PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke

dalam tiga tipe : 1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998).

vesikel (vesicle) dan spora. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. 1. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. kakao. kapas. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. karet. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. akan tetapi belum berhasil. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. tembakau. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. barley. selada. pembentukan organ baru. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. 2. apel dan anggur (Rahmawati. pepaya. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. teh. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. jeruk. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. kacang tunggak. singkong dan sorgum. bawang. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. kopi.Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. pembengkokan inti sel. nenas. Arbuskul berperan dua arah. palem. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. padi gogo. . Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. 2004). 2003). kebanyakan berbentuk bulat telur. 2004). Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). 2004). 2004). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular.

Schubler et al. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Intraspora. Mirip dengan cendawan patogen. Paraglomus. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 3. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Kuklospora. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Entrophospora. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Gigaspora-ceae. Pacispora. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. yang memiliki perbedaan tegas. Acaulospora. Geosiphon. seperti agregasi dan stabilisasi tanah.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Walaupun demikian. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Hal ini menunjukan . Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. dan Glomus sp. Dengan bertambahnya umur. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Diversipora. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Diversisporaceae. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. 1981). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Oleh karena itu. Scutellospora. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). CMA tidak memiliki inang yang spesifik. 1981). kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Gigaspora. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. dengan Ascomycota dan Basidiomycota.

Program Pascasarjana. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. (Sagin Junior & Da Silva. Diposkan oleh Dr. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. A. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang.. 1991). Program .com. kondisi tanah serta spesies CMA indigen.adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. tanaman inang. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2006). CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. kepadatan propagula. Palembang. Program Magister (S2). Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Http://dasar2ilmutanah. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan.blogspot. 2002). Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. 2006). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Ir.

** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan . Indonesia. tanah. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. saat kelembapan air rendah. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Universitas Sriwijaya. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Palembang. Palembang. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Untuk daerah tropika basah. 1981).Magister (S2). Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. bahan organik tanah. Program Magister (S2). adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air.. logam berat dan fungisida. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. hal ini menguntungkan. Palembang. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. 1981).pada tengah hari. kadar air tanah. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Indonesia. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Program Pascasarjana. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. pH. Indonesia. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Vesser et al. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse.

1981). 1984). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1997). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang .daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Serasah tersebut mengandung hifa. 1997). air dan udara. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.

Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. 1981). Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1984). Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). 1997). 1984 dalam Anas. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. alumunium dan mangan. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. dan Na yang tinggi (Mosse.tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas.. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. fungisida Agrosan. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. klor. Pemakaian fungisida menjadi dilematis.. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan. Benlate. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1982 dalam Anas. 1997). Plantavax. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar . tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. 1997). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Al. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj.

khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. cropping sistem. 1995).04 menjadi 0. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Dalam budidaya tradisional. K. pembakaran. 1998). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. 1995). P. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. karena perubahan spesies tanaman. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. 1984). 2005). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). . Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. ameliorasi dengan bahan organik. 1 9% (Gededda et al. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1996). pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Pada tanaman pisang. unsur hara dan struktur tanah.tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0.

com. Program Pascasarjana. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Indonesia. Http://dasar2ilmutanah.blogspot. 2002). Propinsi Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. 8 dan 28 MST. Indonesia. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Universitas Sriwijaya. sedangkan inokulasi G. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Indonesia. 1996). Dasar-Dasar Ilmu Tanah.2% dibandingkan dengan kontrol. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. bobot kering tajuk. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang. A. Ir. ** Program Studi Ilmu Tanaman. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Bahan Ajar Online. Sawahlunto Sijunjung. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. sedangkan inokulasi G. jumlah daun pada umur 4. Program Pasca Sarjana. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program . Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Program Magister (S2).masing sebesar 5. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Palembang. 2009. Untuk tanaman manggis. Program Magister (S2). Abdul Madjid. G.7% dibandingkan dengan kontrol.5% dibandingkan dengan kontrol. Palembang.7% dan 4. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.

2006). yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang .Magister (S2). Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. salinitas. Zn. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. keasaman. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 1997). CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selain daripada membentuk hifa internal. Indonesia. Program Pasca Sarjana. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. Cu. Palembang. 3) melindungi dari herbisida. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul. 1997). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. kekeringan. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Selain itu. Universitas Sriwijaya. dan Zn). pemadatan. Fe. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal.

Setelah periode kekurangan air (water stress). juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. 1994). Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Dengan adanya CMA. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Zn dan Cu meningkat. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza.oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Pada kedelei. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. 1997). Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. K dan S. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. atau . konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. 2006). infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza.

Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Dilain pihak. 1994). Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 2. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. 4. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Jika terhadap jasad renik berguna. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 3. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali . Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit.1997). berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Infeksi patogen akar terhambat. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan.lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. atau lahan terpolusi lainnya. tailing tambang batubara. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah.

4. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. 1997). Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. sitokinin dan giberalin. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. citokinin. Bila ini benar. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. Perbaikan Struktur Tanah. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. asam . 5. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. dan giberalin. patogen akar. 1981). Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 1997). 40% kebutuhan nitrogen.hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. 1981 dalam Husin dan Marlis.. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. Pada tanaman tertentu. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. 2000). Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. 3. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 1993). 1997). Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. Interaksi sebenarnya antara CMA.

"Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit.. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. tapi juga bagi tanah. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. . Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah.. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. 2002). Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. 2002). sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme.organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Menurut Hakim.

3. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Phytat adalah senyawa phospat komplek. japonicum.5. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Seng (Zn++). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). 2002). yaitu mencapai 70. phosphor bebas dan mineral.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.2. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). setelah didahului dengan proses infeksi akar. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa.50–90. Besi (Fe++). khususnya pada tanah yang miskin P.6 hexakisphospat). dan protein. phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. Prihastuti et al.. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. 1999).6. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. 2006).33%. B. 1997). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. . hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).4. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. Secara alami mikoriza terdapat secara luas. Magnesium (Mg++). dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.

tanaman inang. 6. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagi tanaman inang. perkebunan. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Secara tidak langsung. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. 1994). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Kalimantan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. 2004). Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. kadar air.BK. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Sedangkan secara langsung. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". baik untuk tanaman pangan.1987). Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. temperatur. adanya asosiasi ini. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. . Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. 1995). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. pH. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. 3. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Sulawesi dan pulau besar lainnya. tanaman bermikoriza . 7.1. spesies cendawan. tipe perakaran tanaman inang.

13 g biji/tanaman. infiltrasi air hujan rendah. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. 1996) dan pepaya (Cruz et al.18 mg P/tanaman menjadi 2. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya.. miskin hara dan bahan organik. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. kejenuhan Al tinggi. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .02 g biji/tanaman menjadi 5. 1997). Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan.1997). Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat..84 g biji/tanaman menjadi 5. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian.66 mg P/tanaman. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap . Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. dan hasil kedelai meningkat dari 2. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al.Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. serta serapan hara NPK. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan.13 mg P/tanaman menjadi 2. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.15 mg P/tanaman. net fotosintesis.98 g biji/tanaman. Disamping untuk tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat.

et al. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. meningkatnya tekanan osmotik. 2000). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. 2001). Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 1994 dan Tam. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. 2000). terhidar dari plasmolisis. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Zn dan Cu (Al-Kariki. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Namun demikian. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al.kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar. 1995 dalam Aggangan et al. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman . 1994). Peneliti lain. Dalam kondisi salinitas tinggi. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. 7.

Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. maka laju penurunan hasil clover meningkat. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. 12 diantaranya bermikoriza. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. zat yang melarutkan PAH. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. (2001) menunjukkan bahwa P. 1993). Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. meningkatkan N tanah setelah percobaan. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA .inang terhadap logam beracun. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. 2000). Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. Oliveira et al. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar.. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. efisiensi penyerapan P. Menurut Wachjar et al (2002)..

mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas.S. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. produktivitas. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya . Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.berpengaruh terhadap jumlah daun. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Selain itu. bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. sulit dan cukup mahal transportasinya. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati.

ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".84 % . lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik.76 % -21. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. . Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara.40. selain untuk meratakan hasil. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak. dengan kadar P tersedia "rendah" . Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.66 % .72 ppm dan tanah Inceptisol. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.65 %. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . juga untuk menguapkan sisa fumigasi. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. diaduk merata.90 %. 8.5 ppm. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27.15 %. Peningkatan kadar P nira. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. 2. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. sebesar 38. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum.80 % .67. Tujuannya.Lima hari kemudian. spora dan akar terinfeksi. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna.melindungi spesies genetik jati muna. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. 69. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan.. Untuk mewujudkan harapannya. 2008). Dengan teknologi mikoriza. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. bedeng tersebut dapat digunakan. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman.71.

3. Tanaman inang dapat berupa jagung. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. 4. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Manfaat 1. . 6. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Dalam rangka pelaksanaan program ini. sorgum atau pueraria. 5. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Dalam teknik pemberian mikoriza. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan.3. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. 2008). Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. yang akhirnya dikembangkan secara komersil.

penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. Untuk membuat tablet. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung.50 dan 2.ah takaran 1.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu.00 gram (Hardiatmi S. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Kalium (K) bertambah 86%.00. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.M. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . Setelah teruji kemurniannya. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. satu tablet untuk satu bibit. Setelah itu pil dipecah-pecah. Dengan demikian. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Kalimantan. sampai 230%. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.J. 1. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Sebagai pembanding.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam.7 sentimeter.500 dan 2. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.50.00 gram. Tablet ini dibuat dari cendawan. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Di IPB. 1.00. dan Nitrogen (N) 75%. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Aturan pakainya sederhana. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. 1. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. 2008) .00 gram. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.

Indonesia. Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya.com. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Magister (S2). Indonesia.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. A. Universitas Sriwijaya. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Program Pasca Sarjana. 2009. Palembang. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2).blogspot. Universitas Sriwijaya. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur . Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. Http://dasar2ilmutanah. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Diposkan oleh Dr. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Palembang. Program Magister (S2). Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Abdul Madjid. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Indonesia. Ir. Universitas Sriwijaya. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut.

Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer.4-13%). virus. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). 4. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------- . Kamizae. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. jamur yang bersifat patogen. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong. OST dan Simbionriza. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. b. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Tabel 1. Rhiphosant. kehutanan. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal.hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman.

000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. .50 33. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. 4. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.Coklat (kakao) Tanpa Mikoriza 28. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18. Bali.44 Dengan Mikoriza 28.70 ------------------------------------------------------------------c.64 35.28 34. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah.12 Dengan Mikoriza 48. d. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza. menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.14 Dengan Mikoriza 43.

karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. javanica. Dengan demikian. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dan Nitrogen (N) 75%. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. 4. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Aturan pakainya sederhana. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang. Setelah itu pil dipecah-pecah. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam.M. Di IPB. sampai 230%. Untuk membuat tablet. 2008).S. Tablet ini dibuat dari cendawan.7 sentimeter. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. 4. Kalimantan. Empat bulan . Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Selain P. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J.Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Setelah teruji kemurniannya.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. Kalium (K) bertambah 86%. satu tablet untuk satu bibit. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu.

setiap kapsul dibutuhkan 0.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus.000 spora secara merata. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. Setelah itu. pH tanahnya sangat bervariasi. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. (2) Mempermudah penanganannya. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Pada praktek sebelumnya. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. (3) Dapat di produksi secara khusus.000 spora. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna.5 g carrier. . berarti dibutuhkan 500 g carrier. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. 4.000 kapsul.kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. Apabila dikemas dalam bentuk tablet. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. Sebelum digunakan. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00.

Azotobacter. Clostridium pasterianum. Beijerinckie. Aeromonas punctata. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.D. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp.Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Anabaena azollae OST Azotobacter. Sinorhizobium. Mikrococcus. R. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Lactobacillus spp. Azospirillium. Bacillus. Ankia alni. Rhizobium. Nostoc muscorum. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Nitrosomonas. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Azzospirillum lipoverum. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. Nitrobacter. Tabel 3.M.

MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin. Program Magister (S2). I. 2. 2009. Palembang. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman.Bioteknologi Tanah. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Http://dasar2ilmutanah. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). Abdul Madjid. 1997. Indonesia. Fakultas Pertanian. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Ir. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Anas. I. Indonesia. Indonesia. Program Magister (S2). 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar . IPB. Universitas Sriwijaya. Palembang. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Palembang. Program Pasca Sarjana. Biologi Tanah dalam Praktek. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Laboratorium Biologi Tanah. Diposkan oleh Dr.Madjid. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. A. DAFTAR PUSTAKA Anas. KESIMPULAN 1. Bahan Ajar Online.blogspot. Jurusan Tanah. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Propinsi Sumatera Selatan.com. Program Pasca Sarjana. 1989. 3. Program Pascasarjana. Palembang. Program Pascasarjana.

Jakarta. Biochem. Rusdi Saul. Mycorrhiza J. 2000. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. 1997. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Ali. and F. Vol 5. Soil Biol. A. Soils 24 : 81-86. A. Reber. Husin. 2007. M. M. Iskandar.google. Nurhajati. 1997.M. 1994.M. Hakim dan Kusli. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).B. Growth response of Afselia africana Sm. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 2007. Universitas Lampung.R. hal 83-89. 2000. Hasanudin.1. Amin Diha. Adinurani P. terhubung berkala : www. Martens and H.G. Sanon . nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. Dudi. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Sutopo Ghani Nugroho. Rev. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. 2004.H. 2008. 2002. Go Ban Hong. K.M. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna. R. Biantoro M. Mulyati M dan Roy H. Faisal T. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www.Universitas Bioteknologi. 79:473– 495. Dexheimer. E. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. No.. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. 12-15 Desmber 1995.F.lunarpages. M... p. Brundrett. Azcon. Lampung. M. and J.H. Fertil. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Ba. Ika RS dan Saubari MM. Hakim. INFOTENS. El-Atrash. H. Doponnois. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. G. 26 (9) : 1201 1205. 2007. Bailey. ISSN 1411-0062. Biol.google. Lubis.com. Lampung. 9/2 : 91-95. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). Universitas Lampung. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. Biol. Vol 5. 1986. 2008. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. N. Yusuf Nyakpa. . Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. R.com dalam http://support. IPB. Mahfud.com Fleibach. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. A. Husnal.

. Soil ecology. 1997. A.download/tp/htm-rahmawaty s. D.. 10/4 : 155159. http ://www. Mycorrhiza 10/3 : 137-143. Tejoyuwono. Morte. K. J. 1995.G. M. Plant and Soil 78: 147-150. JMR. Leyval.google. Mycorrhiza J.No56 : 131-137. 2000. 1993. 2000. Bull Manjunath. Soils 26 : 79-87. Universitas Jember. C. E.ae. Pattimahu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi.. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. K. 10/5 : 241-247. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Khan. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture.Tervesia claveryi. Castro. A. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. 2001.J.Joner. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.pdf. Bogor. Mycorrhiza J. Biotropia 8 : 39-44.com dalam http://hortikultura.Lovisolo and A. . Kim. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. Ress. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. 2004. Bagrayad. 10/3 : 115-119. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . 1981. D. Rahmawaty. JC. R. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity...id. 1984.Y. Lozano. Schubert. D. Biotrop Spec. Killham.H. Azcon. Khan. Jordan. Sekolah Pasca Sarjana.usu. Mosse.litbang deptan..id.library. 1998. from saline soils and Glomus deserticola under salinity. Jember. 2003. Notohadinagoro. IPB. and McDonald. 2008. A. Terhubung berkala www. and C. 1994. S.S. Biol. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Cambridge University Press. 24 Januari 2006.. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul.go. Oliveira. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. Fertil. Publ. Dodd and PML. Mycorrhiza J. 2001.V. and R.

D. R.Rotwell.B. Publ. Bengkulu. Bogor Schubler.K. Zarate. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). Bethlenfalvay. A. Soils 28 : 139-144. Wachjar A. Biol. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. Subiksa. hal 69-74. D. A.A. 2002. M. R. Edisi Kedua. Simangunsong S. 105(12):1413-1421. 2001. Singh. Ninin Y. Romeida. Yadi S. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman. Schwarzott. Penerbit Universitas Indonesia.. 2005. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. Rao. Abdul Madjid. Ir. Buletin Agron. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. 1984. Walker. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. F. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Am.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Biotrop Special Publ.R. Widodo. 1999. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Incidence of vesicular . J.L. and C. Vol 3. 2006. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. 2002. 57 : 77-81. Unsur hara tanaman. Biotrop Spec. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Ragupathy and A. Dela Cruz. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) . Mycol. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis.E. J. Res. and R. Franson. Kapoor. Diposkan oleh Dr.S Subha.J.. Fertil. S. Thomas. and K. S.No56 : 131-137. 1994. Soil Sci.S. N. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. Soc. A new fungal phylum. IGM. 1995.T. dan Marlin.. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. and G. Mahadevan. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 1991.

Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Bukit Besar. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. Palembang. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam . Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Sumatera Selatan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. termasuk biodiversitas. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Sumatera Selatan.1. Program Pasca Sarjana. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Universitas Sriwijaya. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Program Magister (S2). Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. ** Program Studi Ilmu Tanaman. biologis dan cultural. Indonesia. PENDAHULUAN 1. Universitas Sriwijaya. Palembang.

baik kesuburan fisik.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. jamur. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan. kimia maupun biologi. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut . termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman.pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). 2002). Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. kemasan . Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. Upaya yang mulai dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono.

5-0. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae.5. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. Flavobacterium.2. P.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. Achromobacter.berbentuk batang lurus atau lengkung. Arthrobacter. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . megatherium. 3. Fimbria adalah struktur . licheniformis. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. B. Pemantap agregat tanah 6. Perombak persenyawaan agrokimia 1. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. 1996): 1. Pseudomonas terbagi atas grup. B.( Gunalan.4. Penyedia hara 2. dan P. B. subtilis. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. jamur dan aktinomisetes. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. 2. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana.1 1μm x 1. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. putida. Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . ukuran tiap sel bakteri 0.0 μm. Peningkat ketersediaan hara 3. Micrococus dan Mycobacterium. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. dapat menahan unsur hara di dalam selnya. P. polymixa. B. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1.2003). fluorescent. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. cereus. multivorans (Hasanudin. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. B. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. Pseudomonas.

tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. 1. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. nukleotida. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . 5. 4. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. radiasi cahaya. 6. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. dan ribosom. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. dan gula posfat. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. asam nukleat. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan.3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik.terutama yang bersifat heterotrof. tetapi pada umumnya rendah . Semakin tinggi C-organik dan . Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya.sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. materi genetik. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. suhu tinggi dan zat kimia.2005). kelembaban temperatur dan faktor lain. hewan dan mikrobia. fosfolipid.

reductant-P . Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit. buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit.Al3+. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman.pembentukan bunga . P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. Al-P.Mn2+ dan Ca2+. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman.2007). ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. FePO42H2O Strengit. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. Fe-P dan P tidak aktif. melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi. dan mineral P primer. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. Dalam bentuk anorganik. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P. ATP.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. pembentukan akar halus dan rambut akar. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. karbonat apatit.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. aluminium dan hidrat. yang meliputi occhided-P . Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual.01 – 0. diantaranya dalam proses sintesis protein. . ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. 1.semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P.2002). memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. AlPO42H2O Variscit.

Masuknya fosfor ke laut sebesar 3. Propinsi Sumatera Selatan. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan. Secara geokimia.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Sebagai contoh 15-30-15.15 3. . kilap kaca sampai lemak. guano.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). Program S2. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk. Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. yaitu 7. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal.5 juta ton endapan guano (0.6 x 1011 mol P th . sedimen.com. Seperti halnya nitrogen. Universitas Sriwijaya.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9. Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat.3 x 1011 mol P th. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.H2O). 2009. Program Pascasarjana. berat jenis 3. hijau. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik.20. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Selain sebagai bahan pupuk.Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.17 .Cl. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan.40% P2O5. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton.blogspot. Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. A. 1992). Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Di dunia. dan milisit {(Na. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 .6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 .4 . mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. Http://dasar2ilmutanah. Bahan Ajar Online. Sumber lainnya berasal dari jenis slag.beku. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air.15. Indonesia. dan metamorf. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat. dan kekerasan 5.

PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. yaitu dalam bentuk Ca-P. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat. MgP. Bukit Besar. Abdul Madjid. suksinat. tartarat dan alfa ketobutirat. Sumatera Selatan. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Palembang. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. ** Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. oksalat. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Palembang. malat. Indonesia. Fe-P atau occluded-P. Fospor relatif tidak mudah tercuci. Program Magister (S2). yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Indonesia. laktat. Ir. glutamat. Al-P. fumarat. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.1. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Palembang. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. glioksalat. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Sumatera Selatan.Diposkan oleh Dr.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Indonesia.Penurunan pH juga . Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan.

Disamping meningkatkan P tersedia.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat. Hasil penelitian Pramono et al. sedangkan asam malonat. karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. . Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana.---> M OH + H2PO4H2PO4 .laktat. demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. tartarat dan malat berefektivitas sedang.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme. sedang (malat. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. salisilat). tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. malat. malonat. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak. asetat dan ptalat). oksalat. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. oksalat. dan lemah (suksinat. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal.OH + R-COO. beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd).disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. tartarat). Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi.

Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. malat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.2 Ammonifiers 5.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. Demikian juga asam . Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. suksinat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting.6 x 10^7 7. sitrat. 1961. merupakan bentuk antara (transisi).2 x 10^9 5.0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.0 x 10^8 4. glukonat.7 x 10^4 0.0 x 10^6 7 Fungi 1. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). asetat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). glikolat. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.26 x 10^8 1. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca.4 x 10^3 1.0 x 10^5 12 Protozoa 2. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams.2 x 10^6 1. Tabel 1. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan.0 x 10^3 2. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. alfa ketoglutarat. 1971. oksalat. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega. 2007).asam amino dan asam fenolik.0 x 10^3 2 Algae 5. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar.

(4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 . Bacillus substilis. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.9 dan 0. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24. Ca3(PO4)2. lesitin. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia. 6. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.9 ppm.1 – 3. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. apatit. 8.7 ppm pada tanah sterl dan 0. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. FePO4. 0. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.7 ppm menjadi 34.aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. gliserofosfat.3.8 ppm. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. AlPO4. 13 dan 14%.4 ppm menjadi 59. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.6 ppm pada tanah steril. . Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral.5 . tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Bacillus sp. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides.5 ppm menjadi 30. (3) tingkat dissosiasi asam organik.8 – 3. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.

Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Moawad. AlPO4 tidak larut dalam air. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%.Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. Pada percobaan yang lain P. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam.2. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. dan aktinomicetes. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. berat kering akar. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Pada tanaman jagung. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. berat basah trubus. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Misalnya. bakteri. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. 2. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. berat kering trubus. luas daun serta kadar P trubus. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. berat basah akar. minimal duplo. dan Vlek (1996). Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik . Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. misalnya: fungi.

dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup

pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

30 (2) Ca3(PO4) 2 1 .05 . berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. 3.5 .01 .0. Lactobacillus sp.3. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud.01 .6H2O 0.5 (5) KCl 0. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai.20 (4) MgSO4. penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat . Teknologi penyubur tanah dan tanaman.7H2O 0. Azotobacter sp.025 .5 (6) (NH4)2SO4 0. Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional .20 (3) MgCl2. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder).Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu dikembangkan . Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. mikroba pelarut P.2 (7) Bromophenol Blue 0. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.

Universitas Sriwijaya. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. dan zat pengatur tumbuh tanaman. bakteri pelarut fosfat. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Masa simpan : 12 bulan. Palembang. Program Magister (S2). Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Bukit Besar. Propinsi Sumatera Selatan. Bukit Besar. Abdul Madjid. Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Indonesia. Bukit Besar. Indonesia. Program Pascasarjana. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. Palembang. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul . bakteri penambat N. Universitas Sriwijaya. Indonesia. A. Tiens Golden Harvest . Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya.blogspot. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Diposkan oleh Dr. N. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. 2009.Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. bakteri pelarut fosfat. Sumatera Selatan. Palembang. Program Magister (S2).com. Ir.Miza Pluss. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. .Kemasan : 5 dan 25 kg. Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik. Program S2.

8 ppm. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. Bacillus subtilis . Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai. Bacillus sp. Intermedia .6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. 3-13. gliserofosfat.Sumatera Selatan. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. barlei. Escherechia freundii dan E.7 ppm pada tanah non steril dn 0. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. Circulans pada tanaman kedelai. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan .5 ppm menjadi 30. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat.8-3. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P. tomat. Ca3(PO4)2. 3-9. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.3 . Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol.9 ppm. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. padi. Bacterium mycoides dan B. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum.6 ppm pada tanah steril. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28. 0. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. kentang.1-3. kedelai. lesitin. kacang panjang dan tebu. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. bit gula. Indonesia.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0. 5-21 dan 14%.4 ppm menjadi 59. jagung. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.7 ppm menjadi 34.9 dan 0. kubis.

diantaranya asam sitrat. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Pada tanaman jagung. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1994). Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh. Puptida dan P. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. . Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. glutamat. dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit.2007).4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Premono dan Widyastuti. Striata. 1992). Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. laktat. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. 1992. 1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. 1991). Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Pada percobaab lain (Buntan. oksalat. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P. bayam dan kacang panjang). suksinat.Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. P.

67%.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. Chromobacterium lividum. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan . vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. umur pembentukan polong. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF.30%. Chromobacterium lividum dan B.5 cm. Mg2+. jumlah bunga. umur panen. Gunung Botol. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.81%. dan B.75%. Megaterium sebagai inokulan padat. 930. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). 575.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. dan 61. Klebsiella aerogenes.) di Tanah Marginal. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga.. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.67%.glioksilat. malat. 354. jumlah biji. 208. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. Bacillus sp.42 g atau ada kenaikan 877. Daerah Cikaniki.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. fumarat. dan Chromobacterium sp.. Klebsiella aerogenes.5-2. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. 207.3881 ppm dan 280. Fe2+. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. jumlah polong. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1. 903. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. 203. berat daun segar 4 tanaman per pot. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+.15 g tanaman-1.22 g. 217. pH tanah. dan 606. Bacillus megaterium. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.48 g. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp.63%.

Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Ir. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Indonesia. Indonesia. Indonesia. A. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Http://dasar2ilmutanah. Palembang. Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. Universitas Sriwijaya. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang.pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Abdul Madjid.Ca dan proses pelapukan yang rendah . Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai .Mn. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Pasca Sarjana. 2009.Fe. Palembang. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana.com. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Bukit Besar. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana.

Gaur . serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.2.S and A. Bacterium mycoides. 1996.C. Dubey.J. Edisi 3. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman.K. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. 2004.Universitas Sriwijaya.Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol. S. Citrobacter intermedium . (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis.E dan Hairiyah. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Hasanudin dan Ganggo. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Plant Soil .amelioran.2005. Elfiati. 45: 506-509.32. Bacterium mesenterricus.1992. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang . 2003. N and K. Indian Soc.Bacillus firmus. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.J.A. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan.2003.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.D. 1980. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.Soil Sci. B. Escherechia freundii.Soil Sci. Banik. Plant Soil 57 : 223-230. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens. Majalah Sriwijaya Vol. Universitas Bengkulu. Noor A.Faperta Universitas Bengkulu. Fakultas Pertanian USU. S. Hasanudin.K. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism.K Jha. 1997. Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia.Indian Soc. Pustaka Adipura. 1982. 60:353-364.Medan Gunalan. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.2007. Handayanto. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Kundu. 6(1) : 8-13. Buntan.No. B. 1982.30:105-106. Bacillus megaterium.

S dan Suliasih .T.C.S. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Bandung. S dan Suliasih . Universitas Pajajaran. S. 1962. Widawati. 2005. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops. C. Jurnal Nature Indonesia. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat.Bandung Rao.2002. Diposkan oleh Dr. 1992.R Glick. Vega. Buletin Agronomi. Yuwono. Soil Microorganisms and Plant Growth. N. Edisi 3. dan Ciptarasa. 31 (3): 100-106.J. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. UGM. Plant Soil. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** . 7(1):1014.) di Tanah Marginal.W. Sutanto. Widawati.H.. Premono. 1991. 198 : 169-177.Biodiversitas. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. S.Biodiversitas. Edisi 2 . Pal.1 Wulandari.L and B. 2006. Microbiol 42: 207-220.Program Pascasarjana IPB. 2006. UI Press).60 no. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat.R. 2001.Pupuk Hayati . Patten. Gunung Botol.Agr. 4(1) : 1-5. 1996. Can.Penerapan Pertanian Organik.terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. 1998. 1998. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung.N. 7(2):109-113. (Terjemahan Susilo. Oxford and IBM Publishing Co. Ir. 2007. and Sinha. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.R.Bogor. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.Disertasi.NW. S. Supadi.H.Widyastuti. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.T. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Abdul Madjid.Yogyakarta. Tesis.Medellín vol. Setiawati.Kanisus Jakarta.

melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. 1998). Bukit Besar. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Program Pasca Sarjana. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang . Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. protozoa. Palembang. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. kimia. PENDAHULUAN A. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. alga dan virus. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. 1998). Dalam sejumlah kondisi. Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). aktinomicetes. Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot. Palembang. Indonesia. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Universitas Sriwijaya. Indonesia. fungi. Sumatera Selatan. Bukit Besar. seperti bakteri. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Dibidang pertanian. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.(Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik.

dan virus sebagai agensia hayati. bakteri. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. kesuburan. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . dan meningkatkan pendapatan petani. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Saraswati et al. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. serta bakteri yang berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. bakteri dan fungi pelarut fosfat. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan.telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. menghemat biaya pupuk. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. cendawan. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. B. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. bakteri dan fungi perombak bahan organik. 1978). Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri.

Sumatera Selatan.2 mg/kg tanah. Indonesia. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. 2009. Sumatera Selatan.atau CO32-. Diposkan oleh Dr. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 . Palembang. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk.01-0.blogspot. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. pemupukan dan mineralisasi P-organik.com. unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Bukit Besar. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Bukit Besar. Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. Universitas Sriwijaya. Indonesia. A. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. Ir. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online. Cl-. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2.Madjid. MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Indonesia. Palembang. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N). Program Pascasarjana. OH. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman.

asam nukleat.(occluded P). Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. nukleotida dan gula-gula fosfat. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat . memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. keseimbangan P dalam tanah terganggu. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. 1989). Siklus ini berulang terus menerus. 1989. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. Oleh karena itu. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. Di alam. pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. 1997). Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Pada sistem pola tanam yang terbuka.. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. fosfor terdapat dalam dua bentuk. hewan dan organisme tanah. sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P.atau H2PO4-) diserap tanaman. pengembalian melalui residu tanamandan hewan. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. pemupukan. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Bila ion fosfat (HPO42. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. (b) imobilisasi P-tersedia. fosfolipida. 1977). Subba Rao.

Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Sisa tanaman. variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. 1997). Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. aerasi. 2. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Umumnya. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Selain kandungan fosfat dalam residu. seperti nukleotida atau fosfolipida. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. temperatur. . maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas.. 1. kelembaban. aerasi. hewan dan mikroba yang dikembalikan ke dalam tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba.Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. 1986).

Phosphaticum.lebih mendominasi. 1986).+ 2H2O ----> FePO4. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat. kalsium dan magnesium fosfat. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Al3+ + H2PO4. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. Mn. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. dan PO43-. Ion Fe. Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. dengan melepaskan fosfat. dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi.+ 2H2O ----> AlPO4.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam.----> Al(OH)2 H2PO4. Pada pH tanah agak masam hingga netral. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. besi. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Fe. pH tanah. dan Ca. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.lebih mendominasi.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi.Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. H2PO42. Selain itu. Al. Hal yang sama. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya. Pada kondisi tergenang.+ OH- . H2PO42-.2) H2PO42. Nilai kritis C/P adalah 200. Mn. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut. Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut.

Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 3. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman.blogspot. Program Magister (S2). 2009. Universitas Sriwijaya. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Fe. suksinat yang dapat mengikat Al. pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. 2007). Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: . Kandungan bahan organik tanah. Ir. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah.com. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. Program Pascasarjana. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). asetat. Abdul Madjid. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi.Ca(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ Didaerah rhizosfer. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Http://dasar2ilmutanah. laktat. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. Mn. Bahan Ajar Online. A. 2.

Universitas Sriwijaya. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Sekitar 70. miselium menghasilkan spora.5 juta (Hawksworth. Sumatera Selatan. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. membentuk spora dari fusi dua nukleus. 1970). ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Bukit Besar. 1995). Sumatera Selatan. Program Magister (S2). dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. Program Studi Ilmu Tanaman. Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. 2007). Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri .. Program Pasca Sarjana. Hawksworth et al.. Indonesia. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. Reproduksi secara seksual. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Program Pasca Sarjana. (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. Indonesia. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. 1991. (1996) dikenal 5 kelas fungi. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. Universitas Sriwijaya. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Program Magister (S2). Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im. Bukit Besar. Indonesia. Palembang.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang.

baik berupa daun maupun kayu. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. dan pengelolaan lahan. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. 1993). CO2 terhambat. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. sebagai contoh . Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. bagian tengah. siklus hara. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. 1993). fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Bersama-sama dengan bakteri. karbon . Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. organisme rhizosfer. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. eksudat akar. 1992). fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas. 2007). Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. beberapa diantaranya bersifat sparofit. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. dan pengendalian penyakit. Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. tidak peka.. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow.(non-motile) disebut zygospora. bagian bawah. fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah.

flavus dan A. nitrogen. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. Selain itu. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. Namun demikian. Phytium. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. cat. dan kulit (Hawksworth et al. dan mungkin air) ke tanaman. Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. tanaman pangan.. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. dan essensial dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. 1995). (2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. hara mikro. serta banyak dijumpai dalam tanah.parasiticus yang . Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. contohnya A. 2007). 1995). fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. (3) Patogen atau parasit. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza.dioksida. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian. udara. tekstil. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. dan Rhizoctonia. Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. dan semak. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. sayuran. Sebagai contoh A. sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Seperti bakteri. Fungi patogen akar seperti Verticillium.

Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. 1987). Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. Pada tanaman. jaringan hewan dan tanah.5. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer. 1979). Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. gandum. Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. 1983). Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman.menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. 1986). Karbon dioksida . 1982).75-5x 2-6im.5-9. 5. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. 2. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam. 1968). 1999). Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman.. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. termasuk manusia.harzianum dan T. 3. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga. 4. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. diantaranya T.koningii (merton dan Brotzman. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase.

Sumatera Selatan. 2009. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Bukit Besar. dan mineral lainnya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pasca Sarjana.dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Indonesia. vitamin. Palembang. Ir. Program Pasca Sarjana. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Sumatera Selatan. Http://dasar2ilmutanah.com. Diposkan oleh Dr. Program Pasca Sarjana. MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Program Magister (S2). *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut . nitrogen. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. A. Palembang. Palembang. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Bukit Besar.blogspot. Abdul Madjid. Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Sumatera Selatan. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasrjana.

Micrococus dan Mycobacterium. harus mengandung 8 macam nutrisi. merupakan bentuk antara (transisi). Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. polymixa. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. candidus. A. Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). Arthrobacter. Pseudomonas. alfa ketoglutarat. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. . Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. megatherium. asam amino dan asam fenolik. (3) tingkat dissosiasi asam organik. apatit. Flavobacterium. Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. B. Schlerotium & Phialotobus. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. B. B. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. 1994). Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.. 2006). sitrat. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. jamur dan aktinomisetes. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia.. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah. subtilis. suksinat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. Penicillium sp. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. dan Chaetomium sp. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. AlPO4. glikolat. licheniformis. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. FePO4. malat. Penicillum. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. B. oksalat. Trichoderma viridae. Fusarium. Achromobacter. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. cereus. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. khususnya fungi jenis Aspergillus niger. B.memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. 2006). asetat. glukonat.

dan 10 kali. (2001). Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. dan FePO4. 1977 . dan mesir. 1980 . kanada.. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30.35%. sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao.010. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander.0%. 8 kali.04-0. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. 1982). Hutami et al. Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah. dan serapan N dan P. Lestari (1994). 1978). Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). A.yaitu: karbon (C) sebesar 19. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995.21% dan C/N ratio sebesar 9. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.4 % dibandingkan kontrol. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P. 1986). AlPO4. . niger strain NHJ2 1 ml per biji. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita.0-2. kalium (K) sebesar 0. japonicum. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.3 kali. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk. 1967). Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. Subba Rao. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P. dan serapan N dan P berturut-turut 7. aktivitas penambatan N. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A.039-1.0-40. yakni lebih dari 10 kali lipat. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. nitrogen (N) sebesar 2. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. fosfor (P) sebesar 0. 1957 . DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. dan G. (4) inokulasi R. magnesium (Mg) sebesar 0. aktivitas fiksasi N. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Kundu dan Gaur. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. 1.0-20% (Gaur. (2) inokulasi R.14%.5%. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). niger. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2.8 kali. margarita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. (3) inokulasi R.

Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). bahan organik. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). Selain daripada itu T. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al.78 ppm (Baratha. Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. Trichoderma viridae. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). aspergillus niger. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Aspergillus sp. Aspergillus niger. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut. Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. (2000). Penicillium sp. kab.. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1). Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. dan Chaetomium sp. dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3). Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar.. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No.. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. 42. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. Bogor. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. scwanniomycetes occidentalis. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. 2004). Tanah ini . sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada media tumbuh GAGES dan GES. Pennicillium digitatum. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. 2000). Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38.Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). T.

harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Ir.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. 2009. Tanah ini terkenal sangat miskin. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. . Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. Bukit Besar. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Palembang. Program Pasca Sarjana. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula.memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. (3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. Namun demikian. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Indonesia. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Sumatera Selatan. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. Http://dasar2ilmutanah. kandungan bahan organik rendah. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba.blogspot. Abdul Madjid. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol.com. Universitas Sriwijaya. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Bukit Besar.

Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. atau ketempat pengomposan. vermikulit. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah. atau zeolit. memperbaiki struktur tanah. Program Pasca Sarjana. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Sumatera Selatan. dan juga pada minuman. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. pelarut. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. biakan cair. arang. Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. dan kompos. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. sekam. Palembang. biakan kering beku.11. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung.760.*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. dan tepung. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Indonesia. Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. Namun. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. 2008). R. menekan soil-borne disease. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah .1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. Di Indonesia. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung.130. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. tanah. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. biakan kering. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. mempercepat proses pengomposan.

sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. jenis. fumarat. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. suksinat. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Propionat. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. laktat. Stase. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mulai tahun 2004. cara penyimpanan. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. 2008). sitrat. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam . Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. lartrat. artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun. Di Indonesia. tanggal kadaluwarsa. oksalat. glikolat. Dengan mempertahankan kelembaban. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. tetapkan kelembapan bahan pembawa. karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. baik berupa bakteri maupun jamur. seta jenis tanaman yang cocok. kematian mikroorganisme dapat dikurangi.melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. 2008). Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Pada pengujian pupuk mikroba. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Selain itu. dan ketoglutarat. Namun. 2008).

dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.85ug/ml (pH 5. dan meningkatkan serapan P tanaman. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.59%).28 ugfrnl (pH 2.65) hingga 147.0. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.60 ug/ml (pH 4.organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Grt 3./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Mn-. dan Ca.9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2.32% dan 16% pada padi.0. Aspergillus niger NHJ2. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman.47) hingga 394. yaitu mikroba pelarut fosfat. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. Fe-. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp./ha (23.pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. mikoriza.0. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. bobol kering tanaman.56 ug/m! (pH 6. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya. Sehingga .1). Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. 50 kg/ha SP36. memobilisasi.Suatu teknologi irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba.0.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. 50 kg P.

Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. minimal duplo. AlPO4 tidak larut dalam air. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. dan actinomicetes. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. 3. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. -4. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. untuk menuang medium ini ke dalam cawan . sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. antara lain: 1. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Konsentrasi fosfat. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. khususnya isolat fungi. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. 5. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. 2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. 6. – 8. 8. 4. bakteri. Buat medium agar Pikovskaya. dan Vlek (1996). – 6 s/d 10 ext. 7. Moawad. Ulangi langkah di atas secukupnya. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat.

Kecepatan pertumbuhan mikroba. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh 2. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. Melalui aplikasi pupuk hayati. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. sehingga dapat diserap tanaman.. 4. (2000). 1995).petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. 3. Misalnya. Goenadi et al. pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. Ketebalan agar. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. (Goenadi. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. A. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan . fosfatase. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. dkk. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. dan aktinomicetes. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. misalnya: fungi. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. 2000). Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. bakteri.

dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. bobot kering bibit. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. (1997). dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. 1995). dan volume akar. B. penambat nitrogen bebas.12 bulan (Goenadi et al. Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. dkk. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. kedelai.. Hasil percobaana Goenadi. ketersediaan hara di dalam tanah. PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh .

bobot kering total. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan.Dosis dan kandungan mikroba Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha.5. C. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran. Rhizobium 108-109. aktivitas penambatan N. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. dan 10 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. 50 kg KCl). Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. Rata-rata bobot kering tanaman. dan serapan N dan P berturut-turut 7. . Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. 8 kali. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. niger strain NHJ2 1 ml per biji. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). pH 3. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. jumlah polong isi. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. MK 1999. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. niger. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. 2000). bobot kering akar. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger.3 kali. jumlah bintil akar. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. tinggi tanaman. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. (2) inokulasi R. aktivitas fiksasi N. 100 kg SP-36/ha. (3) inokulasi R. diameter batang. A. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. dan serapan N dan P. MK 1997. margarita.8 kali.96. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). dan G. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. 1. japonicum. (4) inokulasi R.209 me/100g). serapan N dan P tanaman. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. Al-dd 1. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol.

dan mikroba pendegrasi selulosa. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Lactobacillus sp6. Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Azospirilum sp4. Fe = 44. yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. K = 1700 ppm . yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.3 ppm . Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.70 ppm . Mikroba pelarut fosfat3. Lactobacillus.85 ppm . Mn = 0. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya. C organik = 0. mikroba pelarut P. Cu = 0. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair. Hg.23 ppm . N = 0.92 % . Pseudomonas spp = 34. Azobacter sp2. Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Azotobacter.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman.04 % . Migro Plus . Pb. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. Zn = 3.Lukman Gunarto MSc. Cd dan Mikroba Patogen. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%.Ir. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr.D.

Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). sehingga keaslian produk MiG corp. Menurut penelitian Dr. mikroba pelarut P. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. Azotobacter sp. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). Hasil dari pendegradasian tersebut. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. unsur N. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh . populasi mikroba untuk menambatkan N. Lukman Gunarto. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. probiotik MiG ternak. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. pembentukan anakan dan primordial. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. ada yang berfungsi sebagai penambat N. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. Lactobacillus sp. penambat Nitrogen dari udara. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. akan mendapatkan K dan unsur lain.

Program Magister (S2). Palembang. Palembang. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Program Pascasarjana. Sumatera Selatan. Program Pasca Sarjana. Tidak masalah. rusak atau mati. Caranya sangat mudah. Bukit Besar.dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit).blogspot. Indonesia. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. 2009. Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. apabila penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. Indonesia. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Program Pasca Sarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Bahan Ajar Online. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Ir. Universitas Sriwijaya. A. http://dasar2ilmutanah. apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit.com. . (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. Bukit Besar. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2). Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr.

M.. A. D. L. PA. C. J. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. dan Chaetomium sp. New York. USA. Aspergillus niger. Smithson. Trichoderma viridae. 51. Building soil phospharus capital in Africa. Dix. R. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. 1995. Fusarium. fungi and arbuscular . S. P.J. Rosario Azcón Jose M. 13 : 749-752. Pusat Antar Universitas IPB. Canadian. Marcel Deker. 1997. Premono dan R. E. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. G. and Schweizer.J. Bogor.C. Communities of P-solubilizing bacteria.R. 1993. 1996. Inc. 2006. (eds). Penicillium sp. 1999. 868p. Fungal Ecology. New York. Carroll.. Introductory Mycology (4th Ed). 1-44 pp. and M. Plant soil 60 : 353-364. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. Edson L. and Webster. aspergillus niger.T. R. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. Saggin. Chonkar and Subba rao.. Madison.. J. 1992. VII. Baniks. 1982.C. Souchie. S.J. P. scwanniomycetes occidentalis. Campello. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Schlerotium & Phialotobus. Eliane M. J. Microbial. D. candidus. 2004. Alexopoulos. Blackwell. Dickinson. In. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. John Wiley and Sons. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. J. DAFTAR PUSTAKA Anas. M. WI. Orivaldo J. Penicillum. Barea. Dhandhun Baratha. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. N. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. Philadelphia.(2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. and Hellums. and Wicklow.. Buresh et al. SSSA.C. Buresh..T. R. Eduardo F.. J. 111-149. 334-337. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec.W. Chapman & Hall.. Publ. I.. London. Widyastuti. Pennicillium digitatum. C. 1967.W. Mims.

Frankland. United Kingdom. Cambridge University Press. Cadisch (eds).. CAB International. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. Fakultas Pertanian. 641-655. The Pennsylvania state University Press. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Goenadi..S. Perbedy.Fertilizer [Biosol-P] www. 204 pp. University Park. 1987. 2000. P. Puslittanak.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 Gressel. Riyanti. B. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. Missouri. Jakarta (Indonesia). New York. Mycology research 95. Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. F and Brotzman. D. Merton. 1997. Bio . 14 : 31-36. E.Z.E. Saraswati.indiamart. . 1995. New York. Sutton. U. Watling.E. E. Lestari.I. Sunarlim.H. 1996.. CAB International. significance and conservation.mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty.J. Institut Pertanian Bogor. D. N. Plenum Press.. J. Jenis pupuk P.K. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. S. Bogor (Indonesia). the fungal dimension of biodiversity: magnitude. 588 pp. RJ – Brazil. Columbia. 616p. Giller and G. Soil Science Society of America Journal 64:927932. H. Anas. N and J.). Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus.L. Nelson. Fusarium Species: Their biology and toxicology. and Whalley. 193 pp. 1986.297-312. Isaac. Wallingford. In. Inc. Pennicilium and Acremonium. Badan Litbang pertanian. 1991. Maningsih. 1983. University of Missouri Columbia Extension Division. A. Driven by nature p.N.C. S.com/jayenterprises/fertilizers. Aspects of tropical mycology. Bogor. G dan I. 2000.L.. and Pegler. Paul.A dan Clark.M.br/scielo. R. P.. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. John Willey & Sons. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Inc. R. Siswanto and Sugiarto. D.scielo. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung.E. Cambridge. A. Hawksworth. McColl. 1994. J. Hawksworth. F.html Joffe. Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Y. P. Kirk.. K. http://www. 1989. USA. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. 1993. Hutami. D.. Skripsi.C.G. New York. 1979.F.

1986. Indonesia. E. 2008. I. H. Ir. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Program Pascasarjana. N. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Pupuk Hayati. John Willey & Sons. Harvard university Press. Universitas Sriwijaya.ac.J. manual and atlas of pennicillia. 380 p. Stevenson. N. M. Soil Microorganism and Plant Growth. M. micronutrients. 1977. 1968. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). 83-123 pp. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2. Yuwono. Oxford and IBH Publishing Co. sulphur. Miller.id/] Diposkan oleh Dr.ugm. Mass. Disertasi. E. Fosfor (P). Cycles of soil carbon. Elsevier biomedical press. Sekilas Pupuk Hayati. Premono. 202-204. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Universitas Sriwijaya. 1994. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. M. Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Cambridge university Press. nitrogen. Program Studi Ilmu Tanaman.W and Mrak. phosporus. Universitas Gadjah Mada. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. Cambridge. C. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.Phaff.J. 23-30. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Introduction to fungi. Bogor. Palembang. New Delhi. Program Pasca Sarjana. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. New York. Subba Rao. Tiga unsur hara penting tanaman. Ramirez.S. Hara N tersedia melimpah di udara. New York. The life of yeast. yaitu Nitrogen (N). Abdul Madjid. Namun. 1970. Cambridge. [http://nasih. Jasad Renik Pelarut Fosfat. Program Studi Ilmu Tanaman. 2006. J. 1982.. N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba.M. W. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan . F. Palembang. Program Pasca Sarjana. Tombe.staff.

Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Mikoriza merupakan . yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. antara lain: Aspergillus sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis.Azotobacter sp. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. 2008). Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Penicillium sp. Namun. Sebaliknya. karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

dll. karet. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. membentuk chlamydospores (Morton. mulai dari paku-pakuan. mempening (jenisjenis Fagaceae). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Hifa memasuki sel kortek akar. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. kelapa sawit. 2004). Acaulospora. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. pasang. Entrophospora. kruing. 1997). . Paraglomus. Archaeospora. Dilain pihak. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. 2003). 2006). Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. mangga. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. bercabang. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. rambutrambut akar tidak ada. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Gigaspora dan Scutellospora. misalnya jenis-jenis meranti.suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. hingga pohon rambutan. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. kesehatan dan produktivitas tanaman. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. padi. pinus. jenis rumput-rumputan. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1.

Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Tipe CMA . Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. karet. kopi. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. nenas. pepaya. kebanyakan berbentuk bulat telur. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. teh. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. harus diamati dibawah mikroskop. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. bawang. kakao. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. singkong dan sorgum. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. padi gogo. 2004). 1. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. jeruk. palem. akan tetapi belum berhasil. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. vesikel intraseluler. kacang tunggak. kapas.Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. tembakau. selada. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. barley. 2004). apel dan anggur (Rahmawati. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. vesikel (vesicle) dan spora. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. 2003). 1998). tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur.

1981). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. Arbuskul berperan dua arah. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. dengan Ascomycota . Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. 1981). Dengan bertambahnya umur. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. 3. 2004).vesikel dan akhirnya spora (Mosse. yang memiliki perbedaan tegas. Schubler et al. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. 2. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. 2004).vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. pembengkokan inti sel. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Mirip dengan cendawan patogen. pembentukan organ baru. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun.

Diversisporaceae. Gigaspora-ceae.dan Basidiomycota. 2002). Geosiphon. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. 2006). Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Kuklospora. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. dan Glomus sp. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Pacispora. Entrophospora. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. (Sagin Junior & Da Silva. Diversipora.. Gigaspora. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 1991). kondisi tanah serta spesies CMA indigen. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). 2006). Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Walaupun demikian. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Intraspora. Oleh karena itu. Paraglomus. . Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. tanaman inang. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. Acaulospora. Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Scutellospora. kepadatan propagula. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae.

daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. bahan organik tanah. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. 1981). karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih .pada tengah hari. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. saat kelembapan air rendah. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. pH. logam berat dan fungisida. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan.. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. kadar air tanah. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. Vesser et al. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Untuk daerah tropika basah. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. tanah. hal ini menguntungkan. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA.II. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. 1981).

Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. 1997). perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah.ekonomis. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun . Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. 1997). Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. 1997). vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik.. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. 1981). Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Serasah tersebut mengandung hifa. 1984). Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. air dan udara.

Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan.mangan. 1982 dalam Anas. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. dan Na yang tinggi (Mosse. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). fungisida Agrosan. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. 1998). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. 1981). Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. Benlate. Plantavax. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. 1984). tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. alumunium dan mangan. 1984 dalam Anas. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Al. . 1995). di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. klor.. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. 1997). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. 1997).

Untuk tanaman manggis. 1 9% (Gededda et al. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). cropping sistem. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. 1996). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. 2005). Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Dalam budidaya tradisional. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. karena perubahan spesies tanaman. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. K. Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Sawahlunto Sijunjung. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. P. 1984). dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994).Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). 1995). pembakaran. 1996). Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al.04 menjadi 0. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi . ameliorasi dengan bahan organik. unsur hara dan struktur tanah. Pada tanaman pisang. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi.

aggregatum tidak berbeda dengan kontrol.7% dan 4. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. mikoriza juga membentuk hifa ekternal.dengan mikoriza (Muas et al. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 2006). yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. jumlah daun pada umur 4. bobot kering tajuk. 1997). manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37. kekeringan. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. 1997). Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman.5% dibandingkan dengan kontrol. Di dalam arbuskul. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST.masing sebesar 5. sedangkan inokulasi G. 8 dan 28 MST. III. 2002).7% dibandingkan dengan kontrol. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. sedangkan inokulasi G. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: . Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza.2% dibandingkan dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Selain daripada membentuk hifa internal. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. G. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas.

konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Fe. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. pemadatan. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Cu. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Pada kedelei. Selain itu. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. salinitas. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. 3) melindungi dari herbisida. Zn dan Cu meningkat. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. dan Zn). penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Setelah periode kekurangan air (water stress). dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air.1) adanya peningkatan absorpsi hara. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Zn. . Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Dengan adanya CMA. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. keasaman. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. 2006). (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. 1997).

2. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat . Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya.Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Infeksi patogen akar terhambat. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Dilain pihak. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. 1994). cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. 4. 3. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. 1994). K dan S. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. 2. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan.1997). dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi.

citokinin. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan . Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. 1997). 3. 1981). Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 1981 dalam Husin dan Marlis. sitokinin dan giberalin. 2000).terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. Jika terhadap jasad renik berguna. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas.. patogen akar. Interaksi sebenarnya antara CMA. 1997). 4. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. 40% kebutuhan nitrogen. Pada tanaman tertentu. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. 1993). yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan giberalin. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. tailing tambang batubara. atau lahan terpolusi lainnya. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz.

Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman.pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Perbaikan Struktur Tanah. 2002). "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir.. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap.. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. 5. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. Bila ini benar. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang . 2002). sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. Menurut Hakim. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. 1997). namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. tapi juga bagi tanah. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro.

dan protein. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Seng (Zn++).lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. khususnya pada tanah yang miskin P. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).5. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. B. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. setelah didahului dengan proses infeksi akar. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Phytat adalah senyawa phospat komplek. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.3. 2002). Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Magnesium (Mg++). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor.6 hexakisphospat). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya).2. phosphor bebas dan mineral. Prihastuti et al. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al.4. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. 1999). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman.. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. japonicum. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Besi (Fe++). 6. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung .

Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen. 1994). Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. perkebunan. 3. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik.mikoriza vesikular-arbuskular. 2006). tanaman tanpa mikoriza) / BK. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. tanaman bermikoriza . Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara.BK. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. adanya asosiasi ini. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. 1987). kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. baik untuk tanaman pangan. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit . Bagi tanaman inang. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. spesies cendawan. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. Sedangkan secara langsung. kadar air. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. yaitu mencapai 70. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Secara tidak langsung. tipe perakaran tanaman inang. 1997). 2004).50–90. temperatur. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.33%. 6. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. tanaman inang. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). pH.

kejenuhan Al tinggi. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Disamping untuk tanaman pangan. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0.02 g biji/tanaman menjadi 5. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.13 mg P/tanaman menjadi 2.15 mg P/tanaman. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.1997). Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol.98 g biji/tanaman. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Kalimantan. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu .18 mg P/tanaman menjadi 2. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. 7. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. miskin hara dan bahan organik.(Solaiman dan Hirata. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan.84 g biji/tanaman menjadi 5. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. 1995).13 g biji/tanaman.1.66 mg P/tanaman.. dan hasil kedelai meningkat dari 2. 1997). infiltrasi air hujan rendah.

menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan

pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005).

80 % .40. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Untuk mewujudkan harapannya.76 % -21.71. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi". 69. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. Peningkatan kadar P nira." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna.67. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. sebesar 38. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : .5 ppm. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . 2008). Dengan teknologi mikoriza.65 %. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.90 %.66 % . dengan kadar P tersedia "rendah" . Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.15 %. Tujuannya. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.84 % . tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara..72 ppm dan tanah Inceptisol. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak. Selain itu. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. 8. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13.Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007).

APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. bedeng tersebut dapat digunakan. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. selain untuk meratakan hasil. 2008). Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. Manfaat 1. 3. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). juga untuk menguapkan sisa fumigasi. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman.Lima hari kemudian. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 2. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. sorgum atau pueraria. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. diaduk merata. 6.1. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. spora dan akar terinfeksi. dan kesuksesannya sebagai jaringan . 4. 3. 5. Tanaman inang dapat berupa jagung.

MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Abdul Madjid. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Untuk membuat tablet. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Kalimantan. Dalam teknik pemberian mikoriza. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya.7 sentimeter. Aturan pakainya sederhana. Tablet ini dibuat dari cendawan. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Diposkan oleh Dr. (3) menggunakan miselia cendawan. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. yaitu: (1)Parasitik. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Setelah diberikan pada bibit tanaman. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan . kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. satu tablet untuk satu bibit. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. Setelah teruji kemurniannya. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Di IPB. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman.penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Setelah itu pil dipecah-pecah. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. Ir. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. mampu menambah daya tahan akar tanaman. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul.

dan (3)Ektendomycorhiza. seperti: amoeba. (3)Acaulospora. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. (2)Glomus. Chilopoda (kelabang). (c) Arthropoda. yaitu: (1)Endomycorhiza. yaitu: (1) Makro Fauna. (3)Simbiotik.penyakit pada akar tanaman. dan ciliata. (2)Ektomycorhiza. semut. . MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. flagelata. (d)Moluska. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. (2)Saprophitik. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. seperti: penyakit bercak akar kapas. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop. (b) cacing tanah. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. (4)dll Diposkan oleh Dr. dan (b)Nematoda.akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. Arachnida (lebah. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. Ir. jangkrik. seperti: omnivorous dan Predaceus. Abdul Madjid. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. kutu. Diplopoda (kaki seribu). yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. dan rayap).

Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. (2) Mikro Flora. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). dll. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makro Flora. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman.Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. (b) fungi. terdiri dari: (a) bakteri.2 mm s/d 10 mm. Abdul Madjid. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. dan (d) algae.2 mm. Selain itu. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Bacillus. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. (2) Mesobia. Ir. Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah . bahwa berdasarkan ukuran. Aspergillus. dan (3) Mikrobia. dll. Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) Makrobia. yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. (c) actinomycetes. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop.

net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik.000 bakteri per gram tanah. Ir. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.yang subur melebihi 100. Abdul Madjid. Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful