Mengenal Prinsip Akuntansi Syariah Akuntansi dikenal sebagai sistem pembukuan ³double entry´.

Menurut sejarah yang diketahui awam dan terdapat dalam berbagai buku ³Teori Akuntansi´, disebutkan muncul di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan seorang Pendeta Italia bernama Luca Pacioli. Beliau menulis buku ³Summa de Arithmatica Geometria et Propotionalita´ dengan memuat satu bab mengenai ³Double Entry Accounting System´. Dengan demikian mendengar kata ´Akuntansi Syariah´ atau ³Akuntansi Islam´, mungkin awam akan mengernyitkan dahi seraya berpikir bahwa hal itu sangat mengada-ada. Namun apabila kita pelajari ³Sejarah Islam´ ditemukan bahwa setelah munculnya Islam di Semananjung Arab di bawah pimpinan Rasulullah SAW dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara. Rasulullah SAW sendiri pada masa hidupnya juga telah mendidik secara khusus beberapa sahabat untuk menangani profesi akuntan dengan sebutan ³hafazhatul amwal´ (pengawas keuangan). Bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam menganggap masalah ini sebagai suatu masalah serius dengan diturunkannya ayat terpanjang , yakni surah Al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsifungsi pencatatan transaksi, dasar-dasarnya, dan manfaat-manfaatnya, seperti yang diterangkan oleh kaidah-kaidah hukum yang harus dipedomani dalam hal tersebut. Sebagaimana pada awal ayat tersebut menyatakan ³Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya«««´ Dengan demikian, dapat kita saksikan dari sejarah, bahwa ternyata Islam lebih dahulu mengenal system akuntansi, karena Al Quran telah diturunkan pada tahun 610 M, yakni 800 tahun lebih dahulu dari Luca Pacioli yang menerbitkan bukunya pada tahun 1494. Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang mencoba mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya, dan laba. Dalam Al Quran disampaikan bahwa kita harus mengukur secara adil, jangan dilebihkan dan jangan dikurangi. Kita dilarang untuk menuntut keadilan ukuran dan timbangan bagi kita, sedangkan bagi orang lain kita menguranginya. Dalam hal ini, Al Quran menyatakan dalam

analisis. kita harus menyempurnakan pengukuran di atas dalam bentuk pos-pos yang disajikan dalam Neraca. dan strategi pemeriksaan ini dipelajari dan dijelaskan dalam Ilmu Auditing. Seorang Akuntan akan menyajikan sebuah laporan keuangan yang disusun dari bukti-bukti yang ada dalam sebuah organisasi yang dijalankan oleh sebuah manajemen yang diangkat atau ditunjuk sebelumnya. menurut Umer Chapra juga menyangkut pengukuran kekayaan. maka periksalah dengan teliti. Dalam Islam. sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Israa¶ ayat 35 yang berbunyi: ³Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar. Metode. pengukuran. biaya. dapat kita tarik 4b. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. dan laba perusahaan. bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu. fungsi Auditing ini disebut ³tabayyun´ sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujuraat ayat 6 yang berbunyi: ³Hai orang-orang yang beriman. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Qiyas (persamaan suatu peristiwa . Ijma (kespakatan para ulama). utang.´ Dari paparan di atas.´ Kebenaran dan keadilan dalam mengukur (menakar) tersebut. pemaparan. Manajemen bisa melakukan apa saja dalam menyajikan laporan sesuai dengan motivasi dan kepentingannya. Untuk itu diperlukan Akuntan Independen yang melakukan pemeriksaaan atas laporan beserta buktibuktinya. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. yang disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang Akuntan dalam pekerjaannya. sehingga seorang Akuntan wajib mengukur kekayaan secara benar dan adil. maupun penjelasan. sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran. kesimpulan. dan timbanglah dengan neraca yang benar. antara lain dalam surah Asy-Syu¶ara ayat 181-184 yang berbunyi:´Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. sehingga secara logis dikhawatirkan dia akan membonceng kepentingannya. teknik. Sunah Nabwiyyah.´ Kemudian. baik dalam pembukuan. modal pendapatan. dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.berbagai ayat. Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari Al Quran.

3. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan. bukanlah tujuan dari segalanya. dan barang lain yang sama kedudukannya. Sedangkan perbedaannya. melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga. terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat penerapan Akuntansi tersebut. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost (biaya). sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock). selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan. Dalam konsep Islam. dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. 4. atau sebagi sumber harga atau nilai. menurut Husein Syahatah. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah. mata uang seperti emas. 4. dan µUruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam. 2. 7. antara lain. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian. dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas. 2a. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan. memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi Konvensional. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal.tertentu. yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar). Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal sebagai berikut: 1. 5. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi. serta . Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok. 2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan. 3. perak. 6. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat islami. dalam buku Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam.

Akan tetapi. modal pokok. sedangkan dalam Akuntansi Islam ada ³meta rule´ yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus dipatuhi. ³««« Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) . sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang. dapat kita simpulkan dari uraian di atas. dan juga uang dari sumber yang haram. 5. Menurut. yaitu hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia. Jadi. dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh.mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin. sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko. dan bahkan Islam telah membuat serangkaian kaidah yang belum terpikirkan oleh pakar-pakar Akuntansi Konvensional. bahwa konsep Akuntansi Islam jauh lebih dahulu dari konsep Akuntansi Konvensional. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal. mencakup laba dagang. bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soal-soal inti dan pokok. dimana setiap orang akan mempertanggungjawab kan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki Akuntan sendiri (Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja pada bidang ekonomi. Sebagaimana yang terjadi juga pada berbagai ilmu pengetahuan lainnya. dan Akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu ³hanief´ yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal. Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang berjudul ³On Islamic Accounting´. sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi. 6. transaksi. Dengan demikian. sedangkan segi persamaannya hanya bersifat aksiomatis. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli. Akuntansi Barat (Konvensional) memiliki sifat yang dibuat sendiri oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme. yang ternyata sudah diindikasikan melalui wahyu Allah dalam Al Qur¶an. juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada. baik yang telah terjual maupun yang belum. tetapi juga masalah sosial dan pelaksanaan hukum Syariah lainnya. dapat diketahui. jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba. dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat.

seperti tanah. Bila pada jual beli objek transaksinya barang.Tatang Sutardi. bank syari¶ah dan lembaga keuangan syari¶ah lainnya dapat melayani nasabah yang membutuhkan jasa. baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Perbedaan antara ijarah dan murabahah terletak pada objek transaksi yang diperjual belikan yaitu dalam pembiayaan murabahah yang menjadi objek transaksi adalah barang. sehingga dengan skim ijarah. bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). 1. Pengertian Ijarah . 1. mayoritas masih terfokus pada produk-produk murabahah (prinsip jual beli). Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat (hak guna). sedangkan dalam pembiayan ijarah. 3a Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Pembiayaan ijarah memiliki kesamaan dengan pembiayaan murabahah karena termasuk dalam katagori natural certainty contracts dan pada dasarnya adalah kontrak jual beli. mobil dan sebagainya. Bentuk pembiayaan ijarah merupakan salah satu teknik pembiayaan ketika kebutuhan pembiayaan investor untuk membeli aset terpenuhi dan investor hanya membayar sewa pemakaian tanpa harus mengeluarkan modal yang cukup besar untuk membeli aset tersebut. Pendahuluan Bank Syari¶ah dan Lembaga Keuangan Syari¶ah lainnya dalam melayani produk pembiayaan. 2.´ (QS.An-Nahl/ 16:89) IJARAH (Aplikasinya Pada Lembaga Keuangan Syari¶ah) Oleh: Drs.untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. objek transaksinya adalah jasa. Secara umum timbulnya ijarah disebabkan oleh adanya kebutuhan akan barang atau manfaat barang oleh nasabah yang tidak memiliki kemampuan keuangan.HI. sedangkan pada ijarah objek transaksinya adalah barang dan jasa. rumah. M.

Ijarah yang berhubungan dengan sewa aset atau properti. 3. Konsep ini mulai dikembangkan pada masa Khlaifah Umar bin Khathab yaitu ketika adanya sistem bagian tanah dan adanya langkah revolusioner dari Khalifah Umar yang melarang pemberian tanah bagi kaum muslim di wilayah yang ditaklukkan. Ijarah yang berhubungan dengan sewa jasa. Dalam Hukum Islam ada dua jenis ijarah.Ijarah berarti sewa. pihak pekerja disebut ajir dan upah yang dibayarkan disebut ujrah. Pihak yang menyewa (lessee) disebut mustajir. Pihak yang mempekerjakan disebut mustajir. pihak yang menyewakan (lessor) disebut mu¶jir/muajir dan biaya sewa disebut ujrah. 2. Dan sebagai langkah alternatif adalah membudidayakan tanah berdasarkan pembayaran kharaj dan jizyah. yaitu [3]: 1. Ijarah adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian[2]. yaitu mempekerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang disewa. jasa atau imbalan. yaitu akad yang dilakukan atas dasar suatu manfaat dengan imbalan jasa[1]. Bentuk ijarah ini mirip dengan leasing (sewa) pada bisnis konvensional. Dasar Ijarah Ijarah sebagai suatu transaksi yang sifatnya saling tolong menolong mempunyai landasan yang kuat dalam al-Qur¶an dan Hadits. yaitu memindahkan hak untuk memakai dari aset atau properti tertentu kepada orang lain dengan imbalan biaya sewa. Dengan demikian pada hakikatnya ijarah adalah penjualan manfaat yaitu pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dan jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. sementara ijarah bentuk kedua biasa dipakai sebagai bentuk investasi atau pembiayaan di perbankan syari¶ah 1. Akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan tetapi hanya perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa. Ijarah bentuk pertama banyak diterapkan dalam pelayanan jasa perbankan syari¶ah. Menurut Sayyid Sabiq. Adapun yang menjadi dasar hukum ijarah adalah [4]: .

Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan . Bersabada : Artinya : Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. bahwa Nabi Muhammad saw. 1. Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar. bahwa Nabi Muhammad saw.1. Al-Qur'an surat al-Zukhruf : 32 Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. . Hadis riwayat Abd. Hadis riwayat Tirmizi dari Amr bin Auf. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 1. dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagaian yang lain beberapa derajat. Al-Qur¶an surat al-Baqarah : 233 : ÷Artinya : Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. c. bahwa Nabi Muhammad saw. Bertaqwalah kepada Allah. Al-Qur¶an surat al-Qashash : 26 : Artinya : Salah seorang dari kedua wanita itu berkata : Hai ayahku! Ambilah ia sebagai orang yang bekerja pada (kita). Bersabada : Artinya : Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. 1. beritahukanlah upahnya. Bersabada : Artinya : Barangsiapa yang mempekerjakan pekerja. 1. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bersabada : Artinya : Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagaian yang lain. 1. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.Razaq dari Abu Hurairah. maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. bahwa Nabi Muhammad saw. Hadis riwayat Abu Dawud dari Saad bin Abi Waqqash.

yaitu mustajir (penyewa). Kaidah fiqh Artinya : Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalilyang mengharamkannya. Objek akad. 1. Apabila aset akan dijual harganya akan ditentukan pada saat kontrak berakhir. sebagai berikut : a. Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa. 1. Akad ijarah dihentikan pada saat aset yang bersangkutan berhenti memberikan manfaat kepada penyewa. 2. Kepemilikan aset tetap pada yang menyewakan yang bertanggung jawab pemeliharaannya. akad ijarah masih tetap berlaku. 1. adalah pihak yang menyewa aset dan mu¶jir/muajir (pemilik) adalah pihak pemilik yang menyewakan aset. b. yaitu ma¶jur (aset yang disewakan) dan ujrah (harga sewa). 2. Rukun dari akad ijarah yang harus dipenuhi dalam transaksi adalah[5] : 1. 4. Rukun dan Syarat Ijarah 1. 2. Sighat yaitu ijab dan qabul. Kaidah fiqh Artinya : Menghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan. 3. Aset tidak boleh dijual kepada penyewa dengan harga yang ditetapkan sebelumnya pada saat kontrak berakhir. c. Pelaku akad. d.dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Jika aset tersebut rusak dalam periode kontrak. Syarat ijarah yang harus ada agar terpenuhi ketentuan-ketentuan hukum Islam. Jasa atau manfaat yang akan diberikan oleh aset yang disewakan tersebut harus tertentu dan diketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak. sehingga aset tersebut harus dapat memberi manfaat kepada penyewa. .

Sighat ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak. Rukun dan Syarat Ijarah : 1. 7. Ketentuan Objek Ijarah : 1. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidak tahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. 4. 5. 2. Lembaga Keuangan Syariah) dan penyewa (Lessee. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. 2. 7. 3. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan. pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset. Kewajiban Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dan Nasabah dalam Pembiayaan Ijarah : . Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah objek kontrak yang harus dijamin. Objek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan atau jasa. 9. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) : terdiri atas pemberi sewa (lessor. 5. 8. Objek kontrak : pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset. Kelenturan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. 3. 6. termasuk jangka waktunya. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam ijarah. tempat dan jarak. karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada lembaga keuangan syariah sebagai pembayaran manfaat. Pernyataan ijab dan qabul. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah. nasabah). baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent. 4. pemilik aset. 6. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas.Dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 09/DSN-MUI/IV2000 tanggal 13 April 2000 Tentang Pembiayan Ijarah ditetapkan[6] : 1. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. dengan cara penawaran dari pemilik aset (lembaga keuangan syariah) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah).

juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya. Al-ba¶i merupakan akad jual beli. yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dibeli oleh penyewa dengan harga yang berlaku pada saat itu.Al-Ba¶i wa al-ijarah muntahia bi al-tamlik merupakan rangkaian dua buah akad. Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewaakan tersebut pada akhir masa sewa. Menanggung biaya pemeliharaan aset. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (materiil) Jika aset yang disewa rusak. 5. Harga yang berlaku pada akhir periode. yaitu ketika pada akhir periode sewa aset dihibahkan kepada penyewa. yakni akad al-ba¶i dan akad al-ijarah muntahia bi al-tamlik. Adapun bentuk alih kepemilikan ijarah muntahia bi al-tamlik antara lain : 1. . Harga ekuivalent dalam periode sewa. 2. 2. 2. 3. bukan karena pelanggaran dan penggunaan yang dibolehkan. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai dengan kontrak. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. sedangkan al-ijarah muntahia bi altamlik merupakan kombinasi sewa menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa[7]. yaitu ketika membeli aset dalam periode sewa sebelum kontrak sewa berakhir dengan harga ekuivalen. Ijarah Muntahia Bi al-Tamlik 2b . Hibah di akhir periode.- Kewajiban Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemberi sewa : 1. 1. - Kewajiban nasabah sebagai penyewa : 1. 2. Dalam ijarah muntahia bi al-tamlik. pemindahan hak milik barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini : 1. Menyediakan aset yang disewakan. 3. Ijarah muntahia bi al-tamlik adalah transaksi sewa dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode sehingga transaksi ini diakhiri dengan kepemilikan objek sewa[8]. Penjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan.

Sedangkan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa disebut jualah atau success fee[9]. gaji. Metode Pembayaran Dari segi metode pembayaran. . Objek Objek yang disewakan dalam leasing hanya berlaku untuk sewa menyewa barang saja. sewa. Bertahap selama periode sewa. ijarah mempunyai cakupan yang lebiah luas daripada leasing. 1. leasing hanya memiliki satu metode pembayaran yaitu yang bersifat not contingent to formance artinya pembayaran tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa. Pemindahan Kepemilikan (Transfer of Title) Dari aspek perpindahan kepemilikan dalam leassing dikenal dua jenis yaitu operating lease dimana tidak terjadi pemindahan kepemilikan baik di awal maupun di akhir periode sewa dan financial lease. c.4. Dengan demikian. antara lain : a. bila dilihat dari segi objeknya. Akan tetapi walaupun ada persamaan antara ijarah dengan leasing. tidak berlaku untuk manfaat tenaga kerja. terdapat beberapa karakteristik yang membedakannya. Ijarah bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang disebut sewa menyewa dan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja/jasa disebut upah mengupah. Objek yang disewakan dalam ijarah adalah manfaat barang dan manfaat tenaga kerja. 5. yaitu ijarah yang pembayarannya tergantung pada kinerja objek yang disewa (contingent to formance) dan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa (not contingent to formance). yaitu ketika alih kepemilikan dilakukan bertahap dengan pembayaran cicilan selama periode sewa. Pembayaran ijarah dapat dibedakan menjadi dua. terbatas pada manfaat barang saja. Hal ini terjadi karena kedua istilah itu sama-sama mengacu hal ihwal sewa menyewa. Sedangkan objek yang disewakan dalam ijarah bisa berupa barang dan jasa/tenaga kerja. b. Ijarah dan Leasing Ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi pemindahan kepemilikan. Ijarah yang pembayarannya tergantung pada kinerja objek yang disewa disebut ijarah. sehingga banyak yang menyamakan ijarah dengan leasing. 6.

10. Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.Denda dapat disepakati ab intio dalam perjanjian sewa untuk keterlambatan pembayaran biaya sewa oleh penyewa. makanan. yang menyewakan harus tetap menguasai objek sewa dan menanggung semua resiko dan hasil dari kepemilikan. Penutup Prinsip pokok (standar) minimal pembiayaan ijarah yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut : 1. tetapi hanya dengan persetujuan kedua belah pihak.Ijarah sama seperti operating lease yakni tidak ada transfer of title baik di awal maupun di akhir periode. biaya sewa belum bisa digunakan. Sampai waktu ketika aset objek sewa dikirim kepada penyewa. namun pada akhir sewa dapat dijual barang yang disewakan kepada nasabah yang dalam perbankan syariah dikenal dengan ijarah muntahia bi al-tamlik. 4. Kontrak sewa dapat dianggap berakhir jika aset objek sewa tidak lagi memberikan manfaatnya. 7. Asuransi/Takaful dari objek sewa harus atas nama orang yang menyewakan dan biaya asuransi juga ditanggung oleh yang menyewakan. Besarnya biaya sewa harus disepakati di awal dalam bentuk yang jelas. . jika terjadi kerusakan atau kehilangan aset objek sewa karena kesalahan atau kelalaian penyewa. Hanya aset-aset yang dimiliki oleh yang menyewakan dapat disewakan. Selama periode sewa. 1. 2. kecuali diperbolehkan sub-lease (menyewakan kembali aset objek sewa yang disewa) dalam perjanjian yang dizinkan oleh yang menyewakan. 6. 8. konsekwensinya ditanggung oleh penyewa. bahan bakar dan sebagainya. Sesuatu yang tidak dapat digunakan tanpa mengkonsumsinya tidak dapat disewakan. 3. seperti uang. Penetapan biaya sewa saja tidak dibolehkan kecuali pada nilai par. 9. 7. fisik dari komoditas yang disewakan tetap dalam kepemilikan yang menyewakan dan hanya manfaatnya yang dialihkan kepada penyewa. Masing-masing pihak yang membuat janji untuk membeli/menjual aset objek sewa dengan berakhirnya jangka waktu sewa atau lebih awal dengan harga dan ketentuan yang disepakati bersama dengan catatan bahwa perjanjian sewa tidak mensyaratkan penjualan. baik untuk masa sewa penuh atau untuk periode tertentu dalam bentuk absolut. Namun demikian. 5. Sewa dapat diakhiri sebelum waktunya. Dalam akad ijarah.

diambil dalam Al Qur¶an dan As Sunnah dari hasil penelitian terdahulu.´ Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengumpulkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur¶an dan hadits yang berkaitan dengan akuntansi Islam. Menemukan poin-poin prinsip-prinsip Akuntansi Konvensional. Menemukan nilai-nilai yang harus ditegakkan dalam Islam. Menemukan pengertian dan makna akuntansi dalam Islam. Dalam penelitian ini penulis ini melakukan analisa dengan menggunakan content analysis dengan tahapan dan setiap tahap berupa langkah-lankah diantarannya: Tahap menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur¶an dan hadits yang berkaitan dengan akuntansi. Apabila transaksi penjualan dalam penyewaan kembali yang menimbulkan ijarah wa iqtina yang berarti menyewa dan setelah itu diakuisi oleh penyewa. Penelitian ini merupakan studi literatur yang memiliki penekanan pada pendalaman disiplin ilmu akuntansi dengan judaul ³Prinsip-prinsip Akuntansi dalam Islam. Membuat ketetapan akhir secara matang nilai-nilai dan sifat-sifat yang harus di tegakkan dalam Akuntansi Islam. Dan mencari nilai-nilai lain yang sesuai dengan permasalahan penelitian yang dapat mendukung nilai-nilai diatas. Yang . perbedaan tersebut harus dialokasikan selama masa ijarah. Untuk ini penulis perlu mengumpulkan ayat-ayat Al Qur¶an dan hadits yang dibutuhkan sebagai landasan. Kemudian tahap menentukan prisnipprinsip akuntansi dalam Islam.Apabila terjadi transaksi penjualan dan penyewaan kembali dilakukan secara ijarah berdasarkan nilai pasar yang wajar. Untuk menentukan relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Al Qur¶an dan hadits dengan prinsip-prinsip Akuntansi. Menyeleksi ayat-ayat Al Qur¶an dan hadits-hadits yang telah terkumpul untuk mendapatkan dalil-dalil yang pas dan sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah di temukan untuk dikaji lebih lanjut. maka bank harus mengalokasikan keuntungan atau kerugian yang timbul dari penjualan aset kepada nasabah dan menyewakan kembali selama jangka waktu sewa. Mengoreksi kembali prinsip-prinsip akuntansi konvensional dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah Islam yang terkandung dalam Al Qur¶an dan hadits. Pada landasan teori terkumpul data-data dengan beberapa pendapat untuk ditarik kesimpulan dan kesepakatan definisi dalam penelitian ini. yaitu hasil temuan pada langkah ketiga dengan hasil temuan langkah kedua. Untuk mendapatkan prinsip-prinsip akuntansi yang benar-benar mumpuni. Menemukan definisi prinsip-prinsip akuntansi secara umum.

akhlak. dalam sub bagian ini yang dibatasi pada nilai-nilai hukum. kebenaran. sosial. diantaranya prinsip-prinsip: cost. objekctivity. consistency. yaitu: bersumber pada Al Quran dan hadits yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang berkaitan dengan akuntansi yang meliputi. uniformity dan comparability. akidah. yang merupakan sebagai prinsip-prinsip umum akuntansi Islam. Setelah dapat menjabarkan nilai-nilai diatas. Menyeleksi poin-poin prinsip akuntansi yang telah ditemukan diatas dan dievaluasi dengan nilai-nilai Islam hasil penelitian tahap satu. materiality. Akuntansi Islam dalam tatanan konsep. dan kesejahteraan. maka dapat menyusun prinsip-prinsip akuntansi dalam Islam dengan cara mmengevaluasi kembali prinsip-prinsip akuntansi konvensional dengan nilai-nilai Islam. Dari analisa yang telah dilakukan penulis. . disclousure. Membuat ketetapan akhir secara matang prinsip-prinsip akuntansi menurut Islam yang terkonsepsi. disertai penjelasan-penjelasan yang menjabarkan mengenai keberadaan prinsipprinsip akuntansi dalam Islam. Kemudian nilai-nilai lain yang terdapat dalam Al Qur¶an dan hadits sebagai pendukung terbentuknya akuntansi. Prinsip-prinsip ini yang dijadikan sebagai prinsip-prinsip khusus akuntansi dalam Islam. dan ekonomi. yang didalamnya terdapat nilai-nilai keadilan. pertanggungjawaban.terdapat dalam literatur dalam hal ini prinsip tersebut diambil dari SAK. Penulis merumuskan prinsip-prinsip akuntansi Islam beserta nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan akuntansi sebagai wacana baru disiplin ilmu akuntansi. memberikaan alternatif dan dukungan pemikiran dalam upaya pembentukan sebuah konsep akuntansi yang diharapkan. maka penelitian ini membuktikan bahwa akuntansi juga terdapat dalam Al Qur¶an dan As Sunnah yaitu muhasabah. matching. Sebagai agent of change. Muhasabah (akuntansi Islam) memiliki prinsip-prinsip akuntansi dan nilai-nilai / kaidah-kaidah Islam yang dapat diterapkan dalam akuntansi konvensional. Penelitian ini menghasilkan pengakuan terhadap keberadaan Akuntansi Islam. Menyeleksi poinpoin prinsip akuntansi yang telah ditemukan diatas dan dievaluasi dengan nilainilai Islam hasil penelitian tahap satu. yaitu prinsip-prinsip akuntansi yang isinya telah diramu dengan nilai-nilai Islam yang diambil dari ayat-ayat Al Qur¶an dan hadits. revenue. Penelitian ini juga menghasilkan kenyakinan bahwa akuntansi Islam itu ada. Nilai-nilai ini yang berkedudukan sebagai pendukung nilai-nilai diatas. Nilai-nilai yang harus ditegakkan dalam Islam. ilmu.