PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke

dalam tiga tipe : 1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998).

walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. selada. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. kopi. jeruk. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. karet. tembakau. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). vesikel (vesicle) dan spora. barley. bawang. kakao. apel dan anggur (Rahmawati.Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. pembengkokan inti sel. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. kapas. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. singkong dan sorgum. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. 1. Arbuskul berperan dua arah. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. pembentukan organ baru. pepaya. 2004). tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. akan tetapi belum berhasil. kebanyakan berbentuk bulat telur. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. 2003). padi gogo. palem. kacang tunggak. 2004). Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. . nenas. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. teh. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. 2004). 2004).

3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. yang memiliki perbedaan tegas. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Pacispora. Paraglomus. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. dengan Ascomycota dan Basidiomycota.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Entrophospora. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Oleh karena itu. 3. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Hal ini menunjukan . Geosiphon. Schubler et al. 1981). Acaulospora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Intraspora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Scutellospora. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Gigaspora-ceae. Diversipora. Diversisporaceae. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Walaupun demikian.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 1981). Dengan bertambahnya umur. dan Glomus sp. Mirip dengan cendawan patogen. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Kuklospora. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Gigaspora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.

Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al.. Palembang. Program Magister (S2). Program . Bahan Ajar Online. 1991). Program Studi Ilmu Tanaman. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Abdul Madjid. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm.blogspot. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. kepadatan propagula. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Indonesia. (Sagin Junior & Da Silva.adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman.com. tanaman inang. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. 2006). CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Http://dasar2ilmutanah. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. A. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Ir. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2002). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 2006). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Universitas Sriwijaya. 2009. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

(2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Palembang. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Palembang. Program Magister (S2). PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan .Magister (S2).. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. 1981). pH. Program Pasca Sarjana. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Palembang. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. hal ini menguntungkan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. 1981). saat kelembapan air rendah. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.pada tengah hari. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Indonesia. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Untuk daerah tropika basah. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Universitas Sriwijaya. logam berat dan fungisida. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. kadar air tanah. Vesser et al. bahan organik tanah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Indonesia. tanah.

Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. air dan udara. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang . 1981). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. 1997). pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1984). Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse.daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Serasah tersebut mengandung hifa. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell.

1984 dalam Anas. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1984). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. 1981). Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar . 1997).tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. alumunium dan mangan. klor. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Al. Plantavax. 1997). Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. dan Na yang tinggi (Mosse. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA.. 1982 dalam Anas. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. fungisida Agrosan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).. 1997). Benlate. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.

Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. 1995). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. unsur hara dan struktur tanah. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Pada tanaman pisang. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. 1995). Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. karena perubahan spesies tanaman. cropping sistem. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. 1998). cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al.04 menjadi 0. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). P. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1984). ameliorasi dengan bahan organik. . Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al.tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. 1996). pembakaran. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. K. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 2005). Dalam budidaya tradisional. 1 9% (Gededda et al. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza.

Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Universitas Sriwijaya. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Program Pascasarjana.7% dibandingkan dengan kontrol.5% dibandingkan dengan kontrol. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Palembang. jumlah daun pada umur 4. Ir. Palembang. Untuk tanaman manggis. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Program Pascasarjana. G.7% dan 4. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Indonesia. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya.blogspot.masing sebesar 5. 8 dan 28 MST. 2009. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Program Pasca Sarjana. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Program Magister (S2). ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Sawahlunto Sijunjung. sedangkan inokulasi G. 1996). Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. bobot kering tajuk.2% dibandingkan dengan kontrol. Program . Indonesia. sedangkan inokulasi G. Http://dasar2ilmutanah. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8.com. 2002). Bahan Ajar Online. A. Propinsi Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman.

3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang . mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Indonesia. Selain daripada membentuk hifa internal. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Universitas Sriwijaya. Palembang. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Selain itu. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. serta patogen akar. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.Magister (S2). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. salinitas. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. 2006). 3) melindungi dari herbisida. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 1997). dan Zn). Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. kekeringan. Program Pasca Sarjana. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Cu. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. keasaman. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Di dalam arbuskul. 1997). pemadatan. Fe. Zn.

Setelah periode kekurangan air (water stress). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. 1994). sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. atau . K dan S. 1997). Pada kedelei. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Dengan adanya CMA. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza.oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Zn dan Cu meningkat. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. 2006). Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air.

sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali . sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. 2. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 4. Infeksi patogen akar terhambat. Jika terhadap jasad renik berguna. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. atau lahan terpolusi lainnya. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. 2. Dilain pihak. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat.lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. tailing tambang batubara. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. 3. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri.1997). Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 1994). Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen.

yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. asam . 4. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Pada tanaman tertentu. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 1981). 1981 dalam Husin dan Marlis. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. 40% kebutuhan nitrogen. 5. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. sitokinin dan giberalin. 2000). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 1997). 1997). Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. citokinin. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. patogen akar. Perbaikan Struktur Tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 1993).. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 3. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 1997). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bila ini benar. Interaksi sebenarnya antara CMA. dan giberalin. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies.hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.

Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. . Menurut Hakim. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. 2002). Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. 2002). Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah.organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. tapi juga bagi tanah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi.

dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. 1999). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.5.4. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 2002). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan.3. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Magnesium (Mg++).50–90. Seng (Zn++). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air.2. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. dan protein.33%. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Phytat adalah senyawa phospat komplek. khususnya pada tanah yang miskin P. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. japonicum. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). 2006). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA).6 hexakisphospat). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. B. 1997). Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. . meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). phosphor bebas dan mineral. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Besi (Fe++).6. Prihastuti et al. yaitu mencapai 70. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. setelah didahului dengan proses infeksi akar.

tipe perakaran tanaman inang. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. pH. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. temperatur. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 7. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. 1994). tanaman inang. 1995). 6. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. spesies cendawan. 2004). Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4.1.BK. Bagi tanaman inang. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. perkebunan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. kadar air. adanya asosiasi ini. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. 3. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. . Secara tidak langsung. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Sedangkan secara langsung. baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalimantan. tanaman bermikoriza . pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara.1987). yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". baik untuk tanaman pangan.

2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap . Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.13 mg P/tanaman menjadi 2. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.15 mg P/tanaman.. 1996) dan pepaya (Cruz et al. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.84 g biji/tanaman menjadi 5.98 g biji/tanaman.66 mg P/tanaman.. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. net fotosintesis. 1997).1997). Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. infiltrasi air hujan rendah.02 g biji/tanaman menjadi 5. Disamping untuk tanaman pangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. miskin hara dan bahan organik. serta serapan hara NPK. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. kejenuhan Al tinggi.18 mg P/tanaman menjadi 2. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.13 g biji/tanaman. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.

meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Dalam kondisi salinitas tinggi. 1994 dan Tam. 7. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. 1995 dalam Aggangan et al. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 2000). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain. 2000). et al. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman . Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Zn dan Cu (Al-Kariki. 3. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Namun demikian. 2001). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. terhidar dari plasmolisis.kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. 1994). meningkatnya tekanan osmotik. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian.

karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. zat yang melarutkan PAH. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Menurut Wachjar et al (2002).. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat.. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. 1993). dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA . 2000). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi.inang terhadap logam beracun. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. efisiensi penyerapan P. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. 12 diantaranya bermikoriza. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Oliveira et al. (2001) menunjukkan bahwa P. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal.

Selain itu. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S.berpengaruh terhadap jumlah daun. 2005). Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). sulit dan cukup mahal transportasinya. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya . Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. produktivitas. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit.

84 % .11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. diaduk merata.15 %. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.5 ppm. Dengan teknologi mikoriza.72 ppm dan tanah Inceptisol.melindungi spesies genetik jati muna. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.. Untuk mewujudkan harapannya.76 % -21. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.65 %. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. 2. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. spora dan akar terinfeksi. bedeng tersebut dapat digunakan. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.Lima hari kemudian. Tujuannya.40. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. . Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. sebesar 38.71. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.67. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. dengan kadar P tersedia "rendah" .80 % . 69.66 % . selain untuk meratakan hasil. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Peningkatan kadar P nira.90 %. 8. 2008).

Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. 5. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Tanaman inang dapat berupa jagung. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. 3. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. Dalam teknik pemberian mikoriza. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 4.3. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. sorgum atau pueraria. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. . Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. 2008). Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Dalam rangka pelaksanaan program ini. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. 6. Manfaat 1.

kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Setelah itu pil dipecah-pecah.500 dan 2. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. 2008) .Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. 1. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Kalium (K) bertambah 86%. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Dengan demikian. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. Sebagai pembanding.50 dan 2.50. Aturan pakainya sederhana. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza.7 sentimeter. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus.J.M. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . sampai 230%. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.00. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan.00. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Kalimantan. 1.ah takaran 1. Untuk membuat tablet. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. dan Nitrogen (N) 75%. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Tablet ini dibuat dari cendawan. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.00 gram. 1. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. satu tablet untuk satu bibit.00 gram. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml.00 gram (Hardiatmi S. Setelah teruji kemurniannya. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Di IPB.

penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Diposkan oleh Dr. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Program Pasca Sarjana.com. Program Magister (S2). ** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Ir. Universitas Sriwijaya. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer).Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Pasca Sarjana. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur . Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Magister (S2). Palembang. Palembang. Bahan Ajar Online. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. A. 2009. Palembang.

Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Kamizae. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. OST dan Simbionriza. Tabel 1. 4. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong.4-13%). Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%.hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. b. jamur yang bersifat patogen. Rhiphosant. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. kehutanan. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. virus.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------- . Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. 4. d.12 Dengan Mikoriza 48. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.70 ------------------------------------------------------------------c. .64 35. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Bali. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.Coklat (kakao) Tanpa Mikoriza 28. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32.50 33.44 Dengan Mikoriza 28. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.14 Dengan Mikoriza 43.28 34. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media.

Setelah itu pil dipecah-pecah. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.7 sentimeter. Untuk membuat tablet. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Setelah teruji kemurniannya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Dengan demikian. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Setelah diberikan pada bibit tanaman. sampai 230%. Kalium (K) bertambah 86%. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri.Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. javanica. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. satu tablet untuk satu bibit. Kalimantan. 4.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. 2008). Empat bulan .4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. 4. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dan Nitrogen (N) 75%. Di IPB. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.M. Tablet ini dibuat dari cendawan. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Selain P. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0.S. Aturan pakainya sederhana.

Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. Setelah itu. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. Sebelum digunakan. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. pH tanahnya sangat bervariasi. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas.000 spora secara merata. 4. Apabila dikemas dalam bentuk tablet.5 g carrier. berarti dibutuhkan 500 g carrier. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah.000 spora. Pada praktek sebelumnya.000 kapsul. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. . Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. (2) Mempermudah penanganannya. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus.kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. (3) Dapat di produksi secara khusus. setiap kapsul dibutuhkan 0.

Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Anabaena azollae OST Azotobacter. Azzospirillum lipoverum. Sinorhizobium. Azotobacter. Tabel 3. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Azospirillium. Ankia alni. Mikrococcus. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Beijerinckie. Clostridium pasterianum.Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. R.D. Rhizobium. Aeromonas punctata.M. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Bacillus. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Lactobacillus spp. Nostoc muscorum. Nitrobacter. Nitrosomonas.

Program Pasca Sarjana. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Biologi Tanah dalam Praktek. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. DAFTAR PUSTAKA Anas. Diposkan oleh Dr. Indonesia. Program Magister (S2). Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. KESIMPULAN 1. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar . I. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. 1997. Jurusan Tanah. Palembang. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Abdul Madjid.Bioteknologi Tanah. Http://dasar2ilmutanah. 3. Palembang. A. Indonesia.blogspot. Fakultas Pertanian.com. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Program Pasca Sarjana. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. IPB. Anas. Laboratorium Biologi Tanah. Program Magister (S2). 2009. Indonesia.Madjid. 1989. Ir. Palembang. Palembang. I. Bahan Ajar Online. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 2.

Diversity and classification of mycorrhizal associations. Ba. 2008. K. Biantoro M. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Amin Diha. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. M. 1997. Hasanudin. M. 2007. and F. p.. Fertil. Rev. 2007. 26 (9) : 1201 1205. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. 2002. Mulyati M dan Roy H. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge.F. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. 2004. Martens and H.M. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Jakarta. Reber.com Fleibach.google.google. Go Ban Hong. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. E.. 2007. Lampung. Nurhajati. 1994. 12-15 Desmber 1995. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Bailey. 2008. Brundrett. IPB.M. 1986. No. Rusdi Saul. Dudi. Vol 5. ISSN 1411-0062. A. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Husnal. Biol.M. Biochem. A.G. Lubis. 1997.lunarpages.. terhubung berkala : www. . 9/2 : 91-95. Ika RS dan Saubari MM. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.Universitas Bioteknologi. Sanon . Hakim dan Kusli. M. 79:473– 495. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. M. Faisal T. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Soils 24 : 81-86.H. and J. A. Growth response of Afselia africana Sm. Sutopo Ghani Nugroho. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Mycorrhiza J. El-Atrash. Mahfud. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Husin. Adinurani P. Universitas Lampung. Azcon.com dalam http://support. INFOTENS.1. Yusuf Nyakpa. R. Prosiding Kongres Nasional VI HITI.B. Doponnois.com.R. H. Vol 5. Biol. 2000. Universitas Lampung. N. hal 83-89. G. Iskandar. Soil Biol. Hakim. 2000. Dexheimer. Ali. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).H. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. Lampung. R.

Cambridge University Press. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Castro. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Biotropia 8 : 39-44..Y. 2001. Publ. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Morte. Jordan.J.No56 : 131-137. 1994. JC.google.ae. 2001. 10/4 : 155159. Bagrayad. Mycorrhiza J. JMR. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Bull Manjunath. http ://www.. A. Mycorrhiza J. Notohadinagoro. Fertil. 24 Januari 2006. 1997. 2008. Biol. J.usu.id. M. Soil ecology. Killham. K. Plant and Soil 78: 147-150. Khan. Rahmawaty. 2000. S.. 1995.library.G. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion.id. 1984. Oliveira. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Schubert. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering.. 2004. E. Khan.V. Mycorrhiza 10/3 : 137-143.pdf.H. Mosse. Bogor..com dalam http://hortikultura. Soils 26 : 79-87. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. C. Terhubung berkala www. Biotrop Spec. Kim. and McDonald.. Jember. 1981.. Azcon. . D. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. R.Lovisolo and A. Ress. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. 2000. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity.Tervesia claveryi.download/tp/htm-rahmawaty s. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. Universitas Jember. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.go. A. D. 1993.Joner. and C. Pattimahu. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. Leyval. 1998. 10/5 : 241-247. K. Lozano. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Tejoyuwono.S. 2003. A. IPB. Sekolah Pasca Sarjana. D. 10/3 : 115-119. Mycorrhiza J. Dodd and PML.litbang deptan. and R.

R. J. Singh. Abdul Madjid. Simangunsong S. Wachjar A. Yadi S.. S. 1995. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali.No56 : 131-137.A. R. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. and G. Rao. 2002. F. Romeida. Widodo.. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Unsur hara tanaman. Kapoor. 105(12):1413-1421. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. and K. Am. and R. 2006. Bogor Schubler.J. 1991. Fertil. M. Biol. Dela Cruz. Subiksa. hal 69-74. Thomas. Soil Sci. Bethlenfalvay. Mahadevan. Vol 3. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. 1984. Soils 28 : 139-144. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Walker. 2002.B.S Subha. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Biotrop Spec. Res. A new fungal phylum. 1994. Penerbit Universitas Indonesia. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.Rotwell. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) . Ninin Y. dan Marlin. A. 57 : 77-81. and C. Ir. 2001. IGM.T. J. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland..K. Schwarzott. N. Incidence of vesicular . Biotrop Special Publ. D. Plant and Soil 80-99-104 Rani.. Mycol. Soc.L. D. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Buletin Agron.R. 2005.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. S. A. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Franson.E. 1999. Edisi Kedua. Publ. Zarate. Diposkan oleh Dr. Ragupathy and A. Bengkulu.S. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil.

Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Sumatera Selatan. Palembang. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Palembang. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Program Magister (S2). Indonesia. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Palembang. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Indonesia. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. termasuk biodiversitas. biologis dan cultural. Program Pasca Sarjana. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. PENDAHULUAN 1. Universitas Sriwijaya. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Program Magister (S2). Bukit Besar. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam .Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.1. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

baik kesuburan fisik. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar.pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. jamur. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut . termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. 2002). penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. Upaya yang mulai dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. kimia maupun biologi. kemasan . Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati.

fluorescent. Arthrobacter. P. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . multivorans (Hasanudin. B. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1.2003). megatherium. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Pemantap agregat tanah 6. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu.( Gunalan.1 1μm x 1. B. dan P. B. 3. Peningkat ketersediaan hara 3. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Penyedia hara 2. P. Fimbria adalah struktur . Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri.2. polymixa. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah.5. Micrococus dan Mycobacterium. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. B. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa.0 μm. 1996): 1. Flavobacterium. cereus. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. putida. Perombak persenyawaan agrokimia 1. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. subtilis. licheniformis. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. ukuran tiap sel bakteri 0. jamur dan aktinomisetes. B. Achromobacter.4. Pseudomonas.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. 2.5-0. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Pseudomonas terbagi atas grup. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof .berbentuk batang lurus atau lengkung. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.

radiasi cahaya. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. 4. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . dan ribosom. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. asam nukleat. dan gula posfat. 6. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. 1. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik.2005). fosfolipid. kelembaban temperatur dan faktor lain. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. nukleotida. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Semakin tinggi C-organik dan . Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. materi genetik.terutama yang bersifat heterotrof.sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. 5.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. tetapi pada umumnya rendah . suhu tinggi dan zat kimia. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. hewan dan mikrobia. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik.tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.

. ATP.01 – 0.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. dan mineral P primer. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.Mn2+ dan Ca2+. karbonat apatit. Al-P. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. AlPO42H2O Variscit.2007). FePO42H2O Strengit. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. Fe-P dan P tidak aktif. yang meliputi occhided-P .pembentukan bunga .Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit.Al3+. Dalam bentuk anorganik. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme.2002). aluminium dan hidrat. pembentukan akar halus dan rambut akar. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. 1. diantaranya dalam proses sintesis protein. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. reductant-P . Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit.

A. Program S2. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. . krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . hijau. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat.40% P2O5. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.17 . fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Http://dasar2ilmutanah. guano. Universitas Sriwijaya.15. Bahan Ajar Online.5 juta ton endapan guano (0. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2.H2O). yaitu 7. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. dan metamorf.com.Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Sebagai contoh 15-30-15.3 x 1011 mol P th. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Di dunia. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. berat jenis 3. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Seperti halnya nitrogen. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .15 3. kilap kaca sampai lemak. Secara geokimia. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. dan kekerasan 5. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. dan milisit {(Na. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2).4 . Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik.beku.6 x 1011 mol P th . Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. Selain sebagai bahan pupuk. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. 1992). Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Propinsi Sumatera Selatan. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak.blogspot. Sumber lainnya berasal dari jenis slag.20. Jika aktivitas manusia (anthropogenic).Cl. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Indonesia. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Program Pascasarjana. fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. 2009. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. sedimen. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros).

Indonesia. Program Magister (S2). tartarat dan alfa ketobutirat. Sumatera Selatan. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Fe-P atau occluded-P. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. suksinat. Al-P. Bukit Besar. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Program Studi Ilmu Tanaman. malat. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. MgP. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Palembang. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Program Pasca Sarjana. Fospor relatif tidak mudah tercuci. yaitu dalam bentuk Ca-P.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Pasca Sarjana. glutamat. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia.Penurunan pH juga . Bukit Besar. fumarat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah .Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. Sumatera Selatan. oksalat. Sumatera Selatan. Ir. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Program Pasca Sarjana. laktat. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. ** Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. glioksalat. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Palembang.1. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia.

Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Disamping meningkatkan P tersedia. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit.OH + R-COO. dan lemah (suksinat. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. sedang (malat. oksalat.---> M OH + H2PO4H2PO4 . salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. malat. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif.laktat. Hasil penelitian Pramono et al. salisilat). demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. asetat dan ptalat). Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. tartarat dan malat berefektivitas sedang. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . oksalat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. malonat. sedangkan asam malonat.disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. tartarat). . (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti.

Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.0 x 10^5 12 Protozoa 2.2 x 10^9 5.0 x 10^8 4. 1961. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. merupakan bentuk antara (transisi). Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat.26 x 10^8 1.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.2 Ammonifiers 5.asam amino dan asam fenolik. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.4 x 10^3 1.7 x 10^4 0. sitrat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1. glikolat.0 x 10^3 2 Algae 5.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Demikian juga asam . Tabel 1. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. oksalat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.0 x 10^6 7 Fungi 1. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). glukonat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. suksinat. malat. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. 1971.2 x 10^6 1. asetat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. 2007). sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran.6 x 10^7 7. alfa ketoglutarat.0 x 10^3 2.

Bacillus sp. 13 dan 14%. (3) tingkat dissosiasi asam organik.4 ppm menjadi 59. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.6 ppm pada tanah steril. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. FePO4. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides.3.5 ppm menjadi 30. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. AlPO4. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. 6. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung.7 ppm menjadi 34.5 . Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. apatit. Ca3(PO4)2. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 .7 ppm pada tanah sterl dan 0.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.8 – 3. . Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.9 dan 0. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. 0. Bacillus substilis. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. 8. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.1 – 3. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat.8 ppm. lesitin. gliserofosfat. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.9 ppm.

Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al.Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. berat kering trubus. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. dan aktinomicetes. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik . Isolat diinkubasi selama beberapa hari. misalnya: fungi. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. dan Vlek (1996). Misalnya. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. berat basah akar. Pada tanaman jagung.2. luas daun serta kadar P trubus. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. berat kering akar. berat basah trubus. Pada percobaan yang lain P. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. Moawad. AlPO4 tidak larut dalam air. bakteri. minimal duplo. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. 2. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya.

dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup

pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.5 (5) KCl 0. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan.01 . Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No.20 (3) MgCl2.025 .Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu dikembangkan . mikroba pelarut P. Azotobacter sp. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.7H2O 0. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3).30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .6H2O 0. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.0. berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.2 (7) Bromophenol Blue 0. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).20 (4) MgSO4.3. 3.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .5 . Lactobacillus sp.5 (6) (NH4)2SO4 0.01 .05 .

** Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Program S2. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Palembang. Indonesia. 2009. Masa simpan : 12 bulan. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Bahan Ajar Online. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Diposkan oleh Dr. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Bukit Besar.Kemasan : 5 dan 25 kg. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. bakteri pelarut fosfat. Bukit Besar. bakteri pelarut fosfat.com. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . A. Palembang. N. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Propinsi Sumatera Selatan.Miza Pluss. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Indonesia. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Tiens Golden Harvest . Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P.Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Ir. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Palembang. Sumatera Selatan. . http://dasar2ilmutanah. bakteri penambat N. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost.

Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. lesitin. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. kacang panjang dan tebu. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. 5-21 dan 14%.8 ppm. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.3 . jagung. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Bacillus sp. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28.8-3. 3-9. kentang. bit gula. Ca3(PO4)2. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP.4 ppm menjadi 59.9 dan 0. kubis. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.6 ppm pada tanah steril. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.7 ppm pada tanah non steril dn 0. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.9 ppm. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17.7 ppm menjadi 34.5 ppm menjadi 30. Bacillus subtilis . kedelai. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. padi. Escherechia freundii dan E. barlei. gliserofosfat.1-3. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan .Sumatera Selatan. tomat. Indonesia. Circulans pada tanaman kedelai. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. 0. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Intermedia . Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. 3-13. Bacterium mycoides dan B. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P.

Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. oksalat. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Puptida dan P. bayam dan kacang panjang). diantaranya asam sitrat.2007). 1991). laktat. suksinat.Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Pada tanaman jagung. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. . 1994). Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. 1992.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Premono dan Widyastuti. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. Pada percobaab lain (Buntan. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. Striata. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. 1992). P. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. glutamat.

87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Bacillus megaterium. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan .22 g. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. dan 606. fumarat. 203. dan Chromobacterium sp. Fe2+. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area.5 cm. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. 217. Klebsiella aerogenes. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. umur pembentukan polong. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+.15 g tanaman-1. 207. Daerah Cikaniki. 575. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF.75%. Gunung Botol. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. Mg2+. 208.67%. 903.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.) di Tanah Marginal. malat. umur panen. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). jumlah biji.67%. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. 354.81%. 930.. Megaterium sebagai inokulan padat. jumlah polong. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.5-2. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Klebsiella aerogenes. jumlah bunga. pH tanah. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.48 g. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. Bacillus sp. dan B. dan 61.63%. berat daun segar 4 tanaman per pot.. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.glioksilat.42 g atau ada kenaikan 877. Chromobacterium lividum dan B.3881 ppm dan 280. Chromobacterium lividum. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.30%. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia.

Diposkan oleh Dr. Indonesia. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai.com. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Program Pasca Sarjana. 2009. Indonesia. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai . Bukit Besar. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Ir.Mn. Bahan Ajar Online.blogspot. Palembang. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Indonesia.Fe. Sumatera Selatan. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Palembang. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . A. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Bukit Besar. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Palembang. Abdul Madjid. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.

B. 2003. Citrobacter intermedium . Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang .E dan Hairiyah. Plant Soil 57 : 223-230. Indian Soc. 60:353-364. N and K.Faperta Universitas Bengkulu. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Noor A. Banik. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia. Edisi 3.D. Universitas Bengkulu.S and A.K. Gaur .2007. Kundu.Universitas Sriwijaya. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. 1996.32.J. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.Bacillus firmus. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Elfiati. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. B. Plant Soil . 1982.amelioran. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Escherechia freundii.Soil Sci.2003. S.A. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.J.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. Bacillus megaterium. 1982. 2004. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Hasanudin dan Ganggo. Handayanto. 1997. Fakultas Pertanian USU. Hasanudin.K. 45: 506-509. Buntan.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. Bacterium mesenterricus. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. 6(1) : 8-13.K Jha.C. Majalah Sriwijaya Vol. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Bacterium mycoides.Indian Soc. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.No. Dubey.2. 1980.Soil Sci.1992. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.Medan Gunalan.2005.30:105-106. S. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Pustaka Adipura.

2005. 2006. Tesis..60 no.) di Tanah Marginal. UGM. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops. Abdul Madjid. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** .Widyastuti.terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.R.Disertasi.C. S. S.J. 2006. Pal.T. Buletin Agronomi. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. S.Program Pascasarjana IPB. Patten. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.L and B. 1992.S. 1998. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.Biodiversitas. dan Ciptarasa. Edisi 3. Bandung. S dan Suliasih . 1991. 2001.H. Widawati. UI Press).W.Bandung Rao.R.T. S dan Suliasih . Can. Gunung Botol.N. Yuwono. Edisi 2 . Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Soil Microorganisms and Plant Growth. (Terjemahan Susilo.2002. Microbiol 42: 207-220.NW. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.Yogyakarta. 7(2):109-113. 7(1):1014. Plant Soil. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. 1962. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Kanisus Jakarta.Bogor.Biodiversitas.Penerapan Pertanian Organik. Ir. and Sinha. Sutanto. Universitas Pajajaran. C. 1998.1 Wulandari. Widawati.R Glick. 4(1) : 1-5. Setiawati. 1996. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. Vega. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Diposkan oleh Dr. 198 : 169-177. Jurnal Nature Indonesia.Medellín vol. Supadi. Premono.Agr. Oxford and IBM Publishing Co.Pupuk Hayati .H. N. 2007. 31 (3): 100-106.

Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Program Pasca Sarjana. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Program Pasca Sarjana. Dalam sejumlah kondisi. 1998). Program Pasca Sarjana. Indonesia. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Dibidang pertanian. Sumatera Selatan. Bukit Besar. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. kimia. Universitas Sriwijaya. Palembang. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Bukit Besar. Program Magister (S2). melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. 1998). Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. fungi.(Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. Program Magister (S2). tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang . Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. protozoa. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. aktinomicetes. Sumatera Selatan. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Indonesia. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. PENDAHULUAN A. Palembang. alga dan virus. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Indonesia. seperti bakteri. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik.

Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. dan virus sebagai agensia hayati. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Saraswati et al. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. serta bakteri yang berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. B. kesuburan. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. dan meningkatkan pendapatan petani. 1978). Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. menghemat biaya pupuk. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. bakteri dan fungi perombak bahan organik. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. cendawan.telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. bakteri. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .

Program Pasca Sarjana. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Indonesia.com. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Program Pascasarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Ir. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. A. Diposkan oleh Dr. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. 2009. Program Magister (S2). Palembang.atau CO32-. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Sumatera Selatan. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. pemupukan dan mineralisasi P-organik.Madjid. Palembang. Indonesia. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. OH. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk.blogspot. Bukit Besar. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 . Program Magister (S2). (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Palembang. Sumatera Selatan.01-0.2 mg/kg tanah. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Cl-. Bukit Besar. Http://dasar2ilmutanah.

karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. Pada sistem pola tanam yang terbuka. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. (b) imobilisasi P-tersedia. 1997). Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. keseimbangan P dalam tanah terganggu. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Oleh karena itu. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. hewan dan organisme tanah.(occluded P).. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. 1977). Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. nukleotida dan gula-gula fosfat. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. pemupukan. Subba Rao. fosfor terdapat dalam dua bentuk. Siklus ini berulang terus menerus. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. fosfolipida. Di alam. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat . 1989). 1989. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah.atau H2PO4-) diserap tanaman. Bila ion fosfat (HPO42. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. asam nukleat. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik.

Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. aerasi. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. 1997). aerasi. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. kelembaban. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Umumnya. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Sisa tanaman. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. 1986). Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. hewan dan mikroba yang dikembalikan ke dalam tanah. temperatur. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik.Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Selain kandungan fosfat dalam residu. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. seperti nukleotida atau fosfolipida. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi.. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. 2. . nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. 1.

Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. 1986). Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. dan Ca. Ion Fe. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. H2PO42-. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. Selain itu. kalsium dan magnesium fosfat.Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. Fe. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-.lebih mendominasi.----> Al(OH)2 H2PO4. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. besi. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Phosphaticum. Al. Pada pH tanah agak masam hingga netral.lebih mendominasi. H2PO42. dengan melepaskan fosfat. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1.+ OH- . yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.+ 2H2O ----> AlPO4. Pada kondisi tergenang. dan PO43-. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Mn. Nilai kritis C/P adalah 200. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Al3+ + H2PO4. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam.2) H2PO42.+ 2H2O ----> FePO4. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Mn. pH tanah. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Hal yang sama.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.

Abdul Madjid. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. 2007). Kandungan bahan organik tanah. Mn. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. Program Magister (S2). selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. Fe. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. 3. suksinat yang dapat mengikat Al. A.com. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. 2. Ir. 2009. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Http://dasar2ilmutanah. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Diposkan oleh Dr. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah.Ca(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ Didaerah rhizosfer. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: .blogspot. laktat. Universitas Sriwijaya. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). asetat. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi.

Universitas Sriwijaya. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Program Pasca Sarjana. Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Hawksworth et al. Reproduksi secara seksual. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Bukit Besar. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Palembang. Bukit Besar. 1995). 2007). Sumatera Selatan. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman.. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Program Magister (S2). Indonesia. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru.5 juta (Hawksworth. Universitas Sriwijaya. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri . ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). kadang-kadang berkelompok membentuk miselium.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Sekitar 70. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Palembang. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Indonesia. Indonesia.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Sumatera Selatan.. 1970). 1991. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Palembang. miselium menghasilkan spora. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan.

CO2 terhambat. tidak peka. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. beberapa diantaranya bersifat sparofit.(non-motile) disebut zygospora. eksudat akar. 1993). 2007). Bersama-sama dengan bakteri. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. 1992). fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. siklus hara. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. bagian bawah. Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. karbon . (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. dan pengelolaan lahan. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. 1993). Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. bagian tengah. baik berupa daun maupun kayu. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. dan pengendalian penyakit. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. sebagai contoh . organisme rhizosfer. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air.. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat.

Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. dan essensial dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. dan Rhizoctonia. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. cat. nitrogen. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. hara mikro.parasiticus yang . 1995). 1995). Selain itu. sayuran. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. dan mungkin air) ke tanaman. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. 2007). Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. contohnya A. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. dan kulit (Hawksworth et al. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat.flavus dan A. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian.dioksida. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. dan semak. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks.. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. tekstil. Seperti bakteri. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. udara. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. tanaman pangan. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. (3) Patogen atau parasit. Fungi patogen akar seperti Verticillium.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Namun demikian. serta banyak dijumpai dalam tanah. Phytium. Sebagai contoh A.

sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. termasuk manusia.koningii (merton dan Brotzman. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Karbon dioksida . jaringan hewan dan tanah.menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. 1999). dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol.5-9. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. 5. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. 2. 1979). membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. 4. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. 1983). Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. 3. Pada tanaman.5. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. gandum. 1986). Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin.. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. 1982). 1987). diantaranya T.harzianum dan T.75-5x 2-6im. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. 1968).

Indonesia. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Palembang. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. nitrogen. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Universitas Sriwijaya. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Palembang. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut . Program Magister (S2).dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.com. Palembang. Indonesia. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. vitamin. Program Studi Ilmu Tanaman. A. 2009. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana.blogspot. Sumatera Selatan. Program Pascasrjana. Program Pasca Sarjana. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr. dan mineral lainnya. Sumatera Selatan. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Magister (S2). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Ir. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. Sumatera Selatan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online.

cereus. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum).. B. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Arthrobacter. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. 2006). asetat. B. glukonat. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. alfa ketoglutarat. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. candidus. merupakan bentuk antara (transisi). Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. subtilis. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. asam amino dan asam fenolik. malat. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. B. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Pseudomonas. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. 2006). Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. dan Chaetomium sp. Flavobacterium. Trichoderma viridae. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. FePO4. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. Micrococus dan Mycobacterium. glikolat. suksinat. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. licheniformis. jamur dan aktinomisetes. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Schlerotium & Phialotobus. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. B.. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). 1994). Achromobacter. B. Penicillum. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. Fusarium. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. harus mengandung 8 macam nutrisi. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah. Penicillium sp. A. oksalat. . (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. (3) tingkat dissosiasi asam organik. sitrat. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. megatherium. AlPO4. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. polymixa. apatit. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.

Hutami et al. AlPO4. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. (3) inokulasi R. 1957 .. (2001). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.5%. 1978).0-40.21% dan C/N ratio sebesar 9. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita.04-0. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. dan FePO4. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. dan serapan N dan P.0%. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). dan mesir. aktivitas penambatan N. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. dan 10 kali. dan serapan N dan P berturut-turut 7. japonicum. 1982). 1986). Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. 1. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. margarita.0-20% (Gaur. niger. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. dan G. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. 8 kali. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot).8 kali. Subba Rao. magnesium (Mg) sebesar 0. 1967).039-1. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. .35%. niger strain NHJ2 1 ml per biji. 1980 . nitrogen (N) sebesar 2. kanada. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 1977 . Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2.yaitu: karbon (C) sebesar 19. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander.14%. Kundu dan Gaur.3 kali. aktivitas fiksasi N. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. fosfor (P) sebesar 0. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao.010. kalium (K) sebesar 0. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. A. (4) inokulasi R.4 % dibandingkan kontrol. yakni lebih dari 10 kali lipat. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. (2) inokulasi R. Lestari (1994).0-2.

Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). 2000). 2004). Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung.. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Bogor. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Selain daripada itu T. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. scwanniomycetes occidentalis. Tanah ini .78 ppm (Baratha. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). (2000). Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada media tumbuh GAGES dan GES. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan.. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. bahan organik. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Aspergillus sp. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. kab. aspergillus niger. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Aspergillus niger. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Pennicillium digitatum. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat.. Penicillium sp. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. T. Trichoderma viridae. 42. dan Chaetomium sp.

Universitas Sriwijaya.memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Tanah ini terkenal sangat miskin. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Sumatera Selatan. Palembang. Program Pascasarjana. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin.com. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.blogspot. Program Magister (S2). Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Namun demikian. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. . Program Magister (S2). Bahan Ajar Online. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol. A. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Bukit Besar. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Http://dasar2ilmutanah. Ir. Abdul Madjid. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. kandungan bahan organik rendah. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Palembang. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Sumatera Selatan. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. 2009. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Diposkan oleh Dr.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Indonesia. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung.

Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. mempercepat proses pengomposan. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. memperbaiki struktur tanah. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Di Indonesia. arang. R. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. menekan soil-borne disease. dan kompos.130. biakan kering beku. dan tepung. Universitas Sriwijaya. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung.11. biakan cair. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah . Namun. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi.760. Program Pasca Sarjana. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. atau ketempat pengomposan. atau zeolit. sekam. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Palembang. dan juga pada minuman.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Sumatera Selatan. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Bukit Besar. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). biakan kering. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat.*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. pelarut. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. 2008). Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. tanah. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Indonesia. vermikulit. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.

tetapkan kelembapan bahan pembawa. Stase. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. cara penyimpanan. Namun. seta jenis tanaman yang cocok. oksalat. baik berupa bakteri maupun jamur. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. jenis. 2008). glikolat. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. 2008). sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. sitrat. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. 2008). lartrat. artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. suksinat. tanggal kadaluwarsa. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. Selain itu. Dengan mempertahankan kelembaban. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada.melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Propionat. dan ketoglutarat. Pada pengujian pupuk mikroba. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Mulai tahun 2004. Di Indonesia. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. fumarat. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. laktat. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam .

dan meningkatkan serapan P tanaman. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. Grt 3. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. dan Ca. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I).Suatu teknologi irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.0.65) hingga 147.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar.organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.0. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Fe-. 50 kg P. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. Sehingga . serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.85ug/ml (pH 5. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.59%). mikoriza. Mn-. yaitu mikroba pelarut fosfat.0./ha (23.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.0.60 ug/ml (pH 4. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. Aspergillus niger NHJ2.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi.32% dan 16% pada padi.28 ugfrnl (pH 2. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.1).47) hingga 394. memobilisasi. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. 50 kg/ha SP36. bobol kering tanaman. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.56 ug/m! (pH 6. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.

Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. dan Vlek (1996). sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. khususnya isolat fungi. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. dan actinomicetes.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. Buat medium agar Pikovskaya. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. 3. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. 8. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. 7. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat.dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. 5. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. bakteri. 6. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. 2. – 8. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. AlPO4 tidak larut dalam air. Moawad. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Ulangi langkah di atas secukupnya. untuk menuang medium ini ke dalam cawan . Konsentrasi fosfat. -4. 4. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. minimal duplo. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. antara lain: 1. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. – 6 s/d 10 ext.

(2000). Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. 3. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan . fosfatase. Goenadi et al. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase.petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. bakteri. A. sehingga dapat diserap tanaman. 2000). Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh 2. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. dkk. misalnya: fungi. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Ketebalan agar. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. 1995). Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. (Goenadi. Misalnya. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. Kecepatan pertumbuhan mikroba. dan aktinomicetes. Melalui aplikasi pupuk hayati. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. 4. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik.. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini.

PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. 1995). dan volume akar. Hasil percobaana Goenadi.12 bulan (Goenadi et al. kedelai. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. ketersediaan hara di dalam tanah. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. B. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh . dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. dkk. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian.. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. penambat nitrogen bebas. bobot kering bibit. (1997).

Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha).Dosis dan kandungan mikroba Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh.8 kali.5. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. 50 kg KCl).209 me/100g). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. 2000). diameter batang. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. . dan serapan N dan P berturut-turut 7. bobot kering akar. 8 kali. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. aktivitas fiksasi N. margarita.3 kali. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). A. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Al-dd 1. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. dan 10 kali. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. Rhizobium 108-109. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. niger. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. pH 3. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. aktivitas penambatan N. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. MK 1999. (3) inokulasi R. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. Rata-rata bobot kering tanaman. (4) inokulasi R. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. MK 1997.96. jumlah bintil akar. C. serapan N dan P tanaman. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. jumlah polong isi. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). bobot kering total. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. dan serapan N dan P. japonicum. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. 1. dan G. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. 100 kg SP-36/ha. (2) inokulasi R. tinggi tanaman.

7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Azobacter sp2.92 % . Azotobacter. Mikroba pelarut fosfat3. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Migro Plus . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. mikroba pelarut P. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Lactobacillus sp6. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Hg.70 ppm . Zn = 3. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr.D.Ir. Mn = 0. Pseudomonas spp = 34. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Pb. K = 1700 ppm . N = 0. Azospirilum sp4. Cd dan Mikroba Patogen. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.85 ppm . yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%.04 % . Lactobacillus. C organik = 0. Fe = 44. Cu = 0.23 ppm .Lukman Gunarto MSc.3 ppm . dan mikroba pendegrasi selulosa.

dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. akan mendapatkan K dan unsur lain. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). mikroba pelarut P. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen.Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Menurut penelitian Dr. penambat Nitrogen dari udara. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh . apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. Azotobacter sp. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Hasil dari pendegradasian tersebut. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. ada yang berfungsi sebagai penambat N. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Lactobacillus sp. populasi mikroba untuk menambatkan N. unsur N. pembentukan anakan dan primordial. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. probiotik MiG ternak. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. Lukman Gunarto. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). sehingga keaslian produk MiG corp. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan.

MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Bahan Ajar Online. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Tidak masalah. Universitas Sriwijaya. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. . Indonesia. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. apabila penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Caranya sangat mudah. Palembang. Indonesia. A. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.blogspot. rusak atau mati. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Palembang. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Abdul Madjid.com. Malahan tanaman menjadi semakin subur. 2009. http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bukit Besar. Ir.dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Palembang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Sumatera Selatan. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Diposkan oleh Dr.

Introductory Mycology (4th Ed). In. 1996. New York. Philadelphia. 1997. Eliane M. S. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Microbial. J.(2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. P.W. John Wiley and Sons. 1982.C. G.. D. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. P. Edson L.J. Inc. Bogor. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. Orivaldo J. Rosario Azcón Jose M. SSSA. and Webster. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.T. Barea. London. Souchie. 1995. Buresh.J. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Chapman & Hall.W. Communities of P-solubilizing bacteria. 51. R. Pusat Antar Universitas IPB. 1999. candidus. Campello.. J. Buresh et al.. and Hellums. scwanniomycetes occidentalis. Fusarium. R.C.. 1992. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dickinson.R. D. 868p. 111-149. E. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Carroll. Mims. DAFTAR PUSTAKA Anas. J. dan Chaetomium sp. VII. Blackwell. C.T. N. Pennicillium digitatum. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. and Schweizer. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. 13 : 749-752. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Publ. Baniks. Penicillum. 1993. Dhandhun Baratha. C. 334-337. aspergillus niger. R. Aspergillus niger.. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. M. A. and Wicklow. L. New York. Dix. 2004. 1-44 pp.. Madison. Penicillium sp. I. fungi and arbuscular . Trichoderma viridae. M. 1967. J.J. Schlerotium & Phialotobus. (eds).C. PA. Building soil phospharus capital in Africa. Widyastuti. Saggin. Eduardo F. Premono dan R. Plant soil 60 : 353-364.. Alexopoulos. S.. Fungal Ecology. 2006. Canadian. USA.. WI. and M. Chonkar and Subba rao. Marcel Deker. Smithson. J. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules.

Soil Science Society of America Journal 64:927932. Hawksworth.S.F. Cambridge. Bogor. J. R. Maningsih.L.E. Frankland. Driven by nature p.indiamart..I. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification.297-312. 1986. CAB International. J. New York. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. Skripsi. In. B. G dan I.. Columbia. Anas. 641-655. 1983. Badan Litbang pertanian. Wallingford. 1996. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Kirk. Bio .Z. Nelson.M.L. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press.C. Inc. Watling.br/scielo. S. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. E. . 1997.. F and Brotzman. H. http://www. John Willey & Sons. University of Missouri Columbia Extension Division. P. Merton. A. 1989.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 Gressel. 1991.. and Pegler. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.Fertilizer [Biosol-P] www. Sutton. Aspects of tropical mycology. 1979. U. Missouri. Cadisch (eds). 2000. 1994..com/jayenterprises/fertilizers.html Joffe. New York. Saraswati. D.H. Siswanto and Sugiarto. F.. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan.E. Hawksworth..). Bogor (Indonesia). Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. D. 588 pp. CAB International. S. N. Jenis pupuk P. Fusarium Species: Their biology and toxicology. Isaac. K. D.. 193 pp. Sunarlim. P. Fakultas Pertanian.E. N and J.G. Plenum Press. RJ – Brazil. Lestari. Y. 14 : 31-36. Jakarta (Indonesia). Paul. A. Cambridge University Press. Pennicilium and Acremonium. Inc. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 204 pp.C. New York. E.K. Institut Pertanian Bogor. P. The Pennsylvania state University Press. D. Hutami. significance and conservation. 616p. Mycology research 95. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. 1995.A dan Clark. Riyanti. R. Puslittanak. 1993. United Kingdom. Goenadi.J. McColl. USA. Giller and G. 1987. 2000. Perbedy. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. University Park. and Whalley.scielo.N.mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty.

M. Cambridge. Yuwono. Indonesia. 380 p. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2006. nitrogen.id/] Diposkan oleh Dr.. phosporus. yaitu Nitrogen (N). Premono. Pupuk Hayati. M. Oxford and IBH Publishing Co. Mass. Soil Microorganism and Plant Growth. New Delhi.W and Mrak. Sekilas Pupuk Hayati. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Cambridge. Program Pasca Sarjana. manual and atlas of pennicillia. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Cycles of soil carbon. 1970. Fosfor (P). I. Elsevier biomedical press.J. New York.staff. Introduction to fungi. Bogor. Universitas Gadjah Mada. Stevenson. N. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. C. Ir. 202-204. sulphur. The life of yeast. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan . Abdul Madjid. Tombe. John Willey & Sons. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. micronutrients. F. 23-30. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Tiga unsur hara penting tanaman.S. 1968. E. H. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. 1982. Subba Rao. Program Studi Ilmu Tanaman. [http://nasih. M. Universitas Sriwijaya. Cambridge university Press. Harvard university Press.ugm. 1994. J. 2008. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Institut Pertanian Bogor. 1986. Program Pascasarjana. Miller. Hara N tersedia melimpah di udara. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Palembang. W. E. M. Program Pasca Sarjana. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman.ac.Phaff. Namun.J. 83-123 pp. Indonesia. Disertasi. Universitas Sriwijaya. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Ramirez. Palembang. New York. Program Studi Ilmu Tanaman. 1977. N. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba.

karena terikat pada mineral liat tanah. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. antara lain: Aspergillus sp. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Namun. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman.Azotobacter sp. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). 2008). Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Penicillium sp. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Mikoriza merupakan . Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Sebaliknya. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan.

rambutrambut akar tidak ada. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. Entrophospora. mangga. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. jenis rumput-rumputan. 2003). hingga pohon rambutan. mulai dari paku-pakuan. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. Hifa memasuki sel kortek akar. pinus. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). membentuk chlamydospores (Morton. padi. mempening (jenisjenis Fagaceae). Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. 2006). kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). dll. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Paraglomus. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq.suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. 1997). kesehatan dan produktivitas tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Dilain pihak. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. kelapa sawit. pasang. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Archaeospora. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. . Acaulospora. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). misalnya jenis-jenis meranti. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. bercabang. Gigaspora dan Scutellospora. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Ektendomikoriza 3. kruing. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. 2004). karet.

Tipe CMA . harus diamati dibawah mikroskop. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. kebanyakan berbentuk bulat telur. kopi. kacang tunggak. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. 2004). 1. jeruk. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. 2003). akan tetapi belum berhasil. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. vesikel (vesicle) dan spora. tembakau. bawang. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. 2004). Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. apel dan anggur (Rahmawati. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. barley. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman.Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. nenas. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. selada. kakao. pepaya. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. karet. vesikel intraseluler. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. kapas. 1998). hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). palem. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. teh. padi gogo. singkong dan sorgum. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur.

vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 1981). berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. 3. Dengan bertambahnya umur. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. pembengkokan inti sel. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. dengan Ascomycota . Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. 2004). 1981). 2004). Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. yang memiliki perbedaan tegas.vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 2. Arbuskul berperan dua arah. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. pembentukan organ baru. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Schubler et al. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Mirip dengan cendawan patogen. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse.

. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Walaupun demikian. 2006). jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Diversipora. Geosiphon. kepadatan propagula. tanaman inang. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Paraglomus. Kuklospora. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 2006). Diversisporaceae. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). seperti agregasi dan stabilisasi tanah. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Oleh karena itu. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Pacispora. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Intraspora. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. 2002). sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Scutellospora. Acaulospora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya.dan Basidiomycota. dan Glomus sp. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. . (Sagin Junior & Da Silva. Entrophospora. 1991). 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Gigaspora-ceae. Gigaspora. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm.

Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih . (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. tanah. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. 1981). Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. saat kelembapan air rendah. Vesser et al. 1981). (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Untuk daerah tropika basah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. pH. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. hal ini menguntungkan.II. kadar air tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA.. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. logam berat dan fungisida.pada tengah hari. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. bahan organik tanah.

perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Serasah tersebut mengandung hifa. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1997). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.ekonomis. 1997). Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA.. 1981). 1997). Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. 1984). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun . air dan udara. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas.

Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Plantavax. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. klor. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Benlate. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. alumunium dan mangan. 1982 dalam Anas. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. dan Na yang tinggi (Mosse. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman.mangan. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. 1998). Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1997). Al. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. 1984 dalam Anas.. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. fungisida Agrosan. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. 1984). 1995). 1997). Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. . Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). 1981). Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj.

Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. 1 9% (Gededda et al. Pada tanaman pisang. 1995). cropping sistem. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). CMA campuran yang berasal dari daerah Padang.Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. ameliorasi dengan bahan organik. unsur hara dan struktur tanah. pembakaran. jumlah bahan organik yang dihasilkan.04 menjadi 0. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. K. P. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi . Untuk tanaman manggis. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Dalam budidaya tradisional. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). 1984). Sawahlunto Sijunjung. 2005). 1996). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. karena perubahan spesies tanaman. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1996). jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N.

2% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Selain daripada membentuk hifa internal. sedangkan inokulasi G. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. G. 8 dan 28 MST. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman.7% dibandingkan dengan kontrol.masing sebesar 5. kekeringan. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G.7% dan 4. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. jumlah daun pada umur 4. sedangkan inokulasi G. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. bobot kering tajuk. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 1997). 2002). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 1997). 2006). Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST.dengan mikoriza (Muas et al. serta patogen akar. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. III. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: . Di dalam arbuskul. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.5% dibandingkan dengan kontrol. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen.

1) adanya peningkatan absorpsi hara. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Dengan adanya CMA. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. dan Zn). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. 3) melindungi dari herbisida. Cu. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. pemadatan. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Fe. Zn dan Cu meningkat. salinitas. keasaman. 2006). Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. . Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Selain itu. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. 1997). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Setelah periode kekurangan air (water stress). dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Pada kedelei. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Zn. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al.

Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. 4. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Dilain pihak. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. 3. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat . yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. 2.Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Infeksi patogen akar terhambat. 1994). Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 1994). Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya.1997). Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 2. K dan S. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah.

adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Interaksi sebenarnya antara CMA. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sitokinin dan giberalin. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. patogen akar. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit.terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan . Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 4. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. dan giberalin. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 1981).. 2000). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Pada tanaman tertentu. 1997). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). 3. Jika terhadap jasad renik berguna. 1997). dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 1981 dalam Husin dan Marlis. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. tailing tambang batubara. 40% kebutuhan nitrogen. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. citokinin. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. 1993). atau lahan terpolusi lainnya.

"Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Bila ini benar. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah.. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Perbaikan Struktur Tanah. tapi juga bagi tanah. Menurut Hakim. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. 2002). 1997). Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida.. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. 5. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. 2002).pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang . Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur.

setelah didahului dengan proses infeksi akar. Seng (Zn++). 6. B. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. khususnya pada tanah yang miskin P. Magnesium (Mg++). dan protein.2. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung . Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Phytat adalah senyawa phospat komplek. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Besi (Fe++).3. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.5.lain.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Prihastuti et al. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. phosphor bebas dan mineral. 1999).6 hexakisphospat). japonicum.. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).4. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. 2002). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.

Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. 2006). Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. baik secara langsung maupun tidak langsung. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. tipe perakaran tanaman inang. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. pH. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. kadar air. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. 1987). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. 1997). adanya asosiasi ini. yaitu mencapai 70. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk.mikoriza vesikular-arbuskular. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. spesies cendawan. 2004). Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. tanaman bermikoriza . Secara tidak langsung. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit . Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. tanaman tanpa mikoriza) / BK. tanaman inang. baik untuk tanaman pangan. 3. 1994).50–90. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Sedangkan secara langsung. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman.33%.BK. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. perkebunan. 6. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Bagi tanaman inang. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. temperatur.

. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. infiltrasi air hujan rendah.84 g biji/tanaman menjadi 5. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. kejenuhan Al tinggi. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. 1997). Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. dan hasil kedelai meningkat dari 2. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering.(Solaiman dan Hirata.1997). Kalimantan.18 mg P/tanaman menjadi 2. Disamping untuk tanaman pangan.98 g biji/tanaman. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.02 g biji/tanaman menjadi 5. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu . 1995).15 mg P/tanaman. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. 7. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.13 mg P/tanaman menjadi 2. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). miskin hara dan bahan organik.66 mg P/tanaman. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0..13 g biji/tanaman. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.1. Sulawesi dan pulau besar lainnya.

menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan

pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005).

Selain itu. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.90 %.67. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Tujuannya. Dengan teknologi mikoriza.40. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.66 % .84 % . Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Peningkatan kadar P nira.Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007).72 ppm dan tanah Inceptisol. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.65 %.80 % .. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : . jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter.71. 8. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.15 %. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Untuk mewujudkan harapannya. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. 2008). diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. sebesar 38. dengan kadar P tersedia "rendah" .76 % -21. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati.5 ppm. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. 69.

diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman.Lima hari kemudian. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. 5. 2008). Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. 4. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. bedeng tersebut dapat digunakan. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. 6. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. 3. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Tanaman inang dapat berupa jagung. 3. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. 2. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. sorgum atau pueraria. diaduk merata.1. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. selain untuk meratakan hasil. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. spora dan akar terinfeksi. dan kesuksesannya sebagai jaringan . Manfaat 1.

MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Kalimantan.penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Abdul Madjid. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. (3) menggunakan miselia cendawan. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Dalam teknik pemberian mikoriza. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Di IPB. Untuk membuat tablet. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan . Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Tablet ini dibuat dari cendawan. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Setelah diberikan pada bibit tanaman.7 sentimeter. Setelah itu pil dipecah-pecah. Ir. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Aturan pakainya sederhana. satu tablet untuk satu bibit. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. yaitu: (1)Parasitik. Diposkan oleh Dr. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Setelah teruji kemurniannya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.

seperti: Mycorhiza atau jamur akar. seperti: penyakit bercak akar kapas. dan (b)Nematoda. seperti: omnivorous dan Predaceus. . (3)Acaulospora. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. (4)dll Diposkan oleh Dr. dan kalajengking)dan Insekta (belalang.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. Arachnida (lebah. Diplopoda (kaki seribu). seperti: amoeba. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. Ir. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (3)Simbiotik. (b) cacing tanah. dan ciliata. dan rayap). yaitu: (1) Makro Fauna. semut. Abdul Madjid. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. (2)Saprophitik. (2)Glomus. jangkrik. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). (d)Moluska. Chilopoda (kelabang). (c) Arthropoda. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. (2)Ektomycorhiza. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. yaitu: (1)Endomycorhiza.penyakit pada akar tanaman. dan (3)Ektendomycorhiza. kutu. flagelata.

(b) fungi.2 mm. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah . yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Selain itu. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. dll. bahwa berdasarkan ukuran.Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. (c) actinomycetes. Diposkan oleh Dr. Bacillus. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. Abdul Madjid. dan (d) algae.2 mm s/d 10 mm. (2) Mikro Flora. Ir. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. dll. Aspergillus. (2) Mesobia. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. yaitu: (1) Makro Flora. terdiri dari: (a) bakteri. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makrobia. dan (3) Mikrobia. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas.

Ir. Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis.000 bakteri per gram tanah. Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .yang subur melebihi 100. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful