MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

.... C... Peradilan Tata Usaha Negara........ C... Pengorganisasian ............................................. Latihan .......... D...... F......................................................... Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ................... B......................... E.......................... D...................... Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah ....vi vii Yang Baik (Good Governance) ...... Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ... Hubungan Presiden Dengan MPR................... Latihan.......................... Hubungan Presiden Dengan DPR... A................................................. F...................................................... Latihan ................... G.... A............................................ Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia................... Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah ................. Hubungan Presiden Dengan BPK.. H...................... ............................... Rangkuman ............... E............ Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ........................................................................................... Hubungan Presiden Dengan MA.......................................... 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN ........................................................................... Pelaksanaan ................... Latihan.... D.................................. E.......... Rangkuman..................... A.......... Kerangka Peraturan Perundang-undangan...................... Rangkuman................................................. 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN................ Latihan......... Asas Peraturan Perundang-undangan ......................... E. 48 51 74 81 D...... I.. Rangkuman..... 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH ......... A............................................ B..... B............................................. D......................... E............ C.. 10 18 24 26 28 BAB VI D........ 95 95 98 102 114 126 128 45 B........................ Pengawasan ..... Hubungan Presiden Dengan MK. F................................................ Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat .......... D.............. C.. Perencanaan .. F...................................................... 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA ..................... Hubungan Presiden Dengan DPD ...... Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah ................................. Lembaga Perekonomian Negara............. Rangkuman ................ C..................

...........................................................................................................................................................................viii BAB VIII PENUTUP.................................. Tes....... A. 132 ....................... B............ 130 130 131 REFERENSI ....................... Tindak Lanjut..

B. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.BAB I PENDAHULUAN A. C. Tujuan Pembelajaran 1. lembaga-lembaga pemerintah. Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta. hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. pembentukan peraturan perundang-undangan.

maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan).2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. Dengan demikian. Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. e. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. d. 3 . Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. c. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). f. 2. Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. b. Dalam arti sempit. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. Sedangkan dalam arti luas. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif.

2. tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 8. dan Angkatan Laut. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. 13. 14. Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. Menurut UUD 1945.4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. . 9. 6. 3. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Menyatakan perang. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Presiden berhak 11. Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . 7. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. memperhatikan pertimbangan DPR . Dalam mengangkat Duta. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. Dalam melakukan kewajibannya. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. 10. sebagai Kepala Negara. Presiden: 1. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. Selain itu. Memberi gelar. 5. Mengangkat Duta dan Konsul. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . 12. Angkatan Udara. Menyatakan keadaan bahaya. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4.

16. birokrasi cenderung terus semakin besar. Latihan/Diskusi 1. Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. 17. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A. Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . Istilah governance menurut ESCAP 7 D.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3. termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional. 18. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”.

bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. 7. Oleh karena itu. Orientasi pada konsensus. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. “national governance” dan “local governance”. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. UNDP (PT. dunia usaha/swasta. individu dan bahkan lembaga internasional. 2. kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Aturan hukum (rule of law). yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. Semua warga negara. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. Efektifitas dan efisiensi. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. pengelolaan (Sofyan Wanandi. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. 6. terutama untuk hak asasi manusia. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. LSM. mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. organisasi profesi. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. Kesetaraan (equity). dunia usaha dan masyarakat tersebut. Ketanggapan (responsiviness). Meuthia Ganie Rachman) dan . seperti “corporate governance”. 3. Transparansi. maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. “international governance”. Partisipasi. Governance melibatkan berbagai pelaku. koperasi. 5. Wahana…. aspiratif. sektor swasta dan masyarakat. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. 4. lihat Bintoro).

Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. dunia usaha/swasta. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. B. tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah.10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. Di samping itu. Wawasan Kedepan (Visionary): a. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. dan masyarakat”. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan. pemahaman. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. dan waktu yang . Untuk itu. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. daya tahan. demokratis. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. b. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. BAPPENAS. Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih.

4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. b. 6) Papan pengumuman.12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. 4) Iklan layanan masyarakat . mudah dijangkau. 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. 3. 5. Tanggung Gugat (Accountability): a. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. kejaksaan. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif. . Supremasi Hukum (Rule of Law): a. 2) Pusat/balai informasi . 5) Media cetak . 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. kehakiman). 5) Sistem pengawasan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. bebas diperoleh. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. mengakomodasi 4. pengadilan). 3) Website (e-government. Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. e-procurement. 6) Mekanisme reward and punishment. 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. b. 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. dsb). b. b. 2) Adanya akses pada informasi yang siap. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. 2) Forum konsultasi dan temu publik. kejaksaan. dan tepat waktu. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. 2) Laporan tahunan. 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian. Partisipasi masyarakat (Participation): a. 3) Laporan pertanggungjawaban. termasuk forum stakeholder .

5) Standar dan indikator kinerja. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik. Daya Tanggap (Responsiveness): a. independen. Keefesienan dan Effectiveness): a. Demokrasi (Democracy): a. 2) Taat asas. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. 3) Sistem reward and punishment yang jelas. 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. . 3) Kreatif dan inovatif. b. 4) Sistem pengembangan SDM. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. 10. 6. 2) Kode etik profesi. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan. dan mudah diakses publik (ombudsman). 9. b. b.14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya. Desentralisasi (Decentralization): a. 8. Keefektifan (Efficiency and 7.

4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. affirmative action. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu. Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya. 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. 12. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. 13. 3) Program-program pemberdayaan. Komitmen a. dan menengah. 11. b. serta koperasi. masyara kat kurang mampu. . 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. dan sebagainya). 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. dan kawasan tertinggal. 2) Job description (uraian tugas) yang jelas. dan kawasan tertinggal. kecil. masyarakat kurang mampu. b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat. 2) Program-program pemberdayaan gender.

14. berhasilguna. Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No. Berdasarkan pengertian ini. . maka semua instansi pemerintah.18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. telah diterbitkan Instruksi Presiden No. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No. 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. bersih dan bertanggung jawab. 2. badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. C. 2) Forum kegiatan peduli lingkungan . b. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. 1. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna. b. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat. 239/IX/6/8/2003).

haruslah sudah 3. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. transparan. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. peluang dan kendala yang dihadapi.20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. Di samping itu. terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. (2) rumusan tentang tujuan. Dengan perkataan lain. kelemahan (weaknesses). baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). 4. Dengan visi. misi. strategi. Analisis terhadap lingkungan organisasi. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi. lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. Untuk melaksanakan kedua hal tersebut. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. Harus jujur. Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . Setelah program didesain. d. untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. misi. tuntutan perkembangan lingkungan strategis. objektif. pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. nasional dan global. yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. sasaran dan uraian aktivitas organisasi. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. e. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Oleh karena itu. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. peluang (opportunities).

c. perbedaan realisasi dan target. . objektif dan transparan. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi. b. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. Prinsip pertanggungjawaban. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah. suatu laporan harus disusun secara jujur. Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas. Prinsip pengecualian. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. b. 6. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak. 5. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. perencanaan operasional yang terukur. Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a.

perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. sesuai dengan sistem . 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. menyempurnakan. mudah dimengerti (jelas dan cermat). dapat dipercaya/diandalkan. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. Pemerintah wajib secara terus menerus membina. Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. tidak kontradiktif). 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. netral. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. berdaya banding tinggi. lengkap. efektif. sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. serta tertib. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. tepat waktu. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum. berdayasaing. tentram. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. padat dan terstandarisasi. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. aman. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan.

Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . E. Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan. Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. Instruksi Presiden No. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. waktu yang relatif panjang. pemahaman. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. 9 Tahun 2004. Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. daya tahan. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. Karena itu diperlukan pembelajaran. Kolusi dan Nepotisme. Kolusi dan Nepotisme. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. UU No. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi.

karena Indonesia adalah negara hukum. Menjamin kepastian hukum. 29 . Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Latihan 1. Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2. Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. 3. 2. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4. A. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang.

serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. baik secara filosofis. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. . persiapan. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. 6. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. yuridis maupun sosiologis. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. 2. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. berbangsa. 4. Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. 7. 1. penyusunan. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. 4. 3. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. 5. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. dan bernegara.

9. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. Gubernur BI. Menteri. Keserasian. BPK.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. dan keselarasan. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan Peraturan Daerah. dan Keselarasan. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. MA. agama. berbangsa. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. 6. gender. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. ras. DPR. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas. suku. Gubernur. dan bernegara. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. Peraturan Presiden. DPRD Kabupaten/Kota. . kondisi khusus daerah. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. MK. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. DPD. Keseimbangan. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. keserasian. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. suku dan golongan. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. 8. golongan. 10. antara lain. DPRD Provinsi. agama. Peraturan Pemerintah. atau status sosial. B. Bupati/Walikota.

Kepala Desa atau yang setingkat. kewarganegaraan dan kependudukan. Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. dan keuangan negara. e. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. hak dan kewajiban warga negara. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur. c.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. d. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. b. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. 2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 adalah: a. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. wilayah negara dan pembagian daerah. Termasuk dalam Peraturan Daerah . dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. 1. Untuk pengharmonisan. 188 Tahun 1998. C. dan jangkauan dan arah pengaturan. Konsultasi RUU. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. sasaran yang ingin diwujudkan. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. lingkup atau obyek yang akan diatur. Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU. 2. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. pokok pikiran. Penyampaian RUU kepada DPR. kebulatan dan kemantapan konsepsi. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. Pengesahan. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. Apabila keharmonisan. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. pembulatan.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya.

Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). Menteri Kehakiman. Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Cara penanganan atau pembahasannya. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR. Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. 4. antara lain: a. c. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu. Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. b. Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa.38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. . Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki . Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. politik. para Menteri Koordinator.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. Yustisi. antara lain: a. Moneter dan Fiskal. Mendirikan lembaga permasyarakatan. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. antara lain: a. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. d. Daerah Kabupaten dan Kota. Peraturan Pemerintah. b. Mendirikan lembaga peradilan. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. c.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. amnesti. b. membentuk UndangUndang. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. Menetapkan kebijakan moneter. memberi grasi. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. antara lain: a. b. 6. 5. c. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. b. . ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. Daerah Provinsi. dan peraturan lain yang berskala nasional. abolisi. Agama. c. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. akuntabilitas. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. Mengangkat hakim dan jaksa. dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. Mengendalikan peredaran uang. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. atau c. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. 4.

dana. 16. kesehatan. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. Penanganan bidang kesehatan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. 14. 8. 5. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. pemanfataan. dan pengawasan tata ruang. kepastian. 12. Pelayanan kependudukan. prasarana lingkungan dasar. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. 11. . Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. usaha kecil. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan catatan sipil. 9. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. 6. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. B. 4. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota. Pengendalian lingkungan hidup. 10. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. 2. 15. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. 3. 7. Fasilitasi pengembangan koperasi. 13. Perencanaan. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan.

Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan catatan sipil. 13. Pelayanan administrasi penanaman modal. pemanfataan. dan pengawasan tata ruang. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Penanggulangan masalah sosial. 14. Lembaga . Pelayanan bidang ketenagakerjaan. Penyediaan sarana dan prasarana umum. 12. 4. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 C. 10. 9.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi. 6. 7. Pelayanan pertanahan. Perencanaan. Pengendalian lingkungan hidup. Dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Pelayanan kependudukan. 15.50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. Penanganan bidang kesehatan. usaha kecil. 8. dan 16. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. 3. 11. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. Fasilitasi pengembangan koperasi. dan menengah. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Gambar V. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 2. 5. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan pendidikan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.

Tentara Nasional Indonesia (TNI). sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). b). 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. saran. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 1. Badan/Lembaga Ekstra Struktural. Kejaksaan Agung. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. a. Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Tugas. 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. TNI. POLRI. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator. BIN. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Kesekretariatan yang membantu Presiden. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. a). Kejaksaan Agung.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). Departemen Luar Negeri. Kepolisian Negara RI (Polri). Hukum. Fungsi. 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Perwakilan RI di Luar Negeri. yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. dan Keamanan. Departemen Pertahanan. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Depar . Hukum. 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. dan Instansi yang dianggap perlu. Departemen Hukum dan HAM. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Kementerian Koordinator Bidang Politik. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara.

Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Departemen Perhubungan. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. c). Departemen Pertanian. Departemen Pekerjaan Umum. Kementerian Negara PAN. Kementerian Negara PP. 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Departemen Kehutanan. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. dan Intansi lain yang dianggap perlu. Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Perdagangan. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. 2) Departemen Luar Negeri. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Kominfo. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. Departemen Diknas. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. Kementerian Negara Ristek. saran.62 Tahun 2005). Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. 3) Staf Ahli. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator. Departemen Agama. dan Instansi yang dianggap perlu. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Sosial. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 2) Deputi. 3) Departemen Pertahanan. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. Departemen Perindustrian. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. b. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. . Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. 3) Direktorat Jenderal. 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No.62 Tahun 2005). bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. 5) Badan dan/atau Pusat. Departemen Pertanian. Departemen Pekerjaan Umum. 2) Sekretariat Jenderal. Departemen Kelautan dan Perikanan. Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya. Departemen Komunikasi dan Informatika. 6) Staf Ahli. Departemen Kehutanan. . Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Agama.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. 4) Inspektorat Jenderal. Departemen Perdagangan. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. Departemen Kesehatan. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya. Departemen Sosial. Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. Departemen Keuangan. Departemen Pendidikan Nasional. c. Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri. Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Perhubungan.

187/M/Tahun 2005). d. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. 3) Staf Ahli. 64 Tahun 2005. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 62 Tahun 2005). dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. 2) Deputi. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat. saran. Dalam Perpres No. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. 62 Tahun 2005. 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi.58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. 103 Tahun 2001 tentang . dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Berdasarkan Perpres No.

masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Fungsi. BAPETEN. 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). dan BSN. 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). Sesuai dengan Perpres No. 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND. dan ANRI. 10) Badan Intelijen Negara (BIN). BKN. 6) Badan Pusat Statistik (BPS). BATAN.60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Sekretariat Utama. 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). BAKOSUR TANAL. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 103 Tahun 2001. 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. 64 Tahun 2005. 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. Dalam Keppres No. BPPT. pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). LAPAN. BPKP. pembinaan dan pengendalian terhadap program . 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). Tugas. 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). Kewenangan. 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG.

111 Tahun 2000. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Kejaksaan Tinggi. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. f. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No. Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. 117 Tahun 2000. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. Deputi. dan Kejaksaan Negeri. e. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet.

kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. dan tata usaha negara. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. . f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan putusan lepas bersyarat. kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. perdata.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. putusan pidana pengawasan. 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. c) Pengawasan peredaran barang cetakan. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum.

perdagangan. Konsulat RI. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. 2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. perhubungan. 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. kebudayaan dan ilmu . Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri.66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI). Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional. g. Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI). Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat.

3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tiap-tiap angkatan (AD. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. h. 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. . dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. keutuhan wilayah. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. AL. TNI berkedudukan di bawah Presiden. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. TAP No. 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. TNI Angkatan Laut. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. dan keselamatan bangsa. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat.68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tugas.

dan Komando Utama Operasi. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol. Markas Besar TNI Angkatan Laut. i. dan Komando Utama Pembinaan. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. 2) POLRI berada di bawah Presiden. tugas. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. VI/MPR/2000 dan TAP No. Kemudian diatur dalam UU No. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. Badan Pelaksana Pusat. 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Unsur Pelayanan. . VII/MPR/2000.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan. susunan dan kedudukan POLRI. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selain tugas pokok tersebut di atas. menegakkan hukum. Unsur Pembantu Pimpinan. Badan Pelaksana Pusat. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. Unsur Pelayanan. Unsur Pembantu Pimpinan. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No.

Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. j. Badan. 2) Badan. Komisi Pemilihan Umum (KPU). 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. Dewan Ketahanan Pangan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Dewan Maritim Nasional. Kementerian Negara) dan atau LPND. Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri. Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI).72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. Komisi Ombudsman. antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. dan Tim. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Lembaga. 3) Komisi. Komisi. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. k. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. bahkan Presiden atau Wakil Presiden. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Komite Nasional Keselamatan . antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). 4) Komite. yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang. Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan. Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. Komite. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Departemen. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.

D. Sekretariat DPRD. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. Lembaga Teknis Daerah. Bupati. 5) Lembaga. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. terdiri atas: 1. 2. Dinas Daerah. 4. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. Lembaga Teknis Daerah. atau Walikota. Sekretariat DPRD. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Sekretariat Daerah. 2. 2. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. 5. dan 6. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. 3. Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 3. Kelurahan. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. 32 Tahun 2004. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. . Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Komite Olah Raga Nasional. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. dan 4. antara lain: Lembaga Sensor Film. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kecamatan. Unsur pelaksana urusan daerah. 3. Dinas Daerah. Sekretariat Daerah.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi.

2. 3. kantor. Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Dalam melaksanakan tugasnya. Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas. Kantor. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . atau rumah sakit umum daerah. Di samping itu. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. Kepala Kantor. 2. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. Kepala Badan. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. 3. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Badan. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. daerah yang bersifat spesifik. 4.

Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. . pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 3. 4. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 6. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. 7. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. Kebutuhan daerah. Lurah mempunyai tugas: 1. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Di samping itu. Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Kemampuan keuangan. 5. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. 2. Pelayanan masyarakat. Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. 5. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. 2. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Pemberdayaan masyarakat.

dan 2. BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. 4. 6. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. Jumlah dan kepadatan penduduk. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. 1. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. 7. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. . 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. Jenis dan banyaknya tugas. 8. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar. E. cakupan wilayah. 5. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. Dalam sistem perekonomian nasional. sinkronisasi. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. Di samping itu.19 Tahun 2003. integrasi.80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. Sarana dan prasarana penunjang tugas. Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. BUMN. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. di samping usaha swasta dan koperasi.

adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. . 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. koperasi dan masyarakat. Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. b. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 3. d. dan Komisaris.82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. c. dividen dan hasil privatisasi. 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. Mengejar keuntungan. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Direksi. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. e. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a. 19 Tahun 2003. b. a. Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. c.

dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. F. sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. Direksi. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. 32 Tahun 2004. dan Dewan Pengawas. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. b. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No. pelepasan kepemilikan. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya. d. a. Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. efektif dan produktif.84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. yaitu Perumda dan Perseroda. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. Organ Perum adalah: Menteri. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah.

TNI. G. Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. Lembaga Teknis Daerah. POLRI. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4. moneter dan fiskal. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2. Kejaksaan Agung. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . yustisi. BUMN berbentuk Persero dan Perum. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. Lembaga Ekstra Struktural.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. keamanan. Perwakilan RI di Luar Negeri. Kecamatan. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. pertahanan. Sekretariat DPRD. Kementerian Negara. Departemen. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. dan Kelurahan. Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. Dinas Daerah. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. dan agama. LPND. Latihan 1. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. Kesekretariatan yang membantu Presiden.

penyuapan. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. Sebelum memangku jabatannya. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. tindak pidana berat lainnya. UU No. 7. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR. Hubungan Presiden Dengan DPR A. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. 4. 2. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 6. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. B. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya. UU No. 3. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. dan DPRD. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR. UU No. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. 2. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. Presiden bekerjasama dengan DPR. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 5 Tahun 2004 tentang MA. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 4. . 3. UU No. korupsi. 88 1. baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. DPR. DPD. 5. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. 5 Tahun 1973 tentang BPK. Apabila Wakil Presiden berhalangan. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR.

pengelolaan sumber daya dan belanja negara. pajak. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. F. Hubungan Presiden Dengan MA 1. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden. 6. 7. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. Hubungan Presiden Dengan MK 1. 3. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden. 2. 3. 4. baik diminta maupun tidak. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. Presiden menetapkan hakim konstitusi.90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. E. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Presiden meresmikan keanggotaan DPD. hubungan pusat dan daerah. 2. 3. C. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. 4. D. Presiden memberi amnesti. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. pembentukan. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. . Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. 8. 2. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. pemekaran dan penggabungan daerah. 2. 5.

itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. I. 10. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. 8. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. 7. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. Dalam UUD 1945. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. 5. 6. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. Latihan 1. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. 9. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. 4. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. Untuk dan atas nama Pemerintah. 3. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. 2. H.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara.

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. A. pengorganisasian. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6. 95 . Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang.94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. jangka menengah. pelaksanaan dan pengawasan. yaitu perencanaan. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Menurut UU No. 4. dan pengawasan. b. c. dan berkelanjutan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. d. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. 5. 3. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. antar ruang. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. efektif. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana .96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. misi. 25 Tahun 2004 ini. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009. Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. menyeluruh. sinkronisasi. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. berkeadilan. dan terukur. 3. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. 2. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. pelaksanaan. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. 3. Sebagai tindak lanjut dari UU No. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. 2. penganggaran. dan sinergi baik antar daerah. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. 2. Menjamin terciptanya integrasi. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. antar waktu. Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. 25 Tahun 2004. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan.

Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2. Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. 3. sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. B. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. Selanjutnya. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan. tujuan dan kinerja pembangunan. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. 1. ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan.

maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. untuk 7. 9. unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. 5. Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . 8. Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja. 4. 10. Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya. Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi. baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. Oleh karena itu. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Prinsip Koordinasi. maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen.

Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. Oleh karena itu. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. demikian pula susunan organisasinya. pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan).102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin. langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. C. beserta segenap gerak. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala . dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. kesimpangsiuran dan atau kekacauan. Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. perencanaan. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. perbenturan. 11. Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. 12.

b. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. 3) Koordinasi fungsional teritorial. 2. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya.104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. b. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. . Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. 1) Koordinasi fungsional horizontal. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan. 2) Koordinasi fungsional diagonal. Dalam Peraturan Pemerintah No. koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah. Misalnya. Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. Koordinasi fungsional.

b. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait. waktu pelaksanaan. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. orang yang melaksanakan dan alokasi. e. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. i. f. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. g. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. d. petunjuk pelaksanaan (juklak). Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. d. c. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah. h. . e. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. cara melakukan. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. sasaran. rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. Perlu kejelasan wewenang.

Panitia. Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. Panitia. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan. Namun demikian. h. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. sulit dan terus menerus. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan. Misalnya.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. mendesak. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). multisektor. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks. asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Kelompok Kerja. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. multidisiplin. Kelompok Kerja. Dewan Maritim Nasional. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. g. . Tim. Dewan Ketahanan Pangan. f.

Menteri Koordinator Perkonomian. c. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. dengan beraneka ragam permasalahan. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. d. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. b. Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. Hukum dan Keamanan. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. .

kabupaten dan kota. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. apalagi dipisahkan. baik formal maupun informal. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis). perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. juga terhadap Bupati dan Walikota. Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. .112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. 2) Kepala Daerah. namun demikian. Atase Pertahanan. 5. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah. f. Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. e. seperti Atase Kebudayaan. setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi.

114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek. hambatan. Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen. Jenis-Jenis Pengawasan a. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. masalah-masalah yang telah. pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. . kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. penyelewengan. hambatan. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. pemborosan. Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. sedang dan mungkin akan dihadapi. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. kebijakan. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. Demikian pula.

prestasi kerja. didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya. pencapaian sasaran pelaksanaan tugas. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. 5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. pengorganisasian dan pelaksanaan. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. . Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran. 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. 4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina. 3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.

b. pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. aparat Wasnal dapat dibedakan. . 8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. Kabupaten/Kota. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. Dilingkungan instansi pemerintah. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Wasnal tetap masih diperlukan. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. Dengan demikian. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. wewenang dan tanggung jawabnya. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). yaitu: struktur organisasi. kebijakan pelaksanaan. Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan. Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. Beda dengan Waskat. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI). rencana kerja. aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian. Oleh karena itu. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Walaupun Waskat ditingkatkan.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. c) Badan Pengawas Daerah Provinsi. Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik.

Dalam Undang-Undang No. di bidang kepegawaian. termasuk kedinasan. fungsi anggaran. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. misalnya: 1) Kantor MENPAN. DPD dan DPRD. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. 4) Ditjen Anggaran. baik sekolah negeri/swasta. 2) BKN. ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. DPR. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. d. d) Kepolisian. dan fungsi pengawasan. 5) Bappenas. c) Depdikbud. mengenai pertanahan. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. di bidang perencanaan pembangunan nasional. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. di bidang anggaran. . Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. mengenai pendidikan sekolah. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). dari instansi tersebut. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara. mengenai keamanan dan ketertiban. instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. b. DPR memiliki fungsi legislatif. b) BPN. pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. di bidang pendayagunaan aparatur. Instansi/Intern Keuangan dan c. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD. mengenai bangunan. 3) LAN.

kritik. dengan sebaik-baiknya. e. Dalam Pasal 20A ayat (2). kritik. DPR mempunyai hak interpelasi. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan. dan hak menyatakan pendapat. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 22 Tahun 2003. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. Pandangan. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut. temuan. antara lain adalah seperti berikut: .122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. saran. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. hak angket. korupsi. penyuapan. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif. Adapun alasan-alasannya. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam Undang-Undang No. kritik. dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Pandangan.

3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 6) Memuat saran-saran. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. memperjelas. penyelewenangan. Surat kaleng sekalipun misalnya. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat. penyalahgunaaan wewenang. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. penyimpangan. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. dimana kedaulatan ditangan rakyat. karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga. 5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. Memang tidak dapat selalu diharapkan. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. perlu mendapat perhatian. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula. . memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut.

. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. Dengan demikian. antar ruang. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. berkeadilan dan berkelanjutan. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. yaitu: perencanaan. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. antar waktu. karena negara Indonesia adalah negara hukum. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. pengorganisasian. E. menjamin terciptanya integrasi. efektif. pelaksanaan dan pengawasan. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. penganggaran. pelaksanaan dan pengawasan.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Pengawasan ini sangat penting. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek.

Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6. Pengawasan. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. pengawasan fungsional. pengawasan masyarakat. dan lain-lain. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? . pengawasan teknis fungsional. dan koordinasi fungsional teritorial. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. Latihan 1. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. dan pengawasan yudikatif. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. pengawasan legislatif. rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. rapat-rapat koordinasi oleh Menko. 3. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat. koordinasi fungsional diagonal. 2. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet.

. Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. peserta dianjurkan untuk mempelajari. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. sebagaimana tersebut dalam referensi. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. 1. baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Apakah arti pentingnya UU No. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII. Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. administrasi keuangan dan lain-lain. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini.

9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Undang-undang No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Tugas. Tugas. Undang-undang No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden No. Kewenangan. Undang-undang No. Fungsi. Susunan Organisasi. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. Peraturan Presiden No. Tugas. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. dan Nepotisme. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 . 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Undang-undang No. Fungsi. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Undang-undang No. Kolusi. Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden No. DPD dan DPRD. Undang-undang No. Undang-undang No. Fungsi. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Undang-undang No. DPR. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Undang-undang No. dan Nepotisme. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Undang-undang No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. TAP MPR No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Kolusi. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Presiden No. Undang-undang No.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Instruksi Presiden No. Kewenangan. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. Fungsi. Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. Tugas.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan. Keputusan Presiden No. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. Keputusan Presiden No. Lembaga Administrasi Negara RI. Tugas. Keputusan Presiden No. Bappenas. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. Instruksi Presiden No. Instruksi Presiden No. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Keputusan Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Kewenangan. Perwakilan. . 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.