P. 1
Hand Out Nilai Awal Dan Syarat Batas-1

Hand Out Nilai Awal Dan Syarat Batas-1

|Views: 1,910|Likes:
Published by Miftachul Hadi

More info:

Published by: Miftachul Hadi on Feb 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

Hand out

( 3 SKS )
PENYUSUN :
Drs. PURWANTO WAKIDI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP )
KUSUMANEGARA JAKARTA
2011
Mata kuliah Nilai Awal dan Syarat Batas ditujukan untuk membekali para
mahasiswa dengan pengetahuan yang berkaitan dengan penyelesaian –
penyelesaian Persamaan Diferensial lanjutan selain yang pernah
diperolehnya di dalam perkuliahan Persamaan Diferensial. Pengembangan
pemahaman mahasiswa tentang model matematika dari suatu masalah
nyata sederhana yang berbentuk Persamaan Diferensial biasa atau parsial
dengan atau tanpa nilai awal dan nilai/syarat batas serta mampu
memecahkannya.
Oleh karena itu, pemahaman mahasiswa mengenai solusi deret dalam
penyelesaian Persamaan diferensial adalah topik pertama dalam
pembahasan perkuliahan ini. Lingkup bahasan secara umum meliputi:
Metode Aproksimasi untuk menyelesaikan PD Order satu, Deret Faurier,
Integral Faurier, Transformasi Faurier, dan Transformasi Laplace.
Kompetensi Dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa setelah mengikuti
perkuliahan adalah:
1. Dapat menyelesaikan persamaan diferensial orde satu dengan
metode aproksimasi.
2. Menentukan deret Fourier dari suatu fungsi.
3. Menghitung nilai integral suatu fungsi dalam fungsi Gamma.
4. Menghitung nilai integral suatu fungsi dalam fungsi Beta.
5. Menggunakan transformasi laplace untuk menyelesaikan persamaan
diferensial.
Persyaratan/Prerequisit perkuliahan adalah Kalkulus, Aljabar Linear,
dan Persamaan Diferensial Biasa.
A. KALKULUS DIFERENSIAL
(Materi Pengulangan)
1. Definisi turunan:
Turunan fungsi f(x) ditulis f'(x) didefinisikan sebagai f '(x) =
0
( ) ( )
lim
x
f x x f x
x ∆ →
+ ∆ −


Definisi diferensial:
Perhatikan fungsi dinyatakan dengan y = f(x) diferensiabel (dapat
diturunkan) pada interval yang mengandung x. diferensial x ditulis dx, dan
diferensial y ditulis dy didefinisikan dengan dy = f '(x) dx.
∆ y ≈ f(x+∆ x) – f(x)
∆ y ≈f '(x) ∆x
Untuk ∆ x sangat kecil
dinyatakan dengan
dx, diperoleh ∆y = f
'(x) dx. Dan
aproksimasi pertama
dapat ditulis menjadi f
'(x) dx ≈ f(x+∆ x) –
f(x). dapat pula ditulis
menjadi
f(x+∆ x) ≈ f '(x) dx + f(x)
Contoh: Aproksimasikan nilai fungsi
Menggunakan diferensial hitunglah pendekatan
16,5
Solusi: Gunakan f(x) =
x
 f(x + ∆x)

f(x) + f '(x) dx =
1
2
x dx
x
+
Sekarang pilihlah x = 16, dan dx = 0,5, diperoleh
pendekatan berikut
f(16,5) =
16,5
 f(16+0,5)

f(16) + f '(16) dx =
1
16 (0,5)
2 16
+
= 4 + 0,0625 =
4,0625
2. RUMUS – RUMUS TURUNAN
[ ] 0
d
C
dx
·
[ ]
d
kx k
dx
·
[ ( )] ( )
l
d
kf x kf x
dx
·
[ ( ) ( )] ( ) ( )
l l
d
f x g x f x g x
dx
t · t
[ ]
n n l
d
x nx
dx

·
[sin ] cos
d
x x
dx
·
[cos ] sin
d
x x
dx
· −
2
[tan ] sec
d
x x
dx
·
[sec ] sec .tan
d
x x x
dx
·
2
[ t ] csc
d
co x x
dx
· −
[csc ] csc .cot
d
x x x
dx
· −
3. RUMUS – RUMUS DIFERENSIAL
Misalkan u dan v adalah fungsi – fungsi x yang dapat diturunkan, maka
d(cu) = c du
d(u
t
v) = du
t
dv
d(u.v) = udv + vdu
d
u
v
¸ _

¸ ,
=
2
vdu udv
v

4. ATURAN RANTAI:
(1). d(u
n
) = nu
n – 1
du
(2).
.
dy dy du
dx du dx
·
Contoh: Carilah
dy
dx
, jika diberikan
2
2
1
1
u
y
u

·
+
dan
3 2
2 u x · +
Penyelesaian:
Bila
2
2
1
1
u
y
u

·
+
maka
2 2
2 2
2 ( 1) 2 ( 1)
( 1)
dy uu uu
du
u
+ − −
·
+

dan bila
3 2
2 u x · +
=
( )
1/3
2
2 x +
maka
2 2/3
1
( 2) (2 )
3
du
x x
dx

· +
=
2 2/3
2
( 2)
3
x
x

+
sehingga
dy
dx
, jika diberikan
2
2
1
1
u
y
u

·
+
dan
3 2
2 u x · +

adalah
.
dy dy du
dx du dx
·
2 2
2 2/3
2 2
2 ( 1) 2 ( 1) 2
. ( 2)
3
( 1)
dy uu uu x
x
dx
u

+ − −
· +
+
3 3 3 3 2 2 2 2 2 2
2 2/3
3 2 2 2
2 2(( 2) 1) 2 2(( 2) 1) 2
. ( 2)
3
(( 2) 1)
dy x x x x x
x
dx
x

+ + + − + + −
· +
+ +
LATIHAN:
Pada soal – soal 1 sampai dengan 18, carilah turunan
1.
2.
5 4 2
5 10 6 y x x x · + − +
3.
1/2 3/2 1/2
3 2 y x x x

· − +
4.
2
1 4
2
y
x x
· +
5.
2 2 y x x · +
6.
3
2 6
( ) f t
t t
· +
7.
6
(1 5 ) y x · −
8.
3 4
( ) (3 1) f x x x · − +
9.
2 1/2
(3 4 ) y x x · + −
10.
3 2
2 3
r
r
θ
+
·
+
11.
5
1
x
y
x
¸ _
·

+
¸ ,
12.
2
2 2 y x x · −
13.
2
( ) 3 2 f x x x · −
14.
2
( 1) 2 2 y x x x · − − +
15.
2
1 4
w
z
z
·

16.
1 y x · +
17.
1
( )
1
x
f x
x

·
+
18.
2 4 3 3
( 3) (2 5) y x x · + −
19.
2
2
2
3
t
s
t
+
·

20.
4
2
3
1
2 1
x
y
x
¸ _

·

+
¸ ,
1. TURUNAN FUNGSI EKSPONEN
Definisi : fungsi eksponen dengan basis e =
1
lim 1
t
t t →∞
¸ _
+

¸ ,
adalah f(x) =
x
e
.
Domain f(x) adalah semua bilangan real, sedangkan range f(x) adalah
semua bilangan real positif. Persamaan grafik y = =
x
e
akan mempunyai
invers y = ln |x|, lihat grafiknya berikut.
Turunan fungsi f(x)
=
x
e
adalah f ' (x) =
x
e
.
Dalam notasi
diferensial menjadi
d(
u
e
)=
u
e du
Fungsi eksponen lain adalah f(x)=
x
a
.
y =
x
a
 ln y = x ln |a| menjadi y =
.ln( ) x a
e
, sehingga turunannya adalah
y ' =
ln( )
x
e
a
. Dalam notasi diferensial d(
x
a
) =
ln( )
x
e
dx
a
Latihan: Tentukan turunan fungsi yang persamaannya sebagai
berikut
1.
2.
5x
y e ·
3.
tan3x
y e ·
4.
cos x x
y e

·
5.
2
3
x
y

·
6.
1
sin ( )
x
y e

·
7.
x
e
y e ·
8.
x
y x ·
9.
2
log(3 5) y x · −
1.TURUNAN FUNGSI HIPERBOLIK
1.1. Definisi fungsi hiperbolik:
Fungsi sinus hiperbolik dalam x ditulis sinh x didefinisikan f(x) = sinh x
=
2
x x
e e


dan fungsi cosinus hiperbolik dalam x ditulis cosh x adalah
f(x)=cosh x =
2
x x
e e

+

Domain fungsi – fungsi tersebut adalah semua bilangan real, dan
grafiknya adalah
Definisi fungsi – fungsi hiperbolik secara lengkap adalah
1.2. Turunan fungsi hiperbolik:
Turunan fungsi hiperbolik seperti y = sinh x dapat ditentukan
dengan sederhana dengan menggunakan rumus turunan, yaitu:

(sinh ) ( ) cosh
2 2
x x x x
d d e e e e
x x
dx dx
− +
− +
· · ·
Jadi
(sinh ) cosh
d
x x
dx
·
Dengan cara yang sama mudah dibuktikan pula turunan fungsi
hiperbolik yang lain, yaitu:
Latihan: Carilah dy/dx
1.
2.
sinh3 y x ·
3.
1
cosh
2
y x ·
4.
2
tanh(1 ) y x · +
5.
1
coth y
x
·
6.
2
sec y x hx ·
7.
1 1
sinh2
4 2
y x x · −
8.
2 2
csc ( 1) y h x · +
9.
ln.tanh2 y x ·
1. INVERS FUNGSI HIPERBOLIK
DEFINISI:
Invers fungsi hiperbolik adalah fungsi – fungsi yang di definisikan sebagai
berikut.
Dengan mengingat sinh y =
1
( )
2
y y
e e


dan cosh y =
1
( )
2
y y
e e

+
, dapat di
definisikan pula invers fungsi hiperbolik sebagai berikut.
Grafik – grafik invers fungsi hiperbolik dapat dilihat sebagai berikut
Rumus – rumus turunan invers fungsi hiperbolik.
Latihan:
selesaikan latihan berikut dengan menggunakan rumus – rumus di atas.

Tentukan turunan invers fungsi hiperbolik di bawah dengan menggunakan
rumus – rumus di atas.
2. TURUNAN LEBIH TINGGI
Bila fungsi y = f(x) selalu dapat diturunkan dalam selang a≤ x ≤ b, maka
turunannya adalah
dy
dx
= f ' (x);
2
2
d y
dx
= f '' (x) ;
3
3
d y
dx
= f ''' (x); ... ;
n
n
d y
dx
= f
n
(x)
Turunan tersebut adalah turunan pertama; turunan ke-2; turunan ke-3; ...;
turunan ke-n. Hubungan f(x) dengan turunan – turunannya pada sebuah
titik x – c adalah
f(x) = f(c) + f'(c) (x-c) +
( )
2!
ll
f c
(x-c)
2
+
( )
3!
lll
f c
(x-c)
3
+
( )
4!
lv
f c
(x-c)
4
+ ... .
Disebut deret Taylor.
Bila nilai c pada deret Taylor bernilai 0 , yaitu c = 0 diperoleh deret
maclaurin, yaitu
f(x) = f(0) + f'(0) x +
(0)
2!
ll
f
x
2
+
(0)
3!
lll
f
x
3
+
(0)
4!
lv
f
x
4
+ ... .
3. Deret Taylor dan deret Maclaurin
Polinom aljabar adalah f(x) = a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3
+ ... + a
n
x
n
, bila
dikaitkan dengan turunan- turunannya dalam selang yang mengandung c,
akan diperoleh deret Taylor. Nilai c disebut pusat. Untuk c = 0 bentuk
deret tersebut adalah deret Maclaurin. Perhatikan definisi berikut.
Beberapa contoh fungsi yang dinyatakan oleh deret fungsi aljabar
tersebut
4. V
5.
A.KALKULUS INTEGRAL
(Materi Pengulangan)
1. INTEGRAL SEBAGAI ANTI TURUNAN.
2. ILUSTRASI SEDERHANA
Selesaikanlah:
1). Bila f ' (x) = 2x , maka f(x) = ...
2). Bila dy/dx = x
3
– 4x + 7 , maka y =
3. RUMUS DASAR INTEGRAL
Rumus dasar integral:
Contoh:
Secara umum rumus dasar integral adalah
Latihan:
4. RUMUS – RUMUS UMUM INTEGRAL
Latihan:
5. TEKNIK INTEGRASI
1). Metode substitusi:
Pola teknik integrasi dengan metode substitusi adalah
Contoh:
2). Integral parsial
Pola teknik integrasi dengan integral parsial adalah
Contoh – contoh:
(1). Carilah:
Jawab:
(2). Carilah:
Jawab:
3). Teknik Integrasi dengan substitusi fungsi trigonometri
Contoh:
Jawab:
Latihan: selesaikanlah
6. Integral tertentu:
Contoh:
Latihan:
7. RUMUS – RUMUS INTEGRAL LANJUTAN
1). RUMUS FUNGSI ALJABAR DAN TRIGONOMETRI
LATIHAN:
8. RUMUS REDUKSI
(1).
(2).
(3).
(4).
9. B
10.B
11.B
12.
B. DERET PANGKAT DAN PENYELESAIAN PD ORDE SATU
DERET SEBAGAI PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL (PD)
1. Metode deret kuasa
Definisi :
Deret kuasa adalah deret tak hingga dalam ( x - x
0
) yang berbentuk :
(1)


·

0
0
) (
m
m
m
x x a
= a
0
+ a
1
(x – x
0
) + a
2
(x – x
0
)
2
+ … .
dengan a
0
, a
1,
a
2
, … adalah konstan dan merupakan koefisien deret itu.
x
0

adalah konstan pula dan disebut pusat deret
x disebut variabel deret.
Bila pusat deret x
0
= 0, maka deret kuasa disebut deret kuasa dalam x
(2)


·0
.
m
m
m
x a
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3
… .
Bahasan ini dibatasi dengan mengasumsikan bahwa semua konstanta dan
variabel adalah bilangan riel.
Contoh – contoh deret kuasa yang telah dikenal adalah deret
Maclaurin
x − 1
1
=


·0 m
m
x
= 1 + x + x
2
+ x
3
+ … . ( | x | < 1 , deret geometri )
e
x
=


·0
!
m
m
m
x
= 1 + x +
! 2
2
x
+
! 3
3
x
+ … ,
2
x
e
=
2
0
( )
!
m
m
x
m

·

= 1 + x
2
+ x42! +
6
3!
x
+ … ,
cos x =


·

0
2
)! 2 (
) 1 (
m
m m
m
x
= 1 -
! 2
2
x
+
4
4!
x
- ... + … ,
sin x =


·
+
+

0
1 2
)! 1 2 (
) 1 (
m
m m
m
x
= x -
! 3
3
x
+
! 5
5
x
-+ ….
Gagasan Metode Deret Kuasa (pangkat)
Bila deret pada (2) di atas merupakan nilai persamaan
(3) y =


·0
.
m
m
m
x a
= a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3

Dan diturunkan tiap – tiap sukunya menjadi
(4) y′ =


·

1
1
. .
m
m
m
x a m
= a
1
+ 2.a
2
x + 3.a
3
x
2
+ 4.a
4
x
3
+ …
Dan dilanjutkan y′ menjadi
(5) y′  =


·


2
2
. ). 1 (
m
m
m
x a m m
= 2a
2
+ 3.2a
3
.x + 4.3.a
4
x
2
+ …
dan seterusnya ….
2. Metode deret kuasa sebagai penyelesaian persamaan diferensial.
Gagasan penurunan persamaan (3) dan (4) diatas dapat dimanfaatkan
untuk penyelesaian persamaan diferensial.
Perhatikan contoh berikut :
Contoh 1 : Selesaikan persamaan diferensial
y′ – y = 0
Penyelesaian :
Apabila y′ sesuai persamaan (4) dan y sesuai persamaan (3)
disubstitusikan ke persamaan, maka diperoleh
( a
1
+ 2.a
2
x + 3.a
3
x
2
+ 4.a
4
x
3
+ …) – (a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3
… ) = 0
Kumpulkan suku – suku yang sederajat, diperoleh
( a
1
– a
0
) + (2a
2
– a
1
)x + ( 3a
3
– a
2
) x
2
+ ( 4a
4
– a
3
)x
3
+ … . = 0
Persamaan terakhir pasti benar apa bila tiap konstan dan koefisien
bernilai nol, menjadi
a
1
– a
0
= 0 , 2a
2
– a
1
= 0, 3a
3
– a
2
= 0, 4a
4
– a
3
= 0 , … .
dengan memecahkan persamaan – persamaan tersebut akan diperoleh
a
1
= a
0
, a
2
=
2
1
a
0
=
! 2
1
a
0
, a
3
=
6
1
a
0
=
! 3
1
a
0
, a
4
=
24
1
a
0
=
! 4
1
a
0
, … .
Penyelesaian persamaan diferensial tentu berbentuk umum y = a
0
+ a
1
x
+ a
2
x
2
+ a
3
x
3
…, dan bila disubstitusi hasil terakhir menjadi :
y = a
0
+ a
0
x +
! 2
1
a
0
x
2
+
! 3
1
a
0
x
3
+ …
y = a
0
( 1 + x +
! 2
1
x
2
+
! 3
1
x
3
+ … ) = a
0
e
x
.
Contoh lain : selesaikanlah persamaan – persamaan diferensial
1. y = 2xy.
Penyelesaian :
.....................................................................................................................
.....................................................................................................................
.....................................................................................................................
...................................................
2. y′  + y = 0
Penyelesaian :
.....................................................................................................................
.....................................................................................................................
.....................................................................................................................
...................................................
Latihan :
Latihlah pemahaman yang sudah diperoleh untuk menguatkan keyakinan
terhadap penggunaan deret kuasa untuk pemecahan persamaan
diferensial.
1. y = 3 y
2. y′ = xy
3. y = 2xy
4. ( 1 + x ) y = y
5. y′ + 2 y = 0
6. ( 1 – x ) y′ = y
7. (1 – x
2
) y′ = y
8. y′ = ky, untuk k ε R.
9. y′  = y
10. y′  = 4 y
11. y′  + 9y = 0
12. y = y′ .
A. DERET FOURIER
DERET FOURIER
1. Fungsi periodik
Definisi:
Fungsi yang berbentuk f( x + A) = f(x) disebut fungsi periodik
Nilai positif terkecil A disebut periode f(x)
Teorema:
Bila fungsi – fungsi periodik f
1
, f
2
, f
3
, ... , memiliki periode – periode A
1
, A
2
,
A
3
, ... . maka periode fungsi f
1
+ f
2
+ f
3
+ .... adalah KPK dari A
1
, A
2
, A
3
, ... .
Ilustrasi - ilustrasi:
1). Fungsi f(x) = 2 – 3 sin (2x -30
0
)
Untuk f(x + π) maka diperoleh pula f(x + π) = 2 – 3 sin ( 2(x +π) –
30
o
)
= 2 – 3sin(2x – 30
o
+ 2π)
= 2 – 3 sin(2x – 30
o
)
= f(x)
Jadi f(x) = 2 – 3 sin (2x -30
o
) adalah fungsi periodik
2). Fungsi didefinisikan dengan
f(x) =
1
1
( cos sin )
2
o n n
n
a a nx b nx

·
+ +

dengan a
n
dan b
n
adalah konstanta
sembarang.
Fungsi itu dapat ditulis sebagai

1 1 2 2
1
( ) cos sin cos 2 sin 2 ... cos3 sin ...
2
· + + + + + + + +
o n n
f x a a x b x a x b x a x b nx

Periodenya adalah KPK dari 2 װ
2. Deret trigonometri
Deret yang ditulis sebagai jumlahan bentuk:
1 1 2 2
1
cos sin cos 2 sin 2 ... cos3 sin ...
2
+ + + + + + + +
o n n
a a x b x a x b x a x b nx
Apabila a
n
dan b
n
pada deret tersebut konstan maka deret disebut sebagai
deret trigonometri.
3. Deret Fourier
Deret trigonometri
1 1 2 2
1
cos sin cos 2 sin 2 ... cos sin ...
2
+ + + + + + + +
o n n
a a x b x a x b x a nx b nx
Deret tersebut adalah konvergen, dan dapat dinyatakan dengan:
1 1 2 2
1
( ) cos sin cos 2 sin 2 ... cos sin ...
2
· + + + + + + + +
o n n
f x a a x b x a x b x a nx b nx
Atau ditulis dalam notasi sigma menjadi:
1
1
( ) ( cos sin )
2

·
· + +
∑ o n n
n
f x a a nx b nx
Dengan kooefisien a
n
dan b
n
konstan memenuhi syarat tertentu disebut
deret Fourier.
Untuk menentukan kostanta:
0
1
( ) a f xdx
π
π
π

·

1
( )cos
n
a f x nx dx
π
π
π

·

; untuk n = 1, 2, 3, 4...
1
( )sin
n
b f x nx dx
π
π
π

·

; untuk n = 1, 2, 3, 4 ...
Contoh:
Fungsi f periodik dengan periode 2π ditentukan oleh f(x) =  - x dalam
selang
– <x< .
Tentukan : (1). Grafiknya.
(2). Deret fouriernya.
Penyelesaian:
(1). Fungsi f(x) = π - x periodik dalam selang – <x<π , berarti grafiknya
memenuhi
f(x) = π - x untuk selang – <x< π . Untuk π < x < 3π grafik
memenuhi f(x – 2π ) = π - x +2π = 3π - x. sedangkan pada -3π < x
< - π , grafik memenuhi f(x + 2) = π - x – 2π = - π - x. dan
seterusnya..., sehingga grafik fungsi periodik dalam periode 2 π yang
ditentukan oleh fungsi f(x) = π - x adalah:
(2). Menentukan deret Fourier fungsi f(x) =  - x yang periodik dalam –
π <x<π , tentukanlah nilai a
0
, a
n
, dan b
n
. Untuk menentukan nilai –
nilai tersebut pergunakan rumus – rumus kemudian hitung integral
tersebut. Akan diperoleh:
0
1
( ) a f xdx
π
π
π

·


1
( ) xdx
π
π
π
π

· −

=
2
1 1
( )
2
x x
π
π
π
π

1

1
]
=
2 2 2 2
1 1 1
2 2
π π π π
π
¹ ¹ ¸ _ ¸ _
− − − −
' ;

¸ , ¸ , ¹ ¹
= 2π
1
( )cos
n
a f x nx dx
π
π
π

·



1
( )cos x nx dx
π
π
π
π

· −

=
2
1 1
( )sin cos )
x
nx nx
n
n
π
π
π
π

1 − ¹ ¹

' ;1
¹ ¹]

=
2 2
1 1 1
( )sin cos ) ( )sin ( ) cos ( ) n n n n
n n
n n
π π π π
π π π π
π
1 − + ¹ ¹ ¹ ¹
− − − − −
' ; ' ; 1
¹ ¹ ¹ ¹ ¸ ]

=
2 2
1 1 1
(0 cos ) (0 cos ( ) 0 n n
n n
π π
π
1 ¹ ¹ ¹ ¹
− − − − ·
' ; ' ; 1
¹ ¹ ¹ ¹ ¸ ]

1
( )sin
n
b f x nx dx
π
π
π

·

; untuk n = 1, 2, 3, 4 ...

1
( )sin x nx dx
π
π
π
π

· −

=
2
1 1
( )cos sin )
x
nx nx
n
n
π
π
π
π

1 − ¹ ¹

' ;1
¹ ¹]

=
2 2
1 1 1
( )cos sin ) ( )cos ( ) sin ( ) n n n n
n n
n n
π π π π
π π π π
π
1 − + ¹ ¹ ¹ ¹
− − − − −
' ; ' ; 1
¹ ¹ ¹ ¹ ¸ ]

=
{ }
1 2 2
(0 0) ( cos 0) cos n n
n n
π
π π
π
1 − ¹ ¹
− − − ·
' ;
1
¹ ¹ ¸ ]
, untuk n = 1, 2, 3, ...
Jadi f(x) =  - x periodik dalam selang – π <x < π dapat dinyatakan
dalam bentuk
1
1
( ) ( cos sin )
2

·
· + +
∑ o n n
n
f x a a nx b nx

1
1 2
( ) (2 ) cos sin
2
n
f x x n nx
n
π π π

·
· − · +


( )
2 1 2
Sehingga f x   sin x sin 2x sin3 sin4 sin5 ...
3 2 5
x x x π · − + − + − +
Contoh 2:
Fungsi f periode 2  memenuhi
, 0
( )
, 0
x bila x
f x
bila x
π
π π
¹
− ≤ <
¹
·
'
≤ < ¹
¹
Tentukan: (a). Grafiknya
(b). Deret Fouriernya
Jawab:
a). Grafik
, 0
( )
, 0
x bila x
f x
bila x
π
π π
¹
− ≤ <
¹
·
'
≤ < ¹
¹
adalah
4. Deret Fourier untuk interval 2L.
Pandang kembali bentuk deret fungsi trigonometri yang disajikan dalam
1
1
( ) ( cos sin )
2

·
· + +
∑ o n n
n
f x a a nx b nx
Dengan kooefisien a
n
dan b
n
konstan memenuhi syarat bahwa f(x) tertentu
dalam
(-L, L), dan diluar itu memenuhi f(x + 2L) = f(x) yang berarti bahwa fungsi
memiliki periode 2L, maka pengembangan deret Fourier menjadi
XY
1
1
( ) ( cos sin )
2
π π

·
· + +
∑ o n n
n
n x n x
f x a a b
L L
Untuk menentukan kostanta:
0
1
( )
L
L
a f xdx
L

·

1
( )cos
L
n
L
n x
a f x dx
L L
π

·

; untuk n =0, 1, 2, 3, 4...
1
( )sin
L
n
L
n x
b f x dx
L L
π

·

; untuk n = 1, 2, 3, 4 ...
Jika f(x) sembarang dan memenuhi f(c + 2L) = f(c), maka untuk
menentukan nilai a
0
dan a
n
dan b
n
adalah:
Untuk menentukan kostanta:
2
1
( )cos
c L
n
c
n x
a f x dx
L L
π
+
·

; untuk n =0, 1, 2, 3, 4...
2
1
( )sin
c L
n
c
n x
b f x dx
L L
π
+
·

; untuk n = 1, 2, 3, 4 ...
a
0
dapat diperoleh
0
1
( )
L
L
a f xdx
L

·

5. Contoh - contoh.
1. Diketahui fungsi:
0, / 2
( ) ; ( 2 ) ( )
1, / 2
bila x
f x untuk f x f x
bila x
π π
π
π π
¹
− ≤ ≤
¹
· + ·
'
< ≤ ¹
¹
Tentukan:
a. Grafik fungsi tersebut
b. Deret fourier fungsi.
1. Diketahui pula fungsi:
2
( ) ; 1 1; ( 2) ( ) f x x bila x f x f x · − < ≤ + ·
Tentukan:
a. Grafik fungsi tersebut
b. Deret fourier fungsi.
1. Latihan:
Tentukan deret Fourier fungsi – fungsi berikut.
1. F(x) = x, bila – 1 ≤ x ≤ 1 ; untuk f(x + 2) = f(x).
2. F(x) = |x|, bila – π ≤ x ≤ ; untuk f(x + 2π ) = f(x)
3.
0, 0
( ) ; ( 2 ) ( )
1, 0
bila x
f x untuk f x f x
bila x
π
π
π
¹
− ≤ ≤
¹
· + ·
'
< ≤ ¹
¹
4.
1, 0
( ) ; ( 2 ) ( )
1, 0
bila x
f x untuk f x f x
bila x
π
π
π
¹
− − ≤ ≤
¹
· + ·
'
< ≤ ¹
¹
5. F(x)= x, untuk 0 < x ≤ 2; bila f(x + 2) = f(x)
6. F(x) = x
2
, untuk – π ≤ x ≤ π
7. F(x) = x
2
, untuk 0 ≤ x ≤ 2π ; bila f(x + 2) = f(x)
8. F(x) = x
2
, untuk – l < x ≤ l; bila f(x + 2l) = f(x)
9. F(x) = 2 cos
2
x, untuk – π ≤ x ≤ π ; bila f(x + 2π ) = f(x)
10. F(x) = 2 sin
2
x, untuk – π < x ≤ π
11. F(x) = sin 2x, untuk – /2 ≤ x ≤ /2
12. F(x) = cos 2x, untuk – π /2 < x < π /2
A.FUNGSI GAMMA
Fungsi Gamma sangat penting karena sering dijumpai dalam fisika selain
matematika.
1. Definisi :
Fungsi gamma adalah fungsi yang ditulis dengan Γ (n) dibaca
gamma n dan didefinisikan dengan :
Γ (n) =


− −
0
1
dx e x
x n
dengan n > 0 …………………………………
( 1 )
Ilustrasi :
(1) =


0
e
– x
dx ; Γ (2) =


0
x. e
– x
dx ; Γ (3) =


0
x
2
.e
– x
dx dst
Untuk menentukan nilai integral (1) di atas, dapat digunakan integral
parsial.
(n) =


− −
0
1
dx e x
x n
= –
] [
1
0 .
x n
e x
− −


2. Tabel nilai nilai – nilai dan grafik fungsi Gamma:
Tabel: Grafik fungsi Gamma:
Hal yang menarik dari fungsi gamma adalah hubungan antara (n+1)
dengan Γ (n), yaitu:
Γ (n+1) = n (n)
Dari hubungan tersebut dapat dibuktikan bahwa:
(n) = (n – 1)!
Hubungan yang penting lainnya adalah
Γ (12) = π
Pembuktian ini dapat dilihat pada kalkulus lanjut, Noenik sumartoyo, hal
164.
Contoh:
1.
2. Hitunglah: Γ (6)
3. Hitung pula
(5)
(3)
Γ
Γ
4. Hitung pula (-12)
5.
6 2
0
x
x e dx



6.
3
0
y
ye dy



7.
2
4
0
3
z
dz



1.
2.
Latihan:
1.
2
2
0
3
y
dy



2.
2
2
0
3
y
dy



3.
1
0
ln
dx
x −

n ( ) n Γ
1,00 1,0000
1,10 0,9514
1,20 0,9182
1,30 0,8975
1,40 0,8873
1,50 0,8862
1,60 0,8935
1,70 0,9086
1,80 0,9314
1,90 0,9618
2,00 1,0000
A.FUNGSI BETA
Fungsi Beta merupakan satu dari transformasi integral yang penting
dalam matematika dan teknik, termasuk Fisika. Karena itu mempelajari
Fungsi Beta dan dapat menggunakannya adalah usaha yang dilakukan
kita untuk memahami hakekat matematika.
1. Definisi: Fungsi Beta adalah komposisi dua parameter yang
didefinisikan dengan:

1
1 1
0
( , ) (1 )
x y
Bx y t t dt
− −
· −

Bila x ≥ 1 dan y≥ 1, itu adalah integral tertentu. Apabila x>0, Y>0 dan
satu diantarnya atau keduanya x<1 atau y<1 adalah integral tak wajar
tetapi konvergen.
Fungsi Beta B(x,y) dari definisi di atas dapat dinyatakan dalam
fungsi gamma, yaitu:

( ) ( )
( , )
( )
x y
Bx y
x y
Γ Γ
·
Γ +
2. Sifat – sifat:
1.
/2
2 1 2 1
0
( , ) 2 sin cos
x y
Bx y d
π
θ θ θ
− −
·

2.
( , ) ( , ) Bx y By x ·
3.
/2 /2
0 0
sin cos
p p
d d
π π
θ θ θ θ ·
∫ ∫
=
1.3.5....( 1)
. ,
2.4.6.... 2
2.4.6....
,
1.3.5....( 1)
p
jika genap positif
p
p
jika ganjil positif
p
π − ¹
¹
¹
'
¹
¹ −
¹
1. Contoh:
1. Dengan mengandaikannya sebagai bentuk
1
1 1
0
( , ) (1 )
x y
Bx y t t dt
− −
· −


hitunglah
2
2
0
2
x dx
x −

terlebih dahulu misalkan x = 2v
2.
1
4 3
0
(1 ) x x dx −

3.
4 2 2
0
a
y a y dy −

1. Latihan:
1.
/2
6
0
sin d
π
θ θ

2.
/2
4 5
0
sin cos d
π
θ θ θ

3.
4
0
cos d
π
θ θ

4. Pergunakan sifat 3. Dan hitung
/2
6
0
cos d
π
θ θ

5.
/2
3 2
0
sin cos d
π
θ θ θ

6.
2
8
0
sin d
π
θ θ

; gunakan interval 2 π = 4. π /2
7. Tunjukkan
2
3 3
0
8 x x dx −

=
16
9 3
π
, substitusi x
3
= 8y
8. Tunjukkan pula
( ) { }
2
1
3 4
0
1/ 4
1
6 2
x dx
π
Γ
− ·

, substitusi x
4
= y
A.TRANSFORMASI LAPLACE
1. Definisi:
Transformasi Laplace fungsi F(t) ditulis
{F(t)}= f(s) =
0
( )
st
F t e dt



, untuk t bilangan positif.
Bentuk integral
0
( )
st
F t e dt



adalah improper integral (integral
tak wajar) yang diselesaikan dengan menggunakan limit
menjadi
0
( )
st
F t e dt



=
0
lim ( )
n
st
n
F t e dt

→∞


2. Rumus – rumus dan sifat transformasi Laplace
1. Sifat – sifat :
a. {aF
1
(t) + bF
2
(t)} = a{F
1
(t)} + b{F
2
(t)}
b. {e
– bt
F(t)} = f(s + b)
c. {F(t)e
at
} = f(s – a)
d. Jika {F(t)} = f(s), maka {F'(t)} = s f(s) – F(0)
e. Jika {F(t)} = f(s), maka transformasi laplace turunan
F(x)ke-n adalah:
{F
(n)
(t)} = s
n
.f(s) – s
(n – 1)
.F(0) – s
(n – 2)
.F'(0) – ...
– s.F
(n – 2)
(0) – F
(n– 1)
(0)
f. {t
n
.F(t)} =(-1)
n
.f
(n)
(s)
g. {e
at
.t
n
} =
1
( 1)
( )
n
n
s a
+
Γ +

h. {e
at
.sin kt} =
2 2
( )
k
s a k − +
i. {e
at
.cos kt} =
2 2
( )
s a
s a k

− +
j. Jika {F(t)} = f(s), maka {t
n
.F(t)} =
( )
( )
1 . ( )
n n
f s −
, n
bilangan asli
1. Rumus- rumus :
a. {k}=
k
s
b. {t}=
2
1
s
c. {t
2
}=
3
2
s
d. {t
n
}=
1 1
( 1) !
n n
n n
s s
+ +
Γ +
·
e. {cos kt} =
2 2
s
s k +
f. {sin kt} =
2 2
k
s k +
g. 
{ }
1
at
e
s a
·

h. {sinh at} =
2 2
a
s a −
i. {cosh at} =
2 2
s
s a −
1. Contoh – contoh: Pergunakan sifat – sifat dan rumus di
atas, kemudian;
1. Tunjukkan bahwa:
a. {t sin at} =
( )
2
2 2
2as
s a +
b.
{ }
4
cosh5
t
e t
=
2
4
8 9
s
s s

− −
c. 
{ }
2 3t
t e
=
( )
3
2
3 s−
1. Hitunglah nilai:
2
0
cos
t
te t dt



; (jwb:
3
25
)
2. Buktikan sifat: Jika {F(t)} = f(s), maka {F(at)}=
1 s
f
a a
¸ _

¸ ,
1. Latihan:
1. Buktikan sifat: Jika F(t) fungsi periodik dengan periode T,
maka
{F(t)} =
0
. ( )
1
T
st
st
e F t dt
e




2. Fungsi periodik F(t) dengan periode 2 ditentukan oleh
F(t)=
sin , 0
0, 2
t untuk t
untuk t
π
π π
¹
< <
¹
'
< < ¹
¹
Tentukanlah {F(t)}.
1. Invers Transformasi Laplace.
Jika transformasi Laplace suatu fungsi F(t) adalah f(s), disimbolkan
{F(t)} = f(s)
Maka F(t) adalah invers transformasi laplace dari f(s), disimbolkan
F(t) = 
– 1
{f(s)}
Dimana 
– 1
adalah operator invers transformasi laplace.
Ilustrasi:
1. 
– 1

1
3 s
¹ ¹
' ;
+
¹ ¹
2. 
– 1

3 2 4
5 4 2 18 24 30
9
s s s
s s s
¹ ¹
+ − − ¹ ¹
− −
' ;
+ ¹ ¹
¹ ¹
Latihan:
1. 
– 1

2 2
6 3 4 8 6
2 3
9 16 16 9
s s
s
s s
¹ + − ¹
− −
' ;

− + ¹ ¹
2. 
– 1

2
6 4
4 20
s
s s
¹ − ¹
' ;
− + ¹ ¹
3. 
– 1

2
3 7
2 3
s
s s
¹ − ¹
' ;
− − ¹ ¹
4. 
– 1

1
2 3 s
¹ ¹
' ;
+
¹ ¹
5. 
– 1

2
2 4
( 1)( 2)( 3)
s
s s s
¹ ¹
− ¹ ¹
' ;
+ − −
¹ ¹
¹ ¹
6. 
– 1

2
3 1
( 1)( 1)
s
s s
¹ ¹
+ ¹ ¹
' ;
− + ¹ ¹
¹ ¹
1. Penggunaan Transformasi Laplace Dalam Penyelesaian
Persamaan Diferensial
Contoh:
Penyelesaian persamaan diferensial linear dengan koeffisien
konstanta dan persamaan diferensial simultan dapat
dilakukan dengan menggunakan transformasi laplace.
Misalnya persamaan diferensial linear:
2
2
. . ( )
d y dy
a bY Ft
dt
dt
+ + ·
Dengan koefisien untuk t = 0 , maka Y(0) = A dan Y '(0) = B
Penyelesaiannya dengan menggunakan transformasi laplace
adalah:
• Transformasi laplacekan ke dua ruas menjadi {Y(t)}
= y(s)
• Kemudian tentukan invers transformasi laplace dari y(s)
• Hasil tsb adalah penyelesaian persamaan diferensial
tersebut.
Contoh – contoh:
1. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' + Y = t. Syarat awal Y(0) = 1
dan
Y ' (0) = - 2
2. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' - 3 y ' + 2 Y = 4 e
2t
. Syarat
awal Y(0) = -3, Y ' (0) = 5.
3. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' ' – 3 Y ' ' + 3 Y ' – Y = t
2
e
t
.
Syarat awal Y(0) = 1, Y ' (0)= 0; dan Y ' ' (0) = - 2
4. Tentukan penyelesaian umum : Y ' ' ' – 3 Y ' ' + 3 Y ' – Y = t
2
e
t
.
5. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' + 9Y = cos 2t dengan syarat
awal Y(0) = 1, dan Y(π /2) = - 1
6. Selesaikan persamaan diferensial simultan dengan menggunakan
transformasi laplace.
2 3
dX
X Y
dt
· −
; dan
2
dy
Y X
dt
· −
Syarat awal X(0) = 8 dan Y(0) = 3
7. Selesaikan persamaan diferensial simultan dengan menggunakan
transformasi laplace.
X ' ' + 2Y = t
2
+ 1 ; dan 2X ' – Y ' = sin 2t
Syarat awal X(0) = X ' (0) = Y (0) =0
Bahan test UAS
1. Menyelesaikan persamaan diferensial dengan menggunakan deret
pangkat
Y ' + y – x = 3
Cari y
2. Menggambar dan menyelesaikan persamaan menjadi Deret fourier
Fungsi f(x) =
1, 0
1, 0
x bila x
x bila x
π
π
− − ≤ < ¹
¹
'
+ ≤ <
¹
¹
a. Gambarlah grafik
b. Tentukan Deret fourier fungsi tersebut
1. Menghitung fungsi gamma
2. Menghitung fungsi beta
3. Menentukan transformasi laplace suatu fungsi

Mata kuliah Nilai Awal dan Syarat Batas ditujukan untuk membekali para mahasiswa dengan pengetahuan yang berkaitan dengan penyelesaian – penyelesaian Persamaan Diferensial lanjutan selain yang pernah diperolehnya di dalam perkuliahan Persamaan Diferensial. Pengembangan

pemahaman mahasiswa tentang model matematika dari suatu masalah nyata sederhana yang berbentuk Persamaan Diferensial biasa atau parsial dengan atau tanpa nilai awal dan nilai/syarat batas serta mampu memecahkannya. Oleh karena itu, pemahaman mahasiswa mengenai solusi deret dalam penyelesaian Persamaan diferensial adalah topik pertama dalam meliputi: pembahasan perkuliahan ini. Lingkup bahasan secara umum Integral Faurier, Transformasi Faurier, dan Transformasi Laplace. Kompetensi Dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa setelah mengikuti perkuliahan adalah: 1. Dapat menyelesaikan persamaan diferensial orde satu dengan metode aproksimasi. 2. Menentukan deret Fourier dari suatu fungsi. 3. Menghitung nilai integral suatu fungsi dalam fungsi Gamma. 4. Menghitung nilai integral suatu fungsi dalam fungsi Beta. 5. Menggunakan transformasi laplace untuk menyelesaikan persamaan diferensial. Persyaratan/Prerequisit perkuliahan adalah Kalkulus, Aljabar Linear, dan Persamaan Diferensial Biasa.

Metode Aproksimasi untuk menyelesaikan PD Order satu, Deret Faurier,

KALKULUS DIFERENSIAL (Materi Pengulangan) 1. Definisi turunan: .A.

Turunan fungsi f(x) ditulis f'(x) didefinisikan sebagai f '(x) = f (x+ ∆ x) − f (x) ∆x ∆x→0 lim Definisi diferensial: Perhatikan fungsi dinyatakan dengan y = f(x) diferensiabel (dapat diturunkan) pada interval yang mengandung x. diferensial x ditulis dx. ∆ y ≈ f(x+∆ x) – f(x) ∆ y ≈f '(x) ∆x Untuk ∆ x sangat kecil dinyatakan dengan dx. dapat pula ditulis menjadi f(x+∆ x) ≈ f '(x) dx + f(x) Contoh: Aproksimasikan nilai fungsi . diperoleh ∆y = f '(x) dx. dan diferensial y ditulis dy didefinisikan dengan dy = f '(x) dx. Dan aproksimasi pertama dapat ditulis menjadi f '(x) dx ≈ f(x+∆ x) – f(x).

5 Solusi: Gunakan f(x) = x  f(x + ∆x) ≈ f(x) + f '(x) dx = x+ 1 2 x dx Sekarang pilihlah x = 16. diperoleh pendekatan berikut f(16. RUMUS – RUMUS TURUNAN d [C] = 0 dx d [kx]= k dx d [kf (x)]= kf l (x) dx d l [ f (x)± g(x)] = lf (x) ± (x) g dx d n [x ]= nxn− l dx d [sinx]= cosx dx d [cosx] = − sinx dx d [tanx] = sec2 x dx d [secx]= secx.0625 = 4.tanx dx d 2 [co t x]= − csc x dx d [cscx]= − cscx.5 ≈ f(16) + f '(16) dx = 16 + 1 2 16 (0.0625 2.cot x dx 3. RUMUS – RUMUS DIFERENSIAL .5) 16.Menggunakan diferensial hitunglah pendekatan 16. dan dx = 0.5.5) = 4 + 0.5) =  f(16+0.

jika diberikan y= u2 − 1 u +1 2 dan u = x2 + 2 3 Penyelesaian: Bila y= u −1 u2 + 1 2 maka dy 2u(u2 + 1) − 2u(u2 − 1) = du (u2 + 1)2 dan bila u = x2 + 2 sehingga 3 = maka = ( x2 + 2) 1/3 du 1 2 = (x + 2)− 2/3(2x) dx 3 2x 2 (x + 2)− 2/3 3 . maka d(cu) = c du d(u ± v) = du ± dv d(u.Misalkan u dan v adalah fungsi – fungsi x yang dapat diturunkan. d(un) = nun – 1 du (2). dx du dx Contoh: Carilah dy dx . jika diberikan dy dx y= u2 − 1 u2 + 1 dan u = x2 + 2 3 adalah dy dy du = . ATURAN RANTAI: (1).v) = udv + vdu d  u    v = vdu − udv v2 4. (x +2)−2/3 2 2 dx 3 (u + 1) . dx du dx dy 2u(u2 + 1) − 2u(u2 − 1) 2x 2 = . dy dy du = .

(x + 2)−2/3 3 2 2 2 dx 3 (( x + 2) + 1) LATIHAN: Pada soal – soal 1 sampai dengan 18. 2. 1 2x 2 + 4 x y = 2x + 2 x 6. y= 5. y = x5 + 5x4 −10x2 +6 3. − y = 3x1/2 − x3/2 +2x 1/2 4. θ= 3r + 2 2r + 3 . carilah turunan 1. y = (1− 5x)6 8. f (t) = 2 6 + t 3t 7. f (x) = (3x − x3 + 1 4 ) 9.3 3 3 2 3 2 2 2 dy 2 x2 + 2(( x2 + 2) + 1)− 2 x + 2(( x + 2) − 1) 2x 2 = . y = (3+ 4x− x2)1/2 10.

y = (x − 1) x2 − 2x+ 2 15. y = 1+ x 17.  x2 − 1  y=    2x3 + 1   4 1. 5 y = 2x2 2− x 13. s= t2 + 2 3− t2 20. x− 1 x+ 1 y = (x2 + 3)4(2x3 − 5)3 19.  x  y=    1+ x  12. f (x) = 18. z= w 1− 4z2 16.11. TURUNAN FUNGSI EKSPONEN . f (x) = x 3− 2x2 14.

ex Dalam notasi diferensial menjadi d( )= eu eudu Fungsi eksponen lain adalah f(x)= . ex Domain f(x) adalah semua bilangan real. ax .Definisi : fungsi eksponen dengan basis e =  1 lim  1+  t t→∞  t adalah f(x) = . sedangkan range f(x) adalah semua bilangan real positif. lihat grafiknya berikut. Turunan fungsi f(x) = adalah f ' (x) = ex . Persamaan grafik y = = akan mempunyai ex invers y = ln |x|.

y = 3− x 6. 2 y = sin−1(ex) 7. sehingga turunannya adalah ax ex. y = e5x Tentukan turunan fungsi yang persamaannya sebagai 3. y = e− xcosx 5. y = ee 8. y = log(3x2 − 5) . y = etan3x 4. Dalam notasi diferensial d( )= ax ex dx ln(a) Latihan: berikut 1. 2.y=  ln y = x ln |a| menjadi y = . x y = xx 9.ln(a) y'= ex ln(a) .

1.TURUNAN FUNGSI HIPERBOLIK 1.1. Definisi fungsi hiperbolik: dan fungsi cosinus hiperbolik dalam x ditulis cosh x adalah ex − e− x 2 Fungsi sinus hiperbolik dalam x ditulis sinh x didefinisikan f(x) = sinh x = f(x)=cosh x = ex + e− x 2 Domain fungsi – fungsi tersebut adalah semua bilangan real. dan grafiknya adalah Definisi fungsi – fungsi hiperbolik secara lengkap adalah .

1.2. Turunan fungsi hiperbolik: Turunan fungsi hiperbolik seperti y = sinh x dapat ditentukan dengan sederhana dengan menggunakan rumus turunan. Carilah dy/dx y = sinh3x . 2. yaitu: d d ex − e− x ex + e+ x (sinhx) = ( )= = coshx dx dx 2 2 Jadi d (sinhx)= coshx dx Dengan cara yang sama mudah dibuktikan pula turunan fungsi hiperbolik yang lain. yaitu: Latihan: 1.

3. y = tanh(1+ x2) 5. y = ln. y = coth 1 x 6. y = csch2(x2 + 1) 9. y = xsechx2 7. 1 y = cosh x 2 4. INVERS FUNGSI HIPERBOLIK DEFINISI: Invers fungsi hiperbolik adalah fungsi – fungsi yang di definisikan sebagai berikut. 1 1 y = sinh2x − x 4 2 8.tanh2x 1. .

. Grafik – grafik invers fungsi hiperbolik dapat dilihat sebagai berikut Rumus – rumus turunan invers fungsi hiperbolik. dapat di 1 y −y (e − e ) 2 1 y −y (e + e ) 2 definisikan pula invers fungsi hiperbolik sebagai berikut.Dengan mengingat sinh y = dan cosh y = .

Latihan: selesaikan latihan berikut dengan menggunakan rumus – rumus di atas. .

.Tentukan turunan invers fungsi hiperbolik di bawah dengan menggunakan rumus – rumus di atas.

. . d3y dx3 = f ''' (x).. Disebut deret Taylor. yaitu f(x) = f(0) + f'(0) x + f ll (0) 2! x2 + f lll (0) 3! x3 + f lv(0) 4! x4 + .. dny dxn = f n (x) Turunan tersebut adalah turunan pertama. turunan ke-3.. dy dx d2y dx2 = f '' (x) .. . TURUNAN LEBIH TINGGI Bila fungsi y = f(x) selalu dapat diturunkan dalam selang a≤ x ≤ b. . maka turunannya adalah = f ' (x).. Hubungan f(x) dengan turunan – turunannya pada sebuah titik x – c adalah f(x) = f(c) + f'(c) (x-c) + f ll (c) 2! (x-c)2 + f lll (c) 3! (x-c)3 + f lv(c) 4! (x-c)4 + ... turunan ke-2. turunan ke-n.2. .. yaitu c = 0 diperoleh deret maclaurin.. Bila nilai c pada deret Taylor bernilai 0 . .

Deret Taylor dan deret Maclaurin Polinom aljabar adalah f(x) = a0 + a1x + a2x2 + a3x3 + .3.turunannya dalam selang yang mengandung c. Nilai c disebut pusat. Untuk c = 0 bentuk deret tersebut adalah deret Maclaurin. Beberapa contoh fungsi yang dinyatakan oleh deret fungsi aljabar tersebut ... akan diperoleh deret Taylor. Perhatikan definisi berikut. bila dikaitkan dengan turunan. + anxn.

. V 5.4.

.

A.KALKULUS INTEGRAL
(Materi Pengulangan)
1.

INTEGRAL SEBAGAI ANTI TURUNAN.

2.

ILUSTRASI SEDERHANA

Selesaikanlah: 1). Bila f ' (x) = 2x , maka f(x) = ... 2). Bila dy/dx = x3 – 4x + 7 , maka y =

3. RUMUS DASAR INTEGRAL

Rumus dasar integral:

Contoh:

Secara umum rumus dasar integral adalah

Latihan:

.

4. RUMUS – RUMUS UMUM INTEGRAL Latihan: .

Carilah: Jawab: .5. Metode substitusi: Pola teknik integrasi dengan metode substitusi adalah Contoh: 2). Integral parsial Pola teknik integrasi dengan integral parsial adalah Contoh – contoh: (1). TEKNIK INTEGRASI 1).

(2). Carilah: Jawab: 3). Teknik Integrasi dengan substitusi fungsi trigonometri .

Contoh: Jawab: Latihan: selesaikanlah .

Integral tertentu: Contoh: Latihan: .6.

RUMUS FUNGSI ALJABAR DAN TRIGONOMETRI LATIHAN: .7. RUMUS – RUMUS INTEGRAL LANJUTAN 1).

RUMUS REDUKSI (1). . B 10.8. 9. (3). (2).B 12.B 11. (4).

.

∑ a m . Metode deret kuasa Definisi : Deret kuasa adalah deret tak hingga dalam ( x .x0 ) yang berbentuk : (1) m =0 = a0 + a1(x – x0) + a2(x – x0)2 + … . x0 adalah konstan pula dan disebut pusat deret x disebut variabel deret.B. DERET PANGKAT DAN PENYELESAIAN PD ORDE SATU DERET SEBAGAI PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL (PD) 1. a1. ∑ a m ( x − x0 ) m ∞ dengan a0. a2. m =0 ( | x | < 1 . Contoh – contoh deret kuasa yang telah dikenal adalah deret Maclaurin = = 1 + x + x2 + x 3 + … . deret geometri ) 1 1− x ∑ xm ∞ . Bila pusat deret x0 = 0.x m ∞ Bahasan ini dibatasi dengan mengasumsikan bahwa semua konstanta dan variabel adalah bilangan riel. maka deret kuasa disebut deret kuasa dalam x (2) m =0 = a0 + a1 x + a2 x2 + a 3 x3… . … adalah konstan dan merupakan koefisien deret itu.

a3 x2 + 4.ex = x m =0 m! =1+x+ x2 2! + x 3! 3 +…. x6 3! ∑ ∞ m cos x = (−1) m x 2m m =0 (2m)! =1- + x 2! 2 .a2 x + 3.a4 x3 + … ∑ m.. x4 4! ∑ ∞ sin x = (−1) x m =0 ( 2m + 1)! =x- + x 3! 3 -+ …..a m .x m ∞ Dan diturunkan tiap – tiap sukunya menjadi (4) y′ = m =1 = a1 + 2. x 5! 5 ∑ ∞ m 2 m +1 Gagasan Metode Deret Kuasa (pangkat) Bila deret pada (2) di atas merupakan nilai persamaan (3) y= m =0 = a0 + a1 x + a2 x2 + a 3 x3… ∑ a m . + … .x m−1 ∞ Dan dilanjutkan y′ menjadi . ∑ ∞ m = ex 2 = 1 + x2 + x42! + (x2) m! m=0 +…..

Gagasan penurunan persamaan (3) dan (4) diatas dapat dimanfaatkan untuk penyelesaian persamaan diferensial.a4 x3 + …) – (a0 + a1 x + a2 x2 + a3 x3… ) = 0 Kumpulkan suku – suku yang sederajat.(5) y′  = m=2 = 2a2 + 3. Perhatikan contoh berikut : Contoh 1 : Selesaikan persamaan diferensial y′ – y = 0 Penyelesaian : Apabila y′ sesuai persamaan (4) dan y sesuai persamaan (3) disubstitusikan ke persamaan. menjadi a1 – a0 = 0 . 4a4 – a3 = 0 .a3 x2 + 4.x m−2 ∞ dan seterusnya …. 3a3 – a2 = 0. maka diperoleh ( a1 + 2.x + 4. = 0 Persamaan terakhir pasti benar apa bila tiap konstan dan koefisien bernilai nol. dengan memecahkan persamaan – persamaan tersebut akan diperoleh .2a3. 2. 2a2 – a1 = 0.a m .a2 x + 3.a4 x2 + … ∑ m(m − 1). Metode deret kuasa sebagai penyelesaian persamaan diferensial. … .3. diperoleh ( a1 – a0) + (2a2 – a1)x + ( 3a3 – a2 ) x2 + ( 4a4 – a3 )x3 + … .

............. ......................... a3 = a0 = a0....................................................................................................................a1 = a0 ..................................... 2............................ 1 4! Penyelesaian persamaan diferensial tentu berbentuk umum y = a0 + a1 x + a2 x2 + a3 x3…....................................... a2 = a0 = a0...................... … ........................ Penyelesaian : ...................... dan bila disubstitusi hasil terakhir menjadi : y = a0 + a0 x + 1 2! a0 x2 + a 0 x3 + … 1 3! y = a0 ( 1 + x + 1 2! x2 + 1 3! x3 + … ) = a0 e x......... y′  + y = 0 Penyelesaian : ................ y = 2xy................. ........ ......... Contoh lain : selesaikanlah persamaan – persamaan diferensial 1............... a4 = a0 = 1 2 1 2! 1 6 1 3! 1 24 a0 .............

........................................................................ ................................................... ............................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................

y = 3 y 2. y′ = ky. 1. Fungsi periodik . ( 1 – x ) y′ = y 7. (1 – x2) y′ = y 8. y′  = 4 y 11. y = 2xy 4. DERET FOURIER DERET FOURIER 1. y = y′ . A. ( 1 + x ) y = y 5. y′ + 2 y = 0 6. y′  = y 10.Latihan : Latihlah pemahaman yang sudah diperoleh untuk menguatkan keyakinan terhadap penggunaan deret kuasa untuk pemecahan persamaan diferensial. y′ = xy 3. untuk k ε R. y′  + 9y = 0 12. 9.

. . memiliki periode – periode A1. A2. .. adalah KPK dari A1.. Fungsi f(x) = 2 – 3 sin (2x -300) Untuk f(x + π) maka diperoleh pula f(x + π) 30o) = 2 – 3sin(2x – 30o + 2π) = 2 – 3 sin(2x – 30o) = f(x) Jadi f(x) = 2 – 3 sin (2x -30o) adalah fungsi periodik = 2 – 3 sin ( 2(x +π) – 2)..ilustrasi: 1). .Definisi: Fungsi yang berbentuk f( x + A) = f(x) disebut fungsi periodik Nilai positif terkecil A disebut periode f(x) Teorema: Bila fungsi – fungsi periodik f1 . A3. f2.. 2 Periodenya adalah KPK dari 2 ‫װ‬ .. Fungsi itu dapat ditulis sebagai 1 f ( x) = a o + a1 cos x + b1 sin x + a 2 cos 2 x + b 2 sin 2 x + .. Ilustrasi . Fungsi didefinisikan dengan f(x) = 1 ao + ∑ ( an cos nx + bn sin nx) 2 n =1 ∞ dengan an dan bn adalah konstanta sembarang.. A2..+ a n cos 3 x+ b n sin nx+ . ... f3 . A3. . maka periode fungsi f1 + f2 + f3 + ....

dan dapat dinyatakan dengan: f ( x) = 1 ao + a1 cos x + b1 sin x + a 2 cos 2 x + b 2 sin 2 x +.... 2 Apabila an dan bn pada deret tersebut konstan maka deret disebut sebagai deret trigonometri.... Deret trigonometri Deret yang ditulis sebagai jumlahan bentuk: 1 ao + a1 cos x + b1 sin x + a 2 cos 2 x + b2 sin 2 x + . 3.+ a n cos nx+ b nsin nx+ . 2 Deret tersebut adalah konvergen. 3. an = 1 π π −π ∫ f (x)cosnx dx .. Deret Fourier Deret trigonometri 1 ao + a1 cos x + b1 sin x + a 2 cos 2x + b 2 sin 2x + ... untuk n = 1.... 4. +a ncos nx +b nsin nx +. 2 Atau ditulis dalam notasi sigma menjadi: ∞ 1 f ( x) = a o + ∑ (a n cos nx + b n sin nx ) 2 n =1 Dengan kooefisien an dan bn konstan memenuhi syarat tertentu disebut deret Fourier.. Untuk menentukan kostanta: 1 a0 = π π −π ∫ f (x)dx . 2..2.+ a n cos 3x + b n sin nx + .

x – 2π = . sedangkan pada -3π < x < . Penyelesaian: (1). 3.x. (2).x untuk selang – <x< π .x +2π = 3π .. Grafiknya. tentukanlah nilai a0. 2. berarti grafiknya memenuhi f(x) = π . grafik memenuhi f(x + 2) = π .π .x dalam selang – <x< . 4 . Fungsi f(x) = π . Deret fouriernya. an. Untuk π < x < 3π grafik memenuhi f(x – 2π ) = π . untuk n = 1. sehingga grafik fungsi periodik dalam periode 2 π yang ditentukan oleh fungsi f(x) = π .x..x periodik dalam selang – <x<π ..x yang periodik dalam – π <x<π . Untuk menentukan nilai – ... Menentukan deret Fourier fungsi f(x) =  .x adalah: (2).π .. dan seterusnya. Tentukan : (1). bn = 1 π π −π ∫ f (x)sinnx dx Contoh: Fungsi f periodik dengan periode 2π ditentukan oleh f(x) =  . dan bn.

nilai tersebut pergunakan rumus – rumus kemudian hitung integral tersebut. bn = 1 π π −π ∫ f (x)sinnx dx = π = 1 π −π ∫ (π − x)sinnx dx 1  x− π 1  )cosnx − sinnx) ( 2 π n n  −π π = 1  π − π 1 1   π +π  )cosn − sinn ) − ( π π )cosn(−π )− sinn(−π )   ( 2 2 π  n n   n n  . 2.. Akan diperoleh: π 1 a0 = π −π ∫ f (x)dx = = 1 1  (π x − x2) π 2  −π π = 2π 1  2 1 2  2 1 2  π − π  − −π − π  π  2   2   = 1 π π −π ∫ (π − x dx ) an = 1 π π −π ∫ f (x)cosnx dx = π = 1 π −π ∫ (π − x)cosnx dx 1 π − x 1  )sinnx − cosnx) ( 2 π n n  −π π = 1  π − π 1 1   π +π  )sinn − cosnπ ) − ( π )sinn(−π )− cosn(−π )   ( 2 2 π  n n   n n  = 1  1 1    π  (0− 2 cosn ) − (0− 2 cosn(−π ) = 0 π  n   n  . 3.. 4 . untuk n = 1.

bila − π ≤ x < 0  f (x) =   π .bila 0 ≤ x <π  Tentukan: Jawab: a).. Jadi f(x) =  .. untuk n = 1.bila − π ≤ x < 0  f (x) =   π . .bila 0 ≤ x <π  adalah . 3.= 1 −2π { (0− 0)} − ( cos nπ−  π  n   2 0)  = cos n π   n ..x periodik dalam selang – π <x < π dapat dinyatakan dalam bentuk ∞ 1 f ( x ) = a o + ∑(a n cos nx + b n sin nx ) 2 n =1 ∞ 1 2 f (x) = π − x = (2π ) + cosnπ sinnx 2 n n=1 ∑ 2 1 2 Sehingga f ( x) = π   sin x + sin 2x − sin3 + sin4 − sin5 + − x x x .. Grafiknya (b). 3 2 5 Contoh 2: Fungsi f periode 2  memenuhi  x. Deret Fouriernya  x. 2. Grafik (a).

dan diluar itu memenuhi f(x + 2L) = f(x) yang berarti bahwa fungsi memiliki periode 2L. Deret Fourier untuk interval 2L. Pandang kembali bentuk deret fungsi trigonometri yang disajikan dalam ∞ 1 f ( x) = a o + ∑(a n cos nx + b n sin nx ) 2 n =1 Dengan kooefisien an dan bn konstan memenuhi syarat bahwa f(x) tertentu dalam (-L.Y X 4. L). maka pengembangan deret Fourier menjadi .

f ( x) = ∞ 1 nπ x nπ x ao + ∑ (an cos + bn sin ) 2 L L n =1 Untuk menentukan kostanta: 1 a0 = L −L ∫ f(x)dx . 3. 1 an = L c+2L ∫ f (x)cos c n x π dx L . 4 . 4. untuk n =0. untuk n = 1.. 2. bn = 1 L c+2L ∫ f (x)sin c n x π dx L a0 dapat diperoleh 1 a0 = L −L ∫ f(x)dx L 5... Contoh .. 2. . 3. untuk n = 1. 3.. maka untuk menentukan nilai a0 dan an dan bn adalah: Untuk menentukan kostanta: . bn = 1 L −L ∫ f (x)sin n x π dx L Jika f(x) sembarang dan memenuhi f(c + 2L) = f(c). 2. untuk n =0. 3. 4. 1... 4 . L L an = 1 L −L ∫ f (x)cos L n x π dx L . 2. 1..contoh.

1. Diketahui fungsi: 0. F(x)= x. untuk f (x +2 ) = f (x) π  1. −1. 8. Grafik fungsi tersebut b.1. untuk – /2 ≤ x ≤ /2 . Grafik fungsi tersebut b. untuk 0 < x ≤ 2. bila 0< x ≤ π  4. untuk f(x + 2π ) = f(x) 3. bila 0< x ≤ π   5. Latihan: Tentukan deret Fourier fungsi – fungsi berikut. F(x) = |x|. bila π / 2< x ≤ π  Tentukan: a. bila f(x + 2) = f(x) F(x) = x2. Deret fourier fungsi. 2. F(x) = sin 2x. untuk – l < x ≤ l. f (x+ 2)= f (x) Tentukan: a. untuk f (x +2 ) = f (x) π  1. bila − 1< x≤ 1. bila – 1 ≤ x ≤ 1 .bila − π ≤ x ≤ π / 2  f (x) =  . Diketahui pula fungsi: f (x) = x2. untuk – π ≤ x ≤ π . untuk f (x + 2 ) = f (x) π 1. untuk – π ≤ x ≤ π F(x) = x2. untuk f(x + 2) = f(x). 7. 6. F(x) = 2 sin2 x. bila f(x + 2π ) = f(x) 10. untuk – π < x ≤ π 11. Deret fourier fungsi. bila f(x + 2l) = f(x) F(x) = 2 cos2 x. 1. untuk 0 ≤ x ≤ 2π . 0. bila – π ≤ x ≤  . bila f(x + 2) = f(x) F(x) = x2. 9. F(x) = x. bila − π ≤ x ≤ 0  f (x) =  . 1. bila −π ≤ x ≤ 0  f (x) =  .

12. untuk – π /2 < x < π /2 . F(x) = cos 2x.

Γ (2) = x. Γ (3) = ∞ x2. Definisi : Fungsi gamma adalah fungsi yang ditulis dengan Γ (n) dibaca gamma n dan didefinisikan dengan : Γ (n) = ∞ 0 dengan n > 0 ………………………………… ∫x n −1 − x e dx (1) Ilustrasi :  (1) = ∞ e– x dx .FUNGSI GAMMA Fungsi Gamma sangat penting karena sering dijumpai dalam fisika selain matematika.A.0 ∞ 2.  (n) = ∞ 0 n −1 − x ∫ x e dx = – [ x n −1e − x ]. 1. Tabel nilai nilai – nilai dan grafik fungsi Gamma: .e– x dx dst ∞ ∫ 0 ∫ 0 ∫ 0 Untuk menentukan nilai integral (1) di atas. e– x dx . dapat digunakan integral parsial.

hal 164. 3. Contoh: 1. Hitunglah: Γ (6) Hitung pula Γ(5) Γ(3) 4. yaitu: Γ (n+1) = n (n) Dari hubungan tersebut dapat dibuktikan bahwa: (n) = (n – 1)! Hubungan yang penting lainnya adalah Γ (12) = π Pembuktian ini dapat dilihat pada kalkulus lanjut. Hitung pula (-12) . Noenik sumartoyo. 2.Tabel: Grafik fungsi Gamma: Hal yang menarik dari fungsi gamma adalah hubungan antara (n+1) dengan Γ (n).

∞ ∫ 3−4z dz 2 0 1. ∞ ∫ ye− y dy 3 0 7. ∞ ∫x e 0 6 −2x dx 6.5. .

9618 1. n 1.9314 0. 2.80 1.8975 0.2.10 1.00 1.9514 0.70 1.9086 0.30 1.0000 3.60 1.8873 0.40 1.8862 0.0000 0.90 2.20 1. ∞ 2 ∫ 3−2y dy 0 ∫3 0 −2y2 dy ∫ 1 0 dx − lnx .00 Γ(n) 1.50 1.8935 0. ∞ Latihan: 1.9182 0.

Karena itu mempelajari Fungsi Beta dan dapat menggunakannya adalah usaha yang dilakukan kita untuk memahami hakekat matematika. x) .y) = 2. didefinisikan dengan: B(x.A.y) = 2 ∫ sin 0 2x−1 θ cos2y−1 θdθ 2.y) dari definisi di atas dapat dinyatakan dalam fungsi gamma. Y>0 dan satu diantarnya atau keduanya x<1 atau y<1 adalah integral tak wajar tetapi konvergen.y) = t x−1(1− t)y−1dt 1 ∫ 0 Bila x ≥ 1 dan y≥ 1. Fungsi Beta B(x. Apabila x>0. termasuk Fisika. Sifat – sifat: 1. yaitu: Γ(x)Γ(y) Γ(x + y) B(x. y)= B(y. itu adalah integral tertentu. Definisi: Fungsi Beta adalah komposisi dua parameter yang 1. π /2 B(x. B(x.FUNGSI BETA Fungsi Beta merupakan satu dari transformasi integral yang penting dalam matematika dan teknik.

1 2 0 x2dx 2− x ∫ x (1− x) dx 4 3 0 3..4. π /2 ∫ sin6 θ d θ 0 2.5. p  .2 .6. jika genap positif   2.5.3... Contoh: 1..6. π /2 = ∫ sinpθ d = θ π /2 0 ∫ cospθ d θ 0  1.3...(p−1)  1. π /2 ∫ sin4 θ cos5θ dθ 0 .p ...4.(p−1) π  2. Latihan: 1.3... a ∫y 0 4 a2 − y2dy 1.y) = t x−1(1− t)y−1dt ∫ 1 0 hitunglah terlebih dahulu misalkan x = 2v ∫ 2... jika ganjil positif  1. Dengan mengandaikannya sebagai bentuk B(x.

π /2 ∫ sin3θ cos2θ d θ 0 6. 2π 0 . substitusi x3 = 8y 16π 9 3 ∫ 8. 2 0 x 8− x3dx 3 Tunjukkan pula . Dan hitung π /2 ∫ cos6θ d θ 0 5. Pergunakan sifat 3. π ∫ cos θ dθ 4 0 4. substitusi x4 = y ∫ 1 0 3 { Γ ( 1/ 4) } 2 1− x dx = 4 6 2π .3. gunakan interval 2 π = 4. π /2 ∫ sin θ dθ 8 7. Tunjukkan = .

– s. Sifat – sifat : a. maka {F'(t)} = s f(s) – F(0) Jika {F(t)} = f(s).A. Definisi: Transformasi Laplace fungsi F(t) ditulis  {F(t)}= f(s) = ∞ . Rumus – rumus dan sifat transformasi Laplace 1. c.TRANSFORMASI LAPLACE 1.. ∫ F(t)e 0 − st dt Bentuk integral ∞ adalah improper integral (integral ∫ F(t)e 0 − st dt tak wajar) yang diselesaikan dengan menggunakan limit menjadi = ∞ ∫ F(t)e 0 − st dt n→∞ lim F(t)e− stdt ∫ n 0 2.f(s) – s(n – 1). maka transformasi laplace turunan F(x)ke-n adalah: {F(n)(t)} = sn.F(0) – s(n – 2).. {tn. untuk t bilangan positif.F(n – 2)(0) – F(n– 1)(0) f.F(t)} =(-1)n. e.F'(0) – .f(n)(s) .  1(t) + bF2(t)} = a{F1(t)} + b{F2(t)} {aF {e – bt F(t)} = f(s + b) {F(t)eat} = f(s – a) Jika {F(t)} = f(s). d. b.

g.rumus : a. maka {tn. Jika {F(t)} = f(s).F(t)} = .n ( −1) n .f (n) (s) bilangan asli 1.sin kt} = k (s− a)2+ k2 i. {t}= 1 s2 c. {tn}= Γ(n + 1) s e. Rumus.  {eat.  {t2}= 2 s3 d.cos kt} = s−a (s− a)2+ k2 j. {k}= k s b.  {eat. n+1 = n! s n+1  {cos kt} = s s + k2 2 f.  {sin kt} = k s2 + k2 . {eat.tn} = Γ(n+ 1 ) (s − a)n+1 h.

maka . Buktikan sifat: Jika  {F(t)} = f(s). 2as 2  { e4t cosh5t} { t2e3t } = = s− 4 s − 8s − 9 2 2 c. Buktikan sifat: Jika F(t) fungsi periodik dengan periode T.  {cosh at} = s s2 − a2 1.  {sinh at} = a s − a2 2 i.  1 { eat} = s− a h. kemudian. Hitunglah nilai: ) 3 25 ∫ te−2t cost dt 0 2. maka  {F(at)}= 1  s f  a  a 1.g. 1. Latihan: 1.  ( s− 3) 3 . Contoh – contoh: Pergunakan sifat – sifat dan rumus di atas. {t sin at} = ( s2 + a2) b. Tunjukkan bahwa: a. (jwb: ∞ 1.

 –1  5s+ 4 2s− 18 24− 30 s   −  3 − 2  4 s +9 s  s    Latihan: 1. disimbolkan  {F(t)} = f(s) Maka F(t) adalah invers transformasi laplace dari f(s). Fungsi periodik F(t) dengan periode 2 ditentukan oleh F(t)=  sint.  –1  6s− 4   2   s − 4s+ 20 . Invers Transformasi Laplace. untuk 0 < t < π   0. disimbolkan F(t) =  Dimana  Ilustrasi: 1.  –1  1     s+ 3 2.  –1  6 3+ 4s 8 6s  − − −    2s− 3 9s2 − 16 16s2 + 9  2. untuk π < t < 2π  Tentukanlah  {F(t)}.F(t) dt 1− e− st 2. –1 –1 {f(s)} adalah operator invers transformasi laplace. Jika transformasi Laplace suatu fungsi F(t) adalah f(s). 1.{F(t)} = T ∫e 0 − st .

Penggunaan Transformasi Laplace Dalam Penyelesaian Persamaan Diferensial Contoh: Penyelesaian persamaan diferensial linear dengan koeffisien konstanta dan persamaan diferensial simultan dapat dilakukan dengan menggunakan transformasi laplace. maka Y(0) = A dan Y '(0) = B Penyelesaiannya dengan menggunakan transformasi laplace adalah: • Transformasi laplacekan ke dua ruas menjadi  {Y(t)} = y(s) Kemudian tentukan invers transformasi laplace dari y(s) Hasil tsb adalah penyelesaian persamaan diferensial tersebut. • • . dt Dengan koefisien untuk t = 0 .  –1  3s− 7   2   s − 2s− 3 4. Misalnya persamaan diferensial linear: d2y dt 2 + a.  –1  3s + 1      2  (s− 1)(s + 1)   1.  –1  1     2s+ 3  5.3.  –1   2s2 − 4      (s+ 1)(s− 2)(s− 3)   6. dy + bY = F(t) .

Selesaikan persamaan diferensial simultan dengan menggunakan transformasi laplace.1 6. Y ' (0)= 0. 3. 5.2 2.3 y ' + 2 Y = 4 e awal Y(0) = -3. dan Y ' ' (0) = . Syarat dX = 2X − 3 Y dt dy = Y − 2X dt Syarat awal X(0) = 8 dan Y(0) = 3 7. dan Y(π /2) = .Contoh – contoh: 1. . dan 2X ' – Y ' = sin 2t Syarat awal X(0) = X ' (0) = Y (0) =0 . Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' . Syarat awal Y(0) = 1. Selesaikan persamaan diferensial simultan dengan menggunakan transformasi laplace. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' + 9Y = cos 2t dengan syarat awal Y(0) = 1. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' + Y = t. Y ' (0) = 5. Syarat awal Y(0) = 1 dan Y ' (0) = .2 Tentukan penyelesaian umum : Y ' ' ' – 3 Y ' ' + 3 Y ' – Y = t2 et. Selesaikan persamaan diferensial Y ' ' ' – 3 Y ' ' + 3 Y ' – Y = t2 et. dan 2t . X ' ' + 2Y = t2 + 1 . 4.

Gambarlah grafik b. Menggambar dan menyelesaikan persamaan menjadi Deret fourier Fungsi f(x) =  x − 1. Menghitung fungsi beta 3. Tentukan Deret fourier fungsi tersebut 1. Menyelesaikan persamaan diferensial dengan menggunakan deret pangkat Y'+y–x=3 Cari y 2.Bahan test UAS 1. Menentukan transformasi laplace suatu fungsi .bila 0 ≤ x < π  a.bila − π ≤ x < 0    x + 1. Menghitung fungsi gamma 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->