|| 1 dari 41

||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

ﺓﻼﺼﻟﺍ ﻙﺭﺎﺗ ﻢﻜﺣ
HUKUM ORANG YANG
MENINGGALKAN SHALAT

Oleh :
SYEIKH MUHAMMAD BIN SHALEH AL UTSAIMIN

Penerjemah:
MUHAMMAD YUSUF HARUN, MA.



Publication : 1428, Jumadi Tsani 28 / 2007, Juli14
ﺓ ﻼﺼﻟﺍ ﻙﺭﺎﺗ ﻢﻜﺣ
HUKUM ORANG YANG MENI NGGALKAN SHALAT
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
© Copyright Islamic Propagation Office in Rabwah
Tidak untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial lainnya.
Ebook ini dibagikan dan disebarkan gratis dalam bentuk PDF. Format
hard copy tersedia di toko-toko buku.
Disebarkan oleh Maktabah Ummu Salma al-Atsariyah.



|| 2 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
ﺣ ﺓﻼﺼﻟﺍ ﻙﺭﺎﺗ ﻢﻜ

ﻒﻴﻟﺄﺗ ·
ﲔﻤﻴﺜﻌﻟﺍ ﱀﺎﺻ ﻦﺑ ﺪﻤﳏ ﺦﻴﺸﻟﺍ , ﷲﺍ ﻪﲪﺭ ,

ﺔﲨﺮﺗ ·
ﻥﻭﺭﺎﻫ ﻒﺳﻮﻳ ﺪﻤﳏ

ﺔﻌﺟﺍﺮﻣ ·
ﺩ . ﻱﺮﺼﺑ ﷲﺍ ﻦﻳﺩ ﲔﻌﻣ ﺪﻤﳏ
ﻲﳛ ﻲﻌﻓﺎﺷ ﻥﻭﺮﻜﺑ
ﺪﻴﻤﳊﺍﺪﺒﻋ ﻥﻭﺪﻤﳏ
ﺮﻔﻌﺟ ﻮﺑﺃ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﺮﺼﻧ ﻱﺩﺎﻋﲑﻓ



|| 3 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
PENDAHULUAN

ﻪ ﻨ ﻴِ ﻌ ﺘ ﺴ ﻧ ﻭ ﻩ ﺪ ﻤ ﺤ ﻧ ِ ﻪﱠﻠِ ﻟ ﺪ ﻤ ﺤﹾ ﻟﹶ ﺍ ﻦِ ﻣ ِ ﷲﺎِ ﺑ ﹸ ﺫ ﻮ ﻌ ﻧ ﻭ ،ِ ﻪ ﻴﹶ ﻟِ ﺇ ﺏ ﻮ ﺘ ﻧ ﻭ ﻩ ﺮِ ﻔﻐ ﺘ ﺴ ﻧ ﻭ
ﹾ ﻞِ ﻠ ﻀ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ، ﻪﹶ ﻟ ﱠﻞِ ﻀ ﻣ ﹶ ﻼﹶ ﻓ ُ ﷲﺍ ِ ﻩِ ﺪ ﻬ ﻳ ﻦﻣ ،ﺎ ﻨِ ﻟﺎ ﻤ ﻋﹶ ﺃ ِ ﺕﺎﹶ ﺌ`ﻴ ﺳ ﻦِ ﻣ ﻭ ﺎ ﻨِ ﺴﹸ ﻔ ﻧﹶ ﺃ ِ ﺭ ﻭ ﺮ ﺷ
ﹶ ﻟ ﻚ ﻳِ ﺮ ﺷ ﹶ ﻻ ﻩ ﺪ ﺣ ﻭ ُ ﷲﺍ ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻻ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﺪﻬ ﺷﹶ ﺃ ﻭ ، ﻪﹶ ﻟ ﻱِ ﺩﺎ ﻫ ﹶ ﻼﹶ ﻓ ﱠﻥﹶ ﺃ ﺪ ﻬ ﺷﹶ ﺃ ﻭ ، ﻪ
ﻢ ﻬ ﻌِ ﺒ ﺗ ﻦ ﻣ ﻭ ِ ﻪِ ﺑﺎ ﺤ ﺻﹶ ﺃ ﻭ ِ ﻪِ ﻟﺁ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻭ ِ ﻪ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ُ ﷲﺍ ﻰﱠﻠ ﺻ ، ﻪﹸ ﻟ ﻮ ﺳ ﺭ ﻭ ﻩ ﺪ ﺒ ﻋ ﺍ ﺪﻤ ﺤ ﻣ
ﻦ ﻳ`ﺪﻟﺍ ِ ﻡ ﻮ ﻳ ﹶ ﱃِ ﺇ ٍ ﻥﺎ ﺴ ﺣِ ﺈِ ﺑ . ﺪ ﻌ ﺑ ﺎﻣﹶ ﺃ ·
Segala pujian hanya milik Allah Ta'ala kita
memuji-Nya,meminta pertolongan,memohonkan
ampunan dan bertaubat kepada-Nya.Kita memohon
perlindungan kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita
dan dari keburukan amalan-amalan yang telah kita
perbuat.Barang siapa yang telah mendapatkan hidayah
Allah,maka tak seorangpun yang dapat menyesatkan
jalannya dan sesiapa yang telah disesatkan-Nya maka
tiada seorangpun yang mampu memberikan sinar
petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang
berhak disembah melainkan Allah semata,tiada sekutu
bagi-Nya,dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba Allah dan utusan-Nya,semoga shalawat dan
salam Allah sentiasa tercurahkan kepada beliau,keluarga
dan sahabat-sahabatnya dan siapa yang mengikutinya
dengan baik hingga akhir zaman,amiiin.
Wa ba'du :

Sungguh, banyak diantara kaum muslimin
sekarang ini yang meremehkan masalah shalat dan



|| 4 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
melalaikannya, dan bahkan ada yang meninggalkannya
sama sekali, karena menganggapnya hal yang sepele.
Oleh karena masalah ini termasuk salah satu
masalah besar, yang melanda umat pada saat ini, dan
menjadi ajang perbedaan pendapat dikalangan para
ulama dan para imam mazhab dari dulu hingga kini,
maka penulis ingin memberikan sumbangsihnya dalam
permasalahan tersebut melalui tulisan yang sederhana
ini.

Pembicaraan tentang masalah ini akan diringkas
dalam dua bahasan :
Pertama : hukum orang yang meninggalkan shalat.
Kedua : konsekwensi hukum karena riddah (keluar dari
Islam), disebabkan karena meninggalkan shalat, atau
sebab lainnya.

Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala dengan taufiq-
Nya menunjukkan kita semua kepada kebenaran.




|| 5 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
1
HUKUM
ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

Masalah ini termasuk salah satu masalah ilmu
yang amat besar, diperdebatkan oleh para ulama pada
zaman dahulu dan masa sekarang.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Orang
yang meninggalkan shalat adalah kafir, yaitu kekafiran
yang menyebabkan orang tersebut keluar dari Islam,
diancam hukuman mati, jika tidak bertaubat dan tidak
mengerjakan shalat.
Sementara Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i
mengatakan : “Orang yang meninggalkan shalat adalah
fasik dan tidak kafir”, namun, mereka berbeda pendapat
mengenai hukumannya, menurut Imam Malik dan
Syafi’i “diancam hukuman mati sebagai hadd”, dan
menurut Imam Abu Hanifah “diancam hukuman ta’zir
(diasingkan) , bukan hukuman mati”.
Apabila masal ah ini termasuk masal ah yang
diperselisihkan, maka yang wajib adal ah dikembalikan
kepada kitab Allah subhaanahu wa ta’aala dan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah
subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ِ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﻪ ﻤﹾ ﻜ ﺤﹶ ﻓ ٍ ﺀ ﻲ ﺷ ﻦِ ﻣ ِ ﻪﻴِ ﻓ ﻢ ﺘﹾ ﻔﹶ ﻠ ﺘ ﺧﺍ ﺎ ﻣ ﻭ {
“Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan,
maka putusannya (terserah) kepada Allah.”. (QS. As Syura, 10).
Dan Allah juga berfirman :
} ﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﻩﻭﺩ ﺮﹶ ﻓ ٍ ﺀ ﻲ ﺷ ﻲِ ﻓ ﻢ ﺘ ﻋ ﺯﺎ ﻨ ﺗ ﻥِ ﺈﹶ ﻓ ﱠﻠﻟ ﱠﻠﻟﺎِ ﺑ ﹶ ﻥﻮ ﻨِ ﻣ ﺆ ﺗ ﻢ ﺘﻨﹸ ﻛ ﻥِ ﺇ ِ ﻝﻮ ﺳﺮﻟﺍ ﻭ ِ ﻪ ِ ﻪ
ﹰ ﻼﻳِ ﻭﹾ ﺄ ﺗ ﻦ ﺴ ﺣﹶ ﺃ ﻭ ` ﺮ ﻴ ﺧ ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ِ ﺮِ ﺧﻵﺍ ِ ﻡ ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻭ {



|| 6 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
“Jika kamu belainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As
Sunnah), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih
baik akibatnya.”.
( QS. An Nisa’, 59 ).
Oleh karena masing masing pihak yang berselisih
pendapat, ucapannya tidak dapat dijadikan hujj ah terhadap
pihak lain, sebab masing masing pihak menganggap bahwa
dialah yang benar, sementara tidak ada salah satu dari kedua
belah pihak yang pendapatnya lebih patut untuk diterima,
maka dalam masalah tersebut wajib kembali kepada juri
penentu diantara keduanya, yaitu Al Qur’an dan Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kalau kita kembalikan perbedaan pendapat ini
kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka akan kita dapatkan
bahwa Al Qur’an maupun As Sunnah keduanya
menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat
adalah kafir, dan kufur akbar yang menyebabkan ia keluar
dari islam.


: an ' Qur - Dalil dari Al : Pertama

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dalam surat
At Taubah ayat 11 :
} ِ ﻦﻳ`ﺪﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﻢﹸ ﻜ ﻧﺍ ﻮ ﺧِ ﺈﹶ ﻓ ﹶ ﺓﺎﹶ ﻛﺰﻟﺍ ﹾ ﺍ ﻮ ﺗﺁ ﻭ ﹶ ﺓﹶﻼﺼﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﻣﺎﹶ ﻗﹶ ﺃ ﻭ ﹾ ﺍﻮ ﺑﺎ ﺗ ﻥِ ﺈﹶ ﻓ {
“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara
saudaramu seagama”.
(QS. At Taubah; 11).
Dan dalam surat Maryam ayat 59-60 , Allah
berfirman :



|| 7 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
} ﹶ ﻥ ﻮﹶ ﻘﹾ ﻠ ﻳ ﻑ ﻮ ﺴﹶ ﻓ ِ ﺕﺍ ﻮ ﻬﺸﻟﺍ ﺍﻮ ﻌ ﺒﺗﺍ ﻭ ﹶ ﺓﻼﺼﻟﺍ ﺍﻮ ﻋﺎ ﺿﹶ ﺃ ` ﻒﹾ ﻠ ﺧ ﻢِ ﻫِ ﺪ ﻌ ﺑ ﻦِ ﻣ ﻒﹶ ﻠ ﺨﹶ ﻓ
ﺎﻴﹶ ﻏ , ﹶ ﻥﻮ ﻤﹶ ﻠﹾ ﻈ ﻳ ﻻ ﻭ ﹶ ﺔﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻠ ﺧ ﺪ ﻳ ﻚِ ﺌﹶ ﻟ ﻭﹸ ﺄﹶ ﻓ ﺎ ﺤِ ﻟﺎ ﺻ ﹶ ﻞِ ﻤ ﻋ ﻭ ﻦ ﻣﺁ ﻭ ﺏﺎ ﺗ ﻦ ﻣ ﺎﱠﻟِ ﺇ
ﺎﹰ ﺌ ﻴ ﺷ {
“Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek)
yang menyia nyiakan shalat dan memperturutkan hawa
nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali
orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka
mereka itu akan masuk surga dan tidak akan dirugikan
sedikitpun”. (QS. Maryam, 59-60).

Relevansi ayat kedua, yaitu yang terdapat dalam
surat Maryam, bahwa Allah berfirman tentang orang
orang yang menyia nyiakan shalat dan memperturutkan
hawa nafsunya :” kecuali orang yang bertaubat, beriman …”.
Ini menunjukkan bahwa mereka ketika menyia nyiakan
shalat dan memperturutkan hawa nafsu adalah tidak
beriman.
Dan relevansi ayat yang pertama, yaitu yang
terdapat dalam surat At Taubah, bahwa kita dan orang
orang musyrik telah menentukan tiga syarat :
• Hendaklah mereka bertaubat dari syirik.
• Hendaklah mereka mendirikan shalat, dan
• Hendaklah mereka menunaikan zakat.
Jika mereka bertaubat dari syirik, tetapi tidak
mendirikan shalat dan tidak pula menunaikan zakat,
maka mereka bukanlah saudara seagama dengan kita.
Begitu pula, jika mereka mendirikan shalat, tetapi
tidak menunaikan zakat maka mereka pun bukan
saudara seagama dengan kita.



|| 8 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Persaudaraan seagama tidak dinyatakan hilang
atau tidak ada, melainkan jika seseorang keluar secara
keseluruhan dari agama ; tidak dinyatakan hilang atau
tidak ada karena kefasikan dan kekafiran yang sederhana
tingkatannya.
Cobalah anda perhatikan firman Allah subhaanahu
wa ta’aala dalam ayat qishash karena membunuh :
} َ ٌ ﺀﺍ ﺩﹶ ﺃ ﻭ ِ ﻑﻭ ﺮ ﻌ ﻤﹾ ﻟﺎِ ﺑ ` ﻉﺎ ﺒ`ﺗﺎﹶ ﻓ ٌ ﺀ ﻲ ﺷ ِ ﻪﻴِ ﺧﹶ ﺃ ﻦِ ﻣ ﻪﹶ ﻟ ﻲِ ﻔ ﻋ ﻦ ﻣ ٍ ﻥﺎ ﺴ ﺣِ ﺈِ ﺑ ِ ﻪ ﻴﹶ ﻟِ ﺇ {
“Maka barang siapa yang diberi maaf oleh saudaranya,
hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,
dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada
yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)”. (QS. Al
Baqarah, 178).

Dalam ayat ini, Allah subhaanahu wa ta’aala
menjadikan orang yang membunuh dengan sengaja
sebagai saudara orang yang dibunuhnya, padahal pidana
membunuh dengan sengaja termasuk dosa besar yang
sangat berat hukumannya, Karena Allah subhaanahu wa
ta’aala berfirman :
} ﱠﻠﻟﺍ ﺐِ ﻀﹶ ﻏ ﻭ ﺎ ﻬﻴِ ﻓ ﺍ ﺪِ ﻟﺎ ﺧ ﻢﻨ ﻬ ﺟ ﻩ ﺅﺁ ﺰ ﺠﹶ ﻓ ﺍ ﺪ`ﻤ ﻌ ﺘﻣ ﺎ ﻨِ ﻣ ﺆ ﻣ ﹾ ﻞ ﺘﹾ ﻘ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ﻪ ﻨ ﻌﹶ ﻟ ﻭ ِ ﻪ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪ
ﺎ ﻤﻴِ ﻈ ﻋ ﺎ ﺑﺍﹶ ﺬ ﻋ ﻪﹶ ﻟ ﺪ ﻋﹶ ﺃ ﻭ {
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min
dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahannam, kekal
ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya
serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An Nisa’,
93).

Kemudian cobalah anda perhatikan firman Allah
subhaanahu wa ta’aala tentang dua golongan dari kaum
mu’minin yang berperang :



|| 9 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
} ِ ﺇ ﻭ ﻰ ﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻤ ﻫﺍ ﺪ ﺣِ ﺇ ﺖ ﻐ ﺑ ﻥِ ﺈﹶ ﻓ ﺎ ﻤ ﻬ ﻨ ﻴ ﺑ ﺍﻮ ﺤِ ﻠ ﺻﹶ ﺄﹶ ﻓ ﺍﻮﹸ ﻠ ﺘ ﺘﹾ ﻗﺍ ﲔِ ﻨِ ﻣ ﺆ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦِ ﻣ ِ ﻥﺎ ﺘﹶ ﻔِ ﺋﺎﹶ ﻃ ﻥ
ﺍ ﻮ ﺤِ ﻠ ﺻﹶ ﺄﹶ ﻓ ﺕَ ﺀﺎ ﹶ ﻓ ﻥِ ﺈﹶ ﻓ ِ ﻪﱠﻠﻟﺍ ِ ﺮ ﻣﹶ ﺃ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ َ ﺀﻲِ ﻔ ﺗ ﻰﺘ ﺣ ﻲِ ﻐ ﺒ ﺗ ﻲِ ﺘﱠﻟﺍ ﺍﻮﹸ ﻠِ ﺗﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻯ ﺮ ﺧُ ﻷﺍ
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﱠﻥِ ﺇ ﺍﻮﹸ ﻄِ ﺴﹾ ﻗﹶ ﺃ ﻭ ِ ﻝ ﺪ ﻌﹾ ﻟﺎِ ﺑ ﺎ ﻤ ﻬ ﻨ ﻴ ﺑ ﲔِ ﻄِ ﺴﹾ ﻘ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺐِ ﺤ ﻳ , ﹲ ﺓ ﻮ ﺧِ ﺇ ﹶ ﻥﻮ ﻨِ ﻣ ﺆ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻤﻧِ ﺇ
ﻢﹸ ﻜ ﻳ ﻮ ﺧﹶ ﺃ ﻦ ﻴ ﺑ ﺍﻮ ﺤِ ﻠ ﺻﹶ ﺄﹶ ﻓ {
“Dan jika ada dua golongan dari orang orang mu’min
berperang, maka damaikanlah antara keduanya, jika salah satu
dari dua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang
lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu
sehingga golongan itu kembali (kepada perintah Allah), maka
damaikanlah antara keduannya dengan adil dan berlaku adillah,
sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil,
sesungguhnya orang orang mu’min adalah bersaudara, karena
itu damaikanlah antara kedua saudaramu…”.
(QS. Al Hujurat, 9).
Di sini Allah subhaanahu wa ta’aala menetapkan
persaudaraan antara pihak pendamai dan kedua pihak
yang berperang, padahal memerangi orang mu’min
termasuk kekafiran, sebagaimana disebutkan dalam
hadits shaheh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
periwayat yang lain, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
' ﺘِ ﻗ ﻭ ` ﻕ ﻮ ﺴﹸ ﻓ ِ ﻢِ ﻠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺏﺎ ﺒِ ﺳ ` ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻪﹸ ﻟﺎ .'
“Menghina seorang Muslim adalah kefasikan, dan
memeranginya adalah kekafiran.”
Namun kekafiran ini tidak menyebabkan keluar
dari Islam, sebab andaikata menyebabkan keluar dari
islam maka tidak akan dinyatakan sebagai saudara
seiman. Sedangkan ayat suci tadi telah menunjukkan



|| 10 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
bahwa kedua belah pihak sekalipun berperang mereka
masih saudara seiman.
Dengan demikian jelaslah bahwa meninggalkan
shalat adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari
Islam, sebab jika hanya merupakan kefasikan saja atau
kekafiran yang sederhana tingkatannya (yang tidak
menyebabkan keluar dari Islam) maka persaudaraan
seagama tidak dinyatakan hilang karenanya,
sebagaimana tidak dinyatakan hilang karena membunuh
dan memerangi orang mu’min.
Jika ada pertanyaan : Apakah anda berpendapat
bahwa orang yang tidak menunaikan zakat pun dianggap
kafir, sebagaimana pengertian yang tertera dalam surat
At Taubah tersebut ?
Jawabnya adalah : Orang yang tidak menunaikan
zakat adalah kafir, menurut pendapat sebagian ulama,
dan ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan
dari Imam Ahmad rahimahullah.
Akan tetapi pendapat yang kuat menurut kami
ialah yang mengatakan bahwa ia tidak kafir, namun
diancam hukuman yang berat, sebagaimana yang
terdapat dalam hadits hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seperti hadits yang dituturkan oleh Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika menyebutkan hukuman bagi orang yang tidak
mau membayar zakat, disebutkan dibagian akhir hadits :
' ﺳ ﻯ ﺮ ﻳ ﻢﹸ ﺛ ِ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﹶ ﱃِ ﺇ ﺎﻣِ ﺇ ﻭ ِ ﺔﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﹶ ﱃِ ﺇ ﺎﻣِ ﺇ ﻪﹶ ﻠ ﻴِ ﺒ .'
“ … Kemudian ia akan melihat jalannya, menuju ke
surga atau ke neraka.”
Hadits ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam
Muslim dalam bab “dosa orang yang tidak mau membayar
zakat”.



|| 11 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa orang
yang tidak menunaikan zakat tidak menjadi kafir, sebab
andaikata ia menjadi kafir, maka tidak akan ada jalan
baginya menuju surga.
Dengan demikian manthuq (yang tersurat) dari
hadits ini lebih didahulukan dari pada mafhum (yang
tersirat) dari ayat yang terdapat dalam surat At Taubah
tadi, karena sebagaimana yang telah dijelaskan dalam
ilmu ushul fiqh bahwa manthuq lebih didahulukan dari
pada mafhum.


: dalil dari As Sunnah : Kedua

1- Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
' ِ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﻙ ﺮ ﺗ ِ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻭ ِ ﻙ ﺮ`ﺸﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﻭ ِ ﻞ ﺟﺮﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﱠﻥِ ﺇ .'
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang
dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan
shalat”.
(HR. Muslim, dalam kitab : Al-Iman) .
2- Diriwayatkan dari Buraidah bin Al Hushaib
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
' ﹶ ﻛ ﺮ ﺗ ﻦ ﻤﹶ ﻓ ﹸ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﻢ ﻬ ﻨ ﻴ ﺑ ﻭ ﺎ ﻨ ﻨ ﻴ ﺑ ﻱِ ﺬﱠﻟﺍ ﺪ ﻬ ﻌﹾ ﻟﹶ ﺍ ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ﺎ ﻬ .'
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, barang
siapa yang meninggalkannya maka benar benar ia telah kafir”.
(HR.Abu Daud, Turmudzi, An Nasai, Ibnu Majah dan Imam
Ahmad).



|| 12 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah
kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan
shalat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min
dan orang orang kafir, dan hal ini bisa diketahui secara
jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan
orang Islam, karena itu, barang siapa yang tidak
melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan
orang kafir.
3- Diriwayatkan dalam shaheh Muslim, dari Ummu
Salamah radliallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
' ﺮـﹶ ﻜ ﻧﹶ ﺃ ﻦ ﻣ ﻭ ، ﺉ ﺮ ﺑ ﻑ ﺮ ﻋ ﻦ ﻤﹶ ﻓ ، ﹶ ﻥ ﻭ ﺮـِﻜ ﻨ ﺗ ﻭ ﹶ ﻥ ﻮﹸ ﻓِ ﺮ ﻌ ﺘﹶ ﻓ ، ﺀﺍ ﺮـ ﻣﹸ ﺃ ﹸ ﻥ ﻮﹸ ﻜ ﺘ ﺳ
ﺍ ﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ، ﻊ ﺑﺎ ﺗ ﻭ ﻲِ ﺿ ﺭ ﻦ ﻣ ﻦِ ﻜﹶ ﻟ ﻭ ، ﻢِ ﻠ ﺳ · ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ؟ ﻢ ﻬﹸ ﻠِ ﺗﺎﹶ ﻘ ﻧ ﹶ ﻼﹶ ﻓﹶ ﺃ · ﺍ ﻮﱡ ﻠ ﺻ ﺎ ﻣ ﹶ ﻻ .'
“Akan ada para pemimpin, dan diantara kamu ada
yang mengetahui dan menolak kemungkaran kemungkaran
yang dilakukan, barang siapa yang mengetahui bebaslah ia, dan
barang siapa yang menolaknya selamatlah ia, akan tetapi
barang siapa yang rela dan mengikuti, (tidak akan selamat),
para sahabat bertanya : bolehkah kita memerangi mereka ?,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :” Tidak,
selama mereka mengerjakan shalat.”
4- Diriwayatkan pul a dalam shaheh Muslim, dari Auf bin
Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulull ah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
' ﹶ ﻥ ﻮﱡ ﻠ ﺼ ﺗ ﻭ ﻢﹸ ﻜ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﻥ ﻮﱡ ﻠ ﺼ ﻳ ﻭ ، ﻢﹸ ﻜ ﻧ ﻮﺒِﺤ ﻳ ﻭ ﻢ ﻬ ﻧ ﻮﺒِ ﺤ ﺗ ﻦ ﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﻢﹸ ﻜِ ﺘﻤِ ﺋﹶ ﺃ ﺭﺎ ﻴِ ﺧ
ﺭﺍ ﺮِ ﺷ ﻭ ، ﻢِ ﻬ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻢ ﻬ ﻧ ﻮ ﻨ ﻌﹾ ﻠ ﺗ ﻭ ، ﻢﹸ ﻜ ﻧ ﻮ ﻀِ ﻐ ﺒ ﻳ ﻭ ﻢ ﻬ ﻧ ﻮ ﻀِ ﻐ ﺒ ﺗ ﻦ ﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﻢﹸ ﻜِ ﺘﻤِ ﺋﹶ ﺃ
ﹶ ﻞ ﻴِ ﻗ ، ﻢﹸ ﻜ ﻧ ﻮ ﻨ ﻌﹾ ﻠ ﻳ ﻭ ·



|| 13 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ؟ ِ ﻒ ﻴﺴﻟﺎِ ﺑ ﻢ ﻫﹸ ﺬِ ﺑﺎ ﻨ ﻧ ﹶ ﻼﹶ ﻓﹶ ﺃ ، ِ ﷲﺍ ﹶ ﻝ ﻮـ ﺳ ﺭ ﺎ ﻳ · ﹶ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﻢﹸ ﻜ ﻴِ ﻓ ﺍ ﻮ ﻣﺎﹶ ﻗﹶ ﺃ ﺎ ﻣ ، ﹶ ﻻ
.'
“Pemimpin kamu yang terbaik ialah mereka yang kamu
sukai dan merekapun menyukai kamu, serta mereka
mendo'akanmu dan kamupun mendoakan mereka, sedangkan
pemimpin kamu yang paling jahat adalah mereka yang kamu
benci dan merekapun membencimu, serta kamu melaknati
mereka dan merekapun melaknatimu, beliau ditanya : ya
Rasulallah, bolehkan kita memusuhi mereka dengan pedang ?,
beliau menjawab :” tidak, selama mereka mendirikan shalat
dilingkunganmu.”
Kedua hadits yang terakhir ini menunjukkan
bahwa boleh memusuhi dan memerangi para pemimpin
dengan mengangkat senjata bila mereka tidak mendirikan
shalat, dan tidak boleh memusuhi dan memerangi para
pemimpin, kecuali jika mereka melakukan kakafiran yang
nyata, yang bisa kita jadikan bukti dihadapan Allah nanti,
berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin
Ash Shamit radhiallahu ‘anhu :
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ِ ﷲﺍ ﹸ ﻝ ﻮ ﺳ ﺭ ﺎ ﻧﺎ ﻋ ﺩ ﹶ ﻓ ، ﻩﺎ ﻨ ﻌ ﻳﺎ ﺒﹶ ﻓ ، ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﺎ ﻨ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﺬ ﺧﹶ ﺃ ﺎ ﻤ ﻴِ ﻓ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻜ
ﺎ ﻨ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ٍ ﺓ ﺮﹾ ﺛﹶ ﺃ ﻭ ﺎ ﻧِ ﺮ ﺴ ﻳ ﻭ ﹶ ﺎﻧِ ﺮ ﺴ ﻋ ﻭ ﺎ ﻨِ ﻫ ﺮﹾ ﻜ ﻣ ﻭ ﹶ ﺎﻨِ ﻄ ﺸ ﻨ ﻣ ﻲﹶ ﻓ ِ ﺔ ﻋﺎﱠﻄﻟﺍ ﻭ ِ ﻊ ﻤﺴﻟﺍ ﻰﹶ ﻠﻋ ﺎ ﻨ ﻌ ﻳﺎ ﺑ
ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ، ﻪﹶ ﻠ ﻫﹶ ﺃ ﺮـ ﻣﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﻉِ ﺯﺎ ﻨ ﻧ ﹶ ﻻ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﻭ ، · ِ ﻣ ﻢﹸ ﻛ ﺪ ﻨِ ﻋ ﺎ ﺣﺍﻮ ﺑ ﺍ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﺍ ﻭ ﺮ ﺗ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﱠﻻِ ﺇ ِ ﷲﺍ ﻦ
ﻥﺎ ﻫ ﺮ ﺑ ِ ﻪ ﻴِ ﻓ .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengajak kami, dan kamipun membaiat beliau, diantara bai’at
yang diminta dari kami ialah hendaklah kami membai’at untuk
senantiasa patuh dan taat, baik dalam keadaan senang maupun
susah, dalam kesulitan maupun kemudahan, dan
mendahulukannya atas kepentingan dari kami, dan janganlah



|| 14 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
kami menentang orang yang telah terpilih dalam urusan
(kepemimpinan) ini, sabda beliau :” kecuali jika kamu melihat
kekafiran yang terang terangan yang ada buktinya bagi kita
dari Allah.”
Atas dasar ini, maka perbuatan mereka
meninggalkan shalat yang dijadikan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sebagai alasan untuk menentang dan
memerangi mereka dengan pedang adalah kekafiran
yang terang terangan yang bisa kita jadikan bukti
dihadapan Allah nanti.

*****

Tidak ada satu nash pun dalam Al Qur’an ataupun
As Sunnah yang menyatakan bahwa orang yang
meninggalkan shalat itu tidak kafir, atau dia adalah mu’min.
Kalaupun ada hanyal ah nash-nash yang menunjukkan
keutamaan tauhid, syahadat “La ilaha Illallah wa anna
Muhammad Rasulullah”, dan pahala yang diperoleh
karenanya, namun nash-nash tersebut muqayyad (dibatasi)
oleh ikatan-ikatan yang terdapat dal am nash itu sendiri,
yang dengan demikian tidak mungkin shal at itu
ditinggalkan, atau disebutkan dalam suatu kondisi tertentu
yang menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan
shalat, atau bersifat umum sehingga perlu difahami menurut
dalil-dalil yang menunjukkan kekafiran orang yang
meninggalkan shalat, sebab dalil-dalil yang menunjukkan
kekafiran orang yang meninggalkan shalat bersifat khusus,
sedangkan dalil yang khusus itu harus didahulukan dari
pada dalil yang umum.
Jika ada pertanyaan : Apakah nash-nash yang
menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat itu
tidak boleh diberlakukan pada orang yang meninggalkannya
karena mengingkari hukum kewajibannya ?



|| 15 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Jawab : Tidak boleh, karena hal itu akan
mengakibatkan dua masalah yang berbahaya :
Pertama : Menghapuskan atribut yang telah
ditetapkan oleh All ah dan dijadikan sebagai dasar hukum.
Allah telah menetapkan hukum kafir atas dasar
meninggalkan shalat, bukan atas dasar mengingkari
kewajibannya, dan menetapkan persaudaraan seagama
atas dasar mendirikan shalat, bukan atas dasar mengakui
kewajibannya, Allah tidak berfirman : ”Jika mereka
bertaubat dan mengakui kewajiban shalat”, Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak bersabda : ”Batas
pemisah antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran
adalah mengingkari kewajiban shalat”, atau “perjanjian antara
kita dan mereka ialah pengakuan terhadap kewajiban shalat,
barang siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah
kafir”.
Seandainya pengertian ini yang dimaksud oleh
Allah subhaanahu wa ta’aala dan Rasul-Nya, maka tidak
menerima pengertian yang demikian ini berarti
menyalahi penjelasan yang dibawa oleh Al Qur’an.
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ٍ ﺀ ﻲ ﺷ ﱢﻞﹸ ﻜﱢﻟ ﺎ ﻧﺎ ﻴ ﺒِ ﺗ ﺏﺎ ﺘِ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻚ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻨﹾ ﻟﺰ ﻧ ﻭ {
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an)
untuk menjelaskan segala sesuatu …”. (QS. An Nahl, 89).
} ﻢِ ﻬ ﻴﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻝ`ﺰ ﻧ ﺎ ﻣ ِ ﺱﺎﻨﻠِ ﻟ ﻦ`ﻴ ﺒ ﺘِ ﻟ ﺮﹾ ﻛﱢﺬﻟﺍ ﻚ ﻴﹶ ﻟِ ﺇ ﺎ ﻨﹾ ﻟ ﺰﻧﹶ ﺃ ﻭ {
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an)
agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka …”. (QS. An Nahl, 44).

Kedua : Menjadikan atribut yang tidak ditetapkan
oleh Allah sebagai landasan hukum.



|| 16 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

Mengingkari kewajiban shalat lima waktu tentu
menyebabkan kekafiran bagi pelakunya, tanpa alasan
karena tidak mengetahuinya, baik dia mengerjakan shalat
atau tidak mengerjakannya.
Kalau ada seseorang yang mengerjakan shalat
lima waktu dengan melengkapi segala syarat, rukun, dan
hal-hal yang wajib dan sunnah, namun dia mengingkari
kewajiban shalat tersebut, tanpa ada suatu alasan apapun,
maka orang tersebut telah kafir, sekalipun dia tidak
meninggalkan shalat.
Dengan demikian jelaslah bahwa tidak benar jika
nash-nash tersebut dikenakan kepada orang yang
meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya,
yang benar ialah bahwa orang yang meninggalkan shalat
adalah kafir dengan kekafiran yang menyebabkannya
keluar dari Islam, sebagaimana secara tegas dinyatakan
dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Abi Hatim dalam
kitab Sunan, dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu ia
berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
berwasiat kepada kita :
' ﺍ ﺪ ﻤ ﻋ ﺎ ﻬﹶ ﻛ ﺮ ﺗ ﻦ ﻤﹶ ﻓ ، ﺍ ﺪ ﻤ ﻋ ﹶ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ ﺘ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ، ﺎﹰ ﺌ ﻴ ﺷ ِ ﷲﺎِ ﺑ ﺍ ﻮﹸ ﻛِ ﺮ ﺸ ﺗ ﹶ ﻻ
ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ﺍ ﺪ`ﻤ ﻌ ﺘ ﻣ ِ ﺔﱠﻠِ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ﺝ ﺮ ﺧ .'
“Janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah
sedikitpun, dan janganlah kamu sengaja meninggalkan shalat,
barang siapa yang benar-benar dengan sengaja meninggalkan
shalat maka ia telah keluar dari Islam”.
Demikian pula jika hadits ini kita kenakan kepada
orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari
kewajibannya, maka penyebutan kata “shalat” secara



|| 17 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
khusus dalam nash-nash tersebut tidak ada gunanya
sama sekali.
Hukum ini bersifat umum, termasuk zakat, puasa,
dan haji, barang siapa yang meninggalkan salah satu
kewajiban tersebut karena mengingkari kewajibannya,
maka ia telah kafir, jika tanpa alasan karena tidak
mengetahui. Karena orang yang meninggalkan shalat
adalah kafir menurut dalil sam’i atsari (Al -Qur’an dan As
Sunnah), maka menurut dalil 'aqli nadzari (logika ) pun
demikian.
Bagaimana seseorang dikatakan memiliki iman,
sementara dia meninggalkan shalat yang merupakan
sendi agama. Dan pahala yang dijanjikan bagi orang yang
mengerjakannya menuntut kepada setiap orang yang
berakal dan beriman untuk segera melaksanakan dan
mengerjakannya. Serta ancaman bagi orang yang
meninggalkannya menuntut kepada setiap orang yang
berakal dan beriman untuk tidak meninggalkan dan
melalaikannya. Dengan demikian, apabila seseorang
meninggalkan shalat, berarti tidak ada lagi iman yang
tersisa pada dirinya.
Jika ada pertanyaan : Apakah kekafiran bagi
orang yang meninggalkan shalat tidak dapat diartikan
sebagai kufur ni’mat, bukan kufur millah (yang
mengeluarkan pelakunya dari agama Islam), atau
diartikan sebagai kekafiran yang tingkatannya dibawah
kufur akbar, seperti kekafiran yang disebutkan dalam
hadits dibawah ini, yang mana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersaba :
' ` ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻢِ ﻬِ ﺑ ﺎ ﻤ ﻫ ِ ﺱﺎﻨﻟﺎِ ﺑ ِ ﻥﺎ ﻨﹾ ﺛﺍِ · ِ ﺖ`ﻴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﹸ ﺔ ﺣﺎ ﻴ`ﻨﻟﺍ ﻭ ، ِ ﺐ ﺴﻨﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﻦ ﻌﱠﻄﻟﹶ ﺍ .'



|| 18 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
“Ada dua perkara terdapat pada manusia, yang
keduanya merupakan suatu kekafiran bagi mereka, yaitu :
mencela keturunan dan meratapi orang yang telah mati”.
' ` ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻪﹸ ﻟﺎ ﺘِ ﻗ ﻭ ` ﻕ ﻮ ﺴﹸ ﻓ ِ ﻢِ ﻠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺏﺎ ﺒِ ﺳ .'
“Menghina seorang muslim adalah kefasikan, dan
memeranginya adalah kekafiran”.

Jawab : Pengertian seperti ini dengan mengacu
pada contoh tersebut tidak benar, karena beberapa alasan:
Pertama : bahwa Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menjadikan shalat sebagai batas
pemisah antara kekafiran dan keimanan, antara orang
orang mu’min dan orang orang kafir, dan batas ialah
yang membedakan apa saja yang dibatasi, serta
memisahkannya dari yang lain, sehingga kedua hal yang
dibatasi berlainan, dan tidak bercampur antara yang satu
dengan yang lain.
Kedua : Shalat adalah salah satu rukun Islam,
maka penyebutan kafir terhadap orang yang
meninggalkannya berarti kafir dan keluar dari Islam,
karena dia telah menghancurkan salah satu sendi Islam,
berbeda halnya dengan penyebutan kafir terhadap orang
yang mengerjakan salah satu macam perbuatan
kekafiran.
Ketiga : Di sana ada nash-nash lain yang
menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat
adalah kafir, yang dengan kekafirannya menyebabkan ia
keluar dari Islam.
Oleh karena itu kekafiran ini harus difahami
sesuai dengan arti yang dikandungnya, sehingga nash-
nash itu akan sinkron dan harmonis, tidak saling
bertentangan.



|| 19 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Keempat : Penggunaan kata kufur berbeda-beda,
tentang meninggalkan shalat beliau bersabda :
' ِ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﻙ ﺮ ﺗ ِ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻭ ِ ﻙ ﺮ`ﺸﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﻭ ِ ﻞ ﺟﺮﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﱠﻥِ ﺇ .'
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang
dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan
shalat”.
(HR. Muslim, dalam kitab al iman).
Di sini digunakan kata “Al”, dalam bentuk ma’rifah
(definite), yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan
kufur di sini adalah kekafiran yang sebenarnya, berbeda
dengan penggunaan kata kufur secara nakirah (indefinite),
atau “kafara” sebagai kata kerja, atau bahwa dia telah
melakukan suatu kekafiran dal am perbuatan ini, bukan
kekafiran mutlak yang menyebabkan keluar dari Islam.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya
yang bernama Iqtidha ashshirath al mustaqim cetakan As
Sunnah al Muhammadiyah, hal 70, ketika menjelaskan
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
' ` ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻢِ ﻬِ ﺑ ﺎ ﻤ ﻫ ِ ﺱﺎﻨﻟﺎِ ﺑ ِ ﻥﺎ ﻨﹾ ﺛﺍِ · ﻦ ﻌﱠﻄﻟﹶ ﺍ ِ ﺖ`ﻴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﹸ ﺔ ﺣﺎ ﻴ`ﻨﻟﺍ ﻭ ، ِ ﺐ ﺴﻨﻟﺍ ﻲِ ﻓ .'
“Ada dua perkara terdapat pada manusia, yang keduanya
merupakan suatu kekafiran bagi mereka, yaitu : mencela
keturunan dan meratapi orang mati”.
Ia mengatakan : sabda Nabi “ Keduanya merupakan
kekafiran” artinya : kedua sifat ini adalah suatu kekafiran
yang masih terdapat pada manusia, jadi kedua sifat ini
adalah suatu kekafiran, karena sebelum itu keduanya
termasuk perbuatan-perbuatan kafir, tetapi masih
terdapat pada manusia.
Namun, tidak berarti bahwa setiap orang yang
terdapat pada dirinya salah satu bentuk kekafiran dengan
sendirinya menjadi kafir karenanya secara mutlak,



|| 20 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
sehingga terdapat pada dirinya hakekat kekafiran. Begitu
pula, tidak setiap orang yang terdapat dalam dirinya
salah satu bentuk keimanan dengan sendirinya menjadi
mu’min.
Penggunaan kata “Al Kufr” dalam bentuk
ma’rifah (dengan kata “ al”) sebagaimana disebut dalam
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
' ِ ﺓﹶ ﻼﺼﻟﺍ ﻙ ﺮ ﺗ ِ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻭ ِ ﻙ ﺮ`ﺸﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﻭ ِ ﻞ ﺟﺮﻟﺍ ﻦ ﻴ ﺑ ﱠﻥِ ﺇ .'
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan
kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.
(HR. Muslim, dalam kitab al iman) .
Berbeda dengan kata “ Kufr ” dalam bentuk
nakirah (tanpa kata “ al ”) yang digunakan dalam kalimat
positif.

*****

Apabila sudah jelas bahwa orang yang
meninggalkan shal at adal ah kafir, keluar dari Islam,
berdasarkan dalil-dalil ini, maka yang benar adalah
pendapat yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang
juga merupakan salah satu pendapat Imam Asy Syafii,
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya
tentang firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﹶ ﻥ ﻮﹶ ﻘﹾ ﻠ ﻳ ﻑ ﻮ ﺴﹶ ﻓ ِ ﺕﺍ ﻮ ﻬﺸﻟﺍ ﺍﻮ ﻌ ﺒﺗﺍ ﻭ ﹶ ﺓﻼﺼﻟﺍ ﺍﻮ ﻋﺎ ﺿﹶ ﺃ ` ﻒﹾ ﻠ ﺧ ﻢِ ﻫِ ﺪ ﻌ ﺑ ﻦِ ﻣ ﻒﹶ ﻠ ﺨﹶ ﻓ
ﺎﻴﹶ ﻏ , ﻭﹸ ﺄﹶ ﻓ ﺎ ﺤِ ﻟﺎ ﺻ ﹶ ﻞِ ﻤ ﻋ ﻭ ﻦ ﻣﺁ ﻭ ﺏﺎ ﺗ ﻦ ﻣ ﺎﱠﻟِ ﺇ ﹶ ﻥﻮ ﻤﹶ ﻠﹾ ﻈ ﻳ ﻻ ﻭ ﹶ ﺔﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻠ ﺧ ﺪ ﻳ ﻚِ ﺌﹶ ﻟ
ﺎﹰ ﺌ ﻴ ﺷ {
“Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek)
yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya,
maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang
bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan



|| 21 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
masuk surga dan tidak akan dirugikan sedikitpun”. (Q.S.
Maryam, 59-60).
Disebutkan pula oleh Ibnu Al Qayyim dalam “
Kitab Ash Shalat ” bahwa pendapat ini merupakan salah
satu dari dua pendapat yang ada dalam madzhab Syafi’i,
Ath Thahaqi pun menukilkan demikian dari Imam Syafii
sendiri.
Dan pendapat inilah yang dianut oleh mayoritas
sahabat, bahkan banyak ulama yang menyebutkan bahwa
pendapat ini merupakan ijma’ (consensus) para sahabat.
Abdullah bin Syaqiq mengatakan : ”Para sahabat
Nabi radhiallahu 'anhum berpendapat bahwa tidak ada
satupun amal yang bila ditinggalkan menyebabkan kafir,
kecuali shalat”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Al Hakim
menyatakannya shahih menurut persyaratan Imam Bukhari
dan Muslim ).
Ishaq bin Rahawaih rahimahullah , seorang Imam
terkenal mengatakan : “Telah dinyatakan dalam hadits
shahih dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, dan
demikianlah pendapat yang dianut oleh para ulama sejak
zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang
ini, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tanpa
ada suatu halangan sehingga lewat waktunya adalah
kafir.”
Dituturkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah bahwa
pendapat tersebut telah dianut oleh Umar, Abdurrahman
bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, dan para
sahabat lainnya, dan ia berkata : “Dan sepengetahuan
kami tidak ada seorang pun diantara sahabat Nabi yang
menyalahi pendapat mereka ini ”, keterangan Ibnu Hazm
ini telah dinukil oleh Al Mundziri dalam kitabnya At



|| 22 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Targhib Wat Tarhib, dan ada tambahan lagi dari para
sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas,
Jabir bin Abdillah, Abu Darda’ rodhiallohu ‘anhu, ia
berkata lebih lanjut : “ dan diantara para ulama yang
bukan dari sahabat adalah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin
Rahawaih, Abdullah bin Al Mubarak, An Nakha'i, Al
Hakam bin Utbaibah, Ayub As Sikhtiyani, Abu Daud At
Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb,
dan lain lainnya.”
Jika ada pertanyaan : Apakah jawaban atas dalil-
dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat
bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir ?
Jawab : Tidak disebutkan dalam dalil-dalil ini
bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir,
atau mu’min, atau tidak masuk neraka, atau masuk surga,
dan yang semisalnya.
Siapapun yang memperhatikan dalil-dalil itu dengan
seksama pasti akan menemukan bahwa dalil-dalil itu tidak
keluar dari lima bagian dan kesemuanya tidak bertentangan
dengan dalil -dalil yang dipergunakan oleh mereka yang
berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah
kafir.
Bagian pertama : Hadits-hadits tersebut dhaif dan
tidak jelas, orang yang menyebutkannya berusaha untuk
dapat dijadikan sebagai landasan hukum, namun tetap
tidak membawa hasil.
Bagian kedua : Pada dasarnya, tidak ada dalil
yang menjadi pijakan pendapat yang mereka anut dalam
masalah ini, seperti dalil yang digunakan oleh sebagian
orang, yaitu firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﱠﻠﻟﺍ ﱠﻥِ ﺇ ﺀﺎ ﺸ ﻳ ﻦ ﻤِ ﻟ ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﹶ ﻥﻭ ﺩ ﺎ ﻣ ﺮِ ﻔ ﻐ ﻳ ﻭ ِ ﻪِ ﺑ ﻙ ﺮﺸ ﻳ ﻥﹶ ﺃ ﺮِ ﻔ ﻐ ﻳ ﹶ ﻻ ﻪ {



|| 23 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (
syirik ) itu yang Dia kehendaki ”.(QS. An Nisa’, 48).
Firman Allah “ ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﹶ ﻥ ﻭ ﺩ ﺎ ﻣ ” artinya : “dosa dosa
yang lebih kecil dari pada syirik ”, bukan “ dosa yang
selain syirik ”, berdasarkan dalil bahwa orang yang
mendustakan apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya
adalah kafir, dengan kekafiran yang tidak diampuni,
sedangkan dosa orang yang meninggalkan shalat tidak
termasuk syirik.
Andaikata kita menerima bahwa firman Allah “ ﺎ ﻣ
ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﹶ ﻥ ﻭ ﺩ ” artinya adalah “dosa dosa selain syirik”,
niscaya inipun termasuk dalam bab Al Amm Al Makhsus
(dalil umum yang bersifat khusus), dengan adanya nash-
nash lain yang menunjukkan adanya kekafiran yang
menyebabkan keluar dari Islam termasuk dosa yang tidak
diampuni, sekalipun tidak termasuk syirik.
Bagian ketiga : Dalil umum yang bersifat khusus,
dengan hadits-hadits yang menunjukkan kekafiran orang
yang meninggalkan shalat.
Contohnya : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal
radhiallahu ‘anhu :
' ُ ﷲﺍ ﻪ ﻣﺮ ﺣ ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹸ ﻟ ﻮ ﺳ ﺭ ﻭ ﻩ ﺪ ﺒ ﻋ ﺍ ﺪﻤ ﺤ ﻣ ﱠﻥﹶ ﺃ ﻭ ُ ﷲﺍ ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻻ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﺪ ﻬ ﺸ ﻳ ٍ ﺪ ﺒ ﻋ ﻦِ ﻣ ﺎ ﻣ
ِ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ .'
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah
hamba dan utusan-Nya, kecuali Allah haramkan ia dari api
neraka.”



|| 24 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Inilah salah saru lafadznya, dan diriwayatkan pul a
dengan l afadz seperti ini dari Abu Hurairah, Ubadah bin
Shamit dan Itban bin Malik radhiallahu ‘anhum .
Bagian keempat : Dalil umum yang muqayyad
(dibatasi) oleh suatu ikatan yang tidak mungkin baginya
meninggalknan shalat.
Contohnya : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits yang dituturkan oleh Itban bin Malik
radhiallahu ‘anhu :
' ِ ﻪِ ﺒﹾ ﻠﹶ ﻗ ﻦِ ﻣ ﺎﹰ ﻗ ﺪِ ﺻ ِ ﷲﺍ ﹸ ﻝ ﻮ ﺳ ﺭ ﺍ ﺪﻤ ﺤ ﻣ ﱠﻥﹶ ﺃﻭ ُ ﷲﺍ ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻻ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﺪ ﻬ ﺸ ﻳ ٍ ﺪ ﺣﹶ ﺃ ﻦِ ﻣ ﺎ ﻣ
ِ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ِ ﷲﺍ ﻪ ﻣﺮ ﺣ ﱠﻻِ ﺇ .'
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad
adalah utusan Allah, dengan ikhlas dalam hatinya (semata
mata karena Allah), kecuali Allah haramkan ia dari api neraka.”
Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal radhiallahu
‘anhu :
' ٍ ﺪ ﺣﹶ ﺃ ﻦِ ﻣ ﺎ ﻣ ِ ﻪِ ﺒﹾ ﻠﹶ ﻗ ﻦِ ﻣ ﺎﹰ ﻗ ﺪِ ﺻ ِ ﷲﺍ ﹸ ﻝ ﻮ ﺳ ﺭ ﺍ ﺪﻤ ﺤ ﻣ ﱠﻥﹶ ﺃﻭ ُ ﷲﺍ ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻻ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﺪ ﻬ ﺸ ﻳ
ِ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ِ ﷲﺍ ﻪ ﻣﺮ ﺣ ﱠﻻِ ﺇ .'
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Muhammad
adalah utusan Allah, dengan ikhlas dalam hatinya (semata
mata karena Allah), kecuali Allah haramkan ia dari api neraka”.
(HR. Bukhari).

Dengan dibatasinya pernyataan dua kal imat
syahadat dengan keikhlasan niat dan kejujuran hati,
menunjukkan bahwa shal at tidak mungkin akan
ditinggalkan, karena siapapun yang jujur dan ikhlas dalam



|| 25 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
pernyataannya niscaya kejujuran dan keikhlasannya akan
mendorong dirinya untuk melaksanakan shalat, dan tentu
saja, karena shalat merupakan sendi Islam, serta media
komunikasi antara hamba dan Tuhan.
Maka apabila ia benar-benar mengharapkan
perjumpaan dengan Allah, tentu akan berbuat apapun yang
dapat menghantarkannya kepada tujuannya itu, dan
menjauhi segala apa yang menjadi penghalangnya.
Demikian pula orang yang mengucapkan kal imat
“La Ilaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah” secara
jujur dari lubuk hatinya, tentu kejujurannya itu akan
mendorong dirinya untuk mel aksanakan shalat dengan
ikhlas semata-mata karena All ah, dan mengikuti tuntunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu
termasuk syarat syarat syahadat yang benar.
Bagian kelima : Dalil yang disebutkan secara
muqayyad (dibatasi) oleh suatu kondisi yag menjadi
alasan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat.
Contohnya : Hadits riwayat Ibnu Majah, dari
Hudzaifah bin Al Yaman, ia menuturkan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ِ ﺏ ﻮﱠﺜﻟﺍ ﻲ ﺷ ﻭ ﺱ ﺭ ﺪ ﻳ ﺎ ﻤﹶ ﻛ ﻡﹶ ﻼ ﺳِ ﻹﹾ ﺍ ﺱ ﺭ ﺪ ﻳ ' ﻪﻴﻓﻭ ' ِ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻦِ ﻣ ﻒِ ﺋﺍ ﻮﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻘ ﺒ ﺗ ﻭ
ﹶ ﻥ ﻮﹸ ﻟ ﻮﹸ ﻘ ﻳ ﺯ ﻮ ﺠ ﻌﹾ ﻟﺍ ﻭ ﺮ ﻴِ ﺒﹶ ﻜﹾ ﻟﺍ ﺦ ﻴﺸﻟﺍ · ﱠﻻِ ﺇ ﻪﹶ ﻟِ ﺇ ﹶ ﻻ ِ ﺔ ﻤِ ﻠﹶ ﻜﹾ ﻟﺍ ِ ﻩِ ﺬ ﻫ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻧَ ﺀﺎ ﺑﺁ ﺎ ﻨﹾ ﻛ ﺭ ﺩﹶ ﺃ
ﺎ ﻬﹸ ﻟ ﻮﹸ ﻘ ﻧ ﻦ ﺤ ﻨﹶ ﻓ ُ ﷲﺍ
“Akan hilang Islam ini sebagaimana akan hilang
ornamen yang terdapat pada pakaian”… “dan tinggallah
beberapa kelompok manusia, yaitu kaum lelaki dan wanita yang
tua renta, mereka berkata :”kami mendapatkan orang tua kami
hanya menganut kalimat “La Ilaha Illallah” ini, maka kamipun
menyatakannya (seperti mereka) ”.




|| 26 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Shilah berkata kepada Hudzaifah :” Tidak
berguna bagi mereka kalimat “La Ilah Illallah”, bila
mereka tidak tahu apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu
haji, apa itu zakat.”, maka Hudzaifah radhiallahu ‘anhu
memalingkan mukanya dengan menjawab :” wahai
Shilah, kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari api
neraka”, berulangkali dia katakan seperti itu kepada
Shilah, dan ketiga kalinya dia mengatakan sambil
menatapnya.
Orang-orang yang selamat dari api neraka dengan
kalimat syahadat saja, mereka itu dima'afkan untuk tidak
melaksanakan syari'at Isl am, karena mereka sudah tidak
mengenalnya, sehingga apa yang mereka kerjakan hanyalah
apa yang mereka dapatkan saja, kondisi mereka adalah
serupa dengan kondisi orang yang meninggal dunia sebelum
diperintahkannya syari' at, atau sebelum mereka mendapat
kesempatan untuk mengerjakan syari'at, atau orang yang
masuk Islam di negara kafir tetapi belum sempat mengenal
syari'at ia meninggal dunia.
Kesimpulannya, bahwa dalil-dalil yang
dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa
tidak kafir orang yang tidak shalat atau
meninggalkannya, tidak dapat melemahkan dalil-dalil
yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat
bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir,
karena dalil-dalil yang mereka pergunakan itu dhaif, dan
tidak jelas, atau sama sekali tidak membuktikan
kebenaran pendapat mereka, atau dibatasi oleh suatu
ikatan yang dengan demikian tidak mungkin shalat itu
ditinggalkan, atau dibatasi oleh suatu kondisi yang
menjadi alasan untuk meninggalkan shalat, atau dalil
umum yang bersifat husus dengan adanya nash-nash



|| 27 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan
shalat.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang
meninggalkan shalat adalah kafir, berdasarkan dalil yang
kuat yang tidak dapat disanggah dan disangkal lagi,
untuk itu harus dikenakan kepadanya konsekwensi
hukum karena kekafiran dan riddah (keluar dari Islam),
sesuai dengan prinsip “hukum itu dinyatakan ada atau
tidak ada mengikuti ilat (alasan) nya”.




|| 28 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

2
KONSEKWENSI HUKUM KARENA RIDDAH
YANG DISEBABKAN KARENA
MENINGGALKAN SHALAT ATAU SEBAB
YANG LAINNYA

Ada beberapa kosekwensi hukum baik yang bersifat
duniawi, maupun ukhrawi, yang terjadi karena riddah (
keluar dari Islam ) :

g Bersifat Konsekwensi Hukum Yan : ertama P
: Duniawi

1- Kehilangan haknya sebagai wali.
Oleh karena itu, dia tidak boleh sama sekal i
dijadikan wali dalam perkara yang memerlukan persyaratan
kewalian dalam Isl am, dengan demikian, ia tidak boleh
dijadikan wali untuk anak-anaknya atau selain mereka, dan
tidak boleh menikahkan sal ah seorang putrinya atau putri
orang lain yang berada dibawah kewaliannya.
Para ulama fiqh kita - Rahimahumullah – telah
menegaskan dalam kitab-kitab mereka yang kecil
maupun besar, bahwa disyaratkan beragama islam bagi
seorang wali apabila mengawinkan wanita muslimah,
mereka berkata : “Tidak sah orang kafir menjadi wali bagi
seorang wanita muslimah”.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata : “ Tidak sah
suatu pernikahan kecuali disertai dengan seorang wali
yang bijaksana, dan kebijaksanaan yang paling agung
dan luhur adalah agama Islam, sedang kebodohan yang
paling hina dan rendah adalah kekafiran, kemurtadan
dari Islam.



|| 29 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ﻪ ﺴﹾ ﻔ ﻧ ﻪِ ﻔ ﺳ ﻦ ﻣ ﱠﻻِ ﺇ ﻢﻴِ ﻫﺍ ﺮ ﺑِ ﺇ ِ ﺔﱠﻠ`ﻣ ﻦ ﻋ ﺐﹶ ﻏ ﺮ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ {
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim,
melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri …” (QS.
Al Baqarah, 130).

2- Kehilangan haknya untuk mewarisi harta
kerabatnya.
Sebab orang kafir tidak boleh mewarisi harta orang
Islam, begitu pula orang Islam tidak boleh mewarisi harta
orang kafir, berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan dari
Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
' ِ ﺮ ﻳ ﹶ ﻻ ﻢِ ﻠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺮِ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻻ ﻭ ﺮِ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻢِ ﻠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹸ ﺙ .'
“Tidak boleh seorang muslim mewarisi orang kafir, dan
tidak boleh orang kafir mewarisi orang muslim”. (HR.Bukhari
dan Muslim).

3- Dilarang baginya untuk memasuki kota Makkah
dan tanah haramnya.
Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﺪ ﻌ ﺑ ﻡﺍ ﺮ ﺤﹾ ﻟﺍ ﺪِ ﺠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﺑ ﺮﹾ ﻘ ﻳ ﹶ ﻼﹶ ﻓ ` ﺲﺠ ﻧ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻛِ ﺮ ﺸ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻤﻧِ ﺇ ﹾ ﺍﻮ ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶﺃ ﺎ ﻳ
ﺍﹶ ﺬـ ﻫ ﻢِ ﻬِ ﻣﺎ ﻋ {
“Hai orang orang yang beriman, sesungguhnya orang-
orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Al
Masjidil Haram sesudah tahun ini …” (QS. At Taubah, 28).

4- Diharamkan makan hewan sembelihannya.
Seperti onta, sapi, kambing, dan hewan lainnya,
yang termasuk syarat dimakannya adalah sembelih, karena
salah satu syarat penyembelihannya adalah bahwa



|| 30 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
penyembelihnya harus seorang muslim atau ahli kitab
(yahudi dan nasrani), adapun orang murtad, paganis,
majusi, dan sejenisnya, maka sembelihan mereka tidak
halal.
Al Khazin dalam kitab tafsirnya mengatakan :
“Para ulama telah sepakat bahwa sembelihan orang-
orang majusi dan orang-orang musyrik seperti kaum
musyrikin arab, para penyembah berhala, dan mereka
yang tidak mempunyai al kitab, haram hukumnya.”
Dan Imam Ahmad mengatakan : “Setahu saya,
tidak ada seorangpun yang berpendapat selain demikian,
kecuali orang orang ahli bid’ah.”

5- Tidak boleh dishalatkan jenazahnya dan tidak
boleh dimintakan ampunan dan rahmat untuknya.
Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﱠﻠﻟﺎِ ﺑ ﹾ ﺍﻭ ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻢ ﻬﻧِ ﺇ ِ ﻩِ ﺮ ﺒﹶ ﻗ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻢﹸ ﻘ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ﺕﺎﻣ ﻢ ﻬ ﻨ`ﻣ ٍ ﺪ ﺣﹶ ﺃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﱢﻞ ﺼ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ِ ﻪ
ﹶ ﻥﻮﹸ ﻘِ ﺳﺎﹶ ﻓ ﻢ ﻫ ﻭ ﹾ ﺍﻮ ﺗﺎ ﻣ ﻭ ِ ﻪِ ﻟﻮ ﺳ ﺭ ﻭ {
“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah)
seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri
(mendoakan) di kuburannya, sesungguhnya mereka telah kafir
kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan
fasik”.
(QS. At Taubah, 84).

Dan firman-Nya :
} ِ ﺮ ﺸ ﻤﹾ ﻠِ ﻟ ﹾ ﺍﻭ ﺮِ ﻔ ﻐ ﺘ ﺴ ﻳ ﻥﹶ ﺃ ﹾ ﺍﻮ ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﻭ `ﻲِ ﺒﻨﻠِ ﻟ ﹶ ﻥﺎ ﹶ ﻛ ﺎ ﻣ ﻰ ﺑ ﺮﹸ ﻗ ﻲِ ﻟ ﻭﹸ ﺃ ﹾ ﺍﻮ ﻧﺎﹶ ﻛ ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﲔِ ﻛ
ِ ﻢﻴِ ﺤ ﺠﹾ ﻟﺍ ﺏﺎ ﺤ ﺻﹶ ﺃ ﻢ ﻬﻧﹶ ﺃ ﻢ ﻬﹶ ﻟ ﻦﻴ ﺒ ﺗ ﺎ ﻣ ِ ﺪ ﻌ ﺑ ﻦِ ﻣ , ِ ﻪﻴِ ﺑﹶ ﺄِ ﻟ ﻢﻴِ ﻫﺍ ﺮ ﺑِ ﺇ ﺭﺎﹶ ﻔ ﻐِ ﺘ ﺳﺍ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﺎ ﻣ ﻭ
ﱠﻠِ ﻟ ¯ﻭ ﺪ ﻋ ﻪﻧﹶ ﺃ ﻪﹶ ﻟ ﻦﻴ ﺒ ﺗ ﺎﻤﹶ ﻠﹶ ﻓ ﻩﺎﻳِ ﺇ ﺎﻫ ﺪ ﻋ ﻭ ٍ ﺓ ﺪِ ﻋ ﻮﻣ ﻦ ﻋ ﱠﻻِ ﺇ ﻨِ ﻣ ﹶ ﺃﺮ ﺒ ﺗ ِ ﻪ ` ﻩﺍﻭﻷ ﻢﻴِ ﻫﺍ ﺮ ﺑِ ﺇ ﱠﻥِ ﺇ ﻪ
` ﻢﻴِ ﻠ ﺣ {



|| 31 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang orang yang
beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang orang
musyrik, walaupun mereka itu adalah kaum kerabatnya,
sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu
adalah penghuni neraka jahim, dan permintaan ampun dari
Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah
karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya
itu, tetapi ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah
musuh Allah, maka berlepas diri darinya, sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi
penyantun.” (QS. At Taubah, 114-114).
Do'a seseorang untuk memintakan ampun dan
rahmat bagi orang yang mati dalam keadaan kafir,
apapun sebab kekafirannya, adalah pelanggaran dalam
do'a, dan merupakan suatu bentuk penghinaan kepada
Allah, dan penyimpangan terhadap tuntunan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang orang yang beriman.
Bagaimana mungkin orang yang beriman kepada
Allah dan hari kiamat mau mendo'akan orang yang mati
dalam keadaan kafir, agar diberi ampunan dan rahmat,
padahal dia adalah musuh Allah ? sebagaimana firman
Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ¯ﻭ ﺪ ﻋ ﻪﹼﻠﻟﺍ ﱠﻥِ ﺈﹶ ﻓ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻜﻴِ ﻣ ﻭ ﹶ ﻞﻳِ ﺮ ﺒِ ﺟ ﻭ ِ ﻪِ ﻠ ﺳ ﺭ ﻭ ِ ﻪِ ﺘﹶ ﻜِ ﺋﻶ ﻣ ﻭ ِ ﻪﹼﻠﱢﻟ ﺍﻭ ﺪ ﻋ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﻦ ﻣ
ﻦﻳِ ﺮِ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻠﱢﻟ {
“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat
malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka
sesungguhnya Allah adalah musuhnya orang orang kafir”.
(QS. Al Baqarah, 98 ).
Dalam ayat ini, Allah telah menjelaskan bahwa
Dia adalah musuh orang-orang yang kafir. Yang wajib



|| 32 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
bagi orang mu’min ialah melepaskan diri dari setiap
orang kafir, karena firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﻭ ٌ ﺀﺍ ﺮ ﺑ ﻲِ ﻨﻧِ ﺇ ِ ﻪِ ﻣ ﻮﹶ ﻗ ﻭ ِ ﻪﻴِ ﺑﹶ ﺄِ ﻟ ﻢﻴِ ﻫﺍ ﺮ ﺑِ ﺇ ﹶﻝﺎﹶ ﻗ ﹾ ﺫِ ﺇ ﹶ ﻥﻭ ﺪ ﺒ ﻌ ﺗ ﺎ ﻤ`ﻣ , ﻪﻧِ ﺈﹶ ﻓ ﻲِ ﻧ ﺮﹶ ﻄﹶ ﻓ ﻱِ ﺬﱠﻟﺍ ﺎﱠﻟِ ﺇ
ِ ﻦﻳِ ﺪ ﻬ ﻴ ﺳ {
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan
kaumnya : “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu
sembah, kecuali Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya
Dia akan memberi hidayah kepadaku” . ( QS. Az Zukhruf, 26 –27
).
Dan firman-Nya :
} ﺎ ﻧِ ﺇ ﻢِ ﻬِ ﻣ ﻮﹶ ﻘِ ﻟ ﺍﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ﹾ ﺫِ ﺇ ﻪ ﻌ ﻣ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﻭ ﻢﻴِ ﻫﺍ ﺮ ﺑِ ﺇ ﻲِ ﻓ ﹲ ﺔ ﻨ ﺴ ﺣ ﹲ ﺓ ﻮ ﺳﹸ ﺃ ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﺖ ﻧﺎﹶ ﻛ ﺪﹶ ﻗ
ٌ ﺀﺍ ﺮ ﺑ ﻨِ ﻣ ﹸ ﺓ ﻭﺍ ﺪ ﻌﹾ ﻟﺍ ﻢﹸ ﻜ ﻨ ﻴ ﺑ ﻭ ﺎ ﻨ ﻨ ﻴ ﺑ ﺍ ﺪ ﺑ ﻭ ﻢﹸ ﻜِ ﺑ ﺎ ﻧ ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ِ ﻪﱠﻠﻟﺍ ِ ﻥﻭ ﺩ ﻦِ ﻣ ﹶ ﻥﻭ ﺪ ﺒ ﻌ ﺗ ﺎﻤِ ﻣ ﻭ ﻢﹸﻜ
ُ ﺀﺎ ﻀ ﻐ ﺒﹾ ﻟﺍ ﻭ ﻩ ﺪ ﺣ ﻭ ِ ﻪﱠﻠﻟﺎِ ﺑ ﺍﻮ ﻨِ ﻣ ﺆ ﺗ ﻰﺘ ﺣ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ {
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu
pada Ibrahim dan orang orang yang bersama dengan dia, ketika
mereka berkata kepada kaum mereka : “sesungguhnya kami
berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain
Allah, kami ingkari (kekafiran) mu, dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja …” ( QS. Al
Mumtahanah, 4 ).

Untuk mencapai derajat demikian adalah dengan
mutaba’ah (meneladani) Rasulull ah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ﱠﻠﻟﺍ ﻦ`ﻣ ﹲ ﻥﺍﹶ ﺫﹶ ﺃ ﻭ ﱠﻠﻟﺍ ﱠﻥﹶ ﺃ ِ ﺮ ﺒﹾ ﻛَ ﻷﺍ `ﺞ ﺤﹾ ﻟﺍ ﻡ ﻮ ﻳ ِ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ِ ﻪِ ﻟﻮ ﺳ ﺭ ﻭ ِ ﻪ ﻦ`ﻣ ٌ ﺀﻱِ ﺮ ﺑ ﻪ
ﻪﹸ ﻟﻮ ﺳ ﺭ ﻭ ﲔِ ﻛِ ﺮ ﺸ ﻤﹾ ﻟﺍ {
“Dan ( inilah ) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-
Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa



|| 33 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang orang
musyrik ”.
(QS. At Taubah, 3 ).

6- Dilarang menikah dengan wanita muslimah.
Karena dia kafir, dan orang kafir tidak boleh
menikahi wanita muslimah, berdasarkan nash dan ijma’.
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} َ ﺀﺎ ﺟ ﺍﹶ ﺫِ ﺇ ﺍﻮ ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶ ﺃ ﺎ ﻳ ﻢﹶ ﻠ ﻋﹶ ﺃ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻦ ﻫﻮ ﻨِ ﺤ ﺘ ﻣﺎﹶ ﻓ ٍ ﺕﺍ ﺮِ ﺟﺎ ﻬ ﻣ ﺕﺎﻨِ ﻣ ﺆ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻢﹸ ﻛ
ﻢ ﻬﱠﻟ ﱞ ﻞِ ﺣ ﻦ ﻫ ﻻ ِ ﺭﺎﱠﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﻦ ﻫﻮ ﻌِ ﺟ ﺮ ﺗ ﻼﹶ ﻓ ٍ ﺕﺎ ﻨِ ﻣ ﺆ ﻣ ﻦ ﻫﻮ ﻤ ﺘ ﻤِ ﻠ ﻋ ﹾ ﻥِ ﺈﹶ ﻓ ﻦِ ﻬِ ﻧﺎ ﳝِ ﺈِﺑ
ﻦ ﻬﹶ ﻟ ﹶ ﻥﻮﱡ ﻠِ ﺤ ﻳ ﻢ ﻫ ﻻ ﻭ {
“Hai orang orang yang beriman, apabila perempuan
perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu, maka
hendaklah kamu uji (keimanan) mereka, Allah lebih mengetahui
tentang mereka, jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar
benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada
(suami-suami mereka) orang orang kafir, mereka tidak halal bagi
orang orang kafir itu, dan orang orang kafir itu tidak halal bagi
mereka …”(QS. Al Mumtahanah, 10).

Dikatakan dalam kitab Al Mughni, jilid 6, hal 592
: “Semua orang kafir, selain Ahli kitab, tidak ada
perbedaan pendapat diantara para ulama, bahwa wanita-
wanita dan sembelihan sembelihan mereka haram bagi
orang Islam …, dan wanita-wanita yang murtad (keluar
dari Islam) ke agama apapun haram untuk dinikahi,
karena dia tidak diakui sebagai pemeluk agama baru
yang dianutnya itu, sebab kalau diakui sejak semula
sebagai pemeluk agama itu, maka kemungkinan bisa
dihalalkan.” (seperti wanita yang berpindah dari agama
Islam ke agama ahli kitab, maka diharamkan untuk



|| 34 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
dinikahi, tetapi bila wanita itu sejak semula telah
memeluk agama ahli kitab ini, maka dihalalkan untuk
dinikahi, pent).
Dan disebutkan dalam bab “ orang murtad ”, jilid
8, hal 130 : “Jika dia kawin, tidak sah perkawinannya,
karena tidak ditetapkan secara hukum untuk menikah,
dan selama tidak ada ketetapan hukum untuk
pernikahannya, dilarang pula pelaksanaan
pernikahannya, seperti pernikahan orang kafir dengan
wanita muslimah.”
Sebagaimana diketahui, telah dikemukakan dengan
jelas, bahwa dilarang menikah dengan wanita yang murtad,
dan tidak sah kawin dengan laki-l aki yang murtad.

Dikatakan pula dalam kitab Al-Mughni, jilid 6,
hal 298 : “Apabila salah seorang dari suami istri murtad
sebelum sang istri digauli, maka batallah pernikahan
mereka seketika itu, dan masing-masing pihak tidak
berhak untuk mewarisi yang lain, namun, jika ia murtad
setelah digauli maka dalam hal ini ada dua riwayat :
pertama : segera dipisahkan, kedua : ditunggu sampai
habis masa iddah.”
Dan disebutkan dalam Al-Mughni, jilid 6, hal 639
: “Batalnya pernikahan karena riddah sebelum sang istri
digauli adalah pendapat yang dianut oleh mayoritas para
ulama, berdasarkan banyak dalil, adapun bila terjadi
riddah setelah digauli, maka batallah pernikahan seketika
itu juga, menurut pendapat Imam Malik dan Abu
Hanifah, dan menurut pendapat Imam Syafi'i : ditunggu
sampai habis masa iddahnya, dan menurut Imam Ahmad
ada dua riwayat seperti kedua madzhab tersebut.”



|| 35 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Kemudian disebutkan pula pada halaman 640 :
“Apabila suami istri itu sama sama murtad, maka
hukumnya adal ah seperti halnya apabila salah satu dari
keduanya murtad, jika terjadi sebelum digauli, segera
diceraikan antara keduanya. Dan jika terjadi sesudahnya,
apakah segera diceraikan atau menunggu sampai habis masa
iddah ? ada dua riwayat, dan inilah madzhab Syafi’i.
Selanjutnya disebutkan bahwa menurut Imam
Abu Hanifah, pernikahannya tidaklah batal berdasarkan
istihsan (kebijaksanaan yang diambil berdasarkan suatu
pertimbangan tertentu, tanpa mengacu kepada nash
secara khusus, pent), karena dengan demikian, agama
mereka berbeda, sehingga ibaratnya seperti kalau mereka
sama sama beragama Islam. Kemudian analogi yang
digunakan itu disanggah oleh pengarang Al Mughni dari
segala segi dan aspeknya.
Apabila telah jelas dan nyata bahwa pernikahan
orang murtad dengan laki-laki atau perempuan yang
beragama Islam itu tidak sah, berdasarkan dalil dari Al
Qur’an dan As Sunnah, dan orang yang meninggalkan
shalat adalah kafir berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As
Sunnah serta pendapat para sahabat, maka jelaslah bagi kita
bahwa seseorang apabila tidak melaksanakan shal at, dan
mengawini seorang wanita muslimah, maka pernikahannya
tidak sah, dan tidak halal baginya wanita itu dengan akad
nikah ini, begitu pula hukumnya apabila pihak wanita yang
tidak shalat.
Hal ini berbeda dengan pernikahan orang-orang
kafir, ketika masih dalam keadaan kafir, seperti seorang l aki-
laki kafir kawin dengan wanita kafir, kemudian sang istri
masuk Isl am, jika ia masuk Islam sebelum digauli, maka
batallah pernikahan tadi, tapi jika masuk Isl am sesudah
digauli, belum batal pernikahannya, namun ditunggu :
apabila sang suami masuk Islam sebelum habis masa iddah,



|| 36 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
maka wanita tersebut tetap menjadi istrinya, tetapi apabil a
telah habis masa iddahnya sang suami belum masuk Islam,
maka tidak ada hak baginya terhadap istrinya, karena
dengan demikian nyatalah bahwa pernikahannya tel ah batal ,
sejak sang istri masuk Islam.
Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam ada sejumlah orang kafir yang masuk Islam bersama
istri mereka, dan pernikahan mereka tetap diakui oleh Nabi,
kecuali jika terdapat sebab yang mengharamkan
dilangsungkannya pernikahan tersebut, seperti apabil a suami
istri itu berasal dari agama majusi dan terdapat hubungan
kekeluargaan yang melarang dilangsungkannya pernikahan
di antara keduanya, maka kalau keduanya masuk Islam,
diceraikan seketika itu juga antara mereka berdua, karena
adanya sebab yang mengharamkan tadi.
Masalah ini tidak seperti halnya orang muslim, yang
menjadi kafir karena meninggalkan shalat, kemudian
kawin dengan seorang wanita muslimah, wanita
muslimah itu tidak halal bagi orang kafir berdasarkan
nash dan ijma’, sebagaimana telah diuraikan di atas,
sekalipun orang itu awalnya kafir bukan karena murtad,
untuk itu, jika ada seorang laki-laki kafir kawin dengan
wanita muslimah, maka pernikahannya batal, dan wajib
diceraikan antara keduanya. Apabila laki-laki itu masuk
Islam dan ingin kembali kepada wanita tersebut, maka
harus dengan akad nikah yang baru.

7- Hukum anak orang yang meninggalkan shalat dari
perkawinannya dengan wanita muslimah.
Bagi pihak istri, menurut pendapat orang yang
mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu
tidak kafir, maka anak itu adalah anaknya, dan



|| 37 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
bagaimanapun tetap dinasabkan kepadanya, karena
pernikahannya adalah sah.
Sedang menurut pendapat yang mengatakan bahwa
orang yang meninggalkan shalat itu kafir, dan pendapat ini
yang benar sebagaimana yang tel ah dijelaskan di atas, pada
bahasan pertama, maka kita tinjau terlebih dahulu :
• Jika sang suami tidak mengetahui bahwa
pernikahannya batal, atau tidak meyakini yang
demikian itu, maka anak itu adalah anaknya, dan
dinasabkan kepadanya, karena hubungan suami istri
yang dilakukannya dalam keadaan seperti ini adalah
boleh menurut keyakinannya, sehingga hubungan
tersebut dihukumi sebagai hubungan syubhat (yang
meragukan), dan karenanya anak tadi tetap
diikutkan kepadanya dalam nasab.
• Namun jika sang suami itu mengetahui serta
meyakini bahwa pernikahannya batal, maka anak itu
tidak dinasabkan kepadanya, karena tercipta dari
sperma orang yang berpendapat bahwa hubungan
yang dilakukannya adalah haram, karena terjadi
pada wanita yang tidak dihalalkan baginya.




|| 38 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Konsekwensi Hukum Yang Bersifat : edua K
: Ukhrawi

1- Dicaci dan dihardik oleh para malaikat.
Bahkan para malaikat memukuli seluruh tubuhnya,
dari bagian depan dan belakangnya.
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ﻢ ﻫ ﺭﺎ ﺑ ﺩﹶ ﺃ ﻭ ﻢ ﻬ ﻫﻮ ﺟ ﻭ ﹶ ﻥﻮ ﺑِ ﺮ ﻀ ﻳ ﹸ ﺔﹶ ﻜِ ﺋﻶ ﻤﹾﻟﺍ ﹾ ﺍﻭ ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﻰﱠﻓ ﻮ ﺘ ﻳ ﹾ ﺫِ ﺇ ﻯ ﺮ ﺗ ﻮﹶ ﻟ ﻭ
ِ ﻖﻳِ ﺮ ﺤﹾ ﻟﺍ ﺏﺍﹶ ﺬ ﻋ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻗﻭﹸ ﺫ ﻭ , ﱠﻠﻟﺍ ﱠﻥﹶ ﺃ ﻭ ﻢﹸ ﻜﻳِ ﺪ ﻳﹶ ﺃ ﺖ ﻣﺪﹶ ﻗ ﺎ ﻤِ ﺑ ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﺪﻴِ ﺒ ﻌﹾ ﻠﱢﻟ ٍ ﻡﱠﻼﹶ ﻈِ ﺑ ﺲ ﻴﹶ ﻟ ﻪ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut
nyawa orang-orang yang kafir, seraya memukul muka dan
belakang mereka (dan berkata) : “Rasakanlah olehmu siksa nereka
yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian
itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, sesungguhnya
Allah sekali kali tidak menganiaya hamba-Nya ”. (QS. Al Anfal,
50–51).

2- Pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama
orang orang kafir dan musyrik, karena ia termasuk
dalam golongan mereka.
Firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﹶ ﻥﻭ ﺪ ﺒ ﻌ ﻳ ﺍﻮ ﻧﺎﹶ ﻛ ﺎ ﻣ ﻭ ﻢ ﻬ ﺟﺍ ﻭ ﺯﹶ ﺃ ﻭ ﺍﻮ ﻤﹶ ﻠﹶ ﻇ ﻦﻳِ ﺬﱠﻟﺍ ﺍﻭ ﺮ ﺸ ﺣﺍ , ِ ﻪﱠﻠﻟﺍ ِ ﻥﻭ ﺩ ﻦِ ﻣ
ﻢﻴِ ﺤ ﺠﹾ ﻟﺍ ِ ﻁﺍ ﺮِ ﺻ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﻢ ﻫﻭ ﺪ ﻫﺎﹶ ﻓ }ِ
“(Kepada para malaikat diperintahkan) :
“Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta orang-orang
yang sejenis mereka dan apa-apa yang menjadi sesembahan
mereka, selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke
neraka ”.(QS.Ash Shaffat, 22–23).



|| 39 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
Kata “ ﹶ ﺃ ﺯ ﻭ ﺝﺍ ” bentuk jama’ dari “ ﺯ ﻭ ﺝ ” yang berarti
: jenis, macam. Yakni : “Kumpulkanlah orang-orang yang
musyrik dan orang-orang yang sejenis mereka, seperti
orang-orang kafir dan yang dzalim lainnya.”

3- Kekal untuk selama-lamanya di dalam neraka.
Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
} ﺍ ﲑِ ﻌ ﺳ ﻢ ﻬﹶ ﻟ ﺪ ﻋﹶ ﺃ ﻭ ﻦﻳِ ﺮِ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻌﹶ ﻟ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﱠﻥِ ﺇ , ﻬﻴِ ﻓ ﻦﻳِ ﺪِ ﻟﺎ ﺧ ﺎﻴِ ﻟ ﻭ ﹶ ﻥﻭ ﺪِ ﺠ ﻳ ﺎﱠﻟ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ﺎ
ﺍ ﲑِ ﺼ ﻧ ﻻ ﻭ , ﺎ ﻨ ﻌﹶ ﻃﹶ ﺃ ﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎ ﻨ ﻌﹶ ﻃﹶ ﺃ ﺎ ﻨ ﺘ ﻴﹶ ﻟ ﺎ ﻳ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻟﻮﹸﻘ ﻳ ِ ﺭﺎﻨﻟﺍ ﻲِ ﻓ ﻢ ﻬ ﻫﻮ ﺟ ﻭ ﺐﱠﻠﹶ ﻘ ﺗ ﻡ ﻮ ﻳ
ﹾ ﻻﻮ ﺳﺮﻟﺍ {
“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan
menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak
memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang
penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak balikkan dalam
neraka, mereka berkata : Alangkah baiknya, andaikata kami taat
kepada Allah, dan taat (pula) kepada Rasul ”. (QS. Al Ahzab, 64 –
66).













|| 40 dari 41 ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
PENUTUP

demikianlah apa yang ingin penulis sampaikan,
tentang permasalahan yang besar ini, yang telah melanda
banyak umat manusia .
Pintu taubat masih terbuka bagi siapapun yang
hendak bertaubat, karena itu, saudaraku se Islam, segeralah
bertaubat kepada Allah ta'ala , dengan ikhlas semata mata
karena-Nya, menyesali apa yang telah diperbuat dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta
memperbanyak amal keta'atan.
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
} ٍ ﺕﺎ ﻨ ﺴ ﺣ ﻢِ ﻬِ ﺗﺎﹶ ﺌ`ﻴ ﺳ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹸ ﻝ`ﺪ ﺒ ﻳ ﻚِ ﺌﹶ ﻟ ﻭﹸ ﺄﹶ ﻓ ﺎ ﺤِ ﻟﺎ ﺻ ﺎ ﹰ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻞِ ﻤ ﻋ ﻭ ﻦ ﻣﺁ ﻭ ﺏﺎ ﺗ ﻦ ﻣ ﺎﱠﻟِﺇ
ﺎ ﻤﻴِ ﺣﺭ ﺍ ﺭﻮﹸ ﻔﹶ ﻏ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﻭ , ﺎ ﺑﺎ ﺘ ﻣ ِ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﺏﻮ ﺘ ﻳ ﻪﻧِ ﺈﹶ ﻓ ﺎ ﺤِ ﻟﺎ ﺻ ﹶ ﻞِﻤ ﻋ ﻭ ﺏﺎ ﺗ ﻦ ﻣ ﻭ {
“Kecuali orang orang yang bertaubat, beriman dan
mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti dengan
kebajikan, dan Allah adalah maha pengampun lagi maha
penyayang, dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal
shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan
taubat yang sebenar-benarnya ”. (QS. Al Furqan, 70 – 71).
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita
dalam urusan ini, menunjukkan kepada kita semua
jalan-Nya yang lurus, j alan orang-orang yang dikaruniai
ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada dan
shalihin, Bukan jalan orang-orang yang dimurkai atau
orang-orang yang tersesat.

Sel esai ditulis ol eh :
Al faqir Ilallahi ta’ala
in in in in Muhammad bin Shaleh Al Utsai m Muhammad bin Shaleh Al Utsai m Muhammad bin Shaleh Al Utsai m Muhammad bin Shaleh Al Utsai m
(rahimahullah)
Pada t anggal 23 Shafar 1407 H.

‫ﺣﻜﻢ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ‬
HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT
Oleh :
SYEIKH M UHAMMAD BIN SHALEH AL UTSAIM IN

Penerjemah:
MUHAMMAD YUSUF HARUN, MA.

‫ﺣﻜﻢ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ‬ HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Publication : 1428, Jumadi Tsani 28 / 2007, Juli14

© Copyright Islamic Propagatio n Office in Rabwah
Tidak untuk diperjualb elikan ata u tujuan komersial lainnya. Ebook ini dibagikan dan disebarkan gratis dalam bentuk PDF. Format hard copy tersedia di toko-to ko buku. Disebarkan oleh|| 1 dari 41 Salma al-Atsariyah. Maktabah Ummu ||
Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

‫ﺣﻜﻢ ﺗﺎﺭﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ‬
‫ﺗﺄﻟﻴﻒ :‬
‫ﺍﻟﺸﻴﺦ ﳏﻤﺪ ﺑﻦ ﺻﺎﱀ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﲔ )ﺭﲪﻪ ﺍﷲ (‬

‫ﺗﺮﲨﺔ :‬
‫ﳏﻤﺪ ﻳﻮﺳﻒ ﻫﺎﺭﻭﻥ‬

‫ﻣﺮﺍﺟﻌﺔ :‬
‫ﺩ. ﳏﻤﺪ ﻣﻌﲔ ﺩﻳﻦ ﺍﷲ ﺑﺼﺮﻱ‬ ‫ﺑﻜﺮﻭﻥ ﺷﺎﻓﻌﻲ ﳛﻲ‬ ‫ﳏﻤﺪﻭﻥ ﻋﺒﺪﺍﳊﻤﻴﺪ‬ ‫ﻓﲑﻋﺎﺩﻱ ﻧﺼﺮ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺑﻮ ﺟﻌﻔﺮ‬

‫||‬

‫14 ‪2 dari‬‬

‫||‬

‫‪Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari‬‬

PENDAHULUAN
‫ﻧﻌﻮﺫ ﺑِﺎ ﷲ ﻣ ﻦ‬‫ﻧﺘﻮﺏ ِﺇﹶﻟﻴﻪِ، ﻭ‬‫ﻔﺮﻩ ﻭ‬‫ﻧﺴﺘﻐ‬‫ﻧﺴﺘﻌﻴﻨﻪ ﻭ‬‫ﻧ ﺤﻤﺪﻩ ﻭ‬ ‫ﹶﺍ ﹾﻟ ﺤﻤﺪ ِﻟﱠﻪ‬  ِ ِ ‫ ﹸ‬          ِ     ِ       ِ ‫ ﻠ‬   ‫ﻳﻀﻠ ﻞ‬ ‫، ﻭ ﻣﻦ‬ ‫ﻳﻬﺪﻩ ﺍ ﷲ ﻓ ﻼ ﻣﻀ ﱠ ﹶﻟ‬ ‫ﻦ‬‫ﺎ، ﻣ‬‫ﺎِﻟﻨ‬‫ﺌﹶﺎﺕ ﹶﺃﻋﻤ‬‫ﺎ ﻭﻣﻦ ﺳ‬‫ﻧﻔﺴﻨ‬ ‫ﺷﺮﻭﺭ ﹶﺃ‬ ‫ِ ﹾ‬    ‫ ِ ﻞ ﻪ‬ ‫ ِ ِ ُ ﹶ ﹶ‬   ِ ‫ﻴ‬  ِ  ِ ‫ ِ ﹸ‬   ‫، ﻭﹶﺃﺷﻬﺪ ﹶﺃ ﱠ‬ ‫ﻳﻚ ﹶﻟ‬ ‫ﺪ ﹶﺃﻥ ﻻ ِﺇﹶﻟﻪ ِﺇ ﱠ ﺍ ﷲ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮ‬‫، ﻭﹶﺃﺷﻬ‬ ‫ﺎﺩﻱ ﹶﻟ‬‫ﻓ ﻼ ﻫ‬ ‫ ﻥ‬   ‫ ﻪ‬ ِ  ‫ ﹶ‬   ُ ‫ ﻻ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ‫ ﻪ‬ ِ ‫ﹶ ﹶ‬ ‫ﺗﺒﻌﻬﻢ‬ ‫ﺎِﺑﻪ ﻭﻣﻦ‬‫، ﺻﱠﻰ ﺍ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﹶﻰ ﺁِﻟﻪ ﻭﹶﺃ ﺻ ﺤ‬ ‫ﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﹸﻟ‬‫ﺪ‬ ‫ﻣ ﺤ‬   ِ   ِ   ِ   ِ  ‫ﹶ‬ ُ ‫ﻠ‬ ‫ ﻪ‬        ‫ﻤ‬  : ‫ﺑﻌﺪ‬ ‫ﺎ‬ ‫ﻳﻦ. ﹶﺃ‬  ‫ﻳﻮﻡ ﺍﻟ‬ ‫ﺎﻥ ِﺇﱃ‬‫ِﺑﺈﺣﺴ‬   ‫ ﻣ‬ ‫ِ ﺪ‬ ‫ ٍ ﹶ‬ ِ
Segala pujian hanya milik Allah Ta'ala kita memuji-Nya,meminta pertolongan,memohonkan ampunan dan bertaubat kepada-Nya.Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan dari keburukan amalan-amalan yang telah kita perbuat.Barang siapa yang telah mendapatkan hidayah Allah,maka tak seorangpun yang dapat menyesatkan jalannya dan sesiapa yang telah disesatkan-Nya maka tiada seorangpun yang mampu memberikan sinar petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata,tiada sekutu bagi-Nya,dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya,semoga shalawat dan salam Allah sentiasa tercurahkan kepada beliau,keluarga dan sahabat-sahabatnya dan siapa yang mengikutinya dengan baik hingga akhir zaman,amiiin. Wa ba'du : Sungguh, banyak diantara kaum muslimin sekarang ini yang meremehkan masalah shalat dan

||

3 dari 41

||

Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari

maka penulis ingin memberikan sumbangsihnya dalam permasalahan tersebut melalui tulisan yang sederhana ini. disebabkan karena meninggalkan shalat. dan menjadi ajang perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan para imam mazhab dari dulu hingga kini. dan bahkan ada yang meninggalkannya sama sekali. Oleh karena masalah ini termasuk salah satu masalah besar. || 4 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala dengan taufiqNya menunjukkan kita semua kepada kebenaran. Pembicaraan tentang masalah ini akan diringkas dalam dua bahasan : Pertama : hukum orang yang meninggalkan shalat. karena menganggapnya hal yang sepele.melalaikannya. Kedua : konsekwensi hukum karena riddah (keluar dari Islam). yang melanda umat pada saat ini. atau sebab lainnya.

Malik dan Syafi’i mengatakan : “Orang yang meninggalkan shalat adalah fasik dan tidak kafir”. Apabila masalah ini termasuk masalah yang diperselisihkan. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. bukan hukuman mati”.1 HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT Masalah ini termasuk salah satu masalah ilmu yang amat besar. Dan Allah juga berfirman : ‫ﻮﻥ ﺑِﺎﻟﱠﻪ‬‫ﺗﺆﻣ‬ ‫ﻮﻝ ﺇِﻥ ﹸﻨﺘﻢ‬  ‫ﺍﻟ‬‫ﻭﻩ ِﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻭ‬ ‫ﺎﺯﻋﺘﻢ ﻓِﻲ ﺷﻲﺀ ﻓﺮ‬‫ﺗﻨ‬ ‫} ﻓﺈِﻥ‬ ِ ‫ ِﻨ ﹶ ﻠ‬   ‫ﻠ ِ ﺮ ﺳ ِ ﻛ‬  ‫ﺩ‬ ‫ ٍ ﹶ‬     ‫ﹶ‬ { ‫ﺗﺄﻭِﻳ ﻼ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﺫِﻟﻚ ﺧﻴﺮ ﻭﹶﺃﺣﺴﻦ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹾ ﹰ‬       ‫ ِ ِ ِ ﹶ‬  || 5 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . namun. (QS. As Syura. karena Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : { ‫ﺎ ﺍﺧﺘﻠﻔﺘﻢ ﻓِﻴﻪ ﻣِﻦ ﺷﻲﺀ ﻓ ﺤﻜﻤﻪ ِﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟﱠﻪ‬‫} ﻭﻣ‬ ِ‫ﻠ‬  ‫ ﹾ‬ ‫ٍ ﹶ‬  ِ  ‫ﹶ ﹾ‬   “Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan. maka putusannya (terserah) kepada Allah. diancam hukuman mati.”. jika tidak bertaubat dan tidak mengerjakan shalat. 10). yaitu kekafiran yang menyebabkan orang tersebut keluar dari Islam. Sementara Imam Abu Hanifah. mereka berbeda pendapat mengenai hukumannya. dan menurut Imam Abu Hanifah “diancam hukuman ta’zir (diasingkan) . diperdebatkan oleh para ulama pada zaman dahulu dan masa sekarang. maka yang wajib adalah dikembalikan kepada kitab Allah subhaanahu wa ta’aala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menurut Imam Malik dan Syafi’i “diancam hukuman mati sebagai hadd”.

maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama”.“Jika kamu belainan pendapat tentang sesuatu. Kalau kita kembalikan perbedaan pendapat ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah. dan kufur akbar yang menyebabkan ia keluar dari islam. maka dalam masalah tersebut wajib kembali kepada juri penentu diantara keduanya. Oleh karena masing masing pihak yang berselisih pendapat. sebab masing masing pihak menganggap bahwa dialah yang benar. ( QS. Pertama : Dalil dari Al-Qur'an : Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dalam surat At Taubah ayat 11 : { ‫ﻳﻦ‬ ‫ﻧﻜﻢ ﻓِﻲ ﺍﻟ‬‫ﺍ‬‫ﻛﹶﺎﺓ ﻓﺈﺧﻮ‬ ‫ﺗﻮ ﹾﺍ ﺍﻟ‬‫ﺁ‬‫ ﻼﹶﺓ ﻭ‬ ‫ﻮ ﹾﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﻮ ﹾﺍ ﻭﹶﺃﻗﹶﺎ‬‫ﺎ‬‫} ﻓﺈِﻥ ﺗ‬ ِ ‫ﺪ‬  ‫ ﹸ‬ ِ‫ ﺰ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﻣ ﺼ ﹶ‬ ‫ﹶ ﺑ‬ “Jika mereka bertaubat. 11). maka akan kita dapatkan bahwa Al Qur’an maupun As Sunnah keduanya menunjukkan bahwa or ang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Allah berfirman : || 6 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS. At Taubah. yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. mendirikan shalat dan menunaikan zakat. ucap annya tidak dap at dijadikan hujj ah terhadap pihak lain. 59 ). Dan dalam surat Maryam ayat 59-60 . sementar a tidak ada salah satu dari kedua belah pihak yang pendapatnya lebih patut untuk diterima. An Nisa’. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (As Sunnah).

59-60). yaitu yang terdapat dalam surat At Taubah. (QS. Ini menunjukkan bahwa mereka ketika menyia nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu adalah tidak beriman. beriman …”. Maryam. tetapi tidak mendirikan shalat dan tidak pula menunaikan zakat. maka mereka bukanlah saudara seagama dengan kita. yaitu yang terdapat dalam surat Maryam. maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Relevansi ayat kedua. maka mereka itu akan masuk surga dan tidak akan dirugikan sedikitpun”. Begitu pula. ِﺇﱠﺎ ﻣ‬‫ﻏ‬ ‫ﹾﹶﻤ ﹶ‬ ‫ﻨ ﹶ‬ ‫ﻠ ﹶ‬   ِ  ‫ﹶﹸ‬ ‫ِ ﹶ‬    ‫ﹶﻴ ﻟ‬ { ‫ﺷﻴﺌﹰﺎ‬  “Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Jika mereka bertaubat dari syirik. jika mereka mendirikan shalat. || 7 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .‫ﻳﻠﻘ ﻮ ﻥ‬ ‫ﺍﺕ ﻓﺴﻮﻑ‬‫ﻬﻮ‬ ‫ﻮﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﺒ‬‫ﺍ‬‫ﻼﺓ ﻭ‬ ‫ﻮﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑﻌﺪﻫﻢ ﺧ ﻠﻒ ﹶﺃ ﺿ‬ ‫} ﻓ ﺨﻠ ﻒ ﻣِﻦ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ‫ ِ ﹶ‬ ‫ﻌ ﺸ‬‫ ﻋ ﺼ ﹶ ﺗ‬ ‫ ﹾ‬  ِ ِ   ‫ﹶ‬ ‫ﹶ‬ ‫ﻮ ﻥ‬ ‫ﻳﻈﻠ‬ ‫ﻻ‬‫ﺔ ﻭ‬‫ﻳﺪﺧﹸﻮﻥ ﺍﹾﻟ ﺠ‬ ‫ﺎ ﻓﺄﻭﹶﻟﺌﻚ‬‫ﺎِﻟ ﺤ‬‫ﺁﻣﻦ ﻭﻋﻤﻞ ﺻ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻦ ﺗ‬‫ﺎ . tetapi tidak menunaikan zakat maka mereka pun bukan saudara seagama dengan kita. kecuali orang yang bertaubat. • Hendaklah mereka mendirikan shalat. beriman dan beramal shaleh. bahwa kita dan orang orang musyrik telah menentukan tiga syarat : • Hendaklah mereka bertaubat dari syirik. Dan relevansi ayat yang pertama. bahwa Allah berfirman tentang orang orang yang menyia nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya :” kecuali orang yang bertaubat. dan • Hendaklah mereka menunaikan zakat.

tidak dinyatakan hilang atau tidak ada karena kefasikan dan kekafiran yang sederhana tingkatannya. melainkan jika seseorang keluar secara keseluruhan dari agama . Al Baqarah. Cobalah anda perhatikan firman Allah subhaanahu wa ta’aala dalam ayat qishash karena membunuh : { ‫ﺎﻥ‬‫ﺍﺀ ِﺇﹶﻟﻴﻪ ِﺑﺈﺣﺴ‬‫ﻭﻑ ﻭﹶﺃﺩ‬ ‫ﺎ ﻉ ﺑِﺎ ﹾﻟﻤﻌ‬‫ﺒ‬‫}َﻣﻦ ﻋﻔﻲ ﹶﻟﻪ ﻣ ﻦ ﹶﺃﺧِﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻓﹶﺎ‬ ٍ  ِ ِ  ٌ  ِ ‫ﺮ‬   ‫ ٌ ﺗ‬  ِ  ِ   ِ    “Maka barang siapa yang diberi maaf oleh saudaranya. An Nisa’. Dalam ayat ini. (QS.Persaudaraan seagama tidak dinyatakan hilang atau tidak ada. (QS. 93). kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. Kemudian cobalah anda perhatikan firman Allah subhaanahu wa ta’aala tentang dua golongan dari kaum mu’minin yang berperang : || 8 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)”. Karena Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ‫ﺎ ﻭﻏﻀﺐ ﺍﻟﱠ ﻪ ﻋﻠﻴ ﻪ ﻭﹶﻟﻌﻨ ﻪ‬‫ﺍ ﻓِﻴﻬ‬‫ﺎِﻟﺪ‬‫ﻢ ﺧ‬‫ﺁﺅﻩ ﺟﻬ‬‫ﺍ ﻓ ﺠﺰ‬‫ﺪ‬ ‫ﺘ ﻌ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻘﺘﻞ ﻣ ﺆﻣﻨ‬ ‫ﻦ‬‫} ﻭﻣ‬    ِ  ‫ﹶ‬  ‫ ﻠ‬ ِ ‫ ﹶ‬  ‫ﻨ‬     ‫ﻤ ﹶ‬ ‫ ِ ﻣ‬  ‫ ﹾ‬‫ ﹾ‬ { ‫ﺎ‬‫ﺎ ﻋﻈِﻴﻤ‬‫ ﹶﻟﻪ ﻋﺬﹶﺍﺑ‬ ‫ﻭﹶﺃﻋ‬    ‫ﺪ‬  “Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja. maka balasannya ialah neraka jahannam. Allah subhaanahu wa ta’aala menjadikan orang yang membunuh dengan sengaja sebagai saudara orang yang dibunuhnya. hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. padahal pidana membunuh dengan sengaja termasuk dosa besar yang sangat berat hukumannya. 178).

dan memeranginya adalah kekafiran. 9). Sedangkan ayat suci tadi telah menunjukkan || 9 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu…”." ‫ﺎﺏ ﺍ ﹾﻟﻤﺴﻠﻢ ﻓﺴﻮ ﻕ ﻭﻗﺘﺎﹸﻟﻪ ﻛﻔﺮ‬‫" ﺳﺒ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬ ِ    ‫ِ ِ ﹸ‬   ِ “Menghina seorang Muslim adalah kefasikan. Al Hujurat. sesungguhnya orang orang mu’min adalah bersaudara.” Namun kekafiran ini tidak menyebabkan keluar dari Islam. padahal memerangi orang mu’min termasuk kekafiran. Di sini Allah subhaanahu wa ta’aala menetapkan persaudaraan antara pihak pendamai dan kedua pihak yang berperang. (QS.‫ﺎ ﻋﻠ ﻰ‬‫ﺍﻫﻤ‬‫ﺑﻐﺖ ِﺇﺣﺪ‬ ‫ﺎ ﻓﺈِﻥ‬‫ﺑﻴﻨﻬﻤ‬ ‫ﻮﺍ‬ ‫ﺎﻥ ﻣ ﻦ ﺍ ﹾﻟﻤﺆﻣﻨ ﲔ ﺍﻗﺘﺘﹸﻮﺍ ﻓﺄ ﺻﻠ‬‫} ﻭِﺇﻥ ﻃﹶﺎِﺋﻔﺘ‬ ‫ﹶ‬     ‫ ﹶ‬  ‫ِ ﺤ‬ ‫ﻠ ﹶﹶ‬‫ ﹾ‬ ِِ    ِ ِ ‫ﹶ‬  ‫ﻮ ﺍ‬ ‫ﺗﻔِﻲﺀ ِﺇﻟﹶﻰ ﹶﺃﻣﺮ ﺍﻟﱠﻪ ﻓﺈِﻥ ﻓﹶﺎﺀﺕ ﻓﺄ ﺻﻠ‬ ‫ﻰ‬‫ﺗﺒﻐِﻲ ﺣ‬ ‫ﻯ ﻓﻘﹶﺎِﺗﹸﻮﺍ ﺍﱠﺘِﻲ‬‫ﺍﻷﺧﺮ‬ ‫ِ ﺤ‬ ‫ ﹶﹶ‬ َ ‫ ِ ﻠِ ﹶ‬ َ ‫ﺘ‬  ‫ ﹶ ﻠ ﻟ‬ ُ ‫ﻮﻥ ِﺇﺧﻮ ﺓ‬‫ﺎ ﺍ ﹾﻟﻤﺆﻣ‬‫ﻤ‬‫ ﺍ ﹾﻟﻤﻘﺴﻄﲔ . maka damaikanlah antara keduanya. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : . maka damaikanlah antara keduannya dengan adil dan berlaku adillah. ِﺇ‬ ‫ﻳ ﺤ‬ ‫ﺎ ﺑِﺎ ﹾﻟﻌﺪﻝ ﻭﹶﺃﻗﺴ ﹸﻮﺍ ِﺇ ﱠ ﺍﻟﱠﻪ‬‫ﺑﻴﻨﻬﻤ‬ ‫ ﹲ‬  ‫ ِﻨ ﹶ‬  ‫ ﻧ‬ ِ ِ ‫ ﹾ‬ ‫ ِﺐ‬ ‫ ﹾ ِﻄ ﻥ ﻠ‬ ِ     { ‫ﻳﻜﻢ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﹶﺃﺧﻮ‬ ‫ﻮﺍ‬ ‫ﻓﺄ ﺻﻠ‬  ‫ ﹸ‬    ‫ِ ﺤ‬ ‫ﹶﹶ‬ “Dan jika ada dua golongan dari orang orang mu’min berperang. maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali (kepada perintah Allah). sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil. jika salah satu dari dua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain. sebab andaikata menyebabkan keluar dari islam maka tidak akan dinyatakan sebagai saudara seiman. dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. sebagaimana disebutkan dalam hadits shaheh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan periwayat yang lain.

|| 10 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dan ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah. menuju ke surga atau ke neraka. bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan hukuman bagi orang yang tidak mau membayar zakat. sebagaimana yang terdapat dalam hadits hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam." ‫ﺎﺭ‬‫ﺎ ِﺇﱃ ﺍﻟ‬ ‫ﺔ ﻭِﺇ‬‫ﺎ ِﺇﱃ ﺍ ﹾﻟ ﺠ‬ ‫ﻯ ﺳﺒﻴﻠﻪ ِﺇ‬‫ﻳﺮ‬  ‫" ﹸﺛ‬ ِ ‫ ﻣ ﹶ ﻨ‬ ِ ‫ﻨ‬ ‫ ﻣ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ِ  ‫ﻢ‬ “ … Kemudian ia akan melihat jalannya. sebagaimana tidak dinyatakan hilang karena membunuh dan memerangi orang mu’min. disebutkan dibagian akhir hadits : .” Hadits ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Muslim dalam bab “dosa orang yang tidak mau membayar zakat”. Jika ada pertanyaan : Apakah anda berpendapat bahwa orang yang tidak menunaikan zakat pun dianggap kafir. sebab jika hanya merupakan kefasikan saja atau kekafiran yang sederhana tingkatannya (yang tidak menyebabkan keluar dari Islam) maka persaudaraan seagama tidak dinyatakan hilang karenanya. seperti hadits yang dituturkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Akan tetapi pendapat yang kuat menurut kami ialah yang mengatakan bahwa ia tidak kafir. sebagaimana pengertian yang tertera dalam surat At Taubah tersebut ? Jawabnya adalah : Orang yang tidak menunaikan zakat adalah kafir. Dengan demikian jelaslah bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam.bahwa kedua belah pihak sekalipun berperang mereka masih saudara seiman. namun diancam hukuman yang berat. menurut pendapat sebagian ulama.

(HR. barang siapa yang meninggalkannya maka benar benar ia telah kafir”. sebab andaikata ia menjadi kafir. Dengan demikian manthuq (yang tersurat) dari hadits ini lebih didahulukan dari pada mafhum (yang tersirat) dari ayat yang terdapat dalam surat At Taubah tadi." ‫ﻼﺓ‬ ‫ﺗﺮﻙ ﺍﻟ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻜﻔﺮ‬‫ﺮﻙ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬‫ﺟﻞ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬ ‫" ِﺇ ﱠ‬ ِ‫ ﺼ ﹶ‬  ِ ‫ ِ ﹸ ﹾ‬ ‫ ﺸ‬   ِ  ‫ ﺮ‬  ‫ﻥ‬ “Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. Muslim. maka tidak akan ada jalan baginya menuju surga. ia berkata : aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : . || 11 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak menunaikan zakat tidak menjadi kafir." ‫ﺎ ﻓﻘﺪ ﻛﻔ ﺮ‬‫ﺗﺮﻛﻬ‬ ‫ﻼﺓ ﻓﻤ ﻦ‬ ‫ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺑﻴﻨﻨ‬ ‫" ﹶﺍ ﹾﻟﻌﻬﺪ ﺍﱠﺬﻱ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹶ ﹶ ﹶ‬   ‫ ﺼ ﹶ ﹸ ﹶ‬      ِ ‫ ﻟ‬   “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. dalam kitab : Al-Iman) .Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu. (HR. karena sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ilmu ushul fiqh bahwa manthuq lebih didahulukan dari pada mafhum. Kedua : dalil dari As Sunnah : 1. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : . Turmudzi.Diriwayatkan dari Buraidah bin Al Hushaib radhiallahu ‘anhu. An Nasai.Abu Daud. 2. Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

” 4. 3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :” Tidak. karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min dan orang orang kafir. dan hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan orang kafir tidak sama dengan aturan orang Islam. dan diantara kamu ada yang mengetahui dan menolak kemungkaran kemungkaran yang dilakukan.Diriwayatkan dalam shaheh Muslim. barang siapa yang tidak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir. karena itu. para sahabat bertanya : bolehkah kita memerangi mereka ?. dan barang siapa yang menolaknya selamatlah ia.Yang dimaksud dengan kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam. barang siapa yang mengetahui bebaslah ia. (tidak akan selamat). bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‫ﻧﻜﹶـﺮ‬ ‫ﺑﺮﺉ ، ﻭ ﻣﻦ ﹶﺃ‬ ‫ﺗﻨﻜِـﺮﻭﻥ ، ﻓﻤ ﻦ ﻋﺮ ﻑ‬‫ﺍﺀ ، ﻓﺘﻌﺮﻓ ﻮﻥ ﻭ‬‫ـﺮ‬‫" ﺳﺘﻜﻮﻥ ﹸﺃﻣ‬            ‫ ﹶ ﹶ‬    ‫ ﹶ‬ ‫ ِﹸ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ ﹸ‬ . akan tetapi barang siapa yang rela dan mengikuti. dari Ummu Salamah radliallahu 'anha.Diriwayatkan pula dalam shaheh Muslim. dari Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‫ﺗﺼﻠﻮﻥ‬‫ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭ‬‫ﻧﻜﻢ ، ﻭ‬‫ﻮ‬ِ‫ﻳﺤ‬‫ﻧﻬﻢ ﻭ‬‫ﻮ‬‫ﺗ ﺤ‬ ‫ﻳﻦ‬ ‫ﺘﻜﻢ ﺍﱠﺬ‬ ‫ﺎﺭ ﹶﺃِﺋ‬‫" ﺧﻴ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﱡ‬   ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﱡ‬   ‫ ﹸ‬ ‫ ﺒ‬    ‫ ِ ﺒ‬ ِ ‫ ﻟ‬ ‫ ﻤ ِ ﹸ‬ ِ ‫ﻧﻬﻢ‬‫ﺗﻠﻌﻨﻮ‬‫ﻧﻜﻢ ، ﻭ‬‫ﻳﺒﻐﻀﻮ‬‫ﻧﻬﻢ ﻭ‬‫ﺗﺒﻐﻀﻮ‬ ‫ﻳﻦ‬ ‫ﺘﻜﻢ ﺍﱠﺬ‬ ‫ﺍﺭ ﹶﺃِﺋ‬‫ﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﻭﺷﺮ‬     ‫ ﹾ‬  ‫ ﹸ‬  ِ       ِ   ِ ‫ ﻟ‬ ‫ ﻤِ ﹸ‬ ِ   ِ  ‫ﹶ‬ :‫ﻧﻜﻢ ، ﻗﻴﻞ‬‫ﻳﻠﻌﻨﻮ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹶ‬ ِ  ‫ ﹸ‬  ‫ ﹾ‬ || 12 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . selama mereka mengerjakan shalat." ‫ﺍ‬‫ﺎ ﺻﻠﻮ‬‫ﻧﻘﹶﺎِﺗﻠﻬﻢ ؟ ﻗﹶﺎﻝ : ﻻ ﻣ‬ ‫ﺍ : ﹶﺃﻓ ﻼ‬‫ﺑﻊ ، ﻗﹶﺎﹸﻟﻮ‬‫ﺎ‬‫ﺳﻠﻢ ، ﻭﹶﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﺭ ﺿﻲ ﻭﺗ‬ ‫ﱡ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹶ ﹶ ﹸ‬    ِ     ِ   ِ “Akan ada para pemimpin.

kecuali jika mereka melakukan kakafiran yang nyata. dalam kesulitan maupun kemudahan. serta mereka mendo'akanmu dan kamupun mendoakan mereka.‫ﺎﻥ‬‫ﺑﺮﻫ‬ ‫ﻓﻴﻪ‬  ِ ِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak kami. serta kamu melaknati mereka dan merekapun melaknatimu. selama mereka mendirikan shalat dilingkunganmu. berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu ‘anhu : ‫ﺎ ﹶﺃ ﻥ‬‫ﺎ ﹶﺃﺧﺬ ﻋﻠﻴﻨ‬‫ﺎﻩ ، ﻓﻜﹶﺎﻥ ﻓﻴﻤ‬‫ﻳﻌﻨ‬‫ﺎ‬‫ﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻓﺒ‬‫ﺎﻧ‬‫ﺩﻋ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹶ‬  ِ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹶ‬ ِ ‫ ﹸ‬   ‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﹶﺃ ﹾﺛﺮﺓ ﻋﻠﻴﻨ‬‫ﻳﺴﺮﻧ‬‫ﺎ ﻭﻋﺴﺮِﻧﺎ ﻭ‬‫ﺍﻟ ﱠﺎﻋﺔ ﻓ ﻲ ﻣﻨﺸﻄِﻨﺎ ﻭﻣﻜﺮﻫﻨ‬‫ﻤﻊ ﻭ‬ ‫ﻠﹶﻰ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻳﻌﻨ‬‫ﺎ‬‫ﺑ‬  ‫ﹶ‬ ٍ   ِ   ‫ ﹶ‬   ِ  ‫ ﹾ‬  ‫ ﹶ‬    ‫ ِ ﹶ‬ ‫ ِ ﻄ‬ ‫ﺴ‬  ‫ﺎ ﻋﻨﺪﻛﻢ ﻣﻦ ﺍ ﷲ‬‫ﺍﺣ‬ ‫ﺑ‬ ‫ﺍ‬‫ﺍ ﻛﻔﺮ‬‫ﺗﺮﻭ‬ ‫ـﺮ ﹶﺃﻫﻠﻪ ، ﻗﹶﺎﻝ : ِﺇ ﱠ ﹶﺃ ﻥ‬‫ﺎﺯ ﻉ ﺍ ﹾﻟﺄﻣ‬‫ﻧﻨ‬ ‫، ﻭﹶﺃﻥ ﻻ‬ ِ  ِ  ‫ ﹸ‬ ِ ‫ ﹸ ﹾ ﻮ‬ ‫ﹶ ﻻ ﹾ‬  ‫ﹶ‬  ‫ ﹶ‬ ِ ‫ ﹾ ﹶ‬ . dan mendahulukannya atas kepentingan dari kami. dan tidak boleh memusuhi dan memerangi para pemimpin.‫ ﻼﺓ‬ ‫ﺍ ﻓﻴﻜﻢ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﹶﺃﻗﹶﺎ ﻣﻮ‬‫ﻴﻒ ؟ ﻗﹶﺎﻝ : ﻻ ، ﻣ‬ ‫ﺎِﺑﺬﻫﻢ ﺑِﺎﻟ‬‫ﻧﻨ‬ ‫ـﻮﻝ ﺍ ﷲ ، ﹶﺃﻓ ﻼ‬ ‫ﺎ ﺭ‬‫ﻳ‬ ‫ ﺼ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹸ‬ِ  ‫ ِ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﺴ‬  ‫ ﹶ ِ ﹶ ﹶ ﹸ‬ ‫ﺳ‬ . bolehkan kita memusuhi mereka dengan pedang ?. beliau menjawab :” tidak. beliau ditanya : ya Rasulallah. sedangkan pemimpin kamu yang paling jahat adalah mereka yang kamu benci dan merekapun membencimu. baik dalam keadaan senang maupun susah. dan janganlah || 13 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . diantara bai’at yang diminta dari kami ialah hendaklah kami membai’at untuk senantiasa patuh dan taat.” Kedua hadits yang terakhir ini menunjukkan bahwa boleh memusuhi dan memerangi para pemimpin dengan mengangkat senjata bila mereka tidak mendirikan shalat. yang bisa kita jadikan bukti dihadapan Allah nanti. dan kamipun membaiat beliau." “Pemimpin kamu yang terbaik ialah mereka yang kamu sukai dan merekapun menyukai kamu.

syahadat “La ilaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah”. atau disebutkan dalam suatu kondisi tertentu yang menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat. sebab dalil-dalil yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat bersifat khusus. maka perbuatan mereka meninggalkan shalat yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai alasan untuk menentang dan memerangi mereka dengan pedang adalah kekafiran yang terang terangan yang bisa kita jadikan bukti dihadapan Allah nanti. atau bersifat umum sehingga perlu difahami menurut dalil-dalil yang menunjukkan kekafiran or ang yang meninggalkan shalat. sabda beliau :” kecuali jika kamu melihat kekafiran yang terang terangan yang ada buktinya bagi kita dari Allah. atau dia adalah mu’min. namun nash-nash tersebut muqayyad (dibatasi) oleh ikatan-ikatan yang terdapat dalam nash itu sendiri. Kalaupun ada hanyalah nash-nash yang menunjukkan keutamaan tauhid. yang dengan demikian tidak mungkin shalat itu ditinggalkan.kami menentang orang yang telah terpilih dalam urusan (kepemimpinan) ini. dan pahala yang diperoleh karenanya. Jika ada pertanyaan : Apakah nash-nash yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat itu tidak boleh diberlakukan pada orang yang meninggalkannya karena mengingkari hukum kewajibannya ? || 14 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . ***** Tidak ada satu nash pun dalam Al Qur’an ataupun As Sunnah yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir.” Atas dasar ini. sedangkan dalil yang khusus itu harus didahulukan dari pada dalil yang umum.

Allah telah menetapkan hukum kafir atas dasar meninggalkan shalat. (QS. bukan atas dasar mengakui kewajibannya. An Nahl. 44).Jawab : Tidak boleh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak bersabda : ”Batas pemisah antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah mengingkari kewajiban shalat”. atau “perjanjian antara kita dan mereka ialah pengakuan terhadap kewajiban shalat. Kedua : Menjadikan atribut yang tidak ditetapkan oleh Allah sebagai landasan hukum. maka tidak menerima pengertian yang demikian ini berarti menyalahi penjelasan yang dibawa oleh Al Qur’an. (QS. Allah tidak berfirman : ”Jika mereka bertaubat dan mengakui kewajiban shalat”. 89). barang siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah kafir”. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : { ‫ﺎ ﱢﻜ ﱢ ﺷﻲﺀ‬‫ﺎﻧ‬‫ﺎﺏ ِﺗﺒﻴ‬‫ﺎ ﻋﻠﻴﻚ ﺍ ﹾﻟﻜﺘ‬‫ ﹾﻟﻨ‬ ‫ﻧ‬‫} ﻭ‬ ٍ   ‫ ﻟ ﹸ ﻞ‬  ِ   ‫ﹶ‬ ‫ ﺰ‬ “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu …”. || 15 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Seandainya pengertian ini yang dimaksud oleh Allah subhaanahu wa ta’aala dan Rasul-Nya. { ‫ﻝ ِﺇﹶﻟﻴﻬﻢ‬ ‫ﻧ‬ ‫ﺎ‬‫ﺎﺱ ﻣ‬‫ﻦ ﻟِﻠ‬‫ﺎ ِﺇﹶﻟﻴﻚ ﺍﻟ ﱢﻛﺮ ِﻟﺘﺒ‬‫} ﻭﺃﹶﻧﺰ ﹾﻟﻨ‬  ِ  ‫ ﻨ ِ ﺰ ﹶ‬ ‫ﻴ‬   ‫ ﺬ ﹾ‬    “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka …”. An Nahl. karena hal itu akan mengakibatkan dua masalah yang berbahaya : Pertama : Menghapuskan atribut yang telah ditetapkan oleh Allah dan dijadikan sebagai dasar hukum. dan menetapkan persaudaraan seagama atas dasar mendirikan shalat. bukan atas dasar mengingkari kewajibannya.

namun dia mengingkari kewajiban shalat tersebut. dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada kita : ‫ﺎ ﻋﻤﺪ ﺍ‬‫ﺗﺮﻛﻬ‬ ‫ﺍ ، ﻓ ﻤﻦ‬‫ ﻼﺓ ﻋﻤﺪ‬ ‫ﺗﺘﺮ ﹸﻮﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﺍ ﺑِﺎ ﷲ ﺷﻴﺌﹰﺎ ، ﻭﻻ‬‫ﺗﺸﺮﻛﻮ‬ ‫" ﻻ‬  ‫ﹶ‬  ‫ﹶ‬   ‫ﻛ ﺼ ﹶ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬  ِ ‫ِ ﹸ‬ ‫ﹶ‬ . Dengan demikian jelaslah bahwa tidak benar jika nash-nash tersebut dikenakan kepada orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. yang benar ialah bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dengan kekafiran yang menyebabkannya keluar dari Islam. barang siapa yang benar-benar dengan sengaja meninggalkan shalat maka ia telah keluar dari Islam”. tanpa alasan karena tidak mengetahuinya.Mengingkari kewajiban shalat lima waktu tentu menyebabkan kekafiran bagi pelakunya. dan hal-hal yang wajib dan sunnah." ‫ﺍ ﻓﻘ ﺪ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺍ ﹾﻟﻤﱠ ﺔ‬‫ﺪ‬ ‫ﻣﺘﻌ‬ ِ ‫ ِﻠ‬      ‫ﻤ ﹶ ﹶ‬  “Janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah sedikitpun. Demikian pula jika hadits ini kita kenakan kepada orang yang meninggalkan s halat karena mengingkari kewajibannya. rukun. maka orang tersebut telah kafir. dan janganlah kamu sengaja meninggalkan shalat. maka penyebutan kata “shalat” secara || 16 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Abi Hatim dalam kitab Sunan. tanpa ada suatu alasan apapun. Kalau ada seseorang yang mengerjakan shalat lima waktu dengan melengkapi segala syarat. baik dia mengerjakan shalat atau tidak mengerjakannya. sekalipun dia tidak meninggalkan shalat.

seperti kekafiran yang disebutkan dalam hadits dibawah ini. Jika ada pertanyaan : Apakah kekafiran bagi orang yang meninggalkan shalat tidak dapat diartikan sebagai kufur ni’mat. berarti tidak ada lagi iman yang tersisa pada dirinya. dan haji. bukan kufur millah (yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam). barang siapa yang meninggalkan salah satu kewajiban tersebut karena mengingkari kewajibannya. jika tanpa alasan karena tidak mengetahui. maka menurut dalil 'aqli nadzari (logika ) pun demikian. puasa. Dengan demikian. apabila seseorang meninggalkan shalat. termasuk zakat. Bagaimana seseorang dikatakan memiliki iman. maka ia telah kafir. Hukum ini bersifat umum. yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba : . Dan pahala yang dijanjikan bagi orang yang mengerjakannya menuntut kepada setiap orang yang berakal dan beriman untuk segera melaksanakan dan mengerjakannya.khusus dalam nash-nash tersebut tidak ada gunanya sama sekali. Karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir menurut dalil sam’i atsari (Al -Qur’an dan As Sunnah). atau diartikan sebagai kekafiran yang tingkatannya dibawah kufur akbar." ‫ﺖ‬‫ﺎﺣﺔ ﻋﻠﹶﻰ ﺍ ﹾﻟﻤ‬‫ﻴ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺴﺐ ، ﻭ‬‫ﺎ ِﺑﻬﻢ ﻛﻔﺮ : ﺍﹶﻟ ﱠﻌ ﻦ ﻓِﻲ ﺍﻟ‬‫ﺎﺱ ﻫﻤ‬‫ﺎﻥ ﺑِﺎﻟ‬‫"ِﺍ ﹾﺛﻨ‬ ِ ‫ﻴ‬  ‫ﹸ‬ ‫ﻨ‬ ِ ‫ﻨ‬  ‫ ﻄ‬‫ ﹸﹾ‬ ِ  ِ ‫ِ ﻨ‬ || 17 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . sementara dia meninggalkan shalat yang merupakan sendi agama. Serta ancaman bagi orang yang meninggalkannya menuntut kepada setiap orang yang berakal dan beriman untuk tidak meninggalkan dan melalaikannya.

Oleh karena itu kekafiran ini harus difahami sesuai dengan arti yang dikandungnya. karena beberapa alasan: Pertama : bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara kekafiran dan keimanan. tidak saling bertentangan. dan batas ialah yang membedakan apa saja yang dibatasi. Ketiga : Di sana ada nash-nash lain yang menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. sehingga nashnash itu akan sinkron dan harmonis. yang dengan kekafirannya menyebabkan ia keluar dari Islam. dan memeranginya adalah kekafiran”. dan tidak bercampur antara yang satu dengan yang lain. serta memisahkannya dari yang lain. karena dia telah menghancurkan salah satu sendi Islam. maka penyebutan kafir terhadap orang yang meninggalkannya berarti kafir dan keluar dari Islam. sehingga kedua hal yang dibatasi berlainan.“Ada dua perkara terdapat pada manusia. Jawab : Pengertian seperti ini dengan mengacu pada contoh tersebut tidak benar. || 18 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . . yang keduanya merupakan suatu kekafiran bagi mereka. antara orang orang mu’min dan orang orang kafir. Kedua : Shalat adalah salah satu rukun Islam. berbeda halnya dengan penyebutan kafir terhadap orang yang mengerjakan salah satu macam perbuatan kekafiran. yaitu : mencela keturunan dan meratapi orang yang telah mati”." ‫ﺎﹸﻟﻪ ﻛﻔﺮ‬‫ﺎﺏ ﺍ ﹾﻟﻤﺴﻠﻢ ﻓﺴﻮ ﻕ ﻭﻗﺘ‬‫" ﺳﺒ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬ ِ    ‫ِ ِ ﹸ‬   ِ “Menghina seorang muslim adalah kefasikan.

jadi kedua sifat ini adalah suatu kekafiran. Di sini digunakan kata “Al”.Keempat : Penggunaan kata kufur berbeda-beda. ketika menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : . Ia mengatakan : sabda Nabi “ Keduanya merupakan kekafiran” artinya : kedua sifat ini adalah suatu kekafiran yang masih terdapat pada manusia." ‫ﺖ‬‫ﺎﺣﺔ ﻋﻠﹶﻰ ﺍ ﹾﻟﻤ‬‫ﻴ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺴﺐ ، ﻭ‬‫ﺎ ِﺑﻬﻢ ﻛﻔﺮ : ﺍﹶﻟ ﱠﻌ ﻦ ﻓِﻲ ﺍﻟ‬‫ﺎﺱ ﻫﻤ‬‫ﺎﻥ ﺑِﺎﻟ‬‫"ِﺍ ﹾﺛﻨ‬ ِ ‫ﻴ‬  ‫ﹸ‬ ‫ﻨ‬ ِ ‫ﻨ‬  ‫ ﻄ‬‫ ﹸﹾ‬ ِ  ِ ‫ِ ﻨ‬ “Ada dua perkara terdapat pada manusia. tidak berarti bahwa setiap orang yang terdapat pada dirinya salah satu bentuk kekafiran dengan sendirinya menjadi kafir karenanya secara mutlak. hal 70." ‫ﻼﺓ‬ ‫ﺗﺮﻙ ﺍﻟ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻜﻔﺮ‬‫ﺮﻙ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬‫ﺟﻞ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬ ‫" ِﺇ ﱠ‬ ِ‫ ﺼ ﹶ‬  ِ ‫ ِ ﹸ ﹾ‬ ‫ ﺸ‬   ِ  ‫ ﺮ‬  ‫ﻥ‬ “Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. || 19 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dalam kitab al iman). (HR. tentang meninggalkan shalat beliau bersabda : . atau “kafar a” sebagai kata kerja. karena sebelum itu keduanya termasuk perbuatan-perbuatan kafir. Muslim. bukan kekafiran mutlak yang menyebabkan keluar dari Islam. tetapi masih terdapat pada manusia. yang keduanya merupakan suatu kekafiran bagi mereka. yaitu : mencela keturunan dan meratapi orang mati”. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang bernama Iqtidha ashshirath al mustaqim cetakan As Sunnah al Muhammadiyah. berbeda dengan penggunaan kata kufur secara nakirah (indefinite). Namun. atau bahwa dia telah melakukan suatu kekafiran dalam perbuatan ini. dalam bentuk ma’rifah (definite). yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kekafiran yang sebenarnya.

yang juga merupakan salah satu pendapat Imam Asy Syafii. maka yang benar adalah pendapat yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hanbal. maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Berbeda dengan kata “ Kufr ” dalam bentuk nakirah (tanpa kata “ al ”) yang digunakan dalam kalimat positif. maka mereka itu akan || 20 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . ***** Apabila sudah jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. dalam kitab al iman) . keluar dari Islam. Penggunaan kata “Al Kufr” dalam bentuk ma’rifah (dengan kata “ al”) sebagaimana disebut dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : .sehingga terdapat pada dirinya hakekat kekafiran. Muslim. (HR. tidak setiap orang yang terdapat dalam dirinya salah satu bentuk keimanan dengan sendirinya menjadi mu’min. beriman dan beramal shaleh. kecuali orang yang bertaubat. berdasarkan dalil-dalil ini. sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ﻳﻠﻘ ﻮ ﻥ‬ ‫ﺍﺕ ﻓﺴﻮﻑ‬‫ﻬﻮ‬ ‫ﻮﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﺒ‬‫ﺍ‬‫ﻼﺓ ﻭ‬ ‫ﻮﺍ ﺍﻟ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑﻌﺪﻫﻢ ﺧ ﻠﻒ ﹶﺃ ﺿ‬ ‫} ﻓ ﺨﻠ ﻒ ﻣِﻦ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ‫ ِ ﹶ‬ ‫ﻌ ﺸ‬‫ ﻋ ﺼ ﹶ ﺗ‬ ‫ ﹾ‬  ِ ِ   ‫ﹶ‬ ‫ﹶ‬ ‫ﻮ ﻥ‬ ‫ﻳﻈﻠ‬ ‫ﻻ‬‫ﺔ ﻭ‬‫ﻳﺪﺧﹸﻮﻥ ﺍﹾﻟ ﺠ‬ ‫ﺎ ﻓﺄﻭﹶﻟﺌﻚ‬‫ﺎِﻟ ﺤ‬‫ﺁﻣﻦ ﻭﻋﻤﻞ ﺻ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻦ ﺗ‬‫ﺎ . ِﺇﱠﺎ ﻣ‬‫ﻏ‬ ‫ﹾﹶﻤ ﹶ‬ ‫ﻨ ﹶ‬ ‫ﻠ ﹶ‬   ِ  ‫ﹶﹸ‬ ‫ِ ﹶ‬    ‫ﹶﻴ ﻟ‬ { ‫ﺷﻴﺌﹰﺎ‬  “Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Begitu pula." ‫ﻼﺓ‬ ‫ﺗﺮﻙ ﺍﻟ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻜﻔﺮ‬‫ﺮﻙ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬‫ﺟﻞ ﻭ‬ ‫ﺑﻴﻦ ﺍﻟ‬ ‫" ِﺇ ﱠ‬ ِ‫ ﺼ ﹶ‬  ِ ‫ ِ ﹸ ﹾ‬ ‫ ﺸ‬   ِ  ‫ ﺮ‬  ‫ﻥ‬ “Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.

Abu Hurairah. Muadz bin Jabal. Abdullah bin Syaqiq mengatakan : ”Para sahabat Nabi radhiallahu 'anhum berpendapat bahwa tidak ada satupun amal yang bila ditinggalkan menyebabkan kafir. dan demikianlah pendapat yang dianut oleh para ulama sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang ini.S. dan ia berkata : “Dan sepengetahuan kami tidak ada seorang pun diantara sahabat Nabi yang menyalahi pendapat mereka ini ”. seorang Imam terkenal mengatakan : “Telah dinyatakan dalam hadits shahih dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. dan para sahabat lainnya. (Q. keterangan Ibnu Hazm ini telah dinukil oleh Al Mundziri dalam kitabnya At || 21 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . bahkan banyak ulama yang menyebutkan bahwa pendapat ini merupakan ijma’ (consensus) para sahabat.masuk surga dan tidak akan dirugikan sedikitpun”. Ishaq bin Rahawaih rahimahullah . Dan pendapat inilah yang dianut oleh mayoritas sahabat. 59-60). Ath Thahaqi pun menukilkan demikian dari Imam Syafii sendiri. Maryam. Disebutkan pula oleh Ibnu Al Qayyim dalam “ Kitab Ash Shalat ” bahwa pendapat ini merupakan salah satu dari dua pendapat yang ada dalam madzhab Syafi’i. bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tanpa ada suatu halangan sehingga lewat waktunya adalah kafir. kecuali shalat”. Abdurrahman bin Auf.” Dituturkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah bahwa pendapat tersebut telah dianut oleh Umar. (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Al Hakim menyatakannya shahih menurut persyaratan Imam Bukhari dan Muslim ).

Zuhair bin Harb. ia berkata lebih lanjut : “ dan diantara para ulama yang bukan dari sahabat adalah Ahmad bin Hanbal. atau masuk surga. dan ada tambahan lagi dari para sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud. Ayub As Sikhtiyani. Abu Darda’ rodhiallohu ‘anhu. yaitu firman Allah subhaanahu wa ta’aala : { ‫ﺎﺀ‬‫ﻳﺸ‬ ‫ﻦ‬‫ﻭﻥ ﺫِﻟﻚ ِﻟ ﻤ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻐﻔﺮ ﻣ‬‫ﺮﻙ ِﺑﻪ ﻭ‬‫ﻳﺸ‬ ‫ﻳﻐﻔﺮ ﺃﹶﻥ‬ ‫} ِﺇ ﱠ ﺍﻟﱠﻪ ﻻ‬  ‫ ﺩ ﹶ ﹶ‬ ِ  ِ    ِ ‫ ﹶ‬‫ﻥ ﻠ‬ || 22 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dan yang semisalnya.Targhib Wat Tarhib. orang yang menyebutkannya berusaha untuk dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Ishaq bin Rahawaih. namun tetap tidak membawa hasil. seperti dalil yang digunakan oleh sebagian orang. Abu Daud At Thayalisi. Jabir bin Abdillah. Al Hakam bin Utbaibah. tidak ada dalil yang menjadi pijakan pendapat yang mereka anut dalam masalah ini. atau tidak masuk neraka. Bagian kedua : Pada dasarnya. atau mu’min. An Nakha'i. Abdullah bin Abbas. dan lain lainnya. Abdullah bin Al Mubarak. Abu Bakar bin Abi Syaibah. Siapapun yang memperhatikan dalil-dalil itu dengan seksama pasti akan menemukan bahwa dalil-dalil itu tidak keluar dari lima bagian dan kesemuanya tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.” Jika ada pertanyaan : Apakah jawaban atas dalildalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir ? Jawab : Tidak disebutkan dalam dalil-dalil ini bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir. Bagian pertama : Hadits-hadits tersebut dhaif dan tidak jelas.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. bukan “ dosa yang selain syirik ”. 48). berdasarkan dalil bahwa orang yang mendustakan apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya adalah kafir.” || 23 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .(QS." ‫ﺎﺭ‬‫ﻋﻠﹶﻰ ﺍﻟ‬ ِ‫ ﻨ‬ “Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. dengan hadits-hadits yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat. Contohnya : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu : ‫ﻣﻪ ﺍ ﷲ‬ ‫ﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﹸﻟﻪ ِﺇ ﱠ ﺣ‬‫ﺪ‬ ‫ﻳﺸﻬﺪ ﹶﺃﻥ ﻻ ِﺇﹶﻟﻪ ِﺇ ﱠ ﺍ ﷲ ﻭﹶﺃ ﱠ ﻣ ﺤ‬ ‫ﺎ ﻣﻦ ﻋﺒﺪ‬‫" ﻣ‬ ُ   ‫ﺮ‬ ‫ ﻻ‬         ‫ﻤ‬  ‫ ﻥ‬ ُ ‫ ﻻ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ٍ    ِ . dengan kekafiran yang tidak diampuni. dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari ( syirik ) itu yang Dia kehendaki ”. sekalipun tidak termasuk syirik. dengan adanya nashnash lain yang menunjukkan adanya kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam termasuk dosa yang tidak diampuni. kecuali Allah haramkan ia dari api neraka. sedangkan dosa orang yang meninggalkan shalat tidak termasuk syirik. Andaikata kita menerima bahwa firman Allah “ ‫ﺎ‬‫ﻣ‬ ‫ﺩﻭﻥ ﺫِﻟﻚ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ ” artinya adalah “dosa dosa selain syirik”. Firman Allah “ ‫ﺎ ﺩﻭﻥ ﺫِﻟﻚ‬‫ﻣ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ ” artinya : “dosa dosa yang lebih kecil dari pada syirik ”. niscaya inipun termasuk dalam bab Al Amm Al Makhsus (dalil umum yang bersifat khusus). An Nisa’. Bagian ketiga : Dalil umum yang bersifat khusus.

dan Muhammad adalah utusan Allah. (HR. Ubadah bin Shamit dan Itban bin Malik radhiallahu ‘anhum . Bagian keempat : Dalil umum yang muqayyad (dibatasi) oleh suatu ikatan yang tidak mungkin baginya meninggalknan shalat. kecuali Allah haramkan ia dari api neraka”. dengan ikhlas dalam hatinya (semata mata karena Allah). dan Muhammad adalah utusan Allah. Dengan dibatasinya pernyataan dua kalimat syahadat dengan keikhlasan niat dan kejujuran hati. Bukhari). menunjukkan bahwa shalat tidak mungkin akan ditinggalkan." ‫ﺎﺭ‬‫ﻣﻪ ﺍ ﷲ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﻟ‬ ‫ِﺇ ﱠ ﺣ‬ ِ ‫ ﻨ‬ ِ   ‫ﺮ‬ ‫ﻻ‬ “Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu : ‫ﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍ ﷲ ﺻﺪﻗﹰﺎ ﻣﻦ ﻗﻠﺒ ﻪ‬‫ﺪ‬ ‫ﹶﺃ ﱠ ﻣ ﺤ‬‫ﻳﺸﻬﺪ ﹶﺃﻥ ﻻ ِﺇﹶﻟﻪ ِﺇ ﱠ ﺍ ﷲ ﻭ‬ ‫ﺎ ﻣﻦ ﹶﺃﺣﺪ‬‫" ﻣ‬ ِ ِ‫ ﹶ ﹾ‬ ِ  ِ ِ ‫ ﹸ‬   ‫ﻤ‬  ‫ ﻻ ُ ﻥ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ٍ   ِ ." ‫ﺎﺭ‬‫ﻣﻪ ﺍ ﷲ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﻟ‬ ‫ِﺇ ﱠ ﺣ‬ ِ ‫ ﻨ‬ ِ   ‫ﺮ‬ ‫ﻻ‬ “Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. karena siapapun yang jujur dan ikhlas dalam || 24 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dan diriwayatkan pula dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurair ah. dengan ikhlas dalam hatinya (semata mata karena Allah).Inilah salah saru lafadznya. Contohnya : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dituturkan oleh Itban bin Malik radhiallahu ‘anhu : ‫ﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍ ﷲ ﺻﺪﻗﹰﺎ ﻣﻦ ﻗﻠﺒ ﻪ‬‫ﺪ‬ ‫ﹶﺃ ﱠ ﻣ ﺤ‬‫ﻳﺸﻬﺪ ﹶﺃﻥ ﻻ ِﺇﹶﻟﻪ ِﺇ ﱠ ﺍ ﷲ ﻭ‬ ‫ﺎ ﻣﻦ ﹶﺃﺣﺪ‬‫" ﻣ‬ ِ ِ‫ ﹶ ﹾ‬ ِ  ِ ِ ‫ ﹸ‬   ‫ﻤ‬  ‫ ﻻ ُ ﻥ‬ ‫ ﹾ ﹶ‬   ٍ   ِ . kecuali Allah haramkan ia dari api neraka.

pernyataannya niscaya kejujuran dan keikhlasannya akan mendorong dirinya untuk melaksanakan shalat. dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian kelima : Dalil yang disebutkan secara muqayyad (dibatasi) oleh suatu kondisi yag menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat. dan tentu saja. dari Hudzaifah bin Al Yaman. mereka berkata :”kami mendapatkan orang tua kami hanya menganut kalimat “La Ilaha Illallah” ini. || 25 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . maka kamipun menyatakannya (seperti mereka) ”. karena shalat merupakan sendi Islam. dan menjauhi segala ap a yang menjadi penghalangnya. ser ta media komunikasi antar a hamba dan Tuhan. tentu kejujurannya itu akan mendorong dirinya untuk melaksanakan shalat dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Maka apabila ia benar-benar menghar apkan perjumpaan dengan Allah. Contohnya : Hadits riwayat Ibnu Majah. tentu akan berbuat apapun yang dapat menghantarkannya kepada tujuannya itu. yaitu kaum lelaki dan wanita yang tua renta. karena hal itu termasuk syarat syarat syahadat yang benar. ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‫ﺎﺱ‬‫ﺍِﺋﻒ ﻣﻦ ﺍﻟ‬‫ﺗﺒﻘﹶﻰ ﻃﻮ‬‫ﻳﺪﺭﺱ ﻭﺷﻲ ﺍﻟﱠﻮﺏ " ﻭﻓﻴﻪ " ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﺪﺭﺱ ﹾﺍﻹﺳ ﻼﻡ ﻛﻤ‬ ِ ‫ ﻨ‬ِ  ‫ ﹶ‬ ِ  ‫ ﺜ‬      ‫ ﹶ‬‫ ﹶ‬ ِ    ‫ﺎ ﻋﻠﹶﻰ ﻫﺬﻩ ﺍ ﹾﻟﻜﻠﻤﺔ ﻻ ِﺇﹶﻟﻪ ِﺇ ﱠ‬‫ﺎﺀﻧ‬‫ﺎ ﺁﺑ‬‫ﻳﻘﻮﹸﻟﻮﻥ : ﹶﺃﺩﺭﻛﻨ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻌ ﺠﻮﺯ‬‫ﻴ ﺦ ﺍ ﹾﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭ‬ ‫ﺍﻟ‬ ‫ ﻻ‬ ‫ ِ ﹶ‬ ِ‫ ِ ِ ﹶ‬  َ ‫ ﹾ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﹸ‬      ِ‫ ﹶ‬ ‫ﺸ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧﻘﻮﹸﻟﻬ‬ ‫ﺍ ﷲ ﻓﻨ ﺤﻦ‬  ‫ ﹸ‬  ‫ُ ﹶ‬ “Akan hilang Islam ini sebagaimana akan hilang ornamen yang terdapat pada pakaian”… “dan tinggallah beberapa kelompok manusia. Demikian pula or ang yang mengucapkan kalimat “La Ilaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah” secar a jujur dari lubuk hatinya.

apa itu puasa. bila mereka tidak tahu apa itu shalat. kondisi mereka adalah serupa dengan kondisi orang yang meninggal dunia sebelum diperintahkannya syari'at. Orang-orang yang selamat dari api neraka dengan kalimat syahadat saja. Kesimpulannya.Shilah berkata kepada Hudzaifah :” Tidak berguna bagi mereka kalimat “La Ilah Illallah”. atau dibatasi oleh suatu kondisi yang menjadi alasan untuk meninggalkan shalat. maka Hudzaifah radhiallahu ‘anhu memalingkan mukanya dengan menjawab :” wahai Shilah. berulangkali dia katakan seperti itu kepada Shilah. atau dibatasi oleh suatu ikatan yang dengan demikian tidak mungkin shalat itu ditinggalkan. karena dalil-dalil yang mereka pergunakan itu dhaif. dan tidak jelas. atau sebelum mereka mendapat kesempatan untuk mengerjakan syari'at. atau or ang yang masuk Islam di negar a kafir tetapi belum sempat mengenal syari'at ia meninggal dunia. apa itu zakat. dan ketiga kalinya dia mengatakan sambil menatapnya. sehingga apa yang mereka kerjakan hanyalah apa yang mereka dapatkan saja. kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari api neraka”. tidak dapat melemahkan dalil-dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. atau sama sekali tidak membuktikan kebenaran pendapat mereka. karena mereka sudah tidak mengenalnya. atau dalil umum yang bersifat husus dengan adanya nash-nash || 26 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . mereka itu dima'afkan untuk tidak melaksanakan syari'at Islam. bahwa dalil-dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa tidak kafir orang yang tidak shalat atau meninggalkannya. apa itu haji.”.

sesuai dengan prinsip “hukum itu dinyatakan ada atau tidak ada mengikuti ilat (alasan) nya”. untuk itu harus dikenakan kepadanya konsekwensi hukum karena kekafiran dan riddah (keluar dari Islam). berdasarkan dalil yang kuat yang tidak dapat disanggah dan disangkal lagi. || 27 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat. Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.

dan tidak boleh menikahkan salah seorang putrinya atau putri orang lain yang berada dibawah kewaliannya. Para ulama fiqh kita .2 KONSEKWENSI HUKUM KARENA RIDDAH YANG DISEBABKAN KARENA MENINGGALKAN SHALAT ATAU SEBAB YANG LAINNYA Ada beberapa kosekwensi hukum baik yang bersifat duniawi. sedang kebodohan yang paling hina dan rendah adalah kekafiran. mereka berkata : “Tidak sah orang kafir menjadi wali bagi seorang wanita muslimah”.Kehilangan haknya seb agai wali. kemurtadan dari Islam. dan kebijaksanaan yang paling agung dan luhur adalah agama Islam.Rahimahumullah – telah menegaskan dalam kitab-kitab mereka yang kecil maupun besar. bahwa disyaratkan beragama islam bagi seorang wali apabila mengawinkan wanita muslimah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata : “ Tidak sah suatu pernikahan kecuali disertai dengan seorang wali yang bijaksana. dengan demikian. || 28 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . dia tidak boleh sama sekali dijadikan wali dalam perkara yang memerlukan persyar atan kewalian dalam Islam. maupun ukhrawi. Oleh karena itu. ia tidak boleh dijadikan wali untuk anak-anaknya atau selain mereka. yang terjadi karena riddah ( keluar dari Islam ) : Pertama : Konsekwensi Hukum Yang Bersifat Duniawi : 1.

berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. dan tidak boleh orang kafir mewarisi orang muslim”. sesungguhnya orangorang musyrik itu najis. maka janganlah mereka mendekati Al Masjidil Haram sesudah tahun ini …” (QS. 130). dan hewan lainnya. Seperti onta. At Taubah. 3. begitu pula orang Islam tidak boleh mewarisi harta orang kafir. sapi. Al Baqarah. yang termasuk syarat dimakannya adalah sembelih.Kehilangan haknya untuk mewarisi harta kerabatnya. kambing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ." ‫ﻳﺮﺙ ﺍ ﹾﻟﻤﺴﻠﻢ ﺍ ﹾﻟﻜﹶﺎﻓﺮ ﻭﻻ ﺍ ﹾﻟﻜﹶﺎﻓﺮ ﺍ ﹾﻟﻤﺴﻠﻢ‬ ‫" ﻻ‬  ِ   ِ ‫ ﹶ‬  ِ  ِ  ‫ﹶ ِ ﹸ‬ “Tidak boleh seorang muslim mewarisi orang kafir. Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ﺑﻌﺪ‬ ‫ﺍﻡ‬‫ﻮ ﹾﺍ ﺍ ﹾﻟﻤﺴ ﺠﺪ ﺍﹾﻟ ﺤﺮ‬‫ﻳﻘﺮ‬ ‫ﺲ ﻓ ﻼ‬‫ﻧ ﺠ‬ ‫ﺎ ﺍ ﹾﻟﻤﺸﺮ ﹸﻮﻥ‬‫ﻤ‬‫ﻮ ﹾﺍ ِﺇ‬‫ﺎ ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﺃﹶ‬‫} ﻳ‬      ِ   ‫ﺑ‬ ‫ ﹶ ﹶ ﹾ‬ ‫ ِﻛ ﹶ‬  ‫ﻨ ﻧ‬  ‫ﻳ ﻟ‬ { ‫ـﺬﹶﺍ‬‫ﺎﻣﻬﻢ ﻫ‬‫ﻋ‬  ِِ “Hai orang orang yang beriman. karena salah satu syar at penyembelihannya adalah bahwa || 29 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .Diharamkan makan hewan semb elihannya. melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri …” (QS.Dilarang baginya untuk memasuki kota Makkah dan tanah haramnya. Sebab orang kafir tidak boleh mewarisi harta orang Islam. (HR. 28).Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : { ‫ﻧﻔﺴﻪ‬ ‫ﻦ ﺳﻔﻪ‬‫ﺍﻫِﻴﻢ ِﺇ ﱠ ﻣ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ ﱠﺔ ِﺇ‬ ‫ﻦ‬‫ﻳﺮﻏ ﺐ ﻋ‬ ‫ﻦ‬‫} ﻭﻣ‬  ‫ ﹾ‬ِ ‫ ﻻ‬ ِ ‫ ﻣﻠ‬ ‫ ﹶ‬  “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim. 2. 4.Bukhari dan Muslim).

Tidak b oleh dishalatkan jenazahnya dan tidak b oleh dimintakan ampunan dan rahmat untuknya. ﻭﻣ‬‫ﻬﻢ ﹶﺃ ﺻ ﺤ‬‫ﻦ ﹶﻟﻬﻢ ﹶﺃ‬‫ﺗﺒ‬ ‫ﺎ‬‫ﺑﻌ ﺪ ﻣ‬ ‫ﻣِﻦ‬ ِ ‫ ﹶ‬   ِ ‫ﹶ‬  ِ      ‫ ﻧ‬   ‫ﻴ‬ ِ  ‫ﺍﻩ‬ ‫ﺍﻫِﻴﻢ ﻷ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ﹶﺃ ﻣﻨﻪ ِﺇ ﱠ ِﺇ‬ ‫ﺗﺒ‬ ‫ ِﻟ ﱠﻪ‬ ‫ﻪ ﻋﺪ‬‫ﻦ ﹶﻟ ﻪ ﹶﺃ‬‫ﺗﺒ‬ ‫ﺎ‬ ‫ﺎﻩ ﻓ ﻠ‬‫ﺎ ِﺇ‬‫ﻮﻋﺪﺓ ﻭﻋﺪﻫ‬ ‫ﻦ‬‫ِﺇ ﱠ ﻋ‬ ‫ ﻭ‬ ‫ ﻥ‬  ِ ‫ﺮ‬ ِ ‫ﻭ ﻠ‬   ‫ ﻧ‬  ‫ﻴ‬ ‫ ﹶ ﹶﻤ‬ ‫ ﻳ‬   ٍ  ِ  ‫ﻻ ﻣ‬ { ‫ﺣﻠِﻴﻢ‬   || 30 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . majusi.” Dan Imam Ahmad mengatakan : “Setahu saya. kecuali orang orang ahli bid’ah. dan mereka mati dalam keadaan fasik”. Al Khazin dalam kitab tafsirnya mengatakan : “Para ulama telah sepakat bahwa sembelihan orangorang majusi dan orang-orang musyrik seperti kaum musyrikin arab. dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburannya. tidak ada seorangpun yang berpendapat selain demikian. maka sembelihan mereka tidak halal. para penyembah berhala. adapun orang murtad.” 5. (QS. dan sejenisnya. At Taubah. 84).penyembelihnya harus seorang muslim atau ahli kitab (yahudi dan nasrani). Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ﻭ ﹾﺍ ﺑِﺎﻟﱠﻪ‬ ‫ﻬﻢ ﻛﻔ‬‫ﺗﻘﻢ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻩ ِﺇ‬ ‫ﺍ ﻭﻻ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺎﺕ ﹶﺃ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻨ‬ ‫ﺗﺼ ﱢ ﻋﻠﹶﻰ ﹶﺃﺣﺪ‬ ‫} ﻭﻻ‬ ِ ‫ ﹶ ﹶﺮ ﻠ‬  ‫ ِ ِ ﻧ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ ﹸ‬  ‫ﻬ ﻣ‬ ‫ ٍ ﻣ‬  ‫ﻞ‬ ‫ ﹶ‬ { ‫ﻮ ﹾﺍ ﻭﻫﻢ ﻓﹶﺎﺳ ﹸﻮﻥ‬‫ﺎ‬‫ﻮِﻟﻪ ﻭﻣ‬ ‫ﻭﺭ‬ ‫ ِﻘ ﹶ‬   ‫ ﺗ‬ ِ ‫ﺳ‬  “Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka. dan mereka yang tidak mempunyai al kitab. paganis. Dan firman-Nya : ‫ﻰ‬‫ﻮ ﹾﺍ ﹸﺃﻭﻟِﻲ ﻗﺮﺑ‬‫ﻭ ﹾﺍ ِﻟﻠﻤﺸﺮ ﻛﲔ ﻭﹶﻟﻮ ﻛﹶﺎ‬ ‫ﻳﺴﺘﻐﻔ‬ ‫ﻮ ﹾﺍ ﺃﹶﻥ‬‫ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ ﻭ‬ ‫ﺒ‬‫ﺎ ﻛﹶﺎﻥ ﻟِﻠ‬‫} ﻣ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﻧ‬   ِ ِ   ‫ ِﺮ ﹾ‬   ‫ﻨ‬  ‫ﹶ ﻨ ِ ﻲ ﻟ‬ ‫ﺍﻫِﻴﻢ ِﻟﺄﺑِﻴﻪ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ﺎ ﻛﹶﺎ ﻥ ﺍﺳﺘﻐﻔﹶﺎﺭ ِﺇ‬‫ﺎﺏ ﺍ ﹾﻟﺠ ﺤِﻴﻢ . haram hukumnya. sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.

At Taubah.“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang orang musyrik. Do'a seseorang untuk memintakan ampun dan rahmat bagi orang yang mati dalam keadaan kafir. padahal dia adalah musuh Allah ? sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’aala :  ‫ﻶِﺋﻜﺘﻪ ﻭﺭﺳﻠﻪ ﻭﺟﺒﺮِﻳﻞ ﻭﻣِﻴﻜﹶﺎﻝ ﻓﺈ ﱠ ﺍﻟﹼﻪ ﻋﺪ‬‫ﺍ ﱢﹼﻪ ﻭﻣ‬ ‫ﻦ ﻛﹶﺎﻥ ﻋﺪ‬‫} ﻣ‬ ‫ﻭ‬   ‫ﹶ ﹶِﻥ ﻠ‬  ‫ ﹶ‬ ِ  ِ ِ   ِ ِ‫ ﹶ‬ ِ ‫ﻭ ﻟﻠ‬  ‫ﹶ‬ { ‫ﱢﻠﻜﹶﺎﻓﺮِﻳﻦ‬ ِ ‫ﻟﹾ‬ “Barang siapa yang menjadi musuh Allah. Yang wajib || 31 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Rasul-rasul-Nya. 98 ). Jibril dan Mikail. dan penyimpangan terhadap tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang orang yang beriman. Bagaimana mungkin orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat mau mendo'akan orang yang mati dalam keadaan kafir. maka berlepas diri darinya. dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya. agar diberi ampunan dan rahmat. Al Baqarah. apapun sebab kekafirannya. sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahim. sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. Malaikat malaikat-Nya. (QS. tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Dalam ayat ini. Allah telah menjelaskan bahwa Dia adalah musuh orang-orang yang kafir.” (QS. walaupun mereka itu adalah kaum kerabatnya. tetapi ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah. adalah pelanggaran dalam do'a. 114-114). dan merupakan suatu bentuk penghinaan kepada Allah. maka sesungguhnya Allah adalah musuhnya orang orang kafir”.

karena firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ ﻪ‬‫ﻭﻥ. karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku” . 26 –27 ). Az Zukhruf. kami ingkari (kekafiran) mu. dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja …” ( QS. ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Untuk mencapai derajat demikian adalah dengan mutaba’ah (meneladani) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Mumtahanah. ( QS.ِﺇﱠﺎ ﺍﱠﺬِﻱ ﻓﻄﺮﻧِﻲ ﻓﺈ‬ ‫ﺗﻌﺒ‬ ‫ﺎ‬  ‫ﺍﺀ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ﻨِﻲ‬‫ﺍﻫِﻴﻢ ِﻟﺄﺑِﻴﻪ ﻭﻗﻮﻣ ﻪ ِﺇ‬‫ﺑﺮ‬ ‫}ﻭِﺇﺫ ﻗﹶﺎﻝﹶ ِﺇ‬  ‫ ﹶِﻧ‬ ‫ﺪ ﹶ ﻟ ﻟ ﹶ ﹶ‬ ‫ٌ ﻣﻤ‬ ‫ ِ ِ ﻧ‬ ‫ﹶ‬ ِ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹾ‬ { ‫ﺳﻴﻬﺪِﻳﻦ‬ ِ   “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya : “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah.bagi orang mu’min ialah melepaskan diri dari setiap orang kafir. Dan firman-Nya : ‫ﺎ‬‫ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﻣﻌﻪ ِﺇﺫ ﻗﹶﺎﹸﻮﺍ ِﻟﻘﻮﻣﻬﻢ ِﺇ‬‫ﺍﻫِﻴﻢ ﻭ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ﻧﺖ ﹶﻟﻜﻢ ﹸﺃﺳﻮﺓ ﺣﺴﻨﺔ ﻓِﻲ ِﺇ‬‫ ﻛﹶﺎ‬‫} ﻗﺪ‬ ‫ ﻧ‬ ِ ِ ‫ ﹾ ﻟ ﹶ‬  ‫ ﻟ‬ ‫ ﹲ‬  ‫ ﹲ‬   ‫ ﹸ‬ ‫ﹶ‬ ‫ﺍﻭﺓ‬‫ﺑﻴﻨﻜﻢ ﺍ ﹾﻟﻌﺪ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺑﻴﻨﻨ‬ ‫ﺍ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺎ ِﺑﻜﻢ ﻭ‬‫ﻭ ﻥ ﺍﻟﱠﻪ ﻛﻔﺮﻧ‬ ‫ﻭ ﻥ ﻣِﻦ‬ ‫ﺗﻌﺒ‬ ‫ﺎ‬ ‫ﺍﺀ ﻣِﻨﻜﹸﻢ ﻭ ﻣ‬‫ﺑﺮ‬ ‫ ﹸ‬   ‫ ﹸ‬     ‫ ﹸ‬ ‫ﺪ ﹶ ﺩ ِ ﻠ ِ ﹶ ﹶ‬ ‫ ِﻤ‬  ٌ { ‫ﻮﺍ ﺑِﺎﻟﱠﻪ ﻭﺣﺪﻩ‬‫ﺗﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﺍ ﺣ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺎﺀ ﹶﺃ‬‫ﺍ ﹾﻟﺒﻐﻀ‬‫ﻭ‬     ِ ‫ ِﻨ ﻠ‬ ‫ﺘ‬ ُ  “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang orang yang bersama dengan dia. 4 ). Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ‫ ﻦ‬ ‫ﺑﺮِﻱﺀ‬ ‫ ﺍﻷﻛﺒﺮ ﹶﺃ ﱠ ﺍﻟﱠﻪ‬ ‫ﻳﻮﻡ ﺍ ﹾﻟﺤ‬ ‫ﺎﺱ‬‫ﻮِﻟﻪ ِﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟ‬ ‫ﻦ ﺍﻟﱠﻪ ﻭﺭ‬ ‫} ﻭﹶﺃﺫﹶﺍﻥ‬ ‫ٌﻣ‬  ‫ ِ ﻥ ﻠ‬‫ ﺞ َ ﹾ‬   ِ ‫ﻨ‬ ِ ‫ﺳ‬  ِ ‫ ﻠ‬ ‫ ﹲ ﻣ‬ { ‫ﻮﹸﻟﻪ‬ ‫ﺍ ﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ ﻭﺭ‬  ‫ﺳ‬   ِ ِ   “Dan ( inilah ) suatu permakluman dari Allah dan RasulNya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa || 32 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . kecuali Tuhan yang menjadikanku.

bahwa wanitawanita dan sembelihan sembelihan mereka haram bagi orang Islam …. 6. maka diharamkan untuk {  ‫ﻳ ﺤﱡﻮﻥ ﹶﻟﻬ‬ ‫ﻻ ﻫﻢ‬‫ﻭ‬ ‫ﻦ‬ ‫ ِﻠ ﹶ‬  || 33 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. sebab kalau diakui sejak semula sebagai pemeluk agama itu. hal 592 : “Semua orang kafir.sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang orang musyrik ”. 10). Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ‫ ﺍﻟﱠﻪ ﹶﺃﻋﻠﻢ‬ ‫ﻮﻫ‬‫ﺍﺕ ﻓﹶﺎﻣﺘ ﺤ‬‫ﺎﺟﺮ‬‫ﺎﺕ ﻣﻬ‬‫ﺎﺀﻛﻢ ﺍ ﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﻮﺍ ِﺇﺫﹶﺍ ﺟ‬‫ﺎ ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﻬ‬‫ﺎ ﹶﺃ‬‫} ﻳ‬  ‫ﹶ‬  ‫ﻦ ﻠ‬ ‫ ِﻨ‬ ٍ ِ   ِ    ‫َ ﹸ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﻳ ﻟ‬ ‫ ﺣﻞ ﱠﻬ ﻢ‬ ‫ ِﺇﻟﹶﻰ ﺍ ﹾﻟﻜ ﱠﺎﺭ ﻻ ﻫ‬ ‫ﻮﻫ‬ ‫ﺗﺮﺟ‬ ‫ﺎﺕ ﻓ ﻼ‬‫ ﻣ ﺆﻣﻨ‬ ‫ﻮﻫ‬ ‫ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤ ﺘ‬ ‫ﺎِﻧﻬ‬‫ﺑِﺈﳝ‬   ‫ﻦ ِ ﱞ ﻟ‬ ِ ‫ﹸﻔ‬ ‫ ﻦ‬ ‫ ِﻌ‬ ‫ ِ ٍ ﹶ‬  ‫ ﻦ‬ ‫ﻤ‬  ِ ‫ِ ِﻦ ﹶِ ﹾ‬ “Hai orang orang yang beriman. maka kemungkinan bisa dihalalkan. selain Ahli kitab. Dikatakan dalam kitab Al Mughni.Dilarang menikah dengan wanita muslimah. At Taubah. karena dia tidak diakui sebagai pemeluk agama baru yang dianutnya itu. dan orang orang kafir itu tidak halal bagi mereka …”(QS. dan wanita-wanita yang murtad (keluar dari Islam) ke agama apapun haram untuk dinikahi. Al Mumtahanah. (QS.” (seperti wanita yang berpindah dari agama Islam ke agama ahli kitab. apabila perempuan perempuan yang beriman datang berhijrah kepadamu. dan orang kafir tidak boleh menikahi wanita muslimah. jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar benar) beriman. tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama. mereka tidak halal bagi orang orang kafir itu. 3 ). jilid 6. berdasarkan nash dan ijma’. Karena dia kafir. Allah lebih mengetahui tentang mereka. maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang orang kafir.

kedua : ditunggu sampai habis masa iddah. dan tidak sah kawin dengan laki-laki yang murtad. bahwa dilarang menikah dengan wanita yang murtad. dilarang pula pelaksanaan pernikahannya. dan menurut pendapat Imam Syafi'i : ditunggu sampai habis masa iddahnya. jilid 6. jilid 8. hal 639 : “Batalnya pernikahan karena riddah sebelum sang istri digauli adalah pendapat yang dianut oleh mayoritas para ulama. berdasarkan banyak dalil. menurut pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah. hal 298 : “Apabila salah seorang dari suami istri murtad sebelum sang istri digauli. pent). jilid 6. tetapi bila wanita itu sejak semula telah memeluk agama ahli kitab ini.” Dan disebutkan dalam Al-Mughni. Dan disebutkan dalam bab “ orang murtad ”. adapun bila terjadi riddah setelah digauli. maka batallah pernikahan mereka seketika itu. dan menurut Imam Ahmad ada dua riwayat seperti kedua madzhab tersebut. tidak sah perkawinannya. dan selama tidak ada ketetapan hukum untuk pernikahannya. telah dikemukakan dengan jelas. dan masing-masing pihak tidak berhak untuk mewarisi yang lain. maka dihalalkan untuk dinikahi. Dikatakan pula dalam kitab Al-Mughni. karena tidak ditetapkan secara hukum untuk menikah. maka batallah pernikahan seketika itu juga. seperti pernikahan orang kafir dengan wanita muslimah. jika ia murtad setelah digauli maka dalam hal ini ada dua riwayat : pertama : segera dipisahkan. hal 130 : “Jika dia kawin.” || 34 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .dinikahi. namun.” Sebagaimana diketahui.

jika ia masuk Islam sebelum digauli. karena dengan demikian. pent). tapi jika masuk Islam sesudah digauli. apakah seger a diceraikan atau menunggu sampai habis masa iddah ? ada dua riwayat. sehingga ibaratnya seperti kalau mereka sama sama beragama Islam. belum batal pernikahannya. namun ditunggu : apabila sang suami masuk Islam sebelum habis masa iddah. begitu pula hukumnya apabila pihak wanita yang tidak shalat. agama mereka berbeda. Hal ini berbeda dengan pernikahan orang-orang kafir. Kemudian analogi yang digunakan itu disanggah oleh pengarang Al Mughni dari segala segi dan aspeknya. Dan jika terjadi sesudahnya. jika terjadi sebelum digauli. dan orang yang meninggalkan shalat adalah kafir berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah ser ta pendapat p ara sahabat. kemudian sang istri masuk Islam. dan tidak halal baginya wanita itu dengan akad nikah ini. berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. maka batallah pernikahan tadi. seperti seorang lakilaki kafir kawin dengan wanita kafir. seger a diceraikan antara keduanya. Selanjutnya disebutkan bahwa menurut Imam Abu Hanifah.Kemudian disebutkan pula pada halaman 640 : “Apabila suami istri itu sama sama murtad. Apabila telah jelas dan nyata bahwa pernikahan orang mur tad dengan laki-laki atau perempuan yang beragama Islam itu tidak sah. dan mengawini seorang wanita muslimah. dan inilah madzhab Syafi’i. || 35 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . maka pernikahannya tidak sah. maka jelaslah bagi kita bahwa seseor ang ap abila tidak melaksanakan shalat. pernikahannya tidaklah batal berdasarkan istihsan (kebijaksanaan yang diambil berdasarkan suatu pertimbangan tertentu. maka hukumnya adalah seperti halnya ap abila salah satu dari keduanya murtad. ketika masih dalam keadaan kafir. tanpa mengacu kepada nash secara khusus.

diceraikan seketika itu juga antar a mereka berdua. Bagi pihak istri. maka kalau keduanya masuk Islam. jika ada seorang laki-laki kafir kawin dengan wanita muslimah.maka wanita tersebut tetap menjadi istrinya. maka pernikahannya batal. menurut pendapat or ang yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir. tetapi apabila telah habis masa iddahnya sang suami belum masuk Islam. 7. dan pernikahan mereka tetap diakui oleh Nabi. kecuali jika terdapat sebab yang mengharamkan dilangsungkannya pernikahan ter sebut. kemudian kawin dengan seorang wanita muslimah. untuk itu. dan wajib diceraikan antara keduanya. wanita muslimah itu tidak halal bagi orang kafir berdasarkan nash dan ijma’. Masalah ini tidak seperti halnya orang muslim. maka tidak ada hak baginya terhadap istrinya. sekalipun orang itu awalnya kafir bukan karena murtad. seperti apabila suami istri itu berasal dari agama majusi dan terdap at hubungan kekeluargaan yang melar ang dilangsungkannya pernikahan di antara keduanya. dan || 36 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Apabila laki-laki itu masuk Islam dan ingin kembali kepada wanita tersebut.Hukum anak orang yang meninggalkan shalat dari perkawinannya deng an wanita muslimah. Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sejumlah orang kafir yang masuk Islam bersama istri mereka. sebagaimana telah diuraikan di atas. karena dengan demikian nyatalah bahwa pernikahannya telah batal. maka harus dengan akad nikah yang baru. sejak sang istri masuk Islam. karena adanya sebab yang mengharamkan tadi. yang menjadi kafir karena meninggalkan shalat. maka anak itu adalah anaknya.

karena tercipta dari sperma orang yang berpendapat bahwa hubungan yang dilakukannya adalah har am. pada bahasan pertama.bagaimanapun tetap dinasabkan kepadanya. Sedang menurut pendapat yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu kafir. karena terjadi pada wanita yang tidak dihalalkan baginya. atau tidak meyakini yang demikian itu. maka anak itu tidak dinasabkan kepadanya. karena pernikahannya adalah sah. maka kita tinjau terlebih dahulu : • Jika sang suami tidak mengetahui bahwa pernikahannya batal. karena hubungan suami istri yang dilakukannya dalam keadaan seperti ini adalah boleh menurut keyakinannya. || 37 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . sehingga hubungan tersebut dihukumi sebagai hubungan syubhat (yang meragukan). • Namun jika sang suami itu mengetahui serta meyakini bahwa pernikahannya batal. dan karenanya anak tadi tetap diikutkan kepadanya dalam nasab. dan pendapat ini yang benar sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. dan dinasabkan kepadanya. maka anak itu adalah anaknya.

sesungguhnya Allah sekali kali tidak menganiaya hamba-Nya ”. Al Anfal. (QS. || 38 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ‫ﺎﺭﻫﻢ‬‫ﻮﻫﻬﻢ ﻭﹶﺃﺩﺑ‬ ‫ﻮﻥ ﻭ‬‫ﻳﻀﺮ‬ ‫ﻶِﺋﻜﺔ‬‫ﻭ ﹾﺍ ﺍﻟﹾﻤ‬ ‫ﻳﺘﻮﱠﻰ ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﻛﻔ‬ ‫ﻯ ِﺇﺫ‬‫ﺗﺮ‬ ‫} ﻭﹶﻟﻮ‬         ‫ﺟ‬ ‫ ِ ﺑ ﹶ‬ ‫ﹶ ﹸ‬ ‫ ﹶ ﹶﺮ‬ ‫ﻓ ﻟ‬  ‫ﹾ‬   ‫ﻳﺪِﻳﻜﻢ ﻭﹶﺃ ﱠ ﺍﻟﱠﻪ ﹶﻟﻴﺲ ِﺑﻈ ﱠﻡ ﱢﻠﻌﺒِﻴﺪ‬ ‫ﻣﺖ ﹶﺃ‬ ‫ﺎ ﻗ‬‫ﻭ ﹸﻭﹸﻮ ﹾﺍ ﻋﺬﹶﺍﺏ ﺍ ﹾﻟ ﺤﺮِﻳﻖ . seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : “Rasakanlah olehmu siksa nereka yang membakar”. Bahkan par a malaikat memukuli seluruh tubuhnya. 22–23).Dicaci dan dihardik oleh para malaikat. ﻣِﻦ‬ ‫ﻳﻌﺒ‬ ‫ﻮﺍ‬‫ﺎ ﻛﹶﺎ‬‫ﺍﺟﻬﻢ ﻭﻣ‬‫ﻮﺍ ﻭﹶﺃﺯﻭ‬ ‫ﻭﺍ ﺍﱠﺬِﻳﻦ ﻇﻠ‬ ‫} ﺍﺣﺸ‬ ِ‫ﺩ ِ ﻠ‬ ‫ﺪ ﹶ‬ ‫ﻧ‬       ‫ ﹶﹶﻤ‬ ‫ﺮ ﻟ‬  }ِ ‫ﺍﻁ ﺍﹾﻟ ﺠﺤِﻴﻢ‬‫ﻭﻫﻢ ِﺇﻟﹶﻰ ﺻﺮ‬ ‫ﻓﹶﺎﻫ‬  ِ ِ   ‫ﺪ‬ “(Kepada para malaikat diperintahkan) : “Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta orang-orang yang sejenis mereka dan apa-apa yang menjadi sesembahan mereka.Ash Shaffat.Pada hari kiamat ia akan dikumpulkan b ersama orang orang kafir dan musyrik. dari bagian depan dan belakangnya.Kedua : Konsekwensi Hukum Yang Ukhrawi : Bersifat 1. Firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ﻭﻥ ﺍﻟﱠ ﻪ‬ ‫ﻭﻥ . 2. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.(QS. lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka ”. karena ia termasuk dalam g olong an mereka. (tentulah kamu akan merasa ngeri). ﺫِﻟﻚ ِﺑﻤ‬  ‫ ﹶﻼ ٍ ﻟ ﹾ‬   ‫ ﻥ ﻠ‬  ‫ﹸ‬   ‫ ﹶ ﺪ‬ ‫ ِ ﹶ‬   ‫ﺫ ﻗ‬ }ِ “Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir. 50–51). selain Allah.

Berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’aala : ‫ﺎ‬‫ﻭﻥ ﻭِﻟ‬ ‫ﻳ ﺠ‬ ‫ﺍ ﱠﺎ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺎِﻟﺪِﻳﻦ ﻓِﻴﻬﺎ ﹶﺃ‬‫ﺍ .” 3.Kekal untuk selama-lamanya di dalam neraka. ﺧ‬‫ ﹶﻟﻬﻢ ﺳﻌﲑ‬ ‫} ِﺇ ﱠ ﺍﻟﱠﻪ ﹶﻟﻌﻦ ﺍ ﹾﻟﻜﹶﺎﻓﺮِﻳﻦ ﻭﹶﺃﻋ‬ ‫ ﻴ‬ ‫ﻟ ِﺪ ﹶ‬   ِ    ‫ﺪ‬   ِ    ‫ﻥ ﻠ‬ ‫ﺎ‬‫ﺎ ﺍﻟﱠﻪ ﻭﹶﺃﻃﻌﻨ‬‫ﺎ ﹶﺃﻃﻌﻨ‬‫ﺎ ﹶﻟﻴﺘﻨ‬‫ﻳﻘﹸﻮﹸﻮﻥ ﻳ‬ ‫ﺎﺭ‬‫ﻮﻫﻬﻢ ﻓِﻲ ﺍﻟ‬ ‫ﺗﻘﱠﺐ ﻭ‬ ‫ﻳﻮﻡ‬ . Al Ahzab. dan taat (pula) kepada Rasul ”. (QS. macam. mereka berkata : Alangkah baiknya. 64 – 66). mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Yakni : “Kumpulkanlah orang-orang yang musyrik dan orang-orang yang sejenis mereka.Kata “ ‫ ” ﹶﺃﺯﻭﺍﺝ‬bentuk jama’ dari “ ‫ ” ﺯﻭﺝ‬yang berarti   : jenis. || 39 dari 41 || Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari . Pada hari ketika muka mereka dibolak balikkan dalam neraka. ‫ﺍ‬‫ﻧﺼﲑ‬ ‫ﻻ‬‫ﻭ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﻠ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﻨ ِ ﻟ ﹶ‬    ‫ﺟ‬  ‫ ﹶﻠ‬  ِ { ‫ﻮﻻ‬  ‫ﺍﻟ‬ ‫ﺮﺳ ﹾ‬ “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). seperti orang-orang kafir dan yang dzalim lainnya. mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. andaikata kami taat kepada Allah.

karena itu. Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari .PENUTUP demikianlah ap a yang ingin penulis sampaikan. segeralah bertaubat kepada Allah ta'ala . ﻭ ﻣ‬‫ﺣِﻴﻤ‬ ‫ﺍ‬‫ﻭﻛﹶﺎﻥ ﺍﻟﱠﻪ ﻏ ﹸﻮﺭ‬  ِ‫ﻠ‬  ‫ ﺘ‬ ‫ﹶِ ﻧ‬ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹶﻔ ﺭ‬ ‫ ﹶ ﻠ‬ “Kecuali orang orang yang bertaubat. Bukan jalan or ang-or ang yang dimurkai atau orang-orang yang tersesat. menyesali ap a yang telah diperbuat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya ”. Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita dalam urusan ini. Al Furqan. syuhada dan shalihin. tentang permasalahan yang besar ini. menunjukkan kepada kita semua jalan-Nya yang lurus. yang telah melanda banyak umat manusia . dengan ikhlas semata mata karena-Nya. j alan orang-orang yang dikaruniai ni’mat oleh Allah. 70 – 71). yaitu para Nabi. saudaraku se Islam. dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh. Sel esai ditulis ol eh : Al faqir Ilallahi ta’ala Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin (rahimahullah) Pada tanggal 23 Shafar 1407 H || 40 dari 41 || . Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : ‫ﺎﺕ‬‫ﺌﹶﺎِﺗﻬﻢ ﺣﺴﻨ‬‫ﻝ ﺍﻟﱠﻪ ﺳ‬ ‫ﻳﺒ‬ ‫ﺎ ﻓﺄﻭﹶﻟﺌﻚ‬‫ﺎِﻟ ﺤ‬‫ﺁﻣ ﻦ ﻭ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻠﹰﺎ ﺻ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻦ ﺗ‬‫} ﺇِﱠﺎ ﻣ‬ ٍ    ِ ‫ﻴ‬  ‫ ﺪ ﹸ ﻠ‬  ِ  ‫ﹶ ﹸ‬  ‫ِ ﹶ‬     ‫ﻟ‬ {‫ﺎ‬‫ﺎﺑ‬‫ﻮﺏ ِﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻣﺘ‬‫ﻳ‬ ‫ﻪ‬‫ﺎ ﻓﺈ‬‫ﺎِﻟ ﺤ‬‫ﺎﺏ ﻭ ﻋﻤِﻞ ﺻ‬‫ﻦ ﺗ‬‫ﺎ . serta memperbanyak amal keta'atan. (QS. shiddiqin. beriman dan mengerjakan amal shaleh. dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. maka kejahatan mereka diganti dengan kebajikan. Pintu taubat masih terbuka bagi siapapun yang hendak bertaubat.