PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke

dalam tiga tipe : 1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998).

kacang tunggak. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. kapas. apel dan anggur (Rahmawati. jeruk. akan tetapi belum berhasil. 2004).Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. karet. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. teh. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. barley. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. . tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. vesikel (vesicle) dan spora. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. pepaya. tembakau. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. 2. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. kopi. Arbuskul berperan dua arah. pembengkokan inti sel. 2004). singkong dan sorgum. palem. 2004). Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. padi gogo. 2003). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. selada. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. kebanyakan berbentuk bulat telur. kakao. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. nenas. 1. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. bawang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. pembentukan organ baru. 2004). Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule).

3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Gigaspora-ceae. Kuklospora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Pacispora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Diversisporaceae. 1981). Gigaspora. Hal ini menunjukan . berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Entrophospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Walaupun demikian. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Schubler et al. 3. Intraspora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Acaulospora. dan Glomus sp. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Paraglomus. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Scutellospora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Oleh karena itu. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Diversipora. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Geosiphon. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Dengan bertambahnya umur. yang memiliki perbedaan tegas. 1981). Mirip dengan cendawan patogen.

MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Abdul Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 1991). A. kepadatan propagula. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Bahan Ajar Online. 2006). tanaman inang. Program Pascasarjana. 2009. Universitas Sriwijaya. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. kondisi tanah serta spesies CMA indigen.blogspot. Http://dasar2ilmutanah. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. 2002). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Indonesia. Program . Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman..adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva.com. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Diposkan oleh Dr. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. (Sagin Junior & Da Silva. 2006). Ir. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.

Indonesia. Vesser et al. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Palembang. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. kadar air tanah. pH. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Untuk daerah tropika basah.Magister (S2). Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Palembang. Program Magister (S2). tanah. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. bahan organik tanah. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. 1981). PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. hal ini menguntungkan. Universitas Sriwijaya.pada tengah hari. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan . Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Program Studi Ilmu Tanaman. 1981). Palembang. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA.. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Indonesia. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. logam berat dan fungisida. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. saat kelembapan air rendah. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan.

Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. 1997). 1984). 1981). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang . Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. air dan udara. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Serasah tersebut mengandung hifa. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell.

. 1997). dan Na yang tinggi (Mosse. 1982 dalam Anas. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Al. klor. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. 1981). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman.. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar . 1997). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1984). Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Benlate. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. alumunium dan mangan. 1984 dalam Anas. Plantavax. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. fungisida Agrosan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.

inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa.04 menjadi 0. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1995). jumlah bahan organik yang dihasilkan. Dalam budidaya tradisional. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). P. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 2005). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1996). 1995). 1 9% (Gededda et al. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. unsur hara dan struktur tanah. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. ameliorasi dengan bahan organik. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Pada tanaman pisang.tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. pembakaran. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. 1998). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). K. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. . dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. cropping sistem. 1984). karena perubahan spesies tanaman. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM.

7% dibandingkan dengan kontrol. Program Magister (S2). CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Program Pasca Sarjana.2% dibandingkan dengan kontrol. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Propinsi Sumatera Selatan.5% dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. jumlah daun pada umur 4. Universitas Sriwijaya. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Bahan Ajar Online.7% dan 4. bobot kering tajuk. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Http://dasar2ilmutanah. G. Universitas Sriwijaya. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. sedangkan inokulasi G. Untuk tanaman manggis.blogspot. Indonesia. Palembang. 1996). Abdul Madjid. Program . ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Magister (S2). 8 dan 28 MST. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2002). Program Pascasarjana. Palembang. A. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Sawahlunto Sijunjung.masing sebesar 5. sedangkan inokulasi G. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia.com. 2009. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Palembang. Diposkan oleh Dr.

Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. serta patogen akar. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. 1997). dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. dan Zn). Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Universitas Sriwijaya. 1997). Di dalam arbuskul. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Program Pasca Sarjana. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Selain itu. 3) melindungi dari herbisida. kekeringan. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. salinitas. Selain daripada membentuk hifa internal. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Indonesia. Palembang. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Cu. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. pemadatan. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2006). Zn. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. keasaman. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza.Magister (S2). Fe. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang .

Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. 2006). Zn dan Cu meningkat. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 1997). Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. atau . Pada kedelei. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Setelah periode kekurangan air (water stress). Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Dengan adanya CMA. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air.oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. 1994). Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. K dan S. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza.

Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen).lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. 4. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. tailing tambang batubara. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. 2. 2. 1994). Infeksi patogen akar terhambat. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali . Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. atau lahan terpolusi lainnya.1997). Jika terhadap jasad renik berguna. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Dilain pihak. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 3. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan.

1981 dalam Husin dan Marlis. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Bila ini benar. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. asam . maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 40% kebutuhan nitrogen. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Interaksi sebenarnya antara CMA. 1981). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. 1997). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 2000). Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Pada tanaman tertentu. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. citokinin. dan giberalin. 5. 1993). Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 4. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. 3. 1997). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sitokinin dan giberalin. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Perbaikan Struktur Tanah. patogen akar. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti.hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. 1997)..

seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah.organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. 2002). .. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. tapi juga bagi tanah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. 2002). Menurut Hakim. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida.. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah.

Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. 1999).2. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. phosphor bebas dan mineral. setelah didahului dengan proses infeksi akar. khususnya pada tanah yang miskin P.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.6. Besi (Fe++). namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. dan protein. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. 2002). . (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular.6 hexakisphospat). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. japonicum. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. B. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.4. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P.3. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Phytat adalah senyawa phospat komplek. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. 1997). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.5. Magnesium (Mg++). disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.. yaitu mencapai 70. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. 2006). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Prihastuti et al.33%.50–90. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Seng (Zn++). Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.

dan kompetisi antar cendawan mikoriza). perkebunan. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. tanaman inang. Kalimantan.BK. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. kadar air. tipe perakaran tanaman inang. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. 1994). Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. adanya asosiasi ini. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Bagi tanaman inang. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. baik untuk tanaman pangan. 3. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk.1. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. tanaman bermikoriza . tanaman tanpa mikoriza) / BK. Sulawesi dan pulau besar lainnya.1987). baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Secara tidak langsung. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 1995). Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Sedangkan secara langsung. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. pH. 2004). dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 6. . Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 7. temperatur. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. spesies cendawan. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata.

serta serapan hara NPK. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap . Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. infiltrasi air hujan rendah.Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. 1997). Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.66 mg P/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. 1996) dan pepaya (Cruz et al. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan..02 g biji/tanaman menjadi 5.15 mg P/tanaman. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. net fotosintesis. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Disamping untuk tanaman pangan. kejenuhan Al tinggi. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.1997).84 g biji/tanaman menjadi 5.13 mg P/tanaman menjadi 2. miskin hara dan bahan organik. dan hasil kedelai meningkat dari 2.13 g biji/tanaman.98 g biji/tanaman. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.

Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Dalam kondisi salinitas tinggi. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. 2000). tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman . 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Namun demikian. 2000).kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar. meningkatnya tekanan osmotik. Zn dan Cu (Al-Kariki. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. 7. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 3. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. 1995 dalam Aggangan et al. et al. terhidar dari plasmolisis. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Peneliti lain. 1994 dan Tam.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. 1994).

Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. 12 diantaranya bermikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. Oliveira et al. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik.. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. efisiensi penyerapan P. (2001) menunjukkan bahwa P. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan.. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. maka laju penurunan hasil clover meningkat.inang terhadap logam beracun. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA . 2000). dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Menurut Wachjar et al (2002). Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. zat yang melarutkan PAH.

misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm.berpengaruh terhadap jumlah daun. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. produktivitas. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. 2005). Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan.S. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Selain itu. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007)." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya . jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. sulit dan cukup mahal transportasinya. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.

berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Tujuannya. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.84 % . lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.67. Dengan teknologi mikoriza. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan kadar P nira. 8.5 ppm.Lima hari kemudian. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . 2. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak.76 % -21. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Untuk mewujudkan harapannya. 69. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.66 % . bedeng tersebut dapat digunakan. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. . Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. spora dan akar terinfeksi. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.72 ppm dan tanah Inceptisol.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.65 %.15 %.90 %. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. dengan kadar P tersedia "rendah" .melindungi spesies genetik jati muna. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.71. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. sebesar 38.. diaduk merata.80 % . Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. selain untuk meratakan hasil. 2008).40.

APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. sorgum atau pueraria. . Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Manfaat 1. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman.3. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 4. Tanaman inang dapat berupa jagung. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. 6. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. 5. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Dalam rangka pelaksanaan program ini. 2008). dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. 3. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia.

dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. 1. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. 1.00 gram.00 gram.ah takaran 1. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Setelah diberikan pada bibit tanaman. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Setelah itu pil dipecah-pecah.J. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Aturan pakainya sederhana. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza .50. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.50 dan 2. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Tablet ini dibuat dari cendawan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.500 dan 2. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. sampai 230%. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Kalium (K) bertambah 86%.00.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Sebagai pembanding. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Di IPB. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. satu tablet untuk satu bibit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Kalimantan.00 gram (Hardiatmi S.M. dan Nitrogen (N) 75%. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.7 sentimeter. Untuk membuat tablet. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman.00. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Dengan demikian. 1. 2008) . Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Setelah teruji kemurniannya. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat.

Propinsi Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Palembang. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. A. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Program Pasca Sarjana. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Pasca Sarjana. Palembang. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Ir. Palembang.com. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Pascasarjana. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur . daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Indonesia. Indonesia. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. 2009.

pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a.4-13%). Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------- . Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza.hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. 4. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. kehutanan. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. virus. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. b. Kamizae. Tabel 1. Rhiphosant. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. OST dan Simbionriza. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. jamur yang bersifat patogen.

70 ------------------------------------------------------------------c. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. 4. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. .70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.14 Dengan Mikoriza 43. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.44 Dengan Mikoriza 28. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.12 Dengan Mikoriza 48.28 34. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).50 33. Bali.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.Coklat (kakao) Tanpa Mikoriza 28. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.64 35. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. d.

Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Setelah teruji kemurniannya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu.Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. satu tablet untuk satu bibit.7 sentimeter. Kalimantan. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Di IPB. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. javanica. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.M. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Tablet ini dibuat dari cendawan. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Setelah diberikan pada bibit tanaman.S. Aturan pakainya sederhana. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Setelah itu pil dipecah-pecah. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Untuk membuat tablet. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. 4. sampai 230%. 2008). Dengan demikian.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Kalium (K) bertambah 86%. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. dan Nitrogen (N) 75%. Empat bulan .3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. 4. Selain P. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.

tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. setiap kapsul dibutuhkan 0. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. pH tanahnya sangat bervariasi. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan.000 spora secara merata. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. .000 spora.5 g carrier. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Setelah itu.kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00.000 kapsul. (2) Mempermudah penanganannya. (3) Dapat di produksi secara khusus. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. Sebelum digunakan. Pada praktek sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. berarti dibutuhkan 500 g carrier. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. 4. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.

Anabaena azollae OST Azotobacter.D. Ankia alni. Aeromonas punctata. Nitrosomonas. Nostoc muscorum. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Mikrococcus.Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Azospirillium. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Bacillus. Azzospirillum lipoverum. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Rhizobium. Tabel 3. Nitrobacter. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Clostridium pasterianum. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Sinorhizobium. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Lactobacillus spp. Beijerinckie. R.M. Azotobacter.

Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. 3. 2. Indonesia. 1997. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Palembang. I.com. I. 2009. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. DAFTAR PUSTAKA Anas.Madjid. Jurusan Tanah. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Program Magister (S2). Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi.Bioteknologi Tanah. Http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN 1. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar . Biologi Tanah dalam Praktek. 1989. IPB. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Palembang. Laboratorium Biologi Tanah. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Palembang. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Anas. Fakultas Pertanian. Ir. A. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana.

Adinurani P. Faisal T. Martens and H. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. 1997. Hakim.M. Brundrett. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. No. 2007. H. Go Ban Hong.F. Biantoro M. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).com dalam http://support. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. 1997. M. Reber. Dexheimer.Universitas Bioteknologi. 1994. terhubung berkala : www. 12-15 Desmber 1995. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. Rev.lunarpages. Ika RS dan Saubari MM. Hakim dan Kusli. Dudi. Vol 5.google. Doponnois. 2008. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).R. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 5. Lampung.M.. Jakarta. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. 2002.H. Lubis. Soils 24 : 81-86.H. M. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.com. R. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna.M. Hasanudin.1. K. 2000. A. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Fertil. Mahfud. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Sutopo Ghani Nugroho. A.G. hal 83-89. Iskandar. G. and J. 2007. Rusdi Saul. M. Soil Biol. N.google. Husnal. 2004.B. Nurhajati. Biochem. Husin. Mycorrhiza J. Universitas Lampung. 26 (9) : 1201 1205. 79:473– 495. Biol.com Fleibach. . ISSN 1411-0062. Growth response of Afselia africana Sm. 2008. Lampung. p. and F.. R. 9/2 : 91-95. Azcon. Ali. E. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo.. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Sanon . El-Atrash. Bailey. Universitas Lampung. Diversity and classification of mycorrhizal associations. M. A. 1986. IPB. 2007. INFOTENS. Mulyati M dan Roy H. Yusuf Nyakpa. 2000. Ba. Amin Diha. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Biol.

library. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. 2000. 1997. 1994. Mosse. Jember. 24 Januari 2006. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. and C. Kim. D. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. 1984.id. Sekolah Pasca Sarjana. 1995.. and R. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity.go. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. S. C. Plant and Soil 78: 147-150. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Soils 26 : 79-87.usu. K. Khan.J.litbang deptan. Soil ecology. Leyval.download/tp/htm-rahmawaty s. Jordan. Bull Manjunath. 2004. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Universitas Jember.Y. Castro. Oliveira. IPB. 1998. M. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.com dalam http://hortikultura. Terhubung berkala www.. 2001. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. http ://www. Morte. 1981. 2008..H. K. Ress.Tervesia claveryi.. Cambridge University Press. Rahmawaty. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi..id. A. and McDonald.. 10/3 : 115-119.ae. Mycorrhiza J.S. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. D. Killham.No56 : 131-137. 10/5 : 241-247. Mycorrhiza J. 10/4 : 155159. JC. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Bagrayad. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Khan. 2001. R. Pattimahu. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. D.Lovisolo and A. . J. Notohadinagoro. A. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity.V.pdf. Tejoyuwono.. JMR.Joner. 2003. 1993. Azcon. E. Biotrop Spec. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Schubert.G. A. Lozano. Publ. Dodd and PML. Biol. Mycorrhiza J. 2000. Biotropia 8 : 39-44. Bogor. Fertil.google. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember.

Singh. Ragupathy and A.A. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil.. Wachjar A. A. D. Plant and Soil 80-99-104 Rani. R. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Mahadevan. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) . 57 : 77-81. 2005. and K.L. Thomas. 1995.T.Rotwell.S. 1999. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Mycol. Romeida. 2002. Res. Kapoor. Soil Sci. hal 69-74. and G. Abdul Madjid. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. 105(12):1413-1421.. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Biol. Diposkan oleh Dr. J. 2006.. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Dela Cruz. Vol 3. F.. Zarate. D. 1991. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Edisi Kedua. Schwarzott.R.B. 2001.J. dan Marlin. Widodo. N. Ir. Incidence of vesicular . MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. J. A new fungal phylum. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. A.No56 : 131-137. Bengkulu. Subiksa.K.S Subha. 1994. Am. Franson. Fertil. Penerbit Universitas Indonesia. Ninin Y. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Bogor Schubler. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Publ. 1984. Simangunsong S. M.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Soc. Yadi S. R. 2002. Rao. Biotrop Spec. Unsur hara tanaman. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Walker. Biotrop Special Publ. S. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. IGM. Bethlenfalvay. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. and R. Soils 28 : 139-144. and C. Buletin Agron.E. S.

Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Sumatera Selatan. termasuk biodiversitas. Program Pasca Sarjana. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam . Indonesia. PENDAHULUAN 1. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Program Pasca Sarjana. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. biologis dan cultural. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya.Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Palembang. Program Magister (S2). Indonesia. Indonesia. Palembang. Universitas Sriwijaya. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Bukit Besar.1. Bukit Besar.

Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. jamur. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. baik kesuburan fisik. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. kemasan . Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut . Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. 2002). Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. kimia maupun biologi.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman.pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Upaya yang mulai dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi.

Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Perombak persenyawaan agrokimia 1. licheniformis. 3. Arthrobacter. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Peningkat ketersediaan hara 3.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Flavobacterium. Fimbria adalah struktur . tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. 2.berbentuk batang lurus atau lengkung. putida. P.4. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Penyedia hara 2. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. B. subtilis. Pseudomonas. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. dan P. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Micrococus dan Mycobacterium. B.1 1μm x 1. multivorans (Hasanudin. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Achromobacter.2003). megatherium.5. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. cereus. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . fluorescent. Pseudomonas terbagi atas grup. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. ukuran tiap sel bakteri 0. polymixa. B. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. P.5-0. 1996): 1. B.0 μm.( Gunalan. Pemantap agregat tanah 6. jamur dan aktinomisetes. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. B.2.

hewan dan mikrobia. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik.terutama yang bersifat heterotrof. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Semakin tinggi C-organik dan . Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. 5. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. materi genetik. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. 4.2005). Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. dan gula posfat. dan ribosom. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. asam nukleat.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. fosfolipid. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. kelembaban temperatur dan faktor lain. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . tetapi pada umumnya rendah .sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. suhu tinggi dan zat kimia.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . 1. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. nukleotida.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. radiasi cahaya. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. 6.

pembentukan bunga . ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. Al-P. yang meliputi occhided-P . Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. aluminium dan hidrat. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel.2002). 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. reductant-P . buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. diantaranya dalam proses sintesis protein. Fe-P dan P tidak aktif. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. 1. dan mineral P primer.01 – 0. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein.Mn2+ dan Ca2+.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. karbonat apatit. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.2007). Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. AlPO42H2O Variscit. . FePO42H2O Strengit. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0.Al3+. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. pembentukan akar halus dan rambut akar. ATP. Dalam bentuk anorganik. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah.

sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. sedimen. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. . Sebagai contoh 15-30-15. Universitas Sriwijaya. Secara geokimia. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. Indonesia. Http://dasar2ilmutanah. Seperti halnya nitrogen. Di dunia. guano. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton.40% P2O5. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. yaitu 7.beku. fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. kilap kaca sampai lemak. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. berat jenis 3. dan metamorf. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K.Cl. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. 1992).K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}.15 3. Propinsi Sumatera Selatan. A. 2009.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan.20.com.Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.6 x 1011 mol P th . Program S2. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. dan kekerasan 5.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. hijau.H2O). dan milisit {(Na. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.17 . Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Bahan Ajar Online. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air.5 juta ton endapan guano (0. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.15. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.3 x 1011 mol P th.4 . Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Program Pascasarjana. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2).blogspot. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Selain sebagai bahan pupuk. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman.

Program Pasca Sarjana. malat. tartarat dan alfa ketobutirat. Abdul Madjid.Diposkan oleh Dr. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. suksinat. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Al-P. oksalat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Sumatera Selatan. glutamat. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Bukit Besar. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. MgP. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. glioksalat. Indonesia. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Fe-P atau occluded-P. yaitu dalam bentuk Ca-P. Bukit Besar. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Indonesia. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. Palembang. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Fospor relatif tidak mudah tercuci. laktat.Penurunan pH juga . Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Palembang. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. fumarat. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Ir.1. Sumatera Selatan.

2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. sedang (malat. dan lemah (suksinat. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. tartarat).OH + R-COO. salisilat). sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. . oksalat. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Disamping meningkatkan P tersedia. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Hasil penelitian Pramono et al.laktat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. tartarat dan malat berefektivitas sedang. asetat dan ptalat). diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. malonat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . sedangkan asam malonat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. malat. oksalat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat.

0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM.26 x 10^8 1. alfa ketoglutarat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. Tabel 1.2 x 10^9 5. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.7 x 10^4 0. suksinat. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.0 x 10^5 12 Protozoa 2. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. 1961. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Demikian juga asam .0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. glikolat. asetat.0 x 10^3 2. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. sitrat.0 x 10^8 4. glukonat. 2007).4 x 10^3 1.2 x 10^6 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.0 x 10^6 7 Fungi 1. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.2 Ammonifiers 5. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.0 x 10^3 2 Algae 5. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. oksalat. merupakan bentuk antara (transisi). Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. 1971. malat.6 x 10^7 7.asam amino dan asam fenolik. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum).

Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.7 ppm menjadi 34. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.9 ppm. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0.5 . meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Bacillus substilis.8 – 3. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.7 ppm pada tanah sterl dan 0. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. lesitin. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. 6. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.8 ppm. 0. 13 dan 14%.6 ppm pada tanah steril. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. AlPO4. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.5 ppm menjadi 30.1 – 3. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Ca3(PO4)2. apatit. 8. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Bacillus sp. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah.3. gliserofosfat. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.9 dan 0. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.4 ppm menjadi 59. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. FePO4. .

Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. bakteri. berat basah akar. Pada tanaman jagung. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik . AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. 2. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. misalnya: fungi. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Pada percobaan yang lain P. berat kering trubus. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Isolat diinkubasi selama beberapa hari.Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Misalnya. dan aktinomicetes. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. AlPO4 tidak larut dalam air. luas daun serta kadar P trubus. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. minimal duplo. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Moawad. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. berat kering akar. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp.2. dan Vlek (1996). berat basah trubus. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit.

dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup

pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

01 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.0.01 .Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu dikembangkan . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp.5 (5) KCl 0.5 . Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .3. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).6H2O 0. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).2 (7) Bromophenol Blue 0. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.20 (3) MgCl2.7H2O 0. mikroba pelarut P.20 (4) MgSO4. Lactobacillus sp. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan.5 (6) (NH4)2SO4 0. 3. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.025 . Azotobacter sp.05 .

** Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. . Bukit Besar. Program S2. Bukit Besar. Indonesia. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. bakteri pelarut fosfat. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Abdul Madjid. bakteri penambat N. Indonesia. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Tiens Golden Harvest . Propinsi Sumatera Selatan. Masa simpan : 12 bulan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P.Miza Pluss. Program Magister (S2). Palembang. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik.Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. A. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Bukit Besar. http://dasar2ilmutanah. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Bahan Ajar Online. 2009. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. N. Palembang. Sumatera Selatan.com. Indonesia. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Palembang. Universitas Sriwijaya.Kemasan : 5 dan 25 kg. bakteri pelarut fosfat. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana.

Escherechia freundii dan E.9 ppm. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. kedelai. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. lesitin. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. barlei. Indonesia. padi.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. 3-9. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan . Intermedia . tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Bacillus subtilis . Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. 0. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. bit gula. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium.6 ppm pada tanah steril. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat.8-3. Bacillus sp. 3-13. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. tomat. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. kentang. jagung. kacang panjang dan tebu.1-3. Bacterium mycoides dan B. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.9 dan 0.5 ppm menjadi 30. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.7 ppm menjadi 34.4 ppm menjadi 59.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. gliserofosfat. Ca3(PO4)2.8 ppm. Circulans pada tanaman kedelai. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.7 ppm pada tanah non steril dn 0. 5-21 dan 14%.Sumatera Selatan.3 . kubis.

P. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Pada percobaab lain (Buntan. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%.Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. 1992). dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Puptida dan P. diantaranya asam sitrat. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. suksinat. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. 1992. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. 1991). Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. 1994). Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat.2007). Premono dan Widyastuti. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. . glutamat. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Pada tanaman jagung. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. oksalat. bayam dan kacang panjang). Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. laktat. Striata.

Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. malat. Daerah Cikaniki. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga.) di Tanah Marginal.3881 ppm dan 280. Klebsiella aerogenes. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. 930. Fe2+. 208.5-2. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 217.67%. umur panen.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.glioksilat. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. fumarat.30%. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl.67%. Chromobacterium lividum. dan B. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan . dan Chromobacterium sp.. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. Chromobacterium lividum dan B. 354. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. jumlah biji. jumlah bunga..87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.48 g. 575. Bacillus sp. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. Klebsiella aerogenes. umur pembentukan polong. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator.5 cm.22 g.15 g tanaman-1. 903. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. dan 606.63%. 203. Gunung Botol. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Mg2+. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. jumlah polong. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. dan 61. pH tanah.75%. 207. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Bacillus megaterium. berat daun segar 4 tanaman per pot.42 g atau ada kenaikan 877. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Megaterium sebagai inokulan padat. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.81%.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.

(Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Ir. Indonesia. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.com. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai . A.Mn. Program Pascasarjana. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Diposkan oleh Dr. Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. 2009.blogspot. Bukit Besar.pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Indonesia. Palembang. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bukit Besar. Palembang. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya.Ca dan proses pelapukan yang rendah . MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Sumatera Selatan. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al.Fe. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Universitas Sriwijaya.

C. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.30:105-106.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis.amelioran. B. 6(1) : 8-13. Pustaka Adipura. Majalah Sriwijaya Vol.Universitas Sriwijaya. Dubey. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.K Jha.Faperta Universitas Bengkulu. Citrobacter intermedium . Buntan.K. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.E dan Hairiyah. S. 1982. N and K. Bacillus megaterium.Soil Sci. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. S. Banik. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 45: 506-509.2.2005. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. Hasanudin dan Ganggo.2003. Bacterium mycoides. Plant Soil 57 : 223-230.No. Universitas Bengkulu. 60:353-364.J. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. 1980. Hasanudin. 2004. Indian Soc. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang .1992. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. 1996. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat.J.32.Medan Gunalan. Bacterium mesenterricus. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Edisi 3.D.2007. B.Soil Sci. Plant Soil . serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor.Indian Soc. Elfiati. Kundu. 1982. Fakultas Pertanian USU.Bacillus firmus. Noor A. 2003.A. Escherechia freundii. 1997. Handayanto.S and A. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.K. Gaur .

S. 4(1) : 1-5. dan Ciptarasa. S dan Suliasih . 1998. Soil Microorganisms and Plant Growth. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. 1996.W. S.Medellín vol. Patten.H.Bogor. Supadi. Vega. Can. Abdul Madjid. Ir.Program Pascasarjana IPB. Widawati.N. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. 1998. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.R Glick. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** . 2006. S dan Suliasih .Disertasi. 2006.Bandung Rao. 1991.T. Edisi 3. Universitas Pajajaran.H. Microbiol 42: 207-220. N. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. UGM. 2007. Sutanto. Edisi 2 . Widawati. Pal. 7(1):1014. Buletin Agronomi. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops.Biodiversitas. UI Press).terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. (Terjemahan Susilo. Setiawati. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. 7(2):109-113. 2001.T. Plant Soil.R. C. 31 (3): 100-106.J.Kanisus Jakarta.Widyastuti.Pupuk Hayati . 1992.C. Yuwono.R.Biodiversitas.Agr. S. 198 : 169-177.S. Tesis. Gunung Botol. Oxford and IBM Publishing Co.Yogyakarta.) di Tanah Marginal. 1962.NW. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.L and B. Premono. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. Jurnal Nature Indonesia.2002. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam.60 no. Diposkan oleh Dr..1 Wulandari.Penerapan Pertanian Organik. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. Bandung. and Sinha. 2005.

alga dan virus. aktinomicetes. Universitas Sriwijaya. Indonesia. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sumatera Selatan. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. kimia. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. fungi. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. 1998). Indonesia. Dibidang pertanian. Program Magister (S2). Sumatera Selatan. seperti bakteri. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang . Palembang. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Dalam sejumlah kondisi. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. 1998). PENDAHULUAN A. Program Magister (S2).(Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Palembang. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. protozoa. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Palembang. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui.

Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. kesuburan. bakteri. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat.telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. serta bakteri yang berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. 1978). bakteri dan fungi perombak bahan organik. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . cendawan. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Saraswati et al. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. B. menghemat biaya pupuk. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. dan virus sebagai agensia hayati. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. dan meningkatkan pendapatan petani.

Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Indonesia. Sumatera Selatan. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. 2009. Program Pasca Sarjana. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 . Program Pasca Sarjana. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. OH. Palembang. A. pemupukan dan mineralisasi P-organik.com. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Program Magister (S2). Bukit Besar. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Universitas Sriwijaya. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah.01-0. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Cl-. Ir. Universitas Sriwijaya.Madjid. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Program Magister (S2). unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Pasca Sarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Bukit Besar. Bukit Besar.2 mg/kg tanah. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Indonesia. Palembang. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan.atau CO32-. Program Magister (S2).blogspot. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.

hewan dan organisme tanah. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. fosfolipida. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. 1997). Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. 1989). asam nukleat. 1977). Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. pemupukan. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Bila ion fosfat (HPO42. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu.atau H2PO4-) diserap tanaman.(occluded P). Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. (b) imobilisasi P-tersedia. Siklus ini berulang terus menerus. Oleh karena itu. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat . Subba Rao.. Di alam. 1989. fosfor terdapat dalam dua bentuk. nukleotida dan gula-gula fosfat. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. keseimbangan P dalam tanah terganggu.

hewan dan mikroba yang dikembalikan ke dalam tanah. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. 1997). Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. 1. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. kelembaban. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat.. Umumnya. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. 1986). Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. aerasi. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. aerasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. . seperti nukleotida atau fosfolipida. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut.Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Sisa tanaman. Selain kandungan fosfat dalam residu. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. 2. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. temperatur. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al.

Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. kalsium dan magnesium fosfat. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. H2PO42-. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Fe. besi. Mn.2) H2PO42. Phosphaticum. 1986). yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Al. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. Nilai kritis C/P adalah 200. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Al3+ + H2PO4. Ion Fe. H2PO42. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Selain itu. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Pada pH tanah agak masam hingga netral.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam.lebih mendominasi. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat.lebih mendominasi.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang.+ 2H2O ----> FePO4. pH tanah. dan PO43-. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Mn. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi.Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat.+ OH- . dengan melepaskan fosfat.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43.+ 2H2O ----> AlPO4. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Pada kondisi tergenang. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. Hal yang sama. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi.----> Al(OH)2 H2PO4. dan Ca. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var.

Bahan Ajar Online. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: . dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Kandungan bahan organik tanah. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Diposkan oleh Dr. 3. A. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Http://dasar2ilmutanah. suksinat yang dapat mengikat Al. 2007).Ca(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ Didaerah rhizosfer.blogspot. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Ir. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah.com. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. 2. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Mn. 2009. Fe. asetat. Abdul Madjid. laktat.

Palembang. Bukit Besar. Bukit Besar. Reproduksi secara seksual. miselium menghasilkan spora. 1995). yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Program Pasca Sarjana. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. 2007). dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman.. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan.. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Sekitar 70. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri . 1991. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Palembang. Hawksworth et al. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). ** Program Studi Ilmu Tanaman. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. 1970). tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.5 juta (Hawksworth. Palembang. Universitas Sriwijaya. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Sumatera Selatan. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Indonesia. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Indonesia.

siklus hara. 2007). dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. eksudat akar. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi).. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. tidak peka. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. organisme rhizosfer. 1993). sebagai contoh . dan pengendalian penyakit. dan pengelolaan lahan. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. baik berupa daun maupun kayu. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah.(non-motile) disebut zygospora. 1993). beberapa diantaranya bersifat sparofit. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. 1992). fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. bagian tengah. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. CO2 terhambat. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Bersama-sama dengan bakteri. karbon . bagian bawah.

tanaman pangan. sayuran. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. udara. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Sebagai contoh A. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. contohnya A. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Seperti bakteri. 1995). Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya.parasiticus yang . dan kulit (Hawksworth et al. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. dan Rhizoctonia. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Selain itu. nitrogen. hara mikro. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. Phytium. dan semak.. tekstil.dioksida. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. dan essensial dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. Fungi patogen akar seperti Verticillium. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. dan mungkin air) ke tanaman. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. cat. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. (3) Patogen atau parasit. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. serta banyak dijumpai dalam tanah.flavus dan A. Namun demikian. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. 1995). 2007).

Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. 5. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol.harzianum dan T. diantaranya T. 1983). Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im.75-5x 2-6im. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. 1987). Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC.koningii (merton dan Brotzman. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Karbon dioksida . dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 1986). hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. gandum. 2. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan.. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. 1982). Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy.5. 1979). terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. termasuk manusia. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Pada tanaman. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. 1968). Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. 1999). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi.menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. 3.5-9. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 4. jaringan hewan dan tanah.

Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut . nitrogen. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Ir. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Universitas Sriwijaya. Palembang. vitamin. Bukit Besar. A. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Magister (S2). Indonesia. Program Pasca Sarjana. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Indonesia. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Program Magister (S2). Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon.dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Palembang. dan mineral lainnya. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Abdul Madjid.com. Bahan Ajar Online. Indonesia. Sumatera Selatan. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Program Pascasrjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Palembang.

Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. B. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. merupakan bentuk antara (transisi). Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Fusarium.. 2006). Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Flavobacterium. malat. Achromobacter. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. apatit. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). (3) tingkat dissosiasi asam organik. Penicillium sp. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. . Arthrobacter. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. sitrat. megatherium. Trichoderma viridae. glukonat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. alfa ketoglutarat. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. 2006). FePO4.. Penicillum. Micrococus dan Mycobacterium. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. glikolat. polymixa. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. B. candidus. 1994). harus mengandung 8 macam nutrisi. Schlerotium & Phialotobus. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. B. A. jamur dan aktinomisetes. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus.memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. cereus. Pseudomonas. asam amino dan asam fenolik. B. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. AlPO4. B. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. oksalat. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. suksinat. asetat. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. subtilis. licheniformis. dan Chaetomium sp. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah.

A. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. aktivitas fiksasi N. 1978). Hutami et al. (2001). dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul.010. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan serapan N dan P. dan serapan N dan P berturut-turut 7.35%. Kundu dan Gaur. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. (4) inokulasi R. niger. 1967). AlPO4.4 % dibandingkan kontrol. kanada. Subba Rao. kalium (K) sebesar 0. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama.039-1. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. (2) inokulasi R. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. dan FePO4. dan G.5%. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. 1977 . sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. (3) inokulasi R.14%. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. nitrogen (N) sebesar 2. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.. 8 kali. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah.0-40. fosfor (P) sebesar 0. margarita. 1986). magnesium (Mg) sebesar 0. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. 1957 . japonicum. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Lestari (1994).21% dan C/N ratio sebesar 9. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. . Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.0-2. yakni lebih dari 10 kali lipat. dan mesir. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai.04-0. 1. 1982).3 kali. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. aktivitas penambatan N.0%.8 kali.0-20% (Gaur. dan 10 kali.yaitu: karbon (C) sebesar 19. 1980 . Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30.

Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Aspergillus sp. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Selain daripada itu T. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung.78 ppm (Baratha. 2000). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41.. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. (2000). Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al.. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Trichoderma viridae. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. kab. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar.Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Bogor.. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Tiap kombinasi diulang tiga kali. aspergillus niger. Aspergillus niger. 2004). T. 42. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. scwanniomycetes occidentalis. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Pennicillium digitatum. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. bahan organik. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Tanah ini . dan Chaetomium sp. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Penicillium sp. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada media tumbuh GAGES dan GES.

Ir. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Palembang. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Program Magister (S2). Indonesia. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Tanah ini terkenal sangat miskin. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. Http://dasar2ilmutanah. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Perlakuan keempat dengan menambahkan T.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba.com. Universitas Sriwijaya. Namun demikian. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Indonesia. Program Pascasarjana. kandungan bahan organik rendah.memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Bukit Besar. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Bukit Besar. Diposkan oleh Dr.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. 2009.blogspot. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. . A. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin.

sekam. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Palembang. Sumatera Selatan. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya.760. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. atau ketempat pengomposan. atau zeolit. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. tanah. Namun. biakan cair. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah . disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Bukit Besar. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat.11. 2008). Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. biakan kering. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. memperbaiki struktur tanah. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. dan juga pada minuman. R. Di Indonesia. dan kompos. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Indonesia. vermikulit. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Program Pasca Sarjana. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah.*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. pelarut. dan tepung. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. mempercepat proses pengomposan. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara.130. Universitas Sriwijaya. menekan soil-borne disease. arang. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. biakan kering beku. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier).

Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. 2008). Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam . Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Pada pengujian pupuk mikroba. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Stase. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. sitrat. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. cara penyimpanan. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. lartrat. dan ketoglutarat. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. seta jenis tanaman yang cocok. fumarat. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. glikolat. tanggal kadaluwarsa. Propionat. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. suksinat. Dengan mempertahankan kelembaban. Namun. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Mulai tahun 2004. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. jenis. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. laktat. 2008). Selain itu.melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. oksalat. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. 2008). Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. baik berupa bakteri maupun jamur. tetapkan kelembapan bahan pembawa. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Di Indonesia.

Mn-. Sehingga ./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.0. Aspergillus niger NHJ2. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.1). mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. Grt 3. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.60 ug/ml (pH 4. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. Fe-. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. dan meningkatkan serapan P tanaman.47) hingga 394. memobilisasi.85ug/ml (pH 5.0. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale.Suatu teknologi irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P.65) hingga 147. 50 kg/ha SP36. yaitu mikroba pelarut fosfat.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. 50 kg P.56 ug/m! (pH 6.32% dan 16% pada padi. bobol kering tanaman. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.59%). dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-.0. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.0.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.28 ugfrnl (pH 2. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp./ha (23. mikoriza. dan Ca. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.

Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. khususnya isolat fungi. untuk menuang medium ini ke dalam cawan . 7. dan Vlek (1996). minimal duplo. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. 5. 2. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. 4. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. AlPO4 tidak larut dalam air. Buat medium agar Pikovskaya. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. – 8. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. bakteri. antara lain: 1.dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Konsentrasi fosfat. 8. 3. -4. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. 6. Ulangi langkah di atas secukupnya. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Moawad. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. dan actinomicetes. – 6 s/d 10 ext. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi.

4. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. dkk. (2000). Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan . 3. bakteri. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE.petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. (Goenadi. fosfatase. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. A. Goenadi et al. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Misalnya. 2000). PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . 1995). sehingga dapat diserap tanaman. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Ketebalan agar. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh 2.. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. misalnya: fungi. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Melalui aplikasi pupuk hayati. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. dan aktinomicetes. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik.

12 bulan (Goenadi et al. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. kedelai.. ketersediaan hara di dalam tanah. penambat nitrogen bebas. dan volume akar. B. Hasil percobaana Goenadi. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. 1995). dkk. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. (1997). dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh . PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. bobot kering bibit. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian.

Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. 1. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). dan G. jumlah bintil akar. (4) inokulasi R. jumlah polong isi. bobot kering total. Rata-rata bobot kering tanaman. 8 kali. diameter batang. (2) inokulasi R. 100 kg SP-36/ha.8 kali. niger strain NHJ2 1 ml per biji. margarita. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. dan serapan N dan P berturut-turut 7. japonicum. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger.5. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. (3) inokulasi R. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Rhizobium 108-109. C. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. MK 1999. 50 kg KCl). MK 1997. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. dan 10 kali. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. A. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. Al-dd 1. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. pH 3. 2000). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.209 me/100g). serapan N dan P tanaman. tinggi tanaman. .Dosis dan kandungan mikroba Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar.3 kali. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). aktivitas fiksasi N. bobot kering akar.96. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. niger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. dan serapan N dan P. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. aktivitas penambatan N. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha).

Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.Lukman Gunarto MSc.23 ppm . Mikroba Pendegradasi Selulose5. Lactobacillus. dan mikroba pendegrasi selulosa. Azospirilum sp4. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. K = 1700 ppm . Fe = 44.3 ppm . Azotobacter. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Mn = 0. N = 0. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Zn = 3. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal.85 ppm . Pseudomonas spp = 34.D. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Hg. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.92 % . Migro Plus .70 ppm . C organik = 0. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Azobacter sp2. Cd dan Mikroba Patogen. Pb. Lactobacillus sp6. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Cu = 0. Mikroba pelarut fosfat3.04 % . Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). mikroba pelarut P. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.Ir.

yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). unsur N. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. pembentukan anakan dan primordial. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. mikroba pelarut P. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. penambat Nitrogen dari udara. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. sehingga keaslian produk MiG corp. Lactobacillus sp. Menurut penelitian Dr. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Lukman Gunarto. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh . bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. Azotobacter sp. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. ada yang berfungsi sebagai penambat N. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. probiotik MiG ternak. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. populasi mikroba untuk menambatkan N. daun-daun atau bahan-bahan organik lain.Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. Hasil dari pendegradasian tersebut. akan mendapatkan K dan unsur lain. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia.

(Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Program Pascasarjana. Palembang. Palembang. Program Pasca Sarjana.com. Abdul Madjid. Bukit Besar. apabila penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Indonesia. Indonesia. 2009. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tidak masalah. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Palembang. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Universitas Sriwijaya. . Program Pasca Sarjana. Caranya sangat mudah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Ir. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. rusak atau mati.dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. A. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. http://dasar2ilmutanah. Indonesia. Sumatera Selatan.

868p. New York.J. 1-44 pp.. J. and Wicklow.T. scwanniomycetes occidentalis. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. and M. Trichoderma viridae. 13 : 749-752. Fusarium.. fungi and arbuscular . P. 1996. 51. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Edson L. M. 2004. S. dan Chaetomium sp. S. Saggin. Chapman & Hall. Publ. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara.C. Communities of P-solubilizing bacteria. 1997. Pennicillium digitatum. C. aspergillus niger. Microbial. Madison. 2006. Chonkar and Subba rao. and Schweizer. J.J. Alexopoulos.. 334-337. Mims. Schlerotium & Phialotobus. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Plant soil 60 : 353-364. Eduardo F. C. and Hellums. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat..R. Penicillum. In. Orivaldo J. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. 1967. Pusat Antar Universitas IPB. Barea. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam.W. candidus. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Premono dan R. I. Penicillium sp. N. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Bogor. D. New York. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. E. M. Carroll. London... Dickinson. 1999..J.. Dix. SSSA. (eds). G. Smithson.(2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. L. Baniks. Philadelphia. PA. 1992.. Buresh.W.T. 1995. P. Inc. R. Rosario Azcón Jose M. Canadian. Widyastuti.C. J. Marcel Deker. Building soil phospharus capital in Africa. WI. Introductory Mycology (4th Ed).C. Aspergillus niger. John Wiley and Sons. Dhandhun Baratha. Eliane M. 1982. R. Blackwell. DAFTAR PUSTAKA Anas. and Webster. Campello. R. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. 111-149. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. D. J. VII. Souchie. Fungal Ecology. 1993. Buresh et al. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. USA. J. A.

A.F. Soil Science Society of America Journal 64:927932.297-312. Hawksworth. Mycology research 95. Hutami.N..php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 Gressel.M. Giller and G. E.E. In. Watling.E. 616p. Puslittanak. and Pegler. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. S. Paul. Kirk. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. D. Frankland.L. R.K. Cadisch (eds). Goenadi. Y. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Pennicilium and Acremonium. 588 pp. 1997. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. 1995. Siswanto and Sugiarto. 1996.C. U.br/scielo. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. 1979. P. Wallingford. Inc. 2000. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 1989. 1993. J. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. Perbedy. Fusarium Species: Their biology and toxicology. United Kingdom. H. F.Z. G dan I. Sunarlim. Lestari.indiamart. D.. Hawksworth. P. Aspects of tropical mycology. 641-655. Driven by nature p..J. Skripsi. 204 pp.E. CAB International.). Cambridge University Press.C. D. 14 : 31-36. Missouri. Inc.Fertilizer [Biosol-P] www. 1991.scielo. Nelson. Jakarta (Indonesia).S. Bio . Maningsih. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. 1986. 1994. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. New York. New York. A. Bogor (Indonesia).. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. R. B... Isaac.G. and Whalley. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. USA.. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Merton. S.H. J. Columbia. N.com/jayenterprises/fertilizers. John Willey & Sons. Cambridge. McColl. The Pennsylvania state University Press.mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. University of Missouri Columbia Extension Division. Fakultas Pertanian. CAB International. RJ – Brazil. . K.A dan Clark. significance and conservation. P. Riyanti. Jenis pupuk P. University Park. 1987. Plenum Press. 2000. http://www. E. D. Anas. F and Brotzman. Saraswati. New York. N and J. 193 pp. Badan Litbang pertanian.L.html Joffe.. Sutton. 1983.I.

S. M. micronutrients. I.J. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Universitas Sriwijaya. 1994. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan . Soil Microorganism and Plant Growth. 2006. 1982. Cycles of soil carbon. Program Pasca Sarjana. Namun. N. Abdul Madjid. 23-30. 202-204. N. manual and atlas of pennicillia. 1977. Program Studi Ilmu Tanaman. Cambridge. Indonesia. Palembang. 1970. Jasad Renik Pelarut Fosfat. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Stevenson. F. Ir. sulphur. Harvard university Press. Elsevier biomedical press.M. John Willey & Sons. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. C. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose).staff. Disertasi. 1986. Cambridge university Press. Oxford and IBH Publishing Co. 380 p.J. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. M. 1968. Miller.. Indonesia. Institut Pertanian Bogor. yaitu Nitrogen (N). Yuwono. Program Pasca Sarjana. Tombe. [http://nasih. M. 2008. J. Sekilas Pupuk Hayati. New York.Phaff. Program Studi Ilmu Tanaman. phosporus. Universitas Gadjah Mada. Mass. E. Tiga unsur hara penting tanaman. Fosfor (P). N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Cambridge. Premono. Introduction to fungi. Ramirez. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. H.ac. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Hara N tersedia melimpah di udara.W and Mrak. New Delhi. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Subba Rao. nitrogen. Pupuk Hayati. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Palembang. Bogor. E. Program Pascasarjana. The life of yeast. 83-123 pp.id/] Diposkan oleh Dr. W. New York.ugm. Universitas Sriwijaya.

hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Namun. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. 2008). Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Sebaliknya. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. karena terikat pada mineral liat tanah.Azotobacter sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Mikoriza merupakan . Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Penicillium sp. antara lain: Aspergillus sp. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar.

kesehatan dan produktivitas tanaman. Entrophospora. Gigaspora dan Scutellospora. bercabang. kruing. . 2004). Hifa memasuki sel kortek akar. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). dll. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. mulai dari paku-pakuan. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Ektomikoriza 2. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Dilain pihak. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. rambutrambut akar tidak ada. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. mangga. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. karet. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. 2006). misalnya jenis-jenis meranti. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. pasang. padi. hingga pohon rambutan. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. 1997). Ektendomikoriza 3. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Paraglomus. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. 2003). Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. membentuk chlamydospores (Morton. kelapa sawit. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Archaeospora. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. jenis rumput-rumputan. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. mempening (jenisjenis Fagaceae). adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. pinus. Acaulospora. lapisan hifa pada permukaan akar tipis.suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman.

Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. harus diamati dibawah mikroskop. singkong dan sorgum. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. padi gogo. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. vesikel intraseluler. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. kopi. bawang. tembakau. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. 2004). Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. selada. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. vesikel (vesicle) dan spora. 1. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. kebanyakan berbentuk bulat telur. akan tetapi belum berhasil. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. palem. barley. kakao. 2004). Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. pepaya. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. karet. kacang tunggak. teh. kapas. 2003). Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza.Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. apel dan anggur (Rahmawati. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. jeruk. 1998). merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. nenas. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Tipe CMA .

1981). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Mirip dengan cendawan patogen. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. pembengkokan inti sel. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. yang memiliki perbedaan tegas.vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Arbuskul berperan dua arah. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. 2.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Schubler et al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. 2004). pembentukan organ baru. Dengan bertambahnya umur. dengan Ascomycota . kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 2004). 3. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar.

Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. 2002). Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Oleh karena itu. kepadatan propagula. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Entrophospora. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Diversipora. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 1991). biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Acaulospora. Diversisporaceae. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Intraspora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. 2006). 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. dan Glomus sp. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Gigaspora-ceae. Pacispora. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri.. Kuklospora.dan Basidiomycota. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. (Sagin Junior & Da Silva. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. tanaman inang. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Paraglomus. Geosiphon. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Walaupun demikian. . 2006). 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Gigaspora. Scutellospora. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah.

tanah. saat kelembapan air rendah. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. logam berat dan fungisida. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Vesser et al. 1981).II. pH. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. 1981). (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. hal ini menguntungkan.. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. kadar air tanah. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih . intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Untuk daerah tropika basah.pada tengah hari. bahan organik tanah.

Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun . 1997). Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Serasah tersebut mengandung hifa. 1984). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. air dan udara.. 1981). vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. 1997). (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.ekonomis. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.

. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. . klor. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. 1998).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. 1995). fungisida Agrosan. 1982 dalam Anas. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1984). Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1981). Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. alumunium dan mangan.mangan. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. 1984 dalam Anas. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Benlate. dan Na yang tinggi (Mosse. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Plantavax. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1997).

inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Sawahlunto Sijunjung. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 2005). P. pembakaran. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Pada tanaman pisang. Untuk tanaman manggis. 1995). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0.Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi . 1 9% (Gededda et al. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). jumlah bahan organik yang dihasilkan. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. karena perubahan spesies tanaman. K. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994).04 menjadi 0. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. 1984). dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. 1996). ameliorasi dengan bahan organik. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1996). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. unsur hara dan struktur tanah. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. cropping sistem. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Dalam budidaya tradisional.

manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. III. 1997). serta patogen akar. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 2006). jumlah daun pada umur 4. sedangkan inokulasi G.7% dan 4.2% dibandingkan dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang.7% dibandingkan dengan kontrol. Selain daripada membentuk hifa internal. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 1997). 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. bobot kering tajuk. 2002).dengan mikoriza (Muas et al. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Di dalam arbuskul. 8 dan 28 MST. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah.5% dibandingkan dengan kontrol. G. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit.masing sebesar 5. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. kekeringan. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. sedangkan inokulasi G. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: .

Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. 3) melindungi dari herbisida. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. dan Zn). 1997). Pada kedelei. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. salinitas. Setelah periode kekurangan air (water stress). Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Zn. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 2006). sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Cu. pemadatan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Selain itu. keasaman. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Fe. Dengan adanya CMA. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. . Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al.1) adanya peningkatan absorpsi hara. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Zn dan Cu meningkat. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi.

2. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat .Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Infeksi patogen akar terhambat. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. K dan S.1997). baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. 1994). Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. 1994). 2. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. 4. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Dilain pihak. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. 3. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air.

1981). yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 3. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. dan giberalin. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. sitokinin dan giberalin. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 1981 dalam Husin dan Marlis. 1997). Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Interaksi sebenarnya antara CMA.terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. 2000). 40% kebutuhan nitrogen. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Pada tanaman tertentu. atau lahan terpolusi lainnya. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. 1993). Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. 1997). Jika terhadap jasad renik berguna.. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. citokinin. 4. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan . Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. tailing tambang batubara. patogen akar.

Perbaikan Struktur Tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar.pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang.. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang . Bila ini benar. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. tapi juga bagi tanah. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah.. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. 1997). maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 2002). et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. 2002). yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Menurut Hakim. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. 5. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah.

5. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. B. Prihastuti et al.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Seng (Zn++). 1999). phosphor bebas dan mineral. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Phytat adalah senyawa phospat komplek. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air.lain.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. japonicum. 2002). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung .2. 6. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.3.4. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Besi (Fe++). dan protein. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Magnesium (Mg++). khususnya pada tanah yang miskin P.6 hexakisphospat).

Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. spesies cendawan. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit . Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis.BK. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Secara tidak langsung. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. 6. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. yaitu mencapai 70. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.mikoriza vesikular-arbuskular. 1994). dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. tanaman bermikoriza . baik untuk tanaman pangan. tanaman inang. 1997). 3. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya.33%. kadar air. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". temperatur. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Sedangkan secara langsung. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 1987). Bagi tanaman inang. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. tipe perakaran tanaman inang. adanya asosiasi ini. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. perkebunan. pH. 2004).50–90. 2006).

13 mg P/tanaman menjadi 2.(Solaiman dan Hirata. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu . penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.18 mg P/tanaman menjadi 2. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang.02 g biji/tanaman menjadi 5. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. miskin hara dan bahan organik. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.84 g biji/tanaman menjadi 5. infiltrasi air hujan rendah. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. 7. 1995). Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .13 g biji/tanaman. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Sulawesi dan pulau besar lainnya..1.. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. kejenuhan Al tinggi. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.1997). Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. 1997). serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.66 mg P/tanaman.15 mg P/tanaman. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.98 g biji/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Kalimantan. dan hasil kedelai meningkat dari 2.

menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan

pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005).

Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".90 %. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Tujuannya.40.76 % -21. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al.Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.71." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. 69. 8.80 % . "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Peningkatan kadar P nira. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. sebesar 38. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.5 ppm. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.72 ppm dan tanah Inceptisol. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Selain itu. Dengan teknologi mikoriza. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.66 % . selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. 2008). Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : .65 %. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. dengan kadar P tersedia "rendah" .67.15 %. Untuk mewujudkan harapannya.84 % . Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.

Manfaat 1. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2.1. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. spora dan akar terinfeksi. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. selain untuk meratakan hasil. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Tanaman inang dapat berupa jagung. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 2. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 3. sorgum atau pueraria. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. 5. dan kesuksesannya sebagai jaringan . Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 3. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 2008). diaduk merata. 4.Lima hari kemudian. bedeng tersebut dapat digunakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. 6. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan.

Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Diposkan oleh Dr. Dalam teknik pemberian mikoriza. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. mampu menambah daya tahan akar tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Tablet ini dibuat dari cendawan. satu tablet untuk satu bibit. Setelah diberikan pada bibit tanaman. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Ir. Abdul Madjid. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan . yaitu: (1)Parasitik. Kalimantan. Untuk membuat tablet. Aturan pakainya sederhana. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. (3) menggunakan miselia cendawan. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Di IPB. Setelah teruji kemurniannya. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Setelah itu pil dipecah-pecah.7 sentimeter. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia.

(b) cacing tanah. seperti: amoeba. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. (2)Ektomycorhiza. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. seperti: penyakit bercak akar kapas. kutu. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. dan (b)Nematoda. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. yaitu: (1) Makro Fauna. (d)Moluska. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. (3)Acaulospora. (4)dll Diposkan oleh Dr. seperti: omnivorous dan Predaceus. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: (1)Endomycorhiza. semut.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. jangkrik. . Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Ir. dan (3)Ektendomycorhiza. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. (2)Glomus.penyakit pada akar tanaman. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. dan rayap). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Chilopoda (kelabang). flagelata. (c) Arthropoda. Arachnida (lebah. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. Diplopoda (kaki seribu). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. (3)Simbiotik. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. Abdul Madjid. (2)Saprophitik. dan ciliata. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua.

Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. dll. Abdul Madjid. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. dan (d) algae. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. dan (3) Mikrobia. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: (1) Makrobia. dll. Bacillus. (b) fungi. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah . Diposkan oleh Dr. (2) Mikro Flora. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. bahwa berdasarkan ukuran. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. (2) Mesobia.2 mm s/d 10 mm. (c) actinomycetes. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Aspergillus. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makro Flora. terdiri dari: (a) bakteri. Selain itu. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF).2 mm. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Ir. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF).

yang subur melebihi 100. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Ir. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) . Abdul Madjid. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat.000 bakteri per gram tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful