MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN GOLONGAN III

Drs. Salamoen Soeharyo, MPA Dra. Nasri Effendy, M.Sc

Lembaga Administrasi Negara - Republik Indonesia 2006

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara Edisi Tahun 2006 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA KATA PENGANTAR Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional 2005 – 2009 telah menetapkan bahwa visi pembangunan nasional adalah: (1) terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman, bersatu, rukun dan damai; (2) terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan hak asasi manusia; serta (3) terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi ini, mutlak diperlukan peningkatan kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS), khususnya para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan menjadi PNS. PNS memainkan peran dan tanggungjawabnya yang sangat strategis dalam mendorong dan mempercepat perwujudan visi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS mengamanatkan bahwa Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Prajabatan dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas, dan budaya organisasi agar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Untuk mewujudkan PNS yang memiliki kompetensi sesuai dengan amanat PP 101 Tahun 2000 maka seorang CPNS harus mengikuti dan lulus Diklat Prajabatan sebagai syarat untuk dapat diangkat menjadi PNS. iii

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110 Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jakarta – LAN – 2006 142 hlm: 15 x 21 cm ISBN: 979 – 8619 – 83 – 8

iv Untuk mempercepat upaya meningkatkan kompetensi tersebut, Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menetapkan kebijakan desentralisasi dengan pengendalian kualitas dengan standar tertentu dalam penyelenggaraan Diklat Prajabatan. Dengan kebijakan ini, jumlah penyelenggaraan dapat lebih menyebar disamping jumlah alumni yang berkualitas dapat meningkat pula. Standarisasi meliputi keseluruhan aspek penyelenggaraan Diklat, mulai dari aspek kurikulum yang meliputi rumusan kompetensi, mata Diklat dan strukturnya, metode dan skenario pembelajaran dan lain-lain sampai pada aspek administrasi seperti persyaratan peserta, administrasi penyelenggaraan, dan sebagainya. Dengan standarisasi ini, maka kualitas penyelenggaraan dan alumni diharapkan dapat lebih terjamin. Salah satu unsur Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang mengalami penyempurnaan antara lain modul atau bahan ajar untuk para peserta. Oleh karena itu, kami menyambut baik penerbitan modul yang telah disempurnakan ini, sebagai antisipasi dari perubahan lingkungan stratejik yang cepat dan luas diberbagai sektor. Dengan kehadiran modul ini, kami mengharapkan agar peserta Diklat dapat memanfaatkannya secara optimal, bahkan dapat menggali keluasan dan kedalaman substansinya bersama melalui diskusi sesama dan antar peserta dengan fasilitator para Widyaiswara dalam proses kegiatan pembelajaran selama Diklat berlangsung. Kepada penulis dan seluruh anggota Tim yang telah berpartisipasi, kami haturkan terima kasih. Semoga buku hasil perbaikan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ..................................................... A. Deskripsi Singkat................................................. B. Manfaat Pembelajaran ......................................... C. Tujuan Pembelajaran ........................................... iii v 1 1 1 1

BAB II

SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA .................................. A. Pengertian ............................................................ B. Penyelenggaraan Kekuasaan Pemerintahan Negara........................................... C. Rangkuman.......................................................... D. Latihan/Diskusi.................................................... 4 6 6 3 3

BAB III Jakarta, Desember 2006

PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) .......................................... A. Pengertian dan Pemahaman Tata Kepemerintahan Yang Baik 7

KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SUNARNO

(Good Governance) ............................................. B. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan
v

7

............... A...... Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah ............ C.......... F......................................................................... Hubungan Presiden Dengan BPK.. C............ Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia............ F. Latihan............................. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang ............. Urusan Pemerintah Yang Menjadi Kewenangan Daerah ......... Jenis dan Hierarki Peraturan Perundang-undangan ............................................... B................ Rangkuman ............ Pelaksanaan . Rangkuman..................... D..................................................... B....................vi vii Yang Baik (Good Governance) ........................ A.... Latihan ............ D........................... Rangkuman............. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah ................. 44 BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN .................. 48 51 74 81 D................................. Hubungan Presiden Dengan DPD ... D.............. I.................................................................................................... Rangkuman ............................. Asas Peraturan Perundang-undangan ............ Pengorganisasian ............................................................................. .................... Peradilan Tata Usaha Negara... C...... D........ Hubungan Presiden Dengan DPR......................................... 10 18 24 26 28 BAB VI D........................ Hubungan Presiden Dengan MK............................................... Pengawasan ........ 36 41 42 43 33 29 29 PEMERINTAHAN NEGARA .... Kerangka Peraturan Perundang-undangan........... D.... C............................................... C...... A............ 88 88 89 90 90 91 91 92 93 93 BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH ............................................. Hubungan Presiden Dengan MPR............... Perencanaan ................. Latihan ................................................... G................... E................ 85 87 HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN.. E.. 95 95 98 102 114 126 128 45 B...................................... Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah ..... Latihan.... Lembaga Perekonomian Negara....................... B.. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat .. Rangkuman................................. A.... E.................... F.... F........................... H..................... E.......................... E............................ Hubungan Presiden Dengan MA... Latihan........................................

.......... 130 130 131 REFERENSI ....................................... B........ 132 .....................................................................viii BAB VIII PENUTUP............ Tindak Lanjut................................ Tes..... A..................................................................................................

dan proses manajemen pemerintahan dengan mengacu kepada UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. hubungan Presiden dengan lembaga-lembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. lembaga-lembaga pemerintah. Deskripsi Singkat Mata Diklat Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia membahas pengertian sistem penyelenggaraan pemerintahan negara RI. B. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu memahami hal ikhwal tentang sistem 1 . Manfaat Pembelajaran Dengan mempelajari mata Diklat ini peserta Diklat akan memperoleh pengetahuan tentang Pelaksanaan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Kesatuan RI yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas peserta.BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan Pembelajaran 1. penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance). C. pembentukan peraturan perundang-undangan.

e. b. Menjelaskan proses manajemen pemerintahan. Dengan demikian. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara ialah sistem bekerjanya Pemerintahan sebagai fungsi yang ada pada Presiden. BAB II SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA A. Sedangkan dalam arti luas.2 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu: a. istilah Penyelenggaraan Negara tidak mencakup lembaga-lembaga Negara yang tercantum dalam UUD 1945. 2. Menjelaskan hubungan Presiden dengan lembagalembaga negara lainnya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara. Pengertian Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara pada hakikatnya merupakan uraian tentang bagaimana mekanisme pemerintahan negara dijalankan oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. Menjelaskan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Menjelaskan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. 3 . yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara sebenarnya adalah mekanisme bekerjanya lembaga eksekutif. Dalam arti sempit. maupun pada tataran infrastruktur politik (organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan). c. istilah penyelenggaraan negara mengacu pada tataran supra struktur politik (lembaga negara dan lembaga pemerintah). d. Menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah. Pada dasarnya Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan Sistem Penyelenggaraan Negara oleh Lembaga-lembaga Negara secara keseluruhan. Menjelaskan pembentukan peraturan perundangan. yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. f.

5. Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR . Angkatan Udara. Mengajukan Rancangan Undang-undang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan menetapkan Peraturan Pemerintah untuk melaksanakan Undang-undang sebagaimana mestinya. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR.4 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 5 B. yang selanjutnya diatur dengan Undang-undang. 8. Syarat-syarat dan akibat keadaan bahaya ditetapkan dengan Undang-undang . Penyelenggaraan Negara Kekuasaan Pemerintahan 4. 6. Mengangkat Duta dan Konsul. Presiden berhak 11. 12. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA) . Dalam membuat perjanjian lainnya yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. dalam menjalankan fungsinya Presiden dibantu oleh Menteri-Menteri Negara. Menyatakan perang. memperhatikan pertimbangan DPR . Memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat. Mengesahkan Rancangan Undang-undang yang telah disetujui bersama DPR untuk menjadi Undang-undang. Presiden: 1. Membentuk Dewan Pertimbangan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Presiden. Menyatakan keadaan bahaya. Dalam penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut UUD 1945. dimana setiap Menteri Negara membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. Dalam mengangkat Duta. Presiden adalah sebagai penyelenggara atau pemegang kekuasaan Pemerintahan Negara. tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan Undang-undang . Memberi gelar. Dalam hal ikhwal kegentingan memaksa. 14. 7. sebagai Kepala Negara. Menteri-menteri Negara ini diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Presiden tidak dapat membekukan dan atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 2. Dalam melakukan kewajibannya. . 10. Memberi abolisi dan amnesti dengan memperhatikan pertimbangan DPR . dan Angkatan Laut. 3. 13. Selain itu. menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. Sebagai Kepala Lembaga Eksekutif atau Kepala Pemerintahan. Membahas rancangan Undang-undang untuk mendapatkan persetujuan bersama DPR. 9. dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan DPR . Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.

Menetapkan dan mengajukan anggota hakim konstitusi. Namun hal itu tidak mungkin mampu dihadapi dan ditanggulangi lagi oleh pemerintah sendiri. Sejalan dengan kemajuan masyarakat dengan peningkatan permasalahannya. 18. Keadaan ini diperparah dengan datangnya era globalisasi. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR . Akibatnya adalah timbul masalah kuantitas dan kualitas birokrasi yang semakin lama semakin serius. Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang telah dipilih oleh DPR atas dasar pertimbangan DPD. termasuk beban negara menjadi terus bertambah berat. Globalisasi menimbulkan masalah yang harus di atasi agar kepentingan nasional tidak dirugikan. Apa saja tugas Presiden sebagai Kepala Pemerintahan dan sebagai Kepala Negara? 3. 17. BAB III PENYELENGGARAAN TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) A. Apakah yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara? 2. birokrasi cenderung terus semakin besar. Latihan/Diskusi 1. ESCAP mengartikan governance sebagai proses pengambilan keputusan dan proses diimplementasikan atau tidak diimplementasikannya keputusan: “the process of decision making and the process by which the decision are implemented (or not implemented)”.6 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 15. Rangkuman Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara tidak membicarakan sistem penyelenggaraan negara oleh lembagalembaga negara secara keseluruhan akan tetapi adalah membicarakan mekanisme bekerjanya lembaga-lembaga eksekutif yang dipimpin oleh Presiden baik selaku Kepala Pemerintahan maupun sebagai Kepala Negara. Menetapkan Calon Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial dan telah mendapat persetujuan DPR untuk menjadi Hakim Agung . Mengapa Menteri-menteri tidak bertanggung jawab kepada DPR? . 16. Istilah governance menurut ESCAP 7 D. yang merupakan era semakin luas dan tajamnya kompetisi antar bangsa. Pengertian dan Pemahaman Kepemerintahan Yang Baik GOVERNANCE) Tata (GOOD C. di lain pihak menimbulkan pula peluang yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kepentingan nasional.

penggunaan sumber-sumber daya secara berhasilguna dan berdayaguna. 6. Osborn dan Gaebler (1992: 24) mendefinisikan governance sebagai proses dimana kita memecahkan masalah kita bersama dan memenuhi kebutuhan masyarakat “the process in which we solve our problem collectivelly and meet the society needs”. 7. 2. 3. Demikianlah kini istilah “good governance” telah menjadi perhatian orang dimana-mana. bahwa setiap warga negara baik langsung mau pun melalui perwakilan. mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraannya. yang tergantung dari permasalahan dan peringkat pemerintahannya dapat meliputi kalangan yang sangat luas dan beraneka ragam seperti organisasi politik. 4. Berhubung dengan keterlibatan berbagai pihak: negara. Meuthia Ganie – Rahman (Jakarta Post 26-10-1999: 2). Semua warga negara. seperti “corporate governance”. Transparansi. kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Orientasi pada konsensus. Meuthia Ganie Rachman) dan . Partisipasi. Ketanggapan (responsiviness). Wahana…. yang berarti bahwa berbagai upaya lembaga dan prosedur-prosedur harus berupaya untuk melayani setiap stakeholder dengan baik. Aturan hukum (rule of law). sektor swasta dan masyarakat. pengelolaan (Sofyan Wanandi. 1999: 14) juga menyebutkan bahwa governance yang baik sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara. dunia usaha/swasta. yang dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Governance yang baik menjadi perantara kepentingan-kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas. aspiratif. dunia usaha dan masyarakat tersebut. “national governance” dan “local governance”. koperasi. “international governance”. Dalam bahasa Indonesia telah ada tiga terjemahan untuk governance: kepemimpinan (Sofyan Effendi. pelaku-pelaku yang berkepentingan atau stakeholder. mempunyai suara dalam pembuatan keputusan dalam pemerintahan. organisasi profesi. Kesetaraan (equity). Efektifitas dan efisiensi. Governance melibatkan berbagai pelaku. yang pada dasarnya terdiri atas negara atau pemerintah dan non pemerintah atau masyarakat. Oleh karena itu. UNDP (PT. mendefinisikan governance sebagai “pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan negara dan sektor non pemerintah dalam suatu usaha kolektif”.8 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 9 dapat digunakan dalam beberapa konteks. LSM. terutama untuk hak asasi manusia. lihat Bintoro). 5. maka antara lain UNDP (ibid) mengemukakan ciri governance yang baik adalah: 1. individu dan bahkan lembaga internasional. Informasi dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan serta dapat dipahami dan dimonitor.

lebih baik governance diterjemahkan sebagai penyelenggaraan. maka istilah pengelolaan dan penyelenggaraan nampaknya lebih tepat. melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional menyatakan bahwa “istilah tata kepemerintahan yang baik mulai banyak dikenal di tanah air sejak tahun 1997. Bappenas melalui Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. dan waktu yang . B. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. Selain sebagai suatu konsepsi tentang penyelenggaraan peme rintahan. demokratis. perlu adanya kesepakatan bersama serta rasa optimistik yang tinggi dari seluruh komponen bangsa bahwa penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik dapat diwujudkan demi pencapaian masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. daya tahan. dan untuk negara/pemerintah mestinya public governance. BAPPENAS. 2) Adanya kejelasan setiap tujuan kebijakan dan program. Wawasan Kedepan (Visionary): a. Mengingat istilah governance dapat digunakan dalam beberapa konteks seperti dikemukakan oleh ESCAP di atas. Tata kepemerintahan yang baik merupakan suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan/kebijakan yang memberikan kekuatan hukum pada visi dan strategi. tidak singkat karena diperlukan pembelajaran. Indikator Minimal: 1) Adanya visi dan strategi yang jelas dan mapan dengan menjaga kepastian hukum.10 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 11 penyelenggaraan (Bondan Gunawan). tata kepemerintahan yang baik juga merupakan suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah. dalam penyelenggaraan negara/ pemerintahan. dan masyarakat”. menyatakan bahwa dalam upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip Tata Kepemerintahan Yang Baik dengan indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya sebagai berikut: 1. Untuk itu. dan efektif sesuai dengan cita-cita terbentuknya suatu masyarakat madani. 2) Proses penentuan visi dan strategi secara partisipatif. Di samping itu. b. pemahaman. dunia usaha/swasta. 3) Adanya dukungan dari pelaku untuk mewujudkan visi. ketika krisis ekonomi terjadi di Indonesia. Upaya Mewujudkan Tata Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance) Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat. Akan tetapi dikaitkan dengan istilah yang ada dalam UUD 1945 penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan negara nampaknya untuk kita.

2) Adanya akses pada informasi yang siap. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Pedoman pelaksanaan proses partisipatif. 2) Forum konsultasi dan temu publik. mengakomodasi 4. kejaksaan. b. dan tepat waktu. 5. 4) Mekanisme/peraturan untuk kepentingan yang beragam. 4) Sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara. 3) Website (e-government. Supremasi Hukum (Rule of Law): a. 2) Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. kejaksaan. b. 3) Adanya pemahaman mengenai pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. 5) Media cetak . 2) Adanya penindakan setiap pelanggar hukum. Tanggung Gugat (Accountability): a. 3. . 4) Iklan layanan masyarakat . bebas diperoleh. kehakiman). e-procurement. mudah dijangkau. 6) Mekanisme reward and punishment. pengadilan). Keterbukaan dan Transparansi (Openness and Transparancy) a. b. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi. 2) Pusat/balai informasi . b. 2) Reward and punishment yang jelas bagi aparat penegak hukum (kepolisian. Partisipasi masyarakat (Participation): a. 5) Sistem pengawasan. Indikator Minimal: 1) Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik. Indikator Minimal: 1) Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Mekanisme pertanggungjawaban. 3) Media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat. 2) Laporan tahunan. 6) Papan pengumuman. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Sistem yuridis yang terpadu/terintegrasi (kepolisian.12 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 13 2. dsb). termasuk forum stakeholder . 3) Laporan pertanggungjawaban. Indikator Minimal: 1) Adanya kepastian dan penegakkan hukum. 2) Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif.

3) Berkurangnya tumpang tindih penyelenggaraan fungsi organisasi/unit kerja. 4) Sosialisasi mengenai kesadaran hukum. b. Indikator Minimal: Adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam berbagai tingkatan jabatan. b. 2) Kode etik profesi. Keefesienan dan Effectiveness): a. 6. 8. 2) Prosedur dan layanan pengaduan hotlin . 3) Sistem reward and punishment yang jelas. Demokrasi (Democracy): a. 2) Taat asas. 10. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan yang menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. 4) Memiliki kualifikasi di bidangnya. 3) Kreatif dan inovatif. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar dan indikator kinerja untuk menilai efisiensi dan efektifitas pelayanan. Keefektifan (Efficiency and 7. 5) Standar dan indikator kinerja. 3) Fasilitas komunikasi dan informasi. .14 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 15 3) Sistem pemantauan lembaga peradilan yang objektif. Indikator Minimal: 1) Tersedianya layanan pengaduan dengan prosedur yang mudah dipahami oleh masyarakat. Profesionalisme dan Kompetensi (Profesionalism and Competency): a. 2) Survei-survei kepuasan stakeholders. independen. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar kompetensi yang sesuai dengan fungsinya. b. dan mudah diakses publik (ombudsman). Perangkat Pendukung Indikator: 1) Standar pelayanan publik. 2) Adanya tindak lanjut cepat dari laporan dan pengaduan. 2) Adanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memilih dan membangun konsensus dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Indikator Minimal: 1) Adanya kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berorganisasi. 2) Adanya perbaikan berkelanjutan. 9. b. Indikator Minimal: 1) Berkinerja tinggi. Daya Tanggap (Responsiveness): a. 4) Sistem pengembangan SDM. Desentralisasi (Decentralization): a. Indikator Minimal: 1) Terlaksananya administrasi penyelenggaraan negara yang berkualitas dan tepat sasaran dengan penggunaan sumber daya yang optimal.

Indikator Minimal: 1) Adanya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan/konservasinya. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan dan pedoman yang mendorong kemitraan pemerintah-dunia usaha swastamasyarakat. 3) Program-program pemberdayaan. 2) Job description (uraian tugas) yang jelas. kecil.16 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 17 b. dan sebagainya). dan menengah. 2) Penegakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. dan kawasan tertinggal. Komitmen a. 4) Rendahnya tingkat pelanggaran perusakan lingkungan. Komitmen pada Lingkungan Hidup (Commitment to Environmental Protection): a. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan perundang-undangan mengenai: 1) Struktur organisasi yang tepat dan jelas. 2) Peraturan-peraturan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu. 11. masyara kat kurang mampu. 3) Rendahnya tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 2) Tersedianya layanan-layanan/fasilitas-fasilitas khusus bagi masyarakat tidak mampu. 3) Terbukanya kesempatan bagi masyarakat/dunia usaha swasta untuk turut berperan dalam penyediaan pelayanan umum. 4) Adanya pemberdayaan institusi ekonomi lokal/usaha mikro. Indikator Minimal: 1) Adanya pemahaman aparat pemerintah tentang pola kemitraan. dan kawasan tertinggal. 2) Adanya lingkungan yang kondusif bagi masyarakat kurang mampu (powerless) untuk berkarya. affirmative action. b. . Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan-peraturan yang berpihak pada pember dayaan gender. 12. Kemitraan Dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (Private Sector and Civil Society Partnership): a. serta koperasi. 2) Program-program pemberdayaan gender. masyarakat kurang mampu. pada Pengurangan Kesenjangan (Commitment to Reduce Inequality): Indikator Minimal: 1) Adanya langkah-langkah atau kebijakan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang kurang mampu (subsidi silang. b. 3) Adanya kesetaraan dan keadilan gender. 4) Adanya pemberdayaan kawasan tertinggal. 13.

perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Perangkat Pendukung Indikator: Peraturan-peraturan mengenai persaingan usaha yang menjamin iklim kompetisi yang sehat. 589/ IX/6/4/1999 dan telah dirubah dengan Keputusan Kepala LAN No. . telah diterbitkan Instruksi Presiden No. 2) Berkembangnya ekonomi masyarakat. C. bersih dan bertanggung jawab. Komitmen pada Pasar Yang Fair (Commitment to Fair Market): a. b. 3) Terjaminnya iklim kompetisi yang sehat. 3) Reward and punishment dalam pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan hidup. b. Indikator Minimal: 1) Tidak ada monopoli. Berdasarkan pengertian ini. Prinsip-Prinsip Akuntabilitas Dalam pelaksanaan akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah. karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. 14. 2) Forum kegiatan peduli lingkungan . Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel. Perangkat Pendukung Indikator: 1) Peraturan dan kebijakan yang menjamin perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan ling kungan hidup. maka semua instansi pemerintah. Pengertian Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang berdayaguna. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). berhasilguna. 1. 239/IX/6/8/2003).18 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 19 b. 2. badan dan lembaga negara di pusat dan daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaannya lebih lanjut didasarkan atas Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Lembaga Administrasi Negara (Keputusan Kepala LAN No.

tuntutan perkembangan lingkungan strategis. baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuataan (strengths). strategi. dan tantangan/kendala (threats) yang ada. terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari suatu program secara keseluruhan. Perencanaan strategis instansi pemerintah memerlukan integrasi antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab . lembaga perwakilan dan lembaga pengawasan. akuntabilitas kinerja harus pula menyajikan penjelasan tentang deviasi antara realisasi kegiatan dengan rencana serta keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Untuk melaksanakan kedua hal tersebut.20 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 21 c. pengukuran kinerja dimulai dari perencanaan strategis dan berakhir dengan penyerahan laporan akuntabilitas kepada pemberi mandat (wewenang). Perencanaan Strategis Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah perencanaan strategis merupakan langkah awal untuk melaksanakan mandat. Oleh karena itu. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Harus jujur. misi. diperlukan pula perhatian dan komitmen yang kuat dari atasan langsung instansi yang memberikan akuntabilitasnya. perencanaan strategis yang disusun oleh suatu instansi pemerintah harus mencakup: (1) pernyatan visi. nasional dan global. d. dan (3) uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Sebenarnya pengukuran kinerja punya makna ganda. yaitu pengukuran kinerja sendiri dan evaluasi kinerja. peluang dan kendala yang dihadapi. Perencanaan strategis bersama dengan pengukuran kinerja serta evaluasinya merupakan rangkaian sistem pengukuran kinerja yang penting. dan faktor-faktor keberhasil an organisasi. Analisis terhadap lingkungan organisasi. peluang (opportunities). (2) rumusan tentang tujuan. 4. Setelah program didesain. sasaran dan uraian aktivitas organisasi. Dengan perkataan lain. Dalam pelaksanaan akuntabilitas ini. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. misi. objektif. untuk mengevaluasi akuntabilitas kinerja instansi yang bersangkutan. dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas. Di samping itu. Dengan visi. Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. haruslah sudah 3. e. transparan. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh. kelemahan (weaknesses). dan strategi yang jelas maka diharapkan instansi pemerintah akan dapat menyelaraskan dengan potensi.

Prinsip pengecualian. maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanan program berhasil atau tidak. Suatu instansi pemerintah dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti-bukti atau indikator-indikator atau ukuran-ukuran pencapaian yang mengarah pada perencanaan misi. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Tanpa adanya pengukuran kinerja sangat sulit dicari pembenaran yang logis atau pencapaian misi organisasi instansi. suatu laporan harus disusun secara jujur. perencanaan operasional yang terukur. Prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar daripada biaya penyusunan. Evaluasi Kinerja Setelah tahap pengukuran kinerja dilalui. perbedaan realisasi dan target. berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja. Penyusunan laporan harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan instansi yang bersangkutan seperti keberhasilan dan kegagalan. Sebaliknya dengan disusunnya perencanaan strategis yang jelas.22 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 23 termasuk penciptaan indikator kinerja atau pengukuran keberhasilan pelaksanaan program. Penetapan Capaian Kinerja Penetapan capaian kinerja dimaksudkan untuk mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan/program dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh suatu instansi pemerintah. b. . c. Prinsip pertanggungjawaban. Di samping itu perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip: a. 6. b. sehingga harus cukup jelas hal–hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan harus dapat di mengerti pembaca laporan. sehingga dengan demikian dapat diukur dan dievaluasi tingkat keberhasilan nya. Pengukuran kinerja merupakan jembatan antara perencanaan strategis dengan akuntabilitas. Tahapan ini dimulai dengan menghitung nilai capaian dari pelaksanaan perkegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung capaian kinerja dari pelaksanaan program didasarkan pembobotan dari setiap kegiatan yang ada di dalam suatu program. Dalam pengukuran kinerja perlu adanya: a. Penetapan Indikator Kinerja Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifi kasi dan klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan/program. 5. Pelaporan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) harus disampaikan oleh instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. objektif dan transparan.

Peradilan Tata Usaha Negara melengkapi 3 peradilan lain yang sudah lama ada di bawah Mahkamah Agung yaitu Peradilan Umum. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. Sengketa yang terjadi antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga negara ini disebut sengketa Tata Usaha Negara. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan setahun sekali. aman. berdaya banding tinggi. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara pengkajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan D. tentram. dapat dipercaya/diandalkan. lengkap. mudah dimengerti (jelas dan cermat). sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berdasarkan UU No. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. Peradilan Agama dan Peradilan Militer. bersih dan berwibawa yang dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian bagi masyarakat. sehingga perbandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. Peradilan Tata Usaha Negara Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. perselisihan atau sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan warga masyarakat. Dalam usaha mewujudkan tujuan tersebut di atas. dijamin persamaan warga negara di dalam hukum. dan menertibkan aparatur tersebut agar menjadi aparatur yang efisien. pemerintahan negara yang dianut dalam UUD 1945. Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang dinamis. Pemerintah diharuskan berperan aktif dan positif. tepat waktu. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. serta tertib. bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera. Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi timbulnya benturan kepentingan. Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat rutin. melalui aparaturnya di bidang Tata Usaha Negara. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. menyempurnakan. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang No. LAKIP dapat dimasukkan dalam ketegori laporan rutin. efektif. berdayasaing. Dalam tata kehidupan yang demikian itu. padat dan terstandarisasi. Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. Sadar terhadap peran aktif dan positif tersebut di atas.24 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 25 Selanjutnya. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. netral. tidak kontradiktif). Pemerintah wajib secara terus menerus membina. sesuai dengan sistem .

Upaya mewujudkan tata kepemerintahan yang baik membutuhkan komitmen kuat.26 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 27 Kehakiman. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. 8 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang diubah dengan UU No. Rangkuman Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik sudah menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan universal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Di samping itu dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersih. Keseluruhan sistem pengawasan tersebut akan diuraikan dalam Bab VII. Jadi PTUN dibentuk sebenarnya untuk memberi perlindungan kepada hak warga negara dan masyarakat. Berbagai kebijakan pendukung untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik telah dikeluarkan pemerintah . Kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan dalam era reformasi seperti TAP MPR No. 28 Tahun 1999 yang juga tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan. waktu yang relatif panjang. PTUN diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga Negaranya. Instruksi Presiden No. Kolusi dan Nepotisme. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Karena itu diperlukan pembelajaran. serta implementasi nilai-nilai tata kepemerintahan yang baik secara utuh oleh seluruh komponen bangsa termasuk oleh aparatur pemerintah dan masyarakat luas. 9 Tahun 2004. daya tahan. Dalam hal ini sengketa timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. E. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat. Adapun peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah sebelum era reformasi yang berkaitan dengan upaya perwujudan tata kepemerintahan yang baik adalah UU No. pemahaman. Indonesia baik dalam era reformasi maupun sebelum reformasi. Sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara ini dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya yang mencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negara. Kolusi dan Nepotisme. UU No. efisien dan efektif telah dikembangkan pula berbagai pengawasan.

Melindungi aparatur dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Latihan 1. Apakah prinsip-prinsip penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) ini menurut UNDP? 3. Hal ini dimaksudkan untuk: 1. A. Asas Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundangundangan yang baik yang meliputi: 1. Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan. 2. Mengapa Peradilan Tata Usaha Negara juga merupakan upaya yang diperlukan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik? BAB IV PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Peraturan Perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.28 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI F. Penyelenggaraan tata kepemerintahan yang baik (good governance) perlu melibatkan semua pihak yang terkait (stakeholder) yang pada dasarnya terdiri dari 3 sektor. 29 . Kejelasan Tujuan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Apa pengertian akuntabilitas yang resmi dianut pemerintah dan apa prinsip-prinsipnya? 5. karena Indonesia adalah negara hukum. Melindungi masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang. Menjamin kepastian hukum. Menurut Bappenas apa saja upaya yang diperlukan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang baik di Indonesia? Sebutkan pula prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan beserta indikator-indikator minimal dan perangkat pendukung indikatornya! 4. Apa saja sektor-sektor itu dan jelaskan peranan masing-masing sektor tersebut! 2. 3.

6. Kelembagaan atau Organisasi Pembentuk yang Tepat Setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Pengayoman Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. . Keterbukaan Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai dari perencanaan. Kekeluargaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Kebangsaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. 4. baik secara filosofis. Sedangkan materi muatan Peraturan perundang-undangan mengandung asas: 3. Kemanusiaan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. 2. Kejelasan Rumusan Setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundangundangan. 3. yuridis maupun sosiologis. persiapan. Kesesuaian antara Jenis dan Materi Muatan Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis peraturan perundang-undangannya. 5. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. berbangsa. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. penyusunan. 7. Peraturan perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum.30 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 31 2. Dengan demi kian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. 4. 1. dan bernegara. Dapat Dilaksanakan Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. Kedayagunaan dan Kehasilgunaan Setiap peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang.

Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. kondisi khusus daerah. antara lain adalah peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh MPR. jenis peraturan perundang-undangan meliputi: UUD Negara RI 1945. 9. Kenusantaraan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Pemerintah. Kepala Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh 7. Ketertiban dan Kepastian Hukum Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. gender. Jenis Dalam ketentuan Pasal 7 Undang-undang No. agama. Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana tersebut di atas. Peraturan Presiden. Menteri. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat. Bhinneka Tunggal Ika Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. Gubernur. BPK. Bupati/Walikota. atau status sosial. antara lain. Keadilan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. 6. DPD. agama. Adapun jenis peraturan perundang-undangan selain sebagimana tersebut di atas. DPRD Kabupaten/Kota. Kesamaan Kedudukan Pemerintahan Dalam Hukum dan Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dan Keselarasan. DPRD Provinsi. 8. golongan. Keserasian. keserasian. berbangsa.32 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 33 5. suku dan golongan. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. . Keseimbangan. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. MK. suku. DPR. dan Peraturan Daerah. B. 10. dan keselarasan. Gubernur BI. Setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. dan bernegara. MA. Jenis Dan Hierarkhi Peraturan PerundangUndangan 1. ras.

10 Tahun 2004 adalah: a. Peraturan Daerah yang dimaksud meliputi: 1) Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama dengan Gubernur. Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang undangan yang ditetapkan oleh Presiden berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mesti nya. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. e. dan keuangan negara. d. pelaksanaan dan penegakkan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara.34 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 35 Undang-undang atau Pemerintah atas perintah Undangundang. Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. kewarganegaraan dan kependudukan. wilayah negara dan pembagian daerah. Sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Peraturan Presiden Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Materi muatan yang harus diatur dengan UU atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang adalah: hak-hak asasi manusia. Peraturan Daerah Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. 2. Termasuk dalam Peraturan Daerah . b. hak dan kewajiban warga negara. Hierarki Yang dimaksud hierarki adalah penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Kepala Desa atau yang setingkat. Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarkinya. c. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hierarki peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 7 Undang-undang No.

dan jangkauan dan arah pengaturan. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa penyusunan UU wajib mengkonsultasikan terlebih dahulu konsep tersebut dengan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu: Menteri Hukum dan HAM) dan Pimpinan lembaga lainnya yang terkait. dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa secara resmi mengajukan permintaan persetujuan prakarsa penyusunan RUU kepada Presiden. 188 Tahun 1998. Panitia Antar Departemen dan Lembaga Berdasarkan persetujuan dari Presiden atas prakarsa penyusunan RUU. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota. Panitia Antar Departemen dan Lembaga. 1. Dalam Keppres ini diatur tentang Prakarsa Penyusunan RUU. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. C. 2. Tata Cara Mempersiapkan Rancangan UndangUndang Tata cara mempersiapkan RUU diatur dalam Keputusan Presiden No. sasaran yang ingin diwujudkan. Untuk pengharmonisan. lingkup atau obyek yang akan diatur. Konsultasi RUU. Apabila keharmonisan.36 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 37 2) 3) Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Pengundangan dan Penyebarluasan UndangUndang. kebulatan dan kemantapan konsepsi. Sebaliknya dalam hal telah diperoleh keharmonisan. maka Menteri Kehakiman dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa bersama-sama Menteri Sekretaris Negara melaporkannya kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. Pengesahan. Prakarsa Penyusunan RUU Menteri atau pimpinan LPND selanjutnya disebut Pimpinan Lembaga dapat mengambil prakarsa penyusunan RUU untuk mengatur masalah yang menyangkut bidang tugasnya. pembulatan. Tata Cara Pembahasan RUU yang disusun oleh DPR. Prakarsa ini wajib dimintakan persetujuan lebih dahulu kepada Presiden dengan dilengkapi penjelasan mengenai konsepsi pengaturan yang meliputi: latar belakang dan tujuan penyusunan. dan pemantapan yang akan dituangkan dalam RUU. Penyampaian RUU kepada DPR. pokok pikiran. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa membentuk Panitia Antar Departemen dan . kebulatan dan kemantapan konsepsi tidak dapat dihasilkan dalam forum konsultasi.

Cara penanganan atau pembahasannya. Kemudian Menteri Sekretaris Negara melaporkan RUU kepada Presiden dan sekaligus mempersiapkan Amanat Presiden bagi penyampaiannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Kepala Biro Hukum atau Kepala Satuan Kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang perundang-undangan pada Departemen atau Lembaga pemrakarsa. secara fungsional bertindak sebagai Sekretaris Panitia Antar Departemen. dalam hal RUU yang disampaikan lebih dari satu . Surat keputusan Pembentukan Panitia Antar Departemen dan Lembaga ditetapkan paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal diterimanya surat Menteri Sekretaris Negara mengenai persetujuan pemrakarsa. b. Konsultasi RUU Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa menyampaikan RUU yang dihasilkan Panitia kepada Menteri Kehakiman dan Menteri atau Pimpinan Lembaga lainnya yang terkait. Menteri Kehakiman.38 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 39 Lembaga yang diketuai pejabat yang ditunjuk untuk menyusun RUU tersebut. untuk memperoleh pendapat dan pertimbangan terlebih dahulu. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki . Menteri atau Pimpinan Lembaga yang terkait dengan materi yang akan diatur. Pendapat dan pertimbangan dapat pula dimintakan kepada Perguruan Tinggi dan organisasi di bidang sosial. Apabila RUU tersebut telah memperoleh kesepakatan. profesi atau kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan. para Menteri Koordinator. . Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemrakarsa dan Menteri Kehakiman (dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR. Penyampaian pendapat dan pertimbangan dilakukan paling lambat 30 hari kerja sejak diterimanya pemintaan pendapat dan pertimbangan tersebut. Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden. c. 2004-2009 disebut Menteri Hukum dan HAM). Apabila dalam pembahasan di DPR terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi 3. Penyampaian RUU kepada DPR Dalam Amanat Presiden kepada pimpinan DPR ditegaskan hal-hal yang dianggap perlu. Permintaan keanggotan Panitia dilakukan langsung oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa kepada Menteri Sekretaris Negara. antara lain: a. Amanat Presiden disampaikan juga kepada Wakil Presiden. politik. 4.

40

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

41

serta arah RUU, Menteri yang mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden dengan disertai saran pemecahan yang diperlukan untuk memperoleh keputusan.

7. Ketentuan Lain-Lain
Persetujuan pemrakarsa penyusunan RUU juga merupakan persetujuan bagi penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Keputusan Presiden (Perpres) dan peraturan lainnya, yang pelaksanaannya dilakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya diselesaikan paling lambat satu tahun setelah pengundangan UU yang bersangkutan.

5. Tata Cara Pembahasan RUU Yang Disusun dan Disampaikan Oleh DPR.
RUU yang disusun oleh DPR dan disampaikan kepada Presiden dilaporkan oleh Menteri Sekretaris Negara disertai saran mengenai Menteri yang akan ditugasi untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri atau Pimpinan Lembaga lain yang terkait. Tata cara selanjutnya sama seperti tata cara yang telah disebutkan pada butir 2, 3, dan 4.

D. Kerangka Peraturan Perundang-Undangan
Kerangka peraturan perundang-undangan terdiri atas: judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan (jika diperlukan) dan lampiran (jika diperlukan).

6. Pengesahan, Pengundangan & Penyebarluasan UU
Menteri Sekretaris Negara menyiapkan naskah RUU yang telah disetujui DPR dan selanjutnya diajukan kepada Presiden guna memperoleh pengesahan (persetujuan bersama). Bila RUU yang telah disetujui tersebut tidak ditanda-tangani Presiden dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RUU tersebut disetujui bersama, maka RUU tersebut tetap sah dan menjadi UU dan wajib diundangkan. Kemudian Menteri Sekretaris Negara mengundangkan UU tersebut dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara. Sedangkan Menteri atau Pimpinan Lembaga pemrakarsa berkewajiban secepatnya menyebar luaskan jiwa, semangat dan substansi UU tersebut kepada masyarakat.

1. Judul
a. Judul memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan dan nama Peraturan Perundang-undangan ; Nama peraturan perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan perundangundangan; Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan ditengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

b.

c.

2. Pembukaan
a. Frase Dengan Rahmat Tuhan YME; b. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; c. Konsiderans;

42

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

43

d. Dasar Hukum; e. Diktum.

hierarkinya, dan tata cara mempersiapkan rancangan undangundangnya.

3. Batang Tubuh
a. b. c. d. e. Ketentuan Umum; Materi Pokok Yang Diatur; Ketentuan Pidana (jika diperlukan); Ketentuan Peralihan (jika diperlukan); Ketentuan Penutup.

F. Latihan
1. Apakah konsekuensi bahwa Indonesia adalah negara hukum dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara? 2. Apa perlunya ada ketetapan tentang Hierarki Peraturan Perundang-undangan? 3. Dalam strata kebijakan publik, kebijakan Menteri adalah kebijakan pelaksanaan, sebagai penjabaran kebijakan umum yang ditetapkan oleh Presiden. Bagaimana dalam hubungannya dengan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan? 4. Mengapa dalam penyusunan RUU dan RPP semua instansi terkait perlu diikutsertakan?

4. Penutup
a. Penjelasan (jika diperlukan); b. Lampiran (jika diperlukan).

E. Rangkuman
Keseluruhan aspek penyelenggaraan pemerintahan negara dalam pelaksanaannya diatur dengan dan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan agar ada jaminan kepastian hukum, ada perlindungan masyarakat dari tindakan aparatur dan pihak lain yang sewenang-wenang dan juga agar aparatur terlindungi dari tindakan masyarakat yang melawan hukum. Oleh karena itu, agar setiap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga-lembaga negara atau pejabat yang berwenang berkualitas dan tidak bertentangan satu sama lain maka dalam pembentukannya perlu memperhatikan asas pembentukan, asas tentang materi muatannya, jenis dan

Modul Diklat Prajabatan Golongan III

45

BAB V LEMBAGA-LEMBAGA PEMERINTAH
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara, pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintahan seperti Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Lembaga-Lembaga lainnya. Pada dasarnya lembaga-lembaga pemerintah ini dapat dibagi dua, yaitu lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat dan lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah. Lembaga-lembaga penyelengara pemerintahan negara tersebut merupakan aparatur pemerintah atau disebut juga sebagai birokrasi pemerintah. Presiden bersama-sama lembaga-lembaga pemerintah menyelenggarakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional. Tugas umum pemerintahan adalah tugas-tugas atau urusan-urusan pemerintahan yang sejak dahulu dilaksanakan oleh pemerintah dimana saja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban, penyelenggaraan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lain-lain. Sedangkan tugas pembangunan adalah tugas-tugas atau urusanurusan dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan. Dengan adanya lembaga-lembaga pemerintah ini, maka urusanurusan pemerintahan akan terbagi habis ke dalam lembaga lembaga pemerintahan yang ada. Akan tetapi tidak harus setiap urusan pemerintahan diwadahi dalam satu lembaga pemerintahan.
44

A. Urusan Pemerintahan Kewenangan Pemerintah

Yang

Menjadi

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan-urusan yang menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Urusan pemerintahan yang menjadi Urusan Pemerintah tersebut adalah: 1. Politik Luar Negeri, antara lain meliputi: a. Mengangkat pejabat politik dan menunjuk warga negara untuk duduk dalam jabatan lembaga internasional; b. Menetapkan kebijakan luar negeri; c. Melaksanakan perjanjian dengan negara lain; d. Menetapkan kebijakan perdagangan luar negeri. 2. Pertahanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk angkatan bersenjata; b. Menyatakan damai dan perang; c. Menyatakan negara atau sebagai wilayah negara dalam keadaan bahaya; d. Membangun dan mengembangkan sistem pertahanan negara dan persenjataan; e. Menetapkan kebijakan untuk wajib militer, bela negara bagi setiap warga negara. 3. Keamanan, antara lain meliputi: a. Mendirikan dan membentuk kepolisian negara; b. Menetapkan kebijakan keamanan nasional; c. Menindak setiap orang yang melanggar hukum negara;

5. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. 4. akuntabilitas. d. abolisi. Peraturan Pemerintah. apabila regional menjadi kewenangan Provinsi. Kriteria Eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi. Moneter dan Fiskal. atau c. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan dengan berdasarkan asas tugas pembantuan. Dengan kata lain bahwa Pemerintah dapat: a. Daerah Provinsi. Menetapkan kebijakan kehakiman dan keimigrasian. dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. dan peraturan lain yang berskala nasional. membentuk UndangUndang. . antara lain: a. maka disusun kriteria yang meliputi: eksternalitas. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal. Menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. b. Yustisi. Mengangkat hakim dan jaksa. b. Melimpahkan sebagai urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. c. Mendirikan lembaga peradilan. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang concurrent secara proporsional antara Pemerintah. Menindak kelompok atau setiap organisasi yang kegiatannya melanggar keamanan negara. Daerah Kabupaten dan Kota. Menetapkan kebijakan dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. Agama. Menetapkan kebijakan moneter. c. antara lain: a. dan apabila nasional menjadi kewenangan Pemerintah. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintah yang bersifat concurrent. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah. memberi grasi.46 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 47 d. b. Mencetak uang dan menentukan nilai mata uang. dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. 6. c. Mendirikan lembaga permasyarakatan. b. Menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional. Memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama. amnesti. antara lain: a. Mengendalikan peredaran uang.

Pelayanan administrasi umum pemerintahan. pemenuhan kebutuhan hidup minimal. prasarana lingkungan dasar. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan. Urusan pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. B. kepastian. Urusan Pemerintahan Kewenangan Daerah Yang Menjadi Urusan yang menjadi kewenangan daerah. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. dan pengawasan tata ruang. kesehatan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 3. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota. 9. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. 7. Penyediaan sarana dan prasarana umum. 11. 2. 6.48 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 49 Kriteria Akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. usaha kecil. Pengendalian lingkungan hidup. dan catatan sipil. dan Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. 16. Fasilitasi pengembangan koperasi. Dengan demikian akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. Kriteria Efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya (personil. dana. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. 4. Pelayanan kependudukan. dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota. 8. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/ kota. dan peralatan) untuk mendapatkan ketepatan. pemanfataan. 10. 12. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/ kota. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar. 5. . Perencanaan. meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. 14. 13. Penanganan bidang kesehatan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi: 1. 15.

11. dan pengawasan tata ruang. dan catatan sipil. 9. Fasilitasi pengembangan koperasi. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.1: Pembagian Urusan Pemerintahan Provinsi. Gambar V. Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. dan 16. 5. 8. dan menengah. Penanganan bidang kesehatan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. 15. 10. Pelayanan pertanahan. 6. Dalam penyelenggaraan pemerintahan.50 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 51 Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi: 1. 3. 7. Penyelenggaraan pendidikan. 12. 2. Penyediaan sarana dan prasarana umum. Lembaga Pemerintah Tingkat Pusat Dalam Undang-Undang No. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. 4. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Perencanaan. Pelayanan administrasi penanaman modal. Pelayanan kependudukan. pemanfataan. Penanggulangan masalah sosial. 32 Tahun 2004 C. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. 32 Tahun 2004 dikatakan bahwa Pemerintah Pusat atau Pemerintah adalah Presiden RI yang memegang kekuasaan pemerintahan negara RI. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. 14. lembaga-lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Negara. Kabupaten/Kota Sumber: Undang-Undang No. Pengendalian lingkungan hidup. 13. usaha kecil. Lembaga .

6) Pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan: Departemen Keuangan. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. a). Departemen Hukum dan HAM. dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 1. a. Tentara Nasional Indonesia (TNI). 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Departemen Pertahanan. sebagai mana dimaksud pada huruf 1) dan 2). Dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada tiga Kementerian Koordinator. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 3) Pengendalian penyelenggaraan kebijakan. dan Instansi yang dianggap perlu. serta mensikronkan pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Kementerian Negara yang berbentuk Departemen dan Kementerian Negara. TNI. 7) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Koordinator menyelenggarakan fungsi: Kementerian 1) Koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidangnya. saran. Kejaksaan Agung. Kepolisian Negara RI (Polri). 5) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. disebutkan bahwa Kementerian Negara terdiri dari Kementerian Koordinator.52 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 53 Pemerintah Non Departemen (LPND). Hukum. b). BIN. Hukum. Perwakilan RI di Luar Negeri. dan Keamanan mengkoordinasikan: Departemen Dalam Negeri. Badan/Lembaga Ekstra Struktural. POLRI. Kementerian Koordinator Bidang Politik. dan Keamanan. Fungsi. yaitu: Kementerian Koordinator Bidang Politik. Kementerian Koordinator Kedudukan Kementerian Koordinator adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Koordinator yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas Kementerian Koordinator mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan. Tugas. 4) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. 2) Sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. Kejaksaan Agung. Depar . Departemen Luar Negeri. Kesekretariatan yang membantu Presiden. Kementerian Negara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.

Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. Kementeri an Negara Pemuda dan Olah Raga. saran.62 Tahun 2005). Kementerian Negara Ristek. 3) Departemen Pertahanan. 2) Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. Kementerian Negara PP. Departemen Pertanian. Departemen Perhubungan. kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidangnya. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. Susunan Organisasi Kementerian Koordinator dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Koordinator. Departemen Kehutanan. yaitu: 1) Departemen Dalam Negeri. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ada 20 (dua puluh) Departemen. Departemen Sosial. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan: Departemen Kesehatan. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. 4) Di lingkungan Kementerian Koordinator dapat diangkat tiga orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Departemen Kedudukan Departemen adalah unsur pelaksana Pemerintah yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. dan Instansi yang dianggap perlu. 2) Deputi. 4) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Departemen Perindustrian. b. Kementerian Negara PAN. Departemen Kelautan dan Perikanan. dan Intansi lain yang dianggap perlu. Fungsi Dalam pelaksanaan tugasnya. c). Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.54 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 55 temen Energi dan SDM. Departemen Perdagangan. Departemen Agama. 5) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Departemen Pekerjaan Umum. 3) Staf Ahli. Departemen Diknas. . 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Departemen menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional. Departemen Kominfo. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2) Departemen Luar Negeri. Tugas Departemen mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan. Kementerian Negara Koperasi dan UKM.

bertugas melaksanakan pengawasan fungsional. Kementerian Negara Kedudukan Kementerian Negara adalah unsur pelaksana pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Negara yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 2) Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidangnya. bertugas melaksanakan rumusan dan pelaksanaan kebijakan serta standardisasi teknis di bidangnya. 7) Di lingkungan Departemen dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. Departemen Pendidikan Nasional. Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Komunikasi dan Informatika. Susunan Organisasi Departemen terdiri dari: 1) Menteri.56 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 57 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Departemen Perindustrian. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya. c.62 Tahun 2005). bertugas melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanan tugas dan administrasi Departemen. Departemen Kehutanan. Departemen Perdagangan. Departemen yang menyelenggarakan urusan pemerintahan yang tidak diserahkan kepada Daerah dapat membentuk Instansi Vertikal yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Departemen Kesehatan. Departemen Perhubungan. Departemen Pertanian. Tugas Kementerian Negara mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang tertentu dalam kegiatan pemerintahan negara. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Sosial. 5) Badan dan/atau Pusat. 4) Inspektorat Jenderal. Departemen Keuangan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. . 2) Sekretariat Jenderal. Departemen Agama. Departemen secara selektif dapat membentuk UPT sebagai pelaksana tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis penunjang. Kementerian Negara menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan kebijakan nasional di bidangnya. 3) Direktorat Jenderal. 6) Staf Ahli. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang mengabdi tanggung jawabnya.

103 Tahun 2001 tentang . Kementerian Negara terdiri dari: 1) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 171/M/ Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua Kepres No. 4) Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. dan perimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 2) Deputi. 62 Tahun 2005. Berdasarkan Perpres No. 3) Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 103 Tahun 2001 yang telah enam kali mengalami perubahan terakhir perubahannya dengan Peraturan Presiden No. dan Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 3) Staf Ahli. Dalam Kabinet Indonesia Bersatu. d. Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) LPND diatur dengan Keppres No. LPND berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. juga melaksanakan fungsi teknis pelaksanaan/fungsi operasionalisasi kebijakan di bidang masing-masing. 2) Kementerian Negara Koperasi dan UKM. 8) Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara. 10) Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. 4) Dilingkungan Kementerian Negara dapat diangkat 3 (tiga) orang Staf Khusus Menteri (Perpres No. 5) Penyampaian laporan hasil evaluasi. di samping melaksanakan fungsi-fungsi sebagaimana tersebut di atas. Tugas LPND mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Susunan Organisasi Kementerian Negara dibantu oleh: 1) Sekretariat Kementerian Negara. 5) Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Kementerian Negara Koperasi dan UKM. saran. 6) Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal. 7) Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kepres No. 9) Kementerian Negara Perumahan Rakyat. 64 Tahun 2005. 187/M/Tahun 2005). Dalam Perpres No.58 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 59 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Kedudukan LPND dalam Pemerintahan Negara RI adalah lembaga pemerintah pusat yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan tertentu dari Presiden. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keppres No. 62 Tahun 2005).

LAPAN. pembinaan dan pengendalian terhadap program . Fungsi. 9) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). 18) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). BKN. 5) Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS. 11) Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG). BPKP. 4) Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN. 2) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sesuai dengan Perpres No. 7) Badan Standarisasi Nasional (BSN). 8) Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). 19) Badan Pertanahan Nasional (BPN). 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 14) Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL). 15) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 64 Tahun 2005. sebagai pelaksana fungsi staf/penunjang dan mengkoordinasikan perencanaan. 21) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS). yang meliputi: 1) Menteri Dalam Negeri bagi BPN. 16) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 3) Badan Kepegawaian Negara (BKN). dan BSN. 10) Badan Intelijen Negara (BIN). BAKOSUR TANAL. BATAN. 6) Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN. Susunan Organisasi LPND diatur sebagai berikut: 1) 2) 3) Kepala. Tugas. 12) Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). 103 Tahun 2001. masingmasing LPND melaksanakan tugasnya dikoordinasikan oleh Menteri. Susunan Organisasi dan Tata Kerja LPND. 6) Badan Pusat Statistik (BPS). 3) Menteri Perdagangan bagi BKPM. 13) Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). pada Pasal 3 menyebutkan bahwa LPND terdiri dari: 1) Lembaga Administrasi Negara (LAN). 7) Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI. BAPETEN. 8) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional bagi BPS. 22) Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). BPPT. 17) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sekretariat Utama. 2) Menteri Pertahanan bagi LEMHANAS dan LEMSANEG.60 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 61 Kedudukan. dan ANRI. Bila dipandang perlu Kepala dapat dibantu oleh seorang Wakil Kepala. Dalam Keppres No. 9) Menteri Perhubungan bagi BMG. 20) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kewenangan. 4) Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas).

Unit pengawasan dapat berbentuk Inspektorat Utama atau Inspektur. Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. 117 Tahun 2000. Sekretariat Kabinet adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan pelayanan . Deputi. Kejaksaan Tinggi berkedudukan di Ibukota Provinsi dan dasar hukumnya meliputi wilayah Provinsi. Kejaksaan Tinggi. Sekre tariat negara adalah lembaga pemerintah yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan mempunyai tugas untuk memberikan dukungan staf dan pelayanan administrasi kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara secara merdeka di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. 111 Tahun 2000. Dalam hal tertentu di daerah hukum kejaksaan negeri dapat dibentuk cabang Kejaksaan Negeri. dan Kejaksaan Negeri.62 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 63 4) 5) administrasi dan sumber daya yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Utama. dan bertugas untuk melaksanakan pengawasan fungsional. Kejaksaan Negeri berkedudukan di Ibukota Kabupa ten/Kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota yang dasar hukumnya meliputi wilayah daerah kabupaten/kota. Kejaksaan Agung berkedudukan di Ibukota Negara RI dan daerah hukumnya meliputi wilayah kekuasaan negara RI. Sekretariat Negara dipimpin oleh Sekretaris Negara. Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisahkan. Sedangkan Pusat untuk unit yang fungsinya pelaksanaan. f. Direktorat digunakan sebagai nomenklatur unit yang fungsinya Pembinaan. Pelaksanaan kekuasaan negara bidang penuntutan ini diselenggarakan oleh Kejaksaaan Agung. e. Kejaksaan Agung Berdasarkan Undang-Undang No. 2) Sekretariat Kabinet Berdasarkan Kepres No. Kesekretariatan Yang Membantu Presiden 1) Sekretariat Negara Berdasarkan Kepres No. pelaksana fungsi lini dan membawahi direktorat dan/atau pusat. administrasi kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara.

dan tata usaha negara. e) Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. dan putusan lepas bersyarat. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. 4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. c) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat. putusan pidana pengawasan. Khusus Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang: 1) Menetapkan serta mengendalikan kebijakan penegakkan hukum dan keadilan dalam ruang lingkup tugas dan wewenang kejaksaan. 5) Kejaksaan berwenang menangani perkara pidana yang diatur dalam Qanun sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 2) Di bidang perdata dan tata usaha negara. 3) Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan: a) Peningkatan kesadaran hukum. b) Pengamanan kebijakan penegakkan hukum. 3) Mengesampingkan perkara demi kepentingan umum. 2) Mengefektifkan proses penegakkan hukum yang diberikan oleh Undang-undang. e) Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan kepengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. perdata. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi NAD sesuai Undang-Undang No.64 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 65 a. c) Pengawasan peredaran barang cetakan. d) Pengawasan aksi kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara. b) Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Tugas dan Wewenang Umum 1) Di bidang pidana. kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a) Melakukan penuntutan. kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. . f) Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal. d) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan UU. 4) Mengajukan kasasi demi kepentingan hukum kepada Mahkamah Agung dalam perkara pidana.

Perwakilan RI di Luar Negeri Perwakilan RI di luar negeri adalah satu-satunya Aparatur yang mewakili kepentingan Negara RI secara keseluruhan di negara lain atau pada Organisasi Internasional. yang bertanggung jawab kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Tugas Pokok Perwakilan Konsuler adalah mewakili negara RI dalam melaksanakan hubungan konsuler dengan negara penerima di bidang perekonomian. g. Perwakilan Konsuler terdiri atas Konsulat Jenderal RI dan Konsulat RI yang dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul. 1) Perwakilan Diplomatik Cakupan kegiatan Perwakilan Diplomatik menyangkut semua kepentingan Negara RI dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara penerima atau yang bidang kegiatannya meliputi bidang kegiatan suatu Organisasi Internasional. Tugas Pokok Perwakilan Diplomatik adalah mewakili Negara RI dalam melaksanakan hubungan diplomatik dengan negara penerima atau Organisasi Internasional serta melindungi segenap kepentingan negara dan warga negara RI di negara penerima sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk hukum dan tata cara hubungan internasional.66 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 67 5) Mengajukan pertimbangan teknis hukum kepada Mahkamah Agung dalam pemeriksaan kasasi perkara pidana. Konsulat Jenderal RI (KONJENRI). bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri. perhubungan. Konsulat RI. Perwakilan Diplomatik terdiri atas Kedutaan Besar RI dan Perwakilan Tetap RI yang dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan bertanggung jawab kepada Presiden selaku Kepala Negara melalui Menteri Luar Negeri. Perutusan Tetap RI (PTRI) pada PBB maupun Perwakilan RI tertentu yang bersifat sementara. dan dapat berupa Kedutaan Besar RI (KBRI). 2) Perwakilan Konsuler Kegiatan Perwakilan Konsuler meliputi semua kepentingan negara RI di bidang konsuler dan mempunyai wilayah kerja tertentu dalam wilayah negara penerima. perdagangan. 6) Mencegah atau menangkal orang tertentu untuk masuk atau keluar wilayah NKRI karena keterlibatannya dalam perkara pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perwakilan RI terdiri atas Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsulat. kebudayaan dan ilmu .

tugas. TNI berkedudukan di bawah Presiden.68 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 69 pengetahuan serta mengeluarkan izin prinsip penanaman modal asing di Indonesia untuk Menteri Luar Negeri atas nama Menteri yang bertanggung jawab di bidang investasi sesuai dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Peran. Tugas Pokok TNI mempunyai tugas pokok untuk: 1) menegakkan kedaulatan Negara. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. . 3) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. TNI Angkatan Laut. dan kemudian diatur dengan Undang-Undang No. 2) mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. AL. 34 Tahun 2004 kedudukan TNI diatur sebagai berikut: 1) Dalam pengesahan dan penggunaan kekuatan militer. Fungsi Sebagai alat pertahanan negara. 3) pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan keamanan. dan AU) mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. dan TNI Angkatan Udara yang melaksanakan tugasnya secara merata atau gabungan di bawah pimpinan Panglima. dan keselamatan bangsa. TNI merupakan komponen utama Sistem Pertahanan Negara. keutuhan wilayah. TNI berfungsi sebagai: 1) penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan. 2) Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi. h. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. TNI di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. VII/ MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia. TNI terdiri dari TNI Angkatan Darat. Dalam melaksanakan fungsi tersebut. Peran TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. 2) penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagai mana tersebut butir 1. susunan dan kedudukan TNI secara pokokpokoknya diatur dalam TAP No. Kedudukan Sesuai dengan Undang-Undang No. Tiap-tiap angkatan (AD. TAP No.

Markas Besar TNI Angkatan Laut. 2) turut secara aktif dalam tugas-tugas penanggulangan kejahatan internasional sebagai anggota International Criminal Police Organization – Interpol. Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Panglima. TNI dipimpin oleh seorang Panglima yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan DPR. dan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Kepolisian Negara RI (POLRI) Peran. Badan Pelaksana Pusat. Selain tugas pokok tersebut di atas. Susunan dan Kedudukan POLRI: 1) POLRI merupakan Kepolisian Nasional yang organisasinya disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. tugas. i. . Peran dan Tugas POLRI POLRI merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. 3) membantu secara aktif tugas pemeliharaan perdamaian dunia (peace keeping operation) di bawah bendera PBB. memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan dan berkedudukan di bawah Panglima serta bertanggung jawab kepada Panglima. Unsur Pembantu Pimpinan. Unsur Pelayanan. sebagaimana TNI secara pokok-pokoknya diatur dalam TAP No. 2) Markas Besar TNI terdiri dari: Unsur Pimpinan. 3) POLRI dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara RI (KAPOLRI) yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR.70 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 71 Susunan Organisasi Organisasi TNI terdiri dari: 1) Markas Besar TNI yang membawahkan: Markas Besar TNI Angkatan Darat. Kemudian diatur dalam UU No. dan Komando Utama Operasi. Badan Pelaksana Pusat. VI/MPR/2000 dan TAP No. 2) POLRI berada di bawah Presiden. Unsur Pelayanan. susunan dan kedudukan POLRI. 3) Markas Besar Angkatan terdiri atas Unsur Pimpinan. POLRI juga melaksanakan tugas bantuan: 1) dalam keadaan darurat memberikan bantuan kepada TNI yang diatur dengan undang-undang. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. VII/MPR/2000. Unsur Pembantu Pimpinan. menegakkan hukum. dan Komando Utama Pembinaan.

Komite Nasional Keselamatan . Kementerian Negara) dan atau LPND. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. dan Tim. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Komisi. 2) Badan. Badan Pertimbangan dan Pendidikan Nasional. bahkan Presiden atau Wakil Presiden. antara lain: Dewan Ekonomi Nasional. Keikutsertaan POLRI dalam penyelenggaraan negara: 1) POLRI bersikap netral dalam politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politis praktis. j. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). k. Perbedaan yang signifikan terletak pada dasar hukum pembentukannya. Badan Koordinasi Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BKPTKI). Badan/ Lembaga ini secara organik tidak termasuk dalam struktur organisasi Kementrian Negara (Kementerian Koordinator. Lembaga Kepolisian Nasional 1) Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara RI dibantu oleh Lembaga Kepolisian Nasional. antara lain: Komite Kebijakan Sektor Keuangan. 2) Lembaga Kepolisian Nasional memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian KAPOLRI. antara lain: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Komite. Komisi Ombudsman. 4) Komite. Badan/Lembaga Ekstra Struktural dapat dipimpin atau di Ketuai oleh Menteri.72 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 73 4) Anggota POLRI tunduk pada kekuasaan peradilan umum. Komisi Pemilihan Umum (KPU). yang dibentuk oleh Presiden yang diatur dengan undang-undang. 2) Anggota POLRI dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian. Dewan Ketahanan Pangan. Badan/Lembaga ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). 3) Komisi. Badan/Lembaga Ekstra Struktural yang terbentuk: 1) Dewan. Nomenklatur yang digunakan juga beragam seperti: Dewan. Badan / Lembaga Ekstra Struktural Badan/Lembaga Ekstra Struktural pada dasarnya adalah badan/lembaga yang bersifat penunjang dan/atau pelengkap tatanan organisasi pemerintahan yang melaksanakan fungsi-fungsi khusus di bidang tertentu untuk menunjang pelaksanaan urusan pemerintahan. Lembaga. Dewan Maritim Nasional. antara lain: Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). Departemen. Badan.

Lembaga Pemerintah Tingkat Daerah Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sekretariat Daerah. diwadahi dalam Lembaga Dinas Daerah. 3. Perangkat Daerah Kabupaten / Kota. Dinas Daerah. Lembaga Teknis Daerah. Lembaga Teknis Daerah. 5) Lembaga. diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah. Sekretariat Daerah. Dengan demikian lembaga pemerintah tingkat daerah disebut perangkat daerah sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. dan 6. Bupati. Komite Olah Raga Nasional. Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul Bupati/ Walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara umum perangkat daerah terdiri dari: 1. Kepala Daerah dibantu oleh perangkat daerah. Sekretaris Daerah Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran. diwadahi dalam Lembaga Sekretariat. Sekretaris Daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. 32 Tahun 2004. 2. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik. . 2. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah. D. Sedangkan Pemerintah Daerah adalah Gubernur. Dinas Daerah. terdiri atas: 1. Kelurahan. 2. 4. Sekretaris Daerah diangkat dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan dan karena kedudukannya Sekretaris Daerah sebagai pembina Pegawai Negeri Sipil di daerahnya. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya. dan 4. Sekretariat DPRD. antara lain: Lembaga Sensor Film. Sekretariat DPRD. dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.74 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 75 Transportasi. Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi. Unsur pelaksana urusan daerah. Kecamatan. Lembaga Koordinasi Pangan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. 3. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. 5. atau Walikota. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari: 1. 3.

76 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 77 Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Sekretaris DPRD diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. Lembaga teknis daerah berbentuk badan. Menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah. Mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD. 4. Kepala Kantor. Mengkoordinasikan penerapan dan penegakkan peraturan perundang-undangan. Lembaga Teknis Daerah Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan . Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. atau rumah sakit umum daerah. Mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Badan. Menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD. Kecamatan Kecamatan dibentuk di wilayah Kebupaten/Kota dengan peraturan daerah (Perda) dengan berpedoman pada peraturan pemerintah. Di samping itu. kantor. Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. atau Rumah Sakit Umum Daerah masing-masing dipimpin oleh Kepala yang diangkat oleh Kepala Daerah dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Dinas Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas. 3. 2. Menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD. Sekretariat DPRD secara teknis operasional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD dan secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Tugas Sekretaris DPRD adalah: 1. Dalam melaksanakan tugasnya. Kantor. 3. daerah yang bersifat spesifik. Kepala Badan. atau Kepala Rumah Sakit Umum Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. 2. Camat juga menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: 1.

Di samping itu. Akan tetapi tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk atau diwadahi dalam organisasi tersendiri. 7. Besaran organisasi atau susunan organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor: 1. Pemberdayaan masyarakat. Lurah diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Camat dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5. Kebutuhan daerah. Pelaksanaan kegiatan pemerintahan kelurahan. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. Camat dibantu oleh Perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. Perangkat kelurahan bertanggung jawab kepada Lurah. 4. Penyelenggaraan ketentuan dan ketertiban umum. Melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan daerah atau kelurahan. Kemampuan keuangan. Membina penyelenggaraan pemerintahan dasar dan/atau kelurahan. Lurah dibantu oleh perangkat kelurahan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Camat. . 6. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kelurahan dipimpin oleh Lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/ Walikota. Perangkat kecamatan bertanggung jawab kepada Camat. 3. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 2. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas lurah. Lurah mempunyai tugas: 1. Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani. 5. Kelurahan Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan peraturan daerah (Perda) pada Peraturan Pemerintah. Pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum. pada kelurahan dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 2.78 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 79 4. Mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan. Pelayanan masyarakat.

cakupan wilayah. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) BUMN saat ini diatur dengan UU No. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan/atau perintis dalam sektor-sektor usaha yang belum diminati usaha swasta. Sarana dan prasarana penunjang tugas. 8. 32 Tahun 2004 dan kondisi obyektif lainnya). dan 2. BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang dipasarkan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis. Potensi daerah yang bertahan dengan urusan yang akan ditangani. Dengan demikian kebutuhan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak selalu sama. Lembaga Perekonomian Negara Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara juga dikenal adanya lembaga perekonomian negara yang disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Jumlah dan kepadatan penduduk. 7. E. merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam Sistem Perekonomian Nasional.19 Tahun 2003. jumlah pegawai) dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (catatan: pada waktu penulisan modul ini Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah adalah PP No. Gubernur untuk perangkat daerah Kabupaten/ Kota. 4. penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar. 8 Tahun 2003 dalam proses Revisi karena akan disesuaikan dengan makna Undang-Undang No. BUMN. Dengan tetap berpedoman pada Peraturan pemerintah. integrasi. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu (beban tugas. Di samping itu. .80 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 81 3. sinkronisasi. Jenis dan banyaknya tugas. BUMN yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Pemerintah untuk perangkat daerah provinsi. Dalam menjalankan kegiatan usahanya. dan turut membantu pengembangan usaha kecil/ koperasi. Swasta dan Koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. Dalam sistem perekonomian nasional. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan. 5. Pengendalian penataan organisasi perangkat daerah dalam arti: penerapan prinsip koordinasi. 6. dan simplifikasi dilakukan oleh: 1. 1. BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. di samping usaha swasta dan koperasi.

. Terhadap Persero Terbuka berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam UU No. 2) Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. Organ Persero adalah: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU No. dan Komisaris. c. Mengejar keuntungan. b. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat diselesaikan oleh sektor swasta dan koperasi. 19 Tahun 2003. Sahamnya dimiliki oleh seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham. c. yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Direksi. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golangan ekonomi lemah. maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah: a. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. 3. Perusahaan Perseroan Terbuka yang selanjutnya disebut Persero Terbuka. Perusahaan Umum (Perum) adalah BUMN yang 2. a. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. d. adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan penawaran umum yang sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang pasar modal. b. dividen dan hasil privatisasi. Perusahaan Perseroan (Persero) adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen). Jenis BUMN BUMN terdiri dari: Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). e.82 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 83 BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak. koperasi dan masyarakat. Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Maksud dan Tujuan Pendirian Persero adalah 1) Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat.

d. Direksi. Rangkuman Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara pemerintah membentuk lembaga-lembaga pemerintah baik di . dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Pembinaan umum terhadap Perusahaan Daerah dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. F. Perseroda (Perusahaan Perseroan Daerah) Maksud dan tujuan usaha Perseroda adalah untuk memupuk keuntungan dalam arti baik pelayanan dan pembinaan organisasinya harus secara efektif dan efisien dengan orientasi bisnis. dan Dewan Pengawas. dengan tetap berpegang teguh pada: (1) syarat-syarat efisiensi dan efektivitas. 32 Tahun 2004. a. sudah diterbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No.84 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 85 Maksud dan Tujuan pendirian Perum adalah untuk kemanfaatan umum berupa pengendalian barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan yang sehat. tujuan dan sifat usahanya adalah mengutamakan penyelenggaraan pelayanan umum (public service) di samping mencari keuntungan sebagai sumber pendapatan asli daerah. yaitu Perumda dan Perseroda. Pasal 177 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dapat memiliki BUMD yang pembentukan penggabungan. 5 Tahun 1990 tentang Perubahan Bentuk Badan Usaha Milik Daerah kedalam dua bentuk. sehingga benar-benar dapat menunjang perwujudan otonomi seluas-luasnya. kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. maka sambil menunggu berlakunya undang-undang yang baru tentang Perusahaan Daerah. (2) prinsip-prinsip ekonomi perusahaan dan (3) pelayanan yang baik pada masyarakat. Organ Perum adalah: Menteri. Perumda (Perusahaan Umum Daerah – Public Corporation/Service) Didirikan dengan maksud. efektif dan produktif. Perusahaan Daerah didirikan dengan Peraturan Daerah. Agar pengelolaan Perusahaan Daerah dapat diselenggarakan secara efisien. pelepasan kepemilikan. Perusahaan Daerah dibentuk berdasarkan Undang undang No. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Undang-undang No. b. 5 Tahun 1992 tentang Perusahaan Daerah dan yang dimaksud adalah semua perusahaan yang modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.

LPND. Lembaga pemerintah tingkat pusat meliputi: Kementerian Koordinator. Dasar utama penyusunan lembaga-lembaga pemerintah dalam bentuk organisasi baik di tingkat pusat maupun di daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang harus ditangani. Latihan 1. Lembaga pemerintah tingkat daerah meliputi: Sekretariat Daerah. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat? 2. yustisi. Dinas Daerah. keamanan. yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. Kejaksaan Agung. Sedangkan BUMD berbentuk Persero dan Perumda. dan agama. Namun tidak semua urusan-urusan pemerintahan tersebut dibentuk dalam organisasi tersendiri. TNI. Setiap lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan urusan pemerintahan tertentu. Kementerian Negara. Departemen. Perwakilan RI di Luar Negeri. Sekretariat DPRD. Sebutkan urusan-urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah? 3. Apa tujuan dibentuknya Lembaga Perekonomian Negara? . Sedangkan urusan-urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi kedalam dua pula. Urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat adalah politik luar negeri. POLRI. pertahanan. Kesekretariatan yang membantu Presiden.86 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 87 tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang terkait. dan Kelurahan. Lembaga Teknis Daerah. BUMN berbentuk Persero dan Perum. Lembaga Perekonomian Negara meliputi: Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Derah. Lembaga Ekstra Struktural. G. moneter dan fiskal. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Daerah? 5. Kecamatan. Apa saja yang termasuk lembaga-lembaga pemerintah tingkat Pusat? 4.

Sebelum memangku jabatannya. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama. DPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam menjalankan UU. Presiden dan wakil Presiden dilantik oleh MPR. Presiden dan/atau DPR dapat meminta MPR mengadakan Sidang Istimewa untuk memilih Wakil Presiden. 4. UU No. MPR memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. 5 Tahun 2004 tentang MA. 88 1. DPR. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 3. 2. Hubungan Presiden Dengan MPR 1. UU No. Apabila Wakil Presiden berhalangan.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 89 BAB VI HUBUNGAN PRESIDEN DENGAN LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NEGARA Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terjadi hubungan antara Presiden dengan Lembaga-Lembaga Negara yang lain. tindak pidana berat lainnya. . Dalam hal terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden. Presiden dan Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR sebelum habis masa jabatannya. korupsi. sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden. 7. DPD. Hubungan tersebut diatur dalam UUD 1945. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. baik apabila telah terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. tetapi tidak bertanggungjawab kepada DPR dan tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR. DPR bersama Presiden menjalankan fungsi legislatif. penyuapan. atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan MPR atau DPR. UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Presiden dan Wakil Presiden menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR sebelum MPR memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden. dan DPRD. UU No. Sebelum memangku jabatannya Presiden dan wakil Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan MPR atau DPR. Jika MPR dan DPR tidak dapat mengadakan sidang. 6. 2. 5 Tahun 1973 tentang BPK. dan peraturan perundangundangan lain yang terkait. atau perbuatan tercela maupun apabila tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 5. Presiden bekerjasama dengan DPR. Presiden dan Wakil Presiden bersumpah atau berjanji di hadapan Pimpinan MPR disaksikan oleh Pimpinan MA. B. 4. Presiden meresmikan keanggotaan MPR dengan Keputusan Presiden. 3. Hubungan Presiden Dengan DPR A.

3. Hubungan Presiden Dengan MA 1. pengelolaan sumber daya dan belanja negara. Presiden menetapkan Hakim Agung dan meresmikan anggota BPK yang telah diplih dan disetujui DPR dan 3 orang hakim konstitusi yang diajukan DPR serta mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. 3. hubungan pusat dan daerah. Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. Presiden meresmikan Anggota BPK dari calon-calon yang telah dipilih dan disetujui oleh DPR. E. pajak. MA dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan hukum kepada Presiden. Putusan MK mengenai sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD disampaikan kepada Presiden. Hubungan Presiden Dengan BPK 1. 2. Hubungan Presiden Dengan DPD 1. Hubungan Presiden Dengan MK 1. 3. 2. Presiden meresmikan keanggotaan DPD. pembentukan. pemekaran dan penggabungan daerah. abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Presiden mengangkat duta dan menerima penempatan duta dari negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. F. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. 2. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai otonomi daerah. MA mengajukan tiga calon untuk ditetapkan sebagai Hakim Konstitusi oleh Presiden. MK memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. 6. Presiden memberi amnesti. 8. Pimpinan DPD berkonsultasi dengan Presiden sesuai putusan DPD. BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 2. Hakim agung ditetapkan oleh Presiden atas calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan telah disetujui DPR. Putusan MK mengenai pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945 disampaikan kepada Presiden. 4. 4. baik diminta maupun tidak. . 5. Putusan MK mengenai perselisihan hasil Pemilu disampaikan kepada Presiden. MA memberikan nasehat hukum kepada Presiden/ Kepala Negara untuk pemberian/penolakan grasi dan rehabilitasi. pendidikan dan agama yang dilaksanakan oleh Presiden. C. 7.90 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 91 5. Presiden menetapkan hakim konstitusi. D.

Pemerintah wajib terlebih dahulu berkonsultasi dengan BI. Di samping wajib berkonsultasi dengan DPR. menatausahakan serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. BI dilarang membeli untuk diri sendiri surat-surat utang negara. BI bertindak sebagai pemegang Kas Pemerintah. Rapat Dewan Gubernur untuk menetapkan kebijakan Umum di bidang moneter dapat dihadiri oleh seorang menteri atau lebih yang mewakili Pemerintah dengan hak bicara tanpa hak suara. dimana fungsi pengawasan oleh DPR terhadap Presiden/Pemerintah. BI dapat menerima pinjaman luar negeri. Dalam UUD 1945. 7. perbankan dan keuangan yang berkaitan dengan tugas BI. Dewan Gubernur menyampaikan anggaran BI yang telah ditetapkan Pemerintah dan DPR. 9. perjanjian pemberian kredit kepada Pemerintah itu batal demi hukum. H. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan atau mengundangnya dalam sidang kabinet yang membahas masalah ekonomi. Rangkuman Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. 10. 5. itu disebutkan? Dan pengawasan apakah yang dilakukan oleh DPR itu? 2. sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945. kecuali di pasar sekunder dinyatakan batal demi hukum. Presiden/ Pemerintah mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga negara lain. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum tahun anggaran. 8. I. 3. Untuk dan atas nama Pemerintah. dan berbagai Undang-Undang yang terkait. Mengapa dikatakan bahwa DPR bersama Presiden mengajukan fungsi legislatif? 3. dalam hal pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara. BI dilarang memberikan kredit kepada Pemerintah. 2. Latihan 1. BI dapat membantu penerbitan surat-surat utang negara yang diterbitkan Pemerintah. Apa peran Mahkamah Konstitusi dalam hal pemberhentian Presiden? . Hubungan Presiden Dengan Bank Indonesia (BI) 1. Dalam hal BI melanggar ketentuan tersebut. atau masalah lain yang termasuk kewenangan BI. Sedangkan Deputi Gubernur diusulkan oleh Gubernur dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR.92 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 93 G. 4. 6. Apakah MPR dapat memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden? 4. Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR.

Mengapa BI dikatakan sebagai pemegang kas pemerintah? BAB VII PROSES MANAJEMEN PEMERINTAHAN Dalam modul ini uraian tentang proses manajemen pemerintahan mencakup empat aspek. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. A. Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan Landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah adalah UndangUndang No. Dalam Undang-Undang ini ditetapkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang. yaitu perencanaan. pelaksanaan dan pengawasan. jangka menengah. pengorganisasian. Apakah DPD dapat melakukan pengawasan pelaksan an UU yang dilakukan Presiden selain pelaksanaan UU mengenai Otonomi Daerah? Pengawasan apa saja selain pelaksanaaan UU mengenai Otonomi Daerah yang dapat dilakukan oleh DPD terhadap Presiden? 6.94 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI 5. 95 . 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

25 Tahun 2004 ini. Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden No. 3. antar waktu. c. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah (20 Tahun) ditetapkan sebagai UU/Perda. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana . antar ruang. b. sinkronisasi. penganggaran. Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah. dan program Presiden hasil Pemilihan Umum yang dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. 5. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah (5 Tahun) ditetapkan sebagai Perpres/Kepala Daerah. 25 Tahun 2004. pelaksanaan. efektif. Pemerintah Daerah dalam menyusun RPJM Daerah. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan. Masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. dan berkelanjutan. Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. Menjamin keterkaitan dan konstitusi antara perencanaan. 4.96 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 97 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk: 1. dan sinergi baik antar daerah. misi. 2. dan pengawasan. Tahap-Tahap Perencanaan Pembangunan: 1. dan terukur. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. berkeadilan. 3. 2. dan Rencana Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Perpres/ Kepala Daerah. Penyusunan Rencana Dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu sistem rencana yang siap untuk ditetapkan. Menurut UU No. Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. yang terdiri dari 4 (empat) langkah yaitu: a. Sebagai tindak lanjut dari UU No. Menjamin terciptanya integrasi. 3. RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009 merupakan penjabaran dari visi. Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004 – 2009. Penetapan Rencana Menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. menyeluruh. antar fungsi pemerintah maupun antar Pusat dan Derah. RPJM Nasional ini menjadi pedoman bagi: 1. d.

Evaluasi Pelaksanaan Rencana Bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran. B. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Selanjutnya. 1. Pengorganisasian Fungsi pengorganisasian sangat erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen rencana pembangunan. Prinsip Perumusan Tugas Pokok dan Fungsi Yang Jelas Usaha yang sungguh-sungguh harus dilaksanakan untuk menjamin bahwa tugas pokok dan fungsi instansi pemerintah adalah jelas. Prinsip Pembagian Habis Tugas Prinsip ini dimaksudkan agar supaya tugas pokok dan fungsi pemerintah terbagi habis dalam Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen. sehingga dapat dihindarkan timbulnya duplikasi. Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. 3. ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas setiap fungsi. ataupun overlapping atau paling tidak dapat dikurangi. disebutkan prinsip-prinsip pengorganisasian sebagai berikut: 4. Prinsip Fungsionalisasi Prinsip fungsionalisasi dimaksudkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan ada organisasi yang secara fungsional bertanggung jawab atas sesuatu bidang dan tugas pemerintahan dan prinsip ini juga menentukan batas-batas . sehingga bagaimanapun cara yang dipergunakan untuk menyusun organisasi aparatur pemerintah secara fungsional. maka organisasi yang dihasilkannyapun akan lebih baik dan tujuan organisasi relatif akan mudah dicapai. Untuk membentuk organisasi/kelembagaan atau perlu menyempurnakan diperhatikan prinsip 2.98 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 99 melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. pengelompokkan tugas-tugas dan pembagian pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan-hubungan kerja. 21 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan atau Penyempurnaan Kelembagaan di lingkungan Instansi Pemerintah Pusat. Pengorganisasan dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan. Perwakilan RI diluar negeri dan pemerintah di Daerah. tujuan dan kinerja pembangunan. Misalnya jika pengorganisasian dilaksanakan dengan baik. pengorganisasian dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional lainnya seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari hasil analisis jabatan.

Prinsip Pengelompokkan Yang Homogen Karena sedemikian luasnya tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pemerintah baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan. 8. 9. Dalam kerjasama dengan instansi lain fungsionalisasi menentukan instansi mana yang harus memprakarsai kerjasama tersebut. maka sudah barang tentu tidak semua tugas tersebut dapat dituangkan kedalam bentuk Departemen pemerintahan atau Lembaga Pemerintah Non Departemen. unit-unit organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang bersifat penunjang. Prinsip Koordinasi. besar kecilnya organisasi itu ditentukan oleh beban kerja yang harus dilaksanakan. 10. baik di dalam perumusan kebijakan maupun pelaksanaannya. maka mutlak diperlukan organisasi yang benar-benar sadar terhadap kerjasama dengan instansi lain. Prinsip Kesederhanaan Organisasi yang efektif adalah organisasi yang bentuknya sederhana dalam arti bahwa bentuknya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi. untuk 7. sesuai pula dengan prinsip kesederhanaan maka pengelompokkan tugas-tugas harus diusahakan 6. Aparatur pemerintah tidak seharusnya menggantungkan diri pada individu pejabat tetapi kepada kelangsungan kelembagaan. maka perlu ada pendelegasian wewenang pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan maupun pembangunan kepada unit organisasi atau pejabat pada eselon ditingkat bawah untuk bertindak secara efektif tanpa setiap kali memerlukan petunjuk dari pusat. Prinsip Lini dan Staf Bentuk organisasi yang dipandang baik yaitu apabila menggunakan bentuk lini dan staf. 5. Integrasi dan Sinkronisasi Mengingat bahwa tidak ada satupun kegiatan pemerintahan. 4. baik tugas umum pemerintahan maupun pembangunan yang sepenuhnya dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi pemerintah saja.100 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 101 kewenangannya. perencanaan penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Oleh karena itu. Kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh berbagai instansi harus serasi satu sama lainnya (mutually consistent policies). Bentuk ini dipandang cocok untuk digunakan di Indonesia terutama karena dengan bentuk lini dan staf terdapat pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara unit-unit organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok organisasi dengan . Prinsip Fleksibilitas Fleksibilitas menghendaki agar organisasi dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan keadaaan sehingga dapat dihindari kekacauan dalam pelaksanaan tugasnya. Prinsip Kontinuitas Pelaksanaan kegiatan pemerintah yang efektif dan efisien akan lebih terjamin apabila ada kontinuitas dalam perumus an kebijakan. Prinsip Pendelegasian Wewenang Yang Jelas Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia dan mengingat pula kondisi geografisnya. Lebih-lebih kegiatan pembangunan pada dasarnya harus ditangani secara multi fungsional dan interdisipliner.

Jenis Koordinasi Koordinasi dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan dapat dibedakan atas: a. Namun demikian tujuan dan sasaran yang harus dicapai oleh pemerintah selalu menyangkut kegiatan-kegiatan atau tugas lebih dari satu aparatur pemerintah. menyerasikan dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan. Sehubungan dengan itu baik dalam rangka pelaksanaan tugastugas umum pemerintahan maupun dalam rangka menggerakkan dan memperlancar pelaksanaan pembangunan. kegiatan aparatur pemerintah perlu dipadukan. Oleh karena itu dalam pencapaian tujuan atau sasaran tersebut perlu dilakukan pendekatan multi fungsional. C. 11. kesimpangsiuran dan atau kekacauan. Prinsip Akordion Pada prinsipnya kegiatan pemerintah baik berupa tugas umum pemerintahan maupun pembangunan dapat diperluas atau dipersempit sesuai dengan beban kerja/kondisi dan situasi. Prinsip Rentang/Jenjang Pengendalian Mengingat terbatasnya kemampuan seseorang pimpinan/atasan untuk mengadakan pengendalian terhadap bawahannya. 12. Dengan demikian setiap pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan 1. Koordinasi perlu dilaksanakan mulai dari proses perumusan kebijakan. Misalnya Kepala Biro terhadap Kepala . dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintahan. Artinya bahwa setiap persoalan harus ditinjau dari berbagai fungsi aparatur pemerintah yang terkait. pembangunan mau tidak mau melibatkan berbagai aparatur pemerintah yang terkait sebagaimana dimaksud di atas. demikian pula susunan organisasinya. koordinasi antar kegiatan aparatur pemerintah harus dilakukan. Atas dasar hal tersebut maka koordinasi dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan pada hakekatnya merupakan upaya memadukan (mengintegrasikan). perencanaan. diserasikan dan diselaraskan untuk mencegah timbulnya tumpang tindih. Koordinasi hierarkis (vertical) yang dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan dalam suatu instansi pemerintah terhadap pejabat (pegawai) atau instansi bawahannya. maka perlu diperhitungkan secara rasional dalam menentukan jumlah unit atau orang yang di bawahkan oleh seorang pejabat pimpinan. baik antar dan antara instansi ditingkat pusat maupun daerah. karena dengan demikian maka prinsip KIS akan dapat diterapkan dengan lebih mudah. setiap aparatur pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah bertugas melaksanakan sebagian tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang masing-masing. perbenturan. Pelaksanaan Dalam penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. pelaksanaan sampai pada pengawasan dan pengendaliannya. beserta segenap gerak. Oleh karena itu. langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran bersama.102 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 103 sehomogen mungkin.

Dalam Peraturan Pemerintah No. Koordinasi sudah harus dimulai pada saat perumusan kebijakan. 3) Koordinasi fungsional teritorial. wakil Pemerintah Pusat terhadap instansi-instansi vertikal yang ada diwilayahnya. Direktur Jenderal terhadap Kepala Direktorat dan sebagainya. Dinas Kesehatan mengkoordinasikan kegiatan Dinas Pendidikan dan Pengajaran.104 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 105 Bagian dalam lingkungannya. Pedoman Koordinasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipedomani dalam koordinasi antara lain: a. 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah. Badan Kepegawaian Negara mengkoordinasikan Biro-Biro Kepegawaian pada Departemen atau Instansi Pemerintah lainnya dalam bidang Kepegawaian. koordinasi oleh Gubernur selaku kepala wilayah. b. dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu unit/instansi terhadap pejabat atau unit/instansi lain yang setingkat. koordinasi ini disebut dengan koordinasi instansional. . koordinasi oleh Pembina Lokasi Transmigrasi yang belum diserahkan kepada pemerintah daerah. dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya. Misalnya. koordinasi yang dilakukan oleh Administrator Pelabuhan. 2. Dinas Kebersihan dan lain-lain yang mempunyai kaitan tugas dengan pelaksanaan program kesehatan. 1) Koordinasi fungsional horizontal. yang dilakukan oleh seorang pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasar kan asas fungsionalisasi. b. Koordinasi fungsional. Inspektur Jenderal dan Kepala Badan dalam menyusun rencana dilingkungan departemennya. 2) Koordinasi fungsional diagonal. Koordinasi ini dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. Misalnya Biro Keuangan pada Sekretariat Jenderal mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan Bagian Keuangan dari Sekretariat Direktorat Jenderal dalam lingkungan departemen yang bersangkutan. Misalnya Sekretaris Jenderal mengkoordinasikan para Direktur Jenderal. dilakukan oleh seorang pejabat pimpinan atau instansi lainnya yang berada dalam suatu wilayah (teritorial) tertentu dimana semua urusan yang ada dalam wilayah (teritorial) tersebut menjadi wewenang atau tanggung jawab pejabat/pimpinan yang bersangkutan. koordinasi fungsional diagonal dan koordinasi fungsional terito rial. Perlu ditentukan secara jelas siapa atau satuan kerja mana yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab atas sesuatu masalah.

Prosedur dan tata kerja dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalamnya memuat ketentuan siapa melakukan apa. . rapat dapat digunakan sebagai sarana koordinasi. e. Untuk itu prosedur perlu dituangkan dalam manual. i. Prosedur dan Tata Kerja Prosedur dan tata kerja pada prinsipnya dapat digunakan sebagai alat untuk kegiatan yang sifatnya berulangulang. Dalam pelaksanaan koordinasi perlu dipilih sarana koordinasi yang paling tepat. g. d. Kebijakan Kebijakan sebagai alat koordinasi memberikan arah tujuan yang harus dicapai oleh segenap organisasi atau instansi sebagai pedoman. Perlu dikembangkan komunikasi dan konsultasi timbalbalik untuk menciptakan kesatuan bahasa dan kerjasama. petunjuk teknis (juknis) atau pedoman kerja agar mudah diikuti oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan. f. Sarana atau Mekanisme Koordinasi a. Perlu dirumuskan program kerja organisasi secara jelas yang memperlihatkan keserasian kegiatan di antara satuan-satuan kerja. waktu pelaksanaan. keselarasan dan keserasian dalam pencapaian tujuan. h. Perlu kejelasan wewenang. Rencana Rencana dapat digunakan sebagai alat koordinasi karena di dalam rencana yang baik tertuang secara jelas. b. pegangan atau bimbingan untuk mencapai kesepakatan sehingga tercapai keterpaduan. dapat diterbitkan Surat Keputusan Bersama atau Surat 3. Surat Keputusan Bersama (SKB)/Surat Edaran Bersama (SEB) Untuk memperlancar penyelesaian sesuatu kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan hanya oleh satu instansi. orang yang melaksanakan dan alokasi. c. berkewajiban memprakarsai penyelenggaraan koordinasi. Rapat sabagai sarana koordinasi digunakan uuntuk memberikan pengarahan. memperjelas atau menegaskan kebijakan sesuatu masalah. sasaran. Pejabat atau instansi yang secara fungsional berwenang dan bertanggungjawab menangani sesuatu masalah. d. tanggung jawab dan tugas unit/instansi yang terkait. kapan dilaksanakan dan dengan siapa harus berhubungan. Perlu ditetapkan prosedur dan tata cara melaksanakan koordinasi. Rapat (Briefing) Untuk menyatukan bahasa dan saling pengertian mengenai sesuatu masalah. cara melakukan. petunjuk pelaksanaan (juklak). Koordinasi akan lebih efektif apabila pejabat yang berkewajiban mengkoordinasikan mempunyai kemampuan kepemimpinan dan kredibilitas yang tinggi. e.106 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 107 c.

asuransi kecelakaan lalu lintas oleh Perum Asuransi Jasa Raharja. mendesak. sulit dan terus menerus. yang semuanya dilakukan pada satu tempat. Panitia. Panitia. multisektor. h. Dewan atau Badan Dewan atau Badan sebagai sarana koordinasi. Misalnya dalam proses penanaman modal yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. f. 2) Sistem pelayanan satu pintu diselenggarakan untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat oleh satu instansi yang mewakili berbagai instansi lain yang masing-masing mempunyai kewenangan tertentu atas sebagian urusan yang harus diselesaikan. pelayanan pembayaran pajak kendaran bermotor dan bea balik nama diberikan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP). maka untuk lebih memantapkan koordinasi dapat dibentuk Tim. Misalnya. Dewan Ketahanan Pangan. multifungsi sehingga asas fungsionalisasi secara teknis operasional sulit dilaksanakan.108 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 109 Edaran Bersama. Namun demikian. 3) Baik pelayanan satu atap maupun satu pintu dimaksudkan juga untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus kepentingannya yang melibatkan berbagai instansi. Misalnya dalam pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Gugus Tugas atau Satuan Tugas yang bersifat sementara dengan anggota-anggota dari berbagai instansi terkait. serta belum ada sesuatu instansi yang secara fungsional menangani atau tidak mungkin dilaksanakan oleh sesuatu instansi fungsional yang sudah ada. g. Sarana koordinasi ini sangat efektif dalam mewujudkan kesepakatan dan kesatuan gerak dalam pelaksanaan tugas antara dua atau lebih instansi yang terkait. Tim. Kelompok Kerja. Kelompok Kerja. multidisiplin. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional. . SKB/SEB perlu ditindaklanjuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh masing-masing instansi secara serasi dan saling menunjang. Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT atau One Roof System) dan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Door Service): 1) SAMSAT dibentuk untuk memperlancar dan mempercepat pelayanan kepentingan masyarakat yang kegiatannya diselenggarakan dalam satu atap. sedangkan pengurusan surat-surat kendaraan bermotor seperti BPKB dan plat nomor serta STNK diberikan kepolisian. untuk menangani masalah yang sifatnya kompleks. Dewan Maritim Nasional. Gugus Tugas atau Satuan Tugas Apabila sesuatu kegiatan yang dilakukan bersifat kompleks.

maka Presiden mengangkat Menteri Koordinator. Sidang Kabinet ini dihadiri pula oleh pejabat lainnya yang bukan Menteri yang ditunjuk oleh Presiden. Rapat di Lingkungan Menteri Koordinator Oleh karena menteri-menteri yang harus dikoordinasikan oleh Presiden jumlahnya banyak. maupun dengan menggunakan suatu wadah seperti Rapat Koordinasi Sektor-sektor. Rapat-rapat Menteri Koordinator sesuai dengan bidangnya dipimpin oleh Menko yang bersangkutan dengan dihadiri oleh Menteri dan pejabat-pejabat lain bukan Menteri yang tugasnya berkaitan erat dengan bidang permasalahan yang sedang dibahas. Hasil rapatrapat Menteri Koordinator yang dipimpin oleh Menteri Koordinator ini dilaporkan kepada Presiden. seperti dalam Kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini ada Menteri Koordinator Politik. Hukum dan Keamanan. dengan beraneka ragam permasalahan.110 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 111 4. Sidang Kabinet itu ada dua macam: 1) Sidang Kabinet Paripurna yaitu Sidang Kabinet lengkap yang dihadiri oleh seluruh anggota Kabinet dan pejabat-pejabat lain yang dianggap perlu oleh Presiden. . Panitia-panitia AntarDepartemen dan lain-lain. yang dalam pelaksa naannya dapat terjadi baik tanpa wadah tertentu. dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Sidang Kabinet Sidang Kabinet adalah suatu forum koordinasi tertinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden. c. Peningkatan koordinasi tersebut merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. b. Koordinasi Aparatur Pemerintah Pusat di Luar Negeri Untuk melaksanakan kebijakan hubungan Luar Negeri antara lain dibentuk perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Luar Negeri yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen Luar Negeri. 2) Sidang Kabinet Terbatas yaitu Sidang Kabinet yang dihadiri oleh Menteri-menteri tertentu sesuai dengan bidang yang akan dibahas. Pola koordinasi tersebut berlaku pula untuk koordinasi antara suatu satuan organisasi dalam suatu Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat dengan satuan organisasi Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Koordinasi antara Departemen/Instansi pemerintah Tingkat Pusat Dilaksanakan antara Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat yang satu dengan Departemen/Instansi Pemerintah Tingkat Pusat lainnya. Menteri Koordinator Perkonomian. d. Pelaksanaan Koordinasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Sistem a.

5. Koordinasi Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah Daerah 1) Selaku aparatur pusat yang secara fungsional membantu Presiden dalam urusan-urusan daerah pada umumnya. 2) Menteri/Departemen dan instansi teknis melakukan koordinasi baik terhadap instansi pusat lainnya (koordinasi fungsional horizontal) maupun terhadap provinsi. namun sulit untuk dibedakan secara tegas. Koordinasi Tingkat Daerah 1) Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat melakukan koordinasi fungsional teritorial di samping terhadap instansi vertikal. berwenang pula secara operasional mengkoordinasikan instansi-instansi lain yang berada di daerahnya (koordinasi fungsional teritorial). setelah berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri.112 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 113 Sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia. Atase Pertahanan. perwakilan-perwakilan di luar negeri itu mempunyai hubungan fungsional dengan instansi-instansi Pemerintah Tingkat Pusat. karena hubungan kerja dapat pula bersifat konsultatif dan informatif saja. f. kabupaten dan kota (koordinasi fungsional diagonal) sepanjang mengenai bidang tugas pokoknya. e. apalagi dipisahkan. baik formal maupun informal. b) Secara fungsional diagonal mengkoordinasikan provinsi. . Koordinasi dan Hubungan Kerja Koordinasi dan hubungan kerja merupakan dua hal yang tidak identik. Jika dipandang perlu instansiinstansi tersebut dapat mempunyai Atase di dalam Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri di Negara-negara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Menteri Dalam Negeri a) Secara fungsional horizontal mengkoordinasikan departemen dan instansi tingkat pusat lainnya sepanjang mengenai masalah-masalah umum di daerah. para Atase tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Perwakilan RI setempat. di samping mengkoordinasikan aparatur daerahnya sendiri (koordinasi hierarkis). Untuk mengefektifkan koordinasi mutlak diperlukan adanya hubungan kerja. hubungan kerja tidak selalu bersifat koordinatif. kabupaten dan kota. seperti Atase Kebudayaan. 2) Kepala Daerah. Koordinasi selalu bersifat hubungan kerja. namun demikian. Dalam pelaksanaan tugasnya di Luar Negeri. juga terhadap Bupati dan Walikota.

Demikian pula. Selanjutnya pimpinan berkewajiban pula untuk secepat mungkin mengadakan langkah-langkah tindak lanjut (follow up) guna dapat meniadakan dan mencegah terjadinya atau berlanjutnya keadaan tersebut. kesalahan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi. kebijakan. sedang dan mungkin akan dihadapi. hambatan. kalau pimpinan melakukan pengawasan sendiri dengan sebaik-baiknya atas kegiatan organisasi dan bawahan yang dipimpinnya. atau baik buruknya citra suatu organisasi dalam pandangan masyarakat adalah merupakan tanggung jawab atasan langsung/pimpinan nya. 1 Tahun 1989 adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus menerus dilakukan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. Untuk itu pimpinan harus selalu berusaha sedini mungkin dapat memonitor dan mengetahui kemungkinan akan terjadinya penyimpangan. instruksi dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. yang merupakan proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan sasaran serta tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana. secara preventif atau represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku. Pengawasan Melekat (Waskat) Waskat menurut Instruksi Presiden No. Pengawasan sebagai fungsi manajemen sepenuhnya adalah tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. hambatan. Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi organik manajemen. Hakekat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan. penyelewengan. pemborosan. termasuk bagaimana kualitas orang-orang yang ada dalam organisasi semuanya menjadi tanggungjawab pimpinan untuk menyelesaikan dan membinanya sebaik mungkin. Jenis-Jenis Pengawasan a. . pimpinan kelompok kerja yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya mengawasi pelaksanaan kegiatan diorgani sasinya. kesalahan dan atau kegagalan dari pelaksanaan tugas-tugas satuan kerja yang dipimpinnya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan dengan baik. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan dan pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi. Setiap pimpinan instansi pemerintah ataupun pimpinan satuan/unit kerja termasuk pimpinan proyek. dan bahkan bila masih mungkin juga meningkatkannya. Pimpinan juga perlu berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik. masalah-masalah yang telah.114 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 115 D.

116 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 117 Sasaran Waskat: 1) Meningkatkan disiplin. 2) Kesadaran dan Kewajiban Waskat harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan secara sadar dan wajar sebagai salah satu fungsi manajemen yang penting dan tak terpisahkan dari perencanaan. 6) Terus Menerus Waskat harus merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai kegiatan rutin sehari-hari dalam rangka pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pokoknya. 4) Pembinaan Waskat harus bersifat membina. . didasarkan pada penilaian yang obyektif melalui analisis yang cermat sesuai dengan kebijakan dan peraturan perundangan yang berlaku termasuk tindak lanjut berupa penghargaan bagi pegawai yang berprestasi baik. Namun demikian setiap pimpinan pada saat-saat tertentu dapat melakukan Waskat pada setiap jenjang yang ada di bawahnya. karena itu perlu ada sistem yang jelas yang dapat mencegah terjadinya penyimpangan. 3) Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran. 3) Pencegahan Waskat lebih diarahkan pada usaha pencegahan terhadap penyimpangan. pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan liar. Dalam setiap fungsi manajemen perlu dilakukan Waskat untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai secara efisien dan efektif. 5) Mempercepat penyusunan kepegawaian sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. yaitu: 1) Berjenjang Pada prinsipnya Waskat dilakukan secara berjenjang. pengorganisasian dan pelaksanaan. 2) Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang. Prinsip-Prinsip Pokok Waskat Agar pelaksanaan Waskat dapat tercapai dengan baik. 5) Obyektif Tindak lanjut terhadap temuan-temuan dalam Waskat harus dilakukan secara tepat dan tertib. karena itu penentuan adanya suatu penyimpangan harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan penyimpangan tersebut harus dapat dideteksi sedini mungkin. prestasi kerja. 4) Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. pencapaian sasaran pelaksanaan tugas.

dalam pelaksanaan Waskat baik pimpinan manapun bawahan harus pula berpedoman pada Sarana Waskat (Sarwaskat). Pada dasarnya peranan SPI atau aparat wasnal hanyalah membantu pimpinan agar dapat melakukan manajemennya.118 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 119 7) Sistematis Waskat harus dilaksanakan secara tertib dan teratur. prosedur kerja dan pencatatan hasil kerja dan pelaporan. Beda dengan Waskat. Pengawasan Fungsional (Wasnal) Wasnal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat/pegawai yang tugas pokoknya khusus membantu pimpinan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing Wasnal pada dasarnya bersifat intern. kebijakan pelaksanaan. meliputi: a) Inspektorat Jenderal di Departemen. Tetapi untuk hal-hal yang prinsipil. wewenang dan tanggung jawabnya. sedangkan pengawasan-pengawasan lainnya menunjukkan keberhasilan Waskat. melakukan Waskat atau pengendaliannya dengan baik. Wasnal tetap masih diperlukan. Tindak lanjut merupakan wewenang pimpinan. . Untuk hal-hal yang bersifat teknis dan tidak prinsipil. yaitu: struktur organisasi. sebagai berikut: 1) Aparat Wasnal Intern Instansi. b. Dengan demikian. Dilingkungan instansi pemerintah. Oleh karena itu. aparat wasnal dapat langsung memberikan petunjuk-petunjuk perbaikan. Kabupaten/Kota. aparat Wasnal hanya berkewajiban melaporkan temuannya kepada pimpinan disertai saran-saran tindak lanjutnya. 2) Apakah bawahan telah melaksanakan tugas/pekerjaan. c) Badan Pengawas Daerah Provinsi. mengikuti prosedur dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. b) Inspektorat/Inspektorat Utama di LPND. Walaupun Waskat ditingkatkan. 8) Diterministik Waskat merupakan pengawasan yang pokok dan menentukan. aparat Wasnal dapat dibedakan. rencana kerja. pimpinan dapat dengan mudah memastikan: 1) Apakah bawahan telah bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan. SPI melaksanakan pengawasan atas nama pimpinan. aparat Wasnal dalam suatu instansi secara umum disebut Satuan Pengawasan Intern (SPI). aparat Wasnal tidak berwenang mengambil tindak lanjut sendiri. Dengan berpedoman pada Sarwaskat ini. wewenang dan tanggung jawab dengan hasil yang baik. Di samping memperhatikan prinsip-prinsip Waskat. Oleh karena itu Wasnal bukan pengendalian.

d) Kepolisian. 4) Ditjen Anggaran. d. mengenai pendidikan sekolah. Instansi/Intern Keuangan dan c. masing-masing fungsi ini dijelaskan sebagai berikut: Fungsi Legislatif adalah fungsi membentuk UndangUndang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. mengenai keamanan dan ketertiban. di bidang perencanaan pembangunan nasional. di bidang Diklat Pegawai Negeri dan Litbang Administrasi Negara. yaitu instansi-instansi pemerintah yang secara keseluruhan berkewajiban melaksanakan fungsi pengayoman.120 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 121 d) Satuan Pengawas BUMN/BUMD. Pengawasan Legislatif (Wasleg) atau Pengawasan Politik (Waspol) Berdasarkan Pasal 20A ayat (1) UUD 1945. Pengawasan ini merupakan konsekwensi dari pelaksanaan asas fungsionalisasi dan merupakan fungsi lini/operasional. pelayanan dan pemberdayaan kepada masyarakat. di bidang pendayagunaan aparatur. ditaati oleh masyarakat dan/atau aparatur. . di bidang anggaran. c) Depdikbud. 5) Bappenas. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh instansiinstansi pemerintah yang secara keseluruhan melaksanakan fungsi staf. sesuai dengan bidang tugas pokoknya masing-masing. Misalnya yang dilakukan oleh: a) Dinas Tata Kota. berkaitan dengan pengawasan dalam rangka asas fungsionalisasi. termasuk kedinasan. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. b) BPN. Pengawasan yang ditujukan kepada aparatur saja. fungsi anggaran. Intern di berbagai 2) Aparat Wasnal Ekstern Pemerintah BPKP (Badan Pengawasan Pembangunan). yang pada dasarnya juga mencakup Aparatur Pemerintah sendiri. mengenai pertanahan. DPR memiliki fungsi legislatif. instansi Pemerintah dapat dibedakan menjadi: a. 2) BKN. misalnya: 1) Kantor MENPAN. dari instansi tersebut. dan fungsi pengawasan. di bidang kepegawaian. Dalam Undang-Undang No. Sesuai dengan bidang tugas pokoknya. DPR. mengenai bangunan. Pengawasan yang ditujukan kepada masyarakat dan aparatur. Pengawasan Teknis Fungsional Setiap instansi berkewajiban untuk melakukan pengawasan agar kebijakan-kebijakan Negara/Pemerintah. 3) LAN. DPD dan DPRD. baik sekolah negeri/swasta. b.

temuan. saran. saran ataupun pertanyaan dari DPR/DPRD. dan hak menyatakan pendapat. termasuk dalam rangka mengambil langkahlangkah tindak lanjut. Hak Menyatakan Pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi ditanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. korupsi. dikatakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya. kritik. dan pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. saran ataupun pertanyaan itu harus dimanfaatkan sebagai masukan baik bagi pelaksanaan waskat maupun wasnal. DPR mempunyai hak interpelasi. Adapun alasan-alasannya. penyuapan. masingmasing hak ini dijelaskan sebagai berikut: Hak Interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. sehingga merupakan pengawasan yang efisien dan efektif. antara lain adalah seperti berikut: . Pandangan. Pandangan. Setiap pejabat/instansi berkewajiban memberi tanggapan terhadap pandangan. 22 Tahun 2003. Undang-Undang dan peraturan pelaksanannya. Dalam Undang-Undang No. Wasmas perlu sekali ditumbuh kembangkan. kritik. pertanyaan dari DPR/DPRD harus dijadikan salah satu indikator keberhasilan Waskat dan Wasnal pada khususnya. Pengawasan Masyarakat (Wasmas) Pengawasan masyarakat (Wasmas) atau kontrol sosial adalah pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atas penyelenggaraan pemerintahan dan pemba ngunan. Dalam Pasal 20A ayat (2). e. hak angket.122 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 123 Fungsi Anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. kritik. dengan sebaik-baiknya. Hak Angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Fungsi Pengawasan adalah fungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945.

2) Dimaksudkan untuk adanya perbaikan. penyimpangan. penyelewenangan. Kriteria Wasmas yang baik Wasmas yang baik antara lain memiliki kriteria berikut: 1) Obyektif tidak bersifat memfitnah. Bagaimanapun kecilnya nilai informasi yang disampaikan. Oleh karena itu aparatur pemerintah berkewajiban untuk selalu memberikan kesempatan agar masyarakat mampu melaksanakan Wasmas atau kontrol sosial dengan sebaik-baiknya. 4) Wasmas diperlukan karena keterbatasan kemampuan Waskat dan Wasnal. meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan fungsional serta pengawasan masyarakat dan mengembangkan etika dan moral. Wasmas mendukung keberhasilan Waskat dan Wasnal. Memang tidak dapat selalu diharapkan. penyalahgunaaan wewenang. 3) Salah satu arah kebijakan bidang penyelenggara negara adalah membersihkan penyelenggara negara dari praktek KKN dengan memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Wasmas memenuhi kriteria tersebut. Adalah kewajiban instansi untuk berusaha melengkapi. 5) Tujuan pengembangan Wasmas yang sehat dan positif adalah makin tumbuh dan meningkatnya tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Wasmas merupakan suatu bentuk partipasi masyarakat tersebut. . 3) Memberitahukan faktanya dengan jelas dan lengkap dengan bukti-buktinya. Wasmas harus diperhatikan dan dihargai pula.124 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 125 1) Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan demokrasi. kesalahan atau kelemahan yang terjadi. karena seringkali informasi yang disampaikan ternyata memang benar dan sangat berharga. 7) Jelas identitas yang menyampaikannya. 5) Menjelaskan patokan-patokan yang dilanggar. dimana kedaulatan ditangan rakyat. 6) Memuat saran-saran. tetapi sekaligus juga abdi masyarakat. memastikan kebenaran serta mengungkapnya lebih lanjut. Surat kaleng sekalipun misalnya. perlu mendapat perhatian. 2) Keberhasilan penyelenggaraan negara antara lain tergantung kepada partisipasi seluruh rakyat. 4) Memberitahukan bentuk-bentuk pelanggaran. memperjelas. Pegawai Negeri bukan saja unsur aparatur negara dan abdi negara. sehingga dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut yang tepat.

antar fungsi pemerintah maupun antara pusat dan daerah. Pengawasan ini sangat penting. pelaksanaan dan pengawasan. Dengan kata lain bahwa setiap aparat pemerintah atau masing-masing lembaga-lembaga pemerintah melaksanakan sebagian urusan-urusan pemerintahan di bidangnya masing-masing. yaitu: perencanaan. E. berkeadilan dan berkelanjutan. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang sekaligus kewajiban untuk melakukan pengawasan ekstern terhadap pemerintah. tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Perencanaan pembangunanan Nasional dasar hukumnya adalah UU No. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. antar waktu. Pengawasan Yudikatif Salah satu fungsi Mahkamah Agung adalah mengawasi peraturan perundangan yang antara lain dilaksanakan dengan: 1) Menguji secara material terhadap peraturan perundangan di bawah Undang-Undang. efektif. . menjamin terciptanya integrasi. pengelompokkan tugas dan pembangunan pekerjaan kepada setiap pegawai dan penetapan hubungan kerja. antar ruang. Rangkuman Proses manajemen pemerintahan negara pada dasarnya meliputi empat aspek. pengorganisasian. 2) Menyatakan tidak sah semua peraturan perundangan di bawah Undang-Undang apabila bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Agar pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan tersebut berjalan dengan baik maka sangat diperlukan koordinasi yang baik pula. pelaksanaan dan pengawasan. Pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan pada dasarnya terbagi habis kepada setiap aparat pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintah. sehingga: 1) Dapat dicegah penyalahgunaan wewenang baik yang disengaja maupun tidak. Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan bersifat formal untuk menguji UU terhadap UUD 1945. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. penganggaran. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan.126 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 127 f. Dengan demikian. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk. 2) Kepastian dan tertib hukum dapat diwujudkan dengan baik. Agar pengorganisasian dapat dilaksanakan dengan baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian. Pengorganisasian dapat diartikan sebagai penetapan pekerjaanpekerjaan yang harus dilaksanakan. karena negara Indonesia adalah negara hukum.

dan koordinasi fungsional teritorial. rapat-rapat koordinasi antar Departemen ditingkat pusat dan daerah. pengawasan legislatif. Dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan negara secara menyeluruh koordinasi dapat dilaksanakan melalui: sidang kabinet. Apa saja fungsi DPR dan apa saja hak yang dimiliki DPR dalam rangka pelaksanaan pengawasan bagi pemerintah? 5. Mengapa koordinasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan? 4. yaitu koordinasi vertikal dan koordinasi fungsional. pengawasan masyarakat. 2. Bagaimana sikap aparat pemerintah sebaiknya dalam menghadapi Wasmas? F. dan lain-lain. dan pengawasan yudikatif. yang pada dasarnya adalah kegiatan pimpinan yang berupaya agar tugas-tugas terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau dapat mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan. 3. Pada dasarnya koordinasi ada dua jenis. Apa yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional? Dan apa pula yang dimaksud dengan RPJM Nasional? . Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara terdapat berbagai jenis pengawasan seperti: pengawasan melekat.128 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Modul Diklat Prajabatan Golongan III 129 Koordinasi sudah harus dimulai sejak penyusunan kebijakan dan perencanaan. rapat-rapat koordinasi oleh Menko. pengawasan teknis fungsional. Latihan 1. Pengawasan. Koordinasi fungsional dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal. rapat koordinasi antara aparat pusat dan aparat daerah. Mengapa pengorganisasian diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? Sebutkan pula prinsip-prinsip pengorganisasian. pengawasan fungsional. koordinasi fungsional diagonal. Mengapa Waskat merupakan pengawasan intern yang paling pokok? 6.

diharapkan peserta dapat memahami pengertian dari beberapa hal penting dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Di samping itu ada pula bagian-bagian lain yang menjadi mata Diklat pada Program Diklat jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan sistem pemerintahan negara tersebut. Sebagai salah satu sarana untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut. Ada diantaranya yang telah menjadi mata pelajaran tersendiri dalam Diklat ini.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 131 BAB VIII PENUTUP A. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD 1945? 2. Tes Dari uraian yang telah disajikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII. antara lain: bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini. apakah kedudukan Presiden itu kuat? 3. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara Departemen dan Lembaga Pemerintah Non Departemen! 7. Apakah perbedaan antara BPK dan BPKP. baik dari segi kelembagaan maupun fungsinya? B. Apakah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah itu? 5. baru memberikan pengertian tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara dan beberapa hal yang penting saja. Apakah yang dimaksud dengan hukum dasar dalam ketatanegaraan RI? Mengapa? 6. Modul mata pelajaran lain seperti tentang kepegawaian. Apakah “Presiden dapat diberhentikan oleh MPR”? 8. . Tindak Lanjut Sistem penyelenggaraan pemerintahan negara mencakup bahasan yang sangat luas. Mengapa pengawasan melekat merupakan pengawasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara? 130 9. Apakah arti pentingnya UU No. 28 Tahun 1999 dalam pene rapan Tata Kepemerintahan Yang Baik (good governance)? 4. peserta dianjurkan untuk mempelajari. 1. Apa yang telah diuraikan dalam Bab II sampai dengan Bab VII di muka. di bawah ini disiapkan bahan tes yang dapat membantu peserta. sebagaimana tersebut dalam referensi. Masih banyak lagi hal-hal penting yang tidak disampaikan dalam modul ini. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara ini. administrasi keuangan dan lain-lain.

23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-undang No. dan Nepotisme. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang No. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden No. Susunan Organisasi. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Peradilan Tata Usaha Negara. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Undang-undang No.Modul Diklat Prajabatan Golongan III 133 REFERENSI Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945. Undang-undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undangundang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen. Undang-undang No. Undang-undang No. Undang-undang No. Undang-undang No. Kewenangan. TAP MPR No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 – 2009. DPR. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Tugas. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Undang-undang No. 11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Presiden No. dan Nepotisme. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Presiden No. Undang-undang No. Undang-undang No. Tugas. Peraturan Presiden No. dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. Peraturan Presiden No. Fungsi. Undang-undang No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Kolusi. Undang-undang No. 62 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. DPD dan DPRD. Kolusi. Peraturan Presiden No. Fungsi. Tugas. Undang-undang No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Fungsi. Peraturan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara. 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang 132 .

20 Tahun 1990 tentang Pedoman dan Proses Pembentukan Kelembagaan di Lingkungan Instansi Pusat. Perwakilan. Keputusan Presiden No. Kewenangan.134 Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI Kedududkan. Keputusan Presiden No. Bappenas. 1 Tahun 1989 tentang Pengawasan Melekat. Keputusan Presiden No. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. Republik Indonesia di Luar Negeri dan Pemerintah Daerah. Instruksi Presiden No. Keputusan Presiden No. 111 Tahun 2000 tentang Sekretariat Kabinet. Instruksi Presiden No. Tugas. . 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan Yang Baik. 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Fungsi. Tugas. 103 tahun 2001 tentang Kedudukan. 117 Tahun 2000 tentang Sekretariat Negara. Kewenangan. Instruksi Presiden No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Susunan Oraganisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Lembaga Administrasi Negara RI. 15 Tahun 1983 tentang Pengawasan. Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful