P. 1
biologi_tanah

biologi_tanah

|Views: 645|Likes:
Published by andre_erwanto

More info:

Published by: andre_erwanto on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pupuk Hayati
  • 1.2. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)
  • 1.3 Senyawa Fosfat Tanah
  • 1.4 Peranan Fosfat pada Tanaman
  • 2.1. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P
  • 2.2. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman
  • 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri
  • 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi
  • 3.3. Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat
  • 4. Trichoderma
  • 5. Perbaikan Struktur Tanah
  • 6. Meningkatkan Serapan Hara P
  • 7.1. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang
  • 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi

PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1

)
PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2). Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian, 2006). CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes, famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus, Entrophospora, Acaulospora, Archaeospora, Paraglomus, Gigaspora dan Scutellospora. Hifa memasuki sel kortek akar, sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah, membentuk chlamydospores (Morton, 2003). Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan, kesehatan dan produktivitas tanaman. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar, mikoriza dapat dikelompokkam ke

dalam tiga tipe : 1. Ektomikoriza 2. Ektendomikoriza 3. Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar, bercabang, rambutrambut akar tidak ada, hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air, hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq, hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar, lapisan hifa pada permukaan akar tipis, hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks, adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett, 2004). Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza), mulai dari paku-pakuan, jenis rumput-rumputan, padi, hingga pohon rambutan, mangga, karet, kelapa sawit, dll. Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza), misalnya jenis-jenis meranti, kruing, kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae), pasang, mempening (jenisjenis Fagaceae), pinus, beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar, tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM, harus diamati dibawah mikroskop, karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM, merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul, vesikel intraseluler, hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas, 1998).

dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. 1. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. Tipe CMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. jeruk. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. padi gogo. vesikel (vesicle) dan spora. . Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). nenas. 2004). Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. kebanyakan berbentuk bulat telur. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. 2. kopi. karet. Arbuskul berperan dua arah. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. kakao. pembengkokan inti sel. teh. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. bawang. kacang tunggak. 2004). sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. akan tetapi belum berhasil. Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. 2004). Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang.Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. tembakau. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. 2003). Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. kapas. apel dan anggur (Rahmawati. pepaya. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. singkong dan sorgum. selada. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. pembentukan organ baru. 2004). Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. barley. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. palem.

Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Pacispora. Acaulospora. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Paraglomus. Mirip dengan cendawan patogen. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. Diversipora. 1981). dan Glomus sp. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 1981). yang memiliki perbedaan tegas. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. Scutellospora. Walaupun demikian. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Geosiphon. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace). tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi. Hal ini menunjukan . Oleh karena itu. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). 3. Diversisporaceae. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. Dengan bertambahnya umur. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar. dengan Ascomycota dan Basidiomycota.Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Gigaspora-ceae. Schubler et al. Gigaspora. 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Entrophospora. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. Kuklospora. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Intraspora. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya.

Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2002). Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. Palembang. Indonesia.com.blogspot. (Sagin Junior & Da Silva. 2009. Bahan Ajar Online. kepadatan propagula. Program Pascasarjana. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Propinsi Sumatera Selatan. 2006). Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. Program Studi Ilmu Tanaman.. Ir. A. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Http://dasar2ilmutanah. 2006). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al.adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. 1991). tanaman inang. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Program .

.Magister (S2). Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Program Studi Ilmu Tanaman. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Program Pasca Sarjana. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. pH. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Program Magister (S2). Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. Indonesia. Universitas Sriwijaya.pada tengah hari. bahan organik tanah. tanah. Palembang. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. 1981). Indonesia. (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. kadar air tanah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. Palembang. Program Pasca Sarjana. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. hal ini menguntungkan. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. saat kelembapan air rendah. Universitas Sriwijaya. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. Vesser et al. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. intensitas cahaya dan ketersediaan hara. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan . Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. Palembang. Untuk daerah tropika basah. Indonesia. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. logam berat dan fungisida. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. 1981).

1981). 1997). Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih ekonomis. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang . 1997).5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. 1984). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Serasah tersebut mengandung hifa. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. air dan udara.daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula.

Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. dan Na yang tinggi (Mosse. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar . 1984). Benlate. 1982 dalam Anas.tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. Al. 1984 dalam Anas.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. alumunium dan mangan. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun mangan.. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca).. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. 1997). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel. Plantavax. 1981). fungisida Agrosan. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. klor. 1997). Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza. 1997).

ameliorasi dengan bahan organik. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. P. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. 1995). Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. 1998). 1995). 2005). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. cropping sistem. karena perubahan spesies tanaman. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994). pembakaran. Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). 1 9% (Gededda et al. 1996). menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional.tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. unsur hara dan struktur tanah. . Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. Dalam budidaya tradisional. Penelitian McGonigle dan Miller (1993). 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. 1984). Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. K. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. jumlah bahan organik yang dihasilkan. Pada tanaman pisang. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida.04 menjadi 0. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al.

sedangkan inokulasi G. Indonesia.com. 8 dan 28 MST. Indonesia. Bahan Ajar Online. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.5% dibandingkan dengan kontrol. Program Studi Ilmu Tanaman. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran. dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi dengan mikoriza (Muas et al.2% dibandingkan dengan kontrol. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. bobot kering tajuk. Program Studi Ilmu Tanaman. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.7% dibandingkan dengan kontrol. 2009.masing sebesar 5. Universitas Sriwijaya. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Palembang. Http://dasar2ilmutanah.7% dan 4. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. A. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37.blogspot. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. Program Pascasarjana. Program Magister (S2). Ir. G. Untuk tanaman manggis. sedangkan inokulasi G. ** Program Studi Ilmu Tanaman. MS di 21:02 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Palembang. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Program Pascasarjana. 1996). Program . Indonesia. Universitas Sriwijaya. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. 2002). Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Sawahlunto Sijunjung. jumlah daun pada umur 4.Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Diposkan oleh Dr.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. Cu. Di dalam arbuskul. 3) melindungi dari herbisida. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. keasaman. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. kekeringan. Selain daripada membentuk hifa internal. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang . Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. Fe. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. Program Pasca Sarjana. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. dan Zn). 1997). salinitas. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Palembang. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. serta patogen akar. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Selain itu. Indonesia. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: 1) adanya peningkatan absorpsi hara. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. Universitas Sriwijaya. pemadatan. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. 1997). Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. Zn. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar.Magister (S2). Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 2006). PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza.

oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. 1997). Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. 2006). Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. 1994). Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Dengan adanya CMA. Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Zn dan Cu meningkat. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. atau . K dan S. Pada kedelei. Setelah periode kekurangan air (water stress). Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P.

yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 2. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali . 4. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. 1994). berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. tailing tambang batubara.lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. 3. tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Infeksi patogen akar terhambat. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. 2. atau lahan terpolusi lainnya. Dilain pihak. Jika terhadap jasad renik berguna.1997). Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri.

Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. 4. patogen akar. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. sitokinin dan giberalin. Perbaikan Struktur Tanah. Interaksi sebenarnya antara CMA. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. dan giberalin. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. citokinin. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. 5. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Bila ini benar. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Pada tanaman tertentu.. maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. 3. 40% kebutuhan nitrogen. 1997). asam . yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat. 1981). 1997). 1993). Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 2000). Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. 1997). Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. 1981 dalam Husin dan Marlis. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz.hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al. sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar.

karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa.. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. 2002). Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. . Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Menurut Hakim. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. tapi juga bagi tanah. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain.. 2002). Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman.

hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. khususnya pada tanah yang miskin P. Besi (Fe++).3.33%. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA.4. dan protein. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N. Seng (Zn++). japonicum. 2002).6. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. 1997). setelah didahului dengan proses infeksi akar. phosphor bebas dan mineral. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza.2.6 hexakisphospat). phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. B. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis. Magnesium (Mg++). . (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). yaitu mencapai 70. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). 1999). yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif.5.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Prihastuti et al. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. 2006). Phytat adalah senyawa phospat komplek.50–90. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi.

Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit (Solaiman dan Hirata. pH. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. 7. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. spesies cendawan. temperatur. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. .BK. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. tipe perakaran tanaman inang. 1994). Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. 1995). Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. tanaman tanpa mikoriza) / BK. cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK.1987). Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. tanaman inang. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. baik secara langsung maupun tidak langsung. 2004). Bagi tanaman inang. Kalimantan. Sedangkan secara langsung. perkebunan. baik untuk tanaman pangan. kadar air. Sulawesi dan pulau besar lainnya. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air.1. Secara tidak langsung. dan kompetisi antar cendawan mikoriza). 3. 6. tanaman bermikoriza . adanya asosiasi ini.

Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.13 g biji/tanaman. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. 1996) dan pepaya (Cruz et al. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. dan hasil kedelai meningkat dari 2. kejenuhan Al tinggi. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.1997). Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza.02 g biji/tanaman menjadi 5. Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp.Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam.. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. serta serapan hara NPK.18 mg P/tanaman menjadi 2. net fotosintesis. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.13 mg P/tanaman menjadi 2. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air.84 g biji/tanaman menjadi 5. miskin hara dan bahan organik. 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap .66 mg P/tanaman. infiltrasi air hujan rendah.. Disamping untuk tanaman pangan. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun . Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas.15 mg P/tanaman. 1997).98 g biji/tanaman. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.

Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach. 2000). Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Peneliti lain.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat. et al. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P. 2001). 1995 dalam Aggangan et al. 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. 2000). Namun demikian. Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. terhidar dari plasmolisis. karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. 1994 dan Tam. Dalam kondisi salinitas tinggi. jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. 7. tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman .kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar. kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al. Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti. meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. 1994). Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval. 3. meningkatnya tekanan osmotik. Zn dan Cu (Al-Kariki. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman. 12 diantaranya bermikoriza.inang terhadap logam beracun.. Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. efisiensi penyerapan P. disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. 2000). dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman. meningkatkan N tanah setelah percobaan. sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. mempercepat umur berbunga tanaman jagung. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan. Menurut Wachjar et al (2002). juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan.. gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut. Oliveira et al. dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA . Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti. 1993). (2001) menunjukkan bahwa P. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi. Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. maka laju penurunan hasil clover meningkat. zat yang melarutkan PAH. karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar.

Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama. produktivitas. Selain itu. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.S. dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara. misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan. sulit dan cukup mahal transportasinya.berpengaruh terhadap jumlah daun. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya. tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman. tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar. derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto. selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya . Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007). Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007). bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit. Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan.

5 ppm.Lima hari kemudian.67.melindungi spesies genetik jati muna. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : 1. Dengan teknologi mikoriza. sebesar 38.66 % .84 % . diaduk merata. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Peningkatan kadar P nira.80 % . Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. bedeng tersebut dapat digunakan.65 %. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. Untuk mewujudkan harapannya. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. 2008). Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. 8. juga untuk menguapkan sisa fumigasi.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".76 % -21. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. selain untuk meratakan hasil. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. dengan kadar P tersedia "rendah" . lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. 2.72 ppm dan tanah Inceptisol. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.15 %. Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. Tujuannya. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak.40. . 69. spora dan akar terinfeksi.71.90 %.

diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan. dan kesuksesannya sebagai jaringan penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. sorgum atau pueraria. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. 3. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza (3) menggunakan miselia cendawan. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. 4. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. 2008). Dalam rangka pelaksanaan program ini. Manfaat 1. 6. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. Dalam teknik pemberian mikoriza. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. .3. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum. Tanaman inang dapat berupa jagung. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. 5. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia.

Penggunaan VA mikoriza merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian hama dan penyakit secara biologi yang aman terhadap lingkungan Jumlah takaran VA mikoriza yang digunakan yaitu 0. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Pada hari ke 29 tanaman tomat diberi suspensi nematoda Meloidogyne spp sebanyak 1 ml per tanaman. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Tablet ini dibuat dari cendawan. 1. 2008) . untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi.Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian. Kalimantan. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan demikian. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat.00. Aturan pakainya sederhana. 1. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. sampai 230%. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengembangan ilmu-ilmu pertanian khususnya pemanfaatan VA mikoriza untuk memacu pertumbuhan dan pengendalian serangan nematoda bengkak akar Meloidogyne spp pada tanaman tomat.00 gram (Hardiatmi S.00 gram. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. Kalium (K) bertambah 86%.00. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman.7 sentimeter.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan VA mikorisa dapat mengendalikan serangan nematoda Meloidogyne spp pada juml. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Untuk membuat tablet. Setelah teruji kemurniannya. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Setelah diberikan pada bibit tanaman.M. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Sebagai pembanding. Di IPB.J. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar.00 gram. Setelah itu pil dipecah-pecah. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P). dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dan Nitrogen (N) 75%. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara.500 dan 2. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain.ah takaran 1. Biakan VA mikoriza diinfeksikan pada tanaman tomat yang berumur 14 hari. Sedangkan hasil yang paling baik dan efektif terjadi pada penggunaan VA mikoriza 2. ditanan tomat yang tanpa inokulasi VA mikoriza . biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. satu tablet untuk satu bibit. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya. 1.50.50 dan 2. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanah-tanah asam. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus.

Http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Abdul Madjid. Program Pasca Sarjana.blogspot. A. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online. pada rentang waktu tertentu tingkat produktivitas lahan akan menurun dan seringkali menyebabkan pencemaran ling-kungan yang berakibat lebih jauh terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas ling-kungan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Sedangkan hutan yang sekarang banyak terbakar perlu penanganan lahan yang intensif untuk menumbuhkan kembali tanaman hutan dan tetap diupayakan sebagai salah satu sektor penghasil devisa yang cukup besar bagi negara. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. membantu proses mineralisasi atau bersimbiosis dengan tanaman dalam menambat unsur-unsur . Ir. Program Magister (S2). Diposkan oleh Dr. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pada ekstensifikasi lahan-lahan marginal tersebut. Prinsip penggunaan pupuk tersebut adalah memanfaatkan kerja mikroorganisme tertentu dalam tanah yang berperan sebagai penghancur bahan organik. daya tumbuh dan produktivitas tanaman semakin dikurangi dan sebagai gantinya mulai digunakan pupuk hayati (biofertilizer). Palembang. Program Pascasarjana. Indonesia. MS di 20:49 0 komentar Label: Biologi Tanah PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.com. Universitas Sriwijaya. 2009. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Palembang. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Sejalan dengan peningkatan kesadaran manusia akan pemanfaatan segala sesuatu yang bersahabat dengan alam. Program Pasca Sarjana. Indonesia.Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. penggunaan pupuk kimia untuk peningkatan kesuburan tanah. Palembang. peningkatan produktivitas lahan dengan bantuan pemakaian pupuk buatan seringkali kurang efektif karena memerlukan biaya tinggi. Indonesia. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV.

Meningkatkan Penyerapan Unsur Hara (Unsur P) Tanaman yang bermikoriza (endo-mikoriza) dapat menyerap pupuk P lebih tinggi (10-27%) dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza (0. kehutanan. Di samping itu beberapa mikoriza menghasilkan antibiotik yang dapat menyerang bakteri.1 Keunggulan Pupuk Hayati Mikoriza Mikoriza adalah suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistis (saling menguntungkan) antara cendawan/jamur (mykes) dan perakaran (rhiza) tanaman. Pengaruh penggunaan mikoriza pada pertumbuhan tanaman adanya perbedaan Pertambahan tinggi tanaman dibanding kontrol (Tabel 1). OST dan Simbionriza.4-13%). virus. Salah satu jenis pupuk hayati yang telah dan sedang dikaji BPPT adalah TECHNOFERT 2001 yaitu pupuk hayati yang memanfaatkan kerja Mikoriza. b. jamur yang bersifat patogen. sengon dan kedelai umur 4 bulan di green house PPP Biotek-Serpong.hara sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Teknik ini memberikan manfaat pada tanaman untuk bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik pada lahan marginal melalui peningkatan ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas. 4. Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Kamizae. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Secara umum manfaat yang diberikan dengan penggunaan pupuk hayati mikoriza adalah : a. Pupuk hayati ini diproduksi di P3 Biotek. pupuk phosfat 27% dan pupuk Kalium 20%. perbaikan kesuburan lahan dan peningkatan daya tahan pada kekeringan. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut ada juga diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Hasil pengujian terhadap tinggi tanaman coklat. perkebunan dan tanaman pakan) dan membantu dalam meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama fosfor) pada lahan marginal. Mikoriza mempunyai kemampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman (pertanian. Rhiphosant. ------------------------------------------------------------------Jenis Tanaman Tinggi Persentase Tanaman (cm) kenaikan (%) ------------------------------------------------------------------- . memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Penelitian terakhir pada beberapa tanaman pertanian dapat menghemat penggunaan pupuk Nitrogen 50%. Menahan Serangan Patogen Akar Akar yang bermikoriza lebih tahan terhadap patogen akar karena lapisan mantel (jaringan hypa) menyelimuti akar dapat melindungi akar. Tabel 1.

Memperbaiki Struktur Tanah dan Tidak Mencemari Lingkungan Mikoriza dapat meningkatkan struktur tanah dengan menyelimuti butir-butir tanah. d. 4. .70 ------------------------------------------------------------------c. Pupuk mikoriza juga digunakan untuk penanaman tanaman hijauan makanan ternak gamal (Gliricidia maculata) pada lahan kering di Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pemda Karangasem.64 35.50 Sengon buto Tanpa Mikoriza 32. seperti terlihat pada gambar 2 dan 3.70 Kedelei Tanpa Mikoriza 18.2 Penerapan Technofert 2001 Pupuk hayati mikoriza produksi BPPT ini digunakan dalam memproduksi 20.28 34. Hal tersebut memberikan peluang lebih besar untuk mikoriza menginfeksi akar tanaman. Bali. Stabilitas agregat meningkat dengan adanya gel polysakarida yang dihasilkan cendawan pembentuk mikoriza.50 33.14 Dengan Mikoriza 43.44 Dengan Mikoriza 28. Pemupukan Sekali Seumur Tanaman Karena mikoriza merupakan mahluk hidup maka sejak berasosiasi dengan akar tanaman akan terus berkembang dan selama itu pula berfungsi membantu tanaman dalam peningkatan penyerapan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.Coklat (kakao) Tanpa Mikoriza 28. Simbiosis jamur dengan tanaman gamal ternyata memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan gamal. Dengan penggunaan mikoriza ternyata pertumbuhan sengon dan gamal pada lahan kering dan kurang subur meningkat dibanding dengan tanaman dengan pupuk kandang atau kontrol (tanpa pemupukan). menempelkan pupuk/akar terinfeksi pada akar tanaman muda atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman. Teknik Penggunaan Pupuk Hayati Mikoriza Pupuk mikoriza Technofert 2001 berupa spora mikoriza dan potongan akar yang terinfeksi jamur yang dicampur dengan zeolith sebagai media. Pemberian pupuk diberikan dengan cara menaburkan pupuk pada lubang sebelum penanaman.000 tanaman kehutanan sengon (Paraserianthe falcataria) yang ditanam di lahan marginal di propinsi Lampung.12 Dengan Mikoriza 48. Karena bukan merupakan bahan kimia pupuk ini tidak mencemari lingkungan. Penggunaan pupuk ini efektif digunakan pada saat tanaman masih dipersemaian (tanaman muda) yang akarnya belum mengalami penebalan.

biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. dan Nitrogen (N) 75%. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Aturan pakainya sederhana. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Untuk membuat tablet. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk beberapa jenis tanaman kehutanan dapat dilihat pada tabel berikut ini (Hardiatmi J. Setelah itu pil dipecah-pecah.S. Kehadiran mikoriza ternyata membuat tanaman tidak sensitif. Tablet ini dibuat dari cendawan. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. javanica. 4. penggunaan jasa mikoriza ini dapat mengatasi kesulitan penghutanan kembali pada tanah asam. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. Selain P. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.3 Tablet Mikoriza Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. Dengan adanya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. Empat bulan . dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. 2008). racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. satu tablet untuk satu bibit. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. Kalium (K) bertambah 86%.7 sentimeter. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Kalimantan.M. jagung dan sorgum dapat juga digunakan sebagai tanaman inang.4 Cara Mengemas Spora CMA Pengemasan diawali dengan penyediaan spora melalui penggandaan spora CMA menggunakan tanaman inang Pueraria javanica yang ditanam di dalam pot dengan media pasir steril. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. karena tanah asam yang disebabkan mikoriza justru menyukai tanahtanah asam. Dengan demikian. Dengan kondisi seperti itu diharapkan produksi daun tanaman gamal yang menjadi pakan ternak dapat meningkat meskipun tanaman tersebut ditanam pada lahan kering dan kurang subur. Setelah diberikan pada bibit tanaman.Dengan peranan dan manfaat mikoriza tersebut. Di IPB. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. aplikasinya pada gamal dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman gamal melalui peningkatkan penyerapan unsur hara (terutama unsur P) dan peningkatan penyerapan air. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. sampai 230%. 4. Setelah teruji kemurniannya. mampu menambah daya serap akar terhadap hara fosfor (P).

berarti dibutuhkan 500 g carrier. maka komponen penyusun tablet dapat diatur sedemikian rupa supaya dapat sesuai dengan pH tanah stempat yang diproduksi secara khusus. Pada praktek sebelumnya. sedangkan tanah merah adalah tanah podsolik merah kuning berwarna. setiap kapsul dibutuhkan 0.5 PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKORIZA Pemberian inokulan mikoriza tenyata dapat meningkatkan pertumbuhan di persemaian dan bahkan setelah di lapangan tanaman.000 spora secara merata. Lahan yang akan dipakai untuk pembangunan hutan tanaman. pH tanahnya sangat bervariasi. (2) Mempermudah penanganannya. Sebelum digunakan. Langkah selanjutnya adalah mencampur spora yang telah diketahui jumlahnya dengan carrier yang telah disiapkan dengan cara sebagai berikut: (1) Timbang carrier sesuai dengan jumlah spora yang tersedia. 4. (3) Dapat di produksi secara khusus. Selain itu setiap tanah yang berasal dari tegakan hutan belum tentu ada spora atau hifa cendawan mikoriza. akan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pembangunan HTI dan pembangunan hutan lainnya. (2) Campurkan 500 g carrier dengan 1 00.kemudian tanaman inang dikeringkan dan dipanen serta spora yang berada dalam media pasir dan akar tanaman inang dikumpulkan dengan metode pengayakan basah. tanah hitam atau tanah merah ditumbuk sampai berbentuk tepung halus. Carrier yang digunakan bisa tanah hitam atau tanah merah. Pengemasan inokulan mikoriza dalam bentuk tablet dan kapsul bertujuan untuk : (1) Penghematan inokulan dan meningkatkan keefektifan. Tanah hitam yang digunakan adalah tanah liat berwarna hitam diambil dari dasar sungai.5 g carrier. penularan mikoriza dilakukan melalui pemakaian tanah yang berasal dari tegakan hutan maupun dipersemaian yang dibawa dan dipindahkan kelubang tanaman dilapang. tanah hitam atau tanah merah terlebih dahulu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 259°F dan tekanan 20 psi selama 1 jam. Setelah itu.000 kapsul. misalnya: spora yang tersedia sebanyak 1 00. Apabila dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet akan mempermudah dalam pengangkutannya dan penyimpanannya karena biasanya lapangan tanaman berada pada lokasi terpencil yang kurang fasilitas. (3) Masukkan campuran spora dengan carrier ke dalam kapsul kemudian kapsul di simpan dalam kantong plastik atau kantong kertas pada suhu kamar sambil menunggu saat penggunannya. Hal ini tentu dapat diharapkan bahwa pemberian mikoriza bagi tanaman jenis Hutan Tanaman Industri. Apalagi hal ini akan dilakukan untuk bahan yang sangat luas tentunya akan sangat merepotkan dan sangat tidak praktis. Pembangunan hutan tanaman yang sangat luas membutuhkan inokulan mikoriza yang sangat banyak. setiap kapsul akan diisi 1 00 spora berarti akan dibutuhkan 1. .000 spora. Spora yang terkumpul dan tercampur bersama media sangat halus kemudian dihitung jumlahnya dan dikeringkan sampai berbentuk tepung halus. Apabila dikemas dalam bentuk tablet.

Nitrobacter. Azospirillium. protein dan humus aktif Biota Bacillus spp. Bahkan prospek dan peluang ini diperbesar apabila melihat kegiatan pembangunan serupa dibeberapa negara tetangga yang mempunyai masalah yang relatif sama. Lactobacillus spp.D. Sinorhizobium. Aeromonas punctata. pengembangan industri mikoriza mempunyai prospek dan peluang yang besar. Nitrosomonas. Ankia alni. Azotobacter. Anabaena azollae OST Azotobacter. Micrococcus sp ----------------------------------------------------------------------------Sumber : Simanungkalit. (pupuk hayati rajawali) Bakteri palrut fosfat.Mengingat begitu luasnya target HTI dengan berbagai permasalahan yang ada maupun target luas kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan di Indonesia. Aspergillus niger Gion 100x Bradyrhizobium japonicum Biofer 2000-K Jamur ektomikoriza Biofer 2000-N Jamur endomikoriza E-2001 Azotobacter vinelendii. Pupuk hayati komersial di Indonesia dan kandungan mikroorganismenya ------------------------------------------------------------------------Nama Produk Pupuk Hayati Kandungan mikroorganisme ------------------------------------------------------------------------Legin Rhizobia Rhizo-plus Emas Bradyrhizobium. Clostridium pasterianum. Beijerinckie.M. 2001 Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . Azzospirillum lipoverum. Mikrococcus. R. Rhizobium. Bacillus. Tabel 3. (Organic soil treatment) Agrobacterium. Nostoc muscorum.

Bahan Ajar Online. Http://dasar2ilmutanah. 2009 Juni 01 PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA* Oleh: Novriani ** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Universitas Sriwijaya. IPB. Palembang. Palembang. Program Pasca Sarjana.Madjid. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Pasca Sarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar . Abdul Madjid.Bioteknologi Tanah. Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (penyakit akar) dan pada kondisi kritis (kekeringan). 1989. 2009. Ir. Mikoriza adalah jenis jamur yang mempunyai peranan penting dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. I. Program Pascasarjana. Anas. Jurusan Tanah. DAFTAR PUSTAKA Anas. KESIMPULAN 1. Laboratorium Biologi Tanah. MS di 20:12 0 komentar Label: Biologi Tanah Senin.com. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.blogspot. Mikoriza dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga kebutuhan akan pupuk anorganik dapat dikurangi. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. Fakultas Pertanian. Indonesia. I. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). 2. Universitas Sriwijaya. 3. Program Pascasarjana. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. serta dapat menjaga kelestarian lingkungan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. 1997. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Indonesia. Biologi Tanah dalam Praktek. Palembang.

M. and J. Mulyati M dan Roy H. Hakim dan Kusli.B. 1997. M. Jakarta.google. Lampung. N. 26 (9) : 1201 1205. Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. Peningkatan Ketersediaan dan Serapan N dan P serta Hasil Tanaan Jagung Melalui Inokulasi Mikoriza Azotobactor dan Bahan Organik pada Ultisol. Ika RS dan Saubari MM. 1997. Prosiding Kongres Nasional VI HITI. ISSN 1411-0062. A. 2000. Fertil. Universitas Lampung. M.lunarpages. Dudi. 2008. Azcon. Soil microbial biomass and microbial activity in soil treated with heavy metal contaminated sewage sludge. Yusuf Nyakpa. Nurhajati. M. G. Hakim.com Fleibach. H. Diversity and classification of mycorrhizal associations. Sanon . Mycorrhiza J. R. Martens and H. Vol 5. seedlings to ectomycorrhizal inoculation in a nutrient-deficient soil. 9/2 : 91-95. Biol. Hasanudin. 2004. 79:473– 495. Mahfud. 2000. Doponnois.1. and F. M. Soils 24 : 81-86.M.Universitas Bioteknologi. IPB. Pemberian mikoriza vesikular asbuskular untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat tanaman padi gogo pada tanah Ultisols dengan perunut 32P. 2008. Dexheimer.google. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Cendawan Mikoriza Arbuskular Mampu Memacu Pertumbuhan Manggis. 2002. 2007. El-Atrash. 597-605 dalam Subagyo et al (Eds). 1986. INFOTENS. terhubung berkala : www. Aplikasi Mikoriza untuk Memacu Pertumbuhan Jati di Muna.F. nodulation an N2 fixation (15N) in Medicago sativa at four salinity level. 2007. Pengaruh Sludge dan Inokulasi Mikoriza Veriskular Arbuskular Terhadap Pertumbuhan dan Hail Tanaman Jagung (Zea May).com. Reber. Influence of arbuscular mycorrhizae and phosphorus fertilization on growth. Sutopo Ghani Nugroho. A. Husin. R. . Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia. Growth response of Afselia africana Sm. 1994. Iskandar. Ali. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Soil Biol.. K. Brundrett.R. 2007. Vol 5.com dalam http://support. Ba. Biochem. Amin Diha.H. E. Go Ban Hong. Balai Pusat Penelitian Boteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. 12-15 Desmber 1995. Adinurani P. Lampung. Rev. Biol.H... No. (Abstrak) Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) pada Tebu di Tanah Mineral Masam di Tolangohula Gorontalo. Rusdi Saul. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk Pertumbuhan dan Adapsi Tanaman Di Lahan Marginal. Husnal. Faisal T.G. Lubis. Pemakaian Pupuk Hayati Mikoriza pada Budidaya Ubi Kayu terhubung berkala: www. Biantoro M. Universitas Lampung. A.M. p. hal 83-89. Bailey.

Mycorrhiza 10/3 : 137-143. 1994. Azcon.S. Publ. Vesicular Arbuscular Mycorizarescarh for tropical agriculture. M. 1998. Makalah Seminar Nasional dan Peatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember. Bagrayad. 2000.go.download/tp/htm-rahmawaty s. Notohadinagoro.ae. Ress.id.. 1984. Effect of various soil environment stresses on the occurance. Morte. 1995. JMR.Joner. Soil ecology. Killham. Biotrop Spec.. E. Effect of phosphate-solubilizing bacteria and vesicular-arbuscular mycorrhizae on tomato growth and soil microbial activity. A. Bogor. A. Tejoyuwono. Mycorrhiza J. Terhubung berkala www. Leyval. Rahmawaty. distribution and effectiveness of VA mycorrhizae. and R. Mycorrhiza J. Role of mycorrhizae in nutrient uptake and in the amelioration of metal toxicity. .pdf.com dalam http://hortikultura. 2004. Oliveira. Effect of funicides on mycorrhizal colonization and growht of anion. S. Makalah Mata Kuliah Falsafah Sains. Mycorrhiza J. 2001.. IPB. from saline soils and Glomus deserticola under salinity.. A. Pattimahu. Khan. D. and McDonald. 2000. Influence of arbuscular mycorrhiza on clover and ryegrass grown together in a soil spiked with polycyclic aromatic hydrocarbons. K.Tervesia claveryi. Cambridge University Press. 2008. Bull Manjunath. C. Effect of drought stress on growth and water relations of the mycorrhizal association Helianthemum almeriense . 24 Januari 2006. Restorasi lahan kritis pasca tambang sesuai kaidah ekologi. Symbiotic efficiency and effectivity of an autochthonous arbuscular mycorrhizal Glomus sp. J.usu. http ://www.. The mycorrhizal status of Pragmites australis in several polluted soils and sediments of an industrialised region of Northern Portugal. R.. D. Mosse. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Litbang Pertanian.No56 : 131-137. Universitas Jember. Biotropia 8 : 39-44. Lozano. JC. Fertil. Schubert. Sekolah Pasca Sarjana. 10/5 : 241-247. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Biol..G. 10/3 : 115-119. Jember.litbang deptan. and C. D. Plant and Soil 78: 147-150. Kim. Castro. 1993.google. 2003.Lovisolo and A. Jordan. Soils 26 : 79-87.Y.library.V. 1981. Restorasi lahan bekas tambang berdasarkan kaidah ekologi. 1997. K. Dodd and PML. Teknologi engemasan Spora Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) dalam Kapsul.J. 2001. Khan. 10/4 : 155159.H.id. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae.

S. Bahan Ajar Nutrisi Tanaman.arbuscular mycorrhizae (VAM) in coal waste. Biotrop Special Publ. 2006. S. Widodo.R. 105(12):1413-1421. A.A. M. Pengaruh Inokulasi Dua Spesies Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Serapan Fosfat pada Biit Kelapa Sawit (Elaes quienans). A. 2009 Mei 30 BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 1) . Franson. Zarate. Diposkan oleh Dr. Simangunsong S. and R.Rotwell. Plant and Soil 80-99-104 Rani. Soil Sci. Yadi S. Fertil. Vol 3. 1993 Separation of arbuscular mycorrhizal fungus and root effect on soil aggregation. Agregation of surface mine soil by interaction between Vam fungi and lignin degradation pruduct of lespedeza. Singh. Pilot testing the effectiveness of arbuscular mycorrhizal fungi in the reforestation of marginal grassland. Mahadevan. Ragupathy and A. Schwarzott.S. Bogor Schubler.. Publ.K. IGM. N. J. and G. the Glomero-mycota: phylogeny and evolution. R. 1994.S Subha. R. Bethlenfalvay. dan Marlin. 1984. Bengkulu. Pemanfatan Mikoriza Untuk Penanggulangan Lahan Kritis. Rao. MS di 02:50 0 komentar Label: Biologi Tanah Sabtu. and K. Dela Cruz. Biotrop Spec. and C. D.T. Edisi Kedua.No56 : 131-137. 2001. F. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. D.. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 2002.. Kapoor. 1995. Am. 57 : 77-81. 1999. hal 69-74. Walker. Biol. Subiksa. Ir. Thomas. J. Wachjar A. Ninin Y.B. Incidence of vesicular . 1991.. Unsur hara tanaman. Res.L. Jurusan Budidaya Pertanan Universitas Bengkulu. Pengaruh Pemberian MVA dan Puuk Kandang Ayam Pada Tanaman Tembakau Deli Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan di Tanah Inceptisol Sampali. 2002. Biology and Biotechnology of Mycorrhizae. Penerbit Universitas Indonesia.J. A new fungal phylum. Soc. Mycol. Buletin Agron. Romeida. 42 : 77-81 in Soerianegara and Supriyanto (Eds) Proceedings of Second Asean Conference on Mycorrhiza. 2005. Inoculation with phosphate-solubilizing microorganisms and a vesicular-arbuscular mycorrhizal fungus improves dry matter yield and nutrient uptake by wheat grown in a sandy soil. Abdul Madjid.E. Soils 28 : 139-144.

Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Bukit Besar. mengembalikan siklus ekologi dalam suatu areal pertanian membentuk suatu aliran yang siklik dan seimbang. Program Pasca Sarjana. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. biologis dan cultural. Indonesia. PENDAHULUAN 1. Bukit Besar. Sumatera Selatan. siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Dalam system pertanian organic masukan atau input dari luar (eksternal) akan dikurangi dengan cara tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Secara perlahan tapi pasti system pertanian organik mulai berkembang di berbagai belahan bumi. Program Magister (S2). Dalam system pertanian organic kekuatan hokum alam yang harmonis dan lestari akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Universitas Sriwijaya. Pertanian organik dapat dikatakan sebagai suatu system bertani selaras alam. Masyarakat mulai melihat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dengan system pertanian organik . Beberapa lembaga penelitian dan pihak perguruan tinggi juga turut memberikan andil dalam . Program Pasca Sarjana. Sutanto (2002) menjelaskan bahwa pertanian organik dapat didefenisikan sebagai system pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem. termasuk biodiversitas. pertanian organik muncul sebagai sebuah alternative yang menjadi pilihan bagi banyak orang. Palembang. Palembang. Palembang. Universitas Sriwijaya. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman.Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2).1. Program Pasca Sarjana. pestisida dan bahan-bahan sintetis lainnya. seperti lingkungan yang tetap terjaga kelestariannya dapat mengkonsumsi produk pertanian yang relative lebih sehat karena bebas dari bahan kimia yang dapat menimbulkan dampak negative bagi kesehatan . Pupuk Hayati Sejalan dengan perkembangan peningkatan sumberdaya manusia dan kesadaran akan kerusakan lingkungan dan munculnya berbagai penyakit yang disebabkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan pada makanan. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. baik di Negara maju maupun Negara berkembang. Indonesia. dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis. Indonesia.

kemudian tahap berikutnya adalah memanen dan mengemas untuk tujuan komersil. penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman. Keberhasilan pemanfaatan mikroba untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah memerlukan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. 2002). Selanjunya galur yang efektif diisolasi dan dilakukan pengujian di lapangan apakah hasil inokulasi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.2006) Apabila mikroorganisme yang diinokulasi cukup efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. bakteri dan nematode pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama dan penyakit) dan mikrobia yang bermanfaat yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang karena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman.pengembangan pertanian organik melalui penelitian-penelitian dan juga penyampaian informasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan pada system pertanian organik. Mikroorganisme yang diinokulasi harus sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. karena tidak semua spesies dari suatu populasi bersifat efektif. Upaya yang mulai dilakukan adalah memperkenalkan bioteknologi dalam system pertanian organik yaitu dengan memanfaatkan beberapa mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan hara dan pengendalian penyakit. Setelah mikroorganisme tersebut berhasil dibiakkan. jamur. ketersediaan hara makro dan mikro terpenuhi dan aktivitas mikroorganisme tanah utnuk membantu kesuburan tanah juga terjaga. Peran mikroba di dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara. Selanjutnya mokorganisme hasil isolasi dari tanah dikembangbiakkan pada kondisi laboratorium menggunakan media buatan. termasuk cara memanfaatkan inokulan di lapangan (disemprotkan ke tanah atau dicampurkan dengan biji). kemasan . Pakar mikrobiologi tanah mengawali dengan mempelajari dan mengidentifikasikasi ekologi mikroorganisme yang akan digunkan sebagai biofertilizer (pupuk hayati). Mikrobia tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. maka harus diperoleh galur yang dikehendaki. Pada umumnya mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang melalui proses fermentasi. Pada dasarnya kesuburan tanah lokal merupakan kunci keberhasilan system pertanian organik. termasuk memecahkan semua masalah yang mungkin dihadapi dalam mempertahankan inokulan tetap efektif. harus mampu menyesuaikan dengan fluktuasi kondisi lingungan dan tidak kalah bersaing atau dimangsa mikroorganisme asli (Yuwono. Dalam bidang pertanian mikrobia tanah dapat dikelompokkan menjadi mikrobia merugikan (mencakup virus. Secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sebagai berikut . Apabila populasi mikroorganisme mencapai ukuran tertentu. kimia maupun biologi. Tugas selanjutnya adalah membuat formula cara kerja inokulan. penyimpanan dan pemanfaatan (Sutanto. Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam system pertanian organik sangat penting. baik kesuburan fisik. maka tugas selanjutnya adalah mengembangkan metode untuk memperbanyak dengan skala besar. Terutama yang berhubungan dengan pengiriman. Bila kesuburan tanah telah baik maka akan tercipta lingkungan pertanaman terutama untuk perakaran yang diinginkan.

Aktivitas bakteri pelarut posfat akan tinggi pada suhu 30oC – 40oC (bakteri mesophiles) . Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Pemantap agregat tanah 6. Perombak persenyawaan agrokimia 1. 1996): 1. diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine.5. ukuran tiap sel bakteri 0. B. B.5-0. cereus. jamur dan aktinomisetes. multivorans (Hasanudin. 2. kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif.1 1μm x 1.berbentuk batang lurus atau lengkung. Bakteri ini dapat merombak pemcemar tanah. subtilis. Melalui proses ini bakteri mengkonversi energi dalam bahan organik tanah menjadi bentuk yang bermanfaat untuk organisme tanah lain dalam rantai makanan tanah. Pseudomonas.2003). putida. kadar garam tanah <>Struktur Tambahan Bakteri : 1. megatherium. dapat menahan unsur hara di dalam selnya.( Gunalan. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel. Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram.Di dalam tanah jumlahnya 3-15% dari populasi bakteri. 3. dan P. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. B.0 μm. B. Penyedia hara 2. Peningkat ketersediaan hara 3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Arthrobacter. Bakteri ini adalah bakteri aerob khemoorganotrof . pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek. P. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri decomposer yang mengkonsumsi senyawa carbon sederhana. Achromobacter. bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Mikroba yang berperanan dalam pelarutan fospat adalah bakteri. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel. licheniformis. P. Pseudomonas terbagi atas grup. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa. Micrococus dan Mycobacterium. Flavobacterium. Fimbria adalah struktur . polymixa.4. B. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu. fluorescent.2.

tetapi pada umumnya rendah .3 Senyawa Fosfat Tanah Fosfor di dalam tanah dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu P-organik dan Panorganik.Kandungannya sangat bervariasi tergantung pada jenis tanah. fosfolipid. asam nukleat. Enzim ini banyak dihasilkan dari mikrobia tanah. Aktivitas fosfatase dalam tanah meningkat dengan meningkatnya C-organik. radiasi cahaya. sehingga mineralisasi P meningkat dengan meningkatnya C-organik. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. nukleotida. dan gula posfat.terutama yang bersifat heterotrof. Sel-sel mikrobia (bakteri) sangat kaya dengan asam nukleat. Endospora mengandung sedikit sitoplasma. Enzim fostafase berperan utama dalam melepaskan P dari ikatan P-organik. Dalam kebanyakan tanah total P-organik sangat berkorelasi dengan C-organik tanah. Semakin tinggi C-organik dan . Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. kelembaban temperatur dan faktor lain. dan senyawa ini dapat ditemukan dalam tanah atau organisme hidup (bakteri) yang dibentuk secara enzimatik. Bentuk-bentuk fospat ini berasal dari sisa tanaman. 6. Tiga senyawa yaitu inositol fospolopid dan asam nukleat amat dominan dalam tanah. Namun seringkali hasil mineralisasi ini segera bersenyawa dengan bagian-bagian anorganik untuk membentuk senyawa yang relatif sukar larut. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.2005).tetapi juga dipengaruhi oleh pH . Inositol fospat dapat mempunyai satu sampai enam atom P setiap unitnya. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikrobia untuk memineralisasikannya. Jika organisme tersebut mati maka asam nukleatnya siap untuk dimineralisasi. materi genetik. Di sini terdapat sebagai senyawa ester dari asam orthofospat yaitu inositol . Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan. 4. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. suhu tinggi dan zat kimia. 1. dan ribosom.sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Asam nukleat sebagai DNA dan RNA menyusun 1-10% P-organik total (Elfiati. hewan dan mikrobia. 5.2007) Posfor organik di dalam tanah terdapat sekitar 50% dari P total tanah dan bervariasi sekitar 1580% pada kebanyakan tanah. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Gambar 20 menunjukkan bagian dunia yang kekuranagn P (Handayanto dan Hairiyah.

buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit. klor apatit dan lainnya sesuai dengan lingkungannya. aluminium dan hidrat.4 Peranan Fosfat pada Tanaman Fospor merupakan unsur hara esensial makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Kekurangan P tanaman dapat diamati secaa visual. dan mineral P primer. Peranan P pada tanaman penting untuk pertumbuhan sel. reductant-P .Al3+.Mn2+ dan Ca2+. Fospor yang diserap tanaman tidak direduksi. 3Ca3(PO4)2CaCO3 Carbonat apatit. memperkuat tegakan batang agar tanaman tidak mudah rebah. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Bentuk P-anorganik dapat dibedakan menjadi P aktif yang meliputi Ca-P.semakin rendah P-organik semakin meningkat immobilisasi P. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya 0. 1. P terdapat sebagai fosfolipid yang merupakan komponen membran sitoplasma dan kloroplas. yang meliputi occhided-P .01 – 0.2007). AlPO42H2O Variscit. Nukleoprotein merupakan komponen utama DNA dan RNA inti sel. gula fospat merupakan senyawa antara dalam berbagai proses metabolisme tanaman. P-anorganik berupa senyawa 3Ca(PO4)CaF Fluor apatit. Fospor organik banyak terdapat di dalam cairan sel sebagai komponen sistim penyangga tanaman. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme. Fitin merupakan simpanan fospat dalam biji. ADP dan AMP merupakan senyawa berenergi tinggi untuk metabolisme. Tanaman jagung menghisap unsur P dalam bentuk ion sebanyak 17 kg/ha untuk menghasilkan berat basah tanaman 4200 kg/ha (Premono. diantaranya dalam proses sintesis protein. ataupun terjerap pada permukaan oksida-oksida hidrat besi. Gejala lain adalah nekrotis atau kematian jaringan pada pinggir atau helai daun diikuti melemahnya batang dan akar terhambat pertumbuhannya.Fospor anorganik di dalam tanah pada umumnya berasal dari mineral fluor apatit. Pigmen ini terbentuk karena akumulasi gula di dalam daun sebagai akibat terhambatnya sintesa protein. yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatanikatan nitrogen. Ca3(PO4)2 Dikalsium phosfat. Ca(PO4)2CaCO3 Tri kalsium Phosfat. Dalam bentuk anorganik. Fe-P dan P tidak aktif. pembentukan akar halus dan rambut akar.pembentukan bunga . . melainkan berada di dalam senyawa organik dan organik dalam bentuk teroksidasi.2 mg/kg tanah (Handayanto dan Hairiyah. FePO42H2O Strengit.2002). Dalam proses hancuran iklim dihasilkan berbagai mineral P sekunder seperti hidroksi apatit. ATP. karbonat apatit. 3Ca2(PO4)2Ca(HO)2 Hidroksi apatit. Al-P. Selain itu ion-ion fospat dengan mudah dapat bereaksi ion Fe3+. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Fosfat anorganik dapat diimmobilisasi menjadi P-organik oleh mikrobia dengan jumlah yang bervariasi antara 25-100%. yaitu daun-daun yang lebih tua akan berwarna kekuningan atau kemerahan karena terbentuknya pigmen antisianin. 3Ca3(PO4)2CaO Oksi apatit.

Secara geokimia. . Universitas Sriwijaya.Cl. A. dan milisit {(Na. Sifat fisik yang dimilikinya: warna putih atau putih kehijauan. seperti perusakan hutan dan penggunaan pupuk dimasukkan. fosfor merupakan unsur utama di dalam proses fotosintesis.43% P2O5) dan diperkirakan sekitar 9.40% P2O5. dan kekerasan 5. Fosfor biasanya berasal dari pupuk buatan yang kandungannya berdasarkan rasio N-P-K. hijau. mengindikasikan bahwa berat persen fostor dalam pupuk buatan adalah 30% fosfor oksida (P2O5). Sumber fosfor organik dalah perbukitan guano.4 . Selain sebagai bahan pupuk. Seperti halnya nitrogen.15. cadangan fosfat berjumlah 12 milyar ton dengan cadangan dasar sebesar 34 milyar ton. Bahan Ajar Online. 1992). sedimen. Cadangan fosfat yang ada di Indonesia adalah sekitar 2. Propinsi Sumatera Selatan. Fosfor yang dapat dikonsumsi oleh tanaman adalah dalam bentuk fosfat.5 juta ton endapan guano (0.6 juta ton fosfat marin dengan kadar 20 . Apatit merupakan mineral asesori dari semua jenis batuan. Program Pascasarjana.20. sedangkan sisanya dipakai oleh industri ditergen dan makanan ternak. Siklus P pada Gambar 21 (Buntan.blogspot. Program S2. 2009. Jika aktivitas manusia (anthropogenic). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sehingga pada kasus ini tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Masuknya fosfor ke laut sebesar 3.beku. berat jenis 3. seperti diamonium fosfat ((NH4)2HPO4) atau kalsium fosfat dihidrogen(Ca(H2PO4)2). Reservoir fosfor berupa lapisan batuan yang mengandung fosfor dan endapan fosfor anorganik dan organik. Sumber lainnya berasal dari jenis slag.6 x 1011 mol P th . Kandungan fosfor pada batuan dinyatakan dengan BPL (bone phosphate of lime) atau TPL (triphosphate of lime) yang didasarkan atas kandungan P2O5.K) CaAl6 (PO4)4 (OH)9 3H2O}. Fosfat merupakan salah satu bahan galian yang sangat berguna untuk pembuatan pupuk.OH)} adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavelit (fosfat aluminium hidros). Di dunia. Kehadiran mikroorganisme dapat memicu percepatan degradasi fosfat. Http://dasar2ilmutanah. maka jumlah fosfor yang masuk ke laut akan meningkat sebesar 3 kali lipat.H2O). mineral apatit yang transparan dan berwarna bagus biasanya digunakan untuk batu permata. fosfor merupakan 11 unsur yang sangat melimpah di kerak bumi. Sebagai contoh 15-30-15. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid.com. Ini juga ditemukan pada pegmatit dan urat-urat hidrotermal. guano. Sekitar 90% konsumsi fosfat dunia dipergunakan untuk pembuatan pupuk. Fosfat biasanya tidak atau sulit terlarut dalam air. krandalit (CaAl3(PO4)2(OH)5 . Sebagian besar fosfat komersial yang berasal dari mineral apatit {Ca5 (PO4)3 (F. Apatit memiliki struktur kristal heksagonal dan biasanya dalam bentuk kristal panjang prismatik.15 3.Buntan (1992) menjelaskan fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan. Indonesia. dan metamorf. Mineral-mineral fosfat adalah batuan dengan kandungan fosfor yang ekonomis. kilap kaca sampai lemak.17 .3 x 1011 mol P th. yaitu 7.

Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. tartarat dan alfa ketobutirat. Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. yaitu dalam bentuk Ca-P. suksinat. Palembang. Program Pasca Sarjana. tetapi karena pengaruh lingkungan maka statusnya dapat berubah dari P yang tersedia bagi tanaman menjadi tidak tersedia. Program Pasca Sarjana. laktat. PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT 2. Menurut Buntan (1992) dalam aktivitasnya bakteri pelarut P akan menghasilkan asam-asam organik diantaranya asam sitrat.Besarnya P yang terlarut memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Abdul Madjid. Bakteri Pelarut Fosfat dan Ketersediaan P Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. oksalat. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Universitas Sriwijaya. yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. Indonesia. Palembang. Fospor relatif tidak mudah tercuci. malat. Meningkatnya asam-asam organik tersebut biasanya diikuti dengan penurunan pH. sehingga mengakibatkan pelarutan P yang terikat oleh Ca. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah . Al-P. Bukit Besar. MS di 22:22 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 2) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Program Magister (S2). glutamat. Sumatera Selatan.Penurunan pH juga . Palembang. fumarat. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. ** Program Studi Ilmu Tanaman. glioksalat. Universitas Sriwijaya. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Indonesia.1. Sumatera Selatan. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Magister (S2).Diposkan oleh Dr. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Fe-P atau occluded-P. Ir. MgP. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik.

diantara adalah : (a) anion organik bersaing dengan orthofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid yang bermuatan positif . beberapa asam organik berbobot molekul rendah ini juga dapat mengurangi daya racun Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd).OH + R-COO. malat. Disamping meningkatkan P tersedia. (b) pelepasan orthofosfat dari ikatan logam P melalui pembentukan komplek logam organik . Havlin et al dalam Elfianti(2005) menjelaskan juga bahwa tanpa anion organik maka Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak.2005) Asam sitrat dan oksalat digolongkan sangat efektif dalam menurunkan retensi P dari kaolinit dan gipsit. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Mn dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan asam-asam organik (benzoat. (c) modifikasi muatan tapak jerapan oleh ligan organik (Elfianti. salisilat). dan lemah (suksinat. oksalat.laktat. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. salisilat dan ptalat) tidak mampu menurunkan retensi P. . karena asetat kurang kuat dalam membentuk komplek dengan Al maupun Fe. tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur-unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam.(1992) menunjukkan bahwa bakteri pelarut posfat secara nyata mampu mengurangi Fe. Reaksi pelarutan atau pelepasan P oleh penurunan pH dan terdapatnya gugus karboksilat secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut : Ca10(PO4)6(OH)2 + 14H+ --> 10 Ca2+ + 6H2O + 6H2PO4OH OH M. tartarat dan malat berefektivitas sedang. Asam sitrat menjerap Fe jauh lebih banyak dibanding tartarat. oksalat. Terdapatnya asam-asam organik sitrat. sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. asetat dan ptalat). demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap.disebabkan terbebasnya asam sitrat dan nitrat pada oksidasi kemoautotropik sulfur dan amonium berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. malonat. Hasil penelitian Pramono et al. tartarat).---> M OH + H2PO4H2PO4 . sedang (malat. sedangkan asam malonat. Asam asetat tidak efektif dalam menurunkan retensi. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd dalam tiga kelompok yaitu kuat (sitrat.OC-R M = Al3+ atau Fe3+ Reaksi pengikatan P sebagai berikut : Al + H2PO4 + 2 H2O --> Al(OH)2H2PO4 + 2 H+ Al(OH)3 + H2PO4 --> AL(OH)2H2PO4 + OHCa(H2PO4) + CaCO3 --> Ca3(PO4)2 + 2CO2 +2H2O Asam organik yang dihasilkan bakteri pelarut posfat mampu meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah melalui beberapa mekanisme.

asam amino dan asam fenolik.3 x 10^7 23 Actinomycetes 4. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). glikolat.0 x 10^5 1260 ---------------------------------------------------------Sumber: Hasil modifikasi dari Gray dan Williams. Demikian juga asam . Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan. Tabel 1. malat. glukonat.0 x 10^3 2 Algae 5. Jumlah Bakteri CFU x 106 g-1 tanah ----------------------------------------------------------------Plant Species Rhizoplane Rhizosphere Bulk Soil R/S Ratio ----------------------------------------------------------------Red Clover 3844 3255 134 24 Oats 3588 1090 184 6 Flax 2450 1015 184 5 Wheat 4119 710 120 6 Maize 4500 614 184 3 Barley 3216 505 140 3 ----------------------------------------------------------------Sumber: Rouat dan Katznelson. dan jumlah mikrobia yang terbanyak di daerah perakaran adalah bakteri pada Tabel 2 (Vega.0 x 10^3 2. sitrat. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah.6 x 10^7 7.2 x 10^9 5.0 x 10^5 12 Protozoa 2.0 x 10^6 7 Fungi 1. asetat.0 x 10^8 4. alfa ketoglutarat.2 x 10^6 1.4 x 10^3 1. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. Tabel 2 Jumlah Mikrobia di Daerah Perakaran ---------------------------------------------------------Microorganisms Rhizosphere Soil Bulk Soil R/S Ratio ---------------------------------------------------------Bacteria 1. 2007).0 x 10^5 125 Denitrifiers 1.7 x 10^4 0. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. suksinat. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. 1961. Jumlah bakteri yang terdapat di daerah perakaran dan tanah pada Tabel 1. 1971. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. merupakan bentuk antara (transisi). oksalat.2 Ammonifiers 5. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Lokasi keberadaan bakteri di daerah perakaran. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat.26 x 10^8 1.

13 dan 14%. batuan P dan komponen P-anorganik lainnya sebagai sumber P. . Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. Elfianti (2005) menggunakan fosfobakteri galur fosfo 24.8 – 3. Ca3(PO4)2. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. Menurut Yuwono (2006) bahwa kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. (3) tingkat dissosiasi asam organik.7 ppm menjadi 34. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakan mampu meningkatkan kelarutan P dari fospat alam dari 16. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas putida.4 ppm menjadi 59. Supadi (1962) mengidentifikasikan beberapa bakteri pelarut P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Enterobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Bakteri tersebut dapat meningkatkan P tersedia sebanyak 0.3. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebayak 4. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides. mikrobia tersebut adalah Bacillus megaterium. FePO4. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.8 ppm. puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%. apatit.aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. 8.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. yang menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0. 6.5 ppm menjadi 30. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4 .1 – 3. gliserofosfat. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. Bacterium mycoides dan Bacterium mesenterricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. lesitin. sedangkan pada tanah bereaksi basa P . AlPO4. Escherechia freundii dan Escherechia intermedia.9 dan 0. Bacillus sp.7 ppm pada tanah sterl dan 0. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-p.3% dari senyawa Ca3(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan ALPO4 dan FePO4. mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium ALPO4 dan batuan fospat sebanyak 6-19 kali lipat. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4.9 ppm. meningkatkan kelarutan P dari ALPO4 dari 28.6 ppm pada tanah steril. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah. Banin (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Selanjutnya Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.5 . Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. 0. Bacillus substilis. Ada beberapa metode uji untuk memilih mikroba pelarut fosfat sebagai bahan aktif biofertilizer. Puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.

Putida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20% dan mikrobia ini stabil sampai lebih dari 14 bulan pada media pembawa zeolit. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. luas daun serta kadar P trubus. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. (4) Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba.2. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapt meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29%. 1991) mampu meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman sampai 30%.Uji pertama yang sering dilakukan adalah mengukur indek pelarutan fosfat dan kemudian dilanjutkan dengan uji invitro. Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Moawad. minimal duplo. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. misalnya: fungi. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas putida (Premono et al. Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan posfat. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. berat kering akar. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. berat kering trubus. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. Sedangkan Lestari (1994) menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikrobia tersebut sangat baik . AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. AlPO4 tidak larut dalam air. dan Vlek (1996). Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. Pada tanaman jagung. Bakteri Pelarut Fosfat dan Tanaman Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa perlakuan pemberian bakteri pelarut fosfat (BPF) sebagai pupuk hayati peningkat ketersediann P dalam tanah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. 2. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh (2) Ketebalan agar. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. berat basah akar. bakteri. berat basah trubus. Bagian Pertama ini akan mejelaskan tentang indek pelarutan fosfat. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Pada percobaan yang lain P. untuk menuang medium ini ke dalam cawan petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. dan aktinomicetes. Misalnya. antara lain: (1) Konsentrasi fosfat. (3) Kecepatan pertumbuhan mikroba. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya.

dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. Berdasarkan hasil penelitian Hasanuddin (2002) menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Bakteri pelarut posfat 15 ml per inokulum tanaman dapat meningkatkan ketersediaan P 62,21% dan meningkatkan berat kering tanaman Kedelai. Pada Tanaman Tebu penggunaan bakteri pelarut P (Pseudomonas puptida dan Pseudomonas fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sampai 40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk TSP sebesar 60-135% (Elfiati,2005). Beberapa peneliti mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan karena kemampuannya dalam menghasilkan ZPT, terutama pada Bakteri yang hidup di permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens, P putida dan P. Striata. Bakteri tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2,4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto,2007). Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman, Program S2. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com. Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 22:16 0 komentar Label: Biologi Tanah

BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 3)
Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman, Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar,

Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pasca Sarjana, Universitas Sriwijaya, Bukit Besar, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI BAKTERI PELARUT FOSFAT 3.1. Teknik Identifikasi Bakteri Identifikasi bakteri sangat diperlukan untuk menentukan atau mengetahui jenis bakteri yang diinginkan. Teknik identifikasi populasi bakteri dapat dilakukan dengan metode tidak langsung , yaitu berdasarkan jumlah koloni pada media yeast mannitol agar (YMA) + congored ataupun YMA + bromthymol blue (BTB). Bahan dan alat yang diperlukan adalah penangas air, mortir penumbuk steril, neraca, pipet steril, air steril, lampu bunsen,contoh tanah, petridish dan mikroskop. Selanjutnya menurut Syarifuddin (2002) pengambilan contoh tanah dilakukan dengan cara pengamatan tanah di lapangan untuk mengetahui morfologi, klasifikasi dan penyebarannya. Pengamatan dapat dilakukan dengan sistem grade dengan jarak 250x250m atau disesuaikan dengan perubahan landscape. Selain contoh tanah profil diambil juga contoh tanah komposit pada kedalaman 0-50 cm . Contoh tanah komposit merupakan campuran homogen dari beberapa tempat pengambilan dari satuan lahan yang sama, setelah diaduk rata kemudian diambil 500gr . Tanah diupayakan dalam keadaan lembab untuk keperluan analisis di laboratorium.Alat – alat labor yang digunakan pada Gambar 24 sampai dengan Gambar 29). Prosedur identifikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : (1) Pada bagian petridish diberi tanda sesuai dengan tingkat pengenceran yaitu10-1, 10-2, 10-3 dan seterusnya. (2) Sebanyak 1gr contoh tanah ditumbuk dalam mortir steril kemudian dimasukkan secara aseptik bersama 9cc air steril ke dalam erlenmeyer (pengenceran 10-2), selanjutnya dikocok dengan hati-hati sampai homogen. (3) Inokulasi secara aseptik 1cc masing-masing contoh tanah yang telah homogen ke dalam petridish steril dan tabung gelas yang berisi 9 cc air steril (pengenceran 10-3) kemudian kocok dilakukan seperti no 2. (4) Media YMA+congored atau BTB steril yang telah diencerkan pada suhu lebih krang 500C dituangkan secara aseptik ke dalam masing-masing petridish yang telah diinokulasi, kemudian digoyang-goyang secukupnya dan biarkan sampai membeku. (5) Inokulasi pada suhu 280C selama 8 hari dengan posisi petridish terbalik. (6) Populasi koloni dihitung pada umur 4 hari dan 8 hari dengan menggunakan mikroskop pembesaran 1000 kali. Jangan pernah menyangka kalau di bawah tanah adalah dunia yang sepi, khususnya di daerah akar tanaman. Sesungguhnya wilayah ini adalah wilayah yang sangat ramai, sibuk, dan hirup

pikuk. Kalau kita cabut akar tanaman, lalu kita bersihkan sisa-sisa tanahnya, maka di akar itu ada milyaran ‘mahluk-mahluk halus’ yang sedang sibuk bekerja (Gambar 32 dan 33). Mahlukmahluk itu disebut makhluk halus karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Mahluk ini super kecil, untuk melihatnya perlu bantuan mikroskop dengan pembesaran kurang lebih 1000x. Karena ukurannya yang super kecil, mahluk ini juga disebut mahluk mikro atau mikroba atau mikrobia (mikro = kecil, bio : mahluk hidup). Dalam secuil tanah saja terdapat milyaran mahlukmahluk halus ini. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah, contoh pada Gambar 30 , 31 dan 34. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi, bakteri, dan actinomicetes. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: (1) Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat, khususnya isolat fungi. (2) Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. -4. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. - 6 s/d 10 ext. - 8. (3) Buat medium agar Pikovskaya (5 g Ca3(PO4)2, 10 g glukosa, 0,2 gNaCl, 0,2 g KCl, 0,1 g MgSO4.7H2O, 0,5 g NH4SO4, 0,5eksrak ragi, sedikit MnSO4 dan FeSO4 dilarutkan dalam 1liter H2O, pH = 6,8) (4) Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. (6) Ulangi langkah di atas secukupnya. (7) Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. (8) Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. (9) Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 - 3 hari, sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 - 2 minggu. 3.2. Teknologi Produksi dan Aplikasi Mikrobia tanah banyak yang berperan dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman Nitrogen Fosfat dan Kalium keseluruhannya melibatkan aktivitas mikrobia. Isroi (2004) menjelaskan beberapa jenis bakteri mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh bakteri akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat. Mikrobia atau bakteri tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai bahan biofertilizer. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menyuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman.

6H2O 0.5 . Formulasi Kandungan (g L-1) ----------------------------------------------------------(1) Glukosa 5 .Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat menyuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia sepanjang bioteknologi berbasis mikroba selalu dikembangkan .025 .3.20 (4) MgSO4. Teknologi penyubur tanah dan tanaman. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.0. Tabel 3 Formulasi Biofertilizer untuk mempertahankan inokulan bakteri ----------------------------------------------------------No. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia.5 (6) (NH4)2SO4 0. Kemasan dalam bentuk butiran (diameter 23mm) akan mempermudah aplikasinya dilapangan. 3.05 . yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. tetapi pada umumnya dalam kemasan bubuk (powder). Untuk mempertahankan kehidupan bakteri di dalam formulasi biofertilizer maka diperlukan beberapa bahan sebagai nutrisi dan tempat bertahan (Tabel 3). dan mikroba pendegradasi selulosa dan Pseudomonas Sp.2 (7) Bromophenol Blue 0. Goenadi (2004) menjelaskan pada prinsipnya aktivitas mikroba tanah dapat ditingkatkan untuk kurun waktu tertentu dan bermanfaat bagi tanaman melalui introduksi mikrobia unggul yang dimaksud secara khusus diisolasi dari tanah dan dikemas dalam bahan pembawa (carrier) yang mampu menjaga reaktifitasnya dalam periode yang memadai. mikroba pelarut P.7H2O 0.01 .20 (3) MgCl2.01 . penggunaan teknologi biofertilizer menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 50% . Produk Pupuk Hayati Pelarut Fosfat .1 ----------------------------------------------------------Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk mencapai produksi yang sama dengan teknologi konvensional . Lactobacillus sp. dengan menggunakan pupuk hayati SMS Agrobost yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Agar dapat disimpan lebih lama (lebih dari setahun) maka formulasi biofertilizer ini perlu menyediakan lingkungan yang nyaman dan makanan yang cukup bagi mikroba termaksud. Azotobacter sp.5 (5) KCl 0.30 (2) Ca3(PO4) 2 1 . berkurangnya pencemeran lingkungan dan dampak lebih lanjut adalah menjamin kapasitas keberlanjutan kapasitas produksi lahan.

Biofertilizer lain yang tersedia di pasaran antara lain Agrobost. Universitas Sriwijaya. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Bukit Besar.Kemasan : 5 dan 25 kg. N. . MS di 22:09 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 4) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia.Miza Pluss. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Universitas Sriwijaya.Salah satu produk pupuk hayati bakteri pelarut fosfat adalah pupuk biophos (Gambar 35) yang dapat digunakan langsung pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Program Pasca Sarjana. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Indonesia. Ir. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Indonesia. 2009. bakteri pelarut fosfat. Abdul Madjid. dan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Warna : Putih-abu abu Bentuk : Granul .blogspot. Masa simpan : 12 bulan. Mikroba terseleksi yang terkandung dalam Miza Plus adalah bakteri penambat N non simbiotik. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Mikoriza di samping membantu meningkatkan status hara tanaman juga membantu meningkatkan toleransi tanaman terhadap patogen seperti patogen tular tanah. Program Pasca Sarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Prodi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Tiens Golden Harvest . Program Studi Ilmu Tanaman.com. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Perbaikan rhizosfer tanaman dibuktikan dapat memperbaiki akar dan daerah perakaran tanaman sehingga pemberian Miza Plus disamping secara aktif menyediakan hara tanaman juga memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman secara berkesinambungan. Sumatera Selatan. bakteri penambat N. dan zat pengatur tumbuh tanaman. Secara fungsional mikroba tersebut bersinergi dalam penyediaan unsur makro P. Program Magister (S2). Program S2. Propinsi Sumatera Selatan. Spesifikasi formulasi miza pluss adalah Bahan aktif : Mikoriza arbuskula. Diposkan oleh Dr. Palembang. Program Pasca Sarjana. bakteri pelarut fosfat. A. Bukit Besar. Sumatera Selatan. Miza Plus adalah pupuk hayati berbasis mikoriza arbuskula dan telah diformulasi dengan memadukan sinergisme antara mikroba simbiotik dan non simbiotik.

jagung. hasil percobaannya menunjukkan bahwa ketiga bakteri tersebut masing-masing hanya mampu melarutkan berturut-turut 0.Sumatera Selatan. Citrobacter intermedium dan Serratia mesenteroides mendapatkan bahwa bakteri tersebut mampu meningkatkan P larut yang ada dalam medium AlPO4 dan batuan fosfat sebanyak 6-19 kali lipat. lesitin. Bacillus sp. Circulans pada tanaman kedelai.3 . Bacillus megaterium mampu meningkatkan serapan P pada tanaman kedelai.9 dan 0.Banik (1982) memanfaatkan Bacillus sp dan dua galur Bacillus firmus. Mesenerricus untuk melarutkan P organik (glisero fosfat. Bakteri-bakteri tersebut meningkatkan P tersedia sebanyak 0.8-3. Puptida mampu meningkatkan P yang terekstrak sebesar 10%.3 % dari senyawa Ca(PO4)2 yang diberikan dan tidak mampu melarutkan AlPO4 dan FePO4. Ca3(PO4)2. padi. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Escherechia freundii dan E.1-3. meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 dari 28.8 ppm.4 ppm menjadi 59. 3-9. Hasil penelitian Setiawati (1998) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens yang digunakannya mampu meningkatkan kelarutan P dari fosfat alam dari 16. tepung tulang) dan P anorganik (Ca-P. 0. Bacterium mycoides dan B. Fe-P) yang dilakukan secara in vitro.puptida mampu meningkatkan P terekstrak pada tanah masam sampai 50%.6 ppm dan meningkatkan P tersedia tanah dari 17. gliserofosfat. tetapi tidak mampu melarutkan FePO4. kentang. Premono et al (1991) yang menggunakan Pseudomonas puptida. PERKEMBANGAN PENELITIAN BAKTERI PELARUT FOSFAT Sen dan Paul dalam Elfiati (2005) menggunakan fosfobakterin galur fosfo 24. Rao dan Sinha (1962) mengidentifikasikan beberapa mikroba pelarut P dari lapisan perakaran tanaman gandum. kacang panjang dan tebu. bit gula.7 ppm pada tanah non steril dn 0. kedelai. Ahmad dan Jha (1982) mencoba Bacillus megaterium dan B. tomat. Indonesia. Bacillus subtilis .7 ppm menjadi 34. 3-13. Mikroba tersebut adalah Bacillus megaterium. Selanjutnya hasil penelitian Premono (1994) menunjukkan bahwa Pseudomonas fluorescens dan P.5 ppm menjadi 30. Intermedia . Penelitian Buntan (1992) memperlihatkan bahwa bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas puptida dan Enerobacter gergoviae) mampu meningkatkan kelarutan P pada tanah ultisol. Kundu dan Gaur (1980) mengkombinasikan bakteri pelarut fosfat ( Bacillus polymixa dan . barlei. Supadi (1991) juga mendapatkan anggota-anggota Escherechia yang dapat melarutkan P dari lapisan perakaran tanaman jagung. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu melarutkan FePO4. sedangkan kedua bakteri tersebut dapat meningkatkan produksi kedelai berturut-turut sebanyak 7 dan 10% jika digunakan pupuk TSP.6 ppm pada tanah steril. lesitin dan tepung tulang berturut-turut sebanyak 2-7. serta meningkatkan 34% dan 18% jika digunakan batuan fosfat. Beberapa tanaman yang pernah digunakan sebagai bahan percobaan untuk menguji pengaruh mikroba pelarut P antara lain adalah : gandum. 5-21 dan 14%.9 ppm. sedangkan pada tanah berreaksi basa P. kubis.

1993) Pseudomonas puptida mampu meningkatkan bobot kering tanaman jagung sampai 20%. Striata. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Inokulasi dengan Enterobacter gergoviae pada tanaman jagung dapat meningkatkan bobot kering tanaman jagung sebesar 29% (Buntan. Kombinasi ketiga inokulan tersebut mampu meningkatkan hasil gandum dua sampai lima kali lipat.Pseudomonas striata) dengan bakteri penambat N2 udara (Azotobacter chroococcum) pada tanaman gandum. tetapi bakteri penambat N tidak mempengaruhi pertumbuhan bakteri pelarut P.4-diacethylphloroglucinol yang dapat menghalangi pertumbuhan cendawan dumping-off Phytium ultium (Hadiyanto. Premono dan Widyastuti. Pada tanaman tebu penggunaan bakteri pelarut fosfat ( Pseudomonas puptida dan P fluorescens) dapat meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 5-40% dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P asal TSP sebanyak 60-135% (premono. Strain tertentu dari Pseudomonas sp dapat mencegah tanaman dari patogen fungi yang berasal dari tanah. Kemampuan bakteri ini terutama karena menghasilkan 2. Citrobacter intermedium dan Pseudomonas puptida mampu meningkatkan serapan P tanaman dan bobot kering tanaman sampai 30% (Premono et al. Pal (1998) melaporkan bahwa bakteri pelarut P (Bacillus sp) pada tanah yang dipupuk dengan batuan fosfat dapat meningkatkan jumlah dan bobot kering bintil akar serta hasil biji tanaman pada beberapa tanaman yang toleran masam (jagung. Pseudomonas fluorescens dapat mengontrol perkembangan penyakit dumping-off tanaman. 1994). . oksalat. Penelitian Setiawati (1998) mengisolasikan bakteri pelarut P dapat meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman tembakau. Puptida dan P. Beberapa bakteri pelarut posfat juga dapat berperan sebagai biokontrol yang dapat meningkatkan kesehatan akar dan pertumbuhan tanaman melalui proteksinya terhadap penyakit.2007). Pada percobaab lain (Buntan. 1992. laktat. Ternyata bakteri pelarut P dapat menstimulir pertumbuhan bakteri Azotobacter chroococcum. P. tanpa kehilangan kemampuan genetisnya dalam melarutkan batuan fosfat. Mikroba tersebut dapat menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti asam indol asetat (IAA) dan asam giberelin (GA3). diantaranya asam sitrat. Menurut Dubay (1997) inokulasi dengan Pseudomonas striata dengan penambahan superfosfat maupun batuan fosfat dapat meningkatkan pembentukan bintil dan serapan N pada tanaman kedelai dan bakteri ini dapat dikulturkan dengan Bradyrhizobium japonicum tanpa efek yang merugikan. Hasil penelitian Wulandari (2001) menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. bayam dan kacang panjang). Pada tanaman jagung. terutama mikroba yang hidup pada permukaan akar seperti Pseudomonas fluorescens. 1991). 1992). dan mikroba ini stabil sampai lebih dari 4 bulan pada media pembawa zeolit. glutamat. suksinat. Patten dan Glick (1996) mengemukakan bahwa efektifnya bakteri pelarut P tidak hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam meningkatkan ketersediaan P tetapi juga disebabkan kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh.

3881 ppm dan 280. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. Mg2+. jumlah biji. 575. Klebsiella aerogenes. jumlah polong. 203. Daerah Cikaniki. pH tanah.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan. ukuran biji dan produksi biji pada tanaman kedelai. umur pembentukan polong.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. dan Chromobacterium sp. dan 61. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung.63%. yang rata-rata mempunyai kemapuan melarutkan P terikat di media Pikovskaya padat dengan diameter sebesar 1.5 cm.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. Selanjutnya hasil penelitian Widawati dan Suliasih (2006) menyimpulkan bahwa ketinggian area.30%.22 g. fumarat. dan 606..67%. Klebsiella aerogenes. Chromobacterium lividum dan B. 207. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. Megaterium sebagai inokulan padat.75%. umur panen. Bacillus sp.67%.42 g atau ada kenaikan 877. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan produksi biji lebih dari 100 % dan mengefisienkan pemakaian pupuk P anorganik lebih dari 50 % pada tanaman kedelai. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin.glioksilat. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan . vegetasi hutan dan habitat mikroba (rhizosfer dan lantai hutan) yang berbeda bukan merupakan faktor penghambat keanekaragaman jenis BPF dan kemampuan BPF dalam melarutkan P terikat. berat daun segar 4 tanaman per pot. Fe2+.15 g tanaman-1.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos.48 g. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Gunung Botol. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32.81%. 930. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Populasi tertinggi dijumpai di area rhizosfer tanaman Altingia exelsa Norona dan Schima wallichii (Dc. dan Ciptarasa didominansi oleh BPF jenis Pseudomonas sp. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. jumlah bunga. dan di tanah lantai hutan (108 sel/g tanah) di Gunung Botol pada ketinggian 1000 m dpl. 208.) Korth (107 sel/g tanah) di Cikaniki pada ketinggian 1100 m dpl..5-2. 217. 903. Hasil penelitian Junkazayama (2009) menunjukkan bakteri pelarut fosfat yang diinokulasikan pada biji dapat meningkatkan umur berbunga.) di Tanah Marginal. Chromobacterium lividum. 354. dan B. Bacillus megaterium. malat. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. tetapi cenderung merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan populasi BPF. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g).

KESIMPULAN (1) Ketersediaan P didalam tanah sangat rendah karena P terjerap oleh mineral tanah dan senyawa organik serta terfiksasi Al. Bukit Besar. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Indonesia. Diposkan oleh Dr. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Bersambung ke bagian 5 pada pustaka dibawah: Pustaka: Madjid. Indonesia. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol. Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Ir. Sumatera Selatan. Palembang. Fakultas Pertanian & Prodi Ilmu Tanaman. (2) Bakteri Pelarut Fospat merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat berperan sebagai .blogspot. Palembang. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. MS di 22:02 0 komentar Label: Biologi Tanah BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI (Bagian 5) Bakteri Pelarut Fosfat sebagai Agents Pupuk Hayati* Oleh: Nursanti** dan Madjid** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.Ca dan proses pelapukan yang rendah .Fe. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar.com. Indonesia. Sumatera Selatan. Bahan Ajar Online. Http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Abdul Madjid. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai.pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.Mn. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. 2009. Indonesia. A. Palembang. Universitas Sriwijaya.

B. 60:353-364. Noor A.K Jha. Gaur . Pemanfaatan mikrobia pelarut fospat dan mikoriza untuk perbaikan fospor tersedia.2007. (4) Jenis-jenis bakteri pelarut posfat: Bacillus substilis. S. Citrobacter intermedium .S and A.No. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Plant Soil .Peningkatan Kesuburan Tanah dan Hasil Kedelai akibat inokulasi Mikrobia Pelarut Fospat dan Azotobacter pada Ultisol.J.32.A.amelioran. Serratia mesenteroides Pseudomonas fluorescens.Bacillus firmus. Escherechia intermedia Pseudomonas putida.1992. Penggunaan Mikroba Bermanfaat pada Bioteknologi Tanah Berwawasan Lingkungan. Plant Soil 57 : 223-230. Bacterium mycoides. dan Enterobacter gergovia DAFTAR PUSTAKA Ahmad.2.Soil Sci. 1996. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. N and K. Indian Soc. Majalah Sriwijaya Vol. Peranan Mikroba Pelarut P terhadap Pertumbuhan Tanaman. 1980. 1997. 2004. 6(1) : 8-13. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang .C.Faperta Universitas Bengkulu. Handayanto. Bacillus megaterium. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate solubilizing mikroorganism. S. Escherechia freundii. Effect of phosphate solubilizer on dry matter yield of and phosphorus uptake by soybean.Medan Gunalan.30:105-106. Efektivitas Bakteri Pelarut Fospat dan Kompos terhadap Peningkatan Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P pada Tanaman Jagung IPB Bogor. Hasanudin dan Ganggo. (3) Pemberian Bakteri Pelarut Posfat menghasilkan asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan P dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Fosfat. serapan fospor tanah ultisol dan hasil jagung.J. 45: 506-509.K.Indian Soc.D.Soil Sci. Bacterium mesenterricus.2005. Pustaka Adipura. Elfiati. Universitas Bengkulu.penyedia unsur hara dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.Universitas Sriwijaya. 1982.K. Edisi 3. Dubey. Co-inoculation of phosphorus bacteria with Bradyrhizobium japoniucum to increase phosphate availability to rainfed soybean on vertisol. Establishment of nitrogen fixing and phosphate solubilizing bacteria in rhizosphere and their effect on yield and nutrient uptake of wheat crop. 1982. Fakultas Pertanian USU. B. Kundu. Hasanudin. Banik.E dan Hairiyah. Buntan.2003. 2003.

Edisi 3. 1992.S. Tesis..Agr. MS di 21:58 0 komentar Label: Biologi Tanah Jumat. Widawati. S. S. Diposkan oleh Dr. Bakteri pelarut fosfat asal beberapa jenis tanah dan efeknya terhadap pertumbuhan jagung. 7(2):109-113. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Pengaruh BPF terhadap Serapan kationunsur mikro Tanaman Jagung pada Tanah Masam. Gunung Botol. 2009 Mei 29 TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 1) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** . Can. Edisi 2 . 2005.R Glick. Interaction of an acid tolerant strain of phosphate solubilizing bacteria with a few acid tolerant crops. Widawati. (Terjemahan Susilo. 7(1):1014. Bandung.NW.Bandung Rao. Plant Soil.H. 1991. A review on benefical effects of rhizosphere bacteria on soil nutrient availability and plant nutrient uptake. Premono. 1998.Bogor. N.Widyastuti.terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.Program Pascasarjana IPB. Efektifitas mikroba pelarut P dalam meningkatkan ketersediaan P dan pertumbuhan tembakau.Disertasi. Buletin Agronomi. Setiawati. Patten. Universitas Pajajaran. 2006.Kanisus Jakarta.R.C. 2001. Abdul Madjid.Biodiversitas. S dan Suliasih . Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. 1996. 1962.) di Tanah Marginal.60 no. 198 : 169-177. Pal. Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) di Cikaniki. S. Ir. 2007. 1998. and Sinha. 4(1) : 1-5. Bacterial biosyntesis of indole-3-acetic.1 Wulandari. S dan Suliasih .T.N.W.Penerapan Pertanian Organik. Soil Microorganisms and Plant Growth. C.L and B. Yuwono. Sutanto. Microbiol 42: 207-220.Medellín vol.2002.H.R.Yogyakarta.T. 2006. Oxford and IBM Publishing Co. UI Press). Supadi. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.Pupuk Hayati . Vega. serta Kemampuannya Melarutkan P Terikat di Media Pikovskaya Padat. Jurnal Nature Indonesia. UGM. 31 (3): 100-106.J.Biodiversitas. dan Ciptarasa.

tanah yang sehat mungkin saja tidak berfungsi sebagai komponen ekosistem yang sehat karena adanya penambahan komponen tanah yang tidak sehat dari luar itu sendiri (Elliot.(Bagian 1 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. 1998). Program Pasca Sarjana. Sumatera Selatan. alga dan virus. Program Studi Ilmu Tanaman. serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Program Pasca Sarjana. Bukit Besar. Bukit Besar. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Universitas Sriwijaya. seperti bakteri. bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan. Hal ini berarti bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Palembang. misalnya penambahan bahan kimia yang berlebihan atau pembuangan limbah toksik. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Baru sebagian kecil dari ribuan spesies mikroba yang . kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Program Magister (S2). Latar Belakang Tanah adalah suatu komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan ekosistem tersebut. Indonesia. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. PENDAHULUAN A. Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme. Palembang. dan mendegradasi residu toksik (Sparling. tanah yang sehat memiliki kondisi fisik. Cara pandang positif terhadap mikroba akan membangkitkan minat berpikir tentang potensi mikroba yang belum banyak diketahui. melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Palembang. fungi. protozoa. Universitas Sriwijaya. karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah. Bukit Besar. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat. Indonesia. Dibidang pertanian. Sumatera Selatan. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya. (Bagian 1 dari 6 Tulisan) I. aktinomicetes. kimia. Dalam sejumlah kondisi. Indonesia. Sumatera Selatan. 1998).

Berbagai reaksi kimia dalam tanah juga terjadi atas bantuan mikroba tanah (Yoshida. B. menghemat biaya pupuk. 1978). Saraswati et al. Selain itu kapasitas fiksasi P yang tinggi pada tanah menyebabkan P tersedia tanah menjadi rendah. Penggunaan mikroba pelarut fosfat untuk meningkatkan kelarutan fosfat dalam rangka meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam usaha pertanian. Masih banyak lagi mikroba yang belum teridentifikasi dan diketahui manfaatnya.telah diketahui memiliki manfaat bagi usaha pertanian. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas pemanfaatan teknologi pupuk hayati fungi pelarut fosfat. Untuk meningkatkan produksi produksi tanaman pada tanah-tanah dengan ketersediaan P yang rendah diperlukan suatu usaha yang dapat meningkatkan kealrutannya seperti penggunaan mikroorganisme. bakteri dan fungi perombak bahan organik. kesuburan. maka penggunaan pupuk hayati dan agensia hayati diharapkan akan lebih meningkat pada tahun-tahun mendatang. dan virus sebagai agensia hayati. dan meningkatkan pendapatan petani. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . serta bakteri yang berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant growth promoting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh. seperti bakteri fiksasi N2 udara pada tanaman kacang-kacangan. yaitu (1) meningkatkan ketersediaan unsur hara tanaman dalam tanah. Beberapa mikroorganisme seperti bakteri. (3) bakteri rhizosfer-endofitik untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan membentuk enzim dan melindungi akar dari mikroba patogenik. Untuk itu perlu dikembangkan produk biologi yang terdiri dari mikroba pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pemupukan. bakteri dan fungi pelarut fosfat. bakteri. cendawan. (2) sebagai perombak bahan organik dalam tanah dan mineralisasi unsur organik. fungi dan streptomyces diketahui mempunyai kemampuan melarutkan P. vitamin dan berbagai asam-asam organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. (2004) secara umum menggolongkan fungsi mikroba menjadi empat. Pemanfaatan pupuk hayati yang bermutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produksi tanaman. dan kesehatan tanah disebut sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba). Kandungan P total tanah yang rendah di daerah tropik dan sub tropik berhubungan dengan bahan induk tanah dan telah lanjutnya pelapukan tanah. Pupuk hayati yang telah terstandarisasi merupakan alternatif sumber penyediaan hara tanaman yang aman lingkungan. Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Semakin mahalnya pupuk anorganik dan pestisida serta semakin dipahaminya manfaat pupuk hayati dalam menjaga keseimbangan hara dan produktivitas tanah. (4) sebagai agensia hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.

MS di 21:35 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 2) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 2 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Ir. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Berkenaan dengan ketersediaannya bagi tanaman. yaitu fosfat alam yang kaya karbonat apatit. Universitas Sriwijaya. Bentuk tersebut merupakan bentuk yang paling umum dipakai sebagai pupuk. bentuk ini labil yang tersedia dengan cepat bagi tanaman. Pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut.atau CO32-. Bukit Besar. A. Palembang. Program Magister (S2). unsur P dibedakan menjadi (a) P-terlarut. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bukit Besar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Pasca Sarjana. pemupukan dan mineralisasi P-organik. misalnya Al-P dan Fe-P seperti yang dijumpai pada tanah-tanah masam. (Bagian 2 dari 6 Tulisan) II.com. namun yang tersedia bagi tanaman jumlahnya rendah hanya berkisar 0. Diposkan oleh Dr. (b) P-terikat pada kompleks permukaan koloid. dimana M sama dengan kalsium (Ca) dan X sama dengan F-. Mineral primer tersebut misalnya apatit dengan rumus M10(PO4)6X2. Fosfat (P) Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial makro seperti halnya karbon (C) dan nitrogen (N).2 mg/kg tanah.Madjid. Indonesia. Tanaman memperoleh unsur P seluruhnya berasal dari tanah atau dari pemupukan serta hasil dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Universitas Sriwijaya. Palembang. Bahan Ajar Online. Indonesia. Jumlah P total dalam tanah cukup banyak. Abdul Madjid. OH. (c) P-terjerap kuat yang lambat atau sukar larut (P-stabil) dan P terselimuti oleh Fe2O3 atau Mn2O3 . Program Magister (S2). Didalam tanah P berada dalam bentuk P-organik dan P-anorganik. kecuali pada tanah pertanian yang memperoleh masukan P dari pupuk fosfat alam. Program Pasca Sarjana. umumnya sumber P dari mineral primer sedikit sekali dijumpai. Indonesia. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bentuk P-anorganik dalam tanah umumnya berasal dari pelapukan mineral primer. Sumatera Selatan.01-0. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.blogspot. Palembang. Cl-. 2009. Bukit Besar. Http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2).

(b) imobilisasi P-tersedia. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Ketersediaan P-organik bagi tanaman sangat tergantung pada aktivitas mikroorganisme melalui mineralisasi. Pada sistem pola tanam yang terbuka. hanyut terbawa limpasan permukaan dan erosi. fosfolipida. Fosfat merupakan sumber energi primer bagi oksidasi mikroba. 1989. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Senyawa P-organik terdapat di dalam humus tanah dan berasosiasi dengan jaringan mikroba tanah. bentuk ini menyumbang 3050% P-total tanah (Paul dan Clark. Jerapan P pada tanah sangat dipengaruhi oleh ph larutan tanah. nukleotida dan gula-gula fosfat. Keseimbangan antara bentuk P-labil dan P-terjerap juga terganggu. Di alam. Bila ion fosfat (HPO42. hewan dan organisme tanah. pemupukan.(occluded P). pengembalian melalui mineralisasi-immobilisasi P-organik. memungkinkan terjadinya limpasan air di permukaan tanah dan mengangkut tanah lapisan atas termasuk pula unsur P dan hara lainnya ke tempat lain sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. 1997). 1989). Pembentukan P-mineral primer berlangsung sangat lambat. Oleh karena itu. fosfor terdapat dalam dua bentuk. P-labil bergerak menuju larutan tanah menajdi bentuk P-tersedia. Jerapan P dalam tanah tersebut biasa dikenal dengan adsorpsi atau sorpsi. Organisme tanah berhubungan sangat erat dengan siklus P dalam tanah yaitu berperan dalam : (a) pelarutan P-anorganik dan pelepasan (mineralisasi) P-organik. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. karena menurunnya pH mengakibatkan aktivasi Al pada permukaan koloid mineral anorganik.. 1977). Rendahnya nilai pH pada andisol menyebabkan meningkatnya jerapan P. Jerapan anion fosfat ini juga akan semakin menigkat dengan meningkatnya derajat pelapukan tanah. reaksi pengikatan pada permukaan liat dan oksida Al dan Fe serta pelarutan mineral P oleh aktivitas mikroba (Buresh et al. asam nukleat.atau H2PO4-) diserap tanaman. Siklus P di dalam tanah cukup dinamis meliputi serapan P oleh tanaman. Enzim fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme heterotrof berperan penting dalam pelepasan P ke dalam tanah. Mineralisasi dan Immobilisasi Fosfat . fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Ketiga bentuk P tersebut diatas saling berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseimbangan yang dinamis. Bentuk P-organik berada dalam bentuk senyawa organik kompleks yang berasal dari sisa tanaman. Hal ini kemungkinan disebabkan meningkatnya kandungan Al. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. dimana P bergerak lambat dari pool P-stabil menuju pool P-labil (Paul dan Clark. keseimbangan P dalam tanah terganggu. Subba Rao. Siklus ini berulang terus menerus. yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). sementara jerapan P dalam tanah terjadi lebih cepat. Bnetuk ini terdapat sebagai senyawa ester seperti inositol fosfat. pengembalian melalui residu tanamandan hewan.

1997). bagian biomassa mikroba yang kaya fosfat juga akan dimineralisasi. Sebaliknya jika lebih banyak tersedia fosfat dalam residu jika dibandingkan dengan yang diperlukan untuk asimilasi karbon. selanjutnya dapat menentukan produk akhir dari proses metabolisme mikroba yang bersangkutan (Stevenson. aerasi.. menghasilkan pelepasan fosfat yang semua diimobilisasi. Nisbah antara 200-300 hanya menghasilkan perubahan kecil dalam konsentrasi fosfat daam larutan tanah. Mineralisasi fosfat merupakan proses enzimatik. Jika mineralisasi karbon yang cepat terjadi pada residu dengan kandungan fosfat terbatas. Selain kandungan fosfat dalam residu. maka terjadi net mineralisasi ortofosfat. Unsur yang paling menjadi pembatas akan mengendalikan kecepatan mineralisasi fosfat dari residu. Mineralisasi P-organik menjadi bentuk P-anorganik dilakukan oleh mikroba tanah. atau dapat membentuk kompleks anorganik tidak larut. Enzim yang terlibat disebut fosfatase yang mengkatalis berbagai reaksi yang melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik ke dalam larutan tanah. Tingkat immobilisasi dipengaruhi oleh nisbah C/P bahan organik yang mengalami dekomposisi dan jumlah fosfat tersedia dalam larutan tanah. Fosfat dalam sisa organik tersebut harus dilepaskan jika harus tersedia untuk tanaman dan mikroorganisme. Fosfatase dilepaskan oleh mikroorganisme di luar sel ke dalam larutan tanah untuk mengkatalis reaksi-reaksi berikut ini : Fosfomonoesterasi menghidrolisis fosfat dari bentuk monoester fosfat. temperatur. pH tanah dan kualitas bahan organik yang ditambahkan. 1. Umumnya. Nisbah C/P residu yang ditambahkan dapat menentukan tingkat fosfat anorganik dimineralisasi atau diimobilisasi.Ketersediaan fosfat dikendalikan oleh mineralisasi dan immobilisasi melalui fraksi organik dan pealrutan serta presipitasi fosfat dalam bentuk anorganik. Faktot-faktor yang mempengaruhi proses mineralisasi P di dalam tanah adalah temperatur. Fosfodiesterase menghidrolisis fosfat dari bentuk diester fosfat seperti asam nukleat. hewan dan mikroba yang dikembalikan ke dalam tanah. nisbah C/P <> 300:1 menghasilkan imobilisasi. Sisa tanaman. Jika fosfat tidak cukup tersedia dalam residu untuk asimilasi karbon yang ditambahkan. aerasi. secara aktif didekomposisi oleh mikroorganisme. maka terjadi imobilisasi fosfat dari tanah. Jika fosfat dimineralisasi maka dapat diserap oleh tanaman atau diimmobilisasi kembali ke dalam sel mikroba. Indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui siklus transformasi P-organik menjadi P-anorganik adalah dengan mengetahui jumlah total mikroba dan biomassa mikroba (Buresh et al. . Biomassa mikroba dapat mempengaruhi ketersediaan fosfat melalui immobilisasi. dan lengas tanah) mempengaruhi aktivitas mikroba dan mineralisasi fosfat. seperti nukleotida atau fosfolipida. yaitu pengikatan ion ortofosfat menajdi bentuk organik yang terikat dalam organisme. Proses ini sama dengan proses mineralisasi dan imobilisasi nitrogen. Fitase menghidrolisis fosfat dari fosfat inositol. Aerasi tanah yang baik dengan kelembaban yang cukup serta temperatur tanah berkisar 30-40 oC menentukan jenis dan aktivitas mikroba tanah. Misalnya ortofosfat bereaksi dengan ADP (Adenosine diphosphate) dan masukan energi yang sesuai untuk membentuk ATP. 2. 1986). variabel tanah dan lingkungan yang lain (misalnya pH. Ketika karbon oragnik yang dapat dimineralisasi habis. kelembaban. maka fosfat anorganik dari larutan tanah harus digunakan dan bisa terjadi net imobilisasi.

Salah satu contoh adalah Bacillus megaterium var. pemberian bahan sumber karbon yang mudah dimineralisasi seeprti pupuk kandang. keasaman yang dihasilkan oleh bakteri nitrifikasi dan bakteri pelarut sulfur merangsang pelarutan garam-garam fosfat yang tidak larut.2) H2PO42. sedangkan kalsium fosfat mendominasi tanah-tanah basa. Perubahan pH dalam larutan tanah maupun di dalam rhizosfer akan mempengaruhi kelarutan unsur Al. dapat juga mengganti kation logam dari fosfat tidak larut.+ OH- . dapat memacu pelarutan fosfat melalui peningkatan aktivitas biologi. dengan melepaskan fosfat. dan Ca.lebih mendominasi. jadi mengurangi peluang aluminium mengikat fosfat.lebih mendominasi. Hal yang sama. Mn. Mn. Berbagai jenis asam-asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan tanaman dapat berperan sebagai bahan pengkhelat (chelating agents) untuk melarutkan aluminium. Akar tanaman dan mikroorganisme tanah dapat meamcu pelarutan senyawa fosfat melalui pelepasan karbon dioksida dan asam-asam organik ke larutan tanah. Fe. Al3+ + H2PO4. yang membentuk simbiosis dengan akar tanaman untuk memacu serapan fosfat dan unsur hara lainnya. Peningkatan karbon organik juga berperan dalam mengkompleks aluminium pada tanah-tanah asam. Untuk pH netral hingga agak basa (pH >7. besi. pH tanah. Bakteri ini telah dikemas dalam bentuk inokulum yang disebut fosfobakterin dan diaplikasikan ke tanah untuk memacu pelarutan mineral fosfat.2%>Pelarutan Fosfat Anorganik Mineral fosfat anorganik umumnya dijumpai sebagai aluminium dan besi fosfat pada tanah-tanah masam. dan PO43-. Selain itu.Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki ketersediaan P tanah ditentukan oleh kualitasnya yaitu nisbah C/P. kalsium dan magnesium fosfat. yang ketersediaannya dalam tanah dipengaruhi oleh : 1.+ 2H2O ----> FePO4. Senyawa yang kurang larut ini memasok ortofosfat ke larutan tanah tergantung tingkat kelarutan senyawa tersebut. Ion Fe.+ 2H2O ----> AlPO4. Ortofosfat dipasok ke akar terutama melalui difusi. 2H2O + 2H+ Al(OH)3 + H2PO4.lebih banyak dan pada pH sangat basa (>10) PO43. Phosphaticum. H2PO42-. Satu kelompok organisme yang penting adaalh jamur mikoriza. sehingga menghasilkan pelepasan ortofosfat ke dalam larutan tanah (Stevenson. 1986). Asam karbonat dapat merangsang pelarutan asam pada senyawa kalsium dan magnesium fosfat. Pada pH tanah agak masam hingga netral. dan Ca dapat mengikat unsur P menjadi bentuk tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman. Nilai kritis C/P adalah 200. Bila C/P 200 maka akan terjadi mineralisasi. Al. Aspek Lingkungan yang Mempengaruhi Ketersediaan P Tanaman menyerap P dalam bentuk ion ortofosfat H2PO4-. H2PO42. dan bila C/P 300 atau bila kandungan P pada bahan organik <0. Pada kondisi tergenang. Beberapa bakteri yang sangat efektif dalam melarutkan fosfat (bakteri pelarut fosfat) dari batuan fosfat. hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh bakteri pereduksi sulfat atau proses lainnya.----> Al(OH)2 H2PO4.2H2O + 2H+ Fe3+ + H2PO4.

Mn. 2007). Ir. Diposkan oleh Dr. dan Ca sehingga P lepas ke dalam larutan tanah (Handayanto dan Khairiah. asetat. Program Pascasarjana. Proses pencucian dan erosi menyebabkan konsentrasi P total dalam tanah menurun. A. suksinat yang dapat mengikat Al. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.blogspot. selanjutnya akan menjadi cadangan P tanah (P capital). pH tanah dapat berbeda dengan pH tanah diluar rhizosfer sebagai akibat dari tidak berimbangnya jumlah serapan kation dan anion. Universitas Sriwijaya. Abdul Madjid. Fe. Adanya eksudasi asam organik oleh akar tanaman. Pada proses mineralisasi mikroba menguraikan senyawa P-organik menjadi bentuk P-anorganik yang tersedia bagi tanaman. Program Magister (S2). 2. Proses dekomposisi tersebut akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang akan membantu meningkatkan kealrutan mineralmineral tanah yang mengandung P. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Adanya cekaman lingkungan di daerah perakaran (misalnya kekeringan) menyebabkan akar mengeksudasi beberapa macam asam organik seperti asam malat. selanjutnya diperbaharui oleh adanya pelepasan P-organik melalui proses mineralisasi. 2009. MS di 21:30 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 3) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 3 dari 6 Tulisan) Keterangan: .Ca(H2PO4-)2 + 2Ca2+ ----> Ca3(PO4)2 + 2H+ Didaerah rhizosfer. yaitu pada proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Hubungan tidak langsung hubungan ketersediaan P dengan bahan organik tanah dapat dilihat dari peran bahan organik dalam mempertahankan struktur dan aerasi tanah sehingga menjamin kelangsungan proses-proses dekomposisi. Keberadaan P-organik tanah berhubungan langsung dan tidak langsung dengan kandungan bahan organik tanah. laktat. Http://dasar2ilmutanah. Kandungan bahan organik tanah. 3.com. Bahan Ajar Online. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.

Fungi dicirikan oleh adanya tubuh yang tidak bergerak (thallus) tersusun dari filamen panjang berdinding disebut hifa dengan diameter 3-8 im.. membentuk spora dari fusi dua nukleus. Indonesia. Indonesia. Program Magister (S2). (Bagian 3 dari 6 Tulisan) III. seperti rhizomorf dan terlihat seperti akar tanaman. yaitu: (1) Oomycetes (2) Zygomycetes (3) Ascomycetes (4) Deuteromycetes (5) Basidiomycetes. 1991. yang berkecambah untuk menghasilkan hifa baru.. Fungi biasanya tumbuh baik pada lingkungan yang agak asam (pH sekitar 5). Indonesia. Program Pasca Sarjana. Zygomycetes adalah fungi daratan yang menghasilkan spora yang tidak dapat bergerak sendiri . Sumatera Selatan.000 spesies fungi telah dapat diidentifikasi dari jumlah spesies di alam diperkirakan ada 1. Program Magister (S2). Oomycetes merupakan parasit obligat pada tanaman dan dapat bertahan selama siklus hidupnya dalam jaringan tanaman. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Hawksworth et al. Palembang. dan dapat tumbuh pada substrat dengan kadar air yang sangat rendah (Webster. miselium menghasilkan spora. Reproduksi secara seksual. 1970). Bukit Besar. Kebanyakan fungi dapat mirip tanaman. Bukit Besar. Program Pasca Sarjana. tetapi fungi tidak dapat membuat makanannya sendiri dari sinar matahari seperti yang dilakukan oleh tanaman. Universitas Sriwijaya. Pada stadium tertentu dalam siklus hidupnya. (1996) dikenal 5 kelas fungi. Palembang. yaitu spora yang tidak dihasilkan dari fusi nukleus (Handayanto dan Khairiah. Fungi Fungi adalah organisme eukariot umumnya mempunyai berbagai bentuk dan ukuran. Hifa tunggal dapat bercabang memanjang dari beberapa sel menjadi beberapa sentimeter. Komponen dinding selnya adalah khitin dan glukan. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.* Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman.5 juta (Hawksworth. Program Studi Ilmu Tanaman. 2007). berkisar dari sel tunggal sampai sel berantai. Sekitar 70. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Bukit Besar. 1995). Sumatera Selatan. Jamur yang mengkoloni substrat segar akan tumbuh dalam waktu singkat. dan kemudian dapat menghasilkan satu atau beberapa spora aseksual. Program Pasca Sarjana. Klasifikasi Fungi Menurut Alexopoulos et al. kadang-kadang berkelompok membentuk miselium. Palembang.

Estimasi akurat tentang biomassa fungi sulit dilakukan karena adanya spora dan fragmentasi (Griffin. dan pengendalian penyakit. eksudat akar. Terdapat hubungan antara fungi dengan vegetasi penutup tanah. organisme rhizosfer. CO2 terhambat. 2007). Aspergillus lebih banyak dijumpai dibawah tanaman oat. karbon . sebagai contoh . fungi merupakan biomassa mikroba paling besar jumlahnya. bagian tengah. bagian bawah. sedangkan lainnya sebagai penyakit tanaman. (1) Perombak (dekomposer) Fungi dekomposer merupakan fungi saprofit yang mengkonversi bahan organik mati. Ascomycetes dijumpai pada berbagai habitat. Hifa fungi secara fisik mengikat partikel tanah. menghasilkan agregat stabil yang membantu meningkatkan infiltrasi air dan kapasitas tanah maupun air (Handayanto dan Khairiah. fungi berperan penting sebagai organisme perombak di dalam rantai makanan (food web) tanah. 1993). Posisi spesies juga dipengaruhi oleh kepekaan CO2 (bagian atas.. Sebaran fungi di dalam profil tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan karbon organik. 1993). tidak peka. siklus hara. Pennicillium lebih banyak dijumpai dibawah tanaman gandum atau jagung. Peran Ekologi Fungi berperan penting dalam kaitannya dengan dinamika air. Sebaran dan Biomassa Pada tanah-tanah beraerasi baik. Bersama-sama dengan bakteri. Beberapa Basidiomycetes berperan penting dalam pelapukan seresah hutan. fungi biasanya dijumpai pada profil tanah bagian atas (Isaac et al. Jika fungi memerlukan karbon dan oksigen. Klasifikasi Fungi Berdasarkan Sifat Fungsional Fungi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok fungsional atas dasar memperoleh energi (Carroll dan Wicklow. Pembentukan hubungan antara fungi dengan vegetasi terkait dengan populasi awal. Basidiomycetes merupakan kelas fungi yang terbesar yang menghuni berbagai macam habitat. baik berupa daun maupun kayu. Fungi mengkonversi bahan organik yang keras untuk dilumat menajdi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme lainnya. 1992). dapat mencapai 2x104 sampai 1x106 propagul/gr tanah. beberapa diantaranya bersifat sparofit.(non-motile) disebut zygospora. Beberapa spesiesnya dapat berasosiasi dengan akar membentuk mikoriza. tumbuh lebih baik dengan CO2 lebih tinggi). Deuteromycetes atau fungi imperfecti adalah fungi yang mempunyai hifa septa dan berkembang biak dengan cara aseksual. dan pengelolaan lahan.

(2) Mutualis Fungi mutualis yang terkenal adalah fungi mikoriza yangmengkoloni akar tanaman. Aspergillus tahan pada kondisi kelembaban rendah dan temperatur ekstrim. Oleh karena itu fungi ini berperan sebagai fungi gudang yang melapukkan berbagai produk pertanian dan makanan kering. sehingga membantu meningkatkan akumulasi bahan organik yang kaya humik yang resisten terhadap degradasi dan dapat tetap di dalam tanah sampai ratusan tahun.parasiticus yang . sedangkan fungi mikoriza Ericoid dapat sebagai ekto atau endomikoriza. 2007). Beberapa spesies dapat memberikan kerusakan pada tanaman pertanian. Fungi Mikoriza Arbuskular (MA) adalah tipe fungi endomikoriza. contohnya A. Aspergillus Aspergillus adalah fungi saprofit berkonidia dan melepaskan banyak spora dalam proses reproduksinya. 1995). Sebagai contoh A. Beberapan Fungi Penting Dalam Tanah 1. Sebagai timbal balik penggunaan karbon tanaman. tanaman pangan. tekstil. Beberapa spesies membentuk vesikula pada ujung konidiosporanya. dan essensial dalam dekomposisi struktur rantai karbon dalam beberapa bahan pencemar. Salah satu kelompok mikoriza adalah ektomikoriza yang tumbuh pada lapisan permukaan tanah dan umumnya berasosiasi dengan pohon. misalnya fungi penjebak nematoda dan fungi yang memakan insekta sangat bermanfaat dalam pengendalian penyakit secara biologi (Handayanto dan Khairiah. 1995). Kelompok mikoriza kedua adalah endomikoriza yang tumbuh di dalam sel akar dan umumnya berasosiasi dengan rumput. seperti selulosa dan lignin dalam kayu. Fungi patogen atau parasit menyebabkan produksi tanaman menurun. Selain itu. Aspergillus juga menyebabkan kerusakan tanaman dan dapat mendekomposisi bahan lainnya seperti kayu.flavus dan A. nitrogen. Fungi patogen akar seperti Verticillium. dan kulit (Hawksworth et al.niger digunakan untuk membuat asam sitrat yang banyak digunakan dalam pengawetan minuman ringan dan makanan kaleng. udara. serta banyak dijumpai dalam tanah. beberapa metabolit sekunder fungi adalah asam organik. Aspergillus juga banyak digunakan dalam fermentasi makanan untuk tujuan komersial. (3) Patogen atau parasit. Aspergillus dijumpai pada berbagai habitat dan kondisi lingkungan yang berbeda. dan molekul-molekul kecil seperti asam-asam organik. dan mungkin air) ke tanaman.dioksida. sayuran. fungi mikoriza membantu dalam melarutkan fosfat dan membawa unsur hara (fosfat. Terdapat berbagai macam aplikasi spesies Aspergillus. atau tanaman mati jika fungi jenis ini mengoloni akar dan organisme lainnya. dan lingkungan perairan (Dix dan Webster. Beberapa fungi disebut ”fungi gula” karena fungi ini menggunakan substrat sederhana sama dengan yang digunakan oleh bakteri. cat. Seperti bakteri. fungi ini penting dalam immobilisasi atau menahan hara dalam tanah. Phytium. dan semak. Namun demikian. dan Rhizoctonia.. Namun demikian ada juga beberapa jenis fungi yang membantu mengendalikan penyakit. Fungi ini umumnya menggunakan substrat yang kompleks. menyebabkan kerusakan besar tanaman pertanian. untuk memproduksi antibiotika dan mekanis genetik yang bermanfaat. hara mikro. Fungi ini dikenal menghasilkan miksotoksin yang menyebabkan kerusakan pada biji dan benih tanaman biji-bijian.

Fungi ini juga dikenal sebagai ascomycetes selulotik yang dapat mendegradasi selulosa. Fungi ini telah lama digunakan untuk fermentasi gula dari beras. Trichoderma Trichoderma adaalh fungi saprofit atau parasit pada fungi lainnya. Trichoderma mampu tumbuh pada tanah dengan pH 2. Bentuk spesifik Fusarium adalah bentuk pisang pipih (Nelson. hal ini karena kemampuannya menggunakan berbagai macam substrat. 1982). Fungi ini dikenal sebagai fungi penyerang akar dan berkembang dnegan cepat di lingkungan akar. 2. Pennicilium banyak dijumpai pada tanah-tanah daerah sedang dan dapat bertahan hidup atau bahkan tumbuh pada lingkungan aktivitas air yang rendah. 1983).menghasilkan alfatoksin menyebabkan busuk pada selaput tongkol jagung. Ada beberapa spesies beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan. 3. Proses fermentasinya menghasilkan alkohol dan karbon dioksida. dan jagung untuk memproduksi minuman beralkohol. 1987). Saccharomyces Saccharomyces adalah fungi bersel tunggal dengan diameter 5-10 im. Karbon dioksida . tetapi lebih menyukai lingkungan yang agak asam. gandum.koningii (merton dan Brotzman. termasuk manusia.5-9. sel berbentuk seperti tabung (Perbedy. Fungi ini seringkali dijumpai pada tanah yang menagdnung bahan organik tinggi. terutama tanah-tanah hutan yang permukaannya tertutup oleh lapisan organik yang cukup tebal (Ramirez. selnya berbentuk oval atau sperikal (Dickinson dan Schweizer.5. Pada tanaman. Pennicilium Pennicilium adaalh fungi saprofit aerob dengan ukuran sel 0. 1968). 1979). Fusarium Fusarium adalah fungi saprofit yang dapat tumbuh pada jaringan tanaman. 1999). 1986). jaringan hewan dan tanah. membentuk lapisan konidiospora dan konidia pada permukaan koloni. Trichoderma juga digunakan secara komersial untuk memproduksi enzim selulase. Pennicilium dapat tumbuh pada temperatur 22-27 oC. Sporanya menyebar melalui pergerakan udara dan percikan hujan. 5. Pennicilium dikenal menghasilkan penisilin. Jamur ini tidak sepenuh hidupnya tergantung pada tanaman. 4.. diantaranya T. Saccharomyces dikenal sebagai ”budding yeast” Saccharomyces cerevisiae dikenal sebagai ”Baker’s” atau yeast ”Brewer’s” (Phaff et al. Trichoderma dijumpai hampir di semua tanah-tanah pertanian dan lingkungan lainnya seperti kayu yang melapuk. jamur ini menyebabkan berbagai penyakit busuk akar dan busuk batang (Joffe. dan juga digunakan dalam industri roti sebagai bahan pengembang. tumbuh optimal pada pH netral sampai agak masam.75-5x 2-6im.harzianum dan T. Kultur laboratorium yang menunjukkan adanya miselium seperi kapas berwarna jingga.

MS di 21:22 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 4) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 4 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Bukit Besar. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya. Program Pasca Sarjana. 2009. Universitas Sriwijaya. A. Program Magister (S2). Program Magister (S2). yang menyebabkan terbentuknya struktur cincin yang mengelilingi logam tersebut. (Bagian 4 dari 6 Tulisan) IV. Palembang. Mekanisme pengikatan Al+++ dan Fe++ oleh gugus fungsi dari komponen organik adalah karena adanya satu gugus karboksil dan satu gugus fenolik. nitrogen. Program Pascasrjana. Sumatera Selatan. yang dicirikan dengan terbentuknya lebih dari satu ikatan antara logam tersebut dengan molekul agen pengikat. Bahan Ajar Online. vitamin. Indonesia. atau dua gugus karboksil yang berdekatan bereaksi dengan ion logam. Sumatera Selatan. Bukit Besar. Palembang. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. dan mineral lainnya. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. Palembang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman.blogspot. Saccharomyces mudah ditumbuhkan pada berbagai media yang mengandung karbon. Universitas Sriwijaya. Khelasi adalah reaksi keseimbangan antara ion logam dengan agen pengikat. Sumatera Selatan.dijebak dalam gelembung kecil dan menghasilkan media yang mengembang (menggelembung). Diposkan oleh Dr. Perkembangan Penelitian Fungi Pelarut Fosfat Reaksi yang terjadi selama proses pelarutan P dari bentuk tak tersedia adalah reaksi khelasi antara ion logam dalam mineral tanah dengan asam-asam organik. Indonesia. Saccharomyces tumbuh optimum pada temperatur 20-25 oC. Http://dasar2ilmutanah. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Program Pasca Sarjana. Indonesia. Abdul Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Saccharomyces dapat dijumpai pada daun tanaman. Percobaan Kpomblekou & Tabatabai (1994) menunjukkan bahwa besarnya P yang terlarut .com. Program Studi Ilmu Tanaman.

khususnya fungi jenis Aspergillus niger. Asam-asam organik tersebut antara lain: laktat. 2006). B. B. jamur dan aktinomisetes. Urutan kemampuan asam organik dalam melarutkan fosfat adalah: asam sitrat > asam oksalat = asam tartrat= asam malat > asam laktat = asam format = asam asetat. Achromobacter. Penicillium sp. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp.. Sedangkan kemudahan fosfat terlepas mengikuti urutan Ca3(PO4)2 > AlPO4 > FePO4. licheniformis. candidus. Sebagian besar asam tersebut merupakan asam lemah. oksalat. malat. apatit. Asam alifatik terdapat pada tanaman yang banyak mengandung selulosa. Terdapat lebih kurang 2000 jenis bakteri dan 50 jenis fungi yang terkait dengan proses perombakan selulosa pada pengomposan (Subba-Rao. asam amino dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung N (misalnya legum). Demikian juga asam aromatik dapat melepas P lebih besar dibandingkan asam alifatik. Schlerotium & Phialotobus. . Dari golongan jamur antara lain: Aspergillus niger. B. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. glukonat. sitrat. Trichoderma viridae. (3) tingkat dissosiasi asam organik. Beberapa mikroba tersebut dapat dijumpai di alam. Arthrobacter.memiliki korelasi dengan Ca dan Mg yang dilepaskan. Kecepatan pelarutan P dari mineral P oleh asam organik ditentukan oleh: (1) kecepatan difusi asam organik dari larutan tanah. A. cereus. harus mengandung 8 macam nutrisi. batuan P dan komponen Panorganik lainnya sebagai sumber P. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. asetat. (2) waktu kontak antara asam organik dan permukaan mineral. 1994). Penicillum. Konsentrasi yang agak besar dapat ditemukan pada mintakat (zone) tempat aktivitas mikrobia tinggi seperti rhizosphere atau pada longgokan seresah tanaman yang sedang mengalami proses perombakan (Yuwono. Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah bakteri. glikolat. merupakan bentuk antara (transisi). suksinat.. butirat dan malonat akan terbentuk selama proses perombakan bahan organik oleh mikrobia. alfa ketoglutarat. Pseudomonas. Fusarium. subtilis. megatherium. Kompos yang baik sebagai penyubur tanah dan dapat memperbaiki struktur tanah. Pelarutan P dalam tanah dapat ditingkatkan pada suasana pH rendah. hal ini membuktikan bahwa P tersebut semula terikat oleh Ca dan Mg. Meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu sekitar 10 mM. kadar Ca dapat ditukar rendah dan kadar P dalam larutan tanah rendah. Flavobacterium. Al dan Fe mineral tanah sehingga akan melepas P yang lebih besar. Micrococus dan Mycobacterium. (5) affinitas kimia agen pengkhelat terhadap logam dan (6) kadar asam organik dalam larutan tanah (Yuwono. B. Dari golongan bakteri antara lain: Bacillus firmus. (4) tipe dan letak gugus fungsi asam organik. FePO4. polymixa. sedang asam fenolik dihasilkan dari tanaman golongan herba (berbatang basah seperti bayam). B. Asam-asam organik yang mempunyai berat molekul rendah meliputi: asam alifatik sederhana. Asam organik yang membentuk komplek yang lebih mantap dengan kation logam akan lebih efektif dalam melepas Ca. namun karena terus menerus terbentuk maka peranannya menjadi penting. 2006). AlPO4. Menurut Alexander (1986) mikrobia dapat ditumbuhkan dalam media yang mengandung Ca3(PO4)2. dan Chaetomium sp. asam amino dan asam fenolik. Proses pembuatan kompos merupakan sistem kerjasama beberapa mikroba pemecah selulosa yang mempunyai ragam sifat fisiologis.

1986). sedangkan Aspergillus sp melarutkan 18 % (Chonkar dan Subba Rao. kalium (K) sebesar 0. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Kundu dan Gaur. Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996. bahwa kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan subtitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau.0-20% (Gaur. niger strain NHJ2 1 ml per biji. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot).8 kali. DAS (1963) melaporkan bahwa beberapa Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan Al-P dan Fe-P. Hutami et al. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. 1980 . Lestari (1994). 8 kali.04-0. dan serapan N dan P berturut-turut 7. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. aktivitas fiksasi N. Aspergillus ficum yang diteliti oleh Premono (1964)mampu meningkatkan ketersediaan P pada tanah sebesar 25 % dan mampu melarutkan bentuk-bentuk Ca-P dan Fe-P.35%. 1967). Indikasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jamur yang mempunyai spektrum lebar dalam melarutkan beberapa bentuk senyawa P yang ada di dalam tanah.3 kali. 1.14%. Seperti dikemukakan oleh Sastraatmadja dkk.039-1. dan serapan N dan P. 1977 .21% dan C/N ratio sebesar 9. dengan tujuan untuk mealrutkan endapan-endapan Ca-fosfat (Sen dan Paul. dan FePO4. niger.5%.0%. yakni lebih dari 10 kali lipat. (4) inokulasi R.. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha).yaitu: karbon (C) sebesar 19. dan G.0-40. magnesium (Mg) sebesar 0. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus candidus yang diteliti oleh Banik (1982) menunjukkan kemampuan yang jauh melebihi fosfobakterin dalam melarutkan Ca3(PO4)2. (3) inokulasi R. menguji Aspergillus niger menunjukkan bahwa mikroba tersebut sangat baik dalam memperbaiki penampilan pertumbuhan tanaman jagung sampai 8 minggu pertama. kanada. jenis jamur yang paling banyak diteliti adalah Aspergillus sp dan Pennicillium sp mampu melarutkan 26-40 % Ca3(PO4)2. Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum. Hasil penelitian Maningsih dan Anas (1996) menunjukkan jamur Aspergillus niger dapat meningkatkan kelarutan P dari AlPO4 sebesarn 135 % dan dapat meningkatkan P larut pada tanah ultisol sebesar 30. Penelitian dengan jamur sebagai mikroba pelarut fosfat telah banyak dilakukan. dan mesir. japonicum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. (1996) melakukan penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. fosfor (P) sebesar 0. Jenis jamur yang lain adalah Sclerotium dan Fusarium (Alexander. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P. 1982). Subba Rao. 1978). A. dan 10 kali. nitrogen (N) sebesar 2.4 % dibandingkan kontrol.0-2. 1957 . (2001). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. aktivitas penambatan N. margarita. Pemanfaatan jamur tanh yang lebih dominan pada pH rendah juga memperoleh perhatian peneliti tersebut. Penelitian jasad renik pelarut fosfat banyak dilakukan di India. . japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. sedangkan Aspergillus niger yang diteliti oleh Anas et al (1993) dan Lestari (1994) sangat baik dalam meningkatkan P larutan dari media batuan fosfat. AlPO4. (2) inokulasi R. Asam sitrat yang dihasilkan oleh Aspergillus awamori berperanan dalam pealrutan Ca-P.010.

Faktor pertama adalah inokulum fungi pelarut fosfat (Aspergillus niger) yaitu tanpa fungi pelarut fosfat (F0). 2000). Trichoderma viridae. Satu ose isolat mikroba pelarut fosfat diinokulasikan ke dalam 50 ml medium Pikovskaya cair secara aseptis. Pennicillium digitatum. Uji in vitro menggunakan medium Pikovskaya tanpa agar. populasi fungi pelarut fosfat dan P tersedia. Bogor. Selanjutnya kultur diinkubasi selama waktu tertentu (15 hari untuk fungi). (2000). Kemampuan melarutkan fosfat diukur berdasarkan peningkatan kadar P terlarut dibanding kontrol (Goenadi et al. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap P tersedia selama inkubasi enam minggu. Pengamatan dilakukan per dua minggu selama enam minggu inkubasi meliputi pH H2O. Sedangkan interaksi antara faktor yaitu inokulum fungi pelarut fosfat. antara lain yang paling menarik adalah kemampuannya untuk merangsang pertumbuhan tanaman. uji in vitro lebih sensiftif daripada uji indek pelarutan fosfat. Namun uji ini memerlukan bahan dan biaya yang lebih mahal daripada uji indek pelarutan fosfat. Faktor kedua adalah macam sumber C yaitu tanpa sumber C (B1). Tanah yang kami gunakan adalah tanah-tanah marginal (ultisol) yang kami ambil dari Cikopomayak. Aspergillus sp. Tanah ini . Parameter lain yang juga penting untuk diukur adalah pH dan bobot kering biomassa. dan Chaetomium sp. Tiap kombinasi diulang tiga kali. Oleh karena itu uji ini dilakukan setelah uji indek pelarutan fosfat dengan isolat yang lebih sedikit. Faktor ketiga adalah waktu inkubasi yaitu dua minggu pertama (W1).. 2004). Kombinasi perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan ketersediaan P tertinggi adalah pada perlakuan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg dan Chromolaena odorata pada dua minggu ketiga yaitu sebesar 41. bahan organik. harzianum DT 38 juga dapat digunakan untuk agen pendedali hayati penyakit yang disebabkan oleh Gonoderma. harzianum DT 38 ini memiliki beberapa keistimewaan. fungi pelarut fosfat 1x109 spora/kg (F1) dan fungi pelarut fosfat 2x109 spora/kg (F2). dua minggu kedua (W2) dan dua minggu ketiga (W3).Berdasarkan hasil penelitian Edson (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis inokulum fungi pelarut fosfat. Penelitian yang dilakukan oleh menggunakan percobaan faktorial dengan tiga faktor yang disusun dengan Rancangan Acak Lengkap. Chromolaena odorata 50 g/kg (B2). kab. dikocok denggan kecepatan 80 rpm pada suhu kamar. Grilicidia sepium 50 g/kg (B3) dan jerami padi 50 g/kg (B4). Aplikasi Trichoderma harzianum dan Aspergillus sp pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan/produktivitas tanaman terutama di tanah-tanah marginal. Berdasarkan hasil penelitian Goenadi et al.. Aspergillus niger. Kadar P terlarut diukur dengan metode spektofotometer. Isolat unggul lainya adalah Aspergillus sp yang merupakan fungi pelarut fosfat. Salah satunya adalah Trichoderma harzianum DT 38. 42.78 ppm (Baratha. aspergillus niger. scwanniomycetes occidentalis. Selain daripada itu T. Di akhir masa inkubasi kultur disentrifuse dengan kecepatan 72000 rpm selama 20 menit atau disaring dengan kertas saring Whatman No. Terdapat beberapa koleksi fungi unggul. Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. Penicillium sp.. Populasi fungi pelarut fosfat terbesar diisolasi pada media tumbuh GAGES dan GES. T. merupakan fungi pelarut fosfat yang paling efektif dalam melarutkan fosfat. Pada awal-awal ujicoba kami menggunakan tanaman jagung. sumber C dan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan ketersediaan P. Aspergillus sp ini sudah terbukti dapat melarutkan fosfat dari sumber-sumber yang sukar larut.

(3) pemupukan dengan pupuk organik Posmanik (produk dari PG Subang). Http://dasar2ilmutanah. Tanaman tampak lebih tinggi dan lebih segar daripada perlakuan-perlakuan yang lain. Universitas Sriwijaya. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Tanaman jagung yang diberi pupuk kimia standar terlihat tumbuh lebih baik daripada kontrol.com. Tanaman jagung seperti hidup segan mati tak hendak. Bahan Ajar Online. Program Magister (S2). Meskipun dosis pupuk ditingkatkan saya duga pertumbuhan tanaman tetap tidak optimal. Sebenarnya kami juga melakukan perlakuan kontrol untuk masing-masing mikroba. Tanah ini terkenal sangat miskin.blogspot. harzianum DT 38 dan Aspergillus sp). Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Diposkan oleh Dr. dan (4) pemupukan Posmanik + inokukum mikroba (T. A. Dari pertumbuhannya sangat jelas bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang sangat sangat miskin. terutama kandungan bahan organiknya yang rendah. tanaman apapun yang ditanam sulit tumbuh dan produktivitasnya pun sangat rendah. Program Pasca Sarjana. kandungan bahan organik rendah. 2009. Ir. Perlakuan keempat dengan menambahkan T. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. Posmanik ini adalah salah satu pupuk organik yand dibuat dari limbah pabrik gula. Universitas Sriwijaya. Palembang. Indonesia.Perlakuan kontrol untuk menguji tanah yang digunakan. Perlakuan antara lain: (1) kontrol tanpa pemupukan sama sekali. pertumbuhan tanaman ini sangat tidak optimal. (2) pemupukan standar dengan pupuk kimia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. . Bukit Besar. Meskipun sudah diberi pupuk yang cukup. Program Magister (S2). Program Pasca Sarjana. ** Program Studi Ilmu Tanaman.memiliki karakteristik antara lain: bersifat masam. Tumbuhnya lebih mirip rumput daripada tanaman jagung.Perlakuan ketiga dengan menggunakan Posmanik memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Namun demikian. MS di 21:16 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 5) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 5 dari 6 Tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Ini juga mengindikasikan bahwa tanah tersebut memang tanah yang sangat marginal. Sumatera Selatan. harzianum dan Aspergillus sp pada perlakuan A ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan jagung. Meskipun demikian pertumbuhannya juga belum optimal. Bukit Besar. Sumatera Selatan. dan kapasitas tukar kationnya rendah. Palembang.

Namun. disertakan dalam pupuk organik atau disalutkan pada benih yang akan ditanam. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen. Pupuk hayati atau lebih dikenal dengan nama pupuk mikroba telah banyak beredar di pasaran dan beberapa daerah mulai digunakan oleh petani. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara yang diperlukan. Mikrobia yang digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer) dapat diberikan langsung ke dalam tanah.130. dapat digunakan bahan organik seperti gambut. Umumnya digunakan mikrobia yang mampu hidup bersama (simbiosis) dengan tanaman inangnya. dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Tombe. (Bagian 5 dari 6 Tulisan) V.11. menyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat. Program Pasca Sarjana.1998 digolongkan kedalam kelompok pupuk alternatif. Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar. dan kompos. arang. memperbaiki struktur tanah. pelarut. selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. vermikulit. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi pada pengembangan bioteknologi. sekam. TEKNOLOGI PUPUK HAYATI Pupuk hayati adalah mikrobia ke dalam tanah untuk meningkatkan pengambilan hara oleh tanaman dari dalam tanah atau udara. sedangkan mikrobia mendapatkan bahan organik untuk aktivitas dan pertumbuhannya. Pupuk mikroba bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Pupuk hayati banyak dimanfaatkan petani untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan ke biji. Bukit Besar. R. Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. Sumatera Selatan. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. biakan cair. 2008). Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak. tanah. mikroorganisme telah lama dimanfaatkan. Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah . Di Indonesia. dan juga pada minuman. Palembang. pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Universitas Sriwijaya.*** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. biakan kering. dan tepung. Program Magister (S2). Penggunaan yang menonjol dewasa ini adalah mikrobia penambat N dan mikrobia untuk meningkatkan ketersedian P dalam tanah. Sebagai bahan pembawa inokulan tepung. mempercepat proses pengomposan. terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit. atau zeolit. biakan kering beku. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No.760. atau ketempat pengomposan. menekan soil-borne disease.

Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba. baik berupa bakteri maupun jamur. Selain itu. Di Indonesia. inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh. Balai Penelitian Tanah telah merintis penelitian untuk mengetahui syarat-syarat mutu atas pupuk mikroba yang boleh beredar dipasaran (Tombe. perlu diamati label pada kemasan yang mencantumkan nama genus serta jumlah mikroorganisme. maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun. fumarat. Jumlah tersebut dapat berkurang karena suhu yang tinggi. 2008). karena bakteri tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. dan lakukan pengujian efektivitas pupuk tersebut (Tombe. kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani (Tombe. Mikroba membantu tanaman mencerna hara lebih banyak. sehingga tanaman berkembang lebih kuai dan sistem perakaran lebih luas. Mulai tahun 2004. dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran. sitrat. Pemanfaatan mikroba pelarut fosfat merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. sampai saat ini baku mutu atas pupuk mikroba yang beredar baru untuk inokulan Rhizobium. Dengan mempertahankan kelembaban. Pada penggunaan inokulan bakteri Rhizobium. glikolat. laktat. Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Syarat jumlah populasi mikroorganisme yang terkandung dalam suatu produk berbeda untuk tiap negara. Pada pengujian pupuk mikroba. 80% dari fosfat yang diaplikasikan juga akan terikat dan tidak dapat diman Pemecahan Masalah nyerap sumber energi penting dan sebaliknya. dan ketoglutarat. Sekitar 90% fosfat dalam tanah terleh tanaman dan 2 hingga 6 minggu setelah pemupukan. Afrika Utara dan Taiwan mensyaratkan sekitar 108 sel/g. Mekanisme pelarutan fosfat dari bahan yang sukar larut oleh aktivitas mikroba pelarut fosfat banyak dikaitkan dengan kemampuan mikroba yang bersangkutan dalam menghasilkan enzim fosfatase. tanaman menyumbang hasil sampingnya untuk makanan mikroba. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tinggi. dan asam organik hasil metabolisme seperti asetat. sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. artinya mikroorganisme yang terdapat dalam prduk tersebut tidak dapatdiidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Fosfor memegang peran penting dalam transportasi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain peka terhadap suhu tinggi mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. suksinat. Berdasarkan tingkat kelembabannya yang cukup tinggi. Proses utama pelarutan senyawa fosfat sukar larut karena adanya produksi asam . lartrat. Sebagian Besar fosfat dalam tanah tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. seta jenis tanaman yang cocok. 2008). oksalat. Sistem monitorig dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah. gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis. Propionat. 2008). tanggal kadaluwarsa.melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. tetapkan kelembapan bahan pembawa. Australia mensyaratkan sekitar 107-108 sel/g dengan batas kadaluwarsa 2 bulan. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. sedangkan untuk jenis pupuk mikroba lainnya belum ada. cara penyimpanan. jenis. Stase. Lakukan pengujian atas jenis dan jumlah mikroorganisme yang terkandung dengan metode platecoun.

ma meningkatkan serap 100 kg F Aplikasi BioPhos pada kedelai di tanah hingga 60%.organik dan sebagian asam anorganik oleh mikroba yang dapat berinteraksi dengan senyawa fosfat sukar larut serta melarutkan fosfat dari kompleks A!-. dan babkan meningkatkan keamanan terhadap aplikasi hara lainnya./ha tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan pemupukan 100 kg P. Sulawesi Selatan dengan kombinasi pemupukan 100 kg/ha urea.1).pjha meningkatkan tingkat infeksi mikoriïa hingga 171. yaitu mikroba pelarut fosfat.0. 50 kg P. serta akan meningkatkan serapan fosfat tanaman dan hasilnya.28 ugfrnl (pH 2.60 ug/ml (pH 4.85ug/ml (pH 5.47) hingga 394. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang dipupuk dengan 50 kg P. Interaksi antara BioPhos dengan pupuk P. Serta meningkatkan ketahanan hidup mikroba tanpa mempengaruhi keefektifannya. dan senyawa organik alami pemacu pertumbuhan tanaman. Aplikasi BioPhos pada kedelai yang diinokulasi pupuk P (batuan-P) 50 kg P. Aplikasi BioPhos dengan kombinasi dosis pemupukan meningkatkan hasil kedelai sebesar 28. Fe-.Suatu teknologi irajj telah ditipiskan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan menggunakan pupuk mikroba pelarut fosfat (BtaPhM). dan meningkatkan serapan P tanaman. mempermudah membuat fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. bobol kering tanaman.iha terhadap jumlah dan bobot segar bintil akar. Aplikasi BioPhos pada kentang (200 g per 20 I). serapan nitrogen dan fosfat tanaman Serapan nitrogen dan fosfat tanaman meningkatkan BioPhos. Demonstrasi plot aplikasi BioPhos pada kedelai dan padi di 12 lokasi transmigran di Lámbale. jagung dan padi (200 g per 20 kg benih] menurunkan penggunaan pupuk NPK yang direkomendasikan hingga 75%. Peningkatan efisiensi fosfat juga berarti suatu kesempatan aplikasi antara lain BioPhos mengandung lebih dari satu fungsi kelompok mikroba. dan Ca./ha (23. dengan kala lain meningkatkan kesuburan Hasil Penelitian BioPhos merupakan campuran mikroba efek Micmcoccus spp. dan mlkoriza Glomus manjbolis yang dilengkapi dengan formulasi bahan pembawa yang sesuai.0.32% dan 16% pada padi. memobilisasi. 50 kg/ha SP36. Teknologi ini tidak hanya terhadap peningkatan basil tanaman. Grt 3. Fungi pelarut fosfat terpilih mampu meningkatkan pelarutan fosfat hingga 245 kali dari kontrol (tanpa inokulasi) 0. BioPtios dioptakan jntuk melepas fosfat yang terikat di dalam tanah mau pun dan pupuk fosfat yang diaplikasikan.59%). Mn-.78% dibandingkan dengan aplikasi 100 kg P.0. Pemanfaatan BioPhos di tanah masam-Al atau tanah sawah jenuh fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat baik dari fosfat yang diaplikasikan maupun dari dalam tanah. mikoriza.5% dan padi 4% dari dosis rekomendasi. Aspergillus niger NHJ2. Bahkan aplikasi BioPhos pada padi tanpa pemupukan dapat meningkatkan hasil hingga 43% Nilai Tambah Teknologi Biophost merupakan pupuk mikroba pelarut fosfat yang dapat mensubstitusi sebagian pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman melalui kemampuannya melarutkan fosfat yang sukar larut menjadi tersedia bagi tanaman.65) hingga 147. yaitu rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba untuk menjamin peningkatan populasi mikroba dan menekan kontaminasi dari mikroba yang tidak dikehendaki selama penyimpanan dan transportasi. tetapi juga peningkatan efisiensi pemupukan P.56 ug/m! (pH 6. Teknik bioteknologi telah berhasil diterapkan daiam teknologi produksinya.0. Sehingga .9) dan bakteri pelarut fosfat 154 kali dari kontrol 2. dan 50 kg/ha KCl meningkatkan hasil kedelai sebesar 12.

5. Variasi indek pelarutan fosfat dipengaruhi oleh beberapa hal. Hanya separuh dari dosis pupuk kimia yang dibutuhkan. dan Vlek (1996). 3. Indek pelarutan fosfat ini berdasarkan pada metode yang dijelaskan oleh Premono. Dari pengenceran ini diperoleh seri pengenceran 10 ext-2.85% NaCl) steril dan dikocok selama 24 jam atau semalam. Petani akan dapat menikmati penurunan biaya pemupukan dan kenaikan hasil produksi. minimal duplo. – 8. dan actinomicetes. 8. Setiap perlakuan dilakukan dengan beberapa ulangan. Cawan digoyang agar sample dan media tercampur merata. Mikroba pelarut fosfat (MPF) umumnya diisolasi dari contoh tanah. sehingga pertumbuhannya terhambat oleh bakteri. Konsentrasi fosfat. Inkubasi dalam posisi terbalik selama beberapa hari. Indek pelarutan fosfat sesuai digunakan untuk screening awal mikroba pelarut fosfat. khususnya isolat fungi. Medium agar Pikovskaya yang masih cair (suhu kurang lebih 50oC) dituangkan ke dalam cawan. Biasanya menggunakan antibiotik (antibakteri) apabila akan mengisolasi fungi. Buat medium agar Pikovskaya. Prosedur umum untuk mengisolasi MFP adalah sebagai berikut: 1. -2 ditambahkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis dan dikocok/diaduk hingga tercampur merata. – 6 s/d 10 ext. Setelah diperoleh MPF segera dipisahkan dan dimurnikan di dalam medium Pikovskaya yang lain. sedangkan fungi baru mulai tumbuh setelah 1 – 2 minggu. -4. Indeks pelarutan fosfat adalah perbandingan antara diameter zona jernih dibagi dengan diameter koloni. Satu ml larutan dari pengenceran 10 ext. 2. untuk menuang medium ini ke dalam cawan .dapat rnenghemat penggunaan pupuk kimia. Tujuan pengocokan ini agar diperoleh lebih banyak isolat. bakteri. Ulangi langkah di atas secukupnya. Metode ini mudah dan murah untuk dilakukan. Satu gram contoh tanah dimasukkan ke dalam 99 ml larutan garam fisiologis (0. Fungi umumnya kalah cepat tumbuhnya dengan bakteri. Secara aseptis 1 ose (untuk bakteri) atau satu cuplikan kecil dengan diameter 8 mm untuk fungi diinokulasikan ke atas media Pikovskaya. 4. 6. Sastro (2001) menunjukkan bahwa jamur Aspergilus niger dapat dipeletkan bersama dengan serbuk batuan fosfat dan bahan organik membentuk pupuk batuan fosfat yang telah mengandung jasad pelarut fosfat. 7. MPF yang umum didapatkan antara lain dari kelompok fungi. Moawad. Isolat bakteri dan actinomicetes biasanya segera tumbuh pada umur 2 – 3 hari. bahkan aplikasi BioPhos ¡uga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan N dan K. AlPO4 tidak larut dalam air. Pengenceran terus dilakukan hingga seri pengencera 10 ext. Tetapi jika tidak hati-hati metode ini bisa menimbulkan bias. Isolat diinkubasi selama beberapa hari. Mikroba yang dapat melarutkan fosfat akan membentuk zona bening di dalam medium Pikovskaya. Aspergillus niger tersebut dapat bertahan hidup setelah masa simpan 90 hari dalam bentuk pelet. antara lain: 1. Tanpa antifungi fungi pelarut fosfat sulit diperoleh. Langkah ini diperoleh pengenceran 10 ext. Satu ml dari setiap seri pengenceran yang telah dibuat dimasukkan ke dalam cawan petri steril.

Ketebalan agar di dalam cawan juga akan mempengaruhi zona jernih. sehingga zona jernihnya juga terpengaruh 2. Produk PHE dihasilkan dalam bentuk granul (butiran) berwarna putih keabuan dengan diameter 2-3 mm melalui proses granulasi. Keunggulan PHE dari pupuk hayati lainnya yaitu mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui penurunan dosis (Goenadi et al. fosfatase. Mikroba sebagai bahan aktif tetap efektif sampai masa simpan .petri perlu digoyang-goyang terlebih dahulu. 2000). 3. Pupuk Hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) Pupuk hayati adalah pupuk yangmengandung bahan aktif mikroba yangmempu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses penyediaan unsure hara dalam tanah. Melalui aplikasi pupuk hayati. misalnya: fungi. Aeromonas punctata sebagai bakteri pemantap agregat dan Aspergillus niger berupa fungi pelarut fosfat. Misalnya. Azotobacter beijerinckii bakteri pemantap agregat dan penambat N-bebas. 1995). pelarut unsur hara dan pemantap agregat mikro di dalam tanah. bakteri. Enchancing Microbial Activities in The Soils (EMAS) adalah pupuk hayati (biofertilezer) berbahan aktif bakteri penambat N-bebas tanpa bersimbiosis dengan tanaman. (2000). Ada mikroba yang tumbuh dengan cepat dan ada mikroba yang tumbuh lambat. mikroba pelarut fosfat dan kalium serta pemantap agregat tanah. sehingga dapat diserap tanaman. Salah satu jenis pupuk hayati adalah pupuk hayati EMAS (Enchancing Microbial Activities in The Soils) atau PHE. asam organik dan atau polisakarida ekstra sel. Diintroduksinya jenis mikroba dalam PHE ke dalam tanah diharapkan berlangsung optimal. efisiensi penyediaan hara akan meningkat sehingga penggunaan pupuk anorganik bias berkurang. Senyawa-senyawa metabolit sekunder tersebut sangat berperan dalam pengikatan n bebas.. Goenadi et al. Indek Penicillium sp lebih besar dari Aspergillus sp. PHE mengandung mikroba sebagai bahan aktif yang mempunyai peranan tersendiri yaitu : Azospirillum lipoverum berupa bakteri penambat N bebas . Beberapa hal di atas akan sangat mempengaruhi hasil analisa statistik oleh karena itu harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan. AlPO4 di agar yang lebih tebal tentunya lebih sulit untuk dilarutkan daripada di agar yang tipis. Penicillium sp umumnya memiliki diamater koloni yang lebih kecil daripada Aspergillus sp. (Goenadi. 4. mengemukakan bahwa mikroba inokulan yang dikemas dalam PHE akan menghasilkan enzim nitrogenase. Ada kemungkinan bahwa konsentrasi AlPO4 tidak seragam. Kecepatan pertumbuhan mikroba. Pupuk hayati juga membantu usaha mengurangi pencemaran lingkungan akibat penyebaran hara yang tidak diserap tanaman pada penggunaan pupuk anorganik. Indek pelarutan fosfat kurang sesuai untuk membandingkan antar kelompok mikroba. Statistik tidak bisa memisahkan variabel-variabel ini. Data-data indek pelarutan fosfat umumnya di analisis dengan metode statistik. Ketebalan agar. Sesuai untuk membadingkan satu kelompok mikroba. A. dkk. dan aktinomicetes. tetapi kemampuannya melarutkan fosfat in vitro Penicillium sp lebih kecil daripada Aspergillus sp.

Iman Rohiman (2006) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 5 g PHE + 50 % dosis pupuk anorganik memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan luas daun. kedelai. PHE dirancang untuk membantu penyediaan unsur hara yang terikat kuat di dalam tanah. ketersediaan hara di dalam tanah. (1997). dan cendawan pelarut hara dengan formulasi bahan pembawa yang mengandung senyawa organik alami pemacu tumbuh dan unsur mikro yang diperlukan oleh mikroba dan tanaman. dkk. B. Hasil percobaana Goenadi. Pupuk Hayati (BIO-LESTARI) Formula BIO-LESTARI diramu khusus untuk penyuburan lahan pertanian. dan sengon (12) Meningkatkan mutu bibit tanaman sengon (13) Tidak mudah terkontaminasi dengan mikroba lain Keuntungan (1) Menghemat pemakaian pupuk (2) Menghemat pestisida (3) Tidak merusak tanah dan aman lingkungan Cara Penggunaan (1) Basahi benih dengan air secukupnya (gunakan wadah yang bersih) (2) Taburkan 1 (satu) kantong BIO-LESTARI pada benih yang telah dibasahi sampai melekat rata dan segera tanam (3) Pencampuran dilakukan di tempat yang teduh . Manfaat dan keunggulan dari pupuk hayati bio-lestari : (1) Merangsang pembentukan nodul (2) Meningkatkan daya tambat nitrogen (3) Meningkatkan P-tersedia dalam tanah (4) Meningkatkan kesuburan tanah (5) Meningkatkan efisiensi pemupukan (6) Meningkatkan keberlanjutan sistem produksi (7) Mengefisienkan sistem pengiriman (8) Merangsang aktivitas mikroba rizosfir (9) Memperlebat dan memperkuat perakaran (10) Memperkokoh dan memperkuat tanaman (11) Efektif untuk kacang tanah. menunjukkan bahwa pemupukan 50 kg/ha PHE dan 50 % dosis pupuk anorganik menghasilkan produksi tanaman karet (lateks) yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik saja. 1995)..12 bulan (Goenadi et al. BIO-LESTARI merupakan campuran bakteri pembentuk nodul pada tanaman kacang-kacangan. bobot kering bibit. dan menaikkan efisiensi pemakaian pupuk. Mikroba penyubur BIO-LESTARI mampu meningkatkan kemampuan nodulasi tanaman kacang-kacangan. dan volume akar. penambat nitrogen bebas.

50 kg KCl). MK 1999. japonicum. jumlah polong isi. Berdasarkan hasil penelitian Kaji terap BIO-LESTARI pada kacang tanah di Kabupaten Sumedang (Latosol. Pupuk ini mengandung populasi sel bakteri penambat N2 non-simbiotik 107-108. 8 kali. Pengaruh BIO-LESTARI terhadap jumlah dan bobot bintil akar. simpan BIO-LESTARI di bawah suhu <20oC dan jauh dari sinar. 2000). margarita. Rhizobium 108-109. Perhatian dari penggunaan pupuk bio-lestari ini adalah Jangan tercampur dengan pupuk kimia. dan serapan N dan P berturut-turut 7. niger. Al-dd 1. (3) inokulasi mikoriza (tanpa mikoriza dan dengan Glomus manihotis 59 g per pot). (2) inokulasi R. (2) fungi pelarut fosfat (tanpa fungi dan dengan A. diameter batang. niger strain NHJ2 1 ml per biji. aktivitas fiksasi N. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Januari 1995 sampai Juli 1995. Sehingga penggunaan fungi pelarut P dan mikoriza dapat menghemat 50 persen pemupukan P (Hutami. dan serapan N dan P. serapan N dan P serta jumlah dan bobot kering bintil akar kedelai yang diinokulasi BIO-LESTARI (45 HST) di rumah kaca Cikeumeuh.209 me/100g). Pengaruh pemberian BIO-LESTARI dan variasi takaran pupuk NPK terhadap bobot kering tajuk. Sebagai perlakuan adalah: (1) pemupukan dengan bantuan fosfat (50 kg P2O5/ha dan 100 kg P2O5/ha). Sebagai perlakuan adalah: (1) inokulasi Rhizobium japonicum.3 kali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan tiga ulangan. dan indeks mutu bibit sengon (Paraserianthes falcataria). dan 10 kali. aktivitas penambatan N. japonicum dan mikoriza Gigaspora margarita. Telah dikembangkan pupuk mikroba pelarut fosfat yang disebut "Bio-Fosfat" yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan sampai 50 persen (dari rekomendasi pemupukan P 100 kg/ha menjadi 50 kg/ha). Penelitian kedua dilakukan pada bulan September 1995 sampai dengan Januari 1996.5. Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P 50 kg P205/ha dengan 100 kg P2O5/ha pada pertumbuhan kedelai. jangan digunakan lagi bila melebihi masa kadaluwarsa. japonicum dan fungi pelarut fosfat Aspergillus niger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi fungi pelarut fosfat dicampur dengan mikoriza meningkatkan pertumbuhan kedelai. bobot kering total. jumlah bintil akar. dan hasil biji tanaman kedelai pada tanah Podsolik Merah Kuning Lampung (tanpa pengapuran.Dosis dan kandungan mikroba Satu kantong standar berisi 40 g BIO-LESTARI untuk pertanaman 2000 m2 atau 200 g/ha. A. dan G. dan mikoriza berfungsi sebagai fasilitator penyerapan P. pada lahan masam diperlukan pengapuran secukupnya sampai pH 5. tinggi tanaman. (3) inokulasi R. bobot kering akar.8 kali. serapan N dan P tanaman. Digunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. MK 1997. dan fungi pelarut fosfat 104-105 propagul per g bahan pembawa. . (4) inokulasi R.96. Pupuk Hayati Bio-fosfat Biofertilizer/Penggunaan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza bertujuan untuk menghindari masalah rendahnya P tersedia di lahan sawah dan lahan masam. Rata-rata bobot kering tanaman. 1. pH 3. Dua penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan di Rumah Kaca Balitbio Bogor. dosis anjuran 50 kg Urea/ha. 100 kg SP-36/ha. Mikroba pelarut P maupun melarutkan P yang tidak tersedia dengan mengeluarkan asam organik. C.

K = 1700 ppm . yang mempunyai tujuan untuk meringankan beban petani dengan masalah biaya produksi pertanian sekarang ini sangatlah mahal. C organik = 0.70 ppm . Kandungan TIENS GOLDEN HARVEST1. Pb. Migro Plus . Salmonella Sp ) telah dipersiapkan serta dirancang untuk pembangunan dunia pertanian yang berkelanjutan. Azospirilum sp4. mengandung hormon tumbuh indole acetic acid serta mikroba indigenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. suatu inokulan campuran yang berbentuk cair.7 ppm Tiens Golden Harvest adalah sebuah Teknologi modern sebagai Pupuk penyubur tanah dan tanaman. Mn = 0. dan mikroba pendegrasi selulosa. Fe = 44. Azobacter sp2. Zn = 3. Cu = 0.23 ppm . Bahwa perpaduan TIENS GOLDEN HARVEST dengan pupuk kimia aka selalu dicari dan dibutuhkan petani karena sudah terbukti dan teruji ( menjaduikan produktivitas tinggi dan ramahlingkungan). Cd dan Mikroba Patogen. Mikroba dan enzim tersebut dapat bekerja secara maksimal dan dapat mengubah unsur hara yang tadinya sulit untuk diserap tanaman menjadi unsur hara yang mudah diserap oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk menjadi sangat efisien.3 ppm .D. Azotobacter. Hg. Lactobacillus sp6.Lukman Gunarto MSc. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum.85 ppm .Ir. mikroba pelarut P. Keunggulan dan Keuntungan dari Tiens Golden Harvest : (1) Biaya produksi efisien (2) Hasil panen optimal (3) Dipadukan dengan pupuk kimia bisa menghemat sebesar 40% s/d 50% (4) Mengurangi timbulnya gulma pada tanaman padi (5) Dapat memecah pestisida dengan residu s/d 0% (6) Penampilan tanaman lebih sehat dan segar (7) Kesuburan lahan terjaga E. N = 0. Lactobacillus. Teknologi ini adalah asli Indonesia yang merupakan hasil riset bertahun-tahun dari seorang ahli biologi tanah yang bernama Dr. Mikroba Pendegradasi Selulose5. Mikroba pelarut fosfat3. yang tidak kenal lelah untuk mengembangkan dan mengenalkan teknologi ini. serta telah banyak dipakai oleh banyak pembudidaya BELUT dan terbukti dapat mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan juga mempercepat proses pada persiapan media budidaya BELUT dan pemeliharaanya.04 % .92 % . Tiens Golden Harvest TIENS GOLDEN HARVEST berbahan akktif Mikroba Indegenous asli Indonesia ramah lingkungan (tidak mengandung logam berat As. Produk ini Sudah teruji Dan terbukti mampu menghemat biaya produksi pertanian sampai 40% dan sanggup meningkatkan produksi atau hasil pertanian antara 15% hingga 70%. Pseudomonas spp = 34. Dengan menggunakan pupuk hayati Tiens Golden Harvest yang dibuat dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI).

Menurut penelitian Dr. yaitu menggunakan Mikroba strain terbaru yang bekerja lebih efektif dan efisien. pelarut P dan pendegradasi selulosa tidak cukup untuk mengambil unsur-unsur tadi atau dengan kata lain. dimana pada fase tersebut tanaman membutuhkan hara yang cukup untuk tumbuh kembangnya. juga terdapat mikroba Pseudomonas sp. yaitu : pupuk hayati MiG-6PLUS. melepaskan P yang terikat di dalam tanah. Penggunaan MiG-6PLUS tidak boleh . Jadi lahan pertanian tetap harus diberikan Pupuk (kimia atau kandang). 3 kali aplikasi akan menghasilkan Nitrogen (N2) sebesar 90 kg atau sebanding dengan 200kg Urea. apabila pada fase tersebut tanaman kurang mendapat pasokan hara. unsur N. P dan K tidak dapat diambil dengan jumlah yang seharusnya dapat diambil oleh mikroorganisme tersebut. ada yang berfungsi sebagai penambat N. Hasil dari pendegradasian tersebut. populasi mikroba untuk menambatkan N. dan menguraikan bahan organik yang terdapat di tanah. Bahan baku yang digunakan sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. sehingga kebutuhan hara oleh tanaman menjadi tidak terpenuhi Karena pada tanaman padi terdapat fase pertumbuhan. Lukman Gunarto. sehingga unsur P dapat dimanfaatkan oleh tanaman. yang sangat dibutuhkan dalam proses penyuburan tanah secara biologi antara lain Azospirillum sp. kimia (pupuk kimia maupun kandang) dan biologi (mikroorganisme). Kemasan yang digunakan eksklusif (tidak ada di pasaran). karena mikroba tersebut akan melarutkan/melepaskan ikatan Phosphat dalam mineral liat tanah. penambat Nitrogen dari udara. mikroba inilah yang akan menambatkan N dari udara. hal inilah yang menjadi acuan mengapa setelah menggunakan MiG-6PLUS dapat menghemat penggunaan pupuk kimia. tetapi penggunaanya dikurangi sampai dengan 50% dari biasanya (pertanian konvensional. Produk-produk yang menggunakan teknologi terbaru ini adalah produk yang diproduksi oleh MiG corp. pembentukan anakan dan primordial. mikroba pelarut P. Kandungan P di tanah Indonesia menurut hasil penelitian para ahli tanah adalah masih banyak atau jenuh karena unsur tersebut masih terikat oleh mineral liat tanah. sampai ke tangan konsumen lebih terjamin. tanpa MiG-6PLUS) Perlu diketahui bahwa kandungan udara di sekitar kita adalah 79% Nitrogen dan 21% Oksigen. akan mendapatkan K dan unsur lain. Hormon tumbuh berfungsi untuk memacu pertumbuhan akar serabut sehingga penyerapan hara menjadi optimal. Lactobacillus sp. Menggunakan mikroorganisme dengan strain terbaru. dipastikan hasil yang akan diperoleh dari tanaman tersebut akan kurang baik. Mikroba yang terdapat dalam MiG-6PLUS. bakteri ini berfungsi mendegradasi selulosa yang berasal dari jerami. Disinilah fungsi dari mikroba pelarut P tersebut. dan mikroba pendegradasi selulosa serta Pseudomonas sp. Hormon tumbuh Indole Acetic Acid serta mikroba indegenous (mikroba tanah setempat) asli indonesia. Lahan pertanian yang ideal harus memenuhi syarat kesetimbangan. Kemudian terdapat juga bakteri selulolitik.Teknologi yang digunakan adalah generasi terbaru. yang berfungsi untuk menguraikan residu pestisida yang jatuh di tanah. sehingga keaslian produk MiG corp. Azotobacter sp. Migro Tambak dan probiotik Migro Suplemen. probiotik MiG ternak. jadi tidak dapat termanfaatkan langsung oleh tanaman. Proses produksi dengan kontrol kualitas yang sangat ketat oleh orang-orang yang ahli pada bidangnya. yaitu unsur fisik (bajak/cangkul). Apabila setiap aplikasi kurang dari 2 liter MiG-6PLUS per hektar. menggunakan 6 liter MiG-6PLUS pada 1 Ha lahan sawah. daun-daun atau bahan-bahan organik lain. P sebesar 50kg atau sebanding dengan 100kg SP36/TSP dan K sebesar 50kg atau sebanding dengan 83kg KCL.

Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Bukit Besar. Karena kandungan yang terdapat dalam MiG-6PLUS merupakan mahluk hidup. cukup disemprotkan pada tanah atau media tanam lainya atau disiramkan disekitar akar tanaman dengan dosis tertentu. (Bagian 6 dari 6 tulisan) VI. ** Program Studi Ilmu Tanaman. Bersambung ke bagian 6 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009.dicampur dengan bahan-bahan kimia dan dilarutkan dengan air PAM (mengandung kaporit). A. Palembang. . Caranya sangat mudah. Palembang. akan menyebabkan tidak optimalnya mikroorganisme tersebut bekerja.com. apabila penggunaannya disatukan dengan bahan-bahan kimia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Studi Ilmu Tanaman. KESIMPULAN (1) Fosfat merupakan unsur hara makro essensial untuk pertumbuhan tanaman kedua setelah N dan merupakan faktor pembatas dalam produksi tanaman. Tidak masalah. Palembang. dosis yang dianjurkan adalah 10ml pupuk hayati MiG-6PLUS dengan maksimum 2 liter air. Program Magister (S2). apabila dosis yang diberikan terlalu banyak tidak akan membuat tanaman itu sakit. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Produk-produk yang di keluarkan MiG corp. Malahan tanaman menjadi semakin subur. Bukit Besar. Indonesia. Diposkan oleh Dr. Program Pascasarjana. rusak atau mati.blogspot. Program Pasca Sarjana. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. Program Magister (S2). Indonesia. MS di 21:08 0 komentar Label: Biologi Tanah TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagian 6) Teknologi Pupuk Hayati Fungi Pelarut Fosfat (FPF)* Oleh: Rodiah** dan Madjid*** (Bagian 6 dari 6 tulisan) Keterangan: * Makalah Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati pada Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. telah dikhususkan untuk budidaya tertentu agar hasil yang didapatkan menjadi optimal seperti: pupuk hayati MiG-6PLUS khusus untuk pertanian. Ir. *** Dosen Pengasuh Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Program Magister (S2). Bahan Ajar Online. Bukit Besar. Universitas Sriwijaya.

R. (4) Penggunaan pupuk hayati bertujuan untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis untuk meningkatkan ketersediaan hara. D..C. 13 : 749-752.. Madison. A. Pusat Antar Universitas IPB. G. The fungal community: Its organization and Role in the Ecosystem. E. and Wicklow. 1992. Microbial. Barea. John Wiley and Sons. Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi Terhadap Ketersedian P Pupuk Fosfat Alam. Rosario Azcón Jose M.T. 1995. Penicillium sp. Chapman & Hall. P. Publ. and M. and Schweizer. 111-149. Schlerotium & Phialotobus. VII.J.J. DAFTAR PUSTAKA Anas. M. Available phosphate content of an alluvial soils as influenced by inoculation of some isolated phosphate-solubilizing microorganism. USA... Introductory Mycology (4th Ed). Trichoderma viridae. London. 1996. Blackwell. 1997. D. 1-44 pp. Hubungan Antarainokulasi Fungi Pelarut Fosfat. Orivaldo J. New York. C.. Souchie. Plant soil 60 : 353-364. Phosphate Solubilizing by fungi associated with legume root modules. C.T. candidus. Chonkar and Subba rao. and Hellums. Edson L. L.. M. Fungal Ecology.(2) Mikrobia yang berperanan dalam pelarutan fosfat adalah jamur antara lain: Aspergillus niger. SSSA. 334-337. Mims. Replenishing soil fertility in Africa SSSA Spec. Canadian. Building soil phospharus capital in Africa. and Webster. sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Bogor. 1982. fungi and arbuscular . In. 1967.. (eds). Aspergillus niger. scwanniomycetes occidentalis. R. Carroll. 1999. Dix. P.. Marcel Deker. Communities of P-solubilizing bacteria. New York. dan Chaetomium sp. Widyastuti.. Penicillum. J. R. Campello. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Premono dan R. Pennicillium digitatum. WI. J. 51. J. J.C. Buresh. 868p. Alexopoulos. Eliane M. aspergillus niger.C. Sedangkan dari golongan aktinomisetes adalah Streptomyces sp. S. N. (3) Mikroorganisme pelarut fosfat mampu mengubah senyawa fosfat anorganik tidak larut menjadi bentuk terlarut yaitu Aspergillus awamori. PA. Peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan mikroorganisme pelarut P. Fusarium. Dhandhun Baratha. 2006. Inc. J. Smithson. S.W. Saggin.R. Dickinson. The metabolism and molecular physiology of Saccharomyces cerevisiae. 2004. Philadelphia. I. Buresh et al. Eduardo F.W. 1993. Baniks.J.

Phosporus mineralization and organic matter decomposition: A critical review. Fakultas Pertanian. S.). Sunarlim.. University of Missouri Columbia Extension Division. Frankland.E.F. 193 pp. Anas. RJ – Brazil. Hawksworth. Cambridge. 6-7 Aug 1996 (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Institut Pertanian Bogor. A. New York.br/scielo. D. United Kingdom. . 1996.N. P. Plenum Press.Fertilizer [Biosol-P] www. B. In. R. 641-655. the fungal dimension of biodiversity: magnitude. E. 14 : 31-36.C. F. N. Giller and G. 588 pp.E. 1997.L.mycorrhizal fungi in grass pasture and secondary forest of Paraty. R. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 1994. D. New York. 1991. Lestari.H. Jenis pupuk P.I.php?script=sci_arttext&pid=S0001-37652006000100016 Gressel. Skripsi. 1989. Fusarium Species: An Illustrated manual of identification. USA. Bogor.. H. 2000.J. Kirk. Mycology research 95.K.S. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks with a Phosphorus-Solubilizing Fungus. Wallingford. D.html Joffe. Merton. Driven by nature p.. Aspects of tropical mycology.G. Perbedy. Maningsih. 1986. J. E. 1983. P. http://www. Sutton. U. Phytopathogenic fungi: A scanning electron stereoscopic survey. Badan Litbang pertanian. Bogor (Indonesia).. Soil Microbiology and Biochemistry Academic Press. Fusarium Species: Their biology and toxicology. New York. Goenadi. Saraswati. Missouri. Peningkatan efisiensi pemupukan pada kedelai dengan pupuk mikroba pelarut fosfat dan mikoriza Prosiding Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Produksi Kedelai di Indonesia. 2000. S. significance and conservation. Hutami. Cambridge University Press. 1979. 1995.. 1993. Isaac. Pennicilium and Acremonium. Hawksworth. 616p..indiamart. 204 pp. Soil Science Society of America Journal 64:927932. Riyanti.M. Puslittanak.E. D. 1987.Z.C.scielo.L. University Park. and Whalley.297-312. McColl. A.. Paul. CAB International. Columbia. Jakarta (Indonesia).A dan Clark. Cadisch (eds). John Willey & Sons. Nelson.com/jayenterprises/fertilizers. CAB International. Watling. peranan Aspergillus Niger dan bahan organic dalam transformasi P anorganik tanah. Y. G dan I. Pengaruh Fungi Pelarut fosfat terhadap serapan hara P dan pertumbuhan tanaman jagung. F and Brotzman. K.. Inc. P. Bio . Ainsworth and Bisby’s Dictionary of the fungi (8th Ed. J. N and J. Siswanto and Sugiarto. Inc. and Pegler. The Pennsylvania state University Press.

E. Cambridge university Press. Cycles of soil carbon. H. 1994. Cambridge. pengaruhnya terhadap P tanah dan efisiensi pemupukan P tanaman tebu. 83-123 pp. Universitas Sriwijaya. [http://nasih. Program Pascasarjana. ** Dosen Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati.M. The life of yeast. I. PENDAHULUAN Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Mass. Cambridge. 2006. Ir.ac.Phaff. 1970. manual and atlas of pennicillia. Jasad Renik Pelarut Fosfat. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Harvard university Press. Fosfor (P). Elsevier biomedical press. Hara N tersedia melimpah di udara. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan . Indonesia. Universitas Gadjah Mada. nitrogen. Miller. micronutrients. dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Universitas Sriwijaya. Oxford and IBH Publishing Co. Palembang. Introduction to fungi. J. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. 380 p. Indonesia. 2008. Soil Microorganism and Plant Growth. M.J. phosporus. Disertasi. N. Abdul Madjid. Ramirez. W. E. F. 23-30..staff.W and Mrak. Premono. 1977. Program Pasca Sarjana. 202-204. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. John Willey & Sons. Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Webster. Institut Pertanian Bogor. Tombe. 1982. New York. Sekilas Pupuk Hayati. Tiga unsur hara penting tanaman. sulphur. C. Pupuk Hayati. Stevenson. 1968. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacangkacangan (leguminose). N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Program Pasca Sarjana. M. Bogor. N. New Delhi. New York. Namun. yaitu Nitrogen (N). Yuwono. M.ugm. 1986. Palembang. 2009 Mei 26 Prospek Pupuk Hayati Mikoriza PROSPEK PUPUK HAYATI MIKORIZA Oleh: Novriani * dan Madjid** Keterangan: * Dosen Universitas Batu Raja yang sedang mengikuti pendidikan strata S2.id/] Diposkan oleh Dr.J.S. MS di 20:57 0 komentar Label: Biologi Tanah Selasa. Subba Rao.

Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Penicillium sp. Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan.Azotobacter sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P. jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan . Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Sebaliknya. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman. 2008). Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. antara lain: Aspergillus sp. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). 2009) Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Namun. Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. karena terikat pada mineral liat tanah. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza).

Paraglomus. Simbiosis terjadi dalam akar tanaman dimana cendawan mengkolonisasi apoplast dan sel korteks untuk memperoleh karbon dari hasil fotosintesis dari tanaman (Delvian. Hampir sebagian besar jenis tumbuhan berasosiasi dengan jamur tipe AM (Arbuskul Mikoriza). pinus. rambutrambut akar tidak ada. jenis rumput-rumputan. padi. Archaeospora. 2003). bercabang. Dilain pihak. kelapa sawit. adanya bentukan khusus yang berbentuk oval yang disebut Vasiculae (vesikel) dan sistem percabangan hifa yang dichotomous disebut arbuscules (arbuskul) (Brundrett. hifa menjorok ke luar dan berfungsi sebagi alat yang efektif dalam menyerap unsur hara dan air. 2006). 2004). Penyebarannya terbatas dalam tanah-tanah hutan sehingga pengetahuan tentang mikoriza tipe ini sangat terbatas. mangga. mempening (jenisjenis Fagaceae). Endomikoriza Ektomikoriza mempunyai sifat antara lain akar yang kena infeksi membesar. hingga pohon rambutan. Gigaspora dan Scutellospora. pasang. kruing. Endomikoriza mempunyai sifat-sifat antar lain akar yang kena infeksi tidak membesar. cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas. misalnya jenis-jenis meranti. 1997). hifa dapat menginfeksi dinding sel korteks dan juga sel-sel korteknya. lapisan hifa pada permukaan akar tipis. hifa masuk ke dalam individu sel jaringan korteks. Hifa memasuki sel kortek akar.suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Acaulospora. Ciri-cirinya antara lain adanya selubung akar yang tipis berupa jaringan Hartiq. dll. mikoriza dapat dikelompokkam ke dalam tiga tipe : 1. CMA termasuk fungi divisi Zygomicetes. Entrophospora. beberapa jenis Myrtaceae (jambu-jambuan) dan beberapa jenis legum. karet. sedangkan hifa yang lain menpenetrasi tanah. membentuk chlamydospores (Morton. Berdasarkan struktur dan cara cendawan menginfeksi akar. . Sedangkan beberapa keluarga (family) pohon tingkat tinggi yang biasa dijumpai pada tahap suksesi akhir bersimbiosa dengan jamur EM (Ekto Mikoriza). Ektendomikoriza 3. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. hifa tidak masuk ke dalam sel tetapi hanya berkembang diantara dinding-dinding sel jaringan korteks membentuk struktur seperrti pada jaringan Hartiq. Ektomikoriza 2. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. Cendawan Mikoriza Arbuskular merupakan tipe asosiasi mikoriza yang tersebar sangat luas dan ada pada sebagian besar ekosistem yang menghubungkan antara tanaman dengan rizosfer. mulai dari paku-pakuan. famili Endogonaceae yang terdiri dari Glomus. Ektendomikoriza merupakan bentuk antara (intermediet) kedua mikoriza yang lain. Marin (2006) mengemukakan bahwa lebih dari 80% tanaman dapat bersimbiosis dengan CMA serta terdapat pada sebagian besar ekosistem alam dan pertanian serta memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan. kamper (jenis-jenis Dipterocarapaceae). kesehatan dan produktivitas tanaman.

Tipe CMA . kapas. walaupun pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat mengembirakan. palem. Organ khusus tersebut adalah arbuskul (arbuscule). Suatu simbiosis terjadi apabila cendawan masuk ke dalam akar atau melakukan infeksi. tempat pertukaran sumber karbon dan hara serta tempat cadangan karbohidrat bagi jamur. Struktur mikoriza tersebut berfungsi sebagai pelindung akar. singkong dan sorgum. dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertentu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Vesikel (Vesicle) Vesikel merupakan struktur cendawan yang berasal dari pembengkalan hifa internal secara terminal dan interkalar. Hifa yang tumbuh melakukan penetrasi ke dalam akar dan berkembang di dalam korteks. Struktur arbuskular dan vesicular berfungsi sebagai tempat cadangan karbon dan tempat penyerapan hara bagi tanaman. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu. Hifa berkembang tanpa merusak sel (Anas. karet. harus diamati dibawah mikroskop. Pada akar yang terinfeksi akan terbentuk arbuskul. 1. selada. Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan spora didalam tanah. hifa internal diantara sel-sel korteks dan hifa ekternal. 1998). Sedangkan akar yang bersimbiosa dengan AM. pepaya. 2004). kopi. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai. jeruk. barley. vesikel intraseluler. 2004). kakao. Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Spora cendawan ini sangat bervariasi dari sekitar 100 mm sampai 600 mm oleh karena ukurannya yang cukup besar inilah maka spora ini dapat dengan mudah diisolasi dari dalam tanah dengan menyaringnya (Pattimahu. bawang. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza.Struktur anatomi AM berbeda dengan EM. karena struktur arbuskular atau vesicular terbentuk di dalam sel tanaman inang dan hanya dapat diamati di bawah mikroskop setelah dilakukan perlakuan khusus dan pewarnaan. Akar yang bersimbiosa dengan EM memiliki struktur khas berupa mantel (lapisan hifa) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Penetrasi hifa dan perkembangnnya biasanya terjadi pada bagian yang masih mengalami proses diferensissi dan proses pertumbuhan. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan untuk menumbuhkan cendawaan ini dalam media buatan. Cendawan ini membentuk spora di dalam tanah dan dapat berkembang biak jika berassosiasi dengan tanaman inang. 2003). Berikut ini dijelaskan sepintas lalu mengenai struktur dan fungsi dari organ tersebut serta penjelasan lain (Pattimahu. padi gogo. kacang tunggak. kebanyakan berbentuk bulat telur. Miselium eksternal terdapat pada tipe EM dan AM. teh. nenas. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Cendawan CMA membentuk organ-organ khusus dan mempunyai perakaran yang spesifik. akan tetapi belum berhasil. Faktor ini merupakan suatu kendala yang utama sampai saat ini yang menyebabkan CMA belum dapat dipoduksi secara komersil dengan menggunakan media buatan. merupakan perpanjangan mantel ke dalam tanah. tembakau. vesikel (vesicle) dan spora. Hifa jamur EM tidak masuk ke dalam dinding sel tanaman inang. apel dan anggur (Rahmawati.

sehingga dapat digunakan secara luas untuk meningkatkan probabilitas tanaman (Pattimahu. pembengkokan inti sel. hifa cendawan CMA akan masuk ke dalam akar menembus atau melalui celah antar sel epidermis. 1981). Arbuskul Cendawan ini dalam akar membentuk struktur khusus yang disebut arbuskular.vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasosiasi dengan hampir 90 % jenis tanaman. Arbuskul ini berubah menjadi suatu struktur yang menggumpal dan cabang-cabang pada Arbuskul lama kelamaan tidak dapat dibedakan lagi. 2004). Pada akar yang telah dikolonisasi oleh CMA dapat dilihat berbagai Arbuskul dewasa yang dibentuk berdasarkan umur dan letaknya. Spora dapat disimpan dalam waktu yang lama sebelum digunakan lagi (Mosse. 3. 2004). Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai sekarang beberapa tahun. Arbuskula merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan dikotomi yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang (Pattimahu. yaitu antara simbion cendawan dan tanaman inang. 1981). Namun untuk perkembangan CMA memerlukan tanaman inang.vesikel dan akhirnya spora (Mosse. Masuknya hara ini ke dalam sel tanaman inang diikuti oleh peningkatan sitoplasma. peningkatan respirasi dan aktivitas enzim. baik ciri-ciri genetika maupun asal-usul nenek moyangnya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat di dalam tanah dan juga kandungan Al. 2. Schubler et al. pembentukan organ baru. Spora Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Arbuskul berperan dua arah. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal. tampak seperti pohon kecil yang mempunyai cabang-cabang yang dibenamkan Arbuskul. kandungan Mn juga mempengaruhi pertumbuhan miselium. Setelah proses-proses tersebut berlangsung barulah terbentuk Arbuskul. berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis cendawannya. Hifa intraseluler yang telah mencapai sel korteks yang lebih dalam letaknya akan menembus dinding sel dan membentuk sistem percabangan hifa yang kompleks. Mosse dan Hepper (1975) mengamati bahwa struktur yang dibentuk pada akar-akar muda adalah Arbuskul. Dengan bertambahnya umur. Mirip dengan cendawan patogen. (2001) dengan menggunakan data molekuler telah menetapkan kekerabatan diantara CMA dan cendawan lainnya. Arbuskul dewasa terletak dekat pada sumber unit kolonisasi tersebut. CMA sekarang menjadi filum tersendiri. yang memiliki perbedaan tegas. dengan Ascomycota . kemudian apresorium akan tersebar baik inter maupun intraseluler di dalam korteks sepanjang akar. Arbuskul merupakan percabangan dari hifa masuk kedalam sel tanaman inang. Kadang-kadang terbentuk pula jaringan hifa yang rumut di dalam sel-sel kortokal luar.

Scutellospora. serta kompetisi antara CMA dan mikroorganisme tanah lainnya. CMA yang beradaftasi dengan baik tersebut merupakan fungi indigen yang terseleksi dari ekosistem pada tanaman tersebut. 4) mengabsorpsi dan mentransfer nutrisi ke tanaman. jarang sekali satu spesies akan efisien pada semua kondisi lingkungan. 1991). 2) Paraglomerales (famili Para-glomerace). biasanya evaluasi hanya mencakup respon tanaman terhadap inokulasi fungi yang berbeda. CMA tidak memiliki inang yang spesifik. Kuklospora.dan Basidiomycota. Entrophospora. 2002). kepadatan propagula. sehingga memungkinkan bahwa inokulasi multi-spesies menunjukan hasil yang terbaik dibandingkan dengan hanya satu spesies. 3) Diversisporales (famili Acaulosporaceae. Kepadatan CMA tidak dipengaruhi oleh jenis tanaman penutup tetapi dipengaruhi interaksi antara jenis tanaman penutup dengan interval kedalaman tanah. 5) meningkatkan keuntungan non nutrisi kepada tanaman. Oleh karena itu. dan Glomus sp. Taksonomi CMA berubah menjadi filum Glomeromikota yang memiliki empat ordo yaitu 1) Archaeosporales (famili Arachaeosporaceae dan Geosiphonaceae). Hal ini menunjukan bahwa kedalaman tanah merupakan faktor penting dalam identifikasi dan isolasi propagula CMA (Handayani et al. 3) segera membentuk miselium secara ekstensif dan ekstraradikal. Fungi yang sama dapat mengkolonisasi tanaman yang berbeda. (Sagin Junior & Da Silva. kondisi tanah serta spesies CMA indigen. 2006). . Intraspora. Hal ini sejalan dengan penelitian lapangan yang dilakukan Lukiwati (2007) dan Sieverding (1991) bahwa keberhasilan inokulasi CMA tergantung kepada spesies CMA indegen serta potensi dari inokulan sendiri. dan Pacisporaceae) dan 4) Glomerales (famili Glomerace).. Sedangkan kepadatan terendah terdapat pada tanaman penutup rumput dengan kedalaman 5-15 cm. Walaupun demikian. Dewasa ini filum Glomeromikota disepakati memiliki dua belas genus yaitu Archaeo-spora. 2) mampu berkompetisi dengan mikroorganisme yang lain untuk tempat menginfeksi dan mengabsorpsi nutrisi. Gigaspora-ceae. Geosiphon. CMA beradaptasi secara edaphoclimatic serta dengan kondisi kultur teknis tanaman. Paraglomus. Lebih jauh dikatakan bahwa tingkat kolonisasi memberikan gambaran seberapa besar pengaruh luar terhadap hubungan akar dan CMA (Sieverding. Selanjutnya fungi indigen yang terisolasi harus dievaluasi dalam kaitan respon inokulasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda. Gigaspora. Lebih jauh dikemukakan bahwa keefektifan populasi CMA indigen berhubungan dengan beberapa faktor seperti status hara tanah. Satu spesies fungi dipertimbangkan efisien ketika pada beberapa kondisi lingkungan yang berbeda: 1) dapat mengkolonisasi akar secara cepat dan ekstensif. Tingkat kolonisasi akar merupakan prasyarat CMA pada tanaman inang. Pacispora. Persentase kolonisasi juga tergantung kepada kepadatan akar tanaman. Acaulospora. Hal ini menunjukan adanya kerjasama coexist secara harmonis di dalam akar (Sagin Junior & Da Silva. tanaman inang. Diversipora. Kepadatan CMA tertinggi terdapat pada tanaman penutup herba (Chromolaena odorata dan Stoma malabathricum) dengan interval kedalaman 0 – 5 cm. Tingkat kolonisasi di lapangan tergantung pada spesies tanaman inang. seperti agregasi dan stabilisasi tanah. 2006). Diversisporaceae. tetapi kapasitas fungi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bervariasi.

Faktor-faktor tersebut antar lain suhu. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse. Vesser et al. 1981). kadar air tanah. adanya CMA menyebabkan status P tanaman meningkat sehingga menyebabkan daya tahan terhadap kekeringan meningkat pula. saat kelembapan air rendah.pada tengah hari. Ada beberapa dugaan mengapa tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan diantaranya adalah : (1) adanya mikoriza menyebabkan resistensi akar terhadap gerakan air menurun sehingga transport air ke akar meningkat. adanya CMA menguntungkan karena dapat meningkatkaan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air. Hal ini manandakan bahwa tanaman yang tidak berCMA memiliki evapotranspirasi yang lebih besar dari tanaman ber CMA. (1984) mengamati kenampakan aneh pada bibit tanaman alpukat (Acacua raddiana) yang dinikolasi dengan CMA. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA.. logam berat dan fungisida. Meningkatnya kapasitas serapan air pada tanaman alpukat ber CMA menyebabkan bibit lebih tahan terhadap pemindahan. intensitas cahaya dan ketersediaan hara.II. karena itu (4) tanaman bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan barangkali karena pemakaian air yang lebih . (2) tanaman kahat P lebih peka terhadap kekeringan. tetapi jika mekanisme ini yang terjadi berarti kandungan logam-logam tanah lebih cepat menurun. hal ini menguntungkan. (3) adanya hifa ekternal menyebabkan tanaman ber CMA lebih mampu mendapatkan air daripada yang tidak ber CMA. 1981). Adanya CMA dapat memperbaiki dan meningkatkan kapasitas serapan air tanaman inang. penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. bahan organik tanah. Suhu Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. daun bibit alpukat ber CMA tetap terbuka sedangkan tanaman yang tidak dinokulasi tertutup. Pada tanaman ber mikoriza jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 gram bobot kering tanaman lebih sedikit dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Untuk daerah tropika basah. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. pH. Penemuan akhir-akhir ini yang menarik adalah adanya hubungan antara potensial air tanah dan aktivitas mikoriza. Kadar Air tanah Untuk tanaman yang tumbuh di daerah kering. tanah.

Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. 1997). Penagruh Logam Berat dan Unsur lain Pada tanah-tanah tropika sering permasalahan salinitas dan keracunan alumunium maupun . Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Bahan Organik Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. pH tanah Cendawan pada umunya lebih tahan terhadap perubahan pH tanah. 1997). 1984). Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas. 1981). air dan udara. Cahaya dan Ketersediaan Hara Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas. vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya.. (5) pengaruh tidak langsung karena adanya miselium ekternal menyebabkan CMA mampu dalam mengagregasi butir-butir tanah sehingga kemampuan tanah menyimpan air meningkat (Rotwell. perkembangan dan peran mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman (Mosse. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas.ekonomis. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat. 1997). Meskipun demikian daya adaptasi masing-masing spesies cendawan CMA terhadap pH tanah berbeda-beda karena pH tanah mempengaruhi perkecambahan. Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA. Serasah tersebut mengandung hifa.

Cendawan pada umumnya memiliki ketahanan cukup baik pada rentang faktor lingkungan fisik yang lebar. di satu pihak jika fungisida tidak dipakai maka tanaman yang terserang cendawan bisa mati atau merosot hasilnya. 1982 dalam Anas. Mikoriza tidak hanya berkembang pada tanah berdrainase baik. Alumunium di ketahui menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Plantavax. Praktek pengendalian secara biologis perlu mendapat perhatian lebih serius karena memberikan dampak negatif yang mampu bertindak sebagai pengendali hayati yang aktif terhadap serangan patogen akar (Marx. Pada percobaan dengan menggunakan tiga jenis tanah dari wilayah iklim sedang didapatkan bahwa pengaruh menguntungkan karena adanya CMA menurun dengan naiknya kandungan Al di dalam tanah. Sifat cendawan mikoriza ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam upaya bioremidiasi lahan kritis. Kondisi lingkungan dan edapik yang cocok untuk perkecambahan biji dan pertumbuhan akar tanaman biasanya juga cocok untuk perkecambahan spora cendawan. Rupa-rupanya di samping mampu memberantas cendawan penyebab penyakit.5 mg per g tanah) menyebabkan turunnya kolonisasi CMA yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman dan pengambilan P (Manjunath dan Bagyaraj. 1995). tetapi sebagian besar spesies CMA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Fungisida Fungisida merupakan racun kimia yang dirakit untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada tanaman. dan Na yang tinggi (Mosse. klor. 1998). Mosse (1981) mengamati infeksi CMA lebih tinggi pada tanah yang mengalami kekahatan Mn daripada yang tidak. Bahkan pada lingkungan yang sangat miskin atau lingkungan yang tercemar limbah berbahaya. Benlate. tapi juga pada lahan tergenang seperti pada padi sawah (Solaiman dan Hirata. Al. Disamping itu pengetahuan mengenaai pengaruh masing-masing ion tersebut terhadap terhadap CMA secara langsung maupun dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman atau metabolisme inang belum banyak yang diketahui. cendawan mikoriza masih memperlihatkan eksistensinya (Aggangan et al. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan CMA tertentu toleran terhadap kandungan Mn. Sedikit diketahui pangaruh CMA pada pengambilan sodium. 1984 dalam Anas. fungisida Agrosan. Beberapa spesies CMA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng (Zn). Hal ini mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.. Pemakaian fungisida menjadi dilematis. Jumlah Ca di dalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan CMA. Tanaman yang ditumbuhkan pada tanah yaang memilik derajat infeksi CMA yang rendah (Happer et al. tetapi jika dipakai membunuh cendawan CMA yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman.mangan. meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah (2. 1997). 1997). 1984). 1981). . alumunium dan mangan. Pada masa depan perlu dicari satu cara untuk mengendalikan penyakit tanaman tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jasad renik berguna di dalam tanah. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora cendawan mikoriza.

Dalam pemanfaatan CMA pada suatu tanaman. Konsekuensinya adalah produktivitas sistem pertanian akan sangat tergantung pada pupuk buatan dan pestisida. unsur hara dan struktur tanah. Akumulasi perubahan lingkungan mulai dari pembabatan hutan. inokulasi mikoriza juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N. jumlah bahan organik yang dihasilkan. 1996). Hutan alami yang terdiri dari banyak spesies tanaman dan umur yang tidak seragam sangat mendukung perkembangan mikoriza. khususnya dari jenis ektomikoriza (Munyanziza et al 1997). Dalam pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan (Rao. 1984). dan Limapuluh Kota mampu mempercepat pertumbuhan semaian manggis sekitar 40% dibandingkan dengan semaian yang tidak diinokulasi . Sawahlunto Sijunjung. kerusakan struktur dan pemadatan tanah akan mengurangi propagul cendawan mikorisa. Konversi hutan untuk lahan pertanian akan mengurangi keragaman jenis dan jumlah propagul cendawan. Usahatani tumpangsari jagung-kedelai juga diketahui meningkatkan perkembangbiakan cendawan VAM. dicirikan oleh keragaman spesies yang sangat tinggi. P. 1994) serta terjadinya kompaksi tanah oleh alsintan (McGonigle dan Miller. Praktek pertanian seperti pengolahan tanah. Pengolahan tanah yang intensif akan merusak jaringan hifa ekternal cendawan mikoriza. 1995). 1996). pembakaran. 1 9% (Gededda et al. menunjukkan bahwa pengolahan tanah minimum akan meningkatkan populasi mikoriza dibanding pengolahan tanah konvensional. cropping sistem. Inokulasi CMA pada bibit jeruk dapat memacu pertumbuhannya (Jawal et al. Dalam budidaya tradisional. Pada tanaman pisang. CMA campuran yang berasal dari daerah Padang. Pemanfaatan CMA termasuk ke dalam kelompok endomikoriza pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik terlihat dari beberapa penelitian berikut ini: Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0. 1993) berpengaruh negatif terhadap mikoriza. Penggunaan inokulum CMA campuran yang terdiri dari beberapa spesies tampaknya lebih efektif daripada penggunaan spesies tunggal (Camprubi dan Calvet. jenis dan macam inokulum yang digunakan cukup menentukan dalam keberhasilan pencapaian sasaran.04 menjadi 0. Ameliorasi tanah dengan bahan organik sisa tanaman atau pupuk hijau merangsang perkembangbiakan cendawan VAM. 2005). ameliorasi dengan bahan organik. Penggunaan CMA (Glomus etunicatum dan Gigaspora margarita) dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis bibit apel dan mendorong pertumbuhan tanaman di pembibitan (Matsubara et al. Untuk tanaman manggis. Hutan multi spesies berubah menjadi hutan monokultur dengan umur seragam sangat berpengaruh terhadap jumlah dan keragaman mikoriza. pemupukan dan penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap keberadaan mikoriza (Zarate dan Cruz. pengolahan tanah berulang-ulang dan panen menyebabkan erosi hara dan bahan organik dari lahan tersebut dan ini berpengaruh terhadap populasi AM. karena perubahan spesies tanaman. Selang waktu antara pembukaan lahan dengan tanaman komersial berikutnya biasanya cukup lama dan tanah dibiarkan dalam keadaan kosong sehingga terjadi perubahan drastis pada iklim mikro yang cendrung kering. dan Ca pada daun (Muas dan Jumjunidang 1994).Ekosistem alami mikoriza di daerah tropika (tropical rain forest). Penelitian McGonigle dan Miller (1993). K.

kekeringan. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah: 1) miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman. sedangkan inokulasi G. 2) meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam. serta patogen akar. manihotis pada perakaran bibit kelapa sawit menurunkan secara nyata tinggi bibit pada umur 4 dan 20 MST berturut-turut sebesar 37.5% dibandingkan dengan kontrol. dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal. yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. Di dalam arbuskul. Demikian pula terhadap jumlah daun pada umur 4 dan 8 MST. aggregatum tidak berbeda dengan kontrol. 2006). sedangkan inokulasi G.7% dan 4. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. 1997). bobot kering tajuk. jumlah daun pada umur 4. III. manihotis menurunkan jumlah daun berturut-turut sebesar 40% dan 8. Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap: .2% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Inokulasi species CMA juga berpengaruh terhadap tinggi bibit hanya pada umur 4 dan 20 MST. 1997). Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. 3) memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen. 2002). PEMANFAATAN MIKORIZA Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza.masing sebesar 5. 8 dan 28 MST. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora. bobot kering total dan serapan Ptajuk bibit kelapa sawit. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas. G.7% dibandingkan dengan kontrol. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas. akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul.dengan mikoriza (Muas et al. Pada umur 28 MST kedua species CMA meningkatkan jumlah daun secara nyata masing. Secara umum pemberian CMA belum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan serapan P-tajuk Inokulasi G. Selain daripada membentuk hifa internal. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah.

Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. 2) meningkatkan toleransi terhadap erosi. 2006). konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. salinitas. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza. pemadatan. 1997). Zn. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat. . Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P. dan Zn). Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas. Manfaat lain pada tanaman yang diberi mikoriza adalah : 1. Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. keasaman.1) adanya peningkatan absorpsi hara. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Zn dan Cu meningkat. serta 4) memperbaiki agregasi partikel tanah. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g. sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha. Dengan adanya CMA. CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al. masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan. 3) melindungi dari herbisida. dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil. Cu. penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Fe. Pada kedelei. dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Selain itu. tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan. infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Setelah periode kekurangan air (water stress). Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza.

2. Khan (1993) menyatakan bahwa VAM dapat . Tambahan lagi mikoriza menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman. cendawan mikoriza ada yang dapat melepaskan antibiotik yang dapat mematikan patogen (Anas. Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen. Adanya selaput hifa (mantel) dapat berfungsi sebagai barier masuknya patogen. kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat. 2. baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan. Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. K dan S. Mikoriza menggunakan hampir semua kelebihan karbohidrat dan eksudat lainnya. Lebih Tahan terhadap Serangan Patogen Akar Mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui perlindungan tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza. Mikoriza juga dapat melindungi tanaman dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat (Killham. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air. juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat. Cendawan mikoriza dapat mengeluarkan antibiotik yang dapat mematikan patogen. sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok untuk patogen. dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham. Terbungkusnya permukaan akar oleh mikoriza menyebabkan akar terhindar dari serangan hama dan penyakit.1997). Dilain pihak. Mekanisme perlindungan dapat diterangkan sebagai berikut : 1. 1994). tidak dapat diinfeksi oleh cendawan patogen yang menunjukkan adanya kompetisi. 4. 3. Infeksi patogen akar terhambat. Imas et al (1993) menyatakan bahwa struktur mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi bagi terjadinya patogen akar. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air.Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan. 1994). Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. menonaktifkan secara kimiawi atau penimbunan unsur tersebut dalam hifa cendawan. yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Akar tanaman yang sudah diinfeksi cendawan mikoriza.

CMA memberikan sumbangan yang menguntungkan. 4. tailing tambang batubara. 1993). Sebagai contoh mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor. 40% kebutuhan nitrogen. citokinin. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Produksi Hormon dan zat Pengatur Tumbuh Telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cendawan mikoriza dapat menghasilkan hormon seperti. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah. Mikoriza ini menjadi pelindung fisik yang kuat. Demikian pula mikoriza telah dilaporkan dapat mengurangi serangan nematode. 1981 dalam Husin dan Marlis. tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Inokulasi dengan inokulan yang cocok dapat mempercepat usaha penghijauan kembali tanah tercemar unsur toksik. adanya mikoriza menarik perhatian zoospora Phytopthora. Mikoriza sangat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cenamoni. Zat pengatur tumbuh seperti vitamin juga pernah dilaporkan sebagai hasil metabolisme cendawan mikoriza (Anas. atau strain cendawan CMA dan tanaman yang terserang (Mosse. dan inang cukup kompleks dan kemampuan CMA dalam melindungi tanaman terhadap serangan patogen tergantung spesies. 1981).. Manfaat Tambahan dari Mikoriza Penggunaan inokulum yang tepat dapat menggantikan sebagian kebutuhan pupuk. sebaliknya terhadap jasad renik penyebab penyakit CMA justru berperan sebagai pengendali hayati yang aktif terutama terhadap serangan patogen akar (Huang et al.terjadi secara alami pada tanaman pioner di lahan buangan limbah industri. 1997). atau lahan terpolusi lainnya. 2000). sehingga tanaman menjadi lebih peka terhadap penyakit busuk akar. sehingga perakaran sulit ditembus penyakit (patogen). Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai. Interaksi sebenarnya antara CMA. yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan tanaman. dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman lamtoro (De la cruz. Mikoriza berpegaruh juga dari segi fisik. sebab jamur ini mampu membuat bahan antibotik untuk melawan penyakit. Pada tanaman tertentu. Demikian pula vigor tanaman bermikoriza yang baru dipindahkan kelapang lebih baik dari yang tanpa mikoriza (Anas. dan daerah tambang memberikan harapan tersendiri untuk digunakan . dan giberalin. Namun demikian tidak selamanya mikoriza memberikan pengaruh yang menguntungkan dari segi patogen. patogen akar. Cendawan mikoriza bisa membentuk hormon seperti auxin. 3. sitokinin dan giberalin. Jika terhadap jasad renik berguna. 1997). maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga bisa memberikan kekebalan bagi tumbuhan inang. yaitu dengan adanya hifa eksternal mikoriza banyak mengandung logam berat.

sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida. 5. 2002)..pada proyek rehabilitasi/reklamasi daerah bekas tambang. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah. Kemudian agregat mikro melalui proses "mechanical binding action" oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Hasil penelitian sementara staf Jurusan Tanah. lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi. tapi juga bagi tanah. et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme. Menurut Hakim. maka tidak mustahil mikoriza akan memegang peranan sangat penting dalam pengembangan pertanian di Indonesia (Anas. Fakultas Pertanian IPB menunjukkan bahwa dari akar padi sawah juga dapat diinokulasi mikoriza tertentu. namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Perbaikan Struktur Tanah.. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Bila ini benar. 1997). "Organic binding agent" ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida. akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang . Bahkan ada mikoriza yang menginfeksi tanaman yang tumbuh di dalam air. asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal. Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza. asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman. memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar. 2002).

phytat tertimbun didalam tanah hingga 20%-50% dari total phospat organik. (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung .cendawan mikoriza ini memiliki enzim pospatase yang mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1.4. Secara alami mikoriza terdapat secara luas.. Phytat di dalam tanah merupakan sumber phosphat. Adanya interaksi sinergis antara VAM dan bakteri penambat N2 dilaporkan oleh Azcon dan Al-Atrash (1997) bahwa pembentukan bintil akar meningkat bila tanaman alfalfa diinokulasi dengan Glomus moseae. dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza. dan protein. meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). phosphor bebas dan mineral. Besi (Fe++). Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman. Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya). Magnesium (Mg++). Di beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan.2. mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis.1998) dan pada tanaman gandum (Singh dan Kapoor. Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang.6 hexakisphospat). setelah didahului dengan proses infeksi akar. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air. Inokulasi bakteri pelarut fosfat (PSB) dan mikoriza dapat meningkatkan serapan P oleh tanaman tomat (Kim et al. 1999). yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa. dengan bantuan enzim phospatase phytat dapat dihidrolisis menjadi myoinosital. perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. merupakan pengikat kuat (chelator) bagi kation seperti Kalsium (Ca++).5.lain. Tanaman bermikoriza dapat menyerap P. Sebaliknya kolonisasi oleh jamur mikoriza meningkat bila tanaman kedelai juga diinokulasi dengan bakteri penambat N.3. Seng (Zn++). 2002). japonicum. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah. Prihastuti et al. 6. khususnya pada tanah yang miskin P. Meningkatkan Serapan Hara P Hal sangat penting. lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah. Dengan demikian cendawan mikoriza terlibat dalam siklus dan dapat memanen unsur P. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA. hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah. B. disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air. yaitu Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. sehingga ketersediaan phosphor dan mineral dalam tanah dapat terpenuhi. Phytat adalah senyawa phospat komplek.

1997). meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono. baik secara langsung maupun tidak langsung. Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin. Dalam kaitan dengan pertumbuhan tanaman. baik untuk tanaman pangan. 1994). tanaman bermikoriza . Plencette et al dalam Munyanziza et al (1997) mengusulkan suatu formula yang dikenal dengan istilah "relatif field mycorrhizal depedency" (RFMD) : RFMD = [ (BK. perkebunan.mikoriza vesikular-arbuskular. 2004). Secara tidak langsung. kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham. memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley. respon tanaman tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tanaman dan cendawan. adanya asosiasi ini. Sedangkan secara langsung. kadar air. tapi juga oleh kondisi tanah dimana percobaan dilakukan. hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik. yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher. dan kompetisi antar cendawan mikoriza).BK. tanaman tanpa mikoriza) / BK. Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis. cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air. Bagi tanaman inang. yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar.33%. 3. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). 1987). 6. Efektivitas mikoriza dipengaruhi oleh faktor lingkungan tanah yang meliputi faktor abiotik (konsentrasi hara. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah 2. 2006). cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah. tipe perakaran tanaman inang. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim 4. yaitu mencapai 70. Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen.50–90. pengolahan tanah dan penggunaan pupuk/pestisida) dan faktor biotik (interaksi mikrobial. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar. Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu : 1. Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi. spesies cendawan. Menjamin terselenggaranya proses biogeokemis. dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya. Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai 'biofertilization". Adanya kolonisasi mikoriza dengan respon tanaman yang rendah atau tidak ada sama sekali menunjukkan bahwa cendawan mikoriza lebih bersifat parasit . Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif. pH. temperatur. tanaman inang. Tanaman tanpa mikoriza ] x 100 % Namun demikian.

Acaulospora dan Gigaspora (Widada dan Kabirun .66 mg P/tanaman. Hal ini disebabkan karena jaringan hipa eksternal akan memperluas permukaan serapan air dan mampu . Disamping untuk tanaman pangan. miskin hara dan bahan organik. sedangkan hasil kedelai meningkat dari 0. Lahan yang ditumbuhi tanaman Alang-Alang Padang alang-alang tersebar luas di Sumatera. Penelitian pemupukan tanaman padi menggunakan perunut 32P pada Ultisols menunjukkan bahwa serapan hara total maupun yang berasal dari pupuk meningkat nyata pada tanaman yang diinokulasikan dengan cendawan VAM (Ali et al. Bibit yang sudah bermikorisa akan mampu bertahan dari kondisi yang ekstrim dan berkompetisi dengan alang-alang. serapan hara dan hasil kedelai pada tanah Podsolik dan Latosol. 7.. Tanaman yang bermikoriza terbukti mampu bertahan pada kondisi stres air yang hebat. sehingga walaupun curah hujan tinggi tapi cadangan air bawah permukaan tetap sangat terbatas. Pengalaman menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan salah satu sebab kegagalan program transmigrasi lahan kering. persediaan air bawah tanah menjadi masalah utama karena tanahnya padat.18 mg P/tanaman menjadi 2..1.13 g biji/tanaman.98 g biji/tanaman. Sulawesi dan pulau besar lainnya. Petani transmigran kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan tanaman (khususnya tanaman pangan) sering gagal panen karena stres air. Dengan demikian cendawan mikoriza ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan. Alang-alang dikenal sebagai tanaman yang sangat toleran terhadap kondisi yang sangat ekstrim. 1995). dan hasil kedelai meningkat dari 2. Kegagalan program reboisasi yang dilakukan di lahan alang-alang dapat diatasi dengan menginokulasikan mikoriza pada bibit tanaman penghijauan. Peranan Mikoriza Pada Perbaikan Lahan Kritis 7. Kemasaman dan Al-dd tinggi bukan merupakan faktor pembatas bagi cendawan mikoriza tersebut.84 g biji/tanaman menjadi 5. tapi merupakan masalah besar bagi tanaman/tumbuhan. Pada tanah Podsolik serapan hara meningkat dari 0.(Solaiman dan Hirata. Kabirun dan Widada (1994) menunjukkan bahwa inokulasi MVA mampu meningkatkan pertumbuhan. kejenuhan Al tinggi. Kalimantan. infiltrasi air hujan rendah. Lahan alang-alang pada umumnya adalah tanah mineral masam. Penelitian Ba et al (1999) yang dilakukan pada tanah kahat hara menunjukkan bahwa inokulasi ektomikoriza pada bibit tanaman Afzelia africana dapat meningkatkan pertumbuhan bibit dan serapan hara oleh tanaman hutan tersebut (Tabel 1 ). Diketahui bahwa alang-alang berasosiasi dengan berbagai cendawan mikoriza arbuscular seperti Glomus sp. Disamping itu padang alang-alang juga memiliki sifat fisik yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan kalau diusahakan untuk lahan pertanian. Pada lahan alang-alang yang sistem hidrologinya telah rusak.13 mg P/tanaman menjadi 2.15 mg P/tanaman.1997). 1997).02 g biji/tanaman menjadi 5. penghutanan kembali lahan alang-alang juga sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidrologi di wilayah tersebut dan daerah hilirnya. Pentingnya mikoriza didukung oleh penemuan bahwa tanaman asli yang berhasil hidup dan berkembang 81% adalah bermikoriza. Pada tanah Latosol serapan hara meningkat dari 0.

menyusup ke pori kapiler sehingga serapan air untuk kebutuhan tanaman inang meningkat. Morte et al (2000) menunjukkan bahwa tanaman Helianthenum almeriens yang diinokulasi dengan Terfesia claveryi mampu berkembang menyamai tanaman pada kadar air normal yang ditandai berat kering tanaman, net fotosintesis, serta serapan hara NPK. Penelitian lain menunjukkan bahwa tanaman narra (Pterocarpus indicus) (Castillo dan Cruz, 1996) dan pepaya (Cruz et al, 2000) bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap kekeringan dibandingkan tanaman tanpa mikoriza yang ditandai dengan kandungan air dalam jaringan dan transpirasi yang lebih besar, meningkatnya tekanan osmotik, terhidar dari plasmolisis, meningkatnya kandungan pati dan kandungan proline (total dan daun) yang lebih rendah selama stress air. 7.2 Lahan dengan Salinitas Tinggi Tanah yang memiliki salinitas sedang sampai tinggi banyak ditemukan di daerah yang beriklim kering dimana curah hujan jauh lebih rendah dari laju evapotranspirasi sehingga terjadi akumulasi garam mudah larut di dekat permukaan tanah. Salinitas tinggi juga dapat ditemukan di daerah-daerah pantai dimana air pasang laut secara periodik akan menggenangi lahan tersebut. Di daerah tertentu dimana air tawar susah didapat, kadang-kadang terpaksa menggunakan air bersalinitas tinggi sebagai air irigasi. Dalam kondisi salinitas tinggi, jarang ada tanaman yang dapat tumbuh dengan baik, karena keracunan NaCl atau potensial osmotik yang rendah dalam sel dibandingkan dengan larutan tanah. Dengan demikian maka perlu dicari tanaman yang toleran terhadap salinitas atau memodifikasi lingkungan sehingga tanaman mampu bertahan dibawah kondisi demikian. Cendawan VAM seperti Glomus spp mampu hidup dan berkembang dibawah kondisi salinitas yang tinggi dan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penurunan kehilangan hasil karena salinitas (Lozano et al, 2000). Mekanisme perlindungannya belum diketahui dengan pasti, tapi diduga disebabkan karena meningkatnya serapan hara immobil seperti P, Zn dan Cu (Al-Kariki, 2000). Lebih lanjut Al-Kariki (2000) mendapatkan bahwa tanaman tomat yang diinokulasi dengan mikoriza pertumbuhannya lebih baik dibanding dengan tanpa mikoriza. Konsentrasi P dan K rata-rata lebih tinggi sedangkan konsentrasi Na rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa mikoriza. Hal ini berarti bahwa cendawan VAM dapat sebagai filter bagi unsur hara tertentu yang tidak dikehendaki oleh tanaman. Peneliti lain, Lozano et al (2000) membandingkan efektivitas Glomus deserticola dengan Glomus sp lainnya yang merupakan cendawan autochthonous lahan salin. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Glomus deserticola lebih efektif dari Glomus sp. 3. Bioremediasi Tanah Tercemar Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar, karena globalisasi perdagangan menerapkan peraturan ekolabel yang ketat. Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik beracun yang dihasilkan melalui kegiatan

pertambangan dan industri. Senyawa-senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001). Bioremidiasi tanah tercemar logam berat sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri pereduksi logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994). Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap logam beracun dengan melalui akumulasi logam-logam dalam hifa ekstramatrik dan "extrahyphae slime" ( Galli et al, 1994 dan Tam, 1995 dalam Aggangan et al, 1997) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman inang. Namun demikian, tidak semua mikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman inang terhadap logam beracun, karena masing-masing mikoriza memiliki pengaruh yang berbeda. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam bioremidiasi tanah tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hifa, juga dapat melalui mekanisme pengkomplekan logam tersebut oleh sekresi hifa ekternal. Polusi logam berat pada ekosistem hutan sangat berpengaruh terhadap kesehatan tanaman hutan khususnya perkembangan dan pertumbuhan bibit tanaman hutan (Khan, 1993). Hal semacam ini sangat sering terjadi disekitar areal pertambangan (tailing dan sekitarnya). Kontaminasi tanah dengan logam berat akan meningkatkan kematian bibit dan menggagalkan prgram reboisasi. Penelitian Aggangan et al (1997) pada tegakan Eucalyptus menunjukkan bahwa Ni lebih berbahaya dari Cr. Gejala keracunan Ni tampak pada konsentrasi 80 umol/l pada tanah yang tidak dinokulasi dengan mikoriza sedangkan tanah yang diinokulasi dengan Pisolithus sp., gejala keracunan terjadi pada konsentrasi 160 umol/l. Isolat Pisolithus yang diambil dari residu pertambangan Ni jauh lebih tahan terhadap kadar Ni yang tinggi dibandingkan dengan Pisolithus yang diambil dari tegakan eucaliptus yang tidak tercemar logam berat. Upaya bioremediasi lahan basah yang tercemar oleh limbah industri (polutan organik, sedimen pH tinggi atau rendah pada jalur aliran maupun kolam pengendapan) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman semi akuatik seperti Phragmites australis. Oliveira et al, (2001) menunjukkan bahwa P. australis dapat berasosiasi dengan cendawan mikoriza melalui pengeringan secara gradual dalam jangka waktu yang pendek. Hal ini dapat dijadikan strategi pengelolaan lahan terpolusi (phytostabilisation) dengan meningkatkan laju perkembangan spesies mikotropik. Penelitian Joner dan Leyval (2001) menunjukkan bahwa perlakuan mikoriza pada tanah yang tercemar oleh polysiklik aromatic hydrocarbon (PAH) dari limbah industri berpengaruh terhadap pertumbuhan clover, tapi tidak terhadap pertumbuhan reygrass. Dengan mikoriza laju penurunan hasil clover karena PAH dapat ditekan. Tapi bila penambahan mikoriza dibarengi dengan penambahan surfaktan, zat yang melarutkan PAH, maka laju penurunan hasil clover meningkat. Tanaman yang tumbuh pada limbah pertambangan batubara diteliti Rani et al (1991) menunjukkan bahwa dari 18 spesies tanaman setempat yang diteliti, 12 diantaranya bermikoriza. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan limbah batubara tersebut, ditemukan adanya "oil droplets" dalam vesikel akar mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi, sehingga bahan beracun tersebut tidak sampai diserap oleh tanaman.

Hasil Penelitian-Penelitian dalam Pemanfaatan Mikoriza Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon tanaman jagung terhadap inokulasi jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (Gigaspora margarita) dan sludge cair di tanah Andisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Gigaspora margarita memberikan hasil yang terbaik terhadap hampir semua parameter meningkatkan kandungan P dalam jaringan tanaman, efisiensi penyerapan P, mempercepat umur berbunga tanaman jagung, meningkatkan N tanah setelah percobaan, dan meningkatkan hasil tanaman jagung (Bintoro M et al., 2000). Menurut Wachjar et al (2002), dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa pemberian CMA berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot kering dan serapan P pada tajuk bibit kelapa sawit, tetapi tidak terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit pada umur 20 MST. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Tropika (2007), tentang pengembangan tanaman manggis dalam skala luas masih terkendala pada lambatnya laju tumbuh tanaman, baik pada fase bibit maupun setelah tanam di lapang. Lambatnya laju pertumbuhan tersebut akibat kurang baiknya sistem perakaran. Tanaman manggis memiliki sistem perakaran lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-buku akar, mengakibatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Penggunaan CMA sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Hasil dari penggunaan CMA untuk pembibitan manggis di Sawahlunto, dapat memacu pertumbuhan bibit manggis sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan tidak diinokulasi CMA. Inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkannya ke bidang perakaran. Inokulum tersebut merupakan media pengadaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanaman inang. Cara ini mempunyai kelemahan di antaranya bobotnya cukup berat sehingga kurang praktis, sulit dan cukup mahal transportasinya. Untuk itu para peneliti mengemas spora CMA ke dalam bentuk yang lebih prakits dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Spora CMA dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang tebaik dari tanah hitam. Spora CMA yang dikemas dalam kapsul ini mempunyai daya simpan cukup lama, karena dalam waktu 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm, selanjutnya kapsul bermikoriza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah. Percobaan untuk mengetahui serapan P dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular dan pemberian pupuk kandang ayam pada tanah Inceptisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat koleksi IPB dengan pemberian pupuk kandang ayam ternyata memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap serapan P, derajat infeksi akar dan pertumbuhan tanaman tembakau Deli dibandingkan dengan inokulasi berbagai jenis mikoriza vesikular arbuskular yang lain (Simangunsong S.S, 2005).

Pupuk mikoriza mampu meningkatkan kadar P nira. 69. "Untuk apa menanam jati super yang belum teruji kualitasnya.11 % dibanding di tanah dengan P tersedia "sangat tinggi".90 %.67.40. Dengan teknologi ini beberapa keuntungan yang diperoleh diantaranya ialah dapat segera langsung diaplikasikan tanpa tranportasi yang cukup jauh dan dapat diperoleh inokulum dalam jumlah yang banyak yaitu sekitar 4 ton per 25 m 2 lahan produksi inokulum. Pupuk mikoriza mampu meningkatkan produktivitas gula (hablur) sebesar 13. Cara aplikasi pupuk mikoriza terbaik dengan cara dicampur dengan pupuk dasar.Penelitian yang dilakukan oleh Husnal et al (2007).84 % .. dengan kadar P tersedia "sangat tinggi" . Hanya dalam usia kurang dari lima tahun. diikuti dengan peningkatan rendemen tebu sebesar 4. Untuk mewujudkan harapannya.80 % . sebesar 38. Dengan teknologi mikoriza. 8. Pemakaian pupuk mikoriza dapat mengurangi aras takaran pupuk SP-36 sebesar 25 – 50 % (Adinurani et al. berharap jati muna yang telah dikenal berkualitas tinggi itu dapat dikembangkan sebagai tanaman massal seperti tanaman komoditas perkebunan.72 ppm dan tanah Inceptisol. ia mengelola persemaian jati seluas dua hektare yang menghasilkan bibit jati muna bermikoriza. diameter batang tanaman jati bermikoriza di lahan penelitiannya seluas satu hektare. mengingat beberapa kendala apabila inokulum tersebut dibutuhka n dalam jumlah yang cukup banyak." ujar Husna yang menentang pengembangan jati super dalam upaya melindungi spesies genetik jati muna. Tujuannya. Selain itu.65 %. Alur Pembuatan Metoda atau cara produksi inokulum mikoriza dan aplikasi secara langsung di lahan atau on farm production adalah sebagai berikut : . misalnya jati bukti keunggulannya dengan menggunakan pupuk hayati mikoriza. Indikasi tersebut membuat usia tebang tanaman jati muna maupun spesies jati lainnya dapat lebih singkat dari 40-60 tahun menjadi 15-20 tahun dengan garis tengah 30 sentimeter. telah mencapai sekitar 10 sentimeter. tentang peranan mikoriza pada tanaman jati. Penerapan teknologi produksi inokulum cendawan mikoriza arbuskula secara langsung di lapangan (on farm production) akan sangat banyak membantu.66 % . Lokasi penelitian ditetapkan pada tanah Alfisol.15 %. Peningkatan kadar P nira. Kenaikan produktivitas hablur di tanah dengan P tersedia "rendah" lebih tinggi sebesar 27. selain untuk meningkatkan pendapatan rakyat juga sekaligus melestarikan serta meningkatkan populasi kayu jati muna sebagai ciri khas daerah Sulawesi Tenggara. Penelitian lain tentang varietas tebu menggunakan Ps 58 dan pupuk mikoriza digunakan Biofer 2000-N. dengan kadar P tersedia "rendah" .5 ppm. Bibit tersebut disalurkan kepada warga yang berminat mengembangkan tanaman jati muna. Aras takaran pupuk mikoriza adalah 8 ku/ha di tanah dengan P tersedia rendah dan 4 ku/ha di tanah dengan P tersedia tinggi. Ukuran ini sama dengan tanaman jati berumur 12 tahun yang dibudidayakan tanpa menggunakan mikoriza.71. jati super bukan spesies khas Sulawesi Tenggara.76 % -21. Aplikasi pupuk hayati cendawan mikoriza arbuskula pada budidaya tanaman ubi kayu sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. 2008).

Setelah tanaman inang keluar bunga (jantan atau betina) sebaiknya digunting agar tanaman dapat merangsang terbentuknya spora cendawan mikoriza di lahan tersebut. Aplikasi inokulum cukup dilakukan satu kali untuk beberpa musim tanam. Pemakaian hasil Hasil panen dapat langsung diaplikasikan pada tanaman ubi kayu dengan dosis 200 g per tanaman. Perlakukan berikutnya adalah pencangkulan. bedeng tersebut dapat digunakan. sorgum atau pueraria. APLIKASI MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR DALAM PROGRAM REBOISASI Perhatian utama pada cendawan mikoriza vesikular arbuskular. Stek ubi kayu ditanamkan pada lubang tersebut tepat diatas permukaan inokulum yang diberikan. Sterilisasi Lahan Pada lahan di atas disebarkan 50-60 g dazomet granular per m2. 3. 2008). Pengambilan tanah sebagai inokulum dilakukan hingga kedalaman sebatas lapisan olah yang telah dilakukan sebelumnya (20-30 cm). Mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal 2. 3. 5. lalu disiram air untuk melarutkan butiran dazomet dan ditutup plastik. Sebaiknya dipilih lahan yang kurang subur yang dekat dengan areal penanaman. 2. Tanaman inang dapat berupa jagung. dan kesuksesannya sebagai jaringan . Multiplikasi Perawatan tanaman perlu dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan atau bedeng pembiakan. juga untuk menguapkan sisa fumigasi. diaduk merata. Memberikan respon yang positif pada tanaman (Balai Penelitian Ilmu dan Teknologi. spora dan akar terinfeksi. Inokulasi Pada tiap lubang yang dibuat. 4. Panen Inokulum Setelah tanaman inang mengering. tanah bedeng tersebut sudah dapat digunakan sebagai inokulum.1. Untuk menjamin terjadinya infeksi pada media pengecambahan dapat diberi inokulum sebagai perlakuan pra-inokulasi sebelum ditanam di bedeng perbanyakan. selain untuk meratakan hasil. 6. karena peranannya sebagai simbion perakaran dari hampir semua jenis tanaman. Manfaat 1. Persiapan Lahan Diperlukan bedengan berukuran 25 m 2 untuk menghasilkan 4 000 kg inokulum berupa campuran tanah. diberikan starter inokulumdari jenis cendawan mikoriza yang akan dikembang biakkan.Lima hari kemudian.

Setelah itu pil dipecah-pecah. Ir. Benang-benang miselia yang menempel pada akar pinus. Diposkan oleh Dr. Untuk membuat tablet. dengan demikian tanaman tumbuh lebih bongsor. dan (4) menggunakan spora mikoriza yang sudah dikemas dalam bentuk kapsul. MS di 03:47 0 komentar Label: Biologi Tanah Rabu. Dalam rangka pelaksanaan program ini. Setelah diberikan pada bibit tanaman. Pil mikoriza ini hanya cocok untuk bibit tanaman. Dalam teknik pemberian mikoriza. (2) menggunakan akar yang mengandung mikoriza. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. Selanjutnya bubuk yang mengandung bibit jamur itu dicetak menjadi batang-batang silinder panjang dengan diameter 0. karena masih dapat bertahan untuk periode selanjutnya. ditumbuk halus bersama media tumbuhnya. Percobaan diterapkan pada bibit-bibit tanaman industri. jamur ini ditumbuhkan pada media buatan dari tanah dan bahan-bahan organik untuk dijadikan bahan baku pil. termasuk yang digunakan dalam program reboisasi di Indonesia. lebih mudah menangkap air tanah dan zat-zat hara. yang akhirnya dikembangkan secara komersil. yang memberikan informasi dan berbagai teknik untuk para ilmuwan Indonesia yang meneliti dan bekerja dengan objek jamur ini secara kelompok di IPB. untuk penanaman berikutnya tidak perlu diinokulasi lagi. racikan bubuk itu dimasukan kedalam kapsul. ahli mikoriza telah membuatnya dalam bentuk tablet dan sudah diujicobakan pada tanah di daerah Lampung. dengan cara diambil dari mikoriza yang dibentuknya. dicampurkan dengan tanah yang dipakai untuk menumbuhkan bibit tanaman. Abdul Madjid. Tablet ini dibuat dari cendawan. (1) menggunakan tanah yang sudah mengandung mikoriza. cendawan akan tumbuh dan menempel pada akar tanaman. biomassa jamur yang terdiri dari benang-benang miselia itu. Di IPB. Setelah teruji kemurniannya.penyerap nutrisi utama dari beragam tanaman. Banyak ahli dari berbagai negara mencoba menumbuhkan (menginokulasikan) mikoriza secara buatan. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan . Aturan pakainya sederhana. dapat tumbuh dua sampai tiga kali lebih cepat. Miselianya dapat menutup permukaan akar dan tumbuh mengikuti perkembangan akar. Kalimantan. Pengaruh yang jelas terlihat karena adanya mikoriza adalah tanaman pinus. Proyek reboisasi juga mendukung pengadaan koleksi germ plasm dari spesies asli jamur mikoriza arbuskular di IPB. 2007 November 21 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. yaitu: (1)Parasitik. Inokulum (bahan yang mengandung mikoriza) diberikan bersama pada waktu persemaian.7 sentimeter. kemudian dimurnikan dari jamur-jamur lain yang berada disekelilingnya. dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain. satu tablet untuk satu bibit. Untuk melindungi dari kontaminasi cendawan jenis lain. dan di kebun percobaan kampus Dermaga. telah diberikan Asosiasi Mycorrhizal Indonesia. (3) menggunakan miselia cendawan. Pada lahan yang sudah pernah diinokulasi dengan inokulum mikoriza. mampu menambah daya tahan akar tanaman. dan hasilnya tanaman yang diberi pil tablet mikoriza pada akarnya.

Abdul Madjid. yaitu: (1)Endomycorhiza. yaitu: (1) Fauna (hewan) tanah. dan rayap). (3)Simbiotik. dan (3)Ektendomycorhiza. flagelata. (d)Moluska. Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. (2)Glomus. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi dua. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. dan kalajengking)dan Insekta (belalang. Ir. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mycorhiza diatas. (3)Acaulospora. dan ciliata. (4)dll Diposkan oleh Dr. dan (b)Nematoda. semut. seperti: omnivorous dan Predaceus. seperti: amoeba. Diplopoda (kaki seribu).akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mycorhiza dengan akar tanaman. kutu. Makro fauna terdiri dari: (a)hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci. yaitu: Mycorhiza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyear pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. Arachnida (lebah. Chilopoda (kelabang).penyakit pada akar tanaman. jangkrik. (b) cacing tanah. (c) Arthropoda. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. seperti: Mycorhiza atau jamur akar. . MS di 17:44 Label: Biologi Tanah Organisme Tanah (Bagian II) Secara umum organisme tanah dikelompokkan menjadi dua. (2)Ektomycorhiza. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. Mycorhiza Mycorhiza adalah fungi yang hidup pada permukaan akar. (2)Saprophitik. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling menguntungkan. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. Endomycorhiza Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti adalah: (1)Gigaspora. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). (2)Mikro Fauna Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa. seperti: penyakit bercak akar kapas. yaitu: (1) Makro Fauna. yaitu: semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop.

yaitu organisme tanah yang berukuran lebih dari 10 mm. dll.2 mm s/d 10 mm. yaitu organisme tanah yang ukurannya kurang dari 0. dan (d) algae. menurut Verstraete (1980) dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Soil Microbiology. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah. dll. Bakteri pelarut fosfat (BPF) merupakan Bakteri tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. Mikrobia Pelarut fosfat (MPF) merupakan mikroorganisme dalam tanah yang hidup bebas yang dapat melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. yaitu: (1) Makrobia. yaitu organisme tanah yang ukurannya antara 0. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop. Zona Hidup Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat baik tergolong bakteri pelarut fosfat (BPF) maupun fungi pelarut fosfat (FPF) hidup dilapisan tanah bagian atas atau top soil. dan (3) Mikrobia. terdiri dari: (a) bakteri. Fungi pelarut fosfat (BPF) merupakan fungi tanah yang memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat anorganik tanah dari bentuk-bentuk fosfat yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk-bentuk fosfat yang tersedia bagi tanaman. (c) actinomycetes. yaitu: (1) Makro Flora. Abdul Madjid. dan (2) Fungi Pelarut Fosfat (FPF). Contoh beberapa fungi pelarut fosfat: Pinicillium. Selain itu. Diposkan oleh Dr. Bacillus. Contoh beberapa bakteri pelarut fosfat: Pseudomonas. Aspergillus. bahwa berdasarkan ukuran.Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua. Suku kata bakteri pelarut fosfat (BPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB). Pengelompokan Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat (MPF) terdiri dari: (1) Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). 2007 November 20 Mikrobia Pelarut Fosfat (MPF) Pengertian Mikrobia Pelarut Fosfat Mikrobia pelarut fosfat atau disingkat dengan MPF merupakan terjemahan dari bahasa inggris Phosphate Solubilizing Microorganisme. (2) Mesobia. MS di 17:19 Label: Biologi Tanah Selasa. (2) Mikro Flora.2 mm. Populasi bakteri pelarut fosfat pada tanah . Ir. Sedangkan suku kata fungi pelarut fosfat (FPF) berasal dari terjemahan Phosphate Solubilizing Fungi (PSF). organisme tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga. (b) fungi. Populasi mikrobia pelarut fosfat lebih banyak ditemukan terutama pada zona rhizosphere.

000 bakteri per gram tanah. Pesan Student Bisnis: http://klikdynasis. yaitu: (1) mampu meningkatkan kelarutan P anorganik. Manfaat Mikrobia Pelarut Fosfat untuk Pertanian Keberadaan mikrobia pelarut fosfat dalam zona rhizosphere tanaman memberikan dua manfaat. dan (2) dapat menekan fiksasi P dengan menonaktifkan Al3+ dan Fe2+ tanah.yang subur melebihi 100. Ir. Abdul Madjid.net/?id=AB148 Diposkan oleh Dr. MS di 18:09 Label: Biologi Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->