Latar belakang Belum lama ini kita bangsa Indonesia menghadapi krisis moneter yang sampai sekarang masih

belum dapat diselesaikan. Sebagai akibat dari krisis tersebut salah satu dampaknya pada sektor pangan yang kita kenal dengan istilah sembako. Salah satu dari sembako itu adalah beras. Dimana beras ini termasuk dalam pengendalian kebijakan pemerintah yang dikendalikan melalui penetapan harga dasar gabah. Didalam pelaksanaan kebijakan tersebut, sehari-harinya pelaku yang ditugasi oleh pemerintah adalah sebuah badan yang disebut BULOG (tingkat pusat) dan dibantu oleh DOLOG (tingkat provinsi) serta sub DOLOG (tingkat kabupaten/kota). Badan ini ditugasi untuk menampung semua hasil pertanian (gabah) yang bekerja sama dengan KUD dimasing-masing wilayah diseluruh Indonesia. Dengan demikian diharapkan agar petani tidak kesulitan untuk menjual hasil panennya, serta harga dijamin tidak akan mengalami perubahan yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani. Selain itu pula diharapkan petani tidak mengalami over produksi dalam arti sulit untuk menjual karena barang dipasaran berlebihan. Namun kenyataannya tidak demikian adanya, sebab petani sering menjadi obyek permainan oleh orang-orang yang pandai cari keutungan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Misalnya, petani sering mengeluh tentang biaya tanam yang begitu tinggi (pupuk dan obat-obatan), karena petani sudah terkondisikan untuk menggunakan pupuk dan obat-obatan meskipun harganya tinggi tetap harus membeli juga agar masa panen tidak gagal. Namun kronisnya begitu panen dan disetor ke dolog melalui KUD ternyata hasilnya yang diterima oleh petani adalah rugi. Karena perbandingan antara biaya yang tinggi dengan penerimaan (harga sudah ditetapkan oleh pemerintah) tidak seimbang dalam artian biaya lebih besar dari pada hasil penjualan yang diterima. Beras merupakan komoditi pertanian yang sangat mempengaruhi politik di negara kita. Kebijakan beras selama orde baru sebagian besar didasarkan pada keinginan untuk tiga lembaga: pegawai negeri (yang menerima beras sebagai bagian dari gaji); konsumen perkotaan (masyarakat perkotaan); dan produsen pedesaan (petani, baik pemilik, penggarap maupun buruh). Kelas pegawai negeri, yang berjumlah lebih dari 3 juta jumlah penduduk, merupakan basis utama kekuasaan Orde Baru. Kelompok mendapat keuntungan dengan berbagai cara, termasuk peningkatan gaji, perbaikan kondisi kerja, fasilitas pendidikan bagi anak-anaknya, dan posisi terhormat dalam kehidupan masyarakat. Namun keuntungan yang paling besar adalah tunjangan beras dan komoditi utama lainnya dapat terjangkau dan tersedia. Karena mayoritas dari mereka itu adalah berpendidikan, paham politik, dan dihormati dalam kehidupan masyarakat, pegawai negeri dan militer merupakan sumber utama terhadap dukungan pemerintah Indonesia. Pada masa Orde Baru, posisi penting kelompok ini diperkuat dengan batasan pemerintah terhadap pengaruh kelompok non pegawai negeri. Tak satu pun dari pemimpin dua partai non pemerintah diberi kedudukan dalam kabinet maupun posisi legislatif yang memiliki kekuasaan. Jumlah rata-rata suara kedua partai ini pada pemilihan umum mulai 1971 s/d 1997 hanya berjumlah sekitar 35% pemilih, yang sebenarnya merupakan taktik pemerintah untuk memobisasi birokrat dalam bentuk partai

Masing-masing komponen tersebut problematik. petani yang merupakan lembaga terkait dengan pengadaan pangan (beras) yang oleh pemerintah Orde Baru direspon dengan positif dalam bentuk subsidi.5 juta pon pertahun) antara tahun 1966 sampai 1984. Soeharto dan bawahannya harus mengingat efektivitas cara eksploitasi masalah peningkatan harga beras yang dapat menggulingkan pemerintah. yaitu. namun pemaksaan-pemaksaan tersebut bukan disediakan oleh sumber-sumber dan penguasaan materi saja. Begitu pula tantangan yang dihadapi pemerintah Presiden Soeharto hanyalah demonstrasi mahasiswa dan peristiwa Jakarta dari Oktober 1973 sampai Januari 1974. khususnya Jakarta. . yang dikaitkan dengan krisis beras tahun 1972 sampai 1983. budaya. Begitu pula.d alam ini harus meliputi spesifikasi tentang tiga komponen. pertama kali dikembangkan pada tahun 1940. Hubungan dengan kekuatan ekonomi eksternal juga penting. Ingat Presiden Soekarno pada tahun 1965 sampai 1966. yang membuatnya sebagai salah satu daerah pedesaan terdapat di dunia.pemerintah yang disebut Golongan Karya (Golkar). Penduduk Jakarta sangat peka terhadap kenaikan harga beras dan penyediaan bahan lainnya. dan variabel-variabel kesosialan yang akan mengarahkan pada pilihan oleh para pembuat keputusan pemerintah tentang kebijakan-kebijakan yang benar. atau hasil-hasil yang diinginkan. topografi dan sistem transportasi pulau ini membuat jalur desa dan perkotaan mudah dan murah. merupakan kekuasaan eksternal yang harus diatasi dengan suplai reguler padi dengan harga yang terjangkau dan stabil. menurut pendapat beberapa pengamat. peningkatan harga serta dukungan organisasi dan infra struktural yang dapat melipatgandakan produksi beras (dari 10. Konsumen perkotaan. Dengan fasilitas yang dimilikinya. Suatu rancangan untuk strategi pembangunan ekonomi yang berhasil dalam suatu negara Dunia Ketiga yang kontemporer. Tujuan-tujuan dari pertumbuhan dan industrialisasi. namun juga oleh etika. Dua pertiga penduduk tinggal di Jawa. Permasalahan Pengetahuan tentang kebijakan ekonomi berkenan dengan usaha untuk memaksimalkan atau memenuhi solusi-solusi subyek terhadap pemaksaan. Yang kita miliki sekarang ini sebagian besar hanyalah pemahaman yang masih bersifat embrionik tentang bagaimana mengkonseptualisasikan keseimbangan-keseimbangan yang diperlukan untuk suatu penggabungan dari tujuan-tujuan yang berbeda ini secara optimal. Alasannya banyak didasarkan pada faktor demografi. tidak sulit bagi Golkar untuk meraih suara mayoritas. tujuan-tujuan. Karena ukuran pulau. sejarah dan politik. Jika tidak mengimpor kepentingan lain (seperti pembelian barang industri dan pertanian) pemerintah Indonesia tidak akan dipenuhi dan Indonesia tidak banyak bergantung pada fluktuasi suplai dan permintaan dunia maupun kebijakan pemerintah negara lain. Dan akhirnya pada Mei 1998 yang baru lalu. kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan tujuantujuan tersebut. telah dikacaukan oleh hal-hal yang bersifat tambahan terhadap distribusi atau kesamaan dan kemudian pelestarian lingkungan. seperti diajarkan dalam buku-buku teks tentang perekonomian dasar.8 menjadi 25. pemerintah Presiden Soeharto lengser juga dari tampuk kekuasaannya selama 32 tahun. hal ini juga tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan penyedian dan harga beras.

Atau kontrol tidak langsung. dan subsidi harga. sementara kelompok Marxis yakin bahwa pertumbuhan yang merata baru akan dicapai dengan eksploitasi kelompok mayoritas. pendekatan ini juga menemui jalan buntu. dengan pendapat Evans dan pemahaman kita tentang politik Brasil. Politikus-pun saling bersaing hanya pada tingkat elit sendiri. Dalam hal ini terkait dengan kondisi di Indonesia. Ia menunjukkan masalah berdirinya organisasi petani yang malah menimbulkan perpecahan primodial. dan kekuasaan ditangan politikus. melalui kebijakan tingkat pertukaran. . Sekali lagi. tidak banyak perubahan yang kita harapkan. Bentuk pemerintah Orde Baru Presiden Soeharto. kedua kelompok ini mengharapkan bahwa solusi masalah ini akan dapat direalisasikan. mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing dengan elit kekuasaan lokal maupun regional. diantara partai-partai yang bertujuan untuk mendapart pengaruh dari pemegang kekuasaan yang pada akhirnya menentukan distribusi berupa penghargaan. Pemberlakuan pasar bebas terhadap harga makanan dan pertanian nampak seperti cerita belaka. tarif subsidi impor. Frankel berpendapat bahwa petani semakin banyak peran pentingnya karena tanpa adanya program perbaikan dan kemauan ideologis dari penguasa. Jika kita melihat kalangan akademisi liberal mendukung gagasan partisipasi aktif kaum miskin. bahkan di negara yang terkenal dengan ekonomi bebeasnya pun -baik yang masih berkembang maupun yang sudah maju-. Kontrol pada bidang in dapat saja langsung. harga makanan dan pertanian ini sangat dipengaruhi campur tangan negara. Namun. yang secara sistematis pada akhirnya akan menghancurkan kaum pengusaha lemah dan kaum miskin perkotaan dan pedesaan. kontrol dan pajak ekspor. yang diorganisir pada serikat pekerja atau petani dan partai politik. sementara pemerintahan Soeharto ditandai dengan kemiskinan. melalui subsidi (dokumen) harga (bahan) pertanian atau batasan harga konsumen. misalnya membandingkan pemerintahan Soeharto dengan kebijakan ³patrimonial´ Barat dimana pemerintah dapat menerapkan peraturan yang memenuhi kepentingan elit tanpa banyak mengorbankan kepentingan masyarakat. Di semua negara. terjebak oleh satu dari dua culs de sac yaitu jalan buntu. sikap pasif dalam berpolitik. setidaknya dalam waktu setengah abad mendatang. penyetoran ke pemerintah dengan harga yang sudah ditetapkan. bahwa : ³politikus dan analisis yang meneliti kebijakan pembangunan di Negara-Negara Ketiga mengalami jalan buntu. sosiolog Peter Evans menunjukkan banyak dokumentasi sumber daya yang dipakai oleh perusahaan multinasional. yang sudah berkuasa sejak 1966. Jika kita merujuk pada ungkapan Liddle (1987) menyatakan. kemunduran sosial. namun mereka semua setuju bahwa bentuk negaranya adalah otoriter dengan sedikit kesempatan untuk berpartisipasi. yang didefinisikan dengan pembangunan ekonomi yang memberikan kesempatan luas untuk produksi dan konsumsi. Harold Cruch. menjadi debat seru diantara kalangan akademis. diganti dengan sosialisme.Contoh semacam ini termasuk studi yang masif.´ Sebagian besar literatur tentang apa yang kita sebut dengan pertumbuhan merata. dan perusahaan nasional untuk mendominasi ekonomi politik Brasil. yaitu Francise Frabkel tentang kebijakan agraria pemerintah di India sejak kemerdekaannya. perusahaan domestik. Dari sudut pandang Marxisme.

Seperti Koehn (1983) menyatakan bahwa : ³peran badan atau lembaga pemerintah sangat besar sekali untuk secara persuasif mampu memberikan dorongan dan teladan kepada anggota-anggota masyarakat agar mereka mematuhi dan melaksanakan setiap peraturan perundang-undangan atau kebijakan negara.´ Pendapat tersebut menurut hemat penulis kurang menggambarkan secara esensi siapa sebenarnya dibalik pembuat kebijakan itu. dan bila terjadi sebaliknya. mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing denga elit kekuasaan lokal maupun regional. Anderson.´ Peterson (1979) menghitung bahwa. kebijakan menghargai komoditi pertanian (khususnya beras) terlalu rendah dan menyebabkan penurunan dalam hal produksinya. bahwa sedikitnya di 46 negara. militer. . Sampai pertengahan tahun 1970-an. ³campur tangan kebijakan tidak nampak melonggar di negara-negara yang agak maju. Orde Baru adalah ³bagian aliansi kompleks antara borjuis luar negeri dan China. muncul penilaian yang terlalu tinggi atas komoditi pertanian. Sehingga hasil (produk) daripada kebijakan itu hanya menguntungkan kelompok yang ada dibalik dan mendesak/menekan si pembuat kebijakan. Seperti yang dikemukakan oleh Saleh (1975). bahwa : ³petani semakin banyak kehilangan peran pentingnya karena tanpa adanya program perbaikan dan kemauan ideologi dari penguasa. bentuk ³statequa-state´ yang kepentingannya berada dan bertolak belakang dengan kepentingan (bangsa) Indonesia. Menurut akademis Marxisme Robinson. Pada akhir tahun 1960-an. ³ketentuan perdagangan produk pertanian lebih dari dua kali pada sampel 23 negara agak maju dibandingkan dengan 30 negara yang sedang berkembang.´ Begitu pula menurut Schultz (1978) serta Bale dan Lutz (1979) dalam hasil. menawarkan interpretasi umum tentang Orde Baru. dan birokrat serta menekankan pada lemahnya partisipasi kelompok di luar piramida ini.´ Hal ini menunjukkan kelebihan produksi dan penurunannya konsumsi produk pertanian di negara agak maju. Jika kita berbicara tentang apa sebenarnya dan siapa yang bertanggungjawab atas dibuatnya kebijakan tersebut.pemerintahannya dianggap sebagai regim kontra-revolusioner yang menggabungkan perbaikan pertanian dan nasionalisme ekonomis. Ia menunjukkan masalah berdirinya organisasi petani yang malah menimbulkan perpecahan primodial. dan birokrat politikus. beliau berpendapat.Contoh literatur semacam ini termasuk studi masif dari Francine Frankel (1966) tentang kebijakan agraria pemerintahan India sejak kemerdekaannya. nampak koalisi kuat diantara diktatorisme personal dan militer. Sekarang.´ Orde Baru juga dipandang sebagai ³piramida naik´ kekuasaan presiden.´ Campur tangan pemerintah dalam hal penetapan harga makanan (beras) dengan cara langsung kecendrunganya menetapkan harga yang relatif rendah sekali. ia menyebutkan kebijakan personalistik yang didasarkan pada konsep kekuatan politik mistik jawa sebagai suatu syarat yang harus dimiliki seorang penguasa. mengemukakan bahwa : ³berdasarkan hasil penelitiannya pada 50 negara sedang berkembang. Sehingga ini mengandung makna bahwa adanya keanekaragaman diantara negara-negara tersebut dalam hal (produk) pertanian dalam periode panen. penelitiannya menyatakan bahwa. kelas administrasi / tehnokrat / manajerial kota (yang disebut kelas menengah). karena sering terjadi bahwa kebijakan itu dibuat berdasarkan desakan kepentingan±kepentingan kelompok tertentu.

yaitu: a. adakah harapan bagi kebijakan pembangunan yang menguntungkan kelompok kelompok non-elit. biaya dan keuntungan setiap pilihan harus ditetapkan. d. nilai-nilai. bahwa banyak yang berpendapat tentang semakin keluar jalur para ahli politik dalam penelitiannya untuk mentransformasikan diktatorisme kaku dalam regim yang lebih normatif. Secara umum elit negara. tujuan dan sasaran-sasaran dari pembuat keputusan harus ditekuni dan didudukkan pada order prioritas. terus memegang kekuasaannya. non pegawai negeri Indonesia? Pada intinya lebih nampak variabel politik dibandingkan partisipasi kelompok miskin. ³saya tidak akan memfokuskan pada pengaruh masalah kebijakan. Pada situasi semacam ini. f. b. karena faktor-faktor yang lain khususnya politik yang sangat besar sekali pengaruhnya terhadap proses pembuatan kebijakan. c. e. pada basis perbandingan ini. namun dalam pelaksanaannya di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. yang dulunya pernah memiliki pemilion 4 juta orang dibantai secara brutal pada tahun 1965 sampai tahun 1966 dan tidak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Lantas. meskipun pengaruhnya sangat sedikit. Hal tersebut di atas memang ideal sekali. biaya dan keuntungan harus dibandingkan. Sehingga dengan demikian menurut hemat penulis bahwa dalam rangka proses pembuatan kebijakan itu tergantung pada manusianya yang sedang menjadi petinggi negara atau dalam artian lain bahwa political will dari para administrator harus jelas dan sesuai dengan kelompok sasaran masyarakat yang dikenakan kebijakan terrsebut. beliau mengatakan bahwa. pemerintah berusaha meningkatkan posisinya dengan mendirikan Bulog. khususnya kelompok petani. sebuah masalah harus didefinisikan. . yang di dukung lebih dari $ 12 milyar per tahun (kira-kira 60 persen dari APBN) dari pendapatan minyak dan $ 2 milyar dari bantuan luar negeri. Penulis yakin. Perhatian saya terletak pada faktor politis yang menguntungkan kelompok yang secara politis dan ekonomis lemah. tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang didefenisikan pada tahap yang kedua tersebut di atas. partai komunis. pembuat keputusan yang rasional menseleksi bagian dari tindakan yang maksimal untuk menghasilkan sesuatu dalam batas nilai-nilai. Sependapat dengan Hirchman pada journey toward progress. Pengalaman di Indonesia dengan parlementer tahun 1950-1957 sangat berharga.Tidak seorangpun penulis menemukan tanda yang menunjukkan pergantian kekuasaan orde baru menjadi pemerintah radikal atau liberal. yang oleh Frankel maupun Evans dirujukkan kepemerintahan otoriter birokrat dan militer yang bertentangan dengan kebijakan yang lebih egaliter.´ Jika kita menunjuk pada pendapatnya Simon (1957) dan Weller dalam sebuah bukunya yang berjudul Public Policy in Australia (1993) menyatakan bahwa model pendekatan yang rasional dalam pembuatan keputusan atau kebijakan ada 6 tahap dasar karakteristik yang umum. ketika harga beras meroket sampai 300 persen dalam waktu satu tahun. Rekomendasi Kebijaksanaan Pada awalnya. semua pilihan untuk mencapai tujuan harus didefinisikan.

pemerintah sudah mampu meningkatkan suplai dan menurunkan harga beras (Liddle). Krisis ini dapat dengan bantuan subsidi pasar. Sejak pertengahan 1960-an. Namun dalam perjalanannya ternyata banyak sekali hasil panen padi petani yang ditolak oleh KUD dan dibeli oleh tengkulak dengan harga jauh dibawah harga dasarnya (135 per kilo). Program subsidi produksi Bimas pada akhir tahun 1960-an meminta semua petani berpartisipasi. Sementara ketentuan yang lain pula menunjukkan ideologi dibalik kebijakan pertanian dalam bidang pertanian dan hubungannya dengan kepentingan yang saaling bertentangan. Dengan itu Bulog menentukan tingkat kandungan Butir hijau sebesar 5 % yang akan dibelinya dari KUD untuk musim panen 1981-1982.Pada tahun 1966 beras yang diimpor mencapai 640. 100.000 ton. Ketidaksesuaian terakhir pada aspek khusus kebijakan harga beras menuntut kita untuk mengamati lebih dekat struktur minat dan kekuatan serta dinamika proses kebijakan. Sampai akhir 1968. yang biasanya mampu menghasilkan 9-14 % butir hijau. Sejak tahun 1973 diterapkan dukungan positif. Kasus pertama : fokus Bulog terhadap kualitas dan harga dasar petani.000 ton dijual dijual di pasar domestik. KUD adalah lembaga yang didirikan dan didanai pemerintah yang membeli beras dari petani yang selanjutnya menjual kembali ke bulog (keuntungan KUD berkisar 8 persen) dan menjamin harga dasar gabah bagi petani. Dalam hal ini bisa saja kepentingan petani dimenangkan. Di dalam kebijakan Orde Baru jika kita perhatikan tampak adanya perubahan adanya pada subsidi pemerintah untuk meningkatkan produksi yang menekankan program administrasi ke bentuk dukungan pasar.000 ton yang dijual bebas di pasar domestik. Koperasi tingkat desa (KUD) menjadi lembaga utama dalam program pengembangan beras domestik. Sebab KUD merupakan sistem lembaga ekonomi yang diorganisir sebagai usaha bersama yang didasarkan atas prinsip kekeluargaan (family principle). sekitar 350. Ada tiga kasus dalam kaitannya dengan kebijakan harga dasar gabah di Indonesia melalui bulog.000 ton merupakan bantuan pemerintah AS. Kasus ini merupakan krisis mini yang terjadi selama musim panen di awal 1982. krisis beras hanya terjadi tahun 1972 sampai 1973. namun dalam ketentuan yang lain dapat dikalahkan. dalam pengambilan keputusaan sendiri. namun hanya 70. KUD diharapkan mampu menggantikan posisi pedagang cina yang secara tradisional sudah kuat. salah satu fokus Bulog saat itu adalah meningkatkan kualitas padi yang dibelinya baik untuk kepentingan pasar Bulog maupun untuk membantu para pegawai negeri agar mendapatkan beras berkualitas. KUD menentukan kebijaksanaan yang sama jika badan tersebut membeli padi dari petani. . Pada tahun 1967. dan hanya 139. sementara sisanya dikonsumsi pegawai sipil dan militer. seperti harga dasar gabah yang naik dan standar kualitas Bulog yang rendah. Kemudian kebijakan tadi karena ada keluhan dari petani dan KUD dirubah yaitu batas bulir hijau dari 5% menjadi 10%. Patokan harga minyak OPEC yang meningkat antara 1974 sampai 1979 membuat pemerintah Indonesia memiliki alat untuk mengimpor beras dalam jumlah yang besar untuk mencegah krisis itu terulang lagi.000 ton diimpor. Para petani dalam program petani dan petugas KUD mengeluh bahwa batas bulir hijau 50% itu terlalu rendah untuk varietas anti hama yang mereka berikan pada petani. Tujuannya adalah untuk memastikan suplai beras dan meningkatkan pendapatan petani.

. berfungsi untuk mentransfer dengan tahap-tahap yang diawali dengan musim tahun 1983. kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan harga dasar padi pada saat itu.. yaitu kurangnya ruang gudang.per liter). Kesempatan untuk menerapkan pendekatan adalah ketika musim tanam. Kasus pupuk ini mengindikasikan dua tingkat..sampai dengan Rp 1. maka petani telah banyak kehialngan faktor-faktor yang menguntungkan. Ekonomi orde baru berkembang dengan berlandaskan pada tiga badan institusi : Negara. dan bahkan HKTI memiliki pengaruh yang cukup besar..Pada tanggal 17 Mei 1982. Namun demikian dalam sektor padi masih terdapat kelemahan. bagaimana bisa sehat? Tingkat kedua. suatu senjata melawan dan menundukkan perusahaan-perusahaan swasta yang rakus dan memiliki kekuasaan usaha terlalu besar. Kasus Ketiga : Bisnis Sektor Swasta. Sektor Swasta dan Koperasi. Dari P2SP dan Kadin menyatakan bahwa keputusan pupuk tersebut tidak dijiwai dengan pembentukan lembaga berimbang. yang terakhir dengan harga gabah dari Rp 135. Namun dari perspektif yang lebih luas. Keputusan ini dibuat oleh menteri Pertanian dan Menteri Koperasi pada Januari 1983. dilaporkan bahwa semua petani di seluruh Jawa menjual padinya 50 % lebih rendah dari harga dasar. Di sini nampak bahwa kebijakan yang paling penting adalah menjaga harga dasarjangan sampai turun. dan jika koperasi tidak mengalami persaingan.. Kasus Kedua: Konflik Intrabirokrasi dan Insentif Harga Kasus ini adalah adanya pertentangan kecil di akhir 1982 di tingkat harga dasar KUD untuk gabah. kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan harga dasar padi setiap tahun sebgai insentif bagi petani. tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan peningkatan harga dasar gabah. didistribusi pupuk dari sektor swasta ke KUD. namun juga disertai dengan kenaikan harga dua input pokok padi. Koperasi dan Negara Kasus tentang padi yang terakhir tidak berisi proses panjang dimana berbagai sisi kita bisa mendorong pandangannya sebelum diambil keputusan.500. kasus pupuk menggambarkan keterbatasan wewenang . tidak adanya KUD.per kilo) dan pestisida (dari Rp 1. Tugas pemerintah adalah membangun koperasi. yang masing-masing memiliki peran dominan. namun hanya berisi keluhan-keluhan dari berbagai pihak yang dirugikan atau ditekan oleh keputusan pemerintah. kemudian pemerintah mengumumkan bahwa ³Pemerintah akan membeli semua padi yang dijual petani langsung kepada pemerintah dengan harga dasr namun kualitasnya harus disesuaikan´. Dengan kejadian tersebut di atas.230.sampai dengan Rp 145. namun itu tidak berarti harus membunuh sektor swasta. Bagi sebagian besar pemerintah Orde Baru pada saat itu.sampai dengan Rp 90. saat dimana para petani harus menentukan apakah akan menanam padi atau tanaman lainnya.per kilo. pupuk urea (dari Rp 70. dan peran koperasi yang tepat adalah sebagai stabilisator harga. Pihak pihak yang dirugikan tidak mengungkapkan penderitaannya sampai menjelang akhir Mei. kita bisa melihat bahwa para petani tidak kehilangan pendukung dalam arena pembuatan keputusan yang didominasi oleh birokrasi.. paling tidak untuk menciptakan status quo. Tingkat pertama adalah konteks ideologis dimana kedua sisi memaksakan argumennya sendiri-sendiri. Para pejabat di lingkungan pertanian ± mungkin sebagai memperwakilkan para petani.

anggota DPR. produsen yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir. dan perubahan yang terjadi.´ Memang benar bahwa pejabat pemerintah pusat merupakan pengambil kebijakan utama pada bisang pertanian. keyakinan dan kepentingan kelompoknya.. Pola dominasi pemerintah pusat dalam pembuatan kebijakan diperkuat dengan adanya ideologi korporatis dimana bisnis yang lemah dan sektor koperasi diatur oleh negara. pada dasarnya pelaku monopoli yang diberi wewenang. yang nampaknya berpihak pada kepentingan masyarakat sehingga suatu pola konflik dalam birokrasi tentang kebijakan-kebijakan tertentu dan implementasikan yang sangat erat dengan perwakilan petani yang efektif dan kepentingan non birokrasi serta kepentingan lokal. 1998 . Sebaliknya distorsi ini harus dipahami menurut realitas sosial dan historis dinamisnya bila usulannya bertujuan untuk melibatkan keterlibatan politisi.politik atau pengaruh bisnis pertanian swasta. yang secara ekonomis sangat tergantung pada negara. ³Sebagian besar negarnegara Asia menetapkan beras sebagai komoditis utama pertanian dan merupakan komponen penting dalam kebijakan pembangunan umum. Kenapa pemerintah suatu negara menerapkan kebijakan harga produk pertanian yang berbeda yang mengakibatkan pola pengembangan desa dan pertanian saling bertentangan? Dalam hal ini perlu memperhatikan analisis Neoklasik pada pasar yang terdiri dari observasi distorsi harga. Hirchman. yang nampaknya berpihak pada kepentingan masyarakat. Karena kebijakan harga sangat penting dalam menentukan harga produk pertanian khususnya beras selama panen. menghitung biaya sosialnya. DAFTAR PUSTAKA Dunn. sama-sama mengakibatkan keberhasilan dan kegagalan performa pertanian dalam menyumbangkan (potensi) pada negara. maka kita perlu mengadakan penelitian harga produk pertanian bukan berdasarkan teori pasar murni tetapi berdasarkan teori negara. mereka meiliki pergantian ekslusif dengan Pusri untuk mendapatkan hak-hak distribusi di propinsi tertentu. Kesimpulan Dari pembahasan tersebut di atas menunjukkan adalah adanya suatu pola dominasi pemerintah pusat dalam pembuatan kebijakan yang diperkuat dengan ideologi korperatif dimana bisnis yang lemah dan sektor koperasi diatur oleh negara. Memang konsekuensi dari ketelibatan pewmerintah yang mengakar dalam penetapan kebijakan harga khususnya beras. perantara dan konsumen. dimana di dalamnya termasuk orang-orang Kadin sendiri. media massa dan komunita intelektual. Pengaruh yang dimiliki kelompok di luar pemegang kekuasaan pada proses pembuatan keputusan sering tidak langsung dan banyak bergantung pada persepsi. Aktor penting lain juga termasuk pejabat daerah. Para pedagang swasta formal. Dari ketiga kasus tadi mnunjukkan suatu pola konflik dalam birokrasi tentang kebijakankebijakan tertentu dan implementasinya yang sangat erat dengan perwakilan petani yang efektif dan kepentingan non birokrasi serta kepentingan lokal. Namun alat pemerintah pusat ini tidak mendominasi proses kebijakan. . dalam pengamatannya menyatakan bahwa. William N. Analisa Kebijakan Publik : Natsir Budiman (Ed) . Oleh karena itulah sehingga dapat menyebabkan diterapkannya kebijakan harga yang berbeda-beda pada setiap produk/hasil pertanian.

M. Wahab. The East Asian Miracle.1967 Strauss. Public Policy: An Introduction To the Theory and Practise of Policy Analysis. Kompas.1969 Suchmans. Jawa Pos. 1984 Kuntowijoyo. 1997. London. Objevtivity in Sosial Research. Analisis kebijaksanaan. Malang FIA Universitas Brawijaya. 1986. Belmont.. New York: Sage. Solichin Abdul. 24 April 1999 Kompas. 23 April 1999 Kompas.. E. USA : Congressional Quarterly Press. Islamy. Inc. 24 Februari 1999 Kompas. 1999. London. Malang: IKIP Malang. Pengantar Kebijakan Publik : Natsir Budiman (Ed). Ltd. 1984 .1993 Myrdal. 1975. Mubyarto. Radikalisasi Petani. Chicago.. text and interaction. 1998. Edward. Parsons.. Evaluasi kebijakan publik. Yogyakarta. Solichin Abdul. Gunnar. Wheatsheaf Books. L. 28 April 1999 Joner. 1980 . Irfan. David. Dari formulasi ke implementasi kebijaksanaan negara. 25 April 1999 « John and Lya H. Jakarta: Rineka Cipta. J.. Interpreting Qualitative Data: Methods for analysing talk. UK: Sage Publications Ltd. Charles O. Yogyakarta : Aditya Media. Analisis kebijakan publik: teori dan aplikasinya. 1997.A. 1993. 1997 Jakarta : Bumi Aksara. California.Chetenham. Jakarta : Bina Aksara. Analyzing Social Settings : A Guide To Qualitative Observation and Analysis.. 22 April 1999 Kompas. University of Chicago Press. USA. Chiristopher and Michael Hill. Washington. USA : Wadesworth.. Solichin Abdul. 1953 . Wahab. Prinsipprinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Ham. Wahab. London. Reformasi Sistem Ekonomi. World Bank. Natural Righ and History. The Policy Proses in Modern Capitalist State. George C. 1993. Lofland. Pantheon Books. Anderson... Wahab.Jakarta : Hanindita. 1998.E.. 13 April 1999 Jawa Pos. Bentang Intervensi. Evaluative Research: Principles and practice in Public Service an Social Actions Programs. Silverman.. Wayne. 1996. Dari Kapitalisme Menuju Ekonomi Kerakyatan. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa. Public Policy making.. Implementing Public Policy .Nelson. Prngantar analisis kebijakan negara. Solichin Abdul. UK: edward Elgar Publishing Limited.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful