NEGARA BRAZIL

Brazil adalah sebuah negara terbesar yang terletak di benua Amerika Selatan. Sebagai negara bekas jajahan Portugal, Brazil banyak mengadopsi budaya serta karakter dari negara Portugal, termasuk bahasa resmi nasional Brazil juga menggunakan Bahasa Portugis walaupun negaRa-negara di sekitar Brazil menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa resminya. Nama Brazil sendiri berasal dari nama sebuah kayu lokal yang hanya tumbuh di negara itu, yaitu Kayu Brasil. Sebagai negara yang berpenduduk paling banyak di wilayah Amerika Selatan, Brazil juga terkenal sebagai penghasil kopi terbesar di dunia. Mengenai sistem pemerintahan di Brazil, saat ini Brazil menganut sistem pemerintahan Republik. Sebuah sistem pemerintahan yang sama seperti Sistem pemerintahan di Indonesia. Walaupun sebenarnya setelah mendapat kemerdekaan dari Portugis pada 7 September 1822 Brazil telah menganut sistem pemerintahan monarki, sebuah sistem pemerintahan yang berdasarkan sistem pemerintahan kerajaan. Karena menganut sistem pemerintahan Republik, maka kepala pemerintahan dan kepala negara ada di tangan Presiden. Berbeda dengan Indonesia yang masa jabatan presiden selama 5th dalam satu periode, di Brazil masa jabatan presiden hanya selama 4th dalam satu periode pemerintahan. Mengenai parlemen yang berfungsi sebagai pengontrol kinerja pemerintah serta sebagai perwakilan rakyat Brazil dalam pemerintahan, Brazil memiliki Kongres Nasional atau semacam MPR-DPR di Indonesia. Kongres ini dibedakan menjadi 2 atau yang lebih populer dengan istilah BIKAMERAL atau parlemen dua kamar, yang terdiri dari Senat Federal dengan 81 kursi dan Câmara dos Deputados dengan 513 kursi. Masa jabatan anggota senat federal dan Câmara dos Deputados berbeda-beda. Seperti halnya di Indonesia, Presiden Brazil mempunyai kekuasaan eksekutif yang sangat besar. Selain memegang kekuasaan pemerintahan, Presiden Brazil juga berhak untuk menunjuk dan membentuk kabinet yang akan membantu dan mendukung presiden dalam menjalankan pemerintahannya.

Kota Rio dengan latar belakang bukit granit langsung berhadapan dengan batas lautan Atlantik dan sapuan pantai pasir putih di pesisirnya. menyusuri pantai-pantai legendaris seperti Ipanema . Kota Rio sendiri bertopografi perbukitan dengan tonjolan-tonjolan khas bukit granit diselingi hijaunya vegetasi tropical dan warna lain dari pemukiman penduduk. Nah.Kisah perjalanan ke Brasil ini diawali ketika saya kerepotan mencari visa turis untuk masuk ke negara samba ini. Susahnya saya tidak tinggal di ibu kota Paris sendiri melainkan di daerah dan untuk pembuatan visa tersebut tidak bisa diwakilkan oleh agen travel. Saya ngambil paket circuit dari agen travel yang kebetulan isinya bule Perancis semua.Rio De Jenairo. Rio kota tebesar kedua di Brasil setelah San Paolo disusul kemudian oleh ibu kota Brasil: Brasilia. Saya diharuskan kembali lagi seminggu sesudahnya untuk mengambil pasport yang sudah di isi visa tersebut. Temen saya yang orang Perancis asli dan ngambil tour sama-sama dengan santainya melenggang tanpa harus ada birokrasi ini itu. Rio dengan jumlah penduduk sekitar 11. mengisi formulir dan segala tetek bengek lainnya. Puas berfoto ria kita beralih ke pesisir. Pendek kata akhirnya sampai juga saya di kota Rio setelah menempuh perjalanan 12 jam penerbangan Paris . Kebetulan saya memang tinggal dan kerja di Perancis. 35 juta punya charme tersendiri dari segi turistik. Kunjungan pertama pagi itu diawali dengan pendakian di bukit Corcovado sebelah utara Rio untuk melihat dari dekat patung Yesus O Cristo Redentor setinggi 30 m yang berdiri megah di puncak bukit Corcovado. namun dibandingkan dengan kedua kota tadi. . pantai Copacabana. dan dua bukit terkenal lainnya Sugar Loaf dari ketinggian. Hari pertama tiba di Rio. Paket tour ini jadwalnya memang cukup padat. untuk liburan kali ini saya ngambil rombongan wisata dengan tujuan utama Brasil. Dari puncak Corcovado kita bisa melihat kota Rio. Untungya kita tidak usah repot-repot bikin acara pendakian karena disitu sudah tersedia tramway yang melintasi hutan lindung Tizuka lansung ke puncak Corcovado. rombongan langsung diangkut melihat kota Rio tanpa ada waktu berleha-leha lebih dahulu di hotel. Yo wis lah terpaksa saya harus rela bolak balik ke Paris sekedar untuk keinginan saya bisa mengunjungi negerinya si Ronaldo ini. Memang ada beberapa negara yang mempunyai prioritas untuk masuk ke Brasil tanpa harus kerepotan mengajukan visa turis. repotnya buat saya yang satu-satunya dari negeri di luar Perancis saya harus datang sendiri ke kedubes Brasil di Paris untuk menyerahkan dokumen. Dalam jatah 10 hari kita bisa melihat negeri Brasil semaksimal mungkin. cuma saya semata wayang yang berkulit cokelat dari Indonesia.

Leblon dan tentu saja Copacabana dan keramaian kaum Cairoca ( penduduk lokal di Rio ) yang berbaur dengan turis-turis dari manca negara. Sayangnya saya tidak ikut-ikutan menenggelamkan diri mandi di laut atau berjemur di pantai sampai gosong kayak bule-bule lainnya tapi cukup berjalan-jalan di sepanjang pantai sambil menikmati nuansa Copacabana disore hari sembari cuci mata. . Air terjun terbesar ketiga setelah Niagara di Canada dan Victoria di Zimbabwe namun yang terindah dari ketiganya dengan panorama alami taman nasional Iguaçu tak heran kalau situs ini masuk dalam daftar peninggalan alam yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1986. Caipirinha dari campuran jeruk nipis yang di tumbuk sebentar didalam gelas dicampur gula pasir. nggak tahu apa fungsinya disisipin sepotong orange di menu ini. Di sebelah selatan Brasil berbatasan dengan Argentina. Sao de Iguaçu kota kecil yang hanya berpenduduk 301 409 jiwa terkenal dengan keindahan air terjunnya. Carrucho dimana kita bisa makan berbagai macam daging sampai blenger yang diiris langsung oleh sang pelayan dari tusukan daging berukuran jumbo. mungkin buat bikin asem-asem di lidah. Hari kedua di Rio diisi dengan jadwal kunjungan ke puncak Sugar Loaf sebagai acara pokok. Saya coba Feijoada semacam sup kacang merah kalau di Jawa. Untuk lunch. cuma yang ini nggak pakai daun menthol. Dua bukit yang menjulang di sebelah barat Rio menjadi salah satu atraksi turis yang paling banyak dikunjungi setelah Corcovado. tepung tapioka yang disangrai garing dan sepotong orange. Keesokan paginya perjalanan dilanjutkan ke lain daerah. kemudian es batu halus dan terakhir. Cuaca cerah yang cukup gerah tak melepaskan minat saya untuk menyeruput kelapa muda yang banyak dijual disepanjang pantai. rhum khas Brasil. rasanya seger banget mirip-mirip Mojito cocktailnya Cuba. barbeque Brasil. Terus dimakan dengan nasi putih dilengkapi oseng-oseng kol hijau ala Brasil. Siang itu saya juga sempat nyoba cocktail Brasil. Tetapi yang ini pakai kacang hitam. dimasak dengan berbagai rempah dengan banyak campuran daging. Cachaça. bagi yang nggak suka ketinggian nggak usah nengok-nengok kebawah deh. Untuk menghubungi dua bukit tesebut tersedia sarana kereta gantung yang meluncur dari satu bukit ke bukit lainnya. Adalagi menu khas. rombongan dibawa ke restoran lokal yang menyajikan makanan khas Brasil. Jika tidak bilang stop sang pelayan akan terus mengisi piring kita dengan daging-daging panggang tersebut sampai kita kewalahan untuk menghabiskannya. dengan penerbangan domestik kita tinggalkan Rio menuju Sao de Iguacu.

cabe. di sini unsur kultur Afrika-nya kental sekali. Kita sempat juga mengunjungi Bird`s Parc Iguaçu yang tidak seberapa jauh dari lokasi air terjun. tomat. Untuk menikmati kendahan air terjun secara spektakuler dari jarak dekat beberapa anggota rombongan termasuk saya sepakat menyewa perahu boat untuk menyusuri arus balik sungai Parana sampai beberapa meter tepat dibawah pancuran air terjun. Menurut sejarahnya penduduk Bahia merupakan turun temurun dari budak-budak Afrika yang dibawa oleh penjajah potugis ke Brasil pada masa abad pertengahan. Salvador de Bahia kota di pesisir laut Atlantik merupakan kota terbesar ke-lima di Brasil dengan penduduk sekitar 2. Sementara 2 sungai yang menyatu di air terjun ini. Esok harinya pagi-pagi buta kita sudah harus meninggalkan Iguaçu untuk melanjutkan perjalanan dengan penerbangan domestik menuju kota Salvador de Bahia sebelah timur laut Brasil . 8 jam penerbangan dengan transit di kota Sao Paolo untuk ganti pesawat. Meskipun sudah diwanti-wanti untuk memakai jas hujan atau mantel anti air tapi tetep saja kita basah kuyup selepas dari acara berperahu ini. Misiones dari sebelah Argentina dan Parana dari wilayah Brasil. Contohnya menu Moqueca dan Vatapa hidangan ikan laut dan udang yang dimasak dengan minyak sawit Dende dan santan kelapa. terutama unsur spicy dan style ala Afrika. bawang bombay. saya jadi keingatan waktu mengunjungi Bird`s Parc di Ubud Bali. dengan bumbu minimalis.Air terjun Iguaçu sebenarnya merupakan sekelompok air terjun yang berjumlah 275 buah yang membentang sepanjang 2.560 masih menyisihkan bangunan-bangunan tua tipe kolonial dari masa penjajahan Portugis. Berjalan dikawasan Porto Sugoro atau Itaparica dengan alunan musik Samba dikejauhan dan ibu-ibu penjual makanan dipinggir jalan dengan kostum tradisional mereka seakan membawa kita masa-masa kolonial. ragam kuliner Bahia tidak kalah menarik dari daerah-daerah lain.tapi disini tempatnya jauh lebih luas menyatu dengan hutan lindung yang ada disitu. Kita harus bangun pagi karena memang route jarak tempuhnya lumayan panjang. seni dan ragam kulinernya cenderung mengarah ke budaya nenek moyang mereka di Afrika sana.5 kilometer dan membatasi antara teritoar Brasil dan teritoar Argentina.673. garam dan merica Rasanya nggak selezat gulai ikan Sumatera tapi lumayan untuk dicoba. Untuk urusan perut.. . tarian dan akrobatik. daun ketumbar fresh.. jahe. bawang putih. adat. Sampai di Salvador de Bahia suasananya tampak beda sekali. Kita bisa melihat aneka burung yang hidup di belantara Brasil dan dipelihara dengan baik di taman indah bernuansa tropikal. Sering juga kita berpapasan dengan group penari Capoera yang mempertunjukan keahlian mereka mencampur unsur bela diri. religius. Biasanya menu ini dimakan dengan nasi putih atau bubur tapioka. Makanya dari segi gaya hidup.

Kalau hari -hari terakhir kita di biasakan oleh hiruk pikuknya manusia dan kota besar.Dua hari tak terasa kita lewatkan di kota Salvador Bahia. buffet untuk dinner telah menunggu. Sungai Amazonia sungai terpanjang kedua setelah Nil menawarkan panorama alam yang menakjubkan. Sore harinya rombongan diantar ke pelabuhan setempat untuk meneruskan perjalanan dengan menggunakan perahu motor lokal menyusuri sungai Amazonia menuju bungalow tempat kita menginap di pelosok belantara dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Seperti pada umumnya kota pelabuhan. pengenalan bermacam tumbuhan liar dari yang bisa dikonsumsi sebagai bahan makanan maupun tumbuhan obat yang banyak dipergunakan oleh kaum indian . Kegiatan di awali dari pengamatan satwa liar. Dua hari tinggal di belantara Amazonia dihabiskan dengan aktifitas ecotouriste yang di bantu oleh seorang guide spesial ahli dibidang kehutanan dan ragam flora fauna di kawasan Amazonia. ternyata pada habitat aslinya mereka tak seganas yang kita bayangkan dan pada umumnya mereka hanya menyerang hewan yang luka dan . keramaian satwa malam dan semerbak harum ikan panggang segar dari sungai Amazonia membuat kita tersadar bahwa hidup ini terasa indah bila semuanya damai dan lestari. Sampai di bungalow senja telah turun. mengunjungi perkampungan indian setempat. Kita sempat melintasi pertemuan dua aliran sungai yang berbeda warna dari aliran Rio Negro yang kehitaman dan Solimoes yang keruh kecokelatan. Ikan khas Amazon ini terkenal dengan kebuasannya. berburu caiman ( semacam buaya kecil yang banyak terdapat didaerah itu ) sampai acara memancing ikan piranha. Manaus merupakan distrik tempat pelabuhan central Amazonia dimana kita bisa melihat banyak kapal-kapal berlabuh disitu baik kapal angkutan umum. Di antara keremangan senja. Salah satu peninggalan masa kejayaan Manaus adalah bangunan megah opera Amazonas yang terletak ditengah kota. sekarang route terakhir dari perjalanan kita memasuki kawasan utara negeri Brasil dengan pusat tujuan kota Manaus di pesisir sungai besar Amazonia serta hutan belantara tropikal terbesar didunia. terkadang melintas burung-burung Ara dengan warna-warninya di rerimbunan kanopi hutan hijau atau ikan lumba-lumba air tawar yang berenang tak seberapa jauh dari perahu. Penjajah Portugis yang mengeksplosir perkebunan karet sempat menjalin masa keemasan dengan membuka gaya hidup baru kota Manaus ala Eropa. kapal dagang ataupun kapal yang mangangkut hasil hutan dan industri. kali ini kita dibawa ke pedalaman rimba raya menghijau dengan ke-aneka ragaman ekosistemnya. Kota Manaus sempat populer di awal abad ke 19 saat meledaknya industri karet dari kawasan ini. Di kota Manaus sendiri kita cuma tinggal seharian menikmati kota yang cukup ramai ini.

.. Kita punya waktu bebas selama dua hari untuk menikmati kesempatan terakhir di kota Rio atau sekedar shopping memenuhi koper oleh-oleh... Feijoada dan Moqueca tak terlalu susah untuk dibuat. beberapa oleh-oleh untuk teman-teman telah siap didalam koper. soalnya untuk melihat perkampungan kumuh di tengah kota dengan kemiskinan masyarakatnya bukan merupakan tontonan yang menarik dan itu bukan merupakan hal yang baru bagi saya Tetapi bule-bule itu pada ngotot pengin mengunjunginya.hmmmmmm merekapun tahu kalau saya paling hobby dalam urusan makan-makan. Terbayang ide di benak saya untuk awal bulan depan mengundang beberapa kerabat dekat. menceritakan kisah perjalanan saya ke Brasil sambil menikmati menu kuliner khas Brasil yang akan saya olah sendiri. Kayaknya Caipirinha. Menurut saya pribadi tidak begitu menarik. Saya sendiri dengan beberapa rekan anggota rombongan yang sudah menjadi akrab memilih acara jalan-jalan di sepanjang Copacabana. tak lupa sebotol Caçacha masuk dalam daftar bawaan. Setelah usai mengunjungi Favelas untungnya kunjungan terakhir kita pilih ke Botanical Garden yang lebih menyejukan dan memberikan udara jauh lebih segar di benak kita.. Ada beberapa jenis ikan piranha dan jenis ikan piranha merahlah yang konon terkenal paling agresif. soalnya ikan-ikan hasil tangkapan kita langsung kita bakar dan rasanya tidak kalah menarik dari ikan-ikan air sungai lainnya. Tapi biar bagaimanapun juga image tentang kebuasan piranha memang sudah melegenda ini terbukti ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri kegarangan gigi-gigi ikan piranha yang berhasil saya tangkap.sebagian besar jenis piranha lebih suka makan tetumbuhan. Dan baru saya ketahui kalau ternyata ikan piranha enak untuk dimakan. Route terkahir dari kunjungan ke Brasil ini dari Amazonia kita kembali ke Rio untuk menghabiskan sisa hari terkahir sebelum kita kembali ke Paris. . soalnya Favelas terkenal juga dengan tingkat kriminalitasnya.. dan salah satu anggota menyarankan untuk melihat dari dekat Favelas perkampungan urban kaum Carioca. akhirnya untuk menjaga keamanan kita menyewa guide lokal.. Akhirnya saya tinggalkan Brasil dengan sejuta kenangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful