P. 1
Hepatitis Dalam Kehamilan

Hepatitis Dalam Kehamilan

|Views: 2,519|Likes:
Published by ratna_habibah

More info:

Published by: ratna_habibah on Feb 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2015

pdf

text

original

I. Sejarah

VHC pertama kali ditemukan pada tahun 1988. Merupakan DNA

virus yang bisa menimbulkan peradangan hati yang mengakibatkan

kerusakan hati sehingga berlanjut menjadi sirosis dan kanker hati primer

pada beberapa orang. VHC merupakan virus yang sangat tahan dan dapat

hidup diluar tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling sedikit

terdapat 6 genotipe yang berbeda dan lebih dari 90 subtipe VHC.

Frekuensi infeksi subtipe yang dominan adalah Ia daripada Ib (14)

II. Penularan dan Gejala Klinik

Masa inkubasi infeksi VHC adalah 2 minggu sampai 2 bulan dan

tidak semua penderita menunjukkan gejala klinis. Sekitar 80 % penderita

tidak menunjukkan gejala atau tanda klinis. Gejala klinis yang sering

adalah lemah, letih, lesu, kehilangan nafsu makan, nyeri perut, nyeri otot

dan sendi, mual dan muntah.

19

Ada 2 bentuk infeksi VHC yaitu (14)

1. Infeksi Akut

Sekitar 20 % penderita dapat mengadakan perlawanan terhadap

infeksi VHC dalam 6 bulan setelah tereksposure tapi tidak

menghasilkan imunitas untuk infeksi berikutnya.

2. Infeksi Kronis

Sekitar 80 % penderita berkembang menjadi kronis dimana virus

dapat tidur (dormant) selama bertahun-tahun. Sirosis terjadi karena

hati berusaha terus mengadakan perlawanan terhadap VHC

sehingga menimbulkan sikatrik (scar) pada hepar. Sehingga terjadi

gangguan fungsi hepar dan dapat berkembang menjadi kanker hati

(hepatocellulare carcinoma). Penyakit hepar kronis terjadi pada 70

% penderita yang terkena infeksi kronis. Sirosis hepar tejadi pada 20

% penderita yang mengalami infeksi kronis. Kematian akibat

penyakit hepar kronis terjadi < 3 % dari yang terinfeksi kronis(14)
.

Dibawah ini terdapat kurva serologik mengenai infeksi akut VHC

yang berlanjut menjadi kronik(14)

Pada wanita hamil terjadi peningkatan kadar alkali phosphatase

(ALT)3-4 x normal karena plasenta juga menghasilkan ALT. Kadar ALT

dapat juga meningkat jika terinfeksi VHC, adanya kerusakan hepar oleh

obat-obatan, batu empedu, muntah hebat, atau perlemakan hati.

Penularan VHC biasanya terjadi kalau darah cairan tubuh penderita

yang terinfeksi VHC seperti saliva, cairan seminal dan sekresi vagina

memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi. VHC 100 kali lebih infeksius

daripada HIV. Secara umum penularan dapat terjadi pada keadaan sbb(14)

1. Aktifitas seksual yang tidak aman baik vaginal, anal maupun oral

dengan penderita VHC positif. Walaupun VHC lebih infeksius dari

VHB dan HIV tetapi jarang ditularkan melalui kontak seksual kecuali

adanya kontak darah.

2. Melalaui kontak darah seperti jarum suntik, tranfusi darah, dsb.

3. Penularan dari ibu keanak baik selama kehamilan maupun saat

persalinan.

20

Janin mempunyai resiko ± 5 % terinfeksi dari ibu kejanin dan akan

meningkat sampai 36 % jika ibu juga terinfeksi HIV.

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk VHC, untuk itu tindakan

preventif sangat penting peranannya dalam mencegah infeksi VHC.

Tindakan preventif dalam pencegahan infeksi VHC adalah sbb(14,15)
:

y Melakukan aktifitas seksual yang aman

y Tidak menggunakan alat-alat yang bisa terkontaminasi virus seperti

jarum suntik, filter, syringe dsb.

y Tidak menggunakan alat-alat yang bisa terkontaminasi darah seperti

sikat gigi dan gunting kuku.

y Menggunakan pengaman ketika bekerja dan kontak dengan darah

penderita.

Ko-infeksi VHC dengan HIV

Istilah ko-infeksi ini digunakan jika sesorang terinfeksi VHC dan HIV

secara bersamaan. Sejak diketahui jalur penularan VHC dengan HIV yang

hampir sama, penemuan ko-infeksi VHC dan HIV menjadi lebih sering. Di

Eropa diperkirakan 33 % penderita HIV mengalami ko-infeksi dengan VHC.

Angka ini menjadi lebih besar lagi pada penderita hemophilia dan

pengguna obat-obatan injeksi. Sejak pertengahan tahun 90-an dengan

dikenalkannya HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy) sehingga

memperpanjang angka harapan hidup pada penderita HIV, infeksi VHC

pada penderita ini menjadi masalah kesehatan yang baru.Sejak tahun

1999 VHC telah dikenal sebagai virus yang menginfeksi penderita secara

oppurtunistik (oppurtunistic infection)(14,15)
.

Diagnosa dan penatalaksanaan yang cepat dapat mengurangi

resiko penularan perinatal ibu dan janin oleh kedua virus, mengurangi

progressifitas gangguan hepar, dan meningkatkan efektifitas pengobatan

anti HIV.

Pengaruh HIV terhadap infeksi VHC

Inefeksi HIV sering menyebabkan pemeriksaan antibodi untuk VHC

memberikan hasil yang negatif palsu terutama jika kadar CD4 nya rendah.

21

Resiko transmisi dari ibu ke janin yang menderita infeksi VHC meningkat

jika ibu terinfeksi HIV dan sebaliknya jika ibu menderita HIV positif

terinfeksi VHC. Beberapa studi menunjukkan peningkatan resiko transmisi

infeksi dari ibu kejanin sekitar 6-7 % hingga 15-36 %. Progressifitas HIV

dengan ko-infeksi VHC belum banyak diketahui. Tapi beberapa kasus

menunjukkan akselerasi perjalanan HIV terutama jika terinfeksi VHC

genotype 1, juga menurunkan toleransi terhadap terapi HIV.

Skreening dan Uji Diagnostik Serologik VHC(19)

Test yang hanya diakui pada saat ini oleh US. Food and Drug

Administration ( FDA ) untuk diagnosis infeksi VHC adalah pemeriksaan

antibodi terhadap VHC. Test ini mampu mendeteksi anti VHC pada lebih

97 % pasien yang terinfeksi VHC tapi tidak bisa membedakan infeksi akut,

kronik atau dalam perubahan akut ke kronik. Sebagai test penyaring, nilai

prediksi positif dari Enzym Immunoassay (EIA) untuk anti VHC sangat

berharga dan tergantung pada prevalensi infeksi pada suatu populasi dan

kurang berharga jika prevalensi infeksi kurang dari 10 %. Test penunjang

yang lebih spesifik seperti Recombinant Immunoblot Assay (RIBATM )

pada spesimen dengan EIA yang positif dapat mencegah adanya hasil

yang positif palsu terutama pada penderita yang asimptomatis. Hasil test

penunjang ini dilaporkan sebagai hasil yang positif, negatif atau tidak dapat

ditentukan. Seseorang dikatakan positif anti VHC bila test serologik EIA

positif dan test penunjang juga positif. Seseorang dengan EIA negatif atau

positif tapi hasil test penunjang menunjukkan hasil yang negatif, dikatakan

tidak terinfeksi VHC. Hasil test penunjang tidak dapat ditentukan bila

sesorang yang terinfeksi dalam proses serokonversi atau dengan hasil

yang positif palsu pada orang dengan resiko infeksi VHC yang rendah.

Deteksi RNA-VHC Secara Kualitatif(19)

Diagnosis infeksi VHC juga dapat dibuat secara kualitatif dengan

mendeteksi RNA-VHC menggunakan teknik gene amplification seperti

Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). RNA-VHC

bisa dideteksi dalam serum atau plasma dalam jangka waktu 1-2 minggu

setelah tereksposure VHC dan dalam beberapa minggu sebelum onset

22

peningkatan enzim Alanin Aminotransferase(ALT) atau sebelum anti VHC

terbentuk. Deteksi RNA-VHC merupakan bukti adanya infeksi VHC.

Walaupun kit RT-PCR assay hanya tersedia untuk tujuan penelitian

dengan reagen diagnostik dari pabrik yang bermacam-macam, tapi tak

satupun yang diakui oleh FDA. Walaupun tak diakui oleh FDA, RT-PCR

assay untuk RNA-VHC telah digunakan secara luas dalam berbagai

praktek klinik. Sebagian besar test RT-PCR assay mampu mendeteksi

virus dalam batas jumlah yang lebih rendah yaitu 100-1000 viral genomes

copies/ml. Dengan test RT-PCR assay, 75-85 % orang yang anti VHC-nya

positif dan lebih 95 % orang dengan hepatitis C akut atau kronik akan

menunjukkan hasil test RNA-VHCV yang positif. Untuk mengurangi hasil

yang positif palsu, serum harus dipisahkan dari komponen selulernya

dalam waktu 2-4 jam setelah sampel dikumpulkan dan akan lebih baik jika

sampel disimpan secara beku dengan suhu -200

C atau -700

C. Apabila

pengiriman sampel dibutuhkan, sampel yang beku harus dilindungi dari

proses pencairan.(19)

Deteksi RNA-VHC Secara Kuantitatif(19)

Test kuantitatif untuk mengukur konsentrasi (titer) RNA-VHC telah

dikembangkan dan tersedia pada berbagai laboratorium komersial,

termasuk RT-PCR assay kuantitatif ( Amplicor HCV Monitor TM, Roche

Moleculer Systems, Branchberg, New Jersey ) dan Branched DNA Signal

Amplification assay seperti (Quantriplex TM HCV RNA assay / bDNA,

Chiron Corp, Emeryville,California). Test ini juga tidak diakui oleh FDA.

Test kuantitatif ini kurang sensitif jika dibandingkan dengan dengan RT-

PCR assay kualitatif yaitu dengan batas jumlah virus yang dapat terdeteksi

500 viral genomes copies/ml pada Amplicor HCV Monitor TM dan 200.000

genomes equivalens/ml pada Quantriplex TM HCV RNA assay. Masing-

masing alat ini mempunyai nilai standar tersendiri. Sampel yang telah

diambil dipisahkan dari komponen selulernya sehingga didapatkan serum

atau plasma yang bisa disimpan secara beku atau ditest dengan kits RT-

PCR assay kuantitatif. Hasil yang didapat dinyatakan dalam satuan viral

genomes copies/ml. Test ini tidak direkomendasikan sebagai test primer

untuk konfirmasi atau untuk menyingkirkan diagnosis infeksi VHC atau

23

untuk memonitor keadaan terakhir pengobatan. Diketahui pada penderita

hepatitis C kronik mempunyai sirkulasi virus dalam tubuhnya dengan kadar

105-107 genomes copies/ml.

Test konsentrasi (titer) RNA-VHC sangat membantu dalam memprediksi

respon terhadap terapi antivirus yang diberikan walaupun kurang

bermamfaat dalam penatalaksanaan hepatitis C(19)
.

Dibawah ini terdapat allogaritma test diagnostik infeksi VHC yang

asimptomatis.

Gambar 2 Skema allogaritma test diagnostik infeksi VHC yang asimptomatik

(dikutip dari rekomendasi pencegahan dan pengendalian infeksi VHC

oleh CDC)(19)

24

III. Pengaruh Terhadap Kehamilan dan Bayi(5,14,15)

Transmisi perinatal VHC pada prinsipnya terjadi pada wanita yang

mempunyai titer RNA-VHC yang tinggi atau adanya ko-infeksi dengan HIV.

Oleh karena belum ada imunoprofilaksis untuk VHC, maka tidak ada

vaksinasi atau imunoglobulin yang dapat diberikan pada bayi baru lahir

untuk mencegah penularan infeksi VHC. Sampai saat ini belum ada

penelitian yang mendukung VHC dapat ditularkan melalui ASI.

Sebagian besar wanita hamil pada usia 20-40 tahun dimana

insidens infeksi virus hepatitis C meningkat sangat cepat. Seorang wanita

dengan faktor resiko terhadap infeksi VHC sebaiknya diskreening untuk

VHC sebelum dan selama kehamilan. Resiko wanita hamil menularkan

VHC kepada bayi baru lahirnya telah dihubungkan dengan level kuantitatif

RNA dalam darahnya dan juga ko-infeksi dengan HIV. Pemeriksaan

kuantitatif RNA-VHC merupakan pemeriksaan untuk mengukur titer VHC

dalam darah yang berhubungan dengan tingkat replikasi virus. Level RNA-

VHC dalam darah juga digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan

terapi antivirus yang diberikan. Resiko transmisi rendah (0-18 %) jika

ibunya HIV negatif dan tidak ada riwayat penggunaan obat suntik atau

transfusi darah. Transmisi Virus kepada janin sangat tinggi pada wanita

dengan titer cRNA hepatitis lebih besar dari 1 juta kopi/ml, dan wanita

tanpa titer cRNA yang dapat terdeteksi tidak menularkan virus pada

janinnya. Belum ada tindakan preventif saat ini yang dapat mempengaruhi

rata-rata transmisi VHC dari ibu kejaninnya.

IV. Terapi

Terdapat 2 jenis obat-obatan dalam menterapi hepatitis C kronik

yaitu Pegylated Interferon (IFN) dan Ribavirin yang dapat membebaskan

penderita dari virus sampai 40 % pada genotipe 1 dan hingga 80 % pada

genotip 2 dan 3. Genotipe virus menunjukkan perbedaan dalam infeksi

VHC. Efektifitas pengobatan sangat tergantung pada jenis genotipe VHC

yang menginfeksinya(14)
.

Pada wanita usia reproduksi yang mendapatkan terapi hepatitis C

harus menyepakati untuk tidak hamil selama pengobatan dan 6 bulan

sesudahnya dengan menggunakan konrasepsi yang efektif, karena terapi

25

Ribavirin bersifat teratogenik yang bisa menimbulkan defek pada janin saat

lahir dan abortus spontan(14,15)

Wanita yang mendapat terapi kombinasi

seharusnya tidak menyusui karena sangat potensial menimbulkan efek

samping obat terhadap bayi(14,15)
.

Penatalaksanaan penderita dengan HIV dan ko-infeksi oleh VHC

sangat komplek. Sangat perlu mempertimbangkan keuntungan dan resiko

terapi hepatitis C terhadap HIV. Mengenai pemilihan yang mana lebih

dahulu diterapi sangat bergantung pada beberapa faktor, tapi indikator

yang paling sering dipakai adalah kadar CD4 dan tingkat kerusakan hepar.

Kadart CD4 yang tinggi (>500) menunjukkan gangguan sistem imun yang

masih ringan sehingga merupakan indikator untuk mendahulukan terapi

hepatitis C,dan jika hasil biopsi menunjukkan gangguan yang berat, perlu

penatalaksanaan yang cepat. Penderita dengan kadar CD4 yang rendah

menunjukkan gangguan fungsi imun yang cukup berat sehingga terapi

hepatitis C-nya harus diundur dulu. Perlu terapi HIV dulu untuk

meningkatkan sistem imun sehingga dapat mencegah infeksi yang

oppurtunistik. Terapi HIV dengan HAART sering menimbulkan gangguan

akut pada hepar karena bersifat hepatotoksik.(14,15)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->