Asuhan Keperawatan Osteosarkoma

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213 )

Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun. ( www.mail-archive.com ) Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut.

(www.kompas.com ) Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy. Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui. (www.medicastore.com ) Melihat jumlah kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk melakukan ´ Asuhan Keperawatan pada Tn.H dengan Osteosarkoma pada tibia proximal kiri di ruang 412 lantai 4 Public Wing RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta´. B. Tujuan penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan osteosarkoma pada Tn.H di ruang 412 lantai 4 Public Wing RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta. 1. Tujuan Khusus Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi :

 

2. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan osteosarkoma 3. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 1. Mampu membuat rencana keparawatan pada pasien dengan osteosarkoma. 2. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 3. Mampu mengevaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 4. Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 5. Mampu mengidentifikasi solusi dalam faktor-faktor penghambat pada pasien dengan Osteosarkoma. 4. Metode Penulisan Metode yang digunakan penulis dalam laporan studi kasus ini adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan secara langsung melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara teknik pengumpulan data seperti wawancara, pemeriksaan fisik, kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain serta data dari catatan medik klien. 5. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap isi dari laporan kasus ini, maka penulisannya dibuat secara sistematis, dibagi menjadi 5 bab yaitu : BAB I. Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II. Tinjauan teoritis meliputi konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan.

BAB III. Tinjauan kasus meliputi gambaran kasus dan diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. BAB IV. Pembahasan yang membahas tentang kesenjangan antara kasus yang ditemukan dengan teori yang didapatkan meliputi definisi, rasional terhadap diagnosa keperawatan yang ditemukan, faktor penunjang, faktor penghambat serta solusi ( pemecahan masalah ). BAB V. Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran. BAB II LANDASAN TEORI
y o

Konsep Dasar Osteosarkoma Pengertian Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ). Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003: 595 ) Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 ) Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 ) Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 ) Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut. ( Otto.2003 : 72 )

Manifestasi klinik . Patofisiologi Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.2.. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Pada proses osteoblastik. Terjadi destruksi tulang lokal. 2001: 2347 ) 1.1998: 1213 ) 1. karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif. Etiologi    Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi Keturunan Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ). ( Smeltzer. Adanya tumor tulang Jaringan lunak di invasi oleh tumor Reaksi tulang normal Osteolitik (destruksi tulang) Osteoblastik (pembentukan tulang) destruksi tulang lokal Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi Pertumbuhan tulang yang abortif ( sumber : Price.

radioterapi. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor. Bila terdapat hiperkalsemia. 1999: 245 ) 4. kemoterapi. diurelika. atau terapi kombinasi. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit) 2. Penatalaksanaan y Penatalaksanaan medis Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. ( Smeltzer. kalsitonin atau kortikosteroid. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena 5. ( Gale. 1999: 245 ). Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada. 2001: 2347 ) 1. berat badan menurun dan malaise. Penatalaksanaan meliputi pembedahan. penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena. Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Fraktur patologik 3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas ( Gale. batuk. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. demam.1. mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat. pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. mitramisin. .

( Smeltzer. Pemerikasaan Diagnostik 1. o Mengajarkan mekanisme koping yang efektif Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka. Pemeriksaan biokimia darah dan urine 7. mual. muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi. Asteriografi 4. program terapi. CT Scan 2. 2001: 2350 ) 1. Mielogram 3. MRI 5. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. dan teknik perawatan luka di rumah. 6.y o Tindakan keperawatan Manajemen nyeri Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam.  Memberikan nutrisi yang adekuat Berkurangnya nafsu makan. sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru. dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter. dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ). o Pendidikan kesehatan Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi. visualisasi. . Biopsi.

berkeringat pada malam hari. dan malaise. tidak mampu menahan objek berat Kaji status fungsional pada area yang sakit. proses penyakit. nyeri pada ekstremitas. tanda-tanda inflamasi. sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film . nodus limfe regional c. Berikan perhatian khusus pada keluhan misalnya : keletihan. sakit kepala. Pemeriksaan Diagnostik y y o o o y y Radiografi Adalah penggunaan sinar pengionan (sinar X. kurang nafsu makan. keterbatasan dalam melakukan aktifitas. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan. . bagaimana keluarga dan pasien mengatasi masalahnya dan bagaimana pasien mengatasi nyeri yang dideritanya. Pemeriksaan fisik y Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit mungkin hebat atau dangkal sering hilang dengan posisi flexi anak berjalan pincang. 2003 ) y o Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Osteosarkoma Pengkajian a.( Rasjad. b.

persepsi tentang proses penyakit. Aspirasi sumsum tulang (sarkoma ewing). atau biopsi tulang bedah. 2003: 616 ) y o o Diagnosa Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan.y Tomografi. Tomografi paru. Radioisotop. 1999: 1000 ) o o o Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak ( Wong. Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran ( Doenges. 2003: 617 ) y Intervensi Dx 1 Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri KH : . ( Wong. dan sistem pendukung tidak adekuat Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker. Adalah sebuah metode penggambaran medis menggunakan tomografi di mana pemrosesan geometri digunakan untuk menghasilkan sebuah gambar tiga dimensi bagian dalam sebuah objek dari satu seri besar gambar sinar-X dua dimensi diambil dalam satu putaran ³axis´ y y y y Pemindaian tulang.

visualisasi. y Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam. 1999: 1005 ) Dx 2 Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan KH : y y Pasien tampak rileks Melaporkan berkurangnya ansietas .y y Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu. durasi. Intervensi : y Kaji status nyeri ( lokasi. dan bimbingan imajinasi. televisi ) R/ meningkatkan relaksasi klien. R/ meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien Kolaborasi : y Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri. dan intensitas nyeri ) R/ memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan. y Berikan lingkungan yang nyaman. dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik. R/ mengurangi nyeri dan spasme otot ( Doenges. frekuensi.

5 g% ) . R/ memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis y Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara. R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan sesuai realita. y Berikan informasi akurat. R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak.y Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien Intervensi : y Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan.5 Intervensi : y Catat asupan makanan setiap hari ¡ 5. 1999: 1000 ) Dx 3 Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat KH : penambahan berat badan bebas tanda malnutrisi nilai albumin dalam batas normal ( 3. R/ membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan kondisi apa adanya y Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien. konsisten mengenai prognosis. ( Doenges.

R/ mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi. ketebalan kulit trisep setiap hari. R/ mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran antropometrik kurang dari normal y Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat. . Intervensi : y Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga. perasaan tidak berdaya. KH : y Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. berat badan. putus asa dan tidak mampu. R/ membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah. y Ukur tinggi. Kolaborasi : y Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. Asupan cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa. y Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan. 1999: 1006 ) Dx 4 Tujuan : mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh. R/ memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. R/ membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi ( Doenges.

y Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain R/ secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi ( Wong. 2003: 617 ) y Evaluasi . KH : Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak Mengalami peninggkatan mobilitas Intervensi : y Lakukan pendekatan langsung dengan klien. y Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan. ( Doenges. R/ memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan. 5 Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak. 1999: 1004 ) Dx. R/ membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien. R/ meningkatkan rasa percaya dengan klien. y Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien.R/ membantu dalam pemecahan masalah y Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien R/ menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarga.

selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif. Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.o    Pasien mampu mengontrol nyeri Melakukan teknik manajemen nyeri. Pengertian Amputasi berasal dari kata ³amputare´ yang kurang lebih diartikan ³pancung´. atau manakala y ¢ tanda kekurangan nutrisi . Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat. Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien Masukan nutrisi yang adekuat Mengalami peningkatan berat badan Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan Tidak ada tanda o    o    o  o o Memperlihatkan konsep diri yang positif Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri Klien dan keluarga siap untuk menghadapi kemungkinan amputasi Konsep Dasar Amputasi 1. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain.

Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen. 5. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya. sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif. Amputasi selektif/terencana Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terusmenerus. Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi : 1.kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. 4. 6. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat. Amputasi akibat trauma . 1. sistem persyarafan. 2. 3. dibedakan menjadi : 1. Jenis Amputasi Berdasarkan pelaksanaan amputasi. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir 2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki. Deformitas organ. 2.

berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. minum. Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi. Ekstremitas atas Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. Amputasi darurat Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur. Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan.Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. 1. Pada metode ini. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien. Jenis amputasi yang dikenal adalah : 1. mandi. maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi. . Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage agar luka bersih. Amputasi tertutup (flap amputasi) Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Tingkatan Amputasi 1. Amputasi terbuka (guillotine amputasi) Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi. dan mempertahankan intaks jaringan. 3. Setelah dilakukan tindakan pemotongan. 2.

Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif. Amputasi diatas lutut Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer. 5. 4. Hal ini dapat dicegah dengan memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation). Terjadinya kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan.2. Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu : . bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi. Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu : a. 1. Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb. 6. Hal ini dapat diatasi dengan obat-obatan. Neuroma. Kontraktur. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. Phantom sensation. Penatalaksanaan Amputasi Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi. Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. b. Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri. Nekrosis. stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi. 3.

1. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera. setelah stump sembuh dan mature. Soft dressing Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional. hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur. tersedianya perawat yang terampil. mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri. 1. Pada amputasi diatas lutut. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik. Rigid dressing Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. setelah 2 3 minggu. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. maka digunakan pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. £ £ £ £ . mobilisasi setelah 7 10 hari post operasi setelah luka sembuh. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema. melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur. kecerdasan penderita. kekuatan. Dampak Masalah Terhadap Sistem Tubuh. penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump. 1. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 14 post operasi. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak.

Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang. sehingga terjadi peningkatan diuresis. 4. Sistem respirasi 1.1. 2. 2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme. pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat. 3. Sistem Kardiovaskuler 1. hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma. Peningkatan denyut nadi . Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. Kecepatan metabolisme Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang. maka kontraksi otot intercosta relatif kecil. diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. 3.

2. dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat. Osteoporosis . vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah. demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. 3. 3. 5. 2. Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. volume darah yang bersirkulasi menurun. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik. Sistem Muskuloskeletal 1. Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer. hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. 4. jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun.

.Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. 7. Anoreksia Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. Sistem integumen Tirah baring yang lama. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang. 6. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. Sistem Pencernaan 1. .Terjadi penurunan metabolisme kalsium. maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar. sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi. 2. 8.Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia. pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan : . hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon.

Pengkajian Riwayat Kesehatan Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan. penyakit ginjal dan penyakit paru. khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi . Pre Operatif Pada tahap praoperatif. Pengkajian Fisik Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif. Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk. dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat. 1. perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik. tahap intraoperatif. Pada tahap ini.y Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Amputasi Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif. tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi. perdarahan atau kerusakan progesif. penyakit jantung. dan pada tahap postoperatif. Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi : SISTEM TUBUH Integumen : Kulit secara KEGIATAN Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi.

Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah. Mengkaji tingkat kesadaran klien. BJ urine. Sistem Urinari Menkaji adanya perubahan warna. Mengkaji jumlah urine 24 jam. Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya. Lokasi amputasi Sistem Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum Cardiovaskuler : operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return. Sistem Neurologis Sistem Mukuloskeletal Mengkaji sistem persyarafan. menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien . Memonitor intake dan output cairan. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul. Mengkaji tingkat hidrasi. penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Spiritual Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan. Mengkaji kemampuan otot kontralateral. khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi. riwayat Sistem Respirasi gangguan nafas. Cairan dan elektrolit Pengkajian Psikologis. Sosial.umum. Cardiac reserve Pembuluh darah Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis.

Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang. Meminta informasi. fungsi ginjal. Karakteristik penentu : y y y Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif. maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain : 1. Menyatakan kurang pemahaman. Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif. Laboratorik Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru. . Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya. Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. gangguan penampilan peran dan gangguan identitas. pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif. Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan Dari pengkajian yang telah dilakukan.sendiri. sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. fungsi hepar dan fungsi jantung.

Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi. tidak takut. Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ persepsi klien. meningkatkan dukungan mental. Karakteristik penentu : y y y Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian. klien. Kriteria evaluasi : y y mengungkapkan perasaan bebas. Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri. INTERVENSI RASIONAL Memberikan bantuan secara fisik dan Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan psikologis. Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan RASIONAL Mengurangi rasa tertekan dalam diri klien.Kriteria evaluasi : y y Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas. Rendah diri. . Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yangbaru. Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien Mengatur waktu khusus dengan klien melakukan komunikasi secara lebih terbuka dan lebih untuk berdiskusi tentang kecemasan akurat. Menerangkan prosedur operasi dengan sebaik-baiknya. Mengungkapkan pemahaman tentang operasi. menarik diri. memberikan dukungan meningkatkan rasa saling percaya. INTERVENSI Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup. moral. menghindarkan depresi. Takut kecacatan. 1.

Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah. Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri. Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah. Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi. luka yang terbuka ). Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM. Selain masalah diatas. perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk. sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese. untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi. dan penyakit vaskuler perifer. o y o o ¤ 2 jam untuk . memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain. Meningkatkan dukungan mental. penyakit jantung. infeksi. Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 mencegah kontraktur. Menerangkan pada klien bahwa klien akan ³merasakan´ adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya. Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri. y o o Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ). CVA. Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.pemilihan tindakan pemilihan amputasi. maka terdapat beberapa tindakan keperawatan preoperatif antara lain : y o o o Mengatasi nyeri Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri. Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi.

Khusus untuktindakan perawatan luka. posisi jahitan dan pemasangan drainage. perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien. 1. pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah. Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas. Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan. karena pada amputasi. Intra Operatif Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klie. memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri. 1. perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka. mempertahankan oksigenisasi jaringan. o .o Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese. Post Operatif Pada masa post operatif. Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk. perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif. pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas. Awal masa postoperatif. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan. Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah. terlepas atau terlalu ketat. Selang drainase benar-benar tertutup. nafas dalam. khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa.

Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien. Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Tujuan : nyeri hilang / berkurang. Bila terjadi nyeri panthom limb yang lama untuk sembuh daripada nyeri akibat insisi. Ekspresi wajah rileks. Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa µtidak sehat akal¶ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi Karakteristik penentu : y y Menyatakan nyeri. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya. Beri analgesik ( kolaboratif ). INTERVENSI RASIONAL Evaluasi nyeri : berasal dari sensasi panthom limb Sensasi panthom limb memerlukan waktu atau dari luka insisi. Klien sering bingung membedakan nyeri . Merintih. meringis. Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain adalah : 1. Kriteria evaluasi : y y Menyatakan nyeri hilang.

Untuk menghilangkan nyeri Mengurangi nyeri akibat nyeri panthom limb 1. Depresi. Tujuan : Mendemontrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru. .Ajarkan klien memberikan tekanan lembut dengan menempatkan puntung pada handuk dan menarik handuk dengan berlahan. Kriteria evaluasi : y y Menyatakan penerimaan terhadap penerimaan diri. Mandi. Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima diri. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi Karakteristik penentu : y y y Menyatakan berduka tentang kehilangan bagian tubuh. Meningkatkan status mental klien. Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung : Perawatan luka. Mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh. insisi dengan nyeri panthom limb. Membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup. Memfasilitasi penerimaan terhadap diri. Menggunakan pakaian. INTERVENSI Validasi masalah yang dialami klien. Mengungkapkan negatif tentang tubuhnya. RASIONAL Meninjau perkembangan klien. Berikan dukungan moral.

kontraktur. Beberapa kegiatan keperawatan lain yang dilakukan adalah : y o o Melakukan perawatan luka postoperasi Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka.Kondisi balutan tiap 4-8 jam. hemorragi dan emboli lemak. Sebagai monitor status hemodinamik Indikator adanya perdaraham masif RASIONAL Mencegah terjadinya infeksi. Membantu klien beradaptasi dengan perubahan citra diri y ¥ . Mengurangi kebutuhan oksigen jaringan atau memudahkan pernafasan. Emboli lemak Monitor pernafasan. INTERVENSI Infeksi Lakukan perawatan luka adekuat. Memantau tanda emboli lemak sedini mungkin Untuk mempercepat tindakan bila sewaktu-waktu dperlukan untuk tindakan yang cepat. Perdarahan Pantau : -Masukan dan pengeluaran cairan. Kriteria evaluasi : tidak ada infeksi. . hemorragi. Terangkan bahwa balutan mungkin akan digunakan hingga protese yang digunakan telah tepat dengan kondisi daerah amputasi (6 bulan 1 tahun).Tanda-tanda vital tiap 4 jam. Tujuan : tidak terjadi komplikasi. emboli lemak berhubungan dengan amputasi Karakteristik penentu : y Terdapat tanda resiko infeksi. Resiko tinggi terhadap komplikasi : Infeksi. atau emboli lemak. perdarahan berlebih.1. . Persiapkan oksigen Pertahankan posisi flower atau tetap tirah baring selama beberapa waktu Menghindari resiko kehilangan cairan dan resiko terjadinya perdarahan pada daerah amputasi.

H yang berusia 34 tahun dengan diagnosa Osteosarkoma Proximal Tibia Post ECI di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di lantai 4 public wing. suku jawa. alamat rumah klien Bogor Jawa Barat. Menyatakan bahwa klien idealnya mencari bantuan/superfisi dari tim rehabilitasi kesehatan selama penggunaan protese. bahasa yang digunakan bahasa indonesia. Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan selama tiga hari mulai tanggal 28 oktober 2009 sampai tanggal 30 oktober 2009. o y o o o o o y Gambaran kasus Klien bernama Tn. menghindari terjadinya kontraktur. Mencegah kontraktur Menganjurkan klien untuk melakukan gerakan aktif pada daerah amputasi segera setelah pembatasan gerak tidak diberlakukan lagi. belum mempunyai pekerjaan . ortotis ). Aktivitas perawatan diri Diskusikan ketersediaan protese ( dengan terapis fisik. Mengajari klien cara menggunakan dan melepas protese. pendidikan terakhir tamat SMA. status kawin. Mendemontrasikan alat-alat bantu khusus. . BAB III TINJAUAN KASUS Pada bab ini akan diuraikan tentang pelakanaaan auhan keperawatan pada Tn.o o y o Memberi dukungan psikologis. Mengajarkan cara mengkaji adanya gangguan kulit akibat penggunaan protese. agama islam. H (34 tahun). Menerangkan bahwa gerakan pada organ yang diamputasi berguna untuk meningkatkan kekuatan untuk penggunaan protese. jenis kelamin laki-laki. Memulai melakukan perawatan diri atau aktivitas dengan kondisi saat ini.

Tinggi badan 165 cm. Adapun keluhan utama klien saat ini adalah klien mengatakan nyeri di kaki kiri skala nyeri 5. kondisi telinga tengah dalam keadaan normal dan tidak ada kelainan. kelopak mata. Pola kebiasaan klien mengatakan sebelum sakit makan 3 kali sehari. sklera Anikterik. Sedangkan pada sistem penglihatan posisi mata klien baik tidak ada kelainan. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. fungsi penglihatan baik dan tidak ada tanda-tanda radang. klien habis dilakukan post op amputasi. Dari hasil pengkajian pemeriksaan fisik klien mempunyai berat badan 69 Kg. tekanan darah 110/80 mmHg. Klien mengatakan sebelum sakit suka berolahraga jalan-jalan 1-2 kali seminggu. konjungtiva merah muda. . Dalam sistem pendengaran baik daun telinga. Klien mengatakan tidak pernah mendapatkan kecelakaan tetapi pernah dirawat di Rumah Sakit pada tahun 2005 dilakukan biopsi pada kaki kiri dan pada tahun 2008 dilakukan ECI dan klien dianjurkan untuk dilakukan amputasi pada kaki kirinya. Klien mengatakan bahwa saat ini klien hanya berharap tentang kesembuhan penyakitnya karena ingin cepat sembuh dan pulang. pupil isokor. nadi 104 x/menit. Klien mengatakan bila mempunyai masalah. Klien mengatakan perubahan yang saya rasakan setelah sakit. biasanya mencari istri untuk meminta bantuan karena mereka adalah orang yang selalu dekat dengan pasien.Klien masuk RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tanggal 20 oktober 2009 dengan nomor register 4252425. pergerakan bola mata. Klien tidak menggunakan kacamata dan lensa kontak. tidak minum minuman keras dan tidak menggunakan NAPZA. napsu makan baik dan makanan yang tidak disukai adalah pedas serta ikan tuna dan udang karena dapat membuat alergi. otot-otot mata dalam keadaan normal. frekuensi nafas 20 x/menit.2 0 C. Klien tidak punya alergi terhadap obat atau makanan. seperti perasaan penuh di telinga. kornea. Reaksi terhadap cahaya positif kanan kiri. sebelum sakit 73 kg. Klien mengatakan tidak merokok. suhu badan : 36. badannya lemah dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa meskipun demikian pasien tetap menjalankan sholat 5 waktu setiap hari. keadaan Umum klien sakit sedang.

tinitus. tidak ada stomatitis. tidak menggunakan alat bantu bernapas. Sistem Endokrin Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Kecepatan denyut apikal 104 x/menit. irama teratur. Klien juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran. tidak ada nyeri saat bernapas. Pada sistem pernafasan jalan napas klien tidak ada sumbatan sputum tidak ada sesak. Klien mengatakan tidak ada keluhan sakit kepala. frekuensi pernapasan 20 x/ menit. Sistem wicara klien dalam keadaan normal tidak ada kelainan. Nadi klien 104 x/ menit. tidak diare. dan tidak ada luka gangren. tekanan darah 110/780 mmHg. Pada sistem kardiovaskuler. tidak ada retraksi otot. kelenjar saliva normal. irama teratur. tidak ada kelainan jantung. gangguan keseimbangan. tidak ada sakit dada seperti ditusuk-tusuk ketika beraktivitas.IWL : 230 cc / 8 jam Jumlah : 730 cc / 8 jam ¦ ¦ oral : 300 cc / 8 jam BAK : 500 cc / 8 jam . Irama pernapasan teratur.00 WIB : Intake : . lidah tidak kotor. Nyeri pada daerah perut tidak ada. Pada sistem saraf pusat. Pemeriksaan refleks fisiologis normal dan patologis tidak ada. jenis penafasan eupnea. tingkat kesadaran : komposmentis. tidak ada penggunaan gigi palsu.parenteral Infus RD : 600 cc / 8 jam Jumlah : 900 cc / 8 jam output : . pengisian kapileri <3 detik. tidak ada distensi vena jugularis. batuk tidak ada. Sedangkan pada sistem pencernaan. keluar cairan dari telinga. Keadaan gigi tidak terdapat karies pada gigi. Sistem Hematologi alam gangguan hematologi : pucat (-) dan tidak ada perdarahan. tidak ada peningkatan TIK serta gangguan sistem persyarafan. tidak ada edema baik eksremitas bawah maupun atas. napas tidak berbau keton. Pada sistem urogenital Intake output tanggal 28 oktober 2009 pukul 05. tidak ada nyeri daerah perut. bising usus 5 x/menit. suara napas vesikuler. seperti oksigen.skala GCS : E4M6V4.00-13. sedangkan pada sirkulasi jantung.

RR : 20 x/ menit. Trombosit : 203 Ribu/ul (150-400 Ribu/ul).Obat Post Op : Cefazolin 3 x 1 gram. Tanda-tanda Vital TD : 110/70 mmHg. Sedangkan hasil laboratorium: Hb : 15. ada luka insisi operasi di daerah tibia kiri. Pada sistem muskuloskeletal. Skala nyeri 0-1. kondisi baik tidak ada rembesan darah.9 % 500 cc : 20 tetes / menit. ranitidin 2 x 50 mg. Leukosit : 11 Ribu/ul (5. kelainan kulit tidak ada.0-10. kalor.5 % (10 -15 %). § § § 170 cc . Data Objektif :Ekspresi wajah klien meringis saat kakinya digerakkan.Klien post op amputasi hari ke-1 atas indikasi osteosarkoma proximal tibia. PT : 13. Ht : 43 % (40-48 %). suhu 36. APTT 33. Diit : Tinggi Kalori Tinggi Protein (tidak ada pantangan) . Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau terkontrol.9 % (25-35 %) dan penatalaksanaan medis : Cairan : NACL 0. Klien tampak kesakitan saat kakinya digerakkan atau diam. Kriteria Hasil :Nyeri berkurang/hilang. Diagnosa.Balance : BAK berwarna jernih. ketorolac 3 x 30 mg. dolor dan fungsiolasea) pada daerah pemasangan infus serta keadaan tekstur rambut dan kebersihan baik.0 Ribu/ul).Skala nyeri 5. Pada sistem integument klien. tonus otot hipotoni.2 0C. Dari data diatas penulis mengangkat tiga diagnosa keperawatan selama 3 hari dari tanggal 28 30 oktober 2009 adalah sebagai berikut : y Gangguan rasa nyaman nyeri b. B. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan. Tidak ada kelainan sistem musculoskeletal pada klien tetapi ada kesulitan dalam pergerakan karena luka insisi operasi. tidak ada distensi kantung kemih dan tidak ada keluhan sakit pinggang. Turgor kulit baik. tidak terjadi tanda dan gejala infeksi (tumor. N : 104 x/menit. Klien mengatakan skala nyeri 5 seperti ditusuk-tusuk. S : 36 OC.4 g/dl ( 13-16 g/dl).d luka insisi post op amputasiditandai dengan : Data Subjektif : Klien mengatakan nyeri pada kaki kiri bila digerakkan. kedaan kulit baik. kekuatan otot. Intervensi. . Dipasang drain cairan berwarna merah darah 30 cc.

A : Masalah nyeri pada bagian kaki kiri sudah teratasi. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. karakteristik dan lokasi. Akral Hangat. S : 36.Observasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler © ¨ © ¨ ¨ © ¨ © . S : 36. RR : 16 20 kali / menit. N : 60 80 kali / menit. Tidak ada sianosis pada daerah pemasangan elastic perban. mendiskusikan posisi yang nyaman bagi klien. Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. TTV dalam batas normal :TD : 110/70 120/80 mmHg.d dampak pemasangan elastic verban ditandai dengan : Data Subjektif : Klien mengatakan terasa saat diraba didaerah paha sebelah kiri. Kriteria Hasil : Nadi perifer teraba. TTV : TD : 120/ 80 mmHg. Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: Memberikan obat ketololac 30 mg melalui vamplon. N : 60 80 kali / menit. Data Objektif : Klien terpasang elastis perban pada pangkal paha kiri. Tidak ada kesemutan. Warna kulit tidak pucat. Edema disekitar luka tidak ada. Evaluasi skala nyeri. Klien mengatakan tidak rasa kesemutan pada daerah kaki kiri. mengobservasi keadaan luka insisi bedah. Klien dapapt mengontrol nyeri. RR : 20 x/ menit. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan neurovaskuler perifer. S : 36 O C.Klien menunjukkan sikap santai dan rileks. mengkaji skala nyeri. O : Klien terlhat rileks. mengidentifikasi lokasi. TTV dalam batas normal: TD : 110/70 120/80 mmHg. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : masalah nyeri pada bagian kaki kiri teratasi. Edema tidak ada. karakteristik skala nyeri. Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi nafas dalam. S : klien mengatakan sudah masih merasa nyeri skala nyeri 1.2º C 37ºC. RR : 16 20 kali / menit. Rencana keperawatan : Observasi TTV setiap 8 jam. Tanda-tanda Vital : TD : 110/70 mmHg. Capillary refill < 3 detik. P : Hentikan intervensi dx 1 y Resiko gangguan neurovaskuler perifer b. N : 104 x/menit. Klien post op amputasi hari ke-3. mengajarkan teknik relaksasi napas dalam bila nyeri timbul. mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal.2 O C. N : 88 x/ menit. Capillary refill < 3 detik. Kolaborasi : Berikan obat sesuai program ketorolac 3 x 30 mg. S : 36º C 37ºC. Rencana keperawatan :Observasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin. Ekstremitas hangat. Atur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal. RR : 18 x / menit. Ada sensasi (bila diraba terasa). Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam. Kekuatan otot : . Keadaan balutan bersih tidak ada rembesan darah.

Pantau capillary refill. S : 36. oposisi). N : 60 80 kali / menit. hiperekstensi. mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema. Klien mampu melakukan ADL secara mandiri.2 O C. Klien mengatakan kaki kirinya terasa nyeri saat digerakkan.bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain. Klien post op amputasi hari ke-1 atas indikasi osteosarkoma proximal tibia.d keterbatasan mobilisasi ditandai dengan : Data Subjektif : Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya (makan. Kekuatan otot : . Sensasi raba ada. Kekuatan otot . Mobilisasi klien saat ini duduk dengan bantuan saat tidur kembali. Ajarkan teknik latihan      .Keadaan umum baik. Observasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi. suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi. warna kulit.A : Maslah Dx 2 tidak menjadi actual. Kurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema.Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : S: Klien mengatakan tidak ada kesemutan pada kaki kiri yang terpasang elastic verban. oposisi). RR : 20 x/ menit. Ajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit. RR : 16 20 kali / menit. hiperekstensi. memantau capillary refill. Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin. N : 88 x/ menit. S : 36 O C. Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. TTV dalam batas normal :TD : 110/70 120/80 mmHg. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam kebutuhan ADL terpenuhi. Data Objektif : Kesadaran Composmentis. mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi. mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit. Capillary refill < 3 detik. Kebutuhan klien (mandi. Rencana keperawatan : Observasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. warna kulit. mandi) dibantu oleh keluarganya dan perawat. P : Hentikan intervensi Dx 2 y Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b. S : 36º C 37ºC. Tanda-tanda Vital : TD : 110/70 mmHg. Tidak ada sianosis.mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain. N : 104 x/menit. Kriteria Hasil Klien dapat beraktivitas dengan bantuan minimal. makan) dibantu oleh keluarga atau perawat. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. ekstensi.O : Akral hangat. Meningkatkan fungsi tubuh yang sakit. ekstensi. RR : 18 x / menit. suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi. Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. Kekuatan otot maksimal .

Klien dapat melakukan kegiatan makan. Observasi luka terhadap infeksi. cairan drainase 30 cc berwarna merah. Rencana keperawatan : Ukur TTV setiap 8 jam. N : 104 x/menit. P : Hentikan intervensi Dx 3 y Resiko terjadinya infeksi b. tidak ada nyeri pada daerah pemasangan kateter.d pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus ditandai dengan : Data Subjektif : Klien mengatakan nyeri pada area luka amputasi. N : 60 80 kali / menit.isometrik. S : 36º C 37ºC. RR : 18 x / menit. Tidak ada rembesan darah. S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. TTV dalam batas normal: TD : 110/70 120/80 mmHg. Kekuatan otot. Kegiatan mandi dan BAB masih membutuhkan bantuan dari keluarga. Warna urine jernih. S : 36. Warna urine kuning jernih. minum secara mandiri. Balutan albocath tampak bersih. Lakukan perawatan luka 1 kali/hari. Panjang dan lebar luka belum terkaji karena belum dilakukan dreesing. Catat jumlah dan warna drainase.A : Maslah Dx 3 teratasi. tumor. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. Balutan luka tidak ada rembesan. Balutan albocath bersih. Lakukan perawatan kateter setiap hari. Bantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL. Data Objektif : Terdapat luka post op hari ke-1. Kolaborasi      . Tanda-tanda infeksi (rubor. . kalor. mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus ototEvaluasi tanggal 30 desember 2008 : S : Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya sudah dapat dilakukan sendiri seperti makan dan minum. membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL. Observasi nilai kekuatan oto dan tonus otot. Leukosit dalam batas jumlah normal (5000-10000/ul). RR : 20 x/ menit.2 O C. mengajarkan teknik latihan isometrik.Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam resiko infeksi tidak menjadi aktual. Tanda-tanda Vital TD : 110/80 mmHg. Kriteria Hasil : Balutan luka bersih. fungsiolesa) tidak ada. Klien terpasang DC (drain cateter) sejak tanggal 27-10-2009.Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengbservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. Tanda-tanda infeksi pada daerah pemasangan kateter tidak ada. Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. Klien mengatakan tidak ada rasa nyeri pada daerah pemasangan infus dan kateter. N : 88 x/ menit. Leukosit 11. Berikan diet tinggi kalori dan tinggi protein. aliran urine lancer.000 /ul (N : 5000-10. Ganti balutan luka albocath 1 kali/hari. Tidak ada phlebitis pada pemasangan albocath. O : Keadaan Umum baikKesadaran composmentis. Klien terpasang drain. dolor.000/ul). RR : 16 20 kali / menit.

Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengukur TTV setiap 8 jam. Elastic verban baik. rasional.d luka insisi post op amputasi Definisi : Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. melakukan perawatan luka 1 kali/hari. dan evaluasi. Lakukan perawatan kateter setiap hari. memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein. P : Hentikan intervensi Dx 4 BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan membahas masalah yang terjadi pada kasus kelolaan. Diagnosa pertama : Gangguan rasa nyaman nyeri b. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dan intensitas sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan durasinya kurang dari 6 bulan.900/ul. Klien post op amputasi hari ke-2.O: Keadaan Umum baik. A : Masalah Dx 4 tidak menjadi aktual. juga analisa faktor pendukung dan penghambat serta solusi dari tiap masalah diagnosa keperawatan yang muncul. S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang.Evaluasi tanggal 30 desember 2008 :S : . Kateter sudah di aff.: Pemeriksaan Laboratorium ( Leukosit. Tanda-tanda infeksi tidak ada. Tidak ada rembesan luka. Pembahasan ini meliputi definisi. RR : 18 x / menit. berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr. mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari. 2006) . Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. mengobservasi luka terhadap infeksi. intervensi. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan (Internasional Asosiation For The Study Of Pain) . mencatat jumlah dan warna drainase. data yang menunjang. Albocath sudah di aff. LED). (Wilkinson. Kesadaran composmentis. Leukosit 11. implementasi. H dengan Osteosarkoma Proximal Tibia Post ECI di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di lantai 4 public wing yang dilaksanakan pada tanggal 28-30 Oktober 2009. N : 88 x/ menit. yaitu tentang kesenjangan antara teori dan kasus pada Tn. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. Berikan obat Cefazolin 3 x 1 gr.

mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam. mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal.d dampak pemasangan elastic verban . N : 88 x/ menit. mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal. mendiskusikan posisi yang nyaman bagi klien. mengkaji skala nyeri. S : 36 O C. Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. Keadaan balutan bersih tidak ada rembesan darah. O : Klien terlhat rileks. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. Faktor penghambat : Tidak ada Solusi : Tidak ada Diagnosa kedua : Resiko gangguan neurovaskuler perifer b. P : Hentikan intervensi dx 1 Faktor pendukung : klien mau mengikuti anjuran perawat untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam yang berfungsi memperlancar O2 ke jaringan sehingga mengurangi rasa nyeri dan klien mendapat terapi ketorolac 3 30 mg sehingga rangsangan nyeri tidak sampai ke sistem saraf pusat kesadaran. mengobservasi keadaan luka insisi bedah. Klien post op amputasi hari ke-3. Evaluasi keperawatan : S : klien mengatakan sudah masih merasa nyeri skala nyeri 1. RR : 18 x / menit. mengajarkan teknik relaksasi napas dalam bila nyeri timbul. A : Masalah nyeri pada bagian kaki kiri sudah teratasi.. Kolaborasi : memberikan obat sesuai program ketorolac 3 x 30 mg. Implementasi keperawatan : Memberikan obat ketololac 30 mg melaluiI vamplon mengidentifikasi lokasi.Rasional : adanya kerusakan jaringan akibat luka insisi pasca operatif amputasi proximal tibia menyebakan terjadinya sensasi nyeri sehingga menimbulkan suatu stressor pada klien yang mengganggu klien dalam beraktivitas Intervensi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam. karakteristik dan lokasi. TTV : TD : 120/ 80 mmHg. mengevaluasi skala nyeri. karakteristik skala nyeri.

Kekuatan otot . mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi.Definisi : suatu keadaaan dimana tingkat saat system saraf perifer menerima. hiperekstensi. Implementasi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin.2007:10). Sensasi raba ada. A : Maslah Dx 2 tidak menjadi actual. mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit. suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi. ekstensi. warna kulit. memantau capillary refill.O : Akral hangat. mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi. suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi. mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema. Capillary refill < 3 detik. Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. Rasional : gangguan neurovaskuler dapat terjadi pada klien yang mengalami amputasi karena mendapat balutan elastic verban hal ini dikarenakan elastic verban secara tidak langsung menekan saraf perifer sehinggan saraf perifer tidak berfungsi yang dapat mengakibatkan tidak adanya rasa saat adanya rasangan. oposisi). Evaluasi keperawatan : S: Klien mengatakan tidak ada kesemutan pada kaki kiri yang terpasang elastic verban. Intervensi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin.mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain. Tidak ada sianosis. S : 36O C. mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema. ekstensi. oposisi). tanggal 2 november 2009 diharuskann control. RR : 18 x / menit.mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain. P : Hentikan intervensi Dx 2 Faktor pendukung : klien mau mengikuti perawat untuk melakukan gerakan isometrik untuk merangsang saraf pertifer dank lien terlihat aktif belajar mobilisasi sehingga aliran darah perifer menjadi adekuat  . memantau capillary refill. Tandatanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. memproses dan merespons stimulus internal dan eksternal mengalami gangguan ( Wilkinson. mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit. warna kulit. hiperekstensi. N : 88 x/ menit.

Intervensi keperawatan : mengobservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : S : Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya sudah dapat dilakukan sendiri seperti makan dan minum. Implementasi keperawatan : mengobservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. mengajarkan teknik latihan isometrik. N : 88 x/ menit.d keterbatasan mobilisasi Definisi : keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus otot. Kekuatan otot. mengajarkan teknik latihan isometrik.  . tetapi bukan imobilitas sehingga menyebabkan kebutuhan ADl klien terganggu. A : Maslah Dx 3 teratasi. O : Keadaan Umum baikKesadaran composmentis. Rasional : kerusakan mobilitas fisik menggambarkan seorang individu dengan keterbatasan pengunaan lengan atau tungkai atau keterbatasan kekuatan otot. membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL. Klien dapat melakukan kegiatan makan. Faktor penghambat : kaki klien nyeri apabila ditumpukan. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. P : Hentikan intervensi Dx 3 Faktor pendukung : klien mau mengikuti anjuran perawat untuk melakukan latihan isometrik dan keluarga turut berperan aktif dalam membantu kebutuhan ADL klien.Faktor penghambat : Tidak ada Solusi : Tidak ada Diagnosa ketiga : Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b. membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL. minum secara mandiri. RR : 18 x / menit. Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. Kegiatan mandi dan BAB masih membutuhkan bantuan dari keluarga. mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus otot.

pemasangan kateter. Implementasi keperawatan : Mengukur TTV setiap 8 jam. berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr. tanggal 2 november 2009 diharuskann control. mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari. mengobservasi luka terhadap infeksi. Tidak ada rembesan luka. Klien post op amputasi hari ke-2. P : Hentikan intervensi Dx 4 . namun klien tetap berisiko terhadap infeksi.900/ul. S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang. Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg. berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr. RR : 18 x / menit. memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein. Leukosit 11. melakukan perawatan luka 1 kali/hari. Elastic verban baik. Albocath sudah di aff. N : 88 x/ menit. meskipun diagnosa ini tidak terdapat dalam teori tetapi karena adanya area tempat masuk mikroorganisme. melakukan perawatan luka 1 kali/hari. Lakukan perawatan kateter setiap hari. A : Masalah Dx 4 tidak menjadi aktual. Diagnosa ini diangkat sebagai diagnosa keempat karena data yang diperoleh masih dalam batas normal. Tanda-tanda infeksi tidak ada. (Wilkinson. Diagnosa keempat : Resiko terjadinya infeksi b. yaitu melalui tempat amputasi. mengobservasi luka terhadap infeksi. Kesadaran composmentis. mencatat jumlah dan warna drainase. 2007 ) Rasional : pada saat pertahanan tubuh menjadi lemah membuat tubuh terserang oleh pathogen. mencatat jumlah dan warna drainase. Kateter sudah di aff. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 :S : .Solusi : tetap motivasi klien untuk melakukan mobilitas sesuai batas kemampuan klien dan malakukan latihan rentang gerak isometrik. Lakukan perawatan kateter setiap hari.d pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus Definisi : suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik.O: Keadaan Umum baik. dan penusukan infus yang apabila tidak dilakukan asuhan keperawatan dapat menyebabkan terjadinya masalah infeksi pada klien. mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari. memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein. Intervensi keperawatan : Mengukur TTV setiap 8 jam.

observasi dan pemeriksaan fisik. H telah disusun sesuai dengan teori atau konsep dasar asuhan keperawatan. Untuk diagnosa nyeri pada bagian amputasi dilakukan tindakan mandiri yaitu mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan berkolaborasi pemberian ketorolac 3 x 30 mg. Intervensi meliputi juga tindakan yang dilakukan secara mandiri dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain. Pada saat wawancara dengan klien dan keluarga kooperatif sehingga terrjalin kerjasama antara perawat dengan klien dan keluarga. H mendapatkan hasil data yang sesuai dengan teori. Untuk diagnosa Resiko gangguan y y y .Faktor pendukung : Adanya kerja sama yang baik dari tim perawat dalam pelaksanaan perawatan infus Faktor penghambat : tidak ada Solusi : tidak ada BAB V PENUTUP A. Resiko gangguan neurovaskuler perifer berhubungan dengan dampak pemasangan elastic verban. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus Intervensi kepertawatan pada Tn. H sejak tanggal 28-30 oktober 2009 maka penulis mengambil kesimpulan : y Hasil pengkajian pada An. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistemik sesuai dengan kondisi klien. Kesimpulan Berdasarkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan pada Tn. Implementsi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang dibuat. Cara pengumpulan data diperoleh melalui metode wawancara. Diagnosa keparawatan yang ditemukan pada klien yaitu : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi post op amputasi. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi.

B.. Buku Saku Patofisiologi. Rencana Asuhan Kaperawatan : Pedoman Untuk perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga. DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth (2002).neurovaskuler perifer dilakukan tindakan keperawatan melakukan gerakan isometric. diantaranya : y Dalam melakukan asuhan keperawatan. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. perawatan luka penusukan jarum infus dan perawatan kateter serta berkolaborasi pemberian cefazolin 3 x 1 gram. untuk institusi RS supaya menyediakan sarana dan prasarana yang memudahkan klien yang mengalami gangguan mobilisasi. (2000). mengajarkan gerakan isometric dan menganjurkan keluarga untuk membantu kebutuhan ADL klien. H dapat teratasi semua pada tanggal 30 oktober 2009. untuk diagnose resiko infeksi dilakukan tindakan melakukan perawatan luka amputasi. Jakarta : EGC Doengoes. Untuk keluarga diharapkan selalu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan. Jakarta : EGC y y . Elizabeth J.(2001). Saran Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang. Dalam rangka mengatasi masalah gangguan mobilisasi. perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan osteosarkoma.. y Adapun evaluasi akhir dari keseluruhan asuhan keperawatan yang telah diberikan adalah semua masalah keperawatan yang ditemukan pada Tn. Marylin E. untuk diagnosa Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL dilakukan tindakan membantu kebutuhan klien. Jakarta : EGC Corwin.

. (2007). 2003. Rasjad. (2003). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. (2000).Gole. Edisi 2. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Buku Ajar Ilmu Bedah. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Arif. Jakarta : EGC Syamsuhidayat. Makasar : Bintang Lamimpatue. Volume 2. Choiruddin. Jakarta : EGC. Shirley E. Mansjoer. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Otto. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Smeltzer. Sandra M. 1999. R dan Wim de Jong. Jakarta : Media Aesculapius Nettina. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Judith M. Jakarta : EGC Wilkinson. Danielle & Jane Chorette. Jakarta : EGC. (2004). Suzanne C. Jilid 2. (2001). Pedoman Praktek Keperawatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful