MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

............. Rangkuman.......... Rangkuman......... D.... E............. Pengorganisasian ........... E............................................ Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah . B... Kerangka Peraturan Perundang-undangan..... C........................................ Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ................... Hubungan Presiden Dengan DPR................................ A...................................................................... B................ G...... Peradilan Tata Usaha Negara.. F....................... E.................... Hubungan Presiden Dengan MPR...................................................... F....... D...................................... Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ....................................................... H............................ Latihan...... Hubungan Presiden Dengan MK................................................... 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN ..................................................................... Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah .... Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia.............................. A................................... C........ Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah ....... ........................ D................ Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah .................... Lembaga Perekonomian Negara....................... Hubungan Presiden Dengan MA. I... Rangkuman ...................... C.................... F.............. Perencanaan .......... Hubungan Presiden Dengan DPD ............................... E..... A.vi vii Yang Baik (Good Governance) . 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH .............. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat ........ 48 51 74 81 D.......................... 95 95 98 102 114 126 128 45 B............................ 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN.................. 10 18 24 26 28 BAB VI D................ Pengawasan ................................ D..... A................................. E. 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA ................. Latihan.. Hubungan Presiden Dengan BPK.... C.................. Rangkuman.......................... Rangkuman ................................ Latihan ............................................................................... Pelaksanaan ............. F.... Latihan......................................................................... Latihan ........... C................................... D.... B.... Asas Peraturan Perundang-undangan ........

... Tindak Lanjut............................................................ Tes.....................viii BAB VIII PENUTUP................. A..................................................................... 130 130 131 REFERENSI ..................... 132 ............................ B......................................................

C. B. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta.BAB I PENDAHULUAN A. lembaga-lembaga pemerintah. pembentukan peraturan perundang-undangan. penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.

Dengan demikian. Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. b. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif. c.2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. 2. e. Sedangkan dalam arti luas. Dalam arti sempit. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. d. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. 3 . maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan). f. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan.

Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Mengangkat Duta dan Konsul. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. 6. dan Angkatan Laut. Dalam melakukan kewajibannya. Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). 5. Dalam mengangkat Duta. Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . Menyatakan keadaan bahaya. 10. sebagai Kepala Negara. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . 9. Angkatan Udara. 14. 13. Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. 3. 8. Selain itu. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Menyatakan perang. Presiden berhak 11. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. 2. Menurut UUD 1945. Memberi gelar. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara. Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. Presiden: 1. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. 12. .4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. memperhatikan pertimbangan DPR . tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . 7.

Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . birokrasi cenderung terus semakin besar. BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional. Latihan/Diskusi 1. Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . Istilah governance menurut ESCAP 7 D. 17. termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya. 16. Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. 18. Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius. ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3.

3. dunia usaha dan masyarakat tersebut. aspiratif. seperti “corporate governance”. Partisipasi. mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”. penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. Orientasi pada konsensus. 4. pengelolaan (Sofyan Wanandi. dunia usaha/swasta. kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Efektifitas dan efisiensi. UNDP (PT. terutama untuk hak asasi manusia. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). “international governance”. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. LSM. 7.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. individu dan bahkan lembaga internasional. Governance melibatkan berbagai pelaku. maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. sektor swasta dan masyarakat. 5. Meuthia Ganie Rachman) dan . Aturan hukum (rule of law). organisasi profesi. “national governance” dan “local governance”. 2. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. 6. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. Ketanggapan (responsiviness). Oleh karena itu. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. lihat Bintoro). Semua warga negara. Transparansi. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor. koperasi. bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. Wahana…. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. Kesetaraan (equity).

B. Di samping itu. Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. dan waktu yang . 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. dan masyarakat”. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. pemahaman. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. demokratis. b. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. BAPPENAS. Untuk itu. tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah. Wawasan Kedepan (Visionary): a. daya tahan. Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. dunia usaha/swasta. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi.10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan).

2) Pusat/balai informasi . kejaksaan. b. b. 5. 5) Sistem pengawasan. kehakiman). kejaksaan. 2) Laporan tahunan. 2) Forum konsultasi dan temu publik. 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. dsb). 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. Supremasi Hukum (Rule of Law): a. pengadilan). . Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif. 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. 6) Mekanisme reward and punishment. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian. b. e-procurement. b. 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. 3) Website (e-government. 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. termasuk forum stakeholder . 6) Papan pengumuman. 4) Iklan layanan masyarakat . bebas diperoleh. 3. 3) Laporan pertanggungjawaban. 4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. mudah dijangkau. Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan.12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. 5) Media cetak . dan tepat waktu. Tanggung Gugat (Accountability): a. 2) Adanya akses pada informasi yang siap. Partisipasi masyarakat (Participation): a. mengakomodasi 4.

14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Desentralisasi (Decentralization): a. b. 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. Keefesienan dan Effectiveness): a. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal. 3) Sistem reward and punishment yang jelas. b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik. Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. Daya Tanggap (Responsiveness): a. 8. 10. 2) Kode etik profesi. b. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. 3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. Demokrasi (Democracy): a. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan. 9. 5) Standar dan indikator kinerja. independen. 3) Kreatif dan inovatif. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya. 2) Taat asas. 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. . 6. 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . dan mudah diakses publik (ombudsman). 4) Sistem pengembangan SDM. b. Keefektifan (Efficiency and 7. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya.

2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. kecil. 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. b. Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. 11. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. dan sebagainya). Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat. masyarakat kurang mampu. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. dan kawasan tertinggal. . 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender. 2) Job description (uraian tugas) yang jelas. 13. dan menengah. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. 12. dan kawasan tertinggal. masyara kat kurang mampu. 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. Komitmen a. affirmative action. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. serta koperasi. b. 2) Program-program pemberdayaan gender. 3) Program-program pemberdayaan.

Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. C. 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. maka semua instansi pemerintah. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. 2) Forum kegiatan peduli lingkungan . 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. 1. 14. Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. telah diterbitkan Instruksi Presiden No. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No. bersih dan bertanggung jawab. 2. Berdasarkan pengertian ini.18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat. perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. . b. berhasilguna. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. 239/IX/6/8/2003). b. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No.

misi. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. misi. haruslah sudah 3. dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. peluang dan kendala yang dihadapi. peluang (opportunities).20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). strategi. Analisis terhadap lingkungan organisasi. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. Setelah program didesain. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. d. Dengan visi. lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. transparan. Di samping itu. Harus jujur. nasional dan global. tuntutan perkembangan lingkungan strategis. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi. Untuk melaksanakan kedua hal tersebut. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . Oleh karena itu. e. (2) rumusan tentang tujuan. 4. sasaran dan uraian aktivitas organisasi. Dengan perkataan lain. objektif. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. kelemahan (weaknesses).

Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. perbedaan realisasi dan target. b. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. c. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya. Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan. 5. b. Prinsip pengecualian. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. . 6. objektif dan transparan. suatu laporan harus disusun secara jujur. perencanaan operasional yang terukur. Prinsip pertanggungjawaban. Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a. Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi.

4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. menyempurnakan. tidak kontradiktif). Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. tentram. lengkap. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. efektif. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum. sesuai dengan sistem . aman. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. tepat waktu. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. dapat dipercaya/diandalkan. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. berdaya banding tinggi. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. padat dan terstandarisasi. netral. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. serta tertib. Pemerintah wajib secara terus menerus membina. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. mudah dimengerti (jelas dan cermat). Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. berdayasaing. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum.

Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. UU No. E. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Kolusi dan Nepotisme. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. 9 Tahun 2004. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan. Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Karena itu diperlukan pembelajaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat. waktu yang relatif panjang. Instruksi Presiden No.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. pemahaman. Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. Kolusi dan Nepotisme. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. daya tahan.

2. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. 29 . Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. karena Indonesia adalah negara hukum. Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang. Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2. A.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Menjamin kepastian hukum. Latihan 1. Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. 3. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4.

baik secara filosofis. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. 7. Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. 5. persiapan. dan bernegara. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. 4. 2. 4. . sistematika dan pilihan kata atau terminologi. 3. yuridis maupun sosiologis. berbangsa. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. 1. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. penyusunan. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. 6. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti.

agama. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. Bupati/Walikota. Menteri. Gubernur BI. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. ras. atau status sosial.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. Gubernur. dan keselarasan. dan Keselarasan. DPRD Provinsi. suku. DPD. berbangsa. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. MA. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas. Peraturan Presiden. BPK. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. gender. 9. agama. Keserasian. DPRD Kabupaten/Kota. kondisi khusus daerah. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. Keseimbangan. antara lain. MK. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. . 8. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. 6. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. golongan. keserasian. suku dan golongan. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. B. Peraturan Pemerintah. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. DPR. dan Peraturan Daerah. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. dan bernegara. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. 10. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7.

Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Termasuk dalam Peraturan Daerah . 2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No. c. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. kewarganegaraan dan kependudukan. b. wilayah negara dan pembagian daerah. d. e. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara. hak dan kewajiban warga negara. Kepala Desa atau yang setingkat. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan keuangan negara. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. 10 Tahun 2004 adalah: a. Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa.

C. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. 1. Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. Pengesahan. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. 2.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. kebulatan dan kemantapan konsepsi. lingkup atau obyek yang akan diatur. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. Apabila keharmonisan. pembulatan. Penyampaian RUU kepada DPR. dan jangkauan dan arah pengaturan. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. Konsultasi RUU. 188 Tahun 1998. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. pokok pikiran. Untuk pengharmonisan. sasaran yang ingin diwujudkan. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU. kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR.

Cara penanganan atau pembahasannya. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . 4. Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki . Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. politik. Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu. para Menteri Koordinator. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat.38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. Menteri Kehakiman. antara lain: a. b. Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. . Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa. c. Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

b. . Yustisi. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Moneter dan Fiskal. Mengendalikan peredaran uang. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. c. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. membentuk UndangUndang. Mengangkat hakim dan jaksa. ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi. d. Peraturan Pemerintah. b. 6. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. antara lain: a. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. akuntabilitas. Agama. amnesti. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. antara lain: a. c. dan peraturan lain yang berskala nasional. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. Mendirikan lembaga peradilan. 4. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. b. c. Daerah Kabupaten dan Kota. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. b. Menetapkan kebijakan moneter. memberi grasi. atau c.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. Daerah Provinsi. Mendirikan lembaga permasyarakatan. 5. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. abolisi. antara lain: a.

Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. . dan pengawasan tata ruang. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Penanganan bidang kesehatan. kesehatan. dan catatan sipil. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. 2. 13. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. 11. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 10. 12. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. Perencanaan. Pengendalian lingkungan hidup. 6. 5. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. pemanfataan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. 15. 9. dana. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota. usaha kecil. prasarana lingkungan dasar. 4. 7. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. 8. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Pelayanan kependudukan. 14. kepastian. 3. Fasilitasi pengembangan koperasi. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. B. 16.

50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. 14. Perencanaan. 7. 32 Tahun 2004 C. Pelayanan administrasi penanaman modal. usaha kecil. dan 16. Penyediaan sarana dan prasarana umum. 8. dan catatan sipil. pemanfataan. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. Penyelenggaraan pendidikan. 3.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi. Pelayanan kependudukan. Pengendalian lingkungan hidup. 11. Lembaga . Penanganan bidang kesehatan. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Gambar V. 4. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 15. 10. 12. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. Fasilitasi pengembangan koperasi. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pelayanan pertanahan. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. 2. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. 6. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan menengah. Penanggulangan masalah sosial. dan pengawasan tata ruang. 13. 5. Dalam penyelenggaraan pemerintahan. 9.

1. 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan. 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Kementerian Koordinator Bidang Politik. Departemen Luar Negeri. TNI. Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). dan Keamanan. 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara. a. Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hukum. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kesekretariatan yang membantu Presiden. Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. 6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. Depar . Badan/Lembaga Ekstra Struktural. 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. dan Instansi yang dianggap perlu. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Kejaksaan Agung. Fungsi. Departemen Pertahanan. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas. b). serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Hukum. saran. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator. a). Perwakilan RI di Luar Negeri. BIN. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. Kejaksaan Agung. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. Departemen Hukum dan HAM. Kepolisian Negara RI (Polri). POLRI.

Departemen Sosial. Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. c). 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Departemen Perdagangan. Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. Kementerian Negara PAN. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. 2) Deputi. Departemen Diknas. dan Instansi yang dianggap perlu. Departemen Agama. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya. Departemen Perindustrian. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi.62 Tahun 2005). . Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan. 3) Staf Ahli. Departemen Kominfo. Departemen Pertanian. Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Departemen Kehutanan. 3) Departemen Pertahanan. dan Intansi lain yang dianggap perlu. 2) Departemen Luar Negeri. Departemen Perhubungan.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. saran. Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator. Kementerian Negara PP. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen Kelautan dan Perikanan. Kementerian Negara Ristek. b.

. Departemen Agama. 6) Staf Ahli. Departemen Perdagangan. Departemen Kesehatan. Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Departemen Pendidikan Nasional. 3) Direktorat Jenderal. Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya.62 Tahun 2005). Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Departemen Pertanian. 4) Inspektorat Jenderal. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. c. Departemen Sosial. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Pekerjaan Umum. 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Departemen Keuangan. Departemen Kehutanan. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. 2) Sekretariat Jenderal. Departemen Komunikasi dan Informatika. Departemen Perhubungan.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 5) Badan dan/atau Pusat. bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen.

Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. Berdasarkan Perpres No. dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. 103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. 62 Tahun 2005). 64 Tahun 2005.58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. saran. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara. Dalam Perpres No. 3) Staf Ahli. 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 62 Tahun 2005. 103 Tahun 2001 tentang . 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 187/M/Tahun 2005). juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Deputi. Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. d. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat.

10) Badan Intelijen Negara (BIN). Dalam Keppres No. 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. BPPT. Tugas. 6) Badan Pusat Statistik (BPS). 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). dan ANRI. 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). BKN. BPKP. 103 Tahun 2001. 64 Tahun 2005. 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). LAPAN. BAPETEN. Sekretariat Utama. Kewenangan. pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG. 9) Menteri Perhubungan bagi BMG.60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. Sesuai dengan Perpres No. 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). BATAN. yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Fungsi. 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). BAKOSUR TANAL. dan BSN. Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. pembinaan dan pengendalian terhadap program . 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND.

Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. 111 Tahun 2000. f. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. e. Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. Deputi. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. dan Kejaksaan Negeri. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. 117 Tahun 2000. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. Kejaksaan Tinggi.

8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. perdata. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. putusan pidana pengawasan. c) Pengawasan peredaran barang cetakan. 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU. f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No. . Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. dan putusan lepas bersyarat. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. dan tata usaha negara. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum.

dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI). perdagangan.66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian. Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul. Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI). yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Konsulat RI. Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. perhubungan. Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat. bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. g. 2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. kebudayaan dan ilmu . 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional.

dan keselamatan bangsa. keutuhan wilayah. tugas. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. TAP No. AL. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. Tiap-tiap angkatan (AD. dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. TNI berkedudukan di bawah Presiden. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. TNI Angkatan Laut. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. . h. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan.68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan.

VII/MPR/2000. Unsur Pelayanan. Badan Pelaksana Pusat. menegakkan hukum. dan Komando Utama Operasi. Kemudian diatur dalam UU No. Markas Besar TNI Angkatan Laut. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. Unsur Pelayanan. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. Unsur Pembantu Pimpinan. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara. 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Unsur Pembantu Pimpinan. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. susunan dan kedudukan POLRI. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. Selain tugas pokok tersebut di atas. dan Komando Utama Pembinaan. Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. i. . 2) POLRI berada di bawah Presiden. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol. VI/MPR/2000 dan TAP No. tugas. Badan Pelaksana Pusat.

Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI). k. bahkan Presiden atau Wakil Presiden.72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. Kementerian Negara) dan atau LPND. 3) Komisi. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Komisi Pemilihan Umum (KPU). antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Badan. yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. 2) Badan. Dewan Maritim Nasional. Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. dan Tim. Komisi. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. j. Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Departemen. Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. Komite. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. Komite Nasional Keselamatan . antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. Lembaga. 4) Komite. Komisi Ombudsman. Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri. Dewan Ketahanan Pangan. Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

dan 6. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. Sekretariat DPRD. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. Unsur pelaksana urusan daerah. 4. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Sekretariat DPRD. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. Dinas Daerah. Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sekretariat Daerah. Bupati.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. Kecamatan. 3. 2. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lembaga Teknis Daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. 3. 2. . 3. Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. 2. atau Walikota. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Sekretariat Daerah. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Lembaga Teknis Daerah. dan 4. 5) Lembaga. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. 5. terdiri atas: 1. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kelurahan. antara lain: Lembaga Sensor Film. Dinas Daerah. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. Komite Olah Raga Nasional. D. 32 Tahun 2004.

Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1. Kepala Badan. Badan. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum.76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Di samping itu. atau rumah sakit umum daerah. daerah yang bersifat spesifik. 2. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. 3. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. 3. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . Kepala Kantor. Kantor. Dalam melaksanakan tugasnya. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. 4. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. kantor. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. 2. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas.

. 4. Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Lurah mempunyai tugas: 1. 5. Di samping itu. Kebutuhan daerah. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3. Pelayanan masyarakat. 5. 6. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. 7. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. 2. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Kemampuan keuangan. Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. 2. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Pemberdayaan masyarakat. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). integrasi. 8. BUMN. cakupan wilayah. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. E. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. Jumlah dan kepadatan penduduk. 7. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. Dalam sistem perekonomian nasional. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. Sarana dan prasarana penunjang tugas. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. 1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. 5. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. dan 2. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. Di samping itu. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). Jenis dan banyaknya tugas. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar.19 Tahun 2003. sinkronisasi. di samping usaha swasta dan koperasi. BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. 4. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. .80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. 6. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.

yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. c. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. dan Komisaris. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. b. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. c. Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). dividen dan hasil privatisasi. 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. 3. adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. e. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. d. a. 19 Tahun 2003. b. Mengejar keuntungan. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. . Direksi. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a.82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. koperasi dan masyarakat.

d. Organ Perum adalah: Menteri. dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No.84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. F. b. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. yaitu Perumda dan Perseroda. dan Dewan Pengawas. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya. Direksi. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. pelepasan kepemilikan. a. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . efektif dan produktif. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk. 32 Tahun 2004.

Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. yustisi.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4. G. Kecamatan. Kementerian Negara. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. TNI. moneter dan fiskal. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. Latihan 1. Kejaksaan Agung. dan agama. Lembaga Ekstra Struktural. POLRI. keamanan. pertahanan. Perwakilan RI di Luar Negeri. Kesekretariatan yang membantu Presiden. Departemen. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. BUMN berbentuk Persero dan Perum. Lembaga Teknis Daerah. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. dan Kelurahan. Sekretariat DPRD. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2. Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. Dinas Daerah. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . LPND. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3.

UU No. UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 5. 3. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. Apabila Wakil Presiden berhalangan. Sebelum memangku jabatannya. tindak pidana berat lainnya. UU No. UU No. 4. B. 4. 88 1.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. 3. Hubungan Presiden Dengan DPR A. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. 5 Tahun 1973 tentang BPK. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. penyuapan. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. 6. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. 2. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. DPD. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait. . MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR. 7. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. 5 Tahun 2004 tentang MA. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 2. dan DPRD. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. korupsi. UU No. DPR. Presiden bekerjasama dengan DPR. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR.

Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Hubungan Presiden Dengan MA 1. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. 5. pengelolaan sumber daya dan belanja negara. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden. 2. 4. 8. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. Hubungan Presiden Dengan MK 1. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. E. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. Presiden memberi amnesti. pembentukan. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. 3. F. 6. D. 3. 2. Presiden menetapkan hakim konstitusi. C. 2. pajak. hubungan pusat dan daerah. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. 4. 2. 7. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. baik diminta maupun tidak. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. .90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. 3. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. Presiden meresmikan keanggotaan DPD. pemekaran dan penggabungan daerah. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden.

Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. 5. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. 9. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. 10. 4. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah. Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. 2. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. H. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. 8. dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. Untuk dan atas nama Pemerintah. Latihan 1. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. Dalam UUD 1945. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. 7. 6. I. 3. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah.

95 . yaitu perencanaan. jangka menengah. A.94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6. pelaksanaan dan pengawasan. Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. pengorganisasian. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. 25 Tahun 2004 ini. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. pelaksanaan. 25 Tahun 2004. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. 2. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. 2. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. antar waktu. misi. dan terukur. menyeluruh. d. 4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. dan pengawasan. Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. efektif. dan sinergi baik antar daerah. c.96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. Menurut UU No. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana . 2. antar ruang. 3. 3. Menjamin terciptanya integrasi. berkeadilan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. penganggaran. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Sebagai tindak lanjut dari UU No. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. 5. b. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. sinkronisasi. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. dan berkelanjutan. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. 3.

Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. Selanjutnya. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. 1. Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4. sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2. sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. tujuan dan kinerja pembangunan. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. 3. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. B. Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan.

Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. untuk 7. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. Prinsip Koordinasi. Oleh karena itu. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. 9. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner. Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya. Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. 4.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja. baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. 5. unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6. perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. 10. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. 8. maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi.

Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. perencanaan. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. 11. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. beserta segenap gerak. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan.102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin. kesimpangsiuran dan atau kekacauan. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. C. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan). pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. perbenturan. 12. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah. langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. Oleh karena itu. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala . menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. demikian pula susunan organisasinya.

Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran. 1) Koordinasi fungsional horizontal. Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah. koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. b. Misalnya. Koordinasi fungsional. 3) Koordinasi fungsional teritorial. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. 2. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. b. .104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. Dalam Peraturan Pemerintah No. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi. koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. 2) Koordinasi fungsional diagonal.

d. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. Perlu kejelasan wewenang. . i. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. c. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. cara melakukan. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. sasaran. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah. berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. waktu pelaksanaan. e. b. e. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan. d. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. g. orang yang melaksanakan dan alokasi. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c. h. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi. f. rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. petunjuk pelaksanaan (juklak). tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait.

Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. Dewan Maritim Nasional. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Namun demikian. SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. g. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. Misalnya. Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. Panitia. . mendesak. sulit dan terus menerus. multisektor. maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi. h. Kelompok Kerja. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. Panitia. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. Dewan Ketahanan Pangan. Kelompok Kerja. f. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. multidisiplin. Tim.

b. maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a. Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. d. Hukum dan Keamanan. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu. Menteri Koordinator Perkonomian. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. dengan beraneka ragam permasalahan. Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. c. .

perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. . seperti Atase Kebudayaan. baik formal maupun informal. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. Atase Pertahanan. Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah.112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. e. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis). kabupaten dan kota. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. juga terhadap Bupati dan Walikota. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. f. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. 5. apalagi dipisahkan. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. 2) Kepala Daerah. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. namun demikian.

Jenis-Jenis Pengawasan a. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. . Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. kebijakan. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek. masalah-masalah yang telah. yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. penyelewengan.114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. hambatan. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. pemborosan. Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. Demikian pula. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. sedang dan mungkin akan dihadapi. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen. kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. hambatan.

5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya. 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. prestasi kerja. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. pengorganisasian dan pelaksanaan. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. 3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. 4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina.116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. . pencapaian sasaran pelaksanaan tugas.

wewenang dan tanggung jawabnya. Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. Dengan demikian. dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). Walaupun Waskat ditingkatkan. Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat. Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. Oleh karena itu. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. yaitu: struktur organisasi. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. Kabupaten/Kota. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. rencana kerja. kebijakan pelaksanaan. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. 8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. Wasnal tetap masih diperlukan. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI). pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. b. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik. . aparat Wasnal dapat dibedakan. c) Badan Pengawas Daerah Provinsi. Dilingkungan instansi pemerintah. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Beda dengan Waskat.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan.

DPD dan DPRD. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman. misalnya: 1) Kantor MENPAN. c) Depdikbud. di bidang pendayagunaan aparatur. b) BPN. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. mengenai pendidikan sekolah. masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. 5) Bappenas. d. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara. mengenai keamanan dan ketertiban. Dalam Undang-Undang No. 4) Ditjen Anggaran. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. mengenai pertanahan. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. DPR memiliki fungsi legislatif. DPR. fungsi anggaran. d) Kepolisian. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. di bidang kepegawaian. pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. dan fungsi pengawasan. Instansi/Intern Keuangan dan c. mengenai bangunan. baik sekolah negeri/swasta. 3) LAN. 2) BKN. di bidang anggaran. yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD. dari instansi tersebut. di bidang perencanaan pembangunan nasional. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. termasuk kedinasan. . b.

hak angket. DPR mempunyai hak interpelasi. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. Pandangan. Dalam Undang-Undang No. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan.122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. Dalam Pasal 20A ayat (2). kritik. penyuapan. saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. kritik. dengan sebaik-baiknya. Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pandangan. Adapun alasan-alasannya. kritik. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. antara lain adalah seperti berikut: . Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. temuan. korupsi. 22 Tahun 2003. saran. dan hak menyatakan pendapat. e. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif.

5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. . penyalahgunaaan wewenang. perlu mendapat perhatian. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. 2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. dimana kedaulatan ditangan rakyat. memperjelas. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga. penyimpangan. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. 6) Memuat saran-saran. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat. Surat kaleng sekalipun misalnya. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. Memang tidak dapat selalu diharapkan. 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. penyelewenangan. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula.

tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. pengorganisasian. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. karena negara Indonesia adalah negara hukum. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar ruang. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek. Pengawasan ini sangat penting. Dengan demikian. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. penganggaran. menjamin terciptanya integrasi. antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. efektif. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. yaitu: perencanaan. pelaksanaan dan pengawasan. berkeadilan dan berkelanjutan. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. pelaksanaan dan pengawasan. antar waktu. . Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. E. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula.

dan lain-lain. rapat-rapat koordinasi oleh Menko. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet. 2. dan pengawasan yudikatif. pengawasan teknis fungsional. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Latihan 1. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4. pengawasan fungsional. dan koordinasi fungsional teritorial. Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6. pengawasan legislatif. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah. pengawasan masyarakat. Pengawasan.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. koordinasi fungsional diagonal. Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. 3. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? .

peserta dianjurkan untuk mempelajari. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. sebagaimana tersebut dalam referensi. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. . baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. 1.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. administrasi keuangan dan lain-lain. Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. Apakah arti pentingnya UU No.

Susunan Organisasi. Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. dan Nepotisme. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 .Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No. DPR. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Undang-undang No. Tugas. Kolusi. Undang-undang No. Fungsi. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Fungsi. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. Undang-undang No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. TAP MPR No. Undang-undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Tugas. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. dan Nepotisme. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. Kolusi. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Undang-undang No. Undang-undang No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Fungsi. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Peraturan Presiden No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Tugas. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. Undang-undang No. DPD dan DPRD. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kewenangan. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Peraturan Presiden No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Peraturan Presiden No. Undang-undang No.

Kewenangan. Fungsi. Keputusan Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Tugas. 20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Keputusan Presiden No. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. Kewenangan. 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. Perwakilan. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Instruksi Presiden No. Tugas. Bappenas. Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Instruksi Presiden No. Keputusan Presiden No. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Lembaga Administrasi Negara RI. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. . Keputusan Presiden No.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful