P. 1
Hubungan hipertensi dengan lingkar pinggang

Hubungan hipertensi dengan lingkar pinggang

|Views: 824|Likes:
Published by abdussukkur
semuga bermanfaat
semuga bermanfaat

More info:

Published by: abdussukkur on Feb 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

Normal
Borderlinen
Hipertensi definitif
Hipertensi ringan

140
140-159
160
160-179

90
90-94
95
95-140

(Mansjoer, 1999))

Tabel 2.3 Hiperensi menurut Joint Commite on Detection Evaluation and
Treatment of High Blood Presure

Kategori

Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal
Normal
Normal Tinggi
Hipertensi
Derajat 1 (ringan)
Derajat 2 (sedang)
Derajat 3 ( berat)

< 120
< 130
130 – 139

140 – 159
160 – 179
> 180

< 80
< 85
85 – 89

90 – 99
100 – 109
110

(Rohaendi, 2009)

3.Etiologi

6.

Menurut Corwin (2001). Penyebab hipertensi dibagi menjadi

dua golongan yaitu :

1)Hipertensi esencial atau hipertensi primer

Penyebab hipertensi esensial tidak diketahui secara pasti disebut

juga hipertensi idiopatik. Banyak factor yang mempengaruhi seperti

gemitik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin,

angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca

intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti

obesitas, alcohol, merokok, serta pohsitemia (Soeparman,2003)

2)Hipertensi sekunder atau hipertensi renal

Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan esterogen,

penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, feokromositoma, hipertensi

yang berhubungan dengan kehamilan (Mansjoer 2000)

7.

Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada

kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Perpheral

Resistance (TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variable

yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi.

1.

Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi

akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA

2.

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung

lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang

berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan air. Oleh

ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan

renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat

mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan

volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik

akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan

darah

3.

Peningkatan TPR (Total Peripheral Resistance) yang

berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf

atau hormon pada arterioli atau responsivitas yang berlebihan dari

arteriol terdapat rangsangan normal kedua hal tersebut akan

menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan TPR;

jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian

menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah

melintas. Pembuluh darah yang sempit, hal ini disebut peningkatan

dalam afteload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan

tekanan diastolik. (Corwin,2000)

4.Gejala Klinis

Peninggian tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya

gejala pada hipertensi esensial. Kadang-kadang hipertensi esensial

berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi

pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata, otak dan jantung. Gejala-

gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing atau migren sering

ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi esensial. Pada survei

hipertensi di Indonesia tercatat gejala-gejala sebagai berikut :

(Brunner & Suddarth, 2002)

a.

Pusing, nyeri kepala

b.Mudah marah

c.Telinga berdengung

d.Mimisan (jarang)

e.Sesak nafas

f.Suka tidur

g.Rasa berat ditengkuk

h.Mudah lelah

i.Mata berkunang-kunang

1)Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai

adalah:

a)

Gangguan penglihatan

b)

Gangguan saraf

c)

Gangguan fungsi ginjal

d)

Gangguan serebral otak yang mengakibatkan

kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma

6.Corwin (2000:359) menyebutkan bahwa sebagian besar

gejala klinis timbul setelah bertahun-tahun berupa :

a)

Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai

mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah

intrakranial

b)

Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat

hipertensi

c)

Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan

susunan saraf pusat

d)

N. Okturia karena peningkatan aliran darah ginjal

dan filtrasi glomerulus

e)

Edema dependen dan pembengkakan akibat

peningkatan tekanan kapiler (Rohaendi, 2008)

5.Faktor-Faktor Resiko Hipertensi

a.Usia

Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini

sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang

mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada

yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit

arteri koroner dan kematian prematur (Rohaendi, 2008)

Penyakit hipertensi akan meningkat sejalan bertambahnya usia, dari

5% pada usia 20 menjadi 45% pada usia 70 tahun. (Stein, 2001)

b.Jenis Kelamin

Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi daripada wanita,

namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita akan

meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun, insiden pada wanita

lebih tinggi (Rohaendi, 2008)

Perbandingan antara pria dan wanita, ternyata lebih banyak

menderita hipertensi. Dari laboran sugiri diJawa Tengah didapatkan

angka prevalensi 6% dari pria dan 11% pada wanita. Laporan dari

Sumatra Barat menunjukkan 18,6% pada pria dan 17,4% wanita. Di

daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5% pada pria dan 10,9% pada

wanita. Sedangkan di daerah perkotaan Yakarta didapatkan 14,6 pada

pria dan 13,7% pada wanita (Rohaendi, 2008)

c.Obesitas

Obesitas adalah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dengan

kebutuhan energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jeringan sub

kutan tirai usus, organ vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan

jeringan lemak in aktif sehingga beban verja jantung meningkat.

Obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar

20% atau lebih dari berat badan ideal. Obesitas adalah penumpukan

jaringan lemak tubuh yang berlebihan dengan perhitungan IMT > 27.0

pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa

untuk bekerja lebih berat, oleh sebab itu pada waktunya lebih cepat

gerah dan capai. Akibat dari obesitas, para penderita cenderung

menderita penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan diabetes mellitus

(Notoatmodjo : 2003)

d.Riwayat Keluarga

Riwayat keluarga yang menunjukkan adanya tekanan darah yang

meninggi merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi seseorang

untuk mengidap hipertensi dimasa yang akan datang. Tekanan darah

kerabat dewasa tingkat pertama (orang tua saudara kandung) yang

dikoreksi terhadap umur dan jenis kelamin tampak ada pada semua

tingkat tekanan darah (Rohaendi, 2008)

Peran faktor genetik terhadap hipertensi primer dibuktikan dengan

berbagai faktor yang dijumpai. Adanya bukti bahwa kejadian hipertensi

lebih banyak dijumpai pada pasien kembar monozigot dari pada

heterozigot. Jika salah satu diantaranya menderita hipertensi.

Menyokong pendapat bahwa genetik mempunyai pengaruh terhadap

timbulnya hipertensi (Rohaendi, 2008)

e.Konsumsi Garam Dapur

Garam dapur merupakan faktor yang sangat dalam patogenesis

hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa

dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram

tiap hari menyebabkan hipertensi yang rendah jika asupan garam antara

5-15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%.

Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui

peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah

(Rohaendi, 2008)

f.Merokok

Departemen of Healt and Human Services, USA (1989) menyatakan

bahwa setiap batang rokok terdapat kurang lebih 4000 unsur kimia,

diantaranya tar, nikotin, gas CO, N2, amonia dan asetaldehida serta

unsur-unsur kasinogen. Nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin

sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut nadi, dan tekanan

kontraksi otot jantung.

g.Olah Raga

Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi

karena olah raga isotonik dengan teratur akan menurunkan tahanan

perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dikaitkan

dengan peran obesitas pada hipertensi kurang melakukan olah raga akan

menaikkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga

bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi (Rohaendi,2008)

h.Stres

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas

saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara

intermiten (tidak menentu). Stres yang berkepanjangan dapat

mengakibatkan tekanan darah tetap tinggi. Walaupun hal ini belum

terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi

dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan

pengaruh stres yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota

(Rohaendi,2008)

i.Gagal Ginjal

Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan

tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya

glomerulus, darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron

akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian

kronik (Corwin, 2000)

j.Encefalopati (kerusakan otak)

Tanda gejala dari encefalopati diantaranya nyeri kepala hebat,

berubahnya kesadaran, kejang dengan defisit neurologi fokal azotermia,

mual dan muntah-muntah (Stein, 2001)

k.PIH (Pregnancy-Induced-Hypertention)

Wanita yang PIH dapat mengalami kejang. Bayi yang lahir mungkin

memiliki berat badan lahir rendah akibat perfusi plasenta yang tidak

adekuat, dapat mengalami hipoksia dan asidosis apabila ibu mengalami

kejang selama atau sebelum proses persalinan (Corwin, 2000 : 360)

l.Retinopati hipertensip

Pemeriksaan funduskopi dapat menolong menilai prognosis dan juga

beratnya tekanan darah tinggi.

6.Komplikasi Hipertensi

a.Stroke

Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau

akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan

tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-

arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal,

sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang.

Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah

sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma (Corwin,

2000)

b.Infark Miokard

Dapat terjadi infark miokardium apabila arteri koroner yang

arterosklerosis tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium

atau apabila terebntuk trombus yang menghambat aliran darah melalui

pembuluh darah tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi

ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat

terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark

(Corwin, 2000)

7.Hipertensi pada obesitas

Berbagaipenelitian epidemologik telah membuktikan adanya

hubungan yang kuat antara obesitas dengan hipertensi. Farmingham

study (2007) melaporkan resiko terjadinya hipertensi sebesar 65%

pada wanita dan 78% pada laki- laki derhubungan langsung dengan

obesitas dan kelebihan berat badan.

Mekanisme penyebab utama hipertensi pada obesitas di duga

berhubungan dengan kenaikan volume tubuh, peningkatan curah

jantung dan menurunnya resistensi faskuler sistemik. Beberapa

mekanisme lain yang berperan dalam kejadian hipertensi pada

obesitas antara lain peningkatan saraf simpatik, meningkatnya

aktifitas renin angiotensin aldosteron(RAAS), peningkatan leptin,

peningkatan insulin, peningatan asam lemak bebas(FFA),

peningkatan endotelin 1, terganggunya aktifitas natriuretic peptide

(NP), serta menurunnya nitrit oxide(NO).

8.Pencegahan Hipertensi

Dibawah ini adalah beberapa gaya hidup untuk pencegahan hipertensi

:

a)Turunkan berat badan jika berat badan mengalami kelebihan

(IMT > 2,73 bagi perempuan dan > 27,8 bagi laki-laki) dengan

mengurang kalori diet dan berolahraga

b)Tingkatkan olahraga aerobik (30-45 menit / hari), misalnya jalan

kaki agar cepat sampai tingkat kesegaran jasmani yang sedang

c)Mengurangi konsumsi garam

d)Pertahankan konsumsi potasium / kalium dalam jumlah cukup

(90 mml / hari). Lebih bagus yang berasal dari buah-buahn segar dan

sayuran

e)Pertahankan konsumsi kalium dan magnesium dalam jumlah

cukup

f)Berhenti merokok dan kurangi konsumsi lemak jenuh dan

kolesterol untuk kesehatan jantung secara menyeluruh

g)Setelah 30 tahun periksa tekanan darah setiap tahun

h)Pengobatan hipertensi

Aspek yang patut mendapat perhatian, yang juga merupakan

tujuan dalam pengobatan darah tinggi masa kini ialah sebagai berikut :

a.Menurunkan tekanan darah ketingkat yang wajar sehingga kualitas

hidup penderita tidak menurun

b.Mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian

(mortalitas) akibat komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah

c.Mencegah pengerasan pembuluh darah (aterosklorosis)

d.Menghindari faktor resiko

e.Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi

f.Pengobatan penyakit penyerta yang dapat memperberat kerusakan

organ

g.Memulihkan kerusakan target organ dengan obat anti hipertensi

masa kini

h.Memperkecil efek samping pengobatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->