P. 1
PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

|Views: 1,417|Likes:
Published by Jackline Nerz

More info:

Published by: Jackline Nerz on Feb 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masa nifas merupakan masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu. Di Indonesia, ada kebiasaan atau kepercayaan bahwa wanita bersalin baru boleh keluar rumah setelah habis nifas yaitu 40 hari. Menurut Abdul Bari (2002), asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode tersebut, karena masa ini adalah masa kritis baik untuk ibu maupun bayinya. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tergolong masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut 3-6 kali dari AKI negara-negara ASEAN dan 50 kali AKI negara-negara maju, dan salah satunya disebabkan karena infeksi dengan proporsi 20-30% (Hanifa,2005). Dari kasus infeksi ini, 25-55% disebabkan oleh infeksi jalan lahir (Rustam M, 1998). Infeksi ini terjadi karena beberapa faktor di antaranya mobilisasi dini, vulva hygiene, luas luka, umur, vaskularisasi, stressor dan juga nutrisi. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang perawat untuk mengetahui tentang infeksi yang mengkin saja dapat timbul pada masa nifas sehingga nantinya dapat membantu dalam menentukan tindakan yang dapat dilakukan untuk mecegah ataupun menangani kejadian infeksi tersebut pada ibu nifas. Oleh karena itulah dalam makalah ini, kami akan membahas beberapa hal tentang infeksi tersebut. B. Tujuan 1. Mengetahui pengertian infeksi puerpuralis. 2. Mengetahui etiologi infesi puerpuralis. 3. Mengetahui manifestasi klinis infeksi puerpuralis. 4. Mengetahui cara terjadinya infeksi puerpuralis. 5. Mengetahui patofisiologi terjadinya infeksi puerpuralis. 6. Mengetahui Pengobatan Infeksi Kala Nifas 7. Mengatahui Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Nifas 8. Mengetahui Jenis-jenis infeksi puerpuralis

1

Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50 % adalah streptococcus dan anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Etiologi Penyebab dari infeksi puerperalis ini melibatkan mikroorganisme anaerob dan aerob patogen yang merupakan flora normal serviks dan jalan lahir atau mungkin juga dari luar. alat alat yang tidak steril . infeksinya sedang. tangan penolong . Pengertian Infeksi Puerpuralis Infeksi puerperalis adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas (Sarwono Prawirohardjo. Jadi. Infeksi puerperalis adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas (Mochtar Rustam. ditandai dengan kenaikan suhu hingga 38 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan dengan mengecualikan 24 jam pertama. y Staphylococcus aurelis Masuk secara eksogen. 1998 : 413). B. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi puerperalis antara lain : y Streptococcus haematilicus aerobic Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain . 2005 : 689 ).BAB II PEMBAHASAN KONSEP MEDIS A. menyebabkan infeksi terbatas 2 . dan sebagainya. banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit y Escherichia coli Sering berasal dari kandung kemih dan rectum . yang dimaksud dengan infeksi puerperalisa adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi setelah melahirkan.

C. Oleh karena itu. Kumankuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana termasuk 3 . Nyeri pada pelvis d. Peningkatan suhu b. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman. 2. Cara terjadinya infeksi pasca partum Infeksi dapat terjadi sebagai berikut : 1. Droplet infection. Manifestasi Klinis Tanda dan gejala umum dari infeksi puerperalis ini yaitu : a. berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen. hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin. Lokhea berbau busuk/ menyengat g. 3. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus.y Clostridium welchii Kuman anaerobik yang sangat berbahaya . Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Penurunan uterus yang lambat h. Nyeri dan bengkak pada luka episiotomi D. sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit. Nyeri tekan pada uterus f. Demam tinggi e. c. Takikardie.

alat-alat yang suci hama. Oleh karena itu. hidung dan mulut petugas yang bertugas harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran nafas dilarang memasuki kamar bersalin. c. 4 . Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. demikian juga vulva. daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kira-kira 4 cm. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas lainnya yang berada di ruangan tersebut. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman patogen. Kemungkinan lain adalah bahwa sarung tangan atau alat ± alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman. Droplet infection. kain-kain yang tidak steril. kecuali jika menyebabkan pecahnya ketuban. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau menyebar di luar luka asalnya. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting.kain-kain. kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinan. Patofisiologi Setelah kala III. vagina dan perineum yang semuanya merupakan tempat masuknya kuman-kuman patogen. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting. antara lain ke handuk. E. 4. b. berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. berbenjol ± benjol karena banyak vena yang ditutupi trombus. d. dan alat-alat yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas. Permukaannya tidak rata. Daerah ini merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya kuman-uman dan masuknya jenis-jenis yang patogen dalam tubuh wanita. dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas. Adapun infeksi dapat terjadi sebagai berikut: a.

vulva. biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia.perineum) berbau busuk Infeksi puerpuralis Peningkatan suhu tubuh lokhea Merangsang pegeluaran mediator kimia Demam tinggi Merangsang selsel disekitar luka takikardi anoreksia Mual. Pathway infeksi puerpuralis. Pada infeksi intra partum kuman-kuman memasuki dinding uterus pada waktu persalinan. muntah Sensasi nyeri Nutrisi kurang dari kebutuhan 5 . F.e. Trauma persalinan.infeksi nosokomial Daerah bekas insersio plasenta Kuman tumbuh dalam tubuh wanita (serviks. Infeksi intraparum biasanya terjadi pada waktu partus lama. Gejal-gejala ialah kenaikan suhu. dan dengan melewati amnion dapat menimbulkan infeksi pula pada janin. Infeksi Intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu berlangsungnya persalinan. Air ketuban biasanya menjadi keruh dan berbau. apalagi jika ketuban sudah lam pecah dan beberapakali dilakukan pemeriksaan dalam. denyut jantung janin dapat meningkat pula.

penisilin G 500. jarang terjadi pada wanita yang mendapatkan perawatan medis yang 6 . Hindari pemberian politerapi antibiotika berlebihan. sulfamerazin 130 gr. Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil laboratorium. I. Dosis 2 gr diikuti 1 gr 4-6 jam kemudian peroral. H. Pemberian Sulfonamid ± Trisulfa merupakan kombinasi dari sulfadizin 185 gr. Endometritis adalah infeksi yang berhubungan dengan kelahiran anak. Tetrasiklin.4 juta satuan IM. 2. Pemberian Penisilin ± Penisilin-prokain 1. Memberikan dosis yang cukup dan adekuat. 2008). Endometritis Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim).G. transfusi darah. Jenis-jenis infeksi puerpuralis Infeksi uterus 1. 4. 3. 3. eritromisin dan kloramfenikol. serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. luka operasi dan darah. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus. serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. 5. dan sulfatiozol 185 gr. Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat diobati dengan cara sebagai berikut: 1. Pengobatan Infeksi Kala Nifas Pengobatan infeksi pada masa nifas antara lain: 1.2 sampai 2. Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik. makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh. infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim (Anonym. Lakukan evaluasi penyakit dan pemeriksaan laboratorium. 4. 2.000 satuan setiap 6 jam atau metsilin 1 gr setiap 6 jam IM ditambah ampisilin kapsul 4×250 gr peroral.

nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak yang khas menunjukkan adanya infeksi pada endometrium. Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan. Maka dari itu setiap perubahan suhu tubuh pasca lahir harus segera dilakukan pemeriksaan. gangguan buang air kecil. setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya membran yang terlalu dini. sedikit demam. mengeluarkan keputihan. lebih sering terjadi pada proses kelahiran caesar. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat 7 . 2008). Juga sering terjadi bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim. Kadang-kadang tidak terdapat tanda yang jelas kecuali suhu tunbuh yang meninggi. pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur (Anonym. Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian bawah. terutama pada persalinan terlantar dan persalinan dengan tindakan pada saat terjadi keguguran. Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah. mungkin pula terjadi infeksi dari luka pada leher rahim. nyeri pada perut atau sisi tubuh. salpingitis (infeksi saluran tuba). vagina atau vulva. sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. dimana bekas implantasi plasenta masih terbuka. Infeksi pasca lahir yang paling sering terjadi adalah endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta. pengeluaran kental. ooforitis (infeksi indung telur). 2008). parametritis (infeksi sekitar rahim). kadangkadang terdapat perdarahan dapat terjadi penyebaran seperti meometritis (infeksi otot rahim). saat pemasangan alat rahim yang kurang legeartis (Anonym.baik dan telah mengalami persalinan melalui vagina yang tidak berkomplikasi. kadang berbau busuk. Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi. dapat terjadi sepsis (infeksi menyebar). Pada infeksi karena luka biasanya terdapat nyeri dan nyeri tekan pada daerah luka.

Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau. penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin agar hasilnya efektif. uterus nyeri tekan. Miometritis (infeksi otot rahim) Miometritis adalah radang miometrium. biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Lokia pada endometritis. Uterus pada endometritis agak membesar. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltarsi sel-sel radang. Gejalanya berupa demam. akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Mulai hari ke-3 suhu meningkat. Untuk mengatasinya biasanya dilakukan pemberian antibiotik. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat. dan leukore. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut. 8 . serta nyeri pada perabaan dan lembek. sehingga dapat diberikan antibiotik yang tepat. Penyakit ini tidak brerdiri sendiri akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometritis. lokhea berbau. Dapat pula dilakukan biakkan untuk menentukan jenis bakteri. sakit pnggang. Pada endometritis yang tidak meluas. Metritis kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari bisa. nadi menjadi cepat. Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan oleh pemanbahan jaringan ikat akibat kehamilan. purulen.menyebabkan kenaikan suhu. 2. perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah. Terapi dapat berupa antibiotik spektrum luas seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam. Sedangkan miometrium adalah tunika muskularis uterus.

kuret. Ibu yang cemas dapat bersikap apatis. IUD ) 4. Suhu tubuh sering kali sedikit turun menjadi subnormal. Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim). asidosis. berada pada tingkat resiko tinggi. terutama mereka yang menderita diabetes mellitus atau ibu yang memakai obat imunosupresan. seperti muntah. ginjal. Bukti-bukti hipoksia jantung. Tanda dan gejala suhu tinggi dengan demam tinggi. Temuan laboratorium menunjukkan bukti-bukti infeksi. Syok bakteremia Infeksi kritis. periphlebitis parametritis metritis parametitis 9 . Biakan darah menunjukian bakteremia. efakuasi hasil konsepsi. Radang ini biasanya unilatelar. 3. dan koagulopati. biasanya konsisten dengan hasil enteric gram negative. terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan endotoksin. Begitu juga oliguria. Pemeriksaan tambahan bisa menunjukkan hemokonsentrasi. Perubahan EKG menunjukkan adanya perubahan yang mengindikasikan insufisiensi miokard. Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum. dan neurologis bisa ditemukan. Ibu hamil. bisa mempresipitasi syok bakteremia (septic). Kulit menjadi dingin dan lembab. demikian juga mereka yang menderita endometritis selama periode pascapartum. Penyebab Parametritis yaitu : a) Endometritis dengan 3 cara yaitu : 1) Per continuitatum : endometritis 2) Lymphogen 3) Haematogen : phlebitis b) Dari robekan serviks c) Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde. Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig latum. Warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi menjadi cepat. profilaksi anti tetanus. Hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa terjadi. Demam yang tinggi dan mengigil adalh bukti patofisiologi sepsis yang serius.gentamisin 5 mg kg/BB. metronidasol mg IV per 8 jam. paru-paru.

menjadi pucat.Penatalaksanaan terpusat pada antimicrobial. usaha pernafasan. Peritonitis peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing. Peritonitis. Pengobatan yang cepat terhadap syok bakteremia membuat prognosis menjadi baik. Lowdermilk & Jensen. nadi cepat dan kecil. tetapi keadaan umum tetap baik. ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. mata cekung. terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. ada defense musculaire. Muka penderita. Dan morbiditas dan mortilitas maternal diturunkan dengan mengendalikan distrees pernafasan. tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Suhu meningkat menjadi tinggi. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. yang tidak menjadi peritonitis umum. hipotensi dan DIC (Bobak. terbatas pada daerah pelvis. kulit muka dingin. Fungsi jantung. 2004). yang mula-mula kemerah-merahan. perut bawah nyeri. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu 10 . Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. dan fungsi ginjal dipantau dengan ketat. demikian juga dukungan oksigen untuk menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk mencegah kolaps vascular. Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil. Mortalitas peritonitis umum tinggi. 5. Selanjutnya. kebanyakan terjadi pada masa prenatal. 6. perut kembung dan nyeri. Penderita demam.

Selanjutnya. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. nadi menjadi cepat (140 . Tiap kali dilepaskan. Septicemia dan piemia Pada septicemia kuman-kuman yang ada di uterus. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine. Kelahiran dan persalinan premature juga dapat lebih sering terjadi.hamil. lebih disukai pada kunjungan pertama. specimen diambil dari urin yang diperoleh dengan cara bersih. Jika didiagnosis ada infeksi. Wanita dengan PMS kronis. biasanya dari escherichia coli. vena hipogastrika. embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempattempat lain. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat. antaranya ke paru-paru. dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). ginjal. Penderita meninggal dalam enam 11 . Servisitis. keadaan umum cepat memburuk. 7. dan sebagainya. dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. biasanya disertai menggigil. juga memiliki resiko. Bakteriuria asimptomatik terjadi pada sekitas 5% nsampai 15% wanita hamil. refluks vesikoureteral. Jika tidak diobati akan terjadi pielonefritis pada kira-kira 30% pada wanita hamil. Biakan dan tes sensitivitas urin harus dilakukan di awal kehamilan. Pada septicemia.160 kali/menit atau lebih). langsung masuk ke peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. dan trauma lahir mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK. Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Keadaan ini dinamakan piemia. trutama gonore dan klamidia. disertai peningkatan asupan air dan obat antispasmodic traktus urinarius. otak. pengobatan dengan antibiotic yang sesuai selama dua sampai tiga minggu. jantung. vaginitis.40°C. dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. suhu berkisar antara 39 . obstruksi ureter yang flaksid.

gejala-gejala menjadi seperti piemia. 12 . 3. dan suhu agak meningkat. Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul). Suatu ciri khusus pada piemia ialah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil. penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit. kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Pada piemia. Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. J. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian. pneumonia dan pleuritis. Komplikasi 1. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. dengan resiko terjadinya emboli pulmoner. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru.sampai tujuh hari postpartum. Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) 2. Jika ia hidup terus. perut nyeri. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain.

muntah. d. g. Kaji payudara: eritema. c. jumlah. Kaji tinggi fundus dan sifat. Monitor vital sign. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Khusus dalam 24 jam sekurang-kurangnya 4 kali sehari. catat warna. 2.KONSEP KEPERAWATAN A. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. dan infeksi nasokomial. Hubungkan dengan data post partum. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul adalah 1. sifat episiotomi dan warnanya. jalan lahir. anoreksia.Infeksi perineum (menggunakan senter yang baik). Kaji data pasien dalam ruang bersalin. dan pembatasan medis. Infeksi berhubungan dengan trauma persalinan. Intervensi: a. haruskan mencuci tangan pada pasien dan perawat. b. 13 . jalan lahir. B. Kaji lochia: jenis. terutama suhu setiap 4 jam dan selama kondisi klien kritis. Tujuan 1: mencegah dan mengurangi infeksi. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. f. Lakukan perawatan perineum dan jaga kebersihan. mual. sumbatan dan cairan yang keluar (dari puting). Hubungkan dengan data perubahan post partum masingmasing dan catat apakah klien menyusui dengan ASI. warna dan sifatnya. dan infeksi nasokomial. Catat kecenderungan demam jika lebih dari 38o C pada 2 hari pertama dalam 10 hari post partum. nyeri. Catat jumlah leukosit dan gabungkan dengan data klinik secara lengkap. Perkiraan pinggir epis dan kemungkinan ³perdarahan´ / nyeri. Bersihkan perineum dan ganti alas tempat tidur secara teratur. e.

b. Anjurkan yang banyak protein. Anjurkan istirahat dan tidur secara sempurna. i. j. d. Tujuan Intervensi : : Setelah diberikan askep diharapkan nutrisi klien terpenuhi kriteria hasil : Nafsu makan meningkat. Bantu pasien batuk efektif dan nafas dalam setiap 4 jam untuk melancarkan jalan nafas. l. muntah. dan pembatasan medis. Pemberian analgetika dan antibiotika. ukuran. Tujuan 2: identifikasi tanda dini infeksi dan mengatasi penyebabnya. c. 2. m. Bantu pasien memilih makanan. chloramfenicol atau metronidazol. Intervensi: a. Atur pemberian cairan dan elektrolit secara intravena. nyeri. 14 . frekwensi nafas dan usaha nafas. Atur obat-obatan berikut yang mengindikasikan setelah perkembangan dan test sensitivitas antibiotik seperti penicillin. Bantu dengan ambulasi dini. mual muntah tidak terjadi.h. denyut nadi dan parasthesi/ kelumpuhan. cefoxitin. Hentikan pemberian ASI jika terjadi mastitis supuratif. tetracycline. Menghindari colok vagina pada pertolongan persalinan spontan untuk meminimalisir terjadinya infeksi saluran kemih yang bermanifestasi menyebabkan terjadinya infeksi puerpuralis. k. jangan berikan makanan dan minuman pada pasien yang muntah e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Kaji ekstremitas: warna. Catat perubahan suhu. mual. vitamin C dan zat besi. Pertahankan input dan output yang tepat. Oxitoksin seperti ergonovine atau methyler gonovine. suhu. Anjurkan mengubah posisi tidur secara sering dan teratur. anoreksia. Pertahankan intake dan output serta anjurkan peningkatan pemasukan cairan. gentamisin. Monitor untuk infeksi. Kaji bunyi nafas.

Anjurkan istirahat/ tidur secukupnya d. diharapkan nyeri hilang atau 15 . sup. kriteria hasil :pasien tampak rileks. Kaji lokasi dan ketidaknyamanan atau nyeri b. Berikan cairan atau nutrisi parenteral. c. 3. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein. Berikan preparat zat besi dan/atau vitamin sesuai indikasi. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada organ reproduksi. Tujuan berkurang. Berikan analgetik atau antipiretik. Intervensi : a. b. d. Berikan kompres panas lokal dengan menggunakan lampu pemanas atau rendam duduk sesuai indikasi. f. dan cairan lain. Instruksikan klien dalam melakukan teknik relaksasi c. skala nyeri 0-3. Tingkatkan masukan sedikitnya 2000ml/hari jus. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai kebiasaan berpantang makan tertentu yang diterapkan pada ibu nifas karena adat istiadat. zat besi. : Setelah diberikan askep.a. sesuai indikasi e. bila masukkan oral dibatasi. dan vitamin C.

KESIMPULAN Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia. Manifestasi yang muncul bergantung pada tempat-tempat infeksi. B. vulva.BAB III PENUTUP A. karena infeksi post partum rentan ditemui terutama pada wanita yang mengalami gangguan pada sistem imun. dan Koitus karena ketuban pecah. dengan mengecualikan 24 jam pertama. SARAN Dengan makalah ini penulis berharap. Hal ini dapat disbabkan oleh penyebaran limfogen ogranisme dari tempat laserasi servik atau insisi/ laserasi uterus yang terinfeksi. nic dan noc. 16 . Peristiwa terjadinya infeksi setelah persalinan yaitu dimana sewaktu persalinan. infeksi rumah sakit (hospital infection). Dengan ini dapat mengakibatkan berbagai masalah keperawatan seperti hipertemi dan nyeri. serviks. mahasiswa dapat memahami konsep teori beserta asuhan keperawatan pada infeksi post partum. dan post partum bakteri-bakteri ini akan menginvasi jaringan mati di tempat histerektomi. dan endometrium kemudian bisa menyebar dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena. . Ini disebakan oleh kuman aerob juga kuman anaerob. jalan limfe dan permukaan endometrium. sebagai tim medis harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya infeksi pada post partum. sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. dan untuk intervensi keperawatannya merujuk pada diagnose nanda. Bila menyebar maka manifestasi yang muncul juga dapat memperburuk keadaan penderita. terjadi sesudah melahirkan. dalam rumah sakit. ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan. Kemudian terjadi seluletis para metrium dengan infeksi jaringan ikat fibroareolar retroperitonium panggul. bakteri yang mengkoloni servik dan vagina memperoleh akses ke cairan amnion. droplet infeksion. ada infeksi yang terbatas pada perineum. Infeksi bisa terjadi melalui tangan penderita. vagina.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->