MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

.. Latihan............................ F....... Rangkuman.... 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA . F............. E........ H..... 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN . Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ........................................................ 48 51 74 81 D............................................. Rangkuman. D........... A.. Hubungan Presiden Dengan MA............................... Latihan ................. Hubungan Presiden Dengan MK...... Latihan .................. C.............. 10 18 24 26 28 BAB VI D..... E..... D........................................................ 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH .................................... C...................... G.... Rangkuman................................ 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN...................................... B.......... C.......... Hubungan Presiden Dengan DPR....... D........... Lembaga Perekonomian Negara.......... Pelaksanaan . F................... E...... Peradilan Tata Usaha Negara................ D......................................... Kerangka Peraturan Perundang-undangan............. E........................................................................ C............................ Rangkuman ........ Pengorganisasian . F.... B........................................ A......... ....... Rangkuman ........................................................... Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ...... Hubungan Presiden Dengan MPR..................................................................................................... D............... Hubungan Presiden Dengan DPD .... Perencanaan ... Asas Peraturan Perundang-undangan .................................................. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah .............. A................................ Latihan.......... Pengawasan ........................... Hubungan Presiden Dengan BPK....................... 95 95 98 102 114 126 128 45 B.................................. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia...... Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah ............ I................................................... E............. Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah ..................... B...... A........ Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat .....................vi vii Yang Baik (Good Governance) ...................................................................... Latihan.............................. C............................ Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ..........

....................... Tindak Lanjut............................................................................ Tes....................................................................... 132 .........viii BAB VIII PENUTUP................ 130 130 131 REFERENSI ............................ B.................. A................................

Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . Tujuan Pembelajaran 1. pembentukan peraturan perundang-undangan.BAB I PENDAHULUAN A. hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. C. B. penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. lembaga-lembaga pemerintah.

Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan. Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. c. Sedangkan dalam arti luas. Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara.2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. Dalam arti sempit. 2. b. Dengan demikian. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. e. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif. f. d. 3 . Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan).

dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 9. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. 7. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. Angkatan Udara. 6.4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. Memberi gelar. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Menyatakan keadaan bahaya. Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Menyatakan perang. memperhatikan pertimbangan DPR . dan Angkatan Laut. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . 2. Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4. 10. tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . 3. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). . Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. 5. Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam mengangkat Duta. Selain itu. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara. 12. 8. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Mengangkat Duta dan Konsul. Presiden: 1. Menurut UUD 1945. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . sebagai Kepala Negara. 14. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. Dalam melakukan kewajibannya. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. 13. Presiden berhak 11.

Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3. birokrasi cenderung terus semakin besar. 18. Latihan/Diskusi 1. Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. 16. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A. 17. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . Istilah governance menurut ESCAP 7 D. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”. Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat. Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius.

7. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. lihat Bintoro). Orientasi pada konsensus. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor. seperti “corporate governance”. 4.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. Transparansi. Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. Semua warga negara. sektor swasta dan masyarakat. Meuthia Ganie Rachman) dan . penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. 3. Wahana…. Ketanggapan (responsiviness). pengelolaan (Sofyan Wanandi. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. organisasi profesi. 2. individu dan bahkan lembaga internasional. “international governance”. Aturan hukum (rule of law). Partisipasi. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. Efektifitas dan efisiensi. terutama untuk hak asasi manusia. aspiratif. mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. UNDP (PT. Oleh karena itu. 6. dunia usaha/swasta. kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. “national governance” dan “local governance”. Governance melibatkan berbagai pelaku. maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. LSM. Kesetaraan (equity). koperasi. dunia usaha dan masyarakat tersebut. 5.

Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. dan waktu yang . Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. Untuk itu. b. Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. demokratis. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. dunia usaha/swasta. Di samping itu. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. B.10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). pemahaman. dan masyarakat”. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. daya tahan. melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. Wawasan Kedepan (Visionary): a. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. BAPPENAS. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan.

kejaksaan. dan tepat waktu. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. 5) Sistem pengawasan. 2) Adanya akses pada informasi yang siap. 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. 2) Pusat/balai informasi . Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. kejaksaan. mudah dijangkau. Partisipasi masyarakat (Participation): a. 5) Media cetak . Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian. 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. Tanggung Gugat (Accountability): a. 5. termasuk forum stakeholder . Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. b. 6) Mekanisme reward and punishment. mengakomodasi 4. b. Supremasi Hukum (Rule of Law): a. 3) Website (e-government. 6) Papan pengumuman. b. 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. e-procurement. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif. 4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. 2) Forum konsultasi dan temu publik. 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. 3) Laporan pertanggungjawaban. pengadilan). bebas diperoleh. kehakiman).12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. 2) Laporan tahunan. 3. 4) Iklan layanan masyarakat . Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. b. . 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. dsb).

Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. dan mudah diakses publik (ombudsman). 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . Keefektifan (Efficiency and 7. 3) Sistem reward and punishment yang jelas. 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. Desentralisasi (Decentralization): a. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. b. 5) Standar dan indikator kinerja. 2) Kode etik profesi. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. b. 6. Demokrasi (Democracy): a. Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. b. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan. Daya Tanggap (Responsiveness): a. 8. 3) Kreatif dan inovatif. 9. 10. 4) Sistem pengembangan SDM. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi. b. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal. Keefesienan dan Effectiveness): a. 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya.14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. . 2) Taat asas. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik. 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. independen. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum.

Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. . 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. affirmative action. Komitmen a. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. 3) Program-program pemberdayaan. 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 11. b. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. 2) Program-program pemberdayaan gender. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. dan kawasan tertinggal. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu. serta koperasi. 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. dan kawasan tertinggal. masyarakat kurang mampu. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender. Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. 2) Job description (uraian tugas) yang jelas. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat. 12. dan menengah. dan sebagainya). 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. 13. masyara kat kurang mampu. 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. b. kecil.

badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. 239/IX/6/8/2003). 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No.18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. 14. 2) Forum kegiatan peduli lingkungan . 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. C. b. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No. perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. berhasilguna. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. b. 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. maka semua instansi pemerintah. 2. telah diterbitkan Instruksi Presiden No. 1. . bersih dan bertanggung jawab. Berdasarkan pengertian ini. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat.

kelemahan (weaknesses). Dengan visi. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat.20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. e. transparan. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. strategi. Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. 4. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi. d. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. peluang dan kendala yang dihadapi. Dengan perkataan lain. dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. peluang (opportunities). misi. (2) rumusan tentang tujuan. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. Setelah program didesain. yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. sasaran dan uraian aktivitas organisasi. objektif. baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). tuntutan perkembangan lingkungan strategis. Harus jujur. nasional dan global. lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. Oleh karena itu. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Untuk melaksanakan kedua hal tersebut. misi. Di samping itu. haruslah sudah 3. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. Analisis terhadap lingkungan organisasi.

Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. . Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. Prinsip pertanggungjawaban. 6. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. b. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Prinsip pengecualian. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya. c. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. suatu laporan harus disusun secara jujur. perbedaan realisasi dan target. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. perencanaan operasional yang terukur. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. 5. objektif dan transparan. b. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak.

dapat dipercaya/diandalkan. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. berdaya banding tinggi. padat dan terstandarisasi. netral. serta tertib. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. Pemerintah wajib secara terus menerus membina. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. aman. efektif. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum. menyempurnakan. tidak kontradiktif). mudah dimengerti (jelas dan cermat). perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. tentram. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. berdayasaing. tepat waktu. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. lengkap. Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali. sesuai dengan sistem .

serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. daya tahan. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. 9 Tahun 2004. melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. Kolusi dan Nepotisme. Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat. Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. Kolusi dan Nepotisme. E. waktu yang relatif panjang. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). UU No. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. Instruksi Presiden No. Karena itu diperlukan pembelajaran. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . pemahaman.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat.

A.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Latihan 1. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4. Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. 29 . Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang. karena Indonesia adalah negara hukum. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. 3. Menjamin kepastian hukum. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. 2.

Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. berbangsa. Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. 3. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. 1. Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. penyusunan. 2. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. 6. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. . serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. 5. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. yuridis maupun sosiologis. 4. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. dan bernegara. 4. persiapan. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. 7. baik secara filosofis.

dan Peraturan Daerah. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. MA. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. Menteri. kondisi khusus daerah. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas. BPK. MK. . DPRD Kabupaten/Kota. Gubernur BI. DPR. 9. Bupati/Walikota. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. Keseimbangan. Peraturan Presiden. agama. keserasian. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. antara lain. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. gender. DPD. Peraturan Pemerintah. agama. 10. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. 6. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. suku dan golongan. B. atau status sosial. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. DPRD Provinsi. Keserasian. dan Keselarasan. berbangsa. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7. Gubernur. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. ras. 8. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dan bernegara. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. suku. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. dan keselarasan. golongan.

10 Tahun 2004 adalah: a. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. e. dan keuangan negara. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. c. 2. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kewarganegaraan dan kependudukan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. wilayah negara dan pembagian daerah. b. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur. d. hak dan kewajiban warga negara. Kepala Desa atau yang setingkat. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. Termasuk dalam Peraturan Daerah . Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan.

Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. 2. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. pokok pikiran. Penyampaian RUU kepada DPR. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. pembulatan. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. 188 Tahun 1998. Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR. Untuk pengharmonisan. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. C. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. 1. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . sasaran yang ingin diwujudkan. lingkup atau obyek yang akan diatur. Apabila keharmonisan. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. kebulatan dan kemantapan konsepsi. dan jangkauan dan arah pengaturan. Pengesahan.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Konsultasi RUU.

profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa. untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. c. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. 4. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. . Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki . Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu. antara lain: a. Cara penanganan atau pembahasannya. para Menteri Koordinator. politik. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. b. Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR.38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. Menteri Kehakiman.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

c. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. antara lain: a. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. Mengendalikan peredaran uang. Agama. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Mengangkat hakim dan jaksa. . Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. antara lain: a. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Menetapkan kebijakan moneter. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. 6. Mendirikan lembaga peradilan. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. Daerah Provinsi. dan peraturan lain yang berskala nasional. d. amnesti. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Moneter dan Fiskal. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. membentuk UndangUndang. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. memberi grasi.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. c. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. 4. c. Peraturan Pemerintah. 5. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. b. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. Mendirikan lembaga permasyarakatan. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. Yustisi. Daerah Kabupaten dan Kota. b. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. akuntabilitas. abolisi. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. b. b. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. antara lain: a. atau c. ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi.

16. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. 8. 9. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. 10. usaha kecil. 6. . Pelayanan kependudukan. Perencanaan. kepastian. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 5. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan pengawasan tata ruang. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 7. 15. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Penanganan bidang kesehatan. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. 3. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Penyediaan sarana dan prasarana umum. pemanfataan. dan catatan sipil. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. 2. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. prasarana lingkungan dasar. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 14. Pengendalian lingkungan hidup. 12. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. 11. 13. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. kesehatan. Fasilitasi pengembangan koperasi. B. dana. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota. 4.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. 4. 15. pemanfataan. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Pengendalian lingkungan hidup. Fasilitasi pengembangan koperasi. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 8. Perencanaan. dan pengawasan tata ruang. dan 16.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi. dan menengah. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Penyelenggaraan pendidikan. Pelayanan kependudukan. 3. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. Penanggulangan masalah sosial. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. Pelayanan pertanahan. 10. dan catatan sipil. 12. Gambar V. 2. Lembaga . Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 C. 6. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. 5. 11. 7. 13. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. 14. Pelayanan administrasi penanaman modal.50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. Penanganan bidang kesehatan. 9. usaha kecil. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI.

5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. Kejaksaan Agung. Hukum. Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. BIN. sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). Tugas. 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. a). a. Kesekretariatan yang membantu Presiden. TNI. Perwakilan RI di Luar Negeri. saran. serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. POLRI. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Luar Negeri. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. Departemen Hukum dan HAM. Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Fungsi. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara. Tentara Nasional Indonesia (TNI). 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. Kepolisian Negara RI (Polri). Kejaksaan Agung. 1. Kementerian Koordinator Bidang Politik. dan Instansi yang dianggap perlu. 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Departemen Pertahanan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. b). Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator. dan Keamanan. Badan/Lembaga Ekstra Struktural. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Depar . Hukum. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya.

saran. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Kominfo. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Departemen Agama. Departemen Kehutanan. Kementerian Negara PP. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. Departemen Sosial. 2) Deputi. c). 3) Departemen Pertahanan. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal.62 Tahun 2005). 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. 2) Departemen Luar Negeri. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. 3) Staf Ahli. dan Intansi lain yang dianggap perlu. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. b. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Kementerian Negara PAN. . Departemen Perhubungan. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Perdagangan. dan Instansi yang dianggap perlu. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Departemen Diknas. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. Departemen Perindustrian. Kementerian Negara Ristek. Departemen Pertanian.

3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. Departemen Perdagangan. Departemen Perhubungan. Departemen Pertanian. 4) Inspektorat Jenderal.62 Tahun 2005). Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. Departemen Keuangan. 5) Badan dan/atau Pusat. Departemen Agama. . Departemen Sosial. 3) Direktorat Jenderal. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Departemen Komunikasi dan Informatika. bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen. 2) Sekretariat Jenderal. Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Kesehatan.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pendidikan Nasional. Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya. 6) Staf Ahli. Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. Departemen Kehutanan. c. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. 187/M/Tahun 2005). Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Dalam Perpres No. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. 64 Tahun 2005. Berdasarkan Perpres No. dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. 103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 62 Tahun 2005). 62 Tahun 2005. d. 103 Tahun 2001 tentang . 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara.58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. saran. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. 2) Deputi. 3) Staf Ahli. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden.

dan ANRI. 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Dalam Keppres No. BAKOSUR TANAL. Fungsi. 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sekretariat Utama. BATAN. 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). pembinaan dan pengendalian terhadap program . Sesuai dengan Perpres No. 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 6) Badan Pusat Statistik (BPS). 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). BPPT. yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 10) Badan Intelijen Negara (BIN). Kewenangan. 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). Tugas. 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG. 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. 64 Tahun 2005. 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). dan BSN. 103 Tahun 2001. 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. LAPAN. Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND. BPKP. BKN.60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). BAPETEN.

Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. 111 Tahun 2000. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. Kejaksaan Tinggi. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. 117 Tahun 2000. dan Kejaksaan Negeri. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . f. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI. e. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. Deputi.

kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. c) Pengawasan peredaran barang cetakan. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. perdata. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. dan putusan lepas bersyarat. dan tata usaha negara. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. putusan pidana pengawasan. f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum. kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. . 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama.

Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. kebudayaan dan ilmu . Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional. bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. 2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian. dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI). Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul.66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat. Konsulat RI. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. perdagangan. g. 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI). perhubungan.

h. Tiap-tiap angkatan (AD. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. . 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. dan keselamatan bangsa. TNI berkedudukan di bawah Presiden. tugas. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. keutuhan wilayah. dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. TAP No. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No.68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. AL. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. TNI Angkatan Laut.

Unsur Pembantu Pimpinan. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. susunan dan kedudukan POLRI. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Unsur Pelayanan. Badan Pelaksana Pusat. 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. 2) POLRI berada di bawah Presiden. dan Komando Utama Pembinaan. dan Komando Utama Operasi. Markas Besar TNI Angkatan Laut. tugas. Unsur Pelayanan. Selain tugas pokok tersebut di atas. Unsur Pembantu Pimpinan. . i. menegakkan hukum. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. VI/MPR/2000 dan TAP No. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. Kemudian diatur dalam UU No. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. VII/MPR/2000. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Badan Pelaksana Pusat. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol.

j. Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. Badan. Kementerian Negara) dan atau LPND. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri. yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang. Dewan Ketahanan Pangan. Komite. Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI). Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan. Komisi. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). 4) Komite. Komite Nasional Keselamatan . Dewan Maritim Nasional. Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. dan Tim. 3) Komisi.72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. bahkan Presiden atau Wakil Presiden. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Komisi Pemilihan Umum (KPU). Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Departemen. 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. k. antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). 2) Badan. antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Komisi Ombudsman. Lembaga. Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI.

Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. dan 4. dan 6. Sekretariat Daerah. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. Unsur pelaksana urusan daerah. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. Dinas Daerah. Lembaga Teknis Daerah. 3. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terdiri atas: 1. Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Sekretariat Daerah. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. 5. 2. 3. 5) Lembaga. Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. Kelurahan. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. Dinas Daerah. 2. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Bupati. 4. . antara lain: Lembaga Sensor Film. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. Sekretariat DPRD.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi. Sekretariat DPRD. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. 3. 2. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. 32 Tahun 2004. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. D. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. Lembaga Teknis Daerah. Kecamatan. atau Walikota. Komite Olah Raga Nasional.

Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. 3. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. 4. atau rumah sakit umum daerah. Kepala Badan. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. kantor. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1. 3. Kantor. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dalam melaksanakan tugasnya. Di samping itu.76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. 2. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. 2. Kepala Kantor. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas. daerah yang bersifat spesifik. Badan. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.

Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Pelayanan masyarakat. Kebutuhan daerah. pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Kemampuan keuangan. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. 2. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. 2. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. 5. 3. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. 5. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. . 6. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Lurah mempunyai tugas: 1. Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. 7. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Pemberdayaan masyarakat. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. 4. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Di samping itu.

7. . Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. Di samping itu. Dalam sistem perekonomian nasional. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. E. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi. Jumlah dan kepadatan penduduk.19 Tahun 2003. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. integrasi. 6. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. Sarana dan prasarana penunjang tugas. di samping usaha swasta dan koperasi. 4. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. 1. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional. sinkronisasi. 8. BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. BUMN. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. 5. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Jenis dan banyaknya tugas. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. cakupan wilayah. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. dan 2.

2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. a. adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. Mengejar keuntungan. c. dan Komisaris. 19 Tahun 2003. koperasi dan masyarakat. d. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). b. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). 3. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. c. Direksi. Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. b.82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. dividen dan hasil privatisasi. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. . e.

84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. b. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. dan Dewan Pengawas. d. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. 32 Tahun 2004. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No. Direksi. efektif dan produktif. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. yaitu Perumda dan Perseroda. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. pelepasan kepemilikan. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. F. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. a. sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. Organ Perum adalah: Menteri. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya.

Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. G. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. BUMN berbentuk Persero dan Perum. Lembaga Teknis Daerah. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3. yustisi. Latihan 1. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4. pertahanan. Kementerian Negara. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. keamanan. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. Sekretariat DPRD. Perwakilan RI di Luar Negeri. Lembaga Ekstra Struktural. Kesekretariatan yang membantu Presiden.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. TNI. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. Kecamatan. dan agama. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. Departemen. moneter dan fiskal. POLRI. Kejaksaan Agung. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. Dinas Daerah. dan Kelurahan. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2. LPND.

5. 2. 6. baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. 5 Tahun 1973 tentang BPK. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. UU No. UU No. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. DPD. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. B. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. penyuapan. . Hubungan Presiden Dengan DPR A. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. UU No. 4. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. UU No. 3. dan DPRD. Sebelum memangku jabatannya. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. korupsi. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. tindak pidana berat lainnya. Presiden bekerjasama dengan DPR. MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. 3. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 2. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. 4. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR. DPR. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait. 7. 88 1. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. UU No. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya. Apabila Wakil Presiden berhalangan. 5 Tahun 2004 tentang MA.

pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. 5. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. Presiden memberi amnesti. . C. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. F. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. D. 2. 4. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. 3. 6. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. 3. 2. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. pemekaran dan penggabungan daerah. 2. pembentukan. E. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 2. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. 3. baik diminta maupun tidak. pajak. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. Presiden menetapkan hakim konstitusi. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. 7. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden. Hubungan Presiden Dengan MA 1. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Hubungan Presiden Dengan MK 1. pengelolaan sumber daya dan belanja negara. hubungan pusat dan daerah. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. 4. 8.90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. Presiden meresmikan keanggotaan DPD.

Dalam UUD 1945. 10. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. 4. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. H. 9. Latihan 1. Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. Untuk dan atas nama Pemerintah. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. I. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. 7. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . 2. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. 5. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. 3. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. 8. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. 6. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah.

94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. jangka menengah. pengorganisasian. pelaksanaan dan pengawasan. 95 . dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang. yaitu perencanaan. A. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

2. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. menyeluruh. sinkronisasi. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. berkeadilan. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. 2. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. misi. 5. dan berkelanjutan. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. 3. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. penganggaran. dan pengawasan. Menurut UU No. Sebagai tindak lanjut dari UU No. 2. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Menjamin terciptanya integrasi. antar waktu. dan terukur. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. efektif. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana . Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. d. b. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. c. pelaksanaan. 25 Tahun 2004 ini. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. 3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah.96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. 25 Tahun 2004. antar ruang. Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. dan sinergi baik antar daerah. 3. 4. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009.

Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. Selanjutnya. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. tujuan dan kinerja pembangunan. 1. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas. B. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2. sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. 3. disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4.

8. Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. 4. Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya. baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. 9. Oleh karena itu. Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. 5. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6. 10. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. untuk 7. Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Prinsip Koordinasi. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi.

kesimpangsiuran dan atau kekacauan. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. perbenturan. langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan. Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan).102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala . Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah. C. Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. beserta segenap gerak. demikian pula susunan organisasinya. 11. dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. Oleh karena itu. perencanaan. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. 12.

koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. Koordinasi fungsional. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah No. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. . Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. 2. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya.104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. 1) Koordinasi fungsional horizontal. Misalnya. koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. b. b. 3) Koordinasi fungsional teritorial. 2) Koordinasi fungsional diagonal.

e. c. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. Perlu kejelasan wewenang. waktu pelaksanaan. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. e. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. b. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. g. f. . sasaran. Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. d. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. h. cara melakukan. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. i. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait. d. orang yang melaksanakan dan alokasi. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. petunjuk pelaksanaan (juklak).

Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. h. Dewan Ketahanan Pangan. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan. sulit dan terus menerus. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks. SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. multidisiplin. mendesak. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Kelompok Kerja. Kelompok Kerja. . Panitia.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. f. Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). multisektor. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi. Dewan Maritim Nasional. Panitia. Namun demikian. asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. Misalnya. g. Tim.

Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a. Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. d. Hukum dan Keamanan. maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas. b. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. . Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. c. Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. Menteri Koordinator Perkonomian. dengan beraneka ragam permasalahan.

Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. 5. Atase Pertahanan. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. f. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. namun demikian. setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. seperti Atase Kebudayaan. e. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). juga terhadap Bupati dan Walikota. Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. 2) Kepala Daerah. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis). . b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. apalagi dipisahkan. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi. kabupaten dan kota. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah. perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat.112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. baik formal maupun informal.

Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. hambatan. pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. pemborosan. masalah-masalah yang telah. kebijakan. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. .114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. Jenis-Jenis Pengawasan a. sedang dan mungkin akan dihadapi. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek. Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. hambatan. Demikian pula. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. penyelewengan. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin.

4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. prestasi kerja. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik. 5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. pencapaian sasaran pelaksanaan tugas. . 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya.116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya. 3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan. pengorganisasian dan pelaksanaan. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran.

wewenang dan tanggung jawabnya. b. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan. Oleh karena itu. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. aparat Wasnal dapat dibedakan. kebijakan pelaksanaan. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). c) Badan Pengawas Daerah Provinsi. Walaupun Waskat ditingkatkan. pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. 8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. . meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. Beda dengan Waskat. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. Dengan demikian. Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. Kabupaten/Kota. Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. rencana kerja. yaitu: struktur organisasi. Wasnal tetap masih diperlukan. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Dilingkungan instansi pemerintah. aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI).

masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Dalam Undang-Undang No. misalnya: 1) Kantor MENPAN. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. di bidang pendayagunaan aparatur. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. baik sekolah negeri/swasta. di bidang kepegawaian. ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. di bidang perencanaan pembangunan nasional. 4) Ditjen Anggaran. 5) Bappenas. b) BPN. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. DPR. instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman. di bidang anggaran. mengenai keamanan dan ketertiban. fungsi anggaran. termasuk kedinasan. DPD dan DPRD. b. c) Depdikbud. dari instansi tersebut. mengenai pendidikan sekolah. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). 3) LAN. DPR memiliki fungsi legislatif. Instansi/Intern Keuangan dan c. d) Kepolisian. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. mengenai bangunan. Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. dan fungsi pengawasan. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara. mengenai pertanahan. . 2) BKN. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. d.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD.

Dalam Undang-Undang No. pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. saran. kritik. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. kritik. e. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. dengan sebaik-baiknya. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan. DPR mempunyai hak interpelasi. dan hak menyatakan pendapat. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif. temuan. korupsi. Pandangan. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut.122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Adapun alasan-alasannya. antara lain adalah seperti berikut: . Dalam Pasal 20A ayat (2). Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. kritik. Pandangan. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. 22 Tahun 2003. hak angket. saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. penyuapan. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya.

5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. penyalahgunaaan wewenang. perlu mendapat perhatian. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. penyelewenangan. 6) Memuat saran-saran. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. Surat kaleng sekalipun misalnya. 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. memperjelas. dimana kedaulatan ditangan rakyat. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara. penyimpangan. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. . Memang tidak dapat selalu diharapkan. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga.

menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. pengorganisasian. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. pelaksanaan dan pengawasan. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. penganggaran. berkeadilan dan berkelanjutan. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. yaitu: perencanaan. Pengawasan ini sangat penting. Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula. E. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. Dengan demikian. antar ruang. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. antar waktu. antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja. menjamin terciptanya integrasi.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. karena negara Indonesia adalah negara hukum. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. efektif. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek. pelaksanaan dan pengawasan. .

2. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. pengawasan teknis fungsional. rapat-rapat koordinasi oleh Menko. Pengawasan. pengawasan masyarakat. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? . dan lain-lain. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. dan koordinasi fungsional teritorial. koordinasi fungsional diagonal. dan pengawasan yudikatif. Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat. pengawasan fungsional. 3. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. pengawasan legislatif.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4.

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. administrasi keuangan dan lain-lain. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. sebagaimana tersebut dalam referensi. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. peserta dianjurkan untuk mempelajari. Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII. baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. 1. Apakah arti pentingnya UU No. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. . Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta.

DPR.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. Fungsi. Undang-undang No. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. Kolusi. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Undang-undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Peraturan Presiden No. Tugas. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Tugas. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Fungsi. TAP MPR No. Undang-undang No. Undang-undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 . 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. Tugas. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Susunan Organisasi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Fungsi. DPD dan DPRD. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. dan Nepotisme. Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Undang-undang No. Undang-undang No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Undang-undang No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Peraturan Presiden No. dan Nepotisme. Kewenangan. Undang-undang No. Kolusi. Peraturan Presiden No. Undang-undang No.

Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan. Tugas. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan. Perwakilan. Tugas. Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Kewenangan. Instruksi Presiden No. . 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. Bappenas. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. Fungsi. Keputusan Presiden No. Instruksi Presiden No. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Kewenangan. Keputusan Presiden No. Keputusan Presiden No. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Lembaga Administrasi Negara RI. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. Instruksi Presiden No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful