P. 1
Lelang BARANG

Lelang BARANG

|Views: 1,650|Likes:
Published by Nina Prasetyo

More info:

Published by: Nina Prasetyo on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

LELANG BARANG MILIK NEGARA/DAERAH

I.

Latar Belakang Hakekat Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) merupakan salah satu unsur penting penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka Negara Kestuan Republik Indonesia (NKRI) untuk mencapai cita-cita dan tujuan berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, pengelolaan BMN/D perlu dilakukan dengan mendasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menjamin tercapainya cita-cita dan tujuan dimaksud. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mengamanatkan pengelolaan BMN dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah1 yang saat ini berlaku yaitu PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Barang milik negara/daerah meliputi : a. b. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/D; atau barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, yang meliputi :  barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;  barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;  barang yang diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau  barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Adapun pokok-pokok pengaturan pengelolaan BMN sesuai Undang-undang dimaksud meliputi hal-hal antara lain adalah tentang pemanfaatan maupun pemindahtanganan BMN/D. BMN/D dapat dimanfaatkan atau dipindahtangankan apabila tidak digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah.2 Dalam konteks pemanfaatan tidak terjadi adanya peralihan kepemilikan dari pemerintah kepada pihak lain. Sedangkan dalam konteks pemindahtanganan akan terjadi peralihan kepemilikan atas BMN/D dari pemerintah kepada pihak lain. Pemindahtanganan BMN/D merupakan tindak lanjut atas penghapusan BMN/D itu sendiri.

                                                            
1 2

 Pasal 48 Ayat (2) dan Pasal 49 Ayat (6) UU Nomor 1 Tahun 2004.   Penjelasan Umum Angka 2 Huruf h PP Nomor 6 Tahun 2006. 


Sie Infokum – Ditama Binbangkum 

Adapun salah satu bentuk pemindahtanganan BMN/D tersebut adalah melalui Penjualan BMN/D.3 Penjualan BMN/D pada prinsipnya dilakukan dengan cara lelang, kecuali dalam hal-hal tertentu yang pengaturan lebih lanjut diatur dalam peraturan pemerintah.4 Dalam penulisan ini akan dibahas lebih jauh tentang salah satu bentuk pemindahtanganan BMN/D sebagai tindak lanjut atas penghapusan BMN/D yaitu melalui proses penjualan dengan cara Lelang. II. Permasalahan 1. Apa yang dimaksud dengan Lelang? 2. Kapan dilakukan Lelang Barang Milik Negara/Daerah? 3. Bagaimanakah pelaksanaan lelang Barang Milik Negara/Daerah?

III.

Pembahasan Sekilas Tentang Lelang 1. Sejarah Singkat Lelang di Indonesia Lelang menurut sejarahnya berasal dari bahasa latin “auctio” yang berarti peningkatan harga secara bertahap. Para ahli menemukan di dalam literature Yunani bahwa lelang telah dikenal sejak 450 tahun sebelum masehi. Di Indonesia, lelang secara resmi masuk dalam perundang-undangan sejak tahun 1908, yaitu dengan berlakunya Vendu Reglement, Stbl. 1908 Nomor 189 dan Vendu Instructie, Stbl. 1908 Nomor 190. Peraturan dasar lelang ini masih berlaku hingga saat ini dan menjadi dasar hukum penyelenggaraan lelang di Indonesia. Dalam sistem perundang-undangan Indonesia, lelang digolongkan sebagai suatu cara penjualan khusus yang prosedurnya berbeda dengan jual beli pada umumnya. Oleh karenanya cara penjualan lelang diatur dalam undang-undang tersendiri yang sifatnya Lex Spesialis. Kekhususan (spesialisasi) lelang ini tampak antara lain pada sifatnya yang transparan/keterbukaan dengan pembentukan harga yang kompetitif dan adanya ketentuan yang mengharuskan pelaksanaan lelang itu dipimpin oleh seorang Pejabat Umum, yaitu Pejabat Lelang yang mandiri. Perkembangan hukum belakangan ini seperti Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, Undang-Undang Perpajakan dan Undang-Undang

                                                            
3 4

 Pasal 48 UU No. 1 Tahun 2004   Pasal 48 UU No. 1 Tahun 2004 


Sie Infokum – Ditama Binbangkum 

 2003. Memborongkan pekerjaan. 3. atau diijinkan untuk ikut serta dan diberi kesempatan untuk menawar harga. Memberikan barang untuk dijual dengan jalan lelang. Hal ini jelas menunjukkan bahwa meskipun sistim lelang yang diatur dalam Vendu Reglement termasuk salah satu peraturan lama warisan Belanda. Hukum Lelang Negara Di Indonesia. 1 Vendu Reglement Stbl. serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan membuktikan ekspektasi masyarakat dan pemerintah yang semakin besar terhadap lelang. Menjual dengan jalan lelang. Pustaka Bangsa.6 Lelang adalah penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau calon pembeli. hal. 2. Pengertian Lelang a.   Teks Asli Art. tetapi meliputi juga pemborongan pekerjaan. 3.. Mantayborbir.5 b. menyetujui harga yang ditawarkan atau memasukkan harga dalam sampul tertutup. Sedangkan yang dimaksud melelangkan atau memperlelangkan adalah : 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia Lelang adalah penjualan dihadapan orang banyak (dengan tawaran yang atas mengatas) dipimpin oleh Pejabat Lelang.7 Sedangkan PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah mendefenisikan “lelang” sebagai berikut :                                                              5 6  S.  3  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  .  7  Pasal 1 sub 17 UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang‐Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan  Pajak Dengan Surat Paksa. 1908‐189. Peraturan Perundang-Undangan Lelang adalah “Penjualan Umum”. 2.Kepailitan. atau kepada orang-orang yang diundang atau sebelumnya diberitahu mengenai pelelangan atau penjualan itu. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian lelang tidak dibatasi pada penjualan barang-barang saja. sistim dan konsep dasarnya sebenarnya cukup baik dalam mendukung sistim hukum saat ini. Jakarta. yaitu pelelangan atau penjualan barangbarang yang dilakukan kepada umum dengan harga penawaran yang meningkat atau menurun atau dengan pemasukkan harga dalam sampul tertutup.

disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemborongan pekerjaan adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu. Tetapi Vendu Reglement merupakan peraturan lelang yang tertinggi                                                               Penjelasan Pasal 51 Ayat (2) PP Nomor 6 Tahun 2006. Lelang didefinisikan sebagai berikut : “Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pengumuman lelang”. pelaksanaan perjanjian jasa pemborongan dilakukan berdasarkan prinsip persaingan sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan pelelangan umum atau terbatas. Pradnya Paramita.  10  Subekti.  12  Pasal 1 Angka 24 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Ketentuan mengenai perjanjian pemborongan telah diatur dalam Pasal 1601 b Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Meskipun Vendu Reglement adalah peraturan setingkat Peraturan Pemerintah.  11  Pasal 1 Angka 23 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Vendu Reglement Vendu Reglement lahir pada tahun 1908.   Pasal 1 Angka 1 PMK Nomor 40/PMK. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.06/2007  tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang.9 Sedangkan. Kitab Undang‐Undang Hukum Perdata. (Jakarta. mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan bagi pihak lain. R dan Tjitrosudibio.11 Sedangkan Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi untuk Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. Pelelangan Umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi syarat.10 Istilah “Jasa Pemborongan” digunakan dalam Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan telah diganti dengan istilah “Pekerjaan Konstruksi” dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2010 agar sejalan dengan International Best Practice.8 Sedangkan dalam Petunjuk Pelaksanaan Lelang. hal 391. pihak yang memborongkan.“ Lelang adalah penjualan barang milik negara/daerah dihadapan pejabat lelang”. si pemborong.1999).  9 8 4  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  .07/2006 sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor 150/PMK. dengan menerima suatu harga yang ditentukan.12 3. terkait dengan pemborongan pekerjaan dalam praktek pada umumnya. dimana pada saat itu belum ada Volksraad (DPR).

Dasar Hukum Lelang Secara garis besar.  Pada Tahun 2000 BUPLN berubah menjadi DJPLN (Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara) dan Pada Tahun 2001 Kantor Lelang Negara dan Kantor Pelayanan Piutang Negara meleburkan diri menjadi Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN). Vendu Reglement diberlakukan untuk memperbesar penerimaan dari sektor pajak lelang. a. Oleh karena itu tidak salah jika VR disebut sebagai Undang-Undang Lelang. Selain itu juga untuk melindungi kepentingan para Pejabat Belanda yang pindah dari Hindia Belanda untuk menjual aset-asetnya. lelang berada dibawah kewenangan Director Van Financien (Menkeu). Pada Tahun 1970 Kantor Lelang Negeri berubah nama menjadi Kantor Lelang Negara. Proses yang hampir sama juga dialami oleh HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement/Reglemen Indonesia yang diperbaharui) dimana peraturan ini dianggap sebagai “Undang-Undang” Hukum Acara di pengadilan Indonesia hingga saat ini. Pada Tahun 1990 Kantor Lelang Negara di integrasikan dengan Badan Urusan Piutang Negara (BUPN) dan Pada Tahun 1991 BUPN berubah nama menjadi Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).  Pada masa pemerintahan Hindia Belanda. kantor lelang disebut Kantor Inspeksi Lelang sedangkan di Operasionalnya di sebut Kantor Lelang Negeri. 1927 Nomor 227 Pasal 206 – 228. Hal ini berlanjut setelah era kemerdekaan RI.hingga saat ini.    Pada Tahun 1960 lelang berada dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Pajak. Pada masa itu di tingkat Pusat. yaitu : 1. 5  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . 1149 (1). dasar hukum lelang dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian. 4. 1139 (1).  Pada Tahun 2006 DJPLN berubah menjadi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dan kantor operasionalnya berubah nama menjadi Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). 395. 1874/23 antara lain Pasal 389. b. Ketentuan Umum Dikatakan ketentuan umum karena peraturan perundang-undangannya tidak secara khusus mengatur tentang tata cara/prosedur lelang. Reglement op de Burgelijk Rechtsvordering/RBG (Reglement Hukum Acara Perdata Untuk Daerah di Luar Jawa dan Madura) Stbl. Burgelijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Stbl.

d.1 Pasal 195 – 208. c. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1970 tentang Penjualan dan atau Pemindahtanganan Barang-Barang Yang Dimiliki /Dikuasai Negara. Selain itu lelang juga digunakan oleh aparatur negara dalam rangka pengelolaan BMN/D dan/atau Kekayaan Negara yang dipisahkan sesuai ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1970 tentang Penjualan dan atau Pemindahtanganan Barang-Barang Yang Dimiliki /Dikuasai Negara. 1908 Nomor 189 yang terdiri dari 49 Pasal. Vendu Instructie (Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Lelang) Stbl. Penjual/pemilik barang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Vendu Reglement (Undang-Undang Lelang) Stbl. 1908 Nomor 190 yang terdiri dari 62 Pasal. 1941 Nomor 44 a. Subjek dan Objek Lelang  Subjek Lelang : 1. b. Lelang juga digunakan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Ketentuan Khusus.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. PMK Nomor 93 /PMK.c. dan fungsi publik yang tercermin pada saat digunakan oleh Aparatur Negara untuk menjalankan tugas umum pemerintahan dibidang penegakan hukum dan pelaksanaan undang-undang sesuai ketentuan yang diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. yaitu peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur tentang tata cara dan prosedur lelang. 2. a. Herziene Inlandsch Reglement/HIR atau Reglement Indonesia yang diperbaharui/RIB Stbl. Fungsi Lelang Lelang mempunyai 2 (dua) fungsi yaitu fungsi privat yang tercermin pada saat digunakan oleh masyarakat yang secara sukarela memilih menjual barang miliknya secara lelang untuk memperoleh harga yang optimal. dimana aparatur yang ditunjuk sebagai Pejabat Pengadaan/Panitia Pengadaan merupakan personil yang bertugas untuk melaksanakan pengadaan barang dan jasa khususnya pengadaan melalui penyedia barang/jasa yang harus memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang dan jasa. 6  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . 6. 5.

Selain pelelangan dalam Keppres dikenal juga adanya Seleksi/Pemilihan langsung dan Penunjukan langsung. pelelangan terbatas dan pelelangan sederhana. oleh karenanya penyerapan anggaran melalui pengadaan barang dan jasa ini menjadi sangat penting. Pejabat lelang. Sedangkan dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2010 yang merupakan peraturan pengganti dari Keppres Nomor 80 Tahun 2003 dikenal adanya pelelangan umum. Pemenang Lelang.   Pasal 1 Angka 1 Perpres Nomor 54 Tahun 2010. Selain itu dalam Perpres tersebut dikenal bermacam-macam metoda yang dapat digunakan dalam pengadaan barang dan jasa selain metoda                                                              13 14  Pasal 1 Angka 12 Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. memiliki nilai dan dapat menjadi objek hak milik. dan 5. 4.  7  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . Hal ini dikarenakan pengadaan barang dalam pelelangan dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/D) sehingga sangat riskan untuk terjadinya suatu tindakan yang dapat merugikan negara.13 3. Pelelangan dalam pengadaan barang dan jasa dilaksanakan untuk kepentingan pemerintah yang merupakan salah satu alat untuk menggerakkan roda perekonomian.  Objek Lelang : Seluruh benda/barang yang memiliki sifat kebendaan. Penyedia barang dan jasa yaitu badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya. Dalam Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dikenal 2 (dua) jenis pelelangan yang digunakan yaitu Pelelangan Umum dan Pelalangan Terbatas.14 Untuk memperoleh barang/jasa tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang salah satunya adalah melalui pelelangan. Lelang Dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan Kerja untuk memperoleh Barang/Jasa lainnya oleh yang Kementerian/Lembaga/Satuan Perangkat Daerah/Institusi prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. Peserta Lelang. Untuk menentukan metode pelelangan tersebut ditentukan dari besar kecilnya nilai proyek atau sifat dari pekerjaan proyek itu sendiri. 7.2.

Menurut Perpres Nomor 54 Tahun 2010. Kontes. Sayembara.  8  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  .21 Ketentuan ini kemudian menjadi dasar dari kompetensi absolut (monopoli lelang) dalam arti kewenangan mutlak untuk melaksanakan lelang hanya ada pada Pejabat Lelang.16 Sedangkan. yang dimaksud dengan pelelangan umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi syarat.000. dan/atau melaksanakan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.15 Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi untuk Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. Jenis Lelang di Indonesia  Lelang Eksekusi : lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan pengadilan.  21  Pasal 1a Vendu Reglement jo Pasal 25 Ayat (1) KMK Nomor 304/KMK. Lelang  Noneksekusi  Sukarela  adalah  lelang  atas  barang  milik  swasta. Kewenangan Melakukan Pelelangan Berdasarkan ketentuan yang berlaku ditentukan bahwa setiap penjualan dimuka umum harus diadakan dihadapan Pejabat Lelang. dokumen-dokumen lain yang dipersamakan dengan itu. Lelang Noneksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan penjualan barang yang oleh peraturan perundang-undangan diharuskan dijual secara lelang.06/2010. Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp200.06/2010.   Pasal 1 Angka 6 PMK Nomor 93/PMK.  17  Pasal 1 Angka 25 Perpres Nomor 54 Tahun 2010.20    9.  18  Pasal 1 Angka 4 PMK Nomor 93/PMK.  19 20  Pasal 1 Angka 5 PMK Nomor 93/PMK. Seleksi Sederhana.   Pasal 1 Angka 24 Perpres Nomor 54 Tahun 2010.06/2010.17 8.18  Lelang Non Eksekusi : 1.01/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang. kecuali untuk hal-hal tertentu yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.Seleksi/Pemilihan langsung dan Penunjukan langsung yaitu metoda Seleksi Umum.                                                              15 16  Pasal 1 Angka 23 Perpres Nomor 54 Tahun 2010.00 (dua ratus juta rupiah).  orang  atau  badan hukum/badan usaha yang dilelang secara sukarela.000. dan Pengadaan Langsung.19  2.

Peraturan Pemerintah tersebut merupakan peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara. penggunaan. penilaian. Atas dasar pengertian tersebut lingkup BMN/D disamping berasal dari pembelian atau perolehan atas beban APBN/D juga berasal dari perolehan lainnya yang sah. pengamanan dan pemeliharaan. yang antara lain didasarkan pada pertimbangan perlunya penyesuaian terhadap siklus perbendaharaan.22 Ruang lingkup BMN/D dalam Peraturan Pemerintah ini mengacu pada pengertian BMN/D berdasarkan rumusan dalam Pasal 1 angka 10 dan angka 11 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. pengadaan. Dengan dikeluarkannya PP tersebut telah menandai terjadinya perubahan paradigma baru dalam pengelolaan barang milik negara/aset Negara. penghapusan. dan transparan kedepannya. Sie Informasi Hukum‐Ditama Binbangkum. diperoleh sebagai pelaksanaan perjanjian/kontrak. pembinaan. pengawasan dan pengendalian.24 Pengelolaan BMN/D dalam Peraturan Pemerintah ini. penatausahaan. diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang dan diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran. dimana PP tersebut telah memunculkan optimisme baru best practices dalam penataan dan pengelolaan aset negara yang lebih tertib. dan c. b. akuntabel.25                                                              22 23 24  Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan/sejenisnya.Sekilas Tentang BMN/D Di Indonesia pengelolaan BMN/D diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. 23 Pengaturan mengenai lingkup BMN/D dalam Peraturan Pemerintah ini dibatasi pada pengertian BMN/D yang bersifat berwujud (tangible) sebagaimana dimaksud dalam Bab VII Pasal 42 sampai dengan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. pemanfaatan. BMN/D yang berasal dari perolehan lainnya yang sah selanjutnya dalam PP ini diperjelas lingkupnya yang meliputi : a.   Pasal 2 Ayat (2) PP Nomor 6 Tahun 2006   Penjelasan Umum PP Nomor 6 Tahun 2006  25  Penjelasan Pasal 49 ayat (6) UU Nomor  1 Tahun 2004  9  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . pemindahtanganan. Lingkup pengelolaan BMN/D tersebut merupakan siklus logistik yang lebih terinci sebagai penjabaran dari siklus logistik sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004.

                                                              Pasal 4 Ayat (1) PP Nomor 6 Tahun 2006   Pasal 5 Ayat (1) PP Nomor 6 Tahun 2006  28  Pasal 6 Ayat (1) PP Nomor 6 Tahun 2006  10  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . Lelang merupakan salah satu cara penjualan BMN dalam mata rantai siklus pengelolaan barang milik negara/daerah (asset management cycle). Lelang Barang Milik Negara/Daerah Berdasarkan Pasal 48 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara secara tegas disebutkan penjualan BMN/D prinsipnya dilakukan dengan cara lelang. Pelaksanaan perjanjian/ kontrak.26 Pemegang kekuasaan pengelolaan BMD adalah Gubernur/Bupati/Walikota.Pengelola BMN/D adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan BMN/D. Dasar Hukum Lelang Penghapusan BMN/D Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Barang Milik Negara (BMN) adalah semua barang yang dibeli/diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau berasal dari perolehan lain yang sah. tidak terbatas hanya yang ada pada kementerian/lembaga. Pejabat Pengelolaan BMN adalah Menteri Keuangan. A. 2. BMN dimaksud dapat berada di semua tempat. Sedangkan terhadap BMN/D yang statusnya sudah ditetapkan menjadi kekayaan negara yang dipisahkan diatur secara terpisah dari ketentuan ini. berdasarkan putusan pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum tetap. berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. namun juga yang berada pada Perusahaan Negara dan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) atau bentuk-bentuk kelembagaan lainnya yang belum ditetapkan statusnya menjadi kekayaan negara yang dipisahkan. Berdasarkan Pasal 2 PP Nomor 6 Tahun 2006 jo PP Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D). yaitu :     26 27 hibah/sumbangan atau yg sejenis.27 Menteri/pimpinan 28 lembaga selaku pimpinan kementerian negara/lembaga adalah pengguna BMN. Barang Milik Negara/Daerah adalah :  Barang yang dibeli/diperoleh atas beban APBN  Barang Barang yang berasal dari perolehan lainnya yg sah. kecuali dalam hal-hal tertentu yang pengaturan lebih lanjut diatur dalam peraturan pemerintah.

tindak pidananya dipandang sebagai pelanggaran”. 3.Dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 1970 tentang Penjualan dan atau Pemindahtanganan Barang-Barang Yang Dimiliki/Dikuasai Negara. yaitu a. Sanksi pembatalan lelang berdasarkan SK Menkeu Nomor 534/MK/II/1970 tentang Pemberian Kuasa Kepada Kepala Kantor Lelang Untuk Menuntut Pembatalan Atas Penjualan Dibawah Tangan Dari Barang-Barang Yang Dimiliki/Dikuasai. hanya dapat dibenarkan setelah mendapat izin terlebih dahulu dari Menteri Keuangan.  VR Pasal 1a Ayat (3) : “Barangsiapa berbuat bertentangan dengan ketentuan pasal ini. ketentuan-ketentuan atau dalam Instruksi lainnya administratif sanksi-sanksi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1940 Nomor 56). semua Menteri. 2. Para Pimpinan Perusahaan Negara/Daerah dan Para Pimpinan Badan Usaha Negara Semi Pemerintah tersebut diminta untuk : 1. Yayasan milik Pemerintah. Stbl. Perusahaan 4. akan didenda sebanyak-banyaknya sepuluh ribu gulden. Sanksi denda berdasarkan Pasal 1a ayat 3 VR jo. Penjualan dan atau pemindahtangan barang-barang yang dimiliki/dikuasai negara yang tidak dilakukan secara lelang melalui Kantor Lelang (sekarang KPKNL). Semua Badan Pemerintah atau Semi Pemerintah. 11  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . Perpu Nomor 18 Tahun 1960 tentang Perubahan Jumlah Hukuman Denda Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana Dan Dalam Ketentuan Ketentuan Pidana Lainnya Yang Dikeluarkan Sebelum Tanggal 17 Agustus 1945.  Kepala Kantor Lelang (sekarang KPKNL) selaku kuasa Menteri Keuangan dapat menuntut pembatalan melalui Pengadilan Negeri untuk setiap penjualan yang menyimpang dari Inpres Nomor 9 Tahun 1970. Melaksanakan penjualan dan atau pemindahtanganan barang-barang yang dimiliki/dikuasai Negara berdasarkan peraturan lelang negara (Vendu Reglement Stbl. terhadap tindakan Perusahaan Milik Daerah wajib mengindahkan Presiden dan ini melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam Instruksi Presiden ini. Pelanggaran dikenakan Negara. b. 1908 Nomor 189 jo. Para Ketua/Pimpinan dari Lembaga/Badan Negara.

Setiap pelaksanaan lelang harus dilakukan oleh dan/atau dihadapan Pejabat Lelang kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah. misalnya.29 Yang termasuk BMN/D yang bersifat khusus adalah barang-barang yang diatur secara khusus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. barang milik negara/daerah yang bersifat khusus. sehingga dapat mewujudkan kesamaan persepsi dan langkah dalam pengadministrasian.30 C. barang milik negara/daerah lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh pengelola barang. BMN/D adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Terdapat pengecualian dalam hal-hal tertentu terhadap BMN/D yang akan dilelang.  31  Pasal 2 PMK Nomor 93/PMK. Kriteria BMN/D Yang Dapat Dilelang BMN/D yang menjadi lingkup pengaturan PP Nomor 6 Tahun 2006 jo PP Nomor 38 Tahun 2008 ini mengacu pada pengertian BMN/D yang dirumuskan dalam Pasal 1 Angka 10 dan Angka 11 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Namun.06/2010  12  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . BMN/D dapat dipindahtangankan dengan cara dijual secara lelang. Hal ini dimaksudkan untuk menepis image yang tidak baik terhadap pelepasan BMN/D yang seolah-olah dilakukan tanpa parameter yang jelas dan terkesan dilakukan secara sembarangan serta menghindari adanya kemungkinan penyalahgunaan wewenang dalam pemindahtanganan BMN/D.   Penjelasan Pasal 51 Ayat (3) PP Nomor 38 Tahun 2008. Namun perlu pula diperhatikan bahwa barang tersebut dalam hal ini adalah barang yang bersifat Tangible (berwujud) yang meliputi barang persediaan (kecuali obat-obatan dan bahan kimia lain yang berbahaya tidak boleh dilelang tetapi harus dimusnahkan) dan aset tetap (fixed assets). Pelaksanaan Lelang Penghapusan BMN/D Tindak lanjut proses penghapusan BMN/D khususnya yang berupa pelepasan hak harus menggunakan prosedur yang baku. rumah negara golongan III yang dijual kepada penghuni.31 Berbeda                                                              29 30  Pasal 51 Ayat (2) dan Ayat (3) PP Nomor 38 Tahun 2008. b. Pengecualian tersebut meliputi : a. tidak ada pengecualian atau prioritas serta sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.B. dan kendaraan dinas perorangan pejabat negara yang dijual kepada pejabat negara. tidak semua BMN/D dapat dijual secara lelang.

06/2010. daftar barang yang akan dilelang.   Pasal 4 Ayat (1) dan (2) PMK Nomor 93/PMK. Persiapan Lelang a.07/2006. dan syarat lelang tambahan dari Penjual/Pemilik Barang (apabila ada). Pejual maupun oleh Peserta Lelang.33 Pelaksanaan lelang harus melalui berbagai tahapan dan harus dipenuhi oleh Pejabat Lelang. meneliti secara fisik barang yang akan dilelang. PMK Nomor 93/PMK. lelang tetap dilaksanakan dan dibuatkan Risalah Lelang Tidak Ada Penawaran.  Dalam hal tidak ada peserta lelang. Permohonan Lelang Permohonan lelang penghapusan BMN/D dibedakan menjadi : 1) Dokumen Persyaratan yang bersifat Umum    salinan/fotokopi Surat Keputusan Penunjukan Penjual. 1. Keberhasilan suatu pelaksanaan lelang sangat ditentukan kolaborasi antara Pejabat Lelang dan Penjual.                                                              32 33  Pasal 4 Ayat (1) dan (2) PMK Nomor 40/PMK. jangka waktu bagi calon Pembeli untuk melihat. antara lain :   jadwal penjelasan lelang kepada peserta lelang sebelum pelaksanaan lelang (aanwidjzing). sehingga diharapkan “rule of the game” lelang benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa ada yang ditutupi. Dalam setiap pelaksanaan lelang penghapusan BMN/D ada beberapa ketentuan yang harus menjadi perhatian dan akan dijelaskan pada bagian berikut. Lelang sebagai suatu lembaga telah diatur dalam Vendu Reglement dan peraturan pelaksananya.dengan Petunjuk Pelaksanaan Lelang berdasarkan PMK Nomor 40/PMK.07/2006 yang mengatur bahwa Lelang pertama harus diikuti oleh paling sedikit 2 (dua) peserta lelang dan Lelang ulang dapat dilaksanakan dengan diikuti oleh 1 (satu) orang peserta lelang32. sehingga tujuan utama penjualan secara lelang untuk menciptakan harga yang optimal dapat dicapai dalam setiap pelaksanaan lelang.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang yang baru diatur sebagai berikut :  Lelang tetap dilaksanakan walaupun hanya diikuti oleh 1 (satu) orang peserta lelang.  13  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  .

salinan/fotokopi Surat Keputusan tentang Pembentukan Panitia Penjualan Lelang.  salinan/ fotokopi Surat Persetujuan Presiden/DPR/DPRD. 2) Dokumen Persyaratan yang bersifat Khusus a) Lelang Noneksekusi Wajib BMN/D  salinan/fotokopi Surat Keputusan Penghapusan dari Pengelola Barang untuk Barang Milik Negara atau Gubernur/Bupati/Walikota untuk Barang Milik Daerah. apabila berdasarkan peraturan perundangundangan diperlukan adanya bukti kepemilikan.  salinan/fotokopi Surat Persetujuan Presiden/DPR/DPRD. b) Lelang Noneksekusi Wajib Barang Milik BUMN/BUMD Non persero  salinan/fotokopi Surat Keputusan Persetujuan Penghapusan aset BUMN/BUMD Nonpersero dari Menteri yang berwenang/Gubernur /Bupati/Walikota/Dewan Komisaris. dalam hal peraturan perundang-undangan menentukan adanya persetujuan tersebut. atau apabila bukti kepemilikan/hak tidak dikuasai harus ada pernyataan tertulis/surat keterangan dari Penjual bahwa barang-barang tersebut tidak disertai dengan bukti kepemilikan/hak dengan menyebutkan alasannya.    salinan/fotokopi Surat Keputusan Penghapusan dari Direksi/Kepala Daerah. kepemilikan/hak dikuasai. dan asli dan/atau fotokopi bukti kepemilikan/hak.   salinan/fotokopi Surat Keputusan tentang Pembentukan Panitia Penjualan Lelang. dalam hal peraturan perundang-undangan menentukan adanya persetujuan tersebut. harus ada pernyataan tertulis/surat keterangan dari 14  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . dan asli dan/atau fotokopi bukti kepemilikan/hak. jangka waktu pengambilan/penyerahan barang oleh Pembeli.  jangka waktu pembayaran Harga Lelang. apabila berdasarkan peraturan perundang-undangan atau apabila diperlukan bukti adanya bukti tidak kepemilikan/hak.

kecuali pada Lelang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya dari tangan pertama dan Lelang Noneksekusi Sukarela. Apabila tidak ada surat kabar harian maka Pengumuman Lelang diumumkan dalam surat kabar harian yang terbit                                                              34 35  Pasal 1 Angka 25 PMK Nomor 93/PMK. dalam setiap pelaksanaan lelang juga disyaratkan adanya nilai limit. 1 (satu) penyetoran uang jaminan penawaran lelang hanya berlaku untuk 1 (satu) barang atau paket barang yang ditawar. termasuk kurator untuk benda seni dan benda antik/kuno.   Pasal 1 Angka 26 PMK Nomor 93/PMK. b.35 Penetapan Nilai Limit dilakukan berdasarkan :   Penilaian oleh Penilai. yang melakukan penaksiran berdasarkan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. dan Penaksiran oleh Penaksir/Tim Penaksir.penjual bahwa barang-barang tersebut tidak disertai bukti kepemilikan/hak dengan menyebutkan alasannya. Pengumuman Lelang Penjualan secara lelang wajib didahului dengan Pengumuman Lelang yang dilakukan oleh Penjual.34 Setiap lelang disyaratkan adanya uang jaminan penawaran lelang. Nilai Limit Selain disyaratkan adanya uang jaminan penawaran lelang. Nilai limit tidak bersifat rahasia yang dibuat secara tertulis dan diserahkan oleh Penjual kepada Pejabat Lelang paling lambat sebelum lelang dimulai. d.06/2010. Nilai Limit adalah adalah harga minimal barang yang akan dilelang dan ditetapkan oleh Penjual/Pemilik Barang.06/2010. Uang Jaminan Penawaran Lelang Uang Jaminan Penawaran Lelang adalah uang yang disetor kepada Kantor Lelang/Balai Lelang atau Pejabat Lelang oleh calon Peserta Lelang sebelum pelaksanaan lelang sebagai syarat menjadi Peserta Lelang.  15  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . sedangkan Penaksir/Tim Penaksir merupakan pihak yang berasal dari instansi atau perusahaan Penjual. Penilai merupakan pihak yang melakukan penilaian secara independen berdasarkan kompetensi yang dimilikinya. c. melalui surat kabar harian yang terbit di kota/kabupaten tempat barang berada.

Nilai Limit. hari. h. c.36 Pengumuman Lelang paling sedikit memuat : a. tetapi dengan cara pengumuman melalui selebaran. d. dan ada/tidak adanya bangunan. g. waktu dan tempat pelaksanaan lelang dilaksanakan.06/2010. spesifikasi barang. khusus untuk barang tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan. b. tempelan                                                              36 37  Pasal 41 Ayat (1) dan (2) PMK Nomor 93/PMK. dalam hal dipersyaratkan adanya Uang Jaminan Penawaran Lelang. jenis hak atas tanah. cara dan tempat penyetoran. Penjual diharuskan untuk menyerahkan bukti Pengumuman Lelang sesuai ketentuan kepada Pejabat Lelang. jangka waktu.37 Pengumuman Lelang untuk Lelang Eksekusi terhadap barang tidak bergerak atau barang tidak bergerak yang dijual bersama-sama dengan barang bergerak. e.di kota/kabupaten terdekat atau di ibukota proinsi atau ibu kota negara dan beredar di wilayah kerja KPKNL atau wilayah jabatan Pejabat Lelang Kelas II tempat barang akan dilelang dan harus mempunyai tiras/oplah. Persyaratan tiras/oplah halaman diatur dalam Pasal 43 Ayat dapat (3) dan (4) PMK Nomor halaman 93/PMK. f. jangka waktu Kewajiban Pembayaran Lelang oleh Pembeli. jenis dan jumlah barang.06/2010. khusus untuk barang bergerak. Uang Jaminan Penawaran Lelang meliputi besaran. kecuali Lelang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya dari tangan pertama dan Lelang Noneksekusi Sukarela untuk barang bergerak.  16  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . dengan jangka waktu Pengumuman Lelang pertama ke Pengumuman Lelang kedua berselang 15 (lima belas) hari. cara penawaran lelang. waktu dan tempat melihat barang yang akan dilelang.06/2010. b. pengumuman dilakukan 2 (dua) kali. tanggal. dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. lokasi. pengumuman pertama diperkenankan tidak menggunakan surat kabar harian. identitas Penjual. luas tanah.   Pasal 42 Ayat (1) PMK Nomor 93/PMK. Pengumuman Lelang tersebut harus dicantumkan dalam utama/reguler dan tidak dicantumkan pada suplemen/tambahan/khusus.

tertulis dilanjutkan dengan lisan.   Pasal 48 Ayat (1) PMK Nomor 93/PMK.  41  Pasal 1 Angka 17 PMK Nomor 93/PMK. barang bergerak dilakukan 1 (satu) kali melalui surat kabar harian berselang 5 (lima) hari sebelum pelaksanaan lelang.39 2.06/2010.  42  Pasal 22 Huruf g PMK Nomor 176/PMK. b. Pejabat Lelang dapat dibantu oleh Pemandu Lelang.yang mudah dibaca oleh umum. Pengumuman a.  43  Pasal 54 PMK Nomor 93/PMK. Penawaran Lelang Langsung dan/atau Penawaran Lelang Tidak Langsung dilakukan dengan cara: a. dan c. b.06/2010.42 Hal tersebut merupakan salah satu hak dari Balai Lelang dalam melakukan kegiatan usahanya. dalam hal penawaran tertinggi belum mencapai Nilai Limit. Penawaran Lelang Langsung                                                              38 39  Pasal 44 Ayat (1) PMK Nomor 93/PMK.  40  Pasal 53 Ayat (1) dan (2) PMK Nomor 93/PMK. dilakukan 1 (satu) kali melalui surat kabar harian berselang 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan lelang. dan/atau melalui media elektronik termasuk Internet. lelang untuk Lelang Non Eksekusi dilakukan oleh Penjual/pemohon lelang dengan ketentuan sebagai berikut : barang tidak bergerak atau barang bergerak yang dijual bersama-sama dengan barang tidak bergerak.43 Penawaran Lelang dalam Lelang Eksekusi dan Lelang Noneksekusi Wajib harus dilakukan dengan Penawaran Lelang Langsung.06/2010. atau c.06/2010. semakin meningkat atau semakin menurun. lisan. yang dapat berasal dari Pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) atau dari luar DJKN.06/2010.38 Untuk Lelang Eksekusi terhadap barang bergerak Pengumuman Lelang dilakukan 1 (satu) kali melalui surat kabar harian paling singkat 6 (enam) hari sebelum pelaksanaan lelang. Pelaksanaan Lelang  Dalam pelaksanaan lelang.41 Pemandu Lelang diusulkan oleh Balai Lelang.06/2010.  17  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  .40 Pemandu Lelang (Afslager) adalah orang yang membantu Pejabat Lelang untuk menawarkan dan menjelaskan barang dalam suatu pelaksanaan lelang. Pengumuman kedua harus dilakukan melalui surat kabar harian dan dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan lelang. tertulis.

Pasal 71 PMK Nomor 93/PMK.                                                               Pasal 56 Ayat (1).dapat menggunakan penawaran dengan melalui surat yang dikirim sebelum pelaksanaan lelang.48 3.  45 44 18  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . yang dikenakan pada Penjual (untuk tanah dan atau tanah dan bangunan) d.45 Bea lelang adalah  adalah bea yang berdasarkan peraturan perundang-undangan.44 Setiap pelaksanaan lelang dikenakan Bea Lelang dan Uang Miskin sesuai Peraturan Pemerintah tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Keuangan. Pembayaran Harga Lelang dan Pungutan Negara a. Sedangkan Penawaran Lelang dalam Lelang Noneksekusi Sukarela dapat dilakukan dengan Penawaran Lelang Langsung atau Penawaran Lelang Tidak Langsung. dan (3) PMK Nomor 93/PMK. dikenakan kepada Penjual dan/atau Pembeli atas setiap pelaksanaan lelang.06/2010. Pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25.  46  Pasal 1 Angka 31 PMK Nomor 93/PMK. b. Pungutan Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak.000 (seratus ribu rupiah).  47  Pasal 65 Ayat (1) PMK Nomor 93/PMK.06/2010.100.06/2010.47 Sedangkan Uang Miskin adalah Uang yang dipungut dari Pembeli Lelang sebagai penerimaan negara bukan pajak yang disetorkan ke Kas Negara.  Diklat  Teknis  Substantif  Spesialisasi  Pengelolaan  Kekayaan  Negara.   Pasal 64 PMK Nomor 93/PMK.06/2010. yaitu sebesar 5 % dari harga lelang.46 Bea Lelang dikenakan apabila penjual membatalkan rencana pelaksanaan lelang dalam jangka waktu kurang dari 5 (lima) hari kerja sebelum hari pelaksanaan lelang. yaitu sebesar 5% dari harga lelang. Berdasarkan PP Nomor 44/2003 tarif pungutan bea lelang dalam lelang penghapusan adalah bea lelang pembeli sebesar 1% (satu persen) dari harga lelang dan bea lelang penjual/pemohon lelang Rp. Departemen Keuangan RI Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Pusdiklat Keuangan Umum. yang dikenakan pada Pembeli (untuk tanah dan atau tanah dan bangunan). (2).  48   Modul  Pengetahuan  Lelang:  Penghapusan  BMN. 2007. c.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanan Lelang dinyatakan bahwa pembayaran Harga Lelang dilakukan secara tunai/cash atau cek/giro paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang dan Pembeli wanprestasi tidak diperbolehkan mengikuti lelang di seluruh wilayah Indonesia dalam waktu 6 (enam) bulan.

Kendala Lelang Penghapusan BMN/D Beberapa kendala pelaksanaan lelang atas aset-aset yang dimilik/dikuasai negara antara lain menyangkut : 1) Barang yang dilelang      Barang yang dilelang tidak sesuai dengan daftar barang yang tercantum dalam Surat keputusan tantang penghapusan aset tersebut.4. Harga taksiran tidak optimal. Barang yang seharusnya masih dapat dilelang diputuskan untuk dimusnahkan. Pengumuman lelang tidak efektif. Harga limit tidak optimal.         Permohonan lelang lambat. Regulasi Pelaksanaan Lelang Penghapusan BMN/D Beberapa regulasi lelang penghapusan BMN/D adalah sebagai berikut : 1) Pembatasan jumlah peserta lelang dalam setiap pelaksanaan lelang Pada prinsipnya setiap pelaksanaan lelang harus diikuti oleh paling sedikit 2 (dua) Peserta Lelang. 2) Pihak yang terkait dengan lelang    Kualitas Pejabat Lelang kurang memadai. Barang tersebut tersebar dan sukar diadakan pengecekan. Pelayanan sebelum lelang kurang optimal. Pengamanan barang yang akan dilelang kurang memadai. 3) Prosedur lelang dan hal teknis lainnya Prosedur lelang kurang dilaksanakan dengan optimal. Dukungan instansi terkait kurang optimal. Uang jaminan tidak memadai. kecuali untuk lelang ulang kedua dan seterusnya dapat diikuti oleh 1 (satu) peserta lelang. Hal ini dimaksudkan agar dalam setiap 19  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . Persyaratan lelang dari pemilik Barang kurang kondusif dengan tujuan lelang. Barang yang seharusnya dilelang masih tertumpuk di gudang. 5. Barang yang akan dilelang sudah rusak/hancur. Cara penawaran kurang tepat.

3) Pengumuman Lelang harus benar-benar informatif. yang atau mengatur terlalu Selama ini tidak ada peraturan sehingga meskipun perundang-udangan Limit terlalu tinggi kewenangan Oleh tersebut itu. berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan lelang karena Harga rendah. karena kewenangan menetapkan Harga Limit ada pada Penjual. Dilarang penggunaan SKH yang oplahnya sedikit/tidak terbit secara rutin atau dicantumkan sehingga dalam halaman suplemen/tambahan/khusus. peminat lelang yang tidak bonafit atau tidak sungguh-sungguh bermaksud menawar mengikuti lelang sehingga berpotensi menggangu jalannya pelaksanaan lelang. menghimpun peminat lelang dan pemberitahuan kepada pihak yang berkepentingan. Dalam hal pelaksanaan lelang yang mensyaratkan adanya Harga Limit. Ketentuan tentang pengumuman lelang disempurnakan klausulanya agar Penjual benar-benar melakukan pengumuman lelang secara simetris sehingga tujuan pengumuman lelang dapat tercapai. kiranya perlu diberikan ketentuan yang mengatur hal-hal prinsip dalam penetapan Harga 20  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . yaitu pemberitahuan kepada masyarakat tentang akan adanya lelang.pelaksanaan lelang terjadi kompetisi penawaran harga diantara peserta lelang. pihak Penjual berwenang menetapkannya. 4) Harga Limit ditetapkan oleh Penjual berdasarkan pendekatan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan. lelang yang optimal Pengumuman berpotensi yang asimetris dapat mengakibatkan lelang tidak berlangsung secara obyektif tidak terbentuk harga dan menimbulkan permasalahan hukum. sehingga terbentuk harga yang optimal. Besaran Uang Jaminan Penawaran Lelang ditetapkan paling sedikit 20 % (dua puluh persen) dan paling banyak 50% (lima puluh persen) dari perkiraan Harga Limit. Hal ini dimaksudkan agar Penjual menentukan uang jaminan secara proposional sehingga lelang berlangsung secara obyektif dan terbentuk harga yang optimal. Sebaliknya apabila uang jaminan terlalu kecil. 2) Besaran Uang Jaminan Lelang Ditentukan Secara Proporsional. Diwajibkan penggunaan Surat Kabar Harian (SKH) yang bonafit dan yang memenuhi kriteria tertentu. Apabila uang jaminan ditetapkan sangat besar/lebih besar daripada Harga Limit maka hanya peminat tertentu saja yang menyetor uang jaminan karena besarnya uang jaminan akan membuat peminat lelang yang lain enggan untuk ikut lelang.

Penjual/kuasanya.                                                              49  Pasal 178 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Selama ini pelaksanaan lelang hanya dikenal dilakukan secara langsung (konvensional). kemudian diharapkan Penjual mengatur sendiri-sendiri tentang Tata Cara Penetapan Harga Limit dari setiap jenis lelang. dan telepon. seperti audio visual. Sumber Informasi : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sehubungan dengan adanya peluang penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.49 Oleh karena itu sudah sewajarnya digunakan cara pelepasan asset dengan dijual secara umum (lelang) yang oleh undang-undang harus dilakukan melalui KPKNL. seperti kriteria penggunaan jasa Penilai Independen atau Penilai Internal. Berdasarkan ketentuan tersebut.Limit. Pembeli dipungut Uang Miskin yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak atas nama Departemen Sosial sebesar 7 (tujuh) permil untuk barang bergerak dan 4 permil untuk barang tetap. dibebani Hak Tanggungan dan dipindahtangankan. Dengan demikian diharapkan BMN/D yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah. Intranet. dimana Pejabat Lelang. pesan singkat (Short Message Service/SMS) atau faksimili maka pelaksanaan lelang dapat dilakukan secara tidak langsung.  Local Area Network (LAN). 5) Penawaran Lelang dapat dilaksanakan secara Langsung atau Tidak Langsung. Selama ini dalam setiap pelaksanaan lelang yang dilaksanakan oleh KP2LN. Dengan adanya pengaturan tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang tersebut diharapkan agar BMN/D tetap aman dan dapat digunakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Internet. dengan tujuan untuk mengurangi pungutan yang membebani Pembeli/masyarakat dan sekaligus memberikan tambahan daya tarik penjualan secara lelang dibandingkan dengan penjualan lainnya maka pungutan Uang Miskin dihapuskan.  21  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . dimana peserta lelang dapat tidak hadir di tempat lelang tetapi tetap dapat mengajukan penawaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. dan peserta lelang/kuasanya harus hadir di tempat lelang. dapat tetap memberi pemasukkan khususnya bagi keuangan negara. BMN/D bukan barang tata niaga biasa. 6) Pungutan Uang Miskin dihapuskan. karena pada prinsipnya tidak dapat digadaikan.

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997. Sie Informasi Hukum-Ditama Binbangkum.07/2006. Herziene Inlandsch Reglement/HIR. PMK NOMOR 93 /PMK. 22  Sie Infokum – Ditama Binbangkum  . Sejarah Dan Perkembangan Lelang. www. Vendu Instructie (Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Lelang). Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1970.com. PMK Nomor 40/PMK. 2008.host56. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Direktorat Pengelolaan Barang Milik/Kekayaan Negara.06/2010. PP Nomor 6 Tahun 2006. PP Nomor 38 Tahun 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2010. Artikel : Sulitnya Mengelola Kekayaan Negara Lelang : Teori dan Praktik. UU Nomor 1 Tahun 2004.infolelang.Reglement Hukum Acara Perdata Untuk Daerah di Luar Jawa dan Madura. Vendu Reglement (Undang-Undang Lelang).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->