P. 1
Laporan Khusus Assa 1

Laporan Khusus Assa 1

|Views: 718|Likes:
Published by ryanzaprasetya

More info:

Published by: ryanzaprasetya on Feb 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Residue Catalytic Cracking (RCC) merupakan salah satu unit unggulan dari Pertamina RU-VI Balongan, dimana RCC sendiri merupakan unit tingkat lanjut (secondary processing) untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan residue dengan cara perengkahan menggunakan katalis. Feed residue yang digunakan yaitu Treated Atmospheric Residue yang berasal dari unit AHU (35,5 % vol) dan Untreated Atmospheric Residue yang berasal dari unit CDU (64,5 % vol). Produk-produk yang dihasilkan, yaitu Flue Gas, Propylene, LPG, Polygasoline, Naptha, Light Cycle Oil (LCO), Decant Oil (DCO), Coke. Di dalam unit RCC terdapat Reaktor, Regenerator, Catalyst Cooler, Main Air Blower, Cyclone, Catalyst System, dan CO Boiler. Reaktor dan regenerator merupakan jantung dari unit RCC. Untuk pengaturan unit RCC diperlukan keseimbangan dari beberapa variabel secara tepat. Variabel proses ini sangat berkaitan satu dengan yang lainnya, maka beberapa pengaruh kemungkinan tidak dapat terlihat dengan cepat. Berikut adalah beberapa contoh variabel proses, yaitu konversi, C/O ratio, manajemen katalis, temperature reaktor, jumlah feed, pembakaran coke, jumlah udara pembakaran, carbon dalam residu, fraksinasi, properti katalis, dan lain-lain.

1.2

Perumusan Masalah Reaktor dan regenerator dalam unit RCC di desain untuk melakukan pemanasan dalam reaktor tanpa menggunakan dapur (furnace) dengan alasan efisiensi energi. Inti dalam proses perhitungan neraca massa dan energi adalah pada reaktor regenerator. Seperti yang diketahui ada banyak variabel proses yang berpengaruh. Namun, pada tugas ini akan dibatasi pada variabel proses temperature reaktor,

kapasitas feed dan kualitas feed. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisa hubungan variabel-variabel tersebut terhadap yield produk yang dihasilkan. Kontrol terhadap temperatur reaktor dapat dilakukan jika kita telah terlebih dahulu mengetahui yield produk yang dihasilkan. Dengan menganalisa variabel-

Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

1

Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

variabel yang mempengaruhi nilai yield maka temperatur operasi reaktor dapat dikontrol.

1.3

Tujuan Tujuan dari penyusunan tugas khusus ini adalah : 1. Mempelajari proses pada unit Residue Catalytic Cracking (RCC). 2. Menganalisa pengaruh kualitas feed dan temperatur reaktor terhadap yield produk ±produk unit RCC.

1.4

Manfaat Dapat mempelajari proses pada unit 15 ± Residue Catalytic Cracking dan dapat mengetahui korelasi variabel-variabel proses yang ada terhadap yield produk agar kedepannya dapat diketahui kondisi proses mana yang harus digunakan untuk memperoleh yield produk tertentu.

Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2

Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DESAIN BASIS RCC dirancang untuk mengolah Treated Atmospheric Residue dan Untreated Atmospheric Residue dari Atmospheric Residue Hydrodemetallized Unit dan dari Crude Distillation Unit. Kapasitas unit RCC yang terpasang adalah 83.000 BPSD. A. Feed stock Feed stock yang masuk ke unit RCC merupakan Atmospheric Residue (Long Residue) sebagai hasil dari pengolahan crude Duri dan Minas dengan perbandingan 80/20 volume. Jumlah feed stock yang masuk ke unit RCC adalah sebagai berikut : a. Untreated Long Residue (ex CDU) sebanyak 29.500 BPSD (35,5% volume). b. Treated Long Residue (ex AHU) sebanyak 53.500 BPSD (64,5% volume). B. Sifat karakteristik dari feed stock 2.1 Untreated Long Residue (ex CDU) Unit ini dirancang untuk mampu mengolah treated dan untreated residue. Unit ini juga dapat dioperasikan pada kapasitas rendah, bila salah satu dari dua train AHU sedang dimatikan (shutdown) untuk penggantian katalis. Berikut ini adalah karakteristik dari feed stock Duri dan Minas : Tabel 2.1 Perbandingan Crude Oil Duri dan Minas Sumber Crude Oil Cut range ÛC % volume on crude Specific gravity Nitrogen (total) weight ppm Sulphur content % weight Conradson carbon % weight Hydrocarbon content % weight Metal ppm weight Metal (ppm) weight V Duri 370 + 73,5 0,952 4220 0,24 9,8 12,06 2 2 Minas 370 + 53,8 0,896 1820 0,12 4,9 13,3 <2 <2
3

Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2 Treated Long Residue (ex AHU) Tabel 2.5 2.9184 22 (1) 5.2 <1 20 <1 2000 42 Unit ini dirancang berdasarkan blending komponen dari jenis feed tersebut diatas.9047 1450 365 200 3.85 2350 4 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .3 Parameter Feed Property Specific gravity Metal (Ni + V) weight (ppm) MCR (% weight) Hidrogen (% weight) Nitrogen weight (ppm) Quality 0.3 16.5 13.7 15 1 82.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Ni Na Viscosity Csts @ 50ÛC @ 100ÛC 43 1 1380 95.9 0.6 12.2 Karakteristik Treated Long Residue Crude Oil Duri dan Minas Sumber Crude (% volume) Cut range ÛC TBP API Specific gravity Nitrogen (total) weight (ppm) Basic nitrogen weight (ppm) Sulphur content weight (ppm) MCR (% weight) Hydrocarbon (% weight) Metal weight (ppm) Ni Na Viscosity Csts @ 38ÛC @100ÛC V Duri/Minas 80/20 370 + 24. Tabel 2. dengan pengecualian jumlah metal sesuai catatan di bawah ini.

Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan C. Spesifikasi Produk Unit memproduksi sweetened fuel gas yang dialirkan ke system Refinery Fuel.0% mol min b. sedangkan Decant Oil dikirim ke blending fuel oil atau diekspor.0% mol min 97.6 Spesifikasi Produk LCO Produk LCO IBP approx ÛC Flash point (pmcc) ÛC ASTM 90 % volume ÛC Gap antara 5% volume LCO dan 95% Naphtha ÛC 5 Spesifikasi 205 85 min 350 max 15 min Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta .205ÛC) Tabel 2.5 Spesifikasi Produk Naphtha Produk Naphtha RON ASTM 90% by volume ÛC ASTM end point ÛC Preformed gum mg/100 ml C4 content % weight RVP psi Colour Spesifikasi 92 175 max 215 max 4 max 1.4 Spesifikasi Produk Stream Produk Stream C3 C4 Spesifikasi 95. Produk Stream Tabel 2. a. Naphtha (C5 .0 max 8. Light Cycle Oil (LCO) Hydrotreater. LPG dan Gasoline yang dihasilkan dialirkan ke Merichem Treater Unit. Light Cycle Oil Tabel 2. Berikut ini merupakan karakteristik dari produk yang dihasilkan oleh unit RCC.0 max marketable c.

15 max 0 3.0 max 1.0 max e.0 max 0.0 max 0.745 kg/jam dan komposisi sebagai berikut : o H2S weight (ppm) o Ammonia weight (ppm) : 25-50 : 2000 o Hydrocarbon weight (ppm) : 500-1000 o Phenol weight (ppm) o Cyanide weight (ppm) y Flue gas ex CO Boiler y Debu-debu panas : 800 : 500 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 6 .Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan d.7 Spesifikasi Produk DCO Produk DCO Flash point (pmcc) ÛC Catalyst content (ppm weight of Aluminium) Viscosity @ 50ÛC Csts Conradson carbon (% weight) Ash (% weight) Sediment (% weight) Strong acid mg KOH/g Total acid mg KOH. Decant Oil Tabel 2.1 max 4.g Hot filtration test (% weight) Sulphur content (% weight) Water by distillation (% volume) Spesifikasi 70 min 30 max 180 max 18. Effluent Bila beroperasi dengan feed sesuai spesifikasi dan kapasitas desain. unit akan menghasilkan effluent sebagai berikut : y Sour water dari Main Column Overhead Receiver dengan jumlah 65.1 max 0.

feed dipanaskan sampai temperature 274°C dengan pengambilan panas dari Net Bottom dan sirkulasi slurry oil dalam Exchanger.2 REAKTOR ± REGENERATOR Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 7 . Apabila dikarenakan suatu hal dimana unit AHU dan CDU tidak beroperasi. Untreated residue dipanaskan hingga 184°C dengan mengambil panas dari produk Light Cycle Oil (LCO) dalam Cold Net Bottoms atau Raw Oil Exchanger.2.2.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan 2. Dari Raw Oil Surge Drum campuran feed dipompakan dengan Raw Oil Pump ke Riser Reactor. Temperatur dari feed dikontrol dengan mengatur sejumlah feed dari bypass Exchanger.1 RAW OIL CHARGE SYSTEM (SISTEM FEED) Feed dalam operasi normalnya berasal dari unit AHU dan CDU (Crude Distillation Unit). 2.2 DESKRIPSI PROSES 2. maka treated residue atau untreated residue dapat diambil di tangki feed dingin. Sebelum masuk ke Riser. Feed dari AHU yang berupa treated atmospheric residue dimasukkan ke dalam Raw Oil Surge Drum melalui pengontrolan aliran. Surge Drum dilengkapi dengan water boot yang berfungsi untuk menghilangkan air yang terbawa pada waktu start up.

Katalis yang terpisah kemudian dilewatkan ke seksi stripping. Gas-gas hidrokarbon dengan cepat mengalir berbalikan arah dan melewati annular di dalam daerah pada Reaktor Cyclone.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Gambar 2. aliran gas produk reaktor mengalir ke Main Column dimana gasnya mengalami pemanasan dan fraksinasi menjadi produk-produk yang diinginkan. Liquid feed panas masuk ke Reaktor Riser dimana bertemu dengan aliran dari regenerated katalis untuk pertama kalinya pada temperatur 732°C yang berupa lift gas dan steam.1 Reaktor unit RCC Gabungan feed dari Raw Oil Charge Sistem diinjeksikan ke dalam Reaktor Riser melalui 8 buah feed distributor yang kira-kira terletak antara separuh bagian atas Riser. Produk hasil perengkahan dan katalis meninggalkan puncak riser pada temperatur 520°C. pada puncak riser. Steam dimasukkan untuk membantu pengabutan feed sebelum feed masuk ke dalam Riser. Hal ini untuk mencegah atau meminimasi reaksi sekunder. Feed dengan cepat akan teruapkan dan terjadi reaksi cracking yang endotermis. satu set dekat bagian dasar dari stripper dan satu set lagi dekat di bagian pertengahan. Hal ini untuk menjamin kesempurnaan distribusi steam. Waktu tinggal di dalam Reaktor Riser kira-kira 2-3 detik. dimana totalnya ada 13 buah Single Stage Cyclone yang mempunyai jarak konsentris yang sama di dalam reaktor. Steam ring semi sirkular tambahan digunakan untuk mempertahankan fluidisasi katalis dan memastikan temperatur distribusi yang merata pada seksi 8 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Stripping steam memisahkan uap minyak dari partikel katalis dan mengembalikan uap tersebut ke dalam reaktor. Ada dua set steam ring setengah lingkaran berlawanan. Katalis turun dari reaktor masuk ke dalam stripper dimana aliran melewati 7 grid (kisi-kisi) stripping secara berlawanan arah dengan penguapan stripping steam. Dari cyclone. Sejumlah kecil dari steam ini diinjeksikan ke dalam bagian dasar dari stripper yang berhadapan dengan nozzle pada reaktor standpipe. campuran katalis dan hidrokarbon dengan cepat dipisahkan mendekati kesempurnaan. Katalis yang terpisah jatuh dari lubang Cyclone ke bagian utama dari reaktor. Dip leg dilengkapi dengan counter weight flapper yang membatasi aliran katalis sebagai seal dalam dip leg pada saat start-up unit dan pada saat unit mengalami gangguan.

Step regenerasi ini dilakukan dalam batasan udara lingkungan. Aliran yang melalui Recirculation Catalyst Cooler 9 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta . Flue gas (gas hasil pembakaran) dari puncak Upper Regenerator keluar melalui dua stage cyclone dan mengembalikan sebagian besar katalis yang ikut masuk ke Upper Regenerator. Aliran steam ke stripper ini diijinkan dibawah pengontrolan aliran sebelum dipisahkan. First stage regenerator dilengkapi dengan 4 buah Catalyst Cooler. Katalis yang masuk dipanaskan sampai kurang lebih 732°C. dimana tekanan diturunkan melalui serangkaian plat yang bergelombang. Hal ini dioperasikan dengan dasar pengaturan temperatur dalam dilute phase. dimana diatur dengan differential pressure controller yang mengatur perbedaan tekanan antara Reaktor Regenerator. Steam kemudian dilewatkan melalui individual globe valve ke steam ring. demikian pula dengan pembakaran yang tidak sempurna dalam pembentukan CO2. dimana jika reaksi yang terjadi eksotermis maka pembentukan CO2 berlangsung. Hal ini diperoleh dengan pengukuran perbedaan temperatur pada bed dari dense ke dilute phase. dimana delta temperatur kemudian diatur agar aliran udara ke Upper Regenerator. Differential temperature controller dipakai untuk mengatur jumlah udara ke upper regenerator untuk mencegah terjadinya pembakaran sempurna. Sekitar 70% dari coke pada katalis diambil dari tahapan ini. Dari stripper. Flue gas meninggalkan cyclone masuk ke plenum chamber pada puncak Regenerator. Kemudian flue gas mengalir ke Orifice chamber. Udara dari Main Air Blower dilewatkan ke atas melalui bed dimana regenerasi pada spent catalyst dilakukan. Dua di antaranya didesain back mix dan dua lagi didesain flow through. Gas-gas yang panas melewati double disc slide valve. dimana temperatur akan cepat naik dan katalis sedikit mengabsorb panas tersebut. Cooler ini mengambil kelebihan panas dari regenerator dengan menghasilkan steam. Akhirnya energy dari flue gas ini diambil dalam CO Boiler dimana gas-gas hasil pembakaran dibakar dengan flue gas tambahan untuk menghasilkan steam. katalis ini ditransfer melalui slide valve dan diset dengan level di dalam reaktor ke first stage regenerator.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan tersebut. Sebagian katalis yang telah diregenerasi dari Upper Regenerator kemudian dialihkan melalui Recirculation Catalyst Standpipe dan mengalir melalui Catalyst Cooler Standpipe menuju ke Lower Regenerator.

Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 10 . dimana steam dipanaskan sampai ke temperature 380°C. dengan dua diantaranya secara intermittent dan dibuang ke intermittent blow down drum. Udara pembakaran di supply ke bottom Lower Regenerator dibawah pengontrolan aliran. Boiler feed water ke Catalyst Cooler ini disirkulasikan dengan Catalyst Cooler Circulation Pump yang mana masing-masing memiliki 50% kapasitas dari unit terpasang dimana berjumlah dua buah dan berjalan normal. Aliran ini dikontrol dengan temperatur outlet Riser. steam bergabung dengan superheated steam dari CO Boiler dan dilewatkan ke saluran utama High Pressure Steam di kilang. Dari superheater. Drum ini dilengkapi dengan tiga buah kerangan blow down. Kerangan yang ketiga merupakan continuous blow down yang buangannya ke continuous blow down drum. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kelebihan udara masuk ke dalam upper regenerator yang pada akhirnya mengakibatkan pembakaran di upper regenerator mengarah ke pembakaran sempurna dan menghasilkan panas yang terlalu tinggi. regenerated katalis pada temperature 732°C dilewatkan melalui Regenerated Slide Valve ke bagian bottom Reaktor Riser. Katalis panas ini bertemu dengan lift gas dan lift steam dimana mengangkat ke atas ke arah Riser sebelum bertemu lagi dengan combined feed. Fresh Boiled Feed Water ini dimasukkan ke Fresh Boiled Feed Water Drum di bawah pengaturan aliran dimana diatur dengan sinyal gabungan yang berasal dari level controller di drum dan HP steam flow rate. Di dalam Lower Regenerator. Dari Lower Regenerator. kelebihan coke diambil dari katalis. Lift gas datang dari Unsaturated Gas Concentration Unit.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan standpipe dan Catalyst Cooler Standpipe ini dikontrol dengan slide valve dimana diatur dengan temperatur dalam Lower Regenerator. Air sebagian diuapkan didalam Catalyst Cooler dan steamnya dipisahkan dalam Catalyst Cooler Disengaging Drum. dimana dari saturated steam dilewatkan ke Direct fired Superheater. Lift gas dan lift steam keduanya dimasukkan pada bottom Riser di bawah pengontrolan aliran.

Di sini bahan-bahan padatan yang dapat merusak balancing dari axial compressor diambil. udara dikompresikan sampai tekanan 2. Udara masuk ke dalam suction Main Air blower melalui udara Filter House dan Silencer. Special check valve dipasang untuk menjaga Main Air blower dari beberapa kemungkinan kerusakan karena katalis yang panas dan beberapa alasan disebabkan Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 11 . Udara memasuki regenerator melalui dome distributor grid berbentuk kubah.8 kg/cm2 g.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan 2. aliran udara ke Lower Regenerator dikirim pertama kali di bawah control aliran.3 SISTEM UDARA REGENERATOR Gambar 2.2 Regenerator Two Stage Udara atmosfer dikirim ke Upper dan Lower Regenerator untuk mengontrol pembakaran coke pada katalis.2. melalui counter weight spring khusus dibantu check valve dan Direct Fired Air Heater. Di dalam blower.

Valve-valve yang sama terpasang dalam aliran udara supply regenerasi yang menuju ke Upper Regenerator.4 ORIFICE CHAMBER Pada unit RCC. Main Air blower sendiri dilengkapi dengan anti surge sistem yang memonitor tekanan discharge dan aliran suction. Line 12 inch untuk pengeluaran katalis menuju ke Catalyst Cooling Vessel yang dilengkapi Special Check Valve untuk mendinginkan katalis. Heater normalnya tidak dalam operasi dan ini hanya dipakai pada waktu start-up. 2. Pressure drop melalui slide valve. kemudian dilewatkan ke Orifice chamber melalui flue gas slide valve.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan oleh udara supply gagal. orifice yang digunakan tidak bersifat tunggal. Pemilihan alat ini sebagai mixing devices dikarenakan hasil pencampurannya optimum dan biaya tidak mahal. Posisi slide valve ini diatur dengan Reaktor / Regenerator Differential pressure controller.75 kg/cm2 g. Hal ini diatur dari perbedaan temperatur pada bed antara dense dan dilute phase dan ini disediakan untuk membatasi udara supply yang dibutuhkan pada pembakaran yang tidak sempurna (misalnya CO menjadi CO2). Koneksi yang kecil terpasang dari discharge blower ke sistem hopper katalis dimana kemungkinan hanya dipakai intermittent untuk mempercepat menaikan tekanan pada vessel hopper. melainkan beberapa orifice yang terkumpul dalam suatu kompleks peralatan. Buangan yang kecil ke atmosfer terpasang untuk mengatur jumlah udara ke bed. yang menyebabkan katalis menyumbat dan terjadi aliran balik. Main Air blower ini adalah komponen axial dan sangat mudah terjadi kerusakan dengan adanya surging. Flue gas dari Regenerator dilewatkan melalui Orifice chamber yang menghasilkan steam dalam CO Boiler dan terakhir keluar ke atmosfer melalui elevated stack. Aliran discharge ini dialihkan ke atmosfer melalui silencer untuk menjaga mesin bebas dari kondisi surge. Di sini juga terdapat 4 buah fluffing ring 24 inch yang dilalui di mana udara didistribusikan ke dalam katalis bed.2. udara ke Upper Regenerator mengalir ke bottom pada vessel dan didistribusikan ke dalam katalis bed. Sebuah cross over juga menyuplai udara untuk pendingin apabila suplai normal gagal. Sisa dari pressure drop Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 12 . Dengan cara yang sama pada Lower Regenerator. Flue gas panas meninggalkan regenerator pada temperature 732°C dan tekanan 1.

Uap dipanaskan lagi (superheated) pada kurang lebih 520°C ini dikontakkan dengan Main Column Bottom.5 CO BOILER Dari Orifice chamber.6 kg/cm2 hanya diatas tekanan atmosfer.6 PLANT AIR COMPRESSOR Udara kering pada temperature 40°C dan tekanan 7 kg/cm2 ini diperoleh dengan plant air compressor menuju ke katalis hopper. Diverter Valve ini dioperasikan secara manual dari ruang control. aliran flue gas melalui Diverter Valve yang dioperasikan secara remote dimana sebagian flue gas kontinu ke CO Boiler atau dialihkan alirannya ke emergency stack yang tingginya 86 meter. flue gas dilewatkan ke CO Boiler. 2. dan ke tempat-tempat plant purging point lainnya. Pada outlet Orifice chamber.7 y MAIN FRACTIONATION SECTION Main Column Feed Produk uap dari reaktor masuk ke Main Column di bawah 6 buah tray pencuci. Beberapa katalis yang terikut dari reaktor dicuci pada bagian ini dan vapor desuperheated kemudian dilewatkan ke atas kolom untuk memperoleh produk yang diinginkan setelah terkondensasi dan terfraksinasi.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan besarnya sebesar 0. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 13 .07 bar dan temperature 732°C dilewatkan ke CO Boiler. 2. dan dikeluarkan dalam Orifice chamber yang terdiri dari 4 buah plate secara seri yang masing-masing terpasang dengan beberapa lubang. Dari CO Boiler flue gas panas dikeluarkan ke atmosfer melalui stack 86 meter. Setiap plate tersebut dirancang untuk meminimasi erosi pada lubang bila katalis ikut. flue gas yang bertekanan 0. Boiler akan menghasilkan 210 ton/jam steam dan ini dibantu dengan auxiliary firing yang dikontrol untuk mempertahankan produk steam konstan dari kadar CO yang tinggi ke rendah.2.2. Back up udara juga terpasang ke Withdrawal Catalyst Cooling Vessel dan sistem seal udara ke CO Boiler. Boiler ini dirancang untuk mengendalikan aliran flue gas dari pemrosesan feed stock RCC sesuai dengan kapasitas yang terpasang. Dari Orifice chamber. Pada saat terjadi kegagalan flue gas. 2. Catalyst Cooler. auxiliary burner dirancang untuk menghasilkan 125 ton/jam superheated steam.2.

Naphtha disirkulasikan ke Propylene Recovery Unit (Unit 19). Sejumlah unstrapped drawoff diambil dari up stream dan disirkulasikan untuk memenuhi sebagian pemanas reboiler ke stripper. Air pencuci diinjeksikan pada upstream untuk melarutkan garam-garam ammonium dan untuk mengurangi konsenstrasi dari ion Cyanide yang korosif di dalam fase cair.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan y Overhead Sistem Overhead vapor keluar pada temperature 123°C dan dilewatkan ke Main Column Overhead Condenser. Naphtha dingin yang kembali dari unit 19 ini bergabung dengan naphtha panas bypass stream. sebagian dari unstrapped LCO diambil dan dialirkan dengan gravity dan mengatur level pada top tray nomor 1 pada LCO Stripper. dimana disediakan pemanas. y LCO Pumparound dan Stripper Selanjutnya di Main Column dari bawah tray nomor 22. y Naphtha Pumparound Naphtha stream diambil dari Main Column dari bawah tray nomor 5. Dari sini dikembalikan ke Main Column pada tray nomor 3. Dua fase aliran ini selanjutnya didinginkan dengan air pendingin sampai temperaturnya 430°C. Sejumlah sirkulasi stream LCO (lean oil) dilewatkan ke Sponge Absorber dimana light ends diambil (C3+) dari offgas unsaturated gas plant. Gabungan tersebut selanjutnya didinginkan sampai 99°C dalam circulating Naphtha Cooler. Dari sini sebagian aliran yang terkondensasi dialirkan ke Main Column Overhead Receiver yang dilengkapi dengan bootleg untuk pengambilan fase air yang terpisah. Kemungkinan alternatif lain yaitu injeksi upstream Main Column Overhead Trim Condensor. Semua aliran sirkulasi pada LCO bergabung kembali dan dikembalikan ke Main Column diatas tray nomor 19 pada temperature 117°C. di dalam reboiler. dan Debutanizer Feed Exchanger. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 14 .37 kg/cm2 dilewatkan ke Wet gas Compressor. Vapour pada tekanan 0. Produk cairan overhead ini (unstabilized gasoline) selanjutnya dipompakan melalui pipa ke Gas Concentration Unit (Unit 16). dimana sebagian dikondensasikan. Reflux dipompakan di bawah pengontrolan aliran yang mengatur temperatur overhead column tray nomor satu di dalam Main Column.

Gabungan slurry stream ini dikembalikan ke Main Column pada 280°C di atas disc dan donut buffle. Hopper tersebut dilengkapi dengan sistem loading dan unloading dari fresh dan spent catalyst ke dan dari Regenerator. Aliran yang kontinu dari udara instrument ini dipertahankan dalam line tersebut. satu diantaranya fresh katalis. 2. dengan kerangan-kerangan yang berurutan dengan load dari pot. Untuk membantu loading pada katalis dari hopper ke addition pot. yang akan membawa Fresh dan Low Metal Equilibrium Catalyst ke Second Stage Regenerator. Cairan bottom column pada 347°C ini dikirim di bawah kontrol aliran menuju ke Main Column Bottom Steam Generator dan berturut-turut ke superheater.2.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan LCO stripper mengambil fraksi ringan dari stream untuk mendapatkan spesifikasi flash point.8 CATALYST HANDLING SYSTEM Katalis storage dipasang dalam 3 hopper. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 15 . dimana vapour Reaktor desuperheated diuapkan dan dicuci agar bebas dari katalis yang terbawa. Ini dioperasikan pada basis batch. pada basis batch. Uap yang dipisahkan dikembalikan ke Main Column di bawah tray 22.3 kg/cm2 g. Penambahan ini dicapai dengan menggunakan pada katalis addition pot yang berlokasi berdekatan dengan 15-V-102 atau 15-V-103. y Continuous Fresh Catalyst Addition Pada normal operasi katalis ini ditambahkan di Regenerator. udara instrument dimasukkan dari bagian atas hopper untuk penekanan. Hal ini dilakukan dengan automatic pressure controller dengan setting sekitar 4. Kedua bagian pada slurry dipompakan masuk ke feed preheat exchanger terakhir. kemudian menekan katalis ke dalam addition line. Penambahan katalis dilakukan dari 15-V-102 dan 15-V-103 untuk memberikan campuran 50/50 antara Fresh dan Low Metal Equilibrium Catalyst. satu untuk Low Metal Equilibrium Catalyst dan satu untuk spent catalyst. Suplai udara tambahan dari 15-K-101 dapat juga dipakai initial untuk memberikan penekanan awal untuk mengurangi waktu penekanan awal untuk mengurangi waktu penekanan dan penghematan udara instrument.

ini dikrim ke 15-V-104 menggunakan slipstream dari udara Main Air blower. Pemakaian udara juga digunakan untuk tujuan ini. katalis pada 343°C ini selanjutnya didinginkan sampai 82°C dengan kontak langsung dengan udara yang dimasukkan ke grid distributor yang terletak pada dasar 15-V-104. ejector set ini disambungkan dengan hopper yang diperlukan dan pada kondisi vakum. Untuk mencapai ini dilengkapi dengan Withdrawal Catalyst Cooling Vessel 15V-110. Oleh karena itu katalis pada 732°C dan tidak dapat ditransfer langsung ke 15-V104. y Pengambilan Katalis Secara Kontinu Hal ini perlu pada basis yang tetap untuk pengambilan katalis dari Regenerator. Fresh katalis dibawa mendekati hopper dalam truk atau tanker tertutup. Filter ini secara berkala dibersihkan dengan menyemprot atau menghembuskan udara. Ejector set dipasang dengan kemungkinan terjangkau pada beberapa katalis hopper 15-V102/103/104. y Loading Catalyst pada Start-up Pada initial start-up. Pengoperasian ini dapat dipakai untuk beberapa hopper. Pada saat berada di 15-V-104. Katalis panas dikeluarkan dari 15-R-104 pada basis batch dan didinginkan sampai 343°C dengan slipstream udara dari Main Air blower 15-K-101. Selang pengisian disambung ke Tank Car dan katalis ditransfer ke hopper. Dengan line terpisah 8 inch yang terpasang. untuk mengisi Regenerator sebelum start-up sampai level yang diinginkan. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 16 . Pada saat batch telah dingin . Hal ini untuk ditarik ke High Metal Equilibrium Storage Hopper 15-V104. hopper harus diisi kembali.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan y Off Loading of Fresh and Low Metal Catalyst Saat katalis ditambahkan ke dalam Regenerator. Untuk pengisian katalis. Udara yang dimasukkan ke 15-V-110 dikembalikan ke 15-R-104 dari top 15-V-110. katalis ini diisikan ke dalam 15-V-104. Udara panas dibuang ke atmosphere melalui filter 15-S-104.

Suplai ke main burner ini juga dilewatkan dibawah kontrol tekanan 2. Ketika dibutuhkan pada start-up.2.9 barg. Fuel gas dari Main Header masuk ke fuel gas KO Drum 15-V-109 sejumlah kondensat turun dan terakumulasi sampai pada alarm high level dicapai.2. dan spent catalyst expansion joint.10 STEAM PURGING Purging kontinu dari superheated steam disuplai ke spent dan regenerated catalyst slide valve. Pada operasi normal udara yang menuju ke Lower Regenerator dilewatkan melalui 15-F101 yang tidak dipanaskan. regenerator injeksi point. Sejumlah kecil aliran fuel gas ini dilewatkan dibawah kontrol tekanan ke pilot burner.9 DIRECT FIRED AIR HEATER Direct Fired Heater 15-F-101 dipasang secara vertical dekat dengan bagian bawah Lower Regenerator. torch oil assemblies.11 TORCH OIL Injeksi torch oil (HCO atau LCO) terpasang untuk membantu memanaskan inventory katalis pada waktu start-up dan kadang-kadang untuk dimatikan setelah terjadi gangguan atau penyimpangan dalam pembakaran. 2. Torch oil ini diinjeksikan di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 17 . Hal ini kemudian didistribusikan ke dalam header yang terpisah. fuel gas disuplai ke heater dan langsung membakar dan memanaskan udara yang mengalir ke Regenerator. Superheated steam ini dihasilkan dengan menurunkan tekanan refinery header Medium Pressure (MP) Steam ke 6. Superheated steam ini digunakan untuk menghindari pembentukan kondensat dimana akan menyebabkan kerak atau lumpur bila kontak dengan katalis.2. Steam ini dimasukkan melalui pressure reduction valve dan flow orifice menuju ke gland packing pada slide valve.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan 2. kemudian vessel tersebut didrain ke flare. Hal ini dipakai pada start-up untuk memanaskan katalis inventory dan juga untuk membantu dalam final dry out refractory pada vessel.

 LPG (Liquid Petroleum Gas) LPG diperoleh dari overhead stream debutanizer atau stabilizer yang banyak mengandung olefin.3 PRODUK UNIT RCC  Dry Gas (Off gas) Gas (C2 & lighter) yang meninggalkan sponge oil absorber tower lebih umum disebut sebagai dry gas yang mempunyai kandungan utama hidrogen. 2. Dry gas utamanya diakibatkan oleh thermal cracking. dan debutanizer untuk menghasilkan LPG dan Light Naphtha Naphtha Treatment. bila berlebihan akan meningkatkan beban wet gas compressor dan seringkali merupakan kendala pada catalytic cracker. Udara ini disuplai melalui restriction orifice dan dalam hal pengukuran tekanan.12 AIR PURGING Semua instrumentasi pada Reaktor-Regenerator ini disuplai dengan udara instrument untuk mencegah terhadap kerusakan instrument yang diakibatkan tumpukan katalis atau gesekan katalis. Steam atomizing juga dilengkapi dengan hand control. propylene. ethylene dan trace hidrogen sulphide. Setelah dilakukan penghilangan H2S dan acid gas pada amine-treating.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan bawah hand control. LPG yang dihasilkan ini tidak dapat langsung digunakan ataupun dipasarkan melainkan harus dilakukan treatment yang akan ditreating ulang di LPG dan Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 18 . Dry gas kurang dikehendaki sebagai produk samping unit RCC. dry gas ini dapat dilakukan blend sebagai refinery fuel gas. 2. Untuk mendinginkan nozzle tip dan mencegah penumpukkan katalis di sekitar nozzle.2. Off gas ini nantinya akan masuk ke unit Unsaturated Gas Plant (unit 16) yang berfungsi mengolah gas dari overhead column RCC dengan mengkompresi gas-gas tersebut. Nozzle ini dapat ditarik dan dimasukkan melalui gland packing dan block valve. methane. melalui empat nozzle yang sama dan concentrical spaced 4 inch pada Upper dan Lower Regenerator. PI harus terpasang pada line instrument udara. metal dalam umpan dan non selective catalytic cracking. dan butylenes. secara kontinu sedikit steam purging dialirkan ke nozzle dan di dalam ruang annular nozzle vessel. ethane. stabilizer. Unit ini dilengkapi dengan absorber. Tiap nozzle tersebut dilengkapi dengan MP.

Pertamax. dan regenerator untuk menghasilkan LPG yang memenuhi spesifikasi. clarified oil.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan lanjutan di LPG Treatment Unit yang berfungsi menyisihkan senyawa mercaptan dan organic sulphur lainnya menjadi senyawa disulphide. atau Pertamax Plus. kualitas umpan dan kondisi operasi. Produk propane yang dihasilkan langsung dikirim ke storage sedangkan produk propylene yang dihasilkan didinginkan (dikondensasikan) agar propylene yang dihasilkan dalam bentuk liquid. Naptha yang dihasilkan dari unit RCC juga tidak dapat langsung digunakan ataupun dipasarkan.  Light Cycle Oil (LCO) LCO merupakan aromatic tinggi dengan typical cut point antara 221 . namun harus masuk ke Naphtha Processing unit. selanjutnya produk C3 masuk ke C3 splitter. DCO disebut juga sebagai slurry oil. Untuk memisahkan propane dan propylene.343°C yang secara luas dipergunakan sebagai blending stock pada heating oil atau diesel fuel. separator.  Naptha Merupakan produk yang paling berharga yang dihasilkan oleh unit cat cracker. Propylene cair selanjutnya dibersihkan kandungan COS dalam COS removal menggunakan adsorber dan dihilangkan kandungan metalnya di metal treater. Unit ini dilengkapi dengan extraction. Unit 19 ini mengolah mixed LPG dari LPG Treatment dan dialirkan ke dalam splitter untuk memisahkan C3 (Propane/Propylene) dan C4 (Butane/Butene). Unit ini berfungsi untuk mengolah ulang produk Light Naphtha dan Heavy Naphtha agar memenuhi standar pencampuran Premium. bottom dan RCC residu yang dijual sebagai umpan carbon black. Propylene bersih selanjutnya dimasukkan ke dalam Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 19 .  Decant Oil (DCO) DCO merupakan fraksi paling berat yang mempunyai harga jual paling rendah. Sifat-sifat DCO bervariasi tergantung API gravity merupakan indikasi kasar aromaticity dan boiling range. Produk DCO umumnya memerlukan filtrasi untuk memisahkan catalyst fine.  Propylene Propylene merupakan produk akhir dari Propylene Recovery Unit (PRU) Unit 19. Sering kali dikehendaki operasi RFCC pada maksimum cracking severity minimal yield LCO.

Merupakan by-product perengkahan umpan RFCC menjadi produk yang lebih ringan. y Catalytic Coke (Conversion Coke). Micro Carbon (MCR) atau Ramsbottom Residue test. Coke dari fraksi umpan yang sangat berat dan yield-nya dapat diperkirakan dengan Conradson Carbon (CCR). Coke tersebut dihilangkan dengan cara dibakar dalam regenerator dengan mempergunakan udara pembakaran. Sebagian kecil dari umpan yang tidak teruapkan akan langsung terdeposit sebagai coke pada katalis. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 20 . nitrogen dan trace metal. Struktur dan uraian kimia pembentukan coke sangat sulit didefinsikan dan pada umumnya type coke pada RCC berasal dari empat sumber sebagai berikut : y Feed Residue Coke. Ada 2 cara untuk mengatur coke in yaitu dengan menurunkan temperatur reaktor guna menurunkan konversi atau menaikkan temperatur feed yang akan menurunkan katalis sirkulasi dari RG (C/O ratio turun).  Coke Coke merupakan campuran carbon dan hidrogen dengan sebagian kecil sulphur. Coke ini mudah terakumulasi pada low velocity zone dan overhead line yang dapat mengakibatkan kenaikan beda tekanan RX ± MC.  CCR / MCR . Coke dapat mendeaktivasi katalis dengan cara menutup sisi aktif atau menutup porikatalis. merupakan fungsi konversi. catalyst type dan hydrocarbon/catalyst residence time dalam reaktor. makin tinggi MCR maka akan makin tinggi coke yang akan terbentuk.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Selective Hidrogenation Process (SHP) reaktor untuk dilakukan reaksi penjenuhan Diene dan Acetylene menjadi Mono Olefine sebagai persyaratan produk untuk dikirim ke storage.  Non Vaporized Feed Coke. Untuk mengatur penguapan feed dengan baik sangat ditentukan oleh desain feed nozzle serta pemakaian dispersion steam. Pembakaran coke akan menghasilkan panas reaksi yang dipergunakan untuk mengkonversi feed menjadi produk dalam reaktor. Sekitar 50 % CCR atau MCR dalam feed yang akan menjadi coke.

Faktor-faktor yang mempengaruhi delta coke adalah : y Feed injection system. Makin tinggi Cat / Oil ratio akan memperbaiki selektifitas produk dan/atau memperbaiki fleksibilitas pengolahan umpan yang lebih berat. Setiap catalytic cracker selalu pernah mengalami coking/fouling yang pada umum nya diketemukan pada dinding reactor. Delta coke merupakan jumlah coke yang terdapat pada regenerated catalyst. system injeksi umpan harus memiliki kecepatan dan kerataan penguapan yang baik. dengan menurunkan back-mixing catalyst yang telah terlapisi coke dengan fresh catalyst maka akan mengurangi delta coke. y Cat / Oil ratio. plenum. Coke kaya hidrogen yang berasal reactor-stripper. C/O ratio naik maka delta coke turun. y Reaktor temperature. Aktifitas katalitis metals (Ni & V) yang terdeposit pada katalis akan menghasilkan coke. MAT catalyst naik maka delta coke akan naik.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan y Contaminant Coke (metals coke). y Catalyst Circulation Coke (Striper Coke). Penyebab utama terjadinya pembentukan coke pada reactor dan MCB adalah sebagai berikut : y Perubahan parameter operasi.  Coke umumnya terbentuk apabila terdapat cold spot dalam sistem reaktor apabila temperatur permukaan logam dinding reaktor / vapor line jatuh dibawah temperatur Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 21 . overhead vapor line dan MCB. Efisiensi catalyst-stripping (stripping steam) dan catalyst pore size distribution mempengaruhi jumlah hydrocarbon yang terbawa ke dalam regenerator. y Catalyst activity. Menurunkan delta coke akan menurunkan temperatur regenerator. cyclone. bila temperatur Reaktor naik maka delta coke akan turun. y Riser design. Oleh karenanya diperlukan pengendalian metal tersebut melalui cat add. dome.

Paraffin terengkah menjadi olefin dan paraffin yang lebih kecil.4 REAKSI-REAKSI YANG TERJADI DI UNIT RCC 1. y Perubahan kondisi mekanikal peralatan. Cracking. y Perubahan sifat-sifat catalyst. Katalis yang sudah hilang coke-nya disebut Regenerated katalis yang kemudian akan digunakan lagi di Reaktor. gas CO selanjutnya masuk ke CO Boiler untuk dibakar menjadi CO2 (complete combustion). Olefin terengkah menjadi olefin yang lebih kecil.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan dew point vapor. khususnya Reaktor. akan terbawa ke Regenerator kemudian dibakar dengan udara pembakaran dari Main Air Blower untuk menghilangkan coke yang menutupi katalis. a.  Lamanya waktu tinggal pada reaktor dan transfer line akan mempercepat pembentukan coke. Cn H 2 n + 2 paraffin Cm H 2 m + Cp H 2 p + 2 olefin paraffin dimana n = m + P b. Coke yang dihasilkan unit RCC.  Rendahnya temperatur reactor memungkinkan tidak teruapkannya semua hidrokarbon & hidrokarbon tersebut akan membentuk coke pada dinding reaktor dan vapor line. y Perubahan sifat-sifat umpan. maka akan terjadi reaksi kondensasi produk yang mengakibatkan coke build up. Katalis dengan kandungan rare earth yang tinggi cenderung mempromote reaksi hidrogen transfer yang merupakan reaksi yang menghasilkan multi ring aromatik. Cn H 2n olefin CmH2m + CpH2p olefin olefin dimana n = m + P Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 22 . namun pembakarannya bersifat parsial utnuk menghasilkan gas CO. 2.  Tingginya level MCB yang melebihi vapor line inlet akan meng akibatkan terbentuknya lapisan donut coke pada line inlet MCB.

n-CnH2n iso-CnH2n 3. CH 3-cyclo-C6 H 11 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 23 . Olefin menjadi paraffin dan aromatik. Cyclo aromatisasi. Cyclo-CnH2n+1 Naphthene Cyclo-CnH2n Cyclo CmH2m + CpH2p olefin CmH2m + CpH2p olefin olefin dimana n = m + P dimana n = m + P cycloparaffin mengandung cincin cyclohexane : Cyclo-Cn H 2 n olefin olefin C6 H 12 + Cm H 2 m + Cp H 2 p dimana n = m+p+6 cyclohexane 2. a. Transfer Hidrogen. C6 H 12 + 3C5 H 10 4C6 H 12 C6 H 6 + 3C5 H 12 Aromatik + Paraffin c.CnH2n trans-2-CnH2n b. Aromatik (rantai samping) terengkah menjadi Aromatik dan Olefin. C6 H 4 (C6 H 4) C7 H 14 C6 H 12 + Cm H 2 m + Cp H 2 p 5. Isomerisasi.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan c. Cyclisasi olefin menjadi naphthene. Naphthene + Olefin b. ArCnH2n + 1 aromatic Ar CmH 2 m-1 + Cm H 2m olefin dimana n = 2 m d. a.Naphthene (cycloparaffin) terengkah menjadi olefin. n-Olefin menjadi iso-Olefin 1. 3C6 H 14 + C6 H 6 4. Alkyl grup transfer/transalkylation. n-Paraffin menjadi iso-Paraffin.

Dealkylasi Iso-C3 H 7-C6 H 5 C6H 6 + C 3H 6 7. n-C8H 18 C8H 16 + H 2 8.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan 6. Reaksi kondensasi. CH = CH 2 + R 1CH = CH R 2 + 2 H2 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 24 . Dehidrogenasi.

1 Alur Penyelesaian Masalah Permasalahan Data operasi Pengumpulan data Referensi Data Laboratorium Perhitungan Analisa Data Dengan excel 2007 Linierisasi persamaan hasil analisa Pembahasan Kesimpulan dan saran Gambar 3.2 Pengumpulan Data Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 25 .1. Berikut ini akan diuraikan alur-alur dalam penyelesaian masalah yang ada : 3.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan BAB III METODOLOGI Pada tugas khusus kali ini akan mengamati dan mengevaluasi pengaruh temperatur reaktor dan kualitas feed terhadap yield produk pada unit RCC PT Pertamina RU-VI Balongan. Alur Penyelesaian Masalah 3.

3. Data yang diperoleh yaitu : temperatur di beberapa bagian unit. dan data panas reaksi. Menghitung udara basah Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 26 .3 Pengolahan Data Dari data yang diperoleh dilakukan pengolahan data melalui perhitungan untuk mengetahui yield coke. Menentukan kandungan uap air dengan menggunakan grafik Psychometric Dengan memplotkan data temperatur dan humidity yang telah diketahui maka akan didapat data kandungan uap air di dalam udara. Untuk yield produk yang lain sudah tersedia datanya dari data analisa laboratorium. Selain itu juga diperoleh dari beberapa referensi data operasi desain yang umum digunakan pada proses fluid catalytic cracking. Gambar 3.  PERHITUNGAN y Perhitungan udara pembakaran dengan basis udara kering (dry air) A.2 Diagram Psychometric B. Data-data yang dibutuhkan diperoleh dari data operasi yang berasal dari bagian DCS dan data hasil analisa Laboratorium. kapasitas feed dan produk.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Pengumpulan data dilakukan untuk dijadikan sebagai dasar analisa pengaruh variabel proses yang dikehendaki terhadap yield produk. analisa flue gas.

.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Flow (Nm3 /jam) x x 28.. Menghitung Kapasitas Flue Gas Udara kering x = . Menghitung O2 dalam udara kering Mol udara kering x komposisi O2 dalam udara = . Menghitung udara kering Udara kering (kg/jam) x = . G...37 = «. y Perhitungan jumlah karbon (C) dalam coke Dihitung berdasarkan neraca O2 yang bereaksi membentuk komponen flue gas yaitu : excess air (O2 )b di flue gas (O2)c yang membentuk CO (O2)d yang membentuk CO2 (O2)e yang membentuk H2 O (O2)f yang membentuk SO2 (O2 )g yang membentuk NO2 + Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 27 . Menghitung udara kering Udara Basah (kg/jam) x kg H2O /kg udara basah D.. C. Menghitung H2 O dalam udara kering (kg mol/jam) Mol udara kering x x kandungan uap air F... E. H. Menghitung excess O2 di Flue gas kadar O2 di flue gas (% mol) x Kapasitas Flue Gas = «....

.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan (O2)a dalam udara pembakaran Ket : Dikarenakan pada hasil analisa flue gas tidak ditemukan SO2 dan NO2 maka persamaan menjadi : excess air (O2)b di flue gas (O2)c yang membentuk CO (O2)d yang membentuk CO2 (O2)e yang membentuk H2 O + (O2)a dalam udara pembakaran Tabel 3. page 14 Dengan konsep kesetimbangan stoikiometri maka dapat dihitung : o O2 membentuk CO Kapasitas Flue Gas x kadar CO di flue gas (%mol) x koef reaksi = «.1 Tabel Energi Pembakaran Coke pada Regenerator Sumber : FFC Handbook.. o O2 membentuk H2O Kapasitas Flue Gas x kadar H2O di flue gas (%mol) x koef reaksi = «. Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 28 . o O2 membentuk CO2 Kapasitas Flue Gas x kadar CO2 di flue gas (%mol) x koef reaksi = «..

Jumlah coke dari jumlah C = mol CO  mol CO 2 12 kg C x mol C kg mol C mol H 2 O 2 kg H x mol H 2 kg mol H 2 Jumlah coke dari jumlah H = o Total Coke yang dibakar = jumlah coke dari C + jumlah coke dari H o Yield Coke (%wt) = o Kandungan H2 dalam coke (% wt) = o Perhitungan Panas Regenerator Panas pembakaran (Hc) ditentukan berdasarkan tabel. maka akan terbentuk 2 mol H2 O o H2 yang dibakar di regenerator O2 yang membentuk H2O x 2 y = «« Perhitungan jumlah coke yang dibakar Jumlah coke dihitung berdasarkan jumlah C dan H dalam reaksi membentuk CO. CO2.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan  mol H2 dalam coke = mol H2 yang dibakar  Untuk setiap reaksi 1 mol O2 . Untuk panas pembakaran coke berdasarkan suhu flue gas. Panas pembakaran (Hc) untuk C menjadi CO  Panas pembakaran (Hc) untuk C menjadi CO2  Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 29 . H2 O.

Udara = 0.475 kkal/kg oC Panas yang dibutuhkan untuk memanaskan coke (kkal/kg coke) Data/referensi : Cp spent catalyst = 0.4 kkal/kg oC Panas yang dibutuhkan untuk membangkitkan steam di Catalyst Coolers ( Duty Catalyst Coolers ) (kkal/kg coke) Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 30 .Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Panas pembakaran (Hc) untuk H2 menjadi H2O Total panas pembakaran coke Panas pembakaran (belum dikoreksi) Panas yang digunakan untuk memanaskan udara regenerasi (kkal/ kg coke) Data/referensi : Cp.25 kkal/kg oC Panas yang dibutuhkan untuk memanaskan uap air regenerasi (kkal/kg coke) Data/referensi : Cp H2 O vapor = 0.

(H5 .Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan  o Neraca Panas Regenerator Gambar 3.(H6 . maka persamaan (H2 = (H8 .(H5 + (H8 = (H1 + (H4 + (H6 + (H7 Temperatur referensi adalah temperatur regenerator.(H7 o Neraca Panas Reaktor Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 31 .(H4 = 0 .(H3 . sehingga (H1 .3 Diagram Alir Neraca Panas di Regenerator -(H2 .(H3 .

sehingga (H3 .(H6 .(H5 .(H3 .(H12 + (H4=(H3 + (H9 + (H13 + (H14 Temperatur referensi adalah temperatur reaktor.(H7 = (H10 +(H11 + (H12 + (H13 + (H14 Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 32 .(H3 .(H6 .(H5 .(H9 = 0 dan (H4 = (H10 + (H11 + (H12+ (H13+ (H14 Pada kondisi tunak : (H2 .Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Gambar 3.4 Diagram Alir Neraca Panas di Reaktor -(H10 .(H7 H reaktor = (H10 +(H11 + (H12 + (H13 + (H14 Dengan substitusi persamaan maka neraca panas keseluruhan adalah : (H8 .(H4 = 0 Maka dengan substitusi didapat (H pembakaran coke : (H8 = (H3 + (H5 + (H6 + (H7 + (H10 + (H11+ (H12 + (H13 + (H14 o Neraca Panas Keseluruhan H regenerator = H reaktor Dimana : H regenerator = (H8 .(H11 .

Dengan data yang diketahui yaitu : Flow rate Combined feed (tanpa recycle) Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 33 .22 kkal/kg oC Menghitung kecepatan sirkulasi katalis (CCR) Menghitung C/O ratio Menghitung Air to Coke Ratio Menghitung Delta Coke Keterangan : Untuk yield coke diperoleh berdasarkan perhitungan diatas sedangkan yield produk yang lain didapatkan dari hasil analisa laboratorium.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan o Perhitungan Sirkulasi Katalis Data/referensi : Cp Katalis = 0. Pada persoalan ini ingin diketahui yield produk unit RCC.

Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Lift gas Lift steam Feed steam Stripping steam Regeneration air Catalyst cooler steam Catalyst cooler blowdown Komposisi flue gas (belum dikoreksi) Komposisi CO CO2 O2 + Ar N2 Temperatur flue gas Temperatur udara keluar blower Temperatur reaktor Kehilangan panas di regenerator Temperatur dense Temperatur reaktor Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 34 .

7th edition. UOP Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 35 .H. operation. Gulf Publishing Company. and troubleshooting of FCC facilities´.1993.1995. ´Pedoman Operasi Kilang di PERTAMINA UP-VI Balongan´. ´Perry¶s Chemical Engineer¶s Hand Book´. and Green. UOP. McGraw-Hill Book.Laporan Kerja Praktek PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan DAFTAR PUSTAKA Perry.New York Pertamina. 1997. Balongan Sadeghbeigi.. Texas.1993.´Fluid Catalytic Cracking handbook : desgin.´UOP Process Technology Training Manual-Reduced Crude Conversion Process´.Reza.. Houston.R.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->