MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

...... Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia............... 48 51 74 81 D.... 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN ............................... I. Lembaga Perekonomian Negara..................... C........... B.................. D. E........................... Latihan . Pengawasan ................................................ Hubungan Presiden Dengan MPR........................... F........ Rangkuman......... C..................................... Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah .......................................................................................... C... Pengorganisasian ....... H.................... Hubungan Presiden Dengan BPK........ Peradilan Tata Usaha Negara.............................................................. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat . C........ Hubungan Presiden Dengan MA...... E.................. A...... D......................................... Rangkuman. Rangkuman ........ A... Rangkuman........... G.............................................................. C.......... F....... 95 95 98 102 114 126 128 45 B........................................... Rangkuman . Hubungan Presiden Dengan DPD ..................................... 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH ........................................ Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ............................................................ Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ....................................................... 10 18 24 26 28 BAB VI D............................................ B.... Perencanaan .............. E..... F.... D............................... A.. .. 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA ........................ Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ........................................................................................ Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah .. Asas Peraturan Perundang-undangan ................................... 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN................... Latihan.............. D............................................ E.............vi vii Yang Baik (Good Governance) . F. Hubungan Presiden Dengan DPR.......................... E.............. D... Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah ...... A............. Pelaksanaan ....... Hubungan Presiden Dengan MK....................... Latihan......... Kerangka Peraturan Perundang-undangan.......................... Latihan .............. B........................................ Latihan..................................

........................... Tes................................viii BAB VIII PENUTUP.. B............................................................................................. Tindak Lanjut................................. A. 132 ...................... 130 130 131 REFERENSI ...............................................................

B. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . Tujuan Pembelajaran 1. C. pembentukan peraturan perundang-undangan. penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). lembaga-lembaga pemerintah. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta. hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.BAB I PENDAHULUAN A.

Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. Dalam arti sempit. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan). b. 3 . Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). d. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. e.2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Dengan demikian. c. f. 2. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. Sedangkan dalam arti luas. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan. yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif.

Memberi gelar. Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . sebagai Kepala Negara. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. dan Angkatan Laut. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Mengangkat Duta dan Konsul. 13. . 3. Menyatakan perang. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. 5. 7. Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara.4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. 12. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. Presiden: 1. Presiden berhak 11. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menurut UUD 1945. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . 14. Angkatan Udara. memperhatikan pertimbangan DPR . Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . Menyatakan keadaan bahaya. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. 2. Dalam mengangkat Duta. 10. 9. 8. 6. Dalam melakukan kewajibannya. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara.

BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A. Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius. Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya. Latihan/Diskusi 1.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. 17. 18. ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. Istilah governance menurut ESCAP 7 D. Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. 16. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3. birokrasi cenderung terus semakin besar. termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara.

Governance melibatkan berbagai pelaku. Kesetaraan (equity). mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. dunia usaha/swasta. Partisipasi. 4.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. sektor swasta dan masyarakat. maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. UNDP (PT. “international governance”. bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. pengelolaan (Sofyan Wanandi. aspiratif. koperasi. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. Ketanggapan (responsiviness). 3. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). individu dan bahkan lembaga internasional. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. dunia usaha dan masyarakat tersebut. Wahana…. LSM. kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Orientasi pada konsensus. 2. 5. Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. Meuthia Ganie Rachman) dan . Transparansi. Semua warga negara. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. organisasi profesi. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. Efektifitas dan efisiensi. lihat Bintoro). Oleh karena itu. 7. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. 6. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. seperti “corporate governance”. penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. “national governance” dan “local governance”. terutama untuk hak asasi manusia. Aturan hukum (rule of law).

BAPPENAS. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. dunia usaha/swasta. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. daya tahan. dan waktu yang . tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah. Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. Di samping itu. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. B. Wawasan Kedepan (Visionary): a. demokratis. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi. melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. Untuk itu. Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih.10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. b. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. pemahaman. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. dan masyarakat”. lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan.

6) Mekanisme reward and punishment.12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. b. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. bebas diperoleh. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. e-procurement. 2) Forum konsultasi dan temu publik. 2) Pusat/balai informasi . 5) Sistem pengawasan. 3. pengadilan). Tanggung Gugat (Accountability): a. b. dan tepat waktu. 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. b. kejaksaan. . 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. kejaksaan. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. dsb). 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. 2) Adanya akses pada informasi yang siap. 3) Website (e-government. 4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. 5. b. 4) Iklan layanan masyarakat . 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. mengakomodasi 4. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. 2) Laporan tahunan. Supremasi Hukum (Rule of Law): a. 6) Papan pengumuman. mudah dijangkau. 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. Partisipasi masyarakat (Participation): a. 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. 3) Laporan pertanggungjawaban. termasuk forum stakeholder . 5) Media cetak . kehakiman). Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif.

Keefektifan (Efficiency and 7. 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. 4) Sistem pengembangan SDM. Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal. Desentralisasi (Decentralization): a. 5) Standar dan indikator kinerja. 6. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. b. Keefesienan dan Effectiveness): a. 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. . 10. independen. b. 3) Sistem reward and punishment yang jelas. 2) Taat asas. b. 2) Kode etik profesi. dan mudah diakses publik (ombudsman). 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. 9. b. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi. 8. 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. Daya Tanggap (Responsiveness): a. Demokrasi (Democracy): a. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik.14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan. 3) Kreatif dan inovatif.

2) Job description (uraian tugas) yang jelas. masyarakat kurang mampu. b. affirmative action. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. 13. dan kawasan tertinggal. 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. 2) Program-program pemberdayaan gender. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. 12. dan kawasan tertinggal. dan menengah. 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. Komitmen a. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat. Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya. . serta koperasi. 3) Program-program pemberdayaan. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. masyara kat kurang mampu. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. dan sebagainya). 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. kecil. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. b. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu. 11. 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. 14. telah diterbitkan Instruksi Presiden No. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. C. Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No. b. Berdasarkan pengertian ini. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna. b. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat.18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). bersih dan bertanggung jawab. 2. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. maka semua instansi pemerintah. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat. 1. . Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. 2) Forum kegiatan peduli lingkungan . 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. berhasilguna. 239/IX/6/8/2003). karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan.

untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. tuntutan perkembangan lingkungan strategis. Harus jujur. dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. haruslah sudah 3. transparan. objektif. Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. e.20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. strategi. Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . Oleh karena itu. (2) rumusan tentang tujuan. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. Analisis terhadap lingkungan organisasi. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. Di samping itu. kelemahan (weaknesses). Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dengan perkataan lain. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. peluang (opportunities). misi. misi. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). Untuk melaksanakan kedua hal tersebut. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. Setelah program didesain. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. 4. lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. peluang dan kendala yang dihadapi. d. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. Dengan visi. nasional dan global. sasaran dan uraian aktivitas organisasi.

perbedaan realisasi dan target. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. objektif dan transparan. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Prinsip pertanggungjawaban. . Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a. 5. b. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. b. c. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a. suatu laporan harus disusun secara jujur. perencanaan operasional yang terukur. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi. Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. 6. Prinsip pengecualian. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program.

aman. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. efektif. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. sesuai dengan sistem . Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum. berdaya banding tinggi. berdayasaing. netral. Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum. lengkap. menyempurnakan. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. padat dan terstandarisasi. sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pemerintah wajib secara terus menerus membina. tepat waktu. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. tentram. mudah dimengerti (jelas dan cermat). serta tertib. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. dapat dipercaya/diandalkan. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. tidak kontradiktif).

Kolusi dan Nepotisme. pemahaman. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. Instruksi Presiden No. E. Kolusi dan Nepotisme.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Karena itu diperlukan pembelajaran. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). UU No. melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. waktu yang relatif panjang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat. 9 Tahun 2004. Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. daya tahan. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi.

Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. A. Latihan 1. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang. karena Indonesia adalah negara hukum. 29 . Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. 3. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. 2. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Menjamin kepastian hukum.

4. 6. 7. 2. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. dan bernegara. berbangsa. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. yuridis maupun sosiologis.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. . baik secara filosofis. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. penyusunan. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. 5. 1. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. 4. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. 3. Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. persiapan.

MK. Bupati/Walikota. golongan. Gubernur BI. dan keselarasan. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. Gubernur. dan Peraturan Daerah. Peraturan Presiden. BPK. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. B. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. gender.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. MA. suku dan golongan. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. DPRD Provinsi. suku. Keserasian. 9. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. atau status sosial. keserasian. dan Keselarasan. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. agama. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. DPRD Kabupaten/Kota. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. DPR. Menteri. 8. Keseimbangan. DPD. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. . 10. 6. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7. kondisi khusus daerah. antara lain. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. dan bernegara. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. agama. Peraturan Pemerintah. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. ras. berbangsa. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas.

Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. hak dan kewajiban warga negara. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. c. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur. Kepala Desa atau yang setingkat. Termasuk dalam Peraturan Daerah . Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. e. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. 10 Tahun 2004 adalah: a. wilayah negara dan pembagian daerah. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No. kewarganegaraan dan kependudukan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. b. dan keuangan negara. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. d.

188 Tahun 1998. Konsultasi RUU. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. C. pokok pikiran. Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. Pengesahan. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. pembulatan. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. sasaran yang ingin diwujudkan. Untuk pengharmonisan. kebulatan dan kemantapan konsepsi. 2. lingkup atau obyek yang akan diatur. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. 1. Apabila keharmonisan.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. Penyampaian RUU kepada DPR. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . dan jangkauan dan arah pengaturan. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden.

politik. Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. antara lain: a. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR. b. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa. Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. c. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki .38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. Cara penanganan atau pembahasannya. Menteri Kehakiman. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. . Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. para Menteri Koordinator. 4. Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

b. 4. antara lain: a. antara lain: a. Mengendalikan peredaran uang. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. atau c. Daerah Kabupaten dan Kota. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. dan peraturan lain yang berskala nasional. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. b. b. Peraturan Pemerintah. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. antara lain: a. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. abolisi. Mengangkat hakim dan jaksa. . b.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. Mendirikan lembaga permasyarakatan. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. Agama. Moneter dan Fiskal. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. akuntabilitas. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. amnesti. Menetapkan kebijakan moneter. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Daerah Provinsi. membentuk UndangUndang. memberi grasi. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. c. 6. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. 5. Yustisi. Mendirikan lembaga peradilan. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. d. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. c. c. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.

Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. Penanganan bidang kesehatan. 3. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. Perencanaan. 5. 14. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. usaha kecil. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. 4. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Pelayanan kependudukan. Fasilitasi pengembangan koperasi. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. 8. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. kepastian. Pengendalian lingkungan hidup. 10. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. . 16. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. 11. dan catatan sipil. 15. dana. 2. 13. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota. 9. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. 6. prasarana lingkungan dasar. pemanfataan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. dan pengawasan tata ruang. kesehatan. 7. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. 12. B. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Penyediaan sarana dan prasarana umum.

7. 15. 10. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 5. dan pengawasan tata ruang. 8. 12. 13. Fasilitasi pengembangan koperasi. 32 Tahun 2004 C. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. usaha kecil. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. 9. Penyelenggaraan pendidikan. Pengendalian lingkungan hidup. Perencanaan. Penanggulangan masalah sosial. Lembaga . 2. dan menengah. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Penanganan bidang kesehatan.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi.50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. 3. Dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pelayanan administrasi penanaman modal. Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Pelayanan pertanahan. 14. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Gambar V. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. 6. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. dan catatan sipil. 11. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. pemanfataan. dan 16. 4. Pelayanan kependudukan.

dan Instansi yang dianggap perlu. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. Kejaksaan Agung. serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Perwakilan RI di Luar Negeri. a. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator. 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). Departemen Luar Negeri. b). 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Hukum. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. TNI. Tugas. 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Fungsi. Departemen Pertahanan. Kejaksaan Agung. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan. 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. POLRI. Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Tentara Nasional Indonesia (TNI). Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. a). dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Kementerian Koordinator Bidang Politik. Kesekretariatan yang membantu Presiden. 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Depar . Badan/Lembaga Ekstra Struktural. BIN. 1. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Kepolisian Negara RI (Polri). saran. Hukum. Departemen Hukum dan HAM. sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). dan Keamanan.

Kementerian Negara Ristek. Departemen Pekerjaan Umum. Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator. saran.62 Tahun 2005). 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. Departemen Agama. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. b. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. . dan Instansi yang dianggap perlu. Departemen Diknas. Departemen Kominfo. Kementerian Negara PAN. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. c). Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Departemen Sosial. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya. Departemen Perdagangan. Departemen Kehutanan. 3) Staf Ahli. Departemen Perhubungan. 2) Departemen Luar Negeri. Kementerian Negara PP. Departemen Kelautan dan Perikanan. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. 3) Departemen Pertahanan. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. 2) Deputi. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Departemen Pertanian. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. dan Intansi lain yang dianggap perlu.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Perindustrian. Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal.

Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. Departemen Pertanian. 3) Direktorat Jenderal. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Sosial. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. Departemen Kehutanan. Departemen Perdagangan. Departemen Agama. Departemen Perhubungan. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya.62 Tahun 2005). Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. c. Departemen Kesehatan. 6) Staf Ahli. bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. 5) Badan dan/atau Pusat. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya. Departemen Kelautan dan Perikanan. bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen. . Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri. Departemen Keuangan. Departemen Pendidikan Nasional. 2) Sekretariat Jenderal.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. 4) Inspektorat Jenderal. Departemen Komunikasi dan Informatika. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No.

103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. saran. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 3) Staf Ahli. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 64 Tahun 2005. Berdasarkan Perpres No. juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. Dalam Perpres No. Kementerian Negara Perumahan Rakyat.58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 187/M/Tahun 2005). dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 62 Tahun 2005). 2) Deputi. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 62 Tahun 2005. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. 103 Tahun 2001 tentang . 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No. d. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden.

BATAN. 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). dan BSN. 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. LAPAN. 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. 10) Badan Intelijen Negara (BIN). Sekretariat Utama. 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). BPKP. yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND. 64 Tahun 2005. 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). BAPETEN. 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). Tugas. Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. BPPT. pembinaan dan pengendalian terhadap program . 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). BKN. masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). Sesuai dengan Perpres No. 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Fungsi. dan ANRI. Kewenangan. 103 Tahun 2001. 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. 6) Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam Keppres No. BAKOSUR TANAL.

Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. 117 Tahun 2000. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. Kejaksaan Tinggi. Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. Deputi. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI. e. 111 Tahun 2000. dan Kejaksaan Negeri. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. f.

kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. dan tata usaha negara. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU. dan putusan lepas bersyarat. . perdata.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. c) Pengawasan peredaran barang cetakan. putusan pidana pengawasan. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No.

perdagangan. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian. dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI).66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. perhubungan. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI). Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. 2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul. Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat. kebudayaan dan ilmu . Konsulat RI. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. g. bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional.

2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. TNI Angkatan Laut. AL. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. tugas. Tiap-tiap angkatan (AD. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. h. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. dan keselamatan bangsa. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. keutuhan wilayah. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. . dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No. TAP No. TNI berkedudukan di bawah Presiden.

3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. menegakkan hukum. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Unsur Pembantu Pimpinan. Unsur Pelayanan. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. Unsur Pembantu Pimpinan. Markas Besar TNI Angkatan Laut. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. VI/MPR/2000 dan TAP No. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. Unsur Pelayanan. Badan Pelaksana Pusat. tugas. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. 2) POLRI berada di bawah Presiden. dan Komando Utama Pembinaan. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol. dan Komando Utama Operasi. Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. Kemudian diatur dalam UU No. susunan dan kedudukan POLRI. Selain tugas pokok tersebut di atas. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. . memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. Badan Pelaksana Pusat. i. VII/MPR/2000. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan.

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. 4) Komite. Komisi Ombudsman. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. k. Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. Departemen. 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. Lembaga. Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Komite Nasional Keselamatan . Komisi. yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Kementerian Negara) dan atau LPND. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Komite. antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Komisi Pemilihan Umum (KPU). antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. 3) Komisi. j. Dewan Ketahanan Pangan. bahkan Presiden atau Wakil Presiden. Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. dan Tim. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Badan. 2) Badan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan.72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri. Dewan Maritim Nasional. Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI).

Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Bupati. 3. Dinas Daerah. 2. 3. terdiri atas: 1. 5.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi. dan 4. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. Sekretariat Daerah. D. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. 2. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. dan 6. Kelurahan. Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Komite Olah Raga Nasional. atau Walikota. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. Unsur pelaksana urusan daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. Sekretariat DPRD. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. 2. antara lain: Lembaga Sensor Film. 5) Lembaga. Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. Sekretariat DPRD. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kecamatan. Lembaga Teknis Daerah. Sekretariat Daerah. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 32 Tahun 2004. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lembaga Teknis Daerah. 4. . Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. 3. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. Dinas Daerah. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat.

Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. daerah yang bersifat spesifik. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD.76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. 2. Kepala Kantor. Kantor. kantor. 3. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1. Badan. Kepala Badan. 2. Di samping itu. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. 4. Dalam melaksanakan tugasnya. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . 3. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas. atau rumah sakit umum daerah. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum.

Kebutuhan daerah. Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. 3. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. 2. pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Lurah mempunyai tugas: 1.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Pelayanan masyarakat. 6. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. 4. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. . 2. Pemberdayaan masyarakat. Di samping itu. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. Kemampuan keuangan. 5. 7. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. 5. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. 5. BUMN. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. Jumlah dan kepadatan penduduk. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). 8. di samping usaha swasta dan koperasi. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. 4. E. Jenis dan banyaknya tugas. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. Dalam sistem perekonomian nasional. Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. integrasi. 6. 1. Sarana dan prasarana penunjang tugas. Di samping itu. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).19 Tahun 2003. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional. cakupan wilayah. BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi.80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. 7. sinkronisasi. dan 2. .

b. dan Komisaris. . Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. koperasi dan masyarakat. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. 3. 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. c. a. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. 19 Tahun 2003. e. Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. Mengejar keuntungan. Direksi. Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). c. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. dividen dan hasil privatisasi. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. d. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. b. yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a.

b. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. Organ Perum adalah: Menteri. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . a. d. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. dan Dewan Pengawas. sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No. yaitu Perumda dan Perseroda. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. 32 Tahun 2004. efektif dan produktif. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya. pelepasan kepemilikan. Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. Direksi. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. F.84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk.

POLRI. pertahanan. keamanan. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. Kecamatan. Latihan 1. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. Lembaga Ekstra Struktural. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. dan Kelurahan. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4. Kesekretariatan yang membantu Presiden. BUMN berbentuk Persero dan Perum. G. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. yustisi. Dinas Daerah. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. dan agama. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2. Perwakilan RI di Luar Negeri. Sekretariat DPRD. Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. LPND. moneter dan fiskal. Kejaksaan Agung. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. TNI. Kementerian Negara. Lembaga Teknis Daerah. Departemen.

UU No. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. UU No. Sebelum memangku jabatannya. Hubungan Presiden Dengan DPR A. 4. Presiden bekerjasama dengan DPR. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait. DPD. Apabila Wakil Presiden berhalangan. 5 Tahun 2004 tentang MA. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. dan DPRD. 2. 5. UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. 3. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. UU No. UU No. 88 1. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR. penyuapan. 2. 5 Tahun 1973 tentang BPK. . 7. 6. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. 4. 3. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. korupsi. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. B. DPR. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. tindak pidana berat lainnya.

Hubungan Presiden Dengan BPK 1. 2. Hubungan Presiden Dengan MK 1. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. baik diminta maupun tidak. Presiden menetapkan hakim konstitusi. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. 6. 8. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. 5. pajak. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. 3. 7. 3. 2. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden.90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden. . MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. 4. pemekaran dan penggabungan daerah. E. D. F. Hubungan Presiden Dengan MA 1. C. Presiden memberi amnesti. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. 2. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. pengelolaan sumber daya dan belanja negara. 4. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. pembentukan. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. 2. hubungan pusat dan daerah. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. Presiden meresmikan keanggotaan DPD. pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. 3.

menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. 4.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. 2. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. Latihan 1. Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. 8. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. Dalam UUD 1945. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. H. I. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. 6. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3. 10. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. 3. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. Untuk dan atas nama Pemerintah. 9. 5. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah. 7.

dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. jangka menengah. A. 95 .94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang. pelaksanaan dan pengawasan. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6. yaitu perencanaan. pengorganisasian.

Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. efektif. sinkronisasi. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. menyeluruh. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. misi. dan pengawasan. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. Sebagai tindak lanjut dari UU No. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. 25 Tahun 2004. 2. 25 Tahun 2004 ini. berkeadilan. 2. 2.96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. dan terukur. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana . dan berkelanjutan. 3. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. 4. 3. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. antar ruang. c. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah. b. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. Menurut UU No. dan sinergi baik antar daerah. antar waktu. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. d. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. pelaksanaan. Menjamin terciptanya integrasi. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. penganggaran. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009. 5. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. 3.

Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2. disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. B. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. 3. sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. Selanjutnya. Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. tujuan dan kinerja pembangunan. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. 1.

Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi. untuk 7. Prinsip Koordinasi. unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. 8. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. 9. Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner. 10.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. 4. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. 5. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6. Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja. Oleh karena itu. Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya.

Oleh karena itu.102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin. 11. C. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan). beserta segenap gerak. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala . Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. kesimpangsiuran dan atau kekacauan. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. demikian pula susunan organisasinya. Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. perencanaan. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. 12. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. perbenturan. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas.

104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. 1) Koordinasi fungsional horizontal. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran. 2. koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. Misalnya. Koordinasi fungsional. 2) Koordinasi fungsional diagonal. koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi. . Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. b. Dalam Peraturan Pemerintah No. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah. b. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya. 3) Koordinasi fungsional teritorial. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan.

h. d. waktu pelaksanaan.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait. d. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. e. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. sasaran. . g. f. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. b. i. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. Perlu kejelasan wewenang. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. c. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. cara melakukan. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. e. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah. orang yang melaksanakan dan alokasi. petunjuk pelaksanaan (juklak).

Dewan Maritim Nasional. Panitia. Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. Namun demikian. Tim. f. Misalnya. multisektor. Kelompok Kerja. h. SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. mendesak. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. Dewan Ketahanan Pangan. Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. . g. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks. multidisiplin. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). sulit dan terus menerus. Kelompok Kerja. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan. asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. Panitia.

Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu. Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. dengan beraneka ragam permasalahan. . c. Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. b. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain. maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. Hukum dan Keamanan. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Menteri Koordinator Perkonomian. Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. d. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas.

5. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). seperti Atase Kebudayaan. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. 2) Kepala Daerah. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi. Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. namun demikian. kabupaten dan kota. f.112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. Atase Pertahanan. . baik formal maupun informal. juga terhadap Bupati dan Walikota. Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah. Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. e. b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. apalagi dipisahkan. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis).

. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Jenis-Jenis Pengawasan a. Demikian pula. Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. masalah-masalah yang telah. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. hambatan. hambatan. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. pemborosan. sedang dan mungkin akan dihadapi. pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. penyelewengan. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. kebijakan. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku.114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek.

116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. prestasi kerja. 4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. pencapaian sasaran pelaksanaan tugas. 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran. 5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya. pengorganisasian dan pelaksanaan. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya. 3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. . 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan.

8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. rencana kerja. dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. Dilingkungan instansi pemerintah. meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian. Kabupaten/Kota. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. . c) Badan Pengawas Daerah Provinsi. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan. aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI). Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat. Walaupun Waskat ditingkatkan. aparat Wasnal dapat dibedakan. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. wewenang dan tanggung jawabnya. Wasnal tetap masih diperlukan. Dengan demikian. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. b. Beda dengan Waskat. yaitu: struktur organisasi. Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. kebijakan pelaksanaan. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu.

instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. mengenai pendidikan sekolah. di bidang perencanaan pembangunan nasional. b) BPN. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. 4) Ditjen Anggaran. mengenai pertanahan. dan fungsi pengawasan. di bidang pendayagunaan aparatur. . pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. b. fungsi anggaran. misalnya: 1) Kantor MENPAN. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). baik sekolah negeri/swasta. Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. DPR. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. Instansi/Intern Keuangan dan c. 3) LAN. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. DPD dan DPRD. yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. c) Depdikbud. 2) BKN. dari instansi tersebut. di bidang kepegawaian. 5) Bappenas. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. di bidang anggaran. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD. d) Kepolisian. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman. Dalam Undang-Undang No. DPR memiliki fungsi legislatif. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. mengenai bangunan. mengenai keamanan dan ketertiban. d. termasuk kedinasan.

DPR mempunyai hak interpelasi. Pandangan. kritik. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan. korupsi. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. saran. pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. Pandangan.122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. hak angket. penyuapan. dan hak menyatakan pendapat. Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. kritik. Dalam Pasal 20A ayat (2). Dalam Undang-Undang No. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. temuan. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945. e. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. kritik. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif. dengan sebaik-baiknya. antara lain adalah seperti berikut: . saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. 22 Tahun 2003. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan. Adapun alasan-alasannya. dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara.

Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. perlu mendapat perhatian. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya. karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. . tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. 5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. penyelewenangan. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula. penyimpangan. 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. memperjelas. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. 6) Memuat saran-saran. Memang tidak dapat selalu diharapkan. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. dimana kedaulatan ditangan rakyat. Surat kaleng sekalipun misalnya. penyalahgunaaan wewenang.

antar ruang. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. E. Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. penganggaran. Pengawasan ini sangat penting. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. menjamin terciptanya integrasi. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. yaitu: perencanaan. . Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja. Dengan demikian. berkeadilan dan berkelanjutan. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. pelaksanaan dan pengawasan. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. pelaksanaan dan pengawasan. efektif. tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. pengorganisasian. antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. karena negara Indonesia adalah negara hukum.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. antar waktu. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945.

rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. dan lain-lain. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? . Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat. Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6. pengawasan masyarakat.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. Pengawasan. pengawasan legislatif. dan pengawasan yudikatif. rapat-rapat koordinasi oleh Menko. 2. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. 3. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. Latihan 1. dan koordinasi fungsional teritorial. koordinasi fungsional diagonal. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4. pengawasan teknis fungsional. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. pengawasan fungsional.

Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. peserta dianjurkan untuk mempelajari. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. 1. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut. administrasi keuangan dan lain-lain. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. Apakah arti pentingnya UU No. Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. sebagaimana tersebut dalam referensi. . Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta.

2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-undang No. Undang-undang No. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. Undang-undang No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. dan Nepotisme. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 . 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Peraturan Presiden No. Fungsi. TAP MPR No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Kewenangan. DPR. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Tugas. Kolusi. Undang-undang No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. Undang-undang No. dan Nepotisme.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. Undang-undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang No. Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Tugas. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Susunan Organisasi. Undang-undang No. Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Presiden No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Undang-undang No. Undang-undang No. Peraturan Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Presiden No. Kolusi. Peraturan Presiden No. Fungsi. Tugas. DPD dan DPRD. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Undang-undang No. Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Undang-undang No. Fungsi. Peraturan Presiden No.

103 tahun 2001 tentang Kedudukan. Tugas.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Kewenangan. Keputusan Presiden No. Bappenas. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Perwakilan. Instruksi Presiden No. . Tugas. Instruksi Presiden No. Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. Instruksi Presiden No. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Lembaga Administrasi Negara RI. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Fungsi. Keputusan Presiden No. Keputusan Presiden No. Kewenangan. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. Keputusan Presiden No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful