PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke

dalam tiga tipe : 1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998).

tembakau. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. 2004). kapas. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. vesikel (vesicle) dan spora. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. pepaya. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. nenas. 2003). Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. teh. 2004). kakao. 2004). palem. kebanyakan berbentuk bulat telur. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. karet. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. . jeruk. apel dan anggur (Rahmawati. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. selada. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. kopi.Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. pembengkokan inti sel. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. 1. singkong dan sorgum. akan tetapi belum berhasil. 2004). Arbuskul berperan dua arah. pembentukan organ baru. bawang. padi gogo. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. kacang tunggak. 2. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. barley. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim.

Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Oleh karena itu. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Diversipora. yang memiliki perbedaan tegas. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Scutellospora. Diversisporaceae. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. dan Glomus sp. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Mirip dengan cendawan patogen. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Hal ini menunjukan . Entrophospora. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Gigaspora. Schubler et al. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Gigaspora-ceae. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 1981). Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Kuklospora.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Paraglomus. 3. Dengan bertambahnya umur. Geosiphon. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Intraspora. dengan Ascomycota dan Basidiomycota. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Pacispora. 1981). sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Acaulospora. Walaupun demikian.

Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. 2002). MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman.. kepadatan propagula.blogspot. Universitas Sriwijaya. A. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Program . Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Diposkan oleh Dr. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. 1991). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 2009.com. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. 2006). 2006).adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Program Pascasarjana. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. (Sagin Junior & Da Silva. Http://dasar2ilmutanah. tanaman inang.

Program Pascasarjana. bahan organik tanah. Indonesia. Indonesia. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. logam berat dan fungisida. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan . Vesser et al. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. kadar air tanah. Untuk daerah tropika basah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). saat kelembapan air rendah. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Palembang. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II.pada tengah hari. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. Palembang. 1981). Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Universitas Sriwijaya. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. tanah.Magister (S2). Palembang. Indonesia. 1981). Universitas Sriwijaya. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar.. hal ini menguntungkan. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. pH.

perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. 1981). karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis.daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang . (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. 1984). Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. 1997). 1997). (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Serasah tersebut mengandung hifa. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. air dan udara. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.

1997). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. dan Na yang tinggi (Mosse. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. klor. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. alumunium dan mangan. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1982 dalam Anas. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar . Benlate. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. 1997). 1984 dalam Anas. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Plantavax.. 1997). 1984). Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. 1981). fungisida Agrosan. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn.. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Al.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza.

dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). karena perubahan spesies tanaman. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 1996). P. 1995). kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. unsur hara dan struktur tanah.04 menjadi 0. 1984). dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. pembakaran. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. K. Pada tanaman pisang. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. cropping sistem. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Dalam budidaya tradisional. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). 1 9% (Gededda et al. 1998).tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. . Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1995). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. 2005). ameliorasi dengan bahan organik. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah.

Ir. Palembang. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. ** Program Studi Ilmu Tanaman. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.masing sebesar 5. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. 2002). manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8.2% dibandingkan dengan kontrol. Bahan Ajar Online. Program Studi Ilmu Tanaman. sedangkan inokulasi G. Program Pascasarjana. Sawahlunto Sijunjung. sedangkan inokulasi G. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST.com. Indonesia. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman.5% dibandingkan dengan kontrol. Propinsi Sumatera Selatan. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Program Magister (S2). Palembang. Indonesia. G. Diposkan oleh Dr. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Program . Abdul Madjid. 2009. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Program Magister (S2). 1996). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia. 8 dan 28 MST.7% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Untuk tanaman manggis.7% dan 4. A. Program Pascasarjana.blogspot. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. bobot kering tajuk. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. Program Pasca Sarjana. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. jumlah daun pada umur 4.

Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. salinitas. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Zn. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. Fe. Selain daripada membentuk hifa internal. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. 2006). PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. pemadatan. kekeringan. Palembang. Indonesia. Cu. Di dalam arbuskul. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 1997). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 3) melindungi dari herbisida. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Selain itu. dan Zn). serta patogen akar. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. keasaman. 1997). sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro.Magister (S2). Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang . Program Pasca Sarjana. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Universitas Sriwijaya.

Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. 1997). Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara.oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. atau . Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Dengan adanya CMA. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. 2006). Setelah periode kekurangan air (water stress). masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. K dan S. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. Pada kedelei. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. 1994). Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Zn dan Cu meningkat.

Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. 2. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 2. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Dilain pihak. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar.lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. 4. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. tailing tambang batubara. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. 1994). 3. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Jika terhadap jasad renik berguna. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali .1997). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. atau lahan terpolusi lainnya.

Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 4. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. 2000). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. patogen akar. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. citokinin. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Perbaikan Struktur Tanah. 1981). Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 1997). Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Pada tanaman tertentu. 1997). Bila ini benar. 3. 5. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas.hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 1997). Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Interaksi sebenarnya antara CMA. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. sitokinin dan giberalin. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai.. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. dan giberalin. 40% kebutuhan nitrogen. 1981 dalam Husin dan Marlis. 1993). yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. asam .

Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. 2002). . lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. tapi juga bagi tanah. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah.. Menurut Hakim. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. 2002). karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro.

Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Seng (Zn++). yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.3. phosphor bebas dan mineral.. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.4. 1999). 2006). (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. japonicum. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. Prihastuti et al. 1997). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.6 hexakisphospat). Magnesium (Mg++). . Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat.50–90. khususnya pada tanah yang miskin P. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.2. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Phytat adalah senyawa phospat komplek.5. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. dan protein. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. 2002). B.33%. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. yaitu mencapai 70. Besi (Fe++).cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).6. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.

baik untuk tanaman pangan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. 3. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. baik secara langsung maupun tidak langsung. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. . Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 7. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK.1987). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. pH. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. 1995). tanaman bermikoriza . hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sedangkan secara langsung. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham.BK. kadar air. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. 1994). perkebunan. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Kalimantan. Secara tidak langsung. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. tanaman tanpa mikoriza) / BK. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. temperatur. tanaman inang.1. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. 2004). 6. adanya asosiasi ini. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Bagi tanaman inang. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. spesies cendawan. tipe perakaran tanaman inang.

84 g biji/tanaman menjadi 5. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. miskin hara dan bahan organik..13 g biji/tanaman. serta serapan hara NPK.66 mg P/tanaman.18 mg P/tanaman menjadi 2. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.02 g biji/tanaman menjadi 5. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. 1997). Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. infiltrasi air hujan rendah. net fotosintesis. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .15 mg P/tanaman.. Disamping untuk tanaman pangan. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap . kejenuhan Al tinggi. dan hasil kedelai meningkat dari 2. 1996) dan pepaya (Cruz et al.98 g biji/tanaman.1997). tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan.13 mg P/tanaman menjadi 2. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.

1994). Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 2001). Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. 2000). Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. Zn dan Cu (Al-Kariki. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman . Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. 2000). 7. Dalam kondisi salinitas tinggi. meningkatnya tekanan osmotik. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. et al. Namun demikian. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. 1994 dan Tam.kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar. Peneliti lain. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. terhidar dari plasmolisis. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 1995 dalam Aggangan et al.

. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA . tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass.. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. zat yang melarutkan PAH. maka laju penurunan hasil clover meningkat. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. (2001) menunjukkan bahwa P. meningkatkan N tanah setelah percobaan. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. efisiensi penyerapan P. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan.inang terhadap logam beracun. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Menurut Wachjar et al (2002). Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. Oliveira et al. dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. 1993). 12 diantaranya bermikoriza. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. 2000).

" ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya .S. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis.berpengaruh terhadap jumlah daun. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. Selain itu. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). 2005). misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. sulit dan cukup mahal transportasinya. produktivitas. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman.

selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Peningkatan kadar P nira. spora dan akar terinfeksi. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. selain untuk meratakan hasil. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.66 % . Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".84 % . 8.71. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.80 % . dengan kadar P tersedia "rendah" . Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.15 %.. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" .melindungi spesies genetik jati muna. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah.67.76 % -21. juga untuk menguapkan sisa fumigasi.Lima hari kemudian. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.5 ppm. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. 2. Untuk mewujudkan harapannya. Dengan teknologi mikoriza. . 69.40.65 %.72 ppm dan tanah Inceptisol. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. diaduk merata. Tujuannya. sebesar 38. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak.90 %. 2008). bedeng tersebut dapat digunakan.

karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Dalam rangka pelaksanaan program ini. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Dalam teknik pemberian mikoriza. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. 5.3. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. 4. Manfaat 1. Tanaman inang dapat berupa jagung. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. 6. 3. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. . 2008). sorgum atau pueraria. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan.

ah takaran 1. 1. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.00 gram. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Setelah teruji kemurniannya. 1. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.50. Tablet ini dibuat dari cendawan. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Kalium (K) bertambah 86%. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dan Nitrogen (N) 75%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml.00.500 dan 2. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Dengan demikian. satu tablet untuk satu bibit. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.J. sampai 230%. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza.00 gram (Hardiatmi S. Di IPB. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Setelah itu pil dipecah-pecah.M.00. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Sebagai pembanding. Setelah diberikan pada bibit tanaman.50 dan 2. Untuk membuat tablet.7 sentimeter.00 gram. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. 2008) . Kalimantan. Aturan pakainya sederhana. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. 1. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman.

pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. Indonesia. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Palembang. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Indonesia. Palembang.com.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Universitas Sriwijaya. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur . Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online. Palembang. Program Pascasarjana. Abdul Madjid. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. A. Ir. Universitas Sriwijaya. Indonesia.

Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Rhiphosant. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas.hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. virus. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri.4-13%). Tabel 1. 4. Kamizae. OST dan Simbionriza. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. kehutanan. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. b. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------- . jamur yang bersifat patogen.

Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.44 Dengan Mikoriza 28. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.Coklat (kakao) Tanpa Mikoriza 28. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal.28 34. . Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Bali.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan.12 Dengan Mikoriza 48. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.70 ------------------------------------------------------------------c. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.50 33.64 35. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan).000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung. 4.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. d.14 Dengan Mikoriza 43.

Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. 4. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Kalimantan. Aturan pakainya sederhana. sampai 230%. Setelah itu pil dipecah-pecah. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. dan Nitrogen (N) 75%. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. satu tablet untuk satu bibit. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. javanica. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.M. Tablet ini dibuat dari cendawan. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. Kalium (K) bertambah 86%. Di IPB. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Setelah diberikan pada bibit tanaman.S. Setelah teruji kemurniannya. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor.Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Empat bulan . Untuk membuat tablet. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Dengan demikian. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. 2008). Selain P. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. 4. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.7 sentimeter.

Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. (2) Mempermudah penanganannya. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Pada praktek sebelumnya. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. pH tanahnya sangat bervariasi.kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Setelah itu. Sebelum digunakan. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. (3) Dapat di produksi secara khusus. berarti dibutuhkan 500 g carrier.000 kapsul. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. setiap kapsul dibutuhkan 0. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai.000 spora. . (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman.000 spora secara merata.5 g carrier. 4.

Nostoc muscorum. Azospirillium. Beijerinckie. Lactobacillus spp. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: .Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Nitrosomonas. Tabel 3. Aeromonas punctata. Rhizobium. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Azzospirillum lipoverum. R. Bacillus. Anabaena azollae OST Azotobacter. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat. Nitrobacter. Clostridium pasterianum.M.D. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Ankia alni. Sinorhizobium. Azotobacter. Mikrococcus. (Organic soil treatment) Agrobacterium.

IPB. Http://dasar2ilmutanah. KESIMPULAN 1. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Laboratorium Biologi Tanah.com. 2009. Propinsi Sumatera Selatan. A. Program Pascasarjana. Ir. 2. Indonesia. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Palembang.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. I. 3. Indonesia. Bahan Ajar Online. Palembang. Biologi Tanah dalam Praktek. Palembang. Universitas Sriwijaya. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin.Madjid.Bioteknologi Tanah. Diposkan oleh Dr. Anas. Program Pasca Sarjana. Jurusan Tanah. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. DAFTAR PUSTAKA Anas. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. 1989. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar . Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Indonesia. I. Fakultas Pertanian. Program Pascasarjana. Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 1997. Palembang.

2004. Vol 5. 1986. Nurhajati. Biochem. Soils 24 : 81-86.H. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. .lunarpages. 2008. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May). El-Atrash. Amin Diha. H. Go Ban Hong.. 2008.R. Lubis.com. terhubung berkala : www. Adinurani P. 2000. Dudi. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www.M. A. Ba. Ika RS dan Saubari MM.M. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. 26 (9) : 1201 1205. Reber. Jakarta. M. Husin. N. Hasanudin.com Fleibach.F. 79:473– 495. Universitas Lampung. and F. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. M. Biantoro M. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. A. 1994. Husnal. Lampung. 2007.google. Vol 5. M. K. Soil Biol. Yusuf Nyakpa. Growth response of Afselia africana Sm. Lampung. and J. R. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. 2007. Hakim. Dexheimer. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Universitas Lampung. 12-15 Desmber 1995. Biol. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. 2002. A. INFOTENS.. 1997. No. Mulyati M dan Roy H. Doponnois. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis.1. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Ali. R. Sutopo Ghani Nugroho. 1997. Sanon .. Iskandar. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. Rev. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. M. Martens and H. Fertil. Biol. Faisal T. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Rusdi Saul. 2000. IPB. E. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds).G. 2007.M. hal 83-89.B. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.Universitas Bioteknologi. Hakim dan Kusli. Azcon. Diversity and classification of mycorrhizal associations. 9/2 : 91-95. Brundrett. G. Mycorrhiza J.H. Bailey.google. p. Dasar-dasar Ilmu Tanah. ISSN 1411-0062.com dalam http://support. Mahfud.

Plant and Soil 78: 147-150. Biotropia 8 : 39-44. Soils 26 : 79-87.ae. Sekolah Pasca Sarjana. E.Joner.pdf. Rahmawaty. and McDonald.Lovisolo and A. 10/3 : 115-119.com dalam http://hortikultura. 2001. D. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons.J. Tejoyuwono. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains.go.id. 24 Januari 2006. Ress. 1984. A. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. A. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Killham. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. 1998. S. 2003. Pattimahu. and R. Mycorrhiza J. 2000.download/tp/htm-rahmawaty s. IPB. D.. Jember. Notohadinagoro.V. and C. 1993.. Schubert. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. 10/4 : 155159. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Soil ecology. Mycorrhiza J. 1981.google. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. A. Biotrop Spec. M. Leyval. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Lozano. Bagrayad.library..id. K. 1997.. Cambridge University Press. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Khan.S. 2001. JC. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. 2000. Mycorrhiza J. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. 1994. JMR. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Terhubung berkala www. J. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Azcon. 1995. C. 10/5 : 241-247. R. Universitas Jember. .litbang deptan.Y. Publ. D. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi.usu. Kim.Tervesia claveryi. Bull Manjunath.. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . Oliveira. Castro. Bogor. Dodd and PML.No56 : 131-137. Fertil. K. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal.H. 2008. Jordan. Morte.. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul. http ://www. Mosse. Khan. 2004.. Biol.G.

Walker. Buletin Agron. S. Abdul Madjid. 1999. A. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. 2002. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. hal 69-74.. Biotrop Spec.R. Mahadevan. Incidence of vesicular . Am. R. Dela Cruz.A. Vol 3. Thomas. A new fungal phylum. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Ir. Subiksa. 1984. and C. J. 2005. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Res. Soils 28 : 139-144. 105(12):1413-1421. Singh. Soc.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Unsur hara tanaman. Penerbit Universitas Indonesia.No56 : 131-137. and K. Fertil.. J. Widodo. Ragupathy and A. Schwarzott. Bethlenfalvay. Biotrop Special Publ. N. Ninin Y. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). 1991. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. IGM. R. 57 : 77-81. A. M.L. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. F. Bengkulu. 2006. Rao. 1995. 2002.S Subha. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation.K. and R. 1994.J..Rotwell. Romeida. Wachjar A. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. S. dan Marlin. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Publ.E. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. and G. Simangunsong S. Yadi S. 2001. Kapoor.S. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Biol. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution.B. Franson. Mycol. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) . Bogor Schubler. D.T. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Soil Sci. D. Diposkan oleh Dr.. Zarate. Edisi Kedua.

pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Indonesia. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Program Magister (S2). Indonesia. termasuk biodiversitas. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam . baik di Negara maju maupun Negara berkembang. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang.Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Program Pasca Sarjana. Palembang. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Palembang. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Program Magister (S2). dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Bukit Besar. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Indonesia.1. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Program Pasca Sarjana. Palembang. biologis dan cultural. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Bukit Besar. PENDAHULUAN 1.

Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut . Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. baik kesuburan fisik. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. jamur. kimia maupun biologi. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. kemasan . Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. 2002). kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Upaya yang mulai dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit.pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman.

multivorans (Hasanudin. Pseudomonas terbagi atas grup. Fimbria adalah struktur . dapat menahan unsur hara di dalam selnya. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Peningkat ketersediaan hara 3. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. 1996): 1. B. B. Flavobacterium. 2. Perombak persenyawaan agrokimia 1. polymixa.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans.( Gunalan. Pemantap agregat tanah 6. P. dan P. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. B.2003). Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. 3. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri.0 μm. B. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. seperti eksudat akar dan sisa tanaman.5. Micrococus dan Mycobacterium. Arthrobacter.1 1μm x 1. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. cereus. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. fluorescent.4. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. B. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Pseudomonas. putida.2. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif.5-0. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . licheniformis. jamur dan aktinomisetes. Achromobacter. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. megatherium.berbentuk batang lurus atau lengkung. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. subtilis. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. ukuran tiap sel bakteri 0. Penyedia hara 2. P.

tetapi juga dipengaruhi oleh pH . radiasi cahaya. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik. 5. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. materi genetik. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. fosfolipid. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. dan ribosom. hewan dan mikrobia.sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. asam nukleat. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. nukleotida. 4. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.terutama yang bersifat heterotrof. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik.2005). Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. 1. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. 6. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. Semakin tinggi C-organik dan . Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. dan gula posfat. tetapi pada umumnya rendah . suhu tinggi dan zat kimia. kelembaban temperatur dan faktor lain. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman.

Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. yang meliputi occhided-P . Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji.semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.Al3+. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel.2007). diantaranya dalam proses sintesis protein.2002). Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. .pembentukan bunga . P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. pembentukan akar halus dan rambut akar. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono.01 – 0. Dalam bentuk anorganik. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Fe-P dan P tidak aktif. AlPO42H2O Variscit. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. reductant-P . ATP. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah.Mn2+ dan Ca2+. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. karbonat apatit. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. 1. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. Al-P. aluminium dan hidrat. FePO42H2O Strengit. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. dan mineral P primer. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%.

mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Sumber lainnya berasal dari jenis slag. Indonesia. hijau. Universitas Sriwijaya. Program S2. Propinsi Sumatera Selatan. dan kekerasan 5. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. dan milisit {(Na.17 . cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. . fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. yaitu 7.40% P2O5. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat.3 x 1011 mol P th.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). guano. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis.20.com.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. sedimen. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano. Seperti halnya nitrogen.5 juta ton endapan guano (0. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Http://dasar2ilmutanah. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. Program Pascasarjana.H2O). Di dunia.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. 1992).Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat. dan metamorf. mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.Cl. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Bahan Ajar Online. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan.15.beku. berat jenis 3.4 .blogspot. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Sebagai contoh 15-30-15. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. kilap kaca sampai lemak.6 x 1011 mol P th .15 3. Selain sebagai bahan pupuk. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. A. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Secara geokimia. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 .

Palembang. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Bukit Besar. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. tartarat dan alfa ketobutirat. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Sumatera Selatan. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Palembang. Bukit Besar. Al-P. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. MgP. Ir. Universitas Sriwijaya. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. yaitu dalam bentuk Ca-P. laktat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah .1. Program Magister (S2). atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Palembang. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. Program Pasca Sarjana. suksinat. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. glioksalat. malat. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Universitas Sriwijaya. Indonesia.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Sumatera Selatan. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. oksalat.Penurunan pH juga .Diposkan oleh Dr. Bukit Besar. fumarat. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Fe-P atau occluded-P. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Abdul Madjid. Program Magister (S2). sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Indonesia. glutamat. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman.

Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Disamping meningkatkan P tersedia.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. oksalat. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat.disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. malonat. sedang (malat. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. malat. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. dan lemah (suksinat. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik .(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. Hasil penelitian Pramono et al.OH + R-COO. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). asetat dan ptalat). (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. salisilat). sedangkan asam malonat. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. Terdapatnya asam-asam organik sitrat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. . demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. tartarat). sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. oksalat.laktat. diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif .---> M OH + H2PO4H2PO4 .

0 x 10^3 2.0 x 10^5 12 Protozoa 2. 2007). Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. asetat. suksinat. Tabel 1. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.4 x 10^3 1. oksalat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa.2 x 10^9 5.2 Ammonifiers 5. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. glukonat. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. 1961. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. alfa ketoglutarat. sitrat. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.0 x 10^3 2 Algae 5.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams.0 x 10^8 4. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson.6 x 10^7 7. 1971.asam amino dan asam fenolik. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. malat.7 x 10^4 0.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.2 x 10^6 1. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. merupakan bentuk antara (transisi).26 x 10^8 1. glikolat.0 x 10^6 7 Fungi 1. Demikian juga asam . Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.

Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . 6. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. Bacillus sp. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0. lesitin. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. 13 dan 14%. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4.5 ppm menjadi 30. 0. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. FePO4. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16.4 ppm menjadi 59. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.3. (3) tingkat dissosiasi asam organik. gliserofosfat. . Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.9 dan 0. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2.1 – 3. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. Ca3(PO4)2.6 ppm pada tanah steril. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer.7 ppm pada tanah sterl dan 0.aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. AlPO4. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus.9 ppm.5 . apatit. 8. Bacillus substilis. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P.7 ppm menjadi 34. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat.8 ppm. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.8 – 3. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat.

1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%. berat kering trubus. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. luas daun serta kadar P trubus. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. berat kering akar. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. dan Vlek (1996). Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. minimal duplo. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%.Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. AlPO4 tidak larut dalam air. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. misalnya: fungi. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. berat basah akar. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. dan aktinomicetes. Pada percobaan yang lain P. Pada tanaman jagung. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Moawad. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. 2. Misalnya. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik .2. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. bakteri. berat basah trubus.

dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup

pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .2 (7) Bromophenol Blue 0. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. Azotobacter sp.5 (6) (NH4)2SO4 0. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu dikembangkan .025 .01 .7H2O 0. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat . tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% .5 .5 (5) KCl 0. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Teknologi penyubur tanah dan tanaman.1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.20 (3) MgCl2.3. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). 3.01 . dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.20 (4) MgSO4. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .6H2O 0. Lactobacillus sp.0.05 . mikroba pelarut P.

Tiens Golden Harvest .blogspot. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.com.Miza Pluss. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. A. Masa simpan : 12 bulan. Bukit Besar. Propinsi Sumatera Selatan. bakteri pelarut fosfat. Indonesia. . Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Program S2. Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Bukit Besar. http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online. 2009. N. Universitas Sriwijaya. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Sumatera Selatan.Kemasan : 5 dan 25 kg. bakteri penambat N. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. bakteri pelarut fosfat. Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Palembang. Program Pascasarjana. Palembang. Diposkan oleh Dr. Ir. dan zat pengatur tumbuh tanaman.Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Universitas Sriwijaya. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Palembang. Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . Indonesia.

kubis. 3-9. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Bacillus sp. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Bacillus subtilis . jagung. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.8 ppm.9 dan 0. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.1-3. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan . Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.3 .Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4.7 ppm menjadi 34. Bacterium mycoides dan B. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. padi. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. Circulans pada tanaman kedelai. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16.4 ppm menjadi 59. Escherechia freundii dan E. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. kedelai.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. barlei. lesitin.Sumatera Selatan. gliserofosfat. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat.9 ppm. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. 3-13.6 ppm pada tanah steril. 5-21 dan 14%. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. bit gula.7 ppm pada tanah non steril dn 0. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. tomat. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Indonesia. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. Intermedia . 0.5 ppm menjadi 30. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Ca3(PO4)2. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. kacang panjang dan tebu. kentang. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24.8-3. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum.

Pada percobaab lain (Buntan. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh.2007). Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. bayam dan kacang panjang). Pada tanaman jagung. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. 1994). 1992. Striata. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. P. . Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. glutamat. suksinat. diantaranya asam sitrat. laktat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. Puptida dan P. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum.Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. oksalat. 1992). Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Premono dan Widyastuti. Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. 1991). Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit.

48 g. Megaterium sebagai inokulan padat. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. Mg2+. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Bacillus megaterium.22 g. vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga. Klebsiella aerogenes.. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF.glioksilat. fumarat.5 cm.5-2. dan B.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.67%. dan 606. jumlah biji. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. jumlah polong. pH tanah. Klebsiella aerogenes. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Chromobacterium lividum.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.3881 ppm dan 280. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. umur panen.) di Tanah Marginal.67%. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139.. 203. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.63%. umur pembentukan polong.30%.42 g atau ada kenaikan 877. Fe2+.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. Gunung Botol. berat daun segar 4 tanaman per pot. 930.15 g tanaman-1. 903. 208. jumlah bunga. 207. 575. dan Chromobacterium sp.81%. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. 354. Bacillus sp. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. Chromobacterium lividum dan B. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). 217.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Daerah Cikaniki. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan . Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.75%. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. malat. dan 61.

Sumatera Selatan. Indonesia. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman.Fe. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Sumatera Selatan. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. 2009. Bahan Ajar Online. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. A. Sumatera Selatan.com. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Indonesia. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Bukit Besar. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Abdul Madjid.Mn. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai . Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Pasca Sarjana.blogspot.pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Pascasarjana. Bukit Besar. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Universitas Sriwijaya. Ir. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Bukit Besar. Program Magister (S2).

2004. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol.30:105-106. Hasanudin. Buntan.Medan Gunalan.D. Elfiati. Plant Soil 57 : 223-230. 6(1) : 8-13. Pustaka Adipura. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop.J. Plant Soil . Universitas Bengkulu. Kundu.K. Escherechia freundii. Banik. Escherechia intermedia Pseudomonas putida. 2003.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan. N and K.E dan Hairiyah. Bacterium mycoides. B.Soil Sci. 1980.2005.A. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang . dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.Bacillus firmus.amelioran. 45: 506-509.Indian Soc. S. B. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. Hasanudin dan Ganggo.C. Fakultas Pertanian USU. Majalah Sriwijaya Vol. 1982. 1982. Noor A. Handayanto. Gaur .32. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.2. 60:353-364. 1997. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia.Faperta Universitas Bengkulu. Edisi 3. Indian Soc. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens.2007. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.S and A. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Citrobacter intermedium .Universitas Sriwijaya.1992.K Jha. 1996.J.Soil Sci. Dubey.No.2003. Bacterium mesenterricus. S.K. Bacillus megaterium. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.

N.H. 198 : 169-177.Yogyakarta.J. Vega.Widyastuti.Medellín vol.Bandung Rao. (Terjemahan Susilo. 2006. S dan Suliasih . C. Supadi.L and B. 2007. Microbiol 42: 207-220. UI Press)..terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.W. S. Tesis. 1991. Pal. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman.2002. 4(1) : 1-5.Bogor.Pupuk Hayati . 1998.C. 2005. Ir.H. and Sinha. Oxford and IBM Publishing Co. 2001. Universitas Pajajaran.S. Abdul Madjid. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. 1962.R. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.) di Tanah Marginal. Diposkan oleh Dr. Widawati. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.Biodiversitas.NW. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake.1 Wulandari. 1998. UGM. dan Ciptarasa. Widawati. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. Plant Soil. Setiawati. Soil Microorganisms and Plant Growth. Bandung. S. Edisi 2 . Gunung Botol. S. Edisi 3. 1996.Agr. Buletin Agronomi. Jurnal Nature Indonesia. Can. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops. 31 (3): 100-106.Biodiversitas. 7(1):1014. Patten.Penerapan Pertanian Organik.60 no. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Disertasi.R Glick.T. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki.T. 1992. 2006. Premono. 7(2):109-113.Program Pascasarjana IPB. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** . serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.R.Kanisus Jakarta. Sutanto.N. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Yuwono. S dan Suliasih .

Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Bukit Besar. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Program Magister (S2). Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. kimia. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Program Pasca Sarjana. Dalam sejumlah kondisi. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Sumatera Selatan. Indonesia. seperti bakteri. Dibidang pertanian. ** Program Studi Ilmu Tanaman. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Sumatera Selatan. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. alga dan virus. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Universitas Sriwijaya. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. fungi. Program Pasca Sarjana. 1998). Palembang. Universitas Sriwijaya. aktinomicetes. Palembang.(Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Bukit Besar. Indonesia. 1998). Palembang. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang . Program Magister (S2). karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. PENDAHULUAN A. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Indonesia. protozoa.

B. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. dan meningkatkan pendapatan petani. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. menghemat biaya pupuk. serta bakteri yang berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. cendawan. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. dan virus sebagai agensia hayati. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. 1978). Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme.telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Saraswati et al. kesuburan. bakteri. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. bakteri dan fungi perombak bahan organik. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.

Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 . Program Pascasarjana. OH. Bukit Besar. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. Sumatera Selatan. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Ir. Program Magister (S2). Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia.2 mg/kg tanah. Indonesia. Bukit Besar. Palembang.atau CO32-. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Program Magister (S2). 2009. Universitas Sriwijaya. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Palembang. Universitas Sriwijaya.blogspot. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman.Madjid. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Program Magister (S2). Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. A. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Http://dasar2ilmutanah. pemupukan dan mineralisasi P-organik. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Cl-. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam.01-0.

(b) imobilisasi P-tersedia. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Siklus ini berulang terus menerus. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Pada sistem pola tanam yang terbuka. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. 1997). Di alam. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. fosfor terdapat dalam dua bentuk. Oleh karena itu. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. asam nukleat. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat.(occluded P). Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat . Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. fosfolipida. Subba Rao. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. hewan dan organisme tanah. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. 1977). Bila ion fosfat (HPO42. nukleotida dan gula-gula fosfat. 1989). fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. pemupukan. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah.. 1989. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu.atau H2PO4-) diserap tanaman. Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman.

Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. aerasi.Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Selain kandungan fosfat dalam residu. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. aerasi. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Umumnya. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat.. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. temperatur. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. kelembaban. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Sisa tanaman. seperti nukleotida atau fosfolipida. hewan dan mikroba yang dikembalikan ke dalam tanah. . variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. 1. 1986). nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. 2. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. 1997).

keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman.lebih mendominasi. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Pada pH tanah agak masam hingga netral. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. Ion Fe. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. pH tanah. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat.+ 2H2O ----> AlPO4. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut. dan Ca. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Nilai kritis C/P adalah 200. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. 1986). hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Phosphaticum. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa.lebih mendominasi.Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. dengan melepaskan fosfat. Al. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.+ 2H2O ----> FePO4. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. kalsium dan magnesium fosfat.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. Mn. H2PO42. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. H2PO42-.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Hal yang sama. Mn. Pada kondisi tergenang.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. besi.----> Al(OH)2 H2PO4. dan PO43-.+ OH- . dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Al3+ + H2PO4. Fe. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Selain itu. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson.2) H2PO42.

Program Magister (S2). dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. A. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion.blogspot. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. 2009. Program Pascasarjana. Mn. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. asetat. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2007).Ca(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ Didaerah rhizosfer. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Http://dasar2ilmutanah. suksinat yang dapat mengikat Al. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Kandungan bahan organik tanah. Abdul Madjid.com. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. 3. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: . Ir. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. laktat. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Fe. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. 2. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.

1970). 1995). Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Indonesia. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Palembang. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. Program Magister (S2).5 juta (Hawksworth. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri . Universitas Sriwijaya. Sekitar 70. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Program Magister (S2). miselium menghasilkan spora. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. 1991. Indonesia. Palembang. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Indonesia. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Program Pasca Sarjana. membentuk spora dari fusi dua nukleus.. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Hawksworth et al. Reproduksi secara seksual. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Sumatera Selatan. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2007). Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman.. berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. Bukit Besar.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes.

fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. 1993). tidak peka. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. Bersama-sama dengan bakteri. dan pengendalian penyakit. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. eksudat akar. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. karbon . Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. bagian bawah. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. organisme rhizosfer. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. 1993). Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. dan pengelolaan lahan. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya.. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. beberapa diantaranya bersifat sparofit. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. 2007). baik berupa daun maupun kayu. sebagai contoh . siklus hara. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. 1992). Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow.(non-motile) disebut zygospora. CO2 terhambat. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. bagian tengah. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah.

cat. (3) Patogen atau parasit. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Namun demikian. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun.. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah.dioksida.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng.flavus dan A. dan kulit (Hawksworth et al. tekstil. Seperti bakteri. dan semak. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. 2007). Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. 1995). nitrogen. tanaman pangan. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. hara mikro. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. 1995). contohnya A. Sebagai contoh A. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. sayuran. dan Rhizoctonia. dan mungkin air) ke tanaman. Phytium. Selain itu. udara. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Fungi patogen akar seperti Verticillium. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya.parasiticus yang . serta banyak dijumpai dalam tanah. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. dan essensial dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik.

harzianum dan T. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 4. 1983). 1987).5. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. diantaranya T.5-9. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al.. 5. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 2. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Pada tanaman. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2.koningii (merton dan Brotzman. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. gandum. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. termasuk manusia. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. jaringan hewan dan tanah. 1999). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Karbon dioksida . Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.75-5x 2-6im. 3. 1968).menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. 1986). Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 1979). dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. 1982). Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman.

vitamin. Bahan Ajar Online. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Magister (S2). Http://dasar2ilmutanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Program Pascasrjana.blogspot.dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Palembang. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Ir. Sumatera Selatan. Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. Indonesia. A. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2009. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut . Sumatera Selatan. Indonesia. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. nitrogen. Palembang. Program Pasca Sarjana. Palembang. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. dan mineral lainnya. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Bukit Besar. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Program Magister (S2).

Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. dan Chaetomium sp. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. B. Penicillium sp. asam amino dan asam fenolik. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. apatit. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. . AlPO4. Achromobacter.. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. suksinat. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. Fusarium. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). sitrat. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Flavobacterium. 2006). candidus. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Penicillum. megatherium. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Schlerotium & Phialotobus. FePO4. Micrococus dan Mycobacterium. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. subtilis. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. cereus. jamur dan aktinomisetes. merupakan bentuk antara (transisi). (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. B. 1994).. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. (3) tingkat dissosiasi asam organik. polymixa. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah.memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. 2006). kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Pseudomonas. malat. asetat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). B. oksalat. B. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. glikolat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. glukonat. alfa ketoglutarat. B. A. licheniformis. harus mengandung 8 macam nutrisi. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. Trichoderma viridae. Arthrobacter. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4.

dan serapan N dan P. (4) inokulasi R. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. japonicum. dan G. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. 1977 . Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. yakni lebih dari 10 kali lipat. A. margarita. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Subba Rao. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). 1986). (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. 1978). dan serapan N dan P berturut-turut 7. Kundu dan Gaur. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Lestari (1994). bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. 1. 1967). sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha).04-0. (2001). . dan 10 kali. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut.4 % dibandingkan kontrol. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995.21% dan C/N ratio sebesar 9.8 kali. magnesium (Mg) sebesar 0. kalium (K) sebesar 0.0%.yaitu: karbon (C) sebesar 19.010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. niger strain NHJ2 1 ml per biji. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. kanada. dan FePO4. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India.0-20% (Gaur.039-1. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. fosfor (P) sebesar 0. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996..0-40.0-2. aktivitas fiksasi N. 8 kali. 1980 . nitrogen (N) sebesar 2. niger. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan.5%.14%. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. 1982). jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. Hutami et al. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat.3 kali. dan mesir. 1957 . aktivitas penambatan N. (3) inokulasi R. (2) inokulasi R.35%. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. AlPO4.

Pennicillium digitatum. scwanniomycetes occidentalis. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Tanah ini . Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat.. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). 2004). Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada media tumbuh GAGES dan GES.Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Trichoderma viridae. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). (2000). Aspergillus sp. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal.. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. aspergillus niger. 2000). Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori.. bahan organik. T. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No.78 ppm (Baratha. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). Selain daripada itu T. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. kab. Penicillium sp. 42. dan Chaetomium sp. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Bogor. Aspergillus niger.

Abdul Madjid. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Diposkan oleh Dr. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. A. Universitas Sriwijaya. tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. . Bukit Besar. Sumatera Selatan. dan kapasitas tukar kationnya rendah.blogspot. Palembang. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Ir. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Bahan Ajar Online. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. kandungan bahan organik rendah. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Namun demikian. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia.memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Palembang. Indonesia. 2009. Sumatera Selatan. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Tanah ini terkenal sangat miskin. Bukit Besar. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Http://dasar2ilmutanah.com.

dan juga pada minuman. Palembang. menekan soil-borne disease. biakan kering beku. Namun. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. sekam. arang. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Indonesia. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah . mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. dan kompos. Sumatera Selatan. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji.130. 2008). sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. Program Magister (S2). Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. R. atau zeolit. Program Pasca Sarjana. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. vermikulit. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. mempercepat proses pengomposan. pelarut. Universitas Sriwijaya. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. biakan kering. biakan cair. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. tanah. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. memperbaiki struktur tanah.760.11. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Di Indonesia. atau ketempat pengomposan. dan tepung. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit.

Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. baik berupa bakteri maupun jamur. Selain itu. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. 2008). tetapkan kelembapan bahan pembawa. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. tanggal kadaluwarsa. suksinat. seta jenis tanaman yang cocok. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. cara penyimpanan. laktat. Dengan mempertahankan kelembaban. Mulai tahun 2004. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Di Indonesia. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. oksalat. lartrat. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Stase. Propionat. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam . 2008). Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. dan ketoglutarat. fumarat. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Namun. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. jenis. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. sitrat. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. 2008). sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis.melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. glikolat. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada pengujian pupuk mikroba. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi.

dan meningkatkan serapan P tanaman. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P.0. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. 50 kg P.65) hingga 147. Grt 3. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.56 ug/m! (pH 6. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P.Suatu teknologi irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM).60 ug/ml (pH 4. Mn-.85ug/ml (pH 5. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. Fe-. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman.32% dan 16% pada padi. memobilisasi. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. mikoriza. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya.28 ugfrnl (pH 2. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman.0. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Sehingga .iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. dan Ca.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171.59%). bobol kering tanaman. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.0. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. yaitu mikroba pelarut fosfat. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. 50 kg/ha SP36. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28.47) hingga 394. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). Aspergillus niger NHJ2.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi.1). Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0./ha (23.0. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%.

Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. 6. khususnya isolat fungi. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. 4. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Ulangi langkah di atas secukupnya. AlPO4 tidak larut dalam air. antara lain: 1. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. – 6 s/d 10 ext. untuk menuang medium ini ke dalam cawan . Konsentrasi fosfat. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. minimal duplo. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. 7. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. 3. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. dan actinomicetes. Moawad. Isolat diinkubasi selama beberapa hari.dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. -4. 2. Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. – 8. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. bakteri. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. dan Vlek (1996). 5. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. Buat medium agar Pikovskaya. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. 8. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril.

petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. A. bakteri. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. (Goenadi. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh 2. sehingga dapat diserap tanaman. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. dan aktinomicetes. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan . Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. 1995). Melalui aplikasi pupuk hayati. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. (2000). mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. fosfatase. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. misalnya: fungi.. Goenadi et al. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 4. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Kecepatan pertumbuhan mikroba. dkk. Ketebalan agar. 3. 2000). Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Misalnya. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah.

dan volume akar. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. 1995).. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. kedelai. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. B.12 bulan (Goenadi et al. (1997). menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. dkk. penambat nitrogen bebas. Hasil percobaana Goenadi. ketersediaan hara di dalam tanah. bobot kering bibit. dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh .

dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. MK 1997. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. niger. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. A. (4) inokulasi R. jumlah polong isi. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. dan serapan N dan P. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. bobot kering total. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. (3) inokulasi R. Al-dd 1. 8 kali. dan 10 kali. diameter batang. 1. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. jumlah bintil akar. serapan N dan P tanaman. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. bobot kering akar. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan G. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). dan serapan N dan P berturut-turut 7. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. MK 1999. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.Dosis dan kandungan mikroba Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. pH 3. 50 kg KCl). (2) inokulasi R. Rhizobium 108-109. aktivitas penambatan N. japonicum. 2000).8 kali.3 kali.96. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. margarita. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. C. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. niger strain NHJ2 1 ml per biji.209 me/100g). aktivitas fiksasi N. . Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai.5. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). Rata-rata bobot kering tanaman. tinggi tanaman. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. 100 kg SP-36/ha. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5.

04 % . Migro Plus .23 ppm . Mn = 0. Azospirilum sp4. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Fe = 44. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. C organik = 0. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien. Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan).Ir. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Azotobacter.Lukman Gunarto MSc.92 % .3 ppm . Hg. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. Zn = 3. Mikroba pelarut fosfat3. Cu = 0. Azobacter sp2. Lactobacillus sp6. dan mikroba pendegrasi selulosa. mikroba pelarut P. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. Pseudomonas spp = 34.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. Pb. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. N = 0. Cd dan Mikroba Patogen.85 ppm .70 ppm . Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E.D. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. K = 1700 ppm . Lactobacillus.

juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. penambat Nitrogen dari udara. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Hasil dari pendegradasian tersebut. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. ada yang berfungsi sebagai penambat N. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. Azotobacter sp. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Lactobacillus sp. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh .Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. populasi mikroba untuk menambatkan N. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. probiotik MiG ternak. sehingga keaslian produk MiG corp. mikroba pelarut P. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. pembentukan anakan dan primordial. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Lukman Gunarto. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. unsur N. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. akan mendapatkan K dan unsur lain. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. Menurut penelitian Dr. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan.

Bukit Besar. Program Magister (S2). Caranya sangat mudah. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. Tidak masalah. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. A. Sumatera Selatan. Indonesia. Malahan tanaman menjadi semakin subur. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Abdul Madjid. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Palembang. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Sumatera Selatan. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian.blogspot. Bukit Besar. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. Palembang. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya.dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). Indonesia. Program Magister (S2). apabila penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Palembang. Program Pasca Sarjana.com. Program Pasca Sarjana. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. http://dasar2ilmutanah. 2009. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. rusak atau mati. Bahan Ajar Online. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. .

USA. and Hellums.C.C.J. fungi and arbuscular . Bogor. J. Smithson. P. J. M. 51. Souchie. (eds). J. Penicillum. Chonkar and Subba rao. R. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. G. WI. dan Chaetomium sp. L. Penicillium sp. A. R.C. Buresh et al. Premono dan R. Introductory Mycology (4th Ed). Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. John Wiley and Sons. Canadian. VII. S.(2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. 1999. New York. Building soil phospharus capital in Africa. J. Dix. and M. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. SSSA. Saggin. 2004. D.T. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Buresh. S. London. 1967. N.. 1992. Schlerotium & Phialotobus. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. 1997.R.. Dhandhun Baratha. scwanniomycetes occidentalis. I. 1982. J.. candidus. D. Trichoderma viridae. Barea.. Pennicillium digitatum. and Schweizer. 1996. Blackwell. E. 111-149. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Philadelphia. 1-44 pp.W. New York. 13 : 749-752. DAFTAR PUSTAKA Anas. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Chapman & Hall. Marcel Deker. Carroll. Aspergillus niger. Campello.. PA. 2006. 868p. 1993. Publ. Rosario Azcón Jose M. Plant soil 60 : 353-364. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Alexopoulos. and Wicklow.J. Mims.. Edson L. Pusat Antar Universitas IPB.J. Dickinson. Fungal Ecology. and Webster. Microbial. Widyastuti. Inc. Eliane M. Eduardo F.W. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. Madison. In. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Orivaldo J. 1995. Fusarium. Communities of P-solubilizing bacteria. Baniks. P. 334-337.. C. R. M. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec...T. aspergillus niger. C.

E. 641-655. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. D.). Perbedy. 1979. USA. 14 : 31-36. RJ – Brazil. N and J. A. Inc. Pennicilium and Acremonium. . 193 pp.I.Z. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. B. E. S. Merton. 1995. S. D. Watling.L. F. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Bio . U.. New York. Kirk. 1994. significance and conservation. 1996. University Park. H. Paul. Sunarlim. 616p.K. R. Jenis pupuk P. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. Badan Litbang pertanian. Maningsih.. Fusarium Species: Their biology and toxicology.br/scielo.. 1986. Bogor (Indonesia).F.. Sutton. R. 1987. 1991.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 Gressel.M. A. Riyanti. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press.297-312. Inc. Lestari. Y.com/jayenterprises/fertilizers. Cadisch (eds). Bogor. Frankland. Nelson. 1993. 1997.. The Pennsylvania state University Press. Isaac. P. F and Brotzman. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. and Whalley.indiamart. New York. Saraswati.L. Cambridge.C.scielo. CAB International.N. Hawksworth.S. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.. 204 pp.. Driven by nature p.C. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Hawksworth.mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. N. Aspects of tropical mycology.H. 1989.E. Jakarta (Indonesia). New York. P. http://www. K. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review..G.html Joffe. J. Plenum Press. D. G dan I. Giller and G. CAB International.A dan Clark. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Puslittanak. Institut Pertanian Bogor. E. Fakultas Pertanian. University of Missouri Columbia Extension Division. Hutami. Soil Science Society of America Journal 64:927932. McColl. United Kingdom.Fertilizer [Biosol-P] www.J. Siswanto and Sugiarto. John Willey & Sons. 2000. Goenadi. Skripsi. D. 2000. P. Cambridge University Press.E. and Pegler. In. Mycology research 95. Missouri. Columbia. Anas. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. J. 588 pp. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. 1983. Wallingford.

Elsevier biomedical press. 23-30. 83-123 pp. M. Bogor. Disertasi. M. Jasad Renik Pelarut Fosfat.S. Cambridge. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman.ugm. Program Studi Ilmu Tanaman. 1977. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. N. Hara N tersedia melimpah di udara.id/] Diposkan oleh Dr. Ramirez. Stevenson. 1968. 2008. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Cambridge. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Indonesia. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan . New Delhi. H. 1994. Premono. Yuwono. Program Studi Ilmu Tanaman. N. Tiga unsur hara penting tanaman.Phaff.M. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. manual and atlas of pennicillia.staff. New York. Cambridge university Press. Soil Microorganism and Plant Growth. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Sekilas Pupuk Hayati.J. 1982. 1986. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Program Pascasarjana. John Willey & Sons. Harvard university Press.ac. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. New York. Miller. Palembang. Cycles of soil carbon. [http://nasih. M. Universitas Sriwijaya. phosporus. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. 202-204. Introduction to fungi. yaitu Nitrogen (N). Namun. nitrogen. Program Pasca Sarjana. W. The life of yeast. I. Tombe. sulphur.J. 380 p. Abdul Madjid. Subba Rao. Institut Pertanian Bogor. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). 1970. Palembang. Ir. Universitas Gadjah Mada. J. E. Indonesia. C. F. Program Pasca Sarjana. micronutrients. Mass. E. Oxford and IBH Publishing Co. Universitas Sriwijaya. Fosfor (P).W and Mrak. Pupuk Hayati.. 2006.

Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Mikoriza merupakan . Namun. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman.Azotobacter sp. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Sebaliknya. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. antara lain: Aspergillus sp. Penicillium sp. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. karena terikat pada mineral liat tanah. 2008).

kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). pasang. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. Paraglomus. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. kesehatan dan produktivitas tanaman. Archaeospora. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. mempening (jenisjenis Fagaceae). kelapa sawit. Hifa memasuki sel kortek akar. . Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. mulai dari paku-pakuan. hingga pohon rambutan. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. bercabang. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. rambutrambut akar tidak ada. dll. jenis rumput-rumputan. kruing. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. Gigaspora dan Scutellospora. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Acaulospora. Entrophospora. 1997). membentuk chlamydospores (Morton. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. misalnya jenis-jenis meranti. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. padi. Ektendomikoriza 3.suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. 2003). Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. 2006). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Ektomikoriza 2. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. mangga. pinus. Dilain pihak. 2004). karet.

2003). kakao. harus diamati dibawah mikroskop. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. barley. 1. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. vesikel intraseluler. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. padi gogo. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. 1998). bawang. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. kopi. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. karet. singkong dan sorgum. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. kebanyakan berbentuk bulat telur. Tipe CMA . Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. palem. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. kacang tunggak.Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. teh. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. jeruk. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. selada. tembakau. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. vesikel (vesicle) dan spora. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. nenas. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. apel dan anggur (Rahmawati. 2004). 2004). pepaya. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. akan tetapi belum berhasil. kapas. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks.

Schubler et al. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2004). Arbuskul berperan dua arah. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. yang memiliki perbedaan tegas. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. 2. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. 1981). Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Mirip dengan cendawan patogen. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Dengan bertambahnya umur. 3. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. pembengkokan inti sel. 1981). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. 2004). Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul.vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. pembentukan organ baru. dengan Ascomycota .

Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Walaupun demikian. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. . Diversisporaceae. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. kepadatan propagula. tanaman inang. 2006). Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Paraglomus. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda.dan Basidiomycota. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Intraspora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 2002). Geosiphon. Kuklospora. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 2006). sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Oleh karena itu. Entrophospora. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Gigaspora-ceae. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. 1991). Pacispora. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Gigaspora. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). (Sagin Junior & Da Silva. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Diversipora. dan Glomus sp. Scutellospora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal.. Acaulospora.

Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1981). tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air.II.. Vesser et al. tanah. kadar air tanah. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Untuk daerah tropika basah. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. hal ini menguntungkan. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. saat kelembapan air rendah. pH.pada tengah hari. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih . bahan organik tanah. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. logam berat dan fungisida. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. 1981). Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan.

Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA.. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse.ekonomis. 1997). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Serasah tersebut mengandung hifa. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. 1984). 1981). Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. 1997). (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. air dan udara. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun . Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas.

1995). meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. 1998). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1997).5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1984). dan Na yang tinggi (Mosse. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1997). Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1984 dalam Anas. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Benlate. Plantavax.mangan.. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). . Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). klor. 1981). Al. 1982 dalam Anas. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. alumunium dan mangan. fungisida Agrosan. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.

Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. pembakaran. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza.04 menjadi 0. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. unsur hara dan struktur tanah. 1995). Dalam budidaya tradisional. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1 9% (Gededda et al. Sawahlunto Sijunjung. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi . Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. P. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. karena perubahan spesies tanaman. 1996). Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. K. 2005). Pada tanaman pisang. 1984). 1996). Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. ameliorasi dengan bahan organik. Untuk tanaman manggis. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza.Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). cropping sistem. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM.

Selain daripada membentuk hifa internal. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. kekeringan. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. 8 dan 28 MST. 1997). Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST.7% dibandingkan dengan kontrol. jumlah daun pada umur 4.2% dibandingkan dengan kontrol. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar.7% dan 4. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: . Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. 2002). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. sedangkan inokulasi G. serta patogen akar. Di dalam arbuskul. 1997). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. bobot kering tajuk. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.dengan mikoriza (Muas et al. III.5% dibandingkan dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8.masing sebesar 5. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. 2006). akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. G. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. sedangkan inokulasi G.

Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Fe. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. 3) melindungi dari herbisida. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Zn. . dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 1997). akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Cu. Setelah periode kekurangan air (water stress). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Selain itu. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Zn dan Cu meningkat. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. salinitas. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pada kedelei. 2006). Dengan adanya CMA. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. pemadatan. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya.1) adanya peningkatan absorpsi hara. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan Zn). keasaman. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al.

Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. 1994). Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat . Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 4. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen.Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. 1994).1997). Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. 2. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. 3. Infeksi patogen akar terhambat. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. 2. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. K dan S. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Dilain pihak.

. 1993). sitokinin dan giberalin. citokinin. 1981). dan giberalin. 1997). 4. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit.terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. atau lahan terpolusi lainnya. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. 2000). patogen akar. Interaksi sebenarnya antara CMA. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. 1997). Pada tanaman tertentu. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. tailing tambang batubara. 40% kebutuhan nitrogen. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan . adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. 1981 dalam Husin dan Marlis. Jika terhadap jasad renik berguna. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. 3.

Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang .pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Menurut Hakim. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. 5. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik.. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. 1997). Bila ini benar. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme.. 2002). sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Perbaikan Struktur Tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. tapi juga bagi tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. 2002). Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat.

Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Seng (Zn++). Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. khususnya pada tanah yang miskin P.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. japonicum.lain. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. 1999). Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. phosphor bebas dan mineral. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N.4. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. B. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung . setelah didahului dengan proses infeksi akar.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.5. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Secara alami mikoriza terdapat secara luas. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan).2. 6. Magnesium (Mg++). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Phytat adalah senyawa phospat komplek. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). dan protein. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. 2002).3. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Besi (Fe++).6 hexakisphospat). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Prihastuti et al. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital.

Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. 1994). Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Bagi tanaman inang. 3. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. perkebunan. baik secara langsung maupun tidak langsung. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. 6. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Sedangkan secara langsung. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). pH.mikoriza vesikular-arbuskular. 1997). yaitu mencapai 70. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. kadar air. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. tipe perakaran tanaman inang. tanaman inang.BK. 2004). pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit . Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. temperatur.50–90. 1987). spesies cendawan. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. baik untuk tanaman pangan. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan.33%. Secara tidak langsung. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. tanaman bermikoriza . Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. 2006). adanya asosiasi ini. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis.

Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. miskin hara dan bahan organik. 1997). Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.98 g biji/tanaman. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. infiltrasi air hujan rendah. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera.13 g biji/tanaman. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu .1. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.1997). kejenuhan Al tinggi. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.84 g biji/tanaman menjadi 5.. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Sulawesi dan pulau besar lainnya. 1995)..15 mg P/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.18 mg P/tanaman menjadi 2. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Kalimantan.13 mg P/tanaman menjadi 2. Disamping untuk tanaman pangan.(Solaiman dan Hirata.66 mg P/tanaman. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. 7.02 g biji/tanaman menjadi 5. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim.

menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan

pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005).

Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. Tujuannya. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun.40. 69. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. 2008). dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira.90 %.71. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4.5 ppm. Peningkatan kadar P nira. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Untuk mewujudkan harapannya. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.80 % . Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : . selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Dengan teknologi mikoriza. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.76 % -21. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.84 % . dengan kadar P tersedia "rendah" .72 ppm dan tanah Inceptisol. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Selain itu.66 % .. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N.15 %. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.67. 8. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.65 %. sebesar 38. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter.

Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). 6. diaduk merata. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. spora dan akar terinfeksi. Tanaman inang dapat berupa jagung. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. selain untuk meratakan hasil. bedeng tersebut dapat digunakan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Manfaat 1. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. dan kesuksesannya sebagai jaringan . lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. sorgum atau pueraria. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. 3. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan.Lima hari kemudian. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. 2. 2008). 3. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut.1. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 4. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. 5. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman.

Di IPB. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Tablet ini dibuat dari cendawan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.7 sentimeter. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. satu tablet untuk satu bibit. Aturan pakainya sederhana. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Kalimantan.penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Diposkan oleh Dr. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan . Untuk membuat tablet. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Setelah itu pil dipecah-pecah. Dalam rangka pelaksanaan program ini. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Ir. Abdul Madjid. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Dalam teknik pemberian mikoriza. mampu menambah daya tahan akar tanaman. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. (3) menggunakan miselia cendawan. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: (1)Parasitik. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. Setelah teruji kemurniannya. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.

Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. dan (3)Ektendomycorhiza. (2)Saprophitik. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. jangkrik. seperti: penyakit bercak akar kapas. (3)Simbiotik. kutu. Diplopoda (kaki seribu). (4)dll Diposkan oleh Dr. flagelata. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (3)Acaulospora. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. (2)Ektomycorhiza. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. Arachnida (lebah. Chilopoda (kelabang). mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. dan ciliata.penyakit pada akar tanaman. yaitu: (1)Endomycorhiza. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. Ir. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. (c) Arthropoda. Abdul Madjid. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. (b) cacing tanah. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. seperti: omnivorous dan Predaceus. semut. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. dan (b)Nematoda. (d)Moluska. yaitu: (1) Makro Fauna. MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. seperti: amoeba. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. dan rayap).akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. . (2)Glomus.

Selain itu. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah . Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makro Flora. (2) Mesobia. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). Diposkan oleh Dr. (c) actinomycetes. dll. bahwa berdasarkan ukuran. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). yaitu: (1) Makrobia. Abdul Madjid. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. terdiri dari: (a) bakteri. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. dll. Ir.2 mm s/d 10 mm. Bacillus. dan (d) algae. Aspergillus. dan (3) Mikrobia. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere.2 mm.Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. (b) fungi. (2) Mikro Flora. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga.

Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Abdul Madjid. Ir. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr.000 bakteri per gram tanah. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .yang subur melebihi 100. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful