P. 1
HOTEL RESORT di PANTAI SIUNG [Bab 3]

HOTEL RESORT di PANTAI SIUNG [Bab 3]

|Views: 463|Likes:
Published by sigrid_canny

More info:

Published by: sigrid_canny on Feb 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2014

pdf

text

original

BAB III TINJAUAN TEORI

Setelah membahas mengenai tinjauan hotel resort secara umum maka pada bab III ini akan dibahas tinjauan teori yang mendukung proses prencanaan dan perancangan. Pembahasan dalam bab III ini meliputi tinjauan teori berkaitan dengan teori perencanaan dan perancangan yang akan diaplikasikan ke dalam desain bangunan. Teori-teori yang digunakan dalam desain bangunan antara lain kajian teori penataan ruang luar, kajian teori arsitektur Jawa dan kajian teori arsitektur kontemporer. Adapun teori-teori yang dibahas kemudian digunakan sebagai landasan berpikir dalam melakukan analisis perencanaan dan perancangan. Selain itu penguasaan terhadap teori yang mendukung mampu membantu dalam merumuskan konsep yang sesuai dengan permasalahan yang ada.

3.1.

Menyatu Dengan Alam1 Ruangan tidak hanya sekedar membatasi alam ini dengan dinding-

dinding secara privasi, namun bagaimana ruangan dibuat tersebut menjadi bagian kesenangan pemakai dalam menikmati keindahan. Menyatu dengan alam berarti membiarkan alam mempengaruhi bagaimana tata ruang diciptakan. Tata ruang alam yang sudah ada sebelumnya menjadi dasar bagi pola penataan ruang selanjutnya, sebisa mungkin tanpa mengganggu alam yang sudah ada sebelumnya. Menyatu dengan alam dapat diciptakan daalam beberapa penciptaan ruang, seperti adanya ruang terbuka, menggunakan unsur material alami,
1

http://herusu71.wordpress.com/2009/10/31/menyatu-dengan-alam/, 12 Juni 2011 (diolah kembali oleh penulis)

83

menggunakan unsur tanaman dan menggunakan unsur air dalam menciptakan kondisi yang menyatu dengan alam. 1. Ruang Terbuka Banyak cara sebenarnya untuk memindahkan suasana ruang luar ke dalam ruang dalam. Dari aspek pembentukan ruang harus memperbanyak perhubungan ruang antara ruang dalam dan ruang luar dengan cara antara lain, memperbanyak ruang-ruang taman yang berhubungan dengan udara luar ditengah-tangah bangunan. Dalam teknik ini biasanya diwujudkan dengan adanya taman-taman diantara fungsi-fungsi ruang. Besarnya proporsi ruang-ruang terbuka tersebut sangat mempengaruhi kualitas kedekatan ruang luar dan ruang dalam. Bahasa umumnya adalah memperbanyak taman-taman terbuka di antara ruangan. Memperbanyak dinding transparan yang secara visual juga merupakan teknik yang dapat diterapkan untuk menghubungkan ruang dalam dan ruang luar. Kualitas hubungan ruang juga tergantung dari besarnya bukaan transparan yang terdapat dalam bidang-bidang pemisah. 2. Unsur Material Masing-masing ruangan mungkin akan berbeda suasana yang ditimbulkan sesuai dengan pemakai ruangan. Dalam susunan material bangunan bambu, batu-batu kali yang berserakan di taman belakang akan memberikan dampak kesan ruangan yang organik, alami, mengingatkan akan suasana ruangan etnik di desa. Tekstur merupakan bentuk fisik dari material alam. Susunan material alam dalam suatu kelompok hamparan juga merupakan tekstur alam. Bahan-bahan penyusun dari unsur-unsur pembentuk ruang mempunyai pengaruh besar terhadap kesan ruang yang dibentuk. Setiap material atau bahan alam mempunyai habitat asli tempat material tersebut biasa berada. Seperti batu kali yang sering kita temukan di sungai-sungai di desa.

84

Demikian juga dengan bambu yang sering kita temukan dialam terbuka pedesaan. Batu-batu alam di daerah pegunungan juga menjadi salah satu pilihan untuk membangkitkan kesan ruang tertentu. Kesederhanaan dalam artian polos terhadap tekstur sesungguhnya dapat memberikan efek ruang etnik seperti tampilan batu bata tanpa plester. Dinding pembatas dengan bahan bambu atau kayu dapat membuat kita terasa dekat dengan alam. Udara yang dihirup akan terasa beda dengan pembatas kayu dan alas tikar. Pada prinsipnya bahan-bahan yang berasal dari alam secara umum akan memberikan kesan alami. 3. Tanaman Sebagai salah satu pengisi ruang, tanaman akan mempengaruhi kesan, jika penempatan, jenis, komposisi jumlahnya diatur dalam kualitas tertentu. Tanaman akan memberikan kesan sejuk dengan warna-warna alam. Tanaman rambat akan mudah bergabung dengan dinding berlapis batu alam. Beberapa jenis tanaman dapat dipilih sesuai karakter tanaman tersebut. Terdapat tanaman air, tanaman rambat, tanaman dalam pot kering. Susunan dari tanaman tersebut sangat mempengaruhi kualitas ruang yang kita bentuk. Posisi tanaman yang berada diatas posisi pandang manusia akan memberikan kesan kuat terhadap pemasukan kesan alam kedalam ruang.
4. Unsur Air

Air sebagai nyawa kehidupan alam ini menjadi elemen yang penting untuk ditampilkan dalam komposisi sebuah ruangan. Gerakan-gerakan air yang mengalir akan lebih memperkuat kehadiran roh alam. Air bukan saja sekedar pengisi lubang, namun menggerakkan suasana ruangan.

85

Dengan demikian menciptakan suasana yang menyatu dengan alam tidak hanya dengan menggunakan material dari alam saja, yang kemudian menjurus ke arsitektur ekologis. Namun dapat dilakukan dengan pengolahan tata ruang luar yang tidak merusak alam dan memberikan ruang yang cukup bagi alam dan bangunan untuk melakukan interaksi secara harmonis. Sedangkan unsur-unsur seperti ruang terbuka, tanaman, material dan air merupakan unsur pendukung.

3.2.

Kajian Teori Tata Ruang Luar2 Ruang mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Ruang tidak

dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara psiklogis emosional maupun dimensional. Ruang adalah suatu wadah yang tidak nyata akan tetapi dapat dirasakan manusia. Untuk menyatakan bentuk dunianya, manusia menciptakan ruang tersendiri dengan dasar fungsi dan keindahan yang disebut ruang arsitektur. Ruang arsitektur menyangkut ruang dalam dan ruang luar. Kajian kali ini akan membahas mengenai penataan ruang luar. Kajian terhadap ruang luar meliputi pengertian, proses terjadinya, perencanaan, enclosure dan hirarki.

3.2.1.

Pengertian Ruang Luar Ruang luar dapat diartikan dalam beberapa pengertian sebagai berikut : 1. Ruang yang terjadi dengan membatasi alam hanya dengan bidang alas dan dindingnya, sedangkan atapnya dapat dikatakan tidak terbatas.
2. Sebagai lingkungan luar buatan manusia yang mempunyai arti dan

maksud tertentu dan sebagai bagian dari alam. 3. Arsitektur tanpa atap, tetapi dibatasi oleh 2 bidang, lantai dan dinding atau ruang yang terjadi dengan menggunakan 2 elemen

2

Teknik Perencanaan Ruang Luar

86

pembatas. Hal ini menyebabkan dinding dan lantai menjadi penting dalam merencanakan ruang luar. Dengan demikian ruang luar adalah ruang yang memiliki 2 elemen, yaitu elemen alas dan sisi samping. Dalam dunia arsitektur elemen ini terwujud dalam lantai dan dinding. Ruang luar disebut juga arsitektur tanpa atap.

5.2.

Terjadinya Ruang Luar Ruang luar tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa hal dan kejadian

yang memicu terbentuknya ruang luar. Ruang luar terbentuk akibat adanya ruang mati, ruang terbuka dan ruang positif. Bagaimana ruang-ruang tersebut bisa menyebabkan terjadinya ruang luar adalah sebagai berikut.
1. Ruang mati (death space)

Ruang mati adalah ruang yang terbentuk dengan tidak direncanakan, tidak terlingkup dan tidak dapat dipergunakan dengan baik. Ruang mati dilihat sebagai ruang yang terbuang percuma.

Gambar 3.1. Ruang Hidup dan Ruang Mati Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

2. Ruang Terbuka

87

Ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan tertentu dari masyarakat. Bentuk ruang terbuka sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan. Batasan pola ruang umum terbuka adalah bentuk dasar di luar bangunan, dapat digunakan oleh publik, dan memberi kesempatan untuk bermacammacam kegiatan.

Gambar 3.2. Ruang Terbuka Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Pada dasarnya fungsi ruang terbuka dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu dari kegunaannya maupun fungsinya secara ekologis.
Tabel 3.1. Fungsi Ruang Terbuka

Ruang Terbuka Fungsi Kegunaan Fungsi Ekologis Tempat bermain dan berolahraga Penyegaran udara Tempat bersantai Menyerap air hujan Tempat komunikasi sosial Pengendalian banjir Tempat peralihan dan menunggu Memelihara coosystem tertentu Tempat udara segar Pelembut arsitektur bangunan Sarana penghubung Pembatas antar massa bangunan
Sumber: Analisis Penulis

3. Ruang Positif

88

Ruang positif merupakan ruang terbuka yang diolah dengan peletakan massa bangunan atau objek pelingkup yang menimbulkan sifat positif. Biasanya terdapat kepentingan manusia di dalamnya. Sedangkan ruang negatif merupakan ruang terbuka yang menyebar dan tidak berfungsi dengan jelas. Ruang negatif terjadi secara spontan dan pada awalnya tidak dimaksudkan untuk kegiatan manusia. Setiap ruang yang tidak direncanakan, tidak dilingkupi atau tidak dimaksudkan untuk kegiatan manusia merupakan ruang negatif.

Gambar 3.3. Ruang Positif dan Negatif Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Dengan demikian ruang luar tercipta karena adanya ruang mati dan ruang hidup, ruang terbuka dan ruang positif dan ruang negatif. Ruang luar yang baik adalah ruang luar yang tercipta dari ruang hidup, ruang terbuka dengan fungsi yang positif dan ruang positif. Ruang-ruang luar yang baik akan menciptakan suasana lingkungan arsitektur yang bernilai baik bagi orang yang mangalaminya.

5.3.

Perencanaan Ruang Luar Penataan ruang luar dapat disebut sebagai perancangan lansekap, karena

hasil dari penataan ruang luar berupa lansekap. Pengertian landscape design sendiri sebagai aplikasi dari penataan ruang luar adalah perluasan dari

89

perencanaan tapak, meliputi proses perencanaan tapak, berhubungan dengan pemilihan dari elemen-elemen perancangan, di mana suatu desain lansekap ini memungkinkan ruangan dibuat dari kombinasi elemen alam dan struktur-struktur buatan manusia. Secara singkat desain atau perancangan adalah suatu cara kerja yang sangat kompleks, dengan banyak alternatif. Suatu desain yang berhasil, akan menonjolkan suatu hubungan terhadap apapun di sekitarnya, baik masa lalu, dan masa yang akan datang, secara nyata. Hal mengenai perancangan tata ruang luar dapar dilihat antara lain mengenai : 1. Sirkulasi atau pergerakan
2. Pembentukkan permukaan (fasad)

3. Bentuk dan ruang untuk beberapa kebutuhan 4. Lokasi serta bentuk bangunan Teknik perancangan ruang luar, yaitu cara penciptaan ruang dengan sistem pengaturan dari luar sedemikian rupa dengan mempertimbangkan ruang luar menembus ruang dalam. Langkah-langkah dalam merencanakan ruang luar sebagai berikut : 1. Menciptakan ruang yang memungkinkan orang dapat bergerak dengan bebas ke segala arah. Menurut jenis aktifitasnya, ruang luar dibedakan menjadi 2 macam, yaitu ruang untuk bergerak (Ruang G) dan ruang tinggal (Ruang T).
(1)

Ruang untuk bergerak antara lain pergerakan menuju ke

tempat penting, berjalan-jalan dengan bebas, olahraga dan pertandingan, dan aktifitas massal. Di pihak lain, ruang G umumnya telah berfungsi baik tanpa menggunakan persyaratan rancangan seperti ruang T. Ruang G diusahakan datar, luas, dan tanpa halangan.

90

(2)

Ruang untuk tinggal antara lain digunakan untuk duduk-

duduk, istirahat, menikmati pemandangan, membaca buku, tempat diskusi, pertemuan, kolam air mancur, atau fasilitas lainnya. Ruang T harus dilengkapi dengan semak, pohon peneduh, lampu penerangan, penataan lansekap dan hal lain yang menyenangkan. Untuk aktifitas seperti diskusi, sebaiknya ruang T dilengkapi dengan dinding-dinding samping, belakang dan juga perlu diberi ketinggian lantai. Dalam keadaan tertentu ruang G dan ruang T berdiri sendiri dan untuk keadaan yang lain dapat dicampur bersama-sama. Bila ruang G dan ruang T terpisah, maka ruang T sukar mempunyai suasana bebas. 2. Menetapkan atau menganalisa rencana penggunaan ruang luar. Dilihat dalam skala makro, sistem pengaturan dari luar setidaknya mempertimbangkan ruang luar menembus ke ruang dalam. Penetapan terhadap fungsi-fungsi ruang luar secara makro dibedakan atas : (1)Ruang sirkulasi, untuk pedestrian dan jalur sirkulasi kendaraan (2)Ruang hijau pasif, khusus taman untuk pengudaraan lingkungan (3)Ruang hijau aktif, untuk kegiatan tinggal (4)Ruang aktifitas luar, untuk kegiatan bergerak Dalam merencanakan ruang luar, akan terdapat beberapa ruang besar yang dihubungkan, maka perlu dipikirkan cara mengatur dan menyusun tingkatan penggunaan ruang. Dalam hal ini hampir sama dengan merancang ruang-ruang dalam rumah tinggal, yaitu dengan menggabungkan berbagai fungsi dan ukuran serta kualitas yang berbeda-beda.

91

3. Menentukan ukuran dan tekstur ruang sesuai dengan fungsi.

Penentuan ukuran ruang adalah salah satu bagian yang penting dalam perancangan disamping analisa penggunaan ruang. Untuk mengakomodir fungsi-fungsi ruang luar, maka perlu ditentukan ukuran-ukurannya, baik besaran maupun jarak antar fungsi ruang. Skala pedestrian dibagi dalam 3 bagian, yaitu : (1)< 300 m menyenangkan
(2)

: merupakan jarak yang cukup mudah dicapai dan

300 – 450 m : orang masih dapat mencapainya, tetapi

mungkin ia akan lebih menyukai dengan menggunakan kendaraan, terutama bila pengolahan udara dan tata hijau kurang nyaman (3)>450 m : pada cuaca dan suasana yang umum sudah di luar

skala bagi pejalan kaki Dengan demikian terdapat 4 aspek yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan ruang luar, yaitu sirkulasi, fasad, bentuk dan lokasi. Untuk merencanakan ruang luar terdapat 3 langkah yaitu menciptakan ruang, menganalisa kegunaan ruang dan menetukan ukuran. Proses perencanaan ruang luar yang memperhatikan aspek-aspek tersebut akan menciptakan ruang luar yang baik dan harmonis dengan fungsi dan lingkungannya.

5.4.

Meng-Enclosure Ruang Luar Yang dimaksud dengan meng-enclosure ruang luar adalah membentuk,

menciptakan ruang luar dengan cara membatasi suatu ruang dengan dinding atau pagar sedemikian sehingga terjadi kesan yang melingkupi ruang atau meruang.

92

Gambar 3.4. Meng-enclose Ruang Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Tinggi dinding suatu ruang sebagai enclosure sangat erat kaitannya dengan tinggi mata orang. Ketinggian dinding pelingkup dibagi dalam 5 bagian.
Tabel 3.2. Ketinggian Pelingkup dan Efeknya

Tinggi 30 cm 60 – 90 cm

Efek Tidak mempunyai daya meruang Menambah kontinuitas visual, tetapi tidak mempunyai daya meruang, orang dapat membungkuk dan bertekan siku

120 cm

Menimbulkan kesan aman, dapat berfungsi sebagai pemisah ruang, mempunyai efek ruang yang kontinyu

150 cm 180 cm

Mempunyai daya meruang Memberi daya ruang yang kuat
Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Gambar 3.5. Arti Pentingnya Tinggi Dinding Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Dinding rendah tidak dapat menimbulkan kesan enclosure, namun demikian dinding rendah baik efektif digunakan sebagai pemberi arah gerakan dan pagar di sepanjang lantai yang ditinggikan atau untuk membatasi semaksemak. Rumus tentang perbandingan antara tinggi dan jarak dapat digambarkan sebagai berikut :

93

Gambar 3.6. Perbandingan Tinggi dan Jarak Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Dengan demikian kesan meruang atau enclosure dapat dicapai bila tinggi dinding melebihi tinggi manusia dan memutuskan pandangan yang menerus dari lantai. Bila tinggi dinding lebih tinggi dari orang, maka ia akan memberi kesan meruang dan pembukaan dengan arah vertikal akan menjadi penting. Terdapat banyak kemungkinan untuk menciptakan ruang luar dengan menempatkan dan menentukan tinggi rendahnya dinding secara tepat.

5.5.

Hirarki Ruang Luar Ruang luar dapat terdiri dari 1 ruang, 2 ruang atau sejumlah ruang-ruang

yang kompleks, sehingga dalam hal ini mungkin dapat digambarkan suatu tingkatan hirarki untuk ruang-ruang tersebut. Salah satu cara penciptaan ruang yaitu dengan menetapkan daerah-daerah dalam hubungan dengan penggunaan fungsinya. Terdapat beberapa kemungkinan pembentukkan ruang, yang dalam kenyataannya dapat digambarkan dengan berbagai kombinasi yang berbeda-beda.
1. Eksterior  semi eksterior/semi interior  interior 2. Publik  semi publik/semi privat  privat

94

3. Kelompok besar  kelompok sedang  kelompok kecil 4. Kepentingan hiburan  sedang  ketenangan artistik 5. Kepentingan olahraga  sedang  daerah budaya yang tenang

Misalkan pada hirarki ekterior  semi eksterior  interior. Pada ruang eksterior membentuk ruang yang luas dengan rasio D/H sangat besar dengan lantai relatif kasar dan ditanami beberapa pohon. Ruang semi ekterior, merupakan ruang luar yang lebih kecil dari ruang luar A, dengan rasio D/H = 4 – 5, dan lantainya diperkeras dengan material yang cukup halus. Ruang interior memiliki rasio D/H = 4 – 5, dengan dinding yang memiliki daya meruang.

Gambar 3.7. Hirarki Ruang Luar, Eksterior  Semi Eksterior  Interior Sumber: Teknik Perencanaan Ruang Luar

Dengan demikian berdasarkan sistem hirarki, ruang luar dapat dibagi ke dalam beberapa tingkatan. Penciptaan ruang menggunakan kaidah-kaidah dengan menetapkan daerah-daerah dalam hubungan dengan penggunaan fungsinya. Jadi, terdapat beberapa kemungkinan peruntukan ruang, yang dalam kenyataannya dapat digambarkan dengan berbagai kombinasi yang berbeda-beda.

95

5.6.

Resume Dengan demikian berdasarkan kajian teori terhadap tata ruang luar,

fungsi hirarki dan enclosure dalam perencanaan ruang luar memiliki pengaruh terhadap penciptaan ruang luar yang baik. Dalam melakukan perencanaan ruang luar hal-hal yang harus dipertimbangkan antara lain sirkulasi, fasad, bentuk dan lokasi. Langkah-langkah dalam perencanaan dimulai dari menciptakan ruang, menganalisa kegunaan ruang dan menentukan ukuran dan tekstur.
3.3.

Kajian Arsitektur Tradisional Jawa345 (R.K. Ismunandar, Heinz Frick dan Arya Ronald) Hakikat tempat tinggal bagi masyarakat Jawa didasarkan pada sifat dan

sikap manusia Jawa sebagai pribadi, sebagai anggota keluarga dan sebagai anggota masyarakat, karena ada suatu tata kehidupan yang mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Bagi orang Jawa, rumah sebagai suatu tempat tinggal atau tempat berdiam, merupakan salah satu tujuan idealnya. Berikut kajian arsitektur tradisional jawa berdasarkan beberapa sumber.

3.3.1.

Elemen Pembentuk Ruang Rumah Joglo berbeda-beda menurut status sosial pemiliknya, namum

dilihat dari tata ruang dalam bangunan, terdapat ruang-ruang yang selalu ada pada setiap bangunan yang antara lain adalah pendopo sebagai ruang pertemuan, pringgitan sebagai tempat pagelaran wayang dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Pada omah jero terdapat tiga buah senthong (kamar), yaiotu senthong kiwa, senthong tengah dan senthong kanan.
3

Keterangaan Ismunandar, R.K. 1997. Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa.
Semarang: Effhar

4

Pendhapa Frick, Heinz. 1997. Pola Struktural dan Teknik Bangunan di Indonesia.
Yogyakarta: Kanisius Ronald, Arya. 1990. Ciri-Ciri Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa.

5

Pringgitan Dalem

Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta

senthong kiwo 96 senthong tengah

senthong kanan

Ada 2 macam bentuk denah rumah Joglo menurut status sosial pemiliknya, antara lain sebagai berikut :
Gambar 3.8. Denah Joglo Milik Orang Biasa

Keterangaan Pendhapa Pringgitan Dalem

senthong kiwo senthong tengah senthong kanan gandhok
Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

Gambar 3.9. Denah Joglo Milik bangsawan Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

Susunan ruang dalam bangunan tradisional Jawa pada prinsipnya terdiri dari beberapa bagian ruang yaitu :
1. Pendhapa, difungsikan sebagai tempat melakukan aktivitas yang

sifatnya formal (pertemuan, upacara, pagelaran seni dan sebagainya). Meskipun terletak di bagian depan, pendhapa bukan merupakan ruang penerima yang mengantar orang sebelum memasuki rumah. Jalur akses masuk ke rumah yang sering terjadi adalah tidak dari depan melalui pendhapa, melainkan justru memutar melalui bagian samping rumah.

97

2. Pringgitan, lorong penghubung (connection hall) antara pendhapa

dengan dalem. Bagian pringgitan ini sering difungsikan sebagai tempat pertunjukan wayang kulit / kesenian / kegiatan publik. Emperan adalah teras depan dari bagian dalem. Teras depan yang biasanya lebarnya sekitar 2 meter ini merupakan tempat melakukan kegiatan umum yang sifatnya nonformal.
3. Dalem, kadang disebut juga sebagai omah-mburi, dalem ageng atau

omah. Kata omah dalam masyarakat Jawa juga digunakan sebagai istilah yang mencakup arti kedomestikan, yaitu sebagai sebuah unit tempat tinggal.
4. Senthong-kiwa, dapat digunakan sebagai kamar tidur keluarga atau

sebagai tempat penyimpanan beras dan alat bertani.
5. Senthong tengah (krobongan), sering juga disebut sebagai boma,

pedaringan, atau krobongan. Dalam gugus bangunan rumah tradisional Jawa, letak senthong-tengah ini paling dalam, paling jauh dari bagian luar. Senthong-tengah ini merupakan ruang yang menjadi pusat dari seluruh bagian rumah. ruang ini seringkali menjadi “ruang pamer” bagi keluarga penghuni rumah tersebut. Sebenarnya senthongtengah merupakan ruang yang sakral yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara / ritual keluarga. Tempat ini juga menjadi ruang penyimpanan benda-benda pusaka keluarga penghuni rumah.
6. Senthong-tengen, fungsinya sama dengan sentong kiwa. 7. Gandhok, bangunan tambahan yang mengitari sisi samping dan

belakang bangunan inti, kadang-kadang difungsikan sebagai lumbung, tetapi ada juga yang memfungsikan sebagai kamar tidur.

98

Komposisi denah di atas juga menentukan urutan kesakralan ruang yang diiringi dengan intensitas cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Pendhapa yang merupakan area terbuka sehingga cahaya matahari bisa diperoleh secara maksimal. Pringgitan yang menghubungkan antara ruang luar dengan omah hanya mendapatkan asupan cahaya dari arah depan. Pada bagian omah mendapatkan asupan cahaya hanya melalui bukaan (pintu dan jendela). Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin beranjak ke dalam bangunan semakin sedikit asupan cahaya matahari yang masuk, dan semakin sakral tempat tersebut.
Gambar 3.10. Urutan Tingkat Kesakralan dan Cahaya Dalam Ruang Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

Pada ruang terdapat elemen bangunan dan ornamen-ornamen yang harus ada karena mencirikan arsitektur Jawa antara lain sebagai berikut : 1. Umpak Umpak berfungsi sebagai penyangga tiang. Umumnya umpak terbuat dari batu yang amat keras berwarna hitam dan memiliki corak yang berbentuk padma atau teratai merah, namun yang dibentuk untuk hiasan hanya bagian tepinya saja. Bentuk seperti ini mengingatkan orang pada singgasana Sang Budha Gautama.

Gambar 3.11. Umpak Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

2. Saka (Tiang) Saka atau tiang biasanya berbentuk bulat atau bujur sangkar, serta terbuat dari bambu mupun kayu tahun. Tiang yang terbuat dari

99

bambu biasanya menggunakan bambu petung yang dianggap cukup kuat, besar dan tebal, namun untuk tiang-tiang yang kecil bisa menggunakan bambu ori, opus, dan wulung. Sedangkan tiang yang terbuat dari kayu merupakan kayu yang tidak pernah dimakan rayap dan mempunyai warna-warna yang indah, misalnya coklat muda atau coklat tua (kayu jati), hitam (glugu) dan kuning (kayu nangka). Ukiran-ukiran pada saka ada berbagai macam jenis, dengan warna khas dan makna masing-masing. Namun yang sering terlihat hanya beberapa saja yaitu saton, wajikan dan praba. (1)Saton Saton merupakan hiasan mirip dengan kue satu, berbentuk bujursangkar dengan hiasan daun-daunan atau bunga-bungaan. Ragam hiasnya berbentuk pahatan dengan garis kotak-kotak. Setiap kotak berisikan hiasan daun atau bunga, yang dobel maupun yang tunggal. Garis-garis kotaknya selalu menyudut, hingga bentuk bujursangkarnya selalu miring. Hiasan saton pada dasarnya menyesuaikan dengan warna kolom atau baloknya, bila terdapat

pada rumah tradisional warga biasanya tidak berwarna. Yang berwarna biasanya dijumpai pada keraton, sebab biasanya kolom dan balok di keraton berwarna hijau tua atau merah tua, biasanya ditambah warna kuning emas.
Gambar 3.12. Motif sathon Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

(2)Wajikan

100

Dinamakan wajikan karena bentuknya menyerupai wajik, yang bentuknya seperti irisan wajik (belah ketupat sama sisi), tetapi ada juga yang menyebutnya hiasan sengkulunan, yaitu motif batik yang bentuknya juga belah ketupat. Hiasan ini ada yang memakai garis tepi dan ada juga yang tidak, lalu bagian tengahnya merupakan ukiran daun-daunan yang tersusun memusat, atau gambar bunga dilihat dari depan. Cara meletakkan dapat berdiri dan dapat pula terlentang. Ragam hias ini ditempatkan di tengah-tengah tiang atau pada titik-titik persilangan balok kayu yang sudut-menyudut pada pagar kayu bangunan.

Gambar 3.13. Motif wajikan Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

(3)Praba Kata praba berasal dari bahasa sansekerta atau kawi yang berarti sinar, cahaya bayangan kepala atau di belakang punggung dan hiasan wayang yang berada di punggung. Jika di candi-candi artinya menjadi nimbus atau aerol (cahaya kesucian di kepala dewa). Untuk seni ukir motif praba berarti motif sulur yang sama dengan gaya ukir Bali. Khusus untuk hiasan tradisional Jawa yang dimaksud praba adalah pahatan ukiran yang menggambarkan sinar atau cahaya. Hiasan praba yang dipakai dalam kehidupan seharihari merupakan ukuran relief yang bentuknya melengkung, tinggi

101

dan tengahnya lancip. Sedang gambaran yang digambarkan seperti daun-daun pohon yang bulat seperti ekor burung merak yang sedang ngigel (membentangkan ekornya dan berarti tegak, khusus untuk burung merak) selalu kelihatan bersinar. Hiasan tersebut umumnya berwarna seperti kuning emas dan dibuat dari bahan prada (bubukan) emas. Hiasan praba dimaksudkan agar membuat tiang-tiang menjadi bersinar dan bercahaya, bila ditambahkan dengan pahatan ekor burung merak akan semakin menambah kesan mewah.
Gambar 3.14. Motif praba Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

3. Balok Ragam hias yang dipergunakan untuk balok tergantung dari mewah tidaknya bangunan yang sedang didirikan. Yang sering terlihat adalah motif lung-lungan dan tlancapan yang keduanya merupakan ragam hias flora. Flora yang tersebar pada bangunan rumah tradisional Jawa pada umumnya bermakna suci, indah, ukirannya halus dan simetris dan mengandung daya estetika tersendiri. (1)Lunglungan Istilah lunglungan berasal dari kata lung, berarti tumbuh-tumbuhan yang masih muda, yang masih melengkung. Khusus untuk lunglungan terdiri dari bentuk tangkai, daun, bunga dan buah yang distilir. Gaya stilirannya pun berbeda-beda sesuai dengan daerah asalnya, seperti stiliran model Mataram, Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan dan lain-lain.

102

Gambar 3.15. Motif Flora atau Lunglungan Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

Warna lunglungan tergantung pada keinginan pemilik rumah, bila balok terbuat dari kayu jati umumnya hiasan tidak berwarna atau dibiarkan polos sebab lunglungan akan diukir. Namun untuk rumah bangsawan biasa diberi warnanya dengan cat. Hiasan ini biasanya memberikan kesan sakral dan indah, terkadang tampak angker atau wingit. (2)Tlacapan Kata tlacapan berasal dari kata tlacap, yaitu deretan segitiga sama kaki, sama tinggi dan sama besar, bisa polos, bisa juga diisi dengan hiasan lunglungan, daun atau bunga-bungaan yang telah distilir, dengan garis tepi atau tanpa garis tepi. Dalam memberi warna

tergantung hiasan yang telah dipahatkan sebelumnya. Untuk kayu yang polos biasanya juga polos. Sedang untuk bangunan yang berhias dan berwarna, ragam hiasnya berwarna kuning emas atau warna sunggingan, yaitu hijau dan merah. Bila memakai garis tepi diusahakan warnanya sama. Sedangkan warna dasarnya bisa hijau tua atau merah menurut warna dasar kayu atau balok yang digunakan. Hiasan tlancapan ini menggambarkan sinar matahari atau sinar yang berkilauan, sehingga mengandung arti kecerahan.
Gambar 3.16. Motif Tlacapan Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

4. Dinding

103

Terbuat dari pasangan batu bata dengan ketebalan dinding 30 cm, sehingga mencegah panas matahari masuk ke dalam ruang. 5. Pintu dan Jendela Ada tiga macam pintu dalam rumah Jawa yaitu pintu samping (pintu yang terletak antara gondhok atau beranca dengan rumah besar atau dalem), pintu pagar atau teteg, dan pintu rumah utama (pintu yang terdapat pada pendhapa sampai pringgitan dan dalem). Jumlah daun pintu rata-rata dua buah, masyarakat Jawa menyebutnya kupu tarung (kupu yang sedang berkelahi). Namun dijaman sekarang juga ada pintu yang berdaun satu, disebut juga ineh-siji (menutup satu). Pintu tersebut kebanyakan terbuat dari kayu. Sama seperti daun pintu yang terdiri dari kupu tarung, maka jendela pun demikian. Pada jendela yang memiliki dua daun disebut dhudhan, dan jendela yang memiliki satu daun disebut monyetan. Di sekeliling pintu atau jendela (termasuk bagian kayunya) sering diberi ragam hias flora dan panah.
(1) (2)

Flora, sama seperti dasar motif lunglungan Panahan, merupakan anak panah, biasanya berjumlah lebih

dari satu dan mengarah pada satu titik pusat. Kebanyakan

menggambarkan delapan penjuru mata angin menuju ke titik-titik silang garis sudut menyudutnya. Banyak yang berupa relief tembus, berfungsi sebagai ventilasi dan penerangan.
Gambar 3.17. Motif Panahan Sumber: Arsitektur Rumah Tradisional Jawa, R.K. Ismunandar

104

Wujud panahan yang mencerminkan senjata perang ini banyak diperagakan untuk menjaga bagian-bagian antara lain tebeng pintu dan tebeng jendela. Hiasan ini dianggap sebagai perangkap untuk segala macam kejahatan. Kebanyakan rumah-rumah yang kerangka sampai dindingnya tidak dicat, maka hiasan anak panah tersebut juga tidak berwarna atau sama dengan warna kayunya. Bila diberi warna pada umunya menggunakan warna hijau dengan garis tepi berwarna kuning. Dengan demikian tata ruang dalam arsitektur Joglo yang dapat diangkat dalam dasar perancangan hotel resort adalah umpak, saka, balok, dinding, pintu dan jendela, ornamen dan cahaya alami. Bahan-bahan pada umumnya berasal dari alam. Namun ada beberapa elemen yang tidak harus dimasukkan karena efeknya yang menimbulkan kesan rumit dan tidak menyatu dengan alam.

3.3.2. Massa Bangunan

Rumah merupakan sesuatu yang penting karena mencerminkan papan (tempat tinggal), disamping dua macam kebutuhan lainnya yaitu sandang (pakaian) dan pangan (makanan). Karena rumah berfungsi untuk melindungi dari tantangan alam dan lingkungannya. Selain itu rumah tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan utamanya saja. Tetapi dipergunakan untuk mewadahi semua kegiatan dan kebutuhan yang ada di dalam rumah tersebut. Secara garis besar tempat tinggal orang jawa dapat dibedakan menjadi:

1. Rumah Bentuk Joglo

105

Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem).

Gambar 3.18. Bagan Tipologi Rumah Joglo Sumber: Ciri-Ciri Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa, Arya Ronald

Rumah Joglo terdiri dari beberapa macam bentuk, antara lain Rumah Joglo Jompongan, Rumah Joglo Kepuhan Lawakan, Rumah Joglo Ceblokan, Rumah Joglo Kepuhan Limolasan, Rumah Joglo Sinom Apitan atau Trajumas, Rumah Joglo Pangrawit, Rumah Joglo Kepuhan Apitan, Rumah Joglo Semar Tinandu, Rumah Joglo Lambangsari, Rumah Joglo Wantah Apitan, Rumah Joglo Hageng dan Rumah Joglo Mangkurat. 2. Rumah Bentuk Limasan Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom, kutuk

106

ngambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai rumah.

Gambar 3.19. Bagan Tipologi Rumah Limasan Sumber: Ciri-Ciri Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa, Arya Ronald

Rumah Limasan terdiri dari beberapa macam bentuk, antara lain Rumah Limasan Apitan, Rumah Limasan Klabang Nyander, Rumah Limasan Ceblokan, Rumah Limasan Lawakan, Rumah Limasan Pacul Gowang, Rumah Limasan Gajah Ngombe, Rumah Limasan Gajah Njemur, Rumah Limasan Gajah Mungkur, Rumah Limasan Bapangan, Rumah Limasan Semar Tinandu, Rumah Limasan Cere Gancet, Rumah Limasan Gotong Mayit, Rumah Limasan Semar Pinondong, Rumah Limasan Apitan Pengapit, Rumah Limasan Lambangsari, Rumah Limasan Trajumas Lambang Gantung, Rumah Limasan Semar Tinandu, Rumah Limasan Lambang Teplok, Rumah Limasan Empyak Setangkep, Rumah Limasan Trajumas Lambang Teplok dan Rumah Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang.
3. Rumah Bentuk Kampung

107

Kata Kampung dalam bahasa Jawa berarti halaman, desa, orang desa yang tidak mempunyai sawah dan polisis desa. Rumah kampung pada umumnya mempunyai denah empat persegi panjang. Namun bagi yang menginginkan kesederhanaan hanya memakai 4 buah tiang dan 2 buah atap yang berbentuk empat persegi panjang. Karena kesederhanaan bentuknya menimbulkan nama-nama yang bermacammacam sesuai dengan variasi bentuk yang tercipta.

Gambar 3.20. Bagan Tipologi Rumah Kampung Sumber: Ciri-Ciri Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa, Arya Ronald

Rumah Kampung terdiri dari berbagai macam bentuk, antara lain Rumah Kampung Gotong Mayit, Rumah Kampung Klabang Nyender, Rumah Kampung Pacul Gowang, Rumah Kampung Trajumas, Rumah Kampung Dara Gepak, Rumah Kampung Gajah Ngombe, Rumah Kampung Lambang Teplok, Rumah Kampung Ambang Teplok Semang Tinandhu, Rumah Kampung Gajang Njerum, Rumah Kampung Semar Pinandong dan Rumah Kampung Cere Gancet.
4. Rumah Bentuk Masjid dan Tajug atau Tarub

Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko guru dengan blandar-blandar

108

tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan sebagai tempat suci, semisal : Masjid, tempat raja bertahta, makam.

Gambar 3.21. Bagan Tipologi Rumah Tajug Sumber: http://ruanganmasbud.blogspot.com/ (diolah kembali oleh penulis)

Rumah Tajug dapat dibedakan menjadi bentuk-bentuk antara lain Masjid dan Cungkup, Tajug Semar Sinongsong, Tajug Towang Boni, Tajug Tiang Satu LambangTeplok, Tajug Semar Tinandhu, Tajug Lawakan Lambang Teplok, Masjid Payung Agung, Tajug Lambang Sari, Masjidan Lambang Teplok, Masjidan Lawakan, Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, Tajug Lambang Gantung, Tajug Mangkurat, Tajug Sinom Tinandhu dan Tajug Ceblokan.
5. Rumah Bentuk Panggang Pe

Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lainlainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda, tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya.

109

Gambar 3.22. Bagan Tipologi Rumah Panggang Pe Sumber: Ciri-Ciri Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa, Arya Ronald

Macam-macam bentuk Panggang Pe antara lain Rumah Panggang-pe Pokok, Panggang-pe Trajumas, Rumah Panggang-pe Gedang Selirang, Rumah Panggang-pe Empyak Setangkep, Rumah Panggangpe Bentuk Kios, Rumah Panggang-pe Kodokan, Rumah Panggang-pe Cere Gencet, Rumah Panggang-pe Gedang Setangkep dan Rumah Panggang-pe Barengan. Dengan demikian berdasarkan bentuknya rumah Jawa selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Bentuk rumah tradisional Jawa dipengaruhi oleh pendekatan geometrik dan pendekatan geofisik. Terdapat 5 macam bentuk yang terbentuk karena dipengaruhi oleh perkembangan bentuk dan fungsinya, yaitu joglo, limasan, kampung, tajug dan panggang pe.

3.3.3. Sistem Struktur Rumah Jawa

Rumah tradisional Jawa merupakan sebuah sistem bangunan yang rumit, komplit dan penuh makna. Pada bangunan hotel resor, elemen yang digunakan hanyalah elemen utama yang masih umum. Pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk menampilkan arsitektur Jawa melalui bentuk utama dan ornamen-ornamen yang ditambahkan pada bangunan. Secara ringkas sistem struktur rumah tradisional Jawa mulai dari penggunaan material kayu hingga batu-bata dapat dijelaskan pada gambar berikut.

110

Gambar 3.23. Perubahan Struktur dan konstruksi Rumah Jawa dari Kayu ke Batubata Sumber: http://nooridham.blogspot.com/2010/11/mengapa-rumah-jawa-banyak-runtuhpada.html, 13 April 2011

Namun dalam ruang dalamnya, terdapat sebuah elemen penting yang memang sangat mencerminkan struktur dari rumah tradisional jawa, yakni adanya saka guru. Saka Guru merupakan struktur utama pada bangunan rumah adat Jawa yang lebih dikenal dengan Rumah Joglo. Saka guru adalah sebutan untuk tiang atau kolom atau pilar yang berjumlah 4 buah. Tiang ini terbuat dari jenis kayu dengan besaran yang berbeda-beda menurut pada beban yang menumpang diatasnya. Saka guru berfungsi menahan beban diatasnya yaitu balok tumpang sari dan brunjung, molo, usuk, reng dan genteng. Saka guru berfungsi sebagai konstruksi pusat dari bangunan Joglo karena letaknya ditengah bangunan tersebut.

111

Gambar 3.24. Perubahan Struktur dan konstruksi Rumah Jawa dari Kayu ke Batubata Sumber: http://www.gebyok.com/saka-guru-pada-bangunan-joglo.html, 13 April 2011

Dengan demikian berdasarkan kajian terhadap sistem strukturnya arsitektur Jawa memiliki sistem yang cukup rumit dalam perancangan strukturnya. Penyederhanaan sturktur dilakukan untuk mencari pola dasar bangunan. Bentuk tradisional dipadukan dengan gagasan kontemporer dengan menyederhanakan ruang dalam dan lebih menekankan pada ornamen. 3.3.4. Resume Dengan demikian berdasarkan kajian mengenai arsitektur Jawa, terdapat banyak macam elemen yang dapat diterapkan dalam permasalahan. Penciptaan nuansa Jawa dapat diwujudkan melalui corak dan ornamen, garis besar penataan ruang dan bentuk bangunan. Beberapa sistem struktur dan konstruksi arsitektur Jawa dapat dijadikan alternatif acuan perancangan sistem struktur.

112

3.4.

Kajian Arsitektur Kontemporer Arsitektur adalah titik awal untuk membuat kualitas hidup menjadi lebih

baik. Arsitektur bukan hanya tentang gaya, warna, garis dan beragam bentuk menjadi sebuah bangunan semata. Arsitektur adalah hidup itu sendiri. Ia mewakili budaya dan cara kita melihat dunia ini. Masalah datang ketika globalisasi mengambil alih keberagaman menjadi keseragaman. Globalisasi seharusnya tidak mengambil nilai-nilai keberagaman budaya untuk diarahkan kepada sistem nilai dari satu kebudayaan tertentu, tetapi mempersatukan keberagaman budaya tersebut ke dalam suatu sistem nilai yang mengakomodasi semua kebudayaan. Bangunan yang baik tidak hanya melulu dilihat dari penggunaan bahanbahan yang sedang menjadi trend dan juga mahal. Begitu pula dengan arsitektur, arsitektur tetap harus menancap kepada kebudayaan lokal. Itulah tema yang selalu diangkat dalam ranah kajian arsitektur kontemporer dimanapun lokasinya dan kapanpun waktunya.

3.4.1.

Penjelasan Mengenai Arsitektur Kontemporer Arsitektur kontemporer adalah suatu gagasan desain yang merupakan

perpaduan kekinian dan sesuatu yang ingin dipadukan. Arsitektur kontemporer bermula dari gaya kontemporer. Gaya Kontemporer adalah istilah yang bebas dipakai untuk sejumlah gaya yang berkembang antara tahun 1940-1980an. Walaupun istilah kontemporer sama artinya dengan modern atau sesuatu yang up to date, tapi dalam disain kerap dibedakan. Istilah ini digunakan untuk menandai sebuah disain yang lebih maju, variatif, fleksibel dan inovatif, baik secara bentuk maupun tampilan, jenis material, pengolahan material, maupun teknologi. Desain yang kontemporer menampilkan gaya yang lebih baru. Gaya lama yang diberi label kontemporer akan menghasilkan bentuk disain yang lebih segar dan berbeda dari kebiasaan. Misalnya, modern kontemporer, klasik kontemporer atau etnik kontemporer. Semua menyajikan gaya kombinasi dengan kesan

113

kekinian. Arsitektur kontemporer menonjolkan bentuk unik, diluar kebiasaan, atraktif, dan sangat komplek. Permainan warna, tekstur dan bentuk menjadi modal memciptakan daya tarik bangunan. Arsitektur kontemporer biasanya lebih menonjolkan keunikan dari segi bentuk, atraktif dan cenderung kompleks. Dalam segi pemilihan warna pun menjadi sebuah modal untuk menciptakan daya tarik sebuah bangunan. Ada 3 gaya lama yang diberi label kontemporer pada sebuah bangunan, yaitu : 1. Etnik kontemporer 2. Klasik kontemporer 3. Modern Kontemporer Label ini diberikan karena pada keadaannya terkadang masih terdapat masyarakat yang ingin memperlihatkan kemodernan dirinya tanpa meninggalkan kualitas dirinya yang tetap menyukai gaya-gaya kuno masa lalu. Misalnya dengan penggunaan material yang tidak harus selalu baru. Dengan demikian arsitektur kontemporer dapat disimpulkan sebagai sebuah aliran atau gaya dalam arsitektur yang tidak memiliki kemurnian. Arsitektur kontemporer selalu mengikuti trend yang sedang berkembang pada masyarakat. Arsitektur kontemporer adalah gaya merancang yang memadukan kekinian dengan permasalahan dan isu lokal maupun global yang sedang hangat. Misalnya sebuah rancangan arsitektur kontemporer yang mengkolaborasikan kekinian dengan gaya tradisional sehubungan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya nusantara.

114

3.4.2.

Arsitektur Kontemporer di Indonesia Arsitektur kontemporer Indonesia adalah bentuk karya arsitektur terbaru

yang dibangun di Indonesia. Indonesia memiliki karakter sebagai sebuah bangsa, begitupula dengan kaidah arsitektur dan prinsip keberlanjutan yang harus tetap dipertahankan. Namun setiap orang dan bangsa pasti berubah secara cepat atau lambat. Sehingga harus menempatkan trend dengan cerdas. Di Indonesia sendiri arsitektur kontemporer dipengaruhi oleh arsitektur kontemporer asing. Karya-karya arsitektur kontemporer Indonesia memiliki kesamaan dengan karya Mies van de Rohe, Le Corbusier dan Charles Eames. Pengaruh itu terjadi karena sebagian besar karya mereka masuk dalam konteks negeri tropis, dan itu sangat cocok dengan iklim Indonesia. Dengan demikian arsitektur Indonesia sebenarnya sudah ada, terdiri atas berbagai jenis arsitektur tradisional dari berbagai daerah. Implikasinya adalah penerapan elemen arsitektur tradisional yang khas, seperti atap dan ornamen. arsitektur Indonesia masih dalam proses pembentukan, dan hasilnya bergantung pada komitmen dan penilaian kritis terhadap cita-cita budaya, selera estetis, dan perangkat teknologi yang melahirkan model dan bentuk bangunan tradisional pada masa tertentu dalam sejarah.

3.4.3.

Resume Dengan demikian kontemporer merupakan gaya hidup masa kini yang

akan mengalami perubahan terus menerus, juga disandarkan kepada pengalaman visual orang-orang sehingga menampilkan rekaman yang sudah dialaminya. Terlepas dari itu semua, pada dasarnya arsitektur kontemporer ingin menyajikan sesuatu yang baru dan ingin menyajikan lebih dari sesuatu yang baru tersebut agar lebih nyaman bagi para penghuninya.

115

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->