P. 1
cerita seks

cerita seks

|Views: 10,965|Likes:

More info:

Published by: Supermen Ngemut Permen on Feb 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2015

pdf

text

original

cerita seks, pada episode kali ini cerita seks bertopik tentang swinger dengan sahabat.

Silahkan anda membaca cerita seks kali ini dan semoga anda menikmatinya. Mau coba ngepost pengalamanku ya…tapi karena yang kutulis ini kisah nyata, nama-nama yang terlibat akan diganti semua. Mulanya aku iseng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurekam dengan video hpku. Dia nggak nyadar sama sekali kalau aku sedang merekamnya terutama waktu dia telanjang bulat. Beberapa hari kemudian, entah kenapa aku punya semangat aneh, ingin memperlihatkan rekaman di hpku itu kepada Benny, sahabat dekatku. “Lihat nih, bini aku sexy kan?” kataku bangga. Benny melotot dan berdecak kagum, “Ck..ck…sexy sekali ya?” “Yayuk (nama istri Benny) pernah direkam gini?” tanyaku tetap dengan nada bangga. “Belum,” Benny menggeleng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sekalian direkam diam-diam.” “Sip! Nanti lihatin ke aku ya,” kataku bersemangat, “sekalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil direkam juga.” “Terus besok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin ke aku, punya aku lihatin ke kamu,” usul Benny yang langsung kusetujui. Malamnya, aku benar-benar ML dengan Lina, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku merekamnya di hpku yang sudah kuatur letaknya sebelum mengajaknya ML. Besoknya, aku dan sahabatku menepati janji. Kuserahkan hpku untuk ditonton oleh Benny, sementara aku menikmati hasil rekaman sahabatku itu. Kami sama-sama terangsang oleh tontonan yang sangat pribadi sifatnya itu. Bahkan Benny sempat terlongong setelah mengembalikan hpku, seperti ada yang dipikirkan olehnya. “Jan…kalau kita swinger gimana? Jujur, aku belum pernah merasakan swinger,” kata Benny tiba-tiba. Aku terkejut. Tak pernah kupikir sebelumnya akan melakukan seperti yang Benny usulkan itu. “Kamu jangan tersinggung, Jan,” Benny menepuk bahuku, “Ini cuma usul…kalau kamu nggak keberatan, aku juga gak maksa. Yang jelas, kamu bisa nyobain Yayuk, aku nyobain Lina. Adil kan?” Aku terbengong-bengong. Terus terang, usul Benny mengejutkan sekaligus membuatku bergairah. Kubayangkan istriku sedang disetubuhi oleh sahabatku itu, sementara aku menyetubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja penisku sudah ngacung, apalagi kalau benarbenar dilaksanakan. Maka setelah berpikir agak lama, kujawab, “Usul edan tapi menggiurkan. Cuman…gimana cara meyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. Istrimu sendiri gimana?” “Soal istriku, serahkan padaku. Kamu urus Lina saja, atur supaya mau,” kata Benny. “Lina sangat konservatif, kamu juga tahu itu kan?” “Lina yang konservatif apa kamu sendiri yang tidak mau swinger?” Benny menepuk bahuku sambil menertawakanku. “Aku mau…mau…tapi bagaimana cara meyakinkan Lina ya?” “Begini aja,” kata Benny di tengah kebingunganku, “kita jebak mereka ke dalam situasi yang mau tidak mau harus mereka terima.” “Maksudmu?” “Aku kan punya villa keluarga di Cipanas. Kita ajak mereka week end di sana.” “Yayaya…jebakannya di sebelah mananya?” “Kita bawa Martini atau Tequila…minum rame2, kita pada minum di sana. Setelah mereka rada kleyengan, kita matiin lampu sampai gelap sekali. Saat itu aku akan menelanjangi istriku, kamu juga telanjangi istrimu. Lalu kita bikin foreplay dengan istri kita masing-masing. Nah…lalu diem-diem kita tukar tempat. Kamu terkam istriku, aku terkam istrimu. Deal?”

“Hahahaaa! Deal! Deal!” seruku gembira dengan usul sahabatku, meski sebenarnya ada tandatanya di hatiku : Benarkah mentalku sudah siap untuk membiarkan istriku disetubuhi orang lain? Tapi… bukankah aku juga akan menggauli istri Benny? Bukankah ini sangat adil bagi kami? Lalu kami tentukan harinya. Hari yang akan sangat bersejarah itu.Setelah aku berpisah dengan Benny, aku pulang dengan 1001 khayalan di benakku. Membayangkan istriku yang manis dan bertubuh mulus itu akan digeluti oleh Benny, sementara aku akan menggeluti Yayuk, istri Benny. Aneh, baru membayangkannya saja aku jadi sangat terangsang. Apalagi pada waktu mengalaminya nanti.Lina sudah 4 tahun jadi istriku. Pada saat kisah ini terjadi Lina sudah berusia 26 tahun, sedangkan aku sendiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai seorang putra yang baru berumur 2 tahun. Ibu mertuaku sangat sayang pada Bernard, nama anakku, jauh melebihi ketelatenan babysitter yang bekerja di rumahku sejak anakku berusia setahun. Karena itu tiada masalah kalau aku dan Lina bepergian, karena di rumahku ada babysitter dan ibu mertuaku.Maka dengan wajah cerah Lina menyetujui ajakanku untuk berakhir pekan di Cipanas. “Benny punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”Iya,” aku mengangguk, “villa punya orang tuanya.””Benny dan Yayuk juga ikut nanti?””Ya iyalah. Kalau mereka gak ikut, ya gak enak dong kita pake villa orang tanpa pemiliknya. Kecuali kalau kita sewa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang telah ditentukan, Benny dan Yayuk menyampar ke rumahku dengan Honda Citynya. Aku pun secepatnya memanaskan mesin Toyota Viosku.Tak lama kemudian, aku sudah menggerakkan mobilku, bersama Lina di sisiku, mengikuti mobil Benny dan Yayuk. Seperti yang sudah diatur semula, aku membekal Tequila, yang katanya bisa membuat wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Benny setelah berada di villa nanti.Lina tidak tahu bahwa ketika aku menyetir mobil menuju Cipanas, jantungku berdegup-degup terus, karena membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam lagi. Membayangkan sesuatu yang belum pernah kualami dan akan menimbulkan kesan mendalam dalam kehidupan dan hasrat birahiku.Sesampainya di depan villa, jantungku makin berdebar-debar. Tapi aku mencoba menekannya dengan menyapukan pandangan ke sekitar villa, yang memang indah pemandangannya. Diam-diam kuperhatikan Benny. Ternyata sama denganku, senyumnya tampak canggung. Lalu kami masuk ke dalam villa.Lina dan Yayuk bersih-bersih dulu di dalam villa, aku dan Benny keluar lagi, lalu berjalan-jalan agak menjauh dari villa. Dan ngobrol dengan suara setengah berbisik: “Kamu nafsu gak liat Yayuk?” tanyanya. “Kamu sendiri gimana? Nafsu gak liat Lina?” aku balik bertanya. “Ya iyalah, makanya aku yang usul pertama, karena tergiur sekali waktu melihat dia bugil di hpmu itu.” “Sama,” kataku sambil tersenyum canggung, “aku juga jadi nafsu melihat bentuk istrimu yang seksi…” Darahku tersirap mendengar pujian itu. Tapi terasa makin membuatku penasaran, ingin segera tau apa yang akan terjadi nanti. Kami berunding diam-diam, tentang apa yang akan kami lakukan nanti. Setelah matang rencananya, kami kembali ke villa. Di dalam villa, sudut pandangku mencuri-curi pandang terus ke arah Yayuk, yang nanti akan kugauli. Kurasa Yayuk dan Lina punya keistimewaaan masing-masing. Kulit Lina kuning mirip kulit wanita Jepang, sementara Yayuk berkulit sawomatang. Lina tergolong berwajah cantik, sementara Yayuk bisa kunilai hitam manis. Tubuh Yayuk sedikit lebih tinggi daripada Lina, kutaksir sekitar 170cm gitu, sementara Lina 168cm. Yang menarik dari hasil curi-curi pandang ini adalah, toket Yayuk itu…aku yakin besar sekali…mungkin behanya berukuran 38 ke atas.

Sedangkan toket Lina biasa-biasa saja, behanya pun cuma 34. Menjelang senja, kami makan malam dulu di restoran yang paling dekat dengan villa keluarga Benny. Pada saat itulah kulihat Lina dan Yayuk seakan bersaing dalam berpakaian. Mereka seolah ingin tampil seseksi mungkin. Padahal aku tak menganjurkan apa-apa kepada istriku. Dan kulihat mata Benny sering memperhatikan istriku. Sialan…sebentar lagi dia akan menikmati kemulusan dan kepadatan tubuh istriku. Tapi pikiran ini justru diam-diam membuat penisku hidup, mengeras dan mengeras terus. Terlebih-lebih setelah membayangkan bahwa untuk pertama kalinya aku akan menikmati kesintalan tubuh Yayuk yang hitam manis itu. Selesai makan, hari mulai malam. Kami pun kembali ke villa. Seperti yang telah direncanakan, kami minum tequila di sofa ruang depan. Cukup banyak kami membekal minuman itu, karena aku membeli dua botol, ternyata Benny pun membekal tiga botol. Untungnya Lina dan Yayuk tidak menolak waktu ditawari minum, dengan alasan untuk mengusir hawa dingin. Baru menghabiskan dua sloki, wajah Lina mulai merah. Sikapnya padaku mulai romantis. Yayuk pun sama, ia mulai memeluk pinggang Benny dengan sorot mata berharap. Lalu kata Benny, “Kita bikin pesta di dalam kamar yuk…sama-sama main…come on honey,” Benny meraih lengan istrinya sambil melirik padaku, “ayo Jan…kamarnya cuma satu, kita pake rame2 yok.” Kuraih juga lengan Lina yang tampak mulai agak teler. Lalu kami ikuti langkah Benny ke dalam kamar yang agak besar, dengan dua bed berdampingan. Sesampainya di kamar, Benny langsung menerkam dan menghimpit istrinya. Adegan itu tidak bisa lama-lama kulihat, karena setelah aku dan istriku naik ke atas bed yang masih kosong, Benny memijat knop sakelar yang letaknya tak jauh dari bantalnya. Kamar itu langsung gelap gulita. Dan terdengar suara Benny, “Biar kita sama-sama asyik dengan istri kita masing-masing, Jan.” Aku cuma menjawab dengan ketawa kecil. Tapi dalam gelap aku mulai menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat, lalu membisiki telinga istriku, “Ayo dong buka pakaianmu semua.” Lina tidak buang-buang waktu. Ia tahu persis apa yang kuinginkan dalam saat-saat seperti itu. Dalam kegelapan kamar villa, Lina mulai menelanjangi dirinya. Sementara kudengar desah napas Yayuk yang mulai tersengal-sengal, entah apa yang sudah terjadi di bed yang satu lagi itu. Mungkin Benny sedang menjilati puting payudara atau vagina istrinya, entahlah…yang jelas aku pun mulai menggumuli istriku dalam kegelapan. Terdengar suara Yayuk, “Oooh…Bang Benny…oooh….iya Bang… begituin….oooh…masukin aja Bang…aku gak tahan lagi nih… ooohhh…” Terangsang oleh suara istri sahabatku itu, aku pun mulai menjilati puting payudara Lina. Tapi tak lama kemudian terasa tanganku dipegang oleh tangan kasar. Tangan Benny. Aku mengerti maksudnya, bahwa aku harus segera pindah ke bed yang satunya lagi, sementara Benny akan pindah ke bedku. Inilah saat-saat yang paling mendebarkan. Aku bergerak ke arah bed di sebelah, lalu mulai menjamah tubuh Yayuk. Mudah-mudahan saja Yayuk tidak sadar bahwa sekarang bukan lagi suaminya yang akan menikmati kesintalan tubuhnya. Mudah-mudahan pula Lina tidak menyadari bahwa posisiku sudah diganti oleh Benny. Wow, aku mulai menikmati hangatnya pelukan Yayuk. Tampaknya dia belum sadar bahwa posisi suaminya sudah diganti olehku.”Masukin aja Bang, sudah gak tahan nih…horny banget,” bisik Yayuk yang sudah berada di bawah himpitanku. Bicara begitu, terasa tangan Yayuk mulai memegang batang kemaluanku yang

memang sudah keras. Apakah mau main langsung-langsungan saja? Kurasa untuk yang pertama kalinya memang harus begitu. Jangan banyak variasi dulu. Nanti kalau Yayuk dan Lina sudah menyadari hal ini, barulah pakai foreplay sebanyak mungkin. Maka tanpa banyak pikir-pikir lagi, kubiarkan Yayuk meletakkan ujung penisku di ambang vaginanya. Kemudian kudorong sedikit demi sedikit, persis pada saat kudengar suara Lina, “Mas…cepetan dong masukin…duuuhh…kenapa jadi horny gini? Gara-gara minuman tadi kali ya…naaahhh…..iiih…kok punya Mas terasa jadi agak gede? Diapain?” Gila…itu berarti penis Benny sudah dimasukin ke dalam liang kemaluan istriku! Tapi…bukankah penisku juga sudah mulai melesak ke dalam liang senggama Yayuk? Bukan cuma melesak, tapi sudah mulai kuayun dengan mantapnya, karena liang senggama Yayuk sudah banyak lendirnya (mungkin “hasil” rangsangan Benny tadi). Penisku sudah maju mundur dalam jepitan liang surgawi Yayuk yang terasa begini legitnya, mungkin karena dia belum melahirkan anak. Liang vaginanya terasa sangat mencengkram dan hangat. Desah nafasnya pun makin nyata diiringi rintihan-rintihan nikmatnya, “Ooohh Bang…oooh…bang…oooh…kok enak sekali ini bang…..oooh…” sementara kedua lengannya mendekap pinggangku kuat-kuat. Ini membuatku makin bernafsu. Lalu…seperti yang sudah direncanakan, diam-diam Benny memijat sakelar lampu dan….tiba-tiba kamar itu jadi terang benderang. Ini sesuai dengan kesepakatan aku dan Benny. Bahwa dalam keadaan sudah “telanjur” (penisku sudah main di dalam liang vagina Yayuk dan penis Benny sudah maju mundur di dalam liang vagina istriku), baik Yayuk mau pun istriku takkan bisa menghindar lagi dari kenyataan yang sudah direncanakan oleh Benny denganku itu. Setelah kamar villa terang benderang, tentu saja Yayuk dan istriku terkejut setelah menyadari dengan siapa mereka sedang bersetubuh. “Bang Benny?!” seru istriku di bed sebelah. “Mas Janus?!” seru Yayuk yang sedang kusetubuhi dengan gencarnya. Lalu terdengar Benny tertawa, “Hahahaaa….kita lanjutkan saja… sudah telanjur kan?” “Jadi semuanya ini sudah direncanakan?” tanya Yayuk yang tampak berusaha mengendalikan kekagetannya. “Iya…ini adil kan?” bisikku sambil meremas buah dadanya yang benar-benar montok itu. “Aaahhh…” cuma itu yang terlontar dari mulut Yayuk, kemudian dia mendekap lagi pinggangku dan mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan yang trampil, seperti membentuk angka 8. Kulirik Lina seperti bingung. Ia menoleh padaku, seakan bertanya kenapa jadi seperti ini? Lalu kutanggapi dengan senyum…dan celotehku, “Enjoy saja….” Mungkin Lina geram melihatku sedang bersetubuh dengan Yayuk, lalu ia “balas dendam” dengan mencengkram bahu Benny dan mulai menggoyang pinggulnya. Gila…cemburu juga aku dibuatnya. Seingatku, tak pernah Lina menggoyang pinggulnya seedan itu waktu kusetubuhi. Tapi kecemburuanku ini berbuah nafsu dan gairah yang luar biasa. Enjotan penisku di dalam liang surgawi Yayuk terasa nikmat luar biasa! Maka semakin edan pula kuhentak-hentak penisku, seperti meronta-ronta dalam jepitan memek Yayuk…oh…ini nikmat sekali! Suasana menjadi semakin erotis dan misterius. Yayuk meladeni enjotan penisku dengan energik, pinggulnya meliuk-liuk laksana penari India. Tapi aku tak tahu apa yang bersemayam di benaknya. Ketika aku melirik ke samping, goyang pinggul Lina pun tak kalah edannya. Seolah ingin bersaing dengan dinamisnya goyang pinggul

Yayuk. Ada perasaan geram dan cemburu di hatiku melihat ulah istriku seperti itu. Tapi bukankah aku sendiri sedang menikmati kehangatan tubuh istri sahabatku? Di tengah persenggamaan yang seru ini aku sempat berbisik terengah di telinga Yayuk, “Gimana? Enak?” “Enak sekali….aaah….” sahut Yayuk dalam bisikan juga, mungkin takut terdengar oleh suaminya. “Nanti lepasin di dalam apa di luar?” bisikku lagi. “Terserah, aku kan belum punya anak…siapa tahu bisa punya darimu,” bisik Yayuk pelan sekali, pasti takkan terdengar oleh suaminya yang semakin asyik menyetubuhi istriku. Bisikan Yayuk itu membuatku semakin bergairah mengayun batang kemaluanku. Tapi sekaligus membuatku tak bisa bertahan lagi, “Aku sudah mau keluar”, bisikku. “Tahan dulu,” sahut Yayuk, “aku juga sudah mau keluar Mas… barengin keluarnya ya…biar enak…” Lalu kami seperti dua ekor binatang buas, saling cengkram, saling remas, saling jambak…dan akhirnya tak tertahankan lagi, bersemburanlah air mani dari batang kemaluanku, disambut dengan kedutan-kedutan liang kemaluan Yayuk di puncak orgasmenya. Kami menggelepar…menggeliat…berkejut-kejut…lalu sama-sama terkulai di puncak kepuasan. Tapi kulihat Benny masih asyik mengenjot batang kemaluannya di dalam liang kemaluan istriku. Bahkan di satu saat, mereka mengubah posisi. Lina di atas, Benny di bawah. Oh…ini benar-benar membuatku cemburu. Karena kulihat istriku yang aktif mengayun pinggulnya, sementara Benny merem melek sambil terlentang… Kucabut batang kemaluanku dari dalam vagina Yayuk yang sudah basah kuyup oleh spermaku dan lendir Yayuk sendiri. Lalu aku duduk bersila sambil menonton persetubuhan Benny dengan istriku. Aku terlongong menyaksikan betapa aktifnya Lina saat itu. Dengan sedikit berjongkok, ia mengayun pinggulnya sedemikian rupa, sehingga liang kemaluannya seolah membesot-besot batang kemaluan Benny. Yayuk pun menonton persetubuhan antara suaminya dengan istriku itu. Dan tampaknya Yayuk seperti kepanasan. Diam-diam ia menggenggam batang kemaluanku yang sudah mulai membesar, karena terangsang menyaksikan istriku sedang gila-gilanya bersetubuh dengan sahabatku. Tiba-tiba Yayuk mendekatkan wajahnya ke pahaku yang sedang bersila ini, ah…tangannya memegang batang kemaluanku sambil menjilatinya. Sungguh semuanya ini mendebarkan dadaku…terlebih setelah Yayuk menghisap-hisap penisku, di depan mata suaminya yang sedang menyetubuhi istriku! Hanya dalam tmpo singkat penisku sudah mengeras kembali. Dengan sigap Yayuk mendorong dadaku agar terlentang, lalu dengan berjongkok ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang surgawinya. Mungkin ia iri melihat suaminya sedang dipuasi oleh istriku dalam posisi terbalik begitu, lalu ia ingin melakukan hal yang sama. Blesss….penisku mulai membenam ke dalam liang memek Yayuk… Yayuk mulai memainkan pinggulnya dengan energik sekali, naik turun dan bergoyang meliuk-liuk…ooh…penisku terasa dibesot-besot dan diremas-remas. Bukan main nikmatnya, membuat nafasku tertahan-tahan sambil mulai meremas-remas payudara montok yang bergelantungan di atas dadaku…dan di bed yang satu lagi, kulihat istriku lebih energik lagi, mengenjot pinggulnya sambil berciuman dengan Benny. Ih…aku cemburu…tapi kecemburuanku ini jstru membangkitkan rangsangan dahsyat di jiwaku. Sulit menggambarkan keadaan yang sebenarnya saat itu, karena aku juga sudah dipengaruhi alkohol, dari tequila yang kami minum tadi.

Yang jelas, sepulangnya dari villa itu, Lina terus-terusan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang-sedang saja, karena ingin sambil berbincang dengan istriku. “Bagaimana kesanmu, Lin?” tanyaku di satu saat. “Gak tau ah…” Lina menggeleng, tapi kulihat ada senyum di bibirnya. “Suka kan? Bilang aja terus terang. Semuanya ini kan demi kenikmatan kita bersama.” “Mas sendiri, suka kan bisa menggauli Yayuk?” “Hmm…terus terang, aku lebih suka melihatmu sedang digauli oleh Benny. Ada perasaan cemburu, tapi cemburu itulah yang membuatku jadi sangat terangsang.” Lina terdiam. Lalu kataku, “Makanya satu saat nanti bisa aja kita undang Benny tanpa istrinya.Atau bisa juga orang lain…biar aku bisa melihatmu digauli lelaki lain yang akan menimbulkan rangsangan hebat bagiku.” Lina menatapku dengan ekspresi aneh. Lalu tanyanya, “Emang Mas gak tersiksa kalau aku digauli orang? Buatku, semuanya ini aneh…” “Memang aneh,” sahutku sambil tersenyum, “tapi kamu suka kan?” Dia tak menjawab. Matanya lurus memandang ke depan. “Bilang aja terus terang, kamu suka kan? Seharusnya semua itu jadi pengalaman fantastis buat kita. Bener kan?” “Iya sih…tapi aku takut akibatnya di kemudian hari…” “Misalnya?” “Ya…misalnya Benny…sudah telanjur merasakan tubuhku. Bagaimana kalau nanti ketagihan?” “Kasih aja. Asal di depan mataku, jangan sembunyi-sembunyi.” Lina menatapku dengan sorot aneh, “Mas gak sakit hati melihatku digauli sama Benny?” “Gak,” aku menggeleng, “kan semuanya yang sudah terjadi tadi sudah kurundingkan dengan Benny beberapa hari yang lalu.” “Jadi semuanya itu benar-benar sudah direncanakan sama Bang Benny?” “Ya. Memang tadinya usul itu datang dari dia. Dan aku sangat tertarik pada usulnya itu. Bukan karena tertarik pada Yayuk, tapi justru ingin menyaksikan kamu di gauli orang lain. Kebetulan aku tahu persis siapa Benny. Dia bersih, tak pernah jajan dan sebagainya.” “Terus…nantinya kita akan begitu lagi, maksudku…ngajak Benny dan Yayuk lagi?” “Semuanya kuserahkan padamu. Karena dalam hal ini kamulah yang harus memutuskan. Dan gak usah di villa itu saja. Bisa juga kita pilih hotel di dalam kota. Dan gak usah di hari libur saja. Kapan saja kita mau, ya kita lakukan.” “Ntar kalau aku ketagihan gimana?” tanya Lina malu-malu. Rupanya kejadian di villa itu membuatnya terkesan dan ada kemungkinan ketagihan. Ini mendebarkan. Seandainya dia benarbenar ketagihan, apakah mentalku sudah siap? Ah, sudah kepalangan basah, aku mau jalan terus…karena aku merasakan beberapa hal positif di balik langkah “baru” ini! Di hari-hari berikutnya, aneh…tiap kali aku membayangkan kejadian di villa itu, membayangkan istriku sedang disetubuhi oleh Benny, nafsuku mendadak bangkit. Lalu kuajak istriku bersetubuh. Anehnya lagi, tiap kali aku bersetubuh dengan istriku, aku jadi powerfull dan energik sekali. Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?” “Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Benny, hasratku bangkit dengan hebatnya.” “Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yayuk?”

“Nggak,” aku menggeleng, “sungguh. Untuk membuktikannya, nanti kita ajak Benny saja, tanpa kehadiran Yayuk. Biar kamu percaya, titik syurnya justru waktu menyaksikan kamu digauli Benny.” “Nggak ah. Nggak enak sama Yayuk dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.” “Aku gak butuh Yayuk, aku butuh Benny.” Lina menatapku dengan sorot penuh selidik. Lalu tertunduk, seperti sedang berpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang selain Benny, kamu mau?” Lina menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.” “Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku. “Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung. “Bener.” “Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Troy gimana?” Aku terkejut. Dia memilih adik kandungku! Tapi apa salahnya? “Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku. “Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.” Aku setuju. Troy adalah satu-satunya adik kandungku. Dia masih tergolong abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru semester pertama. Usianya memang jauh beda denganku. Saat istriku mengajukan namanya, usia Troy baru 18 tahun. “Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Troy. Lina cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu. “Hallo, Mas?” terdengar suara Troy di hpku. “Gimana sehat Troy?” “Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?” “Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.” “Siap Boss!” Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss. “Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku. “Secepat itu?” istriku tercengang. “Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.” “Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Troy begituan?” “Mmm…gimana ya? Mungkin juga Troy gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.” “Terus?” “Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Troy…!” “Ah…Mas ada aja akalnya….” Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor. Tidak sampai sejam, semuanya beres. Kameranya kusembunyikan di dalam lemari, lalu ada lubang kecil yang langsung mengarah ke tempat tidur. Soundnya kupasang terpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk memantaunya aku pakai headphone di gudang. Ketika bunyi motor Troy terdengar memasuki pekarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, menghadapi monitor. Lalu terdengar suara istriku menyambutnya. Pada saat yang sama, hpku yang disilent berkedip-kedip. Ada sms masuk. Aku agak kaget, karena sms itu datang dari Yayuk, bunyinya: Mas Janus…aku kok jadi kangen gini

sih? Kapan kita ketemuan tanpa mereka? Aku pengin nyantai Mas. Kebetulan Bang Benny besok mau ke Medan. Mas datang ya ke rumahku besok malam. Jangan takut sama Bang Benny. Aku sudah dapat izin kapan saja ketemu sama Mas Janus boleh. Izinnya cuma dengan Mas Janus, dengan orang lain tidak boleh. Aku tersenyum sendiri membaca sms itu, lalu kubalas dengan sedikit gombal : Aku juga kangen sama Yayuk…tapi besok aku harus lihatlihat dulu apakah besok ada kegiatan atau tidak. Aku siap kok….waktu di villa terasa sekali Yayuk itu…hmmm…pokoknya nikmat sekali…! Yayuk membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Benny di Medan, Mas harus datang ke rumahku. Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang! Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Troy masih ngobrol dengan istriku di ruang depan. Tak lama kemudian kulihat di monitor sudah ada “kehidupan”. Troy masuk ke dalam kamarku bersama istriku. Cepat kupasangkan headphone di telingaku. Dan terdengar suara mereka: “Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Troy. Makanya enak di kamar mandi yang ini.” “Iya Mbak. Ohya, Mas Janus kapan pulangnya?” “Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.” “Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.” “Iya. Perlu ditemenin nggak?” Troy tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.” “Lho…aku nggak main-main kok…” “Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Janus.” “Nggak lah….nyante aja lagi…” Troy tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku. Pada saat yang sama, datang lagi sms dari Yayuk: Bang Benny sudah berangkat Mas. Ke rumahku dong sekarang…lagi horny…pengen sama Mas Janus…abisnya terkesan sih sama Mas… Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Benny? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu? Yayuk memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yayuk: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana? Yayuk membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti. Sejenak kulupakan dulu Yayuk yang setengah memaksaku datang ke rumahnya, karena kulihat di monitor Troy sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, sementara Lina sedang duduk di depan meja rias.

Lalu: “Troy…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Lina sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya. “Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…” “Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!” “Iya, iya Mbak,” sahut Troy sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Troy. Memang benar dugaanku…waktu Troy menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Troy sambil menatapnya: “Troy…” “Ya Mbak…?” Troy tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku. “Kamu pernah begituan sama cewek?” “Ma…maksud Mbak?” “Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Troy, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak? Hihihihi… panjang gede penismu Troy…Mas Janus kalah sama kamu…sudah keras lagi…” “Mbak…ohhh…mbak….” Troy tampak gelagapan. Lina bangkit dari kursi di depan meja rias. Lalu melangkah ke pintu, menutup dan sekaligus menguncinya. Lalu balik lagi menghampiri Troy yang berdiri kebingungan, masih dengan handuk melilit di badannya. Lina melingkarkan lengannya di leher Troy. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?” “Pernah…” sahut Troy hampir tak terdengar. Lina tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Troy…kamu mau kan? Mumpung Mas Janus gak ada…” Lina mengakhiri ajakannya dengan menarik handuk yang melilit di pinggang Troy. Ini membuat Troy langsung telanjang bulat. Dan kulihat batang kemaluannya sudah ngaceng dengan mantapnya. Aku iri juga melihat batang kemaluan Troy, yang ternyata lebih panjang dan lebih besar daripada punyaku. Baru sekali ini aku melihat bentuk batang kemaluan adikku setelah usianya hampir dewasa begitu. “Mbak…” Troy tampak kebingungan, karena Lina sudah memegang zakarnya sambil mendorong dadanya sehingga terlentang di atas tempat tidurku. Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku! “Iiih…punyamu kok panjang dan gede gini, Troy…sudah keras sekali lagi…Mas Janus kalah nih sama punya kamu…” Lina mulai menciumi penis adikku, membuatku semakin degdegan. Terlebih ketika ia mulai melepas beha dan celana dalamnya, yang membuat Troy melotot. Aku juga melotot tegang. Penisku sudah ereksi sejak tadi, serasa mau ngecrot saja. Tapi kucoba menenangkan diri dengan menyalakan rokok dan mengikuti adegan selanjutnya. Setelah telanjang bulat, istriku menelentang di sisi Troy sambil bergumam, suaranya tidak begitu jelas. Troy mengangguk, lalu bergerak menindih dada istriku. Kusangka Troy mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Troy… lalu kepala Troy menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok. Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Troy semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Troy…sekarang… masukin aja Troy… masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi

besar itu….” Tapi Troy seperti keasyikan, terus2an menjilati kemaluan istriku. Sampai istriku merintih lagi, “Troy…aaaah…aku mau orga nih… Troooyyy…..aaaahhhh….” Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Troooy….ooohhh…aku keluar, sayaaang….” Troy terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut memek istriku. Jelas sekali, penis Troy mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Troy, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri. “Oooh…Troy….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Troy. Gila, aku tak tahan melihat semuanya itu. Dan pada waktu kulihat Troy mulai mengayun batang kemaluannya, kuperiksa komputer yang sedang merekam adegan dari cctv, semuanya berjalan dengan baik. Lalu diam-diam aku keluar… Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam taksi (sengaja aku tidak memakai mobilku sendiri, keluar dari rumah pun diam-diam, supaya Troy tidak menyadari kehadiranku). Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumah Benny. Yayuk menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?” “Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.” Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yayuk membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yayuk. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yayuk tanpa kehadiran Benny. Dan tampaknya Yayuk pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya. Aku sudah terangsang oleh adegan Troy dengan adikku tadi. Maka ketika Yayuk menguncikan pintu depan, aku memeluknya dari belakang, “Mana pembantumu?” “Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.” “Jadi sekarang Yayuk cuma sendirian?” “Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yayuk yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat. Tentu aku tak mau berdiam pasif…ketika dia meraihku ke sofa, tanganku mulai menyelinap ke belahan kimononya, langsung menyentuh payudara montoknya yang sejak tadi kuyakini tidak mengenakan beha, karena kedua putingnya tampak menonjol meski masih tertutup kimono. Terasa menghangat tubuh Yayuk setelah aku berhasil memegang payudaranya…meremasnya dengan lembut… Tak cuma itu…tanganku yg satu lagi mulai menyelinap ke balik celana dalam Yayuk, mulai menyentuh jembutnya yang lebat…mulai menyelinap ke celah surgawinya yang mulai membasah dan hangat. Napas Yayuk mulai tertahan-tahan. Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Troy, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yayuk sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yayuk mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju. Di dalam kamarnya, Yayuk menanggalkan kimononya dengan senyum mengundang. Sehingga tinggal celana dalam yang melekat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam keadaan seerotis itu, dia meraih kedua pergelangan tanganku, dengan senyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan celana jeans dan shirtku, lalu merapat ke tubuh Yayuk dalam keadaan sama-sama

tinggal bercelana dalam saja… Hawa hangat tersiar dari tubuh Yayuk ketika aku mulai menggumulinya. Sempat juga kudengar bisikannya, “Makasih Mas… Mas datang tepat pada saat aku butuh Mas…” Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar…. Ketika tanganku mulai menyelinap lagi ke balik CD Yayuk, aku pun membiarkan tangan Yayuk menyelinap ke balik Cdku. Dan ketika tanganku mulai mengelus kemaluan Yayuk, aku pun rasakan Yayuk mulai menggenggam dan meremas batang kemaluanku dengan hangat dan lembut. “Sudah keras banget Mas,” bisiknya. “Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Troy, adikku yang masih sangat muda itu… Lalu tanpa basa basi lagi kutempelkan moncong kontolku di mulut memek Yayuk yang sudah membasah itu…secara reflex Yayuk merenggangkan kedua kakinya…dan kudorong batang kemaluanku sampai masuk sedikit…terdengar desisan mulut Yayuk sambil melotot…kukocok2 sedikit zakarku, sampai akhirnya membenam sekujurnya di dalam liang surgawi Yayuk…. Pagi itu aku tidak masuk kerja, karena kantorku sedang direnovasi, jadi aku bisa istirahat seminggu. Lina sedang mengantarkan anakku yang sudah dimasukkan ke playgroup. Tanganku tertusuk ujung obeng waktu ngotak ngatik sound system di mobilku tadi, lalu kucaricari betadine di sana sini, tidak ketemu. Di mana ya? Perasaan Masih ada betadine di kamarku ini. Lalu kucari di meja rias istriku. Kutarik juga lacinya, karena biasanya Lina menaruh benda-benda kecil di situ. Tapi pandanganku malah tertumbuk ke sebuah buku tebal. Buku apa ini? Ternyata buku itu penuh dengan tulisan istriku. Semacam buku harian. Iseng-iseng kubaca. Isinya mendebarkan. Rupanya setiap kejadian penting dicatatnya di buku ini. Dan yang paling mendebarkan adalah rangkaian kalimat berikut ini: ———————————————————————————— —— ———————– AKU mencintai Mas Janus dengan sepenuh hati. Tapi mengapa semuanya ini harus terjadi? Bisakah aku disalahkan, sedangkan semua yang telah kualami adalah “hasil karya” suamiku sendiri? Aku harus jujur mengakuinya bahwa aku telah menikmati semuanya, meski dengan perasaan bersalah. Tadinya kuanggap semuanya itu gila. Tapi ternyata ada greget yang luar biasa, yang menimbulkan nikmat dan sensasi luar biasa. Aku masih ingat benar waktu terjadinya petualangan di villa Benny itu, aku kaget sekali setelah menyadari bahwa yang sedang menyetubuhiku adalah Benny, bukan suamiku. Aku juga kaget ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yayuk. Oh my God! Apa yang sedang terjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa semuanya itu direncanakan oleh mereka, oleh Benny dan suamiku. Sedangkan batang kemaluan Benny sudah telanjur berada di dalam liang kemaluanku, aku sudah telanjur merasakan nikmatnya entotan Benny yang memang lebih panjang dan lebih besar daripada punya suamiku. Akhirnya aku memejamkan mata dan mulai menikmatinya dengan perasaan melayang-layang. Tetapi kreativitas sex Mas Janus tak berhenti sebatas itu saja. Pada suatu hari dia mengungkapkan rencana baru, yaitu niatnya untuk menjebak orang lain untuk menggauliku dan ia sendiri akan

mengintipnya. Menurutnya hal itu akan membangkitkan nafsunya yang luar biasa. Lalu kuusulkan orang lain itu Troy, adik Mas Janus sendiri. Ternyata usulku disetujui, meski dengan sedikit sindiran bahwa aku seneng brondong. Rencana itu jelas mendebarkan. Meski buat orang lain mungkin merupakan hal yang aneh dan tak masuk di akal. Tapi aku sendiri merasakan hal yang sama, ketika melihat suamiku sedang menyetubuhi Yayuk, perasaanku dibakar cemburu, tapi lalu kulampiaskan kecemburuanku dengan meladeni Benny seedan mungkin. Dan rasanya luar biasa. Belum pernah kurasakan hubungan sex senikmat itu. Lalu terjadilah sesuatu yang merupakan wujud dari rencana suamiku sendiri. Bahwa Troy masuk ke dalam perangkapku. Apakah Troy lebih dominan memberikan kepuasan padaku? Tentu saja. Dia Masih bujangan. Zakarnya terasa keras sekali waktu membenam ke dalam liang kemaluanku. Dan gesekan-gesekannya terasa begitu mantap…lebih mantap daripada suamiku. Tapi apakah dengan peristiwa-peristiwa edan itu cintaku pada Mas Janus mulai pudar? Tidak! Aku malah semakin mencintainya, karena dia telah menciptakan sesuatu yang membuat kepuasan luar biasa padaku. Malam itu Troy sampai tiga kali ejakulasi, karena baru sebentar istirahat dari ejakulasi pertama, zakarnya kembali menegang. Dan persetubuhan yang ketiga kalinya adalah hasil rangsanganku, membuat dia bersemangat menyetubuhiku untuk ketiga kalinya. Aku tahu bahwa semua yang kulakukan dengan Troy disorot oleh kamera cctv dan dimonitor oleh suamiku. Dan semuanya itu memang kehendak suamiku sendiri. Tapi setelah Troy keluar dari kamarku, setelah aku selesai membersihkan vegyku di kamar mandi, Mas Janus tak muncul juga. Lebih dari sejam aku menunggu, dia tak munculmuncul. Apakah dia ketiduran di kamar monitoring itu? Aku jadi serba salah. Mau mengetuk pintu gudang, takut dia lagi asyik melakukan sesuatu. Yah, akhirnya aku rebahan dengan tubuh lemas, karena tenagaku seperti dikuras waktu meladeni Troy tadi. Menjelang subuh, ketika aku sudah tidur nyenyak, terdengar pintu kamar dibuka, suamiku masuk. Karena masih terkuasai alam tidur, aku bertanya lemah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?” Suamiku mencium pipiku sambil berbisik, “Jangan marah ya…tadi aku ke rumah Benny.” “Terus?” tanyaku sambil menggesek mataku. “Janji dulu, kamu gak marah ya.” “Iya janji. Ngapain ke rumah Benny?” “Mmm…Yayuk ngajak…karena Benny lagi ke Medan…” “Pantesan…” cetusku sambil mencubit lengan suamiku, “Asyik dong…” Suamiku cuma nyengir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Troy tadi…” “Jadi Mas gak nonton aku sama Troy tadi?” “Nonton sebentar, terus pergi diam-diam. Tapi semuanya kan direkam. Nanti bisa kutonton rekamannya.” “Ih…nanti kalau Benny juga ngajak aku diam-diam gimana?” “Mau balas dendam? Hahaha…gakpapa. Yang penting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yayuk.” “Ih…kita kok jadi begini Mas?” “Kamu nyesel? Jangan nyesel dong, tenang aja lagi.” Subuh itu suamiku tidak melakukan apa-apa padaku. Mungkin dia sudah kecapean menyetubuhi Yayuk. Tapi aku sendiri juga masih lemas karena habis melayani adik iparku yang masih sangat tangguh itu. SETELAH suamiku berangkat kerja, seperti biasa aku mandi di

bawah semburan shower air hangat. Rasanya ingin membersihkan tubuh sebersih mungkin. Entah kenapa. Selesai mandi aku berias dulu di depan cermin rias, kemudiankeluar dari kamarku dengan hanya mengenakan kimono. Kulihat pintu kamar tamu masih tertutup. Kamar itu dipakai oleh Troy. Sudah sesiang ini dia belum bangun? Kucoba memutar handle pintu kamar itu, ternyata tidak dikunci. Diam-diam aku masuk ke dalam. Sambil menutupkan kembali pintu dari dalam, kulihat Troy masih nyenyak tidur tanpa selimut. Dia hanya mengenakan celana dalam dan kaus t-shirt sambil memeluk bantal guling. Selimut tergeletak di sampingnya. Apakah dia tidak kedinginan? Dengan hati-hati aku merayap ke sisinya. Aneh, hasrat birahiku berkobar lagi. Padahal tadi malam aku sudah dipuasi oleh adik iparku ini. Lalu kalau pagi ini terjadi lagi seperti yang tadi malam, apakah Mas Janus takkan marah? Ah, bukankah suamiku mengizinkanku untuk melakukannya, asalkan nanti laporan padanya?! Entahlah kenapa aku jadi begini bergairah, begini binalnya untuk mendapatkan kepuasan seksual di pagi ini. Tapi Troy masih tidur pulas, sampai tidak menyadari bahwa tanganku sudah menyelinap ke dalam CDnya, sudah menggenggam batang kemaluannya yang masih sangat lemas. Dan kuremas-remas dengan lembut sesuatu yang tadi malam sangat memuaskanku itu. Aku mulai gemas, kusembulkan zakar Troy dari celah CDnya, lalu tanpa ragu lagi kudekatkan wajahku ke zakar yang masih terkulai lesu itu. Gap…mulai kukulum dan kumainkan ujung lidahku untuk mengelus puncak batang kemaluan Troy. Dengan penuh semangat kuselomoti batang kemaluan Troy yang perlahan-lahan mulai membesar dan memanjang….terdengar suara nafas Troy, pertanda mulai bangun…batang kemaluannya pun mulai bangun, mengeras dengan gagahnya! Lalu terdengar suara Troy mendesah, “Oo…oooh…mbak…oooh…ini enak sekali….oooh….” Tanpa pikir panjang lagi kulepaskan kimonoku, langsung telanjang bulat karena tak mengenakan pakaian dalam…hmm..semuanya sudah dipersiapkan! Lalu kutarik CD Troy, sehingga zakarnya yang sudah berdiri dengan gagah itu tak tertutup apa-apa lagi. Kemudian kudorong dadanya supaya terlentang. Lalu aku merangkak ke atas tubuhnya sambil mengarahkan batang kemaluannya supaya ngepas menekan liang kemaluanku yang sudah membasah dengan lendir libido ini. Lalu kuturunkan pinggulku, sehingga perlahan tapi pasti zakar Troy membenam ke dalam liang veggyku. Oh, gila, rasanya aku horny banget pagi ini. Aku menelungkup setelah menanggalkan t-shirt Troy. Lalu mulai aktif, menaik turunkan pinggulku dengan goyangan yang sudah terlatih. Dengan sendirinya batang kemaluan Troy dibesot-besot oleh dinding liang kenikmatanku. Troy terengah-engah sambil memeluk pinggangku erat-erat. Membuatku makin bersemangat untuk menggenjot pinggulku, oh, rasanya enak sekali pergeseran antara dinding liang kenikmatanku dengan batang penis Troy yang gagah perkasa itu. SAMPAI Troy meninggalkan rumahku, rahasia itu tetap kujaga. Troy tidak kuberitahu bahwa semuanya itu “hasil karya” abangnya sendiri. Aku tetap ingin menjaga image suamiku dan aku sendiri, agar jangan dicap pasangan psikopat. Memang semuanya seolah hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami-istri yang psikopat. Tapi aku sudah mulai menikmatinya, sudah mulai memahami jalan pikiran suamiku, bahwa semuanya ini mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, sekaligus menghilangkan kejenuhan. Hari demi hari berlalu. Apa yang kucemaskan tidak terjadi. Aku dan

Mas Janus enjoy-enjoy saja menempuh rumah tangga, tanpa badai yang berarti. Bahkan anehnya sikap Mas Janus makin ramah dan lembut padaku. Jadi tiada alasan bagiku untuk mempertentangkan pendiriannya. Bahkan dengan jujur harus kuakui bahwa aku enjoy dengan semuanya ini. Dan setuju dengan kata-katanya, “Daripada selingkuh di belakang, mending selingkuh terang-terangan begini. Yang penting semuanya harus under control. Jangan jadi liar.” Memang semua yang telah terjadi dengan Troy kulaporkan kepada suamiku, sebagai tanda masih under control. Dan suamiku malah tersenyum, tiada ekspresi kemarahan sedikit pun. Bahkan semakin hangat dia memperlakukanku sebagai istri syah dan ibu dari anaknya. Lalu semuanya berjalan seperti biasa. Tanpa gejolak yang berarti dalam rumah tanggaku. Sampai pada suatu malam…ketika aku pulang arisan ibu-ibu di lingkunganku, kulihat Mas Janus tersenyumsenyum sambil memelukku. Dan berbisik ke telingaku, “Aku lagi bergairah sekali sekarang ini sayang.” Biasanya kalau mau bersetubuh dengan Mas Janus, aku suka ke kamar mandi dulu untuk membersihkan kemaluanku. Tapi malam itu Mas Janus tak memberiku kesempatan. Langsung menelanjangiku di dalam kamar dan menerkamku di atas tempat tidur. Aneh memang, ketika batang kemaluan Mas Janus membenam ke dalam liang ku, aku merasakan gairahnya begitu hebat. Terlebih setelah batang kemaluannya mulai mengenjot liang veggyku, oh, kenapa Mas Janus jadi ganas begini? Apakah dia habis makan obat perangsang atau bagaimana? Aku pun mulai menikmatinya dengan sepenuh gairah kewanitaanku. Kugoyang pantatku dengan gerakan meliuk-liuk, membuat nafas Mas Janus semakin mendengus-dengus. Aku pun terpejam-pejam dalam arus kenikmatan. Tetapi…ada yang aneh…ya…ini aneh. Bahwa ketika Mas Janus sedang mengenjotku sambil menelungkup di atas tubuhku, terasa ada yang mengelus-elus betis dan pahaku. Aku mencoba memperhatikannya dengan seksama. Apa yang sedang terjadi ini? Dan alangkah kagetnya aku, setelah menyadari bahwa ternyata memang ada tangan lain yang sedang mengelus pahaku. Tangan itu adalah tangan Bang Benny! Ya, Bang Benny sudah berada di atas tempat tidurku dalam keadaan tak berbusana! Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah ini semuanya sudah mereka atur sebelumnya? “Ba..Bang Be…Benny?!” seruku tertahan. Benny cuma tersenyum dan tetap mengelus-elus pahaku. Bahkan lalu ia memegang bahu suamiku sambil berkata dengan senyum, “You istirahat dulu dong…biar aku yang menggantikanmu…” Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, terlebih ketika kulihat suamiku malah mengangguk sambil tersenyum dan menarik batang kemaluannya sampai terlepas dari liang kemaluanku. Dan Benny merayap ke atas tubuhku sambil mengarahkan batang kemaluannya ke mulut ku. Kupegang pergelangan tangan suamiku yang duduk di sebelahku sambil menatapnya, “Mas…” “Santai aja sayang,” sahut suamiku sambil mengelus pipiku, “Enjoy aja.” Belakangan aku tahu bahwa ketika aku sedang arisan, Benny datang dan sengaja disembunyikan di kamar mandi yang bersatu dengan kamarku. Ah…semuanya memang sudah direncanakan. Perasaanku jadi bercampur aduk ketika lubang ku mulai dicoblos oleh batang kemaluan Benny. Salah tingkah, karena suamiku menyaksikan semuanya ini. Maka sambil menggenggam tangan suamiku erat-erat, kupejamkan mataku…sambil merasakan nikmatnya zakar Benny yang mulai maju-mundur di dalam jepitan liang kewanitaanku. Orang bilang rumput di pekarangan tetangga selalu tampak lebih hijau

daripada di pekarangan sendiri. Kini aku merasakannya. Bahwa ayunasn Benny terasa sekali membanjiri bathinku dengan kenikmatan. Karena Benny tak hanya menggenjot nya di dalam ku, tapi juga mengulum-ngulum puting payudaraku, sesekali mengisapnya kuat-kuat. Sementara tangannya pun tidak diam. Terkadang mengelus anusku, menimbulkan geli-geli nikmat yang membuatku sering menahan nafas. Aku pun mulai merengkuh leher Benny dan memeluknya erat-erat, tanpa berani memandang ke arah suamiku. Ketika kubuka mataku, kulihat suamiku sedang melangkah ke kamar mandi, mungkin mau pipis. Saat itulah aku merasa bebas untuk menggoyang pinggulku seedan mungkin, karena enjotan Benny emang terasa sekali enaknya. Dan ketika ia mencium bibirku, sengaja kupagut dan kulumat bibirnya dengan penuh gairah. Biarlah, bukan aku yang merencanakan semuanya ini. Kelihatannya kelincahanku dalam meliuk-liukkan pinggul justru membuat suamiku senang. Ia malah berkomentar setelah keluar lagi dari kamar mandi, “Nah begitu dong, jangan bikin malu aku….biar Benny tau istriku ini jago goyang…hihihihi…” Aku masih belum mengerti kenapa suamiku bisa seperti itu. Yang jelas, kulihat dia enjoy-enjoy aja melihatku sedang disetubuhi oleh sahabatnya, enjoy-enjoy saja melihat pinggulku bergoyang-goyang edan. Benny pun sama enjoynya. Tanpa peduli kehadiran suamiku, Benny terkadang mendesakkan batang kemaluannya dalam sekali, sampai menyentuh ujung liang ku. Ini membuatku merengek nikmat, dengan mata merem melek. Ketika aku mau merasakan titik puncak orgasmeku, tak terkendalikan lagi aku merintih-rintih histeris, “Ooohhh…Bang Benny….oooh… aku mau orga Bang….ooooh….” Tanpa peduli lagi bahwa suamiku sedang menyaksikan semuanya ini. Susah melukiskan semuanya itu, karena aku sendiri dalam keadaan edan-eling di puncak orgasme. Yang aku ingat, Benny melanjutkan enjotan nya meski ku sudah becek. Dan pada suatu saat ia menekankan batang kemaluannya kuat-kuat sambil mendengus, ooooooo…oohhhh…..lalu terasa liang kemaluanku disemprotsemprot cairan hangat, pada saat yang sama Benny mendekapku kuatkuat, lalu perlahan-lahan terasa batang kemaluannya melemas dan mengecil. Aku pun memejamkan mata dalam letih dan puas. Tapi beberapa detik kemudian suamiku menggantikan peran Benny, memasukkan lagi zakarnya yang Masih keras ke dalam liang kemaluanku yang sudah kebanjiran air mani Benny. Aku tak kuasa menolak ataupun memberikan saran. Aku hanya terdiam, lalu berusaha memuaskan nafsu suamiku dengan goyangan pinggul sebisa mungkin. Padahal sekujur tubuhku masih terasa ngilu-ngilu. Malam itu memang malam edan. Setelah suamiku ejakulasi, Benny maju lagi. Dia minta agar aku mengubah posisiku jadi di atas. Lalu terjadilah persetubuhan yang kedua dengan sahabat suamiku itu. Tentu saja ronde kedua ini (kedua untuk Benny, ketiga untukku) jauh lebih lama daripada ronde pertama tadi. Aku sendiri sudah tak tahu lagi berapa kali mengalami orgasme saat itu. Yang aku tahu, setelah lebih dari sejam kami bersetubuh, Benny mencabut nya dari ku, kemudian menyemburkan sperma hangatnya di dalam mulutku. Setelah Benny terkapar, aku bergegas menuju kamar mandi, untuk berkumur-kumur dan membersihkan kemaluanku. Lalu kembali ke kamar, tadinya ingin beristirahat. Tapi rupanya persetubuhanku yang kedua dengan Benny tadi menyebabkan libido suamiku berkobar lagi! Terpaksalah kuladeni lagi suamiku, karena merasa kasihan kalau nafsunya tidak kupuasi. Tapi, oh my God….selesai suamiku menyetubuhiku, Benny ingin meku lagi untuk yang ketiga kalinya!

Mungkin di situlah letak keistimewaan main threesome seperti yang pernah diungkapkan oleh suamiku. Aku sudah membuktikannya. Suamiku biasanya hanya menyetubuhiku 2 atau 3 hari sekali. Tapi malam itu, ia mampu menyetubuhiku 3 kali! Berati aku mengalami hubungan sex 6 kali di malam edan itu! ESOKNYA, sepulang dari kantornya, suamiku menghampiriku yang sedang rebahan di kamar. “Bagaimana kesannya tadi malam, sayang?” “Lemes….tubuhku serasa dilolosi….” sahutku sambil tersenyum canggung. Suamiku memelukku dan berbisik, “Tapi kamu puas kan?” “Lebih dari puas,” sahutku sambil mencubit lengan suamiku, “Mas sendiri sampai bisa tiga kali ya.” Suamiku mengangguk, “Itulah kelebihan threesome.” “Emang Mas gak cemburu waktu Benny sedang menyetubuhiku?” tanyaku dengan pandangan penuh selidik. “Tentu aja cemburu,” sahut suamiku dengan senyum, “Tapi di balik rasa cemburu, nafsuku jadi berkobar dengan hebatnya ketika melihatmu sedang disetubuhi oleh Benny. Padahal belakangan ini aku tak pernah lagi menidurimu lebih dari sekali dalam semalam kan? Tapi tadi malam….” “…Sampai tiga kali!” tukasku. Suamiku mengangguk sambil tersenyum menggoda. “Tapi…pada satu saat, mungkin Benny akan ngajak Mas untuk mengeroyok Yayuk juga kan?” Suamiku tercenung sesaat. Lalu katanya, “Mungkin saja. Tapi aku pasti minta izin dulu padamu. Gakpapa kan?” Meski berat terpaksa kujawab, “Gakpapa…biar adil….tapi Mas…ada masalah lain yang selama ini jadi pikiranku…” “Soal apa?” “Si Troy itu…bagaimana kalau dia ketagihan?” “Ajak aja ke sini. Biar aku bisa nonton diam-diam.” “Dia gak mau Mas. Takut sama Mas. Kan aku belum bilang kalau semua yang telah terjadi itu keinginan Mas sendiri.” “Memang sebaiknya jangan bilang dulu. Nanti disangkanya aku sudah gila. Padahal aku cuma ingin kreatif aja.” “Jujur aja, tadi pagi dia nelepon. Dia bilang ketagihan….” “Tentu aja ketagihan. Cowok mana yang tidak ketagihan setelah merasakan enaknya mu. Hehehe….” “Mm…kalau…kalau…ah gak deh…” “Lho, ngomong kok gak diterusin?!” “Takut Mas marah.” “Gak. Aku janji gak marah. Ada apa?” “Kalau dia ngajak ketemuan di satu tempat gimana? Kabulkan jangan?” “Dia kost di luar kota, dekat kampusnya. Di rumah kost itu banyak orang. Gak mungkin bisa ketemuan di sana.” “Kalau…kalau…kalau di hotel?” “Boleh aja. Yang penting kamu harus laporan sama aku nanti.” “Bener nih Mas?” “Bener,” suamiku mengangguk, sebaiknya sih di sini. Kan bisa kuatur, misalnya pura-pura aku gak di rumah.” “Lalu diam-diam Mas ketemuan sama Yayuk lagi?” “Nggak sayang. Intinya bukan itu. Aku merelakanmu digauli orang lain bukan karena ingin selingkuh dengan wanita lain. Yang penting bagiku, bisa menyaksikan waktu kamu digauli orang lain itu. Hal itu akan membuatku cemburu, lalu bangkit nafsuku…seperti tadi malam itu…” “Yang tadi malam itu swinger juga Mas?” “Bukan, yang tadi malam namanya threesome MMF. Kalau swinger ya waktu di Puncak itu.”

“MMF? Maksudnya?” “MMF itu male-male-female. Kalau FFM female-female-male.” “Berarti bisa juga perempuannya dua orang, lelakinya seorang?” “Iya. Tapi pada dasarnya fisik wanita lebih siap untuk menghadapi pria lebih dari seorang. Lelaki kan harus ereksi. Kalau menghadapi wanita lebih dari seorang, pasti dia tak bisa memuaskan wanitawanita itu. Hanya buat gaya-gayaan doang. Kalau wanita kan bisa melayani pria walaupun sambil tidur. Pria tidak bisa begitu. Penisnya harus ereksi dulu sebelum melakukan kontak seksual.” “Berarti wanita lebih tangguh daripada lelaki dong Mas.” “Iyalah, aku harus jujur mengakui hal itu.” suamiku mengangguk, “Perempuan kan tinggal telanjang dan telentang, mau diantri sama sepuluh lelaki juga bisa. Tapi lelaki? Kalau sudah ejakulasi ya terkulai, letih lesu…dikasih bidadari juga belum tentu mampu bangkit lagi…hehehe…” Aku cuma tersenyum mendengar ucapan suamiku itu. Semacam pengakuan lelaki. Bahwa sebenarnya perempuan ditakdirkan lebih tangguh daripada pria secara fisik. Lelaki kalau dikasih 10 orang cewek dalam semalam, pasti takkan ternikmati semua. Tapi wanita? Diantri sama 10 orang lelaki juga bisa. Tapi poliandri tetap merupakan hal yang janggal di dunia ini, sementara poligami banyak terjadi di mana-mana. “Kapan mau swinger lagi?” tanya suamiku tiba-tiba. “Sama Benny dan Yayuk?” aku balik bertanya. “Nggak harus dengan mereka. Masih banyak alternatif.” “Hah? Gak salah tuh?” aku melotot, “Rencana apa lagi yang sudah tersimpan di hati Mas?” “Masih kupikirkan,” sahut suamiku datar, “Soalnya kita harus yakin teman swinger kita bersih, jangan sampai menularkan penyakit.” Aku tidak berani menanggapi. Lalu kata suamiku, “Kalau dengan Benny dan Yayuk terus, kita bisa jenuh juga.” “Ih…emang Mas punya rencana sama siapa lagi?” “Sudah ada dua pasang yang mau swinger sama kita. Tapi aku harus memikirkannya dulu.” “Tapi Mas…apa hubungan kita nanti gak rusak?” tanyaku sangsi. “Nggak sayang,” Mas Janus memelukku lembut, “Yang penting jangan terlalu sering. Obat juga kalau over dosis bisa berdampak negatif.” Aku cuma mendengarkan. Da kata Mas Janus lagi, “Sekali kita swinger, kesannya akan melekat dalam waktu tertentu. Bisa sebulan, bisa dua bulan dan seterusnya. Tergantung dari kesan yang kita dapatkan pada waktu swinger itu.” Aku tetap tak mau menanggapi, takut salah ngomong. Kata suamiku lagi, “Sebenarnya sekarang ada beberapa perkumpulan swinger, tersebar di kota-kota besar. Tentu saja aktivitas mereka gak terlalu terbuka. Semuanya dilakukan secara rapi. Seolah-olah kumpulan arisan keluarga biasa.” “Masa sih?” aku tercengang, “terus bagaimana cara aktivitas mereka?” “Biasanya mereka bergerak tidak terlalu banyak, supaya tidak menraik perhatian. Misalnya satu hari mereka berkumpul di sebuah villa besar di luar kota. Mungkin yang hadir hanya enam atau tujuh pasang. Lalu di villa itu mereka tukar pasangan, bisa dengan cara mengundi atau atas kesepakatan semua pihak.” “Ih…kalau yang begitu jangan mau Mas. Lama-lama bisa over dosis seperti kata Mas tadi.” Suamiku hanya tersenyum datar. Entah apa yang sedang berada di alam pikirannya. Kami sama-sama terdiam, hanyut dalam terawangan masing-masing. Hari berganti hari tiada peristiwa yang penting, sampai pada suatu hari, terjadilah peristiwa yang tak kuduga sebelumnya. Berawal dari

kontak telepon dengan adik iparku: “HALLO…Lagi ngapain Troy?” “Lagi nyantai aja. Apa kabar Mbak?” “Baek. Kamu bener-bener kangen sama aku?” “Kangen sekali. Gimana ya…mm..aku ketagihan Mbak…tapi takut ketahuan sama Mas Janus.” “Ah, nggak apa-apa kok. Aku jamin abangmu nggak apa-apa.” “Nggak apa-apa gimana?” “Nanti deh aku cerita. Tapi kalau kamu mau dan ingin bebas, kan bisa ketemuan di hotel.” “Ih, takut Mbak. Sekarang sering ada razia di hotel-hotel. Kalau sampai kena razia bisa heboh nanti. Mmm…kalau Mbak mau, aku ada usul…” “Apaan tuh?” “Aku punya temen, Piet namanya. Lengkapnya sih Pieter, tapi biasa dipanggil Piet aja.” “Terus?” “Rumahnya kosong, cuma dia sendiri di rumah itu. Orang tuanya di Amerika.” “Terus?” “Ya kita ketemuannya di rumah dia aja. Gimana?” “Lho, kalau dia tau gimana?” “Gakpapa Mbak. Orangnya fair kok.” “Terus?” “Jujur, aku sudah bilang kapan-kapan mau numpang pake salah satu kamar di rumah dia. Ya tadinya sih kalau Mbak gak keberatan, mau kuajak ketemuan di rumah dia itu Mbak.” “Kalau dia tau kan malu, sayang.” “Di dalam kamar tertutup, masa dia tau apa yang kita lakukan?” Aku tercenung sesaat. Lalu terdengar lagi suara Troy di hpku, “Kita ketemuan aja dulu di sana. Nanti Mbak pertimbangkan di sana. Kalau Mbak gak sreg ya cari alternatif lain.” “Tapi kamu jangan bilang aku ini istri abangmu. Gak enak.” “Beres Mbak. Terus kapan kita ketemuan di sana?” “Terserah kamu. Tapi harus di jam kerja.” “Mmm…Senin pagi aja ya.” “Senin lusa? Oke aku setuju. Soalnya tiap hari Senin abangmu suka pulang telat, kadang-kadang sampai malam. Rumah temanmu itu di mana?” Troy menyebutkan suatu alamat rumah. Kataku. “Kita langsung ketemuan di sana aja ya Troy. Jangan keliatan bareng perginya.” “Baik, jam sembilan aku sudah stand by di rumah Piet. Mbak mau pake apa ke sananya?” “Ya pake taksi aja.” “Sip deh! Sampai ketemu di sana nanti ya Mbak.” “Oke. Take care Troy.” Setelah hubungan telepon terputus aku tercenung. Memang harus kuakui, Troy membuatku kangen terus. Maklum dia masih begitu muda, 19 tahun juga belum. Tentu sangat beda dengan suamiku yang sudah 30 tahun. Aku sudah membayangkan betapa nikmatnya dalam gasakan dan keperkasaan Troy nanti. Rasanya lama sekali menunggu hari Senin tiba. Dua hari yang kunantikan serasa menunggu dua bulan lamanya. Aku resah sekali rasanya. Tapi kusembunyikan keresahanku ini, jangan sampai diketahui oleh suamiku. Senin yang dinantikan tiba juga. Jam 7 suamiku sudah berangkat kerja. Setelah bunyi mesin mobilnya hilang dari pendengaran, bergegas aku menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhku sebersihbersihnya. Tak cukup dengan itu. Selesai mandi kusemprotsemprotkan parfum ke setiap sela yang mungkin tersentuh oleh Troy

nanti. Aku ingin menimbulkan kesan seindah mungkin di batin adik iparku itu. Kukenakan celana jeans dengan t-shirt biru tua yang agak ketat. Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam taksi yang sedang menuju alamat rumah teman Troy yang bernama Piet itu. Rumah yang kutuju itu beberapa kilometer di luar kota. Aku agak tertegun melihat kemegahan rumah dengan pekarangan yang sangat luas itu. Pasti orang tua Piet bukan orang kebanyakan. Mungkin seorang pejabat tinggi atau pelaku bisnis papan atas. Hal itu membuatku ragu. Tapi begitu taksi berhenti di depan pintu pagar rumah megah itu, Troy datang menjemputku. Dengan sopan ia membukakan pintu taksi waktu aku mau turun. “Temenmu mana?” tanyaku dengan perasaan tak menentu waktu berjalan menuju pintu depan rumah megah itu. “Lagi keluar dulu,” sahut Troy sambil menggenggam pergelangan tanganku, “Santai aja Mbak. Di sini aku merasa seperti di rumah sendiri.” “Kita langsung aja ke kamar yang sudah disediakan di atas yok,” ajak Troy sambil menunjuk ke tangga yang menuju lantai dua. Aku menurut saja, meski terasa sikapku serba canggung. Di dalam salah satu kamar lantai atas, aku mulai merasa tenang. Terlebih setelah Troy menutupkan pintunya. Pandanganku tertumbuk ke sebuah foto besar berbingkai silver. Foto seorang anak muda di atas sebuah motor Harley Davidson. Tampan sekali anak muda itu. Aku menduganya seorang artis yang belum kuketahui namanya. Tapi Troy menunjuk foto itu sambil menerangkan, “Itulah Piet. Ganteng ya Mbak.” Aku cuma mengangguk cuek, padahal hatiku berkata, “Ganteng dan sexy sekali temanmu itu….” Kamar itu ada kamar mandinya. Maka bisikku, “Aku mau pipis dulu ya.” Troy mengangguk sambil tersenyum. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi itu. Bukan cuma mau pipis, tapi sekalian ingin mencuci ku sebersih mungkin. Karena aku yakin ku akan dijilati oleh Troy nanti, jangan sampai ada bau yang kurang sedap, meski sudah disemprot parfum di rumah tadi. Celana jeans dan BH kugantungkan di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan CD dan t-shirt. Rupanya Troy juga sudah melepaskan celana jeansnya, sama seperti aku, tinggal mengenakan t-shirt dan CD. Senyum Troy tampak menggoda waktu aku menghampirinya. Lalu memelukku dengan hangat. Dan menciumi pipi serta leherku, lalu melumat bibirku dengan hangat dan membangkitkan gairahku. Supaya Troy lebih leluasa menikmati kemulusan tubuhku, kulepaskan t-shirtku, sehingga payudaraku yang masih terawat kencang ini tak tertutup apa-apa lagi. Troy pun menanggalkan t-shirtnya. Lalu memelukku dengan hangat dan meraihku ke atas tempat tidur. Aku pun mulai menggelinjang nikmat ketika Troy mulai menjilati puting payudaraku. Tak hanya itu, lidahnya mulai menjilati pusar perutku dan turun terus, sampai akhirnya kemaluanku mulai dijilatinya dengan penuh semangat. Aku pun mulai menggeliat-geliat dalam arus kenikmatan, sambil merengek lirih,“Troy…oooh…ini enak sekali sayang…kamu be…belajar dari siapa sih…kok pintar amat kamu main emut begini…?” “Belajar dari film bokep,” sahut Troy sambil menghentikan jilatannya sesaat, lalu menyedot-nyedot kelentitku membuatku mendesah-desah lagi dalam nikmat. “Udah Troy…masukin aja….cepet…aku pengen melepas kangenku sama tititmu yang gagah itu…” pintaku sambil menarik bahu Troy agar naik ke atas tubuhku. Troy mengikuti ajakanku. Ia mulai mengarahkan batang kemaluannya

ke mulut ku. Aku pun membantunya, merenggangkan pahaku sambil memegang batang kemaluan Troy dan menekankan puncaknya pas di mulut veggyku. Lalu aku mengedipkan mata, sebagai tanda agar ia mulai mendorong…dan…aaah…batang kemaluan Troy mulai melesak dengan mantapnya ke dalam liang kemaluanku! Tapi setelah mulai menggeser-geserkan zakarnya maju mundur dalam liang kenikmatanku, ia berkata terengah, “Mbak jangan marah ya… sebenarnya Piet ada di rumah ini. Dia ingin nonton kita Mbak…” “Apa?” aku kaget, tatapanku tertuju ke foto besar yang terpampang di dinding itu. Foto anak muda yang tampan itu, “terus kalau dia ngiler nanti gimana? Kamu kok ada-ada aja.” Nada ucapanku seperti protes. Tapi diam-diam aku teringat pada peristiwa main bertiga dengan Benny. Apakah pagi ini akan terjadi kisah yang mirip itu? “Dia orang sopan Mbak. Dia hanya ingin nonton. Tapi…kalau dia gak tahan dan ingin ikutan, mainin aja nya sama tangan Mbak…itu juga kalau Mbak gak keberatan. Pokoknya aku jamin tidak akan ada pemaksaan, Mbak.” Troy mulai mengenjot nya dengan gerakan syur, yang membuatku mulai terpejam-pejam. “Nggak tau ah…” sahutku pura-pura tidak suka. Tapi diam-diam khayalanku mulai melambung…membayangkan sesuatu yang luar biasa indahnya. “Dia menunggu izin Mbak untuk masuk ke kamar ini. Izinkan jangan?” tanya Troy sambil menghentikan gerakannya sejenak. “Terserah kamu aja lah,” sahutku dingin. Padahal diam-diam aku ingin melihat apakah Piet itu setampan wajah di foto itu? Tanpa menghentikan genjotan nya, Troy berseru, “Piet! Come on…!” Aku rada degdegan juga ketika kudengar pintu dibuka. Soalnya aku dalam keadaan begini, keadaan telanjang bulat dan sedang disetubuhi oleh adik iparku. Lalu tampak seorang anak muda tinggi semampai dengan wajah, Oh my God…! Tampan sekali cowok bernama Piet itu. Tubuhnya pun tinggi sekali, mungkin ada 190 cm tingginya. Dan senyumnya itu, oh…jangan-jangan aku bisa jatuh hati nanti…! “Kenalan dulu dong,” Troy menghentikan entotannya sejenak, sambil menoleh ke arah Piet. Aku yang sedang terlentang ini sempat juga berjabatan tangan dengan Piet. Ini adalah jabatan tangan yang paling canggung dalam hidupku. Karena aku sedang bertelanjang bulat, sedang dientot pula oleh Troy. Tapi di balik itu semua, aku benar-benar kagum melihat tampang dan sikap Piet. Jujur, aku belum pernah melihat cowok setampan Piet. Dengan melihat senyumnya saja hatiku sudah tergetar hebat. Dan waktu tangannya menjabat tanganku sambil menyebutkan namanya, terasa ada aliran hangat yang membuatku luluh. Oh, andaikan Piet meminta untuk menyetubuhiku, aku mau dan rela lahir bathin! “Ayo lanjutkan Troy,” kata Piet sambil duduk di samping kananku, “Ini pertunjukan dahsyat….aku suka sekali.” Troy pun melanjutkan permainan surgawi ini. Dengan mantap batang kemaluannya menggenjot liang kewanitaanku lagi. Sementara Piet seperti asyik sekali memperhatikan semuanya ini. “Ahhh…ini merangsang sekali, jauh lebih edan daripada nonton bokep,” cetus Piet sambil menekan-nekan bawah perutnya. Aku merasa kasihan juga. Meski sedang menikmati asyiknya enjotan Troy, kugenggam pergelangan tangan Piet dengan hangat. Piet senang kelihatannya dengan genggamanku. “Ih, aku jadi ngaceng, Mbak….” katanya malu-malu. “Masa…?” sahutku terengah, karena entotan Troy terasa makin gencar. Dan penasaran juga, sengaceng apa cowok tampan itu. Lalu kujulurkan tanganku, hinggap di bawah perut Piet yang masih berpakaian lengkap itu. Kutarik ritsleting celana jeansnya, agak susah dan Piet membantuku menarik ritsleting celananya. Lalu tanganku

menyelinap ke balik celana dalamnya. O, my God! Apa aku gak salah pegang? Aku menyentuh sesuatu yang besar sekali, mungkin sama dengan pergelangan tanganku! Bahkan mungkin lebih besar lagi, sudah keras dan hangat pula! Aku terkesiap. Mungkinkah ada sebesar itu? Ketika kutatap wajah cowok abg itu, dia cuma tersenyum malu-malu, karena aku sedang berusaha menggenggam nya yang masih tersembunyi di balik celananya. Dan aku tak berhasil menggenggam sepenuhnya, saking besarnya batang kemaluan anak muda itu. Lalu kutarik-tarik celana jeansnya, sebagai pertanda agar ia melepaskan celananya. Sambil tersenyum cowok rupawan itu menurunkan celana jeans dan CDnya. Wow! Aku benar-benar kaget melihat panjang dan besarnya batang kemaluan anak muda itu! Besar sekali! Panjang sekali! Apakah aku tak salah lihat?! Perhatianku yang tertumpah ke alat kelamin Piet, membuatku kurang konsentrasi pada yang sedang Troy lakukan di atas tubuhku. Aku menggapaikan tanganku. Anak muda bernama Piet itu mengerti dan segera mengangsurkan nya ke dekat tanganku. Darahku tersirapsirap waktu memegang batang kemaluan yang sudah tegang itu. Benar-benar tidak tergenggam oleh tanganku! Diameternya hampir sama dengan diameter gelas! Dan panjangnya…aku yakin takkan kurang dari 25 cm! Aku tak pernah membayangkan akan ada batang kemaluan segede dan sepanjang ini. Aku mulai mengelus bagian kepala dan leher zakar Piet, sementara Troy tetap gencar meku. Tapi ia masih sempat membisiki telingaku, “Dia belum pernah bersetubuh dengan perempuan, Mbak.” “Masa sih?” tanyaku heran, sementara tangan kananku mulai berusaha meremas zakar Piet dengan lembut…dengan nafsu yang menjadi-jadi. “Betul,” sahut Troy tanpa menghentikan entotannya, “Dia anak pingitan Mbak.” - Bersambung cerita sex pemerkosaan – menikmati cewek sakaw, Hai nama ku nana aku mau menceritakan pengalamanku tentang kehidupan seksku yang sedikit menyimpang Aku nana,ce, ciri –ciri ku 165/50 34b kebetulan aku kuliah di salah satu PTN di J, Aku memliki kelainan seksual yaitu aku menjadi horny atau aku bisa mancapai kepuasan apabila aku melakukan aktifitas seksualku di lihat banyak orang atau memamerkan tubuh molek indah ku ini. ceritaku dimulai sewaktu aku dan 4 kawan berlibur ke villa di tepi pantai. temanku itu 4 cowok yang bernama alfred,Rey,Rico dan daved. Dan aku cewek sendiri. cerita sex terlengkap dan terbaru hanya ada di pusat cerita sex di sexceritadewasa.com. Singkat cerita kita berangkat ke vlla itu dengan mobil daved Sesampai di villa itu kita disambut oleh penjaga villa daved lalu penjaga pun pergi dan meninggal kan kita berlima di villa tersebut. Setelah kita keliling melihat indahnya pemmandangan pantai dan melihat sekeliling villa, disana terdapat kolamrenang dan lapangan

tennis Sedangkan tembok villa tersebut cukup tinggi dan rapat sehingga orang luar tidak dapat melihat keadaan didalam villa ini Kita berlima masuk kedalam villa dan duduk bersama di ruang tamu sambil ,mengobrol dan nonton acara tv. Selagi kita ngobrol Rey memberi saran gimana kalo kita tidak hanya ngobrol dan nonton kita main poker aja,akhirnya kamipun menyetujui. Permainan kita buka dengan tidak memakai taruhan .Selang beberapa game daved membuka pembicaraan, “ gimana kalau putaran berikutnya kita pake taruhan? “lalu taruhanya apa?” sahut ku “Orang yang memiliki kartu paling kecil harus menjadi budak dan harus menuruti semua permintaan dari orang yang memiliki kartu tertinggi dari dia.” Kata daved memberikan syarat permainan.Akhirnya semua menyetujuinya. Setelah kartu di bagi dan ternyata aku yang memiliki kartu yang paling kecil yaitu hanya punya pair kecil, sedang kan mereka berempat daved punya there of kind alfred pair as Rico pair 10 dan Rey memiliki double pair king. Sesuai kesepakan akhirnya mereka berempat menjadi bos dan aku sendiri menjadi bawahan . Tugas pertama yang aku terima akhirnya mereka menyuruh aku untuk melepas bajuku sampai bugil dan selama berada di villa aku harus telanjang tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mulusku ini.. Setelah itu daved dan Rey mengangkat Tubuhku dan meletakkannya di atas meja makan. di meja makan itu aku diikat terlentang seperti huruf X . kemudian alfred dan Rico mengambil pisau cukur dan mereka pun bergantian mencukur bulu halus kemaluan ku. setelah licin dan bersih benar mereka ,mulailah menikmati rasa legit kemaluanku dengan menghisap dan menjilatinya penuh nafsu. Kemudian ada yang meremas susuku dan minta di emut penisnya sama aku . Tak berapa lama kemudian aku sendiri mengalami orgasme dan diikuti sperma merekapun saling muncrat tumpah di tubuhku. kemudian mereka berempat menyuruh aku untuk menceburkan diri di kolam renang. Selagi aku berenang bugil,mereka hanya melihatku dari atas kolam dan daved merekam semua gerak gerik dan kemolekanku itu menggunakan handycamnya Setelah aku selesai berenang ,kami berlima menikmati makan di ruang makan kembali.Mereka berempat telah rapi berpakaian bedanya hanya aku sendiri yang bugil tanpa selembar kainpun yang menutupi Dan saat itu aku duduk berhadapan dengan mereka posikaki kiri dan kanan ku di ikat dengan kaki kursi yang mengakibatkan posisi duduk ku terbuka mengangkang. Memperlihatkan kemaluanku yang gundul kemerahan Setelah selesai makan Rey memberikan saran ”gimana kalau malam ini kita pergi ke diskotik,” Setelah Rey berkata itu semua pada setuju. Daved menyuruhkuku untuk hanya memakai baju tang top dan rok mini tanpa boleh

mengenakan daleman , ini karena aku masih kalah taruhan dan masa hukuman ku baru selesai besok pagi sesuai kesepakatan. Ku turuti saja kemauan mereka. Kamipun bergegas berjalan menuju mobil daved yang membawa kami ke sini. Namun sebelumnya kemaluanku disumbat oleh Rey dengan mainan sex berbentuk telur 2 buah berwarna pink dimana posisi telur yang satu berada di dalam liang vaginaku terhubung dengan seuntai tali tebal dengan telur satunya yang berada menggantung di luar tubuhku menempel di antara bibir kemaluan luarku. Anehnya kedua telur mainan itu kadang mendengung bergetar sendiri saat kuberjalan beberapa langkah uhh terasa gatal dan ngilu rasanya di kemaluan ini.terasa pengen pipis Ternyata riko memegang remote control dari mainan ini dan diamdiam menekannya berulang beberapa kali. Och akibatnya aku horny sekali dan sulit melangkahkan kakiku. Och ngilu campur gatal sekali sehingga terkadang aku harus terbungkuk sejenak sembari merapatkan pahaku sambil merasakan dinginnya udara malam di kemaluan karena tak mengenakan apa2 di balik rok pendek miniku Ouh orgasme lagi, lendir putih dari kemaluanku mengalir keluar ada yang langsung menetes ke bawah, sebagian meleleh mengalir turun lewat sela pangkal pahaku terus ke bawah sampai tumit kiriku akhirnya kami sampai di diskotik dekat villa nya daved.Disana kita menyewa satu ruangan vip, setelah masuk bilik, kita minum sambil mendengarkan dentungan musik diskotik, mereka kembali lagi mengerjai aku meraba tubuh ku dan menelanjangi aku di ruangan itu ,mengobok-obok selangkanganku , menyeruput menikmati lendir birahiku Karena aku sendiri sudah semakin fly terpengaruh oleh alkohol , maka akupun mengikuti saja irama mereka terkadang .dalam buaian mereka aku ikutan minum seteguk bercampur dengan sperma mereka yang secara bergantian mulai tumpah dan diteteskannya ke dalam gelas minumanku. Setelah seluruhnya merasakan kepuasan dan memang tempat itu sudah mau tutup kitapun bergegas kembali ke villa. Nah, saat berada di dalam mobil daved, kembali mereka lagi2 membugili aku sambil mereka mengusap usap memekku dengan jari atau memasukkan ujung botol minuman ke dalamnya, memutarmutarkan botol ataupun mengangsurkan ke dalam, uch mentok sampai pintu rahimku gilanya lagi setelah sampai di villa mereka menggendongku kemudian mengikat aku berdiri bugil di sebuah tiang menyerupai pohon di halaman villa. Seperti layaknya fotomodel telanjang. berbagai pose dengan simpul ikatan dilakukan mereka terhadapku. Pertama 2 tanganku diikat ke belakang dan selembar kain tipis menutupi bagian paha dan perutku, kemudian tanganku diikat seperti salib, dan terakhir 2 tanganku tergantung diatas tiang diatas kepalaku. Mereka mengabadikannya dengan kamera digital dan handycam. Selama aku diikat di halaman itu mereka menusuk anus dan vagina ku dengan kontol atau botol minuman, kemudian diselesaikan dengan menyetubuhiku dalam keadaan terikat ini bergantian di vaginaku bahkan kadang kedua lubang bawahku kerisi penis-penis mereka akhirnya acara mengarapku habis-habisan di halaman villa ini selesai sekitar jam 4pagi Merekapun ter tidur setelah aku tergolek lemas terlentang di meja

ruang tamu sambil ke dua tangan dan kakiku diikat pada ke empat sudut meja, seperti di altar persembahan dan sebagai kenangkenangan dari mereka berempat, dengan sedikit memaksa merekapun memasangkan anting di puting susu dan di bibir dalam kemaluan ku, sungguh betapa aku melenguh berteriak sekerasnya karena pedih menitikkan airmata bahkan melolong meronta saat ke dua anting itu mereka kenakan padaku semalam setelahnya aku kecapain menangis dan mereka juga sudah mengantuk,akhirnya kita semua tertidur,Cuma aku aja yang tertidur masih di tempat yang sama terikat tanpa busana, memamerkan anting baruku yang menempel di ujung ke dua puting dan tepi kemaluanku, meninggalkan bercak leleran darah bekas pemasangannya. Dan besok paginya kitapun kembali ke peradaban Semenjak kejadian itu aku menjadi makin deket sama mereka, tetapi aku paling deket sama Rey,kita sering jalan bareng seperti orang pacaran padahal kita sendiri tidak pacaran hanya teman bisa rasanya. Karena aku gaul dengan mereka akhirnya aku mulai mengenal dugem dan obat2 terlarang, dan sekarang ini aku menjadi kecanduan ,apa bila gak kutemukan drug atau kemaluan lelaki, kepala ku rasanya sakit dan pusing. Pernah suatu hari aku sangat sakau berat dan kebetulan aku lagi bokek Karena aku udah sakau dan bingung akhirnya aku telpon Rey untuk pinjam duit agar bisa beli obat tersebut. Tetapi Rey bilang gak usah pinjem . Dia punya barangnya dan Rey bisa berikan aku gratis, asal syaratnya untuk malam ini aku harus menuruti semua permintaannya . Gak ada pilihan lain akhirnya aku setujui semua syaratnya, Saat di telp aku sendiri sedang menggigil hebat dan keringat dingin mengucur deras di tubuhku ,sakau berat nich pertama syarat yang di ajukan Rey tidak sulit .Aku hanya perlu pakai rok mini dan tank top tapi gak boleh pake daleman sama seperti kejadian di villa daved tempohari. Karena aku udah pernah ,jadinya aku cuek aja.sesampainya di rumah Rey, dari luar aku liat rame sekali. Sepertinya pada saat aku datang di rumahnya ada pesta kecil kecilan. Ternyata di dalam rumah itu ada 3 cewek dan cowok sekitar 7 orang dan di tengah ruang tamu terdapat tiang untuk menggantung terdiri dari 3 tiang,pas disaat aku masuk Rey dengan sebuah mic dia bilang ini lah bintang tamu kita,disaat Rey berkata demikian akupun bingung.lalu mendekati Rey dan menanyakan barang tersebut, lalu dia bila ok aku akan kasih tapi ada syarat lagi Syaratnya ,Rey?”tanyaku sedikit memohon. sekarang aku ingin kamu dengan 3 wanita seusiaku itu untuk bugil di tengah ruangan ini, lalu Rey bilang kamu mau barangnya gak? Karena aku memerlukan drug itu,aku pun melakukannya aku mulai melepaskan bajuku satu persatu sampai bugil, berbarengan dengan 3 wanita itu. kemudian tangan ku diikat keatas dan digantung di tiang yang telah di sediakan .kedua kaki ku juga diikat dengan posisi di buka selebar lebarnya agar para tamu dapat melihat keindahan memekku yang bertindik itu walaupun sedikit tertutupi bulu kemaluanku yang tumbuh sedikit lebat di sana, kemudian setelah itu mulut ku diberangus dengan tali kekang dari kulit mirip berangus kuda,hal ini juga dilakukan sama kepada 3 wanita itu Cuma bedanya salah satu dari ketiga wanita diikat terlentang diatas meja makan.

Setelah kita semua para cewek diiket para prianya mulai meremas buah dada dan mengoral vagina kita bergantian kadang bebarengan ada juga yang mengabadikan semua ini dengan kamera dan handycam. Setelah mereka puas meraba raba dan merangsang kita ,merekapun mulai menyetubuhi kita ada yang lewat vagina ada yang langsung main di anus dan ada juga yang mainnya keroyokan. Setelah puas menyetubuhi dan menumpahkan sperma mereka di tubuh bugil kami para cewe, maka salah satu wanita yang di gantung itu di turunnkan lalu di taruh di salah satu meja, semula hanya terdengar lenguhan tertahan, tiba-tiba terdengar erangan menyayat dan lolongan keras, ternyata wanita itu pada ke dua ujung puting dan di klitorisnya di pasang sebuah anting, lalu di lehernya di ikatkan seuntai rantai anjing, Rey kemudian melepaskan ikatan menyeret wanita itu kehalaman samping rumah dan di sana cewek itu lagi2 di gantung berdiri seperti huruf X dan pada anting di klitorisnya di beri pemberat timah dan anting yang di puting di kasih rantai kecil lalu rantai itu ditarik sehingga ke dua putingnya makin mancung dan tegang ke depan,dan rantai juga diikatkan ke salah satu tiang di taman. wanitanya keliatan kesakitan, berteriak sebentar, darah masih mengalir di ujung puting dan ujung clitnya, sembari terkencingkencing menahan derita, tetapi tampaknya dia menyukai perlakuan seperti itu. Kemudian wanita itupun menjadi bulan-bulanan pria di sana, di cambuk dan di beri tetesan lilin oleh cowok2 yang lain. Akhirnya wanita itu gak kuat atas siksaan yang dia terima dan akhirnya jatuh pingsan. Karena dia pingsan maka mulailah aku dan seorang cewe lagi di gilir dan di siksa, di ikat dan di cambuk . aku sendiri pada bagian anus dimasukkan dildo panjang seolah ekor menjuntai dari anusku dan memekku di jejalkan vibrator mendengung dan berputar,yang pada akhirnya semua cewek kebagian penyiksaan. termasuk aku akhirnya ikut jatuh pingsan Karena kecapean tersiksa dan disetubuhi bertubi-tubi, bergantian dengan kasar oleh semua lakilaki yang hadir di sana Setelah tersadar aku melihat 3 cewek itu masih diikat di tiang dengan kondisi bugil dan begitu pula dengan aku, kudapati aku kehilangan rambut kemaluanku. memekku tampak licin dan sedikit bengkak diujung clitku.entah kapan mereka mencukurnya saat ku pingsan tadi Setelah para cewek tersadar semua, kemudian Rey masuk kedalam ruangan tersebut dan berkata di hadapan kami bahwa kita mulai saat ini dan selamanya harus menjadi wanita simpanan Rey atau budak sexnya Kalau kita tidak mau menuruti permintaanya di akan menyebarkan semua foto dan video yang merekam segala kejadian tadi malam ke orang-orang yang kita kenal. Akhirnya kita harus menerima keadaan ini. Saat itu masih gelap sekitar jam 1 dinihari akhirnya Rey dan beberapa temannya mengantar kita pulang. Namun Rey tidak memberikan baju kita, jadi kita di anter pulang dengan keadaan bugil, pas didalam mobil Rey dan kawan2nya hanya memberikan isolasi lakband hitam menempel dari punggung kedepan sampai bagian puting dan vagina kita. Sehingga masing masing cewe serasa memakai bentuk Bra dan CD dari isolasi

akhirnya aku menjadi sex slave Rey dan kawan2nya hingga sekarang. TAMAT Cerita Dewasa Namanya Mayang dari Daerah Kuningan, Namanya Mayang (nama Aslinya sengaja aku simpan).. 19 tahun… Sejak awal ketemu dia, aku sudah tertarik dengan gaya lugu-nya — namun aku sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan tubuhnya dengan mudah. Semuanya berawal dari ajakan temanku untuk ikut liburan selama beberapa hari ke Kota Kuningan. Awalnya aku ragu, namun akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Hari pertama, Adhi mengajakku untuk nongkrong di Toserba Yogya, di sana dia menemui beberapa teman lamanya, sekalian cuci mata karena area toserba Yogya juga merupakan salah satu pusat tongkrongan anak muda di Kuningan. Cerita Dewasa hanya di sexceritadewasa.com

Saat sedang mengisi pulsa di salah satu otlet yang dijaga oleh temannya Adhi, ada seorang gadis yang menepuk pundakku dari belakang. “Dicariin di Timezone malah ada di sini,” katanya tanpa ba bi bu. Mata gadis itu membelalak lucu ketika sadar bahwa aku bukanlah orang yang dia maksud. “Duh, maaf….” Ujarnya pelan, lalu dia mendelik kepada Jay – penjaga outlet– yang tertawa melihat kejadian itu. “Makanya, jangan asal serobot az, May” Jay berkata disela tawanya, ternyata Jay dan gadis itu telah saling mengenal. “Maaf ya, saya kira…” Gadis itu tidak meneruskan ucapannya karena aku potong. “Gak papa, kok.” Ujarku sambil berusaha menampilkan senyum simpatik. Harus tebar pesona, soalnya gadis di depanku ini manisnya minta ampun. “Di gebug lagi juga gak apa2, Neng’” timpal Adhi sambil mengedipkan matanya padaku. Gadis itu masih tersipu, lalu dia cepat2 berlalu dari tempat itu. “Kemana, May?” tanya Jay sebelum gadis itu menghilang. “Masuk lagi, waktu istirahat dah abis.” Jawab Mayang, lalu dia menghilang di balik mobil2 yang diparkir di depan outlet. “Namanya Mayang, Dia SPG,” Jay menerangkan sebelum Adhi sempat buka suara untuk menanyakan siapa gadis itu. “Halagh… tau az Lu, Jay. Gue blom nanya Lu udah jawab duluan,” Adhi terkekeh. “Gue udah bisa baca dari sorot mata keranjang Lu itu,” Aku pura2 sibuk menulis sms, namun dalam hatiku aku berusaha mengingat baik2 nama gadis itu. Mayang, SPG H&R Toserba Yogya. ———————————————————————— Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Tidak ada kejadian istimewa lain, tiap hari Adhi mengajakku mengunjungi tempat2 yang dulu biasa dia jadikan tempat nongkrong bersama teman2 lamanya. Aku bahkan hampir lupa soal pertemuanku dengan Mayang. Hingga akhirnya pada Malam Minggu Adhi mengajak aku untuk menonton acara Mentari on the Street, acara pentas musik band lokal yang rutin diadakan setiap malam minggu oleh salah satu radio di Kuningan. Di sana aku kembali melihat Mayang. Dia sedang asyik menonton aksi panggung salah satu band lokal sambil dipeluk dari belakang oleh seorang cowok. “Wah, udah punya cowok dia,” ujar Adhi yang juga melihat Mayang. “Wajar lah, cewek manis gitu…” jawabku sambil mengalihkan

pandangan ke arah panggung. Lalu aku dan Adhi sibuk menertawakan aksi vokalis norak yang kehabisan nafas ketika meneriakkan reff lagu Crawling-nya Linkin Park… Selang beberapa lagu, aku kembali melirik tempat di mana tadi aku melihat Mayang. Gadis itu masih sedang bersama cowoknya, namun kali ini tidak mesra seperti tadi. Mereka seperti sedang bertengkar, lalu Si Cowok pergi begitu saja sambil menunjuk-nunjuk Mayang dengan marah. Dari jauh aku bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca, dia menggigit bibir menahan tangis. Secara naluri aku langsung menghampirinya. “Ada apa, May? Kok Kamu bertengkar ama dia?” tanyaku kemudian. Mayang menatapku selama beberapa detik, “Ah, Kamu yang ketemu aku di Outlet nya Jay, ya?” “Iya, namaku Yudha. Sori bukan mo ikut campur, aku hanya gak tega melihat kamu hampir nangis di tempat seramai ini.” “Ah, sudahlah… Gak perlu di bahas,” Mayang memalingkan wajahnya, mungkin dia merasa canggung karena aku melihatnya hampir menangis. “Surya memang begitu orangnya, moody banget”. “Oh, jadi cowok kamu namanya Surya?” Mayang mengangguk. “Dha, mau bantu aku ngga?” “Tentu,” jawabku. “Bisa anterin aku pulang gak? Aku gak berani pulang sendiri malemmalem gini” “Memangnya rumah KAmu di mana?” “Di Kadugede,” Aku tidak tahu KAdugede itu sebelah mana, tapi siapa peduli? Toh Mayang bisa menunjukkan jalan. “Ok,” jawabku kemudian. “Aku ngambil kunci motor dulu ya”. LAlu aku menghampiri Adhi dan memnjam kunci motornya. “Wah, dapet rejeki, Lu”. Ledek Adhi sambil melemparkan kunci motor yang aku pinta. Aku mengedipkan mata. Sepanjang perjalanan pulang, aku tahu Mayang menangis di belakangku. Tapi aku pura2 tidak tahu, aku tidak mau dia merasa canggung. Sesampainya di rumah, Mayang memintaku untuk masuk sebentar. Di rumah itu hanya ada neneknya yang telah tertidur pulas di kamar belakang. Mayang bercerita bahwa orang tuanya tinggal di Bandung. “Silakan di minum, Dha.” Kata Mayang sambil menyimpan gelas minuman ke atas meja di depanku. Aku mengangguk. “Aku ganti baju dulu, ya.” Lanjut Mayang kemudian, lalu dia berlalu ke kamarnya. Kamar Mayang terletak tidak jauh dari ruang tamu, saat sedang berganti pakaian, aku mendengar Mayang bertengkar lagi dengan surya di telepon. Entah apa yang mereka permasalahkan, yang jelas aku mendengar Mayang bertengkar sambil menangis. Setelah pertengkaran itu, Mayang tidak juga keluar dari kamarnya. Setelah menunggu selama 30 menit lebih, akhirnya aku memberanikan diri untuk menghampiri Mayang di kamarnya. Mayang sedang menangis di atas tempat tidur ketika aku masuk. “Mungkin sebaiknya aku pulang ya” Ujarku sambil duduk di pinggir tempat tidur. Mayang tersentak, “Aduh, Maaf, Dha. Aku gak bermaksud nyuekin Kamu” “Gak papa kok, aku maklum.” “Entahlah, Dha. Aku bingung, hubunganku dengan surya akhir2 ini semakin kacau.” Nada bicara Mayang menunjukkan bahwa dia sedang butuh teman bicara, akhirnya aku membatalkan niatku untuk pulang dan berusaha sebijak mungkin memberikan kata-kata penghibur untuk Mayang. Setelah beberapa lama, akhirnya Mayang menghapus air matanya lalu duduk di sampingku.

“Nah, gitu dong, jangan sedih melulu” Ujarku sambil mengambil ponsel dari saku celanaku. “Aku foto ya, beri aku senyuman.” Mayang tersenyum, lalu aku mengambil gambarnya beberapa kali menggunakan kamera ponsel. Saat sedang mengambil gambar, secara tidak sengaja aku melihat belahan payudaranya yang tersembul di balik kerah kaosnya. Aku yang memang sejak tadi menahan hasrat, akhirnya tak mampu lagi membendung. Perlahan aku duduk di samping Mayang, tanpa permisi terlebih dahulu aku langsung memeluk dan menciumnya. Mayang sempat kaget lalu berusaha berontak, namun aku mempererat pelukanku dan memperdalam ciumanku. “Hmmpphhhh, Dha….” Rintih Mayang di sela-sela hujanan ciumanku. “Jangan menolak, May. Aku butuh kamu.” Bisikku sambil mengalihkan ciumanku ke lehernya yang jenjang. Aroma wangi tercium dari tubuhnya, membuatku semakin hilang kendali. Tanganku menelusup ke balik kaos Mayang, menjalar menuju gundukan payudara yang tidak terlalu besar namun padat. Rangsangan2 yang kuberikan akhirnya mampu meredam perlawanan Mayang. Secara perlahan dia merebahkan tubuhnya, aku mengikuti dan langsung menindih tubuhnya. “Yudha… jangan terlalu jauh ya…” Bisik Mayang di sela2 nafasnya yang memburu. Aku tidak menjawab permintaannya, dari atas tubuhnya, aku mulai melepaskan kancing baju Mayang satu persatu. Mayang berusaha berontak ketika aku melepaskan bajunya, namun aku berhasil membuka baju tersebut, bahkan sekalian merenggut bra nya hingga payudaranya terbuka dengan lebar. Puting payudaranya menyembul keras, payudara ini pasti pernah dijamah seseorang, mungkin Surya, fikirku. Tapi aku tidak peduli, payudara ini tetap menawan. Erangan halus keluar dari mulut Mayang ketika mulutku mengulum dan mempermainkan putingnya. Aku membiarkan dia mengerang selama beberapa lama, semakin liar lidahku bergerak, semakin kuat erangan Mayang. Kemudian aku melepaskan kaos yang ku kenakan, lalu kembali menindih tubuhnya. Aku mengerang lirih ketika kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus. Rudalku mengeras hebat di balik celana jeansku. Mayang menolak ketika aku berusaha menyingkap rok nya, dia menamparku ketika aku berusaha memaksa. Untuk sejenak, aku harus melupakan keinginanku mempermainkan bagian bawahnya. Aku kembali menyerang payudara dan perutnya dengan usapan lidahku, ketika Mayang terbuai, sedikit demi sedikit aku mempreteli pakaian yang masih menempel di tubuhnya hingga terlepas semua, dan aku pun mempreteli semua pakaian yang masih melekat di tubuhku. Mayang berusaha mendorong tubuhku ketika dia sadar aku dan dia telah telanjang bulat. “Jangan, Dha… Aku masih milik Surya…” Bisiknya lemah. Tapi mana mau aku melepaskan kesempatan ini. “Beri aku satu kali saja, aku ingin menikmati tubuhmu…” “Jangan, Dha….” “Ayolah, May… Atau, kamu masih perawan?” Mayang menggeleng, “Surya telah mengambilnya” “Kalau begitu, apa salahnya kalau kamu memberiku kesempatan?” Aku tetap berusaha menindihnya, memperkuat posisiku diantara perlawanan Mayang yang semakin melemah. Kepala tongkatku beberapa kali menggesek bibir vaginanya, ketika tepat di depan lubang senggama Mayang, aku berusaha menekan, namun beberapa kali usahaku gagal karena Mayang merapatkan kakinya. “Aku tidak mau menghianati Surya, karena….. Ahhhhhh…” Mayang tidak melanjutkan ucapannya ketika akhirnya kepala tongkatku berhasil memasuki liang kenikmatan tersebut.

Aku mengerang keras, sensasi kenikmatan menjalar cepat. Penisku belum masuk semua, liang senggama Mayang terasa sempit. Beberapa kali aku bergerak maju mundur hingga akhirnya BLESSSHHHH…. seluruh penisku masuk. Mayang mengerang, vaginanya yang belum dilumasi secara sempurna terasa seret, sisa2 perlawanannya mulai berakhir…. Aku terus bergerak, menjemput kenikmatan demi kenikmatan dari tubuh Mayang. Secara perlahan, Mayang mulai menikmati dan ikut berperan hingga akhirnya persetubuhan ini berjalan seimbang. Bunyi khas terdengar dari liang senggamanya seirama dengan gerakan2 yang kami buat. “Ahhhh… Yudha… punyamu besar sekali……..” “Nikmatilah sepuasmu, Sayang…. Aku juga… ahhh….” Pijatan halus vagina Mayang yang mengurut penisku membuatku tak mampu menyelesaikan ucapanku. “Aku mau keluaarrrr…..” Desis Mayang…. Beberapa lama kemudian liang senggamanya semakin penuh oleh cairan… Aku masih terus mengayun, lalu aku bangkit dan melipat kedua kakiku. Tanpa membiarkan terlepas, aku menyetubuhinya dalam posisi baru. Erangan dan rintihan masih berbaur. Sekilas mataku melihat ponsel milikku tergeletak di sebelah kiri. Ponsel itu kuambil, sambil tetap menyetubuhi Mayang, aku mengambil beberapa gambar melalui kamera ponselku. JEPRET!!! Yudha… apa yang kamu lakukan?” tanya Mayang di sela2 erangannya. Aku tidak menjawab karena puncak kenikmatan semakin mendekat. Gerakan itu kupercepat dan aku kembali menjatuhkan tubuhku menindih tubuh Mayang. Sengatan-sengatan kenikmatan semakin cepat menerjang. “Ahh… Dha… aku mau keluar lagi……..” MAyang mengerang…. “Aku juga, Sayaaanggg,” jawabku, pelukanku kuererat, gerakanku semakin ku percepat, intensitas enikmatan yang semakin meningkat membuatku tak tahan dan meninggalkan beberapa gigitan di leher dan dagu Mayang. “Ahhh Ahhhhh Ahhhhhh…. Mayang semakin keras mengerang…..” “Ugh… keluarin di mana, Sayang?” tanyaku, gerbang puncak telah di depan mata. “Jangan dicabuuutt… Di dalam saja, semprotkan semuanya padakuuuuuuu….” Tubuhku mengejang, sensasi kenikmatan meledak di puncaknya diiringi erangan panjang aku dan Mayang….. Aku menyemprot kuat beberapa kali… “Kamu tidak takut hamil?” tanyaku setelah puncak kenikmatan berlalu perlahan. Mayang menggeleng. “Saat ini aku memang sedang hamil dua bulan, itulah penyebab pertengkaranku dengan Surya.” jawabnya. Aku mencabut sisa-sisa yang masih ada dan membaringkan diri di samping Mayang. Tubuh kami berkeringat, tempat tidur acak-acakan tak karuan. Mayang memelukku. “Nikmat sekali, Dha. Andai Surya sehebat Kamu….” bisiknya. Aku tersenyum bangga. “Beri aku waktu istirahat beberpa menit, dan akan aku berikan lagi kenikmatan seperti tadi,” jawbku. Kemudian aku mengecup keningnya. Malam itu empat kali aku menyetubuhinya hingga pagi. Perbuatan kami hampir dipergoki neneknya yang terbangun. Jam 6 pagi aku pulang menuju rumah Adhi. Rentetan omelan menyambut kedatanganku. “Gila Lo Dha… Nidurin cewek sampe lupain temen… Gue hampir

pulang jalan kaki tadi malem, untung gue ketemu Anita yang nganterin gue pulang. Kalo tau gini, gak bakalan gue kasiin kunci motor itu.” Aku tersenyum… “Jangan belagak ngambek, Lo…. Gue tau tadi malem Lo juga “maen”. Ama siapa? Anita? Siapa tuh Anita?” “Tau darimana?” tanya Adhi heran. Aku sengaja tidak langsung menjawab. Kemudian sambil berlalu menuju kamar mandi, aku berkata; “Empat cupang di leher Lo itu, jelas banget keliatan… Buset, ganas amat Si Anita… Kenalin dong… Gue juga pengen nyobain….” Mendengar omonganku, Adhi langsung berlari menuju cermin…… (TAMAT) Cerita Sex Kenangan Bersama Laura, Halo, aku adalah Yosa, 25 (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswa semester akhir sebuah PTN di kota kembang. Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Aku memiliki seorang teman dekat yang bernama Laura, Aku dan Laura berkenalan ketika kami masih sama-sama duduk satu kelas di sebuah SMA ternama di kota Pempek, Laura sangat dekat denganku karena kami duduk satu meja, antara aku dan laura betul-betul hanya sebatas teman biasa. Aku dan Laura masing-masing telah mempunyai pacar. Setelah kami tamat dari SMA persahabatan kami makin solit karena ternyata, Laura pun berkeinginan kuliah di kota kembang, dan Laura diterima sebuah PTS di daerah Taman Sari di kota Kembang. Singkat cerita setelah aku kuliah di kota kembang, pacarku yang ada dikota Pempek memutuskan hubungan dengan diriku. Sebagai seorang sahabat baik Laura menghiburku, dua tahun tidak terasa kami telah kuliah di kota kembang. Cerita Sex hanya di sexceritadewasa.com Pada hari minggu pagi, aku di kejutkan dengan kedatangan Laura di rumahku dengan mata merah habis menagis. Aku bingung dengan keadan Laura pada saat itu. Dengan isak tangis dan suara terbata-bata ia, bercerita tentang Rudi pacarnya yang di Kota pempek telah memutuskan dirinya. Alangkah tololnya si Rudi ini pikirku , memutuskan hubungan dengan Laura. Perluku terangkan bentuk fisik Laura, sebagai seorang wanita ia termasuk wanita yang cantik, dengan bentuk tubuh yang padat, kulit putih, hidung mancung dan bibirnya yang sensual, mengingat ia pernah keluar sebagai juara dua perlombaan busana Jean’s yang diselenggarakan tiap tahun oleh sebuah toko di daerah Cihampelas dan hal itu yang membuatnya akhirnya muncul sebagai foto model sebuah Majalah Ternama. Untuk menghilangkan semua kesedihannya aku mengajak Laura jalan-jalan. Dalam perjalanan aku menghiburnya dengan leluconlelucon yang kadang-kadang konyol. “Yo, aku ingin menghilangkan semua kenangan dengan Rudi, dan membuat kenangan baru yang manis !!!!!!!!!!” “Kenangan baru, kenangan manis?”, tanyaku padanya “baik pokoknya hari ini, Yo akan membuat kenangan baru untuk Laura”

Perjalanan kami mulai dangan mengunjungi Gelael dan makan siang disana, Dari sana kami menuju BIP dan nonton filem. Setelah didalam bioskop aku nekat merangkul Laura dan ternyata Laura pun mendiamkan saja hal itu yang membuat aku semakin berani dan menjalarkan tanganku ke pahanya dan tanpa permisi lagi ku kecup pipinya yang putih, ia memandang mesra kepadaku. Dan ia bertanya “Yo, apa yang membuat dirimu melakukan hal itu?”, akupun hanya diam dan kujawab dengan ciuman dibibirnya. Ternyata Laura memberikan respon yang baik, dia membalas ciumanku dengan menggigit bibir bawahku aku semakin bernafsu siUcok pun mengeras dengan sangat cepatnya, dan dengan reflek tanganku langsung menuju selangkangannya dan mengusap-usap memeknya, kukulum bibirnya ia balas dengan menghisap bibirku dan sebaliknya, entah apa yang berkecamuk di pikiran kami pada saat itu. Setelah itu ia melapaskan pangutanku dan meminta aku memperhatikan filem saja. Setelah selesai nonton aku mempunyai ide untuk mengajaknya ke pemandian air panas di daerah lembang untuk berenang dengan harapan aku dapat berenang di lautan asmara , “Laura, kita renang yuk ” ajakku dan ia pun setuju !!! Setelah sampai disana kami pun berenang dan bermain air dan di dalam air aku mulai mencuri-curi untuk menyentuhkan tanganku kebagian-bagian kewanitaan Laura, nampaknya ia pun mulai membaca pikiran kotorku dan mulai mengajakku untuk pulang. Hari telah mulai berganti malam, udara pegunungan yang dingin mulai turun ditambah dengan dinginnya AC mobilku membuat nafsuku naik dan dari guyonan-guyonan yang rada ngeres yang kami bicarakan aku yakin berpikiran sama denganku, nampaknya kejadian di bioskop dan kolam renang masuk ke otaknya, hal itu terlihat dari pembicaraan kami yang makin ngaco dan jorok. Aku pun meminggirkan mobil, Laura memandangku dengan membisu dan tanpa membuang waktu aku langsung menecup bibirnya, dan di balasnya dengan mempermaikan lidah di mulutku. Kursi mobil kumundurkan dan kurubah posisinya tidur, tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal. “Emmm.., Yoo? ahh? Yoooo jangan Yooo?, Laura merintih keenakan. Tak kuhiraukan rintihannya mulai merogoh payudaranya. Laura makin terangsang tangannya mulai menuju ke SiUcok yang sudah mengeras dari tadi dan memijit-mijitnya. Segera tanganku mencopoti kancing baju dan nampahlah buah dadanya yang indah di tutupi BH. Seumur-umur selama pacaran dulu aku belum pernah melakukan hal senekat ini paling-paling hanya ciuman-ciuman biasa, nampaknya pergaulanku di kota kembang lah yang membuat aku bisa melakukan hal ini. “Yo, jangan disini nanti ada yang liat, kita pulang aja biar leluasa” pintanya, Aku diamkan saja dan langsung ku stater mobil dan bergegas menuju rumahku dengan kecepatan yang menggila, nafsuku sudah di ujung tanduk. Setelah sampai dirumah langsung kurangkul dan kuciumi dengan buasnya. “Yo, pelan-pelan, jangan bernafsu “begitu pintanya, tapi mana aku peduli akan permintaannya itu. Kudorong tubuhnya yang aduhai kedinding dan kukecup bibirnya yang membuat aku gemas dan bernafsu ingin melumatnya, kutekankan siUcok ke kemaluannya dan iapun berkata “wah udah

nafsu bener tu siUcok” Bibirku mulai turun ke daerah leher dan semakin kebawah lagi, tangan kiriku mulai meremas remas susunya, begitu pun tangan kiri Laura yang menuju ke siUcok sedangkan tangan kanan kami saling berpegangan yang semakin erat. Laura semakin menikmati permainan bibirku dan tanganku, kepalanya kekiri dan kekanan dengan mata yang terpejam, akupun tau nafsunya mulai di ujung tanduk. Dengan sigapnya tangan kiriku mulai melepas kancing bajunya, tangan kananku menggantikan peranan tangan kiri untuk meremas susunya. Segera setelah baju nya terbuka BH nya pun daku lepaskan dan kulempar kan entah kemana, payudara Laura dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara Laura. Langsung kuremas payudara kirinya sementara mulutku menuju yang kanan dan langsung kukenyot itu susu, Laura semakin kebelingesan dan kepalanya kekiri dan kekanan sementara tangannya membelai kepalaku dan menekan kepalaku semakin kedalam, Laura merintih keenakan ahhhh Yo terus Yo ahhhhh, aku tau ia semakin terangsang dan secara tiba-tiba aku hentikan semua kegiatan tangan dan mulutku, kutarik tangannya menuju kekamar. Sesampai di kamar kudorong tubuhnya ke kasur melanjutkan aksiku yang tertunda tadi. Ku tindih tubuh Laura, dan bibirku mulai bermain-main dengan bibir, kuping, leher dan turun kesusunya. Tiba-tiba. “Yo, STOP ,Yo tolong stop dulu tangannya mendorongkan tubuhku, Yo, kenapa kamu lakukan ini ke Laura ?” Tanyanya sambil memeluk pinggangku, “katanya mau membuat kenangan manis yang baru, makanya Yo melakukan hal ini, tapi kita kan bersahabat Yo, bukan sepasang kekasih dan lagi kita belum menikah, terus terang saja Rudi belum pernah melakukan sampai sejauh ini pada Laura. Laura, aku berusaha mengecup bibirnya tetapi ia menghindar dan meletakkan jari telunjuknya di bibirku, langsung saja ku gigit, dan kukulum. “Yo, jawab dulu dengan jujur pertanyaan Laura, Yo, Pernah melakukannya hal ini dengan pacar, Yo.?” tanyanya. Aku pun menggelengkan kepalaku, “Tapi kayaknya Yo sudah biasa melakukan hal ini dengan wanita,” katanya lagi. “Naluri laki-laki” jawabku singkat. “Laura, Yo ingin menghibur Laura” kataku “Tapi mustinya bukan dengan cari begini, Yo ” jawab laura “Ok, jawab pertanyaan Yo dengan jujur ?, Laura menikmati permainan kita ini dan Laura masih ingin melanjutkannya, jawablah dengan jujur” Laura pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Dengan sigap akupun langsung menindih kembali tubuh Laura, “Yo, sabar sebentar, bagai mana nanti kalau keterusan Yo, pasti akan menikahi Laura, dan detik ini Yo menyatakan cinta dan sayang pada Laura, akupun langsung melumat bibirnya sehingga ia tidak bisa menjawab pernyataanku tadi, tapi dari reaksinya yang melayani ciumanku, akupun mengerti ia setuju dengan peryataanku.

Aku semakin berani, kubuka kaos yang kepakai sehingga kulit dadaku langsung bersentuhan dengan kulitnya dan perasaan hatiku semakin hangat, degub jantungku semakin cepat, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini Laura semakin garang, tangannya menjambak rambutku, ia pun merintih menikmati permainan tangan dan bibirku, sekali sekali ia menggigit bibir dan leherku, kubalas dengan memasukkan lidahku ke kupingnya. Laura, “hmmm, Yo buka jean’snya ya” , iapun menganguk. Singkat waktu tanganku bereaksi dengan sigap melepas kancing celananya, kutarik lepas celana jean’snya,nampaklah pahanya yang mulus dan CD berwarna krem, tanganku otomatis langsung memegang memeknya dan ternyata memeknya sudah basah, dengan deguban jantung yang semakin cepat, karena ini pertama kali aku melihat dan memegang memek seorang wanita, akupun makin membayangkan apa yang akan aku dapatkan hari ini, akupun langsung membuka jelanaku dengan tergesa-gesa dengan di bantu oleh tangan Laura, nampaknya ia pun tidak sabar ingin melihat siUcok yang perkasa, Yo, “siUcok boleh Laura pegangya. Layaknya seorang profesional, akupun kembali menciumi bibir, leher, kuping dan susunya Laura, sementara tangan kiriku meraba-raba memeknya dan kuberanikan memasukkan tanganku ke dalam CD nya, basah kataku, iapun mengangguk, Laura pun memasukkan tangannya kedalam Cd ku makin membesar saja siUcok dan iapun berteriak gila besar bangat milikmu Yo, “Laura takut Yo, ia berkata lirih, Nggak apa-apa, nanti kalau sudah ngerasain pasti ketagihan kataku. Akupun merasakan degub jantung Laura semakin cepat. Bibirku menarik putting susu kanannya Laura. “Ah..enak Yo ” Laura merintih keenakan. Kudekatkan kepalaku ke susu kirinya, ku hisap – hisap puting kiriya. Laura semakin menggelinjang. Tanganku bergerak dengan cepat melepas Cdnya dan nampaklah hutan rimba yang sangat lebat, kuusap tanganku kememeknya, kutari-tarik jembutnya yang hitam, akupun menepukan sebuah lubang kecil yang basah, kugesekkan tangan ku kelobang memeknya, Laura semakin merintih, ahhh?ahhhh suara rintihannya semakin nyaring membuat akupun semakin nafsu, ia pun melepaskan CD ku dan siUcok pun nampak berdiri dengan perkasanya. Kami sudah telanjang bulat, kuraih tangan kiri dan kanan, tangan kamipun saling bertautan, kutindih tubuh Laura yang betul-betul membuat aku melupakan semuanya. Pantatku kusodok-sodokkan, kutekan-tekan kepala SiUcok menyentuh bibir memeknya, Laura semakin merintih tidak beraturan Ahhhh??.Shhhhh ssssshhhhhhhh…….Aaaahhhhh??Eee ehhhh, pantatnya pun bergerak kekiri dan kekanan, matanya terpejam ia betul-betul menikmati permainan ini, aku pun semakin bernafsu. SiUcok semakin liar bergrilya di memeknya, jembutnya menyentuh dan bergeseka dengan kepala dan batang siUcokku. Aku mendesah “ Hemmm.. Yo mau keluar nih.. “

“Yo, tanggung Yo jangan dulu Yo, Laura juga bentar lagi.. ehhhh… ahhh” jawabnya. Tiba-tiba aku merasakan ada dorongan yang hangat keluar dari kepala siUcok, “Aku keluarrrrrr ahhhhhhhh”, “Aku KO?” membatin didalam hatiku “Aku masih amatiran?” Air maniku berceceran di perut Laura. ” Yo?., tempelkan lagi Yo”, Laurapun mempercepat gerakan pantatnya iapun nampaknya tidak mau kalau aku yang merasakan kenikmatan, siUcok yang sudah mengecil seperti di pelitir tergunjang kekanan dan kekiri, bibirku masih bermain telinga Laura, tak berapa lama kemudian dia mengerang “Aahhh.. Ssssshhhhh… enaaaakkkkkk .. Yoooo”, ia memanggil namaku dan kuraskan siUcok yang berada di bibir memeknya terasa hangat, kamipun tergolek lemas dan kulihat Laura mulai tertidur. Akupun memikirkan kekalahanku di sesi pertama ini, tak berapa lama akupun tertidur pulas. Jam 9.00 malem Aku terbangun, perutku teras laper banget kulihat Laura masih pules banget kekecup bibirnya pelan, matanya terbuka, “Yo?”. “Ada apa sayang”. serrrrr kalimat itu langsung membuat siUcok bangun lagi dan Laura yang kebetulan tangannya menyentuh siUcok bergumam si Ucok udah mulai bangun lagi tuh. Kulumat bibirnya dan sibalasnya kecupan ringan. “Laura, Yo keluar sebentar beli nasi ya”, ia pun mengangguk. Akupun bangun mengambil pakaian kulihat ia mulai mau tidur lagi, akupun pergi keluar mencari nasi Padang. Baru saja aku melangkahkan kaki masuk dan akan memesan nasi ada yang berteriak memanggil, “Yo?.Yono?. sini oi sebentar, kucari sumber suara itu dan kudapati rombongan teman-teman dari kota tempatku , mereka mengontrak rumah tidak jauh dari rumahku.Hanya saja mereka itu anak-anak ajaib yang hidupnya seperti Batman, tidur disiang hari keluyuran mencari mangsa di malam hari, aku sering di ajak oleh mereka tapi tidak pernah kuturuti, karena melihat gaya hidup mereka yang serabutan padahal kami sama-sama masih kuliah, takut mengganggu kuliahku, jawabku memberi alasan jika mereka mengajakku untuk berlayar. Tapi kali ini lain sekali, kudekati rombongan yang lagi makan tersebut, dan kutegur orang yang paling akrab denganku, Roto namanya, “To, sebentar To, aku ada perlu sama ente, ada yang ingin aku tanyakan sebentar dan ini urusan yang sangat penting yang tidak dapat ditunda-tunda.” Anak-anak yang lain pada berhenti makan dan memandang aneh kepadaku. “Entar dulu”, “Yo, dikitt lagi. Ok?” “Urusan dunia ape urusan akherat heeee !!!!!”. “Ayolah sebentar ini urusan dunia”. Roto bergegas berdiri dan kami menuju meja yang kosong. Aku ceritakan pengalamanku dengan Laura sambil malu-malu, “Ia tertawa sangat keras dan terbahak-bahak, orang yang pada makan memperhatikan kami berdua dengan heran.

“Yo, dulu aku sering ngajak kamu untuk menjari pengalaman tapi ente selalu menganggap enteng masalah ini, Ok. Sekarang gua ajarin inti-intinya saja selanjutnya terselah dikau bisa menjalankannya tidak, maka dengan waktu yang tidak lama aku menerima pelajaran singkat dan cepat. Kalian ngomongin apa sih kayak penting banget dan rahasia, sehingga harus memisahkan diri dari rombongan, tanya, Diki? penasaran sambil mendekat. Ah enggak terlalu penting tapi harus dibicarakan secara pribadi, jawabku singkat. Aku pun membeli nasi dan segera pamit pada mereka. “Laura, makan yok, mumpung nasinya masih panas, aku mencari Laura di kamar. Ya, “tarok aja di meja jawabnya singkat, ternyata ia lagi mandi sambil bersenandung. Akupun menghayalkan bentuk tubuhnya yang aduhai kulitnya yang halus, toket nya yang kencang, memeknya, jembutnya yang rindang, nafsuku bangkit dengan cepat. Laura, “tok-tok kuketuk pintu kamar mandi, buka ,”Yo udah kebelet ingin pipis, kamarmandi belakang enggak ada air pintaku. Begitu, pintu tebuka kulihat tubuhnya penuh dengan sabun, kupandangi tubuhnya dengan nafsu, akupun lupa pada nasi yang kubeli. “Yo, halo Yo.. Jangan ngelamun katanya mau pipis..” Kudekati tubuhnya, “ahh enggak jadi jawabku singkat, kutarik tubuhnya masuk dalam pelukanku, “Yo, buka dulu dong bajunya.” katanya Secepat kilat, semua pakaianku tertanggalkan semua. Kutarik lagi tubuhnya, kulumat bibir bawahnya dengan halus dan pelan-pelan, kujulurkan lidahku masuk kedalam mulutnya, ia membalas permainan lidahku dengan dengan menggigit lidahku pelan, tangan kiriku bermain di toketnya, kutarik-tarik putting susunya, kuputar-putar kekiri dan kekanan, sementara tangan kanan meraba tengkuknya, ia kembali merintih, kudorongkan tubuhnya kedinding, kutekan siUcok yang sudah mengencang kearah memeknya, siUcokku terselip di antara selangkangnnya, ia merintih “ahhh.sssshhhhh.ahhhh.. “,tangannya memelukku lebih erat lagi, ” Yo, tadi dari mana sih, kanyaknya ada yang berbeda dari Yo, yang tadi,” tanyanya?, Aku diam saja tapi gerakan siUcok,tangan dan bibirku kadang kepercepat kadang kupelankan kadang antara kena dan tidak, ia benar-benar sangat terangsang dengan permainanku sekali ini. Kusiram tubuhnya dengan air untuk menghilangkan sabun didirinya, kepalaku kuturunkan ke toketnya dan kulumat susu kirinya, tanganku meremas-remas yang kanan, kugigit putingnya susunya, kuisap-isap “ahhhh….shhhhh…Uaaaahhhh.. .aahhhhhh..” rintihnya , kupindahkan tangan kananku kebawah dan kuraba memeknya yang sudah mulai terasa basah dan berlendir, mulutku pindah ke toket sebelah kanan dan kugigit lagi putting susunya, sementara tangan kiriku menggantikan posisi mulutku yang tadi mengisap toket kirinya, permainan kali ini memang berbeda dari yang pertama, aku tidak terburu-buru untuk mencapai kepuasan tetapi berusaha menikmati setiap gerakan yang kuciptakan secara refleks. Tangan kanan ku semakin lincah bermain-main di memeknya dan kumasukkan jariku kememeknya yang sudah becek, ” Yo sakittttt… ahhhh..sakitttt… ,”kuturunkan kepalaku menjilati perutnya, kumaikan lidahku di lubang pusernya “ahhhh…assshhh… geli.Yo…” Tangannya meraih kepalaku dan mengacak-acak rambutku.

Kepalaku semakin semakin kebawah dan mulai menciumi daerah selangkangnnya “ahhhhh..sshhhhh.. ahhhhh…” kukangkang kan kakinya memeknya yang basah dan berlendir dengan perasaan jijik kujilat memeknya seperti ajaran video porno. “Aahhhhhh… shhhhh..ahhhh..ahhh…eeehhhhh Yo, jangan… jijik…..” ia berusaha menjauhkan wajahku dari memeknya tapi dengan sedikit paksaan tetap saja kujilati memeknya “Yo…Yo….. Yoooo.. ahhhh…ssshhhh….ahhh…” ia menggoyang-goyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan, rambutku semakin di buat awut-awut oleh Laura, ditekannya kepalaku lebih kedalam. “Aaahhhhh.. sshhhhhh..enakkkkkkk…ahhhhh. ..emmmmemm… ahhhhhhhhh…” tiba-tiba gerakan pinggulnya semakin cepat.. ahhhhh..Yo.. .aahhhhhh… Laura..keluarrrrrr Yoo,” tubuhnya tiba-tiba menegang dan bersamaan dengan tubuhnya melemas dari memeknya keluar cairan putih yang sangat banyak. Aku berdiri dan langsung merangkul tubuhnya yang sudah lemas. Yo, “siUcok belum keluar ya tanyanya?..kutuntun tangannya ke siUcok dan dikocok-kocoknya siUcok, sebentar saja siUcok sudah berdiri dengan sangat menantang. Kuambil handuk dan kukeringkan tubuh Laura, kutarik tangannya menuju kamar, kurebahkan tubuhnya di kasur, kulemat lagi bibirnya yang renum, tanganku pun kembali bermain-main di memeknya, matanya kembali terpejam, menikmati permainan tanganku. “Yo, Laura istirahat dulu, tapi permintaan itu kutepis dengan hisapan dan permainan lidah yang menawan dibibirnya, kurasakan Laura mulai terangsang, memeknya mulai berlendir kembali. “Laura, siUcok jangan didiemin”, iapun meraih siUcok dan mulai mengocok-ngocakkannya, siUcok berdiri dengan sangat hebatnya, memek Laura semakin banjir dengan lendir akibat permainan tanganku. “Laura, siUcok dimasukin ya !!!” “Yo, Laura masih perawan, Laura takut hamil !!!! Enggak, “nanti kalau keluarnya enggak didalem ” kataku meyakinkannya. ”Laura, boleh ya ? Yo masukin.. ” tanyaku lagi Laura diam sesaat, tidak segera menjawab tetapi kurasakan kedua kakinya digeser membuka. Karena tidak ada jawaban, kulebarkan lagi selangkangannya sehingga memeknya nampak menyeruak lalu kupegang batang siUcokku dan kuarahkan ke lobang memek Laura yang sudah basah serta pelan-pelan kutekankan kelobangnya. Kepala siUcok masuk, “Aduhhh, Yo sakit…” kucabut kembali siUcok? bibirku kembali melumat bibr Laura dengan rakusnya bersamaan dengan itu kuusahakan siUcok Untuk menerobos memek

Laura, ternyata siUcok susah untuk menemukan itu lobang, kurasakan siUcok di pegang oleh Laura dan dituntunnya ke arah Lobang memeknya, dan rupanya ia pun ingin merasakan nikmatnya siUcok yang bermain di dalam memeknya. Walaupun memek Laura sudah penuh dengan cairannya, kurasakan masuknya siUcok kedalam memek Laura susahnya bukan main sehingga kuperhatikan wajah Laura seperti menahan rasa sakit dan terpaksa tekanan siUcokku kutahan sebentar dan kutarik sedikit keatas kutekan lagi sedikit. Melihat wajahnya sudah biasa dan kurasakan tangan Laura yang berada dipungungku menekan pelan-pelan, lalu kembali siUcokku kutekan lebih kedalam lagi pelan-pelan “Aduh Yo, masih sakit..” kutahan kembali gerakan siUcok, kulihat mimik mukanya mulai tenang kembali, kutekan kembali siUcok dan mentok, Laura meringis menahan sakit sehingga akupun merasa iba. Kutarik siUcok pelan-pelan kutekan kembali, Laura pun masih menahan sakit di memeknya, lama-lama mukanya mualai biasa dan kesempatan itu kupergunakan, secepatnya siUcok kutekan kedalam Creeet aduh ,” Yo sakiiittttt..” sambil menahan pinggulku aku merasa siUcok telah merobek selaput daranya, kutekan terus sampai mentok dan kudiamkan tanpa gerakan, Kuraih tangan kiri dan kanannya kedua tangan kami sudah bertautan dan kuarahkan keatas kepala kami, kucium bibirnya, kupingnya, hidunggnya, kutarik pelan siUcok dan kubenamkan kembali, ia masih merasa sakit, kuulangi sampai kurasakan pinggulnya bergoyang, secara pelan-pelan, kuikuti dengan menari siUcok agak keluar, kutekan kembali dengan pelan” A… ahhhhhhh… ahhhhhhhh….emmmmmmm….Yo..T ekan lagi, Yo..”, akupun mengikuti irama gerakan pinggul dari Laura, gerakannya semakin cepat, kudiamkan siUcok sesaat, “Yo,Tekannnnnnnn jangan didiamkan, please Yoooooo..” kusumpal Mulutnya dengan bibirku..”Eemmmm.. ahhhhhhh… “Tiba-tiba Laura menaikkan kakinya keatas pinggulku aku merasa siUcok seperti diurut-urut, aku yakin sebentar lagi ia pasti akan mencapai orgasm, gerakan pinggulnya semakin ganas “Aaaahhhhh… sshhhhhhh..aaaaahhhh..” Aku merasakan hentakan kakii Laura memintaku menekan lebih dalam, tiba-tiba cengkraman tangannya pada tanganku menguat dan kurasakan ada sesatu yang mengalir dengan hangat di memeknya Laura, ia orgasem yang kedua kalinya, tubuhnya lemas. “Yo. stop dulu, istirahat dulu Yo..”

matanya terpejam-pejam, kupercepat kocokan keluar masuk siUcok di memeknya dan akibat sangat terasanya gesekan gesekan di memeknya yang terasa sempit itu, membuatku nggak sadar berdesah..”Ssssssshhhhh ssssssshhhh. enaaaaak… aaaaasss.aaaaaacccrhhhhh..”, sedangkan Laura mulai terangsang memeknya akibat keluar masuknya siUcok dan kadang-kadang sampai mentok di ujung memeknya, gerakan pinggulnya mulai terasa lagi, semakin-cepat dan nggak teratur serta kuku jari tangannya mencengkeram kuat di pinggangku sambil sering kudengar rintihan “Yoo… teruuuuus.. Yoooo…enaaaaak…Yoooo… aaaaahhhhh… Sssshhhhh.. enaaaak…ahhhhhhh…” Tidak terlalu lama kemudian gerakan pinggul Laura semakin menggila dan aku merasa siUcok seperti dipijit-pijit, pelukan dan cengkeraman kukunya semakin sering dan nafasnya juga sudah semakin cepat dan tiba-tiba Laura berteriak, “Yooooo?..Ammmmpppunnn Ahhhhhhhhh??.Akuuuu???.. ggaaaak???.kuaaaat???.Ahhhhh.. ” Mendengar rintihannya aku semakin bernafsu makin kupercepat gerakan siUcok sampai terdengan suara cepret ceplok ceplok dimemeknya karena begitu banyak lendir yang ada. “Yooooo… Akuuuuuu…. sekaraaaaang.. aduuuh… keluaaaaaaaar…. aaaaaacccrhhhhhh” “Sabarrrrr sedikkitttt?..lagiiiiii..Yoooo .. Jugaaaa keluaaarrrrrr..” Badannya seperti kejang kejang, dan kubantu orgasme Laura dengan memeluknya kuat-kuat serta kupercepat kocokan keluar masuk siUcok. ”Adddduh, uuuuudah doonggg, lauuuraaa enggakkk kuat laggggiiiii……” desis laura “Yo Jugggggga…. maauuuuu….ahhhhhhhhhhhh… “Kucabut cepatcepat siUcok dari memeknya, akupun terkulai lemas, kuperhatikan kearah memeknya kulihat di sprei ada bercak darah, Laura betul-betul masih perawan dan malam ini aku sahabatnya telah merenggutnya. Laura, aku berbisik ditelinganya, “hemmmm..” ia bergumam, “Laura puas?” tanyaku sambil mencium pipinya, iapun hanya diam saja tapi dari rona mukanya aku tahu ia sangat puas atas permainan kami malam ini, kulihat ia menitikkan air matanya. “Laura,”aku memanggilnya. “Laura, menyesal ?” tanyaku

termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh. Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa kira-kira jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temanya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut. baca cerita dewasa selanjutnya hanya di 17tahun1.com. Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwahari menjelang sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas. Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangatvital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung. Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih… entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku. Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya. Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya…? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada tersebut… uih sepertinya empuk benar, biasanya aku

Kutatap wajahnya yang manis, memancarkan keletihan dan kepuasan, kukecup sekali bibirnya, kulepaskan cengkraman tanganku pada tangannya, kutarik siUcok perlahan-lahan keatas seolah-olah inginku cabut, ketika hanya tinggal kepalanya yang terbenam kutekankan lagi siUcok, tanganku meremas-remas kedua susunya, kutarik-tarik dan kuputar-putar putting susunya. “Yo,Laura capekkkk, stop dulu ” Permohonan itu tidak kuhiraukan, “Yo??? Aahhhhhh… Aahhhhhhh… Please Yo, istirahat dulu sebentarrrrr..”, kulihat kepalanya kekiri dan kekanan sementara

“Yoo, Laura sayang sama kamu, Laura cinta sama kamu “, iapun mengecup pipiku dengan mesra dan kamipun tidur dengan bahagia. TAMAT Cerita dewasa – nakalnya anak smu. Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun

paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini. Tanpa pikir panjang, kusedot saja buah dada Ria yang kanan dan yang kirinya aku pelintir-pelintir seperti mencari gelombang radio. Ria hanya mendesah, “Aaahhh… aaahhh… uuhhh…”Aku tidak menghiraukan gelagat Ria yang sepertinya benar-benar sedang bernafsu tinggi. Kemudian aku pun kepingin membuka tali BH tengtop-nya. Kusuruh Ria untuk jongkok dan kemudian baru aku melihat ke belakang Ria, untuk mencari resliting kutangnya. Akhirnya ketemu juga dan gundukan payudara tersebut lebih mencuat lagi karena Ria yang baru duduk di bangku SMU kelas 2 dengan paras yang aduhai sehingga pergumulan ini bisa terjadi. Dengan rakusnya kembali kulumat dada Ria yang tampak kembali mengeras, perlahan-lahan ciumanku pun turun ke bawah ke perut Ria dan aku melihat celana hitam Ria yang belum terbuka dan dia hanya telanjang dada. Aku memberanikan diri untuk menurunkan celana panjang Ria, dan Ria pun membantu dengan mengangkat kedua pinggulnya. Ria pun tertawa dan berkata, “Hayo tidak bisa dibuka, soalnya Ria mempunyai celana pendek yang berwarna hitam satu lagi…” ejek Ria sambil tersenyum girang.Aku pun dengan cueknya menurunkanya kembali celana tersebut, dan kali ini barulah kelihatan celana dalam yang berwarna cream dan dipinggir-pinggirnya seperti ada motif bunga-bunga, aku pun menurunkanya kembali celana dalam milik Ria dan tampaklah kali ini Ria dalam keadaanbugil tanpa mengenakan apapun. Barulah aku melihat pemandangan yang benar-benar terjadi karena selama ini aku hanya berani berilusi dan nonton tidak pernah berbuat yang sebenarnya. Aku pandangi dengan seksama kemaluan Ria dengan seksama yang sudah ditumbuhi bebuluan yang kira-kira panjangnya hanya 2 cm tapi sedikit, ingin rasanya mencium dan mengetahui aroma kemaluan Ria. Aku pun mencoba mencium perut Ria dan pusarnya perlahan tapi pasti, ketika hampir mengenai sasaran kemaluannya Ria pun menghindari dan mengatakan, “Jangan dicium memeknya akh.. geliii…” Ria mengatakan sambil menutup rapat kedua selangkangannya. Yah, mau bagaimana lagi, langsung saja kutindih Ria, kucium-cium sambil tangan kiriku memegang kemaluan Ria dan berusaha memasukkanya ke dalam selangkangan Ria. Eh, Ria berontak iiihhh… ge.. li..” ujar Ria. Tahu-tahu Ria mendorong badanku dan terbaliklah keadaan sekarang, aku yang tadinya berada di atas kini berubah dan berganti aku yang berada di bawah, kuat sekali dorongan perempuan yang berbobot kira-kira 45 kg dengan tinggi 160 cm ini, pikirku dalam hati. “Eh… buka dong bajunya! masak sih Ria doang yang bugil Andinya tidak…?” ujar Ria sambil mencopotkanbaju kaos yang kukenakan dan aku lagi-lagi hanya diam dan menuruti apa yang Ria inginkan. Setelah membuka baju kaosku, tangan kanan Ria masuk ke dalam celana pendekku dan bibirnya sambil melumat bibirku. Gila pikirku dalam hati, nih cewek kayaknya sdah

berpengalaman dan dia lebih berpengalaman dariku. Perlahan-lahan Ria mulai menurunkan celana pendekku dan muncullah kemaluanku yang besarnya minta ampun (kira-kira 22 cm). Dan Ria berdecak kagum dengan kejantananku, tanpa basa-basi Ria memegangnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya Ria, langsung saja kutepis dan tidak jadi barang tersebut masuk ke lubang kemaluan Ria. “Eh, jangan dong kalau buat yang satu ini, soalnya gue belum pernah ngelakuinnya…” ujarku polos. “Ngapain kita udah bugil gini kalau kita tidak ngapa-ngapain, mendingan tadi kita tidak usah buka pakaian segala,” ujar Ria dengan nada tinggi. Akhirnya aku diam dan aku hanya menempelkan kemaluanku di permukaan kemaluan Ria tanpa memasukkanya. “Begini aja ya…?” ujarku dengan nada polos. Ria hanya mengangguk dan begitu terasanya kemaluanku bergesek di bibir kemaluan Ria tanpa dimasukkan ke dalam lubang vaginanya milik Ria, aku hanya memegang kedua buah pantat Ria yang montok dan secara sembunyi-sembunyiaku menyentuh bibir kemaluan Ria, lama kami hanya bergesekan dan tanpa kusadari akhirnya kemaluanku masuk di dalam kemaluan Ria dan Ria terus-terusan menggoyang pantatnya naik-turun.Aku kaget dan bercampur dengan ketakutan yang luar bisa, karena keperawanan dalam hal ML yang aku jaga selama ini akhirnya hilang gara-gara anak SMU. Padahal sebelum-sebelumnya sudah ada yang mau menawari juga dan dia masih perawan lebih cantik lagi aku tolak dan sekarang hanya dengan anak SMU perjakaku hilang. Lama aku berpikir dan sedangkan Ria hanya naik-turun menggoyangkan pentatnya semenjak aku melamun tadi, mungkin dia tersenyum puas melihat apa yang baru dia lakukan terhadapku. Yach, kepalang tanggung sudah masuk, lagi nasi sudah jadi bubur akhirnya kugenjot juga pantatku naik-turun secara berlawanan dengan yang dilakukan Ria, dan bunyilah suara yang memecahkan keheningan, “Cplok.. cplok… cplok…” Ria mendesah kenikmatan karena kocokanku yang kuat dilubang vaginanya. Lama kami berada di posisi tersebut, yaitu aku di bawah dan dia di atas.akhirnya aku mencoba mendesak Ria agar dia mau mengganti posisi, tapi dorongan tangannya yang kuat membatalkan niatku, tapi masa sih aku kalah sama cewek, pikirku. Kudorong ia dengan sekuat tenagaku dan akhirnya kami berada di posisi duduk dan kemaluanku tetap berdiri kokoh tanpa dilepas. Ria tanpa diperintah menggerakkan sendiri pantatnya, dan memang enak yah gituan, pikirku dalam hati. Tapi sayang tidak perawan. Akhirnya kudorong lagi Ria agar dia tiduran telentang dan aku ingin sekali melihat kemaluanku yang besar membelah selangkangan kemaluan Ria, makanya aku sambil memegang batang kemaluanku menempelkannya di lubang kemaluan Ria dan “Bless…” amblaslah semuanya. Kutekan dengan semangat “45″ tentunya karena nasi sudah hancur. Kepalang tanggung biarlah kuterima dosa ini, pikirku. Dengan ganasnya dan cepat kuhentakkan kemaluanku keras-keras di lubang kemaluan Ria dan kembali bunyi itu menerawang di ruangan tersebut karena ternyata lubang kemaluan Ria telah banjir dengan air pelumasnya disana, aku tidak tahu pasti apakah

itu spermanya Ria, apakah hanya pelumasnya saja? dan Ria berkata, “Loe.. udah keluar ya…?” ujarnya. “Sembarangan gue belom keluar dari tadi..?” ujarku dengan nada ketus. Karena kupikir dia mengejekku karena mentang-mentang aku baru pertama kali beginian seenaknya saja dia menyangka aku keluar duluan. Akhirnya lama aku mencumbui Ria dan aku ingin segera mencapai puncaknya. Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kukeluarkan spermaku yang ada diperutnya Ria, karena aku takut kalau aku keluarkan di dalam vaginanya aku pikir dia akan hamil,kan berabe. Aku baru sekali gituan sama orang yang yang tidak perawan malah disuruh tanggung jawab lagi. Gimana kuliahku! Ria tersenyum dengan puas atas kemenangannya menggodaku untuk berbuat tidak senonoh terhadapnya. Huu, dasar nasib, dan semenjak saat itu aku sudah mulai menghilangkan kebiasaaan burukku yaitu onani, dan aku tidak mau lagi mengulang perbuatan tersebut karena sebenarnya aku hanya mau menyerahkannya untuk istriku seorang. Aku baru berusia 21 tahun saat ini. Aku nantikan keritik dan saran dengan apa yang terjadi denganku saat inidan itu membuatku shock cerita 17tahun daun muda – indahnya dengan kekasih baruku, Pada tahun 1994 aku tercatat sebagai siswa baru pada SMUN ** (edited), pada waktu itu sebagai siswa baru. Yah, acara sekolahan biasa saja, masuk pagi pulang sekitar jam 14:00, sampai pada akhirnya aku dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolahku yaitu di SMPN ** (edited). Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, kulihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya, sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis sekali dan kulitnya walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info, tinggiku 165 cm dan umurku waktu itu 16 tahun). cerita 17tahun daun muda terbaru, simak cerita dewasa daun muda selengkapnya hanya di 17tahun1.com. Aku berkata, “Siapa nama kamu?” dia jawab L**** (edited). Setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing. Besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya sebagai jalan pertama, sekaligus cinta pertamaku membuatku deg-degan, tetapi namanya lelaki yah… jalan terus dong. Akhirnya malam harinya sekitar jam 19:00, aku telah berdiri di depan rumahnya sambil mengetuk pagarnya, tidak lama setelah itu L**** muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali, dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam. Aku tanya, “Mana ortu kamu…?” dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain. “Oohh…” jawabku. Aku tanya lagi, “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (Papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan Wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku, dan tanpa disuruh pun dia langsung

memeluk dari belakang. Penisku selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motorku waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR). Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan, kami langsung pulang ke rumahnya. Setelah tiba kulihat rumahnya masih sepi, mobil papanya belum datang. Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk! Papaku kayaknya belum datang.” Akhirnya setelah menaruh motor, aku langsung mengikutinya dari belakang, aku langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku. Kulihat jam ternyata sudah pukul 21:30, setiba di dalam rumahnya kulihat tidak ada orang. Kubilang, “Pembantu kamu mana?” dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang. “Oohh…” jawabku. Aku tanya lagi, “Jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?” dia jawab iya. “Terus Papa kamu yang bukain siapa…” “Aku…” jawabnya. “Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…” tanyaku. Dia bilang paling cepat juga jam 24:00. Langsung saja pikiranku ngeres sekali. Kutanya lagi, “Kamu memang mau jadi pacarku..?” Dia bilang, “Iya…” Lalu aku bilang, “Kalau gitu sini dong dekat-dekat aku..!” Belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung kutarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali, tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil kuremas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) dia pun mengeluh, “Ohh.. oohh sakit,” katanya. Aku langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…” dia cuma mengangguk. Payudaranya kuremas dengan kedua tanganku sambil bibirku menjilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung kulumatlumat bibirnya yang agak seksi itu, kami pun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penisku langsung kurasakan menegang dengan kerasnya. Aku mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku di balik celanaku, dia cuma menurut saja, lalu kusuruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, aku langsung mengeluh panjang, “Uuhh… nikmat sayang,” kataku. “Teruss…” dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan wajahku di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya, aku jilati payudaranya sambil kugigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “Aahh… aahh…” Dia pun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya, aku langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama aku main cewek, baru aku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Kujilat kedua payudaranya sambil kugigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit

marah. “Aahh… sakkiitt…” tapi aku tidak ambil pusing, tetap kugigit dengan keras. Akhirnya dia pun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku. Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajahku. Sambil aku memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Dia pun kembali mendesis, “Ahh… aahh…” kemudian kutarik payudaranya dekat ke wajahku sambil kugigit pelan-pelan. Dia pun memeluk kepalaku tapi tangannya kutepiskan. Sekelebat mata, aku menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup, aku pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendapendap, karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang membuat hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu. Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju aku. Aku pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tanganku tapi tetap dalam keadaan berdiri kujilati kembali payudaranya. Setelah puas mulutku pun turun ke perutnya dan tanganku pelan-pelan kuturunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali menghisap puting payudaranya. Tanganku pun menggosok-gosok selangkangannya, langsung kuangkat pelan-pelan rok yang dia kenakan, terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih. Kuremas-remas liang kewanitaannya dengan terburu-buru, dia pun makin keras mendesis, “Aahh… aakkhh… ohh… nikmat sekali…” Dengan pelan-pelan kuturunkan CD-nya sambil kutunggu reaksinya, tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Aku pun menjilatinya dengan penuh nafsu, dia pun makin berteriak, “Aakkhh… akkhh… lagi… lagii…” Setelah puas aku pun menyuruhnya duduk di lantai sambil aku membuka kancing celanaku dan kuturunkan sampai lutut, terlihatlah CD-ku. Kutuntun tangannya untuk mengelus penisku yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Dia pun mengelusnya lalu mulai memegang penisku. Kuturunkan CD-ku, maka penisku langsung berkelebat keluar hampir mengenai wajahnya. Dia pun kaget sambil melotot melihat penisku yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm), aku menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga, seperti dipangut dia menurut saja apa yang kusuruh lakukan. Dengan terburu-buru aku pun melepas semua bajuku dan celanaku, kemudian karena dia duduk di lantai sedangkan aku di kursi, kutuntun penisku ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Kusuruh untuk membuka mulutnya tapi sepertinya dia ragu-ragu. Setengah memaksa kutarik kepalanya, akhirnya penisku masuk juga ke dalam mulutnya. Dengan perlahan dia mulai menjilati penisku, langsung aku teriak pelan, “Aakkhh… aakkhh…” sambil ikut membantu dia memajumundurkan penisku di dalam mulutnya. “Aakk… akk… nikmat sayyaangg…” Setelah agak lama akhirnya aku suruh berdiri dan melepaskan CDnya, tapi muncul keraguan di wajahnya, akhirnya CD dan BH-nya dia

lepaskan juga, maka telanjang bulatlah dia di depanku sambil berdiri. Aku pun tak mau ketinggalan, aku langsung berdiri dan langsung melepas CD-nya. Aku langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tanganku meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, dia pun mendesis, “Aahh… aahh… aahh… aahh…” sewaktu tangan kananku aku turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana. Setelah agak lama baru aku sadar bahwa jariku telah basah. Aku pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan kusiapkan penisku. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya dari belakang. Kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, kusodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok, tangannya pun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh… ssaayaa… ssaayaangg… kaammuu…” aku pun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering, penisku nggak mau masuk-masuk juga. Kuangkat penisku lalu kuludahi tanganku banyak-banyak dan kuoleskan pada kepala penisku dan batangnya, dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan kucari dulu lubangnya, begitu kusentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh… aahh…” kutuntun penisku menuju lubang senggamanya itu tapi aku rasakan baru masuk kepalanya saja, dia pun langsung menegang tapi aku sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras kusodok kuat-kuat lalu aku rasa penisku seperti menyobek sesuatu, maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…” aku rasakan penisku sepertinya dijepit oleh dia keras sekali sehingga kejantananku terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Aku lalu bertahan dalam posisiku dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata, “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…” Aku memegang kembali payudaranya dari belakang sambil kuremasremas secara perlahan dan mulutku menjilati belakangnya, lalu lehernya, telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulutku agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciumanku di badan dan remasan tanganku di payudaranya, “Ahh… aahh… ahh… kamu sayang sama aku kan?” dia berkata sambil melihat kepadaku dengan wajah yang penuh pengharapan. Aku cuma menganggukkan kepala, padahal aku sedang menikmati penisku di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan aku sedang berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?” tanyaku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh… aahh…” lalu aku mulai bekerja, aku tarik pelan-pelan penisku lalu aku majukan lagi, tarik lagi, majukan lagi, dia pun makin keras mendesis, “Aahh… ahh… ahhkkhh…” Akhirnya ketika kurasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi, aku pun mengeluar-masukkan penisku dengan cepat, dia pun semakin melenguh menikmati semua yang aku perbuat pada dirinya sambil terus meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak, “Akuu mauu keeluuarr…” Aku pun berkata, “Aahhkk saayanggkkuu…” Aku langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai aku

rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya, tapi aku benarbenar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh… aahh… ahh… akkhh… akkhh… truss…” langsung dia bilang, “Sayyaa keelluuaarr… akkhh… akhh…” tiba-tiba dia mau jatuh, tapi aku tahan dengan tanganku. Kupegangi pinggulnya dengan kedua tanganku sambil kukocok penisku lebih cepat lagi, “Akkhh… akkhh… ssaayyaa mauu… keelluuaarr… akkhh…” peganganku di pinggulnya kulepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas. Dari penisku menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott… croott… ccrroott…” Aku melihat air maniku membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…” sambil berjongkok kucium pipinya sambil kusuruh jilat lagi penisku. Dia pun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu aku bilang untuk memakai pakaiannya, dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali. Setelah kami berdua selesai aku mengecup bibirnya sambil berkata, “Aku pulang dulu yah sampai besok sayang…!” Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin menyesal, tidak tahu ahh. Kulihat jamku sudah menunjukkan jam 23:35, aku pulang dengan sejuta kenikmatan. Cerita Dewasa – Perawanku Hilang Dalam 2 Hari. Perkenalkan nama panggilanku Maya. Aku baru berusia 18 tahun (SMA kelas III). Tinggiku lumayan sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun 2001. Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di tahun 2001 ini. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Muki. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di SMA-ku. SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Muki sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Muki hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah. Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Muki menelepon ke rumahku. “Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Maya, ini dari Muki.” “Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.” “Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, May ada acara nggak malam minggu ini.” Aku sempat kaget Muki mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.

“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku. “Kenapa bisa begitu,” balas Muki. “Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi,” balasku lagi. “Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.” Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya. Dan ternyata rumah Muki tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak. Tepat hari sabtu sore, Muki datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Muki menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat. “May, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Muki mesra. “Muk, apa kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.” “Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.” “Muk, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.” Tiba-tiba tangan Muki memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat.”Aku juga May, begitu melihat kamu langsung tertarik.” Dan Muki menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Muki memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Muki sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Muki mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Muki dan mencium bibirnya. Ciuman Muki sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Muki mulai meraba sekitar dadaku. “Jangan Muk, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Muk,” jawabku. Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Muki karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. “May, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.” Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Muki sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Muki langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Muki meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju. Tiba-tiba Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kamu membuat nafsuku naik.”

“Aku juga Muk,” balasku manja. Dan Muki menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Muki sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan may, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Muki sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan. Akhirnya tangan Muki berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Muki meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Muki memegang puting susuku yang sudah keras. “Teruskan Muk, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Muki untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Muki yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Muk, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa. “Kita langsung pulang ya May sudah malam,” pinta Muki. “Muk, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakakkakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra. Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Muki. Mudah-mudahan Muki mengerti apa yang kuinginkan. “Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Muki dengan nada gembira. Sampai di senayan, Muki memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Muki menghentikan mobilnya, tiba-tiba Muki langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Muki begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi. Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya. “May, aku ingin mencium susumu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Muki. Dan kulihat Muki begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki. “May, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Muki. “Iya, Muk, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan,” balasku manja. Tak lama kemudian, Muki dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras.

Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu. “Jangan berhenti Muk, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Muki untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Muki mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Muki dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Muki sudah terbuka dan tiba-tiba Muki menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Muki. Dan Muki menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Muki yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Muki masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Muki menggigit puting susuku. “Muk, teruskan ya… jilat aja Muk, sesukamu..” desahku tak karuan. Sementara aku masih terus memegang penis Muki. Dan sepertinya Muki makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Muki sudah tidak tahan lagi. “May, kamu isap punyaku ya… mau nggak?” “Isap bagaimana..” “Tolong keluarin punyaku di mulutmu.” Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Muki, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Muki merubah posisi duduknya, Muki menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Muki. “Muk, besar sekali punyamu.” “Langsung aja may, aku sudah tidak tahan..” Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Muki. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Muki. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Muki aku jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat. Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Muki, tiba-tiba, Muki menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus May, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Muki dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Muki. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Muki. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku. “May, aku sudah keluar, banyak ya..” “Banyak sekali Muk, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.” “Tidak apa-apa May..”

Kemudian Muki mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Muki. Dan Muki mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Muki tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Muki yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu. Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Muki menjemputku dan Muki membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku. “Tempat apa ini Muk,” tanyaku. “May, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.” “Entahlah Muk, aku masih takut tempat seperti ini.” “Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.” Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang. “Maya, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Muki. “Aku setuju saja Muk, terserah kamu.” Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Muki membaringkan badanku di tempat tidur. “May, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Muki berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Muki daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Muki lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Muki sudah terlihat bugil di depanku. Muki memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Muki menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Muki mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Muki sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Muki jongkok tepat di depan vaginaku. Muki memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku. “May, bodi kamu bagus sekali.” Muki sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku. “May, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.” “Terserah kamu Muk, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin

menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Muki. Kemudian Muki meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Muki bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Muki. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Muki menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Muki sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Muki membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Muki sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Muki sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Muki sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku. Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Muki. “Muk, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku. Muki lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku. “May, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya.” “Tidak Muk, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”Lalu Muki melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Muki yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Muki agar tepat masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Muki berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku. “Oh… enak sekali,” jeritku. Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Muki. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Muki, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kamu sudah tidak perawan lagi.” “Ngga apa-apa Muk, jangan dilepas dulu ya…” “Terus Muk, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah, Muki di atas, kami melakukannya lama sekali. Muki terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Muki masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga. “Muki sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.” “Keluarin terus May, aku tidak akan melepaskan punyaku.” “Muk, aku tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. aku keluar Muk, aku keluar.. keluar Muk..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada saat orgasme yang pertama, Muki langsung menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya. Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Muki dan aku masih memeluk badan Muki. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin. “May, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap

punyamu.” Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Muki bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang. “May punyamu lebar sekali.” “Isap terus Muk, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.” Aku terus mengisap punya Muki sementara Muki terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Muki yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya. Dan permainan mulut Muki di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri. “Muk… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi honey…” “Tahan sebentar May, aku juga mau keluar..” Tiba-tiba Muki langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Muki melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Muki ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Muki yang besar. “Dorong yang keras Muk, lebih keras lagi,” desahku. Muki menggoyangan badannya lebih cepat lagi. “Iya Muk, seperti itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, aku mau melakukannya terusmenerus denganmu..” “May, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…” “Aku juga Muk, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..” “May… aku keluar..” “Aku juga Muk… aaa… aa… terasa Muk, terasa sekali hangat spermamu..” “Aduh, May… goyang terus May, punyaku lagi keluar…” “Aduh Muk… enak sekali…” Bibirku langsung menciumi bibir Muki yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur. “May… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.” “Ia Muk…” Tidak lama kemudian, Muki membersihkan cairan spermanya di vaginaku. “May, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.” “Iya Muk..” jawabku singkat. Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat Muki menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Muki pun mengalami hal yang sama. Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Muki hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar. Sementara Muki sudah 7 kali.

Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Muki bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Muki sepulang dari sekolah. “Muk, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.” “Iya May… syukurlah…” “Muk, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Muk..” Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Muki sambil Muki menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Muki keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Muki memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Muki, tapi aku mengisap kepunyaan Muki sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Muki sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Muki langsung mengajakku ke penginapan Cerita Dewasa 17 tahun – Eksekusi Siska dan Sisti. Nama saya James. Sekarang saya kuliah di US. Kejadian ini waktu saya masih SMA di Jakarta. Waktu itu saya sudah punya pacar namanya Sisti. Kita sudah pacaran kurang lebih 2 tahun semenjak awal masuk SMA di Bandung. Gara-gara saya berantem sama kepala sekolah akhirnya saya pindah ke Jakarta. Hubungan kita masih lancar-lancar saja waktu itu. Kalau nggak saya yang telepon kadang dia. Dan kalau saya kangen, pulang sekolah langsung cabut ke Bandung untuk menengok dia, pagi-pagi jam 2 langsung dari Bandung ke sekolah lagi. Soal menginap, biasanya saya sering tidur di kamarnya kalau di rumah sepi banget. Ibunya sih sudah liberal banget, maklum blasteran bule. Masih muda banget tuh ibunya. Waktu itu masih 35 tahun, kadang malah kalau jalan sama saya berdua menemani dia belanja disangka teman-teman.. “Eh James, siapa tuh cewek loe, tua amat?” Hahahahhaha… dia punya anak dua, kembar, Sisti dan Siska. Kembar, putih, tinggi, lucu, soal body nggak usah saya ceritakan deh, tahu Jeniffer Lopez? nah kayak gitu tuh si kembar. Siska juga sudah punya pacar kebetulan sobat saya juga. Hubungan kita sudah dekat banget. Sejak awal memang saya sudah “ngeseks” sama dia. Dan orang tuanya sama saya sudah nggak ada masalah kalau misalnya salah satu datang terus menginap (soal “ngeseks” nggak tahu tentu saja). Ceritanya nich kembar berdua datang ke Jakarta mau belanja. Jadi minta ditemani oleh saya untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Kebetulan di Jakarta rumah mereka lagi direnovasi. Saya suruh saja menginap di rumah saya. Lagian orang tua saya lagi pergi, jadi kosong. “Ok deh”, kata mereka. Malamnya terus kita jalan-jalan ke Zanzibar, janjian sama teman. Saya nggak berani minum banyak-banyak soalnya pulangnya nyetir. Tapi tuh si kembar dicekokin sama teman-teman banyak banget sampai nggak kepalang maboknya. Akhirnya jam 4 kita pulang dan setelah berusaha keras merayu Siska buat turun joget-joget dari meja, terus menggotong Sisti ke mobil bla.. bla.. bla.. sampai deh di rumah.

Sampai di kamar akhirnya tanpa ba bi bu lagi kita langsung tidur bertiga, biarpun AC jalan tapi gara-gara mabok tetap saja kepanasan. Akhirnya saya buka celana panjang saya hingga tinggal CD saja, terus saya menggeletak di tengah-tengah mereka. Tapi berhubung kepala saya pusing dan tahu dong, kalau mabok bawaannya tegang mulu. Saya mulai meraba-raba Sisti (biar mabok tapi saya bisa bedain pacar saya yang mana). Pertama-tama saya selipkan tangan saya kedalam kemejanya. Terus jemari saya menjelajah kemana-mana di dalam BH-nya. Lama banget saya memainkan putingnya, dipelintir-pelintir terus dielus-elus lagi. “James… buka saja belakangnya biar lega”, kata Sisti tiba-tiba. “Tapi jangan ribut ya, nggak enak sama Siska, lagian kamu gila ya… sodaraku disebelah!” bisiknya. “Ah biar saja, kamu juga mau khan…” kata saya nggak sabar sambil melepaskan tali BH-nya sama buka kemejanya, habis itu saya cium-ciumi payudaranya, kadang-kadang saya jilat-jilat pentilnya pakai lidah membuat lingkaran di buah dadanya. Kemudian naik lagi ke lehernya, saya cium-ciumi belakang kupingnya sampai si Sisti menggelinjang-gelinjang. Lalu turun lagi ke bawah mencium-ciumi ujung dadanya yang merah kecil sambil saya cubit-cubit kecil ujung satunya dengan tangan kanan saya. “Sudah James… cepet donk… buka celanaku sudah nggak kuat nih, ahh James… tega ih kamu! jangan lama-lama dong say…!” Karena saya juga nggak tahan, saya buka juga celana hipster hitamnya sekalian sama celana dalamnya. Terus terang saya paling suka memainkan kelentit wanita, bukan karena nikmat tapi saya suka banget lihat tampang mereka kalau dimainin pakai lidah terus bibir vaginanya digigit-gigit, sepertinya kejatuhan surga, nikmat banget. Sekitar sepuluh menit saya memainkan vaginanya sampai kepala saya didekap sama kakinya, keras banget. Tangannya mendorong-dorong kepala saya buat menjilat lebih dalam lagi. “Jamesss, masukiin dongg! cepet!” katanya. “Mm… tapi basahin dulu punyaku… mau nggak?” kata saya. “Iya… sini Sisti isepp!” Akhirnya kita tukar posisi, saya di bawah dan dia mulai menghisap penis saya. Biarpun saya sering senggama sama wanita lain, kalau soal menghisap kayaknya cewek saya masih paling jago. Penis saya sih nggak panjang-panjang amat hanya 15 cm tapi gede dan berhubung bibir cewek saya kecil jadi dia rada-rada kesusahan buat menghisapnya. Ujungnya sama dia dijilat-jilat dulu terus dimasukan sebagian. di dalamnya sama Sisti dimainkan pakai lidah, dikeluarkan lagi, dihisap lagi sampai ke ujungnya terus didiamkan di mulutnya. Yang membuat saya paling nggak kuat kalau sama dia penis saya dikenyot-kenyot kayak menghisap jolly. Serasa isinya mau keluar semua. Saking saya keenakan sampai nggak sadar tangan saya pegang kepalanya buat menahan agar penis saya nggak dikeluarkan dari mulutnya. “Aahh mm… terusss sayangg!” desah saya sambil masih menahan kepalanya, kayaknya dia sudah mulai kesusahan napas. Tiba-tiba bibir saya dicium dan begitu buka mata ternyata Siska. Dia ternyata kebangun mendengar erangan kita tapi diam saja, tapi nggak kuat juga akhirnya. Saya cium juga dia. “James, jahat ih kamu berdua… nggak mikir apa aku lagi bobo?” katanya. “Sis… sorry habis sudah konak neh…” “Tahu nggak James jadinya… Siska khan jadinya horny banget!” “Ok deh Sis… ma’ap… jadi mesti gimana dong?” “mm… kamu cium-cium punyaku kayak ke Sisti lagi dong? mau nggak?” “Ok… buka gih celananya aku isepin sini…” Siska buka celana sama kaosnya, terus naik ke atas mukaku. Sisti ternyata nggak keberatan, sama-sama sudah horny berat sih berdua. Akhirnya kita main threesome, saya hisap vagina Siska terus Sisti naik ke penis

saya. “Aahh Jamesss… emang kamu top banget deh… terusss jilat itunya sayang…!” Enggak lama kita tukar posisi, saya suruh Sisti tiduran, terus Siska saya minta telungkup. Jadi saya masukin penis saya lewat belakang (doggy style), ahh ternyata nggak kalah sama vagina kembarannya, sama-sama masih rapat! Sambil saya mensetubuhi si Siska, tangan saya menjelajah vagina Sisti, saya masukan jari tengah saya kedalam sambil jari saya yang lain mulai berusaha memegang analnya, saya nggak pernah senggama lewat anal cuma kalau sekarang pegangpegang doang sih sering, nambah sensasi. Ternyata saking keenakan, mereka berdua ciuman, sambil tangannya memegang payudara kembarannya, saya jadi tambah napsu sekali melihatnya. Akhirnya saya pindah ke Sisti, saya angkat salah satu kakinya terus saya masukan penis saya dari samping. Huwiii, ini salah satu favorit saya juga. Enggak kebayang rasanya paha saya kegesek-gesek sama pahanya, terus penis saya masuk lewat pinggirnya, rasanya lain banget daripada saya di atas. Siska kemudian mulai memainkan lidahnya di payudara Sisti sambil memegang vaginanya. “Ahh Jammesss bentar lagi sayanggg… aahh…” ternyata Sisti sudah sampai klimaks, saya pindah untuk melakukan hal yang sama-sama Siska cuma kali ini saya minta dia membalikkan badan sambil tiduran, terus saya masukan dari belakang. “Aahh Jamesss tegaa ih kamu… nikmat banget tuhh truss trusss!” “Siska… rapetin kaki kamu donk… iya gitu sayang…!” Ini posisi yang buat saya cepat keluar. Kakinya dirapatkan terus saya kocok-kocok dari belakangnya. “Siska aku mau keluar nich.. di dalem yaa…” kata saya. “Jangan Jamesss!” kata Siska. “Sini aku isep saja ya.. dikeluarin di mulut Siska!” saya masukan ke mulutnya, ternyata Sisti juga nggak mau kalah, yang ada kayak rebutan. Gila juga ternyata Siska menghisapnya. Sambil menghisap tangannya mengocok-ngocok penis saya. Sisti lagi menciumi biji saya. “Ahh Siss… Jamess keluarrr nichh!” Akhirnya saya keluarkan sperma saya di mulutnya sambil saya tahan kepalanya dia agar menghisap terus. Selesai itu kita bertiga langsung tidur kecapaian. Pagi-paginya bangun, yang ada malah cekikikan. “Eh Siska bandel ya! ngapain saja sama si Aryo kalau berdua yo hahahah”, goda saya sama Sisti. “Ah kalian juga sama hihihihhih”, katanya. Lain kali saya ceritakan pengalaman saya sama pacar saya yang lain, juga sama ibuya. Sorry kalau saya ceritanya rada-rada ngelantur kemana-mana, tapi ini kejadian benar. Cerita Dewasa 17Tahun – Birahi Adik Iparku yang Manja. “Masak apa Yen?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. “Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda. “Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku. “Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,” jawabku. “Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya. “Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.” “Aauww,” teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.

Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya. Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya. Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran. “Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius. Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam. Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. “Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga

memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga. Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu. Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. “Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku. Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku. “Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya. Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremasremasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya. Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masingmasing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan. Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.

Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu. Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya. Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya. “Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. “Pegang aja Yen,” kataku pelan. Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,” bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku. Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia

sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya. Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutarmutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaikturunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyanggoyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur. Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..” “Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana. Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi. Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak. Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu,

tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak. TAMAT

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->