberikan tunjangan hari raya Tahun 2009 dan 2010 kepada bupati. • Di PDAM Kabupaten Banyuwangi. Penyebab 19. yaitu di antaranya dari PDAM Kabupaten Banyuwangi senilai Rp81.73 juta. • Di PDAM Lematang Enim.25 juta. 19. Provinsi Bali.26 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp241. • Di PDAM Kabupaten Karangasem. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menagih dan menyetorkan .

pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp2. Provinsi Sulawesi Tengah. terdapat tunggakan tagihan penjualan air Tahun 1993 s.65 miliar.20 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli. surat berharga. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. terdiri atas • sebanyak 2 kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp17. Provinsi Sumatera Selatan. aset dikuasai pihak lain secara tidak sah.89 miliar.205 kerugian yang terjadi ke kas daerah/PDAM.d.87 juta. • Di PDAM Kabupaten Poso.52 miliar. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya senilai Rp575. dan barang. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.18 19. jaminan pelaksanaan senilai Rp2.17 miliar. • sebanyak 2 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp119. 30 Juni 2010 tidak dilaksanakan secara optimal senilai Rp1. • Di PDAM Lematang Enim.39 juta.52 miliar atas kegiatan pengadaan barang pada Tahun 2009 dan 2010 tidak dikenakan sehingga risiko yang mungkin terjadi pada pelaksanaan pengadaan barang tidak terjamin. 30 Juni 2010 kepada masyarakat yang belum tertagih senilai Rp1. • sebanyak 1 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. 19. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 22 kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah di PDAM senilai Rp13.d. Provinsi Sulawesi Tengah.19 . dan • sebanyak 15 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp10. dan penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan. 19.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau PDAM berupa uang. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi di PDAM meliputi permasalahan rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan hasil pengadaan yang rusak selama masa pemeliharaan.85 miliar. memberikan teguran dan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. Potensi Kerugian Daerah pada PDAM 19. penagihan piutang ragu-ragu dan tak tertagih Tahun 2009 s. yang nyata dan pasti jumlahnya.52 juta.

Penyebab 19. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.89 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah atau penyerahan aset senilai Rp8.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah atau potensi kerugian di PDAM tersebut. Kekurangan Penerimaan 19.206 19.25 19. Rekomendasi 19.05 juta. • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp643.24 Kekurangan penerimaan daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. membuat aturan tentang pemberian sanksi kepada pelanggan yang menunggak. dan • sebanyak 2 kasus pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan senilai Rp108. belum ada aturan yang mengatur tentang pemberian sanksi bagi pelanggan yang lalai. penggunaan langsung penerimaan daerah.07 miliar. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan.26 .21 Dari 22 kasus potensi kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi di PDAM senilai Rp13. pelaksana kegiatan belum optimal dalam melakukan penagihan. terdiri atas • sebanyak 22 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp2. dan pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan.82 miliar. serta menegur pelaksana dan manajemen untuk lebih cermat dalam melaksanakan tugasnya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 26 kasus mengenai kekurangan penerimaan senilai Rp2. PDAM tetapi tidak atau belum masuk ke kas PDAM karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. lebih intensif dalam melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah berkenaan dengan pelunasan piutang.60 juta oleh PDAM Kabupaten Banyuwangi. 19. meningkatkan pengawasan dan pengendalian. serta kurangnya pengawasan oleh manajemen.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana kegiatan tidak tegas dan cermat dalam melaksanakan ketentuan.41 juta.

d. • Di PDAM Kota Makassar. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara/daerah atau PDAM. Administrasi 19. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. Provinsi Papua. Selain itu. November 2010 senilai Rp639. pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan. tidak menghambat program entitas.32 . proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan. Provinsi Sulawesi Selatan. kekurangan penerimaan. Penyimpangan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.59 juta. tidak mengurangi hak negara/daerah/PDAM. Rekomendasi 19.27 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. pembentukan cadangan 19.28 Dari 26 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp2.02 miliar tidak dikembalikan ke kas PDAM serta sebagiannya dipinjamkan ke berbagai pihak dan digunakan untuk kegiatan tidak terkait operasional PDAM. • Di PDAM Kota Makassar. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. 19.29 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena ketidakcermatan dan kelalaian manajemen dalam pelaksanaan tugas. Penyebab 19. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa menyetorkan kekurangan penerimaan ke kas negara/daerah/PDAM.82 miliar telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp17. serta memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku. belum dipungut dan disetorkan ke kas daerah PPN atas pendapatan non air Tahun 2009 senilai Rp512.41 juta belum disetorkan ke kas daerah. • Di PDAM Kabupaten Jayapura.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut.207 19. belum menyetorkan pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Tahun 2008 dan 2009 senilai Rp329. Provinsi Sulawesi Selatan.04 juta pada PDAM Kota Makassar.31 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset maupun operasional perusahaan. potongan tunjangan perusahaan dan tunjangan transport sejak Juli 2003 s.

penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.27 miliar berlarut-larut sehingga tunggakan biaya bunga dan denda yang . Provinsi Sulawesi Tengah. terdiri atas • sebanyak 13 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan. 19. • sebanyak 12 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). penerimaan aset berupa pembangunan instalasi produksi. dan distribusi air bersih yang dibiayai dari Program Dana Stimulus TA 2009 pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM-SDA) Kabupaten Donggala senilai Rp9. • Di PDAM Kabupaten Donggala. 19. • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Provinsi Sulawesi Tengah. • sebanyak 11 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/ perusahaan.208 piutang. • Di PDAM Kabupaten Poso. kewajiban pembayaran hutang PDAM Poso kepada pemerintah pusat senilai Rp7. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. dan • sebanyak 7 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah. transmisi. dan kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.55 miliar tidak didukung dengan serah terima antara Pemerintah Kabupaten Donggala dan PDAM. • sebanyak 1 kasus pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan.33 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 66 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi. • sebanyak 15 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya. • sebanyak 1 kasus pembentukan cadangan piutang. • sebanyak 2 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah. • sebanyak 2 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. perhitungan amortisasi tidak sesuai ketentuan.34 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.

36 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut.35 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya koordinasi antara manajemen dengan pemerintah pusat dan pemerintah derah. Kelompok temuan ketidakhematan pada pemeriksaan operasional PDAM terjadi karena adanya pemborosan uang perusahaan.209 harus dibayar semakin besar. Provinsi Sulawesi Selatan. • Di Kota Makassar. serta manajemen melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi.79 miliar. Provinsi Sulawesi Selatan. biaya pengadaan dan pemasangan pipa pengantar (transmisi) menuju pabrik gula PT Makassar Te’ne Tahun 2008 lebih mahal dari harga pasar dan sisa pipa tidak terpasang yang harus dibeli oleh PDAM Kota Makassar mengakibatkan pemborosan keuangan perusahaan senilai Rp2. BPK telah merekomendasikan agar manajemen dan pelaksana kegiatan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. serta manajemen tidak mampu mengelola perusahaan dan memenuhi kewajiban perusahaan kepada pemerintah pusat. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Selain itu. kuantitas/ kualitas yang melebihi kebutuhan. Kondisi cash flow PDAM Poso hanya cukup untuk menutup biaya operasional bulanan. Provinsi Jawa Timur.37 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. Penyebab 19. penyertaan Pemerintah Kabupaten Kediri ke PDAM Kabupaten Kediri juga belum ditetapkan statusnya senilai Rp2. • Di PDAM Kota Makassar.10 miliar. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. manajemen dan pelaksana kegiatan tidak cermat dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.80 miliar yaitu kasus pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga.39 . bukti pertanggungjawaban biaya promosi Tahun 2009 dan 2010 menunjukkan biaya promosi digunakan untuk kerjasama sponsorship dengan Persatuan 19. Ketidakhematan 19. Rekomendasi 19. penyertaan modal pemerintah pusat ke PDAM Kabupaten Kediri belum ditentukan statusnya senilai Rp8. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 28 kasus ketidakhematan senilai Rp46.38 19. • Di PDAM Kabupaten Kediri.34 miliar.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 42 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp6. pemberian tunjangan representasi kepada pegawai Tahun 2009 s. Provinsi Bali. • Di PDAM Kota Denpasar. • sebanyak 1 kasus pemanfaataan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan senilai Rp1.210 Sepakbola Makassar (PSM) senilai Rp2. Di samping membantu PSM dari anggaran biaya promosi. terdiri atas • sebanyak 7 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukkan senilai Rp3. yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan.43 19. Rekomendasi 19. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.41 telah Terhadap kasus-kasus ketidakhematan tersebut. 19. Ketidakefektifan 19. memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bersalah sesuai ketentuan yang berlaku.36 miliar. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi dan pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. pada Tahun 2010 PDAM juga membantu PSM senilai Rp42.42 Temuan mengenai ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome). Juni 2010 senilai Rp1.44 . menghentikan pembayaran tunjangan representasi dan penganggaran biaya promosi.d. BPK merekomendasikan agar entitas yang diperiksa dalam pelaksanaan tugas memperhatikan ketentuan yang berlaku.78 miliar tumpang tindih dengan pemberian tunjangan pelaksana. Penyebab 19.50 juta dari anggaran belanja bantuan. serta melakukan upaya penanggulangan kebocoran.40 Kasus-kasus tersebut diantaranya terjadi karena manajemen lalai dan tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku.48 miliar. kegiatan penanggulangan kebocoran belum berjalan secara efektif serta pelaksana kegiatan lalai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.00 juta.90 miliar dan bantuan kepada PSM tanpa perjanjian kerjasama sponsorship senilai Rp334.54 miliar.

45 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Juni 2010 digunakan tidak sesuai dengan tujuan penggunaannya senilai Rp1. air yang didistribusikan kepada pelanggan tidak dapat dijamin aman bagi kesehatan masyarakat atau konsumen. Penyebab 19.48 . cadangan dana meter Tahun 2009 s. Akibatnya. Rekomendasi 19.62 miliar.47 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. pengujian yang sudah dilaksanakan belum mencakup keseluruhan sumber air yang digunakan. Selain itu. Provinsi Sulawesi Tengah. • Di PDAM Kabupaten Tolitoli.62 miliar. 19. • Di PDAM Kabupaten Donggala. Provinsi Sulawesi Tengah.d.211 • sebanyak 27 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp1. dan • sebanyak 6 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp68. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. serta melakukan negosiasi untuk meninjau kembali isi perjanjian sehingga menguntungkan kedua belah pihak.82 juta.46 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kelalaian manajemen dan pelaksana dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud. 19. pemeriksaan kualitas air belum dilaksanakan secara rutin dan berkala. BPK telah merekomendasikan agar memberi sanksi kepada manajemen dan pelaksana atas kelalaiannya.

212 .

4 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. Oleh karena itu. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20. Hasil Pemeriksaan 20. Objek pemeriksaan tersebut adalah RSUD Pirngadi Medan. Adapun temuan pemeriksaan senilai Rp19. RSUD Dr. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. 20. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. Dr. Dr.1 Pada Semester II Tahun 2010. Z. RSUD Dr. H.68 miliar atau 2. Kupang. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim askes terlambat diklaim senilai Rp15. Ryacudu Kotabumi. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. M.74 miliar. W.3 Cakupan pemeriksaan atas operasional lima RSUD adalah senilai Rp854. serta 5 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. Adnaan WD Payakumbuh. dan RSUD Prof. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional rumah sakit umum daerah (RSUD) dengan jumlah objek pemeriksaan sebanyak lima RSUD. W.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk • menilai tingkat efektivitas sistem pengendalian intern (SPI) atas kegiatan operasional RSUD.33 miliar. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Johannes Kupang. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan.5 Hasil pemeriksaan atas operasional RSUD menunjukkan adanya 38 kasus kelemahan SPI yang terdiri dari 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. Johannes. Z.58 miliar dari realisasi anggaran senilai Rp989.213 BAB 20 Operasional Rumah Sakit Umum Daerah 20. RSD Mayjen H.30% dari cakupan pemeriksaan. dan • menilai apakah pengelolaan operasional RSUD terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan belanja telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Tujuan Pemeriksaan 20. 27 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. . • Di RSUD Prof.

6 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pimpinan dan dokter RSUD lalai dalam mematuhi ketentuan dan peraturan di lingkungan RSUD. potensi kerugian daerah (atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).95 miliar tidak dilaporkan dalam Laporan Keuangan Tahun 2010. Bandar Lampung.35 6.072. Penyebab 20. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional RSUD No.34 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian yang terjadi pada RSUD Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada RSUD Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan 20.1. • Di RSUD Dr. H. kekurangan penerimaan. . ketidakhematan.1.977. Abdul Moeloek.60 70. administrasi.9 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. satuan pengawas intern rumah sakit belum melaksanakan tugas secara optimal. Adnaan WD Payakumbuh. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 42 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 43. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pihak yang bersalah atas kelalaiannya tidak mematuhi ketentuan dan meningkatkan pengawasan.531. sisa kas pengelolaan per 31 Agustus 2010 senilai Rp1. Sumatera Barat.68 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 20.10 19. Rekomendasi 20. Kelompok Temuan Jml Kasus 10 1 17 19 1 13 Jumlah 61 Nilai (juta Rp) 3.47 9.680.214 • Di RSUD Dr.8 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah (atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD).7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. dan ketidakefektifan meliputi 61 kasus senilai Rp19. Kepatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 20.80 28. Tabel 20. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian pimpinan RSUD.

12 . 20.15 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pemeriksa barang tidak cermat dalam menjalankan tugasnya dan direktur RSUD lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan kegiatan.24 juta.87 juta. surat berharga.53 miliar. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp23.69 juta. kelebihan pembayaran pada pelaksanaan pengawasan pekerjaan lanjutan pembangunan gedung rawat inap kelas III TA 2009 senilai Rp412. kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. • sebanyak 2 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp2.10 Kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp102. 20. Ryacudu Kotabumi.11 20. 20.63 miliar. • Di RSUD Dr. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp101.53 miliar. Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada RSUD di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang.215 Kerugian Daerah/Kerugian yang Terjadi pada RSUD 20.67 juta. • Di RSD Mayjen H. • sebanyak 3 kasus kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp676. dan barang. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 10 kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3.13 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.14 Dari sejumlah kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp3. dan spesifikasi barang/ jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. barang hasil pengadaan alat kesehatan dan kedokteran TA 2009 tidak memiliki izin edar senilai Rp2.61 miliar. Abdul Moeloek Bandar Lampung. dan • sebanyak 1 kasus kerugian lainnya yang merupakan kerugian yang belum di proses TGR senilai Rp13. Penyebab 20. H. M. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.52 juta. Pirngadi Medan.52 juta oleh rekanan pada RSUD Dr.

dan • pimpinan entitas yang diperiksa memberikan sanksi yang tegas kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.21 Terhadap kasus tersebut.18 20.16 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada RSUD tersebut. BPK telah merekomendasikan agar • kerugian yang terjadi disetor ke kas RSUD melalui mekanisme pengenaan ganti kerugian daerah sesuai ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD yaitu piutang pasien rawat inap pada RSUD Dr.17 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada RSUD 20. surat berharga. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian.35 juta tersebut. Kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada RSUD senilai Rp28. 20. 20. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah.216 Rekomendasi 20. yang nyata dan pasti jumlahnya. Adnaan WD Payakumbuh menunggak sampai dengan Juni 2010 senilai Rp28.23 . Penyebab 20. Adnaan WD Payakumbuh. Rekomendasi 20. RSUD tetapi tidak atau belum masuk ke kas perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas RSUD senilai Rp2. Adnaan WD Payakumbuh untuk lebih proaktif dalam melakukan penagihan piutang.19 Kekurangan Penerimaan 20.35 juta.22 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi. BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis Direktur Utama RSUD Dr. dan barang.38 juta oleh pasien RSUD Dr.20 Kasus-kasus tersebut terjadi karena RSUD kurang optimal dalam melakukan penagihan.

52 miliar. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. penerimaan dari retribusi pelayanan kesehatan TA 2010 dan penerimaan dari kegiatan tes kesehatan TA 2009 dan 2010 digunakan langsung masing-masing senilai Rp184.02 juta.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). Ryacudu Kotabumi.24 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 17 kasus kekurangan penerimaan senilai Rp6. tagihan Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) Pemerintah Kota Bandar Lampung TA 2009 dan 2010 senilai Rp3.44 miliar belum dibayar dan belum diperhitungkan denda minimal senilai Rp161. terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp5. Rekomendasi 20. dan penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. Penyebab 20. . serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas penerimaan RSUD.217 20.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. H.07 miliar. Abdul Moeloek Bandar Lampung. • Di RSD Mayjen H. • Di RSUD Dr. pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan entitas yang diperiksa segera menagih pokok dan bunga rekening bank atas dana jamkesmasda kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung. Administrasi 20.39 juta dan Rp364. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah.26 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana tidak cermat dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas pengelolaan retribusi pelayanan rumah sakit. melaporkan penerimaan dan pengeluaran secara bruto.28 juta.28 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel. Pelaksana lalai dan pimpinan RSUD kurang optimal melakukan pengawasan serta pengendalian atas penggunaan langsung dari penerimaan RSUD. 20. M.63 juta. dan • sebanyak 2 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp549.

• sebanyak 3 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan RSUD menegur pelaksana RSUD yang lalai dan lebih meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai pelayanan kesehatan TA 2009 senilai Rp3. Penyebab 20. • Di RSUD Dr. Johannes Kupang. • sebanyak 1 kasus pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran. dll. 20. perpajakan. Dr. H. Ketidakhematan 20.33 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. . W. • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah. • sebanyak 5 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara). pertambangan. Z. Rekomendasi 20. terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama.30 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 19 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan penyimpangan administrasi.218 20. pendapatan retribusi pelayanan kesehatan dari klaim Askes TA 2009 dan Semester I TA 2010 terlambat disetor ke kas daerah senilai Rp16.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pelaksana RSUD lalai dalam memedomani peraturan dan pimpinan RSUD lemah dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Abdul Moeloek Bandar Lampung.95 miliar.32 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. dan • sebanyak 2 kasus penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. • Di RSUD Prof.61 miliar dilaksanakan mendahului kontrak.

BPK telah merekomendasikan agar Walikota Payakumbuh menegur secara tertulis direktur utama RSUD untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pengadaan obat di lingkungan RSUD.46 juta. Adnaan WD Payakumbuh tidak sesuai formularium senilai Rp70. Ketidakefektifan 20. yaitu pengadaan obat TA 2009 di instalasi farmasi RSUD Dr.47 juta.97 miliar. Penyebab 20. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp9. dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.37 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. Selain itu. 20. Rekomendasi 20. PPK. serta direktur utama lemah dalam melakukan pengawasan dan pengendalian kegiatan RSUD. terdiri atas • sebanyak 4 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp944.35 Kasus-kasus tersebut terjadi karena kepala instalasi farmasi. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. • sebanyak 5 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. dan • sebanyak 2 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp159. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan. • sebanyak 2 kasus Pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp8.38 20.36 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.34 Kelompok temuan ketidakhematan meliputi penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar. dan PPTK tidak mematuhi formularium dalam pengadaan obat. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.219 20. BPK juga telah merekomendasikan agar direktur utama menegur kepala instalasi farmasi.00 juta.87 miliar. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.39 . PPK. dan PPTK untuk melakukan pengadaan obat sesuai dengan formularium RSUD. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan.

41 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena pejabat yang bertanggung jawab lalai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.42 kasus-kasus ketidakefektifan tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. Dr. Rekomendasi 20.66 juta belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan. BPK telah Terhadap merekomendasikan agar memberikan sanksi kepada pejabat yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku.220 20. Johannes Kupang senilai Rp495. 20. Z. W.40 Kasus-kasus tersebut di antaranya adalah pengadaan software dan hardware sistem informasi manajemen rumah sakit (SIM RS) Tahap II pada RSUD Prof. Penyebab 20.43 .

Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR) Tanggo Rajo. Sulawesi Utara. penempatan dana dan/atau investasi lainnya. dan sumber dana. Poso. . BPD Jawa Tengah. Hasil Pemeriksaan 21.221 Bab 21 Operasional Bank Daerah 21.4 Salah satu tujuan pemeriksaan atas operasional bank adalah untuk menilai SPI dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. kegiatan kredit. serta penyelesaian kredit macet atau non performing loan (NPL). Oleh karena itu. yaitu Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Barat.2 Tujuan pemeriksaan yang hendak dicapai adalah untuk menilai apakah • sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas baik terhadap laporan keuangan maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian. PD BPR Kab. Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya.1 Pada Semester II Tahun 2010. PT BPD Nusa Tenggara Timur. Luwuk. Bantul. BPK telah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) atas operasional bank pada 10 bank daerah. Tolitoli. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 21. • entitas yang diperiksa dalam melaksanakan pengelolaan pendapatan dan biaya. serta pengadaan barang dan jasa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan keuangan tertentu. PT Bank Nusa Tenggara Barat. Tujuan Pemeriksaan 21. hasil pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. dan PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang di Palu. di dalam IHPS ini digunakan istilah kasus yang merupakan bagian dari temuan. PD BPR Kab. PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov. Setiap temuan dapat terdiri atas satu atau lebih kasus. dan Parigi Moutong. Buol. dan • entitas yang diperiksa telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Sleman.3 Hasil pemeriksaan BPK dituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan dinyatakan dalam sejumlah temuan. investasi. PT Bank Kalimantan Tengah.

• Di PT Bank NTB tidak memiliki pedoman penatausahaan asuransi.7 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena tidak adanya fitur nilai taksasi dalam sistem online integrated banking systems (OLIBS) yang digunakan sehingga nilai taksasi jaminan tidak diperhitungkan di dalam perhitungan PPAP. Bantul. memerintahkan bagian sistem informasi untuk menambahkan fitur dalam sistem OLIBS yang memungkinkan penginputan nilai taksasi jaminan dalam rangka perhitungan PPAP. membuat SOP mengenai penatausahaan asuransi.8 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut. pengelolaan jaminan kredit/agunan senilai Rp4. dan • sebanyak 44 kasus kelemahan struktur pengendalian intern. 21. kekurangan penerimaan.5 Hasil pemeriksaan atas operasional bank menunjukkan adanya 91 kasus kelemahan SPI. Rekomendasi 21.9 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. • Di PD BPR Kab. administrasi.04 miliar dalam pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit karena tidak mempertimbangkan agunan sebagai pengurang. pelaksana tidak melakukan pengamanan yang memadai atas jaminan yang diserahkan.6 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Penyebab 21. melakukan pengecekan fisik pada saat menerima agunan.222 21. terdiri atas • sebanyak 6 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan. selisih pencatatan per 30 September 2010 senilai Rp1. • Di Bank Sulawesi Utara. serta pengendalian oleh atasan langsung. tidak adanya SOP mengenai penatausahaan asuransi dan lemahnya pengawasan.56 miliar tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 21. serta ketidakefektifan meliputi 55 kasus senilai . • sebanyak 41 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan peringatan kepada pihak yang lalai tidak memedomani ketentuan yang berlaku. ketidakhematan. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.

dan pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Potensi Kerugian Daerah/ Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada Bank Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Bank Daerah Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 7 15 8 18 1 6 55 1.1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.13 .416.764. 21.497. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp775.50 13. 21.52 38. dan barang.1.10 Penjelasan masing-masing kelompok temuan tersebut diuraikan sebagai berikut. • sebanyak 1 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp90. Tabel 21.223 Rp58. spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi.727. Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21. Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional Bank No.11 Kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah kerugian nyata berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang.41 miliar yang dapat dilihat pada Tabel 21.22 21.633. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tujuh kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian yang terjadi pada bank daerah senilai Rp1.39 2. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 45 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 46.12 Kelompok temuan kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah di antaranya meliputi permasalahan kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang.49 miliar.792. surat berharga.86 juta. belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan.98 juta.88 1. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan.91 58.

17 Terhadap kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut. kelalaian dalam melaksanakan perhitungan dan pembayaran tunjangan transpor. pemberian tunjangan transport kepada pejabat/pegawai yang melaksanakan kegiatan perjalanan dinas pada Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan keputusan direksi mengakibatkan kerugian senilai Rp211. . • Di PT Bank Sulawesi Utara.87 juta. 21.98 juta.00 juta.14 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.16 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena ketidakmampuan rekanan dalam menyelesaikan pembangunan gedung.62 juta. Penyebab 21. memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai dalam melaksanakan tugas. Rekomendasi 21. penyaluran pinjaman tanpa melalui prosedur perkreditan perbankan. • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp101. BPK telah merekomendasikan agar direksi mengembalikan kerugian yang terjadi di bank daerah. pelaksanaan pembangunan gedung kantor PT Bank Sulut yang diselesaikan pada Tahun 2009 tidak sesuai kontrak mengakibatkan kerugian atas kekurangan fisik pekerjaan senilai Rp775.34 juta. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. serta lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. dan • sebanyak 1 kasus pengembalian pinjaman/piutang macet senilai Rp235.224 • sebanyak 2 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp115. 21.15 Terhadap kerugian yang telah terjadi pada bank daerah tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas PT Bank Kalimantan Tengah senilai Rp540 ribu yaitu oleh pegawai yang melakukan perjalanan dinas tidak sesuai ketentuan. • sebanyak 1 kasus spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak senilai Rp178.70 juta.

• Di PT Bank Sulawesi Tengah. surat berharga.18 Potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan daerah berupa uang. • sebanyak 11 kasus piutang/pinjaman yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp33. dan barang.11 miliar. yang nyata dan pasti jumlahnya. dan • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp1.19 21. kredit hapus-buku tidak didukung dengan dokumen yang lengkap mengakibatkan potensi kredit tidak dapat tertagih sejak Tahun 1987 pada KCU dan Kantor Cabang Parigi minimal senilai Rp15. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan.225 Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Bank Daerah 21.46 miliar mengakibatkan PT Bank Sulteng sampai dengan 22 November 2010 tidak memperoleh jaminan yang memadai atas pengembalian dana kredit yang telah disalurkan dan berpotensi mengalami kerugian. • sebanyak 2 kasus pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.63 miliar.50 juta. pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. jaminan kredit tidak dalam penguasaan PT Bank Sulteng atas fasilitas kredit senilai Rp3. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 15 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp38. Selain itu.23 miliar. 21. • Di PT Bank Sulawesi Tengah. terdiri atas • sebanyak 1 kasus kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya senilai Rp445.21 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.20 . pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan senilai Rp3. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan. Kelompok temuan potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah meliputi permasalahan kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/ jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya.83 miliar.03 miliar. 21.

• Di PT Bank Sulut. pajak penghasilan atas premi asuransi purna jabatan kepada direksi dan dewan komisaris Tahun 2009 dan 2010 belum diperhitungkan dan disetorkan ke kas negara senilai Rp1. bank daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah atau BUMD karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.12 juta oleh rekanan BPD Jawa Tengah. penyelesaian pembangunan gedung kantor Bank Jateng Cabang Slawi Tahun 2010 terlambat dari waktu yang telah ditetapkan dan belum dikenakan denda keterlambatan senilai Rp368. dan meningkatkan pengawasan dan pengendalian.26 21. 21.226 Penyebab 21. memerintahkan para kepala cabang untuk melengkapi jaminan para debitur.64 miliar.79 miliar. • Di PT BPD Jateng.22 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan baik dalam pemberian kredit maupun pelunasannya.27 . 21. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.75 juta. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat delapan kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah senilai Rp2. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung. Kekurangan Penerimaan 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi tegas kepada pihak yang tidak memedomani prinsip kehati-hatian perbankan. Kelompok temuan kekurangan penerimaan meliputi permasalahan penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau terlambat dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/bank daerah. Rekomendasi 21.25 21.23 Terhadap kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada bank daerah tersebut.28 Atas kekurangan penerimaan tersebut sebagian telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas BPD Jawa Tengah dan kas daerah senilai Rp223.24 Kekurangan penerimaan adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.

• sebanyak 3 kasus proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). dll. dan • sebanyak 1 kasus penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan. penyelesaian pekerjaan dan melakukan pembinaan. • Di BPR Kabupaten Bantul. 21. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya 18 kasus mengenai ketidakpatuhan terhadap peraturan yang mengakibatkan masalah administrasi.32 .31 Kelompok temuan administrasi meliputi permasalahan pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). 21.227 Penyebab 21. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa melakukan pemungutan dan penyetoran atas kekurangan penerimaan pajak dan denda keterlambatan. kemampuan rekanan pelaksana dalam melaksanakan kegiatan pembangunan gedung kantor tidak memadai. dan perpajakan. penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan.33 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut.29 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena entitas yang diperiksa lalai tidak memperhatikan ketentuan perpajakan. Administrasi 21.30 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 21. • Di PD BPR Bank Sleman. pengadaan barang inventaris/pekerjaan Tahun 2009 dan 2010 tidak sesuai dengan pedoman pengadaan barang/jasa yang berlaku. prosedur penghapusan piutang macet TB 2009 dilaksanakan tidak melalui prosedur analisis yang memadai. dan lemahnya pengawasan dan pengendalian oleh atasan langsung dan pemimpin kegiatan. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah). terdiri atas • sebanyak 2 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). pertambangan. perpajakan.. • sebanyak 12 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perbankan.

39 Terhadap kasus ketidakhematan tersebut.228 Penyebab 21. Kelompok temuan ketidakefektifan meliputi permasalahan hasil pengadaan barang/jasa belum/tidak dapat dimanfaatkan. dan direktur utama dalam penghapusbukuan agar memperhatikan prosedur yang berlaku.35 Terhadap kasus-kasus administrasi tersebut. Rekomendasi 21. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.41 .34 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena panitia pengadaan tidak melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.38 Kasus tersebut terjadi karena RUPS belum pernah menetapkan standar jenis dan jumlah kendaraan dinas bagi dewan komisaris dan direksi sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasar PT BPD Bank Jateng. 21. Kelompok temuan ketidakhematan meliputi permasalahan pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga.72 miliar yang merupakan pemborosan keuangan BPD Jawa Tengah atas pemberian fasilitas kendaraan dinas kepada dewan komisaris dan direksi PT Bank Jateng pada Tahun 2010 yang belum sesuai ketentuan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya satu kasus ketidakhematan senilai Rp1. harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu dan kondisi yang sama. pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. pelayanan kepada masyarakat tidak optimal.40 Suatu temuan dikatakan tidak efektif apabila terdapat temuan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. Rekomendasi 21.36 Suatu temuan dikatakan tidak hemat apabila penggunaan input dengan harga atau kualitas/kuantitas melebihi kebutuhan. BPK telah merekomendasikan agar RUPS menetapkan standar fasilitas kendaraan dinas untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPD Bank Jateng. dan kelalaian direktur utama dalam melakukan hapus buku kredit macet tidak memedomani peraturan yang telah ditetapkan. BPK telah merekomendasikan agar entitas yang diperiksa memberikan sanksi kepada pejabat yang lalai mematuhi ketentuan yang berlaku. 21. Ketidakhematan 21. Penyebab 21. fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai.37 Ketidakefektifan 21.

d. pengadaan aset tetap tanah yang dilakukan pada Tahun 2007 untuk Kantor Cabang Pembantu Grabag BPD Jawa Tengah senilai Rp484.76 miliar.42 Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya enam ketidakefektifan senilai Rp13.50 juta.46 . terdiri atas kasus mengenai • sebanyak 1 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp484. • Di PT BPD NTT di Surabaya.52 miliar.43 Kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. BPK telah merekomendasikan agar direksi PT BPD NTT segera memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya dan BPD Jawa Tengah melakukan analisis kebutuhan atas lahan yang dibeli dan menindaklanjuti hasil analisis tersebut. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. 21. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai senilai Rp2.75 miliar.229 21. 31 Agustus 2010) rugi senilai Rp2. • Di BPD Jawa Tengah. Penyebab 21. 21.52 miliar. kinerja kantor cabang di Surabaya tidak mencapai target dan Tahun Buku 2010 (s.50 juta belum dimanfaatkan. Rekomendasi 21. • sebanyak 1 kasus pelayanan kepada masyarakat tidak optimal senilai Rp10. • sebanyak 1 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.45 Terhadap kasus-kasus ketidakefektifan tersebut.44 Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi karena kurangnya upaya Direksi PT BPD NTT dalam memenuhi kebutuhan sumber daya di Cabang Surabaya terutama SDM pemasaran bidang pendanaan dan perkreditan serta sarana prasarana kantor dan pejabat yang berwenang tidak konsisten melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan.

230 .

3 Sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. pengendalian biaya. Perusahaan Daerah Aneka Usaha Kalimantan Barat. 22. BPK telah melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas operasional Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada sebelas entitas yaitu PT Perkebunan Sumatera Utara.2 Hasil Pemeriksaan 22. PD Natuna. Secara umum tujuan pemeriksaan pada sebelas BUMD tersebut untuk • menilai apakah sistem pengendalian intern (SPI) dari entitas dalam pelaksanaan kegiatan dan pengamanan kekayaan telah memadai. dan • mendeteksi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang dapat berdampak material terhadap pengelolaan pendapatan. sebagaimana disajikan dalam Lampiran 47. PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS). Operasional BUMD mencakup pengelolaan pendapatan. 34 kasus kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 22. dan pengamanan aset.93 miliar sehingga nilai akun dalam laporan keuangan lebih catat dan kurang catat.1 Pada Semester II Tahun 2010. PT Pengembangan Investasi Riau. • memberikan keyakinan yang memadai atas tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pengelolaan BUMD. Perusda Karimun Kepri. terdapat kesalahan pencatatan pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2009 (audited) senilai Rp4. Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Kalimantan Timur. dan 33 kasus kelemahan struktur pengendalian intern.4 Hasil pemeriksaan atas operasional BUMD mengungkapkan adanya 87 kasus kelemahan SPI yang terdiri atas 20 kasus kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan.231 BAB 22 Operasional Badan Usaha Milik Daerah Lainnya 22. dan PD Praja Karya Maluku. Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. PD Pasar Surya Jawa Timur. PT Jatim Grha Utama. Provinsi Kepulauan Riau. kegiatan investasi. hasil pemeriksaan atas operasional BUMD dapat dikelompokkan pada temuan yang berkaitan dengan SPI dan temuan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.5 . • Di Perusda Natuna. pengendalian biaya. kerjasama kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama. dan kegiatan investasi. 22.

Ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan meliputi 86 kasus senilai Rp44.13 miliar sebagaimana disajikan dalam Tabel 22. Kalimantan Barat.073. Provinsi Jawa Timur.73 15.402.232 • Di Perusda Aneka Usaha.58 .379.32 16. Perusda Aneka Usaha Tahun 2010 tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan operasional perusahaan dan kerugian akumulasi minimal mencapai senilai Rp5. potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. serta lemahnya pengawasan dari pimpinan. terdapat investasi Tahun 2007 dan 2008 senilai Rp4. serta pimpinan meningkatkan pengawasannya. kekurangan penerimaan. Tabel 22.835. menyusun perjanjian kerjasama dan melakukan pembayaran investasi. Kelompok Temuan Jumlah Kasus Nilai (juta Rp) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 2 3 4 5 6 Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Potensi Kerugian Daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Jumlah 8 16 16 24 9 13 86 2. Penyebab 22.00 miliar dalam perjanjian kerjasama dengan PT WS pada pekerjaan pembangunan jalan akses Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) belum memberikan hasil. • Di PT Grha Utama.8 Selain kelemahan SPI.47 8. administrasi.1.53 1.24 miliar.Kelompok Temuan Pemeriksaan atas Operasional BUMD No. ketidakhematan dan ketidakefektifan. Rekomendasi 22. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pelaksana lebih cermat dalam melaksanakan tugas. Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 22. Rincian per jenis temuan dapat dilihat pada Lampiran 48 serta rincian per entitas dapat dilihat pada Lampiran 49. hasil pemeriksaan operasional BUMD juga mengungkapkan adanya ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangundangan yang mengakibatkan kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah.6 Kasus-kasus kelemahan SPI disebabkan karena pelaksana tidak bekerja secara cermat dan teliti.133.52 44. kurang cermat dalam membuat perjanjian dan melakukan pembayaran investasi.7 Terhadap kasus-kasus kelemahan SPI tersebut.442.1.

Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Daerah 22.16 miliar. kelebihan pembayaran tunjangan direksi pada TB 2009 dan 2010 (per 30 Juni 2010) senilai Rp437. serta tidak berpedoman pada ketentuan yang berlaku dalam menentukan tunjangan yang dapat diberikan kepada direksi.35 juta. dan belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan. 22.16 miliar. Provinsi Jawa Timur. • Di PD Pasar Surya.233 22. • Di PT Jatim Grha Utama. kekurangan volume fisik pekerjaan pada pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan Pasar Induk Modern Agribisnis (PIMA) Tahun 2010 senilai Rp1. dan • sebanyak 1 kasus belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan senilai Rp437.9 Kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah adalah kerugian nyata dan pasti jumlahnya berupa berkurangnya kekayaan daerah atau perusahaan berupa uang. Provinsi Jawa Timur.07 miliar.12 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. terdiri atas • sebanyak 2 kasus kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang senilai Rp1. yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.35 juta.14 Kasus-kasus kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah terjadi karena pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya.10 Kelompok temuan kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi di perusahaan milik daerah) di antaranya meliputi kekurangan volume pekerjaan.11 .16 juta. pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda.71 juta. Penyebab 22. oleh rekanan kepada PT Jatim Grha Utama.16 miliar.13 Dari total kasus kerugian yang terjadi pada perusda senilai Rp2. dan barang. 22.07 miliar di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas perusda senilai Rp1. 22. surat berharga. penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi. • sebanyak 2 kasus penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi senilai Rp122. • sebanyak 3 kasus pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan senilai Rp344. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat delapan kasus mengenai kerugian daerah atau kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp2.

234 Rekomendasi 22. • sebanyak 1 kasus penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan senilai Rp485. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai potensi kerugian daerah atau potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp15.30 miliar dan jaminan keagenan senilai Rp20. pembelian aset yang berstatus sengketa.49 juta. • Di PD Melati Bhakti Satya. Kasus-kasus potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) yaitu adanya aset dikuasai pihak lain.44 miliar. • sebanyak 1 kasus pembelian aset yang berstatus sengketa. • sebanyak 2 kasus aset tidak diketahui keberadaannya Rp417. . yang nyata dan pasti jumlahnya.18 • sebanyak 5 kasus piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp7. terdiri atas • sebanyak 6 kasus aset dikuasai pihak lain senilai Rp6.19 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 22. 22. aset tidak diketahui keberadaannya. Provinsi Kalimantan Timur. surat berharga.76 miliar. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah senilai Rp100. dan barang.37 juta. penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain. piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih.79 juta.15 Terhadap kasus kerugian daerah (termasuk kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) tersebut.00 juta pada PT B Airlines yang sudah ditutup tidak dapat dicairkan. serta rekanan mempertanggungjawabkan kerugian yang terjadi dengan cara menyetor ke kas perusahaan daerah.16 Potensi kerugian daerah (termasuk potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah) adalah adanya suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang.67 miliar. senilai 22. BPK telah merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dan pengawas lapangan lebih cermat melaksanakan tugasnya.17 22. terdapat aset yang dikuasai pihak lain TB 2009 yaitu deposito senilai Rp5.

22 Kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah adalah adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah dhi.63 miliar. Rekomendasi 22. Penyebab 22.61 miliar. belum membuat standar operating procedure (SOP) terkait penatausahaan piutang/pinjaman. BPK telah merekomendasikan kepada perusda agar membuat langkah-langkah untuk mengembalikan bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. dan • sebanyak 1 kasus penggunaan langsung penerimaan daerah senilai Rp196.d.00 miliar.21 Atas kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah. PT Perkebunan Sumatera Utara kurang 22.20 Kasus-kasus potensi kerugian daerah yang terjadi pada perusahaan milik daerah disebabkan karena perusda kurang mengupayakan pengembalian bilyet deposito yang dikuasai oleh pihak lain. Kekurangan Penerimaan 22.16 juta. terdapat pengelolaan piutang usaha tidak tertib sehingga menimbulkan saldo piutang usaha per 20 Juni 2010 tidak tertagih senilai Rp4. 2009 senilai Rp4.25 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. serta lemah dalam melakukan pengawasan. • Di PT Perkebunan Sumatera Utara. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 16 kasus mengenai kekurangan penerimaan daerah atau perusahaan milik daerah senilai Rp16.23 22. perusahaan daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah/perusahaan daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap peraturan.83 miliar yang terdiri atas • sebanyak 15 kasus penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan/dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah senilai Rp16. Pada umumnya kasus-kasus kekurangan penerimaan meliputi penerimaan daerah/perusahaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah dan penggunaan langsung penerimaan daerah. Selain itu. dan membuat SOP terkait dengan penatausahaan piutang/pinjaman serta segera menyelesaikan piutang/ pinjaman yang belum tertagih. kurang membayar dividen kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atas hasil usaha TB 2005 s. Provinsi Kepulauan Riau. 22. kepada bupati agar memerintahkan direksi untuk lebih cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.235 • Di Perusda Natuna. pimpinan perusahaan tidak cermat dalam melakukan perjanjian dan pinjaman.24 .

memperhitungkan kekurangan pembayaran kompensasi dan denda keterlambatan kepada investor dan segera menyetorkan ke kas perusahaan. pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.30 . • Di PD Pasar Surya. tidak mengurangi hak negara/daerah/perusahaan daerah (kekurangan penerimaan) tidak menghambat operasional/program entitas dan dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.28 Temuan administrasi mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset. Provinsi Jawa Timur.00 juta dan denda keterlambatan senilai Rp418. penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan barang milik daerah. serta lemah dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan segera menyetorkan sisa dividen hasil usaha kepada pemerintah daerah.70 juta kepada PD Pasar Surya.236 melakukan pemotongan pajak PPh Pasal 21 TB 2009 dan 2010 minimal senilai Rp1.26 Kasus-kasus kekurangan penerimaan disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak mengacu pada keputusan RUPS dan dewan komisaris dalam melakukan pembayaran dividen. tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan adanya suatu kerugian atau potensi kerugian. • sebanyak 4 kasus penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atas barang milik daerah. Kasus-kasus penyimpangan yang bersifat administratif meliputi pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). dll. penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti perpajakan. belum mengenakan denda atas keterlambatan pembangunan. serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian. Rekomendasi 22. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 24 kasus mengenai penyimpangan administrasi terdiri atas • sebanyak 10 kasus pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid). 22. kepemilikan aset tidak/ belum didukung bukti yang sah dan lain-lain.27 Terhadap kasus-kasus kekurangan penerimaan tersebut. investor (CV CJL) pembangunan Pasar Kupang Gunung Tahun 2008 belum melaksanakan kewajiban berupa penerimaan kompensasi senilai Rp425.07 miliar dan penetapan tarif pajak tidak sesuai dengan ketentuan. Penyebab 22.29 22. Administrasi 22.

• Di PD Praja Karya.36 .75 miliar.32 Kasus-kasus penyimpangan administrasi disebabkan karena pimpinan perusahaan tidak menaati ketentuan yang berlaku dalam pembagian laba (dana komitmen). pengeluaran belanja TB 2008 senilai Rp129.74 juta tidak memiliki dasar hukum yang kuat.34 Temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar. dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. • sebanyak 2 kasus kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah.237 • sebanyak 6 kasus penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat sembilan kasus ketidakhematan berupa kasus pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga senilai Rp1. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan membatalkan pembagian laba yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan meminta pemegang saham untuk menyetorkan kembali dana (dividen) komitmen yang telah dibayarkan. Provinsi Kepulauan Riau. 22. serta menyusun sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan.35 22. Ketidakhematan 22. pembagian laba kepada pemerintah provinsi dan kabupaten TB 2007 dan 2008 tidak sah dan melanggar ketentuan senilai Rp1. Penyebab 22. kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan. pertambangan. dan belum menerapkan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan perusahaan. 22. Kasus-kasus tersebut di antaranya terjadi di Perusda Karimun. Rekomendasi 22. Provinsi Maluku. Provinsi Riau. • sebanyak 1 kasus pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah.31 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. dll.46 juta tidak didukung bukti yang lengkap.40 miliar. yaitu pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan kepada direksi dan pegawai Perusda Kabupaten Karimun senilai Rp711.33 Terhadap kasus-kasus penyimpangan administrasi tersebut. dan • sebanyak 1 kasus lain-lain administrasi. perpajakan. • Di PT Pengembangan Investasi Riau (PT PIR).

40 22. kerjasama pembangunan gedung Pasar Manukan Kulon Tahun 2005 senilai Rp4. barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan. serta fungsi instansi yang tidak optimal sehingga tujuan organisasi terhambat.60 juta.39 Temuan ketidakefektifan berorientasi pada pencapaian hasil (outcome) yaitu temuan yang mengungkapkan adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil pengadaan barang/jasa tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan tidak tercapai. 22. Provinsi Jawa Timur. Pada umumnya kasus-kasus ketidakefektifan yaitu adanya penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan. • Di PD Pasar Surya. 22.86 miliar tidak dapat diselesaikan oleh pihak investor sehingga tidak ada kepastian penyelesaian pembangunan dalam rangka revitalisasi Pasar Manukan Kulon dan potensi penerimaan PD Pasar Surya tidak optimal/terlambat.238 Penyebab 22. dan • sebanyak 3 kasus fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi dan fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai. • sebanyak 3 kasus pelaksanaan kegiatan terlambat/terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi senilai Rp6.37 miliar terdiri atas • sebanyak 2 kasus penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan senilai Rp271.48 miliar. • sebanyak 5 kasus barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan senilai Rp1.42 Kasus-kasus tersebut di antaranya sebagai berikut. Rekomendasi 22.38 kasus-kasus ketidakhematan tersebut.62 miliar.37 Kasus-kasus ketidakhematan di antaranya disebabkan karena direksi belum memahami sepenuhnya ketentuan yang berlaku dalam pemberian tunjangan dan insentif.41 . Ketidakefektifan 22. BPK telah Terhadap merekomendasikan antara lain agar direksi menghentikan pembayaran insentif komunikasi dan kerajinan. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 13 kasus mengenai ketidakefektifan senilai Rp8.

22.86 juta. pelaksanaan kerjasama antara Perusda Natuna dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga bangunan gedung pengolahan kelapa dan pengolahan ikan tidak termanfaatkan senilai Rp970. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. serta melakukan koordinasi terkait dengan hak dan kewajiban dalam pengelolaan aset.44 Atas kasus-kasus ketidakefektifan. Rekomendasi 22.239 • Di Perusda Natuna. dan pimpinan perusahaan tidak melaksanakan koordinasi dengan pihak ketiga berkaitan dengan hak dan kewajiban yang telah disepakati dalam pengelolaan aset.45 . Penyebab 22. BPK telah merekomendasikan antara lain agar pimpinan perusahaan memberikan sanksi dan peringatan kepada investor yang telah melakukan wanprestasi dan meninjau kembali kerjasama tersebut.43 Kasus-kasus ketidakefektifan di antaranya disebabkan investor tidak serius dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian yang telah disepakati. Provinsi Kepulauan Riau.

240 .

1 Selain tema-tema pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang diuraikan pada bab-bab sebelumnya.58 303.E. BI. delapan objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah dan dua objek pemeriksaan di lingkungan BUMN.241 BAB 23 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Lainnya 23.264.62 848. dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo).33 7. • Di 18 kuasa pengguna anggaran (KPA).531.1.20 285. Martadinata seluas 653.1 di bawah ini. Cakupan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu lainnya Entitas Yang DIperiksa (1) Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah BUMN Jumlah Cakupan Pemeriksaan (miliar Rp) (2) 275. amblasnya sisi utara Jalan R.751. prosedur yang disepakati bersama–penelitian atas tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 pola channeling dalam rangka risk sharing antara pemerintah.03 Total Temuan (miliar Rp) (3) 528.50 2.94 15. dalam Semester II Tahun 2010 BPK juga melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada 31 objek pemeriksaan meliputi 21 objek pemeriksaan di lingkungan pemerintah pusat.19 0. Cakupan pemeriksaan atas 31 objek pemeriksaan tersebut. pengelolaan belanja subsidi dan belanja lain-lain (BSBL) TA 2009 dan Semester I TA 2010 yang disajikan dalam satu laporan hasil pemeriksaan (LHP) dan BSBL pada 17 KPA lainnya yang masing-masing disajikan dalam LHP tersendiri.3 23. rinciannya adalah sebagai berikut. disajikan pada Tabel 23.515.62 4. dana bagi hasil TA 2009 dan Semester I TA 2010. • Di Kementerian Keuangan. • Di Kementerian Pekerjaan Umum. • Di Bank Indonesia (BI).42 m².2 Pemerintah Pusat 23.14 % Temuan (4)= 3/2 x100% 0.3 Dua puluh satu objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat.18 0. Direktorat Jenderal Bina Marga TA 2010. . Tabel 23.

4 Hasil pemeriksaan atas 21 objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah pusat menunjukkan 88 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp528. sehingga terdapat penerimaan negara bukan pajak sumber daya alam (PNBP SDA) senilai Rp1. pengadaan barang dan jasa senilai Rp57. penatausahaan dan pencatatan realisasi penerimaan belum memungkinkan dilakukannya identifikasi penyetor secara tepat waktu dan tepat jumlah. Atas kasus-kasus kerugian negara dan kekurangan penerimaan tersebut. dan benih mengakibatkan kelebihan belanja subsidi Tahun 2009 senilai Rp1.242 23. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp111.81 miliar. • Di Kementerian Keuangan.57 triliun dianggarkan pada BA BSBL termasuk di antaranya digunakan untuk biaya operasional entitas yang belum memiliki bagian anggaran sendiri. terdapat tunggakan KUT TP 1998/1999 Pola Channeling tanpa disertai sertifikat penjaminan Perum Jamkrindo senilai Rp1. kekurangan penerimaan.99 miliar merupakan belanja fiktif atau kelebihan belanja yang tidak dikembalikan. di antaranya senilai Rp6. a.90 triliun yang diperhitungkan dalam pembayaran subsidi tahun berikutnya. ketidakhematan. potensi kerugian negara. belanja yang sifatnya berulang dan tidak mendesak senilai Rp2. administrasi. dan LPP RRI. • KPA tidak tertib melaksanakan belanja lain-lain di antaranya. 23. • BUMN operator belum sepenuhnya memenuhi ketentuan mengenai penagihan dan penyaluran subsidi BBM. b. LPP TVRI.37 miliar tidak didukung bukti yang lengkap dan valid.5 23. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. • Di sepuluh KPA. listrik. di antaranya sebagai berikut. • Di BI.48 triliun yang belum diperhitungkan dalam bagi hasil ke daerah Tahun 2009. pupuk.92 triliun.94 miliar meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara. dan ketidakefektifan.06 juta oleh Ditjen Bina Marga Kementerian PU. terdapat kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak mengakibatkan kelebihan pembayaran senilai Rp28.6 . Di 13 KPA. Di sembilan KPA.

administrasi.65 miliar. • Di Provinsi Bengkulu.10 . • Di Provinsi Kalimantan Barat. pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIII TA 2010. • Di Kota Pekanbaru. dan ketidakefektifan. potensi kerugian daerah. di antaranya sebagai berikut. Atas temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyetoran uang ke kas daerah senilai Rp1. Provinsi Riau. ketidakhematan. telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas daerah senilai Rp1. • Di Kota Pekanbaru. • Di Kabupaten Muaro Jambi. terdapat pembayaran belanja yang tidak tersedia anggarannya sehingga pengeluaran tersebut tidak mempunyai dasar hukum dan berindikasi kerugian keuangan daerah senilai Rp2. Provinsi Riau.32 miliar. • Di Provinsi Aceh.7 Delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah. 23. Provinsi Jambi. Provinsi Riau. 2008. pengelolaan perhitungan fihak ketiga (PFK) pemerintah TA 2007. program swasembada pangan dan pengelolaan saluran irigasi tersier TA 2008 dan 2009. mengakibatkan indikasi kerugian keuangan daerah senilai minimal Rp3. dan Kabupaten Halmahera Tengah. • Di Kota Pekanbaru.07 miliar. Provinsi Gorontalo. pengelolaan kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010. 23. rinciannya adalah sebagai berikut. Provinsi Maluku Utara. dan 2009. Atas kasus-kasus kerugian daerah tersebut.79 miliar oleh Sekretariat Kota Pekanbaru dan Pemda Bengkulu.58 miliar yang meliputi ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian daerah.9 23. • Di Kabupaten Bone Bolango. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan. kekurangan penerimaan. penggunaan dana STAR-SDP pada inspektorat daerah untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009.8 Hasil pemeriksaan atas delapan objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan pemerintah daerah menunjukkan adanya 53 kasus ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku senilai Rp15. pengelolaan bantuan keuangan pemerintah daerah se-Kalimantan Barat untuk pendirian dan pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2003 sampai Juli 2010.243 Pemerintah Daerah 23. kekurangan kas tidak dapat dijelaskan secara akuntabel oleh Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru.

17 miliar atas proyek kerjasama pengembangan kebun kelapa sawit pola kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA). • Di PT Pertamina (Persero).d. regulator. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran pengadaan paket tabung gas LPG 3 kg dan pengadaan barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta menilai pelaksanaan kerjasama dengan pihak ketiga.11 Dua objek pemeriksaan dengan tujuan tertentu di lingkungan BUMN.244 • Di Provinsi Kalimantan Barat. Semester I Tahun 2009. terdapat kemahalan harga minimal senilai Rp881.d. yaitu kegiatan pengadaan barang dan jasa pada PT Pertamina (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero). • Di Provinsi Bengkulu.66 juta dan pajak belum disetor senilai Rp505.14 . Sedangkan PTPN XIV (Persero) meliputi kerjasama pihak ketiga dan pengadaan barang dan jasa Tahun 2007 s. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 23. di antaranya sebagai berikut. mekanisme pengelolaan penjualan stiker MTQN XXIII TA 2010 tidak memadai. Cakupan pemeriksaan pada PT Pertamina (Persero) meliputi kegiatan pengadaan paket tabung liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg yang terdiri dari pengadaan tabung LPG 3 kg. dan apabila dibandingkan dengan harga pengadaan impor mengakibatkan ketidakekonomisan senilai Rp135. 2009. Hasil pemeriksaan mengungkapkan temuan signifikan.62 miliar. pengadaan alat-alat laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2005 s. dan selang dalam rangka Program Konversi Minyak Tanah ke LPG Tahun 2007 s. • Di PT Pertamina (Persero).44 miliar. sehingga realisasi penerimaan penjualan stiker tersebut tidak dapat ditelusuri kewajarannya dan terdapat indikasi kekurangan penerimaan senilai Rp712.37 juta. 23.d. 2009.34 juta. kompor.d.12 23.15 Laporan hasil pemeriksaan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu lainnya secara lengkap dapat dilihat pada softcopy LHP dalam cakram padat terlampir. terdapat harga pengadaan tabung LPG 3 kg dalam negeri Tahun 2008 s.13 23. 23. adanya adendum kontrak pengadaan tabung LPG 3 kg Tahun 2007 mengakibatkan ketidakhematan senilai Rp37. • Di PTPN XIV (Persero). 2009 yang melebihi ketetapan preferensi harga Menteri Perindustrian. kekurangan penerimaan pendapatan senilai Rp3.

. suatu temuan pemeriksaan memuat saran/ rekomendasi mengenai penagihan atas kelebihan bayar atau denda yang belum dipungut dan hasil penagihan/pemungutan harus disetor ke kas negara/daerah.245 HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT Memenuhi amanat Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 Pasal 20. Sebaliknya. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dan memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan semesteran. Selanjutnya BPK menelaah jawaban atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak lanjut rekomendasi telah dilakukan sesuai dengan rekomendasi BPK. diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah/perusahaan pada entitas yang bersangkutan. apabila bukti tindak lanjut rekomendasi tidak diterima dan/atau baru diterima sebagian. maka dalam IHPS dimuat data pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat. rekomendasi. BPK menatausahakan laporan hasil pemeriksaan dan menginventarisasi temuan. Pimpinan entitas yang diperiksa wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima. Dengan demikian. Misalnya. Temuan-temuan pemeriksaan yang oleh BPK dinyatakan ditindaklanjuti sesuai saran/ rekomendasi adalah temuan-temuan pemeriksaan yang saran/rekomendasinya telah ditindaklanjuti secara nyata dan tuntas oleh pihak entitas yang diperiksa sesuai dengan saran/rekomendasi BPK. Dalam IHPS II Tahun 2010 disajikan hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 yang disajikan menurut entitas kementerian/lembaga/provinsi/kapubaten/kota/BUMN/ BHMN/KKKS. pemerintah daerah. Dalam rangka pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan ini. Adapun data hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut sebelum Tahun 2009 masih dalam proses rekonsiliasi. dan badan lainnya. BUMN. maka temuan pemeriksaan tersebut dinyatakan “telah ditindaklanjuti sesuai saran” jika entitas yang bersangkutan telah menyetor seluruh penagihan/pemungutannya ke kas negara/daerah dan BPK telah menerima dan memvalidasi bukti setor tersebut. status tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan dan nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah. maka temuan pemeriksaan yang bersangkutan dinyatakan sebagai “dalam proses ditindaklanjuti”. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.

1. objek yang direkomendasikan dalam sengketa di peradilan.05 miliar dan USD7. Adapun tindakan administratif biasanya berupa pemberian peringatan. mengembalikan/menyerahkan sejumlah aset ke negara/daerah atau dengan cara melengkapi pekerjaan/barang. force majeur. Adapun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjuti dengan penyerahan aset dan penyetoran ke kas negara/daerah dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 adalah senilai Rp1.15 ribu. pejabat menjadi tersangka dan ditahan.93 triliun dan USD53. yaitu: 1. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Pusat mengungkapkan bahwa dalam periode Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 85 kementerian/lembaga terdapat 8.34 triliun serta sejumlah valas. Adapun kriteria alasan sah sehingga rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti adalah : a. 2. Rekomendasi tidak dapat ditindaklanjuti secara efektif. rekomendasi BPK dapat ditindaklanjuti dengan cara penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dan/atau tindakan administratif. dan dari BUMN senilai Rp119. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas kementerian/lembaga disajikan pada Lampiran 50. Perincian setoran dari pemerintah pusat senilai Rp1. melengkapi bukti pertanggungjawaban dan perbaikan atas sebagian atau seluruh sistem pengendalian intern. 3. kebakaran dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tindak lanjut tidak dapat dilaksanakan. EUR11. pejabat menjadi terpidana. efisien dan ekonomis. revolusi.55 ribu. perubahan struktur organisasi. Status pemantauan hasil pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi dari Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24. 2. dan GBP17.00 ribu.246 Sesuai Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2010. b. teguran dan/atau sanksi kepada para penanggungjawab dan/ atau pelaksana kegiatan. dan GBP17. Penyelamatan uang/aset ke negara/daerah dilakukan dengan cara menyetorkan sejumlah uang ke kas negara/ daerah.82 miliar dan USD4.251 rekomendasi senilai Rp27.78 ribu. Secara umum. c.94 ribu.00 triliun dan USD42. kerusuhan. . bencana alam. status pemantauan tindak lanjut rekomendasi ditambahkan satu jenis lagi yaitu status “Tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah”. subjek atau objek rekomendasi dalam proses peradilan: 1.78 ribu. pemogokan. EUR11.55 ribu. perubahan regulasi. Tindakan administratif juga dapat berupa tindakan koreksi atas penatausahaan keuangan negara/daerah. kemudian dari pemerintah daerah senilai Rp807. yaitu suatu keadaan peperangan.79 ribu.

95% Belum Sesuai Rekomendasi/Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 3.251 Nilai Rp27.109 Rp9. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.37 EUR 11.49% 25.003.00 triliun. Grafik 24. dan sebanyak 3.03 AUD 334. EUR11.102.38 Jml 3.945.93 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.42 USD 42.109 rekomendasi atau 25. .41 Dari tabel di atas.55 JPY 266.131 atau 37.1 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai USD 12.56% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.68 USD 313.464.87 JPY 266.821.011 Nilai Rp12.187.247 Tabel 24.131 Nilai Rp4.78 Jml 3.19 GBP 17.55 GBP 17. sedangkan sebanyak 2.347.354.23 USD 359.1.37 EUR 11.19 Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/ daerah Nilai Rp1.95%.55 ribu dan GBP17.78 ribu.131 rekomendasi senilai Rp4.014.082.082.55 GBP 17.852. Presentase rekomendasi yang telah ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (37.011 rekomendasi atau 36.33 USD 326.56% 37.78 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 8. Dari 3.938.064.78 2.227.95%) menunjukkan pemerintah pusat telah memperhatikan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK.15 ribu. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara/penyerahan aset ke negara senilai Rp1.15 EUR 11.49% belum ditindaklanjuti. Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Pusat Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 36. USD42.77 AUD 334.

280 Nilai Rp22. dan sebanyak 26.583.578 Nilai Rp17. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.00 ribu. Grafik 24. Dari 24.2 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Sesuai dengan Rekomendasi 39.280 rekomendasi atau 39. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara senilai Rp807.792.72% Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti 24. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.248 Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Daerah mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 secara keseluruhan dari 508 pemerintah daerah terdapat 66.075 rekomendasi atau 24.35 USD 466.957.02% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.00 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 16.64 USD 2.79 triliun yang ditindaklanjuti sesuai saran.75 Dari tabel di atas. Rincian hasil pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan pada pemerintah daerah disajikan pada Lampiran 51.578 atau 36. sedangkan sebanyak 16.075 Nilai Rp27. .00 Jml 66.933 - Nilai Rp68.2.578 rekomendasi senilai Rp17.11 USD 4.26% 36.2 : Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada Pemerintah Daerah Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Jml 24.11 USD 473.13 USD 4.82 miliar dan USD4.633.821.91 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atau perusahaan negara/ daerah Rp807.228.02% Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 24.827.009.933 rekomendasi senilai Rp68.26% belum ditindaklanjuti.00 triliun serta USD473.75 ribu.83 Belum Ditindaklanjuti Jml 26. Tabel 24.72 %.635.

75 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan Rp119.50 SGD 1.320.056. dan sebanyak 820 rekomendasi atau 56.97% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.994. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.320.26%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada pemerintah daerah atau bahkan ada yang belum disampaikan.74 SGD 1.897.55% belum ditindaklanjuti.75 EUR 8.11 USD 230. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 145 BUMN mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 1.450 Nilai Rp7.60 Belum Ditindaklanjuti Jml 820 Nilai Rp5.60 Sesuai dengan Rekomendasi Jml 297 Nilai Rp806. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.3 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 297 atau 20. Tabel 24.884.3.408.291.523.3 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BUMN Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Jml 1.450 rekomendasi senilai Rp7.31 USD 7. sedangkan sebanyak 333 rekomendasi atau 22. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas BUMN disajikan pada Lampiran 52.75 EUR 8.99 triliun serta sejumlah valas.12 USD 604.17 USD 835. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.326.657. Dari 297 rekomendasi . Grafik 24.79 - Dari tabel di atas.055.48%.93 Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 333 Nilai Rp1.275.249 Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (39.

30 Belum Ditindaklanjuti Jml 37 Nilai Rp580. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (56.67% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut. Dari pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan dapat dijelaskan bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak satu rekomendasi atau 8.250 senilai Rp 806.65%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada BUMN atau bahkan ada yang belum disampaikan. . Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada BHMN Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas satu BHMN yaitu Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) mengungkapkan bahwa bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 12 rekomendasi.90 SGD 5. di antaranya telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke perusahaan BUMN senilai Rp119. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Tabel 24.005. Status pemantauan pelaksanaan tindak lanjut Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam Lampiran 52. Hal ini menunjukkan bahwa BP Migas masih kurang dalam menindaklanjuti rekomendasi BPK.35 USD 74.23 USD 150. Rincian hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan menurut entitas KKKS disajikan pada Lampiran 52. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.33% dan sebanyak 11 rekomendasi atau 91.59 SGD 5. jika status pemantauan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan Tahun 2009 dan Tahun 2010 disajikan dalam grafik adalah sebagai berikut.4 : Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 Rekomendasi Jml 76 Nilai Rp4.51 - Dari tabel di atas. Hasil Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan pada KKKS Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan atas 67 KKKS mengungkapkan bahwa dalam Tahun 2009 dan Tahun 2010 terdapat 76 rekomendasi senilai Rp4.00 miliar serta sejumlah valas.27 miliar yang ditindaklanjuti sesuai saran.05 miliar serta sejumlah valas. Tabel 24.4 .581.30 Status Pemantauan Tindak Lanjut Belum Sesuai Rekomendasi/ Dalam Proses Tindak Lanjut Jml Nilai 18 Rp2.59 USD 73.53 USD 1.048.780.17 - (dalam juta rupiah dan ribu valas) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/perusahaan - Sesuai dengan Rekomendasi Jml 21 Nilai Rp676.748.

sedangkan sebanyak 18 rekomendasi atau 23.63%.251 Grafik 24. dan sebanyak 37 rekomendasi senilai atau 48. . belum ada yang telah ditindaklanjuti dengan penyerahan aset/penyetoran ke kas negara/perusahaan.68%) karena sebagian rekomendasi tersebut baru saja disampaikan kepada KKKS atau bahkan ada yang belum disampaikan. Presentase jumlah rekomendasi yang belum ditindaklanjuti terlihat lebih dominan (48. Hal ini karena pemeriksaan Semester II Tahun 2010 baru saja diselesaikan.68% belum ditindaklanjuti.4 Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan KKKS Tahun 2009 dan Tahun 2010 (dalam % Jumlah Rekomendasi) Dari tabel dan grafik pemantauan pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan di atas terlihat bahwa jumlah rekomendasi yang telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi sebanyak 21 rekomendasi atau 27.68% belum sesuai rekomendasi/dalam proses tindak lanjut.53 juta serta sejumlah valas yang ditindaklanjuti sesuai saran. Dari 21 rekomendasi senilai Rp676.

252 .

92% dan sejumlah valas.040 entitas. pelaksanaan penyelesaian ganti kerugian negara/daerah terhadap: −− bendahara. pegawai negeri bukan bendahara dan pihak ketiga.28 miliar dan sejumlah valuta asing (valas) dan tingkat penyelesaian (angsuran dan pelunasan) sebanyak 2. Kerugian negara/daerah yang dipantau pada kurun waktu tahun 2009-2010 adalah sebanyak 4. Sasaran Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah meliputi: • • kepatuhan instansi untuk membentuk Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah (TPKN/D). maupun yang berindikasi kerugian negara/daerah dari hasil pemeriksaan BPK dan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) yang harus segera diproses penyelesaiannya oleh instansi yang bersangkutan. Selain itu BPK juga memantau kerugian negara/daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK maupun hasil pemeriksaan Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). dan −− pihak ketiga yang telah ditetapkan oleh pengadilan. −− pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain oleh pemerintah. • proses penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang belum dapat ditetapkan. Pemantauan kerugian negara/daerah mencakup kerugian negara/daerah yang disebabkan kesalahan bendahara. Pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah yang telah ditetapkan oleh BPK dan pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.76% dari keseluruhan sebanyak 2. Gambaran Umum Cakupan entitas yang telah dipantau pada Semester II Tahun 2010 adalah 648 entitas atau sebesar 31.30 miliar atau 11.339 kasus senilai Rp108. kinerja dan administrasi penatausahaan kerugian negara/daerah. BPK diberikan kewenangan untuk memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh pemerintah. . Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah disusun berdasarkan laporan pemantauan dalam kurun waktu bulan Juli 2010 sampai dengan Januari 2011.253 HASIL PEMANTAUAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH Pendahuluan Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. pengelola BUMN/BUMD dan pengelola keuangan negara lainnya yang ditetapkan oleh BPK.302 kasus senilai Rp908.

015.73 USD 85.90 USD 212.640.17 Rp457.213.114.91 USD 228.55 USD 15.129.893.927.600.21 juta dengan tingkat penyelesaian baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 315 kasus senilai Rp62.871.81 505.78 USD 1.292.1 Penyelesaian Kerugian Negara pada Pemerintah Pusat TAHUN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUGIAN JML 1 207 92 300 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 8 146 292 446 NILAI 30.613.560.424.453.035.502.436.92 71 156 2.70 1 3.000.459.677.723.00 54.892.998.956.00 10.13 miliar dan USD228.846.689.335.998.493.640.700.844. Kerugian Daerah Pada Instansi Pemerintah Daerah Dan BUMD Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah pada instansi pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD) pada periode Tahun 2009 sampai Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.00 15. Tabel 25.899.06 USD 1.72 Rp3.70.009.16 USD 85.81 448.845.74 USD 15.973.00 468.509.823.58 691.531.764.459.673.463.97 USD 85.025.058.197.762.348.298.998.664.70 JML 1 171 72 244 2 111 156 269 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 9 353 384 746 764.31 82 Rp4.787.035. .251.978.756.709.446.72 USD 15.258.348.727.70 Rp54.507.035.481.58 186.03 Rp649.394.303.551.013.000.61 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 tidak terdapat kasus kerugian negara yang dilakukan oleh pengelola BUMN.877. Instansi Pusat Kasus kerugian negara pada pemerintah pusat yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009 .998.61 USD 228.00 826.333.157.206.057.872. Rincian Pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pemerintah pusat selama Tahun 2009 sampai Tahun 2010 adalah sebagai berikut.314.73 Rp712.223.43 94.431.624.013.845.004.00 Rp951.532.526.000.53 USD 15.900.81% dan USD1.935.419.87 JML 26 3 29 1 27 25 53 PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 856.281.163.481.581.966.893.752.057.103.671.281.70 Rp57.131.58 633.000.45 USD 228.254 Hasil Pemantauan Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Kerugian Negara Pada Instansi Pusat Dan BUMN Hasil pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada instansi pusat dan BUMN pada Semester II Tahun 2010 posisi per 31 Januari 2011 adalah sebagai berikut.92 Rp4.707.00 9.58 185.710.104.062.89 USD 212.116.823.86 Rp191.92 JML 36 20 56 6 35 136 177 PELUNASAN NILAI 2.219.207.17 USD 212.613.58 USD 228.754.334.43 3.202.352.803.86 Rp195.862.950.35 233 53 28 1.74 miliar atau 8.632.17 165.78 USD 1.87 Rp516.683.00 983.892.54 USD 85.318.316.155.2010 sebanyak 746 kasus senilai Rp712.035.409.424.00 9.254.550.447.791.287.388.909.197.997.00 6.717.128.00 19.353.156.846.43 3.560.035.00 3.44 734.367.026.72 596.367.00 3 282 228 513 SISA NILAI 30.06 USD 1.127.913.00 53.111.00 6 596.44 134.000.000.05 USD 212.214.057.700.194.

259.580.796.220.706.00 54.995.941.147 462 2.534.166.735.152 47 7 1.000.957.790.693.610.37 87.69 2.919.005.00 JML PELUNASAN NILAI 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2009 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH .00 16.350.660.00 154.852.095.783.837.947.60 23.255 Pemerintah Daerah Kasus kerugian daerah yang terjadi pada kurun waktu Tahun 2009-2010 yaitu sebanyak 3.572.540.00 7.010.644.00 107.268.450.00 miliar dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2.515.414.00 TOTAL KERUGIAN NILAI 1 1 2 2 1 2 3 46.725.681.580.516.350.202.450.45 80.34 1.470.810 (dalam rupiah) SISA NILAI 13.234 93.90 7.516.683.487.508.760.740.86 28.000.80 515.879 9.089.344.113.757.610.50 miliar atau sebesar 23.00 46.954.175.573.878.775.371.08 juta atau sebesar 34.345.033.00 54.596.019.00 16.918.872. Tabel 25.166.446.228.2 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada Pemerintah Daerah THN KEJADIAN 2010 SUBJEK KERUGIAN NEGARA/DAERAH TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI TOTAL KERUG NEGARA/ DAERAH JML 264 1.707.406 198 1.51 24.381.000.46 83.231.001.492.734 116.790.625.022 kasus senilai Rp45.22 385.576.440.876.238.860.326.440.23 27.00 36.992.656 2009+2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 362 1.521.58 10.512.281 14.237 697 15 2.332.764.869.751.046.610.380.746.00 6.820 40.414.610.739.578.740.795 645 8 2.992.326.938.790.68 2.00 1 1 1 1 16.00 37.502.000.595.905.32 83.342 734 15 3.892. Tabel 25.560 25.350.26 juta dengan penyelesaian ganti kerugian daerah baik angsuran maupun pelunasan sebanyak 2 kasus senilai Rp53.456.647 23.595.564.05 3.293.42 Sub Jumlah Sub Jumlah JUMLAH Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kasus kerugian daerah yang terjadi di BUMD dalam kurun waktu Tahun 2009-2010 terdapat kerugian daerah sebanyak 3 kasus senilai Rp154.034.367.735.089.595.987.580.580.00 27.357.000.199.00 36.220.61 20.915.076.00 207 2 252 57 340 87 7 491 100 547 89 7 743 532.91 799 6 835 43 353 41 7 444 73 1.49 2.634.431.457.440.96 PELUNASAN JML NILAI 43 245.855 107.340.580.488.938.449.928 38.418.553 NILAI 15.853.580.350.793.128.55 7.56 6.950.634 93.061.202.354.62 6.862. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian daerah selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.92 7.00 16.50 122.320.749.085 196.380 PEMBAYARAN ANGSURAN JML NILAI 30 1.345.626.50 150.945.40 21.00 JML PEMBAYARAN ANGSURAN NILAI 1 1 1 1 36.00 107.110.874.22%.735.00 46.735.400 39.239.26 2. Rincian pemantauan penyelesaian ganti kerugian negara pada BUMD selama Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2010 adalah sebagai berikut.38 JML 221 898 35 1.257.42 1.02 35.847.407.553 kasus senilai Rp196.3 Penyelesaian Ganti Kerugian Daerah pada BUMD TAHUN KEJADIAN SUBJEK KERUG.733.484.909.756.237.00 36.482.00 101.00 46.154 2009 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TDK DIKETAHUI 141 897 610 8 1.644.00 46.91 5.00 54.681.126.440.838.085 156.128.21 3.731.267.485.487.740.16 631.000.279 1.515.261.41 %.00 107.97 7.768. NEG/DAE JML 2010 TGR-BEND TGR-NON BEND PIHAK III SUBJEK TIDAK DIKETAHUI JUMLAH 2010 (dalam rupiah) SISA JML 1 1 1 1 1 1 2 NILAI 46.681.740.21 4.302.790.102.105 37 1.

meninggal. Kesulitan tentang identitas pribadi pihak yang bertanggung jawab misal karena pihak terkait tidak diketahui keberadaannya. Belum aktifnya kinerja TPKN/D. Belum maksimalnya koordinasi antara inspektorat dengan TPKN/D dalam menindaklanjuti penyelesaian ganti kerugian negara/daerah. Belum optimalnya dukungan pimpinan instansi atas keberadaan dan kinerja TPKN/D. Penanggung jawab tidak beritikad baik menyelesaikan/mengembalikan. hasil pengawasan/ pemeriksaan Bawasda. Pelaporan kerugian negara/daerah belum sesuai ketentuan. Jangka waktu penggantian tidak memperhatikan masa pensiun (taspen) sehingga tidak dapat tertagih setelah tidak aktif (pensiun). • • • • • • • • • • • • • . maupun dari BPKP (APIP). Belum tersusunnya database/daftar kerugian negara/daerah di masing-masing instansi. Proses penyelesaian berlarut-larut karena penanggung jawab tidak ada. Inspektorat Jenderal. Proses penilaian dan/atau penetapan kerugian negara belum sesuai dengan ketentuan. Belum optimalnya tindak lanjut oleh TPKN/D atas informasi indikasi kerugian negara/daerah baik yang berasal dari hasil pemeriksaan BPK. penanggung jawab tidak jelas identitasnya. Kasus kerugian tidak ditindaklanjuti sehingga memasuki masa daluwarsa. Permasalahan Dalam Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah Permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/daerah antara lain: • Belum terbitnya ketentuan tentang penyelesaian ganti kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain sehingga menimbulkan ketidakseragaman dalam penyelesaian atau pengenaan kerugian negara/daerah.256 Kerugian pada Badan Pengelola Keuangan Lainnya Pada Semester II Tahun 2010 belum terdapat data mengenai kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya pada badan pengelola keuangan lainnya seperti badan hukum milik negara (BHMN) dan badan layanan umum (BLU). Belum optimalnya pendokumentasian/administrasi berkaitan dengan data kerugian negara/daerah dan penyelesaiannya.

Kejaksaan.90%). dalam proses penelaahan. Sejak tahun 2003 BPK telah melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi unsur pidana kepada instansi yang berwenang yaitu Kepolisian Negara RI. mewajibkan BPK untuk melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung indikasi tindak pidana kepada instansi yang berwenang. Pimpinan instansi memberikan dukungan berkaitan dengan keberadaan dan kinerja TPKN/D. dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). bertanggung jawab tercapai. Tahun 2009 dan Tahun 2010.257 Rekomendasi Terhadap permasalahan yang muncul dalam penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah. penyidikan sebanyak 2 kasus (1. proses gelar perkara dan banding/kasasi. Sisa kasus sebanyak 97 kasus (92. Koordinasi internal dan eksternal untuk mencapai pemulihan kerugian negara/ daerah yang optimal.86%). akuntabel. jumlah laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK berindikasi tindak pidana yang telah disampaikan kepada instansi berwenang adalah sebanyak 105 kasus senilai Rp1. .38%) merupakan kasus yang belum ditindaklanjuti.95%). proses pengumpulan bahan dan koordinasi. penuntutan sebanyak 1 kasus (0. dan KPK) telah menindaklanjuti 8 kasus dalam proses peradilan. yaitu penyelidikan sebanyak 3 kasus (2. BPK merekomendasikan: • • • Pemerintah segera menerbitkan peraturan yang mengatur penyelesaian kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain. Pemahaman kepada pimpinan unit kerja tentang pentingnya pelaporan kerugian negara/daerah dalam rangka penyelesaian kerugian negara/daerah sehingga pemulihan kerugian negara/daerah sebagai wujud pengelolaan keuangan negara/daerah yang transparan.11 triliun dan USD11.90%). profesional. Rincian pemantauan hasil pemeriksaan BPK yang berindikasi kerugian/pidana dapat dilihat pada tabel berikut. pejabat dan pelaksana tugas penyelesaian kerugian negara/daerah. • • Hasil Pemantauan terhadap Hasil Pemeriksaan BPK Berindikasi Tindak Pidana/Kerugian Negara yang Disampaikan kepada Instansi yang Berwenang Ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Kerugian Negara. Kejaksaan. Pemberian pemahaman tentang pengenaan dan penyelesaian ganti kerugian negara kepada pimpinan.06 juta. Dari 105 kasus yang diserahkan tersebut. instansi yang berwenang (Kepolisian. putusan hakim sebanyak 2 kasus (1.

067.04 1.546.75 82.56 394.136.74 298.68 315.4 Pemantauan Hasil Pemeriksaan BPK yang Berindikasi Kerugian/Pidana (dalam juta rupiah dan ribu valas) Kasus No.463.00 11.112.19 216.258 Tabel 25.04 - 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 17 15 32 17 46 63 97 - 2 Kejaksaan Total Kejaksaan 2009 2010 20 15 35 22 46 68 105 3 KPK Total KPK TOTAL 2009 2010 *) Pelimpahan (Limpah) yaitu penyerahan penanganan kasus dari satu instansi yang berwenang ke instansi yang berwenang lainnya atau dari instansi yang berwenang pusat ke instansi vertikal dibawahnya sebelum proses penyelidikan.980.98 1.99 453.393.153.40 8.00 1.136.576.41 797. .834.50 402.19 16.150. Aparat Penegak Hukum Total Nilai (Rp) Total Nilai (USD) Dilimpahkan *) Penyelidikan Penyidikan Proses Hukum Penuntutan Lainlain Jumlah yang telah diserahkan 2 2 Tahun Total Temuan Vonis SP3 1 Polri Total Kepolisian 2009 2010 2 2 20 15 35 22 46 68 105 16.63 9.917.556.700.

Lampiran IHPS II Tahun 2010 .

Labuhanbatu Selatan Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 WTP WTP 1 WDP 1 WTP 1 WTP 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP TW 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 WTP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 10 14 1 WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP Entitas Pemerintah Daerah Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total Prov. Aceh Tenggara Kab. Aceh Besar Kab. Bener Meriah Kab.Halaman 1 . Aceh Utara Kab. Padang Lawas Kab. Aceh Tamiang Kab. Dairi Kab. Simalungun Kab. Serdang Bedagai Kab. Aceh Singkil Kab. Nias Barat Kab. Nagan Raya Kab. Samosir Kab. Nias Kab. Aceh Selatan Kab. Labuhanbatu Kab. Tapanuli Tengah Kab. Mandailing Natal Kab. Tapanuli Utara Kab. Gayo Lues Kab. Pidie Jaya Kab. Toba Samosir Kota Binjai 1 WDP 1 1 WDP TW 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP TW WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 1 1 TMP WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 TMP 13 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP TW 1 . Bireuen Kab. Nias Utara Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Prov. Humbang Hasundutan Kab. Karo Kab. Aceh Kab. Asahan Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Aceh Timur Kab. Pakpak Bharat Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Barat Daya Kab. Pidie Kab. Langkat Kab. Tapanuli Selatan Kab. Deli Serdang Kab.Lampiran 1a Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No 1 Prov. Nias Selatan Kab. Sumatera Utara Kab. Batubara Kab. Aceh Jaya Kab. Padang Lawas Utara Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Aceh Tengah Kab.

Kampar Kab. Riau Kab. Lima Puluh Kota Kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 92 93 94 95 96 97 98 Prov. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Prov.Halaman 2 . Kerinci Kab. Dharmasraya Kab.Lampiran 1a No 28 29 30 31 32 33 34 3 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 Total * TMP WDP TMP WDP WDP WDP Prov. Pasaman Kab. Rokan Hulu Kab. Merangin Kab. Pelalawan Kab. Bengkalis Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 TMP 1 1 WDP WDP 1 TMP 16 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 4 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Sumatera Barat Kab. Jambi Kab. Solok Selatan Kab. Mentawai Kab. Kuantan Singingi Kab. Pasaman Barat Kab. Indragiri Hulu Kab. Batanghari Kab. Solok Kab. Rokan Hilir Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Muaro Jambi Kab. Siak Kota Dumai Kota Pekanbaru 1 WDP 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 4 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 8 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 5 Prov. Sarolangun 1 WDP 10 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 1 WDP 2 12 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP 2 . Padang Pariaman Kab. Agam Kab. Kep. Indragiri Hilir Kab. Sijunjung Kab. Pesisir Selatan Kab. Bungo Kab. Kepulauan Meranti Kab.

Ogan Komering Ulu Timur Kota Lubuk Linggau Kota Pagar Alam Kota Palembang Kota Prabumulih 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 WDP 12 1 WDP 1 1 TW TW 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Kepahiang Kab. Lampung Kab. Empat Lawang Kab. Kaur Kab. Bengkulu Selatan Kab. Pesawaran Kab. Tulang Bawang Barat Kab. Sumatera Selatan Kab.Halaman 3 . Lebong Kab. Muara Enim Kab. Ogan Ilir Kab. Bengkulu Tengah Kab. Rejang Lebong Kab. Bengkulu Kab. Bengkulu Utara Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP 1 WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 No 8 9 10 11 12 6 99 100 101 102 103 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Way Kanan Kota Bandar Lampung Kota Metro 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP 1 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP 0 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 3 . Tanggamus Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Muko-Muko Kab. Tanjung Jabung Barat Kab. Lampung Selatan Kab. Mesuji Kab. Lampung Tengah Kab. Musi Rawas Kab. Musi Banyuasin Kab. Banyuasin kab. Lampung Timur Kab. Ogan Komering Ulu Kab. Tulang Bawang Kab. Tebo Kota Jambi Kota Sungai Penuh Total WDP WDP WDP WDP WTP Prov. Ogan Komering Ulu Selatan Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 Prov. Pringsewu Kab. Tanjung Jabung Timur Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 Prov. Lahat Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Prov. Seluma Kota Bengkulu 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 0 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 8 Prov. Lampung Utara Kab. Lampung Barat Kab.

Sumedang Kab. Kepulauan Riau Kab. Bekasi Kab. Bangka Belitung Kab. Lingga Kab. DKI 1 1 WDP 0 1 1 WDP 12 Prov. Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 155 156 157 158 159 160 161 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 9 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Jawa Barat Kab. Purwakarta Kab. Indramayu Kab. Bangka Kab. Bandung Kab. Tasikmalaya Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 WDP TMP 8 19 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 . Natuna Kota Batam Kota Tanjungpinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 11 Prov. Karimun Kab. Bintan Kab. Bangka Selatan Kab. Subang Kab. Cirebon Kab. Bangka Barat Kab. Belitung Kab. Bandung Barat Kab. Cianjur Kab. Garut Kab. Kuningan Kab. Bogor Kab. Ciamis Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 147 148 149 150 151 152 153 Prov.Halaman 4 . Belitung Timur Kota Pangkal Pinang 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 0 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 Prov. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Kepulauan Anambas Kab. Bangka Tengah Kab. Majalengka Kab. Sukabumi Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Prov. Karawang Kab.

Rembang Kab. Kebumen Kab. Blora Kab. Jawa Tengah Kab. Sukoharjo Kab. Pekalongan Kab. Sragen Kab. Karanganyar Kab. Tegal Kab. Temanggung Kab. Banyuwangi Kab. Purworejo Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Prov. D. Kendal Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 227 228 229 230 231 Prov. Brebes Kab.I. D. Klaten Kab. Jepara Kab. Bangkalan Kab. Jawa Timur Kab. Bantul Kab. Semarang Kab. Blitar Kab. Batang Kab. Wonosobo Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 2 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 Prov. Boyolali Kab.I. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 232 233 234 235 236 Prov. Purbalingga Kab. Banjarnegara Kab.Halaman 5 . Kulon Progo Kab. Grobogan Kab. Pemalang Kab. Yogyakarta Kab. Pati Kab. Sleman Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 0 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 No 13 Entitas Pemerintah Daerah Total Prov. Kudus Kab. Banyumas Kab. Magelang Kab. Cilacap Kab. Gunung Kidul Kab. Wonogiri Kab. Demak Kab. Bojonegoro 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 0 39 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 5 .

Pasuruan Kab. Tangerang Kota Cilegon Kota Serang Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 0 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 17 Prov. Sidoarjo Kab. Magetan Kab. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 280 281 282 283 284 285 Prov. Lamongan Kab. Bangli Kab. Badung Kab. Bondowoso Kab. Sumenep Kab. Kediri Kab. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Prov. Ngawi Kab. Mojokerto Kab. Sampang Kab. Bali Kab. Jembrana 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 0 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW 6 . Pandeglang Kab. Madiun Kab. Buleleng Kab. Nganjuk Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 No 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 16 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Jember Kab. Banten Kab. Lumajang Kab. Jombang Kab. Pamekasan Kab. Pacitan Kab. Probolinggo Kab. Ponorogo Kab. Malang Kab. Trenggalek Kab. Tulungagung Kota Batu Kota Blitar Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW Prov. Serang Kab. Gianyar Kab.Halaman 6 . Gresik Kab. Situbondo Kab. Lebak Kab. Tuban Kab.

Timor Tengah Selatan Kab. Nusa Tenggara Barat Kab. Lombok Utara Kab. Kalimantan Barat Kab. Ende Kab. Nagekeo Kab. Dompu Kab. Sabu Raijua Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 Prov. Pontianak Kab. Lombok Tengah Kab. Bengkayang Kab. Belu Kab. Ngada Kab. Lombok Barat Kab. Manggarai Timur Kab. Bima Kab. Lombok Timur Kab. Sumba Barat Daya Kab. Sumba Timur Kab. Karangasem Kab. Nusa Tenggara Timur Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 No 7 8 9 10 18 286 287 288 289 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Prov. Lembata Kab. Rote Ndao Kab. Sumbawa Kab. Manggarai Kab. Tabanan Kota Denpasar Total WDP WDP WDP WDP Prov. Landak Kab.Halaman 7 . Sikka Kab. Kubu Raya Kab. Klungkung Kab. Ketapang Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 Prov. Kupang Kab. Sambas 1 1 1 TW WDP WDP 1 1 WDP TW 1 TW 7 8 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP 7 . Melawi Kab. Manggarai Barat Kab. Kapuas Hulu Kab Kayong Utara Kab. Sumbawa Barat Kota Bima Kota Mataram 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 1 WDP 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Sumba Barat Kab. Alor Kab. Sumba Tengah Kab. Flores Timur Kab. Timor Tengah Utara Kota Kupang 1 WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 TMP 17 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP 1 TMP 4 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 20 Prov.

Barito Kuala Kab. Bulungan Kab. Sintang Kota Pontianak Kota Singkawang Total WDP TMP WDP WDP TW Prov. Kutai Kartanegara Kab. Tabalong Kab. Gunung Mas Kab. Kapuas Kab. Seruyan Kab. Sanggau Kab. Kotawaringin Barat Kab. Balangan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 WDP 1 TW TMP WDP 1 1 1 1 1 No 11 12 13 14 15 21 333 334 335 336 337 Entitas Pemerintah Daerah Kab.Halaman 8 . Tapin Kota Banjarbaru Kota Banjarmasin 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 TW TW WDP WDP WDP 1 WDP 10 1 WDP 1 WDP 4 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Tana Tidung Kota Balikpapan Kota Bontang 1 1 1 1 1 TW TW TW TMP WDP 1 WDP 9 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TW TMP TMP WDP 6 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP 8 . Malinau Kab. Lamandau Kab. Pulang Pisau Kab. Kutai Timur Kab. Murung Raya Kab. Berau Kab. Katingan Kab. Nunukan Kab. Kotawaringin Timur Kab. Kutai Barat Kab. Kalimantan Selatan Kab. Barito Selatan Kab. Sukamara Kota Palangkaraya 1 1 TW TW 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW 1 TMP 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW TW TMP TW TW 22 Prov. Kalimantan Timur Kab. Kotabaru Kab. Hulu Sungai Selatan Kab. Penajam Paser Utara Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 Prov. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 Prov. Tanah Laut Kab. Barito Timur Kab. Barito Utara Kab. Paser Kab. Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Prov. Sekadau Kab. Tanah Bumbu Kab. Hulu Sungai Tengah Kab. Kalimantan Tengah Kab. Hulu Sungai Utara Kab. Banjar Kab.

Luwu Timur Kab.Halaman 9 . Pangkajene dan Kepulauan Kab. Kep. Kepulauan Talaud Kab. Bolaang Mongondow Timur Kab. Poso Kab. Luwu Utara Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 Prov. Bolaang Mongondow Utara Kab. Kep. Barru Kab. Sigi Kab. Maros Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 Prov. Gowa Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 Prov. Sidenreng Rappang Kab. Donggala Kab. Tojo Una-Una Kab. Minahasa Selatan Kab. Toli-Toli Kota Palu 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 0 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Minahasa Tenggara Kab. Minahasa Kab. Minahasa Utara Kota Bitung Kota Kotamobagu Kota Manado Kota Tomohon 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 TW 1 1 1 1 1 WDP TW WDP TMP WDP 1 1 TW TMP 12 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 4 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW TMP WDP WDP WDP TW TW 25 Prov. Bone Kab. Luwu Kab. Parigi Moutong Kab. Pinrang Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 WDP TW 1 1 No 14 15 24 380 381 Entitas Pemerintah Daerah Kota Samarinda Kota Tarakan Total TW WDP Prov. Buol Kab. Bantaeng Kab. Sulawesi Selatan Kab. Kepulauan Sangihe Kab. Selayar Kab. Bolaang Mongondow Kab. Sinjai 1 1 1 WDP WDP WDP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 14 1 WDP 1 WDP 11 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 9 . Sulawesi Tengah Kab. Jeneponto Kab. Morowali Kab. Enrekang Kab. Siau Tagulandang Biaro Kab. Banggai Kepulauan Kab. Bolaang Mongondow Selatan Kab. Banggai Kab. Sulawesi Utara Kab. Bulukumba Kab.

Gorontalo Kab. Pohuwato Kota Gorontalo 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 0 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Gorontalo Utara Kab. Kolaka Utara Kab. Kepulauan Aru Kab. Takalar Kab. Tana Toraja Kab. Maluku Tenggara Kab. Boalemo Kab. Buru Kab. Bone Bolango Kab. Majene Kab. Konawe Selatan Kab.Halaman 10 . Toraja Utara Kab. Wakatobi Kota Bau-Bau Kota Kendari 1 1 1 1 TMP TW TMP WDP 1 TMP 1 TMP 1 TW 1 1 WDP TMP 1 WDP 1 TMP 8 1 TMP 1 TMP 5 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. Maluku Kab. Seram Bagian Timur Kota Ambon 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 0 9 1 1 1 TMP TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP 10 . Maluku Barat Daya Kab. Seram Bagian Barat Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 Prov. Mamasa Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 Prov. Polewali Mandar 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 5 1 WDP 1 WDP 1 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov. Mamuju Kab. Buru Selatan Kab. Konawe Utara Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Buton Utara Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 449 450 451 452 453 454 Prov. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 456 457 458 459 460 Prov. Bombana Kab. Maluku Tenggara Barat Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 No 18 19 20 21 22 23 24 25 27 427 428 429 430 431 432 433 434 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Wajo Kota Makassar Kota Palopo Kota Pare-Pare Total WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP Prov. Gorontalo Kab. Konawe Kab. Muna Kab. Sulawesi Barat Kab. Maluku Tengah Kab. Mamuju Utara Kab. Buton Kab. Soppeng Kab. Kolaka Kab.

Raja Ampat 1 TMP 1 1 TMP 1 WDP 2 7 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP * TMP 11 . Waropen Kab. Papua Kab. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 Prov. Paniai Kab.Halaman 11 . Mamberamo Raya Kab. Kepulauan Yapen Kab. Mimika Kab. Mamberamo Tengah Kab. Asmat Kab. Deiyai Kab. Pegunungan Bintang Kab. Nabire Kab. Halmahera Utara Kab. Puncak Jaya Kab. Manokwari Kab. Jayawijaya Kab. Lanny Jaya Kab. Dogiyai Kab. Supiori Kab. Nduga Kab. Halmahera Selatan Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 TMP 1 No 12 31 472 Entitas Pemerintah Daerah Kota Tual Total TMP Prov. Boven Digoel Kab. Yalimo Kota Jayapura 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 WDP 1 TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 9 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 13 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Tolikara Kab. Yahukimo Kab. Halmahera Timur Kab. Puncak Kab. Biak Numfor Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 513 514 515 516 517 518 Prov. Maluku Utara Kab. Halmahera Barat Kab. Mappi Kab. Jayapura Kab. Keerom Kab. Kepulauan Sula Kab. Pulau Morotai Kota Ternate Kota Tidore Kepulauan 1 TW 1 WDP 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Halmahera Tengah Kab. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 Prov. Intan Jaya Kab. Merauke Kab. Kaimana Kab. Papua Barat Kab. Maybrat Kab. Sarmi Kab. Fakfak Kab.

Tambrauw Kab. Sorong Selatan Kab. Teluk Bintuni Kab. Teluk Wondama Kota Sorong JUMLAH Total TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 12 . Sorong Kab.Lampiran 1a Dilaporkan pada Dilaporkan pada IHPS I 2010 IHPS II 2010 1 1 1 1 348 WDP 151 TMP TMP TMP 1 1 1 1 499 No 7 8 9 10 11 12 519 520 521 522 523 524 Entitas Pemerintah Daerah Kab.Halaman 12 .

Simalungun 1 WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 1 WDP TW TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 26 1 1 TMP WDP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP WDP WDP TMP TMP 27 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP TMP 29 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP * * TMP WDP TMP * TMP * TMP TMP WDP WDP WDP WDP 13 . Aceh Tamiang Kab. Aceh Tenggara Kab. Bener Meriah Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Prov. Mandailing Natal Kab. Labuhanbatu Utara Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Barat Daya Kab. Nagan Raya Kab. Sumatera Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Prov. Aceh Singkil Kab. Bireuen Kab. Labuhanbatu Kab. Padang Lawas Utara Kab. Aceh Utara Kab. Pidie Kab. Simeulue Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sabang Kota Subulussalam 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 18 22 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 22 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WTP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WTP WDP WTP WDP WTP WTP WTP WTP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WTP WDP WDP TW WTP WTP WTP WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov.Lampiran 1b Daftar Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2005 . Nias Selatan Kab. Deli Serdang Kab. 1 Prov.Halaman 1 . Pidie Jaya Kab. Aceh Besar Kab. Nias Barat Kab. Aceh Kab. Padang Lawas Kab. Humbang Hasundutan Kab. Batubara Kab.2009 No. Aceh Jaya Kab. Samosir Kab. Pakpak Bharat Kab. Dairi Kab. Labuhanbatu Selatan Kab. Serdang Bedagai Kab. Nias Kab. Karo Kab. Asahan Kab. Nias Utara Kab. Sumatera Utara Kab. Aceh Timur Kab. Langkat Kab. Aceh Barat Kab. Gayo Lues Kab.

Pesisir Selatan Kab. Sumatera Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Prov. Rokan Hulu Kab. Pelalawan Kab. Mentawai Kab. Padang Pariaman Kab. Sijunjung Kab. Pasaman Kab. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 3 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Entitas Pemerintah Daerah Kab. Solok Selatan Kab. Kuantan Singingi Kab. Riau Kab. Lima Puluh Kota Kab. Solok Kab.Halaman 2 . Sumatera Barat Kab. Rokan Hilir Kab. Tapanuli Selatan Kab. Kampar Kab. Toba Samosir Kota Binjai Kota Gunung Sitoli Kota Medan Kota Padangsidimpuan Kota Pematangsiantar Kota Sibolga Kota Tanjungbalai Kota Tebingtinggi LKPD 2005 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP TW * TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 Prov. Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Prov.Lampiran 1b No. Pasaman Barat Kab. Bengkalis Kab. Tapanuli Tengah Kab. Kep. Dharmasraya Kab. Kepulauan Meranti Kab. Tapanuli Utara Kab. Siak Kota Dumai 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 WDP 1 WDP 9 1 WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP * WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 . Indragiri Hulu Kab. Tanah Datar Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Kota Sawahlunto Kota Solok 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 4 Prov. Indragiri Hilir Kab. Agam Kab.

Halaman 3 . Bengkulu Utara 124 Kab. Muaro Jambi Kab. Ogan Komering Ulu Timur 116 Kota Lubuk Linggau 117 Kota Pagar Alam 118 Kota Palembang 119 Kota Prabumulih 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 WDP TMP 15 1 1 WDP WDP 15 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP 7 Prov. Musi Rawas 111 Kab. Sumatera Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 104 Prov. Tebo 102 Kota Jambi 103 Kota Sungai Penuh 6 Prov. Muko-Muko 128 Kab. Kepahiang 126 Kab. Muara Enim 109 Kab. Ogan Ilir 112 Kab. Bungo Kab. Jambi Kab. Lebong 127 Kab. Bengkulu LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 120 Prov. Ogan Komering Ulu Selatan 115 Kab. Batanghari Kab. Sarolangun Kab. Musi Banyuasin 110 Kab. Kerinci Kab. Sumatera Selatan 105 Kab. Seluma 130 Kota Bengkulu 1 WDP 1 TMP 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 6 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP WDP 10 1 1 WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP TMP TMP WTP WDP WDP WDP 15 . Tanjung Jabung Barat 1 1 WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 WDP WDP TMP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP 100 Kab. Lahat 108 Kab. Bengkulu Selatan 122 Kab. Empat Lawang 107 Kab. Bengkulu 121 Kab. Tanjung Jabung Timur 101 Kab. Banyuasin 106 kab. Jambi LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 92 93 94 95 96 97 98 99 Prov. Merangin Kab.Lampiran 1b No. 13 5 91 Entitas Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru LKPD 2005 1 WDP LKPD 2006 1 WDP LKPD 2007 1 WDP LKPD 2008 1 WTP LKPD 2009 1 WDP Prov. Bengkulu Tengah 123 Kab. Ogan Komering Ulu 114 Kab. Kaur 125 Kab. Rejang Lebong 129 Kab. Ogan Komering Ilir 113 Kab.

Kepulauan Anambas 158 Kab. Bintan 156 Kab. Tulang Bawang Barat 143 Kab. Natuna 160 Kota Batam 161 Kota Tanjungpinang 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 WDP 5 7 7 WDP TMP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 1 1 1 11 Prov. Tanggamus 141 Kab. Jawa Barat 164 Kab. DKI 1 1 1 WDP 1 TMP 1 1 WDP 1 1 WDP 1 WDP 1 12 Prov. Mesuji 138 Kab. Belitung Timur 153 Kota Pangkal Pinang 1 1 1 WTP WDP WDP 1 WDP 6 8 8 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Prov. Bangka Selatan 150 Kab. Bangka Barat 149 Kab. Lingga 159 Kab. Bandung 165 Kab. Lampung Selatan 134 Kab. Bogor 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 23 26 26 WDP WDP 1 1 WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 27 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 16 . Kepulauan Riau LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 154 Prov. Kepulauan Riau 155 Kab. DKI Jakarta LKPD 1 162 Prov. Karimun 157 Kab. Bandung Barat 166 Kab. Pesawaran 139 Kab. Lampung 132 Kab.Lampiran 1b No. Bangka Belitung 147 Kab. Belitung 152 Kab. Jawa Barat LKPD 1 2 3 4 5 163 Prov. Lampung Timur 136 Kab. Lampung Barat 133 Kab. Way Kanan 144 Kota Bandar Lampung 145 Kota Metro 1 1 1 WDP WDP TMP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 1 11 11 11 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP TMP WDP 12 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP TMP WDP * WDP * WDP WDP * WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 9 Prov. Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 8 Prov. Bangka Tengah 151 Kab. Kepulauan Bangka Belitung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 146 Prov. Pringsewu 140 Kab. Lampung Tengah 135 Kab.Halaman 4 . Tulang Bawang 142 Kab. Lampung LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 131 Prov. Lampung Utara 137 Kab. Bekasi 167 Kab. Bangka 148 Kab.

Ciamis 169 Kab. Banjarnegara 192 Kab. Demak 199 Kab. Garut 172 Kab. Indramayu 173 Kab.Lampiran 1b No. Subang 178 Kab. Sukabumi 179 Kab. Cirebon 171 Kab. Kendal 204 Kab. Purwakarta 177 Kab. Tegal 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 36 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WTPDPP 17 . Pemalang 210 Kab. Brebes 197 Kab. Karawang 174 Kab. Kuningan 175 Kab. Jawa Tengah 191 Kab. Semarang 214 Kab. Batang 194 Kab. Kebumen 203 Kab. Purbalingga 211 Kab. Sukoharjo 216 Kab. Pekalongan 209 Kab. Blora 195 Kab. Purworejo 212 Kab. Rembang 213 Kab. Sumedang 180 Kab. Grobogan 200 Kab. Magelang 207 Kab.Halaman 5 . Cianjur 170 Kab. Majalengka 176 Kab. Sragen 215 Kab. Banyumas 193 Kab. Jepara 201 Kab. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 13 Entitas Pemerintah Daerah 168 Kab. Boyolali 196 Kab. Jawa Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 190 Prov. Kudus 206 Kab. Cilacap 198 Kab. Klaten 205 Kab. Pati 208 Kab. Karanganyar 202 Kab. Tasikmalaya 181 Kota Bandung 182 Kota Banjar 183 Kota Bekasi 184 Kota Bogor 185 Kota Cimahi 186 Kota Cirebon 187 Kota Depok 188 Kota Sukabumi 189 Kota Tasikmalaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP TMP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Prov.

Wonogiri 219 Kab. Tulungagung 262 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 WDP 26 1 WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW WDP TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW TW 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TW WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP TW WDP TW WDP TMP WDP WDP TMP 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP 18 . Gresik 239 Kab. Jawa Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 232 Prov. Lamongan 243 Kab.Lampiran 1b No. D. Pamekasan 252 Kab. Bangkalan 234 Kab. 28 29 30 31 32 33 34 35 36 14 Entitas Pemerintah Daerah 217 Kab. Madiun 245 Kab. D. Jawa Timur 233 Kab. Yogyakarta LKPD 1 2 3 4 5 6 226 Prov. Lumajang 244 Kab. Ngawi 250 Kab. Situbondo 258 Kab. Malang 247 Kab. Sidoarjo 257 Kab. Wonosobo 220 Kota Magelang 221 Kota Pekalongan 222 Kota Salatiga 223 Kota Semarang 224 Kota Surakarta 225 Kota Tegal LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WTP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP Prov. Temanggung 218 Kab. Nganjuk 249 Kab.I. Sumenep 259 Kab. Bondowoso 238 Kab.I.Halaman 6 . Bojonegoro 237 Kab. Jombang 241 Kab. Probolinggo 255 Kab. Bantul 228 Kab. Magetan 246 Kab. Banyuwangi 235 Kab. Ponorogo 254 Kab. Sleman 231 Kota Yogyakarta 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WTP 15 Prov. Blitar 236 Kab. Yogyakarta 227 Kab. Kulon Progo 230 Kab. Jember 240 Kab. Pasuruan 253 Kab. Mojokerto 248 Kab. Sampang 256 Kab. Kediri 242 Kab. Pacitan 251 Kab. Tuban 261 Kab. Trenggalek 260 Kab. Gunung Kidul 229 Kab.

Halaman 7 . Lombok Tengah 295 Kab. Bima 292 Kab. Buleleng 284 Kab. Tangerang 276 Kota Cilegon 277 Kota Serang 278 Kota Tangerang 279 Kota Tangerang Selatan 1 WDP 1 WDP 1 WTP 7 7 7 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP 8 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WTP WDP WDP WTP 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WTP WDP WDP WTP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 17 Prov. Jembrana 286 Kab. Lombok Utara 297 Kab. Nusa Tenggara Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 290 Prov. Banten LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 271 Prov. Bali LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 280 Prov. Bali 281 Kab. Nusa Tenggara Barat 291 Kab. Lombok Barat 294 Kab.Lampiran 1b No. Gianyar 285 Kab. 32 33 34 35 36 37 38 39 16 Entitas Pemerintah Daerah 263 Kota Blitar 264 Kota Kediri 265 Kota Madiun 266 Kota Malang 267 Kota Mojokerto 268 Kota Pasuruan 269 Kota Probolinggo 270 Kota Surabaya LKPD 2005 LKPD 2006 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WTP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW TW LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TW 1 1 WDP WDP 1 1 1 Prov. Sumbawa 298 Kab. Dompu 293 Kab. Bangli 283 Kab. Klungkung 288 Kab. Lombok Timur 296 Kab. Alor 15 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 17 1 1 WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 21 1 1 WDP TMP 19 . Badung 282 Kab. Lebak 273 Kab. Nusa Tenggara Timur 302 Kab. Banten 272 Kab. Pandeglang 274 Kab. Nusa Tenggara Timur LKPD 1 2 301 Prov. Sumbawa Barat 299 Kota Bima 300 Kota Mataram 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 1 WDP WDP 7 1 1 1 WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 19 Prov. Tabanan 289 Kota Denpasar 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP TW WDP WDP WDP WDP 18 Prov. Serang 275 Kab. Karangasem 287 Kab.

Kalimantan Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 338 Prov. Lamandau 348 Kab. Sintang 336 Kota Pontianak 337 Kota Singkawang 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WTP WDP WTP 1 TW 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WTP WTP WDP WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP 1 WDP 1 WDP 1 WDP 11 1 1 1 TMP TMP WDP 13 1 1 1 TW TMP WDP 13 1 1 1 TMP TMP TW 14 1 1 1 1 1 TMP TW TW TMP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TW TW TW WDP WDP WDP TMP WDP WDP TW 21 Prov. Barito Utara 342 Kab. Melawi 331 Kab. Kapuas 344 Kab. Ngada 313 Kab. Sambas 333 Kab. Kapuas Hulu 326 Kab Kayong Utara 327 Kab. Barito Selatan 340 Kab. Sumba Barat Daya 318 Kab. Timor Tengah Utara 322 Kota Kupang LKPD 2005 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP LKPD 2007 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP LKPD 2008 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 TMP 1 1 TMP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 Prov. Manggarai Timur 311 Kab. Pontianak 332 Kab. Landak 330 Kab. Kotawaringin Barat 346 Kab. Sumba Barat 317 Kab. Manggarai Barat 310 Kab. Katingan 345 Kab. Lembata 308 Kab.Halaman 8 . Sanggau 334 Kab. Barito Timur 341 Kab. Manggarai 309 Kab. Sekadau 335 Kab. Kotawaringin Timur 347 Kab. Kubu Raya 329 Kab. Gunung Mas 343 Kab. Belu 304 Kab. Sumba Tengah 319 Kab. Flores Timur 306 Kab. Ende 305 Kab. Kalimantan Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 323 Prov. Sumba Timur 320 Kab. Kalimantan Tengah 339 Kab. Kalimantan Barat 324 Kab. Ketapang 328 Kab.Lampiran 1b No. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 20 Entitas Pemerintah Daerah 303 Kab. Kupang 307 Kab. Bengkayang 325 Kab. Nagekeo 312 Kab. Murung Raya 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP TW WDP WDP TMP TW WDP TW WDP TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TW WDP TW TW WDP TW TW TMP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TW TMP TW TW TW WDP WDP TW TW TW 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW WDP WDP TW TW TW TW 20 . Timor Tengah Selatan 321 Kab. Sikka 316 Kab. Sabu Raijua 315 Kab. Rote Ndao 314 Kab.

Tana Tidung 378 Kota Balikpapan 379 Kota Bontang 380 Kota Samarinda 381 Kota Tarakan 1 1 1 1 WDP WDP WDP TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TW TW TMP TMP 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP 1 TW 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 12 1 1 1 WDP TW WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TMP TW TW TMP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP TW WDP TW WDP 15 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TMP TMP WDP TW TW TW TMP WDP WDP TW WDP 24 Prov. Minahasa Selatan 1 1 WDP TMP 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 WDP 1 WDP 1 TMP **** TMP WDP TMP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP WDP TW 8 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP TMP 10 1 1 WDP WDP 14 1 1 WDP WDP 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP WDP TW WDP TMP WDP TW 21 . Minahasa 391 Kab. Bulungan 370 Kab. Tanah Laut 364 Kab. 12 13 14 15 22 Entitas Pemerintah Daerah 349 Kab. Kalimantan Timur LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 367 Prov. Kalimantan Selatan 354 Kab. Balangan 355 Kab. Banjar 356 Kab. Malinau 374 Kab. Hulu Sungai Selatan 358 Kab. Tanah Bumbu 363 Kab. Tapin 365 Kota Banjarbaru 366 Kota Banjarmasin 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP 13 1 WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP WDP TW WDP WDP WDP WDP WDP TW TW WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TW WDP WDP WDP WDP TW TW WDP TW WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TW TW WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 23 Prov. Pulang Pisau 350 Kab. Tabalong 362 Kab. Penajam Paser Utara 377 Kab. Hulu Sungai Utara 360 Kab. Bolaang Mongondow Selatan 385 Kab. Barito Kuala 357 Kab. Kutai Kartanegara 372 Kab. Nunukan 375 Kab. Bolaang Mongondow Utara 387 Kab. Berau 369 Kab. Sulawesi Utara 383 Kab. Kep. Kalimantan Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 353 Prov. Siau Tagulandang Biaro 389 Kab. Seruyan 351 Kab. Kalimantan Timur 368 Kab. Kutai Timur 373 Kab. Bolaang Mongondow Timur 386 Kab. Kepulauan Talaud 390 Kab. Sulawesi Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 382 Prov. Kepulauan Sangihe 388 Kab. Hulu Sungai Tengah 359 Kab.Halaman 9 . Sukamara 352 Kota Palangkaraya LKPD 2005 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2006 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2007 1 1 1 1 WDP TMP WDP WDP LKPD 2008 1 1 1 1 TW TMP WDP WDP LKPD 2009 1 1 1 1 TW TMP TW TW Prov. Bolaang Mongondow 384 Kab.Lampiran 1b No. Kutai Barat 371 Kab. Kotabaru 361 Kab. Paser 376 Kab.

Kep. Maros 423 Kab. Sidenreng Rappang 426 Kab. 11 12 13 14 15 16 25 Entitas Pemerintah Daerah 392 Kab. Luwu 420 Kab. Luwu Timur 421 Kab. Banggai Kepulauan 401 Kab. Sulawesi Tengah 399 Kab. Soppeng 428 Kab. Pinrang 425 Kab. Sulawesi Tengah LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 398 Prov. Toli-Toli 409 Kota Palu 1 1 WDP WTP 1 1 1 WDP WDP WDP 1 1 1 TMP WDP WDP 1 1 1 WDP WDP TMP 1 WTP DPP 1 1 WTP WTP DPP 8 1 1 1 WDP WDP WTP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP WDP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP WDP 11 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP WDP TMP 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP WDP TMP TMP WDP TMP WDP TMP TMP 26 Prov. Pangkajene dan Kepulauan 424 Kab. Bulukumba 415 Kab. Donggala 403 Kab. Gowa 417 Kab. Luwu Utara 422 Kab. Tojo Una-Una 408 Kab. Wajo 432 Kota Makassar 433 Kota Palopo 434 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 WTP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WTP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 1 1 WTP WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 20 1 1 WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP TMP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP 25 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP WDP TMP WDP 22 . Parigi Moutong 405 Kab. Enrekang 416 Kab. Takalar 429 Kab. Sulawesi Selatan 411 Kab. Sinjai 427 Kab. Morowali 404 Kab. Sulawesi Selatan LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 410 Prov.Halaman 10 . Minahasa Tenggara 393 Kab. Buol 402 Kab. Bone 414 Kab. Minahasa Utara 394 Kota Bitung 395 Kota Kotamobagu 396 Kota Manado 397 Kota Tomohon LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 1 TMP WDP WDP WDP WDP TW LKPD 2009 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP WDP TW TW 1 1 1 TMP WDP TMP 1 1 1 1 TMP WDP TW TMP 1 1 1 1 TMP WDP **** TMP WDP 1 1 1 1 1 Prov. Barru 413 Kab.Lampiran 1b No. Selayar 419 Kab. Tana Toraja 430 Kab. Banggai 400 Kab. Bantaeng 412 Kab. Poso 406 Kab. Toraja Utara 431 Kab. Sigi 407 Kab. Jeneponto 418 Kab.

Kepulauan Aru 465 Kab. Konawe 442 Kab. Muna 445 Kab. Kolaka Utara 441 Kab. Sulawesi Tenggara 436 Kab. Mamuju Utara 460 Kab. Wakatobi 446 Kota Bau-Bau 447 Kota Kendari 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 WDP TMP WDP TMP 1 1 WDP WDP 1 WDP 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TW 1 WTP 8 1 WTP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 11 1 1 1 WDP TMP WDP 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW TW TMP TMP TMP TMP TMP TW TW 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP WDP TMP TW WDP TMP TMP TMP TMP TW TMP WDP 28 Prov. 27 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Gorontalo 449 Kab. Sulawesi Barat 456 Kab. Gorontalo LKPD 1 2 3 4 5 6 7 448 Prov. Maluku Tenggara 468 Kab. Polewali Mandar 1 1 WDP WDP 4 1 1 WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP TMP WDP 6 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP WDP WDP 30 Prov.Halaman 11 . Buru Selatan 464 Kab. Konawe Utara 444 Kab. Buton Utara 439 Kab. Bone Bolango 451 Kab. Kolaka 440 Kab. Mamuju 459 Kab. Maluku 462 Kab. Maluku Barat Daya 466 Kab. Bombana 437 Kab. Maluku Tenggara Barat 469 Kab. Majene 457 Kab. Pohuwato 454 Kota Gorontalo 1 1 WDP WDP 1 1 6 1 1 1 1 WTP WTP DPP WDP WDP 6 1 1 1 1 WDP WDP WDP WDP **** WDP WDP 7 1 1 1 1 1 1 1 WTP TMP WDP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP WDP WDP WDP TMP 7 1 1 1 1 1 1 1 WDP WDP WDP WTP WDP WDP WDP 29 Prov. Boalemo 450 Kab. Konawe Selatan 443 Kab.Lampiran 1b No. Seram Bagian Barat 470 Kab. Seram Bagian Timur 471 Kota Ambon 472 Kota Tual 1 WDP 1 WDP 1 1 1 1 1 1 WDP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 TMP 1 TMP 1 TMP 1 1 1 1 4 1 1 WDP WDP 9 1 1 TMP WDP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 TMP TMP 9 1 1 1 TMP TMP TMP ** TMP TMP TMP TMP ** ** TMP TMP 23 . Maluku Tengah 467 Kab. Mamasa 458 Kab. Gorontalo 452 Kab. Gorontalo Utara 453 Kab. Maluku LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 461 Prov. Sulawesi Barat LKPD 1 2 3 4 5 6 455 Prov. Buton 438 Kab. Sulawesi Tenggara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 435 Prov. Buru 463 Kab.

Papua Barat 514 Kab. Sarmi 507 Kab. Supiori 508 Kab. Halmahera Tengah 477 Kab. Nduga 502 Kab. Jayawijaya 492 Kab. Waropen 510 Kab.Lampiran 1b No. Maluku Utara LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 473 Prov. Papua LKPD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 483 Prov. Halmahera Utara 479 Kab. Intan Jaya 490 Kab. Puncak Jaya 506 Kab. Pulau Morotai 481 Kota Ternate 482 Kota Tidore Kepulauan 1 WDP 1 1 WDP WDP 1 1 WDP WDP 1 1 TMP TMP 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP WDP WDP TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP TMP 9 1 1 1 1 1 1 1 TW TW TW TW TW TW TW * TW WDP 32 Prov. Halmahera Selatan 476 Kab. Mamberamo Raya 496 Kab. Merauke 499 Kab. Maluku Utara 474 Kab. Yalimo 512 Kota Jayapura 1 WDP 1 TW 1 TMP 1 WDP 1 1 TMP 1 1 1 1 TMP TW TW TMP 1 1 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 1 1 1 TMP TMP 1 1 TMP TMP 1 1 TMP WDP 1 1 1 WDP 1 WDP 1 1 1 TW TW TW 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 WDP 1 1 1 TW TMP TMP 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 1 1 1 1 1 TMP 1 1 WDP 6 1 TW 18 1 1 1 1 TW TMP TW TMP 21 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP TMP TMP TMP 22 1 1 1 1 WDP WDP WDP TMP * TMP * WDP TMP TMP TMP * ** * TMP TMP WDP TMP * TMP WDP * TMP TMP TMP TMP TMP TMP * WDP 33 Prov. Lanny Jaya 495 Kab. Dogiyai 489 Kab. Kaimana 516 Kab. Pegunungan Bintang 504 Kab. Jayapura 491 Kab. Tolikara 509 Kab. Kepulauan Sula 480 Kab. Halmahera Barat 475 Kab. Keerom 493 Kab. Paniai 503 Kab. Puncak 505 Kab. Mappi 498 Kab. Mimika 500 Kab.Halaman 12 . Manokwari 2 1 WDP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP TMP TMP TMP 10 1 1 1 1 TMP WDP TMP TMP 9 1 1 1 1 TMP TMP TMP WDP 24 . Nabire 501 Kab. 31 Entitas Pemerintah Daerah LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 Prov. Halmahera Timur 478 Kab. Papua Barat LKPD 1 2 3 4 513 Prov. Biak Numfor 486 Kab. Kepulauan Yapen 494 Kab. Boven Digoel 487 Kab. Papua 484 Kab. Deiyai 488 Kab. Fakfak 515 Kab. Mamberamo Tengah 497 Kab. Asmat 485 Kab. Yahukimo 511 Kab.

Teluk Bintuni 523 Kab. Sorong Selatan 521 Kab. Sorong 520 Kab. Raja Ampat 519 Kab. Tambrauw 522 Kab.Lampiran 1b No. 5 6 7 8 9 10 11 12 Entitas Pemerintah Daerah 517 Kab. Teluk Wondama 524 Kota Sorong JUMLAH LKPD 2005 LKPD 2006 LKPD 2007 LKPD 2008 LKPD 2009 * 1 1 1 1 1 362 WDP 1 463 TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 469 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 1 485 TMP TMP TMP TMP TMP WDP 1 1 1 1 1 499 TMP TMP TMP * TMP *** WDP Keterangan WTP WDP TW TMP * ** *** : Opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) : Opini Wajar Dengan Pengecualian (qualified Opinion) : Opini Tidak Wajar (adverse opinion) : Pernyataan Menolak Memberikan Opini atau Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion) : Daerah pemekaran baru (belum wajib menyusun dan melaporkan LKPD) : Hasil pemeriksaan atas LKPD dalam proses penyelesaian : Pemeriksaan ditunda karena force major (banjir wasior) 25 . Maybrat 518 Kab.Halaman 13 .

Kelemahan SPI Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai 6 Lain-lain II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.64 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 5 Lain-lain 26 .30 51.00 12. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 754 455 208 10 74 6 1 530 210 69 149 26 42 30 4 176 90 64 16 4 2 Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 1.Lampiran 2 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .460 100.05 36.

11 106.87 152.75 8.72 83.52 207.08 8.125.34 14.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 729 76 16 155 101 26 71 90 15 143 6 3 27 119 7 5 24 2 14 3 3 39 2 20 398 321 17.00 521.30 2.317.45 3.839.20 22.29 54.377.18 3.88 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian 12 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.64 24.053.80 476.747.565.Lampiran 3 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .753.84 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 27 .14 276.16 5.42 144.99 59.13 % Nilai (juta Rp) 556.077.224.572. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 10 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 31.50 25.419.11 3.82 27.132.687.142.32 370.771.95 80.Halaman 1 .252.80 46.49 9.752.12 94.835.415.16 30.284.47 7.872.32 43.77 35.924.92 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 6 Lain-lain IV Administrasi 65 1 3 5 3 862 364 37.558.365.24 8.34 166.249.155.42 38.

70 sehingga 100. dll.63 33.384. pertambangan.027.53 477.00 1.60 4.84 61.430.86 6.761.60 0.20 13.271.19 95.66 1 Penggunaan kuantitas input untuk satu satuan output lebih besar/ tinggi dari yang seharusnya VII Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 137 73 5 32 3 15 5 4 2.113.352.04 3.320 5.00 28 .384.010.33 7. perpajakan.23 445.33 6.Halaman 2 .933.76 131.929. 8 Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum 9 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 11 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 12 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 13 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 14 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 15 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1 93 54 71 28 58 6 25 74 1 4 69 1 1 0.30 91.91 195.Lampiran 3 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 9 45 7 8 65 28 % Nilai (juta Rp) - % 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.03 86.326.42 4.03 4.761.48 100.

214.307.399.22 3.80 3 651. Aceh Tenggara 8 2 7 7 Kab.86 304.279.18 62. Simeulue 7 2 13 13 Kota Langsa 4 2 14 14 Kota Subulussalam 8 3 2 Provinsi Sumatera Utara 124 58 1 15 Kab.21 2 43.30 696.49 2.86 3 1 13 3.954.926.49 1 17.416.147.828. Bireuen 5 3 10 10 Kab.175.21 429.01 3 625.60 3 546.72 89 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 3.57 - Nilai (23) - Nilai (24) 176.152.215. Tapanuli Tengah 10 6 10 24 Kab.579.25 1.23 2.80 489.07 1 2 12 1.29 1 4 41 2 4 2 2 1 4 6 1 3 2 2 4 1 6 1 1 8 1.466.304.50 11.06 108 49.27 841.16 4.385.11 39 6.27 317.50 1.73 73.65 162.00 870.62 16.80 3 14 754.678.094.482.01 5 2.53 Nilai (22) 52.41 19.41 1 498.530.993.41 279.792.19 6. Simalungun 10 6 8 22 Kab.356.20 288.43 111.283.69 7 55.28 3 76.33 6 9 3.737. Pidie 6 2 11 11 Kab.121.65 102.70 1.97 19.38 1.191.13 3 322.220.24 22.965.82 5 1 14 671.13 2 9.56 1 16 4.738.953.50 557.36 1 42.95 208. Bener Meriah 5 3 9 9 Kab.75 2.73 1.062.46 174.762 4.47 1 75.446.038.78 2.077. Padang Lawas 7 2 6 20 Kab.82 1.615.312.40 584. Toba Samosir 7 2 11 25 Kota Binjai 4 2 12 26 Kota Medan 6 0 13 27 Kota Padangsidimpuan 5 2 14 28 Kota Pematangsiantar 9 5 15 29 Kota Sibolga 7 4 16 30 Kota Tanjungbalai 4 2 29 .56 4 2. Padang Lawas Utara 8 2 7 21 Kab.04 1 1.56 10.99 5.99 5 421.572.49 1.456.119.437.09 60.84 1 1.34 1 15 10.61 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 90 38 1 1 Provinsi Aceh 15 5 2 2 Kab.611.893.00 1.52 6 1 19 7.968.37 4 5 7 9 4 13 3 7 3 15 9.152.00 3.80 1.724.57 172.30 8.529. Pidie Jaya 6 4 12 12 Kab.00 52.557.741.556.14 1.929.26 350.56 1 15 5.762 - Jml Kasus (20) 8 5 1 1 1 16 2 1 1 2 2 1 1 4 2 Nilai (21) 55.909.328.119.30 801.838.589.66 9 2 18 1.35 5.76 527.59 7 7 9 9 6 7 6 5 4 7 81 3 5 5 5 6 5 3 7 7 8 7 6 9 2 3 13 2.61 55.01 3.31 47.Lampiran 4 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2009 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 38 8 2 2 1 1 5 4 2 1 2 4 2 4 44 1 6 1 3 3 3 3 4 3 4 2 1 2 4 2 2 13 1 6 32 1 11 5 21 20 4.12 2 97.11 1 11 651.25 3 13 9.15 20.364.19 15.560.96 9 4.56 1.06 6 1 1 2 7 1 1 1 1 1 1 1 2 19 102.364.734.56 2.75 2 395. Batubara 9 6 2 16 Kab.453.51 2.61 573. Aceh Jaya 2 1 5 5 Kab.09 7 14 175 130. Deli Serdang 10 3 3 17 Kab.23 29.789.144.55 12 1.00 125.21 24.08 462.24 2 2 9 151.386.61 3.00 10 1.87 4 517.66 1.23 4 3 20 5.71 721.107.42 6 381.41 845.61 17.259.02 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 - Nilai (19) 4.10 77.690.60 2. Nias Selatan 7 4 5 19 Kab.45 28 9.91 1 659.74 1 1 9 527.689.90 3.01 5.540. Aceh Barat Daya 5 2 3 3 Kab. Nias 7 5 4 18 Kab. Aceh Tamiang 5 1 6 6 Kab.60 291.26 21 1.12 1 1 1 1 1 10 3. Aceh Timur 9 5 8 8 Kab.Halaman 1 .621.055.959.03 67.73 4 432.78 14 5.93 2 2.05 3 917.25 22 259 116. Tapanuli Selatan 14 7 9 23 Kab.87 7 1.85 2 2.192.93 3.744.36 95.14 88.03 30.615.70 424.25 75.75 5 844.20 1.069.40 3.39 1 2 14 24.24 295. Aceh Besar 5 3 4 4 Kab.59 1 11.54 7.33 131.240.

039.38 Nilai (22) 487.462.92 5 806.73 1.216.16 2 1.33 1 676.945.60 1.502.77 1 3.71 5 7 3 3 1 40 8 1 2 2 5 1 1 1 12 7.008.03 2 18 3.31 192.999.95 90.50 1 35 14.06 86 10.00 18.60 175.65 1.17 1 4.72 1 27.14 3.493.117.587.768.468.44 9 8.498.395.015.77 8 6 16 7 11 5 6 25 5 9 4 7 75 8 5 7 2 1 16 2 1 17 6.30 201.993.782.029.973.00 304.870. Tanjung Jabung Timur 10 6 6 Provinsi Sumatera Selatan 32 13 1 45 Kab.18 1 31 7.333.47 1.474.543.69 2.059.61 4.99 1.909.32 1 888.32 1.46 57 5 2 37 20.49 10 1 16 6.19 6 1.256.47 4 682. Cianjur 11 5 7 55 Kab.845.187.012.237.192.50 13.244.149.951.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 25 3 8 5 9 23 5 1 4 1 1 3 8 3 1 2 13 5 1 3 4 54 7 4 4 2 1 6 3 1 8 3 3.33 487.722.57 8 3.89 19 8.14 - (1) (2) (3) (4) 3 Provinsi Sumatera Barat 52 24 1 31 Kab.07 1 630.99 373.88 13 1.00 13 3.20 21.284.597.73 6 4.80 355.971.813.85 2.56 2 6 60 14.597.237.97 1.44 8 12.83 41 7 3. Muaro Jambi 9 7 2 44 Kab.241. Indramayu 4 3 .080.01 52.496.31 4 1.493.43 1 364.632.172.748.86 11 3 1.94 1.50 8.577.68 1.24 180.75 3.59 16.96 2 6 12 1 4 20 1.88 5 2.505.27 7 1.167.071.07 111.06 350.45 41 6.40 6 5.245.44 7 4 42 73.07 1 5 2.968.62 490.33 4.Kep. Rokan Hilir 4 2 7 41 Kab.09 2 4.435.25 1.282.58 2 15 3.60 4. Siak 7 4 8 42 Kota Dumai 15 7 5 Provinsi Jambi 19 13 1 43 Kab.162.26 3 107 35.281.809.31 3. Empat Lawang 8 5 3 47 Kota Pagar Alam 7 2 4 48 Kota Prabumulih 5 1 7 Provinsi Jawa Barat 149 76 1 49 Provinsi Jawa Barat 15 4 2 50 Kab.006.497.193.57 1.303.593.282.61 4 6.29 15 8.75 1 23 8 1 4 1 2 12 4.46 2 2. Ciamis 5 4 6 54 Kab.825.33 94.64 854.857.182. Indragiri Hilir 7 5 3 37 Kab.54 2.663.301.069.808.314.53 24.277.002.88 Nilai (23) 426.83 2 1.34 570.92 6 1.42 4 3. Kuantan Singingi 5 3 6 40 Kab.31 2.480.28 587.90 7 355.30 Halaman 2 .98 2 7.236.27 13.27 1.518.68 6 2.257.90 1.55 286.457.00 426.787.46 1.42 9 1 9 6.79 1 252.158.936.630.79 119.96 13.90 201.98 42.081.65 4 1 1 2 12 6 2 1 1 2 20 12.88 5 1.241.Lima Puluh Kota 11 3 3 33 Kab.00 370.25 2 500.59 86.57 72 65.82 16 4 20 4.76 1.Solok Selatan 23 12 4 Provinsi Riau 65 34 1 35 Kab.42 11.60 17.505.62 1.27 2.433.116.21 4 1.14 455.206.159.295.49 1.720.72 1 2 20 5.01 1.04 8 5.159. Bekasi 4 2 5 53 Kab.54 2.16 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 7 3 1 3 7 1 2 3 1 3 1 2 6 3 1 2 14 5 3 1 Nilai (21) 4.686. Indragiri Hulu 9 4 4 38 Kab.95 8 1 26 4.54 57.67 2 496.209. Banyuasin 12 5 2 46 Kab.60 29 17.98 245.988.00 - Nilai (24) 42.64 18.19 2 19 4.08 426.62 4 782.733.423. Kampar 7 5 5 39 Kab.266.02 262.067.749.862.80 1 22 40.18 7 1 8 168 94.84 18 14.422.75 7 19 250 132.67 6.65 18 6.96 1 110.07 77.00 356.06 331.56 8.540.38 6 2.346.95 8 2.73 598.434.770.49 13 5.77 8 30.303.70 1.62 4 3.310. Bengkalis 11 4 2 36 Kab.68 1.398. Bandung Barat 13 9 4 52 Kab.Pasaman Barat 13 8 4 34 Kab.71 7 16 2.65 5 2.00 2 3 31 12.Mentawai 5 1 2 32 Kab.94 24 6.84 3.37 10.76 4.08 4 1.48 3 1.108.64 4.36 1. Garut 6 3 8 56 Kab.186.15 1. Bandung 8 3 3 51 Kab.

27 3.827.249. Kuningan 6 3 11 59 Kab.77 5.64 155.86 1 344.92 107.11 1.57 16 270.87 5 120.11 4 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 51.22 45.50 3 1.96 297.27 3 459.42 46.44 1 264.87 7.372.42 12.04 2 1 8 8 12 1 3 3 5 14 2 3 3 3 2 1 3 20 7.01 4 2 1 1 3 1 1 1 5 1 1 2 1 11 1.429.40 Nilai (23) - Nilai (24) 191.053. Kupang 21 11 2 72 Kab.29 150.99 218.91 1 940.277.73 1.04 1 34.404.532.155.50 380. Kapuas Hulu 13 6 4 78 Kab.80 1 1 8 9.53 11 73 43.03 511.106.29 1 8 6.78 2 219.87 5 120.283. Tasikmalaya 4 2 14 62 Kota Bandung 13 7 15 63 Kota Bekasi 12 9 16 64 Kota Bogor 9 4 17 65 Kota Cimahi 7 2 18 66 Kota Depok 4 3 19 67 Kota Tasikmalaya 6 1 8 Provinsi Jawa Tengah 16 6 1 68 Kab.23 2 15 1.535.31 3.69 2 652.83 1 86.520.74 1 8.17 868.15 4 2 5 5 1 7 3 4 3 3 36 13 10 5 8 74 14 7 4 9 7 11 12 10 2 3 771. Karawang 4 2 10 58 Kab.193.03 2 2.30 5 2.11 5 19 1.41 1 710.35 1.40 1 264.890.71 237.66 10.09 5 351.56 51.57 1 2 1 19 5.Halaman 3 .225.49 3 198.319. Kayong Utara 11 7 5 79 Kab.91 1 9 3.223.70 1.30 6 311.460.67 22 6 2 3 1 3 1 3 3 5 23 3.51 954. Subang 5 3 13 61 Kab.67 4.04 1 98.100.27 50.46 48.01 3.213.70 150.206.41 4 347.68 391.13 13.77 3 232.201.86 9 127 70.30 2 526.385.281.02 6. Sikka 11 9 4 74 Kab.80 2 771.50 23. Sintang 8 4 8 82 Kota Singkawang 14 4 31 .90 4.00 11.25 4 28 61.701. Timor Tengah Utara 21 9 11 Provinsi Kalimantan Barat 95 45 1 75 Provinsi Kalimantan Barat 18 5 2 76 Kab.42 3 1 940.674.45 4 302.29 5.97 1 617. Landak 16 6 6 80 Kab.12 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 4 1 3 2 1 7 2 1 1 3 9 2 1 1 1 4 Nilai (21) 3.02 5. Manggarai Timur 12 8 3 73 Kab.48 18.860.20 5 10 629.846.35 437.46 555.50 3 6.56 516.919.860.41 26.61 131.23 1 1 18 6.13 2.09 155.90 41.194.175.75 100.40 95.21 2 706.19 4.06 91.476.326.90 4 410.346.09 8.52 673. Tegal 6 2 2 69 Kota Pekalongan 10 4 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 8 2 1 70 Kab.28 - (1) (2) (3) (4) 9 57 Kab.64 7.85 8.00 100. Bengkayang 5 5 3 77 Kab.00 204.63 9 1.75 655. Sekadau 10 8 7 81 Kab.102.122.57 3 10 6.896.21 20.896.01 Nilai (22) 52. Majalengka 13 7 12 60 Kab.42 210.54 3 4 10 858.21 110.53 272.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 3 2 1 4 2 3 4 5 7 4 3 6 6 17 5 3 2 7 41 9 7 3 9 2 3 8 2 1 18 18 14 1 14 1 15 8 12 646.21 3 976.50 99.53 3 119.008.37 275.53 243.85 4 13 32.87 90.057.21 3.673.69 4 512.844.37 3.52 555.07 193.09 6 1 2 3 3 3 16 270.157.098.654.69 189.02 10 1.28 3 3.721.87 95.02 2 13 3.25 620.16 819.263.20 1 852.37 5. Lombok Utara 8 2 10 Provinsi Nusa Tenggara Timur 65 37 1 71 Kab.62 819.57 280.

28 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 9 5 4 3 1 2 1 1 8 1 2 2 3 Nilai (21) 8.748.48 417.28 4 19 21.68 8.462.97 7 761.69 8 5.484.877.013.67 2.140.01 22 88. Kutai Kartanegara 10 6 3 90 Kab.25 4 65.187.055.67 4 1 1 17 1.615.20 2.28 14.32 Halaman 4 .837.674. Minahasa Selatan 5 2 3 96 Kab.14 1.52 6 197.36 1.16 434.864.43 1 14 956.943.17 5 4 59 12.628.558.424.18 4.085.770.29 13.29 2 4 4 6 3 2 22 15.69 1.404.196. Balangan 8 3 2 85 Kab.43 1 15 6.00 7 11.33 2 51.36 5 1 17 8.31 1.93 1 55.50 2 1 19 7.67 2.97 2 236.49 16 2.700.00 1.13 135.50 3 1. Tanah Bumbu 12 4 4 87 Kota Banjarbaru 7 3 14 Provinsi Kalimantan Timur 79 34 1 88 Kab.531.50 27.971.29 383.05 7.36 20.48 3 4 93 112.878.752.30 57.52 512.44 79.974.88 5 3.22 2.83 2 118.60 2 335.181.424.897.84 2. Takalar 14 12 9 106 Kab.851.24 5 557.36 18 11.12 2 441.057.66 43.422.42 24 7.673.34 450.50 - Nilai (23) - Nilai (24) 0.999.38 107.98 135.46 7 3.50 49. Sinjai 12 8 8 105 Kab.192.76 7.38 5 4.36 54.057.892.58 19 693.861.82 2.17 18 1 81.00 1 416.05 3 4 12.233.42 515. Maros 14 8 7 104 Kab.04 23 18. Kepulauan Selayar 14 5 3 101 Kab. Kutai Barat 14 6 2 89 Kab.63 96.36 457.71 9 515.20 410.758.369.85 703.884.95 5 7 8 5 12 8 2 1 3 2 61 5 4 8 6 7 5 7 6 5 3 5 1 7 776. Kotabaru 10 4 3 86 Kab.63 3 710.37 1.793.75 793.95 178.901.60 2 49.440.71 438. Seruyan 12 4 13 Provinsi Kalimantan Selatan 37 14 1 84 Kab.180.052.00 525.670. Luwu Timur 4 3 4 102 Kab.341.81 4 1.38 1 1.86 416. Luwu Utara 4 2 5 103 Kab.01 11 1 22 4.558.21 1 3 9 2.62 2 49.84 1 2.292.75 2 4 1 1 1 8 177 41.86 4 2.28 166.25 81.440.09 3 37. Jeneponto 10 8 6 100 Kab.631. Tana Toraja 12 4 10 107 Kab.84 771. Minahasa Tenggara 3 0 4 97 Kota Tomohon 2 0 16 Provinsi Sulawesi Selatan 111 60 1 98 Kab.87 2 9 1.21 563. Malinau 9 1 5 92 Kota Bontang 6 3 6 93 Kota Samarinda 22 10 15 Provinsi Sulawesi Utara 12 2 1 94 Kab.73 1 14 8.56 7.00 1.688.40 1.45 210.363.245.00 59.602.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 4 4 19 4 5 7 3 41 7 4 9 7 3 11 10 2 3 3 2 43 4 1 9 1 1 4 3 2 8 6 4 2 15 1 15 1.69 8 5.684.47 706.795.30 11 1.06 22 3.392.03 9 7 40.777.02 49.664.92 4 19 21.90 1 2.35 2. Toraja Utara 8 1 11 108 Kota Palopo 10 4 .84 0.76 6 68. Bantaeng 9 5 2 99 Kab.01 9.863.84 1 2.71 51 14.57 567.894.70 1 158.37 465.93 16 1.054.00 273.69 2.85 1 56.50 3 1.780.93 2 314.79 1 14 13.87 40 3 1 2 6 1 2 1 1 1 1 16 1. Bolaang Mongondow Timur 2 0 2 95 Kab.032.670. Kutai Timur 18 8 4 91 Kab.46 2.88 3 116.588.46 1.748.01 Nilai (22) 579.273.27 49.61 199.26 5 4.825.05 3 4 12.08 270.393.61 9 1 12 898.857.39 6 417.45 12 49.34 2 5 3 1 42 4 6 7 3 3 3 3 3 3 5 2 33 54.25 10.96 4 1 9 274.85 128.69 - (1) (2) (3) (4) 12 Provinsi Kalimantan Tengah 12 4 1 83 Kab.43 11 13.861.52 3.92 822.

09 572.95 294.581.729. Bombana 8 4 2 110 Kab.70 1 12 128 85.846.944.87 2 491.452.187.227.169.61 4.30 735.044.610.66 2.72 3 25.70 - (1) (2) (3) (4) 17 Provinsi Sulawesi Tenggara 72 34 1 109 Kab.63 5.11 7.00 1 17 5.122.41 13 8.54 37. Maluku Tenggara 19 11 7 121 Kab.890.03 3 350.398.377.88 31 1 25 1. Kepulauan Sula 16 9 8 131 Kota Tidore Kepulauan 9 4 33 . Maluku Tengah 20 14 6 120 Kab.31 2.00 28.54 9.648.659.581.23 876.47 4 1.03 1 21.12 83.51 6 11 8 8 63 4 6 9 8 8 8 8 7 5 51 6 8 6 10 5 2 5 9 2 17 5.59 2.48 5.806.06 415.90 47.00 2 3 15 2.90 3 1.743.262.28 6 2 24 74.91 22.00 - Nilai (23) - Nilai (24) 68.744.402.196.32 193.13 97.22 4 3.932.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Sistem Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 31 2 5 4 8 12 1 1 48 7 8 6 3 6 2 5 11 25 6 4 2 1 2 2 5 3 2 25 2 12 1 10 3 21 38.15 4 530.657.06 5 338.00 7.717.387.870.30 4. Buru 24 11 3 117 Kab.71 3.91 25.05 3 2 5 8 1 3 10 1.749.808.62 7 7.048.00 43.58 59 141.67 3 1 25 1.37 3.31 Nilai (22) 195.14 2 13 1.13 1.72 8 564.47 8. Maluku Barat Daya 19 13 5 119 Kab.73 5 20 4. Kolaka Utara 9 3 4 112 Kab.122.03 596.03 196. Konawe 16 7 5 113 Kab.12 4.13 1 95.58 3 11.405.743.72 8 564. Buton Utara 15 8 3 111 Kab.944.25 2 3.18 3 17 12.94 148.605.64 557.06 7 2 17 23.741.902.70 119.11 2. Halmahera Selatan 15 13 4 127 Kab.95 275.597.96 11.44 7 5 1 2 5 4 3 3 27 2 3 4 2 5 6 5 2 9 10.38 291.74 14 59.38 5.459.44 621.61 295.31 1 20 7.654. Buru Selatan 21 10 4 118 Kab.733.78 4 1.66 23 1 14 6.557.60 5 1.030.475. Maluku Tenggara Barat 8 5 9 122 Kota Ambon 18 11 10 123 Kota Tual 21 9 20 Provinsi Maluku Utara 107 70 1 124 Provinsi Maluku Utara 16 10 2 125 Kab.430.23 3.226.211.056.88 1 27 144 45.54 1 24 62.83 1 1.75 2 5 18 7.53 83.789.694.262.70 991.744. Konawe Utara 24 12 18 Provinsi Sulawesi Barat 3 1 1 114 Kab.38 2.350.22 26.500.902.53 9.03 20 22.954.03 735.29 5 4 4 1 1 9 1 1 1 1 1 4 7 119 193.87 16 63. Halmahera Tengah 8 6 5 128 Kab.257.98 6.19 8 1.95 3 8. Halmahera Barat 18 11 3 126 Kab. Halmahera Utara 11 8 7 130 Kab.39 32 15.341.33 378.82 11 10.92 10. Halmahera Timur 14 9 6 129 Kab.03 142.70 35 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 196.32 2.031.53 4 725.241.298.320.37 4 155.16 4 6 14 899.67 3 212.72 37 27.674.30 17 15.62 3.50 2.47 212.13 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) - Nilai (19) - Jml Kasus (20) 2 2 2 2 6 2 1 2 1 10 1 4 1 4 Nilai (21) 4.056.533.60 20.773.304. Majene 3 1 19 Provinsi Maluku 167 92 1 115 Provinsi Maluku 17 8 2 116 Kab.69 1 786.88 1.Halaman 5 .696.80 80.54 4.71 1 8 1 4 2 1 2 24 6.30 39.95 68.488.297.161.55 291.106.552.

15 3 44.511.271.415.73 2 153.15 1 583.54 883.30 195. Teluk Bintuni 9 5 JUMLAH 1.08 170.70 6.502.86 1 12 4. Raja Ampat 10 7 5 149 Kab.20 5 2 134 126.66 Nilai (23) 426.00 1 10 2. Yahukimo 9 8 22 Provinsi Papua Barat 75 41 1 145 Provinsi Papua Barat 10 3 2 146 Kab.314.369.54 542.76 1 14 49.42 119 1 9 2.917.08 205.23 1 9 103 77.83 1 153.332.425.708.567.06 1 143.38 4.362.917.386.06 16.49 243.687.00 Nilai (24) 434.70 1 8 1. Manokwari 5 1 4 148 Kab.43 2 14 4.25 3 4.204.37 2. Sarmi 2 2 10 141 Kab.97 858. Mappi 5 3 4 135 Kab.137.683.24 2 10 15.758.565.849.68 8.18 5 12.00 3 8 12.798.78 1 1.783.150.139.06 3 262.36 3 22 10.10 5 2.82 118. Mimika 2 2 6 137 Kab.871. Sorong Selatan 11 7 7 151 Kab.22 3 3 5 5 31 6 9 2 5 5 2 2 862 10 4.736.04 45 2 1.32 1.34 Halaman 6 .659.79 4 3.00 1.179.49 1 15 6.972.335.60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (20) 8 1 1 1 1 1 3 8 4 1 1 2 137 Nilai (21) 2.44 6 10.951.70 6 865.88 327.86 6 4.41 941.31 7 21.42 5 46. Sorong 19 10 6 150 Kab.98 1 3 6 3 398 1 19 7.60 3 6 590.207.786.80 1.87 4 3.76 15 13 13.86 3 1.48 729 556.95 1 13 4.72 1 22 37.22 1 124.23 778.20 5 2.00 12.872. Puncak Jaya 5 5 9 140 Kab.929. Tolikara 5 4 12 143 Kab.191.17 6 4.985.89 (1) (2) (3) (4) 21 Provinsi Papua 70 56 1 132 Kab.49 207.649.12 12 18.935.30 4 15.993. Fakfak 11 8 3 147 Kab.252.75 547.42 2.495.412.32 7.535. Dogiyai 3 3 2 133 Kab.07 2 1.384.868.753.06 1 935.92 1 56.207.670.49 1 184.26 13 4.63 1 434. Jayawijaya 9 7 3 134 Kab.485.04 6 2.32 14.79 547.21 1 419.26 10 10.837.320 1.01 4 3. Supiori 6 5 11 142 Kab.936.15 4 74 6 6.879. Paniai 6 3 8 139 Kab.44 9 4. Nabire 4 3 7 138 Kab.972.877.23 434.66 1 457.93 3 5.61 61 72.460 754 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .89 3 18.00 1.234.753.00 1.30 5 95.00 370.00 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 4.73 8 2.181.289.621.34 10 5.430.989.21 42 31.23 3 2 1.761.193. Waropen 10 9 13 144 Kab.086.946.Lampiran 4 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau pemyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 12 1 2 2 1 3 1 1 1 25 7 2 1 2 6 4 3 530 176 2.78 23.84 Nilai (22) 1.37 1 11.486.86 3 708.00 61. Merauke 4 2 5 136 Kab.853.224.278.70 4 6 600.

99 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 100.Kelemahan SPI Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.00 35 .76 42.25 Jumlah Kasus % 22 11 11 71 30. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 30 11 13 5 1 19 1 3 7 5 3 26.Lampiran 5 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

51 500.375.595.00 299.03 64.01 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 23 1 1 1 2 10 2 1 1 4 9 1 8 1 1 9 3 1 1 3 1 63 36.322.203. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 7 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas daerah 8 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 9 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 14.87 11.59 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan Milik Negara/Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.99 - 0.123.04 20.116.25 84.29 49.53 89.89 37.03 - 26.06 0.00 4.58 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.897.595.35 0.99 282.72 25.51 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara/daerah/perusahaan milik negara/daerah) 3 Pelaksanaan lelang secara proforma 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.71 35. pertambangan.81 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 2 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefisienan 1.59 282.Ketidakpatuhan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 4 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 2 10 10 15.12 1 Lain-lain VII Ketidakefektifan 14.11 % Nilai (juta Rp) 28.12 11. dll. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 6.69 100.29 14.29 35.12 3.48 26.881.696.00 239.Lampiran 6 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .116. perpajakan.16 37.29 64.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 36 .

Lampiran 7 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Potensi Kerugian Negara/ Negara/Daerah/ Daerah/Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Nama Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Administrasi Ketidakhematan Ketidakefisienan Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara/Daerah/ Ketidakefektifan Negara/Daerah/ Perusahaan Milik Perusahaan Milik Negara/Daerah Negara/Daerah Jml Kasus Jml Kasus (6) 2 3 1 6 1 6 19 22 63 239.826.16 Nilai (22) 0.18 1 7 4 8 36.88 49.21 31.70 22.00 32.53 (1) (2) (3) (4) 1 PT Perkebunan Nusantara XII TB 2009 15 5 2 PDAM Kota Padang TB 2009 7 4 3 West Earthquake Disaster Project pada BNPB TA 2010 2 - 4 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 20 5 5 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M 10 5 6 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TA 2009 17 11 JUMLAH 71 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 37 .682.16 21.952.48 1 7 21.57 2 28.107.212.65 2 0.11 3.203.998.070.123.69 4 28.595.99 282.70 1 14.116.51 1 8 10 267.11 64.132.000.579.53 8 1 10 7 24.53 17.450.79 1.57 1 9 21 152.897.53 0.99 Jml Kasus (20) 2 2 4 1 9 Nilai (21) 24.50 3 85.46 500.00 35.53 Nilai (23) 17.00 89.868.868.372.29 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai Nilai (5) (15) 8 2 2 3 3 5 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 3 3 23 9 Nilai (17) 267.68 1 26.50 3.03 Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) 282.450.50 35.72 10 4.

Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana pada Pelayanan Rawat Jalan. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan di Tarakan Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Sulawesi Tengah 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 14 38 . M. M. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Struktur Organisasi dan Sarana Prasarana Instalasi Rawat Jalan.A. R. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Belum Didukung Struktur Organisasi yang Memadai Sarana dan Prasarana Jumlah Belum Tenaga Memenuhi Medis dan Standar dan Keperawatan Persyaratan Belum Kesehatan Memadai Lingkungan Rumah Sakit 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Soebandi Kabupaten Jember di Jember 11 RSD Mardi Waluyo di Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr.Lampiran 8a Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Pasuruan di Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 13 Ѵ 19 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ RSD dr. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo 14 RSUD Kabupaten Jombang di Jombang 15 RSUD Dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.

Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. M. R. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. M. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR.A.Lampiran 8b Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 2. Rawat Inap dan Farmasi No Provinsi No RSUD Tidak Terdapat Program Perencanaan Perencanaan Perencanaan Kerja Belum Anggaran Kebutuhan Tidak Disusun/ Tidak Perbekalan Memadai Belum memadai Farmasi memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 2 2 16 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 14 15 RSU Mayjen H. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Perencanaan Pelayanan Rawat Jalan. RSUD Undata di Palu RSUD Kota Sorong 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 17 18 19 Jumlah 39 .

R. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Ungaran Semarang di RSUD DR. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Pelaksanaan No Provinsi No RSUD Pengelolaan Pelayanan SPM Belum Prosedur Administrasi Tidak Sesuai Memadai / Tetap Belum Kurang Ketentuan Ditetapkan Memadai Memadai Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 18 7 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 14 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 RSU Mayjen H. Ponorogo Harjono Kabupaten 14 RSUD Kabupaten Jombang 15 RSUD Dr. Soewandhie di Surabaya 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 16 RSUD Kotabaru di Kotabaru 17 RSUD Tarakan 18 RSUD Undata di Palu 19 RSUD Kabupaten Manokwari 20 RSUD Kota Sorong Jumlah 40 .Lampiran 8c Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 3. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga RSUD DR. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR.A. M. Pelaksanaan Pelayanan Rawat Jalan. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang Magelang di 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan RSU Dr. Saiful Anwar di Malang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan 10 RSD dr. M. Soebandi Kabupaten Jember 11 RSD Mardi Waluyo Kota Blitar 12 RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk 13 RSUD Dr.

M. Soewandhie di Surabaya RSUD Kotabaru di Kotabaru RSUD Tarakan di Tarakan. Ashari Kabupaten Pemalang RSUD Tidar Kota Magelang di Magelang RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan di Pasuruan RSD dr. Harjono Kabupaten Ponorogo di Ponorogo RSUD Kabupaten Jombang di Jombang RSUD Dr. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga di Purbalingga RSUD DR.A. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan.Lampiran 8d Hasil Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 4. Thalib Kabupaten Kerinci di Jambi RSUD DR. Soebandi Kabupaten Jember di Jember RSD Mardi Waluyo di Blitar RSUD Kabupaten Nganjuk di Nganjuk RSUD Dr. Rawat Inap dan Farmasi Belum Memadai/ Tidak Sesuai Ketentuan RSU Mayjen H. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau RSUD Kabupaten Semarang di Ungaran RSUD DR. R. Rawat Inap dan Farmasi Temuan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan. RSUD Undata di Palu RSUD Kabupaten Manokwari Jumlah Ѵ 10 9 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Belum Dilakukan/ Belum Sepenuhnya Dilakukan No Provinsi No RSUD 1 2 3 Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah 1 2 3 4 5 6 Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ Ѵ 4 5 DI Yogyakarta Jawa Timur 7 8 9 10 11 12 13 6 7 8 9 Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua Barat 14 15 16 17 41 . M.

62 Jumlah Kasus % 42 .Lampiran 9 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Mekanisme pemungutan.76 21.00 21. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 16 3 9 3 1 42 4 10 21 5 2 16 4 10 1 1 74 100.62 56.

442.12 0. perpajakan.14 50.59 34.78 % 0.03 100.93 75.60 - 8 1 1 1 1 1.02 3 1 2 88 3.11 0.93 0.28 2.398. dll.646.342.31 6.03 8 1 7 19 1 2 6 21.82 % 2.27 Nilai (juta Rp) 422.95 2.41 75.12 50.00 43 .Lampiran 10 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . pertambangan.00 299.288.38 255.06 12.14 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 57 41 64. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 6 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 2 2 6 2 2 2 6.45 99.329.28 422.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat No I Kerugian Negara 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi II Potensi Kerugian Negara 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.01 120.77 296.80 100.189.

503.90 1.25 270.38 2 2.12 1 2 3 75.12 50.398.65 831.452.17 296.988.38 9.99 2 212.871.17 6 1 119.06 5.95 2 18 7.97 119.503.29 2.10 28 270.28 8 9.329.988.29 708.06 21 10 1 5 57 9 1.19 6 3 4.200.376.80 2 422.68 2 - Kejaksaan Republik Indonesia 16 3 3 Kementerian Dalam Negeri 4 1 4 Kementerian Luar Negeri 1 5 Kementerian Keuangan 36 7 6 Kementerian Agama - 7 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - 8 Badan Pertanahan Nasional - 9 Kepolisian Republik Indonesia 1 10 Kementerian Perdagangan 1 11 Taman Mini Indonesia Indah 4 2 JUMLAH 74 16 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .93 2.85 1 12.93 75.539.38 Nilai Nilai Nilai Nilai 7 13 3 1 16 1 1 42 Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Jml Kasus (18) Nilai (19) Nilai (21) Nilai (22) (1) (2) (3) (4) 1 Mahkamah Agung 11 3 2 3 2 5 3 1 3 19 1 1 50.11 10 5 632.73 1 419.29 1 2.44 Lampiran 11 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Negara Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus 1 13 1 1 16 88 299.99 5 2.342.288.001.29 2.74 4.014.06 14 5.375.02 1.87 4.324.

90 6. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 11 1 1 1 158 3 24 10 79.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.24 100.00 45 .Lampiran 12 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .86 Jumlah Kasus % 121 27 11 16 199 13.

09 V Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 13 1 12 322 4.923.333. perpajakan.48 226.38 6.48 2.18 15.880.426.40 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 46 . 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 5 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 1.20 11.870.36 2.25 5.581.733.38 2.333.19 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 2 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 2 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Dana perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah 4 Penerimaan negara/daerah diterima oleh instansi yang tidak berhak 5 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.19 71.996.81 88.791.20 5.41 927.37 2.00 268.Lampiran 13 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .16 1. pertambangan.659.29 253.38 94.51 61.00 100.04 6.86 % Nilai (juta Rp) 2.43 1. dll.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 8 6 2 6 5 1 230 177 25 1 1 26 65 4 4 18 38 1 20.11 5.36 100.

046.12 937.463.04 1.65 4.69 1 2 6 7 869.35 460. Sumatera Selatan 4 2 6 Kab. Kepulauan Riau 1 2 13 Kota Tanjungpinang 13 8 Jawa Barat 1 14 Kab.01 1 3 937.01 3.Lampiran 14 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pendapatan Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 5 1 1 1 5 11 1 0 1 6 7 10 10 2 11 4 6 7 9 3.40 3.8 - (1) (2) (5) (6) 1 Sumatera Utara 1 1 Kab.676.22 6.12 4 8 8.04 3 1 4 1.29 3.222.486.88 1. Lampung 4 2 9 Kota Bandar Lampung 7 6 Kepulauan Bangka Belitung 1 10 Kab.67 1 417.006.133.770.59 8.09 - Nilai (20) 408.78 21.798.88 3 8 6.330.504.372.35 460.506. Lahat 3 4 Bengkulu 1 7 Kota Bengkulu 1 5 Lampung 1 8 Prov.19 4.372.92 1 212.240.85 3 7 6.486.29 2.770.14 88.06 392.735.86 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 12 5 3 7 6 3 4 9 4 4 6 4 8 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 6.29 2.825. Belitung 4 2 11 Kota Pangkalpinang 12 7 Kepulauan Riau 1 12 Prov.18 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 1 1 1 1 2 2 6 Jml Kasus (18) 1 2 1 2 - Nilai (19) 71.506.52 16.122.07 798.24 6.38 - Nilai (21) 155.94 2. Bogor 6 47 .04 1.22 6 1 6 7.218.735.9 60.65 4.59 14 16.Halaman 1 .240. Sumatera Barat 7 2 4 Kota Bukittinggi 7 3 Sumatera Selatan 1 5 Prov. Deli Serdang 3 2 2 Kota Medan 5 2 Sumatera Barat 1 3 Prov.

99 2.45 160.17 131. Kalimantan Barat 5 15 Kalimantan Selatan 1 29 Prov.03 2 3 9 898.132.00 275.516. Nusa Tenggara Timur 5 2 27 Kota Kupang 5 14 Kalimantan Barat 1 28 Prov.644.06 591. Brebes 2 3 18 Kab.I Yogyakarta 1 22 Kota Yogyakarta 6 11 Jawa Timur 1 23 Prov.16 5.48 Halaman 2 .08 2 3 2 3 28.75 325. Jawa Timur 3 2 24 Kota Surabaya 5 12 Banten 1 25 Prov.088.983.30 4 5 2 15 31.723.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 1 1 1 28.62 898.79 4 4 4 2.377.73 2 2.43 - (1) (2) (5) (6) 2 15 Kota Bandung 8 9 Jawa Tengah 1 16 Prov.516.93 85.323.04 1.73 151.17 131. Kalimantan Selatan 2 .04 1.60 4 3 4 7.102.60 1.11 3 6 2 1 8 8 4 1 10 949.64 86. Banten 3 13 Nusa Tenggara Timur 1 26 Prov.399.70 1 3 3 3 151.03 3 5 3.270.001.57 4.00 3.83 - Nilai (20) - Nilai (21) 78.64 86.66 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus (17) 1 4 2 3 1 1 3 5 Jml Kasus (18) 2 2 1 1 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 2.06 1 2 2 3 2 3 89. Jawa Tengah 5 2 17 Kab.6 100.746.105.79 5 6 2.15 2 1 2 9 4 4 3 5 3 1 3 2 1 7 89.73 2 7 4.06 6 14 1.50 12 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 31. Kudus 4 4 19 Kota Pekalongan 6 5 20 Kota Semarang 8 6 21 Kota Surakarta 7 10 Provinsi D.30 2.79 104.49 1 1 6 1 11 325.50 949.89 29.399.329.57 1.

00 3.109.54 (1) (2) (5) (6) 16 Sulawesi Utara 1 30 Kota Bitung 2 17 Sulawesi Tengah 1 31 Prov. Maros 6 3 34 Kota Makassar 3 19 Sulawesi Tenggara 1 35 Prov.48 Administrasi Ketidakefektifan Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus (17) 2 7 Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 65 13 Nilai (19) 133.957.733.437.36 22.598.63 8.00 2.957.241.38 Nilai (20) 408.196.47 3.317.196.65 1.504.21 93.38 Nilai (21) 31.40 2 7 6.504.880.395.60 6.21 1 12 1. Sulawesi Barat 2 21 Maluku Utara 1 38 Kab.42 4. Sulawesi Selatan 10 2 33 Kab.333.09 6.67 253.923.41 6 16 8.11 (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 9 2 11 11 11 6 8 7 11 10 230 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Nilai (16) 976.437. Halmahera Utara 5 JUMLAH 199 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 49 .38 1. Sulawesi Tenggara 7 2 36 Kota Kendari 7 20 Sulawesi Barat 1 37 Prov.598.203.Halaman 3 .42 3 11 22.050.Lampiran 14 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (7) 1 2 1 14 158 27 322 3 2 11 1 3 12 3.67 268.870.60 8 4 1 7 3. Halmahera Timur 4 2 39 Kab.85 2.050.050. Sulawesi Tengah 2 18 Sulawesi Selatan 1 32 Prov.38 1.95 5.203.63 6 2 9 2.66 4 191.317.47 6 8 4.30 9 1 11 93.

05 40.00 36.70 23.Lampiran 15 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 20 13 6 1 35 15 12 3 4 1 31 19 12 86 100.26 Jumlah Kasus % 50 .

Lampiran 16 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .78 9. pertambangan.47 % Nilai (juta Rp) 31.973.40 46.005.91 925.28 382.52 2.95 3.91 5.00 10.11 27.03 7.225.69 6.12 215.79 5.61 489.709.894.Ketidapatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 163 10 2 46 46 5 2 9 9 28 1 5 15 9 2 1 3 43 41 2 120 39 6 35 15 3 8 3 3 7 1 48 3 45 43 3 1 9.244.901.32 59.57 1.759.391.85 914.73 240.648.526.Halaman 1 .17 8.69 110.93 54.95 11.35 165.751.03 25. 8 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara 10 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Pemborosan keuangan negara atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 51 .08 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 11 Lain-lain II Potensi Kerugian Negara 37.76 1. perpajakan.995.81 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara 2 Penggunaan langsung penerimaan negara IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.918.14 6.886.33 156.40 29.47 2.922.73 3.46 1.166.61 111.36 240.440.95 1. dll.

Lampiran 16 No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 11 7 7 10 4 432 % Nilai (juta Rp) 341.952.64 - % 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.991.22 196.09 2.00 824.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.00) 52 .902.97 100.328.55 31.818.Halaman 2 .

378.74 25.89 362.37 14 314.18 5 905.189.28 14.582.235.952.74 4.37 56.86 100.64 3 22 765.40 7 1 33 1.29 120.137.23 3.124.562.453.79 357.74 1.71 19 1.614.06 1.96 112.59 19.03 2 18 25.90 151.73 36.949.60 44.69 32.95 1 4 2 4 5 2 3 5 1 2 3 2 2 31 779.37 83.75 230.39 4 55 82.408.64 746.311.421.47 44.26 6 5 10 22 3 19 1.82 735.58 189.070.46 2 15 128.45 1 1 7 1.96 1 1 1 1 3 48 415.73 5.08 507.579.94 4 867.705.20 20.46 1 4 1.63 66.35 41.369.13 4 20 956.13 1 50.11 473.087.14 217.59 238.009.81 6.928.11 58.10 8.95 7.48 24.944.Lampiran 17 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Pusat (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 6 12 1 1 2 1 4 2 2 1 3 41 25 9 24 24.31 112.98 Nilai (21) 168.89 - Nilai (22) 38.04 489.837.95 12 878.14 19.10 279.13 1 8 735.50 132.70 - Nilai (20) 61.39 123.72 1.045.137.44 9.52 52.995.13 53.95 15.10 5.56 171.74 1.32 12 478.85 355.68 9 664.67 988.92 1.02 251.53 967.57 11 590.Halaman 1 .97 5.51 182.03 13 13 12.48 1.58 - (1) (2) (3) (4) 1 Kejaksaan Republik Indonesia 2 2 2 Kementerian Dalam Negeri 15 5 3 Kementerian Luar Negeri 18 4 4 Mabes TNI 1 - 5 TNI AL 3 - 6 TNI AU 3 - 7 Kementerian Hukum dan HAM 2 - 8 Kementerian Keuangan 10 3 9 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral 2 1 10 Kementerian Perhubungan 1 1 11 Kementerian Pendidikan Nasional - - 12 Kementerian Agama 1 - 13 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi - - 14 Kementerian Sosial 4 - 15 Badan Pertanahan Nasional 11 - 16 Kementerian Komunikasi dan Informatika - - 17 Kepolisian Republik Indonesia 2 2 18 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 - 53 .47 4 83.39 77.59 3 825.98 382.57 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 3 13 18 2 3 5 15 5 5 8 6 2 2 5 14 2 8 2 1 1 9 1 1 3 4 2 3 6 2 - Nilai (17) 591.77 22.847.704.56 1 560.952.343.53 - Jml Kasus (18) 6 3 1 6 1 4 3 14 1 - Nilai (19) 34.487.10 3 238.32 230.317.608.135.67 14.19 7.97 689.173.14 911.96 4 1.18 1.

43 1 40.19 5 983.99 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 1 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai (17) 22.11 3 14 72.513.42 191.76 2 48.044.12 71.440.818.408.67 - Jml Kasus (18) 1 2 1 - Nilai (19) 244.901.21 1 13.166.991.66 446.70 1 280.46 5.95 43 54.54 Halaman 2 .Lampiran 17 (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan NO Total Kerugian Negara Potensi Kerugian Negara Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian PeneriNegara maan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 2 1 12 89.45 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah Nilai valas telah dikonversikan sesuai kurs tengah BI per 31 Desember 2010 (USD1= Rp8.22 1 219.19 1 4 41.97 163 31.05 5 8 7 386.247.61 - Nilai (20) - Nilai (21) - Nilai (22) 13.41 3 76.79 15 8.64 204.00 2 71.918.35 43 489.19 (1) (2) (3) (4) 19 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi - - 20 Kementerian Perdagangan 6 2 21 Bapertarum 3 - 22 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam 35 31 432 824.81 101.00) .926.40 1 - JUMLAH 86 20 120 48 240.391.

92 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 55 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.77 72.00 10.31 16.Lampiran 18 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan negara/ daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 6 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/ belanja 7 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 33 15 15 2 1 141 54 10 46 4 4 22 1 21 11 8 2 195 100.

968.Halaman 1 .625.323.12 - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah/negara) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Pelaksanaan lelang secara proforma 6 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 7 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.98 144.68 14.498.11 53.267.00 985.656.75 10.06 10.57 12. perpajakan.38 44.018.68 2.29 108.42 45.015.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 857 23 19 419 130 42 24 41 105 49 5 206 147 19 1 1 5 9 3 10 11 314 307 15.16 18.37 15.59 5.47 8.639.122.67 72.227.03 9.62 17.002.346. pertambangan.96 3.47 97.56 1.35 8.49 1.16 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah 3 Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak 4 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan 5 Kelebihan pembayaran subsidi oleh pemerintah IV Administrasi 2 1 3 1 366 139 24 114 19 15 14 12 4 2 4 1 9 3 6 18.247.174.549.525.33 % Nilai (juta Rp) % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 3 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 5 Pemahalan harga (mark up) 6 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 7 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 8 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 9 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 10 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Aset dikuasai pihak lain 4 Pembelian aset yang berstatus sengketa 5 Aset tidak diketahui keberadaannya 6 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan. 8 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan 10 Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir tahun anggaran belum disetor ke kas negara/ daerah 11 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 12 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 13 Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah 14 Lain-lain 56 .097.Lampiran 19 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7 Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada daerah 8 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 9 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 42. dll.12 8.481.04 12.885.445.22 3.43 11.36 1.17 524.00 375.

30 % 3.Lampiran 19 No V Ketidakhematan Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 119 4 9 106 132 38 8 37 4 43 1 1 1.Halaman 2 .22 34.61 1 Pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan 2 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar 3 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 6.663.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 57 .18 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak terhadap pencapaian tujuan organisasi 5 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 6 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 7 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 100.50 26.60 23.42 3.62 522.265.994 % 5.377.464.69 26.40 466.89 3.97 Nilai (juta Rp) 30.82 3.544.101.96 100.692.00 840.752.375.46 62.679.

63 75.999.309.12 7.40 650.38 11 598.00 716.14 239.92 7 603.77 1.64 3 95.44 10 704.45 1 15.370.78 12.66 1 32.641.00 3 72.07 26.489.48 - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Aceh 1 1 Kab.97 345.42 18 1. Aceh Tengah 1 - 3 3 Kab.14 8 1.34 684.755.07 41.83 432.93 56. Bungo - - 4 18 Kab.28 394.656.11 715.035.95 11. Sijunjung 2 - 6 11 Kab.72 1 14 1.41 1 2 1 12 1.79 1 1 3 4 4 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 5 Nilai (19) 16.54 1 18 2.37 2 4 3 3 1 10 1.00 24.Lampiran 20 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 1 2 1 2 2 2 5 6 3.85 400.24 2.84 3 791.900.56 1 50.40 1 5 4 3 4 8 1 7 7 2 2 3 1 1 1 1 16 413.781.46 2.260.92 147.32 741.67 1 224.46 1.181.80 3.847. Lima Puluh Kota - - 3 8 Kab.44 1 14 712.232.514.70 1.14 9.10 198.91 934. Indragiri Hulu - - 5 Provinsi Jambi 1 15 Prov.168. Pasaman Barat - - 5 10 Kab.755.379. Aceh Barat Daya - - 2 2 Kab.62 10.58 Halaman 1 .08 221.03 Nilai (21) 28.28 698.05 440.66 137.76 5 1.876. Pasaman 1 - 4 9 Kab.631.96 1. Tapanuli Selatan 1 - 2 5 Kab. Merangin - - .41 1 2 5 3 2 18 4.54 2.84 2 326.95 1.28 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 461.74 838.608.084.23 13.72 8 1.62 5 278.18 221.00 6.79 13 1.12 5 2.67 10 681.63 4.28 22.31 2 2 3 1 12 162.27 4 183.632.10 134. Jambi - - 2 16 Kab.01 1 4.82 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 3.409. Batang Hari - - 3 17 Kab.30 408.764.07 1 1 19 2. Aceh Utara - - 2 Provinsi Sumatera Utara 1 4 Kab.42 - Nilai (22) 137. Dharmasraya 2 - 2 7 Kab.265. Tapanuli Tengah 1 - 3 Provinsi Sumatera Barat 1 6 Kab.01 3 66. Kerinci - - 5 19 Kab.035.02 20.97 1 4 675.38 3 6.03 199.58 1.46 7 1.07 10 1.07 66. Solok 2 - 7 12 Kab.75 1.74 3 2.15 14.332.92 13 4.14 223.41 3 55. Solok Selatan - - 8 13 Kota Padang - - 4 Provinsi Riau 1 14 Kab.

Ogan Komering Ulu - - 5 31 Kab.56 2 7 969.89 86.28 221.35 79.685.97 296.12 1 462.71 723.342.18 1.51 2 167.85 127.31 Nilai (20) 5.52 827.73 1 6. Lampung - - 59 .60 54.05 10.513.859.549.37 1.06 3 457.827. Ogan Komering Ulu Timur - - 6 32 Kota Prabumulih - - 7 Provinsi Bengkulu 1 33 Kab.71 20.03 387.51 2 129.42 11.499.67 3 997. Tebo - - 11 25 Kota Jambi - - 12 26 Kota Sungai Penuh - - 6 Provinsi Sumatera Selatan 1 27 Kab.99 1 7 3.Halaman 2 .00 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 2 1 1 Nilai (19) 89.20 137. Ogan Ilir 1 - 3 29 Kab.79 661.59 6.14 131.007.910.631.86 3.70 1 5 3.160.14 1 3.43 - Nilai (22) 10.37 3.37 4 476.36 27.703.82 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 Nilai (17) 2. Kepahiang 1 1 3 35 Kab. Sarolangun - - 8 22 Kab.97 4 4 1 2 1 1 1 2 5 477. Mukomuko - - 5 37 Kab.75 1 432.48 904.878.03 2.43 6 606.02 63.10 137. Ogan Komering Ilir 1 - 4 30 Kab.23 8 2.95 3 543.215.14 174.19 4 6 897.14 3. Tanjung Jabung Timur - - 9 23 Kab.56 Nilai (21) 1.53 40.43 301.44 3 2 1 1 1 2 3 519.85 1.446.27 425.289.85 1 43.428.37 1 6 1. Bengkulu Selatan - - 2 34 Kab.21 1 453.047.28 603.57 142.60 336.75 7 2 5 2 1 3 6 3.94 1 10 1.65 2 43.703.46 1 59.05 834. Lebong 1 - 4 36 Kab.98 1 47.98 2.43 3 911.04 3 3 3 6 5 11.64 4 751.50 770. Muaro Jambi - - 7 21 Kab.85 430.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 1 1 1 6 15 1 4 8 9 1. Tanjung Jabung Barat - - 10 24 Kab.93 5 1.98 (1) (2) (3) (4) 6 20 Kab.14 1 1.67 4. Muara Enim - - 2 28 Kab.63 787.61 1.602.53 9 1.19 30. Rejang Lebong 1 - 8 Provinsi Lampung 1 38 Prov.79 2 179.43 1 12.

92 1 53.85 2 82.796.148.39 448.48 1 19 273.33 384.13 1 402.53 1 1 5 1 4 247.69 - (1) (2) (3) (4) 2 39 Kab. Lampung Tengah - - 3 40 Kab.70 1 63.53 1 160.20 5 181.19 2 62.61 13.59 2 398.12 755.92 - - 12 Provinsi Jawa Barat 20 6.34 152.11 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus (17) 5.14 - 1 11.34 1.92 1 202.37 9 191.159.25 45.21 1 9.32 13.656.58 1 1. Bangka Tengah - - 4 48 Kab.48 6 7 613. Belitung Timur - - 10 Provinsi Kepulauan Riau 1 49 Prov.34 1 13.51 6.44 3 2 1 6 596.60 Halaman 3 .99 394.88 84. Bangka Belitung - - 2 46 Kab.50 2 8 324.70 2 124.84 3 352.64 2 4 2 9 488.796.796.26 3 4 392.765.77 1 - - - - - - 1 55 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat - - .10 1 138.99 - Nilai (22) 22.72 1 31.78 3 1.50 5 1.96 23.351.61 6 68.39 1 23.50 Nilai (21) 484.10 1 123.005. Bangka 2 - 3 47 Kab.02 5 153.43 829.10 3 268.034. Tanggamus - - 5 42 Kab.32 2 14 1.37 10 5 448.57 1 12 243.61 5 10 2.00 2 370.69 3 3 3 2 3 1 2 1 9 1. Kepulauan Riau - - 2 50 Kota Batam 1 - 3 51 Kota Tanjungpinang 3 - 11 Provinsi DKI Jakarta 1 52 Dinas Pendidikan - - 2 53 Dinas Perindustrian dan Energi 2 - 3 54 Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah 22 6.39 755.69 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus (18) 1 1 Nilai (19) Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 14. Pesawaran - - 4 41 Kab.39 68.533.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 2 1 1 3 2 10 13.10 1 137.47 2 119.07 4 287.61 5. Kep.37 9 74.39 448. Way Kanan - - 6 43 Kota Bandar Lampung 2 - 7 44 Kota Metro 1 - 9 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 1 45 Prov.888.75 2 1.656.19 23.

349.97 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 1 2 2 1 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 1 1 1 Nilai (17) 338.16 367.90 107.49 6 990.77 65.42 5 1.56 148.97 62.92 258.96 667. Banjarnegara - - 2 64 Kab.92 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 - Nilai (19) 739. Klaten 2 1 5 67 Kab.09 11.84 1 12 3.223.63 562.10 594.411.13 1 4.91 9 9 1.668.12 1.13 131.97 8.60 2 6 1.92 633.14 261.94 2 1 1 3 2 4 5 2 1 1 1 1 1 14 6.00 26.04 216.39 4 194.73 105.43 186.05 442.997.74 4 62.00 198.17 2.55 2.43 (1) (2) (3) (4) 2 56 Setda Provinsi Jawa Barat 1 - 3 57 Kab.10 207.84 333.23 141.938.87 218.86 8 3.60 215.78 - Nilai (22) 89.62 32.00 335.633.541.06 3 775.94 15 585.502.22 363.753.50 2.95 2 3 1 5 2 13 226.12 214. Purworejo 1 - 6 68 Kab. Ciamis - - 6 60 Kab. Gresik - - 5 76 Kab. Bekasi 2 - 5 59 Kab.10 26.98 11.05 1 29. Bondowoso - - 4 75 Kab.78 604.01 135. Jember - - 6 77 Kab.43 113.67 1 2 11 2.20 4 3 1 14 4.49 2 2 8 4.22 2 81.61 1. Cirebon - - 7 61 Kab.687.53 1 2 1 3 2 2 3 4 5 5 2 3 3 3 6 9 1. Bangkalan - - 2 73 Kab.05 10.873.25 29. Blora - - 3 65 Kab.44 2 12 1.44 386.63 16.22 231.31 10 454.08 11.711. Kendal 1 - 8 70 Kab Rembang 5 - 9 71 Kota Salatiga 6 - 14 Provinsi Jawa Timur 1 72 Kab.49 180.32 10.92 205. Garut - - 8 62 Kab. Bandung - - 4 58 Kab.51 24.58 11 215.83 274.18 53.94 31.65 980.10 21.81 23.54 3 1. Purwakarta 4 - 13 Provinsi Jawa Tengah 1 63 Kab.75 215.412.86 270. Temanggung 1 - 7 69 Kab.90 7 6.165.41 258. Karanganyar 4 1 4 66 Kab.84 1 3.658.25 - Nilai (21) 17.776.07 369.08 2.43 40.72 1 1.90 826.37 41.795.70 61.38 4 4 10 3 9 8 1 9 733.48 98.63 16.51 2 15 898.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 3 1 1 1 5 5 1 6 13 15 14 8 9 8.668.09 4 2.62 37.01 - Nilai (20) 704. Bojonegoro - - 3 74 Kab.78 617.75 147.84 13 495. Lumajang 1 - 61 .186.435.35 559.92 211.71 3 108.199.62 107.Halaman 4 .37 58.18 13 482.38 1.14 164.42 103.

54 238.93 869.30 9 4 11 7 16 1.424.89 11 942.42 35.97 2 42.78 1 4.42 42.50 218.39 3.27 6 1.70 34.59 7 505.97 6.91 31.128.77 2 15 1.445.02 6 241.68 478.28 60.67 2.45 33 971.00 1 34.17 90.189.94 166.689.540. Probolinggo 1 - 12 83 Kab.034.29 1 74.89 1.16 3 36.34 935.81 1 144.22 795.926.06 1 18 1. Sampang - - 13 84 Kab.59 11.62 Halaman 5 .94 32.66 1.94 Nilai (21) 4.22 80.314.14 45.51 2 53.13 7 14 705.67 84.54 7 1. Jembrana 3 - .85 1.196.42 1 9 316.94 101.031.85 223.06 13 1.97 200.32 238.46 61.18 22.118.743.33 65.938.39 2.89 250.80 480.09 796.66 252. Gianyar 1 - 4 100 Kab.77 10 1.00 273.21 1.065.39 16.97 2.414. Magetan - - 8 79 Kab.83 1. Trenggalek 1 - 17 88 Kab.43 31.78 432.27 2 476.89 4 84.77 53.95 31.51 (1) (2) (3) (4) 7 78 Kab.95 31. Situbondo 2 - 15 86 Kab.91 2 1 2 2 21 2.613.04 2.49 486.511.44 1.31 - Nilai (22) 10.533.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 1 1 4 1 1 3 12 16 10 3.37 4 9 2.45 39.64 4 1.72 2 1 1 1 1 1 3 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 24.52 324.586.672.22 18 1.16 34.22 4 291.84 27.52 86.39 10.18 10 1 12 321.697.35 11 451. Badung 4 - 2 98 Kab. Sumenep - - 16 87 Kab.15 1 2 4 12 1 2 3 4 1 2 5 93.89 1.021.624.445.96 34.17 478.47 8 1.70 25.03 95.697.66 2 56. Tuban - - 18 89 Kab.93 10 1.45 1 1 1 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 1 1 1 Nilai (19) 111.42 0.96 101.211.181.37 5 869.97 5 1. Malang - - 9 80 Kab. Sidoarjo - - 14 85 Kab.50 14.47 14.96 288.09 7 1.88 75.64 4 796.05 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 942.26 9.97 3 1. Ngawi - - 10 81 Kab.50 310.32 104.46 1 10.90 10 614. Tulunggagung - - 19 90 Kota Batu 1 - 20 91 Kota Kediri - - 21 92 Kota Madiun - - 22 93 Kota Malang - - 23 94 Kota Mojokerto - - 24 95 Kota Probolinggo 1 - 25 96 Kota Surabaya 1 - 15 Provinsi Bali 1 97 Kab.27 9 867.18 247.42 3.86 1.82 1 1 1 1 2 1 1 4 3 14 952.681.38 4. Buleleng 1 - 3 99 Kab.970. Pacitan - - 11 82 Kab.81 12.64 6 691.27 6.00 481.24 83.32 17 560.67 7 836.45 1 2 1 1 2 2 1 10 562.

74 674.31 0.26 89.62 1.47 5.15 24.585.35 41.18 1.48 25.388. Sumbawa Barat 12 - 4 107 Kota Mataram 5 - 5 108 Pembangunan Bandara Internasional Lombok - - 17 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 109 Prov.02 1 29.564.46 1 1 24 1.54 27.09 10.440.598.084.271. Lombok Tengah 8 - 3 106 Kab.868.16 1 2 1 1 1 4 2 3 1 2 4 3 3 6 132.18 1.63 - Nilai (21) 95. Sumba Timur 3 2 13 121 Kab.17 96.849.730.14 1 4.536.92 265. Klungkung - - 7 103 Kab. Alor 3 1 3 111 Kab.601.27 1. Tabanan 3 - 16 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 104 Kab.36 8 1.60 43.65 1. Nagekeo 2 1 9 117 Kab.30 7 233.99 172.83 8 7.92 51. Lombok Barat 3 2 2 105 Kab.08 8.33 162.21 3 213.78 53.88 1 134.48 8.00 3. Belu 1 - 4 112 Kab.856.317.500.70 148.90 319.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 3 1 7 12 5 1 1 1 1 2 1 1 12 12 11 13 11 8 15 591.893.13 1.82 98.73 2.64 517.71 299.108.08 438.96 - (1) (2) (3) (4) 5 101 Kab.124.54 260.19 367.38 4. Manggarai Barat - - 8 116 Kab.92 45.23 58.29 582. Karangasem - - 6 102 Kab.43 2 11 11.71 - Nilai (20) 158.02 6 2.049.51 1 181. Nusa Tenggara Timur - - 2 110 Kab.334.61 20 7.89 8 645.12 6.75 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 3 9 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 4 Nilai (17) 353.96 24.345.58 224.96 93.33 2.94 1 10 780.62 129.474.150.48 1.704.43 45.61 3 10 1.25 76.15 143.74 4. Flores Timur - - 5 113 Kab. Sumba Barat 2 2 11 119 Kab.73 584.55 386.99 3 12 4 6 3 7 8 1 2 2 2 4 3 2 1 1 1 1 5 2 3 2 2 2 5 1 16 1.65 1 3 3 1 2 3 1 14 4.50 77.967.51 45.75 4.64 12.317. Sumba Tengah 1 1 12 120 Kab.70 163.80 1.746.Halaman 6 .83 6.54 260.05 2 1 13 871.31 139.772.55 3 263.611.64 3 4 3 2 2 1 3 2 1 13 2. Kupang 2 2 6 114 Kab.39 1.691. Lembata 1 - 7 115 Kab.01 51.165.03 291.65 1.40 19.732. Timor Tengah Selatan 4 3 63 .810.07 12 609.24 161.92 753.519.85 5 290.27 66.50 3 11 3. Rote Ndao 4 2 10 118 Kab.145.82 148.743.79 2.57 1 1 15 1.63 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 1 1 - Nilai (19) 1.46 - Nilai (22) 181.40 5.00 2 1 2 2 1 2 2 1 3 5 3 2 2 6.84 5.

76 3 20.696.41 23.55 2 1 1 4 4 4 1 1 2 1 1 1 3 1 1 7 1.93 11.30 4.42 15.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 2 1 2 1 1 1 2 10 16 2. Timor Tengah Utara 1 - 15 123 Kota Kupang 5 2 18 Provinsi Kalimantan Tengah 1 124 Prov.75 1 27. Barito Utara - - 5 128 Kab.41 418.00 38.96 196. Kepulauan Talaud 2 - .01 11.00 13.62 14 831.300.45 10 3 17 1.23 21.412.11 28.198.862. Tanah Laut - - 5 139 Kota Banjarbaru - - 20 Provinsi Sulawesi Utara 1 140 Kab. Kalimantan Selatan - - 2 136 Kab.01 2 522.75 7 13 1.34 140.73 5 245.22 1 720.57 196.45 4 1 1 1 2 1 7 222.56 1.87 8.75 147.64 1 1 4 2 2 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 2 1 Nilai (19) 2. Hulu Sungai Timur - - 4 138 Kab.32 8 15 377.35 1 298.41 16 876.00 10 1.20 1 7.91 7 77.24 9 12 1.34 105.00 86. Gunung Mas 3 - 6 129 Kab.484.691.74 13 14 1.32 11.92 200.64 Halaman 7 . Bolaang Mongondow 1 - 2 141 Kab.18 3 374.323.04 1.08 8 5.845.77 1.65 6 15 654. Katingan - - 7 130 Kab.329.55 3 45. Lamandau 1 1 9 132 Kab.439.09 165.67 48.37 281.16 37.64 275.81 34. Barito Timur 1 - 4 127 Kab.628.51 126.79 15.65 2.027.158. Seruyan 1 - 11 134 Kota Palangkaraya - - 19 Provinsi Kalimantan Selatan 1 135 Prov.47 202.95 - Nilai (22) 16.51 7.77 1 80.83 - Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 7.24 1 70.45 3 617.32 3 488.173.06 2 7 306. Pulang Pisau 1 - 10 133 Kab.85 3 2 7 8 4 15 968.82 266.19 704.107.35 2 3 1 2 3 1 4 2 24 700.21 656.35 17.95 21.43 1.85 3 5 2.80 0.83 9 311.06 16.96 - (1) (2) (3) (4) 14 122 Kab.63 2 73.62 1.425. Hulu Sungai Selatan - - 3 137 Kab.74 768.81 5.96 22.174.96 800.96 362.35 1.521.50 693.91 2 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 1.280.84 6 478. Kalimantan Tengah - - 2 125 Kab.37 182.54 3 1 21 2.14 6 13 5.70 8. Kotawaringin Timur - - 8 131 Kab.42 429.76 8 496.95 122.71 4 275.53 Nilai (21) 118.07 393.15 254. Barito Selatan - - 3 126 Kab.276.99 2 1 3 3 11 750.20 4 757.69 39.146.48 22 17.26 26 1.84 6 247.64 5 198.75 7 311.22 44.

52 238.610. Majene - - 3 155 Kab.834.82 634.63 2.20 19.885.978.28 - Nilai (21) 15.44 948.30 1.92 78. Banggai Kepulauan - - 3 147 Kab.580.383.41 12 6.952.41 2 267.10 208.77 66.15 4 3 1 1 1 3 1 3 2 8 1 4 2 3 4 1 2 3 6 4 1 7 1. Halmahera Utara 2 - 65 .06 581.97 1 21.10 7 15 6 1 3 4 3 15 4.59 1. Sidenreng Rappang 3 - 3 150 Kab.57 1 1 2 1 1 1 2 1 4 1 1 1 2 14 3.931.41 3 482.20 6 504.60 1. Luwu - - 2 149 Kab.231.43 1.352. Halmahera Selatan 7 2 4 159 Kab.11 624.09 5 766.48 42.48 169.14 5 3.Halaman 8 .155. Muna 12 - 24 Provinsi Sulawesi Barat 1 153 Prov.28 1 8 766.678.45 59.90 - Nilai (20) 1.89 1.89 5.43 2 286.99 205.584.71 1 1 9 790.56 4 149.107.40 108.630.43 1 5.713.263.00 1 91.06 4. Minahasa Tenggara 2 - 5 144 Kota Tomohon 2 - 21 Provinsi Sulawesi Tengah 1 145 Kab.00 1 1 8 806.63 855.15 87.63 86.221.27 590.71 1. Maluku Utara - - 2 157 Kab. Halmahera Tengah - - 5 160 Kab.70 330.14 2.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 2 2 1 1 1 2 2 12 1 3 1 1 2 18 11 9 1 26 30 16 1.608.044.08 3.28 32.45 79.514.74 14.120.85 1.501. Halmahera Barat 1 - 3 158 Kab.950.033.80 1.77 4 365.54 107.73 1 25. Minahasa 2 - 4 143 Kab. Mamuju 2 1 25 Provinsi Maluku Utara 1 156 Prov.85 1.64 263.72 - Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 3 1 1 3 1 2 - Nilai (19) 1.498.97 91. Sulawesi Barat 1 1 2 154 Kab.064.74 31. Sinjai - - 4 151 Kota Pare-pare 2 - 23 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 152 Kab.49 4.43 14.61 56.06 4 184. Sigi 1 - 22 Provinsi Sulawesi Selatan 1 148 Kab.36 3 434.18 2.79 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 2 3 3 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 2 Nilai (17) 876.83 14 6 6 6 4 14 1.51 2 204.97 15 7.861.67 49.25 1 476.58 828.99 4 111.86 2 1 10 558.09 517.027.27 481. Banggai 1 - 2 146 Kab.16 1.968.96 6 1.80 1.02 441.08 7 5 7 13 17.00 - Nilai (22) - (1) (2) (3) (4) 3 142 Kab.

Sleman 4 3 5 169 Kab.102.17 38.31 8.72 1.24 290. Sarolangun 1 1 .151.42 3 243.98 Nilai (22) 4.761. Sulawesi Utara 2 - 7 171 Kota Manado - - Jumlah Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 11 6 Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 1 1 8 10 4 341.65 498.95 1.54 1 651.66 1 2 2 95.65 1 170.944.20 1 2.63 2 519.29 1.13 1.17 Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Nilai (20) 67.18 203 95.63 17 1.35 1 2.898.76 3 4 332 107 1 8 549.42 1 38.666.18 9 29.79 1 2 120 Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) Nilai (19) 316.47 299 44.217.20 - 1 172 Kab.748.28 2.59 25.75 1 13 2.14 22.01 60.03 1 1 12.040.67 41 4.37 5 99.57 6.752.46 14 15.95 349.32 1.84 2 1 1 2 1 2 3 12 42.482.099.654.70 6 8.43 2 1 3 42.402.35 5 495.87 8.83 1.80 6 26.48 8 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Nilai (17) 449.97 2 2 3 3 3 1 4 18 2 3 3 1 2 1 12 1.78 34.76 351.34 1 3 3 2 3 2 246.56 7 411.798.274.020.021.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Ketidahematan Kekurangan Penerimaan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Jml Kasus (5) 1 134 20 1.71 Nilai (21) 1.869 829.91 14 75.23 203.70 521. Nduga - - Jumlah Belanja Daerah 180 26 Penyelenggaran Pemilihan Umum Kepala Daerah 1 1 2 4 1 87 7.66 Halaman 9 .555.44 1 37.12 210.51 246.46 1 9 12.53 119. Lanny Jaya - - 2 164 Kab.44 1 18 968. Bungo 1 - 3 174 Kab.882.92 12 2.72 1 165 Prov. Bengkulu 3 1 3 167 Kab.09 808 139.66 (1) (2) (3) (4) 6 161 Kab.65 48.16 585. Morotai - - 7 162 Kota Tidore Kepulauan 2 - 26 Provinsi Papua 1 163 Kab. Jambi - - 2 166 Prov.84 9 1.72 1 0.255.513. Batang hari 1 - 2 173 Kab.75 168.722.27 3 1. Gunung Kidul 2 2 6 170 Prov.55 4 8.75 7 286.272.78 2 2.93 47.04 2.98 9 4.484.63 18 3.88 1 288.87 48. Bantul - - 4 168 Kab.11 472.48 66.32 3.20 28.85 61.43 4.064.04 3.

217.267.08 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 3 6 16 366 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 119 Nilai (17) 30.Halaman 10 . Tebo 1 - Jumlah Belanja Bantuan Hibah dan Belanja Bantuan Sosial 4 1 TOTAL 195 33 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 67 .22 Ketidakefektifan Kerugian Negara Potensi Kekurangan Kerugian Penerimaan Negara Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1 1 9 132 Nilai (19) 12. Tanjung Jabung Barat - - 5 176 Kab.596.69 Nilai (20) 16.656.89 3 10 1.98 Nilai (22) 3.31 2 22.95 Nilai (21) 1.33 1 25.94 45.377.692.752.Lampiran 20 (nilai dalam juta rupiah) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidahematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (5) 1 3 141 21 1.10 22.58 (1) (2) (3) (4) 4 175 Kab.20 5.64 522.14 789.00 1 33.03 206 97.214.11 314 38 3.994 840.554.85 291.77 51.563.021.69 8 258.639.38 6 70.25 37.21 2 2.623.46 857 144.31 1 1.

Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 30 26 3 1 5 1 4 13.Lampiran 21 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .95 Jumlah Kasus % 3 2 1 38 7.16 78.89 100 68 .

Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 5 1 4 14 8 5 1 2 2 2.74 22.528.70 857.00 34.810.318.115.086.02 11.94 856.33 4.00 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 69 .848.59 72.77 1.12 258.528.74 100.58 100.77 4.58 4.70 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah 2 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Aset tidak diketahui keberadaannya 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan Daerah 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 1 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan 2 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 3 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan 5.45 8.810.49 3.014.Lampiran 22 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .79 22.29 3.05 4.25 61 43 1 17 1 1 8 1 7 91 67.20 15.33 14.38 % Nilai (juta Rp) 1.03 - - 1.51 66.848.10 1.

70 Lampiran 23 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan Yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Daerah Administrasi Ketidakhematan Jml Kasus (5) 896.20 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 4 4 15 6 9 17 10 7 12 12 3 3 10 4 6 61 Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml kasus Jml Kasus (16) 1 1 1 Nilai (17) Ketidakefektifan Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (18) 1.48 857.210.33 2 29.082.93 21.69 7 20 6.848.06 2 16 2.009.72 1 1 5 132.80 1 18 6.787.72 1 18 6.05 72.80 1 11 16.05 1.213.40 4.631.08 243.922.01 34.181.44 72.01 4.20 7 29.41 1 25 19.306.213.77 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 8 Nilai (19) 6.93 4.882.631.115.70 2 2 1 1 3 1 2 14 1 2 3 2.38 1 5 86.51 1 7 2.20 2 29.94 2 1 1 1 1 2 1 3 22.38 1.014.77 1.213.77 1.57 1.810.528.904.07 1 1 5 132.72 86.60 39.210.74 (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Bengkulu 8 8 1 1 Kabupaten Bengkulu Utara 8 8 2 Provinsi Jawa Timur 10 10 1 2 Kabupaten Sidoarjo 4 4 2 3 Kota Surabaya 6 6 3 Provinsi Bali 10 6 1 4 Kabupaten Buleleng 7 4 2 5 Kabupaten Jembrana 3 2 4 Provinsi Kalimantan Selatan 3 3 1 6 Kota Banjarmasin 3 3 5 Provinsi Sulawesi Tengah 4 2 1 7 Kabupaten Parigi Moutong 4 2 6 Provinsi Sulawesi Selatan 3 1 1 8 Kabupaten Luwu Utara 1 - 2 9 Kabupaten Tana Toraja 2 1 JUMLAH 38 30 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .181.38 1.69 7 29.08 15.00 2 13 6.528.20 4 3 1 1 1 5 3 91 1 9 153.38 22.93 22.72 132.58 1 14 2.787.528.38 2.69 6.31 856.57 243.318.29 153.153.213.40 4.005.12 132.69 15.

43 Jumlah Kasus % 71 .00 28.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 5 5 2 2 7 100.Lampiran 24 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .57 71.

71 2.41 11.29 154.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 48 1 22 19 5 1 24 21 2 1 19.432.48 14.35 % Nilai (juta Rp) 36. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah IV Administrasi 38.619.75 34.45 14. dll.298.14 37.768.71 41. pertambangan.28 39.577.01 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan 3 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.Lampiran 25 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .83 26 11 1 12 2 20.14 3.11 5 5 124 - - - 1 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100. V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/daerah/ perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 8 8 6.48 3.265.05 13 13 10.96 6.14 3.00 72 .22 100.48 16.752.04 19.401.97 - - 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 4 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.62 14.000. perpajakan.94 16.298.697.00 88.551.401.

01 4 1.69 109.41 3 545.10 3 1.51 113.19 783.83 11.090.68 865.79 114.84 9 2.98 4 916.24 55.35 9.231.75 2 48 7.13 202.521.21 19.53 34.63 1 66.75 2.39 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 1 16 6 2 3 1 4 7 1 6 2 2 26 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) 1 1 4 2 2 3 2 1 8 Nilai (16) 36.29 1.981.92 36.66 2 687.44 7 2.98 9.033.34 7 753.78 15 2.40 3.700.77 5 30 72.608.45 65.21 210.90 2 1 1 6 4 2 2 1 1 24 7 1.Lampiran 26 (nilai dalam juta rupiah) Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Belanja Bidang Infrastruktur Pemerintah Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern NO Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Administrasi Kekurangan Penerimaan Ketidakhematan Entitas Total Kelemahan Sistem Kelemahan Pengendalian Struktur Pelaksanaan Pengendalian Anggaran Intern Pendapatan dan Belanja Jml Kasus (5) 5 2 1 1 1 5 2 124 9 6 7 1.54 744.49 15 5 4 6 48 15 31.401.56 1.517.59 14.86 137.78 2 687.09 2 457.83 1.84 18.43 1 6 1.807.54 88.298.92 2.55 18 2.290.619.616.89 19.30 4 15 40.390.28 3 735.77 55.681.420.969.28 797.317.97 1.26 29.73 19.722.383.853.74 4 964.156.85 1.695.898.86 3 114.28 1 49.70 3 490.27 1 15 863.72 3 359.235.24 55.656.22 22 4.10 2.24 1 4 Kabupaten Bantul - 2 5 Kabupaten Kulon Progo - 3 Provinsi Kalimantan Barat 7 1 6 Provinsi Kalimantan Barat 3 2 7 Kabupaten Sambas 1 3 8 Kabupaten Kayong Utara 1 4 9 Kabupaten Sanggau 1 5 10 Kabupaten Kubu Raya 1 4 Provinsi Kalimantan Timur - 1 11 Kabupaten Nunukan - 2 12 Kabupaten Penajam Paser Utara - 5 Provinsi Gorontalo - 1 13 Kabupaten Boalemo - 2 14 Kabupaten Gorontalo Utara - 3 15 Kabupaten Gorontalo - JUMLAH 7 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 73 .14 7 1.752.35 1 3 2 1 4 2 2 2 1 1 13 9 1.414.08 9 28.09 94.69 3 594.96 9 603.58 101.719.68 1 19.24 39.618.432.670.43 4 772.63 1 10 2.847.950.44 1.70 1 181.27 10.327.01 36.62 5 745.35 735.35 735.695.901.35 55.48 4.80 2 64.48 Ketidakefektifan Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (17) 3 2 1 1 1 1 1 5 Nilai (18) - Nilai (19) - Nilai (20) - (1) (2) (3) (4) 1 Provinsi Lampung - 1 1 Kabupaten Lampung Selatan - 2 2 Kabupaten Tulang Bawang - 3 3 Kabupaten Lampung Timur - 2 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta - 735.048.179.05 3 545.10 2 85.

00 Jumlah Kasus % 8 3 1 4 25 32.00 100.00 74 .Lampiran 27 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 17 6 3 8 68.

2 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan IV Ketidakefektifan 1 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 75 .21 USD 29.54 Rp175.21 USD 29. perpajakan.261.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara Jumlah Kasus Nilai (juta rupiah dan ribu USD) Rp5. pertambangan.49 Rp5.261.602. dll.71 USD 29.49 Rp175.54 Rp181.049.54 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara 1 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.261.602. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 2 Lain-lain 20 17 3 II Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah 31 31 III Administrasi 33 32 1 1 1 85 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.447.447.Lampiran 28 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

720.782.24 40.41 8.887.10 4.75 141. Sijunjung 1 - 7 Kab.843.035.22 USD 924.73 USD 466.393.202.71 5.41 2 4.749.62 2 9 8.163.18 526.602.44 1 2 2 3 2 2 2 3 3 2 31 2 1.97 1.517.843.749.67 26.54 1 1 1 2 2 2 20 1 796.91 871.12 59.54 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (15) Jml Kasus (16) Nilai (17) Nilai (18) (1) (2) (3) (4) 1 1 1 1 4 1 2 2 5 17 Kab.91 175.55 Rp175.67 26.76 Lampiran 29 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Pertambangan Batubara (nilai dalam juta rupiah dan ribu USD) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Negara/ Daerah Administrasi Potensi Kerugian Negara/Daerah Kekurangan Penerimaan Entitas Total Sistem Sistem Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Jml Kasus (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) Ketidakefektifan Kekurangan Penerimaan Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus USD 466.49 2 107.22 USD 924.24 40.12 59.46 USD 6.91 2. Kuantan Singingi 4 - - 14 PKB2B dan CTR 6 - JUMLAH 25 - Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah .96 USD 6.202.18 526. Kutai Kartanegara 1 - - 9 Kab.508.04 22.493.07 4.925.049.38 22. Bungo - - 3 Kab Sarolangun 1 - 4 Kab.72 USD 6.925.143.37 USD 10.46 USD 6.261.63 1.553.10 3 101.70 USD 41.98 892.451.586.21 USD 29.621. Indragiri Hilir 2 - 12 Kab.997.10 3. Batanghari - - - 1 4 3 3 1 4 1 3 2 3 2 2 4 33 1 1 - USD 3.26 Rp5. Indragiri Hulu 1 - 13 Kab.13 2 3 4.563.563.71 USD 29.143. Tebo - - 5 Kota Sawahlunto 1 - 6 Kab.250. Berau 1 - 8 Kab. Tanah Bumbu 2 - 11 Kab.55 Rp181.586.65 3 1 1 1 1 1 2 1 8 85 8 7 7 5 5 6 6 6 3 4 8 8 3.36 3 1.44 USD 41.493.391.08 USD 6.46 175.447.30 USD 14.139.30 USD 14.45 2 Kab.50 1.357. Tanah laut 5 - 10 Kab.50 1.921.261.98 751.

00 50.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat II Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 3 3 3 1 2 6 100.Lampiran 30 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 50.00 Jumlah Kasus % 77 .

315.474.78 USD 66. pertambangan.474. perpajakan. dll.474.78 6.315.315.71 17 USD 66.Lampiran 31 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .78 No Kelompok dan Jenis Temuan Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Lain-lain II Kekurangan Penerimaan 1 Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS III Administrasi 1 1 17 USD 66.71 4 4 22 Rp6.71 1 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Kontrak Kerja Sama (KKS) Minyak dan Gas Bumi Jumlah Kasus Nilai (juta Rp dan ribu USD) 6. Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 78 .

28 Jumlah Kasus % 9 2 7 29 31.00 79 .Lampiran 32 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .03 100.69 48.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai 5 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM yang memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 14 9 1 1 2 1 6 2 4 20.

00 312.50 312.00 80 .Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 1 1 % Nilai (juta Rp) 1.00 84.048.74 1 1 1 1 2 1 1 5 20.00 - - 1 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 2 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 100.26 20.735.97 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang II Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset dikuasai pihak lain III Administrasi 20.00 - - 1 Lain-lain IV Ketidakefektifan 40.50 15.97 1.Lampiran 33 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 2.735.47 100.

97 1 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Nilai (12) 312.048.048.735.97 1.50 Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Tambahan Penggantian Biaya Pokok BBM - 2 Subsidi Jenis BBM Tertentu 13 3 Kewajiban Pelayanan Umum PT PELNI (Persero) 3 4 Kewajiban Pelayanan Umum PT KAI (Persero) 13 5 Subsidi Pupuk yang disalurkan PT Pusri (Persero) - 6 Subsidi Bunga yang Ditagihkan Bank Indonesia - JUMLAH 29 Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah 81 . Entitas/Obrik Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Total Jml Kasus (5) 6 1 7 14 6 9 5 2.735.47 3 3 4 2.50 312.50 Jml Kasus (13) 1 1 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah Kerugian Negara/ Potensi Kerugian Administrasi Ketidakefektifan ditindak lanjuti Perusahaan Negara/Perusahaan dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (14) 1 1 2 Nilai (15) Potensi Kerugian Negara/Perusahaan (16) 312.Lampiran 34 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pelaksanaan Subsidi Pemerintah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern No.47 1 1 2 1 6 1 1.50 312.

57 27.77 47 100.66 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 6 3 3 12.00 82 .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Perusahaan 13 12 1 28 3 9 16 59.Lampiran 35 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .

Lampiran 36 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
No Kelompok dan Jenis Temuan Nilai Jumlah (juta rupiah dan Kasus ribu USD) 92.936,95 USD 7,543.01 7.453,44 6.856,42 104,08 1.023,50 77.499,49 USD 7,543.01 973.661,50 USD 53,155.43 1.466,71 781.925,38 USD 20,704.76 190.269,40 USD 32,450.67 3.201,35 2.915,16 286,19 1.243,90 1.243,90 11.990,65 11.990,65 Rp1.083.034,47 USD 60,698.45

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Negara/Perusahaan 1 Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang 3 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 4 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet 5 Lain-lain 13 1 3 1 1 7

II

Potensi Kerugian Negara/Perusahaan 1 Aset tidak diketahui keberadaannya 2 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 3 Lain-lain

31 1 22 8

III

Kekurangan Penerimaan

6 4 2 6 1 3 1 1 1 1 1 1 58

1 Penerimaan negara/perusahaan atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara atau perusahaan milik negara 2 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi

1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/ tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan negara/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan

1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

83

84

Lampiran 37

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Badan Usaha Milik Negara
(nilai dalam juta rupiah dan ribu USD)
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyetoran ke kas negara/ perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Perusahaan Kerugian Negara/ Perusahaan Potensi Kerugian Negara/ Perusahaan

Ketidakefektifan

Kekurangan Penerimaan

Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus
(6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Nilai

Jml Kasus
(17) (18)

Nilai

Nilai

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(19)

(20) 3 1 1.243,90 91,84

1 USD 38.60 410.591,37 USD 29,327.09 26.646,73 USD 412.07 19.968,06 127.812,60 USD 30,920.67 Rp1.083.034,37 USD 60,698.45 13 USD 7,543.01 31 Rp92.936,95 1 1 29.208,30 6 98.604,29 USD 30,920.67 Rp973.661,50 USD 53,155.43 2 2.421,35 2 5.126,33 1 2.641,12 USD 412.07 2 6 3 24.005,60 5 USD 7,543.01 USD 21,784.08 14 45.650,06 364.941,30 USD 38.60 2 4 9 1 6 28 6 58 1 2 7 2 9 1 4 1 19 429,71 Rp3.201,35

PT Angkasa Pura II (Persero)

9

2

6

1

17

498.015,60 4 13.016,11 5 4 2.771,64

480.983,95

2

PT Adhi Karya (Persero)

4

1

2 1 6

1

Rp1.243,90

1 -

11.990,65 1 Rp11.990,65

Rp91,84

3

Bali Tourism Development Corporation (BTDC)

5

-

4

PT Kimia Farma (Persero)

15

4

5

PT Nindya Karya (Persero)

7

6

6

PT Pupuk Kalimantan Timur

7

-

JUMLAH

47

13

Keterangan Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 38

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Entitas terlambat menyampaikan laporan 4 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 6 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 27 17 5 2 3 101 2 1 19 44 24 11 49 13 25 7 4 177 100,00 27,68 57,06 15,25 Jumlah Kasus %

85

Lampiran 39 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 43 2 4 1 1 8 5 1 21 22 2 2 2 1 15 26 22 2 2 66 13 2 12 1 11 15 1 2 2 7 28 28 42 7 1 1 27 6 227 100,00 18,50 12,33 29,07 11,45 9,69 % Nilai (juta Rp) 3.269,96 102,79 220,50 865,97 21,50 280,72 145,61 7,25 1.625,59 13.893,40 17,52 119,87 575,39 2.525,50 10.655,09 2.823,85 2.072,38 643,41 108,05 46.809,14 46.809,14 6.548,97 3.365,97 1.484,78 1.629,38 68,82 73.345,33 100,00 8,93 63,82 3,85 18,94 %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah/Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif 2 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 4 Pemahalan harga (Mark up) 5 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 6 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 7 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 8 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Aset dikuasai pihak lain 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 5 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah atau perusahaan milik daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah 3 Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah/perusahaan 6 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 7 Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan 8 Penyetoran penerimaan daerah melebihi batas waktu yang ditentukan 9 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 10 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan 3 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 4 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 5 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

18,94

4,46

86

Halaman 1 - Lampiran 40

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional PDAM
Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 5 5 3 3 31 8 4 7 4 2 6 21 8 7 4 4 3 3 1 1 3 1 477,47 1.054,00 10 824,93 1 173,10 484,00 484,00 28,00 28,00 41,43 28,08 0,60 540,71 6 1 1 6 6 20 3 4 4 2 4 3 8 2 7 3 12 19 55 11.392,83 2.421,83 3 9 2.507,01 3 9 2.507,01 1 10 3.132,02 1 10 3.132,02 1 13 2.078,53 2 19 3.050,86 2 6 1.572,28 2 168,54 1 3 3 8 2 1 1 2 5 38 6.701,68 10 882,37 1 10 304,13 2 23,70 1 2 5 875,02 1 12,50 74,37 555,74 555,74 2.484,34 2.484,34 6.417,25 2.393,75 321,60 529,10 146,67 1 11 1.102,42 3 47,08 3 16 732,50 3 58,73 1 482,28 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 7 1 2 2 5 13 240,11 3 141,73 1 3 15 554,59 2 92,49 2 79,21 1 14 70 3.808,80 14 376,23 4 635,87 7 911,20 382,88 9,09 153,58 109,77 49,80 206,05 44,20 9,75 4,00 30,45 43,26 43,26 165,10 4,39 105,99 36,49 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 8 2.828,30 2 282,56 2 2.529,70 2 16,04 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 2 2 26 6 6 7 3 1 3 13 2 7 4 3 3 2 2 11 5 1 2 1 1 5 809,40 1 9,25 1 369,03 1 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 1 6 1 1 3 1 8 1 3 4 1 1 4 4 5 2 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (17) 431,11 431,11 1.816,66 20,46 37,90 945,57 812,72 3.589,96 1.393,98 321,00 1.874,97 163,68 163,68 2.435,75 2.435,75 1.403,07 175,67 Jml Kasus (18) 1 1 13 4 2 3 1 1 2 3 3 1 1 21 4 4 3 2

Ketidakefektifan

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (19) 68,82 68,82 1.629,38 1.629,38 3.365,97 151,47 418,90 465,49 Nilai (20) 163,55 81,62 58,73 6,75 16,44 77,69 8,58 69,11 Nilai (21) 8,60 8,60 Nilai (22) -

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

I

Prov. Sumatera Barat

7

1

1

1

PDAM Kota Bukittinggi

7

1

II

Prov. Sumatera Selatan

4

1

1

2

PDAM Lematang Enim

4

1

III

Prov. Jawa Timur

50

5

1

3

PDAM Kab. Banyuwangi

11

-

2

4

PDAM Kab. Blitar

10

1

3

5

PDAM Kab. Kediri

10

-

4

6

PDAM Kab. Madiun

6

1

5

7

PDAM Kab. Mojokerto

6

2

6

8

PDAM Kota Pasuruan

7

1

IV

Prov. Bali

28

2

1

9

PDAM Kab. Buleleng

11

1

2

10 PDAM Kab. Karangasem

9

-

3

11 PDAM Kota Denpasar

8

1

V

Prov. Nusa Tenggara Barat

2

-

1

12 PDAM Menang Mataram

2

-

VI

Prov. Kalimantan Selatan

9

-

1

13 PDAM Intan Banjar

9

-

VII Prov. Sulawesi Tengah

49

10

1

14 PDAM Kab. Banggai

7

1

2

15 PDAM Kab. Buol

6

-

3

16 PDAM Kab. Donggala

9

2

4

17 PDAM Kab. Morowali

8

2

87

88

Halaman 2 - Lampiran 40

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah/perusahaan atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Entitas

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Kerugian Daerah/ Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Potensi Kerugian Daerah/Potensi Kerugian Daerah yang terjadi di PDAM Jml Kasus (6) 3 3 1 10 10 3 3 1 1 101 49 227 73.345,33 43 3.269,96 22 13.893,40 26 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 2.823,85 2 3 406,19 2 76,78 1 329,41 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 4 9 239,06 2 44,61 1 120,20 1 74,25 3 3 66 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 20 41.520,00 5 1.044,70 2 781,23 4 1.240,36 5 3 3 28 5 6 678,21 2 18,21 1 1 6 3.531,12 1 12,75 1 1.171,30 1 1 1 6 2.405,24 1 1.854,79 1 1 158,40 726,06 342,92 36.968,90 36.968,90 46.809,14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) 3 2 3 1 1 2 2 42 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (19) 392,03 1.620,99 317,07 1.484,78 1.484,78 6.548,97

Potensi Kerugian Kerugian Daerah/ Daerah/Potensi Kekurangan Kerugian Daerah Kerugian Penerimaan yang terjadi di Daerah yang PDAM terjadi di PDAM Nilai (20) 241,25 Nilai (21) 8,60 Nilai (22) 17,04 17,04 17,04

Jml Kasus (5)

Jml Kasus

Jml Kasus

(1)

(2)

(3)

(4)

5

18 PDAM Kab. Poso

6

2

6

19 PDAM Kab. Tolitoli

5

1

7

20 PDAM Kab. Tojo Una-una

8

2

VIII Prov. Sulawesi Selatan

12

2

1

21 PDAM Kota Makassar

12

2

IX

Prov. Sulawesi Barat

12

5

1

22 PDAM Kab. Polewali Mandar

12

5

X

Prov. Papua

4

1

1

23 PDAM Kab. Jayapura

4

1

Total

177

27

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah

Lampiran 41

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No I Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 6 5 1 27 2 9 13 1 2 5 4 1 38 100,00 13,16 71,05 15,79 Jumlah Kasus %

1 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 2 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

89

Lampiran 42

Daftar Kelompok dan Jenis Temuan - Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD
No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus % Nilai (juta Rp) %

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 3 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Lain-lain II Potensi Kerugian Daerah yang Terjadi di RSUD 1 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 3 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 4 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 5 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. 6 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan
Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

10 2 3 2 2 1 1 1 17 15 2 19 2 1 5 6 3 2

16,39

3.531,80 102,24 676,67 101,52 2.637,48 13,87

17,95

1,64

28,35 28,35

0,14

27,87

6.072,60 5.523,57 549,02

30,86

31,15

-

-

1 1

1,64

70,47 70,47 -

0,36

13 4 2 5 2 61

21,31

9.977,10 944,46 8.873,63 159,00

50,70

100,00

19.680,34

100,00

90

Lampiran 43

Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional RSUD

(nilai dalam juta rupiah)

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan

Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan

No Total Kerugian Daerah/ RSUD Potensi Kerugian Daerah/RSUD Kekurangan Penerimaan

Entitas

Total

Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja

Administrasi Ketidakhematan Ketidakefektifan

Kerugian Daerah/RSUD

Potensi Kerugian Daerah/RSUD

Jml Kasus Jml Kasus (5) 2 0 2 0 2 6 27 5 61 19.680,34 10 3.531,80 11 2 13 800,59 1 78,72 1 1 14 4.118,02 2 2.629,85 4 11 4.040,07 4 309,00 28,35 6 1 12 9.349,72 1 28,35 3 7 4 17 6 1 11 1.371,93 3 514,22 3 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 857,70 3.681,28 1.307,39 226,21 6.072,60 Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus

Jml Kasus (15) 3 4 2 4 6 19

Jml Kasus (16) 1 1

Nilai (17) 70,47 70,47

Jml Kasus (18) 2 6 2 1 2 13

Nilai (19) 9.250,89 49,78 180,77 495,66 9.977,10

Nilai (20) 23,52 23,52

Nilai (21) 2,38 2,38

(1)

(2)

(3)

(4)

1

RSUD Pirngadi Medan

9

2

RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh

7

3

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek di Bandar Lampung

6

4

RSD Mayjen H. M. Ryacudu di Kotabumi

1

5

RSUD Prof. Dr W.Z. Johannes Kupang

15

JUMLAH

38

Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah

91

05 6.35 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 4 Lain-lain Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 91 100.00 92 .Lampiran 44 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .59 Jumlah Kasus % 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Mekanisme pemungutan.Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 6 3 3 41 1 1 14 9 16 45. penyetoran dan pelaporan serta penggunaan penerimaan daerah dan hibah tidak sesuai ketentuan 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 5 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 44 9 32 1 2 48.

73 - - 1 1 6 1 1 1 3 55 1.00 58.00 93 .78 66.22 100.98 90.73 2.764.50 1.82 1.521.50 - 2. dll.39 445.13 % Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan I Kerugian Daerah 1 Kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak 5 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan 6 Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet II Potensi Kerugian Daerah 1 Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 2 Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan.96 10.88 2.792.00 38.91 484.56 100.416.Lampiran 45 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan . 4 Penyetoran penerimaan negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 2 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 3 Pelayanan kepada masyarakat tidak optimal 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah 12.68 2.727.86 115.70 101.497.34 178. perpajakan.633. pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 3 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 4 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/ tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian daerah) 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.16 2.50 10.52 775.792.117.50 3.31 33.235.91 13.27 % Nilai (juta Rp) 1.56 18 2 3 12 1 32.759.25 23. pertambangan.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah No Kelompok dan Jenis Temuan Jumlah Kasus 7 1 1 2 1 1 1 15 1 2 11 1 8 8 14.727.88 4.88 1.834.55 27.62 235.

09 1 5.56 2 9 11.071.12 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan kebawah .142.676.66 4 8.633.25 10.98 1 11 7 5.497.943.82 2 1 5 2.89 1 3 1 2 5 3.86 2 1.699.70 1. Buol.142.40 18.800.88 18 1 1.09 20 3 4 2.50 - Jml Kasus (18) 1 2 1 1 1 Nilai (19) 484.72 1 775.34 9.727.416.54 223.12 - (1) (2) (3) 1 BPD Sumatera Barat 21 2 PD BPR Tanggo Rajo 1 3 BPD Jawa Tengah 2 4 PD BPR Kab.258.800.50 6 13. Luwuk.475.94 Lampiran 46 (nilai dalam juta rupiah) Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional Bank Daerah Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah Potensi Kerugian Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Ketidakhematan Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Sistem Kelemahan Pengendalian Pengendalian Struktur Total Pelaksanaan Akuntansi Pengendalian Anggaran dan Intern Pendapatan Pelaporan dan Belanja Ketidakefektifan Kerugian Kekurangan Daerah Penerimaan Jml Kasus Jml Kasus (5) 1 0 0 0 0 1 0 1 3 0 3 2 6 29.494. Poso.521.759.08 2 325. Bantul 2 5 PD BPR Bank Sleman 1 6 PT Bank NTB 17 7 PT BPD Nusa Tenggara Timur 23 8 PT Bank Kalimantan Tengah 12 9 PT Bank Sulut serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Prov.248.37 369. Tolitoli dan Parigi Moutong 6 41 44 55 58.91 0.89 2.43 10 10 1 (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai (4) Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (16) 1 1 2 5 1 5 3 1 - Nilai (17) 1.84 1 146.598.792.83 18.87 2 2 2 9 4.98 3 4.39 8 2. Sulawesi Utara 7 10 PT Bank Sulawesi Tengah dan Kantor Cabang Di Palu.96 1 178.52 5 JUMLAH 91 15 38.50 2.919.56 3 3.77 2 14 3 4.24 2 211.727.16 Nilai (20) 0.22 7 1.764.54 - Nilai (21) 223.98 1 6 18.

99 Jumlah Kasus % 1 Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur 2 SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati 3 Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern 4 Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal 5 Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai Total Kelemahan Sistem Pengendalian Intern 95 .Lampiran 47 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .Kelemahan SPI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No Kelompok dan Jenis Temuan Kelemahan Sistem Pengendalian Intern I Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan 1 Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat 2 Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan 3 Sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai II Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja 1 Perencanaan kegiatan tidak memadai 2 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja 3 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan 4 Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja 5 Lain-lain III Kelemahan Struktur Pengendalian Intern 20 12 1 7 34 4 7 14 8 1 33 17 11 1 2 2 87 100.93 39.00 37.08 22.

47 1.60 15.46 3.60 1.58 100.Lampiran 48 Daftar Kelompok dan Jenis Temuan .00 - 18.71 344.84 417.764.92 6.52 271.00 44.00 96 .402.35 % 4.169.12 8.073.36 196.99 18.60 16.80 485.673.16 38.31 6.639.487.53 16.30 Nilai (juta Rp) 2.99 100.46 1. perpajakan.37 7.70 Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan 1 Kekurangan volume pekerjaan 2 Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi 3 Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/ atau melebihi standar yang ditetapkan 4 Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan II Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah 1 Aset dikuasai pihak lain 2 Pembelian aset yang berstatus sengketa 3 Aset tidak diketahui keberadaannya 4 Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih 5 Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan 6 Lain-lain III Kekurangan Penerimaan 1 Penerimaan daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/disetor ke kas daerah/perusahaan daerah 2 Penggunaan langsung penerimaan daerah IV Administrasi 1 Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) 2 Penyimpangan terhadap peraturan per-UU bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik daerah 3 Penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan.49 100.91 - - 10.442.133.835.620.51 122.402.15 27.79 34.379. pertambangan. 4 Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah 5 Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah 6 Lain-lain V Ketidakhematan 1 Pemborosan keuangan daerah/perusahaan daerah atau kemahalan harga VI Ketidakefektifan 1 Penggunaan anggaran tidak tepat sasaran/tidak sesuai peruntukan 2 Barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan 3 Pelaksanaan kegiatan terlambat/ terhambat sehingga mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi 4 Fungsi atau tugas instansi yang diperiksa tidak diselenggarakan dengan baik termasuk target penerimaan tidak tercapai Total Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 18.16 437. dll.73 1.Ketidakpatuhan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya No I Kelompok dan Jenis Temuan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jumlah Kasus 8 2 2 3 1 16 6 1 2 5 1 1 16 15 1 24 10 4 6 1 2 1 9 9 13 2 5 3 3 86 % 9.18 15.

398.38 1.10 - - 4 Pendapatan dan Biaya PD Natuna.312.169.696.43 3 2 1 6 3 PT.288.68 143.73 - 3 - 1.60 16.00 499.51 1.730.94 2 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 5.570.Lampiran 49 Daftar Kelompok Temuan Menurut Entitas Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Operasional BUMD Lainnya (nilai dalam juta rupiah) Kelemahan Sistem Pengendalian Intern Ketidakpatuhan terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan No Total Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Kekurangan Penerimaan Administrasi Potensi Kerugian yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Entitas Kelemahan Kelemahan Sistem Kelemahan Sistem Pengendalian Struktur Total Pengendalian Pelaksanaan Pengendalian Akuntansi dan Anggaran Intern Pelaporan Pendapatan dan Belanja Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai Nilai Nilai Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Ketidakhematan Ketidakefektifan Kerugian Daerah yang Terjadi pada Perusahaan Milik Daerah Jml Kasus Jml Kasus Nilai Jml Kasus Nilai Nilai (1) 1 3 2 5 188. Kalimantan Timur 8 11 PD Praja Karya.073.79 3 2 3 5.37 5 1 9 6.867.379. Kalimantan Barat 12 10 Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya.19 1 1.94 - (15) - (16) 1 (17) 39.58 5 1 11 6.88 5 6.50 1 1 4 3 10 1.40 5.46 2 1 1 1 1 13 1.54 8 5 3 7 2.34 826.835.847.73 1 4 3 1 16 0 7 Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama (Provinsi Jawa Timur) 3 2.169.29 (20) - 1 PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan 5 2 PD Sarana Pembangunan Siak (PD SPS) Untuk Tahun Buku 2008 – Semester I Tahun 2010 di Pekanbaru (*) 4 1 3 782. Maluku 15 JUMLAH 87 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 97 .24 2.13 8.65 3 3 10 11.133.24 163. Jawa Timur 7 9 Perusahaan Daerah Aneka Usaha.07 2 5 3 179.402.12 44.00 14.186.42 1 3 4 - 1 2 2 - 66.325.345.169.92 1 113.49 254.442.31 1 4 2 1 16 8.93 619.90 1 100.849.37 5.40 329.00 4. Kepri 8 6 Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta Manunggal Pratama 1 4 2 7 20 34 33 86 1 7 9 163.52 1.14 15.50 781.52 2 122. Kepri 16 5 Perusahaan Daerah Karimun.54 3 9 16 8.849.82 (18) 1 3 (19) 48.696. Pengembangan Investasi Riau (BUMD Provinsi Riau) 7 221.00 1.51 8 PD Pasar Surya.620.51 668.109.53 4 1 2 5 4 24 1 2 9 71.

26 22.244.676.359.22 1 4 5 24.090.909.80 USD 309.335.15 GBP 17.69 1.98 22.26 11.47 EUR 11.995.577.87 328.98 461.590.13 581.78 96.244.410.981.244.93 92 USD 9.21 1.962.94 USD 309.60 11.090.29 829.41 39 1.21 Jml (6) 2 2 35 9 44 39 39 11 11 34 58 Nilai (7) 138.27 22.145.291.906.244.138.21 9.284.899.419.617.592.698.00 68 219 Kementerian Komunikasi dan Informatika EUR 0.08 EUR 0.64 1.962.01 6.138.994.899.19 - 8 Wantanas 2009 2010 Jumlah 9 BIN 2009 2010 Jumlah 10 Lemsaneg 2009 2010 Jumlah 11 Lemhanas 2009 2010 Jumlah 12 Menko Polhukam 2009 2010 Jumlah 13 Kementerian Dalam Negeri 2009 2010 Jumlah 14 Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi 2009 2010 Jumlah 6 17 23 2.27 64.744.636.58 64.08 24.13 581.734.20 22.88 15.89 24.26 11.080.13 96.55 Jml (8) 2 2 6 6 6 6 1 Nilai (9) 596.590.696.32 - 55 55 - 10.265.31 4.771.23 - 85 85 20 16 36 11 13 24 75 75 - 64.65 Jml (10) 40 35 75 4 4 15 15 30 Nilai (11) 2.922.010.79 5 22 27 1 1 2 3 3 14 43 57 - 125.847.536.79 416.34 2.92 26.770.952.09 9.88 16.79 14 4 18 14 9 23 3 3 11 11 22 14 7 21 127 73 200 - 161.15 GBP 17.34 11.305.659.636.15 GBP 17.Halaman 1 .40 7 2009 2010 Jumlah 19 111 130 15 10 25 23 16 39 11 13 24 11 11 22 17 7 24 141 191 332 - 161.750.847.483.48 2.34 30.74 USD 9.35 - - USD 9.40 1 40 - 28.40 11.62 868.40 1.984.78 1.98 41.20 1.75 USD 9.903.97 1.22 - EUR 0.88 13.34 1.951.79 382.483.08 24.82 13.692.13 24.12 26.15 GBP 17.89 24.21 79.76 112 USD 9.903.729.08 369.72 19.57 USD 309.952.78 2.78 97.945.31 1.62 2.090.616.389.530.88 1.52 109.20 22.306.556.20 557.47 EUR 11.10 15.483.430.28 2.96 125.Lampiran 50 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerntah Pusat (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 1 (2) Kementerian Pertahanan (3) 2009 2010 Jumlah 2 Mabes TNI 2009 2010 Jumlah 3 TNI AD 2009 2010 Jumlah 4 TNI AL 2009 2010 Jumlah 5 TNI AU 2009 2010 (4) 40 39 79 35 13 48 45 45 15 32 47 34 59 Jumlah 93 6 Kementerian Luar Negeri 2009 2010 Jumlah 151 Nilai (5) 2.64 18.145.21 - 1.89 5 4 9 2.29 1.28 2.830.78 368.21 79.18 102.739.89 98 .47 EUR 11.863.55 65.744.556.662.59 596.15 GBP 17.22 10.23 9 9 9.04 16.75 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.29 1.47 EUR 11.212.662.255.72 17.09 24.35 30.906.65 - - USD 9.37 53.152.69 2.02 32.78 828.750.04 16.40 1.995.88 16.15 GBP 17.757.86 351.306.255.31 4.13 16.52 109.70 EUR 0.96 41.59 1.834.987.28 1 1.92 78.24 EUR 0.377.40 12 124 - EUR 0.79 65.64 24.92 1.616.335.284.10 2.922.79 848.47 EUR 11.82 13.526.26 78.12 26.10 138.676.60 11.92 26.89 4.47 EUR 11.38 USD 309.362.26 557.407.

317.45 870.63 54.92 464.283.95 4.60 228.45 1.283.78 1.37 126.880.998.005.94 362.75 55.84 141.338.60 4.49 973.869.92 150.35 1.44 USD 5.961.50 326.32 26.631.45 1.27 70.642.796.325.39 1.301.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 15 (2) Kementerian Sekretariat Negara (3) 2009 2010 Jumlah 16 TMII 2009 2010 Jumlah 17 BKN 2009 2010 Jumlah 18 BPN 2009 2010 Jumlah 19 LAN 2009 2010 Jumlah 20 Arsip Nasional 2009 2010 Jumlah 21 KPU 2009 2010 Jumlah 22 Kementerian Hukum dan HAM 2009 2010 Jumlah 23 Kejaksaan Agung 2009 2010 Jumlah (4) 38 25 63 21 13 34 3 40 43 34 27 61 2 16 18 4 9 13 412 22 434 106 144 250 32 44 76 24 POLRI 2009 2010 Jumlah 25 Komnas HAM 2009 2010 Jumlah 26 Mahkamah Konstitusi 2009 2010 Jumlah 27 MPR 2009 2010 Jumlah 28 DPR 2009 2010 Jumlah 29 DPD 2009 2010 Jumlah 30 Mahkamah Agung 2009 2010 Jumlah 31 Komisi Yudisial 2009 2010 Jumlah 59 231 290 11 11 22 5 13 18 2 5 7 28 13 41 4 5 9 40 79 119 3 10 13 Nilai (5) 23.19 3.45 745.85 165.82 26.Halaman 2 .92 19.00 150.006.788.85 950.17 24.43 141.73 1.631.00 126.24 526.00 5.71 4.00 126.98 628.701.00 226.435.317.761.08 46.210.15 1.71 950.63 70.471.263.91 26.34 717.722.988.17 10.26 25.47 22.37 5.60 9.535.193.90 7.34 417.85 106.18 1.460.17 1.84 633.82 Jml (6) 5 14 19 18 18 2 3 5 21 4 25 1 4 5 3 3 6 21 11 32 94 17 111 2 2 2 107 109 5 13 18 1 5 6 25 12 37 4 5 9 6 22 28 3 8 11 Nilai (7) 126.83 24.592.45 745.85 106.45 150.071.301.66 124.610.31 1.60 449.50 326.01 19.44 USD 5.910.196.61 23.33 630.388.40 150.66 1.37 4.85 106.63 54.01 230.85 1.34 1.10 16.09 138.43 121.568.385.239.338.253.21 9.85 1.558.241.00 1.584.48 521.826.379.104.57 2.83 1.60 313.10 99 .091.98 8.01 98.99 1.75 929.56 USD 293.73 51.325.24 56.165.199.55 121.17 9.63 19.584.558.40 673.45 1.43 141.126.37 34.038.00 5.631.22 USD 293.241.77 313.31 Jml (10) 13 13 21 21 4 4 377 377 104 104 30 44 74 53 89 142 11 11 22 12 12 Nilai (11) 9.002.78 1.00 7.82 Jml (8) 33 11 44 3 3 1 37 38 13 2 15 1 8 9 1 6 7 14 11 25 12 23 35 4 35 39 1 1 3 1 4 22 57 79 2 2 Nilai (9) 23.92 352.43 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 4.40 19.96 38.92 158.98 71.57 1.244.09 23.60 16.495.01 230.01 96.75 927.84 633.019.82 26.910.66 USD 293.08 121.75 55.77 2.005.196.95 230.60 228.78 358.61 230.005.746.00 16.796.24 220.038.01 96.09 12.01 230.077.631.87 284.53 77.923.988.55 5.75 536.10 220.16 26.19 124.378.63 54.824.63 54.09 23.714.40 313.16 326.626.92 6.071.95 230.87 34.329.75 536.37 26.104.51 3.283.534.585.48 1.988.923.283.60 26.59 34.57 141.97 170.00 284.00 USD 293.267.60 228.92 5.60 12.01 1.434.

710.60 4.027.45 132.31 46.220.92 191.20 2.26 41.440.12 2.720.337.56 194.21 417.421.396.352.91 139.13 7.98 506.643.545.99 1.247.28 825.027.73 USD 23.407.987.45 3.591.861.258.37 3.63 138.50 AUD 334.36 10.273.041.027.175.660.07 433.27 1.53 113.24 1.897.50 45.273.247.65 47.545.33 28.409.31 46.834.475.895.992.27 1.336.72 USD 12.171.197.06 32.22 41.45 USD 12.31 551.308.39 118.10 43.336.786.021.60 1.50 78.559.230.834.03 11.93 USD 23.419. & UKM 2009 2010 Jumlah 100 .09 1.99 1.513.02 2.489.81 440.693.32 USD 32.31 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 2.50 AUD 334.594.573.99 1.832.92 Kementerian Kelautan dan Perikanan 21 41 Jml (6) 10 3 13 15 15 17 25 42 22 40 62 20 Nilai (7) 832.21 1.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 32 KPK (2) (3) 2009 2010 Jumlah 33 PPATK 2009 2010 Jumlah 34 BNN 2009 2010 Jumlah 35 Kementerian Pertanian 2009 2010 Jumlah 36 Kementerian Kehutanan 2009 2010 Jumlah (4) 10 8 18 3 15 18 17 32 49 58 90 148 209 36 245 Nilai (5) 832.68 552.337.247.27 1.73 2.635.37 21 1.85 427.61 1.131.29 340.670.16 1.98 2010 Jumlah 55 121 2.68 33.850.308.30 1.37 62 2 64 91 79 170 4 4 7 7 2 7 9 7 7 1 25 26 13 3 16 7.85 1.338.62 1.24 USD 16.13 41.94 33.90 USD 12.40 899.22 41.67 68.60 20.182.22 4.97 1.46 139.37 24 69 391.405.22 63.363.591.97 39 Kementerian Perhubungan 2009 2010 Jumlah 40 Menpera 2009 2010 Jumlah 41 Bapertarum 2009 2010 Jumlah 42 Kementerian PDT 2009 2010 Jumlah 43 BMKG 2009 2010 Jumlah 44 Kementerian Perindustrian 2009 2010 Jumlah 45 Kementerian Perdagangan 2009 2010 Jumlah 46 Kementerian Kop.440.387.88 38.643.69 34.17 72.849.14 987.984.24 USD 16.573.710.657.900.280.36 14.021.16 277.30 7.32 139.10 1.81 429.728.210.171.405.61 1.39 7.338.153.85 1.065.197.06 19.387.21 1.245.73 31.73 379.43 39.230.07 4.21 72.69 885.99 1.21 54.36 17.258.266.39 113.60 47.12 70.96 23.70 20.353.749.32 USD 32.13 - - - 1.387.850.34 80.92 12.895.68 624.786.16 1.646.Halaman 3 .21 3.22 56.99 139.474.247.30 381.337.18 28.36 19.86 USD 23.693.897.50 AUD 334.81 8.10 1.37 45 945.96 3.30 37 2009 66 2.63 139.30 25 Jml (10) 1 1 26 26 25 Nilai (11) 5.337.62 15 179 Jml (8) 5 5 3 3 6 6 36 24 60 164 Nilai (9) 43.23 - 11 11 - 38 Kementerian Pekerjaan Umum 2009 2010 Jumlah 364 29 393 202 151 353 3 15 18 7 7 25 22 47 20 39 59 12 23 35 32 47 79 38 32 70 65.26 4.552.68 8.60 1.810.720.667.55 132.927.30 12.660.191.10 879.27 USD 12.94 5.08 7.396.32 252 3 255 91 34 125 1 7 8 19 5 24 17 19 36 12 22 34 24 9 33 7 19 26 45.23 14.37 20 41 2.98 50 24 74 20 38 58 2 4 6 4 10 14 3 13 16 1 1 7 13 20 18 10 28 12.13 113.65 18.75 990.34 2.984.197.45 551.272.32 3.41 1.897.31 8.799.31 54.984.213.50 AUD 334.513.270.75 990.728.706.530.76 381.70 45.087.111.96 3.85 1.70 USD 23.17 4.86 433.927.65 47.22 2.07 1.00 836.258.30 824.50 45.799.97 18.65 70.

98 129.813.27 USD 222.69 59.12 83.87 JPY 266.01 4.63 93.588.32 258.03 30.63 2.197.87 JPY 266.84 5.24 6.485.24 USD 0.10 296.122.12 328.23 160.98 56.45 130.03 USD 222.732.042.753.00 75.080.20 41.81 38.536.19 39.17 4.42 116.60 50 Kementerian LH 2009 2010 Jumlah 51 Kementerian BUMN 2009 2010 Jumlah 52 Kementerian Ristek 2009 2010 Jumlah 53 BPPT 2009 2010 Jumlah 54 LIPI 2009 2010 Jumlah 55 BATAN 2009 2010 Jumlah 56 BAPETEN 2009 2010 Jumlah 125 29 154 9 9 7 14 21 10 34 44 8 17 25 6 24 30 7 15 22 1.966.97 1 1 5 10 15 95 114 209 18 18 36 2 69 6 75 8 8 2 5 7 12 12 5 12 17 1 1 1 1 42 20 Jml (8) 22 Nilai (9) 476.475.789.15 56.30 211.21 2.78 14.89 296.132.17 177.87 6.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 47 BSN (2) (3) 2009 2010 Jumlah 48 BKPM 2009 2010 Jumlah 49 Kementerian ESDM 2009 2010 Jumlah (4) 5 10 15 2 24 26 42 69 111 Nilai (5) 300.437.524.60 8.32 4.14 USD 18.60 83.68 USD 18.24 2.659.65 818.68 USD 18.18 133.094.493.98 23.68 93.451.51 251.402.65 132.753.45 USD 262.564.Halaman 4 .503.89 USD 0.298.489.13 71.536.59 17.66 2.59 134.206.690.00 42.80 532.485.03 100.785.19 44.33 109.828.176.32 69.031.239.95 25.46 5.17 532.00 5.38 575.37 134.578.87 JPY 266.24 1.402.00 1.90 2.18 882.77 52.477.18 882.78 14.299.239.19 13.00 15.042.06 USD 262.934.02 30.082.98 21.60 559.42 8.46 USD 8.70 815.07 144.477.03 USD 222.45 USD 262.82 62.779.25 USD 222.082.557.676.696.64 315.75 65.18 882.91 35.659.69 52.794.83 6 12 18 2 3 5 103 124 227 23 6 29 10 32 23 55 1 1 5 9 14 10 4 14 3 5 8 6 23 29 6 4 33 13 Jml (6) 5 8 13 2 2 4 20 Nilai (7) 300.210.90 25.082.205.10 815.12 83.19 154.19 13.437.34 USD 8.13 40.968.80 59.523.61 163.761.102.62 184.12 328.888.620.799.02 2.99 60.77 3.00 29.03 14.58 95.56 2.530.22 14 14 59 296 355 4 25 29 10 24 24 18 18 10 36 36 Jml (10) 2 2 22 22 Nilai (11) 176.637.34 USD 8.927.213.38 481.557.68 5.83 5.15 23.795.39 444.32 USD 0.48 23.42 130.42 8.98 978.48 57 Bakosurtanal 2009 2010 Jumlah 58 LAPAN 2009 2010 Jumlah 59 Kementerian Agama 2009 6 13 19 7 27 34 257 2010 Jumlah 534 791 60 Kementerian Sosial 2009 2010 Jumlah 45 49 94 4.310.169.531.54 USD 0.313.450.30 48.04 6.896.629.93 USD 262.23 116.09 252.43 59.09 176.49 546.24 1.824.51 1.00 1.716.53 178.138.655.753.082.86 283.60 8.52 56.77 162.515.298.87 JPY 266.79 2.75 23.42 132.18 89.732.111.270.68 USD 18.63 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 83.457.51 39.500.475.37 5.710.500.755.410.608.51 75.018.45 62.210.49 546.08 101 .38 55.95 23.83 122.200.757.055.37 42.64 315.13 12.29 169.19 3.67 162.09 25.68 47.

606.50 1.043.56 538.431.162.68 159.47 11.205.61 538.10 23.56 2.155.00 2.756.797.516.30 1.51 458.79 29.76 27.944.171.32 2.97 648.815.19 1.24 218.41 908.04 262.162.511.156.854.43 1.025.51 1.00 11.054.34 584.79 1.54 164.793.00 66 BKKBN 2009 2010 Jumlah 67 Badan POM 2009 2010 Jumlah Kementerian Pendidikan Nasional 13 22 35 21 18 39 253.25 14.994.81 205.34 440.97 648.507.41 2.50 588.56 309.28 1.73 188.189.04 1.572.39 USD 0.14 572.106.287.531.43 11.22 14.72 284.10 3.608.281.886.12 63.31 20.59 63.75 8 12 20 17 11 28 7 Jml (6) 8 4 12 1 6 7 2 6 8 34 45 79 3 4 Nilai (7) 175.06 USD 140.579.58 54.38 64.368.56 1.84 336.060.91 48.72 5.633.06 1.68 1.757.99 1.01 23.653.66 USD 0.48 2.648.593.241.808.72 5.74 205.037.037.19 USD 140.221.032.09 623.190.987.229.60 11.205.39 422.40 1.351.91 3.24 2.81 BN Penanggulangan 2009 Bencana 2010 68 2009 395 - 424.610.502.59 1.39 4.83 USD 9.57 393.556.72 246.36 USD 9.82 4.40 7.02 1 2 3 7 7 175.63 72.564.491.435.50 1.736.39 USD 0.58 54.18 921.60 2.03 205.07 1.00 175.61 223.54 980.087.453.71 209.79 5 6 11 4 6 10 31 Jml (8) 3 12 15 22 5 27 8 8 39 38 77 16 15 Nilai (9) 246.54 11.158.555.24 1.890.08 1.00 65.31 1.23 962.532.708.81 2.18 1.111.Halaman 5 .20 449.794.651.96 477.31 2 8 10 3 15 18 262.25 19.98 112 64 176 5 8 13 13 1 14 2 6 8 292 44 336 36.06 62 Menko Kesra 2009 2010 Jumlah 63 KPP dan PA 2009 2010 Jumlah 64 Kementerian Kesehatan 2009 2010 Jumlah 65 Kementerian Nakertrans 2009 2010 Jumlah 29 29 58 2 14 16 103 93 196 22 77 99 6.26 31.83 828.46 225.097.08 449.020.484.67 31.11 299.61 181 29 210 21 27 48 3 6 9 3 7 10 11 377 388 248.363.258.17 131.81 187.31 360.20 47.39 6.352.82 2010 Jumlah 145 540 - 69 Kementerian Budpar 2009 2010 Jumlah 37 47 84 22 11 33 7 21 28 462 484 946 70 Menpora 2009 2010 Jumlah 71 Perpustakaan Nasional 2009 2010 Jumlah 72 Kementerian Keuangan 2009 2010 Jumlah 73 Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional 2009 2010 Jumlah 5 25 30 12 28 40 35.62 412.28 54.741.42 2.12 63.20 458.71 364.408.45 69.26 580.22 388.351.09 623.06 USD 140.99 30.718.45 69.15 993.54 15.11 580.640.01 USD 140.331.66 3.975.11 11.54 311.08 458.54 1.020.42 USD 9.990.22 4.10 3.09 80.12 USD 9.89 47.104.66 USD 0.50 588.975.871.13 1.81 259.640.778.31 74 BPKP 2009 2010 Jumlah 102 .502.16 1.20 379.66 124.274.46 75.08 57.208.00 - 35.281.60 1.34 584.97 364.411.042.06 175.18 345.66 1.185.14 1.144.42 2.31 165.794.320.68 589.81 3.003.237.68 1.425.389.156.045.097.47 159.247.080.81 360.95 94.043.190.330.156.33 2 15 17 9 6 15 35.463.59 63.91 4 4 1 1 61 Jml (10) 19 19 6 18 24 30 10 40 3 58 Nilai (11) 611.89 1.80 12.494.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 61 (2) (3) (4) 11 35 46 Nilai (5) 422.68 4.50 1.38 8.06 Jumlah 422.000.531.208.04 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 422.751.73 1.54 65.632.16 365.33 1.89 1.156.57 102 52 154 11 12 23 6 4 10 2 8 10 159 63 222 139.020.04 8.08 628.43 15.43 7.76 2.74 572.466.646.781.412.936.221.

68 471.852.55 GBP 17.082.25 41.36 56.08 21.793.565.543.262.41 USD 12.59 129.59 510.55 JPY 266.30 1.29 128.98 6.25 71.68 471.053.84 162.03 AUD 334.003.34 61.25 41.77 8.812.014.22 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan negara/daerah (12) 236.36 162.25 41.960.647.543.23 USD 359.06 850.418.19 GBP 17.131 Rp 4.740.97 76.50 TOTAL 8.374.38 - 3.63 257.36 132.49 129.324.418. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.44 8.094.30 71.76 3.70 15.15 EUR 11.21 9.50 1.77 6.78 3.47 340.15 274.464.18 28.29 116.324.110.55 GBP 17.56 72.25 41.119.43 343.97 4.49 71.73 Jml (8) 5 5 6 11 17 6 6 13 3 16 2 1 3 8 8 2 2 5 3 8 Nilai (9) 610.33 USD 326.37 EUR 11.246.Halaman 6 . Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 103 .19 - Rp1.69 2.543.77 610.30 71.227.15 56.187.21 2.49 274.66 56.51 34.97 15.90 343.30 71.98 593.56 76.78 2.69 1.25 71.543.09 12.09 4.29 128.21 Jml (10) 11 11 12 5 17 4 4 11 13 24 3 3 1 20 21 30 30 46 46 Nilai (11) 510.082.468.354.78 Keterangan 1.945.064.77 610.87 JPY 266.30 116.30 610.109 Rp 9.22 2.68 471.96 15.56 1.68 USD 313.84 41.08 239.25 41.102.324.211.47 340.147.740.29 128.011 Rp12.42 USD 42.Lampiran 50 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml (1) 75 BPS (2) (3) 2009 2010 Jumlah 76 Menko Perekonomian 2009 2010 Jumlah 77 STAR SDP 2009 2010 Jumlah 78 BPK 2009 2010 Jumlah 79 Bank Indonesia 2009 2010 Jumlah 80 LPS 2009 2010 Jumlah 81 BNP2TKI 2009 2010 Jumlah 82 BPLS 2009 2010 Jumlah 83 LPP TVRI 2009 2010 Jumlah 84 LPP RRI 2009 2010 Jumlah 85 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Otorita Batam) 2009 2010 Jumlah (4) 11 25 36 3 1 4 12 5 17 25 28 53 6 6 1 4 5 31 17 48 19 9 28 12 20 32 32 32 18 73 91 Nilai (5) 236.02 239.24 9.25 129.094.201.77 AUD 334.251 Rp 27.938.77 103.36 72.347.553.374.77 103.24 76.49 129.72 7.37 EUR 11.84 2.852.17 Jml (6) 11 9 20 3 1 4 19 13 32 1 4 5 7 1 8 17 5 22 3 3 13 24 37 Nilai (7) 236.29 343.77 614.821.

766.74 711.52 239. Aceh Jaya 2009 2010 Jumlah 6 Kab.16 11.417.23 9.65 6.999.933.09 3.83 115.317.799.053.32 18.85 16.20 145.721.734.10 5.684.52 74.127.155.254.285.42 13.58 29.67 303.85 16.60 11.67 13.20 2.971. Aceh Barat 2009 2010 Jumlah Kab.40 348.10 2.849.067.29 8.80 2.527.238.451.51 21.91 1 1 2 10 12 20 20 7 23 30 5 25 30 14 14 28 6 14 20 11.983.73 5.33 429.670.265.174.67 154. Bener Meriah 2009 2010 Jumlah 104 .985.889.80 Jml 8 81 24 105 4 4 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 9 2.Halaman 1 .90 443.313.584.620.66 3.41 10.23 6.888.460.329. Aceh Timur 2009 2010 Jumlah 12 Kab.611. Aceh Barat Daya 6 164 118 282 35 30 65 Nilai 7 41.52 140.07 213.684. Aceh Selatan 2009 2010 Jumlah 7 Kab.064.58 7.903.379.54 889.52 Belum Ditindaklanjuti Jml 12 37 73 110 27 19 46 Nilai 13 1.15 2.37 15.244.385.771.06 104.69 1.03 8.03 9. Aceh 3 2009 2010 Jumlah 2 Kab.364.165.408.92 155.67 7 2 9 22 22 4.83 448.10 252.389.736.790.39 15.633.59 196.48 34.97 1.05 54.325.41 248.053.33 2.923.979.967. Aceh Tenggara 2009 2010 Jumlah 32 33 65 72 59 131 35.02 243.06 11 Kab.73 74.83 12.99 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 10 46 21 67 4 11 15 Nilai 11 37.91 3.85 23.70 3.362.00 106.67 81.63 477.56 900.305.27 2.765.939.82 99.85 113.47 3.54 152.389.23 - 3 2009 2010 Jumlah 41 69 110 45 56 101 48 27 75 26 72 98 34 63 97 73 55 128 34 50 84 5.40 18.467.374.65 180.676.443.71 11.06 5.48 6.62 228.30 889.10 113.10 239.110.361.005.92 12.08 6.042.598.06 972.28 29.54 41 15 56 23 23 19 41 60 19 12 31 56 34 90 28 14 42 18.422.637.33 174.02 40 69 109 2 31 33 5 27 32 8 8 10 26 36 3 7 10 22 22 5.08 4.734.343.92 9. Aceh Tamiang 2009 2010 Jumlah 9 Kab.20 348.75 4 Kab.40 12.721.243.98 836.584.17 3.608.89 2.42 7.07 74. Aceh Tengah 2009 2010 Jumlah 10 Kab.95 2.07 18.47 2.45 114.728.27 104.29 50.63 5.17 7.22 24.17 320.044.31 8 67 75 7 36 43 233.242.14 31.825.467.07 74.83 248.222.07 1.12 29.31 174.50 24.82 197.311.150.399.065.53 852.96 56.96 11.02 20.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 14 694.26 1.215.76 2.719.408.361.31 2.32 493.48 239.811. Aceh Singkil 2009 2010 Jumlah 8 Kab.883. Aceh Besar 2009 2010 Jumlah 5 Kab.69 2.07 6.893.039.20 30 23 53 27 27 - 13 22 35 20 20 225.47 13 29 42 17 59 76 13.20 11.20 11.89 - 13 Kab.15 297.10 3.362.242.91 21.Lampiran 51 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 Pada Pemerintah Daerah (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 1 2 Prov.87 26.15 12 2 14 33 33 17.687.41 182.40 13.79 21.684.53 370.45 8.56 2.687.78 31.04 4.656.74 24.056.208.45 39.11 81.544.532.27 10.61 8.60 900.73 4.078.14 31.36 8.65 6.611.07 11. Aceh Utara 2009 2010 Jumlah 51 112 163 54 36 90 225.

56 21 8 29 42 42 52.39 6.66 366.66 41.859.08 53.771.985.47 196.510.494.29 5.80 6.52 10.568.76 24.410.62 69 32 101 8 8 73.Halaman 2 .604.92 5.28 1.20 2.354.829.16 10.798.78 52.99 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 215.410.92 43.53 18.46 2.20 187.75 14.266.124.75 187.196.18 730.80 17 Kab.26 20.142.00 200.466.88 1.08 44.634.25 601.40 11 11 17 17 18 7 25 12 7 19 4 4 10 9 19 2 4 6 8 7 15 1.45 349.88 1.504.46 15.67 13. Simeulue 2009 2010 Jumlah 20 Kota Banda Aceh 2009 2010 Jumlah 21 Kota Langsa 2009 2010 Jumlah 22 Kota Lhokseumawe 2009 2010 Jumlah 23 Kota Sabang 2009 2010 Jumlah 24 Kota Subulussalam 2009 2010 Jumlah Prov.47 32.39 5.83 217.238.64 11.33 14.21 393.83 132.354.830.097.00 2.40 2.238.95 2.60 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 4 7 11 1 4 5 Nilai 9 18.92 40.37 581.888.60 2.321.394.172.099.26 381.203.195.925.47 8.18 39.17 5.031.00 23.02 290.90 1.20 10.28 290. Bireuen 3 2009 2010 Jumlah 15 Kab.99 6.33 110.01 22 31 53 47 74 121 16.431.829.64 5.81 309.40 1.25 3.756.17 3. Nagan Raya 2009 2010 Jumlah 4 53 36 89 48 46 94 25 34 59 Nilai 5 19.250.15 15 15 37 37 21 10 31 48 16 64 12 12 20 6 26 18 18 36 10 15 25 0.26 1.510.50 20.341.92 25.34 41.128.94 2.80 1.508.572.16 366.72 1.75 5.28 2.001.88 2.32 282.508.031.431.02 26 Kab.434.009.12 381.17 1.40 40.022.88 6.93 2.37 381. Sumatera Utara 25 2009 2010 Jumlah 112 71 183 97 74 171 143.065.368.57 1.952.72 10.986.94 3.219.821.54 1.64 30.11 11.00 5.63 1.097.37 187.457.81 215. Pidie 2009 2010 Jumlah 31 30 61 59 44 103 63 17 80 64 23 87 19 33 52 53 29 82 21 42 63 21 103 124 3.013.01 8.33 1.28 1.975.518.693.266. Pidie Jaya 2009 2010 Jumlah 19 Kab.05 32.25 349.99 5 30 35 5 44 49 24 24 4 4 3 33 36 23 14 37 1 20 21 3 81 84 1.045.66 1.36 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 36 53 4 11 15 2 2 Nilai 11 75.75 478.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 14 2 Kab.894.777.66 672.69 569.75 18.34 658. Asahan 2009 2010 Jumlah 105 .17 19.96 5.841.95 14.513.922.62 18.59 2.17 5.61 16.07 1.446.203.96 Jml 6 23 23 40 28 68 24 28 52 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 200.66 0.66 0.95 2.36 11.170.444.025.96 19.634.95 1.46 198.39 2.80 40.41 45.07 217.994.402.829.803.75 0.031.12 2.406.98 22.94 2.894. Gayo Lues 2009 2010 Jumlah 16 Kab.01 2.792.28 18.368.86 36.26 381.434.21 672.20 13.04 150.444.04 569.46 2.19 682.105.985.975.092.952.099.740.45 682.98 13.99 18.94 8.331.37 - 18 Kab.87 8.079.40 1.37 2.29 518.025.331.611.26 198.962.

56 89.04 17.640.14 899.32 142.63 2.15 28.20 537.714.34 24.00 584.34 270.837.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 40 70 110 56 85 141 Nilai 11 24.20 24.958.056.259. Humbang Hasundutan 4 55 44 99 40 70 110 86 85 171 Nilai 5 42.089.894.83 5. Mandailing Natal 2009 2010 Jumlah 54 93 147 66 34 100 49 46 95 20 53 73 3.00 31 Kab.39 Jml 6 34 34 16 16 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 206.78 1.177.692.03 187.28 66.593.68 10.59 142.75 254.848.00 35 Kab.55 81.77 24.28 13.79 81.673.00 4 1 5 6 6 363.705.107.16 107.452.53 2.56 14.04 899.208.66 14.49 142.34 206.183.543.886.00 0.32 24.20 537.Halaman 3 .30 672.60 13.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 27 2 Kab.016.32 141.056.46 306.592.347.38 383. Nias 2009 2010 Jumlah 36 Kab.03 1.97 39 Kab.12 7 7 3 4 7 32 32 16 7 23 117.05 10.593.307.78 46 90 136 66 34 100 49 45 94 1 53 54 2.15 1.32 141.20 0.475.452.13 36.14 899.78 1.18 13.42 14. Pakpak Bharat 2009 2010 Jumlah 106 .273.01 43 26 69 4 8 12 11 19 30 21 34 55 34.48 100.18 13.27 463.66 20 1 21 171.40 19 52 71 3 42 45 24.049.80 11.129.31 4 2 6 1 1 13 13 211.97 150.370.178.364.151.84 314.28 24.16 621.50 135.532.44 90.14 117.425.73 12.225.14 117.331.809.29 109. Nias Selatan 2009 2010 Jumlah 37 Kab.96 17.04 24.29 28.831.40 153.17 3.364.831.714.455.47 1.05 1.586.68 3.00 16.19 1.96 1.76 1.259. Deli Serdang 2009 2010 Jumlah Kab.04 899.227.97 150.64 117.922. Dairi 2009 2010 Jumlah 29 Kab.97 41.16 12.586.74 3.84 1.16 478.92 42. Karo 2009 2010 Jumlah 32 Kab.45 107.325.15 105.295.46 306. Langkat 2009 2010 Jumlah 34 Kab.623.78 254. Labuhanbatu 2009 2010 Jumlah 33 Kab.331.527. Batubara 3 2009 2010 Jumlah 28 Kab.49 16.06 42.89 198.352.102.34 24.53 4.286.13 36.97 3 4 7 153.30 844.77 30 2009 2010 Jumlah 43 33 76 33 29 62 68 19 87 70 83 153 34. Padang Lawas 2009 2010 Jumlah Kab.00 16.64 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 206.01 584.74 3.84 465.42 14.34 206.16 12.03 320.809.82 1.692.982.177.76 624.609.38 232.50 135.809.58 14.71 8.53 78. Padang Lawas 2009 Utara 2010 Jumlah 38 19 52 71 26 47 73 24.71 8.049.831.63 2.623.069.53 1.628.29 171.886.52 936.77 24.04 1.331.56 109.49 142.754.48 10.165.178.49 16.23 91.286.227.273.76 2.77 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 21 14 14 Nilai 9 41.47 26 17 43 25 25 33 42 75 855.

753.30 1.96 340.768.27 16.172.66 14.27 772.38 3.46 558.59 305.05 30 19 49 1 10 11 603.93 566.94 5.27 107.954.32 2.060.919.068.13 877.31 2.61 4.760. Tapanuli Tengah 2009 2010 Jumlah 40 64 104 31 27 58 31 25 56 34 40 74 69 124 193 31.064.545.84 11.01 110.37 1.226. Simalungun 2009 2010 Jumlah 43 Kab.79 18.46 558.622.362.111.14 3.205.825.401.064.79 45 19 64 2 28 30 9.098.324.804.13 110.587.81 16.99 2.172.10 2.891.24 3.51 2.94 2.843.43 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 13 40 53 Nilai 11 2.437.81 15.00 467.52 3.360.00 458.77 24.23 45 Kab.28 16. Samosir 3 2009 2010 Jumlah Kab.023.919.65 18.90 4.59 162.63 4.Halaman 4 .27 17.84 254.24 15.213.919.93 5.052.27 4.334.36 19 13 32 3 3 8.21 3.96 8 28 36 482.68 194.43 210.61 3.140.47 906.02 34 33 67 45.324.53 744.20 3.50 8 43 51 3 3 5.284.66 14.300.79 18.13 46 2 48 27 29 56 2.87 3.69 33.131.56 7.27 182.335.66 4 17 21 340.67 3.883.744.81 18.67 8.12 1.975.42 - - - - 41 55 96 9.31 37.47 13.77 2.03 1.57 7 49 56 15 15 107.02 906.90 24.20 51 Kota Sibolga 2009 2010 Jumlah 107 .50 4.92 2.42 - 50 Kota Pematangsiantar 2009 2010 Jumlah 61 94 155 45 29 74 8.623.71 13.527.910.954.99 13.27 107. Tapanuli Utara 2009 2010 Jumlah 46 Kab.50 3.300.760.156.107.69 2.10 2.906.59 194.587.79 42 Kab.891.088.90 142.77 21.995.20 3.81 16.25 13.280.79 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 22 31 53 Nilai 9 6.14 7.527.477.69 33.15 1.978.321.23 13 13 15 24 39 1 8 9 142.379.28 16.171.955. Tapanuli Selatan 2009 2010 Jumlah 46 78 124 868.281.37 169.89 1.00 1 1 38 22 60 3.273.345.171.89 1.50 3.17 5.360.599.93 107. Serdang Bedagai 4 35 71 106 Nilai 5 8.178.35 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 41 2009 2010 Jumlah 76 38 114 41 60 101 10.574.32 108. Toba Samosir 2009 2010 Jumlah 47 Kota Binjai 2009 2010 Jumlah 48 Kota Medan 2009 2010 Jumlah 49 Kota Padangsidimpuan 2009 2010 Jumlah 41 55 96 9.84 15.334.66 - 40 64 104 18 27 45 31 25 56 3 3 65 116 181 31.54 169.060.63 458.986.20 2.492.975.02 21.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 40 2 Kab.59 44 Kab.27 3.77 2.950.910.423.14 7.49 4.92 8.09 40.222.

561.63 Jml 6 9 17 26 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 55.56 47.430.377.739.50 414.79 3.36 104.347.79 12.529.548.947.35 122.727.482.822.56 13.033.48 2.95 5.38 136.59 1.32 1.74 346.03 4.74 15 69 84 8 44 52 1 26 27 3.581.088.20 1.61 338.58 2.05 18.04 34 34 38 22 60 8.45 4.68 55 55 44 27 71 2 55 57 4.13 90.64 211.99 4.485. Kepulauan Mentawai 2009 2010 Jumlah 78 62 140 6. Agam 2009 2010 Jumlah 56 Kab.665. Dharmasraya 2009 2010 Jumlah 57 Kab.504.14 62 Kab.95 387.77 295.36 50.86 5.93 1 4 5 1 35 36 352.54 2.65 10.405.77 35 34 69 17 50 67 72 6 78 45.78 4.21 1.95 56.950.65 9.58 6.80 5.887.59 7.06 1.28 44.04 148.82 6.396.87 18.02 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.96 61.43 8.868.80 55.722.428.93 7.Halaman 5 .482. Sijunjung 2009 2010 Jumlah 108 .950. Lima Puluh Kota 2009 2010 Jumlah 45 132 177 2.54 173.25 3.11 131.05 20.091.785.835.01 295.13 260.57 23.75 16. Padang Pariaman 2009 2010 Jumlah 56 57 113 86 127 213 4.61 349.68 11.36 50.30 116.580.23 100.37 5.725.92 4.20 3.13 16 64 80 2.680.914.80 1.54 274.82 3.96 30.60 5.76 77.50 21 53 74 47 70 117 3.759. Pesisir Selatan 2009 2010 Jumlah 63 Kab.727.333.852.25 36.091.76 77.36 3 64 67 12 10 22 45 101 146 387.94 2.82 1.047.43 615.79 63.780.715.01 105.276.64 4.376.496.64 58 Kab.523.95 55 Kab.917.05 2.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 39 48 87 11 18 29 Nilai 11 27.401.04 449.80 55.88 13.38 674.395.797.42 4.983.126.195.014.422.811.24 7.92 1.510.91 226.44 49 2 51 - 19 57 76 5.95 736.033.53 2.340.78 6.48 3.61 163.69 117 116 233 41 41 12 3 15 8.454.92 2.387.781.17 12.205.116.52 5.930.47 6.38 1.02 1.80 54 2009 2010 Jumlah 155 214 369 70 60 130 129 110 239 54.24 7.32 60 Kab.986.809.619.41 3 36 39 9.68 13 46 59 1 1 2 49 7 56 2.454.78 1.047.50 8.080.405.371.52 167.300.55 1.862.453.80 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 13 31 Nilai 9 170.178.14 148.00 130.60 537.664.02 1.11 6. Pasaman 2009 2010 Jumlah 61 Kab.37 15.64 4.986.00 211.78 216.460.43 100.634.235.48 538.846.712.79 3.93 1.344.00 1.20 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 52 2 Kota Tanjungbalai 3 2009 2010 Jumlah 53 Kota Tebing Tinggi 2009 2010 Jumlah Prov.90 4.085.447.79 3.453.00 492.00 1.742.46 338.523.58 67.201.069.081.12 1.25 1.86 58.433.44 10 3 13 492. Pasaman Barat 2009 2010 Jumlah 83 115 198 53 72 125 52 88 140 10.58 26 32 58 3.93 7.072.81 59 Kab. Sumatera Barat 4 39 48 87 38 48 86 Nilai 5 27.

85 6.88 1.33 14.18 50 50 3 6 9 38 38 29 8 37 3 30 33 2 20 22 6 5 11 2 23 25 47.00 157.05 483.419.34 14.965.600.85 66.56 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 36 48 31 64 95 4 12 16 29 58 87 32 7 39 Nilai 9 4. Riau 2009 2010 Jumlah 75 Kab.52 9.646.81 837.55 47.31 43 49 92 44 40 84 77 39 116 49 30 79 81 4 85 162 55 217 67 29 96 55 29 84 287.03 11.600.85 126.03 5.93 6.61 447.249.99 8.34 40.53 362.31 222.01 27.29 6.28 12.402.21 489.165.034.34 1.45 465.47 4.52 1.698.241.11 85.13 1.84 489.831.56 505.419.46 1.49 38.365.00 670.204.99 1.024.20 4.50 39.79 3.161.80 9.796. Solok Selatan 2009 2010 Jumlah 66 Kab.863.63 18.93 495.78 827.49 73.00 940.16 2.49 3. Bengkalis 2009 2010 Jumlah 76 Kab.177.24 65.33 1.00 100.77 8.16 506. Solok 3 2009 2010 Jumlah 65 Kab.169.965.878.617.84 17.74 9.219.309.78 90.991.469.61 20.36 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.52 293.858.67 75.463.629.82 43.03 165.76 20.607.00 1.90 821.249.17 4.11 56.50 12.16 821.95 362.242.75 13.77 42. Indragiri Hilir 2009 2010 Jumlah 109 .91 135.01 6.64 14.523.091.983.177.758.20 737.52 3.839.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 2 136 138 1 39 40 4 50 54 8 44 52 Nilai 11 6.691.01 5.17 837.591.15 14.564.15 13.379.82 15.831.980.788.74 9.00 12.343.74 447.70 128.136.76 11.22 58.41 126.620.Halaman 6 .643.434.83 42.973.10 4.80 770.857.183.061.27 506.815.78 1.389.17 198.27 126.063.78 2.89 6.90 25.82 590.61 16.339.43 1.02 17.772.070.38 1.311.21 282.090.62 8.15 5.553.50 546.811.81 6.203.758.63 36.289.962.03 38.99 73.47 15.81 805.43 210.92 671.738.78 11.973.096.824.52 494.73 280.93 1.900.645.98 27.47 16.729.812.93 6.84 66.140.84 40.78 6.62 8.68 1.700.84 12. Tanah Datar 2009 2010 Jumlah 67 Kota Bukittinggi 2009 2010 Jumlah 68 Kota Padang 2009 2010 Jumlah Kota Padang Panjang 4 39 99 138 75 200 275 62 101 163 64 155 219 176 127 303 Nilai 5 9.53 167.33 296.92 1.100.283.371.55 6.20 4.026.83 574.00 452.386.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 64 2 Kab.087.16 6.93 70 Kota Pariaman 2009 2010 Jumlah 71 Kota Payakumbuh 2009 2010 Jumlah 72 Kota Sawahlunto 2009 2010 Jumlah 73 Kota Solok 2009 2010 Jumlah 74 Prov.573.395.428.572.797.87 1.36 967.33 11.41 23.47 1.83 671.422.12 355.01 69 2009 2010 Jumlah 44 109 153 78 52 130 95 89 184 103 78 181 97 64 161 323 116 439 214 66 280 97 75 172 1.54 Jml 6 27 61 88 42 42 57 50 107 31 47 78 136 76 212 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 5.19 11.633.620.68 666.838.91 1 10 11 31 6 37 18 12 30 25 40 65 13 30 43 159 41 200 141 32 173 40 23 63 1.118.71 970.633.470.54 1.430.21 243.922.05 33.34 14.99 38.03 682.503.071.031.131.50 19.37 10.51 670.438.142.48 14.43 27.55 182.98 13.70 787.940.94 23.20 5.78 125.863.16 42.935.339.278.

67 Kab.60 11.12 100.867.377. Jambi 2009 2010 Jumlah 87 Kab.238.71 64.85 28.639. Indragiri Hulu 2009 79 2009 2010 Jumlah 90 83 173 193 69 262 127 63 190 103 43 146 194 120 314 98 74 172 109 61 170 156 127 283 96 78 174 139 102 241 102 85 187 12.875.133.416.466.79 100.129.716.618.82 15.68 39.10 111.53 3.66 734.289.76 1.71 2.033.628.22 45.069.05 59.43 798.208.64 14.15 1.86 62.01 23.12 3.01 101.822.488. Kuantan Singingi 4 116 82 198 140 57 197 Nilai 5 6.47 186.676.224.43 8.63 24.740.98 125.94 2.41 308.70 1.007.26 4.27 4.948.06 87.449.292.332. Batang Hari 2009 2010 Jumlah 88 Kab.93 50.558.61 2.39 24.29 285.956.46 Jml 6 89 89 92 92 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.58 7.06 15.076.056.55 900.90 10.51 12.76 12.10 58.79 2.12 66.237. Bungo 2009 2010 Jumlah 89 Kab.70 740.009.675.766.76 3.64 490.10 842.556.913.74 1.399.95 169.23 125.96 19.76 824.70 616.39 9.29 625.12 1.19 14.27 31.871.928.72 20.17 3.82 54.355.007.207.775.23 79.45 8.45 3.509.19 28.16 1.48 3.999.57 1.241.376.913.92 475.00 160.343.19 6.36 31.05 816.326.23 44.335.23 770.04 56.226.40 10.29 15.63 27.20 62.374.79 16.747.80 3.02 19.54 44.881.852.460.78 3.877.632.525.556.238.71 2.69 4.46 7.03 5.29 5.66 115.559.687.30 71.909.701.297.101.714.33 47.056.998.32 142.69 2.41 824.36 1.60 575.69 2.23 1.73 131.35 47.50 271.706.79 7.331.70 380.332.913.48 5.268.718.33 6.63 1.00 352.57 308.76 770.332.76 1. Siak 2009 2010 Jumlah 84 Kota Dumai 2009 2010 Jumlah 85 Kota Pekanbaru 2009 2010 Jumlah 86 Prov.686.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 9 82 91 14 55 69 Nilai 11 308.056.721.13 3. Kampar 2009 2010 Jumlah Kab.149.18 7.206.190.184.777.355.175.68 7.13 770.871.47 18.88 70 44 114 71 25 96 25 13 38 72 16 88 150 64 214 36 26 62 69 28 97 121 59 180 60 15 75 95 23 118 60 16 76 7.06 2.681.866.12 19.30 20.151.19 4.22 3.442.38 125. Rokan Hulu 2009 2010 Jumlah 83 Kab.675.93 2.011.17 9.107.04 32.574.65 31.429.81 311.33 59.231. Kerinci 2009 2010 Jumlah 110 .71 2.75 125.61 3.105.335.627.69 58.32 242.655.533.681.807.17 434. Rokan Hilir 2009 2010 Jumlah 82 Kab. Pelalawan 2009 2010 Jumlah 81 Kab.786.69 65.333.90 33.99 6.90 170.361.00 4.068.175.49 19 10 29 99 24 123 18 22 40 17 27 44 37 43 80 34 23 57 33 17 50 35 10 45 35 31 66 44 25 69 42 20 62 4.585.306.447.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 77 2 3 2010 Jumlah 78 Kab.253.02 9.81 39.60 86.107.Halaman 7 .23 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 6.14 80 Kab.41 5.847.015.50 12.94 34.79 364.97 1 29 30 23 20 43 84 28 112 14 14 7 13 20 28 25 53 7 16 23 58 58 1 32 33 54 54 49 49 2.15 4.93 19.574.76 46.24 5.89 28.781.135.670.774.200.595.77 12.66 356.581.051.43 12.05 3.72 6.24 8.731.44 4.332.618.61 18.90 3.336.029.268.76 12.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 18 34 2 36 Nilai 9 4.190.37 44.51 6.57 314.19 5.530.02 19.573.76 70.374.18 50.

Banyuasin 2009 2010 Jumlah 100 Kab.32 1.980.80 99 Kab.193.74 901.200.76 17.38 4.887.82 29 23 52 40 35 75 33 12 45 7 7 3.781.25 449.21 517.154.480. Merangin 3 2009 2010 Jumlah 91 Kab.58 108.22 441.05 50.58 207.04 181.75 4.348.693.50 4.33 8.82 389.21 517.19 58 2.57 36.66 80.160.62 52.20 2.794.91 Kab.399.01 551.92 145.65 176.850.870.49 6.361.66 67.60 269.58 108.259.289.01 1.75 898.42 USD 466.919.24 1.21 4.457.06 14.43 8 78 86 - 9.800.28 6.983.20 310.83 17.83 77.500.567.862.82 1. Tanjung Jabung Timur 69 15.00 991.93 15 15 4 47 51 45 26 71 5 5 3.496. Tebo 2009 2010 Jumlah 96 Kota Jambi 2009 2010 Jumlah 97 Kota Sungai Penuh 2009 2010 Jumlah Prov.409.081.05 316.66 3.003.17 441.140.78 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 49 21 70 54 1 55 35 23 Nilai 9 93.510.38 47 12 59 17.034.22 1.75 3.01 6.951.30 4.29 46 46 64 54 118 55.80 2.601.07 17.16 7.25 9.09 9.399.00 6.494.78 93 2009 2010 Jumlah 112 48 160 57.67 517.83 38 Jml 6 47 12 59 76 1 77 59 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 4.36 2.361.890.29 1.93 - 450.50 4.115.55 31.56 3.86 111.022.182.094.978.289.895.960.994.893.32 1 69 70 4 90 94 2.642.91 7.840.087. Sumatera Selatan 98 2009 2010 Jumlah 92 81 173 74 63 137 9.37 18.297.59 1.001.28 2.137.17 3 5 8 36.736.32 1.20 1.443.868.657.42 5.98 100.722.99 7.19 44.91 15.76 55.659.806.38 4.67 16 16 23 23 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 90 2 Kab.851.27 212.065.80 62 31 93 3.13 3.67 517.22 393.99 687.042.25 4.200.949.357.40 25.41 6.43 USD 466. Empat Lawang 2009 2010 Jumlah 76 69 145 93 90 183 4.03 USD 466.62 52.70 25. Sarolangun 2009 2010 Jumlah 4 98 44 142 169 60 229 100 65 165 Nilai 5 97.19 67.907.93 1.93 3.62 999.907.Halaman 8 .27 758. Tanjung Jabung Barat 2009 2010 Jumlah 85 104 189 108 82 190 197 59 256 27 27 3.14 50.29 17.929.422.577.90 98.62 397.119.497.89 98. Muaro Jambi 2009 2010 Jumlah 92 Kab.91 10.49 2.21 449.916.04 6.571.32 111.67 101 Kab.71 94 Kab.51 59.44 9.919.777.130.939.10 3.65 19.38 10.46 4.25 59 59 66 66 449.89 95 Kab.693.304.556.49 7.738.71 175.63 2.840.63 1.64 7.850.24 8.986.97 16.99 3.174.82 6.25 7.44 - 55.59 3.361. Lahat 2009 2010 Jumlah 111 .375.820.46 1.41 6.986.23 167.193.85 38 3 41 10 9 19 9.21 449.28 1.04 44.43 167.297.083.78 1.343.160.475.614.45 USD 466.36 93.11 4.065.055.20 3.06 3.37 143.98 236.82 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 11 13 39 58 97 6 32 Nilai 11 16.61 9.494.338.193.79 1.19 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.76 1.75 56 66 122 64 64 119 21 140 15 15 450.20 1.25 259.840.681.32 3.223.443.142.047.79 13.

003.436.46 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.989.02 176.04 3.62 2.401.75 159.83 Kab.06 114.47 1.262.897.59 - 6 2 8 2 12 14 77 18 95 8 - 47.95 496.54 103.66 78.19 395.67 2.83 45 47 744.262.285.82 2.894.14 1.14 1 13 14 897.47 1.48 4.37 USD 2.73 USD 2.45 11.83 109.70 488.78 447.211.90 1.621.695.44 1.64 1.09 456.90 159.04 433.40 110 Kota Lubuklinggau 2009 2010 Jumlah 58 49 107 40 42 82 141 51 192 73 57 4.360.802.766.443.373.67 8 8 1.67 2.00 372.75 1.64 1.018.331.695.730.674.Halaman 9 .733.977.328.39 26.09 456.06 624.97 48.626.018.25 6.989.27 11.309.621.674.40 12 12 2.50 2.018.99 2.97 18 18 17 17 5 36 41 51.06 119.576.16 433.388.15 14.953.06 114.45 103 2009 2010 Jumlah 99 59 158 94 46 140 54 36 90 47.73 1. Muara Enim 3 2009 2010 Jumlah 4 58 125 183 Nilai 5 9.58 - 18 6 24 20 20 10 10 57 4.389.46 36 54 Jml 6 38 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 367.22 285.66 468.12 1.078.37 116.762.28 1.65 118.298.75 159.36 496.33 582.12 103 54 157 1.82 1.09 103.06 119.27 115.65 118. Ogan Komering Ulu Selatan 2009 2010 Jumlah 72 53 125 3.309.350.73 52 53 105 128.350.618.47 11.361.45 35 27 62 1.018. Ogan Komering Ulu Timur 2009 2010 Jumlah 29 70 99 468.477.05 9.29 26.251.97 11.389.22 414.81 59.211.30 58.621.51 1.95 624.90 11.67 59.97 37.85 104 Kab.51 897.44 10.71 79.75 7 7 - 2 76 78 1.112.06 79.09 103.039.83 USD 2.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 Nilai 9 9.70 21 21 78.06 7.66 56 56 159.59 - 111 Kota Pagar Alam 2009 2010 Jumlah 112 Kota Palembang 2009 2010 Jumlah 113 Kota Prabumulih 2009 2010 112 .82 USD 2.78 640.22 2.082.841.138.62 744.59 10. Ogan Komering Ulu 2009 2010 Jumlah 139 94 233 2. Ogan Ilir 2009 2010 Jumlah 106 Kab. Musi Banyuasin 44 82 5.187.78 27 44 71 468.88 447.33 582.97 2.42 4.00 372.54 103.85 447.70 296.04 624.22 285.250.85 18 18 36 8 2 10 20 20 36.75 107 Kab.12 11.457.781.44 11.67 109 Kab.44 243.31 108 Kab.937.62 5.42 4.360. Musi Rawas 2009 2010 Jumlah 105 Kab.48 34 41 75 38 10 48 54 33 87 65 - 4.78 125.003.89 7.142.66 396.97 11.90 1.258.17 4.35 9.83 858.85 447.40 2 5 7 488.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 102 2 Kab.98 10.73 4.39 590.71 520.15 11. Ogan Komering Ilir 2009 2010 Jumlah 65 76 141 159.534.43 81 23 104 86 27 113 29 29 11.998.

32 1.393.09 632.55 647.39 733.97 44. Seluma 2009 2010 Jumlah 124 Kota Bengkulu 2009 2010 Jumlah 125 Prov.51 233.17 9.97 2.540.16 536.00 332.616.966.611.056.48 137.106.48 32 6 38 16 16 9 9 827.584.75 7.128.030. Kepahiang 2009 2010 Jumlah 49 38 87 38 36 74 57 25 82 3.72 2.68 1.63 109.89 2.490.49 40.19 87.23 16 20 36 15 15 4 4 2.60 2.94 - 117 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 114 2 Prov.93 575.24 11.348.39 3.340.59 796.13 172.520.35 2.725.56 467.809.29 38 2 40 16 16 24 17 41 43 43 162.34 2.415.20 336.28 12.399.17 7.056.62 85.23 120 Kab.28 710.540.14 53.08 7.34 317.59 1.125.106.61 172.649.412.00 2.122.943.340.73 3.98 26.211.299. Bengkulu Utara 2009 2010 Jumlah 49 89 138 25 18 43 4.22 2.489.97 7.622.62 300.09 632. Bengkulu Tengah 2009 2010 Jumlah 23 23 5. Bengkulu 3 Jumlah 2009 2010 Jumlah Kab.984.00 20.96 118 Kab.832.02 115 2009 2010 Jumlah 77 36 113 1.862.014.206.24 9.108.056.68 17 36 53 2. Bengkulu Selatan 4 130 140 87 227 Nilai 5 120.845.819.87 1.49 467.883.86 399.395. Lampung 2009 2010 Jumlah 113 .97 13.59 19.15 702.78 937.490.03 1.82 5.36 109.609.899.708.99 97.20 17 17 1. Rejang Lebong 2009 2010 Jumlah 71 32 103 35 23 58 186 31 217 103 113 216 1.00 20.46 172.031.800.855.33 - 402.822.12 689.35 2.42 945.13 2.81 13.00 2.716.94 - - - - 23 23 5.399.057.63 13.899.18 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 57 4 58 62 Nilai 11 4. Mukomuko 2009 2010 Jumlah 122 Kab.93 2.74 116 Kab.74 733.14 9.13 366.166.398.86 399.18 118.209. Lebong 2009 2010 Jumlah 121 Kab.153.340.60 553.93 16.972.826.63 1.186.58 13.450.87 536.11 1.39 2.89 689.42 334.26 162.59 1.115.94 5.64 5.35 702.395.87 1.35 1.006.96 9 9 6 12 18 1.65 8.55 286.36 25 89 114 - 1.725.23 20.125.84 2.33 15 15 19 6 25 1.99 7.63 3.340.61 317.317.78 123 Kab.35 1.13 32.63 12 30 42 23 23 102 7 109 10 113 123 869.65 941.014.21 58.13 702.93 1.66 33.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 8 63 22 85 Nilai 9 115.979.443. Kaur 2009 2010 Jumlah 119 Kab.34 Jml 6 65 73 7 80 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 456.63 9.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 456.09 21 21 19 19 60 7 67 50 50 921.833.26 1.29 138.Halaman 10 .716.48 723.757.14 5.44 138.23 20.32 233.909.60 801.35 19.730.89 1 12 13 7 36 43 44 25 69 647.12 13.97 921.584.611.875.28 43 43 336.11 1.51 402.24 1.934.94 5.

563.856.41 187. Lampung Selatan 2009 2010 Jumlah 45 55 100 1.26 2.186.427.923.428.00 171.582.036.060.935.09 131 Kab.077.16 10.36 218.74 1.64 1.65 - 20 27 47 - 33.17 299.603.310.906.50 21.648.33 88.84 623.69 69 69 1.335.17 11.64 3.446.403.36 91.07 299.64 1.501.335.19 127.64 - 129 Kab.391.978.05 1.70 44 44 1.304.80 91.324.38 1.324.516.17 - 11 67 78 68 57 125 861.590.365.783.164.13 1.126.326.928.80 22.89 - 2 2 - - 42 108 150 27 63 90 28.39 1.19 96.546.24 1.426.92 398.41 267.127.077.25 - - 35 38 73 29.98 32.76 173.101.33 1.65 46.923.351.94 25 1 26 - 44.898.673.590.133.601.65 44.111.846.117.Halaman 11 .908. Lampung Barat 3 4 Nilai 5 Jml 6 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 126 2009 2010 Jumlah 35 38 73 29.694.794.316.43 42.07 10.070.96 20.65 46. Pesawaran 2009 2010 Jumlah 132 Kab.705.74 26.18 19 19 31.846.47 27.426.544.94 - 134 Kab.831.97 215.57 147.671.908. Lampung Utara 2009 2010 Jumlah 51 100 151 18 58 76 60 70 130 1.09 254.24 39.856.705.487.824.01 215.22 143.70 31.395.73 9.07 215.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 Kab.190.652.82 1.69 122.57 3 3 10.38 327.06 70.694.28 135.24 1.906.07 9 9 5 5 218. Way Kanan 2009 2010 Jumlah 135 Kota Bandar Lampung 2009 2010 Jumlah 42 110 152 27 63 90 28.47 27.111.96 20.796.582.446.36 215.77 17 1 18 2.590.892.25 26.70 10.831.854.07 39. Tanggamus 2009 2010 Jumlah 133 Kab.940.41 187.50 21.809.169.16 88.74 1.64 1.724.47 45 52 97 1.89 5.908.35 1.36 962.940.118.17 11. Lampung Timur 2009 2010 Jumlah 53 60 113 2.351.49 1.92 - 5.78 3.164.265.01 42 100 142 18 58 76 53 70 123 1.47 10.590.118.898.043.191.211.194.70 130 Kab.601.754.80 398. Lampung Tengah 2009 2010 Jumlah 60 69 129 1.717.914.069.24 - 147.24 17 59 76 1.36 136 Kota Metro 2009 2010 Jumlah 114 .41 128 Kab.51 173.126.923.06 59.487.56 2 2 1.395.92 874.46 1.40 13.35 16 16 122. Tulang Bawang 2009 2010 Jumlah 56 95 151 68 57 125 939.505.25 127 Kab.45 623.99 - 26.38 326.898.25 26.908.796.18 1.22 143.28 135.80 127.24 254.816.

998.44 145 Prov.61 16 15 31 23 12 35 13 9 22 8.14 19.45 846.520.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 137 2 Prov.Halaman 12 .674.69 19.834.252.778.36 2.98 195.13 3.02 7.375.47 2.335.39 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 3. Belitung 2009 2010 Jumlah 143 Kab.47 20.06 1.153.41 197.05 928.29 197.20 36. Belitung Timur 2009 2010 Jumlah 40 43 83 7.90 32.89 7.64 25.273.768.14 140 2009 2010 Jumlah 87 70 157 2.695.00 896.54 197.03 34.06 1.10 346.42 831.09 108.45 846.650.679.51 2.45 26 26 2.866.54 200.36 25 5 30 767.160.64 1.39 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 1 14 6 7 13 4 6 10 Nilai 9 29.336.29 460.57 34 13 47 27 23 50 197.33 2.94 144 Kota Pangkal pinang 2009 2010 Jumlah 125 136 261 1.847.72 7 7 1.576.37 1 24 25 926.289.26 7.74 45.68 460.295.71 35 35 846.082.873.593.34 1.41 1.17 74.03 1.84 1.75 2.730.371.17 9.085.385.576.25 7.75 1.41 822.553.85 34 17 51 179.58 2.64 204.658. Kepulauan Bangka Belitung 3 2009 2010 Jumlah 138 Kab.672.48 254.41 1.40 20.18 670.94 3.11 177.821.12 141 Kab.75 21. Kepulauan Riau 2009 2010 Jumlah 90 103 193 45 60 105 91 130 221 16.770.17 2 13 15 11 26 37 1.48 787.15 963.10 29.48 151.31 32 63 95 18 18 14 82 96 7.41 13.11 13.252.64 23.08 15.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 9 12 16 16 2 2 Nilai 11 596. Kepulauan Anambas 2009 2010 Jumlah 61 61 3.557.14 32 108 140 29.203.04 349.376.25 - - 846.46 119.183.85 307.40 331.39 307.16 142 Kab.13 16.21 568. Bangka Selatan 4 73 45 118 108 60 168 61 21 82 Nilai 5 55.312.07 44.84 643.279.523.824.098.01 1.94 2.25 2.58 926.15 32.650.295.64 212.316. Bangka 2009 2010 Jumlah 139 Kab.454.46 68 23 91 514.95 729.154.429.881.281.92 9.55 3.12 10 5 15 81.14 972.154.46 119.399.345.61 2.05 222.408.85 596.99 718. Bintan 2009 2010 Jumlah 147 Kab.301.551.008.45 115 .41 197.44 1.01 25.73 254.54 2.849.94 2.90 576. Karimun 2009 2010 Jumlah 148 Kab.028.71 3.31 4.85 125.51 469.93 2.719.706.516.983.29 Jml 6 57 35 92 102 37 139 57 13 70 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 25.83 42 25 67 22 30 52 64 39 103 601.07 15.01 331.832.10 8 6 14 23 25 48 488.96 2.58 3.856.41 488.41 2.080.48 151.01 6 19 25 7.142.61 146 Kab.65 16.778.68 1.20 3.075.42 855.41 15.26 4.85 8.208.31 8.52 207.11 16.89 547.23 4.13 3.32 11.10 2. Bangka Barat 2009 2010 Jumlah Kab.811.55 2.97 56.08 76 41 117 2.374.516.913.11 1.139.64 2.83 539.45 365. Bangka Tengah 2009 2010 Jumlah 44 32 76 61 74 135 197.40 9.87 272.703.098.99 718.768.187.991.01 3.

667.735.187.995.32 161.914.00 9.544.446.193.050.332.063.67 102.074.276.51 59.574.52 652.74 229.743.18 59.551.44 15.62 920. Bogor 2009 2010 Jumlah 159 Kab.457.679.072.284.291.05 202 109 311 38 13 51 9 23 32 129.11 21.33 885.46 55.414.244. Bandung Barat 2009 2010 Jumlah 73 84 157 61 41 102 52 58 110 10 23 33 73 75 148 5.67 49.333.63 12.21 182.15 12.13 49.97 250.91 299.160.95 681.53 24.57 9.785.92 3.99 Jml 6 43 28 71 40 19 59 73 24 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 10.20 1.68 11.033.85 14.576.628.83 2.80 31.704.147.05 87.81 10.32 8.05 25.35 157 Kab.82 35.64 22.59 1.45 25.55 3.29 152 2009 2010 Jumlah 61 105 166 306.986.17 12.32 654.576.143.14 6.234.31 11.919.799.54 16.71 133.910.72 51.114.979.23 3.55 2.26 14 17 31 77.14 384.15 2.81 14 65 79 4.273.67 244.80 2.96 1.97 4 4 19 39 58 7 38 45 1 1 57 18 75 2.663.96 119.87 627.79 624.094.67 24.875.89 5.70 60.32 58.26 55.83 33 23 56 229.21 342.63 30.96 60.29 15.48 101.198.546.834.28 34. Bekasi 2009 2010 Jumlah 158 Kab.40 102.892.67 21.39 23.81 184.21 48.21 24.81 158.820.13 12.61 43.41 5. Jawa Barat 2009 2010 Jumlah 155 Kab.543.943.548.38 537.69 3.37 111 151 262 6 95 101 2 29 31 18.56 589.78 8.87 7.41 815.38 40.243.94 22.979.88 27.376.124.611.70 2.891.72 577.71 2.34 97.123.20 24.20 65 63 128 26 26 31 1 32 6 18 24 5 24 29 338.83 87.71 129.40 3.Halaman 13 .32 3.397.268.184.75 24.51 9.12 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 7 2 9 1 53 54 10 58 68 Nilai 11 2.500.549.80 55.831. Cianjur 2009 2010 Jumlah 116 .394.29 200.47 388 185 573 115 75 190 77 26 103 80.965.95 11.71 59.146 159 183 342 88 78 166 228.621.91 27.000.981.447.359. Ciamis 2009 2010 Jumlah 160 Kab.45 19.56 62.262.058.67 681.56 13.32 21.833.58 49.562.025.97 4.35 154 Prov.78 893.59 2.24 13.147.47 24.346.02 4.70 1. Lingga 3 2009 2010 Jumlah 150 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 149 2 Kab.161.97 153 Prov.16 2.934.876.97 57.85 923.05 58.250.339.74 4.84 19.31 638.819.00 24.482.928.14 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 17 31 21 16 37 15 17 32 Nilai 9 1.130.72 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1. DKI Jakarta 2009 2010 Jumlah 701 445 1. Natuna 2009 2010 Jumlah 151 Kota Batam 2009 2010 Jumlah Kota Tanjungpinang 4 64 47 111 62 88 150 98 99 197 Nilai 5 12.89 10.84 136.54 1.441.346.62 16.37 252.97 3.215.890.593.21 19.49 2.687.38 554. Bandung 2009 2010 Jumlah 156 Kab.080.90 21.902.175.427.995.871.175.11 1.60 28.535.749.645.385.893.44 8.86 60.846.363.32 8 17 25 16 2 18 14 19 33 3 5 8 11 33 44 5.93 19.69 4.800.90 20.78 2.29 2.01 73.24 24.801.675.15 137.686.58 392.

805.10 USD 4.41 2.75 341.50 42.24 717.202. Sumedang 2009 2010 Jumlah 171 Kab.32 1.974.704.92 2.77 4.31 3.487. Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 172 Kota Bandung 2009 2010 Jumlah 173 Kota Banjar 2009 2010 39 29 68 49 38 87 23 51 74 44 23 67 48 19 67 57 18 75 13 17 30 149 188 337 33 38 196.587.070.267.47 137.73 1 16 17 9 22 31 8 11 19 8 5 13 22 3 25 49 13 62 3 13 16 44 52 96 1 11 10.04 50.05 3.125.106.39 221.006.871.360.10 160.835.41 7.99 384.52 45.824.550.86 165.502.70 119.61 51.32 39. Subang 2009 2010 Jumlah 169 Kab.02 324.66 8.103.15 212.42 545.241.53 37.981.10 2.99 146.37 5.88 201.425.84 77.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 161 2 Kab.66 2.281.09 976.750.77 27.88 1.680.174.71 39.65 42.42 550. Karawang 2009 2010 Jumlah 4 53 14 67 89 21 110 36 22 58 109 30 139 Nilai 5 1.12 3.451.95 1.02 171.62 119.00 171.608.07 3.95 514.12 8.53 137.31 15.70 USD 4.505. Cirebon 3 2009 2010 Jumlah 162 Kab.351.378.618.177.85 37.99 11.71 976.59 345.04 144.81 384.62 4.00 165 Kab.603.61 60.95 26.518.20 38.25 36.97 5 27 310.210.679.86 46.44 117 .71 77.00 6.50 4.96 582.848.015.122.67 17 36 34.00 34.76 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 2 60 1 61 2 2 22 Nilai 11 38.849.60 3.566.95 185.62 341.80 173.10 148.450.354.277.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 17 8 25 4 10 14 3 11 14 19 Nilai 9 398. Purwakarta 2009 2010 Jumlah 168 Kab.67 338.97 3.469.29 164.282.37 42.66 15.25 5.71 277.640.79 38.465.76 144.95 1.37 835.834.805.351.06 USD 4.65 3.Halaman 14 .30 251.71 1.25 3.354.95 8.90 4.515.015.304.41 38.74 37.02 37.11 4.00 185.24 553.457.94 53.69 959.166.77 575.51 8.61 11. Sukabumi 2009 2010 Jumlah 170 Kab. Garut 2009 2010 Jumlah 163 Kab.70 2.08 5.360.49 4.205.37 5.71 398.65 835.20 8.700.81 2.082.93 USD 4. Kuningan 2009 2010 Jumlah 166 Kab.96 5.02 1.61 12.00 6.176.00 185.19 2 2 4 30 34 2 10 12 6 6 12 4 5 9 4 4 45 43 88 16 2. Majalengka 2009 2010 Jumlah 167 Kab.407.505.711.50 4.91 8.810.90 USD 4.10 839.69 1.02 546.61 2.99 892.99 203.96 3.35 397.32 12.65 327.550.69 634.65 892.35 368.29 43.89 5.67 524.38 0.12 397.84 164.69 327.10 183.30 198.00 9.147.92 38 11 49 40 16 56 11 10 21 34 8 42 20 10 30 4 4 10 10 60 93 153 16 27 8 76 Jml 6 34 6 40 25 10 35 31 11 42 68 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.819.83 USD 4. Indramayu 2009 2010 Jumlah 164 Kab.10 183.350.32 1.277.10 153.849.744.12 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.86 224.974.09 1.006.71 95.27 119.

38 1.98 180.134.18 55.523.507.046. Batang 2009 2010 Jumlah 185 Kab.507.65 829.81 306.07 192.65 908.30 641.134.988.12 1.50 1.25 145.70 16.37 13.353.964.69 1.05 138.75 Jml 6 43 23 3 26 22 8 30 3 28 31 36 30 66 48 7 55 30 23 53 25 25 42 15 57 23 15 38 40 32 72 19 4 23 10 26 36 19 17 36 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 373.493.521.65 449.09 872.72 257.25 1.67 641.604. Blora 2009 2010 Jumlah 186 Kab.426.67 4.72 20.91 4.902.93 7.21 101.29 910.190.317.291.501.65 1.54 257.31 16.807.24 262.64 629.086.42 806.03 940.48 10.60 4.22 1.56 2.31 202.507.273. Boyolali 2009 2010 Jumlah 4 71 40 34 74 22 58 80 68 49 117 51 39 90 53 23 76 51 57 108 47 14 61 59 70 129 23 40 63 42 36 78 29 46 75 35 65 100 23 24 47 Nilai 5 798.20 931.92 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 16 10 10 20 25 25 51 6 57 1 6 7 1 3 4 11 14 25 1 50 51 17 17 2 21 23 23 23 Nilai 11 39.124.39 12.81 122.87 81.17 931.38 19.24 9.902.42 2.82 4.56 403.82 821.19 896.13 220.89 896.02 1.Halaman 15 .124.68 1.293.249.25 13.28 950.87 821.779.78 76.52 57.78 178.183.07 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 339.745.27 650.26 20.10 836.670. Banjarnegara 2009 2010 Jumlah 183 Kab.80 132.355.73 257.257.78 19.93 15.99 872.650. Jawa Tengah 2009 2010 Jumlah 182 Kab.05 89.65 229.257.17 241.232.91 275.314.07 122.204.099.18 60.971.67 815.04 262.82 118 .62 5.502.78 306.06 158.84 950.50 23.41 2.64 277.21 3.63 821.47 9.57 269.240.841.23 8.257.818.70 333.10 4.13 582.42 10.93 761.10 191.44 39.02 155.57 29.92 984.82 821.877.02 403.60 2.57 1.30 2.436.52 13.91 1.82 2.314.09 730.57 15.21 145.22 473.97 81.69 2.44 245.99 9.57 451.82 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 12 7 21 28 25 25 14 15 29 15 9 24 4 10 14 20 31 51 11 11 16 5 21 8 8 2 4 6 8 21 29 25 16 41 4 7 11 Nilai 9 385.54 169.92 2.78 940.06 3.25 3.01 251. Banyumas 2009 2010 Jumlah 184 Kab.74 6.92 7.29 55.453.84 5.79 77.50 2.54 7.45 426.50 331.640.046.13 451.75 829.44 910.521.184.69 245.31 2.71 6.355.28 842.77 519.536.41 1.89 220.12 829.12 842.12 178.78 284.95 52.70 815.781.027.495.46 57.870.69 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 2 3 Jumlah 174 Kota Bekasi 2009 2010 Jumlah 175 Kota Bogor 2009 2010 Jumlah 176 Kota Cimahi 2009 2010 Jumlah 177 Kota Cirebon 2009 2010 Jumlah 178 Kota Depok 2009 2010 Jumlah 179 Kota Sukabumi 2009 2010 Jumlah 180 Kota Tasikmalaya 2009 2010 Jumlah 181 Prov.436.42 2.507.48 65.71 156.

185.69 263.800.957.069.300.64 60.220.90 22 22 - - 149.708.075.47 84.365.759.84 1.91 4.635.67 3. Kebumen 2009 2010 Jumlah 194 Kab.21 24.13 8.61 566.59 3.95 79.29 163.46 21.18 4.326. Klaten 2009 2010 Jumlah 196 Kab.22 104.20 566.571.28 831.226.66 188.35 44.225.84 257.239.01 7. Grobogan 2009 2010 Jumlah 191 Kab.31 1.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 14 11 25 5 4 9 14 24 38 21 32 53 4 6 10 2 22 24 3 12 15 14 16 30 12 37 49 2 10 12 Nilai 9 426.38 Jml 6 35 2 37 60 31 91 27 27 16 16 18 19 37 15 14 29 11 31 42 30 3 33 11 3 14 49 2 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.24 1.85 4.91 4.64 1.100. Cilacap 2009 2010 Jumlah 189 Kab.72 602.62 432.01 168.75 895.70 72.641.530.08 602.62 457.17 7.40 2.59 360.31 6 6 12 12 27 39 7 13 20 1.008.07 334.568.02 263.80 4.95 1.54 46.614.21 37.950.64 92.32 201.07 499.62 1.74 79.18 38.643. Demak 2009 2010 Jumlah 190 Kab.040.11 52.220.89 1.08 7.54 45.50 10.367.72 334.00 6.56 777.219.344.03 247. Kendal 2009 2010 Jumlah 195 Kab.43 2.987.58 72.00 37.79 1.08 70.81 282.413.31 78.94 198 Kab.31 3.47 44.069.324. Jepara 2009 2010 Jumlah 192 Kab.33 2.48 4.91 9.30 21.137.256.42 78.81 7.Halaman 16 .66 1.44 2.379.29 3.403.89 2.27 4.30 8.592.27 3.614.20 379.631.16 78.43 90.28 4.324.41 879.203.72 5.95 3.43 5.61 320.343.38 90.137.907.88 3.636.52 1.034.209.73 1.420.005.38 12.91 10.614.22 26 13 39 36 1 37 21 12 33 139.79 66.56 367.31 52.017.17 69. Brebes 3 2009 2010 Jumlah 188 Kab.24 37.66 104.31 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 187 2 Kab.631.00 5.24 895.742.81 3.44 137.530.95 9.94 1.437.03 9.571.252.588.31 9.40 4.51 15.732.50 165.89 1. Pati 2009 2010 Jumlah 199 Kab.970.91 1.03 1.14 2.481.721.00 137.58 12.00 150.66 9.75 5.44 1. Pekalongan 2009 2010 Jumlah 119 .64 276.94 473.052.89 1.23 1.45 197 Kab.031.190. Kudus 2009 2010 Jumlah 4 52 33 85 91 35 126 42 37 79 53 44 97 22 25 47 18 65 83 14 43 57 70 42 112 23 64 87 51 39 90 Nilai 5 1.48 24.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 367.966.18 2.915. Karanganyar 2009 2010 Jumlah 193 Kab.36 171. Magelang 2009 2010 Jumlah 32 41 73 48 28 76 28 25 53 1.03 9.614.168.69 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 3 20 23 26 26 1 13 14 16 12 28 1 29 30 26 23 49 24 24 27 27 Nilai 11 150.11 309.91 1.93 12.967.343.635.950.90 101.568.356.05 536.305.72 89.31 3.426.94 1.129.62 97.

78 1.11 1.67 1.06 13.517.25 851.032.738.23 769.413.38 8.39 252.978.761.41 4.97 94.18 94.87 9.72 271.66 80.61 4.70 103.062.59 7.68 859.99 1.47 988. Wonosobo 2009 2010 Jumlah 211 Kota Magelang 2009 2010 Jumlah 212 Kota Pekalongan 2009 2010 Jumlah 120 . Semarang 2009 2010 Jumlah 205 Kab.000.14 5.26 11.07 510.30 9.01 8.54 18.385.60 9.76 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 11 12 23 Nilai 9 87. Purworejo 2009 2010 Jumlah 203 Kab.154.61 4 12 16 8 8 19 27 46 7 9 16 1 19 20 13 5 18 34 2 36 13 25 38 10 10 20 30 34 64 6 16 22 5 5 3.67 2.476.429.97 3.34 39.50 364.249.646.14 274.664.582.62 14.413.00 26.18 2.84 13.13 1.40 13.582.249.582. Tegal 2009 2010 Jumlah 208 Kab.395.34 38.60 80.567.76 30. Purbalingga 2009 2010 Jumlah 16 75 91 20 41 61 31 58 89 24 69 93 19 38 57 31 12 43 78 31 109 34 43 77 37 22 59 31 71 102 11 101 112 20 47 67 4.64 9.23 274.53 1.394.399.46 - 202 Kab.79 26.27 8. Wonogiri 2009 2010 Jumlah 210 Kab.90 8.017.46 661.79 14.45 4.11 7.252.91 2.16 334.41 5.67 29.59 14.56 334.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 200 2 Kab.46 244.76 30.65 39.79 1.39 295.749.731.95 9.48 12.731.70 45.04 85.097.00 184.501.36 14.22 12.00 1.55 1.11 1.02 1.02 14.45 3.34 1.65 80.624.67 1.394.18 1.42 39.78 395.01 3 50 53 24 24 27 27 1 47 48 1 1 29 29 58 17 17 10 10 79 79 47 47 185.71 30.729.28 1.913.171.917.66 60.76 364.65 988.664.017.104.53 9.86 81. Temanggung 2009 2010 Jumlah 209 Kab.824.50 8.600.354.032.25 26.37 7.197.385.032.71 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 62 63 Nilai 11 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 73.48 Jml 6 14 10 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 30.643.046.90 1.52 859.93 18.986.647.67 2.95 851.28 395. Rembang 2009 2010 Jumlah 204 Kab.42 9 13 22 20 9 29 12 4 16 16 13 29 18 18 36 18 7 25 15 15 21 1 22 27 12 39 1 27 28 5 6 11 15 15 1.Halaman 17 .160.71 87.41 185.88 201 Kab.541.40 836.00 3.66 85. Pemalang 3 2009 2010 Jumlah 4 26 84 110 Nilai 5 87.72 8.135.39 90.87 440.53 988.65 11.732.65 9.36 2.25 8.429.375.179.613.42 11.60 80.041.413.019.66 0.15 84.185.245.01 7.166.42 7.60 0.555.53 1.443.44 3.295. Sragen 2009 2010 Jumlah 206 Kab.420.06 635.617. Sukoharjo 2009 2010 Jumlah 207 Kab.06 11.749.18 90.83 12.60 0.647.761.

41 170.05 30.30 1.68 17.54 329.250.293.65 1.565.496.92 8.I.97 321.66 1.15 30.473.231.42 321.107.769.601.06 8.714.255.90 112.077. yakarta Yog2009 2010 Jumlah 218 Kab.43 1.60 2.32 14.016.07 49.834.813.79 11.14 8.300.15 1.35 58.91 4.768.68 562.60 81.48 712.39 329.013.22 60.147.00 8.037.40 243.852.14 14.19 37.57 1.70 32.93 112.690.39 42.250.68 1. Banyuwangi 2009 2010 Jumlah 4 25 56 81 55 27 82 24 43 67 66 14 80 76 69 145 66 60 126 19 44 63 16 47 63 53 72 125 45 85 130 76 83 159 50 42 92 121 85 206 Nilai 5 354.57 22.85 22.540.96 268. Gunung Kidul 2009 2010 Jumlah 220 Kab.502.016.604.03 27.41 13.523.50 112.45 1.14 21.547.70 142.07 56.181.632.00 175.61 5.10 3.45 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 26 31 27 8 35 1 6 7 28 10 38 16 22 38 4 9 13 5 19 24 5 3 8 4 2 6 13 8 21 23 10 33 4 4 23 19 42 Nilai 9 179.82 650.55 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 30 30 1 19 20 1 28 29 2 1 3 1 1 10 33 43 2 17 19 37 37 64 64 1 39 40 50 50 14 14 1 25 26 Nilai 11 733.92 1. Sleman 2009 2010 Jumlah 222 Kota Yogyakarta 2009 2010 Jumlah 223 Prov.57 23.18 7.520.00 23.013.72 449.14 1.00 2.42 18.54 12.68 558.14 1.13 100. D.13 792. Bangkalan 2009 2010 Jumlah 225 Kab.00 49. Bantul 2009 2010 Jumlah 219 Kab.50 17.11 60.809.85 165.17 5.54 32.39 8.30 14.122.22 8.27 1.646.602.604.941.279.909.42 1.03 1.43 3.14 146.265.927.39 3.563.78 8.941.907.57 19.80 11.80 196.76 6.91 Jml 6 20 20 27 27 22 9 31 36 3 39 60 46 106 52 18 70 12 8 20 11 7 18 49 6 55 31 38 69 53 23 76 50 24 74 97 41 138 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 175.31 22.037.95 13.205.181.291.50 140.92 8.167.198.17 5.83 19.049.50 112.03 27.00 1.24 121 .99 1.29 70.78 193.63 19.398.27 739.045.960.289.90 3.351.45 12.70 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 213 2 Kota Salatiga 3 2009 2010 Jumlah 214 Kota Semarang 2009 2010 Jumlah 215 Kota Surakarta 2009 2010 Jumlah 216 Kota Tegal 2009 2010 Jumlah 217 Prov.13 49.54 21.289.564.852.00 16.316.377.728.03 16.28 467.25 34.981.43 18.80 83.93 112.43 21.58 24.30 36.74 738.80 3.00 2.81 11.758.505.50 83.79 18.22 1.21 3.23 4.Halaman 18 . Kulon Progo 2009 2010 Jumlah 221 Kab.788.78 1.76 6.42 41.427.500.22 2.57 100.564.79 280.14 8.00 2.529.58 1.586.45 139.18 733.42 449.460.18 712.076.80 526.177.54 83.43 268.26 19.00 1.89 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 104.59 18.021.27 739.17 626.731.389.396.68 1.049.72 7.021.13 712.68 104. Jawa Timur 2009 2010 Jumlah 224 Kab.457.61 526.500.27 19.35 1.22 16.605.30 19.41 6.26 24.92 2.104.

516.27 187.18 198.549.578.19 530.28 5.215.32 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 44 44 2 21 23 32 32 7 7 14 43 52 95 34 34 1 2 3 1 39 40 40 40 20 20 7 31 38 20 20 Nilai 11 150.423.32 2.23 28.00 25.04 346.20 40.23 1.19 19. Kediri 2009 2010 Jumlah 233 Kab.67 155.17 530.51 5.65 694.849.84 2.92 115.49 23.18 9.36 23.60 5.81 198.251.582.19 1.73 8.83 2.87 8.00 371.46 285.01 5.010. Jember 2009 2010 Jumlah 231 Kab.73 208.71 1.20 4.530.13 187.03 794.02 88.52 542.065.74 4.80 959.29 539.50 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 346.674.04 50.954.96 29.02 65.00 42.316.73 105.67 7.33 40.108.77 4.829.54 149.15 396.66 42.85 10. Madiun 2009 2010 Jumlah 236 Kab.59 105.775.16 56. Magetan 2009 2010 Jumlah 237 Kab.32 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 23 36 11 8 19 9 7 16 15 14 29 10 5 15 3 3 5 5 5 3 8 5 5 10 2 3 5 17 16 33 36 17 53 2 4 6 Nilai 9 1.09 40.973.429.802.59 42.36 30.06 35.49 2.17 25.02 316.36 30.54 305.141.027. Bondowoso 2009 2010 Jumlah 229 Kab.12 9.00 1. Blitar 3 2009 2010 Jumlah 227 Kab.15 959.54 20.15 Jml 6 39 20 59 86 43 129 43 22 65 16 21 37 97 49 146 62 35 97 69.142.24 155.743.15 20. Malang 2009 2010 Jumlah 238 Kab.71 4.18 50.08 290.58 105.71 292.04 1.672.057.01 5.59 198.49 1.668.54 9.37 1.72 434.17 155.33 454.51 299.08 371.52 542.91 351.04 249.40 1.19 685.18 198.19 479.91 506. Lamongan 2009 2010 Jumlah 234 Kab.397.480.57 339.00 57 126 35 18 53 74 140 214 48 64 112 54 46 100 125 74 199 93 51 144 Nilai 5 2.22 1.06 288.065.19 454.493.36 4.696.18 197.70 24. Lumajang 2009 2010 Jumlah 235 Kab.280.26 83.73 8.802.11 489.479.19 11.50 1.14 539.02 436.088.18 2.727.17 589.799.56 149.53 6.30 721.295.87 13.18 115.02 1.763.579.35 2.027.83 150.61 3.81 28.80 3.291.252.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 226 2 Kab.33 316.648.125. Bojonegoro 2009 2010 Jumlah 228 Kab.80 873.17 155.263.59 105. Gresik 2009 2010 Jumlah 230 Kab.85 1.80 1.743.941. Jombang 2009 2010 Jumlah 232 Kab.28 350.00 18 87 29 13 42 68 96 164 46 21 67 37 10 47 82 26 108 91 27 118 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 346.52 12.59 28.37 1.66 155.02 88.65 571.46 5.56 122 .108.29 1.822.50 1.941.23 60.701. Mojokerto 2009 2010 Jumlah 4 52 87 139 99 72 171 52 61 113 38 42 80 150 106 256 65 35 100 69.41 1.99 6.92 1.19 530.37 2.66 72.275.35 2.187.749.832.929.Halaman 19 .11 479.50 12.20 1.60 4.55 1.48 3.396.40 873.251.964.

39 52.95 50.49 386.37 68.37 761.27 225.93 Jml 6 58 17 75 26 9 35 23 33 56 46 12 58 57 34 91 54 46 100 64 20 84 36 25 61 31 26 57 56 15 71 21 20 41 38 32 70 55 22 77 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 553.37 278.040.60 48.11 83.64 836.13 763.56 2.96 8.19 796.443.95 105.68 0.00 96.58 25.54 48.12 102.86 164.75 52. Pasuruan 2009 2010 Jumlah 244 Kab.12 87.75 2.00 273.57 567.91 1.136.577.774.12 122.786.15 43.65 588.85 892.104.70 2.31 2.90 428.391.862.646.44 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 239 2 Kab.67 17.44 53.52 47.00 807.83 428. Pacitan 2009 2010 Jumlah 242 Kab.01 122.52 112.87 118.890.21 917.626.81 410.64 1.110.13 941.19 917.94 2.27 1. Nganjuk 3 2009 2010 Jumlah 240 Kab.42 536.96 8.19 360.93 3. Sumenep 2009 2010 Jumlah 250 Kab.95 104.68 1.59 428.92 624.86 48.44 2.14 246.151.08 715.14 112.22 463.90 180.33 229.15 83.40 25.88 2.92 36.031. Sidoarjo 2009 2010 Jumlah 248 Kab.43 2.65 102. Sampang 2009 2010 Jumlah 247 Kab.569.318. Ngawi 2009 2010 Jumlah 241 Kab.27 27.36 3.82 482.30 18.09 14. Situbondo 2009 2010 Jumlah 249 Kab.37 536.024.12 150.218.11 168.150.039.125.577.151.63 2.89 2.58 1.062.37 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 16 29 4 9 13 1 1 18 4 22 6 3 9 2 3 5 15 8 23 5 12 17 21 29 50 18 5 23 4 11 15 9 11 20 4 3 7 Nilai 9 227.13 776.98 168.97 35. Trenggalek 2009 2010 Jumlah 251 Kab.64 44.08 5.26 487.07 447.12 219.66 588.33 616.25 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 17 17 16 16 10 10 2 16 18 25 25 42 42 1 19 20 12 12 34 34 70 70 14 14 4 21 25 38 38 Nilai 11 836.33 3. Pamekasan 2009 2010 Jumlah 243 Kab.40 728.31 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 517.91 35.57 494.26 164.Halaman 20 .47 761.623.362.01 1.79 166.085.10 14.80 240.75 278.66 895.899.13 994.26 104.37 386. Tuban 2009 2010 Jumlah 4 71 50 121 30 34 64 23 44 67 66 32 98 63 62 125 56 91 147 80 47 127 41 49 90 52 89 141 74 90 164 25 45 70 51 64 115 59 63 122 Nilai 5 780.14 1.37 527.12 140.37 2.01 69.50 282.17 150.017.504.44 566.75 122.10 38.10 18.778.49 361.569.43 7.00 44.06 123 .57 531.69 122.79 18.647.41 267.633.21 253.19 3.174.98 7.629.085.17 50.59 308.68 155.85 73.89 163.12 2.32 278.013.30 306.84 5.12 1.222.50 3.08 320.47 308.12 253.560.48 7.75 1.083.75 361. Probolinggo 2009 2010 Jumlah 246 Kab.87 27.74 168.862.60 1.84 2.98 180.862.672. Ponorogo 2009 2010 Jumlah 245 Kab.40 2.

94 7.387.657.17 161.820.03 493.98 998.819.004.48 136.56 7.75 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 15 19 34 1 9 10 10 12 22 9 9 6 6 6 4 10 27 12 39 4 10 14 16 17 33 65 8 73 20 15 35 21 28 49 Nilai 9 375.12 783.790.85 47.08 7.20 9.91 410.92 2.05 206.56 2.36 507.08 6.047.894.020.48 660.290.07 50.85 1.42 2.96 204.13 6.634.97 979.59 493.47 188.77 311.05 321.387.529.803.634.050.739.34 11.34 87.032.79 377.15 3.13 Jml 6 42 23 65 38 16 54 22 29 51 40 25 65 48 23 71 50 30 80 64 27 91 73 28 101 32 26 58 23 18 41 62 26 88 57 13 70 10 24 34 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 2.93 785.702.790.922.26 112.56 7.69 5.81 972.37 99.017. Banten 2009 2010 Jumlah 263 Kab.13 321.04 425.11 2.482.50 8.41 261.91 705.15 973.164.50 2.97 979.56 6.29 11.448.115.08 0.93 493.576.064.95 2.91 239.80 36.077.98 2.11 8.80 566.92 1.505.Halaman 21 .607.14 28.550.91 6.00 792.70 126.880.59 375.234.87 6.75 94.09 11.85 1. Lebak 2009 2010 Jumlah 264 Kab.803.97 1.115.52 6.501.82 250.87 6.34 87.91 302.17 13.020.511.33 55.99 332.790.97 149.09 39.87 136.66 972.93 68.115.065. Pandeglang 2009 2010 Jumlah 4 42 51 93 56 128 184 23 53 76 50 52 102 57 41 98 50 51 101 70 59 129 100 65 165 36 77 113 39 171 210 140 46 186 77 28 105 76 74 150 Nilai 5 2.63 348.98 12.33 705.387.606.09 6.557.82 410.14 6.79 2.907.79 12.15 6.004.92 2.843.374.387.586.98 2.09 507.701.22 11.004.702.33 2.623.83 4.91 206.89 507.99 1.019.66 188.389.634.99 332.17 61.448.87 124 .33 1.53 68.233.01 3.61 13.32 98.91 30.810.93 869.553.31 3.14 186.51 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 24 24 3 93 96 15 15 15 15 18 18 15 15 28 28 25 25 41 41 136 136 13 12 25 45 22 67 Nilai 11 432.63 56.69 16.09 660.23 3.61 878.96 2.20 52.31 599.05 2.93 1.00 792.820.59 1.704.97 309.15 6.95 375.65 211.15 2.64 785.91 39.00 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 252 2 Kab.48 239.79 398.81 6.56 2.268.92 1.86 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 2.927.14 6.11 8.33 0.31 2.03 432.99 764.60 2.48 1.94 6.374. Tulungagung 3 2009 2010 Jumlah 253 Kota Batu 2009 2010 Jumlah 254 Kota Blitar 2009 2010 Jumlah 255 Kota Kediri 2009 2010 Jumlah 256 Kota Madiun 2009 2010 Jumlah 257 Kota Malang 2009 2010 Jumlah 258 Kota Mojokerto 2009 2010 Jumlah 259 Kota Pasuruan 2009 2010 Jumlah 260 Kota Probolinggo 2009 2010 Jumlah 261 Kota Surabaya 2009 2010 Jumlah 262 Prov.

32 302.42 455.403.512.12 632.23 119.009.323.356.915.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 265 2 Kab.302.61 98.31 24.87 198.34 1.16 12.95 112.72 10.152.29 66.44 18.365.46 185.182.724.421.99 554.69 48.68 164.036. Gianyar 2009 2010 Jumlah 276 Kab.26 18.194.257.075.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 473.069.544.292.17 27.62 49.332.066.88 1.97 359.168. Serang 3 2009 2010 Jumlah 266 Kab.292.008.93 1 1 2 2 29 29 3 13 16 32 32 55 55 1 38 39 111 111 2.831.421.65 206.65 530.348.64 72.562.86 1.67 124.485.33 30.414.679.372.Halaman 22 .32 376.10 554.78 60.581.762.81 19.38 136.544.66 2.36 258.308.065.53 290.45 486.71 12.79 77.93 234.668.216.22 270 2009 2010 Jumlah 36 36 145 79 224 79 85 164 71 34 105 42 162 204 34 72 106 37 112 149 70 168 238 18.84 156.432.80 3.83 271 Prov.97 300.73 111.20 155.168.548.41 Jml 6 6 31 37 82 24 106 34 34 51 31 82 33 18 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 473.187.02 106.78 1.08 83.79 35.89 90.30 234.81 12.385.194.21 831.19 2.123.199. Bangli 2009 2010 Jumlah 274 Kab.562.86 308.71 9.97 1.97 23.734.24 41.692.827.67 8.366.86 18.747.093.833.93 0.085.970.076. Tangerang 2009 2010 Jumlah 267 Kota Cilegon 2009 2010 Jumlah 268 Kota Serang 2009 2010 Jumlah 269 Kota Tangerang 2009 2010 Jumlah Kota Tangerang Selatan 4 68 94 162 111 28 139 41 38 79 55 47 102 89 25 114 Nilai 5 95.01 501.036.868.562.319.950.49 1.05 49.54 981.46 748.801.13 661.70 18.28 41.118.06 33.12 978.06 117.10 15.42 290.813.974.35 205.02 14 8 22 18 6 24 9 3 12 10 42 52 7 7 12 27 39 14 3 17 44. Jembrana 2009 2010 Jumlah 277 Kab.615.194.784.13 22.599.469.66 57.60 3.10 2.070.25 13.54 901.238.779.53 300.01 10.94 45.42 509.75 1.12 539.42 313.60 1. Bali 2009 2010 Jumlah 272 Kab. Karangasem 2009 2010 Jumlah 125 .83 1.131.585.08 71.956.91 8.79 1.42 294.32 34.04 5.278.992.55 496.54 270.89 2.129.52 4.378.28 622.235.70 18.52 8.085.91 4.750.515.13 15.943.42 3.339.983.59 53.55 4.704.027.70 438. Buleleng 2009 2010 Jumlah 275 Kab.956.00 94.09 769.473.903.76 78.94 60.13 289.46 116.50 28.11 294.519.50 28.67 94.169.85 57.95 35 35 131 69 200 61 50 111 59 18 77 32 88 120 34 10 44 24 47 71 56 54 110 18.562.67 4.38 3.57 131.09 36.66 45.34 179.82 1.48 12.70 543.97 245.978.429.171.89 4.54 15.086.85 156.66 3.52 1.44 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 16 24 40 21 4 25 7 38 45 3 15 18 28 6 34 Nilai 9 1.100.238.950.26 3.017.081.22 48.09 275.33 133.99 3.49 22.519.48 588.20 330.032.299.28 1.34 4.22 4.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 46 39 85 8 8 1 1 2 28 1 29 Nilai 11 94.492.42 194.900.952.85 96.16 18.60 50.21 1.563. Badung 2009 2010 Jumlah 273 Kab.01 501.840.705.46 57.390.99 19.87 46.

217.04 4.43 34.27 550.16 478.249.61 2.92 2.676.506.29 2.20 151.50 154.688.81 1.46 430.47 376.29 209.43 44 90 134 1 27 28 83 25 108 27 114 141 68 82 150 41 94 135 22 22 61 61 122 26 26 46 46 2.698. Lombok Barat 2009 2010 Jumlah 285 Kab.203.54 580.08 3.378.217.191.487.47 16 16 13 13 7 7 4 4 3 3 31 31 26 26 19 19 11.003.10 1.41 226.44 743. Sumbawa 2009 2010 Jumlah 288 Kab. Lombok Utara 2009 2010 Jumlah 290 Kota Bima 2009 2010 Jumlah 126 .461.43 2.645.71 209.295.112.175.906.63 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 5 7 12 3 5 8 19 12 31 Nilai 9 862.99 281 2009 2010 Jumlah 71 90 161 23 27 50 85 25 110 46 114 160 76 82 158 47 94 141 39 22 61 96 61 157 26 26 34 46 80 5.33 32.99 108.691.638.317.09 69.58 1.94 69.39 1.348.82 13.104.39 59.04 2.30 397.663.678.053.314.11 6.42 3. Dompu 2009 2010 Jumlah 284 Kab.43 1.806.84 34.19 20.032.638.93 725. Klungkung 3 2009 2010 Jumlah 279 Kab.256.811.27 21.031.33 209.94 40.998.33 1.18 11.82 126.85 710.02 37.212.72 23.947.760.652.04 - 282 Kab.906.68 33.340.487.181.249.019.52 710.33 537.41 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 19 19 47 47 39 7 46 Nilai 11 7.07 59.38 116.638.83 20.15 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 947.63 201.43 201.555.19 154.55 33.44 616.131.73 83.783.80 550.947.455.053.Halaman 23 .678.04 2.85 126.053.92 226. Tabanan 2009 2010 Jumlah 280 Kota Denpasar 2009 2010 Jumlah Prov.037.39 1.97 7.82 828.55 1.03 828.84 35.72 327.43 2.661.83 21.333.07 60. Sumbawa Barat 2009 2010 Jumlah 289 Kab.661.01 16.15 430.87 23.80 17.34 22. Lombok Timur 2009 2010 Jumlah 287 Kab.49 129.10 226.92 2.20 316.101.66 1.78 113.86 12.80 113.92 226.41 547. Bima 2009 2010 Jumlah 283 Kab.26 59.89 33.64 1.47 915.94 1.03 915.47 151. Lombok Tengah 2009 2010 Jumlah 286 Kab.52 2.50 11.66 782.54 120.191.442.29 1.94 828.61 50.31 57.828.52 70.97 33.887.49 443.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 278 2 Kab.68 8.78 - 11 11 9 9 2 2 12 12 4 4 3 3 8 8 9 9 15 15 3.18 8.472.126.32 26.18 75.221.19 963.304. Nusa gara Barat Teng4 37 57 94 36 108 144 113 81 194 Nilai 5 21.63 20.46 11.555.19 3.54 6.52 28.054.68 199.390.42 316.429.20 Jml 6 32 31 63 33 56 89 55 61 117 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 20.52 673.421.295.32 4.

340.83 24. Nusa Tenggara Timur 2009 2010 Jumlah 293 Kab.308.30 1.60 145.859.898.69 7.046.70 92.47 7.30 450.26 1.68 1.340.00 5.62 300 2009 2010 Jumlah 53 49 102 4.17 55.62 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 4 9 6 15 15 11 26 34 28 62 1 9 10 8 25 33 19 14 33 5 59 64 21 16 37 Nilai 9 31.380.94 4. Flores Timur 2009 2010 Jumlah 297 Kab.41 10.17 1.217.186.91 492.22 6.76 6.026.31 4.16 7.19 129.676.22 31.27 5.11 940.93 486.20 1.96 1.83 8.30 2.86 5.403.61 3 5 8 633.10 1.06 56.85 996.30 2. Alor 2009 2010 Jumlah 294 Kab.57 5. Manggarai 2009 2010 Jumlah Kab.210.16 36.558.79 29 29 24 14 38 33.07 5.51 10.384.68 227.63 63.60 34 41 75 3.96 1.24 1.581.57 1.93 27.76 6.85 37 37 1 12 13 450.00 392.68 227.51 274.24 6.27 6.55 29.76 173.24 63.678.24 1.026.97 6.83 402.62 4.23 302 Kab.825.558. Ende 2009 2010 Jumlah 296 Kab.83 402.24 63.96 0.00 36.73 715.60 258.127.542. Nagekeo 2009 2010 Jumlah 127 .03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 36.07 5.03 999.62 914.02 536.59 10.62 0.679.78 785.14 1.073.87 2.62 816.301.47 7.22 1.93 486.60 258.40 66.08 3.182.502.825.93 3.25 2.47 66.37 34.38 594.60 145. Sabu Raijua 2009 2010 Jumlah 303 Kab.817.37 0.370.55 29.071.24 56.18 31.110.380.03 8.66 16 3 19 399.00 5.23 27 27 5 21 26 5.918.19 129.581.413.559.21 27.59 10.30 845.35 270.00 0.09 6. Belu 2009 2010 Jumlah 295 Kab.287.18 33.69 33.827.96 36.72 2.053.98 5.026.87 93. Kupang 2009 2010 Jumlah 298 Kab.28 735.268.384.82 1.45 145.00 145.91 492.61 301 Kab.40 66.47 66.063.86 1.02 3.45 0.638.218.05 3.606.16 14.26 5. Manggarai Timur 2009 2010 Jumlah 93 93 30 47 77 6.308.31 7. Manggarai Barat 4 111 80 191 76 155 231 55 80 135 62 149 211 23 33 56 49 56 105 106 75 181 23 113 136 83 42 125 Nilai 5 299.69 2.73 1.51 763.25 37.097.16 8.61 2. Lembata 2009 2010 Jumlah 299 Kab.773.59 1.00 917.060.98 5.579.70 92.32 3.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 291 2 Kota Mataram 3 2009 2010 Jumlah 292 Prov.00 392.51 48.25 37.817.18 33.31 4.890.14 1.62 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 88 80 168 14 134 148 27 33 60 3 111 114 22 5 27 40 20 60 72 36 108 6 6 8 16 24 Nilai 11 254.48 1.013.89 676.101.45 1.69 845.230.227.07 90.026.22 407.496.37 34.43 399.83 24.271.94 2.190.07 90.489.227.823.18 31.Halaman 24 .76 48.139.634.27 Jml 6 19 19 53 15 68 13 36 49 25 10 35 19 19 1 11 12 15 25 40 18 48 66 54 10 64 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 14.09 1.

166.146.04 3.654.60 12.10 227. Rote Ndao 2009 2010 Jumlah 306 Kab.51 252.49 0.492.645.86 292.54 3 2 5 4 4 553.536.32 82 24 106 9 8 17 188.00 12.80 6.271.70 3.22 155.966.92 1.870.91 97.19 21.64 451.013.859.66 7.32 315 Kab.759.87 3.71 638.629.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 304 2 Kab.00 2.00 5.18 529.99 7.61 309 Kab.03 2. Kalimantan Barat 2009 2010 Jumlah 203 134 337 62 30 92 279.242.649.226.90 12.715.23 393.09 227.680.81 3.08 5.49 51 46 97 343.509.70 0.54 1.15 485.34 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 116.60 0.19 21.93 1.214.70 116.814.22 195.645.45 927.044.785.12 1.38 34.01 3.78 13 9 22 6 24 30 24 48 72 3.536.175.081.457.94 316.680.60 6.757.56 1.22 155.01 3.029.54 313 Kota Kupang 2009 2010 Jumlah 314 Prov.001.70 2.089.56 112.94 316.96 123.86 2.50 1.00 5.629.78 756.33 584.53 1.785.61 3 2 5 16 18 34 31 6 37 0.493.90 811.05 7.08 120.141.00 23 23 150.80 184.60 312 Kab.70 2.79 2.24 4.87 11.438.08 31.254.45 6. Sikka 2009 2010 Jumlah 307 Kab.29 94.00 185.95 3.60 1.49 2.74 142.08 73.608. Timor Tengah Utara 2009 2010 Jumlah 31 97 128 39 71 110 883.59 4. Sumba Tengah 2009 2010 Jumlah 310 Kab.122.37 84.74 1.41 1.00 5.26 6.728.27 1.264.636.357.264.08 120.32 120.60 1.153.934.70 8 34 42 24 20 44 88 34 122 33.48 Jml 6 26 20 46 13 15 28 12 27 39 63 35 98 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 116.537.08 1.Halaman 25 .46 2.46 1.979.74 31.45 190.872.21 317.57 224.47 10 29 39 23 3 26 73.11 0.32 120.636.77 158.892.70 185. Ngada 3 2009 2010 Jumlah 305 Kab.08 5. Bengkayang 2009 2010 Jumlah 128 . Timor Tengah Selatan 2009 2010 Jumlah 54 78 132 367.61 5.90 73.40 308 2009 2010 Jumlah 24 45 69 46 62 108 143 88 231 36.27 1.13 7. Sumba Timur 2009 2010 Jumlah 311 Kab.46 2.001.847.552.46 1.81 1.11 5. Sumba Barat 2009 2010 Jumlah Kab.49 9. Sumba Barat Daya 4 28 59 87 28 54 82 19 58 77 85 72 157 Nilai 5 322.30 2.60 3 13 16 10.713.009.99 19 19 12.515.873.21 487.05 1.40 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 21 23 4 7 11 5 13 18 16 13 29 Nilai 9 205.54 282.87 150.844.21 6.052.72 1.70 185.00 0.64 1.11 185.89 4.681.785.681.00 1.214.07 3.24 111 81 192 30 19 49 91.785.19 1.515.98 4.11 5.052.98 673.169.08 73.18 710.22 1.59 4.41 3.10 73.079.45 2.368.379.02 1.54 1.54 282.73 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 18 11 32 43 2 18 20 6 24 30 Nilai 11 6.22 1.66 2.46 1.89 7.744.28 1.727.76 2.00 116.04 3.80 184.755.17 5.667.44 390.029.10 27 95 122 12 71 83 179.31 33.06 2.51 314.67 679.

407.038.26 3.50 228.29 18.06 1.334.214.20 2.33 3.27 2.34 26.295.90 541.878.90 27.218.201.11 541.521.07 25.79 2.82 3.143.45 545.98 5.87 19. Pontianak 2009 2010 Jumlah 323 Kab.60 20.630.12 6.50 228.362.90 789.06 974.241.62 1.22 46.00 231.74 45.79 27. Melawi 2009 2010 Jumlah 322 Kab.476.555.02 5.32 Jml 6 52 12 64 39 27 66 11 19 30 23 23 39 39 1 1 16 1 17 20 20 40 1 14 15 54 54 5 28 33 64 2 66 60 60 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 405.50 403.98 848. Sintang 2009 2010 Jumlah 327 Kota Pontianak 2009 2010 Jumlah 328 Kota Singkawang 2009 2010 Jumlah 4 120 35 155 115 79 194 90 47 137 56 56 63 42 105 56 69 125 70 28 98 20 52 72 80 100 180 96 40 136 59 46 105 136 44 180 94 46 140 Nilai 5 41.33 65. Kubu Raya 2009 2010 Jumlah 320 Kab.34 129 .49 5.45 2.04 223.11 143.36 3.413.115.187.63 3.58 26.36 11. Landak 2009 2010 Jumlah 321 Kab.34 228.53 16.931.33 3.595.41 8.380.476.84 172.771.739.305.22 46.41 624.02 21.099.06 974.721.61 79.79 974.06 18. Sanggau 2009 2010 Jumlah 325 Kab.110.06 114.99 3.41 1.927.295.84 143.074.19 6.34 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 68 23 91 71 24 95 30 28 58 15 15 14 14 7 7 24 1 25 13 13 1 14 15 30 30 23 18 41 56 3 59 13 13 Nilai 9 41. Kayong Utara 2009 2010 Jumlah 318 Kab.90 27.19 2.07 11.286.94 12.04 8.07 21.717.84 172.27 11.07 400.231. Sambas 2009 2010 Jumlah 324 Kab.302.04 24.11 143.12 88.328.06 595.734.23 5.66 1.19 3.50 403.79 27.114.96 927.613.27 12.19 16.362.28 75.147.24 624.004.87 4.576.19 4.07 25.33 16.457.63 114.392.12 3.731. Sekadau 2009 2010 Jumlah 326 Kab.62 3.187.13 45.193.50 1.Halaman 26 .267.75 25.286.72 3.474.75 405.939.201.91 11.02 3.595.482.22 6.34 228.74 989.18 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 405.96 624.91 923.762.11 541.072.49 3.95 2.197.96 927.617.462.839.302.946.676.47 18.004.36 4.11 4.950.07 20.603.322.137.63 545.72 105.12 3. Kapuas Hulu 3 2009 2010 Jumlah 317 Kab.07 400.75 405.52 102.95 126.05 2.54 84.676.75 25.63 114.80 2.74 923. Ketapang 2009 2010 Jumlah 319 Kab.328.017.90 541.33 67.771.35 1.32 4.66 1.371.41 5.61 223.84 143.017.739.06 114.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 316 2 Kab.00 231.415.13 82.96 3.616.79 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 5 28 33 49 49 18 18 10 42 52 48 69 117 30 26 56 19 19 78 72 150 12 40 52 31 31 16 39 55 21 46 67 Nilai 11 2.12 3.334.46 3.38 83.49 1.193.79 974.236.07 989.576.038.548.

078.078.347.093.34 111.51 12.58 8.38 167.16 69.18 10.63 3.10 46.12 10.25 37.38 14.843.96 5.93 10.444.36 3.31 914.16 898.71 28. Kotawaringin Barat 4 112 109 221 114 81 195 63 77 140 117 73 190 93 57 150 141 37 178 86 58 144 Nilai 5 344.115.27 17.61 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 51 51 102 24 15 39 8 25 33 24 8 32 11 12 23 12 1 13 29 25 54 Nilai 9 252.14 65.198.84 751.19 4.213.521.478.91 72.18 2 12 14 23 5 28 5 2 7 8 53 61 65.95 28.40 23.335.14 22.95 1.352.49 39.01 17.397.82 44.085.52 3. Kalimantan Tengah 3 2009 2010 Jumlah 330 Kab.602.015.474.681.41 10.213.22 748.425.53 5.383.81 6.686.293.768.90 170.75 141.574.51 173.509.05 108.535.17 574.40 3.815.345.106.31 27.23 - 337 Kab.05 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 10 13 21 34 16 6 22 4 2 6 6 6 21 2 23 Nilai 11 4.82 5.79 553.418.29 173.95 29.68 12.950.49 127 69 196 76.851.049.887.38 8.44 289.78 1.19 - 336 2009 2010 Jumlah 140 77 217 115.56 43.379.66 1. Katingan 2009 2010 Jumlah Kab.74 62 39 101 73 20 93 67 74 141 33 24 57 23 5 28 2.34 30.966.921.279.17 31.004.145.988. Kapuas 2009 2010 Jumlah 335 Kab. Barito Selatan 2009 2010 Jumlah 331 Kab.31 724.002.20 10.042.328.187.329. Lamandau 2009 2010 Jumlah 339 Kab.468.70 37.98 317.18 44.84 16.243.65 22.166.42 1.54 16.218.689.549.046.62 551.980.50 30.51 28.724.35 372.13 2. Gunung Mas 2009 2010 Jumlah 334 Kab.259.795.655. Barito Timur 2009 2010 Jumlah 332 Kab.663.511.51 61.93 1.390.124.539.047.98 44.51 9.796.199.46 13.20 57.46 3.94 150.21 7.33 2.577.036.591.19 61.70 145.071.823. Barito Utara 2009 2010 Jumlah 333 Kab.126.07 11.310.43 53.01 16.68 29.708.66 6.34 340.99 18.445.534.81 7.237.042.65 28.97 83.67 12.792.81 54.124.768.95 27.98 22.87 2.216.792.081.71 163.48 991.84 23.549.690.13 1.79 13.32 2.981.185.95 21.346.836.225.243.032.880.67 13.114.741.20 Jml 6 61 48 109 90 66 156 42 31 73 77 59 136 78 43 121 123 36 159 36 31 67 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 92.069.47 4.095.612.676.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 329 2 Prov.43 1.Halaman 27 .95 25.657.77 10.65 1.25 30.494.339.08 738.43 - 338 Kab.59 496.44 91. Kotawaringin Timur 2009 2010 Jumlah 91 125 216 76 26 102 109 101 210 75 53 128 102 63 165 164.94 13.197.742. Murung Raya 2009 2010 Jumlah 340 Kab.191.44 35.83 4.54 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 9.730.794.096.36 83.269.71 6.49 351. Seruyan 2009 2010 Jumlah 130 .34 31.218.50 15.329.05 173.366.877.34 246.831.959.935.24 7 5 12 13.38 27 74 101 3 6 9 19 22 41 37 27 64 71 5 76 97.82 2.45 401.14 12.509.84 310.035.01 6 3 9 25.818.768. Pulang Pisau 2009 2010 Jumlah 341 Kab.47 83.450.262.124.42 17.95 80.83 177.02 51.021.00 47.622.794.36 23.51 28.168.36 14.804.959.832.79 6.

939.94 438.37 33 7 40 25 19 44 34 2 36 30 16 46 254.315.103.67 297.67 1.17 51.36 1. Tanah Bumbu 2009 2010 Jumlah 131 .26 408.47 1.12 350 Kab.43 1.95 2.80 4.59 997.60 313.53 41.56 374.891.04 426.17 75.53 19.751.38 22. Kalimantan Selatan 4 61 62 123 64 87 151 Nilai 5 77.01 19.97 349 Kab.91 28.39 8.86 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 342 2 Kab.58 104.25 92.67 17.08 44 41 85 68 20 88 25 37 62 17 34 51 74.342.41 28.616.69 104.05 15.528.35 17.015.46 105.64 1.85 365.719.641.769.823.503.40 10.520.71 357.34 36 36 1 12 13 4 4 189.69 25 41 66 9 15 24 6 19 25 4 23 27 351.13 119.842.930.050.270.Halaman 28 .39 16 17 33 1.30 161.42 740.24 256.15 96.41 6.078.74 2.781.05 105.58 146.97 8.89 236.74 325.90 1.985. Tabalong 2009 2010 Jumlah 353 Kab.24 256. Kotabaru 2009 2010 Jumlah 352 Kab.36 1.528.59 2.39 5.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 387.086.604.709.316.96 73.52 28.697.246.02 989.13 2.35 5.377.831.849.61 992.83 13 13 60.08 17.478.735.00 25.75 75.38 200. Banjar 2009 2010 Jumlah 347 Kab.92 351 Kab.99 358.93 140.36 1.40 2.39 205.52 103.82 387.93 173.941. Hulu Sungai Tengah 2009 2010 Jumlah 18 35 53 1.95 331.69 103. Hulu Sungai Selatan 2009 2010 Jumlah 22 29 51 3.05 1.384.308.31 3.55 1.041.51 18. Barito Kuala 2009 2010 Jumlah 348 Kab.75 516.75 267.745.841.787.992.847.56 132.71 25.00 16.147.23 82.17 19.13 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 60 70 33 28 61 Nilai 11 28.531.635.71 242.976.92 2.92 1.69 877.63 74.945.93 551.03 345 Kab.981.465.97 320.93 Jml 6 33 1 34 23 18 41 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 74.30 3.71 0.742.96 2.68 90.672.309.45 254.31 3.56 1.629.60 2.81 2.46 4 1 5 2.97 2.63 43.928.67 297.726.737.99 2.26 25.13 2.38 20.26 5.604. Balangan 2009 2010 Jumlah 346 Kab. Sukamara 3 2009 2010 Jumlah 343 Kota Palangkaraya 2009 2010 Jumlah Prov.00 1.059.865.958.75 75.82 344 2009 2010 Jumlah 69 118 187 77 35 112 32 68 100 21 61 82 615.85 2.377.13 119.424.318.97 3.67 2 4 6 8 30 38 5 2 7 7 12 19 500.23 690.112.10 730.89 422. Hulu Sungai Utara 2009 2010 Jumlah 35 11 46 39 93 132 39 17 56 38 42 80 754.102.246.031.12 2 5 7 276.79 373.56 25.67 242.13 277.896.94 218.30 1.24 6 44 50 13 13 1 14 15 140.70 4.57 17 2 19 105.65 28.67 4.041.806.91 91.98 1.69 96.62 74.38 114.49 2.778.00 304.468.87 8.92 205.79 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 18 1 19 8 41 49 Nilai 9 3.93 440.727.438.793.97 560.50 1 26 27 1.98 1.13 41.81 2.31 72.691.096.79 373.82 1.13 221.72 4.83 276.

95 1.25 340.36 34 56 90 74 61 135 30 53 83 7 12 19 24 24 92.62 2.710.74 219.76 24.710.59 29.64 1.54 1.287.860.267.43 208.36 33.Halaman 29 .42 3.037.64 46.294. Kutai Timur 2009 2010 Jumlah 364 Kab.12 240. Malinau 2009 2010 Jumlah 365 Kab.340.55 41.13 122.680.571.12 24.89 43.27 586.13 122.23 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 7 7 1 8 9 2 8 10 7 10 17 Nilai 9 1.737. Kutai tanegara Kar- 2009 2010 Jumlah 45 68 113 125 68 193 51 60 111 44 102 146 84 31 115 94.94 29.37 186.451.906.12 1.96 5.879.876.381.49 20.61 29.216.219.451.53 13.00 950.80 905.285.25 1.504.43 190.28 219.65 12.960.82 45.13 480.31 377.303.91 32.062.58 10 12 10 47 3 50 20 3 23 31 24 55 43 43 1.211.07 362.90 - 241.22 105.90 622.82 Jml 6 20 3 23 15 12 27 22 24 46 29 22 51 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.100.27 33.185.25 151.834.574.742.97 537.30 99.41 1.39 - 363 Kab.047.879.611.668.238.807.30 17.168.362.00 67.73 622.25 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.252.582.76 1.92 556.542.12 159.13 854.25 84. Tapin 2009 2010 Jumlah 356 Kota Banjarbaru 2009 2010 Jumlah 357 Kota Banjarmasin 2009 2010 Jumlah Prov.25 11.287.285.73 1 1 4 4 8 1 4 5 6 66 72 17 31 48 13.57 358 2009 2010 Jumlah 42 111 153 10 2 12 75 63 138 3 6 9 316.192.59 15.11 909.69 12.22 1.12 32. Kutai Barat 2009 2010 Jumlah 362 Kab.28 499.92 556.74 849.052.440.742.19 359 Kab.42 453.066.50 1.11 240.25 23 18 41 4 4 33 42 75 2 2 81.745.85 46.27 586.90 533.030.27 67.287.43 91.053.60 68.794.813.112.21 3.70 58.07 67.28 499.00 1.646.81 125.98 169.56 962.40 377.86 29.05 32.37 398.875.807.056.037.718.047.87 2.219.67 4.938.64 16.23 1.95 579.41 1.97 532.08 362.65 23.092.43 995.71 346.084.866.803.83 2.34 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 36 36 1 1 28 28 40 40 Nilai 11 1.72 346. Nunukan 2009 2010 Jumlah 366 Kab.61 1.152.086.25 99.201.185.00 275.30 3.33 986.337.50 420.00 84.64 42.58 857.83 2.876.96 5.25 962.33 84.038.62 71.30 1.92 12.97 510.680.97 126.61 29.235.76 24.668.58 857.43 17.46 767.000.49 1.195.46 1.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 354 2 Kab.803.43 17.36 39.47 450.76 127.53 1.329. Bulungan 2009 2010 Jumlah 361 Kab.408.674.28 1.784.834.75 86.73 16.59 377.73 135.47 450.61 67.39 1.64 50.95 1.079.87 2.12 4.33 4.42 1.84 37.195.504.01 29.340.38 39.074.34 37. Paser 2009 2010 Jumlah 132 .19 19 62 81 6 2 8 39 7 46 1 6 7 235.953.01 4.22 48. Tanah Laut 3 2009 2010 Jumlah 355 Kab.63 1.97 389.46 3.05 31 31 3 14 17 - 135.55 3.084.062.79 44.62 2.14 1.56 1. Kalimantan Timur 4 27 39 66 17 20 37 24 60 84 36 72 108 Nilai 5 2.875.542. Berau 2009 2010 Jumlah 360 Kab.30 1.30 17.96 346.

895.09 400.253.245.94 37.84 228.711.28 17.74 5 5 261. Bolaang gondow Mon4 43 66 109 55 55 37 82 119 66 96 162 57 150 207 7 3 10 49 45 94 Nilai 5 140.174.62 1.76 2.45 321.32 654.531.92 771.935.28 728.92 2.549.981.45 7.072.67 41.14 2.Halaman 30 .96 2.60 261.339.12 1.330.412.106.19 200.909. Sulawesi Utara 2009 2010 Jumlah Kab.970.918. Bolaang Mon2009 gondow Timur 2010 Jumlah Kab.32 236.26 7.58 Jml 6 22 22 11 11 7 3 10 27 44 71 15 9 24 4 3 7 34 3 37 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 29.60 16 16 403.837.93 110.30 55.12 240.658.016.53 248.06 4.36 805.059.05 112.580.01 5 5 7 31 38 18.45 506.660.79 179.53 236.014.674.110.837.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 367 2 Kab.49 6 9 15 7 23 30 71.347. Bolaang Mon2009 gondow Utara 2010 Jumlah 21 21 664.28 419.45 71.76 35.772.09 - - - - 9 9 400. Penajam Paser Utara 3 2009 2010 Jumlah 368 Kab.909.03 283.088.85 200.35 157.07 778.164.36 204.37 2.591.10 3.828.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 7.92 778.45 - 375 Kab.35 1.13 8.662.970.337. Minahasa 2009 2010 Jumlah 133 .63 157.09 230.066.946.68 5.24 1.45 212.83 18 9 27 359.60 2.83 440.939.13 6.45 3.231.144.76 506.251.32 448.936.06 6.09 - 377 23 28 51 21 61 82 4.54 3.541.24 404.681.671.29 2.38 4 7 11 - 8 30 38 265.88 4.34 344.09 400.55 419.32 378 Kab.208.14 45.91 49.49 124.63 39. Tana Tidung 2009 2010 Jumlah 369 Kota Balikpapan 2009 2010 Jumlah 370 Kota Bontang 2009 2010 Jumlah 371 Kota Samarinda 2009 2010 Jumlah 372 Kota Tarakan 2009 2010 Jumlah 373 Prov.569.582.48 6.569.35 144.59 36.00 21.053.85 728.88 15.403.448.137.85 2.03 13.00 100.19 45.724.98 462.92 29.96 1.45 411.47 52.752.77 66.261.167.412.60 13.54 4.14 234.77 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 55 57 24 24 5 22 27 2 2 9 23 32 7 34 41 Nilai 11 3.672.13 403.057.967.01 220.39 100.37 2.62 6.163.01 652.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 19 11 30 20 20 25 57 82 39 50 89 33 118 151 3 3 8 8 16 Nilai 9 107.29 805.60 86.602.16 374 2009 2010 Jumlah 30 46 76 625.25 548.09 173.19 334.39 185.76 506.94 1.588.13 - - - 376 9 9 400.82 227.398.222.210.54 2.241.16 998.53 2.92 506.58 8.56 21.62 236.85 12 19 31 7 7 14 4. Bolaang Mon2009 gondow Selatan 2010 Jumlah Kab.74 664.79 86.010.394.014.

352.41 39.783.052.174.993.877.255.197.770.610.04 37.470.65 490.96 3.810. Kep.66 354.60 11.07 806.624.511.187.76 1.83 662.144.661.942.971.23 2.04 36.44 680.802.63 8.245.117.165.360.20 243.23 14.Halaman 31 .16 77.054.49 21.10 5.48 1.07 25 25 - 126.76 126.36 1.588.37 13 8 21 22 19 41 4 14 18 1 16 17 2 4 6 34.51 37.98 9.73 409.174.23 711.45 484.84 409.771.996.57 29.68 13 92 105 67 67 127.835.76 1.77 8.039.531.86 40.73 1.592.62 346.12 64.14 1.292.68 79.57 10 1 11 11.78 127.242.20 11.41 3.57 1.040.14 13 21 34 680.43 506.039.105.32 2.443.034.033.23 18 2 20 5 13 18 3 25 28 1 1 2 3 5 8 575.653.689.41 246.73 1.005.643.802.06 9.775.521.56 81.31 13.55 21.95 1.500.20 381 Kab.521.402.814.89 51.73 8.248.16 - 385 Kota Bitung 2009 2010 Jumlah 386 Kota Kotamobagu 2009 2010 Jumlah 387 Kota Manado 2009 2010 Jumlah 388 Kota Tomohon 2009 2010 Jumlah 389 Prov.77 1. Kepulauan Talaud 2009 2010 Jumlah 44 60 104 52 51 103 21 46 67 31 56 87 7 41 48 112.63 1.77 26 64 90 7 36 43 14.76 126.95 627.84 22 19 41 126.813.135.575.80 77.705.64 13 50 63 25 19 44 14 7 21 29 39 68 2 32 34 78.527.25 57.066.843.327.62 77 41 118 16 30 46 28.04 22.20 906.00 505.17 8.612.63 66.90 1.53 279.928.91 75.55 1.41 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 - 380 2009 2010 Jumlah 38 64 102 25 39 64 15.954.277.89 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 18 13 31 Nilai 11 28.80 40.83 5.67 1.95 627.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 379 2 Kab.385.10 8.071.30 4.67 1.26 333.175.877.23 1.08 2.31 13.80 1. Sulawesi Tengah 2009 2010 Jumlah 98 160 258 33 136 169 156.352.13 718.82 8.49 185.34 10 9 19 2.324.881. Siau Tagulandang Biaro 2009 2010 Jumlah 23 30 53 7.41 77.200.44 384 Kab.16 77.41 79.96 2.121.76 2 5 7 12.352.22 5.36 970.14 8 27 35 17 39 56 243.62 390 Kab.343.20 1.121. Minahasa Selatan 3 2009 2010 Jumlah Kab.57 3.981.84 2.89 5.29 897.80 5.50 165.06 3.31 Jml 6 1 9 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 2 2 Nilai 9 51.69 22.37 23.708.63 35.60 - 4.75 243.20 12 12 8 2 10 223.15 227.40 7.071.19 680.02 130.91 2.419.73 79.44 3.584.187. Minahasa Utara 2009 2010 Jumlah Kab. Minahasa Tenggara 4 21 22 43 Nilai 5 28.52 1.64 107.57 29.936. Banggai 2009 2010 Jumlah 134 .20 11.73 1.98 3.76 383 Kab.35 963.94 243.193.356. Kepulauan Sangihe 382 2009 2010 Jumlah 24 49 73 12.89 684.39 118.35 223.928.87 15.72 39.16 1.

525.12 2.49 335.633.569.795.16 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 1.59 1.869. Poso 2009 2010 Jumlah 397 Kab.659.50 326.16 8.305.57 971.22 445.357.74 107.838.Halaman 32 .87 1.43 18.26 664.62 415.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 391 2 Kab.630.60 4.111.838.68 2.86 247.59 15.44 577.70 4.115.103.78 138.411.44 335.07 10.17 396 Kab.530.15 12.75 4.444.249.885.11 6.85 5.62 415.65 922.324.43 402 Kab.14 1.87 19.12 2.23 42.300.85 7.00 3.324.43 722.53 3.357.821.44 371.14 722.675.575. Tojo Una-Una 2009 2010 Jumlah 399 Kab.36 81.43 722.88 872.90 2.074.26 181.44 228.795. Tolitoli 2009 2010 Jumlah 400 Kota Palu 2009 2010 Jumlah 401 Prov.17 13.49 172.90 759.627.833.14 326.23 5.07 577.89 149 72 221 25 55 80 1 31 32 47.45 292.77 978.29 7.65 247.68 527.29 849.080.607.11 96.884.17 34 40 74 35 33 68 68 68 46 30 76 23 23 94 80 174 5.232.675.532.37 83.39 107.47 129.78 138.00 6. Parigi tong Mou4 50 121 171 114 95 209 75 119 194 96 106 202 Nilai 5 12.11 2.88 872.27 8.70 15.15 8.011.92 9.414.90 759.26 5.26 181.35 31.00 63.83 80.00 469. Morowali 2009 2010 Jumlah Kab.980.009.56 Jml 6 4 41 45 73 68 141 2 9 11 2 3 5 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 1.50 829.84 1.49 2.535.48 229.64 153.000.983.847.75 24.50 1.95 7.306.623.33 3.763.64 722.195.034.931.50 469.75 7.420.51 79.44 371.115.39 710.60 2.52 971.482.07 3.60 80.61 4.034.31 2.55 9.79 4.033.969.89 2.40 7.03 88.055.987.095.795.07 3.00 167.182.49 2.76 1.28 131.34 4.98 291.22 153.51 3.747.82 63.92 23.95 4.34 1 4 5 16 16 19 19 445.244.55 73.44 5.54 19.907.051.119. Bantaeng 2009 2010 Jumlah 403 Kab.28 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 2 42 44 37 22 59 31 66 97 40 74 114 Nilai 11 2.75 43.216.847.43 4 24 28 8 8 14 14 9.237.063.85 4.80 3.76 4 5 9 18 3 21 7 7 8 10 18 18 5 23 2.79 4.374.502.158.898.51 371.65 3.73 829.33 13.49 6.603.620.501.863.65 76.484.830.00 4.75 1.83 710.01 2.051.09 2.030.15 21.393.109. Banggai Kepulauan 3 2009 2010 Jumlah 392 Kab.405.238. Sigi 2009 2010 Jumlah 398 Kab.372.965.80 11.29 849.10 15.685.41 67.75 296.40 2.83 172.732.074.625.139.110.11 395 2009 2010 Jumlah 86 126 212 75 83 158 121 121 87 85 172 159 65 224 116 90 206 9.66 5. Buol 2009 2010 Jumlah 393 Kab.97 3.52 1.523.23 42.07 371.793.623. Sulawesi Selatan 2009 2010 Jumlah 154 100 254 49 55 104 34 31 65 57.33 978.70 5.251.30 2.49 48 81 129 22 47 69 46 46 33 45 78 136 65 201 4 5 9 1.254.35 5.286.16 4.607.53 5. Barru 2009 2010 Jumlah 135 .300.381.65 1.92 9.393.93 4.50 169.847.75 4.85 3.82 5.885.107.127.78 11.366.74 7.11 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 44 38 82 4 5 9 42 44 86 54 29 83 Nilai 9 10.35 2. Donggala 2009 2010 Jumlah 394 Kab.28 525.717.

31 3.708.93 1.59 9.90 166.303.597.792.64 2.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 404 2 Kab.348.88 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 34 47 2 2 1 1 17 21 38 25 25 20 50 70 16 17 33 19 19 29 29 Nilai 9 223.09 2.544.12 289.31 3.31 12.486.59 1.546.88 152.01 37 11 48 45 45 36.12 188.692.892.27 636.77 979.45 10.94 136 .27 187.92 289.80 187.744.73 1.839.84 2.24 4.77 51.90 152.458.90 166.55 20 20 235.915.80 274.40 808.050.52 565.92 281.331.86 2.248.94 235.828.75 17 38 55 1 6 7 1 76 77 2.45 565.039.08 242.18 1.185.10 97.131.066.51 187. Luwu Utara 2009 2010 Jumlah 412 Kab.73 83.003.131.562.751.31 3.348.75 7.440.22 43.77 20.91 13.62 4.54 3.19 19.77 36.507.50 558.72 2.80 4.686.175.54 2.533.63 1.75 50.40 480.72 870.36 1.81 6.440.003.31 2.49 420.14 1.659.308.26 416 2009 2010 Jumlah 38 56 94 2.88 6. Maros 2009 2010 Jumlah Kab. Bone 3 2009 2010 Jumlah 405 Kab.61 2.856.974.683. Sidenreng Rappang 4 23 122 145 43 26 69 29 38 67 59 42 101 79 60 139 31 77 108 52 39 91 32 66 98 92 110 202 Nilai 5 483.30 163.686.15 383.29 291.25 35.035.02 15.248.755.59 274.22 43. Selayar 2009 2010 Jumlah Kab.744.792.00 4.73 50.11 1.80 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 260.90 166.09 1.31 15.269.72 31.24 235.75 420.00 1.77 942.40 1.03 695.94 10.32 549. Jeneponto 2009 2010 Jumlah 409 Kab.31 790.417.07 36. Gowa 2009 2010 Jumlah 408 Kab. Luwu Timur 2009 2010 Jumlah 411 Kab. Luwu 2009 2010 Jumlah 410 Kab.27 187.556.08 636.553.792.49 346.24 2.18 1.90 166.039.Halaman 33 .26 1.19 23.85 1.16 63.10 4.569.623.75 2.915.57 303.379.40 31.66 1.29 291.31 1.417.26 2.64 2.88 152.11 2.415.27 383.006.82 188.18 11 11 8 23 31 38 38 790.915.496.003.201.19 636.31 399.36 1 56 57 595.751.90 152.73 3.10 97.84 295.16 252.28 1.036.58 10.93 1.19 711.18 3.266.91 13.915.62 223.59 398.36 170.13 1.88 413 28 38 66 46 40 86 84 76 160 827.66 5. Bulukumba 2009 2010 Jumlah 406 Kab.415.121. Pangkajene dan 2009 Kepulauan 2010 Jumlah 414 Kab.62 3.348.546.14 1.64 2.57 303.94 17 17 1. Enrekang 2009 2010 Jumlah 407 Kab.59 1.40 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 64 64 32 21 53 27 38 65 1 5 6 2 60 62 8 22 30 1 15 16 10 66 76 31 110 141 Nilai 11 1.036. Pinrang 2009 2010 Jumlah 415 Kab.006.976.09 Jml 6 10 24 34 11 3 14 1 1 41 16 57 52 52 3 5 8 35 7 42 3 3 32 32 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 260.006.94 235.67 83.26 398.51 1.440.46 2.77 36.13 16.19 1.62 1.974.50 281.61 3.74 470.366.77 3.269.607.50 53.62 10.

03 4.578.191.69 1.027.56 1.82 52.99 9.788.47 5.147.91 22.31 10.843.92 24.39 3.975.85 6.53 9.441. Sinjai 3 2009 2010 Jumlah 418 Kab.29 129.854.92 Jml 6 1 1 13 16 29 9 9 10 10 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.31 1.408.468.732.80 22.605.565.29 99.57 189.425.11 274.31 1.32 4.986.45 7.33 1.44 28.107.81 6.14 241.79 1.475.43 182.61 9.69 7.52 2.83 916.069.099.191.15 1.57 427 Kab.891.929.81 155.792.469.96 620. Sulawesi Tenggara 2009 2010 Jumlah 243 200 443 183 80 263 47 50 97 72 92 164 79.84 1.739.80 502.91 45.324.96 9.975.449.550.99 73.106.16 1.88 17 38 55 44 30 74 22 22 4 4 4.25 213.546.44 15 29 44 31 3 34 2 2 20 20 139.886.27 423 Kota Makassar 2009 2010 Jumlah 424 Kota Palopo 2009 2010 Jumlah 425 Kota Parepare 2009 2010 Jumlah 426 Prov.409.462.27 595.22 121.061.814.56 8.35 2.973.95 69.116.63 71.57 6.81 8.644.953.53 9.108.48 4.513.72 177 192 369 183 78 261 4 4 36 14 50 15.11 328.134.286. Buton 2009 2010 Jumlah 429 Kab.328.613. Takalar 2009 2010 Jumlah 420 Kab.81 7.514.81 6.95 2.88 3.29 1.80 502.96 3.713.273.68 620.58 30.78 5.806.893.42 32 2 34 32 25 57 29 69 98 47.85 81.15 5.81 502.80 22.61 129.64 1.734.85 22.75 2.279.394. Bombana 2009 2010 Jumlah 428 Kab.807. Wajo 2009 2010 Jumlah 33 128 161 81 162 243 30 87 117 24 109 133 4.77 34 6 40 2 2 15 21 36 7 9 16 16. Buton Utara 2009 2010 Jumlah 137 .019.92 1.17 771.Halaman 34 .17 54.069.43 5.107.29 200.25 17.20 220.28 6.98 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 15 72 87 2 2 27 52 79 19 77 96 31 31 Nilai 11 286.29 129.324.572.99 90.11 328.421.52 6.36 172.02 2.689.38 30.97 2.734.68 620.92 1.774.25 8.986.01 3.12 81.664.108.31 12.51 36.81 502.571.380.35 16.636.61 9.197.96 620.191.07 1 61 62 6 129 135 6 87 93 109 109 581.593.045.708.55 7.96 595.65 22.56 581.07 200.82 29.52 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 31 31 22 27 49 2 3 5 16 16 Nilai 9 129.183.94 37.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 417 2 Kab.43 241. Tana Toraja 2009 2010 Jumlah 421 Kab Tana Toraja Utara 2009 2010 Jumlah 4 47 72 119 35 45 80 38 55 93 45 77 122 31 31 Nilai 5 438.875.61 5.893.281. Soppeng 2009 2010 Jumlah 419 Kab.92 1.57 285.210.409.49 2.812.94 31.86 1.631.612.92 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 22.47 3.748.51 - 422 Kab.29 1.708.43 17.32 916.586.43 7.02 129.49 6.41 103.340.93 103.15 1.331.99 12.624.626.462.328.49 139.612.191.21 151.53 9.625.60 5.91 22.57 189.69 6.975.81 8.79 5.513.29 129.

638.600.613.643.124.70 35.13 445.62 Jml 6 45 18 63 61 27 88 11 3 14 48 6 54 7 15 22 26 26 26 40 66 22 20 42 57 18 75 46 46 76 76 35 35 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 8.00 21. Konawe Selatan 2009 2010 Jumlah 434 Kab.17 219.99 97.79 416.07 138 .12 9.20 13.56 1.45 460.99 3.329.32 3.34 13.71 12.05 5.756.803.862.707.13 710.684.33 2.631.45 12.721.551.52 2. Kolaka 3 2009 2010 Jumlah 431 Kab.22 1.014.67 4.744.33 2.341.52 15.84 46.189.26 1.78 104.31 3.57 10.07 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 21 51 72 41 25 66 21 81 102 25 18 43 26 50 76 34 2 36 11 17 28 12 21 33 1 7 8 7 7 20 20 35 35 Nilai 9 1.241.557.557.10 14.52 800.467.26 1.301.79 1.045.036.14 8.06 460.48 2.416.25 5.429.497.502.08 1.672.211.415.758.84 52.08 447.893.179.73 842.631.36 64.13 445.95 1.72 6.72 10.322.94 8.12 3.502.07 416.343.661.51 13.62 11.13 670.25 4. Muna 2009 2010 Jumlah 436 Kab.69 10.67 3.289.44 3.237.537.092.86 1.258.95 2.04 10.00 6.432. Wakatobi 2009 2010 Jumlah 437 Kota Bau-Bau 2009 2010 Jumlah 438 Kota Kendari 2009 2010 Jumlah 439 Prov.77 10.67 25.148.00 3.51 1.53 171.024. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 440 Kab.934.819.73 447.25 28.024.468.662.28 6.414.78 832.032.19 11.15 762.Halaman 35 .19 4.068.62 10.720.119.22 3.10 1.52 778.488.31 13.249.89 13.91 65.71 13.43 4.025.19 2.195.171.734.67 26.07 416. Gorontalo 2009 2010 Jumlah 4 76 73 149 152 54 206 126 95 221 150 97 247 93 123 216 63 131 194 38 104 142 50 50 100 59 91 150 88 34 122 92 112 204 192 80 272 184 132 316 Nilai 5 9.731.893.758.99 21.62 775.179.49 24. Konawe 2009 2010 Jumlah 433 Kab.032.79 3.809.465.893.41 1.53 171.51 3.711.54 24.707.99 97.987.90 7.62 4.15 81.37 8.666.758.59 41.86 445.58 49.89 1.99 3.212.017.791.69 62.45 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 263.412.96 34.88 348.572.467.935.51 445.87 189.76 219.66 14.79 57.283.87 3.651.215.28 56.860.49 1.79 416.13 97.09 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 10 4 14 50 2 52 94 11 105 77 73 150 60 58 118 3 129 132 1 47 48 16 9 25 1 66 67 35 34 69 92 112 204 96 80 176 114 132 246 Nilai 11 483.66 177.438.141.98 17.89 278.19 57.95 70.26 800.60 1.061.041.239.09 12.72 797.759.71 1.496.83 1.555. Kolaka Utara 2009 2010 Jumlah 432 Kab.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 430 2 Kab.56 3.93 1. Bone Bolango 2009 2010 Jumlah 442 Kab.470.46 5.09 3.56 69.94 42.82 3.62 8.52 450.99 13.17 778.707.83 14.37 2.707.719.25 3.789.007.87 3.78 7.241.82 3.482.37 5.13 8.10 18.743.505.510.470.70 3.697.73 842.77 8.11 1.792.39 670.05 41.54 163.224.050. Konawe Utara 2009 2010 Jumlah 435 Kab.46 107.16 450.29 5.12 5.569.17 57.047.62 15.77 4.494.698.96 1.036.52 7.735.20 24.520.00 43.012.50 0.417.520.10 8.13 97.592.496.94 9. Boalemo 2009 2010 Jumlah 441 Kab.36 14.90 1.29 14.909.79 3.066.992.

75 5.027.94 5.321.321.290.26 1.25 27.83 818.084. Maluku 2009 2010 Jumlah 453 Kab.99 161.29 670.04 2.52 673.12 54.94 450.966.82 5.506.49 629.310.29 360.48 313.29 160.84 2.20 7.673.61 63.043.59 2.749.509.673.61 580.43 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 580.36 51.971.55 48.46 5. Mamuju Utara 2009 2010 Jumlah 451 Kab.37 49.61 29.24 5.51 145.43 14.077.00 629.59 48.11 67.76 76.959.91 6.52 3.29 160.753.29 1.572.70 8.871.36 160.83 2. Buru Selatan 2009 2010 Jumlah 455 Kab.084.676.60 34.15 48.70 6.738.543.599.833.37 160.01 954.506.01 16.756.496.25 15.169.36 450.710.87 2.83 39.32 7.635.51 47.24 16.818.65 243.863.241.67 22.02 5.65 456.834.61 29.131.01 9.60 2.243.446.384.614.04 28.33 23.05 2.62 Jml 6 47 47 17 17 18 18 10 3 13 28 28 17 17 25 4 29 31 31 28 2 30 25 6 31 37 37 46 46 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 580.983.59 818.32 1.801.85 2.679. Majene 2009 2010 Jumlah 448 Kab.94 2.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 24 24 21 21 55 54 109 40 40 19 19 52 71 123 59 59 53 23 76 83 15 98 22 22 20 20 Nilai 9 2.53 55.72 32.095.87 2.80 76.70 145.871.258.231.43 1.879.72 23.64 12.07 18.43 12.53 621.633.080.196.91 8. Mamuju 2009 2010 Jumlah 450 Kab.98 32.18 965.56 14.53 954.42 2.830.784.26 255.51 26.085.278.224.607.85 2.394.37 131.871.715.883.25 26.207. Gorontalo Utara 2009 139 .17 71.601.51 29.87 898.499. Buru 2009 2010 Jumlah 454 Kab.87 - Kab.169.32 35. Mamasa 2009 2010 Jumlah 449 Kab.36 21.032.01 32.15 11.89 243.15 49.422.077.50 2.024.871.85 6.261.20 55.66 200.509.830.679.174.44 554.30 30.17 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 6 60 66 81 53 134 90 134 224 33 40 73 5 69 74 16 57 73 8 57 65 5 72 77 5 73 78 36 99 135 16 74 90 78 78 13 13 Nilai 11 592.00 509.554.860.560.37 59.72 225.90 6.097.036.258.502.013.815.557.269.952.10 195.53 2.70 145.519.07 642.673.036.01 9.206.58 21.70 335.146.Halaman 36 .69 554.009.12 49.080.621.69 35.89 504. Kepulauan Aru 2009 2010 Jumlah 4 77 60 137 98 53 151 129 134 263 98 97 195 73 69 142 52 57 109 85 132 217 95 72 167 86 98 184 144 120 264 75 74 149 78 78 79 79 Nilai 5 3.92 253.51 145.863.052.801.952.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 443 2 3 2010 Jumlah 444 Kab.881.94 6.182.635.44 71.027.62 1.49 49.24 23.51 29.269. Pohuwato 2009 2010 Jumlah 445 Kota Gorontalo 2009 2010 Jumlah 446 Prov.311.032. Polewali Mandar 2009 2010 Jumlah 452 Prov.009.05 155.446.49 112.290.61 580.149.24 5.084.70 14.43 1. Sulawesi Barat 2009 2010 Jumlah 447 Kab.29 1.02 3.57 22.65 517.414.808.601.85 5.40 621.66 47.91 977.53 5.79 11.44 48.

339. Maluku Utara 2009 2010 Jumlah 465 Kab.680.848.87 615.629. Maluku Tenggara 2009 2010 Jumlah Kab.76 4 25 29 9.865.47 - - - - 64 64 17.78 630.448.16 1.14 813.22 574.46 12 12 7 7 30 3 33 4.657.723.25 140 .72 195.43 246.11 13.13 281.14 27.450.85 302.621.56 250.67 3.36 660.050.72 250.487.21 574. Halmahera Barat 2009 2010 Jumlah Kab.755.934.500.55 281.47 - 460 Kab.122.22 196.29 27.50 813.94 16 16 6.78 2.050.22 3.85 352.65 517.086.452.137.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 456 2 Kab.29 196.755.593.36 58.72 44.50 818.011.602.310.750.122.14 27. Seram Bagian Timur 2009 2010 Jumlah 96 96 66 65 131 59 59 113 151 264 80 120 200 27.97 462 Kota Ambon 2009 2010 Jumlah 463 Kota Tual 2009 2010 Jumlah 464 Prov.43 224.875.58 4 28 32 17.593.00 630.80 13.230.43 47.578.26 10 10 6 6 35 56 91 224.25 1.593.077.80 - 458 2009 2010 Jumlah 74 37 111 806.21 2.194.41 31.310.11 45.937.781.205.518.18 19.62 827.02 114 24 138 67.452.52 16.853.10 518.861.492.14 - 461 Kab.14 - - - - 96 96 27.61 601.741.84 1.14 107.21 42 37 79 801.061.908.188.593.332. Seram Bagian Barat 2009 2010 Jumlah 96 96 27.381.789.90 62.31 60.45 98.65 2.50 14.15 1.63 65 80 145 545.05 72.593.731.63 96 96 44 65 109 59 59 100 151 251 15 61 76 27.45 601.17 51.61 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 70 46 116 5 79 84 Nilai 11 35.844.767.736.22 3.376.46 150.773.56 47.22 292.452.567.251.93 12.865.416.22 242.399. Maluku Barat Daya 2009 2010 Jumlah 64 64 17.14 817.10 5.29 55.53 60.037.591.252.470.419.448.94 1.937.446. Maluku Tengah 3 2009 2010 Jumlah 457 Kab.452.07 5.88 44.16 607.483.16 13.75 22 22 1.47 17.24 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 13. Halmahera Selatan 466 2009 2010 Jumlah 103 80 183 553.094.745.57 641.593.861.419.500.14 27.06 19 19 2.26 607.54 441.93 54.330.731.593.33 15.862.Halaman 37 .38 579.567.280.76 3.750.593.88 61.56 49.844.844.194.62 834.47 17.398.63 6.908.75 467 Kab.06 13 13 2.844.49 58.745.00 459 Kab. Maluku gara Barat Teng4 165 59 224 111 79 190 Nilai 5 67.75 51.532.84 1. Halmahera Tengah 2009 2010 Jumlah 122 77 199 94.230.47 4.501.22 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 35 8 43 45 45 Nilai 9 4.449.08 Jml 6 60 5 65 61 61 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 27.14 27.23 2.47 2.

875.18 13.74 1.878.17 151.741.78 131.85 128.02 8.42 71.967.498.08 27.799.53 1.97 41.21 62.20 225.52 430.146.098.27 52.433.55 5 101 106 3 3 15 15 3 3 1 3 4 8 8 1 1 - 1.274.487.58 9.61 1.78 3.434.51 54.89 132.470.327.85 10.468.16 7.15 3.300.09 733.735.29 193.35 9.005.817.16 754.305.863.54 119.068.74 32.44 1.061.613.89 1.01 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 15 3 18 23 23 17 17 44 26 70 Nilai 9 3.55 5.560.79 850.397.229.22 6. Halmahera Utara 2009 2010 Jumlah 470 Kab.906.32 133.013.31 2.863.09 196.Halaman 38 .506.744.819.07 422.241.532.05 24.00 66. Papua 2009 2010 Jumlah 475 Kab.61 79.993.86 744.57 474 Prov.30 2.64 29.863.19 98.23 1.91 5.595.215.35 1.23 318.31 42.76 13.35 9. Asmat 2009 2010 Jumlah 476 Kab.073.609.058.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 468 2 3 2010 Jumlah 469 Kab.55 1.191.141. Keerom 2009 2010 Jumlah 141 .204.187.45 754.030.878.49 24.76 948.907.538. Boven Digoel 2009 2010 Jumlah 478 Kab.098.523.50 374.63 11.72 392.62 67.195.273.31 - 862.94 231.549.053.01 5.894.31 9.64 48.680.501.897.56 10.081.60 210.60 858.53 178.40 97.090.90 259.12 6.090.74 10.21 4.59 15.053.85 16.724. Pulau Morotai 2009 2010 Jumlah 472 Kota Ternate 2009 2010 Jumlah Kota Tidore Kepulauan 4 108 112 220 76 103 179 99 73 172 30 30 137 49 186 Nilai 5 1.354.570.800.24 108.350.010.469.568.25 125.213.305.71 1.471.503.855.19 10.23 128.49 1.751.19 28.347.418.86 4.185.080.799.949. Halmahera Timur 2009 473 2009 2010 Jumlah 104 114 218 80 105 185 46 15 61 42 24 66 33 37 70 23 26 49 30 102 132 42 50 92 367.470.323.60 Kab.15 17.927.90 72 13 85 34 46 80 34 34 22 10 32 23 16 39 16 9 25 16 67 83 24 21 45 56.937.91 7.658.524.129.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 960.45 496.59 11.165.220.130.14 929.37 186.32 68.615.61 200.386.61 65.00 188.769.898.50 281.117.977.26 1.02 150.305.694.322.908.60 392. Kepulauan Sula 2009 2010 Jumlah 471 Kab.18 12.55 3.70 2.72 276.090.00 55.66 2.31 2.090.09 182.821.090.64 281.751.190.78 744. Jayawijaya 2009 2010 Jumlah 480 Kab.22 30.748.440.20 10.171.43 9.76 9.34 27 27 46 56 102 12 12 20 11 31 9 18 27 7 9 16 14 34 48 18 29 47 309.54 28.119.58 58.129.304.163.43 24.622. Jayapura 2009 2010 Jumlah 479 Kab.38 313.51 3.937.08 309.02 51.880.42 114.84 28.048.16 9.50 9.12 59.05 Jml 6 10 4 14 15 15 12 12 74 23 97 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 107.79 6.43 727.02 65.55 1.00 501. Biak Numfor 2009 2010 Jumlah 477 Kab.03 1.182.252.95 55.266.75 60.51 61.796.52 67.22 7.665.949.65 9.71 1.15 4.545.610.55 864.79 21.338.225.12 402.67 970.61 21.557.447.00 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 83 105 188 38 103 141 70 73 143 30 30 19 19 Nilai 11 1.274.93 6.167.15 1.38 14.35 758.42 303.665.498.39 888.954.64 10.

747.60 1.930.404.00 10.930.829.072.97 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 1 1 34 34 1 17 18 4 4 Nilai 11 3.29 211.459.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 481 2 Kab. Mimika 2009 2010 Jumlah 484 Kab.20 25.271.05 974.200.47 15.67 632.55 634.870.858.75 36.51 303.47 73.45 49.216.732.40 288.18 106.99 25.44 317.930.108.76 34 34 3 3 1 1 1 19 20 25 25 26 26 5 2 7 2.00 486 2009 2010 Jumlah 15 43 58 44 68 112 32 24 56 53 55 108 32 22 54 53 53 106 78 61 139 32 53 85 13.43 13.437.16 620.34 688.00 11.067.445.61 504.703.00 5 1 6 12 31 43 15 23 38 25 36 61 17 18 35 18 43 61 41 22 63 16 23 39 13.59 3.24 1.255.80 91.00 21.714.641.37 879.84 740.356.63 19.27 116.577.712.043.533.66 42.19 156.127.95 673.84 1. Waropen 2009 2010 Jumlah 492 Kab.72 26.55 316.00 504.611.604.57 106.032.123.10 21.42 4.50 92.82 529.39 312.48 3.78 303.86 5.69 131.899.79 2.84 25.60 10 8 18 29 37 66 17 17 27 27 15 4 19 10 10 20 37 13 50 11 28 39 27.096.433.636.50 19.597.70 87.55 634.890.63 10.16 26.193.62 23.09 28.429.00 225.339.39 291.82 667.84 624.05 974.001.207.822.10 290.576.87 862.59 1.09 55.83 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 55.605.125.66 89. Kepulauan Yapen 2009 2010 Jumlah 142 .666.831.425.23 163.470.011.623.61 2.36 1.155.09 133.942.83 411.18 3.50 3.76 126.870.55 3.00 25.596.930.35 114.83 217. Sarmi 2009 2010 Jumlah 489 Kab.99 325.00 21.00 237.83 233.83 12.546.14 30.38 72. Yahukimo 2009 2010 Jumlah 493 Kab.266.26 258.32 768.56 271.87 83.007.452.163.505.032.10 20.986.66 29.272.95 88.63 862.611.23 12. Paniai 2009 2010 Jumlah Kab.163.470.950.95 134.800.020.85 156.374.07 73.63 11.624.95 218.04 196.76 233.67 143.80 135.23 33.29 487 Kab.04 1.271. Mappi 3 2009 2010 Jumlah 482 Kab.339.50 1.18 76.01 1.151.28 43.873.459.963.23 27.37 141.54 34.23 754.606.764.138.514. Puncak Jaya 2009 2010 Jumlah 488 Kab.623.738.10 54.37 41.Halaman 39 .158.669.796.549.98 24.84 129.142.514.02 Jml 6 19 14 33 7 44 51 22 25 47 25 13 38 6 18 24 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 253.72 53.058.560. Tolikara 2009 2010 Jumlah 491 Kab.956.20 885.33 893. Nabire 2009 2010 Jumlah 485 Kab.48 310.76 20.532.87 211.154.18 5.528.81 167.32 1.43 1.068.45 125.35 941.28 365. Pegunungan Bintang 4 23 41 64 50 57 107 37 75 112 46 52 98 23 41 64 Nilai 5 266.274.48 331.51 225.956.669.17 47.000.87 916.00 290.89 489.28 385.432.624.50 904.83 5.782.439.431.84 740.738.51 50.79 2.111.36 415.891.125.072.290. Supiori 2009 2010 Jumlah 490 Kab.956.395.48 42.05 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 4 27 31 42 13 55 15 16 31 20 22 42 17 19 36 Nilai 9 13.86 965. Merauke 2009 2010 Jumlah 483 Kab.332.336.712.

952.198.841.50 58.982.48 513.95 2.144.18 76.95 8.670.60 694.48 3.67 23.743.06 89.80 8.499.243.362.844.81 694. Dogiyai 2009 2010 Jumlah 498 Kota Jayapura 2009 2010 Jumlah 499 Prov.56 8.612.24 409.391.021.49 30.55 31.571.Halaman 40 .743. Mamberamo Raya 3 2009 2010 Jumlah 495 Kab.200.496.95 46.913.59 4.28 35.42 464. Fakfak 2009 2010 Jumlah 501 Kab.68 1.911.17 128.36 5.681.982.80 23.98 3.85 16.761.69 231.81 145.127.976.200.28 60.43 11.929.823.81 143 .86 14.023.85 15.021.41 39.00 350.53 12.49 4.96 16.177.41 11.60 582.497.926.374.447.935.43 12.487.00 145.38 25.44 22.670.575.621.767.282.00 1.36 1.24 1.70 149.50 12.423.728.387.841. Kaimana 2009 2010 Jumlah 502 Kab.021.552.952.785.81 873.315.54 31.99 2.538.99 74. Nduga 2009 2010 Jumlah 496 Kab. Teluk Bintuni 2009 2010 Jumlah 4 34 34 35 35 20 20 36 36 93 30 123 208 76 284 134 63 197 75 57 132 129 45 174 101 62 163 114 85 199 81 54 135 192 58 250 Nilai 5 46.67 6.22 873.476.325.571.738.54 12.236.770.325.440.184.40 128.74 17.417.92 48.48 3.198.512.17 28.109.116.417. Raja Ampat 2009 2010 Jumlah 504 Kab.43 11.31 3.06 11.82 145.49 8.46 3.46 623.86 28.00 513.512.41 11.884. Sorong 2009 2010 Jumlah 505 Kab. Lany Jaya 2009 2010 Jumlah 497 Kab.28 145.512.46 623.62 14.11 3.854.49 22.884.00 145.476.98 1.43 350.09 231.79 78.262. Papua Barat 2009 2010 Jumlah 500 Kab.57 5.770.769.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 494 2 Kab.111.30 39.11 3.11 3.96 3.47 104.40 23.205.538.06 1.78 Jml 6 21 21 14 14 43 6 49 3 3 42 42 12 12 1 1 25 20 45 49 55 104 54 54 30 30 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 22.59 2.354.67 1.60 454.911.60 582.13 45.435.33 454.68 3.746.65 623.188.09 45.742.58 55.09 48.417.49 26.11 3.432.48 623.95 17. Manokwari 2009 2010 Jumlah 503 Kab.021.265.84 14.785.262. Sorong Selatan 2009 2010 Jumlah 506 Kab.400.22 123.29 2.36 2.423.408.65 1.86 874.46 3.447.03 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 5.552.549.06 8.46 90.67 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 35 35 20 20 5 5 1 1 203 76 279 75 63 138 61 57 118 127 45 172 32 8 40 36 24 60 7 54 61 155 58 213 Nilai 11 39.35 9.61 45.06 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 13 13 17 17 49 24 73 2 2 17 17 2 2 1 1 44 34 78 29 6 35 20 20 7 7 Nilai 9 23.215.127.40 14.461.99 123.08 8.315.854.447.376.49 3.552.75 4.417.92 195.612.70 4.447.144.54 3.30 46.85 17.847.46 15.40 145.35 4.33 30.41 39.40 119.184.18 76.01 4.

43 7.28 14.009.00 Kab. Teluk Wondama 2009 Rp68.280 USD 2.59 23.633.110.Lampiran 51 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No Entitas Periode Jml 1 507 2 3 2010 Jumlah 508 Kota Sorong 2009 2010 Jumlah Total 4 179 179 66 96 162 66.583.28 79.80 Rp22.85 6.21 15.075 USD 4.110. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.635.792.987.896.228.90 15.933 Nilai 5 79.13 USD 4.85 122.64 26.85 122.83 - Keterangan 1.520.827.49 Jml 6 3 3 23 23 Sesuai dengan Rekomendasi Nilai 7 122.Halaman 41 .510.578 USD 473.987.85 Rp807.91 Rekomendasi yang telah ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/daerah/ perusahaan 12 122.821.68 Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Jml 8 Nilai 9 Belum Ditindaklanjuti Jml 10 176 176 43 96 139 Nilai 11 78.35 USD 466. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 144 .520.43 78.865.75 - Rp17.385.11 24.68 6.510.957.375.11 16.00 - Rp27.59 29.

21 USD 32.474.705.392.82 4 - - - 72.81 23.81 23.493.857.705.21 USD 32.22 59 26 85 - - 10 10 - - 108 113 221 - 8.10 USD 37.76 - Jumlah 46 - 6 PT PGN 2009 2010 Jumlah - 7 PT Bukit Asam 2009 22 64.771.07 - 10.392.50 USD 37.82 18 64.155.477.Lampiran 52 Data Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Tahun 2009 dan 2010 BUMN.489. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PT Aneka Tambang 3 4 Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 1 2009 2010 Jumlah 2 PT Sarana Karya 2009 2010 Jumlah 3 PT Timah 2009 2010 Jumlah 4 PT EMI 2009 2010 Jumlah 5 5 5 5 - 5 PT PLN 2009 20 26.04 11 15. BHMN.22 14.79 72.493.58 USD 7.55 1 - 10.50 USD 37.55 - 26 27 - 19.79 8 PT Pertamina 2009 177 - 8.701.474.771.773. dan KKKS (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.489.22 - 2010 Jumlah 139 316 - 9 PT Garuda Indonesia (Persero) 2009 2010 Jumlah 19 19 - - - - - 19 19 - - 10 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 145 .59 8 10.22 14.07 45.701.662.773.477.392.662.701.58 2010 Jumlah 22 - 64.489.40 USD 32.07 - 8 - 10.07 19.40 USD 32.489.Halaman 1 .82 - 4 - - - - USD 7.392.04 - 11 - 15.82 - 18 - 64.76 2010 26 - 19.50 USD 37.

Halaman 2 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 11 2 PT Angkasa Pura I (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Angkasa Pura II (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

12

2009 2010 Jumlah

42 42

342.623,80 342.623,80

-

-

-

-

42 42

342.623,80 342.623,80

-

13

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

43 43 -

733.674,86 733.674,86 -

3 3 -

525.917,75 525.917,75 -

-

-

40 40 -

207.757,11 207.757,11 -

-

14

Perum Damri

2009 2010 Jumlah

15

Perum PPD

2009 2010 Jumlah

16

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

17

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

18

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)

2009 2010 Jumlah

6 6

17.610,31 17.610,31

-

-

-

-

6 6

17.610,31 17.610,31

-

19

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

20

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

21

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)

2009 2010

33 29 -

707.301,10 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 821.142,37 USD 152.95 SGD 1,320.75

4 4 -

141.353,84 141.353,84 -

-

-

29 29 58 -

565.947,26 113.841,27 USD 152.95 SGD 1,320.75 679.788,53 USD 152.95 SGD 1,320.75

-

Jumlah

62 -

146

Halaman 3 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 22 2 PT Djakarta Lloyd (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

23

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

24

PT Pengerukan Indonesia (Persero)

2009

23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

-

-

-

23 23 -

18.728,96 USD 594.67 18.728,96 USD 594.67 -

-

2010 Jumlah

23 -

25

PT Indra Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

26

PT Brantas Abipraya (Persero)

2009 2010 Jumlah

30 30

188.627,04 188.627,04

-

-

-

-

30 30

188.627,04 188.627,04

-

27

PT Amarta Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

28

PT Adhi Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

29

PT Wijaya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

26 26 -

129.073,04 USD 11,498.63 129.073,04 USD 11,498.63 605.439,69 605.439,69 -

9 9 3 3 -

1.932,18 1.932,18 -

13 13 14 14 -

119.992,86 USD 11,498.63 119.992,86 USD 11,498.63 -

4 4 4 4 -

7.148,00 7.148,00 605.439,69 605.439,69 -

2.299,88 2.299,88 -

30

PT Jasa Marga (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21 -

31

PT Virama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

32

PT Nindya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

22 22

138.875,33 138.875,33

-

-

-

-

22 22

138.875,33 138.875,33

-

33

PT Hutama Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

147

Halaman 4 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 12.671,11 12.671,11 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 34 2 PT Indah Karya (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 35 PT Istaka Karya (Persero) 2009 2010 Jumlah 36 Perum Perumnas 2009 2010 Jumlah 4 30 30

Nilai 5 12.671,11 12.671,11

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 30 30

Nilai 11

37

PT Pembangunan Perumahan (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

37.692,71 37.692,71

7 7

28.955,84 28.955,84

14 14

8.736,87 8.736,87

3 3

-

27.665,96 27.665,96

38

PT Yodya Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

39

PT Waskita Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

40

PT Bina Karya (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

41

Perum Produksi Film Negara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

42

PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

43

PT Kawasan Industri Medan (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

44

PT Kawasan Industri Makassar (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

45

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

148

Halaman 5 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 46 2 PT Hotel Indonesia Natour (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

47

2009 2010 Jumlah

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

-

-

-

10 10 -

24.005,60 USD 412.07 24.005,60 USD 412.07

-

48

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero)

-

-

-

-

-

-

-

-

-

49

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

50

PT Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Persero)

2009

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

51

Perum LKBN Antara

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

52

PT Dirgantara Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

-

-

-

24 24

2.915.248,82 2.915.248,82

-

53

PT Pindad (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

54

PT PAL Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

55

PT LEN Industri (Persero)

2009 2010 Jumlah

149

Halaman 6 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 56 2 PT Krakatau Steel (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Boma Bisma Indra (Persero) 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

57

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

58

PT Dahana (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

59

PT Barata Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

60

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

61

PT Industri Kereta Api (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

62

PT Batan Teknologi (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

63

PT Bio Farma (Persero)

2009 2010 Jumlah

21 21

2.148,65 2.148,65

11 11

50,70 50,70

5 5

2.097,95 2.097,95

5 5

-

-

64

PT Kimia Farma (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

35 35

90.176,31 90.176,31

-

-

-

-

35 35

90.176,31 90.176,31

-

65

PT Indofarma (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

47.791,78 47.791,78

-

-

-

-

29 29

47.791,78 47.791,78

-

66

PT Semen Gresik (Persero), Tbk.

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

67

PT Semen Kupang (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

150

Halaman 7 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 68 2 PT Semen Baturaja (Persero) 3 2009 2010 Jumlah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) 4 19 19

Nilai 5 10.012,78 10.012,78

Jml 6 7 7

Nilai 7 -

Jml 8 6 6

Nilai 9 6.046,39 6.046,39

Jml 10 6 6

Nilai 11 3.966,39 3.966,39

69

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

70

PT Industri Kapal Indonesia (Persero)

2009

21 -

15.722,54 USD 212,229.82 15.722,54 USD 212,229.82

3 3 -

2.436,30 2.436,30 -

16 16 -

4.786,24 USD 212,229.82 4.786,24 USD 212,229.82

2 2 -

8.500,00 8.500,00 -

-

2010 Jumlah

21 -

71

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero)

2009

24 -

11.361,10 USD 788.28 11.361,10 USD 788.28

9 9 -

861,86 861,86 -

9 9 -

7.867,79 7.867,79 -

6 6 -

2.631,45 USD 788.28 2.631,45 USD 788.28

-

2010 Jumlah

24 -

72

PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

73

PT Primissima (Persero)

2009 2010 Jumlah

74

PT Industri Gelas (Persero)

2009 2010 Jumlah

29 29

6.282,19 6.282,19

-

-

-

-

29 29

6.282,19 6.282,19

-

75

PT Garam (Persero)

2009 2010 Jumlah

76

PT Perkebunan Nusantara I

2009 2010 Jumlah

77

PT Perkebunan Nusantara II

2009 2010 Jumlah

78

PT Perkebunan Nusantara III

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

151

Halaman 8 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 80.223,60 80.223,60 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 79 2 PT Perkebunan Nusantara IV 3 2009 2010 Jumlah 80 PT Perkebunan Nusantara V 2009 2010 Jumlah 81 PT Perkebunan Nusantara VI 2009 2010 Jumlah 82 PT Perkebunan Nusantara VII 2009 2010 Jumlah PT Perkebunan Nusantara VIII 4 9 9 -

Nilai 5 113.240,26 113.240,26 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 4 4 -

Nilai 9 33.016,65 33.016,65 -

Jml 10 5 5 -

Nilai 11

83

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

84

PT Perkebunan Nusantara IX

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

85

PT Perkebunan Nusantara X

2009 2010 Jumlah

86

PT Perkebunan Nusantara XI

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

87

PT Perkebunan Nusantara XII

2009 2010 Jumlah

40 40

65.759,10 65.759,10

-

-

-

-

40 40

65.759,10 65.759,10

-

88

PT Perkebunan Nusantara XIII

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

89

PT Perkebunan Nusantara XIV

2009 2010 Jumlah

31 31 37 -

139.991,06 139.991,06 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

4 4 3 3 -

-

9 9 34 34 -

47.839,48 47.839,48 34.563,19 USD 758.61 34.563,19 USD 758.61 -

18 18 -

92.151,57 92.151,57 -

-

90

Perum Perhutani

2009

2010 Jumlah

37 -

91

PT Inhutani I

2009 2010 Jumlah

-

152

Halaman 9 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 19.207,08 19.207,08 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 92 2 PT Inhutani II 3 2009 2010 Jumlah 93 PT Inhutani III 2009 2010 Jumlah 94 PT Inhutani IV 2009 2010 Jumlah 95 PT Inhutani V 2009 2010 Jumlah 96 PT Sang Hyang Seri 2009 2010 Jumlah 97 PT Pertani (Persero) 2009 2010 Jumlah PT Perikanan Nusantara (Persero) 4 24 24 8 8

Nilai 5 19.207,08 19.207,08 1.976,30 1.976,30

Jml 6 5 5

Nilai 7 1.976,30 1.976,30

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 24 24 3 3

Nilai 11

98

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

99

PT Rajawali Nusantara Indonesia

2009 2010

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

18 18 -

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60 458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

-

-

-

Jumlah

18

458.685,78 USD 6,397.68 EUR 8.60

100

Perum Prasarana Perikanan Samudera

2009 2010 Jumlah

-

-

-

-

-

-

-

-

-

101

PT Pupuk Sriwijaya

2009 2010 Jumlah

1 1

-

-

-

-

-

1 1

-

-

102

PT Kertas Kraft Aceh

2009 2010 Jumlah

12 12 -

218.834,69 218.834,69 -

1 1 -

-

10 10 -

107.535,64 107.535,64 -

1 1 -

111.299,04 111.299,04 -

-

103

PT Kertas Leces

2009 2010 Jumlah

153

Halaman 10 - Lampiran 52

(nilai dalam juta dan ribu valas)
Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 -

Sesuai dengan Rekomendasi

Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut

Belum Ditindaklanjuti

Jml 1 104 2 Perum PNRI 3 2009 2010 Jumlah 105 Perum Peruri 2009 2010 Jumlah 106 PT Balai Pustaka 2009 2010 Jumlah PT Pradnya Paramitha 4 -

Nilai 5 -

Jml 6 -

Nilai 7 -

Jml 8 -

Nilai 9 -

Jml 10 -

Nilai 11

107

2009 2010 Jumlah

41 8 49 14 14 51 51

9.593,54 9.593,54

32 32

466,60 466,60

41 8 49 14 14 16 16

9.126,94 9.126,94

3 3

-

5.794,01 5.794,01

108

PT BNI

2009 2010 Jumlah

109

PT BRI

2009 2010 Jumlah

110

PT Bank Mandiri

2009 2010 Jumlah

111

PT BTN

2009 2010 Jumlah

112

PT Jamsostek

2009 2010 Jumlah

113

PT Taspen

2009 2010 Jumlah

114

PT Asuransi Kesehatan

2009 2010 Jumlah

20 20 -

223.169,20 223.169,20 -

8 8 -

881,48 881,48 -

11 11 -

221.507,13 221.507,13 -

1 1 -

780,58 780,58 -

-

115

PT Jasaraharja

2009 2010 Jumlah

116

PT Asuransi Jiwasraya

2009 2010 Jumlah

117

PT Jasindo

2009 2010 Jumlah

154

Halaman 11 .348.049.388.60 36.049.879.46 - - - - 20 20 - 160.348.46 160.50 - - - 129 PT Sarana Multi Infrastruktur 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 .46 - 127 Perum Jaminan Kredit Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 128 PT Kliring Berjangka Indonesia 2009 2010 Jumlah 10 10 36.348.509.50 9.509.049. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 118 2 PT Asuransi Kredit Indonesia 3 2009 2010 Jumlah PT Asuransi Ekspor Indonesia 4 - Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 119 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 120 PT ASABRI 2009 2010 Jumlah 121 PT Reasuransi Umum Indonesia 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 122 PT Bahana PUI 2009 2010 Jumlah 123 PT Danareksa 2009 2010 Jumlah 124 Perum Pegadaian 2009 2010 Jumlah 125 PT Permodalan Nasional Madani 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 126 PT PANN Multi Finance 2009 2010 Jumlah 20 20 - 160.45 USD 570.348.46 160.10 4 4 9.45 USD 570.45 USD 570.388.049.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.10 26.879.60 6 6 26.45 USD 570.

289.571.91 - - 135 PT Pos Indonesia 2009 2010 Jumlah 136 PT Sarinah 2009 2010 Jumlah 137 PT Sucofindo 2009 2010 Jumlah 138 PT Berdikari 2009 2010 Jumlah 139 PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 140 PT Surveyor Indonesia 2009 2010 Jumlah 141 PT Varuna Tirta Prakasya 2009 2010 Jumlah 142 PT Bhanda Ghara Reksa 2009 2010 Jumlah 156 .710.32 1.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.32 48.08 48.08 48.08 37 37 203.91 4.710.52 205.289.91 - 40 40 - - 6 6 - - 15 15 - 4.10 9 9 1.91 4.10 203.571.08 132 Perum Bulog 2009 2010 Jumlah 133 PT Survey Udara Penas (Persero) 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 134 PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 2009 2010 Jumlah 46 46 15 15 - 4.531.Halaman 12 .571.571.531. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 130 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) 3 2009 2010 Jumlah 4 131 PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) 2009 2010 Jumlah 77 77 205.52 31 31 48.

21 402.994.21 - - 14 14 - 5 5 402. WK South Natuna Sea B 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 152 ExxonMobile Oil Inc.320.275.11 USD 230.Halaman 13 .897.291.17 USD 835. Ltd.60 820 Rp5.75 EUR 8.21 - 145 PPA 2009 2010 Jumlah Total BUMN 1.408.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 150 Chevron Pacific Indonesia WK Pokan .50 SGD 1.055.450 Rp7.79 - BHMN (Badan Hukum Milik Negara) 146 BPMIGAS : 2009 2010 Jumlah Total BHMN Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) 147 BOB PT BSP Pertamina Hulu 2009 2010 Jumlah Chevron Pacific Indonesia Wilayah Kerja (WK) MFK .75 EUR 8.60 297 Rp806.93 - 333 Rp1.12 USD 604.326.320.74 SGD 1.03 USD 436.03 5 5 USD 436.056.31 USD 7.884.75 - Rp119. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 143 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Perum Jasa Tirta I 3 2009 2010 Jumlah 4 144 Perum Jasa Tirta II 2009 2010 Jumlah 19 19 402.03 1 1 12 12 12 1 1 1 11 11 11 - 148 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 149 Chevron Pacific Indonesia WK Siak .523.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.03 USD 436. WK Bee 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 157 .21 402.PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 151 ConocoPhillips Indonesia Ltd.PSC 6 6 USD 436.657.

Ltd. WK Kakap 2009 2010 Jumlah 163 Job (PSC) Costa Igl WK Gebang 2009 2010 Jumlah 164 PHE Costa .309.Job P Costa International WK Gebang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 .Halaman 14 .59 USD 1.434.309.53 580.434. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 153 Nilai 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 ExxonMobile Oil Inc.434. WK Jabung 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 Petroselat Ltd.53 - 2010 Jumlah 10 - 157 Medco E&P Malaca WK Area “A” North Sumatera 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 158 Pearl Oil WK Tungkal 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 159 Petrochina International Ltd.59 USD 1. WK NSO 3 2009 2010 Jumlah 4 154 ExxonMobile Oil Inc.434. WK Pase 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 155 Kalila (Korinci Baru) WK Korinci 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 156 Kondur Petroleum WK Malacca Strait 2009 10 - 580.65 USD 2.65 - - 161 Premier Oil WK Natuna Sea A 2009 2010 Jumlah 162 Star Energy Ltd.59 USD 1.53 580.59 USD 1.65 - - - - - 11 11 - USD 2.53 2 2 - - 4 4 - - 4 4 - 580.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.309.309.65 USD 2. WK Selat Panjang 2009 2010 Jumlah 11 11 - USD 2. Ltd.

17 USD 150. WK Brantas 2009 2010 Jumlah 175 Medco E&P Indonesia WK Lematang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 176 Medco E&P Indonesia WK Barisan Rimau 2009 2010 Jumlah 7 7 USD 150.33 1 1 - - - - 171 ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd.Job P ConocoPhillips WK South Jambi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 167 PT SPR Langgak Langgak Riau 2009 2010 Jumlah 168 BP West Java Ltd.Halaman 15 .17 USD 150.17 2 2 - 5 5 USD 150.33 USD 910. WK South East Sumatera 2009 2010 Jumlah 5 5 USD 910.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.33 4 4 USD 910. WK Corridor PSC 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 172 Kangean Energy Indonesia WK Kangean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 173 HESS Pangkah Ltd. WK ONWJ 2009 2010 Jumlah - 169 Camar Resource Canada WK Bawean 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 170 CNOOC SES Ltd. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 JOA (PSC) ConocoPhillips WK South Jambi Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 165 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 166 PHE South Jambi .33 USD 910. WK Pangkah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 174 Lapindo Brantas Inc.17 - - - 159 .

JOB P GSIL WK Raja Block 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 185 JOB (PSC) Petrochina East Java WK Tuban 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - 186 PHE Tuban East Java .455.455.81 - - - - 10 10 USD 7.81 USD 7. WK Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 180 Santos PTY.JOB P HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 183 JOB (PSC) Golden Spike WK Raja Pendopo 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 184 PHE Raja Tempirai . Ltd.Halaman 16 .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.81 USD 7.Ogan Komering WK Ogan Komering 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 160 . Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Medco E&P Indonesia WK South&Central Sumatera Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 177 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 178 Petrochina Ltd.JOB P PEJ WK Tuban 2009 2010 Jumlah 10 10 USD 7.455. WK Bangko 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 179 Santos PTY.81 - 187 JOB (PSC) Talisman . WK Sampang 2009 2010 Jumlah 181 JOB (PSC) HESS WK Jambi Merang 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 182 PHE Jambi Merang .455. Ltd.

JOB P TOKL WK Ogan Komering Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 188 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 189 JOA (PSC) Kodeco WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 190 PHE W Kodeco JOA P W Madura WK West Madura 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 191 Mobil Cepu Ltd. WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 194 Chevron Ind.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No. WK Seram Non Bula 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 196 Energy Equity WK Sengkang 2009 2010 Jumlah 197 Inpex WK East Kalimantan 2009 2010 Jumlah 198 Kalrez Petroleum WK Bula Seram 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 199 Medco E&P Indonesia WK Tarakan 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 161 . WK Makassar Strait 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 195 Citic Seram Energy Ltd. WK Cepu Block 2009 2010 Jumlah 192 Seleraya Merangin Dua 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 193 Chevron Ind. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 PHE Ogan Komering .Halaman 17 .

Halaman 18 . WK Salawati Basin.424.424.848.53 SGD 5.748.51 USD 61.51 USD 61.JOB P Medco WK Senoro Toili.JOB P PS WK Kepala Burung.53 SGD 5.30 3.JOB P Tengah 2009 2010 Jumlah 12 12 USD 61.848.848.848.748.23 - - - - 2010 Jumlah 10 - 202 VICO WK Sangasanga 2009 2010 Jumlah - 203 JOB (PSC) Medco E&P Tomori WK Senoro Toili. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 2 Petrochina International (Bermuda) Ltd.51 - 209 PT Pertamina EP 2009 2010 Jumlah 162 . Sulawesi 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah JOB (PSC) Petrochina Salawati WK Kepala Burung. Sulawesi 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 204 PHE Medco Tomori .53 USD 235.23 2. Papua - - - - - - - - - 206 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 207 JOB (PSC) Total Tengah WK Tengah 2009 2010 Jumlah - - - - - - - - - 208 PHE Tengah K .Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.51 - - - - 12 12 USD 61.76 USD 235.30 - 2 2 - 2.30 676.53 SGD 5.53 SGD 5. Papua - - - - - - - - - 205 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah PHE Salawati .76 USD 235. Papua Nilai 5 Jml 6 Nilai 7 Jml 8 Nilai 9 Jml 10 Nilai 11 3 4 200 2009 - - - - - - - - - 2010 Jumlah Total E&P Indonesia WK Mahakam - - - - - - - - - 201 2009 10 - 3.53 USD 235.30 - 8 8 - 676.

53 USD 1.30 18 Rp2.90 SGD 5.048.59 USD 73.780. Entitas Tahun Rekomendasi yang Telah Ditindaklanjuti dengan penyetoran/ penyerahan aset ke negara/ daerah/ perusahaan 12 - Sesuai dengan Rekomendasi Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Belum Ditindaklanjuti Jml 1 210 Nilai 5 5 5 - Jml 6 - Nilai 7 - Jml 8 5 5 - Nilai 9 - Jml 10 - Nilai 11 2 Benuo Taka WK Wailawi Block 3 2009 2010 Jumlah 4 211 Tangguh .BP Berau 2009 2010 Jumlah 212 BP Muturi 2009 2010 Jumlah 213 BP Wiriagar 2009 2010 Jumlah Total KKKS 76 Rp4.17 - 37 Rp580.581.748. Penjumlahan menggunakan data angka asal yang dibulatkan kebawah 2.Halaman 19 .35 USD 74. Nilai rekomendasi termasuk SPI dan administrasi 163 .30 21 Rp676.005.23 USD 150.51 - - Keterangan 1.Lampiran 52 (nilai dalam juta dan ribu valas) Status Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi No.59 SGD 5.

18 15 3.12 Rp857.48 178.132.735.179.dan pembayaran san aset negara/ atau melebihi man/piutang atau restitusi pajak atau daerah tidak sesuai ketentuan dana bergulir macet penetapan kompenketentuan dan sasi kerugian merugikan negara/ daerah Jml Kasus (29) 857.077.25 2.93 42 23.886.62 6.136.12 1 3.95 - 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara - - - 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi - - - 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 1.20 114 9.01 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .480.146.98 7 7.04 77 145.952.11 147 107.480.92 3 7 67 157 2 5 145.51 1.951.71 - Total Pemeriksaan Laporan Keuangan - 740 566.053.660.115.82 77 11.602.86 122.543.71 465 75.53 3 3 90 27.00 9.61 115.249.585.59 101.14 21 1 1 1 101 50 5.535.06 155 59.33 88.236.70 638.98 - 12 Operasional BUMN 13 92.12 857.577.12 28 28 10 4 1 7 1 2 25 53 - Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus Nilai (8) 7.169.852.65 6 8.67 4 220.00 14.269.11 146 107.88 140.499.40 62.568.01 Nilai (31) 14.377.88 12.76 50 9.518.66 0.341.08 USD 7.265.29 2.707.486.21 2 922.480.30 1.75 77 145.91 Rp59.97 1 21.01 - 13 Operasional PDAM - 43 3.35 - 5 Pengelolaan Pendapatan 10 3.543.365.88 - 12.538.543.64 258.132.29 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (15) 72 72 8 26 8 2 1 2 8 55 127 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (27) 1 1 1 Nilai (28) Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Penjualan/pertuKelebihan penetapan karan/penghapuBelanja tidak sesuai Pengembalian pinja.72 101.18 (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah - 736 566.50 1 865.67 Rp17.565.89 102 35.349.70 26 24.652.60 9 29.34 344.020.68 28.44 3.171.443.864.996.366.47 1.199.62 437.98 22 16.69 - 6 Pelaksanaan Belanja - 1.985.246.377.79 140.53 14.78 - 15 Operasional Bank Daerah 7 1.82 83.42 11.543.03 248 Rp122.41 19 11.800.52 0.56 119 Rp168.68 176 25.25 5.79 7.249.551.30 3 (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) 2.574.52 90.00 1 180.72 (9) (10) (11) (12) (13) (14) Nilai Nilai Nilai (7) 17 17 1 1 21 1 1 23 41 Nilai Jml Kasus Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Nilai (30) 62.91 60 84.68 USD 7.77 101 35.44 26.231.71 6.899.08 7.21 2 1 1 1 5 11 90 27.338.852.976.51 235.112.20 12.827.00 156 59.65 211 47.32 505 123.50 - 16 Operasional BUMD Lainnya 8 2.000.249.077.455.164 Lampiran 53 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kerugian negara/daerah/perusahaan No Pemahalan harga (Mark up) Entitas/Obriks Total kerugian negara/daerah / perusahaan Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang pembayaran honorarium dan/ spesifikasi barang/ penggunaan uang/ atau biaya perjalanan jasa yang diterima barang untuk kepentdinas ganda dan atau tidak sesuai dengan ingan pribadi melebihi standar yang kontrak ditetapkan Jml Kasus Nilai (16) 83.345.073.190.70 - 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 48 36.00 - 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 2 320.73 - 17 PDTT Lainnya 46 47.00 60 84.25 23.735.453.788.93 2 102.543.50 3 6.005.907.31 32.344.64 26 24.349.24 3 676.98 2 102.69 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 5 1.013 Rp1.16 269.405.10 Rp94.483.799.432.50 USD 7.82 1.18 16 3.00 1 180.211 368.96 - USD 7.72 1 25.531.053.19 2 1.497.82 15.75 77.40 5 2.943.40 USD 7.93 Rp33.19 6.11 1 1 2 1 2 126 142 104.46 76 Rp33.37 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 60 84.132.74 33 15.023.01 - TOTAL 2.501.29 Rp2.24 721 Rp267.40 2.88 - Total Pemeriksaan Kinerja 62 84.339.18 410.136.01 13.141.79 241.481.35 723.543.29 Rp18.87 339.053.94 7.224.01 Rp151.37 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 4 28.457.54 1.51 1 775.43 1 1.660.531.787.169.936.132.58 37.18 6 8.115.06 Total PDTT - 1.97 1 1 0.91 1.020 175.43 280.341.57 Rp34.82 735.33 8 645.01 14 Operasional RSUD 10 3.625.856.637.54 314 Rp82.893.80 47 8.54 - USD 7.313.

655.04 19.00 3.04 72.97 239.95 2 18.76 Rp1.792.117.00 92.365.46 Rp94.409.010.Lampiran 54 Rekapitulasi Kelompok Temuan Potensi Kerugian Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan No Entitas/Obriks Total Potensi kerugian negara/daerah/perusahaan Kelebihan pembayaran Rekanan belum melakdalam pengadaan sanakan kewajiban barang/jasa tetapi pemeliharaan barang Pembelian aset yang Aset dikuasai pihak lain pembayaran pekerjaan hasil pengadaan yang berstatus sengketa belum dilakukan seba.816.11 2 3.549.40 USD 32.442.021.936.691.47 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 128 461.00 6 1.315.696.27 22 2.67 426.80 850.525.48 Total Pemeriksaan Kinerja 12 504.839.750.50 8.575.85 9 2 12.50 1.92 8.43 13 Operasional PDAM 22 13.28 5.16 6 Pelaksanaan Belanja 221 106.49 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 1 6.48 2 1 14.24 524.26 - 21 2 23 1 1 14 3 1 8 1 6 33 57 - 46.17 3 382.768.49 19.014.450.385.91 1 1 312.59 4 70.673.233.711.43 TOTAL 526 Rp1.61 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 20 5.65 55.704.98 35 Rp24.49 1.450.222.646.925.35 15 Operasional Bank Daerah 15 38.836.77 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 11 4 Pengelolaan Hutan Mangrove 1 504.03 1 524.572.00 4 1.79 23.192.447.625.764.499.76 2 1 3 1 1 1 3 6 - 8.893.155.218.284.39 417.500.67 100.telah rusak selama masa gian atau seluruhnya pemeliharaan Pemberian jaminan Pihak ketiga belum dalam pelaksanaan pemelaksanakan kewa.37 16 Operasional BUMD Lainnya 16 15.71 17 1 2 30 35 14.56 USD 53.07 Rp50.075.813.834.365.59 54.793.155.00 3 521.76 10.35 6.88 7.38 USD 20.37 6.80 84.40 47 Rp88.214.466.71 51.43 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah 165 .93 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 24 34.997.50 12 Operasional BUMN 31 973.430.450.29 1.50 2 18 32 17.633.661.499.52 2 119.688.33 4.695.25 154.125.447.704.51 1 1 500.99 15 1 11 5 72 114 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 40 1 41 1 1 7 10 1 22 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (5) Nilai Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (1) (2) (3) (4) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 121 371.556.87 3.37 14 Operasional RSUD 1 28.32 14 43.269.00 9.21 Total PDTT 386 1.839.120. pemanfaatan Penghapusan piutang jiban untuk meny.986.52 504.51 USD 20.87 1.81 USD 53.80 88.598.679.29 2 154.Piutang/pinjaman atau Aset tidak diketahui kerjaan.48 8.264.49 - USD 53.09 28.48 504.00 426.086.04 1 8 856.45 22 8.704.35 33.27 299.48 5 Pengelolaan Pendapatan 12 8.49 2.91 Rp49.005.155.700.200.52 8 1 3 1 4 7 8 1 9.95 25 80.32 14 43.788.174.448.808.375.20 5 22.12 2.11 2 3.33 USD 32.38 2 - Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 7 89.00 1.24 312.60 2.264.67 Rp290.897.155.261.96 19 2.45 3 26.45 3 3.dana bergulir yang berpokeberadaannya barang dan pemberian tidak sesuai ketentuan erahkan aset kepada tensi tidak tertagih fasilitas tidak sesuai negara/daerah ketentuan Lain-lain Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/ daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Nilai (20) Jml Kasus Nilai (21) (22) Jml Kasus Nilai (23) (24) Nilai (25) Jml Kasus Nilai (6) 7 1 8 1 1 156 21 2 1 180 189 Rp79.32 6 6.12 Rp7.38 Rp2.284.29 USD 32.01 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 14 4.78 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah 1 312.95 24 80.51 USD 20.142.87 2 575.50 3.84 1 445.29 5 3.895.727.235.315.30 154.29 17 PDTT Lainnya 8 26.619.697.247.78 190.71 5 22.260.00 Rp3.38 1.31 49.142.68 485.05 781.155.

Koreksi perhitungan Kelebihan pemtelah ditetapkan belum atau digunakan oleh jak/PNBP lebih rendah bagi hasil dengan bayaran subsidi oleh masuk ke kas Daerah instansi yang tidak dari ketentuan KKKS pemerintah berhak Lain-lain Jml Kasus Nilai (6) 173.84 99.08 1 8.602.261.54 1.072.00 3 33 49.20 2.96 43 61.57 2 549.25 Nilai Nilai (20) 276.508.221 Keterangan Penjumlahan menggunakan data asal yang dibulatkan ke bawah .523.736.05 18.508.261.02 9.77 550.230.31 45 Rp19.305.92 USD 10.545.75 108 Rp92.80 5 476.58 1 16.327 1 1.262.37 286.12 15.401.32 6 Rp328.73 17 Rp66.53 276.84 Nilai (21) 6.29 249.76 2.98 375.00 9.14 175.823.65 1 108.023.913.639.54 4 22 15 8 15 14 690 USD 29.054.77 9.766.84 17.73 USD 10.868.595.18 USD 95.35 2.52 30.108.77 9.04 (1) (2) (3) 1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah 402 2 Laporan Keuangan BUMN/D dan Badan Lainnya 10 Total Pemeriksaan Laporan Keuangan 412 3 Program Stimulus Belanja Infrastruktur 14 4 Pengelolaan Hutan Mangrove - Total Pemeriksaan Kinerja 14 5 Pengelolaan Pendapatan 287 6 Pelaksanaan Belanja 357 7 Pengelolaan/Manajemen Aset Pemerintah Daerah 2 8 Pelaksanaan Belanja Bidang Infrastruktur 13 9 Pengelolaan Pertambangan Batubara 31 10 Pelaksana KKS Minyak dan Gas Bumi 17 11 Pelaksanaan Subsidi Pemerintah - 12 Operasional BUMN 6 13 Operasional PDAM 26 14 Operasional RSUD 17 15 Operasional Bank Daerah 8 16 Operasional BUMD Lainnya 16 17 PDTT Lainnya 15 Total PDTT 795 TOTAL 1.73 35.43 8.88 16.636.76 4.88 5.14 66.872.915.458.23 5.84 6.166 Lampiran 55 Rekapitulasi Kelompok Temuan Kekurangan Penerimaan Hasil Pemeriksaan BPK Semester II Tahun 2010 (nilai dalam juta rupiah dan ribu valas) Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang Mengakibatkan Kekurangan Penerimaan Total Kekurangan Penerimaan Penggunaan langsung Penerimaan Negara/ Daerah No Nama Entitas Penerimaan Negara/Daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan atau dipungut/diterima/ disetor ke Kas Negara/Daerah atau perusahaan milik negara/ daerah Penerimaan Negara/ Dana Perimbangan yang daerah diterima Pengenaan tarif pa.12 31.42 2 Rp8.12 3 65 30.76 9.71 1 1 15.21 USD 29.89 17.615.12 3 94.33 3.872.42 9.099.187.14 175.771.25 Rp1.099.269.52 1 61 2 125.54 USD 66.261.364.595.810.95 USD 95.59 17 17 65 30.401.38 2 643.832.16 3 233.84 91.45 Rp276.62 4.099.84 Rp42.063.72 895.71 35.792.51 33 18.949.474.154.835.072.71 1 Rp15.45 USD 10.602.468.02 2.474.771.71 66.41 61.495.33 3.935.067.63 90.736.131.261.792.36 1 196.14 (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai (18) (5) 325 10 335 14 14 218 348 2 13 31 Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus Jml Kasus (19) 3 Nilai penyerahan aset atau penyetoran ke kas negara/daerah atas temuan yang telah ditindak lanjuti dalam proses pemeriksaan Jml Kasus (4) 213.71 3.54 Rp1.21 USD 29.236.099.12 3 94.044.805.16 2.12 3 844.474.77 482.59 2.08 1 8.51 2 2 40 4 9.34 29.793.04 223.099.514.19 108.099.29 209.810.45 24.474.201.80 5 476.992.039 USD 29.508.

Halaman 1 .Lampiran 56 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2010 Daftar LHP Jml Objek Pemeriksaan No PEMERIKSAAN KEUANGAN I Nama Entitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 15 Provinsi Sumatera Utara 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 3 31 Provinsi Sumatera Barat 32 33 34 4 35 Provinsi Riau 36 37 38 39 40 41 42 Provinsi Aceh 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 LKPD Provinsi Aceh TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Besar TA 20009 LKPD Kabupaten Aceh Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tamiang TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Aceh Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Bireuen TA 2009 LKPD Kabupaten Simeulue TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie TA 2009 LKPD Kabupaten Pidie Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Bener Meriah TA 2009 LKPD Kota Langsa TA 2009 LKPD Kota Subulussalam TA 2009 LKPD Kabupaten Batu Bara TA 2009 LKPD Kabupaten Deli Serdang TA 2009 LKPD Kabupaten Nias TA 2009 LKPD Kabupaten Nias Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas TA 2009 LKPD Kabupaten Padang Lawas Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Simalungun TA 2009 LKPD Kabupaten Toba Samosir TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Tapanuli Tengah TA 2009 LKPD Kota Binjai TA 2009 LKPD Kota Medan TA 2009 LKPD Kota Pematangsiantar TA 2009 LKPD Kota Padangsidimpuan TA 2009 LKPD Kota Sibolga TA 2009 LKPD Kota Tanjungbalai TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Mentawai TA 2009 LKPD Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 LKPD Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Solok Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkalis TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kampar TA 2009 LKPD Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 LKPD Kabupaten Rokan Hilir TA 2009 LKPD Kabupaten Siak TA 2009 LKPD Kota Dumai TA 2009 167 .

Lampiran 56 No 5 6 43 Provinsi Jambi 44 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Muaro Jambi TA 2009 LKPD Kabupaten Tanjung Jabung Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Banyuasin TA 2009 LKPD Kabupaten Empat Lawang TA 2009 LKPD Kota Pagar Alam TA 2009 LKPD Kota Prabumulih TA 2009 LKPD Provinsi Jawa Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung TA 2009 LKPD Kabupaten Bandung Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bekasi TA 2009 LKPD Kabupaten Ciamis TA 2009 LKPD Kabupaten Cianjur TA 2009 LKPD Kabupaten Garut TA 2009 LKPD Kabupaten Indramayu TA 2009 LKPD Kabupaten Karawang TA 2009 LKPD Kabupaten Kuningan TA 2009 LKPD Kabupaten Majalengka TA 2009 LKPD Kabupaten Subang TA 2009 LKPD Kabupaten Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kota Bandung TA 2009 LKPD Kota Bekasi TA 2009 LKPD Kota Bogor TA 2009 LKPD Kota Cimahi TA 2009 LKPD Kota Depok TA 2009 LKPD Kota Tasikmalaya TA 2009 LKPD Kabupaten Tegal TA 2009 LKPD Kota Pekalongan TA 2009 LKPD Kabupaten Lombok Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kupang TA 2009 LKPD Kabupaten Manggarai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Sikka TA 2009 LKPD Kabupaten Timor Tengah Utara TA 2009 LKPD Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Bengkayang TA 2009 LKPD Kabupaten Kapuas Hulu TA 2009 LKPD Kabupaten Kayong Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Landak TA 2009 LKPD Kabupaten Sekadau TA 2009 LKPD Kabupaten Sintang TA 2009 LKPD Kota Singkawang TA 2009 LKPD Kabupaten Seruyan TA 2009 LKPD Kabupaten Balangan TA 2009 LKPD Kabupaten Kotabaru TA 2009 45 Provinsi Sumatera Selatan 46 47 48 7 49 Provinsi Jawa Barat 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 8 9 10 68 Provinsi Jawa Tengah 69 70 Provinsi Nusa Tenggara Barat 71 Provinsi Nusa Tenggara Timur 72 73 74 11 75 Provinsi Kalimantan Barat 76 77 78 79 80 81 82 12 13 83 Provinsi Kalimantan Tengah 84 Provinsi Kalimantan Selatan 85 168 .Halaman 2 .

Lampiran 56 No 86 87 14 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Tanah Bumbu TA 2009 LKPD Kota Banjarbaru TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Kutai Kartanegara TA 2009 LKPD Kabupaten Malinau TA 2009 LKPD Kota Bontang TA 2009 LKPD Kota Samarinda TA 2009 LKPD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Minahasa Tenggara TA 2009 LKPD Kota Tomohon TA 2009 LKPD Kabupaten Bantaeng TA 2009 LKPD Kabupaten Jeneponto TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Selayar TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Luwu Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Maros TA 2009 LKPD Kabupaten Sinjai TA 2009 LKPD Kabupaten Takalar TA 2009 LKPD Kabupaten Tana Toraja TA 2009 LKPD Kabupaten Toraja Utara TA 2009 LKPD Kota Palopo TA 2009 LKPD Kabupaten Bombana TA 2009 LKPD Kabupaten Buton Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Kolaka Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe TA 2009 LKPD Kabupaten Konawe Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Majene TA 2009 LKPD Provinsi Maluku TA 2009 LKPD Kabupaten Buru TA 2009 LKPD Kabupaten Buru Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Barat Daya TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara TA 2009 LKPD Kabupaten Maluku Tenggara Barat TA 2009 LKPD Kota Ambon TA 2009 LKPD Kota Tual TA 2009 LKPD Kabupaten Seram Bagian Timur TA 2008 LKPD Provinsi Maluku Utara TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Tengah TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Timur TA 2009 LKPD Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 88 Provinsi Kalimantan Timur 89 90 91 92 93 15 94 Provinsi Sulawesi Utara 95 96 97 16 98 Provinsi Sulawesi Selatan 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 17 109 Provinsi Sulawesi Tenggara 110 111 112 113 18 19 114 Provinsi Sulawesi Barat 115 Provinsi Maluku 116 117 118 119 120 121 122 123 124 20 125 Provinsi Maluku Utara 126 127 128 129 169 .Halaman 3 .

Lampiran 56 No 130 131 132 21 133 Provinsi Papua 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 22 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 153 Objek Pemeriksaan LKPD Kabupaten Halmahera Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Kepulauan Sula TA 2009 LKPD Kota Tidore Kepulauan TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2009 LKPD Kabupaten Jayawijaya TA 2009 LKPD Kabupaten Mappi TA 2009 LKPD Kabupaten Merauke TA 2009 LKPD Kabupaten Mimika TA 2009 LKPD Kabupaten Nabire TA 2009 LKPD Kabupaten Paniai TA 2009 LKPD Kabupaten Puncak Jaya TA 2009 LKPD Kabupaten Sarmi TA 2009 LKPD Kabupaten Supiori TA 2009 LKPD Kabupaten Tolikara TA 2009 LKPD Kabupaten Waropen TA 2009 LKPD Kabupaten Yahukimo TA 2009 LKPD Kabupaten Dogiyai TA 2008 LKPD Provinsi Papua Barat TA 2009 LKPD Kabupaten Fakfak TA 2009 LKPD Kabupaten Manokwari TA 2009 LKPD Kabupaten Raja Ampat TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong TA 2009 LKPD Kabupaten Sorong Selatan TA 2009 LKPD Kabupaten Teluk Bintuni TA 2009 147 Provinsi Papua Barat 148 149 150 151 152 153 II Laporan Keuangan Badan Lainnya 1 154 Kementerian Agama 155 2 156 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 1 1 LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1429 H/ 2008 M LK Penyelenggaraan Ibadah Haji Kementerian Agama Tahun 1430 H/ 2009 M LK West Sumatera Earthquake Disaster Project (WSEDP) pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk Periode yang Berakhir 30 Juni 2010 di Jakarta LK PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) TB 2009 di Surabaya LK Konsolidasi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dahulu Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) TA 2009 di Batam LK PDAM Kota Padang TB 2009 3 4 157 PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) 158 Badan Pengusahaan Kawasan Perdangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 1 1 5 159 Provinsi Sumatera Barat Jumlah LHP Keuangan 1 6 159 PEMERIKSAAN KINERJA III Tenaga Kerja Indonesia 1 160 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI. Riyadh. Jeddah. Singapura. Dinas Tenaga Kerja Provinsi/Kabupaten/Kota di DKI Jakarta. dan Nusa Tenggara Timur Serta Perwakilan RI di Kuala Lumpur. Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI. Hongkonh. Jawa Tengah.Halaman 4 . dan Kuwait 1 170 .

Kantor Pelabuhan Buli dan Kantor Pelabuhan Laiwui di Provinsi Maluku Utara Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Kantor Bandar Udara H. Sikka dan Flores Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja di Lingkungan Sekretaris Jenderal. dan Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Keuangan. Sampang. dan Provinsi Papua Barat Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Satker Pembangunan Jalur Ganda Cirebon-Kroya. Kantor Administrator Pelabuhan Ternate. direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta IV Program Stimulus Belanja Infrastruktur 1 161 Kementerian Keuangan. Kantor Pelabuhan Sanana. Peternakan. Banten. Rembang.Halaman 5 . Jawa Barat. Provinsi DKI Jakarta. Aroeppala Selayar. dan Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Sulawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perumahan Khusus Nelayan Tahun 2009 pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. dan Nusa Tenggara Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kementerian Perhubungan di Instansi Pusat. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Provinsi Maluku Utara. Lampung. Satker Pembangunan Jalur Ganda Tegal-Pekalongan dan Satker Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Batang-Rembang di Provinsi Jawa Tengah Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Kantor Bandar Udara Sultan Babullah. Pertanian.Lampiran 56 No Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum. Jawa Tengah. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas 2 162 Kementerian Pertanian 1 3 163 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 1 4 164 Kementerian Perhubungan 1 165 1 166 1 167 1 168 1 5 169 Kementerian Kelautan Dan Perikanan 1 6 170 Kementerian Pekerjaan Umum 1 171 . D. Kantor Pelabuhan Jampea. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas di Jakarta Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pertanian Tahun 2009 pada Kementerian Pertanian. Administrator Pelabuhan Makassar. Kantor Pelabuhan Jeneponto. Probolinggo. Provinsi Papua. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur di Jakarta. Kantor Pelabuhan Biringkasi. Kantor Pelabuhan Selayar. Provinsi Sumatera Utara. Kantor Pelabuhan Siwa di Provinsi Suawesi Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Perhubungan Tahun 2009 pada Administrator Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Sulawesi Barat. Bandung dan Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Energi Tahun 2009 pada Satker Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Di Provinsi DKI Jakarta. direktorat Jenderal Cipta Karya. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di Jakarta. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Pekalongan. I. Yogyakarta. Perhubungan. Provinsi Sulawesi Selatan. Dinas Pertanian. Jawa Timur. Provinsi Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. Kantor Bandar Udara H. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/ Kota di Wilayah Provinsi Jawa Tengah. direktorat Jenderal Bina Marga. Kantor Pelabuhan Sinjai. Brebes. Kantor Bandar Udara Andi Jemma Masamba. Pamekasan. Perkebunan Provinsi DKI Jakarta. Balai Embrio Ternak Cipelang Balai Inseminasi Buatan Lembang. Administrator Pelabuhan Makassar. Energi. Aroeppala Selayar. Kantor Pelabuhan Gebe.

dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkal Pinang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pembangunan Jalan. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citarum. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Ii. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Timur. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan.Lampiran 56 No 171 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Barat di Bandung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Bengawan Solo SNVT Pelaksana Pengelola Sumber Daya Air Pemali Juana SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Semarang SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Metro Semarang SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Tengah SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Jawa Tengah SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Jawa Tengah Satuan Kerja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Jawa Tengah SKS Pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Semarang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Brantas. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Vii. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Satuan Kerja Tugas Pembantuan dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Maluku Utara di Sofifi 172 1 173 1 174 1 175 1 176 1 177 1 172 . Provinsi Jawa Timur. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Jawa Timur di Surabaya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Tengah. dan Jembatan Provinsi Jawa Barat SNVT Perencanaan. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V di Surabaya. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Kalimantan Tengah I. SNVT PJJ Provinsi Kalimantan Tengah Ii. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air CimanukCisanggarung. Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. SNVT Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air Citanduy. Satker Pengembangan Kawasan Permukiman. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Surabaya. dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Provinsi Jawa Barat.Halaman 6 . SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan.

SNVT PJJ Sorong dan SNVT PKPAM Provinsi Papua Barat di Manokwari Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Pompengan-Jeneberang.Halaman 7 . SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan (PJJ) Provinsi Papua Barat. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan.Lampiran 56 No 178 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Air (PPSDA) Provinsi Papua Barat. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan. SNVT Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan dan Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan di Kisaran Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Perangkat Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Program Stimulus Belanja Infratruktur Bidang Pekerjaan Umum pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Merangin di Bangko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Umum Kabupaten Bungo di Muara Bungo Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas PU Kabupaten Kepahiang Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mukomuko Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Bina Marga Dan Pengairan Kabupaten Bogor di Cibinong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Pertambangan dan Energi Kabupaten Demak di Demak Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Daerah Kabupaten Nganjuk di Nganjuk Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di Tulungagung Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek di Trenggalek 179 1 180 1 181 1 182 1 183 1 184 1 185 1 186 1 187 1 188 1 189 1 190 1 173 . Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) Provinsi Papua Barat. SNVT PJJ FakFak.

d. 2010 ( Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Batu Bara serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Batu Bara Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Deli Serdang 207 1 208 1 174 .d.Lampiran 56 No 191 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Kinerja atas Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Manggarai Timur Program Stimulus Belanja Infrastruktur bidang Pekerjaan Umum tahun 2009 Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kota Palangkaraya di Palangkaraya Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kegiatan Stimulus Daerah (SKPD KSD) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Barito Kuala di Marabahan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Donggala Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Parigi Moutong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Gowa Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Takalar Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Maros Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD KSD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas PU Kab Halmahera Timur di Maba Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada satker perangkat daerah kegiatan stimulus daerah (SKPD KSD) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Prov Maluku Utara di Sofifi Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sorong Selatan Program Stimulus Belanja Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum Tahun 2009 pada SKPD Kegiatan Stimulus Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Teluk Bintuni 192 1 193 1 194 1 195 1 196 1 197 1 198 1 199 1 200 1 201 1 202 1 203 1 204 1 205 1 45 V Pengelolaan Hutan Mangrove 1 206 Kementerian Kehutanan 1 Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Asahan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.Halaman 8 .

Riau. 2010 (Semester I) pada Kementerian Kehutanan Beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Instansi Terkait Lainnya di Jakarta (Pusat) dan Provinsi Sumatera Utara. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Indragiri Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Perikanan. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karimun serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Karimun Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hilir serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Rokan Hilir Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkalis serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bengkalis Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. Perkebunan dan Kehutanan Kota Dumai serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Dumai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Rekam Medik dalam Menunjang Pelayanan Kesehatan Paripurna Terpadu yang bermutu pada RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan.d.d.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian. dan Farmasi dala menunjang Kesehatan yang Prima dan Paripurna pada RSU Mayjen H. 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan.Lampiran 56 No 209 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. dan Kepulauan Riau 210 1 211 1 212 1 213 1 214 1 215 1 216 1 217 1 218 1 219 1 220 1 15 VI Penyelenggaraan Ibadah Haji 1 221 Kementerian Agama 1 1 VII Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Dan Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit 1 2 222 Provinsi Sumatera Barat 223 Provinsi Riau 1 1 Pelayanan Kesehatan RSUD DR.d. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Langkat Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.Achmad Mochtar Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Efektivitas Pelayanan Rawat Inap. dan Pelayanan Non Medis pada RSUD Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi TA 2009 dan Semester I 2010 Efektifivitas Pelayanan Farmasi. Thalib Kabupaten Kerinci TA 2009 dan Semester I 2010 Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1430 H/2009 M 3 224 Provinsi Jambi 1 225 1 175 . 2010 (Semester I) pada Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjung Pinang serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Tanjung Pinang Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Serdang Bedagai serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Serdang Bedagai Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Bintan Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s. 2010 (Semester I) pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Natuna Serta Instansi Terkait Lainnya di Kabupaten Natuna Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.d.A.d.d. Pemeliharaan Peralatan.d.d.d. Rawat Inap.Halaman 9 . Pelayanan Farmasi. Pertanian.d. dan Kehutanan Kota Batam serta Instansi Terkait Lainnya di Kota Batam Pengelolaan Hutan Mangrove TA 2005 s.

DKI Jakarta Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sobirin Musi Rawas di Lubuk Linggau Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Soeprapto TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bengkulu Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah Kota Pangkalpinang TA 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Pangkalpinang Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi TA 2009-s. Soewandhie TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pelayanan Medis di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Rawat Jalan Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng Tahun Anggaran 2009 dan 2010 di Singaraja Pengelolaan Penunjang Medis pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Kabupaten Gianyar Tahun Aggaran 2009 dan 2010 di Gianyar Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.Halaman 10 . Sumber Daya Manusia.Triwulan III 2010 pada RSUD Cengkareng Prov.d.d.C.A. M. dan Rawat Inap pada RSUD Kabupaten Nganjuk TA 2009 dan 2010 di Nganjuk Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan TA 2009 dan 2010 di Pasuruan Efektivitas Pelayanan Instalasi Farmasi dan Rawat Jalan pada RSUD Dr. Harjono Kabupaten Ponorogo TA 2009 dan 2010 di Ponorogo Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSUD Dr. Saiful Anwar TA 2009 dan 2010 di Malang Efektivitas Pelayanan Farmasi. Ashari Kabupaten Pemalang T. Juni) pada RSUD Sleman Kabupaten Sleman di Morangan Efektivitas Pelayanan Farmasi. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah T. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Atambua Kabupaten Belu Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana.Lampiran 56 No 4 Nama Entitas 226 Provinsi Sumatera Selatan 227 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Sekayu di Sekayu Pelayanan Kesehatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Dr. dan Rawat Inap pada RSD Mardi Waluyo TA 2009 dan 2010 di Blitar Efektivitas Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan Rawat Inap pada RSD dr. M.A. 2009 dan Semester I 2010 di Pemalang Kinerja Pelayanan Rawat Inap dan Pelayanan Farmasi pada Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Kabupaten Semarang T. R. 2009 dan Semester I 2010 di Purbalingga Pemeliharaan Sarana Medis dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah DR. Hillers Kabupaten Sikka 5 6 228 Provinsi Bengkulu 229 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 7 230 Provinsi DKI Jakarta 1 8 231 Provinsi Jawa Tengah 1 232 1 233 1 234 1 9 10 235 Provinsi DI Yogyakarta 236 Provinsi Jawa Timur 237 1 1 1 238 1 239 240 241 1 1 1 242 1 243 11 244 Provinsi Bali 1 1 245 1 12 246 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 247 1 176 .A. Soebandi Kabupaten Jember TA 2009 dan 2010 di Jember Efektivitas Pelayanan Rawat Jalan dan Instalasi Farmasi pada RSUD Kabupaten Jombang TA 2009 dan 2010 di Jombang Efektivitas Pelayanan Farmasi dan Rawat Inap pada RSU Dr. 2009 dan Semester I 2010 di Magelang Pelayanan Farmasi dan Rawat Jalan TA 2009 dan 2010 (s.A. Goeteng Taroenadibrata Kabupaten Purbalingga T. Sumber Daya Manusia. 2009 dan Semester I 2010 di Ungaran Kinerja Pelayanan Farmasi dan Pelayanan Rawat Inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang T.

Lampiran 56 No 248 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Sarana dan Prasarana. dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Soe di Soe Pelayanan Kesehatan TA.H. 2009 s. Semester I 2010 pada Kabupaten Mandailing Natal di Panyabungan Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah.d 30 September) pada RSUD Undata di Palu Kegiatan Pelayanan Pasien TA 2009 dan 2010 (s.d. Aloei Saboe Kota Gorontalo Di Gorontalo Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi. Semester I 2010 pada Kabupaten Samosir di Pangururan 268 1 177 . Murjani TA 2009-2010 (s.Halaman 11 . Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan TA 2009 dan Semester I 2010 pada RSUD Polewali Kinerja Rumah Sakit Daerah Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Soasio RSUD Dr. 2009 dan 2010 pada RSUD Sanggau di Sanggau Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal RSUD Dr.d Triwulan III) pada RSUD Kabupaten Wajo Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Tani Dan Nelayan Kabupaten Boalemo Di Tilamuta Pelayanan Farmasi Dan Pelayanan Rawat Inap Pada Rumah Sakit Umum Daerah Prof.d. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008.d. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan di Padangsidimpuan Pelayanan Kesehatan Pemerintah Kota Padang Panjang TA 2009 dan 2010 265 1 2 266 Provinsi Sumatera Barat 1 3 VIII Pendidikan 1 267 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas Pemenuhan Sarana Prasarana dan Pemenuhan Jumlah. Dr. Pelayanan Rawat Inap dan Instalasi Farmasi TA 2009 dan 2010 (s. H. 2009 s. 2009 dan Semester I 2010 pada Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi di Sidikalang Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008. Juni) di Sampit Kinerja Pengelolaan Pelayanan di Instalasi Rawat Inap dan Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Kotabaru Tahun Anggaran 2009 dan 2010 ( Sememster I) Efektivitas Pengelolaan Pelayanan Rawat Inap dan Farmasi TA 2009 dan 2010 pada RSUD Tarakan di Tarakan. Kualifikasi dan Kompetensi Tenaga Pendidik Tahun 2008. Sumber Daya Manusia.Chasan Boesoreiree Provinsi Maluku Utara tahun 2009 dan Semester I tahun 2010 Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika TA 2009 di Timika Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Nabire TA 2009 di Nabire Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Manokwari di Manokwari Kinerja Rumah Sakit Tahun Anggaran 2009 dan Triwulan III 2010 pada Rumah sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong di Sorong 13 14 15 249 Provinsi Kalimantan Barat 250 Provinsi Kalimantan Tengah 251 Provinsi Kalimantan Selatan 1 1 1 16 17 18 19 252 Provinsi Kalimantan Timur 253 Provinsi Sulawesi Tengah 254 Provinsi Sulawesi Selatan 255 Provinsi Gorontalo 1 1 1 1 256 1 20 257 Provinsi Sulawesi Barat 1 21 258 Provinsi Maluku Utara 259 1 1 1 1 1 22 260 Provinsi Papua 261 23 262 Provinsi Papua Barat 263 1 42 Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan 1 264 Provinsi Sumatera Utara 1 Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar TA 2008.

Triwulan III) Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar Dalam Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam Menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Minahasa Utara TA 2009 dan Semester I 2010 3 272 Provinsi Riau 4 273 Provinsi Kepulauan Riau 1 274 1 5 275 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 6 276 Provinsi Kalimantan Tengah 1 7 277 Provinsi Sulawesi Utara 1 278 1 Pengelolaan Sarana dan prasarana serta tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dalam menunjang Program Wajib Belajar Sembilan Tahun pada Kabupaten Kepulauan Sangihe TA 2009 dan Semester I 2010 Pengelolaan Sarana dan Prasarana dan Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar untuk Menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun pada Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali TA 2009 dan Semester I 2010 di Bungku 8 279 Provinsi Sulawesi Tengah 1 13 IX Kinerja PDAM 1 2 3 280 Provinsi Jambi 281 Provinsi Bengkulu 282 Provinsi Lampung 283 4 284 Provinsi Jawa Barat 285 5 6 7 286 Provinsi Banten 287 Provinsi Kalimantan Barat 288 Provinsi Kalimantan Timur 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kinerja PDAM Tirta Mayang Kota Jambi Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) Kinerja PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2009 dan 2010 Semester I di Argamakmur Kinerja PDAM Way Bumi TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Way Rilau TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Bandar Lampung Kinerja PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung TB 2009 dan Semester I 2010 di Cimahi Kinerja PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor TA 2009 dan Semester I 2010 di Bogor Sistem Penyediaan Air Minum TB 2009 dan Semester I 2010 pada PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang di Serang Kinerja PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak Tahun 2009 dan Semester I 2010 di Pontianak Efektivitas Pengelolaan Kegiatan Penyediaan Air Bersih.d. Prasarana dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru dan Instansi Terkait TA 2009 Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Bintan di Kijang Pengelolaan Sarana dan Prasarana serta Tenaga Pendidik dalam Menunjang Pendidikan Dasar dan Menengah TA 2009 dan 2010 (Semester I) pada Pemerintah Kabupaten Karimun di Tanjung Balai Karimun Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Menunjang Program Pendidikan Menengah pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 2 Nama Entitas 269 Provinsi Sumatera Barat 270 271 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kinerja Pendidikan Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Kinerja Pendidikan Kota Solok TA 2009 dan 2010 Pengelolaan Sarana.Halaman 12 . Kegiatan distribusi Air Bersih dan Kegiatan Penagihan dan Penanganan Tunggakan Serta Keluhan Pelanggan TA 2009 dan 2010 PDAM Kota Balikpapan di Balikpapan 9 178 .

2009. dan Kepulauan Riau. dan Polda DIY di Bandar Lampung. dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan Pemberian Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Tahun 2008 dan 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta. serta Perusahaan di Sektor Kehutanan di Wilayah Provinsi Papua Barat di Jakarta dan Papua Barat Kegiatan Visit Indonesia Tourism Officer (VITO). Dinas Kehutanan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Polda Banten. Pelayanan Perijinan pada Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Lombok Timur TA 2009 dan Semester I TA 2010 Efektivitas Pengendalian Pencemaran Air Sungai pada BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan Instansi Terkait TA 2009 dan 2010 Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pembebasan Biaya Operasional Pendidikan pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Membangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas) Terkait Pengelolaan Dana Block Grant pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari Program Penanggulangan Gizi Buruk pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat di Gerung Kegiatan Pemeliharaan. Cilacap dan Balikpapan 289 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2 290 Kepolisian Negara Republik Indonesia 1 3 4 291 Kementerian Pertahanan 292 Kementerian Keuangan 1 1 293 1 294 1 295 1 5 296 Kementerian Kehutanan 1 6 297 Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata 1 7 298 Kementerian Perumahan Rakyat 1 8 299 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 9 300 Provinsi DKI Jakarta 1 10 301 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 11 302 Provinsi Sulawesi Tenggara 1 12 13 303 Provinsi Nusa Tenggara Barat 304 PT Pertamina (Persero) 1 1 179 . Sarana dan Prasarana Promosi Investasi pada Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal TA 2009 dan Semester I 2010 di Jakarta Pengelolaan Kepabeanan di Bidang Impor (Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas) TA 2008-2009 pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Tipe B Batam di Batam Kegiatan Pelayanan dan Penatausahaan Atas Pengeluaran Barang Impor di Kawasan Pabean TA 2008-2009 pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas di Semarang Pengelolaan Pengelolaan Surat Berharga Negara pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Di Jakarta Pengelolaan Kegiatan Pemanenan Hasil Hutan Kayu Tahun 2009 dan 2010 pada Kementerian Kehutanan. STNK. Pemakaian Refinery Fuel dan Penurunan Refinery Loss Tahun 2008 dan 2009 Semester I pada PT Pertamina (Persero) Dit. Kegiatan Bursa Pariwisata Internasional dan Kegiatan Pengembangan Sarana Promosi Pariwisata TA 2008. BPKB (SSB) pada Polda Lampung. Jawa Timur. Pengolahan dan Refinery Unit IV dan V di Jakarta. Serang dan Yogyakarta Kinerja Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pertahanan Kementerian Pertahanan di Jakarta Efektivitas Penyelenggaraan.Halaman 13 .Lampiran 56 No X Kinerja Lainnya 1 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelayanan Merek dan Paten pada Direktorat Merek dan Direktorat Paten Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Tangerang Pelayanan SIM.

Medan 15 306 PT Perkebunan Nusantara II (Persero) 1 18 Jumlah LHP Kinerja PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN TERTENTU XI Pendapatan dan Pelaksanaan Belanja 1 307 Mahkamah Agung 147 1 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban PNBP serta Penerimaan Penanganan Perkara pada Kepaniteraan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di Wilayah DKI Jakarta.I. Sumatera Utara. Bengkulu. Sumatera Utara. Bandung dan Semarang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat di Padang Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejati Lampung di Bandar Lampung Pelaksanaan Anggaran (Belanja Barang dan Modal) serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat di Pontianak Pengelolaan Pendapatan dan Belanja (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jakarta. Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan Serta Instansi Terkait Lainnya Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Parpol TA 2008 dan 2009 pada Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Sekretariat DPP Parpol di Jakarta dan Badan/ Kantor Kesbangpol di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jawa Barat. Bangka Belitung. Kalimantan Selatan. Provinsi NAD.Lampiran 56 No 14 Nama Entitas 305 PT Garuda Indonesia (Persero) Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Efektivitas Pengelolaan Layanan Reservasi Tiket Angkutan Penumpang Penerbangan Berjadwal Rute Domestik pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tahun 2008 dan 2009 di Cengkareng dan Jakarta Kinerja pada PT Perkebunan Nusantara II Tahun 2008-2009 Tanjung Morawa . D. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat.Yogyakarta. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Budapest di Hongaria Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Kuala Lumpur di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Moskow di Rusia 2 308 Kejaksaan Republik Indonesia 1 309 1 310 1 3 311 Kementerian Dalam Negeri 1 312 1 313 1 314 1 315 1 4 316 Kementerian Luar Negeri 317 318 1 1 1 180 . Jawa Barat dan Jawa Tengah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 di Jakarta. Kalimantan Barat. Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Solok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (ditjen PMD) Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Bukittinggi dan Makasar Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan2010 pada Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Kalimantan Selatan. Pekanbaru. Jambi. Sumedang. Bengkulu. Serta Sekretariat DPD dan DPC Parpol pada Provinsi Sumatera Utara. Jambi.Halaman 14 . Sumatera Utara. Medan. Sulawesi Selatan dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan dan Pertangungjawaban Keuangan (Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu) TA 2009 dan 2010 pada Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.

Gresik.Halaman 15 . Merak. Solo. Cibitung. Malang dan Madiun Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2009 dan 2010 dan Kerja sama Pihak Ketiga pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dan Instansi Terkait di Jakarta dan Cilacap Penerimaan Kepabenan dan Cukai Serta Penerimaan Negara Lainnya pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. KPPBC Tipe A2 Banjarmasin. 2008. dan 2009 (Triwulan I) pada Komando Armada RI Kawasan Barat (KOARMABAR) dan jajaran terkait Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Koharmatau dan Jajarannya serta Dinas Terkait di Bandung. Pematang Siantar. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Merak. Batam.Lampiran 56 No 319 320 321 322 5 323 Mabes TNI Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KBRI Seoul di Korea Selatan Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Ho Chi Minh City di Vietnam Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Johor Bahru di Malaysia Belanja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2009 dan 2010 pada KJRI Penang di Malaysia Pelaksanaan Anggaran dan Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Staf Intelijen (SINTEL) TNI dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) di Jakarta dan Bogor Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2008 dan 2009 (Triwulan III) pada Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) dan jajaran terkait di Surabaya Pelaksanaan anggaran dan kegiatan TA 2007. Malang. dan Medan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Menteng Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Cakung Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Jakarta Pluit di Jakata Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing Satu di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Penamanan Modal Asing LIma di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batu di Malang Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Cibitung di Cibitung 6 324 TNI AL 1 325 1 7 326 TNI AU 1 8 327 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 1 9 328 Kementerian Keuangan 1 329 1 330 1 331 1 332 333 1 1 334 335 336 1 1 1 337 338 339 1 1 1 181 . Parepare. Bandar Lampung dan Timika Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya pada 16 (Enam Belas) KPP Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 dan 2010 DI Jakarta. KPPBC Tipe A2 Bandar Lampung dan KPPBC Tipe A3 Amamapare Di Jakarta. Banjarmasin. Bandung.

Padang.Halaman 16 . Pontianak. Kantor Wilayah Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Kalimantan Bagian Barat. Kanwil DJBC Sulawesi. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 dan 2008 pada Bank Pembangunan Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Tengah Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Jawa Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Bank Pemangunan Daerah Kalimantan Timur Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan Pengadaan Barang dana Jasa Pemerintah pada Kamtor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Bandung.Lampiran 56 No 340 341 342 343 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Bandung Tegallega di Bandung Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Batam di Batam Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Gresik Utara di Gresik Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Pematang Siantar di Pematang Siantar Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Parepare di Parepare Penerimaan Pajak dan Kegiatan Operasionalnya TA 2009 dan 2010 pada KPP Pratama Medan Barat di Medan Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada Dua Bank BUMN dan Delapan Bank BUMD Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Mandiri (persero) Tbk. Kanwil DJP Jawa Barat I. Serta Kanwil DJP Jawa Tengah II TA 2008 dan 2009 di Jakarta. Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. dan Kanwil DJBC Jawa Barat Serta Instansi Vertikal dibawahnya Kementerian Keuangan TA 2009 dan 2010 di Jakarta. Kanwil DJP Jawa Barat II. Makasar dan Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP). dan Surakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak TA 2009 Di Jakarta Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Barat dan Jambi dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Padang dan Jambi 344 345 346 347 348 1 1 1 1 1 349 350 351 1 1 1 352 1 353 354 355 1 1 1 356 1 357 1 358 1 359 360 1 1 182 . Bekasi. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank DKI Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank BJB Tbk. Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi. Lampung. Pemeriksaan atas Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2009 pada PT Bank Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Kalimantan Barat dan Lampung Pengelolaan Penerimaan dan Belanja Kantor Pusat BPN TA 2009 dan 2010 pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Jakarta 362 1 363 1 364 1 10 11 365 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral 366 Kementerian Perhubungan 1 1 12 367 Kementerian Pendidikan Nasional 1 13 368 Kementerian Agama 1 369 1 370 14 371 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 372 1 15 373 Kementerian Sosial 1 16 374 Badan Pertanahan Nasional 1 375 1 376 1 377 1 183 . Dinas Sosial Provinsi dan Instansi terkait di Jakarta. Jawa Barat.d. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kota Surabaya I dan Kota Surabaya II di Surabaya Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. dan Jawa Timur.Halaman 17 . Triwulan III/2010) pada Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri (BBPLKDN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Bandung Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Program Keluarga Harapan (PKH) Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Kementerian Sosial. dan Satuan Kerja Bandar Udara FL Tobing Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2009 di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin di Jambi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Serang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan TA 2009 dan 2010 pada IAIN Walisongo di Semarang Pelaksanaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Tahun 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 361 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bengkulu Dan Lampung dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Lampung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bandung Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Bekasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Instansi Vertikal Dibawahnya Serta Instansi Terkait TA 2008 dan 2009 Di Surakarta Belanja Barang dan Belanja Modal BPH Migas TA 2009 pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta Pelaksanaan Anggaran Kegiatan TA 2008 dan 2009 pada Satuan Kerja Bandar Udara Medan Baru. Satuan Kerja Bandar Udara Binaka Gunung Sitoli. Pengelolaan Anggaran dan Pelayanan Pertanahan Tahun 2009 dan 2010 pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor di Cibinong.

Modal TA 2008 dan 2009 pada Ditpolair Mabes Polri Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. Dinas Pengairan. Pontianak. serta PNBP TA 2009 dan 2010 pada Polda Sulawesi Utara di Manado Pelaksanaan Anggaran Belanja TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional pada Provinsi Jawa Tengah di Semarang Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta. Dinas Pendidikan dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya di Blangpidie Belanja Daerah Dinas Pekerjaan Umum. Belanja Modal TA 2010 pada Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas di Batam Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Pekerjaan Umum. DInas Cipta Karya dan Energi Sumber Daya Mineral. Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan. Belanja Modal. dan Dinas Peternakan dan Perikanan pada Kabupaten Aceh Tengah TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Dinas BIna Marga. dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Lhoksukon TA 2009 dan 2010 Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kota Medan di Medan Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang di Lubuk Pakam Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Selatan di Padangsidimpuan Belanja Daerah TA 2009/2010 pada Kabupaten Tapanuli Tengah di Pandan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya TA 2009 dan 2010 18 379 Kepolisian Republik Indonesia 380 381 382 1 1 1 1 19 383 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 1 20 384 Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi 1 21 385 Kementerian Perdagangan 1 22 386 Taman Mini Indonesia Indah 1 23 387 Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan PNS 1 24 25 388 Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas 389 Provinsi Aceh 1 1 390 1 391 1 26 392 Provinsi Sumatera Utara 393 394 395 1 1 1 1 1 1 1 27 396 Provinsi Sumatera Barat 397 398 184 . Badan Litbang SDM dan MMTC Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta dan Yogyakarta Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku di Ambon Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang dan PNBP TA 2008 dan 2009 Polda Maluku Utara di Ambon dan Ternate Pelaksanaan Anggaran Belanja Barang. dan Lampung Pemeriksaan Atas Pengelolaan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Belanja KDEI Taipei dan ITPC Busan Belanja Modal T A 2009 dan 2010. Semarang.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 378 Kementerian Komunikasi dan Informatika Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pelaksanaan Belanja Barang dan Belanja Modal TA 2009 dan Semester I 2010 pada Sekretariat Jendral. Yogyakarta. Makasar dan Gowa Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Tahun 2009 dan 2010 serta Aset Negara pada Taman Mini Indonesia Indah dan Instansi Terkait di Jakarta Pengelolaan dan pertanggungjawaban Dana Tabungan Perumahan PNS pada BAPERTARUM PNS TA 2009 dan Semester I 2010.Halaman 18 .dan Belanja Modal Kementerian Perdagangan TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Jakarta.

Lampiran 56 No 399 400 401 402 403 404 405 28 406 Provinsi Riau Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sijunjung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Solok Selatan TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kota Padang TA 2009 dan 2010 Belanja Modal pada Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hulu TA 2009 dan Semester I 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Jambi di Jambi Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bungo di Muara Bungo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Merangin di Bangko Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi di Sengeti Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Muara Sabak Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Belanja daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Sungai Penuh di Sungai Penuh Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kota Jambi di Jambi Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Batang Hari di Muara Bulian Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Bungo di Muaro Bungo Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Sarolangun di Sarolangun Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Kuala Tungkal Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Hibah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Tebo di Muara Tebo Biaya Pemilihan Umum Gubenur dan Wakil Gubenur Jambi pada Komisi Pemilihan Umum.Halaman 19 . dan Instansi terkait lainnya Se-Provinsi Jambi Tahun 2010 pada Provinsi Jambi di Jambi 29 407 Provinsi Jambi 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 423 424 1 1 185 . Panitia Pengawas Pemilihan Umum.

Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kabupaten Belitung di Tanjungpandan Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Kayuagung Belanja Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir di Indralaya Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di Martapura Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kab Muara Enim di Muara Enim Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu di Baturaja Belanja Daerah Tahun 2010 pada Pemerintah Kota Pabumulih di Prabumulih Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Bengkulu TA 2009 dan Semester I TA 2010 Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bengkulu Selatan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kepahiang di Kepahiang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintahan Kabupaten Lebong dan Instansi Terkait Lainnya TA 2010 di Tubei Pengelolaan dan PertanggungJawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko TA 2010 di Mokomuko Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong TA 2010 di Curup Pertanggungjawaban Keuangan Penyelenggaraan Pilkada Provinsi Bengkulu TA 2010 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi Bengkulu di Bengkulu Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Lampung di Bandar Lampung Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang (Pendidikan dan Kesehatan) Pemerintah Provinsi Lampung TA 2010 di Bandar Lampung Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Gunung Sugih Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pesawaran (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Gedong Tataan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tanggamus (Bidang Pendidikan dan Kesehatan) TA 2010 di Kota Agung 31 433 Provinsi Bengkulu 434 435 436 437 438 439 1 1 1 32 440 Provinsi Lampung 441 442 443 444 445 1 1 1 1 1 1 446 447 448 33 449 Provinsi Bangka Belitung 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Way Kanan (Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010) di Blambangan Umpu Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Kota Bandar Lampung di Bandar Lampung Belanja Daerah Bidang Pendidikan dan Kesehatan TA 2010 pada Pemerintah Kota Metro di Metro Penerimaan Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Semester I Tahun 2010) pada Pemerintah Kota Pangkalpinang di Pangkalpinang 450 1 186 .Lampiran 56 No 30 Nama Entitas 425 Provinsi Sumatera Selatan 426 427 428 429 430 431 432 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah TA 2009 – 2010 pada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di Palembang Pendapatan Daerah TA 2009-2010 pada Pemerintah Kabupaten Lahat di Lahat.Halaman 20 .

Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bekasi di Cikarang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pendidikan. Dinas Kesehatan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dinas Bina Marga. Sumber Daya Air. Dinas Kesehatan. 455 Provinsi Kepulauan Riau 456 1 457 458 459 35 460 Provinsi DKI Jakarta 461 1 1 1 1 1 462 36 463 Provinsi Jawa Barat 464 465 1 1 1 1 466 467 1 1 468 1 469 1 470 1 471 1 472 1 187 . Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Sekretariat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta di Purwakarta. Dinas Bina Marga.d.d. Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon di Sumber Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dinas Kesehatan TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bandung di Soreang Belanja Daerah Kabupaten Bekasi TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Semester 1 2010) pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Pemuda dan Olah Raga.d. Dinas Bina Marga. Agustus 2010) pada Dinas Perindustrian dan Energi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Bogor di Cibinong Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Bandung di Bandung Belanja Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun Aggaran 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat TA 2009 dan 2010 di Bandung Belanja Daerah pada Dinas Bina Marga. Energi. Bappeda. Semester 1 2010) pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjung Pinang Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Batam di Batam Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kota Tanjung Pinang di Tanjung Pinang Belanja Daerah TA 2009 pada Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Dinas Kesehatan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset.Lampiran 56 No 451 452 453 454 34 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung TA 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka TA 2010 di Sungailiat Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah TA 2010 di Koba Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Belitung Timur TA 2010 di Manggar Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 21 . Sumber Daya Mineral Kabupaten Ciamis Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah. Dinas Kesehatan. dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut di Garut Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Dinas Bina Marga dan Pengairan. Dinas Pendidikan.

Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Blora di Blora Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. November) pada Pemerintah Kabupaten Klaten di Klaten Belanja Daerah Kabupaten Purworejo TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Temanggung di Temanggung Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Rembang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.Lampiran 56 No 37 Nama Entitas 473 Provinsi Jawa Tengah 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Brebes di Brebes Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Kudus di Kudus Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Pekalongan Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Semarang TA 2009 dan 2010 di Semarang Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Surakarta di Surakarta Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) di Purworejo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kota Salatiga Pendapatan Asli Daerah pada Pemerintah Kota Yogyakarta TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d.d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Karanganyar di Karanganyar Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. 30 Juni 2010) di Yogyakarta Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2010 di Bantul Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2010 di Wonosari Pertanggungjawaban Belanja Penyelenggaraan dan Pengamanan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2010 di Beran Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2009 dan 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bangkalan TA 2010 di Bangkalan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bondowoso TA 2010 di Bondowoso Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro TA 2010 di Bojonegoro Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik TA 2010 di Gresik Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Jember TA 2010 di Jember 38 488 Provinsi DI Yogyakarta 489 490 1 491 1 39 492 Provinsi Jawa Timur 493 494 495 496 497 498 1 1 1 1 1 1 1 188 .Halaman 22 .d. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Kendal Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s. Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.

dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah 527 Provinsi Nusa Tenggara Barat 189 .Lampiran 56 No 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 40 41 519 Provinsi Banten 520 Provinsi Bali 521 522 523 524 525 526 42 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lumajang TA 2010 di Lumajang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Magetan TA 2010 di Magetan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi TA 2010 di Ngawi Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Pacitan TA 2010 di Pacitan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sampang TA 2010 di Sampang Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2010 di Sidoarjo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Situbondo TA 2010 di Situbondo Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sumenep TA 2010 di Sumenep Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Trenggalek TA 2010 di Trenggalek Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tuban TA 2010 di Tuban Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulungagung TA 2010 di Tulungagung Belanja Daerah Pemerintah Kota Batu TA 2010 di Batu Belanja Daerah Pemerintah Kota Kediri TA 2010 di Kediri Belanja Daerah Pemerintah Kota Madiun TA 2010 di Madiun Belanja Daerah Pemerintah Kota Malang TA 2010 di Malang Belanja Daerah Pemerintah Kota Mojokerto TA 2010 di Mojokerto Belanja Daerah Pemerintah Kota Probolinggo TA 2010 di Probolinggo Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2010 di Surabaya Pendapatan Asli Daerah (PAD) TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Banten (s.d.d. Belanja Hibah. Juli 2010) di Serang Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Badung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Buleleng di Singaraja TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Gianyar TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 Pemerintah Kabupaten Jembrana di Negara Belanja Daerah Kabupaten Karangasem TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah Kabupaten Klungkung TA 2009 dan 2010 Belanja Daerah pada Pemerintah Kabupaten Tabanan TA 2009 dan 2010 Belanja Barang dan Jasa.Halaman 23 .

dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d 31 Oktober 2010) pada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas di Kuala Kurun 529 1 530 1 531 1 43 532 Provinsi Nusa Tenggara Timur 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 44 45 547 Provinsi Kalimantan Barat 548 Provinsi Kalimantan Tengah 549 550 551 552 190 .d.Halaman 24 . 31 Oktober) pada Pemerintah Kota Mataram Pelaksanaan Pembangunan Bandara Internasional Lombok (Sumber Dana APBD Provinsi NTB TA 2007 s.d. September 2010) di Muara Teweh Belanja Modal TA 2010 (s. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s. 30 September 2010) di Buntok Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Utara TA 2010 (s. Belanja Hibah.d.Lampiran 56 No 528 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Belanja Barang dan Jasa.d. dan Belanja Bantuan Sosial TA 2010 (s.d 2010 dan Sumber Dana APBD Kabupaten Lombok Tengah TA 2008 s.d. Belanja Hibah. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat Belanja Barang dan Jasa. 31 Oktober) pada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat Belanja Barang dan Jasa.d 2010) Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Alor Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Belu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Flores Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kupang Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Lembata Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Nagekeo Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan Pendapatan Provinsi Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 di Pontianak Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah TA 2010 di Palangkaraya Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Timur TA 2010 di Barito Layang Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Barito Selatan TA 2010 (s. Belanja Hibah.

30 September 2010) di Nanga Bulik Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau TA 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan di Salakan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d. 31 Oktober 2010) di Pulang Pisau Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Seruyan TA 2010 (s. Agustus 2010) Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros TA 2009 dan 2010 (s. 30 September) pada Provinsi Sulawesi Tengah di Palu Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.d.d.d.d.d. 30 Juni 2010) di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kandangan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Barabai Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Pelaihari Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Banjarbaru di Banjarbaru Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I 2010 pada Kota Bitung Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow di Kotamobagu Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa di Tondano Pelaksanaan Belanja Daerah TA 2009 pada Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara di Rantahan Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kab Kepulauan Talaud di Melonguane Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kota Tomohon di Tomohon Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Provinsi Sulawesi Utara Belanja Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Manado Tahun 2010 pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu Kota Manado di Manado Pendapatan Asli Daerah TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) 559 Provinsi Kalimantan Selatan 560 561 562 563 564 47 565 Provinsi Sulawesi Utara 566 1 1 1 1 1 1 1 567 568 569 570 571 1 1 1 1 1 572 1 48 573 Provinsi Sulawesi Tengah 574 575 576 1 1 1 1 1 1 49 577 Provinsi Sulawesi Selatan 578 191 .d.d 30 November 2010) di Kuala Pembuang Belanja Modal pada Pemerintah Kota Palangkaraya TA 2010 di Palangkaraya Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009 dan 2010 (s.Halaman 25 . 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Sigi di Biromaru Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Selatan TA 2009 dan 2010 (s. 30 September 2010) pada Pemerintah Kabupaten Banggai di Luwuk Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 (s.Lampiran 56 No 553 554 555 556 557 558 46 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Katingan TA 2010 di Kasongan Belanja Modal TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur di Sampit Belanja Modal pada Pemerintah Kabupaten Lamandau TA 2010 (s.

d.d.. Oktober) di Soasio Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Lanny Jaya Belanja Daerah TA 2008 dan 2009 Kabupaten Nduga 584 Provinsi Sulawesi Tenggara 585 586 51 587 Provinsi Sulawesi Barat 588 589 590 52 591 Provinsi Maluku Utara 592 593 594 595 596 597 598 599 53 600 Provinsi Papua 601 XII Manajemen/Pengelolaan Aset 1 2 602 Provinsi Bengkulu 603 Provinsi Jawa Timur 1 1 1 1 295 1 1 Manajemen Aset Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo TA 2009 dan 2010 di Sidoarjo Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya TA 2009 dan 2010 di Surabaya 604 1 192 .d.Halaman 26 . Semester I) Belanja Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang TA 2009 dan 2010 (s.d.Lampiran 56 No 579 580 581 582 583 50 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Pendapatan Asli Daerah Kota Makassar TA 2009 dan 2010 (s. Semester I) Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara TA 2009 dan 2010 (s.d. September) di Kendari Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Muna TA 2009 dan 2010 di Raha Pendapatan Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Majene di Majene Belanja Daerah TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Mamuju di Mamuju Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Tobelo Pendapatan Daerah TA 2009 dan Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur di Maba Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Maluku Utara Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Weda Belanja Daerah Tahun 2009 (Semester II) dan Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo Belanja Daerah TA 2010 pada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan Semester II Tahun 2009 dan Tahun 2010 di Labuha Belanja Daerah Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 pada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai di Daruba Belanja Daerah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan TA 2010 (s. Semester I) Belanja Daerah Kota Parepare TA 2009 dan 2010 (s. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Luwu TA 2009 dan 2010 (s.d. September 2010) Belanja Daerah Kabupaten Sinjai TA 2009 dan 2010 (s.d.d. September) di Kendari Pendapatan Asli Daerah Pemerintah Kota Kendari TA 2009 dan 2010 (s.

2 627 Provinsi Sumatera Selatan 1 193 .Lampiran 56 No 3 605 Provinsi Bali Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Buleleng TA 2009 dan 2010 (sampai dengan 30 Juni 2010) di Singaraja Manajemen Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Jembrana TA 2009 dan 2010 sampai dengan 30 Juni 2010) di Negara Pengelolaan Aset Pemerintah Kota Banjarmasin Tahun 2009 dan 2010 (s. Juni 2010) di Makale Manajemen Aset/Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Luwu Utara TA 2009 dan 2010 (s.Halaman 27 . Belanja Daerah Infrastruktur Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara TA 2009 dan 2010 di Penajam Paser Utara.d 30 Juni 2010) di Banjarmasin Pengelolaan Aset Tetap TA 2009 dan 2010 pada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong di Parigi Pengelolaan Barang Milik Daerah Kabupaten Tana Toraja TA 2009 dan 2010 (s.d. Juli) pada PDAM Lematang Enim di Muara Enim. September 2010) di Masamba 606 4 5 6 607 Provinsi Kalimantan Selatan 608 Provinsi Sulawesi Tengah 609 Provinsi Sulawesi Selatan 610 1 1 1 1 1 9 XIII Belanja Daerah Bidang Infrastruktur 1 611 Provinsi Lampung 612 613 2 614 Provinsi DI Yogyakarta 615 3 616 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 1 1 1 1 Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Kalianda Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lampung Timur (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Sukadana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang (Infrastruktur Jalan dan Jembatan) TA 2010 di Menggala Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Bantul TA 2009 dan 2010 di Bantul Belanja Daerah Bidang Infrastruktur pada Pemerintah Kabupaten Kulon Progo TA 2009 dan 2010 di Wates Pelaksanaan Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Non Jalan dan Jembatan Prov.d.d. Kalimantan Barat TA 2009 dan 2010 pada Sekretariat Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kayong Utara TA 2009 dan 2010 di Sukadana Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Kubu Raya TA 2009 dan 2010 di Sungai Raya Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sambas TA 2009 dan 2010 di Sambas Pelaksanaan Belanja Daerah Infrastruktur Kabupaten Sanggau TA 2009 dan 2010 di Sanggau Belanja Daerah Bidang Infrastruktur Binamarga Pemerintah Kabupaten Nunukan TA 2009 dan 2010 di Nunukan. Belanja Infrastruktur Kabupaten Boalemo TA 2009 dan 2010 Pemeriksaan Belanja Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo TA 2009 dan 2010 Belanja Infrastruktur Kabupaten Gorontalo Utara TA 2009 dan 2010 617 618 619 620 4 621 Provinsi Kalimantan Timur 622 1 1 1 1 1 1 5 623 Provinsi Gorontalo 624 625 1 1 1 15 XIV Operasional PDAM 1 626 Provinsi Sumatera Barat 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan Daerah (Pendapatan dan Belanja Perusahaan) PDAM Kota Bukittinggi TB 2009 dan 2010 Kegiatan Operasional PDAM TB 2009 dan TB 2010 (s.

30 Juni 2010) di Polewali Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Jayapura TB 2008 dan 2009 di Sentani 4 634 Provinsi Bali 635 1 636 5 6 7 637 Provinsi Nusa Tenggara Barat 638 Provinsi Kalimantan Selatan 639 Provinsi Sulawesi Tengah 640 641 642 643 644 645 8 9 10 646 Provinsi Sulawesi Selatan 647 Provinsi Sulawesi Barat 648 Provinsi Papua 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23 XV Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas Bumi 1 649 BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP 1 Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Eks Pertamina Block pada BPMIGAS dan KKKS PT Pertamina EP serta instansi terkait di Jakarta.d. Semester I) pada PDAM Kabupaten Karangasem di Amlapura Realisasi Pendapatan.d. 1 194 .Halaman 28 .d.d.d.d.d.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 628 Provinsi Jawa Timur 629 630 631 632 633 Daftar LHP Jml 1 1 1 1 1 1 1 Objek Pemeriksaan Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Banyuwangi TA 2009 dan Semester I 2010 di Banyuwangi Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Blitar TA 2009 dan Semester I 2010 di Blitar Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Kediri TA 2009 dan Semester I 2010 di Kediri Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Madiun TA 2009 dan Semester I 2010 di Madiun Kegiatan Operasional PDAM Kabupaten Mojokerto TA 2009 dan Semester I 2010 di Mojokerto Kegiatan Operasional PDAM Kota Pasuruan TA 2009 dan Semester I 2010 di Pasuruan Realisasi Pendapatan. Semester I) Operasional PDAM Kabupaten Polewali Mandar TB 2009 dan TB 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Buol di Buol Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Poso di Poso Operasional PDAM UE Tanah Tahun 2009 dan 2010 (s. 30 Juni) pada Kabupaten Banggai di Luwuk Operasional PDAM Motanang Tahun 2009 dan 2010 (s. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s. Agustus) Operasional PDAM Intan Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan TB 2009 dan 2010 (s.d.d. Biaya dan Investasi TB 2009 dan 2010 (s.d. serta instansi lain yang terkait di Jakarta dan Natuna 2 650 BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. Semester I) pada PDAM Kabupaten Buleleng di Singaraja Realisasi Pendapatan. Juni) Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni) pada Kabupaten Donggala di Banawa Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Prabumulih dan Cirebon Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Tahun 2009 Wilayah Kerja Kakap pada BPMIGAS dan KKKS Star Energy (Kakap) Ltd. 30 Juni) pada Kabupaten Tolitoli di Tolitoli Pendapatan dan Belanja PDAM Kota Makassar TB 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni) pada Kabupaten Morowali di Kolonodale Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s. Semester I) pada PDAM Kota Denpasar di Denpasar Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Oleh PDAM Menang Mataran TB 2009 dan 2010 (s.d. 30 Juni) pada Kabupaten Tojo Una-una di Ampara Operasional PDAM Tahun 2009 dan 2010 (s.d.

Pengendalian Biaya. Palembang. Unit Pemasaran BBM Retail Region I s. dan Kupang 2 653 PT Pertamina (Persero) 654 1 1 3 655 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) 1 4 656 PT Kereta Api (Persero) 1 5 657 PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) 1 6 XVII Operasional BUMN 1 658 PT (Persero) Angkasa Pura II 1 Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu pada PT (Persero) Angkasa Pura II TA 2006 dan 2007 di Tangerang. Biaya dan Investasi TB 2008.d.d.d. VII dan Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I s.d. IV di Medan. Triwulan III) pada BTDC Kegiatan Pengadaan. 2009 dan 2010 (Triwulan I) pada PT Kimia Farma (Persero) Tbk.Lampiran 56 No 3 Nama Entitas 651 BPMIGAS dan KKKS JOB Pertamina .d.d. Jakarta.Halaman 29 . Penjualan dan Investasi TB (TB) 2008. Produksi. 2009 pada Bank Indonesia Tambahan Penggantian biaya Subsidi BBM TB 2003 s. Kerja Tuban Tahun 2009 pada BP Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Kontraktor KKKS JOB Pertamina Petrochina East Java di Jakarta dan Surabaya 3 XVI Subsidi Pemerintah 1 652 Bank Indonesia 1 Subsidi Bunga Kredit Program yang Ditagihkan oleh Bank Indonesia Kepada Pemerintah Untuk TA 2007 s. Semarang. Surabaya. (PT KF) dan Anak Perusahaan yaitu PT Kimia Farma Trading dan Distribution (PT KFTD) Pengelolaan Pendapatan.d. Jakarta. Pengendalian Biaya dan Kerjasama Operasi TB 2007. Pengendalian Biaya dan Kegiatan Investasi Tahun 2007. 2009 dan Semester I 2010 pada PT Pengembangan Investasi Riau di Pekanbaru 195 .Petrochina East Java Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Perhitungan Cost Recovery Minyak dan Gas Bumi Wil. Yogyakarta. Medan dan Padang Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu PT Adhi Karya (Persero) Tbk TB 2008 dan 2009 (s. Jakarta. Medan. dan Surabaya Kewajiban Pelayanan Umum Bidang Angkatan Laut Penumpang Kelas Ekonomi dalam Negeri TA 2009 pada PT Pelayaran Nasional Indonesia di Jakarta. Denpasar dan Makassar Pengelolaan Pendapatan. Balikpapan. dan Investasi TB 2008 dan 2009 (s. 2008 dan 2009 (s. Balikpapan. Semester I) pada PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang 2 659 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 1 3 660 Bali Tourism Development Corporation 1 4 661 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 1 5 662 PT Nindya Karya (Persero) 1 6 663 PT Pupuk Kalimantan Timur (Persero) 1 6 XVIII Operasional BUMD 1 2 664 Provinsi Sumatera Utara 665 Provinsi Riau 1 1 Pelaksanaan Kegiatan Perusahaan TB 2009 dan 2010 pada PT Perkebunan Sumatera Utara di Medan Pengelolaan Pendapatan. Semarang. Triwulan III) di Jakarta. 2008. 2005 pada PT Pertamina (Persero) di Jakarta Subsidi Jenis BBM Tertentu tahun 2009 pada PT Pertamina (Persero) Kantor Pusat. dan Makasar Perhitungan Subsidi Pupuk Produksi PT Pupuk Iskandar Muda yang Disalurkan PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) TA 2009 pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) dan PT Pupuk Iskandar Muda di Jakarta dan Lhokseumawe Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum Angkutan Penumpang Kereta Api Kelas Ekonomi (PSO) TA 2009 pada PT Kereta Api Indonesia di Bandung. Dan 2009 (Semester I) pada PT Nindya Karya (Persero) Kegiatan Pengelolaan Pendapatan. Surabaya.

Jambi.d. Semester 1 2010) di Ranai Kegiatan Operasional PT Jatim Grha Utama TB 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Kegiatan Operasional PD Pasar Surya TA 2009 dan Semester I 2010 di Surabaya Perusahaan Daerah Aneka Usaha Prov. Ryacudu Pendapatan dan Belanja RSUD Prof. Riau. Batanghari dan 45 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan Serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bulian Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. Pekanbaru. 2009 dan Semester I 2010 pada PD Sarana Pembangunan Siak di Siak Sri Indrapura Pelaksanaan Perjanjian Kerja sama Kontrak antara Pemerintah Provinsi Jambi dengan PT Jambisapta ManunggalPratama dalam Pembangunan dan Pengelolaan Jambi Tepian Ratu Reverview Hotel dan Resort Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Karimun TB 2009 dan 2010 (s. Bagi Hasil. Sumbar. Bagi Hasil. Johannes di Kabupaten Kupang 681 1 682 1 683 1 684 1 196 .d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Padang. PNBP. Tebo dan 27 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.Z.M. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Tebo Kegiatan Operasional RSUD TA 2009 dan 2010 pada RSUD Dr. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP.Lampiran 56 No 666 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pendapatan. Semester 1 TA 2010 pada Kementerian ESDM 13 Pemerintah Kab/ Kota di Prov.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Jambi.Halaman 30 . Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester 1 2010) di Tanjung Balai Karimun Pendapatan dan Biaya Perusahaan Daerah Natuna TB 2009 dan 2010 (s. H. Bungo dan 58 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. 2009 dan 2010 (Semester I) di Masohi 3 667 Provinsi Jambi 1 4 668 Provinsi Kepulauan Riau 1 669 5 670 Provinsi Jawa Timur 671 6 7 8 672 Provinsi Kalimantan Barat 673 Provinsi Kalimantan Timur 674 Provinsi Maluku 1 1 1 1 1 1 11 XIX Operasional RSUD 1 2 3 675 Provinsi Sumatera Utara 676 Provinsi Sumatera Barat 677 Provinsi Lampung 678 4 679 Provinsi Nusa Tenggara Timur 1 1 1 1 1 5 XX Pengelolaan Pertambangan Batu Bara 1 680 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Pengelolaan Pertambangan Batubara TA 2008 s. Biaya dan Investasi Tahun Buku 2008.d. Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Kegiatan Operasional Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya Tahun 2009 dan 2010 di Provinsi Samarinda. Operasional PD Praja Karya Kabupaten Maluku Tengah TB 2008. Bagi Hasil. Semester I TA 2010 pada Pemerintah Kab. Sarolangun dan 62 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.d. Adnaan WD TA 2009 dan 2010 di Payakumbuh Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD DR. PNBP. Kaltim. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Dr W. Banjarmasin dan Samarinda Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perijinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.. Pirngadi Medan di Medan Kegiatan Operasional RSUD Dr.d. Kalsel. serta Instansi Terkait Lainnya di Muara Bungo Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Abdul Moeloek di Bandar Lampung Pendapatan dan Belanja TA 2009 dan 2010 pada RSUD Mayjen. Bagi Hasil. 11 Kontrak PKB2B dan 549 Pemegang Kuasa Pertambangan/ Izin Usaha Pertambangan di Jakarta.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Sarolangun Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. H.

d. Sawah Lunto dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Indragiri Hilir dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Tanah Laut Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. Juni 2010) di Beran Pengelolaan Non Performing Loan (NPL) dan Pembagian Laba Untuk dana Peduli Sosial Kemasyarakatan PT.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. Bank NTB TB 2009 dan Semester I 2010 197 . Kutai Kartanegara dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. PNBP. serta Instansi Terkait Lainnya di Tembilahan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP.d. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. serta Instansi Terkait Lainnya di Batulicin Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP.d.d. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil.d. serta Instansi Terkait Lainnya di Tenggarong Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. serta Instansi Terkait Lainnya di Muaro Sjunjung Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s.Halaman 31 .d. Bagi Hasil.d. Bagi Hasil. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. PNBP. Sijunjung dan 21 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. Kuantan Singingi dan 9 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil. Tanah Bumbu Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.d.d. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab. Bagi Hasil. serta Instansi Terkait Lainnya di Rengat Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. serta Instansi Terkait Lainnya di Tanjung Redeb Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. BPR Bank Bantul TB 2009 dan 2010 (s. Bagi Hasil. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Juni 2010) di Bantul Operasional Bank pada PD. Bagi Hasil. dan Instansi Terkait Lainnya di Pelaihari Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. PNBP. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. serta Instansi Terkait Lainnya di Sawah Lunto Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.d. Indragiri Hulu dan 20 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan. BPR Bank Sleman Tahun Buku 2009 dan 2010 (s. serta Instansi Terkait Lainnya di Teluk Kuantan 686 1 687 1 688 1 689 1 690 1 691 1 692 1 693 1 14 XXI Operasional Bank Daerah 1 2 3 694 Provinsi Sumatera Barat 695 Provinsi Jambi 696 Provinsi Jawa Tengah 697 Provinsi DI Yogyakarta 698 4 699 Provinsi Nusa Tenggara Barat 1 1 1 1 1 1 Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat TB 2009 dan 2010 Operasional PD BPR Tanggo Rajo TA 2009 dan Semester I TA 2010 di Kuala Tungkal Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) TB 2009 dan 2010 di Semarang Operasional Bank pada PD. Semester I Tahun 2010 pada Pemkab.Lampiran 56 No 685 Nama Entitas Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan Pertambangan Batu Bara (Perizinan. dan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan) TA 2008 s. Berau dan 12 Pemegang Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan.

06) TA 2009 pada Kementerian Sosial di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur TB 2009 dan 2010 (Operasional) Operasional PT.06 TA 2009 pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta Laporan Hasil Pemeriksaan atas Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Buol. Tolitoli dan Parigi Moutong 8 703 Provinsi Sulawesi Tengah 1 10 XXII PDTT Lainnya 1 2 704 Kementerian Keuangan 705 Kementerian Pekerjaan Umum 1 1 Dana Bagi Hasil Tahun 2009 dan 2010 (Semester I) pada Kementerian Keuangan Amblasnya Sisi Utara Jalan R.d 30 September 2010 pada PT Bank Sulteng dan Kantor Cabang di Palu. Bank Indonesia. Semester I) di Palangkaraya Kegiatan Operasional TB 2009 dan 2010 (s.06) TA 2009 pada Badan Pertanahan Nasional di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.d 30 september 2010) pada PT Bank Sulut Serta Instansi Terkait Lainnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo Operasional Bank Tahun 2009 dan 2010 (s.06 TA 2009 pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Lembaga Administrasi Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.Lampiran 56 No 5 6 7 Nama Entitas 700 Provinsi Nusa Tenggara Timur 701 Provinsi Kalimantan Tengah 702 Provinsi Sulawesi Utara Daftar LHP Jml 1 1 1 Objek Pemeriksaan PT.06) TA 2009 pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.Halaman 32 .06 TA 2009 pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta 4 706 Bank Indonesia 1 5 6 707 Kementerian Keuangan 708 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1 1 7 709 Kementerian Sosial 1 8 710 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 9 711 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 1 10 712 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 1 11 713 Badan Pertanahan Nasional 1 12 714 Kementerian Komunikasi dan Informatika 1 13 715 Lembaga Administrasi Negara 1 14 716 Badan Kepegawaian Negara 1 15 717 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 1 16 718 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 1 198 . Bank Kalimantan Tengah TB 2009-2010 (s.42 M2 pada Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta Penelitian Atas Tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) Tahun Penyediaan (TP) 1998/1999 Pola Channeling Dalam Rangka Risk Sharing Antara Pemerintah.06) TA 2009 pada Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Luwuk. Martadinata Seluas 653.06 TA 2009 pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Poso.06 TA 2009 pada Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06 TA 2009 pada Badan Kepegawaian Negara di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999. dan Perum Jamkrindo Pengelolaan Belanja Subsidi Tahun 2009 dan Belanja LainLain Tahun 2009 dan Semester I Tahun 2010 Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.d.E.

06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP TVRI Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999. 2009 pada PT Pertamina (Persero). Serang. dan Bekasi 18 720 Kementerian Perumahan Rakyat 1 19 721 Kementerian Pemuda dan Olah Raga 1 20 722 Badan Nasional Penanggulangan Bencana 1 21 22 23 723 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia 724 Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia 725 Provinsi Jambi 1 1 1 24 726 Provinsi Bengkulu 1 25 26 727 Provinsi Riau 728 Provinsi Kalimantan Barat 1 1 27 28 729 Provinsi Gorontalo 730 Provinsi Aceh 1 1 29 731 Provinsi Maluku Utara 1 732 1 30 733 PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) 1 31 734 PT Pertamina (Persero).INO (SF) and Grant 0024-INO STAR . 2008 dan 2009 (Semester I) pada PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) di Makassar dan Jakarta Kegiatan Pengadaan Paket Tabung LPG 3Kg Tahun 2007 s.d. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM 1 31 Jumlah LHP DTT Total LHP 428 734 199 . Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Instansi Terkait Lainnya Pengelolaan PFK Kabupaten Bone Bolango Tahun 2007 s. 2009 Pertanggungjawaban Pelaksanaan Loan Agreement No. Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan SDM di Jakarta.SDP TA 2009 pada Inspektorat Provinsi Aceh di Banda Aceh Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Provinsi Maluku Utara Penggunaan Dana STAR-SDP pada Inspektorat Daerah untuk periode yang berakhir tgl 31 Des 2009 di Kab Halmahera Tengah Kerjasama dengan Pihak Ketiga dan Pengadaan Barang dan Jasa TB 2007. Loan 2127 .d.06 TA 2009 pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Semarang.06) TA 2009 pada Kementerian Perumahan Rakyat di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999.Lampiran 56 No 17 Nama Entitas 719 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Daftar LHP Jml 1 Objek Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Bagian Anggaran 999.06) TA 2009 pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Bagian Anggaran 999.06) TA 2009 pada Kementerian Pemuda dan Olah Raga di Jakarta Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain (BA 999. Surabaya.06 TA 2009 dan semester I Tahun 2010 pada LPP RRI Program Swasembada Pangan dan Pengelolaan Saluran Irigasi Tersier pada Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi TA 2008 dan 2009 di Sengeti Pengelolaan dan PertanggungJawaban Keuangan dalam Pelaksanaan MTQN XXIII TA 2010 pada Pemerintah Provinsi Bengkulu Pengelolaan Kas pada Bendahara Pengeluaran Sekretariat Kota Pekanbaru TA 2009 dan 2010 di Pekanbaru Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Daerah SeKalimantan Barat untuk Pendirian dan Pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada Universitas Tanjungpura.Halaman 33 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful