PROSES PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN DRAINASE SECARA TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN (ECODRAIN

)

Jun 18, '08 12:26 AM for everyone

4.1. Perencanaan Perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) adalah tahapan awal pengelolaan sebagai upaya untuk menyusun rencana detil dan usulan program investasi yang komprehensif dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan, berdasarkan kajian dari berbagai aspek sebagai acuan dalam penyelenggaraan pengelolaan Drainase secara terpadu berawawasan lingkungan. Perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dimaksudkan untuk memaksimalkan segala upaya dan potensi di kawasan/lokasi sehingga rencana pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dapat terlaksana secara berkesinambungan. Kegiatan perencanaan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) meliputi: a) Identifikasi Masalah dan Penetapan Kawasan/Lokasi Prioritas ditangani. b) Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) dan Penyusunan Program Investasi. c) Penyusunan Studi Pemberdayaan dan Pengelolaan Sampah Terpadu (3R). d) Penyusunan Studi Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). e) Penyusunan Perencanaan Teknis ( Detail Engineering Design ) untuk: a. Saringan Sampah dan bangunan pelengkapnya; dan b. Unit perangkap dan pengolahan sedimen; c. Unit pengolahan air limbah dan bangunan pelengkapnya. f) Penyusunan Dokumen Usaha Pengelolaan Lingkungan (UKL/UPL). 4.1.1. Identifikasi Masalah Kualitas Air, Sampah, Sedimen dan Pengelolaan Drainase Perkotaan Tahap awal dalam proses perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) adalah kegiatan identifikasi dan perumusan masalah dalam pengelolaan Drainase di kawasan perencanaan (perkotaan). Keluaran dari tahapan ini adalah teridentifikasinya permasalahan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam pelaksanasn kegiatan selanjutnya. Proses identifikasi permasalahan ini dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan atau Satker (SNVT) Pengembangan PLP di Provinsi. Langkah-langkah kegiatan identifikasi dan perumusan masalah dalam pengelolaan Drainase di kawasan perencanaan (perkotaan) adalah meliputi kegiatan sebagai berikut: 1. Mengumpulkan data dan informasi kondisi kualitas air permukaan (sungai, waduk, situ, dan pantai) dan kategori indeks pencemaran air (IP); 2. Mengumpulkan data dan informasi permasalahan sampah dan sedimen, volume timbulan sampah perairan di saluran Drainase/sungai; 3. Melakukan pengumpulan data informasi kondisi pengelolaan Drainase, persampahan dan air limbah kota (sistem, teknis operasional, institusi, peraturan, pembiayaan serta peran masyarakat dan swasta); 4. Merumuskan masalah dalam pengelolaan Drainase (masalah banjir, genangan, Drainase, sampah sungai dan pencemaran air). Rumusan ini berdasarkan: a. Penyebab bencana pencemaran air, banjir/genangan dan sampah perairan (spesifik), b. Skala/besaran akibat (indeks pencemaran air, timbulan sampah perairan, kesehatan masyarakat, penyebab banjir/genangan), serta c. Sumber sampah sungai dan pencemaran air dan lokasi banjir/genangan dan pencemaran. 4.1.2. Penetapan Kawasan/Lokasi Prioritas ditangani Penetapan kawasan/lokasi prioritas ditangani adalah langkah lanjutan dari identifikasi masalah pengelolaan Drainase. Dimana pada tahapan ini diharapkan dapat ditetapkan kawasan/lokasi sebagai prioritas di tangani dengan pendekatan secara terpadu. Yang dimaksud kawasan/lokasi adalah kawasan/lokasi di dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS) dan atau sistem pengaliran saluran Drainase (DPS), yang tentunya dengan pendekatan penanganan secara kuratif sebagai respon tindakan darurat yang penanganannya dimulai dari hilir, dan penanganan preventif yang dimulai dari sumber atau dari hulu.

Dalam penetapan kawasan/lokasi yang akan ditangani dengan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan disandarkan pada hasil penilaian terhadap berbagai kriteria. 3. Prioritas kawasan/lokasi yang akan ditangani dengan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) ditetapkan berdasarkan urutan sebagai berikut: 1. dan Ringan) dan kelas mutu air. saringan sampah. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring sedang. Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai. kondisi penegakan hukum/peraturan bidang lingkungan terkait keairan. 4. komposisi dan karakteristik sampah sungai. 2. stasiun pengamatan banjir. · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring sedang. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring rendah. sumber sampah perairan. Variabel sampah dan sedimen perairan. Prioritas Kedua · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring tinggi. volume sedimentasi. dan 5. indikator. dengan indikator komitmen pemerintah kabupaten/kota (sharing pembiayaan.3. 2. pembebasan lahan dan penanganan kawasan) dan indikator peran masyarakat serta swasta (kesadaran mengelola sampah. Kriteria penilaian yang digunakan untuk menilai usulan kawasan/lokasi dalam DAS/DPS yang akan ditangani adalah: 1. dengan indikator yang dinilai adalah Indeks Pencemaran Air (Berat. · Variabel timbulan dan komposisi sampah dan sedimen perairan dengan nilai skoring tinggi. Prioritas Pertama · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring tinggi. kondisi prasarana dan sarana sanitasi (layanan persampahan dan air limbah) dan indikator kondisi sungai (flora dan fauna. rumah pompa dan pompa banjir. Prioritas Ketiga · Variabel Banjir. · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring sedang. morfologi sungai. parameter serta nilai setiap parameter untuk kriteria terlampir). pintu air. 4. dengan indikator timbulan sampah perairan. · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring rendah. dengan indikator klasifikasi sungai/saluran Drainase dan luas daerah aliran sungai (DAS/DPS). (tabel variabel. · Variabel timbulan dan komposisi sampah dan sedimen perairan dengan nilai skoring tinggi. Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta. · Variabel Banjir. dengan indikator kondisi prasarana dan sarana Drainase (saluran. · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring sedang. Tahapan Perencanaan Dalam tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Penyusunan Studi kelayakan (FS/feasibility study) 2) Penyusunan Detil perencanaan teknis (DED) 3) Pengumpulan Data-data 4) Penyiapan Disain . · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring tinggi. 3. kesadaran mengelola air limbah dan kesadaran berinvestasi). · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring rendah. · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring sedang. Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase. dsb). waduk pengendalian banjir. Sedang. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring sedang. komposisi dan karakteristik sedimen. tingkat kerusakan). bangunan perlintasan. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring sedang. perangkat hukum/peraturan daerah. · Variabel Banjir. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring tinggi. Variabel Kondisi Kualitas Air.1. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring rendah.

b) Tinjauan kawasan/lokasi (tinjauan tata guna lahan daerah aliran sungai. c) Analisa permasalahan dan rekomendasi. e) Sistem pengelolaan persampahan. genangan dan Drainase. DED Drainase. e) Rekomendasi teknis (rekomendasi untuk di wilayah hilir. genangan. g) Rekomendasi masterplan/outline plan. sosial ekonomi di daerah aliran sungai. studi PROPER dan PROKASIH. danau. waduk/situ. sistem pengelolaan Drainase.1. persampahan. sampah sungai dan air limbah di suatu DAS/DPS pada setiap wilayah/segmen di hilir. Aspek Teknis a) Kondisi eksisting pengelolaan Drainase. tinjauan fisik kota. b) Permasalahan persampahan dan sampah sungai. tengah dan hulu/sumber. rencana induk (masterplan) atau outline plan pengelolaan air limbah kota. air limbah (terpusat maupun setempat) dan Persampahan. f) Sistem pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan yang meliputi pengelolaan Drainase. b) Permasalahan yang dihadapi. sampah sungai dan pencemaran sungai. b) Permasalahan yang dihadapi. D. d) Sistem kelembagaan yang dibutuhkan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan.Dalam penyusunan studi kelayakan (feasibility study) dan Detil perencanaan teknis (DED) pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) agar mengacu pada studi-studi terdahulu di lokasi/kawasan perencanaan (DAS/DPS). d) Analisa peraturan dan kebijakan. 4. tinjauan prasarana dan sarana kota di daerah aliran sungai. C. Tinjauan Tata Ruang dan Tata Guna Lahan a) Tinjauan perkotaan (kebijakan umum pembangunan kota/kabupaten. Aspek Keuangan dan Pembiayaan a) Kondisi eksisting: kemampuan pembiayaan pemerintah. Penyusunan Studi Kelayakan (FS) Penyusunan FS dan DED melalui tahapan kegiatan yang setiap tahapnya harus dikonsultansikan dengan pemerintah daerah. Aspek Kelembagaan a) Kondisi eksisting: keberadaan institusi/kelembagaan pengelola Drainase. kecenderungan pengembangan kota/kabupaten. pantai dan laut) dan kualitas air permukaan. tinjauan ketutupan lahan di daerah aliran sungai. Persampahan dan Air Limbah Kota a) Permasalahan banjir. persampahan dan air limbah kota. f) Sistem pengelolaan air limbah. pesisir. tata ruang kota. RTRW Kota/Kabupaten. E. c) Permasalahan yang dihadapi. serta studi-studi terkait seperti. . tinjauan kondisi fisik daerah aliran sungai. RDTRK. rencana induk (masterplan) atau outline plan pengelolaan persampahan (PTMP) kota. B. terutama pada rencana induk (masterplan) atau outline plan Drainase kota. f) Hukum peraturan dan kebijakan yang dibutuhkan.3. lingkungan (ekosistem sungai. d) Sistem Drainase dalam suatu DAS/DPS.1. tengah dan hulu/sumber). b) Kondisi eksisting kesehatan masyarakat. b) Kondisi eksisting penegakan hukum/penertiban terkait dengan wilayah keairan (sungai dan Drainase). tinjauan sosial ekonomi perkotaan dan tata ruang daerah aliran sungai). dan air limbah. Drainase. sampah dan air limbah di DAS/DPS. d) Pengolahan dan analisa data (analisa kebutuhan. c) Permasalahan pengelolaan air limbah. Tinjauan Masterplan/Outline Plan Pengelolaan Drainase. swasta dan masyarakat dalam investasi pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan dan melakukan operasi serta pemeliharaan. Lingkup kegiatan penyusunan FS adalah: A. Aspek Hukum dan Peraturan a) Peraturan dan kebijakan daerah. e) Rekomendasi aspek hukum peraturan dan kebijakan. klimatologi di daerah aliran sungai). pemilihan serta penetapan teknologi). tinjauan kepadatan penduduk daerah aliran sungai. dan alternatif pemecahan. arah pengembangan prasarana sarana kota. F. masyarakat dan instansi terkait. c) Permasalahan banjir. tinjauan kependudukan.

d) Sistem pembiayaan yang dibutuhkan untuk investasi. G.2. 2) Tahap Penyusunan Rencana Detail dengan output. 4. H. Sedangkan berdasarkan segmen/wilayah yang akan ditangani adalah: · Kawasan/segmen hilir. studi pemilihan model dan teknologi. pendekatan teknologi yang akan dipakai (teknologi tinggi. Tabel variabel. · Kawasan/segmen tengah. Aspek Peran Masyarakat dan Swasta a) Kondisi eksisting: pengelolaan sampah dan air limbah oleh masyarakat di daerah pengaliran sungai/saluran. ketersediaan dan kemampuan SDM. operasi dan pemeliharaan. a. tengah. teknologi tepat guna. swasta dan masyarakat. Dimana pada tahapan ini harus sudah mulai dikonsultansikan dengan pihak-pihak terkait baik pemerintah. Program kerja penyusunan DED yang berkaitan dengan metode. c) Analisa permasalahan dan rekomendasi. Metode dan rencana pelaksanaan kegiatan secara rinci.1. perhitungan teknis (pekerjaan sipil. perdagangan dan jasa) di daerah pengaliran sungai/saluran dan kesadaran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan Drainase. operasi dan pemeliharaan serta rekomendasinya. c. b. kemampuan pembiayaan pusat. peralatan dan biaya yang diperlukan. · Perkotaan dengan tinggi daratan > tinggi muka air laut. Penetapan Prioritas dan Pemilihan Alternatif Teknologi Penetapan prioritas lokasi/kawasan dalam suatu daerah aliran sungai atau daerah pengaliran saluran adalah berdasarkan hasil penilaian melalui skoring berbagai variabel. Penetapan Model Pengelolaan yang akan dipakai Penetapan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan adalah berdasarkan kondisi tipologi kota dan segmen/wilayah yang akan ditangani.c) Analisis permasalahan. Penjelasan rinci menyangkut kondisi tipologi akan dijelaskan pada bab 3. pengukuran topografi) dan membuat interpretasi secara garis besar terhadap KAK dan hasil konsultansi pemerintah Kabupaten/Kota. kelayakan investasi. b) Permasalahan yang dihadapi. sampah dan air limbah.3. kegiatan. Penyusunan DED melalui tahapan kegiatan yang setiap tahapnya harus dikonsultansikan dengan pemerintah daerah. Rencana teknis dan struktur prasarana dan sarana. · Perkotaan dengan topografi/dataran tinggi. teknologi ramah lingkungan) dan segmen/wilayah mana yang akan ditangani (hilir. d) Bentuk dan peran masyarakat dan swasta yang dikehendaki. Lingkup kegiatan penyusunan DED adalah: 1) Tahap Persiapan. pekerjaan mekanikal dan elektrikal. Hasil survei. Adapun kondisi tipologi kota dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan adalah sebagai berikut: · Perkotaan dengan tinggi daratan < tinggi muka air laut. swasta dan masyarakat. indikator dan parameter yang telah diberi bobot/skor. jadwal pelaksanaan dan organisasi personil. Penyusunan Detail Engineering Design (DED) Penyusunan DED merupakan tahapan kegiatan penyusunan Rencana Detil Teknis berdasarkan studi kelayakan dan program investasi pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) yang telah ada serta mengacu pada Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan ketentuan teknis yang telah ditetapkan. lanskap) dan struktur bangunan sipil (bila ada).1. I. Hasil pembobotan dibandingkan dengan prioritas dalam poin 4. · Kawasan/segmen hulu atau di sumber. pengumpulan data dan informasi lapangan (termasuk hasil penyelidikan tanah. pengelolaan sampah dan air limbah domestik oleh swasta (industri. hulu dan sumber). daerah. Pemilihan alternatif teknologi adalah berdasarkan volume dan karakteristik fisika-kimia-biologi yang akan ditangani. . beserta uraian konsep. Penyusunan Pentahapan Pembangunan dan/ atau Pengadaan Peralatan.2. b. masyarakat dan instansi terkait. a. indikator dan parameter seperti disajikan pada lampiran pedoman.

e. melayang dan berada di dasar saluran/sungai/waduk. Memeriksa secara berkala kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan rencana. 3) Tahap Pelelangan. Jenis sampah yang sering dibuang ke sungai dan saluran-saluran Drainase tersebut diantaranya adalah sampah basah seperti sampah sisa-sisa makanan dan sayur-mayur. Membuat laporan akhir pengawasan berkala. Disain Elemen Ecodrain A. evaluasi penawasan.1. Rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang meliputi jenis pekerjaan. b. pembuatan screen/floating screen. Laporan detil perencanaan teknis (DED). pakaian. Pendekatan Analisa Jumlah Sampah yang masuk ke dalam sungai (Sistem DAS)[1] Sampah yang diproduksi oleh permukiman. dan sampah industri pertanian dan perkebunan seperti sisa-sisa pestisida dan herbisida. sampah binatang seperti bangkai kucing. seperti Jakarta. yang mana akan menentukan konsep penanganan pemeliharaan dan operasional sarana (O&M) dan prasarana Drainase. keramik. menyusun dokumen pelelangan dan menyusun program pelaksanaan pelelangan. Pasar. Format-format perijinan (apabila perlu). ternyata masih ada sebagian dari prosentase sampah tersebut yang dibuang ke perairan (sungai. Membantu proyek/panitia pengadaaan kontraktor. rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).4. kaca. dan bangkai tikus. menyusun kembali dokumen pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang ulang. Dokumen lelang yang terdiri dari gambar-gambar detail. Hal ini terjadi tergantung pada sifat-sifat fisik sampah (berat jenis. Pemeliharaan dan Perawatan (SOP). 4. Pabrik-pabrik. 5. yang secara signifikan juga menyebabkan kegagalan fungsi sarana prasarana Drainase dan pengendalian banjir karena dapat mengurangi kapasitas saluran serta mengganggu operasional fungsi pintu air dan instalasi pompa banjir. tempat pemotongan hewan yang dekat aliran sungai. bangkai anjing. logam. Faktor-faktor Timbulan Sampah Sungai . c. sampah balokan seperti batang pohon tumbang. Perhitungan Laju Timbulan Sampah Sungai (i). danau dan pantai/laut). Kandang-kandang hewan. dan d. Semarang. permukaan dlsb). Dari hasil penelitian di bebarapa kota besar di Indonesia. Memberikan rekomendasi tentang penggunaan bahan. daerah perkantoran dan perdagangan. harga satuan. a. dan Surabaya didapatkan jumlah prosentase sampah yang cukup besar yang dibuang ke sungai dan saluran-saluran Drainase. Sampah-sampah tersebut selain menyebabkan dibutuhkannya kegiatan O&M seperti kegiatan pengerukan. sampah kering seperti kayu. menengah. buah-buahan. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan. tempat-tempat komersil di sepanjang aliran sungai (termasuk dalam DAS Sungai). 3. a. 6) Tahap Pengawasan Berkala. Bandung. Membantu panitia pengadaaan pada waktu penjelasan pekerjaan termasuk menyusun berita acara penjelasan pekerjaan. permukiman sekolah dan bangunan-bangunan umum di sepanjang aliran sungai yang tidak dilindungi pagar pengamanan sungai. lapangan serta pohon-pohon yang berada sepanjang aliran sungai. kasur. Jalan.d. bengkel dan industri (kecil. 5) Tahap Sosialisasi kepada Semua Pihak yang Terkait. Tempat-tempat yang potensial menjadi sumber sampah sungai antara lain: 1. dan rincian volume pekerjaan (BoQ). bangkai ayam. plastik. analisa harga satuan pekerjaan serta rekapitulasinya. dan fasum dan fasos di perkotaan dan perdesaan tidak semua dapat terangkut ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) atau tereduksi dengan kegiatan 3R dan komposting ataupun di timbun/dibakar. g. balok kayu. 4. juga menyebabkan peningkatan biaya pemeliharaan prasarana dan sarana Drainase dan pengendalian banjir. dan bantal. b. a. Saringan Sampah manual dan otomatis 1. 2. dan besar) di sepanjang aliran sungai. f. Sampah-sampah tersebut ada yang kondisi terapung. 4) Tahap Penyusunan Petunjuk Penggunaan. volume. Penyusunan buku petunjuk penggunaan pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana. Rumah tinggal.

. (4.. · Pabrik-pabrik dan industri di sepanjang aliran sungai....... 1. pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope (seperti terlihat pada Gambar 5..... rake / garu menggantung bebas......Produksi sampah sungai dalam layanan pembersihan ini adalah sampah sungai yang timbul di daerah perkotaan yang mempunyai jumlah yang lebih sedikit dari jumlah sampah yang ada secara keseluruhan.1) Dimana : Qss = Quantitas sampah sungai Qsd = Quantitas sampah darat Kss = Koefisien timbulan sampah sungai (0..... Trash rake tan pa rel pengarah (Unguided cable hoist trash rake) Prinsip kerja trash rake jenis ini.. kategori ini adalah : · Trash rake kabel hoist/ Cable hoist trash rake · Trash rake mekanikal/ Mechanical trash rake..... (4... · Permukiman padat disepanjang aliran sungai.. · Lokasi-lokasi pasar.... lapangan. jika dinyatakan dengan persamaan adalah sebagai berikut: Qss = (P x Qsd) +Qnd.. kayu dan lain-lainnya untuk daur ulang. b..... Pada trash rake kabel hoist ini ada 2 type yaitu: a.6%) Produksi sampah untuk suatu kawasan pemukiman yang berada dipinggir aliran sungai/kali dihitung berdasarkan banyaknya populasi yang menghasilkan sampah setiap harinya.... Trash Rake Kabel Hoist/Cable Hoist Trash Rake Prinsip kerja trash rake kabel hoist ini menggunakan kabel/w/re rope untuk menggerakan trash rake (pergerakan naik dan turunnya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope). Trash rake dengan rel pengarah (Guided cable hoist trash rake) .. · Jalan-jalan lingkungan.... (ii)..... Penanganan Sampah dengan Saringan Mesin Otomatis Upaya yang dilakukan dalam penanganan sampah sungai salah satunya dengan trash rake (Alat Penangkap/Penyaring Sampah).......2 ... · Adanya pemulung sampah yang memisahkan sampah-sampah logam. Hanya sebagian kecil dari produksi sampah kota yang masuk ke dalam sistem aliran sungai. pohon..... · Kandang-kandang hewan..16)......... · Fasilitas-fasilitas umum di sepanjang aliran sungai....... jalan setapak.... · Masih terdapatnya lahan-lahan terbuka yang dapat menampung dan menyimpan sampah dan secara alami dapat direduksi.. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : · Adanya pola angkutan sampah darat oleh Dinas Kebersihan/Pemda/Pemkot... · Kesadaran sebagian besar masyarakat untuk tidak membuang sampah ke dalam sungai.. Trash rake digolongkan dalam dua kategori...2) Dimana: Qss = Quantitas sampah sungai P = Populasi penduduk sepanjang aliran sungai Qsd = Produksi sampah domestik (liter/orang/hari) Qnd = Produksi sampah non domestik (daun.. tempat-tempat komersial di sepanjang aliran sungai.... Tempat-tempat yang menjadi sumber sampah di sepanjang sistem aliran sungai adalah: · Permukiman kumuh/liar disepanjang sungai... tempat pemotongan hewan yang dekat aliran sungai.. · Masih terdapatnya daeran sempadan sungai yang terbuka dan belum dipagar sehingga masih banyak penduduk yang membuang sampah.. · Adanya pola angkutan sampah darat oleh swadaya masyarakat setempat... taman serta pohon-pohon yang berada disepanjuang aliran sungai.. Produksi Sampah Sungai Produksi sampah sungai terhadap sampah darat jika dinyatakan dengan persamaan adalah sebagai berikut: Qss = Qsd x Kss.0.. jalanan) 2.. plastik..

Proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting terhadap peningkatan kontaminan tersebut karena pemasukan utama kontaminan logam kedalam lingkungan ditemukan dari kegiatan perkotaan dan pembuangan lumpur limbah industri komoditi seperti industri tekstil. Walaupun pada konsentrasi yang sedemikian rendah efek ion logam berat dapat berpengaruh langsung hingga terakumulasi pada rantai makanan. dan bateray militer. kadmium (Cd) dan merkuri (Hg) pada kenyataannya berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelangsungan kehidupan di lingkungan (USDA NRCS. Seperti halnya kontaminan organik yang telah dijelaskan sebelumnya. sedangkan bagian ujungnya dilengkapi dengan backhoe untuk pengambilan sampah. c. Trash Rake Mekanikal/Mechanical Trash Rake Trash rake sistem mekanikal ini menggunakan rantai. pengumpulan besi tua. maupun industri. pembibitan. Sliding Arm Trash Rake Prinsip kerja sliding arm trash rake ini yaitu: trash rake dilengkapi dengan sliding arm. perumahan. industri dan kegiatan militer. Gambar 17. pengelasan dan lain sebagainya. Elbow Arm Prinsip kerja trash rake jenis ini yaitu: rake dilengkapi dengan dua lengan. Pergerakan naik dan turun bagian sliding arm digerakan oleh chain sedangkan posisi kemiringan trash rake digerakan dengan system hydraulic. pestisida dapat masuk kedalam residu tanaman penutup tanah (crop) seperti rumput. selanjutnya berpotensi mengganggu kehidupan biota lingkungan dan akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam jangka waktu yang lama dan jauh dari sumber polusi utamanya. B. 2000). Demikian pula dengan penggunaan bahan peledak atau komponen peledak didalam tanah pada aktivitas militer. Climber Trash Rake Prinsip kerja trash rake jenis ini yaitu: pergerakan rake diperoleh dari motor penggerak disambung dengan socket dan chain. Kontaminan organik berbahaya ditemukan hampir pada seluruh limbah domestik. Pada trash rake mekanikal ini ada 4 tipe yaitu: a. Bioremediasi Proses bioremediasi adalah salah satu teknik pengurangan atau penghilangan tingkat toksisitas. pertanian. lumpur limbah perkotaan. Suatu organisme akan kronis apabila makanan yang dikonsumsinya mengandung logam berat. perkotaan. Kontaminan anorganik seperti beberapa ion logam berat yaitu arsenik (As). Kontaminan organik lainnya seperti PCBs (Poly Chlorinated Biphenyls) dan PAHs (Polycylic Aromatic Hydrocarbons) dapat masuk kedalam tanah dari aktivitas pembakaran bensin atau dari lumpur limbah domestik dan lainnya. hydraulic cylinder dan chain. . b. pestisida. Bila menggunakan makroflora (tumbuhan) disebut phytoremediasi. rake / garu dilengkapi dengan rel pengarah yang letaknya di kedua belah sisi. Perchlorate adalah kontaminan yang larut didalam air dan dapat mencemari sumber air atau diserap oleh tumbuhan serta berdampak langsung bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. dan tanah melalui penggunaannya pada kegiatan pertanian. Unguided cable hoist trash rake Gambar 18. hydraulic cylinder dan gerigi untuk menggerakan trash rake (untuk pergerakan naik dan turun). Sebagai contoh. timbal (Pb). logam berat dapat ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di lingkungan. plastik. Kontaminan yang biasa ditemui pada sumber air dan tanah terkontaminasi adalah kontaminan organik dan beberapa kontaminan anorganik. menimbulkan kontaminan berupa perchlorate yang merupakan konstituen dari propellan. mobilitas dan kuantitas bahan pencemar (kontaminan) pada sumber air dan tanah terkontaminasi menggunakan mikroorganisme (mikroflora atau mikrofauna). Sedangkan pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope (seperti terlihat pada Gambar 7). kulit. Guided cable hoist trash rake 2. Pergerakan naik dan turun bagian lengan dan backhoe dengan system mekanis atau hydraulic. lengan. Dudukan unit sliding arm trash rake bisa dipilih fixed atau movable dilengkapi dengan rail. pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh socket melalui chain. sehingga lebar rake bisa lebih besar dan rake lebih stabil. Hidrokarbon akan menghambat pertumbuhan bakal tanaman dan perkecambahan walau tidak ditemukan adanya akumulasi hidrokarbon didalam tanaman. bahan peledak.Prinsip kerja trash rake jenis ini.

Teknik ex-situ membutuhkan biaya yang lebih mahal karena dibutuhkan biaya untuk pekerjaan penggalian. diantaranya adalah: · Gangguan terhadap lokasi tanah terkontaminasi sangat sedikit (tidak ada penggalian atau pemindahan tanah) · Karena tidak dipindahkan maka masyarakat atau lingkungan yang beresiko terkena paparan bahan berbahaya beracun yang ada didalam sedimen (endapan) tersebut lebih sedikit (minimal) · Mengurangi biaya penggalian. Namun demikian. artinya proses bioremediasi dapat dilakukan bila sifat fisik dan kimia lingkungannya dapat dikontrol sesuai kebutuhan mikroorganismenya Mengingat diperlukannya faktor-faktor tersebut diatas. aplikasi teknik in-situ memerlukan eksplorasi detail dan menyeluruh terkait lokasi pencemaran dan karakteristik kontaminannya. 128 tahun 2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi (petroleum hydrocarbon) dan Tanah Terkontaminasi Oleh Minyak Bumi Secara Biologis Namun demikian. (3) menggunakan reaktor lumpur. dan sedimen dari proses-proses terkait dengan kegiatan domestik. dimana pengolahan dilakukan ditempat lain. Teknik bioremediasi yang dapat diaplikasikan untuk pengelolaan sedimen (endapan) sungai atau bozem atau waduk adalah secara: (1) in-situ. pengumpulan dan pengangkutan ke lokasi pengolahan. In-situ disini dimaksudkan sebagai pengolahan sumber air dan atau tanah terkontaminasi yang dilakukan ditempatnya semula dihasilkan. proses bioremediasi digunakan untuk membuat kontaminan (senyawa) organik menjadi stabil melalui proses penguapan dan reduksi konsentrasi kandungannya. Selain itu. Sedangkan logam-logam berat dalam sumber air atau tanah terkontaminasi yang berasal dari limbah berbagai pabrik dapat didegradasi keberadaannya dengan teknik bioremediasi ini melalui proses absorbansi biologis oleh mikroorganisme (mikroalga). Bebarapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengaplikasi teknik bioremediasi adalah: · susceptibility dari kontaminan. air. Hal ini disebabkan mikroorganisme endigenous merupakan mikroorganisme yang telah mendapatkan pengayaan dan pemurnian melalui serangkaian penelitian di Laboratorium. Pengembangan teknik bioremediasi untuk proses minimasi bahkan degradasi bahan pencemar secara biologis. Pada prinsipnya. menjadi senyawa lain yang lebih sederhana seperti karbon dioksida. industri dan militer. perkotaan. para praktisi di lapangan lebih memilih menggunakan mikroorganisme endigenous atau dikenal dengan nama bioremediasi eksintrik. Dimana kontaminan organik berbahaya akan terurai (degradasi) secara biologis. tanah. pemindahan dan pengangkutan (transportasi) yang sangat mahal · Meniadakan biaya pengadaan lahan yang sesuai dengan persyaratan didalam KepMenLH No. (2) composting. Gambar 19. Proses Bioremediasi oleh Mikroorganisme[2] Teknik bioremediasi dan atau phytoremediasi memang banyak digunakan didalam upaya pemulihan kondisi sumber air dan tanah terkontaminasi karena terbukti lebih murah biayanya dan efektif dibandingkan dengan teknik remediasi (pemulihan) menggunakan bahan kimia. Hal ini dimungkinkan karena prinsip proses bioremediasi memanfaatkan aktifitas mikroorganisme indigenous yang terdapat didalamnya. metan. Treatability study diperlukan guna mendapatkan informasi yang pasti terkait karakteristik lokasi pengolahan. sifat fisik & kimia lokasi dan karakteristik kontaminannya. Ini sangat penting guna menghindari terjadinya perluasan area pencemaran akibat perpindahan atau perembesan kontaminan ke daerah sekitarnya. sehingga lebih unggul dan tidak membutuhkan waktu lama bila diaplikasikan di lapangan. garam anorganik. menjadi teknologi alternatif pengendalian pencemaran sumber-sumber air dan tanah terkontaminasi secara in situ. Teknik bioremediasi ini dikenal dengan nama bioremediasi intrinsik. artinya tidak semua kontaminan dapat didegradasi oleh mikroorganisme · Kondisi lingkungan dimana teknik biremediasi akan diaplikasikan. aplikasi teknik in-situ memerlukan penambahan nutrien dan oksigen kedalam sedimen (endapan) guna mencapai syarat habitat mikroorganisme yang akan digunakan. sehingga seluruh proses penghilangan dan pengurangan bahan pencemar (kontaminan) dapat dikembangkan secara langsung di lapangan. Keuntungan menggunakan teknik in-situ. Sehingga dapat diketahui dengan pasti . 1996). dimana pengolahan dilakukan ditempat tanah terkontaminasi berada dan (2) ex-situ. biomassa dan hasil lain yang sangat sederhana komposisinya (Citroreksoko.Kontaminan organik berbahaya dan residu logam atau produk-produk samping lainnya diatas dapat masuk kedalam tumbuh-tumbuhan. maka perlu dilakukan treatability study sebelum teknik bioremediasi diaplikasikan. Akan tetapi kelebihan dari teknik ex-situ adalah dapat diolah dengan beragam cara seperti: (1) landfarming. pertanian.

saluran Drainase apa saja yang ada dan lain sebagainya sangat menentukan prediksi cemaran (kontaminan) dan hipotesis selanjutnya. dimaksudkan untuk memperoleh data yang mewakili (representative) kondisi sedimen/endapan untuk penilaian faktor resiko selanjutnya. waduk. termasuk rencana tanggap darurat (emergency response) dan sistem alert pada satu keadaan/kriteria dimana proses bioremediasi perlu dihentikan dan dilakukan evaluasi. Hanya saja. banyak ditemui kegiatan pengerukan sedimen/endapan pada saluran Drainase perkotaan (sungai. Pada tahap survai ini. berapa kecepatan degradasi yang dibutuhkan. Pada saat perancangan detil disain tidak jarang diperlukan pekerjaan investigasi lahan tambahan guna mengetahui dengan tepat proses bioremediasi yang sesuai dengan kondisi lapangan dan sesuai pula dengan persyaratan teknis yang berlaku. Pelaksanaan proses bioremediasi pada sedimen (endapan) dapat dilakukan melalui lima (5) tahapan kerja yaitu: Tahap 1: Survai Awal Survai ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kondisi lingkungan yang sebenarnya dari sedimen/endapan yang terkontaminasi yang akan diaplikasi bioremediasi. Daerah tangkapan (catchment area) terkait jenis-jenis kegiatan yang ada. Untuk itu diperlukan pekerjaan lanjutan yaitu penggalian. bila menggunakan mikroorganisme indigenous. pemuatan dan pemindahan sedimen/endapan yang telah pulih menjadi tanah hidup ke lokasi-lokasi penghijauan yang disediakan. Informasi tersebut diantaranya adalah peta lokasi dan alur aliran air yang existing di lapangan. Namun. Untuk penggunaan mikroorganisme pada kedua proses bioremediasi diatas bisa digunakan jenis native (indigenous) atau mikroorganisme komersial (endogenous). data tentang intensitas dan ekstensitas cemaran (kontaminan) dalam sedimen/endapan. Pada phase ini. bagaimana hasil akhir yang diinginkan dan lain sebagainya. Tahap 3: Perencanaan Detil Disain Bioremediasi Objektif dari tahap bioremediasi ini adalah membuat perencanaan detil disain bioremediasi yang sesuai baik in-situ maupun ex-situ dan mengaplikasikannya dilapangan. kemungkinan ada atau tidaknya intrusi cemaran (kontaminan) ke lingkungan disekitarnya. pelaporan dan penentuan garisbesar (outline) dari proses bioremediasi. penggunaan lokasi (dulunya). Pada tahap ini diperlukan pula sampling dan uji laboratorium terhadap beberapa parameter dan atau kontaminan yang ada. kemungkinan ada atau tidaknya ledakan. penilaian resiko. Tahap 4: Operasi & Evaluasi Objektif dari tahap ini adalah dilakukannya pengecekan terhadap efektifitas proses bioremediasi yang sedang dilakukan terhadap sedimen/endapan terkontaminasi yang diolah. dilakukan empat (4) jenis pekerjaan yaitu: investigasi. Tahap 5: Pasca Operasi Bioremediasi Objektif dari tahap ini adalah digunakannya kembali sedimen/endapan yang telah terpulihkan ke area-area penghijauan disepanjang saluran Drainase perkotaan. . Hasil dari survai ini pun menentukan strategi investigasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya. dll) sebagai upaya pembersihan cepat (kuratif). semua informasi terkait sedimen/endapan terkontaminasi yang akan diolah harus didata dengan lengkap.apakah kontaminan tersebut dapat didegradasi atau tidak. Didalam prosedur yang tersusun akan diuraikan pula frekuensi dan form pelaporan dimana memuat apakah operasi dan evaluasi tersebut dapat dilanjutkan atau harus dihentikan. kemungkinan ada atau tidaknya emisi bahan beracun ke udara. perlu disusun prosedur dan parameter-parameter yang akan diukur dan diuji (dipantau) sebagai bahan evaluasi. Tahap 2: Investigasi Lokasi Investigasi lokasi sedimen/endapan terkontaminasi. Proses Bioremediasi Ex-Situ Tipe Landfarming Dari survai lapangan yang dilakukan. waktu pengolahan yang dibutuhkan akan lebih lama dibandingkan dengan mikroorganisme komersial. Sebelum tahap operasi dan evaluasi ini dimulai. Teknik ini masih dianggap paling efisien (cepat) walau membutuhkan biaya pengerukan dan transportasi yang cukup mahal. Ini bisa dilakukan bila digunakan proses bioremediasi ex-situ. bila digunakan proses bioremediasi in-situ dimana tujuan aplikasi proses bioremediasi adalah menurunkan kadar sedimen terlarut maka objektif dari tahap ini adalah berkurangnya sedimen/endapan dan bertambahnya daya tampung saluran Drainase tersebut. bozem.

Tentunya. sehingga perlu disiapkan sistem Drainase didalam area yang bersifat tertutup (closed cyrcle). seringkali terbawa kembali ke saluran Drainase. potongan logam dll) secara mekanik dan atau manual.Sampai saat ini tidak tersedia data tentang kegiatan paska operasi pengerukan yang dilakukan oleh instansi terkait. perlu juga penambahan bulk agen seperti limbah serutan kayu. potongan kayu. Air yang digunakan untuk penyiraman ini haruslah air bersih dengan pH normal (pH 6-8) dan tidak tercemar oleh minyak. Garis besar proses bioremediasi tersebut adalah sebagai berikut: · Dilakukan pencampuran sedimen/endapan dengan menggunakan beckho agar diperoleh sedimen/endapan yang homogen. · Selanjutnya untuk mempertahankan kelembaban sedimen/endapan dilakukan penyiraman air secara rutin. kandungan kontaminan yang terbanyak perlu didegradasi terlebih dahulu. Bila kondisi tanah terlihat kompak (liat) . barulah proses bioremediasi dilakukan dengan beberapa tahapan cara tergantung pada jenis kontaminan apa yang akan didegradasi terlebih dahulu. maka bioremediasi yang diaplikasi bertujuan untuk meningkatkan populasi mikroorganisme pemakan hidrokarbon. · Dilakukan penambahan nutrien (berupa kotoran ayam. Sedangkan dimusim hujan.000 liter per hari per lokasi penampungan sementara. · Untuk mempertahankan kondisi aerob bagi mikroorganisme indigenous yang ada didalam tanah. Larian air dari Drainase tersebut harus ditampung dan diolah didalam bioreaktor. · Persiapan tempat penampungan sementara sebagai tempat pengolahan landfarming harus disesuaikan dengan kriteria lokasi penampungan limbah B3 pada surat KepKaBapedal No. sekam padi atau limbah bottom ash dari pembakaran batubara. Diikuti dengan proses bioremediasi untuk mendegradasi kontaminan selanjutnya. kelebihan kandungan air didalam tanah akibat curah hujan harus bisa dialirkan ke saluran-saluran Drainase agar tidak menghambat operasional alat berat. · Setelah sedimen/endapan kering. Bahkan menimbulkan pendangkalan pada saluran-saluran Drainase (got) dan menimbulkan masalah baru. diharapkan sedimen/endapan tersebut dapat dipulihkan menjadi tanah hidup dan dapat dimanfaatkan bagi kegiatan penghijauan perkotaan. · Dilakukan penyebaran (paparan) sedimen/endapan pada permukaan lahan (tempat penampungan sementara) secara merata dengan ketinggian maksimal 50 cm. Data primer hasil sampling kontaminan tersebut menjadi pertimbangan penentuan langkah pengolahan selanjutnya. bahan anorganik maupun bakteri lain. · Pengeringan perlu dilakukan di lokasi penampungan sementara. kotoran sapi atau pupuk) sebagai bahan nutrisi bagi mikroorganisme indigenous. 1 tahun 1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Bulk agen ini dimaksudkan untuk memperoleh tekstur tanah (moisture) yang disyaratkan. Sebagai contoh. Dalam kondisi iklim kering (panas) diperkirakan konsumsi air mencapai 40. sehingga harus dikeluarkan/dibersihkan dari sedimen/endapan tersebut. Pembalikkan secara rutin dapat mempertahankan pemaparan oksigen diudara kepermukaan tanah yang sedang diolah terus berlanjut hingga mencapai tanah lapisan dalam yang telah dibalikkan kepermukaan. Bahkan sebaiknya tersedia terpal untuk menutup sementara permukaan tanah yang diolah selama turunnya hujan. Dengan adanya aplikasi teknik bioremediasi pada lokasi-lokasi penampungan sementara tersebut. plastik. Hal penting yang perlu disiapkan sebelum aplikasi bioremediasi dengan tipe landfarming ini adalah: · Penyelidikan (investigasi) terhadap jenis dan karakteristik kontaminan yang ada didalam sedimen/endapan sebelum dilakukan pengerukan dan pemindahan ke lokasi penampungan sementara. dilakukan pemilahan sampah (ranting. Padahal bila kita amati di lapangan. Setelah sedimen/endapan bersih dari sampah. bila kandungan PAHs yang tertinggi. Seolah-olah permasalahan sedimen/endapan telah selesai dengan memindahkannya dari saluran Drainase ke tempat pembuangan akhir. sedimen/endapan yang ditampung pada lokasi penampungan sementara (untuk pengeringan) sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir. dilakukan dengan cara pembalikan permukaan sedimen/endapan menggunakan traktor dengan rotovator. Hal ini penting dilakukan mengingat terdapat kontaminan-kontaminan logam berat yang masuk akibat kegiatan-kegiatan pada catchment areanya. · Selain nutrisi. Sampah-sampah tersebut akan menghambat proses bioremediasi yang akan diaplikasi.

dan saluran yang langsung crossing ke seberang jalan.maka proses pembalikkan tanah dilakukan lebih sering guna meningkatkan proses aerasi. produsen. Proses alam diatas mengilhami pengembangan model rawa buatan dalam upaya pembersihan air. yang harus tetap dialiri pada musim kemarau. tanaman rawa buatan dapat digunakan dalam biofilter. Biofilters efektif jika arus lambat dan dangkal pada saluran parit alamiah. Biofilter Lapisan utama tanah penutup adalah tanah berumput. Pengolahan Kualitas Air dengan Rawa Buatan (Wetland Constructed) Dalam ekosistem rawa. Operasional Tipe Bioremediasi Landfarming · Untuk mengetahui efektifitas proses bioremediasi yang sedang berjalan. D. harus diperkecil. Biofilter biasanya diaplikasikan lapangan parkir. virus. Lebar alas dari parit adalah secara umum 60 cm sampai 2. biofilter juga menyebabkan terjadinya penyerapan hujan ke dalam tanah. Konsep utamanya adalah menggerakan aliran air dengan lambat melalui tumbuh-tumbuhan. Sebaliknya bila kondisi tanah terlihat berpasir (granular) maka proses pembalikkan dilakukan dengan frekuensi yang lebih sedikit dibandingkan tanah kompak. minimal kemiringan memanjang (direkomendasikan 1 ± 2%. dengan tingginya rumput dari 10 cm sampai 15 cm dan kedalaman air yang maksimum dari kurang dari 5 cm. katak. Limpasan hujan lebat dapat mem-bypass biofilter. dan suatu flowpath panjangnya sedikitnya 10 feet (minimal 3 meter). . Penampang Ø Proses Bioremediasi Landfarming C. lebih lanjut mengurangi polusi air dan mengurangi debit limpasan (yang akhirnya mengurangi potensi banjir). berentuk sangat kompleks yang meliputi berbagai organisme yang berada di berbagai mata rantai jaring-jaring makanan. secara umum tidaklah cocok bagi biofilter. Biofilter Biofilter atau biasa disebut parit tumbuhan adalah saluran alamiah yang didesain sedemikian rupa dimana terdapat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi mengelola pengaliran limpasan sehingga lebih lambat mengalir diantara tumbutuhan. Hampir semua mahluk hidup dibumi terwakili di dalam rawa. aliran limpasan halus dapat dijaga dengan biofilter yang dibangun dengan menjaga kemiringan kedua sisi (kemiringan maksimum 3 :1. Gerakan melambat dari aliran melalui tumbuh-tumbuhan menyediakan kesempatan untuk terjadinya sedimentasi dan tersaringnya partikulat dan degradasi oleh aktivitas biologi. dengan check dam untuk kemiringan yang lebih curam). semuanya ada di sana. Semua mahluk hidup tersebut membentuk rantai dan jaring makanan. Gambar 20. Dimana kemiringan kurang dari 1% atau dimana air tanah tinggi. kondisi yang menyebabkan konsentrasi aliran. Agar lapisan tanah berumput yang berfungsi sebagai biofilter dapat bekerja efektif harus sering dipotong secara rutin dan dirapikan. Dalam berbagai jenis tanah. Bakteri. Dimana harus diatur puncak hidrograph harus kurang dari 8 cm dan percepatan puncak kurang dari 0. protozoa. perlu dilakukan sampling dimulai pada hari ke-10 sejak pemaparan dilakukan. Evaluasi terhadap hasil analisis sampling tersebut menjadi bahan pertimbangan pengolahan bioremediasi yang perlu dilakukan selanjutnya. atau jenis tanah lainnya yang dapat menghalangi tanaman. mulai dari pengurai. binatang melata. Gambar 21. Kemiringan batas pavemen lapangan parkir agar diatur sedemikian rupa lebih tinggi dari pada batas dengan biofilter.5 meter. jamur. Interaksi antar semua komponen ekosistem yang berada dalam rawa tersebut memungkinkan terjadinya proses daur ulang secara alami bahan pencemar yang tidak bernilai bagi manusia menjadi bahan bernilai yang terkandung dalam biomassa tumbuhan dan hewan. terdapat aneka ragam organisme. ikan. seperti tahanan dan belokan. alga. binatang menyusui. konsumen. kontrol erosi agar dapat juga ditempatkan pada beberapa titik termasuk di inlet dan outlet saluran. seperti aliran halus. Jenis tanah lempung. Jika air masuk dari beberapa titik pengumpulan. Gambar 22. sepanjang pinggiran lapangan parkir dengan kemiringan memanjang sampai dengan parit rumput untuk mengumpulkan dan mengolah limpasan hujan dari permukaan lapangan parkir. Aliran Lambat. atau biofilter dapat di-Disain untuk dapat mengakomodasi debit banjir yang lebih besar tentunya dengan kualitas air yang terjaga.3 m/detik. Untuk sistem biofilter. Kondisi ini dapat dicapai bila kontur kawasan dan kemiringan lereng mendukung pengaliran limpasan diatas. mulai dari organisme mikro hingga organisme makro seperti tumbuhan atau hewan besar. burung.

teknik fitoremediasi dapat pula dimanfaatkan bagi menjaga dan menjamin kualitas kompos dengan fitoteknologi dan ekotoksikologi. kerikil. Rawa buatan yang proses pengaliran airnya lewat substrat tempat tumbuhnya tanaman air. koral. mengalir dalam rawa buatan. Rawa buatan hidroponik aliran tipis yang tidak menggunakan substrat tanah atau pasir. Proses ini telah dibuktikan dengan percobaan menanam bunga matahari pada kolam mengandung zat radio aktif di Chernobyl Ukraina. Dalam sistim aliran horisontal. Sehingga dapat disebut pengolahan air dengan metoda rawa buatan (wetland constructed) adalah alternatif lain pengolahan air yang meniru proses alamiah yang terjadi di lahan basah (rawa) alami. tanggul dan kolam. Hewan yang bertulang belakang dan tidak bertulang belakang. Penggunaan tanaman disebut dengan konsep Fitoremediasi yang didefinisikan sebagai teknologi pembersihan. dan air). seperti logam berat. yakni: 1. Agar pembersihan air limbah efektif. kemudian keluar dari titik di ujung rawa. or plented-assisted bioremidiation degradation. air merembes/mengalir secara vertikal baik dari atas ke arah bawah atau dari bawah ke arah atas sistem ke luar dari sistem. Rawa buatan yang alirannya mengalir di atas permukaan tanah. Zat zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media. 5. Rhizofiltration (rhizo = akar) adalah proses adsorpsi atau pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. Salah satu komponen rawa buatan adalah tumbuhan/tanaman yang yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah. 5. 2003). 1. sehingga air limbah akan melewati sebagian besar permukaan substrat yang ditanami tumbuhan akuatik dan semiakuatik yang bernilai ekonomis seperti sayuran dan buah.[7] Proses dalam sistim ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/pencemar yang berada disekitarnya. 3. air memasuki rawa dari satu titik. 4. penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya. Sementara itu. Substrat (tanah. dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman. pestisida. rawa buatan (sebagaimana juga rawa alami) membutuhkan lima komponen (Hammer. pasir. 4. Phytodegradation (phyto transformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan . 1989 dalam Khiatuddin Maulida. 2. Aliran vertikal menurun dimana air dialirkan di permukaan sistem kemudian merembes melalui substrat yang dipenuhi oleh akar tanaman hingga mencapai dasar rawa buatan untuk ke luar dari sistem. dll) dengan berbagai tingkat konduktivitas hidrologis.Rawa buatan didesain sedemikian rupa diatas sebidang tanah dengan cara membuat pematang. Phytoacumulation (phytoextraction) yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan. Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation. Populasi organisme mikro aerob dan anaerob. yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan. Tampak Atas Rawa Buatan untuk Mengolah Air Limbah[4] Menurut jenis aliran air. Genangan air (baik yang mengalir di atas atau di bawah permukaan tanah). Contoh Rawa Buatan Aliran Vertikal (Constructed Wetlands) [3] Gambar 24. Tumbuhan yang dapat hidup dalam kondisi anaerob di media yang jenuh dengan air atau tergenang air. c. Rawa buatan aliran horisontal dapat digolongkan lebih lanjut dalam empat bentuk. Aliran vertikal menanjak dimana air disalurkan melalui pipa ke dasar sistem untuk naik pelan-pelan melalui lapisan substrat sebelum keluar melalui saluran yang letaknya di permukaan substrat. fungi dan bacteri. Sedangkan dalam rawa buatan aliran vertikal. 2. 3. Komninasi bentuk pertama dan kedua d. Proses dalam Fitoremediasi [6] Selain pemanfaatan bagi pemulihan kualitas air.[5] Gambar 25. yaitu: a. b. Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. rawa buatan secara umum digolongkan dalam dua bentuk: aliran horisontal dan aliran vertikal. Misalnya ragi. proses ini disebut juga Hyperacumulation 2. Gambar 23. rawa buatan aliran vertikal dapat digolongkan ke dalam dua bentuk (lihat gambar 22): 1.

Pelaksanaan 4. Ponaderia. dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan. Heleconia Kuning/Merah. Sempol Merah/Putih.2 m2/jiwa s. Kolam dilengkapi pipa inlet dan pipa berlubang untuk outlet. 0. Dialirkan air limah setebal 70 cm dengan mengatur level (ketinggian) outlet yang memungkinkan media selalu tergenang air 10 cm dibawah permukaan koral. 6. Flow Diagram Proses Fitoremediasi dalam Pengolahan Air [8] Konsep Perencanaan Wetland Beberapa ketentuan yang diperlakukan untuk membuat sistim ini.d. Anturium Merah/Kuning. Kolam diisi dengan media koral (batu pecah atau kerikil) diameter 5 mm s. Gambar 26.5 m2/jiwa atau hanya 1/5 dari kebutuhan lahan rawa buatan.d. 4. setinggi/setebal 80 cm. batang. yaitu : 1. Sistem pengolahan limbah denngan wetland disarankan hanya untuk skala lingkungan maksimum 2000 jiwa dan perkantoran atau gedung-gedung sekolah karena kebutuhan lahanya cukup tinggi antara 1. Akar Wangi.25 m2/jiwa s. Alamanda Kuning/Ungu. 6. Keladi Loreng/Sente/Hitam. Pacing Merah/Putih. Lotus Kuning/Merah. Disain luas kolam berdasarkan beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya untuk daerah tropis 40 kg BOD/Ha per hari. dll. Pengorganisasian Penyelenggaraan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) melibatkan instansi terkait di pusat dan daerah serta masyarakat di kawasan/lokasi dalam suatu daerah aliran sungai yang akan ditangani. 2. Dimana diharapkan sejak tahap awal perlu segera dilaksanakan pengorganisasian agar jalannya kegiatan dapat berlangsung secara efisien dan efektif mencapai hasil yang optimal. 2. Dahlia. Onje Merah. Dracenia Merah/Hijau. Usulan Pengaturan Kewenangan Antar Institusi Terkait dalam Pengelolaan Saluran Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan KEWENANGAN /TANGGUNG JAWAB INSTITUSI A Aspek Peraturan dan Pengaturan Penyusunan Pedoman dan Permen/Kepmen Tentang Ecodrain Sosialisasi Undang-undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terutama terkait dengan X B X C D X E F G H I X X X X - -     . Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang. Unit Wetland didahului dengan bak pengendap untuk menghindari cloging pada media koral oleh partikelpartikel besar. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzym berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi. Kenyeri Merah/Putih. 7.1. Jenis-jenis tanaman yang digunakan dalam Fitoremediasi Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah. 3. Bambu Air. Ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat. Jaka. Cana Presiden Merah/Kuning/Putih.2.2.[9] 4. 8. Pisang Mas. Padi-padian. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya di uapkan ke atmosfir.d. 5. akar atau di luar sekitar akar dengan bantuan enzym yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Papirus. Gambar 27. Proses ini dapat berlangsung pada daun. Organisasi Pelaksanaan Program Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (ecodrain) Gambar 28. Spider Lili. Konstruksi berupa bak/kolam dari pasangan batu kedap air dengan kedalaman 1 meter. Dibawah ini adalah bagan organisasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). 10 mm.susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri.5 m2/jiwa dibandingkan fakultatif pond hanya 0.

Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Pelaksanaan Ecodrain dan penunjukan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Tingkat Kabupaten Kota Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK.Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Mutu / Kualitas Air Sungai Aspek Teknis dan Operasional Perencanaan Pembangunan Fisik Pengawasan Fisik Operasional dan Pemeliharaan (O&P) Sosialisasi Pelaksanaan Fisik X X X - - X X - - - - X - - - - X X X - X - - - X - - X - X - - - - - - X - X X X - X X - X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X . Tentang Pelaksanaan Ecodrain dan penunjukan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Tingkat Provinsi Penyusunan Perda Provinsi / SK. Gub / Instruksi Gub. Tentang Pengendalian Perencanaan Tata Guna Lahan Dan Perlindungan Alam Daerah Bantaran Sungai Tingkat Provinsi Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK. Bupati Walikota / SK. Gub / Instruksi Gub.Ecodrain Penyusunan Perda Provinsi / SK. Bupati Walikota / SK. Bupati Walikota / SK.Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Pengendalian Perencanaan Tata Guna Lahan Dan Perlindungan Alam Daerah Bantaran Sungai Tingkat Kabupaten Kota Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK.

pengadaan barang (M&E). D = Dinas PU Provinsi. pemeliharaan dan perawatan. pengelolaan air limbah domestik dan pengelolaan hujan integratif yang dapat mengembangkan pengelolaan Drainase. · Kegiatan yang bersifat non fisik Kegiatan non fisik dapat berupa kegiatan sosialisasi 3R. Keterangan: A = Direktorat PLP Ditjen Cipta Karya.2.q. Pelaksanaan konstruksi fisik . 2007.2. C = Pemerintah Daerah c. H = Masyarakat / Swasta (KSM). BAPPEDA Provinsi. Dalam tahap pelaksanaan dibagi pada beberapa kegiatan sebagai berikut: b. 4. E = Dinas PU Kabupaten Kota. G = Dinas / Bidang Lingkungan Hidup Kabupaten Kota.Aspek Pembiayaan Perencanaan Pembangunan Fisik Pengawasan Fisik Operasional dan Pemeliharaan (O&P) Sosialisasi Pelaksanaan Fisik Aspek Peran Masyarakat dan atau Swasta Pengelolaan Air Limbah dengan SANIMAS Pengelolaan Sampah dengan Konsep 3 R KEWENANGAN /TANGGUNG JAWAB X X X X X X X X - X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X INSTITUSI A B C D E F G H I Pelatihan dan Capacity Building Kegiatan 3R dan SANIMAS Sosialisasi desain elemen sistem Drainase Berwawasan lingkungan X X X X X - - - X X X X X X X X - X Sumber : Hasil Kajian Konsultan. B = Ditjen SDA melalui Balai Besar Wilayah Sungai. Tahap Pelaksanaan Secara garis besar kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) terbagi dalam dua kegiatan pokok yaitu: · Kegiatan yang bersifat fisik Kegiatan fisik yang berupa pembangunan prasarana dan sarana. I = Perguruan Tinggi / Konsultan / LSM / Organisasi Profesi. F = Dinas Kebersihan Kabupaten Kota.

2.Pelaksanaan konstruksi fisik merupakan perwujudan fisik dari rencana yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). dlsb. Konsep yang dapat dikembangkan adalah dengan pengelolaan sampah berdasarkan pendekatan 3R (Recycle. . Pelaksanaan dan Pengembangan Kegiatan 3R dan SANItasi berbasis MASyarakat (SANIMAS) Pelaksanaan konstruksi fisik merupakan perwujudan fisik dari rencana yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa merupakan rencana pengadaan barang dan jasa yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). Dengan pembangunan konstruksi fisik ini diharapkan permasalahan banjir. Kontribusi tersebut dapat berbentuk penyiapan lahan. Departemen Pekerjaan Umum) pada beberapa kota sebagai pilot project. Pelaksanaan konstruksi antara lain seperti pembangunan pintu air. dlsb. tenaga. jalan berpori. c. wetland constructed. yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup. kawasan bioretensi. dan pendanaan fisik. rawa buatan. bendung spillway. 4. Diharapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat berkontribusi bagi terwujudnya semua rencana yang ada dalam studi perencanaan Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). direncanakan. 4. maka pengelolaan pasca pembangunan pada dasarnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota/Kabupaten. serta komitmen untuk meneruskan program tersebut secara berkesinambungan. 3) Khusus pada kegiatan fisik dari Pemerintah Pusat (Direktorat PLP ± Ditjen Cipta Karya.4. d. tahap pelaksanaan konstruksi dan tahap pengakhiran (finishing).3. sistem pengolahan data dan informasi. daur ulang dan pengangkut sampah. IPAL Sanimas. Sosialisasi dan Penguatan Peran Masyarakat dan Swasta Dalam penerapan konsep pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan. saringan sampah manual maupun otomatis. sarana komposting. 2) Kegiatan fisik sebagaimana disepakati dalam Daftar Isian Proyek (DIP) yang diselenggarakan secara bersama antara seluruh stakeholder di kawasan yang bersangkutan. dikontrol dan dievaluasi bersama masyarakat. memperbaiki atau memperluas/menambah prasarana dan sarana sesuai dengan dokumen perencanaan yang telah disepakati pada tahap perencanaan. penanganan sampah dengan reduksi sampah dari sumbernya merupakan langkah yang paling efektif dalam mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA (tertangani) maupun yang sampah yang potensial dibuang ke sungai / saluran / waduk dan atau prasarana dan sarana lainnya. pompa banjir. dilaksanakan (jika feasible). unit-unit pengolahan otomatis dalam IPAL Sanimas (disesuaikan teknologi). tempat pembuangan sampah (TPS) di lokasi saringan sampah dan bantaran sungai. kesehatan dan kehidupan manusia dan ekosistem perairan (lingkungan) serta kota. 1) Kegiatan konstruksi fisik dapat berupa kegiatan mendirikan. Reuse & Reduce) yang didasari oleh pendekatan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. kawasan parkir ramah lingkungan. Pengadaan jasa adalah adalah jasa konsultansi dalam pekerjaan pengawasan dan sosialisasi. Pengadaan barang terkait dengan kebutuhan barang mekanikal dan elektrikal dan perangkat dalam sistem informasi seperti perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). sampah sungai dan pencemaran air dapat dikurangi. Tahap Operasi dan Pemeliharaan Fasilitas kegiatan fisik dan bantek pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dari Pemerintah Pusat hanya merupakan stimulan dari Pemerintah Pusat (Direktorat PLP ± Ditjen Cipta Karya) yang selanjutnya setelah diserah terimakan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten. Pengadaaan barang dalam hal ini seperti pengadaan saringan sampah otomatis. genangan. sehingga beberapa permasalahan penting daerah perkotaan dapat dieliminir.2. MCK komunal. Pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat adalah suatu pendekatan pengelolaan sampah yang didasarkan pada kebutuhan dan permintaan masyarakat. 4) Kegiatan pelaksanaan konstruksi fisik terdiri dari tahap persiapan. pavemen berpori.

3. Pengendalian Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Pengendalian adalah segala tindakan yang dilakukan dalam pengorganisasian pengelolaan Drainase untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kuantitas sampah. prosedur. Keadaan sosial ekonomi. Faktor yang mempengaruhi sampah. sebaiknya dikelola oleh masyarakat yang bersangkutan agar mereka bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. Konsep pengelolaan 3R yang diusulkan dapat dilihat pada gambar 15 berikut. Kualitas sapahnya semakin banyak yang bersifat tidak dapat membusuk. Perubahan kualitas sampah ini. Fungsi fasilitator adalah memfasilitasi masyarakat untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah Secara baik dan pengomposan maka tugas fasilitator adalah memberikan kemamuan masyarakat dengan berbagai cara misalnya dengan memberikan pelatihan begitu juga jika masyarakat lemah dalam hal pendanaan. Sumber sampah yang berasal dari masyarakat. Kenaikan kesejahteraan inipun akan meningkatkan kegiatan konstruksi dan pembaharuan bangunanbangunan. Jumlah penduduk. tetapi harus dilakukan secara hati-hati jangan sampai masyarakat tergantung. yakni memulihkan/meningkatkan kualitas aliran saluran Drainase/sungai perkotaan dari pencemaran yang diakibatkan oleh sampah dan air limbah rumah tangga dan dan memandu pengelolaan Drainase secara terpadu agar berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula. Misalnya dengan melakukan pelatihan study banding dan memperlihatkan contoh-contoh program yang sukses dan lain-lain. detektif (untuk menemukan dan memperbaiki sesuatu hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi). Kenyataan yang ada saat ini adalah bahan sampah sulit dikelola oleh berbagai hal. Meningkatnya tingkat hidup masyarakat. termasuk apa yang digariskan dalam rencana. Cepatnya berkembangnya teknologi. Transportasi-pun bertambah dengan konsekuensi bertambahnya volume dan jenis sampah. kekuatan) utama dalam pengelolaan sampah adalah masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain. seakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang. Meningkatnya biaya operasional dan pengelolaan sampah. Tetapi jika masyarakat belum siap. lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami persoalan sampah. Dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak penduduk semakin banyak pula sampahnya. Tindakan pengendalian dapat bersifat preventif (untuk menghindarkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan). Penanganan sampah 3 R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce / mengurangi. Konsep Pengelolaan 3 R di kawasan Daerah Pengaliran Sunga (DPS)i[10] 4. dan semuanya sejalan dengan peraturan dan perundang-undangan yang mengikat kegiatan. kebijakan. Semakin tinggi keadaan social ekonomi masyarakat. maka tugas fasilitator adalah membantu mencari jalan keluar agar masyarakat mampu mendapat pendanaan yang dibutuhkan. yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang persampahan. reuse / menggunakan kembali. dan recycle / mendaur ulang sampah mulai dari sumbernya. baik kuantitas dan kualitasnya sampah sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam. . Tiga tujuan umum pengendalian kegiatan ecodrain adalah untuk: · Meyakinkan terlaksananya tujuan yang telah ditetapkan. tergantung pada bahan yang tersedia. Gambar 29. maka fungsi pemerintah atau lembaga lain adalah menyiapkan terlebih dahulu. peraturan yang berlaku serta kesadaran masyarakat akan persoalan sampah. dalam hal ini adalah kawasan yang potensial sebagai sumber sampah sungai. atau direktif (untuk menimbulkan atau mendorong terjadinya sesuatu yang diinginkan). Mengapa dalam pengelolaan sampah dilakukan secara berbasis masyarakat karena produsen sampah utama adalah masyarakat. sehingga mereka harus bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka produksi. Pemerintah dan lembaga lainnya hanyalah sebagai motivator dan fasilitator. Fungsi motivator adalah memberikan dorongan agar masyarakat siap memikirkan dan mencari jalan keluar terhadap persoalan sampah yang mereka hadapi.Dalam pengertian ini pemeran (penguasa. Dengan kemmajuan teknologi. karena jika dikelola oleh pihak lain biasanya mereka kurang bertanggung jawab bahkan cenderung destruktif. Pengelolaan sampah inipun berpacu dengan laju pertumbuhan penduduk.

Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. [10] Modifikasi dari Anonim. d. Ditjen Cipta Karya 1998/1999. Monitoring dan Evaluasi Sistem monitoring dan evaluasi kegiatan Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain) perlu dilakukan untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tahap persiapan dan perencanaan. Pengendalian pelaksanaan dilakukan oleh Satuan Kerja Pengembangan PLP tingkat provinsi dan atau dinas teknis setempat atau unit pengelola teknis/UPT/badan tertentu sesuai kewenangan yang ditetapkan oleh kelembagaan pemrakarsa kegiatan ecodrain atau dapat ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan.html [9] Fitoremediasi. Mengendalikan kinerja pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). http://www. Upaya Pengolahan Air Limbah Dengan Media Tanaman. [8] Matthew Dempsey. December. Phytoremediation. 2003. "Melestarikan Sumberdaya Air Dengan Teknologi Rawa Buatan". [2] Bioremediation by Tina Yu. 1997. 27 Oktober 2003. e. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Wilayah Barat.· Menjamin pelaksanaan kegiatan berdsarkan dokumen perencanaan dan studi.edu/dept/chem-eng/BiotechEnviron/MISC/webpage1. 4-3. Gadjah Mada University Press. 27 Oktober 2003. Surabaya. Halaman 4-1s. [5] Fitoremediasi. Halaman 71. dan · Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan.d. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Wilayah Barat. 4. Fitoteknologi dan Ekotoksikologi dalam Desain Operasi Pengomposan Sampah. Sistem diatas perlu dilengkapi dengan sistem informasi yang terencana sebagai bahan masukan bagi upaya-upaya Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (ecodrain) pada lokasi/kawasan lainnya. Aqua Treatment Technologies. Studi kelayakan dan Bantuan Teknis (Bantek) merupakan alat kendali pelaksanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). [7] Mangkoedihardjo Sarwoko. 27 September 2005. bahan Ekspose. [1] Penyusunan Sistem Pengelolaan Sampah Sungai di DKI Jakarta. Memberikan bahan untuk kelengkapan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). Proyek Peningkatan Prasarana Permukiman DKI Jakarta. Memantau/memonitor perkembangan pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. Kegiatan pengendalian dilaksanakan pada setiap tahapan pelaksanaan sejak tahap perencanaan. [6] Bioremediation by Tina Yu.4. pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan ecodrain. pelaksanaan sampai dengan pemanfaatnannya di lapangan. Dinas PU Kota Surabaya Tahun 2007. b. Upaya Pengolahan Air Limbah Dengan Media Tanaman. Tujuan dari sistem monitoring dan evaluasi adalah sebagai berikut: a.rpi. bahan Ekspose. pengorganisasian. dalam http://en.org/wiki/ Constructed_wetland [4] Khiatuddin Maulida. Memberikan informasi yang lengkap yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan program pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). Memberikan bahan masukan untuk persiapan pelaksanaan kegiatan dan pengembangan program pada tahun berikutnya. Untuk lebih mengoptimalkan kegiatan monitoring dan evaluasi proram dan kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) perlu dikembangkan mekanisme monitoring dan evaluasi secara berjenjang baik menggunakan perangkat lunak (software) maupun berupa buku laporan (hardware). Bantek 3 R Bozem Morokembangan. [3] Sumber : Brown and Caldwell. Laporan Akhir.wikipedia. c. Tags: proses ecodrain . Seminar Nasional Teknologi Lingkungan III ITS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful