P. 1
72 Renungan tentang Berguru

72 Renungan tentang Berguru

|Views: 584|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Feb 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

72 RENUNGAN TENTANG BERGURU

Oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng triwidodo.wordpress.com

Antara Hati Nurani dan Guru Ruhani Renungan Pertama Tentang Berguru Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan pengingat diri. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai mereka jadikan referensi. Bagi mereka buku-buku adalah Surat Cinta dari Gusti, yang perlu dibaca dan dipelajari berulang-kali. Sang istri: Kita sering membaca pernyataan bahwa untuk mempelajari cara masak-memasak, kita butuh guru. Untuk mempelajari pengetahuan ilmiah kita butuh guru, bahkan seorang guru besar. Untuk mempelajari seni kita butuh mereka yang menguasai seni. Untuk membaca dan menulis di sekolah dasar pun kita memerlukan guru. Bukankah anak-anak yang dibesarkan hewan sejak bayi di hutan tidak bisa membaca dan menulis? Akan tetapi ketika berbicara tentang kesadaran banyak yang ragu, apakah membutuhkan guru juga? Setelah otak berkembang apakah kita juga masih memerlukan seorang guru? Bukankah buku-buku dan artikel di internet sudah tersebar, mudah diperoleh, dan secara otodidak seseorang bisa belajar sendiri? Sang Suami: Pengetahuan bisa dipelajari sendiri, akan tetapi pengetahuan diperoleh untuk menyempurnakan ego, sedangkan kesadaran untuk mengendalikan ego. Ego juga membuat seseorang merasa dirinya sudah mampu belajar sendiri, tidak perlu belajar dari orang lain? Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Kita juga bisa memperoleh panduan lewat kitab-kitab suci, ceramah-ceramah para suci dan lain sebagainya. Kendati demikian, kehadiran seorang Guru Pribadi dalam hidup tak tertandingi oleh panduan lain jenis mana pun jua. Kitab-kitab suci pun menjadi lebih bermakna, ketika seorang Guru menjelaskan kepada kita bukan secara lisan, tetapi lewat tindakan nyata, perbuatan, dan kehidupannya sendiri. Ya, kehidupan seorang Guru merupakan tafsir yang paling jelas terhadap ajaran-ajaran suci tersebut…….. Sang Istri: Suamiku, sebagian besar orang mengatakan bahwa mereka mempunyai hati nurani, dan mereka merasa bisa berkonsultasi dan mendengarkan suara hati nurani, guru yang sudah built in di dalam diri. Alam yang serba terbatas ini hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”, proyeksi dari Ia yang meliputi Segalanya. Oleh karena itu Guru yang berada di dalam diri dan Guru yang ada di luar diri adalah proyeksi “Sang Aku” yang berkenan memandu kita. Sang Suami: Istriku, memang ada beberapa orang yang berkata: kita dapat mengetahui bajik dan jahat, benar dan salah, asli dan palsu, dengan berkonsultasi hati nurani kita. Mereka bilang tidak membutuhkan guru di luar diri……. Bagaimana pun harus diingat bahwa hati nurani tidak akan membantu perbaikan pemahaman kecuali hati nurani tersebut telah mencapai tingkat pemurnian yang tinggi. Tingkat kesadaran kita akan mempengaruhi “suara hati nurani” kita. Mind kita yang belum jernih akan mempengaruhi “suara hati nurani”. Hati nurani memang tempat Gusti bersemayam, tetapi suara yang terdengar oleh kita akan dipengaruhi oleh “semrawut”-nya mind kita.

“Hati nurani yang belum murni” tidak dapat memberikan saran yang tepat. Seseorang yang masih belum dapat mengendalikan insting hewani sulit mendengarkan suara hati nurani yang membawanya kepada kesadaran. Keyakinan intelektual sangat dipengaruhi oleh pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Intelektualitas, dalam banyak kasus hanya sebagai alat hanya bagi naluri dan keinginan terpendam. Kesadaran seseorang berbicara sesuai dengan kecenderungan, pendidikan, kebiasaan, nafsu dan masyarakat lingkungannya. Sang Istri: Suamiku, saya ingat tulisan seorang bijak yang menyatakan bahwa hanya ada dua cara untuk menggapai Gusti. Pertama membesarkan diri, sehingga dapat merangkul Gusti. Atau, kedua memperkecil diri sehingga larut di dalam Gusti. Sang Suami: Mereka yang memakai cara pertama berketetapan, lebih baik aku menggali diri, mencari jati-diri, untuk apa mencari Tuhan segala? Bukankah telah dikatakan bahwa ia yang menemukan dirinya telah menemukan Tuhan-Nya? Ini yang disebut The Way of Gyaana, Jalur Pengetahuan, jalur yang banyak menggunakan otak dan reasoning. Seorang intelektual tersebut harus mengikis ego dan keangkuhannya lewat diskriminasi dan instropeksi diri. Itulah tuntutan Gyana…….. Diskriminasi antara Preya dengan Shreya, antara yang menyenangkan indra dan pikiran dengan yang memuliakan serta meditasi. Sang Istri: Konon inilah jalur Arjuna….. untuk apa menyembah? Siapa yang patut kusembah? Krishna hanyalah seorang sahabat. Ia pun sama seperti diriku. Ia pun berdarah dan berdaging. Untuk apa berserah diri segala…….. Tetapi akhirnya Arjuna membenturkan kepalanya dengan tembok ego, dan akhirnya ia pun menundukkan kepalanya, “Katakan Krishna, katakan apa yang harus kulakukan….” Namun bila seorang Arjuna belum juga terbentur kepalanya, ia akan tetap mengagung-agungkan jalurnya dan menganggap jalur itu sebagai satu-satunya jalur yang dapat mengantar dia kepada-Nya. Sang Suami: Benar istriku, dalam tulisan bijak tersebut juga disampaikan……… jalur kedua adalah Jalur Pengabdian, The Way of Devotion – Bhakti Maarg. Penyerahan diri. Mereka yang berada pada jalur kedua memahami betul hal itu, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun yang dikatakan oleh para Arjuna. Mereka adalah para Gopi, para Gopal, yang mabuk cinta. Para leluhur menyebut mereka sebagai Cantrik yang berarti orang yang selalu “mengikuti” Guru. Sang Istri: Tetapi nampaknya banyak juga yang telah berguru bertahun-tahun tetapi belum nampak adanya rasa kepasrahan, atau manembah dalam diri mereka. Ego mereka hanya memilih dan mengambil apa yang di rasa baik dari seorang Guru. Mereka masih manembah pada egonya. Di situlah titik kritisnya, karena mereka lebih mempercayai ego mereka sendiri. Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” hal tersebut mendapat penjelasan sebagai berikut…….. Panembahan berarti penyerahan diri. Umumnya kita belum siap

untuk berserah diri sepenuhnya. Kunjungan kita ke padepokan seorang guru untuk belajar sesuatu tidak serta merta menjadikan kita seorang panembah. “Sekedar berguru” seperti itu bukanlah panembahan. Mereka yang belum siap untuk berguru, dan menjadi panembah dalam arti kata sesungguhnya, menciptakan daftar pajang bagi seorang guru, apa yang boleh dilakukannya, dan apa yang tidak boleh. Kita tidak membutuhkan seorang Guru, kita membutuhkan seorang “pengajar” biasa yang mesti mengikuti kehendak kita……… Sang istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan……… Para resi memberi ciri-ciri para Sadguru, Guru yang benar. Mereka telah mengatasi tiga macam keinginan yakni: keinginan untuk memperoleh keturunan, kekayaan, dan ketenaran. Beliau ibarat aliran sungai yang melenyapkan rasa haus setiap Panembah. Beliau tidak pilih kasih. Beliau tidak terikat pada suatu tempat atau tepi. Beliau mengalir terus menuju samudera kebebasan. Bagi kita yang kadang masih bingung, Apa mungkin mengasihi tanpa keterikatan? Maka, analogi tentang sungai tersebut tepat sekali. Aliran sungai mengasihi setiap orang. Ia melayani setiap orang. Pun ia melewati sekian banyak kampung, desa, dan kota. Namun ia tidak terikat pada sesuatu apa pun jua. Ia mengalir terus menerus menuju tujuannya. Seperti itulah kasih tanpa keterikatan. Itulah cinta tanpa syarat, cinta tanpa batas. Para suci seperti menjalani hidup mereka tanpa keterikatan. Mereka mengasihi setiap orang yang mereka lewati tanpa keterikatan. Persis seperti sungai yang memberi kehidupan dalam perjalannya menuju samudera……… Sang Suami: “Kehadiran seorang Guru” dalam hidup memudahkan perjalanan hidup. Ia adalah seorang pemandu yang pernah mengalami apa yang sedang kita alami saat ini. Sungguh sulit mencapai kesadaran diri tanpa seorang pemandu. Ia memudahkan pencarian kita. Aneh, untuk segala sesuatu yang bersifat kebendaan, kita tidak segan-segan minta bantuan dari orang lain. Tapi, untuk perjalanan ruhani kita menolak kehadiran seorang guru. Kita pikir bisa menempuh tanpa pemandu. Sesungguhnya bukanlah sekedar bantuan atau pemandu sembarang yang dibutuhkan dalam perjalanan ruhani. Kita membutuhkan seorang guru yang sudah melewati setiap perjalanan hidup. Sehingga ia memahami kesulitan-kesulitan yang sedang kita hadapi, dan dapat menawarkan jalan keluar. Seorang guru memandu setiap langkah kita hingga mencapai tujuan kita dengan selamat. Memang kita mesti berjalan sendiri. Ia tidak bisa berjalan untuk kita. Tapi, panduan yang diberikannya sungguh sangat bermanfaat…….. Demikian telah disampaikan hal tersebut dalam buku “Shri Sai Satcharita”. Sang Istri: Benar suamiku, saya juga membaca buku tersebut yang menyampaikan bahwa……… Perjalanan panjang menuju sumber memang penuh tantangan, kebuasan nafsu, keliaran panca indera, keterikatan pikiran, ketidakseimbangan rasa, semuanya itu sangat mengganggu. Maka, pikiran manusia memang mesti dialihkan dari segala sesuatu yang tidak menunjang evolusinya, kepada sesuatu yang menunjangnya. Untuk itu, kita membutuhkan seorang pemandu, seorang yang tahu persis tentang tantangan-tantangan dalam perjalanan. Guru adalah pemandu itu.

Alangkah beruntungnya mereka yang memperoleh seorang guru! Apa yang mesti dipikirkan lagi? Apa yang mesti diragukan? Hendaknya mereka tidak bimbang, dan berserah diri kepadanya. Mengikuti petunjuknya, menuruti nasihatnya. Hendaknya mereka tidak bermalas-malasan. Mereka harus menggunakan seluruh tenaga untuk melanjutkan perjalanan bersama Sang Guru. Sungguh sangat beruntungnya mereka sehingga bertemu dengan Ia yang telah tercerahkan, terjaga, dan mengetahui setiap kelemahan dan kekurangan mereka, sehingga dapat menunjukkannya kepada mereka. Selanjutnya, tentu mereka sendiri yang mesti memperbaikinya………. Sang Suami: Istriku, aku terkesan dengan buku “Shri Sai Satcharita” yang berisi cerita tentang Berguru. Menurut saya buku tersebut pantas untuk dimiliki setiap pejalan spiritual sebagai pengingat diri di setiap waktu. Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa……. Jiwa manusia ibarat burung di dalam sangkar. Ia tidak sadar bila dirinya terperangkap. Ia puas dengan keadaan di dalam sangkar. Badan, pikiran, dan perasaan kita itulah sangkar jiwa, sangkar kita. Adalah orang Sadguru yang membuat kita sadar akan keadaan kita. Kehadiran seorang Guru dalam hidup adalah berkah Allah. Dengan berkah itu pula, kemudian mata batin kita terbuka. Dan, kita menyadari keadaan kita yang sesungguhnya. Setelah itu, kita baru berupaya untuk membebaskan diri dari sangkar. Nah, soal upaya hal tersebut sepenuhnya tergantung pada diri kita. Tidak seorang pun dapat berupaya untuk kita. Kita mesti berupaya sendiri. Sadguru menunjukkan jalan, selanjutnya kita mesti berjalan sendiri. Seorang pemandu bisa mendampingi kita, tapi kita tetaplah mesti berjalan sendiri. Para panembah dalam kisah-kisah ini memahami betul hal itu. Maka, kehadiran Guru di dalam hidup membuat mereka menjadi lebih dinamis. Bukan bermalas-malasan…… Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Guru Sebagai Jembatan Antara Manusia dan Gusti, Renungan Kedua Tentang Berguru Sepasang suami istri setengah baya sedang belajar bagaimana cara berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pemahaman pengetahuan menjadi tidak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Buku tidak dibaca tetapi dipelajari. Paathi-to learn, sebuah proses seumur hidup dari lahir sampai mati. Sang Istri: Semua orang bijak, para suci, para guru dunia telah berguru sebelumnya. Bahkan Sri Rama dan Sri Krishna pun patuh pada Guru mereka. Mereka bukan hanya mencari Guru untuk menambah ilmu seperti yang terjadi di pendidikan formal. Mereka membuka diri, pasrah, manembah terhadap Sang Guru. Mereka tidak menganggap diri mereka sudah bijak dan tidak menganggap bahwa Guru diperlukan hanya untuk melengkapi pengetahuan mereka. Mereka “bisa rumangsa ora rumangsa bisa”, mereka bisa menyadari diri, bukan merasa diri sudah bisa. Sang Suami: Berbicara tentang kesadaran, maka hal yang utama adalah pengendalian pikiran. Selama ego masih ada, maka pikiran lah yang menjadi penguasa diri. dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan………. Inilah satu-satunya cara untuk menafikan ego. Tidak ada cara lain. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku! Sang Istri: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan…….. Penyerahan diri secara total oleh seorang murid sama sekali bukan untuk kepentingan Guru, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Melepaskan keangkuhan, keangkuhan, keakuan, ego dan tidak ge-er karena “baru sekadar tahu” adalah demi kebaikan sebagai calon murid. Hubungan antara guru dan siswa, antara murshid dan murid sungguh sangat aneh. Tiada kata untuk menjelaskannya. Tidak ada hubungan darah antara mereka. Tidak ada hubungan daging antara mereka. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk saling berhubungan. Tidak ada tuntutan dari tradisi, budya, agama. Hubungan di antara murshid dan murid sepenuhnya karena “kesadaran”. Hanya dilandasi kesadaran………

Sang Suami: Yang perlu diperhatikan adalah Guru tidak sekedar memberi wejangan, akan tetapi telah mempraktekkan apa yang disampaikannya. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa………. Aachaarya sering diterjemahkan sebagai Guru. Yang dimaksud bukan guru biasa, bukan guru sekolah. Aachaarya adalah seorang Guru-Praktisi. Dari suku kata Aachar atau perilaku, perbuatan, aachaarya berarti seorang yang mempraktekkan apa yang diajarkannya. Seorang guru sekolah “tidak perlu” mempraktekkan apa yang diajarkannya. Sesuka dia. Mau dipraktekkan, oke. Tidak mau pun oke. Sang Istri: Berguru memang tidak sama dengan belajar pada pendidikan formal. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru” disampaikan…….. Berguru tidak sama dengan belajar. Untuk berguru, kepala harus ditundukkan. Untuk berguru, ego harus dinafikan. Tidak perlu ada hubungan batin antara seorang pelajar dan pengajar. Sebaliknya, antara seorang siswa dan guru, yang ada hanyalah hubungan batin. Berguru berarti membuka batin menjalin hubungan batin. Sang Suami: Jika memutuskan untuk berguru, bergurulah pada seseorang yang kita percayai 100%. Janganlah berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Kita harus berguru karena kepercayaan kita. Keputusan untuk berguru harus datang dari diri kita sendiri, kita boleh ada pertimbangan dari luar yang mempengaruhi keputusan kita. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Kita yang mempertimbangkan dan memutuskan. Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya kita berguru pada “jumlah”, pada “kuantitas” tidak pada Guru. Kita tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga…….. Demikian disampaikan dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”. Sang Istri: Suamiku, nampaknya Guru memang berkaitan erat dengan Gusti atau Tuhan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Hanyalah ada dua aspek Brahman atau Tuhan yang dapat dipahami manusia. Pertama, aspek Nirguna, atau abstrak, gaib, tidak bermanifestasi, tanpa wujud. Dan, dua adalah aspekSaguna, nyata, bermanifestasi, berwujud. Kedua-duanya adalah aspek Brahman atau Tuhan yang sama. Kemudian, ada yang merasa lebih dekat dengan aspekNirguna, ada pula yang merasa lebih mudah menyadari kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Sang Suami: Benar istriku ada kaitan erat antara Gusti dan Sadguru. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut juga disampaikan…….. Sebagaimana dijelaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Geeta, adalah lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan lewat aspek Saguna. Karena, manusia sendiri memiliki aspek yang sama,Saguna. Manusia pun nyata, bermanifestasi, atau berwujud. Ada pula yang menggunakan aspek Saguna sebagai batu loncatan. Setelah mencapai tahap tertentu, ia beralih ke aspek Nirguna lewat meditasi dan latihan-latihan lain sebagainya……. Bagi para

panembah yang yakin, seorang Sadguru adalah aspek Saguna dariBrahman. Mereka menggunakan wujud Sadguru untuk mencapai Nirguna Brahman, Tuhan yang Tak Berwujud. Pun demikian dengan kita yang percaya kepada seseorang sebagai Sadguru. Adalah sangat mudah untuk mengembangkan kasih tanpa syarat lewat bakti kepada Sadguru……… Sang Istri: Yang harus diperhatikan adalah bahwa semuanya hanya dapat terjadi karena rahmat Gusti. Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan bahwa…… Seorang guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya. Sang Suami: Sebelum kita melanjutkan pembicaraan, ada baiknya kita memahami istilah dan konsep-konsep yang sangat terkait dengan budaya asal Nusantara, yang saat ini sudah hampir terlupakan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan tentang istilah manembah……….. Terpengaruh oleh budaya asing yang selalu memisahkan materi dan spiritual, seolah keduanya adalah dua entitas yang berbeda, maka kita pun menciptakan kaidah-kaidah tentang apa dan siapa saja yang boleh disembah. Padahal di dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan. Leluhur kita juga menghormati segala sesuatu di dalam alam ini, pepohonan bebatuan, bukit, gunung, kali, sungai, laut, semuanya. Maka tidaklah heran bila kita juga bersungkem pada seorang guru spiritual yang tidak hanya kita hormati, tapi kita anggap sebagai berkah dari Hyang Widhi, dari Hyang menentukan Segalanya……… Sang Istri: Benar suamiku, konsep para leluhur kita tidak berbeda dengan konsep para sufi dan para pencinta yang sangat menghormati mereka yang tengah meningkatkan kesadaran diri mereka. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti terhadap seorang guru semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk. Sang Suami: Saya jadi ingat buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia” yang menyampaikan bahwa……… Guru adalah jembatan antara manusia dan Tuhan.

Dalam diri Guru, kemanusiaan dan ketuhanan – dua-duanya tampak jelas. Jembatan yang selalu ada, tidak pernah tidak ada. Berbahagialah dia yang telah menemukan jembatannya………. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Percaya Penuh Pada Guru Renungan Ketiga Tentang Berguru Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak menghilangkan esensi. Sang Istri: Suamiku, saya pernah membaca Guru-Bhakti Yoga yang ditulis oleh Swami Sivananda. Guru-Bhakti Yoga dilakukan dengan cara penyerahan total dari diri kepada Sadguru, di antaranya dengan hasrat yang kuat untuk melakoni Guru-Bhakti Yoga; keyakinan mutlak pada pikiran, ucapan dan tindakan Guru; melakukan penghormatan dengan rendah hati dan mengulang-ulang nama Guru; kepatuhan sempurna untuk melaksanakan instruksi Guru; melayani Guru tanpa pamrih…… Mereka yang percaya kepada Utusan Ilahi, Pembawa Pesan Suci telah melaksanakan itu, walaupun para “Guru” tersebut sudah wafat ribuan tahun yang lalu. Swami Sivananda berbicara mengenai penyerahan total pada Guru yang masih hidup. Sang Suami: Untuk memahami Guru-Bhakti Yoga kita perlu membuka khazanah leluhur tentang manembah. Para leluhur kita menembah kepada mereka yang dianggap sebagai utusan Gusti yang membimbing mereka seperti orang tua dan guru spiritual. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa………. Terpengaruh oleh budaya asing yang selalu memisahkan materi dan spiritual, seolah keduanya adalah dua entitas yang berbeda, maka kita pun menciptakan kaidah-kaidah tentang apa dan siapa saja yang boleh disembah. Padahal di dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan. Maka tidaklah heran bila kita juga bersungkem pada seorang guru spiritual yang tidak hanya kita hormati, tapi kita anggap sebagai berkah dari Hyang Widhi, dari Hyang menentukan Segalanya……… Dalam buku “Shri Sai Satcharita”tersebut juga disampaikan 3 hal yang perlu dipersembahkan kepada Guru……. Pertama, adalah tidak cukup bila seseorang panembah hanya menghaturkan sembah sujud kepada seorang Sadguru yang memiliki pengetahuan sejati. Ia mesti berserah diri sepenuhnya.Kedua, sekedar bertanya kepada Guru tidak cukup. Seorang panembah mesti bertanya dengan tujuan dan niat yang jelas. Adapun tujuan seorang panembah adalah pengembangan batin dan kebebasan mutlak. Ia tidak bertanya untuk sekedar mencari tahu, menjebak, atau mencari kesalahan dari jawaban seorang Guru. Ketiga,seva bukanlah sekedar “melayani”. Seorang pelayan masih memiliki kebebasan untuk melayani atau tidak melayani. Seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya, maka raga dia bukanlah milik dia lagi. Raga dia adalah milik Sang Guru. Raga itu ada hanyalah untuk melayani Sang Guru. Jika sudah berkesadaran seperti itu, maka pastilah dia memperoleh pengetahuan sejati dari Sadguru…… Sang Istri: Penyerahan diri secara total oleh seorang murid sama sekali bukan untuk

kepentingan Guru, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Melepaskan keangkuhan, keangkuhan, keakuan, ego dan tidak ge-er karena “baru sekadar tahu” adalah demi kebaikan sebagai calon murid……… Demikian disampaikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”. Sang Suami: Di dunia ini tidak ada hal yang bersifat kebetulan. Apabila seseorang telah “siap”, maka Guru Pemandu sebagai berkah Gusti bagi orang tersebut, akan tergerak ingin bertemu untuk membimbingnya. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan………. Pertemuan fisik antara Murshid dan Murid, antara Guru dan Siswa selalu terjadi setelah pertemuan jiwa mereka, batin mereka. Jauh-jauh hari sebelum fisik dengan Sang Guru, batin seorang siswa sudah pasti bertemu dengannya. Pertemuan semacam itu hampir selalu terjadi atas keinginan Guru. Bila seorang siswa merindukan pertemuan seperti itu, saat bertemu fisik tidak ragu lagi. Tidak ada kebimbangan lagi. Kepasrahan pun terjadi tanpa diupayakan……. Sang Istri: Ya suamiku, ketidakbimbangan dan kepasrahan berkaitan erat dengan rasa. Para leluhur kita lebih mengedepankan rasa. Rasa lebih spiritual dibandingkan pikiran yang hanya menghitung untung rugi kebendaan. Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki” disampaikan………. Rasa dapat mengendalikan pikiran, mind. Rasa itu irrasional, tidak ada logikanya. Jangan mencari logikanya. Seorang raja dapat meninggalkan takhtanya karena cinta, mana logikanya? Ajaran-ajaran agama berperan pada lapisan ini. Diajarkan cinta terhadap Tuhan, dianjurkan penyerahan total terhadap Kehendak Allah. Semuanya itu, untuk mengembangkan rasa, sehingga pikiran dapat terkendalikan. Namun selama ini apa yang terjadi masih jauh dari harapan para pendiri agama. Para tokoh agama masa kini begitu mementingkan akal dan pikiran, sehingga rasa tidak pernah berkembang. Itu sebabnya, penyerahan diri kita tidak pernah total. Pikiran pun tidak terkendali bahkan melahirkan fanatisme, yang masih merupakan hasil mind….. Sang Suami: Akal pikiran tidak mau tunduk pada orang lain tanpa mendapatkan keuntungan baginya.Akal pikiran selalu merasa benar, “rumangsa bisa ora bisa rumangsa”, sudah sifat akal pikiran merasa bisa tetapi tidak bisa merasa atau menyadari keterbatasannya……… Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan……. Seorang Nabi, seorang Avatar, seorang Mesias, seorang Buddha tidak akan menjalin hubungan dagang dengan Tuhan, dengan Allah, dengan Keberadaan. Dia berserah diri sepenuhnya, “Bukan kehendakku, Ya Allah, tetapi terjadilah Kehendak-Mu!”Seorang Nabi sedang bicara dengan kerumunan. Ada juga doa-doa berbau “dagang” yang mereka ajarkan. Doa-doa semacam itu diperuntukkan bagi mereka yang masih berjiwa dagang, bukan bagi para “sahabat”. Pilihan ada di tangan kita, mau mempertahankan jiwa dagang atau mau bersahabat dengan nabi. Bila mau bersahabat dengan nabi, kita harus pasrah. Harus menerima Kehendak Ilahi. Jangan mengeluh, jangan menyangsikan kebijakan-Nya…….. Sang Istri: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan

ciri-ciri seorang bhakta atau panembah……. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu. Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup….. la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; ikhlas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya. Pasang-surut dalam kehidupan seorang panembah tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan………. Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” tersebut juga disampaikan bahwa…….. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi “Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah!” Seorang panembah selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya……… “Jadilah seorang Bhakta, seorang panembah” demikian ajakan Sri Krishna kepada Arjuna, di tengah medan perang Kurukshetra. Tentunya, ia tidak bermaksud Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di kolong jembatan. Atau, berjapa, berzikir pada Hyang Maha Kuasa, ber-keertan, menyanyikan lagu-lagu pujian. Tidak. Krishna mengharapkan Arjuna tetap berada di Kurukshetra, dan mewujudkan Bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan. Ingatlah pesan Sri Krishna kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi. Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!” Seorang panembah adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah…….. Sang Istri: Suamiku, alam ini bagaikan seorang ibu. Begitu seseorang berserah diri, ia akan melindunginya, memeliharanya. Seseorang berserah diri sepenuhnya, dan oleh karena itu Keberadaan selalu melindunginya. Tetapi tidak berarti bahwa ia akan menjadi malas. Ia tetap bekerja. Ia bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sesungguhnya ia tidak perlu mengharapkan suatu apapun. Alam melindungi dia dan mencukup segala kebutuhannya. Dalam buku “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi” disampaikan……… Sementara ini, penyerahan diri kita belum total, belum sempurna, belum “terjadi”. Kita “pikir” sudah berserah diri, padahal belum apa-apa; baru “berserah diri” dalam pikiran, dan pikiran

tidak bisa dipegang. Pikiran tidak memiliki bobot. Berserah diri dalam pikiran sama sekali tidak bermakna, tidak berarti. Penyerahan diri harus “terjadi”. “Terjadi” karena sadar akan Kasih dan Rakhmat Allah. Terjadi karena cinta…….. Sang Suami: Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” disampaikan…….. Dunia benda dan dunia spiritual tidak bisa dipisahkan. Materi dan energi tidak dapat dipisahkan. Bulan dan rembulan takterpisahkan. Semuanya ini hanyalah permainan kesadaran. Kesadaran kita sedang naik-turun, dan hal itu sangat alami. Kadang kita berada pada tingkat teratas kesadaran murni, kadang kita berada pada tingkat terbawah kesadaran duniawi. Berada pada tingkat kesadaran terendah pun, sebenarnya kita dapat mewarnai hidup kita dengan spiritualitas. Berserah diri sepenuhnya, total surrender, itulah kuncinya. Kunci yang satu ini mampu membuka setiap pintu. Kunci yang satu ini dapat meningkatkan kesadaran. Apabila kita memiliki kunci “Total Surrender”, berbahagialah, kita tidak jauh dari Tuhan! Sang Istri: Saya ingat pada buku “Tantra Yoga” yang menyampaikan bahwa……… Seorang siswa harus percaya penuh pada Gurunya. Hendaknya dia tidak bimbang, tidak ragu-ragu…….. Sang Suami: Bagi mereka yang percaya pada Guru, Guru adalah Kereta Api yang membawa ke tujuan, maka mereka segera bergegas naik kereta, bila tidak demikian mereka hanya sekedar mundar-mandir dan berdebat dengan pikiran dan tetap berada di peron stasiun saja. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Guru Menurunkan Tingkat Kesadaran Agar Dapat Berkomunikasi Dengan Murid Renungan Keempat Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri agar esensi dari buku-buku tersebut dapat mereka resapi. Sang Suami: Istriku, dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan bahwa……. Jenderal Douglas MacArthur pernah berkata, orang menjadi tua karena meninggalkan idealnya atau tidak lagi berupaya untuk mencapainya. Usia hanyalah meyebabkan keriput pada kulit, tanpa daya tarik atau kehendak yang kuat jiwamu berkeriput. Kau adalah semuda imanmu, dan setua keraguanmu; semuda rasa percaya dirimu, dan setua rasa takutmu; semuda harapanmu, dan setua keputusasaanmu. Di tengah setiap hati atau jiwa atau psike, adalah ruang perekam atau arsip. Selama ia menerima pesan-pesan nan indah, penuh harapan, keceriaan, dan semangat, selama itu pula kau masih berusia muda. Ketika hati atau jiwa atau psikismu tertutup oleh salju pesimisme dan sinisisme, maka saat itulah kau menjadi tua. Kemudian, seperti kata para penyair, kau melentur dan lenyap…… Kini Orang Tua dan Teman-Teman telah memberkahi kita bahwa jiwa kita akan selalu muda, maka mulai saat ini kita tidak akan membahasakan diri kita sebagai orang tua setengah baya lagi. Dulu berpegang kultur Jawa, kita memanggil mereka yang lebih muda dari kita sebagai Mas dan Mbak, panggilan anak kita terhadap mereka. Mulai saat ini kita akan lebih sering memanggil mereka Boss, agar jiwa kita tetap muda. Semoga Teman-Teman kita, semoga Boss-Boss maklum…… Sang Istri: Seorang guru TK harus menurunkan tingkat kemampuan ilmiahnya untuk secara sederhana mengajari murid-muridnya. Tetapi walau berkomunikasi dengan anak didiknya menggunakan bahasa kanak-kanak, sang guru tidak melupakan tingkat kemampuan intelektualnya. Begitu ke luar dari ruang belajar murid-muridnya, sang guru kembali menjadi seseorang dengan tingkat intelektual yang sebenarnya…….. Seorang pilot pesawat di angkasa juga harus menurunkan pesawatnya di bandara untuk menjemput penumpang yang akan dibawanya terbang ke angkasa. Sang Suami: Demikian pula dengan seorang Satguru. Dia harus menurunkan tingkat kesadarannya agar dapat berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran para muridnya. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Seorang Satguru tidak pernah menempatkan diri di atas panggung yang sangat tinggi, sehingga kita tidak dapat menggapai Beliau. Dengan menunjukkan sisi kemanusiannya, Sang Guru Sejati hendak meyakinkan kita, Lihat, aku pun manusia biasa seperti dirimu. Jika, aku bisa mengalami peningkatan kesadaran, penjernihan pikiran, dan pemurnian rasa, maka, kau pun bisa. Pasti!………

Sang Istri: Seorang Satguru telah menemukan Jati Diri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Jati Diri sesungguhnya adalah Kesadaran Murni. Kesadaran yang utuh, tidak terbagi. Kesadaran yang satu adanya. Kesadaran yang bercahaya, karena cahaya itu merupakan sifatnya. Cahaya yang tidak mengenal perpisahan dan perbedaan. Turun sedikit dari Tingkat Kesadaran Murni, kita akan melihat perpisahan, pembagian dan perbedaan. Setinggi-tingginya kesadaran kita, jika masih satu anak tangga saja di bawah Kesadaran Murni, kita masih berada pada tingkat kesadaran rendah. Apa yang kita anggap Superconsciousness atau Kesadaran Supra, Kesadaran Tinggi, masih satu anak tangga di bawah Kesadaran Murni. Karena itu, berada pada tingkat Kesadaran Supra pun, kita masih akan melihat perbedaan……… Sang Suami: Untuk menulis buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” ini pun Shri Shankara harus menurunkan kesadarannya. Dalam buku tersebut disampaikan…….. Berada pada tingkat Kesadaran Murni, dia tidak akan bisa menulis sesuatu. Bagaimana bisa menulis, kalau berpikir pun tidak bisa. Pada tingkat Kesadaran Murni, pikiran, rasa, semuanya terlampaui. Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda……… Kendati seorang avatar, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan para avatar dari kita. Kita pun sering mengalami peningkatan kesadaran sesaat. Dalam alam meditasi, kita pun sering mencapai tingkat Kesadaran Murni, tetapi hanya untuk sesaat saja. Lagi-lagi kita “jatuh” kembali. Sengaja penulis buku menggunakan istilah “jatuh”, karena memang itu yang terjadi. Setiap orang yang pernah mencapai tingkat Kesadaran Murni tahu persis bahwa tidak ada yang lebih “nikmat” dari pengalaman itu. Pada saat itu, gelombang kelahiran dan kematian tidak eksis lagi. Kita menyatu dengan Samudra Kehidupan. Sayang, hanya untuk sesaat dan jatuh kembali. Lalu kita berupaya keras untuk mendapatkan pengalaman yang sama. Tetapi tidak berhasil……. Sang istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan……… Para avatar, para mesias, para buddha tidak “jatuh seperti kita. Mereka “turun” dengan penuh kesadaran. Karena itu, wajah mereka berkilau cemerlang. Karena itu, berada dekat seorang avatar saja sudah cukup. Kita akan ketularan virus kesadaran. Virus kesadaran yang ditularkan oleh seorang avatar ibarat benih yang ia tanam dalam jiwa kita. Kita masih

harus menyiram dan memupukinya. Jika tidak, biji itu tidak akan tumbuh sehat. Kita harus mempersiapkan lahan diri, sehingga biji kesadaran bisa tumbuh subur……… Sang Suami: Ada yang berpendapat bahwa mind manusia sudah sedemikian maju, maka sudah tidak ada avatar yang perlu turun lagi. Terhadap pandangan demikian, buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”memberi penjelasan……… Para mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini disebut penulis buku sebagai proses kebuddhaan. Ciri-ciri calon buddha. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang…..Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan……… Istriku, kita perlu merenungkan, apakah manusia sudah memenuhi ciri-ciri kedewasaan tersebut? Sang Istri: Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan……….. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut avatar, atau mesias, atau Buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Menguasai kelima-limanya tidak berarti tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer……….. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……… Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-”Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna…….. Sang Istri: Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”

disampaikan…….. Para avatar, para mesias dan para Buddha menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas pada jaman mereka. Tujuan mereka hanyalah satu: keselamatan kita, kesadaran kita, pencerahan kita. Apabila bahasa “kesadaran” belum bisa dipahami, mereka akan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Mereka akan bicara tentang para bidadari di sorga dan penyiksaan dalam api di neraka. Bahasa itu digunakan demi kebaikan kita pula. Setelah terjadinya proses pematangan dan pendewasaan diri, hendaknya kita bisa melihat “kebenaran” di balik kata-kata kias itu. Hendaknya kita menjadi bijak, baik, karena kesadaran itu sendiri, bukan karena harapan sorga atau rasa takut akan penyiksaan di neraka…….. Sang Suami: Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” juga disampaikan perihal avatar dalam bahasa sufi, “zat” dan “sifat”……….. Seperti sebab dan akibat, sesungguhnya sifat berasal dari zat. Kemudian, sebagaimana akibat bisa menjadi sebab dan menghasilkan akibat baru. begitu pula sifat bisa menjadi zat dan menghasilkan sifat baru. Demikian yang terjadi terus-menerus. Tetapi, untuk memahaminya dibutuhkan pencerahan diri. Untuk melihatnya, dibutuhkan mata batin yang terang. Rahasia yang terungkapkan bukanlah rahasia lagi. Rahasia yang satu ini pun tidak pernah terungkapkan. Zat menjadi sifat, sifat menjadi zat, atau sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab lagi – apa maksud Rumi? Apa maksud Mansur, Hamzah Fansuri, Sarmad, ketika mereka menyatakan diri sebagai Haq? Apa maksud Yesus ketika ia menyatakan dirinya “satu” dengan Allah? Apa maksud Muhammad, ketika dia pun mengatakan bahwa dirinya adalah Ahmad tanpa “mim”? Sifat yang sedang dalam “proses” menjadi zat kita sebut wali, atau santo, atau pujangga. Lalu, jika Zat turun kembali dan ber-“sifat” lagi, ia disebut Avatar, Mesias, Buddha………. Sang Isteri: Semoga kita sadar bahwa seorang Guru telah menurunkan tingkat kesadarannya untuk berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran kita semua. Semoga kita semua dapat memperbaiki bagaimana etika berguru……. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Antara Jalan Dan Tujuan Renungan Kelima Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Suamiku, kita mulai olah rasa kali ini dengan buku “Shri Sai Satcharita” yang menyampaikan bahwa……… Semua guru, dan semua orang suci, semua nabi, dan semua avatar, semua mesias, dan semua Buddha patut dihormati, dan diyakini sebagai percikan dari sumber cahaya yang sama. Esensi ajaran mereka sama. Pesan mereka sama……… Kendati demikian, ada kalanya mereka beda dalam hal penyampaian, ataupun metode. Setiap jalan memang menuju satu tujuan. Kita boleh mengapresiasi setiap jalan, tapi mesti memilih salah satu untuk di “jalani”. Tidak bisa memilih setiap jalan secara bersamaan dan menjalaninya semua pada saat yang sama. Pun tidak perlu bergantian jalan. Setiap panembah yang percaya bila tujuan dari setiap jalan adalah satu dan sama, tidak pernah berpikir pun untuk “pindah jalan”. Sang Suami: Benar istriku, kita pernah membicarakan bahwa Guru adalah jembatan antara manusia dan Tuhan. Dalam diri Guru, kemanusiaan dan ketuhanan – dua-duanya tampak jelas. Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Seorang Sadguru sebagai pemandu pribadi mengetahui persis kelemahan, kekurangan, dan kesulitan yang dapat kita hadapi dalam perjalanan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa…….. Para suci ibarat orang tua. Banyak para suci, dan banyak orang tua di dunia semuanya patut dihormati. Kendati demikian, orang tua kita adalah orang tua kita. Guru yang kita yakini sebagai guru pribadi, dialah Sadguru kita. Semuanya menyampaikan hal yang baik. Tetapi Guru kita menyampaikan sesuatu yang tepat bagi kita. Sebab itu, penyerahan diri hendaknya kepada seorang guru yang sepenuhnya kita terima, dan percayai, yakini. Cintailah Guru yang telah kaupilih itu dengan sepenuh hatimu…….. Sang Istri: Suamiku, saya ingat buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” yang membicarakan antara jalan dan tujuan dengan tamsil rakit dan pantai……… Jangan salah tanggap rakit sebagai pantai. Sang Penulis buku tidak mengatakan bahwa rakit itu tidak perlu. Setiap orang memerlukan rakit untuk mencapai pantai. Setiap orang tetap memerlukannya untuk menemukan pantai, untuk menyeberangi lautan kehidupan, melampaui dualitas kelahiran dan kematian. Semua orang akan tetap memerlukan rakit, mereka akan selalu membutuhkannya. Tak pernah terjadi dalam sejarah bahwa rakit tidak diperlukan. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa rakit itu tidak perlu. Semua orang tidak bisa mengabaikannya. Mungkin seseorang sudah menyeberangi lautan kehidupan, namun jangan sekali-kali mengabaikan kegunaannya. Tanpa rakit, seseorang tidak akan pernah dapat menyeberangi lautan ini.

Sang Suami: Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” tersebut juga disampaikan bahwa…….. Agama mirip seperti Rakit. Keberadaan atau Tuhan, sebagaimana kita menyebutNya, adalah Tujuan kita. Memang berbeda warna, berbeda ukuran, bahkan berbeda kecepatannya, namun tanpa kecuali semua rakit itu bertujuan satu dan sama – membantu kita menyeberangi lautan kehidupan. Pahamilah hal ini! Agama itu penting, bahkan penting sekali…….. Walaupun sekali-kali kita menemukan seseorang perenang yang hebat: tanpa rakit, tanpa bantuan apa pun ia menyeberangi lautan kehidupan. Entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk itu? Siapa yang tahu bagaimana la dapat melakukannya, namun kenyataannya adalah bahwa ia berhasil melakukan. la melawan gelombang. Ia mengikuti caranya sendiri. Ia menembus topan dan badai. Anggaplah ini sebagai pengecualian. Ini tidak berlaku umum. Sebagian besar di antara kita akan tetap membutuhkan rakit untuk menyeberangi lautan ini. Bahkan kalau kita merenungkan sejenak, manusia-manusia langka yang dapat menyeberangi lautan tanpa rakit, sebenarnya telah mengubah dirinya sebagai rakit. Mereka telah menjadi rakit. Di antara mereka: Krishna, Zarathustra, Buddha, Laotze, Musa, Yesus, Muhammad, Nanak, dan mereka semua yang kita hormati sebagai Pemandu Jalan…….. Sang Istri: Jangan sia-siakan waktu kita untuk berdebat rakit mana yang lebih baik. Argumentasi kita membuktikan kebodohan kita. Kita belum pernah melihat pantai yang sedang kita tuju, kita belum sampai. Begitu kita sampai di sana, konon kita akan menyesali kebodohan kita selama ini, kita akan menyesal karena terlalu banyak waktu yang telah kita buang dalam perdebatan untuk hal-hal sepele. Capailah pantai KeEsaan dan Kemuliaan, setelah itu dan hanya setelah itu kita akan menyadari Kebenaran perjalanan hidup ini. Gunakan rakit, gunakan rakit yang telah kita miliki untuk mencapai tujuan hidup kita. Jangan berganti-ganti rakit, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu. Hentikan perdebatan, jangan habiskan waktu untuk berdebat saja….. Mulailah perjalanan, gunakan seluruh energi, tenaga untuk meraih tujuan tersebut. Belajarlah keterampilan yang dibutuhkan agar tetap selamat walaupun ditengah-tengah badai, topan, hujan ataupun gelombang dahsyat. Banyak sekali hal yang harus kita lakukan dan kita masih duduk-duduk saja, mengagumi rakit. Pengaguman belaka tidak akan dapat membantu. Kita sibuk menerangkan betapa indahnya rakit kita, ini sungguh menghabiskan waktu dan tenaga. Mulailah berlayar dan ingat selalu kata-kata seorang bijak “Rakit itu bukan pantai”……… Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Sang Suami: Perbedaan agama dan sistem keyakinan seperti halnya berbagai jalan berbeda yang tujuan akhirnya sama, yaitu Tuhan. Dalam buku “Indonesia Baru” disampaikan…….. Indonesia Baru bebas dari pertikaian antar agama. Karena yang berbeda-beda itu hanyalah akidah agama. Di mata Allah, hanya ada satu agama – yaitu penyerahan diri kita terhadap Kehendak-Nya. Setiap manusia Indonesia Baru menjalankan akidah agamanya masing-masing, tetapi ia tidak lupa akan tujuan akhir yang satu adanya – Tuhan. Ia sadar bahwa akidah-akidah agama yang berbeda hanyalah “jalan-jalan” menuju Tuhan. Dalam kesadaran akan kesatuan seperti itulah,

dalam berketuhanan demikianlah, kulihat Indonesia Baru bangkit kembali dari tidurnya yang cukup lama…. lahir kembali untuk bertumbuh menjadi pengayom bagi seluruh rakyat dan bangsa. Indonesia Baru tidak lagi memiliki waktu untuk berdebat tentang agama dan Tuhan. Ia melakoni agama dan senantiasa hidup dalam kesadaran berketuhanan. Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan bahwa…… Falsafah negara kita menerima berbagai agama dan kepercayaan. Kita memang berbeda-beda, tetapi sekaligus memfokuskan perhatian pada kesatuan. Konstitusi kita juga menyatakan dengan tegas: “Setiap orang berhak untuk memilih dan menjalankan agamanya masing-masing” dan “menjamin kebebasan beragama, berdasarkan keyakinan/kepercayaannya masing-masing.” Benar, umat Muslim menjadi mayoritas. Dan, hal itu “dulunya” tidaklah menjadi masalah. Pada masa lampau kita tidak pernah mengalami arogansi mayoritas atau inferioritas minoritas. Umat Kristen di sini hidup dengan damai dan berdampingan dengan Umat Muslim, Hindu, Budha, Tao, Konghucu, dan penganut puluhan agama lokal…….. Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……. banyak hal yang telah berubah Indonesia dan rakyatnya tidak lagi seperti pada masa kanak-kanak kita dahulu. Indonesia pada masa kanak-kanak kita, merupakan masyarakat yang “bebas fatwa”. Kami menjunjung tinggi religiusitas, spiritualitas, dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam semua agama…….. Perbedaan dalam dogma, doktrin, dan ritual diakui, dihargai, dan diapresiasi. “Dulu” kita tidak membiarkan perbedaan itu menjadi halangan dalam berinteraksi sosial. Kita menghargai keragaman sistem agama sebagai titian jalan menuju tujuan akhir yang tunggal dan sama, Tuhan, atau Ketuhanan. Kita rutin berdoa atau tidak, kita taat dalam menjalani ritual atau tidak, kita peduli satu sama lain. Kita mengasihi satu sama lain. Tidak menjadi masalah jika tetangga kita seorang Kristen atau Konghucu, Muslim atau Yahudi, Hindu, atau Buddha, kita benar-benar berbagi kenikmatan. Para penganut kepercayaan dan agama-agama Iokal dihormati sebagai “sesepuh” masyarakat. Sebagian dari praktik agama mereka diadopsi ke dalam agama “yang lebih muda” dan terintegrasi ke dalam sistem keyakinan dan ritual mereka……… Sang Istri: Saya pernah mendengar darimu bahwa ada pemahaman berbeda dari biasanya bahwa para suci, para mesias, para avatar adalah Duta Besar dari Kerajaan Gusti. Datang mengingatkan para muridnya bahwa jati diri mereka adalah warga negara Kerajaan Gusti bukan warga negara Dunia. Mereka hanya sekedar bertamu di Dunia. Berarti banyaknya jalan menuju Gusti hanya untuk mengingatkan agar para muridnya menyadari sebagai warga negara Kerajaan Gusti yang sekedar bertamu di Negara Dunia. Agar para murid segera bergegas menapaki jalan yang dipilih menuju tujuan. Pertengkaran antar tamu tidak elok, karena kita berasal dari Kerajaan Gusti yang sama. Berbeda jalan tetapi mempunyai satu tujuan yang sama, Gusti yang sama. Sang Suami: Menurut kami, Kerajaan Gusti adalah Kerajaan Suci. Peta menuju Kerajaan Suci dinamakan Kitab Suci. Mari kita sucikan pikiran, ucapan dan tindakan

kita sesuai panduan Guru Suci yang menjadi Utusan Kesucian. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Menjaga Pergaulan Renungan Keenam Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru untuk menjaga pergaulan sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Guru menekankan urutan sadar, bebas dan hidup. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……… Kita harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kebebasan, kemerdekaan yang kita proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa kita bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri kita, yang merantai jiwa kita. Setelah bebas, kemudian kita baru hidup. Kita baru bisa menikmati hidup ini. Kita baru bisa merayakan kehidupan! Sang Suami: Mengenai kebebasan, maksudnya bebas dari keterikatan. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa…….. Kita tidak pernah bisa membebaskan diri dari dunia, karena dunia dan kita terbuat dari bahan baku yang sama. Perhiasan yang terbuat dari emas tidak dapat membebaskan diri dari emas. Bebaskan diri kita dari keterikatan, karena keterikatan kita bersifat ilusif. Keterikatan manusia tidak pada tempatnya. Keterikatan manusia adalah ciptaannya sendiri. Tercipta karena ketidaktahuan…… Sang Istri: Paling tidak ada dua hal, “harta dan keluarga” yang paling mengikat dan merintangi perjalanan manusia. Harta mewakili segala macam kepemilikan kita, baik kepemilikan materi dan kepemilikan non-materi. Keluarga mewakili segala macam hubungan kita, pergaulan kita. Kita sekarang membicarakan tentang pergaulan. Kita harus hati-hati dalam berhubungan atau bergaul dengan mereka yang belum sadar. Sang Suami: Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa………. Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal pertama adalah Shaanti, damai. Ia yang sudah damai dapat merasakan kedamaian di dalam dirinya dan dapat pula mendamaikan. Pengawal Gerbang Kebebasan kedua adalahAatma Vichaarana. Aatma Vicharana berarti “menganalisa diri”, introspeksi diri, mawas diri, setiap upaya untuk mengenal diri dapat disebut Aatma Vichaarana. Pengawal Gerbang Kebebasan ketiga adalah Santhosa, kepuasan. Bukan memuaskan

diri, tetapi memang puas. Santhosa bukanlah kepuasan yang disebabkan oleh sesuatu. Pengawal keempat Gerbang Kebebasan adalah Sadhusanga atau Satsanga berarti “Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi kita juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran…… Sang Istri: Saya ingat beberapa buku yang membicarakan tentang perlunya kewaspadaan dalam pergaulan. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan…….. Pergaulan buruk, tidak baik dan tidak menunjang kasih tentu saja “tidak menciptakan” hawa nafsu, amarah dan keterikatan, tetapi hanya “membangkitkan”. Berarti bahwa hawa nafsu, amarah dan keterikatan itu sudah ada di dalam diri manusia. Pergaulan yang tidak menunjang kasih hanya menjadi trigger, pemicu. Seperti halnya seorang pecandu, jangan harap bisa bebas dari kebiasaan itu……… Dalam buku “Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi” disampaikan bahwa……… Jangankan bergaul, bertemu dengan seorang yang tidak sadar sudah cukup untuk menyeret kesadaran anda ke titik terbawah, terendah. Jangan keluar dari “kamar kesadaran” bila diluar sana masih gelap gulita. Jangan bersikap “sok mau bantu”, bila belum mampu……… Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan……… Seorang teman merasa “it is okay” jika dirinya bergaul dengan orang-orang yang tidak sadar. “Bukanlah mereka justru membutuhkan kesadaran? Kenapa aku harus menghindari mereka?” Ia ingin membantu, tetapi malah terseret. Jangankan berhubungan dengan orang-orang yang tidak atau belum sadar, kadang berhubungan dengan orang-orang yang tidak “tahu” pun bisa membahayakan. Sesungguhnya, pergaulan seperti itu justru lebih membahayakan. Jaga pergaulan. Mereka yang tidak tahu lebih parah daripada mereka yang tidak sadar, karena pengetahuan adalah anak tangga pertama menuju kesadaran diri……… Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan……. Demikian pula penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, ke-selarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari hari juga persis demikian apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku…… Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah…….. Berada dalam lingkup seorang guru spiritual disebut Satsang, pergaulan yang baik, tepat dan benar. Satsang juga berarti pergaulan dengan mereka yang menunjang peningkatan kesadaran. Sebaliknya, kusang adalah pergaulang yang tidak

baik, tidak tepat, tidak benar, dan tidak menunjang kesadaran manusia. Seorang panembah akan selalu menghindari kusang, Ia akan selalu mencari Satsang…….. Sang Istri: Saya ingat, dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam” disampaikan………. Bersahabatlah dengan Para Bijak. Seperti ayat-ayat lain, ayat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang “sedang menjalani” pelatihan rohani; bukan bagi mereka yang merasa “sudah selesai menjalani”nya; Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan bantuan dari para bijak. Ayat-ayat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang siap menundukkan kepala, dan mau belajar. Kita akan menjadi orang seperti orang-orang yang biasa kita ajak bergaul. Karena ayat ini mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti juga bisa bijak. Siapa saja yang patut disebut bijak? Setiap orang yang emosinya tidak bergejolak; setiap orang yang dapat berpikir dengan jernih dan tidak terbawa oleh amarah; setiap orang yang bertindak sesuai dengan kesadarannya, bukan karena hasutan, karena dipengaruhi orang. Selain itu, orang bijak adalah setiap orang yang dapat mendengarkan suara hatinya; setiap orang yang dapat membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat…….. Sang Suami: Alam telah memberi pelajaran kepada kita bagaimana pergaulan dengan mereka yang berjiwa keras atau berjiwa lembut. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Bergaul dengan mereka yang berjiwa keras akan mengeraskan jiwa kita. Bergaul dengan mereka yang berjiwa lembut akan melembutkan jiwa kita. Kekerasan sudah pasti menciptakan keterikatan. Benda-benda keras membutuhkan pengikat. Sementara sesuatu yang lembut seperti air dan angin misalnya, tidak membutuhkan tali pengikat. Air di selokan depan ashram menyatu dengan air di kali Ciliwung kemudian kali itu pun menyatu dengan air laut tanpa membutuhkan tali pengikat. Sampah keras di dalam kali butuh truk sampah untuk dipersatukan dan dibuang ke tempat penimbunan sampah……. Sang Istri: Kita yang sudah termasuk “usia sepuh” pun perlu menjaga pergaulan. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa………. Untuk menemukan kesucian diri. Bergaullah dengan para suci. Waspadai pergaulan, walau sudah berusia sepuh. Sayangi siapa saja. Tegur dan sapa siapa saja. Berhubungan dengan siapa saja. Tapi tak perlu bersahabat, rapat bergaul dengan siapa saja. Persahabatan menuntut interaksi energi dalam volume yang cukup besar. Persahabatan melibatkan setiap lapisan kesadaran manusia : lapisan fisik, energi, mental-emosional, intelektual, spiritual semuanya terlibat…….. Sang Suami: Untuk menjaga pergaulan diperlukan adanya support group yang tepat. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…… Jagalah pergaulanmu. Untuk itu, adalah penting bagi kita untuk memilih support group yang tepat. Peran

support group sudah diakui oleh dunia medis. Ada support group bagi penderita kanker, ada pula bagi keluarga penderita. Ada support group bagi penderita diabetes, ada pula bagi keluarganya. Sayang, dunia medis belum melakukan penelitian tentang pentingnya peran support group bagi manusia sehat, untuk menjaga kesehatannya……. Sang Istri: Aku ingat suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan……… Support group bagi manusia dalam bahasa kuno disebut satsang atau right company. Pada awal mulanya setiap pertemuan agama berperan sebagai support group. Para peserta bekerja dalam kelompok untuk mengikis keangkuhan mereka dan memupuk kebersamaan. Kemudian, apa yang mereka peroleh dari group project itu diterapkan di luar kelompok; dengan sesama manusia, sesama makhluk. Adalah empat hal utama yang mesti dilakukan oleh support group. Pertama: Ia menunjang perkembangan diri kita. Kedua: Tidak mengangkat-angkat kita, sehingga ego kita akan menjadi-jadi. Ketiga: Menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Keempat: Support group membantu kita supaya kita dapat memperbaiki diri. Membantu kita tidak selalu berarti membiayai, mendanai, membekali kita dengan materi atau benda, tetapi membantu dalam hal pemberdayan diri, sehingga kita dapat membantu diri sendiri………. Sang Suami: Istriku, bukankah kita punya sahabat-sahabat di dunia maya? Kita dapat memanfaatkan persahabatan tersebut dengan berpedoman pada buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” tersebut yaitu: Pertama: Ia menunjang perkembangan diri kita. Kedua: Tidak mengangkat-angkat kita, sehingga ego kita akan menjadi-jadi. Ketiga: Menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Keempat: Membantu kita supaya kita dapat memperbaiki diri………. Semoga…… Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Pembersihan Diri Renungan Ketujuh Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Suami: Kita ini sudah terpola begitu lama, subsconcious mind kita sudah terbentuk hampir permanen. Pola lama ini sudah membelenggu diri kita sehingga menyulitkan kita untuk mengubah diri kita ke arah perbaikan. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan………. Subconscious mind bagaikan rumput liar. Benih kebajikan apa pun yang kita tanam tidak akan tumbuh, karena dihalang-halangi oleh rumput liar. Tidak ada jalan lain, kecuali mencabut rumput liar, membersihkan lahan, dan setelah itu baru menanam benih kebajikan. Kita menyumbang, melakukan bhakti sosial semuanya percuma. Benih kebajikan tidak tumbuh, selama subconscious mind kita masih memainkan peran utama. Kita malah menjadi arogan. Pegawai di kantor kita tindas. Para gembel di jalanan kita beri makan……. Sang Istri: ……..Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran kita terganggu bila telinga kita penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila “diri” kita penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya, untuk “memfasilitasi perkembangan diri”, kita perlu “membersihkan diri”. Terimalah “keadaan” diri kita. Terimalah “keadaan kotor” itu. Tidak ada yang salah dengan keadaan itu. Tidak ada yang salah bila kita mengakui bahwa lantai jiwa kita kotor, persis seperti lantai di rumah kita. Dan, sebagaimana kita perlu membersihkan lantai di rumah, perlu menyapunya setiap hari, begitu pula kita perlu membersihkan lantai jiwa setiap hari. Kendati demikian, hendaknya kita juga tidak berhenti pada pengakuan saja. Kita masih harus menindaklanjutinya dengan membersihkan lantai jiwa yang kotor itu…….. Demikian disampaikan dalam buku “Neo Psyhic Awareness”. Sang Suami: Untuk itu latihan katharsis memegang peran penting dalam hal pemberdayaan diri. Katharsis yang digunakan dalam meditasi akan membersihkan diri kita dari pikiran-pikiran yang terpendam. Ketidakpuasan, kekecewaan, kekhawatiran, rasa benci, takut, cemas, gelisah, amarah-semua itu merupakan sampah dalam diri kita. Dan harus dikeluarkan. Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki” disampaikan cara latihan katharsis…………. “Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Jangan memendam emosi. Teriaklah sekuat tenagamu. Bebaskan dirimu dari sumpah-sumpah pikiran, emosi, amarah yang selama ini kau pendam. Keluarkan kegelisahanmu. Muntahkan kekhawatiranmu. Bebaskan diri dari rasa takut! Masukilah alam meditasi, dalam alam

itu ada kesehatan, ketenangan dan ketenteraman.”……. meditasi itu hanya dapat terjadi apabila kita sudah membebaskan diri kita dari sampah-sampah pikiran yang kacau dan emosi yang terpendam. Untuk memasuki alam meditasi, duduk hening, diam, tanpa gerakan tidak akan pernah membantu. Kita harus mulai dengan pembersihan diri secara aktif, setelah itu keheningan, ketenangan akan terjadi sendiri……… Sang Istri: Suamiku bukan hanya pembersihan dalam rangka pemberdayaan diri, pembersihan pun juga dilakukan oleh Guru. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan……. Tuhan bagaikan magnet. Senantiasa siap untuk “menarik” kita. Jiwa kita saja yang karatan, sehingga tidak “ketarik”. Kehadiran para suci di dalam hidup membantu kita membersihkan jiwa. Itu saja. Selanjutnya, tidak perlu mencari Tuhan. Mancari ke mana? Di mana? Dia Maha Dekat dan Maha Hadir Ada-Nya, tidak pernah menghilang. Jiwa yang sudah karatan harus dibakar. Ya, dimasukkan ke dalam api. Tidak ada cara lain untuk membersihkannya. Itu sebabnya proses pembersihan selalu menyakitkan. Bila tidak sakit, berarti karat jiwa kita belum terbakar. Jangan harap “pertemuan” dengan para suci menyelesaikan perkara. Tidak. Sebaliknya, pertemuan itu justru membuka perkara. Jiwa kita dibuka, ditelanjangi. Borok-borok kita diperlihatkan. Pertemuan dengan para suci memang sulit. Hanya terjadi bila dikehendaki oleh Allah. Dan yang lebih sulit lagi, bagaimana mempertahankan pertemuan itu. Bagaimana bertahan menghadapi “ulah” para suci. Mereka tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Berusia tua atau muda, kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, semua sama. Mau dibakar, ya dibakar. Mau ditelanjangi, ya ditelanjangi……. Tidak ada perbedaan antara Dia dan kepunyaan-Nya. Antara Dia dan umat/ciptaan-Nya. Narada boleh berkata demikian, kenyataannya apa? Dia bagaikan magnet. Kita bagaikan besi karatan. Perbedaan ini tampak jelas. Jangankan perbedaan antara Dia dan ciptan-Nya, lihat saja perbedaan antara kita dengan seorang Mahatma Gandhi, Mother Teresa. Antara kita dan Inayat Khan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Lagi-lagi, jawabannya: “Lapisan karat pada jiwa kita”. Lalu lapisan karat ini berasal dari mana? Dari alam sekitar kita, dari air dan angin dan elemen alami lainnya. Dari segala sesuatu yang terciptakan oleh unsur-unsur alami tersebut. Dari pergaulan. Dari masyarakat luas……… Sang Suami: Para suci pun melakukan pembersihan diri, pembersihan ego. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Api Pengetahuan, Api Kesadaran, Api Kebijaksanaan yang dapat membakar habis ketidaktahuan kita, ketaksadaran kita, ketololan kita. Api keinginan, api keterikatan, api keserakahan, api ketidaktahuan, api ketidaksadaran entah berapa “jenis” api yang tersimpan di dalam diri manusia. Atau mungkin semuanya itu hanyalah ekspresi dari satu jenis api yaitu api ke-”aku”-an. Ego manusia. Nabi Ibrahim membiarkan ke-”aku”-annya terbakar habis oleh api itu sendiri. Dia berhasil menaklukkan egonya, sehingga atas perintah Allah dia bersedia mengorbankan anaknya. Dalam kisah ini, anak mewakili “keterikatan”. Dan ketika Ibrahim berhasil membebaskan diri dari keterikatan itu, dia menjadi manusia api. Siapa pun yang

mendekatinya akan terbakar. Demikianlah para nabi, para wali, para pir, para mursyid, para avatar, para buddha, para mesias, para guru, para master. Bersahabatlah dengan mereka, sehingga anda pun terbebaskan dari keterikatan…… Sang Istri: Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kita justru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, Perangkat lunak otak dibersihkan dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan………… Demikian disampaikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”. Sang Suami: Benar istriku, mestinya kita tidak hanya mengembangkan otak kiri dan otak kanan saja, bagian otak yang bernama lymbic pun perlu dibersihkan. Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa” disampaikan perihal otak manusia……… Bagian Kiri berurusan dengan logika, matematika, analisa dan lain sebagainya. Sementara, Bagian Kanan lebih “berperasaan”. Sense of Beauty, Keindahan, Estetika, segala macam arts atau seni, bahkan imajinasi, visi… semuanya diurusi Otak Bagian Kanan. Sementara ini kedua bagian itu menjadi budak Lymbic yang masih sangat hewani. Maka segala apa yang kita lakukan masih diwarnai oleh kehewanian kita. Lymbic menyatakan keinginannya, “Aku butuh ini, butuh itu….” Ia memerintah Otak Kiri, “Hai Otak Kiri, usahakan dengan segala cara dan upaya agar keinginanku terpenuhi. Silakan beranalisa, berlogika, ber-apa saja, asal keinginanku terpenuhi.” Ini yang kita sebut akal. Pendidikan yang kita peroleh juga tidak banyak membantu, karena bertujuan untuk mengasah akal belaka. Kita menjadi sangat intelektual. Akal pun ada kalanya berubah menjadi “akal-akalan”. Namun demikian, kita tetap menjadi budak lymbic. Walau, cara kita barangkali menjadi lebih sopan sedikit, lebih lembut – setidaknya “terasa” demikian. Padahal, sami mawon. Tujuan kita masih sama, yaitu memuaskan hewan di dalam diri. Dan, bukan saja Otak Kiri, Otak Kanan pun diperbudak oleh Lymbic. Otak Kanan pun diperintahnya, “Hai Otak Kanan, kamu kan pandai memoles dan menciptakan keindahan, tolong dong keinginan-keinginanku dipoles supaya terlihat lebih indah, lebih halus.” Dengan cara itu, Otak Kanan pun dibuatnya menjadi sibuk untuk menutupi kehewaniannya. Otak Kanan tanpa pembersihan Lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting yang lebih indah dan mewah. Itu saja. Kita harus selalu mengingatkan diri bahwa kebutuhan insting itu seratus persen adalah sifat hewani, sifat kita yang masih primitif…….. Sang Istri: Ibarat komputer otak kita harus dibersihkan dari semua virus, walaupun diinstall program canggih, bila virus masih bersarang di komputer, maka hasilnya

tetap jelek. Bersihkan dulu baru menginstall program baru……. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Menjadi Murid Renungan Kedelapan Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Kita berdua pernah membaca arsip di dunia maya mengenai komentar seorang Guru kala seseorang bertanya lewat email apakah Sang Guru berkenan menerimanya sebagai murid. Sang Guru berkomentar di dunia maya, pertanyaannya bukan apakah sang guru berkenan menerima murid, pertanyaan yang benar adalah apakah seseorang mau menjadi murid. Kata murid berasal dari bahasa Persia kuno. Kata asalnya adalah murad. Murad berarti seseorang yang pikirannya sepenuhnya tertuju untuk manunggal dengan Gusti. Itulah arti murad. Sehingga pertanyaannya apakah ada seorang murid? Apabila ya, Sang Guru dengan senang hati akan menerima perannya sebagai Murshid atau Guru. Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” disampaikan puisi dari Shri Chaitanya Mahaprabhu yang terjemahannya sebagai berikut………… Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kukehendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam setiap masa kehidupanku……….. Sang Istri: Di bawah tulisan puisi dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” tersebut disampaikan…….. Seorang “murid”, dalam pemahaman bahasa Sindhi, adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud…….. Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan…….. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal

untuk memiliki kehadiranNya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh…… Sang Istri: Suamiku, kita perlu introspeksi diri sudahkah kita mempunyai keinginan tunggal untuk mencapai kesadaran tertinggi. Bagaimana pun Gusti akan memberikan Guru yang sesuai dengan peningkatan kesadaran kita. Bahkan mereka yang berguru pada satu Guru yang sama pun, mereka mendapatkan peningkatan kesadaran sesuai kesadaran sang murid. Sehingga semuanya tergantung diri kita, niat kita, tekad kita. Demikian pemahaman kita sampai saat ini. Sang Suami: Walaupun seseorang berguru kepada seseorang yang sudah mempunyai kesadaran sangat tinggi, bila penyerahan dirinya kepada Sang Guru belum total, maka dia tidak mendapat kemajuan berarti. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……… Penyerahan diri secara total oleh seorang murid sama sekali bukan untuk kepentingan Guru, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Melepaskan keangkuhan, keangkuhan, keakuan, ego dan tidak ge-er karena “baru sekadar tahu” adalah demi kebaikan sebagai calon murid. Hubungan antara guru dan siswa, antara murshid dan murid sungguh sangat aneh. Tiada kata untuk menjelaskannya. Tidak ada hubungan darah antara mereka. Tidak ada hubungan daging antara mereka. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk saling berhubungan. Tidak ada tuntutan dari tradisi, budya, agama. Hubungan di antara murshid dan murid sepenuhnya karena “kesadaran”. Hanya dilandasi kesadaran……. Sang Istri: Karena kesadaran sang murid sudah tinggi, maka dia bisa bersahabat dengan Sang Guru. Dalam buku ““Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” juga disampaikan……… Hubungan antara seorang guru dan siswa sesungguhnya adalah “persahabatan”. Itulah sebabnya dalam tradisi Islam, misalnya, para murid nabi Muhammad disebut “para sahabat”. Satya Sai Baba, seorang Guru terkenal di India sering menyebut para muridnya “Prema Svaroopa” atau “Atma Svaroopa”, yang berarti, “Perwujudan Cinta Kasih”, “Wujud Kesadaran Murni”. Perwujudan Cinta Kasih tidak berarti bahwa para murid sudah mencapai kesadaran itu. Panggilan itu justru untuk mengajak para murid untuk melakukan perenungan, “Sudahkah aku mencapai Kesadaran itu?” Bila sudah, dia akan berupaya untuk senantiasa mempertahankannya. Bila belum, dia akan berupaya untuk mencapainya. Hubungan antara guru dan siswa, murshid dan murid, masterdan disciple, mungkin merupakan hubungan yang paling mesra. Hubungan murshid dengan murid merupakan hubungan yang paling mesra. Tidak heran bila hubungan antara Jalaluddin Rumi dan Shams, hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena, hubungan antara Krishna dan Radha, sering disalahpahami, disalahartikan, disalahtafsirkan……. Sang Istri: Oleh karena itu tidak mudah menjadi murid. Dalam buku “Hidup Sehat

Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan…….. Kesiapan seorang calon murid pun akan diujinya lewat proses yang panjang dan melelahkan. Kesabarannya, ketekunannya semuanya akan diuji terlebih dahulu. Masa tunggu ini bisa seminggu, dua minggu setahun, dua tahun bahkan belasan tahun. Banyak calon murid yang drop out, karena mereka tidak sabar menanti. Banyak yang bahkan kehilangan gairah mereka untuk menekuni bidang spiritual. Satu per satu, mereka “gugur”. Memang demikian kehendak seorang master……. Sang Suami: Hubungan antara murid dan Guru berdasarkan kesadaran, sehingga dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” disampaikan………. Ketika seorang Guru atau murshid mengatakan kepada kita bahwa ia merindukan kita, atau kangen pada kita, “I miss you” jelas bukanlah kangen-kangenan mesra-duniawi yang dimaksudnya. Ia merindukan “peningkatan kesadaran diri” kita. Karena, ia mengetahui persis potensi diri kita, potensi diri setiap manusia. Ya, potensi diri setiap manusia. Dan, potensi itu sama, tanpa kecuali. Setiap manusia, bahkan setiap makhluk hidup memiliki potensi yang sama untuk mencapai kesadaran tertinggi sesuai dengan wahana badan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Seorang anak manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia sempurna, sebagaimana seekor anak anjing memiliki potensi untuk menjadi seekor anjing yang sempurna. Sang Istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan…….. Bila kita tidak meraih kesempurnaan dalam hidup, maka letak kesalahannya adalah pada diri kita sendiri. Kita tidak merindukan kesempurnaan. Kita puas dengan kondisi lumayan asal aman. Kita sudah terbiasa mencari rasa aman; itulah yang kita kejar selama ini. Kita tidak berani mengambil resiko. Kita tidak berani terbang tinggi, karena takut jatuh. Kita tidak berani menyelam lebih dalam, karena takut tenggelam. Inilah kelemahan kita. Dan, hal ini pula yang membuat hidup kita sengsara. Hidup kita adalah kendaraan atau jembatan yang dapat mengantar kita ke pantai seberang. Kita takut menggunakan kendaraan itu. Kita ragu melewati jembatan kehidupan. Mengapa? Karena, kita tidak tahu ada apa di pantai seberang. “Jangan-jangan di sana lebih sengsara. Sudah ah, di sini saja…… Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi. Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran” tersebut juga disampaikan puisi dari Shri Chaitanya Mahaprabhu yang terjemahannya sebagai berikut…….. Wahai Hyang Mahamenawan! Selama ini

aku menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginanku, Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra. Gusti, aku tak mampu menggapaiMu, namun Kau dapat menemukanku. Aku tak berdaya, Engkau Mahadaya. Aku hanyalah debu dibawah kaki suciMu, angkatlah diriku dan berkahilah daku dengan kasihMu! …….. Sang Istri: Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Dalam buku tersebut disampaikan…….. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayanganNya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis……… Sang Suami: Gusti yang disebut Shri Chaitanya Mahaprabhu sebagai Hyang Mahamenawan dekat sekali dengan diri kita. Dalam buku tersebut juga disampaikan……… Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja! Sang Istri: Benar suamiku, para rasul, para nabi hidup di dunia, berjuang di dunia tetapi tidak meminta imbalan dunia semuanya merupakan persembahan padaNya. Asy Syu’ara ayat 180 mengingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “wargadunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Semoga kita sadar…….. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Kualifikasi Pencari Jatidiri Renungan Kesembilan Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku kita pernah membicarakan bagaimana menjadi murid berdasar buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran untuk Berkesadaran”. Seorang “murid” adalah seorang yang memiliki “murad” atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Mari kita membicarakan bagaimana kualifikasi murid yang perlu dimiliki untuk mencapai tujuan “kesadaran tertinggi” tersebut. Sang Suami: Baik istriku, mari kita buka buku “Shri Sai Satcharita” yang membicarakan perihal tersebut. Dalam buku tersebut disampaikan…….. Tidak setiap orang memiliki keinginan untuk mencari jatidiri, menemukan Keilahian di dalam diri, atau memperoleh Brahma-Gyaan. Diantara mereka yang berkeinginan pun hanyalah sedikit saja yang sungguh-sungguh berusaha. Dan, di antara mereka yang berusaha, hanyalah segelintir yang akhirnya berhasil. Ibarat berjalan di atas mata pisau, seperti itulah perjalanan ini, hanyalah seorang pemberani yang dapat menempuhnya. Kemudian, dijelaskan kualifikasi para pencari yang berani………Kualifikasi Pertama adalah “Mumuksha”, atau ‘keinginan yang sangat kuat’ untuk meraih kebebasan dari segala macam keterikatan. Tanpa keinginan yang kuat, seorang pencari tak akan sungguh-sungguh mencari. Ia tidak menggunakan seluruh tangannya. Dan, ia tak akan bertahan hingga tujuannya tercapai. Seorang pencari sejati tidak lagi menginginkan sesuatu yang lain di luar apa yang sedang dicarinya……… Sang Istri: Kualifikasi Kedua adalah “Virakti”, atau ‘rasa muak’ terhadap kenikmatan indera di dunia dan disurga. Seorang pencari yang merasa sudah muak dengan kenikmatan duniawi, tapi masih mengharapkan kenikmatan surgawi, bukanlah pencari sejati. Ia belum betul-betul muak. Seorang pencari muak dengan segala macam pujian dan penghargaan duniawi, dan tidak tertarik pada pahala surgawi. Hanyalah seorang pencari seperti itu yang akan menemukan apa yang sedang dicarinya……. Sang Suami: Kualifikasi Ketiga adalah “Antarmukhata”, atau ‘berfokus pada diri’. Umumnya, manusia berfokus pada segala sesuatu di luar diri. Ini disebabkan oleh sifat kelima indera. Indera manusia di buat untuk berhubungan dengan berbagai hal di luar diri. Maka, selama manusia masih terkendali oleh indera, ia akan selalu melihat ke luar. Ia tak akan melihat ke dalam diri. Seorang pencari sejati terlebih dahulu mengendalikan inderanya, kemudian mengalihkan kesadarannya kepada diri

sendiri……. Sang Istri: Kualifikasi Keempat adalah “Taubah”, atau ‘bertobat’. Tidak hanya menyesali perbuatannya yang salah, tapi memastikan bahwa dirinya tidak akan melakukan lagi hal yang sama. Berarti ia tidak terkacaukan oleh pikiran. Ia tidak tergoda oleh perasaan. Ia dituntun oleh kesadaran baru, kesadaran untuk mencari……… Sang Suami: Kualifikasi Kelima adalah “Dharma”, atau ‘keseharian yang berlandaskan pada kebajikan’. Berarti menjaga kejujuran diri, ketenangan hati, dan pengendalian diri…….. Sang Istri: Kualifikasi Keenam adalah “Shreya”, atau mementingkan segala sesuatu yang mulia dan bermanfaat bagi banyak orang, dan tidak memilih preya, atau sesuatu yang sekedar menyenangkan diri. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya yang memuliakan, atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserahakan dan keterikatan mereka dengan dunia benda……… Sang Suami: Kualifikasi Ketujuh adalah “Pengendalian diri”, yang mencakup pengendalian kelima indera, energi, pikiran, ego, dan intelek. Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan……… Sang Istri: Kualifikasi Kedelapan adalah “Purifikasi pikiran”, atau manas. Untuk itu, setiap orang mesti menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Ia tidak bisa melarikan diri dari kewajiban, dan mengharapkan agar pikirannya tenang. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang suci. Dan, di atas lahan pikiran yang suci itulah tumbuh Viveka kemampuan untuk memilih mana yang tepat bagi kita, dan mana yang tidak tepat. Tumbuh pula Vairagya, ketakterikatan kepada dunia benda, karena sadar bila kebendaan itu tidak langgeng, dan berubah terus. Maka, dengan sendirinya manusia terbebaskan dari ego, ke-’aku’-an, atau identitas palsu. Ia tersadarkan bila dirinya bukanlah badan, apa lagi kelima indera yang merupakan bagian dari badan. Ia

tercerahkan bila menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, bukan intelejensia, tetapi pemilik kereta, Atma, Self, “Aku Sejati”. Ia memahami bahwa penderitaannya selama ini semata karena salah identitas. Manusia menderita karena menganggap dirinya hanyalah kelima indera, badan, pikiran, atau intelejensia. Kemudian, apa yang terjadi pada mereka, dianggapnya terjadi pula pada jatidirnya. Padahal tidak demikian. Sekali lagi, dia bukanlah kereta, bukan jalan raya yang ditempuh oleh kereta itu. Bukan tali pengendali, bukan sais, tetapi pemilik kereta. Itulah dia yang sebenarnya! Kesadaran itu seketika membebaskan manusia dari segala macam penderitaan, dan keterikatan yang disebabkan oleh salah identitas……… Sang Suami: Kualifikasi Kesembilan adalah “Kehadiran seorang Guru” dalam hidup memudahkan perjalanan hidup. Ia adalah seorang pemandu yang pernah mengalami apa yang sedang kita alami saat ini. Sungguh sulit mencapai kesadaran diri tanpa seorang pemandu. Ia memudahkan pencarian kita. Aneh, untuk segala sesuatu yang bersifat keberadaan, kita tidak segan-segan minta bantuan dari orang lain. Tapi, untuk perjalanan ruhani kita menolak kehadiran seorang Guru. Kita pikir bisa menempuh tanpa pemandu. Sesungguhnya bukanlah sekedar bantuan atau pemandu sembarang yang dibutuhkan dalam perjalanan ruhani. Kita membutuhkan seorang guru yang sudah melewati setiap perjalanan hidup. Sehingga ia memahami kesulitan-kesulitan yang sedang kita hadapi, dan dapat menawarkan jalan keluar. Seorang Guru memandu setiap langkah kita hingga mencapai tujuan kita dengan selamat. Memang kita mesti berjalan sendiri. Ia tidak bisa berjalan untuk kita. Tapi, panduan yang diberikannya sungguh sangat bermanfaat……… Sang Istri: Kualifikasi Kesepuluh atau yang “Terakhir adalah berkah Allah”, karunia Tuhan. Itu yang terpenting. Tanpa berkah-Nya, kita tetap tak akan mencapai-Nya. Dialah yang memberkahi kita dengan Viveka dan Vairagya kemampuan untuk memilah, dan ketakterikatan. Menurut kitab suci Katha Upanishad, AKU tak dapat dicapai lewat pendalaman kitab-kitab suci. Pengetahuan dan intelek tak mampu menggapai-Nya. Ia hanyalah dicapai oleh mereka yang dipilih-NYA. Hanyalah kepada mereka SANG AKU menunjukkan sifat asli-NYA…….. Sang Suami: Istriku buku “Shri Sai Satcharita” memang luar biasa, beruntunglah mereka yang memiliki dan mendalaminya……… Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Bertemu Seorang Master Renungan Kesepuluh Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Aku baru saja membaca buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Dalam buku tersebut disampaikan bahwa……… Master berarti orang yang memiliki ‘Mastery‘ atas dirinya sendiri. Orang yang memerintah, mengatur dirinya sendiri. Orang yang bertanggung jawab, yang datang bukan untuk menimbulkan kekacauan, tetapi untuk menciptakan ketentraman. Bernasib-baiklah suatu bangsa, berjayalah suatu kebudayaan, di mana orang-orang seperti itu ada. Master seperti mereka tidak diperjual-belikan, mereka tidak dapat diperoleh dari pasar. Mereka tidak membutuhkan propaganda ataupun promosi……… Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” tersebut juga disampaikan bahwa…….. Para Master tidak dapat dipaksakan kehadirannya dalam kehidupan kita. Begitu kita siap, la akan muncul dalam kehidupan kita. Para master tidak datang dari mana-mana, mereka tidak pergi ke mana-mana. Master seperti ini merupakan suatu kejadian dalam hidup kita. Apabila kita menemukan seorang Master seperti itu dalam kehidupan kita, peristiwa itu mungkin saja peristiwa yang terbesar dan terpenting dalam hidup kita. Para Master tidak senang disebut Master. Mereka lebih senang dipanggil sahabat. Para Master tidak pernah menciptakan jarak antar dirinya dan kita. Para Master merupakan keharuman bunga yang menyerbaki kehidupan kita……… Sang Istri: Dalam buku tersebut disampaikan…… Kita tidak dapat mencarinya. Kita tidak dapat memperoleh alamatnya dari iklan-iklan koran. Kita harus sabar menanti, dan la akan terjadi, akan muncul dalam kehidupan kita! Jika kita bertemu dengan seorang Master, hidup kita akan segera berubah. Suatu ruangan yang gelap selama 40 tahun dapat menjadi terang dalam sekejap oleh sebatang lilin, tidak memerlukan 40 tahun untuk meneranginya……… Sang Suami: ……Pertemuan kita dengan seorang Master akan membuat kita gembira; hari pertemuan menjadi hari perayaan! Kita akan menari dan menyanyi karena kegirangan. Kita baru akan tahu bahwa seorang Master tidak pernah memperbudak orang lain. la telah menguasai dirinya; ia tidak ingin menguasai kita. Pertemuan dengan seorang Master justru akan mempercepat kebebasan kita, mempermudah proses ketidaktergantungan kita. Setelah bebas dari segala macam ketergantungan, kita sendiri menjadi Master. Sekarang kehadiran kita dalam kehidupan orang lain dapat menghasilkan serangkaian keajaiban yang tidak pernah kita ataupun mereka impikan. Setiap orang yang bertemu dengan kita akan menjadi bebas, sebagaimana

kita memperoleh kebebasan setelah bertemu dengan Master. Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Sang Istri: Bertemu dengan orang seperti itu akan memberikan perubahan total dalam hidup kita. Ini merupakan suatu kejadian yang menyenangkan. Jangan sia-siakan kesempatan emas seperti ini. Rayakanlah kehidupan kita. Ini indah dan segala keindahan adalah kesukaan untuk selamanya. Sekarang, hidup menjadi permainan bagi kita. Kalah atau menang, tidak masalah, karena semuanya hanya permainan. Kejadian seperti itu yang dapat kita sebut inisiasi yang sejati. Inisiasi bukan suatu ritual, inisiasi merupakan awal hubungan yang romantis antara kita dan Master. Kita akan terhanyut, terlarut dalam Dirinya. Bila muncul lagi kepermukaan, kita sudah berubah total; sekarang kita sendiri seorang Master. Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Sang Suami: Master adalah sahabat yang sejati, yang dapat diajak bicara, disentuh, diraba. Master tidak pernah berada di atas podium yang tinggi dan memerintah kita yang duduk di bawahnya. Master menganggap kita sebagai sahabat, sama tingginya, sama rendahnya. Jangan mencoba untuk memiliki ataupun menguasai seorang Master. Mereka bukan milik siapa pun. Mereka benar-benar Guru yang sejati, mereka bebas, tak terikat pada suatu dogma tertentu, tak terikat pada suatu buku tertentu, tak terikat pada suatu aliran tertentu. Mereka lebih bebas dari segalanya. Bagi mereka(master) timur dan barat sama. Hitam dan putih sama, panas dan dingin sama. Mereka tidak perlu bicara banyak dengan kita. Bahkan kadang-kadang mereka akan bisu seribu bahasa; mereka diam tanpa sepatah kata pun. Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”. Sang Istri: Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” tersebut disampaikan…….. Namun mereka(master) akan tetap membawakan keharuman dalam hidup kita. Lihatlah bunga-bunga mawar yang sedang mekar, mereka mekar bukan hanya untuk kita. Mereka mekar untuk setiap orang, untuk semua orang. Bunga mawar berbicara hanya dengan satu bahasa – bahasa keharuman. Keharuman seorang Master akan mengharumi keberadaan kita. Sekarang kita tak akan pernah berbau busuk lagi, sekarang kita harum! Jalan terus, jangan berhenti! Siapkan diri kita untuk peristiwa terpenting dan terbesar dalam kehidupan kita! kita pun akan menemukan seorang Master…………. Sang Suami: Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan….. Berhadapan dengan seorang master, bila kita hanya ingin belajar, anda sungguh menyia-nyiakan kesempatan. Belajar, bisa dari buku. Bisa lewat teve, internet. Bisa mengikuti program belajar jarak-jauh. Untuk itu, anda tidak membutuhkan seorang master. Cukup seorang pengajar, seorang instruktur, seorang akademisi. Berada bersama seorang Mursyid berarti duduk bersama dia. Menari dan menyanyi bersama dia. Makan dan minum bersama dia. Tidak menghitung untung-rugi. Tidak memikirkan masa lalu. Tidak pula mengkhawatirkan masa depan. Tetapi, menikmati kekinian. Adhere to a master berarti mendaki gunung bersama dia. Dan turun ke lembah

bersama dia…… Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Tantra Yoga” juga disampaikan……… Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila kita berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, kita akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. And yet, setiap kali, ada saja yang mengulanginya. Kenapa? Yang kita anggap pengulangan sesungguhnya adalah proses pemberian nyawa. Para Master, para Guru, para Mursyid memberi nyawa kepada ajaran-ajaran lama…….. Sang Suami: Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan bahwa master sering mengulang-ulang pelajaran yang sama……. Master berbicara, Bukan kemauanku untuk mengulangi pelajaran yang sama setiap hari…. Aku terpaksa mengulanginya, karena hingga saat ini pun kalian tidak memahami pelajaran pertama. Bagaimana beranjak ke pelajaran berikutnya? Kita memang bolot. Kita tidak memahami maksud guru, maka terpaksa setiap hari ia mengulangi pelajaran yang sama. Pengulangan itu bukanlah untuk sang master, tapi untuk kita. Dalam ayat-ayat di atas, Krishna pun mengulangi beberapa hal yang telah dijelaskannya dalam percakapan sebelumnya. Dengan cara itulah, seorang master melakukan pemboran dalam otak kita. Dengan cara itulah, master menciptakan ruang kosong supaya dapat menampung sesuatu yang baru. Ia membantu mengosongkan otak, mempersiapkan diri bagi sesuatu yang berguna, bagi Keberadaan, Alam, Tuhan, pencerahan, kesadaran, pemahaman yang betul…… Sang Istri: Bukankah ada seorang sahabat yang menanyakan bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan seorang master? Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan…….. Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung? Tidak mendapatkan master? Ada hukum alam dan hukum alam ini bekerja rapi sekali. Tidak pernah salah. Tidak pernah gagal. Sesungguhnya, dunia ini penuh dengan para master. Hanya saja ada master yang berperan sebagaiVyaktinath – individual master. Mereka mengajar kepada individu-individu tertentu. Mereka tidak tidak menjadi populer. Mereka tidak dikenal oleh banyak orang. Saya yakin, di pedalaman Jawa, bahkan di tempat-tempat lain pun tersembunyi banyak master seperti itu…….. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Tantra Yoga” tersebut juga disampaikan…… Kemudian, ada para master yang bisa disebut Lokanath – World Master. Atau lebih tepatnya Popular Master. Sesungguhnya Vyaktinath pun sama cerahnya seperti Lokanath. Hanya saja tugas mereka berbeda. Yang pertama mengajar individu, yang kedua mengajar dunia. Tilopa, misalnya, bukanlah seorang Lokanath.

Dia seorang Vyaktinath. Jumlah muridnya terbatas. Hanya satu, yaitu Naropa yang menonjol. Kemudian, Naropa sendiri masih juga Vyaktinath, masih mengurusi beberapa individu saja. Murid dia, Marpa, bisa disebut Lokanath. Dan karena Marpa pula, Tilopa dan Naropa menjadi populer…….. Sang Istri: …….Kehadiran seorang Master adalah berkah yang langka. Pengenalannya akan diri kita membuat kita mengenal diri kita sendiri. Ya, ia telah membuat saya tahu siapa diri saya sebenarnya. Itulah yang dilakukan oleh seorang Master kepada pengikutnya. Seorang pengikut, seorang murid harus reseptif, kalau tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Ada beberapa tingkat reseptivitas, seperti ada beberapa tingkat dalam Kesadaran. Kesadaran tergantung para tingkat reseptivitasnya. Masterlah mengetahui tingkat reseptivitasnya. Bukan kita yang memutuskan. Seorang Master-lah yang mengevaluasinya. Dan kita telah menemukan seorang Master yang sesuai dengan tingkat reseptivitas kita……… Demikian disampaikan dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”. Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Dalam tradisi India, pertemuan dengan seorang suci bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu adalah darshan atau “melihat sekilas” kesucian yang sudah ada dalam diri kita melalui Sang Master. Seorang Guru bagai sebuah cermin di mana seorang pengikut dapat bisa melihat dirinya sendiri, wajah “asli”-nya sendiri. Seorang Master adalah masa depan muridnya dan seorang murid adalah masa lalu seorang Master dan mereka bertemu dalam kekinian………. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Ketekunan-Keyakinan-Kesabaran Renungan Kesebelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam”, disampaikan tentang lima butir pencerahan: Kenalilah dirimu, Jagalah pergaulanmu, Pertahankanlah kesadaranmu, Tekun dan bersemangatlah selalu, Berkaryalah sesuai dengan kesadaranmu…….. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness “ disampaikan……… Kita sangat bergairah saat mendalami sesuatu yang baru, namun beberapa lama kemudian kegairahan itu mulai melentur. Dalam kaitannya dengan meditasi, kegairahan awal itu biasanya berlanjut hingga tiga bulan saja. Setelah itu, kita membutuhkan disiplin diri, ketekunan, dan barangkali support group untuk membantu kita bertahan, hingga pada suatu ketika timbul “kesadaran” dari “dalam diri” dan kesadaran itu menjadi kekuatan diri kita untuk bertahan…….. support group sudah pernah kita bicarakan dalam konteks menjaga pergaulan. Suamiku, mari kita berdiskusi tentang “ketekunan”……. Sang Suami: Baik istriku, dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati” disampaikan…….. Bagi Shankara disiplin adalah ketekunan dan keceriaan. Shankara tidak setuju dengan disiplin yang dipaksakan. Disiplin tidak bisa dari luar, mesti dari dalam diri. Manusia tidak dapat didisiplinkan. Ia mesti mendisiplinkan diri. Disiplin diri berarti tekun, bukan karena di paksa, tetapi karena sadar bahwa ketekunan itu dibutuhkan; bahwa ketekunan itu demi kebaikan dirinya juga, maka ia tetap ceria. Ya, orang yang menerapkan disiplin bagi dirinya tidak pernah berkeluh-kesah. la juga tidak mencari perhatian. la tidak mengaduh-aduh. la selalu ceria…….. Sang Istri: Ibadah pun membutuhkan ketekunan. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri “ disampaikan……… Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri kita. Tidak lebih dari itu. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri kita. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam diri kita, kita akan mulai melihat kekasih kita di mana-mana. Dia ada di Selatan dan di Timur, di Utara dan di Barat, Dia di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang kita lakukan akan menjadi pemujaan. Kita tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang kita lakukan, kita lakukan demi cinta kasih…….

Sang Suami: Para leluhur kita mempunyai istilah tapa, tekun di dalam mengendalikan diri. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan kita. Menambah atau mengembangkan berarti kita masih “mengejar” sesuatu. Kita belum tenang, kita masih gelisah. Berarti kita belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika kita tidak melakukannya secara teratur, kita belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa……… Sang Istri: Benar suamiku, kita harus tekun, disiplin dalam menghindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran. Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan…….. Menghindari keadaan yang tidak menunjang – menyangkut disiplin atau pengendalian diri. “Diri” dalam hal ini masih terkait dengan lapisan kesadaran jasmani kita. Inilah olah raga dalam arti sebenarnya. Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, dan lain sebagainya berkaitan dengan lapisan pikiran dan perasaan. Inilah olah cipta dan olah rasa. Kemudian, setelah mengolah diri, kita baru terjun ke dunia untuk berkarya tanpa pamrih dengan semangat menyembah. Pun sebelumnya, sebelum turun ke dunia, kita sudah menemukan potensi diri. Kita sudah memahami kemampuan diri. Berkarya dengan semangat menyembah berarti ibadah. Inilah pemahaman Gita tentang ibadah………. Sang Suami: Ketekunan dapat dilakoni bila kita memiliki keyakinan dan kesabaran. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Keyakinan dan kesabaran adalah perahu yang dapat mengantarmu ke tepi seberang. Keyakinan dan kesabaran membersihkan jiwa dan menyucikan hati. Keyakinan dan kesabaran melenyapkan rasa takut, dan membebaskan kita dari segala macam penderitaan, keculitan, serta keraguan. Keyakinan dan kesabaran ibarat saudara kembar yang senantiasa melindungi kita dari segala macam marabahaya……… Biarlah orang lain mengejekmu, jangan membalas dia dengan ejekan. Jika kau bersabar, maka kau akan selalu bahagia. Biarlah seluruh dunia bersikap tidak waras, kau tetaplah tenang. Janganlah terganggu, anggap semuanya sebagai adegan dalam pertunjukan…….. Sang Istri: Sabar harus dilakukan sepanjang hayat. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan………. Sabar bukanlah one time shot, sabar adalaha life time affair. Simak yang satu ini : Bila kepala tasbih kau anggap mewakili Allah. Kemudian butir pertama kau anggap mewakili Sifat Utama-Nya : Maha Pengasih. Maka butir terakhir adalah Maha Sabar. Berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. Kasih mengantarmu ke dunia. Sabar mengajakmu balik pada-Nya. Sesungguhnya Sabar

itulah Tuhan. Bila kau ingin Berketuhanan. Janganlah membalas kekerasan dengan kekerasan…… Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…….. Shirdi Sai Baba, mistik sufi yang seumur hidup tinggal di masjid, menempatkan sabar dan keyakinan diatas segalanya, saburi dan shraddha, demikian dalam bahasa Marathi, salah satu dialek di India. Hubungan kita dengan sesama manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia. Interaksi dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan adalah dua urusan utama manusia. Sejak lahir sampai mati, inilah dua hal yang harus diurusi. Karena itu, kesabaran dan keyakinan dapat dijadikan landasan bagi dharma, bagi kewajiban dan tugas kita di dunia…… Sang Istri: Untuk tekun dan sabar dalam meningkatkan kesadaran kita harus yakin akan adanya hukum alam. Dalam buku “Indonesia Under Attack, Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa” disampaikan……. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap pekerjaan yang baik akan membawakan hasil yang baik pula. Jaminan apa lagi yang kubutuhkan? Keyakinanku itulah jaminanku. Karena, keyakinan itu bukanlah khayalan atau awan-awan belaka. Keyakinan itu sesuai dengan Hukum Alam, Hukum Aksi Reaksi, Hukum Sebab-Akibat. Sebab itu, sekali lagi kukatakan: Aku tidak membutuhkan jaminan keberhasilan untuk memotivasiku. Aku bekerja karena aku suka bekerja, tidak membutuhkan jaminan keberhasilan. Dan, jika ada seorang pun yang memahami apa yang tengah kulakukan, maka aku sudah merasa terberkati. Karena, dalam Hukum Alam yang kuketahui satu ditambah satu tidak selalu dua………. Sang Suami: Kita juga harus yakin pada kebijakan Ilahi. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru” disampaikan……… Pengalaman-pengalaman dalam hidup ini ibarat musim, datang silih berganti. Tak satu pun kekal, abadi. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan, ketampanan semuanya fana; tak ada yang langgeng. Bahkan, keberanian, semangat hidup, positive thinking pun tidak langgeng. Saat ini masih berani, sesaat kemudian takut. Saat ini masih cerdas, sesaat lagi lenyap tanpa bekas segala kecerdasan itu. Karena itu, terimalah hidup ini seutuhnya. Ada panas, ada dingin; ada pedas, ada manis; ada suka, ada duka… semuanya bagian dari hidup yang satu dan sama. Terimalah semuanya dengan kedua tangan terbuka karena dengan menutup tangan pun kita tak mampu menolaknya. Pengalaman-pengalaman itu memperkaya hidup, memperkuat jiwa. Terimalah semuanya dengan rasa syukur, dengan penuh yakin pada Kebijakan Ilahi dan apa yang telah ditentukan-Nya bagi perkembangan jiwa kita……… Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Kegelisahan membuat kita jauh dari kebahagiaan. Kita harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, itu adalah kehendak Tuhan. Dan tentunya kita harus menerima kehendak Tuhan, karena kehendaknya itu semata-mata untuk kebaikan diri kita sendiri. Apabila ada suatu kesusahan dalam hidup kita, anggaplah itu sebagai pemberian Tuhan dan terimalah

dengan senang hati…….. Sang Istri: Dan, kita harus yakin pada Guru pada Mursyid. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan………. Para Shaykh, para Pir, Para Mursyid bagaikan bahtera Nabi Nuh. Dan senantiasa mereka mengajak kita untuk menaiki bahtera mereka. Bila ingin selamat, kita harus menerima ajakan mereka. Harus memenuhi panggilan mereka. Di atas segalanya, kita harus meyakini kebijakan mereka. Jangan angkuh, jangan sombong. Tidak perlu memamerkan pengetahuanmu. Gunakan sayap mereka untuk terbang tinggi. Kadang mereka mengasihi kamu. Kadang memarahi kamu. Jangan kira amarah mursyid berbeda dari kasih mereka. Dua-duanya sama. Karena “dua-duanya” bertujuan untuk membantu sang murid! Seorang mursyid tidak punya agenda lain, kecuali “peningkatan kesadaran” para muridnya. Untuk itu, dia berada di tengah kita. Apa pun yang mereka lakukan, demi kebaikan kita………. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Wejangan Pengetahuan Sejati Renungan Keduabelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca buku “Shri Sai Satcharita” yang menjelaskan tentang “Wejangan Pengetahuan Sejati” atau “Gyana-Upadesh”. Disebutkan bahwa……… Meniadakan ketidaktahuan – itulah pengetahuan, mengakhiri gelap – itulah terang. Pengetahuan adalah suatu keadaan ketika ketidaktahuan sudah tidak ada, sudah lenyap. Mengakhiri gelap adalah terang, mengakhiri ketidaktahuan atau agyanam, adalah pengetahuan, atau gyanam……… Sang Suami: Iya istriku, di dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan bahwa…….. Mengakhiri dvaita adalah advaita. Ketika dualitas atau dvaita berakhir, maka yang tersisa adalah advaita, keikaan, tunggal, satu. Pengetahuan sejati atau janam adalah advaita. Ketunggalan, keikaan, kesatuan segala sesuatu. Ketidaktahuan atau ajnanam adalah dvaita, dualitas. Untuk merealisir advaita, atau keikaan tunggal, maka kita mesti bebas dari segala perasaan dvaita atau dualitas……… Selama masih berperasaan dvaita atau dualitas, seorang tidak mungkin menyadari advaita, atau keikaan tunggal. Kemudian, bagaimana menyampaikan atau mengajarkan? Sebelum merealisir advaita, atau keikaan tunggal itu dalam hidupnya sendiri, tak seorang pun dapat memahami, apalagi menjelaskannya………. Sang Istri: Itulah bedanya antara Sadguru dan siswa…….. Dilihat dari sudut pandang advaita, atau keikaan tunggal – sesungguhnya, seorang siswa dan seorang Sadguru – dua-duanya sama. Dua-duanya adalah wujud dari pengetahuan sejati itu sendiri. Dua-duanya berasal dari Sat, Kebenaran sejati; Chit, Kesadaran Murni; dan Anand, Kebahagiaan Kekal Abadi. Seorang Sadguru menyadari asal-usulnya. Seorang siswa tidak……… Ketidaksadaran seorang siswa disebabkan oleh timbunan agyanam atau ketidaktahuan karena kelahiran dan kematian berulang-ulang sehingga ia terpengaruh oleh berbagai macam pengalaman, keinginan-keinginan yang tak terpenuhi, dan lain sebagainya. Seorang sadguru juga mengalami semuanya itu, tapi dia tidak pernah lupa akan asal-usul, atau jati dirinya. Maka, ia menyatakan diri sebagai Shuddha Chaitanya – Kesadaran Murni dan Suci yang Tak Tercemarkan. Ibarat awan gelap apa pun tidak mencemari langit, pengalaman-pengalaman dari sekian banyak masa kelahiran tidak mencemari Kesadaran Diri seorang Sadguru. Karena itulah ia disebut Sadguru. Sebaliknya, seorang siswa melupakan asal-usul, atau jati dirinya. Pengalaman-pengalaman dari sekian banyak masa kelahiran sebelumnya membuat dia berpikir seolah dirinya adalah jiwa yang serba terbatas. Ia menganggap dirinya hina, dina, dan tidak berdaya. Beberapa contoh anggapan-anggapan keliru adalah: pertama,

aku hanyalah makhluk biasa, jiwa yang tak berdaya.Kedua, aku adalah badan ini, badan inilah jati diriku. Ketiga, Tuhan, dunia, dan jiwa adalah tiga entitas yang beda. Keempat, Aku bukan Tuhan. Kelima, ketidaktahuan bahwa badan bukanlah jiwa. Keenam, ketidaktahuan bahwa Tuhan, dunia, dan jiwa adalah satu………. Sang Suami: Iya istriku, dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa…….. Apa yang dilakukan oleh seorang Sadguru, ketika menghadapi seorang siswa yang “beranggapan” demikian? Ia mesti membebaskan dia dari “anggapan” keliru itu. “Anggapan” keliru itulah ketidaktahuan, itulah dualitas, itulah ketidaksadaran. Seorang Sadguru mesti mengingatkan siswanya bahwa dia adalah wujud Ilahi juga, persis sama seperti dirinya. Ketidaktahuan menciptakan dualitas. Terpengaruh oleh dualitas yang ilusif itu, seorang siswa beranggapan bahwa dirinya tidak hanya terpisah dari Tuhan, tetapi juga dari dunia, dari orang lain. Perpisahan itulah yang menyebabkan pengalaman suka-duka, dan lain sebagainya………. Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan bagaimana caranya mengakhiri anggapan yang keliru itu………. Dengan melakukan “atma-chintana”, “self inquiry”, bertanya pada diri sendiri: Apa yang menyebabkan aku beranggapan keliru seperti itu? Untuk itu seorang Guru membantu sang siswa lewat wejangan, atau “upadesh” yang disampaikannya. Adapun wejangan seorang Sadguru semata-mata untuk menunjukkan kekeliruan anggapan atau pandangan para siswa…….. Sang Suami: Wejangan seperti itu mesti disebut apa? Agyanam, atau gyanam, wejangan ketidaktahuan, atau wejangan pengetahuan sejati? Untuk apa menyampaikan wejangan tentang pengetahuan sejati, jika seorang siswa pun sesungguhnya adalah wujud pengetahuan sejati itu sendiri?……… Guru Upadesh, wejangan seorang guru hanyalah untuk menunjukkan kekeliruan, kesalahan, ketidaktahuan – dan mengakhirinya……….. Adapun Krishna menasihati Arjuna untuk belajar dari mereka yang memiliki pengetahuan sejati, supaya harum kemuliaan mereka tersebar ke mana-mana. Bagi seorang sadbhakta, atau panembah sejati, Sadguru adalah wujud Tuhan…. Dan, bagi seorang Sadguru, sadbhakta adalah wujud Tuhan. Krishna tidak membedakan keduanya. Bagi Krishna dua-duanya dalah Dia………….. Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan pengetahuan sejati……. Dalam Surat Asy-Syu’araa ayat 180 disampaikan…… “dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”………… Kita berulang-ulang diingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “wargadunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”……. Fitrah kita

bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang berkunjung di dunia atas perintahNya…….. Apakah Allah membedakan antara warga atau tamu? Bukankah kita semua adalah ciptaannya? Ya, betul. Dia tidak membedakan. Kita sendiri yang menentukankedudukan kita. Kita sendiri yang memilih dan menempatkan diri sebagai pengunjung atau tamu di dunia atau atau sebagai warga tetap. Berikutnya dijelaskan adab atau disiplin seorang bertamu dunia: 1. Penilaian yang benar. 2. Tidak merampas hak manusia. 3. Tidak merusak dunia dan 4. Selalu bertaqwa pada Gusti Allah (Surat Asy-Syu’araa ayat 182/4). Inilah adab seorang tamu di dunia. Pilihan sepenuhnya di tangan kita. Sesungguhnya seperti Mursyid mengatakan “Allah Maalik hai” – Gusti Allah Maha Memiliki. Mau jadi warga dunia atau tamu di dunia, kita semua tetaplah milikNya. Adalah demi kebaikan kita sendiri bahwa pilihan itu di-“cipta”-kan supaya kita bisa “bermain” dengan cantik. Marilah kita mencontohi permainan cantik para pecintaNya dengan mempertahankan kewarganegaraan surga kita yang sedang berkunjung ke dunia sebagai tamu……… Sang Suami: Benar istriku, aku juga ingat sebuah wejangan pengetahuan sejati………. Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel di mana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke “negeri asalnya”. Kiranya inilah artiayat 11 dalam surat al Fath, “harta dan keluarga kami merintangi”. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu “berjuang” dalam, dan dengan kesadaran ilahi. Gusti tidak membutuhkan pembelaan, Ia pun tidak membutuhkan senapan kita, roket dan bom kita untuk untuk memusnahkan dunia ini. Jika Ia menghendaki maka dalam sekejap jutaan nyawa bisa melayang, planet ini bisa musnah hancur-lebur. Ayat ini adalah pelajaran bagi mukmin, mereka yang beriman. Ayat ini dimaksudkan bagi hamba Allah, dan bukan bagi budak dunia. Jika kita puas dengan perbudakan, maka itu adalah pilihan kita. Dan, konsekuensinya adalah resiko kita sendiri. Tuhan maha menyaksikan. Ia menjadi saksi akan setiap pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan kita. Keselarasan antara apa yang ada dalam hati dan kita buat mengantar kita ke svarga, fitrah kita, kodrat kita (innalillahi…..). Jannah- itulah idulfitri……… Sang Istri: Sekarang aku baru bisa memahami apa yang disampaikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”………… Manusia tidak bisa bebas sepenuhnya dari instink hewani. Bagaimana bisa bebas sepenuhnya? Bebas dari sifat-sifat ini, ya berarti mati. Bagi Shankara hidup bukanlah permainan dua warna hitam dan putih. Hidup memiliki semua warna. Ada warna-warna hewani, ada pula warna insani. Bagi Shankara, Tuhan tidak bertentangan dengan hewan, tidak pula berpihak dengan insan. Warna hewani dan insani itu justru berada di dalam-Nya. Pemahaman Shankara persis sama dengan

pemahaman para sufi tentang Tauhid atau “kesatuan”. Bagi Shankara, “Yang Ada Hanyalah Satu Itu”. Ia menyebutnya “Advaita” — tidak ada yang lain……….. Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Tauhid berarti “Kesatuan”. Satu Allah, Hyang Tiada Duanya. Bagi Einstein, Hyang Tiada Duanya adalah Medan Energi Terpadu yang mempersatukan kita semua. Bagi para resi inilah Advaita – Non Dualitas. Ekam Sat – Adalah Satu Hyang Memiliki Banyak Sebutan. Vedaanta tidak membedakan antara penemuan Muhammad, pemahaman Einstein dan pencerahan para resi. Semuanya bagian dari Hyang Maha Sampurna, Kesempurnaan itu sendiri. Maka, Vedaanta pun memahami betul ketika Isa menyatakan dirinya Sama dengan Bapa Allah di Surga. Pertemuannya dengan para Yogi, dengan mereka yang memahami Vedaanta, mencerahkan Sufi Shah Latief asal Sindh (sekarang bagian dari Pakistan), dan ia pun menari dan menyanyi riang: Ternyata, “Aku” sudah berada sebelum Adam. Sungguh, Adam baru saja lahir………. Vedaanta memahami ungkapan “Bagaimana pun jua, saya seorang manusia…… manusia biasa” sebagai kekeliruan manusia. Kekeliruan dalam hal mengenal diri. Kekeliruan atau kesalahpahaman tentang jati-diri, yang disebabkan oleh pikiran. Maka, membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang keliru itu menjadi tugas awal manusia…………. Semoga……. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Pengendalian Diri Renungan Ketigabelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang belajar bagaimana cara berguru yang baik. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pemahaman pengetahuan menjadi tidak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Buku tidak dibaca tetapi dipelajari. Paathi-to learn, sebuah proses seumur hidup dari lahir sampai mati. Dengan mempelajari terjadilah pemahaman secara repetitif intensif , sehingga pemahaman tersebut dari dalam mengubah diri. Sang Suami: Dalam buku “Genom, Kisah Species Manusia” oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri…… Sang Istri: Suamiku, berarti dalam diri kita pun masih ada sifat hewani yang kita bawa dari evolusi sebelumnya. Berarti untuk meningkatkan evolusi kita harus bekerja keras. Aku jadi ingat kembali bahwa dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” telah disampaikan…….. Pengendalian Diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Untuk itu, kita harus bekerja keras. Terkendalinya diri oleh keadaan adalah sesuatu yang sangat alami. Bila kita masih belum dapat mengendalikan diri, dan masih terkendali oleh keadaan it makes sense, sangat alami. Bukanlah kita semua makhluk hidup? Bila makhluk hidup terkendali oleh kehidupan, apa salahnya? Kelak, bila kita berhasil mengendalikan hidup tidak perlu kita gembar-gemborkan juga. Saat itu, pengendalian diri menjadi sesuatu yang alami…….. Sang Suami: Benar istriku dan kita harus melakukan pengendalian diri dengan cara repetitif dan intensif sampai pengendalian diri sudah menjadi kebiasaan bahkan perilaku kita. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……… Proses pembombardiran dilakukan dengan cara “pengulangan yang intensif dan terus menerus” atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan. Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka

dapat mempengaruhi otak kita dan “memaksa” untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan lick Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka. Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka……….. Sang Istri: Suamiku, bukan hanya mengendalikan diri karena keinginan pribadi tetapi mengendalikan diri karena kesadaran. Bukankah Guru pernah mengingatkan…….. Keinginan selalu berasal dari ego. Keinginan tidak pernah berasal dari KehendakNya. Kesadaran akan KehendakNya memunculkan keikhlasan dan rasa syukur. Kendati demikian, kita pun tidak bisa sepenuhnya lepas dari keinginan, maka “besarkan” keinginanmu sesuai dengan “kebesaran”Nya. Tingkatkan keinginan sehingga menyatu dengan kehendakNya, “biarlah kehendakMu yang terjadi”. Itulah keinginan akhir yang mengantar kita pada keikhlasan….. Sang Suami: Benar istriku, kita harus meningkatkan keinginan memilih pengendalian diri sebagai pilihan yang memuliakan atau shreya daripada pilihan berdiam diri yang meninabobokkan atau phreya. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya yang memuliakan, atau yang menyenangkan. Kita hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Kita harus “sadar” bahwa pengendalian diri itu tindakan mulia bagi kita. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…….. Guru Besar Shankara berkata: “Pengetahuan belaka tidak mampu membebaskan dirimu dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Pujilah Govinda, Ingatlah pengendalian diri, pengendalian sifat-sifat hewani dan pikiran rendah oleh kesadaranmu!” Itulah makna Govinda, Govindabukan sekedar nama, bukan sekedar sebutan bagi Tuhan, tetapi sebutan bagi sifat ilahi di dalam diri manusia yaitu, pengendalian diri……… Para leluhur mempunyai istilah Narapati seperti yang dijelaskan dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”………. Narapati adalah julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya. Yang dikuasai adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia. Pati berarti raja, pengendali. Yang dimaksudkan adalah pengendalian diri………… Sang Istri: Untuk dapat merasakan kehadiran Gusti dalam diri kita harus melakukan pengendalian diri. dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan…….. Kehadiran-Nya dapat terasa bila pikiran dan panca indra sudah terkendali dan

keseimbangan diri terasa. Penyusun Atmopanishad menyebut tiga “bagian” Yoga supaya kita dapat merasakan kehadiran-Nya setiap saat dan di setiap saat. Pertama, Pranayama: Pengendalian pikiran lewat pengaturan napas. Tarik napas dan buang napas pelan-pelan. Gunakan lubang hidung dan napas harus lembut tanpa suara. Makin pelan napas, makin jarang pula pikiran yang melintas dan makin tenang diri anda. Kedua , Pratyahara: Pengendalian panca indra dengan cara menarik diri dari rangsangan- rangsangan dari luar. Ketiga , Samadhi atau keseimbangan diri yang diperoleh lewat meditasi. Para pemula membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk melakukan latihan meditasi. Dibutuhkan juga disiplin dan ketekunan. Lambat laun meditasi akan mewarnai seluruh hidup……… Sang Suami: Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan…….. Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad… Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengendalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang itu…….. Sang Istri: Suamiku aku ingat dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan seorang murid yang begitu sedih, merasa bersalah karena menikmati pesona wanita cantik. Dan, Sang Guru menyampaikan…….. Kenapa gelisah? Kegelisahanmu percuma saja, untuk apa gelisah ? Biarlah indra melakukan pekerjaanya. Itu kewajiban mereka. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka. Pancaindra adalah ciptaan Tuhan. Setiap indra diberi tugas tertentu. Setiap indra punya tugas, dan punya kewajiban. Dunia yang indah pun ciptaan Tuhan. Adalah kewajiban kita untuk menghargai, mengapresiasi keindahan yang diciptakan-Nya. Sifat pikiran memang seperti itu. Sebentar lagi juga pasti tenang kembali. Tidak perlu khawatir, tidak perlu gelisah, tidak perlu berkecil hati. Jika hatimu bersih, apa yang kau khawatirkan ? Jika pikiranmu tidak jahat, apa pula yang kau gelisahkan? Biarlah indra mata melakukan pekerjaanya, kenapa kamu mesti malu, dan gelisah? Tidak ada persoalan, tidak ada masalah, tidak ada kesulitan apa pun jika hatimu bersih, dan pikiranmu baik……… Sang Suami: Aku juga ingat cerita dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut bahwa pengendalian pikiran sangat penting……… Wejangan Sang Guru, mind, atau pikiran manusia selalu berubah-ubah, tidak pernah tetap. Itulah sifat mind. Apa yang dapat dilakukan adalah pengendalian pikiran, supaya tidak liar. Itu saja. Ia tidak dapat dihentikan. Mengikuti gerak-gerik pikiran, indra manusia bisa terpicu juga. Badan bisa terpengaruh pula. Sebab itu, ketika mesti mengawasinya selalu. Kita tidak boleh ikut menjadi gelisah. Indra selalu tertarik dengan pemicu-pemicu di luar. Hendaknya

kita tidak mengikuti ketertarikannya dan berkeinginan untuk memilikinya……… Sesungguhnya kita bisa mengendalikan pikiran. Prosesnya perlahan, bertahap, tapi pasti. Kegelisahan pikiran yang disebabkan oleh ketertarikannya pada sesuatu, bisa diatasi, bisa dilampaui. Hendaknya kita tidak terkendali oleh pikiran, tapi justru kitalah yang mengendalikan pikiran. Ketika pikiran terkendali, indra pun akan ikut terkendali. Tidak perlu menekan indra, tidak perlu pula menafikan mereka. Tidak bisa. Gunakan mereka sesuai dengan fungsi mereka, dan untuk kebutuhan kita. Indra mata diciptakan untuk melihat dan mengapresiasi keindahan. Gunakanlah mata untuk itu. Kenapa mesti malu menatap atau mengapresiasi keindahan? Kenapa mesti takut dan ragu? Kita hanya menjaga satu hal saja, yaitu tidak melayani pikiran jahat. Pikiran yang terkendali dan tidak menuntut melulu, adalah pikiran yang baik, tidak jahat……… Sang Istri: Akhir dari cerita tersebut dituliskan dengan sangat indah……… Dengan pikiran seperti itu, nikmatilah keindahan yang diciptakan oleh Tuhan. Apresiasilah keindahan itu. Ingatlah selalu bahwa semuanya itu, keindahan itu, berasal dari Tuhan. Dialah sumber keindahan. Jika kita menikmati keindahan dengan cara itu, maka semakin dekatlah diri kita dengan Tuhan. Setiap objek yang indah akan mengingatkan kita pada Hyang Maha Indah. Singkatnya, waspadalah selalu. Waspadailah indramu, pikiranmu, supaya tidak terikat dengan objek-objek di luar… Jika itu terjadi, maka terbebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian…………. Semoga…….. Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Maya, Ilusi, Dualitas Renungan Keempatbelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri. Sang Istri: Suamiku, mari kita membicarakan tentang maya, ilusi, dualitas. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa keberadaan kita pun hanyalah sebuah asumsi…….. Ini badan, itu kendaraan. Ini tangan, itu tiang. Aku insan, dia binatang. Aku bijak, dia bodoh. Apa yang ada di balik “aku insan” dan “dia binatang”? Atom, molekul…. Bisakah kita melihat atom? Atom hanyalah sebuah asumsi. Ada karena kita berasumsi ada. Ada karena kita berasumsi ada. Keberadaan kita pun sekadar asumsi. We think we are. Di balik asumsi-asumsi itu, adakah kebenaran lain? Jangan meminjam pengetahuan dari buku untuk menjawab pertanyaan ini, karena pengetahuan dan buku pun sekadar asumsi. Keberadaan kita sekadar asumsi. Narada mengajak kita untuk melampaui segala macam asumsi. Untuk melampaui kesadaran ilusif, ke-“aku”-an yang tak bersubstansi……… Sang Suami: Biarlah kita pinjam pengetahuan dari buku sebentar untuk sekedar mengevaluasi diri……. Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan………. Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita………. Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk. Sang Istri: Suamiku, aku ingat buku “Neo Psyhic Awareness” yang menyampaikan…….. Manusia berada antara hewan dan malaikat: Manusia adalah

titik tengah… Manas + isha = manushya = manusia. Tambahkan manas atau mind, pikiran pada Isha atau keilahian, maka “terjadilah” manushya atau manusia. Manushya atau manusia dikurangi manas atau mind (pikiran) tinggal isha, keilahian. Pikiran menjauhkan kita dari Allah. Pikiran itulah hijab, maya, ilusi yang sebenarnya juga merupakan ciptaan-Nya. la menciptakan pikiran terlebih dahulu, supaya manusia tercipta. Peleburan pikiran mempertemukan diri kita dengan Sang Maha Cipta, bukan Pencipta, tetapi Cipta. Ia bukanlah “sosok” pencipta. Ciptaan terjadi karena Keberadaan-Nya, Kehadiran-Nya…….. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa…….. Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas. Seorang Sadguru mengingatkan kita karena peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran…….. Sang Istri: Untuk membebaskan diri dari maya, kesadaran ilusif, kesadaran rendah yang membelenggu batin kita, dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan……. agar kita menghindari Duhsanga, pergaulan dan lingkungan yang tidak menunjang pertumbuhan kasih di dalam diri. Dekati mereka yang sudah menemukan kebenaran di dalam diri, Satsanga. Dan engkau akan menjadi Nirmamah. Engkau akan berhasil melampaui kesadaran ilusif – ke-“aku”-anmu yang tak bersubstansi. Nir berarti “bukan, tidak, tanpa”. Mamah berarti “ke-‘aku’-an” – kesadaran ilusif, maya. Nirlaba berarti “tanpa keuntungan” atau non-komersil. Nirmamah setingkat lebih tinggi dari Nirlaba. Yang dinafikan, ditiadakan, di negasi bukan hanya keuntungan, tetapi ke-“aku”-an dan rasa kepemilikan. Satsanga bisa menciptakan kesadaran Nirmamah. Asal mereka yang kita dekati dan “gauli” betul-betul para Satsangi – mereka yang sudah dekat dengan Kebenaran, yang sudah melampaui ke-“aku”-an. Ya, yang benar-benar Satsangi dan bukan sekadar menyandang “gelar” Satsangi, karena dengan gelar itu seseorang tidak serta-merta melampaui ke-“aku”-an………. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Dengan Satsang, pergaulan baik atau “good company” kata Shankara, “bebaskan dirimu dari keterikatan.” Berarti pergaulan yang baik justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusanga menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk mengevaluasi persahabatan kita selama ini……… Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan tentang Surat Al-A’raaf ayat 113……. Apa

yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifan di dalam diri kita. Maka, kita tidak mencapai ketinggian yang dijanjikan Qur’an, kesadaran kita malah semakin merosot ke bawah…….. Ketika Musa berada di tengah kita pun, kita masih sibuk bergaul, dan bersosialisasi dengan budak-budak Firaun. Kita lupa akan potensi diri kita. Inilah penyakit utama yang diderita oleh umat manusia, oleh kita semua – penyakit lupa. Tapi, masih belum terlambat. Begitu sadar, kita mesti segera berpisah dari kaum Firaun dan bergabung dengan kaum Musa. Kita mesti belajar memilah, mana yg tepat, mulia, dan tinggi. Dan, mana yg tidak tepat, sekedar menyenangkan, dan malah merendahkan. Pilihan kita mesti tepat, dan kita memilih yang tepat. Sang Suami: Termotivasi untuk berkarya demi kepentingan sesama karena “janji surga” pun masih menempatkan kita dalam kabilah, dalam suku Firaun, bersama budak-budak lain. Kita mesti segera berpisah dari mereka, sehingga dapat berhamba kepada Allah. Inilah permainan Tuhan, permainan ular tangga. Ia sedang menyaksikan jatuh-bangun kita. Dan dari waktu ke waktu Ia pun mengingatkan kita lewat para kekasihNya, “Bereskan niatmu. Niatmu dapat mengantarmu ke ketinggian yang sesungguhnya adalah takdirmu.”…… Sekarang ini kita masih berniat, berhasrat “Firaun” – materi. Maka, hidup kita pun menjadi materiil, samar, bayang-bayang, maya, ilusi. Sekarang tinggal berpindah niat, tidak lagi memperhatikan bayang-bayang tapi memusatkan seluruh perhatian, seluruh kesadaran pada Ia yang terbayang – mengalihkannya dari materi ke ruhani. Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan bahwa pada suatu hari Sang Sadguru bersabda, “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku. Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya…… Sang Suami: Dalam salah satu wejangan yang pernah aku dengar disampaikan……. Keselarasan antara apa yang ada dalam hati dan yang kita perbuat mengantar kita ke svarga, fitrah kita, kodrat kita (innalillahi…..). Jannah – itulah idulfitri. Ketidakselarasan mengantar kita ke narka, untuk mengulangi pelajaran yang belum selesai, dan itulah jahannam, itulah Yaumid din – wilayah kekuasaan Yama, mayapada. Yama, Maya……. Simran, constant remembrance, zikir tanpa tasbih dan tanpa suara yang tak pernah putus – itulah antidote untuk maya. Ketika itu terjadi Yama tidak berkuasa lagi……. Sang Istri: Hubungan dengan dunia sebatas hi dan bye. Untuk jual kue, untuk jadi DJ,

silakan. Itu urusan perut. Tapi pintar-pintar, begitu urusan selesai, cepat-cepat pulang. Seperti pembantu yang pulang hari, ia ingin pekerjaannya cepat selesai supaya bisa cepat pulang. Kita sekarang ini menjadi pembantu yang “nginap di dalam”. Padahal penginapan ini hanya membuktikan bahwa kita adalah budak jenis baru. Pulang hari, selesai pekerjaan pulang. Selesai jualan kue, selesai DJ, pulang ke Bunda Mahamaya. Bunda akan membebaskan diri kita dari cengkeraman maya, karena ia adalah Mahamaya. Ia berada di atas maya, jika kita berpaling kepadaNya, kita akan ikut melampaui maya……. Semoga…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Selalu Berkembang Renungan Kelimabelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri agar esensi dari buku-buku tersebut dapat mereka resapi. Sang Suami: Istriku aku baru saja membuka arsip wisdom beberapa tahun yang lalu dan kutemukan sebuah wejangan yang indah dan memberikan semangat…….Kita semua lahir, hidup dan mati dalam ketaksadaran. Kesadaran adalah sebuah ideal, tujuan. Tercapai atau tidak, bukanlah urusan kita. Bahwasanya kita telah berjalan untuk mencapainya, itu yang penting. Mari kita berhenti menilai orang lain. Mari kita berhenti megurusi Maria yang hendak meminyaki kaki Yesus. Itu urusan Maria. Bila kita ingin menggunakan uang itu untuk melayani fakir miskin – silakan. Bila kita ingin menghadiri pertemuan di pura, di vihara, di masjid, di gereja, atau dimana saja – silakan juga. Kesadaran berlapis-lapis, bertingkat-tingkat.Berada di tingkat terbawah, apa yang kita tahu tentang apa yang ada di tingkat tertinggi, di lantai teratas? Karmaku hanya satu – berjalan. Dharmaku hanya satu – tidak berhenti mendaki. Sang Istri: Untuk itu kita harus berkembang, dan memulai langkah pertama dengan modal yang telah kita miliki saat ini. Aku juga ingat sebuah wejangan bijaksana…….. Bagaimana Tuhan mengubah keadaan kolektif suatu bangsa, kaum, kelompok? Ar-Ra’du ayat 11 menjelaskan ketika mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Tiadalah Allah turun dari langit entah ke berapa untuk mengubah keadaan kita, Ia bekerja lewat kita sehingga kita mengubah-diri. Perubahan diri yang dimaksud adalah perubahan secara menyeluruh, ubah total, bukan tambal-sulam. Ketika kita mengambil satu langkah konkret maka Ia melipatgandakan upaya kita, sehingga 1 langkah itu menjadi 1000 langkah. Itu adalah kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, berkah-Nya. Namun berkah itu hanyalah datang ketika kita menghargai berkah sebelumnya dengan mengambil langkah pertama. Kita semua diberi potensi yang sama untuk melangkah ke depan. Apakah kita sudah memanfaatkan pemberian-Nya itu? Apakah kita sudah menggunakan berkah potensi-diri itu? Jika kita belum menggunakannya, maka kita tidak berhak untuk meminta dan mengharapkan berkah-Nya lagi. Gunakan terlebih dahulu apa yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Perubahan adalah hukum alam. Air yang tidak mengalir menjadi kotor dan sarang nyamuk. Air kehidupan mesti mengalir terus, tidak dibendung. Perubahan berarti hari ini saya menjadi lebih baik dari kemarin. Dan, besok lebih baik dari hari ini. Maka Ia Yang Maha Baik akan menambahkan kebaikan kepada kita. Sementara itu keburukan adalah hari ini saya menjadi lebih buruk dari kemarin. Atau hari ini saya sama seperti kemarin, berarti saya tidak mengalir, saya tidak berubah. Berarti saya telah menolak berkah-Nya berupa potensi-diri yang saya tidak manfaatkan, tidak kembangkan. Maka berkah apa lagi yang dapat diharapkan?

Sang Suami: Dalam buku “Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia” disampaikan……. Ada tujuh lapisan kesadaran yang biasa disebut 7 chakra, dari kesadaran awal tentang makan dan minum hingga kesadaran akhir – pencerahan, Samadhi atau keseimbangan diri. Kesadaran manusia berkembang terus, ibarat roda atau cakram yang berputar terus. Itulah alasan menggunakan istilah chakra. Tujuh chakra, tujuh roda….. Roda pertama berputar dan merangsang roda kedua untuk berputar, demikian terus hingga roda ke tujuh, hingga setiap roda berputar sempurna…….. Dalam buku “Kundalini Yoga, Dalam Hidup Sehari-Hari” disampaikan……. Kesadaran awal manusia atau chakra muladhar—kesadaran mendasar. Kesadaran ini yang membuat kita membumi, sangat realistis, logis. Mereka yang membanggakan diri sebagai rasional, sangat logis dan relistis berada pada lapisan kesadaran terbawah ini. Lapisan kesadaran kedua atau chakra svadishthanamembuat manusia menjadi kreatif. Ia menyebutnya lapisan kreativitas. Setelah jenuh dengan lapisan kesadaran pertama yang membuat manusia sangat logis, rasional, praktis dan realistis, ia meningkat ke lapisan kedua.Demikianlah tingkat kesadaran kedua atau chakra svadishtana. Etape kesadaran kedua ini membuat seseorang sangat kreatif. Namun apabila energi kreatif itu tidak dimanfaatkan, tidak disalurkan lewat sesuatu yang bersifat seni, maka bisa mencari penyaluran lewat seks. Chakra ketiga diseput Manipur Chakra – kota Intan, Kota Permata. Barada pada tingkat kesadaran ini, apa pun yang kita inginkan akan kita peroleh. Berkembangnya kreativitas diri berkat pengembangan Chakra Kedua, mengantar kita ke tingkat kesadaran ketiga ini. Sang Istri: Benar suamiku…….. Manusia mulai merasa nyaman – begitu nyamannya, sehingga biasanya tertidur lagi. Ia tidak melanjutkan perjalanannya. Ia lupa bahwa perjalanan jiwanya masih panjang. Ia baru pada chakra ketiga. Selanjutnya chakra keempat Anahat Chakra…..“Anahat” berarti “Suara yang tak terdengarkan”. Yang dimaksudkan adalah hati nurani kita. Suara hati nurani tidak terdengarkan, tetapi terasakan. Chakra ini mengantar kita ke kesadaran Kasih. Chakra kelima, Visuddha Chakra lapisan pembersihan. Kasih merupakan kekuatan. “Visuddha” berarti “pembersihan”. Kata “wisuda” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “vishuddha” ini. .. Pendidikan dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari naluri hewaninya. Wisuda bukan hanya pernyataan “lulus”, tetapi pernyataan “bersih” – bahwa siswa yang diwisuda itu sudah bersih dari naluri hewaninya. Berada pada visuddha chakra, kita harus lebih berhati-hati. Sekarang lembaran hati kita – kain jiwa kita – sudah bersih. Chakra keenam atau Agya Chakra ini berkaitan dengan bagian keenam Yoga, yakni tahap Konsentrasi atauDharana. … Sebelum mencapai tingkat ini menjauhkan diri dari dunia tidak akan membantu. … Yang mampu mengendalikan pikiran adalah Kesadaran. MencapaiAgya Chakra, mind tidak akan liar lagi. Konsentrasi menjadi sangat gampang…. … Memang mind yang terpusatkan pada sesuatu bisa lebih tenang daripada mindyang liar. Bila thoughts semakin kurang, rasa tenang yang kita alami semakin dalam. Chakra ketujuh, Sahasrara Chakra, Lapisan Pencerahan. “Sahasrara” berarti “ribuan”, biasanya digambarkan sebagai sekuntum bunga teratai dengan ribuan kelopak. … Alam ini tidak dapat dijelaskan, dan hanya dapat dirasakan.

Seorang Rabiah adalah seorang meditator. Ia sudah sadar, sudah cerah. Ciri khas seorang meditator adalah bahwa ia sudah tidak dapat membenci lagi. … Peningkatan kesadaran pada etape Chakra Sahasrara, membuat kita menjadi Wujud Kasih Ilahi. Pada tingkat Sahasrara Chakra, Allah, Ilahi, dan Kasih-Nya sudah tidak dapat dipisah-pisahkan lagi. Kitaa mengalami kesatuan dengan alam semesta……. Demikian disampaikan dalam buku “Kundalini Yoga, Dalam Hidup Sehari-Hari”…… Sang Suami: Segala sesuatu dalam alam ini, termasuk kesadaran kita semua sedang berkembang. Dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati” disampaikan……. Alam berjalan dan bertindak sesuai dengan hukum yang sudah ditentukan. Penentunya siapa – silakan kita sendiri yang menentukan. Sebutlah Tuhan, Allah, Buddha, Bapa di Surga, Widhi, Tao, atau apa saja – Keberadaan atau Ketiadaan Abadi. Hukum Perubahan: Tak ada sesuatu pun yang tak berubah. Segalanya senantiasa berubah. Maka, bila kita tidak ikut berubah, sudah pasti sengsara sendiri. Hukum yang satu ini sangat erat kaitannya dengan Evolusi. Hukum Evolusi: Kita semua sedang berkembang. Ya, kecepatan kita beda. Namun, perbedaan itu bukanlah karena pilih kasih oleh alam. Perbedaan itu disebabkan oleh kita juga…….. Sang Istri: Dengan perilaku mereka dalam hidup sehari-hari, para bijak “memuliakan” Jalan menuju Pencerahan. Pencerahan tidak dapat dimuliakan lewat kata-kata. Pencerahan harus dimuliakan lewat tindakan nyata. Semua orang memiliki ciri-ciri khas sendiri sehingga harus berkembang sesuai dengan keunikannya. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan……. Seorang Yesus adalah unik. Mungkin akan ada kedatangan Kristus lagi, tetapi Yesus tetap tak tertandingi. Pandangan dia unik. Cinta kasihnya, welas asihnya akan tetap unik. Seorang Muhammad adalah unik. Tidak ada nabi, baik di masa lalu maupun pada masa datang yang dapat mengalahkan kecemerlangannya. Dia sepenuhnya berbeda warna. Pedang di tangannya dan kitab suci di hatinya; dia berbeda! Yesus dan Muhammad, keduanya unik, karena itu berkembang. Jangan membanding-bandingkan mereka, karena masing-masing di antara mereka memiliki ciri-ciri khas sendiri, sehingga mereka unik. Krishna juga unik. Dia adalah bintang cemerlang di atas sana, yang selalu menarik kita. Dia penuh misteri. Saat dia membelai Radha, dia begitu larut dalam pelukannya, sepertinya tidak ada yang lebih penting lagi di dunia ini. Begitu kita mencoba menangkap kesan tentang dia yang begitu penuh cinta, begitu romantis, dia akan mengejutkan kita! Kita menyaksikan dia di medan perang Kurukshetra, berdialog tentang kesadaran yang tertinggi dengan Arjuna. Dia tetap merupakan teka-teki bagi kita, sehingga kita gagal memahaminya. Dia unik, dia berkembang……… Kita akan mengikuti Yesus, Siddhartha, Krishna atau Muhammad. Kita adalah tiruan. Kita tidak asli, Kita jauh dari unik dan karenanya jelas tidak berkembang. Kita berkembang dan kreatif hanya apabila kita tidak meniru orang. Tetaplah seperti kita, ini merupakan langkah awal menuju perkembangan. Apabila kita mulai berkembang, kita berada di jalur yang benar. kita bukan lagi produk dari sistem yang umum. kita menjadi unik. Begitu mulai berkembang, kita

akan meninggalkan masyarakat di belakang……. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut juga disampaikan……. Orang yang berkembang tidak berhenti. Dia maju terus. Dia bergerak terus. Orang kaya yang terus menerus mengumpulkan harta, sebenarnya telah berhenti berkembang. Apalagi setelah harta, setelah kekayaan, setelah keberhasilan materi? Orang yang berkembang berkelana menembus kehidupan, seperti mengemudi mobil. Dia akan menggunakan kaca spion, kaca depan, segala sesuatu yang membantunya sewaktu mengemudi. Menyilahkan orang lain mendahului, bukan tanda kemunduran. Dia tidak hidup di masa lampau, Dia juga tidak hidup di masa datang. Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk hidup pada masa kini, untuk mengendarai mobilnya. Dia mungkin mendengarkan musik, dia mungkin bercanda dengan seorang teman yang duduk di sampingnya, dia bahkan mungkin sedang memikirkan begitu banyak hal; tetapi dia juga sadar bahwa dia sedang mengemudi……… Ini sesungguhnya adalah tindakan meditasi. Orang yang bekembang berada dalam kondisi meditasi yang tak terganggu. Musik, pembicaraan apa pun tidak dapat menghilangkan kesadarannya, kesadaran bahwasanya ia sedang mengemudi. Dia tahu persis bahwa hilangnya kesadaran dapat berakibat fatal. Sesungguhnya, untuk orang yang berkembang, meditasi menjadi sangat mudah dan tanpa pemaksaan. Orang yang berkembang hidup dari waktu ke waktu. Dia selalu di masa kini. Memikirkan masa lalu dan khawatir tentang masa depan, tidak akan mengganggu atau mengacaukannya. Ketahuilah ini sebagai pencerahan. Kesadaran adalah pencerahan. Ini adalah Nirvana; ini adalah Moksha, Penyelamatan, Kebebasan Abadi. Kita sekarang ada di Kerajaan Surga! Jadi jangan berhenti. Ingat seorang yang berkembang tidak pernah berhenti. Sebenarnya “titik” hanyalah suatu kata; sebenarnya titik itu tidak ada. Pencerahan adalah Perkembangan. Demikian disampaikan dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”…….. Semoga…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Menjadi Tamu Dunia Renungan Keenambelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca ulang buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” yang menyampaikan……… Segala sesuatu yang “ada” memiliki awal dan akhir. Saat ini ada, sesaat lagi tidak ada. Yang berawal, akan berakhir. Yang lahir, akan mati. Hukum dan peraturan pun demikian. Relevan untuk masa lalu, tidak berarti relevan sepanjang masa. Setiap peraturan, hukum, perundang-undangan harus diperbaiki, disempurnakan dari waktu ke waktu. Tidak ada yang langgeng, yang abadi…… Kita menggunakan diapers atau popok untuk bayi. Berarti, kita membenarkan “aksi ngompol” para bayi. Es Dhammo Sanantano demikianlah kebenaran, demikianlah hukum, demikianlah peraturan bagi para bayi. Akankah anda menghukum seorang bayi karena ia mengompol? Jelas tidak. Percuma, karena dia belum tahu apa-apa. Tetapi jika bayi yang sama sudah berusia tiga-empat tahun dan masih juga mengompol, apa yang akan anda lakukan? Tetap memberikan diapers? Tidak, anda akan mengajari dia. Bahkan jika perlu memberi hukuman ringan, tanpa harus menyakiti dirinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang berusia 3-4 tahun……. Sang Suami: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” tersebut disampaikan dharma yang tidak sama bagi setiap orang……… Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain. Kesalahpahaman terjadi, ketidakpuasan muncul, jika dalam ketidaksadaran kita berupaya untuk memberlakukan satu dharma bagi setiap orang untuk selama-lamanya. Karena tidak sadar akan sifat dharma yang harus berubah dari waktu ke waktu, karena belum memahami sifat hukum yang perlu penyempurnaan dan perbaikan dari masa ke masa, kita selalu bertindak tidak arif, kurang bijaksana. Dharma atau hukum alam berlaku selama kita masih berada dalam alam. Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkan. Ada yang kurang baik, maka diperbaiki. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambah. Selama anda masih “terikat” dengan alam, mau tak mau kita harus tunduk pada hukumnya. Pengetahuan kita baru sebatas hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Kita belum tahu peraturan bagi “mereka” yang sudah melampauinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi yang masih suka ngompol, sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang 3-4 tahun usianya. Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain dengan dharma orang dewasa. Dharma “Para Suci” lain pula…….

Sang Istri: Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin adalah mind. Pengalaman-pengalaman spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”……… Dan, bahkan lebih baik kualitasnya! Penggunaan mind bisa diminimalkan, cukup untuk mengatur anggaran belanja dan sebagainya. Untuk hal-hal yang masih membutuhkan perhitungan dan matematika…… Hingga pada suatu ketika, mind tidak dibutuhkan sama sekali. Bila mind sering-sering mengalami “kematian”, entah lewat “tidur pulas” atau lewat meditasi, lama-lama ia akan “beneran” mati…….. Sang Suami: Berbicara masalah pengalaman spiritual para santa, santo, wali aku ingat sebuah wejangan yang mengetuk nurani……… Asy Syuara’ berulang-ulang mengingatkan supaya kita meniru para rasul, para nabi, dan tidak mengharapkan “upah” dari manusia, antara lain seperti dalam ayat 180. Sesungguhnya inilah yang membedakan kita dari para rasul dan khalifatullah. Kita mengharapkan imbalan dari dunia, dan harapan itu membuat kita menjadi “wargadunia”. Kita menjadi budak dunia. Sementara para rasul dan khalifatullah tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka. Mereka tetap menjadi warga surga yang sedang berkunjung ke dunia. Mereka mempertahankan status mereka sebagai “tamu”. Apa arti ibadah atau ritual hajj? Hajj adalah peringatan, untuk mengingatkan kita bahwa fitrah kita bukanlah sebagai warga dunia, tetapi sebagai duta Allah yang berkunjung di dunia atas perintahNya. Jika kita tidak menyadari hal itu, maka kita menjadi warga dunia yang sedang berkunjung ke bait Allah sebagai tamuNya. Sang Istri: Menurut wejangan tersebut…….. Kita sendiri yang menentukankedudukan kita. Kita sendiri yang memilih dan menempatkan diri sebagai pengunjung/tamu di dunia atau atau sebagai warga tetap. Adab atau disiplin seorang bertamu dunia: Penilaian yang benar; Tidak merampas hak manusia; Tidak merusak dunia dan; Selalu bertaqwa pada Gusti Allah. Inilah adab seorang tamu di dunia. Pilihan sepenuhnya di tangan kita. Sesungguhnya seperti Mursyid mengatakan “Allah Maalik hai” – Gusti Allah Maha Memiliki. Mau jadi warga dunia atau tamu di dunia, kita semua tetaplah milikNya. Adalah demi kebaikan kita sendiri bahwa pilihan itu di-“cipta”-kan supaya kita bisa “bermain” dengan cantik. Marilah kita mencontohi permainan cantik para pecintaNya dengan mempertahankan kewarganegaraan surga kita yang sedang berkunjung ke dunia sebagai tamu. Sang Suami: Sayidina Umar sang panglima perang berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar pun berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan……… Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Aku juga selalu ingat SMS Wisdom yang menyampaikan, bahwa manusia ditakdirkan menjadi peziarah,

sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka seakan sebagai seorang musafir, tamu yang terus berjalan menuju Tuhan……. Sang Istri: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan……… Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandi. Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamu. Tidak akan merusak penutup kloset. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya. Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, maka anda tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum……… Sang Suami: Benar istriku, bukan hanya para leluhur dan para sufi, perjalanan batin dikenal oleh seluruh umat manusia. Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” juga disebutkan bahwa……… ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya………. Sang Istri: Aku juga ingat bahwa hidup dalam “Tao” berarti mengalir bagaikan sungai, demikian disampaikan dalam buku “Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern”………. Sungai yang tidak pernah berhenti, terus menerus mengalir saja. Seseorang berhenti mengalir karena terikat pada sesuatu, karena berkeinginan untuk memilikinya. Orang bijak menganggap dirinya pengembara. la melewati hidup ini tanpa membebani siapa pun juga. Demi keuntungan pribadi, jangan sampai menyusahkan sesama. Keuntungan seberapa pun yang diraih, toh akan tertinggal di sini juga. Perlu dihayati hidup sebagai seorang pengembara……… Ada pejabat arogan berkata, siapa yang dapat mencopotnya. Dia tidak beranggapan sebagai pengembara. Dia pikir dia akan selalu berkuasa selamanya. Mungkin pelajaran sejarah telah dilupakannya. Bahwa para Hitler dan Mussolini serta diktator berkuasa lainnya, ternyata akhirnya jatuh juga. Anggaplah diri sebagai seorang pengembara. Keberadaan di sini hanya untuk sesaat, sementara saja. Melakoni hidup dengan penuh kesadaran, tidak cari musuh, tidak membuat masalah dengan selalu waspada…… Sang Suami: Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Kita

masih terkurung dalam lapisan-lapisan pikiran kita. Lapisan pola pikiran pertama kita warisi dari kelahiran sebelumnya. Obsesi-obsesi dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, yang melekat sebagai sifat bawaan kita……. Lapisan pola pikiran kedua terbentuk dalam kelahiran kini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi dalam kehidupan saat ini. Lapisan pola pikiran ketiga kita peroleh dari masyarakat, hukum negara, dogma agama, kode etik yang semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan diri. Kita belum hidup bebas sejati…….. Sang Istri: Iya suamiku, aku ingat sebuah nasehat bijak…… Kita semua “warga surga yg sedang berkunjung ke dunia”. Anggap saja diri kita sebagai alien, ET. Dan, tujuan kita disini untuk membangun surga di dunia. Supaya teman-teman lain sesama ET punya tempat penginapan yang menyerupai watan, kampung halaman mereka. Sekaligus supaya warga dunia lain “jadi ngerti”, oh ternyata dunia ini nggak seberapa, ada yang lebih cantik! Jadi anggap saja diri kita sales promo dari surga. Semoga kita semua ingat, sesungguhnyalah kita warga surga yang sedang berkunjung ke bumi…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Perbudakan oleh Pancaindra Renungan Ketujuhbelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku terkesan oleh satu kalimat dalam puisi Shri Chaitanya Mahaprabhu dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”…….. Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra…….. Dalam buku tersebut disampaikan……….Pertama-tama dengan menyadari keadaan kita, perbudakan dan kejatuhan kita. Kita semua berada dalam lumpur. “Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra”. Inilah kesadaran awal. Tanpa adanya kesadaran awal ini, sungguh tidak ada harapan bagi kita. Dan, kesadaran ini muncul ketika kita mulai jenuh, ketika kita mulai susah bernapas. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menjadi jenuh? Bagaimana pula susah bernapas? Bukankah selama ini kita sudah terbiasa hidup dalam lumpur dan bernapas dalam lumpur? Ya, selama ini kita memang sudah terbiasa hidup dan bernapas dalam lumpur. Lumpur ini adalah lumpur pancaindra. Kita sibuk melayani segala kemampuan pancaindra. Sekarang, angkatlah kepalamu sedikit saja. Lihatlah ke atas, ke kanan, ke kiri. Ada dunia yang indah di balik kuala lumpur tempat kau tinggal. Kebebasanmu di dalam kuala lumpur ini adalah kebebasan yang semu……… Sang Suami: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan bahwa pancaindra bukan satu-satunya kebenaran…….. Bebaskan dirimu dari anggapan keliru bahwa badan inilah dirimu. Bebaskan diri dari anggapan keliru yang bersifat “delusory” ilusif. Anggapan keliru ini telah membingungkan kita. Kemudian kita bersuka dan berduka dalam kebingungan itu. Kita senang karena “merasa” berhasil dan menang. Kita sedih karena “merasa” gagal dan kalah. Siapa yang merasakan keberhasilan dan kegagalan itu? Siapa yang merasakan kemenangan dan kekalahan itu? Pancaindra kita. Apakah pancaindra itu satu-satunya kebenaran diri kita? Adakah kebenaran lain yang lebih tinggi di balik pancaindera yang kita miliki? Dimanakah kita sebelum kawin, berkeluarga, dan membina rumah tangga? Siapakah kita sebelum terciptanya ikatan dan keterikatan baru itu? Seperti apakah jati diri kita sebelum kita menjadi suami dan ayah, atau istri dan ibu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih bisa ditarik ke belakang. Dimanakah kita sebelum kelahiran kita? Di mana pula keberadaan kita nanti setelah kematian? Apakah kelahiran badan menandai kelahiran kita? Apakah kematian badan mematikan diri kita? Sang Istri: Benar suamiku……. Kenikmatan yang diperoleh lewat pancaindra diselimuti oleh duka. Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang

Yang Tercerahkan” tersebut disampaikan……… Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kita peroleh lewat indra kita diselimuti oleh duka. Inilah penyebab dosa. Inilah sebab kesalahan dan kekhilafan. Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indra, dan menganggap bahwa kenikmatan itu menghasilkan adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita. Kenikmatan yang diperoleh lewat indra adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu-pemicu luaran. Tanpa pemicu itu, tidak ada kenikmatan. Pancaindra sendiri tidak dapat menghasilkan sesuatu tanpa pemicu, atau intervensi dari pihak lain……… Dalam buku “Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan” disampaikan bahwa……. Manusia mendambakan kebebasan, tetapi yang dikejarnya justru perbudakan. Keterikatan dan keinginan berlebihan sesungguhnya menjerat manusia, memperbudak dirinya, membelenggu jiwanya. Sungguh tragis bila ia tidak menyadari hal itu……… Sang Suami: Pancaindra, pikiran dan tubuh adalah alat untuk berinteraksi dengan dunia. “Perbudakan” pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makanan melulu… “makanan” lewat mulut, lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran. Melepaskan diri dari perbudakan pada tubuh tidak berarti melepaskan tubuh, tidak berarti meninggalkan tubuh. Melainkan mengangkat diri sebagai majikan. Promosi ini bukanlah sedekah. Promosi ini adalah prestasi. Kita meraihnya sebagai hasil dari kerja keras…….. Demikian disampaikan dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena”…….. Sang Istri: Apabila kita diperbudak oleh pancaindra kita sendiri, kita akan kehilangan arah, ibarat perahu yang tak terkendalikan. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia” disampaikan bahwa……. Kehadiran-Nya dapat terasa bila pikiran dan pancaindra sudah terkendali dan keseimbangan diri terasa. PenyusunAtmopanishad menyebut tiga “bagian” Yoga supaya kita dapat merasakan kehadiran-Nya setiap saat dan di setiap saat. Pertama, Pranayama: Pengendalian Pikiran Lewat Pengaturan Napas . Tarik napas dan buang napas pelan-pelan. Gunakan lubang hidung dan napas harus lembut tanpa suara. Makin pelan napas, makin jarang pula pikiran yang melintas dan makin tenang diri anda. Kedua, Pratyahara: Pengendalian Panca Indra dengan cara menarik diri dari rangsangan- rangsangan dari luar.Ketiga, samadhi atau keseimbangan diri yang diperoleh lewat meditasi. Para pemula membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk melakukan latihan meditasi. Dibutuhkan juga disiplin dan ketekunan. Lambat laun meditasi akan mewarnai seluruh hidup……… Sang Suami: Bagaimana pun jangan menyalahkan pikiran, perasaan dan pancaindra. Mereka hanya merekam stimuli-stimuli dari luar dan menyampaikan kepada kita. Selanjutnya adalah kebebasan dan wewenang kita, pilihan kita, mau mengindahkannya atau tidak. Mereka tidak pernah memberi sanksi, tidak ada azab dan tiada pula dijanjikan api neraka kalau kita tidak mengikutinya. Kita sendiri mau ikut, lalu apa salah mereka? Kita telah memilih untuk mendengar seruan pikiran, perasaan dan pancaindra serta mengikutinya melakukan hal itu atas resiko sendiri. Kita mesti menanggung konsekuensi pilihannya itu. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan……..

Dalam perjalanan hidup ini, kita tidak dapat melangkah tanpa indra kita. Namun yang menentukan perjalanan kita, rute kita, harus kita sendiri. Interaksi antara panca indera dengan dunia benda, dan objek-objek duniawi, menimbulkan stimuli-stimuli dalam diri kita. Lalu kita tergoda dan terpeleset. Apabila itu yang terjadi, sesungguhnya kita kena todong, kena rampok………. Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan……. Badan adalah kesadaran yang diberikan kepada kita. Gunakanlah badan ini untuk mencapai tujuan. Sementara ini kita menganggap badan sebagai tujuan. Persis seperti kolektor kendaraan tua, kita mendandani terus kendaraan badan yang kita miliki. Kita tidak pernah turun ke jalan. Kita sudah puas dengan dandanan kendaraan kita dalam garasi. Celakanya, mobil tua bisa hidup dalam garasi, tetapi manusia tidak bisa hidup dalam garasi sempit pikirannya. Jiwa manusia yang hidup dalam garasi sempit pikirannya mengalami pembusukan. Ia menjadi jasad berjalan. Persis seperti motor, seperti robot. Ia sepenuhnya tergantung pada “masa tahan” baterai pikirannya yang serba terbatas itu. Ia selalu berpikir pendek, tidak mampu berpikir jauh……… Sang Suami: Aku ingat Wejangan Pengetahuan Sejati dalam buku “Shri Sai Satcharita” yang menyampaikan……… Kelahiran, masa tua, kematian, penyakit, penderitaan, inilah takdir manusia. Bila kita bicara tentang raga manusia, maka betul, demikianlah adanya. Namun, semestinya itu menjadi tantangan bagi kita untuk segera memanfaatkan tubuh yang kita miliki. Karena, hanyalah dengan tubuh ini, dengan otak yang ada dalam tubuh ini, kita bisa mengasah pikiran atau manas, mind, dan memperhalusnya menjadi buddhi, atau awakened mind, pikiran yang telah tercerahkan. Karena, hanyalah buddhi yang dapat mengembangkan viveka, the faculty of discrimination, atau kemampuan kita untuk memilih, menimbang, dan memutuskan apa yang tepat bagi diri, dan apa yang tidak tepat. Sesungguhnya, orang yang mengatakan bahwa wujud manusia hanyalah tulang belulang, dan sebagainya sudah mengalami sedikit pencerahan. Tanpa itu, ia tak akan menyimpulkan demikian. Tanpa itu, ia akan menganggap tubuh sebagai satu-satunya identitas diri. Sekarang, bagaimana mengasah diri lebih lanjut, bagaimana mengembangkan mind lebih lanjut, meraih buddhi yang sempurna, dan berviveka?……… Gunakan badanmu untuk mengasah diri lebih lanjut, gunakan badanmu. Itulah satu-satunya sarana yang kaumiliki dan dapat kauandalkan. Bila kau tidak memanfaatkannya, dan hanya berpikir bahwa badan ini tidak berguna, maka jatuhkanlah kau dalam alam pikiran mereka. Sama seperti anggapan bahwa badan adalah segala-galanya, kesadaran itu pun mengantar kita ke neraka. Kita terjebak dalam permainan panca indera yang tak pernah terpuaskan, selalu kecewa, dan selalu mengharapkan lebih. Badan adalah badan, bukan segala-galanya. Tapi, juga bukan tak berguna. Badan sangat berguna, walau, sekali lagi, bukanlah segala-galanya. Gunakan badan ini untuk mencapai tujuan hidupmu. Gunakan otakmu, pikiranmu, buddhi dan viveka-mu untuk memilih mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat. Gunakan badanmu sebagai kesadaran untuk mengantarmu pulang ke rumah, kepada sumber segala kehidupan……….

Sang Istri: Berbicara mengenai lumpur pikiran, perasaan dan pancaindra, aku jadi teringat bagaimana tanaman teratai dapat hidup di tengah lumpur tetapi tidak terkotori oleh lumpur, dia berkembang ke atas menuju sinar matahari dan menyebarkan keharuman dan keindahan dengan bunga mekarnya. Dalam buku “The Hanuman Factor Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO” disampaikan…….. Teratai ditemukan dalam kolam berlumpur. Mereka tidak hidup dalam kolam yang airnya bersih. Walaupun demikian, dasarnya yang berlumpur tidak mempengaruhinya. Mereka tidak menjadi kotor. Mereka tumbuh keluar dari lumpur. Mereka mencari pencerahan sinar matahari. Seharusnya demikianlah kita. Kita tumbuh dan berkembang dalam lumpur dunia delusi dan kebodohan. Kita tak dapat melakukan sesuatu tentang hal ini. Semua elemen pembentuk tubuh kita ada dalam lumpur dunia. Akan tetapi lumpur juga menyediakan kita dengan bahan makanan untuk menjamin kehidupan. Pelajaran pertama adalah bahwa jangan membiarkan dunia membuat kita menjadi kacau. Pada waktu yang sama, jangan tetap berada dalam lumpur. Ingat selama kita hidup di dunia, sebagian dari kita berada dalam lumpur dunia. Bagaimanapun terpisah dari lumpur kita akan layu. Hidup dalam dunia yang gila akan tetapi tetap menjaga kewarasan dan memunculkan keindahan. Pelajaran kedua adalah belajar dari kelopak bunga dan daun teratai. Mereka tidak basah. Tidak ada yang tersisa pada permukaan mereka. Baik air berlumpur maupun butiran embun tidak ada yang tersisa. Kita harus melampaui dualitas, suka dan duka, bersih dan kotor serta menghadap matahari pencerahan……… Semoga……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Antara Preya dan Shreya Renungan Kedelapanbelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri. Sang Istri: Suamiku, dalam buku “Shri Sai Satcharita” disebutkan bahwa…….. Dasar utama, atau bekal utama pemberdayaan diri adalah kemampuan kita untuk memilih mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat. Kemampuan ini membuat kita sadar bila apa yang kita kejar selama ini ternyata hanyalah bayang-bayang, bersifat sementara, dan tidak tertangkap. Mengejar segala sesuatu yang bersifat sementara inilah yang membuat kita suka sementara, bahagia sementara, senang sesaat, nyaman sesaat……Dan, ketika saat itu lewat, atau terlewatkan, maka suka pun berubah menjadi duka, bahagia menjadi sengsara, kenyamanan menjadi kegelisahan, dan seterusnya…….. Sang Suami: Iya istriku, dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” disampaikan……… Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani……… Sang Istri: Harus dipertegas sedikit, bahwa keinginan untuk memperoleh kenikmatan sorga pun sesungguhnya masih merupakan kebutuhan instink hewani. Banyak beranggapan, “Ah, saya kan tidak mengejar seks, kedudukan, atau harta benda. Yang saya kejar kan akhirat.” Lalu, kita berpikir bahwa kita lebih baik daripada mereka yang sedang mengejar seks, harta benda, jabatan, ataupun keinginan-keinginan duniawi yang lain. Padahal, sesungguhnya tidak demikian. Jika kita mengejar akhirat, karena iming-iming kenikmatan sorgawi, sesungguhnya kita masih berada pada kesadaran rendah……… Demikian disampaikan dalam buku “Medis dan Meditasi”. Sang Suami: Setiap saat kita selalu saja dihadapkan pada pilihan antara yang memuliakan dan yang menyenangkan. Dalam buku “Shri Sai Satcharita”

disampaikan bahwa………. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda…….. Sang Istri: Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia” disampaikan bahwa……… Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, “Ada yang menyenangkan atau preya, dan ada yang memuliakan atau shreya.” Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. “Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis.” Dharma adalah sesuatu yang memuliakan……… Sang Suami: Aku ingat sebuah wejangan yang menyentuh hati……. Menurut surat al-Anfaal ayat 29, jika kita bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan dan hasil pekerjaan itu, maka kita hanya menanam benih materi-dunia, dan hasilnya pun pasti sama: materi-dunia. Tapi, jika kita bekerja dengan pekerjaannya tetap sama, tetapi dengan semangat persembahan dan tidak memikirkan hasil materi-dunia, maka kita memperoleh hasil-ganda. Hasil materi-dunia sebagai akibat dari sebab pekerjaan tetaplah kita peroleh, ditambah dengan hasil berkah sebagai akibat dari “niat” – dan hasil itulah yang disebut furqaan. Furqaan berarti “kemampuan untuk memilah/membedakan”. Farq berarti “beda”, furqaan membedakan. Inilah viveka, bodhichitta. Dengan kemampuan inilah kita baru bisa membedakan antara shreyadan preya. Shreya berarti kemuliaan diri. Preya berarti kenikmatan ragawi. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini jelas karena mereka bekerja dengan niat bekerja, bukan dengan niat persembahan mereka memilih preya. Mereka yang berkarya tanpa pamrih dengan semangat persembahan telah memilih shreya……… Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat atau preya. Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat atau shreya. Sang Istri: Suamiku, aku juga ingat wejangan yang serupa……… Al-Ankabut bercerita tentang apa yang terjadi pada orang-orang berilmu-pengetahuan, kemudian mengikuti pikiran/perasaan saja dan menggali lubang bagi diri sendiri. Qur’an Karim menjelaskan bahwa mereka pandai dan memiliki visi pula “berpandangan jauh”. Mereka tidak goblok. Tapi tetap binasa, karena menuhankan pikiran/perasaan. Mereka memilih jalan preya, yang menyenangkan hati, “pokoknya dengan melakukan ini aku gembira, aku senang. Aku bisa ini, bisa itu”. Mereka adalah denawa. Sifat mereka berseberangan dengan manusia. Manusia berarti “yang telah melampaui

pikiran/perasaan”. Selama masih berhamba pada pikiran/perasaan kita belum manusia. Orang yang terkendali oleh pikiran/perasaan “merasa” bahwa ia berkuasa, padahal sesungguhnya ia dikuasai oleh perasaannya sendiri. Ia pikir dapat menciptakan apa saja, padahal tidak juga. Qur’an mengingatkan bahaya dibalik pikiran/perasaan seperti itu. Maka, berulang-ulang kita diingatkan supaya tidak takabur. Sesungguhnya selama ini kita memang selalu berhamba pada pikiran/perasaan. Meditasi mengajak kita untuk melampaui keduanya. Maka pikiran/perasaan, mental/emotional layer of consciousness, melempar kartu as-nya, “Akulah segalanya. Aku tahu semua. Aku bisa berbuat apa saja.” Inilah “bisikan syaitan”, inilah “godaan mara” seperti yang dialami juga oleh Siddhartha. Sang Suami: Agar tidak terkendali oleh pikiran/perasan dan tidak takabur, Baginda Rasul memberi jalan, dengan “berhamba”, dengan “mengabdi”. Memproklamasikan kemerdekaan dari perbudakan oleh pikiran/perasaan dan berhamba, dengan mengabdi pada Allah – inilah jalan shreya, jalan yang mulia. Kita selalu berhadapan dengan pilihan antara preya dan shreya, yang menyenangkan dan yang mulia. Ada juga yang berpikir/merasa, “aku masih belum selesai dengan preya, aku masih harus memuaskan diri dulu.” Ini adalah penyakit lama, bukan penyakit baru. Dalam setiap masa kehidupan kita selalu tergoda oleh preya, babakbelur, bertobat, tapi ketika menemukan shreya, pikiran/perasaan berontak dan kita tersesatkan olehnya. Preya tidak pernah puas, kita mau melayaninya sampai kapan? Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan…….. Mengabdilah selalu pada Yang Mahamemiliki. Mengabdi kepada siapa? Berbakti kepada siapa? Kepada mereka yang mengaku mahatahu dan mahamemiliki? Kepada mereka yang telah menyadarkan hak kita untuk berpikir dan berperasaan? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Tentunya tidak. Mengabdilah kepada Ia Yang Maha Memiliki. Kepada ia yang adalah Pemilik Tunggal Alam Semesta. Kepada Dia yang disebut Hyang Widhi oleh orang Hindu, Adi Budha oleh orang Buddhis, Bapa di Surga oleh orang Kristen, dan Allah oleh orang muslim. Dia pula Tao Yang Tak Terungkap, dan Kami Yang Tak Terjelaskan namun dapat “dijalani”, dilakoni dalam keseharian hidup. Dialah Satnaam para pemuja Sikh, Sang Nama Agung Yang Berada di Atas Semua Nama. Janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu. Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri…….. Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan bahwa……. la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau

kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya…….. Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Antara Makanan dan Peningkatan Kesadara Renungan Kesembilanbelas Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru perihal makanan sebagai bahan introspeksi. Mereka paham pembicaraan mereka nyaris seperti pembicaraan anak-anak dibanding mereka yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi. Karena itu mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja merenung tentang makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Makanan yang kita makan akhirnya akan menjadi energi untuk kegiatan kita, mengganti sel yang rusak dan sisanya menjadi simpanan energi. Secara garis besar makanan tersebut akan menjadi tubuh kita, otak, jantung, mata, tangan dan seluruh anggota tubuh kita serta energi dari kegiatan kita. Walaupun sebenarnya masih ada ”prana” sebagai salah satu sumber energi. Makan sambil melihat televisi atau sambil membaca tidak menghormati calon organ tubuh kita sendiri. Mengunyah sambil bicara, tak hanya ”tidak menghargai” orang yang diajak bicara, tetapi juga tidak ”respek” kepada makhluk yang akan menjadi tubuh kita, otak, jantung dan organ kita. Makan tidak hanya berkaitan dengan kualitas fisik dan organik, tetapi berkaitan dengan perasaan, kepuasan, berkaitan dengan emosional dan spiritual. Alangkah baiknya, kita makan tidak pada waktu sedang kesal dan kita makan di ruangan yang tenang. Duduk tenang dan berdoa, memberi vibrasi kasih dan syukur kepada makanan. Sang Suami: Istriku, berbicara masalah makanan aku ingat dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra” disampaikan…….. Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini, karena cara pandang yang keliru, kau anggap mati, sesungguhnya tidak mati. Semuanya hidup. Pedoman Pertama bagi pembangkitan energi di dalam diri adalah: Makanlah untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan saja. Hindari makan daging supaya hewan di dalam dirimu mati kelaparan. Sifat kehidupan yang memasuki tubuh kita lewat mulut, mempengaruhi sifat diri kita. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri. Pedoman Kedua: Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Awam melahirkan anak. Anak yang bisa hidup selama lima puluh tahun, seratus tahun, akhirnya mati juga. Para nabi, avatar, buddha, mesias melahirkan “kesadaran” yang menuntun umat

manusia selama berabad-abad dan tidak pernah mati. Kesadaran yang mereka lahirkan berada dalam diri manusia melekat untuk selamanya. Menjadi bagian kesadaran kolektif manusia untuk selamanya. Bedanya awam menggunakan energi itu as it is, begitu saja. Para maestro mengolahnya terlebih dahulu. Energi yang kita gunakan mirip susu. Energi yang mereka gunakan sudah berupa mentega. Pedoman Ketiga: Pengendalian diri. Kepadatan mempengaruhi getaran. Makin padat makin kurang bergetar. Kepadatan “ruang” sungguh minim sekali sehinga getarannya sungguh dahsyat, hampir tak terdeteksi oleh otak kita yang relatif padat. Bila kita ingin berkesadaran luas, tidak sempit, maka getaran tubuh kita, pikiran serta perasaan kita harus diperdahsyat. Sementara ini, umumnya kita masih bergetar dengan kecepatan tanah. Badan kita terbuat dari tanah. Sperma dari ayah dan ovum dari ibu, dua-duanya berasal dari makanan yang mereka dapatkan dari bumi. Ketergantungan kita sendiri pada bumi dan hasil bumi pun masih sangat kuat. Itulah sebabnya kita masih berpikiran picik, masih berkesadaran rendah, pandangan kita belum jernih. Bagaimana mempercepat getaran kita? Bagaimana memperluas kesadaran kita? Dengan menari, menyanyi, merayakan hidup ini. Keceriaanmu membebaskan dirimu dari belenggu-belenggu yang mengikat jiwamu. Jiwa ceria adalah jiwa yang bebas. Sebaliknya kemurunganmu membebani jiwamu. Keceriaan meringankan jiwamu. Pedoman Keempat: Keceriaan, rayakan hidupmu! Latihan-latihan yang diberikan sangat membantu. Kebiasaan-kebiasaan kita menciptakan pola-pola energi tertentu. Dan, itu hanya dapat diubah dengan latihan. Tidak bisa dengan pengetahuan atau pemahaman belaka. Air seni dan air besar yang kita keluarkan memiliki substansi, dua-duanya mewakili elemen tanah – tidak heran bila kita sangat peka terhadapnya. Sementara itu, energi yang kotor sudah mewakili elemen-elemen yang lebih ringan, api dan angin, makanya kita belum cukup peka terhadapnya. Jangan khawatir, dengan bertambahnya kepekaan diri, pembuangan energi, pikiran serta perasaan “kotor” akan menjadi sangat alami, sealami pembuangan air seni dan air besar……… Sang Istri: Berbicara masalah makanan, aku ingat buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” yang menyampaikan………. Secara umum, makanan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, makanan yang dapat menenangkan pikiran. Kedua, makanan yang membuat kita hiperaktif. Ketiga, makanan yang menggelisahkan kita…….. Makanan yang menenangkan pikiran adalah sayuran yang tidak dimasak lama, hanya diseduh atau ditumis sebentar. Misalnya, gado gado, karedok, salad, sayur sayur yang ditumis, dan lain sebagainya. Nasi, roti, kacang kacangan (kecuali kacang merah), minyak goreng (dalam jumlah terbatas) dan hampir segala macam buah buahan berada dalam kategori makanan yang menenangkan pikiran. Begitu pula, tahu dan tempe. Susu atau produk susu dalam kuantitas yang terbatas kurang lebih 250 cc dalam satu hari juga berada dalam kelompok makanan yang menenangkan pikiran…….. Makanan yang membuat kita hiperaktif adalah daging ayam, ikan, sayur sayuran yang dimasak lama atau digoreng, dan kacang merah. Bawang-bawangan, acar dan segala sesuatu yang tidak segar (buah buahan kaleng) dan lain sebagainya. Susu atau produk susu di atas 250 cc setiap hari, akan membuat kita hiperaktif juga……… Makanan yang menggelisahkan atau membuat

kita restless adalah daging yang berwarna merah misalnya sapi, kerbau, kambing, babi, ikan tuna, dan lain sebagainya. Bumbu bumbu yang berkelebihan, segala sesuatu yang terlalu manis dan terlalu pedas. Sedapat mungkin, hindarilah kelompok makanan yang ketiga ini. Apabila kita masih harus makan daging, makanlah daging ayam atau ikan…….. Sang Suami: Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” tersebut juga disampaikan……. Karena dua hal, Hazrat Inayat Khan menganjurkan agar kita tidak mengkonsumsi daging. Pengertian daging di sini bukan semata mata daging sapi, tetapi daging apa saja ayam, ikan, semuanya. Pertama, konsumsi daging akan memperlamban proses peningkatan kesadaran dalam diri kita. Kemajuan spiritual kita akan terganggu. Kedua, membunuh binatang dan mengkonsumsi dagingnya sangat tidak bermoral, sangat tidak manusiawi……. Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu. Dari sudut pandang mistik, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi pernafasan kita, dan selanjutnya memblokir sentra sentra psikis dalam diri kita, yang sebenarnya berfungsi sebagai “jaringan tanpa kabel”. Sentra sentra psikis atau chakra inilah yang membantu terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri kita, dan menghubungkan kita dengan alam semesta. Untuk itu dianjurkan tidak makan daging. Dari sudut pandang moral, hati seorang pemakan daging akan menjadi keras. Hati yang seharusnya lembut dan diberikan oleh Allah untuk mengasihi sesama makhluk bukan hanya sesama manusia akan kehilangan kelembutan atau rasa kasihnya……. Sang Istri: Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” tersebut juga disampaikan……. Tumbuh tumbuhan itu pun memiliki kehidupan. Kehidupan mengalir lewat tumbuh tumbuhan pula. Namun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki mind. Dan oleh karena itu, mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan tidak akan mempengaruhi watak kita, mind kita. Tidak demikian dengan mengkonsumsi daging. Masih ada lagi yang berdalil hewan yang disembelih dan dimakan itu, sesungguhnya mengalami peningkatan dalam evolusi mereka. Dengan mengkonsumsi daging hewan, sebenarnya kita membantu terjadinya peningkatan evolusi mereka……. Kita boleh memberikan seribu satu macam dalil. Dalil tinggal dalil. Yang jelas, mengkonsumsi daging tidak akan membantu manusia dalam hal peningkatan kesadaran. Terjadi evolusi dalam diri hewan hewan itu atau tidak, yang jelas mengkonsumsi daging tidak membantu evolusi spiritual manusia. Melukai makhluk hidup, membunuh dan memakannya, akan membuat kita semakin keras. Segala sesuatu yang lembut dalam diri kita akan lenyap. Rasa kasih terhadap sesama makhluk hidup akan hilang…….. Suamiku, bagaimana pun hendaknya seorang vegetarian tidak menganggap rendah mereka yang masih mengkonsumsi daging. Keangkuhan kita, arogansi kita justru akan menjatuhkan kita lagi, dan akan menjadi rintangan bagi perkembangan spiritual……. kita pun harus menghormati mereka yang makan dengan apa yang mereka dapatkan disekitar lingkungannya, misalnya di daerah salju di Himalaya, di daerah kutub atau di padang pasir sulit mendapatkan makanan vegetarian. Demikian pula ada beberapa orang yang karena kesehatan atau pekerjaannya perlu makan

daging. Yang penting makan untuk bertahan hidup. Janganlah hidup untuk menikmati makanan, memuaskan selera. Jangan lupa berdoa sebelum, sambil dan sesudah makan. Doa sebagai ucapan terima kasih, doa untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Di Jepang, sebelum makan dibiasakan selalu berdoa mohon maaf kepada hewan yang akan dikonsumsinya. Mungkin saja seorang Guru sekali-sekali makan daging, tetapi hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap kesadarannya, tetapi lain dengan kita yang sedang berusaha meningkatkan kesadaran untuk dapat memahami Sang Guru. Sang Suami: Membicarakan makanan juga ada kaitannya dengan puasa….. Dalam buku tersebut juga disampaikan……… Tujuan puasa adalah untuk membiarkan nafas atau energi kehidupan mengalir leluasa ke seluruh tubuh, lewat setiap urat, setiap syaraf. Dalam keadaan puasa, urat urat dan jaringan syaraf kita menjadi lebih reseptif terhadap energi kehidupan, terhadap nafas. Tidak ada blokade blokade lagi, sehingga energi bisa melewatinya dengan lebih leluasa. Apabila energi atau nafas dapat melewati urat urat kita, jaringan syaraf kita dengan leluasa, maka kita menjadi lebih peka terhadap apa saja yang terjadi di luar dan di dalam diri kita. Seolah olah setiap pori pori kita terbuka, dan kita mulai menerima energi Ilahi lewat setiap pori-pori, tidak hanya lewat hidung atau mulut. Badan kita hidup kembali. Pengendalian diri, pembatasan diri, juga sangat membantu. Dengan tidak terjadinya pemborosan energi, sentra sentra energi dalam diri kita akan selalu dalam keadaan fit tidak haus energi. Dampak nyatanya tampak pada kepribadian kita. Magnetisme atau daya tarik kita (yang lebih dari sekadar sensual atau seksual) bertambah. Tubuh kita seolah olah memancarkan energi sepanjang hari. Itu pula sebabnya, sebelum melakukan beberapa latihan, kita selalu dianjurkan puasa atau setidaknya menghindari makan daging. Demikian, kita menjadi lebih peka. Dan orang yang peka, yang sensitif, tidak akan menjadi keras. la akan menjadi lembut. Hazrat Inayat Khan membedakan antara orang yang peka dan orang yang tidak peka. Yang peka menjadi semakin lembut, semakin peduli terhadap lingkungan, terhadap sesama makhluk hidup. Kepekaan melahirkan kesadaran dan pencerahan. Dan orang yang sadar menjadi lebih intuitif. la menjadi “intelijen” dalam arti kata sebenarnya…….. Semoga…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Frekuensi Dari Pikiran Renungan Keduapuluh Tentang Berguru Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak menghilangkan esensi. Sang Istri: Suamiku, mari kita bicara tentang frekuensi pikiran dari file “quotation of wisdom” yang kita miliki. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan bahwa…….. Setiap pikiran yang muncul dalam otak kita juga merupakan sebuah electric impulse. Kemudian, electric impulse itu berubah menjadi radio waves, gelombang suara…….. Saat saya sedang ngegosip atau menjelek-jelekkan Anda dengan penuh semangat-dalam hal ini katakan “semangat negatif. Saat itu, electric impulse “pikiran” saya sudah berubah menjadi gelombang radio, “suara”. Segala cacian yang saya lontarkan kepada Anda, terdengar jelas oleh setiap orang yang berada di sekitar saya. Anda tidak “mendengar”-nya dengan cara itu, karena Anda tidak berada sekitar saya. Sesungguhnya Anda tetap “mendengar”-nya dengan cara lain. Radio waves atau gelombang radio adalah energi dan energi tidak pernah musnah. Radio waves yang telah “menjelma” menjadi suara memang sangat singkat “masa hidupnya” sebagai suara, namun ia tidak mati. la berubah kembali menjadi radio waves dan menuju sasarannya di mana pun sasaran itu (dalam hal ini Anda) berada……. Bila Anda memiliki kemampuan untuk melakukan decoding terhadap radio waves itu, Anda dapat mendengarkan setiap kata yang saya ucapkan. Bila tidak, radio waves itu akan diterima langsung oleh electric impulses di dalam diri Anda dan memengaruhinya, maka kadar gula dalam darah Anda pun pasti meningkat, tekanan ikut meningkat… dan, telinga Anda memerah. Kejadian seperti ini kadang sangat menggelisahkan. Membuat kita tiba-tiba merasakan depresi yang amat sangat. Kita tidak habis mengerti “kenapa?”, karena kita tidak memahami cara kerja energi, cara kerja alam. Lain halnya ketika saya sedang memuji atau bercerita tentang Anda dengan “semangat positif”, dengan cinta, maka terciptalah keadaan harmonious yang luar biasa di dalam diri saya. Irama jantung saya sangat indah. Tekanan darah pun normal, menari-nari ceria, dan electric impulses yang kemudian menjadi radio waves memengaruhi electric impulses di dalam diri Anda secara positif pula. Kesimpulannya, dengan menjelek-jelekkan Anda, sesungguhnya saya mencelakakan diri saya sendiri sebelum mencelakakan Anda. Dengan memuji Anda, saya membahagiakan diri saya sendiri sebelum membahagiakan Anda…….. Sang Suami: Istriku, kita membedakan dulu antara electric impulse yang kasar dan yang halus. Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……. Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti

Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat “materi” kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus. Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan tentang frekuensi keterikatan terhadap dunia……. Hubungan dengan Allahdan rasul-Nya berarti hubungan dengan dunia dari sudut pandang yang berbeda, di mana focus kita adalah energy, bukan materi, esensi dan bukan lagi fisik. Maka dijelaskan bahwa mereka yang beriman tidak bisa lagi mencintai atau berhubungan mesra dengan mereka yang tidak beriman, walau yang tidak beriman itu adalah keluarganya sendiri….. Urusannya bukan sombong. Urusannya adalah frekuensi dimana kita berada, beda frekuensi kita tidak lagi menerima siaran “keterikatan” dengan keluarga atau siapa saja yang tidak berada di frekuensi yang sama. Kita tidak membenci mereka, karena untuk membenci pun kita mesti berada di frekuensi yang sama. Perkaranya bukan cinta atau benci, perkaranya “tidak nyambung” – no signal, beda gelombang. Dengan keluarga terdekat pun demikian. Apalagi dengan orang lain……. Sang Suami: Dalam wejangan tersebut juga disampaikan……. Sesungguhnya kalau sudah beda frekuensi, beda focus – keluarga atau bukan keluarga sama saja. Lalu bagaimana dengan kita yang mengaku sudah beriman, tapi begitu ketemu dengan orang yang bisa membuat jantung kita berdebar, gelombangnya langsung menurun. Sesungguhnya kita memang belum berada pada gelombang iman, baru tahu, belum mengenal rasul. Jika kita sudah mengenal, sudah menerima siaran-Nya, maka “turun frekuensi tidak akan terjadi”….. Selama ini Rasul sudah bekerja keras supaya frekuensi kita naik. Adalah berkahnya sehingga kita masih dekat dengannya, walau sesungguhnya belum pantas. Lagi-lagi pilihan di tangan kita. Iman dan rasul adalah cara pandang, memandang dunia sebagai bayang-bayang. Kekafiran adalah upaya untuk menguasai bayang-bayang. Upaya itu tidak pernah berhasil, tinggal tunggu kapan saat kecewa “lagi” dan berpaling kepadaNya. Rasul melarang umat awal untuk kawin dengan orang-orang yang tidak seumat. Kelihatannya sangat eksklusif. Ya, kalau dilihat secara fisk demikian. Tapi, kalau biara tentang energy dan frekuensi, maka maksud Baginda Rasul menjadi jelas. Beliau mengasihani mereka yang sudah memiliki ilm dan semestinya meningkat menjadi beriman kemudian mengamalkan imannya, malah terseret oleh napsu rendahan yang akan mengobarkan apa saja demi makan/minum, kenyamanan, dan seks. Inilah insting-insting hewani yang mesti dikendalikan. Supaya kita tidak terkendali olehya. Sang Istri: Masih mengenai electric impulse dari pikiran kita. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan……… Dalam tradisi kuno, ini yang disebutShaktipaat. DaIam tradisi Zen dikaitkan dengan transmisi-transmisi ajaran, transmisi kesadaran dari sang guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah

sebuah ritual, tetapi suatu “kejadian” yang hanya terjadi bila guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan kertas dan pena, atau media tulisan untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga maupun mata untuk mendengarkan wejangan guru atau membaca tulisannya. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah “penurunan” kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse…….. Sang Suami: Dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian” disampaikan sebuah tanya-jawab…… Keberadaan itu seperti stasiun radio. Bertahun-tahun lalu kamu berada pada gelombang radio, yang menyiarkan hal-hal yang kemudian digaungkan kembali……. Jadi kata-kataku sebenarnya bukanlah dariku? Aku hanya mengulang apa yang kudengar?…… Tidak setiap saat, hanya di saat kamu berada pada gelombang yang sama…….. Dan ketika aku tidak sedang berada pada gelombang itu, apa yang terjadi?……. Kau akan tersambung dengan pikiranmu. Dan pikiranmu berbicara dari memorinya. Ia memiliki kosakata sendiri. Ia memiliki bahasa, tepatnya bahasa-bahasa dan pola-polanya sendiri…….. Saya menyadari kemudian bahwa “radio” yang dibicarakannya punya banyak stasiun, banyak channel. Jumlah frekuensinya tak terhitung. Jadi seseorang yang mengaku mendengar suara Tuhan sebenarnya telah berada di salah satu dari frekuensi-frekuensi itu. Berada pada gelombang frekuensi tertentu seseorang bisa mendengar pesan kekerasan. Seseorang bahkan bisa tergerak untuk membunuh dan terbunuh atas nama agama. Berada di frekuensi gelombang yang lain seseorang bisa mendengar pesan cinta, perdamaian, keharmonisan, dan pengorbanan……… Sang Istri: Aku ingat tulisan dalam buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern” disampaikan pandangan tentang “wahyu”. Penulis berkata…….. 50 tahun kemudian, generasi penerus kita, cucu dan cicit kita akan menerima pandangan ini. Penulis sudah tidak tahan lagi melihat ketololan manusia. Tolol tetapi angkuh! Sepertinya la sudah hebat. Sepertinya ia adalah makhluk terpilih…… Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan……. “Wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana kita berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun kita pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima kita. Semakin canggih radio yang kita miliki, semakin banyak siaran yang dapat kita terima…….. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Sesuai

dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam kita meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan kita. Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – yang “bergelombang panjang” – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad, seorang yatim piatu, seorang pedagang yang buta huruf. Siapa lagi? Seorang Yesus, seorang Isa-anak tukang kayu! Siddhartha harus meninggalkan istana, melepaskan segala macam atribut luaran, untuk menerimanya. Krishna adalah seorang gembala sapi. Merekalah para penerima wahyu. Mereka ini meniti jalan ke dalam diri. Mereka menemukannya dalam diri sendiri…….. Sang Istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Perbedaan yang terlihat antara Al-Qur’an dan Veda, antara Dhammapada dan Zend Avesta, antara Taurat dan Guru Granth, disebabkan oleh “alat penerima”. Apalagi dalam hal ini, setiap “alat penerima” adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda! “Alat penerima” wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari “alat penerima” di India. Begitu pula dengan “alat penerima” di Cina, tentu saja berbeda dari “alat-alat penerima” yang lain. Setiap “alat penerima” dipengaruhi oleh budaya setempat. Nabi Muhammad dipengaruhi oleh budaya Arab. Buddha dipengaruhi oleh budaya India. Lao Tze dipengaruhi oleh budaya Cina. Musa dipengaruhi oleh budaya Mesir. Getaran-Getaran Ilahi atau “wahyu” yang diterima oleh masing-masing “alat penerima” oleh masing-masing nabi, avatar, mesias, dan buddha diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian kontemporer. Itu sebabnya, setiap kitab suci-apakah itu Al-Qur’an, Veda, Dhammapada, Injil, Zend-Avesta, Taurat, Zabur, Guru Granth selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat sangat kontekstual……. Suamiku, semoga kesadaran ini menyebar ke seluruh penjuru Indonesia……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Komputer Dalam Diri Manusia Renungan Keduapuluhsatu Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai alat untuk introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Sri Sai Satcharita” dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Bukan apa-apa, mereka hanya membuka diri dan membombardir diri dengan wisdom dari buku-buku tersebut, agar esensi dari buku-buku tersebut dapat merasuki diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka buku “Reinkarnasi, Melampaui Kelahiran Dan Kematian” dimana disampaikan ada tiga unsur utama yang mengaktifkan komputer manusia……… Pertama, badan kasat kita. Ini bagaikan hardware. Kedua, ego kita. Ini bagaikan software dan tentu saja, ketiga, kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Badan kita bisa rusak, berhenti bekerja. Namun software-nya tidak ikut rusak. Ego kita masih utuh, masih dapat berfungsi.Software yang sama dapat digunakan, dengan menggunakan hardware baru. Tidak ada memori yang hilang, tidak ada program yang terhapus. Ada satu hal yang jangan sampai terlupakan : kesadaran atau “aliran listrik”. Kesadaran ini tidak pernah terganggu. Apakah software-nya yang dipindahkan, atau hardware-nya yang rusak, kesadaran kita tidak pernah mengalami gangguan apapun. Kehadirannya ibarat katalisator. Keberadaan akan kesadaran ini yang menentukan berfungsinya komputer kehidupan, namun ia sendiri tidak pernah mengalami gangguan, kerusakan dan lain sebagainya……. Badan kasat ini terdiri dari begitu banyak unsur, daging, darah, tulang, otot, sumsum. Semuanya pada suatu hari ditinggalkan oleh Ego yang harus menempati badan kasat baru. Badan kasat ini ada kadaluwarsanya. Ego adalah mekanisme yang sangat kompleks, yang terdiri dari pikiran, memori, keinginan-keinginan, impian-impian, harapan, perasaan dan lain sebagainya. Selama ini kita mengidentitaskan dari kita dengan Ego ini. Setiap kali Ego menghuni badan kasat, manusia menjadi nyata. Setiap kali ia meninggalkannya badan kasat menjadi jasad……….. Sang Suami: Dalam bahasa yang lebih spesifik, badan yang berhubungan dengan komputer dalam diri manusia adalah otaknya. Ego juga sering disebut sebagai “mind”. Dan, berita baiknya selama hardware-nya masih berfungsi, software-nya masih bisa diperbaiki. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……… Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Minditu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable!………

Sang Istri: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Mind kita dibentuk oleh informasi yang kita peroleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orangtua, pengetahuan tentang agama – semuanya itu telah membentuk mind kita. Itulah sebab adanya Mind-Islam, Mind-Kristen,Mind-Hindu, Mind-Buddhis dan Mind-Atheis. Kemudian, konflik antara mind yang satu dan mind yang lain tidak bisa dihindari, karena memang bahan baku setiapmind itu lain. Untuk menghindari konflik, para cendekiawan dan pakar agama selalu menganjurkan “dialog”. Demikian, mereka berharap bisa meminimalkan konflik. Harapan mereka tidak pernah terpenuhi. Kelompok-kelompok liberal dalam setiap agama telah melakukan eksperimen semacam ini. Setidaknya, sejak seribu tahun yang lalu mereka sudah mulai melakukan dialog. Hasilnya masih sangat tidak memuaskan. Paling banter, mereka menjadi toleran terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Toleransi semu yang sangat terbatas. Dan oleh karenanya, setiap kali masih saja terjadi konflik antar-agama, antar-suku dan lain sebagainya. Tidak ada jalan lain, kecuali kita melampaui mind yang sudah terkondisi dan diprogram oleh masyarakat, ketika masih sangat kecil dan tidak memiliki pilihan. Kemudian, setelah mindtersebut terlampaui, demi keberlangsungan hidup, kita perlu membentuk mind yang baru. Nah, mind baru kreasi kita ini harus dibentuk dengan menggunakan bahan baku prima sesuai dengan kesadaran kita. Ia yang cerah telah melampaui mind yang lama, yang dibuat oleh masyarakat. la telah berhasil menciptakan mind baru. Danmind baru yang terciptakan oleh kesadaran tidak pemah fanatik, karena ia sadar bahwa di balik segala sesuatu yang terlihat berbeda ini ada kesatuan. Mereka yang meninggalkan Mind-Islam dan mengadopsi Mind-Kristen, atau meninggalkan Mind-Hindu dan mengadopsi Mind-Buddhis sesungguhnya masih berjalan di tempat. Mereka belum menyadari Kebenaran Hakiki di balik agama-agama yang nampaknya berbeda. Dalam bahasa I Ching, mereka tidak memperhatikan apa yang masuk ke dalam mulut mereka. Mereka meninggalkan satu program dan memasuki program lain. Itu tidak banyak membantu, karena program yang mereka masuki pun masih belum orisinil, masih merupakan hasil rekayasa masyarakat. Bahan baku bagi mind yang baru haruslah kesadaran kita. Dan kesadaran hanya dapat diperoleh dari pengalaman pribadi……… Sang Suami: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Selama pancaindra dikuasai pikiran, dikuasai oleh apa yang disebut upaadhi atau conditioning, maka Kebenaran akan tampak terbagi-bagi, terpecah-belah. Tampak banyak, padahal satu adanya. Upaadhi berarti “program” yang sudah berubah menjadi kebiasaan. Dari kecil kita diprogram untuk mempercayai kebenaran tentang berbagai hal. Beranjak dewasa, kita mulai kritis. Banyak hal tidak masuk akal, tetapi kita sudah terlanjur diprogram untuk mempercayainya. Karena itu terjadilah konflik di dalam diri. Banyak orang terperangkap dalam permainan lama: menolak conditioning lama, masuk conditioning baru pun akan membuat kita tetap jauh dari Kebenaran……….. Sang Istri: Pikiran manusia terdiri dari conscious mind dan subconscious mind dan superconscious mind. Pembentukan subconscious mind terjadi secara otomatis

terbentuk dari kehidupan keluarga, pendidikan, lingkungan dan kehidupan serta genetika bawaan. Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan” disampaikan……… Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali itu mengalami proses “pengolahan”. Dan “pengolahan” tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Berarti, lapisan superconscious mind pun sudah ada dalam diri setiap orang. Ada lapisan conscious mind, subconscious mind dan super conscious mind. Setiap lapisan sudah ada. Berkembang atau belum itu soal lain. Tetapi, sudah ada. Selama ini, lapisan superconscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Jika masih mau lahir kembali, superconscious mind sama pentingnya – bahkan mungkin jauh lebih penting – daripada subconscious mind. Tanpa superconscious mind, siapa yang akan mengelola dan menyimpan subconscious mind, lalu meneruskannya dalam tubuh lain? Tetapi, jika tidak mau lahir kembali, superconscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika kita masih “hidup”, masih ber-”tubuh”. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas superconscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, bila pada saat kematian tidak ada yang mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali……… Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……… Subconscious Mind yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam Subconscious Mind tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, Subconscious Mind bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! Subconscious Mind seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, Subconscious Mind seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas Subconscious Mind kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas Subconscious Mind kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki Subconscious Mind kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik Subconscious Mind berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalamSubconscious Mind. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya. Setelah terjadi kelahiran kembali tergantung pada proses evolusi seseorang – bisa terbentuk synap-synap baru beserta reseptornya. Dan synap baru ini bisa memperkuat atau melemahkan synap-synap asli. Jadi proses evolusi justru terjadi pada saat mind terwujud sebagai wujud materi yang solid – yaitu tubuh. Dengan kata lain, tubuh beserta otaknya adalah alat untuk berevolusi. Karena itu, kita perlu lahir kembali berulang kali. Tanpa tubuh, kesadaran kita tidak akan meningkat. Kita membutuhkan tubuh sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran diri. Sayang sekali, jika tubuh ini

disia-siakan, digunakan untuk hal-hal yang tidak penting…….. Sang Istri: Sekarang kita berbicara tentang unsur utama ketiga pada komputer dalam diri manusia yaitu kesadaran yang merupakan aliran listriknya. Kesadaran diri ini berbeda dari subconscious mind. Kesadaran bukanlah bagian dari subconscious mind. Dalam buku “Neo Psyhic Awareness” disampaikan……. Adakah intelegensi atau mekanisme di dalam diri manusia sendiri yang menjadi pengendali? Intelegensi atau mekanisme itu apa? Jawabannya: Kesadaran. Kesadaran berada di atas otak. Kesadaran melampaui pikiran. Walau otak sudah tidak bekerja, pikiran pun sudah tidak terdeteksi, kesadaran masih tetap ada. Dan, kesadaran ini bukanlah “kesadaran jaga”. Tetapi, just “Kesadaran”. Inilah Consciousness, inilah Awareness yang sesungguhnya. Bukan consciousness dalam pengertian psikologi dan medis saat ini, yang lebih tepat disebut “keadaan jaga”……. Sang Suami: Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan……. Meditasi adalah Seni Kematian. Kita sebagaimana adanya saat ini harus mati! Terlalu banyak penyakit yang kita warisi dari masa lalu. Baru selesai mengobati yang satu, muncul yang lain. Very complicated! Lebih baik mati saja. Tetapi yang harus mati siapa? Badan? Ramai-ramai bunuh diri? Tidak ada gunanya, karena bagaimana pun juga badan akan mati. Bahkan “sedang” mati. Tanpa diapa-apakan juga, badan sudah dalam “proses” kematian. Mempercepat proses kematian badan tidak berguna. Yang harus mati adalah “identitas diri kita saat ini”. Yang harus mati adalah “kepribadian kita” yang sudah tercemari oleh “pikiran”, “alam bawah sadar”, “program-program kacau” yang kita dapatkan dari masyarakat dan lingkungan………. Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Mewaspadai Conditioning dan Programming dari Masyarakat Renungan Keduapuluhdua Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan “ disampaikan bahwa…….. Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah di-set, di-program, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan……. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut disampaikan pula…….. Manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat di-set dan di-program. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orang tua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia…….. Sang Istri: Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan kepatuhan buta terhadap programming dapat membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot, membuat kita menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada

pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita………. Sang Suami: Ada yang mengkritik mereka yang berbicara perihal agama melulu, seolah-olah masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh bangsa kita adalah agama. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”…….. Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa……. Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja. Kebiasaan dia melihat Kebenaran dari satu sisi ini yang berbahaya. Dan, karena kebiasaan ini ditanamkan lewat conditioning agama, solusinya harus lewat agama pula. Seseorang yang bisa menerima setiap agama sebagai jalan sah menuju Tuhan telah terbebaskan dari conditioning. Sekarang, ia bisa menerima Kebenaran seutuhnya. Pandangan dia sudah mengalami perluasan. Telah terjadi revolusi dalam dirinya. Membebaskan diri dari conditioning agama juga tidak berarti bahwa anda melepaskan agama. Kenapa dilepaskan kalau agama itu memang merupakan jalan menuju Tuhan? Kenapa pula mempertahankannya kalau sudah sampai tujuan? Tiba-tiba kita akan memiliki wawasan baru tentang jalan dan tujuan, tentang agama dan Tuhan. Orang-orang yang berwawasan baru inilah yang kita butuhkan. Sekali lagi deconditioning agama hanyalah sarana. Tujuannya adalah revolusi diri, kelahiran manusia baru. Dan manusia baru yang didambakan itu tidak akan lahir dari universitas yang berkiblat pada salah satu agama. Ia tidak akan menjadi alumni salah satu universitas. Ia akan berkiblat pada universe – pada semesta! la akan menjadi alumni universe – alumni semesta! Biarkan terjadi revolusi dalam diri kita. Biarkan kepercayaan kita berkembang. Biarkan kesadaran kita meningkat………

Sang Suami: Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog” disampaikan…….. Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……… Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka”. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran”…….. Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……… Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di”manipulasi”……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……… Celakanya, sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya sama teori Darwin, somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kita justru membersihkan otak. Deconditioning dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa media—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, Perangkat lunak otak dibersihkan dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan……….. Sang Suami: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Tanah, air, udara, api, dan ruang kosong—inilah lima elemen alami di balik ciptaan, di balik keberadaan. Badan kita

memiliki kelima-limanya, oleh karena itu padat. Pikiran dan perasaan tidak memiliki semuanya. Setidaknya berkurang satu elemen, yaitu tanah, maka tidak padat, lebih cair. Untuk menempuh jarak antara Jakarta dan Johannesburg, badan membutuhkan waktu berjam-jam. Pikiran mampu menempuhnya dalam sekejap. Pikiran tidak perlu diupayakan. Kita lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payah kita di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upaya kita saat ini. Pikiran telah membentuk kita. Kesadaran dapat mengubah kita. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam diri kita. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya program kita tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kita dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri kita. Kesadaran membebaskan diri kita……. Semoga kesadaran membimbing diri kita semua dalam mengarungi kehidupan ini……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Nyanyian Penyentuh Jiwa Renungan Keduapuluhtiga Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka ulang buku “Tantra Yoga” dan menemukan kalimat berikut………. Bila kita ingin belajar dari seorang Guru, dia harus turun ke tingkat kita. Dia harus menggunakan bahasa kita. Bisa terjadi dialog, komunikasi. Tetapi tak akan terjadi “komuni”. “Komuni” merupakan fenomena “dari hati ke hati”. Dan itu terjadi, bila kata-kata sudah terlampaui, dialog dan komunikasi sudah berhenti. Kita membutuhkan sentuhan Sang Guru. Jiwa, hati, batin kita harus tersentuh olehnya. Kepala disentuh, pundak dan dahi disentuh, tetapi bila hati tak tersentuh, maka hubungan kita dengan Sang Guru masih sebatas hubungan lahiriah. Masih hubungan antara dua badan. Ingat, kata-kata hanya menyentuh pikiran. Kata-kata tidak bisa menyentuh hati. Tilopa menyadari hal itu dan mencari jalan tengah. Dia tetap menggunakan kata-kata, tetapi menyanyikannya, melagukannya………. Sang Suami: Lagu, nyanyian dapat menyentuh hati dan mempengaruhi kejiwaan……. Konon musik kecapi Daud dapat menenangkan kemarahan yang menggelegak dari Raja Saul. Napoleon juga menyatakan bahwa lagu revolusi yang dikenal sebagai “Marseillase” lebih berharga dari pada dua resimen pasukan. Kemudian dalam setiap peperangan selalu diiringi oleh musik, dengan instrumen-instrumen militer dan himne-himne pembangkit semangat. Pada zaman dahulu, sewaktu perang Bharatayudha pun terompet-terompet kerang ditiup para ksatria untuk membakar semangat prajuritnya. Musik dan nyanyian memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dan bahkan untuk mengubah dunia. Musik dan nyanyian perlu dirasakan dan dihayati pengaruhnya terhadap diri kita. Sang Istri: Kalau kita renungkan, hidup kita terisi dengan suara-suara dengan segala macam ragamnya, dan respons-respons kita terhadap suara-suara tersebut ikut membentuk diri kita dari waktu ke waktu. Suatu saat suara-suara tersebut terasa sangat mengganggu dan pada saat yang lain sangat menyenangkan. Getaran-getaran suara mempengaruhi pola pikir kita, perasaan kita, dan bagaimana kita mengalami dunia ini. Kita memberi respon terhadap semua suara ini, namun biasanya kita tidak memberi banyak perhatian kepada mereka. Kita tidak menyadari bahwa kita telah disentuh oleh sebuah kebijaksanaan…sebuah daya semesta… sebuah instrumen ilahi….. Sang Suami: Pandangan Bapak Anand Krishna tentang musik membuka wacana

betapa pentingnya musik bagi kehidupan manusia. Alat musik mempengaruhi otak manusia. Konon ketika ragas, sejenis sitar di India menjadi alat musik utama, masyarakat menjadi terlalu lembut dan dijajah bangsa asing selama 1.000 tahunan. Ketika tabla, sejenis gendang yang dinamis yang berasal dari Persia masuk dan dikombinasikan dengan ragas maka iramanya menjadi lebih dinamis dan dalam waktu kurang dari 400 tahun India merdeka. Pengaruh musik terhadap setiap orang tidak sama, akan tetapi musik string, senar, dawai menenangkan 70% pendengarnya. Sedangkan musik drum, gendang memberikan semangat kepada sekitar 70% pendengarnya. Musik sitar, flute, kecapi, suling cocok untuk meditasi sedangkan musik drum, gendang membuat “keep awake”, terjaga dan bersemangat……. Hitler menyenangi lagu-lagi Wagner yang bersemangat. Lagu-lagu mars dengan lirik perjuangan juga disukai Bung Karno karena memberikan semangat kepada pendengarnya. Sang Istri: Dalam bukunya yang berjudul “The Secret Life of Plants”, Peter Tompkins menjelaskan sebuah eksperimen tentang pengaruh musik terhadap tanaman. Empat kelompok tanaman diberikan pencahayaan, tanah, jadwal pengairan dan lainnya yang identik. Kelompok pertama diperdengarkan musik rock and roll selama beberapa jam setiap harinya. Kelompok kedua diperdengarkan musik jazz, dan yang ketiga mendengar musi klasik. Tanaman yang tersisa merupakan kelompok tanaman standar yang tidak mendapatkan stimulus musik apapun……. Dalam waktu beberapa hari, tanaman-tanaman yang diberikan musik rock and roll menjauh tiga puluh derajat dari sumber suara. Pertumbuhan mereka juga agak terhambat dibandingkan dengan tanaman-tanaman standar. Tanaman-tanaman yang diberikan musik jazz menunjukkan hasil-hasil yang bervariasi tergantung pada artis penyanyinya. Namun hasil yang paling dramatis terlihat pada tanaman-tanaman yang diberikan musik klasik. Mereka tumbuh lebih cepat dari kelompok tanaman lainnya. Selain itu, mereka juga condong enam puluh derajad mendekati sumber suara, seolah-olah tengah berusaha mendekati sumber suara tersebut sekuat yang mereka bisa……. Pada percobaan yang lain terbukti musik klasik membuat akar tanaman lebih panjang, sedangkan musik rock membuat akar tanaman lebih pendek……. Musik alami seperti suara burung dengan frekuensi tinggi yang ditiru teknik “sonic bloom” membuatstomata, mulut daun membuka lebih lebar, tanaman menjadi lebih subur dan panen lebih baik. Sang Suami: Dalam buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin” disampaikan……. Di AS ada pembuktian, murid-murid yang bernyanyi dan memainkan alat musik mendapat nilai 50 poin lebih tinggi dari nilai rata-rata………. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan……… Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan……..

Sang Istri: Dr. Masaru Emoto mengungkapkan bahwa air atau cairan mempunyai kesadaran, sehingga pada waktu mendengarkan lagu yang indah, molekul air membentuk bentuk kristal hexagonal yang indah. Lagu akan mempengaruhi tubuh kita, karena tubuh kita mengandung air sekitar 70%. Demikian pula lagu akan mempengaruhi hewan dan tanaman karena adanya kandungan air dalam diri mereka. Sang Suami: Benar istriku, musik mempunyai pengaruh yang besar terhadap detak jantung. Dapat dicoba dengan cara mendengarkan lagu-lagu klasik, lagu-lagu meditatif dengan ketukan dibawah 60 per menit selama 15 menit, kemudian pergelangan tangan dipegang dan dihitung denyut nadinya. Selanjutnya kita mendengarkan lagu-lagu keras dengan beat yang cepat selama 15 menit, dan dibandingkan denyut nadi yang dihasilkan. Lagu yang lebih tenang akan menyebabkan detak jantung yang lebih tenang. Detak jantung yang tenang akan menghasilkan getaran pikiran yang lebih tenang. Dalam buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin” disampaikan……. Musik bisa menjadi obat bagi tubuh dan jiwa. Musik dapat mempengaruhi suasana hati, fisik dan spiritual, juga dapat menangani berbagai masalah, dari nyeri kronis, hipertensi, kecemasan sampai penyakit-penyakit mental…….. Menyanyi secara medis dapat menjadi terapi bagi orang-orang yang depresi. Pada saat menyanyi, suara akan menggetarkan tengkorak kita, sehingga otak seakan-akan dipijat dan melepaskan hormon serotonin yang merupakan anti depresan alami didalam tubuh kita. Sebab itu setelah menyanyi kita merasa enak, lega dan rileks. Musik dapat mempengaruhi denyut nadi, tekanan darah dan pernapasan. Misalnya lagu yang temponya agak pelan denyut jantung dan pernapasan akan menyesuaikan dengan tempo musik tersebut…….. Sang Istri: Masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa dan masa tua adalah sebuah kontinum kehidupan, tidak ada batasan yang jelas. Kita hanya dapat melihat bahwa dalam masa kanak-kanak kita suka menyanyi dan menari serta ceria. Kedewasaan sering terlihat dari cara bertanggung-jawab terhadap semua perbuatan sedangkan masa tua lebih sering nampak dari kegemaran memberikan nasehat. Akan tetapi bukan berarti seorang tua tidak boleh menyanyi, hanya porsinya yang berbeda dengan porsi menyanyi anak-anak. Menyanyi menimbulkan keceriaan. Pada waktu menyanyi kita bebas dari memikirkan masa lalu dan masa depan, kita berada dalam kekinian. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan…….. Kidung dalam bahasa latin disebutcanticle. Getaran-getaran yang keluar dari lagu ini dapat mengubah diri kita dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran-getaran yang keluar dari lagu dapat mengubah diri kita dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik

tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi……Jangan terlalu serius, menyanyilah……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Mengasihi Gusti Pangeran Renungan Keduapuluhempat Tentang Berguru Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan pengingat diri. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku-buku Bapak Anand Krishna dan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, hamba Sai mereka jadikan referensi. Bagi mereka buku-buku adalah Surat Cinta dari Gusti, yang perlu dibaca dan dipelajari berulang-kali. Sang Istri: Dalam buku Shrimad Bhagavatam digambarkan bahwa Shri Krishna mempunyai istri 16.000 orang. Dia bisa membagi diri dan hidup bersama 16.000 istrinya, masing-masing sesuai kehidupan istri-istrinya. Demikianlah bagi para Pecinta, Gusti Pangeran adalah satu-satunya lelaki yang ada dan kita semua yang bergender pria atau wanita adalah “perempuan” yang mengharapkan hidup berbahagia dengan-Nya. Gusti Pangeran mempunyai hubungan khusus dengan masing-masing Pencinta-Nya. Gusti bisa “membagi” diri-Nya dengan adil. Gusti Pangeran ibarat kekosongan, sehingga “suara” apa pun yang disampaikan kepada-Nya akan kembali kepada yang mempersembahkan “suara”-nya. Seseorang yang memberikan “suara” kebaikan maka kebaikan pula yang akan dia terima. Bila seseorang memberikan “suara”kejahatan, maka kejahatan pula yang akan kembali kepadanya. Sang Suami: Aku ingat akan sebuah kisah serupa…… Seorang suami yang mempunyai empat istri pergi ke luar negeri selama beberapa bulan. Ini adalah cerita dimana sang suami bertindak sangat adil terhadap istri-istrinya seperti hubungan Sri Krishna dengan para “istri”-Nya yang sulit dilaksanakan oleh orang awam seperti kita. Selesai menyelesaikan tugas di luar negeri sebelum pulang sang suami telepon dengan keempat istrinya, mereka mau dibelikan oleh-oleh apa? Isteri ke-4 minta obat yang sangat manjur agar penyakitnya sembuh dan dia dapat melayani suaminya dengan baik. Isteri ke-3 minta oleh-oleh kain baju yang mahal dan kosmetik berkelas agar suaminya selalu berbahagia bersamanya. Istri ke-2 minta dibelikan buku hubungan suami istri ideal, agar hubungan mereka dapat langgeng. Istri ke-1 tidak minta apa-apa, baginya yang penting suaminya pulang dengan selamat…….. Istri ke-4 lambang manusia tipe ”arthi”, yang berdoa pada Tuhan bila berada dalam kesulitan. Istri ke-3 lambang manusia ”arthaarthi”, yang mohon kepada Tuhan diberikan anugerah duniawi. Kedua istri ini masih dalam tingkatan kesadaran ”untung-rugi” terhadap Tuhan. Istri ke-2 adalah tipe ”jignasu”, yang menekuni kerohanian, penuh cinta terhadap Tuhan, ingin mengetahui bagaimana bisa berhubungan dengan Tuhan. Isteri ke-1 tipe seorang ”jnani”, orang yang mengetahui kebenaran. Tindakannya tidak menggunakan pikiran lagi, dipenuhi kasih pada Tuhan. Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan sejati…… Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kita terobsesi dengan kemakmuran diri, kemakmuran keluarga, komunitas kita, lembaga kita, ini dan itu kita – maka kita menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu

bahasa tanpa pamrih. Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu”…… Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku…….. Nafsu selalu menuntut, mengambil, dan menerima. Cinta saling memberi dan menerima. Kasih memberi, memberi, dan memberi. Sang Suami: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan beberapa jenis Pencinta sesuai 3 sifat alam yang mempengaruhinya yaitu tamas-malas, rajas-agresif, satva-tenang dan pencinta tanpa syarat……. Seorang Pencinta Tamasic tampak sangat dinamis, aktif, sibuk dengan ritual-ritual keagamaan. Tidak mengenal lelah. Disuruh bangun tengah malam, mau. Disuruh apa saja, siap. Tapi, harus ada yang memberitahunya. Dia tak akan bergerak tanpa pemberitahuan. Dia harus diatur, diurus. Kadang oleh buku, kadang oleh masyarakat dan hukum, kadang oleh seorang guru atau pemimpin. Dalam tradisi Sufi, ada sebuah kata yang indah sekali, yaitu Ijtihad atau upaya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah upaya untuk menemukan sendiri Kebenaran Hakiki. Upaya untuk menemukan makna tersirat di balik yang tersurat. Pencinta Tamasic tidak pernah ber-ijtihad. Dia malas. Dan, untuk menutupi kemalasan diri, dia akan selalu mencari pembenaran. “Kami kan orang awam, manusia biasa. Mereka itu para ahli tafsir. Biar merekalah yang menuntun kami………. Sang Istri: Seorang Pencinta Rajasic tidak tumpul, tidak malas. Mereka cukup tajam, berpengetahuan. They have very sharp minds. Itu sebabnya mereka sibuk melakukan kalkulasi. Menghitung laba rugi. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan. Mereka akan menafikan ritus-ritus dan tradisi-tradisi lama “yang dianggap tidak berguna”. Dan mempertahankan apa saja “yang dianggap masih berguna”. Bagi para Pencinta Rajasic, segala sesuatu harus “berguna” – entah berguna bagi diri mereka, atau bagi masyarakat luas – sesuai “pandangan” mereka. Itu sebabnya mereka bisa memaksakan kehendak diri, pandangan pribadi. Apa yang mereka “anggap” benar harus diterima oleh masyarakat luas. Bila memiliki kekuasaan, para Pencinta Rajasic bisa menjadi tiran, kejam, keji. Mereka bisa mengangkat pedang dan memaksa kita untuk menerima kebenaran sebagaimana mereka definisikan, kebenaran sebagaimana mereka artikan………. Sang Suami: Seorang Pencinta Satvic sadar bahwa kepuasan intelektual hanyalah “sebuah slogan”. Intelek tidak pernah puas. Sudah menguasai satu ilmu, dia ingin menguasai yang lain. Itu sebab para saintis tulen, para ilmuwan sejati – tidak pernah berhenti meneliti. Mereka tidak pernah puas. Kebebasan dari penderitaan juga sebuah slogan. Seseorang bisa merasa dirinya sudah terbebaskan. Padahal yang terbebaskan itu apa, “diri” yang mana? Seorang sadar juga masih bisa jatuh sakit. Taruhlah

kesadaran dia sudah meningkat. Rasa sakit tidak mengganggunya lagi. Tetapi badan tetap saja sakit. Bagaimana mengabaikan kenyataan itu? Apakah “si badan” bukan bagian dari dirinya? Secara intelektual, memang bisa dijelaskan bahwa badan bukan aku, pikiran bukan aku, rasa bukan aku. Kita lupa bahwa pernyataan “badan bukan aku” datang dari badan. Dari mulut dan lidah yang masih merupakan bagian dari badan. Oleh karena itu, seorang pencinta Satvic akan menerima hidup seutuhnya. Dia tidak akan lari dari penderitaan. Dia akan menerima penderitaan se bagai bagian dari hidup. Dia sadar dan dia cinta kesadaran. Doa dan ibadahnya bertujuan jelas. Satu kata: kesadaran. “Ya, Allah, Ya Rabb, Widhi, Tao, Bapa di Surga… sadarkan diriku. Bantulah aku sehingga bisa mempertahankan kesadaran diri.” Bagi Narada, ketiga macam cinta ini masih “bersyarat”, masih bersifat, masih bertujuan, masih terbatas……… Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan bahwa Cinta tak bersyarat lebih mudah……….. Sejak berabad-abad, sutra ini telah membingungkan sekian banyak penafsir dan penerjemah. Masa’ iya, cinta tak bersyarat lebih mudah daripada cinta bersyarat?……… Lain pemahaman kita, lain pemahaman Narada. Pemahaman Narada berbeda, “Untuk mencintai dengan cara tamas, rajas maupun satva, engkau harus bekerja keras, berupaya, karena tujuanmu jelas. Dan tujuan itu harus tercapai, engkau gelisah. Engkau memikirkan hasil melulu. Entah yang kau harapkan adalah kenikmatan sesaat atau kebahagiaan untuk selama-lamanya, harapan itu sendiri menggelisahkan.” Bayangkan.. Bila Anda menginginkan kemewahan hotel bintang lima, dompet Anda harus tebal. Bila Anda menginginkan kenikmatan Surga, deposito amal saleh Anda harus banyak. Setelah berdana-punia, beramal saleh pun kita masih ragu-ragu: “Cukup nggak, cukup nggak? Jangan-jangan tidak cukup!” Dalam hal beramal saleh pun kita berlomba dan bersaing. Dan perlombaan serta saingan semacam itu diperlukan. Itu sebabnya Narada tidak mengkritik para pencinta bersyarat. Mereka dibutuhkan. Berkat persaingan dan perlombaan ketat antar mereka, hidup di dalam dunia menjadi sedikit lebih nyaman bagi mereka yang kurang beruntung. Bagi para yatim piatu, janda, fakir miskin dan para jompo……….. Sang Suami: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan, walau yang menjadi tujuan adalah kesadaran, tetap memerlukan kerja keras juga…… Bila yang kita inginkan adalah kesadaran, sulit juga. Kesadaran kita bagaikan layang-layang. Ketinggian dan kerendahan kita tergantung pada sekian banyak faktor di luar diri. Cuaca, angin, atap rumah, tiang listrik dan sebagainya. Tidak hati-hati, layang-layang pun putus dan jatuh. Apa saja yang dilakukan dengan tujuan tertentu bisa membawakan hasil. Bisa juga tidak. Cinta bersyarat pun demikian. Kadang membahagiakan, kadang menyedihkan. Kadang panas, kadang dingin. Kadang manis, kadang pahit. Sebaliknya, cinta tanpa syarat sungguh mudah. You have no goal to achieve. Tidak ada tujuan yang harus dicapai. Kita tidak mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Kita tidak mendambakan sesuatu dari keluarga atau kerabat yang kita cintai. Kita mencintai “karena” cinta itu sendiri. Bahkan, penggunaan kata “karena” dalam hal ini sungguh dangkal. Love for love’s

sake. Cinta karena cinta. Kata “karena” tidak dibutuhkan. Kata “karena” malah membingungkan. Tapi, terpaksa digunakan untuk membantu pemahaman kita. Itu saja……… Sang Istri: Walau sudah berupaya, sesungguhnya Kasih diperoleh berkat bantuan para suci dan berkah Tuhan. The Last word is Lord’s – Kata akhir adalah Kata Dia. Kata Awal pun kata Dia. Dan ketika akhir melingkar dan bertemu dengan titik awal, pertemuan itu pun karena Dia. Para suci “berada” di titik akhir. Dan berada pada titik itu, suara mereka sudah tidak berbeda dari suara Keberadaan. Itu sebab Narada menyejajarkan “bantuan” para suci dengan “berkah” Tuhan. Sesungguhnya, keberadaan para suci itu sudah merupakan “berkah”Tuhan. Kesempatan untuk mencium tangan mereka datang dari Tuhan……… Demikian disampaikan dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”……….. Sang Suami: Dalam buku tersebut disampaikan…….. Kesimpulan Narada sungguh sederhana. Love means fulfillment. Terisi oleh cinta, jiwa tak akan menuntut sesuatu lagi. Bila sudah menemukan cinta, kita tidak akan mencari sesuatu lagi. Pencarian kita membuktikan bahwa kita belum menemukan cinta. Belum terjamah oleh Kasih……. Berhentilah mencari di luar diri. Hentikan pencarianmu. Kasih ada dalam dirimu. Sadarilah Keberadaan-Nya. Kembangkan kesadaran itu. Tingkatkan kesadaranmu, hingga pada suatu ketika, yang kau sadari hanyalah Kasih. Yang kau rasakan hanyalah Kasih. Yang kau lihat hanyalah Kasih………… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Intelegensia Sel Dalam Tubuh Manusia Renungan Keduapuluhlima Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan…… Setiap organ tubuh bergetar. Setiap organ tubuh memiliki ritme, nada dan irama sendiri. Setiap organ tubuh bahkan memiliki intelejensia sendiri. Bukan hanya otak yang memiliki intelejensia, tetapi setiap organ tubuh memilikinya. Otak memang berfungsi sebagai komandan, namun prajurit prajurit di bawahnya, perwira perwira di bawahnya juga memiliki intelejensia sendiri. Untuk menerima perintah dari komandan, untuk bisa melaksanakannya dengan baik, setiap prajurit, setiap perwira harus memiliki intelejensia. Begitu pula dengan badan kita, dengan organ organ dalam tubuh kita……. Sang Suami: Benar istriku, konon dalam setiap 1 kg manusia terdapat 1 trilyun sel. Bahkan setiap sel merupakan unit kehidupan tersendiri, dia hidup, lahir, makan, bernafas, melaksanakan tugas dan akhirnya mati. Selanjutnya, akan ada sel baru yang menggantikannya. Trilyunan kehidupan tersebut berlangsung di dalam tubuh manusia…….. Setiap sel mempunyai intelegensia. Sel darah putih bisa membedakan antara bakteri musuh dan sari makanan yang tidak berbahaya. Informasi rasa manis dalam lidah sampai ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber”estafet” mengantarkan informasi. Sel-sel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama dalam keseluruhan. Deepak Chopra memberikan uraian tentang intelegensia sel: Pertama, tidak mementingkan diri sendiri. Setiap sel setuju untuk bekerja demi kesejahteraan keseluruhannya. Kesejahteraan individual menjadi nomer dua. Kalau perlu ia rela mati demi melindungi tubuh. Umur sel lebih pendek daripada umur manusia. Ribuan sel kulit mati setiap harinya. Demikian juga sel kekebalan tubuh yang memerangi mikroba yang menyerbu. Sikap mementingkan diri bukan pilihan; Kedua, kemenyatuan. Sebuah sel berhubungan dengan segala sel lainnya. Molekul-molekul utusan berpacu ke mana-mana untuk memberitahu tentang hasrat atau niat. Menarik diri atau menolak berkomunikasi bukanlah pilihan; Ketiga, kesadaran. Sel-sel beradaptasi dari saat ke saat. Mereka tetap fleksibel agar dapat memberikan respon terhadap situasi-situasi yang ada. Terperangkap pada kebiasaan kaku bukanlah pilihan; Keempat, penerimaan. Sel-sel saling mengenal satu sama lain sebagai sama pentingnya. Setiap fungsi dalam tubuh saling tergantung satu dengan lainnya. Berfungsi sendirian bukanlah pilihan; Kelima, keberadaan. Sel-sel itu patuh kepada siklus universal berupa istirahat dan aktif dalam kegiatan. Terekspresikan seperti tingkat hormon, tekanan darah, irama pencernaan yang berfluktuasi. Ekspresi yang paling jelas adalah

tidur. Akan terjadi ketidakberfungsian total apabila kita tidak tidur. Dalam keheningan istirahat, tubuh berinkubasi. Terlalu aktif atau agresif bukanlah pilihan; Keenam, efisiensi. Sel-sel berfungsi dengan pengeluaran energi yang sekecil mungkin. Umumnya sebuah sel menyimpan hanya tiga detik makanan dan oksigen di dalam dinding selnya. Ia sepenuhnya percaya bahwa dirinya akan dipelihara. Konsumsi makanan, udara atau air yang berlebihan bukanlah pilihan; Ketujuh, pembentukan ikatan. Karena kesamaan warisan genetika, sel-sel itu tahu bahwa mereka itu pada dasarnya sama. Fakta bahwa sel hati itu beda dengan sel jantung tidak meniadakan kesamaan identitas mereka, yang tidak berubah-ubah. Sel-sel yang sehat tetap terikat dengan sumbernya yang sama. Entah seberapa sering pun mereka terbelah. Menjadi sel buangan bukanlah pilihan; Kedelapan, memberi. Kegiatan utama sel adalah memberi, yang akan memelihara integritas sel-sel lainnya. Komitmen total terhadap memberi menjadikan menerima itu otomatis. Menumpuk bukan pilihan; Kesembilan, keabadian. Sel-sel bereproduksi untuk meneruskan pengetahuan, pengalaman dan bakat mereka tanpa menahan apa pun kepada anak-anak mereka. Ini semacam keabadian praktis, tunduk kepada maut di bidang fisik, tetapi mengalahkannya di bidang non fisik. Jurang antara generasi bukan pilihan…….. Bagi tubuh, kualitas hanyalah cara kerja kehidupan. Mereka adalah hasil dari intelegensi kosmos yang mengekspresikan diri selama milyaran tahun sebagai biologi. Sang Istri: Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” disampaikan….. Setiap sel dalam tubuh kita mengalami kelahiran dan kematian. Selama mekanisme lancar, kita tetap segar, sehat. Begitu proses penggantian ini mulai perlahan bahkan berhenti, proses menua sudah tidak dapat dihindari lagi. Badan kita pun demikian, ibarat pakaian, apabila pakaian kita menjadi lusuh, sebentar lagi kita akan mendapatkan pakaian baru……… Suamiku, menurut para scientist dalam satu tahun, sekitar 98% , tubuh terbaharui. Jadi sampai dengan saat ini sudah tak terhitung sel yang sudah lahir dan mati demi kehidupan tubuh manusia…… Suamiku, mari kita pelajari intelegensia sel tubuh manusia, seharusnya kesembilan intelegensia tersebut: tidak mementingkan diri sendiri,kemenyatuan, kesadaran, penerimaan, keberadaan, efisiensi, pembentukan ikatan, memberi dan keabadian dilakukan manusia dalam kehidupan nyata. Setiap sel memahami bahwa dirinya merupakan unit dari sistem tubuh manusia dan dia bertindak selaras dengan sistem tersebut. Manusia pun merupakan unit dari sistem kehidupan di bumi, seharusnya manusia bertindak selaras dengan sistem kehidupan bumi. Sang Suami: Intelegensia selaras dengan alam semesta, maka intelegensia bersifat universal. Sedangkan mind merasa mempunyai kehendak bebas pribadi, kita harus mengusahakan agar mind kita selaras dengan alam semesta. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Ada mind, ada intelegensia. Bukan intelek, tetapi intelegensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita

tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind………. Sang Istri: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” tersebut juga disampaikan…….. Proporsimind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mindberkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum. Dalam satu kelompok atau satu organisasi level intelegensia setiap anggota biasanya mirip-mirip. Jelas tidak bisa sama, tetapi ya kurang lebihlah! Bila tidak, akan selalu terjadi kesalahpahaman dan pertikaian. Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka yang berintegensia rendah ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah. Mind atau manoselalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, budhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementaramind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit……. Sang Suami: Selama ini orang berusaha menemukan Gusti menggunakan menggunakan pancaindra, menggunakan mind. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan…… Gusti, Sang Perancang yang Cerdas itu tak dapat diamati, diukur, atau dijelaskan, dijabarkan, dipaparkan lewat pancaindra. Karena pancaindra pun merupakan rancangan-Nya. Bila kita menggunakan pancaindra untuk menemukannya, kita tak akan pernah berhasil. Selanjutnya, Sang Cerdas itu, Inteligensia itu, hanya dapat ditemukan dalam Kecerdasan, dalam Inteligensia juga. Bila kita dapat melampaui lapisan mental dan pikiran kita, maka dalam alam Kesadaran yang melampaui pikiran itulah kita menemukan Inteligensia, Kecerdasan, atau apa pun sebutannya. Sesungguhnya, kita tidak berpisah dari Kesadaran, dari Inteligensia dan, dari Kecerdasan itu. Segala sesuatu adalah manifestasi dari-”Nya”……. Sang Istri: Bila terjadi krisis intelegensia, krisis kesadaran, mind akan merajalela. Para penyembah napsu telah menempatkan napsu diatas segalanya, kemudian menjadikannya objek panembahan. Dan, semua itu mereka lakukan dalam keadaan sadar. Para budak napsu selalu menempatkan diri sebagai pemimpin, persis seperti

Rahwana. Suamiku, aku ingat buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” yang menyampaikan…….. Dalam kisah Ramayana versi Sanskerta, Rahvana ditampilkan sebagai seorang ilmuwan. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang ia kuasai, spiritualitas pun ia pahami. Tetapi, perilaku dan tindakannya tidak sesuai dengan pengetahuannya, dengan pemahamannya. la masih sepenuhnya dikendalikan oleh mind, oleh pikiran dan oleh hawa-napsu. Ia diperbudak oleh lima indera dan lima kelemahan. Itu sebabnya ia disebut Dashamukha. Dashamukha atau dalam bahasa Jawa “Dosomuko” berarti, “la yang memiliki sepuluh kepala”. Istilah “sepuluh kepala” ini simbolik sekali. Yang dimaksudkan adalah bahwa pikiran dia bercabang sepuluh. Lima cabang dikuasai oleh lima indera, panca-indera. Lalu, lima lagi dikuasai oleh lima kelemahan dalam dirinya, yaitu: napsu birahi, amarah, keterikatan, keserakahan, dan keangkuhan. Sang Suami: Dikisahkan bahwa Rahwana dikendalikan oleh pikiran, diperbudak oleh panca indera, adalah seorang raksasa berbadan manusia, tetapi bersifat hewani. Dan jangan kira bahwa di jaman modern ini sudah tidak ada raksasa lagi. Penampilan para raksasa masa kini sudah tidak seperti penampilan Rahvana dalam lakon wayang. Mereka berpenampilan necis, berdasi dan berjas, naik-turun mobil mewah. Di depan dan di belakang mereka, berjajar banyak gelar. Dalam unit terkecil, diri kita adalah Alengka. Saat ini dasamuka mental/emosional berkuasa. Tapi kesadaran Wibisana, sang adik pun juga ada yang berupa suara hati. Berpihaklah pada dia, dan bebaskan diri dari kuasa dasamuka. Maka, niscaya Wibisana akan mengantar kita kepada Sri Rama, kepada Gusti……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Otak “Software” Manusia Renungan Keduapuluhenam Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang pengaruh conditioning oleh masyarakat. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan pemahaman secara repetitif-intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Suami: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan bahwa……… Tanpa perkembangan Neo-Cortex, manusia tidak sadar tentang hal-hal yang tepat dan tidak tepat, yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia tak akan mampu memahami kebutuhan insting yang diterimanya dari bagian Lymbic lewat jaringan saraf otonom. Bila insting mengirimkan pesan “lapar”, maka ia bisa saja makan berlebihan, sehingga merusak kesehatannya sendiri. Begitu pula dengan hal-hal lain yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar dan harus dipenuhinya secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran, misalnya memilih makanan yang baik bagi kesehatannya sehingga tidak makan apa saja secara sembarangan. Dengan kata lain, mesti ada kerja sama yang baik antara bagian Lymbic dan Neo-Cortex. Tanpa kerja sama seperti itu, manusia akan mencelakakan dirinya…….. Hal ini tidak terkait dengan tubuh atau kesehatan raganya saja, tetapi juga dengan pikiran dan lapisan-lapisan kesadarannya yang lain. Jadi Lymbic memberitahu kebutuhan, sedangkanNeo-Cortex menentukan bagaimana dan dengan cara apa memenuhi kebutuhan itu supaya menunjang kesehatan dan kehidupan, bukan merusak atau mematikannya. Ibarat Super Komputer yang mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Lymbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di “manipulasi”. Sang Istri: Dalam ilmu medis, kita ketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau mielin sheet terjadi pada usia 0-5 tahun. Setelah itu kreativitasnya berangsur-angsur berkurang, namun berjalan terus sampai usia 20 tahun bahkan 40 tahun. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” tersebut juga disampaikan bahwa……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita

semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun……… Sang Suami: Aku ingat sebuah artikel “Pancasila dan Otak Manusia” yang menyampaikan bahwa…….. Hanyalah manusia yang memiliki bagian otak yang disebutNeo-Cortex. Hewan-hewan jenis lain hanya memiliki bagian yang disebut Lymbic. Manusia adalah jenis hewan yang boleh disebut “super” – ia adalah super-animal. Memiliki Lymbic maupun Neo-Cortex. Lymbic bersifat “statis”, dalam pengertian ia hanya melakukan pekerjaan rutin, tidak bisa berkembang. Maka, seekor katak lahir sebagai katak, dan sudah pasti mati sebagai katak. Sejak zaman dahulu mereka hidup di kolam, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia, dulu dia hidup di dalam gua, sekarang tidak. Dulu, rumahnya gubuk, sekarang villa. Seluruh keberhasilan manusia ini terkait dengan perkembangan Neo-Cortex. Makin berkembangnya bagian tersebut, makin majunya manusia, makin progresif dirinya. Sang Istri: Iya suamiku, dalam artikel tersebut disampaikan……… Lymbic di dalam diri manusia – persis seperti hewan-hewan lain – hanya memikirkan makan, minum, tidur, dan seks. Ia tidak dapat berpikir lebih jauh, dan lebih luas lagi. Manusia masih memiliki bagian itu, karena ia pun masih membutuhkan apa yang dibutuhkan hewan-hewan lain. Namun, di luar urusan itu – manusia memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh. Ini yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan jenis lain. Maka, manusia bisa membangun. Hewan-hewan lain tidak bisa. Manusia bisa dididik atau mendidik diri untuk menjadi super-human, dan tidak berhenti pada tataran super-animal. Hewan-hewan lain tidak bisa……….. Hazrat Isa mengingatkan kita, “He, kalian tidak hidup untuk roti saja lho…” Nabi Muhammad mengingatkan bilamana kita tidak peduli terhadap keamanan dan kesejahteraan tetangga maka kita belum cukup beragama. Dalam hal ini, tentunya yang dimaksud beliau dengan rasa aman dan sejahtera jauh melebihi definisi-definisi kita yang sempit. Buddha mengajak kita untuk berdamai dengan semua. Krishna menyerukan kesatuan dan persatuan antara umat manusia dan seluruh bentuk kehidupan yang ada, baik yang bergerak atau energi, maupun yang tidak bergerak atau materi. Karena, pada dasarnya kehidupan itu satu adanya. Segala apa yang saya lakukan terhadap Anda akan kembali kepada saya lagi. Kejahatan kembali sebagai kejahatan. Kebajikan pun sama………… Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa………. Marx dan Machiavelli, dan para penganut mereka – jelas tidak dapat melihat sesuatu di luar kebutuhan lymbic. Dua-duanya bicara tentang kesejahteraan materi. “Urusi perut dan berikan sedikit hiburan”, seru Machiavelli, “dan kau dapat menguasai siapa saja”. Marx hanya mengembangkan apa yang pernah disampaikan oleh Machiavelli. Banyak diantara kita yang masih percaya bahwa urusan negara ini akan langsung terselesaikan bila kebutuhan rakyat akan materi terpenuhi. Tanpa disadari, kepercayaan itu sesungguhnya menempatkan kita berada bersama Machiavelli dan Marx. Machiavelli dan Marx akan membenarkan segala cara untuk, apa yang mereka anggap, kesejahteraan rakyat. Mereka bisa menolak agama dan kepercayaan, bisa juga menggunakan agama dan kepercayaan untuk mengelabui kita. Ini yang saat ini terjadi

di negeri kita.……… Salah satu kelemahan lymbic adalah ia “penakut”. Ia selalu merasa dirinya dalam keadaan bahaya – eksistensinya terancam. Bila ia memeluk agama atau memiliki ideologi, maka agama dan ideologi itu dirasakannya dalam keadaan gawat, darurat, maka mesti di-”bela”. Padahal ajaran-ajaran justru “turun” untuk memfasilitasi dirinya menjadi manusia yang lebih baik dengan memanfaatkanneo-cortex. Kelemahan lain adalah ia selalu berpikir dalam kotak. Ia tidak bisa berpikir diluar kotak. Ia akan selalu mencari orang-orang yang sejenis dengannya, yang sama-sama hanya menggunakan lymbic. Wawasan mereka sempit…. Sang Istri: Suamiku, mari kita perhatikan usaha pembentukan karakter manusia yang terjadi di masyarakat. Selama menuntut ilmu, kita dipaksa untuk “berlomba”. Kejuaraan menjadi tolok ukur keberhasilan manusia. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan……… Selama bertahun-tahun, dari TK sampai Universitas, kita di kondisikan dan diprogram untuk berlomba. Dan programming tersebut tidak berakhir dengan gelar sarjana yang kita peroleh, tetapi berlanjut sampai akhir hayat. Apa pun yang kita lakukan, di mana pun kita berada, kita sibuk berlomba……. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan………. Dengan dalih memotivasi anak supaya menjadi pintar, kita menciptakan perlombaan dalam segala bidang. Segala sesuatu termasuk pelajaran agama dan keagamaan dinilai dengan angka. Padahal, urusan angka dan hitung-menghitung itu adalah urusan Otak Bagian Kiri. Sementara urusan keagamaan, nilai-nilai agama atau spiritualitas adalah urusan Otak Bagian Kanan. Semuanya diputar balik, sehingga kehilangan makna……. Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” disampaikan…… Orang yang gila akan kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Jangan jadi hewan, jadilah manusia. Perlombaan, persaingan – semuanya itu sifat-sifat hewani. Manusia memiliki harga diri; ia cukup mempercayai dirinya sendiri. Ia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik, tidak ada satu pun manusia yang persis sama seperti orang lain……… Sang Suami: Ada kelemahan lain manusia modern yang disampaikan dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”………. sewaktu masih bayi, kita begitu tak berdaya. Hidup-mati kita sangat tergantung pada belas-kasihan orang lain, termasuk orangtua kita. Sekarang, dimana kedua orangtua sibuk bekerja, seorang bayi akan sangat tergantung pada baby-sitter atau pembantunya. Apabila sang bayi lapar, ia hanya dapat menangis kala sang pembantu sibuk ber HP-ria atau sedang nonton tivi. Sang bayi harus tahan lapar dan menangis beberapa lama, sebelum mendapatkan makanannya. Begitu diberi susu, ia akan minum sebanyak-banyaknya. la menjadi rakus tidak terkira. Sejak bayi ia mulai belajar menjadi takut, nanti kalau lapar, akan mendapatkan susu lagi atau tidak ya? Begitu tiba saat diberi susu, la minum sebanyak-banyaknya, sehingga sering kembung perutnya. Rasa takut ini masih terbawa sampai dewasa…….. Keserakahan bermula

dari kebiasaan yang diulang terus menerus ditambah sistem pendidikan dan lingkungan yang penuh aura lomba. Akibat lomba dan mau menjadi juara, maka keserakahan merajalela. Keserakahan menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta, tidak dapat diobati dengan mempertinggi tahta. Synap saraf otak sudah hampir permanen, pikiran bawah sadar sudah terpola. Sangat berat untuk mengubahnya. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind, synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang diperolehnya. la diperbudak olehconditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya……. Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……. Pendidikan yang salah tidak hanya mencelakakan seorang anak didik saja tetapi akan turun temurun mencelakakan generasi berikutnya. Karena kesalahan itu terekam dalam DNA dan akan diteruskan kepada generasi berikutnya, kecuali jika segera diperbaikinya. Sesungguhnya, kita sendiri sudah menjadi korban kesalahan yang sama. Kita mewarisinya lewat muatan DNA dari orangtua kita. Dan mereka mewarisinya dari orangtua mereka. Celakanya, jika suatu kesalahan sudah turun-temurun menjadi rekaman DNA maka kesalahan itu lebih sulit untuk diperbaikinya. Rekaman lama itu ibarat pohon lebat yang sudah kuat sekali cengkeraman akarnya. Tidak berarti pohon rekaman itu tidak dapat ditebang juga. Bisa saja, tetapi membutuhkan upaya yang luar biasa. Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa…….. Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu kita. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya……. Muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi diri. Tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita nanti. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan beberapa generasi. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya. Bahkan membentuk lingkaran baru dan membuang lingkaran lama…….. Semoga kita semua menyadarinya……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Nada, Irama Dan Nyanyian Ilahi, Renungan Keduapuluhtujuh Tentang Berguru Setelah bersama-sama mendengarkan lagu “Shri Hanuman Chalisa”, sepasang suami istri melanjutkan pembicaraan mereka mengenai nyanyian yang menyentuh jiwa. Mereka menggunakan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi bahan pembicaraan mereka. Sang Istri: Suamiku, banyak pejalan spiritual yakin bahwa bukan “bahasa kata-kata” yang dapat menghubungkan manusia dengan keilahian, akan tetapi “bahasa suara” yang berirama. Dalam buku “The Secret Doctrine” Madam H.P. Blavastsky menyampaikan……… Kata-kata manusia tidak bisa sampai kepada keilahian. Kata-kata tersebut mesti dibangkitkan menjadi bahasa ilahi. Bahasa tersebut disusun oleh suara, bukan dengan kata-kata. Bahasa atau mantra-mantra ini menjadi wahana paling efektif dan merupakan kunci pertama yang membuka pintu komunikasi antara Yang Fana dengan Yang Kekal……… Sang Suami: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”dijelaskan bahwa……. Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, tiba-tiba kita merasa terlepaskan dari pikiran, memasuki alam rasa. Begitu memasuki alam rasa, sesungguhnya memasuki alam “spiritual” juga. Keindahan yang menjadi pemicunya. Dan alam spiritual, alam “keagamaan” sesungguhnya tidak ada di luar diri tetapi di dalamnya. Keindahan adalah esensi, intisari setiap agama……….. Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Dalam lagunya Dangerous, Michael Jackson menyanyi……… Dalam banyak kejadian, ketika aku menari, aku merasakan sentuhan dari sesuatu yang suci. Dalam banyak peristiwa, aku merasakan semangatku meluap dan menjadi satu dengan semua yang ada. Aku menjadi bintang dan rembulan. Aku menjadi kekasih dan yang dicintai. Aku menjadi pemenang dan yang ditaklukkan. Aku menjadi majikan dan bawahan. Aku menjadi penyanyi dan nyanyian. Aku menjadi yang tahu dan yang diketahui. Aku terus menari dan kemudian, ini menjadi tarian abadi penciptaan. Pencipta dan yang diciptakan larut dan menyatu dalam keceriaan yang begitu dalam. Aku terus menari…sampai suatu saat yang ada hanyalah tarian……… Sang Suami: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” tersebut juga disampaikan……… Alam semesta ini adalah musik. Di mana-mana ada musik. Jika kita cukup sensitif terhadap vibrasi suara, kita dapat dengan mudah mendengar suara merdu Sang Agung. Dan di dalam suara Sang Agung itulah, di dalam lagu Sang Agung itulah, kita semua bertemu…….. Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi” disampaikan…….. Getaran getaran yang dikeluarkan oleh suara, oleh kata kata tertentu, tidak hanya mempengaruhi fisik kita, tetapi juga pikiran dan rasa kita. Bahkan lingkungan sekitar kita pun terpengaruh olehnya. Obat obatan atau operasi, tidak dapat melakukan hal itu. Itu sebabnya para mistik jaman dahulu menggunakan mantra. Getaran getaran yang dikeluarkan oleh suara, oleh kata kata

tertentu. Jangan terkecoh oleh sebutan. “Mantra” berarti man-tra atau alat untuk menyelaraskan “man” atau mind manusia………. Sang Istri: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan………. Segala sesuatu dalam alam ini sedang bergetar, sedang menari. Rasakan tiupan angin, dengarkan suara air, perhatikan kibaran api semuanya berirama, bergetar, sedang menari. Dan tarian semesta ini begitu indah, begitu harmonis! Molekul-molekul dalam atom pun sedang menari, sedang bergetar. Tidak ada sesuatu apa pun yang statis. Tarian mampu mempersatukan kita dengan Semesta. Jadilah gelombang yang sedang menari dalam lautan kehidupan. Jangan berpisah dari lautan kehidupan. Sadarilah kesatuan dan persatuan kita dengan lautan kehidupan…….. Sang Suami: Lagu-lagu rohani mungkin adalah nyanyian tertua di dunia.Setiap kebudayaan dan peradaban telah mengetahui daya magis dari nyanyian lagu-lagu rohani. Tradisi menyanyikan lagu-lagu rohani telah berlangsung selama berabad-abad dan dimasukkan dalam berbagai ritual dan upacara sakral……… Istriku, coba kita perhatikan mereka yang sedang melakukan lagu-lagu “sankirtan”, lagu-lagu pujian…….. Seorang penyanyi dengan suara merdu menyanyikan lagu spiritual dengan diiringi musik sebagai latar belakangnya. Keberadaan musik adalah sebagai pengantar lirik sang penyanyi, tidak mengganggu suara sang penyanyi. Lirik sang penyanyi begitu jelas terdengar menyentuh kalbu para pendengarnya. Seluruh orang yang hadir kemudian menirukan lirik sang penyanyi, bait demi bait, dengan segenap rasa. Kegiatan menyanyi bersama ini disebut bhajan. Bhajan akan terasa lebih berjiwa ketika Sang Guru, Sang Murshid mengikuti kegiatan bhajan tersebut………. Sang Istri: Benar suamiku, masing-masing peserta yang berpartisipasi sesungguhnya mempunyai ego sendiri-sendiri, dan mempersatukan ego tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Akan tetapi musik bersifat universal dan dapat mempersatukan jiwa semua peserta yang berlainan egonya. Musik dan lirik spiritual dapat merasuk diri, dan dapat diterima semua peserta bhajan dengan jiwa terbuka. Penyanyi adalah “The Leader”, Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak bernyanyi mengikuti irama musik seperti yang terjadi pada musik karaoke. Para pemain musiklah yang mengikuti nyanyian Sang Pemimpin. Seluruh yang hadir mengulangi lirik lagu Sang Pemimpin dengan lirik yang sama. Di situlah para pemain musik dan para peserta bhajan bertindak menafikan ego untuk mengikuti Sang Pemimpin. Penyanyi handal yang menyanyikan dengan sepenuh jiwa, diikuti pemain musik yang harmonis dan peserta bhajan yang patuh menghasilkan lagu yang indah dan menyentuh hati. Seandainya saja hal tersebut terjadi pada Pemimpin Negara handal yang bekerja sepenuh jiwa, diikuti para pejabat (pemain musik) yang telah menghilangkan ego pribadi dan warga negara (peserta bhajan) yang patuh dan yakin pada Sang Pemimpin maka kemajuan suatu negara sudahlah pasti diambang mata. Sang Suami: Lagu-lagu spiritual yang dinyanyikan sepenuh hati dalam bhajan terasa melembutkan jiwa para pendengarnya. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia”

disampaikan……… Hanya mereka yang telah menemukan “Lapisan Dalam” akan menikmati tarian dan nyanyian. Mereka yang telah menemukan kelembutan diri akan menghargai pula kelembutan di luar diri. Mereka yang baru menyadari kekasaran diri tidak dapat menghargai kelembutan di luar……… Sang Istri: Musik adalah imitasi alam. Musik alam dapat tercipta dari guntur, badai, aliran sungai ataupun hujan. Dan alam peka sekali terhadap harmoni, keselarasan. Adanya disharmoni selalu ditanggapi dan diadakan penyesuaian. Pada diri manusia juga terdapat irama abadi dari getaran seluruh organ-organ……. Pada waktu seseorang sedang marah, irama tubuhnya akan berbeda dengan pada waktu bersantai ria. Seseorang yang peka terhadap musik akan berkembang “rasa”-nya. Dia akan dapat merasakan keharmonisan suasana batinnya. Dia akan merasakan selaras dengan alam atau tidak tindakannya. Musik mempengaruhi fisik, seperti denyutan nadi, kedipan mata, irama napas dan aliran darahnya. Musik juga berpengaruh kepada intelegensi, sehingga pikiran dapat bekerja secara sistematis dan harmonis . Kemudian musik juga berpengaruh terhadap emosi, bisa membuat tenang atau bergejolak. Sang Suami: Musik yang hebat tercipta dari hati bukan dari pikiran. Musik mempengaruhi otak kiri terutama masalah pola atau keteraturan. Musik juga mempengaruhi dengan kreatifitas dan imaginasi yang berhunungan dengan otak kanan. Karena musik bersifat non-verbal, maka musik bisa menjangkau bagian otak yang disebut limbik, pusat emosi manusia. Musik dapat mempengaruhi limbik yang menyebabkan cinta kasih dan ketenangan. Musik dapat dijadikan sebagai penanda keselarasan kejiwaan. Budi pekerti luhur hanya tumbuh pada jiwa yang dapat merasakan musik, yang penuh kelembutan. Sang Istri: Nada-nada alam semesta diungkapkan menjadi nada-nada musik lewat kepekaan rasa. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritualnya. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan negara. Sang Suami: Dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, Judith Becker menemukan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, gamelan digunakan dalam ritual puja. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Musik gamelan digunakan sebagai alat, yantra. Membantu tahapan meditasi sebelum keadaan samadhi tercipta. Lewat musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan pikir, pembeningan hati dan pemurnian jiwa……… Pementasan gamelan sendiri bertujuan untuk acara keagamaan pada awalnya. Musik gamelan mengungkapkan keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Seluruh sikap hidup dan

filosofi masyarakat diimplementasikan dalam suatu orkestra musik gamelan melalui tarikan tali rebab, paduan seimbang bunyi kenong, pukulan kendang dan gambang serta gong pada setiap penutup irama. Sang Istri: Keharuman suatu bangsa terletak pada keluhuran budayanya. Berpijak dengan hal tersebut di atas memberikan pengertian pula bahwa melestarikan peninggalan budaya adiluhung merupakan kewajiban seluruh komponen bangsa. Seperti makhluk hidup, kesenian pun perlu dipelihara. Bisa saja suatu kesenian lahir dari tengah kita, tetapi kita kurang menghargai dan tidak dipelihara, maka dia akan hidup di negeri lain yang menghargainya……. Sang Suami: Dalam suatu pergelaran gamelan, beragam alat dengan beragam nada mempunyai peranan yang sama, asalkan semuanya mengikuti satu irama kesepakatan, sehingga komposisi yang indah dan harmonis tercipta. Suatu pengimplementasian dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika, nampaknya berbeda-beda tetapi esensinya satu kesatuan jua……….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Amarah, Cemburu Dan Napsu Renungan Keduapuluhdelapan Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan beberapa artikel Bapak Anand Krishna dijadikan referensi. Mereka mengutip sejumlah wisdom tersebut agar tidak menghilangkan esensi. Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca bersama file wejangan bijak delapan tahun yang lalu…… Semua keputusan, apapun sifatnya, yang diambil dalam keadaan marah – sudah pasti menyebabkan penderitaan. Lebih baik, “withdraw“, menarik diri, minta maaf dan tidak melanjutkan apa yang memang tidak perlu dilanjutkan. Tetapi, ego kita, keakuan kita, keangkuhan kita selalu menghalangi withdrawal seperti itu: “Apa yang akan dikatakan oleh rekan kerjaku, oleh mitra-kerjaku, oleh orang-orang yang sudah tahu tentang keputusanku, oleh mereka yang terlibat di dalamnya? Bagaimana dengan modal yang telah kutanamkan? Bagaimana dengan janjiku?” Amarah, sebagaimana dikatakan oleh Mahamaya, tidak bisa menjadi landasan bagi suatu “kerjasama”. Bagaimana menjadikan amarah sebagai landasan bagi kemitraan? Lebih baik mengakui kesalahan kita saat ini dan sekarang juga sebelum berlarut-larut dan kesalahan itu menjadi “Bukit Dosa”. Amarah, walau kita tidak mengakuinya, dan selalu ingin menutupinya, tidak dapat ditutup-tutupi……. Sang Suami: Dalam wejangan tersebut disampaikan……… Seorang teman pernah ditegur oleh seorang Svami, “Your Anger has created all your problems.” Teman itu masih bersikeras, “Svami, my anger?” Walau bersikerasnya dengan tidak cara konyol seperti kita. Svami, Sang Guru mengatakan: “Ketika kau sedang membawa mobil di Jalan Raya, caramu membawa mobil itu sudah cukup untuk membuktikan amarahmu.” Teman itu baru sadar. Ia baru menyadari kesalahannya. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah ditunjuk oleh Svami sebagai “supir pribadi” untuk perjalanan pendek 120-an kilometer. Baru jalan 30-an kilometer, Sang Guru menghentikan kendaraan dan pindah ke kendaraan lain dalam rombongan yang biasa mengikuti beliau dalam perjalanan. Ia baru SADAR kenapa Sang Guru pindah mobil. Banyak peringatan yang kita peroleh dari Sang Guru, tetapi…… Persoalannya: Kenapa seorang pemarah biasanya tidak sadar bila dirinya penuh dengan amarah? Kenapa ia membutuhkan “seorang Guru” untuk menunjukkanya? Karena, amarah telah menjadi “sifat” dia. Sifat Bawaan, yang sulit dideteksi……… Kita membutuhkan bantuan soerang Murshid untuk menunjukkanya. Kita sendiri TIDAK MUNGKIN dapat melihatnya. Amarah yang terbawa dari masa kelahiran sebelumnya, Amarah yang kitacarry forward itu, menjadi apa yang biasa disebut “sifat bawaan”. Dan, sifat ini tidak bisa dilenyapkan sama sekali. Berkat seorang Guru sifat ini bisa ditekan, akan tetapi membutuhkan kerja keras untuk menjaga supaya sifat ini tidak muncul ke atas. Seperti hewan, ia harus dijinakkan. Tidak bisa dibunuh. Ada juga yang memiliki sifat bawaan “cemburu”. Biasanya orang dengan sifat bawaan seperti itu menjadi penjudi. Ia ingin memperoleh sesuatu secepat mungkin dan tanpa kerja keras. Kemudian, ada

yang sangat bernapsu terhadap jenis lain, karena sifat bawaannya juga. Biasanya orang itu tidak dapat melihat sesuatu dengan jernih. Ia akan terpengaruh oleh lawan jenis dengan mudah. Ia juga akan selalu menikmati perhabatan dengan lawan jenis. Ia akan mengorbankan apa saja demi napsunya. Apa yang terjadi bila amarah, cemburu dan napsu bertemu? It is a total destruction! Kita sudah diberi peringatan. Jika kita tidak mendengarnya, tidak mengindahkannya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang sesaat lagi sudah pasti terjadi………… Sang Istri: Mengenai amarah, aku ingat buku “Sehat Dalam Sekejap, Medina” yang menyampaikan…… Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali…….. Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi. Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak ILahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya…..… Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Amarah mereka bukan produk keinginan yang tak terpenuhi. Amarah mereka adalah produk kepedulian mereka terhadap keadaan kita. Amarah mereka lahir dari rasa kasih. Bila melihat seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus sedang marah-marah, jangan meragukan kemesiasannya. Amarah seorang Yesus atau seorang Muhammad amat sangat manis amarah yang dapat mengupas daki ketidaksadaran dari batin kita…… Sang Suami: Mengenai cemburu, dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…… Rasa cemburu adalah musuh utama kita. Terdorong oleh rasa cemburu, manusia bisa saling membunuh, saling menjatuhkan. Rasa cemburu membuat kita lupa akan segala kenikmatan yang sudah kita miliki. Dalam lapisan kecemburuan, kita lupa akan berbagai berkat yang sudah kita nikmati. Sudah memiliki kesehatan, sudah memiliki pekerjaan tetap, sudah ada tabungan di bank, keluarga pun oke-oke, apa lagi? Tidak, kita tidak puas. Dalam lapisan alam kecemburuan, melihat kendaraan milik tetangga yang lebih keren dari kendaran kita, kita merasa cemburu. Ada kalanya rasa cemburu kita meningkat menjadi organized jealousy, kecemburuan yang terorganisasi; Dalam lapisan kecemburuan, kita meluapkan amarah yang dilandasi oleh kecemburuan terorganisir itu, dengan berani karena kita berada dalam gerombolan. Ketika suatu institusi merasa cemburu terhadap

institusi yang lain, jealousy pun terorganisasi. Berada dalam lapisan kecemburuan merampas akal budi kita, mengacaukan pikiran kita, membuyarkan pandangan kita, dan hilanglah kemampuan kita untuk membedakan yang tepat dari yang tidak tepat……… Sang Istri: Sekarang masalah napsu. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Seks, napsu birahi, bukanlah sesuatu untuk dihindari. Kita tidak bisa menghindari. Seks, napsu birahi sesungguhnya sangat alami. Satu-satunya yang “masih” alami. Makanan bisa diganti dengan “pil”. Tidur pun bisa direkayasa dengan “pil”. Kecerdasan otak pun bisa ditingkatkan dengan “pil”. Tetapi seks “belum” bisa diganti dengan pil. Pelampiasan napsu birahi harus lewat seks. Entah dengan cara masturbasi atau senggama, lalu untuk senggama anda mencari lawan jenis atau sejenis atau bahkan vibrator dan boneka yang terbuat dari plastik, tetapi “masih” harus dilakukan sendiri. Belum ada pil yang jika ditelan akan membuat anda lupa seks. Mereka yang sakit dan tidak bisa melakukan hubungan seks juga masih berpikir tentang seks. Tadinya “badan” mereka yang make love, sekarang “pikiran” mereka. Seks, napsu birahi muncul dari kesadaran rendah, kesadaran badaniah. Yang harus kita lakukan bukanlah mengharamkan sentuhan dan duduk kesebelahan, tetapi meningkatkan kesadaran diri. Peningkatan kesadaran diri inilah yang disebut “Pembangkitan Kundalini” dalam tradisi Yoga dan Tantra……… Sang Suami: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan…….. Selama kesadaran kita masih berada pada salah satu dari 3 lapisan chakra terbawah, energi diri kita bersifat cairan. Dan mengikuti sifat dasarnya, cairan akan selalu mencari dataran rendah. Libido seks, napsu birahi, membuktikan bahwa kesadaran kita masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah. Energi kita masih dalam bentuk cairan dan masih mencari penyaluran lewat hubungan seks, masturbasi dan lain sebagainya. Selama kesadaran kita masih berada pada lapisan-lapisan chakra terbawah, yang terjadi adalah Virya Paat. Energi yang keluar (Paat) dari diri kita masih bentuk cairan-cairan, itulah arti kata Virya. Ejakulasi Seksual itulah Virya Paat. Sebaliknya, peningkatan chakra atau peningkatan kesadaran akan mengubah sifat energi. Cairan Virya akan menjadi uap. Dan mengikuti sifat dasar uap, ia pun akan naik ke atas. Berada pada tingkat Kesadaran (Chakra) Teratas, pada tingkat Kesadaran Murni apabila seorang master mengalami “orgasme spiritual” kejadian itu disebut Shakti Paat. Energi yang keluar (Paat) berupa Kekuatan Murni atau Shakti. Ejakulasi Spiritual itulah Shakti Paat………. Sang Istri: Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” disampaikan…….. Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini. Peraturan-peraturan kita yang tidak berarti, upaya-upaya kita yang tidak bermakna, semuanya sudah terbukti gagal menciptakan dunia yang damai, yang lebih indah dan layak dihuni……… Sang Suami: Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” tersebut juga disampaikan…….. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, kita adalah seorang pengasih. Passion dan compassion, kedua kata dalam bahasa Inggris ini, berasal dari suku kata yang sama. Compassion berasal passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap Yang Abstrak, Yang Tak Dapat Dijelaskan……… Istriku, mari kita garis bawahi pesan di akhir wejangan bijak di awal pembicaraan…….. Kita sudah diberi peringatan. Jika kita tidak mendengarnya, tidak mengindahkannya, kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi.…….. Seorang Guru sudah memberikan”loving, sharing and caring” kepada kita, tetapi melaksanakan atau tidak itu pilihan kita sendiri……. Semoga kita semua sadar……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Kasih Alam Semesta Kepada Manusia Renungan Keduapuluhsembilan Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai Das, dan buku-buku serta artike-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Wisdom tersebut juga diharapkan mereka akan muncul kembali sebagai suara nurani pada saat mereka menetukan suatu pilihan antara Preya yang menyamankan dan Shreya yang memuliakan. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca ensiklopedia yang membicarakan tentang lebah. Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu. Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 35 derajat Celcius. Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak mengganggu, mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia? Sang Suami: Tanaman dan hewan memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia hanya mementingkan dirinya sendiri saja. Sang Istri: Jutaan tahun sebelum manusia hadir, bumi telah dipersiapkan melalui mekanisme alam semesta. Bumi terpilih sebagai lokasi yang ideal untuk kehadiran berbagai tumbuh-tumbuhan, fauna-flora dan manusia serta makhluk-makhluk yang kita tidak mengetahuinya. Di mulai dengan tumbuh-tumbuhan yang bersel satu sedikit demi sedikit pertumbuhan tanam-tanaman berevolusi ke wujud-wujud yang lebih

sempurna, baru kemudian hadir fauna, dan jutaan tahun kemudian hadir manusia dari suatu ekosistem yang saling menunjang, saling membutuhkan, semuanya lestari, berkesinambungan, yang kita sebut dengan suatu kesatuan. Sang Suami: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan………. Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhluk-makhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam……… Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri……… Sang Istri: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan bahwa manusia mempunyai hutang terhadap lingkungan…….. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang. Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelstarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang juga tanah yang tersedia secara bijak……….. Sang Suami: Dalam Bhagawad Gita, Percakapan Ketiga, Karma Yoga, Sri Krishna bersabda…… Umat manusia ini diciptakan sebagai persembahan, dan Sang Pencipta mengatakan pada awal penciptaan, bahwa dengan persembahan segala kebutuhan manusia akan terpenuhi. Persembahanmu akan menjaga kelestarian alam. Alam pada gilirannya akan menjaga kelestarianmu. Dengan saling membantu akan membuatmu bahagia yang tak terhingga. Alam ini akan memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu dipertimbangkan sebagi seorang “pencuri”. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan dan menikmati hasilnya, dengan cara demikian ia terbebaskan dari semua kejahatan. Mereka yang mementingkan diri sendiri, dengan cara demikian mereka memperoleh ketakmurnian. Badan manusia ini terbuat dari apa yang ia makan, dan makanan disebabkan oleh hujan. Hujan

ditentukan oleh kepedulian manusia terhadap lingkungan serta perbuatan manusia sendiri……. Sang Istri: Kerusakan terhadap lingkungan disebabkan keserakahan manusia. Manusia mengambil pemberian alam tanpa memeliharanya……. Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga persediaan air di mata air tidak berkurang. Pembabatan pohon membuat persediaan mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air “krasan” singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan jumlah air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat manusia yang serakah, air sudah tidak “krasan” lagi di gunung, di musim penghujan air langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersedia, sehingga kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan. Sang Suami: Istriku, aku ingat sebuah buku “The Wisdom of Bali, the sacred science of creating heaven on earth” yang ditulis Bapak Anand Krishna yang salah satu babnya memuat wisdom tentang Tri Hita Karana…….. Hita ialah “Kemakmuran”, dan Karana berarti “Sebab”. Tiga Sebab Kemakmuran, atau lebih tepatnya Sejahtera lahir-batin – itulah arti Tri Hita Karana. Atau, bisa juga diartikan sebagai tiga panduan untuk hidup seimbang dengan keberadaan. Di masa lalu, tak hanya penduduk di pulau Bali, tapi juga seluruh masyarakat di kepulauan Indonesia menghayati hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Tri Hita Karana. Walaupun, di zaman tersebut, istilah Tri Hita Karana belum ada. Istilah tersebut baru dikenal kemudian. Para akademisi melacak penggunaan kembali istilah tersebut pada sebuah konferensi di Universitas Dwijendra Bali pada tanggal 11 November 1966. Sang Istri: Penjelasan umum yang diberikan di Internet dan media cetak tentang Tri Hita Karana begitu sederhana: ”Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dan Tuhan; antara manusia dan manusia lain, dan antara manusia dengan lingkungan alam.” Dalam bahasa Bali, kita memiliki 3 istilah untuk ketiga tipe hubungan tersebut: Parahyangan untuk hubungan kita dengan Tuhan atau para Dewa; Pawongan untuk hubungan kita dengan sesama manusia; dan Pelemahan untuk hubungan kita dengan lingkungan alam. Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan…….. Sebab utama menjadi ”Sejahtera”, Karana pertama dari Hita – ialah bukan menjaga keseimbangan dan harmoni antara kita dan Tuhan, tapi “menyadari Tuhan dalam satu dan segalanya”. Ini berarti mengalami kemahahadiran Tuhan – yang merupakan sebab utama keberadaan manusia. Sebab utama ialah dasarnya, di mana kedua sebab lainnya berdiri. Atau, lebih tepatnya, ketiga sebab tersebut pada hakikatnya Tri Tunggal. Tiga tapi Satu. Trinitas Suci abadi yang tak terpisahkan. Kepercayaan kepada Tuhan tak berarti banyak kecuali diterjemahkan sebagai pelayanan penuh kasih terhadap

kemanusiaan. Kasih Tuhan mesti membawa keceriaan di antara anggota masyarakat manusia. Apa gunanya kepercayaan kita pada Tuhan, jika kita tidak dapat hidup secara damai dan harmonis dengan tetangga di sebelah kita? Ini sebab kedua, Pawongan……. Pawongan bukanlah keseimbangan antara sesama umat manusia, tapi prinsip dari “satu untuk semua, dan semua untuk satu” – di mana ”satu” bukanlah ego kecil kita, suka atau tidak suka, syak-wasangka dan kepentingan diri – tapi “kebaikan bagi sebanyak mungkin orang”. Sebab ketiga, Palemahan, mencurahkan perhatian bagi lingkungan: alam – tumbuhan dan binatang. Palemahan menuntut kesadaran untuk melihat energi yang sama berada di mana-mana, di dalam semua mahkluk hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan, sungai, pohon, dan sebagainya. Sang Istri: Jauh sebelum Al Gore, PBB dan lembaga-lembaga lainnya mulai berbicara tentang perubahan iklim dan dampaknya pada kita semua; jauh sebelum pemanasan global menjadi isu panas – para leluhur kita sudah menasehati kita agar berdamai dengan lingkungan alam di sekitar kita…… Bagaimana kita tetap bersahabat dengan Sang Pencipta, dan merusak ciptaannya? Bila kita tidak menghargai alam dan lingkungan, maka lingkungan dan alam pun tak menghargai kita. Kita dapat bermain dengan hukum dan peraturan buatan manusia, tapi kita tak dapat menipu hukum keberadaan – hukum sejati alam ini……. Semoga kita sadar……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Kesetaraan Renungan Ketigapuluh Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang pengaruh conditioning oleh masyarakat. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” disampaikan……. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kita menganggap diri kita beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan dan kebebasan macam itu, maka ibadah kita masih dangkal. Bila kita masih menciptakan class antar manusia, maka jiwa kita belum beragama, belum beribadah. Class atau derajat rendah-tinggi (ketidaksetaraan) itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Syaitan, Raksasa karena kepala mereka masih tegak. Mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi itu! Sekali bersujud di hadapan-Nya, diri kita menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah dari diri kita. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhan kita tidak ikut menunduk?……… Sang Suami: Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” tersebut disampaikan……. Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa Bali “Banjar” tidak dapat dipaksakan. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri. Kesadaran manusia. Kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab. Kemanusiaan yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya. Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan. Sehingga ia tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua. Kebersamaan dan kesetaraan hanyalah memungkinkan bila kita kembali kepada Sila Ketuhanan dalam Pancasila. Dasarnya haruslah Ketuhanan. Bila tidak, kita tidak bisa bersama. Kita tak akan pernah merasakan kesetaraan. Perbedaan antara kita banyak sekali, tapi yang dapat mempersatukan kita hanyalah Kesadaran Ilahi. Kesadaran akan adanya Satu Kekuatan Tunggal yang berada dimana-mana, meliputi kita dan dalam diri kita………. Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Memberi makan kepada seekor anjing, atau kepada-Ku, sama saja. Anjing itu pun sesungguhnya adalah jiwa. Badan dia lain, badan kita lain. Tetapi, setiap badan merasakan lapar. Saat lapar, ada makhluk yang bisa bersuara, dan minta makan. Ada juga yang tidak bisa bersuara, tidak bisa minta. Yakinilah, siapapun yang memberi makan kepada

manusia, hewan, atau siapa saja yang lapar, sesungguhnya telah memberi makan kepada-Ku. Inilah Kebenaran Hakiki………. Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas” disampaikan bahwa Gusti Yesus mengajarkan kesetaraan………. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31)……… Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri………. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula……… Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas” tersebut juga disampaikan………. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai……….. Ketika kita menginginkan bagi orang lain segala apa yang kita inginkan bagi diri sendiri, tidak ada lagi kompetisi. Tidak ada perlombaan, persaingan, dan pertikaian. Untuk apa memperebutkan lempengan emas jika bukit emas di depan mata itu milik kita bersama? Kita semua memiliki akses terhadap Sumber Abadi yang tak terbatas dan tak pernah habis harta kekayaan yang berlimpah Kerajaan Allah yang Maha Agung. Apa yang mesti kita khawatirkan?……… Sang Suami: Para pemimpin besar berbicara mengenai kesetaraan. Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan……… Mendiang Presiden Soekarno dari Indonesia berbicara mengenai “membangun tatanan dunia yang baru”. Reformis Martin Luther King Jr. memimpikan “tentang keadilan sosial dan kesetaraan. Visi dan impian Presiden Obama juga demikian, “Kita hanya bisa membangun suatu dunia baru, jika kita bergandengan tangan dan bekerja sama. Jika tidak visi ini hanya menjadi mimpi.”……… Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka file artikel mengenai kesetaraan……… “Bhinneka Tunggal Ika” adalah kearifan lokal kita. Kita tidak mengimpornya dari luar.

Dan, kearifan lokal ini adalah cerminan budaya bangsa kita. Budaya kita bukanlah budaya yang berbasiskan tradisi saja – entah tradisi agama atau yang lain – tetapi berbasiskan “pengalaman spiritual”. Spiritualitas kita berada di atas kepercayaan-kepercayaan yang kita warisi dari nenek moyang kita sendiri atau dari luar. Seorang Mpu Tantular yang beragama Buddha bisa mengapresiasi ajaran Shiwa dan menemukan persamaan serta kesamaan dalam hal kedua aliran besar tersebut. Ini adalah hasil dari “pengalaman pribadi” Sang Mpu sendiri. Ia tidak meminjamnya dari pengalaman dan pencerahan orang lain……. Sang Suami: Benar istriku, agama belum tentu dapat menemukan persamaan-persamaan seperti itu. Karena, “pendirian” suatu agama adalah “pernyataan” tentang tidak setujunya sang pendiri terhadap agama-agama lain yang ada pada zamannya. Bila ia setuju dan hanya ingin melakukan pembaharuan, maka jelas ia tidak akan mendirikan agama baru…….. Spiritualitas adalah sebuah kesadaran bahwa “agama” memang berbeda-beda, dan tidak dapat dipersatukan. Namun, “esensi” dari setiap agama, intisarinya satu dan sama. Kesadaran ini tidak diperoleh lewat pengetahuan, tetapi lewat pengalaman pribadi……… Sang Istri: Dalam buku “Indonesia Baru” disampaikan…….. Gotong royong tidak dapat dilakukan seorang atau kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima perbedaan, kebhinekaan… Gotong royong hanya terjadi dalam iklim kesetaraan dan kebersamaan. Gotong royong hanya dapat hidup dalam masyarakat yang menerima perbedaan sebagai Hukum Keberadaan yang tak dapat diganggu-gugat. Semangat gotong royong hanya dapat dipertahankan bila kita mampu melihat benang-merah yang mempersatukan masyarakat. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku melihatmu lebih rendah dariku? Untuk bergandengan tangan denganmu, aku harus berada di atas podium yang sama bersamamu. Aku tidak bisa berada di atasmu, tidak bisa pula berada di bawahmu……… Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Indonesia Baru” tersebut juga disampaikan…….. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila kelompokmu, agamamu, sukumu, pemahamanmu dan sebagainya kuanggap lebih rendah dari kepunyaanku? Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku belum mampu menerima perbedaan yang ada di antara kita? Perbedaan agama, perbedaan kepercayaan, perbedaan status sosial, ekonomi dan sebagainya dan seterusnya… Aku hanya dapat “bergotong royong” dengamu bila kau menerima perbedaan kelas, dualitas dan sebagainya sebagai kenyataan hidup. Kenyataan hidup yang justru melahirkan semangat gotong royong. Tanpa adanya perbedaan, tanpa adanya penerimaan terhadap perbedaan, gotong royong menjadi bermakna karena adanya perbedaan. Semangat untuk berkarya bersama walau berbeda – itulah gotong royong. Gotong royong tumbuh dalam kandungan kebhinnekaan. Kemampuan kita berkarya bersama walau banyak perbedaan antara kita – itulah “Persatuan”! Manusia Indonesia Baru tidak hanya bersatu, namun melihat “kesatuan” yang menjiwai persatuaannya……… Semoga kita semua turut aktif dalam mengupayakan datangnya Indonesia Baru…….

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Antara Selera Pikiran Dan Jamuan Pesta Ilahi Renungan Berguru Ketigapuluhsatu Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”. Dalam buku tersebut disampaikan……… Seorang Muhammad memiliki sebuah ide. Dalam benaknya ada sebuah pikiran. Dalam dirinya ada sebuah perasaan. Dan “sebuah” ide, “sebuah” pikiran, “sebuah” perasaan dalam diri “seorang Muhammad” bisa mengubah sejarah umat manusia. Kehadiran “seorang Muhammad” diantara kita sudah cukup. Kita tidak membutuhkan beberapa Muhammad. Seorang Muhammad bisa menjadi pemicu bagi peningkatan kesadaran dalam diri kita. Seorang Muhammad bisa mengubah sejarah umat manusia. “Perang yang meruntuhkan kerajaan pun merupakan sebuah pikiran dalam benak seseorang.” Pikiran seorang Muhammad atau seorang Yesus menjadi berkah bagi umat manusia, tetapi pikiran seorang Hitler menjadi serapah. Diantara sekian banyak orang yang tidak sadar, hanya satu orang yang sadar. Tetapi, lihat saja kemampuan mereka. Hanya ada satu Yesus, hanya ada satu Muhammad, hanya ada satu Siddharta, hanya ada satu Lao Tze – tetapi kemampuan mereka … Luar Biasa!…….. Sang Suami: Pikiran bisa membawa hikmah dan bisa pula membawa serapah. Pikiran yang selaras dengan kehendak-Nya membawa berkah dan pikiran yang mengikuti hasrat selera diri sendiri akan membawa serapah. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan bahwa Gusti selalu menyiapkan jamuan bagi kita semua. Para Suci menghadiri undangan Pesta Jamuan-Nya, sedangkan kita tidak ikut serta dalam Pesta dan mengikuti selera sendiri………. Tidak ikut dalam Pesta-Nya berarti tidak menerima undangan-Nya. Bukan karena kitaa tidak dikirimi undangan, tetapi karena kita memilih untuk tidak menerimanya. Kalaupun menerima undangan-Nya, kita tidak menghadiri Pesta-Nya. Menghadiri Pesta Dia berarti tidak memikirkan “soal dapur” lagi. Untuk apa memikirkan “soal dapur”? Bukanlah Dia telah mengundang anda untuk makan di Rumah-Nya? Menghadiri Pesta Dia berarti tidak mengurusi “makanan”. Untuk apa mengurusi “makanan”? Bukanlah Dia telah mengurus semuanya?….. Sang Istri: Benar suamiku, selama ini kita masih menggunakan “mind” yang telah terpola begitu lama, yang telah terprogram dan terkondisi. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” tersebut juga disampaikan……… Sementara ini kita masih ber-“kesadaran-restoran”. Masih membedakan antara “Mie Cina” dan “Mie Jawa”. Mau ini, tidak mau itu. Mau itu, tidak mau ini. Dengan “kesadaran-restoran” seperti itu, kita tidak bisa menghadiri

Pesta-Nya. Di Pesta-Nya, kemauan Dia haruslah menjadi kemauan kita. Apa pun yang dia suguhkan kita terima. Sang Suami: Dalam buku tersebut diberikan ilustrasi tentang seseorang yang berkata, “kalau begitu, saya pilih ber-‘kesadaran-restoran’ saja. Saya bisa memilih. Di Pesta-Nya tidak ada pilihan”……… Demikianlah adanya. Mereka yang masih ber-”kesadaran-restoran” akan menolak undangan-Nya. “Untuk apa?”, pikir mereka. “Entah di sana ada makanan kesukaanku atau tidak, lebih baik makan di restoran saja”……. Tidak ada yang bisa mendesak kita untuk melampaui “kesadaran-restoran” dan berpesta bersama Dia. Para nabi, para mesias, para avatar dan para buddha hanya bisa merayu kita, “Restoran yang kau datangi itu tidak ada apa-apanya. Di Pesta Dia semuanya berkelimpahan…….. Daftar makanan di restoran yang kau datangi itu masih belum apa-apa. Di Pesta Dia lebih banyak macam makanan.” Kita tidak percaya. Kita minta bukti, “Coba, perlihatkan daftar makanan Pesta Dia. Aku mau periksa dulu, mana yang lebih lengkap.” Sudah diundang untuk menghadiri pesta, bukannya berterima kasih. Malah mau melihat daftar makanannya terlebih dahulu. Para rasul pun bingung, tetapi karena kasih mereka terhadap kita, maka “turunlah” Al-Qur’an, Alkitab, Zend Avesta, Dhammapada, dan Veda……….. Sang Istri: Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” tersebut juga disampaikan……… bahwa kita masih saja ragu-ragu (terhadap Pesta Tuhan), “Tetapi bagaimana mempercayai kalian? ‘Restoran-Dunia’ ini sudah sering aku kunjungi. Aku tahu persis, apa saja yang mereka sajikan. Lagipula, rasa makanan di sini sudah pas banget dengan selera lidahku.” Mereka tidak putus asa dan masih saja merayu (untuk datang ke pesta), “Itu sebabnya, engkau harus sekali-kali mencoba yang lain. Sudah terlalu lama di dunia, jiwamu sudah karatan. Seleramu sudah rusak. Yakinilah kami, karena dulunya kami pun persis seperti kalian……. Sang Suami: Benar istriku, buku tersebut melanjutkan……… Jiwa kami pun sudah karatan, selera kami pun sudah rusak. Kemudian, kami menerima undangan Dia dan mendatangi Pesta-Nya. Ternyata, ah, ah, ah..!” Lebih dari itu, mereka pun tidak bisa menjelaskan. Di balik “Ah” ada apa sudah tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Kemudian, ada pemberani yang maju ke depan, “Rasul Allah, ajaklah aku ke Pesta-Nya. Aku meyakini engkau. Aku meyakini kata-katamu.” Pemberani seperti inilah yang disebut seorang Muslim. Seseorang yang menerima ajakan Rasul Allah dan menghadiri Pesta Allah, seseorang yang menerima Kehendak Allah! Mereka yang masih mempertahankan “kesadaran-restoran” adalah kafir. Mereka tidak menerima ajakan para rasul. para nabi, para wali, para mesias, para avatar dan para buddha. Mereka tidak menghadiri Pesta Allah……. Sang Istri: Seorang sufi wanita Rabiah Al Adawiyah menerima undangan pesta-Nya, dia memaknai apa pun yang disajikan Gusti baginya dengan Kasih. Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” disampaikan…….Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, berkeluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang

menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Kita boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Kita boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang kita bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar kita ke liang kubur. Rabiah tidak berbicara tentang tujuan. Ia sedang memberikan “makna” pada kehidupannya. Pada saat kita lahir, Keberadaan Allah Yang Maha Kuasa memberikan selembar kertas kehidupan yang masih kosong. Apa yang akan kita tulis di atas kertas ini sepenuhnya menjadi pilihan kita. Kita bisa saja memilih untuk tidak menulis sesuatu apa pun. Kita bisa saja membiarkan lembaran itu tetap kosong. Kita bisa juga mengisinya dengan coretan-coretan yang tidak berguna. Ramai, tetapi tidak berarti sama sekali. Kita bisa mengisi kehidupan kita dengan selusin mobil, setengah lusin rumah, sekian banyak deposito, beberapa anak dan sebaiknya dan sebagainya. Kita bisa pula mengisinya dengan beberapa ijazah, beberapa penghargaan, jabatan-jabatan tinggi dan sebagainya dan sebagainya. Rabiah sedang mengisi lembaran kehidupannya dengan Cinta, dengan Kasih Allah. Ia memenuhi lembaran kehidupannya dengan kasih Allah. Ia tidak menyisihkan sedikitpun tempat untuk sesuatu yang lain, di luar Allah……… Sang Suami: Kita harus menerima apa pun yang disajikan Gusti bagi kita, semua yang disajikan membuat kita sehat. Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi” disampaikan……. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana kita sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati kita, tetapi juga mereka yang melukai jiwa kita, yang mencaci kita, yang memaki kita, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri kita. Pasangan kita, istri kita, suami kita, orang tua dan anak dan cucu kita, atasan dan bawahan kita, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru kita. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu……… Sang Istri: Kita belum yakin bahwa di balik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu ada hikmahnya. Ibarat kita masuk kelas dan setiap hari diberi banyak mata pelajaran, tetapi kita tidak menyadarinya, bahkan kita memikirkan sesuatu di luar kelas. Ya kita tidak naik kelas dan selalu diberi mata pelajaran yang hampir sama, sampai kita lulus dari mata pelajaran-mata pelajaran tersebut. Dalam buku “Masnawi Buku Kelima” disampaikan bahwa…… Setiap hari, manusia memperoleh pelajaran baru, tetapi dia tidak memahaminya dan tidak mampu mengambil hikmahnya. Dan hidup terasa tak bermakna, hambar. Kemudian dia mulai mencari makna. Dia mulai berkhayal, berandai-andai, “seandainya aku memiliki harta, hidupku akan bermakna; seandainya aku memiliki keluarga, hidupku akan bermakna; seandainya begini, aku akan begitu, seandainya begitu, aku akan begini.”……… Sang Suami: Istriku, aku baru saja membaca buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas oleh Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan……… “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir

pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Matius 6 : 25)…….. Pandanglah burung-burung di langit, kepintaran apa yang mereka miliki? Seberapakah intelegensia mereka jika dibanding dengan inteligensia manusia? Mereka tidak bisa bercocok tanam; mereka tidak mengumpulkan sesuatu untuk masa depan. Namun, mereka tidak pernah kelaparan. Mereka tidak pernah kekurangan sesuatu. “Sekarang perhatikan dirimu. Dengan kepintaran dan inteligensia yang kaumiliki, semestinya hidupmu jauh lebih aman dan nyaman daripada hidup mereka. Sayangnya, kau justru hidup dalam kekhawatiran dan rasa takut. “Carilah Kerajaan sesuai dengan rencana Tuhan bagi dirimu, kehidupan yang sempurna dan selaras dengan semesta dan kau tak akan pernah kekurangan sesuatu apa pun jua.”………. Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas oleh Bapak Anand Krishna”tersebut juga disampaikan……… terjemahan bebas Matius Pasal 6, Ayat 25-34…. Karena itu Aku berkata kepadamu : Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah diantara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu khawatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal. Namun, Aku berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak bepakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang disurga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Kedekatan Dengan Seorang Guru Renungan Ketigapuluhdua Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam berbagai referensi tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang istri: Suamiku aku ingat sebuah wejangan tentang Sadguru………. Jalan spiritual, dan penunjuk jalan yang kita peroleh dalam hidup ini adalah “hasil” dari pencarian kita sendiri. Selama entah berapa abad, berapa lama, berapa masa kehidupan, jiwa mencari terus. Akhirnya ia memperoleh apa yang dicarinya. Dan, jiwa sadar sesadar-sadarnya bila apa yang diperolehnya itu adalah hasil pencariannya. Ketika kita berhadapan dengan seorang murshid kita tidak pernah ragu. Kita langsung jatuh “jatuh hati”. Keraguan muncul ketika ia mulai memandu. Karena panduannya tidak sejalan dengan pola pikir kita yang lama. Kesalahan seperti ini telah kita lakukan dari zaman ke zaman. Apakah kita tidak diberi tanda-tanda yang tegas tentang sang pemberi peringatan? Apakah kita tidak merasakan kehangatan persahabatan kita dengannya? Kita diberi tanda-tanda yang jelas, kita melihat, kita merasakan. Tapi, pikiran tidak menerima, “itu tanda-tanda yang salah, keliru. Itu bukanlah perasaanmu yang sebenarnya. Kejarlah perasaanmu yang sebenarnya.” Pikiran justru menciptakan “rasa palsu”, emosi buatannya sendiri, untuk menjauhkan kita dari rasa segala rasa. Kita lupa akan rasa itu, dan terbawa oleh napsu, emosi rendahan untuk kembali mengejar bayang-bayang……. Sang Suami: Istriku, aku baru saja membuka file wejangan-wejangan lama bagaimana cara mendekati seorang Sadguru dan tidak berlari menjauhi……… Meditasi tidak bisa diajarkan. Meditasi bukanlah suatu pelajaran. Meditasi harus dialami dan dibagikan. Meditation, meditativeness must be experienced and shared – it cannot be taught. Ada yang datang berguru dengan tujuan untuk menjadi “guru meditasi”. Dia tidak sadar bahwa tujuannya itu, keinginannya untuk menjadi sesuatu – justru menjadi penghalang. Latihan-latihan yang diberi oleh para master ibarat “mainan” untuk membuat kita betah duduk “bersama” mereka. Yang penting bukanlah latihan-latihan itu, tetapi “kebersamaan” seorang murid dengan murshidnya. Seorang shishya dengan gurunya. Duduk bersama seorang master, kita ketularan “virus-meditativeness“-nya. Virus kesadarannya. Seorang master tengah berbagi kesadaran. Ia tidak mengajarkan meditasi. Tidak bisa. Siapapun master anda, guru anda, murshid anda – “dekati” dia. Tanpa kedekatan seperti itu, anda tak akan memperoleh hasil apapun. Dan, anda bisa “mendekati” sang guru, walau fisik anda berada ribuan kilometer jauh dari dia. Anda bisa juga “tetap jauh”, walau secara fisik sangat dekat. Hal-hal lain dalam hidup masih bisa ditunda. Kesadaran tak dapat ditunda lagi. Tanpa kesadaran, apapun yang anda peroleh dari hidup, dalam hidup – tidak memiliki makna. Benda-benda dalam hidup ibarat peralatan elektronik. Tak

berguna tanpa aliran listrik……… Sang Istri: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan…….. Seorang Guru duduk di tengah. Para siswa duduk melingkar, menghadapinya. Apa arti pola duduk seperti itu? Sang murshid harus menjadi centerpoint hidup kita. Titik tengah kehidupan kita. Dan jangan lupa, yang menjadi centerpoint bukanlah wujud dia. Tetapi apa yang “diwakilinya”. Dan setiap guru, setiap murshid mewakili hanya satu Lembaga – Lembaga Non-Lembaga…. Kasih. Dengan semangat permainan, berupayalah untuk mencapai titik tengah di dalam diri sendiri. Untuk menemukan kasih di dalam diri sendiri. Guru di luar diri hanya mewakili Murshid di dalam diri setiap murid……… Sang Suami: Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan……. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku!……. Sang Istri: Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Seorang guru tidak lagi menggunakan pikirannya. Ia hanya menyampaikan apa terdengar lewat nuraninya, yang selalu dalam keadaan mawas diri, yang dianugerahi dengan wahyu Allah – hanya merekalah yang pantas disebut Guru, disebut Master, disebut Murshid, Mustafa…….. Dan, Guru hanya akan bekerja untuk kita apabila kita membuka diri sepenuhnya. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan…….. Seorang Guru hanya akan work on us, “bekerja terhadap kita” bila kita membuka diri sepenuhnya. Lapisan pengetahuan “semi”, pengetahuan yang belum menjadi pengalaman, justru menutup diri kita. Seorang Guru tidak pernah memaksakan diri. Ia tidak akan memasuki diri kita secara paksa. Ia akan menunggu di luar pintu hati kita, sebelum kita sendiri membukanya dan mengundang dia masuk……… Sang Suami: Kebanyakan dari kita merasa dekat dengan Guru. Akan tetapi dekat dengan Guru berarti fokus sepenuhnya. Badan bahkan tidak perlu parkir dekat Guru, tapi pikiran terpusatkan pada Guru sehingga indra tidak liar, pikiran tidak gelisah pergi kesana-kemari. Sementara ini kita hanya merasakan “ketenangan sementara pikiran dan perasaan” karena badan berada dekat dengan Guru, ketenangan pikiran dan perasaan itu temporer. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan…….. Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru juga berarti menyerahkan

segala beban kepadanya. Iman kita belum cukup kuat. Kita masih ragu-ragu, bimbang… maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri murid. Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia. Justru tugas dia… Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana. Bila kau sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa dirimu dengan buntalan berat di atas kepala? Turunkan buntalan itu dari kepala, letakkan di bawah. Perahumu, gurumu, murshidmu siap menerima tambahan beban itu. Bahkan, ia sudah menerimanya… walau berada di atas kepala, sesungguhnya beban itu sudah membebani gurumu………. Sang Istri: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa……… Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk……… Sang Suami: ……Kita lupa tradisi kuno di mana seorang murid melakukan sungkem atau mencium tangan seorang Guru. Kedua gerakan itu sarat dengan makna. Dengan itu mau diungkapkan, “Sekarang kutundukkan kepalaku, egoku, pengetahuan yang telah kuperoleh selama ini. Kutuangkan semuanya, karena semua itu tidak membantuku. Wahai Guru, sekarang aku datang ke padepokanmu; ajarilah aku yang masih bodoh ini.” Saat mencium tangan seorang murshid kita menyatakan kepercayaan kita; trust kita terhadap segala karyanya. Tanpa trust, tanpa kepercayaan, kita tidak bisa berguru………. Demikian disampaikan dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”. Sang istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan cara memusatkan kesadaran lewat Guru…… Caraku memang khas. Ingatlah selalu cerita itu, sangat bermanfaat bagimu. Dhyana atau meditasi sangat penting untuk mengenal diri, untuk menemukan jati diri. Dengan meditasi, pikiran yang kacau akan menjadi tenang. Pusatkanlah kesadaranmu kepada Tuhan, tanpa mengharapkan sesuatu apa pun jua. Lihatlah Dia dalam diri setiap makhluk. Ketika itu terjadi, ketika pikiranmu terpustakan kepada-Nya , maka tercapailah tujuan hidup. Pusatkan kesadaranmu kepada Zat-Ku yang tak berwujud… Pengetahuan Sejati, Kesadaran Murni, Kebahagiaan Kekal Abadi, itulah kebenaran diri-Ku………. Namun, jika sulit memusatkan kesadaran kepada Zat yang tak berwujud, maka pusatkanlah pada wujud-Ku yang satu ini, dan jari kaki hingga kepala-Ku sebagaimana kau melihat-Ku saat ini. Biarlah wujud ini saja yang kaukenang sepanjang pagi, siang, dan malam.

Dengan cara ini pun kau dapat menenangkan pikiranmu dan mencapai tujuan yang sama. Saat itu, sirnalah perpisahan antara dhyata atau pelaku meditasi, dhyeya atau objek meditasi, dan dhyana atau upaya meditasi itu sendiri. Itulah saat kau menyatu dengan kesadaran Murni, dengan Brahman, dengan Tuhan………. Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” dijelaskan bahwa……. Wujud adalah sarana Gusti Pangeran untuk menyampaikan kesatuan dan persatuan. Maka wujud Sadguru dapat digunakan sebagai sarana meditasi oleh para panembah. Dengan pemusatan pada wujud Sadguru, kita merasakan kesatuan dan persatuan dengan Beliau yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan semesta. Demikianlah, dengan cara itu sesungguhnya kita pun bersatu dengan alam semesta……. Namun untuk itu dibutuhkan keyakinan dan penyerahan diri secara total. Meyakini Sadguru berarti meyakini pesan beliau. Dan berserah diri kepada beliau berarti berserah diri kepada apa yang beliau sampaikan dan menjalani hidup sesuai dengan pesan beliau. Pesan beliau adalah pesan kebajikan. Menjalani hidup sesuai dengan beliau berarti menghidupi pesannya – menjalani kebijakan setiap saat……. Semoga………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Upaya Menemukan Jatidiri Renungan Berguru Ketigapuluhtiga Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membuka file lama tentang wejangan bijak yang kita peroleh lewat dunia maya. Di file tersebut ditulis…….. Adakah sesuatu yg lebih penting dari chakra pertama-urusan makanan, chakra kedua-urusan seks dan chakra ketiga-urusan kenyamanan? Adakah sesuatu yang lebih berharga bagi kita dari ketiga lapisan kesadaran tersebut? Seorang teman bepergian ke luar kota, dia berbaik hati dan bertanya, “Mau nitip apa nggak?” Titipan kita apa? Makanan yang besok dibuang ke toilet? Silakan mengartikan sendiri, menilai sendiri kesadaran kita masih seperti apa! Seorang pemandu berusaha untuk memandu “kesadaran” kita… Akan tetapi kita mengharapkan dia bekerja sesuai dengan pikiran kita. Seorang guru mengajak kita untuk menemukan mukjijat di dalam diri sedangkan kita masih mengejar mukjijat-mukjijat kecil di luar diri. Sri Krishna berada di tengah medan perang, dan Arjuna, satria pilihannya mengalami pengenduran semangat. Tiba-tiba ia melihat dirinya sebagai “pelaku”, egonya muncul, dan ia pun kena serangan takut! Isa sedang mempersiapkan murid-muridnya untuk menemukan kerajaan surga di dalam diri, para murid masih bertanya tentang surga entah dimana, singgasana apa dan kedudukan mereka disana. Buddha mengerjakan “ketiadaan”, kita terjebak dalam permainan keberadaan. Muhammad menempatkan Allah diatas segalanya, kita menempatkan apa? Makan dan minum adalah terapi bagi penyakit badan yang disebut “rasa lapar”. Energi seks adalah sarana untuk meningkatkan kesadaran kita. Kenyamanan dibutuhkan demi perjalanan panjang menuju kemuliaan. Apakah kita masih ingat tujuan kita berada di ashram? Jangan-jangan tujuan kita berada di dunia pun sudah terlupakan. Kau tidak dapat merayakan hidup dengan kesadaranmu masih sepenuhnya berada pada 3 lapisan tersebut. Apa yang kau anggap perayaan hanyalah upaya untuk menutupi frustrasimu. Apa yg mesti kusampaikan telah kusampaikan, selanjutnya terserah kamu………. Sang Suami: Berbicara mengenai tujuan kita berada di dunia, aku baru saja membaca ulang salah satu artikel dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa”………. Banyak cara, banyak jalan untuk menemukan pusat di dalam diri, untuk menemukan Jati Diri – namun, ada 4 (empat) Upaya Utama. Dan, setiap Upaya mewakili satu sudut, satu sisi kehidupan yang barangkali berseberangan namun dapat dipertemukan. Pertama adalah Kama atau Keinginan – Keinginan Kuat, Tunggal, untuk menemukan Jati Diri. Sementara ini, keinginan kita masih bercabang. Terdorong oleh hawa napsu, kita dapat menginginkan apa saja. Pelan-pelan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan Keinginan ini kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan-keinginan, kita

menjadikannya satu keinginan – Keinginan untuk Menemukan Jati Diri. Kedua adalahArtha, biasa diterjemahkan sebagai Harta. Sesungguhnya Artha juga berarti “Makna” atau “Arti”. Temukan Makna Hidupmu! Adakah uang itu, harta itu yang memberi makna pada hidupmu? Bila ya, maka berhati-hatilah. Karena apa yang kau miliki saat ini tak mungkin kau miliki untuk selamanya. Jangankan uang, anggota keluarga pun pada suatu ketika akan meninggalkanmu, atau kau meninggalkan mereka. Bila kau terlalu percaya pada “kepemilikan”-mu, maka hidupmu bisa menjadi sangat tidak berarti ketika apa yang saat ini masih kau miliki, tidak lagi menjadi milikmu. Berusahalah untuk menemukan makna lain bagi hidupmu. Barangkali “Kebahagiaan”, rasa bahagia yang kau peroleh saat kau berbagi kebahagiaan. Tidak berarti kau tidak boleh mencari uang…. Silakan mencari uang, silakan menabung, silakan menjadi kaya-raya, tetapi janganlah kau mempercayai harta kekayaanmu. Kau pasti kecewa. Apa yang kau miliki hari ini, belum tentu masih kau miliki besok pagi. Ketiga adalah Dharma, Kebajikan. Dalam bahasa sufi disebut Syariat – Pedoman Perilaku. Pedoman Perilaku berdasarkan Kesadaran, itulah Dharma. Jangan berbuat baik hanya karena kau dijanjikan sebuah kapling di surga. Itu bukanlah kebajikan, itu perdagangan belaka – jual beli. Berbuatlah baik karena Kebaikan itu Baik. Berbuatlah baik karena dirimu baik. Berbuatlah baik karena kau sadar. Seseorang yang berada pada Jalur Dharma tidak perlu dipaksa, tidak perlu iming-imingi, juga tidak perlu di-intimidasi, di-teror atau dipaksa untuk berbuat baik. la akan selalu berusaha untuk berbuat baik karena sadar! Keempat adalah Moksha, Kebebasan Mutlak. Dan, Kebebasan Mutlak berarti “Kebebasan dari” sekaligus “Kebebasan untuk”. Kita bebas dari penjajahan, tetapi tidak bebas untuk berpendapat. Ada rambu-rambu yang perlu ditaati, diperhatikan dan tidak langgar. Kenapa ada rambu-rambu? Karena kita belum sadar. Kita belum cukup sadar untuk menggunakan “Kebebasan untuk” dengan penuh tanggungjawab………. Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi Manusia Modern” disampaikan………. Kama, Artha, Dharma dan Moksha harus bertemu… dan titik temunya itulah tujuan hidup, itulah Jati Dirimu! TitikTemu antara keempat upaya itu. Titik temu antara pasangan yang berseberangan. Janganlah kau mempertemukan Kama dengan Artha, karena kedua titik itu masih segaris. Pertemuan antara Kama dan Artha itulah yang selama ini terjadi – kita hanya berkeinginan untuk mengumpulkan uang, mencari keuntungan dan menambah kepemilikan, entah itu berupa benda-benda yang tak bergerak, atau yang bergerak. Kama harus bertemu dengan Moksha, itulah titik di seberangnya. Berkeinginanlah untukMeraih Kebebasan Mutlak. Kemudian Artha dan Dharma – carilah harta sehingga kau dapat berbuat baik, dapat berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Berikan makna kepada hidupmu dengan berbagi kebahagiaan, keceriaan, kedamaian, kasih……… Sang Suami: Dalam buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Hazrat Inayat Khan juga mengutip Hadis Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa, “Ia yang mengenal dirinya mengenal Allah”. Demikian pula yang ditemukan dalam Injil : “Kerajaan Allah berada dalam dirimu”

juga dalam ajaran-ajaran Veda : “Menyadari jati diri, itulah kebijakan sejati”…………. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menemukan jati diri untuk kita kecuali oleh kita sendiri. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Seseorang tidak bisa menemukan “jati diri” anda untuk kita. Tak seorang pun dapat melakukan hal itu untuk kita. Seorang mesias pun tidak mampu melakukannya. Setiap orang harus bekerja sendiri dan menemukan sendiri “Jati Diri”-nya……. Sang Istri: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan” disampaikan…….. Temukan Dirimu dengan upaya sungguh-sungguh. Inilah jihad sesungguhnya. Jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena jihad yang ini mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada hal-hal luaran; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar; kebahagiaan yang kekal, abadi, sekekal diri kita, seabadi jiwa kita. Kebahagiaan itulah jadi diri kita. Itulah sifat dasar kita. Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati diri-”mu” atau jati diri-“ku” tetapi hanya jati diri. Titik. Jati diri adalah esensi kehidupan, inti sari kehidupan; titik awal dan titik akhir kehidupan. Marilah bersungguh-sungguh dalam upaya kita untuk menemukan titik ini di dalam diri. Titik ini tidak ada di luar diri; ia berada di dalam diri kita; dalam sanubari kita. Sesungguhnya, titik itulah sanubari kita, nurani kita, kesadaran serta pencerahan diri kita, sekaligus sumber segala keilahian dan kemuliaan di dalam kita. Marilah bersungguh-sungguh, karena kita membutuhkan energi yang luar biasa untuk menemukan kembali apa yang sesungguhnya tidak pernah hilang itu. Kenapa justru dibutuhkan energi yang luar biasa untuk menemukan sesuatu yang pernah hilang? Karena “kehilangan” itu terjadi dalam pikiran kita. Kehilangan itu adalah ilusi pikiran kita. Untuk menemukan kembali apa yang “terasa” hilang itu, kita harus menaklukkan perasaan kita sendiri. Kita harus mengoreksi sendiri pikiran kita………. Sang Suami: Dalam buku “Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai” disampaikan……… Jika anda sudah tahu “apa yang terbaik”, anda tidak akan “mencari” lagi, karena “yang terbaik” justru tidak perlu dicari. Yang terbaik justru ada di dalam diri anda. Yang dibutuhkan bukanlah “pencarian”,tetapi “penggalian”. Akhirilah pencarian anda. Mulailah menggali dalam diri anda sendiri. Dan untuk penggalian, anda tidak butuh terlalu banyak pengetahuan. Sedikit saja sudah cukup. Dan para “penggali” inilah yang bisa menjadi sobat seorang nabi. Para “pencari” tidak bisa menjadi sobat para nabi. Mereka terlalu sibuk mencari. Berada begitu dekat dengan seorang nabi, mereka masih menoleh ke kanan, menoleh ke kiri. Mereka tidak pernah menoleh kedalam diri. Pada hal, jika mereka menoleh kedalam diri satu kali saja, mereka akan menemukan bahwa yang ada didalam dirinya, ada juga didalam diri nabi. Seorang nabi sudah berhasil mengangkat jati dirinya kepermukaan. Sementara, dia masih berupaya untuk itu. Dan, dia akan berhenti mencari. Dia tahu persis bahwa tidak ada yan perlu dicari. Dia harus menggali. Dan untuk itu, siapa lagi yang dapat membantu dirinya, kecuali seorang penggali yang sudah ahli………

Sang Istri: Dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” disampaikan………. Spiritualitas adalah sebuah “pengalaman”. Ya, pengalaman pribadi. Dan setiap pengalaman sungguh unik. Anda menggali, dia menggali, saya menggali. Proses penggaliannya mungkin sama. Tetapi , berapa lama kita menggali ditentukan oleh kondisi “tanah-diri” masing-masing. Ada yang baru menggali 6 meter dan sudah menemukan sumber air. Ada yang harus menggali sampai sumber air. Ada yang harus menggali sampai belasan bahkan puluhan meter dan belum menemukan air. But don’t worry, setiap orang akan menemukannya. Ada mata air di bawah setiap bidang tanah, asal kita rajin menggali. “Dan, bila kehendak Tuhan, Insya Allah, air pun akan muncul ke permukaan…” Rumi sedang memberikan technical assistance kepada para penggali. Proses penggalian harus berjalan terus, sampai menemukan air. Pada saat yang sama, jangan angkuh. Jangan bersikap tidak seperti Firaun. Dia juga menggali, tetapi dia tidak melihat Tangan Tuhan di balik keberhasilannya. Dia menjadi angkuh. Kemudian, keangkuhan itu pula yang menjatuhkan dirinya. Musa juga menggali. Dan dia melihat Tangan Tuhan di balik upaya-upayanya. Siapa yang “memberi” kekuatan, sehingga dia bisa menggali? Siapa pula yang “menyimpan” air bawah tanah, sehingga dia bisa menemukannya?……….. Semoga kita semakin rajin menggali ke dalam diri………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Kepemilikan, Renungan Berguru Ketigapuluhempat Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam berbagai referensi tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Suamiku, aku tertegun saat membaca kembali file wejangan di dunia maya tujuh tahun yang lalu……. Radha dan Meera, “sama-sama” mencintai Krishna.And yet, there love was not the same. Tampak sama, namun cinta mereka berbeda. Radha hidup sejaman “dengan” Krishna. Meera tidak hidup sejaman, tidak hidup dengan Krishna – ia hidup di “dalam” Krishna. Radha ingin “memiliki” Krishna. Meera ingin menjadi “milik”-Nya. Menghadapi seorang murshid, kita pun dapat memilih: Mau bersikap seperti Radha, atau seperti Meera. aku memilih Meera…. Penyerahan Diri Meera sungguh tak tertandingi. Ia tidak peduli apakah Krishna “menerimanya” atau tidak… Bagi seorang Meera, yang penting adalah “penyerahannya”, “persembahannya”. Ia tidak kecewa bila Krishna tidak memperhatikannya: “Bolehlah kau, wahai Krishna, memutuskan tali cinta dan melupakan diriku – aku tak akan pernah memutuskannya. Aku akan selalu mencintaimu.” Lain Meera, lain Radha… Seruling bambu di tangan Krishna pun dapat menggelisahkan dirinya: “Kau lebih mencintai seruling itu….” Bagi Meera, jangankan seruling bambu, kehadiran Radha pun hanya menambah kegembiraannya. Senantiasa ia bersukacita: “Krishna, kau sungguh hebat! Kau dapat memikat hati sekian banyak Gopi.” Tapi, janganlah kau terpengaruh oleh pilihanku… Pilihanku bagiku, pilihanmu bagimu… Nandalaalaa Navaneetchoraa Raadhaa-Pyaare Nandalaal… Maayee Meeraa Maanasa Choraa Hridaya-Nivaasi Nandalaal…. O Krishna, Darling of Radha, Stealer of Meera’s heart, Steal too my heart.… Sang Suami: Wejangan tersebut menyadarkan kita, bahwa selama ini kita ingin memiliki Tuhan yang senantiasa siap sedia untuk mengabulkan permohonan kita dan bukan mengabulkan permohonan orang lain. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Kita ingin “memiliki” Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita “miliki”! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! “Keinginanmu untuk ‘memiliki’ Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Orang yang sudah menjadi “milik-Nya”, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya, tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain, akan “menjalani” agama dalam hidup sehari-hari………

Sang Istri: Benar istriku, dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi…….. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Tidak, kita tidak dapat hidup tanpa kepemilikan. Kita bisa saja memilih hidup telanjang di tengah hutan – kita tetap punya badan. Badan ini juga kepemilikan. Kita bisa batasi barang-barang kita, tetapi kita takkan pernah ada tanpa kepemilikan. Yang bisa kita lakukan adalah “tidak posesif”. Nikmati apa yang kita punyai. Nikmati semua yang kita dapatkan secara benar, asalkan jangan terobsesi karenanya. Jangan malah kita yang menjadi milik barang-barang kita. Janganlah kita kembangkan rasa kepemilikan yang membuat kita serakah dan selalu ingin yang lain dan yang lebih…….. Sang Istri: Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Tenang, santai, rileks – jangan tegang. Milikilah kemewahan tanpa rasa kepemilikan. Nikmatilah keberuntungan kita. Kita belum tahu seni kehidupan. Kita belum tahu cara menikmati kehidupan. Kadang kita menolak Tuhan, kadang kita menolak Setan. Kadang kita malah ingin memiliki kedua-duanya. Kadang kita berada pada ekstrim kiri, kadang pada ekstrim kanan. Kita telah kehilangan keseimbangan. Kita tidak perlu menolak apa pun. Kita tidak perlu mendambakan apa pun. Semuanya datang dengan sendiri, datang pada waktunya. Rasa kepemilikan kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Bagaimana dapat memiliki langit biru, bulan dan bintang, hawa sejuk ataupun angin panas? Apakah kita dapat menentukan kapan Sang Surya harus menampakkan dirinya, kapan Si Bulan harus menghilang dari penglihatan? Terimalah, apa yang diberikan oleh Keberadaan. Penerimaan total seperti ini dapat membuat kita lepas dari rasa kepemilikan. Kita tidak harus melepaskan apa pun. Keinginan untuk pelepasan pun hanya sekadar ilusi dan harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak memiliki sesuatu sehingga dapat melepaskannya. Keinginan untuk pelepasan timbul karena kita merasa memiliki. Jangan merasa memiliki dan kita akan menemukan kehidupan baru…… Sang Istri: Untuk lepas dari kepemilikan seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya pada Gusti. Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…….. Sevabukanlah sekedar “melayani”. Seorang pelayan masih memiliki kebebasan untuk melayani atau tidak melayani. Seorang panembah telah berserah diri sepenuhnya, maka raga dia bukanlah milik dia lagi. Raga dia adalah milik Dia. Raga itu ada hanyalah untuk melayani Dia………

Sang Suami: Benar istriku, untuk itu kita harus selalu berupaya menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi dan impian pribadi dengan Kehendak Gusti. Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Ah, ternyata saya anak raja. Ternyata aku kaya raya. Ternyata semua ini disediakan bagi saya dan saudara-saudara saya. Kemudian, apa yang mesti saya khawatirkan? Kenapa mesti merampas hak saudara saya? Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan untuk memasuki Kerajaan-Nya. Yesus yakin betul bila kesadaran yang dimiliki-Nya dapat dimiliki setiap orang. Doa-Nya, sebagaimana kita baca dalam Yohanes 17:21. “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”Yesus tahu persis bahwa kita semua memiliki potensi yang sama untuk meraih kesadaran kosmis. Kita semua bisa manunggal dalam kesadaran ilahi, Allah Bapa, atau kesadaran kosmis tersebut. Dalam hal itu, tidak beda antara Dia dan kita……… Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan…….. Lebih baik bergandengan tangan dan bersama-sama menuju tempat perjamuan. Di sana banyak tempat, dan cukup untuk kita semua. Untuk apa saling mengungguli atau saling menguasai? Dengan kesetaraan dan demokrasi, seperti yang diajarkan Yesus, kita dapat mengakhiri segala macam pertikaian dan meringankan beban pada jiwa kita masing-masing. Kiranya, seperti itu pula sikap Yesus. Ia menghendaki agar kita semua memiliki akses yang sama terhadap Sumber Abadi yang telah disediakan oleh Allah Bapa bagi kita semua. Akses yang sama berarti kesetaraan, demokrasi, dan dengan adanya kesetaraan dan demokrasi jelas tidak ada lagi kemiskinan dan kemelaratan. Tidak ada lagi seorang pun yang kekurangan. Kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan terjadi karena kesalahan kita sendiri. Kita ingin menguasai meja, ingin duduk paling depan. Padahal, semuanya itu tidak diperlukan. Persediaan diatas meja sudah jauh melebihi kebutuhan kita semua. Ibarat dalam perjalanan menuju bukit emas, kita merebutkan beberapa lempengan emas yang ditemukan di jalan. Bukit sudah di depan mata, tapi kita tidak melihatnya lagi karena sibuk bertikai. Pertikaian terjadi karena diantara kita ada yang merasa lebih berhak, bahkan mengambil posisi sebagai pengemban amanah atau pelindung……. Sang Suami: Dalam buku tersebut juga disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini……….. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri

saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai. Ketika kita menginginkan bagi orang lain segala apa yang kita inginkan bagi diri sendiri, tidak ada lagi kompetisi. Tidak ada perlombaan, persaingan, dan pertikaian. Untuk apa memperebutkan lempengan emas jika bukit emas di depan mata itu milik kita bersama? Kita semua memiliki akses terhadap Sumber Abadi yang tak terbatas dan tak pernah habis harta kekayaan yang berlimpah Kerajaan Allah yang Maha Agung. Apa yang mesti kita khawatirkan?………. Sang Istri: Dalam buku tersebut juga disampaikan…….. Tidak demikian dalam Kerajaan Allah. Di sana tidak ada perebutan kekuasaan. Dalam Kerajaan Allah tak seorang pun ingin menguasai orang lain; tak seorang pun memaksakan kehendaknya terhadap orang lain; tak seorang pun ingin mengungguli orang lain. Pandangan hidup seperti inilah yang membedakan Kerajaan Allah dari Kerajaan dunia. Yesus menolak tawaran Kerajaan dunia…….. Kenapa? Karena ia tahu bahwa Kerajaan dunia yang hendak dipaksakan kepada-Nya tetaplah berlandaskan prinsip-prinsip dunia yang sudah usang: persaingan, pertikaian, dan akhirnya pasti binasa. Ia hendak membangun Kerajaan Allah yang berlandaskan kesetaraan dan kebersamaan, tempat setiap orang memiliki akses yang sama terhadap Allah dan terhadap Sumber Abadi yang telah disiapkan-Nya bagi semua. Untuk mencapai tujuan-Nya itu; untuk membangun Kerajaan Allah seperti itu, Ia mengutus murid-murid-Nya ke “dunia”. Ia sendiri menggambarkan keadaan mereka seperti domba-domba yang berada di tengah kawanan serigala yang buas. Oleh sebab itu, Ia pun berdoa agar mereka diberi kekuatan dan senantiasa dilindungi Allah. Mereka diutus bukan untuk menaklukkan dunia, tetapi untuk menyembuhkan penyakitnya. Ia hendak mengubah Kerajaan dunia yang tidak waras dan sibuk bertikai itu menjadi Kerajaan Allah berlandaskan kasih dan persaudaraan. Yesus meyakini betul bila diri-Nya telah berhasil melampaui tatanan “dunia” yang lama dan bahwasanya tatanan lama itu akan segera berakhir……….. Semoga kita semua sadar, memilih Kerajaan Allah dan bukan Kerajaan Dunia…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Membaca, Memahami Dan Melakoni Renungan Ketigapuluhlima Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan Membaca. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, kembali aku membaca file wejangan lama di dunia maya yang menyentuh jiwa……… Dalam tradisi India Kuno, istilah yang digunakan untuk membaca kitab suci bukanlah “membaca”, tetapi “mempelajari dengan merenungkan” – Paath. Dalam tradisi Timur Tengah, para pelajar kitab suci juga dianjurkan untuk ber-”ijtihad” – berupaya keras untuk “memperoleh” pencerahan “batin” lewat “apa yang tertulis itu”. Salah satu sebab utama konflik antar agama adalah pemahaman kita selama ini seolah “kitab suci”, “wahyu”, “pesan ilahi”, “shruti”, “injil”, “berita baik” atau apapun sebutannya bagi apa yang sekarang kita sebut “kitab suci” itu diturunkan dalam “bahasa manusia”. Entah itu bahasa Yahudi, Sanskerta, Aram, Pali ataupun Arab. Mungkin memang demikian adanya. Sang Khaliq bersabda dalam bahasa-bahasa tersebut. Atau, mungkin “Ia” bersabda dalam bahasa ruhani, bahasa kalbu. Dan, kemudian para penerima “pesan” tersebut “menerjemahkannya” dalam bahasa mereka masih-masing, dengan mengingat tingkat kecerdasan/pemahaman audiens mereka, para pendengar mereka. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb….. Apa yang kutulis ini pun sekadar “pemahaman”-ku tentang apa yang pernah kudengar. Maha Suci Allah, Maha Tahu Rabb, Ia memberi kita kebebasan untuk membedah kata-kata yang tertulis atau berusaha untuk “menyelami” makna dibalik kata-kata itu…….. Sebuah wejangan yang perlu direnungkan, sang penulis pun menulis bahwa yang ditulisnya pun sekedar pemahamannya…….. Sang Suami: Benar istriku, dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan bahwa………. Seorang Mursyid pernah menegur muridnya, “Bila ingin mengutip kitab suci, jangan lupa menambahi, “Demikianlah pemahamanku tentang Injil, atau tentang Al-Qur’an, atau tentang Veda, atau tentang Dhammapada………” Sang Mursyid betul. Memang Begitulah. Setiap orang menafsirkan ayat-ayat suci sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya. Setiap ayat seluas laut. Cawan otak kita tidak mampu menampung satu pun ayat secara menyeluruh. Apalagi seisi kitab suci………. Sang Istri: Oleh karena itu kita harus membaca suatu kitab suci seperti membaca surat cinta, dimana kasih menjiwai proses pembacaan tersebut. Dalam buku “Neo Psychic Awareness” disampaikan…….. Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membaca kitab suci hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena ingin tahu

akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta……….. Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan cara membaca kitab…….. “Membaca” yang dimaksud bukanlah seperti membaca novel, atau buku lain, “Membaca” di sini adalah “membaca dengan penuh khidmat dan khusyuk”. Dalam bahasa Sansekerta disebut “parayana”. Salah satu cara parayana, sebagaimana dianjurkan oleh Baginda sendiri, adalah membuat niat untuk menyelesaikan salah satu kitab dalam 1, 2, 3, 4, atau bahkan 52 minggu. Asal, setelah membuat niat itu, kita betul-betul melaksanakan apa yang telah kita niatkan. Membaca 1 halaman, atau 100 halaman, tetapi, jika kita sudah niatkan akan menyelesaikan satu kitab dalam waktu 1 minggu, maka kita menepati janji itu. Ini adalah salah satu cara untuk melatih rasa percaya diri, bahwasanya, apa yang kuhendaki dapat kulaksanakan. Aku bisa. Dengan mematuhi janji yang kita buat dengan diri sendiri, sesungguhnya kita tidak membantu siapa-siapa kecuali diri kita sendiri. Dan, dengan membantu diri, kita memperoleh berkah dari Hyang Maha Ada karena itulah tujuan ciptaan. Ya, tujuan ciptaan adalah bahwasanya kita ikut mencipta, menentukan, dan mengukir garis hidup kita masing-masing……….. Sang Istri: Pada waktu membaca kita menyadari bahwa setiap guru dalam kehidupan kita memberikan sesuatu yang penting kepada kita. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif” disampaikan……… Hidup ini tidak mengenal titik akhir. Roda kehidupan, Kala Chakra, Roda Sang Waktu, bergulir terus. Selama masih hidup, belajarlah terus. Jangan berhenti belajar. Jangan menutup dirimu. Dan yang paling penting, jangan melupakan para gurumu. Setiap guru memberikan sesuatu kepadamu. Kalau kamu tidak bisa menerima lebih banyak darinya, itu salahmu sendiri. Gurumu yang pertama, yang mengajar A, B, C pun sangat berjasa. Tanpa belajar hal-hal mendasar, bagaimana bisa peroleh pelajaran selanjutnya?………… Sang Suami: Ada sebuah contoh bagaimana membaca sebuah kitab yang baik. dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan bahwa……… Atma Bodha hanyalah sebuah buku. Tanpa meditasi, Atma Bodha tidak lebih dari bundelan kertas bertinta. Bila tidak ditindaklanjuti dengan meditasi, ulasan ini tak lebih dari ocehan biasa. Dalam tradisi Hindu, kitab suci tidak “dibaca”, tetapi “dipelajari”. Istilah yang mereka gunakan adalah Paathi—to learn, sebuah proses yang berjalan seumur hidup. Buku Teks seorang Paathi, seorang “pelajar” kitab suci adalah “kesucian” kitab itu. Dan, proses penyucian diri tak pernah berhenti. Bila kita seorang “pembaca”, membaca Atma Bodha satu kali sudah cukup. Sudah tahu isinya, ya sudah. Para pembaca professional bahkan hanya melakukan scanning. Seorang Paathi akan mempelajarinya berulang kali. Dan, tetap saja merasa tidak cukup. Setiap kali “belajar”, ia memperoleh wawasan baru, insight baru. Dan setiap insight mendekatkan dirinya dengan Ia yang berada inside………. Seorang pembaca “hanya” menggunakan mind untuk membaca. Dan, mind memang cepat bosan, jenuh. Setiap kali membutuhkan mainan baru. Berbeda dengan para meditator. Mereka adalah penyelam. Yang diselami lautan sama dan itu-itu juga. But every time there is a different kind of joy. Setiap pengalaman adalah pengalaman baru. Apa yang terjadi dalam sanggama? Bukanlah kita

mengulangi sesuatu nyang sama? Tetapi setiap pengulangan menghasilkan pengalaman baru. Kebahagiaan baru…………. Sang Istri: Kita meyakini semua kitab suci merupakan pesan ilahi yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, akan tetapi kita tetap perlu menggunakan pikiran yang jernih dalam memahaminya. Sebagai contoh dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles” disampaikan……… Saya mesti mengingatkan bahwasanya Yesus bicara dan mengajar dalam bahasa Aramaik. Di zaman Yesus, orang Yahudi sekalipun lebih banyak menggunakan bahasa Aramaik daripada bahasa Ibrani. Setiap kata yang terucap oleh Yesus dalam bahasa tersebut hanyalah terekam dalam ingatan para pengikut selama hampir 70 tahun, sebelum akhirnya ditulis dalam bahasa Yunani. Terjemahan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris dilakukan 500-an tahun yang lalu (buku ini ditulis lebih dari 100 tahun yang lalu, maka, sekarang mesti dibaca “600-an tahun yang lalu”). Itulah Terjemahan resmi yang disebut “King James Version”. Banyak kata dalam Bahasa Inggris yang sangat populer di masa itu, sudah tidak populer lagi. Bahkan, banyak kata yang telah kehilangan makannya atau tidak lagi digunakan untuk memaknai hal yang sama. Oleh sebab itu, sungguh tidak tepat jika kita mengartikan setiap kata yang terucap oleh Yesus secara baku, tanpa memperhatikan konteks di mana kata-kata itu terucap oleh-Nya. Jika kita melakukan hal itu, kita malah kehilangan mana dari apa yang hendak disampaikan Yesus. Kita tidak akan pernah memahami Yesus tanpa mempelajari ajaran-Nya sebagai satu keutuhan dengan konteks sejarah dan keadaan zaman-Nya………. Sang Suami: Bagaimana pun yang penting adalah pengalaman diri sendiri, membaca buku tanpa praktik nyata hanya membebani otak saja. Dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik” disampaikan……… Kedamaian yang langgeng terwujud apabila terjadi peningkatan kesadaran dalam diri. Seseorang harus “mengalami”-nya sendiri. Membaca buku, mengumpulkan informasi tidak berguna. Bahkan bisa menjadi hambatan, rintangan dalam perjalanan spiritual kita. Itu sebabnya, saya tidak pernah bicara tentang “pengalaman-pengalaman” dalam alam meditasi. Apabila saya menceritakan, Anda akan berhalusinasi. Anda akan mencari pengalaman-pengalaman seperti itu, padahal pengalaman setiap individu berbeda. Anda mencari pengalaman yang sama. Lantas Anda berpikir bahwa Anda sudah sampai, padahal berjalan pun belum………… Sang Istri: Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan………. Seorang pujangga bicara dari pengalaman. Apa yang ia sampaikan bisa juga disampaikan oleh seorang yang tidak punya pengalaman. Anda pernah ke Amerika atau tidak, anda bisa saja bicara tentang Amerika. Dengan membaca beberapa buku tentang Amerika, anda bisa menguasai pengetahuan tentang Amerika. Tetapi pengetahuan bukanlah pengalaman. Seorang yang pernah “mengalami” Amerika, bisa “merasakan” Amerika. Yang hanya membaca buku tidak bisa begitu. Seorang pujangga bicara dari pengalaman, seorang cendikiawan bicara dari pengetahuan. Mereka berbeda. Itu sebabnya, apabila seorang Pujangga berbicara,

kata-kata dia bisa mengubah sejarah. Yesus, Musa, Muhammad, Budha, Krishna, Lao Tze, para nabi dan avatar dapat mengubah kita. Para cendikiawan tidak mampu mengubah kita. Bahkan mengubah diri sendiri pun, mereka belum mampu. Sang Pujangga melihat dan memahami kerja alam………. Sang Suami: Tanpa pengalaman pribadi pemahaman kita tentang kitab belum tentu tepat. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan………. Apa yang mereka anggap “religi” atau “agama” atau “din” sesungguhnya adalah “pemahaman” mereka tentang agama. Dan pemahaman adalah produk “pancaindra”. Buku-buku agama dibaca lewat mata, penjelasan para pakar didengar lewat telinga. Kemudian, informasi itu dicerna oleh otak dan terciptalah sebuah “pemahaman”. Kemudian tergantung “kualitas” dan “referensi” yang ada di dalam otak kita, pemahaman kita bisa berbeda dari pemahaman orang lain, sebagaimana “otak” kita berbeda kualitas dari otak orang lain. Berdasarkan pemahaman itu pula, kita menciptakan “standar” tolok ukur. Kalau begini, baik. Kalau begitu, tidak baik……….. Sang Istri: Pemahaman tidak akan membantu kita, harus dibarengi dengan laku, dengan penghayatan. Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui kita. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali, tidak berarti sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni pula…….. Semoga……….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Sukacita Renungan Ketigapuluhenam Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Dan berfungsi sebagai suara nurani yang mengingatkan mereka saat melakukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca file wejangan lama yang sebenarnya telah mengingatkan kita sejak dulu, hanya rupanya kita tetap belum paham-paham juga……… Perasaan atau emosi tidak stabil. Tidak pernah stabil, tidak bisa stabil. Bila kita berbagi “perasaan”, maka sesungguhnya kita berbagi ketidakstabilan. “Joyfulness” atau keceriaan atau sukacita bukanlah sebuah emosi. Bukan perasaan.Joyfulness lahir dari kesadaran. Yang kita berbagi lewat jaringan maya ini bukanlah perasaan dan emosi yang selalu bergejolak – tetapi Joyfulness yang tidak mengenal gejolak. Joyfulness, Ananda, Bliss, Keceriaan, Kebahagiaan Sejati atau apapun sebutannya, berada diatas emosi. Melampaui perasaan. Bliss adalah “ananda” yang kita alami sendiri. Joyfulness adalah “ananda” yang dapat kita bagikan. It is one and same thing. Jalaluddin Rumi bercerita tentang keluhan Nabi Musa……… Ya, Sang Nabi pernah mengeluh: “Ya Allah, Ya Rabb…. Apa yang salah dengan Firaun? Kenapa begitu dungu? Sudah diberi sekian banyak bukti, masih tidak mau percaya?” Yang Maha Suci menjawab, “Adakah seorang Musa bila Firaun tiada?” Ia menjelaskan lebih lanjut, “Kau tidak tahu setiap malam Firaun berdoa dan merintih karena harus berperan sebagai Firaun.” Sang Nabi memahami maksud-Nya……… Ya, baik Musa maupun Firaun – dua-duanya sedang memainkan peran masing-masing. And yet, bila harus memilih dan harus berpihak – kita akan tetap memilih Musa. Akan tetap berpihak padanya. Asal kita sadar bahwa tiada satu pun makhluk Allah yang patut kita kutuk. Masih ingat ketika Taliban menghancurkan patung-patung Buddha di Afghanistan? Patung bisa dihancurkan, kebudhaan diri tak dapat dihancurkan…….. Hukum Alam berjalan rapi sekali. Yang menghancurkan, hancur sendiri. Yang menindas, akan tertindas……… Sang Suami: Istriku, dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan……. “Joy is not in things; it is in us.” RICHARD WAGNER, 1813-1883 (German Dramatic Composer, and Theorist) ”Joy Delights in Joy.” WILLIAM SHAKESPEARE, 1564-1616 (English Dramatist, and Poet) “Keceriaan tidak bisa diperoleh dari sesuatu di luar diri. Keceriaan ada di dalam diri”, demikian maksud Wagner. Shakespeare mengatakan hal yang sama secara puitis, “Keceriaan bersukacita dalam keceriaan.” Keceriaan seperti inilah yang dimaksudkan Yesus. Dalam bahasa Sanskerta disebut “Anand”…….. Para penyokong modern Law of Attraction seperti Rhonda Byrne, yang menjadi terkenal lewat karyanya The Secret pada tahun 2006;

dan, pasangan Esther dan Jerry Hicks yang meraih kesuksesan fenomenal setelah buku mereka berjudulMoney and the Law of Attraction, masuk ke dalam daftar bestseller New York Times pada bulan Agustus 2008 (buku pertama mereka A New Beginning terbit sekitar tahun 1988), kiranya menempatkan joy atau keceriaan sebagai emosi tertinggi. Oleh sebab itu, setiap orang yang hendak “memanfaatkan” Hukum Ketertarikan untuk meraih keberhasilan mesti berada pada tingkat emosi yang tertinggi itu. Berada pada tingkat itulah “keinginan” berubah menjadi “kenyataan”. Berada pada tingkat itulah keceriaan menarik keceriaan. Kebahagiaan mengundang kebahagiaan……. Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” juga disampaikan penjelasan dari kata “Ananda”……. “Ananda”.Satu kata ajaib ini, setidaknya mengandung tiga makna: Supreme Bliss, atau Kebahagiaan Abadi nan Tertingi; Everlasting Joy atau Keceriaan Abadi; dan Unconditional Love, atau Kasih Tanpa Syarat. Sesungguhnya, Unconditional Love, atau “Kasih Tanpa Syarat” adalah landasan bagi keadaan ini. Ibarat fondasi bangunan. Landasan inilah yang dikatakan oleh Buddha, “Tak terjelaskan.” Bagaimana kita bisa melihat fondasi suatu bangunan? Jelas tidak bisa. Namun, dengan mempelajari keadaan bangunan itu, kita bisa memastikan bila fondasinya kuat atau tidak. Bagian luar, atau eksterior bangunan Ananda adalah Everlasting Joy atau “Keceriaan Abadi” – keceriaan yang tidak membutuhkan alasan. Jika kita “ceria” karena memperoleh sesuatu, sesungguhnya kita baru “senang” saja, belum ceria. *A New Christ halaman 187 Sang Suami: Buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” juga mengkaitkan keceriaan abadi ini dengan sifat anak kecil…….. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil,ia tidak akan masuk ke dalamnya. “(Lukas 18:17) Berarti apa? Berarti, “tidak menjadi ceria” karena telah memasuki Kerajaan Allah. Tapi, “menyambut dengan penuh keceriaan”. Belum masuk, sudah ceria duluan. Keceriaannya tanpa alasan karena itulah sifat dia. Ya, itulah sifat orang-orang yang “telah”, dan “akan” memasuki Kerajaan Allah. Ceria tanpa alasan, itulah keceriaan tanpa keterikatan dengan kebendaan. Inilah keceriaan sejati nan abadi. Nah, interior, atau bagian dalam bangunan Ananda adalahSupreme Bliss, “Kebahagiaan Kekal nan Tertinggi”……… Sang istri: Benar suamiku, buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampikan bahwa……… Tritunggal Unconditional Love, atau “Kasih Tanpa Syarat”; Supreme Bliss atau “Kebahagiaan Kekal nan Tertinggi”; dan, Everlasting Joy, atau “Keceriaan Abadi” inilah Ananda. Itulah sifat seorang Tathagata. Itulah yang terjadi ketika kita “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Dan, Tritunggal Ini Bukanlah Emosi. Tritunggal ini, Ananda ini, adalah Sifat Diri kita yang sesungguhnya. Pikiran dan emosi telah menciptakan berlapis-lapis daki yang mesti dibersihkan sebelum kita dapat mengakses sifat awal ini. Buddha menyebut sifat awal ini Bhava, atau Bhavana. Tidak ada kata lain dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan keadaan ini, kecuali

innermost feeling. Karena, jika kita menggunakan “feelings” atau “perasaan” saja, psikologi modern akan menafsirkannya sebagai salah satu emosi bersamamood atau “keadaan hati”. Ananda adalah Bhava atau Bhavana, keadaan terdalam dalam diri kita. Ananda, sekali lagi, bukanlah pikiran, bukanlah emosi, dan bukan pula inteligensia……. Sang Suami: Buku tersebut mengingatkan perbedaan antara seperti anak kecil dan kekanak-kanakan…….. Supaya kita ingat, Yesus hanya menggunakan “seperti seorang anak kecil” sebagai analogi, perumpamaan. Sebab itu, la menggunakan kata “seperti anak kecil” – childlike, bukan childish atau kekanak-kanakan. Adakah yang membedakan kedua keadaan itu? Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek. la tidak indifferent. la tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha…… Sang Istri: Suamiku, buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” adalah buku yang perlu dimiliki bagi seorang yang ingin mendapatkan sukacita sejati. Dalam buku tersebut juga disampaikan……… “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:17). Bahkan, Kerajaan Allah tidak perlu “ditemukan” karena ia tidak pernah hilang. Kerajaan Allah hanyalah perlu di-”sambut”. Salah satu terjemahan dalam bahasa Inggris, Amplified English Translation, menerjemahkannya sebagai berikut: “Truly I say to you, whoever does not accept and receive and welcome the kingdom of God like a little child (does) shall not in any way enter it (at all).” Tidak ada jalan lain untuk memasuki Kerajaan Allah, kecuali dengan menyetujui-Nya (accept), menerima-Nya (receive), dan menyambut-Nya (welcome) seperti seorang anak kecil.” “Menyetujui” berarti mengakhiri segala macam keraguan dan kebimbangan. Pikiran sudah puas, tidak ada pertanyaan lagi. “Menerima”, berarti secara proaktif mewujudkan Kerajaan-Nya dalam keseharian hidup kita. Dan, “menyambut seperti seorang anak kecil” berarti, menyambut dengan sukacita, dengan penuh keceriaan. Menyetujui dengan pikiran (mind), menerima secara fisik, dan menyambut dengan jiwa (soul, atau lebih tepatnya, consciousness, kesadaran). Sang Suami: Dalam Mazmur 4: 8-9 disampaikan: “Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur. Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Joy bukanlah sesuatu yang diperoleh “karena” limpahan gandum dan anggur. Dalam bahasa kita, joy tidak bisa diperoleh dari harta-benda, tabungan, ataupun keluarga.

Suka cita adalah buah dari jiwa yang tidak ikut bergejolak karena emosi yang senantiasa naik-turun. Joy diperoleh dari pikiran yang tajam, dinamis, kreatif, tapi tenang. Sukacita, keceriaan, atau joy tidak bisa dirasakan oleh mereka yang malas, tidak kreatif, tidak produktif, dan menyia-nyiakan waktunya tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dan bagi orang-orang di sekitarnya. Sukacita adalah hati yang puas karena sudah melakukan apa yang mesti dilakukannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu Allah berfirman lewat nabinya, orang yang bersukacita itu “bisa tidur nyenyak’……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

SELAMAT HARI IBU 22 Desember 2010! Menghormati Wanita Renungan Ke-37 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai da dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan bijak yang disampaikan sekitar 5 tahun yang lalu. Isinya lebih kurang demikian…….. Seorang bayi yang baru lahir diletakkan di dada seorang ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting ibunya. Demikian saran pakar psikologi dari Barat agar Sang Bayi dengan nalurinya berjuang untuk mendapatkan sumber kehidupannya. Selama 9 bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Bagi anak bayi yang baru lahir, payu dara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat Sang Bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali. Ketika bayi ini menjadi dewasa, dan bila ia seorang perempuan, ia menemukan sumber kehidupan itu ada di dalam dirinya. Celakanya, bila bayi yang menjadi dewasa ini seorang pria, ia merasakan betul perpisahan dari sumber kehidupan itu. Dan, ia pun mencari sumber itu dalam sosok perempuan yang lain. Tidak heran, bila seorang pria selalu memperhatikan payudara perempuan. Seorang pria yang merasa tidak sempurna, memerlukan sumber kehidupan itu, dan dia kawini seorang perempuan. Banyak duda separuh baya yang masih merasa belum sempurna, sehingga masih ingin kawin lagi. Tidak demikian dengan seorang janda, dia merasa sudah sempurna, sehingga sanggup hidup sendiri sampai akhir hayatnya……. Sang Suami: Dilihat dari chromosom-nya, pria mempunyai kode XY dan masih membutuhkan X ganda untuk kesempurnaanya. Sebetulnya tidak harus seorang wanita, seorang sahabat pria atau Guru dengan kode XY pun yang mempunyai sifat keperempuanan atau keibuan sudah cukup. Sedangkan wanita dengan chromosom XX sudah merasa sempurna. Sebetulnya kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan, rasa. Bila seseorang merasa sempurna, sempurnalah orang itu. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu ketika ia menemukan sumber kehidupan ke”perempuan”an di dalam dirinya. Kemudian dia merasa sempurna dan tidak akan kawin lagi walau menduda. Kalau seorang pria mulai menggunakan rasa, apalagi nuraninya, dia tidak akan kawin lagi ketika ditinggal mati isterinya. Ada hubungan antara sifat feminin dengan rasa sempurna. Sang Istri: Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan…….. Sungguh masuk akal, karena penemuan medis pun mengakui bahwa kromosom “X” yang terdapat dalam diri manusia, baik pria maupun wanita, sesungguhnya berasal dari wanita. Dan, bila kita masih ingat, kromosom “X” inilah yang menjadi motor kehidupan. Seorang pria pun mewarisi

kromosom ini dari induknya, dari ibunya, dari perempuan! Seorang pria tidak bisa hidup dengan kromosom “Y” saja – yang merupakan kromosom khas pria. Bila dikaitkan dengan matematika dan angka, maka kromosom “X”memiliki 23 angka, sementara kromosom “Y” hanya 22. Perempuan bisa hidup dengan kromosom khas wanita saja – “XX”. Sementara itu, pria tidak bisa hidup dengan kromosom “YY” saja. Ia harus memperoleh “X” dari induknya, supaya bisa bergerak…… Sang Suami: Secara medis dan biologis pun ia sudah terbukti sebagai sumber energi. Dalam bahasa Sanskerta, perempuan adalah shakti, sumber gerak, energi. Dalam buku “7 Steps Toward A Happy Marriage, Saptapadi Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia” disampaikan…….. Perempuan dapat melakukan apa saja yang dilakukan pria, namun seorang pria tidak dapat melakukan segala apa yang dilakukan seorang perempuan. Adalah seorang perempuan yang melahirkannya. Adalah kromosom X yang bersifat motorik dan diwarisinya dari induknya yang menggerakkan dia seumur hidup hingga ajal tiba. Kromosom pria, Y, mengandung memori namun tidak dapat melakukan sesuatu tanpa pasangannya X. Sementara itu perempuan dapat hidup dengan X saja. Pria XY, angkanya 23-22 – Perempuan XX, angkanya 23-23. Sang Istri: Daya tahan perempuan jauh melebihi daya tahan pria. Itulah sebab ia dapat melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan kaum pria. Rasa sakit saat kematian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan seorang perempuan saat melahirkan. Rasa sakit saat kematian hanyalah 50% dari apa yang dirasakan oleh perempuan saat melahirkan. Rasa sakit ada di dalam otak. Otaklah yang mendeteksi rasa sakit, kemudian menyebarkannya ke seluruh badan. Karena itu, penyelesaiannya di dalam otak. Kita dapat menciptakan anastesi alami sebagai penawar rasa sakit. Saat melahirkan, seorang perempuan secara alami menciptakan anastesi itu dengan pernapasannya yang cepat. Seorang pria harus belajar lama untuk menguasai pernapasan seperti itu. Setelah belajar pun belum tentu ia mengingatnya saat kematian. Ia lupa dan ia menderita. Seorang perempuan yang pernah melahirkan tidak pernah lupa, ia melakukannya juga saat kematian. Karena itu, ia terbebaskan dari penderitaan. Saat melahirkan, seorang perempuan sesungguhnya sudah mengalami kematian……. pengalaman yang sangat mirip kematian. Sang Suami: Banyaknya Nabi yang pria, dikarenakan mengajar merupakan sifat Macho, Yang, Pria. Pria cenderung memakai otak dan menjelaskan segala sesuatu berdasar logika dengan gamblang. Berlainan dengan wanita yang lebih banyak menggunakan rasa. Wanita mempunyai sifat feminin, kasih. Mungkin wanita tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama 9 bulan dia praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Ada pendapat bijak yang mengatakan bahwa banyak wanita yang cerah, tetapi setelah mendapatkan pencerahan, cukuplah pencerahan bagi dirinya dan dia akan menari bersama Ilahi. Arjuna adalah contoh pria sejati, lelananging jagad, pria dunia, tetapi sampai pencerahannya Sri Krishna harus bicara berjilid-jilid dalam Bhagavad Gita. Sebaliknya Sang ibu, Dewi Kunthi, bicara blak-blakan dengan Sri Krishna, “Krishna aku bodoh nggak punya pengetahuan, tetapi aku yakin, aku beriman kepada-Mu, Krishna tolong buatlah anak-anakku

Pandawa dalam keadaan menderita, karena pada waktu menderita mereka akan ingat pada-Mu.” Dewi Kunthi cerah dengan tidak perlu mempelajari buku-buku spiritual….. Bibi Chatijah adalah wanita pertama yang percaya kepada Nabi Muhammad, dan selalu mendampingi Nabi dengan setia sampai akhir hayatnya. Konon, beliau pun selama hidupnya dalam mendampingi Nabi sekitar 28 tahun berumah tangga, tidak pernah dimadu Nabi dikarenakan penghormatan nabi terhadapnya. Bunda Maria dan Maria Magdalena tetap menunggui Gusti Yesus di salib sampai diturunkan dari tiang salib, sementara murid-murid prianya konon tidak menungguinya……. Sang Istri: Budaya kita menghormati perempuan, masyarakat kita, sejak zaman dahulu, memahami betul peran perempuan. Kedudukannya dihargai. Perempuan dihormati. Tidak dikasihani, tapi dihormati. Keadaan ini berubah ketika para pedagang dari Timur Tengah, Timur Jauh dan Eropa mulai memasuki wilayah kita. Bersama uang, merekapun membawa budaya mereka. Kita terpengaruh, dan “jatuh” dari ketinggian yang pernah kita capai. Ketinggian peradaban, ketinggian budaya, ketinggian dalam segala bidang. Budaya kita tidak melihat perempuan sebagai obyek seks yang menakutkan dan merongrong kejatuhan manusia ke neraka, sehingga tak ada keperluan untuk mengharuskan perempuan menutup rapat badan mereka. Budaya kita lebih percaya pada pemberdayaan dari dalam dan bukannya meniadakan semua godaan dari luar. Bila kuat didalam, segala godaan diluar tak akan menggoda; bila lemah di dalam diri, segala virus di luar dapat dikalahkan; tetapi bila sudah lemah di dalam, apapun bisa jadi sumber penyakit…….. Demikian disampaikan dalam buku “7 Steps Toward A Happy Marriage Saptapadi Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia”. Sang Suami: Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan………. Yang anda sebut “logis”, rasional”, dan “realistis” adalah produk-produk mind. Dan mind sendiri tidak pernah berada di satu tempat. Kadang ada, kadang tidak ada. Itu sebabnya anda selalu ragu-ragu. Undangan untuk memasuki “Balai Pertemuan” pun anda sia-siakan. Anda sakit. Kejantanan, kepriaan, kelelakian – itulah penyakit anda. Sadarilah penyakit diri. Obatilah penyakit anda. Jadilah “wanita”, karena yang bisa masuk ke dalam Balai Pertemuan hanyalah para “Pengantin Wanita”. Perhatikan senyuman mesra pada wajah Krishna dan kedamaian abadi pada wajah Siddhartha. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Lihatlah cahaya kasih yang terpancarkan lewat wajah Yesus. Perhatikan kepolosan hati Muhammad. Mereka adalah para “Pengantin Wanita” yang pernah memasuki Balai Pertemuan. Sang Istri: Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan………. Seorang cendekiawan yang hanya menggunakan otak dan logika – cenderung menjadi kering, keras, kaku, alot. Berwujud pria atau wanita, sami mawon – sama saja. Kecendekiaan adalah sifat maskulin……. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar?

Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran. Sang Suami: Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern” disampaikan………. Ada bukit dan ada lembah. Bukit nampaknya begitu dekat dengan langit. Lembah nampaknya begitu jauh dari langit. Namun, semakin tingginya bukit, semakin gundulnya dia. Dan lembah-lembah selalu subur. Bukit adalah arogan. la berdiri tegak lurus. la sombong. la lebih awal menerima air hujan. la lebih banyak menerima air hujan. Namun karena arogansinya, air hanya melewatinya saja. Bukit tetap juga gundul, dan lembah di bawahnya semakin subur. Bukalah diri Anda. Jadilah reseptif seperti seorang wanita. Terimalah alam ini dan syukurilah segala pemberiannya. Wanita yang membuka diri demikian, kelak akan mengandung dan akan menghasilkan keturunan………. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Film Munna Bhai Dan Onepointedness Renungan Ke-38 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, kita pernah bersama-sama menonton film India, Lage Raho Munna Bhai, Lanjutkan Munna Bhai……. Pada awalnya, dikisahkan seorang pemuda bernama Munna jatuh cinta dengan suara Janhavi, seorang penyiar radio di Mumbai. Kebetulan sang penyiar sedang menyiarakan kontes quiz tentang Mahatma Gandhi. Semua orang boleh ikut dengan syarat dapat menjawab semua pertanyaan dalam quiz lewat telpon yang disiarkan langsung lewat radio. Munna ingin memenangkan kontes tersebut agar dapat menemui penyiar radio sang pujaan hati tersebut. Salah seorang teman Munna membantu memenangkan kontes dengan menculik dan menyuap sekelompok guru untuk memberi masukan ketika Munna menjawab quiz dari kontes tersebut. Sepuluh pertanyaan quiz tentang Gandhi dapat dijawab dengan sempurna dan Munna memenangkan kontes tersebut. Saat diwawancara lewat telpon sebagai pemenang kontes, Munna mengaku sebagai seorang profesor sejarah dan spesialis Gandhi. Akhirnya terwujudlah wawancara Munna dengan sang penyiar di radio. Janhavi, sang penyiar kemudian meminta Munna untuk memberikan kuliah tentang Gandhi untuk sebuah komunitas lansia yang tinggal di rumahnya…….. Dalam rangka mempersiapkan acara tersebut, Munna belajar tentang Gandhi di sebuah lembaga Gandhi. Selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan dan tidur, Munna hanya membaca tentang kehidupan dan pandangan Gandhi. Begitu terobsesinya Munna dengan sang mahatma, sampai dia sampai lupa pada dirinya sendiri dan terserap dalam kehidupan Mahatma Gandhi. Begitu seriusnya Munna berfokus pada Gandhi sehingga dia bertemu dengan penampakan Mahatma Gandhi yang kemudian dipanggilnya “Bapu”. Selanjutnya Bapu selalu muncul setiap Munna mendapatkan masalah. Seakan-akan otaknya telah terpenuhi dengan kebijakan Gandhi. Dengan bantuan Bapu, Munna berhasil membuat Janhavi terkesan dengan gaya hidup berdasarkan Gandhism, terutama kepatuhan terhadap non-kekerasan dan kebenaran, ahimsa dan satyagraha…… Sang Suami: Iya istriku…….. Selanjutnya Munna mulai mendapat kesempatan menjadi co-host radio-show bersama Janhavi membimbing pendengar radio untuk menggunakan Gandhigiri, Gandhism untuk menyelesaikan masalah sehari-hari para pendengar radio. Banyak sekali pendengar radio menyampaikan masalah kehidupannya dan terjawab dengan cara Gandhi tersebut. Acara radio tersebut menjadi terkenal dan sangat dicintai semua penduduk Mumbai, sehingga Munna menjadi sangat terkenal. Setiap pertanyaan tentang tindakan apa yang harus dilakukan terhadap permasalahan pribadi para pendengar lewat radio, selalu dijawab Munna

berdasar bantuan Bapu. Hidup Munna kemudian berubah dan dia menjalankan hidup dengan cara Gandhi. Penerapan pandangan hidup Gandhi tentang Satyagraha dan Ahimsa dalam kehidupan modern adalah tematik isu sentral dari film. Sang Istri: Sebetulnya ada pelajaran yang sangat berharga dari film tersebut, seseorang yang sangat fokus pada kehidupan dan pandangan Imam atau Guru atau Murshid dapat mendapatkan frekuensi Sang Murshid dan terjadilah quantum leap pada kesadarannya. Aku ingat buku “Youth Challenges And Empowerment” yang menyampaikan perihal onepointedness…….. Istilah ini sangat sulit untuk diterjemahkan: Memfokuskan Diri dengan “Pikiran yang Tak Bercabang”. Sesungguhnya one-”pointed”-ness jauh lebih berfokus daripada fokus. Maka, saya menambahkan “dengan pikiran yang tak bercabang”. Fokus pada suatu titik tidak menghilangkan segala sesuatu di sekitar titik itu. Persis seperti saat mengambil foto. Kita boleh berfokus pada suatu objek, namun apa yang ada di sekitarnya tetap ada.One-”pointed”-ness menghilangkan, melenyapkan segala sesuatu sekitar titik fokus. Seluruh kesadaran kita, pikiran kita, terpusatkan pada titik itu. Ini bukan konsentrasi. Konsentrasi adalah urusah pikiran saja. Dan, pikiran tidak pernah stabil, selalu naik turun, tidak bisa berada lama di suatu tempat atau pada suatu titik. Lagi pula, konsentrasi mesti selalu diupayakan. Sementara itu, one-”pointed”-ness bisa terjadi tanpa upaya, asal ada niat, hasrat, dan keinginan yang kuat “terhadap” titik yang dituju. Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one-”pointed”-ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan……. Sang Suami: Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” tersebut juga disampaikan…… Apa yang terjadi saat “jatuh” cinta? Walau berskala kecil, saat itu pun terjadi one-”pointed”-ness. Setiap saat kau mengingat pacarmu, kekasihmu. Kau tidak perlu mengingatkan diri untuk mengingatnya. Ingatan itu muncul sendiri, wajah kekasih terbayang sendiri. Sebagai seorang-pelajar, siswa atau mahasiwa, apa yang menjadi kiblatmu? Apa yang menjadi tujuanmu ke sekolah atau kampus? Pikirkan, renungkan, kemudian bertanyalah pada diri sendiri berapa banyak waktu yang kau gunakan untuk mencapai tujuan itu dan berapa banyak waktu yang kau sia-siakan untuk mengejar hal-hal lain. Belajar. Ke sekolah untuk belajar, ke kampus untuk belajar. Bukan untuk pacaran, bukan untuk berpolitik. Apakah kau one”pointed”terhadap pelajaranmu? Silakan berkenalan dengan siapa saja, berteman siapa saja, bersahabat dengan siapa saja, tetapi tidak one”pointed” terhadap apa pun, selain pelajaran tujuanmu ke sekolah dan ke kampus. One-”pointed”-ness adalah latihan mental dan emosional untuk memperkuat syaraf dan nyalimu. Latihan ini juga membutuhkan tenaga yang luar biasa, tenaga ribuan kuda, yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Maka, tentukan kiblatmu, cintailah kiblatmu. Arahkan seluruh kesadaranmu dan tunjukkan seluruh energimu untuk mencapainya. Bila kau tidak mempraktikkan one-”pointed”-ness ketika masih memiliki kekuatan yang luar biasa dan energi yang berlimpah, maka setelah berusia 40-an nanti kau tak dapat mempraktikkannya lagi. Saat untuk melatih diri adalah, sekarang…….. Sang Istri: Kemudian pengertian tentang Ahimsa. Dalam buku “Panca Aksara,

Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia” disampaikan…….. Saat Ahimsa muncul di dalam diri manusia, ia terbebaskan dari naluri hewani yang diwarisinya dari evolusi panjang sebagai hewan. Saat itu, ia betul-betul menjadi manusia. la menemukan kemanusiaan di dalam dirinya. Ahimsa juga tidak berarti menjadi pengecut. “Tidak,” kata Mahatma, “jika kau memilih Ahimsa karena takut sama musuh, maka kau seorang pengecut. Kau harus memiliki kekuatan untuk membalas musuhmu, tetapi memilih tidak membalasnya – itu baru Ahimsa.” Ahimsa adalah sifat seorang pemberani, seorang pahlawan, seorang yang memiliki kekuatan. Ahimsa tidak bisa dilakoni oleh seorang pengecut……. Sang Suami: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan pengertian Ahimsa……..Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi. “Senjata kita hanya satu, senjata kasih!” Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian. Pasal pertama abhaya tidak dimilikinya. Dalam bahasa Gandhi, “Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk tidak membalas itulah ahimsa”….. Sang Istri: Kita juga dapat mengambil hikmah dari onepointedness Munna terhadap Mahatma Gandhi. Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” disampaikan……. Kesadaran harus diraih lewat perjuangan panjang dan dipertahankan dengan segala upaya. Pengalaman seorang Murshid pun tak akan membantu. Kesadarannya tak akan serta merta menyadarkan diri Anda. Kesadaran sang Murshid hanya bisa merayu Anda, menggoda Anda, menggiur Anda untuk ikut mengalami sendiri apa yang sedang dialaminya…….. Seorang wanita yang dianggap tidak cukup susila meminyaki kaki Isa dengan minyak wangi—para murid pun berontak: ”Kesadaran macam apa itu? Uang itu lebih baik digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, dibagikan kepada fakir miskin.” Sang Murshid menarik napas panjang. “Kesadaran apa yang kalian bicarakan? Apa yang kalian tahu tentang kesadaran? Fakir miskin akan tetap ada sampai akhir zaman. Seorang Murshid tidak selalu mengetuk pintu rumahmu.” Amal salehmu selama sekian masa kehidupan telah mempertemukanmu dengan seorang Isa. Lalu saat pertemuan itu berlangsung, amal saleh apa lagi yang sedang kau bicarakan? Nikmati dulu pertemuan ini………

Sang Suami: Tanpa sadar Munna telah menggunakan “pintu gerbang Mahatma Gandhi” untuk menjalani kehidupannya. Dia telah menjadi tangan Sang Mahatma untuk menyadarkan masyarakat menjalani kehidupan yang benar. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti terhadap seorang guru semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk…….. Sang Istri: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness –Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu……… Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Meditasi, Studi Dan Berkarya – Raja, Jnana Dan Karma Renungan Ke-39 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan kesadaran. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka berusaha membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Mereka berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca bersama file lama The Torchbearers Newsletter 2006. Dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran yang isinya berbicara tentang perlunya latihan meditasi, memahami pengetahuan tentang kesadaran dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari…….. Latihan meditasi hanya membersihkan lahan jiwa kita. Studi adalah proses penanaman bibit. Kita memang sudah terbiasa mengambil apa saja yang terasa enak. Padahal tanpa sarana-sarana penunjang, rasa enak itu hanyalah untuk sesaat dan tidak akan bertahan lama. Setelah studi, masih ada tahap ketiga yaitu, menerjemahkan latihan meditasi dan studi kita dalam bentuk pekerjaan sehari-hari. Jika kita bekerja tanpa persiapan diri, maka kita akan selalu menyalahkan orang lain, keadaan dan sebagainya. Meditasi, studi dan kerja nyata – ketiganya merupakan tritunggal. Angkat salah satu di antaranya, dan hidup manusia akan menjadi pincang. Sang Suami: Dalam artikel tersebut juga disampaikan…….. Mereka yang bekerja memiliki pemahaman bahwa meditasi dan studi tidak penting. Mereka meninggalkan keduanya dan menyibukkan diri dalam pekerjaan. Mereka yang menikmati meditasi tidak paham bahwa pekerjaan dan studi adalah pelengkap yang penting. Dan mereka yang melakukan studi meremehkan pekerjaan dan meditasi. Inilah akar persoalannya. Seseorang boleh bekerja 18 jam sehari untuk ashram, jika tidak dibarengi dengan meditasi dan studi, dia pasti gagal. Apalagi bila dia tidak memiliki keahlian dalam bidang pekerjaannya. Sebaliknya jika bekerja secara meditatif dan tidak melupakan tujuan bekerja, maka dengan keahlian yang pas-pasan pun akan tetap berhasil. Sang Istri: Ketiganya merupakan kombinasi dari latihan meditasi-raja, pengetahuan-gyana dan pekerjaan-karma dan kemudian bhakti adalah warna dasarnya. Meditasi yang bukan raja murni, tapi bhakti raja yoga. Pengetahuan yang bukan pengetahuan murni tapi bhakti jnana yoga. Dan karma sebagai pengabdian,bhakti karma yoga. Sang Suami: Apa pun yang kita kerjakan, kita lakukan dengan semangat pengabdian terhadap Yang Tunggal. Dan, sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun termasuk ucapan terima kasih sekali pun betul-betul menunjukkan sikap pengabdiannya tanpa pamrih. Hanyalah pekerjaan yang dilakukan dengan semangat mengabdi tidak berurusan dengan imbalan. Dan pekerjaan semacam ini belum pernah kita lakukan sebelumnya. Ini merupakan pesan sentral dalam Bhagavad Gita, yang anehnya juga tidak dipahami oleh mereka yang sudah khatam dengan Bhagavad Gita

puluhan bahkan ratusan kali. Bhagavad Gita adalah kitab umat manusia yang relatif pendek. Jika disalin, keseluruhannya akan mengisi 20-an halaman A4. Banyak orang yang memilih kebiasaan untuk membacanya setiap hari. Namun karena sekedar membaca dengan tujuan khatam, maka tidak terjadi apa-apa……… Sang Istri: dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri kita. Tidak lebih dari itu. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri kita. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam diri, kita akan mulai melihat kekasih kita di mana-mana. Dia ada di Selatan dan di Timur, di Utara dan di Barat, Dia di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang kita lakukan akan menjadi pemujaan. Kita tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang kita lakukan, kita lakukan demi cinta kasih. Kita harus memahami definisi Pengabdian secara benar, karena sudah sering sekali kita gagal mengenali seorang Pengabdi. Konsep kita tentang Pengabdian salah. Kita percaya bahwa seorang Pengabdi akan menolak, akan menyangkal dunia materi dan merangkul dunia rohani yang abstrak. Tidak, mereka yang melakukan hal itu karena pelarian, tidak dapat disebut seorang Pengabdi……… Menerima atau menolak, kita tidak dapat melakukan keduanya sekaligus dan bersamaan. Pengabdi menerima segala sesuatu yang ada dalam Keberadaan ini. la mencintai semuanya. la tidak berurusan dengan kebencian, penolakan atau penyangkalan. Biji mangga tidak dapat tumbuh menjadi pohon apel. Ini bertentangan dengan hukum alam. Saat kita menolak dunia, kita sedang menabur bibit kebencian. Bagaimana kita dapat berharap akan pohon cinta dan Pengabdian? Mereka telah lupa cara merayakan kehidupan. Mereka tidak dapat menyanyi, bisu, tidak dapat berdansa di bawah sinar matahari dan cahaya rembulan. Jika ini merupakan hasil Pengabdian, jika ini adalah hasil akhir dari kepercayaan mereka, terserah mereka. Kita tidak berkepentingan apa pun dengan Pengabdian ala mereka itu, dengan religiositas ala mereka itu…….. Pengabdi tidak pernah serius, dia tidak pernah bermuka panjang dengan penampakan serius. kita akan menemukannya menerima hidup secara keseluruhan. Ia akan menerima hidup secara total. Kita akan melihat dia menari, bernyanyi dan berpesta. Dia selalu ceria. Pengabdi akan membuat hidupnya menjadi perayaan cinta kasih yang tak pernah berakhir dan dia akan mengundang siapa saja untuk bergabung dalam perayaannya. Entah mereka berkulit putih atau sawo matang atau kuning, dari kelompok kepercayaan A, B atau C. Seorang Pengabdi, seseorang yang sungguh religius akan berhenti mencari, karena ia telah bertemu dengan Sang Kekasih. la senang, puas. la berada dalam keadaan kebahagiaan yang sempurna…….. Sang Suami: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaaatau

Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalahMaadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya……… Sang Suami: Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara Saadhanaa Panchakam” disampaikan…….. Mengabdilah selalu pada Yang Mahamemiliki. Mengabdi kepada siapa? Berbakti kepada siapa? Kepada mereka yang mengaku mahatahu dan mahamemiliki? Kepada mereka yang telah menyadarkan hak kita untuk berpikir dan berperasaan? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Kepada mereka yang ingin menguasai kita? Tentunya tidak. Mengabdilah kepada Ia Yang Maha Memiliki. Kepada ia yang adalah Pemilik Tunggal Alam Semesta. Kepada Dia yang disebut Hyang Widhi oleh orang Hindu, Adi Budha oleh orang Buddhis, Bapa di Surga oleh orang Kristen, dan Allah oleh orang muslim. Dia pula Tao Yang Tak Terungkap, dan Kami Yang Tak Terjelaskan namun dapat “dijalani”, dilakoni dalam keseharian hidup. Dialah Satnaam para pemuja Sikh, Sang Nama Agung Yang Berada di Atas Semua Nama. Janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu. Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri……… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaanOnepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu……. Terima kasih Bapak Anand Krishna

Medan Kurukshetra Dalam Diri, Renungan Ke-40 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi mereka untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, baru saja kita menghulang kembali file wejangan yang ada dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 5/2007………. Ketika seorang Sadguru mendirikan ashram atau padepokan yang menjadi harapan Beliau adalah menghadirkan suatu wadah dimana setiap orang yang ingin mewarnai hidupnya dengan spiritualitas dapat belajar bersama. Belajar bersama untuk meraih “Ananda” – kebahagiaan sejati. Jika ada satu orang yang meraih kebahagiaan – maka terpenuhilah tujuan suatu ashram. Dalam perkembangannya dibentuk juga sayap-sayap organisasi untuk memperkaya kebahagiaan, atau lebih tepatnya memperdalam “ananda”. Harapan tujuan awal adalah “ananda” terlebih dahulu, sehingga Sadguru dapat berbagi dengan orang lain. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan ashram dan sayap-sayap lainnya mestinya selalu mengingat Satu Tujuan yaitu Ananda tersebut. Setiap orang butuh kebahagiaan dan sedang mencari. Namun lucu sekali, dalam pencarian itu mereka sering lupa tujuan. Dan, terjebak dalam kenyamanan dan kenikmatan sesaat. Sang Suami: Benar istriku, dalam artikel tersebut juga disampaikan bahwa banyak orang yang lupa pada tujuan awalnya……… Apakah akan selalu terjadi seperti itu? Ya, selalu. Seorang artis, yang mendalami meditasi, kemudian tetap ingin bertahan dengan kemewahannya dan tidak berubah menjadi sederhana – tidak akan pernah meraih Ananda. Seseorang yang masih terobsesi dengan aksesori bermerek, kemudian memaksa diri untuk berubah tapi tidak pernah berhenti memikirkan hal-hal tersebut – tidak akan meraih ananda. Seseorang yang masih memikirkan kenyamanan bagi tubuh dan kenikmatan bagi indera masih berada pada lapisan jasmani sepenuhnya. Dia pun tidak akan meraih ananda. Let me put it straight, untuk meraih Ananda kau harus siap untuk hidup menjadi seorang fakir, seorang pengembara. Adalah hal lain jika Keberadaan mengangkat derajat seorang fakir dan menjadikannya seorang raja. Pengangkatan seperti itu sama sekali tidak merubah jiwa sang fakir, dia tidak terikat dengan sesuatu apapun. Melihat seorang Krishna yang begitu tampan dan necis, kita boleh bertanya apa bedanya dia dengan seorang “selebriti”? Beda. Apakah para “selebriti” kita mampu merubah Kurukshetra menjadiDharmashetra? Sang Istri: Dalam topik artikel tersebut juga disampaikan…….. Apa maksudKurukshetra dan Dharmakshetra? Kurukshetra adalah hidupmu dan hidupku – carut-marutnya kehidupan. Keliaran dan kebiadaban, kebuasan, dan segala sesuatu yang merendahkan derajat manusia. Ketika seseorang lebih mempercayai

penampilannya – potongan rambutnya, bajunya, kendaraannya – dia berada diKurukshetra. Don’t ask me what is Dharmakshetra. Sadguru tidak rela untuk menjelaskan this secret of trade kepada mereka yang tidak layak, belum siap. Sadguru pengikut Krishna, Yesus dan Muhammad – segenggam mutiara yang dimiliki Beliau akan diberikan kepada the selected few. Kawanan babi yang bodoh tak pernah menghargai mutiara. Sang Suami: Sadguru melanjutkan……… Sebegitu keras tegurannya? No, not harsh……… kasihan. Pikir babi, mutiara itu makanan. Dia menelannya, lalu dia kecekik. Lalu dia malah menyerang kembali seorang Sadguru. Sudah cukup babi-babi yang dihadapi Beliau. Sekarang, Beliau akan membiarkan babi tetap menjadi babi. Itulah kodratnya. Seorang Sadguru tidak bisa merubah mereka jadi manusia. Ya, kalau ada manusia yang bersikap seperti babi – Sadguru akan tetap berusaha untuk menyadarkan manusia, “Hei, kamu bukan babi, kamu manusia!” Jika dia tersadarkan, Beliau akan merasa diberkati, dan dengan senang hati akan dibuka genggaman Beliau. “Silakan mengambil sendiri berapa mutiara yang dapat kau ambil. Ingat, Keberadaan terus menerus mengisi genggamanku. Seberapapun yang kau ambil, jumlah mutiara digenggamanku tetap sama. I tell you all this because i consider you as my friend.” “Saya harus menjelaskan semua ini sehingga kau tahu persis bahwa permen yang kadang-kadang kuberikan sama sekali tidak berarti. Berharaplah untuk mendapatkan mutiara. Let me share with you another secret, sampai sekarang jumlah butir-butir mutiara ini masih utuh. Tidak ada satu orangpun yang berusaha untuk mengambilnya. Berusahalah, I’m here to give, to share…..” Sang Istri: Suamiku, aku sedang memperhatikan esensi spiritualitas. Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan…….. Aatma ada di dalam Paramaatma. Tanpa Paramaatma, tidak adaaatma, “aku” berda dalam “Sang Aku”, tanpa “Sang Aku”, “aku” tidak dapat eksis. Inilah esensi spiritualitas. Inilah intisari filsafah dan ajaran-ajaran yang berkembang di Timur. Kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari Semesta. Merugikan orang lain berarti merugikan Semesta dan merugikan diri sendiri, karena kita tidak terpisah dari Semesta. Silakan mencelakakan orang lain, tapi jangan lupa konsekuensinya. Bersiap-siaplah untuk menanggung akibatnya. Hari ini, besok, atau lusa, kau pasti calaka pula. Apa yang kau berikan kepada Semesta, itu pula yang kau peroleh dari-Nya………. Sang Suami: Benar istriku, seorang Sadguru nampak sering mengulang-ulang pelajaran tentang spiritualitas dan dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan penjelasan dari tindakan tersebut…….. Apa boleh buat? Bukan kemauanku untuk mengulangi pelajaran yang sama setiap hari…. Aku terpaksa mengulanginya, karena hingga saat ini pun kalian tidak memahami pelajaran pertama. Bagaimana beranjak ke pelajaran berikutnya? Kita memang bolot. Kita tidak memahami maksud Guru, maka terpaksa setiap hari ia mengulangi pelajaran yang sama. Pengulangan itu bukanlah untuk dia, tapi untuk kita. Dalam ayat-ayat Bhagavad Gita, Krishna pun mengulangi beberapa hal yang telah dijelaskannya dalam percakapan sebelumnya. Dengan cara itulah, seorang master

melakukan pemboran dalam otak kita. Dengan cara itulah, ia menciptakan ruang kosong supaya dapat menampung sesuatu yang baru.ia membantu kita untuk mengosongkan otak, untuk mempersiapkan diri bagi sesuatu yang berguna, bagi Keberadaan, bagi Alam, bagi Tuhan, bagi pencerahan, bagi kesadaran, bagi pemahaman yang betul , bagi pengetahuan yang berguna……….. Sang Istri: Buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” juga menyampaikan penjelasan tentangDharmakshetra……… Krishna hanya mengenal satu “kshetra”, dan itulah “Dharmakshetra” – Medan Dharma, Kebajikan, Keadilan, dan Kebahagiaan Sejati! Krishna mengajak kita untuk bermain dengannya di lapangannya. Dan, ia menjemput kita. Melihat kilauan wajahnya, saat itu kita tertarik. Atau, barangkali setelah jenuh bermain di Kurukshetra, kita menerima ajakannya. Kemudian, selama beberapa lama kita pun bermain bersamanya di Medan Dharma. Tapi, karena kita tidak memahami perbedaan antara “kuru” dan “dharma”, antara “kebaikan atau kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan”, dan “kebaikan atau kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, kebaikan umat manusia”, maka kita balik lagi ke Kurukshetra………. Sang Suami: Istriku, kita perlu memahami esensi dharma. Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” disampaikan pesan Bhisma Kakek Agung Pandawa dan Korawa kepada Yudistira……… “Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik, itulah Adharma”. Bhishma terlebih dahulu menjelaskan apa yang “bukan dharma”, Disharmony, Disunity and Conflict. Ketiganya inilah sifat adharma. Ada apa siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecahbelah bangsa adalah adharma. Ia tidak mengetahui arti dharma. Dan, segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah Dharma. Dharma mengakhiri ketakserasian, perpecahan dan konflik atau ketegangan. Makanya tidak bisa diselewengkan. Tidak bisa diputarbalikkan. Dharma, Walau dapat diterjemahkan sebagai syarat, tidak bisa dikaitkan dengan akidah salah satu agama. Ia tidak tergantung pada pemahaman para alim ulama yang lebih sering menyelewengkan makna ayat-ayat suci demi kepentingan diri, kelompok, dan tidak kurang dari itu. “Dharma strengthens, develops unity and harmony”. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian demikian menurut Bhishma. Unity. Persatuan, bukan kesatuan. Unity bukanlah keseragaman. Ituuniformity. Perbedaan sekitar kita, antara kita, dapat dipertemukan, dipersatukan………. Sang Istri: Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”disampaikan kata kunci untuk mencapai tujuan spiritual………… Kata kunci di sini adalah “saadhanaa”, yang dalam bahasa sufi disebut “jihad” – upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri pada Tuhan.Saadhanaa atau jihad bukanlah sesuatu yang kita lakukan untuk memperoleh materi. Tidak. Untuk itu, silakan berkarya, silakan bekerja, silakan membanting tulang, silakan berkeringatan. Saadhanaa atau jihad adalah upaya sungguh-sungguh untuk membebaskan diri dari ilusi yang disebabkan oleh materi. Untuk melihat “kebenaran rohani” di balik bayang-bayang jasmani……….. Semoga……….Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Identitas Diri Anak Kecil Renungan Ke-41 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan setelah dipahami harus dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan artikel-artikel serta buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang Suami: Istriku, mari kita berolah-rasa tentang identitas diri…… Pengetahuan tentang baik dan buruk yang kita terima sejak kecil membentuk pola pikiran bawah sadar kita, sehingga pola tersebut hampir menjadi permanen. Akan tetapi kita juga sering tidak sadar bahwa pola-pola yang telah terbentuk tersebut kadang saling bertabrakan dan membingungkan diri kita sendiri. Kita mempunyai nilai tersendiri bagaimanakah identitas seorang saleh dan identitas seorang pendosa. Kita mempunyai banyak identitas diri misalnya sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai teman, sebagai laki-laki dan lain sebagainya. Karena pekerjaan, kita mempunyai juga identitas sebagai dokter, pengacara, pelatih, pengurus, alumni perguruan tinggi dan seterusnya. Pengetahuan juga menambah jumlah identitas kita sebagai orang bijaksana, matang, tegas, lembut, ramah dan masih banyak 1001 macam identitas lainnya. Persoalan bisa timbul setiap saat, misalnya pada waktu seorang laki-laki dewasa berbicara berdua dengan seorang perempuan cantik. Berbagai identitas bertikai, identitas sebagai laki-laki, sebagai suami, orang saleh, perayu, pemberi nasehat, dan ratusan identitas yang lain,yang semuanya bertikai memperebutkan dirinya. Contoh sederhana yang lain, uang di dompet sedang tipis, tetapi seorang sahabat mau pinjam duit, kita mau mempertahankan identitas sebagai sahabat yang baik atau kepala keluarga yang baik. Diri kita sering tidak tenang, karena berbagai identitas pribadi kita saling bertikai. Apa yang disebut kebahagiaan adalah suatu keadaan dimana sebagian besar pertikaian ini mereda. Kita menjadi polos dan tidak tergantung identitas ciptaan pikiran kita sendiri. Kita tidak terbelenggu identitas masa lalu dan bagaimana identitas kita di masa depan, di mata orang lain. Sang Istri: Ketika kita masih bayi, dalam diri kita tidak ada pertikaian ini, karena bayi tidak mengalami konflik tentang hasrat-hasratnya. Belum ada pengetahuan tentang identitas antara orang saleh dan pendosa. Kebaikan dan keburukan mulai dipelajari ketika ibunya mengatakan suatu tindakan itu dengan anggukan atau gelengan kepala, ya atau tidak, boleh atau jangan, mana tindakan yang disukai ibu atau tidak. Dan si bayi mulai belajar menyenangkan ibunya. Kalau saja yang dikehendaki dirinya dan ibunya sama, dari dalam diri dan luar diri sejalan tidak ada masalah. Akan tetapi begitu dari dalam diri dan luar diri berbenturan mulailah timbul konflik. Benih rasa bersalah dan tindakan munafik sudah mulai tertanam. Temperamen “tak takut” si bayi mulai tercemar. Si bayi mulai menyangsikan nalurinya sendiri. Pertikaian di dalam diri sudah dimulai sejak kecil……. Apabila kita

melakukan tindakan negatif kepada bayi yang masih polos, ia akan menangis atau berpaling. Suatu reaksi yang sehat untuk melepaskan energi-energi negatif, yang kalau tidak dilepaskan akan melekat dalam memori pikirannya. Seiring dengan bertambahnya usia, belajar dari pengalaman, anak tidak selalu bisa melampiaskan ekspresi secara spontan, demi, kesopanan, tahu diri, mematuhi orang tua, dia menjadi terbiasa tidak melepaskan energi-energi negatif. Sebagai orang dewasa kita telah menyimpan kemarahan, dendam, frustasi ketakutan selama bertahun-tahun. Kita sudah melupakan naluri untuk melepaskan energi negatif. Simpanan emosi negatif inilah yang harus dikeluarkan dengan cara ”cleansing” agar kita kembali kepada kepolosan anak kecil…….. Sang Suami: Istriku, bukan hanya emosi negatif, pola pikiran lama yang membelenggu pun perlu di “cleansing”. Setiap manusia lahir dengan sifat genetik bawaan, kemudian pola pikirannya dibentuk oleh orang tua, pendidikan dan lingkungan. Apapun yang dianggap benar oleh seseorang adalah “benar” menurut pola pikiran yang dimilikinya. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan menyebabkan beda pola pikiran. Itulah yang membuat setiap manusia unik. Hanya dengan menyadari pola yang membelenggu tersebut dan membebaskan diri dari pola pikiran lama seseorang akan sampai pada suatu hal yang universal……. kepolosan anak kecil. Kepolosan anak kecil adalah suatu keadaan yang amat berharga. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. “Anak kecil” di sini mewakili “ketulusan”, “keluguan” dan “kepolosan”. “Seperti anak kecil” berarti “keadaan no-mind“- di mana ego sudah tidak ada lagi. Rasa angkuh dan arogansi pun tidak ada lagi……… Sang Istri: Secara tidak sadar kita menghilangkan kepolosan anak-anak kita demi konsep yang kita pegang. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Anda tidak mencintai anak-anak. Anda tidak membimbing mereka. Anda menuntut! Anda ingin mereka hidup untuk Anda, bukan untuk diri mereka sendiri. Anda ingin mereka mengikuti kepercayaan Anda. Anda mengebiri anak-anak, Anda ingin mereka memakai sepatu yang ukurannya sama dengan Anda. Anda kejam! Anda mengkondisikan mereka. Anda memaksakan ide dan pandangan-pandangan Anda kepada mereka. Anda tidak membiarkan anak-anak tumbuh berdasarkan apa yang mereka sendiri yakini. Mereka tidak diperbolehkan hidup berdasarkan bimbingan dari hati nurani mereka sendiri. Mereka tidak boleh menghidupi kehidupannya sendiri. Mereka harus menjadi robot bagi Anda. Anda membuat mereka begitu tergantung kepada Anda. Betapa kejamnya! Untuk menyembunyikan rasa bersalah ini, Anda menggunakan uang, materi. Anda berbelanja dengan boros, membeli barang-barang yang tidak merupakan kebutuhan dan atas nama cinta memberikannya kepada anak-anak Anda. Anda memanjakan mereka. Anda membungkusi rasa bersalah Anda dengan kertas kado kebahagiaan materi yang tidak berarti bagi mereka. Mereka membutuhkan kasih Anda. Apa yang

Anda lakukan bukan cara mendidik yang baik. Anda hanya mengulangi perbuatan orang tua Anda terhadap Anda. Anda sebenarnya tidak pernah tumbuh dan sekarang Anda menghalangi pertumbuhan anak-anak Anda. Anda ingin mereka menjadi fotokopi Anda. Anda berperan sebagai pengawas di rumah tahanan dan anak-anak Anda menjadi narapidana yang sedang menjalani hukuman………. Sang Suami: Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan…….. Yesus memberikan ciri-ciri seorang pengikut. Jika Anda belum “pas” dengan ciri-ciri tersebut, jangan menganggap diri Anda seorang pengikut. Seperti anak kecil yang hidup di atas lahan milik orang lain….. Ciri Pertama, seorang pengikut harus berjiwa tulus, berhati polos—seperti seorang anak kecil. Ciri Kedua seorang pengikut harus sadar bahwa dunia ini bukan miliknya. Berarti, ia tidak terikat dengan dunia benda. Apakah Anda polos, tulus, lugu seperti seorang anak kecil? Apakah Anda tidak terikat dengan dunia benda? Jika ya, Anda seorang pengikut Yesus. Ciri Ketiga seorang pengikut, begitu tidak terikatnya dengan dunia benda, sehingga siap untuk meninggalkannya kapan saja. Siap menghadapi kematian raga kapan saja. Siapkah Anda?…….. Sang Istri: Konsep sebuah ajaran pun bisa membelenggu dan kita menjadi menjadi tidak polos lagi. Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan……… Kebenaran setiap ajaran, setiap kitab suci akan terungkapkan, bila seseorang sudah terbebaskan dari kesombongan intelektual dan melepaskan pendapat-pendapat kaku. Mau tak mau, saya harus memperhalus bahasa Tilopa. Kasihan, orang tua. Salah ngomong sedikit bisa kena cekal. Padahal, Tilopa benar. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran……… Sang Suami: Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan” disampaikan……… la yang telah berserah-diri sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi, ialah seorang Muslim sejati. Ialah yang disebut “Insannya Tuhan” oleh Rumi. la menjadi tulus, polos, lugu seperti seorang anak kecil. Dan kepolosannya itu, keluguannya itu, ketulusan dan kesederhanaannya itu mengundang Rahmat Ilahi, mengundang Kurnia Allah. Bagaikan seorang ibu, la yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang melindungi “Insannya Tuhan”. Jangan meragukan Kepedulian-Nya. Yakinilah Kasih-Nya. Lepaskan dirimu di Pangkuan-Nya……….. Sang Istri: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Terjemahan Bebas Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Para penyokong modern Law of Attraction seperti Rhonda Byrne, yang menjadi terkenal

lewat karyanya “The Secret” dan, pasangan Esther dan Jerry Hicks yang meraih kesuksesan fenomenal setelah buku mereka berjudul “Money and the Law of Attraction”, kiranya menempatkan joy atau keceriaan sebagai emosi tertinggi. Oleh sebab itu, setiap orang yang hendak “memanfaatkan” Hukum Ketertarikan untuk meraih keberhasilan mesti berada pada tingkat emosi yang tertinggi itu. Berada pada tingkat itulah “keinginan” berubah menjadi “kenyataan”. Berada pada tingkat itulah keceriaan menarik keceriaan. Kebahagiaan mengundang kebahagiaan……… Bagaimana Pendapat Yesus? Yesus menggunakan keadaan generik untuk menjelaskan maksud-Nya, “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”. Seorang anak kecil tidak hanya ceria saja, ia juga lugu, polos, jujur, tidak berpura-pura, dan tampil apa adanya dalam segala kesahajaannya, sebagaimana adanya. Itu adalah keadaan awal kita, ketika pikiran belum cukup terbentuk dan emosi belum cukup berkembang. Keadaan itu bukan satuan pikiran atau thought; bukan gugusan pikiran, atau mind; bukan intelek, atau intellect; dan bukan pula emosi atau emotion. Karena tidak ada kata untuk menjelaskan keadaan ini dalam bahasa Aramaik maka Yesus menjelaskannya dengan menggunakan analogi keadaan seorang anak kecil. Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “tatha”……….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Renungan Akhir Tahun 2010: Film The Legend Of Bagger Vance, Membangkitkan Kearjunaan Dalam Diri Renungan Ke-42 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan setelah dipahami harus dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan artikel-artikel serta buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Suamiku, kita baru saja membaca ulasan seorang sahabat tentang film dasawarsa yang lalu yang mempunyai kesan mendalam bagi diri kita, “The Legend of Bagger Vance” dari blog http://joehanes.blogsome.com/ . Sutradara Robert Redford mengadaptasi sebuah Novel Steven Pressfield berjudul “The Legend of Bagger Vance: A Novel of Golf & The Game of life.” Steven Pressfield sendiri mengakui bahwa penulisan novel ini terinspirasi oleh Kitab Bhagavad Gita, yang berisi percakapan antara Sri Krishna dan Arjuna. Dalam cerita ini Rannulph Junuh ( diperankan Matt Damon ) yang dipanggil dengan” Junah”, Sang Arjuna yang sedang kehilangan authentic swing “jati diri,” dan Bagger Vance (diperankan Will Smith) yang dipanggil dengan “Bhagewans”, Sang Bhagavan, atau Sri Krishna penasehat Arjuna dalam kitab Bhagavad Gita. Sang Suami: Junuh tadinya adalah pegolf handal kebanggaan masyarakat Savanah, Negara Bagian Georgia yang mempunyai pacar cantik putri seorang pengusaha lapangan golf di wilayah tersebut. Junuh ikut berperang dalam perang dunia pertama dan mengalami depresi karena berbeda dengan di lapangan golf, dia gagal memimpin pasukannya dalam peperangan dan semua anak buahnya mati terbunuh. Melarikan diri dari trauma kekecewaan , Junuh kemudian hidup mabuk-mabukan melupakan kehidupan bermasayarakat dan menjauhi sang pacar…….. Kita semua juga pernah menjadi manusia yang sempurna karena kita semua berasal dari Yang Mahasempurna. Kekecewaan beruntun ribuan kali disebabkan perasaan suka-duka yang dialami di dunia mayapada ini membuat kita lupa akan “authentic swing”, kesempurnaan diri yang pernah kita punyai karena kita telah terbenam dalam rawa mayapada, mabuk duniawi. Sang Istri: Dikisahkan bahwa sang pacar ingin membangkitkan bisnis keluarganya sekaligus membangkitkan semangat masyarakat Savannah yang tenggelam dalam depresi global di tahun-tahun sebelum 1930-an. Sang pacar mengadakan turnamen pegolf antara dua pegolf nasional Amerika di Savanah. Untuk membangkitkan semangat masyarakat setempat, atas saran para pemuka masyarakat dia diminta membujuk Junuh agar ikut bermain dalam golf yang berhadiah 10 ribu dollar tersebut…….. Junuh sudah kehilangan semangat dan lupa bagaimana memukul golf. Adalah Bagger Vance yang datang kepadanya dan memberi semangat hidup agar dia kembali menemukan “authentic swing” yang telah terkubur dalam kesedihan

berkepanjangan. Sang Bagger Vance bersedia menjadi caddy-nya yang akan selalu menasehati dalam pertandingan tersebut……..Begitu kasihnya Sang Bhagavan sebuah wujud keilahian yang selalu membimbing manusia setiap saat. Kita tinggal bilang ya, mengikuti petunjuk Ilahi dan Dia akan membimbing kita setiap saat……. Sang Suami: Di tengah masyarakat yang “down” karena depressi global, Sang Bhagavan memilih Junuh untuk mengembalikan semangatnya sehingga Junuh sadar akan perannya di tengah masyarakat……. Arjuna juga dalam keadaan depresi berat sewaktu perang Bharatayudha akan dimulai, kelicikan para Korawa dankesusahan Pandawa dalam masa pembuangan selama duabelas tahun, membuat kepercayaan dirinya jatuh. Sang Bhagavan Krishna sebagai sais kereta perang Arjuna mengingatkan “jati diri” Arjuna sehingga dia bisa bangkit kembali untuk memenangkan perang melawan adharma. Sang Istri: Junuh dalam keputusasaanya, mencari pembenaran bahwa dia sudah tidak bisa memukul golf lagi, authentic swing-nya telah punah dan tidak dapat diketemukan lagi. Junuh memberikan alasan-alasan akurat mengenai kegagalannya untuk menemukan kembali authentic swing-nya. Bagger Vance menasehatinya dengan berbagai cara, sehingga keyakinan Junuh bangkit kembali….. Sang Suami: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……. Janganlah mencari pembenaran terus-menerus. Berhentilah mencari pembenaran. Akuilah kelemahan diri Anda. Hadapilah kelemahan diri Anda. Dan ubahlah menjadi kekuatan. Jangan mengharapkan bantuan dan dukungan dari orang lain, dari siapa pun juga! Ketahuilah bahwa puncak gunung Himalaya pun dapat anda taklukkan, jika Anda menghendakinya. Ketahuilah bahwa arus angin pun dapat Anda hadang, jika anda menginginkannya. Sadarlah akan kekuatan diri Anda! Katakan “tidak” terhadap ketidakwarasan, ketololan dan kebodohan. Katakan “ya” terhadap kewarasan dan kesadaran, apa pun risikonya. Jadilah sebuah mercu-suar. Jadilah sebuah pelita…….. Perhatikan kepolosan dan keluguan yang masih utuh, yang masih belum luntur, yang masih bisa ditemukan pada wajah anak-anak kecil. Dan Anda pun akan setuju dengan Gibran. Kepolosan wajah-wajah mereka, keluguan anak-anak kecil menjadi saksi nyata bahwa mereka tidak dilahirkan dalam dosa. Mereka tidak dilahirkan karena dosa. Keberadaan kita di sini bukanlah untuk mempertanggung-jawabkan dosa-dosa leluhur kita. Kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara. Dan kita berada di sini untuk memainkan peran kita. Apa pula peran itu? Menurut Gibran: meniti jalan ke dalam diri, menemukan keindahan yang ada dalam diri kita. Itulah tujuan hidup. Itulah peran kita. Pernyataan Gibran tegas dan jelas, “Kepercayaan dan ajaran yang melemahkan jiwa tidak berguna sama sekali.” Anggapan bahwa kita berdosa dan mengucapkan hal itu berulang kali setiap hari akan melemahkan jiwa. Lalu jiwa yang lemah ingin menutupi kelemahannya dengan menguasai orang lain, dengan menimbun harta, dengan mengejar kesaktian. Demikian jiwa yang lemah justru menjadi keras. Demikian, manusia kehilangan kemanusiaannya……. Kepercayaan-kepercayaan yang justru melemahkan diri manusia, ajaran-ajaran yang justru merampas kebebasan dia, peraturan-peraturan dan dogma-dogma semu yang sudah kadaluwarsa harus ditinggalkan. Pembenaran Anda,

justifikasi Anda sangat tidak masuk akal. Bagaimana Anda bisa mempertahankan sesuatu yang sudah tidak relevan lagi? Dan apabila Anda masih saja ngotot dan ingin mempertahankannya, Anda hanya membuktikan kebodohan diri…….. Sang Istri:Pada pertandingan putaran pertama, kedua pegolf nasional bermain cantik dengan cara khas mereka, sedangkan Junuh bermain buruk dan jauh tertinggal di belakang . Pada putaran kedua, dengan nasehat bijak caddy Bagger Vance, Junuh menemukan kembali nya “Authentic Swing” sehingga pada putaran ketiga mereka bertiga memiliki nilai yang sama. Pada babak terakhir, Junuh lalai akan nasehat Bagger Vance, bermain buruk, sehingga dia memukul bola sampai ke hutan. Di hutan, Junuh justru mengingat kilas balik trauma Perang Dunia Pertama yang dialaminya. Nasehat Bagger Vance membantu dia untuk meletakkan trauma ke belakang dan fokus pada pukulan golf. Junuh mulai mengesampingkan egonya dan mendengarkan nasihat sang caddy yang menyarankan Junuh untuk menyadari secara seksama alam sekitarnya. Bagger Vance menerangkan bagaimana pencerahan dalam diri manusia terjadi lewat Ekagrata, onepointedness. Yang harus diupayakan hanyalah menjaga keselarasan diri dengan alam dan menyadari bahwa semuanya adalah kesatuan yang utuh. Diri Bagger Vance ataupun upaya Junuh tak dapat membawa kepada pencerahan, karena pencerahan akan memilih Junuh sendiri bila diri-nya sendiri sudah siap….. Sahabat kita mencatat pesan bermakna dalam film tersebut……. “There is only one shot that’s in perfect harmony with the field. One shot that is his authentic shot. And that shot is gonna choose him. There’s a perfect shot out there tryin’ to find each and every one of us. All we gotto do is get ourselves out of its way. Let it choose us……. He is in the field. You got look with your soft eyes to see the place where holes and seasons…… and turnin’ of the earth all come together. When everything there is become one”……… Sang Suami: Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment” disampaikan tentang onepointedness…….. Istilah ini sangat sulit untuk diterjemahkan: Memfokuskan Diri dengan “Pikiran yang Tak Bercabang”. Sesungguhnya one”pointed”ness jauh lebih berfokus daripada fokus. Maka, saya menambahkan “dengan pikiran yang tak bercabang”. Fokus pada suatu titik tidak menghilangkan segala sesuatu di sekitar titik itu. Persis seperti saat mengambil foto. Kita boleh berfokus pada suatu objek, namun apa yang ada di sekitarnya tetap ada. One “pointed”ness menghilangkan, melenyapkan segala sesuatu sekitar titik fokus. Seluruh kesadaran kita, pikiran kita, terpusatkan pada titik itu. Ini bukan konsentrasi. Konsentrasi adalah urusah pikiran saja. Dan, pikiran tidak pernah stabil, selalu naik turun, tidak bisa berada lama di suatu tempat atau pada suatu titik. Lagi pula, konsentrasi mesti selalu diupayakan. Sementara itu, one “pointed”ness bisa terjadi tanpa upaya, asal ada niat, hasrat, dan keinginan yang kuat “terhadap” titik yang dituju. Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one “pointed “ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan……… Sang Istri: Irama permainan golf menyerupai irama kehidupan. Tujuannya adalah menemukan authentic swing dalam diri yang terlupakan. Diri kita pun memiliki

kesempurnaan, hanya kita telah melupakannya, tertutup suka-duka mayapada duniawi. Bagaimana mendapatkan kemampuan kembali kesempurnaan itulah ajaran Bagger Vance, Sang Bhagavan. Setiap pemain golf bisa merasakan pukulan terbaik yang dapat mereka lakukan dalam setiap permainan. Dalam diri setiap orang ada satu “authentic swing”. Sesuatu yang lahir bersama kita. Itu adalah jati diri yang ada pada setiap manusia sejak dirinya dilahirkan. Jati diri ini tak dapat dipelajari tapi seharusnya diingat. Sang Suami: Sahabat kita Anoop menutup resensi filmnya dengan kalimat cantik……. Dari sudut pandang spiritualitas, kehidupan ini bak permainan yang tidak dapat dimenangkan, tapi kita dapat ikut berperan dan bermain di dalamnya. Maka kita terus bermain sampai tiba saatnya kita memahami peran kita di dunia ini. Bagger Vance once said, “It is a game that can’t be won, only play. So I play, I play on. I play for the moment yet to come, looking for my place in the field.”…….. Dan, seorang Bagger Vance akan selalu menyertai kita sampai kita menemukan jati diri dan apa yang harus kita lakukan di dunia ini, pada masa kehidupan ini………. Semoga……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Renungan Di Awal Tahun 2011: Merasa Lebih Mengerti Tentang Diri Daripada Guru, Renungan Ke-43 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Kali ini mereka membuka catatan lama, sharing dari para sahabat. Mereka mengutip sharing tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang Suami: Istriku, semakin lama belajar lewat media spiritual, baik lewat buku-buku, newsletter, maupun artikel-artikel Bapak Anand Krishna, serta beberapa kali ikut audiensi langsung, membuat diri ini semakin merasa bahwa begitu banyaknya butir kehidupan yang selama ini terabaikan karena kita merasa sudah paham…….. Kita menjadi sadar bahwa sebelumnya kita tidak tahu apa-apa dan baru setelah bertemu Guru mulai terbuka pintu-pintu yang sebelumnya kita abaikan, dan masih akan banyak hal yang akan kita ketahui bila kita tidak berhenti belajar karena merasa sudah paham tentang kehidupan……… Musuh utama datang sebagai keangkuhan diri yang merasa sudah paham tentang kehidupan, padahal sumber mata air pengetahuan Guru tak ada habisnya. Merasa sudah tahu membuat kita berhenti dan menutup kembali kesempatan terbukanya pintu-pintu lanjutan yang akan nampak bila kita selalu bersama Guru. Hutan belantara kehidupan ini begitu penuh marabahaya bagi kesadaran diri dan melepaskan diri dari Sang Pemandu membuat kita menjadi tersesat kembali. Bagaimana pun kita perlu bersyukur pada kemajuan zaman yang memungkinkan kita mendengarkan panduan Sang Pemandu, walau fisik berada di tempat yang berbeda…… Sang Istri: Suamiku, bukankah kita menjadi malu sendiri saat membaca sharing seorang sahabat yang tertulis dalam Torchbearer Newletter no 6 tahun 2007dengan judul “Mampukah Aku Bersujud di dalam Kehendak-Mu”……….. Begitu kasihnya sahabat tersebut terhadap Guru, dan tidak ada sesuatu yang kebetulan bila kita membaca ulang dengan insight yang berbeda………. Ketika tangan melakukan ini dan itu, sejatinya bukanlah aku. Ketika mulut menyuarakan ajaran-Mu, itu juga bukan aku. Ketika badan dan pikiran ini melakukan sesuatu atas nama organisasi itu pun bukanlah ‘aku’ ku. Semua terjadi bukan karena aku. Bukan Aku…Bukan Aku….” Masih jelas di ingatan bahwa dulu ketika saya beribadah kepada-Nya, maka 90% dari doa hanya berisi permintaan. Entah permohonan kehidupan yang lebih baik, bebas dari penderitaan atau kegagalan dalam kehidupan. Sampai suatu saat ada sebersit keinginan berbeda yang terpicu oleh cerita-cerita para sufi, terutama Rabiah Al Adawyah-Sang Wanita Suci. Ternyata ada cara beribadah lain selain daripada yang telah kukenal selama ini. Ibadah yang lebih manis dan indah. Sehingga hanya dengan mengingat cara peribadatannya saja, mampu membuat bibir ini tersenyum dan hormon-hormon kegembiraan memenuhi rongga dada. Namanya, CINTA! Rabiah bisa begitu larut dalam kemabukan Cinta-Nya. Ibadah ini tak perlu dipaksakan, apalagi direkayasa. Tapi begitu alami mengalir dari kedalaman jiwa kita sehingga setiap sel dari pikiran kita seolah larut dalam mabuk Cinta-Nya. Kita tidak mampu lagi membedakan mana kewajiban dan mana hak kita. Yang ada hanyalah keinginan

untuk melayani, melayani dan melayani-Nya………… Sang Suami: Benar istriku, sahabat muda tersebut melanjutkan tulisannya, by the way bukankah hampir semua sahabat kita masih muda dan kita pun diminta merasa muda……. Sahabat tersebut menulis……… Wahai Keberadaan! Anugerahi kami dengan hati seorang ‘pecinta’, sehingga hati kami mabuk kepada-Mu dan seluruh pelayanan kami pada-Mu hanyalah menjadi kesenangan bagi kami. Dalam setiap retret seringkali saya menyaksikan CINTA menyapa kita semua hingga kita tak dapat membendungnya sampai-sampai tawa dan tangis pun bingung dengan “fungsi ekspresi” dirinya. Saat CINTA menyapa, tawa dan tangis pun muncul seolah lupa waktu. Masing-masing berlomba untuk muncul di dalam diri seorang yang sedang tersentuh oleh-Nya. Seolah-olah setiap ekspresi sedang meledak karena tak sanggup mengandung-Nya. Begitu indah! Sampai-sampai hanya sebuah senyuman saja yang dapat mengungkapkan bagaimana rasa-Nya. Adalah Guru yang menjadikan kita tidak hanya sebagai “pembaca kisah dari para pecinta” saja, atau hanya sekedar “pendengar” dari keagungan ‘Pertemuan Agung’. Namun Guru yang membiarkan kita langsung mencicipi-Nya. Hanya dengan sentuhan seorang Guru, kita dapat mengalami CINTA. Entah berapa ribu kisah para pecinta yang harus kita baca untuk mengalami secercah keindahan-Nya. Tak cukup waktu hanya dengan membaca dan berhalusinasi tentang-Nya, kemudian berhenti pada rasa kagum yang dibalut iri-hati pada para pecinta dalam kisah-kisah tersebut. Namun “hanya dengan berserah diri, dan sedetik sentuhan-Nya, serta sekilas tatapan-Nya maka kita pun mengalami-Nya”………. Sang Istri: Sahabat tersebut meneruskan sharingnya…….. Tetapi, seringkali kita pun terjebak pada satu harapan untuk selalu mabuk, dan melayang dalam alam CINTA, tetapi sering juga lupa dan menyepelekan segalanya, termasuk perintah seorang Guru. Itu pun kita abaikan, karena saya hanya ingin senang-senang dan mabuk dengan kehadiran-Nya saja, tak peduli lagi dengan anjuran-Nya. Seperti seorang kekasih yang mabuk Cinta setiap kali melihat kekasihnya, namun ketika Sang Kekasih mengajak melakukan sesuatu maka perasaan malas, ragu, dan takut segera muncul sebagai ikatan yang kokoh di kaki kita……. Mungkin hubungan dengan cara kebiasaan lama yakni ‘hubungan dagang’ masih membelenggu. Atau lebih buruk lagi, karena kita telah berdagang lalu senantiasa mengharapkan keuntungan yang lebih besar dari apa yang telah kita lakukan…….. Guru telah membersihkan dan mengubah kita, namun sering kebijakan-Nya justru kita pertanyakan. “Kenapa sih urusan spiritual kok mengeluarkan biaya? Kenapa sih banyak aturannya? Kenapa sih aku tidak terus menerus disapa dan dipuji? Kenapa sih hanya orang tertentu yang bisa dekat Guru? Dan, kalau sudah dekat, kenapa sih seorang Guru banyak permintaan? Malah ngurus-ngurus kehidupan berpolitik segala. Kenapa sih harus ikutan organisasi? Memangnya ada hubungannya dengan spiritualitas? Kenapa sih duduk di kelas harus rapi? Kan kadang-kadang enak juga bisa duduk di belakang dan sedikit ngobrol. Kenapa juga harus ikutan nyanyi saat bhajan? Padahal lagi ingin menikmati saja. Bukankah itu bisa bikin hati lebih bahagia? Kenapa, kenapa dan….kenapa? Sang Suami: Sahabat tersebut mengakhiri sharingnya dengan permohonan maaf……..

Guru, maafkan kami karena terlalu banyak pertanyaan “kenapa”. Semua karena ego yang masih berkarat. Lihat saja ketaksadaran ini, “Aku lebih tahu apa yang terbaik bagi perkembanganku, bukan engkau, Guru. Meski engkau selama ini kuanggap sebagai ‘pembimbing dan junjunganku’. Kalau hal tersebut menyenangkan egoku, okelah aku akan ikut. Namun kalau itu merendahkan egoku, nanti dulu deh biar yang lain aja duluan.” Biarkan aku di jarak aman ini saja……. Guru, maafkanlah…… maafkanlah muridmu ini yang telah kau berikan kemewahan hingga dapat duduk dekatmu, makan bersamamu, tertawa bersamamu, memegang tanganmu, mencium kakimu. Dan sering kali semua itu dapat kami lakukan tanpa perjuangan. Tidak seperti Radha yang harus bersusah payah. Tidak seperti Ali, yang harus merelakan dirinya menjadi pengganti Muhammad, Sang Guru, di malam penculikannya. Tidak seperti para murid Osho yang harus membayar mahal dan antri sekian bulan hanya untuk bertanya. Sampai Engkau pun, Guru harus selalu berkata, “Ada yang ingin bertanya?” Tidak seperti para murid a Global Master yang hanya untuk bertanya saja harus menunggu kesempatan di antara jutaan orang, tapi kami dengan tidak sopannya kadang menyela Engkau. Maafkan kami yang tidak sadar meski kemewahan ini telah kau berikan, kami masih bertanya, “KENAPA SIH ?” hampir di tiap anjuran dan ajaranmu…….. Semoga kami sadar bahwa kenikmatan sujud di bawah kaki-Mu akan lebih agung bila kami dapat juga sujud ketika menjalankan ajaran-Mu, perintah-Mu dan keinginan-Mu. Sadarkanlah kami bahwa sujud yang paling utama itu adalah menjalankan ajaran-Mu, wahai Guru yang penuh Kasih…….. Sang Istri: Suamiku, aku sulit berkata….. mata ini dipenuhi air dan siap menetes setiap bicara…… Sang Suami: Benar istriku……. aku juga tidak bisa komentar lagi. Biarlah pembicaraan ini menjadi penyela pembicaraan kita di awal tahun 2011 dan menggeser puluhan pembicaraan yang telah kita siapkan sebelumnya……. Ini bukan pembicaraan kita……. Biarkan hati ini tetap terbuka…… biarlah mulut ini sementara tertutup……….. Salam Kasih……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Warisan Kebijaksanaan Seorang Sahabat Yang Telah Berpulang Di Penghujung Tahun 2010. Renungan Ke-44 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi dapat meresap ke dalam diri sebagai pupuk sehingga benih rasa kasih dapat tumbuh dan berkembang di dalam diri. Sang Suami: Ayat Gusti bertebaran di mana-mana. Setiap saat Gusti selalu mengirimkan ayatnya kepada kita. Hanya karena kita terlalu terfokus pada tujuan memenuhi kepuasan pikiran dan pancaindra. Hanya karena kita hanya terfokus pada terkabulnya harapan kita. Hanya karena kita terbelenggu bahwa ayat-ayatnya sudah diabadikan dalam kitab tebal……. Kita melupakan ayat-ayatnya yang selalu dikirimkan-Nya setiap saat. Kita bisa memahami bahwa Kitab dianggap sebagai manual Keberadaan yang mendasari pola pikiran kita. Kita juga bisa menerima bahwa Kitab bersifat universal dan berlaku bagi semua makhluk. Akan tetapi masih ada petunjuk, ada panduan bagi pribadi-pribadi dalam mengarungi kehidupannya. Yang kami sebut sebagai “ayat yang diperuntukkan bagi kita pribadi yang selalu dikirimkan-Nya setiap saat”……… Surat Kabar Harian Daerah, Suara Merdeka memberikan ilustrasi bahwa setiap orang membutuhkan tanah dengan ukuran panjang 2,5 m dan lebar 1,5 m atau seluas 3,75 m persegi untuk keperluan masa depan, saat orang tersebut dimakamkan nantinya. Dengan jumlah warga Kota Semarang 1,5 juta jiwa maka idealnya memerlukan makam seluas 583 hektar. Kemudian ruang taman kota dan kantor memerlukan 61 hektar, sehingga total kebutuhan tanah untuk keperluan tersebut mencapai 644 hektar. Lahan Taman dan Pemakaman Umum yang telah ada seluas 267 hektar, sehingga masih membutuhkan tanah seluas 377 hektar…….. Oleh sebab itu adalah wajar bahwa mencari tanah makam di kota besar semakin sulit. Selain sulit juga mahal, dengan harga tanah kota Rp. 1 juta per m persegi saja maka dibutuhkan dana sebesar 3,77 Trilyun rupiah agar lahan tersedia bagi seluruh warga……… Sayangnya ilustrasi tersebut tidak dipandang sebagai ayat dari Tuhan…….. Beberapa surat pembaca sering mengeluhkan tentang sulitnya meninggal di kota besar. Makam begitu cepat penuh, sehingga orang dengan KTP lain wilayah, tidak boleh dikebumikan di suatu wilayah makam. Tanah makam suci yang menyediakan lahannya bagi jasad manusia, sudah dikapling-kapling menjadi milik wilayah tertentu, menjadi milik orang yang mampu mendapatkan, dan ada yang tidak boleh dimasuki kelompok lain. Bisa dimaklumi, disebabkan begitu banyaknya pendatang baru di suatu wilayah, sehingga mereka yang merasa asli karena sejak lahir turun temurun di wilayah tersebut tak mendapat jatah kapling makam lagi. Mereka yang punya uang dengan berbagai cara dapat mendapatkan kapling yang baik dan strategis. Akan tetapi, tidakkah sanak keluarganya sadar bahwa tindakan mereka memperoleh kapling bagi calon jasad familinya tersebut membikin keadaan menjadi semakin sulit bagi mereka yang tidak punya? Haruskah siapa yang kuat yang

memperoleh? Haruskah liberalisasi masuk ranah kapling makam? Sang Istri: Suamiku, bukankah belasan tahun yang lalu secara kebetulan kita pernah melihat dengan mata kepala sendiri salah seorang teman dimakamkan di kota suci Madinah. Sehabis didoakan di Masjid, jasad dibawa lari dan segera dimasukkan lubang dan ditutup tanah. Konon setelah beberapa waktu sisa-sisa tulang belulangnya dipindah ke tempat lain dan bekas lubangnya yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Masjid tersebut bisa dipakai calon jasad lain……. Adakah solusi bagi kebutuhan makam penduduk di kota besar di Indonesia? Tanah di kota besar sangat berharga bagi mereka yang hidup, dan dapat terkendala pemanfaatannya karena akan dipakai untuk lahan pemakaman. Kita bukan seorang ahli hukum agama, kita dan semua teman-teman yang peduli hanya merasa perlunya sebuah terobosan bagi masyarakat agar bisa meninggal dengan cara hemat lahan………. Almarhum sahabat kita yang baru saja berpulang di penghujung tahun 2010, mempunyai keluarga yang harmonis, putra-putrinya taat pada orang tua, kehidupan keluarganya penuh suasana harmonis dalam bermasyarakat. Agama baginya tidak membuat hubungan kekeluargaan berubah. Dia seorang Katholik yang taat, akan tetapi saat ada saudaranya yang kawin dengan seorang muslim, dia yang melamarkannya. Istrinya juga mempunyai saudara-saudara bergama Buddha dan juga Islam. Menantunya juga dari berbagai etnis. Kemudian setiap hari untuk melepaskan ketegangan pikiran dia melakukan Reiki. Dari beberapa pembicaraan, kita tahu bahwa dia menghormati semua agama, dia sangat peduli dengan kemanusiaan yang ditunjukkannya kepada mereka yang mengungsi saat bencana Gunung Merapi….. Dan dia sekarang memilih jasadnya dikremasi……. Sang Suami: Almarhum dengan beberapa teman pernah berdiskusi, bagi mereka yang tidak terkendala adat-kebiasaan, kremasi merupakan salah satu jalan yang baik. Abu jenazah bisa dibagikan kepada putra-putrinya sehingga tidak perlu setiap tahun “nyekar” di makam yang jauh dari tempat tinggalnya. Bila putra-putrinya sepakat abunya bisa disimpan di Taman Memorial ataupun dipersembahkan kepada alam semesta di bengawan atau laut……. Bukankah menjelang ke tempat krematorium, kita juga berbicara dengan seorang sahabat yang berada di sebelah kita, yang menyampaikan bahwa ibunya seorang muslim, tetapi jasadnya dikremasi pada waktu meninggalnya?…….. Sebuah pandangan yang cukup jernih bagi kemanusiaan…….. Dan, sebuah keberanian untuk melakoninya…… Untuk itu biarlah para ahli hukum agama mencari terobosan peraturan yang dapat dipakainya sebagai pijakan. Akan tetapi para ahli hukum tersebut mestinya memikirkan kepentingan dan kemaslahatan manusia secara keseluruhan bukan urusannya pribadi atau kelompoknya…… Sang Istri: Adat dibuat untuk manusia dan manusia jangan sampai terkendala oleh adat yang sudah tidak selaras dengan zaman. Bagaimana pun Kebenaran memang relatif. Dalam buku “Vadan, Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan” disampaikan……. Sebagaimana kau melihat suatu “keadaan”, demikianlah, “ada”-nya bagimu (Kebenaran memang relatif, sepenuhnya tergantung pada cara pandang kita, dari sudut mana kita memandangnya. Yang melihat kebenaran seutuhnya tetap saja tidak bisa menolak mereka yang melihat kebenaran dari satu sisi saja, karena sisi yang

mereka lihat itu benar juga. Demikian kurang lebih maksud Sang Maestro)………… Bagaimana pun mestinya Alam lebih tinggi dari Adat. Dalam buku “Vadan, Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan” tersebut juga disampaikan……. Sifat dasar manusia tidak berkepentingan dengan adat atau kebiasaan. (Bisa juga diterjemahkan: Alam tak terkendali oleh adat. Alam lebih tinggi dari adat. Adat adalah bagian dari alam. Adat bersifat sementara. Alam langgeng, abadi. Alam tak tertaklukkan oleh adat. Dan, sesungguhnya sifat dasar manusia bersifat “alami”. Sifat dasar seorang bayi bukanlah produk suatu adat. Adat dan kebiasaan adalah pemberian masyarakat dimana dia lahir. Saat baru lahir, manusia tidak memiliki adat. Tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan adat. Silakan ber”adat” dan ber “kebiasaan”, tetapi sadarlah bahwa jatidirimu melampaui segala kebiasaanmu. Manusia berada di atas adat. Adat diciptakan untuk menunjang kebidupannya, untuk meringankan bebannya, untuk dapat membuat hidupnya lebih nyaman. Saat ini, adat justru menjadi beban. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah harus diubah masih dilestarikan)………. Sang Suami: Bagi yang berpegang pada hukum fisik atau syariat, perlu berpikir jernih bahwa tujuan akhir syariat itu apa? Dalam buku “Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari” disampaikan……. Tujuan akhir syariat yaitu memanusiakan manusia, menjadikannya manusia sempurna atau insan kamil. Pada saat yang sama, syariat juga tidak disejajarkan dengan Tuhan, dan kemanusiaan yang merupakan inti ajaran-ajaran agama. Sebagai jalan menuju Tuhan, syariat senantiasa diperbaharui dan dibenahi. Tak ada keterikatan fanatik terhadap peraturan-peraturan dan tidak dibenarkan atas nama kepercayaan dan peraturan agama. Esensi agama dikawinkan dengan budaya setempat sebelum dipraktikkan dalam hidup sehari-hari……. Dari syariat, sekarang kita beralih ke Tareqat, jalan, atau metode. Kaitannya dengan Malqut atau alam Bawah Sadar, The Subconscious Mind, Svapna Avasthaa, keadaan Mimpi, Kesadaran dalam Alam Mimpi. Inilah Alam Para Malaikat, Alam Para Dewa, Alam Energi. Sesungguhnya syariat tidak dapat diterapkan dengan baik tanpa sentuhan Tareqat. Untuk mencintai sesama manusia dan sesama makhluk hidup, aku harus sadar akan Medan Energi Yang Maha Luas, di mana kita semua Bersatu………. Sang Istri: Dalam buku “Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari” disampaikan……. Syariat adalah hubungan dengan luar. Tareqat adalah hubungan dengan diri. Sebab itu, syariat masih dapat dibuat standarnya berdasarkan esensi ajaran agama, adat-istiadat yang masih relevan dengan zaman dan budaya setempat. Tareqat tidak dapat dibuat standarnya. Tareqat merupakan sesuatu yang amat sangat pribadi. Setiap orang harus menemukan sendiri jalannya, dan berjalan sendiri. Syariat menentukan peraturan umum makan dan minumlah sekucupnya untuk bertahan hidup. Tareqat menentukan kebutuhan individu apa saja yang harus dimakan, diminum, sehingga apa yang dikonsumsi sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan……… Sang Suami: Kemudian, dengan melakoni Tareqat, seorang mencapai tingkat Marifat. Disini, pemahaman para sufi Lingkaran Dalam di Sindh agak berbeda dari pemahaman umum, di mana Marifat merupakan tingkat keempat setelah Haqiqat.

Para sufi di Sindh memahami Marifat, kadang juga disebut Maharfat atau “lewat”, sebagai proses peningkatan kesadaran yang pada akhirnya mengantar mereka pada Hakekat Diri……… Marifat kaitannya dengan Superconscious Mind, Alam Kesadaran Supra, Nidraa Avasthaa, Alam Tidur tanpa Mimpi, Jabrut, kekuatan diri, pemberdayaan diri. Berada di alam ini, seorang Nabi mendengar suara Allah. Malaikat pun tak dapat mendampinginya lagi. Alam Malqut telah dilewatinya terlebih dahulu. Wahyu, wangsit, intuisi, apa pun sebutannya, diperoleh dalam alam ini, di dan dari alam ini. Akan tetapi, Marifat pun harus ditinggalkan demi Haqiqat kebenaran sejati, Turiyaa, Alam yang tak terjelaskan, Lahut………. demikian uraian dalam buku “Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari”. Sang Istri: Bila kita rumuskan kembali: Pertama, Syariat, Pedoman perilaku. Tujuannya Nasut, kemanusiaan. Jaagrat Avastha, Kesadaran Jaga, The Conscious Mind, Awake, Alert. Kedua, Tareqat, Jalan. Tujuannya, Malqut, Energi. Svapna Avasthaa, kesadaran mimpi, the subconscious mind. Ketiga, Marifat, peningkatan kesadaran. Tujuannya jabrut, pemberdayaan diri. Nidraa Avasthaa, kesadaran tidur pulas tanpa mimpi, the superconscious mind. Keempat, Haqiqat, kebenaran sejati. Tujuannya Lahut, menyatu dengan lautan kesadaran murni, Ilahi, Nidraa Avasthaakesadaran keempat yang tak terjelaskan, No Mind, Beyond Mind. Terakhir Mohabbat, Kasih Sejati, Ilahi, Tak Terbatas, Melampaui Waktu dan Tempat, yang merupakan hasil Penemuan Diri atau Haqiqat…… Sang Suami: Seorang Sufi menerjemahkan Mohabbat dalam hidup sehari-hari. Itulah syariatnya. Itulah pedoman perilaku baginya. Setiap pikiran, ucapan serta tindakannya berwarnakan kasih. Karena itu, syariat para sufi berbeda dari syarat kita. Dunia kita menuntut keadilan, hukum dan keadilan harus ditegakkan. Dunia para sufi hanya mengenal kasih, bagi mereka memaafkan itulah tertinggi, dan bersabar itulah yang paling adil. Demikian, para sufi menjadi mismatch dengan masyarat kita, mereka terasa tidak seirama dengan masyarakat luas……… Istriku, pembicaraan kita sudah melantur ke mana-mana, biarlah para ahli hukum agama berpikir tentang syariat, tareqat, marifat dan hakikat dari permasalahan tanah makam yang tetap akan menjadi masalah tanpa solusi yang tepat……… Bagaimana pun kita perlu menghargai mereka yang yakin dan kemudian berani melakoninya sehingga menjadi pionir bagi kemaslahatan manusia…….. Selamat jalan sahabatku yang telah melakoni dengan penuh keyakinan dan telah membuktikan bahwa agama dan etnis serta adat-kebiasaan tidak menjadi kendala dalam berbuat baik demi kemaslahatan manusia……. Berani jugakah kita untuk melakoni keyakinan kita?……. Semoga…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Melepaskan Gundu-Gundu Yang Telah Tergenggam Erat Renungan Ke-45 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru tentang keterikatan sebagai bahan introspeksi. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif-intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Wisdom yang repetitif-intensif dipakai sebagai pupuk bagi benih kasih di dalam diri. Sang Istri: Suamiku, kita baru saja mengulangi membaca artikel dalam kolomSecangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 6/2007. Dalam artikel tersebut disampaikan……. Apakah yang menyebabkan tiada seorang pun yang bisa memperoleh mutiara yang ditawarkan seorang Sadguru? Seorang Sadguru telah mengatakan berulang kali bahwa gundu-gundu di tangan kita harus dilepaskan. Harus dibuang. Gundu-gundu itu tidak berharga sama sekali. Bagaimana Sadguru dapat memberikan sesuatu, bagaimana kita dapat menerimanya jika genggaman kita masih penuh? Walapun Sadguru sudah sering memperingatkan, namun kelihatannya kita semuanya seperti amnesia. Ingat selama dua hari, namun setelah itu lupa. Inilah penyakitnya. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Sadguru berulang kali. Adalah pergaulan yang membuat kita lupa. Pergaulan harus diperbaiki, jika kita tidak secara 100% memutuskan hubungan dengan mereka-mereka yang tidak menunjang perkembangan spiritual kita, maka upaya kita tidak lebih dari sekedar menggali lubang-tutup lubang…….. Sang Suami: Benar istriku, untuk itu seorang Sadguru sering memberi tugas untuk menunjang peningkatan spiritual……….. Satu hal yang perlu diingat adalah: tugas apa pun yang diberikan oleh Sadguru selalu terkait dengan perkembangan spiritual. Guru tidak mengurusi hal lain. Seandainya Guru memberi tugas untuk berbisnis, untuk menjual buku misalnya, tentu yang beliau maksud adalah menjual buku yang dapat mencerahkan batin kita. Guru tidak akan menganjurkan seseorang untuk menjual novel chicklit…misalnya. Ironisnya, kadang mereka yang Beliau beri tugas seperti itu tidak dapat membedakan antara spiritualizing commerce dancommercializing spirituality. Dalam kalimat “menjual buku spiritual” – bagi Guru “spiritual” itu yang penting. “Menjual buku” hanyalah suatu kegiatan untuk menunjang spiritualitas kita. Dengan menyebarkan pencerahan, kita pasti ikut tercerahkan. Ketika seseorang lebih memperhatikan kegiatan “jual-menjual” – yang terjadi adalahcommercializing spirituality. Guru mengerti bahwa untuk memahami hal ini kita membutuhkan jiwa pemberani, kesediaan untuk berkorban, dan semangat untuk berkarya tanpa pamrih. Tanpa itu, memang sulit untuk membedakan apa yang dimaksud dengan spiritualizing commerce. Mereka yang berhasil to spiritualize commerce – kelak pada suatu ketika akan tahu sendiri betapa efektifnya cara itu untuk menciptakan keadaan yang menunjang spiritualitas kita di tengah keramaian dunia yang tidak waras ini………

Sang Istri: Untuk melepaskan keterikatan kita diajari untuk mengembangkan semangat altruism…… Sebenarnya Sadguru sudah mengajarkan kita untuk mengembangkan semangat altruism, namun mengapa masih banyak di antara kita yang belum paham? Sejak lima ribu tahun yang lalu Sri Krishna telah berbicara tentang hal yang sama. Ia menyampaikan hal itu kepada Arjuna di medan perang Kurukshetra. Seruan itu terdengar dari para founding fathers kita seperti Bung Karno. Hasilnya: kemerdekaan Indonesia. Walau hasil itu tidak pernah menjadi tujuan. Bung Karno dan para founding fathers lainnya hanya berkarya. Mereka memproklamasikan kemerdekaan bukan untuk kepentingan pribadi mereka. Proklamasi kemerdekaan itu atas nama bangsa dan rakyat Indonesia. Keberhasilan mereka tidak dapat dipisahkan dari semangat altruism tersebut……… Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan perlunya semangat untuk berkarya……… Pikiran yang jernih menunjang semangat tersebut. Emosi yang stabil sehingga tidak mengganggu karya tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Bung karno, dia berdiri di atas kakinya sendiri – BERDIKARI. Ketika Bung Karno mempopulerkan istilah tersebut, sesungguhnya ia mengajak seluruh bangsa untuk mengembangkan spiritualitas diri. Dia tidak akan menunggu undangan untuk berkarya atau melayani. Dia akan mencari kesempatan untuk berkarya dan melayani. Kadang dia sedang membantu kita untuk menumbuhkembangkan rasa cinta bagi Ibu Pertiwi. Kadang dia mengurusi lingkungan, flora dan fauna. Kadang dia berbicara tentang makanan, kadang dia berdoa di tepi pantai. Kau akan menemukan dia di tengah keramaian dan hiruk pikuknya dunia ini dalam keadaan tenang. Tidak berarti hidup dia tanpa gangguan dan pasang surut. Hidup dia barangkali lebih hectic daripada hidup kita. Kadang dia pun bingung bagaimana menghadapi semuanya. Namun dia tidak pernah berlama lama dalam keadaan bingung. Saat ini dia masih menitikkan air mata, saat berikutnya dia sudah mengangkat kembali tongkatnya yang sudah patah dan berjalan untuk menyapa kita…….. Sang Istri: Artikel tersebut membahas 2 hal pokok yaitu keterikatan pada hal yang tidak bermanfaat bagi pengembangan spiritual dan berkarya tanpa pamrih. Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…….. Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu, keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya. Kita terikat dengan rambut lebat yang masih hitam, maka uban dan botak sudah pasti menyedihkan. Kita terikat dengan harta benda yang terkumpul selama hidup, maka kematian menjadi sulit. Sementara itu, alam tidak pernah sedih karena pergantian musim. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap saat……. Sang Suami: Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” disampaikan……… Sanyas berarti pelepasan. Melepaskan apa? Tentu saja, melepaskan keterikatan kita. Bekerja, namun tidak terikat pada hasil akhirnya. Keterikatan kita menunjukkan betapa seriusnya kita menghadapi kehidupan ini. Padahal, hidup ini bukan sesuatu yang serius. Pelepasan juga berarti melepaskan

keseriusan kita………. Kemudian dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan…….. Bagi seorang Narada,how atau “bagaimana” lebih penting daripada what – apa. Dan technical know-howdia sungguh mudah dikuasai, pertama: Hindari pemicu hawa nafsu, amarah, dan keterikatan. Kedua: Dekati mereka yang sudah berhasil melampaui semua itu……… Begitu sederhana! Tetapi tidak begitu gampang, not that easy. Terbang bersama Narada berarti melepaskan keterikatan dengan harta dan tkhta, dengan rumah dan keluarga. Terbang bersama Narada sama seperti mengikuti Isa, harus memikul kayu salib masing-masing. Nabi Isa pernah mengajak seorang pedagang untuk terbang bersama. Sebelumnya, dia disuruh membagikan harta kekayaannya kepada fakir miskin. Si pedagang tidak berani. Tidak siap. Namanya juga pedagang. Ajakan Sang Nabi tidak sesuai dengan kalkulasi dagangnya, “Apa jaminannya bahwa aku akan masuk Surga? Sudah membagikan harta benda kepada fakir miskin, bila tidak masuk Surga juga, wah celaka tigabelas!”…………… Sang Istri: Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” tersebut juga disampaikan………. Bagaimana membebaskan diri dariMaya – dari kesadaran ilusif, dari kesadaran rendah yang mengikat jiwa kita, membelenggu batin kita? Hindari Duhsanga – pergaulan dan lingkungan yang tidak menunjang pertumbuhan kasih di dalam diri. Dekati mereka yang sudah menemukan kebenaran di dalam diri, Satsanga. Dan engkau akan menjadiNirmamah. Engkau akan berhasil melampaui kesadaran ilusif – ke-“aku”-anmu yang tak bersubstansi. Nir berarti “bukan, tidak, tanpa”. Mamah berarti “ke-‘aku’-an” – kesadaran ilusif, Maya. Nirlaba berarti “tanpa keuntungan” atau non-komersil.Nirmamah setingkat lebih tinggi dari Nirlaba. Yang dinafikan, ditiadakan, di negasi bukan hanya keuntungan, tetapi ke-“aku”-an dan rasa kepemilikan. Satsanga bisa menciptakan kesadaran Nirmamah, asal mereka yang Anda dekati dan “gauli” betul-betul para Satsangi – mereka yang sudah dekat dengan Kebenaran, yang sudah melampaui ke-“aku”-an. Ya, yang benar-benar Satsangi dan bukan sekadar menyandang “gelar” Satsangi, karena dengan gelar itu seseorang tidak serta-merta melampaui ke-“aku”-an. Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan….. Selama ini aku menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginanku, Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra. Mengapa? Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayangan-Nya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar dengan-Nya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan

mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu………. Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja ! Ya, akhirilah perbudakanmu, karena hanyalah engkau sendiri yang dapat mengakhirinya. Tak ada orang lain yang dapat membantumu karena kau tidak memperbudak pada orang lain. Kau memperbudak pada hawa nafsumu sendiri, pada pancaindramu sendiri. Tak seorang pun dapat membebaskan dirimu dari belenggu keterikatan dan kebodohan. Karena belenggu-belenggu itu adalah ciptaanmu sendiri. Kau telah menciptakan keterikatan bagi diri sendiri dan kau pula yang mesti mengakhirinya………. Sang Istri: Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” tersebut juga disampaikan bahwa…….. “Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra”. Inilah kesadaran awal. Tanpa adanya kesadaran awal ini, sungguh tidak ada harapan bagi kita. Dan, kesadaran ini muncul ketika kita mulai jenuh, ketika kita mulai susah bernapas. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menjadi jenuh? Bagaimana pula susah bernapas? Bukankah selama ini kita sudah terbiasa hidup dalam lumpur dan bernapas dalam lumpur? Ya, selama ini kita memang sudah terbiasa hidup dan bernapas dalam lumpur. Lumpur ini adalah lumpur pancaindra. Kita sibuk melayani segala kemampuan pancaindra. Sekarang, angkatlah kepalamu sedikit saja. Lihatlah ke atas, ke kanan, ke kiri. Ada dunia yang indah di balik kuala lumpur tempat kau tinggal. Kebebasanmu di dalam kuala lumpur ini adalah kebebasan yang semu……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Mendengarkan Bisikan Bunda Alam Semesta Renungan Ke-46 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das, buku-buku dan artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi mereka dapat menjadi pemicu pribadi mereka untuk memberdayakan diri. Mereka merasa benih kesadaran kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang dengan pupuk siraman wisdom setiap hari. Sang Istri: Suamiku, aku teringat sebuah wisdom dari buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”……… Lao Tze mengatakan bahwa suara hati nurani kita berasal dari sumber sama yang menyebabkan terjadinya segala sesuatu dalam alam ini. Kebijaksanaan yang tidak dapat ditandingi, itulah suara nurani kita. Tetapi, suara hati nurani ini tidak akan terdengar oleh para cendekiawan. Mereka yang membanggakan dirinya sebagai cendekiawan akan menjadi tajam, menjadi teknokrat, birokrat. Mereka bisa menjadi apa saja. Mereka dapat menduduki jabatan-jabatan tinggi. Tetapi mereka kehilangan kontak dengan sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan materi, suara hati mereka, kesadaran mereka. Sebaliknya, mereka yang sadar begitu percaya pada diri sendiri, sehingga tidak akan terikat pada identitas-identitas diri yang palsu. Mereka tidak akan menyombongkan diri mereka sebagai cendekiawan. Mereka akan semakin rendah hati. Pandangan mereka semakin lembut, tidak terfokuskan pada sesuatu. Mereka melihat dunia ini seutuhnya. Untuk meraih sesuatu, mereka tidak akan besikeras sedemikian rupa sampai-sampai tindakannya merugikan orang lain……… Sang Suami: Istriku, mari kita baca ulang artikel dalam The Torchbearers Newsletter 2/2006 pada topik Secangkir Kopi bagi Kesadaran. Dalam artikel tersebut disampaikan……… Mengapa air mengalir di kali? Mengapa angin bertiup? Mengapa burung berkicau? Tidak semua pertanyaan bisa dijawab. Tapi jika saya menggunakan secuil “otak” yang saya miliki, saya hanya bisa berkata bahwa Bunda Alam Semesta selalu berbicara. Ia tidak pernah berhenti menasehati, menegur dan menyapa anak-anak-Nya. Jika kita tidak merasakan kehadiran-Nya, karena kita selalu berisik, sibuk dengan kegiatan-kegiatan kita sehingga Bunda terlupakan. Ketika kita berhasil memisahkan diri dari kebisingan dunia, suara Bunda pun terdengar jelas. Kita hanya mendengar suara-Nya jika kita berhenti berbicara, berhenti mengoceh. Jika saat ini suara-Nya terdengar lagi, kemungkinannya hanya satu – bahwa pada saat-saat tertentu kita berhasil meredakan kebisingan di dalam diri. Dan, suara Bunda pun terdengar………. Sang Istri: Benar suamiku, dalam artikel tersebut disampaikan…….. Sejak dulu, setiap manusia memiliki pilihan yang sama. Antara Preya yang nikmat atau Shreyaatau mulia. Kita sering dijebak oleh panca indera kita sendiri untuk memilih yang nikmat. Bunda senantiasa mengingatkan kita untuk berpihak pada yang mulia.

Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat yang bertebaran di sekitar kita. Lihat saja mereka yang memilih kenikmatan, apa yang terjadi akhirnya? Siapa yang akan mengenang nama seorang konglomerat? Dia akan terlupakan oleh sejarah. Sebaliknya siapa yang dapat melupakan seorang fakir seperti Mahatma Gandhi? Teman-teman, kita harus meraih kecakapan untuk membaca ayat-ayat ini. Tujuan kita meditasi dan melakukan kegiatan-kegiatan lain semata-mata untuk meraih kecakapan ini……… Sang Suami: Dalam artikel tersebut juga disampaikan………. Saya pun harus mengerti jika seseorang yang sudah menyelami meditasi selama bertahun-tahun namun kemudian berbelok dan memilih kenikmatan, barangkali ada yang membenarkan pilihannya dengan dalih kebutuhan. Saya tidak percaya. Ketika kebutuhan bahkan dari sekedar kebutuhan sudah terpenuhi, dan kita masih juga berbelok – alasannya hanya satu, kita terjebak dengan permainan panca indera. Teman-teman yang melakukan hal itu terpaksa harus kita relakan……… Apa yang mereka dapatkan dari meditasi tidak pernah hilang. Kelak, pasti ada penyesalan, namun terlambat. Dan mereka harus memulai dari awal lagi. Barangkali juga mereka tidak akan menemukan apa yang mereka cari semudah yang mereka pernah temukan dengan cara semudah seperti sebelumnya. What can you do? Kita harus menghormati pilihan setiap orang, kendati pilihan itu kadang-kadang bodoh sekali. Sang Istri: dalam artikel tersebut disampaikan…….. Krishna berbicara kepada Arjuna di tengah-tengah medan peperangan Kurukshetra: “Keterlibatan diri dengan objek-objek duniawi menyebabkan keterikatan. Keterikatan membuahkan keinginan dan dari keinginan timbul amarah. Amarah membuat penglihatan manusia menjadi kabur….” That’s true. Saya akan berusaha untuk melihat apa yang menyebabkan keinginan sehingga jika keinginan itu tidak terpenuhi menimbulkan kekecewaan kemudian kita marah dan kehilangan akal sehat kita. Yang menyebabkan keinginan adalah kebiasaan kita melakukan window shopping. Kebiasaan kita bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran kita. Kebiasaan kita mengunjungi tempat-tempat yang tidak perlu dikunjungi. Jika saya setiap hari ke mall atau bergaul dengan orang-orang yang hidup dalam kemewahan – keinginan untuk hidup mewah seperti mereka sudah pasti timbul. Para Nabi di Timur-Tengah mengharamkan pemicu-pemicu seperti itu. Para Nabi di Timur-Jauh dan Asia-Tengah mengharapkan manusia bisa menolak semua pemicu karena kesadarannya. Saat ini kita harus memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi diri kita. Pendekatan Timur-Tengah, Timur-Jauh, atau Asia Tengah? Saya pikir kita butuh kombinasi dari semua pendekatan itu……… Sang Suami: Artikel tersebut juga memberikan ilustrasi……. Seorang teman yang kembali “tergoda” – diambil sebagai contoh. Pertama, selama mengikuti meditasi – dia tidak menjalaninya secara apa yang dalam Islam disebut Khafa – whole heartedly, sepenuh hati. Berarti apa? Latihan meditasi untuk menenangkan pikiran. Latihan-latihan lain untuk dekondisi. Tapi setelah itu kita harus menciptakan pikiran baru sesuai dengan kesadaran, ini yang disebut dengan Bodhichitta – kesadaran seorang Budha atau pikiran yang sadar. Untuk itu kita butuh menambah wawasan kita dengan menyelami beberapa literatur yang sudah tersedia. Kita juga harus

melembutkan jiwa kita dengan kegiatan-kegiatan lain yang juga sudah di adakan. Teman kita ini walau “hadir” namun tidak “mengikuti” semua kegiatan. Maka, gampang terpengaruh……… Pengaruh dari luar ini yang kemudian menjadi keinginan. Keinginan untuk melakukan apa yang orang lain lakukan. Keinginan untuk hidup mewah seperti mereka. Bahkan keinginan untuk menjadi pahlawan. Ada seorang ibu yang menghabiskan seluruh penghasilan suaminya dengan membiayai siapa saja dari pihak keluarganya sendiri. Rumah dia sudah menjadi kebun social animals. Dari adik hingga keponakan semua jadi pemalas karena dibiayai sepenuhnya. Ibu yang satu ini rentan terhadap pengaruh-pengaruh di luar…….. Kebutuhan adik saya yang sudah berpendidikan, tidak cacat, sudah bekerja, bukanlah urusan saya. Begitu juga dengan anak saya, dengan keponakan saya, dengan siapa saja. Kebutuhan saya adalah satu rumah, bukan dua. Jika saya mau mempertahankan dua rumah, saya harus memiliki penghasilan yang cukup. Jika tidak ada penghasilan yang cukup saya akan tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak menunjang kesadaran saya. Jadi, sebelum keinginan itu muncul dan menyeret kesadaran kita ke bawah – ada beberapa hal yang perlu kita awasi: 1. Jaga Pergaulan! 2. Kebutuhan diri diminimalkan! 3. Jangan menjadi sinterklas! Biarlah setiap orang menjalani hidupnya sendiri………. Sang Istri: Suamiku, dalam buku “Kundalini Yoga, Dalam Hidup Sehari-Hari” disampaikan…… “Anahat” berarti “Suara yang tak terdengarkan”. Yang dimaksudkan adalah hati nurani kita. Suara hati nurani tidak terdengarkan, tetapi terasakan. Chakra ini mengantar kita ke kesadaran Kasih…….. Dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra” disampaikan…… Suara Nurani Anahat Chakra. Anahat berarti Suara Yang Muncul Bukan Karena Friksi. Untuk bertepuk pun dibutuhkan dua tangan. Suara Anahat terdengar tanpa tepukan. Inilah Suara Hati, Nurani, yang hanya terdengar jelas bila kau dalam keadaan tenang, rileks, damai, ceria. Berada pada Anahat Chakra, kita memahami betul bahasa badan dan keluhan organ-organ di dalam tubuh. Sehingga manusia menjadi sehat secara alami. Ia akan menolak segala sesuatu yang tidak selaras dengan badannya, tidak sesuai dengan kebutuhannya……… Sang Suami: Dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” disampaikan……. Selama ini kita terlalu banyak bicara. Energi kita mengalir ke luar terus-menerus. Memperhatikan orang lain melulu, sehingga diri sendiri tidak terurus, sehingga suara nurani dan ilham pun tak terdengar. Kita lupa meniti jalan ke dalam diri……… Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Kebenaran dihasilkan oleh intuisi dan intuisi berkembang dalam keheningan. Intuisi melampaui instink-instink hewani Anda, melampaui pikiran dan logika, melampaui filsafat, dan hanya intuisilah yang dapat bertatap muka dengan Kebenaran. Biarkan dunia, menentang Anda – pikiran Anda mungkin mengatakan satu hal dan hati Anda mengatakan hal yang lain. Jangan ikuti mereka. Ikutilah intuisi Anda. Pada saat-saat awal, memang sulit, bahkan sangat sulit untuk mendengar suara halus intuisi Anda. Tetapi, jangan menyerah. Suatu saat mungkin Anda salah menangkap suara pikiran ataupun suara hati Anda sebagai intuisi. Lewat kesalahan-kesalahan Anda sendiri, Anda akan belajar. Saat

dalam kebingungan, duduklah diam bersama diri Anda. Rileks, berhenti sejenak, tenang dan Anda akan mulai mendengar suara halus intuisi Anda, intuisi yang sinonim dengan Kebenaran. Hanya apabila Anda berada dalam keadaan hening, intuisi mulai berfungsi. Tak peduli betapa populernya suatu kepercayaan, apabila suara halus intuisi Anda tidak mendukungnya, itu bukan diperuntukkan bagi Anda. Ikuti intuisi Anda sendiri. Sebutlah itu nurani Anda, atau mungkin intuisi Anda-apa pun yang Anda suka, itu adalah rahim yang mengandung Kebenaran. Inilah definisi saya tentang Kebenaran dan saya percaya bahwa Kebenaran ini sendiri saja yang dapat membuat Anda jaya, menang…….. Sang Istri: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Suara lembut hati nurani anda, adalah suara “wong cilik” dalam diri anda. Dengarkan suara hati anda. Biarkan diri anda dituntun olehnya. Jangan tergoda oleh suara keras mind yang selalu membingungkan. Mind tergantung pada fakta dan akan selalu menghitung laba-rugi. Sebaliknya, hati nurani mewakili Kebenaran – Kebenaran Hakiki, Kebenaran Ilahi di balik fakta-fakta yang terlihat oleh mata kasat. Hati nurani telah melampaui dualitas. la tidak mengenal laba-rugi. la akan mempertemukan anda dengan “hakikat diri”, dengan “jati diri”. Dan penemuan “jati diri” tidak bisa disebut keuntungan ataupun kerugian. Bahkan tidak bisa disebut “penemuan”. Anda tidak pemah kehilangan jati diri. Selama ini, anda hanya tidak menyadarinya. Dengarkan suara nurani anda……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Bhakti Merampas Keunikan Diri Renungan Ke-47 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang Berguru sebagai bahan introspeksi. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Mereka yakin repetitif intensif dari wisdom tersebut dapat berfungsi sebagai pupuk bagi benih kasih dalam diri. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca artikel dalam topik Secangkir Kopi Kesadaran dari The Torchbearers Newsletter 1/2008. Dalam artikel tersebut disampaikan……. Keunikan setiap orang merupakan akibat dari perbuatannya di masa lalu yang telah berubah menjadi sifatnya. Obsesi dari masa lalu; ingatan atau memori dari masa lalu; hubungan atau relasi dari masa lalu – semuanya itu membentuk pribadi yang unik. Oleh karena itu setiap orang memang unik adanya. Cara dia menempuh perjalanan hidup; cara dia merespon terhadap tantangan hidup – semuanya unik. Keunikan manusia ini terjamin sepenuhnya oleh hukum karma, hukum evolusi, dan hukum-hukum lainnya. Tapi keunikan ini pula yang menciptakan ego pribadi. Ego dalam pengertian “aku”. Selama kita masih berada dalam wilayah hukum karma, keunikan kita adalah jati diri kita. Keunikan ini diterima oleh para psikolog modern sehingga mereka akan selalu menganjurkan supaya kita tidak melepaskan ego kita. Ego yang unik ini adalah jati diri kita. Ada kalanya, ego ini bersifat liar – maka diciptakanlah syariat atau dharma untuk menjinakkan ego-ego yang masih liar dan berbisa. Keunikan manusia adalah sangat manusiawi. Tetapi, itu bukanlah monopoli manusia saja. Hewan pun unik. Tanaman dan pepohonan adalah unik. Bukit, gunung, kali sungai – semuanya unik. Madam Katrina dan Ni Made Tsunami adalah unik. Kamu unik. Aku unik. Dia unik……… Sang Suami: Benar istriku, tetapi tulisan dalam artikel tersebut dilanjutkan……… Tetapi, kemudian hadirlah seorang Krishna di depan kita yang secara jelas dan tegas mengajak kita untuk menyerahkan ego kita sepenuhnya untuk melepaskan keunikan kita sepenuhnya. Ajakan dia sungguh berat sekali untuk diikuti dan sangat membingungkan. Krishna berada di satu pihak, seorang diri – dengan ajakannya yang tidak masuk akal. Di pihak lain adalah para cendekiawan, ilmuwan, psikolog yang semuanya masuk akal. Dan mereka menasehati kita, berhati-hatilah dengan Krishna. Dia akan merampas segala-galanya darimu! Sebab itu, hanyalah para Gopal dan Gopi yang akan mendekati Krishna. Mereka tidak peduli dengan keunikan mereka. Karena, seunik apapun diri mereka – tokh hanyalah got, kali, dan sungai. Mereka telah menyaksikan luasnya lautan Kasih Krishna. Apa gunanya mempertahankan keunikan diri lagi? Setiap manusia memang unik. Kemudian, manusia-manusia yang telah menyaksikan yang telah menyaksikan kemulian-Nya memutuskan untuk melepaskan keunikan mereka masing-masing dan berbhakti pada Hyang Mulia……..

Sang istri: Benar suamiku dan tulisan tersebut dilanjutkan dengan……. Bhakti merampas segala keunikan kita. Seluruh kepribadian kita larut dalam bhakti. Sehingga dalam Shrimad Bhagavatam, Shuka sang pendongeng bahkan tidak mampu menyebut nama Radha. Radha telah larut dalam Krishna. Berhadapan dengan Krishna, Shuka masih bisa berdongeng dan bercerita tentang bhakti. Tetapi, berhadapan dengan Radha – dia larut. Krishna sungguh besar, sungguh akbar, sungguh mulia. Ia tak terjangkau oleh pikiran manusia. Ia tak terjelaskan oleh kata-kata. Ia bersemayam di dalam diri seorang Radha. Mereka yang tinggal di Brindhavan, Maha Prabhu Chaitanya dan para bhakta lainnya telah larut dalam Radha. Dalam tradisi Sufi, inilah yang disebut fana fi Mursyid. Biasanya kita menginterpretasi fana fi Mursyid sebagai tahap awal, kemudian lanjutkan dengan fana fi Rasul dan fana fi Allah. Ini adalah sebuah hipotesa. Ketika saya larut dalam diri Mursyid saya, maka pribadi saya lenyap tanpa bekas – yang ada hanyalah ……. Segala macam hipotesa terlupakan. Sang Suami: Artikel tersebut menyampaikan hal yang membuat kita tertegun……. Cinta masih di belakang layar. Ketika kau berhenti bertanya tentang definisi, saat itu terjadilah cinta. Bertanya tentang definisi berarti kita masih mau menimbang. Berarti masih belum siap. Kita masih mau cari tahu. Is it worthy? Tidak ada seorang Gopi pun yang bertanya kepada Krishna, apa arti cinta. Seperti yang dikatakan oleh Shri Rama Krishna Pramhansa, mereka hidup di tengah keluarga mereka tetapi hati mereka berada di tepi sungai Yamuna di mana Krishna sedang memainkan serulingnya…….. Keadaan kita terbalik, badan kita bersama Guru, dekat sekali – tetapi hati kita, seperti yang dikatakan oleh Yogananda, ada di Starbuck. Ketika kita sedang melayani – atau setidaknya menganggap demikian – saat itu pun pikiran kita di tempat lain. Ketika seorang Guru berada dekat kita secara fisik, kita masih bisa merasakan kedekatan fisik itu. Seorang Guru tidak merasakan kedekatan itu. Ia merasakan kedekatan jiwa. Oleh karena itu pikiran dan perasan kita tidak dapat ditutupi lagi. Dia merasakan sepenuhnya bila pikiran kita masih melayamh atau perasaan kita di tempat lain. Sang Istri: Benar suamiku, aku terngiang-ngiang pernyataan dalam artikel tersebut……… Memang sulit menjadi seorang bhakta. Krishna hanya memiliki seorang Radha. Isa hanya memiliki Maria Magdalena. Demikian pula Avatar dan Nabi lainnya. Tetapi, itu bukanlah pembenaran atas kelemahan diri kita kita. Jiwa kita telah berevolusi selama beberapa milenia sejak Radha dan Maria. Semestinya saat ini lebih banyak Radha dan Maria di antara kita. Dan, saya yakin pasti ada. Cuma kita belum ketemu saja. Kenapa? Karena kita tidak memiliki perasaan sekuat itu yang dapat mengundang mereka. Seperti apa yang disebut the law of attraction dalam the secret dan literatur lainnya……… Sang Suami: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan……. Orang bijak melihat kesatuan di balik perbedaan. Jangan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Perhatikan hal-hal yang bisa mempersatukan. Demikian, kau akan selalu jaya, selalu berhasil…….. Keberadaan tidak mengenal pengulangan. Karena Tuhan Maha Esa Ada-Nya, karena Allah Maha Kuasa Ada-Nya, setiap makhluk dalam alam ini adalah khas, unik. Perbedaan yang terlihat, justru membuktikan Kekuasaan-Nya, Keesaan-Nya. Perbedaan tidak bisa

dihindari. Yang harus kita hindari adalah pertentangan. Pertentangan yang disebabkan oleh kesadaran rendah. Pertentangan yang muncul karena kita mempermasalahkan kulit sapi dan tidak memperhatikan susu sapi……… Selama anda masih sibuk “membahas” Allah, “mendiskusikan” agama, “memperdebatkan” spiritualitas, anda tidak akan pemah bisa melihat kesatuan dan persatuan di balik hal-hal yang berbeda. Anda harus berwawasan cukup luas, sehingga dapat menerima pandangan-pandangan yang berbeda. Pada saat yang sama, anda juga harus memiliki kesadaran yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat keikaan di balik kebhinekaan. Tingkatkan kesadaran anda, lihatlah kesatuan dan persatuan di balik perbedaan, dan anda akan selalu jaya, selalu berhasil!……… Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak yang intinya demikian…….. Dalam Yohanes 3:3, Yesus menyampaikan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”. Dalam Yohanes 3:5, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Dalam Yohanes 3:6: “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”……. Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggung jawab terhadap darah dan daging. Kata orang, bagaimana pun juga, hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri. Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimana pun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”……. Dalam hal ini maka setiap orang mempunyai keluarga yang unik, masing-masing tidak sama……. Yesus mengatakan, “Kau harus lahir kembali dari roh dan air”. air adalah esensi kehidupan. Dari airlah kita semua berasal. Planet kita mengandung 70 percent air. Lahir dari air adalah peringatan bagi kita, “Ingatlah asal-usulmu. Kalian semua berasal dari zat dan materi yang sama.” Jangan lagi memikirkan darah dan dagingmu saja. Ketahuilah setiap lapisan daging dan setiap tetes darah berasal dari “materi awal” – air yang satu dan sama. Janganlah memikirkan keuntunganmu pribadi saja, pikirkan kebaikan semua orang. Dan, dalam kebaikan semua itu, kebaikan keluarga-“ku” pun termasuk. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”. Lahir kembali dalam kesadaran ilahi………. Sang Suami: Selama kita berada dalam kesadaran fisik maka kita merasa unik. Hukum fisika mengikat kita. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self-Empowerment ” disampaikan…….. Satu-satunya cara untuk melampaui hukum fisika adalah melampaui kesadaran fisik. Dan, ketika kita bicara tentang fisik maka pikiran, emosi, perasaan, dan segala tetek bengaek lainnya, termasuk prana, atau energi kehidupan, dan getaran-getaran kasar maupun halus yang merupakan inti atau esensi penciptaan, semuanya adalah fisik, semuanya materi, semuanya benda. Hukum fisika adalah kebendaan. Segala sesuatu yang memiliki wujud, rupa, bentuk dan/atau nama adalah benda. Jangankan sesuatu yang dapat diungkapkan atau dijelaskan, sesuatu yang baru terpikir atau terasa pun masih berada dalam alam fisika, alam kebendaan……. Alam fisika ini, kebendaan ini, kesadaran jasmani ini hanyalah

terlampaui ketika ketidaktahuan kita, kesalahpahaman kita tentang definisi fisik “terbakar habis”. Tidak tersisa lagi. Ketika kita sadar sesadar-sadarnya bahwa apa pun yang terjelaskan, terpikir, dan terasa bukanlah kesadaran……. Selama masih ada “aku” sekasar atau sehalus apa pun jua, badan masih ada, fisik masih ada. Hukum fisika masih belum terlampaui……… Pelampauan kesadaran fisik dalammkehidupan bukanlah suatu pencapaian, tetapi suatu pencarian. Perjalanan panjang yang hanya akan selesai ketika “aku” selesai. Lagi-lagi bukan dalam pengertian “aku” mati, karena “aku” tidak pernah mati. “Aku” hanya meninggalkan badan-“ku”. Hidup berkesadaran berarti tidak pernah berhenti mengupayakan peningkatan kesadaran. Tidak pernah berhenti pada suatu definisi baku tentang kesadaran. Hidup berkesadaran berarti menggali diri secara terus-menerus. Upaya tanpa henti untuk menemukan jati diri………. Semoga keunikan kita semua bersatu dalam jati diri yang satu………

Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Meniti Ke Dalam Diri Renungan Ke-48 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berhubungan dengan meniti ke dalam diri. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai, buku-buku dan artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Dari pemahaman yang mereka dapatkan, mereka berusaha untuk mulai meniti ke dalam diri. Sang istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan…… Seorang Sadguru mampu memicu kesadaran seorang murid…” Pertanyaannya: Bagaimana dengan mereka yang sudah berguru selama 5, 10 atau 15 tahun, tapi tak terpicu juga untuk meniti jalan ke dalam diri? Jawabannya, karena mereka baru berkunjung ke tempat guru. Mereka belum berguru, belum menjadi murid, belum berserah diri! Dengan mengaku diri sebagai murid, kita tidak menjadi murid. Mereka yang tidak terpicu untuk meniti jalan ke dalam diri hanyalah mengaku sebagai murid…….. Sang Suami: Meniti jalan ke dalam diri adalah laku yang sangat penting bagi kehidupan kita……. Istriku aku ingat sebuah artikel tentang “Finding Yourself” yang diterjemahkan secara bebas sebagai Mulat Sarira, Introspeksi Diri tulisan Bapak Anand Krishna…….. Mulat sarira bukan sekedar konsep, dogma, atau doktrin agama tertentu, tapi sebuah ajakan bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan latar belakang agama, status sosial, ras, ideologi politik dan ekonomi untuk “kembali ke akarnya dan menemukan dirimu.” Tak seperti ajakan dari setiap agama, ini bukan sekedar panggilan untuk kembali kepada Tuhan. Ini bukan ajakan untuk menghadap ke Kashi, Ka’bah, atau Yerusalem – tapi untuk “meniti ke dalam diri” dan menemukan “diri”mu. Sesungguhnya, ini bukan panggilan biasa. Karena ketika Anda berpaling kepada Tuhan, yang kata orang ialah sumber semua cinta dan segala rasa sayang, Anda bisa jadi akan merasakan penyelarasan. Tapi saat berpaling ke dalam untuk menemukan “diri”mu sendiri, Anda tak akan menemukan cinta ataupun rasa sayang. Anda justru akan menemukan kebencian dan egoisme. Ketika Anda berdoa kepada Tuhan yang Maha Mendengar, Anda mengharapkan Ia, apapun atau siapapun Dia, untuk mendengar tangisan Anda dan memberi perhatian pada kemalanganmu. Tapi saat Anda berpaling ke dalam diri, Anda menatap “diri”mu yang sejati dalam keadaan merana itu. Tak ada penyelarasan; faktanya ialah Anda menemukan diri yang telanjang bulat. Anda mulai melihat diri sendiri tanpa selubung apapun, tanpa pakaian selembarpun. Anda melihat diri Anda yang masih “mentah”……… Sang Istri: Benar suamiku, dalam artikel yang sangat bermakna tersebut disampaikan…….. Ketika Anda melakukannya, jangan mengambil kesimpulan apapun. Jangan meniti ke dalam diri dengan segempok pengkondisian diri yang terdahulu, seperti “Tuhan berada di dalam dirimu,” atau “Kamu pada hakikatnya ialah Tuhan.” Menitilah ke dalam diri dengan pikiran dan hati terbuka. Menitilah ke dalam

diri tanpa pamrih, dan kemudian Anda akan menemukan “diri”mu, “jati diri”mu. Proses meniti ke dalam diri ini ialah meditasi. Buddha menyebutnya vipasana. Umat Budhis menambahkan seperangkat latihan. Buddha sendiri tak pernah memberikan gambaran, atau lebih tepatnya memberikan resep, berupa latihan tertentu. Ia ialah panggilan yang generik, “Meniti ke dalam diri,” mulat sarira. Tak ada latihan, tak ada inisiasi – cukup membawa “niat tunggal”mu untuk meniti ke dalam diri. Cukup membawa “hasrat membara”mu untuk meniti ke dalam diri. Cukup membawa “kemauan”mu untuk menemukan “diri”mu dalam keadaan telanjang bulat. Ada orang yang menghubungkan vipasana atau meditasi dengan kesehatan, penyembuhan, keseimbangan emosional dan seterusnya. Itu tak akan menjadi mulat sarira; itu tak akan menjadi vipasana; itu tak akan menjadi Meniti ke Dalam diri. Anda tak meniti ke dalam diri untuk sembuh; Anda tak meniti ke dalam diri dengan ekspektasi. Anda meniti ke dalam diri tanpa ekspektasi. Bagaimana kamu bisa meniti ke dalam diri dengan harapan untuk sembuh, jika pada awalnya Anda bahkan tak tahu apakah kamu sehat atau tidak? Anda tak membutuhkan pengobatan apapun. Anda bisa jadi hanya menghalusinasikan penyakitmu dan dan ketidakseimbangan emosimu. Jadi sekali lagi, menitilah ke dalam tanpa ekspektasi apapun. Dan berterimakasihlah, bersyukurlah, atas segala yang Anda temukan. Bisa jadi itu cinta, atau justru kebencian. Bisa jadi itu kasih sayang, atau justru egoisme. Bisa jadi itu berupa kerendahan hati atau justru arogansi. Bisa jadi itu ialah kebijaksanaan, kebajikan, atau justru ego dan iri dengki. Apapun yang Anda temukan, itulah “Anda”. Sekali saja Anda menemukan “diri”mu, langkah selanjutnya menjadi mudah…….. Suamiku, betul-betul sebuah wisdom yang sangat bermakna, lugas, benar dan bijaksana…….. Sang Suami: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan perlunya keberanian untuk menyelami diri sendiri…….. Untuk meniti jalan ke dalam diri memang dibutuhkan keberanian. Baru menoleh ke dalam diri, Anda akan kaget! Dalam diri Anda, masih ada kebuasan serigala, masih ada keliaran monyet, masih ada kemalasan babi, masih ada kicauan burung. Gonggongan anjing dan kwak-kweknya bebek – semuanya masih ada. Napsu birahi masih belum terkendali, yang membuat Anda sebuas serigala. Pikiran masih liar, bagaikan monyet. Malas untuk melakoni meditasi, seperti babi. Mengoceh terus, ngomongin orang terus, seperti burung. Sikut kanan, sikut kiri ditambah dengan luapan amarah, persis seperti anjing. Hidup tanpa kesadaran, hanya mengikuti massa – persis seperti bebek. Itulah Anda! Keliaran ini, kehewanian ini, kebuasan ini dianggap “kewarasan” oleh dunia, oleh massa. Kenapa? Karena dunia Anda masih buas juga, masih liar juga, masih hewani juga. Mereka yang bisa menerima kebinatangan diri Anda masih binatang juga. Sadarlah, “kewarasan” Anda yang diakui oleh masyarakat itu sangat tidak berarti. Anda harus melampaui “kewarasan” yang sakit itu! Anda harus menjadi “gila”. Di mata Tuhan, di mata Allah, “kegilaan” Gibran jauh lebih berarti daripada “kewarasan” picik yang diakui oleh masyarakat. Bekalilah diri anda dengan “kegilaan”, “keberanian” seorang Kahlil Gibran! Lampauilah “kewarasan” yang sakit dan Anda akan menemukan diri Anda! Dan begitu Anda menemukan jatidiri, begitu Anda mengenali diri sendiri, pada saat yang sama Anda juga akan menemukan Allah, menemukan Tuhan…….. Istriku aku juga jadi malu sendiri mengingat wisdom dalam

buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” tersebut, jujur demikianlah yang terjadi kala kita meniti ke dalam diri…………. Sang Istri: Meniti ke dalam diri, perenungan, meditasi, menyepi ada kaitannya dengan istilah tafakur, muraqabah, uzlah. Dalam buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern” disampaikan……… Apa arti kata tafakur? Ya perenungan! Apa arti kata muraqabah? Ya meditasi! Apa arti kata uzlah? Ya menyepi! Tanpa tafakur, muraqabah, uzlah tidak akan terjadi peningkatan kesadaran dalam diri anda. Anda tidak akan pernah memperoleh perintah “Katakanlah!”, karena Anda belum memperoleh pengalaman pribadi. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Nabi Muhammad akan selalu menyempatkan diri untuk naik ke atas bukit Hira dan ber-uzlah, menyepi di dalam salah satu gua di sana. Tanpa keberanian untuk meniti sendiri jalan ke dalam diri, kesadaran Anda tidak akan meningkat. Dan sebelum terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri, Anda tidak akan pernah menyadari ke-Esa-an-Nya. Menyadari ke-Esa-an Allah, berarti berhenti mengejar dunia. Menyadari ke-Esa-an Allah berarti menempatkan Allah sebagai Top Most Priority, prioritas utama. Tidak ada sesuatu apapun yang lebih penting dari Allah……… Suamiku, dalam ungkapan lain adalah ber-ekagrata, ber-onepointednesskepada Allah. Sang Suami: Istriku, kita kembali kepada artikel “Finding Yourself” lagi…….. Menyelamlah dalam penemuanmu itu; jadilah otentik pada dirimu sendiri dan apa yang ingin Anda lakukan terhadapnya. Jujurlah pada dirimu jika Anda merasa puas dengan penemuanmu itu. Jika jawabannya positif – “ya” tanpa keraguan – peliharalah terus hal itu. Tapi bila jawabannya “tidak”, lantas ubahlah ini menjadi apa yang Anda anggap sebagai suatu ideal……. Jadi sebenarnya, ada dua aspek bagi mulat sarira. Pertama ialah menemukan diri, dan kedua ialah apa yang hendak Anda lakukan terhadapnya…….. Sayangnya aspek tersebut acapkali terlupakan. Kita memahami istilah tersebut, tapi kita tak melakoninya. Ini seperti memegang resep medis di rumah dari seorang dokter ahli, tapi kita tak meminum obatnya. Ini menyebabkan kondisi yang memprihatinkan dalam masyarakat kita………. Sang Istri: Suamiku, aku ingat latihan Seni Penyelarasan Diri dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna”. Di akhir buku tersebut disampaikan beberapa latihan afirmasi untuk menyelaraskan elemen tanah, elemen api, elemen air dan elemen angin dalam diri. Dalam latihan rutin tersebut gambaran apa saja yang muncul dalam latihan diterima. Apabila merasakan gambaran yang kita suka kita melakukan afirmasi syukur, sedangkan apabila kita merasakan gambaran yang kita tidak suka, kita juga melakukan afirmasi syukur karena telah melihat gambaran yang tidak kita sukai dan kemudian kita dapat mengubahnya menjadi selaras dengan kebutuhan kita…… Ini adalah salah satu latihan mulat sarira…. Sang Suami: Benar istriku, dalam artikel “Finding Yourself” tersebut juga disampaikan……… Ketika saya meniti ke dalam diri, pelajaran pertama yang saya

pelajari ialah kebutuhan untuk menemukan sumber dari segala sesuatu, untuk melihat hal-hal sebagaimana mereka adanya. Setelah melakukan hal itu, setelah meniti ke dalam diri, saya kembali kepada Nabi dari Arabia dan saya menemukan beliau mengucapkan kata-kata yang sama: “Seseorang yang mengenal dirinya, mengenali Tuhan.” Saya mendengar petuah para bijak dari Yunani kuno bergema, “Kenali dirimu!” Dan, saya mendengar Krishna bernyanyi kepada sahabatnya Arjuna di medan perang Kurusetra, “Diri-Mu ialah teman sekaligus musuh terbaik.”………Mulat sarira ialah ajakan untuk berhenti bersandar pada semua faktor luaran dan mulai untuk bersandar pada diri sendiri………….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Pujian Yang Menina-bobokan Renungan Ke-49 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru”. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip wisdom dalam buku-buku tersebut agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Suamiku, kebutuhan akan pujian sering menutupi nilai pelayanan. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan…….. Kemuliaan melayani atau nilai pelayanan sering terkalahkan oleh pujian dan penghargaan. Kemudian, pujian dan penghargaan itu yang menjadi penting. Kita lupa bahwa pelayanan bukanlah pelayanan bila yang dituju adalah pujian dan penghargaan. Jiwa pelayanan tercemar oleh pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan mengubah pelayanan menjadi jasa. Dan, jasa adalah dagang, usaha, bisnis……… Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yang kita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujian dan penghargaan dari orang-orang yang tidak waras hanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagian dari komunitas yang tidak waras. Dan, dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaan dari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka…….. Istriku, banyak forum yang terlalu murah memberikan pujian, yang bila tidak hati-hati akan menina-bobokan sehingga kita merasa sudah sampai dan berhenti……. “Come, join the club!” Kita menerima undangan itu, dan menjadi bagian dari komunitas yang tidak waras……… Kita perlu belajar dari pemandu yang sudah paham dengan jalan menuju tujuan bukan hanya mereka yang pandai berdebat…… bila kita sharing, itu pun bukan sharing dari diri kita yang masih kacau tetapi sharing dari pemandu yang kita trust dengan Beliau…….. Sang Suami: Benar istriku, banyak orang yang hatinya berkembang karena pujian dan tidak percaya diri lagi kala mereka tak mendapat pujian…… Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Pujian dan pengakuan adalah koleksi mereka yang tidak percaya diri dan tidak percaya Gusti. Pujian dan pengakuan dari siapa? Dari dunia ini? Dunia yang senantiasa berubah? Untuk apa? Sifat dunia yang berubah terus dapat mengubah pujian menjadi hujatan dalam sekejap. Hati kita menjadi besar ketika dipuji orang dan menjadi ciut ketika dimaki orang. Hati seperti apakah ini? Dalam bahasa Inggris, hati seperti ini disebut chicken heart, hati seekor ayam………. Sang Istri: Seseorang yang bersandar pada pujian orang berarti dirinya bersandar pada pengakuan pihak luar. Dalam buku “Sehat Dalam Sekejap, Medina” disampaikan…….. Yang menyebabkan depresi adalah diri kita sendiri, berbagai macam perasaan kurang enak yang timbul dari dalam diri, misalnya: Perasaan kurang diperhatikan; Kurang perkara diri/minder; Kesepian; Dan lain sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut muncul karena kita belum menemukan jati diri. Kita tidak

mengetahui potensi diri. Kita bersandar pada pengakuan dari pihak luar. Jika ada yang memuji, kita senang. Jika ada yang mencaci-maki, kita sedih. Berarti, kita membiarkan orang lain mengendalikan diri kita. Selama kita masih bersandar pada sesuatu di luar diri, depresi pun tidak bisa dihindari……. Sang Suami: Benar istriku dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut disampaikan……… Keterikatan dengan dunia benda dan keserakahan, dwitunggal inilah penghalang utama. Seorang pencari tak akan pernah menemukan apa yang dicarinya, selama belum bebas dari keduanya. Keserakahan dan kesadaran tidak pernah bertemu. Keterikatan dengan dunia benda berarti kesadaran mengalir keluar. Pencarian jatidiri berarti kesadaran mengalir ke dalam. Beda aliran. Seorang ilmuwan, sepintar, dan secerdas apa pun dia, jika masih serakah tetap tidak mengenal dirinya. Jika kau masih terikat dengan hasil perbuatanmu, masih mengharapkan imbalan, pujian dan penghargaan, maka pencapaian jatidiri bukanlah untukmu. Sia-sia pula bertemu dengan seorang guru, bila kau masih angkuh dan belum mampu mengendalikan kelima indera. Maka janganlah mencari sesuatu yang belum waktunya kau cari, Ikutilah tahapan-tahapan yang mesti kau lalui. Biarlah pikiranmu tenang dulu, biarlah hatimu bersih dan suci dulu setelah itu baru Brahma-Gyaan, barulah mencari pengetahuan sejati tentang jatidiri, tentang Tuhan………. Sang Istri: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” tersebut juga disampaikan……… Seorang panembah tak pernah kekurangan sesuatu. Aku memenuhi segala kebutuhan para panembah yang telah berserah diri kepada-Ku. Demikian pula janji Sri Krishna dalam Bahagavad Geeta. Maka, sesungguhnya kau tidak perlu khawatir tentang kebutuhanmu sehari-hari. Jika kekurangan sesuatu, mintalah kepada-Ku. Mintalah kepada Tuhan Hyang Maha Memiliki. Untuk apa mengharapkan sesuatu dari dunia, berharaplah kepada Hyang Memiliki dunia. Untuk apa mengharapkan penghargaan dan pengakuan dari dunia, lebih baik mengharapkan berkah dan karunia Ilahi. Janganlah terperangkap dalam permainan dunia. Pujian yang kau terima dari dunia tidak berarti apa pun jua. Jalani hidupmu dengan kesadaranmu sepenuhnya terpusatkan kepada Tuhan. Ketertarikan kepada dunia sungguh tak berarti. Tuhan adalah Hyang Maha Menarik! Ingatlah Aku setiap saat, sehingga dunia benda tidak menggodamu. Hanyalah dengan cara ini kau dapat merasakan kedamaian, dan ketenangan sejati. Inilah cara untuk hidup tanpa beban apapun. Untuk itu perhatikan pula pergaulanmu. Pikiran menjadi kacau kembali bila pergaulanmu kacau dan tidak menunjang kedamaian dan ketenangan yang telah kau peroleh dengan susah payah………. Sang Suami: Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World” disampaikan…….. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan………. Sang Istri: Pujian dari manusia tidak bersifat langgeng….. Dalam buku “Fear

Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” disampaikan…….. Apa pun yang saat ini kita miliki, pernah dimiliki oleh orang lain. Kepemilikan kita tidak langgeng…. Lalu kehilangan apa yang mesti ditakuti? Suami, istri, anak, saudara, orang tua, kawan, kerabat , semuanya adalah hubungan-hubungan yang “terjadi” dalam hidup ini, dan di dunia ini………. Penolakan, penerimaan, pengakuan, pujian, maupun makian seseorang mestinya tidak mempengaruhi kualitas hidup kita. Kita sendiri yang menentukan kualitas hidup kita. Sang Suami: Untuk itu kita semestinya tidak terikat dengan pujian dari luar. Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” tersebut juga disampaikan…….. Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut.Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dansumber di luar diri, dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan……… Sang Istri: Seorang yang sudah tidak terikat dengan keduniawian disebut Jeevan Mukta. Dalam buku “Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular” disampaikan……. Ada juga yang mencapai “keadan” itu dalam hidup ini. Kemudia ia menjadi Jeevan Mukta. Ia hidup di dalam dunia ini, tetapi tidak terikat dengan dunia dan keduniawian. Ialah seorang Bodhisattwa. Seorang Jeevan Mukta atauBodhisattwa juga tidak terpengaruh oleh pendapat siapa pun tentang dirinya. Ia selalu berusaha untuk berbuat baik. Kebaikan adalah sifatnya. Seorang Jeevan Mukta atauBodhisattwa tidak berbuat baik untuk dipuji, atau untuk memperoleh penghargaan. Karena itu, jika sebagian masyarakat tidak memahaminya, atau malah menghujatnya, ia pun tidak terpengaruh oleh hujatan itu……… Sang Suami: Seorang yang sadar bahkan bisa memilah mana pujian dan penghargaan yang patut diterima atau tidak. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan……… Adakah kebahagiaan dari pujian dan penghargaan yang kita peroleh dari seseorang yang tidak waras? Pujian dan penghargaan dari orang-orang yang tidak waras hanya membuktikan bahwa kita dianggap sebagai bagian dari komunitas orang-orang yang tidak waras. Dan, dengan mempercayai pujian mereka, menerima penghargaan dari mereka – kita mengamini kepercayaan mereka………. Bagaimana pula dengan penghargaan dan pujian yang diberikan oleh seseorang yang telah menyebabkan banyak penderitaan bagi banyak orang? Sama saja, setiap penerima pujian dan penghargaan itu menjadi bagian dari “Komunitas Orang-Orang Yang Menyebabkan Penderitaan”…….

Rabindranath Tagore ditawari gelar kehormatan oleh pihak penjajah. Ia menolak gelar tersebut. Dengan sopan, secara santun, ia berterima kasih kepada pihak pemberi, tetapi secara tegas menyampaikan penolakannya karena la merasa dirinya sebagai bagian dari ratusan juta penduduk India saat itu yang masih hidup dalam penindasan dan penderitaan……. Sang Istri: Suamiku, aku ingat sebuah wejangan bijak yang pada intinya berbicara bahwa alam semesta ini bersifat siklus. Musim silih berganti. Tiada musim yang berakhir untuk selamanya. Tiada kematian yang tidak dilanjuti oleh kelahiran kembali. Roda kehidupan berputar terus. Semuanya bersifat sesaat. Saat ini ada saat berikutnya tidak ada. Manusia yang sadar akan kemanusiaannya tidak pernah terjebak oleh pasang surutnya kehidupan. Ia selalu fokus pada Hyang Menyebabkan semuanya termasuk pasang-surut itu sendiri………. Berarti bila kita ingin mempertahankan pujian orang kepada kita, berarti mengingkari bahwa pujian pun hanya merupakan kejadian yang bersifat sesaat…….. Dalam wejangan tersebut juga disampaikan……… Ibarat burung yang ketika turun hujan mencari tempat yang teduh, hanyalah jenis elang yang justru terbang lebih tinggi dan melampaui awan gelap pembawa hujan. Ia menggapai langit luas tak berawan, dan dengan cara itu ia melampaui air hujan……… Jangan merasa tersanjung ketika dipuji, dan jangan merasa terhina ketika dimaki. Lampauilah semuanya itu, terbang tinggi sebagai seekor elang, dan kita tak akan terombang-ambing oleh pengalaman-pengalaman rendahan yang sesungguhnya hanyalah mempengaruhi badan, pancaindra, pikiran dan perasaan rendah kita……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

I Miss U, I Love U Renungan Ke-50 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel yang ditulis Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak menghilangkan esensi. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca Syair Shri Chaitanya yang disampaikan dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” tentang kerinduan terhadap Gusti………. Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku…… Sang Suami: Istriku, aku ingat bahwa di dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” tersebut disampaikan……… Pertemuan adalah perayaan. Namun, kerinduan adalah kekuatan untuk merayakan. Rasa rindu adalah pendorong jiwa dan penyemangat batin. Adakah kerinduan di dalam diri kita untuk bertemu dengan Gusti Pangeran? Apa dan siapa yang kita rindukan selama ini? Jika kita mash merindukan istana, dan bukan pemilik istana, maka kita tak akan pernah bertemu dengan Sang Pangeran, dengan Gusti. Berada di dalam istanaNya tidak berarti sudah bertemu dengannya. Tanpa niat kuat untuk bertemu denganNya, istana semesta ini bisa menjadi jebakan. Itulah yang telah terjadi selama ini. The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran………. Sang Istri: Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” disampaikan……. Rasa rindu lahir “karena” cinta, tetapi “dari” rahim perpisahan. Bila cinta adalah ayah penebar benih, perpisahan adalah ibu yang mengandungnya. Rasa rindu adalah anak yang mengukuhkan cinta. Rasa rindu tidak pernah lahir karena cinta saja, atau karena perpisahan saja. Ada cinta, ada perpisahan, maka lahirlah rasa rindu. Prasyarat adanya cinta dan perpisahan mesti dipenuhi bila kita ingin menyaksikan kelahiran rasa rindu, bila kita ingin mengukuhkan cinta. Ini tidak selalu mudah untuk dipenuhi karena “ada”-nya cinta dan “ada”-nya perpisahan menjadi sebab bagi “pertemuan baru”; pertemuan gaib. Bila kita tidak berhati-hati, pertemuan gaib ini bisa berlangsung untuk selamanya tanpa melahirkan rasa rindu. Kemudian, kita terperangkap dalam lapisan pikiran yang sangat halus, di mana kita dapat bercumbuan dengan sosok kekasih ciptaan pikiran kita sendiri. Rasa rindu ibarat shock-therapy untuk mengobati ketidaksadaran manusia…….. Sang Suami: Kerinduan anda terhadap Tuhan membuktikan bahwa kita pernah “tinggal” di dalam-Nya. Berpisah dari Dia, kita menderita. Kita harus jujur benarkah

kita merindukan Tuhan? Ada yang baru percaya. Dan dia percaya pula bahwa “kerinduan terhadap Tuhan” akan mempertemukan dia dengan Tuhan. Lalu dia berpura-pura merindukan Tuhan. Tidak, itu tidak akan membantu. Merindukan Tuhan berarti kita tidak mengharapkan “apa pun” dari Dia. Merindukan Tuhan berarti kita hanya mendambakan “Dia”. Doa kita bukan untuk meminta ini dan meminta itu, tetapi untuk bersatu dengan Dia. Keinginan untuk tampil sebagai pemenang, obsesi untuk mengalahkan orang lain, semua itu membuktikan bahwa kita masih “memiliki banyak waktu”. Waktu kita belum sepenuhnya “tersita” untuk merindukan Dia. Kita belum merindukan Tuhan. Banyak kelompok “perindu” di India bertemu seminggu sekali. Kemudian mereka menangis bersama. Tetapi ya itu, hanya seminggu sekali saja. Esoknya, semua normal kembali. Kerinduan mereka memang sudah terjadwalkan 1 x seminggu……… Demikian disampaikan dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah”. Sang Istri: Kembali ke buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”. Dalam buku tersebut disampaikan……. Ketika seorang guru atau murshid mengatakan kepada kita bahwa ia merindukan kita, atau kangen pada kita, “I miss you” jelas bukanlah kangen-kangenan mesra-duniawi yang dimaksudnya. Ia merindukan “peningkatan kesadaran diri” kita. Karena, ia mengetahui persis potensi diri kita, potensi diri setiap manusia. Ya, potensi diri setiap manusia. Dan, potensi itu sama, tanpa kecuali. Setiap manusia, bahkan setiap makhluk hidup memiliki potensi yang sama untuk mencapai kesadaran tertinggi sesuai dengan wahana badan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Seorang anak manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia sempurna, sebagaimana seekor anak anjing memiliki potensi untuk menjadi seekor anjing yang sempurna……… Sang Suami: Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” juga disampaikan uraian lanjutan dari potensi kesempurnaan dalam diri manusia………. Bila kita tidak meraih kesempurnaan dalam hidup, maka letak kesalahannya adalah pada diri kita sendiri. Kita tidak merindukan kesempurnaan. Kita puas dengan kondisi lumayan asal aman. Kita sudah terbiasa mencari rasa aman; itulah yang kita kejar selama ini. Kita tidak berani mengambil resiko. Kita tidak berani terbang tinggi, karena takut jatuh. Kita tidak berani menyelam lebih dalam, karena takut tenggelam. Inilah kelemahan kita. Dan, hal ini pula yang membuat hidup kita sengsara. Hidup kita adalah kendaraan atau jembatan yang dapat mengantar kita ke pantai seberang. Kita takut menggunakan kendaraan itu. Kita ragu melewati jembatan kehidupan. Mengapa? Karena, kita tidak tahu ada apa di pantai seberang. “Jangan-jangan di sana lebih sengsara. Sudah ah, di sini saja…….. Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi

berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi……… Sang Istri: Yang Mulia Hemadpant penulis buku “Shri Sai satcharita” menjelaskan ciri-ciri seorang panembah yang selalu berpikir tentang Gusti….. Yang selalu merindukan Gusti……… Kau tidak perlu ke mana-mana untuk mencari-Ku. Dibalik nama dan rupamu, serta nama dan rupa setiap makhluk, adalah Kesadaran Murni yang merupakan jati dirimu. Itulah Aku, Kesadaran Murni. Sadari hal ini… Rasakan kehadiran-Ku di dalam dirimu, dan di dalam diri setiap makhluk. Jika kaulakoni kesadaran ini dari hari ke hari, maka kau akan menyadari pula Kemahahadiran-Ku, dan menyatu dengan-Ku………. Ia yang mencintai-Ku, melihat-Ku selalu; baginya dunia tidak bermakna tanpa-Ku; Kesadarannya terpusatkan kepada-Ku; Berzikir, bercerita pun tentang diri-Ku. Sungguh Aku berhutang diri kepada dia, yang telah berserah diri sepenuhnya. Akan Kulunasi hutang-hutangnya semua, dengan menunjukkan jati diri sebenarnya. Sungguh tergantung pada mereka hidup-Ku, yang selalu memikirkan dan merindukan Aku; yang mempersembahkan setiap suap kepada-Ku, sebelum dimakannya sendiri sebagai berkah-Ku. Ia yang mendekatiKu dengan cara itu, dengan sangat mudah menyatu dengan-Ku. Persis seperti sungai-sungai dari segala penjuru, bertemu dengan laut, dan menjadi satu. Akhirilah ke’aku’anmu, berserahlah kepada-Ku, Aku yang bersemayam di dalam dirimu……… Sang Suami: Dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern” disampaikan……… Berbahagialah orang yang berduka-cita karena mereka akan dihibur……. Untuk kita renungkan sejenak: selama ini kita berduka-cita untuk apa? Kita berduka-cita, apabila kita tidak berhasil dalam usaha kita, apabila kita kehilangan pekerjaan, apabila pangkat kita tidak naik-naik. Kita berduka-cita, apabila kita kehilangan seseorang. Pernahkah kita berduka-cita karena kita merindukan Tuhan? Pernahkah kita berduka-cita, karena hari demi hari, tahun demi tahun terlewatkan, tanpa meningkatnya kesadaran akan kehadiran-Nya di setiap tempat, pada setiap saat? Yesus mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan oleh para Nabi, para utusan Allah sebelumnya. Berduka-citalah karena hidup kita terlewatkan begitu saja, tanpa kesadaran, tanpa pencerahan. Apabila keadaan kita demikian, la akan menghibur kita……… Sang Istri: Suamiku, aku ingat pertemuan antara Uddhava, sahabat Sri Krishna yang telah merasa menjadi seorang “gyaani” dengan para Gopi yang selalu rindu pada Sri Krishna, pada saat Uddhava diminta Sri Krishna menemui para Gopi di Brindavan. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas” disampaikan………. Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak terikat dengan wujud dan sifat, rupa dan nama. Yang penting adalah zat ilahi. Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Udhava menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang

kalian tangisi? Wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu, Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana…….” “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu? Gopi menjawab, “Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna….” Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu. Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lagi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih……….. I love U all….. I miss U all……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Film “Defending Your Life”, Kemajuan Evolusi Ditentukan Oleh Pilihan Kita Sendiri Renungan Ke-51 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, bukankah kita pernah melihat film “Defending Your Life”, sebuah film fiksi komedi tentang kehidupan setelah mati. Mungkin kita dapat memetik beberapa hikmah dari film tersebut…….. Daniel Miller ( diperankan Albert Brooks ) meninggal dalam kecelakaan mobil pada hari ulang tahunnya dan dikirim ke alam baka. Ia sampai di “Kota Pengadilan” yang serba canggih dan sangat luas, tempat pensucian bagi orang-orang yang baru saja meninggal dunia. Seperti yang lainnya, Daniel Miller harus menjalani pengadilan atas seluruh tindakannya di bumi. Selama menunggu proses pengadilan, Daniel mendapatkan fasilitas seperti ketika berada di bumi. Restoran-restoran menyajikan apapun yang diinginkan yang tidak menyebabkan kenaikan berat badan, ada tempat bowling, klub komedi dan fasilitas lainnya. Daniel mendapatkan penjelasan bahwa orang Bumi hanya menggunakan sedikit sekali kemampuan otak mereka (sekitar3-5%) dan sebagian besar hidupnya dijalankan atas dasar “fear”, ketakutan. Pengacara Pembela Daniel, Bob Diamond (diperankan oleh Rip Torn) mengatakan bila orang Bumi menggunakan otak lebih besar dari 5%, maka dia tidak ingin lagi berada di Bumi. Jika pengadilan menetapkan bahwa Daniel telah mengalahkan ketakutannya, ia akan dikirim ke eksistensi tahap berikutnya, dimana ia akan dapat menggunakan lebih banyak otaknya. Dengan demikian ia akan mengalami penawaran alam semesta tingkat lanjut. Jika pengadilan menetapkan bahwa ia belum lulus, maka jiwanya akan mengalami reinkarnasi di bumi dalam fisik baru dalam upayanya melampaui rasa takut untuk meningkatkan evolusinya. Sang Suami: Aku juga ingat bahwa film tersebut mempertontonkan…… pengadilan yang dipimpin oleh dua orang hakim. Sang Pengacara Pembela Daniel bersikeras bahwa Daniel harus mendapatkan peningkatan peran dan dapat meneruskan perjalanan tingkat lanjutan. Akan tetapi, Sang Jaksa Penuntut menunjukkan fakta-fakta tentang ketakutan yang masih dialami Daniel dalam berbagai fase kehidupan, sehingga Daniel harus dikembalikan ke bumi. Berkali-kali video kehidupan Daniel dalam berbagai usia diputar ulang oleh baik oleh Sang Pengacara maupun Sang Penuntut sebagai bahan pertimbangan dua orang hakim pada pengadilan tersebut……. Selama proses persidangan yang panjang, Daniel bertemu danjatuh cinta dengan Julia (diperankan Meryl Streep), yang menjalani kehidupan lebih sempurna daripada Daniel. Julia tampak berani dan murah hati dan di “Kota Pengadilan” mendapatkan akomodasi hotel berbintang lima dan fasilitas yang jauh lebih baik daripada Daniel. Daniel menjadi paham bahwa selama hidup di dunia,

perbuatan Julia jauh lebih baik dari tindakan dirinya, sehingga Julia mendapatkan fasilitas yang lebih baik di “Kota Pengadilan”. Kemudian Daniel diajak Julia ke “theater past life” yang dapat memutar film kejadian manusia di masa lampau. Dalam film “past life” tersebut nampak bahwa ketakutan Daniel diawali saat ia masih menjadi manusia purba yang lari ketakutan dikejar-kejar makhluk buas yang mengejarnya dari belakang. Rupanya trauma ketakutan di zaman purba tersebut masih terbawa sampai zaman modern, dalam bentuk lain tentunya…… Sang Istri: Dalam proses persidangan, Sang Jaksa Penuntut menunjukkan serangkaian episode di mana Daniel tidak bisa mengatasi ketakutannya, serta berbagai keputusan buruk yang telah diambil Daniel dalam berbagai kesempatan……. Akhirnya ditetapkan Daniel harus kembali ke Bumi, sedangkan Julia bisa meneruskan kehidupan pada tahap berikutnya…… Daniel kemudian nampak siuman dan menemukan dirinya terikat pada kursi di sebuah trem jurusan Bumi dan ia melihat Julia berada di trem dengan jurusan berbeda. Rasa Cinta terhadap Julia membangkitkan Keberanian Daniel sehingga dia berani melakukan tindakan yang penuh bahaya. Daniel nekat melepaskan diri dari ikatan, keluar dari tremnya yang mulai berjalan dan melompat ke trem Julia. Trem yang ditumpangi Julia bergerak semakin cepat tetapi Daniel sudah sampai di atap gerbong yang ditumpangi Julia. Julia berteriak-teriak minta tolong agar pintu dibuka tetapi tidak bisa…… Sang Pengacara, Sang Jaksa Penuntut dan kedua orang hakim memantau kejadian tersebut. Dan, akhirnya kedua orang hakim memutuskan bahwa Daniel boleh meneruskan perjalanan bersama Julia….. pintu gerbong dibuka……. Sang Suami: Film tersebut ingain menyampaikan bahwa segala tindakan kita dicatat dengan akurat oleh alam semesta, tak ada satu peristiwa pun yang tercecer. Nampak jelas dalam setiap peristiwa dari video kehidupan yang diputar ulang, bahwa pilihan apa pun yang telah kita ambil, kita harus mempertanggungjawabkan pilihan tersebut. Tuhan tidak menyebabkan penderitaan, musibah dan bencana bagi makhluk-makhluk-Nya……….. Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan bahwa…….. Kita, dengan ulah kita sendirilah yang menyebabkannya. Kita bertanggungjawab penuh atas apa yang menimpa diri kita. Jangan lupa Ia mengingatkan: “Kelak setiap anggota badanmu akan dimintai pertanggunganjawab. Apa yang kau tanam, itu pula yang akan kautuai….”. Hukum Sebab-Akibat adalah Hukum Aksi-Reaksi yang pernah kita pelajari dalam ilmu fisika. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Kita lupa. Sang Istri: Film tersebut juga ingin menyampaikan bahwa pilihan kita dalam berbagai kejadian menentukan kecepatan evolusi diri kita. Dalam buku “Total Success, Meraih Keberhasilan Sejati” disampaikan…….. Alam berjalan dan bertindak sesuai dengan hukum yang sudah ditentukan. Penentunya siapa – silakan Anda sendiri yang menentukan. Sebutlah Tuhan, Allah, Buddha, Bapa di Surga, Widhi, Tao, atau apa saja – Keberadaan atau Ketiadaan Abadi. Hukum Perubahan: Tak ada sesuatu pun yang tak berubah. Segalanya senantiasa berubah. Maka, bila kita tidak ikut berubah, sudah pasti sengsara sendiri. Hukum yang satu ini sangat erat kaitannya

dengan Evolusi. Kita semua sedang berkembang. Ya, kecepatan kita beda. Namun, perbedaan itu bukanlah karena pilih kasih oleh alam. Perbedaan itu disebabkan oleh kita juga. Ada aksi, ada reaksi. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini adalah hukum fisika. Kita tak dapat mengelakkannya. Karena itu berbuatlah baik, agar hasilnya baik pula. Dalam hal ini hendaknya kita selalu ingat bahwa alam tidak mengenal “plus-minus”. Setiap aksi yang bersifat “Plus” atau baik akan membawa akibat baik. Setiap aksi yang bersifat “Minus” atau jelek berakibat jelek pula……… Sang Suami: Julia teman wanita Daniel mengambil tindakan yang sangat berani untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang berada di rumah yang sedang terbakar. Dia dapat merasakan ketakutan sang anak dan kesedihan orang tua si anak sehingga Julia melampaui ego-nya yang mestinya secara logika takut akan resiko terbakar. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Untuk menunju ke sana, caranya adalah melalui “Cinta tanpa ego”. Tidak ada jalan lain. Jalan ini menuntut ketiadaan ego. Pilihannya adalah ego dan “tiada jalan” atau cinta dan “jalan”. Inilah jalannya, dan saya ulangi, inilah satu-satunya jalan. Ketika emosi Anda tidak lagi berpusat pada diri sendiri, saat perasaan Anda tidak lagi terbatas pada keluarga dan orang-orang yang dekat dengan anda, maka saat itulah anda menemukan jalan itu. Saat itu, dan hanya dengan jalan itu anda menemukan “jalan masuknya”. Selama emosi dan perasaan kita masih hanya berpaku pada segala hal di sekitar kita, maka kita tak akan pernah menemukan jalan itu. Semangat kita harus berubah menjadi kasih. Kasih terjadi saat anda bersemangat, bergairah terhadap seluruh umat manusia, seluruh makhluk hidup dan kehidupan itu sendiri. Inilah jalannya……… Sang Istri: Julia juga suka memberi. Memberi dengan tulus tanpa pamrih adalah tanda sudah melampaui ego yang selalu mendasarkan pada logika untung-rugi. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……. Saat lahir kita tidak membawa sesuatu; saat pergi nanti kita tak akan membawa sesuatu. Apa saja yang kita peroleh, kita memperolehnya di sini, dari sini, dan akan kita tinggal di sini. Keangkuhan kita sebagai “pemberi” pun sangat tidak masuk akal, karena sesungguhnya pemberian kita bukanlah “dari” kita; tidak ada sesuatu yang berasal dari kita. Kita hanya memberi “dari” apa yang kita peroleh. Kita hanyalah seorang perantara………. Berilah tanpa Arogansi seorang pemberi. Saat ini, kebetulan kita berperan sebagai Pemberi; sesaat kemudian bisa jadi peran kita berubah menjadi penerima. Panggung sandiwara kehidupan bersifat sementara, dapat diganti sewaktu-waktu. Pemberian kita tidak mengurangi sesuatu dari kita, karena apa yang kita berikan tidak berasal dari kita. Pemberian kita tidak membuat kita lebih hebat daripada mereka yang tidak memberi, karena apa yang kita berikan sesungguhnya bukan milik kita. Sambil melakoni Dharma dan mempertahankan kesadaran diri, mereka memberi tanpa pamrih, berbagi tanpa keterikatan; membantu tanpa pilih kasih… demikian, mereka memuliakan Jalan menuju Pencerahan……. Sang Suami: Film tersebut menyampaikan bahwa ketakutan kita adalah ketakutan bawaan yang terbawa dalam setiap masa kehidupan. Daniel sudah mengalami trauma ketakutan saat menjadi orang purba yang lari pontang-panting menyelamatkan

nyawanya dari kejaran binatang buas. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Rasa takut kita warisi dari proses evolusi yang panjang. Rasa takut ini juga yang kita bagi dengan binatang lain. Rasa takut menurunkan kita menjadi binatang sosial. Dengan demikian, rasa takut adalah penghambat kemajuan dan evolusi lanjutan. Untuk menyadari takdir kita sebagai manusia, kita harus setidaknya berusaha meniadakan rasa takut. Begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, kita mulai bisa memproyeksikan, mewujudkan sifat ilahi dalam diri. Mekanisme “flight or fight” atau “lari atau berkelahi” lahir dari rasa takut. Karenanya kita menjadi reaktif. Begitu kita diserang, kalau tidak balik melawan, ya kita lari. Kita tidak bereaksi dengan cara lain. Namun, begitu kita dapat melewati rasa takut dan menjadi berani, saat itulah kita berhenti menjadi reaktif. Sebaliknya kita menjadi responsive, saat diserang, kita tidak langsung balik melawan atau mengambil langkah seribu. Dalam usahanya melawan penjajahan dan para penjajah, Buddha, Gandhi, Yesus dan Martin Luther King Jr. tidak bereaksi. Sebaliknya mereka merespons tanpa kekerasan. Seseorang yang penuh ketakutan itu hampir selalu penuh kekerasan. Hanya manusia pemberanilah yang dapat merespons tanpa kekerasan……….. Sang Istri: Ada berita baik bahwa sudah semakin banyak manusia yang melampaui rasa ketakutan dengan cara melakukan pemberdayaan diri. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Evolusi di planet ini telah mencapai suatu tahap, di mana kita mulai tersadarkan akan kemandirian dan kemampuan diri kita. Kita mulai tersadarkan akan kemuliaan dan keilahian dalam diri kita. Sungguh suatu masa yang luar biasa, di mana “gelap-kebodohan” berabad-abad silam mulai sirna, dan “terang-kesadaran” mulai menyinari hidup kita semua. Terang kesadaran ini adalah pola pikir baru, cara baru untuk menyikapi hidup. Dan, pola pikir baru ini, cara baru untuk menyikapi hidup ini, landasannya adalah pemberdayaan diri, kemandirian diri…….. Selama bertahun-tahun kita dicekoki dengan pemikiran yang keliru, yaitu bahwasanya manusia lemah dan tak berdaya. Kemudian, diciptakan pula sosok Tuhan yang Maha Kejam, penuh dengan amarah dan kegusaran, dan selalu siap untuk menghakimi dan menghukum kita. Berkat informasi seperti inilah manusia menjadi penakut, pengecut, dan selalu ragu, bimbang. Tidak percaya diri. Kemajuan apa yang dapat diharapkan dari pola pikir seperti itu? Terlemahkan oleh rasa takut, manusia tidak berkembang. Ia akan berjalan di tempat. Rasa takut menyirnakan harapan dan mematahkan semangat……….. Sang Suami: Aku ingin meng-quote dari buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”……… Al Baqarah 62: Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Nasrani dan orang Shabi-in, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada “ketakutan” bagi mereka, dan tidak pula mereka berduka cita…….. Orang Beriman telah dapat melampaui “ketakutan”-nya…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Adakah Rasa Empati Di Dalam Diri Renungan Ke-52 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom diskusi dapat menjadi pemicu diri pribadi mereka untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Suamiku, baru saja kita membaca sebuah artikel Osho kiriman seorang sahabat…….. Di tengah-tengah para murid saat perahu yang mereka naiki berada di tengah sungai Gangga, tiba-tiba Sri Ramakrishna berteriak, “Jangan pukul saya”, dan air matanya bercucuran. Badannya bergerak-gerak seperti dipukuli orang. Ketika mereka mencapai tepi pantai seberang, mereka menemukan seorang nelayan sedang dipukuli oleh sekelompok masa. Dan, anehnya bilur-bilur di punggung sang nelayan terjadi pula di punggung Sri Ramakrishna…… Inilah empati……. Anda merasakan satu dengan orang lain dan identitas yang memisahkannya lenyap. Hausnya orang lain menjadi haus Anda, laparnya orang lain menjadi lapar Anda, sukacitanya orang lain menjadi sukacita Anda. Keterhubungan hati yang sangat dalam. Kita bisa bisa bepikir aku Hindu, aku Buddha, aku Muslim, aku Kristen, Aku Indonesia, Aku China, Aku Amerika, tetapi itu kerja mind bukan kerja hati. Hati kita tak mempunyai identitas yang berbeda-beda. Hati adalah hati. Sang Suami: Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa Sang Buddha Gautama mempunyai murid bernama Ananda yang selalu bersamanya sampai akhir hayatnya – hampir empat puluh dua tahun tanpa jedah, siang-malam, dua puluh empat jam sehari. Hubungan Ananda dengan Sang Buddha tidak berdasar mind. Hubungan antara Master dengan disciple-nya harus bukan hubungan mind……. Secara pelan-pelan hati mereka menjadi dekat, hampir menyatu. Dikatakan bahwa sebelum Sang Buddha minta air, Ananda telah membawakan minuman. Sebelum Sang Buddha berkata merasa dingin, Ananda telah membawakan selimut…… Sesekali Sang Buddha berkata, “Ananda, mengapa engkau membawakan minuman? Aku tidak meminta padamu. Ananda menjawab, “Tak ada masalah apakah Master meminta atau tidak, saya merasakan haus yang dirasakan Master; Saya merasa Master kedinginan. Saya tidak tahu bagaimana, karena ini bukan pertanyaan mind. Hanya rasa – dan begitu kuatnya sehingga saya tidak bisa melawannya. Apabila Master tidak haus, jangan minum”…… Sang Buddha tertawa dan berkata, “Tidak Ananda! Saya sedang bertanya-tanya bagaimana kamu mengetahuinya. Saya baru akan bilang merasa haus, saya baru akan bilang merasa dingin, tetapi kamu tidak memperbolehkan saya bicara barang sepatah kata”…… Bahkan bila Sang Buddha tak dapat tidur karena nyamuk, Ananda pun tak dapat tidur. Saat Buddha bangun pagi – secara simultan Ananda terbangun…… Terima kasih Yang Mulia Ananda yang telah memberikan contoh “onepointedness” dengan ungkapan empati yang nyaris sempurna…… Empati sudah sangat jarang empati terjadi sehingga manusia telah kehilangan rasa

kemanusiaannya. Kehilangan empati menjadikan kita makhluk yang tidak spiritual. Sang Istri: Suamiku, membicarakan ilustrasi tentang empati membuat aku teringat dengan artikel dalam The Torchbearers Newsletter 3/2007 dengan topik Secangkir Kopi Kesadaran yang setelah tiga tahun berjalan masih tidak menunjukkan banyak kemajuan, bahkan semakin mengalami kemunduran. Disampaikan dalam artikel tersebut…….. Empati adalah Ungkapan Kasih. Dan, kita harus mulai dengan diri sendiri. Kita harus mulai berempati pada wakil rakyat yang masih belum puas dengan gaji yang puluhan juta per bulan. Ada apa dengan mereka? Ketika saya berempati dengan mereka, saya menemukan bahwa mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran mereka sebagai wakil rakyat. Mereka berkonferensi di hotel-hotel mewah untuk membahas soal kemiskinan – mereka tidak dekat dengan rakyat. Mereka tidak dekat dengan Ibu Pertiwi. Mereka tidak dekat dengan bangsa Indonesia. Maka, kedekatan dengan institusi bernama negara menjadi sia-sia. Ketika kita memisahkan negara dari bangsa, maka negara menjadi sapi perah. Kesadaran kita terpusatkan pada bagaimana menciptakan sebuah proyek dan bagaimana menghasilkan keuntungan bagi diri……… Sebab itu, mari kita terlebih dahulu belajar berempati terhadap mereka yang tidak memahami arti empati. Kemudian dengan landasan empati itu, kita menegur mereka. Menjewer telinga mereka jika tidak sadar juga, maka demi empati terhadap kepentingan yang lebih luas, kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Jangan memilih seorang wakil atau seorang pejabat hanya karena aliansi politiknya, latar belakang agamanya – tetapi atas dasar rasa empati dirinya terhadap masyarakat luas…….. Sesungguhnya ungkapan “menumbuhkan empati” tidak begitu tepat. Empati terjadi dengan sendirinya ketika ada cinta di dalam dirinya. Empati adalah ungkapan cinta. Dan cinta selalu memberi – memberi dan memberi. Selama seorang wakil rakyat atau pejabat negara masih tergantung pada apa yang dapat diperolehnya dari negara – maka jelas dia belum bercinta dengan negara. Dia belum mencintai bangsa ini. Bagi dia kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara – adalah sebuah profesi. Padahal kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara bukanlah sekedar profesi. Ini adalah sebuah pengabdian. Sang Suami: Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” disampaikan……… Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Marl kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu. Jangan lupa, kita semua, pada suatu ketika, harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita. Amal-ibadah, dana-punia, apa pun yang kita lakukan, hanya mengantar kita hingga satu tertentu. Perjalanan selanjutnya kita lakukan sendiri, dan setiap anggota badan, jiwa, pikiran, serta perasaan kita akan dimintai pertanggunganjawab……….. Manusia baru bisa disebut “beragama” jika ia berakhlak. Tanpa akhlak yang penuh kasih dan empati – manusia tidak lebih baik dari hewan. Peng-“agama”-an adalah sebuah proses yang harus diupayakan terus-menerus. Manusia tidak dapat diagamakan hanya dengan dipaksa untuk beribadah, berpakaian, beratribut atau berpenampilan dengan cara tertentu. Tidak, tidak bisa. Peng-”agama”-an Manusia Indonesia berarti mengembalikan dirinya kepada

nilai-nilai luhur yang telah ditinggalkannya selama ini, kepada Jati dirinya……… Sang Istri: Mereka yang sadar mulai mempraktekkan pemahaman empati dalam keseharian hidupnya. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……. la berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi seluruh umat manusia. Ia berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya……… Sang Suami: Rasa kasih dan empati nampak jelas pada kaum perempuan. Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan…….. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat………. Sang Istri: Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan tentang “rasa” empati, “rasa simpati plus”……… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu? Mampukah anda mengasihi seorang penjahat? Mampukah anda mengasihi seorang pelacur? Sadarkah anda bahwa sesungguhnya mereka lemah. Yang membuat mereka jahat adalah kelemahan diri mereka. Yang membuat seseorang melacurkan diri adalah kurangnya rasa percaya diri. Dan yang membutuhkan perhatian anda, kepedulian anda,

kasih anda, justru mereka-mereka ini. Kasih menuntut agar anda “mengasihi” tetangga anda, demi “kasih” itu sendiri. Inilah Kebenaran! Kebenaran tidak pernah memecah-belah. Kebenaran selalu mempersatukan. Tetapi, kata Kahlil Gibran: Seorang pencari Kebenaran akan selalu menderita. Upayanya untuk mengungkapkan Kebenaran itu kepada masyarakat luas akan mengundang penderitaan. Saya tahu persis hal ini, karena itu pula yang terjadi terhadap diri saya. Kendati demikian, saya tidak mundur selangkah pun……….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Antara Shri Hanuman Dan Yang Mulia Ananda Renungan Ke-53 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan buku “The Hanuman Factor Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO” karya Bapak Anand Krishna. Mereka membicarakan kecintaan Hanuman kepada Sri Rama, Sang Guru. Dan mereka juga ingat kisah Osho tentang Yang Mulia Ananda yang juga begitu cinta kepada Sang Buddha, Yang Telah Terjaga. Sang Suami: Istriku, seorang filsuf Islam abad pertengahan bernama Averroes (1128-1198) menulis bahwa meskipun kita memiliki raga yang terpisah, pikiran kita tidaklah terpisah. Ia meyakini bahwa kita ini menyerupai sebuah tumbuhan air yang batang-batangnya menyembul ke permukaan, namun menyatu pada akar tunggal utama di bawah air……. Hanuman pendengarannya terfokus pada gelombang pikiran Sri Rama, pada akar tunggal utama kehidupan. Karena kecintaannya terhadap Sri Rama, Hanuman sangat fokus pada Sri Rama, dia dapat mendengarkan pikiran Sri Rama. Setiap menghadapi masalah seakan-akan dia dapat kontak dengan Sri Rama karena berada satu gelombang dengan Sri Rama, sehingga setiap tindakannya selalu sesuai dengan pikiran Sri Rama……… Pada suatu hari Sri Rama bertanya kepada Hanuman, “Bagaimana caranya kamu memusatkan perhatian padaku?” Hanuman menjawab, “pada lapisan fisik, Gusti adalah Master dan kami adalah Disciple. Pada lapisan mental, kami adalah percikan sinar keilahian dari Gusti. Pada lapisan Atmik, Gusti dan kami adalah satu”…….. Kira-kira demikian pula jawaban seorang Sufi kepada Murshidnya…….. Sang Istri: Aku ingat bahwa dialog tersebut ada dalam kisah setelah Sita dan Sri Rama bersatu kembali di Ayodya setelah memenangkan perang melawan Rahwana. Sita sangat senang dengan jawaban Hanuman, dan Sita menghadiahi Hanuman seuntai kalung mutiara, pemberian Raja Janaka, ayahanda Sita kepada Sita pada saat pernikahan Sita dengan Sri Rama……. Hanuman mengucapkan terima kasih dan kemudian memegang kalung berharga itu dengan tangannya, dia mulai melepaskan mutiara-mutiara dari kalungnya dan mendekatkannya pada telinganya. Setelah beberapa saat dia menggigit setiap mutiara dan melemparkannya………. “O Gusti, hamba meneliti apakah hamba dapat mendengar Nama Gusti pada mutiara-mutiara tersebut. Mutiara tersebut tidak lebih berharga dari batu apabila tak ada nama Gusti di dalamnya”………… Mendengar jawaban Hanuman, Sri Rama memeluknya dengan penuh haru…….. Sang Suami: Ada kisah lain tentang Hanuman yang menunjukkan kecintaan Hanuman pada Sri Rama……. Pada waktu Hanuman ditugasi membawa pesan kepada Sita di Alengka, Hanuman mohon diberikan bukti bahwa dia benar-benar Utusan Sri Rama. Sri Rama memberikan cincinnya untuk ditunjukkan dan diberikan kepada Sita sebagai bukti bahwa Hanuman benar-benar utusan Sri Rama. Konon Hanuman menjaga pesan tersebut dengan hati-hati dan cincin tersebut disimpan dalam mulutnya. Selama dalam perjalanan ke Alengka dan sebelum bertemu Sita dia

membisu, tidak bicara, menjaga amanah dan hanya menggunakan telinga dan matanya untuk mencari Sita……… Setelah menyampaikan pesan Sri Rama kepada Sita, Hanuman mohon diri dan mohon blessing dari Sita. Sita mendoakan, “Wahai Hanuman yang perkasa, yang bijak dan terampil, semoga Hanuman tidak pernah menjadi tua”……. Melihat Hanuman yang tetap berdiam diri, Sita kemudian memberkati, “Semoga Hanuman hidup abadi”………. Dan, Hanuman masih membisu, sehingga Sita memberkati, “ Semoga penghuni tiga dunia memujamu”…….. Hanuman malu mendengar pujian tersebut dan dia menundukkan kepala semakin dalam. Kemudian Sita memberkati lagi, “Semoga Sri Rama selalu mencintaimu”………. Tiba-tiba rona wajah Hanuman berbinar-binar penuh kebahagiaan dan berkata, “Hamba harus layak dicintai Sri Rama. Hidup tanpa cinta Sri Rama seperti halnya limbah buangan. Satu-satunya hal yang hamba inginkan adalah Cinta Sri Rama”……… Hanuman tidak berkepentingan dengan Sita kecuali kepentingannya untuk menyenangkan Sri Rama. Fokusnya adalah Sri Rama……. Istriku, mungkin sudah datang Hanuman sebagai utusan Sri Rama untuk menyelamatkan kita semua dari Keangkaramurkaan Duniawi Alengka, hanya kita tidak menyadari saja………. Sang Istri: Suamiku, 75 abad setelah Sri Rama, manusia sudah jauh lebih kompleks, sifat kesatria Sri Rama dan sifat raksasa Rahwana sudah bercampur dalam diri manusia, sehingga senjata yang digunakan untuk mengalahkan sifat raksasa dalam diri adalah pengetahuan kesadaran. Suamiku, aku ingat kisah Yang Mulia Ananda oleh Osho. Setelah tercerahkan Sang Buddha selalu menyebarkan dharma setiap hari. Selama 42 tahun tersebut belum ada alat pencatat yang baik, padahal Sang Buddha selalu berbicara baik pagi, siang maupun malam…….. Banyak murid-murid Sang Buddha yang telah tercerahkan pada masa tersebut. Tetapi mereka yang menjadi tercerahkan cenderung menjadi sederhana, mereka telah memahami kata-kata sang Buddha. Kata-kata Sang Buddha langsung meningkatkan kesadaran mereka.Mengapa repot-repot mengingat-ingat setiap perkataannya? Jika kita dapat mencapai titik langsung, lurus, lalu mengapa harus berjalan melingkar lebih dahulu? Dan ketika Buddha masih hidup, tidak perlu orang lain untuk menafsirkan kata-kata Sang Buddha, Beliu adalah juru bicaranya sendiri, sehingga perlu tidak perlu ditafsirkan. Sang Suami: Benar istriku. Beberapa lama setelah Sang Buddha Maha-parinibbana, meninggalkan jasadnya, ribuan arahat dan bodhisattva yang telah tercerahkan dipanggil ke pertemuan sangha pertama. Karena mereka telah cerah jelas mereka tidak akan salah menafsirkan kata-kata Sang Buddha. Mereka berkata bahwa mereka tidak begitu peduli banyak tentang kata-kata Sang Buddha, mereka langsung mengerti maksud ucapan Sang Buddha. Mereka memahami lewat gelombang pikiran, bukan lewat kata-kata yang sudah turun kualitasnya. Mereka mendengarkan karena mendengarkan Sang Buddha adalah sukacita dan berkah. Bahkan mereka tidak repot-repot mengingat. Apapun kata Sang Buddha, pasti perkataan yang benar dan indah, tapi apa yang dikatakan Sang Buddha, mereka tidak dapat mengingat kembali. Mereka hanya bersama Sang Buddha untuk sukacita. Sangat sulit untuk mengumpulkan kata-katanya……

Sang Istri: Benar suamiku, satu-satunya orang yang pernah tinggal terus-menerus dengan Sang Buddha selama empat puluh dua tahun adalah Yang Mulia Ananda, dia petugas pribadi, perawat Sang Buddha dan saudara sepupu Sang Buddha. Yang Mulia Ananda telah mendengarkan Sang Buddha sepanjang waktu. Hampir setiap kata yang telahdiucapkan Sang Buddha didengar oleh Yang Mulia Ananda. Bahkan saat Sang Buddha berbicara dengan seseorang secara pribadi pun, beliau selalu hadir, seperti bayangan. Dia telah mendengar segala sesuatu – apapun telah jatuh dari bibir Sang Buddha. Dan Sang Buddha pasti telah mengatakan banyak hal kepada Yang Mulia Ananda saat tak ada seorang pun…….. Para peserta pertemuan semua berkata bahwa mereka harus meminta Yang Mulia Ananda berbicara. Beliau juga dikenal sebagai seorang pengingat yang handal. Tetapi kemudian ada masalah yang sangat besar, Yang Mulia Ananda belum tercerahkan……… Sang Suami: Yang Mulia Ananda sangat mencintai Sang Buddha sehingga sangat peduli dengan kesehatan Sang Buddha. Yang Mulia Ananda bukan hanya saudara sepupu, tapi dua tahun lebih tua dari Sang Buddha. Maka ketika ia datang untuk diinisiasi ia meminta beberapa hal sebelum inisiasi. Di India seorang kakak harus dihormati seperti ayah. Bahkan saudara sepupu tua harus dihormati seperti ayah. Yang Mulia Ananda berkata kepada Sang Buddha bahwa setelah beliau menjadi bhikkhu, menjadi sannyasin, beliau harus patuh mengikuti perintah Sang Buddha. Akan tetapi sebelum inisiasi, sebagai saudara tua Beliau meminta Sang Buddha untuk menyanggupi tiga syarat yang diajukan beliau. Pertama: “Aku akan selalu bersama paduka, dan tidak akan dikirim untuk membabar dharma atau menyampaikan pesan di desa lain.” Kedua: “Aku akan selalu hadir. Bahkan jika paduka berbicara dengan seseorang secara pribadi aku tetap ingin bersama Paduka. Jadi, Paduka tidak akan memberitahukan kepadaku bahwa ini sebuah pembicaraan pribadi.” Dan Ketiga: Aku tidak begitu tertarik menjadi tercerahkan, aku lebih tertarik berada bersama Paduka. Jadi, jika pencerahan berarti memisahkan dari Paduka denganku, aku tidak peduli sedikit pun tentang hal itu. Hanya jika aku bisa tetap bersama dengan Paduka, bahkan setelah pencerahan, aku baru bersedia menjadi tercerahkan……… Sang Buddha dapat merasakan begitu cintanya Yang Mulia Ananda kepadanya, sehingga Sang Buddha menyetujui ketiga permintaan Yang Mulia Ananda tersebut. Sang Istri: Para Arahat dan Bodhisattva percaya bahwa Ananda memiliki ingatan yang bagus, ia telah mendengarkan segala sesuatu dengan penuh perhatian. Tetapi masalahnya adalah dia belum tercerahkan, mereka tidak bisa bergantung kepadanya. Siapa tahu barangkali pikirannya memainkan peranan, karena pikiran bisa berubah. Dia mungkin tidak sengaja melakukannya, namun ia masih belum terjaga. Dia mungkin berpikir bahwa ia mendengar dari Sang Buddha sesuatu yang mungkin Sang Buddha sendiri tidak pernah mengatakannya. Yang Mulia Ananda mungkin menghapus beberapa kata, mungkin pula menambahkan beberapa kata, siapa yang tahu? Sang Suami: Dikisahkan bahwa Yang Mulia Ananda menangis karena beliau tidak diperbolehkan masuk tempat pertemuan. Seorang pria usia delapan puluh empat tahun

menangis seperti anak kecil! Yang Mulia Ananda yang pernah tinggal selama empat puluh dua tahun bersama Buddha tidak diperbolehkan masuk ruang sidang. Beliau benar-benar berada dalam kesedihan…….. Yang Mulia Ananda bersumpah bahwa beliau akan menutup mata, akan melupakan dunia……… “Aku tidak akan bergerak sampai aku menjadi tercerahkan.” Dan dikisahkan bahwa dalam dua puluh empat jam, tanpa mengubah postur tubuhnya, beliau menjadi tercerahkan. Ketika beliau tercerahkan, maka beliau diperbolehkan masuk ruang sidang…….. Dan semua catatan-catatan tentang Sang Buddha yang kita baca sebagian besar adalah hasil ingatan dari Yang Mulia Ananda……. Setelah pertemuan sangha yang pertama tersebut Yang Mulia Ananda masih hidup sampai usia 120 tahun dan selama 36 tahun beliau terus menyebarkan dharma. Bahkan sampai sekarang banyak orang suci yang tercerahkan karena membaca catatan hasil ingatan Yang Mulia Ananda……… Sang Istri: Suamiku, begitu cintanya Shri Hanuman dan Yang Mulia Ananda kepada Guru mereka. Mereka telah menghilangkan ego mereka. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan…….. Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu. Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru. Begitu pula dengan para “pencari” di dataran India. Lewat Guru Bhakti atau cinta tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang Guru, mereka menemukan cinta yang sama di dalam diri mereka masing-masing. Seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti. Dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing. Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya. Puja dan bakti terhadap seorang guru semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk……. Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Dari Pelayan Menuju Pemilik Renungan Ke-54 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Istri: Suamiku, kita tidak pernah punya pembantu, semua pekerjaan rumah selalu kita kerjakan sendiri. Hanya kadang-kadang untuk memperbaiki rumah dan sekali-sekali untuk merapikan taman ada orang yang datang membantu. Aku sering melihat para pembantu di rumah mewah, mereka merasa derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang berjualan keliling. Mereka merasa punya kelas, pakaiannya bagus, pegang hape dan sering diantar pengemudi bosnya ke pasar. Padahal sang pemilik rumah mewah biasa-biasa saja.Tetapi kadang aku juga melihat beberapa pembantu yang sadar, yang memelihara rumah yang ditungguinya sebaik mungkin. Mereka merasa sebagai penjaga dan selalu menjaga keamanan dan kebersihan rumah yang dijaganya. Suamiku, aku hanya berpikir, ini adalah masalah rasa saja. Di dalam diri kita juga ada rasa pembantu yang angkuh, ada rasa pelayan yang setia, dan juga juga ada rasa sebagai pemilik rumah. Sang Suami: Istriku, aku jadi ingat buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan……… Alam semesta ibarat Rumah Besar… Dengan jumlah kamar dan pelayan yang tidak terhitung. Tentu rumah ini ada pemiliknya. Baik pelayan maupun pemilik bebas untuk memasuki kamar yang mana saja. Pelayan, untuk membersihkan kamar. Pemilik, untuk menikmati apa yang ada dalam kamar itu. Pemilik bebas untuk menentukan penggunaan setiap kamar. Pelayan tidak memiliki kebebasan itu. Pemilik bisa bongkar-pasang, bisa mengubah interior, bisa melakukan apa saja. Pelayan tidak bisa. Pemilik dan pelayan, dua-duanya tinggal di dalam rumah yang sama. Tapi, hidup mereka tidak sama. Pemilik hidup dengan kesadaran akan kepemilikannya. Pelayan hidup dengan kesadaran akan tugas dan kewajibannya sebagai pelayan………. Sang Istri: Aku juga baru saja membaca buku tersebut………. Pemilik boleh mengisi salah satu kamar saja. la boleh mengunci diri dalam kamar itu selama berhari-hari, atau seumur hidup. la boleh tidak mengunjungi kamar-kamar lain. Tapi, kepemilikannya atas setiap kamar yang ada di dalam rumah itu tidak mengalami perubahan. la tetap memiliki rumah itu. Pemilik boleh meninggalkan rumah itu selama beberapa hari, atau berhari-hari. Ia boleh tidak ada di dalam rumah itu. Namun, kepemilikannya atas rumah itu sama sekali tidak terganggu……… Sang Suami: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh

Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan bahwa……. Selama ini kita menganggap pikiran dan perasaan adalah non-materi. Anggapan itu, saya yakin seyakin-yakinnya, tidak akan bertahan lama. Bahkan, barangkali para ilmuwan sudah tidak menganggapnya non-materi lagi. Lalu, apa yang bersifat non-materi? Kesadaran yang menyadari kebendaan, materi, fisik, pikiran, perasaan, emosi, energi, vibrasi – barangkali, mungkin – itulah non-materi. Spiritualitas adalah perjalanan batin dari aku-badan, aku-pikiran, aku-perasaan, aku-emosi, aku- energi, aku-vibrasi, bahkan aku-kebenaran dengan “a” dan “k” kecil, atau Akulah Kebenaran dengan “A” dan “K” besar menuju “kesadaran”. Siapakah yang menyadari semuanya itu? Siapakah yang merasakan semuanya itu? Segala sesuatu yang mengelilingi kesadaran itu adalah kebendaan. Kebendaan adalah proyeksi dari kesadaran. Materi adalah manifestasi dari non-materi……… Sang Istri: “Kepemilikan” inilah Non-materi, inilah Kesadaran… Sekarang, kita tinggal memilih, mau tinggal di rumah alam semesta sebagai pemilik, atau pelayan. Seorang pemilik hidup di tengah dunia benda dengan kesadaran akan kepemilikannya. la tidak perlu digaji. la tidak bekerja demi penghasilan. la berkarya demi kepuasan diri. Hanyalah seorang berkesadaran pemilik yang bisa berkarya tanpa pamrih. Dengan kesadaran pelayan, sulit untuk berkarya tanpa pamrih. Mereka yang berkarya tanpa pamrih, setidaknya menjalin “hubungan khusus” dengan sang pemilik. Dan, menjadi bagian dari kepemilikan Hyang Maha Memiliki…….. Sang Suami: Benar istriku, aku ingat seorang sahabat mengatakan bahwa Baginda Rasulullah pernah menyampaikan… Aku adalah Ahmad tanpa mim, atau Ahad-Esa, Arab tanpa ain atau Rab-Penguasa……. dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……. Yesus mengatakan bila Hyang Memiliki adalah Bapa. Kendati, pada saat yang sama la pun meyakini bila sesungguhnya Bapa dan diri-Nya sama. Rabiah, Meera, dan Rumi menjalin hubungan kasih dengan-Nya. Sementara itu, Mansur, Sarmad, dan Siti Jenar secara tegas menyatakan kepemilikan-Nya, “Akulah Kebenaran”. Kita tidak memahami maksud mereka, dan menggantung mereka, membunuh mereka. Itu adalah kerugian kita, dan hanyalah membuktikan sempitnya pandangan, wawasan, serta kesadaran kita. Karena, “Aku”-nya Mansur, Sarmad, dan Siti Jenar bukanlah aku-fisik, aku-pikiran, aku-perasaan, dan lain sebagainya. “Aku” mereka adalah kesadaran murni. “Aku” mereka mewakili “kepemilikan” Sang Pemilik. Seorang duta besar negara yang berdaulat mewakili negaranya dan bertindak atas nama pemerintahnya. Salahkah dia? Ketika ia menggunakan “aku” atau “kami”, itu adalah negara dan pemerintahnya yang dimaksudkan. Bukankah itu tugas dan kewajibannya? Sang Istri: Buku tulisan Bhakti Seva ini mengajak kita, merayu kita, untuk menuntut hak kita atas “kepemilikan diri”. Atau, lebih tepatnya, menyadarkan kita akan hak itu, akan kepemilikan kita terhadap diri sendiri. Rumah Semesta ini milikmu! Jika kau belum menyadari hal itu, terlebih dahulu sadarilah kepemilikanmu, tanggung jawabmu terhadap hidupmu. Hidupmu adalah hidup-”mu”. Kau bertanggung jawab

penuh atas hidupmu, atas setiap tindakan, bahkan ucapan, pikiran, dan perasaanmu. Kau bisa memilih hidup dengan kesadaran akan tanggung jawabmu, dan menjadi penentu garis hidupmu……….. Sang Suami: Istriku, mari kita berbicara dengan referensi buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna”. Dalam buku tersebut disampaikan…….. “Mengenal” Allah Bapa berarti “sadar akan kemanunggalan diri dengan-Nya”, dengan Allah Bapa, Allah Roh Agung, Allah Roh Kudus, atau apa pun sebutannya. Tidak ada cara lain untuk memahami dan menjelaskan hal ini. Karena, hanyalah ketika “Aku” manunggal dengan “Allah”, dengan “Bapa”, atau “Roh” maka “Aku akan tahu” apa saja yang “diketahui Allah, Bapa, atau Roh”. Saat itu, apa yang diketahui-Nya, Ku-ketahui pula; apa yang dilihat-Nya, Ku-lihat pula; dan, apa yang dikerjakan-Nya, Ku-kerjakan pula! Betul, bila Bapa jauh lebih agung, jauh lebih tinggi, jauh lebih sempurna daripada diri-Ku; Aku berasal dari-Nya, Aku datang dari Dia… Namun, ketika Aku menyatu dengan-Nya dalam roh, atau kesadaran kosmis; ketika Aku manunggal dengan-Nya maka Dia berada di dalam diri-Ku dan Aku berada di dalam diri-Nya. Saat itu, Aku dan Dia satu adanya…… Sang Istri: Gusti Yesus menyatakan bila kesadaran kosmis adalah sumber segala kekuatan…….. Ia menunjukkan bila kesadaran kosmis adalah kesehatan yang sempurna bagi dirinya, maupun bagi orang lain yang disembuhkan oleh-Nya. Ia mengatakan bahwa Dia dan Tuhan satu adanya dan, bahwasanya kita pun sesungguhnya sama. Sekarang, bagaimana menyatukan kemauan dan keinginan kita dengan kehendak-Nya itu saja; bagaimana kita bisa menerima kehendak-Nya secara utuh itu saja. Yesus berjanji, siapa saja yang berkehendak sesuai dengan kehendak Allah akan “mengetahui” maksud-Nya dan masuk ke dalam “Kerajaan Allah”. Ia melanjutkan : “…Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu… “ (Yohanes 14 : 12)……. Sang Suami: Dalam buku tersebut ada sebuah catatan……. Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Ah, ternyata saya anak raja. Ternyata aku kaya raya. Ternyata semua ini disediakan bagi saya dan saudara-saudara saya. Kemudian, apa yang mesti saya khawatirkan? Kenapa mesti merampas hak saudara saya? Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan untuk memasuki Kerajaan-Nya. Yesus yakin betul bila kesadaran yang dimiliki-Nya dapat dimiliki setiap orang. Doa-Nya, sebagaimana kita baca dalam Yohanes 17:21 sungguh menarik. “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”. Yesus tahu persis bahwa kita semua memiliki potensi yang sama untuk meraih kesadaran kosmis. Kita semua bisa manunggal dalam kesadaran ilahi, Allah Bapa, atau kesadaran kosmis tersebut. Dalam hal itu, tidak beda antara Dia dan kita………

Sang Istri: Doa Gusti Yesus supaya kita “semua menjadi satu” dengan-Nya, dengan Roh, dengan Allah Bapa adalah doa tertinggi………. Tiada kebaikan yang lebih besar, lebih hebat, daripada apa yang Yesus doakan bagi kita. Menyatu dengan-Nya, dengan Allah Bapa, atau Roh, berarti menyelaraskan pikiran kita, hidup kita, segala kekuatan, pengetahuan, dan apa saja yang kita miliki dengan Kekuasaan-Nya, dengan Roh, Allah Bapa atau Kesadaran Kosmis. Jika itu terjadi, jika kita menyadari hubungan kita dengan Roh, dengan Semesta, segala pengetahuan, segala kebijaksanaan dari Roh, dari Semesta akan mengalir dan mengisi pikiran dan hidup kita……. Sang Suami: Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut disampaikan……. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita. Kesadaran Kosmis, atau kesadaran akan kemanunggalan diri dengan Roh Hyang Kekal Abadi hanya dapat diraih dan dipertahankan dengan upaya yang sungguh-sungguh dan secara terus-menerus. Upaya yang dimaksud adalah hal ini adalah upaya mental, upaya pikiran. Pikiran yang senantiasa memikirkan, menginginkan, dan mengupayakan kemanunggalannya dengan Roh, dengan Allah Bapa……..
Sang Istri: Doa bukanlah untuk “membangun” hubungan dengan Tuhan karena, hubungan itu sudah ada. Doa adalah upaya kita untuk menyadari hubungan itu, hubungan yang sudah ada. Doa adalah upaya pikiran untuk selalu mengingat hubungan itu, untuk senantiasa memikirkan hubungan itu, supaya kemanunggalan diri terasa setiap saat. Sesungguhnya, doa tidak memiliki tujuan lain. Satu-satunya tujuan doa adalah kemanunggalan dengan Roh karena segala sesuatu yang lain sudah ada dalam kemanunggalan dengan Roh itu. Hendaknya kita tidak mencari kesehatan, kedamaian, kekayaan, ataupun kekuatan dan kekuasaan lewat doa. Doa kita, hendaknya untuk menyadari kemanunggalan kita dengan Tuhan… itu saja. Setelah manunggal, kesehatan, kedamaian, kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan lain sebagainya akan menjadi milik kita dengan sendirinya…Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Pintu Masuk Dari Luar, Pintu Keluar Dari Sangkar Serta Pintu Nurani Renungan Ke-55 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang nasehat Guru tentang keterikatan sebagai bahan introspeksi. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Memupuk dengan wisdom secara repetitif intensif bagi benih kesadaran dalam diri. Sang Istri: Kita sering tidak sadar, pikiran kita begitu gaduh, karena beraneka-ragamnya tamu masuk ke dalam diri tanpa terkontrol dengan baik. Aku ingat buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” yang menyampaikan bahwa……… Peran mata harus dipahami dengan betul. Pemicu-pemicu di luar menggunakannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri kita. Misalnya Anda “melihat” sesuatu di showcase toko. Muncul keinginan untuk memperolehnya, membelinya, maka tangan akan mencari dompet. Awal mulanya dari “penglihatan”. Kesadaran kita mengalir ke luar lewat sekian banyak indra, tetapi mata adalah indra utama, gerbang utama. Jauh lebih mudah mengalihkan kesadaran ke dalam diri, bila gerbang utama ditutup……… Sang Suami: Benar istriku, sebelum berdoa kita harus menutup pintu panca indera dulu. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Jika seorang Yesus bicara tentang doa, yang dia maksudkan adalah “meditasi”. Dan untuk “meditasi” anda tidak membutuhkan bangunan gereja atau masjid atau pura atau vihara. Bahkan kamar pun tidak dibutuhkan. Lalu apa yang dia maksudkan dengan “masuklah ke dalam kamarmu” dan “tutuplah pintu”? Yang Yesus maksudkan adalah “kamar diri” kita. Pintu yang harus ditutup adalah “pintu panca indera” kita. Berarti seluruh perhatian, seluruh kesadaran dialihkan ke “dalam diri”. Ini baru “tempat tersembunyi”. Kamar di rumah anda bukanlah tempat tersembunyi. Kemudian, jangan menggunakan terlalu banyak kata-kata. Bahkan kalau bisa, jangan menggunakan sama sekali. Mau menyampaikan apa kepada Tuhan Yang Maha Tahu Ada-Nya? Tanpa diberitahu pun Dia sudah tahu…….. Sang Istri: Suamiku, mari kita bicara tentang pintu yang lain, pintu kebebasan dari kurungan kehidupan kita. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern” disampaikan……… Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama: Lapisan Pertama adalah yang ada warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali. Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru. Lapisan ketiga adalah

yang anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas……… Sang Suami: Dalam buku “The Hanuman Factor Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO” disampaikan…….. Kurungan tersebut telah dianggap sebagai zone comfort kita. Ini adalah kurungan di mana kita terjebak. Dan kita telah terkurung begitu lama, sehingga kita telah terbiasa dengannya. Burung yang terkurung, awal mulanya mencoba membebaskan diri. Kemudian mereka menerima nasibnya dan menikmatinya. Burung tidak menyadari bahwa “kenyamanan rekayasa” datang dari harga kebebasan. Keadaan kita tidak jauh berbeda. Kurungan kita lebih luas. Bergerak ke sekeliling memberi rasa kebebasan yang salah. Kita seperti binatang yang berada di taman safari. Berfikir taman sebagai hutan alam……… Sang Istri: Ilustrasi sejenis dapat kita baca dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”…….. Apakah Anda bebas atau Anda terikat? Tidak ada keadaan lain di antaranya. Burung terikat selama dia berada dalam sangkar. Tidak peduli sangkarnya terbuat dari kayu murah atau dari logam murni, sangkar tetaplah sangkar. Anda tidak dapat berpesta, Anda harus menunda semua rencana perayaan-perayaan Anda, sampai Anda bebas. Budak adalah budak, ‘perayaan’ tidak dapat menjadi nasibnya. Pembebasan dulu dan baru kemudian perayaan. Tetapi, ijinkan saya ingatkan Anda – Anda bukan budak. Pembudakan Anda adalah imajinasi Anda sendiri. Itu adalah ilusi. Carilah celah sempit yang terbuka. Melompatlah ke luar, terbanglah ke luar, karena kebebasan menunggu Anda. Anda telah terbelenggu demikian lama sehingga sekarang Anda takut bebas. Ketika Anda masih terbelenggu, Anda selalu bermimpi akan kebebasan. Sekarang begitu kebebasan berada di ambang pintu, hanya selangkah lagi, Anda justru menjadi takut. Anda takut menghadapi kebebasan. Bebaskan diri Anda dari rasa takut. Rasa takut membuat Anda lemah. Rasa takut membuat Anda menjadi begitu lemah, sehingga tidak mempunyai kekuatan lagi untuk membebaskan diri dari perbudakan……… Bebaskan diri Anda dari perbudakan yang mengecoh ini. Pahamilah, perbudakan ini adalah kreasi Anda sendiri. Itu suatu ilusi, suatu imajinasi. Keterikatan Anda, obsesi Anda – semuanya ini telah menciptakan sangkar, tempat Anda tinggal. Bebaskan Anda dari keterikatan ini. Ini bukan cinta kasih. Lepaskan diri Anda. Selama Anda terikat, Anda terikat dalam sangkar, kebebasan hanya merupakan suatu impian. Jika Anda senang dengan situasi seperti ini, jangan mengeluh lagi. Jangan mengharapkan kebebasan. Lalu, nikmatilah keterikatan Anda. Lalu, jadikan sangkar Anda dunia Anda. Jangan mimpikan dunia luar. Lalu jangan berpikir tentang kebebasan. Lalu cintailah keterikatan. Tetapi ingat, ini bertentangan dengan keadaan alami Anda. Perbudakan tidak ada hubungannya dengan sifat sejati Anda. Setelah beberapa waktu Anda akan mulai mengadu lagi. Suatu hari nanti akan mulai bermimpi tentang kebebasan lagi. Lalu, mengapa menunda kebebasan Anda sendiri? Mengapa Anda tangguhkan? Mulailah perjalanan Anda menuju sesuatu yang baru yang belum Anda ketahui. Bebaskan diri Anda,

karena hanya lewat kebebasan Anda dapat mengubah hidup Anda menjadi perayaan. Sekali lagi, saya ulangi, perbudakan, penjajahan hanya merupakan imajinasi Anda. Bebaskan diri Anda. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Tidak, jangan membiarkan kebebasan hanya menjadi sebagai suatu kemungkinan Nyatakan kebebasan Anda sekarang juga pada kesempatan ini……….. Sang Suami: Istriku, kita telah berbicara tentang pintu panca indera sebagai pintu masuk berbagai urusan dunia ke dalam diri dan kemudian kita berbicara tentang pintu keluar dari sangkar zona kenyamanan, comfort zone. Aku ingat tentang “Pintu Rumoh Aceh”, karena selama empat tahunlebih kita pernah tinggal di beberapa kota di Aceh. Sewaktu masuk pekarangan Rumah Aceh kadang tersedia sumur atau pancuran untuk membersihkan kaki dahulu. Rumah asli di Aceh berupa rumah panggung, sehingga bila bertamu ke suatu rumah di Aceh kita harus lewat tangga, dimana tangga tersebut sering licin di waktu hujan, dan setelah itu kita harus melewati pintu masuk rumah setinggai 1.5 m. Kita belajar bahwa untuk masuk daerah baru sebagai tamu, kita harus melangkah pelan-pelan – karena melangkah melewati tangga. Kemudian juga berhati-hati karena kadang-kadang anak-anak tangganya licin. Selanjutnya, kepala kita harus menunduk sewaktu masuk ke dalam rumah, bila kita masuk dengan jumawa, kepala mendongak, maka kepala terbentur hampirlah pasti….. Akan tetapi begitu diterima masuk rumah, telah tersedia “peuet ploh peuet”, 44 macam makanan yang lezat…… Sang Istri: Benar suamiku, sebuah ilustrasi bagaimana memasuki Pintu Bait Allah. Membersihkan diri, kemudian berijtihad sampai di depan pintu dan menunggu keridhaan Yang Punya Rumah membukakan pintu. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan………. “Darvish” berarti “dia yang sedang mencari ‘dar’ atau pintu”. Pencari pintu – itulah darvish. Pintu yang mereka cari bukanlah pintu biasa, pintu rumah anda dan rumah saya, pintu rumah petinggi negara dan konglomerat. Pintu yang mereka cari adalah Pintu Bait Allah! Dan Bait Allah yang sedang mereka cari bukanlah bangunan yang terbuat dari semen dan batu. Bait Allah yang mereka cari terbuat dari Cahaya Murni. Bait Allah yang mereka cari tidak berada di luar dini, tetapi di dalam diri! Lewat “Pintu Rasa”; lewat “Pintu Kasih” mereka memasuki Bait Allah di dalam diri. Seorang darvish menari dan menyanyi, karena telah menemukan Bait Allah di dalam dirinya……… Sang Suami: Dalam buku “Ishq Ibadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah” disampaikan…….. Kita dapat mencapai-Nya dengan dua cara, lewat dua jalan: Pertama dengan berusaha, berupaya, berijtihad, berjihad dalam arti kata sesungguhnya, yaitu “berkarya dengan kesungguhan”. Sesungguhnya, apa yang kita peroleh sepenuhnya disebabkan oleh hukum aksi-reaksi, hukum sebab akibat yang menjadi dasar bagi segala sesuatu di dalam dunia. Belum tentu kita mencapai-Nya dengan cara ini. Paling banter kita mencapai istana-Nya. Paling-paling kita memperoleh kenikmatan surgawi – itu saja. Kedua, dengan melepaskan segala usaha, dan bersandar pada-Nya, sepenuhnya. Declare your bankruptcy………. Serahkan saja

urusan kita kepada Dia. Banyak orang yang mencari apa yang mereka sebut “keseimbangan” di antara kedua cara tersebut. Mereka mencari Jalan Tengah. Pengalaman saya mengatakan bahwa tidak ada jalan tengah. Bahkan dari pintu gerbang istana-Nya sudah tidak ada jalan-jalan lagi. Yang ada hanya satu jalan masuk… Satu, tunggal. Jalan menuju-Nya hanya satu, yaitu Penyerahan Diri……….. Sang Istri: Masih tentang pintu, dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern” disampaikan……… Pintu rumah Dia berada di mana-mana. Sebenarnya pintu rumah Dia selalu terbuka. Mengetuk pintu hanya formalitas, hanya karena kita harus santun, sopan. Begitu kita mulai mengetuk, pintu itu akan terdorong sedikit dengan sendirinya, karena pintu itu memang terbuka……….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Tidak Menghakimi Tetapi Tetap Memilah Renungan Ke-56 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan menjadi tak berharga dan hanya membebani diri bila tidak dilakoni. Mereka mengumpulkan wisdom dari buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku Bapak Anand Krishna sebagai bahan diskusi. Mereka berharap mosaik dari wisdom dapat menjadi pemicu pribadi untuk memberdayakan diri. Sang Istri: Seorang teman di FB memberikan nasehat yang nampak bijak, dalam dunia itu selalu ada hal positif dan hal negatif. Baik dan buruk hanyalah persepsi masing-masing orang, kita tidak perlu ikut campur urusan orang. Memang dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” disampaikan…… Jiwa tidak pernah menghakimi. Hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Pikiran tidak mengenal Jiwa, karena Kebenaran Jiwa melampaui keterbatasan pikiran………. Kemudian dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” juga disampaikan……… Jangan menghakimi orang lain; mungkin apa yang ia lakukan dalam posisinya, merupakan tindakan yang tepat baginya. Bagi dia itu mulia. Jangan juga meniru, karena bagi Anda, tindakan yang sama belum tentu mulia…….. Buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern” menyampaikan……. Dalam Injil pun berulang kali Nabi Isa, Yesus, diriwayatkan mengucapkan kata-kata yang sama, “Jangan menghakimi orang lain”……. Hendaknya kita melakukan introspeksi diri. Sebelum menghakimi orang lain, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah perfect, sudah sempurna? Sebelum menuduh dan menuding orang lain melakukan korupsi, kiranya kita sadar bahwa selama ini kita pun terlibat dalam kolusi dan korupsi. Mungkin secara langsung, mungkin secara tidak langsung. Walaupun baju kita sendiri cukup kotor, kita masih saja melihat kotoran pada baju orang lain. Atau justru karena kekotoran kita, lalu kita menipu diri dan berpura-pura bersih dengan menunjuk-nunjuk orang lain kotor?!………. Sang Suami: Istriku, bila kita membaca buku kita tidak bisa mengutip kalimat sepotong-sepotong, kita harus memahami secara keseluruhan. Tidak menghakimi, tidak berarti kita tidak memilah dan membela dharma. Pandawa memahami mengapa sifat Korawa demikian, tetapi Pandawa mengikuti nasehat Sri Krishna untuk berperang melawan kebatilan. Dharma tetap harus ditegakkan dan kita tidak membiarkan adharma merajalela….. Melihat adharma merajalela di tengah masyarakat, kita tidak dapat diam. Kita bisa mencontoh Mahatma Gandhi dengan senjata Ahimsa-nya. Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World” disampaikan…… Memang kita tidak perlu mencari keburukan manusia, tetapi bila seseorang melakukan kejahatan, jelas kita harus melawan. Hanya saja perlawanan yang kita berikan tidak menggunakan kekerasan. Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih dan pemaafan. Ahimsa juga menuntut agar mereka yang

dapat membedakan kebatilan dari kebaikan, kejahatan dari kebajikan – tidak membiarkan kejahatan dan kebatilan merajalela. Ketika adharma merajalela, hadapilah adharma itu dengan segala daya dan kekuatan diri……… Sang Istri: Terima kasih suamiku…… Sejalan dengan pandangan tersebut, kita melihat bahwa pengalaman setiap orang adalah unik, karena setiap orang memiliki genetik bawaan, pendidikan, lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Kebenaran bagi setiap orang adalah kebenaran dengan kerangka pola yang terbentuk olehnya. Sehingga wajar saja bila pandangan setiap orang tentang kebenaran berbeda……. Kita bisa menerima pendapat orang lain, bisa memahami kehidupan orang lain, akan tetapi kita tetap tidak akan membiarkan adharma merajalela……… Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi……. Istriku berarti saat seseorang menyadari hubungannya dengan Tuhan maka dia taubat dari berbuat salah……. Berarti orang berbuat jahat, karena tanpa sadar dia hanya memenuhi keinginan panca indera dan egonya. Bila dia sampai terketuk hati nuraninya, dia akan sadar dan kembali ke jalan kebenaran. Oleh karena itu kita tetap harus menyampaikan kebenaran………. Sang Istri: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan bahwa Sri Yukteshwar, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Paramhansa Yogananda berkata, kelahiran seorang anak terjadi “saat” pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu…….. Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia. Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti

menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian……… Benar suamiku, kita bisa memahami kecenderungan seseorang berdasar karma masa lalunya, akan tetapi kita tidak bisa membiarkan orang tersebut bertindak semena-mena, berkubang dalam adharma hanya karena walaupun kita memahami bahwa orang tersebut lahir dengan potensi adharma……. Sang Suami: Istriku, seseorang berbuat adharma karena pilihannya yang salah. Pilihan yang salah bisa diakibatkan oleh faktor genetik, pendidikan, lingkungan dan pengalaman yang membuat dia berkecenderungan memilih tindakan adharma tersebut. Tetapi didalam diri orang tersebut tetap ada benih kebenaraan, dia mempunyai hati nurani, saat dia mendengarkan dan mengikuti hati nurani maka dia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar…… Mungkin dia mempunyai kecenderungan tertentu akibat kelahirannya, tetapi itu bukan harga mati……. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri. Kita dapat mengubah nasib…….. Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak……. Tauhid bebas dari penghakiman, tapi ketika berada di tengah keramaian dunia, tetaplah mesti memilah, tentunya “tanpa menghakimi”. Yang nyaman dan menyenangkan itu tidak jahat, dan yang mulia tidak perlu diberi label “yang maha baik”. Pilihlah yang memuliakan tanpa menghakimi bahwa yang menyenangkan dan menyamankan itu jelek…….. Yesus mengatakan “jangan menghakimi” – kita tidak memahami maksudnya. Ia tidak mengatakan jangan memilah. Ia tidak mengatakan jangan melindungi dirimu dari jurang. Kita lupa bahwa adalah dia pula yang melarang supaya kita tidak melemparkan mutiara kepada kawanan babi……… Dalam buku “A New Christ Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” (Yohanes 12:47)…… Dan menyelamatkan dunia berarti tetap memilah antara dharma-adharma, tetap memilih antara shreya-yang memuliakan dan preya-yang menyamankan pikiran dan

panca indera, serta tetap menentukan sikap mau berpihak ke mana……… Sang Suami: Kita tidak menghakimi, akan tetapi memilah dan menentukan sikap itu penting. Dalam buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” disampaikan nasehat leluhur kita tentang “weweka”……… Kata “weweka” berasal dari kata “viveka”, the faculty for discrimination kemampuan kita untuk memilih tindakan mana yang tepat dan tindakan mana yang tidak tepat. Jangan memilih antara mana yang baik dan mana yang buruk. Baik dan buruk sangat relatif. Yang harus dipilih adalah mana yang tepat, mana yang tidak tepat. Apabila kita kehilangan sense of discrimination atau viveka ini dan tidak dapat memilah tindakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat akibatnya hanyalah kekacauan…….. Jangan menghakimi tetapi tetap memilah mana dharma mana adharma, mana shreya mana preya, kita berpihak ke mana……. Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Melayani Sesama Renungan Ke-57 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka yakin siraman wisdom secara repetitif-intensif dari referensi tersebu bagaikan pemberian pupuk bagi pengembangan tanaman kasih di dalam diri. Sang Suami: Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan orang lain. Setelah berkembang menjadi Manusia-Plus, dia akan berkata, Wahai Gusti, kebutuhan pribadi kami telah Gusti cukupi, ‘sampun cekap Gusti’….. biarlah waktu, napas dan apa pun yang telah Gusti karuniakan kepada kami, kami persembahkan bagi pelayanan kepada sesama……… Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana……… Sang Istri: Berkaitan dengan spiritualitas ada beberapa kondisi diri kala berhubungan dengan sesama, pertama Antipati, berlawanan dengan sesama; kedua Apati, cuek, acuh tak acuh terhadap sesama; ketiga Simpati, menaruh belas kasihan terhadap sesama yang sedang menderita; dan keempat Empati, dapat merasakan penderitaan sesama. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Empati – yang sebelumnya hanya dirasakan mulai dipraktekannya dalam keseharian hidup. Demikian ia memasuki terminal berikutnya melayani. Melayani berarti berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi orang lain, bagi seluruh umat manusia. Berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada

Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya………. Sang Suami: Berbicara masalah “Melayani” aku ingat buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” yang menyampaikan tentang……… Alkitab (Perjanjian Baru) Matius 25:35-40, “Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumah kalian.” “Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku di penjarakan, kalian menolong Aku.” Lalu orang-orang itu akan berkata, “Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum?” “Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing. Lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau di penjarakan, lalu kami menolong Tuhan?” Raja itu akan menjawab, “Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!” Melayani sesama dengan melayani Tuhan. Dan Tuhan pun bisa menggunakan tangan siapa saja untuk membantu kita, mengangkat kita dari keterpurukan. Mengapa kita masih juga meragukan hal ini? Karena kita belum yakin akan kemahahadiran-Nya. Kita belum cukup yakin akan kemahakuasaan-Nya. Kita belum dapat melihat wajah-Nya di mana-mana. Kita belum merasakan keagungan dan kemahabesaran-Nya…….. Sang Istri: Kebajikan tidak dimulai di Rumah demikian disampaikan dalam buku “Voice of Indonesia”………. Apa yang kita lakukan untuk kebutuhan kita, untuk rumah kita – tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan sama sekali. Itu sudah merupakan kewajiban kita, sudah merupakan tanggung jawab kita. Maka dari itu amal tidak dimulai di rumah. Kebajikan harus dimulai di luar rumah kita. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi.…. tetapi bagi mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pelayanan kita. Dengan melakukan kebijakan terhadap anggota keluarga kita, kita tidak membuktikan apapun. Bahkan kita telah menodai hubungan yang ada diantara kita sebagai anggota keluarga. Apa yang saya lakukan pada mereka adalah kewajiban saya kepada keluarga – tidak lebih dari itu. Dan ada waktunya kewajiban itu berakhir. Sebagai contoh Anda tidak berkewajiban untuk membiayai anak anda seumur hidupnya. Pada umur tertentu mereka harus berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan Anda tetap melakukannya – maka anda melakukan kebajikan. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat anda berkewajiban untuk melakukan kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban

anda. Tidak sebuah sistem kepercayaan manapun yang dapat melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak diharuskan untuk melakukan sebuah tindakan kewajiban. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun, pamrih apapun didalam dirinya untuk melakukan tindakan kebijakan……… Sang Suami: Betul istriku, dalam buku “Voice of Indonesia” tersebut juga disampaikan……… Kebajikan dilakukan bukan karena alasan apapun. Kebajikan harus dilakukan dalam perbuatan bajik itu sendiri. Kebajikan macam apa yang berakar pada sebuah agresi? Seorang pengacara dari sebuah lembaga yang bergerak di bidang hukum yang membela seorang teroris juga tidak melakukan sebuah kebajikan, meskipun mereka menyatakan bahwa mereka melakukan perbuatan itu dengan cuma-cuma, tidak dibayar oleh para teroris tersebut. Hal ini membuat mereka tidak lebih baik dari teroris yang mereka bela. Mereka berjuang dengan sebuah alasan yang sama, melakukan sebuah perbuatan yang tidak bajik. Kebajikan macam apa yang menyebabkan matinya ribuan orang, meledakkan bom di tempat-tempat umum dan merusak reputasi sebuah negara…….. Sebuah kebajikan dilakukan dengan alasan untuk menyenangkan banyak orang, sebanyak mungkin orang yang dapat dijangkau. Dan seorang yang bajik selalu terlibat dengan hal semacam itu. Seorang yang bajik, seorang dengan hati yang dipenuhi kebajikan, tidak dapat dikurangi dalam dinding-dinding rumahnya sendiri. Orang semacam itu akan selalu berusaha, melampaui kewajiban yang harus mereka lakukan, sehingga mereka dapat melakukan kebajikan bagi orang lain. Dengan kata lain, tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari kewajiban. Tidak, sama sekali tidak, mereka bekerja keras untuk memenuhi semua hutang mereka, menyelesaikan kewajiban mereka terhadap anggota keluarganya – sehingga mereka dapat melakukan sesuatu lebih mulai nilainya……… Sang Istri: Kembali ke masalah “Melayani”, melayani tidak berarti membuat yang dilayani menjadi “tergantung” selama hidupnya. Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Sistem yang berlaku di dunia saat ini telah menjebak kita dalam kesalahpahaman kolosal, kekeliruan massal, seolah melayani fakir miskin adalah perbuatan yang bajik. Tidak. Melayani fakir miskin, yatim piatu, para janda, orang sakit, dan lain sebagainya mesti dipahami sebagai: First Aid – Pelayanan Gawat Darurat. Janganlah mencintai unit gawat darurat. Jangan berlama-lama di dalam unit itu. Pun jangan sampai seorang pasien dipindahkan ke salah satu kamar di rumah sakit. Rumah sakit adalah rencana dunia, bukan rencana Allah. Dalam Kerajaan Allah tidak ada rumah sakit. Pelayanan gawat darurat hanyalah sebatas untuk menyembuhkan seorang, yang karena ulahnya sendiri, jatuh sakit. Dari unit gawat darurat itu setiap pasien mesti keluar dalam keadaan sembuh total. Seperti itu pula pelayanan-pelayanan lainnya, untuk menyembuhkan, mengoreksi, meluruskan, dan membantu manusia untuk menyadari kemanusiaan dirinya dalam waktu sesingkat mungkin………

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa…….. Terapi yang dibutuhkan untuk memanusiakan manusia, lagi-lagi, adalah kasih, kasih tanpa syarat dan tanpa batas. Belajarlah dari Allah Bapa. Melihat dunia ini dalam keadaan kacau-balau, apa yang dilakukan-Nya? Solusi apa yang diberiNya? “Allah Mengutus Anaknya yang Tunggal” (Yohanes 3:17) Dan, Anak Tunggal itu, Yesus itu, mewakili apa? Kemanusiaan, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri. la adalah “Anak Manusia”. Allah menghendaki: … supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)…….. Apa arti “Yesus, sebagai Anak Tunggal”? Arti Yesus sebagai Anak Tunggal adalah sama dengan arti “kemanusiaan dalam diri manusia” – Itulah sifat tunggal manusia. Manusia yang tidak manusiawi bukanlah manusia. Dan, inti kemanusiaan adalah “kasih”. Sesungguhnya, kemanusiaan adalah ungkapan kasih Allah. Itulah Zat Allah yang berada dalam diri setiap manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yohanes 3:16)……. Kemanusiaan atau Kasih, ibarat dua sisi dari sekeping uang logam yang sama. Tidak ada kemanusiaan tanpa kasih, dan tidak ada kasih tanpa kemanusiaan. Nah, kasih atau kemanusiaan dalam diri kita itulah: Kesadaran Kristus. Dalam bahasa Wattles, itulah Kesadaran Kosmis. Dalam bahasa Yoga, itulah Turiya, Hyang Tak Terjelaskan. Dalam bahasa Buddha, itulah Bodhichitta, Kesadaran Buddha………… Sang Istri: Iya suamiku, dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……… Kasih atau Kemanusiaan adalah sifat dari kesadaran tersebut. Kesadaran adalah sesuatu yang abstrak. Ketika yang abstrak itu mewujud, hasilnya adalah Kasih, hasilnya adalah Kemanusiaan. Di satu sisi, kasih mempersatukan kita dengan Tuhan, dengan Allah Bapa. Di sisi lain, kasih juga mempersatukan kita dengan sesama makhluk, bahkan dengan semesta. Pertemuan dengan Tuhan terjadi dalam keheningan diri. Sementara itu, pertemuan dengan semesta terjadi di tengah kebisingan dunia. Aku, kamu, dia, kita, alam semesta dengan seluruh isinya, dan Tuhan, semuanya bersatu dan menyatu dalam kasih. Ketika kita menyadari hal ini, terjadilah apa yang disebut “Pencerahan” – enlightenment. Pencerahan berarti “melihat apa yang tidak terlihat sebelumnya”. Tidak berarti apa yang tidak terlihat itu sebelumnya tidak ada. Ada, tapi tidak terlihat karena entah mata kita tertutup, atau selama ini kita memang…… menolak untuk melihat Kebenaran………. Terima kasih Bapak Anand Krishna

Memahami Program Rekayasa Mind Renungan Ke-58 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan yang berkaitan dengan pemrograman pikiran. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai, buku-buku dan artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari referensi yang mereka gali. Berusaha membuka hati dengan pemahaman secara repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Suami: Istriku, aku baru saja membuka arsip catatan tentang manipulasi pikiran, sebuah artikel tulisan Bapak Anand Krishna yang pernah dimuat Harian Kompas 15 Agustus 2009…….. Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) adalah yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.” Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” sesuai ”proses pembelajaran yang diperolehnya”. Sebenarnya Pavlov terinspirasi oleh law of association atau ”hukum keterkaitan” yang banyak dibahas para pujangga dan ilmuwan sebelumnya. Menurut hukum itu, ”suatu kejadian” dalam hidup manusia atau bentuk kehidupan lain —tetapi tidak terbatas pada hewan dan tumbuhan—dapat dikaitkan dengan ”keadaan” atau ”perangsang” atau ”apa saja” yang sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan kejadian itu. Sang Istri: Iya suamiku, dalam artikel tersebut disampaikan…….. Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atauunconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya. Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur. Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau… manusia! Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan ”pengulangan”. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif. Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya……… Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi

kebenaran. Tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan. Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang……… Sang Suami: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan…….. Proses pembombardiran dilakukan dengan cara “pengulangan yang intensif dan terus menerus” atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan. Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan “memaksa” untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan lick Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka……… Sang Istri: Sebuah masyarakat yang malas berpikir dan terbiasa menerima “Kebenaran instan” mudah disalah gunakan oleh para manipulator otak. Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog” disampaikan…….. Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya. Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka”. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran”………… Sang Suami: Dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan” disampaikan…….. Seekor kuda, bila diberi sambal, akan mengamuk. Ia akan lepas kendali karena kepedasan. Ia tidak doyan sambal. Tapi, apa yang terjadi bila kuda yang tidak doyan sambal, menjadi doyan? Kebiasaan baru itu pasti mengubah sifat dasarnya. Kuda tersebut menjadi tukang ngamuk ia akan lepas kendali, sulit diatur. Ini yang terjadi pada diri kita. Kita bukanlah bangsa yang percaya pada kekerasan. Pada dasarnya kita selalu mencari solusi damai. Kita adalah bangsa yang cinta damai. Kita bukanlah bangsa yang doyan makan “sambal kekerasan”. Tapi belakangan ini, kita gemar sambal kekerasan. Kita melupakan kodrat kita sebagai manusia Indonesia yang mencintai kedamaian. Kita melupakan Mpu Tantular yang senantiasa mencari solusi damai…….

Sang Istri: Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern” disampaikan…….. Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan……… Sang Suami: Benar istriku. Menjadi “sadar” itu tidak mudah, karena kita tidak pernah menyadari bahwa kita telah dibelenggu oleh pola pikiran akibat warisan genetik. Seseorang yang mempunyai warisan genetik dari orang tua, kakek-nenek bahkan beberapa generasi sebelumnya yang menganggap keyakinannya paling benar, dalam dirinya sudah terbentuk genetik yang menganggap keyakinan tersebut paling benar. Usaha mengubahnya tentu tidak mudah. Seseorang yang sejak balita, dimana perkembangan otaknya paling maksimal bahkan pada perkembangan awal sampai usia lulus sekolah dasarnya didikte bahwa keyakinannya paling benar, maka sudah terbentuk pola pikiran bawah sadar yang hampir stabil…….. Bagaimana pun selama otak masih dapat berfungsi dengan baik, kita dapat memperbaiki program yang telah terinstall di dalamnya. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” disampaikan……… Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut prosesdeconditioning dan re-creating mind yang sudah diulas dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable ! Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan”, karya Bapak Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon) disampaikan…….. Kita telah paham bahwa sinap-sinap saraf dalam otak manusia mengantar muatan informasi dari satu sel ke sel yang lain. Jika kita membombardirnya dengan muatan informasi yang melemahkan jiwa manusia, informasi itu pula yang diteruskannya dari sel ke sel bahkan dari orangtua ke anaknya. Sebaliknya, jika kita membombardirnya dengan muatan informasi yang memberdayakan jiwa, informasi itu pula yang diteruskannya……… Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka……… Sang Suami: Istriku, aku ingat buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan

Sang Mahaguru Shankara” yang menyampaikan……… Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu……….. Sang Istri: Suamiku, bila kita sadar dan membombardir diri dengan informasi yang baik, yang memberdayakan jiwa, kita mempunyai kesempatan untuk memperbaiki genetik. Perbaikan karakter bangsa dimulai dari diri sendiri, dan diturunkan kepada anak keturunannya. Kemudian seorang yang sadar, mulai menyebarkan “virus kesadaran”- nya kepada lingkungannya. Pada gilirannya setiap orang yang telah sadar dalam lingkungannya tersebut akan menyebarkan virus kesadaran ke lingkungan mereka. Dan evolusi manusia akan berkembang semakin cepat………. Seorang Guru telah membangkitkan benih kesadaran dalam setiap murid dan sahabat-sahabatnya lewat pertemuan langsung, buku-buku karyanya, lewat jejaring masyarakat maupun jejaring di dunia maya. Benih kesadaran tersebut sudah ada dalam diri kita, tinggal ditumbuh-kembangkan saja………. Semoga……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Masih Tertidur-Belum Terjaga Renungan Ke-59 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Beberapa buku, artikel dan wejangan Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka yakin siraman wisdom dari referensi tersebut secara repetitif intensif bagaikan pemberian pupuk bagi pengembangan tanaman kasih dalam diri. Sang Suami: Istriku, kita baru saja membaca ulang bersama sebuah wejangan pada beberapa tahun lalu yang masih selalu menyentuh hati kita………. Sri Krishna berkata di Bhagawad Gita: malam bagi mereka yang tidak sadar, merupakan siang bagi mereka yang sadar. Saat itu mereka dalam keadaan jaga. Dan pada saat mereka yang belum sadar dalam keadaan jaga, seorang bijak berada dalam keadaan tidur…… Secara apa yang tersirat dan apa yang tersurat dalam kata-kata tersebut – dua-duanya perlu direnungkan. Yang tersurat: malam hari adalah saat yang paling tepat untuk melakukan olah spiritual. Sadhu Vaswani pernah menulis, “keep awake at night to please Rama.” Jangan tidur sepanjang malam, terjagalah sepanjang malam untuk menyenangkan Yang Maha Kuasa. Seperti pengantin baru, rasa ngantuknya sudah hilang. Walaupun sebelumnya ia capek karena pesta perkawinan, tetapi rasa capek itu terkalahkan oleh rasa bahagia untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Seorang murid atau seorang pengabdi, seorang disciple, seorang devotee – adalah seorang pengantin baru. Dia tidak pernah berubah menjadi istri lama yang sudah bersikap acuh tak acuh terhadap suaminya. Sebab itu bhakti disebut NITNUTAN – selalu baru. Bhakti tidak pernah menjadi usang, tidak pernah menjadi layu karena waktu………. Ada kalanya ketika kita berguru, kita merasa sangat excited. Ini juga terjadi ketika kita baru belajar agama, atau baru menjalani olah spiritual. Namun setelah beberapa waktu kemudian excitement itu hilang, malah lenyap tanpa bekas. Ini bukan bhakti. Bhakti adalah excitement sepanjang masa. Tidak pernah mengalami pasang surut. Seorang bhakta adalah seorang penganten baru sepanjang masa. Cintanya, kerinduannya tidak pernah surut. Itu yang tersurat……. Sang Istri: Kemudian wejangan tersebut menjelaskan yang tersirat………. Sekarang yang tersirat: malam adalah gelap. Dan, seluruh dunia sedang mengejar cahaya. Kita pun bekerja ketika matahari masih ada. Kita sepenuhnya tergantung pada cahaya di luar diri. Seorang bhakta tidak tergantung pada cahaya itu. Dia tidak tergantung pada cahaya di luar diri, cahaya matahari, maupun cahaya buatan. Dia sepenuhnya bergantung pada cahaya jiwa di dalam dirinya, sinar kesadaran di dalam batinnya. Batin yang selama ini gelap gulita bagi mereka yang belum mengenal bhakti adalah terang benderang bagi para bhakta. Para pecinta telah menemukan bulan, bintang dan matahari. Kesadaran serta pencerahan di dalam diri mereka. Sebab itu, keep awake, O my soul while the world sleeps, karena Sang Kekasih dapat mengunjungimu setiap saat. Jangan sampai Ia menemukan dirimu tertidur lelap ketika Dia mengunjungi rumahmu. Jangan sampai jiwamu tidak mendengar langkah kaki-Nya, dan ketukan-Nya pada pintu batinmu. Do not seek company…… Dunia ini masih tertidur, biarlah mereka yang suka tidur bersahabat dengan mereka yang sama-sama suka tidur.

Janganlah kau bersahabat dengan mereka. Nantikan kedatangan Sang Kekasih dalam kesepianmu, keheninganmu kehampaanmu – seorang diri! Sang Suami: Benar istriku, dunia ini masih tertidur, kita masih tertidur. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan……… Ada yang mengejar harta, ada yang mengejar pahala. Ada yang mengejar takhta, ada yang mengejar sorga. Dilihat sepintas, mereka tampak berbeda. Padahal, tidak demikian. Selama Anda masih mengejar sesuatu, Anda belum “terjaga”. Anda kekurangan harta dalam mimpi, dan Anda mengejar harta dalam mimpi. Anda menginginkan pahala dalam mimpi, dan Anda mengejar pahala dalam mimpi. Anda tidak memiliki takhta dalam mimpi, dan Anda mengejar takhta dalam mimpi. Anda kehilangan sorga dalam mimpi, dan Anda mengejar sorga dalam mimpi. Ada yang pernah menanyakan kepada Siddhartha Gautama, “Siapakah Engkau sebenarnya? Manusia atau Dewa, Malaikat?” Sang Buddha menjawab, “Aku Buddha—Yang Terjaga!”…………. Sang Istri: Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” tersebut juga disampaikan……… Umat manusia terbagi dalam dua kelompok utama. Kelompok yang masih tidur, masih bermimpi. Dan kelompok yang sudah terjaga. Ironisnya, kelompok yang masih tidur inilah kelompok mayoritas. Yang sudah terjaga, sedikit sekali. Syukur-syukur kalau mereka hanya tidur dan bermimpi. Di zaman Shankara, mungkin demikian. Sekarang, ceritanya lain lagi. Mereka tidak hanya bermimpi, tetapi berjalan dalam tidur, sehingga terjadilah kekacauan di mana-mana……… Sang Suami: Sesungguhnya kesadaran kita tidak pernah mati, hanya tertidur lelap. Gusti Yesus memberikan istilah “lahir kembali” kepada orang yang telah terjaga. Kita semua berasal dari Roh. Namun, kemudian kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Dan kita “tertidur lelap” dalam ketidaksadaran. Dalam buku “Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan” disampaikan…….. Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah. Yang harus lahir kembali siapa? Banyak penafsir liberal mengkaitkan ayat ini dengan reinkarnasi; padahal tidak demikian. Ayat ini tidak menjelaskan reinkarnasi. “Dilahirkan kembali” sepuluh ribu kali pun tidak menjadi jaminan bahwa Anda akan “melihat Kerajaan Allah”. Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah “kematian mind” dan “kelahiran kembali kesadaran”. Bangkitnya kesadaran diri – bangkitnya Kundalini – itu yang dimaksudkan oleh Yesus. Sesungguhnya “kesadaran” dalam diri kita tidak pernah mati, hanya tertidur lelap. Dalam simbolisasi Yoga, kesadaran ini digambarkan sebagai seekor ular yang sedang tertidur pulas, sulit dibangunkan. Tetapi sekali terjaga, sekali terbangunkan, dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun juga. Dia bisa mengangkat sendiri kepalanya. Dia bisa bergerak sendiri………

Sang Istri: Ajaran para Buddha menyebut istilah “keadaan terjaga dari tidur panjang” tersebut sebagai “Tatha”. Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Dalam ajaran para Buddha – mereka yang sudah “terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi” – keadaan itu disebut “Tatha”. “Tatha”, Berarti….“Thus”, atau “Such” – seperti itulah!. Ya, seperti itulah arti “Tatha” – “Seperti Itulah!” Singkatan dari “Yatha-Bhuta”, yang juga bisa diartikan “As It Is”, atau sebagaimana adanya”. “Tatha” adalah keadaan awal setiap manusia……. Yesus mengatakan kita “kembali seperti seorang anak kecil” – like a little child! “Kembali seperti seorang anak kecil”, berarti, “tetap dewasa, tapi dengan kepolosan, kesahajaan, dan terutama keceriaan seorang anak kecil.” Oleh sebab itu, seorang yang telah terjaga dari tidur panjang pikiran dan emosi disebut “Tathagata”-”ia yang telah mencapai keadaan itu”. Menjadi “seperti seorang anak kecil” berarti menjadi seorang Tathagata. Polos, tapi tidak bodoh. Bersahaja, tapi tidak naif. Lembut, tapi tidak lemah. Sopan, tapi menjaga diri, “supaya tidak dimakan orang juga”…….. Ketika Buddha ditanya seperti apakah ciri-ciri seorangTathagata la menjelaskan: “Tak terjelaskan”. Namun, Buddha menjelaskan cara untuk mencapai keadaan itu, yakni dengan membebaskan diri dari keterikatan pada kebendaan yang senantiasa berubah terus. Dan, menyadari hal itu, menyadari bahwa “perubahan adalah sifar dasar benda”. Jika kita terikat dengan salah satu wujud, ketika wujud itu berubah menjadi sesuatu yang lain, kita merasa kehilangan, kecewa, dan berduka………. Sang Suami: Dalam buku “A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……… Adakah Kemungkinan Kita Bisa Bebas dari Keterikatan? Ada. Jika kita bisa mengakses “keadaan awal seperti itu” – Tatha. Ada kemungkinan, jika kita bisa berada dalam keadaan itu – Tathagata. Ya, ada kemungkinan. Jika kita bisa menjadi “seperti seoarang anak kecil”. Analogi Yesus sungguh sangat indah, dan mudah untuk dipahami. Awam yang sedang mendengar wejangan-Nya tidak perlu memutar otak tujuh keliling untuk memahami maksud-Nya………. Ketika seorang anak kecil kehilangan mainannya, apakah ia menangis hingga berhari-hari? Menangis sebentar, setelah itu ia “lupa”. Ya, sudah. Hilang, ya hilang. Tapi, apa yang terjadi ketika kita kehilangan sesuatu, ketika kita kehilangan seorang yang kita cintai? “Ah, jangan membandingkan orang dengan mainan!” kata kawanku. Tidak, kawan. Tidak, sobat. Perbandingan itu sesungguhnya tidak penting, yang penting adalah “rasa kehilangan”. Seorang anak kecil “kehilangan” sesuatu, dan kita pun “kehilangan” sesuatu, bagaimana sikap dia dan bagaimana sikap kita? Seorang anak balita yang kehilangan ibunya juga tidak akan merasakan seperti apa yang kita rasakan jika kehilangan seorang yang kita cintai……… Kehilangan tetaplah kehilangan. Lalu, apa yang membedakan seorang anak kecil yang kehilangan dan kita yang kehilangan? Adakah yang membedakan kita, yang sudah dewasa, dari anak kecil yang jelas masih kecil? Adalah “keterikatan” yang membedakan. Seorang anak kecil masih belum “terlalu” terikat. Orang dewasa, sudah

“terlanjur” sangat terikat. Kemudian, apa yang terjadi jika seorang dewasa “kembali menjadi seperti seorang anak kecil”? Apakah ia menjadi seperti anak kecil “yang belum terlalu terikat itu”? Tidak, hidup ini tidak mengenal langkah balik. Tidak bisa regresi, itu akan menafikan hukum alam akan evolusi dan kemajuan. Hidup bersifat progresif. Seorang dewasa yang “kembali menjadi seperti seorang anak kecil” melampaui keterikatannya. la tidak melangkah balik, tapi melangkah maju………. Sang Istri: Benar suamiku, dalam buku tersebut juga disampaikan……… Supaya kita ingat, Yesus hanya menggunakan “seperti seorang anak kecil” sebagai analogi, perumpamaan. Sebab itu, la menggunakan kata “seperti anak kecil” – childlike, bukan childish atau kekanak-kanakan. Adakah yang membedakan keadaan “seorang anak kecil yang masih belum terlalu terikat” dari keadaan “seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan, kembali menjadi seperti seorang anak kecil atau yang disebut Tathagata”? Jawabanya: ya, ada. Seorang anak kecil yang belum terikat bersikap cuek, indifferent. Sebaliknya, seorang dewasa yang telah melampaui keterikatan tidak cuek, tidak indifferent, tidak meninggalkan masyarakat untuk menyepi di tengah hutan, dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Justru sebaliknya, ia menjadi sangat peduli terhadap keadaan dunia. la melayani dunia dengan penuh semangat dan keceriaan, dan tanpa mementingkan keuntungan pribadi. la menjadi pelayan dunia yang sangat istimewa. la menjadi Mesias, ia menjadi Buddha!…….. Semoga mosaik wisdom ini menjadi penambah semangat untuk peningkatan kesadaran kita semua…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Gong Xi Fa Chai Tahun Kelinci 2562, Memanfaatkan dan Melampaui Pengaruh Astrologi Renungan Ke-60 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Buku-buku serta artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka ingin memupuk benih kasih dalam diri dengan hujan wisdom secara repetitif intensif. Mereka membuka selubung diri dan menerima hujan wisdom guna membasahi dan mengembangkan benih kasih dalam diri. Sang Suami: Istriku, kita sudah memasuki Tahun Kelinci 2562, kata orang Kelinci melambangkan keanggunan, sopan-santun, kehati-hatian, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Kelinci bersifat lemah-lembut, dan gerak-geriknya luwes tetapi cekatan. Semua waktu selalu dipengaruhi oleh konstelasi bintang di alam semesta, sebagaimana kita selalu dipengaruhi oleh beberapa orang dominan yang berada di sekitar kita…….. Sang Istri: Suamiku, kali ini mari kita berbincang-bincang masalah astrologi. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……. Sri Yukteshwar, 1855-1936 Mistikus/Yogi, Guru Paramhansa Yogananda berpendapat bahwa kelahiran seorang anak terjadi saat pengaruh konstelasi perbintangan selaras dengan hasil perbuatan (karma) anak itu di masa lalu…….. Sang Suami: Baik istriku, Ilmu astrologi memang dapat menjelaskan “sifat dasar” seseorang berdasar pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun “sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan…….. Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup……… Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan……… Sang Istri: Benar suamiku, aku teringat bahwa dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan

Mistik” disampaikan………. Segala sesuatu dalam alam ini saling berkaitan. Dalam hidup sehari-hari, manusia berhadapan dengan dua macam kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan gabungan elemen-elemen alami, seperti tanah, air, api , angin dan ruang angkasa, yang ada dalam dirinya. Kekuatan kedua adalah kekuatan alam di luar dirinya. Selama kesadaran manusia masih berada pada lapisan fisik yang bersifat sementara, ia akan selalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di bumi dan di langit. Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih. Mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat. Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang………… Walaupun demikian buku tersebut menambahkan………. Mereka yang bertakhayul dan tanpa pengetahuan yang benar, mempercayai ilmu perbintangan menjadi budak para peramal. Seorang bijak akan berhasil menaklukkan bintang-bintang yang mempengaruhi hidupnya. Caranya mudah, ia harus mengalihkan kesadarannya dari ciptaan, ke Sang Pencipta. Pengalihan kesadaran semacam itu – peningkatan kesadaran seperti itu – akan membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh duniawi (Pengaruhbintang, ramalan dan lain sebagainya masih bersifat sangat duniawi)………. Peningkatan kesadaran yang terjadi dalam diri manusia akan membuat dia semakin menyadari ketidakterbatasan jiwanya. Sang Aku yang tidak pernah mati, karena tidak pernah lahir. Sang Aku tidak bisa dipengaruhi oleh bintang-bintang………. Sang Suami: Iya istriku, dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Leluhur kita yakin bila suratan takdir adalah buatan kita sendiri. Mengikuti hukum sebab-akibat kita menuai sesuai dengan apa yang kita tanam. Buah “akibat” yang kita peroleh hari ini adalah hasil perbuatan kita di masa lalu. Memang kita tidak bisa menolak buah itu. Tapi, kita bisa memastikan buah hari esok, dengan memperbaiki perbuatan kita hari ini. Manusia bukanlah korban nasib yang tidak berdaya. Ia memiliki kemampuan untuk mengubah nasibnya, demikianlah keyakinan leluhur kita. Demikianlah ajaran para bijak dari wilayah peradaban Sindhu, atau Hindia…….. Mereka baru mulai sadar bila penderitaan bukanlah “cobaan” dari Tuhan, tapi adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, penderitaan dapat diakhiri sekarang, dan saat ini juga, dengan mengubah diri dan memperbaiki perbuatan diri. Obor pengetahuan dan kesadaran baru ini tidak hanya menerangi jiwa Barat, tapi juga membakar habis ilalang kebodohan dan ketidaksadaran vang selama itu menghalangi pertumbuhan jiwa mereka. Hidupmu adalah hidup-”mu”. Kau bertanggung jawab penuh atas hidupmu, atas setiap tindakan, bahkan ucapan, pikiran, dan perasaanmu. Kau bisa memilih hidup dengan kesadaran akan tanggung jawabmu, dan menjadi penentu garis hidupmu. Atau, memilih hidup tanpa menyadari tanggung jawab itu, dan ikut

terombang-ambing bersama setiap gelombang pikiran, perasaan, dan keadaan di luar. Kita bisa memilih hidup tanpa kesadaran, dan sepanjang masa berjungkat-jungkit antara pengalaman suka dan duka…. Atau, memilih hidup dengan kesadaran, dan merayakan hidup sekarang dan saat ini juga! Sang Istri: Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan…… Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet………. Sang Suami: Istriku, kita dapat memanfaatkan pengetahuan astrologi bagi peningkatan kesadaran. Buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, oleh Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh Bapak Anand Krishna” memberikan informasi lengkap tentang setiap bintang, baik kelemahan maupun kelebihannya. Bahkan juga memberikan penjelasan ilmiah tentang pengaruh warna dan batuan kristal……… Kita bisa berkarya sesuai dengan potensi diri. Ada pepatah Cina: “Carilah pekerjaan yang kausukai maka kau tidak akan pernah merasa capek.” Berarti, mengubah hobi menjadi profesi. Silakan mempelajari pengaruh konstelasi perbintangan terhadap rasi Anda. Pelajari pula kekuatan-kekuatan alam yang siap mendukung Anda, dan membantu dalam hal pengembangan diri. Gunakan kekuatan-kekuatan itu untuk meraih keberhasilan. Di saat yang sama, pelajari pula kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangan diri. Janganlah berpikir bila kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan itu tidak dapat diatasi. Semuanya dapat diatasi dan diperbaiki. Adalah kehendak yang kuat dan karya nyata untuk mengubah diri, dan mengubah keadaan. Itu saja yang dibutuhkan……… Sang Istri: Buku tersebut memberikan sebuah catatan tambahan……… Catatan: Bhakti Seva menerjemahkan kata “sankalpa” dalam bahasa Sanskerta sebagai “keinginan” atau “desire”. Adalah “sedikit” lebih tepat jika kata tersebut diterjemahkan sebagai “will power” atau “kehendak yang kuat”. Saya katakan “sedikit” lebih tepat karena memang sulit menerjemahkan “sankalpa”. Pengertiannya adalah “kehendak kuat yang selaras dengan Kehendak Ilahi”. Orang yang ber-sankalpasesungguhnya telah hanyut dalam kesadaran ilahi. Hal ini telah saya jelaskan dalam “A New Christ, terjemahan, dan ulasan saya terhadap karya monumental, terpenting, dan terbaik Wallace Wattles, penulis The Science of Getting Rich, inpirasi di balik buku dan film The Secret”……. Selanjutnya, saya mesti melakukan revisi seperlunya, supaya pengertian umum yang sudah terlanjur salah mengaitkan “keinginan” atau “desire” dengan hukum ketertarikan atau law of attraction. Keinginan saja tidak cukup walau dibungkus rapi dengan keyakinan. Keinginan kita juga mesti selaras dengan seperangkat hukum alam yang lain, dan di atas segalanya adalah Hukum Sebab Akibat. Sankalpa adalah ‘kehendak kuat” yang

selaras dengan Hukum Sebab-Akibat tersebut……. Sang Suami: Dalam buku tersebut disampaikan…….. Para astrolog di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia selalu menasihati supaya kita betul-betul memusatkan seluruh pikiran/kesadaran kita pada apa yang kita hendaki. Itulah satu-satunya cara untuk mewujudkan kehendak menjadi kenyataan dalam hidup. Dalam hal ini, keberhasilan seseorang sangat tergantung pada: Harapan, Kesabaran, dan Keteguhan Hati. Di balik setiap akibat ada sebab. Bukanlah tanpa alasan jika sebagian orang meraih keberhasilan dan kebahagiaan; sementara itu sebagian lagi gagal, sakit-sakitan, hidup dalam kemelaratan, kesengsaraan, dan penderitaan. Oleh sebab itu, memang ada baiknya kita belajar dari kejadian-kejadian di masa lalu sehingga tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lama. Tetapi, sangat tidak baik jika kita bernostalgia terus dan menghabiskan waktu untuk menyesali kesalahan-kesalahan di masa lalu. Janganlah melemahkan diri, dan mengendurkan semangatmu dengan mengenang terus kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu. Sekarang, saatnya kau bersemangat kembali, dan menghadapi tantangan hidup dengan penuh keceriaan………. Dengan hati yang tenang tapi teguh ucapkan afirmasi ini: Terjadilah apa yang kuinginkan. Keberhasilan dan kebahagiaan mewarnai hidupku. Kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak mengendurkan semangatku. Aku justru memanfaatkan pengalaman pengalaman itu sebagai anak tangga untuk meraih Keberhasilan Sejati, dan Kebenaran Abadi…….. Keteguhan hati, kesabaran, dan semangatmu akan mengundang kekuatan-kekuatan alam untuk membantumu sehingga kau dengan mudah meraih kesehatan, kekayaan, keberhasilan, dan kebahagiaan sejati………. Kiong Hi…….. Gong Xi Fa Chai….. __/\__ Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Aku Sudah Lelah Gusti Renungan Ke-61 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang berolah-rasa mengenai berguru. Beberapa buku, artikel dan wejangan Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka membuka diri terhadap aliran wisdom yang berasal dari sumber mata air referensi penuh kasih tersebut. Mereka membiarkan aliran wisdom tersebut membasahi dan membuat lembab hati mereka……. Sang Suami: Istriku, kita baru saja membaca bersama sebuah file berisi sharing seorang murid tentang Gurunya……. “Mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu dalam spiritualitas relatif lebih mudah dari pada mempertahankannya. Malah yang sering kali terjadi adalah kejatuhan kesadaran ke posisi yang lebih rendah. ‘Satsang’, entah berapa kali Guru sudah menasehati kita akan hal ini, sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kesadaran yang telah kita capai. Demikian pula, penggunaan pikiran yang lebih diutamakan daripada bhakti, membuat kita lebih mudah jatuh, atau paling tidak mandek di tempat. Mengenai hal ini, Guru pernah memberikan ilustrasi.”……. Vivekananda yang penuh gelora semangat, di akhir hidupnya, setelah begitu banyak yang dia lakukan, akhirnya kembali ke kaki Bunda Kali dan berkata, “Cukup Bunda, aku sudah lelah. Terimalah aku di kaki-Mu”………. Sang Istri: Iya suamiku, dalam file tersebut juga disampaikan…….. “Cara terbaik untuk mempertahankan kesadaran adalah dengan menjauhi ‘Kusang’ atau lingkungan yang tidak menunjang peningkatan kesadaran. Dan, memulai kembali untuk meningkatkan bhakti kita dengan cara lebih mengembangkan Rasa daripada Pikiran. Namun kadang kita sudah mencoba untuk ‘satsang’ tetapi pikiran kita justru melakukan ‘kusang’. Dan di situlah kita memerlukan seorang Guru untuk selalu mengingatkan kita karena keberadaan beliau dari mulai perbuatan, ucapan dan apa pun yang dipikirkannya selalu mengenai peningkatan kesadaran…….. Seorang sahabat konon lagi iseng menggambar seekor anjing di atas selembar kertas. Kemudian Guru datang dan menambahkan gambar tersebut dan merubahnya menjadi gambar Yesus, sambil berkata, ‘See the difference? I make God from Dog.’ Betapa seorang Guru dalam situasi apa pun mencoba meningkatkan kesadaran kita meskipun dalam keadaan bercanda”…… Dan, suamiku….. betapa telaknya pernyataan Sang Guru bagi kita yang membaca sharing tersebut…….. kita semua tadinya bagaikan hewan yang hanya menuruti nafsu dan naluri…… dan karena tuntunan seorang Guru kita dapat meningkat kesadarannya….. Tanpa tuntunan seorang Guru, tanpa panduan terus-menerus penuh kasih untuk memelihara kesadaran kita akan kembali ke sifat hewani lagi……. Sang Suami: Istriku, dalam file tersebut Sang Murid meneruskan sharingnya…….. “Yang paling susah adalah masalah Bhakti. Menurut Guru, saat ini kita sudah terlalu banyak menggunakan pikiran dan meninggalkan Bhakti, seperti ilustrasi tentang Vivekananda di atas yang pada akhirnya pun harus kembali ke Bhakti. Spiritualitas, mengutip kata-kata Guru, pada akhirnya adalah suatu proses penghapusan Ego secara

terus menerus. Dengan keberadaan seorang Guru, kita dapat lebih mudah untuk menghapuskan Ego kita karena seorang Guru dapat menjadi subjek bagi kita untuk menafikan ego. Dalam salah satu kelas, Guru bercerita bahwa seorang global master di depan jutaan muridnya pernah berkata bahwa beliau sedang mencari seorang Bhakta. Bayangkan dengan jumlah murid yang berjumlah jutaan itu dan dengan tingkat devosi yang demikian tinggi, Sang Master masih sedang mencari seorang Bhakta. Mendengar penjelasan Guru seperti itu, bikin shock juga”…….. Sang Suami: Dalam buku “Shri Sai Satcharita” disampaikan……… Puluhan ribu tahun yang lalu, dalam Masa Emas atau Sat Yuga, “bertapa” adalah jalan yang paling tepat. Kemudian pada Masa Perak atau Treta Yuga, Datanglah Rama untuk menunjukkan jalur “pengorbanan”. Kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, Krishna menganjurkan “pelayanan” penuh kasih sebagai jalan yang paling tepat untuk Masa Tembaga atau Dwapara Yuga. Sekarang, untuk Masa Besi atau Kali Yuga, adalah “bhajan” atau naam sankeertan menyanyikan kebesaran, keagungan dan kemuliaan Gusti Pangeran…….. Istriku, dalam kehidupan modern yang sangat kompleks ini mestinya kita juga melakoni semuanya dalam satu masa kehidupan. Kita melakukan “tapa”, melakukan “pengorbanan”, melakukan “pelayanan” dan terakhir “bhajan” mengagungkan nama Gusti……. Bukankah Swami Vivekananda yang penuh gelora semangat telah melakukan semuanya, tapa, pengorbanan, pelayanan dan akhirnya pasrah pada Gusti dan mengagungkan nama-Nya? Bukankah demikian sharing dari sahabat kita di awal pembicaraan? Bunda Kali adalah salah satu dari nama-Nya……. Vivekananda yang penuh gelora semangat, di akhir hidupnya, setelah begitu banyak yang dia lakukan, akhirnya kembali ke kaki Bunda Kali dan berkata, “Cukup Bunda, aku sudah lelah. Terimalah aku di kaki-Mu”………. Sang Istri: Benar suamiku, mengenai istilah “tapa” dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” disebutkan sudah meliputi pengorbanan……. Tapa berarti “pengorbanan”. Apa yang harus kita korbankan? Keangkuhan kita, hawa nafsu kita, ketamakan dan keserakahan kita. Semua itu yang harus dikorbankan, dilepaskan. Tapa tidak berarti pelarian diri dari dunia. Tapa berarti pelepasan diri dari keterikatan duniawi – tetap berada di dunia ini, menikmati segalanya, tetapi tidak terikat pada apa pun. Mereka yang sanggup melakukan hal itu, baru bisa disebut Pertapa……… Sang Suami: Pertama sekali kita perlu memahami lebih dahulu tentang peran Guru. Swami Vivekananda memahami lebih dulu peran Sadgurunya yaitu Sri Ramakrishna. Dalam buku “Sri Sai Satcharita” disampaikan……. Pemahaman kita tentang peran Guru mesti jelas. Ia adalah pemandu yang menunjukkan jalan, jalan ke dalam diri dan di dalam diri itu, Dia bersemayam. Bagiku menjadi sangat mudah untuk meniti jalan ke dalam diri, ketika kusadari bahwa yang sedang kucari di dalam diri juga adalah Dia, Sadguru! Kemudian, tinggal memancarkan kesadaran diri itu ke luar… Maka, Sadguru yang ada di dalam diri, juga terlihat jelas di luar diri. Ia berada di mana-mana. Kemudian, seluruh hidup ini menjadi nyanyian ruhani yang indah, sekaligus tak terputuskan, akhand bhajan!……..

Sang Istri: Masalah nyanyian ruhani, mengagungkan nama Gusti……. Seorang penyanyi dengan suara merdu menyanyikan lagu spiritual dengan penuh rasa diiringi musik sebagai latar belakangnya. Keberadaan musik sebagai pengantar lirik sang penyanyi, tidak mengganggu suara sang penyanyi. Lirik sang penyanyi begitu jelas terdengar menyentuh kalbu para pendengarnya. Seluruh yang hadir kemudian menirukan lirik sang penyanyi bait demi bait dengan segenap rasa. Kegiatan menyanyi bersama ini disebut bhajan. Bhajan akan terasa lebih berjiwa ketika Sang Guru, Sang Murshid mengikuti kegiatan bhajan tersebut…….. Masing-masing peserta yang berpartisipasi mempunyai ego sendiri-sendiri, dan mempersatukan ego tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Musik bersifat universal, rasa bersifat universal pula sehingga bhajan dapat mempersatukan pikiran semua peserta yang berlainan egonya. Musik dan lirik yang spiritual merasuk diri, dan dapat diterima peserta bhajan dengan terbuka. Penyanyi adalah The Leader, Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak mengikuti irama musik seperti halnya pada musik karaoke. Para pemain musiklah yang mengikuti nyanyian Sang Pemimpin. Seluruh yang hadir mengulangi lirik lagu Sang Pemimpin dengan nada yang sama. Di situlah para pemain musik dan para peserta bhajan bertindak menafikan ego untuk mengikuti Sang Pemimpin. Penyanyi yang handal diikuti pemain musik yang harmonis dan peserta bhajan yang patuh menghasilkan lagu yang indah dan menyentuh hati. Seandainya pemimpin negara yang handal diikuti para pejabat (pemain musik) yang telah menghilangkan ego pribadi dan warga negara (peserta bhajan) yang patuh dan yakin pada Sang Pemimpin maka kemajuan suatu negara sudahlah pasti diambang mata…….Lagu-lagu spiritual yang dinyanyikan sepenuh hati dalam bhajan melembutkan jiwa kita…….. Sang Suami: Istriku, aku ingat dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Para panembah bukan penyanyi profesional. Lagu dan nyanyian adalah ungkapan dari panembahan mereka, bukan profesi mereka. Chaitanya menyadari betul hal tersebut, maka ia ingin bebas dari segala macam syarat dan ketentuan. Ia ingin menyembah secara bebas, tanpa ketergantungan pada sesuatu di luar diri. Ia ingin menyembah dengan cara yang paling sederhana, “hanya dengan mengucapkan nama-Nya.” Diriku ini Milik-Mu. Inilah penyerahan diri. Inilah keikhlasan dan kepasrahan diri yang sempurna. Tanpa embel-embel. Inilah cinta yang tak terbatas, dan tanpa syarat. Cinta seperti ini adalah suatu “kejadian” yang jarang terjadi. Inilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh jiwa. Inilah kejadian yang dapat mengantar jiwa pada tahap evolusi berikutnya, tempat ia “menjadi”cinta. Tahap pertama adalah penyerahan diri: “Aku milik-Mu”. Inilah “kejadian” awal. Saat kejadian ini, ego kita sudah knock out, flat on the ground. Ia sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia sudah tidak berdaya. Diri-Mu adalah Milikku. Inilah langkah kedua setelah penyerahan diri. Setelah penyerahan diri, sekarang pernyataan kepemilikan diri. Aku telah menjadi milik Gusti Pangeran, sekarang Gusti Pangeran menjadi milikku. “Cintaku untuk-Mu semata untuk Melayani-Mu” tak ada kepentingan pribadi, tak ada tuntutan birahi, tak ada urusan kepuasan diri. “Harapanku padaMu,” bukanlah supaya kau membalas cintaku, tapi “semoga Kau berkenan atas ungkapan kasihku padaMu.” Cinta macam apakah ini? Inilah Cinta

Sejati, inilah Kasih Ilahi. Nafsu birahi selalu menuntut, cinta penuh emosi memberi, tapi selalu mengharapkan balasan/imbalan. Cinta sejati adalah ungkapan kasih ilahi yang selalu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut sesuatu. Ia tidak mengharapkan imbalan. Ia tidak peduli akan balasan……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna.

Hidup Berkesadaran Dalam Zaman Yang Membingungkan Renungan Ke-62 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang berguru. Mereka menggunakan buku “Shri Sai Satcharita” karya Sai das dan buku-buku serta beberapa artikel Bapak Anand Krishna sebagai referensi. Mereka ingin membombardir diri dengan wisdom-wisdom dari buku-buku yang mereka gali. Membuka hati dengan repetitif intensif untuk meningkatkan kesadaran diri. Sang Suami: Alhamdulillah, Puji Tuhan, Terima kasih…… Istriku, diriku telah mulai pulih. Beberapa hari ini diriku berada dalam keputusasaan dan kedukaan yang mendalam, kau pun dapat merasakannya. Kita melihat di jejaring sosial FB disebutkan seorang penulis FB dilaporkan ke polisi karena dianggap menistakan suatu agama. Kemudian kita semua melihat ada video beredar tentang seorang pemuka masyarakat yang menyampaikan himbauan untuk membunuh kelompok tertentu yang juga sesama warga negara, sesama anak bangsa. Kita belum tahu yang berwenang sudah bertindak belum…… Kemudian beredar video tentang peristiwa yang terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten yang membuat bulu kuduk berdiri tegak, inikah warga negara Indonesia yang selalu kita agungkan lewat tulisan-tulisan kita? Diriku tidak mengesampingkan adanya permasalahan SKB 3 Menteri. Diriku shock berat, istriku……. Dan, para pemimpin berbicara secara umum, tidakkah mereka melihat video-video yang marak beredar tersebut? Kemanusiaan bangsa kita telah tercoreng, mengapa beberapa anak bangsa bisa melakukan tindakan demikian?…… Untung diriku membaca wisdom yang menyampaikan agar semua orang harus tetap terus menebar benih kesadaran, mereka yang berhati baik dan berjiwa tulus akan mendengarnya, mereka yang berhati jahat dan berjiwa busuk akan menolaknya. Demikianlah kebenaran dharma sejak zaman dahulu kala……… tidak perlu shock……. Sang Istri: Betul suamiku, aku ingat buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” dan dalam buku tersebut disampaikan dengan jelas mengenai Living Consciously atau Hidup Berkesadaran. Dalam buku tersebut disampaikan……… Apa pula Living Consciously atau Hidup Berkesadaran itu? Pertama: Pengendalian Diri. Tidak membiarkan napsu merajalela, memperbudak dan mengendalikan dirimu (seperti yang kita lihat dalam video yang terlihat oleh semua orang), tetapi menggunakan napsu untuk menggairahkan hidupmu, memberimu semangat untuk hidup dan berkarya. Dan, untuk mencapai tujuan itu, yoga memberi beberapa tips: 1. Kenali Dirimu. Temukan Jati Dirimu – Kebenaran Diri. Yang dimaksud, menginventaris diri, kemampuanku seberapa, kelemahanku apa saja, dan meningkatkan kemampuan diri bila perlu, mengatasi kelemahan yang pasti. Menghindari kekerasan dalam segala hal. Janganlah engkau membenarkan jalan

2.

3.

4. 5.

yang tidak mulia, sekalipun tujuanmu mulia. Bom bunuh diri, aksi terorisme yang membunuh dan merugikan banyak pihak tidak dapat dibenarkan, semulia apapun tujuannya (hal ini juga menjawab tayangan video tersebut). Meragukan dari ekstrimitas, karena segala sesuatu yang ekstim menegangkan jiwa secara berlebihan. Dan, dengan syaraf-syaraf yang tegang kau tidak dapat berkarya, kau tidak dapat berpikir dengan jernih. Tapi, jangan tiru ekstrimitas dalam tindakan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan kita para teroris yang masih bisa cengengesan-cengingisan setelah membunuh, membantai sesama manusia (di video tersebut membuktikan bahwa bukan hanya para teroris yang menganggap masalah pembunuhan pun sebagai masalah biasa). Melampaui keserakahan (membunuh orang lain dianggap biasa untuk memuaskan keserakahan dirinya). Melampaui keterikatan. Orang yang serakah tidak segan merampas hak orang lain demi kepentingan dirinya. la tidak malu menjadi wakil rakyat dan menghamburkan uang rakyat, sementara rakyat yang diwakilinya masih kelaparan. Dan, dengan melampaui keterikatan, seseorang baru dapat mengasihi tanpa syarat. la tidak pilih kasih lagi. la juga tidak lagi mementingkan keluarga dan mertuanya di atas kepentingan rakyat jelata.

Sang Suami: Sudahlah istriku, kita tidak usah berbicara masalah tayangan video lagi, kita berbicara masalah umum. Disebutkan dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa” bahwa untuk hidup berkesadaran, kita harus Mawas Diri, Setelah bagian pertama tentang Pengendalian Diri. Kedua: Mawas Diri. Tips-tips yang diberi dalam yoga masih amat sangat relevan dengan zaman kita. Misalnya: 1. 2. 3. Menjaga kebersihan diri. Yang dimaksud tentu bukanlah sekadar kebersihan fisik, tetapi kebersihan jiwa, pikiran, dan lingkungan. Memelihara kesederhanaan. Hidup sederhana dengan keinginan-keinginan yang terbatas, itulah kunci hidup bahagia. Kepuasan diri, karena orang yang tidak merasa puas dengan apa yang diperolehnya secara wajar, cenderung akan menjadi korup, penyeleweng, manipulator. la menjadi perampas hak orang, perampok, pencuri – maling! Introspeksi diri, berarti tidak selalu mencari pembenaran dengan menyalahkan keadaan dan orang lain. Bertanggung jawab atas setiap tindakan, ucapan, bahkan pikiran – itu yang dimaksud dengan introspeksi diri. Terakhir, last but not least, Penyerahan diri secara total pada kehendak Ilahi. Berbuat maksimal sebatas kemampuan kita, dan yang terbaik tentunya, tetapi tidak ngotot perkara hasilnya. Serahkan perkara hasilnya pada Yang Maha Kuasa, apa pun sebutanmu bagi-Nya, Allah, Bapa di Surga, Buddha, Tao, Hyang Widhi. Atau bila suka dengan bahasa yoga: “Ia Yang Bersemayam dalam Dirimu”, karena “Dia Yang lebih Dekat dari Urat Lehermu” itu, senantiasa menjadi “Sang Saksi” akan setiap perbuatanmu, ucapanmu, pikiranmu, dan perasaanmu.

4.

5.

Sang Istri: Selanjutnya, yoga mengajak kita untuk melatih diri dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan akhir yoga – yaitu Hidup Berkesadaran. Hidup Seimbang, tidak ikut terombak-ambik oleh pasang-surutnya samudera kehidupan. Hidup berkesadaran dalam pengertian seluas-luasnya berarti termasuk hidup yang peduli lingkungan, peduli tetangga, peduli nasib bangsa dan gegara – PEDULI. Tidak hidup sembrono, tetapi hidup dengan penuh kepedulian terhadap sesama, ya, sesama, bukan sekadar sesama manusia, tetapi juga sesama makhluk hidup, terhadap flora dan fauna, terhadap alam dengan seluruh isinya. Terhadap udara – tidak mencemarinya dengan asap rokok. Terhadap air – tidak mengotorinya dengan membuang sampah secara sembarang. Terhadap tanah – tidak meracuninya dengan bahan-bahan kimia termasuk pupuk buatan segala. Mungkin Lao Tze memahami betul konsep yoga ini, sehingga Beliau berkata bahwa segala upaya manusia untuk memperbaiki alam, justru merusaknya. Alam sudah balk. Tak ada yang salah dengan alam. Yang dibutuhkan justru penyelarasan diri kita dengan alam. Bagaimana hidup harmonis dengan alam – itulah HIDUP DALAM YOGA. Sang Suami: Yoga berarti “Mempersatukan”. Yoga berarti “Mengutuhkan” – mengutuhkan manusia melalui penyelarasan diri dengan semesta. Mempersatukan ucapan dan tindakannya dengan pikirannya yang sudah terkendali, dengan perasaannya yang telah lembut. “Bila kau seorang yogi,” seorang sufi dari Sindh (Pakistan), Shah Abdul Latif berkata, “maka lampauilah segala dualitas, hiduplah dalam Yang Tunggal, Satu.”………. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Dr Martin Luther King Jr dan Inspirasi dari Mahatma Gandhi Renungan Ke-63 Tentang Berguru Sepasang suami istri baru saja membuka file tentang Dr. Martin Luther King Jr dan Mahatma Gandhi. Mereka tertarik membicarakan tentang perjuangan tanpa-kekerasan. Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi pembicaraan. Sang Suami: Kemarin salah seorang sahabat di FB menulis status….. Apakah melakukan perang melawan kebatilan itu salah? bagaimana dengan perang Bharatayudha? Bukankah Sri Krishna dan Arjuna juga berperang disana? Apakah ada kemungkinan orang-orang spiritual berani ambil sikap nyata berperang menghadapi kekerasan berjubah agama di negeri ini?…… Istriku, aku berpikir, Pandawa punya pasukan bersenjata berat, sedangkan pasukan bersenjata di negeri ini tunduk pada yang berwenang, dan bila yang berwenang membiarkan kekerasan berlangsung, kita harus punya solusi yang lain. Ada beberapa perang Bharatayudha versi baru seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi yang berperang melawan kebatilan dengan senjata-cinta Ahimsa, sehingga hubungannya dengan penjajah tetap baik. Demikian juga Dr. Martin Luther King Jr yang berhasil berjuang dengan senjata non violence. Hasilnya, India merdeka, dan di Amerika kurang dari setengah abad setelah Dr. King Jr meninggal, sudah ada Presiden yang berkulit hitam……. Setiap negara punya masalah sendiri, di Amerika pada saat Dr. Martin Luther King Jr. hidup ada masalah ras, sedangkan di Negeri kita saat ini ada masalah kekerasan berjubah agama yang dilakukan oleh sekelompok warga negara…….. Pada saat ini Media Jaringan Sosial FB dipenuhi berita tentang peristiwa di Cikeusik Pandeglang, di Temanggung dan sejumlah kekerasan lainnya dengan pemicu ketersinggungan masalah agama. Sang Istri: Suamiku, aku baru saja membaca biografi Dr. Martin Luther King Jr yang rupanya sedikit banyak terpengaruh oleh Mahatma Gandhi yang berjuang dengan tanpa-kekerasan…….. Dr. King adalah pembaca setia esai Henry David Thoreau, seorang penulis Amerika 100 tahun yang lalu. Thoreau percaya bahwa seseorang memiliki hak untuk tidak mematuhi semua hukum yang dia pikir jahat atau tidak adil. Thoreau tidak membayar pajak sebagai protes terhadap perbudakan. Beliau dimasukkan ke penjara. Seorang teman datang untuk mengunjunginya bertanya, “Mengapa kamu ada di penjara?” Dia menjawab,”Mengapa Anda keluar dari penjara?”……. King menyukai ide Thoreau – bahwa manusia tidak boleh mematuhi hukum yang jahat atau tidak adil. Dan beliau mulai berupaya keras untuk memerangi kejahatan. Beliau membaca buku yang ditulis oleh pemikir besar dunia. Kemudian suatu hari, ia mendengar pidato pemimpin besar India, Mahatma Gandhi……. Istriku, kita tidak perlu malu mempunyai idola pemimpin dari bangsa lain sepanjang ia adalah pemimpin dunia…… Sang Suami: Benar istriku, Mahatma Gandhi telah memenangkan kebebasan bagi negaranya dari pemerintahan Inggris (1947). Dan ia melakukannya dengan cara yang sangat tidak biasa. Sejak awal, dia memberitahu masyarakat untuk tidak menggunakan kekerasan melawan Inggris. Ia menyuruh mereka melawan Inggris

dengan cara damai. Mereka akan berbaris. Mereka akan duduk atau berbaring di jalanan. Mereka akan menyerang. Mereka akan memboikot, menolak untuk membeli barang-barang Inggris. Gandhi juga membaca esai Thoreau. Beliau juga percaya bahwa manusia memiliki hak untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Seperti Thoreau, ia percaya bahwa manusia dengan senang hati harus pergi ke penjara ketika mereka melanggar hukum yang tidak adil tersebut. Gandhi tidak pernah menggunakan kekerasan. Kekerasan hanya membawa kebencian dan mengundang lebih banyak kekerasan. Gandhi mengatakan kepada masyarakat untuk melawan musuh dengan kekuatan jiwa. Gandhi mengatakan kepada mereka untuk membalas benci dengan cinta. Gandhi menyebut “perang tanpa kekerasan.” Dan itu membantu India memperoleh kebebasan…….. Dr. Martin Luther King Jr. berpikir bahwa Black American dapat menggunakan cara Gandhi untuk memenangkan kebebasan mereka. Bukankah cara Gandhi juga merupakan cara Yesus Kristus? Bukankah Kristus mengatakan kepada umat-Nya untuk “memberikan pipi yang lain” jika seseorang memukul mereka? Gagasan memerangi damai melawan kejahatan disebut anti-kekerasan. Apakah itu cara pengecut? Tidak, kata King. Butuh lebih banyak keberanian untuk tidak memukul balik bila dipukul. Sang Istri: dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan……. Seseorang menampar pipi Anda dan Anda memberikan pipi Anda yang lain. Berhentilah sejenak. Mengapa Anda melakukan itu? Karena Anda tidak dalam posisi siap membalas? Jika demikian, janganlah menyebut tindakan ini sebagai perbuatan tanpa kekerasan. Anda munafik dan untuk menutupi kelemahan, Anda menggunakan filsafat. Jika Anda kuat, dan nyatanya lebih kuat dari orang yang menampar Anda, dan Anda tahu betul, bahwa tamparan Anda akan membuatnya roboh, lalu jika Anda tetap juga memberikan pipi Anda yang lain, barulah Anda orang tanpa kekerasan……… Lebih baik diam. Saya menganjurkan Anda tidak bereaksi. Dia menampar Anda, terimalah. Jangan bereaksi. Ikutilah cara Anda sendiri. Berikan dia senyum. Jadi kuatlah dulu – cukup kuat untuk membalas pukulan dengan pukulan. Dan kemudian, lihatlah apakah Anda tetap tanpa kekerasan. Kekuatan: berdoalah untuk kekuatan. Anda harus menjadi orang kuat. Orang lemah tidak mungkin dapat menjalani hidup tanpa kekerasan. Bebaskan diri Anda dari ketakutan, dari kelemahan, dan kemudian, dari kekerasan!….. Sang Suami: Istriku, aku juga teringat akan kisah Baginda Rasul……… Baginda Rasul selalu diludahi seorang perempuan tua setiap lewat di depan rumah wanita tersebut. Baginda jelas dapat membalas tetapi Baginda Rasul sangat-sangat sabar. Sampai pada suatu ketika sang perempuan yang meludahi tidak tampak, dan Baginda Rasul tahu bahwa sang perempuan tua sedang sakit, maka Baginda Rasul mendatanginya. Sang perempuan tua terharu dan memohon maaf atas segala kekerasan yang dilakukannya dan dia langsung memeluk Islam……. Seluruh tetangga perempuan tersebut mengikutinya. “Love is the only solution”. Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan……… Jangan pernah merasa capai hanya karena telah memaafkan seseorang dua atau tiga kali. Setiap kali kita disakiti, kita harus dapat memaafkan. Ingat Tuhan, Ia selalu memaafkan

kesalahan-kesalahan kita. la begitu sabar dengan kita. Kita harus memaafkan sebelum diminta memaafkan. Yesus berkata, “Apabila ada yang menampar pipimu, berikanlah padanya pipimu yang lain.” la juga mengatakan, apabila seseorang memaksa kamu untuk berjalan bersama dia sejauh satu mil, jalanlah bersama dia dua mil.”……… Sang Istri: Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan…….. Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti. Seperti yang dikatakan Martin Luther King, Jr., seperti yang dipahami beliau dari ajaran Mahatma Gandhi, “Senjata kita hanya satu, senjata kasih!” Ahimsa juga berarti menghormati orang lain. Jika sudah membuat janji untuk bertemu jam 10 pagi, lima menit sebelumnya kita sudah berada di tempat pertemuan. Jangan sampai orang lain menunggu. Itu pun kekerasan. Melihat orang lain menderita, para radikal merasa bahagia. Ahimsa berarti merasakan penderitaan orang lain siapa pun orang lain itu. Ahimsa berarti memutuskan untuk tidak menambah penderitaan seorang pun, karena sudah cukup penderitaan di dunia ini. Ahimsa juga berarti tidak menyiksa diri; tidak mengintimidasi siapa pun dengan kehendak membakar diri jika keinginan kita tidak dikabulkan, atau membakar bendera negara lain, karena pemerintahnya tidak bertindak sesuai dengan keinginan kita. Kita juga harus ingat bahwa ahimsa bukanlah pekerjaan para pengecut. Seorang pengecut bertindak karena takut. Ia tidak memiliki keberanian. Pasal pertama abhaya tidak dimilikinya. Dalam bahasa Gandhi, “Kau harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membalas, tetapi memutuskan untuk TIDAK membalas itulah ahimsa”……… Sang Suami: Aku ingat tulisan Gus Solah, Salahuddin Wahid di harian Kompas tahun 2009……. Pada 1 Desember 1955, seorang tokoh kulit hitam bernama Rosa Parks diminta pindah dari tempat dia duduk di bus kota karena tempat duduk itu adalah khusus untuk warga kulit putih. Dia menolak sehingga dihukum. Tokoh-tokoh kulit hitam berkumpul untuk mengajak warga kulit hitam memprotes UU Negara Bagian Alabama yang mengharuskan pemisahan kursi bus…….. Warga kulit hitam sepakat untuk melakukan boikot terhadap bus kota di Montgomery. Seseorang mengusulkan Dr Marthin Luther King Jr, pendeta yang masih muda, sehingga dapat bekerja dengan kekuatan penuh. Usul itu disetujui meski Pendeta King belum lama tinggal di Montgomery…….. Dalam pertemuan untuk sosialisasi gerakan itu, Dr King sudah menunjukkan kemampuan berpidato yang memukau, mampu menumbuhkan motivasi dan menggerakkan warga untuk melakukan boikot. Tampaknya kemampuan berbicara Dr King adalah salah satu kunci keberhasilan gerakan itu…….. Warga kulit hitam melakukan boikot dengan berjalan kaki menuju tempat bekerja atau ke sekolah. Bus kota menjadi amat sepi sehingga menyulitkan perusahaan bus kota. Warga kulit hitam juga mengatur supaya yang bekerja di tempat jauh dapat diberi tumpangan oleh mereka yang punya kendaraan. Ada gerakan mengumpulkan sepatu dari kota lain untuk membantu yang sepatunya rusak akibat boikot itu…….. Perundingan dilakukan antara Pemerintah Kota Montgomery dan para tokoh kulit hitam, tetapi tak tercapai kesepakatan. Mobil warga kulit hitam ada yang diledakkan. Bahkan, rumah Dr King terkena bom. Ku Klux Klan melakukan intimidasi terhadap warga kulit hitam. Namun,

Dr King mampu menjaga emosi pengikutnya dan menanamkan ke dalam diri mereka bahwa antikekerasan akan menjadi kekuatan moral yang dahsyat……… Sang Istri: Iya suamiku dalam artikel di Kompas tersebut disampaikan……. Perlawanan tanpa kekerasan dalam jangka panjang akan menghasilkan energi positif yang lebih hebat daripada perlawanan menggunakan kekerasan. Yang dibutuhkan ialah kesabaran dan kemampuan menahan emosi. Kemampuan berpidato Dr King amat besar perannya dalam menanamkan kesadaran itu. Kepemimpinannya dan dukungan istrinya, Coretta, juga mempunyai peran yang besar…….. Melihat sikap Pemerintah Kota Montgomery yang bersikukuh bahwa pemisahan tempat duduk bus untuk kulit putih dan kulit hitam adalah perintah UU Alabama, warga kulit hitam Montgomery mengajukan semacam uji materi terhadap UU itu kepada MA Federal. Lembaga itu membatalkan UU tersebut. Boikot 385 hari tanpa kekerasan mampu meniadakan UU diskriminatif……… Sang Suami: Membicarakan perjuangan warga kulit hitam AS untuk memperoleh hak-hak sipilnya tanpa kekerasan, harus bicara tentang The March of Washington, saat gabungan seperempat juta warga AS berkulit hitam dan putih memadati the Mall antara the Lincoln Memorial dan the Washington Monument di ibu kota AS pada 28 Agustus 1963. Peristiwa itu adalah salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah perjuangan HAM…….. Pidato Martin Luther King Jr dalam peristiwa itu (”I Have A Dream”) menjadi salah satu pidato monumentalnya…….. Salah satu bagian dari pidatonya itu: ”Saya punya impian bahwa keempat anak saya suatu hari nanti akan hidup di negara di mana mereka tidak dinilai dari warna kulitnya melainkan dari karakternya. Saya punya impian hari ini.” …….. Dr King berhasil menanamkan sikap antikekerasan di dalam diri pengikutnya. Ternyata perjuangan antikekerasan itu dalam jangka panjang berhasil menempatkan warga kulit hitam pada posisi sejajar dengan warga kulit putih dan mengantarkan seorang keturunan kulit hitam pada posisi orang nomor satu di dunia. Belum tentu posisi itu bisa diraih Obama jika warga kulit hitam AS menggunakan cara kekerasan…….. Semoga menginspirasi kita semua….. Terima kasih Gandhi, Terima kasih Dr Martin Luther King Jr, Terima kasih Bapak Anand Krishna….

Michael Jackson dan Inspirasi dari Mahatma Gandhi Renungan Ke-64 Tentang Berguru Sepasang suami istri baru saja membuka file tentang penyanyi legendaris Michael Jackson, pejuang kesetaraan ras Dr. Martin Luther King Jr dan Tokoh Dunia Pejuang Anti-Kekerasan Mahatma Gandhi. Mereka tertarik membicarakan perjuangan tanpa-kekerasan. Buku-buku dan beberapa artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi pembicaraan. Sang Suami: Istriku, ternyata Michael Jackson terpengaruh oleh ajaran tanpa-kekerasan dari Mahatma Gandhi…….. Michael Jackson pernah membaca sambutan di Oxford Union pada tahun 2001 yang tampak sekali dijiwai ajaran Gandhi dan menutup sambutannya dengan mengutip wisdom dari Mahatma Gandhi: ”Untuk semua yang hadir malam ini, bagi yang merasa dikecewakan oleh orang tua Anda, saya meminta Anda untuk mengecewakan kekecewaan Anda. Untuk semua yang hadir pada malam ini, bagi yang merasa ditipu oleh ayah atau ibu Anda, saya meminta Anda untuk tidak menipu diri sendiri lebih lanjut. Dan untuk Anda semua yang ingin mendorong orang tua Anda pergi, saya meminta Anda untuk memperpanjang tangan Anda kepada mereka sebagai gantinya. Saya meminta Anda, saya bertanya pada diri sendiri, untuk memberikan orang tua kita sebuah persembahan cinta tanpa syarat, unconditional love, sehingga mereka juga dapat belajar bagaimana mengasihi kami, anak-anak mereka….. Mahatma Gandhi berkata: “Yang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah ungkapan dari kekuatan”. Sang Istri: Bagaimana pun lewat semua penderitaannya – di tangan ayah yang kasar dan media yang hanya menutut seperti halnya tanaman parasit – ia menjadi dan tetap menjadi orang yang mencintai dan memaafkan. Michael Jackson belajar untuk mengampuni ayahnya yang sering memukulnya sehingga ia menderita kala dirinya masih anak-anak. Bahkan ia mengambil semua langkah tanpa kekerasan, yang sangat penting untuk mencintai dan memahami musuh-musuhnya. Masyarakat tidak menghargai perjuangan keras dari jiwanya. Apa yang masyarakat lakukan terfokus pada keeksentrikannya, dan segelintir empati karena menerima dirinya sebagai manifestasi dari kehilangan masa anak-anak dan sorotan media yang selalu menuntut. Parahnya, masyarakat kehilangan empati dan tidak dapat memahami penyimpangan dan keeksentrikannya. Sang Suami: Dalam video clip album “Man in the Mirror” Michael Jackson menampilkan Mahatma Gandhi, Dr Martin Luther King Jr dan Rosa Parks karena mereka dianggap telah mengubah dunia ke arah kebaikan. Sebuah semangat untuk mengubah diri……… Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Setiap orang dan dunia ini saling terkait. Seluruh kehidupan ini adalah satu organisme sendiri. Seluruh dunia ini adalah satu tubuh. Kita semua seperti sel-sel dalam tubuh ini. Satu sel terkena infeksi, seluruh badan sel juga terinfeksi. Satu sel sehat, seluruh dunia juga ikut sehat. Jadi untuk membuat “dunia menjadi lebih baik” kita harus membuat hidup kita menjadi lebih baik pula. Tidak ada jalan lain,

kitalah titik awal dunia yang lebih baik. Saat kita berevolusi, seluruh dunia juga berevolusi…….. Sang Istri: Dalam “Man in the Mirror”, Michael Jackson sesungguhnya melihat refleksi dari jiwanya dan bernyanyi dengan semangat ekstra: “If you wanna make the world a better place, take a look at yourself, and then make a change.” Nasehat yang diberikan bukan untukmu dan aku, It was an advice given not to you or to me, but to himself: “I’m gonna make a change, for once in my life it’s gonna feel real good, gonna make a difference, gonna make it right…” Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Filsuf J. Krishnamurti dan artis Michael Jackson berbicara tentang perubahan, tentang kemerdekaan paripurna dari ikatan, dari paradigma-paradigma tua yang sudah busuk. Dan, sebagaimana Mahatma Gandhi, keduanya menyadari pentingnya”menjadi perubahan” yang mereka inginkan di dunia ini. Namun, keduanya meninggal dalam keadaan frustrasi, seperti halnya Sang Mahatma. Gandhi tidak bisa menerima ide tentang perpecahan India , berdasarkan agama. Gandhi mengeluarkan luapan frustrasinya dengan mengundurkan dari ajang politik dan kembali ke komunitasnya di Gujarat. J. Krishnamurti mengeluarkan uneg-uneg frustrasinya melalui tulisan-tulisan dan diskusinya dengan orang-orang di sekitarnya. Michael Jackson, sang bintang, menyalurkan rasa frustrasinya lewat eksperimen dengan tubuhnya. Dia ubah tubuhnya menjadi sebuah loratorium……….. Sang Suami: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……. Michael Jackson merasa bahwa ia menjadi korban dari jenis cinta yang egois yang membuatnya terobsesi untuk menyebarkan jenis cinta yang benar dan menyembuhkan dunia, “Heal the World” to “make it a better place for you and for me“. Ia memimpikan dunia dimana “Black or White” tidak menjadi masalah atau setara. Untuk menunju kesana, caranya adalah melalui “Cinta tanpa ego”. Tidak ada jalan lain. Jalan ini menuntut ketiadaan ego. Pilihannya adalah ego dan “tiada jalan” atau cinta dan “jalan”. Inilah jalannya, dan saya ulangi, inilah satu-satunya jalan. Ketika emosi Anda tidak lagi berpusat pada diri sendiri, saat perasaan Anda tidak lagi terbatas pada keluarga dan orang-orang yang dekat dengan anda, maka saat itulah anda menemukan jalan itu. Saat itu, dan hanya dengan jalan itu anda menemukan “jalan masuknya”. Selama emosi dan perasaan kita masih hanya berpaku pada segala hal di sekitar kita, maka kita tak akan pernah menemukan jalan itu. Semangat kita harus berubah menjadi kasih. Kasih terjadi saat anda bersemangat, bergairah terhadap seluruh umat manusia, seluruh makhluk hidup dan kehidupan itu sendiri. Inilah jalannya. Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” juga disampaikan…….. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita.

Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya……… Sang Suami: “Heal the World with love”. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Tanpa cinta, tidak mungkin ada pertumbuhan dan perkembangan. Proses evolusi bergantung pada cinta. Energi cintalah yang mengangkat kita dari kesadaran tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Luar biasanya, saat kesadaran satu orang terangkat, seluruh dunia juga terpengaruh kesadaran ini. Jadi, tepat sekali saat Michael Jackson mengatakan bahwa “cinta itu cukup untuk membuat orang tumbuh” dan “untuk membuat dunia menjadi lebih baik”……… Sang Istri: Michael Jackson ingin kita sebagai aktivis kemanusiaan dengan menggunakan jalan anti kekerasan. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Begitu banyak penderitaan di sekitar kita – apa kita peduli? Begitu banyak kemiskinan – apa urusan saya? Banyak ketidakadilan dan kepincangan dalam masyarakat. Banyak orang mati terbunuh atas nama Tuhan dan agama. Apa kita tergerak untuk menghentikan tangan-tangan kejam itu yang terus membunuhi orang tak berdosa? Tidak……….. Seluruh kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini…….. Sang Suami: Dalam “The Earth Song” Ia menangis bersama Bunda Bumi: “What have we done to the world, look what we’ve done.” Frustasi dengan semua peristiwa di lingkungannya, ia melanjutkan: “I used to dream, I used to glance beyond the stars; now I don’t know where we are, although I know we’ve drifted far.” Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Penderitaan dan kesakitan manusia

dapat menghubungkan saya dengan rekan-rekan sesama manusia kalau saya dengan ada “rasa” dengan mereka. Saya punya hubungan emosional dengan anggota-anggota keluarga saya, jadi saya gampang merasakan penderitaan dengan. Namun saya bisa saja dengan ada ikatan semacam itu dengan Anda, dan karenanya saya dengan merasakan hal yang sama terhadap Anda… terhadap penderitaan dan kesakitan Anda. Michael Jackson dapat merasakan sakitnya penderitaan umat manusia. Dia bekerja untuk memperoleh jutaan dolar dan kemudian menyumbangkan uangnya bagi kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Dengan ada keharusan bagi Michael untuk melakukan apa yang dia lakukan. Malah ada banyak orang-orang yang jauh lebih kaya dari dia yang berpangku tangan saja, tanpa melakukan apa-apa untuk mengurangi penderitaan sesama…….. Sang Istri: Segelintir putra-putra bangsa tidak merasa satu saudara, satu Ibu Pertiwi dengan saudara sesama bangsanya……. Kita semua telah melihat video yang membuat bulu remang kita berdiri tentang tindakan ketidakmanusiaan yang ada pada saudara-saudara kita. Semoga para Arjuna yang mempunyai senjata segera mengikuti nurani mereka bertindak membela Ibu Pertiwi agar kekerasan di tengah bangsa tidak berlarut-larut. Semoga para Arjuna yang bersenjata kasih dan kesadaran menekan pemerintah dan melakukan tindakan tanpa-kekerasan. Kejahatan ibarat suatu buah, yang walaupun dibungkus seribu satu penutup alasan, akan datang saatnya buah kejahatan matang dan jatuh dari pohon sendiri. Sambil menunggu Sunatullah hukum sebab-akibat, kita perlu berjaga, bersuara, berkumpul bersama menggalang tindakan tanpa-kekerasan agar kejahatan tidak menyebar sehingga semakin menyengsarakan Ibu kita bersama, Ibu Pertiwi……. Kita tahu kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Kita semua menyadari bahwa cinta kasih adalah satu-satunya solusi. Tetapi kita tidak berani berubah. Karena kita hidup di tengah-tengah kekerasan, kita jadi terbiasa hidup dengan kekerasan. Mulai dari rumah tangga hingga jalanan, kekerasan ada di mana-mana. Suka tidak suka, setuju tidak setuju, kekerasan tetap dapat memasuki rumah kita lewat TV dan tayangan website…….. Tidak! Tidak demikian. Kita berubah dan menjalankan kebenaran tanpa-kekerasan……….. Terima kasih Mahatma Gandhi, Terima kasih Michael Jackson, Terima kasih Bapak Anand Krishna….

Sepuluh (10) Butir Pandangan Mahatma Gandhi untuk Mengubah Dunia Renungan Ke-65 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan tentang Mahatma Gandhi. Kali ini mereka tidak berdiskusi, tetapi menyimak bersama buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, tulisan Bapak Anand Krishna. Mereka sudah tidak tahan melihat kekerasan, kemunafikan dan kesemrawutan yang terjadi di tengah bangsanya. Mereka menyadari bahwa bangsanya harus berubah, akan tetapi mereka sadar putra-putri bangsanya diliputi rasa “takut” untuk melakukan perubahan. Yang berada dalam “comfort zone” takut kehilangan “comfort” dan ingin mempertahankan keadaannya dengan segala cara. Yang berada dalam “uncomfort-zone” takut bergerak sendiri karena merasa lemah dan menggantungkan diri pada mereka yang memiliki “wewenang – yang diibaratkan angkatan bersenjata ampuh” yang ternyata belum bergerak juga. Yang memiliki media tidak memihak pada kesatuan negeri, kecuali “kepentingan pribadi”. Yang melakukan provokasi tidak pernah sadar mereka hanya korban penanaman program sejak kecil agar merasa “fasad/kekerasan” yang dilakukannya adalah benar dan diridhoi Gusti. Yang memahami keadaan diam. Dan adharma semakin merajalela ditengah bangsa. Apakah artinya bila semua putra-putri bangsa memiliki hati nurani tetapi tidak melakukan perubahan dengan tindakan nyata? Mereka ingat sebuah wisdom yang diilhami kehidupan Michael Jackson…….. Seluruh kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. “Heal the World-Sembuhkan Dunia”, “Mangasah mingising Budhi-Mencerdaskan bangsa”, “Mamasuh Malaning Bhumi-membersihkan borok Ibu Pertiwi”, “Mamayu Hayuning Bawono-Memperindah Keadaan Negeri”……… Mereka merasa petikan atau “wisdom quotation” dari buku yang sangat mulia ini dapat memicu perubahan diri……… Butir # 1 Change Yourself: “You must be the change you want to see in the world.” Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kauinginkan terjadi dalam dunia……… Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Jangan mengharapkan perubahan dari dunia luar. Jangan menunda perubahan diri hingga dunia berbeda. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Kalau kita tidak ikut berubah, kita

menciptakan konflik antara diri kita dan dunia ini…….Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal……. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa. Butir # 2 You Are in Control: “Nobody can hurt me without my permission.” Tak seorang pun dapat menyakitiku bila aku tidak mengizinkannya……. Karna seorang bijak, seorang dermawan, seorang pemimpin yang ideal, tetapi seluruh kebaikannya itu seolah terlupakan oleh sejarah karena keberpihakannya pada Adharma, pada pelaku kejahatan……. Bila ingin menjadi seorang pemimpin, jangan memelihara virus sakit hati. Terlebih lagi jangan sampai penyakit itu dijadikan pemicu dan motivasi untuk maju ke depan. Bila kita merasa bisa disakiti, kita sungguh lemah. Perasaan itu saja sudah membuktikan bahwa kita tidak layak untuk menjadi pemimpin…… Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini merupakan hukum alam. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap alam, terhadap keberadaan – terhadap Tuhan……. Janganlah sekali-kali membalas aksi kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan, karena setiap orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan menjadi jahat. Setiap orang yang membalas kekerasan dengan kekerasan menjadi keras. Butir # 3 Forgive and Let It Go: “The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. An eye for eye only ends up making the whole world blind”. Seorang lemah tidak dapat memaafkan. Kemampuan untuk memaafkan hanya ada pada mereka yang kuat. Bila pencungkilan mata dibalas dengan mencungkil mata, seluruh dunia akan menjadi buta…….. Memaafkan berarti tidak membenci para pelaku kejahatan. Bujuklah mereka, berilah kesempatan untuk mengubah diri. Namun bila mereka tidak memanfaatkan kesempatan itu, tidak mau mengubah diri dan tetap menggunakan kekerasan, kewajiban kita lah untuk memastikan mereka dikarantina beberapa waktu…… Karena itu penjara, bui, atau lembaga pemasyarakatan kita mesti berubah menjadi Lembaga Pengembangan Diri, Lembaga Pembenahan Diri, Lembaga Pencerahan Diri. Jangan memenjarakan jiwa mereka dalam kotak-kotak baru “ penafsiran agama yang sempit”, yang selama itu sudah menjadi sumber dari sekian banyak konflik dan persoalan. Bebaskan nilai-nilai luhur keagamaan dari pemahaman kita yang sangat jauh dari keluhuran……. Banyak penafsir agama di antara kita justru membenarkan aksi balas dendam. Mereka tidak menginginkan kita melupakan kejadian-kejadian penuh kekerasan yang terjadi pada masa lalu. Mereka tidak menginginkan kita melupakan sejarah suram yang sudah tidak relevan dan tidak konstektual lagi dengan zaman kita. Butir # 4 Without Action You Aren’t Going Anywhere: “An ounce of practice is worth more than tons of preaching.” Satu ons tindakan lebih baik daripada berton-ton dakwah…….. Bicara memang mudah. Melakoni sesuatu memang tidak mudah, tetapi

apa arti sesuatu yang hanya dibicarakan, dan tidak dikerjakan, tidak dilakoni? Kita boleh bicara tentang keamanan bagi semua, keadilan dan kesejahteraan bagi semua, kedamaian dan kebahagiaan bagi semua, kenyataannya apa? Kita masih saja memikirkan kepentingan kelompok dan kepentingan partai di atas kepentingan umum……. Bundelan buku di atas seekor keledai, kata Imam Ghazali, tak mampu mengubah keledai itu menjadi seorang cendekiawan. Butir # 5 Take Care of This Moment: “I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.” Aku tak ingin melihat apa yang dapat terjadi di masa depan. Aku peduli pada masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi…….. Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting darpada orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina…….. Gandhi tidak ragu, tidak bimbang, tidak bingung, karena ia hidup dalam kekinian. Ia bisa bertindak sesuai dengan nuraninya karena tidak menghitung laba-rugi. Mereka yang ragu, bimbang, dan bingung adalah orang yang tidak bisa hidup dalam kekinian. Mereka selalu menghitung laba-rugi……. Untuk mengubah hidup kita kini, berkaryalah sekarang dan saat ini juga. Bahkan. Jangan memboroskan energi untuk berpikir tentang hasil karya. Bila karya kita baik, hasilnya pun sudah pasti baik. Yakinilah hal ini. Butir # 6 Everyone Is Human: “I Claim to be a simple individual liable to err like other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps. It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is helathy to be reminded than the strongest might weaken and the wisest might err.” Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahanku dan memperbaikinya. Adalah tidak bijaksana bila kita terlalu yakin akan kebijakan sendiri. Kita mesti ingat bahwa sekuat apa pun kita bisa menjadi lemah, sebijak apa pun bisa berbuat salah……. Menjadi “manusia biasa” adalah tujuan setiap manusia. Manusia tidak lahir untuk menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lahir untuk menjadi malaikat atau dewa. Ia lahir untuk menjadi manusia. Manusia biasa. Namun betapa sulitnya menjadi “manusia biasa”. Adalah sangat mudah bagi kita untuk mengaku sebagai “ini” dan “itu” – sebagai umat dari agama tertentu, sebagai alumni dari universitas tertentu, sebagai politisi dari partai tertentu.dan, betapa sulit bagi kita untuk mengaku, “aku orang Indonesia”. Karena kita ingin menunjukkan bahwa diri kita beda. Ya, masing-masing ingin berucap, “ Akubukan orang biasa; aku luar biasa”. Butir # 7 Persist: “First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.” Awalnya mereka meremehkanmu, kemudian menertawakanmu, kemudian melawanmu, lalu kau keluar sebagai pemenang……. Ketika sedang dibombardir dengan segala macam tuduhan dan kritik, semangat kita memang bisa melemah. Tetapi jangan sekali-kali membiarkan mereka mematahkan semangat kita. Jadilah motivator bagi diri sendiri. Sesungguhnya kita tidak membutuhkan motivator

di luar diri. Bila kita percaya pada motivator di luar diri, mau tak mau kita pun akan memercayaai para provokator di luar diri. Motivator dan provokator adalah insan sejenis. Dua-duanya ingin menguasai diri kita. Untuk itu, terlebih dahulu mereka mesti melemahkan diri kita, karena hanya diri yang lemah yang dapat dikuasai……. Dunia ini ibarat medan perang Kurusetra. Di medan ini kita akan menemukan Kurawa yang berpihak pada adharma, dan Pandawa yang berpihak pada dharma. Di medan ini pula kita dapat berharap bertatap muka dengan sang Sais Agung, Sri Krishna. Bila ragu, bila bimbang, tanyalah kepada Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati. Butir # 8 See the Good in People and Help Them: “I look only the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others. Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow-men. I suppose leadership at one time meant muscles, but today it means getting with people.” Aku hanya melihat sifat baik di dalam diri sesama manusia. Karena aku sendiri tidak sepenuhnya bebas dari keburukan, aku tidak membedah orang lain untuk mencari keburukan mereka. Manusia menjadi besar selaras dengan kebaikan yang dilakukannya bagi kesejahteraan sesama manusia. Barangkali otot menjadi tolok ukur bagi kepemimpinan pada masa lalu, Sekarang tolok ukuranya adalah hubungan dengan sesama manusia……… Bila memang demikian, kenapa kau ingin mengusir Inggris dari India? Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan mereka? Karena negeri ini adalah negeri kita, dan sudah sepatutnya kita sendiri yang mengurusinya. Mereka tidak perlu mengurusi kita. Kaum penjajah tidak puas dengan hidup berdampingan. Mereka ingin berkuasa. Selalu demikian. Di India demikian; di Indonesia pun sama. Dan, hal itu melanggar dharma. Membiarkan diri kita dijajah, bukanlah dharma. Karena itu, kita mesti melawan. Butir # 9 Be Congruent, Be Authentic, Be Your True Self: “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony. Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.” Keselarasan antara apa yang kaupikirkan, apa yang kau ucapkan dan apa yang kaulakukan itulah kebahagiaan. Jadikan keselarasan antara pikiran, ucapan dan tindakan sebagai tujuanmu. Jadikanlah pemurnian pikiran sebagai tujuanmu, maka semuanya akan beres……… Keselarasan adalah Rumus Utama untuk meraih Kebahagiaan dalam hidup ini. Para teroris boleh bersenang-senang, bahkan menikah dalam penjara untuk memastikan bahwa di surga dirinya tidak kesepian….. tetapi, apakah mereka bahagia? Dan, bila mereka tidak bahagia di sini, di sana pun tak ada kebahagiaan bagi mereka. Pernah saya baca dalam salah satu kitab suci: Mereka yang di sini buta, di sana pun sama. Mereka yang buta terhadap kesengsaraan sesama manusia berarti jiwamereka memang telah buta. Mereka tidak lagi mempunyai batin. Nurani mereka sudah mati. Jangankan selaras dengan hukum alam, terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan saja mereka sudah tidak selaras. Para teroris yang melakukan aksi pemboman, atau komando laskar-laskar perusak yang menggunakan atribut-atribut keagamaan itu selaras dengan siapa?

Butir # 10 Continue to Grow and Evolve: “Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.” Perkembangan terus-menerus itulah hukum alam. Orang yang ingin bertahan dengan dogma-dogma (lama) untuk menunjukkan konsistensi diri, sesungguhnya berada pada posisi yang salah…….. Kenapa orang yang seperti itu berada pada posisi yang salah? Karena, perubahan adalah hukum alam. Sementara mereka yang fanatik terhadap dogma-dogma, dan tidak memahami nilai-nilai luhur di baliknya, terperangkap oleh ego mereka sendiri. Ego yang ingin membuktikan dirinya konsisten…….. Konsistensi dianggap nilai-nilai luhur, padahal tidak demikian. Apa yang konsisten di dalam dunia ini? Apa yang konsisten dalam diri kita? Setiap beberapa tahun, bahkan seluruh sel di dalam tubuh kita berubah total. Dari zaman ke zaman, ajaran-ajaran luhur pun perlu dimaknai kembali, dikonstektualkan. Kebiasaan-kebiasaan lama mesti diuji terus apakah masih relevan, masih sesuai dengan perkembangan zaman…….. Terima kasih Mahatma Gandhi, Terima kasih Bapak Anand Krishna atas buku yang pantas dimiliki oleh seluruh Manusia Indonesia untuk mengubah diri sendiri. Bila semua putra-putri bangsa bisa mengubah dirinya sendiri, maka “the Enlightment Society” akan tercapai….. Jayalah Indonesia……

Nasehat Luhur Tentang Modal Dasar Bagi Perjuangan Bangsa Renungan Ke-66 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “budaya”. Mereka berdiskusi tentang “nasehat para leluhur” sebagai bahan introspeksi. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni.Buku-buku Bapak Anand Krishna mereka jadikan sebagai referensi. Mereka mengutip pandangan dalam buku agar tidak kehilangan esensi. Sang Istri: Leluhur kita tidak mendahulukan adat tetapi mendahulukan budaya. Budaya adalah sesuatu yang dinamis. Budaya adalah nilai-nilai luhur yang universal yang berasal dari masyarakat. Adat adalah tradisi. Sedangkan zaman selalu berubah. Misalkan ada adat berjudi pada malam tirakatan sebelum penguburan seseorang. Adat tersebut mungkin dapat berlaku pada suatu zaman, tetapi pada zaman yang lain tidak sesuai. Tetapi budaya bersifat dinamis dan menyesuaikan diri pada setiap zaman, karena bersifat universal. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bersifat universal dan merupakan sari budaya Indonesia. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan……… Budaya bukanlah sesuatu yang mati. Budaya adalah sesuatu yang hidup. Bahkan menurut saya, budaya adalah sumber kehidupan suatu bangsa. Yang bisa mempersatukan kita adalah budaya. Suatu bangsa yang melupakan nilai-nilai luhur budayanya sendiri akan hancur lebur. Tanpa nilai-nilai budaya, kesatuan dan persatuan bangsa tidak dapat dipertahankan. Agama kita berbeda. Warna kulit, suku dan ras kita berbeda. Kita bahkan memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Apabila kita masih bersatu sebagai suatu bangsa yang besar perekatnya hanyalah budaya, budaya Nusantara. Dan dalam Lautan Budaya Nusantara itu, bersatulah aliran-aliran yang berbeda. Ada aliran Jawa, ada sungai Sunda, ada kultur Sulawesi dan Kalimantan dan lain-lain. Tetapi dalam Lautan Budaya Nusantara—semuanya bersatu. Persatuan itu pula yang sampai saat ini masih mempersatukan kita……… Sang Suami: Sejak zaman dahulu, para leluhur dapat menerima esensi semua agama, tetapi bukan dengan cara mengikuti adat kebiasaan yang dibawa agama tersebut. Adat tersebut tidak bersifat universal, mungkin lokal, regional dan perlu penyesuaian dengan zaman…….. Kini, masyarakat yang belum sadar dapat terjebak dalam budaya asing yang ikut terbawa agama yang masuk. Seharusnya yang diterima adalah sifat-sifat universalnya dan bukan adatnya. Selama tidak menyadari hal tersebut, para pengikut agama dapat terkesan kolot…….. Sang istri: Banyak negara yang kebudayaannya sudah tinggi, seperti Turki, tetapi tenggelam dalam adat luar. Sehingga begitu memproklamasikan kemerdekaan, Kemal Ataturk, perlu mengumpulkan seluruh ahli bahasa untuk mengumpulkan para ahli bahasa untuk menuliskan lagi aksara Turki…… Kita pun perlu memantau aksara dan hasil budaya kita. Salah satu contoh adalah tari-tarian. Kesenian adalah hasil budaya. Silakan dikemas sesuai kemajuan zaman agar dapat menerbitkan selera para kaum muda. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, tarian yang indah dan luhur dapat lenyap

dan dipelihara bangsa lain. Padahal budaya adalah jatidiri bangsa. Bangsa yang kehilangan jati diri mudah terombang-ambingkan. Budaya berakar dalam masa yang lama, dan dalam DNA diri kita terdapat benih-benih budaya tersebut……… Sang Suami: Demikian pula Ramayana semoga dapat diambil nilai-nilai luhur universalnya dan bukan adat yang berlaku pada zamannya. Ramayana adalah kisah epik pertama yang ada dalam sejarah manusia. Naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki……. Istriku, mari kita menggali hikmah dalam kisah Ramayana. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya” disampaikan “Bekal Berkarya” untuk menjalani kehidupan yang diperoleh dari Ramayana, Bekal pertama, kerja keras. Janaka tahu persis apa yang harus dilakukannya. Ia menyangkul bumi. Ia kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kita pun harus kembali ke bumi kita yang subur; kembali ke laut kita yang kaya. Hasil bumi dan hasil laut ini harus dikelola dengan baik. Bekal kedua, kita membutuhkan management skill. Rama dipertemukan dengan Sita dalam upacara sayembara atau svayamvara yang digelar oleh Raja Janaka. Dalam upacara itu, Sita memilih sendiri pasangannya. Yang diperhatikannya bukan saja kemampuan Rama, tapi wataknya, akhlaknya. Itulah Bekal ketiga, kekuatan akhlak. Demikianlah kisah keberhasilan Rama. Tetapi, kemudian, ia pun kehilangan Sita. Untuk meraihnya kembali ia membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Bekal keempat, keberanian. Burung Jatayu berusaha membebaskan Sita, tapi tidak berhasil. Sebelum gugur, burung itu masih sempat memberitahu nama penculik Sita kepada Rama. Bekal kelima, tujuan yang jelas. Keberanian saja tidak cukup. Rama juga dibantu oleh adiknya sendiri, Lakshamana, yang berarti “ia yang bertujuan jelas”. Tidak hanya bertujuan jelas, Lakshamana juga berarti “ia yang senantiasa berupaya untuk mencapai Tujuannya”. Dengan hanya bertujuan jelas saja tidak cukup; kita harus berupaya untuk mencapainya. Bekal Keenam, dedikasi dan komitmen, seperti yang ditunjukkan oleh Hanuman, kera sakti ini yang mencari tahu tentang keberadaan Sita. Bekal ketujuh, communication skills. Hanuman memang tokoh yang unik. Dari sekian banyak keahliannya, salah satunya adalah keahliannya dalam hal berkomunikasi. Ya, dari tokoh yang satu ini, kita memperoleh dua bekal sekaligus. Hanuman menyampaikan pesan Sri Rama kepada Sita dengan baik. Ia berhasil

meyakinkan Sita bahwa dirinya betul mewakili Rama. Ia juga berupaya dengan baik untuk menyampaikan pesan Sri Rama kepada Rahwana, Walau Rahwana tidak mendengar pesannya. Rahwana tidak mau mengembalikan Sita, dan dengan cara itu ia memprakarsai sendiri kehancurannya. Sebelum itu Hanuman juga dapat menghubungkan Rama dengan Sugriwa, raja para kera, sehingga mereka dapat menjalin kerjasama yang baik. Semua ini terjadi berkat keahlian Hanuman dalam bidang komunikasi. Bekal kedelapan, gotong royong. Belajar dari kerjasama antara Sugriwa dan Rama. Janganlah mengharapkan bisa hidup di dunia ini tanpa kerjasama yang baik. Bahkan untuk sekedar bisa bertahan hidup pun harus ada teamwork. Akan tetapi gotong royong tidak berarti “aku membantumu mencari ikan”. Goyong royong menuntut supaya “aku mengajarkan cara menangkap ikan kepadamu”. Gotong royong bahkan tidak berarti “aku memberimu kali”, tetapi “membantumu memberdayakan diri, supaya kau dapat membeli sendiri kail yang dibutuhkan”. Istilah bagi gotong royong dalam bahasa Sanskerta adalah : Parasparam bhaavayantah saling mengisi. Berarti, dalam upaya itu tidak ada pihak diatas sebagai pemberi dan pihak dibawah sebagai penerima. Keduanya sama-sama membantu, sama-sama mengisi. Semangat untuk bergotong royong seperti ini lahir dari kesadaran bahwa kita semua dipertemukan dalam medan energi yang sama. Kita semua bersatu dalam kasih Allah. Bekal kesembilan, intelegensia. Kita memperoleh dari Vibhishana. Tanpa bantuannya, Rama tidak dapat membunuh Rahwana dan membebaskan Sita. Vibhishana atau Wibisono mewakili intelejensia. Adalah Vibhishana yang memberitahu Rama bahwa pusar Rahwana yang harus dibidiknya. Di sanalah letak sumber kekuatan sang raksasa. Pusar selalu dikaitkan dengan chakra ketiga, lapisan kesadaran ketiga. Tiga lapisan awal mengurusi makan, minum, tidur, seks, dan sebagainya. Raksasa adalah metafora untuk “manusia yang masih berinsting hewani”, manusia yang sibuk mengurusi urusan perut dan kenyamanan diri, kenikmatan jasmani manusia yang tidak memikirkan pengembangan diri karena sudah merasa puas ketika badannya merasa puas. Rama berhasil membebaskan Sita setelah memperoleh sembilan bekal ini. Kita pun akan berhasil dengan sembilan bekal tersebut………. Semoga…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Dari Latihan Menyayangi Tubuh Menuju Menyayangi Sesama Renungan Ke-67 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai latihan menyayangi anggota tubuh. Sang Suami: Istriku, kita melihat banyak dagelan di atas panggung bangsa, rasa nurani sudah terbeli. Kita sudah tidak menyayangi sesama, kita sudah tidak membela kebenaran, semua kalah oleh uang dan kepentingan pribadi. Mereka yang mempunyai wewenang pun, nampaknya menjadi peragu terhadap mereka yang bersuara keras. Padahal semua orang paham ada hukum alam, hukum sebab-akibat. Ada waktu mulut kita dikunci dan anggota tubuh harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ada senjata cakra-ilahi “sebab-akibat” yang akan mengikuti mereka yang berbuat jahat, dan lari ke mana pun akan dikejarnya sampai hutang impas. Sayang semuanya telah tertutup oleh kenyamanan duniawi yang bersifat sementara, semuanya tertutup oleh keindahan uang pembeli kenikmatan……… Sang Istri: Suamiku, ada baiknya kita berbicara masalah kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Salah satunya adalah latihan menyayangi anggota tubuh. Duduk diam dalam posisi bersila, atau di atas kursi. Dengan mata tertutup, selama 5-10 menit kita latihan menyayangi anggota tubuh. Mata ditutup, relaks, telinga mendengarkan musik yang lembut, napas diatur sehingga pikiran menjadi tenang. Kemudian kita mulai mencintai badan kita, mulai berdialog dengan badan kita. Kita mulai menyayangi dan mengelus-elus tubuh mulai kepala, mata, hidung telinga, bibir, otak dalam kepala, leher, dada, tubuh bagian dalam sampai dengan kaki, ujung jari kaki secara perlahan penuh rasa kasih. Setelah latihan terasa tubuh kita lebih bersemangat dan sehat seperti semangatnya para anak buah yang mendapat perhatian dari atasannya. Sang Suami: Benar istriku, bagiku, latihan meditasi adalah latihan dalam skala kecil dari kehidupan manusia. Latihan bernapas tenang dan teratur adalah latihan untuk hidup tenang dan teratur, tidak bergejolak. Latihan napas yang pelan dan lembut adalah latihan bertindak penuh kelembutan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Latihan menyayangi tubuh adalah skala kecil dari menyayangi sesama dan seluruh alam semesta. Saya ingat sebuah artikel tentang kelinci-kelinci percobaan yang membuka cakrawala kesadaran tentang pengaruh kasih sayang. Sekelompok kelinci diberi makanan berkolesterol tinggi untuk mendalami asal penyakit “cardio vasculair”. Hasilnya nampak pada beberapa kelinci ditemukan pengerasan di pembuluh arteri mereka. Akan tetapi sesuatu hal yang luar biasa terjadi, ada sekelompok kelinci yang sama sekali tidak menunjukkan kenaikan kolesterol. Usut punya usut, sang asisten laboratorium selalu mengelus-elus beberapa kelinci kala mereka sedang makan. Perasaan aman, terlindung, bahagia sewaktu menyantap makanan menawarkan kolesterol. Mengelus-elus anggota tubuh ternyata mempunyai pengaruh yang luar biasa.

Sang Istri: Selama ini kita melihat diri kita hidup, hewan juga hidup, tanaman pun hidup. Barangkali kita lupa, tubuh kita, tubuh hewan, tubuh tanaman terdiri dari trilyunan sel, yang kalau dilihat dengan mikroskop, mereka pun hidup. Ada ahli yang menghitung sel tubuh manusia berjumlah sekitar 50 trilyun. Mereka hidup, mereka lahir, mereka mati, mereka mempunyai usia hidup, dan setelah mati ada yang menggantikan mereka. Sel-sel tubuh kita bukan benda mati. Yang mati selalu dibuang oleh tubuh kita. Kita ambil contoh , sel-sel darah putih, mereka hidup sekitar 3 bulan menjalankan tugas melindungi tubuh, baru kemudian mati. Apabila ada virus jahat yang masuk dalam tubuh kita, sel-sel darah putih memeranginya dan mereka rela mati muda demi tubuh kita secara keseluruhan. Sel-sel darah putih begutu cerdas, mereka bisa membedakan siapa kawan siapa lawan. Mereka tidak pernah mogok kerja, melakukan demo. Kalau saja mereka mogok barang sebentar virus terlemahpun mudah menghancurkan tubuh kita. Informasi rasa manis dalam lidah sampai ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber “estafet” mengantarkan informasi. Sel-sel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama dalam keseluruhan. Seluruh sel-sel hidup dan melakukan kerjasama mendukung eksistensi tubuh kita. Sang Suami: Kalau sel-sel hidup, maka anggota tubuh kita juga terdiri dari sel-sel hidup . Tangan dan kaki kita didukung oleh triyunan sel yang hidup. Kadang kaki sudah merasa capek diajak jalan keliling mall, tetapi sang kaki tetap patuh ikut pikiran kita. Sudah puluhan tahun kaki kita patuh pada kita, pernahkah kita berterima kasih kepada kaki kita? Sekedar perhatian, mandipun , kadang yang disabuni hanya badan bagian atas, jari kaki diacuhkan. Contoh lain tentang mata dan jantung, kadang mata capek sudah ingin tidur, tetapi pikiran masih kalut, tadi pagi dilecehkan teman, marah, terpaksa mata yang capek masih terbuka, terpaksa jantung bekerja keras memompa darah ke wajah, darah berkumpul di kepala karena rasa marah. Jantung kita merupakan organ vital, sekali pensiun, musnahlah diri kita. Tetapi kita makan penuh lemak demi lidah, lupa memperhatikan kesehatan bahwa kolesterol dapat menyumbat arteri dan membahayakan jantung. Sudah saatnya kita berterima kasih pada seluruh tubuh kita. Mengelus-elus anggota tubuh penuh getaran kasih adalah salah satu cara menyayangi tubuh kita. Sang Istri: Dengan menyayangi anggota tubuh, kita pun diingatkan bahwa makanan yang kita makan akan menjadi anggota tubuh kita. Makanan yang kita makan selain menjadi energi untuk kegiatan sehari-hari, juga digunakan untuk mengganti sel yang rusak. Walau pernyataan tersebut tidak terlalu tepat, karena ada ”prana” sebagai sumber energi, tetapi pernyataan tersebut tidak terlalu salah juga. Makan sambil melihat televisi atau sambil membaca, tidak menghormati calon organ tubuh kita sendiri. Mengunyah sambil bicara, tak hanya ”tidak menghargai” orang yang diajak bicara, tetapi juga tidak ”respek” kepada makhluk yang akan menjadi tubuh kita, menjadi otak kita, jantung kita, organ kita. Menyantap makanan secara holistik, adalah menyadari bahwa makan tidak hanya dari kualitas fisik dan organik, tetapi penuh dengan perasaan, mengandung kepuasan, terkait emosional dan spiritual. Alangkah baiknya, kita makan tidak pada waktu sedang kesal dan makan di ruangan

yang tenang. Duduk tenang, atur napas, sebelum dan sesudah makan, ditambah dengan berdoa, memberi vibrasi kasih dan syukur kepada makanan. Membuat makan menjadi meditatif. Dedaunan pada dasarnya adalah manifestasi cahaya. Energi matahari mengubah obyek fisik menjadi tumbuhan melalui proses fotosintesis. Makanan vegetarian penuh energi yang murni. Kita baru saja memetik pelajaran menyayangi tubuh dan menghormati makanan yang akan menjadi anggota tubuh kita. Sang Suami: Istriku, bukan hanya sel yang hidup, air pun terbukti mempunyai kesadaran. Penemuan Dr. Masaru Emoto, membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran, air membentuk kristal hexagonal yang cantik ketika mendapat vibrasi kasih dan bentuk kristalnya akan rusak ketika mendapat vibrasi negatif. Pada waktu kita menyayangi anggota tubuh maka air yang ada dalam anggota tubuh kita akan bereaksi membentuk kristal-kristal hexagonal yang indah yang dapat kita rasakan pengaruhnya. Sang Istri: Apalagi tubuh manusia, sedangkan tanaman saja terpengaruh oleh vibrasi negatif ataupun positif sesuai dengan penemuan Dr. Masaru Emoto. Seorang Amerika menghubungkan kedua elektrode “lie detector” pada sebatang bunga Adhatoda Vasica, kemudian menyiramkan air pada bagian akar bunga, setelah itu dia menemukan pena elektronik dari lie detector dengan cepat menggoreskan suatu garis lengkung. Garis lengkung ini persis sama dengan garis lengkung dari otak manusia ketika dalam waktu yang sangat pendek mengalami suatu rangsangan maupun kegembiraan. Selanjutnya, dia meletakkan dua tanaman dalam pot dan salah seorang siswa diminta menginjak-injak salah satu tanaman sampai mati, dan kemudian tanaman yang masih hidup dipindah ke dalam ruangan dan dipasangi “lie detector”. Empat orang siswa diminta masuk ruangan satu per satu. Ketika giliran siswa kelima, siswa yang menginjak tanaman masuk ke dalam, belum sampai berjalan mendekat, pena elektronik segera menggoreskan suatu garis lengkung, suatu garis lengkung yang terjadi saat manusia merasa ketakutan. Luar biasa, tanaman mempunyai emosi, tanaman mempunyai kesadaran. Sang Suami: Vibrasi kasih terhadap tanaman, seperti menyiram dan memberi pupuk, memberikan pengaruh positif. Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga volume air di mata air tetap. Pembabatan pohon membuat volume mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air “krasan” singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan volume air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat makhluk yang serakah, air sudah tidak krasan lagi di gunung, di musim penghujan langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersisa, kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan. Leluhur kita menghormati seluruh alam. Menghormati pohon dengan sesajen nampak seperti perbuatan syirik, akan tetapi tujuannya adalah mulia bagaimana menjaga

kelestarian alam, agar pohon tidak dibabat semena-mena. Sang Istri: Bagian terkecil suatu benda adalah atom dimana terdapat elektron yang selalu bergerak mengelilingi inti. Benda yang dianggap matipun sejatinya ada gerakan di dalam atom-atomnya, ada “kehidupan”. Ya Allah, Ya Rabb, jernihkan pandanganku sehingga aku bisa melihat wajah-Mu di Timur di Barat dan di mana-mana. Tuhan ada dimana-mana sehingga kita harus menghormati seluruh alam ini. Kesalahan dilakukan ketika kita bertindak tidak selaras dengan alam. Sang Suami: Saya ingat sebuah wejangan bijak……. Dalam Yohanes 3:5-6 Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari “air dan Roh”, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh…….Yohanes 3:1-6 dan seterusnya bicara tentang kelahiran kembali. Kecuali kita lahir kembali dalam kesadaran ruhani, kita tidak bisa memasuki kerajaan-Nya. Maksud Yesus apa? Darah dan daging ibu dan bapak yang melahirkan kita menuntut tanggung jawab terhadap darah dan daging. “Bagaimana pun juga,” kata orang, “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Atau, ada juga pepatah, “bagaimana pun juga darah tetap lebih kental dari air.” Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Apa maksudnya? Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Karena bagaimana pun jua aku memiliki hubungan darah/daging dengan keluarga-“ku”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”. Lahirlah kembali dalam kesadaran ilahi – barangkali ini mudah untuk dipahami. Tapi apa arti “lahir dari air”? air adalah esensi kehidupan. Dari airlah kita semua berasal. Planet kita 70 percent air. Lahir dari air adalah peringatan bagi kita, “Ingatlah asal-usulmu. Kalian semua berasal dari zat dan materi yang sama.” Jangan lagi memikirkan darah dan dagingmu saja. Ketahuilah setiap lapisan daging dan setiap tetes darah berasal dari “materi awal” – air yang satu dan sama………. Sayangilah sesama dan janganlah melakukan kejahatan terhadap sesama…….. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Latihan Katarsis Dan Pelembutan Jiwa Anak Bangsa Renungan Ke-68 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai katarsis,salah satu cara pembuangan sampah emosi yang terpendam dalam diri. Sang Suami: Istriku, setiap peristiwa yang mengakibatkan kekecewaan selalu kita simpan dalam otak satu paket lengkap dengan emosi yang mendampinginya. Pada waktu kita marah atau kecewa, dan kita tidak dapat melampiaskan akibat situasi yang tidak mendukung, misalnya marah dengan pimpinan kantor kita atau orang terpandang di lingkungan kita, atau gelisah membaca koran tentang negara yang tak kunjung menyelesaikan masalah kekerasan, maka peristiwa tersebut akan kita simpan lengkap dengan emosi negatif yang menyertainya…….. Sejak bayi pun, kita diprogram mana yang baik dan mana yang buruk oleh orang tua, pendidikan dan lingkungan. Ketika kita yang seharusnya melampiaskan emosi, akan tetapi tidak dapat kita lakukan dengan pertimbangan kriteria baik-buruk yang diprogramkan pada kita, maka peristiwa itu juga kita simpan lengkap dengan kegelisahannya. Emosi negatif yang terjadi sepanjang kehidupan, kita simpan dalam bagian otak yang disebut limbik. Semakin tua, kandungan emosi negatif tersebut semakin banyak, sehingga, semakin tua semakin mudah marah, kadang hanya terpicu hal yang sepele……… Sang Istri: Benar suamiku, pada zaman dahulu kala, manusia ke mana-mana bepergian dengan jalan kaki, sehingga fisik tubuh terlatih kuat dan kegelisahan tereduksi. Sekarang orang bepergian dengan naik kendaraan, sehingga daya tahan fisik berkurang dan kegelisahan tidak tersalurkan lewat gerakan fisik. Pada zaman dahulu kita sambil jalan bisa menikmati pemandangan alam yang segar dan bunyi burung-burung yang berkicau di atas pohon. Sekarang perjalanan macet di mana-mana, penuh suara klakson dan asap knalpot. Dengan adanya HP di dekat kita maka informasi yang masuk kepada diri kita luar biasa banyaknya. Fisik kita semakin sedikit digunakan, beban psikis sangat berat, aura kegelisahan menyebar di koran, internet dan HP. Jelas kegelisahan orang sekarang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang pada zaman dahulu. Cara-cara menenangkan pikiran zaman dahulu perlu dikaji ulang……. Sang Suami: Untuk itulah kita sangat menikmati latihan “katarsis” di Anand Krishna Center, manfaatnya sangat terasa. Katarsis, adalah semacam pengeluaran sampah emosi negatif lewat ”voice culturing”. Latihan ”voice culturing” dimaksudkan untuk memancing emosi negatif yang tersimpan dalam bawah sadar sehingga dapat dikeluarkan. Latihan dengan napas “kelinci” yang kacau ditambah musik keras tertentu akan memicu ketegangan diri, sehingga emosi yang terpendam dalam diri dapat terungkap keluar. Dan dengan teriakan yang keras, kita akan membuang sampah emosi negatif. Katarsis lewat “voice culturing” ini akan melegakan perasaan kita……. Aku ingat kutipan dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian

Menuju Keabadian”………. “Lakukan apa pun yang kau inginkan; lakukan yang sudah lama hendak kau lakukan. Jangan memendam emosimu. Berteriaklah, menjerit, dan ekspresikan dirimu… Bebaskan dirimu dari sampah pikiran. Lepaskan segala kecemasan dan kekhawatiran juga ketakutan…. kemudian barulah kau dengan lebih mudah bisa memasuki alam meditasi. Di situ kau akan mengalami kebahagiaan. Dalam kesadaran itu kau akan menemukan kebenaran yang sejati dan kebahagiaan yang tak pernah berakhir”……. Sang Istri: Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki” disampaikan……… Meditasi itu hanya dapat terjadi apabila kita sudah membebaskan diri kita dari sampah-sampah pikiran yang kacau dan emosi yang terpendam. Untuk memasuki alam meditasi, duduk hening, diam, tanpa gerakan tidak akan pernah membantu. Kita harus mulai dengan pembersihan diri secara aktif; setelah itu keheningan, ketenangan akan terjadi sendiri…….. Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran” disampaikan…….. Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan tetapi menggelisahkan Anda……… Sang Suami: Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria” disampaikan…….. Dalil apa pun yang kita gunakan, pembenaran apa pun yang kita lakukan, amarah adalah amarah. Pisau amarah sangat tajam, ia yang disayatnya memang terluka, namun penyayatnya pun tidak bebas dari luka batin. Sebelum Anda memarahi orang, racun amarah telah meracuni diri Anda terlebih dahulu. Yang marah dan yang dimarahi sama-sama menderita. Tidak ada yang menang dua-duanya kalah. Amarah adalah emosi yang menghanyutkan dan yang dihanyutkan adalah kesadaran. Namun emosi yang menghanyutkan ini tidak harus selalu ditekan. Berbagai macam penyakit yang kita derita merupakan hasil penekanan emosi……… Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern” disampaikan…….. Sesungguhnya, ia kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak mampu mengurusi dirinya. Ia pun sadar bahwa dirinya gagal melakukan apa yang semestinya dilakukannya. Ia dalam keadaan kecewa berat. Kecewa pada dirinya sendiri, tetapi tidak mau menerima hal itu, maka ia pun mencari alasan atas kekecewaannya. Ia akan mencari-cari kesalahan orang lain. Untuk itu, ia akan berbohong, menipu, menyesatkan, melakukan apa saja. Ia menjadi keras. Ia menjadi pemarah. Amarah adalah benih kehancuran. Jika tidak cepat-cepat diurusi, diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat. Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah………. Istriku, betapa berbahayanya sifat amarah yang terpendam dalam diri karena tumpukan emosi negatif yang terpendam dalam diri. Luapan emosi yang tidak terkendali, khususnya luapan emosi amarah, menurunkan frekuensi kita sehingga kita tidak lagi bergetar

bersama orang-orang bijak. Untuk berada pada gelombang mereka yang bijak kita mesti bebas dari rasa dengki, iri, amarah, dan lain sebagainya. Kita mesti mampu mengendalikan hawa-nafsu dan tidak terkendali olehnya. Salah satu caranya dengan melakukan latihan katarsis. Sang Istri: Amarah juga ada kaitannya dengan sifat kekerasan dalam diri. Tanpa kita sadari kekerasan dalam adalah akibat sifat genetik bawaan. Proses pembentukan pribadi manusia dimulai sejak sel telur dibuahi oleh sperma. DNA yang dimiliki calon manusia ini dapat dikatakan sebagai ”blueprint” sifat-sifat manusia yang diturunkan oleh para orang tua dari zaman ke zaman. Sifat yang dimiliki oleh para orang tua dari generasi ke generasi, secara potensial juga dimiliki anaknya. Menurut ilmu psikologi, potensi sifat ini terdapat di alam bawah sadar. Dalam perjalanan kehidupan, sifat potensial ini dapat muncul apabila faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Sebagai contoh tawuran antar desa, kekerasan atas nama agama dan sebagainya…….. Kekerasan yang terjadi di negara kita, mungkin dapat dirunut dari kekerasan yang terjadi sepanjang sejarah negeri kita. Apabila potensi kekerasan ini tidak dicarikan cara pelembutannya, maka sewaktu-waktu potensi kekerasan ini dapat tersulut dan terulanglah lembaran hitam terjadinya beberapa huru-hara di negeri kita…….. Sang Suami: Meskipun demikian, menurut ilmu pengetahuan tentang syaraf, proses pembentukan pikiran bawah sadar manusia, sebetulnya, bukan semata-mata kesalahan para generasi terdahulu. Karena kita sendiri punya “kehendak bebas” untuk menciptakan conditioning kekerasan atau tidak memberi kesempatan kekerasan mempengaruhi diri. Memberikan “perhatian” pada kekerasan secara berulang-ulang secara repetitif-intensif, seperti pada praktek brainswash atau cuci otak, akan membuat kita terbiasa melakukan kekerasan…….. Dengan tidak mengurangi makna dan nilai pendidikan agama, walaupun orang tua sudah berlomba mengajari pendidikan agama sedini mungkin, mungkin saja kekerasan tetap akan muncul. Kalau potensi di dalam diri masih ada, kekerasan bisa muncul dalam bentuk tindakan kekerasan demi agama yang dianutnya, bahkan membunuh orang lain demi agama yang dianutnya……… Sang Istri: Suamiku, aku pernah baca file lama pada laptopmu yang merupakan download dari sebuah surat kabar yang masih relevan dengan masa kini…….. Celakanya, yang terjadi pada saat ini, kebanyakan orang Indonesia sengaja memperpanjang pengkondisian yang diterimanya dari generasi terdahulu. Praktek berpolitik, beragama, bermasyarakat dan berkeluarga kebanyakan kita, sangat menyuburkan pengkondisian kekerasan dalam alam bawah sadar. Misalnya fanatisme buta dalam beragama yang didoktrinkan secara turun-temurun. Ketika pada seorang anak diajarkan bahwa orang beragama selain yang dianutnya adalah “kafir”. Si anak kemudian akan mengasosiasikannya bahwa mereka yang beragama lain itu tak pantas mendapat keadilan atau bahkan “darahnya halal”. Lebih celaka lagi, bila fanatisme semacam ini dimanfaatkan secara politik untuk meraih dukungan massa. Pengkondisian ini dengan sendirinya menjadi memori yang akan tersimpan sangat lama. Sewaktu-waktu, ia akan muncul dan meledak bila diberikan berbagai

rangsangan atau stimulus. Adanya provokator maupun rekayasa politik, tak lain hanya merupakan stimulus yang sengaja diberikan. Potensinya, sudah terlanjur tertanam dalam diri banyak orang. Bukan berarti nasib bangsa ini sudah tak bisa diubah. Secara teoritis, rantai sikap reaktif terhadap kekerasan yang diturun-temurunkan secara genetik ini dapat diputuskan. Hal ini dimungkinkan terjadi, bila kecenderungan yang muncul dari alam bawah sadar ini tidak dengan sengaja “dirangsang”. Jika dibiarkan, lama-kelamaan potensi yang membentuk synap-synap ini akan teregresi dan lenyap………. Sang Suami: Benar istriku, kembali ke latihan katarsis…….. apabila kita cari akarnya, kita akan temukan bahwa pemendaman emosi merupakan masalah utama kita. Kita ingin marah, kita ingin menjerit, kita ingin berteriak, tetapi kita menahan diri. Kita harus punya outlet atau saluran keluar yang lain. Kita harus dapat mengeluarkan segala sesuatu yang terpendam ini lewat jalur lain. Latihan ini merupakan jalur alternatif. Keluarkan kegelisahan, kekesalan kita, namun tidak ditujukan kepada seseorang. Dalam latihan ini, kita akan menembus berbagai lapisan alam bawah sadar, sehingga apa saja yang terpendam akan keluar. Tujuannya melampiaskan emosi yang menghanyutkan kesadaran tanpa “melukai” orang lain dan diri sendiri. Apabila latihan yang harus dilakukan di bawah bimbingan para fasilitator yang menguasai latihan tersebut, tidak dapat dilaksanakan, maka dapat dilakukan sendiri dengan “Latihan Memukul Bantal”. Emosi terpendam dipancing dan kemudian dikeluarkan dengan melakukan latihan dengan memukul bantal. Dan setelah selesai dilakukan pengaturan napas kembali……. Sang Istri: Orang tua yang sudah terlanjur terbentuk pribadi yang keras perlu rajin katarsis untuk pelembutan pribadi, sehingga semakin tua akan semakin lembut. Bagi anak-anak muda yang belum kawin perlu rajin katarsis sehingga potensi kekerasan dalam dirinya akan berkurang. Pada waktu dia nanti kawin dan mempunyai anak, potensi kekerasan sudah tidak diturunkan lagi ke generasi berikutnya. Dengan berkurangnya potensi kekerasan, keserakahan, dan trauma dalam diri, kita akan lebih tenang. Dan pada gilirannya kita akan dapat menjalankan agama dengan lebih jernih. Sang Suami: Benar istriku, bagiku nasehat untuk tidak melakukan ibadah pada saat mabuk dapat dimaknai agar kita melakukan ibadah dengan penuh kesadaraan. Saat mabuk duniawi, mabuk kemarahan dan keserakahan, tenangkan diri dulu, dan setelah tenang baru melakukan ibadah……… Semoga……. Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Latihan “Sight Culturing” Dan Perbaikan Cara Pandang Terhadap Kehidupan Renungan Ke-69 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai Latihan Membudayakan Penglihatan/Visi dan Mengembangkan Kasih serta Intuisi. Sang Istri: Suamiku, aku sangat menikmati latihan Membudayakan Penglihatan/Visi dan Mengembangkan Kasih serta Intuisi………. Duduk bersila atau duduk di atas kursi, menghadap lilin yang sudah dinyalakan. Menatap cahaya lilin terus-menerus. Membiarkan air mata mengalir tanpa dihapus. Setelah air mata sudah mengalir banyak, atau mata sudah terasa pedih, mata dipejamkan pelan-pelan dan duduk diam sampai rasa sakit hilang. Pada saat itu kita merasakan kelegaan. Dengan mata tetap tertutup, kemudian kita bayangkan cahaya lilin berada di tengah-tengah kedua alis mata. Kemudian dibayangkan cahaya tersebut dipindahkan ke mata, telinga, pipi, hidung, mulut dan leher. Dari leher, turunkan cahaya ini ke bawah, sampai ke dada. Selanjutnya cahaya ini dirasakan. Cahaya ini memberikan rangsangan kepada jantung, dan dengan sedikit upaya, kita dapat merasakan Kasih di dalam diri dan seterusnya……. Kemudian kita merasakan seluruh badan mandi dibawah pancuran kasih. Kasih mengisi seluruh badan dan sudah tidak dapat membendung lagi dan energi kasih ini mulai meluap ke luar dan mengisi seluruh ruangan. Selanjutnya energi kasih disebarkan ini ke seluruh rumah kita, kirimkan ke tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya. diniatkan juga bahwa kita mengirimkan bingkisan kasih ini kepada para sahabat, mereka yang kita cintai. Juga kita kirimkan kepada mereka yang selama ini kita anggap sebagai musuh. Ucapkan dalam hati, “Aku tengah berupaya memahamimu. Terimalah bingkisan kasihku ini. Maafkan aku, mari kita bersahabat”. Sebarkan juga ke seluruh Indonesia, dengan membayangkan peta Indonesia – selanjutnya ke seluruh dunia…… dan seterusnya…. untuk lengkapnya dapat dilihat pada buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”…… Latihan ini melatih pusat energi diantara kedua alis mata yang berkaitan dengan kebijaksanaan dan juga pusat energi di dada yang berkaitan dengan kasih……. Sang Suami: Bila dalam satu waktu kita memikirkan banyak hal, maka gelombang otak kita bergerak diatas 13 Hertz (siklus per detik), yang dikenal sebagai kondisi ”beta”. Misalnya sambil berkendara, ngobrol dengan teman, melihat anak menyeberang jalan dan melihat polisi di perempatan jalan, serta telinga mendengar suara ambulance di belakang kita…….. pikiran terasa tegang. Selanjutnya, ketika kita fokus hanya memikirkan satu hal dalam satu waktu, gelombang otak akan menurun dibawah angka 13, yang disebut dalam kondisi ”alpha”. Misalnya membaca buku dengan sangat asyik….. atau hanya memperhatikan napas masuk dan napas keluar hidung. Prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian dari pikiran tertentu misalkan pikiran tentang kesedihan dengan memikirkan hal yang lain, sehingga kesedihan tidak terpikirkan dan kita masuk dalam keadaan tenang. Pada

prinsipnya, memikir satu hal tertentu dapat menggantikan pikiran yang lain. Kemudian, apabila dalam satu waktu, kegiatan memikir tersebut diganti dengan tindakan visualisasi, maka gelombang otak akan lebih melembut lagi…….. Pada waktu latihan “sight culturing” – pembudayaan penglihatan, ketika kita betul-betul memperhatikan nyala api lilin, pikiran-pikiran yang lain akan jarang masuk. Nyala lilin ini betul-betul terasa baru bukan sekedar pengertian umum nyala api lilin yang tersimpan dalam otak kita. Selanjutnya, ketika mata ditutup dan mulai memvisualisasikan nyala api lilin, kita semakin tenang dan pikiran semakin jernih. Pada waktu pikiran jernih,dan kita tidak merasakan adanya tangan, kaki dan badan kita, kita sudah mulai masuk kondisi theta yang sangat menyehatkan dan sangat inspiratif. Afirmasi dan visualisasi tentang kasih yang dilakukan saat latihan dalam kondisi ini sangat sugestif dan merasuk ke dalam bawah sadar. Gelombang theta sendiri berkisar antara 3,5 sampai 7 Hertz…… Sang Istri: Suamiku, latihan mengembangkan kasih ini sangat bermanfaat, bukankah saat kita berkendara di tengah jalan dan ada kendaraan lain yang seenaknya memotong jalan di depan kita karena terburu-buru, kita cuma tetawa….. yang nyetir kelaparan takut sakit maag, sehingga pengin cepat sampai rumah…… Dulu dalam keadaan emosi, darah kita akan naik dan merepet “orang berkendara kok seenaknya motong jalur, emangnya jalannya mbahmu?”……… Seorang anak yang mempunyai beberapa saudara minta hak warisan kepada orang tuanya yang belum meninggal agar dia bisa mandiri hidup di kota lain. Dengan berat hati, setelah memberikan berbagai nasehat dan bermusyawarah dengan anak-anaknya yang lain, diberikanlah warisan kepada anak tersebut yang berjanji tidak akan minta warisan lagi di kemudian hari…… Akan tetapi 5 tahun kemudian harta sang anak habis dan dia pulang dengan wajah loyo, bagai habis kalah perang. Ia datang memohon maaf dan mohon dapat diterima untuk hidup bersama orang tuanya lagi. Sebagai orang tua haruskah bertindak adil dan konsekuen dan membiarkan anaknya berada dalam penderitaan? Visi keadilan masih memakai pikiran, masih memakai logika sebagai alat penimbang, sedangkan visi kasih mempergunakan rasa sebagai alat pengambil keputusan. Kasih berada di atas keadilan. Orang tua tersebut mengumpulkan anak-anaknya dan berbicara bagaimana baiknya menghadapi masalah tersebut……. Seandainya kita tidak hanya bersifat kasih terhadap keluarga, akan tetapi tetangga pun dianggap sebagai keluarga, alangkah damainya dunia ini…… Sang Suami: Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna” disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31). Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah

tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai……. Sang Istri: Aku ingat wejangan bijak…… “hubungan darah tetaplah hubungan darah. Daging sendiri tetaplah daging sendiri.” Tetapi Yesus justru mengatakan, “kau harus lahir kembali dari roh dan air.” Hubungan darah/daging adalah hubungan awal kita dengan dunia ini, dimana keluarga-“ku” menjadi lebih penting dari keluarga-“mu”. Ini adalah hubungan berdasarkan ego-biasa. Yesus mengajak kita untuk meningkatkan ego kita menjadi “kesadaran murni yang luar biasa”. Kita semua berasal dari zat dan materi yang sama, air dan roh……. Kemudian juga wejangan bijak lain….. bila kau hidup untuk diri sendiri, maka rejekimu terbatas untuk hidupmu sendiri. Akan tetapi bila kau memberikan rejeki untuk orang banyak, maka banyak pula rejeki yang dilewatkan padamu…….. Sang Suami: Visualisasi dari pikiran yang belum terkendali, masih liar sangat berbahaya…… Betapa berbahayanya pikiran yang “tidak terarah” – lebih berbahaya daripada musuh yang sangat jahat dan sangat membenci, kata seorang bijak. Pikiran yang tidak terarah cenderung berpikir sebagai hewan, ia tidak manusiawi lagi. Kesemrawutan, kekerasan yang terjadi di tengah bangsa ini dimulai dari pikiran liar yang tidak terkendali dan merasa benar sendiri……… Latihan visualisasi atau imaginasi secara positif dan dilakukan secara sadar dalam latihan tersebut sangat berarti bagi pengembangan kasih di dalam diri…….. Imajinasi merupakan kemampuan untuk menciptakan gambaran mental dalam pikiran. Dalam keadaan tenang dan rileks kita menggunakan imajinasi untuk menciptakan gambaran yang jelas tentang sesuatu yang kita inginkan. Bila kita terus memfokuskan perhatian pada gambaran mental tersebut secara teratur, akan memberi kekuatan positif sampai ia menjadi realitas……. Dan kita yakin gambaran mental tentang kasih tersebut selaras dengan alam yang bersifat kasih terhadap sesama. Bila kita memvisualisasi keadaan yang tidak selaras dengan alam, kita tetap akan menerima konsekuensi dari tindakan tersebut…… Sang Istri: Benar suamiku, yang kita perlukan hanyalah bahwa kita harus memiliki keyakinan. Visualisasi adalah bahasa pikiran bawah sadar, bahasa otak kanan dan jalan menuju kesempurnaan doa. Visualisasi adalah bagaimana kita mengoptimalkan kemampuan otak kanan kita untuk tetap fokus pada satu tujuan. Artinya jika

menggunakan visualisasi kita hanya boleh menetapkan satu hal, membayangkan dan merasakan bahwa hal tersebut sudah terjadi. Banyak para pakar berpendapat bila antara doa dan visualisasi tidak selaras maka yang akan menjadi kenyataan adalah visualisasinya……. Sang Suami: Aku ingat canda seorang bijak…. Ucapkan Alhamdulillah seakan sudah terjadi keinginan kita, bukan insya Allah, karena Tuhan akan berpikir bahwa yang mengucapkan insya Allah belum serius masih insya Allah, maka diberikan nati-nanti saja…… Jelas bukan begitu maksudnya…. maksudnya adalah divisualisasikan bahwa keinginan kita sudah terjadi dan mengucap Alhamdulillah …… Semoga Latihan tersebut dapat memberdaya diri kita semua…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Melihat Persamaan Antar Agama, Mutiara Renungan Bhikku Sanghasena di AKC Joglosemar Renungan Ke-70 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan pesan Yang Mulia Bhikku Sanghasena yang berkunjung ke Anand Krishna Center Joglosemar pada tanggal 24 Februari 2011. YM Bhikku Sanghasena adalah yang mendirikan Mahabodhi International Meditation Center, sebuah Meditation Center yang mudah ditemukan lewat Google search dalam internet. Dikatakan “Mahabodhi International Meditation Center is great example of one’s vision turning into reality”……. Sang Suami: Pesan pertama YM Bhikku Sanghasena adalah tentang tidak adanya kedamaian dunia karena dunia telah terkotak-kotak dan berada dalam kotak-kotak yang terpisah…….Bhikku Sanghasena dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”, saat melihat film tentang Anand Ashram di mana banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia……. Beliau menyampaikan demikian pula di Ashram Mahabodhi Ladakh, India yang terbuka untuk semua, tidak ada larangan bagi setiap orang dari agama, ataupun kebangsaan apapun untuk datang. Di Ashram Mahabodhi memandang setiap orang sebagai manusia tidak melihat perbedaan agama dan kebangsaan………. Berbicara masalah kedamaian dunia. Mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”. Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” juga disampaikan…….. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah

kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya……… Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang keadaan saat ini dimana tidak ada kedamaian yang nyata, yang ada hanya omongan belaka. Beliau menyampaikan……. Misalkan saya sedang damai, rileks duduk santai di atas kursi dan kopi di sebelah kita. Kemudian tangan kita sedang memegang cangkir. Kemudian kita mendengar suara ledakan di tetangga kita, apakah kita bisa rileks dan damai?………. Misalkan kita sedang rileks, merasa nyaman dan mau ambil secangkir kopi untuk dinikmati, akan tetapi dari jendela di sebelah kita duduk kita melihat seorang ibu dan anak terluka berdarah-darah, sedang menangis apakah kita bisa merasa damai?……… Kita hanya bisa merasa rileks, damai dan minum kopi dengan nyaman bila tetangga kita juga nampak dari jendela kita bahwa dia juga sedang duduk rileks dan minum kopi juga……… Beliau menyampaikan bahwa pada zaman dahulu, manusia melakukan perang hanya memakai busur dan anak panah yang jangkauannya hanya puluhan meter. Kemudian berita peperangan tersebut sampai ke telinga seseorang yang berada di luar daerah bisa makan waktu berbulan-bulan. Akan tetapi sekarang untuk menghancurkan sebagian dunia cukup memencel sebuah tombol. Kemudian pada saat ini, kejadian di belahan dunia lain dalam waktu menit sudah ada di depan kita…….. Dulu pengaruh suatu peristiwa perang terhadap kedamaian terbatas, kini beritanya tersebar dalam waktu singkat sekali……. Kita harus punya visi baru bagi kedamaian orang, keluarga, negara, agama. Bukan hidup sendiri, damai sendiri, dan kita tidak peka, tidak terpengaruh anak-anak kecil yang terbunuh dalam perang atau kekerasan. Sang Istri: Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna” disampaikan……. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia (tetanggamu) seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 30-31). Adalah dalam konteks kesetaraan pula ketika Yesus berperan supaya kita mencintai tetangga, atau sesama manusia, sebagaimana mencintai diri. Apa arti mencintai tetangga, atau sesama manusia? Seandainya saya hendak makan siang bersama istri saya, di atas meja makan hanyalah tersedia sepotong kue pai dan sisa roti yang sudah kering. Kemudian saya ambil pai untuk diri saya dan menyisakan roti kering untuk istri, yang konon saya cintai, apakah dengan cinta seperti ini saya dapat mencintai tetangga saya? Jelas tidak. Jika saya mencintai istri saya, saya akan menginginkan kue itu untuk dia sebagaimana saya

inginkan untuk diri saya. Jika saya mencintai tetangga saya, segala kenikmatan yang saya inginkan untuk diri saya akan saya inginkan untuk dia pula. Jika saya mencintaimu, apa yang saya upayakan untuk diri saya akan saya upayakan pula untuk dirimu. Apa yang saya upayakan bagi anak-anak saya akan saya upayakan pula bagi anak-anakmu. Saya tidak akan membiarkan dirimu dizalimi sebagaimana saya tidak akan membiarkan diri saya dizalimi. Saya tidak akan menerima ketidakadilan terhadap mereka yang kaucintai, sebagaimana saya tidak menerima ketidakadilan terhadap mereka yang saya cintai……. Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang setiap agama mempunyai perbedaan normatif, semua agama memang mempunyai hal demikian. Beda lokasi, beda masyarakat, beda zaman, maka pesan ilahi yang disampaikan nampak berbeda, padahal ada kesamaannya, esensinya sama. Kemudian sumbernya adalah beberapa orang yang mengalami “pencerahan”. Beliau menyampaikan…….. Agama seperti bunga di taman, tanpa bunga tidak indah. Biarlah kita memilih bunga yang sesuai dengan selera kita. Jangan sekali-sekali kita membuat agama baru yang meliputi semua agama, jangan membuat negara baru yang meliputi semua negara. Jangan menambah masalah baru. Satu negara, satu agama? Ibarat membuat bunga khusus dan bunga yang lama dimusnahkan semuanya. Tidak akan jalan bahkan menambah permasalahan baru. Semua bunga indah, cocok dalam suatu taman. Siapa yang bisa bilang suatu bunga adalah yang paling indah? Sang Istri: Dalam buku “Tantra Yoga” disampaikan…… Kita lupa bahwa seorang Master datang untuk menunjukkan jalan. Kita lupa bahwa ajaran mereka bagaikan peta. Harus dipelajari dan dijalani, tidak hanya disembah-sembah dan dipuja-puja. Yang lebih aneh lagi, bila ada orang yang mau membuka peta itu, mau mempelajarinya, kita berang: “Eh, ada urusan apa kamu membuka peta itu? Nanti malah rusak. Taruh kembali, jangan dipegang.” Lucu yah! Kata-kata bukanlah ajaran. Untuk menjadi ajaran, kata-kata haruslah diterangi oleh pencerahan si penyampainya, Pencerahan seorang Master, seorang Mursyid bagaikan nyawa. Kata-kata plus nyawa sama dengan ajaran. Bila anda berwawasan luas, tidak fanatik terhadap suatu ajaran, dan masih bisa berpikir dengan kepala dingin, anda akan melihat persamaan dalam setiap ajaran. Setiap master, setiap Guru, setiap Murysid sedang menyampaikan hal yang sama. Cara penyampaian mereka bisa berbeda. Tekanan mereka pada hal-hal tertentu bisa berbeda. Tetapi inti ajaran mereka sama. Dan memang harus sama, karena berasal dari sumber yang sama. Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan penghormatan pada Anand Ashram. Beliau sangat kagum dengan sebuah contoh nyata yang dilakukan di Anand Ashram, orang-orang dari berbagai bangsa, suku, ras, berbagai profesi, berbagai usia, berbagai bahasa ibu, dari berbagai agama dapat bekerja sama meningkatkan kesadaran. Mempunya visi satu bumi, satu langit, satu umat manusia. Beliau berkomentar, “Bukankah itulah “surga” dan kalian menjadi dewa dan dewinya?”……. Surga bukan terletak pada lokasi geografis tertentu, bukan pula terletak jauh di atas sana. Surga terletak di dalam kedamaian dan kepuasan hati……. Contoh nyata

“surga” itulah yang harus diaplikasikan di negara dan di dunia. Sebagian besar penduduk dunia berada dalam ignorance, kebodohan , masih tidur, belum sadar. Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak….. Di suatu pulau di Jepang hidup sekitar 300 ekor kera. Beberapa ekor kera dilatih membersihkan ubi sebelum makan, sangat sulit untuk berubah, tetapi setelah satu ekor berubah, diikuti beberapa ekor sampai 30 ekor dan kemudian semua kera di pulau tersebut membersihkan ubi sebelum makan. Dan luar biasanya kera-kera di pulau lain yang terpisah lautan tiba-tiba ikut-ikutan mencuci ubi sebelum memakannya…. Sebuah energi yang luar biasa agar kita tetap semangat menghadapi rintangan-rintangan dalam penyebaran kesadaran….. Sang Suami: Pesan YM Bhikku Sanghasena selanjutnya adalah jangan “under estimate” terhadap kemampuan diri pribadi. Beliau menyampaikan……. Dalam sejarah, kedamaian selalu dimulai dari 1 orang saja. Dan kemudian berkembang. Kekuatan seseorang adalah 10.000 kali dari perkiraan kita. Bila kita damai, dan kita berhubungan dengan internet, maka kedamaian kita cepat menyebar…… Beliau memberikan ilustrasi…….. kita mempunyai 5 jari tangan yang berbeda. Bila jari-jari tangan tersebut disatukan dalam satu kepalan tangan, maka sewaktu berhadapan dengan orang lain akan muncul bahaya. Jari-jari tangan yang berbeda-beda tersebut membentuk kepalan tinju. Biarkanlah jari-jari tangan tersebut dalam keadaan berbeda. Dan, kelima jari yang berbeda bisa digunakan untuk berjabat tangan, untuk persahabatan……. Beliau memberikan ilustrasi lain……. Semua agama disampaikan dalam “bahasa” berbeda, nampaknya berbeda tetapi semuanya berawal dari seorang yang mendapat pencerahan purna. Kasih murni, cinta murni…….. Seorang dokter sedang memeriksa pasien, dia akan memeriksa tubuh yang sakit secara mendalam, dokter tak akan bilang, kamu agama Islam maka sakitmu akan kuobati, kamu agama kristen kamu saya obati sebagian, kamu beragama hindu saya tidak mau mengobati. Dokter saja menganggap sama manusia apalagi manusia yang sudah mengalami pencerahan purna dia akan menganggap semua manusia sama…… Krishna, Muhammad, Jesus, Buddha, Guru Nanak dan lain sebagainya adalah dokternya dokter, selalu menganggap manusia sama. Sang Istri: Aku ingat tentang sebuah pandangan bijak…….. “Wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana anda berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun anda pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima anda. Semakin canggih radio yang anda miliki, semakin banyak siaran yang dapat anda terima. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Sesuai dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam anda

meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan anda. Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – yang “bergelombang panjang” – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad, seorang yatim piatu, seorang pedagang yang buta huruf. Siapa lagi? Seorang Yesus, seorang Isa-anak tukang kayu! Siddhartha harus meninggalkan istana, melepaskan segala macam atribut luaran, untuk menerimanya. Krishna adalah seorang gembala sapi. Merekalah para penerima wahyu. Mereka ini meniti jalan ke dalam diri. Mereka menemukannya dalam diri sendiri. Perbedaan yang terlihat antara Al-Qur’an dan Veda, antara Dhammapada dan Zend Avesta, antara Taurat dan Guru Granth, disebabkan oleh “alat penerima”. Apalagi dalam hal ini, setiap “alat penerima” adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda! “Alat penerima” wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari “alat penerima” di India. Begitu pula dengan “alat penerima” di Cina, tentu saja berbeda dari “alat-alat penerima” yang lain. Setiap “alat penerima” dipengaruhi oleh budaya setempat. Nabi Muhammad dipengaruhi oleh budaya Arab. Buddha dipengaruhi oleh budaya India. Lao Tze dipengaruhi oleh budaya Cina. Musa dipengaruhi oleh budaya Mesir. Getaran-Getaran Ilahi atau “wahyu” yang diterima oleh masing-masing “alat penerima” oleh masing-masing nabi, avatar, mesias, dan buddha diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian kontemporer. Itu sebabnya, setiap kitab suci-apakah itu Al-Qur’an, Veda, Dhammapada, Injil, Zend-Avesta, Taurat, Zabur, Guru Granth selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat sangat kontekstual……… Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan agar kita melihat persamaan agama bukan perbedaannya…….. Misalkan ada sebuah kita umat lain setebal 1.000 halaman. Yang kita betul-betul tidak dapat menerima mungkin hanya 20 lembar, mengapa kita berfokus pada yang 20 lembar tersebut. Bukankah kita bisa menjalin persahabatan dengan kesamaan yang 980 lembar? Beliau memberikan ilustrasi………. Ibarat kita pesta ada banyak makan di atas meja sebagian besar sesuai selera, kenapa kita memakan yang tidak sesuai selera? Pinggirkan yang tidak sesuai selera, makan yang sesuai selera dulu. Bukankah bisa demikian? Pada akhirnya kita bisa menerima yang tidak sesuai selera kita juga. “Acceptable first and we make frienship, disagreement not touch”……… Selanjutnya YM Bhikku Sanghasena menyampaikan agar kita jangan “membuta” dan agar kita menggunakan pikiran jernih……. Jangan memaksa anak kecil dengan dikte-dikte tertentu. Biarkan pikiran mereka berkembang. Jangan hanya mengikuti secara membuta……. Bila kita kita mengikuti pemimpin yang bijak kita akan berbahagia, tetapi mengikuti pemimpin yang tidak bijak kita akan menderita. Bila melihat pemimpin tidak bijaksana, kita jangan ikut membuta gunakan pikiran. Demikian pula kepemimpinan dalam bidang agama, kita harus tetap menggunakan pikiran jernih….. Pada waktu Buddha hidup belum ada Budhism, pada waktu Jesus hidup belum ada christianism demikian pula agama-agama yang lain. Yang diajarkan oleh mereka hanyalah kasih dan kemanusiaan. Kita sekarang terpisah karena agama. Padahal para junjungan kita jelas menjujnjung kasih, kamnusiaan dan tidak membeda-bedakan. Renungkanlah.

Sang Istri: Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan…….. Apapun agamamu, dan apapun agamaku – “keagamaan” kita sama. Esensi atau nilai-nilai luhur yang terdapat dalam semua agama sama, yaitu Kasih, Kedamaian, Kebenaran, dan Kebajikan. Ketika kau menerjemahkan nilai-nilai itu dalam keseharian hidupmu, dan ketika aku menerjemahkannya dalam hidupku – maka kita bertemu! Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang masalah tempat ibadah………. Kita bisa makan dan minum bersama di restaurant. Perbedaan agama tidak eksis saat minum cocacola di sana. Tetapi mengapa, di gereja, di vihara, di kelenteng, di Pura, di Mesjid kita membeda-bedakan agama setiap orang dengan jelas. Mengapa justru di tempat suci kita tidak bisa duduk bersama? Mengapa mereka yang beragama lain tidak boleh masuk? Pemisahan justru terjadi di tempat suci? “Ignorance”, ketidaksadaran. Mengapa para pemimpin agama, para Guru tidak sadar? Sang Istri: Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern” disampaikan……… Ada pula yang menamakannya Kesadaran, Pencerahan. Alam kesadaran ini bisa dialami, tetapi tidak ada kata yang dapat menjelaskannya. Inilah meditasi. Sri Mangkunagoro mengisyaratkan bahwa hanya yang telah mencapai kesadaran tersebut, layak disebut guru. Pertama Bhoutik atau kesadaran fisik, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Kedua, Daivik atau kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama. Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak adapat dijelaskan. Menurut Sri Mangkunagoro, sruning brata kataman wahyu dyatmika: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri………. Sang Suami: YM Bhikku Sanghasena menyampaikan tentang meditasi……. Kita bukan mesin, manusia punya emosi, punya rasa. Mobil yang penyok tidak bersuara, tidak demikian dengan manusia……. Kita makan, kita minum, kita berobat, fisik itu penting. Tetapi pikiran itu penting, meditasi itu penting. Kebersihan fisik itu penting, tetapi kita itu pada dasarnya adalah pikiran, maka membersihkan pikiran itu penting. Nabi Muhammad, Jesus selalu berjalan di gurun, Buddha selalu berjalan di hutan, mereka tidak bercermin di gurun atau di hutan. Tetapi hati mereka bersih. Coba kita melihat seorang wanita cantik fisiknya, tetapi hatinya kotor, bencana. Coba kita

melihat wajah yang buruk rupa tetapi hatinya cantik, kita bisa menerima. Membersihkan fisik itu penting, tetapi membersihkan hati dengan meditasi itu penting……. Setelah selesai mari kita melakukan meditasi bersama…… Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak……… Membersihkan rumah merupakan suatu tindakan pembersihan lingkungan. Setiap perlengkapan rumah, pintu maupun dinding menangkap dan menahan aura manusia yang berasal dari setiap individu di rumah, begitu juga dengan para tamu. Sisa-sisa ini harus dibuang melalui penyapuan dan pembersihan……. Sebagaimana fisik yang perlu pembersihan rutin, demikian pula pikiran kita, ada hal berharga dan banyak pula sampah pikiran yang perlu dikeluarkan secara rutin. Katarsis dalam meditasi, pembuangan sampah pikiran dan emosi, perlu dilakukan secara rutin……. Semoga…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Esensi Agama Menembus Sekat-Sekat Dari Kotak-Kotak Yang Terpisah Renungan Ke-71 Tentang Berguru Sepasang suami istri melihat komentar para sahabat dalam note di FB nya. Mereka melihat para sahabatnya tertarik pada pernyataan YM Bhikku Sanghasena pendiriMahabodhi International Meditation Center , tentang tidak adanya kedamaian dunia karena dunia telah terkotak-kotak dan masyarakat berada dalam kotak-kotak yang terpisah……. Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude” untuk melihat persamaan dan bukan mencari perbedaan. Dan, esensi setiap agama pada dasarnya sama…… Sang Suami: Istriku, aku baru saja tertegun kala membaca status FB salah seorang sahabat…… “Kalau Ahli Hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum, sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan”, tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca……. Dan salah seorang “sahabat” mengomentari status tersebut…….. “Itulah yg terjadi ketika para ahli hanya melihat fakta semu di permukaan tanpa mau menyelami kebenaran. Betapa langkanya para pemikir seperti Pramoedya di negeri ini. Salam kasih buatmu Bung, telah mengingatkan kita akan hal ini.”……….. Benar sekali tanggapan terhadap status tersebut…… Sang Istri: Saya pernah membaca bahwa Gus Dur menyampaikan, “Saya sendiri orang Islam – tetapi Islam pun banyak kekurangannya. Seperti yang diketahui, Islam itu terbagi dua, satu yang legalistik/formalistik, satunya lagi yang spiritual. Saya pribadi lebih cenderung kepada yang spiritual. Yang legal suka menghantam yang spiritual.”……. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan…….. Dalam setiap agama, ada bagian-bagian yang bersifat universal, ada pula yang bersifat kontekstual. Yang kontekstual ini mungkin sangat relevan pada masanya, tetapi sudah tidak relevan dengan masa kini. Kita tidak perlu mengkritiknya. Yang diperlukan adalah kearifan kita untuk memisahkan bagian-bagian yang sudah tidak relevan lagi……… Dengan segala hormat kepada pendiri setiap agama, bagaimanapun mereka adalah manusia biasa. Ilham atau Wahyu yang kita anggap “turun” dari Allah dan saya yakini berasal dari kesadaran tinggi mereka jabarkan sesuai “pemahaman” mereka. Dan “pemahaman” manusia meningkat terus. Bahkan secara anatomis, otak kita apapun sudah mengalami

perubahan struktural. Kualitas otak manusia sekarang dan manusia purbakala – bahkan manusia yang lahir 2000 tahun yang lalu – sudah berbeda. Kita harus bisa menerima “perbedaan” ini dengan pikiran yang jernih dan hati yang terbuka. “Pembakuan” peraturan-peraturan yang dibuat ribuan tahun yang lalu – lantas menjadikannya landasan bagi suatu negara – akan menghentikan roda pembangunan. Kita akan lari di tempat……… Sang Suami: Dalam AI-Qur’an pun tertulis, “Kuciptakan kalian sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa.”……. Berarti taqwa menembus sekat-sekat perbedaan bangsa dan suku. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan…….. Entah berapa kali telah kita baca Firman Allah itu, namun sepertinya tidak pernah kita hayati. Bolak-balik yang kita permasalahkan adalah bentuk luar agama, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Esensi agama tidak bisa dipermasalahkan. Esensi agama adalah “taqwa” kepada Allah. Dan siapa yang bisa menentukan ke-”taqwa” -an seseorang, kecuali Allah? Sang Istri: Kesadaran menembus rintangan penglihatan yan g sempit. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan” disampaikan……. Ketidaksadaran merintangi penglihatan kita. Pikiran pun menjadi keruh. Lalu penafsiran kita akan selalu salah. Yang benar kita anggap tidak benar. Yang tidak benar kita anggap benar. Dan apabila kita menciptakan suatu system kepercayaan berdasarkan tafsiran-tafsiran yang salah, Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi! Sementara ini, yang terjadi memang demikian. Kita menafsirkan agama dan kepercayaan secara begitu sempit, sehingga maknanya hilang. Sehingga jiwanya hilang, dan pesannya tidak jelas lagi…….. Sang Suami: Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan…….. Sebenarnya, Hazrat Inayat Khan hanya sedang mengulangi apa yang pernah dikemukakan oleh para sufi sebelumnya. Sufisme bukan agama, karena bebas dari prinsip-prinsip dogmatis, dari perbedaan-perbedaan yang mendasari setiap agama. Sufisme juga bukan filsafat, karena ilmu filsafat pun melihat perbedaan. Sebaliknya, sufisme hanya melihat kesatuan dan persatuan. Hazrat Inayat Khan menjelaskan ajaran sufi sebagai “latihan” untuk meluruskan pandangan, untuk memperluas pandangan. Ajaran-ajaran sufi tidak pernah menjadi suatu agama, atau melahirkan suatu kredo baru. Ajaran-ajaran sufi mempakan intisari setiap agama, semua agama. Bahkan, sebenarnya istilah “Sufisme” pun tidak tepat. Sufi tidak mengenal “isme”. Kalaupun Hazrat Inayat Khan menggunakan “ism” di belakang Sufi, maksud beliau hanyalah untuk mempermudah pemahaman kita………. Seorang Sufi adalah seorang Kristen Sejati. Kemurahan-hatinya, semangat persaudaraannya dan komitmennya terhadap pemulihan kembali kesehatan rohani tidak tertandingi. Seorang Sufi adalah seorang Brahmin (Hindu) Sejati. Brahmin berarti “Ia Yang Memahami” Brahma – Ia yang mengalami Tuhan, Yang Satu Ada-Nya. Ia tidak mempercayai keberadaan sesuatu apa pun, di luar Tuhan. Demikianlah keyakinannya

yang disebut Advaita – tidak melihat dualitas, tidak memilah. Memang Hazrat Inayat Khan akan membuat gerah pihak-pihak yang ingin memonopoli istilah Sufi. Bagi seorang Inayat Khan, bagi seorang Jalaluddin Rumi, istilah Sufi sendiri berarti “Ia yang bersih”. Seorang sufi tidak terkontaminasi, tidak tercemari oleh pandangan-pandangan yang bersifat dualitas. Ia bebas dari segala macam dualitas. Seorang Sufi adalah seorang Buddhis Sejati. Dengan penuh kewaspadaan, ia mengambil langkah pasti dalam perjalanan spiritualnya. Seorang Sufi adalah searang Muslim Sejati. Ia tidak sibuk membicarakan Islam. la “menghidupi” Islam. Islam membuat jiwanya semakin lembut, semakin reseptif. Sesungguhnya hanya kelembutan jiwalah, hanya reseptivitas hatilah, yang dapat mengantar kita ke pencerahan. lronis sekali, Islam yang begitu lembut dijadikan alot, dijadikan keras oleh mereka yang ber-KTP Islam, tetapi tidak berjiwa Mukmin. Sang Istri: Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan…….. Seorang Sofie dalam bahasa Yunani, atau Sufi dalam bahasa Arab, adalah seseorang yang tersesat dalam Senandung Agung. Seorang Sufi menjadi satu dengan Nyanyian, dengan Sang Agung. Jiwa Sufi adalah jiwa universal, jiwa Tuhan. Bangkitnya jiwa semacam itu berarti juga kebangkitan ketuhanan di dalam diri. Bangkitnya Jiwa Sufi di dalam diri adalah hal paling berbahaya yang dapat terjadi dalam diri seorang manusia. Sufi adalah mahluk-mahluk yang sudah bertransformasi. Mungkin mirip kita, tetapi tidaklah sama dengan kita. Mereka berbeda. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan masyarakat, akademi, institusi, agama, dan banyak hal lainnya. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan benda, materi. Para Sufi mengidentifikasikan diri dengan dengan hal-hal di luar jangkauan materi, esensi materi yaitu energi murni. Kita hidup dalam kotak-kotak sosial. Para Sufi hidup di luar kotak-kotak tersebut. Kita takut hidup di luar kotak kecil kita. Para Sufi malah akan sesak nafas di dalam kotak-kotak itu…… Sang Istri: Dalam buku “Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan” disampaikan…….. Setiap orang hidup dalam dunia “ciptaan”nya, dalam alam raya “buatan”-nya. Dan, dunia “buatan” kita, alam “ciptaan” kita sungguh sempit, kecil, serba terbatas. Itu sebabnya, kita tidak merasa apa-apa bila tetangga kita tidur dengan perut kosong. Dalam “dunia kita” perut tetangga tidak sama dengan perut kita. Dunia kita, alam kita terbagi dalam sekian banyak kotak. Dan setiap kotak masih bersekat lagi. Ada kotak bangsa, negara. Ada sekat agama, suku, ras dan sebagainya. Kita bagaikan kawanan katak yang hidup dalam sumur. Seorang sufi keluar dari sumur itu. Pencerahan dia, kesadaran dia membebaskan jiwanya dari pengotakan dan penyekatan. Kemudian, ia menjadi “anak dunia”, putra alam raya. Kegerahan alam menggerahkan dirinya. Dan, kegelisahan dia menggelisahkan alam. Kesadaran seorang sufi semacam ini bukanlah produk ego yang serta terbatas, tetapi hasil dari pelepasan ego. Sang Suami: Aku ingat sebuah pandangan bijak…… Di balik segala macam permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini ada masalah utama yang terlupakan. Krisis moneter bisa diatasi, akan teratasi. Krisis politik bisa diatasi, akan teratasi pula. Masalah utama yang kalian hadapi adalah krisis kesadaran. Tanpa adanya kesadaran,

tidak akan terjadi reformasi. Sistem pendidikan harus diubah. Pelajaran agama yang mengkotak-kotakkan manusia Indonesia harus diganti dengan pendidikan budi-pekerti. Setiap warga Indonesia harus mempelajari nilai-nilai dasar setiap agama. Kalian harus berjiwa apresiatif terhadap setiap agama. Sekadar toleransi saja tidaklah cukup. Pembagian manusia Indonesia berdasarkan kepercayaan dan keimanan – harus dihentikan. Pembagian manusia Indonesia berdasarkan kelompok yang beragama bumi dan beragama langit, hanya menunjukkan betapa tumpulnya kalian. Bukankah bumi dan langit, dua-duanya ciptaan Dia? Bisakah kalian hidup tanpa berpijak di bumi? Bisakah kalian membayangkan kehidupan tanpa langit? Nilai-nilai luhur yang ada dalam setiap agama, harus dipelajari. Perang antaragama yang pernah ataupun sedang terjadi di negeri orang yang tidak mencerminkan budaya bangsa – harus dikutuk, tidak diimpor ke negara ini. Penggunaan istilah-istilah pribumi dan non pribumi, bumiputera tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Pendirian dinding-dinding pemisah demikian bahkan tidak bisa disebut budaya atau kebudayaan. Mereka yang memisah yang memecah belah – belum berbudaya, belum beradab……. Sang Istri: Aku juga ingat sebuah nasehat bijak…….. Apa kesalahan utama dalam sistem pendidikan kita? Memisahkan Anak pada Saat Kelas Agama. Sejak usia dini, anak-anak kita dikondisikan untuk melihat dirinya berbeda dari anak-anak lain. la adalah bagian dari salah satu agama dan anak-anak lain dari agama lain. Ini adalah kecelakaan pertama, dan yang paling utama. Pendidikan agama mesti menjadi tanggungjawab orang tua. Mereka mesti mampu mengajarkan agama kepada anak-anak mereka. Bila tidak, janganlah melahirkan anak. Jangan karena “enak” saja. Jadilah orangtua yang bertanggung jawab. Dulu, saya selalu menganjurkan bahwa bila orangtua tidak mampu, biarlah anak-anak kita mendapatkan pelajaran agama dari para agamawan masing-masing agama. Sekarang, saya tidak lagi mengajurkan hal itu. Karena, setelah saya teliti, ternyata banyak agamawan yang terjebak dalam kotak mereka masing-masing. Mereka hidup dalam kotak-kotak. Orangtua mesti bertanggung jawab atas pelajaran agama bagi anak-anak mereka. Dan, bila mereka tidak siap juga, seorang pemuda seperti kau, yang saat ini sedang membaca buku ini, mesti menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan bagi adikmu, sepupumu, bahkan anak tetangga, atau anak jalanan……… Sang Suami: Sebagai penutup aku ingat sebuah wejangan………. Keberadaan menginginkan terjadinya kebangkitan Islam di Indonesia, dari Indonesia. Islam yang masuk di Indonesia lewat Hindustan sudah merupakan the refined stuff. Sudah dibersihkan dari kekerasan budaya Timur Tengah. Islam inilah yang cocok bagi Indonesia. Islam yang lembut, yang manis, yang indah. Islamnya Sunan Bonang dan Hamzah Fansuri! Islamnya Shah Latief dan Inayat Khan! Islam yang tidak mengkotak-kotakkan manusia. Islam yang memekarkan jiwa manusia. Islam inilah yang cocok bagi Indonesia…….. Semoga……… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

Latihan “Emotion Culturing”, Dari Tubuh Fisik Melewati Pikiran Menuju Ruh, Dari Insting Hewani Melewati Manusiawi Menuju Ilahi Renungan Ke-72 Tentang Berguru Sepasang suami istri sedang membicarakan latihan meditasi yang mereka ikuti pada Anand Krishna Center Joglosemar, Center for Holistic Health & Meditation. Kali ini mereka melakukan pembicaraan mengenai Latihan Pemberdayaan Emosi. Sang Istri: Suamiku, kita benar-benar merasakan manfaatnya latihan “emotion culturing”……. Duduk diam, bersila diatas lantai yang beralas atau di atas kursi. Tenang, santai, mata tertutup. Leher diputar searah dengan jarum jam, 9 kali atau 18 kali. Pelan-pelan kurang lebih 2-3 kali putaran per menit, badan diusahakan rileks tetapi tidak ikut bergerak, yang bergerak hanya bagian tubuh dari leher ke atas. Leher diputar searah jarum jam 9 kali dan kemudian diputar berlawanan arah jarum jam 9 kali……. Duduk diam sejenak, dan mulai mengeluarkan suara”eeee”. Cara pengucapan yang benar adalah, dengan menarik napas panjang pelan-pelan lewat hidung dan sambil membuang napas lewat mulut, ucapkan “eeee” sembilan kali. Sambil pengucapan suara “eeee”, kesadaran difokuskan pada bagian tubuh sekitar perut. Kemudian, mengeluarkan suara “uuuuu” dengan cara yang sama. Kesadaran difokuskan pada bagian sekitar dada. Selanjutnya, mengeluarkan suara “mmmm” dengan cara yang sama. Kesadaran difokuskan pada kepala. Merasakan pula getaran-getaran halus sekitar kepala…….. Setelah selesai, duduk diam sejenak dan selanjutnya dengan kedua tangan menghadap ke bawah bersihkan aura. Dengan tidak menyentuh badan, tangan seolah-olah mengupas lapisan kotor dari badan. Dilakukan berulang kali selama 4-6 menit dari atas ke bawah. Kemudian tangan diangkat ke atas dan telapak tangan dibiarkan menghadap langit. Setelah beberapa saat , akan terasa semutan, khususnya sekitar jari-jari. Berarti sudah mulai menerima energi dari alam. Selanjutnya dengan telapak tangan masih juga menghadap langit, energi ini dituangkan ke badan – ke setiap anggota badan, khususnya bagian-bagian tubuh yang sering sakit. Tidak usah menyentuh badan, karena energi ini dituangkan ke auric body anda. Lakukan ini selama 4-6 menit. Setelah itu, berbaringlah selama 3-15 menit. Telentang. Jangan tengkurap. Rileks, santai. Pelan-pelan kembalilah ke posisi duduk dengan suara masih tertutup. Ulangilah ucapan “eeeuuuuuuuuummmmmmmmmmmm” – kesadaran bebas. Sembilan kali juga. Setelah beberapa saat, mata dapat dibuka….. untuk lengkapnya dapat dibaca buku ““Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”. Sang Suami: Latihan itu terkait dengan lapisan mental/emosional yang berada diatas lapisan kesadaran energi. Gangguan pada kesadaran emosional, membuat ketidak seimbangan lapisan energi dan pada akhirnya menyebabkan penyakit fisik. Gangguan pada lapisan mental/emosional hanya dapat diatasi oleh intelejensia……. Istriku, kita bicara sedikit tentang energi……. Cahaya adalah energi, getaran suara adalah energi. Sinar matahari dibiaskan oleh prisma menjadi merah, orange, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Getaran yang dikeluarkan oleh kelompok warna infra merah berfrekuensi

rendah dan dapat digunakan untuk telekomukasi. Sebalikya getaran ultraviolet berupa sinar murni, berfrekuensi tinggi diganakan untuk Sinar X dan sebagainya. Pada frekuensi rendah getaran energi dapat dirasakan sebagi suara…….. Pada waktu kita membersihkan aura perlu diingat bahwa aura adalah medan elektro magnetik. Benda matipun mempunyai aura, mempunyai medan elektro magnetik, atom ada dimana-mana. Yang beda adalah kepadatan energinya. Kita semua berada dalam medan elektro magnetik. Medan energi yang mempengaruhi kehidupan manusia. Emosi-emosi yang terakumulasi dan terpendam dapat mencemari medan elektro magnet ini. Aura di sekitar obyek yang “hidup”(sadar) seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, berubah dengan berjalannya waktu, kadang-kadang sangat cepat. Aura sekitar obyek yang mati, batu-batu, kristal, air dan sebagainya pada dasarnya tetap. Fakta-fakta tersebut sudah diselidiki oleh ilmuwan-ilmuwan Rusia, yang menggunakan efek Kirlian untuk mempelajari aura-aura pada 50 tahun terakhir ini…….. Sang Istri: Terus apa hubungannya suara eeee – uuuu – mmmm dengan getaran-getaran yang kau jelaskan? Apakah juga ada hubungannya dengan getaran emosi yang diakibatkan membukanya mulut dengan suara “eeee” suara rongga mulut bagian bawah yang menyebabkan vibrasi getaran dengan tubuh bagian bawah. Kemudian mulut dibuka lebih lebar menimbulkan suara “uuu” suara di tengah mulut yang bervibrasi dengan getaran daerah dada. Dan, suara”mmm” mulut ditutup kembali dan suara muncul pada langit-langit rongga mulut atas yang bervibrasi dengan getaran di kepala? Berarti menyehatkan juga tubuh bagian bawah, tubuh bagian dada dan tubuh bagian kepala? Sang Suami: Iya. Aura-aura sekeliling manusia sebagian tersusun dari radiasi EM (elektromagnetik), merentang dari gelombang mikro, infra merah sampai cahaya Ultra Violet. Frekwensi rendah gelombang mikro dan infra merah adalah bagian dari spektrum (panas badan) nampaknya berhubungan dengan level-level rendah dari fungsi-fungsi badan kita (struktur DNA, metabolisme, sirkulasi dan lain-lain), sedangkan frekwensi tinggi, bagian Ultra Violet adalah lebih berhubungan dengan aktivitas sadar kita seperti berfikir, kreatifitas, niat-niat, rasa humor dan emosi-emosi…… Suara “eeee” berhubungan dengan fisik tubuh, lihat anak kecil yang tubuhnya kesakitan dia menangis dengan “eeee”. Suara “uuuu” berkaitan dengan emosi, anak kecil yang sakit hatinya, dimarahi orang tua akan menangis “huhuhuhu”. Sedangkan suara “mmmmm” berkaitan dengan otak, anak kecil ketika latihan berbicara mulai dengan “mmmm-maem”, “mmmm-mamma”, mereka sedang mengembangkan otak mereka. Coba rasakan suara humming “mmmm” yang menenangkan pikiran misalnya “ammmmmmin. “Hirohman nirrohimmmmmm”. Alif Lam Mim yang dibaca “Almmmm”, doa Hindu Buddha “Oommmmm”, mantra Tibet “Om Ah Hum” mantra Sufi “Allahum”…. sehingga para sufi lebih lembut….. Sang Istri: Bukankah pada waktu suara “eeee” mulut di buka sedikit, pada waktu suara “uuuu” mulut dimoncongkan dan sewaktu “mmmm” ditutup kembali, apakah ada kaitannya dengan lahir, hidup dan akhirnya mati, ditutup lagi?

Sang Suami: Baiklah istriku, yang ini jangan diperdebatkan, ini diperoleh dari Fasilitator Virtual, “Eyang Google” seperti berikut…… Pertama yang gaul dulu di Kas-Kus: HA, mempengaruhi bagian tubuh dari udel ke bawah; HU, dari udel sampe leher; HMM, dari leher sampe kepala.. jadi kalo lagi over horny, bisa dg menyuaraken bunyi HAAAAAA… dan kalo lagi emosian, hembusin bunyi HUUUUUU… sedangken, kalo lagi mumet, keluarin bunyi HMMMMMMM…. gitu deh kira2….. Selanjutnya yang serius: A – U – M, musim semi, musim panas dan musim dingin; pagi, siang dan sore; tanah dan air, api dan angin; puja/persembahan, kerja dan bernyanyi; tamas/malas, rajas-agresif dan satwik/tenang; kesadaran jaga, kesadaran mimpi dan deep sleep; tubuh fisik, mental/emosional dan intelegensis; suara, pikiran dan prana; berputar, memampat dan desintegrasi; lahir, hidup dan mati; Brahma, Wisnu dan Siwa; penciptaan, pelestarian dan pendaurulangan; tubuh, ucapan dan chitta…….. Bagiku dimulai dari kelahiran keinginan, memahami keinginan dan melampaui keinginan, dimulai dari fisik yang membawa potensi hewani, membangkitkan cinta (memberi dan menerima) yang merupakan sifat manusiawi, menuju kasih yang merupakan sifat keilahian. Sang istri: Evolusi spiritual manusia akan meningkatkan kesadaran dari perilaku kebinatangan, ke perilaku kemanusiaan menuju ke perilaku keilahian. Mungkinkah ada hubungannya dengan pusat kesadaran dasar yang tempatnya paling bawah yang berhubungan dengan bumi. Yang diwakili pusat kesadaran yang terletak pada perut ke bawah – suara “eeee”. Meningkat ke kesadaran mental/emosional yang pusatnya berada di sekitar dada – suara “uuuu”. Selanjutnya, naik ke tahap pembersihan menuju pusat kesadaran kebijaksanaan dan spiritual yang ada di kepala – suara “mmmm”? Sang Suami: Benar istriku, kesadaran seks memikirkan kepuasan sendiri, tidak peduli kepada pihak lain, dan banyak dipengaruhi oleh insting rendah seperti yang dilakukan hewan. Makan-minum, seks dan kenyamanan adalah insting hewani yang masih ada dalam diri manusia. Hanya hewan makan daging mentah, manusia steakweldone, Hewan kawin di sembarang tempat saat horny, sedangkan manusia di tempat privat dengan surat nikah, hewan tidur di gua dan manusia di kompleks real estate…….Di tahap berikutnya, kesadaran cinta sudah mengusahakan keseimbangan antara memberi dan menerima. Perhitungan untung rugi pikiran bekerja disini. Kalau kamu dipukul balaslah yang setimpal. Di sini logika beraksi……. Selanjutnya, kesadaran kasih bermakna lebih banyak memberi daripada menerima. Logika untung rugi pikiran sudah ditinggalkan. Kalau kamu dipukul, memaafkannya adalah perbuatan mulia. Memaafkan dengan ikhlas, merupakan aktifitas hati, pikiran sudah diistirahatkan. Di dalam ikhlas terkandung makna kesabaran, kepasrahan, dan penerimaan, dan pendekatan diri kepada Tuhan…….. Sang Istri: Suamiku, tugas kita di sini tidak mencari perbedaan, bila ketemu persamaan kita ungkapkan, jadi memang bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk di renungkan. Otak itu suatu alat yang patuh, bila dia kita suruh mencari perbedaan maka dia akan menunjukkan perbedaan, bila kita suruh mencari persamaan dia akan menemukan persamaan juga….. Dalam sejarah zaman dahulu Tuhan atau

Kebenaran itu tidak diberi nama. Tetapi, jika tetap harus diungkapkan, maka ungkapan yang tepat tentang Tuhan atau Kebenaran hanyalah ucapan suara. Ada yang menuliskan dalam bentuk gabungan huruf “Y-H-V”, ada yang suara “Om” atau suara “Alm”. Leluhur kita memakai suara Gong, “guuuuuuuung”. Suara tersebut adalah bahwa jembatan penghubung antara duniawi fisik “diri” dengan ilahi. Bunyi-bunyian lonceng di Tibet sebelum masuk vihara, suara terompet kulit kerang Pandawa di medan Kurukshetra, suara Gong sebelum peresmian adalah suatu rasa syukur dan ingat Tuhan. Seperti membaca Basmallah sebelum bertindak, atau membuat salib di dada sebelum melakukan sesuatu……. Sang Suami: Informasi dari Eyang Google itu bervariasi jadi jangan dianggap tepat, katakanlah perkiraan atau garis besarnya saja. Dalam Mandukya Upanishad huruf “A” mewakili kesadaran jaga (gelombang elektro magnetik dari otak dari gelisah sekitar 13 Hertz ke otak yang tenang sekitar 7.5 Hertz). Huruf “U” mewakili kesadaran mimpi, diri masih ada tapi fisik tak terasakan (sekitar 3.5 – 7 Hertz). Dan, huruf “M” merupakan kesadaran deep sleep, semuanya kosong, semuanya tidak ada. Konon para yogi dapat mengalami deep sleep dalam keadaan jaga….. Sang Istri: Para bijak berkata……. Kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, manas dan isa. Manas, pikiran. Isa, esa, satu, keilahian. Kalau manusia sudah mengalahkan pikiran, tinggal Isa, menjadi esa, satu, ilahi. Pikiran membangun ego yang membuat keterpisahan dengan yang lain. Semua bentuk apapun juga yang bergerak di Alam Semesta ini, hidup di dalam Yang Maha Esa…….. Sang Suami: Istriku, aku ingat buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” yang menyampaikan…….. Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana…….. Semoga…… Terima Kasih Bapak Anand Krishna

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->