P. 1
azolla pinnata

azolla pinnata

|Views: 5,427|Likes:
Published by feny febriany
penelitian tentang pakan nabati
penelitian tentang pakan nabati

More info:

Published by: feny febriany on Feb 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

3.2.2. Variabel dan Parameter

Variabel yang diamati adalah dalam penelitian ini adalah pertumbuhan

mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), nilai konversi pakan (FCR),

kelangsungan hidup (SR). Parameter yang diukur adalah berat ikan, jumlah

ikan yang hidup dan mati, dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Parameter

pendukung adalah pH, temperatur, dan oksigen terlarut.

P0.1

P1.2

P3.1

P2.3

P1.4

P3.2

P2.2

P0.3

P0.3

P3.3

P1.4

P2.4

P1.3

P3.4

P2.1

P0.2

20

3.2.3. Pembuatan Tepung Azola

Persiapan tepung azola yaitu tumbuhan azola yang masih segar dicuci

terlebih dahulu agar bersih dari lumpur, kemudian dikeringkan di bawah sinar

matahari 3-4 hari, setelah kering kemudian diayak terlebih dahulu untuk

memisahkan azola dengan gabah ataupun tumbuhan lainnya. Setelah bersih

kemudian azola digiling sampai menjadi tepung.

3.2.4. Pembuatan Tepung Kedelai

Persiapan tepung kedelai yaitu kacang kedelai terlebih dahulu dicuci

bersih untuk memisahkan kotoran atapun biji yang rusak. Setelah bersih

kacang kedelai dipresto selama ± 15 menit dan dilanjutkan penirisan. Setelah

cukup dingin kemudian dioven selama 24 jam dengan suhu 600C, kedelai

kering kemudian dilakukan penggilingan untuk mendapatkan tepung kedelai.

3.2.5. Pembuatan Pelet

Bahan pakan terlebih dahulu diayak untuk memisahkan butiran-butiran

tepung yang kasar dan halus. Bahan pakan yang sudah ditentukan (Tabel 3.,

Lampiran 1.) kemudian dicampurkan sedikit demi sedikit dari jumlah bahan

pakan yang terkecil sampai terbesar ke dalam baskom. Setelah tercampur

dengan homogen kemudian diseduh dengan air hangat sedikit demi sedikit,

kemudian adonan tersebut diremas-remas sampai adonan dapat dikepal-kepal

menjadi bulatan-bulatan yang tidak mudah hancur, apabila adonan masih

kurang basah maka dapat menambahkan air sedikit demi sedikit. Adonan yang

sudah siap kemudian dicetak dengan alat penggiling daging. Hasil cetakan

akan keluar berupa batangan-batangan. Pelet yang sudah jadi kemudian

21

dioven selama 24 jam dengan suhu 600C. Proses pengovenan pelet dilakukan

agar keringnya merata. Kemudian dilakukan pengujian secara fisik, kimia dan

biologi. Pengujian fisik antara lain daya apung, daya tenggelam, daya hancur,

tekstur pelet, warna pelet dan bau pelet (Tabel 5.) . Pengujian kimia dengan

analisis proksimat (Tabel 6.). Pengujian biologi dengan konversi pakan.

Tabel 3. Komposisi Bahan Penyusun Pakan Buatan (Pelet)

3.2.6. Persiapan Penelitian

Akuarium dicuci sampai bersih dengan air kemudian diberi larutan PK,

diendapkan selama 24 jam dan dikeringkan. Setiap akuarium diisi air sebanyak

40 liter setiap akuarium, setelah itu diberi selang dan batu aerasi. Selanjutnya

ikan nila ditimbang dengan timbangan digital untuk mengetahui berat awal

dan panjang awal diukur dengan millimeter blok. Setiap akuarium diisi ikan

dengan kepadatan masing-masing 8 ekor. Ikan kemudian diaklimasi selama 10

hari, diantaranya dipuasakan terlebih dahulu selama 5 hari kemudian 3 hari

pemberian pakan perlakuan kemudian dipuasakan kembali selama 2 hari.

Bahan

Komposisi Pakan (g)

P0

P1

P2

P3

Tepung ikan

25.16

25.16

25.16

25.16

Tepung kedelai

30.75

22.36

13.98

5.59

Tepung azolla

0

8.39

16.77

25.16

Dedak

22.05

22.05

22.05

22.05

Tepung tapioka

18.04

18.04

18.04

18.04

Vitamin

2

2

2

2

Mineral

2

2

2

2

Jumlah

100

100

100

100

22

3.2.7. Pelaksanaan penelitian

Pemeliharaan benih ikan nila GIFT (Orechromis sp.) dilakukan selama 4

minggu dan sampling setiap 1 minggu sekali. Pemberian pakan sebanyak 5%

dari berat biomassa, diberikan dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu pada pukul :

08.00 dan 16.00 WIB. Penyiponan feses dan sisa pakan dilakukan setiap hari

setelah pemberian pakan setiap 2 jam sekali.

3.2.8. Pengamatan Penelitian

3.2.8.1. Parameter Utama

Parameter utama yang diamati dalam penelitian adalah parameter

pertumbuhan ikan nila GIFT (Oreochromis sp.) meliputi pertumbuhan mutlak,

laju pertumbuhan spesifik (SGR), nilai konversi pakan (FCR) dan kelangsungan

hidup (SR).

a. Pertumbuhan Mutlak

Umumnya pertambahan dalam berat jauh lebih banyak digunakan

karena mempunyai nilai praktis dari pada panjang. Pertambahan berat dapat

dihitung dengan rumus (Effendie, 1997) :

W = Wt - Wo

Keterangan :
W : Pertumbuhan mutlak (g)
Wt : Berat akhir ikan (g)
Wo : Berat awal ikan (g)

23

b. Laju Pertumbuhan Spesifik

Laju Pertumbuhan Spesifik atau Spesific Growth Rate (SGR) dapat

dihitung dengan rumus sebagai berikut: Effendie (1997).

SGR =

%

100

ln

ln

x

T

Wo

Wt

Keterangan :

SGR : Specific Growth Rate (Laju Pertumbuhan Spesifik) (%/hari)
Wt : Berat ikan akhir (g)
Wo : Berat ikan awal (g)
T : Waktu Pemeliharaan (hari)
c. Konversi Pakan

Konversi Pakan atau Food Convertion Rate (FCR) digunakan untuk

mengetahui kualitas pakan ikan yang ditentukan berdasarkan pertumbuhan

ikan. Perhitungan konversi pakan sebagai berikut (Djarijah, 1995):

K =

Wo

D

Wt

F

)

(

Keterangan:

F

: Jumlah total pakan yang diberikan selama penelitian (g)
Wo : Berat ikan awal penelitian (g)
Wt : Berat ikan akhir penelitian (g)
D : Berat ikan yang mati selama penelitian (g)

d. Kelangsungan Hidup

Kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR). Pengambilan data

dilakukan dengan cara menghitung jumlah benih ikan yang masih hidup dan

24

benih ikan yang mati pada awal dan akhir penelitian. Menurut Zonneveld et al.

(1991), kelangsungan hidup dapat dihitung dengan rumus:

SR =

%

100

x

No

Nt

Keterangan :

SR : Derajat kelangsungan hidup (%)
Nt : Jumlah ikan pada awal penelitian (ekor)
No : Jumlah ikan pada akhir percobaan (ekor)
3.2.8.2. Parameter Pendukung

Parameter pendukung yang diamati adalah kualitas air yang meliputi

O2 terlarut, temperatur, dan pH.

a. Pengukuran Temperatur Air

Termometer celcius ditempel di sisi bagian dalam akuarium selama

5 menit, setelah itu termometer diangkat kemudian dilihat skalanya tanpa

tersentuh tangan. Hasilnya kemudian dicatat.

b. Pengukuran pH

Kertas indikator pH dicelupkan ke dalam air akuarium, perubahan

warna yang terjadi pada kertas pH dicocokkan dengan warna standar pada

kemasan kemudian hasil dicatat.

c. Pengukuran Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut diukur pada awal, tengah dan akhir

penelitian. Pengukuran dilakukan dengan metode Winkler, yaitu sampel air

diambil dengan menggunakan botol winkler 250 mL, setelah itu didalamnya

ditambahkan 1 mL MnSO4 dan 1 mL KOH-KI. Kemudian botol sampel tersebut

25

dengan hati-hati dibolak-balik, dan didiamkan sampai terjadi endapan.

Selanjutnya dimasukan larutan H2SO4 pekat 1 mL. Botol ditutup kembali

dengan hati-hati, kemudian dikocok lagi sampai semua endapan menjadi larut

dan berwarna coklat kekuningan. Larutan diambil sebanyak 100 mL dan

dimasukan dalam erlemenyer kemudian ditambah indikator amilum sebanyak

10 tetes, setelah itu dititrasi dengan Na2S2O3 0,025 N sampai larutan jernih.

Kadar Oksigen terlarut =

8

100

1000

xpxqxmg/L

Keterangan :
p : jumlah ml Na2S2O3 0,025 N yang terpakai
q : Normalitas larutan Na2S2O3
8 : berat setara O2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->