P. 1
materi diklat

materi diklat

|Views: 629|Likes:
Published by ekaka matifo

More info:

Published by: ekaka matifo on Feb 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2014

pdf

text

original

MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

....... 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN ......................... Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat .................. Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah ........... A........................ Peradilan Tata Usaha Negara.................................... Hubungan Presiden Dengan BPK..................................................................................................... Hubungan Presiden Dengan DPR.. A............... Lembaga Perekonomian Negara............................................ E.........vi vii Yang Baik (Good Governance) ......................... B..... D.. Asas Peraturan Perundang-undangan ............................................................... Latihan............ 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH ................................................... G.............................. F....... Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia........................................... Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah ......... Latihan ................................ F....................................................................... C.................. Pengawasan .................................... 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA ............ 95 95 98 102 114 126 128 45 B..................... D..... H....... Pengorganisasian .................... Latihan ............... Hubungan Presiden Dengan MK........... Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ...................................................... C.. Kerangka Peraturan Perundang-undangan.......................................... B................................................. F............. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah ....... B............................... Hubungan Presiden Dengan DPD .............. Rangkuman ........................................................ Rangkuman................................................................................. Latihan............ Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ........ E..... Pelaksanaan ............. 10 18 24 26 28 BAB VI D............................ Latihan........... A. 48 51 74 81 D. D.. A......................................... I. D... Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah .. Rangkuman............ Hubungan Presiden Dengan MA..... E................................... Rangkuman.. 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN..... ...... E........................ Hubungan Presiden Dengan MPR.. Rangkuman ....... D.......... C............ C. Perencanaan ................. F... E............. C.................

..................................viii BAB VIII PENUTUP........................................... A............ Tindak Lanjut. B........................................................... Tes........ 132 ................................................................................................... 130 130 131 REFERENSI .................

penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. lembaga-lembaga pemerintah.BAB I PENDAHULUAN A. B. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. C. Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Tujuan Pembelajaran 1. pembentukan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan dalam arti luas. f. 3 . e. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. b. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. 2. c. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. Dalam arti sempit. Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Dengan demikian. yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif. maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan). Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan. d.2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara.

4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. Menyatakan keadaan bahaya. Menyatakan perang. 8. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. Mengangkat Duta dan Konsul. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Dalam melakukan kewajibannya. 10. Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. memperhatikan pertimbangan DPR . Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4. Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). dan Angkatan Laut. 13. sebagai Kepala Negara. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . 9. Dalam mengangkat Duta. 14. Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. Presiden: 1. Selain itu. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . 3. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. . Menurut UUD 1945. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). 2. Angkatan Udara. Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. 6. 5. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. 7. Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. 12. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Presiden berhak 11. Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . Memberi gelar.

Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat. Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya. ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional. Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius. Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. birokrasi cenderung terus semakin besar. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. 16.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Latihan/Diskusi 1. 17. 18. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3. Istilah governance menurut ESCAP 7 D. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A.

Meuthia Ganie Rachman) dan . Orientasi pada konsensus. “international governance”. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. 3. Efektifitas dan efisiensi. Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. 7. aspiratif. Aturan hukum (rule of law). kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Partisipasi. penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. organisasi profesi. Ketanggapan (responsiviness). terutama untuk hak asasi manusia. Transparansi. UNDP (PT. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. koperasi. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. individu dan bahkan lembaga internasional. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). “national governance” dan “local governance”. 6. seperti “corporate governance”. mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. sektor swasta dan masyarakat. Semua warga negara. lihat Bintoro). maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. 2.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. dunia usaha/swasta. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor. pengelolaan (Sofyan Wanandi. Kesetaraan (equity). dunia usaha dan masyarakat tersebut. Governance melibatkan berbagai pelaku. Wahana…. Oleh karena itu. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. 4. yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. 5. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. LSM.

10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah. dan waktu yang . Untuk itu. Di samping itu. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. b. 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi. Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum. lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. dan masyarakat”. dunia usaha/swasta. pemahaman. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. demokratis. Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. B. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. daya tahan. Wawasan Kedepan (Visionary): a. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. BAPPENAS. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan. Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat.

dsb). 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. 3) Website (e-government. b. 2) Forum konsultasi dan temu publik. e-procurement. 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. . kehakiman). 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. 2) Pusat/balai informasi . Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif. Partisipasi masyarakat (Participation): a. kejaksaan. 4) Iklan layanan masyarakat . b. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. termasuk forum stakeholder . 5. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. 6) Mekanisme reward and punishment. 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. 3. bebas diperoleh. Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. 3) Laporan pertanggungjawaban. b. 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. mudah dijangkau. b. dan tepat waktu.12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. 2) Adanya akses pada informasi yang siap. 6) Papan pengumuman. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. Supremasi Hukum (Rule of Law): a. Tanggung Gugat (Accountability): a. mengakomodasi 4. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian. 2) Laporan tahunan. pengadilan). 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. 5) Sistem pengawasan. 4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. 5) Media cetak . kejaksaan. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik.

2) Survei-survei kepuasan stakeholders. Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. 6. 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya. 3) Kreatif dan inovatif. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. 4) Sistem pengembangan SDM. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik. 3) Sistem reward and punishment yang jelas. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. independen. b. Keefektifan (Efficiency and 7. b. 8. 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. b. dan mudah diakses publik (ombudsman). 2) Kode etik profesi. 2) Taat asas. 9. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. Daya Tanggap (Responsiveness): a. Keefesienan dan Effectiveness): a. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. b. . Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. 10. 5) Standar dan indikator kinerja. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi.14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. Desentralisasi (Decentralization): a. Demokrasi (Democracy): a. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan.

2) Job description (uraian tugas) yang jelas. serta koperasi. Komitmen a. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. dan sebagainya). Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender. 12. 3) Program-program pemberdayaan. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. b. 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. b. 11.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. . 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. 13. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu. masyara kat kurang mampu. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. dan menengah. dan kawasan tertinggal. affirmative action. Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. masyarakat kurang mampu. dan kawasan tertinggal. 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. 2) Program-program pemberdayaan gender. kecil. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat.

2) Forum kegiatan peduli lingkungan . Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. telah diterbitkan Instruksi Presiden No. 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. 239/IX/6/8/2003). Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. . 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. C. b. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No. 1. Berdasarkan pengertian ini. maka semua instansi pemerintah. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna.18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. 2. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. berhasilguna. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. bersih dan bertanggung jawab. 14.

yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Untuk melaksanakan kedua hal tersebut. nasional dan global. tuntutan perkembangan lingkungan strategis. objektif. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. strategi. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. kelemahan (weaknesses). misi. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. 4. terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. d. Dengan visi. baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). Setelah program didesain. sasaran dan uraian aktivitas organisasi. Analisis terhadap lingkungan organisasi. Oleh karena itu. untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. (2) rumusan tentang tujuan.20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. Dengan perkataan lain. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. misi. haruslah sudah 3. Di samping itu. peluang (opportunities). Harus jujur. transparan. e. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. peluang dan kendala yang dihadapi.

Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas. . Prinsip pengecualian. b. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. objektif dan transparan. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. perencanaan operasional yang terukur. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. 6. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi. 5. Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a. Prinsip pertanggungjawaban.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. c. suatu laporan harus disusun secara jujur. perbedaan realisasi dan target. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan. b. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a.

lengkap. Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. menyempurnakan. padat dan terstandarisasi. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. sesuai dengan sistem . 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. netral. berdaya banding tinggi. berdayasaing. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. efektif. serta tertib. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. aman. dapat dipercaya/diandalkan. Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum. Pemerintah wajib secara terus menerus membina. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. tidak kontradiktif). Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. tentram. mudah dimengerti (jelas dan cermat). tepat waktu. Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum.

Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. Kolusi dan Nepotisme. 9 Tahun 2004. Karena itu diperlukan pembelajaran. Kolusi dan Nepotisme. UU No. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. E. Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. daya tahan. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. pemahaman. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. waktu yang relatif panjang. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. Instruksi Presiden No.

2. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. A.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Latihan 1. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4. karena Indonesia adalah negara hukum. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Menjamin kepastian hukum. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. 3. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. 29 . Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang.

4. 1. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. 4. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. 5. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. baik secara filosofis. yuridis maupun sosiologis. persiapan. 7. penyusunan. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. . Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. berbangsa. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. dan bernegara. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. 2. 3. 6.

Gubernur BI. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. dan Peraturan Daerah. DPRD Kabupaten/Kota. B. . Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 9. 8. Keserasian. Peraturan Presiden.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. DPR. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. dan bernegara. golongan. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. dan Keselarasan. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. MK. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. ras. agama. dan keselarasan. DPD. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. agama. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. Menteri. Gubernur. Keseimbangan. 10. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. DPRD Provinsi. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. MA. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. atau status sosial. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. kondisi khusus daerah. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7. suku. Peraturan Pemerintah. 6. gender. BPK. Bupati/Walikota. keserasian. antara lain. berbangsa. suku dan golongan.

c. Termasuk dalam Peraturan Daerah . Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. d. Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. wilayah negara dan pembagian daerah. Kepala Desa atau yang setingkat. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. kewarganegaraan dan kependudukan. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. 2. hak dan kewajiban warga negara. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan keuangan negara. 10 Tahun 2004 adalah: a. b. e.

1. Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. 188 Tahun 1998. C. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . lingkup atau obyek yang akan diatur. sasaran yang ingin diwujudkan. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi. Penyampaian RUU kepada DPR. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR. Pengesahan. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. dan jangkauan dan arah pengaturan. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. 2. Konsultasi RUU. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. pembulatan. pokok pikiran. dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. Untuk pengharmonisan. Apabila keharmonisan. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. kebulatan dan kemantapan konsepsi.

Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. 4. Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki . politik.38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu. para Menteri Koordinator. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. . Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. b. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. antara lain: a. profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. Menteri Kehakiman. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR. Cara penanganan atau pembahasannya. Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa. untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. c.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. antara lain: a. b. 5. b. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. b. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. antara lain: a. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. c. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Mengendalikan peredaran uang. akuntabilitas. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. Mendirikan lembaga permasyarakatan. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. abolisi. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. Daerah Provinsi. . Moneter dan Fiskal. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. c. amnesti. Peraturan Pemerintah. Agama. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. antara lain: a. c. Daerah Kabupaten dan Kota. 6. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. b. memberi grasi. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. d. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. Menetapkan kebijakan moneter. 4. ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. Mendirikan lembaga peradilan. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. membentuk UndangUndang. atau c. Mengangkat hakim dan jaksa. dan peraturan lain yang berskala nasional.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Yustisi.

9. 4. dana. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. dan pengawasan tata ruang. Fasilitasi pengembangan koperasi. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. 14. 16. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. 11. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. 13. 15. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. B. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Penanganan bidang kesehatan. 12. pemanfataan. Perencanaan. 3. 10. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. Pengendalian lingkungan hidup. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. usaha kecil. . kesehatan. prasarana lingkungan dasar. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. Penyediaan sarana dan prasarana umum. 2. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. Pelayanan kependudukan.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. 5. kepastian. 8. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. 7. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. dan catatan sipil. 6. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota.

Pelayanan kependudukan. Lembaga . Pengendalian lingkungan hidup. 7. 5. 11. 10. Pelayanan administrasi penanaman modal. 14. Penyediaan sarana dan prasarana umum.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi. 9. dan catatan sipil. Gambar V. Penanganan bidang kesehatan. Fasilitasi pengembangan koperasi. 15. dan pengawasan tata ruang. Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Penyelenggaraan pendidikan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. 2. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. pemanfataan. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. 4. dan menengah. Pelayanan pertanahan. 12. 8. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Penanggulangan masalah sosial. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. dan 16. usaha kecil. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. 3. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 6. 32 Tahun 2004 C. Perencanaan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan. 13.

Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. saran. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan. Tugas. Hukum. sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). Depar . b). Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). Badan/Lembaga Ekstra Struktural. 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. POLRI. Kejaksaan Agung. serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. dan Instansi yang dianggap perlu. 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Koordinator Bidang Politik. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Hukum. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Luar Negeri. Kesekretariatan yang membantu Presiden. 1. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. a. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. BIN. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Fungsi. a). Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Departemen Pertahanan. Kepolisian Negara RI (Polri). Tentara Nasional Indonesia (TNI). yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. Kejaksaan Agung. Perwakilan RI di Luar Negeri. Departemen Hukum dan HAM. 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. TNI. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator. dan Keamanan.

Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator.62 Tahun 2005). Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan. c). Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Kehutanan. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. . Kementerian Negara Lingkungan Hidup.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. Kementerian Negara Ristek. 3) Staf Ahli. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 2) Departemen Luar Negeri. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. Kementerian Negara PAN. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya. Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Departemen Perdagangan. 3) Departemen Pertahanan. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Departemen Perhubungan. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Departemen Diknas. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Perindustrian. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Kementerian Negara PP. dan Intansi lain yang dianggap perlu. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. Departemen Agama. Departemen Pekerjaan Umum. dan Instansi yang dianggap perlu. b. saran. 2) Deputi. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. Departemen Kominfo. 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. Departemen Sosial. Departemen Pertanian.

7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Departemen Perhubungan. Departemen Keuangan. Departemen Sosial. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Pekerjaan Umum.62 Tahun 2005). 4) Inspektorat Jenderal. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. 2) Sekretariat Jenderal. Departemen Perdagangan.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. . Departemen Komunikasi dan Informatika. Departemen Kehutanan. Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Kesehatan. Departemen Pertanian. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya. Departemen Pendidikan Nasional. Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. 5) Badan dan/atau Pusat. Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. Departemen Agama. Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. c. 3) Direktorat Jenderal. bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen. 6) Staf Ahli.

Kementerian Negara Perumahan Rakyat. 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 62 Tahun 2005. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. 2) Deputi. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat. saran. 187/M/Tahun 2005). 62 Tahun 2005).58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. 64 Tahun 2005. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Berdasarkan Perpres No. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. d. Dalam Perpres No. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 3) Staf Ahli. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. 103 Tahun 2001 tentang . Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No.

9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). BAKOSUR TANAL. 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. Kewenangan. 6) Badan Pusat Statistik (BPS). BKN. BATAN. dan ANRI. Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. 64 Tahun 2005. pembinaan dan pengendalian terhadap program . 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. BPPT. 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 103 Tahun 2001.60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Fungsi. yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. BPKP. 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG. 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). 10) Badan Intelijen Negara (BIN). 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). LAPAN. 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sekretariat Utama. BAPETEN. Tugas. masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). Sesuai dengan Perpres No. 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND. Dalam Keppres No. 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). dan BSN.

dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. e. 111 Tahun 2000. Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. Deputi. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. f. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. Kejaksaan Tinggi. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. dan Kejaksaan Negeri. administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. 117 Tahun 2000. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI.

f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. dan putusan lepas bersyarat. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. putusan pidana pengawasan. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. perdata. kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. . c) Pengawasan peredaran barang cetakan. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. dan tata usaha negara. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU.

2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul. Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat. kebudayaan dan ilmu . perhubungan. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI). yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. g. Konsulat RI. 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. perdagangan. bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian.66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI).

68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. TAP No. dan keselamatan bangsa. tugas. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. AL. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No. Tiap-tiap angkatan (AD. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. h. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. . 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. TNI berkedudukan di bawah Presiden. keutuhan wilayah. TNI Angkatan Laut. 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Badan Pelaksana Pusat. VI/MPR/2000 dan TAP No. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. menegakkan hukum.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. Selain tugas pokok tersebut di atas. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Markas Besar TNI Angkatan Laut. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan. Unsur Pembantu Pimpinan. Unsur Pelayanan. dan Komando Utama Operasi. tugas. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. VII/MPR/2000. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Unsur Pembantu Pimpinan. 2) POLRI berada di bawah Presiden. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Badan Pelaksana Pusat. susunan dan kedudukan POLRI. Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. . i. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. Kemudian diatur dalam UU No. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol. dan Komando Utama Pembinaan. Unsur Pelayanan.

Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. Dewan Ketahanan Pangan. yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang.72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. Komite. 4) Komite. antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. Komisi Pemilihan Umum (KPU). antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. Dewan Maritim Nasional. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Komisi. Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. 3) Komisi. Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan. Komisi Ombudsman. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Departemen. Badan. Lembaga. k. Komite Nasional Keselamatan . 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. Kementerian Negara) dan atau LPND. Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri. j. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI). Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. dan Tim. 2) Badan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. bahkan Presiden atau Wakil Presiden.

Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. Unsur pelaksana urusan daerah. 3. 5) Lembaga. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau Walikota. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. dan 4. dan 6. terdiri atas: 1. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. Sekretariat Daerah. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lembaga Teknis Daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. Komite Olah Raga Nasional. Bupati. Dinas Daerah.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. . 3. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Lembaga Teknis Daerah. Kecamatan. 5. Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Dinas Daerah. 3. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. antara lain: Lembaga Sensor Film. 4. 2. 2. Sekretariat DPRD. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. Kelurahan. Sekretariat DPRD. 2. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 32 Tahun 2004. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. D. Sekretariat Daerah. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah.

Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. 2. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. 4. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. Kepala Badan. Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Di samping itu. Dalam melaksanakan tugasnya. Kantor. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. kantor. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. daerah yang bersifat spesifik. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. 3.76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. atau rumah sakit umum daerah. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas. 3. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . Kepala Kantor. 2. Badan.

Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Di samping itu. pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 5. Pemberdayaan masyarakat. Kebutuhan daerah. Lurah mempunyai tugas: 1. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. 2.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. 4. 3. Pelayanan masyarakat. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. . Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. 2. Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. 6. Kemampuan keuangan. 7. 5. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani.

BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. dan 2.80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Sarana dan prasarana penunjang tugas. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. Jenis dan banyaknya tugas. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi. . Dalam sistem perekonomian nasional. Di samping itu. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar. BUMN. di samping usaha swasta dan koperasi. 4. Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 5. E. sinkronisasi. Jumlah dan kepadatan penduduk. 6. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. 7. 8. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. 1. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). cakupan wilayah. integrasi. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi.19 Tahun 2003. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan.

. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. d. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Mengejar keuntungan. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. dividen dan hasil privatisasi. dan Komisaris. b. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. 3. adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a. koperasi dan masyarakat. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya.82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. 19 Tahun 2003. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. c. a. b. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. e. c. Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Direksi.

sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No.84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. pelepasan kepemilikan. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya. Direksi. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk. b. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. efektif dan produktif. a. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . Organ Perum adalah: Menteri. yaitu Perumda dan Perseroda. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. dan Dewan Pengawas. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. d. F. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. 32 Tahun 2004. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No.

Perwakilan RI di Luar Negeri. POLRI. yustisi. Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . Lembaga Ekstra Struktural. Dinas Daerah. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3. Sekretariat DPRD. G. Kecamatan. LPND. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. TNI. Departemen. BUMN berbentuk Persero dan Perum.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. keamanan. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. moneter dan fiskal. pertahanan. Latihan 1. Kesekretariatan yang membantu Presiden. Kementerian Negara. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. Kejaksaan Agung. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. dan agama. dan Kelurahan. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. Lembaga Teknis Daerah. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2.

baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Presiden bekerjasama dengan DPR. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. 5 Tahun 1973 tentang BPK. Hubungan Presiden Dengan DPR A. DPD. 7. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. Sebelum memangku jabatannya. penyuapan. dan DPRD. . UU No. 4. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. UU No. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. 3. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR. 88 1. B. UU No.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. 5. 5 Tahun 2004 tentang MA. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. 2. UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. DPR. 2. tindak pidana berat lainnya. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait. korupsi. 6. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. UU No. 3. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 4. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. Apabila Wakil Presiden berhalangan. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR.

DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. pembentukan. 8. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. 6. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden. 3. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pajak. pemekaran dan penggabungan daerah. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. baik diminta maupun tidak. 7. F. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Presiden menetapkan hakim konstitusi. C. 2. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. 2. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. 4. pengelolaan sumber daya dan belanja negara. hubungan pusat dan daerah. Presiden memberi amnesti. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. . 4.90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. Hubungan Presiden Dengan MA 1. 5. E. 3. D. 3. 2. Presiden meresmikan keanggotaan DPD. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. 2. Hubungan Presiden Dengan MK 1. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden.

Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. Untuk dan atas nama Pemerintah.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. 7. dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. Dalam UUD 1945. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. 10. 8. menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. I. 2. 5. itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. 3. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. H. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. 6. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. 4. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. 9. Latihan 1.

pengorganisasian. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. jangka menengah. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. 95 .94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. yaitu perencanaan. pelaksanaan dan pengawasan. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. A. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

antar ruang. c. penganggaran. 3. dan berkelanjutan. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. pelaksanaan. 2. dan pengawasan. 4. 3. misi. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. efektif. d. 2. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. sinkronisasi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah. berkeadilan. dan terukur. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. 5. b.96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. Sebagai tindak lanjut dari UU No. Menjamin terciptanya integrasi. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. antar waktu. menyeluruh. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. 3. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. dan sinergi baik antar daerah. 2. 25 Tahun 2004 ini. Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. 25 Tahun 2004. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana . Menurut UU No. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien.

Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. B. Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. Selanjutnya. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. tujuan dan kinerja pembangunan. Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. 3. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. 1. Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.

baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. untuk 7. maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). Prinsip Koordinasi. Oleh karena itu. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya. Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. 9. Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. 10. Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner. maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. 8. 5.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja. 4. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi.

Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala .102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin. 11. Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. kesimpangsiuran dan atau kekacauan. menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. 12. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. beserta segenap gerak. perbenturan. dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. perencanaan. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. demikian pula susunan organisasinya. Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan). langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. C. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. Oleh karena itu. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah.

dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. 3) Koordinasi fungsional teritorial. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah No. b. Misalnya. . Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. b. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan.104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. 2. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. 2) Koordinasi fungsional diagonal. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. Koordinasi fungsional. 1) Koordinasi fungsional horizontal. koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi.

Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. orang yang melaksanakan dan alokasi. . berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. i. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. b. waktu pelaksanaan. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. d. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. h. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. d. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. sasaran. tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait. cara melakukan. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. petunjuk pelaksanaan (juklak). dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. c. g. Perlu kejelasan wewenang. e. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. e. f. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan.

Panitia. Namun demikian. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Misalnya. Dewan Ketahanan Pangan. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. Panitia. SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. g. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. Kelompok Kerja. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. . Tim. mendesak. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks. asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan. Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Dewan Maritim Nasional. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). f. multidisiplin. h. multisektor. Kelompok Kerja.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan. sulit dan terus menerus. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi.

Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. b. Hukum dan Keamanan. Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. . Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Menteri Koordinator Perkonomian. d. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a. dengan beraneka ragam permasalahan. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. c. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas. Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain.

seperti Atase Kebudayaan. Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah. apalagi dipisahkan. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. kabupaten dan kota. setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. . f. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. 5. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). baik formal maupun informal. Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. 2) Kepala Daerah. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. e. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. namun demikian.112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis). 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi. juga terhadap Bupati dan Walikota. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Atase Pertahanan.

yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen.114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. sedang dan mungkin akan dihadapi. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. masalah-masalah yang telah. hambatan. Demikian pula. penyelewengan. Jenis-Jenis Pengawasan a. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. hambatan. . Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. pemborosan. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. kebijakan. kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan.

3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. . 5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya. didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. 4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. prestasi kerja. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan. 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. pencapaian sasaran pelaksanaan tugas. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. pengorganisasian dan pelaksanaan. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya.116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik.

Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. aparat Wasnal dapat dibedakan. Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). Dengan demikian. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. . Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI). aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. kebijakan pelaksanaan. meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. wewenang dan tanggung jawabnya. b. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan. Oleh karena itu. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik. Kabupaten/Kota. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian. rencana kerja. Wasnal tetap masih diperlukan. Beda dengan Waskat. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Dilingkungan instansi pemerintah. Walaupun Waskat ditingkatkan. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. 8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. yaitu: struktur organisasi. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. c) Badan Pengawas Daerah Provinsi.

DPR. . dari instansi tersebut. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD. termasuk kedinasan. mengenai bangunan. misalnya: 1) Kantor MENPAN. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. baik sekolah negeri/swasta. 4) Ditjen Anggaran. dan fungsi pengawasan. d) Kepolisian. mengenai keamanan dan ketertiban. d. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. b) BPN. di bidang kepegawaian. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. DPD dan DPRD. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. di bidang perencanaan pembangunan nasional. mengenai pertanahan. 3) LAN. fungsi anggaran. Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. mengenai pendidikan sekolah. instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 2) BKN. pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. DPR memiliki fungsi legislatif. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). Instansi/Intern Keuangan dan c. b. di bidang pendayagunaan aparatur. Dalam Undang-Undang No. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. di bidang anggaran. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. 5) Bappenas. c) Depdikbud. yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara.

pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. Pandangan. antara lain adalah seperti berikut: . penyuapan. 22 Tahun 2003. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan. temuan. Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dengan sebaik-baiknya.122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. DPR mempunyai hak interpelasi. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut. kritik. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. Adapun alasan-alasannya. hak angket. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. kritik. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. dan hak menyatakan pendapat. kritik. e. korupsi. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. Dalam Undang-Undang No. Pandangan. saran. Dalam Pasal 20A ayat (2). dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan.

karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga. dimana kedaulatan ditangan rakyat. penyalahgunaaan wewenang. penyimpangan. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. 5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. . tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. 6) Memuat saran-saran. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula. Surat kaleng sekalipun misalnya. 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. Memang tidak dapat selalu diharapkan. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat. perlu mendapat perhatian. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. memperjelas. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. penyelewenangan.

Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula. berkeadilan dan berkelanjutan. pengorganisasian. antar ruang. Dengan demikian. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Pengawasan ini sangat penting. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. menjamin terciptanya integrasi. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. penganggaran. . karena negara Indonesia adalah negara hukum. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. E. pelaksanaan dan pengawasan. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. pelaksanaan dan pengawasan. yaitu: perencanaan. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. efektif. antar waktu. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek. antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja.

pengawasan teknis fungsional.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. koordinasi fungsional diagonal. dan koordinasi fungsional teritorial. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Pengawasan. pengawasan masyarakat. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? . Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6. dan pengawasan yudikatif. pengawasan legislatif. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat. 2. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet. dan lain-lain. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. pengawasan fungsional. 3. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. Latihan 1. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. rapat-rapat koordinasi oleh Menko.

administrasi keuangan dan lain-lain. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. . Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. 1. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. sebagaimana tersebut dalam referensi.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Apakah arti pentingnya UU No. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. peserta dianjurkan untuk mempelajari. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII.

3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Peraturan Presiden No. Tugas. dan Nepotisme. Undang-undang No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Undang-undang No. Undang-undang No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kewenangan. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 . Fungsi. Undang-undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Kolusi. Undang-undang No. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. Undang-undang No. DPD dan DPRD. Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tugas. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Undang-undang No. Undang-undang No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-undang No. Tugas. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Susunan Organisasi. Fungsi. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan Nepotisme. Kolusi. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. DPR. Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Undang-undang No.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. Undang-undang No. TAP MPR No. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. Fungsi. Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

Tugas. Keputusan Presiden No. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Keputusan Presiden No. Instruksi Presiden No. Keputusan Presiden No. Kewenangan. Instruksi Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Fungsi. Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. Tugas. Keputusan Presiden No.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan. Perwakilan. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Lembaga Administrasi Negara RI. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. Bappenas. . 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Kewenangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->