P. 1
Cerpen Sahabat

Cerpen Sahabat

|Views: 15|Likes:

More info:

Published by: Kusuma Arbianto ThunderBekasi on Feb 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

Sahabat.... Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan.

Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Rama yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam praktikum dan laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.

Kami tinggal berenam di rumah kontrakan ini. Aku dan tiga temanku, Ahmad, Dzakir dan Rifai, memang sudah sahabat lama. Kami berteman semenjak masih duduk di bangku SMA. Sedangkan satu orang yang lain, Ivan, adalah teman kuliahku satu angkatan dan satunya lagi, Rama, teman kuliah dari Dzakir. Rama dan Ivan sebenarnya kami ajak tinggal di kontrakan ini hanya untuk memenuhi kuota dan memperingan biaya urunan kontrakan. Lumayan, kami mengontrak rumah mungil dengan tiga kamar ini empat juta pertahunnya. Kami sudah terhitung satu tahun lewat delapan bulan tinggal di rumah ini. Pertama kali memang hubungan antara kami berempat dengan Ivan dan Rama kurang begitu dekat. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua pun akhirnya bisa dekat dengan kami berempat. Semenjak itulah, kami berenam suka berbagi cerita. Kami berenam kebetulan sama-sama kuliah di UGM. Aku dan Ivan kebetulan kuliah di Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA. Dzakir dan Rama kuliah di Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian.

Rama memilih untuk tiduran di kamarnya. Memang selama beberapa hari ini. Rencana dadakan jalan-jalan ke pantai hari ini saja. kami berdua memasak mie. tetapi ia enggan untuk ikut. Yang menang dapat jatah dipijat oleh yang kalah. ** Tadi malam sebenarnya kejadian tersebut berlangsung mengalir.Sedangkan Ahmad kuliah di Fakultas Filsafat dan Rifai kuliah di Fakultas Hukum. makanan di kantin kampus yang semakin hari semakin mahal. “Biar saya di sini . Mulai dari praktikum yang gagal. sampai kisah cinta Ivan yang selalu kandas sebelum sempat “proklamasi”. Rama terlihat murung dan suka menyendiri. Aku. namun tak satupun jawaban kami dapat. Beberapa kali kami secara bergantian bertanya. Selama kami curhat. Meskipun hari minggu. Kebetulan aku penggemar berat Chelsea. Sampai akhirnya. Dzakir yang sekamar dengan Rama. Hari ini saja. dosen yang galak. aku sudah berjanji dengan teman-teman BEM untuk memperbaiki majalah dinding. membuat kami harus menunda agenda masing-masing. yang ternyata diikuti oleh yang lainnya. Tak bergabung dengan kami. kecuali oleh Rama. Agar suasana nonton jadi lebih seru. Pantai Depok terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis. Sedangkan Ivan dan Ahmad memilih aktif di lembaga ekstra kampus. Sempat kami mengajak Rama ikut serta. hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Di Pantai Depok juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan. ** Sesuai kesepakatan tadi malam. memang punya aktifitas lain di luar kuliah. Akhirnya pada pukul sepuluh kurang lima menit. Kami berenam. lebih memilih tidur di karpet ruang tengah. Rama. sedangkan Ivan penggemar berat Manchester United. Seusai nonton. Dzakir dan Rifai memilih untuk aktif di lembaga intra kampus. kami kesulitan untuk bisa menghabiskan hari bersama seperti ini. sekali-sekali kita perlu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri. Rama lebih memilih tinggal di kontrakan. kami berangkat menuju pantai Depok. kami bertaruh kecil-kecilan. Berawal dari aku dan Ivan nonton bareng pertandingan sepakbola Liga Inggris antara Chelsea lawan Manchester United. Tak apalah. Acara makan mie bersama akhirnya berlanjut menjadi acara curhat bersama.

“Beberapa hari yang lalu. “Dia hanya menjawab. aku pernah coba tanya pada Rama.”. Ntar paling sembuh-sembuh sendiri. sebelum tidur. bahkan untuk makan sehari-hari saja kurang. Mungkin dia minder atau sudah merasa nggak enak dulu sama kita. Tapi nggak mau ngomong ke kita. Membeli buku adalah sesuatu yang sangat istimewa baginya. tambah Ivan. Untunglah. jawabnya. Uang kirimannya sangat terbatas. karena Ivan sendiri juga membawa motor. komentar Ahmad. Kurang lebih selama satu jam kami bermain-main layaknya anak kecil. Jujur saja. kami tak pernah lagi meminta Rama untuk ikut urunan biaya listrik dan air bulanan. Ivan yang orang tuanya relatif berada. kami membicarakan tentang apa yang terjadi tentang Rama.”. “Aku juga pernah tanya. Udah ah. ia tak perlu mengeluarkan biaya transport ke kampus. Dia nggak ngomong apa-apa. Kan semenjak kita tahu kondisi keuangannya. aku ngantuk banget. yang penting hari ini memang kami gunakan untuk bersenang-senang. eh … dia malah mlengos. Kalau bukan temen sendiri udah aku damprat. aku sendiri merasa risih dan kurang nyaman dengan sikap Rama akhir-akhir ini. Sepeda tersebut akhirnya ia berikan pada Rama. keluarga Rama termasuk keluarga kurang mampu. Dengan mempunyai sepeda. Ditanya baik-baik. kita nggak pernah minta ke dia uang urunan listrik dan air. sepeda sudah lebih dari cukup. Sembari makan. Memang.saja. jaga kontrakan. ** Sekitar pukul setengah dua belas. Bodoh amat dengan komentar orang. Hari ini pantai ini terlihat sangat penuh. Kamu kenapa? Kok kelihatannya murung dan agak pucat?”. mempunyai sepeda onthel yang jarang ia pakai. . kami memilih untuk memesan makanan di salah satu warung. Tapi yang gitu itu. Khawatir kalau ada apa-apa”. Dengan tiga motor kami berangkat bersama-sama. kami sampai di Pantai Depok. Semenjak mengetahui kondisi keluarganya. ucap Dzakir. Paling-paling cuma maag-ku lagi kumat. Kami memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di sisi barat pantai. lanjut Dzakir. Ternyata apa yang kurasakan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman yang lain. Hari ini sangat cerah. Nggak papa kok.”. Bagi Rama. Rama bisa kuliah di UGM juga karena beasiswa. Sudahlah gak usah dipikirin. Setelah kelelahan. “Kelihatannya dia punya masalah.

Rifai sering menengok gadis yang ditabraknya itu. Pembicaraan kami mengenai Rama pun berlanjut. Kelihatannya ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kami tadi siang. Beliau juga sempat menanyakan. Teman-teman yang lain juga sampai kekenyangan. Udah gitu. namun apa boleh buat. Terlihat kasar memang. Balado ikannya memang dahsyat. Tinggal Rama saja yang belum mencicipi balado ikan Bu Ida. Seusai ngobrol sejenak. Bu Ida mengajak kami makan di rumahnya. Memang gadis yang ditabrak Rifai wajahnya cukup manis bagi kebanyakan orang. Rifai menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang. kami pun kembali ke kontrakan. Walau pelan. namun karena kami memaksa akhirnya ia mau juga. Tak terasa dua piring nasi sudah memenuhi perutku. malam nanti kami akan menyidangnya beramairamai. Siapa tahu kita bisa bantu. Memang pertama kali Rama terlihat malas sekali. tambah Rifai. Tentu bukan untuk untuk Reta. Karena waktu itu dalam kondisi mendesak. kami akhirnya memutuskan untuk urunan menutupi biaya operasi gadis tersebut. tetapi untuk Bu Ida. kita yang ikutan kena getahnya. Gadis itu ternyata karyawati baru Fakultas MIPA dan bernama Reta. itu sengsara membawa nikmat.”. Yang selama ini sudah kami anggap seperti ibu sendiri. Akhirnya kita urunan untuk biaya rumah sakit Reta. Kebetulan waktu itu. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. “Iya. Hanya itulah alternatif penyelesaian yang tersisa. Memang pernah pada suatu ketika. ya ngomong. ya temen. namun tak ayal membuat gadis tersebut tangannya patah. Tapi kamu untung. dong. Mrongos kita…”.“Ya nggak bisa gitu. “Aku dulu pas waktu nabrak Reta. Dengan alasan agar terlihat bertanggung jawab. lama kelamaan mereka berdua pun jadian. keluh Rifai. . lima kilogram ikan segar kami bawa sebagai oleh-oleh. ** Bu Ida memang jago masak. yang ditabrak malah kamu jadiin pacar. kan juga ngomong sama kalian. Kami pun tertawa. Sampai akhirnya kami sepakat. Kalau ada masalah. mengapa Rama nggak ikut makan di tempatnya. kita-kita yang buntung. Temen. Kamu yang nabrak orang. Karena sering bertemu. Kayak sama orang lain saja.”. Bu Ida hanya senyam-senyum saja melihat kelakuan kami. Kata orang. tetangga depan kami sekaligus pemilik rumah yang kami kontrak. Sampai-sampai pada waktu itu Rama merelakan sebagian besar uang jatah bulanan dari beasiswanya. Tak lupa pula. timpal Dzakir.

Itu uang orang tuamu. Kayak ada orang lain saja yang tinggal di sini. Keesokan harinya juga begitu. kami merasa risih dan nggak nyaman dengan sikapmu akhir-akhir ini. Kayak nggak ada orang lain aja di sini. juga merupakan masalah bagi yang lain. karena nggak ada jatah dari orang tuaku. buka Rifai. Kita ini saling bantu. Jujur.”. aku jadi bingung. nggak papa.”. Ntar bagianmu biar aku yang tanggung. Dengan terbata ia menjawab. tapi juga nggak bisa dihitung sebentar. Trus kemudian beberapa hari yang lalu aku dapat kabar dari rumah. Uang kiriman ditambah honor loper koran ditambah dengan jatah bulanan dari beasiswaku juga habis untuk makan sehari-hari. Siapa tahu kita bisa bantu. pulang jam berapa. Kita-kita nggak keberatan kalau harus menutupi bagianmu. ya sudah. “Jujur. Jujur. Trus ini ditambah kamu bayarin jatah kontrakanku. Kalau memang kamu nggak bisa urunan lagi untuk bayar kontrakan tahun depan. mandi. Kita ini sudah seperti keluarga. Van. Rama hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu.”. timpal Ivan. Selama ini aku nggak pernah ikut urunan bayar listrik dan air.” “Ma.”. Tahun depan kelihatannya aku nggak bisa bayar kontrakan. Aku bingung harus cari uang darimana untuk bayar uang kontrakan. tapi bukan hanya itu yang kami minta.“Ma. sepulang dari loper koran. kita ini berteman walau nggak begitu lama. Masalah satu orang. Pulang-pulang juga begitu. Mungkin bagi kalian nggak papa. tambah Ahmad. Kamu tetap tinggal di sini. tapi aku merasa nggak enak. nggak keluar-keluar seharian. trus plas… ilang entah kemana. baca buku. trus langsung ke kamar. elak Rama. . Aku merasa nggak enak dengan kalian. aku beberapa hari ini instropeksi diri. masukin sepeda. Air mata terlihat mulai meleleh di pipinya. “Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada masalah? Ngomong aja. Walau kamu masih tetap menjalankan tugas piket harian. kami semua tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargamu. kalau kamu pergi juga nggak pernah bilang kemana. Kami sudah maklum dengan itu. Selama beberapa hari ini. Sedangkan honor dari ngirim tulisan ke koran juga nggak tentu. Sepeda yang aku pakai sehari-hari itu juga punyamu. bukan uangmu. Aku makin nggak enak sama kamu. Suasana berubah menjadi hening sejenak. kamu nggak bisa urunan nggak papa. Uang jatah kontrakanku akan dipakai untuk biaya adikku yang mau masuk SMA. Santai aja. “Jujur. Untuk tahun depan. Dengan sikpamu selama ini kami merasa semakin nggak nyaman tinggal di sini.

Bersahabat adalah hubungan antar manusia yang paling tulus. Ahmad menjagokan Arsenal sedangkan Rifai merupakan penggemar berat Tottenham. Bagaimana caranya bisa hidup prihatin dan hidup hemat. aku boros banget. dari sahabatlah kita belajar tentang kehidupan. Itulah tadi cerpen persahabatan yang saya buat kali ini. apakah kita untung atau rugi. yang bisa dihitung secara matematis. Terus ikuti perkembangan blog ini. Kamu nggak usah merasa nggak enak begitu. kalau diuangkan nggak bakalan bisa keitung. Dulu sewaktu aku SMA. uang itu cuman titipan dari Tuhan. Sehari aku bisa menghabiskan seratus ribu hanya untuk nongkrong nggak jelas ngapain dengan teman-temanku. Dengan sahabatlah kita berbagi suka dan duka. mungkin kalau nggak kenal kamu. Rama yang ceria sudah mulai terlihat kembali. Mana yang benar-benar kebutuhan. Pembicaraan kamipun mengalir. Bukan orang tuaku atau aku yang punya. Toh uang kiriman dari ortuku juga berlebih. mana yang hanya sekedar keinginan. Bersahabat bukanlah bisnis. Sekarang uang segitu bisa aku buat hidup selama tiga-empat hari. tanpa pamrih. terlihat Rama sudah mulai semakin tenang. Persahabatan takkan pernah bisa dihitung dengan uang. the derby of North London. jawab Ivan. Untuk kali ini gantian Ahmad dengan Rifai yang bertaruh. Toh semenjak tinggal serumah dengan kamu aku juga banyak belajar dari kamu. Terima kasih . Nantikan cerpen-cerpen terbaru yang akan saya buat.”. Apa yang aku pelajari dari kamu itu. Itu juga karena kamu yang ngajari aku. Malam itu kami berenam melaluinya dengan nonton bareng pertandingan sepakbola antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur. Jujur saja. mungkin tabunganku nggak akan pernah sebesar seperti sekarang ini. bagaimana menentukan skala prioritas.“Ma. Untuk kali ini. yang kalah bakalan dapat tugas masak untuk sarapan kita besok pagi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->