PENDIDIKAN PANCASILA

Makalah disajikan pada kegiatan pemadatan
Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa
Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya,
tanggal 22 Juli 2002, di Kampus STISIP Tasikamalaya.






Oleh

Pipin Hanapiah, Drs.
NIP. 131S32050













JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
FISIP UNPAD

BANDUNG
2002




KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, atas rahmat Tuhan Yang Mahaesa, makalah tentang
“Pendidikan Pancasila” telah selesai disusun kembali.

Makalah ini pernah disajikan pada kegiatan pemadatan Matakuliah
Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM)
pada STISIP Tasikmalaya tanggal 22 Juli 2002 di Kampus STISIP
Tasikmalaya. Makalah ini diajukan oleh penyusun untuk memenuhi kenaikan
jabatan dan pangkat sebagai dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran (FISIP UNPAD) yang setara dengan Golongan IV/b.

Demikian makalah ini ditulis dan semoga dapat memenuhi ajuan
dimaksud.

Bandung, 26 November 2002

Penyusun,


Pipin Hanapiah, Drs.
NIP. 131832050









iv
Nakalah


PENDIDIKAN PANCASILA


Makalah disajikan pada kegiatan pemadatan
Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa
Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya,
tanggal 22 Juli 2002, di Kampus STISIP Tasikamalaya.









Oleh

Pipin Hanapiah, Drs.
N!P. 131832050








Menyetujui:

Dosen Senior,





Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A.
NIP. 131408365







DAFTAR ISI

Persetujuan Dosen Senior ………………….……………………………… iii
KATA PENGANTAR …………………………………………………….. iv
DAFTAR ISI ……………………………………………………………… v
A. Pendahuluan …………………………………………………………… 1
B. Hakikat Pancasila ……………………………………………………… 2
C. Filsafat (Nilai-nilai) Pancasila …………………………………………. 3
3.1 Ketuhanan Yang Maha Esa ………………………………………… 4
3.2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ……………………………… 5
3.3 Persatuan Indonesia ………………………………………………… 6
3.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Per-
musyawaratan/Perwakilan ………………………………………….

7
3.5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia …………………… 8
D. Penerapan/Implementasi di Era Reformasi ……………………………. 9
E. Daftar Pustaka ………………………………………………………..… 10




















v
PENDIDIKAN PANCASILA*
Pipin Hanapiah**

A. Pendahuluan


Pancasila di Perguruan Tinggi dikaji secara menyeluruh sebagai satu
kesatuan sila-ideologis bangsa/negara Indonesia. Pancasila sebagai ideologi
berhakikat sebagai sistem nilai bangsa Indonesia. Sistem nilai seperti ini
dipandang oleh studi filsafat yang secara historik digali pada budaya bangsa dan
ditempa oleh penjajahan, yang kemudian diterapkan pada wilayah yuridis-
kenegaraan sebagai pedoman bermoral, berhukum, dan berpolitik dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Hal itu sebagai hasil konsensus-nasional bangsa Indonesia melalui sidang
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945.
------------


• Makalah disajikan pada kegiatan pemadatan Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa Peserta
Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya (22 Juli 2002).

** Dosen Pendidikan Pancasila pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP
Unpad), Bandung. Alumnus: (1) Penataran P-4 Pola 144 Jam Tingkat Nasional (BP-7 Pusat, Jakarta,
1993:CXXXIV), (2) Internship Dosen Filsafat Pancasila Tingkat Nasional (Ditjen Dikti Depdikbud dan
UGM, 1997), (3) Training of Trainers (ToT) Dosen MKPK Pendidikan Pancasila se-Indonesia (Ditjen
Dikti Depdiknas, Jakarta, 2000).




1
B. Hakikat Pancasila

Sebagai ideologi, Pancasila berhakikat (berperanan utama) sebagai: (a)
pandangan hidup bangsa, (b) dasar negara, dan (c) tujuan nasional (negara).
Sebagai pandangan hidup bangsa, hakikat Pancasila diwujudkan dalam
P-4 (yang saat ini dicabut oleh MPR hasil Sidang Istimewa 1998), yang lebih
lanjut dilaksanakan dalam bentuk Anggaran-Dasar (AD) bagi masing-masing
organisasi sosial-politik (seperti Ormas, LSM, Parpol) dan Kode-Etik (KE) bagi
masing-masing organisasi profesi/keahlian (seperti IDI, PGRI, Ikahi)—yang
teknis-operasionalnya berbentuk Anggaran-Rumah-Tangga (ART).
Sebagai dasar negara, hakikat Pancasila diwujudkan dalam Batang
Tubuh UUD 1945, yang lebih lanjut dilaksanakan dalam bentuk Peraturan
Perundang-undangan (Tap. MPR, UU, PP, Keppres, Perda, dst.)—yang teknis-
operasionalnya berbentuk Surat-Edaran (SE) berupa Petunjuk Pelaksanaan
(Juklak) atau Petunjuk Teknis (Juknis).
Sebagai tujuan nasional (bangsa)/negara, hakikat Pancasila diwujudkan
dalam Garis-garis Besar daripada Haluan Negara (GBdHN) (seperti Propenas)
yang lebih lanjut dilaksanakan dalam bentuk Repetanas (seperti APBN)—yang
teknis-operasionalnya berupa Proyek (seperti DIP/DUK, DIK, DIKS).
2
Dengan demikian, hakikat pandangan hidup Pancasila berbentuk pada
norma moral bangsa Indonesia; hakikat dasar negara Pancasila berbentuk pada
norma hukum negara Indonesia; dan hakikat tujuan nasional/negara Pancasila
berbentuk pada norma politik (kebijakan) pembangunan nasional Indonesia.
Pemahaman tersebut bersumber pada kerangka dan substansi nilai-nilai
yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945. Pembukaan ini merupakan Teks
Proklamasi Kemerdekaan NKRI yang lengkap dan terinci. Teks Proklamasi itu
sendiri lahir melalui proses sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia,
dari yang semula sebagai budaya suku-suku asli, berkembang dalam budaya
kerajaan-kerajaan besar (Kutai, Sriwijaya, Majapahit, dst), kemudian dipengaruhi
oleh budaya agama-agama/penjajah-penjajah, sampai akhirnya dipengaruhi pula
oleh ideologi-ideologi besar dunia (bahkan sampai kini di era globalisasi
informasi). Jadi, hakikat Pancasila (demikian pula UUD 1945) tidak lahir secara
mendadak, tetapi mereka ditempa oleh sejarah lahirnya Indonesia sebagai suatu
bangsa.

C. Filsafat (Nilai-nilai) Pancasila
Secara filsafat
1
, Pancasila merupakan sistem-nilai-ideologis yang berdera-
3


berderajat. Artinya, di dalamnya terkandung nilai-luhur (NL), nilai-dasar (ND),
nilai-instrumental (NI), nilai-praksis (NP), dan nilai-teknis (NT). Agar ia dapat
menjadi ideologi bangsa dan negara Indonesia yang lestari tetapi juga
dinamis/berkembang, NL dan ND-nya harus dapat bersifat tetap, sementara NI,
NP, dan NT-nya harus semakin dapat direformasi sesuai dengan perkembangan
tuntutan zaman.

3.1 Ketuhanan Yang Mahaesa
Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI bukan sebagai Negara
Agama dan bukan pula sebagai Negara Sekuler, tetapi NKRI ingin dikembangkan
sebagai Negara Beragama.
Sebagai bukan negara-agama, NKRI tidak menerapkan hukum agama
tertentu sebagai hukum positif, artinya: (1) ideologi negara tidak berasal dari
ideologi agama tertentu, (2) Kepala Negara tidak harus berasal dari Kepala
Agama tertentu, (3) konstitusi negara tidak dari Kitab Suci agama tertentu.
Sebagai bukan negara sekuler, NKRI tidak memisahkan urusan negara
dari urusan agama, artinya: (1) keputusan negara harus didasarkan pada ajaran
agama-agama, (2) suara terbanyak dalam lembaga MPR, DPR, dan lain sebagai-
4
nya harus dilandaskan pada kesesuaiannya dengan ajaran Tuhan Yang Mahaesa.
Sebagai negara beragama, NKRI mendasarkan pengelolaan negara pada
hukum positif yang disepakai oleh bangsa (MPR, DPR+Pemerintah) yang
warganegaranya beragam agama, sementara negara pun tidak boleh mencampuri
urusan aqidah agama apapun, tetapi negara wajib melindungi agama apapun.
Di sini terkandung tekad bahwa mereka yang ber-Aliran Kepercayaan
tidak diwajibkan (secara hukum positif) untuk beragama, tetapi mereka dibina
oleh Negara (Pemerintah dan Masyarakat) untuk: (1) tidak menjadi atheis,
(2) tidak membentuk agama baru, atau (3) sedapat mungkin memilih salah satu
agama yang resmi diakui Negara (karena lebih banyak kedekatan ajarannya).

3.2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Di dalamya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI merupakan Negara ber-
HAM (kemanusiaan), Negara ber-Hukum (yang adil), dan Negara ber-Budaya
(yang beradab).
Sebagai negara yang ber-HAM, NKRI ingin mengembangkan dirinya se-
sebagai negara yang melindungi dan menegakkan HAM bagi warga-
negaranya. HAM dimaksud adalah yang sesuai dengan hukum positif Indonesia
dan budaya bangsa Indonesia.
5
Contoh, karena hukum positif Indonesia bersumber pada Ketuhanan Yang
Mahaesa, maka HAM seperti euthanasia (seperti di Selandia Baru, Belanda) atau
aborsi (seperti di Irlandia Utara dan Skotlandia) tidak bisa diundang-undangkan
(tidak bisa dijadikan hukum positif di Indonesia).
Sebagai negara yang ber-Hukum, NKRI ingin melindungi dan
mengembangkan: (1) supremasi hukum, (2) persamaan di muka hukum,
(3) menegakkan HAM, dan (4) membudayakan kontrol publik/sosial/masyarakat
atas jalannya pemerintahan yang baik dan bersih (good governance).
Sebagai negara yang ber-Budaya/Adab, NKRI ingin mengembangkan: (1)
cipta, yang dapat melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) karsa, yang
dapat melahirkan moral dan etika, (3) rasa, yang dapat melahirkan seni dan
estetika, serta (4) karya, yang dapat melahirkan karya-karya monumental dalam
arti yang seluas-luasnya. Sebagaimana diketahui, keempatnya itu merupakan
unsur dari budaya/adab

3.3 Persatuan Indonesia
Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI menyatakan diri sebagai
negara yang diikat oleh ‘persatuan’ dan ‘kesatuan’.
Nilai persatuan berprinsip pada ‘bersatu dalam keberagaman/
keberbedaan/ketidaksamaan/heterogenitas’. Sementara, nilai kesatuan berprinsip

6
pada ‘bersatu dalam keseragaman/ketidakberbedaan/kesamaan/homogenitas’.
Nilai-persatuan sebagai faktor penopang dan pemberi peluang nilai-nilai
demokratisasi, sivilisasi, penegakkan HAM, madanisasi, dan partisipasi
(singkatnya kedaulatan rakyat). Sementara, nilai-kesatuan sebagai faktor
penopang dan pemberi peluang nilai-nilai otokratisasi, militerisasi, etatisasi, dan
mobilisasi (singkatnya kedaulatan negara).
Sila ketiga ini (Persatuan Indonesia, bukan Kesatuan Indonesia)—dengan
demikian—lebih akan mengedepankan dan memprioritaskan NKRI sebagai
negara yang berjiwa civil society.

3.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan

Di dalamnya terkandung makna bahwa NKRI menerapkan asas
kerakyatan; asas ini sebagai landasan penerapan kedaulatan rakyat; kedaulatan
rakyat ini sebagai basis demokrasi; dan prinsip-prinsip demokrasi itu bersifat
universal bagi bangsa-bangsa beradab di dunia. Sebagai negara demokrasi,
NKRI menerapkan prinsip-prinsip: (1) pembagian kekuasaan antarlembaga
negara, (2) pemilu yang bebas, (3) multi parpol, (4) pemerintahan mayoritas,
perlindungan minoritas, (5) pers yang bebas, (6) kontrol publik/sosial, (7) negara
untuk kesejahteraan rakyat dan pelayanan publik, (8) dan seterusnya.

7
Jadi, NKRI merupakan negara demokrasi yang dipimpin oleh hikmat-
kebijaksanaan. Pemimpin yang hikmat adalah pemimpin yang berakal sehat,
rasional, cerdas, terampil, dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat
fisis/jasmaniah; sementara kebijaksanaan adalah pemimpin yang berhatinurani,
arif, bijaksana, jujur, adil, dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat psikis/
rohaniah. Jadi, pemimpin yang hikmat-kebijaksanaan itu lebih mengarah pada
pemimpin yang profesional (hikmat) dan juga dewasa (bijaksana).
Itu semua—negara demokratis yang dipimpin oleh orang yang dewasa-
profesional—dilakukan melalui tatanan dan tuntunan permusyawaratan/
perwakilan. Tegasnya, sila keempat menunjuk pada NKRI sebagai negara
demokrasi-perwakilan yang dipimpin oleh orang profesional-dewasa melalui
sistem musyawarah (government by discussion).

3.5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Di dalamnya terkandung makna keadilan-sosial (keadilan-socius) atau
pemerataan-bersama bagi seluruh-rakyat (atas dasar keadilan distributif), bukan
keadilan bagi segolongan/pemerintah/penguasa.
Dengan demikian—secara filsafat (hakikat)—kelima-sila tersebut
dipahami sebagai sistem-nilai-yang-mencakup/meliputi (satu kesatuan nilai

8
Pancasila), yaitu bahwa Sila-1 melandasi Sila-sila ke-2, 3, 4, 5; Sila ke-2
melandasi Sila-sila ke-3, 4, 5; Sila ke-3 melandasi Sila-sila ke-4, 5; dan Sila ke-4
melandasi Sila ke-5. Sehingga, sebagai contoh, bila berbicara Demokrasi
Pancasila misalnya, maka dapat dipahami bahwa Sila ke-4 (negara demokrasi) itu
yang dilandasi oleh Sila ke-1 (norma agama), yang menjunjung tinggi Sila ke-2
(HAM, negara hukum, negara budaya), yang mengutamakan Sila ke-3 (persatuan
dan kesatuan bangsa), dan yang untuk kepentingan Sila ke-5 (keadilan sosial bagi
seluruh rakyat).

D. Penerapan/Implementasi di Era Reformasi

Hakikat (sila-sila Pancasila) dalam penerapannya (implementasinya)
pernah “disalahtafsirkan” di masa Orde Lama (berupa Trisila kemudian Ekasila),
“disepihaktafsirkan” di masa Orde Baru (P-4, asas tunggal Pancasila, referendum,
massa-mengambang), dan “direformasitafsirkan” (masih diproses oleh BP-MPR,
karenanya belum final, dan direncanakan akan dituntaskan pada Sidang Tahunan
MPR bulan Agustus 2002 pada agenda Perubahan-IV UUD 1945) di masa Era
Reformasi.
Atas dasar itu, tampak bagi kita bahwa pemahaman dan penerapan
Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan dinamika global,

9
dinamika nasional, dan dinamika lokal/daerah, yang pada akhirnya diarahkan
untuk kepentingan bangsa/nasional dan NKRI. Ini yang dimaksud dengan salah
satu makna reformasi-ideologis.
Namun demikian, proses reformasi itu dapat dipahami dari berbagai sudut
pandang (kacamata), yang salah satunya (kacamata filsafat-nilai Pancasila)
sebagaimana dilampirkan.

E. Daftar Pustaka

B u k u :

Astrid S. Susanto Sunario, 1999,
Masyarakat Indonesia Memasuki Abad ke Duapuluh Satu, Jakarta: Ditjen Dikti
Depdikbud.
Darmodiharjo, Darji dan Shidarta, 1996,
Penjabaran Nilai-nilai Pancasila dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Mubyarto, 2000,
Membangun Sistem Ekonomi, Yogyakarta: BPFE.
Notonagoro, 1974,
Pancasila Dasar Falsafah Negara, Jakarta: CV Pantjuran Tudjuh.

M a k a l a h :

Astrid S. Susanto Sunario, 2000,
Pancasila (untuk Abad ke-21), Jakarta.

10
Agus Widjojo, 2000,
Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan, Jakarta.
----------------, 2000,
Ceramah Kepala Staf Teritorial TNI pada Penataran Dosen Pendidikan dan
Filsafat Pancasila tanggal 18 Oktober 2000, Jakarta.
A. Gunawan Setiardja, 2000,
Supremasi Hukum dalam Perspektif Pengembangan HAM, Jakarta.
A.T. Soegito, 1997,
Pokok-pokok materi: Sejarah Perjungan Bangsa Indonesia, Semarang.
---------, 1998,
Sejarah Indonesia Kontemporer sebagai Materi Pendidikan Pancasila (Analisis
Berbagai Permasalahannya), Bogor: Ditbinsarak Ditjen Dikti Depdikbud.
---------, 1999,
Nasionalisme Indonesia (Pengertian dan Perkembangannya), Jakarta.
---------, 2000,
Evaluasi Hasil Belajar Matakuliah Pendidikan Pancasila, Semarang: UPT MKU
Unnes.
---------, 2000,
Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia sebagai Titik Tolak Memahami Asal Mula
Pancasila, Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas.
Koento Wibisono Siswomihardjo, 2000,
Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Jakarta.
---------, 2000,
Reposisi/Reorientasi Pendidikan Pancasila Menghadapi Tantangan Abad XXI,
Semarang: FKDP Jawa Tengah.
S. Budhisantoso, t.t.,
Bangkitnya Kembali Kesukubangsaan dalam Masyarakat Majemuk Indonesia,
t.k.


11
---------, t.t.,
Kesukubangsaan dan Kebangsaan, t.k.

---------, t.t.,
Pancasila sebagai Paradigma dalam Pengembangan Kebudayaan Bangsa, t.k.
Sri Soemantri M., 2000,
Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Hukum, Bandung.


Bumi Pasundan, 21 Juli 2002
























12

Drs. Bandung. Makalah ini pernah disajikan pada kegiatan pemadatan Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya tanggal 22 Juli 2002 di Kampus STISIP Tasikmalaya.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. Makalah ini diajukan oleh penyusun untuk memenuhi kenaikan jabatan dan pangkat sebagai dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP UNPAD) yang setara dengan Golongan IV/b. 26 November 2002 Penyusun. makalah tentang “Pendidikan Pancasila” telah selesai disusun kembali. 131832050 iv . atas rahmat Tuhan Yang Mahaesa. Demikian makalah ini ditulis dan semoga dapat memenuhi ajuan dimaksud. NIP. Pipin Hanapiah.

Makalah disajikan pada kegiatan pemadatan Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya. Drs. Dr. tanggal 22 Juli 2002. di Kampus STISIP Tasikamalaya.. 131408365 . M.A. Samugyo Ibnu Redjo. Oleh Menyetujui: Dosen Senior. NIP.

3. Pendahuluan …………………………………………………………… B. Daftar Pustaka ……………………………………………………….3 Persatuan Indonesia ………………………………………………… 3. DAFTAR ISI ……………………………………………………………… A. Penerapan/Implementasi di Era Reformasi ……………………………. Filsafat (Nilai-nilai) Pancasila …………………………………………. E... 3.2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ……………………………… 3.DAFTAR ISI Persetujuan Dosen Senior ………………….… 7 8 9 10 iii iv v 1 2 3 4 5 6 v .5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia …………………… D. Hakikat Pancasila ……………………………………………………… C.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan ………………………………………….……………………………… KATA PENGANTAR …………………………………………………….1 Ketuhanan Yang Maha Esa ………………………………………… 3.

berhukum.PENDIDIKAN PANCASILA* Pipin Hanapiah** A. (2) Internship Dosen Filsafat Pancasila Tingkat Nasional (Ditjen Dikti Depdikbud dan UGM. Pancasila sebagai ideologi Sistem nilai seperti ini dipandang oleh studi filsafat yang secara historik digali pada budaya bangsa dan ditempa oleh penjajahan. 1 . Bandung. (3) Training of Trainers (ToT) Dosen MKPK Pendidikan Pancasila se-Indonesia (Ditjen Dikti Depdiknas. Hal itu sebagai hasil konsensus-nasional bangsa Indonesia melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. -----------• Makalah disajikan pada kegiatan pemadatan Matakuliah Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa Peserta Ujian Persamaan Mutu (UPM) pada STISIP Tasikmalaya (22 Juli 2002). berhakikat sebagai sistem nilai bangsa Indonesia. 1997). 1993:CXXXIV). yang kemudian diterapkan pada wilayah yuridiskenegaraan sebagai pedoman bermoral. 2000). ** Dosen Pendidikan Pancasila pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad). Jakarta. Alumnus: (1) Penataran P-4 Pola 144 Jam Tingkat Nasional (BP-7 Pusat. dan bernegara. Pendahuluan Pancasila di Perguruan Tinggi dikaji secara menyeluruh sebagai satu kesatuan sila-ideologis bangsa/negara Indonesia. Jakarta. berbangsa. dan berpolitik dalam kehidupan bermasyarakat.

hakikat Pancasila diwujudkan dalam Batang Tubuh UUD 1945. PP. yang lebih lanjut dilaksanakan dalam bentuk Anggaran-Dasar (AD) bagi masing-masing organisasi sosial-politik (seperti Ormas. Ikahi)—yang teknis-operasionalnya berbentuk Anggaran-Rumah-Tangga (ART). Sebagai tujuan nasional (bangsa)/negara. dst. LSM. hakikat Pancasila diwujudkan dalam Garis-garis Besar daripada Haluan Negara (GBdHN) (seperti Propenas) yang lebih lanjut dilaksanakan dalam bentuk Repetanas (seperti APBN)—yang teknis-operasionalnya berupa Proyek (seperti DIP/DUK. Perda. (b) dasar negara. 2 Petunjuk Pelaksanaan . Sebagai pandangan hidup bangsa. PGRI. yang lebih lanjut dilaksanakan dalam bentuk Peraturan Perundang-undangan (Tap. Keppres. UU. dan (c) tujuan nasional (negara).)—yang teknisoperasionalnya berbentuk Surat-Edaran (SE) berupa (Juklak) atau Petunjuk Teknis (Juknis). Pancasila berhakikat (berperanan utama) sebagai: (a) pandangan hidup bangsa. Sebagai dasar negara. MPR. Parpol) dan Kode-Etik (KE) bagi masing-masing organisasi profesi/keahlian (seperti IDI. Hakikat Pancasila Sebagai ideologi. DIKS). hakikat Pancasila diwujudkan dalam P-4 (yang saat ini dicabut oleh MPR hasil Sidang Istimewa 1998).B. DIK.

sampai akhirnya dipengaruhi pula oleh ideologi-ideologi besar dunia (bahkan sampai kini di era globalisasi informasi). hakikat dasar negara Pancasila berbentuk pada norma hukum negara Indonesia. hakikat Pancasila (demikian pula UUD 1945) tidak lahir secara mendadak. dari yang semula sebagai budaya suku-suku asli. Pembukaan ini merupakan Teks Proklamasi Kemerdekaan NKRI yang lengkap dan terinci. hakikat pandangan hidup Pancasila berbentuk pada norma moral bangsa Indonesia. dan hakikat tujuan nasional/negara Pancasila berbentuk pada norma politik (kebijakan) pembangunan nasional Indonesia. kemudian dipengaruhi oleh budaya agama-agama/penjajah-penjajah. C. Jadi. tetapi mereka ditempa oleh sejarah lahirnya Indonesia sebagai suatu bangsa. Sriwijaya. Majapahit.Dengan demikian. Teks Proklamasi itu sendiri lahir melalui proses sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. berkembang dalam budaya kerajaan-kerajaan besar (Kutai. Filsafat (Nilai-nilai) Pancasila Secara filsafat1. dst). Pancasila merupakan sistem-nilai-ideologis yang berdera3 . Pemahaman tersebut bersumber pada kerangka dan substansi nilai-nilai yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945.

tetapi NKRI ingin dikembangkan sebagai Negara Beragama. dan NT-nya harus semakin dapat direformasi sesuai dengan perkembangan tuntutan zaman. nilai-dasar (ND). 3. NKRI tidak menerapkan hukum agama tertentu sebagai hukum positif. Agar ia dapat menjadi ideologi bangsa dan negara Indonesia yang lestari tetapi juga dinamis/berkembang. NL dan ND-nya harus dapat bersifat tetap. Sebagai bukan negara sekuler. artinya: (1) keputusan negara harus didasarkan pada ajaran agama-agama. dan nilai-teknis (NT). di dalamnya terkandung nilai-luhur (NL). nilai-instrumental (NI). NKRI tidak memisahkan urusan negara dari urusan agama. nilai-praksis (NP). Artinya. Sebagai bukan negara-agama.berderajat. dan lain sebagai4 . (2) suara terbanyak dalam lembaga MPR. (3) konstitusi negara tidak dari Kitab Suci agama tertentu. DPR. sementara NI. (2) Kepala Negara tidak harus berasal dari Kepala Agama tertentu. artinya: (1) ideologi negara tidak berasal dari ideologi agama tertentu.1 Ketuhanan Yang Mahaesa Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI bukan sebagai Negara Agama dan bukan pula sebagai Negara Sekuler. NP.

dan Negara ber-Budaya (yang beradab). Sebagai negara yang ber-HAM. Sebagai negara beragama.nya harus dilandaskan pada kesesuaiannya dengan ajaran Tuhan Yang Mahaesa. NKRI ingin mengembangkan dirinya sesebagai negara yang melindungi dan menegakkan HAM bagi warga- negaranya. 5 . DPR+Pemerintah) yang warganegaranya beragam agama.2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Di dalamya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI merupakan Negara berHAM (kemanusiaan). (2) tidak membentuk agama baru. 3. NKRI mendasarkan pengelolaan negara pada hukum positif yang disepakai oleh bangsa (MPR. atau (3) sedapat mungkin memilih salah satu agama yang resmi diakui Negara (karena lebih banyak kedekatan ajarannya). Di sini terkandung tekad bahwa mereka yang ber-Aliran Kepercayaan tidak diwajibkan (secara hukum positif) untuk beragama. HAM dimaksud adalah yang sesuai dengan hukum positif Indonesia dan budaya bangsa Indonesia. tetapi negara wajib melindungi agama apapun. sementara negara pun tidak boleh mencampuri urusan aqidah agama apapun. tetapi mereka dibina oleh Negara (Pemerintah dan Masyarakat) untuk: (1) tidak menjadi atheis. Negara ber-Hukum (yang adil).

(3) menegakkan HAM. karena hukum positif Indonesia bersumber pada Ketuhanan Yang Mahaesa. NKRI ingin mengembangkan: (1) cipta.Contoh. (2) karsa. Sebagai negara yang ber-Budaya/Adab. yang dapat melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang dapat melahirkan karya-karya monumental dalam arti yang seluas-luasnya. keempatnya itu merupakan 3. nilai kesatuan berprinsip 6 . dan (4) membudayakan kontrol publik/sosial/masyarakat atas jalannya pemerintahan yang baik dan bersih (good governance). Nilai persatuan berprinsip pada ‘bersatu dalam keberagaman/ keberbedaan/ketidaksamaan/heterogenitas’. NKRI ingin melindungi dan mengembangkan: (1) supremasi hukum. yang dapat melahirkan moral dan etika. Belanda) atau aborsi (seperti di Irlandia Utara dan Skotlandia) tidak bisa diundang-undangkan (tidak bisa dijadikan hukum positif di Indonesia). (3) rasa. serta (4) karya. Sementara. maka HAM seperti euthanasia (seperti di Selandia Baru.3 Persatuan Indonesia Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI menyatakan diri sebagai negara yang diikat oleh ‘persatuan’ dan ‘kesatuan’. unsur dari budaya/adab Sebagaimana diketahui. (2) persamaan di muka hukum. Sebagai negara yang ber-Hukum. yang dapat melahirkan seni dan estetika.

asas ini sebagai landasan penerapan kedaulatan rakyat. Nilai-persatuan sebagai faktor penopang dan pemberi peluang nilai-nilai demokratisasi. (2) pemilu yang bebas. (7) negara untuk kesejahteraan rakyat dan pelayanan publik. (8) dan seterusnya. perlindungan minoritas. Sementara.pada ‘bersatu dalam keseragaman/ketidakberbedaan/kesamaan/homogenitas’. madanisasi. (4) pemerintahan mayoritas. (6) kontrol publik/sosial. Sebagai negara demokrasi. etatisasi. sivilisasi. dan prinsip-prinsip demokrasi itu bersifat universal bagi bangsa-bangsa beradab di dunia.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Di dalamnya terkandung makna bahwa NKRI menerapkan asas kerakyatan. dan mobilisasi (singkatnya kedaulatan negara). kedaulatan rakyat ini sebagai basis demokrasi. (3) multi parpol. bukan Kesatuan Indonesia)—dengan demikian—lebih akan mengedepankan dan memprioritaskan NKRI sebagai negara yang berjiwa civil society. militerisasi. NKRI menerapkan prinsip-prinsip: (1) pembagian kekuasaan antarlembaga negara. 3. 7 . dan partisipasi (singkatnya kedaulatan rakyat). nilai-kesatuan sebagai faktor penopang dan pemberi peluang nilai-nilai otokratisasi. (5) pers yang bebas. Sila ketiga ini (Persatuan Indonesia. penegakkan HAM.

Pemimpin yang hikmat adalah pemimpin yang berakal sehat. 3. dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat fisis/jasmaniah. arif. bukan keadilan bagi segolongan/pemerintah/penguasa. sementara kebijaksanaan adalah pemimpin yang berhatinurani. bijaksana. rasional. dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat psikis/ rohaniah. pemimpin yang hikmat-kebijaksanaan itu lebih mengarah pada pemimpin yang profesional (hikmat) dan juga dewasa (bijaksana). melalui tatanan dan tuntunan permusyawaratan/ Tegasnya. terampil. jujur. adil.5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Di dalamnya terkandung makna keadilan-sosial (keadilan-socius) atau pemerataan-bersama bagi seluruh-rakyat (atas dasar keadilan distributif). Itu semua—negara demokratis yang dipimpin oleh orang yang dewasaprofesional—dilakukan perwakilan. NKRI merupakan negara demokrasi yang dipimpin oleh hikmatkebijaksanaan. sila keempat menunjuk pada NKRI sebagai negara yang dipimpin oleh orang profesional-dewasa melalui demokrasi-perwakilan sistem musyawarah (government by discussion). cerdas.Jadi. Jadi. Dengan demikian—secara filsafat (hakikat)—kelima-sila tersebut dipahami sebagai sistem-nilai-yang-mencakup/meliputi (satu kesatuan nilai 8 .

maka dapat dipahami bahwa Sila ke-4 (negara demokrasi) itu yang dilandasi oleh Sila ke-1 (norma agama). Sila ke-3 melandasi Sila-sila ke-4. 5. yang menjunjung tinggi Sila ke-2 (HAM. 5. karenanya belum final. dan direncanakan akan dituntaskan pada Sidang Tahunan MPR bulan Agustus 2002 pada agenda Perubahan-IV UUD 1945) di masa Era Reformasi. dan yang untuk kepentingan Sila ke-5 (keadilan sosial bagi seluruh rakyat). 3. “disepihaktafsirkan” di masa Orde Baru (P-4. yang mengutamakan Sila ke-3 (persatuan dan kesatuan bangsa). 4. Atas dasar itu. dan Sila ke-4 melandasi Sila ke-5. dan “direformasitafsirkan” (masih diproses oleh BP-MPR. yaitu bahwa Sila-1 melandasi Sila-sila ke-2. 5. negara hukum. D. Sila ke-2 melandasi Sila-sila ke-3. sebagai contoh.Pancasila). 9 . tampak bagi kita bahwa pemahaman dan penerapan Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan dinamika global. 4. Penerapan/Implementasi di Era Reformasi Hakikat (sila-sila Pancasila) dalam penerapannya (implementasinya) pernah “disalahtafsirkan” di masa Orde Lama (berupa Trisila kemudian Ekasila). bila berbicara Demokrasi Pancasila misalnya. negara budaya). massa-mengambang). Sehingga. asas tunggal Pancasila. referendum.

Darmodiharjo. proses reformasi itu dapat dipahami dari berbagai sudut pandang (kacamata). Masyarakat Indonesia Memasuki Abad ke Duapuluh Satu. 2000. Jakarta: CV Pantjuran Tudjuh. 2000. Makalah: Astrid S. 1996. Namun demikian. Daftar Pustaka Buku: Astrid S. Darji dan Shidarta. Jakarta. yang pada akhirnya diarahkan untuk kepentingan bangsa/nasional dan NKRI. 10 . Pancasila (untuk Abad ke-21). Notonagoro.dinamika nasional. dan dinamika lokal/daerah. E. Mubyarto. yang salah satunya (kacamata filsafat-nilai Pancasila) sebagaimana dilampirkan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Susanto Sunario. Membangun Sistem Ekonomi. Susanto Sunario. 1974. Yogyakarta: BPFE. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud. Ini yang dimaksud dengan salah satu makna reformasi-ideologis. Pancasila Dasar Falsafah Negara. 1999. Penjabaran Nilai-nilai Pancasila dalam Sistem Hukum Indonesia.

Jakarta. 1997. A.t.T. Jakarta. Koento Wibisono Siswomihardjo. Jakarta. 1998. ----------------. Supremasi Hukum dalam Perspektif Pengembangan HAM. 2000. Reposisi/Reorientasi Pendidikan Pancasila Menghadapi Tantangan Abad XXI. Soegito. 11 . ---------. Gunawan Setiardja.Agus Widjojo. Sejarah Indonesia Kontemporer sebagai Materi Pendidikan Pancasila (Analisis Berbagai Permasalahannya). Evaluasi Hasil Belajar Matakuliah Pendidikan Pancasila. 2000. t. S. Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas. Jakarta. Semarang: FKDP Jawa Tengah. Semarang. A. Bogor: Ditbinsarak Ditjen Dikti Depdikbud. Jakarta.k. 2000. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan. ---------. Pokok-pokok materi: Sejarah Perjungan Bangsa Indonesia. Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia sebagai Titik Tolak Memahami Asal Mula Pancasila. 2000. 1999. t. Semarang: UPT MKU Unnes. 2000. ---------. 2000. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ilmu Pengetahuan. 2000. ---------. Nasionalisme Indonesia (Pengertian dan Perkembangannya). Budhisantoso. Ceramah Kepala Staf Teritorial TNI pada Penataran Dosen Pendidikan dan Filsafat Pancasila tanggal 18 Oktober 2000. ---------. Bangkitnya Kembali Kesukubangsaan dalam Masyarakat Majemuk Indonesia..

Pancasila sebagai Paradigma dalam Pengembangan Kebudayaan Bangsa. 2000. t. 21 Juli 2002 12 . Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Hukum.t..k. Bandung.k. t..t. Bumi Pasundan.. Sri Soemantri M. Kesukubangsaan dan Kebangsaan. ---------.---------. t. t.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful