Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak

PEMANFAATAN BIO-ETHANOL SEBAGAI BAHAN BAKAR KENDARAAN BERBAHAN BAKAR PREMIUM
La Ode M. Abdul Wahid

ABSTRACT
The premium gasoline is a main fuel for transportation sector, especially for land transportation that use private and public transportation. In order to reduce the amount of gasoline import that increases year by year, the Government launched bio-ethanol – premium gasoline mix program, a mixture of certain amount of 95% purification bioethanol into premium gasoline. In the 1983, performance testing of bioethanol vehicles conducted, in 100 cars and 32 motor cycles. The testing result proved that the performance of the car engine was not decreased significantly, but some of the gasoline tank and packing were leaked. Recently, the fuel based ethanol (99.5% purification minimal) are used in the car and other land transportation vehicles. It is also proved that the gasoline – bioethanol mixed will released smaller emission compare with gasoline only, except aldehydes. Considering to the economic evaluation, it is clear that the price of bioethanol (include tax, delivery cost, and benefit) today almost the same level with premium gasoline.

1.

PENDAHULUAN

Premium merupakan bahan bakar yang banyak digunakan pada sektor transportasi, khusunya transportasi darat, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Kebutuhan bahan bakar premium pada tahun 2004 sejumlah 16.418 ribu KL ini, dipenuhi oleh kilang didalam negeri sebesar 11.436 ribu KL dan sisanya sebesar 4.982 ribu KL diimpor. Mengingat kebutuhan premium terus meningkat sedangkan produksi dari tahun ketahun cenderung tetap, maka dapat diperkirakan bahwa dimasa mendatang impor premium ini akan terus meningkat. Salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada impor premium ialah dengan mencampurkan bio-ethanol yang merupakan energi terbarukan pada premium dengan konsentrasi tertentu. Bio-ethanol dikenal sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, karena bersih dari emisi bahan pencemar. Bio-ethanol dapat dibuat dari bahan baku tanaman yang mengandung pati seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, sagu, dan tetes. Ubi kayu, ubi jalar, dan jagung merupakan tanaman pangan yang biasa ditanam rakyat hampir di seluruh wilayah Indonesia, sehingga jenis tanaman tersebut merupakan tanaman yang potensial untuk dipertimbangkan sebagai sumber bahan baku pembuatan bio-ethanol atau gasohol. Pada tahun 1982 BPPT telah mengawali pembangunan pabrik ethanol di Tulang Bawang yang berkapasitas 15000 liter ethanol/hari yang setiap harinya memerlukan sekitar 90 ton bahan baku ubi jalar dan atau ubi kayu. Pembangunan pabrik ethanol tersebut dimaksudkan sebagai substitusi premium di sektor transportasi,
63

produksi ethanol di Indonesia relative konstan. 2. 64 .Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak khususnya untuk wilayah yang menghasilkan ubi jalar dan atau ubi kayu. Indo Lampung Distilerry. Sejumlah 26% dari total produksi pada tahun 2002 tersebut di produksi oleh Indo Acidatama. Di Indonesia pada saat ini ethanol di produksi dari tetes untuk keperluan bahan farmasi oleh PTPN XI. Pangsa produksi ethanol tahun 2002 masing-masing plant ethanol ditunjukkan pada Gambar 1.. mendorong terciptanya lapangan kerja dan peningkatan ekonomi di daerah. Dari tahun 1997 hingga tahun 2001. Meskipun program pemanfaatan bio-ethanol pada saat itu sebagai bahan bakar kendaraan secara ekonomi masih belum layak. Hal ini disebabkan sulitnya memperoleh bahan baku ubi jalar maupun ubi kayu. yang disebabkan oleh harga bahan baku yang tinggi dan persaingan dengan industri tepung. mendorong terciptanya pemanfaatan energi yang berwawasan lingkungan (ethanol termasuk bahan bakar yang bersih dari bahan pencemar). kemudian diikuti oleh Molindo Raya Industrial. yaitu sekitar 159000 kl dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 174000 kl. Aneka Kimia Nusantara. Molindo Raya Industrial. Oleh karena itu dalam makalah ini dibahas tentang “Pemanfaatan bioethanol sebagai bahan bakar kendaraan berbahan bakar premium”untuk mendapatkan gambaran pemanfaatan bio-ethanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor (fuel internal combustion motor vehicles). baik sebagai bahan bakar tunggal (100% ethanol) maupun sebagai bahan bakar ganda atau campuran dengan premium (bi-fuels). pada tahun 1883 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan pengkajian pemanfaatan campuran bio-ethanol dan premium pada bahan bakar kendaraan berbahan bakar premium di Indonesia. PERKEMBANGAN INDONESIA PRODUKSI ETHANOL DAN BIO-ETHANOL DI Sejak tahu 1986 pabrik ethanol BPPT di Lampung mengubah bahan bakunya dari ubi jalar dan ubi kayu dengan Mollase atau tetes. dll. namun program tersebut mempunyai manfaat lain. merangsang pertumbuhan industri penunjang serta. yaitu dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. PG Rajawali II. Dan Indo Lampung Distilerry yang masing-masing besarnya produksi 23% dari total produksi pada saat itu. Berkaitan dengan hal tersebut. Indo Acidatama. mendorong program diversifikasi (penganeka ragaman) energi.

Oleh karena itu perlu dicari potensi sumber ethanol yang dapat diperoleh dari berbagai laternatif bahan baku 2. Bila alkohol diarahkan untuk menjadi bahan bakar pengganti premium. di Indonesia ubi kayu mempunyai potensi lebih besar sebagai bahan baku pembuatan ethanol. jagung. ubi jalar. disusul oleh Indon Lampung Distilerry dan Molindo Raya Industrial. tanaman lain yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku produksi ethanol (bio-ethanol) adalah ubi kayu. maka diharapkan daerah dapat mengganti atau mengurangi konsumsi premium yang untuk sebagian besar wilayah di Indonesia didatangkan dari daerah lain.18 Juta Kilo Liter.1 Potensi Sumber Bio-Ethanol Di Indonesia Bioethanol selain untuk bahan baku kimia juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar kendaraan pengganti bensin atau premium. baik dalam negeri maupun ekspor. Pangsa produksi ethanol tahun 2002 dari masing-masing plant ethanol Dari gambar diatas terihat bahwa produksi yang terbesar adalah Indo Acidatama. Industri ethanol yang lain mempunyai kapasitas produksi yang jauh lebih kecil dibanding dengan ketiga industri tersebut. Dengan produksi ethanol di daerah. maka kebutuhan akan alkohol atau ethanol akan meningkat dengan cepat.418 Juta Kilo Liter. Pada tahun 2004 penjualan Premium di dalam negeri mencapai 16. Hal ini disebabkan ubi kayu dapat ditanam hampir di semua jenis tanah mulai dari lahan yang subur sampai ke lahan kering. Dari semua jenis bahan baku tersebut.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak Total Produksi Tahun 2002: 174000 KL 9% 26% 9% 4% 6% 23% 23% Lain-Lain PG Rajawali II Indo Lampung Dis tilerry Aneka Kimia Nusantara PTPN XI Molindo Raya Industrial Indo Acidatama Gambar 1. dan sagu. Berkaitan dengan hal tersebut. Selain tetes atau mollase. Disamping itu intensitas produksi ubi kayu per hektar dalam satu tahun relatif cukup tinggi yaitu antara 15 sampai 27 ton per hektar. bila 1% kebutuhan ini digantikan oleh alkohol maka diperlukan 0. dalam bab ini diperhitungkan potensi sumber bio-ethanol dengan melihat potensi ketersediaan bahan baku untuk pembuatan ethanol. 65 . padahal produksi ethanol saat ini sekitar 0. bahkan lahan kritis sekalipun.164 Juta Kilo Liter. Produksi alkohol diatas merupakan kondisi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan pasar alkohol yang ada.

ubi kayu dan sumber pati-patian lainnya. dimana campuran sebanyak 15% bioethanol setara dengan 66 . Ethanol/bio-ethanol apabila dicampur dengan premium dapat meningkatkan nilai oktan. yang akan dapat memanfaatkan limbah hutan dan pertanian yang banyak diperoleh di seluruh wilayah Indonesia.28% per tahun Penurunan potensi tersebut pada umumnya akibat perubahan sebagian status lahan dari lahan yang ditanami ubi kayu dan ubi jalar menjadi lahan perumahan atau perkebunan. serta adanya perubahan musim.2.d 2002. Perkiraan Potensi Ketersediaan Bio-Ethanol dari Ubi Kayu Per Wilayah Di Indonesia Dari Tahun 1998 S. 2.5 kg ubi kayu. Selain dari ubi jalar. dimana nilai oktan untuk ethanol/bio-ethanol 98% adalah sebesar 115. semua wilayah di Indonesia dapat ditanami ubi kayu. 219 ribu KL pada tahun 2001 dan 221 ribu KL tahun 2002.D 2002 Dari gambar tersebut terlihat bahwa produksi ubi kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku ethanol yang terbesar adalah di pulau Jawa. berdasarkan perhitungan tersebut diatas serta produksi ubi kayu di Indonesia dari tahun 1998 sampai 2002 dapat diperkirakan potensi ketersediaan bio-ethanol dari ubi kayu di Indonesia dari tahun 1998 s. walaupun Pulau Sumatra dan Jawa mempunyai perkembangan produksi ubi kayu yang sangat baik. Mengingat semua wilayah Indonesia dapat ditanami ubi kayu. 208 ribu KL pada tahun 1999. ethanol juga dapat diproduksi dari bahan lain yaitu selulosa. sehingga bio-ethanol plant yang berbahan baku ubi kayu berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. yaitu 249 ribu KL pada tahun 1998.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak Secara umum.2 Potensi Pemanfaatan Bio-Ethanol di Indonesia Sebagaimana diketahui bahwa ethanol/bio-ethanol mempunyai nilai oktan yang lebih tinggi dibandingkan dengan premium. atau dari unsur kayu-kayuan. 250 200 Perkiran Produksi Bio-Ethanol (Ribu kl) 150 100 50 0 1998 1999 2000 2001 2002 Sumatera Bali. selain itu mengingat ethanol/bio-ethanol mengandung 30% oksigen. 229 ribu KL tahun 2000. Rata-rata untuk produksi 1 liter bio-ethanol diperlukan 6.d 2002 ditunjukkan pada Gambar 2. disusul Sumatera ethanol adanya penurunan sebesar . Masalah utama dari penggunaan limbah hutan dan pertanian ialah pengumpulan yang agak sulit dilakukan. Besarnya perkiraan potensi ketersediaan bio-ethanol per wilayah di Indonesia dari tahun 1998 s.Nusa T & Tim-Tim Sulawesi Jawa Kalimantan Maluku dan Papua Gambar 2. sehingga campuran ethanol/bio-ethanol dengan gasoline dapat masuk katagorikan high octane gasoline (HOG).

setara RON 92 Volume RON 95 Tahun Vol Ethanol/Bio-Eth. dimana 1400 kl/hari berasal dari pertamax (RON 92) dan 350 kl/hari berasal dari pertamax plus (RON 95). Sifat korosif ini menyebabkan diperlukannya material yang tahan korosif pada peralatan-peralatan tertentu seperti. Oleh karena itu.sejumlah 3 juta 67 . Penggunaan Bio-ethanol sebagai pengganti atau substitusi Premium telah dilaksanakan di berbagai negara. pipa-pipa. Hal itu menunjukkan bahwa bio-ethanol dapat dimanfaatkan sebagai aditif pengganti MTBE untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dan menghasilkan gas buang yang lebih bersih. penggunaan campuran Bioethanol dalam premium dibatasi antara 5 – 25% agar kinerja mesin tidak terlalu berbeda. namun ethanol/bioethanol juga mempunyai sifat korosif dan membuat mesin lebih sulit distarter. karburator. Potensi Pemanfaatan Bio-Ethanol di Indonesia 2003 Walaupun ethanol/bio-ethanol mempunyai nilai oktan (octane rating) lebih tinggi dan emisi yang lebih bersih dibanding premium. Pada tahun 2003. Potensi pemanfaatan bio-ethanol sebagai pengganti Pertamax dan Pertamax Plus di Indonesia ditunjukkan pada Gambar 3. sehingga dapat dipastikan bio-ethanol berpotensi untuk diproduksi dan dimanfaatkan. Pada tahun yang sama ethanol diperkirakan dapat memasok 294 kl/hari. Belanda. diperkirakan pasar HOG dan ethanol meningkat 10 kali lipat terhadap tahun 2003. Brazilia serta banyak negara lain. tanki bahan bakar. setara RON 95 Gambar 3. khususnya pada mobil lama yang menggunakan karburator konvensionil. Sedangkan kesulitan dalam starter ini memang sulit dihindari. Jerman. karet-karet penyekat dan lain-lain peralatan. pasar HOG menurut Pertamina adalah sebesar 1750 kl/hari. New Zaeland.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak pertamax (RON 92) dan campuran sebanyak 24% bioethanol setara dengan pertamax plus (RON 95). tetapi hanya Brazilia dan Amerika Serikat yang telah menerapkan teknologi mesin kendaraan untuk ethanol 85% (E85) secara komersial. Apabila pada tahun 2013. sedangkan pemakaian campuran yang lebih besar harus menggunakan mesin yang sudah dimodifikasi atau mesin yang khusus untuk pemakaian ethanol. Di Amerika Serikat. seperti Amerika Serikat. dimana 210 kl/hari ethanol yang dipasok setara dengan pertamax (RON 92) dan 84 kl/hari ethanol yang dipasok setara dengan pertamax plus (RON 95). 14000 12000 Volume (KL/hari) 10000 8000 6000 4000 2000 0 2003 2013 Volume RON 92 Vol Ethanol/Bio-Eth. karena temperatur pembakaran sendiri/flash point ethanol yang tinggi sehingga pembakaran secara homogen akan sulit tercapai pada tekanan kompresi di ruang bakar.

Berat Jenis 2. Angka oktan riset f. Hal ini perlu diperhitungkan dalam menghitung nilai ekonomis dari bio-ethanol bila dibandingkan dengan premium.0 0 6. Tekanan uap pada 38o C d.8 78.3 6. No. Analisis berat: C H O C/H b.0 10.0 87.2 94. 68 .Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak kendaraan dengan sistem dual fuel atau FFV (Flexible Fuel Vehicles) telah menggunakan E85 yang dipasarkan melalui sekitar 240 SPBU. Nilai kalor b. yaitu kinerja mesin berbahan bakar ethanol akan lebih rendah daripada kinerja mesin kendaraan berbahan bakar bensin.0-260.0 221.0 Ya 0.0 3.4 0.0 1. Di banyak negara masuknya ethanol ke pasar sebagai bahan bakar kendaraan baik ethanol 85% ataupun sebagai aditif (5 – 25%) pada umumnya lebih didorong untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil untuk memperbaiki lingkungan hidup sesuai dengan hasil Konvensi KTT Bumi.8 3.0 9. kimia dan fisika dari ethanol/bioethanol dan premium Unit Ethanol/BioEthanol 5023.7 32. The Argonne National Laboratory di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa jarak tempuh per galon bahan bakar kendaraan berbahan bakar ethanol (E85) lebih rendah 10-30 persen daripada kendaraan berbahan bakar bensin.0 363.8 82. Titik Didih 3. W. Angka oktan motor e.0 1. 52.6 Premium Keterangan Sifat Thermal a.7 14.0 111. Perbandingan sifat thermal. 1. Suhu pembakaran sendiri h. Sifat Fisika 1.7 4.0 2. Kelarutan dalam air Sumber: Djojonegoro.1 13. Tabel 1.0 91. Perbandingan nilai bakar terhadap premium Sifat Kimia a. Panas penguapan pada 20o C c.0 tidak Lebih rendahnya nilai kalor ethanol daripada nilai kalor premium diperkirakan akan berdampak pada kinerja mesin. artinya karena jarak tempuh 70% lebih pendek maka harga jual ethanol harus lebih rendah dari 70% harga premium agar ethanol secara ekonomis bersaing dengan premium. kimia dan fisika dari ethanol/bio-ethanol dan premium ditunjukkan pada Tabel 1.8 0. (g/cm) (oC) 0.0 0. Index Cetan g.0-185.1 34.0 13. karena setiap galon ethanol mengandung hanya sekitar 70 persen dari energi yang dikandung oleh setiap galon premium (Ethanol Info 9/6/2005).Keperluan udara (kg udara/kg bahan bakar) (kkal/liter) (kkal/liter) (Bar) (MON) (RON) (oC) 8308. daripada persaingannilai ekonomis. (1981). Perbandingan sifat thermal.

69 . semakin terbatasnya cadangan minyak Indonesia meningkatnya. Chrysler. pengurangan impor HOMC dan infestasi di fasilitas reformer. GM. Selain itu dengan produksi bio-ethanol yang umumnya memanfaatkan bahan baku lokal akan dapat membuka lapangan kerja di daerah yang selanjutnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Dijakini bahwa bio-ethanol akan mempunyai potensi besar untuk menjadi bahan bakar pengganti premium. PEMANFAATAN BIO-ETHANOL DI INDONESIA Pemanfaatan bio-ethanol di Indonesia sebagai bahan bakar kendaraan bermotor adalah bertujuan mendorong substitusi bahan bakar premium. yaitu E85 (ethanol 85 persen dan premium 15 persen). yaitu gasohol 10% (campuran bio-ethanol 10% dan premium 90%) dan gasohol 20% (campuran bio-ethanol 20% dan premium 80%). dan Mercedes sudah menyediakan sekitar 20 model kendaraan dari mobil dan truk yang mampu menggunakan campuran premium dengan bio-ethanol sampai 85 persen merubah mesin. Namun sekarang ini. Ford. program pemanfaatan gasohol untuk bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia mengalami banyak hambatan sehingga tidak dapat dilanjutkan. Gasohol yang digunakan sebagai bahan bakar dalam pengujian tersebut adalah campuran premium dengan ethanol. dan ternyata setelah beberapa bulan terjadi pemisahan air di dalam tanki mobil yang menyebabkan karat dan kebocoran serta gangguan pada mesin bila air ikut masuk ke mesin. yaitu dengan dihapusnya subsidi terhadap BBM secara bertahap dan meningkatnya harga minyak mentah di dunia. Mengingat dorongan dan tantangan diatas. Walaupun demikian hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar kendaraan premium konvensionil dapat beroperasi secara normal dengan bahan bakar bio-ethanol (kemurnian 95%) sebanyak 10 persen (E10) dicampur premium 90 persen tanpa mengubah mesin. Program pemanfaatan bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia sudah dikaji sejak tahun 1980-an. mengurangi impor BBM dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Saat ini kondisi tersebut telah berubah. Namun seiring dengan rendahnya harga minyak mentah dan naiknya harga bahan baku ethanol (ubi jalar dan ubi kayu). mengangkat nilai keekonomian bio-ethanol. Mobil yang dapat berjalan dengan bahan bakar E85 tersebut memakai mesin yang mampu menggunbakan berbagai grade bahan bakar yang kemudian disebut Flexible Fuel Vehicles (FFV). Isuzu. telah dilakukan terhadap 100 unit mobil dan 32 unit speda motor. serta dapat mengurangi polusi udara dan segala dampak negatifnya.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak 3. Mazda. Dimanfaatkannya bio-ethanol tersebut akan dapat mengurangi subsidi BBM melalui pengurangan impor BBM. seyogyanya penelitian untuk pengembangan sumber energi alternative ethanol untuk sektor transportasi di Indonesia yang pernah berhenti dikembangkan kembali dengan memperhitungkan kekurangan maupun keberhasilan penelitian yang terdahulu.5%) yang lebih tinggi. bahkan pada saat itu sudah dilakukan sampai pada tingkat pengujian kendaraan dengan bahan bakar campuran premium dengan bio-ethanol (gasohol). Pengujian pemanfaatan bio-ethanol untuk bahan bakar kendaraan bermotor tersebut. serta meningkatnya komitmen dunia akan bahaya pemanasan global. banyak pabrik mobil sudah mengembangkan mobil yang dapat berjalan dengan campuran fuel-based bio-ethanol (kemurnian lebih dari 99. Pada penelitian yang terdahulu yang diproduksi dan diuji adalah Ethanol dengan kemurnian 95%.

yaitu lebih rendah 14-19 persen dibandingkan dengan premium. sedangkan penggunaan bahan bakar fosil yang akan memerlukan jutaan tahun untuk pembentukannya. Secara umum pemanfaatan campuran bio-ethanol dan premium dapat berdampak pada pengurangan emisi bahan pencemar seperti diperlihatkan pada Error! Reference source not found. dan dengan penggunaan yang kontinyu carbon hasil pembakaran energy (energy combustion) akan diserap kembali oleh tanaman-tanaman yang tumbuh secara seimbang. juga disebabkan oleh lebih rendahnya kandungan carbon pada bio-ethanol dibandingkan pada premium.html Dengan gambaran diatas maka dapat dibuktikan bahwa penggunaan bioethanol sebagai aditif untuk menggantikan TEL atau MTBE akan sangat mendukung kebersihan lingkungan karena tidak mengandung bahan beracun maupun zat yang menyebabkan kerusakan Ozon.2. pemanfaatan bio-ethanol yang diperoleh dari bahan baku tanaman. adalah diluar keseimbangan produksi – penyerapan CO2 sehingga penggunaan energi fosil akan meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer. 9/6/2004).renewableenergypartners. Pengurangan gas rumah kaca di atmosfer selain diakibatkan penyerapan carbon oleh tanaman. ubi kayu dan lain-lain dapat menunjang program pengurangan gas rumah kaca (CO2 dan CH4).1 Perbandingan Emisi Bahan Pencemar dari Campuran Bio-Ethanol dan Premium Berlainan dengan pemanfaatan premium yang diperoleh dari minyak mentah yang merupakan bahan bakar fosil dan tidak terbarukan. Perbandingan Emisi Bahan Pencemar dari Campuran Bio-Ethanol dan Premium E10 Berkurang 25-30% Berkurang 10% Berkurang 5% Berkurang 7% Beberapa pengurangan Beberapa pengurangan Meningkat 30-50% Beberapa pengurangan E85 Berkurang 40% Berkurang 14-102% Berkurang 30% Berkurang 30% lebih Berkurang sampai 80% Berkurang 20% Tidak cukup data Berkurang lebih 50% Emisi Carbon Monoxide (CO) Carbon Dioxide (CO2) Nitrogen Oxides Volatile Organic Compound (VOCs) Sulfur Dioxide (SO2) Particulates Aldehydes Aromatic (benzene dan butadiene) Sumber: http://www. sehingga pemanfaatan campuran bio-ethanol dan premium diharapkan dapat mendukung program pengembangan energi yang berwawasan lingkungan di Indonesia.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak 3.org/ethanol. Argonne National Laboratory juga menyimpulkan bahwa bio-ethanol selain merupakan bahan bakar yang tidak beracun. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan ubi kayu atau tanaman lain akan meningkatkan daya serap karbon (carbon sink capacity). sehingga dapat dikatakan ethanol merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan (Ethanol Info. sehingga pembakaran bio-ethanol (ethanol combustion) akan mengeluarkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah daripada emisi gas rumah kaca dari pembakaran premium (gasoline combustion). juga mempunyai siklus emisi gas rumah kaca (green house gas) yang lebih rendah. 70 . Tabel 2.

sehingga perlu dilakukan perhitungan neraca energi secara cermat untuk melihat potensi substitusi yang sebenarnya terhadap BBM.000 5. dengan catatan 1 US$ = Rp 9000. proses pembuatan bio-ethanol membutuhkan jenis energi lain seperti solar.000 25 Tahun 365 hari 12% per Tahun 2. dan Rp. kayu bakar dan lain-lain. Perhitungan biaya produksi per liter ethanol tanpa memasukkan pajak seperti tersebut diatas dapat dilihat pada Tabel 4. Dengan harga Ethanol di tingkat pabrik sebesar Rp.000. pabrik serta status investasi. dengan lamanya operasi dalam satu tahun sebesar 350 hari.000 US $ (Rp. 66. Parameter lain yang diperhitungkan ialah umur dari bioethanol plant adalah 25 tahun. 2612 per liter adalah layak secara ekonomi. tetapi harga diatas belum memperhitungkan pajak alkohol yang cukup tinggi dan penggunaannya sebagai bahan bakar belum diatur dalam undang-undang atau peraturan dibawahnya. Tabel 3.000 200. sehingga dengan harga minyak mentah sebesar 55 US$/barel diasumsikan bio-ethanol dapat bersaing dengan BBM. Selain itu ada beberapa parameter yang perlu diperhitungkan yaitu pertama. Pada Tabel 4. juga ditunjukkan harga tingkat pabrik untuk harga dari ubi kayu.580. 250 per kilogram.000 60. Untuk memperoleh biaya produksi ethanol selain biaya investasi juga harus diperhitungkan biaya operasi dan perawatan termasuk biaya bahan baku. harga ubi kayu yang dapat berubah setiap saat.380.000 400.bungan bank 12% per tahun.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak 3.000 690. Sumber: BPPT-Presentasi 71 . disamping itu pajak serta pengeluaran yang lain harus tetap diperhitungkan agar memudahkan investor untuk menghitung tingkat keekonomian pabrik ethanol ini. terutama bila bersaing dengan pabrik tepung. atau pada saat musim kemarau yang berkepanjangan sehingga produksi menurun sedangkan ubi kayu yang ada menjadi makanan pokok masyarakat. Perincian biaya seperti terlihat pada Tabel 3 dan Tabel 4 sangat tergantung dari kepemilikan lahan. Biaya tersebut sudah termasuk biaya investasi pengolahan limbah dan pembangkit listrik. Rp.000 450. Kedua. 180 per kilogram. serta perlu dicari jenis energi terbarukan lainnya yang dapat menggantikan penggunaan BBM di pabrik ethanol. Rincian Biaya Investasi Pabrik Bio-Ethanol Anhydrous dengan Kapasitas 60 KL/Hari Menggunakan Bahan Baku Ubi Kayu No 1 Nilai (US$) Total Biaya Investasi Peralatan Utama Peralatan Pengumpanan Unit Pengolah Limbah Tanah (min 30 Ha) Power Plant Bangunan Pabrik dan Kantor Umur Hidup Hari Produksi Bunga / Interest 7.2 Biaya Proses Produksi Bio-Ethanol Untuk memproduksi bio-ethanol plant berkapasitas 60 kl/hari dari ubi kayu diperlukan biaya investasi sebesar 7.380.420. Tabel 3 menunjukkan rincian biaya investasi Pabrik bio-ethanol yang berkapasitas 60 kl/hari.-).

00 4.41 326. L -Uap Air.75 15.89 Biaya Modal .Bahan Baku Ubi Kayu.00 10. serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah .00 60. Keuntungan 15% Prod.50 6.80 4. Investasi (straight line) A.Bahan Baku Ubi Kayu.00 867.50 8. KESIMPULAN 1 Pemanfaatan campuran bio-ethanol dengan premium secara umum dapat berdampak pada pengurangan emisi gas rumah kaca. L -Urea.00 2846.5% C. Bahan Pembantu -Alpha Amylase. D.20 3000.30 180.Kg -Asam Sulfat. Kg -Listrik.80 1.00 650.50 5.75 15.50 4. diharapkan dapat diperhitungkan perkiraan harga penjualan pabrik yang paling tepat. kwh Biaya : a.25 4.03 106.00 195.00 0. serta mendorong terciptanya pemanfaatan energi yang berwawasan lingkungan.50 8.00 150. Kg . dilihat dari produksi ubi kayu diperkirakan potensi ketersediaan ethanol sebagai HOG (high octane gasoline) mencapai 294 kl/hari.13 12.00 1.00 35.87 2560.10 1. Produksi (a + b + c) B.58 54.68 62.58 54.25 20.00 1. / Liter) 1170.5% Total Harga Ethanol Pabrik 6.00 0. Bahan Baku dan Utilitas b.03 106.00 0. Dengan melihat harga ethanol pada dua tingkat harga ubi kayu tersebut. Disamping itu pencampuran bio-ethanol dengan premium dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dan mendorong program diversifikasi (penganeka ragaman) energy. Penyimpanan 2. Lain-lain 2.00 250. mendorong berkembangnya industri lokal selanjutnya mendorong terciptanya lapangan kerja di daerah.80 4.20 1.41 2995.50 4.00 1625 36. Tabel 4.50 0.30 0.00 78.49 54. 250 per kilogram merupakan perkiraan harga pada saat musim kering. . 2 Pada tahun 2003.NPK . dimana 210 kl/hari ethanol (24%) dicampur dengan premium tanpa 72 .00 2391.00 78. ml Utilitas -Air.41 3450.50 ( x 10-3 ) 0.68 62. L -Na OH.49 54.00 195. Operasi dan Perawatan c.00 867.89 36.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak Harga Rp. Kg -Gluko Amylase.75 170. 180 merupakan harga yang umum pada tahun 2005 dan Rp.Antifoam. Rincian Biaya Produksi Bio-Ethanol Anhydrous dengan Kapasitas 60 KL/Hari Konsumsi per liter Harga Satuan Kg/Liter ( Rp/Unit ) Biaya (Rp.41 326.13 12.00 45.87 3015.

dan dengan harga ubi kayu Rp. Launching Penggunaan Gasohol BE-10 untuk Bahan Bakar Otomotif dan Penggunaan Energi Alternatif Lainnya. 180 per kg diperlukan biaya produksi sebesar Rp 2996 per liter. Sedangkan pada tahun 2013. yaitu E85 (ethanol 85 persen dan bensin 15 persen). dimana nilai oktan untuk 98% ethanol/bio-ethanol adalah sebesar 115. sehingga ethanol/bio-ethanol dapat dikatagorikan sebagai high octane gasoline (HOG) yang merupakan bahan pencampur premium dengan angka oktan 88. Perbandingan Unjuk Kerja kendaraan Bermotor Dengan Bahan Bakar Gasohol (E10). Trada Group. 4 Sesuai hasil penelitian terdahulu sebagian besar kendaraan premium konvensionil dapat beroperasi dengan bahan bakar bio-ethanol 10 persen (E10) dicampur premium 90 persen tanpa modifikasi mesin. DAFTAR PUSTAKA 1. 5. selain itu mengingat ethanol/bio-ethanol mengandung 30% oksigen. sehingga dapat dipastikan bioethanol berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai HOG. Namun sekarang ini. Premium dan Pertamax. Perkembangan Pemanfaatan Bio-Ethanol sebagai Bahan Bakar Otomotif di Beberapa Negara. Kajian Lengkap Prospek Pemanfaatan Biodiesel Dan Bioethanol Pada Sektor Transportasi Di Indonesia.html 2. banyak pabrik mobil sudah mengembangkan mobil yang dapat berjalan dengan kandungan bio-ethanol lebih tinggi. diperkirakan kebutuhan HOG akan meningkat 10 kali lipat terhadap tahun 2003. Kelayakan Tekno Ekonomi Bio-Ethanol Sebagai Bahan Bakar Alternatif Terbarukan. khususnya pencegahan terhadap pemanasan global. 3. Presentasi dalam Seminar Sehari Mendukung Keberlanjutan Bahan Bakar Otomotif di Masa Depan dengan Gasohol.org/ethanol. 27 Januari 2005. 2005. 5 Untuk memproduksi bio-ethanol plant berkapasitas 60 kl/hari dengan harga ubi kayu Rp. 2005 http://www. Kamis. 73 .renewableenergypartners. Balai Besar Teknologi Pati-BPPT.Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak timbal dapat mensubtitusi Pertamax (RON 92) dan 84 kl/hari ethanol (15%) dicampur dengan premium tanpa timbal dapat mensubtitusi Pertamax plus (RON 95). Prawoto dan Bagus Anang Nugroho. juga akan dapat mengurangi ketergantungan kepada impor HOG serta menunjang program lingkungan. Bahkan Amerika Serikat dan Brazilia telah menggunakan ethanol 85% (E85) secara komersial sebagai bahan bakar kendaraan. 4. 250 per kg diperlukan biaya produksi sebesar Rp 3451 per liter Melihat kondisi ini selain bio-ethanol layak dikembangkan karena selain secara mikro ekonomi mampu berkompetisi bila harga minyak mentah diatas $55 per barel. BPPT. 3 Pencampuran Ethanol/bio-ethanol dengan premium dapat meningkatkan nilai oktan premium. 27 Januari 2005.

Prospek Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak 74 .