P. 1
SARBANES-OXLEY_2

SARBANES-OXLEY_2

|Views: 45|Likes:
Published by genius_blue

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: genius_blue on Feb 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2012

pdf

text

original

SARBANES-OXLEY DAN UU Akuntan Publik

KETERIKATAN SARBANES-OXLEY ACT, SAS NO. 99, DAN CORPORATE GOVERNANCE: HAL-HAL APA SAJA YANG PERLU KITA KETAHUI M.N. Huda D. Santoso, Ak., M.H., CFE
Salah satu topik yang menarik dan actual (current issues) dalam ACFE Annual Fraud Conference ke-14 di Chicago yang baru lalu adalah tentang diterbitkannya Sarbanes-Oxley Act (SOX). Undangundang ini dipandang sebagai reformasi terbesar (di USA) bagi pengukuran corporate governance sejak diterbitkannya Securities Acts of 1933 and 1934.

SARBANES-OXLEY ACT Latar Belakang
Undang-undang ini diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes (Maryland) dan Representative Michael Oxley (Ohio), dan telah ditandatangani oleh Presiden George W. Bush pada tanggal 30 Juli 2002. Undang-undang ini dikeluarkan sebagai respon dari Kongres Amerika Serikat terhadap berbagai skandal pada beberapa korporasi besar seperti : Enron, WorldCom (MCI), AOL Time Warner, Aura Systems, Citigroup, Computer Associates International, CMS Energy, Global Crossing, Health South, Quest Communication, Safety-Kleen dan Xerox; yang juga melibatkan beberapa KAP yang termasuk dalam ³the big five´ seperti : Athur Andersen, KPMG dan PWC.

SARBANES-OXLEY ACT Latar Belakang
1. Semua skandal ini merupakan contoh tragis bagaimana fraud schemes berdampak sangat buruk terhadap pasar, stakeholders dan para pegawai. Dengan diterbitkannya undang-undang ini, ditambah dengan beberapa aturan pelaksanaan dari Securities Exchange Commision (SEC) dan beberapa self regulatory bodies lainnya, diharapkan akan meningkatkan standar akuntabilitas korporasi, transparansi dalam pelaporan keuangan. Memperkecil kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan menyembunyikan fraud, serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi terhadap corporate governance. Saat ini, corporate governance dan pengendalian internal bukan lagi sesuatu yang mewah lagi; karena kedua hal ini telah disyaratkan oleh undangundang.

2.

3.

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Dalam Sarbanes-Oxley Act diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan pembaruan governance; yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen.

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Selain itu diatur pula mengenai hal-hal sebagai berikut : ‡ Menetapkan beberapa tanggung jawab baru kepada dewan komisaris, komite audit dan pihak manajemen. ‡ Mendirikan the Public Company Accounting Oversight Board, sebuah dewan yang independen dan bekerja full-time bagi pelaku pasar modal. ‡ Penambahan tanggung jawab dan anggaran SEC secara signifikan. ‡ Mendefinisikan jasa ³non-audit´ yang tidak boleh diberikan oleh KAP kepada klien. ‡ Memperbesar hukuman bagi terjadinya corporate fraud. ‡ Mensyaratkan adanya aturan mengenai cara menghadapi conflicts of interest. ‡ Menetapkan beberapa persyaratan pelaporan baru.

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Dalam hal pelaporan, Sarbanes-Oxley Act mewajibkan semua perusahaan publik untuk membuat suatu sistem pelaporan yang memungkinkan bagi pegawai atau mengadu (whistleblowers) untuk melaporkan terjadinya penyimpangan. Sistem pelaporan ini diselenggarakan oleh komite audit. Perusahaan dapat menggunakan jasa pelaporan hotlines seperti ACFE¶s EthicsLine. ACFE dapat membantu menyusun hotlines pengaduan yang akan menerima dan merahasiakan pengaduan, dan memberikan informasi kepada perusahaan agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Sistem hotlines ini akan mendorong para pegawai untuk melaporkan karena mereka merasa aman dari tindakan pembalasan dari yang dilaporkan, dan inilah elemen penting dan kritis bagi program pencegahan fraud yang kuat (a robust fraud prevention program)

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Sarbanes-Oxley Act juga meningkatkan program perlindungan bagi pegawai yang menjadi pengadu atau pemberi informasi, yang mendapat perlakuan buruk dari perusahaannya setelah membeberkan adanya fraud dan membantu investigasi seperti : dipecat, didemosikan, diskors, diancam, dilecehkan dan berbagai perlakuan diskriminatif lainnya. Pegawai tersebut dapat mencari perlindungan melalui Departemen Tenaga Kerja dan pengadilan distrik setempat. Dengan adanya undang-undang ini, tindakan pembalasan terhadap pengadu dianggap sebagai pelanggaran Federal (a Federal offense) sehingga terdapat konsekuensi hukum pidana bagi orang yang melakukannya berupa hukuman penjara sampai dengan 10 tahun.

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Adapun perusahaan atau organisasi yang diatur oleh Sarbanes-Oxley Act antara lain: Perusahaan-perusahaan yang sahamnya telah diregistrasi berdasarkan Section 12 of the Exchange Act of 1934, perusahaan-perusahaan yang wajib membuat laporan diregistrasi berdasarkan Section 15(d) of the Exchange Act, perusahaanperusahaan yang sedang dalam proses registrasi, dan Kantor Akuntan Publik yang menerbitkan laporan audit. Undang-undang ini tidak mengecualikan perusahaan asing yang listing di Amerika Serikat dan KAP dari luar Amerika Serikat yang menerbitkan laporan auditnya bagi perusahaan tersebut.

Hal-hal yang Diatur dalam Sarbanes-Oxley Act
Persyaratan bagi independensi auditor yang diatur dalam Sarbanes-Oxley Act diantaranya : menghindari beberapa aktivitas yang dilarang (§201), semua jasa audit harus telah disetujui oleh komite audit, adanya rotasi dari partner yang melakukan audit, menghindari konflik kepentingan, dan penelaahan oleh Comptoller General terhadap dampak potensial dari rotasi yang telah diwajibkan.

Komite Audit
Dalam kaitan tanggung jawab korporasi, Komite Audit mempunyai tanggung jawab sebagai berikut: ‡ Melakukan seleksi, menghitung kompensasi dan mengawasi KAP yang mengaudit korporasi. ‡ Menjadi anggota independen dalam dewan komisaris. ‡ Menyelenggarakan prosedur untuk menangani komplainkomplain yang berkaitan dengan akuntansi, pengendalian internal, dan lain-lain yang berkaitan dengan audit. ‡ Menelaah dan menyetujui jasa audit dan jasa-jasa lain yang diberikan oleh KAP.

Public Company Accounting Oversight Board
Dewan ini dibentuk berdasarkan Sarbanes-Oxley Act Tittle I yang berbunyi: ³«. to oversee the audit of public companies that are subject to the securities laws.´ Dewan ini mempunyai 5 orang anggota yang dipilih oleh SEC setelah berkonsultasi dengan Menteri Keuangan (Secretary of Treasury) dan Gubernur Bank Sentral (Chairman of the Federal Reserve Board).

Public Company Accounting Oversight Board
Tugas-tugas dari dewan ini antara lain: ‡ Melakukan registrasi terhadap KAP yang mengaudit perusahaan publik. ‡ Menetapkan atau mengadopsi, atau melakukan keduanya: standar audit, quality control, etika, independensi, dan beberapa standar lain yang berkaitan deangan proses audit. ‡ Melakukan inspeksi terhadap KAP-KAP. ‡ Melakukan investigasi, penegakan, penegakan disiplin dan pengenaan sanksi terhadap KAP dan partner dari KAP yang melakukan pelanggaran. ‡ Melakukan tugas-tugas dan fungsi-fungsi lain sebagai dewan yang dianggap perlu demi kepentingan publik

SAS NO. 99
Statement on Auditing Standard (SAS) No. 99 ± Cinsideration of Fraud in a Financial Statement Audit diterbitkan pada bulan Desember 2002 menggantikan SAS No. 82 dengan judul yang sama. SAS No. 99 ini merupakan Pernyataan Standar Audit signifikan yang pertama kali diterbitkan setelah diundangkannya Sarbanes-Oxley Act. Pernyataan ini menegaskan kembali tanggung jawab auditor yang telah dinyatakan dalam SAS No. 1 ± Codification of Auditing Standard and Procedures dan SAS No. 82, yaitu: 5 ³The auditor has a responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable assurance about whether the financial statements are free of material misstatement, whether caused by error or fraud.´

SAS NO. 99
SAS No. 99 ini efektif bagi audit keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah 15 Desember 2002. Perincian detail dari SAS No. 99 ini bisa didapatkan di www.aicpa.org. secara garis besar komponen dari SAS No. 99 adalah: ‡ Deskripsi dan karakteristik-karakteristik dari fraud. ‡ Kecurigaan secara professional (professional scepticism) ‡ Diskusi di antara tim audit yang ditugaskan ‡ Mendapatkan informasi dan bukti audit ‡ Mengidentifikasi risiko-risiko ‡ Penilaian risiko-risiko yang telah diidentifikasikan ‡ Tanggapan terhadap penilaian risiko ‡ Mengevaluasi bukti dan informasi audit ‡ Mengkomunikasian fraud yang mungkin terjadi ‡ Mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan fraud.

SAS NO. 99
Sejalan dengan SAS No. 99 ini, the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) telah membentuk Fraud Task Force of the AICPA¶s Auditing Standards Board yang bertugas untuk melakukan studi tentang pencegahan dan pendeteksian fraud dengan disponsori oleh Association of Certified Fraud Exminers (ACFE) dan beberapa organisasi lain yakni IMA, HA IIA, dan FEI. Hasilnya pada bulan November 2002 telah mengeluarkan Management Antifraud Programs and Control ± Guidance to Help Prevent and Deter Fraud. Inti pesan dari dokumen ini adalah setiap organisasi harus segera mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya fraud demi integritas keuangan, reputasi dan masa depan organisasi.

SAS NO. 99
Dengan mengacu kepada pengalaman Amerika Serikat di atas, apalagi mengingat keterpurukan perekonomian Indonesia salah satunya disebabkan oleh buruknya corporate governance dan semakin banyak perusahaan Indonesia go public di dalam maupun di luar negeri, seyogyanya pihak-pihak yang berkompeten seperti DPR, Departemen Keuangan (Bapepam), dan Ikatan Akuntan Indonesia segera membuat undang-undang dan peraturan yang serupa dengan Sarbanes-Oxley Act dan SAS No.99.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Konggres Amerika Serikat menetapkan undang-undang keuangan yang kemudian dikenal dengan Sarbanas Oxley Act 2002 (Sarbox) pada tanggal 30 Juli 2002. Undang-undang ini diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes dan Representative Michael Oxley dan disahkan oleh Presiden George W. Bush. Undang-undang ini dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar yang termasuk diantaranya melibatkan Enron, Tyco International, Adelphia, Peregrine Systems, dan WorldCom. Skandalskandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. Kasus ini merupakan salah satu contoh tidak adanya Good Corporate Governance pada perusahaan-perusahaan tersebut.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Sarbox juga menuntut Securities and Exchange Commissions (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan baru untuk menaati hukum ini. Undang-undang ini juga disebut-sebut sebagai perubahan terbesar dalam pengaturan pengelolaaan perusahaan dan pelaporan keuangan sejak Undang-undang Keuangan pertama kali ditetapkan di tahun 1933 dan 1934. Sarbox terdiri dari 130 halaman dan terbagi menjadi 11 bab sebagai berikut:

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab I: Perusahaan publik akuntansi oversight board  Section 101. Pembentukan; ketentuan administratif.  Section 102. Pendaftaran dengan Dewan.  Section 103. Audit, kontrol kualitas, dan kemerdekaan standar dan peraturan.  Section 104. Pemeriksaan dari accounting perusahaan publik terdaftar.  Section 105. Proses penyelidikan dan disiplin.  Section 106. Umum akuntansi perusahaan asing.  Section 107. Komisi pengawasan Dewan.  Section 108. Standar akuntansi.  Section 109. Pandanaan.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab II: Auditor Kemerdekaan  Section 201. Layanan di luar lingkup praktek auditor.  Section 202. Preapproval persyaratan.  Section 203. Audit mitra rotasi.  Section 205. Penetapan perubahan.  Section 206. Konflik kepentingan.  Section 207. Belajar dari wajib publik terdaftar dari rotasi akuntansi perubahan.  Section 208. Komisi kewenangan.  Section 209. Pertimbangan Negara sesuai dengan peraturan yang berwenang.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab III: Tanggungjawab Perusahaan  Section 301. Komite audit perusahaan publik.  Section 302. Perusahaan bertanggungjawab atas laporan keuangan.  Section 303. Penggunaan pengaruh pada melakukan audit.  Section 304. Kehilangan beberapa keuntungan dan bonus.  Section 305. Pegawai dan direktur bar dan hukuman.  Section 306. Insider trading selama periode penggelapan dana pensiun dilarang.  Section 307. Aturan profesoinal untuk tanggungjawab jaksa.  Section 308. Adil dana untuk investor.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab IV: Peningkatan Keuangan pengungkapan  Section 401. Pengungkapan dalam laporan periodik  Section 402. Peningkatan konflik kepentingan pengungkapan.  Section 403. Pengungkapan transaksi yang melibatkan manajemen dan pokok stockholders.  Section 404. Manajemen penilaian internal.  Section 405. Pembebasan.  Section 406. Kode etik untuk petugas senior keuangan.  Section 407. Pengungkapan dari komite audit keuangan ahli.  Section 408. Periodik ditingkatkan ditinjau dari pengungkapan oleh penerbit.  Section 409. Real time penerbit pengungkapan.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab V: Analis konflik kepentingan  Section 501. Perlakuan yang terdaftar oleh sekuritas sekuritas assocations. Bab VI: Komisi sumber daya dan kewenangan  Section 601. Otorisasi dari appropriations.  Section 602. Tampilan dan praktek sebelum Komisi.  Section 603. Pengadilan federal kewenangan untuk menentukan sen dolar stok bar.  Section 604. Kualifikasi terkait orang dari calo dan dealer.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab VII: Studi dan laporan  Section 701. GAO studi dan laporan dari masyarakat tentang konsolidasi akuntansi perusahaan.  Section 702. Komisi studi dan laporan tentang kredit lembaga rating.  Section 703. Kajian dan laporan pelanggar dan pelanggaran.  Section 704. Belajar dari penegakan tindakan.  Section 705. Belajar dari bank investasi.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab VIII: Perusahaan pidana penipuan dan akuntabilitas ‡ Section 801. Short judul. ‡ Section 802. Pidana denda untuk mengubah dokumen. ‡ Section 803. Nondischargeable hutang yang timbul jika melanggar undang-undang sekuritas penipuan. ‡ Section 804. Undang-undang batasan untuk sekuritas penipuan. ‡ Section 805. Tinjauan Federal hukuman panduan untuk halangan peradilan pidana penipuan dan luas. ‡ Section 806. Perlindungan bagi karyawan perusahaan publik yang menunjukkan bukti penipuan. ‡ Section 807. Pidana denda untuk defrauding pemegang saham publik dari perusahaan.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab IX: Kejahatan kerah putih Penalti Tambahan  Section 901. Short judul.  Section 902. Upaya ke conspiracies dan komit pidana penipuan offense.  Section 903. Pidana denda untuk surat kawan dan penipuan.  Section 904. Pidana denda atas pelanggaran terhadap Pendapatan Pensiunan Pegawai Keamanan Undang-undang 1974.  Section 905. Perubahan hukuman yang berkaitan dengan pedoman tertentu kerah putih offense.  Section 906. Perusahaan bertanggungjawab atas laporan keuangan.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab X: Perusahaan Nomor kembali  Section 1001. Maksud dari Senat mengenai penandatanganan pajak perusahaan kembali oleh ketua pegawai eksekutif.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Bab XI: Corporate penipuan dan akuntabilitas  Section 1101. Short judul.  Section 1102. Sabotase dengan catatan atau sebaliknya sehingga menjadi kendala resmi melanjutkan.  Section 1103. Kewenangan untuk membekukan sementara Securities and Exchange Commission.  Section 1104. Perubahan Federal Sentencing Pedoman.  Section 1105. Kewenangan Komisi untuk melarang orang dari menjabat sebagai pejabat atau direksi.  Section 1106. Peningkatan hukuman pidana di bawah Undangundang Securities Exchange 1934.  Section 1107. Retaliation against informants. Pembalasan terhadap informan.

SARBANAS OXLEY ACT 2002
Tujuan dari Sarbox adalah melindungi investor melalui:  Pengungkapan keuangan yang lebih akurat, tepat waktu, komprehensif, dan dapat dimengerti.  Tata kelola perusahaan yang lebih baik.  Pengawasan yang lebih ketat dengan pembentukan PCAOB.  Pengendalian internal yang lebih baik.

PCAOB
PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) adalah suatu lembaga yang dibentuk oleh Sarbox untuik mengawasi proses penyusunan, pemeriksaaan, dan pelaporan laporan keuangan perusahaan publik di Amerika Serikat. Tugas dari PCAOB adalah:  Mendaftar akuntan publik yang akan melakukan pemeriksaaan terhadap perusahaan yang mencatatkan bursanya pada pasar modal.  Menetapkan standar tentang audit, pengendalian mutu, etika, independensi, dan standar yang lain terkait dengan proses penyusunan laporan audit untuk perusahaan publik.  Melakukan pengawasan terhadap kantor akuntan publik.  Malakukan penyelidikan dan penegakan disiplin termasuk memberikan sanksi jika diperlukan kepada kantor akuntan publik atau perorangan yang berasosiasi dengan suatu kantor akuntan publik.

UNDANG-UNDANG RI TENTANG AKUNTAN PUBLIK

PERIZINAN
Izin akuntan publik dikeluarkan oleh Menteri Keuangan. Akuntan yang mengajukan permohonan untuk menjadi akuntan publik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: ‡ Memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan. ‡ Memiliki Sertifikat Tanda Lulus USAP yang diselenggarakan oleh IAPI. ‡ Apabila tanggal kelulusan USAP telah melewati masa 2 tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 tahun terakhir. ‡ Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 jam dalam 5 tahun terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan/atau mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP.

PERIZINAN
‡ Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya. ‡ Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). ‡ Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin akuntan publik. ‡ Membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan

Ujian Sertifikasi Akuntan Publik
Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia, seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan "CPA Indonesia" (sebelum tahun 2007 disebut "Bersertifikat Akuntan Publik" atau BAP). Sertifikat akan dikeluarkan oleh IAPI. Sertifikat akuntan publik tersebut merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai akuntan publik dari Departemen Keuangan Republik Indonesia/Departemen Keuangan.

Kantor Akuntan Publik
Akuntan publik dalam memberikan jasanya wajib mempunyai kantor akuntan publik (KAP) paling lama 6 bulan sejak izin akuntan publik diterbitkan. Akuntan publik yang tidak mempunyai KAP dalam waktu lebih dari 6 bulan akan dicabut izin akuntan publiknya.

Bidang jasa
Bidang jasa akuntan publik meliputi: ‡ Jasa atestasi, termasuk di dalamnya adalah Audit umum atas laporan keuangan, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma, review atas laporan keuangan, dan jasa audit serta atestasi lainnya. ‡ Jasa non-atestasi, yang mencakup jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi. Dalam hal pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan, seorang akuntan publik hanya dapat melakukan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.

Akuntan Publik Amerika Serikat
Profesi ini dilaksanakan dengan standar yang telah baku yang merujuk kepada praktek akuntansi di Amerika Serikat sebagai negara maju tempat profesi ini berkembang. Rujukan utama adalah US [[GAAP]] (United States Generally Accepted Accounting Principle's) dalam melaksanakan praktek akuntansi. Sedangkan untuk praktek auditing digunakan US GAAS (United States Generally Accepted Auditing Standard), Berdasarkan prinsip-prinsip ini para akuntan publik melaksanakan tugas mereka, antara lain mengaudit Laporan Keuangan para pelanggan.

Akuntan Publik Amerika Serikat
Kerangka standar dari US GAAP telah ditetapkan oleh SEC (Securities and Exchange Commission) sebuah badan pemerintah quasijudisial independen di Amerika Serikat yang didirikan tahun 1934. Selain SEC, tcrdapat pula AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) yang bcrdiri sejak tahun 1945. Sejak tahun 1973, pengembangan standar diambil alih oleh FASB (Financial Accominting Standard Board) yang anggota-angotanya terdiri dari wakil-wakil profesi akuntansi dan pengusaha.

UNDANG-UNDANG AKUNTAN PUBLIK

SUBSTANSI UU AKUNTAN PUBLIK:

KERJA SAMA ANTAR-KAP
Tujuan OAI: ‡ Pengembangan metodologi ‡ Pelatihan persama ‡ Memberikan jasa bersama

KAP C

KAP A

KAP D

KAP B

Organisasi Audit Indonesia (OAI) KAP E KAP F KAP G

KAPH

STRUKTUR PASAR JASA AUDIT
Model A: KAP-12 PARTNER Model B: OAI 4 KAP, 12 PARTNER

KAP 12

KAP 3 KAP 3

OAI

KAP 3 KAP 3

Model B diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing seperti model A: ‡ Metodologi ‡ Budaya Organisasi ‡ Reviu Mutu/ Supervisi ‡ Kualitas SDM

Konsekuensi OAI
a. Pengembangan Metodologi COST b. Hak & kewajiban (termasuk mekanisme memastikan kualitas OAI) SANKSI c. Pelatihan COST d. Berkelanjutan GOING CONCERN

Berpikir tentang OAI
No. 1. 2. 3. Sudut pandang Klien KAP anggota OAI Regulator Concern Apakah kualitas jasa yang diperoleh klien menjadi lebih baik? Apakah ada insentif ekonomis dari OAI? Adakah mekanisme untuk meyakini kualitas jasa yang diberikan masing-masing anggota OAI sesuai dengan standar kualitas OAI? Apakah terdapat membership fee, sanksi keanggotaan, dan konsekuensi hukum? Apakah pasar membutuhkan OAI?

4. 5.

Ikatan Keanggotaan Market

UNDANG-UNDANG RI NO. 5 TH 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK
‡ BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1: definisi Akuntan Publik, Akuntan Publik Asing, Asosiasi Profesi Akuntan Publik, Asosiasi Profesi Akuntan, Kantor Akuntan Publik (KAP), Organisasi Audit Indonesia (OAI), Kantor Akuntan Publik Asing (KAPA), Organisasi Audit Asing (OAA), Pihak Terasosiasi, Rekan, Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan Menteri. Pasal 2: Wilayah kerja Akuntan Publik meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. BAB II BIDANG JASA Bagian Kesatu: Jenis Jasa Pasal 3: Akuntan Publik memberikan jasa asurans dan hanya dapat diberikan oleh Akuntan Publik. Bagian Kedua: Pembatasan Pemberian Jasa Pasal 4: Pembatasan pemberian jasa audit oleh Akuntan Publik dan/ atau KAP atas informasi keuangan historis dan diatur dalam Peraturan Pemerintah. BAB III PERIZINAN AKUNTAN PUBLIK Bagian Kesatu: Umum Pasal 5: Izin menjadi Akuntan Publik diberikan oleh Menteri dan berlaku selama 5 tahun sejak tanggal ditetapkan dan dapat diperpanjang.

‡

‡

Bagian Kedua: Perizinan untuk Menjadi Akuntan Publik Pasal 6: Syarat-syarat untuk mendapatkan izin menjadi Akuntan Publik dan ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara perizinan yang diatur dalam Peraturan Menteri. Bagian Ketiga: Perizinan untuk Akuntan Publik Asing Pasal 7: Perizinan Akuntan Publik Asing kepada Menteri apabila telah ada perjanjian saling pengakuan dan syarat-syarat Akuntan Publik Asing. Bagian Keempat: Perpanjangan Izin Pasal 8: Perpanjangan izin Akuntan Publik oleh Menteri dan syarat perpanjangan izin Akuntan Publik. Bagian Kelima: Penghentian Pemberian Jasa Asurans untuk Sementara Waktu, Pengunduran diri, dan Tidak Berlakunya Izin Pasal 9: Pengajuan permohonan penghentian pemberian jasa asurans dan syarat penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu. Pasal 10: Akuntan publik dapat mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai Akuntan Publik dan syarat untuk mengajukan kembali permohonan izin Akuntan Publik setelah 1 tahun terhitung sejak tanggal persetujuan atas pengunduran diri. Pasal 11: Tidak berlakunya izin Akuntan Publik dan pencabutan izin Akuntan Publik.

BAB IV KANTOR AKUNTAN PUBLIK Bagian Kesatu: Benntuk Usaha Pasal 12: Bentuk KAP dan ditetapkan oleh Menteri. Bagian Kedua: Pendirian dan Pengelolaan Pasal 13: KAP yang berbentuk perseorangan didirikan dan dikelola oleh 1 orang Akuntan Publik berkewarganegaraan Indonesia. Bagian Ketiga: Rekan non-Akuntan Publik Pasal 14: setiap orang yang menjadi rekan wajib mendaftar kepada Menteri dengan syarat tertentu. Pasal 15: hal-hal yang dilarangterhadap rekan non-Akuntan Publik antara lain menjadi Rekan pada 2 KAP atau lebih. Pasal 16: Menteri membatalkan status terdaftar Rekan non-Akuntan Publik. Bagian Keempat: Tenaga Kerja Profesional Asing Pasal 17: KAP mempekerjakan tenaga kerja profesional asing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Bagian Kelima: Izin Usaha Pasal 18: Izinnya diberikan oleh Menteri dengan syarat tertentu. Bagian Keenam: Pendirian Cabang Kantor Akuntan Publik Pasal 19: cabang KAP didirikan oleh KAP yang berbentuk usaha dan dipimpin oleh Akuntan Publik yang berkewarganegaraan Imdonesia. Bagian Ketujuh: Izin Pendirian Cabang Kantor Akuntan Publik Pasal 20: izin KAP diberikan oleh Menteri. Syarat pendirian KAP yaitu memiliki kantor, NPWP, min 2 tenaga kerja, dan membuat kesepakatan tertulis.

Bagian Kedelapan: Pencabutan dan Tidak Berlakunya Izin Usaha Kantor Akuntan Publik Pasal 21: pencabutan izin usaha KAP dalam hal, yaitu pengajuan permohonan pencabutan izin usaha, KAP dikenai sanksi, domisili KAP berubah, dll. Bagian Kesembilan: Pencabutan dan Tidak Berlakunya Izin Pendirian Cabang Kantor Akuntan Publik Pasal 22: dicabut dalam hal, antara lain izinnya dicabut, tidak terdapat pemimpin cabang KAP selama 180 hari, domisili cabang KAP berubah, dll. Pasal 23: ketentuan lebih lanjut mengenai penentuan domisili Akuntan Publik dan KAP. BAB V HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN Bagian Kesatu: Hak Akuntan Publik Pasal 24: haknya antara lain memperoleh imbalan jasa, perlindungan hukum, dan memperoleh informasi. Bagian Kedua: Kewajiban Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Pasal 25: kewajibannya berhimpun dalam Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang ditetapkan oleh Menteri, berdomisili di wilayah Negara RI, dll. Pasal 26: Akuntan Publik bertanggungjawab atas jasa yang diberikan. Pasal 27: KAP/cabangya wajib mempunyai min 2 tenaga kerja, memiliki kantor, dll. Pasal 28: dalam memberikan jasa, KAP wajib menjaga independensi. Pasal 29: Akuntan Publik wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dari klien.

Bagian Ketiga: Larangan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Pasal 30: akuntan publik dilarang menjadi rekan pada lebih dari 1 KAP, menerima imbalan jasa bersyarat, menerima atau memberikan komisi. Pasal 31: KAP dilarang bekerja sama dengan KAPA atau OOA yang bekerja sama dengan KAP lain, membuat iklan yang menyesatkan. BAB VI PENGGUNAAN NAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK Pasal 32: KAP yang berbentuk usaha perseorangan harus menggunakan nama dari Akuntan Publik yang mendirikan KAP tersebut. BAB VII KERJA SAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK Bagian Kesatu: Kerja Sama Antar-Kantor Akuntan Publik Pasal 33: KAP dapat melakukan kerja sama dengan KAP lainnya untuk membentuk suatu jaringan yang disebut OAI. Pasal 34: KAP dilarang mencantumkan lebih dari 1 nama OAI, dll. Bagian Kedua: Kerja Sama KAP dengan KAP Asing atau Organisasi Audit Asing Pasal 35: KAP dapat melakukan kerja sama dengan KAPA atau OAA. Pasal 36: Menteri mencabut persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA. Pasal 37: ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencantuman nama KAPA atau OAA, perjanjian kerja sama, dll.

Bagian Ketiga: Pendaftaran, Pembekuan, dan Pembatalan Status Terdaftar KAP Asing Pasal 38: KAPA yang namanya akan dicantumkan dengan nama KAP harus mengajukan permohonan pendaftaran kepada Menteri dengan syarat-syarat. Pasal 39: Menteri membekukan status terdaftar KAPA dan OAA. Pasal 40: Menteri membatalkan status terdaftar KAPA dan OAA. BAB VIII BIAYA PERIZINAN Pasal 41: biaya dikenakan untuk memperoleh izin Akuntan Publik, memperpanjang izin, memperoleh izin usaha KAP. Pasal 42: Penerimaan biaya merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak. BAB IX ASOSIASI PROFESI AKUNTAN PUBLIK Pasal 43: Akuntan Publik berhimpun dalam wadah Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 44: wewenang Asosiasi Profesi Akuntan Publik, antara lain menyusun dan menetapkan SPAP, menyelenggarakan ujian profesi akuntan publik, dll. BAB X KOMITE PROFESI AKUNTAN PUBLIK Pasal 45: Komite tersebut dibentuk oleh Menteri dengan anggota berjumlah 13 orang. Pasal 46: Ketua Komite ditetapkan dari unsur ketua dan wakilnya ditetapkan dari Asosiasi Profesi Akuntan Publik. Pasal 47: Komite tersebut dibantu sekretariat dalam mendukung pelaksanaan tugas. Pasal 48: ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan, keanggotaan unsur-unsur, dll. BAB XI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu: Umum Pasal 49: Menteri berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Akuntan Publik, KAP, dan cabang KAP.

Bagian Kedua: Pembinaan Pasal 50: wewenang Menteri dalam melakukan pembinaan, antara lain menetapkan peraturan yang berkaitan dengan pembinaan Akuntan Publik, KAP, dan cabang KAP. Bagian Ketiga: Pengawasan Pasal 51: dalam melakukan pengawasan, Menteri melakukan pemeriksaan terhadap Akuntan Publik, KAP, dan cabang KAP atau Menteri dapat menunjuk pihak lain untuk melakukan pemeriksaan. Pasal 52: Menteri mencantumkan Pihak Terasosiasi dalam daftar orang tercela serta ketentuan lebih lanjutnya. BAB XII SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 53: Menteri berwenang mengenakan sanksi administratif kepada Akuntan Publik, KAP, dan cabang KAP. Pasal 54: Penerimaan denda merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak. BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 55: perlakuan bagi Akuntan Publik yang melakukan manipulasi, memalsukan dan menghilangkan data. Pasal 56: Pihak Terasosiasi yang melakukan perbuatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda max 300jt. Pasal 57: orang yang memberikan pernyataan tidak benar akan dipidana paling lama 5 tahun dan denda max 300jt.

BAB XIV KADALUWARSA TUNTUTAN ATAU GUGATAN Pasal 58: Akuntan Publik yang melakukan tindakan seperti dalam pasal 55, dibebaskan dari tuntutan pidana apabila perbuatan yang dilakukan telah lewat 5 tahun sejak tanggal laporan hasil pemberian jasa. BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 59: pemberlakuan ulang Akuntan Publik, KAP, dan cabang KAP. BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 60: berlakunya Ketentuan Pasal 4 dan 5 Undang-undang Nomor 34 Tahun 1954, dan Peraturan Pelaksanaannya. Pasal 61: Semua Peraturan Pemerintah ditetapkan paling lama 1 tahun sejak UU ini diundangkan, sedangkan Peraturan Menteri ditetapkan paling lama 2 tahun. Pasal 62: UU ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->