P. 1
Proses an Sistem Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan

Proses an Sistem Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan

|Views: 558|Likes:
Published by Andi Ryandi

More info:

Published by: Andi Ryandi on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

PROSES PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN DRAINASE SECARA TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN (ECODRAIN

)

Jun 18, '08 12:26 AM for everyone

4.1. Perencanaan Perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) adalah tahapan awal pengelolaan sebagai upaya untuk menyusun rencana detil dan usulan program investasi yang komprehensif dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan, berdasarkan kajian dari berbagai aspek sebagai acuan dalam penyelenggaraan pengelolaan Drainase secara terpadu berawawasan lingkungan. Perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dimaksudkan untuk memaksimalkan segala upaya dan potensi di kawasan/lokasi sehingga rencana pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dapat terlaksana secara berkesinambungan. Kegiatan perencanaan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) meliputi: a) Identifikasi Masalah dan Penetapan Kawasan/Lokasi Prioritas ditangani. b) Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) dan Penyusunan Program Investasi. c) Penyusunan Studi Pemberdayaan dan Pengelolaan Sampah Terpadu (3R). d) Penyusunan Studi Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). e) Penyusunan Perencanaan Teknis ( Detail Engineering Design ) untuk: a. Saringan Sampah dan bangunan pelengkapnya; dan b. Unit perangkap dan pengolahan sedimen; c. Unit pengolahan air limbah dan bangunan pelengkapnya. f) Penyusunan Dokumen Usaha Pengelolaan Lingkungan (UKL/UPL). 4.1.1. Identifikasi Masalah Kualitas Air, Sampah, Sedimen dan Pengelolaan Drainase Perkotaan Tahap awal dalam proses perencanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) adalah kegiatan identifikasi dan perumusan masalah dalam pengelolaan Drainase di kawasan perencanaan (perkotaan). Keluaran dari tahapan ini adalah teridentifikasinya permasalahan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam pelaksanasn kegiatan selanjutnya. Proses identifikasi permasalahan ini dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan atau Satker (SNVT) Pengembangan PLP di Provinsi. Langkah-langkah kegiatan identifikasi dan perumusan masalah dalam pengelolaan Drainase di kawasan perencanaan (perkotaan) adalah meliputi kegiatan sebagai berikut: 1. Mengumpulkan data dan informasi kondisi kualitas air permukaan (sungai, waduk, situ, dan pantai) dan kategori indeks pencemaran air (IP); 2. Mengumpulkan data dan informasi permasalahan sampah dan sedimen, volume timbulan sampah perairan di saluran Drainase/sungai; 3. Melakukan pengumpulan data informasi kondisi pengelolaan Drainase, persampahan dan air limbah kota (sistem, teknis operasional, institusi, peraturan, pembiayaan serta peran masyarakat dan swasta); 4. Merumuskan masalah dalam pengelolaan Drainase (masalah banjir, genangan, Drainase, sampah sungai dan pencemaran air). Rumusan ini berdasarkan: a. Penyebab bencana pencemaran air, banjir/genangan dan sampah perairan (spesifik), b. Skala/besaran akibat (indeks pencemaran air, timbulan sampah perairan, kesehatan masyarakat, penyebab banjir/genangan), serta c. Sumber sampah sungai dan pencemaran air dan lokasi banjir/genangan dan pencemaran. 4.1.2. Penetapan Kawasan/Lokasi Prioritas ditangani Penetapan kawasan/lokasi prioritas ditangani adalah langkah lanjutan dari identifikasi masalah pengelolaan Drainase. Dimana pada tahapan ini diharapkan dapat ditetapkan kawasan/lokasi sebagai prioritas di tangani dengan pendekatan secara terpadu. Yang dimaksud kawasan/lokasi adalah kawasan/lokasi di dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS) dan atau sistem pengaliran saluran Drainase (DPS), yang tentunya dengan pendekatan penanganan secara kuratif sebagai respon tindakan darurat yang penanganannya dimulai dari hilir, dan penanganan preventif yang dimulai dari sumber atau dari hulu.

4. morfologi sungai. Prioritas kawasan/lokasi yang akan ditangani dengan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) ditetapkan berdasarkan urutan sebagai berikut: 1. 3. 2. · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring sedang. kesadaran mengelola air limbah dan kesadaran berinvestasi). saringan sampah. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring tinggi. waduk pengendalian banjir. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring sedang. dengan indikator timbulan sampah perairan. dan 5. dengan indikator klasifikasi sungai/saluran Drainase dan luas daerah aliran sungai (DAS/DPS). bangunan perlintasan. rumah pompa dan pompa banjir. parameter serta nilai setiap parameter untuk kriteria terlampir). indikator. Variabel Kondisi Kualitas Air.Dalam penetapan kawasan/lokasi yang akan ditangani dengan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan disandarkan pada hasil penilaian terhadap berbagai kriteria. pintu air. Prioritas Kedua · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring tinggi. kondisi penegakan hukum/peraturan bidang lingkungan terkait keairan. · Variabel timbulan dan komposisi sampah dan sedimen perairan dengan nilai skoring tinggi. 3. stasiun pengamatan banjir. · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring sedang. dengan indikator komitmen pemerintah kabupaten/kota (sharing pembiayaan. · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring rendah. dengan indikator kondisi prasarana dan sarana Drainase (saluran. · Variabel Banjir. sumber sampah perairan. perangkat hukum/peraturan daerah. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring rendah. dsb). pembebasan lahan dan penanganan kawasan) dan indikator peran masyarakat serta swasta (kesadaran mengelola sampah. 2. Kriteria penilaian yang digunakan untuk menilai usulan kawasan/lokasi dalam DAS/DPS yang akan ditangani adalah: 1. Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta. 4. · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring rendah.1. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring sedang. dan Ringan) dan kelas mutu air. · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring sedang. tingkat kerusakan).3. Genangan dan Drainase dengan nilai skoring sedang. Tahapan Perencanaan Dalam tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1) Penyusunan Studi kelayakan (FS/feasibility study) 2) Penyusunan Detil perencanaan teknis (DED) 3) Pengumpulan Data-data 4) Penyiapan Disain . Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase. Sedang. Variabel sampah dan sedimen perairan. Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai. (tabel variabel. Prioritas Ketiga · Variabel Banjir. · Variabel timbulan dan komposisi sampah dan sedimen perairan dengan nilai skoring tinggi. · Variabel Komitmen pemerintah Kabupaten/Kota dan Peran Masyarakat serta Swasta dengan nilai skoring tinggi. · Variabel Kondisi saluran Drainase dan sungai dengan nilai skoring sedang. dengan indikator yang dinilai adalah Indeks Pencemaran Air (Berat. kondisi prasarana dan sarana sanitasi (layanan persampahan dan air limbah) dan indikator kondisi sungai (flora dan fauna. · Variabel Banjir. komposisi dan karakteristik sampah sungai. Prioritas Pertama · Variabel Kondisi Kualitas Air dengan nilai skoring tinggi. · Variabel Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase dengan nilai skoring rendah. volume sedimentasi. komposisi dan karakteristik sedimen.

Aspek Kelembagaan a) Kondisi eksisting: keberadaan institusi/kelembagaan pengelola Drainase. DED Drainase. b) Tinjauan kawasan/lokasi (tinjauan tata guna lahan daerah aliran sungai. b) Kondisi eksisting penegakan hukum/penertiban terkait dengan wilayah keairan (sungai dan Drainase). d) Analisa peraturan dan kebijakan. B. b) Permasalahan yang dihadapi. swasta dan masyarakat dalam investasi pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan dan melakukan operasi serta pemeliharaan. tengah dan hulu/sumber. g) Rekomendasi masterplan/outline plan. masyarakat dan instansi terkait. C. c) Permasalahan banjir. RTRW Kota/Kabupaten. terutama pada rencana induk (masterplan) atau outline plan Drainase kota. tinjauan kepadatan penduduk daerah aliran sungai. 4. kecenderungan pengembangan kota/kabupaten. c) Permasalahan yang dihadapi. F. d) Sistem Drainase dalam suatu DAS/DPS. dan alternatif pemecahan. dan air limbah. persampahan. danau.1. lingkungan (ekosistem sungai. sistem pengelolaan Drainase. tinjauan prasarana dan sarana kota di daerah aliran sungai.1.3. f) Sistem pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan yang meliputi pengelolaan Drainase. rencana induk (masterplan) atau outline plan pengelolaan air limbah kota. RDTRK. waduk/situ. genangan dan Drainase. arah pengembangan prasarana sarana kota. f) Hukum peraturan dan kebijakan yang dibutuhkan. Tinjauan Tata Ruang dan Tata Guna Lahan a) Tinjauan perkotaan (kebijakan umum pembangunan kota/kabupaten. genangan. f) Sistem pengelolaan air limbah. tata ruang kota. c) Analisa permasalahan dan rekomendasi. E. tinjauan fisik kota. sampah sungai dan pencemaran sungai. studi PROPER dan PROKASIH. b) Permasalahan persampahan dan sampah sungai. e) Sistem pengelolaan persampahan. b) Kondisi eksisting kesehatan masyarakat. rencana induk (masterplan) atau outline plan pengelolaan persampahan (PTMP) kota. sampah sungai dan air limbah di suatu DAS/DPS pada setiap wilayah/segmen di hilir. . tengah dan hulu/sumber). pesisir. Aspek Teknis a) Kondisi eksisting pengelolaan Drainase. Penyusunan Studi Kelayakan (FS) Penyusunan FS dan DED melalui tahapan kegiatan yang setiap tahapnya harus dikonsultansikan dengan pemerintah daerah. tinjauan kependudukan. Tinjauan Masterplan/Outline Plan Pengelolaan Drainase. d) Sistem kelembagaan yang dibutuhkan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan. Drainase. air limbah (terpusat maupun setempat) dan Persampahan. pemilihan serta penetapan teknologi). d) Pengolahan dan analisa data (analisa kebutuhan. Aspek Keuangan dan Pembiayaan a) Kondisi eksisting: kemampuan pembiayaan pemerintah. pantai dan laut) dan kualitas air permukaan. e) Rekomendasi teknis (rekomendasi untuk di wilayah hilir. sosial ekonomi di daerah aliran sungai. tinjauan sosial ekonomi perkotaan dan tata ruang daerah aliran sungai). c) Permasalahan pengelolaan air limbah. b) Permasalahan yang dihadapi. tinjauan kondisi fisik daerah aliran sungai. persampahan dan air limbah kota. tinjauan ketutupan lahan di daerah aliran sungai. Persampahan dan Air Limbah Kota a) Permasalahan banjir. Lingkup kegiatan penyusunan FS adalah: A. e) Rekomendasi aspek hukum peraturan dan kebijakan.Dalam penyusunan studi kelayakan (feasibility study) dan Detil perencanaan teknis (DED) pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) agar mengacu pada studi-studi terdahulu di lokasi/kawasan perencanaan (DAS/DPS). Aspek Hukum dan Peraturan a) Peraturan dan kebijakan daerah. D. serta studi-studi terkait seperti. sampah dan air limbah di DAS/DPS. klimatologi di daerah aliran sungai).

1. masyarakat dan instansi terkait. · Perkotaan dengan tinggi daratan > tinggi muka air laut. Aspek Peran Masyarakat dan Swasta a) Kondisi eksisting: pengelolaan sampah dan air limbah oleh masyarakat di daerah pengaliran sungai/saluran. beserta uraian konsep. b. · Kawasan/segmen tengah. · Perkotaan dengan topografi/dataran tinggi. lanskap) dan struktur bangunan sipil (bila ada). b. b) Permasalahan yang dihadapi.2. d) Bentuk dan peran masyarakat dan swasta yang dikehendaki. Penyusunan Pentahapan Pembangunan dan/ atau Pengadaan Peralatan. operasi dan pemeliharaan serta rekomendasinya. Penetapan Model Pengelolaan yang akan dipakai Penetapan model pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan adalah berdasarkan kondisi tipologi kota dan segmen/wilayah yang akan ditangani. G. jadwal pelaksanaan dan organisasi personil. Penyusunan DED melalui tahapan kegiatan yang setiap tahapnya harus dikonsultansikan dengan pemerintah daerah. studi pemilihan model dan teknologi. Dimana pada tahapan ini harus sudah mulai dikonsultansikan dengan pihak-pihak terkait baik pemerintah. teknologi ramah lingkungan) dan segmen/wilayah mana yang akan ditangani (hilir. Hasil pembobotan dibandingkan dengan prioritas dalam poin 4. swasta dan masyarakat. hulu dan sumber). c) Analisa permasalahan dan rekomendasi. peralatan dan biaya yang diperlukan. indikator dan parameter seperti disajikan pada lampiran pedoman.1. Tabel variabel.2. pengelolaan sampah dan air limbah domestik oleh swasta (industri. 2) Tahap Penyusunan Rencana Detail dengan output. operasi dan pemeliharaan. pendekatan teknologi yang akan dipakai (teknologi tinggi. Penetapan Prioritas dan Pemilihan Alternatif Teknologi Penetapan prioritas lokasi/kawasan dalam suatu daerah aliran sungai atau daerah pengaliran saluran adalah berdasarkan hasil penilaian melalui skoring berbagai variabel. perdagangan dan jasa) di daerah pengaliran sungai/saluran dan kesadaran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan Drainase. Pemilihan alternatif teknologi adalah berdasarkan volume dan karakteristik fisika-kimia-biologi yang akan ditangani.3. teknologi tepat guna. Adapun kondisi tipologi kota dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan adalah sebagai berikut: · Perkotaan dengan tinggi daratan < tinggi muka air laut. Penyusunan Detail Engineering Design (DED) Penyusunan DED merupakan tahapan kegiatan penyusunan Rencana Detil Teknis berdasarkan studi kelayakan dan program investasi pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) yang telah ada serta mengacu pada Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan ketentuan teknis yang telah ditetapkan. indikator dan parameter yang telah diberi bobot/skor.c) Analisis permasalahan. Lingkup kegiatan penyusunan DED adalah: 1) Tahap Persiapan. Hasil survei. Metode dan rencana pelaksanaan kegiatan secara rinci. · Kawasan/segmen hulu atau di sumber. pekerjaan mekanikal dan elektrikal. daerah. kelayakan investasi. d) Sistem pembiayaan yang dibutuhkan untuk investasi. . sampah dan air limbah. swasta dan masyarakat. Rencana teknis dan struktur prasarana dan sarana. I. 4. pengumpulan data dan informasi lapangan (termasuk hasil penyelidikan tanah. Penjelasan rinci menyangkut kondisi tipologi akan dijelaskan pada bab 3. c. kemampuan pembiayaan pusat. tengah. a. perhitungan teknis (pekerjaan sipil. ketersediaan dan kemampuan SDM. H. pengukuran topografi) dan membuat interpretasi secara garis besar terhadap KAK dan hasil konsultansi pemerintah Kabupaten/Kota. Program kerja penyusunan DED yang berkaitan dengan metode. Sedangkan berdasarkan segmen/wilayah yang akan ditangani adalah: · Kawasan/segmen hilir. a. kegiatan.

1. Dari hasil penelitian di bebarapa kota besar di Indonesia. g. logam. Pendekatan Analisa Jumlah Sampah yang masuk ke dalam sungai (Sistem DAS)[1] Sampah yang diproduksi oleh permukiman. Format-format perijinan (apabila perlu). Memeriksa secara berkala kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan rencana. permukiman sekolah dan bangunan-bangunan umum di sepanjang aliran sungai yang tidak dilindungi pagar pengamanan sungai. e. f. dan bantal. dan Surabaya didapatkan jumlah prosentase sampah yang cukup besar yang dibuang ke sungai dan saluran-saluran Drainase. 4. tempat pemotongan hewan yang dekat aliran sungai. 5) Tahap Sosialisasi kepada Semua Pihak yang Terkait. 2. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan. Membantu proyek/panitia pengadaaan kontraktor. dan sampah industri pertanian dan perkebunan seperti sisa-sisa pestisida dan herbisida. b. danau dan pantai/laut). menyusun kembali dokumen pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama apabila terjadi lelang ulang. keramik. dan rincian volume pekerjaan (BoQ). Laporan detil perencanaan teknis (DED). Jalan. a. sampah kering seperti kayu. melayang dan berada di dasar saluran/sungai/waduk. Bandung. Membantu panitia pengadaaan pada waktu penjelasan pekerjaan termasuk menyusun berita acara penjelasan pekerjaan. Jenis sampah yang sering dibuang ke sungai dan saluran-saluran Drainase tersebut diantaranya adalah sampah basah seperti sampah sisa-sisa makanan dan sayur-mayur. Sampah-sampah tersebut ada yang kondisi terapung. kasur. b. Faktor-faktor Timbulan Sampah Sungai . 4) Tahap Penyusunan Petunjuk Penggunaan. Rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang meliputi jenis pekerjaan. bangkai ayam. bengkel dan industri (kecil. 3) Tahap Pelelangan. ternyata masih ada sebagian dari prosentase sampah tersebut yang dibuang ke perairan (sungai. yang secara signifikan juga menyebabkan kegagalan fungsi sarana prasarana Drainase dan pengendalian banjir karena dapat mengurangi kapasitas saluran serta mengganggu operasional fungsi pintu air dan instalasi pompa banjir. 3. Hal ini terjadi tergantung pada sifat-sifat fisik sampah (berat jenis. Saringan Sampah manual dan otomatis 1. pembuatan screen/floating screen. juga menyebabkan peningkatan biaya pemeliharaan prasarana dan sarana Drainase dan pengendalian banjir. evaluasi penawasan. plastik. Semarang. Pabrik-pabrik. seperti Jakarta. 6) Tahap Pengawasan Berkala. Penyusunan buku petunjuk penggunaan pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana. buah-buahan. tempat-tempat komersil di sepanjang aliran sungai (termasuk dalam DAS Sungai).d. Disain Elemen Ecodrain A. dan d.4. dan fasum dan fasos di perkotaan dan perdesaan tidak semua dapat terangkut ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) atau tereduksi dengan kegiatan 3R dan komposting ataupun di timbun/dibakar. Pemeliharaan dan Perawatan (SOP). permukaan dlsb). 5. harga satuan. sampah binatang seperti bangkai kucing. menyusun dokumen pelelangan dan menyusun program pelaksanaan pelelangan. Pasar. yang mana akan menentukan konsep penanganan pemeliharaan dan operasional sarana (O&M) dan prasarana Drainase. 4. lapangan serta pohon-pohon yang berada sepanjang aliran sungai. sampah balokan seperti batang pohon tumbang. dan besar) di sepanjang aliran sungai. Dokumen lelang yang terdiri dari gambar-gambar detail. balok kayu. pakaian. menengah. analisa harga satuan pekerjaan serta rekapitulasinya. a. Membuat laporan akhir pengawasan berkala. c. a. Rumah tinggal. Sampah-sampah tersebut selain menyebabkan dibutuhkannya kegiatan O&M seperti kegiatan pengerukan. daerah perkantoran dan perdagangan. Perhitungan Laju Timbulan Sampah Sungai (i). Memberikan rekomendasi tentang penggunaan bahan. rencana kerja dan syarat-syarat (RKS). bangkai anjing. dan bangkai tikus. Kandang-kandang hewan. kaca. Tempat-tempat yang potensial menjadi sumber sampah sungai antara lain: 1. volume.

. · Adanya pemulung sampah yang memisahkan sampah-sampah logam.......... jalan setapak. Trash rake dengan rel pengarah (Guided cable hoist trash rake) .6%) Produksi sampah untuk suatu kawasan pemukiman yang berada dipinggir aliran sungai/kali dihitung berdasarkan banyaknya populasi yang menghasilkan sampah setiap harinya.. jika dinyatakan dengan persamaan adalah sebagai berikut: Qss = (P x Qsd) +Qnd.1) Dimana : Qss = Quantitas sampah sungai Qsd = Quantitas sampah darat Kss = Koefisien timbulan sampah sungai (0.. · Masih terdapatnya daeran sempadan sungai yang terbuka dan belum dipagar sehingga masih banyak penduduk yang membuang sampah... Trash rake digolongkan dalam dua kategori.... · Adanya pola angkutan sampah darat oleh swadaya masyarakat setempat.. pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope (seperti terlihat pada Gambar 5...16)... Produksi Sampah Sungai Produksi sampah sungai terhadap sampah darat jika dinyatakan dengan persamaan adalah sebagai berikut: Qss = Qsd x Kss....0.2) Dimana: Qss = Quantitas sampah sungai P = Populasi penduduk sepanjang aliran sungai Qsd = Produksi sampah domestik (liter/orang/hari) Qnd = Produksi sampah non domestik (daun. Penanganan Sampah dengan Saringan Mesin Otomatis Upaya yang dilakukan dalam penanganan sampah sungai salah satunya dengan trash rake (Alat Penangkap/Penyaring Sampah).. · Kandang-kandang hewan...... · Permukiman padat disepanjang aliran sungai. (ii). tempat pemotongan hewan yang dekat aliran sungai... taman serta pohon-pohon yang berada disepanjuang aliran sungai...... 1.... · Jalan-jalan lingkungan.. (4. · Pabrik-pabrik dan industri di sepanjang aliran sungai.... Hanya sebagian kecil dari produksi sampah kota yang masuk ke dalam sistem aliran sungai... pohon...... · Masih terdapatnya lahan-lahan terbuka yang dapat menampung dan menyimpan sampah dan secara alami dapat direduksi... · Lokasi-lokasi pasar. plastik..... · Fasilitas-fasilitas umum di sepanjang aliran sungai... Trash Rake Kabel Hoist/Cable Hoist Trash Rake Prinsip kerja trash rake kabel hoist ini menggunakan kabel/w/re rope untuk menggerakan trash rake (pergerakan naik dan turunnya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope).2 ... lapangan. (4. b. Trash rake tan pa rel pengarah (Unguided cable hoist trash rake) Prinsip kerja trash rake jenis ini....... kayu dan lain-lainnya untuk daur ulang.... jalanan) 2. rake / garu menggantung bebas........ Tempat-tempat yang menjadi sumber sampah di sepanjang sistem aliran sungai adalah: · Permukiman kumuh/liar disepanjang sungai... kategori ini adalah : · Trash rake kabel hoist/ Cable hoist trash rake · Trash rake mekanikal/ Mechanical trash rake........ Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : · Adanya pola angkutan sampah darat oleh Dinas Kebersihan/Pemda/Pemkot.. tempat-tempat komersial di sepanjang aliran sungai. Pada trash rake kabel hoist ini ada 2 type yaitu: a..... · Kesadaran sebagian besar masyarakat untuk tidak membuang sampah ke dalam sungai.....Produksi sampah sungai dalam layanan pembersihan ini adalah sampah sungai yang timbul di daerah perkotaan yang mempunyai jumlah yang lebih sedikit dari jumlah sampah yang ada secara keseluruhan...

Seperti halnya kontaminan organik yang telah dijelaskan sebelumnya. dan bateray militer. Kontaminan organik berbahaya ditemukan hampir pada seluruh limbah domestik. pengumpulan besi tua. Kontaminan anorganik seperti beberapa ion logam berat yaitu arsenik (As). Hidrokarbon akan menghambat pertumbuhan bakal tanaman dan perkecambahan walau tidak ditemukan adanya akumulasi hidrokarbon didalam tanaman. Sebagai contoh. menimbulkan kontaminan berupa perchlorate yang merupakan konstituen dari propellan. 2000). Pergerakan naik dan turun bagian sliding arm digerakan oleh chain sedangkan posisi kemiringan trash rake digerakan dengan system hydraulic. dan tanah melalui penggunaannya pada kegiatan pertanian. perkotaan. Kontaminan yang biasa ditemui pada sumber air dan tanah terkontaminasi adalah kontaminan organik dan beberapa kontaminan anorganik. Guided cable hoist trash rake 2. mobilitas dan kuantitas bahan pencemar (kontaminan) pada sumber air dan tanah terkontaminasi menggunakan mikroorganisme (mikroflora atau mikrofauna). lengan. lumpur limbah perkotaan.Prinsip kerja trash rake jenis ini. sedangkan bagian ujungnya dilengkapi dengan backhoe untuk pengambilan sampah. Dudukan unit sliding arm trash rake bisa dipilih fixed atau movable dilengkapi dengan rail. Trash Rake Mekanikal/Mechanical Trash Rake Trash rake sistem mekanikal ini menggunakan rantai. logam berat dapat ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di lingkungan. c. Unguided cable hoist trash rake Gambar 18. B. Perchlorate adalah kontaminan yang larut didalam air dan dapat mencemari sumber air atau diserap oleh tumbuhan serta berdampak langsung bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. bahan peledak. industri dan kegiatan militer. Pada trash rake mekanikal ini ada 4 tipe yaitu: a. perumahan. pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh socket melalui chain. pestisida dapat masuk kedalam residu tanaman penutup tanah (crop) seperti rumput. pestisida. Sedangkan pergerakan naik dan turun nya rake digerakan oleh hoist melalui kabel /wire rope (seperti terlihat pada Gambar 7). Sliding Arm Trash Rake Prinsip kerja sliding arm trash rake ini yaitu: trash rake dilengkapi dengan sliding arm. Elbow Arm Prinsip kerja trash rake jenis ini yaitu: rake dilengkapi dengan dua lengan. kadmium (Cd) dan merkuri (Hg) pada kenyataannya berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelangsungan kehidupan di lingkungan (USDA NRCS. Gambar 17. Demikian pula dengan penggunaan bahan peledak atau komponen peledak didalam tanah pada aktivitas militer. rake / garu dilengkapi dengan rel pengarah yang letaknya di kedua belah sisi. Kontaminan organik lainnya seperti PCBs (Poly Chlorinated Biphenyls) dan PAHs (Polycylic Aromatic Hydrocarbons) dapat masuk kedalam tanah dari aktivitas pembakaran bensin atau dari lumpur limbah domestik dan lainnya. Suatu organisme akan kronis apabila makanan yang dikonsumsinya mengandung logam berat. selanjutnya berpotensi mengganggu kehidupan biota lingkungan dan akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam jangka waktu yang lama dan jauh dari sumber polusi utamanya. . Proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting terhadap peningkatan kontaminan tersebut karena pemasukan utama kontaminan logam kedalam lingkungan ditemukan dari kegiatan perkotaan dan pembuangan lumpur limbah industri komoditi seperti industri tekstil. Climber Trash Rake Prinsip kerja trash rake jenis ini yaitu: pergerakan rake diperoleh dari motor penggerak disambung dengan socket dan chain. timbal (Pb). Bioremediasi Proses bioremediasi adalah salah satu teknik pengurangan atau penghilangan tingkat toksisitas. Bila menggunakan makroflora (tumbuhan) disebut phytoremediasi. pembibitan. hydraulic cylinder dan chain. Pergerakan naik dan turun bagian lengan dan backhoe dengan system mekanis atau hydraulic. kulit. sehingga lebar rake bisa lebih besar dan rake lebih stabil. hydraulic cylinder dan gerigi untuk menggerakan trash rake (untuk pergerakan naik dan turun). maupun industri. Walaupun pada konsentrasi yang sedemikian rendah efek ion logam berat dapat berpengaruh langsung hingga terakumulasi pada rantai makanan. pengelasan dan lain sebagainya. plastik. b. pertanian.

Sehingga dapat diketahui dengan pasti . artinya tidak semua kontaminan dapat didegradasi oleh mikroorganisme · Kondisi lingkungan dimana teknik biremediasi akan diaplikasikan. 1996). industri dan militer. pemindahan dan pengangkutan (transportasi) yang sangat mahal · Meniadakan biaya pengadaan lahan yang sesuai dengan persyaratan didalam KepMenLH No. Proses Bioremediasi oleh Mikroorganisme[2] Teknik bioremediasi dan atau phytoremediasi memang banyak digunakan didalam upaya pemulihan kondisi sumber air dan tanah terkontaminasi karena terbukti lebih murah biayanya dan efektif dibandingkan dengan teknik remediasi (pemulihan) menggunakan bahan kimia. pengumpulan dan pengangkutan ke lokasi pengolahan. menjadi senyawa lain yang lebih sederhana seperti karbon dioksida. biomassa dan hasil lain yang sangat sederhana komposisinya (Citroreksoko. perkotaan. aplikasi teknik in-situ memerlukan penambahan nutrien dan oksigen kedalam sedimen (endapan) guna mencapai syarat habitat mikroorganisme yang akan digunakan. metan. Hal ini dimungkinkan karena prinsip proses bioremediasi memanfaatkan aktifitas mikroorganisme indigenous yang terdapat didalamnya. aplikasi teknik in-situ memerlukan eksplorasi detail dan menyeluruh terkait lokasi pencemaran dan karakteristik kontaminannya. dimana pengolahan dilakukan ditempat tanah terkontaminasi berada dan (2) ex-situ. Bebarapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengaplikasi teknik bioremediasi adalah: · susceptibility dari kontaminan. Ini sangat penting guna menghindari terjadinya perluasan area pencemaran akibat perpindahan atau perembesan kontaminan ke daerah sekitarnya. Gambar 19. Teknik bioremediasi ini dikenal dengan nama bioremediasi intrinsik. Treatability study diperlukan guna mendapatkan informasi yang pasti terkait karakteristik lokasi pengolahan. Teknik bioremediasi yang dapat diaplikasikan untuk pengelolaan sedimen (endapan) sungai atau bozem atau waduk adalah secara: (1) in-situ. maka perlu dilakukan treatability study sebelum teknik bioremediasi diaplikasikan.Kontaminan organik berbahaya dan residu logam atau produk-produk samping lainnya diatas dapat masuk kedalam tumbuh-tumbuhan. Pada prinsipnya. sehingga lebih unggul dan tidak membutuhkan waktu lama bila diaplikasikan di lapangan. sifat fisik & kimia lokasi dan karakteristik kontaminannya. (3) menggunakan reaktor lumpur. Akan tetapi kelebihan dari teknik ex-situ adalah dapat diolah dengan beragam cara seperti: (1) landfarming. Teknik ex-situ membutuhkan biaya yang lebih mahal karena dibutuhkan biaya untuk pekerjaan penggalian. dimana pengolahan dilakukan ditempat lain. In-situ disini dimaksudkan sebagai pengolahan sumber air dan atau tanah terkontaminasi yang dilakukan ditempatnya semula dihasilkan. tanah. air. menjadi teknologi alternatif pengendalian pencemaran sumber-sumber air dan tanah terkontaminasi secara in situ. diantaranya adalah: · Gangguan terhadap lokasi tanah terkontaminasi sangat sedikit (tidak ada penggalian atau pemindahan tanah) · Karena tidak dipindahkan maka masyarakat atau lingkungan yang beresiko terkena paparan bahan berbahaya beracun yang ada didalam sedimen (endapan) tersebut lebih sedikit (minimal) · Mengurangi biaya penggalian. dan sedimen dari proses-proses terkait dengan kegiatan domestik. Pengembangan teknik bioremediasi untuk proses minimasi bahkan degradasi bahan pencemar secara biologis. pertanian. garam anorganik. (2) composting. para praktisi di lapangan lebih memilih menggunakan mikroorganisme endigenous atau dikenal dengan nama bioremediasi eksintrik. Hal ini disebabkan mikroorganisme endigenous merupakan mikroorganisme yang telah mendapatkan pengayaan dan pemurnian melalui serangkaian penelitian di Laboratorium. proses bioremediasi digunakan untuk membuat kontaminan (senyawa) organik menjadi stabil melalui proses penguapan dan reduksi konsentrasi kandungannya. 128 tahun 2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi (petroleum hydrocarbon) dan Tanah Terkontaminasi Oleh Minyak Bumi Secara Biologis Namun demikian. Sedangkan logam-logam berat dalam sumber air atau tanah terkontaminasi yang berasal dari limbah berbagai pabrik dapat didegradasi keberadaannya dengan teknik bioremediasi ini melalui proses absorbansi biologis oleh mikroorganisme (mikroalga). Namun demikian. sehingga seluruh proses penghilangan dan pengurangan bahan pencemar (kontaminan) dapat dikembangkan secara langsung di lapangan. Dimana kontaminan organik berbahaya akan terurai (degradasi) secara biologis. artinya proses bioremediasi dapat dilakukan bila sifat fisik dan kimia lingkungannya dapat dikontrol sesuai kebutuhan mikroorganismenya Mengingat diperlukannya faktor-faktor tersebut diatas. Selain itu. Keuntungan menggunakan teknik in-situ.

Untuk penggunaan mikroorganisme pada kedua proses bioremediasi diatas bisa digunakan jenis native (indigenous) atau mikroorganisme komersial (endogenous). Didalam prosedur yang tersusun akan diuraikan pula frekuensi dan form pelaporan dimana memuat apakah operasi dan evaluasi tersebut dapat dilanjutkan atau harus dihentikan. Teknik ini masih dianggap paling efisien (cepat) walau membutuhkan biaya pengerukan dan transportasi yang cukup mahal. bila menggunakan mikroorganisme indigenous. penggunaan lokasi (dulunya). penilaian resiko. saluran Drainase apa saja yang ada dan lain sebagainya sangat menentukan prediksi cemaran (kontaminan) dan hipotesis selanjutnya. dll) sebagai upaya pembersihan cepat (kuratif). banyak ditemui kegiatan pengerukan sedimen/endapan pada saluran Drainase perkotaan (sungai. Proses Bioremediasi Ex-Situ Tipe Landfarming Dari survai lapangan yang dilakukan. . pelaporan dan penentuan garisbesar (outline) dari proses bioremediasi. data tentang intensitas dan ekstensitas cemaran (kontaminan) dalam sedimen/endapan. kemungkinan ada atau tidaknya intrusi cemaran (kontaminan) ke lingkungan disekitarnya. Hanya saja. Pada phase ini. dilakukan empat (4) jenis pekerjaan yaitu: investigasi. Pada tahap survai ini. bila digunakan proses bioremediasi in-situ dimana tujuan aplikasi proses bioremediasi adalah menurunkan kadar sedimen terlarut maka objektif dari tahap ini adalah berkurangnya sedimen/endapan dan bertambahnya daya tampung saluran Drainase tersebut. Daerah tangkapan (catchment area) terkait jenis-jenis kegiatan yang ada. waduk. pemuatan dan pemindahan sedimen/endapan yang telah pulih menjadi tanah hidup ke lokasi-lokasi penghijauan yang disediakan. bagaimana hasil akhir yang diinginkan dan lain sebagainya.apakah kontaminan tersebut dapat didegradasi atau tidak. berapa kecepatan degradasi yang dibutuhkan. Tahap 3: Perencanaan Detil Disain Bioremediasi Objektif dari tahap bioremediasi ini adalah membuat perencanaan detil disain bioremediasi yang sesuai baik in-situ maupun ex-situ dan mengaplikasikannya dilapangan. Hasil dari survai ini pun menentukan strategi investigasi yang akan dilakukan pada tahap selanjutnya. perlu disusun prosedur dan parameter-parameter yang akan diukur dan diuji (dipantau) sebagai bahan evaluasi. bozem. kemungkinan ada atau tidaknya emisi bahan beracun ke udara. Tahap 4: Operasi & Evaluasi Objektif dari tahap ini adalah dilakukannya pengecekan terhadap efektifitas proses bioremediasi yang sedang dilakukan terhadap sedimen/endapan terkontaminasi yang diolah. Tahap 5: Pasca Operasi Bioremediasi Objektif dari tahap ini adalah digunakannya kembali sedimen/endapan yang telah terpulihkan ke area-area penghijauan disepanjang saluran Drainase perkotaan. dimaksudkan untuk memperoleh data yang mewakili (representative) kondisi sedimen/endapan untuk penilaian faktor resiko selanjutnya. Pada tahap ini diperlukan pula sampling dan uji laboratorium terhadap beberapa parameter dan atau kontaminan yang ada. waktu pengolahan yang dibutuhkan akan lebih lama dibandingkan dengan mikroorganisme komersial. semua informasi terkait sedimen/endapan terkontaminasi yang akan diolah harus didata dengan lengkap. Pelaksanaan proses bioremediasi pada sedimen (endapan) dapat dilakukan melalui lima (5) tahapan kerja yaitu: Tahap 1: Survai Awal Survai ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kondisi lingkungan yang sebenarnya dari sedimen/endapan yang terkontaminasi yang akan diaplikasi bioremediasi. Ini bisa dilakukan bila digunakan proses bioremediasi ex-situ. kemungkinan ada atau tidaknya ledakan. termasuk rencana tanggap darurat (emergency response) dan sistem alert pada satu keadaan/kriteria dimana proses bioremediasi perlu dihentikan dan dilakukan evaluasi. Tahap 2: Investigasi Lokasi Investigasi lokasi sedimen/endapan terkontaminasi. Untuk itu diperlukan pekerjaan lanjutan yaitu penggalian. Namun. Pada saat perancangan detil disain tidak jarang diperlukan pekerjaan investigasi lahan tambahan guna mengetahui dengan tepat proses bioremediasi yang sesuai dengan kondisi lapangan dan sesuai pula dengan persyaratan teknis yang berlaku. Informasi tersebut diantaranya adalah peta lokasi dan alur aliran air yang existing di lapangan. Sebelum tahap operasi dan evaluasi ini dimulai.

kandungan kontaminan yang terbanyak perlu didegradasi terlebih dahulu. Data primer hasil sampling kontaminan tersebut menjadi pertimbangan penentuan langkah pengolahan selanjutnya. Pembalikkan secara rutin dapat mempertahankan pemaparan oksigen diudara kepermukaan tanah yang sedang diolah terus berlanjut hingga mencapai tanah lapisan dalam yang telah dibalikkan kepermukaan. barulah proses bioremediasi dilakukan dengan beberapa tahapan cara tergantung pada jenis kontaminan apa yang akan didegradasi terlebih dahulu. dilakukan dengan cara pembalikan permukaan sedimen/endapan menggunakan traktor dengan rotovator. · Selanjutnya untuk mempertahankan kelembaban sedimen/endapan dilakukan penyiraman air secara rutin. 1 tahun 1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Bulk agen ini dimaksudkan untuk memperoleh tekstur tanah (moisture) yang disyaratkan. seringkali terbawa kembali ke saluran Drainase. Garis besar proses bioremediasi tersebut adalah sebagai berikut: · Dilakukan pencampuran sedimen/endapan dengan menggunakan beckho agar diperoleh sedimen/endapan yang homogen. Bila kondisi tanah terlihat kompak (liat) . potongan kayu. kotoran sapi atau pupuk) sebagai bahan nutrisi bagi mikroorganisme indigenous. maka bioremediasi yang diaplikasi bertujuan untuk meningkatkan populasi mikroorganisme pemakan hidrokarbon. perlu juga penambahan bulk agen seperti limbah serutan kayu. Diikuti dengan proses bioremediasi untuk mendegradasi kontaminan selanjutnya. Hal ini penting dilakukan mengingat terdapat kontaminan-kontaminan logam berat yang masuk akibat kegiatan-kegiatan pada catchment areanya.Sampai saat ini tidak tersedia data tentang kegiatan paska operasi pengerukan yang dilakukan oleh instansi terkait. Hal penting yang perlu disiapkan sebelum aplikasi bioremediasi dengan tipe landfarming ini adalah: · Penyelidikan (investigasi) terhadap jenis dan karakteristik kontaminan yang ada didalam sedimen/endapan sebelum dilakukan pengerukan dan pemindahan ke lokasi penampungan sementara. · Setelah sedimen/endapan kering. sedimen/endapan yang ditampung pada lokasi penampungan sementara (untuk pengeringan) sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir. kelebihan kandungan air didalam tanah akibat curah hujan harus bisa dialirkan ke saluran-saluran Drainase agar tidak menghambat operasional alat berat. sehingga perlu disiapkan sistem Drainase didalam area yang bersifat tertutup (closed cyrcle). dilakukan pemilahan sampah (ranting. · Pengeringan perlu dilakukan di lokasi penampungan sementara. · Dilakukan penyebaran (paparan) sedimen/endapan pada permukaan lahan (tempat penampungan sementara) secara merata dengan ketinggian maksimal 50 cm. Air yang digunakan untuk penyiraman ini haruslah air bersih dengan pH normal (pH 6-8) dan tidak tercemar oleh minyak. · Untuk mempertahankan kondisi aerob bagi mikroorganisme indigenous yang ada didalam tanah. diharapkan sedimen/endapan tersebut dapat dipulihkan menjadi tanah hidup dan dapat dimanfaatkan bagi kegiatan penghijauan perkotaan. Dalam kondisi iklim kering (panas) diperkirakan konsumsi air mencapai 40. Bahkan menimbulkan pendangkalan pada saluran-saluran Drainase (got) dan menimbulkan masalah baru. Dengan adanya aplikasi teknik bioremediasi pada lokasi-lokasi penampungan sementara tersebut. Tentunya. potongan logam dll) secara mekanik dan atau manual. bila kandungan PAHs yang tertinggi. sekam padi atau limbah bottom ash dari pembakaran batubara. Sampah-sampah tersebut akan menghambat proses bioremediasi yang akan diaplikasi. · Selain nutrisi. plastik.000 liter per hari per lokasi penampungan sementara. sehingga harus dikeluarkan/dibersihkan dari sedimen/endapan tersebut. Bahkan sebaiknya tersedia terpal untuk menutup sementara permukaan tanah yang diolah selama turunnya hujan. · Dilakukan penambahan nutrien (berupa kotoran ayam. Seolah-olah permasalahan sedimen/endapan telah selesai dengan memindahkannya dari saluran Drainase ke tempat pembuangan akhir. bahan anorganik maupun bakteri lain. Larian air dari Drainase tersebut harus ditampung dan diolah didalam bioreaktor. Padahal bila kita amati di lapangan. Sebagai contoh. · Persiapan tempat penampungan sementara sebagai tempat pengolahan landfarming harus disesuaikan dengan kriteria lokasi penampungan limbah B3 pada surat KepKaBapedal No. Setelah sedimen/endapan bersih dari sampah. Sedangkan dimusim hujan.

3 m/detik. mulai dari organisme mikro hingga organisme makro seperti tumbuhan atau hewan besar. aliran limpasan halus dapat dijaga dengan biofilter yang dibangun dengan menjaga kemiringan kedua sisi (kemiringan maksimum 3 :1. secara umum tidaklah cocok bagi biofilter. dan saluran yang langsung crossing ke seberang jalan. Jika air masuk dari beberapa titik pengumpulan. Operasional Tipe Bioremediasi Landfarming · Untuk mengetahui efektifitas proses bioremediasi yang sedang berjalan. Gerakan melambat dari aliran melalui tumbuh-tumbuhan menyediakan kesempatan untuk terjadinya sedimentasi dan tersaringnya partikulat dan degradasi oleh aktivitas biologi. tanaman rawa buatan dapat digunakan dalam biofilter. Biofilter Lapisan utama tanah penutup adalah tanah berumput. sepanjang pinggiran lapangan parkir dengan kemiringan memanjang sampai dengan parit rumput untuk mengumpulkan dan mengolah limpasan hujan dari permukaan lapangan parkir. virus. Biofilters efektif jika arus lambat dan dangkal pada saluran parit alamiah. konsumen. Untuk sistem biofilter. lebih lanjut mengurangi polusi air dan mengurangi debit limpasan (yang akhirnya mengurangi potensi banjir). katak. protozoa. Dalam berbagai jenis tanah. atau biofilter dapat di-Disain untuk dapat mengakomodasi debit banjir yang lebih besar tentunya dengan kualitas air yang terjaga. Dimana kemiringan kurang dari 1% atau dimana air tanah tinggi. harus diperkecil. dengan check dam untuk kemiringan yang lebih curam). D. Biofilter Biofilter atau biasa disebut parit tumbuhan adalah saluran alamiah yang didesain sedemikian rupa dimana terdapat tumbuh-tumbuhan yang berfungsi mengelola pengaliran limpasan sehingga lebih lambat mengalir diantara tumbutuhan. Bakteri. Agar lapisan tanah berumput yang berfungsi sebagai biofilter dapat bekerja efektif harus sering dipotong secara rutin dan dirapikan. Lebar alas dari parit adalah secara umum 60 cm sampai 2. burung. jamur.maka proses pembalikkan tanah dilakukan lebih sering guna meningkatkan proses aerasi. berentuk sangat kompleks yang meliputi berbagai organisme yang berada di berbagai mata rantai jaring-jaring makanan. Konsep utamanya adalah menggerakan aliran air dengan lambat melalui tumbuh-tumbuhan. Aliran Lambat. terdapat aneka ragam organisme. Gambar 22. alga. Penampang Ø Proses Bioremediasi Landfarming C. yang harus tetap dialiri pada musim kemarau. Kondisi ini dapat dicapai bila kontur kawasan dan kemiringan lereng mendukung pengaliran limpasan diatas. Pengolahan Kualitas Air dengan Rawa Buatan (Wetland Constructed) Dalam ekosistem rawa. Biofilter biasanya diaplikasikan lapangan parkir. seperti tahanan dan belokan. Hampir semua mahluk hidup dibumi terwakili di dalam rawa. dengan tingginya rumput dari 10 cm sampai 15 cm dan kedalaman air yang maksimum dari kurang dari 5 cm.5 meter. Interaksi antar semua komponen ekosistem yang berada dalam rawa tersebut memungkinkan terjadinya proses daur ulang secara alami bahan pencemar yang tidak bernilai bagi manusia menjadi bahan bernilai yang terkandung dalam biomassa tumbuhan dan hewan. ikan. Semua mahluk hidup tersebut membentuk rantai dan jaring makanan. Proses alam diatas mengilhami pengembangan model rawa buatan dalam upaya pembersihan air. biofilter juga menyebabkan terjadinya penyerapan hujan ke dalam tanah. Kemiringan batas pavemen lapangan parkir agar diatur sedemikian rupa lebih tinggi dari pada batas dengan biofilter. semuanya ada di sana. perlu dilakukan sampling dimulai pada hari ke-10 sejak pemaparan dilakukan. kontrol erosi agar dapat juga ditempatkan pada beberapa titik termasuk di inlet dan outlet saluran. Evaluasi terhadap hasil analisis sampling tersebut menjadi bahan pertimbangan pengolahan bioremediasi yang perlu dilakukan selanjutnya. Sebaliknya bila kondisi tanah terlihat berpasir (granular) maka proses pembalikkan dilakukan dengan frekuensi yang lebih sedikit dibandingkan tanah kompak. binatang menyusui. . Limpasan hujan lebat dapat mem-bypass biofilter. Dimana harus diatur puncak hidrograph harus kurang dari 8 cm dan percepatan puncak kurang dari 0. Gambar 20. produsen. Jenis tanah lempung. dan suatu flowpath panjangnya sedikitnya 10 feet (minimal 3 meter). Gambar 21. kondisi yang menyebabkan konsentrasi aliran. binatang melata. atau jenis tanah lainnya yang dapat menghalangi tanaman. seperti aliran halus. minimal kemiringan memanjang (direkomendasikan 1 ± 2%. mulai dari pengurai.

dan air). kemudian keluar dari titik di ujung rawa. or plented-assisted bioremidiation degradation. rawa buatan aliran vertikal dapat digolongkan ke dalam dua bentuk (lihat gambar 22): 1. Tampak Atas Rawa Buatan untuk Mengolah Air Limbah[4] Menurut jenis aliran air. Substrat (tanah. Contoh Rawa Buatan Aliran Vertikal (Constructed Wetlands) [3] Gambar 24. 4. fungi dan bacteri. yaitu: a. 5. Dalam sistim aliran horisontal. rawa buatan (sebagaimana juga rawa alami) membutuhkan lima komponen (Hammer. Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation. seperti logam berat. yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan. kerikil. Rawa buatan yang proses pengaliran airnya lewat substrat tempat tumbuhnya tanaman air. Populasi organisme mikro aerob dan anaerob. Misalnya ragi. sehingga air limbah akan melewati sebagian besar permukaan substrat yang ditanami tumbuhan akuatik dan semiakuatik yang bernilai ekonomis seperti sayuran dan buah. rawa buatan secara umum digolongkan dalam dua bentuk: aliran horisontal dan aliran vertikal. 1. c. Sehingga dapat disebut pengolahan air dengan metoda rawa buatan (wetland constructed) adalah alternatif lain pengolahan air yang meniru proses alamiah yang terjadi di lahan basah (rawa) alami. 1989 dalam Khiatuddin Maulida. Sedangkan dalam rawa buatan aliran vertikal. air merembes/mengalir secara vertikal baik dari atas ke arah bawah atau dari bawah ke arah atas sistem ke luar dari sistem.[5] Gambar 25. 5. 2003). tanggul dan kolam. Aliran vertikal menurun dimana air dialirkan di permukaan sistem kemudian merembes melalui substrat yang dipenuhi oleh akar tanaman hingga mencapai dasar rawa buatan untuk ke luar dari sistem. Gambar 23. b. Komninasi bentuk pertama dan kedua d. pestisida. 3. Hewan yang bertulang belakang dan tidak bertulang belakang. Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. 4. pasir. yakni: 1. Rhizofiltration (rhizo = akar) adalah proses adsorpsi atau pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. Rawa buatan yang alirannya mengalir di atas permukaan tanah. dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman. Phytodegradation (phyto transformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan . Zat zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media. Phytoacumulation (phytoextraction) yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan. Proses dalam Fitoremediasi [6] Selain pemanfaatan bagi pemulihan kualitas air. dll) dengan berbagai tingkat konduktivitas hidrologis.Rawa buatan didesain sedemikian rupa diatas sebidang tanah dengan cara membuat pematang. Tumbuhan yang dapat hidup dalam kondisi anaerob di media yang jenuh dengan air atau tergenang air. mengalir dalam rawa buatan. 3. Aliran vertikal menanjak dimana air disalurkan melalui pipa ke dasar sistem untuk naik pelan-pelan melalui lapisan substrat sebelum keluar melalui saluran yang letaknya di permukaan substrat. teknik fitoremediasi dapat pula dimanfaatkan bagi menjaga dan menjamin kualitas kompos dengan fitoteknologi dan ekotoksikologi. proses ini disebut juga Hyperacumulation 2. 2. penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya. koral. Genangan air (baik yang mengalir di atas atau di bawah permukaan tanah). Rawa buatan aliran horisontal dapat digolongkan lebih lanjut dalam empat bentuk. Rawa buatan hidroponik aliran tipis yang tidak menggunakan substrat tanah atau pasir. Sementara itu.[7] Proses dalam sistim ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/pencemar yang berada disekitarnya. Penggunaan tanaman disebut dengan konsep Fitoremediasi yang didefinisikan sebagai teknologi pembersihan. Salah satu komponen rawa buatan adalah tumbuhan/tanaman yang yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah. Proses ini telah dibuktikan dengan percobaan menanam bunga matahari pada kolam mengandung zat radio aktif di Chernobyl Ukraina. air memasuki rawa dari satu titik. Agar pembersihan air limbah efektif. 2.

6. Unit Wetland didahului dengan bak pengendap untuk menghindari cloging pada media koral oleh partikelpartikel besar. Lotus Kuning/Merah. Alamanda Kuning/Ungu. Spider Lili. Sempol Merah/Putih. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang. Padi-padian. Dahlia.2. Disain luas kolam berdasarkan beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya untuk daerah tropis 40 kg BOD/Ha per hari.[9] 4. akar atau di luar sekitar akar dengan bantuan enzym yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Usulan Pengaturan Kewenangan Antar Institusi Terkait dalam Pengelolaan Saluran Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan KEWENANGAN /TANGGUNG JAWAB INSTITUSI A Aspek Peraturan dan Pengaturan Penyusunan Pedoman dan Permen/Kepmen Tentang Ecodrain Sosialisasi Undang-undang No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terutama terkait dengan X B X C D X E F G H I X X X X - -     . 5.susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Cana Presiden Merah/Kuning/Putih. Papirus. Flow Diagram Proses Fitoremediasi dalam Pengolahan Air [8] Konsep Perencanaan Wetland Beberapa ketentuan yang diperlakukan untuk membuat sistim ini. yaitu : 1.1. Dibawah ini adalah bagan organisasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). 4. Gambar 26. 2. batang. Jenis-jenis tanaman yang digunakan dalam Fitoremediasi Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah. Anturium Merah/Kuning. Bambu Air. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzym berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi. Dimana diharapkan sejak tahap awal perlu segera dilaksanakan pengorganisasian agar jalannya kegiatan dapat berlangsung secara efisien dan efektif mencapai hasil yang optimal. Kenyeri Merah/Putih. Keladi Loreng/Sente/Hitam.d. Gambar 27. Pelaksanaan 4. Konstruksi berupa bak/kolam dari pasangan batu kedap air dengan kedalaman 1 meter. Sistem pengolahan limbah denngan wetland disarankan hanya untuk skala lingkungan maksimum 2000 jiwa dan perkantoran atau gedung-gedung sekolah karena kebutuhan lahanya cukup tinggi antara 1.5 m2/jiwa atau hanya 1/5 dari kebutuhan lahan rawa buatan. dll. Kolam diisi dengan media koral (batu pecah atau kerikil) diameter 5 mm s. Pacing Merah/Putih. Dracenia Merah/Hijau. Kolam dilengkapi pipa inlet dan pipa berlubang untuk outlet. 2. 0. Dialirkan air limah setebal 70 cm dengan mengatur level (ketinggian) outlet yang memungkinkan media selalu tergenang air 10 cm dibawah permukaan koral.2 m2/jiwa s.d.d. dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya di uapkan ke atmosfir. 3. Ponaderia. Ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat.2. 8. Akar Wangi. Onje Merah.5 m2/jiwa dibandingkan fakultatif pond hanya 0. 7. Jaka. Pengorganisasian Penyelenggaraan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) melibatkan instansi terkait di pusat dan daerah serta masyarakat di kawasan/lokasi dalam suatu daerah aliran sungai yang akan ditangani. Proses ini dapat berlangsung pada daun. Pisang Mas. 10 mm. 6.25 m2/jiwa s. Heleconia Kuning/Merah. Organisasi Pelaksanaan Program Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (ecodrain) Gambar 28. setinggi/setebal 80 cm.

Bupati Walikota / SK.Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Pengendalian Perencanaan Tata Guna Lahan Dan Perlindungan Alam Daerah Bantaran Sungai Tingkat Kabupaten Kota Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK.Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Pelaksanaan Ecodrain dan penunjukan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Tingkat Kabupaten Kota Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK. Gub / Instruksi Gub.Bupati Walikota / Instruksi Bupati Walikota Tentang Mutu / Kualitas Air Sungai Aspek Teknis dan Operasional Perencanaan Pembangunan Fisik Pengawasan Fisik Operasional dan Pemeliharaan (O&P) Sosialisasi Pelaksanaan Fisik X X X - - X X - - - - X - - - - X X X - X - - - X - - X - X - - - - - - X - X X X - X X - X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X . Bupati Walikota / SK.Ecodrain Penyusunan Perda Provinsi / SK. Tentang Pengendalian Perencanaan Tata Guna Lahan Dan Perlindungan Alam Daerah Bantaran Sungai Tingkat Provinsi Penyusunan Perda Kabupaten Kota / SK. Gub / Instruksi Gub. Tentang Pelaksanaan Ecodrain dan penunjukan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Tingkat Provinsi Penyusunan Perda Provinsi / SK. Bupati Walikota / SK.

2. F = Dinas Kebersihan Kabupaten Kota. D = Dinas PU Provinsi.q. Keterangan: A = Direktorat PLP Ditjen Cipta Karya. 2007. Dalam tahap pelaksanaan dibagi pada beberapa kegiatan sebagai berikut: b.2. H = Masyarakat / Swasta (KSM). E = Dinas PU Kabupaten Kota. pengelolaan air limbah domestik dan pengelolaan hujan integratif yang dapat mengembangkan pengelolaan Drainase. I = Perguruan Tinggi / Konsultan / LSM / Organisasi Profesi. pemeliharaan dan perawatan. G = Dinas / Bidang Lingkungan Hidup Kabupaten Kota. · Kegiatan yang bersifat non fisik Kegiatan non fisik dapat berupa kegiatan sosialisasi 3R. B = Ditjen SDA melalui Balai Besar Wilayah Sungai. C = Pemerintah Daerah c. Tahap Pelaksanaan Secara garis besar kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) terbagi dalam dua kegiatan pokok yaitu: · Kegiatan yang bersifat fisik Kegiatan fisik yang berupa pembangunan prasarana dan sarana. Pelaksanaan konstruksi fisik . 4. BAPPEDA Provinsi.Aspek Pembiayaan Perencanaan Pembangunan Fisik Pengawasan Fisik Operasional dan Pemeliharaan (O&P) Sosialisasi Pelaksanaan Fisik Aspek Peran Masyarakat dan atau Swasta Pengelolaan Air Limbah dengan SANIMAS Pengelolaan Sampah dengan Konsep 3 R KEWENANGAN /TANGGUNG JAWAB X X X X X X X X - X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X INSTITUSI A B C D E F G H I Pelatihan dan Capacity Building Kegiatan 3R dan SANIMAS Sosialisasi desain elemen sistem Drainase Berwawasan lingkungan X X X X X - - - X X X X X X X X - X Sumber : Hasil Kajian Konsultan. pengadaan barang (M&E).

4.4. Pengadaan barang terkait dengan kebutuhan barang mekanikal dan elektrikal dan perangkat dalam sistem informasi seperti perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). maka pengelolaan pasca pembangunan pada dasarnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota/Kabupaten. tempat pembuangan sampah (TPS) di lokasi saringan sampah dan bantaran sungai. tenaga. unit-unit pengolahan otomatis dalam IPAL Sanimas (disesuaikan teknologi). sampah sungai dan pencemaran air dapat dikurangi. saringan sampah manual maupun otomatis. wetland constructed. bendung spillway. Reuse & Reduce) yang didasari oleh pendekatan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. kesehatan dan kehidupan manusia dan ekosistem perairan (lingkungan) serta kota. direncanakan. IPAL Sanimas. 2) Kegiatan fisik sebagaimana disepakati dalam Daftar Isian Proyek (DIP) yang diselenggarakan secara bersama antara seluruh stakeholder di kawasan yang bersangkutan. dikontrol dan dievaluasi bersama masyarakat. daur ulang dan pengangkut sampah. pavemen berpori. Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa merupakan rencana pengadaan barang dan jasa yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). tahap pelaksanaan konstruksi dan tahap pengakhiran (finishing). c. pompa banjir. Konsep yang dapat dikembangkan adalah dengan pengelolaan sampah berdasarkan pendekatan 3R (Recycle. dlsb. Tahap Operasi dan Pemeliharaan Fasilitas kegiatan fisik dan bantek pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) dari Pemerintah Pusat hanya merupakan stimulan dari Pemerintah Pusat (Direktorat PLP ± Ditjen Cipta Karya) yang selanjutnya setelah diserah terimakan kepada Pemerintah Kota/Kabupaten. sehingga beberapa permasalahan penting daerah perkotaan dapat dieliminir. sarana komposting. Pelaksanaan dan Pengembangan Kegiatan 3R dan SANItasi berbasis MASyarakat (SANIMAS) Pelaksanaan konstruksi fisik merupakan perwujudan fisik dari rencana yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). dilaksanakan (jika feasible). dlsb.Pelaksanaan konstruksi fisik merupakan perwujudan fisik dari rencana yang terdapat dalam studi kelayakan dan detail rencana teknis Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). jalan berpori. yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup. serta komitmen untuk meneruskan program tersebut secara berkesinambungan. rawa buatan. kawasan parkir ramah lingkungan. sistem pengolahan data dan informasi. Pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat adalah suatu pendekatan pengelolaan sampah yang didasarkan pada kebutuhan dan permintaan masyarakat. d. . kawasan bioretensi. Diharapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat berkontribusi bagi terwujudnya semua rencana yang ada dalam studi perencanaan Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain). 3) Khusus pada kegiatan fisik dari Pemerintah Pusat (Direktorat PLP ± Ditjen Cipta Karya. 4. Pelaksanaan konstruksi antara lain seperti pembangunan pintu air.2. genangan. Sosialisasi dan Penguatan Peran Masyarakat dan Swasta Dalam penerapan konsep pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan.3. Pengadaan jasa adalah adalah jasa konsultansi dalam pekerjaan pengawasan dan sosialisasi. 4) Kegiatan pelaksanaan konstruksi fisik terdiri dari tahap persiapan. MCK komunal. Dengan pembangunan konstruksi fisik ini diharapkan permasalahan banjir.2. 1) Kegiatan konstruksi fisik dapat berupa kegiatan mendirikan. dan pendanaan fisik. Pengadaaan barang dalam hal ini seperti pengadaan saringan sampah otomatis. memperbaiki atau memperluas/menambah prasarana dan sarana sesuai dengan dokumen perencanaan yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Departemen Pekerjaan Umum) pada beberapa kota sebagai pilot project. Kontribusi tersebut dapat berbentuk penyiapan lahan. penanganan sampah dengan reduksi sampah dari sumbernya merupakan langkah yang paling efektif dalam mengurangi timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA (tertangani) maupun yang sampah yang potensial dibuang ke sungai / saluran / waduk dan atau prasarana dan sarana lainnya.

Konsep pengelolaan 3R yang diusulkan dapat dilihat pada gambar 15 berikut. maka tugas fasilitator adalah membantu mencari jalan keluar agar masyarakat mampu mendapat pendanaan yang dibutuhkan. Konsep Pengelolaan 3 R di kawasan Daerah Pengaliran Sunga (DPS)i[10] 4. karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam. yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang persampahan. . Misalnya dengan melakukan pelatihan study banding dan memperlihatkan contoh-contoh program yang sukses dan lain-lain. Meningkatnya biaya operasional dan pengelolaan sampah. Beberapa faktor yang penting antara lain. Tiga tujuan umum pengendalian kegiatan ecodrain adalah untuk: · Meyakinkan terlaksananya tujuan yang telah ditetapkan. detektif (untuk menemukan dan memperbaiki sesuatu hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi). Pengendalian Pelaksanaan Kegiatan Ecodrain Pengendalian adalah segala tindakan yang dilakukan dalam pengorganisasian pengelolaan Drainase untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. dalam hal ini adalah kawasan yang potensial sebagai sumber sampah sungai. Kenaikan kesejahteraan inipun akan meningkatkan kegiatan konstruksi dan pembaharuan bangunanbangunan. Dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak penduduk semakin banyak pula sampahnya. peraturan yang berlaku serta kesadaran masyarakat akan persoalan sampah. tergantung pada bahan yang tersedia. Tindakan pengendalian dapat bersifat preventif (untuk menghindarkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan). maka fungsi pemerintah atau lembaga lain adalah menyiapkan terlebih dahulu. Meningkatnya tingkat hidup masyarakat. Pemerintah dan lembaga lainnya hanyalah sebagai motivator dan fasilitator. Dengan kemmajuan teknologi. Jumlah penduduk. kekuatan) utama dalam pengelolaan sampah adalah masyarakat. dan recycle / mendaur ulang sampah mulai dari sumbernya. Gambar 29. Semakin tinggi keadaan social ekonomi masyarakat. Transportasi-pun bertambah dengan konsekuensi bertambahnya volume dan jenis sampah. reuse / menggunakan kembali.Dalam pengertian ini pemeran (penguasa. Fungsi fasilitator adalah memfasilitasi masyarakat untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah Secara baik dan pengomposan maka tugas fasilitator adalah memberikan kemamuan masyarakat dengan berbagai cara misalnya dengan memberikan pelatihan begitu juga jika masyarakat lemah dalam hal pendanaan. sehingga mereka harus bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka produksi. karena jika dikelola oleh pihak lain biasanya mereka kurang bertanggung jawab bahkan cenderung destruktif. atau direktif (untuk menimbulkan atau mendorong terjadinya sesuatu yang diinginkan). tetapi harus dilakukan secara hati-hati jangan sampai masyarakat tergantung. Fungsi motivator adalah memberikan dorongan agar masyarakat siap memikirkan dan mencari jalan keluar terhadap persoalan sampah yang mereka hadapi. Kenyataan yang ada saat ini adalah bahan sampah sulit dikelola oleh berbagai hal. Penanganan sampah 3 R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce / mengurangi. baik kuantitas dan kualitasnya sampah sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kuantitas sampah. Tetapi jika masyarakat belum siap. Faktor yang mempengaruhi sampah.3. Pengelolaan sampah inipun berpacu dengan laju pertumbuhan penduduk. termasuk apa yang digariskan dalam rencana. Mengapa dalam pengelolaan sampah dilakukan secara berbasis masyarakat karena produsen sampah utama adalah masyarakat. Kualitas sapahnya semakin banyak yang bersifat tidak dapat membusuk. Sumber sampah yang berasal dari masyarakat. Cepatnya berkembangnya teknologi. Perubahan kualitas sampah ini. prosedur. seakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang. yakni memulihkan/meningkatkan kualitas aliran saluran Drainase/sungai perkotaan dari pencemaran yang diakibatkan oleh sampah dan air limbah rumah tangga dan dan memandu pengelolaan Drainase secara terpadu agar berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. sebaiknya dikelola oleh masyarakat yang bersangkutan agar mereka bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri. dan semuanya sejalan dengan peraturan dan perundang-undangan yang mengikat kegiatan. Keadaan sosial ekonomi. kebijakan. lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami persoalan sampah. cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula.

Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. Memberikan bahan untuk kelengkapan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). http://www. [2] Bioremediation by Tina Yu. Aqua Treatment Technologies. 27 September 2005.· Menjamin pelaksanaan kegiatan berdsarkan dokumen perencanaan dan studi. e. Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Wilayah Barat. Sistem diatas perlu dilengkapi dengan sistem informasi yang terencana sebagai bahan masukan bagi upaya-upaya Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (ecodrain) pada lokasi/kawasan lainnya. Halaman 4-1s.html [9] Fitoremediasi. b. bahan Ekspose. 1997. Untuk lebih mengoptimalkan kegiatan monitoring dan evaluasi proram dan kegiatan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain) perlu dikembangkan mekanisme monitoring dan evaluasi secara berjenjang baik menggunakan perangkat lunak (software) maupun berupa buku laporan (hardware). d. Memberikan bahan masukan untuk persiapan pelaksanaan kegiatan dan pengembangan program pada tahun berikutnya. Fitoteknologi dan Ekotoksikologi dalam Desain Operasi Pengomposan Sampah. 4. Bantek 3 R Bozem Morokembangan. Proyek Peningkatan Prasarana Permukiman DKI Jakarta. [8] Matthew Dempsey.wikipedia. Dinas PU Kota Surabaya Tahun 2007. pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan ecodrain. Surabaya. [1] Penyusunan Sistem Pengelolaan Sampah Sungai di DKI Jakarta. Tujuan dari sistem monitoring dan evaluasi adalah sebagai berikut: a. Upaya Pengolahan Air Limbah Dengan Media Tanaman. Tags: proses ecodrain . 27 Oktober 2003. 4-3. December. [7] Mangkoedihardjo Sarwoko. Monitoring dan Evaluasi Sistem monitoring dan evaluasi kegiatan Pengelolaan Drainase Secara Terpadu Berwawasan Lingkungan (Ecodrain) perlu dilakukan untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tahap persiapan dan perencanaan. Gadjah Mada University Press. [6] Bioremediation by Tina Yu. Studi kelayakan dan Bantuan Teknis (Bantek) merupakan alat kendali pelaksanaan pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). Memantau/memonitor perkembangan pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). Upaya Pengolahan Air Limbah Dengan Media Tanaman. pelaksanaan sampai dengan pemanfaatnannya di lapangan. Seminar Nasional Teknologi Lingkungan III ITS.edu/dept/chem-eng/BiotechEnviron/MISC/webpage1.4. 27 Oktober 2003. Pengendalian pelaksanaan dilakukan oleh Satuan Kerja Pengembangan PLP tingkat provinsi dan atau dinas teknis setempat atau unit pengelola teknis/UPT/badan tertentu sesuai kewenangan yang ditetapkan oleh kelembagaan pemrakarsa kegiatan ecodrain atau dapat ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan para pemangku kepentingan. [10] Modifikasi dari Anonim. Mengendalikan kinerja pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). dan · Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Ditjen Cipta Karya 1998/1999.org/wiki/ Constructed_wetland [4] Khiatuddin Maulida. Phytoremediation. [3] Sumber : Brown and Caldwell. Halaman 71. pengorganisasian. c. bahan Ekspose. Laporan Akhir. Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Wilayah Barat. dalam http://en. Memberikan informasi yang lengkap yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan program pengelolaan Drainase secara terpadu berwawasan lingkungan (ecodrain). [5] Fitoremediasi. 2003.d. "Melestarikan Sumberdaya Air Dengan Teknologi Rawa Buatan".rpi. Kegiatan pengendalian dilaksanakan pada setiap tahapan pelaksanaan sejak tahap perencanaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->