P. 1
Makalah Aspek Filosofis Hukum Kewarisan Dalam Al Quran

Makalah Aspek Filosofis Hukum Kewarisan Dalam Al Quran

|Views: 574|Likes:
Published by Muhammad Jays

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Jays on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2014

pdf

text

original

0

ASPEK FILOSOFIS
HUKUM KEWARISAN DALAM AL QUR’AN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata kuliah :
Pengantar Ilmu Fiqh
Dosen Pembimbing : Prof. Dr. H. Suharto, SH.,MH.
Oleh :
Muhammad Jayus
NPM. 1123010014
Prodi Ilmu Syari’ah
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2011
1
ASPEK FILOSOFIS HUKUM KEWARISAN DALAM AL QUR’AN
A. Pendahuluan
Hukum Islam mempunyai dinamika dan karakter sendiri serta mempunyai
ruang lingkupnya sendiri. Sistem hukum Islam mempunyai system yang tersendiri
yang dikenal dengan hukum fikih
1
. Hukum fikih bukanlah hukum yang sempit
tetapi hukum yang masih sangat luas. Hukum fikih ini mencakup semua aspek
kehidupan umat manusia. Baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Ibadah
adalah hukum mengenai bagaimana manusia berhubungan dengan Allah, sedang
muamalah adalah hukum yang mengatur bagai hubungan antar sesama manusia.
Sejak awal kelahiranya Islam tidak mempunyai tujuan yang lain selain
untuk mencapai kemaslahaatan umat manusia, baik lahir maupun batin baik
selamat di dunia maupun di akhirat.
Sampai saat ini di Indonesia belum terbentuk hukum kewarisan secara
nasional yang dapat mengatur pewarisan secara nasional. Sehingga dalam hukum
kewarisan di Indonesia dapat menggunakan berbagai macam system pewarisan
antara lain: sistem hukum kewariswan menurut KUH Perdata, sistem kewarisan
menurut hukum adat dan sistem kewarisan menurut hokum Islam.11 Ketiga
sistem ini semua berlaku dikalangan masyarakat hukum di Indonesia. Terserah
para pihak untuk memilih hukum apa yang akan digunakan dalam pembagian
harta warisan yang dipandang cocok dan mencerminkan rasa keadilan.
Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam
dimungkinkan banyak dari anggota masyarakat yang mengunakan system hukum
Islam. Tetapi seiring dengan perkembangangan zaman yang ditandai dengan
kemajuan dan teknologi prinsip-prinsip dalam hukum Islam terus mengalami
kemajuan yang pesat. Dan selalu mengikuti perubahan zaman guna untuk
kemaslahatan umat di dunia. Tanpa membedakan baik laki-laki maupun
perempuan.
Asas hukum dalam pewarisan Islam tidak memandang perbedaan antara
laki-laki dengan perempuan semua ahli waris baik laki-laki maupun perempuan
1
Ahmad Qodri Azizy “ Memahami Hukum “ Wawasan 13 Januari 1990
2
mempunyai hak yang sama sebagai ahli waris. Tetapi hanyalah perbandinganya
saja yang berbeda.
B. Pengertian Waris
Kata waris berasal dari bahasa Arab akan tetapi dalam praktek lebih lazim
disebut “Pusaka”. Bentuk kata kerjanya ) ثرو – ثﺮﯾ ( Warastra Yarisu dan kata
masdarnya Miras. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu
dari seseorang kepada orang lain', atau dari suatu kaum kepada kaum
lain. Masdar yang lain menurut ilmu saraf masih ada tiga yaitu wirsan, wirasatan
dan irsan. Sedang kan kata waris adalah orang yang mendapat warisan atau
pusaka.
Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para
ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal
kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu
berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal
secara syar'i.
Dalam literatur hukum arab akan ditemukan penggunaaan kata Mawaris,
bentuk kata jamak dari Miras. Namun banyak dalam kitab fikih tidak
menggunkan kata mawaris sedang kata yang digunakan adalah faraid lebih
dahulu daripada kata mawaris. Rasullulah SAW menggunakan kata faraid dan
tidak menggunnakan kata mawaris. Hadis riwayat Ibnu Abas Ma’ud berbunyi :
dari ibnu Abas dia berkata, Rasullulah bersabda: Pelajarilah al-Qur’an dan
ajarkanlah pada orang lain. Pelajari pula faraid dan ajarkan kepada orang-
orang (HR Ahmad)
2
C. Dasar Hukum Waris
Dasar utama hukum waris Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis,
khususnya menyangkut forsi atau bagian masing-masing ahli waris.
2
H Achmad Kuzari Sistem Asabah Dasar Pemindahan Hak Milik atas Harta Tinggalan (
Bairut Dar al-jal , 1973 ) hlm 168V
3
Dalam QS. An-Nisa' ayat 11, 12 dan 176. Allah berfirman:
`¸>,¸.¡`, ´<¦ _¸· ¯¡é¸..l¸¦ ¸¸´¸l `_:¸. ¸1> ¸_,´,:.¸¦ ¿¸|· ´_´ ´,!.¸· _¯¡· ¸_,...¦ ´_¸ l· !:l. !.
ì¸. ¿¸|´¸ ¸.l´ :.¸>´¸ !¸l· ¸`.¸.l¦ ¸«,´ ¡,¸¸´¸ ¸_>¸l ¸.¸>´¸ !.·¸.¸. '_.´.l¦ !´.¸. ì¸. ¿¸| ¿l´ .«l
´¸ ¿¸|· `¸l _>, .` ´¸ .«.¸¸´¸´ ¸ :¦´¡,¦ ¸«¸.¸¸· ¸l.l¦ ¿¸|· ¿l´ .` :´¡>¸| ¸«¸.¸¸· '_.´.l¦ _¸.
¸.-, ¸«¯,¸.´¸ _¸.¡`, !¸¸, ¸¦ ¸_¸: ¯¡´¸!,¦´, ¯¡´¸!.¯,¦´¸ ¸ ¿¸'¸.. ¯¡¸¯,¦ ´,¸·¦ ¯>l !´-±. «.,¸¸ · _¸.
¸<¦ ¿¸| ´<¦ ¿l´ !.,¸ls !.,¸>> ¸¸¸¸ ¤ ¯¡÷l´¸ ¸`.¸. !. ì¸. ¯¡÷`>´¸¸¦ ¿¸| `¸l _>, ´_¸l ´¸
¿¸|· ¿!é _¸l ´¸ `¡÷l· _,´¸l¦ !´.¸. ´_é¸. _¸. ¸.-, ¸«¯,¸.´¸ _,¸.¡`, !¸¸, ¸¦ ¸_¸:
_¸l´¸ _,´¸l¦ !´.¸. `¸.´¸. ¿¸| ¯¡l _÷, ¯¡>l .l´¸ ¿¸|· ¿!é ¯¡÷l ´¸ ´_¸l· _.:l¦ !´.¸.
,.é¸. _¸. ¸.-, ¸«¯,¸.´¸ _¡.¡. !¸¸, ¸¦ ¸_¸: ¿¸|´¸ _l´ _`>´¸ ,´¸¡`, .lé ¸¸¦ :¦¸.¦ .`´¸
_¦ ¸¦ ¸>¦ ¸_>¸l· ¸.¸>´¸ ! .¸.¸. '_.´.l¦ ¿¸|· ¦¡.lé ´¸.é¦ _¸. ,¸l: ,¸· ',lé´¸. _¸·
¸¸l.l¦ _¸. ¸.-, ¸«¯,¸.´¸ _.¡`, !¸¸, ¸¦ ¸_¸: ´¸¯,s ¸¯¸!.`. «¯,¸.´¸ ´_¸. ¸<¦ ´<¦´¸ '¸,¸l. '¸,¸l> ¸¸_¸
Artinya : 11. Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk)
anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua
orang anak perempuan
3
; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua
4
,
Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak
perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua
orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak
mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat
sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya
mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi
wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang
tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang
lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
12. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan
oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu
mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah
3
bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat
dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (lihat surat An
Nisaa ayat 34).
4
lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.
4
dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu
tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka
para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah
dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan
ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki
(seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-
masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-
saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang
sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar
hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)
5
. (Allah
menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan
Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. (QS. An Nisa : 11 – 12)
,.¡.±.`.¸ ¸_· ´<¦ ¯¡÷,¸.±`, _¸· ¸.l>l¦ ¸¿¸| ¦¸'¸¯.¦ ,l> ´_,l .«l ´¸ .`´¸ ¸>¦ !¸l· ¸`.¸. !.
ì¸. ´¡>´¸ !¸.¸¸ , ¿¸| ¯¡l _>, !> ´¸ ¿¸|· !..l´ ¸_,.´..¦ !.¸l· ¸¿!:l:l¦ !.· ì¸. ¿¸|´¸ ¦¡.l´ :´¡>¸|
¸l>¸¯¸ ´,!.¸·´¸ ¸¸´¸l· `_.¸. ¸1> ¸_,´,:.¸¦ _¸,,`, ´<¦ ¯¡÷l ¿¦ ¦¡l¸.. ´<¦´¸ ¸_>¸, ¸,`_: ´¸,¸l. ¸¸__¸
Artinya : 176. Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)
6
. Katakanlah:
"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal
dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka
bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya,
dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan),
jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang,
Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang
meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) Saudara-saudara laki dan
perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua
orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya
kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa :
176)
Ayat-ayat tentang kewarisan tersebut di atas merupakan ketentuan Allah
secara umum ('Am) menyangkut siapa-siapa saja yang menjadi ahli waris
berdasarkan hubungan kekerabatan seperti ayah, ibu, anak, dan saudara, ataupun
karena hubungan perkawinan (suami/isteri). Selain dari pada itu juga menentukan
tentang berapa besar bagian masing masing ahli waris dan langkah apa saja yang
dilakukau sebelum menentukan harta peninggalan pewaris baru dikatakan sebagai
5
memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. mewasiatkan lebih
dari sepertiga harta pusaka. b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. sekalipun
kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan
6
kalalah ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.
5
harta warisan (terlebih dahulu menyelesaikan wasiat pewaris dan membayarkan
utang pewaris).
Selain dari pada itu, dalam ayat di atas juga digariskan bahwa forsi
seorang laki-laki sama dengan forsi dua orang perempuan dalam satu tingkatan,
baik dalam tingkatan anak, saudara ataupun antara swami dengan isteri. Diantara
hukum waris Islam yang bersumber dari Hadis Nabi Muhammad Saw., adalah
sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.: Artinya : Nabi Muhammad
Saw. bersabda: " Berikanlah harta pusaka kepada orang yang berhak. Sisanya
untuk (orang) laki-laki yang lebih utama.
7
Hadist tersebut mengatur tentang peralihan harta dari pewaris kepada ahli
waris, setelah itu jika terdapat sisa, maka forsi laki-laki lebih besar dari forsi
perempuan.
1. Sebab-Sebab Kewenangan Memperoleh Hak Kewarisan
Di kala terjadi peristiwa kematian, seseorang yang meninggal dunia ada
kemungkinan pada saat tersebut orang yang meninggal dunia tersebut memiliki
harta. Kemudian ada ketentuan syariat bahwa orang yang telah meninggal tidak
lagi dikenakan hak maupun kewajiban. Menurut ketentuan yang telag ditetapkan
oleh syariat Islam disaat kematian telah terjadi perpindahan hak atas hak milik
dengan sendirinya.
Dalam kitab fikih yang memperoleh hak waris dibagi dalam tiga sebab.
Adapun sebab-sebab memperoleh hak kewarisan adalah:
a. Garis Keturunan
Dalam Hukum hukum waris Islam orang yang berhak memperoleh harta
warisan adalah orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris
Yaitu: anak, saudara, ayah , ibu
b. Karena Ikatan Perkawinan
Dalan hukum waris Islam yang berhak mendapatkan harta warisan
berdsarkan berdasarkan ikatan perkawinan adalah: suami atau Istri
7
M. Fuad Abdul Baqi, Al-lu’lu wa al Marjan, Juz II, (Kairo: dar al-Ihya al-Kutub a1-’
Arabiyah, tt.,), hlm. 183.
6
c. Wala
Sebab mendapatkan kewarisan berdasarkan Wala’ul ataqadah adalah
hubungan yang tercipta dari tindakan seseorang pemilik budak yang
memerdekakan budaknya. Kemudaian bekas budak itu mati dan
meninggalkan harta warisan maka orang yang telah memerdekakan budak
tersebut berhak mendapat harta warisan dari budak yang dimerdekakan
tersebut.
d. Wasiat
Hak mendapatkan warisan dalam hukum Islam karena wasiat apabila
sepanjang hidupnya ahliwaris telah membuat surat wasiat yang
menyatakan bahwa orang tersebut berhak mendapat hak atas harta
peninggalan setelah pewaris meninggal. Sedangkan jumlah bagian dari
wasiat ini sangat dibatasi tidak boleh lebih dari 1/3 dari harta warisan
setelah dikurangi semua beban dan biaya.
2. Sebab-Sebab Tidak Mendapat Harta Warisan
Sebab-sebab yang menjadi penghalang mendapatkan hak atas harta
warisan yang telah disepakati oleh para ulama adalah:
a. Membunuh Pewaris
Berhubungan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas maka para
ulama sepakat bahwa membunuh pewaris adalah penghalang bagi ahli
waris untuk mendapatkan harta warisan yang telah di tinggalkan orang
yang dibunuh. Hadis tersebut berbunyi : Dari Ibnu Abas Rasullulah SAW
bersabda. Siapa membunuh seseorang maka ia tidak mewaris dari orang
itu sekalipun tidak mempunyai ahli waris selainya. (HR al Baihagqiy).
Kecuali karena ada hadis didalam praktek ketika khalifah Umar bin
Khatab RA memutuskan perkara kewarisan harta peninggalan Ibnu
Qudmah, seorang ayah karena alasan membunuh maka ia tidak diberi
bagian sama sekali.
Dalam kompilasi hukum Islam menyebuitkan dalam Pasal 173 bahwa
hakim bisa memutuskan adanya halangan menjadi ahli waris antara lain
7
sebagai berikut: Dipersalahkan secara fitnah telah mengajukan pengaduan
bahwa pewaris telah melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman
5 tahun penjara atau lebih berat. Ketentuan ini tidak terdapat dalam
literature Fikih secara persis tetapi ada yang berdekatan yaitu Kalau
melihat pendapat dari Imam Malik beliau mengatakan bahwa pembunuhan
yang menjadi mawali’ul iris harus ada dalam unsur yang bermaksud
dengan sengaja dan permusuhan. Termasuk mereka yang menjadi saksi
palsu.
8
b. Berbeda Agama
Berbeda agama yang dimaksud dengan berbeda karena pewaris beragama
Islam sedang yang menjadi ahli waris adalah kafir. Maka para ulama
sepakat bahwa perbedaan agama menjadi penghalang, hal ini memakai
dasar fari hadis Rasullilah SAW yang diriwayatkan Usamah.
Dari Usamah bin Zaid dari nabi Nuhhammad SAW bersabda : Bahwa
Orang Islam itu tidak mewaris dari orang kafir dan orang kafir tidak
mewaris tidak mewaris dari orang Islam.
9
c. Murtad
Orang Murtad yang beralih agama yaitu yang meninggalkan agama Islam
dengan kemaunya sendiri. Para ulama berpendapat menetapkan bahwa
orang yang murtad, baik laki-laki maupun perempuan tidak berhak
menerima warisan dari keluarganya yang beragama Islam. Demikian pula
keluarga yang beragama Islam tidak berhak menerima warisan orang yang
murtad.
3. Golongan Ahli Waris
Dalam hukum kewarisan Islam mengenal golongan Ahli waris yang
ditinjau dari berbagai segi. Antara lain. Dari jenis kelamin laki-laki dan
8
Abu Zahra Muhammad: Ahkam Tirkat Wal Mawaris dikutip dari Achmad Khudzi ,
Sistem Asabah Dasar Pemindahan Hak Atas harta peninggalan, (Jakarta Raja Grafindo Persada)
hal 27
9
Hasniah Hasan Hukum Waris dalam Islam ( Surabaya , PT Bina Ilmu 1997) Hal 16
8
perempuan ditinjau dari bagianya, dzawil furud dan dzawil asabah yang masing-
masing bagianya ditetapkan dalam sistem pewarisan.
a. Golongan Ahli Waris Laki-laki
Di tinjau dari jenis kelamin laki-laki ahli waris berjumlah 14(empat belas)
golingan yaitu:
1) Anak laki-laki
2) Cucu laki-laki ( anak laki-laki dari anak laki-laki)
3) Bapak
4) Kakek
5) Saudara laki-laki sekandung
6) Saudara laki-laki seibu
7) Saudara laki-laki sebapak
8) Anak laki-laki dari saudara laki-laki
9) Anak laki-laki dari saudara sebapak
10) Paman ( saudara laki-laki bapak yang sekandung)
11) Paman ( saudara laki-laki yang sebapak)
12) Anak laki-laki dari paman yang sebapak dengan bapak
13) Anak laki-laki dari paman yang sebapak dengan ayah
14) Suami
Apabila ahli waris tersebut semua ada maka yang berhak mendapatkan
bagian dari harta peninggalan adalah hanya tiga saja yaitu:
1) anak laki-laki
2) bapak
3) suami
b. Ditinjau Dari Jenis Kelamin Perempuan
Ditinjau dari jenis kelamin perempuan terdiri dari 9 golongan ahli waris yaitu:
1) Anak perempuan
2) Cucu perempuan
3) Nenek( ibu dari bapak)
4) Nenek (ibu dari ibu)
5) Saudara perempuan sekandung
6) Saudara perempuan sebapak
7) Saudara perempuan seibu
8) Istri
9) Ibu
9
Apabila ahli waris semua ada m aka yang berhak memperoleh bagian dari
harta peninggalan hanya 5 golongan saja yaitu:
1) Istri
2) Anak perempuan
3) Cucu perempuan dari dari anak laki-laki
4) Ibu
5) Saudara Perempuan Sekandung
Apabila semua ahli waris ada baik laki-laki maupun perempuan , maka
yang berhak mendapatkan harta warisan adalah 5 golongan saja yitu:
1) Suami/ istri
2) Ibu
3) Bapak
4) Anak laki-laki
5) Anak perempuan.
c. Ditinjau Dari Hak dan Bagiannya
Ditinjau dari hak dan bagianya para ahli waris mendapat bagian yang telah
tertentu antara ahli waris golongan yang satu dengan golongan yang lainya.
Adapun bagianya adalah:
1) Ahli waris yang mempunyai bagian ½ (seperdua) adalah
a) Anak perempuan tunggal
b) Cucu perempuan tunggal yang sekandung dari anak laki-laki
c) Saudara perempuan tunggal yang sekandung dan sebapak
d) Suami jika istri tidak meninggalkan anak
2) Ahli waris yang mendapat bagian ¼ (seper empat) adalah:
a) Suami jika Meninggalkan anak
b) Istri Jika suami tidak meninggalkan anak
3) Ahli waris yang mendapat bagian 1/8 ( seper delapan) adalah :
a) Istri Jika Suami Meninggalkan anak
4) Ahli waris yang mendapat bagian 2/3 (dua pertiga) adalah:
a) Dua anak perempuan atau lebih
b) Dua cucu perempuan atau lebih
c) Dua saudara perempuan atau lebih yang seibu bapak atau sekandung
d) Dua orang saudara perempuan sebapak atau lebih
5) Ahli waris yang mendapat bagian 1/6 ( seper enam ) adalah :
a) Ibu Jika anak nya meninggalkan anak atau cucu
10
b) Bapak jika anak meninggalkan anak
c) Nenek jika tidak ada ibu
d) Kakek jika tidak ada ayah
e) Kucu perempuan jika yang meninggal mempunyai anak tunggal
f) Seorang saudara yang seibu laki-laki atau perempuan
6) Ahli waris yang mendapat bagian 1/3 (seper tiga)
a) Ibu Jika yang meniggal tidak mempunyai anak
b) Dua saudara se ibu atau lebih
10
4. ‘Ashabah
Telah dijelaskan diatas bahwa ahli waris ada yang mendapat bagian
tertentu dan ada yang tidak mendapat bagian tertentu yaitu. Bahkan tidak
mendapat bagian apa-apa karena telah habis dibagi oleh golongan ahli waris
dzawil furud yaitu golongan dzawil asabah. Ahli waris dfzawil asabah di bagi
dalam 3 macam yaitu:
a. ‘Ashabah Binnafsihi
Yaitu ahli waris yang berhak mendapat semua sisa harta secara langsung
dengan sendirinya, dia mendapat bagian bukan karena bersama dengan ahli waris
yang lain. Asabah Binnafsihi ini berjumlah 12 Golongan yaitu:
1) Anak laki-laki
2) Cucu laki-laki
3) Bapak
4) Kakek
5) Saudara laki-laki sekandung
6) Saudara laki-laki sebapak
7) Anak saudara laki-laki sekandung
8) Anak saudara laki-laki sebapak
9) Paman ( saudara bapak sebapak)
10) Paman (saudara bapak sekandung)
11) Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak
12) Anak laki-laki paman yang sebapak dengan bapak
11
Apabila ahli waris tersebut semuanya ada maka yang didahulukan yang
dekat dengan yang meninggal.
10
Hasniah Hasan Hukum Waris dalam Islam ( Surabaya , PT Bina Ilmu 1997) Hal 16
11
Ibid,
11
b. ‘Ashabah Maal Ghair
‘Ashabah Maal Ghair adalah ahli waris yang berhak menjadi asabah
karena bersama-sama dengan ahli waris yang lain:
1) Saudara perempuan sekandung seorang atau lebih bersama anak
perempuan atau bersama cucu perempuan
2) saudara perempuan sebapak bersama-sama dengan anak perempuan atau
cucu perempuan
c. ‘Ahsabah Bilghair
Asabah Bilghair adalah ahli waris yang berhak mendapat semua sisa harta
karena bersama ahli waris lain yaitu:
1) Anak perempuan menjadi asabah karena ada saudara laki-laki atau bersama
anak laki-laki
2) Cucu perempuan bersama cucu laki-laki
3) Saudara perempuan sekandung menjadi asabah dengan sudara laki-laki
sekandung
4) Saudara perempuan sebapak jika bersama dengan saudara nya yang laki-laki
ditarik menjadi asabah
D. Hikmah Waris
Proses kewarisan itu memiliki hikmah yang cukup penting bagi
kehidupan muslim antara lain:
a. Sebagai sarana pencegahan kesengsaraan atau kemiskinan ahli waris.
Hal ini terlihat bahwa dalam sistem kewarisan Islam memberi bagian
sebanyak mungkin ahli waris dan kerabat. Bukan saja anak-anak
pewaris, tetapi juga orang tua, suami dan isteri, saudara-saudara
bahkan cucu, kakek atau nenek. Bahkan dalam proses pembagian
hartapun diajarkan agar ahli waris memberi atau menyedekahkan
bagi orang-orang miskin dan yatim yang hadir saat pembagian
12
warisan, khususnya di antara kerabat (Q.S. An-Nisa’ (4) ayat 8),
serta menyedekahkan harta peninggalan melalui lembaga wasiat,
baik kepada kerabat seperti ibu bapak dan di luar kerabat juga
kepada isteri untuk menjaga kesejahteraannya (QS. Al -Baqarah (2)
ayat 180 dan 240). Di samping itu masih ada hal lain, pewaris yang
disalurkan melalui baitul -mal (HR. Ahmad dan Abu Daud).
b. Sebagai sarana pencegahan dari kemungkinan penimbunan harta
kekayaan yang dilarang oleh agama (QS. An-Nisa’ (4) ayat 37).
Setiap muslim diajarkan agar berwasiat dan memberikan sebagian
harta peninggalan kepada orang miskin. Islam menghendaki harta
kekayaan itu berputar bukan saja di antara masyarakat umum. Hal
ini berbeda dengan sistem kapitalis, di mana individu mempunyai
hak menguasai harta kekayaan, tanpa adanya aturan moral yang
membatasi pertimbangan kemasyarakatan dalam upaya menyalurkan
dan mendayagunakan kekayaan. Akibatnya terjadi dua hal yang
saling berbeda. Dimana pada satu pihak orang-orang miskin semakin
terlantar karena tidak ada tumpuan atau institusi sebagai tempat
bergantung, sedang di pihak lain terjadi penimbunan atau monopoli
dari orang-orang yang memiliki harta kekayaan.
c. Sebagai motivator bagi setiap muslim untuk berusaha dengan giat
mencari rejeki yang halal dan berkecukupan. Dalam Islam nilai
usaha sangat ditekankan karena Allah akan memberi rejeki sesuai
dengan yang diupayakan manusia (Q.S. An-Najm (53) ayat 39).
Dengan adanya semangat kerja dan etos kerja manusia akan mampu
meningkatkan kesejahteraan diri sendiri dan keluarga. Sehingga
ketika mereka meninggal akan memiliki kebanggaan karena mampu
memberi harta warisan kepada yang ditinggalkan.
d. Pembagian harta peninggalan kepada yang berhak mewarisi
mewujudkan hubungan kasih sayang antar keluarga untuk
menanggung dan saling menolong dalam kehidupan sesama
keluarga. Karena itu dalam pembagian harta peninggan itu harus
13
didasari dengan keimanan kepada Allah dan kepatuhan dengan
ikhlas terhadap ajaran-ajaran Allah seperti termaktub di dalam Al -
Qur’an, dengan pembagian harta peninggalan tersebut yang
berdasarkan ajaran Allah akan digunakan untuk memenuhi material
antar keluarga.
e. Dalam kehidupan bermusyawarah dengan pembagian waris
berdasarkan asas-asas sebagaimana tersebut di atas, ajaran Islam
membersihkan masalah harta dari tertumpuknya pada seseorang yang
bukan haknya. Dengan pembagian tersebut memberikan hak kepada
semua anggota keluarga sesuai dengan kewajibannya dalam
kekeluargaan yang berhubungan dengan orang yang meninggal.
f. Pembagian waris dalam Islam tidak hanya ditunjukkan kepada
seseorang tertentu dari keluarga tanpa memberi kepada anggota
keluarga lain dan tidak pula diserahkan kepada negara padahal ada
anggota keluarga. Maka pembagian waris dalam Islam untuk
mewujudkan kemaslahatan anggota keluarga di dalam hidup
bermasyarakat.
12
E. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan singkat di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Waris adalah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal
kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa
harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i.
b. Hikmah dari pembagian warisan dalam Islam tidak hanya
ditunjukkan kepada seseorang tertentu dari keluarga tanpa
memberi kepada anggota keluarga lain dan tidak pula diserahkan
kepada negara padahal ada anggota keluarga. Maka pembagian
waris dalam Islam untuk mewujudkan kemaslahatan anggota
keluarga di dalam hidup bermasyarakat
12
Ismail Muhammad Syah, 1992, Filsafat Hukum Islam, Bina Aksara, Jakarta,
hlm. 235
14
F. Daftar Bacaan
Al qur’an dan terjemahnya
Achmad Khudzi , Sistem Asabah Dasar Pemindahan Hak Atas harta
peninggalan, (Jakarta Raja Grafindo Persada)
Ahmad Qodri Azizy “ Memahami Hukum “ Wawasan 13 Januari 1990
Ahmad Rofik, Fiqh Mawaris, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998).
Ahmad Zahari, Tiga Versi Hukum Kewarisan Islam: Syafi'i, Hazairin dan KHI,
(Pontianak: Romeo Grafika, 2003).
Ali Parman, Kewarisan Dalam Al-Qur'an; Suatu Kajian Hukum Dengan
Pendekatan Tafsir Tematik, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995).
H Achmad Kuzari Sistem Asabah Dasar Pemindahan Hak Milik atas Harta
Tinggalan ( Bairut Dar al-jal , 1973 )
Hasniah Hasan, Hukum Waris dalam Islam ( Surabaya , PT Bina Ilmu 1997)
Ismail Muhammad Syah, 1992, Filsafat Hukum Islam, Bina Aksara,
Jakarta,
M. Fuad Abdul Baqi, Al-lu’lu wa al Marjan, Juz II, (Kairo: dar al-Ihya al-Kutub
a1-’ Arabiyah, tt.,),
Muhammad Daud Ali , 1997, Hukum Islam dan Peradilan Agama, cet.I,
Raja Grafindo Persada, Jakarta
Muhammad Jawad Mughniyah, 1996, Fiqih Lima Mazhab: Ja’fari,
Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, cet. II. Terjemahan Masykur
A.B. et al., Lentera, Jakarta.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, 2006. Petunjuk Praktis Hukum Waris
: menurut al Qur’an dan As Sunnah yang Shahih, Pustaka Ibnu Katsir,
Bogor.
Ahmad Rofiq, 2002, Fiqh Mawaris, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Mohammad Daud Ali, 1998, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->