Latar belakang Belum lama ini kita bangsa Indonesia menghadapi krisis moneter yang sampai sekarang masih

belum dapat diselesaikan. Sebagai akibat dari krisis tersebut salah satu dampaknya pada sektor pangan yang kita kenal dengan istilah sembako. Salah satu dari sembako itu adalah beras. Dimana beras ini termasuk dalam pengendalian kebijakan pemerintah yang dikendalikan melalui penetapan harga dasar gabah. Didalam pelaksanaan kebijakan tersebut, sehari-harinya pelaku yang ditugasi oleh pemerintah adalah sebuah badan yang disebut BULOG (tingkat pusat) dan dibantu oleh DOLOG (tingkat provinsi) serta sub DOLOG (tingkat kabupaten/kota). Badan ini ditugasi untuk menampung semua hasil pertanian (gabah) yang bekerja sama dengan KUD dimasing-masing wilayah diseluruh Indonesia. Dengan demikian diharapkan agar petani tidak kesulitan untuk menjual hasil panennya, serta harga dijamin tidak akan mengalami perubahan yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani. Selain itu pula diharapkan petani tidak mengalami over produksi dalam arti sulit untuk menjual karena barang dipasaran berlebihan. Namun kenyataannya tidak demikian adanya, sebab petani sering menjadi obyek permainan oleh orang-orang yang pandai cari keutungan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Misalnya, petani sering mengeluh tentang biaya tanam yang begitu tinggi (pupuk dan obat-obatan), karena petani sudah terkondisikan untuk menggunakan pupuk dan obat-obatan meskipun harganya tinggi tetap harus membeli juga agar masa panen tidak gagal. Namun kronisnya begitu panen dan disetor ke dolog melalui KUD ternyata hasilnya yang diterima oleh petani adalah rugi. Karena perbandingan antara biaya yang tinggi dengan penerimaan (harga sudah ditetapkan oleh pemerintah) tidak seimbang dalam artian biaya lebih besar dari pada hasil penjualan yang diterima. Beras merupakan komoditi pertanian yang sangat mempengaruhi politik di negara kita. Kebijakan beras selama orde baru sebagian besar didasarkan pada keinginan untuk tiga lembaga: pegawai negeri (yang menerima beras sebagai bagian dari gaji); konsumen perkotaan (masyarakat perkotaan); dan produsen pedesaan (petani, baik pemilik, penggarap maupun buruh). Kelas pegawai negeri, yang berjumlah lebih dari 3 juta jumlah penduduk, merupakan basis utama kekuasaan Orde Baru. Kelompok mendapat keuntungan dengan berbagai cara, termasuk peningkatan gaji, perbaikan kondisi kerja, fasilitas pendidikan bagi anak-anaknya, dan posisi terhormat dalam kehidupan masyarakat. Namun keuntungan yang paling besar adalah tunjangan beras dan komoditi utama lainnya dapat terjangkau dan tersedia. Karena mayoritas dari mereka itu adalah berpendidikan, paham politik, dan dihormati dalam kehidupan masyarakat, pegawai negeri dan militer merupakan sumber utama terhadap dukungan pemerintah Indonesia. Pada masa Orde Baru, posisi penting kelompok ini diperkuat dengan batasan pemerintah terhadap pengaruh kelompok non pegawai negeri. Tak satu pun dari pemimpin dua partai non pemerintah diberi kedudukan dalam kabinet maupun posisi legislatif yang memiliki kekuasaan. Jumlah rata-rata suara kedua partai ini pada pemilihan umum mulai 1971 s/d 1997 hanya berjumlah sekitar 35% pemilih, yang sebenarnya merupakan taktik pemerintah untuk memobisasi birokrat dalam bentuk partai

Hubungan dengan kekuatan ekonomi eksternal juga penting. pemerintah Presiden Soeharto lengser juga dari tampuk kekuasaannya selama 32 tahun. sejarah dan politik. Ingat Presiden Soekarno pada tahun 1965 sampai 1966.8 menjadi 25. Soeharto dan bawahannya harus mengingat efektivitas cara eksploitasi masalah peningkatan harga beras yang dapat menggulingkan pemerintah. Begitu pula tantangan yang dihadapi pemerintah Presiden Soeharto hanyalah demonstrasi mahasiswa dan peristiwa Jakarta dari Oktober 1973 sampai Januari 1974. kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan tujuantujuan tersebut. Dan akhirnya pada Mei 1998 yang baru lalu. hal ini juga tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan penyedian dan harga beras.d alam ini harus meliputi spesifikasi tentang tiga komponen. seperti diajarkan dalam buku-buku teks tentang perekonomian dasar. namun juga oleh etika. Konsumen perkotaan. tidak sulit bagi Golkar untuk meraih suara mayoritas. Yang kita miliki sekarang ini sebagian besar hanyalah pemahaman yang masih bersifat embrionik tentang bagaimana mengkonseptualisasikan keseimbangan-keseimbangan yang diperlukan untuk suatu penggabungan dari tujuan-tujuan yang berbeda ini secara optimal. telah dikacaukan oleh hal-hal yang bersifat tambahan terhadap distribusi atau kesamaan dan kemudian pelestarian lingkungan. Penduduk Jakarta sangat peka terhadap kenaikan harga beras dan penyediaan bahan lainnya. namun pemaksaan-pemaksaan tersebut bukan disediakan oleh sumber-sumber dan penguasaan materi saja. Masing-masing komponen tersebut problematik. peningkatan harga serta dukungan organisasi dan infra struktural yang dapat melipatgandakan produksi beras (dari 10. Dengan fasilitas yang dimilikinya. menurut pendapat beberapa pengamat.5 juta pon pertahun) antara tahun 1966 sampai 1984. petani yang merupakan lembaga terkait dengan pengadaan pangan (beras) yang oleh pemerintah Orde Baru direspon dengan positif dalam bentuk subsidi.pemerintah yang disebut Golongan Karya (Golkar). dan variabel-variabel kesosialan yang akan mengarahkan pada pilihan oleh para pembuat keputusan pemerintah tentang kebijakan-kebijakan yang benar. Begitu pula. Permasalahan Pengetahuan tentang kebijakan ekonomi berkenan dengan usaha untuk memaksimalkan atau memenuhi solusi-solusi subyek terhadap pemaksaan. Tujuan-tujuan dari pertumbuhan dan industrialisasi. yang membuatnya sebagai salah satu daerah pedesaan terdapat di dunia. merupakan kekuasaan eksternal yang harus diatasi dengan suplai reguler padi dengan harga yang terjangkau dan stabil. tujuan-tujuan. khususnya Jakarta. yang dikaitkan dengan krisis beras tahun 1972 sampai 1983. Dua pertiga penduduk tinggal di Jawa. budaya. atau hasil-hasil yang diinginkan. yaitu. . Jika tidak mengimpor kepentingan lain (seperti pembelian barang industri dan pertanian) pemerintah Indonesia tidak akan dipenuhi dan Indonesia tidak banyak bergantung pada fluktuasi suplai dan permintaan dunia maupun kebijakan pemerintah negara lain. pertama kali dikembangkan pada tahun 1940. Karena ukuran pulau. Suatu rancangan untuk strategi pembangunan ekonomi yang berhasil dalam suatu negara Dunia Ketiga yang kontemporer. topografi dan sistem transportasi pulau ini membuat jalur desa dan perkotaan mudah dan murah. Alasannya banyak didasarkan pada faktor demografi.

Frankel berpendapat bahwa petani semakin banyak peran pentingnya karena tanpa adanya program perbaikan dan kemauan ideologis dari penguasa. harga makanan dan pertanian ini sangat dipengaruhi campur tangan negara. kontrol dan pajak ekspor. yaitu Francise Frabkel tentang kebijakan agraria pemerintah di India sejak kemerdekaannya. tidak banyak perubahan yang kita harapkan. mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing dengan elit kekuasaan lokal maupun regional. bahkan di negara yang terkenal dengan ekonomi bebeasnya pun -baik yang masih berkembang maupun yang sudah maju-. Kontrol pada bidang in dapat saja langsung. Pemberlakuan pasar bebas terhadap harga makanan dan pertanian nampak seperti cerita belaka. . terjebak oleh satu dari dua culs de sac yaitu jalan buntu. Namun. sementara kelompok Marxis yakin bahwa pertumbuhan yang merata baru akan dicapai dengan eksploitasi kelompok mayoritas. Dalam hal ini terkait dengan kondisi di Indonesia. sementara pemerintahan Soeharto ditandai dengan kemiskinan.´ Sebagian besar literatur tentang apa yang kita sebut dengan pertumbuhan merata. pendekatan ini juga menemui jalan buntu. kemunduran sosial. tarif subsidi impor. Harold Cruch. Ia menunjukkan masalah berdirinya organisasi petani yang malah menimbulkan perpecahan primodial. melalui kebijakan tingkat pertukaran. dengan pendapat Evans dan pemahaman kita tentang politik Brasil. Politikus-pun saling bersaing hanya pada tingkat elit sendiri. yang didefinisikan dengan pembangunan ekonomi yang memberikan kesempatan luas untuk produksi dan konsumsi. Bentuk pemerintah Orde Baru Presiden Soeharto. penyetoran ke pemerintah dengan harga yang sudah ditetapkan. Di semua negara. Jika kita merujuk pada ungkapan Liddle (1987) menyatakan. yang secara sistematis pada akhirnya akan menghancurkan kaum pengusaha lemah dan kaum miskin perkotaan dan pedesaan.Contoh semacam ini termasuk studi yang masif. kedua kelompok ini mengharapkan bahwa solusi masalah ini akan dapat direalisasikan. yang diorganisir pada serikat pekerja atau petani dan partai politik. sosiolog Peter Evans menunjukkan banyak dokumentasi sumber daya yang dipakai oleh perusahaan multinasional. namun mereka semua setuju bahwa bentuk negaranya adalah otoriter dengan sedikit kesempatan untuk berpartisipasi. menjadi debat seru diantara kalangan akademis. Sekali lagi. misalnya membandingkan pemerintahan Soeharto dengan kebijakan ³patrimonial´ Barat dimana pemerintah dapat menerapkan peraturan yang memenuhi kepentingan elit tanpa banyak mengorbankan kepentingan masyarakat. diganti dengan sosialisme. dan perusahaan nasional untuk mendominasi ekonomi politik Brasil. dan subsidi harga. diantara partai-partai yang bertujuan untuk mendapart pengaruh dari pemegang kekuasaan yang pada akhirnya menentukan distribusi berupa penghargaan. melalui subsidi (dokumen) harga (bahan) pertanian atau batasan harga konsumen. dan kekuasaan ditangan politikus. setidaknya dalam waktu setengah abad mendatang. bahwa : ³politikus dan analisis yang meneliti kebijakan pembangunan di Negara-Negara Ketiga mengalami jalan buntu. yang sudah berkuasa sejak 1966. Jika kita melihat kalangan akademisi liberal mendukung gagasan partisipasi aktif kaum miskin. Dari sudut pandang Marxisme. Atau kontrol tidak langsung. perusahaan domestik. sikap pasif dalam berpolitik.

pemerintahannya dianggap sebagai regim kontra-revolusioner yang menggabungkan perbaikan pertanian dan nasionalisme ekonomis. ³campur tangan kebijakan tidak nampak melonggar di negara-negara yang agak maju. Menurut akademis Marxisme Robinson. mengemukakan bahwa : ³berdasarkan hasil penelitiannya pada 50 negara sedang berkembang.´ Orde Baru juga dipandang sebagai ³piramida naik´ kekuasaan presiden. dan birokrat politikus. Seperti Koehn (1983) menyatakan bahwa : ³peran badan atau lembaga pemerintah sangat besar sekali untuk secara persuasif mampu memberikan dorongan dan teladan kepada anggota-anggota masyarakat agar mereka mematuhi dan melaksanakan setiap peraturan perundang-undangan atau kebijakan negara. beliau berpendapat. ³ketentuan perdagangan produk pertanian lebih dari dua kali pada sampel 23 negara agak maju dibandingkan dengan 30 negara yang sedang berkembang.´ Pendapat tersebut menurut hemat penulis kurang menggambarkan secara esensi siapa sebenarnya dibalik pembuat kebijakan itu. Sehingga ini mengandung makna bahwa adanya keanekaragaman diantara negara-negara tersebut dalam hal (produk) pertanian dalam periode panen.Contoh literatur semacam ini termasuk studi masif dari Francine Frankel (1966) tentang kebijakan agraria pemerintahan India sejak kemerdekaannya. bentuk ³statequa-state´ yang kepentingannya berada dan bertolak belakang dengan kepentingan (bangsa) Indonesia.´ Hal ini menunjukkan kelebihan produksi dan penurunannya konsumsi produk pertanian di negara agak maju. penelitiannya menyatakan bahwa. Seperti yang dikemukakan oleh Saleh (1975). dan birokrat serta menekankan pada lemahnya partisipasi kelompok di luar piramida ini. kebijakan menghargai komoditi pertanian (khususnya beras) terlalu rendah dan menyebabkan penurunan dalam hal produksinya. Sampai pertengahan tahun 1970-an. .´ Campur tangan pemerintah dalam hal penetapan harga makanan (beras) dengan cara langsung kecendrunganya menetapkan harga yang relatif rendah sekali.´ Begitu pula menurut Schultz (1978) serta Bale dan Lutz (1979) dalam hasil. nampak koalisi kuat diantara diktatorisme personal dan militer. Pada akhir tahun 1960-an. Sekarang. karena sering terjadi bahwa kebijakan itu dibuat berdasarkan desakan kepentingan±kepentingan kelompok tertentu. dan bila terjadi sebaliknya. bahwa sedikitnya di 46 negara. ia menyebutkan kebijakan personalistik yang didasarkan pada konsep kekuatan politik mistik jawa sebagai suatu syarat yang harus dimiliki seorang penguasa.´ Peterson (1979) menghitung bahwa. mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing denga elit kekuasaan lokal maupun regional. Jika kita berbicara tentang apa sebenarnya dan siapa yang bertanggungjawab atas dibuatnya kebijakan tersebut. bahwa : ³petani semakin banyak kehilangan peran pentingnya karena tanpa adanya program perbaikan dan kemauan ideologi dari penguasa. militer. kelas administrasi / tehnokrat / manajerial kota (yang disebut kelas menengah). menawarkan interpretasi umum tentang Orde Baru. Sehingga hasil (produk) daripada kebijakan itu hanya menguntungkan kelompok yang ada dibalik dan mendesak/menekan si pembuat kebijakan. Anderson. Ia menunjukkan masalah berdirinya organisasi petani yang malah menimbulkan perpecahan primodial. Orde Baru adalah ³bagian aliansi kompleks antara borjuis luar negeri dan China. muncul penilaian yang terlalu tinggi atas komoditi pertanian.

khususnya kelompok petani. yaitu: a. meskipun pengaruhnya sangat sedikit. Lantas. Rekomendasi Kebijaksanaan Pada awalnya. f. yang oleh Frankel maupun Evans dirujukkan kepemerintahan otoriter birokrat dan militer yang bertentangan dengan kebijakan yang lebih egaliter. tujuan dan sasaran-sasaran dari pembuat keputusan harus ditekuni dan didudukkan pada order prioritas. Sehingga dengan demikian menurut hemat penulis bahwa dalam rangka proses pembuatan kebijakan itu tergantung pada manusianya yang sedang menjadi petinggi negara atau dalam artian lain bahwa political will dari para administrator harus jelas dan sesuai dengan kelompok sasaran masyarakat yang dikenakan kebijakan terrsebut. ketika harga beras meroket sampai 300 persen dalam waktu satu tahun. karena faktor-faktor yang lain khususnya politik yang sangat besar sekali pengaruhnya terhadap proses pembuatan kebijakan. Pada situasi semacam ini. Sependapat dengan Hirchman pada journey toward progress. partai komunis. d. semua pilihan untuk mencapai tujuan harus didefinisikan. e. terus memegang kekuasaannya. beliau mengatakan bahwa. . namun dalam pelaksanaannya di lapangan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Penulis yakin. nilai-nilai. bahwa banyak yang berpendapat tentang semakin keluar jalur para ahli politik dalam penelitiannya untuk mentransformasikan diktatorisme kaku dalam regim yang lebih normatif.Tidak seorangpun penulis menemukan tanda yang menunjukkan pergantian kekuasaan orde baru menjadi pemerintah radikal atau liberal. Hal tersebut di atas memang ideal sekali. yang dulunya pernah memiliki pemilion 4 juta orang dibantai secara brutal pada tahun 1965 sampai tahun 1966 dan tidak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Pengalaman di Indonesia dengan parlementer tahun 1950-1957 sangat berharga. b. yang di dukung lebih dari $ 12 milyar per tahun (kira-kira 60 persen dari APBN) dari pendapatan minyak dan $ 2 milyar dari bantuan luar negeri. biaya dan keuntungan harus dibandingkan. adakah harapan bagi kebijakan pembangunan yang menguntungkan kelompok kelompok non-elit. c. pada basis perbandingan ini. pembuat keputusan yang rasional menseleksi bagian dari tindakan yang maksimal untuk menghasilkan sesuatu dalam batas nilai-nilai. sebuah masalah harus didefinisikan. ³saya tidak akan memfokuskan pada pengaruh masalah kebijakan. Secara umum elit negara. pemerintah berusaha meningkatkan posisinya dengan mendirikan Bulog. biaya dan keuntungan setiap pilihan harus ditetapkan. Perhatian saya terletak pada faktor politis yang menguntungkan kelompok yang secara politis dan ekonomis lemah. tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang didefenisikan pada tahap yang kedua tersebut di atas.´ Jika kita menunjuk pada pendapatnya Simon (1957) dan Weller dalam sebuah bukunya yang berjudul Public Policy in Australia (1993) menyatakan bahwa model pendekatan yang rasional dalam pembuatan keputusan atau kebijakan ada 6 tahap dasar karakteristik yang umum. non pegawai negeri Indonesia? Pada intinya lebih nampak variabel politik dibandingkan partisipasi kelompok miskin.

dalam pengambilan keputusaan sendiri. KUD adalah lembaga yang didirikan dan didanai pemerintah yang membeli beras dari petani yang selanjutnya menjual kembali ke bulog (keuntungan KUD berkisar 8 persen) dan menjamin harga dasar gabah bagi petani. Kasus pertama : fokus Bulog terhadap kualitas dan harga dasar petani. dan hanya 139. yang biasanya mampu menghasilkan 9-14 % butir hijau. krisis beras hanya terjadi tahun 1972 sampai 1973. Krisis ini dapat dengan bantuan subsidi pasar. seperti harga dasar gabah yang naik dan standar kualitas Bulog yang rendah. Ada tiga kasus dalam kaitannya dengan kebijakan harga dasar gabah di Indonesia melalui bulog. Dalam hal ini bisa saja kepentingan petani dimenangkan. . Dengan itu Bulog menentukan tingkat kandungan Butir hijau sebesar 5 % yang akan dibelinya dari KUD untuk musim panen 1981-1982. Namun dalam perjalanannya ternyata banyak sekali hasil panen padi petani yang ditolak oleh KUD dan dibeli oleh tengkulak dengan harga jauh dibawah harga dasarnya (135 per kilo).000 ton yang dijual bebas di pasar domestik.000 ton. sekitar 350. Tujuannya adalah untuk memastikan suplai beras dan meningkatkan pendapatan petani. Sejak tahun 1973 diterapkan dukungan positif.000 ton merupakan bantuan pemerintah AS. namun hanya 70. Sebab KUD merupakan sistem lembaga ekonomi yang diorganisir sebagai usaha bersama yang didasarkan atas prinsip kekeluargaan (family principle). sementara sisanya dikonsumsi pegawai sipil dan militer.000 ton diimpor. Program subsidi produksi Bimas pada akhir tahun 1960-an meminta semua petani berpartisipasi. Ketidaksesuaian terakhir pada aspek khusus kebijakan harga beras menuntut kita untuk mengamati lebih dekat struktur minat dan kekuatan serta dinamika proses kebijakan. Sementara ketentuan yang lain pula menunjukkan ideologi dibalik kebijakan pertanian dalam bidang pertanian dan hubungannya dengan kepentingan yang saaling bertentangan. Kemudian kebijakan tadi karena ada keluhan dari petani dan KUD dirubah yaitu batas bulir hijau dari 5% menjadi 10%. Pada tahun 1967. Sampai akhir 1968.Pada tahun 1966 beras yang diimpor mencapai 640. Patokan harga minyak OPEC yang meningkat antara 1974 sampai 1979 membuat pemerintah Indonesia memiliki alat untuk mengimpor beras dalam jumlah yang besar untuk mencegah krisis itu terulang lagi. 100. salah satu fokus Bulog saat itu adalah meningkatkan kualitas padi yang dibelinya baik untuk kepentingan pasar Bulog maupun untuk membantu para pegawai negeri agar mendapatkan beras berkualitas. pemerintah sudah mampu meningkatkan suplai dan menurunkan harga beras (Liddle). Kasus ini merupakan krisis mini yang terjadi selama musim panen di awal 1982. KUD menentukan kebijaksanaan yang sama jika badan tersebut membeli padi dari petani. Di dalam kebijakan Orde Baru jika kita perhatikan tampak adanya perubahan adanya pada subsidi pemerintah untuk meningkatkan produksi yang menekankan program administrasi ke bentuk dukungan pasar. namun dalam ketentuan yang lain dapat dikalahkan. Sejak pertengahan 1960-an. KUD diharapkan mampu menggantikan posisi pedagang cina yang secara tradisional sudah kuat. Koperasi tingkat desa (KUD) menjadi lembaga utama dalam program pengembangan beras domestik.000 ton dijual dijual di pasar domestik. Para petani dalam program petani dan petugas KUD mengeluh bahwa batas bulir hijau 50% itu terlalu rendah untuk varietas anti hama yang mereka berikan pada petani.

Kasus Ketiga : Bisnis Sektor Swasta.sampai dengan Rp 145. dan bahkan HKTI memiliki pengaruh yang cukup besar. Di sini nampak bahwa kebijakan yang paling penting adalah menjaga harga dasarjangan sampai turun. didistribusi pupuk dari sektor swasta ke KUD.. kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan harga dasar padi pada saat itu. Dengan kejadian tersebut di atas. kemudian pemerintah mengumumkan bahwa ³Pemerintah akan membeli semua padi yang dijual petani langsung kepada pemerintah dengan harga dasr namun kualitasnya harus disesuaikan´.per kilo. dan jika koperasi tidak mengalami persaingan. dilaporkan bahwa semua petani di seluruh Jawa menjual padinya 50 % lebih rendah dari harga dasar. Koperasi dan Negara Kasus tentang padi yang terakhir tidak berisi proses panjang dimana berbagai sisi kita bisa mendorong pandangannya sebelum diambil keputusan. yang terakhir dengan harga gabah dari Rp 135. Sektor Swasta dan Koperasi.. tidak bisa diselesaikan dengan kebijakan peningkatan harga dasar gabah. namun juga disertai dengan kenaikan harga dua input pokok padi. paling tidak untuk menciptakan status quo. Namun demikian dalam sektor padi masih terdapat kelemahan. Tugas pemerintah adalah membangun koperasi. Namun dari perspektif yang lebih luas. Tingkat pertama adalah konteks ideologis dimana kedua sisi memaksakan argumennya sendiri-sendiri.500..per liter). suatu senjata melawan dan menundukkan perusahaan-perusahaan swasta yang rakus dan memiliki kekuasaan usaha terlalu besar. yang masing-masing memiliki peran dominan. kita bisa melihat bahwa para petani tidak kehilangan pendukung dalam arena pembuatan keputusan yang didominasi oleh birokrasi. namun itu tidak berarti harus membunuh sektor swasta. dan peran koperasi yang tepat adalah sebagai stabilisator harga. kebijakan yang dilakukan adalah meningkatkan harga dasar padi setiap tahun sebgai insentif bagi petani. saat dimana para petani harus menentukan apakah akan menanam padi atau tanaman lainnya. pupuk urea (dari Rp 70. Kasus Kedua: Konflik Intrabirokrasi dan Insentif Harga Kasus ini adalah adanya pertentangan kecil di akhir 1982 di tingkat harga dasar KUD untuk gabah. tidak adanya KUD. Bagi sebagian besar pemerintah Orde Baru pada saat itu. Kesempatan untuk menerapkan pendekatan adalah ketika musim tanam. maka petani telah banyak kehialngan faktor-faktor yang menguntungkan..per kilo) dan pestisida (dari Rp 1.sampai dengan Rp 1. Ekonomi orde baru berkembang dengan berlandaskan pada tiga badan institusi : Negara. bagaimana bisa sehat? Tingkat kedua. berfungsi untuk mentransfer dengan tahap-tahap yang diawali dengan musim tahun 1983.sampai dengan Rp 90. yaitu kurangnya ruang gudang.. kasus pupuk menggambarkan keterbatasan wewenang .230. Kasus pupuk ini mengindikasikan dua tingkat.Pada tanggal 17 Mei 1982. Para pejabat di lingkungan pertanian ± mungkin sebagai memperwakilkan para petani. Keputusan ini dibuat oleh menteri Pertanian dan Menteri Koperasi pada Januari 1983. Pihak pihak yang dirugikan tidak mengungkapkan penderitaannya sampai menjelang akhir Mei.. namun hanya berisi keluhan-keluhan dari berbagai pihak yang dirugikan atau ditekan oleh keputusan pemerintah. Dari P2SP dan Kadin menyatakan bahwa keputusan pupuk tersebut tidak dijiwai dengan pembentukan lembaga berimbang.

keyakinan dan kepentingan kelompoknya. DAFTAR PUSTAKA Dunn.. Dari ketiga kasus tadi mnunjukkan suatu pola konflik dalam birokrasi tentang kebijakankebijakan tertentu dan implementasinya yang sangat erat dengan perwakilan petani yang efektif dan kepentingan non birokrasi serta kepentingan lokal. Sebaliknya distorsi ini harus dipahami menurut realitas sosial dan historis dinamisnya bila usulannya bertujuan untuk melibatkan keterlibatan politisi. Kenapa pemerintah suatu negara menerapkan kebijakan harga produk pertanian yang berbeda yang mengakibatkan pola pengembangan desa dan pertanian saling bertentangan? Dalam hal ini perlu memperhatikan analisis Neoklasik pada pasar yang terdiri dari observasi distorsi harga. yang nampaknya berpihak pada kepentingan masyarakat. Namun alat pemerintah pusat ini tidak mendominasi proses kebijakan. media massa dan komunita intelektual. Hirchman. William N. 1998 . Karena kebijakan harga sangat penting dalam menentukan harga produk pertanian khususnya beras selama panen. . perantara dan konsumen. dimana di dalamnya termasuk orang-orang Kadin sendiri. maka kita perlu mengadakan penelitian harga produk pertanian bukan berdasarkan teori pasar murni tetapi berdasarkan teori negara. pada dasarnya pelaku monopoli yang diberi wewenang. Kesimpulan Dari pembahasan tersebut di atas menunjukkan adalah adanya suatu pola dominasi pemerintah pusat dalam pembuatan kebijakan yang diperkuat dengan ideologi korperatif dimana bisnis yang lemah dan sektor koperasi diatur oleh negara. yang nampaknya berpihak pada kepentingan masyarakat sehingga suatu pola konflik dalam birokrasi tentang kebijakan-kebijakan tertentu dan implementasikan yang sangat erat dengan perwakilan petani yang efektif dan kepentingan non birokrasi serta kepentingan lokal. Pola dominasi pemerintah pusat dalam pembuatan kebijakan diperkuat dengan adanya ideologi korporatis dimana bisnis yang lemah dan sektor koperasi diatur oleh negara. Para pedagang swasta formal. menghitung biaya sosialnya. ³Sebagian besar negarnegara Asia menetapkan beras sebagai komoditis utama pertanian dan merupakan komponen penting dalam kebijakan pembangunan umum. Analisa Kebijakan Publik : Natsir Budiman (Ed) . mereka meiliki pergantian ekslusif dengan Pusri untuk mendapatkan hak-hak distribusi di propinsi tertentu. Aktor penting lain juga termasuk pejabat daerah. sama-sama mengakibatkan keberhasilan dan kegagalan performa pertanian dalam menyumbangkan (potensi) pada negara. Oleh karena itulah sehingga dapat menyebabkan diterapkannya kebijakan harga yang berbeda-beda pada setiap produk/hasil pertanian.politik atau pengaruh bisnis pertanian swasta. dalam pengamatannya menyatakan bahwa. dan perubahan yang terjadi. anggota DPR. yang secara ekonomis sangat tergantung pada negara.´ Memang benar bahwa pejabat pemerintah pusat merupakan pengambil kebijakan utama pada bisang pertanian. Pengaruh yang dimiliki kelompok di luar pemegang kekuasaan pada proses pembuatan keputusan sering tidak langsung dan banyak bergantung pada persepsi. produsen yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir. Memang konsekuensi dari ketelibatan pewmerintah yang mengakar dalam penetapan kebijakan harga khususnya beras.

Dari Kapitalisme Menuju Ekonomi Kerakyatan.. Wahab. Solichin Abdul. 25 April 1999 « John and Lya H. David. Yogyakarta : Aditya Media. Parsons.. Analisis kebijakan publik: teori dan aplikasinya. 1986... Yogyakarta. 1984 . Evaluasi kebijakan publik. Kompas. George C. Analisis kebijaksanaan.. Jakarta: Rineka Cipta. Chicago. London. Lofland. Inc. Chiristopher and Michael Hill. L. Public Policy: An Introduction To the Theory and Practise of Policy Analysis.A. The East Asian Miracle. New York: Sage. Prngantar analisis kebijakan negara.1993 Myrdal. Edward. Implementing Public Policy . M. Public Policy making. Islamy. Wahab. 1953 . Wheatsheaf Books. 1997 Jakarta : Bumi Aksara.. California. Gunnar.. Anderson. 1999. Dari formulasi ke implementasi kebijaksanaan negara. The Policy Proses in Modern Capitalist State.E. Solichin Abdul. University of Chicago Press. Ham. Malang FIA Universitas Brawijaya. Washington. Jawa Pos. E. Natural Righ and History. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa. 22 April 1999 Kompas.. 28 April 1999 Joner.. 23 April 1999 Kompas. Bentang Intervensi. Silverman. Evaluative Research: Principles and practice in Public Service an Social Actions Programs. 13 April 1999 Jawa Pos. Wahab. Wayne. Ltd. London.Nelson. USA : Wadesworth. 1993. text and interaction. 1997.1967 Strauss. Prinsipprinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. 24 Februari 1999 Kompas. 1993. 1997.. Reformasi Sistem Ekonomi. Jakarta : Bina Aksara.. Pantheon Books. Interpreting Qualitative Data: Methods for analysing talk. Radikalisasi Petani.1969 Suchmans. J. Belmont. Pengantar Kebijakan Publik : Natsir Budiman (Ed). Charles O. Objevtivity in Sosial Research. Wahab. 1996. USA : Congressional Quarterly Press. Mubyarto. Solichin Abdul. World Bank.. 1998. 1980 . UK: edward Elgar Publishing Limited. Malang: IKIP Malang. 1984 Kuntowijoyo. Irfan. Solichin Abdul. UK: Sage Publications Ltd. USA. Analyzing Social Settings : A Guide To Qualitative Observation and Analysis. London.Chetenham. 1975.Jakarta : Hanindita. 24 April 1999 Kompas. 1998.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful